P. 1
Laporan Pendokumentasian Kekerasan Polisi Pada Pengguna NAPZA_2012

Laporan Pendokumentasian Kekerasan Polisi Pada Pengguna NAPZA_2012

|Views: 613|Likes:
Dipublikasikan oleh Yvonne Sibuea
Para korban yang disoroti dalam laporan ini adalah pengguna narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) yang mengalami stigma atau pelabelan dari keluarga dan masyarakat di sekitar mereka, bahkan dari negara. Ungkapan-ungkapan berupa: sampah masyarakat, biang keributan, kriminal, perusak nama keluarga, sumber penyakit, dan pelabelan sejenis, akhirnya bermuara pada tindakan-tindakan diskriminatif dari masyarakat terhadap pengguna NAPZA. Pelabelan terhadap pengguna NAPZA membuat perlakuan sewenang-wenang aparat menjadi sesuatu yang dipandang “pantas” diterima. Pengguna NAPZA merupakan target kriminalisasi dalam pelaksanaan kebijakan Perang Terhadap NAPZA, dan di saat yang sama menjadi obyek kenaikan pangkat atau “kejar setoran” para aparat penegak hukum.
Para korban yang disoroti dalam laporan ini adalah pengguna narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) yang mengalami stigma atau pelabelan dari keluarga dan masyarakat di sekitar mereka, bahkan dari negara. Ungkapan-ungkapan berupa: sampah masyarakat, biang keributan, kriminal, perusak nama keluarga, sumber penyakit, dan pelabelan sejenis, akhirnya bermuara pada tindakan-tindakan diskriminatif dari masyarakat terhadap pengguna NAPZA. Pelabelan terhadap pengguna NAPZA membuat perlakuan sewenang-wenang aparat menjadi sesuatu yang dipandang “pantas” diterima. Pengguna NAPZA merupakan target kriminalisasi dalam pelaksanaan kebijakan Perang Terhadap NAPZA, dan di saat yang sama menjadi obyek kenaikan pangkat atau “kejar setoran” para aparat penegak hukum.

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Yvonne Sibuea on May 03, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial Share Alike

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/12/2012

pdf

text

original

1

Ucapan Terima Kasih dan Penghargaan
Laporan ini merupakan upaya bersama untuk mengumpulkan data, informasi dan kasus-kasus berkaitan dengan kekerasan polisi terhadap pengguna NAPZA. Upaya bersama untuk mengumpulkan data dan informasi berharga dilakukan oleh: FORKON : Herru Pribadi, Ade Suryana, Rido Triawan (Alm.) PANAZABA : Lili Herawati, Humpry Jhony Wacanno, Febby Cahaya Kurnia, Agus Mulyana PERFORMA : Yvonne Sibuea, M.Hasnul Fauzi, Robin Wellem Ilintutu EJA : Rudy Wedhasmara, Abdul Aziz, Adi Christianto Informasi di dalam laporan ini dikompilasi Atikah Nuraini Reviewer Daniel Wolfe , Direktur International Harm Reduction Development – Open Society Foundation, New York Nandini Pillai, Odilon Couzin, Sanjay Patil International Harm Reduction Development – Open Society Foundation, New York

Editor Atikah Nuraini, Yvonne Sibuea, Gentry Amalo Latar Belakang Atikah Nuraini, Yvonne Sibuea, Gentry Amalo
Desain Sampul Ira Hapsari Ilustrasi Sampul Harris
Program ini terselenggara atas dukungan dari International Harm Reduction Development – Open Society Foundation

2012

Attribution-Non Commercial-Share Alike CC BY-NC-SA
User of this publication should attribute the work in the manner specified by the original author. This publication can be remixed, tweaked, and shared for noncommercial use. This publication should be licensed under the identical terms.

2

Ringkasan Eksekutif
Di banyak negara termasuk Indonesia, masalah perlakuan sewenang-wenang petugas negara adalah hal yang umum terjadi, dan merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang serius. Kekerasan fisik dan penyiksaan, kekerasan seksual dan penghinaan termasuk penelanjangan, kekerasan verbal dan berbagai bentuk tindakan sewenang-wenang lainnya terjadi di banyak tempat dan situasi. Perlakuan tersebut dapat terjadi di waktu penggeledahan, di tempat umum, di tempat-tempat keramaian dan pusat-pusat hiburan. Perlakuan kejam dan tidak manusiawi itu terjadi di kantor polisi, di lembaga pemasyarakatan, rumah tahanan dan basis militer. Para korban yang disoroti dalam laporan ini adalah pengguna narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) yang mengalami stigma atau pelabelan dari keluarga dan masyarakat di sekitar mereka, bahkan dari negara. Ungkapan-ungkapan berupa: sampah masyarakat, biang keributan, kriminal, perusak nama keluarga, sumber penyakit, dan pelabelan sejenis, akhirnya bermuara pada tindakan-tindakan diskriminatif dari masyarakat terhadap pengguna NAPZA. Pelabelan terhadap pengguna NAPZA membuat perlakuan sewenang-wenang aparat menjadi sesuatu yang dipandang “pantas” diterima. Pengguna NAPZA merupakan target kriminalisasi dalam pelaksanaan kebijakan Perang Terhadap NAPZA, dan di saat yang sama menjadi obyek kenaikan pangkat atau “kejar setoran” para aparat penegak hukum. Pengguna NAPZA menjadi rentan terhadap sejumlah pelanggaran hak asasi manusia baik dalam bentuk kekerasan seperti kesewenang-wenangan, pengabaian terhadap layanan kesehatan, stigma, tindakan diskriminatif, hingga penghukuman yang tidak proporsional. Hak-hak yang dilanggar pada umumnya meliputi hak atas integritas dan kebebasan fisik, hak untuk bebas dari penyiksaan, dan perlakuan atau penghukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan, serta hak untuk bebas dari penangkapan dan penahanan sewenang-wenang sebagaimana yang diatur dalam Perjanjian HAM Internasional (seperti Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik dan Konvensi Anti Penyiksaan), serta hukum domestik / nasional. Laporan ini merupakan hasil analisis pemantauan dan dokumentasi yang dilakukan oleh Jaringan Pemantau Pelanggaran HAM pada Pengguna NAPZA (JP2HAM), yang beranggotakan FORKON, PANAZABA, PERFORMA dan EJA. Keempat organisasi ini memiliki fokus kerja pada penanganan masalah Kebijakan NAPZA di Indonesia. Wilayah kerja FORKON berada di DKI Jakarta, PANAZABA di Jawa Barat, PERFORMA di Jawa Tengah, sementara EJA di Jawa Timur. Tujuan pendokumentasian ini adalah: (1) Adanya pemahaman yang lebih baik tentang sebab dan akibat serta hubungan antara masalah-masalah di seputar perlakuan buruk dan tindak kekerasan polisi dan petugas penegak hukum lainnya terhadap pengguna NAPZA dan bagaimana sumber-sumber nasional dan internasional dapat membantu mengatasi masalah tersebut;

3

(2) Mengidentifikasi langkah-langkah yang diperlukan untuk melaksanakan program pengurangan dampak buruk NAPZA (harm reduction )dan hak asasi manusia di Indonesia (3) Menyumbang strategi di tingkat negara untuk melakukan intervensi berbasis peristiwa, penelitian di masa depan, dan advokasi berbasis hak, khususnya di tingkat akar rumput. Proses pemantauan dilakukan pada bulan Mei s/d Agustus 2009. Selanjutnya proses tersebut dilanjutkan hingga tahun 2011. Data dan informasi yang dikumpulkan diperoleh dari kasuskasus yang dipantau atau diterima. Kasus-kasus yang direkam dan dicatat terjadi sejak tahun 1997 s/d 2011 dari 4 Provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah,dan Jawa Timur. Untuk menganalisis hasil pemantauan, digunakan metode atau model analisis “Who Did What to Whom?” (Siapa Melakukan Apa pada Siapa) yang dikembangkan oleh HURIDOCS. Secara ringkas, total kasus yang dipantau dan didokumentasikan di 4 (empat) Provinsi di Jawa sejak 1997 – 2011 adalah sebanyak: 139 kasus dan dapat diperinci sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 27 kasus dari Provinsi DKI Jakarta 28 kasus dari Provinsi Jawa Barat 56 kasus from dari Provinsi Jawa Tengah 26 kasus from Provinsi Jawa Timur 1 kasus dari Provinsi Yogyakarta

Selain itu, terdapat 1 (satu) catatan kasus yang dilaporkan berasal dari Lampung (di luar Pulau Jawa). Rincian korban terdiri dari 19 kasus dengan korban perempuan dan 120 kasus dengan korban laki-laki. Tercatat pula satu korban anak-anak / remaja. Jenis-jenis tindakan pelanggaran yang paling banyak dialami korban adalah:         Pelanggaran terhadap integritas pribadi, khususnya berkaitan dengan kekerasan fisik : 117 kasus Penangkapan tidak sah: 112 kasus penahanan atau pemenjaraan : 97 kasus Penyangkalan hak untuk dinyatakan tidak bersalah: 96 kasus Penyangkalan hak untuk mendapat perlakuan yang bermartabat dan manusiawi: 95 kasus Penyangkalan hak legal sebagai tersangka: 112 kasus Penyangkalan hak atas penangkapan yang sah: 108 kasus Penyangkalan hak untuk mendapatkan bantuan hukum: 108 kasus

Terdapat jumlah yang signifikan untuk kasus-kasus :       Kekerasan fisik / penganiayaan (106 kasus), Penyiksaan (71 kasus), Penggeledahan tidak sah (illegal search) (70 kasus), Pemerasan (extortion) (46 kasus), Ancaman / intimidasi (34 kasus), Perampasan / penyitaan (seizures) (15 kasus).

4

Sebagian besar pelanggaran dilakukan oleh aparat negara. Jenis pelaku dan institusi mereka terdiri dari polisi, baik di tingkat Nasional, Provinsi, hingga tingkat Polres dan Polsek. Selain itu juga ditemukan kasus pelanggaran yang melibatkan Kejaksaan, Pengadilan, dan Lembaga Pemasyarakatan. Temuan kegiatan pemantauan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan polisi dan penegak hukum lainnya terhadap para pengguna NAPZA telah menunjukkan bahwa respon yang bersifat represif dan punitif (menghukum) tidak akan pernah menyelesaikan masalah penggunaan NAPZA dan HIV/AIDS. Masalah NAPZA tidak dapat diselesaikan hanya dengan inisiatif-inisiatif pemidanaan semata. Pendekatan yang bersifat penghukuman justru menyebabkan pengguna NAPZA menghindar dari pusat-pusat layanan pencegahan dan perawatan ketergantungan NAPZA. Berdasarkan hasil pemantauan ini Jaringan Pemantau Pelanggaran HAM pada Pengguna NAPZA merekomendasikan agar pemerintah, dengan dukungan masyarakat sipil dan komunitas Internasional mengambil langkah-langkah untuk melaksanakan rekomendasi-rekomendasi berikut: 1. Sebagai bentuk kewajiban konstitusionalnya untuk melindungi hak-hak warga negara, maka Pemerintah harus memastikan bahwa perlakuan dan hukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan, termasuk yang ditujukan kepada para pengguna NAPZA, harus dilarang secara eksplisit. Penyiksaan harus didefinisikan dan dikriminalisasi sebagai tanda konkrit komitmen Indonesia untuk menerapkan pasal 1 dan 4 Konvensi Anti Penyiksaan. 2. Melakukan perubahan kebijakan yangmemandang pengguna NAPZA sebagai korban. Apabila harus melalui proses hukum maka rehabilitasi hendaknya menjadi pilihan dan bukannya pemenjaraan, karena melihat maraknya peredaran gelap NAPZA di dalam penjara. Untuk itu diperlukan pula upaya-upaya untuk penyadaran masyarakat secara lebih luas mengenai posisi pengguna NAPZA dan melakukan pengawalan terhadap kebijakan NAPZA di Indonesia. 3. Pemerintah Indonesia harus memastikan bahwa sistem peradilan pidana bersifat non diskriminatif di setiap tahapan dan mengambil tindakan-tindakan efektif memberantas korupsi dan pemerasan oleh pejabat publik yang bertanggung jawab atas administrasi peradilan, termasuk hakim, jaksa, polisi dan personil penjara. 4. Semua tahanan dalam kasus NAPZA harus dijamin hak-haknya sebagai subjek hukum untuk menolak penahanan yang tidak sah di hadapan pengadilan, atau menggunakan mekanisme pra-peradilan. Hakim dan jaksa harus secara rutin menanyakan orang yang tiba dari tempat tahanan polisi bagaimana mereka diperlakukan, dan bila mereka menduga bahwa mereka telah menerima perlakuan buruk, memerintahkan pemeriksaan medis independen sesuai dengan Protokol Istambul, bahkan bila tidak ada pengaduan formal dari terdakwa. Dalam hal ini, Pengakuan yang dibuat oleh orang dalam tahanan tanpa kehadiran pengacara dan

5

tidak dikonfirmasi di hadapan hakim tidak dapat diterima sebagai bukti terhadap orang yang membuat pengakuan. 5. Pemerintah perlu membangun mekanisme pengaduan yang dapat diakses dan efektif. Mekanisme ini harus dapat diakses dimana pun dan dari semua tempat penahanan; pengaduan oleh tahanan harus diikuti dengan penyelidikan independen dan menyeluruh. 6. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Komisi Nasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), serta Ombudsman Republik Indonesia, hendaknya dapat menginisiasi Mekanisme Pencegahan Nasional (NPM) yang sepenuhnya independen untuk menjalankan kunjungan-kunjungan ke semua tempat penahanan, khususnya bagi para tahanan dalam kasus-kasus NAPZA, sebagai salah satu kewajiban dari Pelaksanaan Protokol Opsional Konvensi Anti Penyiksaan. Terbitnya laporan ini sungguh merupakan awal dari kerja yang panjang untuk memantau berbagai pelanggaran hak asasi manusia terhadap pengguna NAPZA. Kami mengucapkan terima kasih untuk seluruh pihak yang telah membantu proses ini, terutama para korban yang dengan tegar mempercayakan kisah-kisahnya untuk kami dokumentasikan. Pekerjaan ini diharapkan dapat dilakukan secara rutin dan berkesinambungan sehingga pada saatnya dapat dipastikan kekerasan yang terjadi pada para pengguna NAPZA akan semakin berkurang dan upaya penghormatan terhadap hak asasi manusia bagi semua orang dapat diwujudkan.

----

6

Daftar Isi
Ucapan Terima Kasih dan Penghargaan Ringkasan Eksekutif Daftar Isi Sekapur Sirih Bab Satu 2 3 7 9

Riwayat NAPZA: Yang Dicari Sekaligus Dibenci a. Pemerintahan Hindia Belanda b. Awal Kemerdekaan Indonesia (1945-1950) c. Dimulainya Kampanye Perang terhadap NAPZA d. Kekerasan Polisi terhadap Pengguna NAPZA e. Pendekatan Pengurangan Dampak Buruk NAPZA (Harm Reduction)di Indonesia f. Inisiatif Nasional untuk Program Pengurangan Dampak Buruk terhadap Pengguna NAPZA Suara-suara Mereka yang Dibenamkan a. Dari Stigma hingga Kesewenang-wenangan b. Temuan Umum Pemantauan c. Korban dan Pengalaman Kekerasan yang dialami d. Jenis-jenis Tindakan Kekerasan yang dialami e. Metode atau Cara-cara Kekerasan f. Kekerasan Seksual Kekerasan Aparat dan Kerangka Hukum Hak Asasi Manusia a. Hak-hak yang Dilanggar b. Instrumen dan Mekanisme Pokok Hak Asasi Manusia c. Larangan Penyiksaan dalam Hukum Hak Asasi Manusia Internasional

13 13 14 14 17 18 20 23 23 24 28 30 32 34 37 37 39 44 49 49 51 52 57 57 59

Dua

Tiga

Empat Kedudukan Hukum Pengguna NAPZA dalam Hukum Nasional a. Undang-Undang Narkotika, Melindungi Siapa? b. Pengguna NAPZA dan Hak-hak sebagai Warga Negara c. Beberapa Persoalan Mendasar di Seputar Kebijakan Hukum tentang NAPZA Lima Kesimpulan dan Langkah Kedepan a. Mencari Jalan Keluar b. Pintu-pintu Terobosan

7

Lampiran: Panduan Pendokumentasian Pelanggaran HAM bagi Pengguna NAPZA Titik Berangkat Mengapa Perlu Mendokumentasikan pelanggaran HAM Pemantauan, Pencarian Fakta, dan Pendokumentasian Siapa Melakukan Apa pada Siapa Membedakan Peristiwa dan Tindak Pelanggaran Mengidentifikasi Orang dan Peran-perannya Memahami Kosakata Terkendali Model Untuk Analisis Kasus Mengenal OpenEvSys Standar Format Pendokumentasian Bersama Pengalaman Advokasi Bersama Jaringan Pemantau Pelanggaran HAM terhadap Pengguna NAPZA 61 62 62 64 66 68 67 68 69 76 77 82

8

Sekapur Sirih
Laporan ini merupakan hasil analisis pemantauan dan dokumentasi yang dilakukan organisasiorganisasi berbasis komunitas pengguna narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) di Indonesia yang didukung oleh International Harm Reduction Development-Open Society Foundation. Tujuan pendokumentasian ini adalah:
“Inilah waktunya untuk memikirkan kembali pendekatan penghukuman dalam penetapan kebijakan NAPZA dan menggantikannya dengan pendekatan berbasis hak asasi manusia yang memastikan perlindungan bagi kelompokkelompok yang paling rentan” Manfred Nowak, (Pelapor Khusus PBB untuk Anti Penyiksaan)

Pemahaman yang lebih baik tentang sebab dan akibat serta hubungan antara masalahmasalah di seputar perlakuan buruk dan tindak kekerasan polisi dan petugas penegak hukum lainnya terhadap pengguna NAPZA dan bagaimana sumbersumber nasional dan internasional dapat membantu

mengatasi masalah tersebut.  Mengidentifikasi langkah-langkah yang diperlukan untuk melaksanakan program harm reduction dan hak asasi manusia di Indonesia. Menyumbang strategi di tingkat negara untuk melakukan intervensi berbasis peristiwa, penelitian di masa depan, dan advokasi berbasis hak, khususnya di tingkat akar rumput.

Selain itu, terdapat dua tujuan yang hendak dicapai dari upaya yang mengerahkan waktu dan tenaga ini: Pertama, adalah memberikan pemahaman yang jelas tentang latar belakang persoalan serta metodologi yang dipakai dalam melakukan pemantauan dan dokumentasi bagi organisasiorganisasi berbasis komunitas pengguna NAPZA dan juga dapat meningkatkan kapasitas kelompok atau organisasi dalam melakukan kerja-kerja pemantauan. Tujuan yang kedua, adalah menyediakan referensi atau rujukan bagi siapapun yang membutuhkan pengalaman, temuan pemantauan dan dokumentasi pelanggaran hak asasi terhadap pengguna NAPZA. Dengan demikian melalui laporan sederhana ini pembaca dapat berbagi pengalaman Jaringan Pemantau Pelanggaran HAM pada Pengguna NAPZA tentang pengumpulan data dan informasi, standarisasi konsep dan kosa kata terkontrol untuk menciptakan klasifikasi yang dapat digunakan bersama dari sejumlah istilah dan definisi,

9

menstrukturkan data ke dalam database atau pangkalan data relasional, dan menerapkan thesaurus yang disusun oleh HURIDOCS and Human Rights Data Analysis Group (HRDAG).

Metodologi Proses pemantauan dilakukan pada bulan Mei s/d Agustus 2009. Selanjutnya proses tersebut dilanjutkan hingga tahun 2011. Data dan informasi yang dikumpulkan diperoleh dari kasuskasus yang dipantau atau diterima. Kasus-kasus yang direkam dan dicatat terjadi sejak tahun 1997 s/d 2011 dari 4 Provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah,dan Jawa Timur . Untuk menganalisis hasil pemantauan, digunakan metode atau model analisis "Who Did What to Whom?" (Siapa Melakukan Apa pada Siapa) yang dikembangkan oleh HURIDOCS, sebuah organisasi yang bermarkas di Jenewa. Dengan model analisis yang dikembangkan oleh HURIDOCS ini, prinsip utama adalah untuk merekam ‘siapa yang melakukan apa, dan pada siapa’.

Batasan Laporan Mengingat waktu dan cakupan geografis yang terbatas, fokus pelaporan ini sangatlah sempit dibandingkan dengan situasi nyata. Laporan ini dapat dipandang sebagai potret situasi. Ini merupakan pertama kalinya satu Jaringan Pemantau menerapkan metode pendokumentasian bersama dari kasus-kasus yang dikumpulkan dengan format standar dan menganalisis temuantemuan tersebut secara lebih sistematis dengan menggunakan pendekatan berbasis peristiwa. Terlepas dari perbedaan format awal oleh masing-masing organisasi, data yang dikumpulkan memiliki temuan yang kaya dan dapat digunakan untuk analisis lebih jauh. Perlu dicatat bahwa selama proses pemantauan, Jaringan Pemantau Pelanggaran HAM bukannya tidak mengalami hambatan untuk membuat data yang dikumpulkan lebih lengkap, lebih detail, dan dapat diperbandingkan satu sama lain. Sebagian besar anggota Jaringan Pemantau mengalami persoalan yang sama seputar ketersediaan sumber daya manusia yang mampu melakukan pemantauan dan pendokumentasian secara teratur. Selain itu juga didapati masalah kapasitas melakukan pemantauan dan dokumentasi yang lebih sistematis. Ketiadaan personil dan kurangnya kapasitas berdampak pada kualitas data yang dihasilkan. Lebih jauh, tidak adanya data yang dikumpulkan secara teratur dan rutin diperbaharui tentang kekerasan pada pengguna NAPZA untuk dianalisis dan dipublikasikan menyebabkan lemahnya upaya menyusun langkah-langkah strategis yang memandu advokasi bersama. Meskipun tidak seluruh anggota Jaringan Pemantau mampu mengatasi masalah mereka dengan segera, tiap organisasi memiliki tingkatan upaya yang berbeda-beda namun berguna untuk

10

mengenali masalah-masalah teknis yang sejenis dalam hal pengumpulan data. Beberapa masalah teknis yang dapat dikenali, antara lain:  Ketidaklengkapan pernyataan kesaksian (misalnya, ketidaklengkapan informasi tentang waktu, tempat, atau tindakan yang dialami oleh korban, tidak ada alamat, tidak jelas siapa korbannya, dsb.) Registrasi atau pendataan informasi dasar yang tidak tepat atau tidak lengkap (salah ejaan nama, usia, tanggal lahir, dan data dasar lainnya) Kesaksian yang sudah diproses diulang lagi Mandat organisasi yang tidak jelas berkaitan dengan pengumpulan data Pengolahan data yang tidak konsisten / tidak reguler, hilangnya informasi yang diperlukan untuk analisis, ringkasan atau rangkuman kasus yang bias, tidak jelas siapa pelaku, tidak ada saksi yang bisa dikonfirmasi, dsb.

