Anda di halaman 1dari 1345

Tiraikasih Website http://kangzusi.

com/

Karya : Wu Lin Qiao Zi (Tukang Kayu Rimba Persilatan). Ini nama samaran dari Xiong Ren Ji (Hiong Jin Ci). Diterjemahkan oleh : OKT Judul Baru cetak ulang : Lambang Penangkal Maut dan Misteri Lambang Penangkal Maut Di upload di Indozone oleh : Masrizki (trims) Ebook oleh : Dewi KZ http://kangzusi.com/ atau http: http://dewikz.byethost22.com/

BAGIAN I (Lambang Penangkal Maut) Jilid 1.a. Buron yang tidak disengaja

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bulan ketiga dalam musim semi, ialah bulan yang indab. Di luar pinyu Thian-an-moei di kota Yan-khia, daun-daun hijau, bunga-bunga permai. Di luar kota, sungai yang berbeku es baru saja lumer, hingga potongan.potongan es mengikuti air hanyut. Hingga disaat itu, negara bagian Utara itu mirip dengan suasana di Kang Lam, negara bagian Selatan, selama musim semi bulan pertama, Di waktu begitu maka pada suatu maghrib saatnya di Lioe lie ciang orang mulai memasang api penerangan, selagi kereta-kereta kuda berlalu lintas dan orang mundar-mandir, di antaranya seorang muda yang mengenakan baju panjang hijau tersulam dengan pundaknya tarselandang sabuk dan sebelah tangannya menengteng sebuah kurungan dalam mana ada seekor burung kenari kuning. Dia bertindak ke arah gang Kim Hie Hotong. Dialah seorang pemuda tampan tak terlalu kurus, alisnya bagus, matanya tajam, hidungnya bangir. Kalau dia bertemu seorang kenalannya dan bersenyum maka terlihatlah giginya yang putih dan rata. Senyumnya itupun menarik hati. Anak muda itu memasuki pula suata gang lain sampai di depan sebuah rumah besar dan indah. Dia lantas mengetuk kedua kedua gelang pintu yang terbuat dari kuningan, pintu mana terus dibuka oleh seorang bujang tua, Oh. jie-siauw-ya baru pulang! hamba itu menyapa. Dia berdiri tegak dengan tangan dikasi turun lurus,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Ya!" si anak muda menyahuti, bersenyum. Terus dengan langkah cepat dia jalan di pekarangan dalam gedung itu. Dia tidak langsung masuk ke rumah besar hanya ke lorong samping kanan dalam mana ada sebuah taman yang rumput Ian pepohonan bunganya terawat baik, di mana pun ada sebuah pengempang kecil dengan airnya yang benIng jernih, yang sejumlah ikan emasnya lagi berenang memain didalamnya. Di tepian pengempang itu tumbuh pohon anglioe yang cabangnya meroyot turun. Anak muda itu berjalan terus memasuki sebuah pintu model rembulan, sampai di depan sebuah kamar, barulah ia bertindak masuk. Itulah sebuah kamar tulis yang mungil dan indah, ada para-para bukunya, ada gambar lukisannya, ada pula empat helai pigura huruf-huruf tulisannya Ong Gie Cie yang kesohor. Begitu tiba di dalam, anak muda itu meletaki burungnya untuk menghampirkan para, untuk menarik keluar sejilid buku. Cepat-cepat dia membalik-balik lembaran buku itu. perhatiannya sangat tertarik. ,,Pasti ini, pasti gambar ini." dia mengoceh seorang diri. Hanya dia meminta harga limaratus tahil perak, Dari mana aku bisa dapat uang sajumlah itu?" Ia menjadi berdiri menjublak. Dialah seorana anak terlahir di dalam satu keluarga berpangkat akan tetapi apa lacur, ia telah tidak mendapatkan kasih sayang ayah bundanya, apa pula ibu tirinya, ibu tiri itu memandangnya seperti musuh hingga bukan kecintaan hanya dampratan dan tongkat menjadi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bagiannya. Baru dua tahun ini keadaannya lumayan, disebabkan usia dewasanya. Toh dia tetap dipandang mirip orang luar. Sementara itu, selama tiga tahun lebih ini dia telah dapat kesempatan belajar silat, secara diam-diam. Umpama kata kelakuannya itu ketahuan orang tuanya, mungkin dia tambah tak disukai. Tadi dia mampir di sebuah toko buku tua di Lioe lie ciang, di sana dia dapat melihat sebuah lukisan karyanya Ong Mo Kit yang diberi judul "Yoe San Goat Eng" atau "Bayangan Rembulan di Gunung Sunyi." Ia tahu, lukisan itu ada mengandung rahasia. Itulah lukisan yang ia ingin memilikinya sampai ia buat impian selama dua tahun. Ia ingin beli lukisan itu. Inilah yang membuatnya bingung. Pemilik toko buku tua itu meminta harga seribu tahil perak, ketika ia mengotot menawarnya, harga cuma diturunkan sampai lima-ratus tahil, tak kurang lagi. Lukisan itu ada rahasianya, apabila rahasia itu dapat dipecahkan, harganya ada seumpama harganya sebuah kota, dari itu, harga lima ratus tahil perak itu tidak mahal bahkan murah. Hanya sulitnya untuk si anak muda, dari mana ia dapat peroleh uang itu. Kalau ia pergi kepada pemegang kas ayahnya, biasanya ia dapat uang dari delapan sampai sepuluh tahil, tetapi lima ratus tahil, itulah tak mungkin. Ia juga tidak dapat membuka mulutnya! Alasan apa ia mempunyai?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Toh tidak ada jalan lain. Jumlah itu perlu didapatkan. Di akhirnya dengan hati berdebaran, dia pergi juga kepada pemegang kas, pegawai ayahnya yang mengurus keuangan keluarganya. Pemegang kas itu memakai kacamata yang disebut kacamata kura-kura, ketika si anak muda muncul di kamarnya, dia lagi tunduk, tangan kanannya lagi mengetik shoei-phoa, dia lagi menghitung. Dia mendengar tindakan kaki orang, dia lantas mengangkat kepalanya, mulutnya tersungging senyuman. Akan tetapi kapan ia telah melihat si anak muda, lantas wajahnya berubah menjadi dingin. Anak muda itu berdebar hati, kaget berbareng mendongkol. Di hari-hari biasa, apabila ia melihat tampang demikian macam dari si tukang uang, ia tentu sudah memutar tubuh untuk berlalu pula dengan cepat. Kali ini tidaklah demikian, kali ini ia mempunyai urusan sangat penting. Goe Loo-hoecu, ia memanggil terpaksa, Sore ini aku mempunyai keperluan, aku ingin pinjam uang sebanyak lima ratus tahil perak. Aku tanggung akan membayar pulang jumlah itu dalam tempo satu bulan. Tukang uang itu melengak, dia menyingkirkan kacamatanya dan menatap. Dia seperti tak mempercayai telinganya. Tak lama dia mengawasi tajam, lalu ia mengasi dengar suaranya yang keras. Tiong Hoa, katanya. Aku kenal kau sampai begini besar, maka kalau kau bicara. bicaralah dengan sedikit tahu aturan. Selama beberapa tahun aku melihatnya kau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menjadi tidak keruan! Orang bilang di luaran kau bergaul dengan orang-orang penggemar main wanita dan penenggak air kata-kata, hingga kau memakai uang seperti kau menuang air! Kau tahu, ayahmu pernah bicara denganku tentang kau dan ayahmu itu tawar hatinya.,..." Sepasang alisnya si anak muda bangun berdiri. Ia bicara secara sungguh-sungguh tapi ia mendapat jawaban yang diluar garis, jauh sekali terpisahnya dengan pokok soal. Loo-hoecoe," katanya sengit. "Siapa sudi mendengari ocehan ini? Kau bilang, kau suka mengasi pinjam atau tidak? Pemegang kas itu juga membawa adatnya. Lantas saja dia berludah, Tidak! Tidak!" tolaknya keras, "Jangan kata lima tahil, sepeser pun tidak! Jangan harap kau dapat merabanya! Orang tak punya guna seperti kau inihm!.. Hebat kata-kata itu, meluaplah darahnya si anak muda. Tahu-tahu sebelah tangannya sudah menyamber ke dasa si tukang uang, keras suaranya, keras juga akibatnya, tukang uang itu terpental ke pojok tembok! Goei Loo-hoe-coe berkoseran. Tiong Hoa! Lie Tiong Hoa! dia berseru, tangannya menuding, dia mencoba merayap: ''Kau,. .kau ...kau kejam..! Cuma sebegitu pemegang kas ini dapat berkata-kata, terus dia roboh pula, terus napasnya berhenti jalan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Anak muda itu melengak, kagetnya bukan main. Semenjak ia belajar silat. inilah yang Pertama kali ia menggunai tangannya.Sebenarnya ia tidak tahu betapa besar tenaganya dan ia tidak tahu juga yang ilmu silat dapat meminta jiwa orang secara begitu rupa. Ia belajar silat pada seorang guru yang melarat dan berpenyakitan. Guru itu membilangi muridnya ini bahwa dialah bukan seorang Kang ouw yang berkenamaan, bahwa dengan belajar silat padanya, ia jangan harap dapat menjadi seorang pandai, ia cuma diajari dasarnya untuk menjaga diri, tak dapat dipakai menghajar orang. Tapi ia diberitahukan ia mempunyai bakat baik, sayang kalau ia terus belajar padanya, dari itu ia dinasehati merantau. Dunia Kang ouw mempunyai banyak orang lihay, mungkin kau ketemu jodohmu! demikian guru itu. Dengan jodoh itu dimaksudkan ahli silat terpandai. Kemudian, ketika si guru hendak menutup mata, dia memberitahukan muridnya ini halnya suatu gambar rahasia-lukisan Yoe San Goat Eng itu oleh Ong Mo Kit dari jaman ahala Tong. Katanya Iukisan itu menyimpan rahasia besar, dan bahwa ia sudah mencarinya untuk banyak tahun tetapi belum berhasil menemuinya. Maka si murid Dipesan untuk memperhatikan lukisan itu, katanya pula, rahasianya lukisan dapat dipecahkan jikalau orang memahamkan judul dan tulisan yang diberikuti di dalam lukisan tersebut.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pesan itu diperhatikan Lie Tiong Hoa, demikian anak muda ini. Sejak itu ia terus memperhatikan, baik di dalam toko-toko buku, baik di rumah-rumah gadai, mau pun di rumah-rumah orang hartawan dan bangsawan begitu ia mendapatkan ketikanya. Akhir-akhirnya di took buku tua itu ia mendapatkan sehelai lukisan tua jaman Tong, gambarnya sudah berwarna kuning dan guram, tetapi ia masih melihat nyata, selang dua jam memeriksa, ia pastikan itulah lukisan yang ia cari. Maka ia lantas menawarnya. Tukang-tukang loak biasa bermata tajam, juga tukang loak ini, melihat si anak muda sangat bernafsu, dia minta harga tinggi itu, dia menancap paku, hingga Tiong Hoa habis daya, hingga ia mesti pulang dengan hati bingung memikirkan kemana ia mesti mencari uang. Demikian setibanya di rumah, ia memeriksa dulu sebuah kitabnya, habis itu baru pergi kepada Goei Loo-hoecoe. Siapa tahu, ia mendapat hidung panjang sampai darahnya naik dan terjadilah pembunuhan tidak disengaja itu. Syukurlah suara berisik itu tidak didengar para bujang. Ia merasa untuknya tidak ada lain jalan daripada kabur buron. Inilah pengalamannya yang pertama, yang sangat hebat. Ia juga tidak mempunyai sahabat yang nasihatnya dapat diminta. Setelah dapat menahan berdebaran hatinya, ia angkat tubuhnya tukang uang itu untuk diletaki di kolong pembaringan. Tak dapat ia melupakan lukisannya Ong Mo Kit itu. Maka ia menghampirkan laci uang dan menarik kotaknya. Ia menjadi menyesal ketika ia dapat kenyataan uang kas berjumlah tak cukup dua ratus tahil. Tapi ia mesti buron,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ia membutuhkan uang, yalah uang ayahnya. Maka ia samber uang itu, yang ia bungkus dengan sobekan sabuk, tanpa kepergok siapa juga, ia lolos dari pintu taman di belakang rumahnya. Tiba di jalan besar, suasana jauh lebih ramai daripada tadi, tapi ia tak sempat ia menikmati keramaian itu, Dengan terburu-buru ia menuju ke Lioe lie-ciang, diamana keadaan lebih ramai pula. Di situ ada berbaris belasan toko buku tua, ia masuk ke sebuah yang terletak di ujung gang Soan-hoo. Si tukang loak sudah berumur tujuh puluh tahun lebih, ketika itu dia lagi berdiri di depan pintu, matanya mengawasi orang-orang yang berlalu lintas, mengharapharap memperoleh langganan. Dengan tangan kirinya mengurut-urut kumisnya yang mirip jenggot kambing gunung. Dia melihat Tiong Hoa dating bergegas-gegas, ketika dia hendak menegur, tangannya disamber terus dia ditarik ke dalam. Setibanya di dalam, Tiong Hoa meletakkan bungkusannya di atas meja, terus ia buka untuk memperlihatkan uang perakannya yang bergemerlapan. la paksakan diri untuk tertawa ketika ia kata; Inilah jumlah yang aku dapat kumpul dengan susah payah, aku harap kau terima ini dan kau serahkan gambar lukisan Ong Mo Kit itu padaku! Sebagai pedagang kawakan, tukang loak itu heran hingga dia menjadi curiga mungkin uang itu tidak keruan asal-usulnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lie kongcu, maaf, ia berkata, Aku tidak tahu kau begini menghendaki lukisan itu, kalau tahu suka aku menghadiahkannya kepada kau, saying sekali, tadi baru saja ada lain orang yang membelinya Tiong Hoa terperanjat sampai mukanya berubah pucat. Inilah ia tidak sangka sekali. Hatinya mencelos berbareng mendongkol. Ia putus asa barbareng gusar. Lie Kongcu, aku menyesal sekali," kata tukang loak itu, yang kaget melihat wajah orang muda itu. Aku menyesal membuat kau putus asa, lain kali, kalau ada lagi lukisannya Ong Mo Kit, pasti aku akan menyerahkannya kepada kau lebih duluAh, ada tetamu lagi, maaf, aku mau melayani dia. Dan dia terus memutar tubuhnya untuk pergi ke depan. Tunggu dulu!" Tiong Hoa kata, berbareng denganmana ia menyamber tangan kirinya tukang loak itu. Terus ia mengawasi dengan mata bersinar. la tanya. Siapa pembeli itu? Benar-benarkah?" Benar! Kenapa tidak!" sahut si pemilik took buku itu, Belum pernah aku mendusta pada langgananku, apa pula kepada kongcu. Mustahil uang dating aku tampik.. Dia berkata begitu tetapi berjengit, dia kaget. Keras cekalan si anak muda hingga dia merasa sakit. Ngacoh. Kau tentu tak suka menjual sebab uangku kurang." Mukanya tukang loak itu pucat, dia meringis. ,.Benar, kongcu." kata ia pula. Pembeli itu berumur kurang lebih empat puluh tahun,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lagi suaranya mirip orang Tien ciu. Dia membelinya buat seribu tahil perak. Dia mempunyai dua orang pengikut yang menyoren golok. Mendengar panggilannya pengikut itu, dia mestinya seorang po cu. Jikalau aku tidak salah melihat, dialah seorang Kangouw.... Dia mengawasi si anak muda, hatinya kebat kebit. Dia melihat sinar mata anak muda itu yalah sinar bingung, menyesal, putus asa dan gusar bercampur menjadi satu. Tiong Hoa sendiri berpikir: lnilah tak mungkin. Guruku membilangi aku, orang yang mengetahui lukisan rahasia itu cuma tiga orang tua tapi mereka pun masih belum tahu artinya rahasia itu. Hal itu guruku juga mendengarnya dari seorang kenamaan lain. Di sini mesti terjadi hal kebetulan." Anak muda ini menjadi sangat berduka memikir nasibnya. Dari kecil ia tak disukai ayah ibunya, sedang ibunya itu sudah menutup mata lama hingga ia mesti hidup bersama ibu tirinya. Orang tua itu sebaliknya menyayangi anak-anaknya yang lain, pria dan wanita, terutama kakaknya. Karena itu, ia menjadi di biarkan saja, ia cuma diberi makan dan pakaian. la sempit dalam keuangan, tidak leluasa ia menampung gurunya yang malarat itu. Ketika ia diajari silat, ia tidak diajari seperti umumnya orang orang lain. Sembari rebah gurunya memetakan dengan tangan dan kakinya, dengan sebatang sumpit sebagai genggaman. Maka itu, sulit ia belajarnya. Meski begitu karena ia berbakat dan cerdas ia memperoleh banyak, ia melainkan tidak tahu bahwa pelajaran itu adalah pelajaran silat berarti.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mengenai lukisan itu, ia dipesan mesti mencarinya, tak perduli bagaimana sukarnya. Ia pun ditinggali surat wasiat, surat mana tak boleh dibuka sebelum ia dapat lukisan itu. Itulah tugas berat untuknya, yang muda dan tak berpengalaman, yang tak punya uang juga. Tapi ia ingat itu baik-baik dan ingin melakukannya hingga menjadi kenyataan agar pesan gurunya dapat diwujudkan. Pula semenjak ia belajar silat, semangatnya telah terbangun. Sekarang, karena kecewa atas lenyapnya lukisan itu, ia putus asa hingga hatinya menjadi panas. Ia piker tukang loak ini manusia busuk dan serakah. Kenapa lukisan itu dijual pada lain orang? Dengan begitu, tanpa dikehendaki, ia telah menjadi seorang pembunuh. Dapatkah tukang loak ini dibebaskan? pikirnya lebih jauh, Tidak! Pembunuhan atas diri Goei Loo-hoecoe pasti akan tersiar, sedikitnya besok. Tukang loak ini telah melihat uang ini, dia pasti akan menduga aku, dan tentu dia bakal membuka rahasia Tanpa merasa, Tiong Hoa memencet keras tangan tukang loak itu. Aduh. Tolong. Tuan rumah menjerit. Dengan tangan kiri Tiong Hoa mendekap mulut orang. Ia sengit dan takut juga. Tukang loak itu tak berdaya, matanya mengawasi dengan sorot ketakutan. Dia tidak dapat berontak, dia tidak bisa berteriak. Mulutnya terdekap rapat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sang waktu berjalan, Tiong Hoa heran waktu kemudian ia dapat kenyataan pemilik took buku itu diam saja, tubuhnya menjadi lemas, mukanya pucat. Akhirnya ia menjadi kaget sekali. Tahu-tahu orang telah putus napasnya. Ah ia mengeluh, sedang peluhnya lantas membanjiri jidatnya. Ia kuatir bukan main. Lagi satu jiwa melayang di tangannya melayang tidak keruan rasa. Lari! itulah ingatan yang segera berkelebat di batok kepalanya. Dengan sebat ia bungkus pula uangnya, ia memutar tubuhnya. Hatinya sangat tegang, ia bergelisah. "Tuan toko,." tiba-tiba ia mendengar suara memanggil dari luar. la mendengar tindakan kaki orang. Dengan bingung ia bertindak cepat sekali. la bersamplokan dengan seorang di muka pintu. Mendadak ia menotok jalan darah thian kie, orang itu, sampai dia itu mengeluarkan suara tertahan, tubuhnya terus roboh. Ia tidak memperdulikannya, ia lari terus. Di lain saat lenyaplah ia diantara orang banyak di jalan besar. Malam itu malam yang indah. Langit bersih, si Putri Malam permai. Dari gang Soan hoo, took buku tukang loak di Lioe lieciang itu, Tiong Hoa menyingkir terus. Ia baru berhenti setelah tiba di paseban To Jian Teng di Lam-hee-wa. Tadi ia kabur tanpa memilih tujuan. Ia meluruskan napasnya yang memburu, ia menenangi hatinya yang guncang keras. Sembari berpegangan pada loneng, ia melihat syair di paseban

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu, bunyinya : Menyesal aku bukan pelukis, yang dapat melukis gambar di waktu malam, mendengari suara musim rontok Ah, hebat sekali.pikirnya. Aku menerbitkan onar ini cuma disebabkan aku terkena bujukan gambar lukisan. Ini baru permulaannya saja, bagaimana nanti akhirnya? Tiong Hoa kenal baik paseban To Jian Teng. Bersama beberapa sahabatnya pernah ia pelesiran di sini, minum arak dan benyanyi-nyanyi, Sekarang ia dataag pula dalam kesunyian, dengan hati yang berat. Ketika ia memandang ke sekitarnya, ia mendapatkan pepohonan yang lebat, yang daunnya tersilirkan angin. Ia pun menyaksikan air telaga yang jernih dimana sang rembulan berbayang. Kalau di kejauhan terlihat sinar api maka di atas langit bintang-bintang berkelak-kelik. Aku mesti pergi sekarang, katanya kemudian dalam hatinya. Tak dapat aku betrayal hingga pintu kota nanti keburu ditutup. Kalau pembunuhan itu tersiar, biarnya aku bersayap tidak bisa aku terbang.. Maka ia menenteng bungkusannya, ia bertindak kea rah barat. Selama berjalan, terus ia belum bisa merasa tenteram. Tentang kematiannya si pemegang kas dan pemilik took buku tua itu, ia tidak menyesal. Ia merasa mereka itu pantas mendapat bagian. Ia menyesal untuk orang yang ia totok selagi ia mau kabur itu. Orang itu tidak bersalah dosa. Maka ia harap dia itu cuma pingsan dan jiwanya tidak terancam bahaya maut.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tengah berlari-lari, Tiong Hoa berpapasan dengan empat orang. Rupanya mereka itu sedang sinting terpengaruh air kata-kata. Jalannya mereka terhuyunghuyung. Oleh karena membelakangi rembulan, muka mereka itu tak terlihat tegas. Dengan cepat ia lewat di samping mereka itu. Saudara Tiong Hoa! Saudara Tiong Hoa! satu diantara keempat orang itu memanggil-manggil. Lalu panggilan itu diulangi oleh tiga yang lain. Tiong Hoa heran. Ia sudah lewat setombak lebih tapi ia menghentikan tindakannya. Ia sekarang mengenali suara orang. Lekas ia menghampirkan. Oh, saudara Toan! katanya. Gembira kamu menggadangi si Putri Malam! Tapi aku mempunyai urusan, aku mesti ke luar kota, maka itu besok saja aku menemani kamu! Ia member hormat, lalu membalik tubuh, untuk melanjuti perjalanannya. Jilid 1.2. Hitam makan hitam "Ah, mana bisa" kata orang yang pertama memanggil itu, Dia terus lompat untuk untuk mencekal lengan orang Dia bermuka merah tandanya benar ia habis banyak minum. Dengan mata kedap-kedip. dia mengawasi si orang she Lie. Tiga yang lain lantas merubung. Tiong Hoa tidak puas melayani keempat orang itu ia kenal mereka sebagai anak-anak orang berpangkat, yang biasaberpelesiran saja, karena mereka pa da memelihara guru silat, mereka belajar juga sedikit.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Biasanya mereka tak memandang mata kepadanya, dari itu, jadi ia pun tak sudi bergaul dengan mereka, ia tidakpuas orang memegat ia selagi iaperlu lekas- lekas mengangkat kaki. "Kau bergegas-gegas pergi ke luar kota, saudara Tiong Hoa, kau tentu mempunyai urusan baik" kata orang yang mencekal tangannya itu, Dialah Toan Kong, anak yang didapat dari gundik dari Toan Kwee yang berpangkat pouw-koen tong-nia, komandan pasukan tentara berjalan kaki, "Kenapa kau tidak mengajak kami ramai-ramai?" Tiong Hoa bingung hingga ia berdiri diam saja. seorang lain merabah-rabah bungkusan uang, dan menepuk nepuk. "Hai, uang begini banyak." serunya, "Dari mana uang ini?" "Dasar sial," pikir Tiong Hoa, bingungnya bertambah Kalau besok mereka dengar kematiannya si tukang uang, pasti mereka ini menduga aku... Kalau aku dituduh menjadi pembunuh, bagaimana itu? "Saudara Tiong Hoa, tidak benar sikap kau ini." Toan Kong menegur, "Kita bersahabat kita mesti hidup bersama, senang dan susah mesti bersama juga sekarang kau mempunyai banyak uang, kau melupakan kita, Tempo kau tidak punya uang, kita toh ajak kau turut pelesir juga? Bukankah aku belumpernah tolak kau?" Tiong Hoa mendelu itulah gangguan untuknya, ia pun sebal untuk kelakuan mereka itu, ia nampak sabar tetapi sebenarnya ia berhati keras dan memiliki keangkuhan juga.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Toan Kong, jangan ngaco-belo." ia menegur, "Maaf, aku siorang she Lie tak dapat menemani kau." ia lanias berontak hingga sahabat itu terhuyung tiga tindak dan telapak tangannya terasa sakit. Toan Kong terkejut ia heran kenapa Tiong Hoa bertenaga demikian besar. ia lantas mendusin dari sintingnya, hingga ia jadi mendongkol. "Mari." dia mengajak tiga temannya, "Dia punya banyak uang, dia jadi banyak lagak. Mari kita hajar padanya, aku mau lihat, tulang lunaknya dapat berubah menjadi kaku atau tidak." Memang benar, Tiong Hoa biasa dijuluki si tulang lunak Tapi sekarang ia menjadi mendongkol dan gusar, Maka itu, justeru Toan Kong maju menghampirkan, ia lantas menyambut dengan tinjunya kedada orang. Putera tongnia itu mengerti sedikit silat, dia berkelit, tetapi dia kurang sebat, dia kena terserempet hingga dia kesakitan. Tentu sekali dia menjadi tambah gusar, Berbareng dia heran sekali sedang dia tahu orang biasanya tidak mempunyai guna. Ketiga kawannya heran juga, inilah yang pertama kali Tiong Hoa berkelahi, tak heran dia kurang Iincah. Dia belajar silat juga mirip orang belajar teorinya saja, sedang ilmu silat membutuhkan latihan praktek berikut pengalaman. Toan Kong menjadi gusar sekali. Dia memang biasadimanjakan Lantas dia menyerang pula, beruIangulang secara sengit. Dia menggunai ilmu silat "Tiang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Keen" atau Kepalan panjang dari BoeTong Pay, Dia juga berkaok-kaok. Didesak begitu, Tiong Hoa jadi panas hatinya, maka bukannya ia mundur, ia justeru maju, jurus jurus dari ilmu silat sian Thian, Thay U Ciang. Toan Keng lantas terpukul mundur. Dia heran hingga dia menjublak. Justeru itu, lengannya kena disamber dan ditangkap. sekarang dia menjerit bahna kesakitannya merasa seperti dicengkeram gaetan baja, tak tahan dia, dia pingsan dan roboh. Ketika kawan itu kaget. "Pembunuhan Pembunuhan" mereka berteriak-teriak. Tiong Hoa kaget, ia ingat ancaman bahaya, Tanpa memperdulikan lagi Toan Keng, dia mengangkat langkah seribu, Baru dia lari belasan tombak. dia merasa ada bayangan yang melesat lewat disisinya ia tidak perhatikan itu, ia mengira ini disebabkan matanya terganggu dan matanya kabar, terus ia kabur keluar dari kota Yan-khia. Dengan begitu maka tertariklah ia mesti hidup dalam perantauan. ooQoo BAB2 KlRA jam tiga mendekati fajar, bintang-bintang mulai guram dan rembulanpun kelam di barat di antara gumpalan-gumpalan mega hitam, hingga jembatan Louw Kouw Hio tertampak samar-samar melintang di atas sungai Yang. Tiong Hoa Ketika itu air pasang. potonganpotongan es yang pecah beradu nyaring satu dengan lain, Angin yang dingin meniupi pohon-pohon yang-lioe di tepian.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Justeru itu waktu, seorang anak muda, yang romannya pucat, lagi berdiri didepan loteng dengan mata mengawasi jauh. Dia membungkam. "Kelihatannya banyak orang tak dapat dipercaya," dia berpikir "Guruku sendiri, sikap dan kelakuannya aneh." Ia berpikir begini sebab ia ingat gurunya mengaku ilmu silatnya tak tinggi, namanya tak terkenal dalam dunia Kang ouw atau sungai Telaga, bahwa ilmu silatnya dipelajarkan untuk membikin kuat tubuh saja, bukan buat berkelahi tapi buktinya sekarang ia dapat membunuh orang, ia pula heran mudah saja ia mengalahkan Toan Keng si murid Boe Tong Pay. Bahkan mungkinputera tongnia itu terbinasa akibat tinjunya ini... Tiong Hoa tidak tahu, kepandaiannya Toan Keng baru kulit saja dari ilmu silat sedang gurunya bicara secara merendah, guru itu tidak mau memuji padanya dikuatir ia menjadi berkepala besar, ilmu silat tak ada batasnya, kalau orang berjumawa, dia bisa dapat susah. Guru itu ingin muridnya insaf perlahan-lahan. Anak muda ini menarik napas panjang untuk melegakan hatinya yang pepat, Lalu ia ngelamun perlahan "Tahun dan bulan lewat terus, air tetap mengalir, semua tanpa batas atau tempat berhentinya, semua berumur sama kekalnya seperti langit dan bumi, Akan tetapi manusia, hari-hari kehidupannya tak banyak.... Maka itu aku, jikalau aku tidak lekas menggunai ketika ku, untuk membangun sesuatu apabila aku menantikan saja musim semi datang dan musim dingin pergi, pasti aku bakal menyesal seumur hidupku."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tapi, kapan ia ingat ia tak berdaya, tanpa merara airmatanya mengalir keluar. Tiba-tiba dari arah belakangnya ia mendengar suara yang dalam ini. "Anak muda yang tak bersemangat. Nangis, Apakah tangismu dapat memecahkan soal?" Tiong Hoa terkejut, Gesit luar biasa, ia memutar tubuhnya. ia melihat satu orang berdiri di depannya. Menampak muka orang itu, ia terkejut puI a, itulah sebuah muka buruk sekali dan menakuti. sepasang mata yang merah seperti mencelos keluar, bersinar bengis. Muka buruk itu seperti ketutupan berewok ubanan, hingga terlihat saja gigi giginya yang mirip caIing, Tubuh orang kasar dan besar seperti tubuh itu ditutup baju panjang warna hitam yang setinggi dengkuI. Baju itu berkibaran diantara sampokan angin malam. orang aneh itu tertawa ketika dia melihat si anak muda seperti jeri hatinya. "Anak muda, jangan takut." dia kata, "Aku si orang tua manusia, bukannya memedi, Kau mempunyai kesulitan apa? Mari tuturkanpadaku, Mungkin aku dapat menoIong pecahkan kesulitanmu itu, Lekas bicara, aku masih mempunyai urusan penting yang mesti diselesaikan." Tiong Hoa tak sudi menerima budi, ia menggeleng kepala. "Tak dapat kau pecahkan kesulitanku itu, loojinkee." ia kata masgul. "Aku telah membunuh orang" ia membahasa kau "loojin-kee." artinya orang tua yang dihormati Nampak orang itu melengak tapi segera dia tertawa lebar, Nyaring tertawa itu. bagaikan melayang ke udara,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lalu berkumandang. Ketika dia sudah berhenti tertawa, dia menatap tajam dengan sinar matanya yang bengis itu. "Aku si orang tua kira perkara hebat bagaimana" katanya acuh tak acuh, "Membunuh orang itu apakah yang aneh? sekarang ini aku sudah berumur enampuIuh lima tahun, kurban jiwa ditanganku tak terhitung jumlahnya. Toh tak pernah aku merasa tak tenteram hatiku" Dia tertawa pula, lama. Tiong Hoa bergidik. "Mungkin dia edan-" pikirnya, "Katanya membunuh orang itu tak aneh." Kembali orang tua itu tertawa, menyeramkan suaranya. "Aku mengerti sekarang" dia berkata pula untuk kesekian kaIinya. "Kau mengalirkan air mata disini sebab kau tidak mempunyai jalan kemana kau dapat pergi, tapi ingatlah, seorang laki-laki rumahnya ada di empat penjuru lautan,jikalau kau tidak mencela aku, mari kau turut aku, aku jamin seumur hidupmu kau akan hidup senang dan damai." Anak muda itu heran, ia mendengar lagu suara orang itu mirip lagu suara orang propinsi Hoolam, Tiba-tiba hatinya tergerak. Mendadak ia ingat lukisan Yoe san Goat Eng Bayangan rembulan di gunung sunyi. Bukankah si tukang loak bilang lukisan itu dibeli seorang yang bicara dengan lidah Tiong- cioe dan bahwa pembeli itu mungkin seorang poocoe, pemilik dari sebuah perkampungan? Kenapa ia tidak mau turut orang tua inipergi ke Hoolam, guna sekalian mencari lukisan ilu? Dengan cepat ia mengambil keputusannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Cuma aku kuatir membikin kau berabe, loojinkee." ia kata. Orang tua itu tertawa berkakak. "Nah, mari kita berangkat" dia mengajak. Dan dia mendahului bertindak pergi. Tiong Hoa mengikuti. Baru balasan tombak, ia menjadi heran, Nampaknya si orang tua jalan perlahan, buktinya cepat, ia ketinggalan di belakang. ia bertabiat keras, taksudi ia nanti dikatakan si lunak oleh orang tua itu, Maka ia menyedot nafas, lantas ia jalan cepat. Ya, ia berlari lari. "Dia mesti mengerti silat dan pandai juga," pikir Tiong Hoa sambil mengikuti. Seumurnya belum pernah pemuda ini bercampur gaul dengan orang Kang ouw atau Lok Lim--Rimba Persilatan, belum dapat ia membedakan orang liehay atau tidak. tak ia mengagumi orang tua yang suka menjadi sahabatnya ini, ia belum mempunyai kepercayaan atas dirinya, dengan mengagumi orang, ia seperti merendahkan dirinya sendiri. Sekarang Tiong Hoa mulai mengerti gunanya ilmu ringan tubuh yang diajari gurunya. Ilmu itu diberi nama Hong Hoei ie soat artinya, BianglaIa terbang, Mega berputar. Dengan menggunai ilmu ringan tubuh itu, tubuhnya menjadi enteng, dia dapat lari cepat-- makin lama makin cepat, Baru setelah peroleh kenyataan ini, ia dapat bersenyum. Si orang tua lari terus, sejak mula-mula belum pernah dia menoleh satu kali pun. Toh ia memperlihatkan sinar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

heran, inilah sebab, walaupun dia tidak pernah berpaling tetapi telinganya dapat mendengar suara orang berlariIari dan dia memperoleh kenyataan si anak muda tak ketinggalan jauh. Maka dia menduga ilmu ringan tubuh pemuda itu tak dapat dicela, Dia merasa, pemuda itu tinggal membutuhkan latihan lebih jauh, agar larinya tak memberi suara lagi, yalah apa yang kalangan persilatan heng in tioe soet-- mega berjalan, air mengalir. Lama- lama Tiong Hoa bermandikan peluh dan bemapas mengorok ia dapat kenyataan orang tua itu bukan mengambil jalan besar hanya menerabas tegalan dan hutan, lantaran ia mendapatkan pohon-pohon terlewatkan di sisinya. "Eh, anak muda, kau sudah letih atau belum?" Itulah pertanyaan tiba tiba dan untuk pertama kalinya dia menoleh, sedang tindakannya juga dikendorkan, akan akhirnya dia berhenti sendirinya. Lalu dengan sinar matanya yang aneh, dia menatap kawannya yang mandi keringat itu, terus dia tertawa geli, dengan ramah ia menanyai "Dari mana kaupelajarkan ilmu larimu ini? itulah tak dapat dicela" Tiong Hoa berhenti berlari, dengan tangan bajunya ia menyusut peluhnya, ia merasa napasnya berjalan cepat sekali, tapi ia lekas menjawab. "Loojin kee memuji aku, aku saja." katanya. "Aku pelajarkan ini tiga tahun dari seorang guru yang tidak mempunyai nama, Di banding dengan kepandaian loojinkee, aku terpaut jauh sekali."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang tua itu menganggukperlahan, mukanya bersenyum. Kau benar, dia bilang, Aku baru menggunai tujuh bagian kepandaian, toh kau harus dipuji." Tiong Hoa mengucap terima kasih. Melihat si orang tua begitu ramah-tamah, ia menjadi suka bicara, sekarang tak lagi ia merasa jeri atau jemu untuk roman orang yang buruk itu,Bahkan dari pembicaraan tetamunya, ia mendapat tahu she dan namanya orang tua itu, yalah Song Kie dan gelarnya Koay-bin jin-him. Manusia Biruang Bermuka Aneh. Berbareng dengan itu, si orang tua juga ketahui she dan namanya serta riwayat hidupnya yang tak menyenangkan itu. Tiong Hoa tidak mentertawakan julukan yang aneh itu, yang sesuai dengan kenyataan, ia bahkan berlaku hormat, kelakuannya itu cocok dengan tabiat si orang tua. Biasanya, siapa mencela muka atau julukannya itu berarti celaka untuk dirinya, ssbab ia benci-mulut jail. Denganperkenalannya dalam tempo yang singkat ini. Tiong Hoa masih belum tahu bahwa Koay-bin Jin-Him Song Kie menjadi salah satu dari liong cioe, yang namanya sangat kesohor dalam Rimba Persilatan. Baik kaum Pek too, jalan putih, maupun golongan Hek-too, jalan Hitam, semuanya jeri kepadanya apabila mereka berurusan dengan si Manusia Biruang Bermuka Aneh yang sangat dihormati dan dimaIui. Kalau Tiong Hoa ketahui ini, mungkin tak sudi ia mengikuti dia.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang tua itu mengeluarkan sebuah gandul air dari sakunya, ia gelogoki ke dalam mulutnya, kemudian ia membagi air minum ttu kepada si anak muda. Habis itu dia mulai bicara pula. Lebih dulu ia menatap orang, agaknya dia bersangsi, baru dia menanya: "KauIah seorang anak sekolah, mengapa kau membunuh orang? Apakah kurbanmu itu musuh besarmu dengan siapa kau tak sudi hidup bersama di kolong langit ini?" Tiong Hoa menggeleng kepalanya. "semuanya bukan." sahutnya. "itulah kesalahan bunuh." Song Kie menatap pula tajam. "Kau jujur," katanya, "sebenarnya membunuh orang bukan hal yang terlalu mengherankan, Aku juga telah membunuh banyak orang, diantaranya ada yang tak selayaknya mati. Hanya lah telah menjadi tabiatku, jikalau aku membunuh, tak dapat aku membuat bocor tentang ini. perlahan-Iahan kau bakal mengerti sendiri. Berkasihan terhadap musuh berarti menanam bencana untuk diri sendiri Tiong Hoa mengangguk tanpa membilang suatu apa. ia menerima baik jalan pikiran orang itu sedang di dalam hatinya ia berkata: "Apakah artinya kata katamu ini? Mustahilkah semua orang harus dibunuh? Bukankah kalau kau berlaku telengas, orang memb atasnya kejam? permusuhan atau balas- membalas toh tak ada batas habisnya? Aku berbuat keliru, aku malu dan menyesal tidak sudahnya... di dalam hatiku yang bersih menjadi ada bayangan yang memb uatnya selalu tak tenang."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Maka ia merasa anjuran Koay-bin Jin Him dapat membuat ia rusak tanpa ada obat dapat menyembuhkannya. Tapi segera ia berpikir pula. "Asal diriku putih- bersih, perduli apa aku bercampuran dengannya? Asal aku tidak turut ternoda. Aku mesti bisa membawa diriku" Song Kie tidak memperhatikan jalan pikiran orang, dia melihat langit, untuk mengetahui sang waktu. "Mungkin mereka akan sudah datang..." katanya seorang diri terus dia berpaling dan berkata: "Mari." ia menggeraki tubuhnya untuk menjejak tanah, maka melompatlah ia kearah kanan, bagaikan burung terbang melayang, sebentar saja ia telah melalui beberapa tombak. Menampak kepesatan orang Tiong Hoa kagum, ia lantas menyusul, ia tidak dapat membada arti katanya orang itu, ia cuma menduga itulah mesti ada maksudnya. ia berlari-lari mengikuti dengan tetap menggunai ilmu ringan tubuh Hoei Hong in soan. Mereka lari mendekati sebuah bukit kecil. Di atas itu Song Kie berdiri dibawah sebuah pohon pek yang matanya menatap jauh ke depan, Tiong Hoa menghentikan larinya sejarak lima tombak, lalu dengan tindakan perlahan, ia menghampirinya. ia menoleh ke sekitarnya, yang merupakan kuburan belukar, banyak pohon yang kate. siputeri malam sudah doyong kebarat, maka pepohonan itu memperlihatkan bayangan bagaikan hantu-hantu yang bergerak-gerak tak mau diam, Burungburung malam mengasi dengar suaranya yang menyeramkan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berdiri di sisi si Manusia Biruang Bermuka Aneh, Tiong Hoa menasang mata mengikuti mata orang itu. Di sana, di bawah bukit, ada sebuah jalan umum bertanah kuning yang berlegat-Iegot bagaikan seekor ular, sunyi senjap jalan umum itu. "Heran," pikirnya, ia melirik dan mendapatkan roman Song Kie berdiri terus berdiam, dia membiarkan si anak muda berdiri di sisinya itu. Tiba-tiba terdengarlah suatu suara yang terbawa angin malam, terdengarnya jauh lalu dekat, suara itu tambah menyeramkan. Tanpa merasa, Tiong Hoa bergidik, Song Kie berpaling kearah dari mana suara itu datang. "Benarbenar mereka datang?" katanya pula seorang diri. "Siapa?" tanya Tiong Hoa tanpa merasa. Song Kie menoleh, mengawasi tajam. ia tidak menjawab. ia berpaling pula kearah tadi. suara tadi itu terdengar pula, makin dekat. segera tertampak lima orang bagaikan bayangan berlari-lari mendatangi. cepat luar biasa, sampailah mereka itu. semua lantas berdiri diam dan hormat di samping Song Kie. "Apakah mereka sudah berhasil?" tanya Koay-bin Jin Him, suaranya dalam. Salah seorang umur belum empat puluh, yang tubuhnya jangkung kurus, menyahuti. "Mereka sudah berhasil, Karena rapinya rencana kita pihak Pangeran tokeh menyangka itulah perbuatan mereka itu, Lagi setengah jam, mereka juga akan datang kemari, di antaranya ada seorang yang liehay menyulitkan. Dia lah sam ciou-ya Cee-tan-Siauw-go si Memedi bertangan tiga. Tongkee, apakah kita tetap dengan rencana kita?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Song Kie cuma mengasi dengar suara dingini "Hmm" Kelima orang itu sudah lantas mengawasi Tiong Hoa, sikapnya tawar. "Tongkee, siapakah dia ini?" tanya sijangkung kurus. "Dia? oh Dialah penulisku yang baru, sekarang kamu boleh pergi" jawaban itu dingin. Lima orang itu menyahuti, "Ya." tampak semuanya lari turun gunung, Tiba di jalan umum, mereka berhenti, agaknya untuk menantikan sesuatu. Tak senang Tiong Hoa melihat roman dan sikapnya kelima orang itu, ia mendapat kesan orang berbau setan, sinar mata mereka itu sangat memandang tak mata kepadanya, ia menjadi tak tenteram hatinya. Song Kie menoleh perlahan-lahan kepada si anak muda, Dia kata, sabar: "Anak muda, sekarang ini kau masih kekurangan nyali, di dalam rombongan kami, tanpa nyali orang tak dapat bekerja. Lebih baik kau pergi turun untuk menambah pengetahuan dan pengalamanmu." Mendadak Tiong Hoa dipengaruhi sifat mau menang sendiri, tak mau kalah, tanpa mengatakan sesuatu, ia pergi turun. ia berjalan dengan cepat. Kelima orang itu melihat datangnya anak muda ini, tetap mereka bersikap dingin. Tiong Hoa berdiri dengan menolak pinggang, ia membawa sikap jumawa ia sengaja mengawasi ke depan, tak mau ia menghiraukan mereka itu. "Eh, Mau apa kau datang ke sini?" si jangkung kurus menegur. Dia heran maka dia memecah kesunyian

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa tetap memandang kedepan, tak ia menoleh. "Aku?" sahutnya. "Aku dititahkan tongkee mengawasi kamu." Tong-kee itu panggilan pada ketua. Si jangkung kurus menyeringai, romannya jadi bengis. Dia mengangkat tangannya perlahan-lahan"Toako," mendadak berkata salah satu kawannya. "Apakah kau merasa pasti tongkee tidak bakal mempersalahkan kau?" "Hm," bersuara sijangkung kurus, dan ia menurunkan tangannya itu. ia terus menggeser tubuh ke pinggiran. Tiong Hoa telah melihat gerak-gerik orang dia lantas bersiap sedia, Kapan orang menyerang maka ia akan menyambut dengan pukulan "Siauw Thian chee Ci Capjie Kiauw Na." yalah ilmu silat "Bintang Kecil" yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus yang lincah. Dengan itu ia bisa menghajar orang hingga mati, tak tahu ia, dari mana munculnya keberaniannya secara tiba-tiba itu orang yang menasehati si jangkung kurus itu menghampirkan si anak muda. "Kau bernyali besar tuan, aku kagum." katanya tawar, "Meski kau menjadi penuIis baru dari tongkee kami, tak nanti tongkee menitahkan kau mengawasi kami. Kamilah Tiong tiauw Ngo Mo. Toako kami tidak percaya karangan kau, dia menduga itulah jawaban bohong, dari itu dia ingin menghukum kau. Aku lihat tuan tentu jemu dengan sikap tawar kami maka kau sengaja mengatakan demikiansebenarnya memang beginilah sikap tabiat kami, jadi bukan sengaja kami memandang tak mata kepadamu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Maaf..." kata Tiong Hoa sambil tertawa dingin, ia tidak takut meskipun orang adalah Tiong-tiauw Ngo Mo, Lima Hantu dari Tiong-tiauw. Tengah si anak muda menyahuti itu, si jangkung kurus membentak, "Ngo-tee, apakah kau tak takut mulutmu pecah? Lihat, mereka sudah datang." orang yang dipanggil ngo tee itu -- adik yang nomor lima, menoleh. Tiong Hoa berpaling juga, maka ia melihat mendatanginya empat orang, Mendadak seperti buyar keb era niannya barusan, diam-diam ia menyingkir kearah pepohonan di dekatnya. Kelima orang itu, yaitu Tiong-tiauw Ngo Mo. agaknya tegang sikapnya, Mereka lantas bersiap sedia melakukan penyerangan. Empat orang itu, yang tadi merupakan titik-titik sebagai bayangan, lekas juga sudah datang dekat, sangat pesat larinya mereka. Sebentar saja, tibalah sudah mereka. Tiong Hoa memasang mata, ia tidak dapat melihat muka orang, yang membaliki belakang, ia cuma tahu mereka itu orang tua semua, kumisnya pun panjang. Mereka seperti tidak menghiraukan kelima hantu, mereka jalan terus. Tiongtiauw Ngo Mo tertawa dingin, lantas mereka menyerang dengan berbareng. Keempat orang tua itu agak kaget, mereka lompat mundur satu tombak. Satu diantaranya mengawasi kelima penyerang itu, lantas dia tertawa dingin dan kata: "Ah, aku menyangka siapa, kiranya kalian, dengan kepandaian kamu yang umum ini kamu berani lakukan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perbuatan hitam makan hitam ? Hm, tahukah kamu siapa kami ini?" "Kami tidak perduli kamu siapa" sahut si jangkung kurus, yang usianya pertengahan, suaranya dingin. "Untuk kamu cukup asal kamu meninggalkan barang yang kamu bawa itu. Dengan begitu baru kami suka mengasi kamu lewat." Orang tua itu menjadi gusar secara tiba-tiba, dia maju menyerang. Dengan tangan kanannya, dengan sebuah jeriji, dia menotok jalan darah, Gerakannya itu sangat cepat sekali. Si jangkung kurus tabah luar biasa, Dia seperti tak menghiraukan serangan itu, Dengan sama gesitnya dia meluncurkan tangan kirinya, guna menotokjalan darah thian-hoe dari si orang tua, Berbareng dengan itu, dengan tangan kanannya, dia menghajar, membacok, lengan si orang tua. Agaknya si orang tua terkejut, cepat-cepat dia menarik pulang tangan kanannya itu, tapi si jangkung kurus merangsak, ia menotok kejalan darah ciang boen, ia tetap menggunai tangan kirinya. Tiong Hoa kagum, sangat cepat gerakannya dua orang itu. Orang tua itu ialah sam Cioe Ya cee Tam siauw Go seperti diterangkan si jangkung-kurus tadi kepada Song Kie. Buat Sungai Besar bagian selatan dan Utara, dia ternama besar untuk kegagahannya, pantas dia berani dan liehay. Dia lantas menyerang dengan dua dupakannya saling-susul.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Toa Mo, si Hantu pertama, tertawa seram, tubuhnya lompat terapung, dia telah menggunai tipu berlompat Peng tee chee in," atau Awan hijau ditanah datar" Tapi dia tidak lompat setinggi mungkin- Baru kira dua kaki, tub uhnya sudah membungkuk, kedua tangannya meluncur. Dari atas dia meny amber kedua pundak lawan. Sam Cioe Ya cee menjejak tanah, ia lompat mundur tigakaki, setelah bebas itu, ia maju pula untuk menyerang lagi dengan beruntun-runtun. Toa Mo mendongkol karena kegesitannya itu, Dia menangkis dia menbeIa diri terus, dia membalas menyerang. Dia berlaku sama garangnya. Sampai itu waktu, keempat Hantu habis sabar, Mereka lantas maju menyerang tiga orang tua lainnya. Mereka ini menonton saja. lantaran diserang, mereka membuat perlawanan. Hebat pertempuran mereka itu. Tiong Hoa menonton dengan perasaan ketarik. Untuknya, pertempuran itu mendatangkan faedah besar, seumurnya belum pernah ia menyakslkan semacam pertarungan itu, memperhatikan sesuatu gerakan. Sang waktu berjalan, rembulan sudah kelam, tinggal bintang-bintang yang muram. Cuaca menjadi guram, Tapi pertempuran berlangsung terus. Tiong Hoa menonton dengan merasa heran, ia tidak melihat munculnya Song Kie. Kemana perginya tongkee itu? Kenapa dia berdiam saja? Sekonyong-konyong ia melihat sebuah tubuh besar melesat datang sembari tertawa berkakak, Mendengar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu, kelima Hantu lantas lompat mundur, sebaliknya keempat orang tua itu nampak terhuyung mau roboh. Segera Tiong Hoa mengenali orang itu, adalah Koaybin jin Him yang ia buat pikiran. Tam siauw Go lantas tertawa dingin, "Aku tidak sangka sekali Song Loo-toa dapat bersikap seperti tikus" katanya mengejek. "Kalau Tam siauw Go mati, dia bakal menjadi setan yang akan menagih jiwamu." Song Kie tidak menjadi gusar, sebaliknya dia tertawa lebar. "Tam siauw Go. ingatkah kau kejadian pada tahun dulu di benteng air di telaga Thay ouw ketika kaum jalan Hitam mengadakan rapat bersama?" dia tanya. "Bukankah ketika itu di muka umum kau telah menghina aku? Nah, sekarang kau tahu rasa, Bersamasama kawan-kawanmu ini yang ada tiga bandit dari jalan Kam Liang kau sudah terkena pakuku, paku Thian Iongtong. maka itu, didalam tempo tiga jam, racunnya paku bakal menyerang ulu hatimu, untuk sebentar terang tanah kawanan begundal pembesar negeri boleh datang mengurus mayat kamu" Tam siauw Go terkejut, apa pula setelah itu ia lamat melihat ketiga kawannya roboh saling susul, terus berkoseran di tanah, sedang ketiga kawan itu Kam Liang sam To tiga begal dari jalan Kam Liang bukan sembarang orang. Percuma ia kaget, iapun lantas menyusul roboh untuk tak ingat apa apa lagi. Sekonyong-konyong Song Kie berlompat kepada keempat orang tua itu, Dia bergerak sangat pesat seperti

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dia datang barusan. Kali ini untuk mencabut empat buah pakunya, paku Thian-Iong-teng atau serigala Langit dari dadanya keempat korban itu, kemudian dari tubuh yang seorang, ia menarik keluar sebuah kotak kecil warna hitam, yang mana ia buka tutupnya secara hati-hati. Di depan matanya lantas bersinar sinarnya permata, hingga alis dan kumisnya nampak kehijau-hijauan warnanya. "Hahaha..." dia tertawa lebar, "sekarang ini terpenuhilah separuh dari keinginanku banyak tahun" Suara tertawa itu mendengung di tanah pegunungan itu. Tengah Koay-binJin Him girang kepuasan itu, sinar permata itu tiba-tiba menjadi sirap. Dia merasakan sebuah tolakan keras dan kotaknya itu hilang dari tangannya, Dalam kagetnya ia melihat sebuah tubuh kecil langsing mencelat pergi dengan lincah sekali, tubuh mana meninggalkan tertawa nyaring tapi halus yang sedap didengar telinga, kemudian bagalkan asap lenyaplah dia di kejauhan. Bukan main terkejutnya Koay-binJin Him, Dia lompat meny amber. Tapi dia ketinggalan sedetik. Perampas itu lolos, saking murka, dia berseru keras, terus dia berteriak: "Kejar" Dia pun mendahului lari kearah mana perampas itu kabur. Tiong tiauw Ngo Mo lari mengejar. Mereka tak menghiraukan lagi Tiong Hoa. Lie Tiong Hoa menonton pertempuran dengan asyik sekali, ia sangat ketarik hati, ia kagum menyakslkan liehaynya Song Kie, ia pun heran melihat ada orang merampas kotak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

permata di tangannya Koay-bin Jim-Him. tengah ia melengak itu, ia lantas di-tinggal pergi mereka semua. Ia masih berdiam tempo ia merasa ada barang apaapa menimpa kepalanya hingga ia merasa sedikit nyeri, ia meraba. hingga ia kena pegang sehelai daun. ia terkejut hingga ia tercengang pula, matanya terbuka, mulutnya ternganga. inilah seorang cerdas, ia dapat berpikir. Di-dalam musim semi seperti itu, tak nanti ada daun rontok tertiup angin juga tak ada daun yang jatuh langsung ke tanah, mestinya melayang- layang dulu, Maka itu, itu mestinya daun yang dipakai menimpuk dengan "Hoei-Hoa-tek Yap Cioe hoat," ialah ilmu "Menerbangkan bunga memetik cabang" Karena ingat ini, ia terus dongak. melihat keatas. Kembali ia menjadi heran. Di atas pohon, teraling dengan dedaunan ia melihat seorang nona nangkring di atas cabang, Yang terlihat tegas ialah mukanya yang cantik dengan matanya yang jeli, Nona itu mengawasi ia sambil tersenyum, dia mirip bung a yang baru mekar. Ia bingung, hatinya pun berdenyut Manusia kah? setankah? ia hendak membuka mulutnya, lalu batal, ia digoyangi tangan, kepala nona itu digoyangkan. Terpaksa ia diam menjublak. mendelong mengawasi. Bagaikan ular, tubuh nona itu merosot turun, tak terdengar suaranya sama sekali, tahu-tahu dia sudah berdiri didepansi anak muda. Dia mengenakan pakaian serba hitam yang singsat, hingga berpetalah tubuhnya yang Iangsing.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa terlahir di kotaraja, ia gemar gelandangan, ia pernah melihat banyak nona- nona, tetapi melihat nona ini, semua kecantikan dikotaraja itu sirna. Cantik sekali si nona, putih bersih dua baris giginya, Paling menggiurkan ialah sepasang sujennya, Adakah dia Tat Kie yang menjelma pula ? Nona itu menampak orang melongo, dia tertawa perlahan, kedua matanya bermain. "Eh, apakah kau belum tahu siluman she Song itu bukan manusia baik-baik?" dia tanya perlahan, suaranya merdu, "Dengan mengikuti dia, kau bakal tidak memperoleh apa-apa. Baiklah selagi mereka tidak memperh atikan, kau tinggalkan dia pergi. Berangkatlah sekarang juga, ke kuil malaikat tanah di luar pintu barat kota Lay-soei, disana kau menantikan nonamu, nanti nonamu menunjuki kau sebuah jalan keselamatan." Senang sekali Tiong Hoa mendengar kata kata itu dan ia mendapat perasaan tak dapat ia menolak. Maka juga tanpa berpikir panjang lagi, ia berkata: "Baiklah, nona, aku dengar nasihatmu ini, sekarang juga pergi," ia lantas memberi hormat, terus ia memutar tubuhnya, bertindak pergi, ia barujalan kira delapan tindak, telinganya mendengar Song Kie tertawa nya ring, ia terkejut, ia menyangka Koay-bin Jin Him mempergokinya, ia berpaling dengan cepat, ia tidak melihat Song Kie, hanya ia menampak si nona baju hitam memberi tanda padanya untuk berjalan terus, ia menurut, bahkan ia lantas lari. Tiong Hoa heran sendirinya, ia tidak kenal nona itu. Kenapa ia kesudian mendengar kata- kata nya? ia mau menduga, dengan meninggalkan Song Kie, mesti bakal terjadi sesuatu, Mungkin ia bakal kehilangan jiwanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Toh ia tidak menghiraukan itu, ia merasa si nona ada sangat berharga untuknya, entah karena ia tertarik hatinya, entah karena kesannya yang baik terhadapnya. Sekarang Tiong Hoa mesti berlari-lari di tempat yang gelap. Rembulan sudah kelam dan bintang-bintang guram sekali, berlari dengan menggunai Hoei Hong in soan lantaran ia kuatir Song Kie atau Tiong tiauw Ngo Mo lari mengejar dan menangkapnya. Ia lari cepat sekaii, inilah yang pertama kali ia menggunai ilmu ringan tubuhnya dengan sungguh-sungguh. Baru sekarang ia merasa berapa pes at ia dapat berlari, ia bermandikan keringat dan merasa letih juga. Ketika fajar menyingsing, Tiong Hoa telah sampai di luar kota timur dari kota kecamatan Lay-twi, ia lari mutar melintasinya, untuktiba dipintu barat. Benarlah di luar pintu barat itu ia melihat kuilnya malaikat tanah yang terletak diatas sebuah tanjakan sebelah kanan ia menghela napas lega, lantas ia lari menghampirkan kuil itu. Itulah sebuah kuil yang sudah tua dan rusak. Ketika ia bertindak masuk kedalamnya, ia mendapatkan banyak sarang labah-labah dan bau busuk membikinnya mau muntah. Ruangan dalam Kuil itu seperti juga sarang hantu. Walaupun ia tak disayangi orang tua nya, Tiong Hoa tetap anak keluarga berpangkat, akan tetapi sekarang ia hidup terlunta-lunta, hatinya toh bercekat, ia jugaheran. Kuil ini berdekatan dengan pintu kota, kenapa tidak ada orang yang urus?" ia kata dalam hatinya. "lnilah aneh..."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia berhenti berpikir sebentar, lantas ia berpikir pula: "si nona menyuruh aku menantikan dia di sini. Kenapa dia justeru memilih kuil ini?" Tengah ia bingung itu, matanya bentrok dengan sebuah peti mati di ujung ruangan, tadi ia tidak melihatnya lantaran penerangan remang-remang dan ia belum memperhatikan sepenuh nya. Tanpa merasa, ia bergidik. Peti itu membuatnya mendapat perasaan tak enak sekali. Maka ia memutar tubuh nya, berniat pergi keluar. Tiba-tiba, peti mati itu mengasi dengar suara bergerejot, lantas ia melihat tutupnya terangkat perlahan-lahan. Bukan main kagetnya ia. sampai ia merasa kakinya lemas, sampai ia tak dapat berg era k Dengan mata mendelong ia mengawasi terus. Begitu lekas tutup peti itu sudah terangkat semua, di dalam itu terlihat seorang wanita tua menggera ki tubuh untuk berduduk. Dia berambut putih dan rambutnya itu terurai sampai dipundaknya, Melihat kulitnya dan kurusnya, dia mirip mayat hidup, romannya menakuti. Nyonya itu menyingkap rambutnya. "Apakah kau telah kembali, anak In?" begitu terdengar suaranya perlahan. Tiong Hoa berdiam. Jilid 2 : Siapa berbuat baik mendapat kebaikan Nyonya itu menanya pula. Tetap ia tidak memperoleh jawaban, maka ia mengulanginya. Tempo ia nasib tak dapatpenyahutan, ia menjadi gusar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Siapa berada dalampendopo ini?" dia tanya, suara bengis, "jikalau kau tetap tidak mau menjawab, jangan kau sesalkan aku si orang tua?" Tiong Hoa bergidik pula. Tapi sekarang ia menetapi hati, "inilah aku si orang she Lie..." ia menyahut. Belum berhenti suara jawaban itu, mukanya si nyonya tua nampak berubah, lalu mendadak dia menyerang dengan tangannya. Tiong Hoa kaget, tahu-tahu ia merasa terserang hawa dingin sekali, hingga tubuhnya menggigil, habis mana ia merasai tubuhnya mulai kaku, darahnya seperti membeku dan kedua matanya tak dapat dibuka lagi, ia menjadi seperti lupa ingatan dan ingin tidur saja. Tapi ia melawan, ia mengeraskan hati nya, karena mana tidaklah ia sampai roboh. Tepat itu waktu, sebuah tubuh kecil langsing berlari masuk kedalam ruangan itu, segera terdengar suaranya yang menyatakan dia kaget sekali: "lbu Mengapa kau menggunai pula seranganmu Pek Koet Im Hong? Mana orang dapat bertah an?" Matanya Tiong Hoa rapat dan berat, ia tetap ingin tidur saja, akan tetapi pendengarannya masih terang, otaknya masih sadar, maka itu, ia mendengar dan mengenali suara si nona tadi. "Anak In," ia mendengar suara si nyonya lemah, "adakah orang ini sahabatmu? ibumu telah menanya dia sampai tiga kali, baru dia menjawab memperkenalkan diri sebagai orang she Lie. Karena keayalannya itu, ibumu menyerang dia sekarang tolonglah dia dulu, baru kita bicara lagi."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Dasar ibu yang sembrono," kata si nona menyesali "Kalau dia orangnya musuh, mustahil dia suka memberi ketika sampai ibu membuka mulut?.." Habis mendengar penyesalan itu, Tiong Hoa lantas merasa ada tangan yaug lunak yang menempel dipunggungnya, ia menduga si- nona mulai menolongi padanya. Segera juga ia merasakan hawa hangat tersalurkan kedalam tubuhnya, Bagaikan es lumer, hawa dingin mulai terasa kurang, makin lama ia merasa makin ringan. Ia terus menutup matanya, selagi berdiam itu, ia berpikir, ia heran untuk pengalamannya ini. Sebegitu jauh ia sebal dengan penghidupannya yang malang, sampai ia mau beranggapan orang tak dapat dipercaya. Tapi sekarang ia menemui nona yang berhati baik ini, ia di tolongi orang yang tidak dikenal. "Penghidupan itu aneh..." pikirnya. Tanpa merasa ia tertawa. "Eh, kenapa kau tertawa?" tanya si nona perIahanTiong Hoa tidak lantas menyahuti. ia jengah, justeru itu ia dengar si nyonya tua menanya puterinya: "Anak In, heran. Aku menyerang dengan Pek Koet In Hong lima bagian luka orang itu ringan, kenapa kau menoIongi dia dengan tenaga Cit Yang Cin-lek masih jugabelum berhasil?" "Ah, ibu" si nona masih menyesali " Kenapa kau menyerang demikian hebat kepada orang yang tidak mengerti silat ? Dia sebenarnya sudah sembuh tetapi aku mau menambah tenaganya dengan cit Yang Cin-Iek." Tiong Hoa mendengar semua pembicaraan itu. Tidak dapat ia berdiam terus, Maka ia membuka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

matanyaJusteru itu, tangan si nona lantas ditarik pulang dan nona itu tiba tiba berada didepannya, menatap ia dengan matanya yang jeli. Karena mereka berada dekat sekali, ia dapat mencium bau harum, ia menjadi likat sendirinya, pipi dan telinganya menjadi merah, ia pun takut untuk membalas mengawasi nona itu. ia terus memandang kearah peti mati. Si nona bersenyum melihat kelakuanpemuda itu, ia lantas bertindak kepeti mati itu. "lbu." ia memanggiI. Ketika itu ruangan masih guram, si nyonya, bercokol didalam peti mati, Nampak bagaikan hantu. "Ibu." berkata pula si nona, "mestika itu telah berhasil aku dapati. Maka ibu bakal melihat langit dan matahari pula sekarang mari kita lekas berlalu dari sini, supaya orang tidak menyangka kepadaku." "Apa, kau berhasil?" tanya si nona. Dia girang hingga suaranya bergetar. "Dasar orang baik dilindungi Thian." Mendengar pembicaraan itu, baru sekarang Tiong Hoa ketahui si nyonya buta matanya, pantas tadi dia lambat menggeraki tangannya menyerang ia Jadi nyonya itu menanti dulu jawaban, untuk mengetahui di bagian mana ia berdiri. Nyonya itu mengangkat seb atang tongkat dari sisi dengan pertolongan itu ia lantas bangun berdiri, gesit gerak-geriknya. " Entah mustika apa itu yang dikatakan si nona?" kata Tiong Hoa dalam hatinya, ia lantas mengerutkan aIis. Ia sekarang melihat kakinya nyonya ini bercacad. si nona memandang sipemuda, ia melihat air muka orang, ia tertawa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Aku tahu kau heran atau bercuriga, ingin kau menanyakan sesuatu padaku" ia kata. "Benar, bukan? sekarang kami mau lekas berlalu dari sini, jangan kau tanya apa-apa. Di mana ada ketikanya, kau tunggulah sampai kita berada di siauw Ngo Tay nanti kau ketahui sendiri." Si nyonya sudah pergi ke belakang ruangan. "Mari kita berangkat." kata si nona, "jangan kau sangka karena kakinya bercacad ibu jadi tak leluasa bergerak. Asal ia menggunai tongkat, mungkin kau tak dapat menyusulnya." "Hm, Aku tak percaya." kata Tiong Hoa di dalam hatinya.."Sungguh gila kalau kakiku tak dapat mengejar orang yang tak ada kakinya." oleh karena si nona sudah bertindak pergi, pemuda ini lantas menyusuI. Di bagian belakang, kuil terlebih gelap daripada di bagian depan, satu kali Tiong Hoa terkejut, ia mendengar suara sesuatu yang terhajar hebat, lantas ia melihat sinar terang. Itulah si nyonya tua, yang menyerang jendela hingga daunnya menjeblak. habis mana dia berlompat keluar dari liang jendela itu. Si nona mengikuti terus. Ketika Tiong Hoa sudah melompat keluar, nyata ibu dan gadis itu sudah meninggalkan ia belasan tombak. ia melihat juga, sekali menekan tanah, nyonya itu dapat berlompat jauh lima atau enam tombak. ia menjadi heran dan kagum. jadi benarlah kata pemudi itu. oleh karena ia kuatir nanti dicela si nona, ia lantas menyusul.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mereka berlari-Iari di daerah pegunungan yang tinggi dan rendah, di mana pun tumbuh banyak pohon lebat, itu waktu matahari yang menerangi bukit kuning sinarnya. Sesudah meninggalkan jauh kuil malaikat tanah itu, Tiong Hoa mendapat kenyataan ia terpisah belasan tombak dari si nyonya dan nona, sekarang ia mengerti bahwa ia kalah. Ia menjadijengah sendirinya ia pula di hinggapi keheranan, kenapa nyonya tua itu tahu jalanan sedang matanya buta. Selagi ia memikir itu, pemuda ini ketinggalan lebih jauh pula. ooooo BAB 2 PERJALANAN dilanjuti terus, Di waktu matahari mulai turun, Tiong Hoa bertiga sudah sampai di kota Tembok Besar, yaitu kota Cie-keng-kwan, dijalanan penting Hoeibo kauw, Di waktu matahari turun itu, Tembok Besar memperlihatkan keindahannya. Terlihat tembok kota panjang berliku-liku. sinar matahari pun berwama lima rupa. Sekeluarnya dari Hoei-bo kauw itu, orang berada di tanah perbatasan. Dari situ gunung siauw NgoTay sudah mulai tampak, itulah gunung yang menjadi salah satupusat agama Buddha dan dalam keindahan alam, dia tak usah kalah dengan NgoTay san yang besar. Di dalam Hoei-ho-kauw, dimana ada jalan besar yang pendek berbaris beberapa rumah warung, sebaliknya orang yang berlalu-lintas, waktu itu sedikit, inilah mungkin disebabkan angin keras, yang membuat debu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

danpasir berterbangan sampai orang sukar membuka matanya. Lie Tiong Hoa ikut si nyonya dan gadisnya memasuki sebuah losmen kecil yang merangkap menjadi rumah makan. Di situ sudah berkumpul banyak tetamu lainnya, yang sedang duduk dahar dan minum, Kapan mereka itu melihat tiga orang ini, ruang menjadi sunyi senyap. semua mata lantas diarahkan kepada mereka bertiga. sukar jalannya si nyonya, pula mereka bertiga bed a sangat nyata. Si nyonya tua dan kurus mirip tengkorak. -si nona sebaliknya cantik sekali, sedang si pemuda tampan mirip seorang pemuda hartawan. Maka selain mengawasi, tetamu-tetamu itu kasak-kusuk. bahkan ada yang berkata-kata tak sedap didengarnya. Si nona mengerutkan alis. Dia melihat dan mendengarnya sebal, Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa, Maka dia memandangnya tawar. Tiong Hoa tak berpengalaman, ia heran-suasana di kota raja. Ketiganya lantas berduduk. si nyonya duduk tegak. romannya menyeramkan, pelayan sudah lantas membawakan arak berikut kuwe yang masih panas. Tidak lama maka suasana dalam ruang itu kembali menjadi biasa. "Sekarang ini di kota Yan-khia telah terbit beberapa perkara hebat." terdengar seorang berkata, "Semua perkara itu menyebabkan repotnya anjing-anjing kantor" "Coba tuturkan, toako" kata seorang Iain- "Pastilah itu perkara-perkara yang menarik,"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hati Tiong Hoa bercekat, ia lantas menoleh kepada orang yang berbicara itu, yang merupakan serombongan dari tujuh atau tetamu dengan pakaian hijau dan masingmasing menggendoI senjata tajam. Seorang, yang mukanya bercacad bekas bacokan golok, yang romannya bengis, meneguk araknya, lalu dia berkata: "Kejadian mulai kemarin dulu malam kira jam dua, Toan Kong, puteranya Pouwkoen Tongpin Toan Kwee, ada bersama dua tiga kawannya, Mereka sedang pelesiran. Selagi lewat di dekat paseban To Jian Teng di Lam hee-wa. mereka bertemu dengan Lie Tiong Hoa puteranya Lie sie-Iong, yang romannya bingung, Toan Kong menjadi heran, dia menegur, tak tahu bagaimana, mereka menjadi berkelahi, Heran putera tie-tong hu, yang romannya lemah. dia telah menghajar pingsan Toan Kong murid BoeTong pay itu. setelah itu ketahuan Lie Tiong Hoa telah membunuh mati pemegang kasnya serta merampas uangnya. Kemud ian ketahuan juga, ia telah membinasakan tukang loak di Lioe lie-ciang serta seorang Iangganannya. Peristiwa itu lantas menggemparkan seluruh kota..." Mendengar itu, mukanya Tiong Hoa pucat sendirinya, si nona dapat melihat perubahan air muka itu, lantas ia menduga, pemuda ini tentulah Lie Tiong Hoa itu si putera sie-Iong. ia mengawasi seraya bersenyum. Tiong Hoa mencoba menetapkan hati, ia bersenyum juga, si nona bersenyum dengan hatinya menduga- duga, Kalau si pemuda orang Kang-ouw, peristiwa itu lumrah. Anehnya yalah dia ini pemuda turunan orang berpangkat, Kenapa dia membunuh begitu banyak orang?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Semua peristiwa itu membikin repot kawanan kaki anjing" orang itu melanjuti penuturannya. ia menyebut kaki anjing kepada hamba-hamba polisi. "Satu gelombang belum sirap. datang satu gelombang lain inilah hal tercurinya satu cangkir mestika milik Pang eran Tokeh: itulah cangkir Coei in Pwee yang terbuat dari kemala Khotea yang terukir mega biru ungu. Empat centeng telah terbinasa kerenanya, kemudian didapat keterangan, pencurian berikut pembunuhan itu perbuatannya Kam Liang sam-to yaitu ketiga penjahat dari Kam liang serta sam Cioe Ya-cee Tam siauw Go si Mamedi Bertangan-tiga yang dikenal juga sebagai Tiantam It Kwie, setan-tunggal dari IoIam selatan-,." "Apakah faedah atau khasiatnya cangkir kemala Kho toa itu?" tanya seorang, "Bagaimana cangkir kemala itu dapat menggiurkan hatinya Kam- liang sam-to dan sam Ciu Ya cee Tam siauw Go?" "Tak tahu aku perihal khasiatnya cangkir kemala itu, Kemudian baru aku mendengarnya Dari pocu karena orang itu melanjuti, " Untuk cangkir kemala itu, po-coe sudah menunggang kuda kabur ke kota raja, cangkir kemala itu sebenarnya satu diantara ketiga mustika yang sekarang ini tengah diarah kaum Rimba Persilatan- terutama dua golongan Hitam dan putih sangat mengilarnya. Ketika hamba hamba istana yang lihai serta kawanan opas pergi menyusuI, didekat Kho pay-tiam mereka menemukan mayat-mayatnya Kam-liang sam-to serta Tam siauw Go yang dadanya bekas ditancapkan senjata rahasia. Mereka semua terkenal sebagai penjahat-penjahat yang lihai dan di-malui, sekarang mereka terbinasa tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keruan itu, tidakkah itu menggemparkan? Orang percaya sipembunuh adalah orang muda yang baru muncuI dalam dunia Kang-ouw..." Mendengar itu, Tiong Hoa mengerti kebinasaannya Tam Siauw Go bertiga pastilah hasil sepak terjangnya Song Kie serta Tong tiauw Ngo Mo tapi pada itu si nona didepannya ini ada sangkut pautnya, terang mustika yang dimaksudkan si nona yalah cangkir kemala tersebut, ia lantas melirik nona itu atas mana si nona bersenyum hingga nampak sujennya yang manis ia lihat sendirinya, lekas- lekas ia melengos. "Toako?" kata seorang lain. "Kau cerita kurang jelas, sebenarnya apakah ketiga macam mustika itu? Apakah khasiatnya itu? Dan poocu, yang sudah lama tidak pernah keluar rumah, kenapa setelah mendengar halnya cangkir kemala itu, sudah lantas berangkat ke Yankhia? Kenapa kau tidak mau menjelaskan itu hanya hal lainnya? Apakah toako takut lain orang mendengarnya? Kau ingatlah, kampung Ie Kee Po terpisah dekat dari sini, siapakah yang berani main gila? Bukankah berani main gila itu berarti menarik kumis harimau?" Orang dengan muka bertapak golok itu tertawa. "Kau tak tahu" katanya nyaring " Ketiga mustika itu penting sekali, Pocu sendiri yang mengatakan, cangkir kemala itu bakal menjadi bibit pertentangan hebat kaum Rimba Persilatan, bahwa mungkin perkampungan Ie KeePo kita bakal turut terembet karenanya. tentang pocoe kita siapa kah yang dia buat takut? Babkan Lo-sat Kwie Bo Cek Kiauw-kiauw, yang dulunya berbareng

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terkenalnya dengan pocu, masih jeri terhadapnya .Ketika po-cu berangkat aku melihat wajahnya dingin sekali, itulah bukti pentingnya urusan." Mendengar disebutnya nama Lo-sat Kwie Bo Cek Kiauw, atau Cek Kiauw-kiauw si Biang Memedi, si nyonya tua mengasi dengar suara di hidung. Tiong Hoa mendengar itu, ia pun melihat wajah si nyonya, maka ini mesti ada hubungannya dengan Losat Kwie Bo. sikap dingin dari si nona menguatkan dugaannya itu. Tiong Hoa menjadi orang hijau dalam dunia Kangouw, tak tahu ia perihal orang-orang Rimba PersilatanDari gelarannya saja, ia mau menyangka Lo-sat Kwie Bo bukan orang Iurus. Melihat sikapny a si nona, ia mau percaya Lo-sat Kwie Bo adalah nyonya yang menjadi ibunya nona ini, ia menjadi bimbang ia turut Song Kie sebab ia mau cari gambar lukisan, sekarang ia turut nyonya dan nona ini ke siauw Ngo Tay. Apakah perlunya? Apa cuma sebab ia tergiur kepada nona itu? Kalau benar, apa ia tidak menyalahi pesan mendiang gurunya? "Baiklah, aku lekas pisahkan diri dari mereka?" pikirnya kemudian- " Kalau tidak, aku bisa menyesal seumur hidupku." Tengah ia berpikir begitu, ia melihat si nona lagi menatap padanya, ia merasa seperti si nona dapat menerka hatinya itu, sendirinya ia merasa tak enak hati, keringat dinginnya lantas keluar, sinar mata si nona seperti meminta untuk ia jangan pergi meninggalkannya .

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Ah, putusanku terlalu getas." pikirnya kemudian"Bedanya kejahatan dengan kebaikan nyata sekali, hanya sebelum jelas, sukar membuktikannya, tak dapat aku lancang menduga nyonya tua ini, Banyak orang palsu." Selagi pemuda ini berpikir begitu, banyak tetamu justeru mengawasi ia dan menduga- duga kenapa ia berkumpul dengan nyonya jelek dan tua itu serta si nona. Mereka umumnya menyangka itulah disebabkan ia tergiur terhadap nona itu... Nona itu tidak puas melihat sikap banyak tetamu itu, ia mendongkol. Ketika itu ada datang lagi dua tetemu, dua- duanya imam dengan kundainya yang tinggi, masing-masing menggendol pedang, Kelihatannya seperti ssudara, Mata mereka menunjukkan sinar angkuh. Melihat si nyonya, mereka lantas melengos, hanya sebentar kemudian, mereka mengawasi. Karena itu. para hadirin kembali memandang si nyonya. sebagai orang buta, nyonya itu tak tahu bahwa orang mengawasi padanya. Tiong Hoa heran"Nona, kedua imam seperti kenal ibumu.." katanya perlahan. Nona itu, dengan kedipan matanya, mencegah orang melanjuti kata- katanya. Salah satu imam berkata pa da kawannya: "Romannya sudah berubah, entah dia entah bukan-.." "Takperduli dia atau bukan, kita turun tangan saja untuk mencoba." sahut yang kawan itu. "Kita coba ekornya sirase, mesti ketahuan-.." Nyonya tua itu buta tapi telinganya terang, Dari itu ia dapat mendengar pembicaraan di antara kedua imam itu, ia nampak menjadi keren-

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Imam yang berdiri dikiri mengangkat tangannya perlahan-lahan diarahkan kepada nyonya tua itu. Lantas ada angin yang mendesak mukanya. Tiong Hoa merasakan angin ini, hawanya dingin, lunak tapi lekas berubah menjadi keras, ia menjadi heranSi nona mengerutkan alis, dengan tangannya dia menolak. Tiba-tiba si imam mundur tiga tindak. tubuhnya terhuyung. Belum lagi dia berdiri tetap. si nona sudah bertempat ke depannya, untuk menuding dan menegur. "Oh, hidung kerbau, kamu tidak pantas Kenapa kamu mencari onar tanpa sebab? Kalau bukan aku awas dan sebat. tentulah ibuku roboh di tangan kamu." Imam itu kaget, mukanya pucat, matanya bersinar tajam, ia mencoba si nyonya dengan tenaga lima bagian, di luar dugaan, si nona merintangi ia. itulah kejadian didepan banyak orang. Dia menjadi gusar. Dia kata. "Kami berdua adalah Mauw san siang Kiam, belum pernah kami lancang turun tangan. Kali ini pun aku cuma mencoba, guna mendapat kepastian ibumu ini benar Lo sat kwie Bo yang dulu hari termasyhur atau bukan. Mendengar itu, ruang menjadi sunyi. Si imam meneruskan berkata: "Dulu hari justeru kami pergi pesiar, Lo sat Kwie Bo sudah membasmi muridmurid Mauw san pay, dan kuil kami pun dibakar ludes. Karena itu kami berdua merantau mencarinya" "Hm" mengejek si nona. "Kata-katamu ini tepat untuk dipakai mengelabui orang-orang dogol. Roman Lo-sat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kwie Bo apa kamu tidak kenali, toh kamu berani menyebut orang musuh kamu, Aku tidak tahu Lo sat Kwie Bo tetapi aku tahu ialah satu syarat hidupnya, Yalah kalau orang tidak ganggu dia, dia tidak bakal mengganggu lain orang. Kamu tidak kenal dia, kenapa dia pergi ke gunung kamu?" Ditegur secara demikian, merah mukanya imam itu. Dia menyeringai dan kata: "Kau tahu syarat hidup Lo sat kwie-bo, kau pasti muridnya. sekarang aku hendak hajar yang muda, mustahil yang tua tak muncul?" Mauw san siang Kiam memang b ersaudara kembar dan nama mereka terkenal karenw ilmu pedang mereka. Merekalah Ceng Leng Toojin dan Ceng inToojin, Mengenai perkara mereka dengan Los at Kwie Bo, merekalah yang bersalah. Adik misan laki-laki Lo-sat Kwie Bo mem buka piauw kiok, ketika dia mengantar piauw (pio), di kaki gunung Thay Hang san dia dipegat dan di begal Hul-thian cie Ciao Pioe si Tikus Terbang. Adik misan itu gagah dan sebelah tangannya si berandal dikutungi ciao Pioe muridnya Ceng leng. Dia mengadu yang tidak-tidak pada gurunya, Ceng Leng dan Ceng in gusar, mereka lantas sateroni si piauwsie, yang mereka bunuh serumah tangganya. Ketika Lo-sat Kwie Bo ketahui itu, dia pun gusar, dia mendatangi gunung Mauw san. Kedua imam kebetulan tidak ada di gunung, tetapi Lo sat Kwie Bo gusar, dia melabrak. dia bunuh semua muridnya kedua imam itu dan membakar juga kuilnya. Dia belum puas, dia merantau mencari Mauw san siang Kiam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Apa lacur, dia bertemu musuh lain dan dia kalah hingga kedua matanya buta serta kedua kakinya bercacad dan mati kaku, sampai sebegitu jauh. Mauw san siang Kiam masih belum tahu kenapa muridmuridnya dibinasakan dan gunungnya diludaskanSudah lewat sepuluh tahun, Ceng Leng dan Ceng In masih belum dapat mencari Lo-sat Kwie Bo, itu berarti pembalasannya belum dapat diwujudkan, tetapi mereka mendendam terus dan memikirkannya setiap harinya. Di Hoei bo- kauw mereka dapat melihat si nyonya lantaran mata orang buta dan kaki mati, mereka bersangsi. Yang mereka lihat seperti lukisannya, nyonya itu memiliki tahi lalat merah dijidatnya betulan saja. Karena ini mereka bersangsi melihat si nyonya tua, maka mereka mau menguji. Dalam murkanya si nona kata pula bengis "Kamu dua potong sampah, kamu berani main gila di depan nonamu. Aku tak takut pedang mustika kamu." Kedua imam gusar sekali, apa pula Ceng In Too j in. Mauw san siang Kiam kesohor untuk ilmu pedangnya Pek Wan Kiam-hoat atau lutung putih. Nama mereka besar, seharusnya mereka malu melayani seorang nona, tapi kata- kata si nona tajam, mereka gusar tak terkendalikanBegitulah Ceng in tertawa dingin dan kata: "Baik, baik, Nona tak memandang kami, kau mesti murid orang lihai, kami ingin menerima pengajaran dari kamu." Sebelum si nona menyambut, orang yang mukanya bertapak golok tadi -- orang dari perkampungan Ie Keo

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Po -- campur bicara dan berkata nyaring. "Di luar ada pekarangan luas, baik kamu main-main di sana. Aku Hoe bin-long Lie Koei dari Ie Koe Po suka menjadi saksi." "Oh." terdengar suaranya Ceng Leng. "Lio Loosoe, kami belum pernah bertemu lagi Ie Pocu selama sepuluh tahun. semoga dia sehat dan berbahagia, harap kau tolong sampaikan hormat kami" Hoa-bin-long Lie Koei si serigala Belang tertawa lebar. "Nama tootiang kesohor, pocu sering membicarakannya," ia kata, "Baiklah, nanti aku menyampaikannya, Terima kasih. sekarang silahkan mulai." Si nona mendongkol dia mengawasi tajam si serigala Belang itu. Mauw san siang Kiam menjadi bersangsi. Mereka seperti telah menunggang harimau sehingga sukar untuk mereka turun dengan begitu saja, terpaksa mereka berdiam terus sembari mengawasi bengis si nona. Si nyonya tua tetap berdiam, mendengar semua pembicaraan itu, wajahnya tak berubah. Ia sebenarnya gusar tapi ia menyabari diri, ia ingin lekas pulang untuk dapat mengobati mata dan kakinya .Jadi tak sudi ia bertempur. Ketika itu cuaca sudah gelap dan pelayan telah mulai memasang lilin- Di antara sinar api semua orang tampak tegang, Akhirnya Lie Tiong Hoa berbangkit, ia memberi hormat kepada kedua imam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Tootiang orang beribadat, buat apa too tiang melayani wanita?" ia berkata bersenyum. " Kalau hal ini sampai tersiar, apakah too tiang tidak bakal mendapat malu?" Inilah ketika bagus untuk Mauw san siang Kiam mengundurkan diri, Ceng Lin ingin menjawab anak muda itu ketika si nona memandang si pemuda dan berkata: " Kenapa kau campur tahu urusan ini? Nonamu justru ingin mengajar adat kepada kedua hidung kerbau ini, untuk aku melihatnya mereka masih berani mendatangkan onar atau tidak." Nona itu ketahui duduknya hal, ia ingin melampiaskan kemendongkolan ibunya sebab ibu itu sungkan turun tangan, ia suka mewakilinya. Tiong Hoa tidak dapat menerka hati si nona, maka itu, kena ditegur, mukanya menjadi merah, hingga ia berdiam saja. Melihat orang kebogehan, si nona tertawa seraya terus berkata, "Kau tunggu di sini melihat ibuku." Kemudian ia memandang ke dua imam, untuk berkata tawar: "Hayo ke luar Apakah kamu ingin nonamu menyeret kamu?" Mauw san siang Kiam mendongkol bukan main, sambil tertawa dingin, keduanya bertindak keluar, samar-samar terdengar suaranya Ceng In: "Budak ini tak tahu langit tinggi dan bumi tebal." Si nona kembali mengawasi si anak muda, ia tertawa dan memesan pula perlahan: "Aku minta kau menemani ibuku, seb entar aku nanti haturkan terima kasihku kepadamu"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika itu, mengikuti kedua imam, para hadirin sudah pa da pergi keluar, maka di dalam ruang itutinggalsi nona bersama ibunya serta sipemuda. Semangat Tiong Hoa seperti terbang melihat dua kali si nona tertawa, Wajah nona itu mirip bunga hoe-yong dan alisnya mirip daun yang lioe. Apapula ketika si nona melirik padanya selagi dia bertindak keluar. Tiong Hoa lagi kesengsam ketika ia mendengar si nyonya berkata sambil menghela napas padanya: "Anak muda, tahukan kau aku si orang si tua orang macam apa?" "Aku telah menduga delapan sampai sembilan bagian, hanya aku yang muda tidak berani menyebut nama loo cianpwee," Tiong Hoa menyahut cepat. Muka seperti tengkorak nyonya itu tertawa, ia kata: "Anakku In Nio ini belum pernah ada priya yang menarik hatinya, maka itu mungkin pa da kau dia melihat sesuatu, Dia gampang sekali tersinggung, kau baiklah berhati-hati terhadapnya." ia berdiam sebentar lantas ia kata pula: "Aku si orang tua dapat menjaga diriku, kau pergi keluar melihat si In.. Tiong Hoa girang mendengar kata- kata itu, ia memang ingin keluar, Tak enak hatinya berdiam berduaan saja dengan nyonya tua itu. "Baiklah, loocianpwee" ia kata, Lantas ia memberi hormat danpergi. Di luar, sang malam terang sekali. sang rembulan tengah permainya. Disisi pekarangan itu bulan tengah permainya. Disisi pekarangan telah berkumpul penonton tak kurang dari pada delapan puluh orang, Di tengah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gelanggeng si nona lagi berdiri sembari mengawasi kedua imam sambil tertawa, ia baru saja menanya: "Aku minta tanya kedua tootiang ingin main- main secara apa ? satu lawan satu atau kamu meluruk berdua? Nona mu selalu bersedia mengiringi kamu?" Nona itu merangkap kesesatan dan kelurusan, kata katanya itu keluar dari hati tulusnya. Tapi di telinga Mauw san siang Kiam, suara itu tak sedap terdengarnya, Biar bagaimana, merekalah ketua suatu partai dan selama merantau, belum pernah ada orang yang berani menghina atau mempermainkannya, sekarang si nona tak memandang mata padanya, Panas hati mereka, Lebih-lebih Ceng In yang cupat pandangannya. Dia tertawa dingin lantas dia lompat menerjang. Dia mau menangkap tangan si nona. Tiong Hoa dapat melihat itu, dia terkejut ia kuatir si nona terlukakan si imam. Tapi nona itu, melihat orang bergerak. dia tertawa. Dia kata: "mau nekad, kau hendak mengadu jiwa, baik, sebentar nonamu akan membikin kau memperoleh kepuasan." Sembari berkata begitu, dia berkelit dengan lincah, Bahkan tahu-tabu dia sudah berada di belakang orang. Dengan kedua tangannya ia lantas menotok dua jalan darah Ceng Cok dan Ie-boen dari imam itu. Ceng ln terkejut, ia mendengar suara angin- Tahulah ia bahwa nona itu tidak dapat dipandang, ia geser tubuh ke kanan, ia berbalik, dengan kedua tangannya ia menyambuti serangan, ia mendak sedikit, untuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menggunai tipu silat "Badak dongak memandang rembulan." Nona itu tertawa pula, kedua tangannya ditarik pulang, Berbareng dengan itu, tubuhnya berputar , ia berputar terus sampai tujuh atau delapan kali, mengitari si imam. Ceng In menjadi repot dan bingung, ia mesti turut berputaran, karena mana, ia merasa matanya kabur. si nona bergerak dengan sangat cepat, Kalau ia alpa, ia bisa celaka, ia kenali si nona lagi menggunai tipu silat "Thian mo loan koe," yaitu Hantu langit menari," Maka terpaksa ia berlompat ke luar. Justru orang menyingkir justru si nona menyerang, tangan kirinya menyambar jalan darah kiok-tie ditengan kanan imam itu. Ceng In kaget, Tak dapat ia menangkis, ia cuma bisa berkelit, Saking terpaksa, la berlompat pula terlebihjauh. Si nona tertawa pula, ia menyusul tangan kirinya meluncur. Ketika ia gagah tubuhnya berlompat tinggi melewati si imam. ketika ia menginjak tanah, cepat luar biasa ia berbalik terus tangan kanannya menyerang, mencari jalan darah leng-kio di dada kiri si imam. Kesebatan itu membikin bengong para penontonCeng Leng pun kaget, Kecuali lompatan itu, yang harus dikagumi, ia juga mengenal totokan tangan kiri dan kanan si nona. Totokan tangan kiri itu bernama memedi menggerogoti tulang. itulah ilmu silatnya kaum sesat. Dan totokan tangan kanan, "Tapak tangan Kim-kong" ilmu silat kaum lurus,jadi dia menggabung kepandaian

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kedua kaum persilatan itu Anehnya itu dimiliki seorang wanita demikian muda, karena ini, ia jadi mau membantui saudaranya, kalau tidak, ia kuatir saudaranya bercelaka. Tanpa ayal lagi, sembari berseru, ia berlompat maju, terus ia menyerang dengan pedangnya, yang ia hunus sambil berlompat, hingga ia menyerang dari atas ke bawah. Si nona mendapat tahu datangnya musuh yang kedua, ketika ia di serang, ia berkelit sambil mendak. dengan begitu, pedang lewat di sisinya, Lantas dengan cepat ia mendupak kearah pedang. Tepat dupakannya itu, pedang terkena hingga berbunyi nyaring. Ceng Leng terperanjat. Jejakan itu keras sekali, pedangnya terasa berat, lengannya kaku tak bertenaga. Si nona tak berhenti dengan jeb akannya itu, ia bangun berdiri, terus ia menyerang. Sekarang ia menggunai kedua tangannya, ia menyerang kedua tangan lawan, itulah tipu silat "Naga perak membiak sisiknya." Selagi si nona menyerang itu Ceng In, yang memperoleh ketika, telah menghunus pedangnya juga, terus ia menyerang, ia mau menolongi saudaranya yang terancam bahaya. Ceng Leng sendiri kaget hingga ia merasa pamornya bakal runtuh. syukur datang pertolongan saudaranya itu, si nona batal menyerang terus, Nona itu mau melindungi diri dari pedang Ceng In. Maka si imam lompat ke samping.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Nona itu tertawa, dia kata. "Nonamu menyangka Mauw San siang Kiam liehay luar biasa, kiranya cuma sebegini" Dia bicara sambil berdiri tegak, di bawah sinar rembulan, dia nampak seperti seorang dewi. Kedua imam bingung bukan main. Mereka tak kenal sinona, dengan begitu mereka jadi tak ketahui asal usul orang, Di dalam hati mereka mengakui keliehayan orang yang masih muda sekali tetapi dapat menggabung ilmu silat kaum sesat rtan lurus, di lain pihak mereka sangat penasaran. Selagi ceng Leng memikirkan daya untuk mengalahkan lawannya, Ceng In melihat si anak muda berdiri terpisah enam tombak, matanya mengawasi si nona saja, Pemuda itu agak tersengsam. Menampak demikian, ia mendapat akal-muslihat yang licik. Begitulah mendadak ia lompat ke depan si nona untuk menikam. Ceng Leng melihat ketikanya, ia pun membarengi menyerang, Si nona lagi mengawasi, maka ia melihat gerakan kedua lawan itu. ia bersiap untuk melayani. Baru ia berkelit dari Ceng In, mendadak imam itu beriompat ke samping, tangan kirinya terus diluncurkan, guna meny amber si anak muda. Tatkala itu tibalah pedang Ceng Leng, Si nona meluncurkan dua jari tangannya. Untuk menyambuti pedang, untuk di sampok dengan dua jarinya itu, ia berhasil, pedang berbunyi nyaring dan terpental Ceng Leng kaget bukan main, ia merasa lengan dan telapakan tangannya sakit, Tak dapat ia mencekal terus pedangnya, Pedang itu mental ke atas genting.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Nona itu menggunai tenaga "cit Yang," itulah ilmu silat ajarannya tocu atau pemilik, dari pulau Lee Coe To di Poet-hay di teluk Titlee, Untuk pertama kalinya, pemilik pulau itu menggunai tenaga Cit Yan itu atau Cin Yang Cie-Iek dalam pertempuran di gunung Jang Wie san di telaga Thay ouw. Dalam tiga jurus dia mengalahkan see-hek Mo Ceng, pendeta hantu dari wilayah Barat, sampai tulang iga orang remuk dan dengan muntah-muntah darah pendeta itu lari kabur, sedang dua belas imam dari Lu Liang san terbinasa dengan pedang mereka rusak, itulah peristiwa yang menggemparkan, yang membikin tocu itu menjadi kesohor. si nona belum mencapai kemahirannya, tetapi toh kedua imam ini sudah kewalahan. Habis membikin mental pedang Ceng Leng, si nona terkejut melihat Ceng In yang mundur dari hadapannya, mau mencelakai si anak muda. "saudara Lie, awas" ia berteriak. Tiong Hoa mendengar peringatan itu sesudah kasip. ia lagi mendelong tatkala si imam berhasil meny amber lengannya yang kanan. segera ia merasakan nyeri hebat, tapi ia tidak menjadi gugup, bahkan ia mendongkol sekali. sambil menahan sakit, ia membalas menyerang. Ia menggunai tinju kirinya sekuat tenaganya. Inilah tidak disangka Ceng ln, syukur dia tidak menjadi gugup, sambil melepaskan cekalannya, dia berkelit, lalu sambil berkelit itu, dia menyabet dengan pedangnya ketangan kiri si penyerang. Hanya baru lewat satu hari dan satu malam pengetahuan Tiong Hoa menjadi bertambah, ia menyingkirkan tangan kirinya dari sabetan pedang, tetapi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ia tidak berkelit mundur. Dengan tangan kanannya yang sudah bebas, ia membarengi menyerang, menghajar lengan kanan si imam. Si nona melengak melihat kepandaian si anak muda, itulah bukan caranya si hijau dalam dunia kang-ouw, ia menjadi kagum, hingga selain hatinya lega, iapun bersenyum memperlihatkan sujennya. Ceng Leng bingung, juga Ceng In. Di luar dugaannya, si nona gagah, si pemuda gagah juga, Karena itu, mereka memikir untuk mundur dengan teratur. Tak lama keduanya memakai tempo. Tiba-tiba mereka lompat mundur, selagi si pemuda dan pemudi heran, mereka maju pula, terus mereka merangsak, menyerang saling susul itulah ilmu pedang mereka, "Mauw san Toan Hoen Kiam hoat" atau "Memutus Arwah." Luar biasa si anak muda, Mendadak malam ini ia memperoleh semangat. ia melayani dengan baik, tabah dan gesit, Dan begitu terbuka ketikanya, ia desak Ceng In. Lagi-lagi si imam heran dan kaget, mukanya menjadi pucat, Bukankah ia seorang jago? dan memegang pedang juga? Lantaran di-desak, ia repot membela diri sedetik ia bingung, dadanya lantas tertindih si pemuda hingga ia menjerit, terpaksa selagi terhuyung, ia memutar tubuh untuk lari ke arah timur. Ceng Leng tahu diri, ia pun lari meninggalkan si nona. Tiong Hoa tidak mengejar musuhnya, ia berdiri tegak, gerakannya gagah. si nona melihatnya, dia menjadi kagum, hatinya girang. Benar-benar luar biasa, toh waktu diserang ibunya, pemuda itu mirip seorang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidakpunya guna, sebab ia tak dapat menangkis, tak bisa berkelit. Juga Tiong Hoa sendiri heran atas dirinya, tiga tahun ia belajar silat, ternyata itu tak sia-sia belaka, jadi tak kecewa gurunya memberi pelajaran kepadanya. Rupanya dulu ia kurang bersemangat karena perlakuan orang tuanya yang menekan bathinnya dan setelah merdeka, ia bebas benar benar, sekarang iapun memperoleh kawan cantik manis, yang erat sekali pergaulannya dengannya . Satu hal tak diketahui si muda mudi. Hati Mauw san siang Kiam telah menjadi rada ciut ketika mereka menduga si nyonya adalah, Lo-sat Kwie Bo, pukulan itu berakibat buruk. hingga melayani muda mudi itu, hati mereka hilang ketenangannya. inilah yang mempercepat kekalahannya. Lantas si nona menghampirkan Tiong Hoa. Dia bersenyum. "Aku salah mata?" katanya, "Aku tidak nyana kau bisa mengalahkan Ceng In si imam jago dari Mauw san." Mukanya pemuda itu menjadi merah, ia likat. "Kau memuji saja, nona." katanya jengah, "Kepandaianku cetek tidak berarti, tak dapat aku dibandingkan dengan kau. Lihat saja caranya kau menyentil pedang orang barusan-" Nona itu senang sekali dengan itu pujian- ia kata dalam hatinya, pemuda ini bisa bicara, dia pun tampan, maka entahlah ibu menyukai atau tidak..." Ia lantas ingat bahwa sebegitujauh belum pernah ibunya memberi hati kepada kaum pria, bahkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

semenjak buta, ibu itu makin keras sikapnya, asal dia mendengar suara pria, dia mau lantas menyerang. Jangan bicara begini manis." katanya, bersenyum, "siapa tahu kau tidak bicara setulusnya hati? Mari, mari kita melihat ibu." Dan ia bertindak lebih dulu masuk kedalam. Kata-kata "Kita" itu membikin Tiong Hoa berpikir seperti terkena pengaruh, ia lekas menyusul. orang-orang le Kee Po, dipimpin Lie Keei, telah buyar entah kemana, Para tetamu lainnya pada tak berani mengikut ke dalam. Mereka pun bicara dengan kasak kusuk. Maka itu, habis pertempuran sang malam menjadi sunyi. Dari dalam rumah makan merangkap penginapan itu, dimana hanya terlihat sinar lilin, mendadak terdengar teriakan kaget: "lbu..." ooooo hh KETIKA Tiong Hoa tiba di dalam, ia kaget, ia dengar jeritan si nona, lantas ia melihat tubuh nona itu melompat ke luar jendela, hingga api lilin bergoyanggoyang. si nyonya tua tak nampak. Di atas meja nampak dua tapak tangan yang melesak dalam. Di lantai menggeletak sepotong tongkat. Di dekat meja, dua buah kursi ringsak. Dalam sekejap itu, si anak muda lantas menduga mestinya si nyonya tua kena diculik orang, Mestinya culik itu gagah, sebab mereka telah bertempur lebih dulu, Atau si nyonya lari mengejar musuhnya... Tiong Hoa berkuatir dan menyesal, la ingat pesan si nona tadi untuk ia menunggui ibu orang itu, Toh ia pergi keluar walaupun ia dititahkan si nyonya, seharusnya ia tolak titah itu, atau ia menjagai dari luar, ia menjadi tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

enak hati. Kalau ia ketemu si nona, apa ia mesti bilang? Maka ia menjadi bingung, ia berdiri menjubIak. Tapi tak lama, ia sudah mengambil keputusannya, ia melompati jendela pergi keluar, ia mengguna i ilmu lompat melesat yang gesit, yaitu "Hoa i yap touw lim." atau "Daun terbang ke dalam rimba." Tatkala ia sampai di luar, suasana sunyi, Bintang banyak, rembulan masih sedang terangnya. setelah melihat kelilingan dan tak melihat siapa juga, ia lantas lari keluar Bao Lie Tiang shia. Tembok Besar, untuk menuju ke gunung siauw Ngo Tay. Gunung itu panjangnya mencapai beberapa ratus lie, banyak pohonnya, banyak batunya, seperti umumnya gunung sukar juga untuk dimendaki. Tapi Tiong Hoa, setibanya, lantas lari naik, ia mencari si nona dan ibunya inilah tugas sulit dan berat untuknya. sukar mencari orang di tempat sepi dan belukar itu Gagal Tiong Hoa malam itu, tak dapat ia mencari wanita tua dan muda itu, ia melanjuti di waktu pagi dan siangnya, terus tengah hari, lohor dan sore lagi, ia tetap gagal, ia bingung dan bertambah kuatir, ia berfikir keras. semua itu tidak menolong, ia mencari terus tanpa hasil, sampai berhari-hari. Tak pernah Tiong Hoa turun dari siauw Ngo Tay, ia menjelajah gunung itu. Untuk menangsal perut, ia makan saja buah-buahan, Untuk menghilangi dahaga, ia mencari sumber air, ia tidak dapat menyalin pakaian hingga baju dan celananya kumal dan kotor, sampai rambutnya tak terurus, ia tak lagi si pemuda tampan saking dekilnya itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sampai di hari ke lima, Tiong Hoa tetap gagal. Di gunung itu, seorang tukang kayu pun tidak ada. sebaliknya, hampir ia di-pagut ular. syukur tubuhnya ringan dan dapat ia berkelit dari ancaman bahaya itu. Bahkan pengalaman itu merupakan latihan bagus untuk kepandaiannya itu. Setelah kewalahan, ia pergi keluar dari gunung, ia berada di mulut lain dari gunung itu, ketika ia meraba mukanya, ia kata: "Ah, aku mesti mandi." Maka itu ia berjalan mencari selokan, yang berada tujuh atau delapan tombak dari dirinya, ia mendengar suara air berkericik, ia jongkok di tepian, ia menyaup air dengan kedua tangan nya, untuk mencuci mukanya. Mendadak... Jangan! Jangan. Air itu tak dapat dipakai..." Tiong Hoa terkejut, hingga air pada molos dari selasela jerijinya, ia lantas menoleh ke arah dari mana suara datang, suara itu bergemetar, datangnya dari rumput di sampingnya. Sesudah lima hari seperti terpisah dari dunia, Tiong Hoa heran berbareag mendapat harapan, ia lantas bertindak menghampirkan, Di dalam rumpun rumput itu ia melihat seorang tua dengan baju kuning rebah tak berdaya, romannya sangat kucal, mukanya bengis, tak berkumis, kepalanya lanang. Matanya pun guram ketika dia melihat orang yang meng hampirkan padanya . "Eh, bocah, aku telah menolong jiwamu" katanya sembari tertawa dingin- "Maka itu kau harus melakukan sesuatu untuk aku si orang tua." Tiong Hoa heran. "Apa? ia tanya, "Kau telah menolongi jiwa ku? oh, looj in- kee, janganlah kau berguyon- Untuk berbuat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sesuatu untukmu, itulah pantas, nanti aku berikan bantuan, Hanya aku ingin lihat dulu, apakah itu yang aku kerjakan-.." Orang tua itu membuka matanya lebar-lebar. "Kau tidak percaya aku?" bilangnya, "segera kau akan ketahui sebenarnya itu bukan apa apa. sekarang kau tolong dulu mengeluarkan satu peles kecil dari pinggangku, kau ambil sebutir obatnya, kau masuki itu ke dalam mulutku si orang tua." sekarang Tiong Hoa bisa melihat tangan dan kaki orang itu tak dapat digeraki. "oh," katanya, "Aku kira kerjaan apa, tak tahunya pekerjaan sangat mudah." Ia membungkuk. merabah pinggang orang tua itu, ia mendapatkan peles kecil yang di sebutkan itu, Dengan perlahan ia meloloskannya, terus ia buka sumbatnya, Lantas hidungnya mencium bau harum, hingga dadanya menjadi lapang. Ketika ia menuang isinya, keluar enam butir obat pulung, warnanya merah dadu, kuning gading dan putih susu. ia jumput sebutir yang merah dadu itu, yang lainnya ia masuki pula dan menutupnya dengan rapat, selama itu si orang tua menatap tajam wajah orang. Tiong Hoa menyirapi obat itu si orang tua mengganyangnya sambil merapatkan matanya. Tak lama kemudian, muka pucat orang tua itu mulai bersemu dadu. Si anak muda heran, itulah perubahan untuk orang yang mengerti ilmu tenaga dalam. Maka ia mau menduga, orang tua itu seorang jago Rimba Persilatan. Hanya kenapa kaki tangannya mati-mati.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Apakah dia habis dibokong musuh? Kalau benar, musuh itu lihai sekali, Kalau benar begitu, kenapa dia tidak sekalian dibunuh mati? Tengah Tiong Hoa berpikir begitu, tubuh si oraog tua berkutik, Dia mulai menggeraki tangan dan kakinya perlahan-lahan. Agaknya dia lagi mencoba-coba, tidak lama, sekonyong-konyong dia bangun berdiri, terus dia tertawa berkakak. Nyaring tertawanya itu. Dan lama juga. Habis itu, dia menatap anak muda di depannya, "Anak muda, kau datang ke gunung ini dengan membawa banyak uang, buat apakah itu?" dia tanya, Dia lantas melihat bungkusan uang orang. Tiong Hoa membayar pulang peles obat. "Sudah lima hari aku yang muda berada di atas gunung ini mencari orang" ia menyahut tertawa, "Aku tidak berhasil mencari, dari itu terpaksa aku turun gunung." "Oh begitu" kata orang tua itu tertawa pula "Aku kira gunung siauw Ngo Tay ini ada orang hutannya." ia menatap kembali tajam. ia berkata pula, "Aku si orang tua, aku biasanya tak suka menerima budi orang. Ketika tadi kau berdiri di mulut gunung itu, sudah aku melihatnya, hanya aku tidak mau memanggil kau, baru setelah kau mengambil air, aku menegurmu, Dengan begitu aku menolongi jiwa mu. Dengan demikian juga, kita menjadi tidak saling berhutang budi, selokan itu telah aku campuri racun, siapa kena minum atau pakai airnya, dia mesti binasa, taksalah lagi, jikalau kau tidak percaya. pergi kau ikuti selokan itu, sebentar saja kau akan dapat buktinya bahwa aku tidak rnendusta."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa kaget. Toh ia bersangsi, Maka ia bertindak ke hilir, Baru ia melalui lima atau enam tombak. la terkejut bukan main- Di tepian itu terlihat menggeletak tiga mayat manusia, mukanya matang biru tanda terkena racun- Darah pun keluar dari mata. hidung mulut dan telinganya, dari liang keringatnya. Karena kedua mata mereka masing-masing mendelik, itulah bukti kebinasaan yang hebat. Dengan hati berdebaran, ia kembali kepada si orang tua, Tanpa menanti orang membuka mulut, si orang tua menyambut dengan tertawanya. "Apa kataku?" dia tanya, "tiga orang itu musuh besarku selama hidupku" setiap tiga tahun sekali. kita membuat pertemuan, kita bertempur mati-matian, Mereka bertiga selalu berkelahi bersama dan berbareng. Sebegitu jauh belum pernah kita kalah atau menang. Baru kali ini aku memikir akal..." Dia mengawasi pula, agaknya dia puas sekali. Dia melanjuti: "kita mulai bertempur, aku bicara dengan mereka itu. Aku menyarankan untuk jangan mengadu tangan dan kaki hanya untuk mengukur saja tenaga dalam masing-masing, Mereka itu bangsa kepala besar dan jumawa, mereka tidak sudi mengalah, maka itu mereka menerima baik saranku itu. Dengan begitu kesalah mereka tertipu aku..." "Siapa mereka itu? Mestinya mereka juga jago Rimba Persilatan..." Orang tua itu menentang matanya, "Apa?Jago Rimba Persilatan?" katanya mengulangi. "Mereka justeru bangsa buruk dan terkutuk sudah lama aku memikir

