P. 1
MAKALAH HUKUM PERDATA

MAKALAH HUKUM PERDATA

5.0

|Views: 3,266|Likes:
Dipublikasikan oleh T SULFANUR
Berdasarkan hukum perdata di Indonesia, jual beli diatur dalam buku III KUH-Perdata tentang perikatan. Jual beli menurut pasal 1457 KUHPerdata adalah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang dijanjikan. Perjanjian menurut pasal 1313 KUHPerdata adalah perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Barang yang menjadi objek perjanjian jual beli harus cukup tertentu, setidak-tidaknya dapat ditentukan wujud dan jumlahnya pada saat ia akan diserahkan hak miliknya kepada sipembeli .
Berdasarkan hukum perdata di Indonesia, jual beli diatur dalam buku III KUH-Perdata tentang perikatan. Jual beli menurut pasal 1457 KUHPerdata adalah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang dijanjikan. Perjanjian menurut pasal 1313 KUHPerdata adalah perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Barang yang menjadi objek perjanjian jual beli harus cukup tertentu, setidak-tidaknya dapat ditentukan wujud dan jumlahnya pada saat ia akan diserahkan hak miliknya kepada sipembeli .

More info:

Published by: T SULFANUR on May 03, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

11/04/2015

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Salah satu perbuatan hukum yang hampir setiap hari dilakukan oleh manusia adalah jual beli. Jual beli merupakan kegiatan yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada zaman sebelum tercipta alat tukar berupa uang, manusia berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara tukar-menukar barang dengan orang lain. Cara ini kemudian lebih dikenal dengan nama barter. Sejalan dengan perkembangan manusia, cara dan sarana yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup senantiasa berubah. Pemenuhan kebutuhan hidup tidak lagi dilakukan dengan tukar-menukar barang, tetapi dengan cara menjual atau membeli barang yang dibutuhkan dari orang lain dengan menggunakan uang. Kehidupan manusia yang tidak bisa lepas dari hubungan kausal dengan manusia lain di dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, tentu tidak selamanya hubungan tersebut berjalan dengan baik, salah satu pihak kadangkala berbuat curang, disinilah peranan hukum yang mengatur dan disepakati sebagai tata norma dan tata kehidupan manusia memegang peranan untuk memberikan jalan tengah yang diharapkan adil, tidak berat sebelah dan konsisten. Dalam mengadakan hubungan hukum tiap-tiap pihak mempunyai hak untuk menuntut sesuatu dari pihak lain dan pihak yang lain itu wajib memenuhi tuntutan itu dan sebaliknya. Setiap melakukan hubungan hukum dalam kehidupan modern dewasa ini para pihak biasanya diaktualisasikan dalam bentuk perjanjian tertulis atau dibuat dalam bentuk akta, di samping memudahkan pembuktian apabila dikemudian hari ada pihak yang melakukan wanprestasi. Suatu jenis perjanjian jual-beli barang dibuat untuk menjamin kepastian hukum bagi para pihak. Perjanjian tersebut akan meliputi subyek dan obyek perjanjian, hak dan kewajiban para pihak dalam perjanjian dan upaya hukum yang tersedia bagi para pihak apabila terjadi sengketa dalam pelaksanaan perjanjian tersebut.

1

Berdasarkan uraian singkat diatas, penulis mencoba memaparkan peranan Hukum Perdata terhadap hal-hal yang mungkin timbul dalam transaksi jual beli, dengan judul makalah: “PERAN HUKUM PERDATA DALAM MENGATUR TRANSAKSI JUAL BELI DALAM MASYARAKAT”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dan untuk lebih memfokuskan diri dalam pokok pembahasan, maka diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut : 1. 2. Apa pengertian serta hukum jual beli dalam hukum perdata? Bagaimanakah peranan Hukum Perdata dalam transaksi jual beli?

C. Tujuan Pembahasan Adapun maksud dan tujuan penulisan ini adalah : 1. 2. Untuk mengetahui pengertian serta hukum jual beli menurut Hukum Perdata. Untuk mengetahui dan memahami lebih jauh peranan Hukum Perdata dalam transaksi jual beli.

