Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM PENGENDALIAN HAMA TERPADU

TANAMAN SAWI ( Brassica Juncea L )

disusun oleh:

ODA HOTMA SETYA RINI 1006114004

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia dan rahmat yang diberikan-Nya sehingga penulis dapat melaksanakan praktikum dan menyelesaikan laporan yang berkaitan dengan praktikum yang Saya laksanakan. Tujuan penyelesaian laporan ini adalah untuk memenuhi nilai Praktikum Pengendalian Hama Terpadu. Dalam penyusunan laporan ini banyak sekali pihak yang telah membantu Saya sehingga Saya dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik. Oleh karena itu. Saya mengucapkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada semua pihak yang membantu saya. Hanya doa yang dapat saya sampaikan, semoga Tuhan yang Maha Esa membalas segala bantuan dan kebaikan yang saya terima dari semua pihak. Saya sangat menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, mengingat keterbatasan dan kemampuan serta pengetahuan yang saya miliki, oleh karena itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak untuk penyempurnaan penulisan makalah ini. Akhir kata, Saya mohon maaf apabila ada kata-kata yang salah. Saya berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita sebagai salah satu sumber pembelajaran. Terima kasih.

Pekanbaru, April 2012

Penulis

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ...................................................................................................... DAFTAR ISI...................................................................................................................... BAB I.PENDAHULUAN .................................................................................................. 1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1.2 Tujuan Praktikum.............................................................................................. BAB II.TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................... 2.1 Tanaman sawi ................................................................................................... 2.2 Kandungan sawi ................................................................................................ 2.3 Jenis jenis sawi............................................................................................... 2.4 Syarat tumbuh sawi ........................................................................................... 2.5 Budidaya tanaman sawi..................................................................................... 2.6 Hama dan penyakit tanaman sawi ..................................................................... BAB III.BAHAN, ALAT DAN METODE ...................................................................... 3.1 Bahan dan Alat .................................................................................................. 3.1.1 Bahan ...................................................................................................... 3.1.2 Alat .......................................................................................................... 3.2 Cara Kerja ......................................................................................................... BAB IV.PENUTUP...... ..................................................................................................... 5.1 Kesimpulan .......................................................................................................... 5.2 Saran .................................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanaman Sawi {Brassica juncea L.) merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat, jenis sayuran ini mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan karena mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi. Keadaan alam Indonesia memungkinkan dilakukannya pembudidayaan berbagai jenis tanaman sayuran, baik yang lokal maupun yang berasal dari luar negeri.Hal tersebut menyebabkan Indonesia ditinjau dari aspek klimatologis sangat potensial dalam usaha bisnis sayur-sayuran (Haryanto dkk, 2000). Kendala yang sering dihadapkan oleh petani sawi dalam membudidayakan tanaman sawi adalah keberadaan hama yang menyerang tanaman hortikultura pada tanaman sawi yaitu ulat krop kubis Crocidolomia binotalis Zell. Tanaman sawi dalam stadia pertumbuhannya sangat rentan terhadap serangan hama, terutama hama ulat perusak daun C. binotalis,dan Plutella xylostella (Surachman & Suryanto, 2007). Bila tidak dilakukan pengendalian, Kerusakan yang ditimbulkannya dapat menurunkan hasil sampai 100% (Pathax, 2001 dalam Rizkika, 2010). Di Provinsi Riau sampai saat ini, data mengenai tingkat serangan hama ulat krop kubis Crocidolomia binotalis Zell belum ada dilaporkan, namun informasi petani sawi serangan ulat krop kubis pada tanaman sawi menyerang saat stadia pertumbuhan dan tanaman sedang berbunga. Petani sawi dalam mengendalikan hama, lebih banyak menggunakan insektisida kimia dengan konsentrasi tinggi serta interval penyemprotan yang sering, sehingga dapat menimbulkan efek residu pestisida yang dapat mengurangi harga saing ekspor. Untung, K (2001) mengemukakan bahwa dampak negatif yang ditimbulkan akibat penggunaan pestisida yang tidak bijaksana antara lain adalah terjadinya resistensi hama, resurgensi hama sasaran dan residu pestisida. Ameriana, dkk (2000) menyatakan bahwa penggunaan insektisida secara terus menerus akan merusak lingkungan atau agroekosistem. Selain itu kandungan pestisida pada sayuran sangat tinggi sehingga sangat cukup membahayakan bagi para konsumen, karena itu kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi sayuran yang bebas dari pestisida. Peraturan pemerintah No 6 tahun 1995 pasal 19 dalam Kasumbogo Untung, K (2007) menyatakan bahwa penggunaan pestisida sintetis dalam rangka pengendalian