   

Timbul pertanyaan bagaimana data-data mentah tersebut dapat disatukan atau diintegrasikan. Hampir semua sumber memiliki sejumlah masalah yang sama dan juga unik. Informasi utama yang dikumpulkan dari para saksi dapat saja bias, tidak lengkap, dan tidak akurat. Sumbersumber dokumentasi dari bukti yang dikumpulkan juga bisa saja diwarnai asumsi masingmasing si pengumpul data. Oleh karena itu, jaringan ini meyakini bahwa metode pendokumentasian dan format standar diperlukan untuk mengatasi masalah sumber informasi tersebut. Terlepas dari segala kekurangan yang terjadi, upaya ini tetap merupakan bagian yang penting dalam keseluruhan proses advokasi hak asasi manusia bagi pengguna NAPZA. Terbitnya laporan ini sungguh merupakan awal dari kerja yang panjang untuk memantau berbagai pelanggaran hak asasi manusia terhadap pengguna NAPZA. Kami mengucapkan terima kasih untuk seluruh pihak yang telah membantu proses ini, terutama para korban yang dengan tegar mempercayakan kisah-kisahnya untuk kami dokumentasikan. Pekerjaan ini diharapkan dapat dilakukan secara rutin dan berkesinambungan sehingga pada saatnya dapat dipastikan kekerasan yang terjadi pada pengguna NAPZA akan semakin berkurang dan upaya penghormatan terhadap hak asasi manusia bagi semua orang dapat diwujudkan.

Jaringan Pemantau Pelanggaran HAM terhadap Pengguna NAPZA (FORKON – PANAZABA – PERFORMA – EJA)

11

12

1.
Riwayat NAPZA: Yang Dicari, Sekaligus Dibenci

Pemerintahan Hindia Belanda
Penggunaan NAPZA di Indonesia bukan merupakan sebuah gaya hidup yang baru diadaptasi dari luar oleh masyarakat Indonesia modern, namun jauh sebelum itu kisah tersebut telah dimulai. Penggunaan NAPZA di Nusantara memiliki catatan panjang, seiring dengan dimulainya kolonialisasi Belanda di Kepulauan Nusantara sejak awal abad ke -17. Pada periode tersebut, pemerintah kolonial Hindia Belanda sudah menerapkan regulasi penggunaan NAPZA jenis opium untuk konsumsi masyarakat. Misalnya saja, pada 1925-1938, tercatat data pengguna opium yang mendapat lisensi dari pemerintah Hindia Belanda. Pengguna opium yang mendapat lisensi dalam catatan pemerintah Hindia Belanda dibedakan berdasarkan tiga golongan yakni warga pribumi, warga Tionghoa, dan warga Eropa. Wilayah di Nusantara yang memiliki data pengguna opium berlisensi, diantaranya: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Surakarta, Sumatra Barat, Tapanuli, Bengkulu, Lampung, Palembang, Jambi, Sumatra Timur, Riau, Bangka, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan & Timur, Manado, Celebes, Maluku, Timor, Bali dan Lombok. Para pengguna opium yang tidak mendaftar tercatat sebagai pengguna opium tak berlisensi (unlicensed opium user). Tetapi besaran konsumsi opium dari pengguna opium tak berlisensi tetap tercatat secara rapi oleh pihak pemerintah Hindia Belanda1 Pulau Jawa merupakan bagian dari wilayah yang sejak lama berada di bawah koloni Belanda, penanaman opium di Jawa berkembang perlahan seiring hubungan yang erat dengan institusiinstitusi lain yang mendukung. Tidak seperti di wilayah Asia Tenggara lainnya, konsumen opium tidak didominasi kaum pekerja berkebangsaan China, tetapi penduduk asli Jawa.2
1 2

Chandra, Siddharth, “Opium Consumption Data for Netherlands East Indies, 1925-1938” , 2009 Rush, James R., “Opium to Java: Revenue Farming and Chinese Enterprise in Colonial Indonesia 1860-1910”, hal.3. 2007

13

Penggunaan opium meluas di kalangan penduduk Jawa yang meningkatkan keuntungan pemerintah kolonial. Bisa dibilang pada saat itu hampir 12% dari pendapatan pemerintah kolonial berasal dari monopoli opium dalam kurun waktu 1827-1933.3

Awal Kemerdekaan Indonesia (1945-1950)
Di awal-awal terbentuknya Republik Indonesia, pemerintah memiliki kebijakan tidak tertulis tentang NAPZA, kendati demikian ada sedikit catatan dalam potongan-potongan sejarah kemerdekaan Indonesia. Di awal-awal kemerdekaan, tidak sedikit opium yang berada dibawah kekuasaan pemerintah Hindia Belanda, yang kemudian dikuasai oleh Jepang, diselundupkan ke luar negeri baik melalui jalur udara dan jalur laut. Penyelundupan ini dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan seperti Adi Sutjipto, Abdul Rahman Saleh, Adi Sumarmo, Abdul Halim Perdanakusumah, dan R. Iswahyudi yang merupakan tokoh penting dari Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) di masa itu. Penerbangan gelap (black flight) menembus blokade udara Belanda kerap dilakukan dengan menempuh rute penerbangan Yogyakarta – Bukittinggi – Kutaradja (Banda Aceh) – Rangoon (Burma) – Bangkok (Thailand). Kemudian ada juga jalur Yogyakarta - Singapura dan jalur Yogyakarta – Manila (Filipina). 4 Sementara jalur laut dipimpin oleh John Lie yang menempuh jalur antara kota-kota di pesisir timur Sumatera menuju Singapura. Adapun nama-nama yang disebutkan diatas kelak dianugerahi sebagai “Pahlawan Nasional” Indonesia. Operasi penyelundupan ini dilaksanakan untuk membarter opium dengan berbagai macam persenjataan yang lebih modern termasuk pesawat angkut dan obat-obatan dibutuhkan para pejuang ketika itu. Hasil barter opium ini kemudian berwujud dalam beberapa pesawat angkut militer C-47 Dakota dan patroli pantai PBY 5 Catalina dengan nomor registrasi RI-002 – RI-008. Selain itu ditambah lagi dengan ribuan pucuk senjata api dan amunisi serta obat-obatan yang dibutuhkan Palang Merah Indonesia hingga tahun 1950-an.5 Sayangnya, kisah tentang pengaturan NAPZA diawal-awal kemerdekaan Indonesia, yang merupakan taktik dan strategi militer Indonesia saat itu, tidak pernah disebutkan dan ditulis dalam catatan resmi sejarah perjuangan bangsa Indonesia dari 1945 - 1950.

Dimulainya Kampanye Perang Terhadap NAPZA
Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang merupakan warisan kolonial Hindia Belanda telah memuat pasal-pasal yang mengatur tentang “madat” namun pasal-pasal tersebut dirasa
3

Ricklefs, Merle Calvin, “Sejarah Indonesia Modern 1200-2004” hal. 253. Soewito, Irna H.N. Hadi ; Suyono, Nana Nurliana ; Suhartono, Soedarini, “ Awal Kedirgantaraan Indonesia. Perjuangan AURI 19451950”, 2008 5 Ibid
4

14

tidak lagi sesuai dengan situasi NAPZA terkini di Indonesia dan internasional. Karenanya, di era Orde Baru, regulasi NAPZA dipertegas dengan disahkannya UU No 9 tahun 1976 tentang Narkotika. Pada 1988, Konvensi PBB Anti-Perdagangan Gelap Narkotika dan Psikotropika (United Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances) dideklarasikan. Konvensi yang menjadi dasar pelaksanaan kebijakan pelarangan penggunaan NAPZA di seluruh dunia mulai diberlakukan pada 11 November 1990, dan hingga 1 Januari 2005, telah 170 negara yang ikut menandatanganinya, termasuk Indonesia. Konvensi tersebut diatas merupakan mekanisme legal dari Konvensi Tunggal PBB tentang Narkotika tahun 1961 (1961 UN Single Convention on Narcotic Drugs) dan Konvensi PBB tentang Psikotropika 1971 (1971 UN Convention on Psychotropic Substances). Menjelang runtuhnya Orde Baru, regulasi NAPZA diperbaharui dengan pengesahan UU no. 5/1997 tentang Psikotropika dan UU no. 22 tahun 1997 tentang Narkotika yang sangat menitikberatkan sanksi penghukuman bagi pengguna atau pecandu NAPZA. Selama dua belas tahun, genderang perang melawan peredaran NAPZA di Indonesia ditabuh. Faktanya, peredaran dan penggunaan NAPZA penggunaan ilegal tetap tidak terbendung. Menyikapi hal tersebut, maka pada 2009, pemerintah dan DPR di Era Reformasi kemudian mengambil inisiatif untuk melakukan amandemen UU no 22/1997 tentang Narkotika menjadi UU No 35 /2009 tentang Narkotika, yang menurut pemerintah dan DPR sudah cukup “humanis”. Klaim humanis pada UU no. 35/2009 didasarkan atas dimuatnya pasal yang mengatur tentang rehabilitasi pengguna NAPZA pada pasal 54. Menyusul UU baru ini, berbagai petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis untuk mendukung rehabilitasi pengguna NAPZA disahkan. Di dalam UU No.35/2009 tentang Narkotika ini, obat-obatan golongan Psikotropika pun secara paksa dimasukkan ke dalam golongan “narkotika”. Penggolongan yang dipaksakan tanpa dasar ilmiah ini dilakukan pemerintah karena kurangnya waktu untuk sekaligus melakukan amandemen pada UU no. 5/ 1997 tentang Psikotropika. Semua kebijakan NAPZA yang diberlakukan di Indonesia, terutama sejak 1997, berkiblat pada sebuah kebijakan pelarangan masif terhadap NAPZA dengan menggunakan metafora PERANG. PERANG TERHADAP NAPZA. Ruh peperangan yang ditiupkan ke dalam kampanye ini tidak serta merta hilang dengan pengesahan UU Narkotika yang terkini. Penggunaan metafora PERANG berdampak pada perilaku para penegak hukum yang menganggap sah melakukan upaya-upaya kekerasan dalam melaksanakan mandat memerangi peredaran NAPZA di Indonesia. Dalam keseharian, aparat penegak hukum melakukan kekerasan pada pengguna NAPZA , yang justru merupakan pihak yang paling dirugikan. Pengguna NAPZA merupakan komponen terbesar dan berada dalam urutan terendah dalam piramida besar peredaran NAPZA di Indonesia.

15

Kampanye PERANG TERHADAP NAPZA dirancang dengan penggunaan berbagai retorika moral dan religius untuk mengecam para pengguna NAPZA, menimbulkan rasa bersalah, dengan harapan dapat mengurangi minat masyarakat untuk menggunakan NAPZA. Dampak serius yang diakibatkan indoktrinasi negara dengan menciptakan imaji pengguna NAPZA sebagai pelaku kejahatan berat yang harus ditumpas masyarakat telah menimbulkan stigma dan diskriminasi terhadap pengguna NAPZA. Sikap yang seperti ini tentu saja telah berdampak psikologis yang cukup mendalam karena tidak sedikit pengguna NAPZA merasa rendah diri dan menganggap sudah sepantasnya mereka menerima perlakuan sewenang-wenang dari aparat penegak hukum maupun masyarakat, karena perilaku penggunaan NAPZA pada dasarnya dilarang Undang-Undang. Kesadaran pengguna NAPZA untuk mengakses bantuan hukum sangat rendah, seiring dengan informasi menyesatkan yang didistribusikan aparat penegak hukum, bahwa dalam kasus NAPZA, campur tangan pengacara akan menyebabkan vonis hakim akan menjadi lebih berat bagi si terdakwa. PERANG TERHADAP NAPZA dapat dilihat dari berbagai tindakan berupa razia, penggerebekan, penggeledahan, penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, serta panjangnya masa hukuman penjara untuk para pengedar NAPZA maupun pengguna NAPZA yang selain menggunakan NAPZA, juga kedapatan menyimpan NAPZA. Pengguna NAPZA didorong untuk menempuh ‘jalan damai’ dengan menyerahkan sejumlah uang pada aparat penegak hukum baik di tingkat kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman. Pengguna NAPZA yang tidak mampu menempuh ‘jalan damai’ dipastikan akan menjalani persidangan dengan vonis pemenjaraan yang masa hukumannya lebih lama. Karena faktor-faktor tersebut, maka pengguna NAPZA sangat rentan terhadap tindak kekerasan yang dilakukan polisi dan aparat penegak hukum lainnya.

16

Kekerasan Polisi terhadap Pengguna NAPZA
Menilik penggunaan pendekatan kekerasan oleh aparat penegak hukum, terutama polisi dalam upaya penanggulangan masalah NAPZA di Indonesia membutuhkan pengkajian budaya institusi maupun sejarah secara mendalam. Seperti yang dijabarkan oleh Arinto Nurcahyono dalam tulisan berjudul “Kekerasan Sebagai Fenomena Budaya: Suatu Pelacakan Terhadap Akar Kekerasan di Indonesia” dibawah ini: “...Tidak seorang dan tidak satu komunitas pun luput dari aksi kekerasan dalam pelbagai bentuk dan manifestasinya. Kekerasan sedemikian luas dan kompleks sehingga amat sulit merangkum luas cakupan, pengertian, jenis, jumlah dan kualitas secara singkat....” 6 Metode komunikasi massa yang dikembangkan pemerintah Indonesia tentang NAPZA, diikuti secara latah oleh masyarakat Indonesia melalui pemberitaan media cetak, elektronik dan pemasangan spanduk di ruang-ruang publik. Kampanye-kampanye yang dikembangkan sangat menyoroti sisi ‘jahat’ dari perilaku penggunaan NAPZA. Dalam mendiskreditkan perilaku penggunaan NAPZA dan pengguna NAPZA secara personal, kampanye PERANG TERHADAP NAPZA tidak mengangkat sisi kegagalan pemerintah sebagai pemegang mandat pemberantasan masuknya NAPZA ilegal ke wilayah Indonesia. Pengguna NAPZA dan pengedar NAPZA kecil-kecilan diposisikan sebagai pihak yang paling bersalah dan perlu diberantas sampai tuntas, termasuk dengan menghalalkan cara-cara kekerasan. Pendekatan kekerasan yang dilakukan polisi dan aparat penegak hukum lainnya dalam menangani masalah NAPZA merupakan sebuah produk budaya yang memiliki konsekuensi luas, dalam dan kompleks. Kekerasan yang dilakukan akhirnya menjadi bersifat hirarkis, mendasar

6

Nurcahyono, Arinto , “Kekerasan Sebagai Fenomena Budaya: Suatu Pelacakan Terhadap Akar Kekerasan di Indonesia”,

17

dan menular. Kekerasan struktural menjadi ‘sah’ dilakukan atas nama penegakan hukum dan kepentingan besar masyarakat. Penegak hukum dan masyarakat Indonesia cenderung tidak peka, bahkan mati rasa dalam menyikapi penggunaan pendekatan kekerasan dalam menangani masalah NAPZA. Fenomena penyerapan kekerasan sebagai sebuah kewajaran harus dipandang sebagai krisis sosial, krisis kemanusiaan dan krisis spiritual, sehingga harus dicarikan jalan keluar untuk menghentikannya. Marieke Bloembergen, dalam bukunya yang berjudul “Polisi Zaman Hindia Belanda: Dari Kepedulian dan Ketakutan” menuliskan: “….Kepolisian demikian merupakan wajah nyata negara kolonial. Polisi kolonial memiliki persoalan legitimasi, karena itu tidak ditugasi demi kepentingan masyarakat kolonial secara pantas dan efisien. Hal ini yang menyebabkan kepolisian kolonial mendapat tugas berat dan merupakan akar masalah dari sumber kekerasan kepolisian kolonial yang sangat rumit...7 Selain kekerasan, hal yang menonjol dari perilaku aparat penegak hukum khususnya kepolisian adalah terkait dugaan praktik korupsi, rekayasa kasus, dan mafia peradilan.8 Amnesty International mencatat, hingga saat ini persepsi publik begitu rendah terhadap akuntabilitas Polri, khususnya menyangkut penanganan internal Polri terhadap dugaan terjadinya tindak kekerasan, korupsi, atau tindak penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh anggotanya. Di lain pihak, mekanisme akuntabilitas eksternal independen masih sangat minim.9

Pendekatan Harm Reduction di Indonesia
Harm Reduction atau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai “pengurangan dampak buruk” (penggunaan NAPZA) merupakan program yang menggunakan pendekatan berbeda dan lebih bersifat pragmatis. Harm Reduction mengakui bahwa tidak semua orang mampu atau mau berhenti dari penggunaan NAPZA dan obatobatan terlarang, dan bahwa mereka yang masih memakai NAPZA bisa membuat pilihan bebas untuk melindungi kesehatan mereka maupun orang lain. Pendekatan ini juga dikenal dengan pendekatan minimalisasi
7

Bloembergen, Marieke , “Polisi Zaman Hindia Belanda: Dari Kepedulian dan Ketakutan ”, 2011 Kontras dan Koalisi Reformasi Polri, Peringatan Hari Bhayangkara ke-64, 2010 9 Amnesty International, Unfinished Business; Police Accountability in Indonesia, ASA 21/013/2009, 2009.
8

18

dampak buruk (harm minimization), yang berfokus pada mengurangi akibat meluas dari penggunaan NAPZA, termasuk resiko terhadap penularan HIV, ketimbang menuntut atau memaksa orang lain untuk menghentikan sama sekali penggunaan NAPZA. Inti dari pengurangan dampak buruk penggunaan NAPZA adalah keyakinan bahwa layanan kesehatan yang tidak diskriminatif dan manusiawi semestinya tersedia bagi orang-orang yang memakai NAPZA dimanapun mereka berada, ketimbang memaksa orang untuk memenuhi berbagai syarat rumit maupun perubahan perilaku sebelum mereka mendapatkan bantuan.10

Pengguna NAPZA jelas-jelas merupakan kelompok masyarakat rentan. Mereka kerapkali menderita disebabkan tidak tersedianya bantuan medis yang (Pengakuan AD dari Jawa memadai. Mereka mengalami diskriminasi, serangan tengah terhadap privasi, pelecehan yang dilakukan oleh aparat dan marginalisasi sosial. Mereka terus menerus mengalami perampasan hak secara sewenang-wenang, termasuk di dalamnya berkaitan dengan paksaan untuk mengikuti pemeriksaan dan pengobatan medis (mandatory medical treatment). Kapasitas mereka untuk membela dan mempertahankan hak-hak dan kepentingan mereka dihalangi oleh adanya stigma sosial.

“….sebagai pecandu saya sudah melaksanakan kewajiban saya seperti yang diatur dalam UU Narkotika 35/2009 pasal 54. Saya melapor ke Puskesmas dan telah mendapatkan kartu tanda bukti pasien. Memang saya belum sempat mengikuti konseling adiksi yang disediakan disana, saya terlebih dulu tertangkap oleh polisi di Sleman. Menurut pemahaman saya, pecandu seperti saya seharusnya menjalani rehabilitasi, bukan dipenjara seperti ini…..

Orang boleh saja menduga bahwa mayoritas masyarakat akan menentang kekerasan semacam itu. Penggeledahan sewenang-wenang, penangkapan sewenang-wenang, perlakuan yang tidak manusiawi, pemeriksaan urin secara paksa, dan penggunaan rekam medis adalah ketidakadilan yang juga dialami mereka yang bukan pengguna. Tetapi sebagian besar masyarakat menerima serangan terhadap privasi sebagai suatu usaha untuk menciptakan lingkungan yang bebas NAPZA. Dukungan hak asasi manusia terhadap para pengguna NAPZA tidak terlihat secara nyata.11 Pengurangan dampak buruk terhadap penggunaan NAPZA atau lebih dikenal dengan harm reduction bekerja berdampingan dengan advokasi untuk memastikan luasnya cakupan hak asasi manusia untuk para pengguna NAPZA. Sejumlah kerja advokasi tersebut diperlukan antara lain untuk memastikan: 
10

Adanya akses informasi dan langkah-langkah untuk melindungi pengguna NAPZA dari

J. Cohen, T. Ezer, P. McAdams, and M. Miloff (eds.), Health and Human Rights: A Resource Guide for the Open Society Institute and Soros Foundations Network (475 p., with a preface by Aryeh Neier). New York and Montreal: Open Society Institute and Equitas, 2007 11 Fridli, Judit , “Harm Reduction and Human Rights” Harm Reduction News, 2003

19

  

penyebaran penyakit melalui darah dan pencegahan overdosis Adanya perlindungan terhadap perlakuan yang kejam dan tidak manusiawi. Adanya perlindungan terhadap pelanggaran privasi seperti pendaftaran dan pemeriksaan secara paksa Adanya kebebasan untuk berorganisasi dan berpartisipasi dalam politik.

Upaya-upaya pengurangan dampak buruk terhadap pengguna NAPZA dan hak asasi manusia memasukkan perlindungan dari kekerasan aparat polisi karena perlakuan buruk terhadap para pengguna NAPZA oleh polisi sangatlah meluas, dan terjadi hampir di seluruh dunia. Polisi menggunakan ancaman pengurungan untuk menghilangkan ketergantungan yang menyakitkan dan untuk memaksakan kesaksian, di samping juga melakukan pemerasan terhadap pengguna NAPZA. Secara umum bentuk-bentuk program Harm Reduction antara lain adalah penyediaan alat suntik steril, program terapi rumatan metadon, hingga pemantauan terhadap kebijakan negara yang menerapkan pendekatan kekerasan, pemaksaan, dan kesewenang-wenangan. Prinsip yang mendasari pendekatan Harm Reduction sebagai cara yang efektif dalam mengurangi dampak buruk penggunaan NAPZA terdapat dalam Declaration on The Guiding Principles of Drug Demand Reduction, yang diadopsi oleh UN General Assembly Special Session (UNGASS) melalui Resolusi S20/4, yang menyebutkan bahwa Kebijakan NAPZA baik pada tingkat nasional maupun internasional harus bertujuan tidak hanya mencegah penggunaan NAPZA, tetapi juga pengurangan dampak buruk dari penggunaan NAPZA. Selanjutnya Decision 74/10, tentang Flexibility of Treaty Provisions as Regards Human Reduction Approaches yang dikeluarkan oleh UN International Narcotics Control Board menegaskan bahwa pendekatan Harm Reduction sudah sejalan dengan konvensi-konvensi tentang NAPZA. Pemerintah Indonesia juga telah mengeluarkan aturan mengenai program harm reduction dan dalam pelaksanaannya telah dijalankan.