BAB II PERAN HUKUM PERDATA DALAM MENGATUR TRANSAKSI JUAL BELI DALAM MASYARAKAT

2

A. Pengertian dan Sistematika Hukum Perdata Yang dimaksud dengan Hukum Perdata adalah hukum antara perorangan, hukum yang mengatur hak dan kewajiban dari perseorangan yang satu terhadap yang lainnya didalam pergaulan masyarakat dan didalam hubungan keluarga (Scholten). Pengertian Hukum Perdata dalam arti yang luas meliputi semua Hukum Privat materiil dan dapat juga dikatakan sebagai lawan dai Hukum Pidana. Untuk Hukum Privat mateiil ini ada juga yang menggunakan dengan pengertian Hukum Sipil, tapi oleh karena pengertian sipil juga digunakan sebagai lawan dari militer maka yang lebih umum digunakan nama Hukum Perdata saja, untuk segenap peraturan Hukum Privat materiil (Hukum Perdata Materiil). Dan pengertian dari Hukum Privat (Hukum Perdata Materiil) ialah hukum yang memuat segala peraturan yang mengatur hubungan antar perseorangan di dalam masyarakat dan kepentingan dari masing-masing oang yang bersangkutan. Dalam arti bahwa di dalamnya terkandung hak dan kewajiban seseorang dengan sesuatu pihak secara timbal balik dalam hubungannya terhadap orang lain di dalam suatu masyarakat tertentu. Disamping Hukum Pivat Mateiil, juga dikenal Hukum Perdata Formil yang lebih dikenal sekarang yaitu dengan HAP (Hukum Acara Perdata) atau proses perdata yang artinya hukum yang memuat segala peraturan yang mengatur bagaimana caranya melaksanakan praktek di lingkungan pengadilan perdata. Di dalam pengertian sempit kadang-kadang Hukum Perdata ini digunakan sebagai lawan Hukum Dagang. Hukum perdata menurut ilmu pengetahuan lazimnya dibagi dalam 4 bagian yaitu: 1. 2. 3. 4. Hukum perorangan/badan pribadi (personenrecht); Hukum keluarga (familierecht); Hukum harta kekayaan (vermogenrecht); Hukum waris (erfrecht). Sistematik hukum perdata menurut undang-undang yaitu susunan hukum perdata sebagaimana termuat dalam BW yang terdiri dari 4 buku: Buku I Buku II : tentang orang (van personen); : tentang benda (van zaken);

3

-

Buku III Buku IV

: tentang perikatan (van verbintenissen); : tentang pembuktian dan daluwarsa (van bewijs en verjaring).

B. Tinjauan Umum Jual Beli 1. Pengertian Jual Beli Jual beli menurut pasal 1457 KUHPerdata adalah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang dijanjikan. Perjanjian menurut pasal 1313 KUHPer adalah perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Barang yang menjadi objek perjanjian jual beli harus cukup tertentu, setidak-tidaknya dapat ditentukan wujud dan jumlahnya pada saat ia akan diserahkan hak miliknya kepada si pembeli1. Jual beli menurut Prof. R. Subekti adalah jual beli sebagai perjanjian timbal balik dimana pihak yang satu (penjual) berjanji untuk menyerahkan hak milik atas suatu barang sedangkan pihak lainnya (pembeli) berjanji untuk membayar harga yang terdiri dari atas sejumlah uang sebagai imbalan dari perolehan hak tersebut. Unsurunsur pokok (esensialia) jual beli berdasarkan pasal 1458 KUHPerdata adalah setelah orang-orang tersebut sepakat tentang benda dan harganya, meskipun kebendaan tersebut belum diserahkan, maupun harganya belum dibayar. Berdasarkan asas konsendualisme tersebut, ditegaskan bahwa perjanjian lahir dan mengikat cukup dengan kata sepakat saja dan sudah dilahirkan pada saat detik tercapainya konsensus sebagaimana dimaksudkan dalam pasal tersebut, sehingga bukan pada detik sebelumnya maupun sesudahnya.

2.

Kewajiban Para Pihak  Penjual Kewajiban utama pihak penjual adalah :

a.

Menyerahkan hak milik atas barang yang diperjual belikan
1

Subekti R, Aneka perjanjian, cet. Kesepuluh (Jakarta:Penerbit PT.Citra Aditya Bakti,

1995) hal 2.