organisme pengganggu tanaman (OPT) merupakan alternatif terakhir dan dampak yang ditimbulkan harus ditekan seminimal mungkin. Indiyani dan Gothama (1999) melanjutkan untuk mengatasi hal tersebut telah dianjurkan untuk menggunakan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan salah satu komponen adalah pengedalian hayati.Salah satu pengendalian hayati yang efektif dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan adalah dengan menggunakan cendawan entomopatogen. Beberapa manfaat dari penggunaan bahan alam dan mikroorganisme cendawan entomopatogen sebagai agen biokontrol, antara lain yaitu aman bagi manusia dan spesies bukan sasaran, mengurangi pemakaian pestisida dan residu pestisida pada makanan, meningkatkan biodiversitas dalam ekosistem, lebih mudah dan murah diterapkan karena tidak memerlukan peralatan aplikasi yang mahal seperti halnya aplikasi pestisida kimia. Selain itu Entomopatogen bersifat aman terhadap lingkungan karena bioaktif yang digunakan.Bahan yang diperoleh dari alam sehingga tidak bersifat asing bagi lingkungan (Setiawan, 2010). Hasil penelitian Sumarno (2009) beberapa jenis cendawan entomopatogen telah diketahui efektifitasnya dalam pengendalian serangga hama, antara lain cendawan Nomuraea rileyi dan Metarhizium anisopliae. Di lapangan menunjukkan bahwa penggunan cendawan entomopatogen N. rileyi mampu menurunkan kepadatan larva Crocidolomia pavonana dan Plutella xylostella bila dibandingkan dengan control.Namun efektifitasnya masih dibawah insektisida Sipermetrin. Menurut Dinas Pertanian Provinsi D.I. Yogyakarta (2009) konsentrasi N. rileyi yang mampu mengendalian ulat Plutella xylostella yaitu 2-3 g/1 air. Meningkatnya jumlah penduduk dunia yang tidak seimbang dengan laju kenaikan produksi bahan makanan,serta banyaknya kehilangan hasil pertanian yang diakibatkan oleh serangan hama dan penyakit merupakan kendala dalam usaha agar pertambahan penduduk dapat diimbangi dengan meningkatnya produksi bahan pangan. Didalam suatu areal pertanaman sering kita lihat penyimpangan yang terjadi pada bagian tubuh tanaman yang akhirnya dalam jumlah populasi yang besar akan membawa danpak berupa kerugian secara ekonomis baik secara kualitas maupun kuantitas.

1.2. Tujuan Praktikum Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa mengetahui dan memahami hama dan penyakit yang terjadi pada tanaman sawi dengan perlakuan yang berbeda.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Sawi (Brassica juncea L) Tanaman sawi diklasifikasikan sebagai berikut: Divisi: Spermathophyta, Subdivisi: Angiospermae, Kelas: Dicotyledonae, Ordo: Rhoedales, Famili: Cruciferae (Brassicaceae), Genus: Brassica, Species: Brassica juncea L (Haryanto dkk, 2000). Tanaman sawi mempunyai daun lonjong, halus, tidak berbulu, tidak berkrop, berdaun tegak, berwarna hijau tua dengan ukuran lebih kurang 20-25 cm, batang berbentuk kurus dan berwarna hijau, berdaun lebar dan tangkainya agak pipih (Haryanto dkk, 2000). Sistem perakaran tanaman sawi memiliki akar tunggang dan cabang-cabang akar yang bentuknya silindris menyebar ke semua arah. Ukuran kuntum bunganya kecil dan berwarna kuning pucat, bijinya kecil dan berwarna hitam kecoklatan (Sunarjono, 2003). Syarat-syarat penting bertanam sawi ialah tanah gembur, banyak mengandung humus atau subur, drainase baik dan pH tanah antara 6-7. Waktu tanam yang baik ialah pada akhir musim hujan walaupun demikian tanaman dapat pula ditanam pada musim kemarau asalkan airnya tersedia dengan baik (Sunarjono, 2003). Kondisi iklim yang dikehendaki tanaman sawi adalah suhu 15,6C-21,1C, meskipun demikian tanaman sawi juga toleran terhadap suhu panas, yang mana dapat tumbuh dan berproduksi di daerah yang bersuhu 27C-32C, serta penyinaran matahari antara 10-13 jam/hari (Rukmana, 2000). Budidaya tanaman sawi tidak luput dari serangan hama yang dapat mengakibatkan kerugian pada hasil produksi. Hama yang menyerang tanaman sawi ini diantaranya ulat krop kubis atau lebih dikenal dengan Crocidolomiabinotalis, Zell. Serangga ini dikenal juga sebagai hama yang sangat rakus dan secara berkelompok dapat menghabiskan semua daun dan hanya meninggalkan tulang daun saja. Kerusakan yang ditimbulkannya dengan cara memakan daun, terutama daun yang masih muda dan menuju ke bagian titik tumbuh sehingga titik tumbuh habis dan tanaman dapat mati (Kalshoven 1981).