Inisiatif Nasional untuk Program Pengurangan Dampak Buruk terhadap Pengguna NAPZA di Indonesia
Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, saat ini pemerintah Indonesia menunjukkan tingkat komitmen politik yang tinggi untuk menangani epidemi HIV di salah satu kelompok masyarakat yang paling terkena dampak, yaitu pengguna NAPZA suntik, dengan memperkenalkan seluruh elemen pencegahan, penanganan, dan perawatan HIV secara menyeluruh untuk kelompok pengguna NAPZA suntik ini. Pada tahun 2007 Menteri Kordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat mengeluarkan peraturan baru, berupa Kebijakan Nasional di bidang HIV dan AIDS untuk mengurangi dampak buruk yang timbul akibat penyuntikkan NAPZA (PerMen No.2/ Per/Menko/Kesra/ I/2007).

20

Badan Narkotika Nasional (BNN) menekankan perlunya perbaikan atau revisi berkaitan dengan pembedaan antara pengedar NAPZA dan pengguna NAPZA. Pada tahun 2009 Mahkamah Agung mengeluarkan Surat Edaran (SEMA) No 7 tahun 2009 tentang ‘Menempatkan Pemakai Narkoba ke dalam Panti Terapi dan Rehabilitasi’ yang sekarang telah diubah dengan SEMA RI Nomor 4 Tahun 2010 tentang ‘Penempatan Penyalahgunaan, Korban Penyalahgunaan dan Pecandu Narkotika ke dalam Lembaga Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial’. Di tingkat masyarakat sipil, hampir di seluruh negeri, gerakan komunitas pengguna NAPZA sejak 2006 telah menjadi momentum utama untuk meningkatkan respon nasional Pengurangan Dampak Buruk dan memperbesar akses terhadap dan penggunaan layanan kesehatan bagi pengguna NAPZA. Sejumlah upaya dilakukan oleh komunitas pengguna NAPZA di beberapa Provinsi untuk membentuk organisasi-organisasi yang melakukan pendampingan bagi pengguna NAPZA. Selain itu, berbagai organisasi ini juga melakukan advokasi reformasi sistem dan kebijakan dengan tujuan mengintegrasikan komunitas pengguna NAPZA ke masyarakat umum, dengan hak yang setara sebagaimana warga negara lainnya. Organisasi-organisasi komunitas pengguna NAPZA memberikan fasilitas pendidikan kewarganegaraan untuk pengguna NAPZA, dengan menekankan pentingnya peningkatan kesadaran tentang hak terhadap perawatan kesehatan, khususnya untuk pengurangan dampak buruk, yang mendorong meluasnya upaya-upaya advokasi yang diinisiasi oleh komunitas untuk mendorong ketersediaan layanan kesehatan bagi pengguna NAPZA yang awalnya tidak mencukupi dan kurang berkualitas. Peningkatan kesadaran pengguna NAPZA akan hak kesehatan, menghasilkan mobilisasi pengguna NAPZA untuk mengakses layanan kesehatan yang kemudian makin luas disediakan. Menurut catatan, hingga 2008 terdapat 78 LSM yang menerapkan kegiatan harm reduction dan terdapat 274 kelompok pendukung sebaya bagi mereka yang hidup dengan HIV di 31 Provinsi. Harus diakui bahwa intervensi harm reduction telah mulai menunjukkan perubahan perilaku, karena lebih dari 8 dari 10 pengguna NAPZA yang disurvei dalam program harm reduction melaporkan penggunaan peralatan menyuntik steril saat mereka terakhir kali menyuntikkan NAPZA pada 2008.12

12

UNODC and UNAIDS, “Indonesia Country Advocacy Brief Injecting Drug Use and HIV” 2008

21

22

2.
Suara-Suara Mereka yang Dibenamkan
Dari Stigma hingga Kesewenang-wenangan
Di banyak negara, termasuk Indonesia, masalah perlakuan sewenang-wenang petugas negara adalah hal yang umum terjadi, dan merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang serius. Pemukulan, penamparan, penendangan, pemukulan dengan batang kayu, pelecehan dan kekerasan seksual, penghinaan termasuk penelanjangan, kekerasan verbal dan berbagai bentuk tindakan sewenang-wenang lainnya terjadi di banyak tempat dan situasi. Perlakuan tersebut dapat terjadi di waktu penggeledahan, di tempat umum, di tempat-tempat keramaian dan pusat-pusat hiburan. Perlakuan kejam dan tidak manusiawi itu terjadi bahkan di kantor polisi, di penjara, tahanan dan basis militer.

Obyek Naik Pangkat/ Kejar Setoran

ATM Sumber Penyakit

Penyebab Peredaran Gelap Narkotika

Pengguna NAPZA

Pelaku Kriminal

23

Kekerasan terjadi baik sebagai serangan secara fisik, mental, dan seksual. Dan kekerasan tersebut biasanya terjadi karena lemahnya penegakan hukum dan administrasi peradilan dalam melindungi hak asasi manusia dan menghukum pelaku pelanggaran. Di saat yang sama, para korban yang rata-rata adalah pengguna NAPZA mengalami stigma dari keluarga dan masyarakat di sekitar mereka, bahkan dari negara. Ungkapanungkapan berupa sampah masyarakat, biang keributan, kriminal, perusak nama keluarga, sumber penyakit, pada akhirnya bermuara pada tindakan-tindakan diskriminatif dari masyarakat sendiri. Pandangan terhadap pengguna NAPZA membuat perlakuan sewenang-wenang aparat menjadi sesuatu yang dipandang “pantas” diterima. Pengguna NAPZA merupakan target kriminalisasi dalam kaitannya dengan perang melawan NAPZA dan di saat yang sama menjadi obyek kenaikan pangkat atau “kejar setoran” untuk para petugas / aparat penegak hukum.

…. saya menangis mendengar istri saya harus berkeliling berjualan batik untuk membiayai anak kami yang masih berusia 2 tahun. Istri saya juga masih kuliah, kini ia harus bertahan hidup membiayai diri sendiri dan anak kami. Kuliah saya yang tinggal penyelesaian skripsi harus tertunda selama satu tahun, sementara saya juga harus mundur dari organisasi kemahasiswaan yang saya dirikan. Saya mengakui bahwa saya seorang pecandu NAPZA, saya tidak merasakan manfaat selama 1 tahun berada dalam penjara. Adiksi saya tak dapat dipulihkan, karena NAPZA sangat mudah saya dapatkan di dalam penjara… Pengakuan TS dari Jawa Tengah

Pengguna NAPZA menjadi rentan terhadap sejumlah pelanggaran hak asasi manusia baik dalam bentuk kekerasan (kesewenang-wenangan), pengabaian terhadap layanan kesehatan, stigma dan pelabelan dan tindakan diskriminatif, hingga penghukuman yang tidak proporsional. Hak-hak yang dilanggar pada umumnya meliputi hak atas integritas dan kebebasan fisik, hak untuk bebas dari penyiksaan, dan perlakuan atau penghukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan, serta hak untuk bebas dari penangkapan dan penahanan sewenang-wenang sebagaimana yang diatur dalam Perjanjian HAM internasional (seperti Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik dan Konvensi Anti Penyiksaan), serta hukum domestik / nasional.

Temuan Umum Pemantauan
Kewajiban untuk melakukan pemantauan hak asasi manusia dibebankan kepada semua orang yang memiliki perhatian kepada perlindungan dan pemajuan hak asasi manusia. Pemantauan adalah kegiatan yang harus dilakukan mengingat berbagai pelanggaran terus terjadi di berbagai wilayah di dunia. Selain menjadi tanggung jawab individu, pemantauan hak asasi manusia juga menjadi tanggung jawab organisasi-organisasi dan komunitas dalam masyarakat. Tanggung jawab tersebut

24

melekat pada ketentuan dalam instrumen-instrumen hak asasi manusia internasional dan juga hukum dan peraturan perundang-undangan di tingkat nasional. Pelaksanaan pemantauan akan mendukung dilaksanakannya standar-standar hak asasi manusia di tingkat nasional dan internasional. Pada 2009 - 2011 Jaringan Pemantau Pelanggaran HAM bagi Pengguna NAPZA mulai serius melakukan pemantauan dan pendokumentasian pelanggaran HAM yang dialami oleh para pengguna NAPZA. Mereka mengumpulkan sejumlah kesaksian dan kisah-kisah dari para korban yang mengalami kekerasan yang kebanyakan dilakukan oleh pejabat atau aparat polisi. Sejalan dengan upaya tersebut, Pelapor Khusus PBB untuk Penyiksaan, Manfred Nowak, juga melakukan pemantauan dan pemeriksaan ke sejumlah rutan dan penjara di Indonesia. Temuan dan hasil-hasil pemantauan tersebut telah dipublikasikan dan beberapa kesimpulannya menyoroti perlakuan dan penghukuman yang ditujukan bagi para pengguna NAPZA. Pelapor Khusus menyebutkan bahwa Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia di bawah Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia mengelola sekitar 350 fasilitas penahanan (dalam 16 penjara anak dan remaja, 6 penjara narkoba) dengan kapasitas sekitar 75,000. Pada Desember 2007 terdapat sekitar 134,000 penghuni yang 60,000 di antaranya berstatus tahanan. Di antara mereka yang berstatus tahanan tersebut 35 persennya adalah tahanan terkait dengan kasus NAPZA. Secara khusus, di tempat tahanan polisi, Pelapor Khusus menerima dugaan adanya penyiksaan dan perlakuan buruk, baik ketika penangkapan maupun penahanan; bahkan, penyiksaan biasa dilakukan di tempat tahanan polisi di daerah perkotaan, terkait dengan kejahatan perkotaan dan tuduhan NAPZA. Berdasarkan hasil forensik, kekerasan yang terjadi meliputi, antara lain, pemukulan dengan: kepalan tangan, rotan, rantai, kabel, potongan besi/palu, penendangan, penyetruman dan penembakan di kaki. Akses tahanan atas layanan kesehatan sangat terbatas/terlambat, bahkan tidak ada sama sekali. Banyaknya tahanan yang mengalami perlakuan kejam dan tidak manusiawi utamanya untuk mendapatkan pengakuan, yang dalam kasus NAPZA, juga untuk mendapatkan informasi tentang para pengedar NAPZA. Di sejumlah kasus, Pelapor Khusus menemukan para tahanan yang “ditawari damai” dengan ganti sejumlah uang. Mereka yang dibawa ke pengadilan menyebutkan juga bahwa pengakuan di bawah paksaan digunakan selama proses peradilan persidangan dan keberatan yang mereka ajukan kerap diabaikan oleh hakim dan jaksa penuntut umum atau bahkan penasihat hukum mereka sendiri. Lebih jauh lagi, sebagian besar di antara mereka tidak mengetahui mekanisme pengaduan yang dapat digunakan. Pelapor Khusus menyatakan keprihatinannya atas lamanya penahanan polisi, dimana KUHAP mengizinkan penahanan hingga 61 hari (Standar Internasional hanya 48 jam). Lamanya penahanan hingga 61 hari ini berimplikasi pada kemungkinan terjadinya kekerasan lebih besar dan bekas-bekas penyiksaan lebih sulit dideteksi ketika tahanan dilepaskan atau dipindahkan. Selain itu berkaitan dengan transfer tahanan kerap dilakukan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada tahanan. Belum lagi infrastruktur tempat tahanan polisi pada umumnya telah 25

memenuhi standar internasional, tapi bila periode penahanan lama, bahkan hingga mencapai 61 hari, kondisi tersebut tidak layak. Seperti juga di penjara, Pelapor Khusus menerima keluhan mengenai kuantitas dan kualitas makanan; bahkan, tahanan harus membagi makanan dasar yang mereka terima untuk 4 orang. Beberapa tahanan yang dipindahkan ke bawah otoritas jaksa bahkan kerap tidak lagi menerima makanan, walaupun masih berada dalam tempat tahanan polisi, karena jaksa tidak memberi dana untuk membeli makanan bagi tahanan. Selain itu akses medis juga menyita perhatian Pelapor Khusus, padahal tahanan menderita luka-luka ketika penangkapan maupun interogasi. Di setiap tahapan siklus peradilan pidana, ada korupsi, semua sering diiringi dengan praktikpraktik diskriminatif. Korupsi dalam penjara dilakukan oleh petugas dan narapidana, sering di bawah persetujuan otoritas penjara, menyebabkan akses berbeda terhadap barang-barang esensial dan merupakan pelanggaran norma-norma internasional. 13 Hasil pemantauan yang dilakukan oleh Pelapor Khusus tersebut menguatkan temuan-temuan yang diperoleh Jaringan Pemantauan Pelanggaran HAM pada Pengguna NAPZA. Berdasarkan hasil pemantauan ini, diketahui bahwa beberapa provinsi tertentu memiliki jumlah kasus yang didokumentasikan yang lebih rendah daripada provinsi lainnya. Di DKI Jakarta misalnya, jumlah kasus yang didokumentasikan lebih rendah ketimbang di Jawa Barat, Jawa Tengah, atau Jawa Timur. Namun hal itu bukan berarti situasi di provinsi tersebut lebih baik ketimbang wilayah lainnya, tetapi sangat bergantung pada kapasitas lembaga yang melakukan kerja-kerja pemantauan dan dokumentasi. Sejumlah lembaga memang tidak melakukan pendokumentasian secara rutin, bahkan tidak memiliki mandat yang jelas untuk melakukan kerja-kerja pendokumentasian pelanggaran hak asasi manusia terhadap pengguna NAPZA. Namun mengingat banyaknya pengaduan yang mereka terima dan kasus-kasus dari kelompok yang harus mereka dampingi maka kemudian secara tidak langsung kerja pendokumentasian mulai diperhatikan lebih serius. Secara ringkas, total kasus yang dipantau dan didokumentasikan di 4 (empat) Provinsi di Jawa sejak 1997 – 2011 adalah sebanyak: 139 kasus dan dapat diperinci sebagai berikut:      27 kasus dari Provinsi DKI Jakarta 28 kasus dari Provinsi Jawa Barat 56 kasus from dari Provinsi Jawa Tengah 26 kasus from Provinsi Jawa Timur 1 kasus dari Provinsi Yogyakarta

Selain itu, terdapat 1 (satu) catatan kasus yang dilaporkan berasal dari Lampung (di luar Pulau Jawa). Kasus ini dipertimbangkan untuk tetap dianalisis karena masih berhubungan dengan kasus yang dipantau dan didokumentasikan oleh kelompok pemantau dari Jawa Tengah.
13

A/HRC/7/3/Add.7, Report of the Special Rapporteur on torture and other cruel, inhuman or degrading treatment or punishment, Manfred Nowak, Addendum Mission to Indonesia, 10 March 2008

26

DKI Jakarta 27 kasus Lampung 1 kasus

Jawa Tengah 56 kasus

Jawa Timur 26 kasus

Jawa Barat 28 kasus DI Yogyakarta 1 kasus

L ampung Y ogyakarta J akarta J awa Tengah J awa B arat J awa Timur 0 10 20 30 40 50 60 S eries 1

Jumlah kasus-kasus yang dikumpulkan tersebut ibarat gunung es. Jika dapat dikatakan sebagai potret situasi maka pencatatan dan pengumpulan fakta dan data pelanggaran hak asasi manusia terhadap para pengguna NAPZA oleh Jaringan Pemantau Pelanggaran HAM semakin melengkapi fakta-fakta yang telah dikumpulkan sebelumnya oleh berbagai organisasi lain dari waktu ke waktu. Di samping itu, pencatatan kasus-kasus tersebut juga semakin memperkuat analisis yang mengaitkan isu narkotika dengan isu hak asasi manusia lainnya, seperti penyiksaan, kesehatan, administrasi peradilan, reformasi kepolisian, dll.

27

Korban dan Pengalaman Kekerasan yang Dialami
Kampanye anti NAPZA di Indonesia dapat diasosiasikan sebagai “wajah” kesewenangwenangan aparat yang juga diwarnai oleh berbagai tindakan pemerasan, pemaksaan, dan kekerasan terhdap semua pihak yang dicurigai menggunakan NAPZA. Di banyak tempat di Indonesia, pengguna NAPZA telah menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia, melalui kriminalisasi dan marginalisasi; penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, kondisi tahanan dan penjara yang tidak manusiawi, penghukuman yang berlebihan termasuk hukuman mati, metodemetode pemaksaan pengobatan dan detoksifikasi termasuk di dalamnya ekspos bagi orang yang terinfeksi hepatitis dan HIV.
“Polisi memaksa saya mengakui jika saya terlibat dalam kasus ini, hingga terjadi penyiksaan yang dilakukan oleh polisi-polisi itu terhadap saya. Saya dibawa ke suatu ruangan oleh salah satu reserse dan polisi muda berseragam.Kemudian, jari-jari tangan saya dijepit dengan pulpen berulang kali dengan harapan bahwa saya mengakui keterlibatan saya. Karena saya tidak mengakuinya, akhirnya saya dibawa ke ruangan penyidik untuk dimintai keterangan, lagi-lagi penyiksaan terjadi oleh penyidik dengan cara mengintimidasi saya. kedua telinga saya dipukul hingga saya tidak bisa mendengar untuk beberapa saat”

Dari pemantauan yang dilakukan oleh Jaringan Kesaksian BM, di Jakarta Pemantau Pelanggaran HAM, secara keseluruhan, tercatat 139 kasus yang dapat dianalisis dengan rincian korban 19 kasus dengan korban perempuan dan 120 kasus dengan korban laki-laki. Terlepas dari tidak adanya informasi yang lengkap tentang usia korban, namun dapat ditemukan dari data Laki-laki korban bahwa 1 korban adalah anakanak / remaja (lihat kasus No 013). Meskipun tidak secara langsung S eries 1 berhubungan dengan kekerasan, P erempuan namun dapat dicatat bahwa proporsi jumlah perempuan yang lebih besar dari laki-laki ditemukan di Lapas 0 50 100 150 untuk pelanggaran hukum yang terkait dengan NAPZA. Banyak di antara perempuan ini yang tetap mengonsumsi dan menyuntikkan NAPZA di dalam Lapas, sementara perempuan yang tidak pernah menggunakan NAPZA mulai melakukannya sementara mereka berada dalam Lapas.14

14

UNODC, Perempuan dan HIV dalam Lingkungan Lapas, 2008

28

Secara umum, terdapat pola yang berhubungan dengan kesamaan jenis pelanggaran yang terjadi. Dari 139 kasus yang didokumentasikan, dapat disimpulkan bahwa: Tindakan kekerasan atau tindakan pemaksaan yang paling banyak dilakukan oleh aparat negara Tindakan pembiaran yang memberi peluang terus-menerus tidak dihormatinya integritas pribadi dan kebebasan individu dan/atau kelompok. Tindakan pembiaran melalui kegagalan untuk menegakkan hukum atau menerapkan kebijakan yang melindungi individu atau kelompok dari tindakan kekerasan atau pemaksaan. Ini termasuk kegagalan untuk memastikan berfungsinya secara benar mekanisme dan administrasi peradilan (administration of justice).

Terdapat 2 kasus yang didokumentasikan sebagai tindakan pelanggaran atau pemaksaan yang dilakukan oleh non-aparat negara, misalnya dalam bentuk kekerasan massa / masayarakat. Selain itu terdapat kasus-kasus yang didokumentasikan sebagai: Tindakan atau pembiaran berupa kegagalan untuk menegakkan hukum atau menerapkan kebijakan yang melindungi kelompok rentan. Hal ini terdiri dari 1 kasus yang berhubungan dengan perlindungan anak dan remaja, serta 19 kasus yang berhubungan dengan korban perempuan Tindakan pembiaran yang memberi peluang terus berlangsungnya situasi dimana hak-hak kelompok rentan tidak dihormati.