4

Kewajiban ini meliputi segala perbuatan yang menurut hukum diperlukan untuk mengalihkan hak milik atas barang yang diperjual belikan itu dari si penjual kepada si pembeli. Tiga macam penyerahan hak milik, adalah : - Barang bergerak Berdasarkan pasal 612 KUHPerdata, untuk barang bergerak penyerahan cukup dengan penyerahan kekuasaan atas barang itu. Dari ketentuan ini, dapat dimungkinkan menyerahkan kunci saja (simbolik) kalau yang dijual adalah barang-barang yang disimpan dalam gudang, dan apabila barangnya sudah berada dalam kekuasaan si pembeli, penyerahan cukupdilakukan dengan suatu pernyataan saja - Barang tetap (tidak bergerak) Berdasarkan pasal 616 KUHPerdata, penyerahan atau penunjukkan akan kebendaan tak bergerak dilakukan dengan pengumuman akan akta yang bersangkutan dengan cara seperti ditentukan dalam pasal 620. Kemudian pasal 620 KUHPerdata menyatakan bahwa dengan memindahkan ketentuanketentuan termuat dalam tiga pasal yang lalu, pengumuman termaksud diatas dilakukan dengan memudahkan sebuah salinan otentik yang lengkap dari akta otentik atau keputusan yang bersangkutan ke kantor penyimpanan hipotik, yang mana dalam lingkungannya barang-barang tak bergerak yang harus diserahkan berada, dan dengan membukukannya dalam register. - Barang tak bertubuh (cessie) Berdasarkan pasal 613 KUHPer, yaitu penyerahan akan piutang-piutang atas nama dan kebendaan tak bertubuh lainnya dilakukan dengan membuat sebuah akta otentik atau dibawah tangan, dengan mana hak-hak atas kebendaan itu dilimpahkan kepada orang lain. b. Menanggung kenikmatan tenteram atas barang tersebut dan menanggung terhadap cacat-cacat yang tersembunyi. Merupakan konsekuensi dari jaminan yang oleh penjual diberikan kepada pembeli bahwa barang yang dijual dan deliver itu adalah sungguh-sungguh miliknya sendiri yang bebas dari suatu beban atau tuntutan dari suatu pihak.

5

• Gangguan yg ditunjukan kepada penguasaan secara tenang dan tentram yaitu dari pihak III atau ekstern (pasal 1429 s.d 1503 KUHPerdata ) - Gangguan karena adanya putusan pengadilan yg berisi hukuman untuk menyerahkan barang baik seluruhnya maupun sebagian. - Gangguan yang timbul karena adanya beban-beban berupa hak-hak pihak ke-3 atas barang. • Gangguan yang ditimbulkan karena adanya cacat tersembunyi. (pasal.1504 KUHPerdata) yang dipertanggungjawabkan kepada si penjual. Penjual diwajibkan menanggung cacat-cacat tersembunyi (meskipun ia sendiri tidakk tahu adanya cacad-cacad itu, kecuali diperjanjikan lain) pada barang yang dijualnya yang membuat barang tersebut tidak bisa dipakai untuk keperluan yang dimaksudkan atau yang mengurangi pemakaian itu, sehingga, seandainya pembeli mengetahui cacat tersebut, ia sama sekali tidak akan membeli atau akan membeli dengan harga kurang. Penjual tidak diwajibkan menanggung terhadap cacad-cacad yang kelihatan. Penjual dan pembeli diperbolehkan dengan janji-janji khusus memperluas/mengurangi kewajiban-kewajiban yang ditetapkan oleh undang-undang seperti yang disebutkan diatas, bahkan mereka diperbolehkan mengadakan perjanjian bahwa si penjual tidak akan diwajibkan menanggung suatu apapun. Namun ini ada pembatasannya, yaitu sebgaai berikut2: 1. Meskipun telah diperjanjikan bahwa si penjual tidak akan menanggung sesuatu apapun, namun ia tetap bertanggung jawab tentang apa yang berupa akibat dari suatu perbuatan yang telah dilakukan olehnya; semua persetujuan yang bertentangan dengan ini adalah batal (pasal 1494 KUHPer) 2. Si penjual, dalam hal adanya janji yang sama, jika terjadi suatu penghukuman terhadap si pembeli untuk menyerahkan barangnya kepada orang lain, diwajibkan mengembalikan harga pembelian, kecuali apabila si pembeli ini pada waktu pengembalian dilakukan, mengetahui tentang adanya putusan hakim untuk menyerahkan barang yang dibelinya itu atau jika ia telah membeli barang itu
Subekti R, Aneka perjanjian, cet. Kesepuluh (Jakarta:Penerbit PT.Citra Aditya Bakti, 1995) hal 18
2