2.2 Manfaat Sawi 1. Biasanya menjadi sayuran pendamping mie atau pangsit 2. Mampu menangkal hipertensi, penyakit jantung, dan berbagai jenis kanker. 3. Menghindarkan ibu hamil dari anemia. 4. Dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular seperti stroke, dan jantung koroner. 5. Sawi sangat baik untuk menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita batuk. 6. Penyembuh penyakit kepala, bahan pembersih darah. 7. Memperbaiki fungsi ginjal, serta memperbaiki dan memperlancar pencernaan. 2.3 Kandungan Sawi Sawi banyak mengandung vitamin dan mineral. Kadar vitamin K, A, C, E, dan folat pada sawi tergolong dalam kategori excellent. Mineral pada sawi yang tergolong dalam kategori excellent adalah mangan dan kalsium. Sawi juga excellent dalam hal asam amino triptofan dan serat pangan (dietaryfiber). Vitamin K mempunyai potensi dalam mencegah penyakit-penyakit serius, seperti penyakit jantung dan stroke, karena efeknya mengurangi pengerasan pembuluh darah oleh faktor timbunan plak kalsium. Vitamin K juga terkait dengan pengaturan protein tulang dan kalsium di dalam tulang dan darah, sehingga dapat menjaga tulang dari proses osteoporosis. Selain it juga digunakan untuk menangani kanker karena dapat bertindak sebagai racun bagi sel-sel kanker, tetapi tidak membahayakan sel-sel yang sehat. Vitamin A berperan menjaga kornea mata agar selalu sehat. Mata yang normal biasanya mengeluarkan mukus, yaitu cairan lemak kental yang dikeluarkan sel epitel mukosa, sehingga membantu mencegah terjadinya infeksi. Kekurangan vitamin A membuat sel epitel akan mengeluarkan keratin, yaitu protein yang tidak larut dalam air dan bukan mukus. Bila sel-sel epitel mengeluarkan keratin, selsel membran akan kering dan mengeras, dan bila tidak segera diobati akan menyebabkan kebutaan. Peran utama vitamin C adalah dalam pembentukan kolagen interseluler. Kolagen merupakan senyawa protein yang banyak terdapat dalam tulang rawan, kulit bagian dalam tulang, dentin, dan vascular endothelium. Vitamin C sangat penting perannya dalam proses hidroksilasi dua asam amino prolin dan lisin menjadi hidraksiprolin dan hidroksilisin. Kedua senyawa ini merupakan komponen kolagen penting. Selain itu, vitamin C sangat berperan dalam penyembuhan luka serta daya tahan tubuh melawan infeksi dan stres.

Peran Asam folat dalam proses sintesis nukleoprotein merupakan kunci pembentukan dan produksi butir-butir darah merah normal dalam sumsum tulang. Asam folat juga terlibat dalam proses oksidasi fenilalanin menjadi tirosin. Kandungan Kalsium yang tinggi pada sawi dapat mengurangi hilangnya bobot tulang yang biasa terjadi pada usia lanjut. Tekanan darah tinggi juga dapat disebabkan oleh rendahnya kadar kalsium di dalam darah. Kandungan Mangan pada sawi digunakan untuk proses metabolisme tubuh, sedangkan triptotan merupakan protein utama penghubung antarsaraf dan pengatur pola kebiasaan (neurobehaviour} yang berdampak kepada pola makan, kesadaran, persepsi atas rasa sakit, dan pola tidur. Kandungan Vitamin E pada sawi dapat berfungsi sebagai antioksidan utama di dalam sel.. Selain itu juga berperan baik untuk mencegah penuaan.