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyingkirkan jiwa mereka, saban-saban aku bersangsi, tapi kali ini Thian membantu aku, dan dengan demikian untuk kali ini hatiku dibikin mantap. Aku mengusulkan kita sama sama minum air, lalu kita semprotkan ke-pohon yang menjadi sasaran atau batu ujian kemahiran tenaga- dalam kita. Siapa yang dapat merontokkan semua daun, dialah yang menang, Siapa yang kalah, dia bersedia untuk dihukum cara apa saja oleh pihak yang menang. Kita berkelahi dengan satu lawan tiga, tentu sekali, harapanku ialah harapan kalah, Mereka menerima usul itu sambil bersenyum. terang mereka sudah merasa bakal menang. Mendengar begitu, Tiong Hoa menoleh dan melihat empat pohon bong berdiri berendeng, daun-daunnya sudah rontok separuhnya, itulah pertaruhan bukan mainDalam musim seperti ini, daun pohon sedang kuatnya melekat pada tangkainya. "Mereka tidak tahu bahwa aku menggunai tipu muslihat." si orang tua melanjuti penuturannya. "Selagi aku mengambil air, diam-diam aku melepaskan sepotong racun- siapa terkena itu tak dapat sembuh kecuali dia makan obat pemunah ku, Itulah ini obat merah, Habis minum air sebanyaknya, kita mulai mengadu kepandaian, Siapa pun diantara kita tak ada yang sanggup merontokkan semua daunnya pohon itu, Selama itu, racun sudah, bekerja didalam perut mereka. Mereka liehay sekali, lantas mereka merasa, terus mereka menduga duduknya hal. Lantas mereka menutup jalan darah mereka, bersama-sama mereka memaksa aku menyerahkan obat pemunah. Coba kau pikir, mana

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dapat aku meluluskan permintaan mereka itu? Maka mereka menyerang aku, Aku membela diri. Ketika itu racun di perutku juga bekerja, Mereka tidak berhasil mendapatkan obat dari aku, mereka mati keracunan, Habis itu akupun roboh. Kau telah lihat bagaimana kau menemukan aku..." Lie Tiong Hoa menggeleng kepala. "Masih ada yang aku tidak mengerti," katanya, "Kamu sama sama minum racun. kenapa mereka mati tetapi loojin-kee tidak? pula air selokan itu mengalir pergi, seharusnya racunnya terbawa hanyut, Mustahil racun itu tetap mengambang?" Orang tua berbaju kuning itu tertawa lebar. "Bocah, kenapa otakmu tidak cerdas?" dia kata, "siapa menggunai racun mustahil tak tahu sifat racunnya sendiri? Begitu aku merasa racun mulai bekerja, aku mengerahkan tenaga- dalam membuat racun mengalir hanya ke tangan dan kakiku. Tidak demikian, pasti aku pun sudah melayang jiwaku. sebelum tangan dan kakiku mati. mereka terhajar tanganku hingga pecahlah pembelaan diri mereka, hingga racun meluluhkan, menyerang semua anggauta dalam tubuh mereka. Habis berkata begitu, mendadak orang tua itu menyamber lengannya Tiong Hoa. Si anak muda kaget tetapi tak sempat dia berkelit atau berlompat, dia terpegang dan kena ditarik si orang tua sampai belasan tombak jauhnya, baru dilepaskan. orang tua itu pergi ke selokan, untuk memasuki tangannya ke dalam air, merogo keluar sepotong benda sebesar telur angsa warna hitam kehijau-hijauan bercahaya, Dia ulapkan itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kau tentu mengerti sekarang" katanya, tertawa, " inilah bisa ular ribuan tahun yang telah membeku menjadi seperti beling, Kalau ini direndam di dalam air, air racunnya setetes saja dapat merusak usus, terus orang mengeluarkan darah dan mati." Tiong Hoa bergidik, "Benarlah kata guruku," kata ia dalam hati, "di dalam kalangan Rimba persilatan tidak ada yang tidak aneh, maka itu perlu orang waspada." Menampak si anak muda berdiam saja, orang tua itu tertawa pula. "Anak muda, apakah kau mengerti ilmu silat?" dia tanya. "Pelajaranku tak berarti, tak berani aku menyebutnya ilmu silat," sahutnya, ia bersenyum likat. "Tak perduli kau yang benar atau tidak. kata-katamu tepat," kata si orang tua. "Memang ilmu silat dalam bagaikan lautan, Aku tersohor dalam dunia Rimba persilatan, toh pengartianku belum ada satu persenpun, Kau dapat merendah, sifatmu terbaik, Aku si orang tua berhutang budi padamu. nanti aku menyempurnakan kau." Tiong Hoa tertawa. "Tadi toh loojinkee mengatakan kita tidak saling berhutang." katanya. "Kenapa sekarang loojinkee bilang ada berhutang kepadaku?" Orang tua itu mengawasi, sinar matanya tajam. "Kau ngaco, kau tidak tahu." katanya, "obatku tadi, apabila yang putih, ialah salah sebuah mustika Rimba Persilatan, Namanya itu PouwThian Wan, pel penambal langit. siapa makan itu, tenaganya bertambah seperti latihan sepuluh tahun. Dia akan seperti tertukar tulang-

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tulangnya, Dalam seratus orang Rimba Persilatan, tak satu yang memilikinya. Dua obat yang lain juga besar faedahnya. Tadi obatku berada dalam tanganmu, kalau kau memikir merampasnya dan kau tinggal aku lari, apa aku bisa bikin? Nyata hatimu lurus, itu yang membikin aku bilang aku berhutang budi padamu." Tiong Hoa menggeleng kepala, dia tertawa. "jikalau tadi aku mengetahui itulah obat mujarab, mungkin aku membawanya lari" ia kata. Orang tua itu tertawa berkakak. untuk ke sekian kalinya ia menatap pula, Dengan mengawasi mata orang, ia seperti mau menembusi hati. Terus ia mengasi lihat roman sungguh-sungguh. "Kaulah orang dengan bakat silat yang baik sekali." ia kata, "sayang aku si orang tua, tidak mempunyai kesabaran untuk menerima murid, Pada empat puluh tahun dulu pernah aku mengambil seorang murid, baru satu tahun setengah, aku meninggalkannya, semenjak itu, aku dan muridku itu belum pernah bertemu lagi, sekarang aku menjadi terlebih tak sabaran pula, jikalau tidak. pasti kau bakal memperoleh banyak kebaikan dari aku" la berhenti bicara, romannya tetap sungguhsungguh. Tiong Hoa mengawasi ia merasa Jenaka, orang seperti bicara sendiri, ia kata dalam hatinya: "siapa kesudian menjadi muridmu? Akupun tidak sabaran...." Lantas ia tertawa dan kata, "Loo-jinkee, jikalau kau tidak membutuhkan apa-apa lagi, aku mau turun gunung." Orang tua itu lagi mengawasi ketika ia mendengar perkataan si anak muda, ia memikirkan orang berbakat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan bersifat baik lagi jujur. ia tidak sabaran, anak muda itu tidak sabaran juga, Tapi keragu-raguannya lantas lenyap. ia buka sumpel pelesnya, ia mengeluarkan sebutir obat yang putih. "Kau makan ini." katanya, Kemudian ia merogo keluar dari sakunya sejilid buku kecil, sembari tertawa ia berkata, "Aku tidak sangka kau lebih tak sabaran daripada aku, oleh karena kau tidak meminta apa-apa, aku si orang tua menjadi kurang enak hati. obat Pouw Thian Wan itu bakal menonolong kau selama hidupmu" ia terus menunjuk buku kecil itu dan berkata pula: " inilah kitab ilmu silat yang aku ciptakan setelah mengumpulkan sarinya ilmu silat pelbagai partai persilatan. Di dalamnya aku telah melukis tiga belas gambar. Setiap jurus besar faedahnya dan dapat menambah tenaga, ilmu silat itu dalam, diperjalanannya mesti perlahan-lahan, mesti teliti, lebih-lebih orang tak boleh kekurangan pengalaman. siapa tidak mengumpulkan tindakannya, tak dapat dia jalan jauh seribu lie, Kalau tidak ada aliran air kecil, tak nanti ada sungai besar atau hutan, Maka kalau dapat kau meyakinkan ini sampai berhasil, kau akan merasa kefaedahannya yang tak terbatas." Habis berkata, dia menyerahkan kitabnya, untuk pergi lari, hingga sejenak kemudian lenyaplah dia di dalam lebatnya pepohonan si anak muda melengak saking herannya. ia mengawasi terus. Katika itu sudah jauh lohor, maka dengan lewatnya sang waktu cuaca menjadi guram. Melihat itu, Tiong Hoa lantas lari menuju- ke Tok-lok. selagi lari, ia merasa heran ia mendapat kenyataan larinya bertambah pesat, tubuhnya jauh terlebih ringan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Inilah khasiatnya Pouw-Thian-wan." pikirnya. ia menjadi girang sekali. "Aneh pengalamanku. Aneh orang tua itu, Kenapa dia tidak menjelaskan siapa ketiga musuhnya itu dan apa sebab musabab permusuhan mereka?" Dia juga tidak memberitahukan she dan namanya, sedang aku tak sempat menanyakannya. Tepat di saat penerangan dipasang, Tiong Hoa tiba dalam kota kecamatan Tok-lok. Malam ramai, banyak pedagang-pedagang yang berjualan mutar saban-saban meneriaki barang dagangannya, Banyak sekali orang yang berjalan pergi datang, ia lantas mencari rumah makan karena sudah lima hari ia tak pernah makan nasi. Itulah restoran cip Poo Lauw dari mana tersiar baunya barang masakan yang sedap. Ketika ia bertindak masuk. ia diawasi pelayan yang heran buat pakaiannya yang kotor dan mukanya yang dekil serta rambutnya kusut, bau keringatnya pun mendesak. "He, dia pengemis dari mana..." pikir pelayan itu. "Eh, kau mau pergi kemana?" tegurnya selagi melihat orang mau naik di-tangga loteng. Tiong Hoa mendongkol. Dia mendelik. "Aku mau dahar" sahutnya bengis, ia naik terus, untuk menghampirkan sebuah meja. Ada sejumlah orang lagi bersantap. mereka tertawa. Pelayan itu menjadi malu dan mendongkol Dia lantas menghampirkan dengan matanya mendelik. "Dahar itu gampang. Apakah kau punya?" dia tanya ketus. "PIok" begitu satu suara nyaring,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pelayan itu kaget dan gelagapan, terus ia memegangi sebelah pipinya, yang merah dan panas dan bengap. Di situ pun berpetalah bayangan lima jeriji tangan. Tiong Hoa gusar dia mengasi hadiah tempilingan, habis itu dengan roman bengis ia keluarkan sepotong uang perak seharga sepuluh tahil, yang ia gabruki keras di atas meja, dia pun kata: "Apakah kau belum pernah lihat uang? Ambillah ini" Pelayan-itu melongo, pipinya terus di-bekapi. Uang perak itu telah melesak ke dalam meja, itulah yang menambah herannya si-pelayan, kemudian hal itu juga menarik perhatian para tetamu. Siapa tidak mahir tenaga dalamnya tak nanti dapat berbuat demikian, Akhirnya seorang tetamu umur lebih kurang tiga puluh tahun, yang romannya cerdik, menghampirkan Tiong Hoa. "Saudara, jangan layani segala manusia rendah" ia kata tertawa, Kemudian ia menoleh kepada si pelayan, untuk membentak "Anjing. Bukannya lekas pergi menyiapkan barang santapan" Baik tuan." kata pelayan itu yang cepat mengundurkan dia, dia memang lagi serba salah. Tiong Hoa tersenyum. "Aku bukan melayani dia." katanya, "Aku hanya sebal untuk mata anjingnya silahkan duduk, saudara" ia mengundang. Tanpa sungkan orang itu mengambil tempat duduk. tangannya dilonjorkan ke kolong meja, dipakai menekan bagian yang atasnya ada uang melesak itu, lalu terlihat uangnya mumbul sendirinya perlahan-lahan, terus

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

meletik, maka dia meny amber dengan tangan kirinya untuk diletaki didepan si anak muda. Jangan tertawakan aku." katanya tertawa. " Kebiasaanku ini tak dapat disamakan dengan kepandaian kau saudara." Tiong Hoa mengawasi ia kagum untuk tetamu itu. ia sendiri barusan berbuat tidak sengaja, ia tidak menyangka uangnya dapat melesat ke kayu meja. Saudara terlalu merendah ia kata tertawa. Segera juga keduanya berkenalan, orang itu bernama Yan Hong,Tiong Hoa memakai nama Lie Cie Tiong. Diam-diam Yan Hong heran untuk ini kenalan baru, Agaknya orang adalah orang Kang ouw yang masih hijau sekali. orang mirip kepada seorang mahasiswa, gerak geriknya lembut, kata-katanya halus. Tak miripnya dia dengan seorang ahli silat. Barang hidangan lezat, walaupun dia putera orang berharta, di gedungnya sendiri belum pernah Tiong Hoa menyicipi santapan serupa itu, ia pun sedang laparnya, maka ia bersantap dengan lahapnya. Setelah cukup makan dan minum, Tiong Hoa ingin mengundurkan diri, justeru itu di tangga lauwteng terlihat munculnya seorang nona dengan baju merah tua, romannya cantik, mulutnya tersungging senyuman. Langsung nona itu menghampirkan meja mereka berdua Jilid 3 : Sarang penjahat, Benteng Yan-kee-poo

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mata Tiong Hoa bercahaya, ia mendapat kenyataan orang elok tak kalah dengan Cek In Nio. Tanpa merasa, ia mengawasi nona itu. "Toako, ayah mencari kau." berkata si nona setelah dia mendekati Yan Hong. "Aku tahu kau tentu mencuri minum di sini. Lekaslah, nanti ayah gusar." "Aku tahu." berkata anak muda yeng dipanggil kakak itu. "Temponya masih belum tiba, Adikku, mari aku ajar kau kenal dengan saudara Lie ini..." Nona itu mengerutkan alis melihat roman dan pakaiannya si anak muda demikian kotor, Pikirnya. "Kapannya toako bersahabat dengan orang jorok ini? Dan dia memperkenalkan aku. sungguh menyebalkan Toh ia mengangguk. secara acuh tak acuh, habis mana ia memutar tubuhnya, buat pergi pula. "Adikku ini biasa terlalu dimanjakan ibuku." kata Yan Hong tertawa pada sahabatnya. "Dia tidak mengerti aturan pergaulan, Aku minta sukalah saudara Lie maafkan dia." Lie Tiong Hoa bersenyum, Dia berbangkit Jikalau kau ada urusan, saudara Yan, silahkan-" katanya, "Aku pun mau pergi ke rumah penginapan, untuk mandi dan salin pakaian, jikalau ada jodohnya harap lain kali kita bertemu pula." Yan Hong berbangkit. "Adikku itu biasa mengucapkan kata-kata sembarangan saja." "ia bilang, tetapi sebenarnya hatinya tidak memikian, saudara Lie, baik aku turut kau kerumah penginapan, supaya sekalian aku mengetahui kau menumpang di mana agar besok dapat aku mengunjungi kau."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa tidak dapat menampik, maka bersamasama mereka turun dari Cip Poo Lauw, untuk pergi ke sebuah losmen didepan rumah makan itu. Begitu masuk kedalam losmen- Tiong Hoa menyuruh pelayan membelikan ia seperangkat pakaian yang cocok dengan potongan tubuhnya, ia sendiri pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan membereskan rambutnya. Yan Hong melihat masih ada tempo untuknya, ia tidak mau pergi, ia menunggu. Cie Tiong membiarkan sahabat itu menantikan sampai sebentar kemudian ia muncul sesudah mandi dan dandan. Hampir Yan Hong tak mempercayai matanya, yang terus dia pentang lebar, untuk dipakai menatap. sesudah mandi dan dandan, ia mendapatkan sahabat she Lie itu seperti salin rupa, orang tampan sekali. "Ah, tak ku sangka kau begini tampan, saudara Lie" katanya kagum. " Hampir aku tidak mengenali kau" ia lantas melongok ke luar jendela, untuk melihat sinar rembulan terus ia menambahkan. "saudara tentu letih, silahkan beristirahat, besok pagi aku akan datang pula," ia memberi hormat, lantas ia pergi. Cie Tiong tidak menahan, ia mengantar sampai di luar, baru ia kembali ke dalam, ia merebahkan diri dengan pikirannya melayang-layang. Kamar itu diterangi lampu kecil, sedang di luar, si Puteri Malam terang bercahaya indah, Lampu itu mirip kunang-kunang yang berkelak- kelik, Cie Tiong memikirkan pengalamannya beberapa hari itu, la merasa aneh, ia heran, ia pun berduka, menyesal,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bingung. Kemudian berbayang wajah yang cantik dari Cek In Nio, lalu disusul dengan wajahnya si nona adiknya Yan Hong. "Tentulah Yan Hong orang Kang ouw." pikirnya, "Melainkan aku belum tahu sifat dan tabiatnya, Aku mesti berhati-hati. Ia ingat pesan gurunya untuk jangan temberang dalam perantauan, mesti teliti bergaul, sebab salah sedikit, jiwa dapat terancam bahaya. Lama ia diam berpikir itu, lalu ia mengeluarkan buku kecil hadiah si orang tua berbaju kuning yang aneh itu. setelah membalik-balik lembarannya, ia menjadi girang sekali. Nyatalah orang itu Thian Yoe sioe adanya, si orang Rimba Persilatan yang luar biasa tabiatnya. Menurut keterangan gurunya, Thian Yoe sioe liehay ilmu silatnya, dia biasa hidup menyendiri adatnya angkuh gerak geriknya mirip naga yang nampak kepalanya, tidak ekornya." Baik kaum sesat, maupun kaum lurus, semua jeri terhadap manusia aneh itu, siapa mendapatkan kepandaian dari Thian Yoe sioe, meski tak semuanya, dia dapat menjagoi, sekarang Tiong Hoa memperoleh kitab ilmu silatnya jago aneh itu. Semuanya tiga belas jurus tetapi semua jurus itu luar biasa, setiap j urus ada lagi perubahannya, ilmu silat itu menggabung lwe kang dan gwa kang, tenaga dalam dan tenaga luar. Lantas Tiong Hoa membaca, untuk menanamkan, ia juga menggerak-geraki tangan dan kakinya, ia heran hingga ia menjadi masgul. Untuk permulaan itu, tak dapat ia menginsafi bunyinya kitab itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tapi ia tidak menjadi putus asa, ia ingat kata-kata Thian Yoe sioe bahwa ilmu silat mesti dipahamkan dengan perlahan, tak boleh terburu-buru. "Sang waktu banyak. biarlah aku bersabar." pikirnya. Maka ia simpan bukunya itu, terus ia tidur. Tiong Hoa dapat tidur dengan nyenyak. Tak pernah ia menyangka, karena rajin memahamkan kitab itu, dibantu dengan tenaga obat putih, kemudian ia memperoleh banyak kefaedahanKira jam tiga, Tiong Hoa tersadar, ia mendengar angin malam bersinar dan matanya melihat sinar rembulan, ia bangun dan pergi ke luar dengan membawa sebuah bangku untuk duduk seorang diri dipekarangan dalam, guna menggadangi si Puteri Malam. Kecuali suara anginmalam sangat tenang Tidak lama kemudian, tiba-tiba Tiong Hoa mendengar suara siulan beberapa kali. siulan itu memecah kesunyian- ia heran hingga ia berpikir: "itulah siulannya orang yang keluar malam, biasanya itu terdengar di tanah pegunungan, kenapa aku mendengarnya di sini, di dalam kota? Orang itu bernyali besar..." Tengah ia heran dan berpikir itu, tiba-tiba ia melihat berkelebatnya satu bayangan orang, yang melayang turun ke dalam pekarangan di mana ia berada itu. Mulanya ia kaget, lalu ia meniadi heran. Itulah Yan Hong yang muncul secara luar biasa itu. Dia membawa sebilah pedang tapi dia beroman gugup, sedang pundaknya basah dengan darah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Saudara Lie. harap sangat kau jangan menyebut aku..." katanya, Dan tanpa menanti Jawaban- dia lari masuk ke dalam kamar sahabat she Lie ini. Tiong i Hoa heran- Sebelum ia tahu harus berbuat bagaimana, kembali ia melihat lompat turunnya tiga orang lain, Mereka ini mengenakan pakaian hitam dan ringkas, semuanya membawa senjata tajam. oleh karena mereka berdiri membelakangi rembulan, mukanya tak nampak tegas. Ditaksir mereka rata-rata berusia diatas empat puluh, Sinar mata mereka tajam sekali. Lalu satu di antaranya, habis celingukan, menghadapi Tiong Hoa. untuk berkata dengan tertawa dingin: "Bocah, apakah kau melihat yang membawa pedang dan terluka pundaknya lewat di sini?" Tiong Hoa mengerutkan alis. Tak tahu ia duduknya hal tapi ia menduga itulah pasti urusan kaum Kangouw yang biasa saling bunuh, ia ingat kata-katanya adiknya Yan Hong tadi, yang mesti mempunyai suatu urusan, Karena ia ditegur tak manis, ia jadi memikir untuk tidak menjual sahabat. "Kamu bertiga malam-malam berlari-lari di atas rumah-rumah orang, kamu mesti bukan orang baik-baik," la kata berani. "Kalau kamu bukan manusia tukang berjinah mestinya kamu bangsa pencuri, Tuan mudamu lagi menggadangi rembulan di sini, mana dia melihat konco kamu? Lekas kamu berlalu, tuan muda kamu tidak mau berkenalan dengan kamu. Kalau tidak. nanti aku berteriak membanguni orang banyak" Ketiga orang itu saling mengawasi. Mereka tidak takut penduduk dikasi bangun, Mereka hanya tertegun akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ketenangan si anak muda, orang lain tentunya ketakutan bukan mainLantas orang yang mukanya panjang dan kurus tertawa menyeringai ia mengangguk. Habis itu, tanpa membuka mulut, ketiganya berlompat naik ke atas genting, untuk menghilang. Mereka berlalu cepat sekali, seperti terbang. Masih sekian lama Tiong Hoa jalan mundar mandir, baru ia masuk ke kamarnya. la heran hingga ia menjublak sejenak Kamarnya itu sepi dan kosong, Yan Hong tak nampak di situ. jadi orang telah pergi menyingkir tanpa berpamitan lagi. Akhirnya ia tertawa sendirinya, tidak ia pikirkan pula kejadian itu. Ketika ia merebahkan diri, ia dapat tidur pulas pula. Besoknya pagi, apabila Tiong Hoa bangun dari tidurnya, sinar matahari sudah bersorot di jendela dan pelayan kebetulan datang mengetuk. la lantas membukai pintu. Pelayan memberi hormat sambil mengucapkan selamat pagi. "Tuan tidur nyenyak sekali." katanya tertawa, "tuan Yan sudah menantikan sekian lama, ia tidak berani mengganggu tidurmu." "Oh" kata Tiong Hoa terkejut, "Mana dia tuan Yan itu? Lekas undang masuk" Pelayan itu tertawa pula, "Nanti aku menyediakan air dulu untuk tuan mencuci muka, baru aku undang tuan Yan," katanya. ia lantas pergi. cepat ia kembali dengan baskom air, lalu cepat ia keluar pula.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa lekas mencuci muka, untuk merapikan rambut dan pakaiannya, Baru ia selesai. pelayan sudah muncul pula bersama Yan Hong. Pemuda she Yan itu mengenakan baju hijau panjang bersulam huruf benjie ia bersenyum, Pundak kirinya muncul sedikit, Rupanya lukanya semalam telah dibalut. "Tadi malam saudara..." kata Tiong Hoa. Yan Hong mengedipkan mata, sambil tertawa dia berkata: "Tadi malam ketika aku pulang ke rumahku, aku bicara dengan ayah ku tentang kau, saudara Lie, Ayah kagum sekali maka pagi-pagi barusan ia menitahkan aku lantas datang mengundang saudara, untuk saudara suka datang ke gubuk kami buat beromong-omong." Tiong Hoa melihat kedipan mata, itu tahu apa artinya itu. Yan Hong tak sudi bicara dari peristiwa semalam itu, ia lantas tertawa dan menyahuti: "pasti aku sudi berkunjung. Ayahmu baik sekali, saudara Yan, aku jadi malu..." "Kita ada bagaikan sahabat-sahabat lama, jangan kita pakai banyak adat peradatan," Yan Hong bilang. Ayahku lagi menantikan, mari kita berangkat sekarang. Tiong Hoa mengangguk sambil bersenyum. Lantas keduanya pergi ke luar dari hotel di mana sudah sedia dua ekor kuda untuk mereka, Maka bersama sama mereka pergi, Yan Hong menjalankan kudanya di sebelah depan. Udara pagi itu cerah, banyak orang berlalu lalang dijalan besar, Kedua anak muda itu menjalankan kuda di antara banyak orang itu, terus ke luar kota Tok-lak sebelah barat, setibanya di luar kota, yang sepi, mereka melarikan kuda mereka dengan leluasa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kira setengah jam, Yan Hong menghentikan kudanya. Tiang Hoa menyentak. Dengan cambuknya anak muda she Yan itu menunjuk ke arah kiri, sembari tertawa ia kata: Saudara Lie, gubuk kami berada di depan sungai siang Kiam Hoo itu, di tempat yang banyak pohonnya. Tiong Hoa mengawasi ia melihat sungai lebar dan airnya tenang, Benar di tempat banyak pepohonan itu samar samar terlihat genting rumah yang besar, Di sungai itu dapat orang berlayar sedang burung-burung nampak beterbangan-"Sungguh indah tempat tinggalmu ini, saudara Yan-" ia memuji. Yan Hong bersenyum. ia mengajak. Mereka menjalankan kuda mereka ke tepian sungai. Tiba di dapan serumpun pohon yang lioe yang lebat, mendadak terlihat tiga orang lompat keluar dari rumpun itu, Tubuh mereka itu gesit sekali. Tiong Hoa lantas mengenali orang orang yang semalam datang ke hotelnya, ia tercengang. Tapi Yan Hong, dengan air muka padam, sudah lantas menegur. "Bangsat tak punya mata dari mana berani banyak lagak di sekitar Yan Kee Po kami?" Ketiga orang itu melengak, tetapi yang mukanya panjang dan kurus lantas juga tertawa, sedang matanya yang mirip mata ulung-ulung dibuat main, Dia kata dingin "Tidak salah Tuan dari Yan Kee Poo, Hoan-thianciang Yan Loei, yang memimpin kaum Rimba persilatan di lima propinsi Utara, besar namanya, besar pengaruhnya, sedang kami Laosan sam Eng juga pernah mengundanginya, hingga kami berterima kasih untuk perlayanannya. Hanya tadi malam, selagi kami bekerja

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membereskan usaha perdagangan kami, di saat kami berhasil, kami bertemu dengan seorang begal tunggal sebangsa si hitam makan si hitam, ketika kami mengejarnya, dia kabur dan lolos. Justeru itu sahabatmu itu kebetulan hadir juga" dia menunjuk Lie Tiong Hoa dan menambahkan "Kami percaya sahabatmu ini pasti ketahui duduknya hal. sekarang ini kami cuma minta barang kami itu dikembalikan, lainnya kami tidak mau menarik panjang." Yan Hong tidak lantas menyahuti, dia hanya tertawa nyaring sekali. ***** BAB 4 YAN HONG berhenti tertawa untuk segera memperhatikan roman tawar. "Tuan." katanya. "Kau tentulah tertua dari Lao san Sam Eng yang sangat termashur di propinsi shoatang yala h Tiatjiauw-eng Louw Coen?" orang itu agak terkejut. "Tidak salah, itulah aku." ia menyahut, ia lantas menunjuk kawannya yang matanya merah dan kumisnya berewokan seperti singa, " inilah saudaraku yang nomor dua, say Gan sin ang cian Boa, Dan itu..." ia menunjuk orang yang ke-tiga, yang kepalanya gundul dan merah serta tak berkumis. "adik ku yang nomor tiga, Touw-Eng Cie Keng. Kau sendiri siapa, tuan, aku minta sukalah kau memperkenalkan dirimu." Selagi orang memperkenalkan diri, Tiong Hoa hampir tak tertahan untuk tidak tertawa, Kawanan elang itu mirip benar dengan julukannya masing-masing, ia pun heran kenapa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mereka tidak kenal Yan Hong yang biasa di sebut " hitam makan hitam." "Maaf, aku melainkan seorang Kang ouw tak ternama," Yan Hong menyahut sembari tertawa perlahan "Akulah Yan Hong yang biasa disebut Mo In Kim Kiam..." Mendengar nama itu, ketiga orang itu terlihat terperanjat tapi Louw Coen lantas maju setindak. sambil memberi hormat dan tertawa ia berkata: "oh, kiranya tuan muda dari Yan Keo Po Ketika itu hari kami datang berkunjung, menyesal kami tidak bertemu dengan kau, siauw-pocu, Maaf Dan ini sahabatmu..." ia berpaling kepada Tiong Hoa seraya menambahkan-"Dia pasti sahabat baru dari siauwpocu..." Kata-kata yang terakhir ini ada maksudnya, Kalau benar Tiong Hoa sahabat baru. bolehlah Yan Hong melepas tangan terhadapnya. Lao San Sam Eng menjadi orang-orang liehay dari jalan Hitam, mereka juga telengas, untuk suatu barang yang mereka arah, mereka datang ke Utara. Untuk tidak bentrok dengan Yan Kee Po, mereka mengunjungi Yan Loei, Diluar sangkaan mereka, Yan Loei justeru tukang hitam makan hitam, hanyalah dia pandai bekerja, selama beberapa puluh tahun, belum pernah dia gagal, rahasianya tak pernah ada yang ketahui. Maka itu, datangnya Sam Eng sambil menuturkan maksud ke datangannya berarti membawa endusan baik pada pihak Yan Kee Po. Demikianlah Yan Hong bersama lima orangnya "memakan," Sam Eng dan berhasil, cuma pekerjaan mereka meminta upah mahal.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lao San Sam Eng Iihay, didalam bentrokan, mereka berhasil membinasakan lima orang Yan Kee po itu serta Yan hong sendiri, si majikan muda dari Yan Kee po turut terluka pundaknya, kalau dia tidak kabur ke hotelnya Tiong Hoa, mungkin dia tak dapat lolos. Sam Eng itu keluaran Boe-tong pay, mereka pandai ilmu silat dalam dan luar. Yan Hong terperanjat mendengar orang menyebut Tiong Hoa sahabat barunya, ia mengerti keliehayannya tiga jago dari Shoatang itu. Lie Tiong Hoa ketahui apa yang ia mesti lakukan, ia lompat turun dari kudanya. "Louw Tong kee, apakah kau menyangka aku yang mengganggu kamu tadi malam?" ia tanya, menegasi, ia tertawa j umawa. "Benar" sahut Louw Coen, tertawa menyindir "Mata terang tak ada pasirnya, Dalam sepuluh, delapan bagian kau lah yang melakukannya." Tiong Hoa tertawa, ia menoleh pada Yan- Hong, berkata, "saudara Yan benarlah mereka ini bangsatbangsat tak punya mata .Barang rampasannya kena dirampas orang, bukannya mereka merasa malu dan mencari mati karenanya, mereka j usteru sembarang menuduh pada orang. Menurut aku, kalau mereka dibiarkan saja, apa bila mereka menyiarkan cerita dusta, nama Yan Kee Po dapat tercemarkan dan runtuh" sam Eng heran begitu juga Yan Hong. " Hebat orang she Lie ini," pikir Mo In Kiam tian"Rahasiaku tadi malam ketahuan dia, maka sekarang aku mengundang, untuk ajak dia berkonco atau kalau dia menampik, hendak kita singkirkannya, siapa tahu dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

begini begini. Aku benci sam Eng tetapi kalau aku lawan dia pundakku bisa membongkar rahasiaku." Tengah ia bersangsi dan berkuatir itu, Tiong Hoa sudah berkata pula: Jikalau siauwpocu berkeberatan turun tangan, baiklah, aku si orang she Lie nanti mewakilkan kau" Sembari berkata, pemuda ini meluncurkan tangannya ke dadanya Louw Coen untuk meninju, ia terus menggunai pukulan sip Thian Thay It Ciang. ia biasa dapat menggunai kemahiran tiga bagian tapi setelah makan obatnya Thian Yoe sioe, tenaganya kontan naik menjadi tujuh bagian. Maka itu hebat serangannya ini. Tiat Jiauw Eng Louw Coen benar liehay, Dia dapat menolong tangannya itu, terus dia membalas menyerang. Dia menggunai tangannya itu juga untuk menyengkeram jalan darah Tiong Hoa di bawahan rusuk. Lao san sam Eng pernah mempelajari ilmu silat "Eng Jiauw Kang" atau cengkeraman Kuku Garuda, dari itu kalau Tiong Hoa kena tersamber, celakalah dia, bisa dia mati seketika. Tiong Hoa tak punya pengalaman pertempuran, baru selama hari-hari yang belakangan ini ia memperolehnya, terutama pertempurannya dengan Mauw san siang eng membantu banyak padanya, Begitulah waktu ia disamber ia menjejak tanah, untuk membikin tubuhnya mencelat mumbul, habis mana ia menyamber kedua pundak si Elang Kuku Besi. Ia menggunai jurusnya siauw thian chee cit cap-jie Kiauw Na yang liehay itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Louw Coen terkejut mendapatkan serangannya gagal dan musuh berkelit bagaikan menghilang dari hadapannya, ia mengerti akan adanya ancaman bahaya. Ketika ada angin bertiup, ia tabu itulah serangan musuh, tidak ada ketika lagi untuk menyingkirkan diri, Maka ia angkat kedua tangannya untuk menyambutt dengan jurus Eng- jiauw-tay lek-cioe. Itu artinya keras lawan keras. Tiong Hoa melihat perlawanan musuh, ia batal meny amber, untuk mencengkeram pundak musuh, semua jari tangannya segera dikepal, untuk dengan kepalan menghajar tangan lawan itu. Tanpa dapat dihindarkan lagi, keempat tangan bentrok keras sekali, Kesudahannya yalah tubuh Tiong Hoa membal balik hingga dia teruskan memutar turun di bawah sebuah pohon yanglioe, untuk berdiri diam sambil bersenyum. Celakanya yalah Louw Coen, oleh karena terdesak itu, ia melawan dengan kuda-kudanya kurang kuat, maka atas bentrokan itu, ia terpaksa mundur dua tindak. ia merasakan napasnya mandek dengan tiba-tiba, hingga ia mesti mengeluarkan suara tertahan. Begitu ia berdiri tegap. mulutnya muntahkan darah, mukanya menjadi sangat pucat. Kedua elang yang lainnya kaget, mereka lompat untuk memayang. Yan Hong kaget dan kagum melihat lihainya si anak muda, yang dapat menghajar tertua Lao san sam Eng secara demikian. Kaget karena ia mengerti bahayanya andaikata anak muda itu menjadi musuh pihaknya, ia girang karena dengan begitu Tiong Hoa seperti telah membalaskan luka pundaknya itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa sendiri bersenyum dengan di dalam hatinya ia heran, heran untuk lihainya itu. ia tidak sangka ia dapat berpikir cepat dan bertindak gesit dan lincah, hingga hasilnya sangat memuaskan. "Inilah pasti hasil khasiatnya Pouw Thian wan." pikirnya. Maka ia menjadi bersyukur kepada Thian Yoe sioe, sayang ia belum tahu she dan namanya orang tua itu, Thian Yoe sioe berarti si orang tua yang menjelajah langit." Louw Coen sendiri menyesal bukan main. ia tahu kekalahannya ini disebabkan ia memandang enteng kepada lawannya itu. Sambil bersenyum, Tiong Hoa menghadapi Lao san sam Eng, untuk berkata. "Aku yang rendah suka memberi nasehat kepada tuan-tuan bertiga untuk lain kali janganlah tuan tuan sembarang bertindak hingga mendapat salah dari lain orang. Memang biasanya, bencana itu datangnya dari mulut, dari kata-kata yang tak terpikirkan lagi, Aku percaya tuan tuan menginsyafi itu. Perihal kejadian semalam, suka aku menjelaskan bahwa aku benar-benar tidak tahu apa apa, maka jikalau tuan-tuan suka menyelidikinya dengan seksama, pasti tuan-tuan bakal mendapat tahu duduknya yang benar." Lao san sam Eng dapat menerima penjelasan itu, tetapi mereka tetap heran, sudah terang orang lari menyingkir ke dalam pekarangan hotel itu, kenapa dia membilangnya tak tahu. "Inilah aneh" Rupanya aku mesti bekerja berat untuk menyelidikinya." pikir mereka itu bertiga. " Jikalau begitu. kita benar sembrono." kata Cie Kong sambil memberi hormat. "baiklah, sampai kita bertemu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pula" ia pun memberi hormat pada Yan Hong, sesudah mana bersama saudaranya ia mengajak pergi saudaranya yang tertua itu. Yan Hong mengawasi sampai orang telah pergi jauh, ia berpaling kepada Tiong Hoa untuk sambil tertawa berkata: "saudara Lie, mengenai peristiwa tadi malam harap kau tidak memandang wajar bahwa aku hitam makan hitam, perkara itu mempunyai latar belakangnya. sebentar, setelah sampai di rumahku aku nanti berikan penjelasannya." Tiong Hoa bersenyum. "Aku baru mulai masuk dalam dunia Kang ouw, tentang keruwetan kaum Rimba persilatan aku tak tahu apa-apa" ia berkata. "Perkara saudara itu mesti perkara besar, karena aku cuma seorang tetamu dan akupun datang dari tempat jauh, artinya aku seorang luar, lebih baik aku tidak mendengarnya." Yan Hong tertawa, ia tidak mengatakan apa apa, ia bertindak ke tepian, untuk bersiul yaring. Atas itu dari seberang, dari rumpun telaga, muncul sebuah perahu kecil, yang di gayu laju sekali, Begitu perahu itu tiba di tepian sini, terlihat di dalamnya dua orang dengan baju hijau, usianya masing-masing lebih kurang tiga puluh tahun, Mereka itu berlaku hormat mengundang Tiong Hoa naik ke perahu mereka. Tiong Hoa mengalah dulu kepada Yan Hong, baru ia lompat ke perahu itu. Yan Hong naik bersama satu orang, sebab orang yang kedua menuntun kuda berjalan mutar di jalan itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seperti waktu datangnya, waktu kembalinya perahu itu digayu laju sekali. Tiong Hoa dapat kesempatan melihat pemandangan di sungai itu, Yan Hong duduk di belakang tetamunya, ia memikirkan ilmu silatnya Tiong Hoa. ia merasa itu seperti ilmu silatnya Hok in siang jiu dari Koen Loen san Barat, Hok In itu satu jago dari jaman lima puluh tahun dulu, seumurnya dia tidak menerima murid, pernah Yan Loei, ayahnya, melihat Hok in siangjin bertempur, maka itu, ayah itu dapat mencuri pelajari dua jurus di antaranya dan yang satu ini mirip dengan jurusnya Tiong Hoa tadi. "Kalau dia benar murid Hok in siangjin, rasanya sulit untuk menarik dia menjadi kawanku," pikirnya. Segera juga perahu sudah tiba di seberang, Yan Hong lompat lebih dulu ke darat, Ketika ia berpaling, Tiong Hoa sudah menyusulnya tanpa memperdengarkan suara apa apa, itulah bukti ilmu ringan tubuh yang mahir sekali. "Dia lihat sekali, tak dapat aku mengundang serigala datang masuk ke rumahku." Yan Hong pikir pula. ia licik, ia mau berlaku waspada, la tidak kentarakan kekuatirannya itu, bahkan ia bersenyum ketika ia berkata. "saudara, rumahku tak jauh dan sini, kita baik berjalan kaki saja." "Baik," sahut Tiong Hoa mengangguk. Mereka jalan dijalan besar yang kedua sisinya merupakan ladang gandum. Angin bersilir halus. sebagai ganti bau bunga, disitu mereka mencium bau lumpur. Belum jauh, selagi menikung di tempat mana ada tumbuh pepohonan, mereka mendengar suara kuda lari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mendatangi lalu tertampak penunggangnya adalah seorang nona dengan baju merah tua. Begitu datang dekat, nona itu menyapa nyaring: "Toako, kenapa kau baru sampai?" sedang tubuhnya terus berlompat turun, hingga ia dalam sekejap berdiri di depan kakinya berdua. Gerakannya itu lincah sekali, itulah lompatan Burung walet menyambar ombak. Tiong Hoa lantas mengenali si nona yang ia lihat di rumah makan, sekarang ia mendapatkan orang cantik sekali, mukanya dadu dan matanya jeli, matanya itu mengawasi jernih kepadanya. Yan Hong tertawa, terus ia berkata: "Adikku, kau agaknya seperti belum pernah bertemu dengan saudara Lie ini..." Nona itu tertawa, dengan lagu suara manja, ia kata: "Toako kau bicara saja. Kenapa kau tidak mau mengajarnya kenal?" "Benarkah kau pelupaan adikku?" kakak itu tertawa pula, "Tadi malam toh kau pernah berkenalan dengannya di rumah makan. Maka itu buat apa aku mengajarnya kenal pula?" Muka si nona menjadi merah, Dia malu karena kakak itu menggoda, Dimatanya lantas berbayang seorang muda yang pakaian kotor dan mukanya dekil, yang rambutnya kusut, sebaliknya sekarang ia menghadapi seorang pemuda tampan dan menarik hati sekali. "Apakah benar dianya?" katanya dalam hati, ia jadijengah, Kemarin ini ia sama sekali tak menghiraukan pemuda itu. Hal itu membuatnya malu sendiri Maka ia mendelik kepada kakak itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yan Hong tak memperduIikan, ia justeru tertawa berkakak. "Toako" kata si nona sambil membanting kaki saking jengkel Tiong Hoa tidak memperdulikan orang bergurau, ia memandang si nona sambil minta tanya nama orang. Nona itu tidak menyahut, agaknya susah ia membuka mulutnya, walaupun bibirnya sudah bergerak. Yan Hong tertawa, ia berkata. "Adikku ini, si Hee, biasa terlalu dimanjakan ibuku, maka itu kalau lain kali dia berbuat kurang ajar, aku harap saudara Lie suka maafkan dia." Kembali Yan Hee mendelik kepada kakaknya, lantas ia lompat naik ke atas kudanya, kabur balik. Yan Hong tertawa, sedang Tiong Hoa bersenyum. Keduanya berjalan terus, setelah melewati hutan cemara, Tiong Hoa melihat sebuah tembok tinggi dan kekar mirip tembok kota, di atasan pintunya ada ranggonnya peranti si penjaga pintu, Yan Hong mengajak kawannya masuk. ketika di dalam situ, Tiong Hoa melihat sebidang tempat yang lebar yang banyak perumahannya, yang di tengah-tengah yalah sebuah rumah besar, ke situ Yan Hong mengajaknya masuk. Di muka pintu ada dua pengawal dengan golok di tangan, Ketika Tiong Hoa berdua bertindak masuk. dari dalam lantas terlihat munculnya seorang yang tubuhnya kekar dan romannya keren, mukanya berewokan, matanya tajam. "Saudara Lie, orang yang mendatangi itu hoepocoe kami, Im- yang Gioe Khong Jiang." kata Yan Hong perlahan. "Dia lihai. Dialah orang Hoa Yang Pay. Dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bertabiat gembira dan berangasan tak ketentuan, karena mana ayah pun suka mengalah kepadanya, Aku harap kau berhati-hati terhadapnya..." Baru tuan rumah yang muda ini berhenti berkata, Khong Jiang sudah sampai didepan mereka, Dia lantas memandang tajam pada Tiong Hoa. "Paman Khong..." berkata Yang Hong dengan hormat sekali, "ini saudara Lie Cie Tiong, sahabat baru dari keponakanmu." Khong Jiang mengasi dengar suara di hidung, matanya memandang tawar pada si anak muda. dia kata: "Kalau dia sahabatmu, kenapa dia begini kurang ajar? Apakah dia mengandal sangat kepada beberapa jurus ilmu silatnya maka dia menjadi jumawa?" Tak senang Tiong Hoa mendengar kata-kata itu, maka dia kata dingin. "Aku yang rendah baru pertama kali ini datang ke mari, aku tidak kenal kau, tuan, mengapa kau berani membilang aku kurang ajar?" "Paman Khong, kau..." kata Yan Hong berkuatir. "Kau berani kurang ajar kepada Khong Jiang?" hoepocoe itu membentak sebelum Yan Hong bicara terus. "Tentu kau benar-benar mengandalkan ilmu silatmu, Mari, mari, Mari sambut tanganku." Benar benar dia lantas meninju. Majikan muda dari Yan Kee Po menggunai tenaga tujuh bagian, Dia mau menguji sianak muda. Tiong Hoa ndak mau menyambuti kekuatan orang. ia berkelit ke kiri Karena ia mendongkol, ia membalas

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyerang, ia mengeluarkan tangan kanannya, guna menangkap tangan si berangasan itu. Khong liang terkejut, Dia tidak menyangka orang berkelit, Atas datangnya ^erangan membalas, dia kaget. Dia melihat gerakan yang gesit sekali, Maka lekas lekas dia menurunkan tangannya, untuk dikelit. Tiong Hoa menggunai j urus "Tawon yang-keluar dari sarangnya" itulah suatu jurus dari ilmu silat siauw thian che Ci capjio Kiauw Na. sia-sia belaka KhongJiang berkelit, lengannya itu kena ditangkap. hingga dengan mendadak dia merasa tangannya kaku, Dia berteriak. dia berontak sekuatnya tenaga sambil dia berlompat nyamping. Tiong Hoa tidak berniat mencelakai orang, habis menyengkeram, ia melepaskan tangkapannya itu. Mendadak Khong Jiang tertawa. "Benar katanya Yan Hong, kaulah seorang muda yang liehay" katanya, "Kau maafkan aku" ia tertawa pula, terus ia bertindak ke luar. Tiong Hoa berdiam. Ini pula pengalamannya yang luar biasa, ia sama sekali tidak pernah memikir bahwa itulah sandiwaranya Yan Hong, yang telah mengaturnya sebelum dia pergi ke hotel menyambut padanya. "Memang begitu tabiat Paman Khong, girang dan gusar tak kotentuan," kata pula tuan rumah muda ini sambil tertawa, "tapi sebenarnya dia jujur dan baik hatinya, Nanti, sesudah berkenalan lama, saudara akan mengenalnya " Tiong-Hoa tertawa tawar, ia tidak bilang apa-apa. Ketika tuan rumah itu bertindak, ia mengikuti.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di dalam, Tiong Hoa melihat rumah besar miri^ dengan istana seorang bangsawan. Ruang atau pintu berlapis- lapis. tiang danpenglari, semuanya terukir indah. Di sebelah dalam ada pekarangan terbuka dimana ada terdapat pepohonan dan lorong, kamar-kamar dan lauwteng. ia heran dan kagum. Di situ pun ia melihat sejumlah orang Rimba persilatan, yang semua bersikap hormat terhadap Yan Hong. Yan Hong mengajak sahabatnya memasuki sebuah ruang besar, Baru saja sampai diambang pintu, hidung si anak muda telah mendapat cium bau yang harum, yang melapangkan dada, Di dalam situ ada empat orang lagi berduduk. yang di kiri, bercokol atas kursi hakcoe-ie, adalah seorang tua bertubuh tinggi dan besar, rambut dan kumisnya sudah putih, gayanya keren. Di kanannya si nona yang tadi, matanya mengawasi si anak muda, rekannya seperti bersenyum. Dua yang lainnya, yang satu yalah seorang imam tua dan kurus, jari tangannya panjang sekali, sepasang matanya bersinar, dan yang lainnya seorang muda dengan bibir merah dan roman angkuh, sedang dipunggungnya ada sebilah pedang yang rupanya pedang tua, sarung pedangnya berukiran ular naga melilit. "Saudara Lie, inilah ayahku," Yan Hong lantas mengajar kenal, dia menunjuk si orang tua. Tiong Hoa maju dua tindak, ia menjura dalam seraya berkata, "Aku yang muda, Lie Cie Tiong, memberi hormat kepada po-coe." Hoan Thian-ciang Yan Loei tertawa dan berkata, "jangan pakai adat peradatan, Lie siauwhiap. tadi malam

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kau telah membantu anak Hong, aku menghaturkan terima kasih padamu." "Itulah perkara kecil, harap pocoe jangan buat pikiran," kata Tiong Hoa merendah, "Meskipun baru bertemu, dengan siauwpocoe aku seperti kenalan lama, Aku malu mendengar kata-kata pocoe ini." Lantas Yan Hong perkenalkan sahabatnya kepada si imam dan si anak muda. Imam itu nyatalah Im-CioeJiauw-Hoen Hauw Boen Thong adanya, yang dimasa itu terkenal dalam Rimba Persilatan, Cocok dengan julukannya, yang berarti Tangan Penyamber Nyawa, sebab dia biasa berbuat seenaknya saja, takperduli dia benar atau salah, Dia liehay hingga banyak orang mendengar saja namanya, menjadi pusing kepala. Si anak muda adalah Cie-liong kiam Pek Kie Hong. sipedang Naga, yang menjadi siauw cecu, yaitu ketua muda, dari Benteng Jie sip Pat, dua puluh delapan benteng air dan darat, di telaga Tong-teng-ouw di Kanglam. Hauw Boen Thong jumawa sekali, melihat Tiong Hoa, berulang kali dia memperdengarkan suara di hidungnya, sikapnya sangat dingin, tubuhnya tak berkutik. Tiong Hoa tidak puas, Syukur Pek Kie- Hong suka berbicara dengannya. Yan Hee diam-diam memperhatikan anak muda itu, sekarang ini pandangannya lantas berubah sama sekali, tak ingat lagi si anak muda yang pakaiannya kotor, mukanya dekil dan rambutnya awut-awutan, ia rupanya terpengaruh kata-kata cinta pada penglihatan pertama kali.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yan Hong dan Pek Kie Hong liehay matanya, mereka lantas melihat sikapnya si nona, masing-masing mereka lantas beda pemikirannya. Lie Tiong Hoa duduk di bawah, diam-diam ia memperhatikan perabotan di dalam ruang itu, ia mendapat kenyataan semua itu benda-benda yang tak biasa dilihat di rumah rakyat kebanyakan rata-rata barang kuno dan indah. Maka aneh rumah orang Kang ouw mirip istana orang bangsawan. Yan Loei, dengan tak langsung, menanyakan Tiong Hoa tentang gurunya, keluarganya serta maksudnya datang ke Tok lok. Tiong Hoa tak dapat menerangkan jelas, sebab ia memang tak tahu banyak perihal gurunya, ia juga tidak bisa menjelaskan bahwa ia lagi buron, jawabanmu itu membikin tuan rumah mencurigai dia mengandung sesuatu maksud. "Lie siauwhiap bersahabat dengan anakku, silahkan kau berdiam bersama kami di sini." kemudian kata Yan Loei tertawa, "Katanya siauwhiap liehay sekali, maka itu mungkin siauwhiap dapat membantu kami." Tiong Hoa tidak tahu hati orang, ia lekas berkata: "Tidak berani aku merepotkan po-cu. Karena aku gemar pesiar, hari ini juga aku berniat pergi ke Tiong Gioe terus ke soe Coan. Terima kasih atas kebaikan poocu." Yan Loei mengawasi tajam. Dia tertawa pula. "M emaog perjalanan itu penting untuk memuaskan pemandangan dan pengetahuan," dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kata, " Ketika masih muda, aku juga gemar merantau." Kembali dia tertawa. Selama itu HauwBoenThong terus bungkam, dia memandang si anak muda dengan mata tajam dan sikap dingini Adalah Yan Hong dan Pek Kie Hong, yang mengajak orang bicara. Yan Hong minta tetamunya suka berdiam padanya barang setengah bulan. "Baiklah." kata Tiong Hoa setelah di-bujuki siauwpocu itu. "Anak Hong, pergi kau ajak siauwhiap ke kamar Teng ie Hian" Kemudian Yan Hong kata pada puteranya sebentar tengah hari hendak aku mengundang siauwhiap ber-santap. Tiong Hoa mengucap terima kasih, lantas ia meminta diri, mengikut Yan Hong ke kamar yang disebutkan itu. Seberla lunya si tetamu, Yan Loei kata pada gadisnya: "Apakah batuknya ibumu sudah mendingan. Ada orang mengantar dua bungkus cauwkoh dari Lengtam yang ibumu paling suka, pergi kau ambil dan bawa itu ke Hoed tong buat diserahkan pada ibumu sekalian kau sampaikan kata-kata padanya." Yan Hee tertawa lantas mengundurkan diri. setelah anak dara itu tak nampak lagi, Yan Loei menoleh pada Hauw Boen Thong. "Hauw Loosu, apakah kau mencurigai apa-apa terhadap anak muda she Lie itu?" ia tanya. "Memang" sahut imam itu dingini "Kau terlalu bersangsi, saudara Yan jikalau aku, siang-siang aku sudah singkirkan dia guna mencegah timbulnya bencana dibelakang hari.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hoan Thian ciang menggeleng kepala. "Kau biasa berterus terang, loosoe, aku kagumi kau," ia kata. "Aku tapinya mempunyai cara yang terlebih sempurna. sekarang ini orang tengah bergerak, sedang pihak Yan Kee Po dan ie Kee Po. yang menguasai sembilan propinsi, mudah sekali membangkitkan kejelusan orang, terutama selama yang belakangan ini pihakku telah melakukan sesuatu yang gampang sekali menarik perhatian orang. Aku telah dapat kenyataan ada orang-orang sesat dan lurus yang sudah datang mengintai ke mari. Karena itu aku sangsi pemuda she Lie ini bukannya orang salah satu dari mereka itu, Aku pikir kita harus bersabar menyelidikinya." " Itulah gampang, serahkan saja padaku" kata Pek Kie Hong tertawa. Tak lama Khong Jiang muncul, dia tergesa gesa dan lantas bicara berbisik dengan ketuanya. Romannya Yan Loei menjadi tegang secara tiba-tiba, dia terus berlompat bangun, akan bersama hoepocu itu lantas pergi keluar. Di ruang yang besar itu, Hauw Boen Thong tinggal berdua Pek Kie Hong. ooo Malam itu selagi rembulan bercahaya indah, Tiong Hoa duduk seorang diri di dalam kamarnya di ruang Teng ie Hian, ia memandang tersengsam kepada si puteri Malam, yang nampak dari antara jendela itu ada pengempang kecil yang airnya jernih yang ditanami pohon teratai dan pohon yanglioe di tepinya. Dari situ terdengar suaranya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

beberapa ekor kodok. Daun yang-Iioe pun ber silir tertiup angin halus. Anak muda ini tidak berdiam saja, ia berpikir, pertama-tama halnya Yan Hong yang "hitam makan hitam." ia tak tahu bagaimana duduknya urusan itu. Yang lainnya adalah, lukisan "Bayangan Rembulan di Gunung sunyi." Ia tidak menyangka karena bertemu Yan Hong, ia jadi singgah di Yan Kee Po-Mengenai Keluarga Yan ini, ia bersangsi. Kaum Rimba persilatan memang luar biasa sepak terjangnya. "Aku sumpah aku mesti dapatkan lukisan itu" kemudian ia mengambil ketetapan. Baru Tiong Hoa mengambil keputusannyaitu, tiba-tiba ia melihat bayangan orang berkelebat di atas genting di ruang sebelah depan, ia dapat melihat karena sinar rembulan permai sekali. Tiba-tiba hatinya bercekat, Tanpa sangsi lagi. ia berbangkit, dengan cepat ia menyingkap bajunya, untuk lompat keluar jendela, akan setibanya di luar terus berlompat naik ke atas genting di depan itu, ia masih sempat melihat orang tadi berada belasan tombak jauhnya. ia pun mendapatkan tubuh orang lincah sekali. Jikalau dia bukan orang dalam, dia bernyali besar sekali, pikir anak muda ini. Dibawah terangnya rembulan, kenapa dia berani tak menyembunyikan dirinya? Baiklah aku menguntit dia. Orang itu pergi ke sebuah lauwteng tinggi, Ketika dia lompat turun Tiong Hoa menyusul, terang dia bertelinga

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jeli, dia memutar tubuh sambil menyerang dan menegur perlahan- "siapa kau?" Tiong Hoa berkelit ke samping, ia lantas mengawasi. Maka ia melihat orang berumur belum tiga puluh tahun, mukanya lebar, kupingnya besar, romannya lurus, ia bersenyum. "Ada urusan apa tuan datang ke mari diwaktu malam?" ia balik menanya, "Apakah tuan mencari orang? Kenapa kau tidak ambil jalan dari pintu? Caramu ini mudah menimbulkan salah paham, Maka baiklah tuan lekas berlalu dari sini." Tiong Hoa heran orang dapat masuk dengan leluasa sedang Yan Kee Po terjaga kuat, Maka ia mau menduda mungkin orang dibiarkan masuk, untuk mencari tahu dulu maksud kedatangannya, ia menjadi tetamu, tidak mau ia sembarangan bertindak. pula roman lurus orang itu mendatangkan kesan baik terhadapnya, itu pun sebabnya kenapa ia menasehati untuk orang mengundurkan diri Mendengar nasehat itu, orang itu mengawasi ia menggeleng kepala. "Dari kata-katamu ini, tuan. Kau rupanya bukan orang Yan Kee Po." ia kata. "Aku Im sim Yok dari Koen Loen Pay, Kawanku sejumlah enam, perjalananku ini penting sekali, maka itu, untukku, mati atau hidup sudah tak berarti lagi. jikalau tuan ingat aturan Rimba Persilatan, silahkan kau menyingkir supaya tak sampai terbit kesalahan turun tangan." Tiong Hoa bersangsi hingga ia ayal memberikanjawabannyaJusteru ia berdiam, ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mendengar suara apa-apa, yang disusul dengan suara keras ini: "Mari lekas kita bekerja." Menyusul itu datanglah serangan kepada Sim Yok, dia ini berkelit lalu dia menggunai kedua tangannya menolak Tiong Hoa dengan tipu silatnya "Menolak jendela memandangi rembulan." Tiong Hoa berkelit, berbareng dengan mana ia mendengar satu suara dalam. "saudara Lie, kau tetamu, tak seharusnya kau turun tangan serahkan dia padaku." la lantas menoleh, maka ia melihat Cie-iion-kiam Pek Kie Hong yang mukanya muram sudah berdiri di belakangnya. "Baiklah." dia menjawab cepat, ia lantas pergi ke bawah pohon di mana ia lantas berdiri memasang mata. Kie Hong mengasi lihat roman bengis, sembari tertawa dingin ia maju dua tindak, tangannya lantas menghunus pedangnya. Sim Yok juga mengawasi tajam, ia telah menyiapkan senjatanya, yaitu sebatang Joan-pian, ruyung hitam yang lunak seperti cambuk hingga dapat dililit di pinggang. Ketika ia melihat pedang orang, ia terperanjat hingga ia lantas menanya: "Tuan, bukankah kau cie- liong kiam Pek Kie Hong ceecoe muda dari Benteng Jie sip Pat di telaga Tong Teng?" Pek kie Hong bersikap sangat jumawa. "Kau telah ketahui Ceecoe mudamu, kenapa kau tidak mau lekas serahkan dirimu?" dia menjawab. Sim Yok menjadi gusar, mendadak dia tertawa, Nyaring luar biasa tertawanya itu. Habis tertawa, dia berkata nyaring, "Pek Kie Hong, jangan kau terkebur Tak dapat kau menggertak orang. Kau harus ketahui, Teng

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

coa sin Pian Sim Yok dari Koen Loen Pay tak dapat diancam Aku justeru mendengar perbuatan-perbuatanmu yang sangat busuk dan kaum Rimba persilatan ingin menyingkirkan kau dari dunia ini, siapa tahu kau bersembunyi di Yan Kee Po ini. kaujadi seperti membantu si jahat. Kau harus ketahui ini hari aku hendak menyingkirkan satu bahaya besar untuk Rimba Persilatan-" Pek Kie Hong tertawa dingin. "Dapatkah kau lakukan itu?" dla tanya mengejek, Lantas dia meng g era ki pedangnya, untuk menerjang. Sim Yok menyaksikan gerakan lawan yang gesit, diamdiam dia mengaguminya, Padahal orang itu, meskipun masih muda, sudah menjagoi di selatan dan utara sungai Besar. Tanpa ayal lagi, ia lantas melayani menggunai ilmu joan pian partainya, yang terdiri dari tiga puluhenam jurus . Pek Kie Hong licik, di samping menyerang iangsung, ia ingin membabat kutung senjata lawanJoan-pian Sim Yok terbuat dari otot, senjata biasa tak dapat memapasnya, tapi melihat pedang Kie Hong, dia jeri, tak mau dia membikin senjatanya itu kena dibabat kutung. Hal ini membuatnya berlaku waspada, hingga tak dapat ia lantas mendesak lawannya itu. Tiong Hoa menonton dengan berdiam saja, ia yang tak berpengalaman kembali menyaksikan suatu yang menarik parhatiannya, yang membingungkan juga.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di sini bentrok pula si sesat dengan si lurus, Rupanya kedua golongan itu tak dapat saling mengasi ampun, Meski begitu, ia terus memasang matanya. Setelah bertanding sekian lama, Pek Kie- Hong mengeluarkan satu jurusnya yang liehay, yaitu "Tiang hong koan jit" atau "Bianglala menutupi matahari." serangan itu meny amber kepada joan pian lawan. Sim Yok repot menyingkirkan senjatanya itu, atau justeru karena itu, dia dapat dirangsak. Pedang cie-liong kiam meluncur terus. Di saat jago muda Kun Loen Pay itu bakal menyerahkan jiwanya, atau sedikitnya dia bakal terluka parah, mendadak menyamber dorongan angin yang keras sekali kepadanya hingga tubuhnya tertolak keras, hingga dengan begitu dia menjadi lolos dari ujung pedang, saat tubuhnya tertolak itu, dia pun terus berlompat mundur setombak jauhnya. Di mana di situ tidak ada orang lain, Sim Yok lantas melihat orang yang mendorongnya yang menolongi, adalah si anak muda yang barusan menasehati dirinya, ia jadi bersyukur. Tapi ia berada di tempat berbahaya, ia lantas lompat untuk menghilang. Memang Tiong Hoa yang menolongi orang Koen Loen Pay itu, ke satu disebabkan ia melihat jiwa orang terancam maut, ke dua karena ia bersimpati kepada anak muda itu, Habis itu, di samping girang, ia juga heran. ia heran atas tenaga dorongannya yang keras sekali, beda daripada biasanya, Maka ia ingat inilah tentu pula khasiatnya pel Pouw Thian Wan hadiah Thian Yoe sioe.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berbareng dengan itu, Pek Kie Hong terkejut dan heran, ia melihat Tiong Hoa turun tangan, Akibatnya itu ialah kecuali tubuh Sim Yok tertolak keras, pedangnya sendiri kena terintang, pedangnya mental hampir terlepas dari cekalannya, ia lantas mengawasi tajam anak muda itu, yang terang berniat menolong musuh lolos. Tiong hoa tidak berdiam saja, ia pura pura lari mengejar Sim Yok, ketika orang lenyap. baru ia kembali, ia lantas disambut Pek Kie Hong yang tertawa kepadanya. "Kau hebat sekali, saudara Lie" kata orang she Pek itu, "Pantaslah saudara Hong memuji tinggi padamu sayang kau kekurangan pengalaman, kau menyebabkan bangsat she Sim itu lolos" Tiong Hoa mengasi lihat roman kaget. "Benarkah?" tanyanya, sembari menyeringai, "sungguh celaka Aku kuatir kau tidak dapat lantas merobohkan dia, saking gugup, aku membantu, siapa tahu kesudahannya gagal, sungguh aku menyesal..." "Tak usah menyesal, saudara Lie." kata Kie Hong, yang bersenyum. "Dalam pertempuran orang mesti dapat melihat gelagat, terutama perlu bantuan pengalaman jikalau saudara lebih sering berkelahi nanti kau dapat melenyapkan cacadmu ini. saudara jangan menyesal penjahat lari, Kawan-kawannya telah diawasi, atau mungkin mereka sudah kena ditawan. silahkan saudara beristirahat, nanti besok aku datang menemui kau di Teng In Hian." Habis berkata orang she Pek ini tertawa, lantas dia berlompat pergi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa mengawasi orang berlalu, lantas ia berpikir : Aku menolongi Sim Yok apakah perbuatanku ini mencurigai orang she Pek itu?" Ia tidak tahu, habis tertawa itu, Kie Hong tersenyum ewah. 0000 BAB 4 DI BAWAH sinar rembulan, perlahan-lahan Tiong Hoa bertindak balik ke Teng Ie Hian-ia terus masuk kedalam, untuk merebahkan diri di atas pembaringannya. ia masih memikirkan segala apa, sampai ia jatuh pulas. Ketika sang fajar tiba, ia tersadar dengan lantas berbangkit turun, ia mendengar suara tindakan kaki, ialah tindakannya kacung yang membawakan ia air untuk mencuci muka dan lainnya, Dia itu melongok dulu, baru dia masuk dan meletaki airnya, sembari tertawa dia memberitahukan kedatangan tetamu, ceecoe muda she Pek serta seorang she Lauw. "Oh, begitu" katanya. "silahkan- silahkan undang mereka masuk" ia sendiri lekas-lekas mencuci muka, membereskan rambut dan pakaiannya. Segera juga terdengar suara tertawa diluar kamar, lalu nampak munculnya Pek Kie- Hong serta seorang muda yang mukanya rada hitam dan romannya gagah. "Pagi-pagi sudah bangun, saudara Lie." kata Kie Hong tertawa, "Mari perkenalkan, inilah saudara Lauw, Tiat-pie Chong-tiong Lauw Pou, murid Kong tim-taysoe dari kuil tay-chong-sie di see-coan timur, saudara Lauw baru datang tadi sore, ketika aku omong tentang kau, saudara, ia lantas minta aku mengajaknya berkunjung ke mari, saudara Lauw sangat suka bergaul."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Terima kasih." kata Tiong Hoa, merendah. "silahkan duduk." Lantas mereka berduduk. Tiong Hoa mendapatkan Lauw Pou sedikit bicara selamanya sungguh-sungguh dan tak pernah tertawa dia seperti mempunyai urusan sulit. Tengah mereka bicara, kacung tadi datang memberitahukan bahwa Lauw Pou diundang tuan rumah, Dia lantas berbangkit, sembari memberi hormat dan tertawa, dia kata pada Tiong Hoa dan Kie Hong, "silahkan saudara saudara duduk dulu, aku akan lekas kembali." Lantas dia pergi dengan cepat. "Oh ya, kenapa saudara Hong tak nampak?" kemudian tanya Tiong Hoa heran"Saudara Hoo. tidak ada di rumah." Kie Hong memberitahu "Tadi malam buat satu urusan dia dititahkan ayahnya pergi ke Tok lok dan sampai pagi ini belum kembali Mungkin dia akan lekas pulang." ia berhenti sebentar lalu meneruskan. "Tadi malam Sim Yok dari Koen Loen Pay itu dapat lolos, tetapi lima kawannya kena dibekuk dan sekarang mereka ditahan dalam kamar rahasia. Apakah saudara Lie ingin melihat mereka itu? Kalau saudara mau, sekalian aku dapat mengantari kau melihat-lihat keletakan Yan Kee Po dan sekitarnya." Tiong Hoa senang menerima ajakan itu. "Kenapa orang Koen Loen Pay itu datang kemari?" ia tanya sembari jalan. "Begitu biasanya orang Kang ouw, yang sering tak dapat bekerja sama." Kie Hong menjawab. "Bukankah diantara saudara sendiri sering terbit bentrokan? Yan pocu ternama besar, tak heran bila ada orang salah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

paham terhadapnya, Karena aku orang luar, tak jelas aku duduknya perkara itu." Di mulut Kie Hong mengatakan demikian, di dalam hatinya dia pikir lain. Di dalam hati dia kata: "Masih kau berpura-pura, Tunggu sebentar, kau bakal mampus tanpa liang kuburmu." Tiong Hoa berjalan di belakang, ia tidak melihat air muka orang guram, Mendengar lagu suara orang, ia mau percaya jawaban itu, Dengan wajar ia menanya, "Bagaimana Yan Pocu hendak memutuskan perkara mereka itu?" Mendengar pertanyaan orang, Kie Hong makin percaya dugaannya benar. Dia tertawa ketika dia menjawab: "Yan Pocu berhati mulia, dia tentu mengutus orang ke Keen Loen san mengundang guru mereka, agar guru itu mengetahui jelas duduknya kejadian guna menyelesaikan urusan sekalian membebaskan mereka." " Itulah putusan yang tepat sekali," kata Tiong Hoa mengangguk. Mereka sekarang berjalan di sebuah lorong kecil didalam taman di mana bunga-bunga dan rumput tertanam rapi dan harum bunga melapangkan dada. Dari situ mereka tiba di depan sebuah rimba bambu, Di situpun ada sebuah jalan kecil yang menuju ke sebuah rumah, yang beda dengan rumah besar, nampak sederhana sekali, temboknya putih, jendelanya teraling gorden, pintunya tertutup rapat, cuma dari dalam rumah terdengar suara perlahan dari alat-alat tetabuan seperti pendeta lagi mendosa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa heran hinga ia berpikir siapa itu yang lagi menjalankan ibadat. Kie Hong ketarik dengan suara tetabuan itu, ia sampai bersenandung: "sepi dan sunyi di dalam ruang, seperti musim semi hampir habis, dan bunga pada rontok memenuhi latar tapi pintu tak dibukakan..." Dari suara orang, Tiong Hoa dapat menduga pemuda itu lagi memikirkan suatu orang. la tanya: "Apakah saudara Pek lagi ruwet pikiran. Kenapa kau agaknya berduka sekali?" Kie Hong terperanjat orang dapat membade hatinya, Lekas-lekas dia tertawa, Terus dia menunjuk ke rumah sepi di depannya itu seraya menanya, "Saudara Lie tahukah kau rumah itu ditinggali orang macam apa." Tiong Hoa tidak tahu, ia menggeleng kepala. "Inilah tempat kediamannya nyonya rumah, Kie Hong. memberitahu " Nyonya Yan beri-badat, dia menghormati sang Buddha, maka tak pernah dia keluar setindak juga dari rumah ini. selama delapan belas tahun tak pernah ada yang melihat wajahnya kecuali beberapa orang tertentu. seratus tombak persegi disekitar rimba bambu ini menjadi daerah terlarang, siapa melanggar setindak saja, dialah bagian mati." Tiong Hoa heran sekali, "Kenapa nyonya rumah bersikap demikian Apakah yang menyebabkan ? Kedukaankah? Kedukaan apa ?" Kie Hong tertawa sedin "Pada delapan belas tahun yang lampau itu. entah karena apa, pocu bentrok dengan istrinya," dia memberi keterangan "Lantas istrinya itu, menempati rumah ini yang diberi, nama Coei Tek Hian di mana ia senantiasa bersembahyang dan tak lagi memperdulikan urusan luar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di sini cuma dua bujang pelayannya serta nona Hee yang dapat keluar masuk dengan merdeka. Pocu sendiri turut terlarang. Beberapa tahun dulu pernah ada orang yang melanggar larangan ini. katanya pocu sengaja berbuat demikian, maka besoknya fajar kedapatan saja mayatnya. sejak itu tidak ada orang pula yang berani melanggarnya" "Aku ini semenjak muda telah dipandang pocu sebagai calon menantunya." kata pula Kie Hong yang bersenyum tawar akan tetapi keputusannya belum ada sebab Nyonya Yan belum melihat send iri padaku. Dia cuma akan memberi perkenannya kepada yang dia penuju. Pergaulanku dengan adik Hong tak buruk tetapi karena urusan ini, usia muda adik Hee menjadi tergantung..." Tiong Hoa makin heranSaudara toh tampan sekali, katanya, "Mustahil kau tak dipenujui?" Kie Hong tertawa. Jikalau aku tidak dipenuju, sudah saja, boleh aku menghapus pengharapanku." katanya, Apa lacur, nyonya Yan belum pernah dapat diketemukan. Pernah aku menggunai berbagai alasan guna memancing si nyonya keluar, tetap aku gagal" Orang she Lie itu menggeleng kepalanya. "Biarpun nyonya Yan kejam, tak nanti dia membiarkan Nona Hee tak menikah seusianya," kata ia .Juga Nona Hee, tidak nanti dia terus menyetujui sikap ibunya itu. Paling benar adalah kau, saudara Pek, kau harus berdaya untuk menemui nyonya itu." Kie Hong mengawasi, matanya dipentang, "siapa tak takut mati?" kata dia. " Nyonya Yan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keras sikapnya, ilmu silatnya pun lihai, Bahkan dua budak perempuannya jauh lebih gagah daripada aku..." Tiong Hoa bersangsi hingga dia tertawa. "Mungkin saudara mendengar warta yang berlebihan hingga karenanya kau jadi jerih" katanya, Jikalau begitu, baik saudara buang saja cita-citamu menikah Nona Hee." Kie Hong mendongkol ia menyangka anak muda ini menghina dirinya, ia hendak mengumbar hawa amarahnya ketika ia ingat buat apa ia menuruti hatinya, sebentar toh pemuda ini bakal menemui ajalnya. Tengah pemuda she Pek itu berdiam, tiba-tiba mereka mendengar suara tetabuhan dibunyikan keras. Dia kaget, lantas dia menarik tangan Tiong Hoa, buat diajak lari sembari dia kata perlahan: " Lekas. Kalau kita dipergoki kedua budak Nyonya Yan jangan harap kita dapat menyingkir setindak juga dari sini..." Tiong Hoa ditarik tangannya, ia turut lari, tapi ia bersangsi dan penasaran ia pikir: "Bagaimana liehaynya nyonya itu? Aku ingin melihat dia." Rimba bambu itu luas, sampai sekian lama baru Kie Hong berdua Tiong Hoa dapat ke luar dari situ, untuk terus memasuki sebuah rimba lain yang lebat dimana, matahari kealingan daun-daun hingga rimba menjadi gelap dan menyeramkan. tepi didalam situ kedapatan sebuah rumah yang nampak hitam. Jilid 4 : Tiong Hoa terjebak di Yan-kee-poo "Saudara Lie," kata Pek Kie Hong, menunjuk ke rumah yang gelap itu, "itulah tempat ditahannya murid-murid

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Koen Loen pay. jalanan di dalam rimba ini istimewa, baik kau ikuti aku, tempat di mana aku menaruh kaki, di situ tidak ada bahayanya. Habis berkata, ia jalan mendahului, ia jalan cepat, ke kiri dan kanan tak ada ketentuannya. Tiong Hoa mengawasi kaki-kaki orang, Tiba di dekat rumah besar itu, ia kaget, ia kena injak tanah yang seperti tak pegangannya ia kaget, Percuma kagetnya ini, belum sempat ia memikir apa-apa, kedua kakinya sudah kejeblos, tubuhnya turun sama cepatnya, terus telinganya mendengar Pek Kie Hong tertawa bergelak. Lalu tertawa itu. Selagi kejeblos itu, anak muda ini tidak melihat apaapa. Gelap di sekitarnya, itulah pasti liang perangkap. Ketika ia tiba, di bawah entah berapa dalamnya, ia kaget, ia seperti terbanting sampai ia roboh, lantas hidungnya mencium bau tempat demak dan amis juga, hingga ia ingin muntah, Ketika jatuh itu, ia hampir pingsan, maka itu sampai sekian lama, baru ia dapat bangun berdiri. Karena tempat gelap, tangannya meraba-raba, sampai ia memegang tembok di sekitarnya. "celaka aku..." ia mengeluh. ia berada dalam lubang dengan tembok besi, Hawa di situ pun menyesakkan dada, Kalau ia tidak lekas lolos, ia bakal mati kehausan dan lapar, inilah hebat, "Heran kenapa Kie Hong menipu aku..." pikirnya, "Mungkinkah dia mencurigai aku? Kalau benar, itu bukanlah soal sukar, dapat ia mencari tahu..." Sebagai seorang hijau, pemuda ini sangat kurang pengalamannya. ia main percaya setiap orang, ia seperti lupa halnya Yan Hong hitam makan hitam dan Lao San

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sam eng penasaran, ia tak tahu Yan Hong dititahkan Yan Loei mengundang ia datang ke Yan Kee Po, untuk menguji ia, kalau ia benar berpihak pada orang luar, ia hendak disingkirkan. Yan Hong pun bersedia membinasakan ia, cuma tuan muda dari Yan-kee-po itu masih ingat budi pertolongan orang, kalau bisa dia ingin ia membantu Yan-kee po. Tapi ia di curigai Yan Loei, karena Yan Loei menerima laporannya Pek Kie Hong bahwa ia menolong orang Koen Loen Pay, maka itu Yan pocu tak bersangsi pula, terus dia menyuruh Kie Hong memancing dan menjebaknya, perbuatan itu dilakukan diluar tahunya nyonya Yan dan Yan Hee si nona. Setelah berpikir lama, Tiong Hoa menjadi jemu terhadap orang Rimba Persilatan, kalau ia lolos, ingin dia membinasakan Kie Hong dan orang-orang sebangsanya, ia gusar hingga ia menggertak gigi. Sementara itu tadi, ketika terdengar suara bok hie terakhir, pintu Coei Tek Hian lantas terpentang, dari situ keluar seorang budak perempuan berbaju hijau. yang membekal sapu, untuk menyapu lantai di depan pintu. Dia belum berumur dua puluh, tubuhnya langsing, romannya menarik hati. Gesit kerjanya dia. Di ruang dalam, yang disebut hoed-tong, ruang pamujaan, ada duduk bersila seorang wanita tua yang rambutnya sudah ubanan, mukanya bundar, kulitnya belum keriputan, matanya bersinar tajaro, suatu tanda dialah ahli silat. Ditengah-tengah ruang tergantung gambarnya Cian cioe Koan im yaitu dewi Koan Im bertangan seribu,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berikut sebuah gambar Thay Kek. yang diapit sepasang lian atau pigura huruf yang tulisannya bagus. Di atas meja ada bok khie serta pendupaan yang asapnya mengepal harum, Nyonya tua itu bersila sambil meram. Tak lama dari kamar samping keluar seorang nona berbaju merah, Karena sinar matahari yang masuk dari pintu, maka nona itu tampak cantik manis. "lbu." ia memanggil, suaranya merdu dan bernada aleman, Terus ia mendekati si nyonya, untuk menanya: "lbu lagi pikirkan apa?" Dialah Yan Hee, puterinya Yan Loei atau adiknya Yan Hong. Nyonya itu membuka matanya terus ia bersenyum manis, "Aku memuja sang Buddha, sekarang aku telah memperoleh kesadaran," sahut ibu itu. "Sekarang hatiku tenang bagaikan air, tapi sudah dua hari ini, aku merasai ketenanganku terganggu, Air seperti berombak perlahan mungkin ada sesuatu yang bakal menimpa aku. Aku ingat ketika delapan tahun yang lalu aku membinasakan si orang aneh yang kumisnya panjang aku mendapat alamat seperti ini, Tapi tak mau aku memperdulikan itu" ia tertawa, "Anak. mari aku tanya kau, selama yang belakangan ini kau telah dapat mencari orang yang kau penuju atau belum?" Dari pertanyaannya ini maka teranglah sudah si nyonya adalah isterinya Hoan Thian-ciang Yan Loei. yaitu Ciao Cioe Kwan lm Siauw Goat Hian." (Dewi Kwan lm bertangan seribu), ilmu silatnya menggabung pelajaran sesat dan lurus.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liehaynya adalah senjata rahasianya, yang terdiri dari delapan-belas butir mutiara murni serta ilmu pedangnya San Hoa Kiam-hoat, yang terdiri dari dua puluh jurus. Ketika ia berselisih dengan suaminya, lantas ia menyekap diri di Coei Tek Han, hidup menyendiri dengan memuja Cian cioe Kwan Im, yang tadinya ia pakai sebagai gelarannya, ia cuma dilayani dua budak perempuan itu, dan yang dapat menemui ia melainkan gadisnya itu. Mukanya Yan Hee merah atas pertanyaan ibunya itu. "lbu saban-saban kau tanyakan urusan itu, buat apakah?" anak itu balik menanya, "Aku masih belum memikir untuk menikah. Aku justeru ingin selamalamanya menemani ibu." "Ngaco." ibu itu membentak. "Mana dapat kau tak menikah?Justeru karena kau, aku belum mau pergi ke gunung yang sunyi, Aku kuatir ayahmu nanti jodohkan kau pada orang yang tak tepat, dengan begitu kau bakal celaka seumur hidupmu, Pek Kie Hong anaknya Pek Liang telah aku lihat, dia kelihatan baik di luar tapi hatinya sebenarnya tak lurus bahkan licik. Aku merasa pasti di belakang hari dia bakal mati tak wajar, Turunan serigala mana bisa menjadi kie-lin? Maka itusering ayahmu mendesak tapi aku tidak meluluskan." Yan Hee heran. "lbu pernah lihat Pek Kie Hong?" dia tanya. "Aku melihat dia pada tiga tahun yang lalu." sahut ibu itu, lalu dengan roman sungguh-sungguh ia menanya. "Anakku, benar- benarkah kau belum mempunyai orang yang kau penuju? Ketika tadi malam aku mengajari kau ilmu pedang, hatimu agak tak tenang, kenapa kah itu?" Yan Hee tahu mata ibunya tajam, tak dapat ia mendustainya, Maka ia tunduk ia ketanah. "Kemaren

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pagi engko Hong mengajak satu sahabat datang ke rumah kita, itulah sahabatnya yang baru. Aku lihat gerakgeriknya orang itu halus, dia tidak mirip- miripnya orang Kang ouw, cuma masih belum ketahuan hatinya..." Tepat si nona berkata begitu maka di jendela dari rumah itu ada orang yang menggantung kakinya dipayon, matanya mengintai ke dalam. Habis berkata begitu, nona itu likat sendirinya, ia tunduk sambil membuat main ujung bajunya, Tapi dengan melihat sikap anaknya, sang ibu tahu hati anaknya itu telan digedor si anak muda yang disebutkan itu, ia agaknya senang, ia bersenyum. Tapi tiba-tiba alisnya berkerut, terus tangannya diayun maka melesatlah sebuah benda kuning halus. Di luar terdengar suara perlahan seperti ujung baju ditembuskan sesuatu. lantas sunyi pula. Melihat gerakan ibunya Yan Hee tahu diluar mesti adu orang yang mengintai mereka, ia lantas berlompat keluar, hingga ia melihat di belakang rumah itu. daun pohon bambu bergoyang sedikit ia tidak dapat melihat tegas, maka itu ia lantas menyerang dengan enam biji kim-chie-piauw. Tidak ada hasilnya serangan itu, kecuali daun bambu bergoyang pula. Si nona penasaran, hingga ia kata dalam hatinya. "Bangsat, aku lihat kau dapat lolos dari tangan nonamu atau tidak? ia menyusul ia menimpuk pula. Ada larangan kaum Rimba persilatan untuk mengejar musuh yang lari ke dalam rimba atau tempat lebat pepohonan tetapi Yan Hee melanggar itu, sebab ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berada di rumahnya ia mengejar teeus, Hasilnya sia-sia, sampai merasa letih, tak dapat ia mengudak orang itu, cuma saban-saban terlihat daun bambu bergerak. Ketika ia tidak melihat apa apa yang mencurigai ia keluar dari dalam hutan bambu itu, keluar sambil berlompat. segera ia dapat melihat Pek Kie Hong lagi jalan mundar mandir di antara pohon-pohon bunga, romannya masgul. "Heran. Kenapa anak muda itu berada di situ?" Kie Hong juga lantas mendapat lihat si nona. Kalau tadi alisnya berkerut, sekarang ia lantas bersenyum. "Adik Hee." dia memanggil cepat. Nona itu merah mukanya akan tetapi dia menegur: " Kenapa kau lancang masuk ke- dalam rimba? Kenapa kau mengintai di jendela Coei Tek Hian, kau telah melanggar larangan ibuku, tidak dapat aku melindungi kau" Kie Hong melengak. "Apa?" tanyanya cepat, Jangan main-main, adik Hee, Berapa biji batok kepalaku hingga aku berani melanggar larangan peebo? Akujusteru lagi bingung memikirkan dengan cara apa aku dapat menemui ibumu, supaya terwujudlah apa yang aku harapi bertahun-tahun" "Harapan apa?" si nona memutus.Ngaco belo." Lantas dia memutar tubuh, untuk kembali ke dalam rimba. "Adik Hee. Adik Hee." Kie Hong memanggil-manggil. Yan Hee tidak menyahuti, ia pun tidak kembali, maka pemuda itu menjadi masgul dan menyesal, ia berdiri menjublak saja, tapi tak lama segera ia sadar, maka ia berseru seorang diri: "Celaka. Di dalam rimba tentu ada orang. Kalau tidak mustahil adik Hee mencurigai aku.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mesti hal ini segera diberitahukan pocu." Maka dia lantas laripergi. Di dalam rimba, Yan Hee bingung berpikir. "Tidak nanti Kie Hong berani lancang masuk ke mari?" demikian pikirnya, "Habis, siapa orang itu? Mungkinkah ia adanya?" Lalu di depan matanya berbayang roman Tiong Hoa yang tampan.. Mengingat pemuda itu, Yan Hee lantas lari ke Coei Tek Hian. Siauw Goat Hian tengah duduk membaca kitab, kapan dia mendengar tindakan kaki orang, ia mengangkat kepalanya "Anak Hee, dapatkah kau menyandak?" nyonya itu tertawa. orang yang ditanya itu menggeleng kepala. sang ibu menutup kitabnya. "Dia dapat lolos, dia lihai" katanya, "Coba lihat, apakah ini?" Dari dalam kitabnya, ibu itu menarik ke luar sehelai kertas Yan Hee menyambuti, ia lihat kertas itu ada tulisannya doIama huruf yang berbunyi: Membalik langit, memasuki bumi, dosa berlapis sukar lolos" ia heran. Tak mengerti ia maksudnya itu. sang ibu menghela napas, ia kata perlahan "siapa banyak melakukan perbuatan tak benar, dia bakal celaka sendirinya, Kelihatannya ayahmu telah luber kejahatannya... Anak itu kaget. "Apakah yang ayah perbuat?" Dia tanya, "Dapatkah ibu duduk diam saja tidak menolong i?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ibu itu mengasi lihat roman gusar, ia kata dingin, "Biar dia mati berlaksa kali, itu masih belum cukup untuk menutup dosanya, jikalau ibumu menolongi dia, ibumu bakal merusak kata katanya sendiri, Tapi habis berkata, dia menghela napas, agaknya dia berduka sekali. Yan Hee tetap bingung, ia tahu ibunya bentrok dengan ayahnya tapi ia tak ketahui duduknya hal yang sebenarnya. Sekonyong-konyong dari luar rumah terdengar tertawa yang nyaring yang disusuli perkataan ini: "Benar-benar cian ciee Kwan lm sadar dan cerdas. Lagi tujuh hari Yan Kee Po bakal ludas menjadi abu, melainkan coei Tek Hian akan utuh seperti tempat yang suci." Kembali tertawa yang nyaring yang berkumandang di dalam rimba bambu. Yan Hee kaget dan heran, hendak dia lompat keluar, tetapi ibunya menarik tanganaya, ibu itu memasang telinganya, terus ia mengerutkan alisnya berulang kali, ia kata per lahan suara orang itu rasanya aku kenal baik. Lalu meneruskan pada anak-daranya: "Anak, coba kau keluar, kasi lihat ada apa yang luar biasa." Yan Hee lekas keluar. Lantas ia melengak. Di kiri rumah, belasan pohon bambu terbabat, babatannya rata. tetapi bagian yang terbabat itu tidak ada. Adakah semua batang bambu serta daunnya dibawa pergi? ia juga heran karena ia baru saja masuk ke dalam dan ia tidak mendengar suara apa-apa. Orang jadinya bekerja sangat cepat dan tanpa suara. Bekas bacokan iuga menandakan itu bukan bacokan pedang atau golok hanya tangan. Cepat luar biasa Yan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hee lari balik ke dalam, ia menuturkan semua. cian cioe Kwan lm berdiam, agaknya dia berpikir, Akhirnya dia kata sendiri perlahan. "Oh. kiranya dia..." Yan Hee mementang mata lebar. "Siapa dia, ibu?" ia tanya. "Siapa sebenarnya orang itu, ibumu tidak dapat menetapkan." sahut orang tua itu. "Tapi pasti tujuh bagian adalah dianya. Tak heran dia mengatakan tujuh hari kemudian Yan Kee Po bakal ludas menjadi abu, Dia biasa berbuat benar dan berhati-hati, mungkin masih ada urusan yang membuatnya bersangsi dan belum dapat membereskannya. Mungkinkah ayahmu telah mengganggu dia?. Sang anak heran, ingin ia minta keterangan pula. Mendadak ibunya memperlihatkan roman gusar dan kata kepadanya keras: "Anak Hee, lekas pergi ke depan kau tanya engko Hong kau, dalam beberapa hari ini apa lagi yang mereka kerjakan. Lekas pergi." Yan Hee heran dilapis heran, akan tetapi mengingat urusan mestinya penting sekali, ia menurut, ia lantas lari keluar, Begitu ia keluar dari rimba, ia lantas bertemu dengan dua pelayan ibunya yang romannya gelisah sekali satu diantaranya lantas berkata padanya: "Nona lekas pergi ke depan. Siauw pocu pulang dengan luka hebat sekarang dia tak sadarkan diri" Yan Hee kaget dan berkuatir, ia memang menyayangi kakaknya itu. Tanpa menanya lagi, ia terus lari. Di ruang depan ada banyak orang, berisik mereka itu, romannya tegang, Yan Hee membuka jalan dengan paksa diantara mereka itu, Maka segera ia melihat Yan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hong, yang mukanya pucat dan matanya tertutup, napasnya empas-empis, sedang tubuhnya mandi darah, Hoan-Thian ciang, dengan kedua tangannya, lagi menyalurkan tenaga dalamnya untuk menolongi puteranya itu. Karena jidat ayah itu mengeluarkan banyak sekali keringat, teranglah lukanya Yan Hong tak ringanCie-liong-kiam Pek Kie Hong melihat datangnya si nona, dia menghampirkan. Matanya si nona menyapu, melihat siapa yang mendekati ia, alisnya berbangkit. "Mana Lie Cie Tiong yang kemarin datang kemari?" ia tanya, "Kenapa dia tak nampak?" Kie Hong terperanjat akan tetapi dia menetapi hati. "Dia?" sahutnya, tertawa tawar, "Dia kata ada barangnya yang penting yang ditinggal di hotelnya di Tok lok, maka dia pergi tadi pagi-pagi untuk mengambilnya." "Hm" bersuara si nona, yang kembali menoleh, mengawasi kakaknya. Kie Hong berdiam, ingin ia bicara dengan si nona tetapi karena sikap nona itu terpaksa ia bungkam. ia mesti menahan hati. Tak jauh dari muda mudi itu berdiri Tiat pie chongliong Lauw Pou dengan kedua matanya yang bercahaya. Dia memperhatikan mereka itu berdua, sikapnya kerenSetelah ditolongi ayahnya sekian lama keadaan Yan Hong mendingan- Dengan mukanya mulai bersemu dadu, ia membuka kedua matanya. Im Cioe Hauw Hoen Hauw Boen Thong berdiri dibelakang Yan Loei, dia tidak sabar dan dengan roman dan suara bengis, dia lantas menanyai " Keponakan Hong, kau bertemu musuh liehay siapa itu? Lekas bilangi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pamanmu" Ditanya begitu, Yan Hong merapatkan pula matanya. Yan Loei dapat menerka hati anaknya Di situ ada banyak orang, anak itu tentu tidak suka sembarang bicara, Maka ia mengedipi mata pada Hauw Boen Thong sambil menitahkan orang-orangnya. "Siauw pocu perlu beristirahat, lekas bawa dia ke kamarnya." Perintah itu lantas dilakukan- empat orang, yang menggotong Yan Hong ke dalam. Yan Loei mengikuti dengan diturut Hauw Boen Thong, Khong Jiang, Pek Kie Hong dan Yan Hee. Begitu mereka berkumpul di dalam, Yan Hong berkata, "Tadi malam aku pergi ke kota Tek-lok. di sana matamata kita mendapat tahu Lao..." ia melihat adiknya, ia berhenti tiba-tiba. Yan Loei berpaling kepada puterinya. "Kata Pek Hiantit barusan ada orang memasuki Coei Tek Hian, dia dapat dibekuk ibumu atau tidak?" ia tanya. Nona Hee cerdik, ia tahu kakaknya tentu mau omong rahasia yang ia tak perlu dapat tahu, karena ia menduga urutan tentu mengenai musuh, di waktu ia menjawab ayahnya suaranya dingin. "Orang itu dibiarkan bisa lolos." jawabnya. "Nampaknya ibu tidak memperdulikannya" Yan Loei menggeleng kepala. "Ibumu itu luar biasa" katanya, "Tempat baik-baik dijadikan daerah terlarang, sampai ayahmu tak memperkenankan masuk ke situ, orang kita dapat melihat ada orang masuk ke situ, mereka cuma dapat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengawasi saja, la menambahkan " Ibumu tentu belum tahu kakakmu terluka, pergi kau kepadanya untuk memberitahukannya sekalian kau minta, untuk kali ini agar dia datang melihatnya," Yan Hee menduga ia hendak disuruh berlalu, setelah bersangsi sebentar, ia mengangguk. "Baik, aku nanti coba, katanya. Aku kuatir ibu tidak mau mengadakan kecualian..." Lantas dia bertindak pergi. Seperginya sang adik, Yan hong lantas melanjuti keterangannya. Yan Loei telengas, kalau dia mau melakukan sesuatu, tak kepalang, dia membinasakan semua orang yang bersangkutan untuk menutup semua mulut. ia ingin orang tak ketahui perbuatannya, supaya namanya tak tercemar. Kali ini ia tak beruntung membersihkan diri, 000 Di kota raja ada seorang berpangkat Hoe-pouw siang sie, namanya souw Ceng Kit, dia mempunyai sebuah mustika logam asar see Hek. wilayah Barat, namanya Ngo sek Kim-ho, emas panca warna. Logam itu dapat di-buat menjadi pedang mustika, yang tajam luar biasa, dapat memutuskan rambut, dapat memecah batu, dapat juga merusak tenaga dalam. Logam itu sangat diingini kaum Rimba PersilatanSouw siangsie mempunyai seorang anak. Siang Hoei namanya anak itu menjadi muridnya lm san le soe, orang kosen dari perbatasan selama anaknya lagi belajar silat, siangsie itu mau mengirim logamnya itu buat dijadikan pedang, tetapi lm san ie soe menampik, katanya dia lagi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

repot, nanti saja sesudah Siang Hoei tamat belajar dan turun gunung. sekarang Souw siangsie mau pulang ke kampungnya, ia mengundang enam belas guru silat sebagai pengantarnya. Lao san sam Eng mendengar selentingan tentang logam mustika itu, mereka ingin memilikinya, lantas mereka menguntit, guna menanti ketika yang baik buat turun tangan. Mereka tidak tahu logam itu telah dijanjikan kepada lm san lesoe, kalau tidak. tidak nanti mereka berani memikir yang tidak-tidak. Rombongan souw siangsie bakal lewat di Tok lok, di baratnya, di sebuah tempat yang dinamakan perhentianKenyang makan asem garam, Kee beng- ek. Tempat itu dipilih sam Eng sebagai tempat bekerja, itulah tempat belukar dan sepi di mana jarang ada orang berlalulintas, Tapi Kee beng ek termasuk dalam wilayah pengaruh Yan Loei, maka itu sam Eng pergi mengunjungi Yan Kee Po, guna memberitahukan maksudnya. Yan Loei memberi perkenannya. Tapi dia licik, dia biasa bekerja menggelap. Dia juga menghendaki Ngosek kim bo itu. Mulanya dia belum tahu jelas dan mengira saja itulah mustika, kalau baru emas dan perak Lao san sam Eng tidak nanti ketarik hatinya dan mau menguntit dari tempat demikian jauh. Dia lantas mengatur untuk bekerja. Dia menugaskan Yan Hong dan delapan pembantu pilihan. Malam itu yang Yan Hong bertemu Tiong Hoa di Cip Poo Lauw, itulah saatnya dia mesti pergi ke Keebeng-ek. Jamnya adalah jam tiga. sementara itu pada jam dua, Yan Hong menyuruh satu orangnya pergi menemui Souw siangsie, dengan mengaku diri orang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Koen-loen-pay, orang itu mesti membeber rahasia bahwa Lao san sam Eng bersama dua puluh lebih penjahat besar hendak melakukan pembegalan- la mengusulkan Souw siang sie bekerja di dua jurusan, yaitu diam-diam mengantar mustika pulang keTaytong, kampung kelahirannya, di lain pihak mengatur daya guna meringkus semua begal itu. Souw siangsie percaya keterangan itu, Empat pengantar lantas diperintah berangkat lebih dulu membawa logam mustika itu. sedang pemberi warta itu, yang mengaku bernama Tio-tong, diminta berdiam bersamanya di tempat mondok, katanya guna membantu lainnya. Seberangkatnya rombongan empat pengantar itu, Yan Hong serta enam pembantunya orang-orang pilihan itu lantas menyusul. Di luar dugaan, Lao san sam Eng tiba di Kee-beng-ek pada sebelum jam tiga yang menjadi batas tempo itu, mereka heran melihat berlalunya dua rombongan orang. Lantas mereka menduga, terus mereka menyusul. Tio-tong tetiron menjaga diatas genting perhentianDia melihat gerak gerik ketiga Elang itu, dia kaget, tapi segera dia mendapat pikiran, maka dia minta belasan pengantar pergi menyusul, dia sendiri berdiam terus untuk melindungi Souw siangsie. Dengan akal ini ia ingin sendiri saja dia merdeka memaksa Souw Siangsie menyerahkan Ngo-sek Kimbo. Dengan golok terbunus, dia mengancam Souw siangsie. Di luar dugaannya, dua busu kembali, kedua bu-su ini bercuriga, lekas-lekas mereka balik. Tepat mereka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memergoki Tio Tong, maka mereka menyerang membinasakan orang palsu itu. Keempat busu baru berjalan lima lie lebih, mereka tercandak rombongannya Yan Hong, lantas mereka diserang dan kena dibinasakan serta barang yang dilindunginya, yang berharga, kena dirampas. Yan Hong girang sekali, ia merasa sangat puas dengan kesudahan sepak terjangnya itu. Justeru ia lagi kegirangan, datanglah bencana yang tak tersangkasangka, itulah tibanya Lao san sam eng, yang terus menyerbu, Kesudahannya pertempuran ini hebat sekali. Yan Hong terluka parah pundaknya dan enam kawannya terbinasakan senjata rahasia yang beracun dari sam Eng. Yan Hong sebera kabur, syukur dia ditolongi Lie Tiong Hoa. Bu-su yang dipedayakan Tio-tong tiba di tempat kejadian untuk menyaksikan saja mayat-mayat bergelimpangan logam mustika tak nampak. mereka lantas lari pulang, untuk menyampaikan kabar buruk itu. Souw siangsie menjadi sangat gusar, ia terus mengadu pada camat di Tok-Iok dan mendesaknya agar penjahatnya ditangkap ia tidak tahu bahwa perbuatan itu perbuatannya Yan Hong, dan ia menduga Tio-tong itu orang sebawahannya Lao san sam Eng. Ketika Yan Hong dapat lari pulang, ia menuturkan segala apa pada ayahnya. Yan Loei yang cerdik lantas memikir, tak dapat tidak Lao san sam Eng mesti disingkirkan dan Lie Tiong Hoa pun mesti dipancing ke rumah-nya, untuk dengan melihat gelagat menyingkirkannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lao san sam eng di lain pihak setelah dikalahkan Tiong Hoa, menjadi semakin gusar dan panas hati. Mereka menduga Yan Kee Po hitam makan hitam. Untuk melampiaskan kemendongkolanny a, mereka lantas menyiarkan kabar angin bahwa kejahatan itu perbuatan Yan Kee Po. Dalam tempo dua jam, Yan Loei telah mendengar kabar angin itu, Dia menjadi semakin gusar, Lantas dia mencari tahu tempat kediamannya sam Eng, untuk bertindak menyingkirkannya. Kedua pihak lantas main muslihat. sam Eng sengaja membikin tempat mondoknya ketahuan, tapi mereka tidak berdiam tetap di situ, mereka kabur ke arah siauw Ngo Tay sanYan Hong menyusul ke gunung itu. Baru ia sampai dimulut gunung, ia sudah dihadapkan seorang tua berbaju kuning, yang menunjuki roman gusar, ia tidak tahu takut ia juga tidak kenal orang tua itu, ia lantas menyerang. "Anak muda tidak tahu mampus" orang tua itu membentak. "Kau cari mampusmu" Lantas Yan Hong merasakan tolakan yang kuat luar biasa, tubuhnya terus terlempar ke bawah jurang dalam beberapa puluh tombak. hingga ia merasai tubuhnya seperti remuk, terus ia tak sadarkan diri. ooo "Syukur kaujatuh dirumput," kata Yan Loei kaget, mendengar keterangan anaknya itu, jikalau tidak. tentulah jiwamu sudah hilang, Kau didapatkan oleh orang kampung yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengenalmu, maka kau diantar pulang. "Siapakah orang tua berbaju kuning itu?" Yan Loei tanya Hauw Boen Thong, yang ia awasi. "Hauw Loosoe banyak penglihatannya dan luas pendengarannya, mungkin loo-su ketahui..... Hauw Boen Thong berpikir, lantas matanya bersinar. "Ah, jangan- jangan dia siluman tua.." katanya terkejut. Belum berhenti suaranya itu maka dari atas genting terdengar suara tertawa nyaring serta kata-kata ini. "Bagus kamu ketahui si siluman tua" Yan Loei dan Boen Thong kaget, hampir berbareng mereka bertempat keluar dari jendela. ooooo BAB 6 CIE-LI0NG-KIAM Pek Kie Hong juga turut menyusul, Maka ketiganya dengan cepat terus lompat naik ke atas rumah. Mereka melihat orang yang tertawa dan berkatakata itu, Dialah seorang tua dengan baju kuning. Dia agaknya tidak menghiraukan ketiga orang ini, dia tertawa hanya berdiri membaliki belakang. Yan Loei dan Hauw Boen Thong tefkejut, Merekalah orang-orang yang telah banyak makan asam-garam. Tidak demikian dengan Pek Kie Hong. Anak muda itu maju terus, sambil membentak dia menyerang, mengarah jalan darah bun-hu di punggung orang tua itu. sekonyong-konyong si orang tua tertawa nyaring, tubuhnya terus berputar, tangan bajunya yang panjang berbareng menyampok.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kie Hong kaget tidak terkira. Mendadak ada serangan angin hebat ke arah mukanya. Kontan dia susah bernapas, karena dadanya menjadi sesak dalam sedetik. Tapi dia masih ingat untuk mengundurkan diri, dia lantas berlompat. Tapi sudah kasip. si orang tua mendahului lompat maju, menyamber tangannya, Hanya sekejap. dia merasakan sakit dan tenaganya lenyap. pedangnya terlepas dari tangannya. Si orang tua rupanya tidak memikir mengambil jiwa orang, habis menyamber, ia melepaskan cekalannya, justru itu Yan Loei dan Hauw Boen Thong menyerang dengan berbareng, Mereka ini mau menolongi pemuda she Pek itu. Si orang tua tidak mau melayani, dia menggeraki pedangnya sambil tubuhnya mencelat bagaikan terbang cepatnya, dia berlompat ke dalam rimba, untuk segera menghilang... Ketika itu pun datang menyusul banyak orang Yan Kee Po akan tetapi mereka tidak dapat berbuat apa apa. Mereka menyerang dengan senjata rahasia tanpa hasil. Pek Kie Hong berdiri menjublak. la gusar dan berduka karena lenyapnya pedangnya. Justeru itu mendadak Hauw Boen Thong berteriak matanya bersinar kaget, mukanya menjadi biru dan pucat. Semua orang kaget, semuanya menofeh. Mereka lantas menjadi lebih kaget lagi. Orang she Hauw itu terpapas ujung bajunya, hingga terlihat tulang lengannya yang kurus, la baru ketahui itu ketika sang angin menyamber padanya dan lengannya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu terasa dingin, tempo ia melihatnya, ia memperdengarkan teriakannya itu. Itulah hasil pedang Kie Hong yang dirampas si orang tua. syukur dia tidak telengas, kalau tidak. mungkin dia dapat menguntungkan lengannya Im Cioe Jiauw HoenTapi ini juga sudah cukup untuk membikin ciut hati orang, ia hanya menjadi sangat mendongkol dan menyerah ialah seorang Kang ouw kenamaan tetapi sekarang ia telah dibikin menjadi tidak berdaya... Yan Loei juga gusar dan masgul sekali, ia malu, Bukankah ia telah dirobohkan bahkan di sarangnya sendiri? ia mengerti, itulah alamat bencana untuk Yan Kee Po yang kesohor kuat. "Yan Peehoe, siapakah itu setan tua berbaju kuning?" kemudian Pek Kie Hong tanya Yan Loei, Dia menjadi lesu sekali. Yan Loei belum menjawab atau Boen Thong telah mendahuluinya. Dengan sengit orang sh e Boen ini kata: "Bocah, kau tahu dia siapa? Dialah siluman tua Thian Yoe yang dulu hari telah menjadi pecundangnya Hok In siang-jin-- Hm-- Hm. Kau lihat, segera bakal datang pertunjukan berikutnya yang menarik hati." Dari suaranya nyata Boen Thong sangat tidak puas dan ingin menuntut balas. Kie Hong kaget hingga ia merasa matanya kabur. ia lantas mendapat perasaan bahwa pedangnya itu tak bakal kembali kepadanya, ia masih muda tetapi pendengarannya sudah banyak maka ia tahu siapa Thian Yoe Sioe, satu jago dari hampir enam puluh tahun yang lampau, sedang pada tiga puluh tiga tahun yang lalu, pernah dia dikeroyok ketua-ketua Boe Tong Pay, Khong

