Anda di halaman 1dari 40

SKENARIO 2 PERSALINAN NY. RESTI Ny.

Resti 35 tahun usia kehamilan 8 bulan, berkunjung ke RSUD Tanjung Pinang dengan keluhan kedua tungkai bengkak sejak 3 bulan lalu. Ini merupakan kehamilannya yang pertama. Sejak bulan pertama kehamilan ia harus dirawat di RS karena menderita hiperemesis gravidarum. Pada bulan ketiga kehamilan kembali ia harus dirawat karena mengalami perdarahan. Untunglah setelah perawatan perdarah tersebut berhenti. Pada saat ini berat badannya bertambah 8 kg dan TD 180/100 mmHg. dr.Deri yang merawatnya memutuskan agar Ny.Resti dirawat karena ia di duga preeklampsi. Satu hari dalam perawatan keluar cairan dari kemaluannya. Setelah memeriksa, dr. Deri mengatakan bahwa telah terjadi KPD, kemudian diputuskan melakukan terminasi kehamilan. Untuk persiapan persalian Ny.Resti dikonsulkan ke ahli penyakit dalam, apakah terdapat kelainan pada jantung dan organ lainnya.Ny.Resti bertanya-tanya apakah terdapat kelainan pada anaknya? Apakah ia dapat bersalin dengan normal atau operasi?

Kata sulit Hiperemesis gravidarum : muntah berat pada kehamilan Preeklampsi : komplikasi kehamilan ditandai dengan gejala hipertensi, edema dan proteinuria KPD :Ketuban Pecah Dini Terminasi kehamilan : pengakhiran kehamilan

Kata kunci Perempuan 35 tahun, usia kehamilan 8 bulan Keluhan : - kedua tungkai bengkak sejak 3 bulan lalu Kehamilan pertama Riwayat dirawat : - bulan pertama : hiperemesis gravidarum - bulan ketiga : perdarahan Pemfis: BB : bertambah 8 kg TD : 180/100 mmHg Diduga mengalami preeklampsi Di duga KPD Diputuskan dilakukan teminasi kehamilan Dikonsulkan ke ahli penyakit dalam.

Key problem Perempuan 35 tahun mengalami gangguan kehamilan dan persalinan.

Pertanyaan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18.

apakah faktor usia mempengaruhi kehamilan? Apa penyebab tungkai bengkak? Apakah ada hubungan antara kehamilan pertama dengan kondisi ny. Resti? Apa penyebab hiperemesis gravidarum? Bagaimana mekanisme hiperemesis gravidarum? Apa penyebab terjadinya perdarahan? Perawatan apa yang dilakukan sehingga perdarahan berhenti? Apakah perdarahan berpengaruh pada janin? Bagaimana prosespertambahan berat badan pada masa kehamilan? Jelaskan tentang preeklampsi dan eklampsi! Jelaskan tentang KPD! Apa saja fungsi dari air ketuban? Apa indikasi terminasi kehamilan? Bagaimana cara kerja terminasi kehamilan? Bagaiman pengaruh terminasi kehamilan pada ibu serta kehamilan berikutnya? Apakah riwayat penyakit terdahulu ibu berpengaruh pada proses kehamilan dan persalinan? Bagaimana cara mengetahui kehamilan pada janin? Apa indikasi operasi pada persalinan?

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari modul ini mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mengenai gangguan kehamilan dan persalinan.

Sasaran Pembelajaran Setelah mempelajari modul ini Mahasiswa diharapkan mampu : Memahami dan menjelaskan fisiologi pertambahan berat badan ibu pada saat kehamilan. Memahami dan menjelaskan fungsi air ketuban. Memahami dan menjelaskan perdarahan antepartum dan postpartum Memahami dan menjelaskan KPD Memahami dan menjelaskan preeklampsi dan eklampsi Memahami dan menjelaskan terminasi kehamilan Memahami dan menjelaskan penyulit masa kehamilan dan persalinan.

Mind Map

Mind Map
Penyulit kehamilan Pre-eklampsi Partus Patologi eklampsi Basic science KPD Terminasi Kehamilan Hiperemesis Gravidarum

perdarahan

Air Ketuban

fisiologi

Berat badan Ibu

ANATOMI Alat reproduksi adalah bagian tubuh kita yang berfungsi dalam melanjutkan keturunan, Alat reproduksi wanita terdiri dari dua bagian, yaitu bagian dalam dan luar. GENITALIA EKSTERNA Vulva Tampak dari luar (mulai dari mons pubis sampai tepi perineum), terdiri dari mons pubis, labia mayora, labia minora, clitoris, hymen, vestibulum, orificium urethrae externum, kelenjar-kelenjar pada dinding vagina. Mons pubis / mons veneris Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis. Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi rambut pubis. Labia mayora Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah bawah dan belakang, banyak mengandung pleksus vena. Homolog embriologik dengan skrotum pada pria. Ligamentum rotundum uteri berakhir pada batas atas labia mayora. Di bagian bawah perineum, labia mayora menyatu (pada commisura posterior). Labia minora. Lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak mempunyai folikel rambut. Banyak terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut saraf. Clitoris Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva, dan corpus clitoridis yang tertanam di dalam dinding anterior vagina. Homolog embriologik dengan penis pada pria. Terdapat juga reseptor androgen pada clitoris. Banyak pembuluh darah dan ujung serabut saraf, sangat sensitif. Vestibulum Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah fourchet, batas lateral labia minora. Berasal dari sinus urogenital. Terdapat 6 lubang/orificium, yaitu orificium urethrae externum, introitus vaginae, ductus glandulae Bartholinii kanan-kiri dan duktus Skene kanan-kiri. Antara fourchet dan vagina terdapat fossa navicularis. Introitus / orificium vagina. Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan tipis bermukosa yaitu selaput dara / hymen, utuh tanpa robekan. Hymen normal terdapat lubang kecil untuk aliran darah menstruasi, dapat berbentuk bulan sabit, bulat, oval, cribiformis, septum atau fimbriae. Akibat coitus atau trauma lain, hymen dapat robek dan bentuk lubang menjadi tidak beraturan dengan robekan (misalnya berbentuk fimbriae). Bentuk himen postpartum disebut parous. Corrunculae myrtiformis adalah sisa2 selaput dara yang robek yang tampak pada wanita pernah melahirkan / para. Hymen yang abnormal, misalnya primer

tidak berlubang (hymen imperforata) menutup total lubang vagina, dapat menyebabkan darah menstruasi terkumpul di rongga genitalia interna. Vagina Rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai dari tepi cervix uteri di bagian kranial dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral. Daerah di sekitar cervix disebut fornix, dibagi dalam 4 kuadran : fornix anterior, fornix posterior, dan fornix lateral kanan dan kiri. Vagina memiliki dinding ventral dan dinding dorsal yang elastis. Dilapisi epitel skuamosa berlapis, berubah mengikuti siklus haid. Fungsi vagina : untuk mengeluarkan ekskresi uterus pada haid, untuk jalan lahir dan untuk kopulasi (persetubuhan). Bagian atas vagina terbentuk dari duktus Mulleri, bawah dari sinus urogenitalis. Batas dalam secara klinis yaitu fornices anterior, posterior dan lateralis di sekitar cervix uteri. Titik Grayenbergh (G-spot), merupakan titik daerah sensorik di sekitar 1/3 anterior dinding vagina, sangat sensitif terhadap stimulasi orgasmus vaginal. Perineum Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Batas otot-otot diafragma pelvis (m.levator ani, m.coccygeus) dan diafragma urogenitalis (m.perinealis transversus profunda, m.constrictor urethra). Perineal body adalah raphe median m.levator ani, antara anus dan vagina. Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong (episiotomi) untuk memperbesar jalan lahir dan mencegah ruptur.

GENITALIA INTERNA Uterus Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir, dilapisi peritoneum (serosa).Selama kehamilan berfungsi sebagai tempat implatansi, retensi dan nutrisi konseptus.Pada saat persalinan dengan adanya kontraksi dinding uterus dan pembukaan serviks uterus, isi konsepsi dikeluarkan. Terdiri dari corpus, fundus, cornu, isthmus dan serviks uteri. Serviks uteri

