Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA KOMUNIKASI

PRAKTIKUM 1 DSB dan SSB

Oleh: Kelompok 5 Beny Arief S. Rizky Maulana Resma Nuur S. Khodimul Istiqlal Dio Pradianggara Asroful Maulana 091910201052 091910201061 091910201064 091910201070 091910201102 091910201111

Nama Asisten Nilai

: Alfredo Bayu S. :

LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN OTOMATISASI PABRIK

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO STRATA 1 FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS JEMBER 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Pada dasarnya modulasi secara garis besar terbagi atas modulasi analog dan modulasi digital. Perbedaaan mendasar antara modulasi analog dan digital terletak pada bentuk sinyal informasinya. Pada modulasi analog, sinyal informasinya berbentuk analog dan sinyal cariernya analog. Sedangkan pada modulasi digital, sinyal informasinya berbentuk digital dan sinyal cariernya analog. Orientasi pada pembahasan ini adalah pada modulasi analog, dimana pada modulasi analog masih dibagi lagi atas modulasi linier dan modulasi nonlinier. Amplitude Modulation, Frequency Modulation dan Phase Modulation adalah jenis modulasi yang termasuk dalam kategori modulasi analog. Lebih rincinya Amplitude Modulation termasuk dalam modulasi analog-linier. Sedangkan Frequency Modulation dan Phase Modulation termasuk dalam modulasi analog-nonlinier. Modulasi analog-linier, parameter sinyal yang mengalami perubahan adalah amplitudonya, amplitudo sinyal carier berubah-ubah sesuai dengan perubahan amplitudo sinyal informasi. Modulasi analog-nonlinier, parameter sinyal yang mengalami perubahan adalah frekuensi dan fasanya, frekuensi sinyal carier berubah-ubah sesuai dengan perubahan amplitudo sinyal informasi (untuk FM) dan fasa sinyal carier berubah-ubah sesuai dengan perubahan amplitudo sinyal informasi (untuk PM). Teknik modulasi memiliki karakteristik dan keandalan masing-masing sesuai dengan kebutuhan. Yang menjadi parameter keandalan suatu teknik modulasi diantaranya kebutuhan daya dan lebar bandwidth yang digunakan. Oleh sebab itu diperlukan informasi dari tiap teknik modulasi untuk menentukan teknik yang tepat.

1.2. Tujuan 1. Mahasiswa dapat memahami prinsip modulasi AM, double side band dan single side band.
2. Mahasiswa dapat memahami perbedaan antara double side band dengan single side

band. 1.3. Dasar Teori Modulasi adalah proses penumpangan sinyal informasi ke sinyal pembawa (Carrier). Teknik modulasi sendiri terdiri dari berbagai metode, salah satunya modulasi amplitudo

(Amplitude Modulation) atau yang biasa disebut AM. Amplitudo modulation (AM)
menggunakan variasi amplitudo untuk membawa sinyal informasi. Gelombang yang amplitudonya dibuat bervariasi disebut gelombang carrier (pembawa). Sinyal yang membuat variasi itu disebut modulating signal (sinyal informasi). Teknik modulasi AM sendiri terbagi

atas double side band (DSB-SC dan DSB-LC), single side band, dan vestigal side band.
Double side band - suppressed carrier dibuat dengan mengatur agar amplitudo sinyal carrier berubah secara proporsional sesuai perubahan amplitude pada sinyal pemodulasi (sinyal informasi). Untuk memperjelas tentang sinyal DSB-SC dapat dilihat gambar dibawah ini tentang spektrum sinyal DSB-SC.

Proses demodulasi dilakukan dengan mengalikan sinyal carrier termodulasi dengan sinyal local oscillator (pada penerima) yang sama persis dengan sinyal oscillator pada pemancar, kemudian memasukan hasilnya ke sebuah low pass filter (LPF). Untuk lebih jelasnya tentang proses demodulasi dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Penggunaan metode modulasi suppressed carrier memerlukan peralatan yang kompleks pada bagian penerima, berkaitan dengan perlunya pembangkitan carrier dan sinkronisasi phase. Jika sistem didisain untuk memperoleh penerima yang relatif sederhana, maka beberapa kompromi harus dibuat walaupun harus mengurangi efisiensi pemancar. Untuk itu identitas carrier dimasukkan ke dalam sinyal yang ditransmisikan, dimana sinyal carrier dibuat lebih besar dari sinyal yang lain. Karena itu sistem seperti ini disebut DoubleSideband Large Carrier (DSB-LC) atau umumnya dikenal dengan istilah AM.