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tong pay dan Siauw Lim Pay, selama dua hari satu malam, mereka itu masih tak dapat menang di atas angin- pertempuran satu melawan tiga itu terjadi di depan air tumpah di gunung Louw yan. Syukur Thian Yoe sloe -- meski dia jumawa dapat berlaku sabar, hingga dia puas dengan satu kesudahan seri, tak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, sama-sama tangguh. Hanya karena dia dikepung bertiga, dia toh mendapat nama, dengan sendirinya namanya jadi terkenal sekali dan dimalui. ooo Thian Yoe sioe berasal seorang anak yatim piatu, Dia she Kie. Karena sebatang- kara dan hidupnya melarat dan bersengsara, dia sering dihina orang, syukur kemudian dia bertemu seorang berilmu dan dipelihara dan serta di didik sempurna hingga dia memperoleh kepandaian silat yang luar biasa. penderitaannya berpikiran tak seperti banyak orang. Dia bertabiat keras. Dia bertindak menurut apa yang dia sendiri rasa baik, Karena itu, dia tak disukai baik kaum sesat maupun kaum lurus, Maka tetap dia suka hidup menyendiri, tetap dia membawa tabiatnya itu. Kurban- kurbannya, kedua kaum lurus dan sesat, tak kurang dari seratus jiwa. Barbareng sama Thian Yoe sioe maka di puncak tertinggi gunung Koen Loen san Barat ada hidup seorang gagah yang dipanggil Hok In siangjin, yang pun dikenal sebagai Boe Lim it seng. Nabi tunggal kaum Rimba Persilatan- Tak tenang hatinya orang kosen ini melihat sepak terbangnya Thian Yoe sioe itu, Maka ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengundang Thian Yoe sioe datang ke gunungnya untuk berunding. Thian Yoe sioe menerima baik undangan itu dan datang ke Koen Loen san Barat, Ketika dia tiba- d i kaki gunung, ada orang yang melihatnya, maka habis itu, timbullah omongan diluaran bahwa dia sudah menempur Hok In-siangjinHok In siangjin seorang pendeta berilmu dan sabar maka itu begitu bertemu Thian Yoe sioe, ia berlaku sabar sekali, ia ingin Thian-Yoe sioe merubah adatnya, sikapnya ini membikin Thian Yoe sioe dari panas hati menjadi tenang. ia pun menuturkan riwayat hidupnya nyata semasa kecilnya, ia lebih menderita daripada Thian Yoe sioe. Sebagai seorang cerdik, ia tidak omong perihal ilmu silat, ia tidak menimbulkan hal sepak terjangnya Thian Yoe sioe. Thian Yoe sioe tidak bertanding, sebaliknya dia insaf keluhuran budi Hok in siang-jin- Kata-katanya pendeta itu menyadarkan padanya. Kata Hok In siangjin: "Manusia itu kebanyakan merasa dirinya yang benar, karenanya dia suka menegur kesalahan lain orang, Mata manusia seperti kaca rasa, cuma bisa melihat kesalahan lain orang, tak dapat melihat cacad sendiri, Manusia itu mana bisa tak melakukan kekeliruan? Karena itu. baiklah orang saling mengerti, jangan sampai menjadi mencelakai diri sendiri Manusia itu, karena masing-masing pengalamannya, menjadi beda satu dari lain, toh pokoknya tetap satu, tak ada perbedaan jahat dan baik, yang harus diutamakan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yalah kesadaran, lalu memeriksa diri sendiri agar tidak sampai berbuat keliru." Satu hari satu malam mereka memasang omong, hati Thian Yoe sioe jadi tertarik. Kemudian Thian Yoe sioe menimbulkan ilmu silat, Dia merasa bangga pada dirinya, ilmu silat itu dalam seperti lautan." kata Hok In siang-jin bersenyum. "Ilmu silat tidak ada batasnya, Tidak demikian adalah usia manusia, yang telah ditetapkan dengan batas waktu seratus tahun- oleh karena itu loolap tidak suka bicara tentang ilmu silat atau bentrok bicara karenanya, ilmu silat dapat mengacaukan pikiran dan membuatnya orang suka berebutan-" Thian-Yoe sioe tahu Hok In siangjin sabar dan suka mengalah, tetapi dia penasaran, dia minta mereka berdua mencoba-coba..Hok In kena terdesak. la menjanjikan pertandingan hanya seratus jurus, bahwa iacuma akan membela diri, tidak akan menyerang, sementara gelanggangnya cuma luas lima kaki seputarnya. Katanya, siapa yang keluar dan gelanggang, dia kalah. Thian Yoe-sioe percaya kelihaiannya, dia terima baik syarat itu. Dia tidak percaya dalam seratus jurus orang tak akan lompat keluar gelanggang. Maka itu, begitu mulai, dia lantas keluarkan kepandaiannya. Dia ingin memaksa pendeta itu keluar dari gelanggang. Tapi Hok in siangjin liehay sekali, Walaupun dia terus diserang dan setiap penyerangan berbahaya, dia selalu dapat menghindarkan diri, dia bermata jeli dan bertubuh ringan dan gesit, Dia bergerak lincah bagaikan bayangan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Thian Yoe sioe penasaran, ia mengubah cara penyerangannya, tetapi tetap ia tidak memperoleh hasil, Ketika sampai di jurus ke seratus, Hok in siangjin mengalah. Dia bukan keluar dari gelanggang hanya menginjak batasnya. Dengan begitu pertandingan itu berkesudahan seri. Thian Yoe sioe menginsafi liehaynya pendeta yang sangat sabar itu. Ketika Thian Yoe soei pamitan, Hok in siangjin mencekal tangannya jago itu dan kata dengan roman berduka. "Kita berdua sudah sama-sama berusia lanjut. Manusia itu dapat hidup berapa lama? Hari dan bulan lewatnya dapat dihitung denganjari tangan, di dalam dunia ada berapa orangkah yang memperoleh kesadaran? Maka daripada itu sang Budha mengatakan, "Dia mengutamakan membantu orang menyadarkan diri, Kita sekarang bakal berpisahan, entah kapan kita dapat bertemu pula, dari itu, mengingat KieTayhiap adalah seorang dengan muka dingin dan hati panas, suka loolap. menasehati agartayhiap ingat kepada kebijaksanaan Thian dan di mana bisa, sukalah memberi ampun kepada orang" Thian Yoe sioe menginsafi nasehat itu, maka setelah turun gunung, banyak dia merubah sepak terjangnya, justeru karena dia merubah kelakuan, dalam Rimba Persilatan muncul cerita dia telah ditakluki Hok In siangjin, bahwa dia telah mendapat luka di dalam hingga tak lagi dia dapat berkelahi. Bahkan paling gila, ada yang menyiarkan berita bahwa ia menyaksikan sendiri

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pertempuran di antara Hok In siang-jin dan Thian Yoe sioe serta bagaimana dia dikalahkannya. Thian Yoe sioe mendapat dengar semua omongan itu, dia tidak menjadi gusar, sebaliknya dia menyambutnya sambil bersenyum. Di lain pihak. dia bertabiat keras, Dia tahu betul ilmu silatnya masih kurang, dia mencoba belajar terus, maka dia lantas menciptakan suatu ilmu silat baru, yang dia beri nama "Kie Yauw seng Hoei sip sam sie." atau tiga belas jurus "Bintang Terbang." ia membuat bukunya, ia membikin gambarnya, Tiga tahun waktu yang ia pakai untuk menciptakan ilmu silatnya itu itulah ilmu silat guna melawan Hok In siangjin- ilmu silat siapa ia perhatikan selama pertarungannya itu. Setelah itu, ia memikir mencari murid guna mewariskan kepandaiannya, supaya si-muridlah yang nanti pergi cari murid Koen Loen Pay untuk mencoba ilmunya itu. Selama tiga puluh tahun Thian Yoe sioe masih tidak mendapatkan murid yang ia cari itu, ia ingin mendapatkan murid yang berbakat dan hatinya lurus. Selama itu ia terus merantau, Pada satu waktu di propinsi Kwie tay, di gunung tay-beng-san, ia bertemu dengan Tay Beng sam shia, si tiga sesat dari gunung Tay Beng sin itu ia dihina, katanya ialah pecundangnya Hok Io sangjin. la di katakan tidak tabu malu, sudah kalah, bukan mencari balas, hanya hidup terus tanpa berdaya, ia tidakpuas, ia menantang Tay Beng sam shia, maka bertempurlah mereka satu lawan tiga.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tay Beng sam shia benar benar liehay, Mereka seri. Kesudahannya Thian Yoe sioe menjanjikan pertempuran tiga tahun kemudian- Lebih dulu daripada itu, ia tertawakan tiga lawannya, yang dikatakan tak tahu diri dan buktinya mereka tak dapat mengalahkannya, Maka ia tanya. "Kenapa kamu tidak mau menantang buat lagi tiga tahun-" Demikian pertandingan mereka dilakukan setiap tiga tahun, saban-saban tempatnya dirubah, sampai paling belakang mereka bertanding di siauw ngotay-san- Kali ini Thian Yoe sioe menjadi sebal. Mengingat Tay Beng sam shia bangsa busuk dan jahat. ia lantas menggunai racun ularnya. Tay Beng sam shia tak tahu akal orang, mereka kena diracuni tempo mereka sadar, mereka lantas menyerang hebat pada musuhnya yang dikatakan curang itu sayang mereka mati lebih dulu, Kemudian Thian Yoe sioe roboh sendirinya, sampai ia ditolongi Lie Tiong Hoa. Ia melihat anak muda itu berbakat baik, tempo ia dapat kenyataan orang jujur, suka ia menolongi, bahkan di samping memberi obat, ia menghadiahkan juga kitab silatnya itu. Baru berlalu beberapa puluh tindak. Thiao Yoe sioe mendapat satu pikiran, Dia kata dalam batinya: "Aku sudah tua, tak dapat aku bawa kepandaianku ke dalam liang kubur, Kitabku sulit dimengerti, tanpa penjelasanku, sukar untuk dipelajari. Mungkin dia membutuhkan tempo sepuluh tahun. Kenapa selagi aku masih hidup ini, aku tidak. mau pakai tempo satu atau dua tahun guna mendidik dia?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Maka itu, ia lantas kembali, ia terus menguntit Tiong Hoa. segera ia melihat pemuda itu mahir ilmu ilmu ringan tubuhnya, hingga ia heranDi Cip Poo Lauw Thian Yoe sioe melihat Tiong Hoa berkenalan dengan Yan Hong. ia mau menduga, kecuali dia hijau, Tiong Hoa mesti mengandung sesuatu maksud. ia kuatir pemuda ini sembarang menurunkan kepandaiannya itu, maka ia menguntit terus. Di sungai siang Kian Hoo, ia melihat kepandaiannya si anak muda, ia menjadi kagum- maka ia mau menyelidiki terus. Kemudian, ketika Thian Yoe sioe kembali ke siauw Ngo-tay-san, di mulut gunung ia bertemu dengan Yan Hong, puteranya Yan Loei ini terkebur, dia tidak tahu si orang tua orang macam apa, dia lantas menyerang. Thian Yoe sioe paling tidak suka orang bermulut besar, maka itu, ia menolak hingga anak muda itu jatuh kejurang, Habis itu muncullah Lao san sem Eng secara tiba-tiba, Mereka itu kenal jago tua ini, mereka menemui dengan sangat hormat, bahkan mereka menerangkan bahwa Yan Kee Po biasa "hitam makan hitam, jahatnya bukan buatan." Thian Yoe sioe menjadi gusar. Ia menjanjikan akan mencari keterangan dulu, sesudah itu suka ia membantu sam Eng. Besoknya Thian Yoe sioe pergi ke Yan Kee Po, Tidak berhasil ia menguntit Lie Tiong Hoa. ia tidak tahu pemuda itu telah diakali Pek Kie Hong dan telah dijebak dalam perangkap. Tempo ia sampai dikamarnya Yan Hong. tepat ia mendengar Hauw Boen Thong mengatakan ialah si "siluman tua." "maka ia tertawa berkakak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di waktu bertempur dengan Pek Kie Hong, Thian Yoe sioe heran mendapatkan ada orang berlompat pesat melintasi rimba, maka ia mau menyusul, untuk melihat siapa orang dari itu, ia lantas merampas pedangnya Kie Hong. Tentu sekali Kie Hong sakit hatinya karena pedangnya itu pedang pusaka tiga turunannya. Di lain pihak, dia telah sangat tergila-gila pada Yan Hee. Maka itu, setelah melengak. dia bukan lompat turun, dia justeru lari kearah Coei Tek HianBeIum jauh dia lari, Kie Hong dibikin heran oleh satu orang yang tiba-tiba muncul dari belakang sebuah batu besar, orang itu memakai kedok dan gerakannya sangat enteng dan gesit, Gerakan itu juga yang dinamakan Tayin-Iiong pat sie atau Naga dalam mega, ia heran orang bernyali begitu besar berani muncul di siang hari di dalam rimba itu yang merupakan gedung naga atau guha harimau, ia menguntit terus. Orang bertopeng itu pergi ke Teng le Hian dimana dia turun dibawah payon, Mendadak di situ dia menghilang. Pek Kie Hong heran, hingga ia mau menyangka Lie Cie Tiong dapat keluar dari liang jebakan, tetapi ia tahu pasti, tak nanti orang lolos dari perangkap itu dimana telah roboh banyak kurban jiwa, Karena ini, ia lantas menyusul. Segera ia menjadi kaget. ia melihat runtuhnya belasan penjaga rahasia dan si orang bertopeng tak nampak. Diwaktu ia memeriksa, ternyata semua penjaga itu roboh karena totokan pada jalan darah. ia lantas menotok mereka itu, untuk menyadarkan, guna menanyakan keterangannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jawaban mereka serupa saja. Mendadak mereka merasa angin dingin bersiur, lantas mereka tak ingat apa-apa lagi, Mereka tidak melihat sekalipun bayangan penyerang itu. " Hebat," pikir Kie Hong, yang menyedot hawa dingin. ia lantas merasa bahwa bencana besar lagi mengancam. Karena ini, hatinya menjadi tidak tenang. ia sebenarnya cerdas tapi hilangnya pedangnya dan kecantikan Yan Hee membuatnya berotak butek. Tengah Kie Hong berdiri menjublak itu, ia merasakan sampokan angin dari arah belakangnya, ia kager, ia lantas mendak. seraya memutar tubuh, ia menyerang, ia menduga pada orang jahat yang membokongnya. Ketika ia menoleh, ia kaget hingga ia berseru tertahan ia pun mundur dengar terhuyung, serangannya ditarik pulang. Di depannya berdiri Yan Hee dengan romannya yang dingin, matanya menatap tajam. "Adik Hee ..." katanya jengah. "Aku kira siapa berani sembarang turun tangan di sini, kiranya kau, kakak Pek" kata si nona. "Pantas, pantas !" "Jangan salah mengerti, adik Hoe." kata Kie Hong gugup, "Biarnya kakakmu bernyali besar, tidak nanti dia berani menyerang kau. Inilab sebab..." sinona mengulapkan tangan mencegah orang bicara terus, tapi tiba-tiba ia bersenyum untuk menanya: " Kakak Pek, kenapa kau tidak berani turun tangan atas diriku?" Hati Kie Hong berdebaran, Hebat senyuman manis itu, Adik Hee, apakah kau masih belum ketahui hati kakakmu ini? "ia tanya, "oleh karena kau, aku menjadi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tak dapat dahar. Aku bersedia mengorbankan jiwa untuk cintaku. Mustahil kau masih belum tahu?" Muka si nona menjadi merah. ia lantas menoleh kepada orang-orangnya, yang barusan ditolongi Kie Hong, Mereka itu mengerti, mereka memberi hormat, lantas mereka mengundurkan diri. Seberlalunya mereka, Yan Hee melirik Kie Hong. "Benarkah katamu barusan?" ia tanya perlahan. "Aku melihat kau menganjurkan ayah dan kakakku berbuat jahat, perbuatan kau itu busuk sekali, aku menjadi takut datang dekat padamu." Selagi berkata begitu nona Yan mempermainkan matanya dan senyumannya yang dapat menyopotkan jantung . "Aku sumpah, adik Hee." kata si anak muda cepat, "Oh adikku, kau bikin aku penasaran- Setiap tahun dua kali datang ke mari, maksudku tidak lain untuk aku dapat bergaul erat dengan kau sayang sampai begitu jauh, sikapmu dingin terhadapku. Sudah begitu, sekarang kau mengatakan hatiku busuk, inilah hebat." Sebagai orang licik, Kie Hong lantas bersandiwara, memperiihatkan roman menyesal dan lesu. Yan Hee tertawa nyaring. "Aku tidak sangka kau pandai bicara, kakak Pek katanya, Mendadak dia kata pula, dengan sikap dingin dan suara kaku: "Setanlah yang mau percaya kau selama dua hari ini kau kasak-kusuk saja dengan kakak Hong, lakumu sebagai laku setan Lihat, sekarang orang melakukan hebat sekali kepada kakak Hong. Bukankah itu bukti kau telah bersekongkol dengannya?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mukanya Kie Hong menjadi pucat, "Itulah urusan kakakmu sendiri, denganku tak ada sangkut pautnya," ia kata keras, untuk menyangkal " itulah disebabkan suatu mustika dalam Rimba Persilatan- Barang itu, andaikata saudara Hong tidak menghendakinya, lain orang pasti akan menurunkan tangannya" Yan Hee agaknya bersangsi. "Sebenarnya apakah itu, ia tanya: " Kenapa benda itu demikian berharga?" Kie Hong menyeringai "Itulah sepotong logam Ngo sik kim-bo." sahutnya, " itulah barang mustika dari see Hek. Meski saudara Yan telah hasil mendapatkan itu, akibatnya akan hebat, Banyak orang Kang-ouw yang lihai mengincar itu, Maka aku percaya, Yan Kee Po bakal menghadapi hujan hebat dan badai, hingga orang sukar tidur dengan tenang. oleh karena itu, pedang turunanku juga telah turut hilang." Selagi mengucapkan yang terakhir ini, Kie Hong nampak sangat mendongkol. Yan Hee kurang pergaulan, tak tahu ia Ngo-sek Kim bo itu benda apa, tetapi karena ayah dan kakaknya sangat menghendakinya, ia percaya itu benar mustika berharga. sekarang ia mendengar Kie Hong kehilangan pedang, ia mengawasi anak muda itu. Benar saja pedang orang tak ada di punggungnya. "Ah, tidakkah ini jadi berarti si pengemis kehilangan Ularnya?" ia kata sambil tertawa geli. Habis itu mendadak ia lompat untuk pergi menghilang, "Adik Hee." Kie Hong berseru sambil menyusul, Untuk sejenak ia kaget, lantas dia sadar pula.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yan Hee berlari-lari terus di dalam rimba, berlegatlegot seperti ular tidak mau berhenti. Kie Hong habis akal, ia berhenti berlari Tidak berani ia turut masuk. "Adik Hee Adik Hee" ia memanggil berulang-ulang. Tidak ada jawaban kecuali daun bambu bergoyanggoyang Percuma Kie Hong memanggil manggil, Yan Hee tetap tidak kembali atau menyahuti, ia menyesal sekali sebenarnya ia mau menasehati dan mengajak si nona turut ia meninggalkan Yan Kee Po. untuk pulang ke Tong Teng ouw, Tentang pedangnya ia memikir untuk mencarinya ganti, dibelakang hari. Tengah ia berduka itu, dari dalam rimba muncul dua orang nona dengan baju hijau. satu di antaranya, yang mukanya potongan telur angsa, yang romannya manis sekali dengan alis bangun berdiri, lantas membentak: "Mau apa kau bikin berisik di sini? Apakah kau tidak mau lekas pergi? jikalau kau membikin kaget nyonya majikan, itu artinya jalan mati untukmu." Kie Hong menjadi nmendongkol, ia memang lagi berduka dan penasaran. Alisnya lantas terbangun, maka dua kali dia tertawa dingin. "Leng Bwe,j angan kau menjadi anjing yang mengandal pengaruh orang." dia kata sengit, "Tuan muda kau toh tidak menginjak sebelah kaki juga pada rimba mu ini. Taruh- kata nyonya majikanmu keluar, aku tidak takut, apalagi nyonya majikanmu itu bukannya orang yang tidak mengerti aturan, Hm. jikalau aku tidak memandang nona Hee, hari ini sedikitnya aku mesti patahkan dua tulang rusukmu."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Leng Bwee, si budak. tidak gusar, tetapi dia berkata dingin. "Aku kira kau tak dapat-sering nonaku mengatakan bahwa Pek Kie Hong ceecu muda dari benteng darat dan air dari Tong Teng ouw itu adalah orang yang di luarnya seperti emas dan kemala tetapi didalamnya busuk dan bahwa didalam dadanya dia tidak mempunya i pelajaran sedikit juga, dia cuma pandai omong besar menggertak orang sekarang aku melihat lagak kau ini, nyatalah benar kata kata nonaku itu siauw cecu, jikalau kau dapat mengalahkan Leng Bwee dalam sepuluh jurus, nanti aku minta nonaku datang menemui kau Kau setujukah?" Hebat hinaan ini, terutama untuk Pek Kie Hong, orang yang di pelbagai propinsi tenggara. titahnya dihormati seperti gunung roboh, sebaliknya sekarang di Yan Kee Po, ia dipermainkan seorang budak perempuan yang tak ada namanya, mana dapat dia menahan sabar? Akan tetapi, malang, masih ada orang yang ia harapkan dan yang ia jerikan. "Kabarnya nyonya dari Yan Kee Po, Cian cioe Kwan im Siauw Goat Hian, seorang ahli silat bagian dalam yang liehay sekali, terutama ilmu pedang dan senjata rahasianya yang kesohor di selatan dan Utara sungai Besar, maka itu, apakah kedua budak ini telah menerima warisan majikannya? Kalau aku lawan dia, menang atau kalah, jelek dua-duanya buat aku, bahkan itu pun dapat membikin adik Hee mendapat kesan buruk terhadapku..." Dasar cerdik, biarnya dia sangat gusar. Kie Hong dapat menguasai dirinya. "Encie Leng Bwee, aku harap kau maafkan aku buat kata-kataku barusan." dia berkata bersenyum. "Aku

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mempunyai berapa nyali maka aku berani main gila di Coet Tek Hian ini? Aku minta, encie, tolong kau undang keluar nonamu, Budimu ini aku nanti ingat baik-baik, nanti aku balas." Anak muda ini tidak cuma bicara hormat dan manis itu, bahkan dia menjura dalam. Leng Bwee menyingkir ke samping, tetap ia bersikap dingin. "Tidak berani aku terima hormatmu ini" katanya, "AkuIah seorang budak perempuan, mana dapat aku menerima hormatnya seorang cecu muda.." Melihat dan mendengar semua itu. budak yang satunya, yang sedari tadi diam saja tertawa sambil menutupi mulutnya. "Encie Leng Bwee," ia berkata, sekarang aku melihat, maka benarlah apa yang dikatakan nona Hee kita. Tadinya aku, si Cioe Kiok. tidak percaya sama sekali, sekarang aku percaya betul, Nona memang bilang, orang ini tidak dapat keras, dia dapat lunak. dia tidak mempunyai semangat sedikit juga, sekarang ternyata tulang-tulangnya benar lemas. Habis berkata begitu, ia tertawa pula tak hentinya. Habis sabarnya Kie Hong, sambil berteriak dia menyerang budak itu, tangan kanannya meluncur ke dada kanan orang. Merah mukanya Cioe Kiok karena orang demikian ceriwis, ia mencelat kesamping, sebelah tangannya meny amber, dua buahjerijinya mencari sikut kanan penyerangnya itu. itulah pukulan yang dinamakan Burung walet menggaris pasir yang lihai.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kie Hong mengenal baik pukulan itu, maka ia berkelit dengan cepat, tangannya diputar, Akan tetapi ia masih kurang sebat, sikutnya kena juga kebentur sedikit, hingga ia merasakan sakit dan panas yang sangat. saking kaget, ia berlompat mundur dua tindak. ia belum menancap kakinya, si nona sudah menyusul, sekarang dia menyerang dengan kedua tangannya dengan tipu silat Liong beng it-sie atau sang Naga mengarah kedua jalan darah Kie-boen di kedua rusuk. Cioe Kiok sangat membenci maka dia berlaku bengis sekali. Kie Hong kaget dan berkuatiran, ia membuka kedua tangannya, untuk menangkis, sambil ia mencelat. Karena ia pun gusar, ketika ia turun, ia membalas menyerang dengan tenaganya dikerahkan seluruhnya, ia mengguna i pukulan simpanan dari Tong-teng ouw yang diberi nama Cek Lian ciang hoat atau Rantai Merah. Cioe- kiok terkejut, Belum sampai ia kena terhajar ia sudah merasakan hawa panas dari tangan lawan yang liehay itu, hingga ia menjadi bingung. Leng Bwee melihat saudaranya terancam, sambil membentak. la menyerang, serangannya itu pun saling susul. Hingga nampak tujuh rupa benda seperti bintang hitam menyamber-nyamber ke arah sasarannya. Kie Hong terkejut ia mendengar suara sar ser serta angin menghembus, memang j eri untuk senjata rahasia mutiara muni dari Cian cioe Kean im. Maka itu batal menyerang terus pada cioe Kiok, lekas-lekas ia berkelit sambil berlompat tinggi tiga kaki. Dengan begini ia berhasil membikin tujuh buah senjata rahasia " bintang hitam" lewat di dadanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Leng Bwee melihat serangannya gagal, ia berteriak "Meski kau bebas, di sini masih ada sebelas biji lagi. Dan berbareng dengan teriakannya itu, bintang bintang hitamnya itu sudah menyambar saling ganti. Kie Hong berkuatir berbareng gusar, kembali ia perlihatkan kegesitannya ia bebas pula dari sebelas senjata rahasia itu, ia mengertak gigi, sambil berlompat ia maju dengan kedua tangannya, guna membalas menyerang. "Kamu berhenti" tiba-tiba terdengar bentakan, yang disusul dengan penolakan keras. Kie Hong berdua Leng Bwee mundur hingga lima kaki lebih kurang, Tak sanggup mereka bertahan dari dorongan. sebelas butir senjata rahasia menghajar pohon bambu disamping mereka. Segeralah muncul seorang tua bertubuh tinggi dan besar, yang rambutnya telah putih semua, yang romannya keren, Dialah Hoan-thian-ciang Yan Loei. majikan dari Yan Kee Po. Ketika tadi Yan Loei bersama Hauw Boen Thong semua kembali ke toa-thia, ruang besar, ia tak enak hatinya, dan makin ia berpikir, hatinya makin tak enak. "Tidak disangka karena satu kealpaan kita mengundang ancaman bencana," berkata Khong Jiang. "Pocu, daya apakah yang kau dapat pikir? Menurut aku baiklah kau mengundang isterimu keluar, Biar bagaimana, kamutoh suami isteri untuk banyak tahun, tak mungkin dia duduk diam saja tak sudi menolongi...."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yan Loei tak dapat berpikir lain kecuali menyetujui pikiran itu, maka itu ia lantas pergi ke Coei-tek -hian. sampai tepat selagi Leng Bwee menempur Pek Kie Hong. la tahu perkelahian itu dapat mengakibatkan suasana buruk. maka ia lantas datang sama tengah. Kemudian selagi ketiga orang itu melengak. la mengawasi Leng Bwee dan Cioe Kiok. alisnya sendiri berkerut. "Pergi kau memberitahukan hoejin." katanya. "Bilang loohoe mempunyai urusan penting untuk mana aku ingin bertemu dengannya." Kedua budak itu memberi hormat, tanpa membilang apa-apa mereka lantas memutar tubuh, lari masuk ke dalam rimba. Yan Loei tidak berani lancang turut masuk. la sekarang menghadapi Kie Hong, tegurannya sungguh-sungguh. Keponakan Hong, mengapa kau begini sembrono?" ia tanya, suaranya dalam, "Loo-hoe sendiri tidak berani main gila terhadapnya, maka beranikah kau? Tak perduli siapa benar siapa salah, perbuatanmu ini dapat membikin anak Hee menjadi semakin benci padamu. Kau harus ingat, tak sabar bisa mengacaukan urusan besar, kalau sampai terjadi begitu, pasti loohoe tak dapat berbuat apa-apa lagi..." Orang tua ini menghela napas, tapi ia lantas bersenyum. "Sekarang pergilah kau menemani si Hong," katanya, menambahkan " kalau badai ini sudah sirap nanti lohoe mendayakan agar jodohmu terangkap dengan jodohnya si Hee..." Mukanya Kie Hong menjadi merah, Lekas-lekas

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ia menjura. "Baiklah." sahutnya sambit terus berlompat pergi. Yan Loei menghela napas pula. "Anak ini..." katanya. Atau ia terperanjat. Dari dalam rimba itu mendadak muncul sebuah tubuh yang langsing dan lincah. Itulah Yan Hee. "Ah, anak Hee" katanya, tertawa, "Apakah ibumu mengijinkan ayahmu bertemu dengannya untuk satu kali saja?" Yan Hee memperlihatkan sinarmata guram. ia menggeleng kepala. "lbu tidak dapat melanggar janjinya sendiri, tidak dapat ibu menemui ayah," ia menyahut, "lbu kata ia telah mengetahui semua. ibu menasihati untuk membayar pulang Ngo sek Kim-bo kepada pemiliknya. Dengan begitu, katanya, ancaman bencana dapat di lenyapkan-" Tanpa merasa, tubuh Yan Loei menggigil "Cara bagaimana ibumu ketahui urusan Ngo-sek Kimbo itu? " ia tanya, herannya bukan buatanPuteri itu sangat bersusah hati, ia menghela napas, "Ibu bilang, kalau orang mau perbuatannya tak dapat diketahui lain oiang, tak ada lain jalan yang terlebih baik daripada tak melakukan perbuatan itu." ia menyahut. "Di mana ada perbuatan yang dapat dirahasiakan? Tidak demikian darimana datangnya demikian banyak musuh? ibu bilang bahwa selama beberapa tahun ini semua perbuatan ayah adalah perbuatan-perbuatan yang tak mentaati undang-undang dan tak menghormati Thian. tumpukan kedosaan sampai tak dapat di-hitung jumlahnya, maka karenanya, mesti datang satu hari yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ayah bakal menerima pembalasan karenanya, Dari itu ibu menasehati agar ayah lekas-lekas bertobat, untuk seterusnya berlaku dermawan, supaya ayah masih dapat melindungi sisa penghidupan ayah selanjutnya..." Jilid 5. Dari celaka mendapat kawan liehay Habis berkata begitu, anak itu berhenti sebentar, lantas dia tertawa dan kata: "Aku masih hendak bicara dengan ibu, maka itu maafkanlah aku" ia memberi hormat, lantas ia menghilang pula kedalam rimba. Yan Loei berdiri melengak. mukanya merah dan pucat bergantian ia malu dan mendongkol dan bersusah hati juga, Akhirnya dia mendamprat: "Perempuan hina Kau tidak suka menemui aku, sudah Perlu apa kau menyuruh anakmu ngoceh tidak keruan? Apakah maksudmu?" saking gusar, ia lantas menyerang ke arah pohonpohon bambu, hingga disitu terdengarlah suara berisik dari robohnya beberapa batang p^hon itu. Maka itu nyatalah liehay nya majikan dari Yan Kee Po ini. Hampir Hoan Thian ciang berlompat ke dalam rimba itu, atau didetik terakhir, dapat ia menguasai diri, bukan karena saking sabarnya, hanya disebabkan iajeripada Cian cioe Koan i m, isterinya, yang liehay itu, ia membanting kaki, lantas ia memutar tubuh, meninggalkan hutan itu. Di antara sinar matahari, dari antara rumpun bambu itu, terdengar suara tertawa ejekan yang tawar ooooo LAMA Lie Tiong Hoa dipermainkan hawa amarah, menyesal dan berduka, akhirnya ia dapat juga berpikir.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

setelah menjadi sabar ia ingat pembilangan bahwa bangsa pendeta dapat menguasai diri dengan duduk berdiam menghadapi tembok, tanpa dahar dan tanpa minum, karena ada yang sampai bertapa di dalam guha batu sampai bertahun-tahun, setelah keluar dari pertapaan, dia lantas memperoleh ilmu kepandaian yang mujijat, dia mencapai kesempurnaan Lalu ia ingat, mendiang gurunya juga pernah mengatakan demikian-" Kenapa aku tidak mau mencoba?" pikirnya, "Lain orang dapat, kenapa aku tidak? Baiklah aku bersemedhi menurut ajaran guruku, barangkali saja aku dapa^ h^dup terus sampai aku dapat melihat pula langit dan matahari..." Karena ini, segera ia mengambil keputusanny a, lantas ia duduk bersila. ia merapatkan kedua matanya, ia memusatkan pikirannya, lalu ia berdiam sambil menyalurkan napasnya dengan beraturan, perlahan tetapi tentu, inilah pelajaran la y- kee, atau ahli tenaga dalam, yang sejati. ia hanya tak mengertijelas bahwa itupun dasar pokok ilmu silat sejati. Gurunya tidak menjelaskan itu. guru itu cuma membilang i ia, pelajaran bersamadhi itu dapat membantu memperkokoh tubuh... Lama Tiong Hoa duduk berdiam mematung itu, pikirannya dipusatkan terus, untuk tidak memikirkan urusan lain ada juga. Mulanya ia merasa pegal, ia tidak menghiraukannya, ia menguatkan hatinya. Kekuatan hatinya itu segera juga mendapat bayarannya yang setimpal, ia merasa napasnya tersalur baik, b eg itupun seluruh jalan darahnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yang menggirangkan ia yalah ketika ia tak merasa berdahaga lagi, sedang tadinya ia ingin sangat minum. Len ap hawa panas, itu terganti dengan hawa dingin dan nyaman, bantu bekerjanya sisa obat. Latihan semedhi ini membantu bekerjanya sisa obat Pouw-thian-wan dari Thian Yoe sioe, si orang tua penjelajah langit. Tiong Hoa terkejut, ia merasa tubuhnya bergerak-gerak. seperti juga ada tenaga hebat yang menolaknya dari dalam. Beberapa kali ia seperti mau mental naik, ia mengendalikan diri, ia, lawan itu, ia lantas ingat inilah mungkin yang dinamakan godaan. Katanya setiap pertapaan ada penggodanya, yang dapat membikin orang memasukijalan sesat, inilah tak ia kehendaki, Maka ia mempertahankan hatinya. Akhir-akhirnya datanglah saat yang membikin Tiong Hoa kaget tidak terkira, ia bagaikan mendengar guntur menggelegar di-telinganya, lantas matanya menjadi kabur, lalu kepalanya terasa sangat pusing. Kali ini ia merasa tak dapat mempertahankan lagi tubuhnya, ia merasa ia jatuh menyender ke-tembok besi.. Ia lantas tak ingat apa-apa lagi. Di dalam gelap. di mana tidak ada sinar matahari atau rembulan, orang tak mengetahui sang waktu. Demikian Tiong Hoa. Tak tahu ia berapa lama ia telah pingsan, Kerika ia tersadar dan membuka matanya perlahan-lahan dalam tempo yang pendek. hatinya menjadi terbuka, hingga ia merasa girang luar biasa, kalau tadinya ia tidak dapat melihat apa juga, sekarang matanya menjadi terang sekali.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hanyalah ia merasa letih, tulang-tulang seperti ngilu. ia menduga itulah tentu disebabkan pengalamannya tadi, hingga ia kehabisan tenaganya. Maka lekas-lekas ia berduduk pula dengan tegak, guna bersemedhi lagi, Matanya pun dirapatkan pula. Kali ini Tiong Hoa tak usah bersemedhi lama, ia lantas merasa lenyap semua keletihannya, tubuhnya menjadi segar sekali, Tak lagi terasa ngilu di tulang-tulang. Bahkan ia merasa tubuhnya enteng sekali mencoba menyalurkan jalan darahnya, ia menjadi bertambah girang, ia merasa nyaman seluruhnya. Inilah perubahan kemajuan yang tidak di-sangkasangka, Kalau Thian Yoe Sioe menghadapinya, mungkin dia tak mau percaya, perubahan semacam itu tak nanti datang demikian cepat, kalau itu terjadi atas diri lain orang. Sekarang Tiong Hoa membuka pula matanya. Seperti tadi, ia bisa melihat di tempat gelap mirip seperti di tempat terang. Maka sekarang ia bisa melihat tegas seluruh liang perangkap itu, yang luas hampir satu babu, Di sebelah kanan ada sebuah pintu ia berbangkit menghampirkan itu sesudah itu ia melihat kesekitarnya. Pintu itu membawa ia ke sebuah ruang lain- Ruang disini agaknya lebih gelap lagi, Maka di sini ia cuma bisa melihat sejauh sepuluh tombak. "Inilah hebat," pikirnya Terus ia menghela napas, Ruang ini pun tidak berhawa udara, ia heran ada liang semacam itu, Apakah perlunya? Adakah itu dibikin cuma untuk membinasakan orang? Sebab sekali masuk. orang,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tak dapat keluar lagi. Karena dari luar orang tak dapat masuk untuk melihat atau memeriksa "Kalau Yan Kee Po hendak menyingkirkan orang, tak cukupkah itu bila orang dibunuh saja?" pikirnya pula. perangkap itu dalam kira limapuluh tombak, tak nanti orang dapat lompat keluar dari situ, ilmu ringan tubuh atau lompat tinggi pun tak setinggi itu Sekian lama Tiong Hoa berdiam. Ketika ia menyedot napas, ia dapat mencium bau bacin, hingga ia ingin tumpah-tumpah. ia heran, ia bertindak maju perlahanlahan, Dengan begitu, matanya dapat melihat ke tempat yang terlebih jauh lagi, Baru ia melalui belasan tindak, lantas ia menyaksikan pemandangan yang membikin bulu-romanya pada berdiri. Belasan tengkorak atau tulang belulang berbayang di depan matanya, Tulang-tulang yang putih di antara sisa pakaian yang sudah hancur dan lapuk. Di antaranya pun terletak pelbagai macam senjata tajam. Seumurnya baru kali ini Tiong Hoa menyaksikan penglihatan yang sangat mengerikan ini, yang sangat mengiriskan hati. Maka untuk sesaat itu, ia berdiri diam saja. Tiba-tiba ia ingat halnya ia membinasakan Goei Loohoe-coe, pemegang kas di rumahnya. Ketika itu iapun pernah merasa ngeri seperti ini, ^api di sini bukan hanya satu Goei Loo-hoecu... Perlahan-lahan Tiong Hoa mendapat menenangkan hatinya, ia melihat ke sekitarnya, Di tembok ia melihat samar-samar dari ada nya tulisan. ia bertindak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menghampirkan, itulah bukan tulisan dengan pit, hanya ukiran dengan ujuog pedang atau golok. setelah membaca, ia mendapatkan nama-nama orang berikut bulan dan tahun yang merupakan catatan mereka yang bersangkutan terkurung di dalam liang jebakan itu. Ia menghitung-hitung, maka ia mendapat kenyataan, tanggal yang paling belakang saja sudah lewat delapan tahun Tanpa merasa, Tiong Hoa membaca nama-nama orang itu, ia mengingat ingatnya diluar kepala. ialah seorang Kang ouw hijau, maka tak ada nama yang ia kenal. Tapi ia menduga musuh-musuhnya Yan Loei mestilah orang-orang Kang ouw ternama, ia mengharap di antaranya ada orang-orang lurus, agar kalau nanti ia bisa keluar dari liang neraka dunia ini, ia berhasil mendengar tentang keluarganya, supaya keluarga itu bisa datang untuk mengurus tulang-tulang belulang ini, ia percaya perbuatannya ini adalah amal yang baik. Setelah mengapalkan nama-nama itu, Tiong Hoa mengawasi semua tulang manusia itu, ia menghela napas, kemudian ia bertindak untuk pergi ke sebuah ruang yang berada di sebelah itu, ia melihat tidak ada apa apa di situ, ia berjalan terus hingga ia terpisah jauh dari semua tulang itu serta di situ tak ada bau bacin. ia lantas duduk. pikirannya bekerja. sekarang ini pastilah saat indahnya musim semi, ia ngelamun- Di dunia bebas, orang tentu lagi beriang gembira, ia menyesal yang dulu ia tidak menghiraukan nasehat ayah dan ibunya, buat belajar surat, untuk maju

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

di medan ujian, untuk memperoleh gelaran dan pangkat, pikirannya melayang lebih jauh. Maka ia lantas ingat Cek In Nio yang cantik menggiurkan dan Yan Hee yang manis dan lincah. Di balik itu, ia membayaogi Pek Kie Hong yang manis di mulut tapi hatinya jahat bukan main, ia merasa ngeri sendirinya kalau ingat ia mesti menghadapi manusia pais u itu, Maka juga ia tambah pengalamannya. Setelah lelah berpikir keras, Tiong Hoa merabah kitabnya Thian Yoe sioe ia keluarkan itu, ia membalik lembarannya yang pertama, itulah penjelasannya Thian Yoe sioe kenapa dia menciptakan ilmu silatnya itu, "Kioe Yauw seng Hosi sip sam sin, yang didapat ilhamnya setelah dia bertanding melawan Hok in siangjinTiong Hoa tidak tahu Thian-yoe-sioe dan Hok in siangjin itu orang-orang macam apa, ia menduga saja merekalah ahli-ahli silat kenamaan, mestinya mereka ketua sesuatu partai persilatanHalaman kedua menjelaskan pokok dasarnya ilmu silat itu, pertentangan antara Im dan Yang, yaitu pos itip dan negatip. antara langit dan bumi, bagaimana Ngo-heng, yala h emas, kayu, air, api dan tanah, saling menakluki, begitupun hubungan antara jantung danpeparu dan lainnya. Sebagai seorang cerdik, Tiong Hoa dapat menangkap artinya semua itutakperduli sebenarnya sulit, setelah itu, ia dapat juga memahamkan tig a belas lukisan gambarnya. Maka sesudah mengerti, ia lantas berbangkit, untuk melatih diri menurut gerak gerik gambar serta petunjuk-petunjuknya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mulanya ia merasakan kesukaran sebab semuanya bertentangan dengan ilmu silat biasa yang ia pernah dapat dari gurunya. oleh karena pelbagai pertentangan itu maka jug a Kioe-yauw seog Hoei sip sam sie disebut juga Houn Ngo-heng I m- yang Cioe HOM. artinya, ilmu silat yang bertentangan di antara ngo-heng dan im-yang. Tiong Hoa belajar dengan sabar tetapi ulet, ia tidak mengenal letih, tanpa merasa ia telah melewati tempo dua hari dua malam, lantas juga ia dapat menguasainya. Ketika mulanya ia menggeraki tangan dan kakinya seperti biasa, tanpa suara apa apa, setelah paham, angin atau samberannya setiap tangan atau kakinya itu berbunyi nyaring dan mendengung didalam liang tanah itu. "Tapi." katanya kemudian, sesudah ia paham itu, "Buat apa aku dengan kepandaianku ini? Bukanlah lagi beberapa hari, tanpa dapat melihat matahari dan langit, aku juga bakal menjadi kawannya semua tulang-tulang ini, menjadi setumpukan tulang-tulang putih, rebah bersama penasaranku ini?.." Maka ia lantas ingat baiklah ia jika mengukir nananya, untuk jadi tanda peringatan supaya namanya itu diketahui oleh orang, atau orang-orang yang bakal bernasib celaka seperti dirinya. Pemuda ini masih belum insyaf bahwa semedhinya dapat menolong padanya. Dengan dua jari tangannya, Tiong Hoa menotok dan menggurat ke tembok besi, Mendadak ia terkejut. Totokan itu menyelelikkan lelatu api, di tenbok besi itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lantas berpeta huruf huruf yang ia ukirkan ia menjadi melengak sendirinya. Demikian hebat tangannya itu. Tatkala ia sadar, ia girang hingga ia tertawa berkakak. hingga tertawanya itu seperti menggulingkan ruang dalam tanah itu, Tanpa merasa, ia mengeluarkan airmata. Tiba-tiba. "He, siapa itu tertawa berkakak di sana?" demikian terdengar satu suara pertanyaan, 2Apakah kau tidak puas dengan kematianmu kurang cepat?" suara itu dingin dan menggetar juga, Mulanya Tiong Hoa terperanjat akhirnya ia menjadi girang, Kiranya masih ada orang lain di dalam liang itu, itu artinya ia dapat kawan bicara ditempat yang sepi itu. Karena ia tahu dari mana datangnya suara itu, Tiong Hoa lantas bertindak dengan berlari, ia masuk ke kamar sebelahnya lagi. Begitu ia sampai, begitu ia tercengang. Dalam kamar ini, yang terlebih luas lagi, kembali terlihat berserakannya tulang belulang lainnya. Hatinya menjadi giris pula. inilah bukti lain kejahatan dari Yan Loei. "siapa di dalam kamar ini?" katanya sembari ia bertindak. sekarang ia tidak berlari lari lagi. "Aku di pojok sini." demikian ia memperoleh jawaban, "Apakah kau tidak dapat datang kesini?" Suara itu tetap dingin dan menggetar. Tiong Hoa bertindak terus, segera ia melihat seorang duduk menyender di tembok, rambutnya panjang hingga menutupi mukanya. Kedua matanya orang itu celong akan tetapi sinarnya tajam, mata itu bersinar tak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hentinya. Maka dilihat seluruhnya, dia beroman bengis, Tapt ia tidak takut, orang tua itu mengawasi lantas dia menanya: "Bocah, kau pun mendapat bahaya di luar tahumu?" Tiong Hoa mengangguk ia mengawasi tajam. "Loojinkee, sudah berapa lama kau berada di sini?" ia balik menanya. orang itu tertawa tawar, sekarang sinar matanya menunjuki dia puas. "Aku?" sahutnya, "Mungkiu sudah sepuluh tahun, Lihat mereka itu.." dia menunjuk ke arah tulang belulang, lantas dia meneruskan: "Mereka yang datang belakangan- mereka mati satu demi satu, tetapi aku si tua bangka, di luar dugaanku, aku masih hidup sampai sekarang ini, Hanya aku terlalu kesepian, sudah lama sekali aku tidak mendengar suara manusia lainnya.... sekarang barulah datang kau, maka aku menegurmu, untuk di ajak bicara... Kaupasti tidak bakal hidup lama.... Mereka itu, tak ada diantaranya yang hidup lebih daripada tujuh hari..." Tiong Hoa heran, Benarkah orang dapat hidup sepuluh tahun? Maka ia mengawasi orang itu, Hal ini membuatnya semakin keras keinginannya untuk tidak mati, la tertawa. "Loojinkee. kau tentulah seorang Rimba Persilatan yang luar biasa." ia kata, " Kalau tidak. mana bisa dapat hidup selama sepuluh tahun di sini?..." orang itu mengangguk, "Kau benar." bilangnya, "Tidak malu aku mendapat nama orang Rimba persilatan yang luar biasa. Hanyalah mereka itu, dari mula mula hingga akhirnya, mereka menyebut aku seorang memedijahat, tapi itulah tak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dapat disalahkan. Aku si orang tua, aku biasa membawa tabiatku sendiri, kesukaanku membunuh orang tak ada batasnya, cuma siapa yang aku binasakan, dia tentulah manusia busuk. tidak pernah aku kesalahan membunuh manusia baik-baik." Di waktu mengucap demikian, mata orang tua itu bersinar tajam. Tiong Hoa pandai berpikir, maka ia tidak menyebut hal kebaikan atau kejahatan, untuk membilang orang jahat atau baik. ia cuma kata: "Di dalam dunia itu hal benar dan tidak benar, haljahat dan baik, tak ada kepastiannya, maka itu tak usahlah loojinkee buat pikiran, Aku ingin ketahui dengan cara apa loojinkee dapat memperpanjang umurmu di sini..." Mendengar itu, si orang tua bertepuk tangan, dia tertawa lebar. "Kata-katamu ini cocok dengan hatiku, anak." ia berkata, "Rupanya kaulah orang satu-satunya dalam seumurku yang mengenal aku, Bukankah kau menanya kenapa aku dapat hidup terus? inilah sangat sederhana, Aku mengerti pelajaran mahir dari ilmu semedhi, Kecewa mereka itu, bukan saja mereka tidak menghormati aku, bahkan mereka mengutuk aku tak mati siang-siang, Karena itu selagi tadinya hendak aku mengabari mereka ilmu itu, kemudian aku membatalkan nya." Tiong Hoa heran, lalu ia menghela napas. "Loojinkee begini lihai, kenapa loojinkee tidak berdaya untuk lolos dari sini?" ia tanya. " Kenapa loojinkee kerasan hidup lama-lama disini?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Hm" orang tua itu mengasi dengar suara di hidungnya, "Pernah beberapa kali yang aku bosen berdiam disini sampai hampir-hampir aku menghajar remuk batok kepalaku." ia tertawa dingin, ia melonjorkan dengannya yang kurus kering, kemudian ia menyingkap pakaian sebelah bawahnya, Dari situ tersiar bau kotoran yang sangat Tiong Hoa memandang, menjadi kaget sekali, ia mendapatkan kaki yang buntung sebatas dengkul, ujungnya itu kering dan hitam. .seka rang barulah kau mengerti." kata orang tua itu, "jikalau aku tidak dirintangi kakiku ini sudah tentu aku telah kabur sedari siangsiang." ia tertawa terus ia kata pula: "Sementara itu, dengan berdiam bertahun-tahun di sini, aku si orang tua telah mendapat ilham. Aku telah memperoleh kesadaran, Yalah menindih kegusaran sukar. lebih sukar lagi menindih rasa takut. Menakluki diri sendiri maka dengan begitu hawa amarah dapat dikendalikan. sadar akan kenyataan maka rasa takut dapat disingkirkan. Sebenarnya tabiatku keras sekali. Ketika aku baru terjeblos dalam perangkap. kemurkaanku tak kepalang hingga aku memikir, kalau nanti aku dapat bebas, hendak aku mendobrak dunia, Lama-lama, tanpa aku merasa, dapat aku mengendalikan diriku. Ini juga yang membikin aku insaf dunia itu hanya tempat mondok. sedang sang tempo yalah tetamu yang berlalu dalam seratus tahun-orang hidup dalam dunia cuma untuk menumpang, Maka itu, kalau hidup, apa yang harus dibuat syukur dan kalau mati, apa yang ditakuti? Melainkan penasaran saja yang sukar dilampiaskannya."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa kagum, ia mengerti orang tua ini adalah seorang yang Boen Boe Coan cay, Dia lengkap pengetahuannya ilmu surat dan ilmu silat, ia mengawasi orang itu, ia melihat sinar kepuasan pada matanya. Jikalau nanti aku dapat pulang ke Kang-lam" kata dia, "Haha saudara-saudaraku bakal mendapatkan tabiat ku sudah berubah sekali, hingga aku bakaljadi seperti dua orang, Pasti mereka bakal menjadi sangat heran-" Tiong Hoa berduka, Terang orang tua itu berkata-kata begitu untuk menghibur diri Kapan dia bakal dapat pulang ke Kang la m? ia mengawasi lebih jauh, maka samar-samar ia nampak sedikit airmata yang mengembeng. Jikalau kita depat melihat pula matahari dan langit, sungguh beruntung," ia kata. ia menghela napas "Lojinkee, aku masih belum mengetahui she dan nama loojinkee yang mulia, sudikah loojinkee memberitahukannya?" Ditanya begitu, parasnya orang itu berubah, ia dongak. akan mengawasi ke sini. "Sepuluh tahun telah lewat, jikalau kau tidak tanya, hampir aku lupa," ia menyahut kemudian. Mendadak ia tertawa b erg elak. lalu matanya memandang tajam kepada anak muda dihadapannya, "Eh?" ia tanya, "apakah kaupernah dengar dalam Rimba Hijau namanya sin-gan Tok-kak Koei-Kian cioe Cee cit?" Tiong Hoa menggeleng kepala. Memang tidak pernah ia mendengar nama itu apapula

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gelarannya yang demikian panjang, yang berarti Ce Cit si orang dengan mata malaikat dan kaki tunggal yang seperti iblis yang apa bila diketemui, membikin orang berduka." "Aku yang muda masuk dalam dunia Kang ouw baru beberapa hari saja," ia bilang. "Aku tidak tahu apa-apa mengenai sekalian orang gagah dan luar biasa dari dunia Kangouw itu..." Mendadak ia ingat disebutnya "kaki tunggal" itu, maka ia menatap dan menambahkan- "Apakah loojinkee bukannya Cee..." "Tidak salah" berkata orang tua itu, mengangguk. "Aku yalah Cee Cit, Kau tentunya tidak dapat memikir kenapa aku roboh di tangannya Yan Loei... Baiklah, dengan menutur halku, dapat juga aku mengeluarkan sedikit rasa mendongkolku ini juga akan memecahkan kesunyian kita..." Tiong Hoa berdiam, ia mengawasi- atas sin-gan Tokkak Koei-KJan-Cioe mulai dengan keterangannya. Cee Cit yalah orang gagah luar biasa untuk Kang lam, wilayah selatan. Dia liehay ilmu silatnya, orang luar tak tabu dia berasal partai persilatan yang mana. selama hidupnya, dia paling benci kejahatan Hanya mengenai huruf "jahat," ia mempunyai semacam pengertian, Ya la h kejahatan tulen dapat dimaafkan kejahatan pais u tak dapat diberi ampun. Menurut dia ada banyak koen-cu palsu, untuk memakai nama koen-coe itu buat dengan diam-diam melakukan pelbagai kejahatan yang dapat membikin bangun bulu roma orang, Begitulah terhadap penjahat Rimba hijau sekali ia masih mengira-ngira, terhadap orang Rimba hijau paisu, dia bertangan besi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kalau ia mendapatkan seorang paisu, tak ampun lagi dia membunuhnya. Maka juga si palsu pada membenci dia, hanya mereka tidak berani sembarang turun mangan- Dia lihai, dia ditakuti. Dalam umur empatpuluh, Cee-cit kesohor di seluruh Kang la m, bagian selatan dan Utara, Kemudian, setahu kenapa, dia suka diangkat menjadi ketua dari Coan Pang, yalah partai pengusaha perahu. Karena itu, dia membikin jalan atau pengangkatan di air menjadi aman, Hanya karena ini, dia dibenci sangat oleh Loo- liong sin Pek Liang si Naga Tua dari Tong Teng cuw. Bagaikan paku di mata, Dia diarah, dia hendak disingkirkan Beberapa kali Pek Liang mengirim orangnya yang lihai untuk membinasakan cee-cit. semua percobaannya itu gagal sebaliknya, orang-orangnya itu yang kena dibikin mati. Hingga kebenciannya jago Tong Teng itu menjadijadi. Di lain pihak. Cee cit tidak ketahui bahwa musuh di belakang layarnya yalah Pek Liang. Ketika itu, kebenciannya Pek Liang menjadi berlapis susun. Pada waktu Cee cit berumur lima puluh tahun, ia mengunjungi seorang sahabatnya yang tinggal di atas sebuah bukit, Lacur untuknya, kaki kirinya terpagut ular berbisa. Siapa digigit ular itu biasanya dia mesti mati, Tapi Cee Cit lain. Dia tahu bahaya dia mau tolong dirinya, Tanpa sangsi, dia membacok kutung kaki kirinya itu. Karena ini, ludaslah ilmu silatnya, dia menjadi tawar hati.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tapi dia keras hati, Dia penasaran, Lantas dia bergulingan ke sebuah pohon kayu. dengan bacokan tangan, dia membikin pohon kayu itu roboh. Dengan bantuan ilmu Kim Kong Cioe Hoat, dia membuat sebatang tongkat, lantas dengan menggunai itu, dia melatih silat dengan kaki tunggalnya. Di dalam dunia tidak ada soal sukar, yang dikuatirkan yalah tak ada kekerasan hati, demikian sering dibilang. Demikian cee cit, Lewat tiga bulan- berhasil dia dengan latihannya itu, bahkan dia menjadi terlebih liehay. Dia kurang gesit tetapi tangannya, pukulan Kim Kong ciang, menjadi terlebih mahir, begitupun pukulan Hoei Wan cioe, si Kera Terbang. Cee Cit pulang dengan kaki buntung, Dia lantas tak disukai oleh ketua mudanya, Tiat Tek CoeJie siong Gan si seruling Besi, Memangnya hu-pangcu ini telah memikir merampas kedudukan pang cu itu, sekarang niatnya makin mantap. Maka diam diam Jie siong Gan bersekongkol dengan Loo- Liong sim Pek Liang dan mencari akal buat mencelakai Cee cit. Lain tahunya di bulan ketiga, Cee Cit kehilangan lenghoe lambang partainya, Tanpa leng-hoe, tidak dapat ia menjalankan kekuasaannya sebagai ketua, sebab tak bisa ia memberikan titah-titahnya. Leng-hoe itu terbuat dari cula badak yang tertaburkan sebutir mutiara mustika Lionggan cioe yang harganya seperti seharga sebuah kota. Begitu leng-hoe itu lenyap. kedudukannya Cee Cit menjadi guncang, Dengan lantas Coan Pang terpecah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menjadi dua rombongan Rombongan pertama tetap bersedia kepada Cee cit, yang dihargai kejujurannya, yang putusannya selalu adil. Mereka ini anggap tidak apa lenghoe lenyap. itu boleh dicari dengan perlahan-lahan, terutama untuk mencari pencurinya Rombongan lain mengikut pada siong Gan. Mereka ini berkeras lenghoe harus dihormati, tanpa itu katanya Partai hilang pengaruh, dan tanpa itu, Partai bakal bubar, itulah berarti ancaman, kalau lenghoe tak dapat dicari pulang, Cee Cit bakal kehilangan kedudukannya sebagai pangcu. Jie Siong Gan sangat cerdik, dia dapat mengelabui Cee Cit yang liehay dan bermata tajam. Cee Cit tidak pernah menyangka wakilnya itu berpikir jahat terhadapnya. Sebagai laki laki Cee Cit berjanji, karena lenghoe lenyap di tangannya, dialah yang bertanggung jawab, Maka dia berjanji akan mencarinya pulang, Dia suka pergi mencari. Dia memberi tempo setengah tahun, Selain itu, partai diserahkan padaJie Siong Gan sebagai wakil pangcu. oee Cit menduga pada penjahat dari luar wilayah kekuasaannya. sebab orang bisa mencurinya, ia menduga juga pencuri itu mesti orang liehay^ Lenghoe terbuat dari cula badak dan ada mutiara mustikanya. Cula itu dapat menjadi obat mujarab dan mutiara mustikanya Pia-soei-Coe - dapat menolong orang dari bahaya kelelap. Maka ia percaya, leng hoe berharga itu mesti jatuh di tangannya orang orang bangsawan atau berpangkat besar di Yan-khia, kota raja, maka ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menu. u ke Utara. Markas Coan Pang berada di gunung siauw Koh Sau, dari sana Cee Cit berangkat dengan cepat, belum dua hari ia sudah sampai di kota Kimleng. Karena tugasnya itu, ia jadi mempunyai tempo senggang. Demikian itu hari, di waktu lohor, dia berdiri di Yan Coo Kie, memandangi keindahan sungai di waktu lohor. Yan Coe Kie berada di utara kota Kim-leng, di luar kota, di tepi sungai Tiang Kang, Satu bagiannya darat, tiga bagiannya air. maka romannya mirip dengan burung walet menyamber ke sungai. Itu pula yang menyebabkan didapatkan nama itu, "Yan-coe" nya, itu burung walet, dan "kie" yala h gunung kecil di tengah sungai yang sebagiannya nempel dengan daratanDi atas itu pada sebuah paseban yaog dikitari pepohonan, itulah tempat pesiar atau permandian di musim panas, dari atas itu orang dapat memandang laut dan tempat yang jauh, yang indah. Tengah Cee-cit tersengsam, tiba-riba ia mendengar orang tertawa dan berkata di belakangnya: "Cee Pangcu, bagaimana gembira kau dapatpesiar di sini Kau membuat nya pintoo kagum sekali untukmu." Pang cu itu terperanjat. Tidak ia sangka ada orang datang kepadanya, ia lantas berpaling, ia melihat seorang tojin, atau imam yang menggondol sebatang pedang panjang dengan jubah abu abunya tertiup anginDia itu mendatangi sambil berlari cepat, ia lantas mengenali imam itu, yala h It Tim-coe Coe Soe Hoei, yang ia kenal.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

" Kiranya Coe Cinjin-" ia menyambut tertawa, ia memberi hormat, "Kapan cinjin datang ke Kim-Ieng?" Imam itu mengurut kumis jeng gotnya yang hitam dan panjang, ia pun tertawa. "Pintoo sampai di kota Kim-Ieng sedari tiga hari yang lalu," dia menyahut, "Pintoo gemar pesiar, pintoo juga menyukai pemandangan alam, maka itu pintoo suka mengunjungi berbagai gunung kenamaan, Tidak d i-s angka, di Yan coe Kie ini pintoo bertemu pula dengan Pa ngcu." sehabis berkata begitu, dia mengawasi tajam ketua Coan ^ang itu. Cee Cit tertawa. "Sungguh tak banyak orang yang bebas sebagai cinjin," ia berkata. "Tidak beruntung yalah aku si orang bercacad, yang masih tak dapat membebaskan diri dari usaha nama dan penghidupan, setiap hari aku mesti menghadapi banyak urusan yang membikin ruwet pikiran." ia lantas menghela napas. Coe see Hoei nampak heran. "Pangcu," katanya, jikalau pintoo tidak salah menduga, sekarang ini mestinya Pangcu lagi berduka sangat, Dapatkah pangcu memberitahukan aku apakah kesulitan Pangcu itu?" Cee cit terperanjat dia menatap tajam, "Bagaimana kau dapat melihatnya, cinjin?" dia tanya heranImam itu memperlihatkan sikap sungguh-sungguh. "Pintoo tidak mempunyai kepandaian apa-apa, hanya tentang meramalkan, pintoo mengerti juga sedikit." jawabnya "Pintoo melihatnya dari garis alismu, Pangeoe."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cee cit bersuara "oh" ia menatap terus imam itu, ia melihat roman orang, Maka ia lantas berpikir "lt Tim coe dari Heng San ini luas pergaulannya dia terkenaljujur, mungkin dia dapat memberi petunjuk padaku, ia terus melihat, ke sekitarnya, lalu ia bersenyum dan berkata: "oleh karena cinjin telah melihatnya, baiklah, suka aku memberi keterangan- Aku sekalian ingin minta petunjuk cinjin-" coe See Hoei tertawa. "Di antara kita bangsa jujur, janganlah Pangeoe menyebut soal meminta." katanya. "Mungkin Pangcoe belum bersantap. karena pintoo tidak pantang, mari kita pergi ke Lia Kang Lauw untuk minum bersama." Cee-cit menerima undangan itu, maka lantas keduanya beriari-lari ke lauwteng, atau rumah makan, yang disebutkan itu. coe See Hoei lari mengikuti, ia melihat orang berkaki satu tapi dengan dibantu tongkatnya, cee-cit dapat beriari keras sekali sebab sekali melesat dia dapat melalui lima atau enam tombak jauhnya, ia menjadi heran. Tiba di Lim Kang Lauw, kedua sahabat ini memilih meja yang menghadapi jendela, hingga dengan begitu mereka pun dapat melihat sungai, Ketika itu sudah sore. sembari bersantap Cee-cit menuturkan perihal lenyapnya leng-hoe, Coanpang hingga ia menjadi mengalami kesulitan ia pun mengutarakan dugaannya karena mana sekarang ia lagi menuju ke Utara, untuk menyeIidiki-nya. setelah mendengar keterangan itu, Coe see Hoei tunduk. "Dugaan Pangeoe benar, mustika itu tak nanti balik ke dalam dunia Kang ouw." katanya kemudian "Memang itu mestinya jatuh di dalam istana atau gedung besar, kalau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidak..." "Siapakah kiranya lain orang yang dapat menadah barang itu?" Cee-cit memotong. "lnilah bukan kepastian, baru dugaan saja," sahut imam itu tertawa, "Pintoo mempunyai seorang sahabat di kota raja, Dialah Hoei yan PokBeng. Dia ahli barang kuno, dia biasa keluar masuk kedalam rumah-rumah orang bangsawan, dia pula banyak orangnya, maka kalau ada barang baru, kebanyakan dia mendapat tahu, Pinto kenal dia baik sekali, nanti pintoo tulis surat untuknya, untuk minta dia membantu Pangcoe, Mudah-mudahan Pangcoe berhasil." Cee cit girang, senang ia menerima bantuan itu. "Bagus Tjinjin" ia kata, "Kalau aku dapat pulang lenghoe itu, budimu nanti aku kuatir di dalam hatiku. Begitu lekas aku mendapat pulang dan membawanya kembali, aku akan meletakijabatanku sebagai ketua, nanti aku terus menemani cinjin pesiar ke mana saja cinjin suka " Coe Soe Hoei agaknya berkasihan terhadap sahabatnya ini. ia lantas memanggil pelayan, akan minta pinjam perabot tulis, Di situ juga ia menulis surat untuk Huei-yan PokBeng si Walet Terbang, ia menulis cepat dan lantas menyerahkannya. Cee-cit menyambuti surat untuk disimpan di dalam sakunya, Terus ia berbangkit dan berkata sambil tertawa: "Tak dapat aku menahan dorongan hatiku, sekarang juga aku hendak berangkat ke kota raja, sepulangnya nanti aku akan membalas budimu ini" ia memberi hormat, lantas ia ambil tongkat-nya, untuk berlalu dari Lim Kang Lauw, ia bukannya mengambil pintu hanya lompat melewati jendela.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika itu sudah malam maka ia menghilang jauh diantara sinar rembulan bagaikan perak. Coe soe Hoei mengawasi orang berlalu itu, habis ia kata seorang diri: "Ceo Cit, pinto tahu kaulah satu lakilaki sejati, maka sayang sekali tanganmu terlalu jahat, tanpa sebab, adik-angkatku kau hajar hingga gempur anggauta-anggauta dalam tiibuhnya, hingga dia muntah darah dan mati karenanya. Aku bukanlah koencoe apabila aku tidak membalaskan sakit hati adik angkatku itu. Maka itu j anganlah kau sesalkan pintoo kejam. Pintoo pun telah menerima pesan dari liat Tek Coe..." Habis berkata, ia bersenyum tawar, kemudian setelah membayar uang kepada pelayan, ia berlalu dari rumah makan itu dengan senyuman puas .... Cea cit sendiri telah melakukan perjalanan cepat siang dan malam, ia cuma singgah seperlunya, ia berhasil mencari Hoei-yanPokBeng, seorang kepala pencuri. Dia menyambut hormat dan manis kepada Cee- cit. Dia kata, asal lenghoe berada dikota raja, pasti dia akan berhasil mencarinya. Lalu beruntun selama tiga hari, dia pergi keluar untuk mencari. selama itu tapinya dia tidak peroleh hasil. Cee-cit menanti dengan sabar, sedang hati nya bingung sekali. "Pastilah lenghoe tidak ada dikota raja," kata PokBeng kemudian, "Sekarang ada dua tempat untuk mencarinya. Yang satu adalah le Kee Poo di Hoai ho-kauw, di rumahnya say bin Thian-ong le Kioe, dan yang lainnya Ya n Kee Po di siang Kiam Hoa, Tuk-lok. di rumahnya Hoa n thian-ciang Yan Loei. Di tempatnya le Kioe rasanya tak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mungkin. Puteranya Ie Kioe menjadi hokswie dalam istana pangeran Tokeh, pernah aku mencari di sana, aku mendengar tak ada yang tahu. Maka itu, aku pikir, baiklah Cee Pangcu pergi ke Yan Kee Po saja. Inilah perangkapnya Jie siong Gan dan Pek Liang, Cee Cit tidak menyangka apa-apa, walaupun ia pintar, ia terjebak. ia turut saran si raja pencuri, ia berangkat ke Yan Kee Po. ia cerdas dan banyak pengalamannya tetapi ia tidak tahu Yan Loei si tukang hitam makan hitam, sebaliknya Yan Loei mencurigai ia datang untuk menyelidiki rahasianya, maka tuan rumah ini segera mendapat keinginan menyingkirkan padanya. Dengan berpura-pura baik hati, Yan Loei menjanjikan membantu mencari lenghoe Coan Pang itu, Dia menjanjikan tempo lima hari. Dengan sikapnya sebagai tuan rumah yang ramah tamah dia mengajak tetamunya melihat lihat rumahnya dan sekitarnya, diam-diam dia mengajak orang ke liang^ebakannya itu di mana sang tetamu terjeblos ke dalam ruang dalam tanah. Cee-cit tertawa setelah menutur sampai di situ, katanya nyaring: "Aku tidak sangka aku Gee- cit mengalami kejadian yang cocok dengan julukanku, Kwie Kian-cioe. Di sini kumelihat setan-setan sebab di sinilah aku hidup seorang diri." Habis berkata, jago tua ini memperlihatkan mata bersinar tajam dan bengis. Sinar matanya Lie Tiong Hoa pun bersorot, jikalau begitu tidak bisa salah lagi, leng hoe mesti ada pada Yan Loei." ia kata, "Mestinya dialah s i pencuri, jika la u tidak. tidak nanti dia membikin loojinkee celaka."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kenapa kan dapat memikir demikian?" tanya Cee-cit, dia heran, tapi dia tertawa. Karena dialah orang yang biasa hitam makan hitam, sahut si anak muda, ia beber peranan terahasia dari Yan Loei, ia pun menyatakan kecurigaannya bahwa Yan Loei si orang yang menyuruh Pek Kie Hong menjebaknya masuk perangkap ini. Pek Kie Hong itu apa bukan anaknya Lo liong-sin Pek Liang dari benteng air di Tong Teng ouw?" tanya Coe cit, Agaknya dia terperanjat. "Benar." Tiong Hoa mengangguk Cee Cit merapatkan kedua matanya, ia berdiam, Agaknya ia berpikir. Kemudiau ia melek tertawa dingin, ia kata: "selama sepuluh tahun aku menyangka Hoei- Ya n PokBeng yang mencuri lenghoe dan dia bersekongkol dengan Yan Loei untuk mencelakai aku, supaya aku mati dan perkara habis. Tapi sekarang mendengar keterangan kau ini, dugaanku itu nyata meleset, sekarang aku memikir lain lain. Mestinya Jie siong Gan ingin merampas kedudukan Pangeoe, dia mencuri lenghoe, lantas dia bersekongkol dengan Pek Liang untuk mencelakai aku, Hm. Hm, Mana mungkinjusteru di Yan Coe Kie aku bertemu si imam dari Heng san? Akulah orang yang gusar dan girang tak terkentarakan, kenapa dia justeru dapat melihat aku bingung dan berduka? Haha. jikalau aku si orang tua dapat melihat pula langit dan matahari, mesti aku akan binasakan itu manusia-manusia dengan hati serigala danpeparu anjing." Keras suaranya jago tua ini, terdengarnya itu menyeramkan. setelah itu, mendadak romannya menjadi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

guram, terus ia menghela napas. "Ah, aku memikir yang bukan-bukan..." katanya perlahan. Lie Tiong Hoa berdiam, Mereka berdua sama penyakitnya Maka itu, dengan keduanya berdiam, ruang menjadi sangat sunyi Setelah sekian lama, sekonyong-konyong cee-cit menanya .Sudah berapa ia tua teman jak kau terjebak di sini?" Tiong Hoa tercengang, ia sebenarnya tak mengingat itu, ia lantas mengusut-ungsut dagunya yang tumbuh jenggot "Mungkin sudah empat atau lima hari...." sahutnya tertawa. "Bagus." mendadak Cee-cit berseru seraya tangan kanannya meny amber. Tiong Hoa berdiri terpisah kira sekaki, ia terkejut, ia melihat tangan Gee cit terulur tiga kaki lebih panjang dari semestinya. ia lantas lompat mundur sedang tangan kirinya meluncur, untuk menangkap tangan orang itu. Cee Cit Iiehay, Tangan kanannya itu di tarik pulang dengan cepat, tangan kirinya menyusul menyambar Dia dapat bergerak cepat luar biasa. Kembali Tiong Hoa terkejut, ia menyangka Cae Cit seperti ciptaan kera, Tapi ia tak takut, Tangan kirinya meluncur terus, guna menyambut tangan kiri orang itu. serangan Hoei Wan cioe, atau "Tangan Kera Tarbang" Cee Cit itu. gertakan belaka, ketika^eriji tangannya si anak muda hampir mengenai tangannya itu, ia cepat menariknya pulang, habis mana ia tertawa terbabakbahak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kita mempunyai harapan untuk melihat langit dan matahari pula" ia kata nyaring. "Aku tidak sangka kau begini liehay" Tiong Hoa melengak mengawasi orang Tanpadaksa itu, ia tidak dapat menerka apa perlunya Ceecit menyerang ia. Tapi lantas ia mengerti orang lagi menguji padanya, Akan tetapi ia heran mendengar yang mereka bakal dapat melihat lagi langit dan matahari "Apakah kau pernah mempelajari Pek- bouw kang?" Ceecit tanya, itulah ilmu cicak merayap ditembok. Tiong Hoa menggeleng kepala, Didalam hatinya, ia kata: " Guruku belum pernah mengajari aku ilmu itu, aku juga tidak memikir untuk mempelajarinya, ilmu itu terutama penting untuk bangsa pencuri, Laginya, pelajaran itu cuma bisa membawa diri naik setinggi lima belas tombak. sedang di sini, lowongan tingginya limapuluh tombak. Apakah gunanya Pek- houw- kang?" Oleh karena heran, ia terus mengawasi jago Coanpang itu, Cee- Cit bersenyum. "Kau tak bisa, bukan?" katanya. "tapi bagimu, mempela jari itu cuma soal tempo satu siang dan satu malam, Baiklah kau ketahui, pada lima tahun dulu aku telah melepas kata-kata, jikalau ada orang yang bisa menolongi aku keluar dari sini, akan aku wariskan akupunya ilmu "Hoei Wan cioe kepadanya. Maka kau, dapatkah kau menolongi aku keluar dari sini?" Tiong Hoa heran bukan main- ia mengawasi melongo. kemudian- ia menggeleng kepala. Katanya: "Aku bukannya tidak mau menolongi, tetapi, walaupun kita pandai Pek Houw Kang. mana dapat kita naik sampai

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

limapuluh tombak? Apapula aku mesti naik sambil menggendong kau, loojinkee, mana dapat..." Cee-cit tertawa berkelak. "Tentang itu j angan kau buat kuatir." kata dia. "Asal kau sendiri dapat keluar maka taklah sukar untuk menoongi aku si orang tua. itulah mudah sekali, selama ber-tahun-tahun aku berdiam di sini bersama kawanan setan itu, aku telah berhasil membuat dadung rumput panjangnya sampai tigapuluh tombak, maka jika la u kau pandai Hoei Wan cioe, pasti kau dapat menolong aku keluar dari sini" Lie Tiong Hoa lantas berpikir: "Daripada aku berdiam saja, baiklah aku berdaya" Maka ia lantas mengangguk "Baiklah." katanya. Sampai di situ, tanpa bersangsi lagi Cee Cit lantas memberikan pelajaran ilmunya itu, "Hooi Wan Tjioe" atau si "Kera Terbang" itulah pelajaran yang sangat sulit, Untuk itu lebih dulu orang mesti mempela jari ilmu " melunakkan tulang-tulang." habis mana lalu mempela jari pula ilmu " menyiutkan tubuh". setelah tulang dan tubuh dapat diciutkan maka berhasilkah orang mengulur tangannya lebih panjang daripada mestinya. Ilmu ini tidak dapat dipahamkan dalam waktu satu hari satu malam akan tetapi untuk Lie Tiong Hoa tidak ada apa-apa yang sulit. Kecerdasannya dibantu khasiat obatnya Thian Yoe sioe Membikin ia menjadi suatu bahan yang bagus sekali. Dia menjadi mempunyai tubuh yang disebutkan " lepas dari kandung-dan bertukar tulang." ia tidak perlu tempo berhari-hari, cuma tiga jam, lantas ia mengerti.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cee-cit heran hingga dia melengak. Tanpa merasa di menggeleng kepala dan berkata: Ah, anak muda ini sungguh harus dibuat jerih. Aku berbakat baik, aku telah menemui jodoh ku", aku toh tak dapat belajar secepat dia." Tapi dia menjadi girang. "Sekarang mari pelajari Pek Houw Kang." katanya, Dan ia menga jari teorinya. sebab untuk menga jari prakteknya, dia tidak sanggup, dia terhalang cacad kakinya itu. Juga pelajaran cicak Merayap ini tak sukar untuk Tiong Hoa, Bahkan Tiong Hoa mempelajarinya terus dengan dicoba, Dia memang ringan tubuhnya dan pandai berlompat tinggi, dibantu ilmu merayap itu, dengan lekas ia bisa manjat tiga puluh tombak kira-kira, kemajuan itu didapat karena di tengah perjalanan naik itu ia dapat menukar napas. Cee-cit gembira sekali, ia sering-sering tertawa girang. "Asal kau menggunai saatmu belum menukar napas lebih jauh kau menghajar papan penutup jebakan ini, pasti kau dapat mencarinya." dia kata, "Asal kau dapat menjambret dan membukanya, lantas kau berada di atas." "Baiklah, nanti aku coba." kata Tiong Hoa. Kali ini anak muda ini mengawasi keatas, setelah mengumpulkan semangatnya, ia berlompat, lantas ia mengguna i kedua kaki dan tangannya, untuk merayap di tembok. Namanya merayap. sebenarnya ia memanjat. Dengan cepat ia mencapai tiga puluh tombak. la tidak menanti menukar napas, ia menjejak dengan kedua kakinya, selagi tubuhnya mencelat kedua tangannya diulur, untuk meny amber ke

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

atas, Bagatkan terbang, tubuhnya mencelat naik. Karena ia terpisah lagi belasan tombak. la lantas sampai di atas, maka kedua tangannya segera menggempur. suara nyaring adalah akibatnya itu, disusul dengan terlihatnya sinar terang, papan jebakan, yang menjadi penutup liang, telah pecah, maka dengan pecahnya itu, sinar terang lantas masuk ke dalam liang. Dengan masuknya sinar terang serta hawa, hawa buruk di dalam liang lantas mulai lenyap karenanya. Tepat serangannya Tiong Hoa mengenai papan penutup itu, yang terbuat dari lembaran besi. saking tuanya papan itu, pesawat rahasianya sudah karatan, maka itu, gempuran hebat dari si anak muda membikin alat itu tak dapat bertahan dan rusak karenanya. ooooo BAB 8 SEKONYON G - Konyong Cee Cit tertawa berkakakkakak dan berseru berulang-ulang. "Sudah sepuluh tahun sudah sepuluh tahuni Aku Cee Cit, aku tidak sangka bahwa hari ini aku bakal dapat melihat pula langit dan matahari" Dan saking girangnya itu, dia mengucurkan airmata, dia menangis terisak-isak Ketika itu Tiong Hoa sudah turun pula, ia menyaksikan kegirangan dan kesedihannya Cee-cit itu, ia menjadi terharu, ia turut merasa sedih juga, hingga ia hampir mengeluarkan airmata, ia sama girangnya seperti si orang tua, ia kata dalam hatinya: "Sepuluh tahunjalan tempo yang sangat lama, siapa dapat bertahan demikian lama jikalau dia tidak memiliki kekuatan hati yang luar biasa? Cuma Cee cit seorang yang tangguh demikian-"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hanya sebentar, lenyap sudah kesedihannya Cee-cit. Dia lantas menunjuk pada tumpukan dadung di sisinya. "Laotee, kau ikatlah dadung itu di punggungmu." ia berkata, " Kau pun geser aku ke mulut liang itu, untuk aku berduduk di situ.seperti aku telah bilang i kau, kau boleh lantas manjat naik, Kau mesti manjat terus hingga kau berada di atas, di luar." Cee cit bicara dengan gembira, sampai napasnya seperti tertabas Di balik kegirangannya itu matanya bersinar sangat tajam. Tiong Hoa melakukan apa yang dikatakan orang tua itu, ia pondong tubuh orang untuk dipindahkan tepat ke bawahan mulut liang jebakan itu, ia telah mengikat dadung dipunggungnya, ia lantas bersiap siap. tenaga dalamnya dikerahkan Tak usah disebut lagi bahwa ia pun mengempos semangatnya. Kalau tadi ia mau menggempur, sekarang ia mau ke luar, guna merebut kebebasannya. Hanya sedetik, anak muda she Lie itu sudah lantas manjat naik, Kali ini ia bergerak jauh terlebih cepat, Benar seperti katanya Cee cit, tinggal lagi dua kaki ia bakal sam pai di mulut liang, napasnya sudah habis tubuhnya lantas turun pulaJusteru itu, ia mengempos tenagannya yang terakhir, ia meoggunai Hoei Wan cioe, Tiba tiba saja tangannya terulur panjang, hingga ia dapat menyambar pinggiran liang. "Bersemangat, laotee Bersemangat" Cee cit berseru menganjuri, ia melihat orang telah tiba dimulut liang itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tepat ia memegang pinggiran papan besi itu, Tiong Hoa menukar napas, maka kalau tadi ia menjambret dengan kanan- sekarang ia dibantu dengan tangan kirinya. Dengan dua tangan berpegangan, tak sukar untuknya bergelayutan, guna mengayun tubuhnya, maka di lain saat, denganjungkir baiik, tibalah ia di atas. Melihat sinar matahari, Tiong Hoa melengak. la segera memandang ke sekitarnya, ia melihat rumah besar terpisah tiga puluh tombak dari liang perangkap itu, ia mendapat kenyataan matahari sudah turun ke barat dan burung-burung lagi mengoceh ber kicau. "Loojinkee, bagaimana sekarang?" ia kata. ia berdiri dimulut liang, ia berjongkok untuk memandang ke bawah, kedalam liang itu, cee cit berdongak. "Laotee, kau turunkan dadung" dia berkata "Kaupeganglah dengan kedua tangan mu biar keras, jangan bikin terlepas" Tiong Hoa nenurut, ia mengulur dadung itu, ia tahu apa artinya dadung dan apa maksudnya ketua Coan Pang itu, ia memegang erat erat ia memasang kudakudanya, ia heran sebab ujung dadung masih terpisah cukupjauh dari si orang bercacad, ia tidak tahu, dengan cara bagaimana orang akan menyampaikan dadung itu. Cee Cit tahu apa yang ia mesti lakukan. inilah saatnya yang terakhir, ia hidup atau ia mendekam terus didalam neraka dunia itu" Maka ia berduduk dengan mata meram, tapi otaknya bekerja, ia mengempos semangat, ia " mengumpul tenaganya, Tepat ia merasa bahwa ia sudah mengerahkan segala apa, mendadak ia menahan napasnya, mendadak ia menjejak dengan kaki

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

buntungnya, dibantu dengan tekanan kedua tangannya pada tanah. Menyusul itu maka tubuhnya lantas melesat naik, Barbareng dengan itu, kedua tangannya terus diluncurkan lempang keatas. Hebat keadaannya waktu itu, kalau dia gagal, kalau dia jatuh kembali maka sebelah kakinya itu mesti patah juga... Tiong Hoa di atas memasang mata. Mendadak ia merasa ujung dadungnya ada yang s amber, dadung itu lantas terasa menjadi berat, hampir ia membuatnya terlepas. ia tahu apa artinya itu. Maka terus ia bertahan. Dadung terasa bergoyang goyang, Telinganya pun lantas mendengar tertawanya si orang tua, yang terus berkata : "Laotee, kau tariklah perlahan-lahan" Tanpa menjawab, Tiong Hoa bekerja, ia menarik dadung, ia mengerek naik, ia mesti berlaku hati-hati. ia insaf tuanya dadung itu, sementara itu ia tidak tahu, larahan dadung sudah ada yang putus sendirinya, disebabkan beratnya, tubuh Cee cit. Cee-cit sudah naik tinggal lagi sepuluh tombak kirakira waktu Tiong Hoa mendapat tahu larahan dadung pada putus, ia kaget tidak terkira, tanpa merasa ia berseru: "Dadung mau putus" Cee Cit mendengar itu, dia kaget bukan main. celakalah kalau dadung putus dan dia jatuh. Tapi dia tabah, dia menjadi nekad. "Tahan" dia berseru, Lantas dia menarik dengan keras, untuk membikin tubuhnya melesat naik. Di bawah menarik. diatas bertahan, tidak ampun lagi, dadung itu benar-benar putus, Tiong Hoa kaget, Cee Cit

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pun kaget, tapi Cee Cit insaf. Meski dadung putus, tubuhnya tidak jatuh hanya melesat terus naik, kedua tangannya diulur dan diluncurkan, "Laotee, sambut" dia berteriak Tiong Hoa cerdas. dia tabah, takperduli dia kaget, dia tahu harus berbuat apa. sambil berjongkok itu ia mengulurkan tangannya ke bawah, ia mengulur dengan ilmu Hoei Wan cioe, Maka tangannya itu terulurlah, tangannya Cee Cit juga terulur, Dengan begitu ke dua pasang tangan terulur sama-sama menjadi lebih panjang daripada biasanya, lantas tangan kedua pihak beradu, lalu keduanya saling jambret, Tiong Hoa menarik dengan g entakan cee Cit pun meminjam tenaga orang. Maka terlihatlah sebuah tubuh melesat ke luar dari dalam liang. Tubuh Tiong Hoa melengak, Untuk ber-tahan- kecuali memasang kuda kuda. ia mesti mendapat bantuan tubuhnya itu. Dengan itu cara ia menarik tubuh kawannya. ia sebenarnya merasa tangannya sakit terpegang tangan cee-cit tapi ia mengertak gigi, ia menahannya Cee-cit numprah ditanah, Dia melongo, dia menghela napas, lantas dia tertawa, Dia tertolong. dia bebas. Di depannya dia melihat pepohonan. Langit dan matahari yang dia kenang- kena ngka n bertahun-tahun. Di tempat terbuka ini, dia dapat bernapas lega. Dia seperti menjelma pula. Juga perasaannya Lie Tiong Hoa serupa, untuk sejenak mereka saling mengawasi dan melongo, matanya Cee-cit penuh air mata, tapi segera dia tertawa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Laote," dia berkata, "aku bukannya penasaran, tetapi aku mesti memuja kepada sang Buddha Aku berjanji, habis ini, aku tidak bakal memperdulikanpula urusan kaum Kang-ouw, Laotee, coba kau hajar kutung secabang p^hon itu" Tiong Hoa mengangguk- Untuk sejenak itu, tak dapat ia berkata-kata, ia menghampirkan sebuah pohon, dengan gempuran tangannya, ia mematahkan secabang yang cukup besar, habis membuangi cabang-cabang kecil dan daunnya, ia bawa itu pada si orang tua dan menyerahkannya. Cee- cit menyambuti dengan cepat, dengan cepat juga dia bekerja, Dengan tangannya dia memapas berulangulang, tangan itu bekerja bagaikan golok. Maka dengan lekas ia berhasil membuat sebatang tongkat panjang. Ketika ia tertawa nyaring, lantas ia bangun berdiri dibantu tongkatnya ini. "Laotee, mari." ia berkata. Tiong Hoa menyambut. Tapi. . . Belum lagi kedua orang ini mengangkat kaki, atau mengangkat tongkat, untuk berlalu, mendadak mereka mendengar suara angin meny amber, angin dari datangnya senjata rahasia. "Setan" berseru sin Gan Tok kak Kwi-Kian-Cioe sambil ia memutar tubuhnya cepat bagaikan angin, tongkatnya turut berputar, maka dengan terdengarnya suara nyaring be berapa kali, tandanya bentrokan senjata dengan senjata, beberapa buah senjata rahaia terlempar jatuh ke tanah di dekat mereka, Akan tetapi Cee cit tidak lantas berhenti, dia masih berputar terus, hingga dia kena menghajar beberapa pohon di dekatnya Tiong Hoa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kagum menyaksikannya liehaynya orang dengan kaki satu itu. Ketika itu, dengan berhentinya serangan senjata rahasia, di situ lantas muncul satu orang yang lompatannya pesat sekali, Dia pun membawa sinar putih mengkilap seperti rantai. Tiong Hoa lompat mundur, matanya dipasang, Maka ia melihat di depannya berdiri seorang muda tampan dengan pedang ditangan. matanya dia itu bersinar tajam, ia heran kenapa di Yan Keo Po ada seorang muda semacam dia ini. "Kau siapa?" Kwie Kian cioe menegur, suaranya dalam. "Cara bagaimana kau berani main gila dengan kuningan rongsokan dan besi karatanmu di depannya Kwie Kian cioe?" orang muda itu heran- ia lantas mengawasi ke tanah. "Kwie Kian cioe..." ia mengulangi Hanya sebentar, ia mengangkat kepalanya, untuk mengawasi, dengan alis dikerutkan, ia berkata: "Tuan, adakah kau Cee Pangeoe dari coan Pang yang telah lenyap sepuluh tahun, yang dulunya namanya sangat kesohor dissiatan dan Utara sungaiBesar?" "Ya, itulah aku si orang she Cee" sahut Cee-cit dengan suara di hidung. Anak muda itu lantas memandang Tiorig Hoa, agaknya dia heran. "Kalau begitu," katanya aku mohon tanya, bukankah kawan cee Pangcu ini bernama Lie Cie Tiong?" Cee Cit belum pernah menanya namanya Lie Tiong Hoa, ditanya begitu dia lantai berpaling kepada kawannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa heran, tapi ia maju satu tindak "Benar, aku yang rendah adalah Lie Cie Tiong," ia menyebut terus terang. "Aku tidak tahu untuk urusan apakah tuan mencari aku yang rendah ini? Mendengar jawaban itu, muka si anak muda menjadi merah, tanpa membilang apa-apa lagi, ia menikam dengan pedangnya, inilah jurus tok bong coet biat atou" ular beracun keluar dari guha, sasarannya punjalan darah thian-kie di dada si anak muda. Cee Cit heran, ia terutama heran karena ia melihat pemuda itu mestinya orang lurus. kenapa dia menyerang cie Tiong secara begitu? Apakah salahnya orang she Lie ini? Tak tahu ia siapa salah siapa benar, tetapi Cie Tioog itu penolongnya, tak dapat ia berpeluk tangan saja, Maka ia maju sambil meluncurkan tangan kanannya dengan tiga jarinya ia menjepit ujung pedang orang" Anak muda itu terkejut ia melihat tangan kanan orang meluncur panjang luar biasa, sedang tangan kirinya tertarik ringkas. Ketika ia mencoba menarik pedangnya, pedang itu tak bergeming Kembali ia terkejut, sekarang dengan mukanya lantas menjadi merah hingga ke telinganya. Terang ia tidak dapat melepaskan senjatanya itu. Maka ia mengawasi dengan sinar mata berapi. Tiong Hoa mendongkol untuk kegalakannya orang itu, yang menyerang ia secara hebat. "Tuan, aku tidak kenal kau, kita tidak bermusuhan, mengapa kau menyerang begini hebat?" ia tanya dingin, " Kenapakah?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Belum orang menjawab, Cee cit sudah melepas kanjepitanny a. ia tertawa dan berkata "Aku si orang she Cee selalu berlaku jujur maka itu, tidak mau aku berat sebelah, Anak muda, kau coba jelaskan, buat urusan apa kau mencari saudara Lte ioi? Percayalah, aku si orang she Cee, aku nanti berikan keadilan kepada kau." Anak muda itu tertawa dingin. "Cee pangcu." katanya, "Asal kau berlaku adil, tenanglah hatiku Aku yang rendah bernama soew Leng Hoei dan guruku ini yalah Im san lesoe." Cee- cit heran juga, tidak ia sangka bahwa anak muda ini muridnya Boe seng atau Nabi Persilatan dari tanah perbatasan, tengah ia mau menanya tegas, mendadak ia melihat bayangan berkelebat di depannya, maka di situ tambah satu orang -- adalah seorang imam, yang matanya hitam, yang romannya tampan, sedang kumisnya panjang sampai di dadanya. Nampak imam itu agung, Karena gesitnya, dia mesti berilmu silat tinggi. selain dari Cee- cit, Tiong Hoa pun heran . Imam itu menghadapi Souw Leng Hoei, untuk segera menanyai "Leng Hoei, siapakah dua orang ini? apakah kau berhasil mencari si orang she Cie?" Mendengar pertanyaan itu, Tiong Hoa gusar sekali, alisnya bangun berdiri "Aku tidak tahu apakah salah aku si orang she Lie terhadap kamu berdua, tuan-tuan?" ia tanya, " Kenapa kamu tidak mau memberikan penjelasan? Kenapa kamu sembrono begini macam? Apakah kamu tidak menyalahi tingkah- lakunya orang orang sopan- santun?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang muda yang bernama Souw Leng Hoei itu tetap gusar. "Lie cie Tiong " dia membentak, di Kee-beng-ek kau telah rampas mustika Ngo-sek Kim-bo kami serta kau menganjurkan orang orangmu berlaku kurang ajar terhadap adikku perempuan, Kau telah ketahui itu tetapi kau masih berani mengajukan pertanyaan. Jilid 6. Ilmu Kera Terbang Cee-cit Bukan main mendongkolnya Tiong Hoa. ia merasa sangat terfitnah. "Aku si orang she Lie, aku laki-laki sejati." ia berseru, "Mana dapat aku melakukan itu macam perbuatan jahat dan busuk? Kenapa kau menuduh begini rupa? Lekas kamu jelaskan tuduhan kau ini" Cee Cit melihat sikapnya Tiong Hoa, ia mau percaya anak muda ini tidak melakukan perbuatan seperti dituduh itu, bahwa dia telah terfitnah. Maka ia lantas merangkap kedua tangannya akan memberi hormat pada si imam, sembari tertawa ia kata: "Loocianpwee, loocianpwee tentulah Boe seng im seng Loocianpwee dari tanah perbatasan?" Imam itu bersenyum, ia mengangguk perlahan. "Benar, itulah pintoo adanya." ia menyahut "Pintoo biasa merantau maka itu pintoo telah mendengar banyak tentang nama Cee Pangcoe yang sangat terkenal sebagai ketua Thian Hoo Pangcu, Pintoo telah mendengar juga bahwa Pangcoe sangat menjunjung keadilan-maka itu pintoo sangat mengagumi kau." Kwie Kian cioe bersenyum.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Tidak berani aku menerima pujian lo-cianpwee," katanya merendah. Imam itu lantai berpaling kepada Souw Leng Hoei, "Leng Hoei, dalam segala hal tak dapat kita mendengar satu pihak saja, ia berkata. Aku lihat Lie cie Tiong ini bukan miripnya orang jahat, maka itu baiklah kau berlaku teliti, sesudah ada kepastian baru dapat kau bertindak." Anak muda itu agaknya jengah, dia berdiam, Menampak sikapnya dua orang itu, yang mulai berubah, dada Tiong Hoa lega sedikit. "Locianpwee, berkata Cee cit pula, "ijinkanlah aku bicara sedikit. Aku ini telah di celakai Hoao-thian ciang Yan Loei pada sepuluh tahun yang lampau, aku telah dipincuk dan dijebak masuk dalam perangkap yang merupakan rumah dalam tanah di sana itu. syukur aku dapat bersemedhi menurut ajaran guruku, aku dapat hidup sampai sekarang ini. Aku telah ditolongi Lie Laotee ini, yang pun telah dijebak dalam perangkap seperti aku. Enam hari sudah dia berada di dalam kurungan baru saja barusan kami dapat keluar, oleh karena itu aku percaya Lie Laotee telah dituduh karena fitnah belaka dan si tukang fitnah yalah bangsat she Yan itu, jikalau loocianpwee tidak percaya silahkan kau masuk ke dalam liang dijebakan itu untuk memeriksa." Sembari berkata, Cee Cit menunjuk ke liang beberapa tombak dekat mereka. Im san le-soe suka mendengar keterangan itu, bersama Souw Leng Hoei ia pergi ke mulut liang jebakan. Lantas saja si imam menjadi gusar. "Yan Loei demikianjahat, tidak seharusnya dia dibiarkan lolos" katanya sengit. Lie Tiong Hoa lantas menduga dari perkataan imam ini bahwa Yan Kee Po pasti telah mengalamkan penyerbuan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan kabur, karena mana tentulah sarangnya Yan Loei sudah pecah. "soehoe," berkata Leng Hoei, yang menghampirkan si imam, "habis bagaimana keterangannya Lao san sam Eng? Mendengar perkataan orang ini, Tiong Hoa lantas mendusin. Jikalau begitu, aku yang muda dapat memberi keterangan." ia lantas berkata, ia terus menuturkan halnya di rumah makan ia bertemu Yan Hong dan seterusnya selama ia berkenalan dengan anaknya Yan Loei itu. Souw Leng Hoei mau percaya keterangan itu, lantas ia menghampirkan Tiong Hoa dengan roman likat, ia mamberi hormat untuk berkata: "Aku masih muda sekali, aku kurang pengalaman Aku minta maaf yang aku sembarang percaya perkataan orang jahat." Lie Tiong Hoa menyingkir tak mau ia menerima hormat itu, Bahkan ia kata "tidak berani aku menerima hormatmu ini" Dingin suaranya itu, ia masih mendongkol selain di fitnah ia telah diserang secara keterialuan Im San le-soe tertawa, dia lantas berkata: "Sudah lama pintoo mengundurkan diri. karena gara-gara Ngosek Kim-bo ini, terpaksa aku mesti muncul pula dalam dunia Kang ouw, Ngo-sek Kim-bo terjatuh didalam tangannya Yan Loei, itulah berbahaya, Kalau dia bekerja sama kaum sesat dan dengan segera itu ia membuat pedang mustika, sungguh hebat ancaman buat dibela kang hari." Ia bersenyum, lalu dia menambahkan: "Cee Pangcu, sekarang ini kau hendak pergi ke mana?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cee cit tertawa tak wajar, ia rupanya menahan kegusarannya. "Sepuloh tahun aku terpenjarakan, sepuluh tahun aku tersiksa dalam neraka dunia." menyahut ketua Coan Pang, "Maka itu, setelah sekarang aku berhasil melihat pula langit dan matahari, tak dapat aku melupakan kejahatannya bangsat she Yan itu. Loocian^wee, suka aku turut kau pergi mencari rtia, tapi di dalam Partaiku mesti telah terbit urusan oleh karenanya perlu aku pulang lebih dahulu untuk melihat dan mengurusnya, setelah itu barulah dapat aku pergi merantau." Ia bersenyum, terus ia menambahkan Juga sekarang ini aku mesti lekas mencari rumah makan karena sudah sepuluh tahun aku belum pernah dahar sebutir nasi juga..." Im San le-soe tertawa, "Sungguh Cee Pangcu seorang jujur dan baik hati" ia memuji. ia lantas mengeluarkan sebuah peles kecil, dari dalam situ ia menuang keluar dua butir pel marah, yang baunya harum, sembari memegang itu di telapakan tangannya, ia tertawa dan menambahkan " Kalau begitu, Pangcu, perlu Pangcu mendapat obat, Kedua pelku ini bukan obat dewa tetapi aku percaya bakal ada faedabnya untuk membikin kuat tubuh pangeoe, silahkan pangeoe berdua memakannya . " Cee cit percaya imam itu, ia menjadi girang. "Terima kasih" ia kata, ia lantas makan obat itu. Lie Tiong Hoa pun buyar kemendongkolannya, maka ia ambil obat itu dan makan, ia merasakan bau harum dan dadanya menjadi nyaman. Im san le-soe bersenyum, dia kata, "Kami berdua perlu lekas menyusul Yan Loei maka itu ijinkanlah kami berangkat lebih dulu semoga kita akan lekas bertemu pula"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lantas ia mengajak Souw Leng Hoei pergi. oalam sekejab saja mereka sudah pergi jauh dan menghilang didalam rimba. Tiong Hoa kagum untuk kegesitan si imam. Kwie Kian Cioe menggeleng kepaia, dia kata perlahan: "Tidak kecewa Im san Ie-soe dinamakan Boe seng dari wilayah perbatasan, ilmu ringan tubuhnya itu sudah mencapai puncak kemahiran." Kemudian ia berpaling pada Tiong Hoa, untuk berkata: "Lao-tee. kaulah sahabatku satu-satunya, maka itu kalau kau tidak mempunyai urusan lain, mari kau turut aku si tua ke selatan untuk kau membantu aku." Tiong Hoa tidak berpikir lama untuk menerima baik ajakan itu, ia memangnya sebatang kara dan tanpa tujuan lain kecuali mencari lukisan. "Yoe san Goat Eng" serta sekalian mencari Cek In Nio yang bayangannya seperti senantiasa berpeta di depan matanya. "Baiklah," sahutnya. Cee- cit girang sekali, "Kau nampaknya berduka laotee, kau mesti mempunyai suatu urusan penting," ia berkata, "Maka itu aku berjanji, sebagai ketua Coan Pang, setelah urusan Partaiku beres. aku nanti membantu kau memecahkan kesulitanmu itu. Bagaimana, apakah kau suka menerima bantuanku?" "Saudara Cee sudi membantu aku, suka sekali aku terima," sahut Tiong Hoa. "Hanya urusanku itu masih terlalu pagi untuk di beritahukan kepada kau, Lain kali saja ku menjelaskannya Lebih dulu aku menghaturkan terima kasih." ia lantas memberi hormat sambil menjura. Cee Cit, terima hormat itu sambil tertawa bergelak. "Kita orang Kang-ouw, kita harus menyingkirkan segala macam adat-istiadat." katanya. "jikalau kau tidak terjebak. laotee, mana dapatjiwa saudaramu ini ditolongi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kau? Boleh dibilang, jiwa itu terserah kepada takdir tetapi aku tetap sudah menerima pertolongan kau, Maka itu, aku juga berhutang budi kepadamu, Bagaimana aku harus membalasmu? sekarang sudah sore, mari kita berangkat," Memang juga matahari sudah turun rendah di arah barat dan cuaca mulai guram sedang angin meniup keras. Burung-burung telah pada terbang pulang dan mengasi dengar kicauannya. Rumah Yan Loei besar tapi sekarang rumah itu gelap gulita, Ketika mereka berdua pergi ke hutan bambu, hutan itu tidak keruan macamnya. Pohon-pohon bambu patah dan rebah, daunnya berhamburan. Bahkan tempat kediamannya Cian cioe Koan Im juga tak luput dari serbuan, sebab tamannya, rimbanya, kacau juga. Mereka keluar dari Yan Kee Po, terus mereka lari, selagi sang Puteri malam muncul mereka masih berlarilari di tega la n yang bersinar seperti perak. ooo Bulan keempat di Kanglam yalah akhir musim semi danpermulaan musim panas, Ketika itu pohon-pohon yangliu lagi berombak-ombak burung burung kepodang lagi bernyanyi-nyanyi, pemandangan alam indah nya bukan buatan. Justeru begitu maka itu hari ditepi telaga Hian Boe ouw diluar kota Kim-leng, di dusun Hang Hoa Coen, terlihat munculnya dua orang. Yang satu adalah seorang tua yang rambutnya panjang terurai sampai d i pundaknya, jalannya dibantu tongkat karena kakinya tinggal sebelah, yang lainnya seorang pemuda tampan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Oleh karena mereka merupakan pasangan yang tak setimpal, dengan sendirinya mereka menarik pandangan banyak orang. Merekalah Kwie- kian- cioe Cee-cit dan Lie Tiong Hoa, Mereka lantas duduk bersantap berdua. Gembira nampaknya mereka. Mereka bicara perlahan satu dengan lain, kadang kadang mereka tertawa, tangan mereka menunjuk kepada kepermaian sang alam. Telaga Hiao Boe ouw, yang pun disebut Houw Guw atau Telaga Belakang, memang indah sekali, hingga disitu orang suka pesiar berjalan-jalan atau main perahu. Bertetangga dengan mereka itu berdua ada sebuah meja serta empat orang yang duduk mengitarinya. Yang seorang sudah ubanan semua rambutnya, tiga yang lain dari usia lebih kurang tiga puluh tahun. Keponakan Eng," kemudian terdengar si orang tua, "aku tidak sangka dalam usia lanjut ku ini aku memperoleh nasib buruk begini Kim-Ieng Jie Pa keterlaluan. Didalam tempo tiga hari, mereka memastikan aku mengganti uang tiga puluh laksa tahil perak. Benar aku telah membuka dan mengurus piauwkiok dua puluh tahun lebih akan tetapi tidak dapat aku menyimpan uang demikian banyak. Walaupun rumah tanggaku dijual, tidak nanti aku dapat mengumpulkan jumlah itu... Ah" Air matanya orang tua itu lantas turun meleleh, hingga tak dapat ia bicara lebih jauh. Tiong Hoa heran, kata-kata itu tak ada kepalanya, tak ada ekornya. "Coba Thie sie Tayhiap ada disini, pasti urusan mudah dibereskan"" kata seorang yang lain agak keras. "Maka sekarang ini tidak ada lainjalan daripada mengangkat kaki, Lain kali barulah kita kembali..."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa melirik diam-diam, ia melihat alisnya si orang tua rapat satu dengan lain, dia itu menghela napas dan berkata: "sekarang ini kita sudah diawasi Kimleng Jie Pa, tak dapat kita menyingkir. Kita cuma dapat menunggu." Romannya orang tua itu membangunkan simpati orang. Kwie Kian cioe pun melihatnya. dia tertawa dan kata perlahan pada kawannya: "Laote, jikalau kau ingin mengangkat namamu maka kau harus membantu empat orang itu. Baiklah kau melakukan, sesuatu yang menggemparkan dunia Kang ouw" Lie Tiong Hoa bersenyum. "Berbuat baik adalah keinginanku tetapi nama kosong bukanlah yang aku harap" katanya tertawa. ia lantas mengawasi tajam empat orang itu, Terus ia menanya, "Apakah saudara Cee kenal mereka itu?" Matanya Kwie Kian cioe memain. "setelah lewat sepuluh tahun, romanku telah menjadi berubah sekali." berkata Cee-cit, yang seterusnya dipanggil saudara atau kakak Cee, "Melainkan kaki tunggalku ini yang tak turut berubah Aku mengenali dia, dia sebaliknya, Apa aku bisa bilang?" ia lantas tertawa nyaring hingga ia menarik perhatian banyak orang. Tepat itu waktu dari luar bertindak masuk seorang dengan tubuh besar, gede roman-nya jumawa, Di punggung dia itu tergendol sepasang tombak cagak yang dipanggil In-yang-kek, Lantas dia mengawasi tajam pada tiga orang tua, terus dia tertawa dingin dan berkata seram. "Sekarang ini untuk mengurus jenazah sendiri saja masih tak ada temponya, toh orang masih mempunyai kegembiraan untuk minum arak. He, di kolong langit ini

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dimana ada seorang manusia yang kegilaan hidup hingga dia lupa pada kematian?" Seorang muda di sisi kiri si orang tua menepuk meja keras sekali hingga cangkir arak menari nari terus dia berbangkit dan berkata dengan nyaring: Khoe Ho, di dalam tempo tiga hari kami akan mengganti uangnya KimlengJie Pa Buat apa kau bertingkah di sini, seperti lagaknya si rase yang meminjam pengaruhnya si raja hutan?" orang yang baru datang itu terbangun sepasang alisnya "Setelah mengerti uang, apakah kau kira kamu dapat melarikan jiwa kamu?" berkata dia jumawa, " Kapannya Kimleng Jie Pa pernah mengampuni orang?" Itu waktu para tetamu lainnya bergegas-gegas meninggalkan rumah makan itu, Mereka rupanya jeri karena melihat suasana buruk itu. Tiong Hoa dan Cee-cit tidak mengangkat kaki, Bahkan si anak muda jemu melihat lagaknya orang yang dipanggil Khoe ho itu, Cuma sayang ia belum tahu siapa kedua pihak. Khoe Ho berdiri di pinggir meja Tiong Hoa terpisah lima kaki, sebatang tombaknya terlihat bercahaya mengkilap. Melihat itu, hati si anak muda tergerak. Segera ia mengambil keputusan, Mendadak ia mengulur sebelah tangannya, yang bergerak bagaikan kilat, bahkan meluncur panjang luar biasa. Karena itu di lain detik, Sepotong seniata itu berpindah ke tangan anak muda ini. Cee Cit melihat kejadian itu, Dia melirik terus menoleh, untuk melihat keluar. Lie Tiong Hoa mendapat lihat lirikan itu, ia dapat membaca maksudnya, Tanpa ber-sangsi lagi, ia ayun tangannya kearah telaga. maka teriemparlah sepotong Im-yangkek itu ke permukaan air untuk terus tenggelam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Semua itu terjadi dengan cepat, akan tetapi si orang tua yang bersusah hati itu lihai matanya, dia dapat melihat, karena itu dia menjadi kaget berbareng girang, Kaget karena heran, girang sebab pindahnya senjata orang itu. Khoe Ho terkejut ia merasa angin bersiur, lalu pundaknya terasa enteng, ia lantas ber curiga, Tangan kanannya segera di balik, dipakai meraih. Kembali ia terkejut, tangannya itu meraih sesuatu yang kosong. Segera ia melirik. Lie Tiong Hoa bersama Cee cit tetap duduk minum sambil memasang omong berdua saja, mereka bicara periahan, perlahan juga tertawanya. Agaknya mereka berdua gembira sekali. Sebaliknya adalah si orang tua yang agak tak tenang. Mendadak orang she Khoe itu memperlihatkan roman bengis. "Yo Eng Pioe." ia membentak. "Kau berani main gila di depan aku Khoe Ho, jangan kau menyesaikan kalau tanganku telengas." Tapi sekarang ini Yo Eng Pioe, demikian orang tua itu, tidak lagijeri seperti nampak semula. Rupanya ia mendapat hati karena melihat Tiong Hoa dan kawannya itu. ia tertawa dan menyahut: "Khoo Ho, kau sendiri yang mempertontonkan kejelekanmu, jangan kau sesalkan siapa juga." Sementara itu orang she Khoe itu melengak. diamdiam hatinya jeri. ia menduga tentulah itu dua orang, Tiong Hoa atau Cee Cit yang ia tidak kenal, yang sudah menyamber tombaknya. Justeru itu dari gili-gili telaga terlihat datangnya dua orang, wajahnya ramai dengan senyuman. segera terdengar suaranya gembira dari si orang she Khoe: "Im cianpwee lekas"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika itu Cee Cit tak berbicara atau tertawa lagi dengan Tiong Hoa, dengan bengis dia bentak Khoe Ho: "He, kenapa kau bikin banyak berisik di sini ? Kau mengganggu kesenanganku ya" lalu menyusul itu, ia menerbangkan cangkir araknya. Khoe Ho kaget, dia bingung, sampai tak sempat dia berkelit Tepat cangkir itu mampir di batang hidungnya. Dia kesakitan. sampai matanya kabur. Tanpa dapat dicegah dia menjerit dan hidungnya berboran darah. Berbareng dengan itu ke dalam rumah makan itu bertindak masuk dua orang, yang pesat tindakannya, Mereka bertubuh kurus kering, bajunya panjang sampai di dengkul, baju itu berwarna abu-abu dan lebar, memain di antara sang angin. Mereka beroman bengis juga sinarmatanya. Yang luar biasa yala h mereka berdua sama wajah dan potongan mukanya, hingga sulit untuk membedakannya satu dari lain, kecuali yang satunya, d ia lis nya yang kiri ada setitik tai lalat hitam. Yo Eng Pioe berempat melihat dua orang itu, muka mereka lantas berubah menjadi pucat, terus mereka mengawasi Cee- cit. berdua, agaknya mereka seperti mau minta pertolongan. Cee- cit pun melihat kepada dua orang yang baru datang itu. Mulanya dia agak heran tetapi lekas juga dia menjadi tenang lagi seperti biasa, bahkan diam-diam dia bersenyum orang yang tak bertai lalat meoghampirkan Khoe Ho, dia merabah ke muka orang, maka pecahan cangkir tadi lantas tercabut dari batang hidung orang galak itu. "Siapa yang menyerang kau?" orang itu tanya, suaranya seram. Khoo Ho mengusap-usap hidungnya, dia menoleh dan menunjuk. "Dia" dia menyahut. Dia menunjuk Cee-

