Anda di halaman 1dari 6

Analisa Tindakan

Intra Cuttan Injection

Disusun untuk memenuhi tugas praktik klinik Keperawatan Medikal Bedah RS. Dr. Moewardi

Disusun oleh: ANISA SUCI MURDANINGRUM G2B009004

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO 2012

Inisial Pasien

: Ny. S

Diagnosa Medis: Diabetes Melitus dengan Ulkus No. Register : 01105747

1. Diagnosa Keperawatan dan Dasar Pemikiran Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Resiko Keracunan. Resiko keracunan merupakan peningkatan resiko pemajanan, atau ingesti obat atau produk yang berbahaya secara tidak sengaja dalam dosis yang cukup untuk menyebabkan keracunan. Factor resiko yang dapat menyebabkan resiko keracunan dibagi menjadi eksternal dan internal. Eksternal: Ketersediaan obat terlarang yang berpotensi terkontaminasi oleh aditif beracun. Produk berbahaya yang disimpan dalam area yang dapat dijangkau anakanak. Produk berbahaya yang disimpan dalam area yang dapat dijangkau oleh individu yang mengalami konfusi. Persediaan obat dalam jumlah besar di rumah. Obat yang disimpan di dalam laci yang tidak dikunci yang dapat diakses anak-anak. Obat yang disimpan di dalam laci yang tidak dikunci yang dapat diakses individu yang mengalami konfusi. Internal: Kesulitan kognitif Kesulitan emosional Kurang pendidikan kesehatan mengenai obatkurang kewaspadaan yang tepat Kurang pendidikan kesehatan tentang keamanan Penurunan penglihatan

Mengatakan bahwa tatanan pekerjaannya tidak memiliki panduan keamanan yang adekuat.

2. Tindakan Keperawatan yang Dilakukan Injeksi Intra Cuttan 3. Prinsip-Prinsip Tindakan Pengertian Memberikan obat melalui suntikan ke dalam jaringan kulit,yang di lakukan pada lengan bawah bagian dalam atau di tempat lain yang di anggap perlu. Tujuan 1. Melaksanakan uji coba obat tertentu,yang di lakukan dengan cara memasukan obat ke dalam jaringan kulit yang di lakukan untuk tes alergi dan skin test terhadap obat yang akan di berikan. 2. Memberikan obat tertentu yang pembariannya hanya dapat di lakukan dengan cara di suntik intrakutan,pada umumnya di berikan pada pasien yang akan di berikan obat antibiotic. 3. Membantu menentukan diagnose penyakit tertentu. Persiapan Alat dan Bahan 1. Catatan pemberian obat 2. Obat dalam tempatnya 3. Spuit 1 cc/spuit insulin 4. Kapas alcohol dalam tempatnya 5. Cairan pelarut 6. Bak injeksi 7. Bengkok 8. Perlak dan alasnya Prosedur kerja Persiapan alat dan klien sama dengan persiapan pada pemberian obat,tetapi di sesuaikan dengan kebutuhan pasien. 1. Jelaskan prosedur tindakan kepada klien. 2. Cuci tangan.

3. Alat-alat di dekatkan di samping klien. 4. Tentukan area yang akan di barikan obat. 5. Bebaskan area yang akan di lakukan penyuntikan/injeksi. 6. Pasang perlak atau pengalas di bawah area yang akan di lakukan injeksi intrakutan. 7. Ambil obat yang akan di lakukan tes alergi.larutkan atau encerkan dengan cairan pelarut ( aquades ), ambil 0,55 cc lalu encerkan lagi sampai 1 cc. Siapakan pada bak steril (bak injeksi). 8. Disiinfeksi area yang akan di lakukan penyuntikan dengan kapas alcohol. 9. Regangkan daerah penyuntikan di kulit dengan tangan kiri. 10. Lakukan penyuntikan lubang jarum menghadap di atas membentuk sudut 15-20 derajat terhadap permukaan kulit. 11. Masukan obat sampai terjadi gelembung. 12. Tarik spuit, jangan lakukan mesase pada area suntikan/injeksi. 13. Catat reaksi pemberian obat. 14. Cuci tangan setelah prosedur di lakukan. 15. Dokumentasikan prosedur pemberian obat atau tes alergi. 4. Analisa Tindakan Keperawatan Manusia itu unik. Begitu juga dengan kekebalan tubuh dan responnya terhadap lingkungan maupun apa pun yang dimasukkan ke dalam tubuhnya termasuk obat (seringnya antibiotic). Ada orang yang baik-baik saja terhadap semua jenis obat namun ada juga yang alergi terhadap beberapa jenis obat tertentu. Dalam pengobatan, sebelum pasien menerima pengobatan tertentu seharusnya dilakukan skin test atau tes reaksi tubuh terhadap obat yang diberikan. Apakah orang tersebut alergi atau tidak. Skin test atau IC dilakukan dengan memasukkan sedikit obat ke dalam jaringan intracuttan atau di bawah kulit. Setelah injeksi maka perawat perlu menunggu beberapa saat (min 15 menit) untuk melihat reaksi dari obat tersebut. Jika muncul tanda-tanda alergi maka pengobatan dihentikan. Tapi jika pasien tidak alergi maka pengobatan dapat dilakukan.

5. Resiko yang Dapat Terjadi Tindakan ini bukan tindakan yang dapat memberikan efek samping yang berbahaya. Tindakan ini hanya merupakan tes terhadap reaksi alergi obat yang mungkin muncul pada seseorang terhadap obat tertentu. Karena tindakan ini termasuk tindakan invasive yang merusak jaringan maka salah satu resiko yang dapat terjadi adalah resiko infeksi karena luka yang ditimbulkan. 6. Hasil yang Didapat dan Maknanya Hasil tindakan ini didapatkan bahwa pasien tidak memiliki alergi terhadap obat yang dimasukan. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya tandatanda alergi seperti kemerahan, bintik-bintik, dll yang muncul pada area injeksi setelah 15 menit pasca injeksi. Jika tidak terdapat alergi maka penggunaan obat dapat dilakukan. Namun bila terdapat alergi maka obat tidak boleh digunakan. 7. Tindakan Keperawatan Lain yang Dapat Dilakukan untuk Mengatasi Diagnosa Keperawatan di atas (Mandiri dan Kolaboratif) Karena tindakan ini merupakan tindakan yang berupa pengetesan dan bukan untuk menyelesaikan masalah maka tidak ada tindakan lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang ada. 8. Kepustakaan Brenda, Goerdner C.S. Dan Linda Skidmore-Roth. Panduan Tindakan Keperawatan Kritis Praktis. Seri Pedoman Praktis. Jakarta EGC. Herdman, T. heather. 2009. NANDA International Diagnosis Keperawatan 2009-2011. Jakarta: EGC. 9. Evaluasi Diri Kesalahan yang sering dilakukan adalah kelupaan untuk menginjeksikan obat setelah 15 menit pasca pengecekan. Biasanya setelah dilakukan IC maka pasien ditinggalkan selama 15 menit untuk melihat reaksi alergi pada obat tersebut tapi kesalahan yang dilakukan adalah setelah meninggalkan pasien, saya kelupaan untuk kembali mengecek reaksi alergi sehingga waktu untuk pemberian injeksi molor. Hal lain yang membuat saya ragu adalah apakah injeksi yang saya lakukan benar-benar IC ataukah SC. Berdasarkan caranya

saya yakin bahwa tindakan ini IC namun secara teori lokasi masuknya cairan saya kurang yakin apakah benar di intra cuttan atau sub cuttan.