Bagian terbawah uterus, terdiri dari pars vaginalis (berbatasan / menembus dinding dalam vagina) dan pars supravaginalis. Terdiri dari 3 komponen utama: otot polos, jalinan jaringan ikat (kolagen dan glikosamin) dan elastin. Bagian luar di dalam rongga vagina yaitu portio cervicis uteri (dinding) dengan lubang ostium uteri externum (luar, arah vagina) dilapisi epitel skuamokolumnar mukosa serviks, dan ostium uteri internum (dalam, arah cavum). Sebelum melahirkan (nullipara/primigravida) lubang ostium externum bulat kecil, setelah pernah/riwayat melahirkan (primipara/ multigravida) berbentuk garis melintang. Posisi serviks mengarah ke kaudal-posterior, setinggi spina ischiadica. Kelenjar mukosa serviks menghasilkan lendir getah serviks yang mengandung glikoprotein kaya karbohidrat (musin) dan larutan berbagai garam, peptida dan air. Ketebalan mukosa dan viskositas lendir serviks dipengaruhi siklus haid. Corpus uteri. Terdiri dari : paling luar lapisan serosa/peritoneum yang melekat pada ligamentum latum uteri di intraabdomen, tengah lapisan muskular/miometrium berupa otot polos tiga lapis (dari luar ke dalam arah serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta dalam lapisan endometrium yang melapisi dinding cavum uteri, menebal dan runtuh sesuai siklus haid akibat pengaruh hormon-hormon ovarium. Posisi corpus intraabdomen mendatar dengan fleksi ke anterior, fundus uteri berada di atas vesica urinaria. Proporsi ukuran corpus terhadap isthmus dan serviks uterus bervariasi selama pertumbuhan dan perkembangan wanita (gambar). Ligamenta penyangga uterus Ligamentum latum uteri, ligamentum rotundum uteri, ligamentum cardinale, ligamentum ovarii, ligamentum sacrouterina propium, ligamentum infundibulopelvicum, ligamentum vesicouterina, ligamentum rectouterina. Vaskularisasi uterus Terutama dari arteri uterina cabang arteri hypogastrica/illiaca interna, serta arteri ovarica cabang aorta abdominalis. Salping / Tuba Falopii Embriologik uterus dan tuba berasal dari ductus Mulleri. Sepasang tuba kiri-kanan, panjang 8-14 cm, berfungsi sebagai jalan transportasi ovum dari ovarium sampai cavum uteri. Dinding tuba terdiri tiga lapisan : serosa, muskular (longitudinal dan sirkular) serta mukosa dengan epitel bersilia. Terdiri dari pars interstitialis, pars isthmica, pars ampularis, serta pars infundibulum dengan fimbria, dengan karakteristik silia dan ketebalan dinding yang berbeda-beda pada setiap bagiannya (gambar). Pars isthmica (proksimal/isthmus). Merupakan bagian dengan lumen tersempit, terdapat sfingter uterotuba pengendali transfer gamet. Pars ampularis (medial/ampula). Tempat yang sering terjadi fertilisasi adalah daerah ampula / infundibulum, dan pada hamil ektopik (patologik) sering juga terjadi implantasi di dinding tuba bagian ini. Pars infundibulum (distal). Dilengkapi dengan fimbriae serta ostium tubae abdominale pada ujungnya, melekat dengan permukaan ovarium. Fimbriae berfungsi menangkap ovum yang keluar saat ovulasi dari permukaan ovarium, dan membawanya ke dalam tuba.

Mesosalping Jaringan ikat penyangga tuba (seperti halnya mesenterium pada usus). Ovarium Organ endokrin berbentuk oval, terletak di dalam rongga peritoneum, sepasang kiri-kanan. Dilapisi mesovarium, sebagai jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan saraf. Terdiri dari korteks dan medula. Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel menjadi ovum (dari sel epitel germinal primordial di lapisan terluar epital ovarium di korteks), ovulasi (pengeluaran ovum), sintesis dan sekresi hormon-hormon steroid (estrogen oleh teka interna folikel, progesteron oleh korpus luteum pascaovulasi). Berhubungan dengan pars infundibulum tuba Falopii melalui perlekatan fimbriae. Fimbriae menangkap ovum yang dilepaskan pada saat ovulasi. Ovarium terfiksasi oleh ligamentum ovarii proprium, ligamentum infundibulopelvicum dan jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari cabang aorta abdominalis inferior terhadap arteri renalis.

HISTOLOGI Ovarium Permukaan nya ditutupi epitel selapis gepeng atau selapis kuboid,yaitu epitel germinativum. Dibawah epitel germinativum terdapat selapis jaringan ikat padat yakni tunika albuginea. Dibawah tunika albuginea terdapat daerah korteks, yang terutama ditempati folikel ovarium dengan oositnya.folikel ini terbenam dalam jaringan ikat (stroma) didaerah korteks. Stroma ini terdiri dari atas fibroblast berbentuk kumparan khas yang berespons dengan berbagai cara tehadap rangsangan hormone dari fibroblast organ lain. Bagian terdalam ovarium adalah daerah medulla, dengan anyaman vascular luas didalam jaringan ikat longgar.tidak ada batas tegas antara korteks dan medulla. Pada folikel yang sedang berkembang, sel folikel berproliferasi melalui mitosis. Membentuk lapisanlapisan sel kuboid yang disebut sel granulose yang mengelilingi oosit primer.lapisan terdalam sel granulose yang langsung mengelilingi oosit membentuk korona radiate, sel sel ini lebih silindris dari sel granulose lain. Diantara korona radiate dan oosit sekelilingnya terdapat lapisan glikoprotein nonselular, yaitu zona pelusida. Sell sel stroma yang berdiferensiasi menjadi teka interna pada tahap perkembangan folikular ini teka eksterna blm terbentuk.

TUBA UTERINA Dinding oviduk terdiri atas 3 lapisan :1. Mukosa, 2. Lapisan otot tebal yang terdiri atas otot polos sebagai lapisan sirkular atau spiral didalam dan lapisan longitudinal diluar, 3. Serosa yang terdiri atas peritoneum visceral. Mukosa tuba terdiri atas epitel selapis silindris dan lamina propriayang terdiri atas jaringan ikat longgar.epitelnya mengandung 2 jenis sel : satu dengan silia yang lain bersifat sekretoris.

UTERUS Dinding uterus relative tebal dan terdiri dari 3 lapisan tergantung pada bagian uterus, lapisan serosa (jaringan ikat dan mesotel atai adventisia (jaringan ikat) dapat dijumpai dibagian luarnya. Lapisan uterus yang lainnya adalah miometrium, yakni suatu lapisan otot polos tebal yang dipisahkan oleh jaringan ikat dan endometrium (mukosa uterus). Endometrium terdiri atas epitel dan lamina propria yang mengandung kelenjar tubular yang kadangkadang bercabang dibagian dalam nya (dekat miometrium). Sel-sel epitel pelapisnya merupakan gabungan selapis sel-sel silindris sekretoris dan sel bersilia. Jaringan ikat lamina propria kaya akan fibroblast dan mengandung banyak substansi dasar.serat jaringan ikatnya berasal dari kolagen tipe III. Lapisan endometrium dapat dibagi menjadi 2 zona : 1. Lapisan basal yang paling dalam, dan berdekatan dengan miometrium; lapisan ini mengandung lamina propria dan bagian awal kelenjar uterus 2. Lapisan fungsional mengandung sisa lamina propria dan sisa kelenjar, selain epitel permukaan

10

VAGINA Dinding vagina tidak memiliki kelenjar dan terdiri atas 3 lapisan mukosa, lapisan muskularis dan adventisia. Epitel mukosa vagina seorang wanita dewasa merupakan epitel berlapis gepeng. Lamina propria mukosa vagina terdiri atas jaringan ikat longgar dengan banyak serat elastin. Diantara selsel yang ada terdapat cukup banyak limfosit dan neutrofil. Lapisan otot di vagina terutama terdiri atas berkas otot polos memanjang. Tedapat lapisan otot sirkular, khususnya di lapisan terdalam. Diluar lapisan otot , selapis jaringan ikat padat yaitu adventisia yang kaya akan serat elastin tebal, menyatukan vagina dengan jaringan sekitar.

11

FISIOLOGI Air Ketuban Cairan ketuban adalah cairan, yang jernih,namun agak kekuningan yang mengelilingi bayi yang lahir (janin) selama kehamilan. Hal ini terkandung dalam kantung ketuban.

belum

Sementara di rahim, bayi mengapung dalam cairan ketuban. Jumlah cairan ketuban yang terbesar terjadi padaminggu ke 34 ke dalam kehamilan, ketika rata-rata air ketuban sekitar 800 mL. Sekitar 600 mL air ketuban mengelilingi janin selama trimester akhir kehamilan (sekitar 40 minggu kehamilan). Cairan ketuban terus-menerus bergerak (bersikulasi) ketika janin bernafas, ia cairan, dan kemudian "melepaskan" cairan melalui urin. Cairan ketuban membantu: Pergerakan janin dalam rahim, yang memungkinkan untuk pertumbuhan tulang yang tepat Paru-paru untuk berkembang dengan baik Menjaga suhu yang relatif konstan di sekitar bayi, sehingga melindungi dari kehilangan panas Melindungi bayi dari cedera luar dengan bantalan pukulan atau gerakan tiba-tiba Jumlah cairan ketuban berlebihan disebut polihidramnion. Kondisi ini dapat terjadi dengan kehamilan ganda (kembar atau kembar tiga), anomali kongenital (masalah yang ada ketika bayi lahir), atau diabetes kehamilan. Sedikitnya cairan ketuban dikenal sebagai Oligohydramnios. Kondisi ini dapat terjadi dengan kehamilan yang terlambat, ketuban pecah, disfungsi plasenta, atau kelainan janin. Jumlah cairan ketuban yang abnormal dapat menunjukkan paramedic untuk memonitor kehamilan dengan lebih hati-hati. Pengeluaran sampel cairan, melalui amniosentesis, dapat memberikan informasi tentang kesehatan, seks, dan perkembangan janin. "menghirup"

PROSES PERTAMBAHAN BERAT BADAN SEMASA KEHAMILAN Kenaikan berat badan selama kehamilan akan mempengaruhi berat lahir bayi. Bayi yang lahir dengan berat rendah (<3 kg [6.6 lb]) akan menghadapi masalah yang berhubungan dengan berat lahir rendah. Sedangkan bayi yang lahir sangat besar (>4 kg [8.8 lb]) dapat menyulitkan kehamilan dan persalinan. Hampir separuh dari tambahan berat itu berbentuk janin yang terus membesar selama kehamilan. Berat badan juga bertambah karena jaringan tubuh yang membesar, volume darah dan cairan tubuh yang bertambah, serta tambahan lemak yang disimpan tubuh. Hampir seluruh pertambahan berat terjadi pada dua trimester akhir. Pada kebanyakan wanita, kenaikan sebesar 1 - 2 kg (2.24.4 lb) terjadi pada trimester pertama, disusul kenaikan teratur sekitar 400

12

g (0.9 lb) per minggu sampai mencapai 10 lb pada minggu ke-20, 19 lb pada minggu ke-30, dan 27 lb diakhir kehamilan.

