Anda di halaman 1dari 11

1.

Iklim
Daerah studi mempunyai curah hujan rata - rata tahunan sebesar 3.598

mm, curah hujan maksimum tahunan 4.212 mm dan curah hujan minimum tahunan 3.090 mm dengan jumlah hari hujan rata - rata dalam setahun adalah 189 hari. Rata-rata curah hujan di lokasi studi mengalami fluktuasi dalam 10 tahun terakhir seperti terlihat pada Tabel 2.5. Rata-rata curah hujan tertinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 351,0 mm/bulan, dan rata-rata curah hujan terkecil terjadi pada tahun 2011 yaitu sekitar 124,8 mm/bulan. Sedangkan curah hujan bulanan rata-rata terjadi pada bulan Juli yaitu sebesar 125,6 mm/bulan, dan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Februari yang memiliki nilai sebesar 480,7 mm/bulan dengan rata-rata curah hujan bulanan sebesar 295,2 mm/bulan. Berdasarkan klasifikasi iklim menurut Koppen, daerah Jawa Barat termasuk kedalam tipe Af (iklim hutan hujan tropis) dan Am (iklim muson tropis). Jenis iklim A ini ditandai dengan suhu rata-rata bulan tidak kurang dari 18C, suhu rata-rata tahunan 20C-25C, curah hujan rata-rata lebih dari 700 mm/tahun, dan tumbuhan yang tumbuh beraneka ragam. Sedangkan kriteria f adalah tidak ada musim kering, basah sepanjang tahun. Dan kriteria m adalah muson, dengan musim kering pendek dan sisanya hujan lebat sepanjang tahun. Pengklasifikasian iklim menurut Schmidt-Ferguson menggunakan perbandingan nisbah bulan basah dan bulan kering seperti kriteria bulan basah dan bulan kering seperti halnya klasifikasi iklim Mohr. Kriteria yang digunakan adalah dengan penentuan nilai Q, yaitu perbandingan antara bulan kering (BK) dan bulan basah (BB) dikalikan 100% (Q = BK / BB x 100%). Schmidt-Ferguson membagi tipe-tipe iklim dan jenis vegetasi yang tumbuh di tipe iklim tersebut adalah sebagai berikut; tipe iklim A (sangat basah) jenis vegetasinya adalah hutan hujan tropis, tipe iklim B (basah) jenis vegetasinya adalah hutan hujan tropis, tipe iklim C (agak basah) jenis vegetasinya adalah hutan dengan jenis tanaman yang mampu menggugurkan daunnya dimusim kemarau, tipe iklim D (sedang) jenis vegetasi adalah hutan musim, tipe iklim E (agak kering) jenis vegetasinya hutan savana, tipe iklim F (kering) jenis vegetasinya hutan savana, tipe iklim G (sangat kering) jenis vegetasinya padang ilalang dan tipe iklim H (ekstrim kering) jenis vegetasinya adalah padang ilalang. Berdasarkan data iklim di wilayah studi, dimana seluruh

bulan adalah bulan basah (curah hujan >100 mm) maka diperoleh nilai Q < 14,3% yang termasuk dalam kriteria tipe iklim A. Berdasarkan pada klasifikasi iklim menurut Oldeman, dimana penyusunan tipe iklimnya berdasarkan jumlah bulan basah yang berlangsung secara berturutturut, maka daerah studi termasuk kedalam zona B dengan klasifikasi B1. Jumlah bulan basah atau bulan dengan curah hujan bulanan lebih besar dari 200 mm di wilayah studi adalah sebanyak 9 bulan, dan tidak memiliki bulan kering atau bulan dengan curah hujan bulanan kurang dari 100 mm dalam satu tahun. Berdasarkan klasifikasi Oldeman ini, iklim di lokasi studi termasuk zona B dengan klasifikasi B1. Data curah hujan di lokasi studi dalam 5 tahun terakhir disajikan pada Tabel 2.5. Tabel 2.5. Curah hujan bulanan di sekitar wilayah studi
Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Hari Hujan Rataan Jumlah Curah Hujan (mm) 2002
770 412 433 325 335 121 286 123 62 177 316 245.5 175 300.46 3605.5

2003
168 571 206 343 254.5 56.5 42.5 384.5 361 185.1 267 516.8 174 279.66 3355.9

2004
663 473 277 345 371 68.5 133 0.5 224 240 472 311 190 298.17 3578

2005
517.7 521 545.5 166 321.5 ba 234.5 336.5 289 346 336.5 323.5 195 328.14 3937.7