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cit. sepasang mata yang galak lantas menatap si orang bercacad. Orang yang diawasi lantas tertawa dan berkata: "Aku sangka siapa, tak tahunya Im Kee siang Koay dariBokhoe yang pada tiga- belas tahun dulu telah lolos dari kematian dari tangannya Khong Taysoe dari Siauw Lim sie" Dua orang itu mendelik, romannya menjadi semakin bengis, tanpa mengucap apa-apa, keduanya berlompat maju, tangan mereka masing-masing yang kulit membungkus tulang dan kering dilonjori, menghanjar ke masing-masing pundaknya si kaki buntung sebelah, Yo Eng Pioe berempat kaget hingga mereka menjerit. Im Kee siang Koay -- sepasang siluman Keluarga Im bergerak dengan sangat cepat akan tetapi gerakannya Cee- cit lebih cepat pula, takperduli dia terintang kakinya yang tinggal satu sebelah tangannya bergerak berbareng dengan mendaknya tubuhnya, terus tubuh itu mencelat hingga dia jadi berada disampingnya Khoe Ho Celaka ialah siluman yang satu, Gerakan nya Cee cit membikin dia terhuyung hampir dia menubruk saudaranya dan melukainya. Atas semua kejadian itu, Lie Tiong Hoa bercokol tetap dikursinya, romannya angkuh cuma wajahnya yang bersenyum berseri-seri. Dengan satu lompatan, kedua siluman tiba di depan Cee Cit. "Siapa kau, setan tua" mereka membentak. "Bagaimana kau kenal kami persaudaraan Im?" Kwie Kian cioe tertawa bergelak, "Biarnya kamu berdua berubah menjadi abu, aku siorang tua pasti mengenali kamu" jawabnya keras, ia mengulur tangannya, menunjuk siluman yang bertahi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lalat, berkata: "Kau toh Im siauw Im Han si Memedi Gunung? Dan kau," ia menunjuk siluman yang satunya. " kaulah Bok-Kek Im Leng si setan Kayu, Tentang diriku, kamu rupa nya tak dapat meng ingatnya . " Khoe Ho sementara itu sudah melampiaskan murka dan penasarannya. selagi Cee Cit berbicara itu. diam diam dia menyerang dengan timpukan paku rahasianya paku touw sim-teng. dia bahkan menggunai seraup banyaknya. Cee cit liehay, ia melihat orang membokong ia lantas menyampok dengan tangan kirinya dengan begitu ia membikin semua paku itu terpental ke lain arah. Berbareng dengan itu, dengan tangan kanannya, yang mendadak terulur lebih panjang tiga kali, ia menjambak punggung orang. Suara berkeretek adalah akibat sambitan itu, disusul dengan jeritan menyayatkan hati yang keluar dari mulutnya si pembokong .Tulang-tulang nya Kho Ho remuk tercengkeram dan darahnya mengucur keluar. Kwie Kian cioe tidak bekerja kepalang tanggung, ia mengangkat tubuh orang selagi Khoe Ho menjerit pula, tubuh itu dilemparkan keluar, hingga orang tercebur di permukaan telaga Hian Boe ouw, yang airnya muncrat keempat penjuru. Im Kee siang Koay kaget sampai mereka menjerit . ooooo BAB 9 DENGAN kedua matanya seperti mau berlompat keluar, san-siauw Im Han danBok Kek Im Leng mengawasi Cee cit.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang yang diawasi itu tidak takut, ia berdiri bersenyum dingin dengan tubuhnya di tunjang tongkat kayunya, ia berbalik mengawasi dengan angkuh. Im Kee-siang-koay gusar bukan main, meski begitu, mereka rada jeri, Mereka heran menyaksikan gerakan gesit darisipincang dan tangannya demikian cepat dan panjang. Mereka tidak menginsafi "Hoei Wan cioe" dari Cee- Cit. Mulanya Cee cit memperoleh ilmu "Kera Terbang" itu dari seorang pendeta bangsa India. sulit untuk mempelajari itu, yang mesti digabung dengan ilmu yoga, Benar ia pernah menjagoi tapi pad a sepuluh tahun yang lampau itu, ilmunya belum sempurna adalah selama dipenjarakan di dalam tanah, ia meyakinkannya lebih jauh hingga sekarang ia menjadi mahir sekali, ia mempelajari itu bertahun-tahun tapi Tiong Hoa dapat menyangkut dalam tempo tiga jam maka mengertilah ia bahwa si anak muda berbakat luar biasa. Selama sepuluh tahun cee-cit bisa mengendalikan diri, tetapi sekarang, setelah melihat langit dan matahari pula, tak puas ia menyaksikan kegalakannya Khoe Ho, maka itu, bersama sama Tiong Hoa, ia turun tangan, hingga ia mesti menghadapi dua siluman she Im itu. Melihat orang masih berdiam saja, Cee cit tertawa. " Hebat, segala memedi muncul di siang hari." dia kata mengecek. "Hari ini kamu bertemu aku si penakluk setan." dia tertawa pula. Habis sabarnya san siauw Im Han- Mendadak dia menggeser tubuh ke kiri, lantas tangan kirinya meluncur, dengan lima jarinya dia menjambak ke arah Cee- cit, mengarah rusuk kiri dimana ada jalan darah kieboen, Dapat dimengerti berapa cepatnya gerakan-nya itu,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiba-tiba terdengarlah suara memberebet pecahnya baju. itulah bajunya Im Han, Dia menyerang tetapi belum dia mengenakan sasarannya, tangannya itu telah ditarik pulang dengan kaget seperti dia dipagut ular segera dia berpaling, mengawasi Tiong Hoa dengan bengis. Bajunya di bagian punggung robek hingga terlihat punggungnya yang bagatkan tulang hitam. Cee- cit tertawa tak hentinya. Yo Eng Pioe berempat juga tertawa terpaksa. Tiong Hoa tertarik hatinya seperti Cce-cit karena sepak terjangnya kawan itu, maka sekali si siluman menyerang sang kawan, ia menjambret punggung orang itu. Kedua siluman menjadi kaget dan heran. Keduanya lantas berpikir: " Siapakah dua orang ini? Baik romannya, baik ilmu silatnya, belum pernah aku mendengarnya." San siauw lm Han bingung, mendongkol dan berkuatir, Dialah jago kecuali roboh di tangan Khong Taysoe, belum pernah dia menghadapi musuh lainnya yang tangguh, dia tidak sangka, hari ini dia menghadapi si anak muda dan si orang tua yang liehay itu, Kalah dari Khong Taysoe, dia masih mempunyai alasan, tetapi sekarang? Seperti yang telah berjanji, sekonyong-konyong keduanya berlompat menyerang Lie Tiong Hoa, tangan mereka mengarah empat jalan darah pek-hoay, kinceng thian-kie dan samyang dari si anak muda. Itulah pukulan yang hebat dan ditempat yang hebat pula. Lie Tiong Hoa dapat melihat serangan itu, sepasang alisnya terbangun. Mendadak tubuhnya mencelat mumbul, berkelit dari ancaman bahaya maut itu, Tapi ia tidak menyingkir jauh, ketika tubuhnya turun, kedua tangannya diluncurkan ke bawah ke arah kedua siluman itu menggunai salah satu jurus dari Kioe Yauw seng Hoei

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cip sam s ie yala h jurus bergeraknya bintang Lo-auwchee. Jurus ini ia baru pelajari mahir enam bagian. Kedua siluman menjadi kaget, mendadak mereka merasai dada mereka sesak. Maka tahulah mereka bahwa mereka benar-benar lagi menghadapi lawan lawan tangguh, keduanya lantas menjejak. untuk lompat mundur tiga tombak. keempat mata mereka melototi mulut mereka mengasi dengar suara dingin dan seram: "Setan cilik" Orang belum sempat berbicara terus, Cee-cit sudah mencelat dengan tongkatnya untuk menyerang dengan tangan kanannya tangan yang dapat terulur panjang lebih daripada biasanya, untuk menyengkeram pundaknya Bok Kek. Im Leng kaget sekali, Dia kena tercekal, Lantas dadanya menjadi sesak pula. Dia pun merasakan nyeri seperti ditusuk-tusukjarum. Yang tercekal itu ialah jalan darah kin-ceng, ia merasa sangat tersiksa hingga untuk menahan sakit otot-ototjidatnya menjadi matang biru dan matanya melotot seperti mau lompat keluar. Im Han kaget dan bingung. segera ia memutar tubuh dan menyerang, ingin ia menolongi saudaranya itu. Tiong Hoa melepaskan tekanannya, ia lompat kedepan m Han dengan begitu ia dapat menangkis serangan itu, Dengan begitu juga ia dapat membantu Cee Cit, hingga saudara ini tak usah repot menangkis atau berkelit. Maka bentroklah tangan mereka berdua, Dua-duanya mundur masing masing satu tindak. Im Han bergidik, Musuh liehay, tak dapat dia melawan terus. Tapi tak tega dia meninggalkan adiknya, Maka dengan mendelik dia mengawasi Tiong Hoa dan Cee-cit bergantian Kembali dia bertanya-tanya dalam hatinya:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Siapakah dua orang ini?" Lama dia menduga-duga, lalu nampak dia terperanjat. "Tuan" dia menegur Cee-cit, yang ia tatap terus, "bukankah kau sie Gan Tok-kak Kwie Kian cioe yang pada sepuluh tahun yang lampau menggemparkan sungai Tiang Kang bagian selatan dan utara? Bukankah kau Cee Pangcu dari Thian Hong pang Coan?" Ketika dia menanya begitu, mendadak lenyap sikap garangnya. Cee cit tertawa berkakak, "Benar, itulah aku si orang tua" dia menyahut "Kamu tentunya tidak memikirnya bukan? Aku si orang tua tidak memiliki kepandaian apa-apa kecuali menggayang setan dan menelan iblis siapa suruh kamu mengantarkan dirimu? Maka kamu tak dapat menyesalkan siapa juga" Im Han merasakan seperti hatinya hancur remuk dan semangatnya seperti terbang. Dia tahu benar ketelengasannya Cee-cit, tidak biasanya orang lolos dengan mudah dari tangannya orang itu -- orang mestinya tersiksa atau sedikitnya mendapat malu besar bila orang berurusan dengannya, Maka, tak ada lainjalan, dia lantas menanya: "Cee pangcu, dengan apa kau hendak menghukum kami?" "Mudah sekali" sahut Cee-cit, perlaban, sembarangan "Lebih dulu biarlah adikmu tnerasai penderitaan Souw Im Pek hiat," baru dia menyicipi nyeri dan ngilunya tulangtulangnya remuk dan otot-ototnya putus, akan kemudian, sesudah keluar darah dan mata, hidung, mulut dan telinganya semua, baru dia kering darahnya dan musnah tulang nya dan akhirnya berangkat ke lain dunia. Semua itu akan mengambil tempo cuma dua jam, lantas adikmu akan merasa sangat berbahagia." ia berhenti sebentar, lalu ia menambahkan sembari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bersenyum: "Kau sekarang masih bebas merdeka, maka kau dapat lekas-lekas mengangkat kaki lari menyingkir dari sini, jikalau kau ayal-ayalan maka kau nanti terlambat." Wajahnya Im Han menjadi geram, airmata nya lantas menetes jatuh. Tiong Hoa mengawasi san sia uw, kemudian ia memandang Bok-kek. Muka Bok-kek si setan kayu mandi keringat, yang turun deras seperti hujan, tubuhnya menggigil bergemetaran. im Han si Memedi Gunung mengawasi adiknya, airmata nya mengucur. Tanpa merasa, ia menjadi merasa kasihan, ia lantas berpikir: "Aku orang baru, aku tak tahu halnya Im Kee siang Koay ini. Nama mereka menyeramkan, pantas kalau mereka jahat dan kejam, pantas mereka terhukum. Tapi sang kakak begini menyayangi adiknya, nyatalah sifatnya belum terlalu rusak. sayangnya dia belum insaf dan memperbaiki diri." Ia menjadi tidak tega, maka ia kata pada kawannya "saudara Cee, aku lihat mereka ini tidak terlalu buruk. baiklah mereka diberi ampun, asal mereka suka berjanji tak akan berbuat jahat pula . " Cee cit tertawa, lantas ia melepaskan cekalannya. Bok-kek Im Leng sudah merapatkan matanya, ia tinggal menanti siksaannya Kwie- kian Cioe, tetapi begitu musuh melepaskan tangannya, ia lantas tak merasakan sakit lagi kecuali sisanya tadi, tinggal tenaganya yang tak lantas pulih. San-tauw lm Han mengawasi Tiong Hoa dengan sinarmatanya yang berterima kasih, ia lantas merangkap kedua tangannya memberi hormat seraya berkata: "Kami dua saudara Im, kami dapat membedakan budi dan sakit

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bati, maka itu selama kami masih hidup, selamanya juga kami akan ingat baik baik budi yang besar ini." Ia terus memandang Cee cit. untuk menambahkan: "Kami alpa, kami kena didului, maka itu kami kena dipengaruhkan Cee pangcu, walaupun demikian, teranglah memang kami kalah kepandaian, dan itu di belakang hari kami masih hendak meminta pengajaran dari pangcu." Habis berkata begitu, dia berkata pada Bok kek: "Mari kita berangkat." Im Leng menurut, Dua saudara itu mengibas tangan baju mereka, lantas mereka berlompaian turun, bukan kedarat hanya ke telaga di mana ada banya k pohon teratai, dengan menginjak itu, mereka tiba di sebrang untuk melenyapkan diri diantara pepohonan yang lebat. Kwie Kian cioe mengawasi Tiong Hoa. "Aku tidak sangka kau berhati begini pemurah, laotee," ia berkata bersenyum, Kemudian ia menambahkan: "Benar apa yang Im Han bilang barusan, kepandaian mereka dengan kepandaian kita berimbang, hanya mereka telah kena didahului Mereka menyerah untuk Hoei Wan cioe kita, hingga mereka tak keburu berdaya, Coba mereka sabar dan waspada, entah bagaimanalah kesudahannya." Ketika itu Yo Eng pioe datang menghampirkan, Dia memberi hormat. "Cee Tayhiap." katanya, " belasan tahun dulu pernah aku mengunjungi kau, lalu kemudian aku mendengar berita bahwa kau telah menutup mata, maka sungguh di luar dugaan hari ini aku dapat bertemu kau dengan kau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tak kurang suatu apa, kecuali wajah tayhiap yang telah berubah hingga aku tidak lantas dapat mengenali." Habis berkata kepada Kwie Kian cioe itu, ia berpaling kepada Lie Tiong Hoa, buat memberi hormat juga seraya menghaturkan terima kasih. Tiong Hoa ramah-tamah, ia merendahkan diri, katanya tak dapat ia menerima ucapan terima kasih itu. Kemudian Eng pioe kata pula pada Ceo Cit: "Aku minta sukalah tayhiap berdua berjamu bersama-sama kami, Pula ada suatu urusan yang aku minta tayhiap suka bantu membereskanny a . " Cee Cit tidak mengatakan apa apa akan tetapi alisnya berkerut. Yo Eng Pioe melihat kesulitan orang, ia lantas berkata pula: "inilah bukan melulu urusanku pribadi, ini pun mengenai tayhiap. karena mana aku menjadi berkuatir, Karena itu aku jadi membesarkan hati mengundang tayhiap sudi bersantap bersamaku." Menampak kesungguhan hati orang, Cee Cit tertawa. "Kelihatannya aku si orang she cee mesti mencampuri pula urusan Kang ouw yang ruwet" katanya. "ia tidak berduka hanya sebaliknya, walaupun ia masih belum tahu urusan itu menyangkut dirinya secara bagaimana, "Baiklah, mari kita pergi" Yo Eng Pioe menjadi girang sekali, lantas ia mendahuluijalan dimuka, ia panggil pemilik rumah makan "Heng Hoa coen" itu, untuk memberikan uang sepotong perak, katanya guna mengganti segala kerugian barusan, sekalian supaya dia lekas menyajikan sama barang hidangan-

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Uang dapat menyelesaikan segala apa demikianlah pemilik Hang Haa coen itu, yang tadinya berdiri diam dengan hati kebat kebit, Dia tertawa, dia mengucapkan terima kasih, lantas dia pergi guna menyiapkan barang hidangan yang diminta itu. Sebentar saja orang sudah duduk berkumpul. Yo Eng Pioe menghela napas ketika ia mulai membuka pembicaraan, ia kata. "Sudah dua puluh tahun lebih aku si orang she Yo membuka Hiong Hoei Piauw Kiok di kota Kimleng, selama itu aku bersyukur kepada bantuannya sesama kaum Kang ouw hingga aku memperoleh kemajuan, luas pergaulanku dan sangat sedikit mengalami gangguanBaru kira-kira setengah bulan yang lalu, aku mendapatkan kesulitan, Kim-lengJie Pa telah datang kepada kami buat minta dilindungi barangnya untuk kota raja, Mereka gagah dan kesohor, mereka toh minta bantuan kami, sendirinya perbuatannya itu sudah mendatangkan kecurigaan, tetapi kami membuka piauwkiok. tidak dapat kami menampik pekerjaan maka juga besokannya pagi aku sudah berangkat mengantarpiauw itu. Begitu kita melewati kota kaug-ouw, lantas barang itu lenyap tanpa ketahuan, tiga hari kami mencari dengan sia sia tanpa ada endusannya. Terpaksa kami pulang ke Kimleng untuk berdamai dengan Kimleng Jie Pa. Mereka menjadi sangat gusar, sekali mereka menuduh kami hilap dan menelan piauw itu, Lantas mereka minta supaya barang itu dikembalikao, atau kami mengganti sebanyak tiga puluh laksa tahilperak. Atau kalau dua-duanya tak dapat kami penuhkan, kami disuruh menyerahkan piauwkiok kami..."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Apakah KimlengJie Pa itu orang-orang yang baru muncul?" Cee Cit tanya. "jikalau mereka mau mengusahakan piauwkiok. mereka dapat membuka yang baru, tak ada perlunya mereka mesti merampas Hiong Hoei Piauw Kiok." "Begitulah kalau menurut pikiran umum," kata Yo Eng Pioe "Tayhiap tak ketahui bahwa mereka mengandung maksud, Aku sendiri baru kemarin aku ketahui maksud apa adanya itu. Baiklah tayhiap ketahui, Kim-lengJie pa terdiri dari dua saudara Sian namanya yalah Couw dan Wat. Tak jelas asal usul mereka, cuma diketahui mereka gagah Duduknya perkara yalah begini: "Aku murid Boe tong-pay, sekarang ini Tiat tek coe Jie siong Gan, pangcu dari Thian Hong Pang Coan, bentrok dengan Bu tong pay, Mulanya tahun yang sudah, karena itu Jie siong Gan hendak mengganggu aku. Buat itu dia pakai tenaganya Kim-leng jie Pa. Dengan mengganggu aku Jie siong Gan ingin memancing keluar guruku, supaya sekalian mereka dapat tumpas. jikalau mereka berhasil, Thian Hong Pang hendak menancap kaki di wilayah kang-lam..." Mendengar namanya Jie siong Gan, kumat kemarahannya Cee cit, hingga alisnya berdiri matanya mendelik, dadanya berombak. Jikalau begitu dua saudara sian itu pastilah orang Thian Hong Pang," dia kata keras "Terang sudah, piauw kamu itu dirampas oleh orang Jie siong Gan. Hmm, jikalau aku tidak bikin tubuh siong Gan ludas menjadi abu, tak nanti aku puas Yo Loosoe, jangan kuatir aku nanti bantu kau."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yo Eng Pioe girang mendengar janji itu, ia menghaturkan terima kasih, ia memang percaya, kali ini cee-cit muncul tentu untuk bereskan urusan coan Pang yang selama tahun-tahun yang belakangan ini sepak terjangnya kacau, tak lagi rapi seperti dulu, hingga telah terbit juga keruwetan dalam kalangan Rimba Persilatan. sebaliknya banyak orang Rimba persilatan yang berpeluk dagu saja, untuk tidak terlibat dalam kekacauan yang membahayakan itu. Selama Eng Pioe bercerita itu, perhatiannya Tiong Hoa tidak ketarik, bukannya ia memasang telinga, ia justeru memandang selalu ke muka telaga yang indah, yang menarik perhatiannya. Kalau toh ia berpikir, ia memikirkan pengalamannya, hingga ia menjadi ruwet pikirannya . Cee-cit bersenyum melihat kawannya itu. "Laotee, apakah ada sesuatu yang kau pikir kan keras? Dia tanya, "Nanti setelah urusan ini beres, kakakmu akan membantu kau menyelesaikan atau memecahkan itu." Tiong Hoa bersenyum, ia tidak menjawab, Ketika itu barang santapan telah disajikan atas undangan Yo Eng Pioe, Cee-cit lantas bersantap. Dia dabar dan minum dengan bernapsu. Tengah mereka berjamu itu, tiba-tiba empat orang muncul untuk terus menghampirkan Yo Piauwsoe. Mereka itu bertubuh besar dan pakaiannya sings at, satu di antaranya terus berkata kepada Eng Pioe, keras: "sian Tan-coe menanya Yo Loosoe tentang piauw yang hilang itu, bagaimana hendak dibereskannya, sekarang juga kami menantikan jawaban"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Belum lagi orang berhenti bicara, Eng Pioe sudah memotong Dia gusar hingga kumisnya bangun berdiri, Dia kata: "Buat apa kamu terburu naps u, Bukankah masih ada tempo tiga hari? Kamu pergi beri tahu sian Tao-coe, di dalam tempo tiga hari aku akan selesaikan itu, tidak nanti aku membikin majikan kamu menyesal" orang itu tidak mau pergi, bahkan dia tertawa dingin. "Sian Tan coe memikirkan saja urusan itu hingga dia tidak dapat tidur nyenyak" dia kata. "oleh karena itu batas tempo yang di berikan itu di rubah menjadi hari ini, itu sebabnya kenapa kami diperintah datang ke mari untuk menanyakan dengan mendesak." "PIak plok" demikian terdengar dua suara nyaring, terus tubuh orang galak itu terhuyung hingga hampir dia roboh terguling. sedang kedua belah pipinya lantas menjadi merah dan bengap. olehnya dirasai sakit dan panas. Cee- cit tidak puas orang begitu galak dan mulutnya kasar, ia terganggu saat bersantapnya itu, Maka tanpa membilang apa-apa ia mengulur kedua tangannya dan ditamparkan di kedua pipi orang Orang itu berdiri sambil memegangi kedua belah pipinya, Untuk sejenak dia merasa kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang, rasa panas dan sakit dipipinya juga tidak lantas hilang, ia memandang Yo Eng Pioe, s ambil paksakan tertawa-- hingga ia jadi tertawa meringis-- ia kata: "Yo Loosoe, aku cuma orang suruhan, taruh kata kau robohkan aku, namamu tidak bakat menjadi tersohor. Baiklah, aku nanti sampaikan ucapan loosoe kepada sian Tan-coe."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Habis berkata dia mengajak tiga kawannya berlalu dengan cepat. sampai itu waktu dia masih belum tahu bahwa yang menghajarnya yalah Cee-cit, yang mengulur tangan nya panjang luar biasa, Seberlalunya empat orang itu, di meja tetangga terdengar suara ini -- suara yang berat: "Sayang sayang Dua gaplokan itu pasti bakal mendatangkan bencana."orang heran, orang menoleh, Mereka melihat orang itu yalah seorang pelajar usia pertengahan yang tubuhnya sedikit gemuk. dia berkata-kata itu sambit dongak mengawasi langit, romannya tenang .tenang saja sedang sebelah tangannya menggoyang-goyang sebuah kipas hitam. Itulah aneh, karena tadi tak ada orang yang melihat dia datang ke meja sebelah itu. Bahkan Cee Cit menjadi Iikat sendirinya, ia liehay, ia pun tak tahu datangnya orang itu, ia menjadi mendongkol hingga ia hendak mengumbar hawa amarahnya, syukur Tiong Hoa lekas mencegah. "Hm" ia bersuara sengit, ia menyangka Tiong Hoa kenal orang itu, sedang sebenarnya orang itu asing bagi si anak muda Tiong Hoa mencegah kawannya sebab ia melihat orang mempunyai pelipis yang tinggi, tanda dari pemilikan ilmu silat yang mahir. ia jug a, kalau orang bukannya orangnya Kimleng Jie Pa, mungkin dia orang sama tengah. Selama berkenalan dengan cee Cit. Tiong Hoa dapat kenyataan kawannya ini bertabiat keras. Di dalam guha dia dapat bersabar tetapi di kolong langit dan matahari, timbul pula tabiat lamanya, sebab segera dia menghadapi urusan partainya yang di kangkangi Jie

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

siong Gan. Tiong Hoa berpegangan sabar, sebab tanpa kesabaran urusan kecil bisa menjadi besar, ia bukan cuma mencegah dengan kedipan mata, ia pun menarik ujung baju orang. Orang itu masih mengoceh sendirian, katanya: "sebenarnya Kimleng Jie Pa bukan orang yang luar biasa, yang sukar dilayani yalah Boe Eng Hoei Long, hingga aku si orang tua, acap kali tak sanggup mengalahkan padanya, Kembalinya kamu bakal mati hingga tidak ada liang kubur buat kamu..." lalu dia menghela napas. Cee Cit mendengar disebutnya gelaran Boe eng Hoei Long itu, yaitu si serigala Terbang Tanpa Bayangan, ia terperanjat, ia ingat Boe Eng Hoei long toh orang yang pada empat puluh tahun dulu sudah mendaki sendiri gunung-gunung Ngo Bie san, Koen Loen san dan Ceng shia san di mana dengan tangannya, ia menghajar mati lebih daripada tujuh puluh orang kosen, hingga dia diberikan orang-orang kaum sesat dan lurus. Karena kegagahannya itu orang Rimba persilatan menyebutnya Thian Gwa li shia adalah si sesat Nomor satu di Luar Langit." Hanya semenjak itu dia benar tak nampak lagi dalam dunia Kang ouw hingga orang perlahan-lahan melupakannya. sekarang ia mendengarnya dari mulutnya pelajar ini, ia lantas kata dalam hatinya: "Bukankah Kimleng Jie Pa muridnya Boe Eng Hoei Long?" Lie Tiong Hoa tidak tahu siapa Boe Eng Hoei Long, tetapi melihat sinar matanya Cee Cit, ia dapat menduga, di lain pihak, ia tertawa sendirinya mendengar pelajar itu menyebutkan dirinya "si orang tua " sedang dia masih muda...

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yo Eng Pioe juga berpikir keras, menduga-duga siapa pelajar ini yang ia tidak kenal, sedang kata-kata orang jelas ditujukan kepada mereka. Tatkala itu satu orang datang ke situ, gesit sekali tindakannya hingga dia datang secara tiba-tiba. Nyatalah dia seorang bocah yang mukanya hitam, dan usianya dari lima atau enam belas tahun Dia lantas menjura dalam pada si pelajar, matanya melirik kepada rombongannya Yo Eng Pioe, terus dia berkata perlahan: "soehoe, telah dijanjikan tempo pertemuan dengan KimlengJie Pa, ialah sebentar malam jam dua dan tempatnya panggung ie Hoa Tay. Tiba-tiba pelajar ini tertawa, terus dia berkata: " Kimleng Jie Pa itu boleh kau layani sendiri, supaya kau dapat bereskan hutang darah seluruh keluargamu dari delapan tahun yang lalu -- Nah, mari kita pergi." Terus dia berbangkit dan berlompat, hingga tahu-tahu dia sudah berada jauhnya tujuh atau delapan tombak, di jalanan lantai batu ditepi telaga. Kelihatan kedua kakinya orang itu bergerak sangat cepat demikian juga si bocah yang menjadi muridnya, yang sembari mengikuti berteriakan: "soehoe, tunggu..." Tiba-tiba Yo Eng Pioe menepuk meja dan berkata nyaring: "Dia Ah, benar dia si orang tua" "Siapa?" Cee-cit tanya, heran"Cee Tayhiap" sahut Eng Pioe, "mungkin tay hiap juga kenal dia. Dialah sin-heng sioe-soe Kim som." Cee-cit mengerutkan alisnya. "Oh, kiranya dia." dia kata. Pantas dia angkuh." sebentar jam dua, hendak aku saksikan kepandaiannya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

untuk mengetahui dia jauh terlebih lihai beberapa tinggi daripada aku si orang she Cee." Lalu dia memesan, "Yo Laotee aku harap sangat supaya kau jangan menyebutnyebut bahwa aku Cee-cit telah muncul pula. Tentang urusanmu, suka aku membantu kau." Yo Eng Pioe girang sekali. "Terima kasih," ia kata, "Aku janji tidak akan menyebut nama tayhiap." Tidak lama mereka sudah berjamu cukup, "Sekarang pergi kau pulang ke Piauw- kiok" kata Ceecit. Eng Pioe menurut, ia meminta diri, terus ia pergi bersama ketiga kawannya, "Laotee," kata Cee-cit pada Tiong Hoa, "Hiong Hoei Piauw Kiok terletak di barat Keuw-lauw, dan di dekat Kauw-lauw itu ada sebuah losmen yang memakai nama hian-siang-kie, silahkan kau pergi dulu ke sana, untuk mengawasi piauw- kiok itu, aku sendiri mau pergi meronda, Umpama kata kau tidak dapat menemukan aku di thian-siang-kie, sebentar malam kau susullah ke Ie Hoa-tay." Habis berkata itu, dengan bantuan tongkatnya Kwie Kian-cioe pergi dengan cepat. Tiong Hoa suka menerima pesan itu, ketika ia mengawasi orang berlalu, ia tertawa. "Saudara Cee sudah lanjut usianya, tabiatnya masih keras seperti api meledak." Pikirnya. "ini dia yang dibilang, Kebiasaan sukar dirubah." Lantas seorang diri anak muda ini berjalan menuju ke kota Kim-leng. Ditengah jalan ia menikmati pelbagai pemandangan alam yang indah, ia berlaku tenang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

.Memang semenjak di Yan-khia, ia telah berkeinginan melihat-lihat kota di selatan ini. Dengan tindakan perlahan, Tiong Hoa berjalan terus hingga ia mendekati pintu kota, ia terus bertindak masuk diantara banyak orang yang berlalu lintas. Kota ramai sekali, Kota Kim-leng asing baginya, maka itu, untuk mendapat tahu dimana letaknya Kouw lauw, ia tanya tanya orang, dengan begitu seterusnya ia berjalan menurut pelbagai petunjuk. Tiba-tiba ia sampai di satu bagian jalanan di mana orang pada menyingkir kedua samping, tengah ia menduga-duga apa sebabnya itu, ia mendengar tindakan kaki kuda yang nyaring, terus ia melihat debu mengepul naik di sebelah depan. sekarang tahulah ia sebabnya orang pada membuka jalan itu. segera ia melihat mendatanginya tiga penunggang kuda, kudanya dilarikan keras, cambuknya menjeter berulang-ulang, mereka itu berpakaian hitam dan sings at. "Mereka pasti orang rimba persilatan, kenapa mereka begini sewenang-wenang?" pikirnya, heran dan mendongkol "Mengaburkan kuda ditempat seramai ini toh berbahaya untuk umum? Belum pernah aku menemui orang begini tidak tahu aturan." Justeru ia lagi berpikir itu, justeru ketiga penunggang kuda sudah sampai. orang banyak lantas pada menjerit. Mereka itu melihat ia bakal segera ditabrak ketiga penunggang kuda itu yang sambil berteriak-teriak membentak mengaburkan keras kudanya. segera juga Tiong Hoa ditabrak, atau mendadak terlihat seekor kuda terangkat tinggi dan terpental,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

penunggangnya jatuh karenanya, hingga dia terbanting keras dan berjupalitan, sedang dua penunggang kuda lainnya lewat terus, sang kuda sendiri ialah kuda yang terpental itu -- roboh terbanting. rebah di tanah sambil meringkik sedih.... Tiong Hoa tetap berdiri di tengah jalan, sikapnya tenang. Kedua penunggang kuda yang lain itu lari sampai tujuh atau delapan tombak jauhnya, lantas, mereka menahan kuda mereka dan kembali. Mereka gusar melihat nasib kawannya itu, mereka membentak. keduanya lompat turun didepan Tiong Hoa. "Aku tidak sangka kau mengerti silat," kata yang satu sambil tertawa dingin, Tiong Hoa bersenyum. Jikalau tidak demikian, bukankah aku sudah mampus diinjak kaki kuda kamu?" Katanya, tenang tetapi tajam. " Kamulah yang tidak punya mata, maka jugakalau kamu mampus, bukankah itu selayaknya saja? Orang itu sudah gusar, sekarang kegusarannya menjadi bertambah. "Binatang, apakah kau telah makan jantung naga atau hati macan tutul?" dia tanya bengis, "Apakah kau tidak mencari tahu kami orang macam apa." "Siapa perduli kamu siapa?" sahut Tiong Hoa, dingin, Mendadak ia mengulur sebelah tangannya, menyamber dada orang itu, terus ditarik dan diangkat, untuk dilemparkan, hingga dia jatuh menindih kawannya yang terjungkal dari kuda itu. Orang yang ketiga kaget, dia lompat kepada kedua kawannya, untuk mengasi bangun, kemudian dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menoleh dan berkata dengan bengis: "Kalau kau berani, jangan kau pergi." Tiong Hoa tertawa, dia kata: "sekalipun kau minta tuan mudamu pergi, tidak nanti tuan mudamu berlalu dari sini. Tuan mudamu akan menantikan kamu." Tanpa merasa, Tiong Hoa membawa tabiatnya si anak orang berpangkat. Tiga orang itu lantas ngeloyor pergi sampai mereka tak menghiraukan lagi kuda mereka. Mereka pergi dengan cepat. "Bagus" mendadak terdengar suara memuji dari tepi jalanan. Tiong Hoa segera menoleh. Maka ia melihat seorang muda yang bermuka hitam, yang ia ketemukan dalam rumah makan Hong Hoa Coen di tepi telaga Hian Boo ouw ialah muridnya sin-heng sioe-soe Kim som. Hanya habis memuji, dia itu berjalan pergi dengan cepat, tak ayal lagi, pemuda ini menyusu, ia ingat suatu apa, ia melihat orang masuk ke hotel Thian sian Kie, Ketika ia sampai di situ, orang muda itu tak nampak lagi, ia mengangkat pundak seraya bersenyum sendirinya. Pelayan lantas menghampirkan- Dia menyangka kepada tetamu. Dia lantas menyambut dan mengundang masuk. Tiong Hoa menurut, ia masuk kedalam. "Sia uwjie, apa ada kamar?" tiba-tiba pelayan itu mendengar selagi ia menyuguhkan teh kepada tetamunya itu. Panggilan itu merdu terdengarnya. "Ada Ada." dia menjawab Cepat seraya lari keluar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Segera juga Lie Tiong Hoa melihat berkelebatnya sebuah tubuh yang lincah, yang diikuti dengan siuran angin yang harum. Tapi ia tidak memperhatikannya, ia berbangkit dan bertindak keluar. Dijalan besar ini ada banyak orang mondar-mandir, ia lantas melihat Hiong Hoei piauw Kiok, yang terpisahnya dari Thian siang Kie cuma selepasan dua anakpanah. Ia bertindak mendekati ia mendapat kenyataan pintu piauwkiok dikunci dan di sini tidak ada orang yang menjaga atau orang yang sikapnya mencurigai. ia lantas kembali ke hotel Thian siang Kie. Ketika ia sampai. ia melihat seorang nona berdiri di depan pintu, Nona itu beralis lentik, bermata jeli dan kulitnya putih, kedua belah pipinya dadu, Kaki nona itu lagi mengetuk-ngetuk lantai perlahan. Ketika itu ada seorang laki-laki berjalan keluar dari dalam hotel.Dia rupanya ceriwis dia membentur si nona. "Plok" demikian satu suara dan muka orang itu merah dan panas, setelah dibentur itu, tangan si nona melayang ke samping dan mampir dipipi orang itu, seorang muda usia kira dua puluh tahun mukanya menandakan dia orang bangsa sesat punggungnya menggondol sebatang gedang. Dia terhuyung karena tamparan itu, lantas dia menoleh, melengak memandang si nona. si nona sendiri mengawa si dengan romannya dinginTiong Hoa menghentikan tindakannya. ia kagum melihat gerakan gesit dari nona itu. si orang muda sudah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lantas menghunus pedangnya, romannya menjadi bengis. "Eh perempuan busuk. kenapa kau memukul orang tak keruan-ruan?" dia menegur bicara dengan lidah Pakkhia. Nona itu nampak gusar sekali sekonyong-konyong tangannya meluncur, menyamber pedang anak muda itu. Si anak muda menyeringai dengan pedangnya itu ia menyambut dengan satu tebasan, ketika si nona berkelit, dia lantas menyerang pula saling susul. Nyata dia liehay. Nona itu gusar bukan main, berulang-ulang orang menyerang ke dadanya, itulah perbuatan hina, setelah berkelit, ia berlompat mundur, dengan begitu ia sempat menghunus senjatanya, juga sebatang pedang, Tidak ayal lagi, sambil membentak, ia membalas menyerang. "Ilmu pedang yang bagus." si anak muda memuji dengan seruannya. ia pun menyebut ilmu silat, pedang si nona itu, yalah Keng-Hong Boe Lioe Kiam Hoat," ilmu pedang "Angin bertiup, daun yang lioe menari." ia ketahui, pedang si nona pedang yang tajam sekali, yang dapat memapas senjata lainnya. Karena ini, ketika ia maju pula, ia menyerang dengan hebat, rupanya ia niat mendesak. Sekonyong-konyong terasa tolakan keras kepada si nona dan si anak muda, hingga dua-duanya lantas mundur sendirinya. Mereka menoleh dengan kaget. si nona lantas melihat seorang imam yang keluar dari dalam, Dengan wajah muram imam itu menegur si anak muda, "Anak Loei kenapa di tempat umum kau berani menerbitkan onar? Masih kau tidak mau berhenti."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Habis berkata begitu imam itu melirik pedang si nona, sinar matanya berkeredep. Tiong Hoa menyaksikan semua itu, ia menduga si imam ketarik dengan pedangnya nona itu, maka ia lantas memasang mata. imam itu memandang pula si nona, lantas dia kata, "Nona apakah kau tidak mengerti tentang asmara? Bukankah murid pintoo ini tidak bakal mengecewakan kau? kenapa kau tolak dia hingga seribu lie?" ia tidak menanti jawaban, dari sakunya ia keluarkan serupa barang yang ia lantas letaki ditelapakan tangannya. Si nona mendongkol hingga mukanya menjadi merah, Ketika ia sudah melihat barang di tangan si imam itu, ia terkejut, terus mundur beberapa tindak. sekarang ia nampak jeri. Benda ditangan si imam yala h serenceng tengkorak kecil. warnanya putih mirip kemala, Imam itu tertawa dingin dan berkata: "Nona, sekarang kau tentu ketahui pintoo orang macam apa, Maka itu aku ingin tukar benda ini dengan pedang Ceng song Kiam kau itu untuk dijadikan tanda mata." Tubuh nona itu bergemetar rupanya ia jeri berbareng gusar sekali. ia mengawasi tajam, lantas ia kata keras: "Locianpwee menjadi orang Rimba persilatan yang kenamaan, apakah benar Loocianpwee hendak menggunai pengaruhmu yang tua menindih yang muda?" Imam itu tertawa. "Pintoo bertindak biasa menuruti suka hatiku sendiri" dia kata, "Muridku ini In Loei, di belakang hari dia bakal jadi jago Rimba Persilatan, diapun tampan, dia tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memalukan kau, nona, Tentang gurumu, seng Hoei soethay, jangan kuatir nanti pintoo yang bicara dengannya." ia tertawa pula dan menyambungi: "Pintoo tahu nona tentulah malu, maka marilah serahkan pedangmu padaku, inilah sama saja," ia bertindak cepat dan tangannya meny amber bagaikan kilat cepatnya. Si nona kaget, mukanya menjadi pucat, Dia mundur seraya menyingkirkan pedangnya. Dia sobat tapi si imam lebih gesit, Lima jarisi imam sudah lantas membentur pedang hingga nona itu merasai tangannya kesemutan, hingga pedangnya hampir tak dapat dipegang terlebih lama pula. Di saat Ceng song Kiam bakal berpindah tangan, tibatiba terdengar satu suara tertawa dingin dan satu berkelebat ke antara nona dan imam itu, lengan kiri si imam yang diluncurkan kebentur kesamping, hingga tubuhnya terhuyung beberapa tindak. Karena ini si nona dapat terus menyingkir dengan lompat naik keatas genting di mana terus ia menghilang. Bayangan orang yang datang sama tengah itu yalah bayangannya Lie Tiong Hoa, tidak puas ia melihat lagak dan mendengar suara nya si imam, yang ia duga mestinya seorang Rimba persilatan kenamaan. la juga heran melihat imam itu memiliki serenceng tengkorak kecil yang terdiri dari sembilan buah, melihat mana si nona agakjeri sekali, maka itu selagi kesan baiknya ada pada nona itu, ia lantas datang sama tengah lalu membentur imam itu dengan tenaga delapan bagian,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan menggunai tipu silat "Hang Hoei Io saan" "Bianglala terbang, Mega-berputar" ajaran gurunya. Imam itu kaget, ia merasakan lengannya sakit, maka dia menjadi gusar sekali. Dengan lantas dia memutar tubuh, tangan kanannya di luncurkan, guna menghajar punggung si anak muda. Tiong Hoa sudah siap sedia, Hari lewat hari, kepandaiannya terus bertambah ia memperolehnya setiap kali ia bersemedhi atau memikirkannya. ia percaya si imam bukan sembarang orang maka ia waspada, ia tidak menangkis ketika di serang itu, ia hanya berkelit, tapi ia bukan cuma berkelit mengelakkan serangan, ia berlompat kepada sipemuda ceriwis yang lagi berdiri menonton, ia menyamber lengan orang ia menarik dan memutarnya, hingga in Loei menjadi sasaran gurunya. Si imam kaget bukan main, dengan cepat dia menahan serangannya, dengan mata bersinar dia menatap dan berkata bengis: "Siapa kau? Kenapa kau berani berbuat begini terhadap muridku? Tiong Hoa tertawa tawar. "Muridmu ini ceriwis dan busuk, dia justeru bertemu guru semacam kau, kamu menjadi satu konco," ia kata, "Lagak kamu bakal mendatangkan onar dalam Rimba Persilatan Tak dapat aku membiarkan sepak terjang kamu Karena muridmu ini busuk, biarlah aku yang muda memusnahkan ilmu silatnya. In Loei kaget dan takut sekali, sebenarnya tadi ia bergembira sekali karena gurunya memaksa si nona, hingga harapannya lantas timbul. ia tidak sangka, selagi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ia kegirangan, si anak muda membekuknya secara demikian gesit. ia dipegang dengan cekalan "Siauw Thian chee ci cap-jie Kiauw Na," Ia menjadi tidak berdaya, cekalan itu membikin tenaganya habis, ia bergemetaran dua napasnya sesak, seperti ada kutu atau semut bergerimingan di antara ototnya, ia pun tak dapat bersuara, Terutama ia takut karena ia mendengar si anak muda hendak memusnahkan ilmu silatnya. Kalau itu terjadi, celakalah ia. Dalam takutnya, matanya menyinarkan sorot meminta ampun-... Jilid 7 : Pedang Pusaka Khong Tong pay Si imam kaget hingga mukanya menjadi pucat. "Anak muda ini entah murid hantu yang mana...." pikirnya, "Dia lihai dan telengas sekali, dia tak kalah telengatnya dengan aku baiklah aku tanyakan dulu asal usulnya. Asal dia bukan murid orang kenamaan, baik aku bokong padanya, membinasakan dia dengan pukulan cit Pou Toan Hoen sekarang ini aku mesti berdaya meloloskan In Loei dulu." Maka ia mengawasi si anak muda, otaknya berputar mencari akal, Lantas ia mengasi lihat muka menyeringai. Tiong Hoa balik mengawasi ia berlaku waspada ilmu silatnya telah maju pesat, ia cuma kurang pengalaman. Melihat sikap orang demikian rupa, ia perkeras cekalannya. In Loei meringis, keringatnya mengucur deras, otototot di jidatnya rada keluar, ia mau membuka suara tapi tak bisa, suara-parau tak keruan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tatkala itu banyak orang berkumpul menyaksikan peristiwa itu. semua orang heran hingga mereka pada mendelong. Si imam merasakan hatinya sakit sekali menampak muridnya diperlakukan demikian macam. ia pun menjadi sangat malu, Maka ia jadi benci pada Lie Tiong Hoa. Dasar dia seorang yang telah banyak pengalamannya dalam keadaan seperti itu, dia bisa bawa dirinya, setelah mengendalikan diri, bukan^n^a dia mendamprat, dia justeru tertawa, hingga mukanya nampak menjadi manis. "Yaa, kau begini muda, ilmu silatmu mahir sekali, kau membuat orang kagum" demikian dia berkata. "Aku lihat ilmusilatmu ini mirip dengan kepandaiannya satu sahabatku. Akulah Koe louw sin-Koen Pek Yang dari gunung Tay Liang san, mungkin gurumu pernah menyahut namaku." Tiong Hoa tertawa dalam hatinya, "Rupanya dia habis daya maka sekarang dia memperkenalkan diri dan menyebut nyebut guruku," pikirnya, "Tapi dialah Pek Yang. Memang dulu pernah satu kali guruku menyebut namanya, cuma dulu hari itu soehoe menyebut Koe-Iouw Mo Koen dan dia sekarang merubah Mo Koen menjadi sin-Koen-" "Koe-louw Mo Koen" berarti " Hantu Tengkorak" sedang " Koe-louw sin-Koen"" berarti "Dewa Tengkorak," dengan begitu Pek Yang mau membikin namanya menjadi harum, Tapi Tiong Hoa tidak mau mengasi dirinya dipermainkan, ia bersenyum dan menyahuti: "Aku yang rendah pernah mendengar nama kau, cuma guruku membilangi aku bahwa kau, tootiang, kau tak ada harga untuk disebut-sebut."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mukanya Pek Yang menjadi pucat, lalu merah. Dia malu dan gusar sekali, Dia menjadi beroman sangat bengis, dua kali dia tertawa kering. "Siapa gurumu itu?" dia tanya membentak, "Mana dapat aku diperhina begini macam? Jikalau kau beritahukan nama gurumu, nanti aku lakukan perjalanan bagaimana jauh dan sukar juga untuk menemukannya guna mengadu kepandaiannya." Tiong Hoa mengawasi tajam, dia kata tawar: "jikalau totiang mau mengantarkanjiwamu kepada guruku, itulah pekerjaan yang mudah sekali. sekarang lebih dulu aku hendak tanya, tootiang berada di Kimleng ini untuk kelewatan saja atau untuk berdiam lama?" Pek Yang Mo Koen mendongkol bukan main, beberapa kali ia hendak mendamprat tapi senantiasa gagal. "Sekarang ini aku lagi lewat di kota Kim-leng ini," akhirnya dia menjawab keras, "Apa maksudmu kau menanya begini?" Di dalam hatinya, Tiong Hoa tertawa girang, Mulanya ia menyangka orang yalah orangnya Kimleng Jie Pa. "Nama guruku tidak dapat sembarang di umumkan." ia menyahut tawar, ia bersenyum, Lantas ia melihat kelilingnya. Pek Yang membade hati orang, dia tertawa dingin, Lantas dia mengibas keras dengan tangan bajunya, membikin banyak orang di sekitarnya pada mundur dengan tersipu-aipu hingga banyak yang jatuh- bangun. Mereka itu kaget dan kuatir, lantas mereka pada menyingkir.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa mengawasi, ia bersenyum. Jikalau tootiang ingin mengadu jiwa dengan guruku," ia kata, ia sudah lantas dapat pikiran baik, "baiklah sebentar malam to-tiang pergi ke depan panggung Iehoay-tay, Di sana kebetulan guruku hendak membereskan satu urusan, maka urusan dengan tootiang boleh diselesaikan sekalian. Guruku she Khioe, namanya Cin Koen dan gelaran nya Boe-Eng Hoei Long." Pek Yang terperanjat. Dalam hatinya dia gatal pantas anak ini lihai, kiranya dia muridnya Thian Gwa It shia Boe Eng Hoei Long, Akan tetapi dia tidak mau kalah gertak. Dia kata sembari tertawa menghina: "Baik, sebentar malam jam dua aku nanti pergi ke Ie Hoa Tay untuk menemui gurumu itu." Tiong Hoa tertawa terbahak, selagi mencekal terus lengannya In Loei itu, dengan jeriji tengahnya ia menotok dijalan darah toa-Ieng, setelah itu dengan dikageti, ia melepaskan cekalannya. "silahkan, totiang." dia berkata. Totokannya itu hebat sekali, Dengan itu selama tiga tahun In Loei tidak bakal mampu menggunai tenaganya, tubuh In Loei terasa kejang, tenaganya habis, kepalanya menjadi pusing dan matanya kabur. Koe-Iouw Mo Koen tertawa dua kali, terus dia menyeret tangan muridnya, buat diajak pergi dengan cepat, Didalam hati ia sangat mengkal dan masih tetap mendongkol. Tiong Hoa masih berdiri sekian lama mengawasi orang berlalu, baru dengan tindakan perlahan ia mendekati Thian siang Kie, ia di sambut dengan hormat dan manis

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

oleh pelayan tadi, yang telah menyaksikan kegagahan orang. Dia menyuguhkan teh dan melayani dengan telaten. Seorang diri Tiong Hoa duduk dalam kamarnya, menghadapi jendelanya, yang daunnya dipentang, ia mengawasi pohon yanglioet hatinya bekerja, sesaat itu ia merasa kesepian-Bukankah ia telah melakukan perjalanan ribuan lie ke selatan ini? Bukankah ia tak bersanak dan tak berkadang? Dia asal keluarga berpangkat tapi sekarang ia menjadi orang kang-ouw hijau, tak pernah ia memikir bahwa ia bakal menjadi begini rupa. Dalam ngelamun, anak muda ini merasa sang waktu berjalan cepat ia merasa ia seperti bermimpi ia ingat bahwa sikap mau menang sendiri tidak berguna begitu juga sikap memperebuti nama dan harta, itu semua mirip pemandangan di dalam kaca-rasa atau rembulan di permukaan air. Akhirnya ia ingat Cek in Nio yang cantik, Bayangan si nona seperti berpeta di depannya, ia seperti melihat sujen si nona yang manis, ia heran dalam tempo yang pendek sekali, nona itu menjadi sangat berkesan baginya, ia merasa untuk hidupnya, Cek In Nio adalah orang yang ia tak boleh kekurangan. "Tapi, di mana adanya si nona sekarang?" ia tanya "Kalau aku tahu... Rasanya pemuda ini mau melupakan lukisan Bayangan Rembulan di Gunung Sunyi," untuk pergi mencari nona itu, untuk berdiam di sisinya. Tanpa merasa, Tiong Hoa menghela napas, lalu ia bersenandung, ia demikian berduka hingga tanpa merasa air matanya mengalir.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiba-tiba telinganya mendengar suara tertawa yang bagaikan bunyi kelenengan datangnya dari arah luar, ia segera berpaling ia mirip orang yang baru tersadar dari mimpinya yang sedap. Di luar pintu berdiri seorang nona dengan baju hijau, karena dia lagi tertawa, terlihat dua baris giginya yang putih, sedang wajahnya yang ramai mirip bunga hoe-yong. Dia nampak sangat menggiurkanSedang sepasang matanya yang jeli memperlihatkan sinar bersyukur. "oh..." Tiong Hoa berseru, terus ia berbangkit dengan cepat, ia pun tertawa. "Nona, silahkan duduk" ia mengundang, Sukar rasanya untuk ia membuka mulutnya. Nona ini tidak malu-malu meskipun benar mukanya berubah menjadi merah, ia bertindak masuk. Jikalau bukan kongcoe yang menolong, Hampir aku bercelaka ditangannya Koe-Iouw Mo Koen" katanya, ia lantas menjura dalam memberi hormatnya. Jangan bilang begitu," kata si anak muda cepat. "Ada bahaya tak menolong, itu bukanlah kelakuan seorang Rimba Persilatan, maka juga perbuatanku itu yang tak ada artinya janganlah nona buat pikiran, Hanya kalau bisa ingin aku mendapat tahu kenapa nona berada sendirian dikota Kimleng ini?" Nona ini mengambil tempat duduk. Di tanya begitu matanya menjadi merah. ia menarik napas duka. "Aku melakukan perjalanan jauh mencari ayahku," ia menyahut, "sudah setengah tahun dalam perantauan, masih aku belum mendapat tahu ayahku berada di mana, Aku kuatir ayahku telah dicelakai orang hingga mayatnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menjadi terlantar." Tiong Hoa terharu, ia merasa kasihan kepada nona itu. "Apakah nona suka menuturkan tentang hal ikhwalmu?" ia tanya, Roman si nona menjadi guram, airmatanya mengembeng, Meskipun begitu, dapat ia menguatkan hati, untuk memberikan penuturannya, ia orang she Phang dan namanya Lee Hoen, Ayahnya, Phang Tay Kong, gelar Coe see-ciang, si Tangan Merah, menjadi seisi di kota Hangcioe. Pada delapan tahun dulu kantor soeoboe Ciatkang kecurian sebuah Pin atau tabir Pweebo in-pin yang berharga mahal luar biasa, sebab itulah Pia mustika yang dapat memberi alamat tentang cerah, hujan, angin dan salju, umpama cuaca b e- rubah, tabir itu memperlihatkan warna lima macam, tebal atau tipis. Tay Kong diberi tempo setengah tahun mencari itu hingga dapat, bukti berikut penjahatnya, ia diberi suratsurat yang perlu serta empat pembantu. Mereka lantas bekerja, mereka pergijauh ke luar daerah, Empat bulan kemudian, soenbon menutup mata. Tanpa desakan soeoboo, perkara menjadi tergantung. Tapi juga Tay Kong, dia pergi untuk takada kabar ceritanya lagi. kasihan isterinya, serta gadisnya, yang jadi hidup terlantar. Kemudian Lee Hoen dapat pertolongan sahabat ayahnya, ia dapat berguru pada Hoei seng Tay-sue dari NgoBie Pay. sampai lewat beberapa tahun, tentang Taykong terus tidak ada beritanya, Nyonya Phang menjadi menangis saja, terus dia jatuh sakit, Lee Hoen jadi sangat berduka dan bingung. Lalu dengan persetujuan ibunya, yang tak dapat mencegah dia, dia pergi merantau mencari ayahnya, setengah tahun sudah nona Phang merantau, sampai dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berada di kota Kimleng ini, tetap dia gagal, Malang untuknya, dia telah diganggu In Loei, sampai hampir dia mendapat celaka. Tiong Hoa mendengar, matanya mengawasi mendelong ke luar jendela. Kongcu, apakah kau ketahui tentang ayahku?" si nona tanya heran, sebab orang berdiam saja sekian lama, orang seperti lagi berpikir keras. Memang Tiong Hoa lagi mengasah otak. la tengah menguji kekuatan asahannya, ia mengingat- ingat pengalamannya dalam ruang perangkapnya Yan Loei di Yan Kee Po, Di sana banyak kurban jiwa dan nama-nama mereka terukir di tembok- ia pikir nama-nama itu, yang ia pernah apalkan. sekarang ia lagi membaca pula di luar kepala. Tiba-tiba ia terkejut, tanpa merasa ia mengkirik, la ingat nama Phang Tay Kong, Karena itu ia menjadi membayangi tumpukan tengkorak atau tulang belulang di dalam neraka dunia itu, di mana pun terdapat hancuran-hancuran pakaian kotor dan tua, sisa-sisa sepatu daripelbagai alat senjata, ia seperti juga merasai bau badan yang membuatnya mau muntah- muntah . "Tidak salah lagi," pikirnya, "tabir Pwe-ho in-pin itu terjatuh dalam tangannya Yan Loei, Tay Kong mendapat endusannya, dia pergi ke Yan Kee Po, tapi dia terjebak Yan Loei, maka dia terpenjara di dalam tanah, mati karena dahaga dan lapar" la menjadi bersangsi Dapatkah ia menjelaskan itu kepada nona ini? Kalau si nona mendengarnya, itulah pukulan sangat hebat, jangan kata seorang nona, satu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

laki-lakipun mungkin tak dapat bertahan. Karena itu, ia terus berdiam saja, sampai si nona menanya ia, ia menoleh kepada si nona, ia menatap. ia hendak membuka mulutnya, saban-saban ia gagal. Karenanya, ia menggoyang-goyang kepala, ia menghela nafas berulang-ulang, tak dapat ia menyembunyikan kedukaannya itu. Hati si nona memukul keras, ia mendapat firasat buruk. la pun menatap anak muda itu. "Bagaimana, kongcu?" ia menanya, berulang-ulang "Apakah kongcoe ketahui tentang ayahku itu?" Ia menanya mesti ia merasa pasti, sikap si pemuda sangat mencurigai. Tiong Hoa terdesak. la menghela napas panjang. "Nona, ako minta sukalah kaujangan berduka," katanya kemudian, "Aku tahu tentang ayahmu itu, ia telah teraniaya orang, sekarang ia sudah meninggal dunia...." Muka si nona menjadi pucat pasi, ia merasa bagaikan dunia berputar, maka tubuhnya, terhuyung hampir ia roboh. syukur Tiong Hoa segera memegang tubuhnya itu. sampai ai anak muda lupa pantangan adat sopan santun-"sabar nona." dia kata, "Kau ingat, kau kuati hatimu." Nona itu berdiam sekian lama. "Kongcu, bagaimana kau ketahuinya itu?" kemudian ia tanya. Tiong Hoa suka memberikan keterangannya, setelah ia minta lagi sekali nona itu suka menenangkan diri, ia menuturkan pengalamannya terperangkap. baru halnya ia banyak tulang-tulang dan catatan nama-nama di tembok.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lee Hoen berjanji akan menguati hati, tapi akhirnya ia pingsan, Tiong Hoa menjadi bingung dan repot, terpaksa ia menahan tubuh si nona, untuk memenceti dan menguruti perlahan-lahan si nona mendusin, untuk lantas menangis. "oh, ayah..." ia mengeluh. "Bagaimana ayah bersengsara..." Nona Phang menangis begitu sedih sampai hampir ia tak sadarkan diri pula. Tiong Hoa terus membujuki dan menasehati, tapi ia sendri begitu terharu hingga air matanya turut mengembeng. "Kongcu." kata Lee Hoen kemudian. " dapatkah kongcu membagi tempo untuk mengantarkan aku ke Yan Kee Po, supaya aku dapat mencari tulang-tulangnya ayah, untuk dirawat sebagaimana layaknya? Untuk membalas budi kongcu, aku akan membikin tiang sengfek-wie guna memuja kongcu..." "Tungleng lok wie." yalah papan peringatan guna menghormati seseorang yang dihormati semasa orang itu hidup. "Suka aku mengantar kau nona, hanya itu tidak dapat dilakukan sekarang." kata Tiong Hoa, Menerima "baik sambil menampik, "sekarang aku lagi mempunyai urusan yang harus diselesaikan Baiklah nona pulang ke Hangcioe, apabila urusanku sudah beres, aku sendiri yang akan pergi ke Yan Kee Po, guna mengambil tulangtulang itu, nanti aku bawa sendiri kepadamu." Lee Hoen tidak dapat dibujuk, ia kata ia ingin pergi sendiri ke Yan Kee Po. Untuk itu ia bersedia menantikan Tiong Hoa sampai Tiong Hoa sudah selesai dengan urusannya itu. "Baiklah." sahut si anak muda sesudah ia kewalahan membujuki.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ooooo BAB 10 TIONG HOA berdiam dalam kesunyian dalam kamarnya di dalam hotel, ia mengawasi keluar dimana cabang yanglioo dan daun-daunnya tengah memain di antara giliran angin, ia seperti lagi berpikir keras, sekarang ini pikirannya goncang hingga timbul rasa bosan nya untuk merantau begitu pun untuk mencari lukisan Yoe san Goat Eng." ia pikirkan, rahasia apa itu terkandung dalam gambar lukisan tersebut hingga mendiang gurunya demikian menghargakannya. Kalau itu hanya rahasia kitab ilmusilat atau sebangsa nya ia merasa tak tertarik.. "Orang banyak yang palsu.,." katanya, hingga hatinya menjadi tawar dan ia berduka ia tidak mempunyai kawan kecuali Cee-cit, sedang Lo sat Gioklie telah terpisah pula darinya. Tiong Hoa mencoba membawa dirinya, ia tahu kalau lama-lama ia bergaul dengan Phang Lee Hoan, ia kuatir nanti timbul soal baru. Dari Cek In Nio juga ia memikir untuk memisahkan diri tapi ia tahu bahwa asmara sudah mengikat padanya. Ingat pada fn Nio, pemuda ini lupa Nona Phang masih berada dalam kamar bersama-nya. Mata Lee Hoen terus basah, ia terlalu bersedih untuk nasibnya yang malang, ia melihat si anak muda mendelong saja, ia pun berdiam, Tak mau ia mengganggu anak muda itu. Toh ia mengawasi, maka ia dapat melihat tegas pemuda itu sesungguhnya tampan, hatinya baik, nyalinya besar, ilmusilatnya mahir.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Betapa langkanya pemuda tampan seperti dia ini? pikirnya. Tanpa merasa ia menjadi jatuh hati pada si anak muda, ia mengawasi terus, hingga satu kali ia menampak orang bersenyum sendirinya, ia tentu tidak ketahui, di saat itu Tiong Hoa lagi ingat In Nio" "Lie siangkong..." Itulah panggilan tiba tiba dari luar, maka pecahlah kesunyian kamar itu Tiong Hoa terperanjat, la tersadar, segera ia berpaling. Pelayan muncul di ambang pintu, Dia heran melihat si nona mengawasi padanya. "Ada apa?" Tiong Hoa tanya. Pelayan itu bertindak masuk. dengan hormat ia menanya apa sudah waktunya untuk menyajikan santapan malam. Tiong Hoa melihat ke luar jendela, Matahari sudah kelam. "Ya," ia mengangguk Dengan hormat pelayan itu mengundurkan diri. Kembali kamar menjadi sunyi. Tiong Hoa merasa kurang enak hati ia berdiam sekian lama, ia menganggap perbuatannya itu kurang hormat, sebagai tuan rumah, tak dapat ia bungkam. Tapi, alasan apa ia mempunyai untuk dijadikan bahan omongan? syukur ia lantas melihat pedangnya si nona. "Tadi Koe-louw Mo Keen Pek Yang menurunkan tangannya, rupanya dia mengarah pedang kau. nona." ia berkata. "Mereka itu, guru dan murid, bekerja sama, kecuali pedang rupanya mereka menghendaki orangnya" Lee Hoen terperanjat ia lantas menoleh si anak muda, mukanya merah. Lekas sekali, ia tunduk pula, sekarang ia berkata, perlahan, nadanya penasaran: "Pedang ini

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

didapatkan bukannya dengan mudah, untuk ini hampir mendiang ayahku kehilangan jiwanya, itulah kejadian duapuluh tahun yang lalu, tempo mendiang ayahku masih bekerja di kota Ceelam. Ketika itu telah terjadi kejahatan saling-susul. Seorang hartawan kecurian uang dan permatanya, gadisnya terbunuh dengan kepala dan tubuhnya terpisah, penduduk Ceelam jadi gempar dan ketakutan- pembesar negeri jadi repot dan gusar, maka polisi diperintah keras mencari penjahatnya, Beberapa malam kemudian, ayahku dan kawan-kawannya dapat mempergoki penjahat itu, tapi dia liehay sekali, tak dapat dia dibekuk. Hebat terutama pedangnya yang tajam, Beberapa orang polisi terbinasa dan terluka dan rambut ayahku pun terbabat kutung, Dengan kecerdikannya akhirnya ayah mendapat tahu tempat mondoknya penjahat itu, yalah disebuah rumah hina dikota Lek-shia. Dia lantas mengatur tipudaya untuk menangkapnya, Penjahat itu kena dikasi makan arak tercampur obat pulas, Dia kuat sekali, dia tidak mempan senjata, maka ayah memutuskan otot-ototnya dengan pedangnya itu, Ceng song Kiam namanya. Ketika dia mendusin dan mendapatkan dirinya sudah tidak berguna lagi, dia menangis dan menyesalkan dirinya sendiri, katanya: Menyesal aku tidak dengar guruku yang membilangi aku bahwa pedang ini akan ganti majikan, bahwa bila aku gunainya tidak tepat, aku bakal mati celaka. Sekarang terbukti benar kata-kata guruku itu. Atas pertanyaan ayahku, penjahat itu mengaku muridnya Keen Goan cauw soe dari Khong-tong-pay timur. Ketika dia dimasuki dalam penjara, dia membunuh diri, Ayah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

takut pihak Khong-tong-pay nanti menuntut balas, ia meletaki jabatannya, ia pulang ke Hangcioe, ia pun menukar nama dan hidup bersembunyi. Lewat enam tahun, atas anjuran sahabatnya, ayahku bekerja pula sebagai polisi, pedang ini terus disimpan di rumah, tak pernah dipakai, baru sekarang, buat mencari ayahku, aku bawa sebagai pelindung diriku...." Tiong Hoa menghela napas. "Mungkin pedang mustika ini pedang pusaka Khong tong .pay." ia berkata, "Kee-louwMo Keen rupanya mengetahui itu maka ia hendak merampasnya, pedang ini pedang mustika. siapa tak ketarik hati untuk memilikinya? sayang kita tidak ketahui baik tentang pedang ini. Menurut aku, nona selanjutnya kau baikbaiklah menyimpannya." Mendengar perkataan orang, Lee Hoen tertawa. "saudara terlalu merendah." katanya, "Melihat caranya kau membekuk muridnya si hantu, sudah ternyata kepandaian kau. hingga pantaslah kau menjadi seorang tayhiap Tidak saudara, dengan ada kau yang mengawani aku, aku tidak takut apa juga" selagi berkata begitu, sinar mata si nona nampak gembira sekali. Tiong Hoa sebaliknya mengerutkan alis, nona ini terlalu mempercayai ia atau dia lupa pada dirinya sendiri. Nona itu berkata pula: "Pedang ini memang luar biasa, Di waktu malam, kalau ada orang jahat datang, dia tentu keluar sendirinya dari sarungnya dan mengasi dengar suara yang ramai, maka dengan mengandalkannya, beberapa kali aku pernah mengusir pencuri juga jikalau cuaca berubah hebat, pedang ini suka berbunyi sendiri didalam sarungnya berbunyi tak hentinya."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia meloloskan pedangnya itu dan mengangsurkan kepada si anak muda. Tiong Hoa menyambuti, Ketika itu kamar guram, Dengan dua buah jerijinya ia menekan gagang pedang, Mendadak pedang itu berbunyi dan mencelat keluar dari sarungnya. Maka terlihatlah sinarnya yang hijau mengkilap. Pedang itu lebih pendek daripada pedang yang biasa, panjangnya cuma dua kaki enam dim, belakangnya sedikit melengkung, kiri kanannya ada tanda darahnya, mulutnya sangat tipis dan tajam. "Benar-benar pedang mustika." ia memuji kagum. "Mesti ini pedang dari usia ribuan tahun-" Ia masuki pedang itu ke dalam sarungnya dan mengembalikan pada si nona. "Wanita cantik dan pedang mustika, sungguh surup," ia kata, tertawa, "Di belakang hari nona mestilah menjadi suatu ahli pedang kenamaan-" Lee Hoen tertawa, ia mengangkat tangannya, guna menyambuti pedang itu, atau mendadak dari luar jendela ada tangan yang sebat sekali meny amber pedang itu untuk di rampas, ia melihat tangan itu, ia kaget hingga ia menjerit. Tiong Hoa telah melihat bayangan berkelebat, ia tahu ada orang lompat masuk di jendela, tatkala tangan orang itu diulur, ia pun mengulur tangan kirinya dengan Hoe Wan Ciang ia menyerang. Perampas pedaog itu terkejut, sebelum ia sempat berdaya tubuhnya telah dihajar terpental ke pojok tembok. la tidak roboh, begitu ia menginjak lantai

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tubuhnya mumbul mencelat ke luar pintu, ia tidak lari hanya berdiri diam. "Eh ilmumu ini ilmu apa?" ia tanya. la heran sebab ia sudah bersedia dan ia percaya ia bakal berhasil merampas pedang tanpa rintangan siapa tahu tangan si anak muda seperti mulur hingga tiga kaki. Syukur Tiong Hoa cuma menyampok. jikalau tidak perampas itu tentulah hilang jiwanya. Bukan melainkan si perampas juga Lee Hoan heran atas serangannya Tiong Hoa itu. Tiong Hoa memandang tajam, maka sekarang ia bisa melihat tegas perampas itu sebenarnya muridnya sinbeng sioe soe Kim som yang ia ketemukan di Heng Hoa Coen. Ia lihat kedua mata orang yang jeli memain menunjuki roman heran, ia lantas menegur: "Kau muridnya seorang kenamaan kenapa kau bawa lagakmu seperti pencuri ini?" Anak muda muka hitam itu tertawa dingini "Cara bagaimana kau ketahui aku murid siapa?" ia balik menanya, "jangan kau berjumawa dengan tipu silatmu melayani Kee-louw Mo Keen Pek Yang tadi, di mataku ilmu itu tidak ada artinya" Tiong Hoa tidak senang, maka ia mengawasi tajam "Bukankah kau muridnya Sin-heng sioesoe Kim Loociaopwee? ia membentak. "jikalau kau berani berlaku kurang ajar lagi awas, jangan kau sesalkan aku keterlaluan" Anak muda itu melengak. la heran sekali. "Eh, mengapa kau ketahui aku muridnya sin heng sioe-soe? "ia tanya Tapi, ah, mata itu benar tajam, Hm. Dengan kepandaian kau ini, mana dapat kau memberi pengajaran padaku? Malam ini, jikalau kau tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

serahkan pedang Ceng song Kiam itu, jangan harap kau dapat tidur tenang" Nyatalah anak muda itu sangat kepala besar dan terkebur, lagaknya garang. Tiong Hoa membentak. pedangnya dihunus dengan memutar itu ia bertindak maju. Muridnya Kim som tidak melawan, ia hanya mempertontonkan kelincahannya. dengan gesit sekali ia berkelit, untuk terus mengangkat kaki, hingga ia hilang dalam sekejap. Tiong Hoa tidak mau menanam bibit permusuhan ia tidak mengejar, hanya ia kembali ke dalam kamar, ia mengerutkan alis ketika ia berkata pada si nona: "Anak muda itu telah mewariskan tiga bagian kepandaian gurunya, dia gesit sekali, Aku lihat, karena pedang ini pedang Khong Tong Pay. selanjutnya tentulah bakal timbul urusan karenanya. Mesti ada orang-orang yang niat merampas atau mencurinya. fa terus menghela napas. Lee Hoen pun berduka. Sebelum dua orang itu sempat bicara lebih jauh dari luar kamar mereka mendengar suara keras: "siapa yang bernyali begiiu besar berani melukai muridku si orang tua?" Tajam suara itu menusuk telinga. Tidak menanti sampai suara sirap. Tiong Hoa sudah berlompat keluar dari kamarnya, ia diikuti Nona Phang. segera ia melihat sin beng sioe-soe Kim som berdiri tegak di bawah pohon yanglioe. Malam suram tetapi kedua mata orang nampak bersorot tajam. Dengan memegang gedangnya, Tiong Hoa mengangkat kedua tangan untuk memberi hormat ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kata dengan suara nyaring. Kim Loociaapwee orang kenamaan di inijaman dengan yang muda tak kenal bermusuh satu dengan lain, mana berani aku berlaku kurang ejar terhadap muridmu, soal yalah disebabkan perbuatan muridmu terlebih dulu. Dengan tiba-tiba dia lompat masuk kekamarku hendak merampas pedang, habis itu ia mengasi dengar kata-kata terkebur. Sin-heng sioesoe tetap mengawasi tajam, ia berkata dengan suara dalam: "Dalam halnya itu dia tidak dipersalahkan, sebenarnya pedang itu pedang miliknya mendiang sahabatku, Keen Goan siangjin, itulah pedang pusaka Khong Tong Pay. Dulu hari pedang itu dicuri murid partai itu, lantas tak ada kabar ceritanya lagi, sementara iiu sahabatku itu telah memesan aku, andaikata aku menemukan pedangnya itu, supaya aku menebusnya, Akulah seorang tua, tak leluasa untuk aku datang kepada kamu anakanak muda untuk meminta pulang pedang itu, maka aku telah kirim muridku itu yang bernama Kam Jiak Hoei, Bukankah aku telah berlaku menurut aturan pantes?" Tiong Hoa tidak puas. "Bisanya loocianpwee mengatakan demikian, tidak dapat aku percaya loocianpwee telah dapat pesannya Keen Goan siangjin, ia kata, Laginya muridmu itu bukan meminta pedang, tanpa menanya dulu, tanpa minta keterangan. Datang-datang dia lompat merampas pedang itu. Lagaknya mirip penjahat." "Tutup mulut" Kim som membentak sebelum orang habis bicara, "selama beberapa puluh tahun, belum pernah aku di orang mendapatkan orang yang berlaku begini kurang ajar terhadapkuJikalau aku tidak pandang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

usiamu yang muda dan kau belum tahu apa-apa, sedikitnya hendak aku memberi ajaran padamu." "Loocianpwe cuma tahu menegur orang, loocianpwee tidak tahu menegur diri sendiri." kata Tiong Hoa tertawa nyaring, "Kecewa loocianpwee ternama demikian besar dan termasuk dalam golongan orang-orang tua tergagah." Kim Som juga tertawa nyaring hingga tertawanya itu seperti memecah angkasa. Sembari tertawa itu dia maju mendekati si anak muda, tangannya dengan lima jari yang kuat menyambar dengan cepat dan bengis sekali. Tiong Hoa terkejut, itulah ia tidak sangka. Dengan tidak kalah gesitnya, ia mengundurkan diri dari ancaman bencana itu. Kim Som terkejut mendapatkan serangannya gagal hingga ia menatap anak muda itu yang dapat menolong diri dari serangannya yang luar biasa itu. lantas ia maju pula, semakin sebat dan tangannya diulur semakin cepat. Kali ini ia mengincar jalan darah hok kiat, dengan tangan kirinya berbareng ia menyamber pedang untuk dirampas. Di dalam rimba persilatan orang menyayangi nama baiknya seperti ia menyayangi tubuh atau jiwanya, demikian dengan Sin-heng Sioe-soe Kim Son si Pelajar Lari Cepat, Dengan Kim Som melayani Tiong Hoa, untuk namanya itulah sudah cacad, itu artinya si kuat menindih si lemah. Maka itu kalau sekarang ia tidak memperoleh kemenangan, kalau perbuatannya ini tersiar dimuka umum, alangkah malunya? Mana ia dapat menaruh muka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terlebih lama pula? oleh karena itu, penyerangannya yang kedua kali ini adalah penyerangan kilat. Kembali Tiong Hoa kaget, orang seperti mendadak berada di hadapannya. ia merasa bahwa orang benar gesit luar biasa, tak kecewa julukan sia-heng sioe-soe itu, tentu sekali ia tidak berani berlaku ayal. Untuk menolong diri, guna dapat melayani, lekas-lekas ia mengguna Hong Hoei insoao, dengan itu ia membuka kedua tangan penyerangnya, membikin penyerangan itu tak ada hasilnya. Tiong Hoa telah mewarisi delapan sampai sembilan bagian kepandaian mendiang guru-nya, maka itu ia tinggal membutuhkan latihan terlebih jauh serta pengalaman. Selama masuk dalam dunia Kang-ouw, pengalamannya itu terus bertambah. sudah obat Pouw Thian Wan dari Thian Yoe sioe membikin memperoleh tambahan latiham dua puluh tahun, peryakinannya atas ilmu silat "Kioe Yauw seng Hoei sip sam" pun maju setiap hari. maka itu, ia memperoleh kemajuan di-luar dugaan, bahkan di luar kesadarannya sendiri Tahu-tahu ia menjadi tambah berani, tambah gesit, tambah liehay juga kali ini, menghadapi Kim som si jago tua, ia membikin jago tua itu heran dan kagum. Mukanya sin-heog sioe-soe menjadi padam mendapatkan dua kali serangannya gagal, sedang mulanya ia menyangka mesti ia berhasil. Lantas mukanya itu berubah menjadi merah, seumurnya inilah pengalamannya yang pertama, yang sangat tak memuaskan hatinya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Panas hati dan penasaran, ia mengulangi serangannya Bisa dimengerti jikalau ia mengerahkan seluruh tenaganya dan menggunai kepandaiannya yang terakhir ia menyerang pula dengan kedua tangannya, yang dimainkan saling susul, bahkan itulah pukulan aneh, sebab tangannya yang dimajukan lebih dulu kesudahannya kena didului tangannya yang dikirim belakangan. Tiong Hoa terkejut tetapi ia tetap dapat menabahkan hati, ia berkelit dengan berputar menghindari diri dari serangan maut itu. sembari berputar, ia menghunus pedang di tangannya, tapi ia memperoleh ini lebih banyak disebabkan Kim son lebih ingin merampas pedang daripada mencelakainya. Begitu dikeluarkan dari sarungnya, Ceng song Kiam memperlihatkan sinarnya yang hijau bercampur kuning keemasan indah, di lihatnya di dalam yang gelap itu. Dengan pedangnya itu, ia lantas bersilat dengan Kioc Yauw seng Hoei sip-sam sie, yang pun di sebut ilmu silat bertentangan Hoan Naoheng lm-yang cioe-hoat. inijusteru ilmu silat pemunah ilmu silatnya sin-heng sioesoe Di dalam tempo yang pandek. Kim som menjadi bingung, ia kaget waktu ia dapat kenyataan ia seperti dikurung pedang lawan, ia mencoba untuk meloloskan diri, ia gagal, ia tak dapat, ia menjadi penasaran sekali. Dengan seluruh tenaganya ia lantas menolak keras. Kali ini Tiong Hoa kena dibikin mundur lima kaki. Menggunai temponya yang baik, sin-heng sioe-soe mundur kembali ke bawah pohon yanglioe di mana ia berdiri diam tadi, ia menggendong tangan- matanya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mendelong. selang sedetik, la bersenyum dan kata, "Kau ini murid siapa? linu silatmu ilmu silat luar biasa Mungkin kau baru memainkannya enam atau tujuh bagian ini pun sudah hebat." Tiong Hoa mencekal terus pedangnya, ia memberi hormat. "Aku yang rendah muridnya Loocianpwee Thian Yoe sioe", ia menyahut sabar. "Ooh" Kim som berseru kaget. "Ah, kau kiranya ahliwaris si orang tua she Kie," katanya, pula kagum. "Kalau begitu taklah heran. orang tua itu tidak menerima murid seumurnya. tidak disangka dia penuju pada kau yang berbakat baik, sungguh menggirangkan, sungguh kau harus di beri selamat, oleh karena kau muridnya Kie Lojle, baiklah. aku si orang tua tidak mau memakta padamu, hanya..." Ia melirik pada pedang Ceng song Kiam, lalu ia menambahkan- Pedang itu pusaka Khong Tong Pay, sembarang waktu pedang itu dapat di curi atau dirampas, maka selanjutnya kau jagalah baik-baik Kau harus mengerti, aku si orang tua bermasud baik. Dapat aku kata ku n, aku kuatir pedang ini nanti menimbulkan keruwetan-" Habis berkata itu, ia terus bersenyum. Tiong Hoa memikir sesuatu, lantas ia menduga dan berkata: "Pedang adalah senjata tajam, pedang tak mempunyai pemilik yang tetap. melainkan dia yang bijaksana yang dapat menguasainya, sebenarnya pedang ini bukannya pedangku, inilah pedangnya ini..." ia meunjuk kepada nona Phang, untuk melanjuti. " inilah pedangnya nona Phang ini, Aku tahu locianpwee berkepandaian, mana aku mengharap sukalah locianpwee nanti menolong melindungi padanya."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kim soen mengurut kumisnya. ia tertawa, "jangan kau mengeluarkan kata-katamu ini untuk mengikut aku si orang tua" dia bilang, sebenarnya aku sudah malu sendiri karena aku menghilangi kepercayaan terhadap mendiang sahabatku Mana dapat aku melindungi kamu. Untukku cukuplah sudah asal aku tidak mengulur tangan bawa pedang itu" "Kalau begitu aku hendak menghaturkan terima kasih banyak kepada loocianpwea," kata Tiong Hoa dengan sikap sangat menghormat. Sing-heng sioesoe mengawasi sianak muda sekian lama, "Apakah namamu?" ia tanya, "Boanpwee bernama Lio Cie Tiong, sahut Tiong Hoa. ia terpaksa memakai tetap nama pais u itu karena ia mengingat di Yan- khia ia telah kesalahan membunuh dua jiwa. orang tua itu mengangguk "Kie Loojie memilih kau sebagai ahliwarisnya, dia benar tidak kabur matanya," ia berkata. "Muridku yang bernama Kam Jiak Hui, kecuali hatinya yang besar, tak nempil separuhnya terhadap kau. Aku minta j angan kau pikirkan pula perbuatannya itu, malah sebaliknya, di belakang hari sukalah kau bantu menilik dia." "Boanpwee akan menurut titah loocian-pwee." kata Tiong Hoa hormat. Kim som memutar tubuhnya, hendak ia berlalu, atau mendadak ia membalik badannya pula, ia tertawa dan berkata "Berhubung dengan janji pertemuan sebentar malam jam dua di I e Hoa Tay, mungkin kau bakal turut menyaksikannya, maka itu mengingat Boe-eng Hoei Long Khioe Cin Keen gagah luar biasa dan sangat telengas, Aku harap kau nanti dapat membantu aku si orang tua."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kata-kata itu diakhirinya dengan tubuh orang tua itu melesat, hingga sekejap saja dia sudah tujuh atau delapan tombak jauhnya, hingga di lain saat dia sudah menghilang didalam gelapnya sang malam. Menyaksikan berlaIunyajugo tua ini, Tiong Hoa menghela napas, sekian lama ia berdiri diam membiarkan tubuhnya disilirkan pulang pergi angin malam, angin yang melenyap ke barat daya. Kemudian ia menghela napas dan kata dalam hatinya, "jikalau aku tidak menggunai kecerdasanku sesaat dengan memakai gerakan Kioe Yauw seng Hoei sip-sam sia dengan pedang ini serta menyebut namanya Thian Yoe sioe, pastilah pertempuran barusan ^ak berkesudahan baik seperti ini. Lalu ia memikir, bahwa ilmu silat "Bintang terbang" itu benar-benar lihai maka perlu ia melatihnya terus. Lee Hoen mengawasi orang berdiam saja. Dia sudah lihai sekali, mengapa dia masih banyak pikir?" katanya dalam hati, heran ia tidak dapat menerka apa yang si anak muda ngeIamunkan. Lalu ia menegur, "sa udara Lie mari kita kembali ke dalam," Tiong Hoa merasa ia seperti baru sadar dari mimpinya, ia tertawa. "Mari..." sambutnya. Tiba di dalam belum lama pelayan telah datang menghidangkan barang hidangan maka itu keduanya lantas bersantap dan minum. ooo Tengah malam itu bintang-bintang memenuh ka n langit, Rembulan seperti menyembunyikan diri di antara gumpalan-gumpalan mega. Karena itu, sang jagat guram, Di sungai, pelitanya sang nelayan berupa seperti bintang bintang yang berkelak-kelik.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Di waktu begitu, selagi di kota Kimleng terdengar pertanda waktu, maka di panggung le Hoa Tay yang terkenal sang kesunyianlah yang memerintah .J usteru itu, tiba-tiba terlihat gerak ^eriknya dua bayangan orang. Keluar daripepohonan lebat, kedua bayangan itu tiba ditegalan yang lebar, di situ keduanya itu berhenti, untuk melihat kesekitarnya. "Mungkin bocah she Kam itu tidak berani datang kemari." berkata bayangan yang satu, "Mendengar nama soehoe buat menyingkir saja dia sudah kehabisan tempo, maka itu mustahil dia berani datang mengantarkanjiwanya?" "Eh, loojie, kau bagaimana sebenarnya?" tanya bayangan yang ke dua^ "Selama satu tahun ini, dengan memakai nama soehoe, kau sudah mendatangkan tak sedikit onar. soehoe gusar sekali, kau tahu, Tahun dulu itu tanpa sebab kau sudah menanam bibit permusuhan dengan Kim taihiap Kam Pa dari Liangcioe. Dalam hal itu kitalah yang salah, Kau sengaja membinasakan seluruh anggauta keluarga orang she Kam itu tapi kaujusteru membikin lolos si bocah KamJiak Hoei, Karena itu sekarang Kam Jiak Hoei datang menagih hutang darah itu, dia menjanjikan kita bertarung Dia berani datang, terang maksudnya tidak baik, Pula di samping kepandaiannya, dia mesti mempunyai andalan, jikalau tidak. mana dia berani datang ke rumah kita dan dapat masuk- keluar seperti di rumah tanpa penghuni? Lihat saja, ketika dia mau pergi, dia meninggalkan tanda mata kepandaiannya Tiat Cioe In -- Tangan TapatBesi, Mana kita sanggup? Loo-jie, kau terlalu besar kepala..."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Toako, aku lihat, makin lama nyalimu menjadi makin kecil" kata bayangan yang pertama bicara itu Bocah she Kam itu, masih jauh pelajarannya untuk dikatakan sempurna. Mana dia dapat lawan ilmu soet Pay Kie kita? Boleh dia mempunyai tulang punggung tetapi apa tulang punggungnya itu dapat melawan guru kita? Hm" Belum berhenti kata-katanya orang yang gede kepala itu, mendadak dia berteriak keras karena kesakitan, lantas dia menutupi mukanya, terus dia mencaci dan mengutuk. Tengah dia mementang mulut itu ada angin meny amber ke mukanya. Dia kaget, dia berkelit tetapi tak keburu, lantas dia merasakan sakit seperti dihajar martil, sakit sampai ke ulu hatinya. matanya menjadi kabur, Karena giginya copot tiga biji, mulutnya lantas mandi darah, darahnya mengucur deras. " Kurang ajar." mendamprat kawannya yang menjadi sangat gusar. Dampratan itu disambut dengan tertawa nyaring, tertawanya satu tubuh yang berlompat ke arah mereka yang setibanya dijalan itu lantas berkata dengan bentakannya: "Kimleng Jie Pa, inilah tuan kecilmu KamJiak Hoei sudah delapan tahun aku mendendam sakit hati keluargaku, maka itu malam ini yala h mala man mampusmu-" Kejadian itu tak lolos dari matanya Lie Tiong Hoa berdua Phang Lee Hoen, yang bersama-sana menyembunyikan diri di atas pohon di dekat mereka itu bertiga berhadap hadapan. Pohon tebal dan lebat, maka itu, semakin sukar untuk mempergoki mereka.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sepasang matanya KamJiak Hoei seperti menyala saking gusarnya dia, di punggung nya terlihat tergondol sebuah senjata yang mirip b and ering boet-jiauw, yang memberi sinar berkilauanLoo-toa, atau si tertua, dari KimlengJie Pa, yaitu sian couw, mengawasi dengan alis berkerut pada loojie, saudaranya itu, sian Wat. Adik ini telah menahan rasa nyerinya, dia membuat pandangan mata berduka si kakaknya, dia mengerti. Lantas dia berlompat untuk berendeng dengan kakaknya. Kimleng Jie Pa menjadi muridnya Soe-eng Hoei-Liong Khoe Cin Keen, yang terkenal juga sebagai Thian-Gwa Ii shia, si sesat satu satunya dari Luar Langit, mereka Iihay, hati mereka telengas, dari itu belum lama muncul dalam dunia Kang ouw, nama mereka menjadi terkenal di selatan dan utara sungai besar. Sudah begitu mereka setiap bertempur maju berbareng dan secara di luar dugaan juga kali ini mereka hendak bertindak seperti biasa itu. Hanya kali ini mereka menghadapi musuh yang berani dan matanya awas. KamJiak Hoei tertawa begitu lekas ia lihat orang merendengkan diri,ja bersenyurn, dan berkata Jikalau malam ini tuan kecil kamu membiarkan kamu lolos dari coei-beng ^acJiauw, maka ini sakit hati yang dalam seperti laut tak usahlah aku membalasnya pula." Kimleng Jie Pa tidak mengambil mumai apa orang bilang, meneruskan kebiasaannya. mereka lantas maju berbareng. Kam Jiak Hoei tidak menyambuti, ia berkelit ke kanan, sambil berkelit, ia terus memutar tubuh, dan sembari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memutar, tangan nya menarik senjatanya, dari itu, dengan cepat sekali ia lantas membalas menyerang, senjatanya itu, coei-beng Pat-jiauw, yang berupa gaetan seperti cakar atau kuku^ me ny amber kepada dua lawannya itu. Kimleng Jie Pa beriaku awas dan gesit, mereka menjejak tanah untuk beriompat tinggi dengan lompatan ouw-liong-seng thian atau Naga hitam naik kelangit. Kaki mereka terangkat tinggi. Hingga senjata lawan lewat di bawahannya. Kam Jiak Hoei menyapu tempat kosong, ia lantas beriompat ke samping, inilah penjagaan diri untuk tidak diteruskan diserang kedua lawannya itu. Kimleng Jie Pa girang melihat lawan itu tetap berada di bawahannya, sembari berkelit tadi, mereka memang sekalian telah memutar tubuh mereka. sekarang untuk menyerang pula. Mereka hendak menggunai senjata mereka, Masing-masing sebatang Pie hiat-kwa, semacam senjata untuk menotokjalan darah. Ketika meraba kepunggung merekah tapinya keduanya menjadi sangat kaget^ hingga semangat mereka seperti terbang pergi. senjata mereka itu lenyap entah ke mana. Ketika itu Kiam Jiak Hoei sudah bergerak lebih jauh. selagi tubuh musuh turun, ia justeru menjejak tanah untuk mengampungi diri guna berada di atasan musuhmusuh itu dengan begitu, leluasalah ia melakukan penyerangan. Dua saudara Sian kaget dan keder. Tidak ada jalan lain, lekas- lekas mereka turun, Untuk itu mereka mengguna i tipu silat Cian-kin-Cwe. "jatuh seribu Kati".

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itulah ilmu membikin tubuh menjadi berat. Begitu kakinya nempel dengan tanah, tangan mereka di ulapkan ke atas, guna menangkis genggaman musuh. Sayang mereka kalah gesit. Coei-beng PatJauw sudah meny amber dengan cepat sekali Mereka menjadi sasaran, sambil menjerit tubuh mereka roboh terguling. Hebat keduanya itu menjerit sian Wat roboh punggungnya dan pinggang ke pundak. darahnya memancur, seketika juga dia melayang jiwanya, sian Couw masih dapat berkoseran di tanah cuma sebentar, dia pun terbang jiwanya. KamJiak Hoei panas hatinya. "Dia berkelahi bukan cuma mengandaikan gaetannya itu, selagi mengayun tangan kanannya, tangan kiri nya turut meny amber juga, tangan kirinya itu menggenggam dua belas batang pa ku Boen-sim teng yang telah direndam dalam racun, maka semua paku itu, asal mengenai darah, lantas racunnya menjalar ke teng gorokan, untuk Menutup jalannya napas, sedang gaetannya nancap di punggung. Jeritan dua saudara itu menyeramkan terdengarnya, siapa yang nyalinya kecil, dia dapat bangun bulu romanya. Hebat." kata Tiong Hoa dalam hati, Beginilah dunia Kang ouw di mana orang main saling balas. Di tempat begini tak dapat aku berdiam diri lagi..." Dengan sendirinya ia menjadi hendak mengundurkan diri siangsiang. Selagi si anak muda ngelamun itu, sebuah tangan yang halus meraba pundaknya. Tangan itu bergemetar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perlahan, ia lantas menoleh. ia tahu itulah tangannya Lee Hoen, kawannya. ia lantas melihat wajah orang, yang seperti giris, ia bersenyum kepada nona itu, maksudnya membilangi tak usahlah si nona takut. Lee Hoen giris hatinya setelah ia menyaksikan tindakan terlebih jauh daripada Kam Jiak Hoei. Anak berbakti ini, yang menuntut balas untuk ayah-bunda serta semua anggauta Keluarganya, sudah membiarkan dirinya dipengaruhi dendamnya yang hebat itu, dia menghampirkan kedua mayat musuhnya, ia menyimpan senjatanya di pundaknya, sebagai gantinya ia menghunus sebuah golok pendek. dengan itu dengan kesehatan luar biasa dia membacok ke batang leher orang bergantian, guna memutuskan kepala musuhmusuhnya, terus kedua kepala itu diikat menjadi satu, diikat dengan rambut kepalanya masing-masing terus diangkat tinggi. ""Ayah, ibu" anak ini lantas dongak dan memuji, "anak harap ayah dan ibu berdua di dunia baka suka menutup mata ayah dan ibu, anak telah membalaskan sakit hati ayah dan ibu" Sedih terdengarnya suara anak muda itu, Boleh dibilang baru selesai KamJiak Hoei bersembahyang itu lantas orang mendengar seruan yang nyaring sekali, yang nadanya seram. seruan itu kembali memecah kesunyian sang malam yang baru saja pulih. Lantas setelah itu terlihat sesosok tubuh manusia lari kearah KamJiak Hoei, lantas berhenti didepan anak muda itu. Jiak Hoei melihat orang bergerak sangat cepat, ia tidak takut, Bahkan ia lantas mengawasi tajam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang itu bertubuh besar dan kekar kepalanya lanang sebab tak ada rambutnya selembar ^uga Dia mempunyai leher yang panjang serta mulut yang lancip. hingga terlihatnya mirip cecongor serigala Mukanya bengis sekali. Dengan mata yang galak. dia mengawasi si anak muda, yang masih memegangi kepala musuh-musuhnya. Lantas dia tertawa, suaranya sangat tak sedap. bahkan menyakitkan kuping. "Sayang sekali aku si orang tua datang terlambat." dia kata seram, " Dengan begitu aku membikin kesampaianlah cita-citanya seorang bocah, seumurku, aku si orang tua tidak sudi melayani orang muda, akan tetapi murid-muridku telah dibunuh, aku mesti menuntut balas." Kam Jiak Hoei tahu siapa orang tua itu. yalah Boe eng Hoei Long, ia jeri juga, Meski begitu, ia tidak mengetarakan bahwa ia takut, malah sengaja ia tertawa. "Kata-katamu ini terlalu dipaksakan, Khioe Loocianpwee." ia kata, "Boanpwee mendendam sakit hati untuk sembilan belas jiwanya orang-orang sekeluarga ku. Aku menjadi anak mustahilkah tak dapat aku menuntut balas? Umpama kata keadaan kita terbalik, yaitu loocianpwee menjadi aku, bagaimana loocianpwee bakal bertindak?" Tidak disangka Khioe Cin Keen bahwa ia bakal ditanya begitu rupa, ia menjadi melengak. Tapi ia panas hati maka ia tertawa seram. "Kau pandai sekali memutar lidah anak muda" katanya, " Enak sekali aku mendengar kata-katamu ini Tapi kau mesti ketahui, aku si orang tua, syarat hidupku

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yalah orang tidak mengganggu aku, aku tidak mengganggu orang. orang telah membinasakan ahliwaris ilmu silatku mana dapat aku menyabarkan diri? Maka itu bocah, kau serahkanlah jiwamu" Kam Jiak Hoei juga panas hatinya, Dia tertawa dingin. Jikalau loocianpwee tak mengerti priha1 perikebenaran dan loocianpwee hendak memperkosa keadilan, baiklah aku si orang muda terpaksa mesti mengiringi." Sebagai penutup jawabannya itu anak muda ini melemparkan dua kepala orang di tangannya untuk sebagai gantinya mengeluarkan senjatanya, lantas dengan itu ia melakukan penyerangannya. Mengbadapi musuh kesohor, ia berlaku cepat dan bengis. Sebagai orang tua, Khioe Cin Keen mengalah selama tiga jurus, Lebih dulu ia menyampokjatuh kepalanya Kimleng Jie Pa, terus ia mundur tiga tindak. dengan begitu hoei-jiauw si anak muda tak mengenakan tubuhnya. Ketika itu rembulan muncul dari antaraalingan awan, cahayanya permai sekali, membuatnya sang jagat yang tadi guram menjadi terang. Lie Tiong Hoa melihat Khioe Cin Keen mundur hingga serangan hebat dapat dihindarkan dengan mudah ia kagum untuk Iiehaynya Boe eng Hoei Long. "Pantas dia kesohor." pikirnya. Karena ini pun ia menjadi insaf bahwa ilmu silat tak ada batasnya, orang Iiehay ada yang melebihkannya, Tidak kecewa orang she Khioe ini pun dijuluki Thian Gwa It shia.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Segera lewat tiga jurus, maka Khiue Cin Keen terlihat mulai dengan perlawanannya. segera juga Tiong Hoa menjadi kaget, Gesit luar biasa, habis diserang, Boe-eng Hoei Long mencelat ke belakang si anak muda she Khoi, julukannya Boe-eng Hoei Long berarti serigala terbang tanpa Bayangan, julukan itu tepat dengan kegesitannya itu. Dari belakang ada meluncurkan tangannya untuk menotok. Inilah yang membikin orang she Lie itu kaget. Kam Jiak Hoei menyerang dengan gaetannya, tetapi gaetan itu menempel di tangan musuh. Dia kaget dan bingung, Mendadak dia merasakan telapekan tangan nyeri sekali tidak tempo lagi, senjatanya itu terlepas. Lantas terdengar suara seram dari Boe eng Hoel Long, yang mengulangi serangannya, ia menyerang seraya mengajukan tubuh mendesak dengan tindakan sin heng Bie hou Pou-hoat. Kam Jiak Hoei kaget bukan main hingga ia menjadi tidak berdaya. "Oh, sungguh aku tidak sangka sekali" tiba-tiba terdengar satu suara nyaring, yang keluar dari pepohonan lebat disamping mereka, Aku tidak sangka Boe-eng Koei Long yang namanya menggemparkan Rimba persilatan tetapi sebagai orang tua sudah menghina si muda, sungguh sangat tidak tahu malu." Hebat ejekan berikut dampratan itu. Mendengar itu, Boe-eng Hoei Lang lantas mengubah pikirannya. Kalau tadi ia ingin membinasakan KamJiak Hoei, sekarang ia cuma menotok jalan darah boen-hiat, setelah mana ia mencelat ke samping tiga kaki, terus ia menoleh ke tempat dari mana suara datang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Siapa di sana? "ia tanya, "siapa berani menghina aku si orang tua?" Teguran itu tidak memperoleh jawaban suara hanya munculnya seorang imam tua yang bermuka bengis serta seorang muda yang romannya tak kurang bengisnya, Melihas imam itu, Khioe cin tertawa lebar. "Pek Yang, berani kau berlagak di depan aku -.si orang tua" ia kata. "Sungguh kau sangat tidak tahu diri" Imam itu memang Kee-Iouw Mo Keen adanya, Dia muncul sambil bersenyum, dia membawa lagaknya sebagai ketua dari suatu partai Begitu lekas dia mendengar suaranya Khioe Cin Keen, tak dapat dia beraksi terus, Dia menjadi gusar seketika. "Khioe Cin Keen kau juga terlalu jumawa." katanya, membalas. "Baiklah, kini aku si orang she Pek ingin mencoba-coba kau yang dikatakan gesit hingga tak ada bayangannya. Benarkah kepandaian kau mengatasi Rimba Persilatan?" Khioe Cin Kee berlaku jumawa. Jikalau benar kau ingin cari mampusmu, itulah mudah." katanya. selama itu mereka sudah datang dekat satu dengan lain. mereka sama-sama menatap. mata mereka berani, roman mereka bengis menyeramkan. Selagi begitu dari lain arah muncul lagi dua orang, mereka berlari-lari mendatangi maka cepat tibanya mereka itu. salah seorang itu lari sambit berlompatan karena ternyata dia mengandal pada sebatang tongkat, hingga ada kalanya dia ketinggalan kawannya, lainnya waktu mereka berendeng.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lie Tiong Hoa melihat orang-orang baru itu ia menjadi girang. ia memang lagi mengharap- harap datangnya Cee Cit, sahabatnya itu maka melihat orang bertongkat itu terbukalah hatinya. Ketika ia mengawasi orang yang lainnya ia mengenali sin-beng sioe-soe Kim som. Dua orang itu menuju langsung ke arah Kam Jiak Hoei setelah tiba. Kim som mengawasi kepada dua orang yang lagi hendak mengadu jiwa itu, Kelihatannya dia mendongkol sekali ketika dia kata pada Cee cit. Coba kau tidak memaksa aku melayani kau main-main, tidak nanti muridku ini hilang jiwanya ditangannya Khioe cin Keen si telengas itu" Cee-cit mengawasi si anak muda, dia tertawa. "Setan tua she Kim, jangan kau terburu naps u" katanya wajar, "Aku si orang she Cee tidak mempunyai guna lainnya kecuali mataku yang lihai Aku langsung tahu murid mustikamu ini tidak mati." ia lantas membungkuk. untuk menotok tiga kali di punggung Kam Jiak Hoei. Boleh dibilang hanya sejenak. pemuda she Kam itu terlihat bergerak. lalu tubuhnya berlompat bangun. Di lain pihak Kee-louw Mo-koen terdengar mengeluarkan suara tertahan, tubuhnya terhuyung tiga tindak. Dengan cepat dia telah beradu tangan sembilan kali dengan Boe-eng Hoei-long- Khioe-cin-koen, kesudahannya dia kalah unggul sedikit. Satu jurus, "san-lauw tee-tong, atau Gunung guncang, bumi bergerak dari Khioe-Cin-koen, membuatnya mundur itu, terus dadanya terasa sesak dan mukanya menjadi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pucat sekali. Dia mencoba ber tahan diri, dengan mata tajam dia memandang lawaonya, dia kata sembari tertawa dingin. "Lagi tiga tahun maka aku Pek Yang, akan aku menagih pulang hajaran tanganmu ini." Khioe Cin Keen tertawa, "jangan kata tiga tahun, tigapuluh tahun juga aku akan menantikanmu Kau tentu tidak bakal berhasil." Mukanya Pek Yang menyeringai bengis, tanpa membilang apa-apa lagi ia berlalu sambil menarik tangannya In Loei, untuk menghilang jauh diantara sinarnya si Puteri malam. Khioe Cin koen mengawasi sebentar, terus sambil bersiul, ia lompat ke depan sin-beng sioe-soe bertiga, Dia bergerak sangat gesit dan lincah, hingga Tiong Hoa kata dalam hatinya "Apakah namanya ilmu ringan tubuhnya ini? Aku tidak melihat pundaknya terbangun atau kakinya bergerak. tahu-tahu dia sudah datang dekat." Dasar masih kurang pengalamannya, hatinya pemuda ini gampang tergerak sesuatu yang masih asing untuknya. Gurunya mengajari banyak padanya hanya teori belaka tanpa contoh kenyataan, benar ia melatihnya tapi kurang sempurna, Maka sekarang ia berpikir keras. Tapi setiap yang ia lihat lantas menarik perhatiannya. Di sini kembali ia menyaksikan hebatnya sepak terjang orang-orang Kang ouw. Khioe Cin Keen mengawasi Kam Jiak Hoei, yang berdiri sehat waras di samping Kim som, ia heran, parasnya pun berubah, ia kata dalam hatinya:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Siapakah ini dua orang? cara bagaimana mereka dapat membebaskan totokanku Pian-hoan Co-hiat Cioe noai ini? Aku tahu yang mengerti ini hanya beberapa orang saja..." Kim som melihat orang heran, ia tertawa sambil mengurut-urut kumis yang masih pendek, la kata: "saudara Khioe, tak usahlah kau capaikan hati memikirkan kita sebenarnya sudah lama kita saling mengagumi, Cuma sebegitujauh belum sempat kita bertemu satu dengan lain" Matanya Boe eng Hoei Long mendelik, "Apakah itu saling mengagumi?" katanya bengis, "sebenarnya siapakah kamu?" Kim som tidak murka, dia tertawa pula. "Tak heran, saudara Khioe tak berani," katanya sabar "sudah lama kau tinggal di pulau belukar, penglihatanmu sedikit, pendengaranmu kurang sebaliknya orang gagah di Tionggoan banyak bagaikan pasir. Aku? Melainkan mirip seorang serdadu biasa, Cuma karena orang Rimba persilatan menyintai aku mereka menyebutnya aku sinheng sioe soe. Namaku yang rendah adalah Kim som, dan tuan ini adalah saudara Cee Cit," Mendengar nama orang, Khioe Cin Keen terperanjat tapi dia lantas tertawa lebar. "Aku mengira siapa, tak tahunya kau." katanya nyaring. "Bagus, bagus, Malam ini aku si orang tua bakal belajar kenal dengan ke^esitanmu yang di sohorkan. Aku ingin melihat apakah kau dapat main-main beberapa jurus dengan Boe Eng sin-hoat."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Boe Eng sin-hoat, atau ilmu tanpa bayangan, adalah ilmu kegesitan Khioe Cin Keen yang membuatnya memperoleh juluka nnaitu Boe-eng Hoei Long si serigala Terhang Tanpa BayanganMeski ia pernah dengar nama orang tersohor sekali, orang she Kioe ini tetap membawa lagak terkeburnya, sedikitpun ia tak memandang mata pada sinheng sioesoe, selesai berkata itu, ia juga melihat Cee Cit. ia tetap tak menghiraukannya. Cee cit tak puas menyaksikan tingkah orang itu Mendadak ia berseru, tongkatnya ditekankan ke tanah, maka mencelatlah tubuhnya, berbareng dengan mana sebelah tangan terulur panjang. ia telah mengguna Hoet Wao Cioe. Tangan kera-terbangnya itu. Khioe Cin Keeo berlakujumawa sekali akan tetapi ia waspada, maka ia terkejut melihat gerakannya Cee Cit itu, ia mengenali ilmu silat itu dan merasa orang dapat menggunakannya secara mahir sekali. Lekas-lekas ia berkelit ke kanan, dengan tubuhnya berada di sisi si orang she Cee, segera ia membalas menyerang, dengan lima buahjerijinya ia menjambret ke pundak orang. Cee cit melihat gerakan orang, ia terperanjat. Memanglah cacadnya ilmu silatnya itu, kalau tangan kanannya dilancarkan, tangan kirinya mesti diciutkan, ia tidak menyangka orang mengenal kelemahannya itu. Kalau ia kena disamber, bukan saja tangan kirinya tak bakal dapat diulur lagi, darahnya pun bakal mandek jalannya, Maka lekas-lekas ia berkelit. Khioe Cin Keen juga menyerang sangat cepat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jilid 8 : Cinta kasih bunga berjiwa Kim som melihat kawannya terancam bahaya, tanpa membilang apa-apa lagi ia maju menyerang dengan duadua tangannya, karena orang membelakangi ia, ia tak perduli bahwa ia menyerang punggung. Benar-benar Boe-eng Hoei Long liehay sekali, Dia dapat berkelit dari serangannya sin b eng sioe-soe. Hanya dengan begitu, ia membatalkan serangannya terhadap Cee Cit. Ia tertawa lebar, terus ia balik menyerang orang she Kim itu, bahkan ia berlaku keras sekali, hingga Kim som merasa ia seperti terkurung lawannya itu, yang bergerakgerak gesit bagaikan bayangan yang berkelebatan.. Cee-cit maju maju pula, maka itu berdua Kim som ia melayani lawan yang tangguh itu, Meski mengepung berdua, mereka tidak dapat berbuat banyak, orang terus dapat menyingkir dari pelbagai serangan mereka. Cuma karena ia diserang lebih dulu, Khioe Cin koen tak dapat merebut kepala angin-... Kam Jiak Hoei berdiri menjublak menyaksikan gurunya berdua mengepung guru musuhnya itu, ia tidak menyangka orang demikian gagah, pantas KimlengJie Pa terkebur dan galak. sudah gurunya kosen, guru itu pun melindungi mereka. Malam itu, kecuali bintang banyak. rembulanpun baru muncul Maka nyata sekali terlihat ketiga orang bertempur seru itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lie Tiong Hoa terus menyaksikan pertarungan itu, ia dapat melihat perbedaan di antara mereka itu, Benar Khioe Cin Koen terus bergerak dengan gesit akan tetapi Cee Cit berdua Kim som juga tidak terlihat bingung mereka ini tetap tenang, hanya setiap serangan mereka selalu menemui kegagalan. Lama-lama hal itu akan buruk juga akibatnya nanti. "Aku telah berjanji hendak membantui Kim Som, sekaranglah waktunya," ia berbisik pada Lee Hoen. " Karena itu aku harap nona tetap bersembunyi di sini jangan kau sembarang bergerak." Lalu tanpa menanti jawaban lagi ia lompat turun terus ia menghampirkan Khioe Cin Koao untuk segera menyerang. Khioe Cin Keen bermata jeli, ia melihat bayangan berkelebat, karena menduga kepada musuh. ia tidak menangkis, hanya berbareng berkelit ia melesat terus kearah KamJiak Hoei untuk membekuk anak muda yang lagi berdiri diam ituJiak Hoei kaget tetapi dia sudah kena dibekuk. Sambil tertawa terbahak-bahak. Boe-eng Hoi Long terus lari bersama orang tawanannya itu, Tepat dengan julukannya, ia lari cepat sekali masuk kedalam rimba. Cee cit dan Kim som terkejut sambil berteriak. mereka mengejar Tiong Hoa melengak. inilah ia tidak sangka. ia mau menolongi kawan, siapa tahu demikian rupa akibatnya. Phang Lee Hoan melihat kejadian itu ia lompat turun dari tempatnya sembunyi. Ketika ia datang dekat si anak muda, anak muda itu masib melengak, ia tertawa geli.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Buat apa berdiri menjublak saja," sinona menegur, "Tak ada gunanya itu, Lebib baik kita menyusul mereka. Tiong Hoa sadar karena ditertawakan, ia lantas lari menyusul bersama nona itu. Ketika mereka melintasi rimba di depan panggung Ie Hoa Tay itu dan sampai di sebuah tempat tinggi d iba wah mana ada jurang, mereka tidak lihat sekalipun bayangan orang. cuma sana angin yang menyamber-nyamber muka mereka. Melainkan dikejauhan nampak kota Kimleng diwaktu malam di mana api terang di sana sini dan darimana pun terdengar samar-samar suara tetabuan dan nyanyian. Lama berdua mereka berdiri menjublak di tanjakan itu, akhirnya dengan lesu mereka berjalanpulang kedalam kota. Mereka melihat kota ramai sekali, banyak pedagang, banyak pula penduduknya yang berpesiar, Mereka kembali terus ke Thian siang Kie. Tiong Hoa tidak gembira. "Aku ingin pergi ke luar guna mencari tahu tentang mereka itu," kata ia pada si nona, "Aku minta nona menaati di sini, jangan kau pergi kemana-mana." Lee Hoen tak tenang hatinya, Dalam tempo yang cepat ia jadi jatuh hati terhadap pemuda ini. ia tidak dapat mencegah tapi ia pun tak dapat melegakan hatinya, Maka ia kata: "Kau tidak mempunyai senjata untuk membela diri, saudara Lie, kau baik bawa gedangku ini." Si anak muda menggoyangi tangan. "Aku rasa tak perlu aku membekal senjata." katanya tertawa, "Dengan membawa pedang aku justeru mudah menarik perhatian semula kurcaci. Untuk kau, nona,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terlebih baik lagi kau mempunyai senjata untuk melindungi dirimu." Lee Hoen tidak dapat memaksa. "Baiklah, asal saudara lekas pulang," katanya. Nona ini menghela napas melihat kepergian orang, ia pun merasa, ia menepas airmata, pikirannya kusut dan letih, ia masgul sekali, ia ingat ibunya pernah membilangi ia bahwa kalau dapat ia hendak dijodohkan pada seorang pelajar, supaya ia jangan mendapat peruntungan seperti ibunya, yang saban-saban di tinggal suaminya yang senantiasa repot dan sering menghadapi bahaya, sampai paling belakang suami itu-- yaIah ayahnya--tak pulangpulang. Hingga sekarang ia memperoleh kenyataan ayahnya itu sudah terbinasa di tangan manusia licik. ia pikir, kalau ibunya tahu ia memilih Tiong Hoa, seorang Kang ouw, mungkin ibunya berduka. Tapi, apa daya? ia telah menyintai pemuda she Lie ini. Dengan mata mendelong, Lee Hoen mengawasi rembulan dari jendela kamarnya. Masih pikirannya bekerja, ia membiarkan airmatanya meleleh di kedua belah pipinya, sang angin membuat main rambutnya, dan sang rembulan mencari tampangnya yang cantik. Tiong Hoa sendiri keluar dari hotel dengan tindakan cepat, dengan cepat juga ia jalan telasap telusup di antara orang banyak. Begitu ingin ia lekas tiba di luar kota, ia tidak tahu bahwa disaat ia keluar dari pintu hotel, ia sudah dilihat seorang yang terperanjat melihat padanya sampai orang itu mengeluarkan seruan tertahan, selanjutnya ia dibayangi orang itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa ketarik dengan kota Kimleng yang beda dari kota Yan-khia. Di samping itu ia menjadi bingung, Kemana ia mesti cari Cee Cit? Tadi saja saudara itu bersama Kim som sudah tidak keruan parannya. "Ah, biarlah sudah..." pikirnya kemudian, "Dia gagah, tidak nanti dia dapat celaka, Bukankah dia berada bersama Kim som? Mungkin dia bakal segera kembali dan mencari aku Thian siang Kie." Kesangsian ini membikio ia batal menuju terus ke luar kota, ia juga lantas mendengar nyanyian yang mengiringi tetabuan, ia bertindak ke arah suara itu, maka sebentar kemudian tibalah ia di tepi sungai Cin Hoay Hoo. Di sungai itu terlihat banyak perahu pelesiran yang terpanjang sedang apinya di pasang terang-terang, Tetabuan dan nyanyian keluarganya dari tiap-tiap kendaraan air itu. oleh karena hatinya tertarik sangat, Tiong Hoa berdiri ditepian. Di bagian hulu sungai Gin Hoay Hoo terpecah dua yalah bagian baratnya asal sungai Lie sooi, dan bag ia n timurnya sungai Kee fong sampai di gunung Hong san barulah bertemu menjadi satu terus dari pintu kota Tongcee masuk kedalam kota di mana dia mendapat namanya yang kesohor itu, itu terletak dekat gereja Hoe CoeBio, kuilnya Khong Hoe Coe, di atasannya yaitu penyeberangan Tho-hoa-touw, dan di bawahannya jembatan Boen Tek Kio. Ketika Tiong Hoa berdiri di tepian itu- waktu sudah lewat jam tiga dan bulan sisir sedang permainya, Di waktu begitu, orang masih terus bersenang-senang, Mungkin itu lah yang disebut suasana sorga....