KEMANA LARINYA BERAT BADAN IBU HAMIL Berat janin 2,5 -3,5 kg Plasenta +/- 0,5 kg Cairan ketuban 0,5 1 kg Darah +/- 2 kg Cairan tubuh +/- 1,5 kg Rahim 0,5 1 kg Payudara +/- 0,5 kg Cadangan lemak +/- 3,5 kg

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

1. PENGERTIAN Adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk, karena terjadi dehidrasi. 2. ETIOLOGI Sebab pasti belum diketahui. Frekuensi kejadian adalah 2 per 1000 kehamilan. Factor-faktor predisposisi yang dikemukakan : Sering terjadi pada primigravida, mola hidatidosa, diabetes, dan kehamilan ganda akibat peningkatan kadar HCG. Faktor organik, karena masuknya vili kholiales dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik.

13

Factor psikologik : keretakan rumah tangga, kehilangan pekerjaan, rasa takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut memikul tanggung jawab, dan sebagainya. Factor endokrin lainnya : hipertiroid, diabetes dan lain-lain.

3. GEJALA DAN TINGKAT Batam mual muntah berapa banyak yang disebut hiperemesis gravidarum tidak ada kesepakatan. Ada yang mengatakan, bisa lebih dari 10 kali muntah, akan tetapi apabila keadaan umum ibu terpengaruh dianggap sebagai hiperemesis. Tingkat 1 = Ringan Mual muntah terus menyebabkan penderita lemah, tidak mau makan, berat badan turun dan rasa nyeri diepisgastrium, nadi sekitar 100 kali permenit, tekanan darah turun, turgor kulit kurang, lidah kering, dan mata cekung. Tingkat 2 = Sedang Mual dan muntah hebat menyebabkan keadaan umum penderita lebih parah ; lemah, apatis, turgor kulit mulai jelek, lidah kering dan kotor, nadi kecil dan cepat, suhu badan naik (dehidrasi), ikterus ringan, berat badan turun, mata cekung, tensi turun, hemokonsentreasi, oliguri dan konstipasi. Dapat pula terjadi asetonuria, dan dari nafas keluar bau aseton. Tingkat 3 = Berat Keadaan umum jelek, kesadaran menurun, somnolen sampai koma, nadi kecil, halus dan cepat; dehidrasi hebat, suhu badan naik, dan tensi turun sekali, ikterus. Komplikasi yang dapat berakibat fatalterjadi pada susunan syaraf pusat (ensefalopati wernicke) dengan adanya: nistagmus, diplopia, perubahan mental.

4. PATOLOGI Dari otopsi wanita yang meninggal karena hiperemesis gravidarum diperoleh keterangan bahwa terjadi kelainan pada organ-organ tubuh sebagai berikut : Hepar : pada tingkat ringan hanya ditemukan degenerasi lemak sentral lobuler tanpa nekrosis Jantung : jantung atrofi, kecil dari biasa. Kadang kala dijumpai perdarahan subendokardial. Otak : terdapat bercak perdarahan pada otak. Ginjal : tampak pucat, degenaresi lemak pada tubuli kontorti.

14

5. PENANGANAN Pencegahan, dengan memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibuibu dengan maksud menghilangkan factor psikis rasa takut. Juga tentang diet ibu hamil, makan jangan sekaligus banyak, tetapi dalam porsi sedikit-sedikit namun sering. Jangan tiba-tiba berdiri waktu bangun pagi, akan terasa oyong, mual, dan muntah. Defekasi hendaknya diusahakan teratur. Terapi obat, menggunakan sedative (luminal, stesolid); vitamin (B1 dan B6); anti-muntah (mediamer B6, Drammamin, Avopreg, Avomin, Torecan); antasida dan anti mulas. Hiperemesis grafidarum tingkat 2 dan 3 harus dirawat inap dirumah sakit. o Kadang-kadang pada beberapa wanita, hanya tidur dirumah sakit saja, telah banyak mengurangi mual muntahnya. o Isolasi. Jangan terlalu banyak tamu, kalau perlu hanya perawat dan dokter saja yang boleh masuk. Kadang kala hal ini saja, tanpa pengobatan khusus telah mengurangi mual dan muntah. o Terapi psikologik. Berikan pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar, normal, dan fisiologis, jadi tidak perlu takut dan khawatir. Cari dan coba hilangkan factor psikologis seperti keadaan sosial ekonomi dan pekerjaan serta lingkungan. o Penambahan cairan. Berikan infus dekstosa atau glukosa 5% sebanyak 2-3 liter dalam 24 jam. o Berikan obat-obat seperti telah dikemukakan diatas. o Pada beberapa kasus dan bila terapi tidak dapat dengan cara memperbaiki keadaan umum penderita, dapat dipertimbangkan suatu abortus buatan.

15

PERDARAHAN DALAM KEHAMILAN, PERSALINAN, DAN POSTPARTUM

SKEMA: I. PERDARAHAN PADA HAMIL MUDA 1. Abortus 2. Mola hidatidosa: penyakit trofoblas; hamil anggur 3. Kehamilan ektopik terganggu (KET): kehamilan ektopik yang terganggu dapat terjadi abortus. II. PERDARAHAN PADA HAMIL TUA (ANTEPARTUM) 1. Plasenta previa 2. Solusio plasenta 3. Insersio velamentosa 4. Ruptura sinus marginalis 5. Plasenta sirkumvalata III. PERDARAHAN SEWAKTU BERSALIN 1. Ruptura uteri 2. Retensio plasenta IV. PERDARAHAN POSTPARTUM 1. Atonia uteri 2. Sisa-sisa plasenta 3. Laserasi jalan lahir 4. Kelainan darah 5. Inversio uteri

PERDARAHAN PADA HAMIL MUDA ABORTUS Abortus adalah pengeluaran hasil pembuahan (konsepsi) dengan berat badan janin <500 gram atau kehamilan kurang dari 20 minggu. Etiologi:

16

1. kelainan mudigah, chromosom atau kelainan untuk fetus 2. incompetentio orificium uteri internum 3. penyakit sistemik pada ibu seperti diabetes melitus, lues 4. incompatibilitas faktor rhesus atau atau sistem ABO 5. kelainan uterus seperti myoma uteri 6. trauma fisik atau mental 7. usaha menggugurkan dari penderita dengan minum jamu, alkohol, obat-obatan. 8. abortus habitualis oleh kekurangan produksi karbohidrat oleh endometrium.

Patologi: pada permulaannnya, terjadi perdarahan dalam desidua basalis, diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya, kemudian sebagian atau seluruh hasil konsepsi terlepas. karena dianggap benda asing, maka uterus berkontaraksi untuk mengeluarkannya. pada kehamilan dibawah 8 minggu, hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya, karena vili korealis belum menembus desidua terlalu dalam; sedangkan pada kehamilan 8-14 minggu, telah masuk agak dalam, sehingga sebagian keluar dan sebagian lagi akan tertinggal, karena itu banyak terjadi perdarahan. klasifikasi: 1. Abortus spontan : abortus yang terjadi dengan tidak didahului factor-faktor mekanis ataupun medisinalis, semata-mata disebabkan oleh factor alamiah. 2. Abortus provakatus (induced abortion) : abortua yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat. Klinis abortus spontan: 1. Abortus iminen: Disini perdarahan minimal dengan nyeri/tidak, uterus sesuai umur kehamilan. terapi: dicegah dengan pemberian obat- obat hormonal dan antispasmodika serta istirahat. 2. Abortus Insipien: Perdarahan denganan gumpalan, nyeri lebih kuat terapi: seperti abortus inkompletus 3. Abortus Inkomplit: Perdarahan hebat dan sering menyebabkan syok terapi: bila ada tanda-tanda syok maka atasi dulu dengan pemberian cairan dan transfuse darah. kemudian keluarkan jaringan secepat mungkin dengan metode digital dan kuretase. setelah itu beri obat-obat uterotonika dan antibiotic. 4. Abortus komplit: Perdarahan dan nyeri minimal seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan. terapi: hanya dengan uterotonika

17

5. Missed Abortion: Janin telah mati dalam kandungan selama 6-8 minggu tapi belum dikeluarkan, perdarahan minimal terapi: berikan obat dengan maksud agar terjadi his hingga fetus dan desidua dapat dikeluarkan, kalau tidak berhasil lakukan dilatasi dan kuretase. dapat juga dilakukan histerotomia anterior. diberikan juga uterotonika dan antibiotika. 6. Abortus infeksi/septik: Disertai tanda infeksi dan septik seperti demam sampai syok terapi: bila perdarahan banyak, berikan transfuse darah dan cairan yang cukup, antibiotic, dilatasi dan kuratase, 7. Abortus Habitualis: keguguran berulang terapi: hindari marokok dan minum alcohol serta terapi operatif komplikasi: perdarahan, perforasi, infeksi dan tetanus, payah ginjal akut, syok.