2.4 Jenis - Jenis Sawi Sawi adalah sekelompok tumbuhan dari marga Brassica yang dimanfaatkan daun atau bunganya sebagai bahan pangan (sayuran), baik segar maupun diolah. Sawi mencakup beberapa spesies Brassica yang kadang-kadang mirip satu sama lain. Di Indonesia penyebutan sawi biasanya mengacu pada sawi hijau (Brassica rapa kelompok parachinensis, yang disebut juga sawi bakso, caisim, atau caisin). Selain itu, terdapat pula sawi putih (Brassica rapa kelompok pekinensis, disebut juga petsai) yang biasa dibuat sup atau diolah menjadi asinan. Jenis lain yang kadang-kadang disebut sebagai sawi hijau adalah sawi sayur (untuk membedakannya dengan caisim). Kailan (Brassica oleracea kelompok alboglabra) adalah sejenis sayuran lain yang agak berbeda, karena daunnya lebih tebal dan lebih cocok menjadi bahan campuran mi goreng. Sawi sendok (pakcoy) merupakan jenis sayuran daun kerabat sawi yang mulai dikenal dalam dunia boga Indonesia (Wikipedia Indonesia). Sedangkan petani kita hanya mengenal 3 macam sawi yang biasa dibudidayakan yaitu : sawi putih (sawi jabung), sawi hijau, dan sawi huma.

Sawi putih (Brassica rugosa)

Sawi putih (Brassica rapa convar. pekinensis; suku sawi-sawian atau Brassicaceae ) dikenal sebagai sayuran olahan dalam masakan Tionghoa; karena itu disebut juga sawi cina. Disebut sawi putih karena daunnya yang cenderung kuning pucat dan tangkai daunnya putih. Sawi putih dapat dilihat penggunaannya pada asinan (diawetkan dalam cairan gula dan garam), dalam capcay, atau pada sup bening. Sawi putih beraroma khas namun netral.

Sawi hijau (Brassica juncca)

Varietas berdaun besar dan hidup di tanah kering dari tanaman yang sama ini rasanya agak tajam. Biasanya sawi hijau banyak dijadikan asinan untuk konsumsi penduduk golongan Cina.

Sawi huma (Brassica juncea)

Ini adalah suatu varietas berbatang panjang dan berdaun sempit. Tanaman ini tak tahan terhadap hujan, tak mudah diserang oleh ulat. Sawi ini berbulu dan rasanya tajam. Biasanya banyak ditemukan di sawah-sawah dan hanya dimakan di pedalaman.

2.5 Syarat Tumbuh Sawi Sawi bukan tanaman asli Indonesia, tetapi berasal dari Asia. Dikembangkan di Indonesia karena Indonesia mempunyai kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya. Tanaman sawi dapat tumbuh baik ditempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi. Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200 meter diatas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl. Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat ditanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur. Pertumbuhan tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk, lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang menggenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bila di tanam pada akhir musim penghujan. Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat keasaman (pH) tanah optimum untuk pertumbuhannya adalah antara 6 samapai pH 7 (Eko Margiyanto, 2007)

2.6 Budidaya Tanaman Sawi Cara bertanam sawi sesungguhnya tak berbeda jauh dengan budidaya sayuran pada umumnya. Budidaya konvensional di lahan meliputi proses pengolahan lahan, penyiapan benih, teknik penanaman, penyediaan pupuk dan pestisida, serta pemeliharaan tanaman. Sawi dapat ditanam secara monokultur maupun tumpang sari. Tanaman yang dapat ditumpangsarikan antara lain : bawang daun, wortel, bayam, kangkung darat. Sedangkan menanam benih sawi ada yang secara langsung tetapi ada juga melalui pembibitan terlebih dahulu. Berikut ini akan dibahas mengenai teknik budidaya sawi secara konvensional di lahan.

A. BENIH. Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Benih yang baik akan menghasilkan tanaman yang tumbuh dengan bagus. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Dan penanaman sawi yang akan dijadikan benih terpisah dari tanaman sawi yang lain. Juga memperhatikan proses yang akan dilakukan mesilnya dengan dianginkan, tempat penyimpanan dan diharapkan lama penggunaan benih tidak lebih dari 3 tahun.