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa tengah tersengsam kapan ia di sadarkan suara tercebur keras, lantas dari beberapa buah perahu di dekat situ nampak kepala orang pada muncul dujendela. ia pun lantas mendengar teriakan kaget: "Orang kecemplung" ia segera menoleh. Maka ia melihat satu orang lagi bergulat dengan kematian, Beberapa kali nampak kepala orang itu muncul, lalu selam lagi, hingga terlihat rambutnya saja. Menampak demikian, tanpa berpikir lagi, pemuda ini lompat untuk menolongi. ooooo BAB 11 BEGITU ia menceburkan diri, Tiong Hoa lantas bergulat, dengan sang air, saking ingin menolong orang, sampai ia lupa babwa ia tak pandai berenang. Lantas ia kena tonggak air, syukur di bagian situ kali tak dalam, ketika kakinya nempel dengan dasar kali. ia dapat menjejak dan timbul pula tangan bebas ia sampai pada orang yang bercelaka itu, terus ia menjambret niatnya untuk diseret ke tepian, Dengan kedua tangannya ia pegang iga orang itu, untuk mengangkat tubuhnya. Begitu dia terangkat dari dalam air, orang itu membuba kedua matanya, Tiong Hoa kaget sekali, ia merasakan mata orang sangat tajam dan bengis, Dengan mendadak ia menjadi bercuriga. Habis melek. orang itu meram pula seperti ia mau pingsan. Justeru itu mulutnya terpentang dari dalam mulut itu menyemprot air kali mengenangi muka si anak muda, Tiong Hoa terkejut tak dapat ia membuka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

matanya. semprotan keras dan mendatangkan rasa nyeri, ia menjadi heran. Lantas ia menduga bahwa ia lagi ditipu, hanya ia tidak kenal orang itu, Tengah ia gelagapan dan sukar bernapas itu, mendadak orang itu menekan kedua pundaknya, buat membikin ia terbenam kedalam air. Sementara itu, meski air tidak deras mereka sudah hanyut beberapa tombak hingga mereka terpisah dari perahu petesira n yang terdekat tadi. Masih terdengar orang menjerit-jerit akan tetapi tidak ada yang terjun untuk menolong i. Tiong Hoa sadar tapi ia tetap berkuatir, sekarang orang memegang lehernya untuk di cekek. Tentu sekali ia lantas sukar bernapas, Mukanya pun penuh air, Dalam keadaan begitu, hatinya menjadi panas ia mau menolong dirinya, Maka ia lantas meraba Kedua sikut orang itu, guna menotokjalan darah keng-kie. Karena tidak bisa bernapas, tenaganya berkuraog, tetapi la mengerahkan sebisa-bisanya. Orang itu pun kaget, ia lagi mencekek. tidak bisa ia membela diri, ia merasakan kedua lengannya sakit, lalu kaku, lalu lemas jerijinya si anak muda nempel seperti gaetan yang keras dan tajam. ia menahan sakit, ia mencekek terus, sekuatnya bisa. Tiong Hoa pun bertahan terus, ia juga mesti menjaga agar air tak masuk ke hidung atau mulutnya. ia mengeraskan lehernya, ia mengerahkan tenaganya. Tak lama. ia merasa cekekan menjadi lebih kendor, lalu kendor dan terlepaslah tangan orang itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lekas-lekas ia timbul, ia masih mendengar suara nyanyian lantas ia tak ingat akan dirinya, ia tidak tahu berapa lama sang waktu sudah berjalan lalu ia merasa nyaman. "Apakah aku berada diatas perahu pelesir itu?" ia tanya dalam hati, ia belum mau membuka matanya, Telinganya lantas mendengar suara nyanyian yang merdu. suara tetabuan menyertai nyanyian itu ia membuka matanya ketika hidungnya menyedot bau harum. "Ooh..." ia berseru tertahan, saking heran, ia mendapatkan tubuhnya rebah diatas pembaringan ampar tersulam dan kelambu yang berkembang indah. Ruang pun lengkap perabotannya serta indah-indah juga. Dua batang lilin menjadi penerangnya, di depannya ada berduduk seorang pelayan perempuan umur kira dua belas tahun tapi dia lantas berdiri dengan terperanjat rupanya dia lagi ngelenggut dan mendusin dengan tibatiba, terus dia lari keluar sambil memanggil-manggil, "Nona, nona, dia mendusin-" "Ah, rupanya aku ditolongi oleh salah seorang nona tukang nyanyi, " pikir Tiong Hoa. ia lantas ingat pengalamannya. Lehernya juga masih terasa sedikit nyeri, ia hanya tidak mengerti, kenapa orang hendak mencelakai ia. Rupanya sengaja orang itu ceburkan diri, guna memancing dirinya, Ceroboh, ia memperoleh pengalaman ia menjadi insaf akan liciknya orang. "Benar gila " katanya seorang diri, tertawa. Mendadak ia terperanjat Baru sekarang ia mendapat tahu bahwa ia rebah tanpa pakaian-

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mukanya menjadi merah, hatinya berdenyutan. ia merasa malu sendirinya, inilah, rupanya, yang menyebabkan si pelayan kabur Ia melihat ke sekitarnya, ia menjadi putus asa, ia tidak mendapatkan baju atau celananya. Kecuali seprei atau selimut, tidak ada barang lainnya untuk menutupi tubuhnya itu. "Celaka..." ia mengeluh. Tidak lama, maka ia mendengar suaranya pelayan tadi, la juga mendengar tindakan kaki, bukan dari satu orang, ia mengawasi ke arah pintu. Budak tadi muncul bersama seorang nona, yang berjalan belakangan itulah seorang nona cantik pakaiannya putih bersih, wajahnya tersungging senyuman. Nona itu bertindak terus ke muka pembaringan. Kembali ia merah mukanya, sedang d idalam hatinya ia kata: "Dirumah pelesiran ada nona cantik begini...." Nona itu lantas duduk di bangku depan pembaringan. "Pastilah tadi kongcoe kaget." ia berkata, suaranya halus dan merdu. Mukanya Tiong Hoa menjadi merah pula. "Terima kasih, nona, yang kau telah menolong aku." ia berkata. "Pasti aku akan membalas budimu ini." Nona itu merah wajahnya. "Kongcu tercebur di kali, pakaianmu basah, maka aku telah menyuruh orang mencucinya." kata ia. "Dis ini tidak ada pakaian pria, terpaksa kongcu harus menanti sampai besok pagi, Aku telah menitahkan orangku membeli seperangkat pakaian- Menyesal, sekarang kongcu harus menanti saja..."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Ooh, nona, aku membikin kau pusing dan berabeh." kala Tiong Hoa, "terima kasih." Dengan sendirinya anak muda ini malu sekali. Pastilah si nona yang telah meloloskan pakaiannya yang basah itu. Baiknya ketika itu ia masih pingsan, Kalau tidak, taktahu kemana mesti ia menaruh mukanya.... Tanpa merasa mata Tiong Hoa bentrok dengan sinar mata si nona, ia melihat pula bagaimana kecantikan nona itu, Hanya ia mendapatkan pada itu ada sinar kedukaan, ia tidak melihat gerak gerik dari seorang bunga berjiwa, ia mendapatkan sebuah muka yang halus dan bersih, tak ada sedikit juga sinar kegenitan. Karena lihat sendirinya ia menggeser tatapannya, hingga sekarang ia melihat si budak perempuan. Nona cilik itu tertawa geli. "Hus." si nona menegur, " Lekas siapkan bubur serta beberapa rupa sayurnya buat kongcu bersantap." Budak itu menyahut perlahan, lantas dia mengundurkan diri. Tiong Hoa sendiri tiba-tiba mengasi dengar suara kaget perlahan, tangannya lantas meraba-raba kasurnya, ia seperti kehilangan sesuatu. Si nona mengawasi, ia bersenyum. ia bertindak ke meja rias di samping pembaringan ia menarik laci yang kecil, untuk mengeluarkan sejilid buku kecil dengan kulitnya kulit kambing, Lalu ia kembali. "Apakah kongcoe mencari buku ini?" ia seraya mengangsurkan buku itu. Tiong Hoa lantas menyambut dan lihat itulah buku hadiahnya Thian Yoe sioe, ia merasa lega bukan main.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Buku itu pun kering suatu tanda si nona telah menggangganginya. Maka ia puji kecerdasan nona itu. Menghadapi nona ini, tiba-tiba Tiong Hoa ingat Cek In Nio. Keduanya sama-sama cantiknya, Bedanya adalah si nona Cek pandai ilmu silat, Baginya In Nio adalah nona yang tak boleh tak ada, sekarang di depannya ini, ada nona yang budinya besar, yang tak dapat ia segera membalasnya. Kenapa nona ini menolong aku? pikirnya, ia lantas mendapat jawabannya, ia melihatnya dari sinar mata si nona sinar yang luar biasa, Maka diam-diam ia menghela napas. "Bagaimana sekarang?" pikirnya. "Terserahlah.-." "Meskipun aku bodoh tetapi aku mengerti inilah kitab ilmu silat, si nona berkata, "sedari masih kecil aku gemar ilmu silat itu, sayang aku tidak pernah mendapatkan gurunya, maka itu pertemuan kita ini adalah jodoh kebetulan sekali, Aku harap kongcu nanti suka memberi petunjuk satu dua padaku. Karena ia menyebutkan jodoh. muka si nona bersemu dadu. "Ah, aku gila nona," kata Tiong Hoa tiba-tiba, "Aku sampai lupa menghaturkan terima kasih padamu sebenarnya aku mengerti sedikit sekali tentang ilmu silat, maka itu mana berani aku menunjuk sesuatu pada nona." Nona itu bersenyum, ia tidak mengatakan apaapa. Kemudian si pemuda tanya, "Apakah aku boleh mendapat tahu she dan nama yang mulia dari nona?" Nona itu bersenyum. "Aku she Ho, namaku Ban in." sahutnya. "Apakah kongcu pun suka memperkenalkan diri kongcu?" "Ooh Aku Lie Cie-tiong .."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Nona itu agaknya heran, tapi ia tertawa. "Benarkah kongcu bernama Lie Cie-tiong?" ia tanya, "Dalam ngelindur tadi, aku mendengar disebut-sebutnya kata-kata Hoa." Muka si pemuda merah. "Aliasku yalah Tiong Hoa." ia kata, "Aku tidak nyana nona mendengar itu." Ketika itu budak tadi kembali dengan barang makanan. Si nona berbangkit untuk menyambuti, terus ia berkata, "Kongcu, Kau rebab saja nanti aku yang menyuapi." "Mana dapat aku memberabehkan nona." Kata si pemuda. Si pemudi tertawa, ia tidak membuang apa apa. Hanya ia memegang sumpitnya, untuk mulai menyuapi. Mau atau tidak. Tiong Hoa membuka mulutnya. ia lantas merasai santapan yang lezat. Beberapa kali sumbu lilin meletuk seperti kembang api. Tiong Hoa makan sambil berbicara dengan si nona, ketika ia sudah cukup makan, pembicaraan masih dilanjuti, sampai terdengar ayam-ayam jago mewartakan datangnya sang fajar, ketika itu lilin tinggal sisanya, hampir padam.. Dari mulut Nona Ban in, Tiong Hoa mendapat tahu kejadian terlebih jauh, peristiwa itu disaksikan si nona yang kebetulan bersama adiknya tengah melayani seorang tetamu she Lin, ia ditolong i ketika ia mulai pingsanMusuhnya itu juga ditolong i tetapi jiwa dia keburu melayang, orang she Lin itu sebal melihat romannya si orang jahat, mayatnya dilemparkan pula ke sungai,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang she Lin itu menolong i menekan perutnya, untuk mengeluarkan airnya, lalu mengurutinya. Kemudian si nona menyatakan herannya pemuda ini sadar terus pulih kesehatannya. Sementara itu hati Tiong Hoa bercekat, ia kuatir kitabnya telah dapat dilihat si orang she Lin, ia mengawasi kitab itu. si pemudi melihatnya, dia tertawa. Jangan kuatir, kongcu." dia kata, " kitab ini cuma aku seorang yang mengetahuinya. Aku tahu, meski aku bukan orang Rimba Persilatan, kitab ini mestinya penting sekali, inilah kitab yang orang sukar mendapatkannya, dan kalau apa lacur kitab ini dapat di lihat lain orang, bahaya bisa datang karenanya." Tiong Hoa heran, ia terperanjat. Luar biasa Ban in mengetahui itu. ia mengagumi si nona, yang rupanya pandai melihat selaian, "Mana dia tetamu she Lin itu?" kemudian ia tanya. Mukanya si nona merah. "Ia sekarang berada di kamar adikku," sahutnya. "sebentar dia datang." Tiong Hoa berdiam hatinya bingung, Bagaimana kalau orang datang ia masih tidak mempunyai pakaian? ia toh dapat rebah terus di pembaringanBan in mengawasi sambil bersenyum, ia dapat menerka hati orang. Tiong Hoa melihat muka si nona, mukanya merah sendirinya. Tak lama pelayan tadi muncul dengan satu bungkusan di tangannya, dia meletakinya di atas pembaringan. "Inilah pakaian yang baru dibeli," kata si nona, lantas bersama pelayannya ia memberi hormat untuk terus mengundurkan diri, " Tiong Hoa bergerak cepat, untuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berpakaian, kemudian ia membersihkan muka dan memberesi rambutnya. Ketika ia berdiri di muka kacarasa, memandang wajahnya sendiri ia berdiam untuk berpikir. "Entah bagaimana dengan Kwie Kian cioe dan sinbeng sioe-see," pikirnya, ia lantas ingat saudara angkat itu berdua "Bocah dengan Kam Jiak Hoei, dia dapat ditolong atau tidak Boe-eng Hoei Liong begitu liehay, apakah dia dapat disusul? Tentulah Khioe cin-koen dikejar terus sampai disarang nya. Di manakah sarangnya itu? jikalau aku tahu, harus aku susul mereka. Kemudian ia menjadi masgul, ia telah tinggal Lee Hoen dirumah penginapan pasti nona itu bergelisah menantikan ia tak kunjung balik, ia tidak meny intai nona itu, si nona yang seperti menyintai sendiri padanya. Ia cuma telah berjanji akan mengantari nona itu ke TOklok. ke guanya Yan Loei di Yan Kee Po, sekarang ia tidak kembali, bisa-bisa si nona mencurigai ia seperti pendusta. Kalau benar, sulit ia memberikan keterangannya. Di matanya sudah ada Cek In Nio dan sekarang Ho Ban In, ia menyukai nona Ho, bukan terutama karena cantiknya, hanya di sebabkan pertolongannya dan kebaikan hatinya. Ia merasa berhutang budi dan mesti membalasnya, Kalau Ban In jahat, ia bisa di celakai atau kitab silatnya dikangkangi, maka bingunglah ia. Bagaimana ia harus memilihnya. Ah. kenapa aku jadi begini? Akhirnya ia tanya dirinya, tapi ia dapat menguasai diri, ia mengambil keputusan, Biarlah, segala apa terserah pada sang waktu dan keadaan Asal aku benar buat apa aku pusingi diri

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia tidak usah berpikir lebih lama pula, Kupingnya lantas mendengar tindakan kaki sedikit berat, lalu di ambang pintu muncul seorang pria usia pertengahan dengan baju panjang biru, pundak dia dadanya lebar mukanya persegi, romannya gagah. Dia memelihara kumis dan jenggot dan matanya bersinar tajam, Di belakangnya mengikut Ban in serta seorang nona lain yang cantik yang sujennya manis, ia lantas menduga kepada si tetamu she Lin maka ia segera menyambut. Orang itu sudah lantas tertawa dan kata nyaring "Matanya Ban In jeli sekali, Memang saudara Lie tampan dan gagah, dia membikinnya Lie Tiang Keng malu sendirinya. Tiong Hoa menjura, sambil tertawa ia kata. "Tadi malam saudara Lim telah menolongi jiwaku, budi besar itu nanti aku ingat untuk selamanya." Tetamu itu tertawa pula. Tiong Hoa mendapat kenyataan Ban ln terus mengawasinya, ia jengah sendirinya. Memang di matanya Ban in, Tiong Hoa tampan seperti Phoa An- Karenanya si nona jadi tercengang, Didalam hatinya dia memuji "Sungguh ia tampan-" Diam-diam dia girang sekali. Lin Tiang Keng menarik tangan si nona di sisi Ban in, ia memperkenalkannya, "Inilah nona yang aku si orang she Lin mengenalnya, ialah nona Liw Wan Nio." Keduanya saling memberi hormat, Tiong Hoa kata ia senang dengan pertemuan ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kemudian Tiang Keng tertawa dan kata. "Kau gagah dan mulia, saudara Lie Bangsat itu cari niampusnya sendiri syukur saudara dapat bertahan dari cekekannya." Tiong Hoa heran. "Kenapa saudara tahu bangsat itu berpura menceburkan diri?" ia tanya. "Hal itu gampang diketahui kalau dia benar kelelap. mana dapat dia mencekek orang? Dia pun meocekek dijalan-dsrah ouw kiat, jadinya dia memang mengarah jiwa saudara Ya, saudara Lie." Tiang Keng menambahkan, "Kenapa saudara bermusuh dengan bandit air dari Kee-leng itu?" Tiong Hoa melongo. "Barusaja aku keluar dari kota raja." ia menyahut. "Tadinya belum pernah aku masuk dalam dunia Kang ouw, belum juga pergi ke wilayah Pa-siok. Mana bisa aku bermusuh dengan penjahat air dari Kee-leng? Apakah saudara kenal penjahat itu?" Orang she Lie itu mengangguk "Dia sebenarnya satu di antara Kee-leng Jie Kauw. Dialah Long-Kauw Tiauw Kiat-Dengan saudaranya, dia sebenarnya tak pernah berpisahan- Maka heran kakaknya, Hoan-kang-kauw Tiauw Eng, tidak ada disana, Aku bukan cuma kenal kedua perompak itu, bahkan lima tahun dulu, ketika aku lewat di Kee-leng, aku bentrok dengan mereka. Ada orang yang datang sama tengah di antara kita. tak sampai kita bertempur." Sembari menatap ia meneruskan "Mereka kenal saudara, kenapa dia mau membinasakannya? Inilah aneh. Ah mungkin Tiauw Kiat kena disogok lain orang, coba saudara ingat-ingat salama di tengah jalan, saudara pernah bentrok dengan siapa?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa menggeleng kepala, Benar-benar ia tidak ingat, Sampai disitu orang terus juga tidak menanyakan lebih jauh. Ketika itu di dalam kamar itu pelayan mengatur meja perjamuan, "Nona Ban in mengadakan perjamuan untuk menghilangkan kagetnya saudara Lie" kata orang she Lin itu kemudian- "inilah suatu hal yang membahagiakan seingatku belum pernah aku melihat Nona Ban-in melayani tetamu secara begini." Mukanya Tiong Hoa merah. Nona Ho melirik ia bersenyum, lantas ia tunduk. Begitu perjamuan di mulai Tiang Keng yang bicara paling banyak. Saban-saban dia tertawa, Tiong Hoa jengah, ia cuma bisa tersenyum. Wan Nio dan Ban In pun tertawa dan bicara banyak, Ban In melayani Tiong Hoa dengan telaten sekali. "Saudara Lie, aku minta janganlah kau mensia-siakau kebaikan nona Ban In," kemudian Tiang Keng kata, suaranya nyaring, "walaupun nona Ban ln berada ditempat semacam ini, ia sebenarnya putih bersih bagaikan kemala yang disimpan hati-hati. Biasanya ia manis seperti bunga-bunga tho dan lie dan dingin bagaikan es, baru hari ini sikapnya luar biasa, manis dan ramah sekali, jikalau aku si orang she Lin telah diberikan ketika, pasti sudah siang-siang aku melamarnya, sayang nona Ban-in memandang aku hanya sebagai tukang pelesir, lain tidak juga nona Ban In tak sembarang menerima budi orang. Saudara Lie, mudah-mudahan kau melindunginya baik-baik," Telinga Tiong Hoa menjadi merah, hatinya memukul.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Akulah orang biasa saja, mana aku berharga menerima perhatian nona Ban In begini rupa" katanya, Diam-diam ia melirik nona itu. Ban-in likat, lalu matanya merah, airmata nya mengembeng... "Hebat," pikir Tiong Hoa, Tidak ada sebab untuk ia tidak menyintai nona itu yang cantik dan manis, yang telah melepas budi terhadapnya, ia pun mau percaya Tiang Keng bahwa si nona bukan sembarang bunga berjiwa, Hanyalah, bagaimana ia dapat menerima nona itu, Toh ia merasa sangat berkasihan, Maka akhirnya ia kata: "Asal Nona Ban In tidak mencela kejelekan dan kemiskinanku." "Cukup, cukup sudah" Tiang Keng berseru memotong. "saudara Lie sudah menerima baik" Lantas dia memberi selamat kepada Ban in, siapa tunduk saja, kedua tangannya membuat main ujung batunya. Biarlah ia setangkai bunga, ia toh likat. Tengah orang bersuka ria itu, mendadak terdengar suara tertawa dingin di atas genting hingga semua orang kaget, tatkala mereka menoleh ke pintu, di ambang itu terlihat seorang usia kira empatpuluh tahun, yang romannya bengis dan matanya galak, menatap tajam kepada Lie Tiang Keng. "Aku kira siapa, tak tahunya Tiauw Loo-toe memberi kehormatan padaku dengan berkunjung ke mari." orang she Lin itu kata. "Sejak perpisahan kita di Keeleng, lima tahun sudah berselang sebenarnya aku sangat kangen pada kau, loosoe, silahkan masuk. mari duduk minum bersama." Memang orang itu Hoan kang-kauw Tiauw Eng si Ular naga Membaliki Sungai, salah satu dari Kimleng Jie kouw

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

. dua jago Kimleng, kakak dari Long-kauw Tiauw si Ular naga Gelombang. Tiauw Eng menyapu semua orang dengan sinar matanya yang bengis itu. "Lin Loosoe aku numpang tanya." kata ia dengan keras " kenapakah adikku mati?" suaranya keras... "Apakah benar dia telah dianiaya sahabatmu ini?" sekarang dia memandang bengis kepada Tiong Hoa seorang. Lin Tiang keng tertawa. Justeru itulah hal gelap yang membingungkan aku si orang she Lin dan sahabatku ini!." dia menjawab. "Tadi malam sahabatku jalan-jalan di tepian sungai Cio Hoay Hoo, Tiba-tiba adikmu itu sengaja membuang diri nya kedalam sungai, lalu dia berteriak-teriak berpura-pura minta tolong seperti juga dia kelelap, sahabatku ini berhati mulia tanpa memperdulikan diri bisa terancam bahaya ia lompat untuk menolongi. Kesudahannya sahabat ini benar-benar terancam bahaya maut, Adikmu itu sudah mencekek leher pada jalan darah auwkiat, Untuk menolong dirinya, sahabatku ini melakukan perlawanan. Apa lacur saudaramu itu terluka dan terbinasa karenanya, sahabatku ini juga ketolongan aku, jikalau tidak dia pasti lenyap jiwanya sebab dia telah pingsan, jikalau kau tidak percaya Tiauw Loosoe, kau periksalah lehernya sahabatku, sampai sekarang masih ada tapak jarinya adikmu itu. Sahabatku ini baru saja datang dari Yan-khia, dia tidak kenal adikmu kenapa adikmu itu menggunai akalnya itu hendak mencelakakan dia, apakah alasannya?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ditanya begitu Tiau Eng melengak. Tapi cuma sebentar, dan menyeringai. "Tidak, aku tidak percaya" katanya keras. "Biar adikku buruk. tidak nanti dia berlaku demikian licik terhadap orang yang dia tidak kenali " "Inilah justeru herannya" kata Tiang Keng sungguhsucgguh, "Kalau Tiauw Lo-soe tidak percaya sungguh sukar, meski aku mempunyai lidah, tidak dapat aku bilang apa-apa lagi. Tadi malam langit cerah dan rembulan permai sekali, di sungai Cin Hoay perahuperahu mundar mandir, ada banyak orang yang pesiar di sana ada banyak orang yang menyaksikan caranya adikmu terjun ke air. maka tak dapat aku mendusta. Baiklah Tiauw Loosoe pergi ke sana dan minta keterangan dari orang banyak itu, juga aneh yala h kamu sendiri, Tiauw Loosoe. Aku tahu kamu biasanya tak pernah memisahkan diri kenapa tadi maLam justeru , terbit onar itu justeru kau tak ada di sampingnya? Menurut aku, adikmu itu tentu telah dibujuk dan dianjuri orang lain, yang mencoba menggunai akal muslihat meminjam tangan orang melakukan pembunuhan" Tiauw Eng berdiam, parasnya berubah, Alasan itu kuat sekali, Memang ia telah mencari keterangan dan apa yang ia dengar cocok dengan keterangannya Tiang Keng ini, ia hanya tak tahu adiknya itu terbujuk siapa. "Apakah dia bukannya Yan Hong?" katanya seorang diri sesaat kemudian. Mendengar disebutnya nama Yan Hong itu, Tiong Hoa bercekat. matanya bersinar, ia bertindak maju mendekati jago Kimleng itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Apakah Yan Hong berada di sini?" ia tanya "Kalau begitu, jangan kau sesaikan siapa juga, saudaramu itu terbujuk. dia membantu harimau mengganas, dia mencari matinya sendiri," Mendengar kata-kata oraog, bangkit pula kemarahannya Tiauw Eng. dengan paras suram dia menatap si anak muda. "Tak perduli siapa salah dan siapa benar nyatanya adikku terbinasa di tangan kau" dia menembak. "siapa membunuh, dia mesti mengganti jiwa siapa meminjam uang, dia mesti membayar uang juga. Maka sekarang aku si orang she Tiauw mau menagih padamu. Tentang Yan Hong, belakangan aku akan cari dia." Dia lantas maju mendekatt, untuk menyerang. Lin Tiang Keng maju sama tengah. "Tiauw Loosoe," katanya tertawa, "Aku tahu Tiauw Loosoe jujur, kenapa hari ini kau menentang dirimu sendiri? jikalau ini sampai tersiar, pastilah ini akan merugikan nama baikmu..." Tiang Keng tahu Tiauw Eng lebih liehay daripada Tiauw Kiat, karena mana ia kuatir Tiong Hoa bukanlah lawannya maka ia hendak mencegah orang turun tangan. Tiong Hoa sebaliknya panas hatinya, belum lagi Tiauw Eng berbicara pula, guna menjawab Tiang Keng, ia kata sambil tertawa dingini "Dia bukan cuma menentang dirinya, dia sengaja mencari gara-gara Dia tahu adiknya salah, dia masih datang ke mari Eh, orang she Tiauw, apakah kau anggap aku si orang she Lie dapat dipermain kan? -- saudara Lin, harap kau jangan mencegah aku.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Aku ingin tanya dia tentang Yan Hong, dimana adanya dia itu" Tiang Keng menduga pertanyaannya Tiong Hoa mesti ada latar belakangnya, ia lantas minggir. "Kamar ini sempit, kenapa kita tidak mau pergi keluar?" kata Tiauw Eng dingin. "Aku si orang she Tiauw ingin ketahui berapa tinggi ilmu silat kau maka kau menjadi begini jumawa." "Kau justeru yang jumawa." sahut Tiong Hoa. ia mengawasi tajam, lantas ia bertindak keluar. "Hm "bersuara Tiauw Eng, yang terus mengikuti. Beberapa tindak dari kamar itu ada sebuah kebun bunga kecil di mana ada banyak pohon bunga yang bunganya menyiarkan bau harum. Di situ Tiang Hoa lantas berdiri berhadapan dengan Tiauw Eng yang galak itu. Lin Tiang Keng menyusul bergema Lie oao Nlo danHoBanIn terpaksa mereka berdiri di pinggiran untuk menyaksikan. Mereka ini berkuatir, terutama Ban io, jantungnya memukul. Kali ini Tiong Hoa bukan membawa adatnya, ia hanya panas hati mengingat Yan Kee Po yang licik itu. Mesti ada sebabnya kenapa, Yan Hong mencelakai ia, Tiauw Eng pasti tahu di mana adanya orang she Yan itu, maka ia ingin mengetahui alamatnya. sekalian dengan ini, ia perlu cari tahu juga halnya Ngo-sek kimbo. Pertempuran sudah lantas dimulai tanpa mereka banyak bicara lagi. Tiauw Eng berseru. "Silahkan." lantas ia mendahului menyerang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa berkelit ke kiri, tangan kanannya diulur, guna menangkap tangan kanan penyerangnya itu, yang serangannya tak mengenai sasarannya Jago Kim-leng menyerang berbareng dengan kedua tangannya dan tangan kanannya itu berada di sebelah luar, Dia putar tangan kanannya itu, terus dia menyerang pula, tangan kiri ke muka, tangan kanan ke dada. Lin Tiang Keng terperanjat. Tahulah ia yang Hoankang kauw Ular naga yang nomor satu itu, hendak mendesak. guna lekas mengakhirkan pertempuran itu. Lie Tiong Hoa ketahui hati orang, ia pun kata dalam hatinya: "Kau terlalu jikalau aku dapat bikin kau lolos, aku bukannya muridnya Thian Yoe sioe" Ia lantas mengajukan dua-dua tangannya, guna menangkap masing masing sebuah lengan lawan, ia bukan nya menangkis atau berkelit, ia justeru menyambuti. Tiauw Eng menyedot hawa dingin, Dialah orang Kang ouw yang berpengalaman yang matanya sangat awas, ia terkejut untuk cara perlawanan musuh ini, tentu sekali dia tak sudi mendapat malu, maka berbareng dia lantas memikir buat mengangkat kaki. Begitulah dia cepat menarik pulang kedua tangannya sambil dia melengakka n tubuhnya, selagi tubuhnya itu rebah, kedua kakinya menjejak tanah, untuk lompatjumpalitan. Bagus lekas kedua kakinya mengenai tanah, begitu lekas jug a dia berlompat pula. Kali ini untuk lompat naik ke atas genting. "Kemana kau mau lari." Tiong Hoa membentak. seraya ia meluncurkan tangannya, menyamber.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tubuh Tiauw Eng baru terapung lima kaki, tatkala dia merasakan s iuran angin- Dia kaget sekali, tengah dia keget, telinganya mendengar suara memberebet dari robeknya bajunya, sebab pundak kirinya kena d is amber si anak muda, yang telah mengguna Hoei Wan Cioe-hoat, hingga tangannya dapat terulur panjang. Dia dapat sampai juga di atas genting, ketika dia menoleh dia melihat Tiong Hoa lagi memegangi bajunya itu yang tertiup angin. Dia melengak. Tiong Hoa juga tidak menyangka orang lari demikian cepat, karenanya meskipun ia menyamber ia masih kurang sebat. Tidak demikian jago Kimleng itu mesti menderita hebat. Lim Tiang Keng heran hingga ia tercengang sama sekali ia tidak melihat si anak lompat mengejar, toh pundak Tiauw eng kena dijambret hingga bajunya pecah. Tiauw Eng masih panas hatinya sembari tertawa menyeringai dia kata: "Ketahui olehmu" sakit hatinya adikku tak dapat tak di balas. Baik kau ketahul juga Yan Hong membenci kau sampai ditulang-tulangnya maka jangan kau harap kau dapat tidur nyenyak. Selagi berkata begitu, jago Kimleng itu berlompat untuk menyingkir Ketika suaranya berhenti, dia sudah pergi jauh lima tembak kira-kira Lie Tiong Hoa berseru ber lompat naik untuk menyusul. Jangan kejar, saudara Lie" Tiang Keng mencegah. Tiong Hoa tidak memperdulikan cegahan itu, ia mengejar terus.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiauw Eng berlari-lari dengan cepat, dia menuju ke luar kota, Dia telah melompati tembok tepi dia masih disusul terus. Malam itu bulan terus indah, maka terlihat tegas dua orang itu berlari-lari berkejar-kejaran. Tiong Hoa mengejar tanpa memperdulikan bahwa ia mesti memasuki rimba pohon tho. Didalam tempe satujatn, tibalah mereka dibukit Ciong san, Disini Tiauw Eng lari naik, tiba ditengah gunung, terlihat dia lompat turun, tatkala si anak muda tiba, ia melongo. ia melihat jurang, yang tak nampak dasarnya. "Aku cuma mau membekuk dia hidup-hidup untuk ditanya halnya Yan Hong." kata Tiong Hoa di dalam hati, "Aku tidak sangka dia terjun kedalam jurang. Aku telah membinasakan adiknya, buat apa aku membinasakan dia juga?" ia mengawasi kedalam sekali, Kemudian ia menghela napas, matanya memandang ke sekitarnya. pepohonan segar dan lebat daunnya nampak hijau gelap. Bunga-bunga lagi mekar dan memperlihatkan warna merah indah. Tiong Hoa tersengsam oleh pemandangan malam yang indah itu. Tiba-tiba ia ingat Tiauw Eng dan berpikir, "Tidak. tidak mungkin siapa juga ingin hidup. siapa pun tak ingin mati. Tiauw Eng tidak menjadi kecuali. Dia belum mogok. kenapa dia tidak menyayangi jiwanya? Mustahil dia benar-benar bunuh diri?.." Meski ia memikir demikian, Tiong Hoa mengawasi ke dalam jurang dengan pikirannya terus bekerja hingga ia seperti ngelamun. Tengah ia berdiam itu mendadak ia mendengar bentakan di belakangnya dibarengi dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

satu tenaga menolak yang kuat keras sekali kepada tubuhnya, hingga ia tergentar dan napas seperti mandek. sebelum ia sempat berdaya, tubuhnya sudah terlempar. Selagi jatuh itu, ia masih sempat mendengar tertawa nyaring di atas jurang. suara tertawa yang berkumandang di bukit itu. "Mati aku...." pikirnya selagi jatuh itu, "Mana ada pertolongan lagi?" tubuhnya jatuh terus, Maka itu menanti saja kematiannya. Mungkin tubuhnya bakal remuk dan hancur di dasar jurang itu ia takut bukan main. Dari dasar jurang itu terdengar suara binatang entah binatang apa. "Sungguh malang nasibku" anak muda ini masih sempat berpikir, "Sudah tubuhku bakal remuk dan hancur, juga bakal digegaresi segala binatang alas." Tiba-tiba ia merasa benturan keras, darahnya seperti bergolak, tapi ia bukannya jatuh di atas batu, ia pun mendengar lagi suara binatang tadi. Hidungnya lantas terserang bau amis. Cuma sebegitu perasaannya, terus ia tidak ingat apa apa lagi, tempo kemudian ia mendusin -entah berapa lama ia sudah pingsan, ia merasakan seluruh tubuhnya sakit dan ngilu, tulang-tulangnya seperti patah semuanya. Ketika ia membuka rnatanya, ia melihat hanya kabut, Tapi la mengawasi terus, hingga ia melihat tembok jurang di kiri- kanannya, tinggi dan lamping, tanpa ada pepohonannya, Dasar jurang itu penuh dengan batu kecil dan rumput liar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Eh, kenapa aku tidak mati?" pikirnya heran, sambil ia melawan rasa nyerinya. ia lantas mengingat-ingat cara jatuhnya, terutama suara binatang itu serta baunya yang tak sedap. "Ah, apakah aku lagi ngelamun?" Ia heran kenapa ia tidak mati, jurang itu sangat dalam. Dengan keheranan, ia merayap bangun untuk berduduk. la melihat ke kiri dan kanan, Lama-lama, ia mendapatkan darah yang nempel pada bulu binatang warna putih. ia mengawasi tajam, untuk memeriksa. "Apakah aku ditolongi binatang itu?" akhirnya ia kena dirinya sendiri, "Kemana binatang itu sekarang? ia melainkan melihat bulu yang bertumpuk. "Ah " ia mengeluh. Karena merasa tubuhnya sangat nyeri, ia lantas bersila, untuk bersamedhi, guna menyalurkanjalan darahnya. Dalam hal ini, ia sudah mahir, selama di guanya Yan Loei ia telah melatih dirinya. ia lekas mendapatkan hasilnya, Belum berselang lama rasa nyerinya lantas kurang, ia meneruskan untuk kegirangannya, ia merasai napasnya berjalan lurus seperti biasa, ia lantas membuka matanya. Sekarang ia dapat melihat mirip di siang hari, dan akhirnya ia lompat bangun, dari mulutnya terdengar siulan yang nyaring dan lama. sebagai akibatnya itu, ia mendengar dengungan kumandangnya. Tiba-tiba.... Dari arah depan, kejauhan terlihat berlari-lari datangnya dua ekor kera yang berbulu putih, yang dapat nya membawa barang apa berdiri seperti manusia tak apa. Kedua binatang itu rupanya datang karena mendengar siulan, Tapi waktu mereka melihat orang berdiri, keduanya merandak. terus mereka memutar tubuh, buat lari pergi. Tiong Hoa lari mengejar. Kalau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

benar ia ditolongi kedua binatang itu, ia mesti mengingat budi, tatkala ia ditempat dimana dua kera itu barusan merandak. la melihat di tanah belakangnya sejumlah buah piepa, semacam jeruk warna kuning rata-rata sebesar kepalan, yang baunya halus dan harum, tanpa merasa datanglah napsunya ingin memakan itu, maka ia memungutnya dan terus memakannya. ia mendapatkan rasa yang lezad, Kulitnya pun dimakan habis. Buah itu tidak ada bijinya. "Inilah buah yang paling kesohor keluaran tong-tengsan, yang dipanggil Pek-see." pikirnya, "sekarang aku mendapati ini. Yang tanpa biji, mungkin inilah buah yang ada khasiatnya, Kera adalah binatang yang sipatnya mirip manusia, melihat aku pingsan, mereka tentu mau menolongi aku, hanya kenapa mereka pada kabur?" Buah piepa itu manis sekali, ia maka pula hingga ketinggalan lima biji, Untuk heran nya, hilang sudah rasa ngilu dan nyeri nya, bahkan ia merasa segar seperti biasa, tidak tempo lagi ia lari ke arah kaburnya kedua kera tadi, ia girang sesudah ia lari sekian lama. Di sebelah depan berpeta dua tubuh putih dari kedua kera, Untuk menyusul mereka, ia lari dengan ilmu ringan tubuh Hong Hoei In soan. Jurang ini mesti ada jalan keluarnya, asal aku dapat susul kedua kera ita, pastilah aku akan dapat keluar dari sini." pikirnya sambil berlari-lari itu. Kira lagi tigapuluh tombak akan ia dapat kepada kedua kera, kedua binatang itu mengasi dengar suaranya catcat Citctt, terus ke duanya lari naik ke lamping jurang. Tiong Hoa heran kenapa kedua kera itu dapat manjat di situ, setelah ia tiba, herannya hilang, ia mendapatkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dua batang rotan yang tumbuh di atas itu, yang meroyot turun Ketika ia dongak, kedua kera lenyap. sejenak ia diam, ia heran dan berpikir. "Pasti ada gua di tengah itu," ia menerka Apakah aku mesti naik? Kalau kedua kera menyangka aku bermaksud jahat, selagi aku naik, mereka dapat memutuskan rotan ini itu berarti aku bisa jatuh mampus..." Ia bersangsi mengawasi terus, keras ia berpikir. "Ah, mustahil," pikirnya pula. "Kera itu dapat berpikir seperti manusia. Tadi mereka justeru menolongi aku. mustahil mereka menyangka jelek? Mungkin mereka kaget karena aku bersiul keras." Masih ia bersangsi. Masih lewat tempo sekian lama. Akhirnya ia mengertak gigi. "Mesti aku manjat," ia mengambil keputusan- "Tak dapat aku berdiam terus disini." Maka ia menjambret rotan itu, ia mengenjot tubuh untuk naik kakinya membantu menginjak lamping jurang. Kedua tangannya memegang dan menarik bergantian pada kedua batang rotan itu, ia bertubuh enteng, toh manjat secara begitu, ia mesti menggunai tenaga berlebihan. Tidak lama, ia merasai telapakan tangannya basah dengan peluh dan napasnya sedikit memburu. Tapi lekas juga ia sampai di tempat di mana tadi kedua kera menghilang. ia mendapatkan sebuah tempat terbuka yang muat hanya tubuh satu orang, ia naik ke situ. ia melihat jalanan seperti tanpa ujungnya yang menjulang ke atas, jala nan itu pun licin.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia sebenarnya berkuatir tapi ia maju, tubuhnya dimiringkan, nempel rapat dengan batu gunung, ia berlaku hati-hati. ia masih memegangi rotan, yang ternyata keluar dari sebuah guha bundar kira dua kaki lebar. Begitu tiba, ia masuk ke dalam guha itu, Dengan berani ia berjalan terus, tanpa menghiraukan lorong berliku-liku. ia punjalan merayap. mcraagkang Guba itu gelap tapi ia dapat maju terus. setelah lewat kira Iimapuluh tombak. Tiong Hoa mendapatkan dengkulnya sakit, Celananya sebatas dengkul itu pecah berlobang Tapi disini, terowongan lebih tinggi, hingga ia bisa berjalan sambil membungkuk. Ini juga semacam penderitaan, maka itu Tiong Hoa ngelamun, hingga ia ingat Goei Loo-hoecoe, si pemegang kas yang ia kesalahan membunuhnya begitu juga si tukang loak, itulah siksaan bathin untuknya, setiap ia ingat, berduka dan menyesal. Mahal ia membayarnya itu, karena sekarang ia mesti merantau, hidup sengsara dan menghadapi maut juga. Tengah maju sambil berpikir itu, pemuda ini mendengar suara kera. ia menjadi bersemangat Hanya ketika ia mengawasi, ia tidak melihat apa-apa. Guha itu gelap. tapi tak dapat ia mundur, ia maju terus dengan perlahan dengan waspada. Masih Tiong Hoa mendengar suara kera itu, tengah ia bertindak separuh merepe-repe, mendadak ia merasa dorongan yang kuat. sampai ia mesti mundur beberapa tindak. ia jadi kaget dan curiga, Lekas-lekas ia membuka dengan kedua tangannya, guna menyingkir dari dorongan itu ia mengguna i tenaga sian thian-thay It Ciang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Di dalam guha ini mesti ada penghuninya." ia pikir. "jangan-jangan dia orang berilmu yang lagi mencucikan diri dan kedua kera tadi binatang piaraannya, jikalau dia tak suka terima aku, aku tidak boleh memaksa, hanya di tempat ini, aku perlu jalan keluar..." Tiong Hoa meogerabkan tenaganya, ia salurkan itu kedua tangannya, lantas ia menolak ke depan, jalan ke arah dalam. perlahan tetapi keras. Begitu kedua tenaga bentrok. tenaga di sebelah dalam itu buyar. "oh...." ia mendengar suara tertahan, Lantas sunyi. Untuk menarik pulang dorongannya itu, Tiong Hoa maju dua tindak. sekarang ia tak lagi merasa hawa di dalam gua seperti mandek. Rupanya itu disebabkan dorongannya barusan. Suara "Oh" itu memastikan Tiong Hoa bahwa di dalam situ ada orang. sekarang baru ia ingat kealpaannya tadi. kalau suhu kosong mestinya lembab dan hawanya berbau busuk. tepi gua ini kering tanpa bau apa juga, Maka itu ketika ia maju, ia maju tindak demi tiadak matanya mengawasi tajam. ia masuk terus tanpa menghiraukan tuan rumah orang baik atau Orang jahat. oleh karena ini hatinya tak tenang. Sesudah jalan lima atau enam tombak. Tiong Hoa mendapatkan gua membiluk ke kiri, ia jalan terus, Lagi empat tombak. la mesti membiluk ke kiri pula, ia heran Tapi ia jalan terus, Lagi belasan tombak ia melihat sedikit cahaya terang. "Itulah tentu sinar matahari," pikirnya, ia meniadi mendapat hati, ia menjadi bersemangat. Cahaya terang itu mungkin berarti ujungnya gua, Maka ia lantas

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bertindak terus, Ketika ia mendekati cahaya terang itu ia angkat kepalanya dongak, Maka ia melihat serupa barang persegi enam bernama kuning mirip kemala, itulah yang menerbit-cahaya itu yang menerangi guha yang gelap itu. Guha ini atau lebih benar ruangannya luas dan bundar, Di depan Tiong Hoa kita dua tombak. la melihat seorang tua lagi duduk bercokol, tubuhnya kurus sekali, rambutnya kusut, tapi matanya tajam. Dia pula memelihara kumis dan jenggot yang panjang sampai ke tanah, Dengan matanya yang tajam itu, dia mengawasi lalu kedua mata itu dirapatkan. sampai sebegitujauh dari dia pun terus membungkam. Di kiri dan kanan orang toa itu berdiri menanti dua ekor kera putih, Yalah kedua kera yang tadi, Matanya kedua binatang itu bergerak tak hentinya, dan masingmasing kedua tangan mereka menggaruki pipinya tak sudahnya. Yang mengherankan Tiong Hoa, di atasnya kepalanya orang tua itu terdapat cabang-cabang pohon yang tumbuh diselah-selah batu, semua cabang itu merosot turun. Pada cabang-cabang itu ada terdapat sebuah yang sarat buah piepa kuning yang tadi ia makan? Ia pun telah mendapat cium bau yang harum dari buah itu. "Belum pernah aku melih at p^hon tumbuh di batu gunung" pikirnya kagum. Kalau aku sudah keluar dari sini dan aku memberi tahukan orang tentang pohon ini, pasti mereka tak mau percaya dan akan mengatai aku ngobrol saja..."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sekarang Tiong Hoa melihat tegas, orang tua itu bertubuh katai dan kurus, Berduduk dia hanya hampir dua kaki, kalau dia berdiri paling juga tiga kaki lebih sedikit. Ruang itu tidak punya jalan lainnya atau pintu, Di belakang si orang tua tembok agaknya celong ia kaget untuk mendapat tahu guna itu guna buntu, susah-susah ia memasukinya tak tahunya guha itu tak ada belakangya.... Ia mengawasi tajam orang tua itu, tiba-tiba ia menerka: "Mungkinkah jalan keluar itu ada di belakangnya orang tua ini?" Karena ini, ia lantas memberi hormat sambil menjura, ia kata, "Boanpwee adalah orang yang telah jatuh kedalam jurang, diluar dugaanku boanpwee telah ditolongi kera loojinkee maka boanpwee ikut datang ketempat suci ini. Buat kelancangan ini, boanpwee minta maaf." Ia menduga orang akan membuka matanya dan menjawab, tidak tahunya, orang tua itu tetap meram dan bungkam, tubuhnya bercokol tak bergeming. Adalah kedua kera itu, yang tadinya berdiam saja, membuka mulutnya seperti orang mau tertawa. Tidak puas Tiong Hoa tidak memperoleh jawaban, akan tetapi ia dapat menguasai diri, ia memberi hormat pula, dengan sedikit membungkuk. la kata: "Boanpwee tidak berani membikin kotor tempat bersih dan suci Ioojinkee ini, maka itu aku minta sukalah loojinkee tolong berikan petunjuk agar aku dapat melihat pula langit dan matahari, untuk itu aku akan sangat bersyukur." Habis berkata, si anak muda mengawasi tajam, Ia mendapatkan orang tetap meram dan berdiam parasnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tetap dingin bagaikan es. ia jadi mendongkol berbareng bingung. " Kenapa orang bersikap dingin begini?" pikirnya. Tiba-tiba anak muda ini terperanjat ia merasa pundaknya teraba oleh tangan yang berbulu. ooooo BAB 12 DALAM kagetnya, Tiong Hoa menyamber kebelakang. ia kena menangkap tangan yang berbulu itu, Dengan cepat ia menoleh, ia mendapatkan seekor kera muda warna putih, Binatang itu kena terpencet, dia kesakitan dan berbunyi tak hentinya, air matanya keluar meleleh. Atas itu kedua kera di sisi si orang tua mengasi dengar suaranya. Tiong Hoa lantas memikir, mungkin kera kecil ini anaknya kedua kera itu, dan ini tidak jahat, maka ia lekas mengendorkan cekalannya, Kera itu berhenti berbunyi, dia mengawasi anak muda kita, romannya jeri. Sekonyong-konyong Tiong Hoa mendengar suara dingin dibelakangnya lagi: "Jikalau kau ganggu sehelai saja bulunya keraku, jangan kau harap dapat keluar dari guha ini." Tiong Hoa terkejut dengan lekas ia menoleh, sekarang ia dapat melihat kedua mata terpentang dari si orang tua, sinarnya tajam. Orang tua itu mengawasi ia tidak membuat si anak muda gusar, ia lantas menanya: "Apakah kau tak puas ditegur aku si orang tua?" Sebenarnya Tiong Hoa mendongkol juga orang tua itu ia hormati dan ia tanya dengan manis, dia main

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bungkam, atau tiba-tiba dia mengancam, ia mau menjawab bahwa ia bukan cuma gusar tetapi kata-kata yang keluar ialah, "Maaf loocianpwee diri apakah aku yang muda yang turun tangan terlebih dulu?" "Hm." bersuara orang tua itu matanya mencilak. "tak perduli siapa yang turun mangan terlebih dulu tapi nyatanya kaulah yang memencet tangannya keraku itu." Tiong Hoa tak dapat mengusai diri lagi maka ia kata sengit. "Di kolong langit ini belum pernah aku menemui orang tak bicara pantas seperti kau, loojinkee. Kalau begini tak tepat kau dinamakan orang pertapaan" Matanya si orang tua berhenti bergerak. Dia melengak, Lantas dia tertawa terbahak-bahak. Jikalau aku si orang tua kenal kepantasan, tidak nanti sekarang aku berada didalam ini guna dimana tidak ada langit dan matahari," sahutnya. "Disini aku telah bercokol lamanya duapuluh tahun-" Mendadak airmuka nya berubah menjadi keren, Dia tanya, Jikalau aku si orang tua bukan orang pertapaan, habis kau orang macam apa?" Tiong Hoa melengak sebentar, lantai sepasang alisnya terbangun"Akufah seorang muda dan tak terpelajar, aku bukan orang yang berarti," ia menyahut "Adalah kau, kau jumawa sekali, kau tidak kenal hormati kau gampang marah Adakah kau orang pertapaan sejati? sudab dua puluh tahun kau bercokol disini untuk memelihara diri, nyata hatinya sia-sia belaka" Tiong Hoa menduga orang mestinya murka besar, diam-diam ia bersiap untuk sesuatu serangan, akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tetapi diluar dugaannya, sinar matanya orang tua itu lantas berubah menjadi sabar, alisnya pun meng kerut, Ketika dia berkata dengan perlahan. "Tidak salah" ujarnya. "Memang selama dua puluh tahun aku membersihkan diri, aku masih belum memperoleh ketenangan. Kau menerka benar, anak muda." dia lantas tersudut, ia kata pula: "Belum pernah aku bertemu dengan kau yang begini tidak kenal adatistiadat. Mengenai pertanyaanmu barusan, dapat aku menerangkan disini cuma ada satu jalanan, tetapi tanpa petunjukku si orang tua, seumur mu tak nanti kau dapat mencarinya? Kecuali kau dapat terbang Karena kau tidak tahu aturan, aku malas membuka mulut lagi." Dia berdiam, kedua matanya dirapatkan seperti semula. Tiong Hoa berdiri menjublak. "Aneh orang tua ini, Bagaimana ia dikatakan tidak tahu aturan sedang tadi dua kali ia memberi hormat dan menanya dengan halus? Adalah si orang tua yang tak melihat dan tak menggubrisnya. Ketika itu, entah kapan dia berjaannya, si kera kecil sudah berada diantara kedua kera besar, dia akrab sekali dengan kedua kera itu sebaliknya si kera besar, lantaran Di orang tua bersikap kaku itu, terlihat menggaruk-garuk tak hentinya. Tidak lama, lantas terlihat kera dikiri si orang tua meng g era k- seraki kedua tangannya matanyapun memain, ia heran, ia mengawasi saja, tapi tak lama, ia dapat membade maksud orang ia diberi petunjuk untuk berlutut di depan orang tua itu, guna minta ditunjukijalan keluar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Tidak." ia kata dalam hatinya, ia menggoyanggoyangi tangan kepada kera itu, selaku penolakannya. Kera itu berjingkrak. dia agaknya bingung. Tiong Hoa mengawasi, pikirannya bekerja, Lantas ia ingat, kalau jalanan benar ada dan si orang tua mengetahuinya, si kera mesti ketahui juga, Lalu ia mendapat pikiran, Maka lekas-lekas ia menggapai pada kera itu. si kera menjawab pula dengan kedua tangannya, Maka itu lucu akan menyaksikan manusia dan binatang berbicara satu dengan lain seperti orang bicara dengan orang gagu. Lama mereka bergerak saling ganti, baru kemudian si kera mengerti maksudnya si anak muda. Dengan mulut monyong, dengan ke dua tangannya, dia menunjuk ke belakang orang tua itu. "Hm, tidak salah" kata Tiong Hoa dalam bati, Nyata dugaannya jitu. Jadi si orang tua yalah penghalang jalan keluar itu oleh karena ini, ia lantas berpikir pula, mencari akal untuk dapat molos, selang sekian lama, ia tertawa sendirinya, ia terus kata: "Orang tua, percuma andaikata kau bercokol disini sampai seratus tahun Tak nanti kau insaf bahwa kosong itu ialah paras dan paras itu kosong." Jilid 9 : Heboh tiga macam mustika Si orang tua membuka matanya perlahan-lahan, dengan sinarnya yang tajam, dia mengawasi lalu dengan dingin dia berkata: "Bocah cilik, sungguh besar nyalimu berani menghina aku si orang tua. jikalau aku turuti

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tabiatku dua puluh tahun yang lampau, pasti aku telah hajar mampus padamu...." ia baru mengucap begitu, atau dia menambahkan, Ah, kau mana tahu hatiku si orang tua? sungguh didalam gunung tidak ada tahun dan saban bulan, didalam gua tidak ada penanggalan, jikalau aku hitung dengan jeriji tanganku, Duapuluh tahun sudah lewati Memang, asal aku si tua dapat memecahkan kesulitan didalam dadaku, tidak nanti aku menyekap diriku dalam gua ini." Suara orang tua ini bernada sedih, kembali dia menghela napas. Dia agaknya menyesal mendongkol dan penasaran untuk pertapaannya selama duapuluh tahun itu. Tiong Hoa mengawasi, ia merasa terharu, "Entah apakah kesulitannya itu?" pikirnya. Kenapa dia suka bercokol saja disini?" Lalu ia kata: "Loojinkee asal kau suka tunjuki jalan keluar pada aku yang muda, mungkin aku dapat membantu pikiran pada kau untuk menjawab kesulitanmu itu, Nanti aku kembali kemari guna membukai belengguan mu ini.." "Hem, enak kau bicara" berkata orang tua, "Itu, jalan ke luar itu ada dibelakangku ini. Tapi tanpa kesulitanku itu dapat dipecahkan tak dapat aku berkisar dari tempat dudukku ini Aku sendiri tak dapat aku melanggar sumpahku, maka itu baiklah kau ke luar dari mana tadi kau datang disana kau cari jalan lain" Habis berkata dia merampula seperti tadi. Tiong Hoa menjadi bingung cula hatinya bergelisah. Dalam keadaan begini ia memikir secara pendek. ia angkat tangan kirinya kedepan dadanya, untuk menjaga,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ia meluncurkan tangan kanannya, sembari berseru, ia menolak ke arah si orang tual berbareng dengan itu, tubuhnya pun maju Dalam tempo hanya sedetik, lengan kiri orang tua itu sudah lantas kena dicekal, untuk ditarik kesamping, orang tua itu mau di bikin berkisar dari tempatnya bercokol. Akan tetapi ketika Ttong Hoa sudah mencekal tangan orang, ia terkejut tidak terkira, ia merasa kena pegang lengan yang keras bagaikan besi, lengan yang licin sekali, ketika ia menarik. tangannya meleset dan lepas, telapakannya itu terasa sakit. Diluar kehendaknya, ia berseru dalam hati, ia lantas berpikir: "Semenjak dalam guanya Yan Loei aku sadar dan dapat memahami Kioe Yauw seng Hoei sip-sam sie, tanganku menjadi kuat sekali, mungkin aku dapat memencet hancur emas dan batu, kenapa sekarang aku mendapatkan lengan orang tua ini mirip besi dan baja? Kalau begitu, dia benar liehay luar biasa." Si orang tua tetap bercokol saja, tubuhnya tidak bergerak. matanya tidak dibuka, ia seperti tidak tahu bahwa orang mencekal tangannya dan dibetotnya. Tapi tak gampang Tiong Hoa putus harapan ia sekarang menolak dada orang. Pemuda ini ingin keluar dari tempat buntu itu, bisa dimengerti kalau tenaganya terkerahkan semuanya. Tiba-tiba si orang tua mementang matanya, yang bersinar seperti kilat, terus dia mengibas dengan tangan bajunya. Tiong Hoa lagi menolak dengan sekuat tenaganya. atas kibasan itu, ia terpaksa mundur. Kembali ia menjadi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

heran dan kaget. hingga parasnya berubah. sambil bertahan ia berpikir, ketika ia terus kena tertolak, akhirnya ia menjadi berkuatir, sebenarnya ia sudah menginsafi kenyataan, kelunakan dapat mengalahkan kekerasan, toh ia tak lantas berhasil mempertahankan diri, ia berpikir keras sekali, ia pikirkan pula? Kioe Yauw seng Hoei sip-sam sie. Tiba-tiba anak muda ini menyimpan tenaga perlawanannya. ia tidak bertahan terlebih jauh. Justeru ia tidak melawan, justeru berhenti tenaga menolak siorang tua. Dengan begitu, ia dapat berdiri diam tanpa mundur lagi, ia menjadi laga hatinya dan girang, Tapi ia tidak berdiam saja. Perlahan-lahan ia mengerahkan pula tenaganya, Dengan tangan kiri ia menolak dengan jurus "Pouteie hoa-ie dari Kioe Yauw seng Hoei sip-sam sie, dengan tangan kanan ia menolak dengan jurua "It-goan-thay-kek dari sian-thian Tay it ciang, itulah dua tenaga keras dan lunak berbareng, tenaga im dan yang yang saling bantu hingga tenaganya menjadi besar berlipat ganda. Orang tua ini mengasi lihat roman girang dengan mendadak rambut dan kumis seperti pada bangun berdiri Tolakan si anak muda membikin "tubuhnya" itu bergeming lalu bergoyang-goyang. Atas itu dia tertawa berkakakan, sekonyong-konyong tubuhnya mencelat naik hingga ke langit guha, bersembunyi diantara cabang cabang dan daun daun yang lebat dari pohon piepa berwarna kuning emas itu. Lie Tiong Hoa heran. ia pun melihat di- belakang tempat duduk si orang tua ada tembok batu gunung

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang berpeta punggungnya orang tua itu. hanya tembok itu tetap rapat tak ada selah-selahnya seperti selah-selah pintu, tapi karena ia tidak lantas menghentikan tolakannya. mendadak ia mendengar suara nyaring sekali, itulah disebabkan tolakkannya mengenai tembok itu, yang terus gempur, hingga sekarang disitu terlihat sebuah lobang guha kira-kira dua tembok panjangnya. Pula dari lobang itu lantas memancar sinar terangnya dunia yang bebas, yang untuk sejenak membuat mata si anak muda silau, sinar itu membikin guha yang gelap menjadi terang bagaikan diudara terbuka. Menyusul pecahnya tembok itu, maka siorang tua sudah berlompat turun, tepat di- depan si anak muda, Dia berdiri sebatas dada orang. Dia tertawa bergelak. "Sungguh aku tidak menyangka kau memiliki ini tenaga besar luar biasa" katanya. Tak lagi dia bersikap garang atau dingin seperti tadi. "Apakah barusan kau bukan menggunai Poutee hoa ie dan It-goan thay-kek?" Tiong Hoa mengawasi orang tua itu, ia heran berlipat heran, ia mementang matanya lebar-lebar. ia mendapat kenyataan bahwa si orang tua, kecuali ilmunya tinggi tak terbatas, juga matanya tajam, pengetahuannya sangat luas, Dalam sekejab saja dia mendapat tahu ilmu silat orang, Tapi ia jujur, ia lantas mengangguk. "Tadi aku masih bersangsi sekali, menyaksikan bahwa dua rupa tenaga itu dapat keluar dari tubuhnya satu orang," berkata pula si orang tua, Aku si orang tua telah mengenai banyak orang, akan tetapi apabila aku bukannya melihat dengan mataku sendiri, haha. --tidak nanti aku mempercayai kepandaian kau ini. syukur ada kau maka sekaraog aku dapat memecahkan kesulitanku

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang telah terbenam duapuluh tahun itu, segera juga aku si orang tua akan mengajak ketiga keraku ini berangkat pulang ke gunungku di Tanah Barat," Tiong Hoa tetap heran. Duapuluh tahun orang terbenam kesulitannya, duapuluh tahun dia menyiksa diri bertapa, dan sekarang, dengan dua jurus saja kesulitannya itu telah dapat dipecahkan? ia terus menatap orang itu. "Loocianpwee," ia tanya hormat, "Apakah aku yang muda boleh mendapat tahu nama atau gelaran yang mulia dari loociaopwee? sebenarnya apakah itu kesulitan loocianpwee? sudikah loocianpwee memberitahukan semua itu?" Si orang tua katai dan kurus tertawa, Dia agaknya girang luar biasa. Namaku si orang tua, kaum Rimba persilatan di Tionggoan tak ada yang tahu." dia menyahut, Sebaliknya di Barat, setiap keluarga akan mengetahuinya. Umumnya orang menyebut aku Ay sian. Ay katai dan sian dewa, Perihal kesulitanku itu, itulah urusan yang ada sangkut pautnya dengan rahasia perguruanku. baiklah kau menduga-duga sendiri saja. Dia tertawa pula dia menambahkan: "sekarang aku ingin mengajari kau ilmu silat Ie Hoa Ciap Bok, artinya, Memindahkan bunga menyambung pohon, itulah ilmu yang aku dapatkan tanpa sengaja selama aku berdiam duapuluh tahun disini, kefaedahannya besar sekali, umpama kata dengan itu, kau dapat meminjam tombaknya seorang untuk menusuk tembus tamengnya orang itu sendiri Dengan itu aku hendak membalas budi mu sudah memecahkan kesulitanku ini."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Inilah Tiong Hoa tidak sangka, ia menjadi girang sekali, sebagai seorang yang mengenal aturan, ia lantas mau menjura guna menghaturkan terima kasih, Atau mendadak ia tercegah, tertolak oleh suatu tenaga yang besar, ia pun mendengar suaranya Ay sian si Dewa Katai: "tak usah pakai banyak segala adat-peradatan sekarang aku ajari kau teorinya untuk kau apakah habis itu kau boleh bercokol di sini selama dua jam kau pasti akan menginsafinya. orang dengan bakat dan kecerdasan sebagai kau itu tidak sulit untuk memahamkan dan menguasainya. Lalu tanpa menanti ketika ia membacai pelajaran itu. Tiong Hoa menggunai kecerdasannya untuk mengingat-ingat. Si orang tua menunjuk pohon piepa dan kata, "Itulah pohon yang langka, siapa makan buahnya, tubuhnya tidak bakal mempan racun atau bisa tenaga dalamnya bakal bertambah, jikalau seorang biasa memakan itu didalam tempo tiga tahun dia tidak batal dihinggapi penyakit. Kau ingat baik baik jalan ketempatku ini dibelakang hari buah ini bakal ada paedabnya yang besar untuk-mu." Habis berkata itu tanpa menanti seperti tadi ia menggoyangi tubuh hingga menjadi lebih ringkas, sekonyong-konyong ia lompat molos diliang yang digempur anak muda itu hingga dalam sekejapan saja dia sudah menghilang pergi. Melihat berlalunya si orang tua, ketiga kera berbunyi berlsik, lalu merekapun tak ayal lagi lari molos diliang itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berbareng dengan lenyapnya ketiga kera serta majikannya itu, Tiong Hoa merasa angin menyerbu masuk kedala ui gua itu, hingga angin itu seperti bernyanyi didalam guha, suaranya merdu terdengarnya ... Tiong Hoa merasa ia bagaikan bermimpi "Benar benar aneh" ia ngelamun, "Kenapa dari Tanah Barat dia datang ke Kanglam ini? Kenapa dia menyiksa diri didalam gua? Kenapa selama duapuluh tahun tak dapat dia memecahkan kesulitannya itu? Kenapa dia terkurung disini? Tembok dibela kang nya itu mesti buatan lain orang? Kenapa dia bercokol tak bergerak? Ah" Bingung anak muda ini. Jangan-jangan seumurku juga tak dapat aku memecahkan teka-teki ini..." katanya kemudian. Matanya lantas bentrok dengan buah piepa, lantas ia mengulur tangannya, memetik sembilan biji, untuk ia terus makan. Habis itu ia duduk bercokol, untuk memusatkan pikirannya guna menghapa1 pesannya Ay sian, atau warisan ilmu Ie Hoa Ciap Bok itu. Benar seperti kataaya si Dewa-kate, dalam tempo dua jam, ia lantas ingat ajaran itu, ia lantas paham hingga ia menjadi girang sekati, ketika ia berbangkit, ia menyambar pula belasan buah piepa, untuk dimasuki ka dalam sakunya. Baru setelah itu. ia merayap keluar dari pintu istimewa itu. segera setelah berada diluar, Tiong Hoa mendapatkan dirinya diantaranya puncak bukit, ia menoleh kesekitarnya, ia melihat pepohonan yang hijau-hijau, yang daunnya lebat. Angin meniup, niup mendatangkan rasa dingin- ia memperhatikan, lantaran ia bersiul nyaring dan panjang, hingga ia mendengar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kumandangnya ditengah lembah, inijusteru membikin dadanya menjadi lapang. Lagi sekali ia memperhatikan sekitarnya, baru ia memutar tubuh, untuk berjalan turun. Tatkala akhirnya Tiong Hoa tiba dikota Kimleng, itu waktu sudah waktunya lampu dipasang terang-terang, hingga kota itu menjadi bercahaya dan ramai seperti biasanya. orang mundar-mandir kereta- kereta berlalu lintas. ia nelusup diantara orang banyak untuk pulang ke Thian siang Kie di Koe-lauw Barat. Pelayan menyambut dengan hormat, sembari tertawa ia kata: "Nona Phang. sudah berangkat tadi tengah hari ke Utara, ia memesan kalau kongcu pulang untuk membilangi kongcu bahwa ia menuju ke Tok-Iok, ia memujikan kongcu." Tiong Hoa melengak, Tahulah ia si nona mendongkol karena tak pulangnya itu. "Bagaimana roman si nona ketika ia pergi?" ia tanya. Sepasang matanya merah dan bengul, rupanya ia habis menangis." sahutnya. Tiong Hoa berdiam, masgul dan menyesal ia merasa kasihan terhadap Lee Hoen yang mencintai padanya. "Apakah ada lain orang yang mencari aku? ia tanya pula. pelayan itu menggeleng kepalanya. Sampai disitu, dengan tindakan cepat, Tiong Hoa pergi pula, untuk menuju ke cin Hoay Hoo. Malam ini terang dan Jernih, si puteri Malam indah Aogin bertiup perlahan. Selagi mendekati Hoe cau Bio, Tiong Hoa mendapatkan jalanan ramai, suara orang berisik ditambah dengan riuhnya suara tambur la tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menghiraukan itu bahkan ia terus lari hingga ia berada ditepi sungai di mana banyak perahu milir dan mudik. Disini ia bingung juga tidak tahu di mana tempatnya Ban In, ia cuma mendengar disebutnya In Hong WanTerpaksa ia menanya orang, orang yang ditanya itu tertawa, Dia menyangka kepada si pemogoran, Tapi orang itu membilangi juga. jalan lempang kesana sampai digang ke tiga, itulah rumah nomor dua disebelab timur" Mukanya si anak muda merah. ia membuang terima kasih, lantas ia berjalan pergi kearah yang ditunjuki itu. setibanya ia terus bertindak masuk. Segera ia berpapasan dengan si pelayan cilik, yang ia lihat romannya berduka, pelayan itu mengenali ia, dia terlihat kaget, lantas dia memutar tubuh dan lari menjerit-jerit. "Ada setan. Ada setan." Tiong Hoa heran"Apakah artinya ini?" ia tanya dirinya sendiri ia bertindak terus Di pekarangan dalam, di cim hee, ia melihat Wan Nio lagi berdiri dengan pelayannya bersembunyi di-belakaogoya Nona itu kaget, "Lie Kongcu." tanyanya melengak, "Benarkah kau belum mati?" Tiong Hoa tetap heran. "Bukankah aku masih hidup?" ia membalik "Apa artinya ini?" Nona itu menjadi bingung. "Tiauw Eng yang jahat yang mengatakannya." katanya, "Encie Ban-in mendengar kau mati, dia kaget dan menangis hingga lupa" lupa orang, karena itu, diamdiam dia menelan racun-..." Tiong Hoa kaget sekali. "Dimana dia sekarang?" ia tanya cepat, Matanya Wan Nio basah, ia lantas menangis.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Setelah aku tahu dia makan racun, aku lantas memanggil tabib." ia kata. Sekarang ia sudah sadar, Tapi tabib bilang, lantaran racunnya hebat, ia cuma akan dapat hidup beberapa hari lagi.... Tiong Hoa berdiam. "Mari." katanya, menarik tangannya Nona Ue. Bersama-sama mereka pergi kekamar Ban in- Nona itu rebah tak berdaya, kedua tangannya tersingkap dari selimutnya, rambutnya kusut, mukanya sangat pucat, kedua matanya tertutup rapat, Dipinggir pembaringan ada seorang wanita tua, yang romannya berduka, Dia berbangkit memberi hormat ketika Tiong Hoa masuk bersama Wan Nio. "Encie Ban in" Wan Nio mendekati dan memanggil "Lie Kongcu tidak mati, ia telah kembali." Tiong Hoa lantas mencekal tangan orang. "Ban in-" katanya halus. "Kau kenapa?" Nona itu membuka matanya perlahan-lahan. Melihat si anak muda, matanya yang guram bersinar dengan mendadak. "Tidak apa aku mati," kata dia perlahan. "Asal kongcoe selamat, mati pun aku meram." Tiong Hoa terharu, hingga ia mengalirkan airmata. Dalam kedukaannya itu, ia ingat buah piepa dan pembilangannya Ay sian bahwa buah itu dapat memunahkan racun- segera ia mendapat harapan. Jangan takut, Ban-in." katanya hampir berseru, "Kau dapat ditolong." ia lantas merogo sakunya, mengeluarkan buahnya. Makan ini." katanya pula, lalu ia masuki buah itu ke dalam mulut si nona, ia menyuapi terus, sebuah demi sebuah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ban-in makan buah itu, buah yang benar-benar manjur. Habis makan buah itu, ia berdiam, matanya dirapatkan, Agaknya ia letih sekali, Tidak lama terlihat mukanya yang pucat berubah menjadi dadu, Lantas ia tidur pulas. Hati Tiong Hoa lega, itulah alamat baik. "Mana saudara Lin?" kemudian ia tanya Wan Nio. "Dia gusar kepada Tiauw Eng, karena berita celakanya itu," sahut si nona "Tiauw Eng juga jumawa sekali, Dia lantas menyerang. Tiauw Eng kalah, ia kabur, Tapi dia pun terluka lengannya maka sekarang dia lagi tidur di kamarku..." "Mari." Tiong Hoa mengajak, ia menarik pula tangannya si nona. Wan Nio mengikut. bahkan lantas ia berjalan di muka. Di dalam kamar Lin tiang-keng kedapatan lagi berduduk di pembaringan. Melihat si anak muda dia tertawa, Dia lantas kata, Barusan budak memberitahukan aku kau sudah pulang dan lagi menolongi Nona Ban in, aku girang sekali, Dialah nona yang baik sekali yang tak segan mengurbankan dirinya. Mukanya Tiong Hoa merah. "Bagaimana dengan lukamu, saudara Lin?" dia tanya. Tiang Keng tertawa. "Luka ini tak berarti" sahutnya "Bangsat she Tiauw itu telah aku hajar hingga dia muntah darah. Dia tentu bakal rebah beberapa hari di pembaringan. ia nampak puas, kemudian ia tanya: "sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan kau saudara Lie?" Tiong Hoa tuturkan bagaimana ia mengejar Tiauw Eng dengan sia-sia, sampai ia terbokong dan masuk ke

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

guanya Ay sian. Habis mendengar itu Tiang Keng tertawa. "Kalau bukan liciknya si bangsat she Tiauw, mana dapat kau bertemu dengan orang lihay itu?" katanya. "tak beruntung adalah aku yang tidak menemukan sesuatu." Tiong Hoa bersenyum, tapi mendadak terlihat terkejut mendadak tubuhnya mencelat keluar jendela. Tiang Keng dan Wan Nio kaget, mereka melengak. Justeru itu dari luar jendela mereka mendengar jeritan yang mengerikan, tak lama, Tiong Hoa sudah lompat masuk pula, sebelah tangannya menenteng satu orang. yang ia gabruki dimuka mereka. "Apakah kau disuruh si bangsat she Tiauw? dia tanya bengis, "Mau apa kau datang kemari? Dimana bangsat she Tiauw itu? Lekas bicara" Matanya orang itu mencilak diam-diam. Tiong Hoa tidak gusar, sebaliknya ia tertawa. "Aku tidak sangka kaulah satu laki-laki" katanya, "Asal kau dapat bertahan terus akan aku merdekakan kau" dengan lima jarinya ia lantas menotok punggung orang. Bukan main kagetnya orang itu, tubuhnya lantas meng kerat dan menggigil ia merasakan sangat sakit, Lima jeriji si anak muda bagaikan gaetan besi nancap didaging, terus terasa seperti menusuk-nusuk sakitnya tak terkirakan. Mukanya menjadi pucat dan meringis. Mau atau tidak, dia merintih. "Nanti aku bicara..." katanya suaranya menggetar dan terputus-putus. Tiong Hoa bersenyum ewah, ia menarik pula tangannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Aku kira kau bertubuh besi dan baja." katanya, Kiranya kaulah si kepala harimau ekor ular, Lekas bicara." Orang itu mengasi lihat sinar mata penasaran, ia paksakan diri tertawa ketika ia berkata. "sekarang ini Tiauw Eng berada di Kwie In Chung di Liok-hap timur lagi merawat lukanya, Aku Coei Cang Hok. aku diperintah dia datang kemari untuk menyampaikan kabar kepada Lin Loosoe yang diundang dua hari lagi harus datang kedusun itu guna membereskan perhitungan, inilah perkataan ku, kau percaya atau tidak. terserah kepada kau, Aku telah dibokong tinggal kau suka, kau hendak bunuh atau bagaimana, Asal aku masih hidup, dimana kita bertemu, d is ana kita membuat perhitungan." Tiong Hoa mengasi lihat roman bengis, tangan kanannya digeraki, ia panas hati untuk kepala besar orang ini. Tiba-tiba sinarmata Keng Hok berubah darigusar, dia menjadi ketakutan sekali. Terang dia menyesal sudah omong besar itu. "Saudara Lie, ampuni dia," Tjang Keng berkata, "segala tikus tak dapat mengotorkan tanganmu" Tiong Hoa batal menghajar tetapi kakinya menyontek tulang bwee-kiong orang itu seraya ia membentak "Pergilah Kau bebas tapi tidak dari hukuman hidup," Tubuhnya Keng Hok terangkat dan terlempar keluar jendela, hingga dia menjerit keras, Dia terbanting, sebagaimana suara robohnya kedengaran Dia merasa sakit sekali, hingga dia merintih Dengan paksakan diri dia merayap bangun, untuk berlalu dengan tindakan berat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Cukuplah dupakan ini," kata Tiang Keng. "Untuk tiga tahun tak nanti dia dapat menggunai lagi tenaganya." Tiong Hoa memandang tajam kepada sahabatnya, yang matanya liehay, Memang ia telah membikin Keng Hoa, Tiang Keng bersenyum dan berkata. "Akulah murid Boe Tong Pay, biasanya aku berpandangan tinggi, tetapi melihat kau, saudara Lie, aku tidak berarti..." Jangan merendah, saudara Lin-" kata si anak muda "Kau membuat aku malu...." Tiang Keng dongak. lalu la menggeleng kepala dan berkata perlahan "Aku tidak sangka bahwa Coan in-yan Kwie Lam Ciauw juga bergaul dengan orang Rimba Hijau golongan buruk. Pernah aku bertemu dengannya, aku menyangka dia seorang gagah sejati, siapa tahu, diluar dia nampak mulia, hatinya sebenarnya licik. Dengan keterangannya Coat Keng Hok ini tak aku bersangsi lagi." ia hening sejenak. ia menambahkan "Saudara Lie, kenapa aku mencegah kau membinasakan orang tadi? Kalau sebentar dia pulang, dia pasti menemui ajalnya. Aku tidak percaya dia datang untuk menyampaikan tantangan, sebenarnya dia hendak melakukan penyerangan gelap. lantaran aku pergoki dan membekuknya, dia berikan pengakuannya itu. Kwie Lam Ciauw jahat, dia tentu tak suka orang ketahui kejahatannya itu. Mana bisa Keng Hok diberi ampun?" Tiong Hoa orang hijau tak kenal ia pada Kwie Lam Ciauw, ia bersenyum, ia kata dalam hatinya: "Kembali pengalamanku tentang orang Kang ouw sungguh hebat" Tiauw Eng dan Keng Hok jahat, siapa tahu ada yang terlebih jahat pula, ini Kwie Lam Ciauw tentulah segolong dengan Yan Loei."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiang Keng melihat orang berdiam, ia hendak berkata pula ketika ia ingat suatu apa, ia lantas menepuk pahanya dan kata: "Ah, kita berada dalam bahaya, Kwie Lam Cia uw tentu membunuh Coei Keng Hok. habis itu, dia pasti akan mengirim orang ke mari guna membinasakan kita, guna menutup mulut kita semua, tak usah sampai besok malam, algojo-algojonya itu pasti akan sudah sampai di sini." Wan Nio kaget hingga mukanya menjadi pucat, Nona ini takut. Tiong Hoa pun melihat sinar mata jeri dari Tiang Keng, ia justeru menjadi gusar. Tanpa merasa ia menanya: "Apakah Kwie Lim ciauw ada sedemikian lihai hingga dia dapat membandingkan diri dengan KimlengJie Pa, Im San Siang Koa^ danBoeeng Moei Long Khoe cin Koen?" Mendengar itu, Lin Tiang Keng kaget, Pantas orang ramai berceritera Kim leng Jie Pa kedapatan mampus di Ie Hoa Tay dengan kepala dan tubuhnya terpisah, kiranya mereka mampus di tangan kau saudara Lie" katanya. Tiong Hoa melengak, la menyesal sudah keterlepasan kata. Jangan salah mengerti saudara Lin," ia kata, Mana sanggup aku berbuat demikian-itulah perbuatannya ketiga sahabatku, Sekarang ini dua sahabatku lagi mengejar Boe-eng Hoei Long, sudah dua malam mereka belum kembali Aku berkuatir juga buat mereka.." Tiang Keng menyaksikan kata-kata orang. Jangan kuatir, saudara Lie," katanya tertawa, "Aku cuma mempercayai keterangan kau lain tidak."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Biar bagaimana, hati Tiong Hoa tidak tenang, Disaat ia hendak berkata pula, ia melihat seorang muncul didepan pintu, Itulah Ban in yang cantik, yang sekarang sinar matanya bercahaya penuh rasa syukur, Nona itu bertindak masuk untuk terus menjura kepada Si anak muda seraya berkata manis: "Kengcoe, aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih atas pertolonganmu kepada jiwaku.." Tiong Hoa bingung. "Tapi, nona, itulah kejadian yang disebabkan olehku." katanya, "Aku justeru menyesal sudah menyerempetrempet kau." ia tidak dapat meneruskan, ia cuma melongo mengawasi si nona. "Sudah sudah" Tiang Keng menyela sambil tertawa, "Asal saudara Lie tidak menyia-nyiakan Ban In. tak usahlah kau mengucap terima kasih.." Mukanya si anak muda merah, ia likat sekali Habis itu, Ban in tertawa, begitu manis, hingga hati Tiong Hoa tergiur. Wan Nio lantas menarik tangan Ban In, untuk diajak duduk bersama, buat menanyakan kesehatannya. "Saudara Lin, bagaimana kau rasa lukamu?" tanya Tiong Hoa habis berdiam sekian lama, sedang kedua nona itu bicara terus dengan asyik. Lukaku tidak parah, cuma aku masih kurang leluasa menggeraki tanganku," sahut Tiang-keng- Mungkin lagi setengah atau satu hari, aku akan sudah sembuh betul. Tiong Hoa mengangguk. Sementara itu selagi bicara, Ban-in mengawasi si anak muda, ia melihat pinggang orang sedikit munjul, ia lantas tanya kenapa itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa tunduk akan melihat, tiba-tiba ia ingat sisa buah piepa yang ia bekal, ia lantas tertawa sendirinya. "Ah, aku lupa" katanya, ia lantas mengeluarkan buahnya itu. ia kata. "Saudara Lin, Mungkin ini akan menolong lukamu" ia lantas memberikan tiga biji, Yang dua ia berikan Ban-in dan Wan Nio seorang sebiji. Tiang Keng lantas makan buah ini, yang rasanya manis dan lezat. Wan Nio tertawa dan kata, "tadi aku berjalan bersama kau, Lie Kengcu, Aku mendapat cium bau harum, tak tahu itulah buah ini. Aku tadinya menyangka ...." "Kau menyangka Lie Kengcoe membekal pupur dan yancie untuk Ban in" kata Tiang Keng tertawa. Tiong Hoa dan Ban In saling melirik. keduanya bersenyum. "Ah, sekarang sudah malam." kata Tiang- Keng kemudian "Aku sudah ngantuk dan ingin tidur, saudara Lie, silahkan kau kembali ke kamarmu." Tiong Hoa melengak. Ia berdiam, inilah sulit, tapi ia lantas merasa bajunya ada yang narik, ketika ia berpaling, ia melihat Ban In mengawasi padanya. Maka terpaksa ia mengajak nona itu mengundurkan diri. Diluar. Berdua mereka berdiri di Cim chee. Rembulan permai sekali. Angin bersilir halus menyiarkan bunga, Lama mereka menggadangi si Puteri Malam, baru kemudian mereka masuk ke kamar. Begitu sang pagi datang, Lin Tiang Keng sudah keluar dari kamarnya, Lengannya sudah sembuh betul, ia mengasi uang pada nyonya rumah, untuk menebus Ban

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

In dan Wan Nio. Ia memberikan kertas berharga seharga enam puluh ribu tahil perak. Ketika Tiong Hoa habis berdandan keluar dari kamar, ia melihat Tiang Keng dengan wajah gembira, dan sahabat itu, sembari ter tawa, berkata padanya: "Saudara Lie, mari kita pindah. Aku telah membeli sebuah rumah dipintu cip-poo dan telah diperlengkapi juga, Mari kita tinggal bersama, Rumah itu terdiri dari tiga undakan-" Tiong Hoa heran, ia ingin menampik seraya menghaturkan terima kasihnya, sebelum ia buka bicara, terlihat nyonya rumah lagi menghampirkan, dia lantas berkata: "Tuan-tuan, diluar ada empat tetamu, katanya mereka menerima titahnya Kwie Chung-coe untuk menemui tuan-tuan berdua, Mereka membawa sebuah keranjang." Tiang Keng mengerutkan alis. "Suruh mereka masuk." ia berkata, Ketika nyonva itu sudah pergi, ia berpaling pada Tiang Hoa dan sembari tertawa, berkata: "Apa aku bilang, Aku cuma tidak menyangka kejadiannya begini cepat." Sepasang alisnya Tiang Hoa terbangun ia nampak gusar. segera juga muncul empat orang dengan tubuh besar dan kekar, yang membekal golok. Yang jalan dimuka beralis gompiok dan sepasang matanya sangat tajam, melihat pelipisnya, dia mesti mengerti ilmu tenaga- dalam baik sekali. Dia lantas memberi hormat dan berkata sambil tertawa: Aku yang rendah Lor siauw Hong, aku di utus Kwie Chung coe untuk menemui kedua tuan- Aku pun telah membawa dua rupa bingkisan, melihat mana pastilah tuan-luan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akan mengerti maksudnya kongcoe kami," Habis berkata, ia menggapai kepada tiga kawannya. Seorong maju dengan sebuah keranjang bambu, untuk diserahkan pada Lin Tiang Keng. Belum lagi membuka tutup keranjang itu. Tiang Keng sudah mencium bau amisnya darah hingga ia terkejut setelah ia membuka ia melihat dua kepalanya Tiauw Eng dan Coei Keng Hok, mata mereka itu mencilak mulutnya terbuka, memperlihatkan gigi mereka, Roman mereka itu menakuti. Lie Tiong Hoa giris hati, Untuknya pemandangan itu tak biasa. Tapi ia mengawasi Lo siauw Hong dan kata: "sungguh Kwie chungcu seorang budiman Tolong Lo Loosoe menyampaikan hormat dan terima kasih kami" Lo siauw Hong mengangguk. la kata, "Nanti aku sampaikan. Hanya tadi malam di waktu menghukum Goei Keng Hok. Lle Tay-hiap ada sedikit keterlaluan" Tidak senang Tiong Hoa mendengar itu, "Apakah Lo losoe mau menuntut balas untuk Keng Hok?" ia tanya. Alisnya siauw Hong bangun. "Benar, Hendak aku menuntut balas untuk adik seperguruanku, sahutnya. Tiang Keng lantas maju setindak. "Lo Loosoe." katanya, "Aku si orang she Lin tidak mau menghalang-halangi kau menuntut balas untuk adik seperguruanmu itu. Aku cuma mau menanya, adakah Kwie Chungcu mengetahui sepak terjangmu ini?" Matanya Siauw Hong memain, agaknya dia terkejut, Tapi dia tertawa dingin-

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Tentang itu tak usah la h Kwie Chungcu campur tahu." katanya, Kalau aku kalah, lantas aku tak akan rewel lagi." Tiang Keng tertawa. Telah lama aku mendengar tentang ilmu golok Poen Loei Too-hoat kau, Lo Loosoe," katanya, "Kau telah menggemparkan dunia Kang ouw, cuma aku minta janganlah kau memandang enteng kepada ini adik angkatku." Lo siauw Hong tidak puas, hendak ia menegor orang she Lin itu, atau mendadak ia merasa angin bersiur diatasan kepalanya, ketika ia berpaling dengan cepat, ia melihat Lie Tiong Hoa sudah berada di cim chee lagi berdiri dengan empat buah golok mengkilap di tangannya, mukanya bersenyum manis, ia lantas merabah ke punggungnya terus ia berdiri menjublak. mukanya pucat, ia mendapat kenyataan, goloknya tinggal sarungnya saja. juga ketiga kawannya pun kaget, Mereka juga kehilangan golok mereka. Dari kaget, mereka itu bertiga menjadi gusar. maka mereka lari kepada Tiong Hoa, untuk menerjang. Tapi mereka tidak berhasil mengepung, bahkan mereka terhuyung mundur, tangan mereka semua memegangi kedua belah ^ici mereka masing-masmg mata mereka terbuka. Ketika tadi mereka menerjang, muka mereka lantai mengisi dengar suara Plak-plok nyaring Lin Tiang Keng heran bukan main, ia melihat muka mereka itu merah dan bengap. sebagai akibat gaplokannya Lie Tiong Hoa, Anehnya adalah si anak muda bergerak sebagai kilat dan lompatannya tinggi, sedang tiga orang itu pasti bukan sembarang orang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Tuan, kau mata cara menbokong, apakah ini caranya satu enghiong?" Lo siauw Hong membentak. Dia kaget tetali dia gusar. Tiong Hoa mengawasi orang she Lo itu, ia tanya bersenyum: "Seorang yang belajar silat, telinganya tak terang, matanya tak tajam, maka dia sama juga tak belajar silat Aku yang rendah berdiri dekat sekali dengan Lo Loosoe, tetapi aku mengambil senjata kamu seperti aku merogo sakuku, apakah artinya itu? Diandaikan aku hendak merampas jiwa-mu, Lo Loosoe, tidakkah itu sama gampangnya seperti aku membalik telapakan tangan-ku? Tapi aku yang rendah tidak mau berlaku keterlaluan Maka itu suka aku memberi nasehat untuk Loosoe beramai pulang saja, jangan kamu bersikap begini garang." Lo siauw Hong melihat mata orang tajam seperti anakpanah menikam, ia bergidik sendirinya. Didalam hatinya, ia kata: "Orang ini masih sangat muda tetapi dia sudah sangat lienay, terang dia tak dapat dibuat permainan. Baiklah aku mencari tempo, untuk dibelakang hari aku membalas kepadanya. Lalu ia bingung apa ia mesti bilang, untuk dapat mengundurkan diri, mundur dengan diam saja berarti malu besar. segera ia juga mendapat jalan, ia membentak: "Jangan kau terlalu menghina. Aku Lo siauw Hong, aku bukan orang sembarang silahkan tunjuki kepandaianmu supaya aku puas." Tiong Hoa tidak menjawab hanya ia mencelat tinggi, terus ia menggeraki tangannya, atas mana keempat batang golok nancap di papan payon, terus bergoyang-