PENDARAHAN ANTEPARTUM adalah perdarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. klasifikasi: a. kelainan plasenta b. bukan dari kelainan plasenta, kelinan plasenta yaitu: Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimpalantasi pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh permukaan jalan lahir (ostium uteri internal) etiologi: 1. umur dan paritas 2. Hipoplasia endometrium 3. endometrium cacat pada bekas persalinan berulang-ulang, bkea operasi, kuretase, dan manual plasenta 4. korpus luteum bereaksi lambat 5.tumor-tumor; mioma uteri, polip endometrium 6. kadang pada malnutrisi pengaruh plasenta previda terhadap kehamilan

18

: karena dihalangi oleh plasenta maka bagian terbawah janin tidak terfiksir ke dalam pintu atas panggul, sehingga terjadilah kesalahan- kesalahan letak janin pengaruh plasenta previa terhadap partus 1. letak janin yang tidak normal 2. bila pada plasenta previa lateralis, ketuban pecah atau dipecahkan dapat terjadi prolaps funikuli 3. inersia primer 4. perdarahan penanganan: 1. penanganan pasif 2. cara persalinanan persalinan pervaginam; amniotomi, memesang cunam willet gauss, versi Braxton-hicks, menembus plasenta diikuti dengan versi branton-hicks atau willet gauss, metreurynter persalinan perabdominam dengan seksio sesarea komplikasi plasenta previa : prolaps tali pusat, prolaps plasenta, plasenta melekat, robekan jalan lahir karena tindakan, perdarahan postpartum, infeksi, bayi premature atau lahir meninggal. Solusio plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. etiologi: factor vaskuler, factor trauma, factor paritas, dan pengaruh lain seperti anemia, malnutrisi, tekanan uterus pada vena cava inferior, dll. mekanisme: menurut teori para ahli bahawa akibat turunnya tekanan darah secara tiba-tiba oleh spasme dari arteri yang menuju keruang interviler, maka terjadilah anoksemia dari jarinagn bagian distalnya. sebelum ini menjadi nekrotis, spasme hilang dan darah kembali mengalir ke intravili, namun pembuluh darah distal tadi sudah rapuh serta mudah pecah, sehingga terjadi hematoma yang lambat laun melepaskan plasenta dari rahim. darah yang berkumpul dibelakang plasenta disebut hematoma retroplasenter. Penanganan: 1. terapi konservatif : menunggu sampai perdarahan berhenti dan kemudian partus berlangsung spontan 2. terapi aktif: prinsip kita mencoba melakukan tindakan dengan maksud agar anak segera dilahirkan dan perdarahan berhenti, misalnya dengan operatif dan obstetric.

19

RUPTURA UTERI lokasi: korpus uteri, segmen baeah rahim, serviks uteri, kolpoporeksis-kolporeksis etiologi: karena dindingrahim yang lemah dan cacat, karena peregangan yang luar biasa dari rahim,tarumatika mekanisme rupture uteri: rumus mekanisme terjadinya rupture uteri: R=H+O; R= rupture, H= His, O=obstruksi (halangan) pada waktu inpartu, korpus uteri mengadakan kontraksi sedang SBR tetap pasif dan serviks menjadi lunak,. bila partus tidak dapat maju karena obstrusi sedang korpus uteri berkontraksi terus dengan his kuat, maka SBR akan tertarik keatas menjadi regang dan tipis. lingkaran bandl ikut meninggi sehingga suaktu waktu terjadilah robekan pada SBR- rupture uteri penanganan: tindakan pertama mengatasi syok, memperbaiki keadaan umum penderita dengan pemberian cairan infuse dan transfuse darah, kardiotonika, antibiotic, dsb. bila keadaan mulai baik dilanjutkan dengan melakukan laparotomi.

PERDARAHAN POSTPARTUM adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml dalam masa 24 jam setelah anak lahir. dalam penegertian ini dimasukkan juga retensio plasenta. menurut waktunya dibagi atas 2 bagian: a. perdarahan postpartum primer yang terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir b perdarahan post partum sekunder yang terjadi setelah 24 jam, biasanya antara hari ke 5 sampai 15 postpartum

Etiologi: retensio plasenta, atonia uteri, sisa plasenta dan selaput ketuban, jalan lahir: robekan perineum, vagina serviks, forniks, dan rahim, penykit darah

Penanganan: pencegahan perdarahan postpartum

20

antenatal care, dirumah sakit diperiksa keadaan fisik, keadaan umum, kadar Hb, golongan darah, . sambil mengawasi persalinan dipersiapkan infuse dan obat-obatan penguat rahim seperti uterotonika. setelah ketuban pecah kepala janin mulai membuka vulva, infuse dipasang dan sewaktu bayi lahir diberikan 1 ampul methergin atau kombinasi deng 5 satuan sintosinon.

pengobatan pendarahan kala uri: 1. berikan oksitosin 2.cobalah mengluarkan plasenta menurut cara crede (1-2 kali) 3. keluarkan plasenta dengan tangan jika ada sisa-sisa plasenta yang agak melakat dan masih terdapat perdarahan, segera lakukan utero-vaginal tamponade selam 24 jam, diikuti pemberian uterotonika dan antibiotika selama 3 hari berturut-turut dan pada hari keempat baru dilakukan kuretase untuk membersihkannya. jika disebabkan oleh luka-luka jalan lahir, luka segera dijahit dan perdarahan akan berhenti. pengobatan perdarahan postpartum pada atonia uteri: tahap I: perdarahan yang tidak begitu banyak dapat diatasi dengan cara pemberian uterotonika, mengurut rahim (massage), memasang gurita. tahap II: bila perdarahan belum berhenti dan bertambah banyak selanjutnya berikan infuse dan tranfusi darah dan dapat dilakukan perasat zangemeister, pirasat fritch, kompresi bimanual, kompresi aorta, tamponade jantung utero-vaginal, jepitan arteri uterine dengan cara Henkel tahap III: bila semua tindakan sebelumnya tidak menolong juga maka usaha terakhir adalah menghilangkan sumber perdarahan dengan cara meligasi arteri hipogastrika atau histerektomi.

KETUBAN PECAH DINI

Pengertian Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda mulai persalinan dan ditunggu satu jam sebelum terjadi inpartu. Ketuban pecah dini merupakan pecahnya selaput janin sebelum proses persalinan dimulai. 1. 2. KPD saat preterm (KPDP) adalah KPD pada usia <37 minggu KPD memanjang merupakan KPD selama >24 jam yang berhubungan dengan peningkatan risiko

infeksi intra-amnion Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung.

21

Ketuban pecah dini atau sponkaneous/ early/ premature rupture of the membrane (PROM) adalah pecahnya ketuban sebsalum partu : yaitu bila pembukaan pada primigravida dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. (Rustam Mochtar 1998)

KLASIFIKASI PPROM ( Preterm Premature Rupture of membrane) Ketuban pecah pada saat usia kehamilan < 37minggu PROM ( Premature Rupture of Membrane) Ketuban pecah pada saat usia kehamilan 37 minggu

B.

Etiologi Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya

tekanan intra uterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Selain itu ketuban pecah dini merupakan masalah kontroversi obstetri. Penyebab lainnya adalah sebagai berikut : 1. Serviks inkompeten. 2. Ketegangan rahim berlebihan : kehamilan multiple, hidramion. 3. Kelainan letak janin dan rahim : letak sungsang, letak lintang. 4 Kemungkinan kesempitan panggul : bagian terendah belum masuk PAP (pintu atas panggul). 5. Infeksi yang menyebabkan terjadinya biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk preteolitik sel sehingga memudahkan ketuban pecah. (Amnionitis/ Korioamnionitis). 6. Faktor keturunan (ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, kelainan genetik) 7. perdarahan pervaginam : trimester pertama ( risiko 2x ) , trimester kedua/ketiga ( 20x ) 8. Servix tipis / kurang dari 39 mm : risiko 25% 9. PH vagina di atas 4,5 : risiko 32%

Mekanisme Mekanisme terjadinya ketuban pecah sebelum waktunya dapat berlangsung sebagai berikut : -Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi.

22

-Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban . Ketuban Pecah dalam persalinan secara umum disebabkan oleh kontraksi uterus dan peregangan berulang. Selaput ketuban pecah karena pada daerah tertentu terjadi perubahan biokimia yang menyebabkan selaput ketuban inferior rapuh. Terdapat keseimbangan antar sintesis dan degradasi ekstraseluler matriks. Perubahan struktur,jumlah sel dan katabolisme kolagen menyebabkan aktivitas kolagen berubah dan menyebabkan selaput ketuban pecah.

Pemeriksaan Diagnostik a. Ultrasonografi

Ultrasonografi dapat mengindentifikasikan kehamilan ganda, anormaly janin atau melokalisasi kantong cairan amnion pada amniosintesis. b. Amniosintesis

Cairan amnion dapat dikirim ke laboratorium untuk evaluasi kematangan paru janin. c. Pemantauan janin

Membantu dalam mengevaluasi janin d. Protein C-reaktif

Peningkatan protein C-reaktif serum menunjukkan peringatan korioamnionitis

Penatalaksanaan Konservatif

Rawat rumah sakit dengan tirah baring. Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin. Umur kehamilan kurang 37 minggu. Antibiotik profilaksis dengan amoksisilin 3 x 500 mg selama 5 hari. Memberikan tokolitik bila ada kontraksi uterus dan memberikan kortikosteroid untuk mematangkan fungsi paru janin. Jangan melakukan periksan dalam vagina kecuali ada tanda-tanda persalinan. Melakukan terminasi kehamilan bila ada tanda-tanda infeksi atau gawat janin. Bila dalam 3 x 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada kontraksi uterus maka lakukan mobilisasi bertahap. Apabila pelepasan air berlangsung terus, lakukan terminasi kehamilan.