2006
487 520.5 100 163 234 139 89 4.5 29 157 297 870 152 257.50 3090

2007
268 782 434.5 352 94 242.4 27 61 64 308 456.8 723.3 183 317.75 3813

2008
278.9 379.7 550.5 419.6 128 32 33 99 266.5 288.5 484 379.5 206 278.27 3339.2

2009
607 356 215 292 434 106.5 127.5 93 181.5 389.5 344.5 302.5 189 287.42 3449

2010
457 624.5 493 117.5 275.5 289.5 156.5 410.5 486 393 299 210 235 351.00 4212

2011
230 167 132.5 251 343.5 127 127 47 73 343.5 225 260.7 164 193.93 2327.2

Rataan
444.7 515.5 338.7 277.4 279.1 131.4 125.6 156.0 203.6 282.8 349.8 414.3 186.3

Sumber Data: Stasiun Darmaga Bogor Periode data tahun 2002-2011.

Dilihat dari fluktuasi curah hujan harian di lokasi kegiatan, pola musiman hampir tidak terlihat karena hampir sepanjang tahun yakni mulai bulan JanuariMei dan SeptemberDesember curah hujan harian tetap tinggi. Curah hujan dengan intensitas kecil hanya ditemukan pada bulan Juni-Agustus. Gambaran mengenai fluktuasi curah hujan dapat dilihat pada Gambar 2.9.

Gambar 2.9. Fluktuasi curah hujan di lokasi studi Suhu rata-rata bulanan di wilayah lokasi kegiatan yang tercatat pada Stasiun BMG Darmaga Bogor dalam jangka sepuluh tahun (tahun 2002-2011) berkisar antara 24,8 - 26,7 C. Suhu udara minimum terjadi pada bulan Januari dan September sedangkan maksimum terjadi pada bulan April. Perincian mengenai suhu di wilayah lokasi kegiatan disajikan pada Tabel 2.6. Tabel 2.6. Suhu di wilayah lokasi kegiatan
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Min Max Rata-rata 2002 25.4 24.8 25.4 25.7 26.2 25.3 25.1 25.7 25.7 25.7 25.7 25.8 25.2 26.4 25.8 2003 25.3 24.9 25.8 26.0 26.3 25.8 25.7 25.5 25.2 26.2 26.2 26.0 24.9 26.3 25.7 2004 26.0 25.3 25.7 26.4 26.2 25.7 25.6 26.0 25.8 25.8 26.1 25.4 25.3 26.4 25.8 2005 25.6 25.3 25.8 26.3 26.1 25.4 25.5 25.7 25.8 26.3 26.1 25.8 25.3 26.3 25.8 Suhu (C) 2006 2007 25.2 25.2 25.4 25.5 26.0 25.8 26.2 25.8 26.4 26.0 25.9 25.7 25.6 26.1 25.7 25.2 26.1 25.9 26.0 26.7 25.8 26.4 25.5 26.1 24.8 25.2 26.2 26.7 25.5 25.9 2008 26.1 25.0 25.6 25.9 26.2 26.1 25.9 25.7 26.1 26.2 25.9 25.3 25.0 26.2 25.8 2009 25.7 24.4 25.1 25.6 25.8 25.6 25.2 25.6 25.9 25.8 25.8 25.5 25.0 26.6 26.0 2010 25.0 25.1 25.8 26.2 26.1 26.1 25.8 26.3 26.6 26.0 26.3 26.1 24.4 25.9 25.5 2011 25.3 25.9 26.0 27.1 26.7 25.9 25.8 25.8 25.3 25.4 25.9 25.5 24.4 25.9 25.5

Sumber Data: Stasiun Klimatologi Dramaga Bogor Periode data tahun 2002-2011

Arah dan kecepatan angin selama sepuluh tahun terakhir (tahun 20022011), terlihat bahwa angin bertiup dengan arah dominan dari Timur ke Barat dan Barat Laut dengan sudut resultan 277. Kecepatan angin berkisar antara 15 knots dengan rata-rata kecepatan angin 1,9 knots. Rincian kecepatan angin di lokasi studi disajikan pada Tabel 2.7, sedangkan gambar bunga angin (windrose) disajikan pada Gambar 2.10. Tabel 2.7. Kecepatan angin di wilayah lokasi kegiatan
No. 1 2 3 4 5 Bulan Januari Februari Maret April Mei Kecepatan Angin (knots) 2002 1.7 2.7 2.1 1.9 2.1 2003 2.2 1.7 1.5 1.8 5.0 2004 1.3 1.5 2.0 1.3 1.4 2005 2.0 1.4 1.9 1.3 1.5 2006 3.6 1.4 3.6 3.6 3.6 2007 2.0 1.4 1.9 1.3 1.5 2008 1.7 1.9 1.6 1.6 1.6 2009 1.2 1.5 1.6 1.3 1.2 2010 1.6 1.5 1.6 2.4 2.1 2011 td 2 2 1 1