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

goyang tak hentinya, tubuhnya sendiri cepat turun pula, untuk berdiri didepan orang she Lo itu. Lo siauw Hong terperanjat. Baru ia melihat orang berkelebat silau orang itu sudah menghadapi padanya, tanpa merasa, ia menjadi jeri sendirinya. "Bagaimana sekarang. Lo Loosoe?" Tiong Hoa tanya, sikapnya dingin, "Bilanglah, aku yang rendah senantiasa akan mengiringi kau." Hanya bersangsi sejenak. siauw Hong menjawab. "Dengan Hek Eng ciang-tek ingin aku mencoba kekuatan tangan tuan" ia kata. Lin Tiang Keng terkejut mendengar tantangan itu. ia tahu Hek Eng ciang-lek, atau tenaga Garuda Hitam, lihai sekali, tangan itu dapat meremukkan batu bata ada racun nya juga, racun mirip pasir yang berada di telapakan tangan. Siapa terkena racun itu, tangannya bakat menjadi busuk. dan kalau racun sampai di jantung, melayanglah jiwa dari kurban, pelajaran itu meminta tempo tiga tahun, baru terlatih sempurna, sebaliknya kalau gagal, tangan kita sendiri bakal bercacad dan racun akan makan jantung sendiri. Siauw Hong pandai ilmu silat itu, mestinya dia lihai, tidak bisa lain, ia melirik untuk menasehati kawannya waspada. Tiong Hoa bersenyum, ia seperti tidak memandangnya sungguh-sungguh. "Baiklah." katanya bersenyum kepada siauw Hong. "sebelum sampai di sungai Hong Hoo. kau tentu belum puas."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Hm." siauw Hong menjawab, Terus ia mengerahkan tenaganya ditangannya, siap untuk mengadu kekuatan. Sinar matahari memancar ke muka Tiong Hoa, hingga nampak mukanya yang tampan dan terang. Suasana lantas menjadi tegang sekali. Tiga kawannya siauw Hong mundur ke depan jendela, matanya mengawasi ke gelanggang. Masih mereka memegangi pipi mereka, Lin Tiang Keng bersiap dipinggiran. Ban In dan Wan Nio berdiam didalam kamar, mengawasi darijendela, tangan mereka keringatan, hati mereka berdebaran, lebih-lebih nona Ho dadanya sampai guncang. Lie Tiong Hoa mengawasi mata orang, tanpa andalan, tidak nanti Siauw Hong berani menantang mengadu tangan. ia melihat tangan orang menjadi hitam gelap. hingga surup dengan nama ilmu silatnya, Hek Eng atau Garuda Hitam. Diam-diam ia memikir bagaimana harus bertindak. Diam-diam juga ia melirik kepada Ban In bertiga, kepada ketiga musuh lainnya. Begitu ke dua pihak sudah siap. mendadak Lo siauw Hong berseru nyaring, membarengi gerakkan kedua tangannya. Tiong Hoa mendengar dan melihat, Dengan sebat ia menggeser tubuhnya kekanan, sembari menggeser, ia mengeluarkan tangan kirinya, untuk dipakai mengibas ke kiri. Siauw Hong melihat gerakan orang, dia tertawa dan dia kata d idalam hatinya itu "Kau cari mampus, ya?" Dia menyerang terus, tapi tiba-tiba dia terkejut, serangannya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ini tertolak kekanan, lalu dia mendengar jeritan hebat dari tiga kawannya yang berada di samping kanannya itu. Mereka itu roboh bagaikan tembok ambruk. Dalam kagetnya ia berpaling. Lantas, dia kaget di susun kaget. Tiga kawan itu roboh mandi darah, rusuk mereka pada patah, Bahkan jendela di belakang mereka turut roboh dan pasir kapurnya gempar. Dia kaget dan bingung, hingga dia mau menduga lawannya pandai ilmu sesat. "Celakalah jikalau aku melayani terus." pikirnya, lantas ia memberi hormat dan berkata, "Aku si orang she Lo tidak dapat melawan kau, tuan, Maka itu selama aku masih hidup aku harap nanti dapat bertemu pula dengan kau," Habis berkata ia memutar tubuhnya terus ia lompat untuk naik keatas genteng. "Turun," Tiong Hoa membentak seraya sebelah tangannya diulur, sedang kakinya menjejak tanah hingga tubuhnya melesat menyusul tangannya itu mulur tiga kaki. Pundak Siauw Hong kena dijambret lantas dia tertarik balik turun ke tanah. orang sbe Lo itu kesakitan hingga ia mengeluarkan keringat dingin. "Orang she Lie, benarkah kau begini kejam?" Dia tanya, membentak. Tiong Hoa tertawa dingin. Jikalau aku hendak mengambil jiwamu mudah sekali," sahutnya, tak nanti aku menunggu sampai sekarang ini. Aku menghendaki begitu kau datang, begitu kau pergi." ia melepaskan cekalannya, ia menunjuk ketiga kurbannya, Siauw Hoog tunduk. la bertindak kepada mayat tiga kawannya, ia membukai ikat pinggang mereka itu, untuk mengikat tubuh mereka satu pada lain, setelah itu ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengangkatnya, untuk dipanggul, buat terus di bawa berjalan keluar. Pecundang ini baru berjalan dua tindak, maka dari atas genting terdengar suara membentak yang seram ini: "Lo siauw Hong berhenti" Suara itu tidak keras, tetapi menusuk telinga. siauw Hong berhenti lantas, mukanya menjadi pucat, tubuhnya terus menggigil Menyusul suara itu muncullah orangnya serta dua kawannya, Yang satu didepan, yang dua dibelakang. Mereka semua beroman aneh, sebab tubuhnya kuruskering dan mukanya bengis dan dingin, Yang didepan mengenakan baju panjang merah. matanya tajam, usia nya lima puluh lebih, kepalanya mirip kepala mencak. matanya mirip mata tikus, dan kumis jenggotnya yalah kumis jenggot kambing gunung. Muka tikusnya itu bersinar bagaikan kilat, Dua yang dibelakang yalah Im Kee siang Koay dari Bok boe, ketika mereka ini berdua mengenali Tiong Hoa, mereka terkejut. Air mukanya lantas berubah tanpa membilang apa-apa keduanya lompat pula naik kegenting, Untuk segera menghilang. Si orang tua baju merah heran melihat dua kawan itu kabur tidak keruan, tetapi dia tidak menghiraukan bahkan dengan satu lompatan, dia sampai dihadapan sipemuda she Lie, untuk menanya dengan dingin, "Apakah Bok-hoe siang Koay kenal kau?" tajam suaranya, tak sedap terdengarnya. Tiong Hoa tahu kenapa Im Kee siang Koay mengangkat kaki, Mereka itu jeri terhadapnya, ia mendelu melihat orang tua ini bersikap sangat jumawa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan galak, Meski tidak menjawab hanya menanya, perlahan "siapa kau? kenapa kau begini kurang ajar dihadapanku?" Orang tua itu tertawa aneh, ia pun tidak menjawab, hanya mendadak sebelah tangannya meluncur menyamber dada orang, karena dia kurus-kering, tangannya mirip Ceker ayam. Tiong Hoa terbangun alisnya, tubuhnya mencelat kekiri Si orang tua tidak berhenti karena kegagalannya itu. Tubuhnya mencelat maju, tangannya meluncur pula, lima jarinya terbuka. Si anak muda terperanjat juga menyaksikan kegesitan orang itu. ia berkelit pula, ia memasang mata, ia tidak mau membalas. Sepasang mata si orang tua berkeredep. Lagi-lagi dia mencelat, Ketika tangannya menyamber kembali, sekarang bukan lagi dengan sebelah tangan hanya duaduanya. Bisa di mengerti bahwa dia bergerak terlebih hebat pula. samberan itu memperdengarkan suara anginnya. Tiong Hoa menjadi gusar, ia berkelit seraya memutar tubuh, Dengan begitu ia tak usah pergi jauh. sembari berputar itu, ia angkat kedua tangannya, lalu sambil berbalik ia menghajar, dari atas menekan ke bawah, itulah gempuran Guntur. Tangan mereka bentrok. nyaring suaranya. si orang tua kaget, kedua tangannya tertindih, kedua tangan itu terasa nyeri sekali, selagi tertindih itu, ia menarik turun, Begitu bebas, ia mengawasi, kaget dan heran romannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tubuh Tiong Hoa mumbul sedikit, lalu turun pula ia tertawa dingin dan kata: "Di waktu siang benderang ini segala hantu pun muncul, jikalau aku bukan takut membikin dunia kaget, maka tiga mayat itu yalah contoh mu," ia menunjuk mayat bermandikan darah dipunggung Lo siauw Hong. "Hm" orang tua itu bersuara, ia masih tidak takut, ia merogo sakunya, mengeluarkan sebuah peles yang terisi obat bubuk, peles mana ia lemparkan pada Lo siauw Hong. Orang sbe Lo itu menyambuti, tanpa mengatakan apaapa, ia peluruhi isinya, yalah obat bubuk itu, ditubuh ketiga mayat, ia tidak usah menanti lama akan menyaksikan semua mayat itu menjadi air kuning. Habis itu Siauw Hong menghampirkan orang tua itu, untuk berbisik. "Ayoo susiok." katanya, "baiklah soesiok cari lain tempat bekerja, Tak nanti mereka ini dapat lolos" "Hm" orang itu bersuara lagi, Lantas tangannya menjambret Siauw Hong, terus tubuhnya berlompat, ia rupanya mau mengajak pergi keponakan murid itu, yang memanggil ia soesiok, atau paman guru. Tiang Hoa tertawa, tangannya meluncur menyambar. Orang tua itu liehay, dia menyingkir tapi bukan buat menyingkir terus, justeru dia disamber. dia terus jumpalitan hingga dia lewat diatas kepala si anak muda, hingga dilain saat dia berada dibelakang orang. Disinilah, dengan sepuluh jarinya yang tajam, dia menyambak punggung orang. Lie Tiong Hoa mendapatkan samberannya tak memberi hasil. Disamping terperanjat, ia juga heran, tetapi ia mengerti keadaan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia dapat menerka. Maka itu, sebelum ia me mutar tubuh, ia berlompat maju dua tindak setelah itu barulah ia berbalik dengan cepat sembari berbalik, ia menyerang. ia menduga orang mestinya menyusuli menyerang padanya. si orang tua sudah menyusul dan menyerang, akan tetapi melihat orang melesat ke depan, dia tahu penyerangannya bakal gagal, justeru musuh membalas menyerang, dia berlompat mundur. Dia tidak mau melawan terus. selagi mundur, dia mengawasi tajam. "Kau murid siapa?" dia tanya, "Pantas kau galak sekali, kiranya kau benar-benar mempunyai dua macam kepandaian yang lihai." "Bukan hanya dua macam." Tiong Hoa menjawab sengaja berlaku jumawa, ia benci sekali kegalakan dan kejumawaannya orang tua ini dan kawan-kawannya yang berani datang menyateroni saling susul itu, Habis berkata ia maju melompat ketinggi. Ruang di mana mereka berada tinggi tiga tombak. hampir kepala si anak muda membentur wuwungan, atau mendadak ia turun pula, dengan tubuhnya jumpalitan, hingga kepalanya ada dibawah dan kedua kakinya di atas. sembari turun itu ia mengulur kedua tangannya, untuk membalas menyerang. si orang tua berbaju merah kaget, ia mengangkat kedua tangannya untuk menangkis. Kembali ia menjadi kaget. Kedua tangannya itu tergempur hebat sampai dadanya pun terasa sesak. tidak ayal lagi ia lompat keluar, untuk kabur diatas genting.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kemana kau hendak kabur?" Tiong Hoa membentak. tubuhnya melesat seperti anakpanah, mengejar orang tua itu, tangannya pun diluncurkan"Bret." begitu satu suara nyaring, lantas di tangan si anak muda terlihat cuilan baju yang tertiup-tiup angin. Sebaliknya. punggung si orang tua menjadi kelihatan, karena bajunya robek. Dia gusar bukan main, hingga mukanya merah-padam, hingga dia berteriak kuat: "Binatang cilik, aku Keng thian eioe see-boenBoe Wie, aku sumpah tidak mau hidup bersama dengan kau" Habis itu dia tentunya menyingkir terus, kearab tembok kota, guna melewatinya Lie Tiong Hoa masih memegangi juiran baju orang itu yang terus tertiup angin halus, ia berdiam. hatinya berpikir, sedang air telaga Hian Boa ouw memain diantara kepermaian si puteri Malam... ooooo BAB 13 MASIH sekian lama Tiong Hoa memandangi air telaga, baru ia menghela napas dan berjalan pulang, sedangjuiran bajunya Keng-thian-cioesoe-boen Boe Wie, si Penunjang Langit, ia lemparkan ke permukaan air. Ketika ia baru sampai diundakan kedua, disana ia dipapaki Lo siauw Hong yang lari tergesa-gesa kepadanya, lalu menjura dan berkata cepat: "Lo siauw Hong insaf akan kekeliruannya, maka itu ingin ia membuang tempat yang gelap buat pergi ke tempat yang terang, bersedia ia mengikuti Lie tayhiap sebagai menteri yang tidak berhati dua, Aku minta tayhiap suka menerima aku."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa bingung. "Mana dapat, Mana dapat," ia kata, "Lo Loosoe, akulah satu anak sekolah yang baru saja menginjak dunia Kang ouw, yang pelajarannya cetek sekali, Kalau loosoe ingin merubah penghidupan, itulah bagus sekali, mari kita menjadi sahabat supaya sembarang waktu dapat aku memohon petunjuk mu." Siauw Hong bengong, ia hilang pengharapannya. Ketika itu Lin Tiang Keng pun menyusul dia tertawa dan kata: "saudara Lie, jangan tampik Lo Loosoe. Baru saja Lo Loosoe bilang padaku bahwa dijaman ini, ilmu silat saudara sukar tandingannya, karena itu dia bersedia membantu saudara, Dia menganjuri saudara mengangkat diri, Baiklah saudara jangan bikin Lo Loosoe putus asa. Aku sendiri suka turut membantu kau." Tiong Hoa melengak, inilah ia tidak sangka. "Saudara akulah seorang biasa saja, katanya perlahan. Aku ini tak dapat tempat dirumahku,aku pun sudah keliru membunuh orang, dari itu aku jadi hidup merantau. Sama sekali tak ada cita citaku buat mengangkat diri. Cita- Cita ku yalah hidup aman dan damai. Aku pun jeri mengingat pelbagai kepalsuan dalam dunia Kang ouw, Aku pikir buat hidup menyendiri Kalau suka, saudara Lin, mari kita memilih tempat sunyi, guna menungkuli hari-hari mendatang kita. Tidakkah itu lebih membahagiakan?" Tiang Keng mengawasi paham dia tertawa. "Kau masih muda, saudara, kau pun baru menginjak dunia Kang ouw, tapi kau sudah memikir untuk mengundurkan diri, aku rasa taklah kehendakmu itu mudah diwujudkannya." dia kata.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kau tidak menginsafi bahwa dengan sendirinya kau sudah menjadi bulan-bulanan kaum sungai Telaga. sekarang ini, taruh kata kau menyembunyikan diri, kau pasti bakal dicari orang, hingga kau nanti duduk dan berdiri tak tenteram, tidur tak tenang." Tiong Hoa memandang kawan itu, ia heran. "Kenapa begitu, saudara Lin?" "Didalam kalangan Rimba Persilatan, warta warta sangat cepat beredarnya, Bukankah saudara sudah mengundurkan Mao san siang Kiam? Bukankah saudara sudah menggempur hatinya Mao Eng? Kau juga telah membikin jeri Bok- boe siang Koay. Dan barusan, Kengthian-cioesee-boen Boo Wie mesti menyingkir dari hadapanmu. Mereka itu semua orang-orang kenamaan golongan jalan Hitam, segera mereka akan menyiarkan berita. Akibatnya itu yalah kau pasti dibenci golongan mereka, sedang kalangan lurus pasti akan menghormat dan memuji. Ketahui saudara, meski kau jemu dunia Kangouw, tak mudah kau menyingkir daripadanya." Tiong Hoa berdiam, dia melengak. "Lo Loosoe ini sudah lama hidup dalam dunia Kangouw." Tiang- Keng kata pula, "Ia cerdas dan luas pengetahuannya, ia jauh lebih menang daripada aku, maka itu dengan saudara memperoleh bantuan Lo Lo soe, pasti kau bakal lekas mengangkat namamu." Tiong Hoa bimbang, ia ketarik tetapi bersangsi. "Tentang ini baiklah dibicarakan pula nanti." akhirnya ia kata. Tiang- Keng berlega hati, itu berarti si anak muda sudah doyong ke pihaknya, siauw Hong pun girang,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hingga tanpa merasa selanjutnya ia menjadi seperti hambanya pemuda she Lie itu" ooo Besoknya Tiong Hoa sudah lantas pindah kerumah yang baru dibeli Tiang Keng untuk mereka tinggal bersama, tapi ia tidak terlalu gembira. Ia terus ingat Cee Cit, saudara angkat itu. Kwie Kian cioe dan sin-heng sioesoe, yang mengejar Boe eng Hoei Long guna menolongi Kam Jiak Hoei, masih tetap tak kembali, dan dari mereka tidak ada kabar apa-apa, Demikian ia berdiri di tepi pengempang dimana ada dipelihara ikan mas, memandang ikan-ikan itu yang asyik memain dengan pikirannya bekerja keras. Selagi ngelamun itu, ia ingat juga gambar lukisan Yoe san Goat Eng dan menduga-duga siapa itu orang yang telah mendahului ia membelinya. Memikiri lukisan itu, ia menjadi masgul. Tak dapat ia menerka pembeli itu orang macam apa. Letih ia memikirkannya, maka ia membayangi pula Cek In Nio yang membikin semangatnya melayang-Iayang, Yan Hee si boto yang lincah, juga Phang Lee Hoen yang harus dikasihani. Di depan matanya sekarang ada Ban In yang ayu. Akhirnya, ia sekarang telah menjadi orang Kang ouw asli. Tengah anak muda ini menimbang-nimbang pikirannya itu, Tiang Keng dan siauw Hong terlihat mendatangi dengan cepat. orang she Lin itu sudah lantas berkata: "Hari ini telah dua kali aku pergi ke Thian siang Kie, disana tak ada kabar bahwa Cee Locianpwee sudah kembali."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa masgul, alisnya berkerut. "saudara Cee ternama di Kang lam, dialah ketua sebuah Partai, katakatanya pasti dapat dipercaya," ia kata, maka itu dengan dia belum juga kembali, aku kuatir ia kena dicurangi Boeeng Hoei Long, Atau mungkin dia telah pulang ke markasnya untuk membereskan dulu partainya, saudara Lo tahu-kah kau sarangnya Boe-eng Hoei Loo? Aku berniat pergi kesana." Siauw Hoog menggeleng kepala. "Khioe Cin Koen mendapatkan julukannya Boe-eng Hoei Long itu bukan di sebabkan melulu ilmu ringan tubuhnya yang mahir juga karena tak tentu tempat kediamannya itu." ia berkata, "Bahkan kedua muridnya Kimleng Jie Pa, tak tahu juga dia bersarang dimana. Demikianlah maka dia juga dinamakan Thian Gwa It shia, si sesat nomor satu dari luar langit." Jangan berduka, saudara Lie legakan hatimu." Tiang Keng menghibur "Cee Locianpwee dan sin heng sioe soe sama-sama ternama. mereka sama-cama liehay, biarnya Boe-eng Hoei Long liehay akal- muslihatnya. tidak nanti dia dapat berbuat apa-apa terhadap mereka itu. Mungkin sekali mereka sudah berhasil menolongi Kam Jiak Hoei. Besok hari perjanjian dengan Kwie Lam Ciauw, berhubung dengan itu, bersama saudara Lo aku telah memikir suatu daya, Kami anggap tidak tepat saudara yang baru mendapat nama memperoleh banyak musuh, bahkan sebaliknya, maka itu baiklah saudara menggunai dia. Aku percaya, dengan kecerdikan kau, saudara Lie, kau dapat mempermainkan padanya." Tiong Hoa mengawasi siauw Hong, ia ber senyum.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Saudara Lo." ia tanya, "tolong kau beri tahukan aku bagaimana perhubungan diantara Kwie Lam Ciauw dengan Tiat-tek coe Jie siong-cin ketua muda dari Thian Hong pang serta Loo Liang-sin Pek liang dari Tong-teng san?" Siauw Hong bersikap hormat ketika ia menjawab: "Kwie Lam Ciauw itu seorang manusia paisu yang berpura-pura menjadi orang lurus, kelihatannya dia tak sesat bahkan gagah lagi budiman, dia mirip seorang kesatria, sebenarnya dia mengandung cita-cita yang besar, Demikianlah, maka perhubungannya dengan Thian Hong Pang dan Tong-teng san juga bagus diluar saja." Tiong Hoa mengangguk, ia tidak bilang suatu apa, pembicaraan mereka berhenti dengan munculnya seorang bujang, yang bicara dengan Lo siauw Hong, katanya ada datang seorang tetamu she Cian yang mohon bertemu. Mendengar she tetamunya itu, siauw Hong terkejut, tetapi ia lekas berkata: "Kau undang dia masuk." Bujang itu mundur pula, tak lama ia kembali sembari memimpin tetamunya, seorang yang tubuhnya besar, yang mengenakan seragam sulam yang singsat. Siauw Hong bertindak cepat menyambut, dia tertawa nyaring. "Saudara Cian," katanya gembira, "Apakah kau datang sedang menjalankan titah? Mari siauwtee ajar kau kenal dengan kedua tayhiap." Dia pun menjabat tangan orang untuk dipegang erat-erat. Orang she Cian itu, Tiauw Hong namanya, menjadi soe-tee atau adik seperguruan dari ciangbunjin atau ketua, dari partai Hoay Yang Pang, tentang dia barusan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siauw Hong memberitahukannya selintasan, dari itu Tiong Hoa diam-diam memperhatikannya. Bersama Lin Kiang Keng, ia diperkenalkan pada orang. Segera setelah berkenalan itu, Cian Tiauw Hong kata pada Lo siauw Hong. "Saudara Lo ingin kumemberitahu padamu perihal sikapnya Keng-chian-cioesee-boen Boe Wie, ketika dia pulang ke Kwie In Chung, dia lantas membeber halnya kau telah berkhianat sebab kau memisahkan diri, dia kata dia hendak paling dulu membinasakan kau. Karena ini. Kwie Chungcoe jadi berebut omong dengannya, Kwie Chungcu membelai kau yang dikatakan berbudi bahwa tanpa sebab tidak nanti kau menjauhkan diri Kwie Chungcu mengusulkan memberi ketika kepada kau untuk memberi penjelasan supaya dapat diketahui siapa benar dan siapa salah, habis mana barulah keputusan dapat diambil. Tapi seeboen Boe Wie tetap tidak puas. Dia telah menitahkan secara rahasia kepada orang kepercayaannya untuk membunuh kau secara menggelap. oleh karena itu, saudara aku datang kemari untuk memberi kisikan. Tentang sikap saudara mesti ada sebabnya, karena itu apakah kau suka memberi keterangan padaku?" Lo Siauw Hong tertawa, dengan terus-terang ia tuturkan peristiwa kemarin yang membuatnya mengambil sikapnya ini, ia kata ia tidak memikir untuk memusuhkan San boen Boe Wie atau Kwie Lam ciauw. Mendengar itu, cian Tiauw Hong menjadi mendongkol sekali. "Ooh kalau begitu pastaslah sekarang ini See boen Boe Wie giat mengumpulkan kaki tangan-" katanya keras, "teranglah dia hendak menentang Kwie chungcu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pantas dia beriaku kejam dalam hal menyingkirkan kawan-kawan yang tidak dia sukai lagi." Tiong Hoa nampak heran- ia campur bicara, katanya: "Kwie chungcu itu tidak bentrok dengan siapa juga, dia hidup menyendiri di kampungnya, kenapa See-boen Boe Wie hendak menumpasnya? Apakah ganjalan diantara mereka itu berdua?" Cian Tiauw Hong berdiam, kelihatannya dia bersangsi. akan tetapi toh, selang sesaat, dia kata sungguhsungguh: "coan-in-Yan Kwie Lam ciauw mengundurkan diri dalam usia masih muda, sebabnya itu yalah satu kesulitan- Diluar nampak dia hidup damai dengan siapa juga, tetapi sebenarnya, dalam dirinya, dia mengandung cita-cita besar. Adalah kemudian, karena merasa ilmu silatnya masih tidak dapat menyampai lain-lain orang kenamaan, pada limabetas tahun dulu dia menyimpan goloknya, dia mengundurkan diri, Keputusannya itu dia telah umumkan-" "Lalu, Seboen Boe Wie itu mengandung maksud apa?" Tiong Hoa tanya. Cian Tiauw Hong bersenyum. "Tentang Seboen Boe Wie ini, sedikit sekali orang yang mengetahuinya," ia menjawab, "Aku sendiri, aku mendapat tahu itu secara kebetulan saudara Lo. sekalipun masih gelap. Kwie Lam Ciauw berdua Seboen Boe Wie berasal satu rumah perguruan, biasanya mereka hidup rukun seperti saudara-saudara kandung, akan tetapi selama yang belakangan ini, mereka menjadi sebagai air dengan api." "Tentang dendaman diantara mereka, samar-samar aku telah melihatnya," berkata Lo siauw Hong, "cuma

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tentang sebabnya aku masih belum tahu, Apakah sebab itu?" Cian Tiauw Hong tertawa, ia memandang ketiga tuan rumahnya. "Saudara-saudara, apakah saudara-saudara ketahui bahwa sekarang ini Rimba Persilatan lagi menghebohkan tiga macam mustika?" ia tanya, "Di antara tiga itu dua sudah muncul. Maka kaumjalan Hitam danjalan putih, semua mengilar ingin mendapatkannya, Kedua mustika itu sudah menggemparkan dunia Kang ouw. Apakah benar saudara-saudara belum pernah mendengar itu?" Lo siauw Hong memperlihatkan roman heran. ia lantas menanyai "Apakah itu bukannya cangkir Koibeo Liauwgiok Coei In Pwee kepunyaan Pangeran Tokeh di kota raja yang telah di curi Kamliang sam-to?" Cian Tiauw Hong mengangguk Mendengar di sebut kota raja, hati Tiong Hoa berdebar sendirinya, ia menjadi ingat soalnya dan karenanya ia mesti kabur, hingga sekarang ia menjadi seorang buronan Cian Tiauw Hong berkata, menerangkan. "Cangkir kemala Coei In Pwee itu milik negara dan sudah banyak tahun tersimpan didalam gudang istana, kemudian pangeran Tokeh berjasa dimedan perang, dia dihadiahkan cangkir mustika itu. Pada suatu hari, tengah pangeran itu buat main mustikanya ia terlihat salah seorang sie-wie, pahlawan yang mendampinginya, kemudian sie-wie itu membocorkan hingga kaum Rimba Persilatan lantas ramai membicarakannya, sebenarnya mulanya cangkir itu menjadi kepunyaan it piauw sian seng, seorang berilmu dari dinasti yang telah lampau. Anehnya cangkir yalah di dasarnya ada dua butir mutiaranya, sebuah merah, sebuah lagi putih, yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

merah itu di namakan Ya-beng coe, artinya mutiara malam bercahaya, harganya itu seumpama harganya sebuah kota. Untuk kita kaum Rimba Persilatan, ya-bengcoe itu masih belum berharga seberapa, Yang putih bernama Teng-sin-coe. mutiara menetapkan semangat, inilah yang penting dan paling dihargakan-Kalau cangkir itu di isikan arak yang di campuri obat-obatan, arak obat itu dapat memunahkan pelbagai macam racun, asal saja racun belum membikin isi perut busuk, sebentar saja orang bebas dari keracunan. Yang penting kalau cangkir itu diisi macam macam obat, terus obat itu diseduh dengan arak Pekslian tincioe untuk diminum orang yang mengerti silat. siapa belajar sitat, penting kalau kedua nadinya yang dinamakan jin dan tok dapat teraturkan sempurna, dan itu akan tercapai apabila orang minum arak obat asal cawan mustika itu." Jilid 10 : Cee-cit membersihkan Thian Hong Pang Lin Tiang Keng dan Lo Siauw Hong sangat tertarik hatinya. Tiauw Hong bercerita sambil memandang orang-orang dihadapannya, ia mendapat kenyataan Lie Tiong Hoa seperti memikirkan sesuatu, ia heran, ia melanjuti keterangannya. "Setelah dunia Kang-ouw menjadi gempar, lantas banyak orang Rimba persilatan yang datang ke kota raja, untuk dapat mencuri cangkir mustika itu. Diluar dugaan orang, kemudian cangkir itu dapat dicuri oleh sam Cioe Ya-Cee Tam Siauw Go serta tiga penjahat dari Kam-liang, yang disebut Kam-liang sam-to.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang-orang polisi menjadi repot dan lantas bekerja untuk mencari kawanan pencuri iin, Lantas terjadi hal yang menggemparkan. Dijalan umum didekat Khopie-uan telah didapatkan mayatnya Kang Lam sam To dan Tam Siauw Go. Tam Siauw Go itu kecuali julukannya sao Cioe Ya-cee, "Memedi Bertangan Tiga, dikenal juga sebagai Tan-Lam it Kwie, yaitu Hantu tunggal dari In-lam selatan. Menurut pemeriksaan, mereka terbinasakan senjata rahasia yang beracun. Cangkir coei in Pwee itu tak kedapatan pada tubuh mereka itu dan sampai sekarang sia-sia saja orang mencarinya." "Apakah orang Rimba persilatan juga tidak mengetahui siapa perampas cangkir itu" Tiang Keng tanya, "Bukankah senjata rahasia itu bisa digunakan sebagai perantara untuk mengetahui pemiliknya?" Tiauw Hong mengawasi, ia bersenyum "Perampas itu pastilah telah memikirkannya." ia kata, "Mana dia mau menggunai senjata rahasia miliknya sendiri?" Mukanya Tiang Keng merah karena jengah inilah ia tidak pikir. "Benda kedua itu yalah kitab ilmu silat" Cian Tiauw Hong melanjuti ceritanya. "Apa sebenarnya kitab silat itu, orang tidak ada yang tahu, tak tahu juga namanya, orang melainkan ramai memperbincangkannya. orang cuma tahu," ia menambahkan, "siapa dapat kitab itu dan berhasil memahamkan-nya, dia bakal menjadi jago nomor satu. Katanya kitab itu telah di dapatkan Kwie Lam Ciauw, dan dia menyimpannya sudah lima tahun, pada dua tahun yang lalu, see-boen Boe Wie mendapat tahu hal itu, Boe Wie lantas minta untuk mempelajarinya bersama tapi ditolak Kwie Lam Ciauw, Karena ini maka see- boen Boe Wie menjadi berubah pikirannya..."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiang Keng dan Siauw Hong heran, "Kalau Kwie Lam Ciauw telah mendapat kitab ilmu silat itu selama lima tahun," kata si orang she Lo, yang mengerutkan alisnya, Pasti ia sudah berhasil mempelajari itu dan pasti ia dapat melawan see-boen Boe Wie, akan tetapi kenyataannya ia selalu mengalah, inilah heran-.." "Bicara memang mudah" kata Tiauw Hong dingin"Kitab itu luar biasa isinya, sulit untuk dibaca mengerti, Ketika Kwie Lam Ciauw memilih pelajaran yang gampang-gampang saja, ia merasa dadanya sesak. tenaganya menjadi hilang, maka itu untuk mempelajarinya, ia membutuhkan cangkir coei in Pwee dari Kothen itu. oleh karena ini ia telah menugaskan secara rahasia kepada anaknya untuk mencari cangkir mustika itu, See-boen Boe Wie juga mengirim orangorangnya mencari dengan berpencaran demikian maka selama yang belakangan ini Kwie in chung menjadi terancam bahaya." Tiauw Hong tertawa meringis, agaknya dia bersusah hati. "Aku mengetahui terlalu banyak." dia menambahkan perlahan, "maka itu dua-dua Kwie Lam Ciauw dan Seeboen Boe Wie berniat menyingkirkan aku..." Tiong Hoa tetap berdiam dengan matanya terus mengawasi air pengempang, melainkan telinganya mendengari dengan perhatian Lagi-lagi ia mendapat kenyataan dari sulit dan berbahaya penghidupan dalam dunia Kang ouw dimana segala apa sukar diterka, tanpa merasa, ia menghela napas, tengah ia hendak mengangkat kepala, buat melihat keatas, mendadak matanya melihat sesuatu, hingga ia tercengang. itulah pemandangan dimuka air, yang berombak sebentar, lalu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menjadi tenang pula tapi dimuka air itu tampak bayangan muka orang. Disamping empang itu ada sebuah pohon yanglioe yang daunnya lebat, pohon itu bergoyang tertiup angin, waktu cabang dan daun nya bergerak, hingga seperti tersingkap^ di belakang daun lebat itu terlihat seraut maka. Semua itu terbayang nyata di permukaan air, Tiong Hoa melihat itu, ia tercengang sebentar lantas ia tertawa dan kata: "Aku pun baru saja mendapatkan suatu barang yang luar biasa, saudara bertiga baiklah menunggu sebentar, nanti aku pergi ambil, Barang itu tak kalah berharganya dengan ketiga mustika yang menghebohkan kaum rimba persilatan itu." Habis berkata anak muda ini lantas masuki kedalam, tapi tak lama ia pergi, mendadak terdengar tertawanya yang nyaring di atas genting rumah di susul dengan jeritan keras yang menyayatkan hati. Tiang Keng bertiga Siauw-Hong dan Tiauw Hong terkejut, Lantas mereka melihat dengan melayang turunnya Tiong Hoa. Dari tiga orang jatuh itu dua sudah mati karena mereka tak berkutik lagi, Orang yang ketiga masih dapat merayap bangun untuk menyingkirkan diri, akan tetapi baru dua tindak dia sudah roboh pula. Tiauw Hong yang nampaknya heran sekarang menjadi kaget, terus dia menjadi gusar, Mukanya merah matanya mendelik. Dia lantas lompat kepada orang yang roboh itu, dia menjambak sambil menanya bengis, "siapa suruh kau datang kemari?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang itu pucat mukanya dan matanya suram, ia mengeluarkan napas dan mengucapkah perlahan. "Kwie Lan Ciauw..." Habis itu berhentilah napasnya. Parasnya Tiauw Hong menjadi pucat. "Kwie Lam Ciauw, oh, kau lihai sekali..." katanya seorang diri, tiba-tiba dia menghamparkan Tiong Hoa, untuk pay koei sambil berkata: "Cin Tiauw Hong suka bersama-sama Lo Siauw Hong berlindung di bawah perintah kau, Lie Tayhiap. Kau dapat memerintah kami sesuka kau, tidak nanti kami menampik" Dengan repot Tiong Hoa memimpin orang bangunJangan mengatakan begitu, saudara Cian," ia kata bersenyum. "Kita baru bertemu tapi biarlah kita menjadi seperti sahabat-sahabat lama, Berat kata-katamu ini" Cian Tiauw Hong memandang tajam, dia berkata sungguh-sungguh: "Ketika Kwie Lam Ciauw mendapat kenyataan saudara Lo pergi dan tak juga kembali, dia menyuruh aku datang kemari mengundang kau, Lie Tayhiap, Aku diharuskan dapat mengundang kau datang ke Kwie In Chung, Rupanya dia pun tidak percaya aku, maka dia mengirim orang untuk mengintai aku, syukur tayhiap dapat mempergoki mereka ini bertiga jikalau tidak. apabila aku pulang, pastilah aku akan mati tanpa tempat kuburku" "Habis bagaima sekarang?" tanya Tiong Hoa, "Apa saudara mau pulang untuk membawa kabar?" Tiauw Hong berdiri tegak kedua tangannya dikasi turun. "Ya, sekarang juga aku akan segera kembali," dia kata, "Besok setelah tayhiap tiba di Kwie In chung, baru

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

aku akan mencari jalan untuk mengundurkan diri "Siauwtee suka turut saudara pulang." kata Siauw Hong. Tiong Hoa berpikir, "begitupun baik," katanya, "dengan begitu Kwie Lam Ciauw menjadi tak curiga, Entahlah besok. jikalau akupergi kesana, berbahaya atau tidak..." "Kwie Lam Ciauw membutuhkan tenaga tayhiap." kata Tiauw Hong, "andaikata dia hendak mencelakai tidak nanti itu dilakukan sekarang, tentulah dia menanti sampai tayhiap sudah membikin Seeboen Boe Wie tak berdaya lagi, Tetapi Kwie Lam Ciauw sangat licik, dia tak terkentarakan gusar dan girangnya karena itu baik tayhiap waspada." Tiong Hoa mengangguk. "Terima kasih" ia kata, bersenyum. "Aku minta tuantuan menyahut namaku saja, jangan memanggil tayhiaptayhiap tak hentinya. sebutan itu dapat merenggangkan keakraban kita." Dua orang itu mau memandang si anak muda sebagai majikannya, tak ingin mereka mengubah panggilan maka itu mereka berdiam saja. Tiong Hoa mengawasi ia melihat orang bersungguh-sungguh. "Tuan-tuan, apakah kamu melihat Mo in Kim-Kiam Yan Hong di dalam Kwie In Chung," ia tanya kemudian. Tiauw Hong mengangguk. "Tapi kemarin dia telah berangkat ke Tong Teng san ke tempatnya Loo-Liong sin Pek Liang," ia memberi keterangan "Ah, tahulah Tiauw Hong Tayhiap tentu bermusuh dengannya, kalau tidak. tidak nanti dia dapat membujuki Kim leng Jie Pa menyaterukan tayhiap. oleh karena Kwie Lam Tiauw tidak suka membantu dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebaliknya dia mengundang tayhiap. Yan Hong menjadi gusar dan lantas pergi tanpa pamitan lagi." Habis mengucap begitu, bersama-sama Lo Siauw Hong, Tiauw Hong memberi hormat lantas mereka memutar tubuh, untuk pergi dengan cepat. Tapi Siauw Hong mendadak kembali dan kata pada Tiong Hoa, "Tayhiap bersama saudara Lin tinggal disini, inilah tidak sempurna, sepak terjangnya Seeboen Boe Wie harus di perhatikan Menurut aku baiklah tayhiap mencari lain tempat lebih aman-" setelah itu dia pergi pula. Tiong Hoa mengawasi orang menghilang. Kembali ia merasakan perbedaan sikapnya Tiauw Hong dan Siauw Hong luar biasa, Di kota raja, baik kawan dan orang dalam rumahnya, tak menghormati ia tetap disini kedua orang kosen itu sangat menghormati kepadanya, sikap mereka membikin ia berpikir justeru ia masih muda, memang tepat kalau ia mengangkat nama, inilah ketikanya yang baik. Buat apa merantau kalau ia tetap tak berbuat apa apa? Mau atau tidak ia terlibat penghidupan kaum Kang ouw, atau Rimba Persilatan, Hanyalah karena berpikir begini, kembali pikirannya menjadi kusut, hingga ia mesti berpikir keras. Tiang Keng melihat orang berdiam saja, dia tidak mau mengganggu ia percaya kawan ini lagi memikirkan sesuatu Tiang Hoa tentu berdiam terus kalau ia tak disadarkan suara Ban-in dan Wan Nio, yang memanggil mereka dari jendela, ia lantas menoleh kepada Tiang Keng dan bersenyum, terus keduanya masuk kedalam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ooo Dusun Kwie In chung terletak diluar kota Liok-hanterpisahnya empat puluh lie dari tembak kota, duduknya diantara cagak tiga sungai, sedang dibelakangnya yalah gunung, itulah sebuah dusun besar dan bagus keletakannya. Dilihat dari romannya, pantas tempat itu menjadi tempat peristirahatan atau untuk hidup menyendiri. Air yang jernih dan pepohonan yang hijau mengurungnya. Didepan pekarangan luar terdapat semacam rimba pohon tho. Lohor itu d idalam rimba pohon tho terlihat seorang tua bersama dua kacungnya. Dialah seorang yang jidatnya tinggi kumisnya hitam hidungnya yang mancung sedikit bengkok. dan kedua biji matanya bersinar sangat tajam. Dia lagi berdiri tenang dengan kedua tangannya digendong, dia mengawasi kedepan, Bajunya yang panjang dan warnanya putih memain diantara sampokannya sang angin. Kedua kacungnya yang nampak lincah mesti mengerti ilmu silat seperti dia. Kemudian mereka bertiga jalan sampai ditepi kali, jalanan disitu kecil dan berliku-liku, Ke sungai mereka memandang layar-layar putih, sinar matanya orang itu guram. Belum terlalu lama maka terlihatlah datangnya seorang bertubuh kecil dan kurus yang pakaiannya singsat, Dia menghampir kan orang itu lalu berdiri dibelakangnya dan memanggil "Cung coe"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang tua itu memutar tubuhnya dengan perlahan. "Ada apa?" ia menanya. orang kurus itu bersikap hormat, ia menyahuti sabar: "cian Tiauw Hong dan Lo Siauw Hoog sudah kembali, Mereka sekarang berada diluar rimba untuk bertemu dengan chungcoe." Orang tua itu yalah Kwie Lam Ciauw, pemilik dari dusun Kwie ie Chung itu. Dia agaknya heran hingga dia mengasi dengar suara "oh" Dia tercengang tetapi itu tak kentara pada wajahnya, terus dia kata " lekas suruh mereka datang ke mari " Orang kurus itu memutar badannya atau majikannya tanya padanya. "Dimana ada nya Seeboen Loosoe sekarang?" "Dia sedang main catur bersama Hoat sian siansoe dan Thian Leng sie." Kwie Lam Ciauw mengawasi orang berlalu. Kalau tadi ia nampak berduka, sekelebatan wajahnya tersungging senyuman dengan perlahan terdengar dia bersenandung. Tak lama maka Tiauw Hong dan Siauw Hong muncul, selagi orang mendekati, ia memapak mereka, sembari tertawa nyaring ia kata: "Banyak capai, tuan-tuan Apakah pemuda she Lie itu dapat diundang?" Cian Tiauw Hong menjura. "Lie tayhiap berjanji akan datang besok." sahutnya. "Bagus. Bagus." Lama Ciauw tertawa pula tapi d idalam hatinya, dia mendongkol, dia Jelas, inilah sebab dia mendengar Tiauw Hong memanggil orang dengan sebutan tay-hiap. yang berarti orang gagah yang mulia, itulah panggilan sangat menghormat dan memuja, terus ia berdiam, tidak ia menanyakan halnya Siauw Hong dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang she cian ini yang agaknya lambat kembalinya, pada wajah nya tidak tertampak apa yang ia pikir, Hanya kemudian ia menghela napas. "Apakah kamu tahu kenapa aku si orang tua mengundang Lie tayhiap?" ia tanya, la mengubah panggilan si anak muda she Lie dengan tayhiap yang ia tak puas mendengarnya itu." "Apakah chungcu mengundangnya untuk dia dipakai melayani See-boen Boe Wie?" Tiauw Hong menanya, suaranya menyatakan dia mendongkol. Kwie Lam Ciauw mengangguk perlahan, "sudah bertahun-tahun kau membantu aku si orang tua kau tahu baik hatiku, "ia menjawab, "maka itu kalau nanti Lie Tayhiap datang, aku minta sukalah kamu melayaninya baik-baik," Alisnya Tiauw Hong terbangun, dia menyahuti, suaranya dalam: "Tak usahlah chungcoe pesan lagi, Kami tahu bagaimana harus melayaninya, Cumalah harus dijaga halnya dia gampang terancam terbinasakan dengan terbokong, Aku pun minta chungcoe bersiaga." Kwie Lam Ciauw nampak terperanjat "Apa artinya perkataan kau ini?" dia tanya. Cian Tiauw Hong lantas kasih keterangan halnya Seeboen Boe Wie mengirim orang orangnya buat membunuh dia, bahwa kemarin ini hampir saja Lo Siauw Hong terbinasa ditangannya jago tua itu, ia ceritakan bagaimana mereka ditolongi tayhiap she Lie itu. Peristiwa itu merupakan kenyataan, hanya Tiauw Hong menuturkannya demikian rupa, hingga terbayang Kwie Lam ciauw sendiri turut teramcam bahaya setiap waktu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kwie Lam ciauw bergidik, lalu dengan menyeringai dan keras ia kata: "Jikalau aku si tua tidak membunuh kau, aku bersumpah tidak mau menjadi orang.." Baru kali ini majikan dari Kwie In Chung ini mengentarakan rasa hatinya. Justeru itu dari atas sebuah pohon digili-gili sungai terlihat melayang turunnya satu tubuh yang berbaju merah, yang gerakannya gerakan Tay-peng-tiau-cie atau Burung garuda membuka sayap. Dengan cepat orang itu sampai didepannya Kwie Lam Ciauw. Begitu orang berlompat turun, Kwie Lam Ciauw bertiga telah melihatnya, maka itu, chungcoe itu sudah lantas menutup mulutnya. Tapi selekasnya orang berada didepannya, dia bersenyum dan menyambut dengan pertanyaannya: "Bukankah soetee lagi main catur dengan Hoat sian siansoe? Kenapa soetee mempunyai kegembiraan untuk datang kesini?" Keng-Thiang-Cioecoe-boen Boe Wie tidak menjawab tuan rumah yang menjadi soe-heng, atau kakak seperguruannya, ia hanya mengawasi bengis kepada Cian Tiauw Hong dua Lo Siauw Hong, sinar matanya, sinar mata pembunuhan. Lantas juga terdengar suaranya yang seram: "Manusia tukang mengadu" orang, bagaimana kamu masih ada muka untuk balik kembali?" Kata-kata itu dibarengi menyambarnya tangannya kepada Lo siauw Hong. "Hm," Kwie Laui Ciauw bersuara seraya tangan kanannya mengibas kelengannya penyerang yang bengis itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seeboen Boe Wie menarik tangannya sambil berkelit kesamping. "soe-heng, apakah artinya ini?" dia tanya keras, matanya menatap. "Tidak apa-apa, soetee," kata Lam Ciauw tertawa, "Aku cuma kuatir orang lain nanti jail mulut mengatakan kakakmu ini membiarkan adik seperguruannya sewenang-wenang membunuh orang sebawahannya, jikalau itu sampai tersiar, cara bagaimana kakakmu ini nanti bertemu orang?" Mendengar keterangan iiu, secboenBoe Wie tertawa terbahak bahak. "Binatang ini manusia tukang merenggangkan orang" katanya nyaring, "tidak ada artinya untuk membunuh dia itu pun tidak memalukan Siauwtee mewakilkan kau menjalankan aturan, soeheng, mana dapat orang nanti mengatakan kau membiarkan atau menganjurkan aku?" Kwie Lam Ciauw tetap berlaku sabar dan tenang. "Urusan belum lagi terang, mana bisa kita lancang melakukan pembunuhan?" ia kata. Adik seperguruan itu tertawa dingin. "soeheng." dia kata, " kau tidak percaya Siauwtee, maka Siauwtee kuatir kau nanti mati tanpa ada tempat kubur untukmu" Hebat kata-kata itu hingga Kwie Lam Ciauw melengak, ia gusar tetapi ia dapat mengendalikan diri "Hm. Hm." terdengar suara d ih id ung nya, ia lantas kata: "Mereka in^ telah turut aku buat banyak tahun, aku perlakukan mereka baik sekali, cara bagaimana mereka dapat berkhianat padaku? jikalau tuduhan terhadap mereka benar, kenapa mereka berani pulang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kemari? Tidak. tidak nanti mereka bernyali demikian besar." Seeboen Boe Wie tertawa dingin, "Manusia itu, hatinya terpisah dengan perutnya." katanya tajam, "siapakah dapat melihat hatinya itu? Didalam dunia ini banyak sekali orang yang membalas kebaikan dengan kejahatan jikalau soeheng tidakpercaya soetee, aku kuatir dibela kang hari soeheng nanti menyesal sesudah kasip." "Perkataan kau ini benar, soetee jangan kata diantara sahabat-sahabat, sekalipun saudara kandung sendiri, masih ada yang tak dapat dipercaya sepenuhnya. Kakakmu ini mengambil sikap memperlakukan semua orang sebagai kesatria, biarlah dunia mensia-siakan aku, asal aku tidak mensia-siakan orang banyak Yang lainnya semualah kata kata tak artinya." Seeboen Boe Wie ketahui kakak seperguruan ini mengatakan dia yang licik akan tetapi dia tidak dapat menyatakan kurang senangnya, maka itu dia melainkan bisa mendongkol hingga mukanya menjadi merah dan matanya seperti mau berlompat saking menahan hati, Dengan bengis dia menatap bergantian Tiauw Hong dan siauw Hong, Kedua orang she Cian dan she Lo itu tidak takut, bahkan dalam hatinya mereka tertawa hanya diam-diam mereka bersiaga kalau-kalau orang nanti menyerang mereka. Seeboen Boe Wie dapat juga mengendalikan diri, maka itu kemudian dia menjadi sabar, air mukanya tak sebengis tadi, Dia tertawa tawar dan kata: "Baik, baiklah. Kelihatan nya burung yang terbang sudah lewat habis dan panah harus disimpan,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

selanjutnya tentu soeheng tak membutuhkan Siauwtee lagi, maka itu soetee meminta diri buat selama lamanya" Kwie Lam Ciauw mengurut kumisnya, Dia tertawa lebar. "Soetee mengapa soetee berpikir terlalu hanyut?" ujarnya, " Kakakmu ini telah menerima bantuanmu banyak sekali maka juga Kwie Ie Chung ini dapat dibangun seperti ini budimu itu kakakmu akan ingat sekali, Kenapa soetee begini mudah bicara tentang perpisahan? Cian Loosoe dan Lo Loosoe tolong kamu minta Seeboen soetee suka berdiam terus bersama kita" Cian Tiauw Hong lantas menjura pada Seeboen Boe Wie. "Sebenarnya juga Kwio in chung tak dapat dipisahkan dari Seeboen Tayhiap" ia berkata, juga mengenai urusan dengan Thian Hong pang dan Tong Teng san, chungcu kami sangat mengandal pada tayhiap. Tanpa tayhiap tidakkah rencana kita itu bakal menjadi seperti busah saja? tentang diri kami berdua si orang she Cian dan she Lo," ia menambahkan "kami pasti ingat budinya Chungcu yang besar laksana gunung. maka itu mana dapat budi dibalas dengan kejahatan? Aku minta sukalah tayhiap tidak mendengarkan kata di luaran-" Seboen Boe Wie berdiam saja, ia cuma tertawa mengejek. Ketika itu satu peg awai dusun datang dengan cepat, menghampirkan Seeboen Boe Wie. untuk melaporkan"Diluar ada datang dua tetamu tua yang bertubuh kecil dan katai bersama seorang muda yang membawa pedang, mereka itu mohon bertemu dengan tayhiap." Seeboen Boe Wie mengerutkan alis.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kenapa penjaga tepian sungai membiarkan mereka lewat sebelum mereka melaporkan dan meminta perkenan?" ia tanya. "Mereka itu melintasi sungai dengan berjalan diatas air dengan kepandaiannya teng-peng tou-soei," sahut pekerja itu. "Katanya mereka itu liehay sekali hingga penjaga tepian tidak berani menghalang-halangi mereka?" Matanya Boe Wie bersinar bengis, terang dia mendongkol sekali, "Segala manusia tak berguna." katanya sengit. "Mereka memberitahukan nama mereka atau tidak?" Pegawai itu berdiri tegak seraya menurunkan kedua tangannya. "Kedua orang tua itu menyebut dirinya Ceng shia siang Ay," sahutnya. Seeboen Boe Wie berdiam dia mengoceh sendirinya: "Aku tidak kenal Ceng shia siang Ay, ada urusan apa mereka mencari aku?" Terus dia mengawasi Kwie Lam Ciauw. Ketika itu Kwie Chungcoe sambil menggendong tangan lagi memandang ke arah gunung, sikapnya sangat tenang mengenai urusan Ceng shia siang Ay itu ia seperti tidak mendengarnya. Menampak demikian, Boe Wie tertawa dingin. "Dan siapa si anak muda yang membawa bawa pedang?" ia tanya pula sipegawai atau chung-teng. "Kong-sen-.." kata Boe Wie sendirian agaknya dia terkejut, Lantas matanya mendelong air mukanya guram, Kemudian dia tanya: "Bagaimana romannya pemuda itu?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Apakah ada sesuatu yang luar biasa?" Chungteng itu berpikir. "Tidak, kecuali dijidatnya, diantara kedua alisnya, ada tai- lalatnya warna merah, sahutnya sesaat kemudian. Seeboen Boe Wie kaget, kedua kakinya lantas menjejak tanah, hingga tubuhnya mencelat tinggi, hingga sebentar saja dia sudah lari belasan tombak jauhnya. Cian Tiauw Hong memberi tanda kepada si chungteng yang lantas mengundurkan diri Kwie Lam Ciauw memutar tubuhnya dengan perlahan, dengan dingin dia kata: "Ceng shia siang Ay bangsa lurus, tak nanti mereka datang tanpa sebab, sedang anak muda she Kongsoen itu pastilah turunan dari kurban darah berbau amis dari see- boen Boe Wie." "Benar-benar rupanya Kwie In Chung bakal tak dapat tenang dan damai lagi..." "Apakah chungcoe tidak dapat berdiam diri, menonton disamping dengan berpeluk tangan saja?" Lo Siauw Hong tanya. Chungcoe itu menggoyang kepala, "Mana dapat aku si orang tua membiarkan orang mengatakan aku tak bijaksana dan tak berbudi?" sahutnya masgul. Dan ia menghela napas, tanpa mengucap sepatah kata lagi, dia pun berlompat, untuk lari pulang. Lo Siauw Hong tertawa dingin. "Pandai sekali Kwie Lam Ciauw bersandiwara," katanya sebal, "sebenarnya dia licik dan licin sekali, dia melebihkan See- boen Boo Wie. Mari, kita menonton keramaian-" Cian Tiauw Hong menurut, maka berdua mereka lagi kedepan-

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tak lama dari kepergian Tiauw Hong berdua, dari dalam rimba dekat situ terlihat munculnya seorang yang berdandan sebagai seorang sastrawan, mukanya putih, alisnya bagus, kumis dan jenggotnya terpecah tiga. Halus sekali gerak geriknya dia. Dia berjalan sampai ditempat berdiamnya Lam Ciauw beramai, lantas dia berhenti, Lantas terdengar dia berkata-kata seorang diri, "Kwie Lam Ciauw, kau hendak menelan Thian Hong Pang, itulah pikiran gila itu berarti kau cari jalan mampusmu sendiri. Apakah kau kira aku Tiat-tet-cee Jiesiong-gan orang yang dapat dibuat permainan?" Habis berkata begitu, mendadak dia lari balik kedalam rimba untuk keluar pula sambil menenteng masingmasing seorang bocah ditiap tangannya, ia meletaki mereka itu di tanah diatas rumput lantas ia menotok tubuh mereka. Kedua bocah itu menggeraki kaki tangan mereka, lantas mereka berdiam pula. Jie siong Gan mengawasi. "Hm" katanya perlahan "Mereka ditotok hingga jalan darah mereka tersalurkan tak benar. ia mengulur tangan kanannya untuk menotok pula dua kali bergantian, dijalan darah lekslok dan thian-kie. Kali ini lekas kedua bocah membuka matanya dengan ayal-ayalan, ketika mereka bergerak, mereka berlumpat untuk bangun berdiri segera mereka melihat orang yang berdiri dihadapan mereka yang beroman dan berdandan seperti sastrawan. Jie siong Gan mengawasi ia bersenyum. "Kamu murid siapa?" ia tanya, " Kenapa kamu kena orang totok disini?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kedua bocah dapat menduga siapa yang telah menolong i mereka, mereka berlutut untuk menghaturkan terima kasih kepada ini sasterawan tua. Jie siong Gan mengangkat bangun pada mereka itu. "Kami murid-muridnya Kwie Chungcu," ia berkata, "Aku Boan In dan dia Hoet Goat." Jie siong Gan bersenyum. "Nama yang bagus" dia memuji. "Tadi kami diajak chungcoe datang ke-tepi kali ini," Boan In berkata pula, "lantas kami disuruh mengundurkan diri, kami masuk kedalam rimba itu. Mendadak kami melihat satu bayangan merah berkelebat, belum kami tahu apa-apa, kami telah di totok bayangan itu. jikalau tayhiap tidak menolong, entah bagaimana jadinya dengan kami." Bocah itu berkata keras, suatu tanda dia mendongkol Alisnya pun terbangun. Alis Hoet Goat terbangun juga, dia mendongkol seperti kawannya itu. Jadi kamu tak sempat melihat sekalipun bayangan orang itu?" Berdua mereka mengangguk. "Kecuali Seeboen soesiok. tidak ada lain orang yang mengenakan baju merah" kata Boan in penasaran. "Apakah kamu maksudkan Keng-Thian-Cioe Seeboen Boe Wie?" Tanya Jie siong Gan terkejut, "jikalau katakatamu ini dikeluarkan oleh orang lain, sungguh tak dapat dipercayai. Tapi kamulah yang bicara, kamu tentu tidak menduga, Turut dugaanku, tentulah mereka dua saudara seperguruan telah tidak akur lagi satu dengan lain." Boan In mengangguk "Memang Seeboen soesiok dan chungcoe telah saling mencurigai," katanya, "Sekarang ini semakin nyata

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

nampak ada perselisihan diantara berdua." "Apakah sebabnya itu?" "Tak lebih tak kurang karena urusan kitab ilmu silat" Hoet Goat nyeletuk. Boan In mengedipi mata pada kawannya itu yang lantas membungkam. Jie siong Gan melihat sikapnya bocah itu, ia berpurapura tidak mendapat tahu. Dalam hati ia girang sekali, Pikirnya: "Hm.. Aku memperoleh endusan Tak kecewa perjalananku ini." Melihat kedua bocah itu cerdik, ketua muda Thian Hong Pang sudah lantas memikir daya untuk mengakalinya. ia perlu tahu di mana kitab silat itu disimpan, ia dongak memandang langit, lalu ia menghela napas. "Dua saudara bentrok, itulah hebat dan menyedihkan," katanya perlahan romannya berduka, "Rupanya saat ambrukoya Kwie in Chung sudah tak jauh.lagi sungguh sayang..." ia melirik kedua bocah, roman siapa berduka, ia menambahkan: "sayang kamu berbakat baik, kamu mirip mutiara mustika dibuang ketempat gelap. jikalau nanti api sudah merembet ke gunung maka batu dan kemala akan terbakar bersama tanpa perbedaan sungguh sayang...." Kembali ia menarik napas berulang-ulang. Tengah mereka berbicara ini maka dalam rumpun ditepian muncul satu kepala orang dengan rambut panjang dan kusut, sepasang matanya yang celong bersinar biru bengis, mukanya dengan menyeringai mengawasiJie siong Gan. Hanya sebentar kepala itu di tarik pulang pula hingga tak nampak lagi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kedua bocah sementara itu tertarik hatinya sebab Siong Gan bersimpati kepada mereka, Boan In menjura. "Siapa kau tayhiap?" dia tanya. "Dapatkah aku menanya she dan nama tayhiap yang mulia?" "Aku Jie siong Gan- Pangeoe dari Thian Hong Pang." Boan In terkejut, lantas ia tarik tangannya Hoet Goat, untuk diajak berlutut ber-sama. "Eh. eh, kamu bikin apa ini?" dia tanya. Boa n i n mengangguk. "Kami mohon supaya kami diterima sebagai murid, supaya kami dapat melihat pula langit dan matahari" kata dia. Jie siong Gan lantas memimpin bangun, ia mengerutkan alis tetapi ia tertawa. "Sekarang ini belum tiba waktunya," kata ia. "Buat sementara baiklah aku terima kamu sebagai calon, sekarang lekas kamu memberitahukan Kwie Chungcoe, bilang bahwa aku Jie siong Gan mohon bertemu dengannya." Kedua bocah itu girang sekali, Mereka mengucap terima kasih, lantas mereka berlalu sambil berlari-lari. Jie siong Gan mengawasi, matanya mengasi lihat sinar pembunuhan, mulutnya bersenyum tawar, Agaknya ia puas sekaliJusteru itu, mendadak ia merasa pahanya seperti digigit nyamuk tapi nyeri, hingga ia menjadi kaget, ialah orang Kang ouw liehay, ia mengerti bahwa ia telah terbokong orang, maka dengan sekonyongkonyong ia mencelat dengan lompatan it ho cin ie, atau Burung jenjang menggibriki bulu, ia lompat tinggi dan jauh, untuk segera menyerang gembolan pohon

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

didepannya, hingga gombolan itu ambruk dan tanahnya menerbangkan debu. Tapi ia tidak melihat ada orang disitu, ia berdiri menjublak. matanya melongo, mulut nya menganga, ia heran sekali, ia penasaran jangat ialah ketua sebuah partai, tak senang ia dipermainkan orang. Dalam sengitnya, ketua Pang coan ini berlompat maju pula, akan mengulangi serangannya pada lain gombolan didepannya. la menduga musuh gelap masih bersembunyi didekat situ, sebab ia tidak melihat orang muncul atau lari, la menyerang hebat dengan kedua tangannya. Lagi sekali gombolan ambruk dan debu mengepul Dua ekor balang lompat terbang saking kaget, "Ah" ia mengasi dengar suaranya, ia terbengong pula, herannya bukan buatan, Lalu matanya bersinar guram, Keluarlah suaranya yang perlahan- "Mungkinkah dia?" Mendadak ia ingat kepada Kwie-kiam-cioe Cee-cu, ketuanya, Tanpa merasa ia menggigil sendirinya. "Ah, tak mungkin- katanya sejenak kemudian "Dialah seorang dengan sebelah kaki, meski dia sangat gesit, tidak nanti dia tak terlihat olehku" Ia masih berdiam dan matanya mencari-cari kesekitarnya. sunyi diseputarnya itu, Achirnya ia lari kearah perginya kedua bocah, sampai ia tak nampak lagi. Begitu disitu sudah tidak ada lain orang, dari bawah gili-gili terlihat lompat munculnya seorang bocah umur lima atau enam belas tahun, yang mukanya hitam, sembari tertawa nyaring, dia berkata: "Cee soepee, mari, keluar" Kembali lompat muncul seorang lain yang usianya lanjut, rambutnya panjang. tangannya mencekal tongkat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang membantu kakinya yang tinggal sebelah, dan ketika dia menaruh kaki, tongkatnya itu terus menunjang tubuhnya. Lantas dia tertawa dan kata: "Eh, kunyuk. nyalimu besar sekali sedikit saja kau kurang gesit, kau bisa mampus d iba wah hajaran Pekskhong-ciang. jikalau kau sampai terluka, bagaimana aku dapat bertemu dengan gurumu si mahasiswa melarat?" Bocah itu bersenyum, Dialah Kam Jiak Hoei muridnya sin-beng sioe-soo Kim som dan si orang tua yalah Cee Cit. Khioe Cin Keen mendapatjulukannya Boe eng Hoei Long si serigala Tanpa Bayangan lantaran ringannya tubuh, hingga dia dapat lari pesat luar biasa, akan tetapi dia kabur dengan membawa tubuh Jiak Hoei. Biar bagaimana dia tercandak sin-beng sioe-soe Kim som si pelajar Lari Cepat. Dia lari mengikuti sungai, setelah limapuluh lie, Kim som berada dibelakangnya tak ada lima tombak, di belakang si orang she Kim kira belasan tombak menyusul Cee Cit si kaki satu. Dengan lantas Khioe cin Koen mendapat tahu bahwa orang dapat meny andak padanya, dia lantas menotokJiak Hoei lalu sambil berseru, dia melemparkan tubuh bocah itu kearah sungai, dia sendiri kabur terus bagai kilat. Sinheng sioe-soe tidak menyangka orang berbuat sedemikian kejam. Dia menghentikan larinya dengan tiba-tiba. Dia melihat tubuh muridnya lagi terlempar ke sungai, tubuh itu tak menggeraki tangan atau kakinya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dia tahu apa artinya itu, pasti Jiak Hoei telah ditotok hingga menjadi tidak berdaya, Dia kaget dan berkuatir hingga dia mengasi dengar seruannya, Tiada harapan untuknya dapat menolongi muridnya itu. Tiba-tiba terlihat sesosok tubuh bagaikan melayang menyamber kearah Jiak Hoei. itulah tubuhnya Cee Cit, yang berkaki satu, Mengenali sahabat itu, Kim som menghela napas, ia tahu Cee Cit membenci kejahatan seperti dia membenci musuhnya, tetapi belum pernah ia mendengar orang suka berkurban jiwa untuk lain orang. sekarang ia menyaksikan bukti kenyataan. Kejadian berjalan sangat cepat, Tinggal lagi tiga tombak tubuh KamJiak Hoei bakal tercemplung keair, cee Cit sampai dan tubuh nya kena d is amber dengan tangan dapat mulur dari Kwie Kian cioe, sedang kakinya penolong ini lekas juga turun menginjak wadas di depannya. Jiak Hoei disamber rambutnya untuk segera dikasi turun, Kim som lantas lompat menyusul. Setelah diperiksa Jiak Hoei kedapatan melainkan pingsan, Dibawah terangnya si Puteri Malam, dia terlihat ditotok Khioe cin Koen pada iga kirinya dijalan darah hoen-hoe dimana masih ada bekasnya tapak totokan biru. Cee Cit kaget sambil menghela napas dia kata. "Benarbenar Khioe Cin Koen sangat telengas, syukur dia tengah kesusu, totokan nya meleset lima bagian jikalau tidak entah apa kejadiannya dengan anak ini?.." Lantas dia bekerja menotok dan menguruti untuk menolong bocah itu ooooooo

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

BAB 14 KIM SOM terharu dan berterima kasih kepada Kwie Kian cioe, Dia ini telah mengeluarkan kepandaian dan tenaga dalamnya untuk memunahkan totokannya Khie Cin Koen, itulah totokan yang hebat yang tidak sembarang orang dapat membebaskannya. Meskipun akhirnyaJiak Hoei mendusin, ia lemah sekali, ia menyender kepada gurunya. Mereka berada diatas batu wadas lebar persegi tak lima tombak. sungguh kebetulan wadas itu berada ditengah sungai dibetulan situ. Kalau tidak pasti tubuh Jiak Hoei terlempar keair dan hanyut karenanya, Atau kalau dia terlempar kewadas itu akan hancurlah, tubuhnya itu.. Cee Cit ketua dari Thian Hong Pang, ia pandai berenang, akan tetapi sekarang dengan kakinya tinggal satu, ia tak dapat berbuat banyak. Maka itu ia terpaksa duduk bercokol diwadas itu akan menantikan sang siang, di waktu mana tentulah akan ada perahu-perahu yang berlalu lintas. Syukurlah air tak banjir hingga mereka tak usah kuatir nanti terbawa hanyut sambil menung kuli lewatnya sang waktu Kim som dan sahabatnya memasang omong tentang pelbagai peristiwa dalam dunia Kang ouw atau Rimba Persilatan. Dua jam mereka menanti, barulah sang fajar mulai menyingsing, diarah timur terlihat samar samar sinar putih, Matanya Cee Cit sangat jeli, didalam kabut ia melihat petaan dari sebuah perahu besar lagi mendatangi melawan sang air. Tidak ayal lagi, ia mengasi dengar siulan yang nyaring dan lama.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dari arah perahu itu lantas terdengar suara serupa, atas mana Cee-cit mengasi dengar pula siulannya, dua kali lama, satu kali cepat, Kim som menduga kawannya ini mengenali perahu itu perahu Thian Hong pang, maka dia memberi isyaratnya itu. Benar saja, perahu besar itu lantas menghampirkan perlahan-lahan, hingga kemudian nampak dikepala perahu berdiri seorang yang bertubuh besar dan kekar, malah lantas terdengar juga pertanyaannya: "Siapa itu diatas wadas dan dari cabang mana? Lekas beritahu" Cee- cit mengawasi orang itu, baru dia menjawab dengan pertanyaannya: "Yang di atas perahu itu apa bukannya soen-kang Hoei-to Hay-ma Cioe Goan Yauw?" Orang itu mengenali suara yang menanya, dia terkejut Ketika itu perahunya sudah mendatangi tinggal kira empat kaki dari wadas, Dia lantas lompat kewadas dimana dia melihat Kwie Kian cioe lagi berdiri tegak bagaikan patung malaikat Kie Lcng, rambut dan kumisnya tertiup angin, benar ia telah berubah romannya, kakinya tetap tinggal satu. "Cee Pang coe?" ia berkata, " sepuluh tahun sudah kita berpisah, syukur Pang coe sehat-walafiat seperti sediakala Pangeoe membikin Hay-Ma Cioe Goan Yauw sangat kangen kepadamu...." Orang masih hendak bicara terus tetapi cee cit mengangkat tangannya. "Apakah diatas perahu itu semua orang kepercayaanmu?" ia tanya keras suaranya sangat berpengaruh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cioe Goan Yauw menggoyangkan kepala terus ia berbisik: "Masih ada cin Houw dan yang lainnya..." Mendengar disebutnya nama cin Houw, matanya Cee cit bersinar dan mulutnya memperdengarkan suara. "Hm" Perahu telah sampai kira dua tombak dari wadas, lantas berhenti. Ketika itu kabut makin tebal hingga sukar orang melihat satu pada lain. "Hay-Ma, ada apa?" begitu terdengar pertanyaan dari atas perahu, Nyaring suara itu. "Ada orang anggauta kita..." sahut Cie Goan Yauw menyahuti, Cee cit sudah menjejak wadas dan tongkatnya menekan keras dengan begitu tubuhnya segera mencelat ke-arah perahu. Cin Houw sudah biasa dengan kabut, dia dapat melihat orang berlompat datang bahkan dia lantas mengenali, maka dia menjadi kaget sekali. Sambil berkelit dengan mendak dia lompat mundur satu tombak. "Cin Houw, apakah kau masih kenal aku?" tanya Cee cit, yang menginjak perahu di dekat orang. Cin Houw kaget sampai ia tak dapat menjawab, tubuhnya pun lemas, jidatnya mengalirkan keringat. Dari dalam perahu terdengar,suara berisik belasan orang lantas muncul. Rupanya mereka mendengar suara tak nyata hingga mereka menjadi bercuriga. Ketika itu dari wadas terdengar seruan, lantas terlihat dua bayangan lompat ke-perahu. Bahkan yang satunya, yalah Kim som, sudah lantas turun tangan hingga beberapa orang kena ditotok roboh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Semua berdiam" Cioe Goan Yauw berseru "Pangcoe disini" Cin Houw terus berdiam. terus ia berada dalam ketakutan, ia jeri terhadap ketua ini, karena didalam Pang Coan, atau Thian Hong Pang, ia termasuk pengikut atau orang kepercayaannya Hoe pangcoe Jie siong Gan, terhadap Cee Cit, ia menurut dimulut, menentang dihati, ia berani berbuat begitu karena ia mengandal pada ketua mudanya itu. Beberapa kali ia mau dihukum Jie siong Gan selalu melindunginya. sekarang ia menghadapi ketua tanpa ketua mudanya, maka tahulah ia bahwa ia bagian mati, saking takut tetapi ingin hidup, ia memikir untuk kabur saja. ia tidak bersangsi mengambil keputusannya maka berbareng dengan seruannya Cioe Goan Yauw, ia menggeraki tubuh nya untuk terjun kesungai. Justeru orang berlompat, justeru Cee cit berseru. Cin Houw menjerit saking sakit, lantas dia tak sadarkan diri, Dia tak dapat lolos dari lima jari tangan yang lichay dari Cee Cit, yang mengulur lengannya dengan ilmu nya Hoei Wan cioe alias si Kera Terbang. Segera Cioe Goan Yauw mengundang Cee Cit masuk kedalam perahu. Kim som turut sambil memondong muridnya, yang ia terus suruh duduk bersemedhi, guna menyalurkan napasnya. "Apakah kambratnya Jie siong Gan dapat dibereskan?" Cee Cit tanya Goan Yauw. Hay Ma si Kuda Laut mengangguk. kemudian ia mengawasi ketuanya itu, agaknya ia tidak yakin. "Pangcoe," ia tanya, "katanya kau telah menutup mata ditanah perbatasan pada sepuluh tahun yang lalu, jadi itulah kabar paisu belaka."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cee cit tertawa dingin. "Kabar kematianku itu bukannya kabar palsu," ia menjawab suaranya dingin juga, " Hanya setelah aku mati sepuluh tahun, Raja Akherat sebal melihat aku, lantas dia usir aku pergi dari neraka." Cioe Goan Yauw terkejut, ia kaget dan heran. suaranya ketua ini menandakan dia sangat gusar dan penasaran, sedang romannya menjadi terlebih bengis. ia menduga tentulah selama sepuluh tahun ketua ini sangat menderita, ia tidak tahu bahwa orang bisa hidup. "Masih ada separuh dari saudara-saudara kita yang selalu ingat kepada Pangcoe." katanya kemudian sambil menghela napas, "mereka mengagumi Pangcoe untuk kegagahan dan kebijaksanaan Pangcoe. Lantaran mendengar kabar Pangcoe sudah menutup mata, terpaksa mereka turut Jie siong Gan, sekarang bagaimana Pangcoe hendak bertindak aku Cioe Goan Yauw, bersedia aku bekerja untuk Pangcoe dan partai kita. Aku tidak menampik kematian sekalipun." Cee- cit tertawa, "Tahukah kau bahwa Lenghoe kita telah dicuri Jie siong Gan?" ia tanya. "Setelah kepergian pangcoe, kami menduga lima bagian," sahut Gan Yauw. Sudah lama Jie siong Gan mengarah kedudukan pangcoe, segera terlihat jelas citacitanya itu. Lewat setengah tahun maka tersiarlah berita dalam Rimba persilatan di Kang lam bahwa Pangcoe telah meninggal dunia, setelah mana dia mengumumkan mengangkat dirinya menjadi pengganti Pangcoe, Lenghoe kita terus tidak dipakai lagi, sebagai gantinya adalah Kim Heng Kie-leng, yaitu lencana bendera Burung Hong mas. sekarang ini pengaruh kita menurun setiap

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hari maka itu perlu Pangcoe bertindak untuk memulihkannya." Cee Cit mengangguk. "Tapi itulah tak usah kita buru-buru," kata ia. "sekarang ini aku ingin mencari tahu dulu dimana adanya lenghoe kita untuk didapatkan pulang, Kau tahu sendiri bahwa tindakan kita ini tak dapat dibocorkan, sekarang pergi kau bereskan semua pengikutnya Jie siong Gan-" Cioe Goan Yauw menerima perintah, dia lantas mengundurkan diri Cee- cit lantas mengawasi Cin Houw yang terus rebah pingsan dilantai, lantas ia mengirim totokan dengan sebelah tangannya, Mulut orang itu bersuara, menyemprotkan darah hitam, lantas dia mendusini. "Pangcoe, ampun,.," kata dia lantas begitu lekas dia membuka matanya, mengawasi ketua itu, sedang suaranya bergemetar. "Tak sukar untukmu mengharap hidup," kata Cee-cit dingin, "Kau mesti omong terus terang pada aku si orang tua. Dimana adanya Jie siong Gan sekarang?" Cin Hauw telah mati kutunya, ia mengangguk-angguk. Jie Pangcoe,..." katanya, Atau mendadak dia merandak. sebab dia melihat mata Kwie Kian cioe mendelik, Dia meneruskan dengan mengubah bahasa panggilannya, Dia kata: Jie siong Gan berdiam di markas besar Siauw Kosan, barupada setengah bulan yang lalu dia meninggalkannya, dia menuju ketimur mengikuti aliran sungai, katanya dia mau melakukan penilikan sekalian terus pergi ke Kimleng. Apa sebenarnya mau dilakukan Jie siong Gan, kita tidak tahu karenanya kita berkuatir. Demikian selama yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

belakangan ini kita selalu melakukan penilikan, Kita tidak tahu di sini kita bertemu Ceecoe." Cee Cit tertawa, suaranya itu membikin hati orang guncang. "Biasanya Jie siong Gan tidak menyembunyikan apa juga kepada kau, kenapa kali ini ia tidak menjelaskan maksud perjalanannya itu?" ia tanya. Cin Houw merasakan punggungnya dingin, ia sangat ketakutan, Kaki dan tangannya seperti beku, ia mengangguk-angguk. "Apa yang aku tahu," katanya perlahan, Jie siong Gan pergi untuk urusan kitab ilmu silat. Yang lainnya aku tidak tahu lagi." "Hm" Cee Cit bersuara dingin terus ia tertawa. "Aku paling benci orang yang tidak bersemangat Cin Houw percuma kau hidup didalam dunia, maka itu baiklah aku menyempurnakan hidupmu" Cin Houw kaget bukan main, ia memandang ketua itu, untuk membuka mulutnya atau ia tidak diberi kesempatan pula, tangan ketua itu sudah menghajar padanya, maka ia roboh dengan jeritan tertahan napasnya lantas berhenti ia mengeluarkan darah dari mata, hidung, mulut dan telinganya. sin-heng sioe soe mengerutkan alis menyaksikan kejadian itu. "Saudara Kim apakah kau anggap Cee Cit telengas sekali?" Kwie Kian cioe tanya sahabat itu. ia melihat wajahnya si sahabat, Kim som tertawa, ia tidak menjawab. Ketika itu Cioe Goan Yauw datang bersama orang-orangnya, untuk mereka memberi hormat pada ketua mereka.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Hay Ma," berkata Cee Cit. "perahumu ini mesti disembunyikan, untuk sementara waktu, jangan kau perlihatkan diri, Tindakan ini perlu, kesatu guna mencegah muncul ku ini tidak sampai bocor, ke-dua guna keselamatan kau sendiri, Tentang keperluan makan dan pakaian kau setiap hari, jangan kuatir." Dari sakunya, ketua ini mengeluarkan dua potong emas dan menyodorkan kepada pembantunya itu. Cioe Goan Yauw menyambuti seraya berkata: "Tentang itu aku telah menginsafinya. Pangcoe, apakah Pangcoe masih ingat pengalaman kita ketika dulu hari kita mengadakan perlayaran penilikan kesungai tiga puluh lie dari sini dimana, di sebelah kirinya, ada sebuah pelabuhan tersembunyi yang lebat denganp^hon gelaga, yang banyak cabang alirannya? Menurut aku, selainnya dapat bersembunyi disitu, tempat itu juga boleh dijadikan markas sementara waktu." "Ya, tempat itu bagus," sahut Cee Cit. "sekarang juga kau pergi kesana, aku sendiri mau kembali ke Kim-leng." "Masih ada satu hal, Pangcoe, Ketika kita keluar, kita menggunai tiga buah perahu. Dua yang lain itu semuanya perahu baru dan dapat laju lebih pesat, Kalau umpama kata aku kepergok. sukar aku lolos juga jumlah mereka lebih besar..." Cee cit berpikir. "Kalau begitu baik aku mengantar kau sampai disana," katanya kemudian. Cioe Goan Yauw berlega hati, ia lantas mundur buat bekerja, Maka juga perahunya itu lantas juga bergerak maju.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika itu Kam Jiak Hoei sudah berhasil memulihkan kesehatannya. ia bangun sambil berlompat, terus ia menarik tangan gurunya, buat diajak pergi mencari Boeeng Hoei Long. "Aku mau menuntut balas" katanya manja. sang guru mengawasi muridnya. Jangan kesusu," katanya, perlahan "Khioe Cin Keen tinggal disebuah pulau didalam kepulauan yang mencalmencil dan banyak juga pecahan sungainya, Dia pun tinggal tak ketentuan, Dimana kau mau cari dia?" Sang murid berdiam, mukanya merah, ia tahu ia semberono sekali. Kim som berkata pula, tetap sabar: "Khioe Cit Keen juga dikenal sebagai Thian-Gwa It shia, ilmu silat dia luar biasa. Meskipun aku ada bersama Cee soepee kau ini, belum tentu aku dapat menang diatas angin terhadapnya, Buat menghadapi dia, kita perlu bantuannya Lie Siauwhiap. Kau jangan tidak tahu langit tinggi dan bumi tebaljikalau kau mau pergi juga, pergilah sendiri, aku tidak nanti tegur kau" Muka Jiak Hoei merah pul ia merasa seperti diguyur air dingin, Maka ia berdiri menjublak. Cee cit berkasihan, dia tertawa, "sudah, Kim Loji, jangan kau tegur muridmu ini," kata dia, "sekalipun aku yang sudah menjadi tua-bangka, tidak dapat aku menyepikan sakit hatiku, apapula muridmu yang masih sangat muda." ia menoleh kepada bocah itu, akan meneruskan berkata: "Kam Siauwhiap. kau hendak mencari balas terhadap Boe eng Hoei Long, aku mempunyai satu dayanya, melainkan aku tidak tahu pasti hasilnya nanti, maka mengenai itu lihat saja untungmu bagaimana."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jiak Hoei lantas saja menjadi sangat girang, Tapi sebelum dia menyahuti, ia memandang dulu kepada gurunya.. Ia manja tapi ia menghormati dan jeri kepada guru itu, tak perduli ia biasa diperlakukan lemah lembut. Sang guru memandang tajam, dia kata keras: "jiwamu telah ditolongi Cee soe-pee, kenapa kau tidak mau lekas berlutut menghaturkan terima kasihmu?" Jiak Hoei mengerti, ia lantas menekuk lututnya, guna memberi hormat dan menghaturkan terima kasih, atau Cee Cit pegang tangannya, mencegah padanya. "Siauwhiap. aku beda dari gurumu" ia kata, "Aku paling segan terhadap segala upacara" ia terus menoleh kepada Kim som dan meneruskan "Untuk dapat mengalahkan Boe-eng Hoei-long, paling perlu kita mendapatkan dulu salah satu dari ketiga mustika yang menggemparkan Rimba persilatan itu, yalah itu kitab ilmu silat." Kim som mengasi lihat roman heran, "Adakah itu kitab silat yang barusan disebutkan Cin Houw?" ia menegaskan. ia lantas menggeleng kepala dan menambahkan "Tentang kitab itu, warta beritanya sudah tersiar lama sekali, sudah seratus tahun orang mencari belum pernah ada yang menemui. Didalam Rimba persilatan banyak orang yang membicarakan dan mengincarnya, hingga aku tidak mempercayainya. saudara Cee, kau jadinya juga percaya itu?" Orang yang ditanya mengangguk "Memang benar kitab itu ada," ia berkata "Itulah kitab karyanya Thio sam Hong Cinjin leluhur dariBoe Tong Pay dan isinya ada ilmu silat dalam dan luar, Yang diutamakan yala h kepalan,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lalu tangan terbuka, Kitab itu diwariskan kepada muridnya yang tidak menjadi imam, maka itu Boe Tong Pay melainkan terkenal dengan ilmu pedangnya. Terus menerus ilmu silat dari kitab itu turun kepada orang diluarBoe Tong Pay, maka lama-lama orang tak tahu itulah karyanya Thio sam Hong. selang seratus lima puluh tahun yang paling belakang, kitab jatuh ditangannya sat Cee Pit Boe Keen si Bintang Pembunuh, Diluar keinginannya, Pit Boe Keen telah membuka rahasianya sendiri, Hal itu sampai di telinganya Ceng Hie Too-jin, ketua Boe Tong Pay dimasa itu, Ceng Hie Toojin menganggap tak selayaknya kitab Boe Tong Pay dimiliki orang luar dan bahwa itu memalukan partainya, maka ia mengajak dua puluh tujuh muridnya mencari Pit Boe Keen pertempuran itu berkesudahan duapuluh delapan imam Boe Tong Pay itu mati semua, karena mana pamor partai itu lantas ia menjadi turun." Kim som heran. "Kenapa kau ketahui itu demikian jelas saudara Cee?" ia tanya. Jikalau bukan kau yang bercerita sungguh aku akan anggap itulah obrolan belaka, Memang benar dulu hari itu tersiar kematiannya Ceng Hie Toojin bersama duapuluh tujuh imam lainnya, cuma orang tak tahu mereka terbinasa ditangannya Pit Boe Koen. juga aneh kenapa Pit Boe Keen tidak menghendaki penjelasan dulu dan dia main binasakan imam-imam Boe Tong Pay itu...." Cee-cit bersenyum. "Saudara mana ketahui keadaan Boe Tong Pay dijaman itu" ia berkata, " Kebetulan itu waktu Boe Tong Pay dipengaruhi orang-orang sesat, yang suka bekerja tak benar secara diam-diam, karena itu sekalian saja Pit Boe Koen membereskan mereka. Hanya semenjak itu, Pit

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Boe Keen juga terus menyembunyikan diri, Kemudian lagi. kitab itu berada ditangan Tong Beng sianseng, dan mendiang kakek guruku yalah sahabatnya, maka itu aku mendapat tahu, setelah Tong Beng sianseng menutup mata, tak ketahuan kitab jatuh ditangan siapa. Menurut mendiang kakek guruku itu, Tong Beng sian seng mati karena dibokong, kitab itu lenyap karenanya, Kitab itu sukar, tidak sembarang orang dapat memahamkannya, hingga aku tak percaya ada orang yang mengerti itu, inilah tentu sebabnya kenapa orang melainkan menyimpan saja. Apakah saudara Kim tidak menganggap demikian juga?" Kim som mengangguk. "Saudara Cee benar," katanya, Dengan kitab terus disimpan, memang sulit untuk mencarijarum didalam lautan besar." Tapi Cee cit tertawa, bahkan dia menepuk tangan. "Sulit memang sulit tapi taklah sesulit itu" katanya, "Aku tahu Jie siong Gan cerdik sekali, jikalau bukannya dia tahu pasti kitab berada di Kang la m, tidak nanti, dia pergi sendiri ke Kimleng Maka untuk mendapatkan kitab itu, mesti mendapatkannya dari tubuhnya Jie siong Gan sendiri" Jikalau begitu, saudara Cee, baiklah aku serahkan muridku ini kepada kau," berkata sin-heng sioe-soe. Sampai disitu, pembicaraan mereka dihentikan suara gembreng yang terdengar ditengah sungai, Alis Cee Cit terlihat meng kerat, Hay Ma Cioe Goan Yauw pun lantas datang dengan tergesa-gesa. "Sabar" kata Cee Cit seraya mengulapkan tangan, "Aku tahu bagaimana harus bertindak." Goan Yauw lantas mengundurkan diri.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cee- cit memandang Kam Jiak Hoei. ia tertawa. "Suara gembreng itu suara dari kedua perahu lainnya dari Thian Hong Pang." ia berkata, "Kedua perahu itu dikuasai oleh orang-orangnya Jie siong Gan. jikalau tanganmu gatal, pergi kau mendampingi Cioe Goan Yauw, hanya diwaktu kau turun tangan, ingat, kau jangan membikin malu pada sinheng sioe-soe Kim som" Kam Jiak Hoei bersenyum, juga Kim som. Disaat genting seperti itu, orang berkaki satu ini masih sempat bergurau, Tanpa membilang apa-apa, saking gembiranya Jiak Hoei lari keluar menyusul Goan Yauw, akan berdiri disamping si Kuda Laut, memandang kearah sungai yang tertutup kabut tebal, ia cuma mendengar merah, yang bergoyang-goyang. Kedua perahu itu laju sangat cepat, lekas juga keduanya sudah datang dekat sepuluh tombak lebih. "Kam Siauwhiap." Hay Ma memesan, "jikalau tidak sangat terpaksa, aku minta kau j,ingan turun tangan dulu, aku kuatir rahasia Pangcoe nanti terbuka, Hal itu bisa menyulitkan usaha pangcoe memperbaiki partai kami." Jiak Hoei mengangguk, tapi ia merasa gembira dan tegang sekali, maka tangannya meraba bandring ouw Kim Hoei-jiauw di pundaknya. "Cioe To-coe cioe To-coe" terdengar suara memanggil dari perahu yang kiri, Di kepala perahu itu terlihat samarsamar tubuh satu orang lagi berdiri. "Apakah Le To-coe disana?" Goan Yauw menyahuti, "Ada apa cie Tocoe?" "Lo Hio-coe telah datang ketempatku." sahut orang yang dipanggil cie Tocoe itu, ia minta cin Hiocoe datang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keperahuku untuk berbicara dengannya, "Eh, eh, di perahumu ada banyak orang, mengapa lambat sekali lajunya?" Cioe Goan Yauw terperanjat. Akan tetapi ia dapat akal, maka ia terus tertawa. "Tadi malam Cin Hio-coe mengatakan tentang hari ulang tahunnya." ia berkata, "Berhubung dengan itu sekalian saudara lantas memberi selamat kepadanya, kita minum puas sampai Cin Tocoe semua sinting dan sekarang semua lagi tidur nyenyak. kalau ada titah dariPangcoe, mari aku saja yang menyampaikannya, Tapi kalau urusan sangat penting, silahkan cie Tocoe minta Lo Hio-coe datang sendiri ke perahu." Perkataan yang terakhir itu diucapkan keras sekali, supaya Cee-cit dapat dengar. "Oh, begitu "kata Tocoe she cie itu, "Aku menyangka ada terjadi sesuatu pada perahumu, Nanti aku minta keputusannyalo Hiocoe." Lantas tubuh Tocoe itu melenyap kedalam perahunya. Cioe Goan Yauw mengeluarkan keringat dingin. Telah lewat satu babak yang berbahaya. ia lantas menitahkan anak buahnya menggayu keras. Tidak lama, maka dari perahu kiri di-depan itu terlihat satu tubuh lompat keperahunya si Kuda Laut, tiba dibuntut perahu, Dialah seorang kurus dan jangkung, Hay Ma menyambut sambil menjura seraya memperkenalkan diri "soen-kang sam tocoe Cioe Goan Yauw menghadap Lo Hiocoe." Orang jangkung kurus itu tidak membalas hormat aku menyahuti dengan muka keren dia mengawasi Kam Jiak Hoei. Hati Goan Yauw bercekat, ia kuatir rahasianya pecah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Lo Hiocoe," ia lekas berkata, "inilah cin Hoei keponakan jauh dari cin Tocoe." "Hm" hiocoe itu mengasi dengar suaranya lantas dia bertindak maju. KamJiak Hoei tertawa dingin tangannya yang telah diturunkan diangkat pula kepundaknya, tapi Goan Yauw segera mencegah seraya mengulapkan tangan. Hiocoe she Lo itu kebetulan menoleh, ia melihat tangan tocoe itu tergoyang, sedang muka Jiak Hoei kelihatan mendongkol, ia menjadi curiga. "cloe socoe, apakah artinya ini?" ia tanya. Dua-dua Goan Yauw dan Jiak Hoei melengak. Mereka tidak sangka orang menoleh secara tiba-tiba itu. Tidak dapat mereka lantas menjawab. si jangkung kurus itu, yang bernama Lo siang, menjadi curiga, ia memang tahu Goan Yauw menjadi tangan kanannya Cee-cit, cuma dia tetap dikasi bekerja seperti biasa, Adalah pesan Jie siong Gan akan tidak mengganggu orang-orang yang masih setia kepada pangcoe, hanya untuk memasang mata saja terhadapnya, ia sendiri bersama Cin Hiocoe menjadi tangan kanan dan kiri ketua muda mereka, yang telah menjadi ketua sejak lenyapnya ketua mereka, ia sebenarnya heran Goan Yauw dan Cin Hoei tidak berdiam saja dikepala perahu hanya mengikuti ia, maka itu ia berpaling dengan mendadak. hingga ia dapat melihat Goan Yauw mengulapkan tangan dan muka Jiak Hoei merah padam. Jilid 11 : Perselisihan kakak beradik seperguruan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Cioe Goan Yauw ia menanya, membentak cuma sebegitu suaranya, lantas dia berdiam, sebab diluar tahunya, orang telah menotok punggungnya, Terus tubuhnya ditarik kedalam perahu. Goan Yauw kaget, Kembali ia mengeluarkan keringat dingin, Ketika itu perahunya pun sudah diapit kedua perahu yang baru sampai itu. Kam Jiak Hoei berbisik: "Kita jalan berendeng, inilah bukan urusan, lama-lama rahasia bakal pecah juga, Lebih baik kita perlahankan perahu kita, supaya kita ketinggalan dan lolos. Kabut masih tebal, dapat kita menyingkir dari mereka ini. Dengari kita milir menuruti angin, tidak nanti mereka dapat mengejar kita." Bocah cerdas itu lantas saja mendapat pikirannya itu. Hay-Ma Cioe Gan Yauw menggeleng kepala. "Daya itu tidak sempurna." dia berbisik juga, "Memang kita bisa lolos tapi kita tetap dicurigai itulah berbahaya untuk rahasianya Cee Pangcoe." Toecoe ini bingung sekali. Justeru begitu, ia lantas mendengar suara jeritan. ia menjadi kaget dan lebih bingung pula, apapula itu waktu terlihat dua bayangan orang dari perahu kiri berlompat ke perahunya, keduanya menanya keras: "Cioe Tocoe, mana Lo Hiocoe?" Sebelum Cioe Goan Yauw, sempat menjawab, Kam Jiak Hoei sambil tertawa nyaring lompat maju memakai dua bayangan itu, dengan bandringnya ia menyerang. Tepat serangannya ini, dua orang itu tanpa berdaya kena terjambret, mereka menjerit, mereka memuntahkan darah, terus tubuh mereka terlempar kesungai

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menyusul itu dari perahu kiri dan kanan itu terlihat pedang dan golok berkilauan terus terdengar suara yang berisik, itulah karena sejumlah awak perahu itu pada berlari-lari untuk berlompat kendaraan airnya si kuda laut. Di saat yang berbahaya itu dari dalam perahu Cioe Goan Yauw terlihat satu tubuh berlompat keluar seraya memperdengarkan siulan nyaring. Dengan begitu dia dapat di kenali sebagai sin-heng sioesoe Kim som yang lantas saja turun tangan. Hanya sebentar, lantas separuhnya orang-orang dari kedua perahu yang meluruk datang itu pada terlempar ke air dimana jiwa mereka melayang, sebab mereka kena disampok dengan kebutan tangan baju yang lihai dari gurunya Jiak Hoei. sejenak itu, sisa orang-orang kedua perahu kiri dan kanan itu pada merandek. Dari dalam perahu Goan Yauw lantas terlihat Cee Cit muncul sambil membawa mayatnya Lo siang dia berlompat maju terus dia berdiri dengan roman bengis mengawasi awak kedua perahu itu, Diapun lantas tertawa nyaring, seram terdengarnya. Segera orang-orang Pang coan itu mengenali ketua mereka yang dikabarkan sudah mati pada sepuluh tahun yang lalu itu, mereka kaget dan takut, hingga semuanya menjadi pucat mukanya dan guncang hatinya. "Anak-anak, apakah kamu masih kenali aku si orang tua?" Cee Cit tanya setelah dia berhenti tertawa, suaranya berpengaruh. Tidak tempo lagi, semua orang Pang coan itu pada menekuk lututnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lewat sudah saat yang genting, selagi cuaca cerah, ketiga perahu terlihat lagi menuju ketempat yang ditunjuk Cioe Goan Yauw, untuk mereka menyembunyikan diri di sarang yang baru untuk sementara waktu itu. Tepat selagi matahari mulai selam di- barat, dari dalam perahu terlihat Cee Cit muncul bersama-sama Kim som dan Kam Jiak Hoei. Mereka mendarat, Kim som tak sudi terlihat dalam dunia Kang ouw, dia menyerahkan Jiak Hoei pada sahabatnya itu. Dia memberi hormat, lantas dia berangkat seorang diri. Dia cuma berjanji akan nanti bertemu pula. Cee Cit dan Jiak Hoei mengawasi orang sampai orang itu tak nampak lagi, berdua mereka menuju ke kota Tong-touw untuk masuk kedalam kota di saat seluruh kota sudah memasang lampu. Mereka menarik perhatian orang karena mereka tua dan muda dan ketua Pang Coan itu disamping rambut dan kumisnya yang panjang, kakinya cuma sebelah hingga dia mesti berjalan dengan dibantu tongkatnya. Selagi berjalan itu, mendadak matanya Cee Cit bersinar bagaikan kilat, itulah sebab sinar matanya itu mendadak bentrok dengan seorang yang dandan sebagai sasterawan, yang berjalan di sebelah depan mereka, meskipun orang itu terlihat hanya punggungnya. Jiak Hoei dapat melihat sikap aneh dari kawan itu, ia melihat kedepan, ia tidak tahu siapa sasterawan itu, Tapi Kwie Kian cioe lantas berbisik padanya: "Kau tahu siapa sasterawan itu? Dialah Tiat-tek-coe Jie siong Gan Tak terlihat olehnya, maka itu. Aku mau memisahkan diri dari kau nanti kita bertemu pula dikuil Hwee sin Bio dipintu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

barat, disana aku menanti kau. sekarang kau kuntitlah dia, untuk, mendapat tahu dimana dia menaruh kaki, kau mesti lekas membawa kabar." Habis berkata, Cee- cit nelusup ke sebuah gang didekat situ. Kam Jiak Hoei cerdik, ia tahu apa yang ia mesti lakukan. Habis mengangguk pada ketua Pang Coan itu, terus ia susul si sastrawan yang tindakannya pesat, ia memernahkan diri kira tiga tombak dari orang itu, supaya ia tak usah dicurigai. sekarang ia jalan perlahan seperlunya, agar ia tidak sampai ketinggalan. Diwaktu sore itu, kota Tong Touw ramai dan indah nampaknya, orang umumnya berjalan dengan tenang, Tidak demikian dengan itu dua orang tua dan bocah, sebab mereka ada pikirannya masing-masing. Jie siong Gan sering mengerutkan alis- kadang-kadang dia memandang bengong kesebelah depan seperti ada apa-apa yang diberati, yang menyulitkan pikirannya. Kam Jiak Hoei sebaliknya dibikin tegang hatinya karena ia ingat kitab ilmu silat Boe Tong Pay yang dipercaya berada ditangan-nya ketua muda Pang coan yang sekarang menjadi ketua itu. Selagi berjalan itu, mendadak Jie siong Gan membelok ke samping, masuk kedalam sebuah gang kecil. Jiak Hoei lekas menyusul ia mendapatkan gang itu rada sepi. ia melihat tubuh jangkung dari siong Gan berlari-lari keras seperti bayangan. Syukurlah rembulah permai, kalau tidak, dia dapat menghilang, Rupanya siong Gan kurang perhatian tindakan kakinya sampai kedengaran.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jiak Hoei cerdik, Kalau ia lari menyusul, siang Gan dapat mempergoki padanya, sebagai orang liehay, siong Gan bakal mendapat dengar tindakannya, Karena itu, kebetulan disitu tidak ada lain orang, ia lompat naik keatas genting, lalu dari genting ia melanjutkan penguntitannya. Siong Gan berlari-lari sampai dia berhenti didepan sebuah rumah gedung, Dia mengetuk pintu, hingga gelang pintu bersuara nyaring. Dengan cepat daun pintu terbuka. Baru pintu itu terbuka sedikit, Siong Gan sudah nyeplos masuk. Jiak Hoei menghampirkan rumah itu. ia menuju ke cimchee, Disini ia mendekam, untuk memasang telinga, Kemudian ia menggaetkan kedua kakinya dipayon, untuk membikin kepalanya meroyot turun, guna dapat mengintai kedalam, ia melihat sebuah ruang yang lebar dan terang kedalam mana siong Gan masuk bersama beberapa orang lain. Sekarang Jiak Hoei dapat melihat jelas wajahnya ketua Thian Hong Pang itu. Dia bermuka putih dan tampan, kumis dan jenggotnya terpecah tiga dan turun kedadanya. Dia mirip seorang pertapaan. "Dia begini tampan dan agung, kenapa dia menjadi orang sesat?" piker Jiak Hoei, ia kagum dan heran. "Guruku dan Cee soe-pe bilang dia jahat, maka itu benarlah, manusia tak dapat dilihat romannya saja.." Jie siong Gan diapit oleh enam orang Thian Hong Pang. Dia melihat kepada kawan kawannya itu, lantas dia berkata dengan suaranya yang dalam: "Para tocoe, tahu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kah bahwa sekarang ini partai kita lagi terancam bahaya?" Keenam orang itu nampak kaget, Mereka tidak mengerti, semua lantas mengawasi ketuanya itu. Jie siong Gan menghela napas. "Kamu tidak tahu, inilah tak heran-" kata dia. "sebenarnya semenjak beberapa tahun aku si orang she Jie memegang tampuk pimpinan, aku bersyukur kepada kamu, kepada semua saudara, Dengan bantuan sungguh-sungguh dari kamu, Thian Hong Pang telah memperoleh kemajuan hingga kita menjadi terpandang baik oleh kaum jalan Hitam maupun oleh golongan jalan Putih." Enam orang itu berbangkit untuk memberi hormat sambil menjura. "Kami semua mengandal kepada pimpinan Pang coe yang bijaksana," kata mereka. "Kami tidak mempunyai guna, kami tidak sanggup menerima pujian Pang coe." siong Gan memberi tanda agar semua orang itu berduduk pula, Lantas dia tertawa tawar. "Sekian lama kita berada dalam ketika yang damai, tidak heran kalau ada diantara kita yang alpa," berkata ketua ini. "Akupun mungkin sudah kurang penilikan. Ketika aku menilik kekota Kimleng dengan kebetulan aku mendapat dengar halnya Kimleng Jie Pa telah hilang jiwanya dipanggang Ie Hoa Tay..." Kali ini ketua ini mengakhiri kata-katanyaitu dengan matanya menatap tajam kepada enam orang itu bergantian. Mereka itu kaget hingga mereka pada menggigil.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siong Gan tertawa dingin ketika dia melanjuti: "Dua saudara sian" itu masuk dalam Partai kita buat banyak tahun dan mereka sudah bekerja banyak buat kita, Mengenai nasibnya yang malang itu, itu mungkin disebabkan perkaranya dengan Hiong Hoei piauw Kiok. Dua saudara sian itu muridnya Loo-cianpwce Khioe Cin Koen, mereka liehay, meskipun Yo Eng pioe dan rombongannya liehay juga, dia orang bukanlah tandingannya, sudah begitu, Kimleng Jie Pa pun dibantu Bok-hoesiang Koay, Maka itu dipercaya mereka terbinasa ditangannya seorang liehay dari pihak lurus. Aku telah pergi kerumah mereka, Disana aku diberi keterangan dua saudara itu pergi ke Ie Hoa Tay tanpa mengajak kawan memenuhkan tantangan turunannya Kam Tayhiap dari Liangcioe, Khioe Locianpwee menyusul belakangan Besoknya pagi, ketika ditengok wakil cabang kita di Kimleng, dua saudara Sian itu kedapatan mati mandi darah dan Khioe Loccianpwee tak ada disitu." Mendengar itu, keenam orang itu saling mengawasi dengan melongo. "Masih ada lagi"Jie siong Gan meneruskan, "Aku menduga pihak Hiong Hoei Piauw Kiok dapat menerangkan sesuatu, aku pergi mengunjungi mereka, Yo Eng Pioe omong dengan jujur, dia menjelaskan segala apa tetapi dia menyangkal campur tahu perkara pembunuhan itu, cuma dia menjelaskan juga bahwa sebelumnya peristiwa itu dia pernah melihat turunan keluarga Kam bersama gurunya, yaitu sinheng sioe-soe Kim som, lagi berjalan-jalan ditepi telaga HianBoe ouw, bahwa beserta mereka itu ada Kwie-Kiam-cioe Cee cit bekas pangcoe Thian Hong Pang."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Keenam hadirin itu kaget. "Bukankah Pangcoe membilangi Cee Cit itu sudah mati, kenapa sekarang dia masih hidup?" satu diantaranya tanya, Dia sangat heran. Jie siong Gan bersenyum berduka, akan tetapi matanya bersinar luar biasa, ia mengangguk. "Warta kematiannya Cee Cit bukan warta palsu," ia berkata, perlahan- "Aku menduga Yo Eng pioe salah mengenali. Lantas aku pergi sendiri kewarung teh di Hian Boe ouw itu, Masih aku dapat melihat orang itu, Dia memang mirip dengan Cee Cit, yaitu kakinya tinggal satu, akan tetapi romannya, romannya sangat berbeda. Hanya meski bagaimana juga, mestinya kedua saudara Sian terbinasa ditangannya orang berkaki satu itu serta sinheng sioe-soe. Anggauta kita cabang Kimleng tidak sedikit, tetapi terang mereka sangat alpa, sudah siang-siang mereka tidak bersiaga, habis peristiwa pun mereka tak dapat membuat penyelidikan bahkan mereka repot berfoya-foya saja, Maka itu sepulangnya kemarkas, hendak aku menghukum mereka." Kam Jiak Hoei tertawa didalam hatinya, ia ketahui baik sekali Jie siong Gan tengah mengelabui kawan-kawannya itu. Tak mungkin dia tak mengenali Cee Cit, Yang terang dia tak dapat bicara terus-terang, sebab sulit untuk menjelaskan itu. "Kalau nanti kau bertemu dengan Cee soepee." pikirnya, "Hmm kau tentu tak ada tempat untuk menaruh mukamu" Anak muda ini terus memasang telinga, "Dua saudara Sian terbinasa di Ie Hoa Tay." Jie siang Gan melanjuti, "jikalau perkaranya itu dibiarkan saja, pasti namanya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

partai kita bakal tercemar, Maka itu aku lantas pergi ke sungai, niat mencari perahu-perahu kita yang melakukan pengawasan disana. Lantas aku menemui peristiwa yang hebat, Aku melihat puluhan mayat mengambang dan hanyut, dan semuanya mayat orang-orang kita yang baru tiba di sini. Aku periksa mayat mereka itu. Me-nurut dugaanku, mereka tentulah roboh sebagai kurban tak jauh dari Tong-tauw, Para Tocoe, kamu tak bebas dari kesalahan sudah berlaku alpa" Enam orang itu kaget maka mereka pucat, Mereka tak dapat membuka mulut mereka Jie siong Gan berbangkit, tangan bajunya dikibaskan. "Tapi partai kita bijaksana" kata dia, tertawa tawar, "Terutama sekarang kita lagi membutuhkan tenaga bantuan, Aku tidak mau mengambil tindakan keras, Aku berpendapat siapa bersalah, dia mesti bekerja keras, dia mesti berbuatjasa, untuk menebus dosanya, sebaliknya, siapa alpa dan terus tak dapat mendirikanjasa, dia harus dihukum dua kali lipat sekarang lekas kamu pergi kesungai untuk melakukan penilikan, buat memeriksa ada atau tidak perahu-perahu kita yang lenyap. yang terkatung-katung ditengah sungai, atau saudara-saudara kita yang masih hidup, Aku sendiri perlu pergi ke-suatu tempat untuk mengurus sesuatu, nanti sekembalinya aku langsung pergi ke Tong touw untuk menerima laporan dari kamu." Enam orang itu lantas bangun berdiri, yang lima segera berangkat pergi, Tinggal yang keenam, seorang yang bermuka kuning seperti muka tikus, kumisan, dan tubuhnya kate, Dia menjura dan berkata: "Pang coe baru

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

datang dari tempat yang jauh, tentu Pangcoe lapar, maka itu nanti aku pergi menyiapkan barang hidangan, untuk Pangcoe dahar dulu, habis itu barulah Pangcoe berangkat pergi," Jie siong Gan mengangguk "Pian Tocoe," ia berkata, "kau telah turut aku dua puluh tahun, kau dapat di-percaya, Tahukah kau kenapa aku meninggalkan markas besar kita?" Tocoe katai dan kurus itu berpikir. "Pangcoe cerdik dan berpandangan jauh, apa yang Pangcoe lakukan senantiasa luar biasa," ia menyahut, "maka itu aku yang bodoh, tak dapat aku menerka..." "Cobalah kau duga," siong Gan mendesak. si katai-kurus itu menyahuti cepat: "Apa mungkin Pangcoe telah mengetahui benar Cee Cit belum mati dan karenanya Pangcoe mau mencari sahabat-sahabat untuk membantui?" Siong Gan tertawa lebar. "Benar-benar kau ketahui hatiku " katanya, " Ketika dulu hari aku mengambil tindakan terhadap Cee cit, kau bersama Cin Houw turut mengambil bagian, meski demikian, kau cuma dapat memade separuhnya, pada bulan yang lalu Yan Keepo musna karena itu Yan Hong telah datang padaku, inilah kebetulan, Aku lantas tanya dia tentang Cee Cit. Menurut katanya, Cee cit telah dijebaknya pada sepuluh tahun dulu, dijebloskan dalam ruang dalam tanah, hanya selama itu dia tidak pernah memeriksa, tapi dia menduga Cee Cit sudah mati. Aku sangsikan keterangan itu, karena itu setiap kali aku ingat Cee cit, hatiku menjadi tidak tenteram.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akupercaya jikalau benar Cee Cit masih hidup, satu kali dia tentulah bakal datang mencari aku, inilah sulit, Aku merasa aku bukanlah tandingan dia, Aku telah memikir meminta bantuan sahabat-sahabat, aku bersangsi. Bagaimana kalau rahasia terbuka? Pasti aku tak dapat bertemu orang. Tengah aku bingung itu aku mendengar berita halnya tiga macam mustika diantaranya kitab ilmu silat Lay Kang Keng Pouw, yang katanya berada di Kang lam. siapa berhasil memiliki kitab itu dan mempelajarinya sampai mahir, dia bakal menjadi jago tanpa lawan umpama Cee Cit datang dia pun tak nanti dapat berbuat apa-apa" "Apakah Pangcoe sudah dapat tahu kitab itu berada ditangan siapa?" Jie siong Gan mengangguk. si kate dan kurus itu nampak girang. "Bagus" dia kata nyaring, "Jikalau Pangcoe menjadi sijago tunggal. Kau boleh menjagoi dunia Rimba Persilatan" Ketua itu mengerutkan alis, ia mengalap tangan. "Pian Ceng, jangan kau pegat omonganku." ia kata, "setelah aku meninggalkan markas besar kita, benarbenar aku telah menemui Cee Cit di telaga Hian Boe ouw, Dia benarlah yang dibilang si orang aneh berkaki satu itu" Tocoe she Pian itu kaget sekali. "Inilah berbahaya" dia kata, "Kalau Cee cit datang dan pangcoe kebetulan tidak ada, habis bagaimana?" Siong Gan membuka matanya lebar-lebar, sinar mata itu bengis, ketika dia berkata pula, dia tertawa dingin. "Menurut dugaanku." demikian katanya, "Sebelum Cee Cit dapat pulang lenghoe cula badak itu, dia pasti tak ada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

muka mendatangi markas kita, Aku pula mau menduga, sekarang ini dia muncul dikota Kim-leng dan dia membinasakan saudara-saudara kita disungai, maksudnya tak lain tak bukan adalah guna memancing aku datang kesini, supaya dia dapat memaksa aku mengeluarkan lenghoe itu. Hm, dia kira aku si orang sheJie orang macam apa? Apakah dia sangka aku dapat terjebak olehnya?" ia berdiam sebentar lantas ia mengeluarkan sebatang leng-chie dan menyerahkannya pada Pian Ceng seraya berkata pula: "Selama aku belum kembali, kau dapat mewakilkan aku mengurus segala apa disini, terutama untuk menyelidiki dimana adanya Cee cit serta menilik gerak-geriknya, Kau mesti berhati-hati, jangan kau bentrok dengannya sekarang aku mau bersantap dan beristirahat sebentar jam empat aku mau pergi, karena itu tak usah kau menantikan aku, Kau pergilah" Pian Ceng menjura, dengan cepat ia berlalu. Jiak Hoei melihat semua ilu, tiba-tiba ia dapat satu pikiran: "jikalau aku dapat mempunyai leng-chie itu, pasti aku bisa memberikan segala perintah palsu, dengan begitu aku dapat membikin Thian Hong Pang saling bunuh, hingga partai itu bakal ambruk sendirinya. Dengan begitu juga aku dapat membikin Jie siong Gan terpaksa kabur, hingga Cee soepee mendapat keleluasaan untuk membereskannya..." Begitu berpikir, bocah itu begitu mengambil putusan, Lantas dia meninggalkan rumah itu, dia lari kegang kecil itu waktu rembulan sedang guram tetapi dia masih dapat melihat tubuhnya Pian Ceng sejarak tujuh tombak. Dla mengejar terus seraya memanggil: "Pian Tocoe, tunggu sebentar"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pian Ceng mendengar panggilan itu, dia heran, dia menghentikan tindakannya, Begitu dia menoleh, dia melihat satu bayangan lari kearahnya, Untuk bersiaga, segera dia menghunus pedangnya. "Siapa kau?" dia menegur. Kam Jiak Hoei memikir menyerang begitu ia datang dekat, sebelum orang bercuriga, maka itu melihat orang waspada, ia menukar siasat, ia berhenti berdiri setelah ia datang dekat, ia lantas bersenyum. Pian Ceng mengawasi ia melihat orang asing sekali baginya. "Kau siapa?" ia tanya, "Kau mempunyai urusan apa?" Jangan curiga, Pian Tocoe," sahut Jiak Hoei, pelahan sekali, "Aku Pek Hoei, murid baru dari Jie Pang coe. jadi Pangcce masuk kedam rumah, aku dilarang turut aku dipesan untuk nanti membantu tocoe." Katanya, Karena Pangcoe hendak mencari kitab silat Lay Kang Koen Pouw, kalau aku ikut, aku cuma membikin Pangcoe berabeh saja, maka itu aku diperintah turut tocoe," Akal ini tidak sempurna bagusnya Pian Ceng seperti terdesak hingga dia menjadi kurang teliti. "Ooh, Pek Laotee" katanya " Karena Pangcoe yang menitah sukai,aku menerima bantuan kau. Mari kita berangkat sembari jalan kita dapat beromong-omong." "Baiklah, menyahut Jiak Hoei. Lantas keduanya berlari-lari sampai di tembok kota, mereka lompat untuk lewatnya. Pian Ceng tahu jalan, ia mengambil jalan motong, Dari sini langsung mereka menuju ketepi sungai.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Rembulan muncul pula, maka pesisir menjadi terang sekali pasir terlihat putih dan sungai berkilau seperti sisik emas. Jiak Hoei memandang kelilingan. pesisir itu sunyi sekali, ia pikir inilah tempat untuk ia turun tangan. Selagi orang berpikir itu mendadak Pian Ceng mencelat setombak jauhnya, tangannya sekalian menghunus pedangnya terus dia tertawa dingin dan menegur: "Bocah hampir aku si orang she Pian kena diperdayakan kau. Kalau kau muridnya Pangcoe kenapa kau tidak dia masuk? Kau sebenarnya siapa? Lekas omong terus terang jikalau kau mendusta, disini aku nanti membikin tubuhmu rebah sebagai mayat" Bengis suaranya tocoe ini Jiak Hoei pun kaget, hingga ia berpikir: "Pantas Pian Ceng ini menjadi tangan kanannya Jie siong Gan, dia tak dapat dipandang dari cecongornya saja, dia benar-benar cerdik pantas sebagai tocoe kecil dia di-percayakan sebagai wakil" ia pun cerdik, tak kecewa ia menjadi muridnya sin-neng sioe-soe. ia tertawa nyaring dan berkata: "Piau Tocoe, pantas Pangcoe sangat memuji kau, kau cerdik sekali. Benar-benar akulah murid baru dari Pangcoe jikalau kau tetap tidak maupercaya aku, kau dengar, aku tuturkan segala apa semenjak aku turut Pangcoe datang kemari, setelah mendengar keteranganku aku percaya, kau tidak bakat curiga lagi." Pian Ceng mencekal pedangnya, ia bersiap sedia. "Kau bicaralah" katanya. Jiak Hoei masih ingat segala penuturan Siong Gan tadi didalam rumah, ia mengulangi semua itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pian Ceng menjadi bersangsi, Dia berpikir nampaknya dia tidak mendusta, Kenapa Pangcoe larang dia turut masuk? Kenapa? Lantas dia menanya: "Kau turut Pangcoe kerumah Kimleng Jie Pa, kau mesti ketahui rumah mereka itu dimana letaknya, madap keutara atau keselatan- pula didalam rumah mereka masih ada siapa lagi?" "Pian Tocoe, kau terlalu kata si bocah sambil tertawa, Dia cerdik dan tabah. "Aku memang turut Pangcoe datang kekota Kimleng, tetapi aku tidak diajak pergi kerumahnya Kimleng Jie Pa. Aku dititahkan dirumah penginapan. Mana aku tahu rumah nya dua saudara Sian dimana dan madapnya keselatan atau keutara? jikalau tetap kau curiga, sudahlah, percuma aku turut kau, baik aku kembali kepada Pangcoe" Jiak Hoei berpura ngambul, terus ia putar tubuhnya, seperti juga ia mau pergi pulang. Pian ceng terkejut. "Laotee tunggu" ia memanggil. "Maaf aku keliru menyangka kau" Justeru orang berkata itu, tubuhnya Jiak Hoei mencelat, sedang dari mulutnya terdengar suaranya: "Hm" itulah gerakan Liong Hoei Kioe Thian atau- Naga terbang kelangit lapis sembilan. Dengan begitu, dari atas ia menerkam tocoe Thian Hong Pang itu. Pian ceng kaget bukan main- Dia lompat kesamping, sedang pedangnya, yang sudah dimasuki kedalam sarungnya, dia hunus pula, Jiak Hoei tertawa nyaring, kembali tubuhnya mencelat tinggi, pedangnya menikam ke dada orang. Sembari berbuat begitu, ia tertawa pula dan kata: "Pian ceng, malam ini kau terimalah nasibmu"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pian ceng melihat gerakan orang, ia tahu bocah itu lihai, karena mana ia menjadi terancam bahaya, Meski begitu, ia tertawa dan kata: "Bocah, Memang aku telah melihat kau mencurigai sekarang kecurigaanku itu berbukti kau menghendakijiwaku? Tidak mudah jikalau kau berhasil Aku akan menghilang dari dunia kang-ouw" Kata-kata ini diakhiri dengan tangkisan yang diteruskan dengan penyerangan tigakali beruntun, itulah sebab yang pertama dan kedua kali tidak mengenakan sasarannya. Jiak Hoei tidak takut, dia ganda tertawa. Tiga kali dia berkelit, Paling belakang dia mengegos kekiri, dengan begitu tangan kirinya dapat membalas menyerang dengan cepat, mengarah rusuk kanan si tocoe. Pian Ceng gelagapan, akan tetapi ia masih sempat menabas, guna menghalau ancaman bahaya itu. Jiak Hoei bermata jeli dan gesit kaki-tangannya, ia mengelit tangan kirinya itu, sembari kelit, tangan kanannya meluncur, lima jarinya menyamber pedang musuh, untuk dirampas. Pian Ceng terkejut inilah ia tidak sangka, ia sampai mengeluarkan peluh dingin, ia masih dapat membebaskan diri, karena ia pun lincah sekali. Tapi ia telah kena di-desak, ia lantas didesak terus. Jiak Hoei tidak sudi memberi napas pada lawannya itu. Karena terdesak berulang-ulang, meski ia kaget dan berkuatir, Pian Ceng toh menjadi gusar, ia mengertak giginya. "Bocah, aku akan mengadu jiwa dengan mu" ia menjerit Benar-benar ia menikam hebat sekali sampai ia seperti melupai ilmu silatnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jiak Hoei menjadi repot, ia menduga kepada ilmu pedang yang istimewa, ia tidak tahu orang sebenarnya sudah kalap. ia menenangkan hati, untuk dapat melayani dengan baik. Belum selang lama baru ia menginsafi kenekatan orang. Dengan memperoleh ketenangan ia dapat melayani dengan baik. Akhirnya ia tertawa nyaring memecah kesunyian sang malam. Pian Ceng kalap. hatinya berdebaran, ia bertambah bingung karena desakanya itu tidak juga memberi hasil, ia menjadi kacau pikirannya mendengar tertawa lawannya itu. selagi begitu kembali ia melihat tubuh orang mencelat. Kali ini Jiak Hoei menggunai tipu silat nya sin-heng sioe-soe yang dinamakan "Thian Hoo seng-sia," atau Bintang Bima sakti Jatuh. Pian Ceng kaget dan bingung, dia gugup. Dia lantas mengangkat pedangnya, untuk menangkis sambil menabas. Lalu dia menjadi kaget lagi, mendadak dia merasa jeriji tangannya nyeri, tanpa merasa cekalannya terlepas, pedangnya mental ke udara, menyusul mana napasnya seperti mandek. mata nya pun berkunangkunang. Matanya itu mesti dimeramkan, itu artinya dia menerima binasa, Tapi dia tidak roboh dan jiwanya tidak melayang pergi, Dia cuma merasa punggungnya ditotok beberapa kali, lantas dia tidak mendengar apa-apa. Tidak dapat dia melawan perasaannya ingin mendapat tahu, dia membuka kedua matanya, Apa yang dia lihat ? Jiak Hoei berdiri didepannya dengan wajah berseriseri. "Bocah, kau berani menghina aku ?" dia membentak saking mendongkol. Baru dia berkata sampai disitu,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lantas dia berhenti, Dadanya sesak, darahnya seperti mendesak. Tubuhnya terus nyeri bagaikan digigit ular, sakitnya bukan kepalang, Tak sanggup dia bertahan, Maka matanya mencelos dan berputar keringatnya dijidatnya. Bagaikan ular kehabisan tenaga, Dia roboh terkulai ditanah. paling akhir dia menjerit menyayatkan hati. Jiak Hoei tertawa, ia merogo kesaku orang, Untuk mengambil len-chie. ia angkat itu. Untuk melihatnya diterangnya rembulan benar itulah lencana terbuat dari emas, kiri dan kanannya terukirkan masing-masing seekor burung hong serta delapan huruf yang berarti: "siapa melanggar perintah, Dia binasa." Setelah memeriksa Jiak Hoei masuki leng chie ke sakunya, Terus ia menepuk dada Pian Ceng, Atas itu lenyap rasa nyerinya si tocoe Pang Coan akan tetapi berbareng tenaganya pun habis. Mulutnya tak dapat mengeluarkan suara. si bocah mengawasi sambil tertawa. "Maafkan aku, terpaksa aku membikin kau begini," ia kata, "Aku masih hendak mempertemukan kau dengan satu orang dengan siapa sudah lama kau berpisah" setelah berkata Jiak Hoei mengangkat tubuh orang, untuk dikempit, buat dibawa lari. ooooo BAB 15 Kuil Hwee sin Kio dikota kecamatan Tong-touw terletak dikota barat, sudah tua dan rusak kuil itu, temboknya roboh disana sini. Disamping itu ada kebun sayur. Malam itu, diantara sinar rembulan, terlihat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seorang lari kesitu dengan tangannya mengempit sesosok tubuh. Dia melewati kebun sayur, dia sampai didepan kuil, terus dia masuk kedalamnya. Gelap ruang dalam kuil itu, beda dengan di bagian luarnya, Karena itu, orang itu mesti mementang mata tajam-tajam untuk dapat melihat seluruh ruang, Dia merasa tidak enak, karena bau busuk menyerang hidungnya. Kemudian dia menjadi bingung, karena dia tidak dapat mencari orang yang dia cari. Kuil itu kosong dari manusia, Dia bergelisah sendirinya, sebab dia punya tugas lain, KalauJiesiong Gan keburu pergi, gagal dia menguntit ketua Pang Coan itu. Karena dialah KamJiak Hoei bersama orang tawanannya, Pian Ceng, tocoe dari Thian Hong Pang. Selagi bergelisah itu, tiba-tiba Jiak Hoei mendapat cium bau arak yang harum, Mendadak hatinya menjadi lega, segera ia mengangkat tindakannya, menuju kearah dari mana bau arak itu bersiur, ia sampai diruang belakang dimana ia terus mendengar suara menggeros. Mendengar itu, ia tertawa dalam hatinya. " Heran orang tua ini" pikirnya, "Masa ia tidur ditempat demak dan bau ini?" Ia bertindak untuk melewati pintu yang samping, atau ia lantas merasa lengannya ada yang cekal, ia tidak menjadi kaget atau takut, sebaliknya ia tertawa dan kata: soepee, kau getap sekali" Terdengarlah suaranya Cee Cit. "Hm kalau orang belajar silat tetapi telinganya tak terang dan tidurnya tak getap. Delapan Cee Cit tidak ada artinya." Jiak Hoei tertawa pula.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Soepee, Aku memperoleh hasil," ia berkata terus ia tuturkan pengalamannya. Jikalau begitu, Perlu sekarang juga kita pergi kesana" kata sang paman. "Bagaimana dengan Pian Ceng ini?" "Aku malas melihat dia pula," kata Cee Cit "kau totok jalan darah matinya, kau lempar dia di belakang meja patung." Jiak Hoei menurut, Bahkan ia bekerja cepat sekali, Maka dilain saat terlihatlah dua tubuh lompat keluar dari dalam kuil. Berlari-lari seperti bayangan. Tidak terlalu lama. Tibalah dua tubuh itu dirumah yang ditunjuk Jiak Hoei. selagi mendekati pintu, mereka justeru mendengar suara pintu dibuka, Lekas-lekas mereka bersembunyi ditempat gelap. Dengan bantuan sisa rembulan, terlihat Jie siong Gan keluar dari pintu, terus dia bertindak cepat memasuki gang didekat situ dan melewatinya. seterusnya dia jalan terus bukan dijalan umum hanya ditanah tegalan yang sunyi dan sukar dilaluinya. Dia jalan ditepian sungai. Dia jalan terus. Nyatalah dia menuju ke Kwie In Chung. Disini dia bukan menghampirkan rumah untuk mengetuk pintu dan lompat naik ke atasnya, d ia justeru lompat keatas sebuah pohon dimana terus dia berdiam, Rupanya dia lagi menantikan sesuatu. Cee Cit danJiak- Hoei berdiam dalam gombolan di tepi sungai dari mana mereka dapat memasang mata. Tidak lama maka terlihatlah munculnya Kwie Lam Ciauw bersama dua kacung yang menjadi muridnya, Dia menggendong kedua tangannya nampak dia tenang sekali, Lalu Tiauw Hong dan Lo sia uw Hong pun nampak ditepi sungai.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mereka semua tidak lolos dari pandangan matanya Cee Cit dan Jiak Hoei. Jiak Hoei benci sekali pada Jie siong Gan, maka itu ia mengeluarkan tiga batang paku samleng Kong ciam dengan apa ia menimpuk ketua Thian Hong Pang tanpa ketua itu dapat berbuat apa-apa, kecuali dia heran dan mendongkol dan lantas mengangkat kaki. Setelah tinggal berduaan saja Jiak Hoei kata: "Soepee, mari kita masuk kedalam. Jie siong Gan dibantu Boan In dan Hoet Goat, pasti dia bakal berhasil mendapatkan kitab ilmu silat itu. Jikalau kita tak dapat mencegahnya mungkin kita bakal jadi pusing." Cee cit menggeleng kepala. "Tak usah kita kesusu," katanya, "Coan in-Yan Kwie Lam Ciauw bukan orang yang mudah dihadapkan. Mana bisaJie siong Gan dengan gampang saja mendapatkan kitab itu? -Tanpa ada pegangannya, tidak nanti Kwie Lam Ciauw berani bertentangan dengan See-boenBoe Wie Kelihatannya bencana Rimba persilatan bakal mengambil tempat di Kwie In Chung ini." "Bagaimana begitu, soepee?", dia tanya. "Kitab ilmu silat itu adalah kitab yang sampaipun dalam mimpi ingin dipunyakan orang orang kaum Rimba Persilatan." Cee Cit menjelaskan makin lama tersiarnya makin luas, pasti itu mengundang lebih banyak orang lagi. Bahkan aku percaya, dalam tempo sepuluh hari ini, Kwie In chung bakal jadi tempat berkumpulnya banyak jago, Dan mungkin sekali akan datang pula orang orang yang liehay sekali, Barangkali inilah yang membikinJie siong Gan tidak berani bertindak sembrono, sekalipun dia dibantu kedua bocah, Kwie Lam Ciauw ada terlalu cerdik