23

Aktif Bila didapatkan infeksi berat maka berikan antibiotik dosis tinggi. Bila ditemukan tanda-tanda inpartu, infeksi dan gawat janin maka lakukan terminasi kehamilan.
o o o

Induksi atau akselerasi persalinan. Lakukan seksiosesaria bila induksi atau akselerasi persalinan mengalami kegagalan. Lakukan seksio histerektomi bila tanda-tanda infeksi uterus berat ditemukan.

Komplikasi ketuban pecah dini 1. 2. 3. 4. 5. Infeksi intrapartum (korioamnionitis) Persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan preterm Prolaps tali pusat Oligohidramnion persalinan kering

Pencegahan Belum ada cara pasti untuk mencegah kebocoran kantung ketuban. Namun, yang bisa Anda lakukan untuk menurunkan risikonya adalah dengan jalan yang sangat mudah yakni berhenti merokok dan menghindari lingkungan perokok agar tak menjadi perokok pasif dan hindari benturan. Vitamin c Vitamin C telah diketahui berperan penting dalam mempertahankan keutuhan membran (lapisan) yang menyelimuti janin dan cairan ketuban. Walaupun penelitian sebelumnya telah menghubungkan kadar yang rendah dari vitamin C pada ibu dengan meningkatnya resiko terjadinya pecahnya membran secara dini atau yang disebut dengan ketuban pecah dini (premature rupture of membranes, PROM), tapi penelitian itu tidak menjelaskan tentang penggunaan suplemen vitamin C dalam menurunkan risiko terjadinya KPD.

24

PRE EKLAMPSIA Pre eklampsia adalah toksimea dengan tanda-tanda hipertensi, proteinuria, dan edema yang timbul karena kehamilan. Pre eklampsia umumnya terjadi dalam triwulan ketiga kehamilan., tetapi dapat terjadi sebelumnya. Pre eklampsia dibagi dalam golongan ringan dan berat. Digolongkan ringan bila satu atau lebih tanda/gejala di bawah ini ditemukan : 1) 2) 3) 4) Tekanan darah 140/90 mmHg dan 160/110 mmHg Pertambahan berat badan yang berlebihan Edema Proteinuria 300 mg/24 jam

Digolongkan berat bila satu atau lebih tanda/gejala di bawah ini ditemukan : 1) Tekanan darah 160/110 mmHg 2) Ikterus 3) Trombosit < 100.000/mm3 4) Oliguria < 400 ml/24 jam 5) Proteinuria 5 g/24 jam 6) Nyeri epigastrium 7) Skotoma 8) Perdarahan retina 9) Edema pulmonum 10) Koma Penyebab dari pre eklampsia sampai sekarang belum diketahui. Telah terdapat banyak teori yang mencoba menerangkan sebab-musabab penyakit tersebut, akan tetapi tidak ada yang memberi jawaban yang memuaskan. Pada pre eklampsia ada dua tahap perubahan yang mendasari patogenesanya. Tahap pertama adalah hipoksia plasenta yang tejadi karena kegagalan invasi sel tropoblast pada dinding arteri spiralis pada awal kehamilan dan awal trimester kedua kehamilan sehingga arteri spiralis tidak dapat melebar dengan sempurna dengan akibat penurunan aliran darah dalam ruangan intervilus diplasenta sehingga terjadilah hipoksia plasenta. Hipoksia plasenta yang berkelanjutan ini akan membebaskan zat-zat toksis seperti sitokin, radikal bebas dalam bentuk lipid peroksidase dalam sirkulasi darah ibu, dan akan menyebabkan terjadinya oksidatif stress yaitu suatu keadaan dimana radikal bebas jumlahnya lebih dominan dibandingkan antioksidan. Oksidatif stress pada tahap berikutnya bersama dengan zat toksis yang beredar dapat merangsang terjadinya kerusakan pada sel endotel pembuluh darah yang disebut disfungsi endotel yang dapat terjadi pada seluruh permukaan endotel pembuluh darah pada organ-organ penderita pre eklampsia. Pada disfungsi endotel terjadi ketidakseimbangan produksi zat-zat yang bertindak sebagai vasodilator seperti protasiklin dan nitrat oksida, dibandingkan dengan vasokonstriktor seperti endotelium I, tromboksan, dan angiotensin II sehingga akan terjadi vasokonstriksi yang luas dan terjadilah hipertensi. Peningkatan kadar lipid peroksidase juga akan mengaktifkan sistem koagulasi, sehingga terjadi agregasi

25

trombosit dan pembentukan trombus. Secara keseluruhan setelah terjadi disfungsi endotel di dalam tubuh penderita pre eklampsia jika prosesnya berlanjut dapat terjadi disfungsi dan kegagalan organ seperti : Pada ginjal : hiperuricemia, proteinuria, dan gagal ginjal. Penyempitan pembuluh darah sistemik ditandai dengan hipertensi. Perubahan permeabilitas pembuluh darah ditandai dengan edema paru dan edema menyeluruh. Pada darah dapat terjadi trombositopenia dan koagulopati. Pada hepar dapat terjadi perdarahan dan gangguan fungsi hati. Pada susunan syaraf pusat dan mata dapat menyebabkan kejang, kebutaan, pelepasan retina dan perdarahan. Pada plasenta dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan janin, hipoksia janin, dan solusio plasenta.

Pemeriksaan antenatal yang teratur dan teliti dapat menemukan tanda-tanda dini pre eklampsia, dan dalam hal itu harus dilakukan penanganan semestinya. Timbulnya pre eklampsia tidak dapat dicegah sepenuhnya, namun frekuensinya dapat dikurangi dengan pemberian penerangan secukupnya dan pelaksanaan pengawasan yang baik pada wanita hamil. Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam pencegahan. Istirahat tidak selalu berarti berbaring di tempat tidur, namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Diet tinggi protein dan rendah lemak, karbohidrat, garam dan penambahan berat badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan. Penilaian kondisi janin pada pre eklampsia, yaitu : a. Penilaian pertumbuhan janin Pemantauan pertumbuhan tinggi fundus uteri Pemeriksaan ultrasonografi b. Penilaian ancaman gawat janin Pemantauan gerakan janin Non-stress test dan contraction stress test Profil biofisik janin : reaksi denyut jantung janin terhadap gerakan janin, volume cairan ketuban, gerakan janin, gerakan pernafasan janin, dan tonus janin. Pemeriksaan surfaktan dalam cairan ketuban Pemeriksaan perfusi plasenta (uterine blood flow) Penanganan pada pre eklampsia ringan dilakukan dengan cara pemantauan tekanan darah, proteinuria, refleksi dan kondisi janin. Istirahat di tempat tidur masih merupakan penanganan utama pada pre eklampsia ringan. Pemberian fenobarbital 3 x 30 mg sehari akan menenangkan penderita dan dapat juga menurunkan tekanan darah. Pada umumnya pemberian anti diuretika dan anti hipertensif pada pre eklampsia ringan tidak dianjurkan karena obay-obat tersebut tidak menghentikan proses penyakit dan juga tidak memperbaiki prognosis janin serta dapat menutupi tanda dan gejala pre eklampsia berat. Penanganan pada pre eklampsia berat harus segera diberi obat sedatif yang kuat untuk mencegah timbulnya kejang-kejang. Pengobatan untuk mencegah timbulnya kejang-kejang dapat diberikan larutan sulfas megnesikus 40% sebanyak 10ml (4gram) secara intramuskular, klorpromazin 50mg secara

26

intramuskular, atau diazepam 20mg secara intramuscular. Diberikan juga obat anti hipertensi untuk menurunkan tekanan darah, kemungkinan kejang dan apopleksia serebri. Komplikasi yang terjadi pada pre eklampsia yaitu mulaid ari pre eklampsia ringan, pre eklampsia berat, eklampsia dan berakhir pada kematian.

EKLAMPSI

Definisi 1. Eklampsi adalah kelainan pada ibu hamil, saat hamil tua, persalinan atau masa nifas ditandai dengan timbulnya kejang atau koma, dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre eklamsi (hipertensi, edems, proteinuri) . (Wirjoatmodjo, 1994: 49). 2. Eklampsi merupakan kasus pada penderita dengan gambaran klinik pre eklamsi yang disertai dengan kejang dan koma yang timbul pada ante, intra dan post partum. (Angsar MD, 1995: 41) Frekuensi Bervariasi antara satu Negara dengan Negara lain. Frekuensi rendah umumnya menunjukkan adanya pengawasan antenatal yang baik dan penanganan pre-eklampsi yang benar. Di Negara sedang berkembang frekuensi dilaporkan berkisar antara 0,3% - 0,7%, sedang di Negara maju yaitu 0.05% - 0.1%. Patofisiologi Penyebabnya sampai sekarang belum jelas. Penyakit ini dianggap sebagai suatu Maldaptation Syndrom dengan akibat suatu vaso spasme general dengan akibat yang lebih serius pada organ hati, ginjal, otak, paru-paru dan jantung yakni tejadi nekrosis dan perdarahan pada organ-organ tersebut. (Pedoman Diagnosis dan Terapi, 1994: 49)

Pembagian Eklamsi Berdasarkan waktu terjadinya eklamsi dapat dibagi menjadi: 1. Eklamsi gravidarum Kejadian 50-60 % serangan terjadi dalam keadaan hamil