-

Berdasarkan pola tersebut di atas maka dapat dilihat bahwa sebagian besar pelanggaran dilakukan oleh aparat negara. Jenis pelaku dan institusi mereka terdiri dari:     31 kasus yang dilaporkan melibatkan Polisi (secara umum / tidak diketahui institusinya) 21 kasus yang dilaporkan melibatkan Polisi di tingkat Provinsi (Polda) 50 kasus yang dilaporkan melibatkan Polisi di tingkat Resor / Kabupaten / Kotamadya (Polres, termasuk Poltabes) 38 kasus yang dilaporkan melibatkan Polisi di tingkat Sektor (Polsek, termasuk Polwil and Polwiltabes)

Kelompok pelaku lainnya adalah:    5 kasus yang dilaporkan melibatkan Pengadilan 2 kasus yang dilaporkan melibatkan Kejaksaan 1 kasus yang melibatkan Lembaga Pemasyarakatan

29

Jenis-jenis Tindakan Kekerasan atau Pemaksaan yang Ditemukan
Tindakan kekerasan dan penyalahgunaan wewenang di instansi penegak hukum, khususnya kepolisian ini nyaris terjadi secara merata di beberapa titik kota di Pulau Jawa. Tindak pelanggaran HAM seperti, penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, penggunaan kekerasan yang tidak perlu dan berlebihan dalam melakukan operasi, kriminalisasi, penyiksaan, yang berakibat pada penderitaan fisik hingga kematian yang dialami korban. Jaringan Pemantau menemukan bahwa tindakan-tindakan tersebut juga disertai dengan ketidaklengkapan administrasi pemeriksaan polisi pada saat penangkapan, seperti ketiadaan surat perintah penangkapan dan surat perintah penahanan. Secara rinci dari temuan Jaringan Pemantau, berbagai pelanggaran yang banyak terjadi adalah: a. Pelanggaran terhadap integritas pribadi, berupa:  Kekerasan Fisik  Kekerasan Seksual  Kekerasan psikologis dan pelecehan o Ancaman terhadap korban o Ancaman terhadap keluarga korban  Pelanggaran dengan dimensi fisik, seksual, dan psikologis o Kekerasan seksual / pencabulan o Penyiksaan b. Pelanggaran terhadap hak atas kebebasan  Penangkapan  Penahanan / Pemenjaraan o Penolakan untuk membebaskan penahanan yang tidak sah  Tindakan langsung yang melanggar hak anak dan remaja  Tidak diterapkannya hukum atau kebijakan untuk melindungi / memenuhi hakhak anak / remaja. c. Pelanggaran terhadap hak-hak tersangka  Penyangkalan terhadap hak untuk dianggap tidak bersalah (right to be presumed innocent)  Penyangkalan terhadap hak untuk mendapat waktu dan fasilitas yang memadai (right to adequate times and facilities)  Penyangkalan terhadap hak untuk mendapatkan bantuan hukum (right to legal assistance)  Penyangkalan hak untuk mendapatkan kekuatan yang setara (dalam proses peradilan) – (right to equality of arms) d. Pelanggaran terhadap hak-hak para tahanan / narapidana (rights of detained / imprisoned person)

30

Penyangkalan hak untuk mendapatkan perlakuan yang bermartabat dan manusiawi (right to treatment with dignity and humanity)  Penyangkalan hak untuk mendapat akomodasi yang memadai (right to adequate accommodation)  Penyangkalan hak atas penanangkapan yang sah (right to lawful arrest) e. Pelanggaran terhadap hak privasi ( right to privacy)  Penggeledahan sewenang-wenang (illegal search / raid)  Perampasan / Penyitaan (seizure) f. Pelanggaran hak untuk mempertahankan kepemilikan (right to retain property)  Pemerasan (extortion)  Hampir semua kasus-kasus yang dipantau menunjukkan bahwa satu korban kerap kali mengalami lebih dari satu tindakan pelanggaran. Tindakan-tindakan tersebut bervariasi, mulai dari pelanggaran terhadap integritas pribadi dalam bentuk kekerasan fisik, seksual, maupun psikologis, hingga pelanggaran terhadap hak privasi seperti penggeledahan, perampasan, dan pemaksaan tes urin tanpa menggunakan proses hukum yang semestinya. Berdasarkan diagram di atas, dapat ditunjukkan bahwa sebagian besar kasus yang didokumentasikan berkaitan dengan tindakan (kekerasan/pemaksaan) berikut ini:
P enyangkalan hak atas penangk apan y ang s ah P eny angk alan hak legal s ebagai ters angk a P eny angk alan hak untuk mendapat perlak uan y ang bermartabat dan manus iawi P eny angk alan hak untuk mendapatk an bantuan huk um P eny angk alan hak untuk dinyatak an tidak bers alah (right to be pres umed innoc ent) A nc aman / Intimidas i P erampas an harta benda P emeras an S eries 1 P enahanan s ewenang-wenang P enangk apan s ewenang-wenang P eny ik s aan K ek eras an F is ik / penganiay aan S erangan terhadap integritas pribadi P enggeledahan Urine tes t 0 20 40 60 80 100 120 140

31

Pelanggaran terhadap integritas pribadi (Right to personal integrity), khususnya berkaitan dengan kekerasan fisik Penangkapan tidak sah (Illegal arrest) penahanan atau pemenjaraan (detention / imprisonment) Penyangkalan hak untuk dinyatakan tidak bersalah (right to be presumed innocent) Penyangkalan hak untuk mendapat perlakuan yang bermartabat dan manusiawi (right to treatment with dignity and humanity) Penyangkalan hak legal sebagai tersangka (legal rights of arrested persons) Penyangkalan hak atas penangkapan yang sah (right to lawful arrest) Penyangkalan hak untuk mendapatkan bantuan hukum

117 kasus 112 kasus 97 kasus 96 kasus 95 kasus 112 kasus 108 kasus 108 kasus

Perlu dicatat bahwa terdapat jumlah yang signifikan untuk kasus-kasus sebagai berikut :  kekerasan fisik / penganiayaan : 106 kasus  penyiksaan : 71 kasus  penggeledahan tidak sah : 70 kasus  pemerasan : 46 kasus  ancaman / intimidasi : 34 kasus  perampasan / penyitaan : 15 kasus

Metode atau Cara-cara Kekerasan
Tim Pemantau mencatat bahwa dalam berbagai tindakan pelanggaran yang menggunakan kekerasan dapat ditemukan pola umum yang kerap digunakan oleh para aparat penegak hukum untuk mendapatkan kesaksian atau informasi dari orang-orang yang dicurigai terlibat. Metode atau cara kekerasan yang paling banyak digunakan adalah seperti: a. Metode pemenjaraan, pembatasan gerakan  Dikurung di tempat penahanan biasa  Dikurung di tempat pribadi b. Metode kekerasan terhadap sesorang  Pemukulan, termasuk ditampar, ditendang, dan diinjak  Pemukulan dengan benda tumpul (keras), misalnya batang kayu  Pembakaran / penyundutan; misalnya dengan rokok  Kekerasan atau pelecehan seksual o Ancaman seksual

32

o Komentar atau pelecehan seksual o Rabaan sebagai bentuk pelecehan seksual dan pencabulan o Pemukulan di daerah kemaluan  Penggunaan setrum listrik  Diikat supaya tidak melarikan diri  Penyiksaan psikologis dan perlakuan kejam  Penghinaan o Kekerasan verbal o Penelanjangan sebagai bentuk penghinaan o Dipaksa untuk melakukan tindakan yang merendahkan c. Bentuk-bentuk kekerasan lainnya, misalnya penembakan Namun, dapat dilihat dari 139 kasus tersebut metode yang selalu digunakan adalah: o Pemukulan dengan tangan o Pemukulan dengan popor senjata, tongkat, cambuk tali o Ditampar, ditendang, dan diinjak

Berbagai tindak kekerasan tersebut terjadi kebanyakan terjadi di kantor polisi selama proses pemeriksaan, dan / atau di tempattempat lain selama razia berlangsung. Terdapat beberapa kasus, misalnya di Jawa Timur, dimana korban berada di lokasi terapi ketergantungan NAPZA. Nampaknya terdapat situasi dimana para polisi tidak mendapat informasi yang cukup tentang legalitas terapi metadon dan tidak memahami bahwa mereka dilarang menangkap di area klinik; akibatnya sejumlah pasien melaporkan bahwa mereka menjadi target penangkapan polisi karena dicurigai menggunakan NAPZA selain metadon.

Untuk kasus-kasus yang di dalamnya melibatkan pemerasan ditemukan adanya Kesaksian BY di Jakarta modus pemerasan yang berlangsung hampir di semua jenjang, mulai dari penyidik kepolisian, kejaksaan, hingga pengadilan. Dalam praktik konvensional, pemerasan biasa dilakukan agar penyidik menghentikan suatu perkara. Bila tidak bisa dihentikan setidaknya dapat membuat pasal yang disangkakan menjadi ringan dan menghilangkan sejumlah sangkaan kumulatif yang memberatkan. Bisa pula dengan motif agar sangkaan yang dibuat lemah pembuktiannya hingga akhirnya berujung pada dibebaskannya terdakwa dari tuntutan.

… saya ditangkap. Belum sempat ditanya, saya langsung dipukul dan ditelanjangi di depan umum dengan alasan penggeledahan. Karena barangnya tidak ada, maka polisi memukul sambil memaksa menunjukkan dimana saya sembunyikan barangnya. Saya pun dibawa berputar-putar untuk menunjukkan dimana bandarnya. Karena bandarnya memang tidak ada, saya dibawa ke Polres Jakarta Pusat. Lalu mereka mengabari keluarga dan meminta sejumlah uang agar saya bisa dibebaskan. Lalu keluarga membayar dan saya dipulangkan.”

33

Kekerasan Seksual
Kombinasi antara ketimpangan jender, stigma, dan diskriminasi meningkatkan kerentanan perempuan terhadap kekerasan seksual di tempat-tempat penahanan atau Lapas . Meskipun kekerasan seksual tidak hanya terjadi pada perempuan. Dari sejumlah kasus yang ditemukan, secara khusus Jaringan Pemantau memberikan perhatian terhadap kasuskasus yang berkaitan dengan tindakan kekerasan seksual. Dalam temuan tersebut hampir semua kasus yang dialami oleh perempuan korban bersinggungan dengan kekerasan seksual, baik dalam konteks penggeledahan, penangkapan, pemeriksaan, selama dalam tempat penahanan, maupun Lapas. Mengutip dari Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, maka istilah “kekerasan seksual” dapat didefinisikan sebagai perbuatan yang menyasar pada alat atau fungsi reproduksi, alat kelamin, dan seksualitas atau tindakan yang mengandung unsur seksual, termasuk lewat katan-kata atau mempertontonkan alat kelamin yang menimbulkan rasa malu atau takut pada korban. Tindak kekerasan seksual antara lain, pemerkosaan, perbudakan seksual, perdagangan orang untuk tujuan eksploitasi seksual, pelecehan seksual, sterilisasi dan aborsi paksa, penghamilan paksa, dan prostitusi paksa.15
“Selama penahanan saya ditawari putaw dengan syarat harus melayani polisi. Saya juga akan dibebaskan tanpa pacar saya. Saya tidak mau, akhirnya polisi membebaskan kami berdua. Sampai pacar saya meninggal dunia, pacar saya masih penasaran kenapa kami bisa dibebaskan waktu itu. Saya tidak bilang kalau saya harus melayani polisi selama ditahan. Kalau malam saya harus berjalan merayap untuk melewati sel pacar saya supaya tidak ketahuan dan melayani polisi di ruangannya. Pernah polisi itu memaksa saya berhubungan seksual di ruang olah raga. (kesaksian M di Jakarta)

15

Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan Pasal 1 dan 2

34

Di dalam lingkungan tertutup seperti di tahanan atau lapas, perempuan, khususnya, rentan terhadap pelecehan seksual, termasuk pemerkosaan, oleh staf Lapas ataupun narapidana lakilaki. Ada negara di mana narapidana perempuan ditempatkan di bangunan-bangunan kecil yang berdekatan atau berada di dalam Lapas untuk laki-laki. Mereka juga rentan terhadap eksploitasi seksual dan mungkin terlibat dalam barter atau tukar badan (seks) untuk mendapat imbalan barang seperti makanan, obat-obatan, rokok, dan perlengkapan mandi.

“Waktu itu saya berdua pacar saya sedang menggunakan shabu di kamar kost. Lalu polisi berpakaian preman datang dan menendang pintu kamar sambil menodongkan pistol. Saya berdua pacar saya disuruh berdiri lalu polisi menggeledahnya. Pacar saya ditelanjangi. Saya pun ikut ditelanjangi. Tidak ada polwan, yang ada hanya polisi laki-laki. Putaw ditemukan di dalam celana dalam saya, sedangkan polisi yang lain menunjuk puting saya dengan sengaja. Dengan gaya melecehkan, dia menunjuk puting payudara saya seraya bertanya, “Ini ineks apa bukan”? (kesaksian M di Jakarta)

35

36

3.
Kekerasan Aparat dan Kerangka Hukum Hak Asasi Manusia
Hak-hak yang Dilanggar Berdasarkan Hukum Hak Asasi Manusia Internasional
Keadilan tidak dapat dilepaskan dari penghormatan hak setiap individu. Sebagaimana disebutkan dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Pengakuan terhadap martabat yang melekat bersifat setara dan tidak dapat dicabut pada setiap manusia sebagai dasar dari kebebasan, keadilan, dan perdamaian dunia. Hak atas proses peradilan yang jujur dan tidak memihak (fair trial) merupakan hak dasar yang diakui . Hak ini merupakan prinsip yang diakui dan diterapkan secara universal dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, yang diadopsi lebih dari 60 tahun silam, dan telah mengikat segala negara sebagai hukum kebiasaan internasional. Berdasarkan kasus-kasus yang didokumentasikan, dapat dikonfirmasi bahwa pelanggaran hak asasi manusia paling banyak dialami oleh para pengguna NAPZA, khususnya berkaitan dengan hak atas kebebasan dan rasa aman (right of liberty and security of person), hak untuk mendapat perlindungan dari kekerasan atau kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh aparat (right to protection from abuse of authority), termasuk bebas dari penyiksaan, perlakuan dan hukuman yang kejam dan tidak manusiawi, serta akses pada administrasi peradilan. Hak-hak yang tidak bisa dikurangi dalam keadaan apapun (non-derogable rights) tersebut kerap kali harus berbenturan dengan tindakan-tindakan di luar batas kewenangan kepolisian ketika mereka menggunakan bentuk kekuatan yang berlebihan (excessive use of force). Secara ringkas, hak-hak yang dilanggar adalah sebagai berikut: a. Hak atas perlindungan dari kekerasan atan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh aparat - Right to Protection from abuse of authority b. Hak atas kebebasan individu – Right to Liberty of person c. Hak atas keamanan individu – Right to Security of person d. Hak untuk bebas dari penyiksaan – Right to Freedom from torture 37

e. Hak untuk bebas dari perlakuan atau penghukuman yang kejam dan tidak manusiawi – Right to freedom from inhuman treatment or punishment f. Hak atas privasi – Right to Privacy g. Hak untuk mendapatkan bantuan medis dan sosial – Right to social and medical assistance h. Hak anak dan remaja – Rights of children and juveniles i. Hak atas perlindungan anak – Right to protection of children j. Hak perempuan – Rights of women k. Hak untuk dianggap tidak bersalah – Right to be presumed innocent l. Hak untuk mendapatkan waktu dan fasilitas yang memadai – Right to adequate time and facilities m. Hak mendapatkan kekuatan yang setara (dalam proses peradilan) – Right to Equality of arms n. Hak untuk mendapatkan bantuan hukum – Right to Legal assistance o. Hak atas perlakuan yang bermartabat dan manusiawi – Right to Treatment with dignity and humanity p. Hak untuk mendapatkan layanan kesehatan yang memadai – Right to Adequate medical services q. Hak atas penangkapan yang sah – Right to Lawful arrest r. Hak untuk dibebaskan dari penangkapan yang tidak sah – Right to be Release in case of unlawful arrest Jika bab-bab sebelumnya telah menggambarkan komponen kasus-kasus kekerasan polisi dan aparat penegak hukum lainnya terhadap pengguna NAPZA. Kasus-kasus tersebut berisikan informasi umum tentang peristiwa pelanggaran yang terjadi: kapan dan dimana peristiwa berlangsung, jenis tindakan yang dialami korban, informasi umum tentang korban, pelaku (termasuk institusi dan perannya dalam peristiwa tersebut), dsb. Bagian ini akan menggambarkan tinjauan umum tentang hukum internasional berkaitan dengan penegakan hak asasi manusia, khususnya yang berkaitan dengan hak-hak yang dilanggar dalam berbagai tindakan kekerasan aparat terhadap para pengguna NAPZA. Dalam konteks hak asasi manusia, tahun 2005 dapat dikatakan sebagai tahun yang penting bagi penegakan dan pemajuan hak asasi manusia di Indonesia. Pada Oktober 2005 Indonesia telah meratifikasi 2 Kovenan Kembar yaitu Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (ICESCR, 1966) melalui Undang-Undang No 11 tahun 2005 dan Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik (ICCPR, 1966) melalui Undang-Undang No 12 tahun 2005. Kedua Instrumen tersebut dapat dikatakan sebagai “Bill of Rights” atau semacam piagam atau ketentuan umum untuk pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia di dunia. Namun, meskipun kedua kovenan tersebut sudah diratifikasi berbagai persoalan pelanggaran hak asasi manusia masih banyak terjadi, terutama berkaitan dengan perlindungan hak-hak warga negara. Berbagai tindakan kekerasan dan kesewenang-wenangan masih banyak terjadi baik yang dilakukan oleh aparat negara maupun kelompok-kelompok dalam masyarakat.

38

Instrumen dan Mekanisme Pokok Hak Asasi Manusia
Elemen-elemen hukum hak asasi manusia internasional berkaitan dengan masalah kekerasan yang dialami pengguna NAPZA difokuskan pada interpretasi dan aplikasi tentang hak-hak fundamental yang dimiliki warga negara terkait dengan perjanjian hak asasi manusia yang sudah disepakati negara. Ini termasuk, sebagai contoh, implikasi dari hak atas kebebasan dan keamanan pribadi, hak untuk mendapatkan penanganan hukum yang adil (due process of law), termasuk dalam penahanan dan penuntutan pemidanaan, dan juga perlindungan privasi dan kepemilikan selama pemeriksaan, penyidikan, dan pelaksanaan penyitaan. Secara umum, pemantauan yang dilakukan telah menemukan pelanggaran sejumlah hak sebagai mana yang tertera dalam ketentuan dan norma hukum hak asasi manusia internasional yang sudah disepakati pemerintah Indonesia, yaitu: Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik, 1966 (diratifikasi dengan Undang-Undang No 12 tahun 2005) Pasal 6 Pasal 7 Hak Hidup Hak atas kebebasan dari penyiksaan dan perlakuan atau hukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan, termasuk larangan untuk menjadikan target atau sasaran experimen ilmu pengetahuan atau media tanpa persetujuan yang bersangkutan Hak atas kebebasan dan keamanan Pribadi, termasuk bebas dari penangkapan dan penahanan sewenang-wenang Hak untuk mereka yang dirampas kemerdekanannya untuk diperlakukan secara manusiawi dan bermartabat Hak untuk di dengar di pengadilan dan diadili oleh pengadilan yang mandiri dan tidak memihak Bebas dari hukuman yang bersifat retroaktif Hak untuk diakui sebagai subjek hukum Hak untuk dihormati/dicampuri secara tidak sah privasi, korespondensi, keluarga, dan rumah Hak atas persamaan di depan hukum

Pasal 9 Pasal 10 Pasal 14 Pasal 15 Pasal 16 Pasal 17 Pasal 26

Konvensi Anti Penyiksaan, dan perlakukan atau penghukuman yang kejam, tidak manusiawi, dan menghinakan, 1984 (diratifikasi dengan Undang-Undang No 5 tahun 1998) Pasal 4 (1) dan (2) Setiap Negara Pihak harus menjamin bahwa tindakan penyiksaan adalah pelanggaran menurut ketentuan hukum pidananya. Hal yang sama berlaku bagi percobaan untuk melakukan penyiksaan, dan bagi suatu tindakan percobaan untuk melakukan penyiksaan dan bagi suatu tindakan oleh siapa saja yang terlibat atau turut serta dalam

39

penyiksaan. Setiap Negara Pihak harus mengatur agar pelanggaranpelanggaran dihukum dengan hukuman yang setimpal dengan mempertimbangkan sifat kejahatannya. Pasal 9 Negara-Negara Pihak akan saling memberi bantuan sebesar-besarnya sehubungan dengan perkara pidana yang diajukan berkenaan dengan pelanggaran yang disebut dalam pasal 4, termasuk pemberian semua bukti yang mereka miliki yang diperlukan untuk penyelesaian perkara itu. Setiap Negara Pihak harus menjamin bahwa pendidikan dan informasi mengenai larangan terhadap penyiksaan sepenuhnya dicantumkan dalam pelatihan bagi para petugas penegak hukum, sipil atau militer, petugas kesehatan, pegawai pemerintah, dan orang-orang lain yang mungkin terlibat dalam penahanan, interogasi atau perlakuan terhadap setiap orang yang ditangkap, ditahan atau dipenjara. Setiap Negara Pihak mesti mencantumkan larangan ini dalam peraturan atau instruksi yang dikeluarkan sehubungan dengan tugas dan fungsi orang-orang tersebut di atas. Setiap Negara Pihak harus senantiasa mengawasi secara sistematik peraturan-peraturan tentang interogasi, instruksi, metode, kebiasaankebiasaan dan peraturan untuk penahanan serta perlakuan terhadap orang-orang yang ditangkap, ditahan, atau dipenjara dalam setiap wilayah kewenangan hukumnya, dengan maksud untuk mencegah terjadinya kasus penyiksaan Setiap Negara Pihak harus menjamin agar instansi-instansi yang berwenang melakukan suatu penyelidikan dengan cepat dan tidak memihak, setiap ada alasan yang cukup kuat untuk mempercayai bahwa suatu tindak penyiksaan telah dilakukan di dalam wilayah kewenangan hukumnya Setiap Negara Pihak harus menjamin agar setiap orang yang menyatakan bahwa dirinya telah disiksa dalam wilayah kewenangan hukumnya mempunyai hak untuk mengadu, dan agar kasusnya diperiksa dengan segera dan tidak memihak oleh pihak-pihak yang berwenang. Langkah-langkah harus diambil untuk menjamin bahwa orang yang mengadu dan saksi-saksi dilindungi dari segala perlakuan buruk atau intimidasi sebagai akibat dari pengaduan atau kesaksian mereka. Setiap Negara Pihak harus menjamin agar dalam sistem hukumnya korban dari suatu tindak penyiksaan memperoleh ganti-rugi dan mempunyai hak untuk mendapatkan kompensasi yang adil dan layak, termasuk sarana untuk rehabilitasi sepenuh mungkin. Dalam peristiwa

Pasal 10 (1)

Pasal 11

Pasal 12

Pasal 13

Pasal 14

40

korban meninggal dunia sebagai akibat tindak penyiksaan, ahli warisnya berhak mendapatkan ganti-rugi Pasal 15 Setiap Negara Pihak harus menjamin bahwa setiap pernyataan yang telah ditetapkan sebagai tindak lanjut dari tindak penyiksaan tidak digunakan sebagai bukti, kecuali terhadap orang yang dituduh melakukan tindak penyiksaan, sebagai bukti bahwa pernyataan itu telah dibuat.