B. PENGOLAHAN TANAH. Pengolahan tanah secara umum melakukan penggemburan dan pembuatan bedengan. Tahaptahap pengemburan yaitu pencangkulan untuk memperbaiki struktur tanah dan sirkulasi udara dan pemberian pupuk dasar untuk memperbaiki fisik serta kimia tanah yang akan menambah kesuburan lahan yang akan kita gunakan. Tanah yang hendak digemburkan harus dibersihkan dari bebatuan, rerumputan, semak atau pepohonan yang tumbuh. Dan bebas dari daerah ternaungi, karena tanaman sawi suka pada cahaya matahari secara langsung. Sedangkan kedalaman tanah yang dicangkul sedalam 20 sampai 40 cm. Pemberian pupuk organik sangat baik untuk penyiapan tanah. Sebagai contoh pemberian pupuk kandang yang baik yaitu 10 ton/ha. Pupuk kandang diberikan saat penggemburan agar cepat merata dan bercampur dengan tanah yang akan kita gunakan. Bila daerah yang mempunyai pH terlalu rendah (asam) sebaiknya dilakukan pengapuran. Pengapuran ini bertujuan untuk menaikkan derajad keasam tanah, pengapuran ini dilakukan jauh-jauh sebelum penanaman benih, yaitu kira-kira 2 sampai 4 minggu sebelumnya. Sehingga waktu yang baik dalam melakukan penggemburan tanah yaitu 2 4 minggu sebelum lahan hendak ditanam. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit (CaCO3) atau dolomit (CaMg(CO3)2).

C. PEMBIBITAN. Pembibitan dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah untuk penanaman. Karena lebih efisien dan benih akan lebih cepat beradaptasi terhadap lingkungannya. Sedang ukuran bedengan pembibitan yaitu lebar 80 120 cm dan panjangnya 1 3 meter. Curah hujan lebih dari 200 mm/bulan, tinggi bedengan 20 30 cm. Dua minggu sebelum di tabur benih, bedengan pembibitan ditaburi dengan pupuk kandang lalu di tambah 20 gram urea, 10 gram TSP, dan 7,5 gram Kcl. Cara melakukan pembibitan ialah sebagai berikut : benih ditabur, lalu ditutupi tanah setebal 1 2 cm, lalu disiram dengan sprayer, kemudian diamati 3 5 hari benih akan tumbuh setelah berumur 3 4 minggu sejak disemaikan tanaman dipindahkan ke bedengan.

D. PENANAMAN. Bedengan dengan ukuran lebar 120 cm dan panjang sesuai dengan ukuran petak tanah. Tinggi bedeng 20 30 cm dengan jarak antar bedeng 30 cm, seminggu sebelum penanaman dilakukan pemupukan terlebih dahulu yaitu pupuk kandang 10 ton/ha, TSP 100 kg/ha, Kcl 75 kg/ha. Sedang jarak tanam dalam bedengan 40 x 40 cm , 30 x 30 dan 20 x 20 cm. Pilihlah bibit yang baik, pindahkan bibit dengan hati-hati, lalu membuat lubang dengan ukuran 4 8 x 6 10 cm.

E. PEMELIHARAAN. Pemeliharaan adalah hal yang penting. Sehingga akan sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan didapat. Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah penyiraman, penyiraman ini tergantung pada musim, bila musim penghujan dirasa berlebih maka kita perlu melakukan pengurangan air yang ada, tetapi sebaliknya bila musim kemarau tiba kita harus menambah air demi kecukupan tanaman sawi yang kita tanam. Bila tidak terlalu panaspenyiraman dilakukan sehari cukup sekali sore atau pagi hari. Tahap selanjutnya yaitu penjarangan, penjarangan dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Selanjutnya tahap yang dilakukan adalah penyulaman, penyulaman ialah tindakan penggantian tanaman ini dengan tanaman baru. Caranya sangat mudah yaitu tanaman yang mati atau terserang hama dan penyakit diganti dengan tanaman yang baru. Penyiangan biasanya dilakukan 2 4 kali selama masa pertanaman sawi, disesuaikan dengan kondisi keberadaan gulma pada bedeng penanaman. Biasanya penyiangan dilakukan 1 atau 2 minggu setelah penanaman. Apabila perlu dilakukan penggemburan dan penggulu dan bersamaan dengan penyiangan. Pemupukan

tambahan diberikan setelah 3 minggu tanam, yaitu dengan urea 50 kg/ha. Dapat juga dengan satu sendok the sekitar 25 gram dilarutkan dalam 25 liter air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan.

PENANAMAN VERTIKULTUR Langkah angkah penanaman secara vertikultur adalah sebagai berikut : 1. Benih disemaikan pada kotak persemaian denagn media pasir. Bibit dirawat hingga siap ditanaman pada umur 14 hari sejak benih disemaikan. 2. Sediakan media tanam berupa tanah top soil, pupuk kandang, pasir dan kompos dengan perbandingan 2:1:1:1 yang dicampur secara merata. 3. Masukkan campuran media tanam tersebut ke dalam polibag yang berukuran 20 x 30 cm. 4. Pindahkan bibit tanaman yang sudah siap tanam ke dalam polibag yang tersedia. Tanaman yang dipindahkan biasanya telah berdaun 3 5 helai. 5. Polibag yang sudah ditanami disusun pada rak-rak yang tersedia pada Lath House.