Dalam sinyal DSB-LC (AM), sinyal informasi f(t) terdapat dalam selubung sinyal termodulasi. Untuk mendapatkan kembali sinyal pesan, demodulasi bisa dilakukan dengan metoda detektor selubung (envelope detector). Untuk lebih jelasnya tentang demodulasi digital dapat dilihat gambar dibawah ini.

Informasi pada sinyal termodulasi AM terkandung dalam komponen USB dan LSB. Dengan demikian, dapat dipilih opsi lain dalam pentransmisian sinyal termodulasi AM yaitu dengan mentransmisikan salah satu komponen bidang sisi, komponen USB atau LSB saja. Cara pentransmisian seperti ini disebut transmisi bidang tunggal (SSB : Single Side Band). Selain lebih hemat daya, transmisi SSB juga lebih hemat lebar bidang (yaitu hanya membutuhkan setengah dari lebar bidang yang dibutuhkan pada transmisi DSBFC). Gambar dibawah ini memperlihatkan pemilihan komponen LSB dan USB dalam sistem SSB. Dalam hal ini yang dipilih untuk dipancarkan adalah komponen USB. Proses pemilihan dapat dilakukan dengan cara penapisan (filtering).

Single Sideband (SSB) dimana jenis ini yang paling populer dan di mana hanya ada satu sideband dan menghapus sideband lain dan carriernya. Sistem komunikasi didisain untuk menghasilkan transmisi informasi dengan bandwidth dan daya pancar minimal.

Dalam modulasi SSB, hanya satu dari kedua sideband yang dipancarkan. Dilihat dari penggunaan bandwidth, modulasi ini lebih efisien karena mempunyai bandwidth transmisi setengah dari AM maupun DSB-SC.Gambar dibawah ini adalah gambar spectrum sinyal SSB.

Pembangkitan sinyal SSB dilakukan dengan membangkitkan sinyal DSB terlebih dahulu, kemudian menekan salah satu sideband dengan filter seperti ditunjukkan gambar di bawah. Jika USB yang ditekan, maka akan menghasilkan sinyal SSB-LSB. Sebaliknya menghasilkan SSB-USB. Untuk memahami penjelasan di atas dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Kesulitan lain yang timbul adalah perlunya sinkronisasi seperti pada teknik DSB. Untuk itu, komponen carrier bisa ditambahkan pada sinyal SSB dan demodulasi bisa dilakukan dengan menggunakan envelope detector. Tapi metode ini boros daya pancar dan bisa menghasilkan distorsi pada sinyal. Gambar dibawah ini adalah gambar phase shift method.

Kalau kita berbicara tentang Single Side Band, maka kita menyinggung lebh jauh tentang modulasi amplitudo (AM). Pada setiap kita melakukan modulasi sebenarnya kita melakukan pencampuran antara frekuensi radio dengan frekuensi audio. Setiap pencampuran dua frekuensi akan terjadi proses penjumlahan kedua frekuensi dan sekaligus terjadi proses pengurangan dari kedua frekuensi tersebut. Jadi setiap kali kita memodulir carrier, akan menghasilkan dua frekuensi sekaligus. Misalnya suatu carrier dengan frekuensi 3.000 Kc kita modulir dengan audio ferkuensi 3 Kc, hasilnya adalah 3.003 Kc dan 2.997 Kc, atau dikatakan tejadi dua sisi band ialah sisi atas dan sisi bawah. Sisi atas dan sisi bawah tersebut berbentuk symetris, jadi kalau hasil modulasi itu langsung kita pancarkan berarti kita memancarakan dua barang yang sama. Apabila kita memancar dengan cara tersebut di atas, dikatakan kita menggunakan mode Double Side Band (DSB) karena carrier yang memuat sisi atas dan bawah dipancarkan bersama. Pada Pemancar SSB dikatakan lebih efisien daripada AM (DSB), ini dapat kita berikan gambaran sebagai berikut. Misalnya pemancar AM (DSB) dengan power 150 Watt (kedalaman modulasi 100%), maka power pada USB dan LSB masing-masing 25 Watt dan carrier mempunyai power 100 Watt. Kita tahu bahwa audio kita berada pada side band tersebut. Pada pancaran SSB, yang dipancarkan hanya salah satu side band ialah LSB atau USB yang powernya hanya 25 Watt. Dengan pancaran SSB 25 Watt tersebut, audio kita sudah dapat sampai pada tujuan dengan kejelasan informasi yang sama dengan pancaran AM (DSB) 150 Watt tadi. Keuntungan lain dari mode SSB ialah lebar band yang dapat lebih sempit. Untuk keperluan komunikasi, mode SSB hanya memerlukan kelebaran band sekitar 3 Kc sedangkan dengan mode DSB diperlukan sekitar 6 Kc, sehingga mode SSB memberikan penghematan penggunaan band.