27

2. Eklamsi Parturientum Kejadian sekitar 30-35 %, terjadi saat inpartu dimana batas dengan eklamsi gravidarum sukar dibedakan terutama saat mulai inpartu. 3. Eklamsi Puerperium Kejadian jarang sekitar 10 %, terjadi serangan kejang atau koma setelah persalinan berakhir. ( Manuaba, 1998: 245) Gejala Klinis Eklamsi Gejala klinis Eklamsi adalah sebagai berikut: Terdapat tanda-tanda pre eklamsi ( hipertensi, edema, proteinuri, sakit kepala yang berat, penglihatan kabur, nyeri ulu hati, kegelisahan atu hiperefleksi) Kejang dalam eklamsi ada 4 tingkat, meliputi: - Tingkat awal atau aura (invasi) Berlangsung 30-35 detik, mata terpaku dan terbuka tanpa melihat (pandangan kosong) kelopak mata dan tangan bergetar. - Stadium kejang tonik Seluruh otot badan menjadi kaku, wajah kaku tangan menggenggam dan kaki membengkok kedalam, pernafasan berhenti muka mulai kelihatan sianosis, lidah dapat trgigit, berlangsung kira-kira 20-30 detik. - Stadium kejang klonik Semua otot berkontraksi dan berulang ulang dalam waktu yang cepat, mulut terbuka dan menutup, keluar ludah berbusa dan lidah dapat tergigit. Mata melotot, muka kelihatan sianosis. Setelah berlangsung selama 1-2 menit kejang klonik berhenti dan penderita tidak sadar, menarik mafas seperti mendengkur. - Stadium koma Lamanya ketidaksadaran ini beberapa menit sampai berjam-jam. Kadang antara kesadaran timbul serangan baru dan akhirnya penderita tetap dalam keadaan koma. (Muchtar Rustam, 1998: 275) Pemeriksaan dan Diagnosis Diagnosis eklampsi umumnya tidak mengalami kesukaran. Dengan adanya tanda dan gejala preeklampsi yang disusul oleh serangan kejangan seperti yang telah diuraikan. Maka diagnosis sudah bisa ditegakkan. Diagnosis Banding

28

- epilepsy - kejangan karena obat anastesia - koma karena sebab lain : perdarahan otak, meningitis, ensefalitis, dll. Komplikasi Serangan Komplikasi yang dapat timbul saat terjadi serangan kejang adalah: 1. Lidah tergigit 2. Terjadi perlukaan dan fraktur 3. Gangguan pernafasan 4. Perdarahan otak 5. Solutio plasenta dan merangsang persalinan ( Muchtar Rustam, 1995:226) Bahaya Eklamsi 1. Bahaya eklamsi pada ibu Menimbulkan sianosis, aspirasi air ludah menambah gangguan fungsi paru, tekanan darah meningkat menimbulkan perdarahan otak dan kegagalan jantung mendadak, lidah dapat tergigit, jatuh dari tempat tidur menyebabkan fraktura dan luka-luka, gangguan fungsi ginjal: oligo sampai anuria, pendarahan atau ablasio retina, gangguan fungsi hati dan menimbulkan ikterus. 2. Bahaya eklamsi pada janin Asfiksia mendadak, solutio plasenta, persalinan prematuritas, IUGR (Intra Uterine Growth Retardation), kematian janin dalam rahim. ( Pedoman Diagnosis dan Terapi, 1994: 43)

Prognosa Eklamsi adalah suatu keadaan yang sangat berbahaya, maka prognosa kurang baik untuk ibu maupun anak. Prognosa dipengaruhi oleh paritas, usia dan keadaan saat masuk rumah sakit. Gejala-gejala yang memberatkan prognosa dikemukakan oleh Eden adalah: 1. Koma yang lama

29

2. Nadi diatas 120 per menit 3. Suhu diatas 39C. 4. Tensi diatas 200 mmHg 5. Lebih dari sepuluh serangan 6. Priteinuria 10 gr sehari atau lebih 7. Tidak adanya oedema. ( M Dikman A, 1995: 45) Penatalaksanaan Prinsip pengobatan eklamsia pada ibu nifas adalah menghentikan kejang kejang yang terjadi dan mencegah kejang ulang. 1. Konsep pengobatan Menghindari tejadinya kejang berulang, mengurangi koma, meningkatkan jumlah diuresis. 2.Obat untuk anti kejang MgSO4 ( Magnesium Sulfat) Dosis awal: 4gr 20 % I.V. pelen-pelan selama 3 menit atau lebih disusul 10gr 40% I.M. terbagi pada bokong kanan dan kiri. Dosis ulangan : tiap 6 jam diberikan 5 gr 50 % I.M. diteruskan sampai 6 jam pasca persalinan atau 6 jam bebas kejang. Syarat : reflek patela harus positif, tidak ada tanda-tanda depresi pernafasan ( respirasi >16 kali /menit), produksi urine tidak kurang dari 25 cc/jam atau 150 cc per 6 jam atau 600 cc per hari. Apabila ada kejang lagi, diberikan Mg SO 4 20 %, 2gr I.V. pelan-pelan. Pemberian I.V. ulangan ini hanya sekali saja, apabila masih timbul kejang lagi maka diberikan pentotal 5 mg / kg BB / I.V. pelanpelan. Bila ada tanda-tanda keracunan Mg SO 4 diberikan antidotum glukonas kalsikus 10 gr % 10 cc / I.V pelan-pelan selama 3 menit atau lebih. Apabila diluar sudah diberi pengobatan diazepam, maka dilanjutkan pengobatan dengan MgSO 4 .

Pencegahan

30

Meningkatkan jumlah balai pemeriksaan antenatal & mengusahakan agar semua wanita hamil memeriksakan diri sejak hamil muda. Mencari pada tiap pemeriksaan tanda2 pre-eklamsi dan mengobati segera mungkin.

TERMINASI KEHAMILAN

Pengertian Terminasi kehamilan adalah mengakhiri kehamilan demi kepentingan hidup ibu dan atau anak ; artinya kalau kehamilan dibiarkan berlangsung terus akan membahayakan jiwa ibu dan atau anak.

Indikasi untuk melakukan terminasi kehamilan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. penyakit hypertensi dalam kehamilan penyakit ginjal diabetes mellitus cacat bawaan yang berat seperti anencephalus atau hydrocephalus keadaan gawat janin seperti pada gangguan pertumbuhan janin yang berat hydramnion yang berat kematian anak intrauterin kehamilan serotin ketuban pecah dalam kehamilan perdarahan antepartum indikasi non medis : sosial atau ekonomi

Cara-cara untuk melakukan indikasi terminasi kehamilan : 1. Cara mekanis a) Stripping of the membranes (melepaskan selaput janin sekitar ostium dari dasarnya). Dengan jari yang dimasukkan ke dalam canalis cervicalis, selaput janin dilepaskan dari dinding uterus sekitar ostium.metode ini hanya mungkin kalau cervix sudah sedikit terbuka dan lebih berhasil lagi kalau kepala sudah turun. Diduga bahwa dengan terlepasnya selaput didaerha ostium, selaput ini dapat menonjol kalau ada kontraksi dan dengan demikian mendilatasi dan meregang cervix.

b) Pemecahan ketuban Dengan pemecahan ketuban pada servix yang sudah matang, his dapat diharapkan timbul dalam 1-2 jam.

31

Cara pemecahan ketuban ialah Dilakukan dulu stripping of the membranes, kemudian ketuban dipecahkan dengan kocher atau dengan alat pemecah ketuban yang khusus. Kalau servix belum matang, dapat diusahakan mematangkannya dengan pitocin drip, stripping of the membranes atau pemberian 5 mg estradiolbenzoat sehari selama 2-3 hari. Bahaya dari pemecahan ketuban ialah infeksi intrauterin.

2. cara kimiawi a) Pitocin drip Caranya : 1 tablet (50 S) diletakka di gusi dan pipi di tempat molar ke III. Setelah setengah jam tablet ini dilkeluarkan dan dipasang satu tablet baru pada pipi yang berlawanan dan seterusnya sampai 10 tablet. Kalu belum berhasil dapat diberikan 1 kuur lagi dari 10 tablet. b) Injeksi intraamnial Terutama dilakukan kalau anak sudah mati, biasanya pada trisemester ke II. Dengan jarum panjang melalui dinding perut disuntikkan 200 ml air garam (NaCl) 20%. Lebih baik dari larutan NaCl hypertonis ialah penyuntikan prostaglandin PGF2 sebanyak 10 mg intraamnial. c) Prostaglandin Biasanya dipergunakan PGF2 atau PGF2 per infus. 5 mg PGF2 dilarutkan dalam 500 ml glucose 5% dengan kecepatan 1/2 ml/menit. Tiap 1/4 jam dapat dinaikkan 1/2 ml perminit sampai timbul his yang baik, dengan kecepatan maksimal 4 ml/menit.

3. cara kombinasi adalah pemecahan ketuban dengan pemberian oxytocyn atau pemecahan ketuban dengan pemberian prostaglandin. Kalau induksi gagal dan ketuban sudah dipecahkan maka kehamilan harus diakhiri dengan sectio caesarea. Sebaliknya kalau ketuban belum pecah, induksi dapat di ulangi setelah 24-48 jam.

Indikasi untuk menyelesaikan persalinan Indikasi untuk menyelesaikan persalinan dibagi menjadi 3 yaitu : 1) Indikasi-indikasi yang datang dari ibu Indikasi yang menandakan bahwa keadaan ibu kurang baik dan jika dibiarkan membawa maut. Indikasinya ialah :

32

Penyakit jantung dan paru-paru Eklampsi, pre-eklamsi Demam yang lebih dari 38C (infeksi) Lingkaran retraksi patologis Edema jalan lahir Perdarahan yang hebat Maternal exhaustion

2) Indikasi-indikasi yang datang dari anak Indikasi-indikasi ini menandakan bahwa keadaan anak kurang baik dan jika di biarkan anak akan mati. Bunyi jantung anak yang buruk Tali pusat menumbung Keluarnya meconium pada letak kepala atau sungsang dengan bokong masih tinggi.