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

untuk ia memberi tahukan kedua muridnya tentang tempat simpannya kitab itu." Jiak Hoei berdiam. sulit ia akan mengerti pendapat paman guru ini. ooo See-boenBoe Wie lari meninggalkan Kwie Lam Ciauw buat segera kembali kedalam Kwie In chung, ia heran mendengar kedatangannya Ceng shiaJie Ay serta si anak muda she Kong-soen yang tengah-tengah jidatnya, disambungan alis ada tai- lalatnya meraba ia berkata dalam hati- kecilnya: "Kenapa Ceng shia Jie Ay mendapat tahu aku berdiam disini ? sudah duapuluh tahun, belum pernah aku berlalu dari sini, kecuali baru kira dua tahun suka juga aku melangkah sejauh luar kota, Hm Tentulah Kwie Lam Ciauw ingin menyingkirkan aku, maka dia menyuruh orang mengisikinya, supaya mereka itu datang. Kwie Lam Ciauw, demikian busuk. Tak dapat aku memberi ampun padanya " Dugaannya Boe Wie tidak meleset jauh, Memang Kwie Lam Ciauw mengandung niat menyingkirkannya, Diundangnya Lie Tiong Hoa juga berhubung dengan maksud itu. Hanya adalah keliru kalau Lam Ciauw yang mengisiki Ceng shia Jie Ay. Begitu memasuki pintu pekarangan, See-boen Boe Wie sudah berpapasan dengan seorang kepercayaannya, yang mengisiki ia beberapa kata-kata, atas mana ia menyeringai terus ia tertawa tawar, terus ia masuk ke dalam. Masih hatinya bimbang, sekarang ia pikirannya bagaimana ia mesti melayani Ceng shia Jie ASy berbicara.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selama cita-citanya belum berwujud, ia segan mencari musuh apapula musuh yang liehay, Bagaimana kalau anak muda she Kongsoen itu memaksa ia mengangkat senjata? Belum memasuki ruang depan, tindakan Boe Wie mulai menjadi perlahan. Dia bersangsi untuk bertindak terus, Begitu dia memindahkan kaki kirinya ke ambang pintu thia, dia sengaja tertawa lebar dan berkata: "Bagaimana berbahagia aku si orang she Seeboen berjodoh berkenalan dengan dua jago kenamaan dari Ceng shia, sungguh berbahagia, sungguh berbahagia" Ketika itu, matanya lantas dipasang tajam, Maka dia melihat dua orang tua katai dan kurus kering yang satu memelihara kumis-jenggot seperti kumis-jenggot kambing, yang lainnya tak ada kumis atau jenggotnya sama sekali. Dengan duduk dikursi, kepala mereka tak sampai melewati belakang kursi itu Di-belakang mereka berdiri si anak muda dengan pedang dipunggungnya, Benar dia mempunyai tai lalat diintong, ditengah jidat di mana kedua alis hampir menempel satu dengan lain. Kedua orang tua kate itu belum berkata apa-apa tempo Seeboen Boe Wie mengucapkan perkataannya yang terakhir atau si anak muda sudah memperlihatkan roman gusar dan terus membentak: "Bangsat, kau kembalikan jiwanya ayahku" seraya pedangnya menyamber. Boe Wie mengasi dengar suara "Hm" sambil ia berkelit berlompat tujuh kaki, ia lantas dapat mengenali orang menyerang dengan tipu silat Ceng shia Pay yang dinamakan Angin musim rontok menyapu daun, ia pun melihat ilmu silat orang lihai sekali.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Habis itu terdengar angin menyamber, terlihat dua tubuhnya si orang-orang kate berlompat menyelak diantara mereka itu berdua, sedang si orang tua dengan kumis, jenggot kambing gunung berkata dengan gusar: "Anak Liang, buat apa terburu tidak keruan? Kita mesti pakai aturan dulu, baru kekerasan" Seeboen Boe Wie tahu kedua orang tua itu disamping ilmu silatnya yang liehay juga sangat membenci kejahatan, si kumis-jenggot kambing gunung itu bernama Kok It, dan yang tak berkumis Ang Hie. Memang biasa nya mereka berdua tidak pernah berpisah, nama mereka kesohor di soe-coan Barat. siapa berani main giia terhadap mereka, itu berarti ancaman bahaya jiwa. "Siauwhiap ini pastilah murid jiewie Loosoe" kata Seeboen Boe Wie tertawa. "Aku Seeboen Boe Wie, seumurku belum pernah aku bermusuh dengan siapa juga, maka itu mungkin siauwhiap ini keliru memperoleh keterangan Bolehkah aku mendapat keterangan duduknya hal?" Kok It mengawasi tajam pada Keng Thian cioe. "Taruh kata Seeboen tidak menanyakan, kami ingin minta penjelasan," kata dia dingin, " Kami si dua tua bangka yang belum mau mampus telah melakukan perjalanan jauh dari soecoan, maksudnya cuma ingin mengetahui peristiwa dahulu hari itu. Memang, pemuda ini adalah murid kami, Dialah Kongsoen Bok Liang, anaknya Kongsoen Coe Liong, yang menjadi saudara angkat loosoe" Seeboen Boe Wie mengasi lihat roman girang berbareng kaget.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Apa ? Dia anaknya adik-angkatku she Kongsoen itu?" kata dia, keras, "Sungguh Thian murah hati, adik angkatku itu telah mempunyai turunan" Lantas dia lompat maju seraya mementang kedua tangannya, untuk merangkul. Anak muda itu melihat cahaya merah meny amber kepadanya, ia lompat mundur. "Bangsat tua, jangan berpura-pura baik hati " ia mendamprat "Apakah kau sangka Kongsoen Bok Liang dapat diperdayakan?" SeeboenBoe Wie berdiri diam, sinar matanya guram, dari matanya itu terlihat air mengalir Agaknya dia penasaran sebab seperti terfitnah, seorang diri dia berkata: "Apakah artinya ini ?" Kedua orang kate dari csng Shia Pay itu agak bingung mereka saling mengawasi Mungkinkah benar Boe Wie tidak berbuat seperti dituduh, seperti bunyinya berita diluaran? Toh warta membilang dia benar pembunuhnya Kongsoen Coe Liong, kalau bukan nya dia, siapa pembunuh yang benar itu? Kongsoen Bok Liang pun tercengang, tetapi inilah disebabkan anggapannya lain dari anggapannya kedua gurunya, ia heran untuk kelicikan seeboen Boe Wie, yang dapat main sandiwara demikian mahir. Orang mirip ular berbisa atau kala yang pendiam. Seeboen Boe Wie memang merasakan kesulitan, ia menyesal yang ia telah kesalahan membunuh saudara angkatnya itu, ia lantas menangis terisak-isak. "Kongsoen Hiantit, hebat salah paham kau terhadap aku si orang tua." ia kata, "Aku tidak menyesal atau menggusari kau, aku hanya menyesal karena aku telah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terlambat satu tindak hingga aku membikin seluruh keluarga sahabatku mesti hilang jiwanya. Penjahat itu bekerja sangat pandai dan bersih Kau tahu tiga tahun sudah aku mencari dia, aku tidak berhasil, endusan sedikit jua tak aku dapatkan hingga aku merasa tawar hatiku. Begitulah selama lima belas tihun aku menumpang tinggal di Kwie In Chung ini. Benar-benar aku tidak tahu saudara Coe Liong masih ada turunannya jikalau tidak sekalipun mesti berjalan dengan merayap tentulah siangsiang aku sudah pergi ke Ceng-shia..." Kok it tetap bersikap dingin. "Seeboen Loosoe, benar- benarkah kau tak ketahui duduknya peristiwa?" ia tanya, Di rumahnya keluarga Kongsoen itu orang telah dapatkan senjata rahasiamu, diantara kurban kurban, Mengenai itu, apa kau mau bilang?" "Ketika aku sampai disana, justeru tengah malam tanggal dua puluh empat bulan dua belas disaatnya kawanan penjahat kabur bubaran," ia berkata, berduka. "Aku membekaltiga macam senjata rahasia aku telah gunai itu, semuanya lolos. Aku mengejar sampai seratus beberapa puluh lie, aku tidak berhasil. semua penjahat itu dapat menghilang. Ada kemungkinan selagi aku mengejar, dirumah masih ada penjahat yang bersembunyi lantas dia menggunai senjataku itu, guna memindahkan bencana terhadapku. Biarnya begitu, kenyataan ada terlebih kuat daripada penyangkalan, maka itu jikalau jiewie loosoe serta Kongsoen Hiantit tetap menuduh aku, sekarang aku berada disini, terserah kepada kamu untuk membunuh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

aku, supaya Kongsoen Hiantit tercapai cita-citanya menuntut balas, Tidak. sedikit juga aku tidak penasaran." Habis berkata airmatanya jago tua ini mengucur semakin deras. Ceng shia Jie Ay saling mengawasi pula, Mereka bingung, Mereka sangat cerdas dan cerdik tetapi sekarang mereka tak dapat mengambil keputusan. Kongsoen Bok Liang sama bersangsinya seperti kedua gurunya. ia menjadi gusar bercampur kemenyesalan dan kedukaan, la penasaran tidak keruan. Kedua matanya merah, airmatanya mau mengucur turun, sekian lama ia berdiam secara begitu, mendadak ia berseru, sambil maju ia menikam Seeboen Boe Wie, yang ia arah jalandarahnya auw- kiat. Seeboen Boe Wie berdiam tanpa bergerak ia menghela napas sambil merapatkan kedua matanya. "Tahan" Ang Hie berseru seraya tubuhnya mencelat, tangannya diulur untuk dengan dua jerijinya menjepit pedang muridnya. Seeboen Boe Wie membuka matanya, ia tertawa sedih. "Aku menyesal tidak dapat aku membersihkan diriku," ia berkata perlahan. Jikalau aku mati ditanganmu, hiantit, aku tidak menyesal, hanya aku penasaran justeru si orang jahat dapat hidup merdeka dan berbahagia, hingga karenanya pastilah adik Coe Liong didunia baka akan tak dapat memeramkan matanya." Kongsoen Bok Liang menjadi tercengang, "Apakah kau tahu siapa penjahat itu?" dia tanya, masih dia penasaran. Seeboen Boe Wie menggoyang kepala, "jikalau aku siorang tua tahu tidak nanti aku membuatnya hiantit mendendam selama delapan belas tahun." sahutnya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lalu ia meneruskan kepada Ceng shiaJie Ay: "sudah delapan tahun aku tak bertemu dengan Kongsoen Hiantit, itu artinya diantara kita tidak ada perhubungan apa-apa, adalah selama aku berada di Thay Heng san, d is ana aku dapat menerima suratnya saudara Coe Liong yang dibawa dengan perantaraannya Lie sam Coan, guru silat kenamaan dari Yang-kiok. saudara Coe Liong menulis sendiri surat itu, dalam mana ia mengatakan bahwa ia lagi terancam bahaya mati atau hidup, maka ia minta aku segera berangkat untuk membantunya. Ketika aku tiba keluarga Kongsoen sudah menjadi kurbannya tangan jahat. oleh karena bunyinya surat saudara Coe Liong tidak jelas, tak dapat aku menduga ada-apa." Dia menghela napas, dia menambahkan: "Saudara Coe Liong menitipkan anaknya yang yatimpiatu kepada jiewie loosoe, tentulah ia ada mengandung sesuatu maksud, Apakah sebelum itu jiewie loosoe tidak mendengar apa-apa?" Kedua jago Ceng shia itu menggeleng kepala. Kongsoen Bok Liang, yang menjadi bersangsi, berkata: "Diwaktu masih kecil aku ingat samar-samar ayahku pernah omong tentang suatu kitab yang luar biasa yang katanya menyebabkan kaum Rimba Persilatan mengincarnya." Mendengar itu, Ceng shia Jie Ay agaknya tertarik hatinya, lantas mata mereka menatap murid mereka itu, sinarnya seperti mau menyesalkan kenapa tad-tadinya sang murid tidak pernah menyatakan demikian kepada mereka. Murid itu membade hati gurunya, hatinya gelisah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Bukannya murid tidak mau memberitahukan soehoe." ia berkata, " Ketika itu ayahku pernah menceritakan bahwa ia menyimpan sejilid buku luar biasa yang katanya dibela kang hari dikuatir nanti diarah oleh orang-orangyang menghendak. Bagaimana halnya, murid tak tahu, tetapi itu waktu ayahku telah memesan, siapa pun tak dapat membocorkan hal kitab itu. Buku itu aneh, kecelakaan keluargaku pun aneh, maka..." "Hm" kedua guru itu mengasi dengar suaranya, atas mana muridnya berhenti bicara. Seeboen Boe Wie tunduk mengawasi lantai, ia seperti memikirkan sesuatu. Tengah orang berdiam itu, dari luar terdengar suara ini: "chungcoe datang " dan lantas terlihat Kwie Lam ciauw bertindak masuk. Seeboen Boe Wie mengangguk kepalanya, Cepat sekali terlihat wajahnya menjadi biasa pula, Dalam sekejap lenyaplah kedukaannya barusan, ia mengajar kenal Lam Ciauw dengan ketiga tetamunya itu. Habis perkenalan itu, Lam Ciauw memandang adik seperguruannya. "Soetee," ia berkata, " matamu merah dan bengul, kau seperti habis menangis, sebenarnya telah terjadi perkata apakah ?" Boe Wie tidak menyembunyikan rahasia, ia menjelaskan halnya Kongsoen Bok Liang mencari ia sebagai musuh. Mendengar keterangan itu, Kwie La m ciauw terlihat heran, dia sampai tercengang tetapi segera dia kata girang: "oh kiranya Kongsoen siauwhiap adalah puteranya adik Coe Liong sudah duapuluh satu tahun aku tidak bertemu saudara Coe Liong itu, aku selalu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memikirkan dia, sebenarnya aku menyesal mendengar malapetaka yang menimpanya. Aku pun menyesal kapan aku ingat kita orang kaum kang-ouw jarang yang mati tenang. Akan tetapi Thian maha adil danpemurah, maka aku harap mudah-mudahan siauwhiap nanti dapat mencari musuh keluargamu itu" Baru Lam Ciauw habis berkata itu, dia melihat kedua muridnya datang dengan cepat, agaknya mereka mempunyai urusan penting. "Chungcoe, Jie Tayhiap pangcoe dari Thian Hong Pang datang mohon bertemu," berkata Boan in- "sekarang dia lagi menantikan diruang Hoa-thian." "Begitu?" berkata tuan rumah itu, yang terus berpaling kepada Ceng shia Jie Ay dan berkata: "Maaf, jiewie loosoe, aku ingin keluar sebentar, silahkan jiewie bertiga duduk dulu." "Silahkan, chungcoe," berkata dua tetamu itu. Lam Ciauw mengangguk, terus ia berlalu bersama dua muridnya itu. Didalam hatinya, Seeboen Boe Wie terkejut melihat Boan In dan Koet Goat, la berpikir keras, menduga-duga siapa sudah membebaskan kedua kacung itu. Kalau penolongnya adalah Kwie Lam Ciauw, urusan itu mesti ada akibatnya yang tak enak untuknya. Seberlalunya Lam Ciauw, dia tertawa dingin dan kata: "Kongsoen Hiantit, apakah kau lihat barusan wajah Kwie Chungcoe berubah ketika dia mendengar penjelasanku? Sudah lima belas tahun aku berdiam disini, maksudku untuk membuat penyelidikan- Kalau kau tinggal disini satu tahun saja, kau pasti akan mengetahui banyak."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kongsoen Bok Liang berpikir, ia bimbang, Kok It tertawa, Dia kata: Jikalau begitu kata Seeboen Loosoe baiklah, suka kami berdiam disini untuk sementara waktu" "Itulah yang aku harap" Boe Wie tertawa, "Dengan begitu setiap waktu aku dapat memohon petunjuk dari jiewie loosoe, sekarang marilah" orang she Seeboen ini mengajak ketiga tetamunake ruang belakang. ooo Bukit Cit Hee San, yang pun dinamakan Liap San, pernahnya Liap San, pernahnya limapuluh lie di timurlaut kota Kimleng, gunung itu penuh dengan pohon pekjang tua-tua. Disitu ada kuil Ciat Hee Sia serta bukit Ciat Hoed Gla^ dimana terdapat banyak patung Buddha ukirannya Putera mahkota CeeBoen Hoei. Pemandangan alam disitu indah dan menarik hati, Sekarang di permulaan musim panas, bukit sedang permainya. Hari itu, lohor, dlatas Cian Hoed Gia tertampak seorang muda dengan pakaian serba putih lagi berdiri menghadapi sebuah patung, ia memperhatikan dengan tenang tetapi perhatian tertarik. Baru kemudian, sambil menggendong tangan, ia mengawasi kepuncak gunung. Dalam gembiranya, ia bersenandung seorang diri Tapi segera perhatiannya tertarik. Dijalan didepannya, ia melihat tiga orang yang sebentar nampak dan sebentar tidak, Karena jaraknya jauh, ketiga orang itu mirip titiktitik bayangan saja, cepat mereka itu bergerak. Pemuda itu adalah Lie Tiong Hoa. Dengan matanya yang tajam, ia melihat samar-samar satu diantara ketiga orang itu mirip Cee Cit. Karena orang berkaki satu dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menggunai tongkat, orang sudah lantas tiba di sebelah bawahnya, Mereka segera dikenali benar Cee Cit yang ada bersama Lin Tiang Keng dan Kam Jiak Hoei. Bertiga mereka itu manjat kebukit karang, "Hiantee, kakakmu membuat kau menanti lama" kata Cee Cit tertawa riang, Dia menghampirkan, dia menjabat tangan orang, matanya menatap tajam. Dia tertawa pula dan berkata: "Hiantee, baru lewat tiga hari yang sangat pendek maka kau telah menemui jodohmu yang luar biasa sungguh, kau membuatnya kakakmu kagum" Tiong Hoa bersenyum, Tentulah Tiang Keng sudah bicara tentang Ban in- ia tidak mau mengatakan apa-apa. urusannya Ban-in menyulitkan ia, karena ia masih punya urusan dengan Cek In Nio, yang tak dapat ia lupakan, ia lantas mencekal tangan Jiak Hoei dan menanyakan halnya ini bocah. Jiak Hoei bersyukur untuk perhatiannya anak muda itu. Kemudian berempat mereka berduduk di-batu karang, untuk saling menutur. "Besok pagi aku hendak menjernihkan janji dengan Kwie Lam Ciauw," kata Tiong Hoa. "Berhubung dengan itu, buat kepentingannya kedua nona, mereka itu telah dipindahkan kegunung Ciat Hee san ini. saudara Cee kau luas pengalamanmu coba bilangi aku, bagaimana aku harus bertindak besok? Apakah saudara bertiga mau turut aku pergi ber sama?" "Kepergianmu ini. hiantee, tidak ada bahayanya." kata Cee cit, " karena itu untuk sementara tak usahlah kami turut, Hanya disana, dengan siapa juga tak dapat kau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bergaul terlalu akrab, inilah untuk mencegah kau didengkikan atau dicurigai. Baik kau menggunai siasat menarik dan melepas. Kau berpura memaksa mau pulang ke Kimleng, untuk mengurus rumah tanggamu, kau janji akan datang pula lagi dua atau tiga hari. Aku percaya dua-dua pihak bakal membaiki kau, hingga sebagai orang ditengah, kau nanti peroleh hasilnya." "Dari kata- katanya Jie siong Gan yang kucuri dengar selama Tong-touw." Kata Jiak Hoei. " mestinya dia sudah mencari keterangan di Hong Hoa sien di tepi telaga Hian Boe ouw, pemilik warung teh itu tentunya telah melukiskan romannya Lie soesiok. Lie soe-siok bentrok dengan Seeboen Boe wie, dengan pergi ke Kwie in chung, bukankah soesiok menjadi seperti mengantarkan diri kedalam mulut harimau? Kenapa soepee justeru bilang tak ada bahayanya?" "Memang tidak ada bahayanya" Cee Cit memastikan tertawa, "Kedua pihak sama-sama membutuhkan sesuatu, maka itu mereka masing-masing tidak nanti berani menambah musuh. Rasanya mereka juga belum mempunyai pegangan yang tentu. Tentang kitab silat itu kau jangan kuatir, Kalau itu benar berada ditangannya Kwie Lam Ciauw aku menjaminmu" Biar bagaimana Jiak Hoei toh tertawa, "Angin dingin, tak dapat kita berdiam lama disini." kata Tiang Keng, "Rumahku ada dibawah sana, marilah aku menjadi tuan rumah menyambut kamu, Cee Pang coe, aku undang kau untuk minum beberapa cangkir." "Aku memang ingin melihat wajahnya iparku yang cantik itu." kata Cee Cit tertawa. "Dengan kamu tidak berbicara sendiri, tidak berani aku membuka mulutku."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mukanya Tiong Hoa menjadi merah, Jail." katanya, seraya ia lantas bangun, untuk berlari pergi, Lin Tiang Keng sudah bersiap. ia lantas menyusul. Dengan tertawa nyaring, Cee Cit menyusul juga, di ikut Jiak Hoei, Ketika itu sang rembulan sudah muncul, jagat indah, angin bertiup perlahan. Besoknya pagi, sang Batara surya yang mulai muncul seperti diliputi sang kabut hingga cahayanya menjadi guram, hingga Kwie In Chung menjadi guram juga, suasana seperti itu membikin juga hati orang terasa berat. Diwaktu begitu seeboen Boe Wie, yang mengenakan baju hijau yang panjang, lagi berdiri diam dijalan besar ditepi sungai didepan Kwie In Chung --jalan yang menuju kekota. Dia mengangkat kepala, Membiarkan mukanya d emak dengan hembusan kabut yang dingin nembus ketulang-tulang. Dia seperti lagi dilanda kesulitan besar, yang belum dapat dipecahkan. Dia tahu diri nya lagi terancam bahaya Maka itu dia memikir untuk menyelamatkan diri saja . Dengan pakaian demak,Boe Wie berpaling kearah jalan besar arah kota, Dia seperti lagi menanti orang, sang kabut mem bikin dia tak dapat melihat sejauh lima tombak tetapi dia tetap memandang kedepan itu, kegelisahan membikin dia menggerak-geraki kakinya dan alisnya yang tebal berkerut. Lama dia seperti tersiksa itu, tiba-tiba alisnya terbangun Dia melihat suatu tubuh berkelebat didalam kabut didepannya itu. Cepat sekali tubuh itu muncul didepan nya sekali.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang itu berumur lebih kurang empat puluh tahun, sambil menjura, dia berkata: "Lie Tayhiap sudah berangka kemari, tak lagi setengah jam dia bakal tiba." SeeboenBoe Wie memperlihatkan roman gembira. "Apakah Lie Tayhiap ada bersama kawan atau kawankawannya?" dia tanya. "Tidak. Lie Tayhiap menunggang kuda seorang diri" "Begitu?" kata Boe Wie, lantas tangannya mengibas, "Kau sudah tidak punya kerjaan lagi, pergi kau pulang" Orang itu tunduk ia menyahuti "Ya" lantas ia berlalu. Selagi orang itu pulang, Boe Wie bergerak maju, ia hendak memapak tetamunya sebentar saja dia telah terbenam didalam kabut. Ketika matahari merah mulai bercahaya kabut masih belum dapat disirnakan semua. sebaliknya, hujan gerimis halus mend emak kan bumi Justeru itu, tidakan larinya kuda mulai terdengar, itulah Tiong Hoa lagi mendatangi. Tiba-tiba ia dikejutkan pertanyaan ini. "Lie siauwhiap. apakah sejak kita berpisah kau baikbaik saja?" ia lantas menahan kudanya, matanya dipajang, la heran sampai ia melihat munculnya Keng Thian Cioe Seeboen Boe Wie dengan bajunya yang merah. Lantas saja alisnya bangun berdiri "Apakah seeboen Loosoe mencari aku untuk urusan dulu hari?" ia tanya, suaranya dalam. Seeboen Boe Wie memberi hormat, "Lie Siauwhiap. kaulah tetamu dan aku kuatir aku menyambutnya kurang hormat" dia menyahut tertawa. "Aku bukannya itu orang yang tidak insaf akan keadaan- Dulu hari itu pun aku telah keliru mendengar bujukannya Yan Hong, hingga

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

aku terpedayakan dan sudah main gila terhadapmu, peristiwa itu membuat aku menyesal karena itu aku minta jangan siauwhiap memandangnya sebagai perselisihan. Pula dari Bok hoesiang Hiap telah aku mendengar tentang kau siauwhiap mereka sangat memuji, maka itu, aku malu sekali. Aku mendengar siauw hiap bakal datang kemari, lantas aku menyambutmu. siauwhiap. maaf" Tiong Hoa tidak heran atas sikap lawan lawan ini.Jadi benarlah dugaan Cee Cit, ia bersenyum ia lompat turun dari kuda. "Kau baik sekali, loosoen- ia kata, gembira. "Aku datang ke Kang lam untuk menikmati keindahannya, diluar dugaan aku bertemu dengan Yan Hong, aku tidak sangka dia membalas kebaikan dengan kejahatan hingga telah terbit banyak salah paham, Benar-benar aku tidak menyangka sekali dan menyesal karenanya." "Kau hebat, Lie siauwhiap." kata Boe Wie, " Hanya dalam tempa beberapa hari, namamu telah menggemparkan wilayah selatan dan Utara sungai Besar. Disini telah datang tak sedikit orang Rimba Persilatan, mereka yang kagum terhadapmu, juga yang gemar nama besar, oleh karena itu aku memapak kau disini, untuk memberitahukan jangan kau kaget apabila ada terjadi sesuatu diluar dugaan kau. Aku pun tak dapat menyembunyikan maksudnya Kwie Chungcoe mengundang siauwhiap datang kemari." Habis berkata, Seeboen Boe Wie menjura, terus ia memutar tubuhnya, buat pergi ke dalam rimba disamping mereka.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa memikir hanya sejenak. lantas ia tertawa, lantas ia lompat naik atas kudanya, guna mengaburkannya kearah Kwie In Chung, itu waktu, cuaca mulai cerah. Tiba-tiba disebelah depan ditepi kali, terlihat lima orang lagi berdiri mengawasi. Tiong Hoa dapat melihat mereka itu, ia ingat kata-katanya Boe Wie barusan, Belum ia menghentikan kudanya, mereka itu sudah maju, terus berdiri berbaris sejarak sepuluh tombak ia lantas menahan les kudanya. "Apakah tuan-tuan berlima saudara-saudara dari Kwie In chung? mendahului menegur mereka, ia merangkap kedua tangannya dan tertawa. "Kalau benar, tolonglah mengabarkan Kwie Chung coe bahwa aku yang rendah, Lie Cie Tiong, datang membuat kunjungan..." "Tutup mulut." mendadak membentak satu diantara kelima orang iui. Dia berjenggot lebat, matanya seperti mata harimau hidung nya seperti hidung singa, dan tubuhnya pun besar, "Bocah tak tumbuh mata, aku nanti bikin matamu terpentang" Dia lantas menunjuk satu kawannya seorang imam kate, untuk meneruskan berkata: "inilah Koan-coe Biauw Ceng sioe dari kuil Mo In Koan di gunung Tay san "Sungguh seorang imam yang suci" kata Tiang Haa. "Ceng sioe" berarti suci." Mukanya Koan-koe itu, ketua kuil, menjadi merah-padam. si mata harimau hidung singa itu menunjuk lain kawannya, yang tubuhnya kurus tapi matanya bersinar tajam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Inilah Loo-enghiong Gan Tok dari Keng-ban yang bergelar ciang-Keen-Kiam yang namanya tersohor sampai diluar lautan "dia memperkenalkan pula, Gelaran ciang koen-kiam itu menunjuki orang liehay ilmu pedang telapakan tangan dan kepalannya. Jilid 12 : Pangcoe Thian Hong Pang keok "Sudah lama aku mengagumi nama loo eng-hiong. hari ini kita dapat bertemu, aku girang sekali" Gan Loei terperanjat menyaksikan kegesitan si anak muda, sampai alisnya bergerak. ia mengasi dengar suara, "Hm", suatu tanda ia menganggap orang jumawa. Bukankah ia telah berusia lanjut dan namanya pun kesohor, ia anggap pantaslah kalau ia dipanggil loocianpwee, bukannya loo-enghiong. Didalam hatinya, Tiong Hoa menertawai keangkuhan orang-orang Rimba Persilatan berusia lanjut ini. Sekarang si mata harimau hidung singa memperkenalkan orang yang ke-tiga, yang jangkungkurus, mukanya putih-pucat, usianya pertengahan. "Inilah In-tiong Kiam kek Lauw Kong ciok, murid terpandai dari ketua Khong Tong Pay " demikian katanya. Tiong Hoa melirik jago Khong Tong Pay itu, ia merasa sebal, tapi ia kata: "Selamat bertemu " Terus ia mengawasi orang yang keempat yang tubuhnya juga jangkung dan kurus, usianya pertengahan dipunggung ada senjatanya sepasang Pie-hiat-kwat, alat peranti menotokjalan darah. orang itu juga berdiri tegak dengan angkuh, matanya di kasi turun sedikit.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Si orang bermata harimau berhidung singa itu menunjuk dirinya sendiri, dia tertawa dan kata: "Aku yalah Thioe Loei Kau tahu atau tidak?" Tiong Hoa terkejut dalam hatinya, Benar benar ia tidak menyangka orang ini yalah jago dari Kwan-lok yang bergelar cin-san sin-Koen atau Kepalan sakti, ia tidak takut, ia bersenyum. Akhirnya Thio Loei menunjuk kawannya yang keempat, ia memperlihatkan roman bengis, terus ia menyeringai katanya: "Inilah kenalan lama dari kau, maka itu tak perlu aku mengajar kenal pula " Tiong Hoa melengak, ia lantas mengawasi lagi orang itu Kemudian ia menggeleng kepala. "Maafkan mataku yang lamur." ia kata. "Aku tidak kenal orang kosen ini..." Orang itu meram, sekarang ia mementang kedua matanya. "Benarkah kau tidak kenal ?" tanyanya dingin. "Kaulah orang agung kau pelupaan. Bukankah kita pernah bertemu ditanjakan di Khopie-tam ? Temponya baru saja lewat beberapa hari sungguh aku tidak sangka seorang juru tulis dengan satu kali berlompat lantas menjadi jago muda yang menggemparkan sungai Besar bagian selatan dan utara" Ejekan itu membikin Tiong Hoa merah pipi dan telinganya, sekarang ia baru ingat orang itu yalah orang sebawahannya Koay-bin Jin-Him Song Kie. Dialah si Harimau tua dari Tiong Tiauw Ngo Mo. Maka ia kata dingin "Aku menyangka siapa yang begini jumawa, kiranya loo-toa dari Tiong Tiauw Ngo Mo. Aku

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mau tanya kau, siapa kah yang melihat aku bekerja menjadi juru tulis?" Pemuda ini menjadi terlebih sengit kalau ia ingat lagak dulu hari itu dari si Hantu pertama ini. Si Hantu menyeringai, romannya sangat bengis, Lantas dia mengangkat tinggi tangan kanannya. Tiong Hoa menggendong tangan, ia mendongkol akan tetapi ia dapat mengusai dirinya. Begitulah ia bersenyum. Tiong Tiauw Ngo Mo gusar bukan main- ia angkat tangannya hingga sebatas cundak. Mendadak dia memperlihatkan roman guram dia kata, dingin: "Aku hendak membiarkan jiwamu sampai kau bertemu dengan loo-tongke, Aku mau lihat apa kau nanti bilang." Tiba-tiba alis si anak muda berbangkit tubuhnya bergerak maju, tangan kanannya menyapu keping gang si Hantu, Kelihatan tegas tangannya itu mulai bergerak. lantas menyapu bagaikan kilat. Selama di Kho-pie-tiam, Tiong Hoa telah melihat kawanan Hantu itu liehay, ia tidak mau memandang enteng, Benar ia bersikap acuh tak acuh akan tetapi ia selalu waspada. Demikian ia menyapu itu. ia hanya lupa ilmu silat Kioe Yauw seng Hoei sip-sam sie ajarannya Thian Yoe sioe bukan sembarang ilmu silat, bahwa disamping sudah makan obatnya jago tua itu, ia telah makan juga banyak buah piepa, semua itu membikin kepandaiannya bertambah, begitupun tenaga serta kegesitannya. Keng-boen it Loo Gan Loei, jago satu-satunya dari Keng-boen, terkejut melihat gerakan si anak muda, ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengenali itulah pukulan "Giok-tay heng yauw" atau "Sabuk kemala melintangi pinggang" dari see Koen Loen atau Koen Loen Pay Barat. "Ooh, kiranya dia muridnya Hok In siang-jin," pikirnya, "pantas dia jadi begitu jumawa" Lo-toa dari Tong-tiauw Ngo Mo melihat nyata lawan menyerang secara tiba-tiba itu, ia lantas berkelit kekiri, sambil berkelit ia pun menghajar dengan tangan kirinya. Ia kaget melihat tangan musuh bergerak sangat cepat, maka ia tidak melainkan menyingkirkan diri tetapi membarengi menyerang juga. Tiong Hoa menyerang sambil menggunai pikirannya dan memasang matanya, ia melihat perlawanan musuh itu. Maka itu ketika serangannya gagal dan ia dihajar, sambil memutar tangan, ia bawa itu kebawah, lalu segera ia angkat pula, untuk dengan dua jari nya menotok lengan orang. Gan Loei berseru tertahan melihat totokan itu, itulah satu jurus dari ilmu silat siauw Thian Chee Cit-cap Jie sie Kiauw Na Cioe-hoat dari Thay Kek pay, namanya "cie thian wa tee," atau, "Menunjuk langit, menggaris bumi." Karena ini, ia menjadi bingung mengenai asal-usul Tiong Hoa, hingga tak dapat ia menerka dengan jitu, orang dari Koen Loen Pay atau Thay Kek Pay? Tong tiauw Toa Mo kaget sekali, tak berempat untuk berkelit, Tidak urung Ia merasai jalan darah di lengannya itu kaku, Karena ia tahu ia sudah kena ditotok. la lantas berseru, sambil berseru ia berlompat, untuk lari kedalam rimba dimana ia lenyap. Tiong Hoa membiarkan musuhnya kabur, Dengan tenang ia memutar tubuhnya, Gan Loei tertawa terbahak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Benar-benar. seorang gagah mestinya seorang muda" ia berkata, "Siauwhiap. dapat kah kau memberitahukan siapa gurumu?" Jago tua ini berlaku teliti, ia ingin ketahui dulu orang murid siapa. Apabila penglihatannya tidak keliru, yaitu orang benar muridnya Hok In siangjin, ia mau mencari jalan untuk mundur teratur. "Guruku yalah seorang yang hidup menganggur." Tiong Hoa menjawab, "Dia telah melupakan she dan namanya sendiri, oleh karena itu aku yang muda tidak dapat memberikan keterangan" Thio Loei tidak puas. Dia membentak: "Perduli apa siapa gurunya Biarlah dia merasai dulu tangan cin San Sin-Koen dari aku si orang she Thio, baru kita bicara lebih jauh" Dia tidak menghiraukan kekalahannya Tiong-tiauw Toa Mo, dia berkata untuk segera menyerang. Tak percuma jago Kwan-lok ini tersohor namanya pukulannya itu hebat sekali, angin terasa meny amber sangat keras. Tiong Hoa melihat itu, cepat ia berkelit, ia telah gunai kelincahan "le hoa ciat bok" ajarannya si orang tua aneh dari guh a pohon piepa, Tangan kanannya dikibaskan, membikin serangan itu lewat, sebaliknya sebuah pohon didekatnya lantas gempur secara berisik sekali. Thio Loei tidak dapat menahan serangannya itu, maka pohon lah mewakilkan si anak muda menyambutnya. Semua orang terkejut, tak terkecuali Thio Loei sendiri, Dia tidak menyangka hajarannya itu gagal, hingga ia berdiam saja melongo.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa tidak senang dengan perlakuan teleng as itu. "Akulah orang yang baru mulai masuk dalam dunia kang ouw," kata dia. "Rasanya aku belum pernah berbuat salah terhadap kamu, karena itu aku ingin tanya, buat urusan apa kamu memusuhi aku ? Apakah kamu tidak keliru ?" Gan Loei tertawa. "Nama besar bukan nama kosong belaka," ia kata. "Kami si orang tua datang kemari karena mengagumi nama kau, siauwhiap " Tiong Hoa agaknya heran. "Benarkah itu, loo-enghiong ?" la tanya, "Looenghiong sudah melakoni perjalanan jauh dan sukar " "Tentu saja itulah bukan semuanya," Gan Loei menjawab. ia tertawa pula. "Apakah loo-enghiong datang untuk Lay Kang Koen Pouw ?" Tiong Hoa tanya pula langsung. Kembali orang tua itu tertawa. "Kita sama-sama tahu " katanya, "siauwhiap kebanyakan bertanya..." Tiong Hoa menggeleng kepala, " Cita- cita ku yalah tinggal di tanah pegunungan yang indah dan sunyi, ia berkata: "Kali ini aku datang kemari untuk memenuhi undangannya Kwie chungcoe, Besok juga aku mau kembali ke Kimleng, sama sekali aku tidak pikir mencampuri urusan kitab itu." "Benarkah siauwhiap tidak menghendaki kitab itu?" Biauw Ceng sioe Tanya. Dari tadi koancoe dari kuil Mo In Koan itu ber diam saja." Tiong Hoa tertawa nyaring.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kata-katanya satu tay tianghoe berat laksana gunung" ia bilang nyaring juga. Kata-kata itu berat seperti tempat pembakaran kertas berkaki tiga Aku yang rendah tak sudi berebutan dengan dunia, perlu apa aku dengan itu macam barang yang membawa sifat membahayakan?" In-tiong Kiamkek Lauw Kong ciok juga berdiam sedari tadi, sekarang baru dia campur bicara, Lebih dulu dia tertawa dingin. "Aku kuatir kata-kata ini hanya dimulut tidak dihati" katanya. Sejak semula Tiong Hoa sudah sebal dengan orang she Lauw itu, sekarang ia mendengar perkataan mengejek itu, ia menoleh dengan sorot mata bengis, Meski ia gusar, ia masih dapat tertawa. Jikalau aku mengincar kitab itu" ia kata keras, "maka bukan melainkan itu sebuah kitab hanya semuasemuanya tiga rupa pusaka Rimba persilatan yang aku arah" Empat orang itu kaget dan heran, hingga mereka melengak. Gan Loei bahkan menyedot hawa dingin. "Dia benar-benar sangat jumawa," pikirnya. ia heran untuk kepolosan orang, Maka ia tanya: "siauwhiap. apa artinya perkataan kau ini? Mungkin siauwhiap telah ketahui semua halnya ketiga pusaka itu?" Lie Tiong Hoa tertawa. "Loo-enghiong seharusnya kita main kartu terbuka" ia kata, mengawasi jago tua itu, "Tidak selayaknya kita bicara untuk saling mendustai Mari kita bicara tentang benda pertama cangkir kemala Coei In Pwee asal Khoten Bukankah looeng-hiong semua telah mendengarnya? "

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Gan Loei berempat mengangguk "Pada tiga bulan yang baru lalu." bektata si anak muda, " cangkir kemala itu telah dicuri dari istana pangeran Tokeh oleh Kam-liang sam To serta sam-cioe Ya-Cee Tam sia uw Go. Ketika mereka menyingkir sampai di Kha-pie-tiam, mereka dipegat Koay-bin Jin Him serta Tong-tiauw Ngo Mo. Keempat orang itu mati semua akibat serangan paku Thian-long-teng dari Koay-bin Ji Him song Kie. Dengan begitu cangkir itu telah terjatuh kedalam tangan orang she Song itu..." "Ooh." bersuara kesmpat orang itu Gan Loei bahkan menambahkan: "Pantaslah romannya Tiong Tiauw Toa Mo beda dari biasanya begitu dia melihat kau, siauwhiap." Tiong Hoa tertawa. "Bukan melainkan itu, loo-enghiong. Mari dengar terlebih jauh. Koay-bin Jin Him sangat bangga telah memiliki cangkir mustika itu. dia memeriksa cangkir ditempat terbuka. Ketika dileluarkan dari kotak-cangkir itu memperlihatkan cahaya terang gilang-gemilang, Song Kie puas bukan main, ia lupa lelakon cengcorang menangkap tongeret, di belakangnya ada siburung gereja. Mendadak muncul satu orang yang tidak dikenal, yang merampas itu dari tangannya, Perampas itu lantas melejit dan menghilang. cuma tertampak tubuhnya yang kecil dan lincah, yang tertawanya nyaring halus seperti kelenengan Song Kie menjadi sangat gusar, dia lantas lompat mengejar perampas itu." "Siauwhiap. kenapa kau ketahui ini begini terang?" Ceng sioe tanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Sebab ketika itu aku yang rendah bersama, aku berada disamping mereka hingga aku melihatnya sendiri," Tiong Hoa menjawab. "Kepandaianku sangat rendah, maka itu song Kie telah minta aku suka menjadi pemegang bukunya guna mengurus surat-suratnya, itulah sebabnya kenapa barusan Tong-tiauw Toa Mo mengatakan aku jadi juru tulis. Menurut dugaanku, pastilah Koa^j binJin Him tak hasil mengejar perampas itu. Dia pulang dengan berduka dan mendongkol, hingga dia mau mencurigai aku mempunyai hubungan dengan pera itu. Dia tidak tahu bahwa itu waktu aku sendiri telah kena ditotok si nona, hingga aku cuma bisa mengawasi tetapi tak dapat menggeraki kaki atau tangan serta tak dapat membuka mulut juga. Kemudian aku yang rendah pergi mencari si perampas atau si nona itu, Aku telah menampak kesulitan, karena itu, aku pun menemui sesuatu yang kebetulan." Tiong Hoa berhenti sebentar, Ketika ia bicara pula, sikapnya sungguh-sungguh begitupun suaranya, ia kata: "Memang cangkir kemala itu benda mustika, akan tetapi untuk itu tuan-tuan tak menyayangi jiwa, mau juga, tuan-tuan mendapatkannya tanpa memperdulikan tubuh hancur- lebur, aku yang rendah menganggap pengurbanan itu tidak berharga " "Siauwhiap bicara baru dari hal satu mustika," kata Ceng Sioe, sikapnya mengejek, "Apakah itu yang dua lagi ?" Didalam hati, Tiong Hoa menghela napas, Pikirnya: Manusia itu hidup karena tamaki dia mati karena tamak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

juga, itulah kata-kata yang benar" ia lantas tertawa tawar dan menyahuti: Masih ada logam mustika Nyo-sek Kim-bo. jikalau logam itu dibikin menjadi pedang, pedang mustika Boksshia dan Kan-Ciang pun kalah tajamnya, Dengan memiliki pedang mustika itu, orang dapat mengepalai Rimba persilatan dan mempengaruhi dunia Kang ouw." Diam-diam Tiong Hoa melihat Lauw Kong ciok kaget dan girang, ia tertawa hatinya, ia melanjuti: " Logam itu telah dimiliki muridnya Im san ie-soe" sayang kemudian kena dirampas pihak Yan Kee Po. Karena sekarang ini Yan Kee Po sudah musna, dan Hoan-Thian-Ciang ayah dan anak nya kabur, entah benda itu dibawa kabur kemana, Im san Ie-soe bersama muridnya tengah mencari terus." "Tentang musnanya Yan Kee Po, aku pernah dengar, berkata Gan Loei, hanya aku tidak mendapat tahu itulah gara-garanya mustika Ngo-sek Kim-bo itu." Tiong Hoa melanjuti. "Benda yang lainnya, yalah yang ketiga." katanya, " itulah kitab Lay Kang Keen Pouw tulisannya sam Hong cinjin, Tuan-tuan telah ketahui, kitab itu telah didapatkan Kwie Lam ciauw, Hanya menurut dugaanku, dia mendapatkan kitab yang palsu, jikalau tidak. setelah memilikinya banyak tahun, dia pasti sudah dapat memahamkan ilmu silat lihai tanpa lawan, tidak nanti sampai sekian lama dia tak terdengar menjagoi." Keng-boen it Loo berdiam, lalu ia menghela napas. "Tentang kitab Lay Kang Keen Puuw itu, aku si orang tua pun bersangsi," kata ia sejenak kemudian, "Biar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bagaimana, ketiga mustika itu mesti ada orang yang memilikinya, orang yang tepat, sayang kalau itu terjatuh ditangan kaum sesat, sebab itu berarti akan menambah kejahatannya, hingga bisa menyebabkan dunia Kang-ouw bakal berlumuran darah amis, Maka itu kita kaum lurus mesti kita mencegahnya. Coba setiap orang berpendirian sebagai kau, siauwhiap. pastilah empat penjuru laut tenang, tidak ada gelombangnya." Biauw Ceng sioe campur bicara pula, "Biasanya mustika seperti mencari pemiliknya sendiri," katanya, "Maka itu, biarlah kita mengandal pada rejeki masingmasing Tak ada halangannya, bukan?" Tiong Hoa bersenyum, Gan Loei mengawasi tajam pada si anak muda, kemudian ia kata: siauwhiap muda dan gagah, dibelakang hari kau pasti bakal mengepalai dunia Rimba Persilatan, Aku si orang tua, ingin aku nanti menyaksikan." ia hening sejenak. Lalu menambahkan: "sekarang kami ingin mendahului masuk ke Kwie in Chung, Maukah siauwhiap menanti sebentar?" "Silahkan," sahut Tiong Hoa, yang menghela napas. ia tidak menghiraukan semua mustika itu, maka ia anggap tak perlu ia mencampuri diri dalam urusan mereka. Gan Loei menambahkan : " Nanti kami memberitahukan Kwie Lam Ciauw supaya dia keluar menyambut siauwhiap." Selagi mereka itu memutar tubuh untuk berlalu, mendadak Thio Loei menanya keras: "Siauwhiap. aku numpang tanya, ketika tadi kau bertahan atas pukulan cin-san sin Keen kau menggunai ilmu silat apa ?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa tertawa. "Itulah Ie san sin-kang " sahutnya. Thio Loei melengak. terus ia menggeleng kepala. "Ie san sin-kang?" ia mengulangi. "Belum pernah aku si orang she Tio mendengarnya." Lalu bersama tiga kawannya, ia berlalu dari situ, untuk lompat kebawah gili-gili, ketepian dimana ada tanah berpasir. Mo-Im Keancoe Biauw Ceng sioe bersiul tajam, atas mana dari antara pohon gelaga lantas muncul sebuah perahu kecil, terus berempat mereka menaikinya, untuk berlayar keseberang. Setelah mereka mendarat, perahu itu tersembunyi pula. Ketika itu cuaca guram, angin halus, hujan gerimis halus juga, pakaiannya si pemuda menjadi demak. Ketika ia mau menuntun kudanya pergi ketepian, mendadak ia mendengar tertawa nyaring yang keluar dari dalam rimba. ia terkejut karena suara nyaring itu menggetarkan telinga, ia segera berpaling, mengawasi kearah rimba, dimana terlihat berkelebatannya beberapa bayangan, yang semuanya gesit. ooooo BAB 16 Tiong Hoa tidak usah menanti lama akan melihat orang sudah lantas datang dekat padanya, segera ia mengenali Koay-bin Jim Him Song Kie bersama Tiongtiauw Ngo Mo. ia mengangkat tangan untuk memberi hormat. "Song Tongkee, apakah kau baik-baik saja?" ia tanya tertawa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Wajahnya si orang she Song jelek sekali, ketika ia bersenyum, ia memperlihatkan roman tak mengasih. "Apakah semua benar apa yang kau ucapkan barusan?" dia tanya. Tiong Hoa tahu orang tentu telah bersembunyi lama, hingga mereka sudah mendengar semua pembicaraan ia mengasi lihat roman sungguh-sungguh. "Aku seorang anak. seumurku belum pernah aku mendusta, ia jawab, Tidak nanti aku berbicara untuk mengelabui orang" Song Kie mengangguk. "Aku si orang tua percaya kau," katanya, Apakah malam itu kau dapat melihat tegas romannya si wanita muda yang merampas cangkir dari tanganku?" Tak dapat Tiong Hoa menjawab pertanyaan itu dengan sejujurnya, maka ia menyahuti bertentangan dengan rasa- hatinya: " Wanita muda itu sangat gesit, setelah dia menotok aku diluar tahuku, bagaikan kilat dia bertempat kepada kau, loo-tang-kee, Loo tong-kee sangat lihai dan awas tetapi lootongkee masih tidak dapat melihat dia, apa pula aku yang berkepandaian masih sangat rendah." Song Kie mengawasi sangat tajam, lalu dia tertawa berkakak. "Bukankah dengan kata-katamu kau hendak menyindir aku si orang tua?" katanya, "Terang sudah bahwa seorang wanita muda saja tak sanggup aku membekuknya, kau justeru memuji-muji kepandaianku" "Mana aku yang rendah berani, lootong-kee." kata Tiong Hoa cepat. "Kau telah ditotok nona itu, habis siapa kah yang menolongi kau?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa tidak menyangka orang menanya demikian, hatinya terkesiap. akan tetapi ia cerdik, ia tertawa. "Aku ditolongi seorang orang yang berbaju kuning dan berkepala lanang." ia menyahut. Song Kie nampaknya heran, dia jadi sangat ketarik hati. "Bagaimana romannya orang tua itu?" dia tanya pula. Tiong Hoa melukiskan romannya Thian Yoe sioe. Kalau tadi dia heran atau tertarik, sekarang Song Kie terkejut, matanya bersinar kaget. "Kiranya dia" katanya, Dia menatap si anak muda, ketika dia berkata pula, dia tertawa: "Aku tidak sangka bahwa kau didalam bencana telah memperoleh peruntungan bagus. Ada permusuhan apakah diantara kau dan coan In Yan?" "Dengan tidak ada alasan dia mencelakai aku." sahut Tiong Hoa. yang menuturkan bagaimana ia dijebak dalam perangkap rumah dalam tanah tanpa pintu atau liang keluar lainnya, "oleh karena itu, teranglah orang cuma mau mempergunakan tenagaku" ia tertawa pula. Mendengar itu Tiong-tiauw Toa Mo tertawa mengejek. "Omong besar" katanya, "Tak tahu malu Mendadak tubuh Tiong Hoa mencelat, tangannya meluncur. Plak plok demikian suara akibatnya itu-- dua kali suara nyaring-nyaring Dan Toa Mo kaget dan gelagapan sakit dan bingung dan mendongkol juga, ia liehay tetapi ia tidak berdaya, Dua kali mukanya digaplok. hingga giginya otek, kepala pusing, matanya kabur, sedang tubuhnya terhuyung mundur dua tindak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Song Kie menghadapi itu, dia tercengang. sungguhlah suatu gerakan yang bagaikan kilat berkeredep. sekarang dia mau percaya orang benar muridnya Thian Yoe sioe. Hanya herannya keliehayan si anak muda didapatkan dalam tempo tiga bulan yang sangat pendek, Dia mengawasi Toa Mo dan tertawa seraya berkata: "Dengan begini kau diajar adat agar lain kali janganlah kau tidak memandang orang. Kenapakah kau berpandangan begini cupat ? Bukankah kita sahabatsahabat lama dan kita kenal baik satu dengan lain ? Aku harap kau tidak menjadi kecil hati " ia meneruskan pada Tiong Hoa, bicaranya sambil tertawa: "Lain kali, jikalau ada perlunya, aku harap sukalah laotee membantu aku " Kata-kata ini diakhiri dengan satu gerakan tubuh yang berlompat pergi, diturut oleh Tiong-tauw Ngo Mo, hingga sebentar saja mereka sudah menghilang didalam rimba. Tiong Hoa menghela napas, Kembali ia memperoleh pengalaman dari keanehannya orang Kang ouw, hingga ia menjadi bertambah tawar hati, Dengan menuntun kuda-nya, ia bertindak perlahan ketepi sungai. Lohor diwaktu hujan baru berhenti dan diluar jendela langit tampak mendung dan burung-burung lagi pada berbunyi, Tiong Hoa berduduk sendirian dikamar tulis yang kecil dari Kwie In chung, ia memandang keluar jendela, mengawasi daun-daun hijau. Dengan duduk sendirian itu, ia dapat kesempatan untuk melayangkan pikirannya kepada pelbagai hal, ia baru seperti tersadar ketika Boan In dan Hoei Goat datang dengan penampan terisi dua rupa kuwe dan air teh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Adik-adik yang baik, tolong kamu sampaikan terima kasihku kepada chungcoe" ia kata tertawa. "Baiklah," menyahut Boan In, yang bersama Hoet Goat berdiri diam dengan hormat, Keduanya tertarik kepada ini anak muda yang halus budi pekertinya. Mereka memandang dengan sinar mata mereka yang berkesan baik. Tiong Hoa pun senang dengan sikap mereka itu. "Rupanya dalam dua bulan ini tak sedikit sahabatsahabat Rimba persilatan dari chungcoe yang datang berkunjung," katanya bersenyum, Pasti karenanya chungcoe mejadi repot melayani hingga dia kurang dahar dan tidur." Boan In memperlihatkan roman heran. "Mengapa siauwhiap ketahui hati chungcoe tidak tenang?" tanyanya. "Itulah sebab aku lihat ada yang chungcoe buat pikiran, Gangguan dari Lay Kang Keen Pouw membuatnya chungcoe menghadapi kesulitan." Boan In dan kawannya berdiam, Tepat dugaan anak muda ini. Tiong Hoa menghela napas perlahan ia kata: "Untuk manusia adalah sulit apabila dia tidak ada keinginannya, syukurlah diriku tawar, maka aku sekarang dapat jadi seperti mega yang mengambang atau burung jenjang liar yang merdeka. Besok aku akan meninggalkan tempat ini. Kamu harus disayangi, adik-adik kecil, Aku lihat kamu berbakat baik sekali, jikalau kamu tidak lekas mengundurkan diri, dibela kang hari kamu tak akan luput dari nasib batu koral dan kemala terbakar bersamasama."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kedua kacung itu terkejut, hingga mata mereka bersinar. "Memang kami telah memikir untuk menyingkirkan diri," kata Boan In perlahan, "melainkan kami berat dengan chungcoe yang baik sekali terhadap kami, Kami telah dirawat dari masih kecil dan dididik," Tiong Hoa mengangguk. "Memang budi harus dibalas," katanya, "cuma kita pun harus dapat membedakannya." Hati Boan in menjadi semakin ketarik, "Pangcoe Jie siong Gan dari Thian Hong Pang berkehendak mengambil kami menjadi muridnya, bagaimana siauwhiap pikir?" ia tanya. "Seorang laki-laki harus dapat menempatkan diri, harus dia pandai memilih," kata Tiong Hoa sungguhsungguh. "Didalam Rimba persilatan ada banyak orang yang lurus, kenapa kamu kesudian menjadi muridnya manusia yang licik dan licin?" Boan In dan Hoet Goat agak terperanjat lantas mereka menjura. "Terima kasih untuk nasehat tayhiap." katanya berdua, Lantas keduanya meminta diri, Lewat lohor barulah Boan In muncul pula, ia kata pada Tiong Hoa bahwa ia diperintah mengundang si anak muda menemui majikannya didalam kamar rahasia, dan bahwa ialah yang dimestikan pemimpinnya. Tiong Hoa tertawa. "Rupanya Chungeoe terlalu menghargakan aku," kata dia. "sebenarnya aku tidak mengerti apa-apa." Dia berbangkit dengan sabar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiba-tiba dari luar jendela terdengar suara tertawa perlahan, yang sifatnya mengejek, Mendengar itu Tiong Hoa mengibas cepat kearah jendela, lalu dengan tubuh tegak ia ikut Boan In keluar. Boan In heran atas sikap dan perbuatan si anak muda, yang mengibas tidak keruan-ruan, karena ia tidak dengar suara tertawa itu. ia sudah berjalan srmpai diambsrg pintu, ia mendengar satu suara tertahan di susul dengan suara robohnya suatu barang berat. Saking heran ia cepatkan tindakannya dan melihat keluar jendela, ia kaget, Di bawah pohon cemara ia melihat sesosok tubuh rebah terkulai, ia lantas melirik si anak muda, nampaknya ia sangat kagum, sebaliknya anak muda itu bersikap tenang sekali seperti tidak terjadi sesuatu, dia melainkan bersenyum. "Apakah dia mati?" kacung itu tanya. "Dia tidak mati," sahut si anak muda, "Lewat enam jam dia bakal sadar sendiri-nya." Boan In tertawa, ia memimpin terus melintasi taman bunga. Taman itu guram, meski begitu, Tiong Hoa -- yang memperhatikan melihat jalanan. Disitu teratur menurut ilmu bintang, la diantar kesebuah rumah yang besar, yang gelap lantaran tidak ada api penerangannya. Didalam gelap itu, satu bayangan berkelebat dimuka pintu, menghampirkan padanya. Itulah Coan-in-yan Kwie Lam Cia uw. Tanpa menanti Tiong Hoa membuka mulut, ia sudah mencekal tangan orang untuk di tarik, buat diajak masuk dengan cepat, sedang Boan In diberi tugas menjaga diluar pintu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa mengikut, Diruang dalam, segala apa gelap^ ia cuma merasa bahwa ia diajak jalan sana dan jalan sini, melintasi pelbagai tikungan atau pintu, hingga ia menjadi berpikir: "Apakah maksudnya orang she Kwie ini? Aku toh tidak bersahabat kekal dengannya, mengapa dia agaknya begini menghargai aku?" Setibanya dalam sebuah kamar, Kwie Lam Ciauw menyalakan api, maka disitu Tiong Hoa lantas melihat seluruh ruang, lebar cuma satu tombak persegi, tidak ada perabotannya, bahkan tanpa kursi dan meja. Lantai hitam begitupun lelangitnya dan sekitarnya. Disana sini terdapat banyak gelang gelangan hingga nampaknya mengacaukan mata. Kwie Lam Ciauw beriompat tinggi, ia menjambret sebuah gelang dilelangit. Ia menekan itu, terus ia melepaskan tangannya, untuk turun pula, Habis itu terdengar suara bergeresek, lalu ruang menggetar perlahan, Lagi satu getaran, maka lantai itu bergerak turun. Segera Tiong Hoa mendapatkan sinar terang, jalan sinarnya tiga butir mutiara ya keng-coe sebesar telur angsa, yang dijepitkan pada tembok, sinarnya putih. Kwie Lam Ciauw tertawa, sambil mengurut kumis-jeng gotnya, ia kata: "Kamar ini diperlengkapi dengan pesawat rahasia, kecuali aku, tidak ada lain orang yang ke-tahui, tak terkecuali soetee seeboenBoe Wie dan anak isteriku." "Chungcoe mengajak aku kekamar rahasia ini, ada urusan apakah yang hendak didamaikan?" Tiong Hoa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tanya, inilah pertama kali ia membuka mulutnya^ seperti juga chung-coe itu, yang tadinya terus bungkam. Kalau tadi dia tertawa, sekarang tuan rumah itu memperlihatkan roman duka. "Sebenarnya aku si orang tua terancam bahaya kematian," katanya, "bahkan ancaman itu sudah dekat sekali, karena itu aku mau minta siauwhiap tolong pikirkan jalan untuk menghindarkannya." Tiong Hoa tercengang, tapi segera ia tertawa. "Chungeoe," katanya, "sudah lama kau hidup tersembunyi kau tidak punya sangkutan dengan siapa juga, dari mana datangnya itu bahaya yang dapat mencelakakan kau ? Taruh kata benar ada tetapi berdua baru saja bertemu, pergaulan kita masih asing sekali, mana dapat chungeoe menaruh kepercayaan begini rupa padaku ? Aku kuatir bukan kebaikan sebaliknya bencana yang dapat menimpali chungeoe" Lam Ciauw terlihat sangat berduka, Sekian lama dia berdiam saja. "Siauwhiap benar," katanya kemudian. "Memang kita baru pertama kali bertemu, diantara kita tidak ada persahabatan yang akrab, akan tetapi aku si orang tua, aku tahu kaulah seorang ksatrya, maka aku menaruh kepercaan besar atas dirimu. siauw-hiap. baiklah aku omong terus-terang, Aku menyesal yang pada belasan tahun yang lalu aku telah mendapatkan sebuah kitab Lay Kang Kean Pouw. Baru paling belakang ini aku mengetahui kitab itu termasuk satu diantara tiga mustika Rimba persilatan yang sangat dlinginkan oleh setiap orang, Begitulah salah satu tetamuku, yang menjadi seperti saudaraku, turut mengarah itu, Bahkan ada diantara sebawahanku yang menghendaki juga."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa mengasi lihat roman heran"Kitab Lay Kang Keen Pouw itu yala h kitab tulisannya Thio sam Hong pendiri dari Boe Tong Pay," ia berkata, apa yang dimuat didalam situ semua ilmu silat yang istimewa, baik bagian dalam maupun bagian luar, siapa berhasil mempelajari itu, dia pasti dapat menjadi jago tanpa lawan, chung coe telah dapatkan itu sedari belasan tahun yang lalu, kenapa chungcoe tidak mempelajarinya sampai sempurna?" Mukanya Kwie Lam Ciauw menjadi merah, Dia tertawa terpaksa. "Tidak heran, siauwhiap. karena kau tahu satu, tidak tahu dua." katanya. "Memang isinya kitab istimewa tetapi buat mempelajarinya pun sulit, Untuk itu orang mesti dapat mengendalikan hatinya, Dia mesti lurus ke dua hawanya im dan yang, Aku merasa mempelajari itu tak tepat, hingga aku mau percaya aku telah mendapatkan kitab yang palsu, sementara itu rahasiaku telah bocor, karenanya aku menjadi sulit sekali, segala pihak mengarahnya, tidak dapat aku menyangkalnya...." Orang ini sangat licin-" pikir Tiong Hoa. "Kitab tulen dia katakan kitab palsu." ia lantas tertawa dan kata: "Menurut aku yang rendah, kitab itu mesti kitab yang tulen tidak demikian, kenapa banyak orang yang mengarah?" ia tertawa pula dan menambahkanJikalau chungeoe suka dengar aku, baiklah besok chungcoe mengadakan perjamuan, di situ chungcoe mengumumkan tentang kitab itu, Bilang saja chungcoe telah berhati tawar, karena mana kitab itu hendak dihadiahkan pada suatu sahabat kekal, Dengan tawarnya hati, bukankah kitab itu sudah tak perlu lagi bagi chungcoe? Hanya untuk memilih sahabat, chungcoe kata

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

chungcoe mendapat kesulitan, maka itu, chungcoe ingin minta pikiran orang banyak. Setelah kitab diserahkan pada lain orang, chungcoe sudah berada diluar garis, dengan begitu chungcoe dapat menyelamatkan diri Tidak demikian, benar seperti kata chungcoe, chungcoe sendiri terancam, Kwie In Chung juga bisa ambruk atau bubar, Bukankah bahaya mengancam dari luar dan dalam ? sayang kalau Kwie In Chung musnah menjadi tumpukan puing" Lam Ciauw dingin hatinya mendengar suara si anak muda sedang sebenarnya ia ingin mengandalkan tenaga anak muda itu mengundurkan orang-orang yang mengarah kitabnya itu, ia tidak menyangka yang ia dinasihati untuk mundur teratur, ia kata dalam hatinya: "Kalau aku mau menyerahkan kitab itu, siang-siang sudah aku melakukannya. Buat apa aku menanti belasan tahun? Buat apa aku mengharapkan bantuan kau?" Akan tetapi ia pandai berpikir, ia menghela napas dan mengangguk. Jikalau sampai terpaksa, biarlah aku bertindak demikian," katanya, "Hanya bagaimana dengan soete seeboen Boe Wie? Mana dia mau mengerti?" Tiong Hoa berdiam. Lam Ciauw menjadi penasaran, tetapi ia bersenyum dan kata: siauwhiap. kau benarlah seorang kesatria, Mengapa aku tidak dapat memikir seperti kau ini?" Tiong Hoa tidak melihat bagaimana orang bekerja, ia mendengar suara berkeresek seperti tadi, lantas kamarnya itu bergerak naik, hingga lekas juga mereka sudah berada diluar lagi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Boan In lantas mengajak anak muda itu kembali kekamarnya tadi, Disini Tlong Hoa berada seorang diri pula, Ketika itu awan tebal mulai menipis, dan angin halus bertiup masuk. Tengah ia duduk berdiam, mendadak ia melihat satu bayangan orang berkelebat sangat cepat diluar pintu. Dialah seorang sasterawan usia pertengahan wajahnya tersungging senyuman"Tuan, apakah kau Tuan Lie?" dia bertanya. Terus dia bertindak masuk. Tiong Hoa berbangkit, ia mengawasi tajam. "Benar," ia menyahut. "Tuan siapa?" Orang itu bersenyum pula. "Aku she Jie, namaku Siong Gan," ia menjawab. Didalam hatinya, Tiong Hoa terperanjat. "Jadi kaulah Pangcoe dari Thian Hong Pang yang berkenamaan di selatan dan Utara sungai Besar" katanya tawar. "Entahlah Pangcoe niat memberikan pengajaran apa padaku?" Kembali Jie siong Gan bersenyum. "Aku datang untuk mendengar-dengar tentang seorang sahabatku," ia berkata. "Katanya tuan menemani seorang dengan kaki satu ditepi telaga Hian Boe ouw, Apakah itu benar ?" Tiong Hoa mengangguk. "Kebetulan saja aku bertemu orang tua berkaki satu itu ditepi telaga itu," ia menjawab, "hanya habis itu dia lantas pergi pula, tak tahu kemana, Dia itu sahabat Pangcoe ataukah musuh besar ?" Matanya Jie siong Gan bersinar, wajahnya menjadi bengis dalam sekejap.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kenapa kau begini menghina orang tua?" dia kata dingin, suaranya seram, "Dimana adanya orang tua berkaki satu itu sekarang?" Sepasang alis Tiong Hoa bangun. ia gusar. "Apa sangkutannya orang tua berkaki satu itu dengan aku?" ia kata keras. "Ta ruh kata aku tahu, sulit aku memberitahukannya" Kemurkaannya Jie siong Gan lenyap dari wajahnya, alisnya berkerut. Jikalau tuan tidak mau bicara, mana dapat aku memaksa- dia kata, tertawa kering. "Hanyalah aku kuatir selanjutnya tuan berada dalam bahaya seperti telur diujung tanduk..." Habis berkata, jago Thian Hong Pang itu mencelat keluar kamar dengan melompati jendela, Begitu dia keluar, begitu terdengar suara saling bentak. Tiong Hoa berlompat keluar, ia lantas melihat Jie siong Gan lagi berhadapan dengan seorang yang bertubuh tinggi besar dan kekar, sedang dibawah pohon cemara, roboh seorang diatas salju, ia ingat itulah orang yang tadi ia robohkan ketika ia mau pergi menemui Kwie Lam Ciauw. Orang tinggi besar itu kata keras: "Jie siong Gan, kau juga salah satu tetamu dari Kwie In chung ini, kenapa kau melukai muridku si orang tua?" Sambil menanya itu sebelah tangannya menyamber jago Thian Hong Pang pada jalan darah ceng-ciok. Dia bergerak sangat cepat. Tubuhnya Jie Siong Gan mencelat, berkelit hingga lima kaki. Dia tidak menangkis atau membalas menyerang. Dia hanya tertawa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Sayang kau menjadi adik seperguruan dari ketua Khong Tong Pay," katanya, nadanya mengejek, "Kecewalah kau menjadi Kim-Hong-kiam Kee Pek see yang berkenamaan dalam dunia Rimba Persilatan- Kau periksalah biar teliti untuk dapat kenyataan apa benar dia telah terlukakan aku si orang Jie." Tiong Hoa tertawa dalam hatinya, jadinya Kee Pek see itu menyangka Siong Gan-sejenak itu ia mendapat satu pikiran: jikalau dia sampai tersadar, pasti aku bakal jadi musuhnya pihak Khong Tong Pay. Maka itu, sebelum orang melihat padanya, diam-diam ia menjemput sepotong batu kecil, terus ia menimpuk pada kurbannya itu tadi. Atas serangannya itu, tubuh orang berkutik, lalu berdiam, ia menduga tentulah orang sudah mati. Kee Pek see masih saja gusar, Dia kata pula keras: "Barusan aku melihat sendiri kaulah yang meletaki tubuh muridku ini jikalau bukan kau yang melakukan, habis siapakah.. "Ketika aku keluar dari kamar itu, aku melihat muridmu itu rebah dibawah pohon-" kata Siong Gan. "Aku berhati baik, aku me lihat padanya siapa tahu perbuatan baikku itu menerbitkan ini salah paham. Muridmu itu belum mati kenapa kau tidak mau sadar kan dia untuk tanyakan keterangannya ?" Jikalau bukan kau yang melakukan, kenapa tadi kau tidak mau sadarkan dulu dia dan baru kau tanya ?" Kee Pek see kata sengit, "Maka terang kau yang melukainya" Jie Siong Gan gusar bukan main, tetapi karena ia mempunyai urusan lain, ia menahan sabar seberapa bisa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Baiklah " katanya, tertawa dingin, "Nanti aku tolong sadarkan muridmu, jikalau dia bilang bukannya aku yang meluka kan dia, aku mau lihat kemana kau nanti taruh muka yang tebal kulitnya " Koe Pek see berlompat menghampirkan. Ketika Jie siong Gan merabah nadi orang itu, ia berdiam, matanya mendelong, mulutnya terbuka. "Celaka" kata ia dalam hati, "Tadi tubuhnya masih hangat dan napasnya nasih berjalan, kenapa sekejap saja dia sudah binasa? Ah, mesti ada orang yang diam-diam memfitnah aku" Maka ia lantas menoleh ke arah kamar Hoa-hian dari Lie Tiong Hoa. Selagi memandang kearah kamar utu, Siong Gan mendengar ketawa seram dibelakangnya terus ia merasakan samberan angin dingin kearah kepalanya, ia liehay, ia dapat mem-bade itu, maka itu ia melemparkan tubuh orang kearah angin, ia sendiri mencelat ke- atas. Dua gerakan itu, melemparkan orang dan menjejak tanah, ia lakukan dengan ber bareng. Koe Pek see melihat orang menghindarkan diri dengan itu cara telengas, ia membatalkan serangannya, ia berkelit dari tubuh muridnya, Tapi tidak berhenti sampai disitu. Begitu tubuh muridnya lewat, ia melompat pula untuk menghampirkan orang yang menyingkirkan diri itu. Jie Siong Gan mengangkat tangan kanan-nya, dibawa kepundak kirinya maka itu di lain saat dalam sekejab, tangannya itu sudah bertambah dengan seruling besinya yang hitam mengkilap. yang bersinar karena taburannya delapan bintang perak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kee Pek see, jangan kau terlalu menghina orang" dia menegur bengis, "Kita tidak bermusuh, bukan? Buat apa tanpa sebab aku membinasakan muridmu? Buat apa aku berlaku begini hina dan kejam? Cobalah kau pikir baikbaik" Kee Pek see tidak menghiraukan kata-kata itu. Di dalam Khong Tong Pay dialah yang tabiatnya paling keras, Melihat orang mengeluarkan senjata, dia menjadi semakin panas. Dia menggeraki tangannya, lantas terdengar satu suara nyereset nyaring, terus terlihat benda berkilau kuning emas, lalu terlihat mencekal Kim Liong Kiam ialah pedang emasnya yang membikin ia mendapatjulukannya itu Kim Liong Kiam si pedang mas. Jie siong Gan dia berseru "Biarnya kau berlidah bunga teratai, sulit kau membikin aku si orang tua percaya kau satu laki-laki, dia mesti berani berbuat berani bertangung jawab, maka itu kecewa kau menjadi ketua sebuah partai karena kelakuan pengecutku ini sudah lama kau tersohor untuk ilmu silatmu Hoei seng Pat Tek. namamu ter-mashur di selatan dan Utara sungai Besar, maka malam ini ingin aku belajar kenal dengan serulingmu itu" Bagus itu waktu sang rembulan telah keluar dari alingan megg hingga cahayanya menjadi terang dan permai sekali. segala apa menjadi tampak nyata, Begitulah sebelum ke dua pihak bergebrak, disana terlihat munculnya beberapa orang, yang terus saja berdiri berbaris dekat mereka berdua.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mereka itu yalah Ceng Shia Jie Ay, Kong soen Bok Liang, Seeboen Boe Wie. Boan In bersama Hoet Goat, Lo Siauw Hong, Ciaw Tiauw Hong serta lima orang yang belum dikenal, yang satu diantaranya beroman paling menyolok mata. Sebab dia bermuka panjang seperti labu, alisnya naik seperti tergantung, batang hidungnya tinggi, bibir nya tipis, sedang wajahnya mirip tertawa mirip bukan, Adalah matanya yang tajam dan bengis hingga dapatlah diduga, kecuali lihai, mestinya dia telengas.." Diantara sinar si puteri Malam nampak nyata wajahnyaJie Siong Gan, dan Koe Pek See. Yang satu gusar yang lain mendongkol karena penasaran keduanya mengasi lihat semangat melakukan pembunuhan. Sebelum bergerak kedua pihak jalan memutar untuk sama-sama memasang mata, buat siap sedia, untuk menyerang atau menangkis, Tinggal siapa saja yang lebih cepat turun tangan, Tindakan kaki mereka membekas dalam, Setelah tiga idaran, Jie Siong Gan berseru tubuhnya maju, serulingnya bergerak. ia mendahului menyerang, menotok kejalan darah Thian-kie dari Koe Pek See. Karena dikasi bergerak, delapan bintang perak pada seruling itu berkeredepan menyilaukan- Dengan sendirinya sinar itu dapat mengaburkan mata lawan. Koe Pek See dapat mengenali serangan itu, yalah jurus Sian-jin-boen Mouw. atau Dewa menanya jalanan, maka tahulah ia orang cuma mengancam. ia menghentikan tindakannya, ia berdiri diam dengan pedang siap sedia.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jie Siong Gan maju terus, setelah datang dekat hampir setengah kaki, pedangnya bersinar pula. "Ah, benar hebat ilmusilatnya " pikir Koe Pek see. Karena ini, ia menggeraki pedangnya, untuk menyerbu seruling lawan.Jie siong Gan tidak menyingkirkan senjata nya, dari itu kedua senjata menjadi beradu dengan menerbitkan suara yang nyaring. Koe Pek see mengeluarkan ilmu menempel menyusuli bentrokan senjata itu, ia menarik kesamping. Jie siong Gan terperanjat. Tubuhnya terhuyung kena tertarik. Lekas-lekas ia menancap kaki, tangan kanannya pun dikasiturun, ia bergerak dengan huruf Menggempur, untuk melepaskan tempelam hingga pedang lawan tertarik ke samping. Bentrokan pertama ini membikin kedua pihak menginsyafi ketangguhan masing-masing, senjata mereka terus nempel, Tak berhasil Jie siong Gan dengan usahanya meloloskan pedangnya dari tempelan lawan. Koe Pek see bertahan terus, Dengan begitu kedua pihak terus sama-sama mengerahkan tenaga mereka, Karena itu, keduanya menjadi lekas letih. Keringat membasahkan jidat mereka, sedang dari embunembunan mereka tampak mengkedusnya semacam uap putih, Keduanya sama-sama berdiri tegak. Tempelan itu tak berjalan lama, setelah mengukur tenaga, keduanya saling berseru, Akibatnya itu yalah tempelan terlepas, ke duanya terhuyung mundur beberapa tindak. napas mereka bekerja keras. Menyaksikan kejadian itu, diantara para penonton terdengar satu suara tertawa yang tajam, disusul dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ini kata-kata dingin: "Bertempur secara demikian, meskipun orang bertempur sampai besok siang, pasti tak akan ada kesudahannya siapa lebih tinggi dan siapa lebih rendah, Ada apakah yang bagus dipandang? sudahlah, aku si orang she Lee mau pergi tidur saja." Tanpa merasa, dua-dua Jie siong Gan dan Kee Pek see melirik kearah dari mana ejekan itu datang, Maka mereka dapat melihat orang tadi yang romannya luar biasa itu. Menampak roman orang, Kee Pek see heran, ia terperanjat. "Ah, kenapa dia pun datang kemari?" tanya dia dalam hatinya. Jie siong Gan sebaliknya tidak kenal orang itu, dia menjadi tidak senang. "Bagus atau jelek, ada apa sangkutannya dengan kau?" dia membentak. "Aku si orang she Jie juga tidak minta kau menjadi wasit, jikalau kau mau tidur, pergilah kau mabur dan menggoler, tidak ada orang yang mencegah padamu." Orang itu tidak berjalanpergi, mendengar teguran, matanya bersinar, lalu dia tertawa nyaring. Dia kata keras: "Aku ini, seumur- ku ada tabiatnya yang aneh. Kalau orang usir aku, aku justeru tidak sudi pergi sebaliknya kalau kau menahan, kau minta aku jangan pergi, akujusteru lantas ngeloyor pergi" Selagi berkata begitu, tahu - tahu tubuhnya telah mencelat maju, hingga dia jadi berdiri didekat ketua Pang coan itu sejauh lima kaki. Kee Pek see lantas mundur dari gelanggang. Sekarang Jie siong Gan dapat menduga orang liehay, ia menyaksikan tindakan kaki orang itu serta kegesitannya, Tapi ia tidak mau menunjuki j eri hatinya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bahkan dengan bersenyum ewah, ia lantas menyerang dengan seruling besinya. Karena ia berlaku bengis, bisa dimengerti hebatnya serangannya ini. Orang itu tak bergeming, dari mulutnya terdengar bentakan- "Hm" Tak terlihat tangannya bergerak. tetapi serulingnya ketua Thian Hong Pang itu terpukul mental sendirinya, hampir terlepas, sedang pemiliknya pun mundur setengah tindak mundur diluar kehendaknya sendiri. Mukanya Jie Siong Gan menjadi berubah, inilah diluar dugaannya, sekarang ia mendapat bukti kenyataan liehaynya orang. "Dengan kepandaian begini kau hendak menjagoi diperairan di Kang lam," kata orang itu tertawa tawar, "Nampaknya Kang lam sudah tidak ada lelakinya" Mukanya Siong Gan menjadi pucat, ia malu dan mendongkol berbareng. "Dengan ilmumu yang sesat, tuan, tak dapat kau membikin aku takluk" ia kata, ia tertawa terbahak-bahak. Bukan karena girang hanya saking murka. orang itu kelihatan melengak, lantas dia tertawa. "Begini saja," katanya. "Aku tidak akan menggunai ilmuku yang kau katakan sesat, kau boleh serang aku sesukamu, baik dengan tangan terbuka dengan seruling atau dengan tinjumu, Seperti biasanya sifatku, aku akan mengalah tiga jurus kepada siapa juga, begitupun terhadap kau. selama tiga jurus kau menyerang aku, aku tidak akan membalas, tetapi dijurus keempat hati-hatilah kau, aku akan mengambil dua jeriji manis dan kelingking dari tangan kananmujikalau kau dapat lolos darijurusku, maka aku akan tarik pulang kata-kataku barusan mengenai Thian Hong Pang, dihadapan orang banyak ini

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

aku akan menghaturkan maaf secara begini bukankah kau akan takluk di mulut dan dihatimu?" Semua orang heran, sedang Jie Siong Gan berdebaran hatinya, itulah kata-kata hebat, Tanpa bukti, tidak nanti orang mementang mulut demikian besar Maka, siapakah orang ini? Kenapa dia tidak dikenal? "Tuan, kau bicara terlalu besar kau tidak tahu malu," kata Siong Gan- Dia menjadi sabar tetapi suaranya dalam, "Biarnya aku bodoh tidaklah nanti didalam empat jurus aku membiarkan dua jeriji tanganku di ambil orang" orang itu kembali tertawa. Jikalau kau tidak percaya, mari coba " katanya tawar. Selagi orang menyahuti Jie siong Gan sudah pikirkan tiga macam jurus yang ia harus gunakan merobohkan si jumawa itu, ia memikir untuk tidak memberi ketika pada orang itu, Lalu ia kata: "Tuan kau mau menang sendiri saja sekarang aku tanya kau, jikalau aku berhasil didalam tiga jurus itu, bagaimana dengan kau ?" Matanya orang itu bercahaya tajam, Dia tertawa. "Jikalau kau dapat melukakan aku, segera aku mengundurkan diri dari dunia kang ouw " kata dia nyaring, "Didalam Rimba persilatan hitung saja sudah tak ada lagi aku Thian Ciat sin Keen Lee Yauw HoanJie siong Gan kaget mendengar disebutnya nama itu yang ia pernah dengar dan ketahui baik, orang pun menjadi hantu kepala diantara hantu hantu dari Tionggoan Punggungnya lantas mengeluarkan keringat dingin. Dengan sangat terpaksa ia bersenyum hingga senyumannya jadi sangat tawar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Baiklah." serunya, seraya terus berlompat maju, untuk menyerang, Dengan seruling nya ia menotok kearah muka. Thian ciat Sin Koen mengenali jurus itu yaitu jurus Bintang dingin menubruk rembulan ia juga merasai anginnya seruling mendahului menyamber, ia tidak mau berdiam saja seperti tadi, ia pun tidak menangkis, hanya berkelit secara luar biasa sekali, ia bertindak kekiri, terus tubuhnya melesat kebelakang penyerangnya itu, ia gesit bagaikan kilat berkeredap. Siong Gan terperanjat ia melihat bayangan berkelebat, atau musuh lenyap dari hadapannya. Jurus yang pertama" ia mendengar suara lawan dibelakang nya, dekat ditelinganya, hingga telinganya itu menggetar Tanpa merasa, ia mengeluarkan keringat, ia segera mendak, sambil memutar tubuh, ia menyerang kebelakang, ia dapat menduga orang berada dibetulan mana karena mendengar suara orang itu, ia menyerang dengan luar biasa cepat, ia menduga ia bakal berhasil. Kesudahannya kembali musuh tak terlihat dibela kang nya. Ketika itu ia melirik sekelebatan para seeboen Boe Wie beramai, ia melihat orang menuniuki roman kaget, maka ia turut menjadi kaget karenanya. Jurus yang kedua "begitu ia mendengar suaranya Thian ciat sin Koen, Kembali suara itu terdengar dekat ditelinganya, Kali ini ia bukan mendak berkelit seperti tadi untuk sekalian menyerang, ia justeru berlompat tinggi seraya memutar diri, baru dari atas ia menyerang turun.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia menyerang setelah berjumpalitan dengan tipu silat Naga membalik tubuh, serulingnya itu bersinar bagaikan bintang-bintang berkeredapan. Inilah jurus yang ketiga, Kali ini Jie siong Gan sudah mengerahkan seluruh tenaganya, untuk membikin ia menjadi gesit dan kuat istimewa, Gesit supaya ia berhasil menyerang dan kuat agar ia bisa menghajar ringsak pada musuhnya itu serangannya ini sesuai dengan ketelengasannya, ia tidak menyayangi bahwa orang bakal mati. Thian ciat sin-Koen lihai luar biasa. ia seperti telah membade hati orang, ia rupanya mengerti, jurus ketiga bakal jadi jurus yang mematikan. Maka ia menggunai otaknya dan bekerja lantas menuruti pikirannya itu. Begitulah selagi orang berlompatjumpalitan itu, bukan ia menanti serangan seperti dua kali yang bermula ia justeru menjejak tanah untuk mengapungi diri, guna menyusul musuhnya itu hingga ia dapat membayangi sejarak dua dim. Lagi-lagi Jie siong Gan kaget tidak terkira, ia sudah memikir matang untuk menghajar ringsak lawannya, siapa tahu begitu ia menoleh, ia tidak melihat lawannya itu. Dalam kagetnya itu segera berkelebat niatnya menyelamatkan diri, ia baru berpikir atau ia mendengar tertawa dingin serta kata-kata ini: "Kau terlebih telengas daripada aku. Kau tak dapat diampuni" Belum lagi Siong Gan sempat berdaya, mendadak ia merasa serulingnya kena di tarik orang hingga terlepas dari cekalannya menyusul mana ia merasakan jeriji

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tangan nya sakit begitu sakit sampai ia roboh ke tanah, ia tidak pingsan, ia dapat berlompat bangun. Ketika ia melihat tangannya dua jerijinya--jari manis dan kelingking-- sudah terkutungkan dan seluruh telapakan tangan nya itu mandi darah Tatkala ia mengangkat kepalanya melihat kedepannya, Thian ciat sin-Koen berdiri terpisah dua tombak berdiri dengan mengawasi dengan dingin Ketua Thian Hong Pang ini menjadi malu gusar dan menyesal dan bingung juga, ia menyesaikan diri lantaran ingin ketahui hal nya Cee Cit, ia sudah masuk ke Hoahian mencari Lie Tiong Hoa. Tidak demikian tidak nanti ia jadi bentrok dengan pemuda she Lie itu. Seharusnya, ia pikir, ia mengikat persahabatan dengan dia itu, Coba ia tidak mencari Tiong Hoa, tidak nanti ia menghadapi Lee Yauw Hoan yang lihai ini, hingga ia kena di perhina dan memalukan itu sampai ia lupa mengurus lukanya Thian ciat sin-Koen mengawasi terus dia tertawa dingin. "Bagaimana kau masih mempunyai muka berdiam terus disini?" dia tanya. Siong Gan berdongak mukanya merah, saking mendongkol dan malu. "Menang atau kalah adalah hal umum dalam peperangan" ia kata. ia menyeringai. "Untuk sakit hati jeriji buntung ini dalam tempo lima tahun pasti aku akan menuntut balas. Tidak dapat aku berlalu dari sini sekarang, aku masih mempunyai urusan yang belum terselesaikan. Kau dan aku sama-sama menjadi tetamu dari Kwie In Chung, mana dapat kau menjadi wakil tuan rumah mengusir aku"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Terserah kepada kau Terserah kepada kau" Lee Yauw Hoan tertawa lebar, "Oleh karena kau masih menpunyai muka untuk berdiam disini mana dapat aku mengaco belo mengusir tetamu," Ia berhenti sejenak tidak lagi ia tertawa pula, tetapi ia menambahkan kata-katanya, suaranya keras, romannya bengis: "Sekarang aku beritahu padamu, jikalau kau masih bermimpi hendak mendapatkan Lay Kang Koen Pouw, maka itu berarti, untuk tubuhmu tak ada lagi tempat menguburnya jikalau bukan untuk kitab itu, tidak nanti aku turun pula dari gunung Lu Liang san " Mendengar itu maka Ceng shia Jie Ay, yang semenjak tadi nonton saja dengan mulut bungkam, lantas campur bicara, Kata Kok It: "Dengan begitu jadinya Lee Loosoe memandang kitab itu sebagai juga barang yang sudah berada didalam sakumu " Thian ciat sin-Koen menoleh dengan ayal-ayalan, ia melirikjago Ceng shia Pay itu. "Tidak salah " sahutnya sabar, " Walau pun aku si orang she tidak mengulur tanganku mengambilnya, pastilah Kwie Lam Ciauw bakal menyerahkannya dengan kedua tangannya disodorkan " Kok It tertawa. "Langit itu ada angin dan awannya yang tak dapat diterka, loosoe " katanya, "Aku harap Lee Loosoe tidaklah mengharap secara demikian sungguh-sungguh" Ang Hie tertawa tawar. "Salah yalah Kwie Lam Ciauw" kata ia, turut bicara, "Dia sudah mengundang serigala datang kedalam rumahnya" Alisnya Yauw Hoan mengkerut naik, matanya bersorot tajam, Hanya sebentar ia nampak tenang pula, ia tertawa secara Jenaka, ia menggoyang-goyang kepalanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jangan kamu kira kamu Ceng shia Jie Ay telah ternama besar sekali" ia kata sabar, juga kamu, tak nanti kamu dapat melawan aku si orang she selama sepuluh jurus" Sepasang alisnya Kok It mengkerut, "Tak perduli kami berhasil atau tidak." ia kata, "akan tetapi menurut dugaanku si orang she Kok. kitab itu tidak nanti kau sanggup mendapatkannya." Thian ciat sin Koen kelihatan heran, Alasan apa yang membuat kau beranggapan begini?" dia tanya, Kok It bersenyum. "Tidak dapat aku memberikan keterangan" sahutnya, "Aku cuma mendapat alamat bahwa kau tak bakal mendapatkan itu." Habis berkata, jago Ceng shia ini berpaling melirik See-boen Boe Wie. Keng Thian Cioe terperanjat hatinya berdenyut, "Apa maksudnya maka jago Ceng shia itu melirik kepadanya." Thian ciat sin Koen menyaksikan itu ia heran hingga ia menerka-nerka, Tapi ia tidak takut, ia percaya dirinya. "Kalau Kwie Lam Ciauw iklas menghaturkan kitab itu dengan kedua tangannya, bagaimana?" ia tanya tertawa. Matanya Kok It mencilak. "Apakah kau maksudkan untuk bertaruh?" ia tanya. Yauw Hoan mengangguk. Ang Hie lantas berkata: "jikalau kau berhasil mendapatkan kitab itu maka mulai sekarang kami Ceng shia Jie Ay tidak bakal muncul pula dalam dunia Kangouw. sebaik nya kau, dalam tempo sepuluh tahun, tidak dapat kau mencelakai orang."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Thian ciat sin Koen tertawa lebar, "Baik. Beginilah kata-kata kita yang masuk hitungan," dia menerima baik. Matanya See-boen Boe Wie memain tak tentu perannya, syukur orang lain tak melihatnya. Ketika itu Jie siong Gan sudah membalut tangannya, Dia menghampirkan Koe Pek see, untuk berkata: "Koe Loosoe, segala apa mesti dibikin terang, orang yang membinasakan muridmu itu yalah lain orang. Ketika tadi aku keluar dari Hoan-hian, aku mendapatkan muridmu sudah rebah di bawah pohon, dan tempo aku memeriksa dia, tubuhnya masih hangat. Adalah barusan, tak tahu apa sebabnya, dia telah meninggal dunia." Kee Pek see mengawasi tajam, "jadi kau mau artikan, selagi kita berselisih mulut, ada orang yang membokongnya?" dia menegasi. Siong Gan mengangguk. "Tidak bisa lain daripada itu," sahutnya, Kim Liong Kiam si pedang Naga Emas lantas berpaling kearah kamar Hoa-hian. "Siapakah yang menempati kamar itu?" dia tanya. "Seorang muda she Lie." Siong Gan jawab tawar. "Hm" bersuara Koe Pek see, yang tubuhnya terus mencelat sampai didepan jendela kamar itu, untuk terus melongok kedalam kamar, ia melihat seorang lagi rebah dengan berselimut. ia heran, ia mengawasi dengan melongo. orang banyak lantas menghampirkan. "Koe Loosoe, kau keliru menduga orang." berkata Kok It. "jikalau orang membinasakan muridmu itu, tentulah dia sudah bersiap sedia untuk menjaga diri, mustahil dia enak enakan tidur nyenyak"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jilid 13 : Bertemu kembali dengan Koay bin-Jin Him "Tak perduli dia atau bukan" kata Pek see tertawa dingin, "Kita bertempur, kita membikin banyak berisik, kenapa dia tetap tidur nyenyak? pastilah ini mencurigai" Ia lompat masuk kedalam kamar, tangannya diulur untuk menyamber selimut. Mendadak selimut itu, bagaikan sebuah tembok baja, terbang memapaki orang she-Koe itu. Pek see kaget, inilah ia tidak sangka, Terpaksa ia lompat mundur, kedua tangannya dipakai mengibas, hingga selimut itu jatuh ketanah, ia merasakan benda lunak itu menjadi keras sekali dan berat, Tentu sekali ia menjadi bertambah heran. Segera juga Kim Liong Kiam melihat di depannya berdiri seorang muda yang tampan yang mengenakan pakaian putih yang mengawasi ia dengan roman gusar, ia melengak ketika sinar matanya bentrok s inarmata pemuda itu. ia merasakan suatu pengaruh luar biasa. Jikalau kamu mau berkelahi kamu dapat berkelahi dengan sepuas kamu" kata pemuda itu, suaranya berat. "Kenapa kau mengganggu aku yang lagi tidur ? Apakah mesti ada orang luar yang menonton untuk menyaksikan kejelekanmu ?" Bukan main gusarnya Koe Pek see, Tak dapat dia mengendalikan diri lagi. "Aku si orang tua mau tanya kau kenapa kau membunuh muridku ?" dia tanya membentak. "Kau siapa ?" tanya Tiong Hoa, si anak muda, sambil tertawa dingin. "Siapa itu muridmu? Apakah kau lihat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan matamu sendiri orang membinasakan muridmu itu? Ataukah orang lain yang melihatnya?" Pertanyaan nyerocos itu membikin bungkam Koe Pek see tak perduli dialah seorang Kang ouw ulung, Dia sampai menganga saja dan lantas menoleh keluar jendela mengawasi Jie siong Gan. Ketua Thian Hong Pang itu lantas berkata cepat: "Koe Loosoe janganlah kau melimpahkan kesalahan kepada lain orang. Aku si orang she Jie tidak mengatakan Lie siauwhiap yang membunuh muridmu itu. Tadi kau tanya di daLam kamar ini siapa penghuninya, aku menjawab dengan sebenar benarnya saja, sebagai ketua sebuah partai mana dapat aku lancang menuduh orang?" Kata-kata itu beralasan Koe Pek see menjadi bingung. Tiong Hoa maju satu tindak. la memandang bengis pada orang she Koe itu. "Kenapa kau lancang masuk kedalam kamar orang?" dia menegur, "Kenapa kau berniat mengangkat selimutku? Apakah maksud mu yang sebenarnya?" Pek see demikian terdesak. dari melongo dia menjadi gusar, hingga rambut dan kumisnya seperti pada bangun berdiri. Dia berdiri tegak. Menampak demikian Kok It berlompat masuk kedalam kamar. "Inilah salah mengerti," ia berkata, tertawa, "siauwhiap harap kau tak memandangnya secara sungguh-sungguh. Dan kau, Koe Loosoe, cukup asal kau mengatakannya bahwa kau berbuat lancang tanpa disengaja." Mendengar itu sikapnya Tiong Hoa menjadi tenang pula.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Justeru itu diluar kamar terdengar suaranya Kongsoen Bok Liang yang sambil menghela napas seorang diri: "Eh, mengapa see-boen Loosoe pergi secara diam-diam?" Belum berhenti suaranya anak muda itu. Thian ciat sin-Koen sudah berteriak keras: "Bsgus bocah she seeboen Bagaimana berani kau menghina aku si orang tua?" sembari berteriak. dia berlompat lari. Kok It bersama Koe Pek see menoleh ke luar jendela dengan bantuan sinar rembulan mereka melihat tubuhnya Lee Yauw Hoan berlari keras lalu menghilang diatas genting didepan taman. Menyusul Thian ciat sin-Koen, beberapa tubuh lainnya pun turut pergi. Menyaksikan demikian, Pek see berpaling pada Tiong Hoa dan berkata: "Aku nyesal telah mengganggu siauwhiap, maaf. Biarlah lain kali kita bertemu pula" Kata-kata itu diakhiri dengan tubuhnya lompat keluar dari dalam kamar. Dengan kepergian mereka itu maka disitu tinggal Ceng shia Jie Ay bersama Kongsoen Bok Liang, begitupun Boan In dan Hoet Goat serta Cian Tiauw Hong, Lo siauw Hong dan Lie Tiong Hoa sendiri, Ceng shia Jie Ay mau mengajak muridnya pergi tapi Tiauw Hong mencegah. Jangan pergi, loocianpwee, pergi pun percuma," kata orang she Cian itu Kok It heran. "Kau mengatakan begini apakah kau melihat sesuatu yang aneh?" dia tanya. "Silahkan loocianpwee beramai masuk ke dalam, nanti aku memberikan keterangannya," kata Tiauw Hong.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ceng shia Jie Ay menurut, maka mereka semua masuk kedalam kamar. Tiauw Hong mengawasi orang. "Dari semua tetamu tidak ada seorang yang mengetahui," ia berkata, "dari dua- ratus lebih orangnya Kwie chungcoe, satu pun tidak ada lagi kecuali kami beberapa gelintir yang menemani semua tetamu disini. Jiewie, tahu kah kamu apa sebabnya itu?" Kok It semua mengawasi. Ia menggeleng kepala. "Aku tidak dapat menduga," ia menyahut-"Mungkinkah pada ini ada rahasia apa-apa?" Cian Tiauw Heng mengangguk " Warta tentang Lay Kang Koen Pouw tersiar luar biasa cepatnya," ia berkata, "Itulah diluar sangkaannya Kwie Chungcoe, Kwie Chungcoe tidak menghendaki rumahnya ini termusnah, maka itu dia telah mengambil tindakannya, sebenarnya tidak ada orang yang mengetahui Kwie Chungcoe telah berhasil memiliki kitab ilmu silat itu, hanya kemudian, tak tahu bagaimana jalannya, see-boenBoe Wie mengetahui juga, setelah itu berulang kaliBoe Wie minta chungcoe mengeluarkan kitabnya, untuk mereka berdua memahamkannya bersama, akan tetapi chung coe menyangkal bahwa ia memiliki itu. Karena penolakan itu, seeboen Boe Wie lantas mengambil tindakan keras, Dia menawan isteri, gundik dan anaknya chungcoe, dia kurung mereka disuatu tempat lantas dia memaksa chungcoe menebusnya dengan kitab itu. Meskipun demikian Kwie Chung-masih saja menyangkal itulah kejadian satu tahun yang lalu. Kedua saudara seperguruan itu, soeheng dan soetee, menjadi seperti api dan air yang berdiri berhadapan, masing-masing terus menggunai kecerdikannya."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Mengapa kemarin ini kau tidak menjelaskan ini?" Tiong Hoa tanya. Tiauw Hong tertawa. "Aku pun baru saja mendengarnya dari Hoet Goat." ia menjawab. Tanpa merasa, Tiong Hoa menoleh kepada kacung itu. Cian Tiauw Hong melanjuti keterangan-nya: "Kwie chungeoe telah memohon dengan pelbagai cara supaya Seeboen Boo Wie merdekakan isteri, gundik dan anaknya itu, See boen Boe Wie terus menolak. Dia tetap menghendaki kemerdekaan mereka itu di-tebus dengan kiiab silat itu. Tentang itu Boan In mendengarnya beberapa kali. Mereka berdua mempunyai kepandaian silat yang berimbang, karena itu mereka masing-masing tidak dapat saling mengalahkan Kwie chungeoe tidak berani menyuruh orang mencari tahu dimana isteri dan anak nya itu disembunyikan sebenarnya kami curiga tetapi dia bilang isteri gundik dan anaknya itu tengah melancong..." Cerita ini menarik hati, semua orang mendengari dengan perhatian"Baru pada setengah tahun yang lalu, Kwie chungeoe mengambil keputusannya." Tiauw Hong menerangkan lebih jauh. "Dia menitahkan tiga orang kepercayaannya pergi berpencaran ke Lu Liang San mengundang Thian ciat Sin Koen. Tentu sekali ia bertindak secara diamdiam. Sulit untuk pergi ke Lu Liang San mencari orang kosen itu. Gunung itu berada d idaLam propinsi Shoa-say bagian barat daya, jauhnya seribu beberapa ratus lie. sedang orang yang dicari itu tidak ketahuan tempat tinggalnya. Selama beberapa bulan, ketiga pesuruh itu tidak ada kabar ceritanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Mulanya Seeboen Boe Wie tidak bercuriga, Kecurigaannya timbul setelah sekian lama ia tidak melihat ketiga orang kepercayaan Kwie chungeoe itu. Apa mau, pada lima hari yang lalu, salah seorang pesuruh kembali dari perjalanannya. Dia kena di tangkap Seeboen Boe Wie, dia dipaksa membuka mulutnya, Dengan begitu seeboen Boe Wie jadi tahu Thian Ciat sin-Koen lagi diundang untuk menghadapi dia. Tapi pesuruh itu tidak berhasil mencari Thian Ciat sin-Koen. Karena ini saking mendongkolnya seeboen Boe Wie menggunai siasat buruk. Diam-diam dia membocorkan rahasia bahwa Lay Kang Koen Pouw berada ditangannya Kwie Lam Ciauw dilain pihak. dia sendiri mengundang pembantu-pembantu kosen. "Ketika Kwie chungeoe mendapat tahu tindakannya seeboen Boe Wie itu, dia tahu bahaya sudah mengancam hebat, maka itu kebetulan ada Lie siauwhiap. dia menitahkan aku mengundang siauwhiap datang kemari. Dia mau minta bantuan siauwhiap menghadapi seeboen Boe Wie, saudara seperguruan yang dianggapjahat itu, sementara itu diluar dugaan, tadi magrib Thian ciat sinKoen datang secara tiba-tiba." "Didalam suratnya Kwie chungeoe untuk Thian ciat sin-Koen tidak ada diberitahukan halnya kitab ilmu silat itu. Hal ini di gunai sebagai ketika oleh seeboen Boe Wie. Dia menemui Thian ciat sin-Koen dan mengadu- biru, Dia meng gosok- ^osok, Dengan lantas Thian CiatJin-Koen menjadi gusar. Atas itu Kwie chungeoe memberikan keterangannya begini: "Kitab itu sangat sulit dipelajarkan, ia sudah gunai tempo lebih daripada sepuluh tahun, ia masih belum