Konvensi Hak Anak, 1989 (diratifikasi dengan Keputusan Presiden No 36 tahun 1990) Pasal 12 Negara-negara Pihak harus menjamin bahwa anak-anak yang mampu membentuk pandangannya sendiri, mempunyai hak untuk menyatakan pendapatnya secara bebas dalam semua hal yang mempengaruhi anak-anak tersebut, dan pendapat anak-anak dipertimbangkan sesuai dengan usia dan kematangan mereka. Tidak seorang anak pun dapat dikenai campur tangan sewenangwenang atau yang tidak sah atas kehidupan pribadi, keluarga, rumah tangga, atau hubungan surat menyuratnya, ataupun diserang seccara tidak sah kehormatan dan nama baiknya. Anak berhak atas perlindungan hukum terhadap campur tangan atau serangan seperti tersebut di atas Negara-negara Pihak harus mengambil langkah-langkah legislatif, administratif, sosial dan pendidikan yang layak guna melindungi anak dari semua bentuk kekerasan fisik atau mental, penganiayaan, penelantaran, perlakuan buruk atau eksploitasi, termasuk penganiayaan seksual sementara mereka ada dalam pemeliharaan orangtua, walinya yang sah, atau setiap orang lain yang memelihara anak tersebut. Upaya-upaya perlindungan seperti di atas hendaknya, jika dianggap layak, mencakup prosedur yang efektif dalam menetapkan program sosial guna memberi dukungan yang diperlukan anak dan mereka yang memelihara anak, dan juga dalam menetapkan berbagai bentuk pencegahan, identifikasi, pelaporan, rujukan, penyelidikan, pembinaan, dan tindak lanjut dari kasus penganiayaan anak sebagaimana diuraikan di atas, dan, apabila diperlukan , keterlibatan institusi peradilan. Seorang anak yang untuk sementara atau selama-lamanya kehilangan lingkungan keluarganya, atau tidak dapat dibiarkan terus berada dalam lingkungan tersebut demi kepentingannya yang terbaik, berhak untuk memperoleh perlindungan dan bantuan khusus dari Negara

Pasal 16

Pasal 19

Pasal 20

41

Pasal 37 (a)

Negara-negara Pihak harus menjamin bahwa:  Tidak seorang anak pun dapat menjadi sasaran penyiksaan atau perlakuan atau penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat. Hukuman mati, atau seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan, tidak boleh dikenakan pada kejahatan yang dilakukan oleh seseorang yang berusia di bawah 18 tahun;  Tidak seorang anak pun dapat dirampas kemerdekaannya secara tidak sah atau sewenang-wenang. Penangkapan, penahanan atau pemenjaraan seorang anak harus sesuai dengan hukum, dan hanya diterapkan sebagai upaya terakhir dan untuk jangka waktu yang sesingkat-singkatnya;  Setiap anak yang dirampas kemerdekaannya harus diperlakukan secara manusiawi dan dihormati martabat kemanusiaannya, dan dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan manusia seusianya. Khususnya, setiap anak yang dirampas kemerdekaannya harus dipisahkan dari orang-orang dewasa, kecuali bila dianggap bahwa kepentingan terbaik si anak yang bersangkutan menuntut agar hal ini tidak dilakukan, dan anak berhak untuk mempertahankan hubungan dengan keluarganya melalui surat menyurat atau kunjungan-kunjungan, kecuali dalam keadaan khusus;  Setiap anak yang dirampas kemerdekaannya berhak untuk secepatnya memperoleh bantuan hukum dan bantuan lain yang layak, dan juga untuk menggugat keabsahan perampasan kemerdekaannya di depan pengadilan atau pejabat lain yang berwenang, independen, dan tidak memihak, dan berhak untuk dengan segera memperoleh keputusan mengenai tindakan perampasan kemerdekaan tersebut Negara-negara Pihak harus mengambil semua langkah-langkah yang layak untuk meningkatkan pemulihan rohani dan jasmani, dan penyatuan kembali dalam masyarakat, seorang anak yang menjadi korban dari: setiap bentuk penelantaran, eksploitasi, atau penganiayaan; penyiksaan atau bentuk perlakuan atau penghukuman yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat; atau konflik bersenjata. Pemulihan dan reintegrasi seperti disebut di atas harus dilakukan dalam suatu lingkungan yang memupuk kesehatan, harga diri dan martabat anak yang bersangkutan Prinsip-prinsip Peradilan untuk Anak Negara-negara Pihak mengakui hak setiap anak yang disangka, dituduh, atau dinyatakan melanggar hukum pidana untuk diperlakukan dengan cara yang sesuai dengan peningkatan perasaan

Pasal 39

Pasal 40

42

anak akan martabat dan harga dirinya, yang memperkuat penghargaan anak pada hak asasi manusia dan kebebasan dasar orang lain, dan yang mempertimbangkan usia anak dan keinginan untuk meningkatkan reintegrasi anak dan menciptakan anak yang berperan konstruktif dalam masyarakat. Untuk tujuan ini, dan dengan memperhatikan ketentuan dari instrumen-instrumen internasional yang relevan, Negara-negara Pihak khususnya menjamin bahwa: o tak seorang anak pun dapat disangka, dituduh atau dinyatakan melanggar hukum pidana karena melakukan atau tidak melakukan tindakan yang tidak dilarang oleh hukum nasional atau internasional pada saat tindakan itu dilakukan; o setiap anak yang disangka atau dituduh telah melanggar hukum pidana mempunyai setidak-tidaknya jaminan sebagai berikut: o untuk dianggap tidak bersalah hingga dibuktikan kesalahannya menurut hukum; o untuk secepatnya dan secara langsung diberitahu mengenai tuduhan-tuduhan terhadapnya, dan jika dipandang layak melalui orang tua atau wali anak yang sah, dan untuk memperoleh bantuan hukum dan bantuan lain dalam mempersiapkan dan mengajukan pembelaannya. o untuk memperoleh keputusan atas masalah tersebut tanpa ditunda-tunda oleh pejabat atau lembaga pengadilan yang berwenang, independen, dan tidak memihak dalam suatu pemeriksaan yang adil sesuai dengan hukum, dengan kehadiran penasihat hukum atau bantuan lain yang layak, kecuali jika dianggap hal itu bukan untuk kepentingan terbaik si anak, khususnya dengan memperhatikan usia atau situasi anak, orangtua dan wali hukumnya yang sah; o untuk tidak dipaksa memberikan kesaksian atau mengakui kesalahan; untuk memeriksa atau menyuruh memeriksa saksi-saksi yang memberatkan, dan untuk memperoleh peran serta dan pemeriksaan saksi-saksi yang meringankan anak dalam kondisi kesetaraan; o jika dianggap telah melanggar hukum pidana, anak berhak agar keputusan dan setiap tindakan yang dikenakan sebagai akibatnya ditinjau kembali oleh pejabat yang lebih tinggi yang berwenang, independen dan tidak memihak atau oleh badan peradilan sesuai dengan hukum yang berlaku; o untuk memperoleh bantuan cuma-cuma dari seorang penerjemah apabila anak tidak dapat memahami atau tidak dapat berbicara dalam bahasa yang digunakan; o untuk dihormati sepenuhnya kehidupan pribadinya dalam

43

semua tahap proses pengadilan. Instrumen lain yang diadopsi oleh Majelis Umum PBB berkaitan dengan Peran Penegak Hukum dan Perlakuan terhadap Para Tahanan dan Narapidana 1990 1988 Prinsip-prinsip Dasar Perlakuan terhadap para Narapidana (The Basic Principles for the Treatment of Prisoners) The Body of Principles for the Protection of All Persons Under Any Form of Detention or Imprisonment The United Nations Rules for the Protection of Juveniles 1979 1955 1982 Tata Perilaku Para Pejabat Penegak Hukum (The Code of Conduct for Law Enforcement Officials) Peraturan-peraturan Standar Minimal Perlakuan bagi para Narapidana (The Standard Minimum Rules for the Treatment of Prisoners) Prinsip-Prinsip Etika Medis yang relevan bagi Peran Petugas Medis, terutama Dokter, dalam Perlindungan Narapidana dan Tahanan terhadap Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat Manusia (Principles of Medical Ethics relevant to the Role of Health Personnel, particularly Physicians, in the Protection of Prisoners and Detainees against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment)

Larangan Penyiksaan dalam Hukum Hak Asasi Manusia Internasional
Harus dipertimbangkan bahwa bagaimanapun sejumlah hak asasi manusia yang disebutkan di atas bersifat tidak dapat disimpangi atau dibatasi (non- derogable). Hal ini dapat dilihat pada pasal 4 (2) Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik yang menyatakan bahwa hakhak yang tidak dapat disimpangi / dibatasi tersebut adalah: hak sebagai subyek hukum, hak hidup, hak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan, hak untuk bebas dari perbudakan, prinsip non-retroaktif dalam penerapan hukum, kebebasan berpikir dan berkeyakinan. Sifat non-derogable yang dinyatakan dalam Kovenan Hak Sipil dan Politik ini ini juga berlaku dalam penerapan prinsip legalitas dan habeas corpus.

44

Hampir semua ketentuan tersebut dicakup dalam pasal 9 DUHAM (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, dan pasal 9 (1) Kovenan Hak Sipil dan Politik. Di tingkat nasional, pelanggaranpelanggaran tersebut dilarang menurut ketentuan hukum nasional sebagaimana dinyatakan dalam pasal 18 (1), 19 (2), dan 21 (2) KUHAP. Lebih khusus lagi larangan untuk penggeledahan sewenang-wenang, pemerasan, dan perampasan telah dinyatakan pada pasal 33 KUHP sebagaimana juga disebut dalam pasal 368, 423, dan 429 KUHP. Untuk kasus penyiksaan dan perlakuan kejam, meskipun Indonesia sudah meratifikasi Konvensi Anti Penyiksaan (Convention Againts Torture) sejak 13 tahun lalu melalui Undang-Undang No 5 tahun 1998, namun tindakan penyiksaan masih belum sepenuhnya dihapuskan dalam praktikpraktik penegakan hukum di Indonesia. Praktik-praktik kekerasan dan penghukuman yang kejam masih banyak terjadi di kantor-kantor polisi, tempat-tempat penahanan, dan berbagai tempat-tempat pengurungan lainnya, seakan mendapat pembenaran selama berlangsungnya kampanye PERANG TERHADAP NAPZA. Penyiksaan dan perlakuan yang kejam telah menjadi “cara tidak resmi” untuk mendapatkan informasi atau pengakuan, dan juga untuk menghukum dan mengintimidasi target operasi, baik dari kalangan pengguna maupun pengedar NAPZA. Larangan penyiksaan telah disebut secara tegas dalam pasal 5 DUHAM dan pasal 7 Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik. Namun definisi yang lebih jelas dinyatakan dalam Pasal 1 Konvensi Anti Penyiksaan yang menyebutkan bahwa: Untuk tujuan Konvensi ini:

istilah “penyiksaan” berarti: “ setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat, baik jasmani maupun rohani, pada seseorang untuk memperoleh pengakuan atau keterangan dari orang itu atau dari orang ketiga, dengan menghukumnya atas suatu perbuatan yang telah dilakukan atau diduga telah dilakukan oleh orang itu atau orang ketiga, atau mengancam atau memaksa orang itu atau orang ketiga, atau untuk suatu alasan yang didasarkan pada diskriminasi, apabila rasa sakit dan penderitaan tersebut ditimbulkan oleh, atas hasutan dari, dengan persetujuan, atau sepengetahuan pejabat pemerintah. Hal itu tidak meliputi rasa sakit atau penderitaan yang timbul hanya dari, melekat pada, atau diakibatkan oleh sanksi hukum yang berlaku.

Dalam kenyataannya, penyiksaan dan perlakuan dan penghukuman yang kejam, tidak manusiwi dan merendahkan juga dilarang dalam hukum nasional Indonesia. Praktik-praktik tersebut jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila sebagai ideologi negara, dan juga Konstitusi Republik 45

Indonesia. Undang-Undang No.39/1999 tentang Hak Asasi Manusia juga menjamin hak untuk bebas dari penyiksaan. Larangan penyiksaan oleh aparat atau pejabat publik juga dinyatakan dalam KUHP pasal 422, yang menyebutkan “Seorang pejabat yang dalam suatu perkara pidana menggunakan barana paksaan, baik untuk memeras pengakuan, maupun untuk mendapatkan keterangan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun”. Larangan penyiksaan sebagaimana disebut dalam pasal 422 KUHP ini menggunakan definisi yang dekat dengan apa yang didefinisikan dalam Konvensi Anti Penyiksaan, meskipun pengertiannya tidak cukup memadai. Hal ini disebabkan oleh tidak dimasukkannya tindakan yang dilakukan dengan sepengetahuan atau persetujuan dari pejabat publik dalam kapasitas atau kedudukan resmi. Untuk mengatasi hambatan ini maka saat ini sudah dilakukan perancangan ulang KUHP yang melarang penyiksaan sebagaimana dinyatakan dalam Konvensi Anti Penyiksaan. Di dalam Rancangan Undang-Undang KUHP pasal 406 dinyatakan bahwa: “Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun setiap pejabat publik atau orang-orang lain yang bertindak dalam suatu kapasitas pejabat resmi atau setiap orang yang bertindak karena digerakkan atau sepengetahuan seorang pejabat publik, yang melakukan perbuatan yang menimbulkan penderitaan atau rasa sakit yang berat, baik fisik maupun mental terhadap seseorang dengan tujuan untuk memperoleh dari orang tersebut atau pihak ketiga informasi atau Dari perspektif hak asasi manusia pengakuan, menjatuhkan pidana terhadap ketergantungan pada NAPZA perbuatan yang telah dilakukannya atau semestinya ditangani dicurigai telah dilakukan atau dengan tujuan sebagaimana layanan kesehatan untuk melakukan intimidasi atau memaksa lainnya. Konsekuensinya, orang-orang tersebut atau atas dasar suatu penolakan atau penelantaran alasan diskriminasi dalam segala bentuknya”. layanan medis atau ketiadaan Penting dicatat bahwa di dalam forum Dewan akses terhadap layanan medis HAM (Human Rights Council), Manfred Nowak, dalam situasi penahanan atau Pelapor Khusus PBB untuk Pencegahan pemenjaraan bisa dinyatakan Penyiksaan menyimpulkan dalam rangkaian sebagai perlakuan atau rekomendasinya, kebutuhan bagi Dewan HAM penghukuman yang kejam, tidak memasukkan masalah kebijakan NAPZA di manusiawi, dan merendahkan dalam sidangnya yang akan datang. Nowak dan karenanya dilarang dalam mengamati bahwa dari perspektif hak asasi hukum hak asasi manusia manusia ketergantungan pada NAPZA internasional semestinya ditangani sebagaimana layanan Manfred Nowak kesehatan lainnya. Konsekuensinya, penolakan [Pelapor Khusus PBB untuk atau penelantaran layanan medis atau ketiadaan Anti Penyiksaan) akses terhadap layanan medis dalam situasi penahanan / pemenjaraan bisa dinyatakan

46

sebagai perlakuan atau penghukuman yang kejam, tidak manusiawi, dan merendahkan dan karenanya dilarang dalam hukum hak asasi manusia internasional. Penolakan akses untuk mengurangi rasa sakit, jika menyebabkan rasa sakit dan penderitaan yang berat, merupakan perlakuan dan penghukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan. Sama halnya dengan memaksa orang untuk berobat dan melakukan tes tanpa persetujuan yang bersangkutan dapat dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap hak atas kebebasan dan perlindungan integritas fisik (right to physical integrity). Oleh karena itu negaranegara pihak memiliki kewajiban positif untuk memastikan akses yang sama untuk pencegahan dan pengobatan di dalam dan di luar tempat-tempat penahanan. Untuk menangani sejumlah ketegangan antara pendekatan penghukuman atau pemidanaan untuk mengendalikan NAPZA dan kewajiban hukum hak asasi manusia internasional, yang termasuk di dalamnya melarang penyiksaan dan perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, dan merendahkan, maka Pelapor Khusus PBB ini juga menghimbau agar Dewan HAM untuk memasukkan pertanyaan tentang kebijakan NAPZA di dalam negara dikaitkan dengan kewajiban hukum hak asasi manusia internasional pada sidang-sidang berikutnya. Berkaitan dengan proses peninjauan kembali, diputuskan oleh Majelis Umum PBB dalam sesi khususnya yang ke 1998 yang diselenggarakan di Wina pada Maret 2009, Pelapor Khusus merekomendasikan agar negara-negara pihak dan organ-organ PBB yang relevan meninjau kembali kebijakan mereka, dengan mepertimbangkan beberapa poin berikut ini: (a) Negara harus memastikan bahwa kerangka hukum yang mengatur layanan untuk penanganan dan rehabilitasi ketergantungan NAPZA sepenuhnya sesuai atau sejalan dengan norma-norma hukum hak asasi manusia internasional. Negara memiliki kewajiban memastikan bahwa penanganan ketergantungan NAPZA dan pencegahan –perawatan- dukungan dan pengobatan pada orang terinfeksi HIV/Hepatitis C dapat diakses di semua tempat-tempat penahanan, dan oleh karenanya penanganan ketergantungan NAPZA tidak dibatasi atas dasar segala bentuk diskriminasi; Program penyediaan jarum suntik di tempat-tempat penahanan harus digunakan untuk mengurangi resiko penularan HIV/AIDS; Jika pengguna NAPZA yang menggunakan jarum suntik dipaksa melakukan tes urin maka hal itu harus dilakukan dengan menghormati martabat mereka. Negara harus mengurangi penggunaan penghukuman mati berkaitan dengan kasus-kasus NAPZA dan menghindari penanganan yang diskriminatif misalnya dalam bentuk sel pengurungan perorangan Mengingat tidak adanya akses untuk penanganan rasa sakit dan pereda nyeri berbahan dasar opiat untuk pasien yang membutuhkan, menyebabkan perlakuan yang kejam dan tidak manusiawi. Maka berbagai langkah perlu diambil untuk memastikan akses penuh dan untuk mengatasi hambatan peraturan, pendidikan, dan perilaku untuk memastikan akses penuh pada perawatan untuk menenangkan.

(b)

(c)

(d)

(e)

47

48

4.
Kedudukan Hukum Pengguna NAPZA dalam Sistem Hukum Nasional
Undang-Undang Narkotika, Melindungi Siapa?
Meningkatnya masalah NAPZA dan dikaitkan dengan penyebaran HIV/AIDS di Indonesia mendorong Pemerintah RI mengeluarkan sejumlah peraturan perundang-undangan terkait dengan kebijakan NAPZA. MPR RI pada sidang umum tahun 2002 melalui ketetapan MPR No. VI/MPR/2002 tentang Rekomendasi Atas Laporan Pelaksanaan Putusan MPR RI oleh Presiden, DPA, DPR, BPK, MA Pada Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2002 merekomendasikan kepada Presiden RI bersama DPR, untuk merevisi Undang-Undang No 22 Tahun 1997 dan UndangUndang No 5 Tahun 1997 tentang NAPZA yang kemudian menghasilkan Undang-Undang No 35 tahun 2009. Namun dalam praktiknya selama 10 tahun terakhir masih ada tarik menarik antara pendekatan kesehatan dengan pendekatakan pemidanaan.16 Pada UU Narkotika, sulit untuk untuk menemukan apa yang dimaksud dengan “pengguna narkotika”. Bila dikaitkan dengan dengan orang yang menggunakan narkotika, dalam UU Narkotika dapat ditemukan berbagai istilah antara lain17 : 1. Pecandu Narkotika sebagai orang yang menggunakan atau menyalahgunakan narkotika dan dalam keadaan ketergantungan pada narkotika, baik secara fisik maupun psikis (Pasal 1 angka 13 UU Narkotika); 2. Penyalahguna adalah orang yang menggunakan narkotika tanpa hak atau melawan hukum (Pasal 1 angka 15 UU Narkotika) 3. Korban Penyalahguna adalah seseorang yang tidak sengaja menggunakan NAPZA, karena dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa, dan/atau diancam untuk menggunakan NAPZA (Penjelasan Pasal 54 UU Narkotika) 4. Pasien sebagai orang yang berdasarkan indikasi medis dapat menggunakan, mendapatkan, memiliki, menyimpan dan membawa narkotika golongan II dan golongan III dalam jumlah terbatas dan sediaan tertentu; 5. Mantan Pecandu Narkotika adalah orang yang telah sembuh dari ketergantungan terhadap NAPZA secara fisik maupun psikis (Penjelasan Pasal 58 UU Narkotika)
16 17

Totok Yulianto, Kedudukan Hukum Pengguna NAPZA dalam Sistem Hukum Nasional, Makalah tidak diterbitkan, 2010 Konvensi PBB tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika 1988 sebagaimana diratifikasi UU No 7 Tahun 1997 menggunakan istilah pemakaian untuk kepentingan sendiri

49

6. Ketergantungan Narkotika adalah kondisi yang ditandai oleh dorongan untuk menggunakan narkotika secara terus menerus dengan takaran yang meningkat agar menghasilkan efek yang sama dan apabila penggunanya dikurangi dan/atau dihentikan secara tiba-tiba menimbulkan gejala fisik dan psikis yang khas (Pasal 1 angka 14 UU Narkotika) Keberagaman istilah untuk pengguna narkotika tersebut membingungkan dan dapat menimbulkan ketidakjelasan baik dalam merumuskan berbagai ketentuan didalam UU Narkotika maupun pada pelaksanaannya. Di samping itu, salah satu permasalahan akibat banyaknya istilah adalah kerancuan pengaturan dimana Pasal 4 huruf d UU Narkotika yang menyatakan “UU Narkotika bertujuan : Menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi Penyalahguna dan Pecandu Narkotika”, namun dalam Pasal 54 UU Narkotika menyebutkan “Pecandu Narkotika dan Korban PenyalahgunaNarkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial” dimana berdasarkan Pasal 54 hak Penyalahguna untuk mendapat rehabilitasi menjadi tidak diakui. Penyalahguna yang awalnya mendapatkan jaminan rehabilitasi, pada Pasal 127 Penyalahguna kemudiaan juga menjadi subyek yang dapat dipidana dan kehilangan hak rehabilitasinya, kecuali dapat dibuktikan atau terbukti sebagai Korban Penyalahguna Narkotika. Pembuktian Penyalahguna Narkotika sebagai Korban Penyalahguna Narkotika sebagaimana diatur dalam UU tersebut, merupakan suatu hal yang sulit, karena harus melihat sejarah awal si pengguna menggunakan narkotika dan diperlukan pembuktian bahwa penggunaan narkotika saat itu terjadi dalam kondisi dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa, dan/atau diancam. Dalam implementasinya, Mahkamah Agung RI mengeluarkan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA)No. 4 Tahun 2010 tentang Penempatan Penyalahgunaan, Korban Penyalahgunaan, dan Pecandu Narkotika kedalam Lembaga Rehabilitasi Medis dan Sosial yang menjadi pegangan Hakim Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi dalam memutus perkara terkait NAPZA. Banyaknya istilah tersebut juga membingungkan aparat penegak hukum dan masyarakat, di lapangan aparat penegak hukum tidak memberikan hak orang yang positif menggunakan NAPZA untuk melaksanakan rehabilitasi, walaupun dalam UU Narkotika adanya jaminan rehabilitasi bagi pecandu narkotika. Pengaturan wajib lapor bagi orang tua atau wali dari pecandu NAPZA, juga berimplikasi membingungkan bagi orang tau atau wali, karena untuk menentukan apakah anaknya pecandu atau bukan pecandu haruslah ditentukan oleh ahli dan sangat sulit bila dilihat dari kacamata awam. Berdasarkan tujuan UU Narkotika tersebut dan melihat posisi pengguna NAPZA dapat dilihat pemberantasan NAPZA ditujukan bagi peredaran gelap NAPZA. Sedangkan upaya pencegahan, perlindungan dan penyelamatan bangsa Indonesia dari penyalahgunaan NAPZA, sehingga perlu adanya pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi pengguna NAPZA. Penyalahguna yang pada awalnya mendapatkan jaminan rehabilitasi, namun, dengan memandang asas legalitas yang diterapkan di Indonesia, maka dalam pelaksanaanya pengguna NAPZA harus menghadapi resiko ancaman pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 127 UU 50

Narkotika. Bila pengguna NAPZA dianggap pelaku kejahatan, maka yang menjadi pertanyaan kemudiaan adalah siapa yang menjadi korban dari kejahatan yang dilakukan oleh pengguna NAPZA? Menjawab permasalahan pengguna NAPZA sebagai pelaku tindak pidana dan sekaligus sebagai korban, dengan berdasarkan pada Pasal 103 UU Narkotika Mahkamah Agung RI mengeluarkan terobosan dengan mengeluarkan Surat Edaran Mahkamah Agung No 04 Tahun 2010 tentang Penetapan Penyalahgunaan, Korban Penyalahgunaan, dan Pecandu Narkotika ke dalam Lembaga Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial, dimana ditentukan klasifikasi tindak pidana sebagai berikut : a. b. c. d. e. Terdakwa pada saat ditangkap oleh penyidik Polri dan Penyidik BNN dalam kondisi tertangkap tangan; Pada saat tertangkap tangan sesuai butir a diatas ditemukan barang bukti penggunaaan 1 (satu) hari Surat uji laboratorium positif menggunakan narkotika berdasarkan permintaan penyidik Perlu surat keterangan dari dokter jiwa/psikiater pemerintah yang ditunjuk oleh hakim Tidak dapat terbukti yang bersangkutan terlibat dalam peredaran gelap NAPZA

Majelis hakim yang memeriksa dan memutus perkara pengguna NAPZA harus menunjuk secara tegas dan jelas tempat rehabilitasi yang terdekat dalam amar putusannya, untuk menjatuhkan amar putusannya hakim harus sungguh-sungguh mempertimbangkan kondisi / taraf kecanduaan terdakwa. Sebagai konsekuesi pengguna NAPZA adalah pelaku tindak pidana dan sekaligus sebagai korban maka masa menjalani pengobatan dan / atau perawatan bagi pecandu NAPZA sebagaimana yang diputus oleh Majelis Hakim yang mengadili perkara, diperhitungkan sebagai masa menjalani hukuman, dimana penentuan untuk menjalani masa pengobatan dan perawatan ditentukan oleh ahli. Namun surat edaran Mahkamah Agung RI tersebut akan sulit diimplementasikan bila aparat penegak hukum lainya (penyidik dan penuntut) tidak memiliki pola pandang yang sama terhadap pengguna NAPZA (permasalahan ini akan dibahas pada bagian permasalahan implementasi hukum pengguna NAPZA).