6

dengan persyaratan tegas akan memikul sendiri untung ruginya (Pasal 1495 KUHPerdata)  Pembeli Kewajiban utama pembeli adalah membayar harga pembelian pada waktu dan ditempat yang telah ditetapkan dalam perjanjian dimana harga tersebut harus berupa sejumlah uang.  Beralihnya Hak Milik Pasal 1459 KUHPer menyebutkan bahwa hak milik atas barang yang dijual tidaklah berpindah kepada si pembeli, selama penyerahannya belum dilakukan menurut pasal 612, 613, dan 616 KUHPer (telah dijelaskan diatas)  Beralihnya Resiko Kewajiban memikul kerugian yang disebabkan karena suatu kejadian di luar kesalahan salah satu pihak yang menimpa barang yang menjadi obyek perjanjian. Dimana pengaturannya sebagai berikut : - Pasal 1460 KUH Perdata mengenai barang tertentu, bahwa barang itu sejak saat pembelian adalah tanggungan si pembeli, meskipun penyerahannya belum dilakukan dan si penjual berhak menuntut harganya; - Pasal 1461 KUHPerdata mengenai barang yang dijual menurut berat, jumlah, atau ukuran; - Pasal 1462 KUHPerdata mengenai barang-barang yang dijual menurut tumpukan;  Jual Beli dengan Hak Membeli Kembali Pasal 1519 jo Pasal 1532, bahwa kekuasaan utuk membeli kembali barang yang telah dijual diterbitkan dari suatu janji dimana si penjual diberikan hak untuk mengambil kembali barangnya yang telah dijual, dengan mengembalikan harga pembelian yang telah diterimanya, disertakan semua biaya yang telah dikeluarkan (oleh pembeli) untuk menyelenggarakan pembelian serta penyerahannya, begitu pula biaya-biaya yang perlu untuk pembetulan-pembetulan dan pengeluaran-pengeluaran yang menyebabkan

7

barang yang dijual bertambah harganya3. Hak “membeli kembali” tidak boleh lebih dari 5 tahun, (Pasal 1520, 1521 KUHPer)  Hak Reklame - Reklame berarti menuntut kembali (reclaim=inggris) - Apabila jual beli diadakan tanpa suatu janji bahwa harga barang boleh dianggsur atau dicicil dan pembeli tidak membayar harga tersebut maka selama barang tersebut masih berada di tangan pembeli, penjual dapat menuntut kembali barang tersebut, asala penuntutan tersebut dilakukan dalam jangka waktu 30 hari. - Pasal 1145 KUHPerdata (Buku II KUHPerdata) , hak reklame ini mngenai barang bergerak. C. Peranan Hukum Perdata dalam transaksi jual beli Jual beli diatur dalam buku III KUHPerdata, bab ke lima tentang “jual beli”. Dalam pasal 1457 KUHPerdata dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan jual beli adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu (penjual) mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang lain (pembeli) untuk membayar harga yang telah dijanjikan. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikemukankan lebih lanjut bahwa perjanjian jual beli merupakan perjanjian timbal balik sempurna, dimana kewajiban penjual merupakan hak dari pembeli dan sebaliknya kewajiban pembeli merupakan hak dari penjual. Perjanjian jual beli saja tidak lantas menyebabkan beralihnya hak milik atas barang dari tangan penjual ke tangan pembeli sebelum dilakukan penyerahan (levering). Pada hakekatnya perjanjian jual beli itu dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap kesepakatan kedua belah pihak mengenai barang dan harga yang ditandai dengan kata sepakat (Jual beli) dan yang kedua, tahap penyerahan (levering) benda yang menjadi obyek perjanjian, dengan tujuan untuk mengalihkan hak milik dari benda tersebut.