Seperti yang dijelaskan diatas,bahwa modulasi Single Side Band (SSB) dibagi menjadi 2 metode. Yaitu Lower side band (LSB) modulation dan upper side band (USB) modulation.

BAB II METODOLOGI PRAKTIKUM

2.1. Alat Dan Bahan 1. 2. 1 unit Komputer Software Matlab dan Simulink

2.2. Gambar Rangkaian a. Percobaan 1 Simple Sine

b.

Percobaan 2 Sine Modulated

c.

Percobaan 3 Double Side Band

d.

Percobaan 4 Single Side Band

2.3. Prosedur kerja 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Jalankan aplikasi Matlab. Buka Simulink. Klik new model. Cari komponen yang di gunakan pada masing-masing percobaan. Rangkai komponen seperti pada gambar percobaan masing-masing. Masukkan nilai parameter masing-masing komponen. Jalankan simulasi. Ambil gambar pada scope dan spectrum scope. Analisa data dan buat kesimpulan.

BAB III ANALISIS HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

3.1. Data Percobaan a. Percobaan 1 Simple Sine

Frekuensi No Informasi (Hz) Scope Spectrum

100

300

700

1000

1500

b.

Percobaan 2 Sine Modulated

Frekuensi No Informasi (Hz) Scope Spectrum

100

300

700

1000

1500

c.

Percobaan 3 Double Side Band Modulation

Frekuensi No Carrier (Hz)

Frekuensi Informasi (Hz) Scope Spectrum

1000

100

1000

300

2000

100

2000

300

d.

Percobaan 4 Single Side Band Frekuensi Carrier (Hz) Frekuensi Informasi (Hz) 2000 300

Scope

Spectrum sebelum Filter

Spectrum setelah Filter Upper

Spectrum setelah Filter Lower

3.2. Pembahasan Pada praktikum elektronika komunikasi yang pertama ini dilakukan percobaan mengenai teknik modulasi AM. Terdapat empat percobaan berdasarkan teknik modulasi AM tersebut, yaitu percobaan pembangkitan sinyal informasi, percobaan modulasi sinyal informasi terhadap sinyalnya sendiri, percobaan teknik modulasi double side band (DSB), dan terakhir percobaan teknik modulasi single side band (SSB). Pada percobaan pertama dilakukan pembangkitan sinyal informasi, dimana sumber sinyal informasi ini dihubungkan dengan osilator sinyal dan osilator spektrum seperti yang ditunjukkan pada gambar rangkaian percobaan pertama. Osilator sinyal berfungsi untuk menampilkan sinyal informasi yang dibangkitkan, sedangkan osilator spektrum berfungsi untuk menampilkan sinyal informasi dalam domain frekuensi. Agar sinyal informasi dapat ditampilkan dalam domain frekuensi, sinyal informasi terlebih dahulu ditransformasi dalam bentuk fungsi fourier dengan menggunakan metode fast fourier transform (FFT) yang dimana telah terintregasi dalam komponen osilator spektrum. Yang menjadi parameter pada percobaan satu ini adalah perubahan nilai frekuensi dari sinyal informasi. Data frekuensi yang digunakan antara lain: 100 Hz, 300 Hz, 700 Hz, 1.000 Hz, 1.500 Hz dan dengan sample rate 1/10.000. Dari osilator sinyal dapat diperhatikan bahwa semakin besar frekuensi sinyal, gelombang pada osilator semakin merapat. Misalnya perbandingan pada data pertama dan kedua, yaitu 100 Hz dan 300 Hz. Pada saat frekuensi 100 Hz osilator menunjukkan terbentuk 1 gelombang pada detik(s) 0.01, sedangkan pada saat yang sama digunakan frekuensi pada data yang kedua yaitu 300 Hz, terbentuk 3 buah gelombang dan hal ini menyatakan bahwa panjang gelombang semakin kecil seiring bertambahnya frekuensi. Begitu pula pada data-data berikutnya. Hal ini merupakan pembuktian terhadap persamaan = 1/f. Dari persamaan diatas terlihat bahwa panjang gelombang berbanding terbalik dengan frekuensi. Semakin besar frekuensi maka semakin kecil panjang gelombang dan sebaliknya. Selanjutnya pada osilator spektrum terlihat ada dua buah grafik spektrum yang pertama pada sisi positif yang kedua pada sisi negatif. Pada pertambahan frekuensi, terlihat bahwa gap antar dua grafik spektrum tersebut semakin membesar. Karena pada percobaan ini hanya berupa pembangkitan sinyal, tidak terlalu banyak yang dapat dianalisa. Pertambahan frekuensi pada osilator spektrum hanya mempengaruhi letaknya, namun tidak mempengaruhi besar magnitude rata-rata. Misalnya pada frekuensi 700 Hz dan 1000 Hz, nilai puncak magnitude rata-rata frekuensi 700 Hz di osilator spektrum terletak pada m=700 Hz dan pada frekuensi 1000 Hz nilai puncak magnitude rata-rata di osilator spektrum terletak pada m=1000 Hz.