PENANAMAN HIDROPONIK. Langkah-langkah penanaman secara hidroponik adalah sebagai berikut : 1. Siapkan wadah persemaian . Masukkan media berupa pasir halus yang disterilkan setebal

3 4 cm. Taburkan benih sawi di atasnya selanjutnya tutupi kembali dengan lapisan pasir setebal 0,5 cm. 2. Setelah bibit tumbuh dan berdaun 3 5 helai (umur 3 4 minggu0, bibit dicabut dengan

hati-hati, selanjutnya bagian akarnya dicuci dengan air hingga bersih, akar yang terlalu panjang dapat digunting. 3. Bak penanaman diisi bagian bawahnya dengan kerikil steril setebal 7 10 cm,

selanjutnya di sebelah atas ditambahkan lapisan pasir kasar yang juga sudah steril setebal 20 cm. 4. Buat lubang penanaman dengan jarak sekitar 25 x 25 cm, masukkan bibit ke lubang

tersebut, tutupi bagian akar bibit dengan media hingga melewati leher akar, usahakan posisi bibit tegak lurus dengan media. 5. Berikan larutan hidroponik lewat penyiraman, dapat pula pemberian dilakukan dengan

sistem drip irigation atau sistem lainnya, tanaman baru selanjutnya dipelihara hingga tumbuh besar.

PANEN DAN PENANGANAN PASCA PANEN. Dalam hal pemanenan penting sekali diperhatikan umur panen dan cara panennya. Umur panen sawi paling lama 70 hari. Paling pendek umur 40 hari. Terlebih dahulu melihat fisik tanaman seperti warna, bentuk dan ukuran daun. Cara panen ada 2 macam yaitu mencabut seluruh tanaman beserta akarnya dan dengan memotong bagian pangkal batang yang berada di atas tanah dengan pisau tajam. Pasca panen sawi yang perlu diperhatikan adalah : 1. Pencucian dan pembuangan kotoran. 2. Sortasi. 3. Pengemasan. 4. Penympanan. 5. Pengolahan.

2.7 Hama dan Penyakit A. HAMA. 1. Ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis Zell.). 2. Ulat tritip (Plutella maculipennis). 3. Siput (Agriolimas sp.). 4. Ulat Thepa javanica. 5. Cacing bulu (cut worm). B. PENYAKIT. 1. Penyakit akar pekuk. 2. Bercak daun alternaria. 3. Busuk basah (soft root). 4. Penyakit embun tepung (downy mildew). 5. Penyakit rebah semai (dumping off). 6. Busuk daun. 7. busuk Rhizoctonia (bottom root). 8. Bercak daun. 9. Virus mosaik.

BAB III BAHAN, ALAT, DAN METODE 3.1 Bahan dan Alat 3.1.1 Bahan Bibit Sawi Air

3.1.2 Alat Cangkul

3.2 Cara Kerja Tanah di olah dan di bagi menjadi 3 bedengan, masing masing 1m x 1m. Lalu tiap bedengan di tanami sawi sebanyak 16. Karena kelompok 1 perlakuan yang di lakukan ialah kontrol, jarak tanam, dan penyiangan, maka bedengan 1 dan 3 di tanami sawi sebanyak 16 dan pada bedengan ke 2 di tanami sawi lebih dari 16 dan secara acak. Lalu setiap minggu d amati. Bedengan 1 tidak usah di lakukan apa apa, bedengan 2 juga tidak di lakukan apa apa, sedangkan bedengan 3 tiap minggu di bersihkan dari gulma.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Dari pengamatan yang di lakukan pada ke tiga bedengan tanaman sawi yang memiliki perlakuan yang berbeda, maka di dapatkanlah hasil sebagai berikut: Jenis Serangga/Pathogen 1. Belalang ( Hama Peran Bagian diserang Memakan hingga menyebabkan pinggiran rusak 2. Ulat grayak (Spodoptera exigua) Hama Helain daun daun daun yang Gambar

bagian bawah

3. Ulat Perusak Daun (Plutella xylostella),

Hama

memakan hingga

daun

menyebabkan daun lubang berlubangterutama

pada daun muda 4. Leaf Miner (Liriomyza sp.) Hama memakan daging daun dan hanya menyisakan kulit daunnya