No. 6 7 8 9 10 11 12

Bulan

Kecepatan Angin (knots) 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1.3 1.4 1.3 1.5 1.5 1.5 1.4 1.2 1.6 1.4 2010 2.1 2.2 1.6 1.6 1.4 1.2 1.7 1.2 2.4 1.8 2011 1 td 2 1 td td td 1.0 2.0 1.4 1.4 1.6 1.8 1.7 1.8 1.7 2.2 1.8 1.9 1.7 1.5 1.5 1.4 1.4 1.3 1.4 2.2 1.9 1.7 1.7 tahun 2002-2011

Juni 2.0 2.0 1.7 1.4 3.1 Juli 1.9 2.4 1.8 1.8 3.6 Agustus 2.4 2.1 2.0 1.8 3.6 September 2.2 1.7 2.1 2.2 3.6 Oktober 2.5 1.6 1.7 1.9 3.6 November 2.0 1.4 1.6 1.5 2.0 Desember 1.6 1.4 1.6 1.4 2.0 Min 1.6 1.4 1.3 1.3 1.4 Max 2.7 5.0 2.1 2.2 3.6 Rata-rata 2.1 2.1 1.7 1.7 3.1 Sumber Data: Stasiun Klimatologi Dramaga Bogor Periode data

Gambar 2.10. Windrose angin di wilayah lokasi kegiatan

1. Hidrologi Air permukaan yang akan menjadi sumber air bersih dan juga berfungsi sebagai badan air penerima dari kegiatan ini adalah Sungai Ciridin dengan debit air sebesar 10 liter/detik, dan Sungai Cimenteng dengan debit air sebesar 15 liter/detik. Untuk pendugaan terhadap limpasan permukaan di daerah studi dilakukan dengan persamaan rasional yaitu . Besarnya limpasan permukaan ini dipengaruhi oleh jenis tutupan lahan, curah hujan, dan luasan daerah studi. Rona awal daerah studi didominasi oleh kebun campuran dengan luasan sebesar 100%

dari total lahan (100 ha). Dari peta topografi diketahui bahwa beda ketinggian antar lokasi tertinggi dengan lokasi terendah adalah 138 meter, dengan panjang lereng 3.225 meter, sehingga kemiringan rata-rata di areal studi adalah 4,3% dengan nilai C sebesar 0,25 untuk tutupan kebun campuran. Intensitas hujan maksimum (I) dihitung dengan menggunakan metode Mononobe dengan perhitungan waktu konsentrasi (tc) menggunakan metode Kirpich, dan diolah dari data 10 curah hujan tahun. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai tertinggi sebesar 10,7 mm/jam pada bulan Agustus. Dengan menggunakan persamaan rasional, didapatkan besarnya limpasan permukaan (Q) tertinggi adalah sebesar 0,74 m3/detik. Uraian perhitungan disajikan pada Tabel 2.16. Jika lama hujan dianggap 60 menit, maka secara keseluruhan perkiraan volume limpasan permukaan tahunan di lokasi studi adalah sebesar 503.486 m3. Tabel 2.8. Perhitungan limpasan permukaan di lokasi studi
Bulan Curah hujan (mm) 20.2 20.6 16.7 17.5 20.1 14.0 15.7 20.7 17.0 18.4 18.3 17.7 konsultan Waktu konsentrasi (tc) Kirpich (jam) 0.55 0.55 0.55 0.55 0.55 0.55 0.55 0.55 0.55 0.55 0.55 0.55 Intensitas Hujan (I) Mononobe (mm/jam) 10.5 10.6 8.6 9.0 10.4 7.2 8.1 10.7 8.8 9.5 9.5 9.1 Ai x Ci (km2) 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 Q (m3/det) 0.73 0.74 0.60 0.63 0.72 0.50 0.56 0.74 0.61 0.66 0.66 0.64

Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Sumber: perhitungan

3.1.1.2. Hidrologi (a) Kondisi debit aliran air Lokasi PT. Indo Kordsa Tbk terletak pada catchment area Sungai Citeureup, Dengan ketinggian antara 125 130 m dpl aliran air menuju sungai disalurkan melalui saluran drainase. Penataan saluran drainase mengikuti jalur jaringan jalan dan berfungsi untuk membantu mengalirkan run off disekeliling lokasi kegiatan. Terdapat

saluran drainase tersier dengan lebar 50 cm serta dalam 50-100 cm, sekunder dengan lebar 1 meter dan dalam 1,5 meter yang semuanya bermuara pada saluran drainase utama dengan dimensi lebar 2 meter dan kedalaman 1,5 meter. Saluran drainase utama ini kemudian diarahkan menuju saluran drainase kota yang terletak di pinggir jalan Branta Mulia, dan mengarah langsung ke Sungai Citeureup sebagai badan air penerima limpasan air hujan. Pola drainase air hujan disajikan pada Gambar 3.4.

Gambar 3.4. Pola drainase air hujan di lokasi kegiatan

Kondisi penutupan lahan eksisting di lokasi kegiatan antara lain : 1. 35% 2. Ruang Terbuka Hijau seluas 65% Kondisi penutupan lahan ini akan berpengaruh pada aliran run off. Dengan curah hujan harian rata-rata 12,99 mm/hari hujan, maka curah hujan yang diresapkan kedalam tanah di lokasi kegiatan dengan kondisi penutupan lahan yang ada adalah sekitar 53%, sedangkan 47% curah hujan akan melimpas menuju sungai. Lahan tertutup berupa bangunan dan perkerasan jalan sebesar

Gambar 3.5. Kondisi saluran drainase dilokasi studi.

Sungai yang mengalir di dekat lokasi kegiatan adalah Sungai Citeureup. Sungai ini merupakan sumber air baku dan badan air penerima buangan WWTP dari kegiatan PT Indo Kordsa Tbk. Dari hasil pengukuran sesaat pada bulan Maret 2012, debit air sungai yang dapat dihitung adalah sebesar 5 m3/detik. Gambaran tentang sungai di lokasi kegiatan disajikan pada Gambar 3.6.

Gambar 3.6. Kondisi Sungai Citeureup di dekat lokasi kegiatan (b) Limpasan air permukaan Untuk pendugaan terhadap limpasan air permukaan di daerah studi dilakukan dengan persamaan rasional yaitu Q = 0.0028 C . I . A . Besarnya limpasan permukaan ini dipengaruhi oleh jenis tutupan lahan, curah hujan, dan luasan daerah studi. Dari peta topografi diketahui bahwa beda ketinggian antar lokasi tertinggi dengan lokasi terendah adalah 5 meter, dengan panjang lereng 690 meter, sehingga kemiringan rata-rata di areal studi adalah 0,73% dengan nilai C kumulatif sebesar 0,45 untuk tutupan lahan eksisting. Intensitas hujan maksimum (I) dihitung dengan menggunakan metode Mononobe dengan perhitungan waktu konsentrasi (tc) menggunakan metode Kirpich, dan diolah dari data curah hujan dari tahun 2007 -

2011. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai limpasan hujan tertinggi yaitu 0,65 m3/detik yang terjadi pada bulan Februari, dengan nilai limpasan rata-rata adalah 0,35 m3/detik. Uraian perhitungan disajikan pada Tabel 3.5. Berdasarkan tabel tersebut, jika lama hujan harian efektif dianggap 60 menit, maka secara keseluruhan perkiraan volume limpasan air permukaan di lokasi studi adalah sebesar 27.467,4 m3/tahun. Tabel 3.5. Perhitungan limpasan permukaan di lokasi studi Curah Bulan hujan harian (mm) Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata
Sumber: Perhitungan konsultan, 2012

Waktu konsentrasi (jam) 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33

Intensitas Hujan (mm/jam) 11.6 21.4 11.5 14.1 10.3 10.1 7.8 9.2 7.0 9.8 11.4 12.5 10.90 10.90 10.90 10.90 10.90 10.90 10.90 10.90 10.90 10.90 10.90 10.90 Ai x Ci

Q (m3/det) 0.35 0.65 0.35 0.43 0.31 0.31 0.24 0.28 0.21 0.30 0.35 0.38 0.35

16.0 29.6 15.9 19.5 14.2 14.0 10.7 12.7 9.7 13.6 15.7 17.3