Pengguna NAPZA dan Hak-Hak sebagai Warga Negara
Pengguna NAPZA juga adalah warga negara dimana haknya dihormati, dilindungi dan dipenuhi oleh negara, baik ketika dalam proses hukum maupun dalam hal kesehatan dan sosial. Selain hak asasi manusia yang melekat pada diri setiap manusia, baik dalam tataran hak atas kesehatan maupun hak ketika berhadap dengan proses hukum, secara khusus UU Narkotika memberikan hak kepada pengguna sebagai berikut :

51

a. Rehabilitasi bagi Pengguna NAPZA.
Sebagaimana disebutkan dalam tujuan UU Narkotika terdapat jaminan pengaturan upaya rehabilitasi bagi pengguna NAPZA, dimana hal tersebut kembali ditegaskan dalam Pasal 54 UU Narkotika yang menegaskan Pecandu Narkotika dan Korban penyalahgunaan NAPZA wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Dimana menteri menjamin ketersediaan NAPZA untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau untuk pengembangan ilmu pengetahuaan dan teknologi. Selain itu pengguna NAPZA dapat memilih tempat rehabilitasi yang telah memenuhi kualifikasi dan apabila pengguna NAPZA dalam pengawasan negara, Negara memberikan hak rehabilitasi secara cuma-cuma kepada pengguna NAPZA dimana pembiayaannya dapat diambil dari harta kekayaan dan aset yang disita oleh negara.

b. Hak untuk Tidak Dituntut Pidana
UU Narkotika memberikan diskresi kepada beberapa hal agar pengguna NAPZA tidak dipidana, diskresi tersebut dapat dilihat dalam Pasal 128 UU Narkotika memberikan jaminan tidak dituntut pidana dengan kriteria sebagai berikut :  Pecandu narkotika yang belum cukup umur dan telah dilaporkan oleh orang tua atau walinya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat (1)  Pecandu narkotika yang telah cukup umur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat (2) yang sedang menjalani rehabilitasi medis 2 (dua) kali masa perawatan dokter dirumah sakit dan/atau lembaga rehabilitasi medis yang ditunjuk oleh pemerintah Walaupun pengaturan ini telah diatur dalam UU Narkotika sebelumnya namun hal tersebut tidak efektif dalam pelaksanaanya karena tidak adanya peraturan pelaksana yang memadai untuk mengakomodir hak diskresi tersebut, dimana aparat penegak hukum masih tetap melakukan proses hukum bagi anak dan pengguna NAPZA yang sedang menjalani rehabilitasi. Permasalahan selanjutnya adalah mengenai rehabilitasi medis yang hanya diperbolehkan 2 (dua) kali masa perawatan dokter sebagaimana tertuang dalam Pasal 128.

Beberapa Persoalan Mendasar Seputar Kebijakan Hukum tentang NAPZA di Indonesia

a.

Pelaksanaan UU Narkotika Tergantung Aturan Pelaksana

Belum terlihatnya upaya penyusunan peraturan pelaksana dari UU Narkotika khususnya untuk kepentingan pengguna menimbulkan berbagai permasalahan, karena upaya pemberantasan berjalan lebih cepat dibandingkan upaya pencegahan dan pemulihan. Peraturan Pelaksanaan yang memiliki dampak langsung bagi pengguna NAPZA adalah sebagai berikut :

52

Ketentuan Pelaksanaan Wajib Lapor

Ketentuan Pasal Pasal 52

Pengaturan Pelaksana Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Menteri Kesehatan Peraturan Menteri Sosial Peraturan Kepala BNN

Tata Cara Penggunaan Aset kekayaan yang Pasal 101 Dirampas Rehabilitasi Medis dan Lembaga Rehabilitasi Medis Rehabilitasi Sosial Wadah Koordinasi Peran Serta Masyarakat Pasal 59 Pasal 59 Pasal 108

b.

Tumpang Tindihnya Pasal Pemidanaan bagi Pengguna NAPZA.

Pengguna NAPZA yang masih mendapatkan NAPZA secara melawan hukum, maka terdapat beberapa perbuatan yang dilakukan pengguna NAPZA tersebut yakni membeli, menguasai, menyimpan, atau memiliki yang akhirnya dipergunakan sendiri. UU Narkotika tidak memberikan pembedaan / garis yang jelas antara delik pidana dalam Pasal 127 UU Narkotika dengan delik pidana lain yang terdapat dalam UU Narkotika, dimana pengguna NAPZA yang mendapatkan NAPZA secara melawan hukum pastilah memenuhi unsur “menguasai”, “memiliki”, “menyimpan”, atau “membeli” NAPZA dimana hal tersebut juga diatur sebagai suatu tindak pidana tersendiri dalam UU Narkotika. Selain terancam sanksi pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 127 UU Narkotika, pengguna NAPZA juga dapat dikenakan berbagai ketentuan pemidanaan lain dalam UU Narkotika selama terpenuhinya unsur “menguasai”, “memiliki”, “menyimpan”, atau “membeli” NAPZA secara tanpa hak dan melawan hukum dimana memiliki sanksi pidana yang lebih tinggi dan tidak ada pilihan bagi hakim untuk menjatuhkan putusan rehabilitasi tanpa adanya putusan penjara karena ada batas minimal pemidanaan dalam delik tersebut.

c. Tidak Ada Batas Daluwarsa yang Jelas Bagi Pengguna NAPZA
UU Narkotika tidak memberikan batas daluwarsa yang jelas atas tindak pidana yang dapat dikenakan bagi pengguna NAPZA. Bagi mantan pengguna NAPZA yang kemudian menceritakan pengalamannya menggunakan NAPZA dihadapan orang banyak dan pengguna NAPZA yang sedang menjalani proses rehabilitasi atas kemauan sendiri (bukan berdasarkan putusan hakim), bisa dikenakan pidana atas perbuatan yang telah lampau (membeli, menggunakan, menguasai atau menyimpan NAPZA tanpa hak dan melawan hukum) berpeluang sewaktu-waktu dapat dikenakan hukuman. 53

Permasalahan tersebut karena adanya ketentuan mengenai batas waktu dalam hukum pidana bagi pelaku tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 78 ayat (1) KUHP yang menyebutkan bahwa ”kewenangan menuntut pidana hapus karena daluwarsa:     Ke-1. Mengenai semua pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan dengan percetakan, sesudah satu tahun; Ke-2. Mengenai kejahatan yang diancam dengan denda, kurungan, atau pidana penjara paling lama tiga tahun, sesudah enam tahun; Ke-3. Mengenai kejahatan yang diancam dengan pidana penjara lebih dari tiga tahun, sesudah dua belas tahun; Ke-4. Mengenai kejahatan yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, sesudah delapan belas tahun;

Tidak diaturnya pengecualian jangka waktu terhadap pengguna NAPZA yang sedang atau sudah dalam tahap mantan pengguna NAPZA mengakibatkan, aparat penegak hukum yang menentukan pengguna sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) akan melakukan pengawasan terhadap pengguna NAPZA dimana tidak tertutup dilakukan di tempat-tempat rehabilitasi. Sehingga menjadi suatu hal yang sangat wajar bila banyak ditemukan tempat-tempat rehabilitasi banyak ditemukan atau diawasi oleh aparat penegak hukum (penyidik) baik dengan menggunakan baju dinas maupun tidak menggunakan baju dinas.

d. Pengguna NAPZA Rentan terhadap Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Kejam
Sebagaimana temuan yang berhasil dikumpulkan oleh kelompok pemantau ini, walaupun Indonesia sudah meratifikasi konvensi anti penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan, namun hukum acara pidana di Indonesia masih rentan terhadap praktik-praktik upaya penyiksaan dan perlakuaan kejam khususnya pengguna NAPZA yang ditahan. Telah disebutkan sebelumnya bahwa Pelapor Khusus untuk PBB Manfred Nowak untuk penyiksaan sudah memberikan rekomendasi bagi Pemerintah Indonesia untuk membatasi waktu penangkapan dan penahanan, namun UU Narkotika tahun 2009 jelas mengabaikan rekomendasi tersebut dengan memberikan kewenangan kepada penyidik BNN untuk dapat menangkap pengguna NAPZA selama 3 hari dan dapat diperpanjang 3 hari. UU Narkotika juga tidak memberikan pengaturan mengenai jaminan rehabilitasi bagi pengguna NAPZA selama menjalani proses hukum, rehabilitasi baru bisa didapatkan pengguna NAPZA setelah mendapatkan putusan / penetapan majelis hakim yang memeriksa perkara. Lamanya jangka waktu penangkapan dan penahanan kemudiaan tanpa disertai dengan jaminan rehabilitasi mengakibatkan pengguna NAPZA akan mengalami kondisi yang lebih buruk dibandingkan dengan pelaku tindak pidana lainya sehingga cenderung memiliki potensi bentuk perlakuaan dan penghukuman yang kejam. 54

Penyiksaan juga sering dilakukan oleh aparat penegak hukum sebagai bentuk upaya-upaya untuk mendapatkan keterangan dari pengguna NAPZA, alasan yang sering terkemuka adalah untuk mengembangkan penyidikan peredaran gelap NAPZA, dimana keterangan pengguna NAPZA kemudiaan dianggap menjadi salah satu sumber untuk membongkar peredaran gelap NAPZA, namun upaya-upaya dalam melakukan penyidikan yang tidak mengedepankan perlindungan hak asasi manusia seringkali menimbulkan penyiksaan yang berakibat rekayasa kasus-kasus bagi pengguna NAPZA. Sayangnya tidak mudah untuk membongkar praktik-praktik penyiksaan, hal ini dikarenakan banyak ketakutan oleh pengguna NAPZA untuk mempermasalahkan ini, dan pola pandang pengguna NAPZA yang menganggap praktik-praktik penyiksaan dan perlakuaan yang kejam merupakan hal yang lumrah terjadi.

e. Sulitnya Implementasi SEMA No 04 Tahun 2010
Walaupun Mahkamah Agung RI telah mengeluarkan Surat Edaran (SEMA) bagi para majelis hakim baik ditingkat pengadilan negeri mapun tingkat pengadilan tinggi, untuk memutuskan perkara pengguna NAPZA namun SEMA tersebut tidak dapat mengintervensi aparat penegak hukum lainya (penyidik dan penuntut umum). Pelaksanaan SEMA tersebut tidak akan mungkin bisa berjalan bila :

…. ini kali kedua saya
menjalani hidup di penjara. Saya tidak bercita-cita dilahirkan sebagai pecandu. Saya ingin punya keluarga normal, istri dan anakanak… Sudah segala daya upaya saya lakukan untuk sembuh, bahkan ketika saya ditangkap oleh Polres Sleman, proses rehabilitasi saya belum juga selesai. Tidak adakah jalan keluar yang lebih baik bagi saya? (D dari Jawa tengah)

Penyidikan ditekankan pada keterlibatan tersangka dalam peredaran gelap NAPZA dan tidak mementingkan apakah tersangka pengguna NAPZA atau bukan. 18 Pihak penyidik tidak mau bekerjasama untuk meminta surat keterangan uji laboratorium untuk melihat apakah tersangka positif menggunakan NAPZA. Pihak penuntut umum mendakwa dengan dakwaan tunggal terhadap penguasaan NAPZA walaupun terbukti terdakwa positif menggunakan NAPZA, sehingga menggiring hakim untuk menjatuhkan vonis penguasaan NAPZA bukan pengguna NAPZA Pihak penuntut umum tidak mau menerima ahli yang dimintakan oleh hakim untuk menilai tingkat kecanduaan pengguna narkotka, sehingga

menghambat putusan rehabilitasi. Pengguna NAPZA yang buta hukum, sehingga mengingkari NAPZA yang memang digunakan untuk kepentingan sendiri, dimana akhirnya dihukum karena penguasaan, kepemilikan, penyimpanan atau pembelian.

18

Kasus yang dihadapi oleh A, dimana dia disiksa agar mengakui kepemilikan NAPZA atau kasus UC yang dipaksa mengakui sebagai pengedar NAPZA

55

56

5.
Kesimpulan dan Langkah Kedepan
Mencari Jalan Keluar
Hak-hak Asasi Manusia telah dijamin dalam Konstitusi atau UUD tahun 1945. Dalam Konstitusi tersebut diatur tentang hak-hak yang dijamin bagi setiap warga Negara Republik Indonesia dan kewajiban pemerintah terkait dengan pemenuhan hak-hak tersebut. Kunci dari pelaksanaan deklarasi tentang HAM dan berbagai konvensi, tidak bisa tidak, terletak pada peran besar negara dalam merumuskan konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang mendukung penghormatan dan perlindungan terhadap HAM. Selama 10 tahun terakhir hukum hak asasi manusia internasional telah berkembang luas dan berdampak pada sistem hukum nasional, dan juga pada pekerjaan sehari-hari para petugas penegak hukum (polisi, jaksa, pengacara, dan hakim). Itu artinya, begitu terikat dalam hukum hak asasi manusia internasional, maka negara memiliki kewajiban hukum yang mengikat untuk menjamin perlindungan efektif hak asasi manusia bagi semua orang di dalam yurisdiksinya. Kewajiban hukum negara pihak untuk melindungi berimplikasi pada kewajiban untuk mencegah, menyelidiki, dan menghukum pelanggaran hak asasi manusia, serta memulihkan kembali hak-hak warganegara dengan menyediakan kompensasinya. Negara-negara pihak juga memiliki tugas hukum tidak hanya memberikan perlindungan terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh para aparat atau pejabat publik, tapi juga memastikan perlindungan yang memadai dengan hukum domestiknya dari pelanggaran yang dilakukan oleh individu-individu atau kelompok dalam masyarakat. Oleh karena itu, adalah menjadi jelas bahwa negara tidak menjalankan tanggung jawab internasionalnya manakala gagal memberikan perlindungan dan pemulihan yang efektif bagi korban pelanggaran hak asasi manusia melalui langkah-langkah hukum melalui pengadilan ataupun administratif. Memahami posisi dan kedudukan HAM dalam peraturan perundangundangan merupakan bagian yang penting untuk memahami mekanisme hak asasi manusia yang tersedia dan bagaimana mengakses mekanisme tersebut. Temuan kegiatan pemantauan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh polisi dan penegak hukum lainnya terhadap para pengguna NAPZA telah menunjukkan bahwa respon

57

yang bersifat represif dan punitif (menghukum) tidak akan pernah menyelesaikan masalah penggunaan NAPZA dan HIV/AIDS. Masalah NAPZA tidak dapat diselesaikan hanya dengan inisiatif-inisiatif pemidanaan semata. Pendekatan yang bersifat penghukuman justru menyebabkan pengguna NAPZA menghindar dari pusat-pusat layanan pencegahan dan perawatan ketergantungan NAPZA. Berdasarkan hasil pemantauan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh Jaringan 4 Kota ini dapat disimpulkan bahwa: 1. Stigma yang dialami pengguna NAPZA dan fakta-fakta dimana pengguna NAPZA dipandang sebagai kriminal, dan bukan sebagai individu yang mengalami masalah kesehatan, menciptakan munculnya banyak tindak kekerasan terhadap pengguna NAPZA. Tindak kekerasan akan menghambat keberhasilan pendekatan kesehatan masyarakat yang telah terbukti efektif mengurangi masalah kesehatan pada pengguna NAPZA. 2. Meskipun telah banyak dilakukan langkah-langkah positif oleh pemerintah untuk memperbaiki perundang-undangan dan kebijakan mengenai NAPZA, khususnya berkaitan dengan upaya perlindungan hak asasi bagi pengguna NAPZA namun sejumlah aturan dan praktik-praktik yang dilakukan oleh para penegak hukum perlu diamati dan dipantau terus menerus. 3. Jaringan Pemantau melihat persoalan peraturan mengenai praktik penyiksaan dan penggunaan kekerasan / kesewenang-wenangan terhadap pengguna NAPZA disebabkan, antara lain: a. Lemahnya definisi dan larangan penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan yang sesuai dengan Konvensi Anti Penyiksaan yang sudah diratifikasi dengan Undang-Undang No 5 tahun 1998. b. Adanya Undang-Undang Ratifikasi tersebut di atas tidak ditindaklanjuti dengan upaya merevisi atau mengharmonisasi sejumlah kebijakan di tingkat nasional, misalnya Undang-Undang tentang KUHP. c. Praktik-praktik diskriminatif, korupsi, dan kurangnya usaha perlindungan terkait dengan administrasi peradilan, sejak penangkapan, penahanan, pemeriksaan, penuntutan, hingga dijatuhkannya vonis pengadilan, serta pemenjaraan d. Tidak adanya mekanisme pemantauan independen menciptakan lingkungan yang kondusif bagi penyiksaan dan perlakuan buruk. e. Rendahnya kesadaran dan tindakan tepat para pemegang kepentingan lain dalam sistem hukum pidana, seperti anggota profesi medis, hakim dan pengacara. 4. Jaringan Pemantau sangat prihatin bahwa sejumlah kasus yang diamati yang melibatkan remaja atau anak-anak menghadapi resiko perlakuan buruk daripada orang dewasa dalam situasi dimana kemerdekaan mereka dirampas, termasuk pengadilan yang tidak dibedakan dan penjara yang digabungkan dengan tahanan atau narapidana dewasa.

58

5. Berkaitan dengan institusi penegak hukum, khususnya Polri, apresiasi perlu diberikan kepada karena dalam kurun waktu setahun terus memperbaiki institusi dan personelnya lewat berbagai pendidikan atau pelatihan HAM yang tidak hanya dilakukan sendiri, tetapi juga dengan melibatkan berbagai pihak di luar institusi Polri. Namun demikian, hal-hal yang positif tersebut masih sulit dilihat hasilnya karena belum ada perubahan perilaku yang signifikan.

Pintu-pintu Perbaikan
Dengan semangat untuk membangun kerjasama dan kemitraan, Jaringan Pemantau Pelanggaran HAM pada Pengguna NAPZA merekomendasikan agar pemerintah, dengan dukungan masyarakat sipil dan komunitas Internasional mengambil langkah-langkah untuk mengimplementasikan rekomendasi-rekomendasi berikut: 1. Sebagai bentuk kewajiban konstitusionalnya untuk melindungi hak-hak warga negara, maka pemerintah harus memastikan bahwa perlakuan dan hukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan, termasuk yang ditujukan kepada pengguna NAPZA, harus dilarang secara eksplisit. Penyiksaan harus didefinisikan dan dikriminalisasi sebagai tanda konkrit komitmen Indonesia untuk menerapkan pasal 1 dan 4 Konvensi Anti Penyiksaan. 2. Melakukan perubahan kebijakan yangmemandang pengguna NAPZA sebagai korban. Apabila harus melalui proses hukum maka rehabilitasi hendaknya menjadi pilihan dan bukannya pemenjaraan, karena melihat maraknya peredaran gelap NAPZA di dalam penjara. Untuk itu diperlukan pula upaya-upaya untuk penyadaran masyarakat secara lebih luas mengenai posisi pengguna NAPZA dan melakukan pengawalan terhadap kebijakan NAPZA di Indonesia. 3. Pemerintah Indonesia harus memastikan bahwa sistem peradilan pidana bersifat non diskriminatif di setiap tahapan dan mengambil tindakan-tindakan efektif memberantas korupsi dan pemerasan oleh pejabat publik yang bertanggung jawab atas administrasi peradilan, termasuk hakim, jaksa, polisi dan personil penjara. 4. Semua tahanan dalam kasus NAPZA harus dijamin hak-haknya sebagai subyek hukum untuk menolak penahanan yang tidak sah di hadapan pengadilan, atau menggunakan mekanisme pra-peradilan. Hakim dan jaksa harus secara rutin menanyakan orang yang tiba dari tempat tahanan polisi bagaimana mereka diperlakukan, dan bila mereka menduga bahwa mereka telah menerima perlakuan buruk, memerintahkan pemeriksaan medis independen sesuai dengan Protokol Istambul, bahkan bila tidak ada pengaduan formal dari terdakwa. Dalam hal ini, Pengakuan yang dibuat oleh orang dalam tahanan tanpa kehadiran pengacara dan tidak dikonfirmasi di hadapan hakim tidak dapat diterima sebagai bukti terhadap orang yang membuat pengakuan.