3) Indikasi-indikasi pencegahan (profilaksis) Keadaan anak dan ibu masih baik tapi kalu kita tunggu, pasti akan memburuk. Misalnnya : Panggul sangat sempit, hingga pasti persalinan tidak dapat berlangsung spontan. Partus lama : 1) Tidak ada kemajuan dalm pembukaan 2) Tidak ada kemajuan dalam pengeluaran Kepala belum sampai kebidang H III: 2 jam setelah pembukaan lengkap, ketuban telah pecah dan his cukup kuat. Anak belum lahir 2 jam setelah kepala engaged Anak dalam letak sungsang belum lahir dalam 2 jam setelah pembukaan lengkap. Primi tua Adalah indikasiuntuk segera menyelesaikan persalinan kalau persalinan kurang lancar.

Cara cara untuk menyelesaikan persalinan : 1) Operasi operasi pada persalinan dengan anak hidup

Ekstraksi Forceps Supaya ekstraksi dengan forceps tidak membahayakan ibu dan atau anak, maka boleh dilakukan jika syarat-syaratnya terpenuhi. Syarat-syaratnya ialah : I. Pembukaan harus lengkap

33

Jika forceps di pasang sedangkan pembukaan belum lengkap maka : - bibir cervix mungkin terjepit anatara kepala anak dan sendok. - cervix robex, robekan servix sangat membahayakan karena menimbulkan perdarahan yang hebat. II. Ketuban harus pecah atau di pecahkan dulu Jika kita pasang forceps dan ketuban belum pecah, maka selaput janin ini ikut tertarik oleh forceps dan menimbulkan tarikan pada placenta yang dapat teerlepas karenanya (solutio placenta). III. Ukuran kepala terbesar harus sudah melewati pintu atas panggul Artinya kepala sekurang-kurangnya sampai di H III untuk letak belakang kepala. Supaya kita tidak tersesat oleh caput succedaneum dalam menentukan tingakt turunya kepal, maka toucher harus selalu dokontrol oleh palpasi. Dari luar hanya boleh teraba sebagian kecil saja dari kepala. IV. Kepala harus dapat dipegang oleh forceps Artinya forcheps tidak boleh di pasang pada kepala yang ukurannya besar dan bentuknya seperti prematur, hydrocephal, kepala yang telah mengalami macerasi. V. Anak hendaknya hidup Kalau anak mati dilakukan operasi yang mengecilkan kepala anak agar jaringan ibu tidak koyak. VI. Panggul tidak boleh terlalu sempit

Cara ekstraksi dengan forceps : 1. ekspresi secara kristeller penolong berdiri disamping penderita dan menghadap kearah kaki penderita.Kedua telapak tangan diletakkan pada fundus uteri dan sewaktu his mendorong fundus ke bawah.

2. Pemberian pitocin Seandainya terjadi tetania uteri cepat dilakukan ekstraksi forceps. 3. Koreksi digital

34

Dua jari yang di gunakan pada toucher diletakkan pada daerah u2 b, kalau anak dalam B: sewaktu his u2 b ini di tahan dan ditolak kebelakang agar fleksi bertambah dan putaran paksi bertambah. Vakum Ekstraksi Alat yang digunakan adalah vakum ekstraktor dari malmstrom. Prinsip cara ini adalah untuk mengadakan suatu vakum atau tekanan negatif melalui suatu cup pada kepala bayi. Shuolder dystocia Caranya : muka dan mulut bayi dibersihkan dari lendir dan juga jalan pernafassan dibersihkan dengan jalan menghisap lendir dari kerongkongan bayi. Selanjutnya kita usahakan melahirkan bahu dan harus di mulai dengan tindakan-tindakan yang paling ringan dan paling tidak traumatis. Tarikan yang kuat pada kepala harus di hindarkan karena tarikan ini dapat menyebabkan kerusakan pada plexus bracialis atau tulang ruas leher. Versi Versi luar Teknik : - mobilisasi : bokong dibebaskan dulu sentralisasi : kepala anak dan bokong ank dipegang dan di dekatkan satu sama yang lain sehingga badan anak membulat, dengan demikian lebih miudah di putar. - Versi : anak di putar sehingga kepala anak terdapat dibawah : arah pemutaran hendaknya kearah yang mudah, yang paling sedikit tahanannya. Kalau ada pilihan di putar ke arah perut anak supaya tidak terjadi defleksi atau tali pusat yang menunggang. Versi secara braxton hicks Versi dalam yang selalu disusul oleh ekstraksi (VE) -

Ekstraksi Dillakukan ekstraksi jika seluruh badan anak masih berada didalam jalan lahir pada waktu kita menarik. Kalu sebagian dari badan anak telah lahir kita lakukan manual hilfe atau manual aid, dilakukan kalau ada kesukaran lahirnya bahu saja (jadi setengah badan sudah lahir).

Sectio caesarea Adalah pembedahan untuk mengeluarkan anak dari rongga rahim denagn mengiris dindind perut dan dinding rahim.

Symphysiotomi

35

Merupakan operasi pemisahan kedua os pubic dengan memotong symphysis pubis sehingga ukuran panggul tambah besar.

2) Operasi operasi untk melahirkan anak yang telah mati Operasi-operasi untuk melahirkan anak yang sudah mati semuanya bermaksud untuk mengecilkan badan dengan cara memotong bagian-bagian anak atau dengan mengeluarkan isi badan anak. Dengan demikian kerusakan jaringan ibu sekecil-kecilnya. Operasi yang merusak anak disebut embryotomi dan terdiri atas: Perforasi/kranioklasi Perforasi adalah operasi yang utama dilakukan pada anak mati dengan letak kepala. Operasi ini dilakukan pada anak mati jika persalinan tidak dapat berlangsung spontan. Dekapitasi Dekapitasi adalah memisahkan kepala anak dari badan anak. Dekapitasi dilakukan pada anak mati dengan letak lintang kasip dengan cara menggunting leher dengan gunting siebold, mematahkan tulang leher dengan pengait braun, menggergaji leher.

Spondylotomi+eksenterasi Spondylotomi adalah mematahkan tulang belakang dan eksenterasi adalah mengeluarkan isi perut dan atau dada. Operasi ini dilakukan pada lengan menumbung, kalau leher tinggi sekali dan tidak dapat tercapai, karena yang menjadi bbagian terendah ialah tulang punggung. Eksenterasi juga dilakukan pada anak denag perut yang besar, hingga menyukarkan persalinan, misalnya karena asites atau tumor-tumor perut.

Cleidotomi Cleidotomi adalah memutuskan tulang selangka. Maksudnya ialah untuk memperkecil bahu dan biasanya pada anak mati,jika kepala telah lahir, tetapi lahirnya bahu menimbulkan kesukaran (shoulder dystocia).

36

GANGUAN DAN PENYULIT PADA MASA KEHAMILAN

PENDAHULUAN Angka kematian ibu bersalin dan angka kematian perinatal umunya dapat digunakan sebagai petunjuk untuk menilai keadaan gizi dan kesehatan ibu, tingkat pelayanan kesehatan ibu pada waktu hamil, melahirkan dan masa nifas, serta kondisi kesehatan lingkungan. Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT ) tahun 1986, angka kematian ibu bersalin di Indonesia masih sangat tinggi, berkisar 450 per 100.000 kelahiran hidup. Bila kita bandingkan dengan negara Asean lainnya, dimana angka kematian ibu bersalin berkisar 5-60 per 100.000 kelahiran hidup, maka angka tersebut jelas sangat tinggi. Sebagian besar kematian ibu tersebut yaitu sekitar 67% ternyata terjadi pada masa kehamilan 7 bulan ke atas, masa bersalin, atau masa nifas. Diduga angka kematian ibu yang tinggi ini erat hubungannya dengan : terutama dalam soal makanan dan pendidikan terhadap wanita, yang pada akhirnya akan menyebabkan keadaan gizi yang kurang memadai dan pendidikan yang tertinggal terutama pada wanita pedesaan. erlalu rapat, dan umumnya semua ini berhubungan dengan kemiskinan, ketidaktahuan dan kebodohan. resiko tinggi dan kasus gawat darurat pada lini terdepan. Disamping itu transportasi yang sulit, ketidakmampuan membayar pelayanan yang baik dan pantangan tertentu pada wanita hamil juga ikut berperan. Dari uraian di atas terlihat faktor yang multi komplek yang masih ikut berperan dan arus ditanggulangi untuk menurunkan angka kematian ibu bersalin. Umunya sebagian besar faktor-faktor di ataslah yang akan menyebabkan terjadinya gangguan dan penyulit pada kehamilan, persalinan dan nifas. KEHAMILAN RESIKO TINGGI Gangguan dan penyulit pada kehamilan umumnya ditemukan pada kehamilan resiko tinggi. Yang dimaksud dengan kehamilan resiko tinggi adalah kehamilan yang akan menyebabkan terjadinya bahaya dan komplikasi yang lebih besar baik terhadap ibu maupun terhadap janin yang dikandungnya selama masa kehamilan, melahirkan ataupun nifas bila dibandingkan dengan kehamilan persalinan dan nifas normal. Secara garis besar, kelangsungan suatu kehamilan sangat bergantung pada keadaan dan kesehatan ibu, plasenta dan keadaan janin. Jika ibu sehat dan didalam darahnya terdapat zat-zat makanan dan bahan-bahan organis dalam jumlah yang cukup, maka pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan akan berjalan baik. Dalam kehamilan, plasenta akan befungsi sebagai alat respiratorik, metabolik, nutrisi, endokrin, penyimpanan, transportasi dan pengeluaran dari tubuh ibu ke tubuh janin atau sebaliknya. Jika salah satu atau beberapa fungsi di atas terganggu, maka janin seperti tercekik, dan pertumbuhannya akan terganggu. Demikian juga bila ditemukan kelainan pertumbuhan janin baik berupa kelainan bawaan ataupun kelainan karena pengaruh lingkungan, maka pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan dapat mengalami gangguan.