Subekti R, Aneka perjanjian, cet. Kesepuluh (Jakarta:Penerbit PT.Citra Aditya Bakti, 1995) hal 28

3

8

Kesepakatan para pihak dalam perjanjian jual beli sebagaimana diatur dalam pasal 1320 KUHPerdata melahirkan dua macam perjanjian, yaitu perjanjian obligatoir (perjanjian yang menimbulkan perikatan) dan perjanjian kebendaan (perjanjian untuk mengadakan, mengubah dan menghapuskan hak-hak kebendaan). Akibat pembedaan perjanjian tersebut, maka dalam perjanjian jual beli harus disertai dengan perjanjian penyerahan (levering), yaitu sebenarnya merupakan perjanjian untuk melaksanakan perjanjian jual beli. Pasal 1253 KUHPerdata menyatakan bahwa suatu perikatan adalah bersyarat, apabila digantungkan pada suatu peristiwa yang masih akan datang dan yang belum tentu akan terjadi, baik secara menangguhkan perikatan sehingga terjadinya peristiwa tersebut (syarat tangguh, Pasal 1263-1264 dan 1463 KUHPerdata) maupun secara membatalkan perikatan menurut terjadinya atau tidaknya peristiwa itu (syarat batal, Pasal 1265-1266 KUHPerdata). Menurut hartono berdasarkan ketentuan pasal 1253 KUHPerdata tersebut, maka dapat diketahui bahwa ukuran dari pelaksanaan perikatan adalah adanya syarat terjadinya atau tidak terjadinya suatu peristiwa yang belum tentu akan terjadi. Apabila peristiwa itu merupakan peristiwa yang pasti akan terjadi, maka perikatan tersebut merupakan perikatan bersyarat dengan ketepatan waktu (syarat Positif, Pasal 1258 KUHPerdata).

BAB III

9

PENUTUP

A. Kesimpulan Dari apa yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa : 1. Berdasarkan hukum perdata di Indonesia, jual beli diatur dalam buku III KUH-Perdata tentang perikatan. Jual beli menurut pasal 1457 KUHPerdata adalah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang dijanjikan. Perjanjian menurut pasal 1313 KUHPerdata adalah perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Barang yang menjadi objek perjanjian jual beli harus cukup tertentu, setidak-tidaknya dapat ditentukan wujud dan jumlahnya pada saat ia akan diserahkan hak miliknya kepada sipembeli; 2. Kesepakatan para pihak dalam perjanjian jual beli sebagaimana diatur dalam pasal 1320 KUHPerdata melahirkan dua macam perjanjian, yaitu perjanjian obligatoir (perjanjian yang menimbulkan perikatan) dan perjanjian kebendaan (perjanjian untuk mengadakan, mengubah dan menghapuskan hak-hak kebendaan). Akibat pembedaan perjanjian tersebut, maka dalam perjanjian jual beli harus disertai dengan perjanjian penyerahan (levering), yaitu sebenarnya merupakan perjanjian untuk melaksanakan perjanjian jual beli.

B. Saran Sehubungan dengan kesimpulan yang diperoleh, maka saran yang ingin disampaikan adalah : 1. Diharapkan adanya kesadaran dari masyarakat, untuk melakukan transaksi jual beli yang sesuai dengan KUHPerdata, karena para pihak sepatutnya memperhatikan bentuk dan isi perjanjian secara detail termasuk ketentuan yang mengatur tentang sengketa diantara mereka;

10

2.

Penyuluhan-penyuluhan secara intensif dari Intansi terkait kepada masyarakat akan cara-cara melakukan transaksi jual beli yang benar dan sesuai dengan KUHPerdata untuk menjamin kepentingan hukum mereka dan untuk mengantisipasi dan mengeliminasi kerugian yang akan timbul jika terjadi pelanggaran perjanjian;

11

DAFTAR PUSTAKA

C. S. T. Kansil, 1991, Hukum Perdata I (Termasuk Asas – Asas Hukum Perdata), PT. Pradnya Paramita, Jakarta. Handri Raharjo, 2009, Hukum Perjanjian di Indonesia PT. Buku Kita, Jakarta. Hari Saherodji, 1980, Pokok – Pokok Hukum Perdata, Aksara Baru, Jakarta. Subekti & R. Tjitrosudibio, 2003, Kitab Undang – Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek), PT. Pradnya Paramita, Jakarta. Salim H.S, 2003, Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), Sinar Grafika, Jakarta.

12

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->