59

5. Pemerintah perlu membangun mekanisme pengaduan yang dapat diakses dan efektif. Mekanisme ini harus dapat diakses dimana pun dan dari semua tempat penahanan; pengaduan oleh tahanan harus diikuti dengan penyelidikan independen dan menyeluruh. 6. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Komisi Nasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), serta Ombudsman Republik Indonesia, hendaknya dapat menginisiasi Mekanisme Pencegahan Nasional (NPM) yang sepenuhnya independen untuk menjalankan kunjungan-kunjungan ke semua tempat penahanan, khususnya bagi para tahanan dalam kasus-kasus NAPZA, sebagai salah satu kewajiban dari Pelaksanaan Protokol Opsional Konvensi Anti Penyiksaan.

60

61

Titik Berangkat
Upaya dokumentasi merupakan aspek penting dalam proses advokasi hak asasi manusia, dan seringkali menjadi langkah awal untuk pertanggungjawaban yang efektif. Karena fakta-fakta kekerasan dalam jangka waktu yang cukup panjang dan terjadi di banyak tempat maka dapat diasumsikan bahwa informasi yang dikumpulkan jumlahnya akan besar, bahkan sampai ribuan atau puluhan ribu. Oleh karena itu sebuah sistim dibutuhkan untuk dapat menyimpan dan mengolah data yang banyak. Dari pengalaman di berbagai konteks, sebuah sistem dokumentasi pelanggaran HAM terdiri dari empat tahapan, yaitu tahap pengumpulan data (data collection), tahap mengidentifikasikan unsur-unsur peristiwa pelanggaran HAM pada data (data coding), tahap pemasukan data ke dalam database (data entry), dan tahap pembuatan laporan analisis (data analysis). Manual ini akan membantu para pekerja hak asasi manusia dan pendamping korban untuk memahami apa itu dokumentasi dan arti pentingnya bagi pengungkapan fakta kekerasan dan pemulihan korban serta perubahan institusi penegak hukum. Di dalamnya akan dibahas dokumentasi dengan Metodologi Berbasis Peristiwa yang menggunakan alat analisis “Siapa Melakukan Apa kepada Siapa, Kapan, dan Dimana?”. Dengan demikian siapapun nanti yang melakukan pendokumentasian akan mampu merancang kerjakerja dokumentasi sederhana ; memahami elemen-elemen utama dan metodologi pendokumentasianpelanggaran HAM dengan menggunakan Metodologi Berbasis Peristiwa; Mengenal dan memahami penggunaan standar format pendokumentasian bersama serta aplikasi pendokumentasian dan pengolahan data dengan OpenEvSys.

Mengapa Perlu Melakukan Pemantauan Pelanggaran Hak Asasi Manusia bagi Pengguna NAPZA?
Ada sejumlah alasan mengapa dokumentasi merupakan kerja yang penting. Bagi sebagian orang, peristiwa terjadi dan berlalu setelah beberapa waktu. Atau mungkin ada peristiwa yang akan berguna untuk diinformasikan , tetapi terjadi di mana-mana. Orang bisa saja punya persepsi dan analisa yang berbeda-beda tentang suatu peristiwa. Jika tidak ada dokumentasi tentang peristiwa tersebut, informasi pada mereka akan hilang selamanya, dan manfaat yang bisa dipetik dari kasus-kasus yang terjadi akan punah bukan hanya punah dan kemudian tidak pernah ada pertanggungjawaban, tapi juga punah dan korban tidak mendapat pemulihan. Sementara pelaku tetap berkeliaran dan terus melakukan kekerasan dan pelanggaran. Dengan kata lain, dokumentasi merupakan aktivitas yang melihat jauh ke depan, yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan masa depan. Orang yang membutuhkan informasi akan membutuhkan dokumen agar dapat mereka rujuk kembali. Lebih jauh, jika diolah secara baik, maka informasi yang didokumentasikan akan dapat digunakan berulang-ulang. 62

Pada 2007, upaya mendokumentasikan berbagai kekerasan yang dialami pengguna NAPZA melalui penelitian telah dilakukan oleh Jaringan Aksi Nasional Penanggulangan Dampak Buruk Narkoba (JANGKAR) yang berpusat di Jakarta untuk melakukan survei pada 1106 pengguna NAPZA suntik di 13 kota di Indonesia, mengenai pengalaman mereka berhadapan dengan kekerasan polisi. Dari mereka yang berhasil diwawancara, 667 atau 60% melaporkan adaya kekerasan fisik oleh polisi. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya upaya terus menerus untuk melakukan reformasi kepolisian dan harm reduction di Indonesia.19 Pada 2009, 4 organisasi komunitas pengguna NAPZA yaitu Forum Korban NAPZA (FORKON), East Java Action (EJA), Pergerakan Reformasi Kebijakan NAPZA (PERFORMA), dan Paguyuban Korban NAPZA Bandung (PANAZABA) melakukan pemantauan dan advokasi kekerasan dan pelanggaran yang dialami pengguna NAPZA, yang kebanyakan dilakukan oleh pejabat atau aparat polisi. Organisasi-organsasi tersebut tidak hanya melakukan pemantauan situasi tapi juga melakukan advokasi kebijakan, pendidikan publik, dan juga pendampingan komunitas. Pemantauan hak asasi manusia memungkinkan agar standar-standar organisasi pemerintah dapat ditingkatkan dan mekanisme penerapan standar tersebut diperkuat. Begitu pula dalam ketentuan yang berkaitan dengan perlindungan bagi pengguna NAPZA dari tindakan kesewenang-wenangan aparat. Sebagai kelompok yang ‘diasingkan’ oleh masyarakat pada umumnya, maka pengguna NAPZA menjadi rentan diperlakukan secara sewenang-wenang, baik oleh aparat penegak hukum yang menerapkan pemidanaan bagi pengguna NAPZA, maupun masyarakat umum yang menganggap pengguna NAPZA sebagai ‘sampah’. Karenanya, pengguna NAPZA dipandang tidak memiliki hak yang sama seperti warga negara lainnya. Keberhasilan kerja-kerja pemantauan pelanggaran hak asasi manusia, tentu saja bergantung pada, baik laporan kualitatif yang menggunakan bukti-bukti tanpa nama, kesaksian para saksi mata, cerita-cerita perorangan, dan juga data kuantitatif dengan statistik. Melalui proses pemantauan ini diharapkan organisasi-organisasi komunitas pengguna NAPZA mampu: 1. Mengenali pola kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia. Pola kekerasan tersebut termasuk di dalamnya mengenali jenis tindakan, frekuensi, dan penyebab pelanggaran hak asasi manusia. Dengan cara ini maka dapat dikenali pula solusi yang lebih sistemik dan terencana untuk mengatasi persoalan tersebut. 2. Menyediakan ruang kepada korban pelanggaran hak asasi manusia. Pemantauan dapat memberi kesempatan kepada korban untuk bersuara yang dengan acara itu akan membantu menyediakan kisah-kisah alternatif yang dapat disampaikan kepada pemerintah. Ini merupakan alasan yang paling penting mengapa masyarakat

19

http://www.soros.org/initiatives/health/focus/ihrd/articles_publications/publications/atwhatcost_20090302

63

perlu melakukan pemantauan, menggemakan suara korban dan menyediakan kesempatan agar suara tersebut dapat didengar. 3. Menyediakan pemulihan bagi korban pelanggaran hak asasi manusia. Informasi yang dikumpulkan melalui pemantauan dapat digunakan untuk mendapatkan pemulihan bagi para korban pelanggaran hak asasi manusia. 4. Memastikan kepatuhan (negara) terhadap hukum hak asasi manusia nasional dan internasional. Ini merupakan aspek pencegahan dari pemantauan hak asasi manusia. Kita tengah bekerja untuk memastikan ketentuan-ketentuan dan norma hak asasi manusia diimplementasikan oleh Pemerintah. Tujuannya agar tindakan-tindakan pemerintah dapat dipertanggungjawabkan (akuntabel) terhadap hukum hak asasi manusia baik di tingkat domestik maupun internasional. 5. Melawan impunitas pelanggaran hak asasi manusia. Kerja-kerja pemantauan dan pendokumentasian pelanggaran hak asasi manusia dapat digunakan untuk mengumpulkan bukti-bukti materil yang dapat membawa kasus ke pengadilan. 6. Mendidik masyarakat tentang situasi hak asasi manusia yang terjadi di sekitar mereka. Ini merupakan aspek pendidikan publik dari kerja pemantauan, karena seringkali Pemerintah memanfaatkan opini publik untuk menyalahartikan situasi hak asasi manusia. Dokumentasi dapat membantu melawan balik (counter-act) mitos-mitos yang diciptakan tersebut dan mengundang perhatian publik untuk berbagai kasus pelanggaran. Pemantauan dapat membantu memastikan adanya transparansi tindakantindakan pemerintah dan individual.20

Pemantauan, Pencarian Fakta dan Dokumentasi
Secara umum, pemantauan hak asasi manusia berhubungan dengan pencarian fakta dan dokumentasi. Di sini, pemantauan didefinisikan sebagai pengamatan lebih dekat terhadap situasi yang ada dalam masyarakat selama jangka waktu tertentu untuk melihat sejauh mana standar-standar hak asasi manusia dipenuhi. Untuk melakukan pemantauan, investigasi dan dokumentasi peristiwa baik sedikit maupun dalam jumlah besar haruslah dilakukan. Pemantauan kerapkali melibatkan alat atau instrumen,

20

Kaplan, Karyn, Human Rights Documentation and Advocacy: A Guide for Organizations of People Who Use Drugs, Open Society Institute, 2009

64

seperti format rekam, kuesioner survei, yang digunakan untuk mengumpulkan data yang dapat mengukur kinerja kewajiban negara. Kewajiban tersebut dinilai dengan menggunakan standar atau norma-norma tertentu yang telah ditetapkan. Sebagai contoh, untuk memantau apakah hak hidup dihormati, peristiwa-peristiwa yang melibatkan penghilangan nyawa perlu dipantau untuk melihat apakah terdapat pelanggaran standar hak tersebut sebagaimana yang disebut dalam Kovenan Hak Sipil dan Politik. Pencarian Fakta (Fact Finding) adalah proses untuk mengenali pelanggaran dalam satu peristiwa dan membangun fakta-fakta yang mendukung atau relevan dari pelanggaran tersebut. Pencarian fakta dan investigasi merupakan istilah yang sering dipertukarkan. Dokumentasi (Documentation) adalah proses perekaman secara sistematis hasil dari investigasi atau pencarian fakta dalam kaitannya dengan suatu atau sejumlah peristiwa pelanggaran hak asasi manusia. Meskipun pencarian fakta dan dokumentasi secara organik berhubungan dan harus dilihat sebagai proses yang berbeda.

Kesaksian korban (Fakta-fakta tentang Pelanggaran HAM)

Kumpul Data

Proses dan Analisa

Laporan

Kesaksian Arsip Foto Bukti-bukti lain

Kategori Pelanggaran HAM, Koding, Database

Struktur Laporan dan Rekomendasi

Diagram di atas menggambarkan keseluruhan tahapan pendokumentasian mulai dari pencarian fakta-fakta, pengolahan data, analisa data, hingga pelaporannya. Di dalamnya kesaksian, foto, arsip dikumpulkan. Sedangkan dalam pengumpulan data yang berjumlah besar dan menuntut analisa kuantitatif maka koding dan pengolahan data menjadi keharusan. Organisasi hak asasi manusia harus berjuang untuk mendapatkan bukti-bukti kuat uantuk membongkar atau membuktikan telah terjadi pelanggaran hak asasi manusia dan seberapa parah pelanggaran tersebut terjadi. Ini melibatkan dokumentasi sistematis mengenai suatu kasus khusus dan disaat yang sama juga mengumpulkan berbagai trend perubahan dan statistik untuk mengenali pola mengena apa yang terjadi selama kurun waktu tertentu.

65

Sebuah analisis yang baik terhadap fakta-fakta yang terjadi dari suatu peristiwa yang diduga merupakan pelanggaran hak asasi manusia akan membantu kelompok-kelompok yang berkepentingan untuk menolong korban. Dokumentasi yang sistematis juga akan membuat organisas atau kelompok mampu memadukan potongan-potongan informasi dari berbagai sumber sehingga bisa mendorong diungkapkannya fakta-fakta dan adanya pertanggungjawaban.

“Siapa Melakukan Apa pada Siapa”
Frase “Siapa Melakukan Apa pada Siapa” muncul dari tulisan dalam buku yang ditulis oleh Patrick Ball berjudul "Who Did What to Whom? Planning and Implementing a Large Scale Human Rights Data Project," yang diterbitkan oleh American Association for the Advancement of Science pada tahun 1996. Metode ini telah digunakan selama bertahun-tahun oleh organisasi-organisasi HAM di dunia. Metode ini utamanya berangkat dari tipe-tipe pelanggaran yang kasat mata (visible), misalnya: pembunuhan, penculikan, penyiksaan dan penahanan, penolakan rumah sakit untuk memberi perawatan, dan sebagainya. Dengan metode ini maka dapat dilakukan analisis untuk menghubungkan elemen-elemen peristiwa dalam metodologi berbasis peristiwa. Sebagai contoh, "Basuki memukul Sunarti di kepalanya". Si korban dan pelaku terhubung melalui tindakan pelanggaran yang telah dicatat atau direkam. "Kapan dan dimana” tempat kejadian dalam konteks ini dicatat dalam narasi yang menghubungkan tindakan pelanggaran tersebut. Tindakan pelanggaran dan metode kekerasan yang dicatat sedapat mungkin terinci. Sebagai contoh, satu tindakan, misalnya pemukulan di kepala, penyetruman di kemaluan, dsb. Satu kejadian bisa terdiri dari sejumlah tindakan pelanggaran, misalnya “Penggeledahan illegal / Penangkapan / Penahanan / Pengurungan / Penyiksaan terhadap Sunarti.“ [penerapan ini akan dijelaskan lebih jauh dalam temuan pemantauan]. Metode ini mengasumsikan bahwa data diciptakan oleh pengadu, pemberi informasi, orang yang diwawancara oleh suatu organisasi tentang suatu peristiwa hak asasi manusia. Data-data tersebut tentu saja bersifat kualitatif dan seringkali menggunakan bentuk naratif. Bentuk naratif atau cerita kemudian perlu diolah dengan proses pemberian kode untuk mengubahnya menjadi bentuk data kuantitatif sehingga bisa disimpan dan dianalisa dalam sebuah pangkalan data. Model ini memberikan sebuah kerangka untuk mengembangkan prosedur pemberian kode dan untuk melakukan analisa lanjutan dari data kuantitatif yang terolah dari model ini. Di samping penjelasan di atas, komponen data yang dikumpulkan juga sekurang-kurangnya memiliki informasi tentang tanggal, waktu, dan tempat kejadian, siapa pelaku, rincian kekerasan yang terjadi (termasuk fisik, psikologis, seksual, dan dampak sosial dari tindakan kekerasan tersebut).

66

Dalam metode dokumentasi ini, informasi mengenai pelanggaran hak asasi manusia disatukan dengan menggunakan unit-unit yang mengkonstruksi atau mengorganisasikan suatu atau sejumlah peristiwa. Ini melibatkan berbagai pelanggaran yang dapat diidentifikasi, baik pelanggaran yang berupa tindakan (commission) , maupun berupa pembiaran (omission), yang menyebabkan atau mengarah pada pelanggaran hak asasi manusia, salah satunya, kombinasi keduanya, yang menyebabkan peristiwa (Lihat: Lampiran: Format Standar untuk mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia). Sebagaimana metodologi dokumentasi lainnya, metodologi berbasis peristiwa pada dasarnya memiliki dua tahapan proses. Tahap pertama adalah menentukan secara konseptual bagaimana informasi dipilah dan diorganisasikan, sedangkan tahap kedua adalah menandai atau memindai data dari setiap data yang sudah dipilah. Tahapan pertama dari metodologi dokumentasi berbasis peristiwa terdiri dari beberapa langkah, sebagai berikut:  Mengenali atau mengidentifikasi tindakan-tindakan yang menyebabkan pelanggaran.  Menentukan siapa korban.  Memeriksa dan mengorganisasikan tindakan-tindakan yang ada pada setiap peristiwa.  Menentukan siapa pelaku dan tingkat keterlibatannya dalam peristiwa.  Mengidentifikasi hubungan mereka dengan peristiwa.  Mengidentifikasi peran-peran lain dalam kaitannya dengan peristiwa dan siapa orang-orang atau kelompok yang melakukannya.  Menunjukkan hubungan antara berbagai individu atau kelompok.  Menunjukkan informasi lebih jauh (terkini) dari berbagai individu atau kelompok yang terkait dengan peristiwa.  Mengidentifikasi informasi tambahan yang diperlukan Keseluruhan langkah-langkah tersebut dapat dianalisa dengan menggunakan diagram berikut ini21:

21

Dueck, Judith, Manuel Guzman, Bert Verstappen, Huridocs Events Standard Formats: A tool for documenting human rights violations, HURIDOCS, 2001

67

Alasan perlunya pencatatan atau perekaman informasi untuk setiap tindakan pelanggaran adalah karena kompleksnya suatu peristiwa pelanggaran hak asasi manusia. Jika suatu peristiwa tunggal terjadi, akan ada banyak hubungan ke pelaku, korban, dan tindakan-tindakan yang bisa jadi terpisah satu sama lain di waktu dan tempat yang berbeda. Untuk membuat masuk akal informasi yang begitu banyak, menjadi penting untuk membagi atau memilah peristiwa menjadi sejumlah komponen serinci mungkin.

Membedakan Peristiwa dan Tindakan Pelanggaran
Apa sebenarnya yang disebut Peristiwa dan bagaimana membedakan Peristiwa (Event) dengan Tindakan Pelanggaran (Act of Violation)? Peristiwa (Event) adalah sesuatu yang terjadi dengan awal dan akhir dan berlangsung dengan kesimpulan logis. Peristiwa dapat terdiri dari tindakan tunggal, rangkaian tindakan, atau sejumlah tindakan yang yang saling berhubungan pada saat yang bersamaan. Satu tindakan saja sudah dapat dikualifikasikan sebagai peristiwa pelanggaran HAM, misalnya: penahanan sewenang-wenang yang dikategorikan sebagai pelanggaran hak atas kebebasan. Namun harus didefinisikan ruang lingkupnya, misalnya: tanggal kejadian, tanggal berakhir, tempat kejadian, siapa yang terlibat, dll. Biasanya membutuhkan penamaan yang sesuai dan mudah diingat, misalnya: “Kasus 27 Juli”. Tindakan Pelanggaran (Act of Violation) adalah satu atau lebih tindakan yang melibatkan kekuatan, kekerasan atau kekuasaan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok terhadap pihak lainnya, dimana kasus tersebut dapat dianggap sebagai act of commission. Tindakan Pelanggaran dapat juga diartikan sebagai tidak dilakukannya tindakan yang diharapkan atau diminta (pembiaran), dimana kasus tersebutdianggap sebagai act of omission. Harus diklasifikasikan, misalnya: penahanan, penyiksaan, pembunuhan, pembantaian, dll.

Mengidentifikasi Orang dan Perannya
Seseorang atau individu atau kelompok yang terlibat atau terhubung dengan suatu peristiwa. Peran orang di dalam suatu peristiwa, sebagai berikut:  Korban (Victim) – Korban adalah orang (individu atau kelompok) yang menjadi obyek dari suatu tindakan.

68

 

Sumber Informasi (Source) – Sumber informasi bisa berupa orang (individu) atau kelompok yang menyediakan informasi tentang suatu peristiwa atau elemen-elemennya. Pihak yang Mengintervensi (Intervening Party) – Pihak yang mengintervensi suatu peristiwa, misalnya membantu korban, mencari cara untuk menghentikan terus berlangsungnya pelanggaran. Pelaku (Perpetrator) – Orang, baik itu individu maupun kelompok, atau institusi yang melakukan tindakan yang menyebabkan terjadinya suatu pelanggaran. Pelaku bisa merupakan aktor atau agen negara maupun non-negara. Itu artinya tindakan pelanggaran yang dilakukan bisa berupa tindakan yang sangat konkrit, misalnya penggunaan senjata api, atau yang lebih abstrak, misalnya penetapan suatu kebijakan. Keterlibatan atau Involvement pelaku bisa bertingkat-tingkat, mulai dari hanya berpartisipasi dalam suatu tindakan yang sangat khusus, baik langsung maupun tidak langsung, hingga mereka yang merencanakan dan memberi perintah dilakukannya tindakan tersebut.

Bagian yang penting lainnya adalah hubungan antara dua peristiwa atau lebih yang secara jelas harus direkam atau dicatat, yang dalam metodologi berbasis peristiwa ini disebut rantai peristiwa (chain of events).