4.2 Pembahasan Dari hasil yang dapat di lihat, bahwa tanaman sawi mudah sekali terkena serangan hama maupun penyakit. Terlihat jelas bahwa pada saat pengamatan pertama tanaman sawi pada daunnya sudah berlubang, menguning, bahkan habis sampai mencapai batang paling bawah. Hama dan penyakit yang terdapat pada tanaman sawi tersebut ialah: Ulat Grayak (Spodoptera litura dan Spodoptera exigua). Spodoptera litura berukuran sekitar 15-25 mm, berwarna hijau tua kecoklatan dengan totol-totol hitam di setiap ruas buku badannya. Sedangkan Spodoptera exigua, mempunyai ukuran yang sama dengan Spodoptera litura tetapi warna tubuhnya hijau sampai hijau muda tanpa totol-totol hitam di ruas buku badannya. Kedua jenis ulat ini sering menyerang tanaman dengan cara memakan daun hingga menyebabkan daun berlubang-lubang terutama pada daun muda. Agar tanaman tidak terserang, maka perlu dilakukan pencegahan yaitu dengan melakukan sanitasi lahan dengan baik. Selain itu juga perlu dilakukan dengan cara memasang perangkap kupu-kupu di beberapa tempat. Perangkap ini dibuat dari botol-botol bekas air mineral yang diolesi dengan produk semacam lem yang mengandung hormon sex pemanggil kupu-kupu. Apabila tanaman ditemukan telah terserang ulat ini, segera semprot dengan insektisida yang tepat yaitu Matador 25 EC, Curacron 500 EC dan Buldok 25 EC. Dosis yang digunakan disesuaikan dengan anjuran pada label kemasan.

Ulat Perusak Daun (Plutella xylostella), berwarna hijau muda, dengan panjang tubuh sekitar 7-10 mm. Pada saat melakukan penyerangan, ulat ini suka bergerombol dan lebih menyukai pucuk tanaman. Akibatnya daun muda dan pucuk tanaman berlubang-lubang. Jika serangan sudah sampai ke titik tumbuh tunas, pertumbuhan tanaman akan terhenti, sehingga proses pembentukan krop akan sangat terganggu, dan lebih parah lagi, krop tidak terbentuk. Agar tidak mudah terserang maka perlu dilakukan sanitasi (penyiangan) lahan dengan baik. Jika serangan hama ini sudah tampak, segera semprot dengan insektisida yang tepat, yaitu March 50 EC, Proclaim 5 SG, Decis 2,5 EC dan Buldok 25 EC. Dosis yang digunakan sesuai anjuran yang ada pada label kemasan.

Leaf Miner (Liriomyza sp.) Serangga ini termasuk hama penggorok daun. Serangga dewasa meletakkan telur di daun, selanjutnya larva yang berukuran sangat kecil masuk ke dalam daun. Larva ini memakan daging daun dan hanya menyisakan kulit daunnya. Akibatnya, di permukaan daun tampak bercak kuning kecoklatan melingkar-lingkar ke segala arah yang sebenarnya merupakan jalur larva memakan daging daun. Untuk mencegah terjadinya serangan dengan menghindari menanam di lokasi yang terindikasi banyak serangan hama ini. Selain itu tentu saja perlu dilakukan sanitasi lahan dengan baik. Namun bila sudah nampak gejala serangan, segera semprot dengan insektisida sistemik karena sasaran hama berada di dalam daging daun. Insektisida sistemik yang dapat digunakan di antaranya Trigard 75 WP dan Proclaim 5 SG. Dosis penggunaannya sesuai dengan anjuran yang terdapat pada label kemasan.

Penyakit Busuk Daun (Phytoptora sp.). Gejala serangan ditandai dengan bercak basah coklat kehitaman di daun. Bentuk bercak tidak beraturan, awalnya kecil, lalu melebar dan akhirnya busuk basah. Serangan akan semakin parah jika suhu dan kelembaban udara terlalu tinggi. Umumnya kondisiini terjadi ketika hujan sehari diikuti panas atau terik pada beberapa hari berikutnya. Agar tanaman tidak diserang, sebaiknya dilakukan pencegahan dengan melakukan sanitasi lahan dengan baik, selain itu juga hindari menanam pada musim hujan. Apabila menanam pada musim hujan, jarak tanam perlu dilebarkan menjadi 30 x 25 cm, dan selokan diperlebar agar sirkulasi air dan udara lancar. Namun bila sudah tampak gejala serangan, segera semprot dengan fungisida yang tepat yaitu Bion M 1/48 WP, Topsin M 70 WB dan Kocide 60 WDG. Dosis yang digunakan sesuai dengan anjuran yang ada pada label kemasan.

Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae). Penyakit ini menyerang perakaran tanaman. Gejala serangan ditunjukkan dengan tanaman tampak layu hanya pada siang hari yang cerah dan panas. Sebaliknya, pada pagi hari kondisi tanaman segar. Pertumbuhan tanaman yang terserang penyakit ini akan terhambat. Apabila tanaman dicabut, akan tampak benjolan-benjolan besar seperti kanker di perakarannya. Jika tingkat serangannya sudah parah, tanaman sama sekali tidak bisa berproduksi. Pencegahan yang harus dilakukan adalah dengan a) menghindari menanam di lahan bekas tanaman sawi

caisim dan pakcoy (brokoli, bunga kol, kol, sawi putih, dan kailan) yang terindikasi serangan penyakit ini; b) melakukan pergiliran tanaman, terutama dengan jagung dan kacang-kacangan untuk memutus rantai hidup fungi penyebab penyakit ini; c) penggunaan teknologi EMP dikombinasi dengan pengapuran tanah (untuk menaikkan pH tanah). Namun bila tanaman sudah terserang penyakit ini, seharusnya dilakukan pemberantasan. Akan tetapi sampai saat ini belum ditemukan fungisida untuk memberantas penyakit akar gada, khususnya setelah tanaman terserang. Dengan demikian hal yang perlu diperhatikan adalah melakukan pengawasan dan pencegahan secara ketat agar usaha tani sawi caisim dan pakcoy berhasil.

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Disana tidak di temukan hama, tetapi hasil makanan hama tampak pada tanaman sawi yang keadaannya tidak sempurna lagi. HPTU (Hama Penting Tanaman Utama) ialah spesies hama yang selalu muncul pada suatu tanaman yang dibudidayakan yang mana populasinya menimbulkan kerusakan dan kerugian secara okonomis. Dapat disebut hama penting karena: a. Dapat menimbulkan kerusakan yang tinggi b. Selalu ada jika tanaman itu ditanaman, dan c. Inangnya diperkirakan hanya tanam itu saja. PPTU (Penyakit Penting Tanaman Utama) merupakan penyakit yang selalu ada pada tanaman tertuntu. Tanaman utama merupakan tanaman yang dibudidayakan pada lahan tertentu.

5.2 Saran Dalam kegiatan praktikum perlu adanya keseriusan karena pengendalian hama dan penyakit merupakan salah satu hal yang utama di bidang pertanian.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2012. http://www.Hama dan Penyakit Utama serta Penanganan Panen dan Pasca Panen Tanaman Sawi Caisim dan Pakcoy.htm diakses pada tanggal 26 April 2012 Anonim. 2012. http://www.laporan horti sawi.htm diakses pada tanggal 26 April 2012 Haryanto, E,T. Suhartini dan E. Rahayu.2000. Sawi dan Selada. Penebar Swadaya. Jakarta.
Indrayani, IGAA dan Gothama, A.AA,1997. Pengaruh Konsentrasi Konidia Nomuraea rileyi (Farlow) Sampson Terhadap Mortalitas Larva Helicoverpa armigera (Hubner).Hal. 159164.Prosiding Seminar Nasional "Tantangan Entomologi Pada Abad XII" : Bogor

Kalshoven, L.G.E. 1981. Pests of crops in Indonesia. Revised and translated by P.A. van der Laan, Univ. of Amsterdam with the assistance of G.H.L. Rothschild, Jakarta: P. T. Ichtiar Baru - van Hoeve, 701 p. Rukmana, R. dan S. Saputra. 1997. Hama Tanaman dan Tekhnik Pengendalian. Kanisius. Yogyakarta.
Sumarno, 2009. Abstrak penelitian Efektifitas Penggunaan Cendawan Entomopatogen Metarrhizium anisopliae Sorokin dan Nomuraea rileyi Samson Terhadap Hama Kubis Plutella xylostella Curt, dan Crocidolomia pavonana. http://library.unib.ac.id: Bengkulu. Diakses tanggal 22 April 2010

Sunarjono, Hendro. 2003. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta.


Surachman E dan Suryanto WA, 2007. Hama Tanaman Pangan, Hortikulturan dan Perkebunan Masalah dan Solusinya, Kanisius. Yogyakarta