37

Menurut penelitian telah diketahui bahwa umur reproduksi sehat pada seorang wanita berkisar antara 20-30 tahun, artinya ; melahirkan setelah umur 20 tahun jarak persalinan sebaiknya 2-3 tahun dan berhenti melahirkan setelah umur 30 tahun. Berarti anak cukup 2-3 orang. Telah dibuktikan bahwa kelahiran ke empat dan seterusnya akan meningkatkan kematian ibu dan janin. Abortus ( keguguran ), prematuritas dan dismaturitas ( bayi kecil untuk masa kehamilan ) dan postdatisme ( kehamilan lewat waktu ) kadang-kadang masih sulit di deteksi dengan baik. Dengan pengenalan dan penanganan dini, gangguan dan penyulit kehamilan dapat dikurangi. Penyakit yang diderita ibu baik sejak sebelum hamil ataupun sesudah kehamilan, seperti : penyakit paru, penyakit jantung sianotik, penyakit ginjal dan hipertensi, penyakit kelenjar endokrin ( gondok , diabetes mellitus, penyakit hati ), penyakit infeksi ( virus, bakteri parasit ), kelainan darah ibujanin ataupun keracunan obat dan bahan-bahan toksis, juga merupakan penyabab yang mengakibatkan terjadinya gangguan dan penyulit pada kehamilan. Disamping itu, kehamilan sendiri dapat menyebabkan terjadinya penyakit pad ibu hamil. Penyakit yang tergolong dalam kelompok ini antara lain : toksemia gravidarum ( keracunan hamil ), perdarahan hamil tua yang disebabkan karena plasenta previa ( plasenta menutupi jalan lahir ), dan solusio plasenta ( plasenta terlepas sebelum anak lahir ). Penyebab kematian ibu bersalin di Indonesia masih di dominasi oleh perdarahan, infeksi dan toksemia gravidarum. Seperti diuraikan sebelumnya, lingkungan dimana ibu hamil bertempat tinggal secara tidak langsung juga berperan dalam timbulnya penyulit pada kehamilan. Tempat tinggal yang pengap, kurang udara segar, lingkungan yang kotor, ibu yang tidak dapat beristirahat cukup dan gizi yang jelek dapat merupakan faktor penyebab. Dalam kehamilan, pertumbuhan dan perkembangan janin sebaiknya harus dapat diikuti dengan baik. Adanya kelainan pertumbuhan janin seperti KMK ( kecil untuk masa kehamilan ), BMK ( besar untuk masa kehamilan ), kelainan bawaan seperti hidrosefalus, hidramnion, kehamilan ganda ataupun adanya kelainan letak janin sedini mungkin harus segera dapat di deteksi. Bila keadaan ini baru di diagnosa pada kehamilan lanjut, maka penyulit pada kehamilan dan persalinan akan sering dijumpai. Kemiskinan, kebodohan, ketidaktahuan, dan budaya diam wanita Indonesia, ditambah lagi oleh transportasi yang sulit dan ketidakmampuan membayar pelayanan yang baik akan menyebabkan pelayanan antenatal di Indonesia masih kecil cakupannya. Pada ibu hamil pemeriksaan antenatal memegang peranan penting dalam perjalanan kehamilan dan persalinannya. Penelitian pada ibu hamil di Jawa Tengah pada tahun 1989 1990 menemukan bahwa ibu hamil dan bersalin yang tidak memeriksakan kehamilannya pada tenaga medis akan mengalami resiko kematian 3- 7 kali dibandingkan dengan ibu yang memeriksakan kehamilannya. Menurut Hanafiah pada penelitiannya di RS. Dr. Pirngadi Medan, ditemukan kematian maternal pada 93,9% kelompok tidak terdaftar. Sedangkan Tobing pada tahun 1984-1989 menemukan kematian maternal pada 67,9% kelompok tidak terdaftar. Yang dimaksud dengan kelompok tidak terdaftar adalah kelompok ibu hamil yang memeriksakan dirinya kurang dari 4 kali selama kehamilannya. Akibat kurangnya pemeriksaan antenatal yang dilakukan oleh tenaga medis terlatih ( bidan dokter dan dokter ahli ) banyak kasus dengan penyulit kehamilan tidak terdeteksi. Hal ini tentu saja akan menyebabkan terjadinya komplikasi yang lebih besar dalam perjalanan kehamilan dan persalinannya sehingga pada akhirnya akan mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang lebih besar pada ibu dan janin. Disamping itu karena pelayanan obstetri di lini terdepan masih sangat terbatas cakupannya dan belum mampu menanggulangi kasus gawat darurat, ditambah dengan transportasi yang masih sulit dan tidak mampu membayar pelayanan yang baik, banyak kasus rujukan yang diterima di Rumah Sakit sudah sangat terlambat dan gawat sehingga sulit ditolong.

USAHA PENCEGAHAN PENYULIT PADA KEHAMILAN DAN PERSALINAN

38

Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa usaha untuk pencegahan penyakit kehamilan dan persalinan tergantung pada berbagai faktor dan tidak semata-mata tergantung dari sudut medis atau kesehatan saja. Faktor sosial ekonomi diduga sangat berpengaruh. Karena pada umunya seseorang dengan keadaan sosial ekonomi rendah seperti diuraikan di atas, tidak akan terlepaa dari kemiskinan, kebodohan dan ketidaktahuan sehingga mempunyai kecenderungan untuk menikah pada usia muda dan tidak berpartisipasi dalam keluarga berencana. Disamping itu keadaan sosial ekonomi yang rendah juga akan megakibatkan gizi ibu dan perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan yang jelek. Transportasi yang baik disertai dengan ketersediaannya pusat-pusat pelayanan yang bermutu akan dapat melayani ibu hamil untuk mendapatkan asuhan anenatal yang baik, cakupannya luas, dan jumlah pemeriksaan yang cukup. Di negara maju setiap wanita hamil memeriksakan diri sekitar 15 kali selama kehamilannya. Sedangkan di Indonesia pada kehamilan resiko rendah dianggap cukup bila memeriksakan diri 4-5 kali. Jadi secara garis besar dapat disimpulkan bahwa usaha yang dapat dilakukan untuk pencegahan penyulit pada kehamilan dan persalinan adalah : 1. Asuhan antenatal yang baik dan bermutu bagi setiap wanita hamil. 2. Peningkatan pelayanan, jaringan pelayanan dan sistem rujukan kesehatan. 3. Peningkatan pelayanan gawat darurat sampai ke lini terdepan. 4. Peningkatan status wanita baik dalam pendidikan, gizi, masalah kesehatan wanita dan reproduksi dan peningkatan status sosial ekonominya. 5. Menurunkan tingkat fertilitas yang tinggi melalui program keluarga berencana.

39

REFERENSI

- Barbara Abrams : Maternal Nutrition. Dalam : Maternal-Fetal Medicine. Robert K Creasy, th Robert Risink ( Ed. ) WB Saunders Company 3 Edition, 1994. - Erdjan Albar, Rustam Mochtar : Konsep Usaha Penyelamatan Ibu. Pentaloka Peran Masyarakat Dalam Upaya Penyelamatan Ibu Tingkat Propinsi Sumatera Utara, 1988. - Haryono Roeshadi : Pemeliharaan Kesehatan Ibu Dan Anak Menuju Keluarga Yang Bahagia Dan Sejahtera. Panel Diskusi PHBI Fakultas Kedokteran USU, 1986. - Julie A. Lemieux : Prenatal Care. Dalam : Manual of Obstetrics Diagnosis and Therapy. th Kenneth R Niswandu ( Ed. ) Little Brown and Company 4 edition, 1991. - Saifuddin AB : Kematian Maternal. Dalam : Miknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T ( Ed. ). Ilmu Kebidanan Edisi 3, Jakarta : YBP-JP, 1991. - Saifuddin AB : Penanganan Kehamilan Resiko Tinggi Dalam Upaya Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi. Dalam : Perinatologi tahun 2000, Forum Ilmiah Perinatologi FKUI dan RS Harapan Kita. Titut S. Pusponegoro, Abdul Latif dan HE Monintja ( Ed. ), 1993. - Tunggul Simanjuntak : Kematian Maternal di RS Dr. Pirngadi Medan 1990-1994. Tesis Bagian Obstetri dan Ginekologi FK-USU, 1995. - Guyton, Arthur. C. 2006. Textbook of Medical Physiology 11th Ed. Elsevier. Inc. - Sherwood, Lauralee.2001. Fisiologi manusia 2th Ed. Jakarta : EGC - Obstetri Fisiologi. Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung. - Victor P. Eroschenko, Atlas Histologi di Fiore, ed ke 9, 2003. - Reinhard Putz, Reinhard Pabst, Sobotta, Jilid 1 & 2, ed ke 22, 2006.
- Tim editor EGC. Kamus Besar Dorland, ed ke 29, 2005.

40