Memahami Kosa Kata Terkendali
Untuk memastikan istilah-istilah dalam rekaman atau pencatatan kasus yang didokumentasikan selaras satu sama lain, maka dibutuhkan kosa kata terkendali (controlled vocabulary). Disarankan agar organisasi-organisasi membangun definisi-definisi atau catatan istilah (scope notes) yang menggambarkan pengertian dari sejumlah istilah yang memiliki makna ganda. Mereka juga perlu menerapkan definisi atau istilah-istilah standar yang banyak disusun oleh organisasi internasional, yang biasa dikenal dengan mikrotesaurus (micro-thesaurii). Dalam pemantauan pelanggaran hak asasi manusia, penggunaan sejumlah daftar istilah (thesaurus) dipandang penting untuk mengkategorisasi informasi secara tepat, mencari atau menelusuri kembali dengan lebih mudah, dan membantu menyusun analisis statistik. Sekali istilah dikenali, maka proses menentukan kode dapat dilakukan untuk merepresentasikan istilah-istilah tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan dokumentasi pelanggaran hak asasi manusia HURIDOCS telah mengembangkan suatu sistem kode untuk mikrotesaurus yang memberikan atribusi sistematis untuk kode-kode dan menyediakan kemungkinan tambahan pengguna sistem untuk menelusuri informasi. Mikrotesaurus ini dimaksudkan untuk membantu organisasi-organisasi yang bekerja di bidang pemantauan dan pendokumentasian pelanggaran HAM untuk menyelaraskan dan mencocokkan pencatatan dan perekaman data dan informasi.22 Kategori-kategori yang dimasukkan dalam Mikrotesaurus HURIDOCS yang digunakan untuk pendokumentasian ini terdiri dari:

22

Dueck,Judith, Manuel Guzman, Bert Verstappen, Huridocs Events Standard Formats: Micro-thesauri, HURIDOCS, 2001

69

Tipologi Pelanggaran (Violations Typology): Daftar ini disediakan untuk mengklasifikasikan pelanggaran hak asasi manusia. Daftar ini memeriksa pelanggaran-pelanggaran yang umumnya dilakukan dalam kaitannya dnegan kewajiban Negara, tetapi juga dengan mempertimbangkan keterlibatan actor-aktor non-negara. Klasifikasi yang disediakan sangan umum dan paling tepat untuk melakukan analisisi, seperti misalnya mengenali pola pelanggaran. Ini akan sangat berguna untuk organisasi yang memiliki mandat dengan bidang kerja yang luas. Jenis Tindakan (Types of Acts): Daftar ini untuk mengklasifikasikan jenis-jenis tindakan pelanggaran secara khusus dan tindakan-tindakan pelanggaran yang memiliki kemiripan. Mengingat cakupan tindakan yang dipantau dalam pelanggaran hak asasi manusia terus menerus berkembang, maka daftar ini semestinya tidak dipandang komprehensif. Dalam daftar tersebut terdapat dua kemungkinan penggunaan. Pertama, daftar tersebut dapat mengindikasikan tindakan pembiaran yang menunjukkan kegagalan menyediakan perlindungan. Disarankan agar tindakan pembiaran itu pun, misalnya absennya tindakan dalam perkara pembunuhan, dimasukkan sebagai keterlibatan dalam pelanggaran. Dalam kasus ini para penegak hukum diperlakukan dalam kaitannya dengan tindakan-tindakan khusus, tetapi pada tingkat keterlibatan yang lain dapat dibandingkan dengan pelaku langsung. Kategori ini juga memasukkan jenis-jenis situasi khusus dimana terdapat penyangkalan hak-hal dalm kelompok atau individu tertentu. Metode / Cara Kekerasan (Methods of Violence): Daftar ini mengklasifikasikan berbagai metode atau cara-cara melakukan kekerasan dalam pelanggaran hak asasi manusia. Daftar ini berhubungan dengan jenis tindakan pelanggaran. Tipologi Hak (Rights Typology): Daftar ini mengindikasikan hak apa yang digunakan untuk menandai suatu peristiwa pelanggaran hak asasi manusia. Daftar ini diambil dari berbagai jenis hak yang terkandung dalam instrument-instrumen utama hak asasi manusia di tingkat internasional. Kebanyakan istilah yang terkandung di dalamnya diambil dari Terminologi Hak Asasi Manusia dalam Hukum Internasional (Human Rights Terminology in International Law).

Model untuk Analisis Kasus
Pelanggaran hak asasi manusia jarang sekali bersifat sederhana. Oleh karena itu penting bagi organisasi-organisasi yang melakukan pemantauan dan pendokumentasian pelanggaran hak asasi manusia untuk merancang format standar pengumpulan dan pendokumentasian data. Format standar tersebut akan membantu petugas yang memantau dan mendokumentasikan kasus-kasus untuk menganalisis informasi yang dikumpulkan tentang pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi. Ini juga akan membantu mengenali pola dan kecenderungan pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi sehingga memudahkan bagi organisasi-organisasi tersebut untuk mengenali dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar:

70

 

Berapa banyak peristiwa pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi dalam 5 tahun terakhir. Bagaimana informasi dalam kasus-kasus yang didokumentasikan dapat menjelaskan wilayah yang paling banyak terdampak oleh pelanggaran hak asasi manusia terhadap para pengguna NAPZA, oleh siapa, dan bagaimana kondisi tersebut dapat diubah. Berapa banyak korban dalam kasus-kasus tersebut yang dapat didokumentasikan. Berapa banyak korban dari kalangan anak-anak, kelompok perempuan, yang positif HIV.

Selanjutnya representasi data yang dapat digambarkan dalam tabel-tabel tersebut dapat dianalisis secara kualitatif. Representasi data yang diolah dari metodologi berbasis peristiwa ini juga dapat membantu para organisasi pemantau melakukan penelusuran kasus-kasus dan melakukan intervensi secara lebih sistematis. Lebih jauh lagi, dengan pendekatan ini kelompok pemantau juga dapat melakukan analisis statistik dan membagi, mempertukarkan serta membandingkan data antar organisasi secara konsisten. Berikut ini adalah contoh ilustrasi kasus-kasus yang dianalisis dengan pendekatan metodologi berbasis peristiwa dan dilengkapi dengan form ringkasan kasus.

No Kasus Judul Peristiwa Wilayah Geografis Tanggal Mulai Tanggal Berakhir

: : : : :

014 Penangkapan SL Surabaya, Jawa Timur 2 November 2008 2009

Deskripsi Peristiwa SL (25, Laki-laki) digeledah dan kemudian ditangkap oleh Polresta Surabaya Timur pada 4 November 2008 di Jalan Indrapura, Surabaya. Saat itu korban tengah menunggu angkutan kota ketika tiba-tiba polisi menggeledah dan menangkapnya. Korban dipukul dan dipaksa mengaku barang buti sebagai miliknya dan juga menginformasikan kepada polisi teman-temannya yang terlibat. Selanjutnya korban dipaksa menjebak temannya di Kuburan Tanah Merah. Polisi juga menodongkan pistol dan memaksanya melepas pakaiannya selama penggerebekan. Korban kemudian dibawa ke kantor polisi dan ditahan untuk penyelidikan lebih lanjut. Selama proses pemeriksaan di kantor polisi, korban dipukul (di kepala, dada, dan kaki) serta dipaksa mengakui keterlibatannya. Korban tidak pernah didampingi oleh penasihan hukum dan tidak mendapat bantuan hukum sama sekali. Karena tidak cukup bukti, maka setelah sehari semalam pemeriksaan korban dilepaskan. Jumlah korban: 1 orang

71

Tindakan Pelanggaran & Metode Kekerasan Penggeledahan secara tidak sah Penangkapan dan Penahanan secara tidak sah  Ditahan di tempat tahanan biasa Pelanggaran dengan dimensi fisik, seksual dan psikologis, dalam bentuk:  Pemukulan  Ditodong dengan pistol  Penelanjangan sebagai bentuk penghinaan  Kekerasan verbal Penyangkalan hak untuk diperlakukan secara manusiawi dan bermartabat Penyangkalan hak untuk dianggap tidak bersalah Penyangkalan hak untuk mendapat bantuan hukum

Korban

Pelaku

Tingkat Keterlibatan Tindakan pelanggaran langsung Tindakan pelanggaran Langsung

Lokasi

SL

SL

Polresta Surabaya Timur Polresta Surabaya Timur

Jalan Indrapur a Kantor Polisi

SL

Polresta Surabaya Timur

Tindakan Pelanggaran langsung

Kuburan Tanah Merah

SL

Polresta Surabaya Timur

Tindakan Pelanggaran Langsung

Kantor Polisi

72

73

No Kasus Judul Peristiwa Wilayah Geografis Tanggal Mulai Tanggal Berakhir Deskripsi Peristiwa

: : : : :

003 Penangkapan BY Jakarta Pusat 1 Mei 2000 Tidak Diketahui

Korban (32, Laki-laki) adalah seorang pecandu heroin dan tinggal di Jakarta Pusat. Korban ditangkap oleh polisi untuk pertama kalinya pada tanggal 1 Mei 2000 jam 1 pagi. Korban digerebek, ditangkap dan dipaksa melepaskan pakaiannya oleh 5 orang anggota polisi di depan publik serta dipukul berkali-kali agar mengakui dan menyerahkan barang bukti. Para pelaku juga menodongkan pistol ke kepala korban dan mengancam korban untuk menunjukkan dimana lokasi para pengedar. Karena korban tidak mengaku, korban dipukuli berkali-kali hingga tubuhnya memar-memar. Setelah itu korban dibawa ke kantor polisi Johar Baru dan terus mendapatkan perlakuan kejam dari aparat. Korban menyebutkan bahwa setiap kali polisi mendatangi selnya maka mereka memukuli sampai kepalanya berdarah. Mereka juga menusuk kemaluannya dengan gagang sapu. Keluarga korban juga didatangi oleh polisi yang meminta uang jika ingin korban aman dari tindakan yang dilakukan oleh sesama tahanan. Korban menceritakan bahwa pada satu malam, korban dibangunkan oleh polisi dan dipaksa push up dan squat jump. Korban ditahan di kantor polisi Johar Baru selama 5 bulan dan dihukum berdasarkan Pasal 85 UU Narkotika No. 22 Tahun 1997.

Jumlah korban : Rantai Peristiwa : Komponen Peristiwa Tindakan Pelanggaran & Metode Kekerasan Penggeledahan secara tidak sah

2 (1 individu dan 1 kelompok) 004 005

Korban

Pelaku

Tingkat Keterlibatan Tindakan pelanggaran langsung Tindakan Pelanggaran Langsung

Lokasi

BY

Polsek Johar Baru Polsek Johar Baru

Pelanggaran dengan dimensi fisik, seksual dan psikologis, dalam bentuk:

BY

Tempat umum (tidak diketahui) Kantor Polisi Johar Baru

74

 

Pemukulan di kaki, dada, dan kepala Pemukulan dengan benda tumpul di daerah kemaluan Ditodong dengan pistol Penelanjangan sebagai bentuk penghinaan BY Polsek Johar Baru Polsek Johar Baru Polsek Johar Baru Polsek Johar Baru Polsek Johar Baru Tindakan Pelanggaran Langsung Tindakan Pelanggaran Langsung Tindakan Pelanggaran Langsung Tindakan Pelanggaran Langsung Tindakan Pelanggaran Langsung Kantor Polisi Johar Baru Kantor Polisi Johar Baru Kantor Polisi Johar Baru Kantor Polisi Johar Baru Kantor Polisi Johar Baru

Penyangkalan hak atas penangkapan yang sah Penyiksaan

BY

Ancaman terhadap korban dan anggota keluarga Pemerasan

BY Keluarga BY BY Keluarga BY BY

Penyangkalan terhadap hak untuk diperlakukan secara manusiawi dan bermartabat Penyangkalan hak untuk dianggap tidak bersalah Penyangkalan hak untuk mendapat bantuan hukum

BY

Polsek Johar Baru Polsek Johar Baru

Tindakan Pelanggaran Langsung Tindakan Pelanggaran Langsung

Kantor Polisi Johar Baru Kantor Polisi Johar Baru

BY

75

76

Sekilas Mengenal Open Event System (Open Evsys)
WinEvSys (Windows Event System) dan OpenEvSys (Open Event System) adalah salah satu perangkat pendokumentasian pelanggaran HAM yang saat ini cukup banyak digunakan oleh berbagai organisasi HAM di seluruh dunia. Perangkat ini dikembangkan oleh HURIDOCS International sejak tahun 1998. Proses pengembangannya melibatkan banyak pakar yang ahli di bidang pendokumentasian, investigasi dan advokasi. Selain itu, dukungan dari berbagai organisasi HAM di seluruh dunia menjadi bahan sangat penting dalam proses tersebut. Dalam pencatatannya, WinEvSys/OpenEvsys menggunakan Metodologi Berbasis Peristiwa atau Event Based Methodology. Sudah pasti berbeda dengan metode konvensional yang sering digunakan di Indonesia, Metode EvSys menempatkan Orang dan Peristiwa sebagai entitas besarnya. Kedua entitas tersebut kemudian dihubungkan dengan relasi sesuai dengan fakta yang ditemukan. Pemilahan secara rigid antara pelaku, korban, sumber informasi dan pihak yang melakukan intervensi menjadi satu kelebihan dari aplikasi ini. Peristiwa pun kemudian dipotret secara komprehensif dengan melihat keterkaitan setiap orang dengan peristiwa dalam relasi tindakan atau informasi. Dalam bagian analisisnya, aplikasi ini menawarkan indikator yang sangat lengkap. Penggunaan kosa kata terkendali untuk meminimalkan terjadinya kesalahan menjadi satu nilai lebih dari WinEvSys. Walaupun tidak terlalu fleksibel, beberapa modifikasi kecil dapat dilakukan oleh pengguna untuk menyesuaikan kebutuhannya. Tidak banyak aplikasi yang yang dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti ini.Aplikasi ini dianggap terlalu rumit oleh banyak pihak sehingga dilihat sebagai proses yang rumit. Padahal, aplikasi ini akan membantu mengetahui kelemahan data. Selain itu, akan menambah ketajaman pencarian informasi di lapangan.

77

Standard Format Pendokumentasian Bersama Pelanggaran Hak Asasi Manusia terhadap Pengguna NAPZA

P

Formulir Peristiwa

No. File Tgl. Penerimaan Investigator

Catatan: satu formulir ini hanya digunakan untuk mencatat satu peristiwa hasil investigasi lapangan. Formulir ini tidak terpisahkan dengan formulir orang Ringkasan Peristiwa Judul Peristiwa: Lokasi Peristiwa: (desa/kel., kecamatan, kabupaten dan provinsi) Tanggal Awal (hh/bb/tttt) Tanggal Akhir (hh/bb/tttt)

Deskripsi Peristiwa

Jumlah Formulir Orang Tindakan Dalam Peristiwa Tanggal (hh/bb) Pelaku (nama lengkap) Tindakan (jenis tindakan) Korban (nama lengkap)

Catatan Investigator

78

Admin Investigator Dicatat oleh Tanggal Pencatatan

79

O

Formulir Orang

Hitungan Unit

Catatan: satu formulir ini hanya digunakan untuk mencatat satu orang yang terkait dengan peristiwa. Orang yang dimaksud dalam formulir ini adalah individu maupun kelompok atau organisasi. Formulir ini tidak terpisahkan dengan Formulir P Korban Data Pribadi Nama Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pelaku Saksi

Individual Kelompok/organisasi Komunitas

Intervenor

Tidak diketahui

Alamat: (desa/kel., kecamatan, kabupaten, propinsi)

No. Telp Tanggal lahir -

Selular -

Tempat lahir: (desa/kel., kecamatan, kabupaten, propinsi) Status Sipil Sendiri Menikah Cerai Cerai Mati Tidak diketahui

Deskripsi Kelompok

Keterlibatan Orang dalam Peristiwa

80

Dampak Peristiwa

Informasi Keandalan Informasi Sangat dapat diandalkan Sangat tidak dapat diandalkan Dapat diandalkan Tidak diketahui Tidak dapat diandalkan Tidak jelas

Informasi (dari korban atau saksi)

Catatan Investigator

Jumlah Formulir O

Dari

81

Pengalaman Advokasi Bersama Jaringan Pemantauan Pelanggaran HAM (JP2HAM)
Meskipun berbagai program harm reduction banyak diadopsi oleh pemerintah Republik Indonesia, namun isu ini masih asing bagi para pekerja hak asasi manusia. Masalah harm reduction hanya dipandang sebagai isu kesehatan semata. Di lain pihak penggiat harm reduction pun bukannya tanpa resiko saat membagikan jarum suntik steril. Mereka kerap dianggap sebagai pihak yang terlibat dalam pemufakatan jahat dalam tindak pidana NAPZA. Dengan demikian bukan tidak mungkin terjadi konflik dan ketegangan antara penggiat harm reduction dengan kelompok masyarakat yang memandang sempit makna peran serta masyarakat dalam pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap NAPZA. Dengan kondisi tersebut, perlu diupayakan langkah-langkah advokasi yang lebih sistematis ke depan untuk menyusun program harm reduction yang lebih komprehensif. Selain itu program yang dirancang hendaknya tidak hanya dilaksanakan oleh Depertemen Kesehatan atau Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), tetapi juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan UU Narkotika lainnya (Kepolisian, Badan Narkotika Nasional, Kementerian Sosial, Pemerintah Daerah, dll) . Jaringan Pemantau Pelanggaran HAM pada Pengguna NAPZA yang bekerja di bidang harm reduction menyadari pentingnya advokasi bersama. Untuk itu Jaringan Pemantau menyusun dan merancang program pemantauan dan pendokumentasian bersama pelanggaran hak asasi manusia yang dialami oleh pengguna NAPZA . Tujuan Umum Program Meningkatkan kapasitas organisasi berbasis pengguna NAPZA untuk merancang dan melaksanakan advokasi melalui pemantauan dan pendokumentasian pelanggaran hak asasi manusia pada pengguna NAPZA.

Tujuan Khusus 1. Menghasilkan sebuah laporan bersama pemantauan dan pendokumentasian pelanggaran HAM yang dilakukan oleh polisi pada pengguna NAPZA

82

2. Memanfaatkan hasil dokumentasi untuk memperkuat advokasi bersama untuk mengupayakan perlakuan yang lebih baik bagi pengguna NAPZA sebagai pelaksanaan dari Undang-Undang Narkotika No. 35/2009 3. Meningkatkan kapasitas tentang pemantauan dan pendokumentasian pelanggaran hak asasi manusia pada pengguna NAPZA dengan menggunakan metodologi berbasis peristiwa serta meningkatkan kualitas laporan yang telah ada. 4. Melibatkan masyarakat lebih luas untuk memantau pelanggaran hak asasi manusia pada pengguna NAPZA dan melakukan advokasi bersama 5. Melibatkan lembga-lembaga negara, pemerintah, dan institusi penegak hukum untuk mengupayakan reformasi pendekatan pemidanaan terhadap pengguna NAPZA dan mengubahnya menjadi pendekatan kesehatan. Dalam jangka panjang, Jaringan Pemantau Pelanggaran HAM pada Pengguna NAPZA merencanakan untuk bermitra dan bekerjasama dengan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Kementerian Hukum dan HAM, serta institusi penegak hukum lainnya untuk memastikan penanganan masalah kekerasan penegak hukum pada pengguna NAPZA.

Kegiatan yang dilakukan
1. Pengumpulan fakta-fakta pelanggaran hak asasi manusia pada pengguna NAPZA. 2. Penyusunan laporan bersama hasil pemantauan pelanggaran hak asasi manusia pada pengguna NAPZA. 3. Dengar pendapat / audiensi dengan sejumlah lembaga atau pemangku kebijakan utama yang berkompeten dalam penanganan pelanggaran hak asasi manusia pada pengguna

83

NAPZA. Audiensi dilakukan antara lain dengan Komnas HAM, Komnas Perempuan, Ombudsman Republik Indonesia, UNODC, dan Kepolisian Republik Indonesia. 4. Pertemuan antar pemangku kebijakan untuk menyatukan persepsi antara sejumlah lembaga dengan komunitas NAPZA. 5. Pertemuan komunitas NAPZA untuk menggerakkan advokasi bersama menindaklanjuti hasil-hasil pemantauan. 6. Pelatihan pemantauan dan dokumentasi pelanggaran hak asasi manusia pada pengguna NAPZA.

Pembelajaran dan Tindak Lanjut Advokasi Bersama
1. Upaya pendokumentasian kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia pada pengguna NAPZA dan langkah-langkah advokasi perlu dilakukan lebih serius untuk sekaligus mengamati dan mengawal efektifitas UU Narkotika No.35/2009. 2. Sistem pendokumentasian yang lebih sistematis, metodologis dan sederhana diperlukan untuk menggarap kerja-kerja pemantauan lapangan. Hasilnya pun lebih efektif untuk dijadikan sebagai dasar atau landasan advokasi. Namun selain format standar yang dapat digunakan bersama, tiap lembaga juga perlu meningkatkan kapasitas petugas pendamping dan pendokumentasian lewat pelatihan-pelatihan pendokumentasian dan paralegal. 84

3. Dalam melakukan pendokumentasian dibutuhkan upaya melihat aspek-aspek pelanggaran hak asasi manusia secara lebih komprehensif. Pelanggaran hak asasi manusia yang dialami oleh pengguna NAPZA tidak terbatas pada persoalan kekerasan dan hak sipil nya saja, tapi juga terkait dengan hak politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Dalam konteks tersebut maka dibutuhkan analisis yang lebih menyeluruh tentang jenis-jenis pelanggaran hak asasi manusia yang dialami serta pihak-pihak mana saja yang paling bertanggung jawab. 4. Mengingat terbatasnya waktu maka maka pemilahan kasus untuk kelompok-kelompok tertentu kurang mendapat perhatian. Ke depannya Jaringan Pemantau perlu melakukan pemilahan yang lebih sistematis dan direncanakan sejak awal untuk melihat dampaknya bagi kelompok perempuan dan anak-anak. Dalam penanganan pendokumentasian kelompok perempuan Jaringan Pemantau perlu menindaklanjuti hasil audiensi dengan Komnas Perempuan yang mendukung penuh pendokumentasian ini. 5. Munculnya berbagai layanan kesehatan dan rehabilitasi perlu diapresiasi sekaligus dicermati. Untuk itu Jaringan Pemantau juga perlu mengembangkan format pendokumentasian untuk melihat apakah ada pelanggaran dari segi hak atas layanan kesehatan dari berbagai insitusi kesehatan. Selain itu kehadiran dan peran BNN juga harus diperhitungkan sejak awal sebagai badan yang paling berkompeten dalam penanganan kasus-kasus penggunaan NAPZA. 6. Mengingat belum adanya tanggapan secara resmi dari Polri maka perlu terus diupayakan audiensi secara nasional. Di saat yang sama, laporan ini juga harus disebarkan ke tingkatan Polda, Polres dan Polsek untuk membangun pemahaman bersama tentang adanya kerjakerja pemantauan ini. 7. Memperluas organisasi-organisasi yang akan melakukan pendokumentasian bersama lewat JP2HAM. Sejumlah organisasi telah bertemu dan beberapa diantaranya menunjukkan minat untuk melakukan upaya pendokumentasian, baik di tingkat organisasi masing-masing, maupun upaya pendokumentasian bersama JP2HAM. 8. Kampanye publik dan pelibatan media sangat penting untuk mengubah persepsi masyarakat tentang pengguna NAPZA dan kekerasan aparat terhadap para pengguna NAPZA. Masih banyak kalangan masyarakat yang tidak mengerti persoalan kebijakan nasional di seputar NAPZA, kampanye PERANG TERHADAP NAPZA, serta hak-hak pengguna NAPZA. Akibatnya ketika mereka atau anggota keluarga mereka terlibat dalam persoalan ini mereka tidak punya informasi dan pengetahuan yang cukup untuk berhadapan dengan penegak hukum. 9. Terlibat dalam jaringan advokasi di tingkat regional dan internasional untuk menyuarakan masalah-masalah yang terjadi di tingkat nasional, bertukar pengalaman, informasi dan kapasitas, serta penggalian dana. 

85

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->