Teknik modulasi pengembangan dari Double Side Band (DSB) adalah Single Side Band (SSB). Pada DSB memiliki dua buah spektrum frekuensi yaitu upper side band dan lower side band, berbeda dengan SSB yang hanya memiliki satu buah spektrum. Spektrum yang digunakan hanya upper atau lower saja. Untuk dapat meloloskan salah satu dari spektrum frekuensi yang digunakan, maka diperlukan sebuah filter untuk menapis freuensi yang tidak diinginkan. Praktikum SSB ini menggunakan frekuensi carrier 2000 Hz dan frekuensi informasi 300 Hz, sehingga lower side band bernilai 1700 Hz dan upper side band bernilai 2300 Hz. Nilai sampling yang digunakan dalam desain filter adalah 10kHz. Filter yang digunakan dalam percobaan SSB ini adalah Butter Worth IIR Bandpass Filter. Data pertama yang diambil adalah spektrum upper side band. Upper side band yang diloloskan adalah 2300 Hz, maka nilai paramater pada filter untuk fstop1=2100 Hz, fpass1=2200 Hz, fpass2=2400 Hz, dan fstop2=2500 Hz. Data kedua untuk percobaan SSB adalah spektrum lower side band yaitu 1700 Hz. Parameter pada filter antara lain: fstop1=1500 Hz, fpass1=1600 Hz, fpass2=1800 Hz, dan fstop2=1900 Hz. Spectrum scope menujukkan keluaran dari filter hanya memiliki satu sisi band frekuensi. Data pertama menujukkan spektrum Upper Side Band dari SSB sedangkan frekuensi selain itu ditapis. Data kedua menunjukkan spektrum Lower Side Band dari SSB sedangakan frekuensi yang lain ditapis.

BAB IV PENUTUP

4.1. Kesimpulan 1. Frekuensi sinyal berbanding terbalik dengan panjang gelombang sehingga semakin besar frekuensi maka semakin kecil panjang gelombangnya dan begitu pula sebaliknya. 2. Nilai frekuensi informasi dan carrier tidak mempengaruhi besar magnitude pada sinyal hasil modulasi. 3. Frekuensi hasil modulasi merupakan gabungan jumlah frekuensi informasi dan carrier. 4. Dibutuhkan transformasi fourier untuk merepresentasikan sinyal dalam domain frekuensi. 5. DSB merupakan teknik modulasi menggunakan lower side band dan upper side band. 6. Teknik DSB memiliki komponen yang sederkana karena tidak memerlukan filter, sedangkan teknik SSB harus menggunakan filter untuk meloloskan salah satu side band yang akan digunakan. 7. Teknik SSB bertujuan untuk penghematan band frekuensi.

Lampiran Bandpass Upper

Bandpass Lower