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengerti apa-apa, karena itu ia mengundang Thian ciat sin-Koen yang ia bahasakan leo cianpwee, untuk mempelajari bersama. Hanya kata ia pula, sekarang telah berkumpul demikian banyak jago Rimba persilatan yang mengarah kitab itu. dari itu ia minta sukalah Thian ciat sin-Koen mengundurkan mereka itu dulu." "Thian ciat sin-Koen dapat dikasi mengerti, ia janji memberikan bantuannya. Kwie Chungeoe sendiri masih ingin mengangkangi kitab itu, maka itu ia telah menyuruh Boan In mengundang Lie siauwhiap kekamar rahasianya untuk berdamai, ia tetap hendak minta bantuan siauwhiap. Dilain pihak dengan diam-diam ia telah mengatur persediaan dibukit kecil dibela kang Kwie In chung ini, Kesana ia hendak mengundang semua orang, dengan perangkapnya ia hendak membereskan semua jago Rimba persilatan yang menjadi tetamu-tetamunya itu. Tentang pembicaraannya Kwie Chungcoe dengan Lie siauwhiap bagaimana jalannya dan bagaimana kesudahannya, aku tidak mendapat tahu." Demikian Cian Tiauw Hong mengakhiri keterangannya. Ceng shia Jie Ay mengawasi Tiong Hoa, Mereka seperti mau minta keterangan. Tiong Hoa tertawa. "Aku yang rendah telah memberitahukan bahwa hatiku tawar dan besok aku hendakpulang ke Kim-leng." ia berkata, "maka itu aku bilang aku tidak mau campur urusan ini" "Kitab Lay Kang Koen Pouw itu." berkata Boa In, yang campur bicara dengan tiba-tiba, "sebenarnya didapat Kwie Chung coe dari tangannya ayah Kongsoen siauwhiap...."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kongsoen Bok Liang terkejut hingga ia lompat kedepan kacung itu "Benarkah itu?" ia menegaskan. Kedua jago Ceng shia pun heran, Boan-in memandang anak muda itu, ia berkata: "see-boenBoe Wie itu bersahabat kekal dengan ayah siauwhiap. merekalah sahabat-sahabat dari banyak tahun, see-boenBoe Wie ketahui ayah siauwhiap mempunyai kitab silat itu, dia lantas bersekongkol dengan Kwie Chungcoe dan menyuruh chung coe menggunai akal busuk mendapatkannya. Bagaimana sepak terjang mereka lebih jauh, aku tidak mendapat tahu, hanya dapatakujelaskan, yang membinasakan keluarga siauhiap bukannya seeboen Boe Wie hanya Kwie Chungeoe." Semua orang menjadi heran hingga mereka tercengang siapa tahu urusan ada demikian ruwet. KongsoenBok Liang menjadi demikian gusar ia berkata nyaring: jahanam she Kwie, Kwie, jikalau aku tidak dapat membunuh kau, aku sumpah tidak sudi menjadi orang" Disinarnya si Puteri Malam, terlihat anak muda ini mengucurkan airmata berlinang-linang, ia nampak pucat dan muram bergantian. ooooo BAB 17 SEMUA orang berdiam, wajah mereka guram. Lie Tiong Hoa memandang jauh ke luar jendela, pikirannya bekerja. Kemudian Kok It, yang alisnya meng kerut berkata: "sekarang sudah terang seeboen Boe Wie tidak melakukan pembunuhan itu tapi kenapa dia agaknya ragu-ragu? Kenapa dia seperti jeri? Asal dia membuka mulutnya, bukankah urusan lantas menjadi terang?" Tiong Hoa menoleh, ia lantas tertawa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Menurut aku yang muda, duduknya haltakada demikian sederhana seperti dituturkan Boan-in," ia berkata, "Turut dugaanku yalah: Ayahnya Kongsoen siauwhiap mempunyai kitab ilmu silat itu, hal itu diketahui seeboen Boe Wie dan Kwie Lam ciauw berdua. Mereka ini, meskipun mereka menjadi saudara-saudara seperguruan ada mengandung pikirannya masingmasing, Tegasnya mereka hendak memiliki sendiri, maka itu, mereka bekerja sendiri-sendiri pula. Rupanya Kwie Lam ciauw terlebih licik, disaat seeboen Boe Wie mau turun tangan, dia mendahului dan dia berhasil. Maka itu kitab itu berada didalam tangannya." ia mengawasi Kok It dan tertawa, ia menambahkan. "Benar seperti kata loocianpwee, Thian ciat sin-Koen pasti tak akan mendapatkan kitab itu, sedangJie siong Gan semua, mereka terancam bahaya maut. sekarang ini seeboen Boe Wie serta Kwie Lam Ciauw pastilah sudah terbang menghilang..." Kok lt dan yang lainnya heran, sekarang mereka mengawasi anak muda itu. "Atas dasar apa laotee mengatakan begini." Ang Hie tanya. Tiong Hoa mengawasi Kongsoen Bok Liang, ia sangat berduka, menyesal nasib nya pemuda itu, ia menghela napas. baru ia berkata: "Aku yang muda melainkan menduga-duga karena melihat jalannya urusan, Mungkin besok Kwie Lam Ciauw bakal muncul pula, maka besok kita bakal ketahui sedikitnya sebagian duduknya hal... Orang tetap mengawasi pemuda itu, Mereka menjadi terlebih heran, Kenapa pemuda ini bicara bertentangan satu dengan lain? Barusan dikatakan Lim Ciauw sudah terbang pergi, sekarang dia bilang orang bakal kembali

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

besok pagi.... Bagaimana itu? Lebih-lebih Kongsoen Bok Liang, dia sampai menatap dengan mendelong. Lie Tiong Hoa bersenyum, Didalam hati kecilnya ia berkata: "Nyatalah ada sejumlah orang yang nasibnya lebih menyedihkan daripada aku.... Ada pula mereka yang demikian sekekar hingga mereka terbinasa karenanya. Karena ini haruslah aku berhati-hati." Pikiran Kongsoen Bok Liang agaknya kacau, selagi berduka sangat itu, mendadak dia berlompat keluar jendela. Kejadian itu mengagetkan kedua gurunya, Tapi, belum sempat guru itu bertidak, tubuh Tiong Hoa sudah mencelat, hingga dilain saat dia sudah kembali bersama pemuda itu. Herannya Ceng shiaJie Ay bukan main. Mereka seperti tak dapat melihat gerakan anak muda itu. "saudara Kongsoen, sabar." berkata Tiong Hoa bersenyum "Kau harus ketahui. siapa kurang sabar, dia dapat menggagalkan urusan besar, sia-sia belaka kalau sekarang kau paksa mencari seeboen Boe Wie dan Kwie Lam ciauw, bahkan itu berbahaya. Apakah saudara hendak membikin arwah ayahmu di dunia baka menjadi tak dapat meram?" Kongsoen Bok Liang melengak. Benarlah nasihat itu. punggungnya lantas mengeluarkan keringat, Tetapi ia masih ruwet pikirannya, maka ia berdiam saja. Tengah mereka berdiam, mendadak Lie Tiong Hoa menoleh kejendela seraya menanyai "Loosoe siapa itu diluar? Kenapa loosoe tak sudi masuk kemari untuk kita memasang omong?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pertanyaan itu mendapat jawaban tertawa nyaring dari luar jendela, lalu terdengar pujian ini: "Laotee, sungguh kau cerdik, sungguh lihai ilmu silatmu, sungguh tajam mata mu" Boleh dibilang belum berhenti suara itu maka terlihatlah enam sosok tubuh ber-lompat masuk dengan saling-susul, cepatnya luar biasa. Begitu mereka sudah menaruh kaki dan berdiri tegak. terlihatnya Koay-bin Jin Him Song Kie bersama Tiong-tiauw Ngo Mo, sedang si Manusia Biruang terus menatap si anak muda sambil dia tersenyum. Toa Mo berada paling belakang, dia nampak jengah. Tiong Hoa memberi hormat dengan merangkap kedua tangannya kepada mereka itu. "Loocianpwee," katanya tertawa, semenjak perpisahan ditepi sungai, aku yang muda senantiasa memikirkan kau" Terus ia menjura dalam2. Ceng shia Jie Ay heran, Mereka tidak mengerti kenapa si anak muda bersahabat dengan rombongan manusia yang tak dapat dibuat permainan ini. Song Kie tertawa berkakak. "Kata-kata yang bagus Kata-kata yang bagus" ia berkata nyaring. "Tidak kusangka laote, setelah berpisahan di Kho-pie-tiam, hari ini kau telah menjadi si pemuda gagah yang menggemparkan sungai Tiang Kang". Habis memuji, kembali ia tertawa bergelak. Kali ini suaranya Song Kie suara yang setulusnya hati, tidak ada nadanya menghina atau mengejek. inilah hal yang langka, tapi dari sini terbukti bagaimana dia menghargai si anak muda, Rupanya mereka berdua

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sangat berjodoh. Tiong Hoa berdiam saja, ia melainkan bersenyum. Kemudian Song Kie menegur Ceng shia Jie Ay: Jiewie loosoe. banyak baik?" "Baik" menjawab Ang Hie singkat. "Apanya yang tidak baik?" sahut Kok It, matanya mencilak. "Dapat pakai hangat, dapat makan kenyang Hanya kasihan, letihlah sang kedua dengkul" Tiong Hoa bersenyum, sedang Song Kie tertawa pula. Hanya habis tertawa, Koaybin Jin Him berkata sungguh-sungguh: "Di Kwie In chung bagian timur ini telah dagang banyak orang Kang ouw, semua datang untuk kitab Lay Kang Koen Pouw, Demikian aku si orang tua, aku pun turut datang kemari Hanyalah aku heran ketika aku melihat wajahnya Kwie Lam Ciauw, aku menjadi curiga, Dengan lantas aku membuat penyelidikan. Benar seperti katamu Lie Laotee. Kwie Lam Ciauw dengan membawa kitab nya sudah pergi terbang sedari siang-siang. Kok It heran hingga dia bertempat menyamber tangannya orang she song itu. "Hai, siluman tua dari mana kau ketahui ini?" dia tanya nyaring, matanya mendelik, Dia nampak gelisah. Song Kie tertawa dingin. "Sungguh aku tidak sangka jago dari Ceng shia pun mengharapi kitab itu melebihkan hebatnya kami bangsa Rimba Persilatan" dia kata sebelumnya menyahuti. Kok It jengah perlahan-lahan ia melepaskan cekalannya. "Siluman tua jangan bertingkah" ia kata keras, "Apakah itu Lay Kang Koen Pouw? Kami si dua tua b angka tak mau mampus tak menghiraukan itu" "Harap saja kata-katamu ini benar" Song Kie mengejek pula. Tiong Hoa kuatir nanti terbit salah mengerti, ia menyelak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

disama tengah. "Song Loocianpwee mari aku yang muda mengajar kenal kepada kamu ia berkata tertawa. Song Kie heran- hingga ia mengawasi si anak muda. Tiong Hoa bersikap tenang, ia mendekati Kongsoen Bok Liang untuk berkata: "inilah Kongsoen siauwhiap murid yang gagah dari kedua loocianpwe Kok dan Ang. ia sekarang lagi mendendam sakit hati untuk darahnya seluruh keluarganya semua anggota keluarga Kongsoen telah terbinasakan see-bocn Boe Wie dan Kwie Lam Ciauw berdua. Pula kitab Lay Kang Koen Pouw itu milik asal dari mendiang ayahnya Kongsoen siauwhiap ini." Song Kie heran hingga matanya mencilak sinar matanya itu menjadi berpengaruh sekali. Tiong Hoa melihat itu ia tahu si Manusia Biruang hendak menanyakan sesuatu, ia mendahului. "Locianpwee, aku harap sukalah kau mewujudkan citacitanya Kongsoen siauwhiap ini" demikian selanya, "Tentang ilmu silat itu yang telah berpindah-pindah tangan hingga dia seperti tidak ada pemiliknya biarlah dia nanti jatuh kepada siapa yang berjodoh." Mendengar itu, Song Kie nampak ramai wajahnya. "Laotee." katanya menukar haluan bicara, " bukankah kau hendak menanya kenapa aku si tua menduga Kwie Lam Ciauw sudah kabur dari rumahnya ini? sebenarnya magrib tadi aku bertemu dengannya di gedungnya bagian timur itu. Kita telah berbicara beberapa patah kata, lantas dia meminta diri Mendengar suaranya, melihat gerak-geriknya, dia tak mirip- miripnya seorang chungcoe, karena itu aku menjadi curiga dan lantas menguntit dia. Dia pergi memasuki sebuah rumah yang besar, gelap dan sunyi,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Disitu aku menyembunyikan diri diatas sebuah pohon, Ketika kemudian aku memikir untuk turut masuk kedalam rumah itu, aku melihat sesosok tubuh berkelebat di belakang rumah itu, terus lenyap. Rembulan terang dan mataku pun masih awas, aku melihat potongan tubuhnya seperti potongan tubuh Kwie Lam Ciauw, Yang luar biasa yalah kegesitannya, Kalau dia benar Kwie Lam Ciauw, kepandaiannya telah menyampaikan puncaknya pemahiran, dia mungkin tanpa lawan lagi. Kalau begitu, mengapa dia seperti bernyali kecil?" Tiong Hoa tidak menjadi heran, bahkan dia tertawa. " Itulah hal yang siang-siang telah menjadi terkaanku." katanya. Kok It mengerutkan alis. "Kalau begitu, mengapa siauwhiap tidak memberitahukan aku si orang tua?" ia tanya. "Sekarang Kwie Lam Ciauw dan seeboen Boe Wie jadi dapat lolos." Tiong Hoa agaknya menyesal "Tetapi, loosoe," kata dia, "akupun telah memikir itu barusan saja selagi aku merebahkan diri, sekarang kita masih terbenam dalam kegelapan, kita baiklah jangan terlalu banyak menduga-duga." Dia lantas mengawasi Boan in dan Hoet Goat dan menanya: "Kamu biasa mengikuti chungeoe kamu, tahukah kamu keadaan rumah besar itu ?" "Tidak." sahut Boan in- "Rumah itu menjadi tempatnya chungeoe berlatih ilmu silat, biasanya kami dilarang masuk kesitu, Yang dapat masuk melainkan seeboen Boe Wie seorang." Tiong Hoa bersenyum ewah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Biasanya seeboen Boe Wie sangat licin, dia toh kena dikelabui Kwie Lam Ciauw " katanya. Mendengar itu, semua orang heran. Justeru itu dari luar jendela terdengar tantangan : "Lie Cie Tiong," bocah, kau keluarlah " Tiong Hoa terperanjat tapi segera tubuhnya mencelat, berlompat keluar, ia lantas disusul sekalian kawannya itu. Diluar, dipekarangan taman terlihat belasan orang, orang yang mengasi dengar suara kasar itu yalah seorang imam tua dengan jidat jantuk dan hidung bengkok. yang menggondol sepasang pedang, Diantaranya terdapat juga Biauw Ceng sioe koan-coe dari Mi In Kean, serta In Tiong Kiam-kek Lauw Kong Ciok. Pemuda itu tidak gusar, sebaliknya sambil merangkap kedua tangannya ia memberi hormat dan menanya sembari tertawa: "Apalah cinjin yang memanggil aku yang rendah?" Hormat sekali sikapnya itu. "Tidak salah" sahut imam itu kaku. "Aku memang mencari kau" Dia mengawasi tajam, romannya bengis. Tiong Hoa heran- ia tidak kenal imam ini, ia belum pernah bertemu dengannya, Dari mana datangnya permusuhan? "Ada urusan apakah cinjin mencari aku yang rcndah?" tanya ia pula, hormatnya tak kurang. Imam itu mengasi dengar tertawa tawar, ia sebenarnya mau berkata, tapi ia segera disela oleh Tiong-tiauw Jie Mo, Hantu nomor dua dari Tiong-tiauw, yang sedari tadi ber diri diam dibelakangnya Song Kie, Sembari tertawa dingin, Hantu itu kata: "Thian Hong Toojin yang bermuka tebal, di Tay Pa San, boleh kau menjagoi, tetapi setelah sampai di Kang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lam ini, tak dapat kau bawa tingkah polah itu Disini tak ada orang yang tak ingin membikin kau mampus Buat apa kau masih periihatkan cecongormu tidak keruan macam?" Mukanya imam itu menjadi pucat pias dan merahpadam, Bukan main gusarnya dia. Dia mengawasi tajam, Dia lantas mendapat lihat dibelakangnya Lie Tiong Hoa yang dia kenal sebagai Lie Cie Tiong ada Song Kie bersama Tiong-tiauw Ngo Mo serta Ceng ShiaJie Ay sekalianDiam-diam ia terperanjat dalam hatinya, ia tahu mereka ini orang-orang yang tak dapat dipandang tak mata. Toh dia tidak takut. Dia mengandalkan sepasang pedangnya yang dia baru peroleh, sedang dibela kang nya, masih ada tulang punggungnya. "Siapa itu yang mementang mulut?" dia tanya, " Kenapa kau tidak berani mengasi lihat mukamu?" Tiong-tiauw Jie Mo bertindak maju, ia memperlihatkan roman bengis. " Hidung kerbau, kenapa matamu tidak panjang?" dia mengejek, "Kami Tiong-tiauw Ngo Mo Kapannya kami takut terhadap kau" Thian Hong cinjin juga bersikap dingin, acuh tak acuh. "Sama juga" katanya, "Aku Thian Hong cinjin, aku pernah jeri terhadap siapakah?" Tiong Hoa melihat suasana menjadi tegang. "Tuan-tuan sabar," ia berkata tertawa, "Aku tidak tahu buat urusan apa Thian Hong Cinjin mencari aku yang rendah?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Imam itu membentak: "Aku mau tanya apa kah benar muridku, Tiauw-sie siang Hong dari Kee-leng, kau yang membunuhnya?" Ditanya begitu, Tiong Hoa menjadi mendongkol. "Benar," sahutnya dingin, .Benar aku yang rendah yang membunuh mereka Akan tetapi cinjin, pernahkah kau menanya sebab nya dua saudara Tiauw itu sampai menerima kebinasaannya . " Imam itu gusar sekali. "orang sudah mati, mau apa ditanya lagi." katanya sengit, "Membunuh orang membayar jiwa, siapa berhutang membayar uang. Apakah kau tidak tahu keharusan itu?" "Lie siauwhiap." Tiong Tiauw Jie Mo menyelak. "hidung kerbau ini paling tidak kenal aturan, buat apa kau layani dia mengaco belo? Baiklah aku mewakilkan kau mengajar adat padanya" Sepasang matanya Thian Hong cinjin seperti menyala mengawasi Hantu nomor dua itu. "Dapatkah kau mengajar adat padaku?" dia tanya tertawa, dingin tertawanya. Jie Mo pun tertawa dingin, sembari tertawa tangannya menghunus goloknya, golok Bian-too yang bersinar biru, yang ia terus ulapkan. "Hidung kerbau, kau juga hunuslah senjata mur ia menantang, Thian Hong Toojin tertawa mengejek secara luar biasa. Dia menjawab dingini "sekali aku menghunus sepasang pedangku maka kepalamu segera akan berpisah dari tubuhmu Akan tetapi Cinjin kamu suka berbuat baik, suka dia menggunai tangan kosong melayani beberapa jurusmu"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Tiauw Jie Mo tidak dapat menahan ^abar lagi, ia lancas menggeraki goloknya bersiap untuk menyerang. Justeru itu dua bayangan berkelebat lompat kepada mereka berdua, segera ternyata merekalah Thian ciat sin-Koen Lee Yauw Hoan dan Kim-Liong-Kiam Koe Pek see. Dengan mukanya yang lonjong seperti labu Thian ciat sin Koen tertawa dan menanya: "Disini kamu berdua hendak mengadujiwa, buat apakah itu?" "Siapa menghendaki kau usilan" kata Toa Mo dingin, Dia berdiri dibelakangnya Song Kie. "Kau berdiri disamping. jangan bergerak jangan bersuara Tak dapatkah kau menonton dengan berdiam saja dengan tenang?" Thian Ciat sin Koen gusar sekali. mendadak dia mengulur sebelah tangannya meny amber hantu nomor satu itu. Bukan main sebat gerakannya itu. Tapi baru tangannya itu terulur setengah jalan, dia melihat ada sebuah tangan lain yang menyamber kearahnya kejalan darah thian-kie dirusuk kiri-nya. Dia kaget melihat serangan itu yang seperti kilat, Terpaksa dia membatalkan serangannya, dia mengegos kesamping sedang tangannya diputar untuk dipakai menangkis. Dengan tak dapat dicegah lagi, ke dua tangan bentrok keras, lalu kedua pihak sama-sama mundur beberapa tindak. Thlan ciat sin-Koen berseru tertahan saking mendongkolnya. Ketika ia mengawasi bengis ia melihat penyerangnya itu yalah seorang tua yang romannya sangat jelek. yang rambutnya kaku. Siluman tua, siapa kau?" ia membentak bengis, ^Aku Thian Ciat sin-Koen, aku tidak membunuh sebala kurcaci"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Koay-bin Jin Him," demikian orang tua itu tertawa bergelak. "Kenapa kau tidak mau mengambil kaca untuk berkaca?" dia balik menanya, "Bukankah kita samasama? Lebih baik kita bicara dari hal ilmu silat yang yang aneh tetapi jangan dari rupa yang buruk Bukan-kah kita Tiong- goan Jie Koay?" oleh karena serangannya Song Kie, batalJie Mo menempur imam jumawa itu. Mendengar demikian, Tiong Hoa menjadi mendapat tahu bahwa Tiong goan Jie Koay, atau "Dua siluman dari Tiong goan" yalah Song Kie dan Thian ciat sin Koen, belum kenal satu pada lain, jadi julukan mereka itu melainkan diberikan oleh orang luar, mereka sendiri asing satu pada lainJadi kaulah Keay-bin Jin Him Song Kie?" tanya Thian ciat, "Kita berdua terkenal sebagai Tiong goan Jie Koay, kita belum pernah bertemu selama beberapa puluh tahun, baru malam ini ada ketikanya sudah lama aku dengar kau tersohor buat tanganmu Thian Long Ciang dan pakumu Thian Long Teng, yang dapat ditimpukkan berbareng dengan dua tangan maka itu aku si orang she Lee hendak aku menggunai tangan Thian ciat sin-ciang menyambut kau beberapa jurus. Marilah kita bikin meski benar nama kita kesohor berbareng sebagai Tiong goan Jie Koay, tetapi kepandaian kita tak turut berendeng" Song Kie tertawa tawar. "Thian ciat sin-ciang kau itu ada namanya saja, tidak ada bukti kenyataannya" ia kata, "jikalau kau hendak mempertontonkan keburukanmu itu, kenapa tidak dapat?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Luar biasa suasana waktu itu. Mulanya Thian Hong cinjin hendak meminta jiwanya Lie Tiong Hoa, lalu Tiongtiaun Jie Mo menyelak untuk menempur imam itu atau hendak menempur Song Kie si Manusia beruang bermuka Aneh. selagi begitu maka Ceng shia Toa Ay, si Katai tertua dari Ceng shia, yaitu Kok It, dengan dingin menegur Thian ciat sin Koen: "Lee Loosoe, kau masih belum berhasil mendapatkan Lay Kang Koen Pouw. Dapatkah kau merusak membatalkan sendiri pertaruhan kita?" Ditegur begitu Thian ciat melengak. cuma sebentar, dengan biji mata memain dia tertawa dan kata: " Katakatanya seorang ksatrya berarti kehormatan Mana dapat aku melanggar kata-kataku sendiri bahwa dalam sepuluh tahun aku tak melukai orang ? Kita disini bukan melakukan pertempuran yang biasa, yang meminta lukaluka atau jiwa, kita hanya main-main untuk berlatih saja, Kita main-main hanya untuk saling towel" Kok It tertawa dingin. "Akan tetapi kau harus ingat pepatah bahwa kalau dua hantu bertempur salah satu mesti terluka Kalau song Loosoe yang menang, soalnya tidak ada, akan tetapi bagaimana andaikata kau kena melukai song Loosoe, apa kau mau bilang ?" Thian ciat sin-Koen berdiam. Jikalau begitu," kata dia tertawa pada Song Kie, "pertandingan kita ini harus ditunda sampai aku si orang she Lee sudah berhasil mendapatkan kitab Lay Kang Koen Pouw" "Terserah." kata Song Kie, tertawa tawar. "Aku si orang she Song, sembarang waktu aku bersedia untuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menanti pengajaranmu, Aku lihat sudah pasti kau bakal menyekap diri sepuluh tahun d idaLam gunung Lu Liang San, dari itu baiklah kau tak usah menyia nyiakan pikiranmu." Thian ciat tidak menyahuti, ia cuma mengganda tertawa dingin. sampai disitu, Kok It menanya pula. "Lee Loosoe," katanya, "apakah kau berhasil menyusul Seeboen Boe Wie?" Ditanya begitu, Thian ciat menoleh, dia mengawasi bengis, Terang dia mendongkol. Lalu dia kata: "Kok Loosoe, apa periunya kau usil aku si orang she Lee? Seeboen Boe Wie itu bangsa isi buruk, dia tidak nanti lolos dari tanganku." "Omong besar, tak tahu malu," tiba-tiba Ang Hie datang menyelak, ia bertindak maju, "Seeboen Boe Wie menyingkir dari sisimu, kau toh tidak ketahui, Dengan telinga tuli dan mata lamur, bagaimana kau masih berani menyebut dirimu jago yang lihai? Baiklah kau turut buah pikirannya Song Loosoe, yang menasehatimu, yaitu kau pulang ke Lu Liang San, guna menyekap dirimu. agar kau tidak usah mempertontonkan keburukanmu" Thian ciat Sin Koen gusar hingga tubuhnya bergemetar, muka labunya seperti menjadi bertambah lonjong, kulit mukanya pun menjadi seperti hijau. Jangan sebut-sebut aku" katanya dingin, "Apakah kamu, apakah pihak ceng Shia pun tidak serupa saja?" Kok It tertawa berlenggak. "Kami berdua si setan tua yang kate" kata dia, "kami mana dapat melayani Lee Loosoe lebih daripada sepuluh jurus? Mana dapat kami dapat nama besar berendeng dengan nama Loosoe, Thian ciat sin Keen yang kesohor d idaLam dan diluar lautan?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lee Yauw Hoan merasai dadanya mau meledak, kedua matanya pun mendelik. Song Kie melihat kemarahan orang, ia menambahkan minyak kepada bara marong. Katanya: "Diluar langit ada langit, disamping orang ada orang, maka itu orang janganlah suka berebutan, jangan suka ber-jumawa Maka juga orang budiman mempunyai kebiasaannya, setiap hari dia memeriksa dirinya tiga kali, agar dia tak sampai mendapat malu sendirinya" Tak dapat Thian ciat sin Keen mengendalikan diri lagi. "Ceng shia Jie Ay" dia berseru sambil menuding, "jikalau aku si orang she Lee berhasil mendapatkan Lay Kang Keen Pouw, didaLam tempo tiga hari akan aku bikin tulang-tulangmu hancur- lebur menjadi abu Atau kalau tidak, maka nanti sepuluh tahun yang akan datang, aku akan bikin gunung Ceng shia san kamu menjadi tanah yang hangus" Ceng shia Jie Ay berlaku tenang, "Selama hidup kita ini, jangan kau harap" kata mereka, tertawa tawar. Thian ciat menuding Song Kie. "Kaupun masuk hitungan" katanya sengit. orang yang dituding itu tertawa lebar, "Sembarang waktu senang aku menantikan" sahutnya lebar. Thian ciat sin Keen mengawasi tajam kepada semua orang didepannya itu, lantas tanpa membilang apa-apalagi, dia ber-lompat untuk berlau dari situ, orang melihat bagaimana pesat tubuhnya bergerak, sebentar saja dia lenyap daripandangan mata, Hal yang mengagumkan yalah ketika didapat kenyataan tanah dimana imam itu menaruh kaki, sudah melesak dalam, bertapak kaki-nya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa menghela napas menyaksikan romannya Thian ciat ketika dia itu mau berlalu, didaLam hatinya ia kata: "Seumur- ku belum pernah aku melihat sinarmata demikian tajam dan bengis, Aku kuatir di-belakang hari Rimba persilatan bakal mengalami pengorbanan yang mengerikan, hingga tidak ada lagi hari-hari yang aman." Tengah anak muda ini berpikir itu, hingga ia bagaikan ngelamun, sekonyong-konyong ia mendengar seruan: "Laotee, awas" Mendadak itu dua sinar seperti sinarnya rantai menyamber dari belakang si anak muda, meny amber kepunggungnya. Tiong Hoa mendengar seruan itu, ia lantas menduga kepada Thian Hong cinjin yang hendak mencari balas untuk kebinasaan murid nya. Dila in pihak ia telah menduga sepasang pedangnya si imam mesti pedang mustika, yang tajam luar biasa. Maka itu, tidak menangkis, bahkan tanpa menoleh, ia berkelit dengan mencelat kedepan, Hobat untuknya, hingga ia terkejut, pedang seperti mengikuti padanya, maka segera terdengar suara cita pecah- robek karena bajunya dibetulan pinggang belakang telah kesamber ujung pedang itu. Tiong Hoa merasakan punggungnya nyeri dan perih sebab ujung pedang telah menggores kulitnya hingga darahnya mengucur. Baru saja pemuda ini lolos dari bahaya maut itu atau ia merasa pedang menikam pula ia melihat sinar berkelebat berkilau kuning emas, ia menjadi kaget sekali sebab ia baru saja menaruh kaki.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tepat disaat berbahaya itu, Song Kie berlompat dengan serangannya kepada Thian Hong Cinjin si imam yang membokong anak muda itu. oleh karena imam itu ada di depannya ia dia terpaksa menghajar punggung, Dia juga tidak menyerang dengan tangan kosong, dia menerbangkan sembilan biji paku rahasianya paku Thianlong-terg yang lihai. Thian Hong mendapat tahu datangnya serangan itu, ia mesti membela dirinya. Mung kin serangannya berhasil terhadap Tiong Hoa, tetapi ia sendiri mesti roboh jadi korban. Maka tanpa bersangsipula ia berlompat berkelit kesamping, sambil membalik tubuh, ia menangkis dengan sepasang pedangnya. Dengan begitu terdengarlah suara tingtong berulang kali, lantas semua paku runtuh ke tanah. Habis paku maka tubuh Song Kie turun ketanah. Thian Hong mengawasi mukanya merah padam saking gusar. "Song Kie" dia membentak. "Kapannya kau menjadi pelindung manusia hina ini?" Koay-bin Jin Him tidak menjadi gusar, sebaliknya ia tertawa geli, ia mengawasi si imam dengan roman Jenaka. Tiong Hoa melihat sikapnya Song Kie dan Thian Hong, tahulah ia bahwa Keay-binJin Him telah menolong padanya, ia menjadi bersyukur sekali, Tengah ia mengawasi sahabat itu. si imam balik memandang ia secara bengis tetapi puas. "Sungguh tidak tahu malu...." pikirnya terhadap si imam. Meski demikian, ia tidak mau menegur imam itu. ia bisa mengerti kesayangannya seorang guru terhadap

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

muridnya. ia sendiri umpamanya, mungkin berbuat demikian karena terpaksa. Song Kie dan lainnya heran melihat sikap nya si anak muda yang demikian sabar, Keay bin Jin Him sampai menatap dengan mata dibuka lebar. Lo siauw Hong lantas menghampirkan si anak muda, ia mengeluarkan sebungkus obat bubuk, guna mengobati lukanya anak muda itu. Sementara itu, sebelum ia diobati, Tiong Hoa, merasai lukanya panas seperti kesulut api, sakitnya pun luar biasa seperti ada ribuan semut atau belatung yang mengusik tak hentinya, hampir tak dapat ia menahan nya. syukurnya itu terjadi hanya di batas yang luka saja, ia mengerutkan alis saking heranThian Hong cinjin mengawasi pemuda itu, ia tertawa dingin dan kata: "Anak muda ketahui olehmu, ujung pedang cinjin kamu ada racunnya yang hebat sifatnya, maka itu kau sabarlah, kau bakal menderita selama tujuh hari" Tiong Hoa melengak, inilah ia tak sangka. sudah pedang mustika, dipakainya racun pula Pedang itu pasti bukan dipakai untuk dirinya sendiri, hanya untuk semua orang asal yang menentang asal yang imam benci "Thian Hong, hidung kerbau" Song Kie membentak, "Kau begini kejam hak apa kau mempunyai untuk menjadi pemilik sepasang pedang mustika itu?" si imam tertawa. "Pedang mustika dapat memilih pemiliknya sendiri," dia bilang. pikirlah tentang cinjin kamu ini. jikalau cinjin kamu tidak lihai ilmu pedangnya, mana dapat ini

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sepasang pedang mustika Wan Yo Kiam memilih dia sebagai tuannya? Thian Hong belum sempat menutup mulut nya, atau Tong Tiauw Ngo Mo sudah berlompat maju mengurung dia, dan ketika ke lima Hantu berseru, dengan serentak mereka menyerang padanya. Hebat kelima saudara angkat ini, tapi pun hebat si imam. Biasanya, jikalau dikepung Ngo Mo, sukar orang lolos dalam tempo lima jurus, si imam lihai, dia dapat bertahanKetika Tiong Hoa menoleh kepada Ceng shia Jie Ay, ia heran- Beda daripada Ngo Mo, yang membuatnya bersyukur, dua jago tua ini agaknya mengambil sikap menonton Maka ia berpikir Bagaimana harus membedakan lurus dan sesat? orang lurus banyak yang terlalu menyayangi diri, hingga mereka seperti cuma menyapui salju didepan rumah nya tetapi tak menghiraukan es diatas genteng lain orang. Mereka ini pun, kalau bukan urusan Kengsoen Bok Liang dan kitab ilmu silat itu. tidak nanti mereka bentrok dengan Thian ciat sin Keen ..." Ketika itu Thian Hong cinjin telah mengurung dirinya dengan sepasang pedangnya, ia bersilat dengan tipu silat Giok-tay-wie-yauw, atau ikat pinggang melibat pinggang, pedang yang kiri berada didepan dadanya, pedang yang kanan berputaran. Dengan perlahan tetapi lama ia mengasi dengar: "Hm Dimatanya ahli, tegas terlihat lihainya imam ini." Ngo Mo lihai tetapi mereka terhalang pedang lawan vang tajam Mereka takut membuat senjata mereka beradu dengan pedang mustika itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Segera datang saatnya Thian Hong cinjin memperlihatkan kelihaiannya. Tiba-tiba Ngo Mo merasakan senjata mereka tertempel, dapat ditarik kearah mana pedang lawan bergerak. Mereka kaget, lantas mereka menarik, untuk meloloskannya. Thian Hong tertawa, tangannya bergerak luar biasa, Ketika pedangnya berkelebat semua senjatanya N go Mo terpental terlepas dari cekalan mereka masing-masing. ooooo BAB2 SONG KIE melihat jalannya pertempuran, Dengan mempunyai pedang mustika, Thian Hong mirip harimau yang tumbuh sayap. Keay-binJin Him merasa sulit untuk Tiong-tauw Ngo Mo merebut kemenangan, tapi ia mau menyangka, sedikitnya mereka bakal dapat menahan selama tig apuluh jurus. Maka adalah mengejutkan, mereka itu telah terkalahkan dalam waktu demikian pendek. Mau ia menolongi tetapi tak dapat, tak akan keburu lagi. Disaat Tiong-tiauw Ngo Mo terancam maut itu, mendadak beberapa puluh benda kecil warni hitam dan putih meluruk kearah pedang si imam, bunyinya nyaring, Ada antara biji-biji itu yang menyamber ke batang pedang. Ngo Mo melihat itu, dengan cepat mereka berlompat keluar kalanganThian Hong cinjin telah tak keluar setindak juga dari gunung Tay Pa san- sebab nya yala h ia telah beruntung mendapatkan sepasang pedang Wan Yoh Kiam serta

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sejilid kitab ilmu silat. Maka ia mengeram diri untuk memahamkan isinya kitab itu, guna melatih pedangnya. Kapan tiba waktunya ia merasa ia telah mendapat kemajuan, lantas ia mendengar warna perihal ketiga mustika itu, ia menjadi ketarik, ia ingin turun gunung untuk menguji pedang dan ilmu pedang Wanyoh Im yang Kiam-hoat, untuk menjagoi, ia anggap malam ini yala h malam untuk ia mengangkat namanya. Bukankah telah berkumpul demikian banyak jago? ia girang dapat mengalahkan Tiong-tiauw Ngo Mo, kepala siapa ia ingin kutungkan dari batang lehernya, tapi justeru ia bergirang, datanglah senjata rahasia yang membikin pedangnya terhalang dan Ngo Mo lolos. "Manusia hina-dina siapa menggunai senjata rahasia ?" dia berteriak mendongkol. Baru berhenti suaranya yang bengis itu lalu Boan in dan Hoet Goat muncul di depannya. Kedua kacung itu berlompat seraya memperlihatkan tangannya yang memegangi dua raup biji catur putih dan hitam. Boan-in tertawa mengawasi lihat dua baris giginya yang putih, dia kata: "Kami tidak puas menyaksikan lagakmu maka itu kami menimpuk dengan ini biji-biji catur yang sudah tidak terpakai " Dia ulapkan biji-biji caturnya itu, dia menambahkan"Kau cuma mengandalkan sepasang pedangmu yang dapat memutuskan rambut, apakah artinya itu ? Apakah dengan itu pantas kau mengagulkan dirimu ? Malam ini yang hadir disini semuanya akhli akhli silat pedang Rimba Persilatan, umpamanya kedua loo-cianpwee dari Ceng shia Pay, merekalah ahli-ahli pedang yang llehay, begitupun Loo cianpwe Kee Pek see dari Khong Tong Pay yang tersohor sebagai Kim Liong Kiam Di sini ada orang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang kau nanti tak sanggup lawan coba kau tukar pedangmu dengan pedang biasa, pasti kau tidak dapat bertingkah begini rupa" Thian Hong mendongkol tetapi dia tertawa lebar. "Bocah, liehay mulutmu" dia membentak "Dijaman ini apakah pedang mustika cuma ini sepasang pedang Wanyoh Imyang Kiam kepunyaanku? Masih ada banyak pedang lainnya yang tak kalah dengan Kan ciang dan Bokshia siapa tidak puas, asal dia sanggup melayani cinjin kamu dua puluh jurus, maka aku akan buang citacitaku untuk menjadi ahli pedang nomor satu dikolong langit ini" Mendengar itu, semua orang merasa tidak puas, tak terkecuali ceng Shia Jia Ay, darah mereka sampai seperti bergolak, Sebab di-jaman itu, yang termasuk tiga partai terbesar ahli pedang yalah ceng Shia Pay. Tiam chung Pay dan Khong Tong Pay, sedang ceng Shia Pay menganggap dirinya kaum lurus, Kedua si Kate tua ini hendak maju tetapi mereka didahului Song Kie. "Hidung kerbau" Koay-bin Jin Him menegur, "seumurku aku si orang she Song, belum pernah aku menemui manusia yang terlebih hina dia daripada kau, sangat tidak tahu malu, yang jumawa tak kemanBukankah duluhari kan sudan bertekuk lutut di iepan Hok In Siangjin digunung Koen Loen San Barat, dimana sambil menangis meng-gerung gerung kau mengakui kedosaanmu serta berjanji untuk berbuat baik, untuk mencucikan diri. Ketika itu kau telah mengangkat sumpah yang berat Dengan begitu barulah kau diberi ampun, Lelakonmu itu menjadi buah cerita dan buah tertawaan kaum Kang ouw Rasanya belum lama maka sekarang, setahu dari mana

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kau dapat mencuri sepasang pedangmu, sekarang kau berani banyak lagak Hm Apakah kau kira kau orang besar? Tidak Dimataku kau tetap si bocah yang berlutut didepan Hok In siang itu yang menangis minta-minta ampun" Perkataannya Koay-bin Jin Him membuat orang banyak tertawa ramai. Mukanya Thian Hong cinjin menjadi merah padam, Dia mendongkol dan gusar tak terkira. Dia telah dibeber rahasianya di muka banyak orang, hingga dia menjadi sangat malu. Tapi dia tidak kekurangan kata-kata. "Siapa mau berbuat besar, dia tidak pikirkan urusan kecil." katanya nyaring nadanya dingin. "Bukankah raja muda Kauw Cian dan Njouw Coe sih pernah terhina meminta berkali orang? Bukankah kau sendiri sasterawan tidak keruan?" "Hm Hm "Song Kie mengasi dengar ejekannya. Kok It pun berkata: "Thian Hong cinjin, malam ini bukan malaman kau dapat ngeberanyol" sekarang aku si orang tua mau tanya kau Kau datang ke Kwie In Chung ini. apakah maksudmu?" Thian Hong mencoba menyabarkan diri. "Cinjin kamu mau bicara terus-terang" dia menyahut "Kali ini cinjin kamu turun gunung dengan maksud mencoba sepasang pedangnya ini, untuk menemui ahliahli pedang dikolong langit ini Maksud lainnya yalah guna merampas kitab Lay Kang Keen Pouw, sebagaimana maksud kamu semua Aku tidak menjadi kecuali" Terus dia mengawasi tajam kepada Tiong Hoa dan menambahkan- "Maksudku yang ketiga yalah membalaskan sakit hatinya muridku"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika itu rembulan sedang menyinari terang pada jagat, tetapi Tiong Hoa tidak mengicipi itu, ia hanya berdiam sambil- matanya dirapatkan seperti orang lagi bersamedhi. Seperti juga tak dapat menghiraukan segala kegaduhan itu. Hal yang sebenarnya yalah ia lagi menderita akibat pedangnya si imam yang mendatangkan rasa panas dan sakit yang menyiksa itu. Karena ia merasa pasti ia terganggu racunnya pedang itu, maka ia memusatkan perhatiannya, ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengusir keluar racun itu. Didalam tubuh manusia ada dua hawa thay-im dan siauwyang, Dengan siauw Yang, Tiong Hoa menutupjalan darahnya, dan dengan thay-im, ia mengusir sang racun, maka itu, darah hitam lantas keluar dari punggungnya, Dalam tempo sebentar ia dapat mengurangkan penderitaannya itu dengan begitu hatinya menjadi tenteram dan tetap. Justeru itu mendengar Thian Hong lagi mengoceh itu, ia membuka matanya, ia mengawasi maka sinar matanya beradu dengan sinar mata si imam. Thian Hong terkejut menyaksikan sinar mata orang demikian berpengaruh. Dia pun heran menyaksikan orang tak roboh karena racun pedangnya, Dia berpikir: "Kenapa tenaga dalamnya begini kuat? Racunku cuma dapat memperpanjang umur orang tujuh hari, orang pun lantas lenyap tenaga dalamnya hingga dia menjadi seperti orang biasa kenapa dia ini...." Dan ia mengawasi terus saking herannya. Tiong Hoa mengawasi sekian lama, lalu ia kata dengan sabar: " cinjin hendak membalaskan sakit hati muridmu, barusan aku telah terkena pedangmu satu kali, aku rasa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itulah sudah cukup untuk melampiaskan hatimu. Tetapi cinjin membokong aku dan pedangmu dipakaikan racun, itulah perbuatan hina yang mendatangkan rasa jemu semua orang gagah sudah begitu sekarang cinjin masih omong besar sekali sungguh aku yang rendah merasa malu untukmu." Mukanya Thian Hong menjadi merah saking jengah, Diam-diam ia mengagumi kebesaran hati anak muda ini. Disamping itu ia pun membenci orang ini karena ia merasa dihinakan dihadapan banyak orang ini. Berbareng ia juga benci sangat Koay-bin Jin Him yang kata-katanya sangat menusuk hatinya, semua perasaannya itu ia campur menjadi satu, diakhirnya kemarahannya la h yang memperoleh kemenangan. "Setiap orang, dia gagah atau lemah, mesti ada pelbagai pengalaman yang menyenangi dan yang tidak. yang hebat atau yang ringan. Demikian juga Thian Hong cinjin, Memang dulu hari itu dia pernah berlutut didepan Hok In siangjin, buat mengakui kesalahannya dan menyatakan kemeny esala nny a, lalu dia bersumpah untuk bertobat peristiwa itu diketahui oleh orang orang golongan tua, diantaranya Song Kie. Meski begitu, sebabnya yang utama, dan duduknya hal, tidak ada yang ketahuijelas, Hanya mulut yang berlebihan yang membikin peristiwa jadi berlebihan juga. ini pula yang membikin dia menjadi berkeingin an keras memberi ajaran, atau menyingkirkan orang-orang yang dia tak sukai itu. Maka dia merasa beruntung sekali waktu dengan cara kebetulan dia mendapatkan sepasang pedang Wanyoh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Im-yang Kiam itu buatan ahli pedang Bong siang coe darijaman Nao Tay serta sejilid kitab ilmu pedang. Segera dia menutup diri selama sepuluh tahun, guna memaklumkan kitab itu, buat mempelajari ilmu pedangnya, Demikian sesudah merasa cukup pandai, dia meninggal kan gunung Tay Pa san, buat mencoba menjagoi. Ketika dia mencari murid-muridnya, Kee-leng ie Kauw, dia mendengar halnya ketiga benda mustika, dari itu sekalian saja dia mencari mustika itu. sebenarnya Thian Hong cinjin baik sifatnya, dia bukannya orang terlalu jahat cuma karena kecelakaan muridnya. hatinya menjadi panas, Kesabaran Tiong Hoa membuat dia sadar, tapi disamping itu, dia terbenam dalam sakit hati danpenasaran dan perasaannya yang belakangan ini membikin dia tak dapat menguasai diri lagi. "Kau adalah calon arwah didalam kuburan. tak usah kau banyak ngoceh lagi" kata dia dingin, "sebelumjiwamu melayang mari aku membuka matamu, supaya kau bisa saksikan ilmu pedang cinjin kamu ilmu pedang yang nomor satu atau bukan dikolong langit ini" Habis berkata ia memandang tajam kepada Kim LiongKiam Kee Pek see dari Khong Tong Pay. Mendengar itu, Lie Tiong Hoa menarik napas perlahan, lalu matanya mengawasi sekalian hadirin. selama itu ia juga masih belum melih atJie siong Gan. Maka ia menggapai kepada Lo sia uw Hong dan Cian Tiauw Hong untuk membisiki mereka. Kedua orang itu mengangguk. terus keduanya berlari pergi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Song Kie mendekati si anak muda yang ia kuatir lukanya berbahaya. ia menanya banyak. "Tidak apa." sahut Tiong Hoa singkat, Kee Pek see memperhatikan Thian Hong Cinjin, ia melihat sinar mata imam itu sinar pembunuhan ia mengerutkan alis, ia ber-sangsi sejenak. Tapi lekas juga ia tertawa dan kata nyaring: "Bagaimana beruntung aku si orang she Kee dapat mengenal ahli pedang nomor satu dikolong langit ini. ia terus meng geraki tangannya, hingga segera juga terdengar satu suara nyereset dibarengi sinar berkilauan itulah pedang Kim Liong Kiam yang ia telah hunus, setelah itu dengan sikap dingin ia mengawasi si imam. Thian Hong cinjin juga sudah memegang sepasang pedangnya. Tiba-tiba In-tiong Kiam-kek Lauw Keng ciok mendekati gelanggang, dia kata pada Kee Pek see: "soe-siok. biarlah tee-coe yang maju lebih dulu, untuk mencoba dia" Pek see hendak mencegah keponakan murid itu, siapa tahu, habis mengucapkan kata katanya itu, Kong ciok sudah lantas memasuki gelanggang untuk terus menyerang pada Thian Hong cinjin, Maka berkilaulah pedangnya. si imam seperti acuh tak acuh terhadap serangan itu, Dia bersikap tenang, bahkan jumawa, seperti biasa, Dia cuma mengasi dengar ejekan: "HHm" Tatkala serangan tiba, dia menggeser sedikit kakinya ke kiri, lalu sebelah pedangnya dipakai menyambut dengan tebasan dari bawah keatas. Menyusul itu terdengarlah jeritan menyayatkan dari penyerangnya, yang tubuhnya roboh seperti mandi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

darah, karena lengan kanannya terbabat kutungi sedang kelima jeriji tangan nya masih mencekali keras pedangnya itu. Para hadirin terkejut, mereka saling mengawasi dengan melongo. Thian Hong cinjin tertawa. "Ilmu pedang Khong Tong Pay tidak memberi bukti kenyataan-" kata dia, "Maka itu sukarlah untuk dia manjat ketinggi, pedang kiriku ini tidak dipakaikan racun, lekas kamu menolong i menutupjalan darahnya, supaya dengan begitu dapatlah jiwa dia di-tolong." Dengan tangan kiri memegangi luka di lengan kanannya itu, Lauw Kong ciok berlompat bangunDengan muka pucat seperti kertas, tapi dengan mata sangat membenci dia mengawasi musuhnya itu, kemudian dia berlompat pula, naik keatas genting, untuk pergi menghilang. Ceng shia Jie Ay diam-diam mengakui ilmu pedangnya Thian Hong cinjin benar liehay, itulah tabasan "Liauw in tok goat" atau "Membiak mega menampa rembulan," yang cepat dan lincah sekali. Begitu sederhana tapi sebat si imam berkelit, begitu cepat dia menabas Pasti sekali, dengan begitu, si penyerang tidak diberikan ketika untuk menolong diri segera juga kee Pek see maju, tak perduli ia rada jeri, Tadinya ia menyangka, meskipun Thian Hong cinjin liehay, ia sanggup melayani dua- ratus jurus, tidak tahunya orang liehay sekali, sudah kepalang tanggung, ia tak dapat mundur lagi. Demikian ia berseru seraya terus menyerang dengan jurus Kim Liong Kiam-hoat, ilmusilat Kim Liong Kiam, yang dinamakan "Tok liong coet hiat." atau "Naga

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berbisa keluar dari kedung." Dengan bercahaya berkilauan ujung pedangnya meluncur kejalan darah kie boen didada kiri musuh. Kalau si orang she Kee telah memahamkan ilmu pedang Khong Tong Pay itu selama lima puluh tahun, Thian Hong cinjin melatih ilmu pedangnya cuma selama sepuluh tahun tetapi ia telah berlatih luar biasa sungguhsungguh, sedang matanya sangat tajam, hingga ia pandai melihat gerakan lawanDemikianlah ia menginsafi bahayanya serangan Pek see. Tapi ia tidak takut, malah ia menyambutnya sambil tertawa, ia menggeraki pedangnya yang kanan, ia bukan menangkis atau menabas seperti ia melayani Lauw Keng Ciok tadi, hanya ia memapaki untuk menampa Kee Pek see lihai, serangannya itu diberikuti gertakan, pedangnya dari mengincar ke kiri diteruskan kekanan, Tapi Thian Hong melihatnya, imam ini telah menduga, maka dia juga menggeraki pedang kirinya, hingga kali ini kedua pedang bentrok hingga nyaring. Pek see terkejut Kesudahannya bentrokan itu hebat, untuk menyerang pula, ia menarik pedangnya. Apa mau, tak dapat ia mencapai maksudnya itu. pedangnya seperti nempel keras dengan pedang lawanMenyusuli itu, pedang kanan dari Thian Hong cinjin sudah bergerakpula, sudah lantas menabas. Tidak dapat dibayangkan kagetnya Koe Pek see semangatnya seperti terbang pergi, ia terancam bahaya lengan kutung seperti keponakannya tadi. Karena ia tidak dapa^ menarik pulang pedangnya terpaksa, ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melepaskan cekalannya, tubuhnya dilenggakkan untuk berlompat meluncur mundur Itulah satu-satunya jalan untuk ia menolong jiwanya. Thian Hong cinjin bersenyum, ia meng g era ki tangan kirinya dengan begitu pedang nya Pek see lantas terlempar kearah orang she Koe itu. "sambut" ia berkata. Pek see menyambut pedangnya, mukanya suram. "Tiga tahun kemudian aku si orang she Kee akan berkunjung ke Tay Pa san untuk menerima pengajaran ia berkata, Terus ia berlompat kearah taman, untuk pergi menghilang diatas genteng, sebelum ia pergi jauh ia masih mendengar suara nyaring dari si imam yang berseru: "Tak usah Koe Loosoe datang berkunjung nanti setengah tahun lagi pintoo akan datang sendiri ke Khong Tong SanAtas itu ia menjawab: "Baiklah." Tiong Hoa menghela napas sendirinya. "Dalam hanya sekejap,jugojago Khong Tong Pay itu mengalami keruntuhan, yang satu terlukakan, yang lain terkalahkan, ia tanya dirinya sendiri, bagaimana ia harus berbuat. Dengan mangan kosong melayani pedang mustika itu, sungguh pegangannya tak ada. Tapi tak maju, itulah tak dapat... "Seharusnya Ceng Shia Jie Ay yang maju," pikirnya pula, Kecuali mereka yang lainnya sudah jeri, Koay-bin Jin Him, seperti aku tak dapat maju dengan tangan kosong." Tanpa merasa ia menoleh kepada kedua jago tua yang kate dari Ceng Shia San itu. Si Putri Malam, yang belum mau berkisar kebarat, menerangi mukanya ke dua si Kate. Terlihat nyata

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

daging dimuka mereka bergerak-gerak dan mata mereka bersorot tajam. "Apa juga yang kamu pikir, sekarang tak dapat kamu mundur lagi," pikir Tiong Hoa. "Jikalau tidak, kosong belaka nama besar kamu..." Ceng Shia Jie Ay tak berdiam lama, Sebat luar biasa mereka telah meraba h kepinggang mereka hingga sejenak saja masing-masing telah mencekal sebatang pedang warna hitam. Lalu Kok It terdengar tertawa lama dan berkata: "Kami kedua tua-bangka kate sudah tidak meng g una i pedang kami selama tiga-puluh tahun, malam ini kami mengecualikannya, untuk memberi ketika kepada keduanya untuk belajar kenal dengan ahli pedang nomor satu dikolong langit Secara begini taklah kami membuat pedang kami kecewa" Pedang mereka itu pedang lunak, waktu dikeluarkan keduanya memain seperti tubuh ular, akan tetapi kapan kedua jago itu mengerahkan tenaganya, keduanya lantas lempeng- kaku seperti pedang yang kebanyakan- Thian Hong cinjin melihat itu, dia terperanjat sebagaimana airmuka nya banyak berubah. Ceng Shia Jie Ay tidak menanti lagi, Begitu Kok It berhenti bicara, begitu ia dan saudaranya beriompat maju untuk menyerang, masing-masing kerusuk kiri dan kanan dari Thian Hong. Imam itu tidak berani berlaku jumawa seperti tadi dia menghadapi Kong ciok dan Pek see. Dia juga melihat, kedua jago ini tidak lantas menggunai ilmu silat Ceng

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

shia Pay. Dari itu dia duga orang rupanya sudah memikir daya untuk menghadapinya. Dengan lantas dia mencelat mundur tiga kaki, sepasang pedangnya dibuka kekiri dan kanan dengan jurus "Coebo-hoen-hoei." atau Anak dan biang terbang berpencaran-^ Dengan begitu juga ia menghalau serangan ke kiri dan kanannya itu. Ceng shia Jie Ay tertawa. Tubuh mereka bergerak pula, merangsak. Berbareng dengan itu, pedang mereka turut bergerak. mengulangi serangan mereka. Keduanya bergerak dengan sangat cepat. Thian Hong membela dirinya dengan bergerak tak kalah hebatnya, Karena dia di kepung berdua, dia seperti dikurung pedang, Untung baginya, kedua jago Ceng shia itu tidak berani mengadu senjata, dengan begitu dia cuma seperti dikacau pelbagai ancaman ujung pedang kedua lawan itu. Tentu sekali karena itu, dia tidak dapat lantas menang diatas angin seperti tadi. Pertempuran berjalan sangat cepat, sebentar saja tig apuluh jurus sudah lewat. Selama itu tetap Jie Ay mengambil sikap mengurung, merangsak renggang, renggang merangsak. Mereka menyegani pedang mustika lawan meskipun pedang sendiri bukan sembarang pedang. Lama-lama Thian Hong cinjin tertawa nyaring Mendadak terlihat tubuhnya lompat berapung. Dengan begitu dia jadi dapat melakukan penyerangan membalas menyerang dari atas turun kebawah. Dia bergerak dengan gerakan Nao Mo sin Hoat yaitu gerakannya lima macam binatang bersayap.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ceng shia Jie Ay terperanjat. Keduanya lantas berlompat mundur, Tak dapat mereka melanjuti siasatnya main mengurung lawan itu, guna menantikan ketika atau lowongan, untuk turun tangan benar-benar merobohkan orang jumawa itu. Thian Hong hendak merangsak tatkala ia merasai tolakan angin, hingga ia terkejut, Lekas-lekas ia mundur, Meski begitu, ia terdesak sampai setombak lebih, ia melihat satu bayangan mencelat ke arahnya, ringan sekali bayangan itu turun dihadapannya. Lantas ia menjadi sangat heran hingga ia mengawasi dengan mendelong. Lie Tiong Hoa berdiri didepannya Lie Tiong Hoa, yang ia sangka bakal terbinasa akibat racun pedangnya, yang ia tahu sangat lihai. Hatinya menjadi bergetar. "Kenapa tenaga- dalam dia tak termusnah?" dia tanya dirinya sendiri Tegas sekali nampak keheranannya pada wajahnya, Tiong Hoa dapat menerka hati orang, "Apakah tootiang heran karena melihat aku belum juga mati?" ia tanya, tersenyum manis, jangan kata baru tujuh hari, mesti sampai tujuh tahun lagi, aku yang rendah, percaya aku masih akan tetap hidup dikolong langit ini" ia bersenyum pula. Tapi ketika senyumannya yang manis itu lenyap. itu di ganti dengan wajah sungguh-sungguh dan kata-katanya cun berat: "Sekarang baiklah kita tak bicara dari hal tak ada perlunya Malam ini tootiang telah memperlihatkan dirimu, dalam sedetik saja tootiang telah mengangkat tinggi namamu, akan tetapi baiklah tootiang mendapat tahu maksud kami datang kemari, ke Kwie In chung ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kami bukan hendak memperebuti kedudukan sebagai ahli pedang nomor satu dikolong langit ini, kami hanya datang buat kitab ilmu silat Lay Kang Keen Pouw. Maka itu baiklah tootiang menanti sampai urusan kitab ini selesai, selanjutnya, terserah kepada tootiang Pula hendak aku memberi-tahukan, sebenarnya untuk tootiang menjadi ahli pedang nomor satu dikolong langit ini. sulit terwujudnya " Thian Hong cinjin melengak. Tapi cuma sebentar, ia lantas tertawa tawar. "Kau tidak mati, itulah untung bagus nasibmu," ia kata, "oleh karena dua jiwa cuma diganti satu jiwa, permusuhan masih belum selesai Lagi pula, jangan kau girang tidak keruan Baiklah akupun membeli keterangan kepadamu, Maksudnya cinjin- kamu datang kemari bukan melainkan untuk urusan merebut kedudukan serta pembalasan-sakit hati tetapi sekalian juga guna mendapatkan kitab ilmu silat yang kau sebutkan itu. Untuk itu, aku hendak mengandal pada ilmu pedangku Loosoe sekalian, andaikata kamu merasa tenaga kamu tidak cukup, aku persilahkan kamu lekas mundur sendiri dari Kwie In Cung, jangan kamu campur dalam urusan ini ." Imam ini belum menutup rapat mulutnya atau Tiong Hoa sudah membentak bagaikan guntur: "Tutup mulutmu " Lalu si anak muda meneruskan : "Tootiang, kau terlalu tercebur Aku yang rendah, yang tidak tahu tenaga sendiri, ingin aku belajar kenal dengan ilmu pedangmu yang menjagoi di kolong langit ini " Thian Hong cinjin tertawa, Dia menganggcp anak muda ini terlalu jumawa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Dengan kepandaianmu ini kau berani banyak lagak. sungguh nyalimu besar" dia kata menghina, "Melihat nyalimu yang besar melebihkan nyali lain orang itu, baik, kau majulah Aku janji, cinjin kamu tidak bakal merampas jiwamu. hanya lain kali, apabila kau bertemu pula denganku, itulah urusan lain. Tiong Hoa tidak menjawab lagi kata-kata orang, ia tidak mau melayani bicara, melain kan romannya keren, ia lantas menghampirkan sebuah pohon yanglioe, ia mematahkan cabangnya sepanjang tujuh kaki, lalu dengan membawa itu ia bertindak sabar kedepan si imam, untuk berdiri tegak terpisah kira satu tombak. Ketika itu Ceng shia Jie Ay sudah berdiri dipinggiran, diluar kalangan, Hati mereka tidak keruan rasa. Mereka menyesal dan malu dan mendongkol juga. Mereka ingat tadi, waktu Tiong Hoa terancam bahaya mereka berdiri menonton saja. Sebaliknya barusan, selagi mereka menghadapi bahaya, Tiong Hoa sudah turun tangan, hingga nama baik mereka dapat dilindungi. Karena menolongi mereka, si anak muda mesti menghadapi imam yang liehay itu. selama itu, terus mereka memperhatikan orang, maka mereka menjadi heran bahkan terkejut melihat orang mengambil cabang yanglioe. Didalam hati mereka kata : "Ah, anak muda ini. Dia terlalu percaya dirinya sendiri. Tak perduli bagaimana tangguh tenaga dalam seorang tak dapat cabang pohon dipakai melawan senjata tajam, apapula pedang mustika...." Karena ini, mereka mengawasi dengan per hatian yang lebih-lebih Mereka memikir kalau anak muda itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terancam bahaya pula, mesti mereka turun tangan menolongi. Thian Hong cinjin sebaliknya menyedot hawa dingin, Melihat si anak muda memilih cabang yanglioe, tahulah ia bahwa orang sebenarnya liehay sekali, Maka dengan mata tajam ia mengawasi anak muda itu, untuk melihat bagaimana orang mulai bersilat. Jilid 14 : Song Kie terluka Selagi mematahkan cabang yanglioe itu, hati Tiong Hoa bukannya tidak bekerja, Kembali ia ingat perjalanannya, Pikirnya: "Akulahseorang pelajar, lantaran terpaksa aku buron, aku sampai masuk dunia Kang-ouw. selama beberapa bulan ini, aku mesti mengenal pelbagai macam sifat manusia, maka itu, haruslah aku lekas mengundurkan diri. Tak ada perlunya aku berebut nama, pepatah pun membilang, pohon besar mengundang angin, dan kedudukan tinggi itu lah ancaman bencana, Tapi sekarang aku dipaksa keadaan, tak dapat aku tidak turun tangan. Thian Hong cinjin terlalu galak. jikalau dia dibiarkan saja, dia bakal mendatangkan ancaman bahaya bagi Rimba Persilatan..." Dengan matanya yang tajam, Tiong Hoa melihat air muka si imam, yang heran atau kaget, Dapat ia menduga hati orang, Maka dari itu, ia bersenyum, ia angkat cabang yanglioenya, ia pandang itu lantas ia kata: "Aku yang muda berkepandaian sangat rendah, sulit untuk aku dipadu dengan tootiang yang bagaikan cahaya bulanpurnama yang indah permai, maka juga sekarang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ini aku maju hanya untuk mohon diberikan pelajaran, walaupun demikian, aku minta sukalah tootiang jangan memandang terlalu enteng cabang yanglioe ini.. sebab cabang ini sebenarnya lebih kuat daripada sepasang pedang tootiang. Tootiang lihat pada cabang ini terdapat seratus tujuh puluh tiga helai daunnya yang masih muda muda jikalau dalam sepuluh jurus tootiang dapat membabat atau meruntuhkannya semua, maka aku yang rendah, suka aku menyerah kalah, sebaliknya adakah tootiang sudi jikalau urusan malam ini disudahi sampai disini saja?" Hebat kata-kata itu lunak tapi keras, hingga hati si imam bercekat, ia juga tak mengerti, kenapa hanya dengan satu kali melihat si anak muda sudah lantas dapat menyebutkanjumlahnya daun muda itu. Hal itu pun membuat heran pada Ceng shia Jie Ay semua. Hebat pula sikap tenang dan ramah tamah Tiong Hoa itu terhadap Thian Hong cinjin-Imam ini kena terpengaruhi karenanya, Tapi sudah terlanjur, tidak dapat ia bersikap lunak. Maka itu sambil mengawasi si anak muda dengan mata mendelik, ia kata dingin: "Siapa tidak mendaki gunung Tay san, tak tahu dia tingginya gunung itu siapa tidak melihat lautan, tak tahu dia dalam nya Cinjin kamu memiliki ilmu silat pedang yang tak ada dasarnya, cara bagaimana kau berani banyak lagak didepanku? Mari, mari, mari Aku beri ketika padamu untuk menyerang terlebih dulu! Biar bagaimana, nada imam ini tak seangkuh tadi. Tiong Hoa berlaku sabar. Dia tertawa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Baiklah, terima kasih" katanya, Lantas dia menggeraki cabang yanglioenya dari kiri kekanan, daLam j urus, "B urung ke-podang menanya pohon yanglioe." Ringan gerakannya itu tetapi sebatnya luar biasa, sasarannya adalah jalan darah kie-toen di-buah susu kanan. Itulah suatu jurus dari ilmusilat Koen Loen san Barat, jurus yang umum, akan tetapi digunai si anak muda, lantas saja menjadi berubah sifatnya, Cabang yang lunak itu mendadak menjadi kaku, sampai terdengar suara anginnya yang keras. Matanya Thian Hong tidak dapat dicela, ia melihat gerakan yang lunak. yang terus berubah menjadi keras itu, yang tadinya perlahan lantas mendadak menjadi cepat. Teranglah sudah, tenaga sianthian, tenaga asal, telah disalurkan kepada cabang itu, ia kaget hingga ia lantas mundur tiga kaki, sembari mundur ia menyabet pergi-pulang dua kali dengan jurusnya "Kawanan ularnaga menjungkirbalikkan gelombang". Hebat babatan itu, karena ia ingin membabat habis daun atau cabang yanglioe itu. Kelihatannya sederhana, tetapi sebenarnya cepat luar biasa Tiong Hoa menyingkirkan cabangnya dari serangan berulang-ulang itu, setelah mana ia mengulangi menyerang pula, kali ini kepada jalan darah khie-hay di bawahan perut. Thian Hong mundur sambil menyedot hawa dingin, dengan begitu perutnya pun dibikin kosong, sebenarnya dia menabas untuk terus merangsak. siapa tahu, gagal percobaannya itu, hingga ia menjadi kalah anginSampai itu waktu, si Puteri Malam sudah turun kebarat, maka itu, lenyaplah kepermaiannya. sang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

malam menjadi suram, Bintang-bintang pun mulai berkurang, sebaliknya, malam yang sunyi menjadi berisik, Angin bertiup keras dan guntur berbunyi saling susul. Selama itu, delapan jurus sudah berjalan, Thian Hong belum dapat ketika untuk membalas, Kecuali tiga jurus dalam mana dia mengalah, selanjutnya dia senantiasa didului si anak muda, hingga dia cuma dapat menangkis atau bertahan. Kalau toh dia dapat menabas atau menikam, itu hanya susulan belaka, itulah serangan yang diteruskan membela diri. Cabang yanglioe bergerak tak hentinya, membikin orang repot membela diri terus menerus, hingga sulit si imam mencoba memperbaiki diri. Segera datang saatnya Thian Hong melakukan penyerangan membalas, Dengan kesebatan luar biasa ia memaksa merebut tempo, terus ia menyerang dengan jurusnya yang di namakan Cie thian watee, atau Menunjuk langit, menggaris bumi." Tiong Hoa tertawa, Tiba tiba ia mendahului lagi. Cabang yanglioe diluncurkan kepundak kiri si imam, itulah gerakan sangat luar biasa, tidak saja Thian Hong heran, juga sekalian penonton, Mereka menganggap itulah gerakan tidak ada perlunya, lantaran tidak ada gunanya. Thian Hong tapinya berpikir: Tak perduli bagaimana anehnya jurusmu, tidak nanti kau lolos dari jurusku Guntur bertubi tubi dan Burung Wanyo Terbang Berpasangan " Dan dengan tenaga dikerahkan, ia menabas kearah cabang yanglioe itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Inilah jurus yang ke-sembilan " Tiong Hoa berseru, Dengan sebat ia menarik pulang cabang yanglioenya, atas mana tubuh si imam terjerunuk kedepan disebabkan dia menyerang hebat sekali. Thian Hong terkejut, ia mencoba menahan tubuhnya, Dengan begitu, ia pun mencoba menarik pulangi pedangnya, yang telah meluncur terus, inilah saat yang berbahaya, pedangnya itu seperti nempel dan tertarik lawan, Kalau ia lepaskan cekalannya, artinya ia mengurbankan pedangnya itu, dengan mudah ia dapat membela diri. Tapi tak suka ia kehilangan pedang mustika yang ia sayang itu, yang menjadi seperti jiwanya, Tanpa pedang itu tak dapat ia mengangkat nama, ia lantas mengerahkan tenaganya di lengannya itu. Tiong Hoa menggunai saatnya yang baik, Gerakannya barusan memang cuma buat membikin si imam terpancing hingga terjerunuk. Begitu selagi orang terhuyung ke-depan- ia membarengi. Kapan tangan kanan nya ditarik, maka tangan kiri mendadak meluncur, terulur lebih panjang daripada biasanya, ia mengguna Hoei Wan cioe. Tangan si Kera Terbang, Tangan itu mendadak tambah panjang, dengan lima jerijinya, pundak kanan si imam lantas disamber. Thian Hong kaget, ia melihat tangan lawan menjadi panjang luar biasa itu, Guncang hatinya itu merugikannya, ia gugup dan menjadi kehilang kesebatannya. Lebih-lebih ia kaget waktu ia mendengar suara pedangnya jatuh dengan berisik. Tanpa bersangsi lagi, ia menjejak tanah untuk berlompat pergi. Akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tetapi ia telah terlambat jalan darahnya, ceng-kin-hiat, telah terbentur tangan lawannya. Tidak ampun lagi ia merasa tubuhnya kaku dan kepalanya pusing, Ketika ia menaruh kakinya ditanah, sepasang pedangnya sudah berada ditangannya si anak muda. Dengan wajah bersenyum, Tiong Hoa bertindak perlahan-menghampiri imam itu. "Tootiang," ia berkata, "kau telah terpengaruhkan cabang yanglioe ini maka kau menjadi kena didahului aku, ilmu pedang kau sudah mahir hanya sayang kau belum menyempurnakannya, hingga pedang dan tubuhmu aku maksudkan hatimu belum menjadi satu, bersatu padu. Coba kau tak mudah terpengaruh hingga hatimu menjadi tak bimbang lagi, kau tentu telah menjadi ahli pedang nomor satu dikolong langit ini. Maka itu sekarang masih terlalu pagi untuk mengatakannya" Mukanya Thian Hong menjadi merah, lalu berubah menjadi pucat, ia malu bukan main. ia juga menyesal dan berduka sangat, syukur suramnya sang malam membikin perubaan airmukanya itu tak nampak nyata. "Tootiang." berkata pula Tiong Hoa setelah berdiam sejenak "kita telah berjanji jikalau daun yanglioe ini rontok. itu artinya aku yang rendah yang kalah, maka itu sekarang, silahkan tootiang menghitung daun ini, benar atau tidak jumlahnya tetap seratus tujuh puluh tiga lembar" Sembari berkata begitu, ia mengangsurkan senjatanya yang istimewa itu. Thian Hong menjadi serba salah menyambuti salah, tidak menyambuti salah juga. Ketika ia memandang si

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

anak muda, ia melihat sinar mata orang yang sangat berpengaruh ia malu bukan main, sekonyong-konyong ia melengak dan tertawa. "Tuan. benarlah apa yang kau kata." ia bilang, "Memang untuk sejenak hatiku telah kena dibikin menjadi lemah, hingga tak ingin aku melukai kau. hingga kesudahan nya kaulah yang merebut kemenangan, sebenarnya pintoo tidak mau mengakui yang ilmu silatku kalah daripada kau Baiklah, kejadian hari ini boleh dibikin habis, akan tetapi nanti mudah-mudahan kita berjodoh bertemu pula" Habis berkata mendadak si imam bergerak, tangan kirinya menyerang disusul segera dengan samberan tangan kanannya. Tiong Hoa tidak menyangka orang membokong padanya, ia melepaskan cabang yanglioenya, ia berkelit kesamping, tangan kanannya diajukan, untuk menangkis. Kedua tangan lantas beradu Tiong Hoa merasa tangan kirinya itu kaku. Justeru itu, sepasang pedang ditangannya terampas pulang si imam, siapa sebaliknya mengeluarkan suara tertahan, sebab tubuhnya terhuyung beberapa tindak. Cuma sedetik imam itu mengawasi dengan roman gusar, lantas dia berlompat pergi, untuk menghilang ditempat gelap. Tiong Hoa berdiam, lalu ia menghela napas, dengan menyesal ia berjalan perlahan masuk kedalam kamar. Angin malam itu dingin, pepohonan bergerak-gerak. Ceng shia Jie Ay melihat Tiong Hoa lewat disisinya tanpa menanya atau berpaling, mereka mengerti tentulah anak muda itu tidak puas karena mereka tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membantu padanya. Mereka menjadi tidak enak hati untuk turut bertindak masuk. Koay-bin Jin Him bersama Tiong-tiauw Kgo Mo, juga Boan-in dan Hoet Goat, mengikuti anak muda itu. ooooo BAB 18 CUACA fajar mendatangi, hawa udara tetapi dingin. itulah karena angin pagi tak mau berhenti bertiup. Diufuk timur, cahaya putih mulai tampak. tanda bahwa sang Batara surya bakal lekas muncul. diwaktu itu, Tiong Hoa masih memasang omong dengan Tiong-tiauw Ngo Mo dan lainnya. Kedua kacung, Boan-in dan Hoet Goat, berdiri menantikan ditepi pembaringan. Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh atau turun diluar jendela, sepasang alisnya Tiong Hoa segera bangun berdiri "siapa diluar?" ia menegur. "Aku. Cin Tiauw Hong" menjawab satu suara. Lalu membarengi itu orangnya berlompat masuk dijendela diturut Lo siauw Hong. Tiong Hoa heran, Tak disangka orang kembali demikian cepat, Untuk mengundang Cee Cit beramai, mestinya mereka ini menggunai tempo sedikitnya enam jam pergi dan pulang.Maka ia mengawasi dengan melongo. Cin Tiauw Hong berdiri tegak dengan ke dua tangan diturunkan lurus. "Kami berdua baru pergi sampai diluar dusun sepuluh lie, lantas kami mendapatkan Cee Loocianpwee beserta Kam siauwhiap lagi bertempur mati-matian melawan Jie slong Gan dan seeboe Boe Wie, ia berkata, memberi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keterangan Kam siauwhiap kalah dibanding seeboen Boe Wie, syukur ia di bantu secara diam-diam oleh Cee Loocian-pwee. Meski demikian, orang she seeboen itu dapat juga meloloskan diri.." "Bagaimana dengan Jie slong Gan?" si anak muda tanya. Jie kena dibekuk Cee Loocianpwee. Loocianpwee membilangi bahwa ia hendak pergi ke siauw Koh san untuk mengurus partainya dan Kam siauwhiap turut pada nya, Maka itu, mereka menuju ke Po-yang-selagi mau berpisahan, Cee Loocianpwee memesan kata-kata untuk disampaikan kepada siauwhiap, katanya menurut seeboen Boe Wie, kitab yang berada ditangannya Kwie lam Ciauw adalah kitab yang palsu, sedang mengenai yang tulen, Lim ciauw sudah mulai mengerti sedikit-dikit. Umum nya soal masih samar-samar. Seeboen Boe Wie itu katanya meninggalkan Kwie in chung guna mencari kitab yang asli. Akhir nya Cee Loocianpwee memesan untuk siauw hiap menyusul kegunung siauw Koh san." Tiong Hoa berdiam, ia berpikir, Kemudian ia mengawasi Song Kie. "Datangku kemari bukan untuk kitab." ia berkata, " karena ada urusan Cee Loo-cianpwse itu, sekarang juga aku meminta diri, untuk segera pergi ke siauw Koh san, guna membantu saudara Cee itu" ia lantas berbangkit. Jangan kesusu, laotee." kata Song Kie tertawa, "Song Kie masih mengharap bantuan mu untuk mencari kitab ilmu silat itu, untuk mendapat kepastian kitab masih berada disini atau tidak. Kita pun perlu menyelidiki Kwie lam Ciauw telah pergi ke mana, Bukankah sang pagi pun bakal segera tiba?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa bersangsi, ia ingat budinya orang she Song ini, sudah selayaknya ia membantunya. ia bimbang, tapi akhirnya ia menanya juga: "Song Loocianpwee, ada satu hal yang aku si orang muda masih belum jelas, pantaskah atau tidak bila aku menanyakannya?" Koay-binJin Him mengurut jeng gotnya. "Laotee," dia berkata, tertawa, "kaulah muridnya Loocianpwee Thian Yoe sioe, dengan kita ada bersamaan derajat untukku, sudah suatu kehormatan maka itu, jangan kau membahasakan loocianpwee padaku. Baiklah kau memanggil kakak atau saudara saja, Kita cocok satu dengan lain, diantara kita ada soal apakah yang tak dapat dibicarakannya? Lekas bicara, tidak nanti aku menegur atau menyalahkan kau" "Kakak Song, adikmu ingin bicara tentang minat kau," kata Tiong Hoa, mengawasi "Kakak mencari cangkir kemala Coei In Pwee, sekarang kakakpun ingin sangat mendapatkan kitab silat Lay Kang Keen pouw, Kakak apakah tidak ketahui, loba atau tamak. itu tak baik akibatnya?" Ditanya begitu, Song Kie mengasi lihat roman guram, tandanya dia berduka, Lantas dia menghela napas. "Sebenarnya urusanku bukanlah urusan yang tak dapat diberitahukan lain orang." dia berkata, "sebetulnya akulah seorang jujur tetapi pelbagai peristiwa membuatnya namaku menjadi buruk. hingga aku disebut seorang kepala penjahat. Hal itu sangat melukai hatiku, Kepada siapa aku dapat membeber kesulitanku itu? Pula, siapakah yang nanti suka menahui atau memaafkannya? Laotee, tahukah kau, kakakmu ini murid siapa?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa menggeleng kepala. Memang- nya ia tidak tahu. Song Kie tertawa duka. "Bukan saja orang Rimba persilatan tidak mengetahui, sekalipun semua saudara angkatku yang selalu mengikuti aku tidak tahu juga." berkata ia. ia menunjuk kepada ke lima Hantu dari Tiong-tiauw, ia berhenti sebentar, baru ia menambahkan: "sebenarnya kakakmu ini adalah murid Tong Beng sianseng pemilik terakhir dan Lay Kang Keen Pouw itu.." Tiong Hoa benar-benar heran, Mengenai ketiga benda mustika itu. ia telah mendapat tahu dari Cee Cit terutama halnya Ngo-sek Kim-bo. tetapi karena ia tidak suka terlibat karenanya, ia bersikap tawar, ia hanya tidak menyangka gurunya Koay-binJin Him itu. Jikalau begitu, katanya ilmu silat kakak jadi didapatkan dari kitab itu?" Song Kie menggeleng kemala, ia masgul. "Isinya Lay Kang Keen Pouw adalah intisari atau pokoknya ilmu silat pelbagai partai, ia menerangkan bukan saja isi itu sulit dimengerti juga dipelajarinya tak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Maka itu meskipun kakakmu ini muridnya guruku itu, ilmu silatku berasal dari siauw Lim sie. Ketika itu aku baru berumur tiga belas tahun.." Terlihat nyata Song Kie sangat berduka dan penasaran. "Sebenarnya mendiang guruku mau mengajari aku isi Lay Kang Keen Pouw lagi tiga tahun, ia menambahkan selama tiga tahun itu mendiang guruku itu telah pergi mencari cangkir kemala Coei in Pwee.."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa diam mendengari. ia tahu tentang cangkir kemala itu dan bahwa Tong Beng sianseng mencarinya. "Untuk mempelajari ilmu silat, Song Kie berkata pula, "orang perlu dapat menyalurkan kedua nadinya, jim dan tok. Tanpa penyaluran itu kesempurnaan atau kemahiran nya dapat terbatas. Aku mempunyai bakat yang baik, apa yang kurang adalah yang di namakan tenaga sianthian karena mana, perlu itu diperkuat dulu dengan tenaga liouw-thian. Tenaga itu diantaranya bisa di dapat dengan bantuannya cangkir mustika Coei in Pwee itu. Mungkin laotee pernah dengar tentang cangkir kemala tersebut. Kalau sembilan macam obat beserta arak Pek lian Tincioe direndam dalam cangkir itu selama seratus hari, lalu orang minum arak obat itu mudah dia meyakinkan ilmu silatnya. itulah sebabnya mendiang guruku ingin hebat dulu mendapatkan itu cangkir mustika... Tapi, setiap guruku pulang selalu ia bertangan kosong, hingga dia menjadi sangat masgul, Meski demikian itu tak pernah aku ini diberitahukan. Kemudian datanglah suatu hari yang naas, Aku tidur diguha bagian belakang. Hari itu kira jam tujuh pagi, ketika aku pergi kebagian depan, aku mendapatkan guruku sudah menutup mata, aku kaget dan heran, Aku menjadi bercuriga. Maka aku periksa tubuh guruku. Ternyata dipunggungnya ada tapak tangan yang merah. Kemudian lagi aku mendapat kenyataan, kitab silatnya itu lenyap. Teranglah bahwa guruku telah mati dibokong dan kitab nya dirampas. Biarpun sangat berduka, menyesal dan penasaran, aku lantas mengurus dulu jenazah guruku itu, selesai itu, aku bersumpah bahwa aku akan cari musuh mendiang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

guruku itu, guna menuntut balas, guna merebut pulang kitab ilmu silat itu. Demikianlah, selama belasan tahun, aku masuk dalam dunia Kang-ouw, aku bercampuran dengan segala macam orang, orang jahat tak terkecuali hingga aku kecipratan karenanya. sampai sebegitu jauh aku belum berhasil mencari musuh guruku serta kitabnya itu, belum juga sampai sekarang ini, hingga usiaku sudah lanjut, hingga aku bakal lekas berangkat menyusul mendiang guruku d ia lam baka. Kelihatannya ihtiarku ini bakal gagal..." Jago ini jadi sangat berduka hingga ia menangis menggerung airmatanya mengucur deras. Maka sekarang dapatlah dimengerti Keay-bin Jin Him bahwa sebenarnya bukan seorang manusia busuk. bahwa suasana di-sekitarnya yang membikin ia bertabiat luar biasa itu, hingga sepak terjangnya pun mirip dengan sepak terjang bangsa sesat. Tiong Hoa menghela napas, Begitulah nasib manusia. ia sendiri juga lagi berada dalam ujian penghidupan. Kejahatan dan kebaikan itu dekat satu dengan lain, seperti lurus dan sesat hingga tinggal orang bertindak saja keliru atau tidak "Kakak, jangan kau berduka," ia menghibur kemudian "Biar bagaimana, pasti bakal datang harinya yang rahasia yang terpendam itu akan terbuka, Adikmu ini bodoh tapi sukaku berjanji, selama aku masih hidup. nanti aku bantu kakak hingga usahamu ke-sampaian" Song Kie mengangkat kalanya, memandang kawan ini. ia terlihat heran dan girang menjadi satu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jikalau adikku suka membantu aku, aku tidak kuatir lagi" katanya. Ruang Hoan-hian itu terang, tetapi diluar kabut tetap tinggal, pepohonan didalam hutan seperti ketutupan. Matahari sudah keluar tetapi sinarnya belum merata. Tengah orang berdiam, seorang chungteng batang masuk sembari memberi hormat dan tertawa, dia berkata: "Di ruang Cip-eng-thia telah disajikan barang santapan untuk para tetamu, silahkan loosoe semua bersantap d is ana, Lagi satujam, Kwie Cung coe akan menantikan dibukit digunung belakang untuk melakukan pertemuan, sekalian d is ana Cung coe hendak menghadiahkan Lay Kang Keen Pouw kepada salah seorang tetamu. segala hal lainnya mengenai urusan itu aku tidak tahu." ia memberi hormat pula terus ia mengundurkan diri. Tiong Hoa menoleh kepada Cin Tiauw Hong dan bersenyum. Toa Mo mendongkol, dia kata sambil tertawa dingin: "Biar bagaimana, kita mesti lihat duduknya hal sampai nanti kita pergi kesana" Tiong Hoa menurut, maka dalam satu rombongan, mereka keluar dari kamar Hoa hian. ooo Diatas bukit kecil telah berkumpul banyak orang jumlahnya seratus lebih, Merekalah para tetamu yang dianggap sebagai akhli-akhli silat dari pelbagai golongan sesat dan lurus, Diantara mereka itu ada yang berbisik satu dengan lain. Tatkala itu kabut telah mulai bayar dan matahari mulai muncul.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika itu terdengar seorang berkata: " Kata nya Kwie lam Ciang sudah menantikan kita disini, kenapa dia masih belum tampak? HmJangan-jangan disini ada satu rahasianya" Thian ciat sin Keen serta Thian Hong cinjin ada beserta diantara orang banyak itu, mereka nampak tak tenang. Song Kie menyapu kepada orang banyak. ia melihat Ceng shia Jie Ay bersama Kong soen Bok Liong berdiri jauh, berkumpul sambil memasang omong, Roman mereka begitupun yang lainnya cemas, Melainkan Lie Tiong Hoa seorang yang tenang-tenang saja. seperti yang tak memikir apa juga. "Kwie lam Ciauw datang" mendadak seorang berkata keras. Semua orang lantas berpaling, Memang teriihat disana Kwie Lam Ciauw lagi berlari-lari mendaki bukit kecil itu. oleh karena dia beriari cepat, dengan cepat juga dia telah tiba diantara sekalian tetamunya, Dia memandang semua tetamu, lantas dia memberi hormat kepada mereka itu. "Aku telah membikin loosoe semua menantikan aku" katanya tertawa, "Ada satu urusan kecil yang membuat aku si orang she Kwie teriambat. Maaf, ia lantas merogo sakunya untuk mengeluarkan sejilid buku tebal kira satu dim. ia mengulapkan itu. "Ijinkanlah aku si orang she Kwie bicara tanpa sungkan-sungkan" ia berkata pula. "Semua loosoe datang dari tempat yang jauh, tak lain tak bukan cuma untuk memperoleh ini kitab Lay Kang Koen Pouw. Aku telah mendapatkat ini sejak belasan tahun yang lampau, sayang bakatku buruk, tak mampu aku menginsafi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

intisarinya, sekarang aku telah lanjut, karena itu aku jadi memikir janganlah karena kitab ini aku nanti kehilangan jiwaku, Maka sekarang aku berniat menghadiahkan ini kepada salah satu loosoe..." Melihat kitab tersebut, matanya semua orang menjadi bersinar, semuanya mengawasi tajam, Pasti diantaranya ada yang hatinya sangat mengilar. Tuan dari Kwie In Chnng itu belum menutup katakatanya ketika terdengar seorang tertawa nyaring lalu terus berkata: "Kwie Sie-coe, pintoo minta sukalah kau bersabar dahulu mengambil keputusan kau Pintoo hendak bicara" Semua orang berpaling kepada orang yang bicara itu, yang dari caranya menyebut diri nya pintoo teranglah sudah ada seorang imam, Memang dia seorang penganut agama Too Kauw, yang mukanya mirip dengan rembulan tua, kumis dan jenggot, yang hitam dan terpecah tiga, turun kedadanya, ia bukan lain daripada siong Pek Toojin ciangboenjin, atau ketua, dari Boe Tong Pay. Rata-rata orang heranImam itu bertindak maju dengan cepat, ringan tubuhnya, Dia memperlihatkan roman sungguh-sungguh, hingga dia nampak agung dan keren- Tiba ditengah orang banyak. dia mengangguk menghunjuk hormat, habis itu barulah dia berkata pula, perlahan: "Kitab Lay Kang Keen Pouw adalah kitab karyanya sendiri partai kami, Couw-soe Thio sam Hong." ia berkata, suaranya terang, "Kitab itu ditulis setelah Couwsoe menginsafi intisari pelbagai ilmu silat, Hanyalah sayang kemudian kitab itu lenyap tidak keruan paran,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lalu selama itu kabarnya telah dimiliki oleh orang-orang yang galak dan jahat, hingga karenanya timbullah pelbagai perkara darah yang hebat. Dengan begitu juga Partai kami menjadi berbuat dosa di luar tahunya, Maka itu setiap hari kami terus memikirkan untuk mendapat pulang kitab itu, sekarang setelah ternyata kitab berada ditangan sie-coe, pintoo mohon dengan kemurahan hati siecoe, sukalah Lay Kang Keen Pouw diserahkan kepada kami, inilah akan membikin pintoo sangat bersyukur karena cara ini pun akan mencegah pertempuran darah terlebih jauh." Mendengar keterangan serta permintaan itu, Kwie lam Ciauw memperlihatkan roman tenang seperti biasa, ia hendak mengasi dengar suaranya tapi ia didului Thian ciat sin Koen, yang lantas membentak ketus: "selama hidupmu sekarang ini, jangan kau harap" Jago ini tidak cuma membentak. Dengan kesebatannya yang luar biasa, ia lompat untuk merampas kitab ditangannya Kwie lam Ciauw Mendengar suara itu dan melihat sepak terjang orang, siong Pek Toojin berubah air mukanya, tanpa ayal lagi, ia pun ber-lompat, tetapi bukan merampas kitab hanya guna menyerang perampas itu. ia mengibas untuk membikin orang terjerunuk. Thian Ciat sin Koen tidak menghiraukan cegahan itu, sambil berkelit, ia maju terus dengan percobaannya merampas kitab dari tangan Kwie lam Ciauw itu, orang yang mau mendapati kitab itu bukan melainkan siong Pek Toojin atau Thian cit sin Koen itu, juga Thian Hong Toojin, bahkan imam ini bertindak hebat yaitu sambil dengan tangan kiri ia bersedia menyamber kitab, dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tangan kanan, denganpedang mustikanya, dia mendahului membabat kearah tangan orang yang ingin merebut itu. Koay-binJin Him Song Kie juga telah memasang mata, ia melihat dan mendengar, Maka itu, mendapati sikapnya Thian Hong Toojin itu, ia gusar, ia sudah lantas turun tangan. sambil bersiul panjang ia lompat dengan gerakan, "Naga pulang kelaut." Dengan lantas ia menerjang punggungnya Thian Hong dibetulanj alan-darah bengboen. Thian Hong cinjin liehay, dia mendapat tahu adanya serangan dari belakang itu, Apapula dengan segera ia merasa pedang ditangan kanannya kena tertolak. Untuk membela diri, guna melakukan perlawanan, dengan sebat ia memutar pedangnya untuk menabas. Karena rintangannya Song Kie itu, gerakannya Thian Hong menjadi terhalang, Dengan begitu, Thian ciat sin Koen telah mendahului sampai pada sasarannya. Sepak terjangnya Thian ciat mengakibatkan kegaduhan, Rombongan Boe Tong Pay lantas bergerak semua, Bahkan siong Pek Toojin menyusul kepada Yauw Hoan. ia ini kuatir kitab kakek gurunya itu nanti kena terampas lain orang. Ketika itu Thian ciat sin Koen menjadi heran hingga timbul kecurigaannya, ia mendapatkan Kwie lam Ciauw tetap tenang-tenang saja, tak perduli banyak orang sudah bergerak untuk merampas kitab ditangannya. Kwie lam Ciauw tapi tidak terus-terusan berdiri diam ditempatnya itu. segera tiba saatnya tubuhnya mencelat kekiri jauhnya sekira dua tombak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Thian ciat sin Koen dan siong Pek Toojin tiba saling susul, ketika mereka memandang Kwie lam Ciauw, sekarang disisinya chung-coe itu, tuan rumah dari Kwie In Chung, terdapat Lie Tiong Hoa, yang mempengaruhinya. Mereka heran. Tiong Hoa bersenyum, ia menggeleng kepala. "Aku minta jiewie jangan gusar," ia berkata hormat, "cobalah lihat tegas-tegas, orang ini benar Kwie lam Ciauw atau bukan?" Itu waktu, Thian Hong pun tiba, ia telah berhasil menyingkir dari serangannya Song Kie. Maka ia turut memandang Kwie lam Ciauw, hingga lantas ia berdiri tercengang. Lie Tiong Hoa tidak menanti jawaban dari orang yang ia tanya, atau dari yang lainnya, ia menyamber kekumisjenggotnya Kwie Lam Ciauw, untuk menarik. maka copotlah kumis-jenggot itu, hingga terlihat wajah asli dari orangnya - seorang yang berusia lebih kurang empat puluh tahun. semua orang melengak. Kwie Lam Ciauw palsu itu mengasi lihat roman ketakutan sangat, Dengan si pemuda disisinya, dia tidak dapat menyingkirkan diri Tadi pun, ketika dia berlompat, dia lantas dirintangi pemuda itu, Mendadak mulutnya, memuntahkan darah hitam, terus tubuhnya roboh dengan kedua matanya mendelik. Dan begitu jatuh, melayanglah jiwanya. Melihat keadaan orang itu, Tiong Hoa yang tadinya terus bersikap tenang, menjadi kaget, segera dia berteriak: " Celaka Para loosoe, lekas menyingkir dari sini

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

" ia pun berlompatjauh dan terus lari turun gunung semua orang heran, hingga mereka melengak. Justeru itu dari pinggang bukit terlihat asap mengepul naik, cepat asap itu meluluhkan, hingga mata orang sukar melihat apa-apa. Baru sekarang mereka kaget, maka mereka pun berlomba lari turun gunung. Mendadak terdengar suara anak-anak panah terlepas dan menyamber-nyamber. semua anak panah itu keluar dari tempat dimana asap mengepul-ngepul. Habis itu terdengar juga seruan kaget dari orang banyak itu, di antara siapa lantas ada yang berteriak dan menjerit kesakitan, hebat masuknya kedalam telinga. Asap itu, yang berwarna kuning, juga mengeluarkan bau yang dapat membikin orang tumpah-tumpah. itulah tanda bahwa asap itu tercampur racun, itu pula suatu bencana yang lebih hebat daripada panahnya sendiri, panah dapat dikelit, asap tidak. sebab tak dapat orang menahan napas terus-terusan. Lie Tiong Hoa berlompat naik kepohon, dari sana ia lari lebih jauh dengan lompat turun kebawah, lalu berlarilari kabur, ia bergidik kapan ia ingat kejahatannya Lam ciauw itu. Benar-benar orang she Kwie itu hendak menyapu bersih semua tetamunya. Hebat penderitaannya banyak tetamu, Baru lari beberapa tombak. sudah ada yang roboh karena anak panah, ada pula yang terserang asap beracun. Mereka yang dapat menahan napas lama dan yang lukanya ringan, lari terus turun bukit. Hati Tiong Hoa cemas, ia tidak melihat rombongannya Song Kie.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Mereka liehay, mereka tentu dapat lolos, hanya dari lain bagian." ia pikir menghiburi diri Tapi tetap ia berkuatir. Tidak lama datanglah sang angin, maka asap kena tertiup buyar, begitupun kabut, hingga segala pepohonan tampak nyata seperti sediakala. Tiong Hoa masih berkuatir ada sisanya asap beracun, ia menahan napasnya, lalu ia lari naik akan mencari Song Kie semua, Tiba dipinggang gunung, matanya yang celi dapat melihatjepretan atau panah coe-kay-nauw yang dipasang dalam rumpun rumput, ia menghampirkan, hingga ia dapat melihat terlebih tegas. Jepretan itu disiapkan dengan sembilan batang anakpanah dan digagang nya ada pipanya yang kecil, adalah pipa peranti muat bahan asap tadi, sehelai tali halus terbuat dari otot kerbau merupakan alat penarik panah itu, hingga dari tempat yang jauh, panah itu dapat dibikin bekerja sendirinya, Ketika ia mengikuti tali itu sampai diujungnya, dikaki gunung, ujung itu ditambat pada pohon. Tali itu ditutup rumput hingga orang sukar dilihatnya, Kalau pipa racun campur belirang disulut, keluarlah asap yang jahat itu, apinya pun membakar putus tali itu, atas mana, melesat dan menyamberlah semua anakpanah, semua cokat-nouw serupa, jumlahnya tak sedikit, pantas asap luas dan anakpanahnya banyak. "Hebat." Tiong Hoa pikir, Demikian teliti orang merencanakan dan memasang perangkap maut itu,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lantas anak muda ini lari terus, naik ke-puncak bukit ditempat dimana semula mereka berdiam penglihatan pertama membikin ia kaget sekali, ia mendapatkan tubuhnya Song Kie rebah tak berkutik, Disamping tubuh Koay-bin Jim Him rebah juga si Kwie lam Ciauw palsu dengan tangannya masih menggenggam kitab palsunya, Dalam kagetnya, Tiong Hoa berlompat ke arah Song Kie. ia melihat kedua mata yang melek tetapi sinarnya guram, Lekas ia merahan kedada. Untuk lega hatinya, ia merasa dada itu masih bergerak-gerak. Karena ini ia menduga, kawan itu roboh akibat totokan pada jalan darah, Tidak ajal lagi ia membukai baju orang untuk memeriksa tempat yang tertotok itu. Justeru itu terlihat beberapa orang ber-lari-lari mendatangi. Tiong Hoa kaget. cepat sekali larinya mereka itu, ia mengukir kan rombongannya Thian Hong cinjin, Maka ia mengawasi bersiap sedia melakukan perlawanan Dengan cepat rombongan itu datang mendekati, Maka lantas terlihat merekalah Tiong-tiauw Ngo Mo bersamasama Lo siauw Hong, cin Tiauw Heng serta Boan In dan Hoet Goat, Hati Tiong Hoa lega banyak. Mereka itupun selamat kecuali sam Mo. Hantu nomor tiga, yang terluka pundaknya. ia heran juga mereka itu tak kurang suatu apa, tapi tak sempat ia menanyakan keterangan ia perlu memeriksa lukanya Song Kie. ia lantas berjongkok untuk mulai. "Siauwhiap. siapa melukai tongkee kami?" Tanya Jie Mo, bingung, "Entahlah, sahut Tiong Hoa, yang menerangkan ia pun baru sampai dan melihat Song Kie sudah rebah tak berdaya, Didada tak ada luka apa-apa, makatubuh Song

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kie dibalik menjadi tengkurap. Kali ini terlihat tapak jari tangan merah diketiga jalan darah hoen-boen, kwangoan dan cie-tong. Diam-diam Tiong Hoa menyedot hawa dingin itulah tiga jalan darah kematian ia membayangi pasti hebat keadaan sejenak itu. Tentulah selagi Song Kie mau berlompat menyingkir dia telah dibokong dengan totokan yang membuatnya roboh dengan segera, Kalau tidak ditotok. belum tentu dia mudah dijatuhkan Dia rupanya pingsan karena menyedot sedikit asap. syukur dia mempunyai tenaga dalam dia menjadi tidak lantas melayang jiwanya... Toa Mo gusar sekali hingga dengan bengis dia berseru: "jikalau ketahuan siapa yang melakukan penyerangan busuk ini, akan aku bikin dia tersiksa seperti ini" Tiong Hoa berdiam ia duduk bersila. tangannya ditaruh diketiga jalan darah, untuk menyalurkan tenaga atau hawa hangat sian-thian cinkhie, guna menolong kakak angkat itu, jalan darah orang pun ditutup, supaya racunnya tak melulahan hanya terdesak keluar. Tiong-tiauw Ngo Mo mengawasi Mereka melihat uap putih keluar dari embun-embunan si anak muda, mereka menjadi kagum, sebab orang bersungguh-sungguh menolongi. Mereka juga mengagumi tenaga dalam yang mahir dari pemuda itu. Sesudah langit cerah, terlihat matahari memancar terang, bunga-bunga menyiarkan bau harum, burungburung pada berbunyi, Meski demikian, rombongannya Tiong Hoa terbenam dalam kegelisahan Mereka masih menguatirkan keselamatannya Koay-bin Jin Him.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kira setengah jam, Song Kie mengasi dengar rintihan Maka ia lantas diangkat oleh Tiong Hoa, untuk dikasi duduk, Tiong Hoa sendiri menjadi sangat pucat. Dengan perlahan kedua mata Koay-bin Jin Him bergerak. terus dia memandang si anak muda, rupanya dia lantas sadar betul, karena segera dia berkata perlahan: "Aku rasa aku mesti mati, maka itu selagi aku masih dapat bernapas, hendak aku memesan kau, adik. Ada apa-apa yang masih aku belum dapat wujudkan." "Kau tidak akan mati, kakak," kata Tiong Hoa. "sebenarnya siapa yang menyerang kau? Apakah dia Thian Hong cin-jin?" Song Kie bersenyum sedih, ia menggeleng kepala. "Dalam kabut tebal selagi kacau itu, tak dapat aku melihat tegas," dia menyahut. "Mungkin dialah Thian Hong. Tapi lebih dulu daripada itu aku melihat seorang musuh besar dan tangguh bersembunyi dibelakang banyak orang." Dia berhenti, napasnya memburu. Melihat demikian, Tiong Hoa menekan keras pada jalan-darah beng-boen. Song Kie kaget tapi segera dia merasai tubuhnya nyaman, lantas dia dapat pula tenaganya, Dia menatap si anak muda, wajah nya menunjuki dia sangat bersyukur "Dapat sahabat sebagai kau, mati pun aku tak kecewa" kata dia, "Tapi kau telah menggunai tenagadalammu terlalu banyak adik, kau bisa mendapat sakit karenanya. Biarlah aku bicara untuk memesan kau, aku mati pun puas." Tiong Hoa bersenyum.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kau tidak bakal mati, kakak" katanya, " inilah aku jamin" Song Kie tertawa sedih pula. "Kau tidak tahu adik," katanya, totokan itu lihai luar biasa, Darahku seperti berbalik menentang pelbagai anggota dalam tub uh ku padaguncang. Aku pun kena sedot asap beracun, jikalau adik menggunai terus menerus tenaga dalammu, kau bakal tak hidup lagi tujuh hari." Tiong Hoa tidak melayani orang bicara, ia mengganda tertawa, Kemudian setelah memberi tanda akan Tiongtiauw Ngo Mo merapikan pakaian kakak itu, ia kata: Sekarang kita mesti berlalu dulu dari sini. Mari kita mencari rumah penginapan Di sana baru kita bicara pula. Tiong-tiauw Ngo Mo semua setuju maka itu, mereka menggotong Song Kie, lantas mereka meninggalkan bukit maut itu. Maka dilain saat, Song Kie sudah rebah pembaringan dalam hotel, dan Tiong Hoa semua duduk didekatnya. Dari jendela orang dapat memandang keluar dimana udara terang, jauh diluar itu terlihat sungai dengan banyak perahu layar. "Saudara." Tiong Hoa tanya, "tadi saudara menyebutkan satu musuh besar dan tangguh, siapakah musuh itu?" "Dialah seng-cioe sian win Hang sae Keen dari HekLiong-Thoa di Koen-beng, In-lam," Song Kie. "Aku harap dengan memandang persahabatan kita seperti biasa, sukalah adik ingat pesanku ini." Matanya Koay-bin Jin Him lantas mengucurkan air.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa berduka sekali. "Kenapa saudara mengucap begini?" tanyanya. "Karena lukaku ini. luka dalam badan, sangat sukar untuk diobati," kata kakak angkat itu. "Ada juga obatnya yaitu rumput Cie-cauw dan buah sian-ko tetapi itulah obat yang selama satu abad sukar didapatkan. Lain dari itu dalam tempo tujuh hari kemana orang hendak mencari itu? Pula setelah makan obat itu. aku mesti beristirahat merawat diri satu tahun lamanya, baru tenagaku bakal pulih seluruhnya." Kau pasti berduka, adikku tapi jangan kau pikirkan aku Aku telah berusia lanjut, matipun aku tidak menyesal. Hanya apa yang membikin aku tidak dapat mati meram adalah sakit hati mendiang guruku yang aku belum bisa balaskan-" ia mengulur tangannya yang besar, yang berbulu, ia menambahkan perlahan, sambil menghela nepas: "Sudah empat puluh tahun aku hidup dalam dunia Kang ouw, kedua tanganku ini berbau amis darah." Mendadak dia pentang kedua matanya, dia memandang Tiong-tiauw Ngo Mo. untuk berkata: "Inilah saat terakhir kamu dapat mengantar aku berangkat pulang. Ah, asal aku dapat melihat isteri dan anak perempuanku." Ia berhenti berkata, kedua matanya dirapatkan. Airmatanya telah membasahkan bantal. Tiong-tiauw Ngo Mo, yang biasanya bernyali besar, yang kebanyakan bersikap dingin sekarang merah matanya, hati mereka sangat tergerak. Tiong Hoa mengawasi keluar jendela, ia berdiam saja, ia seperti lagi memikirkan sesuatu, Tak lama, segera ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berpaling kepada Cin Tiauw Hong, untuk berkata: "Saudara Cin, pergilah kau bersama saudara Lo, Boan In dan Hoet Goat ke siauw Koh san, guna membantu Cee Loocianpwee, sekalian kau memberitahukan bahwa aku mau pergi mengantarkan saudara Song pulang kerumahnya. Bilanglah bahwa begitu selesai aku akan menyusul kesana." Song Kie membuka matanya. "Adikku, buat apakah ?" kata dia. Tiong Hoa cuma bersenyum, ia tidak menjawab. Cin Tiauw Hong dan Lo siauw Hong telah memandang si anak muda sebagai majikan mereka, mereka mentaati titah itu dengan lantas berangkat pergi. Boan In dan Hoat Goat berat meninggalkan Tiong Hoa, atas mana sambil tertawa anak muda itu kata: "Masih banyak waktu nya untuk kita bertemu pula. Didalam tempo satu tahun, kita bakal bertemu lagi. Maka kamu tunggulah aku di siauw Keh san " Terpaksa, dengan berlinang air mata, kedua kacung itu berangkat mengikuti Cin Tiauw Hong berdua. Tiong Hoa mengantari mereka sampai di luar hotel, lekas ia kembali kedalam. "saudara, bagaimana kau rasa sekarang?" ia tanya. "Kalau aku bicara, rasanya aku mesti menggunai banyak tenaga" sahut Song Kie. "Aku pun merasa dadaku sakit, sedang anggauta-anggauta dalam tubuhku mulai kendor pula, Dengan menyalurkan tenaga-dalam, adik itulah bukan pengobatan pokok atas diriku, sebab asal kau berhenti, sakitku kembali. selagi kau bertambah letih, mungkin aku sendiri akan lebih cepat lelah, maka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

aku kuatir mesti aku tidak takut mati dalam tempo tujuh hari tak nanti aku tiba dirumah." Tiong Hoa mengawasi muka orang. "Bukankah saudara tadi menyebut Cie-tiauw dan siankoh?" ia tanya, "Tiba-tiba Song Kie nampak kesakitan sekali, lalu dia muntah darah, lantas napasnya mengorong. Tapi ia paksakan menyahut meski tenaganya seperti habis. "Sudahlah, adikku, jangan kau capekan hati, demikian katanya, Aku lihat baiklah sekarang juga kita berangkat. Sang hari sudah tak banyak lagi." Jangan kuatir, saudara, Tiong Hoa menghibur sekarang aku ingat suatu barang yang dapat menolong kau. Kau sabarlah, dalam tempo duabelas jam aku bakal kembali." Pemuda ini ingat buah piepa, Disaat ia mau pergi keluar, mendadak ia mendengar satu suara seram dari arah pintu: "Eh, siluman tua, aku kira sudah sekian lama kau mati, tidak tahunya kau masih ada di sini bergulat dengan jiwamu " Hebat suara itu. Kalau Song Kie mendengarnya, mungkin dia mendapat pukulan dahsyat, maka dengan sebat Tiong Hoa menotok dadanya sang saudara, dijalan darah jie-khie hingga Koay-bin Jin Him lantas pingsan. Tiong-tiauw Ngo Mo sudah lantas berempat keluar sembari membentak. Tiong Hoa turut beriompat juga, maka itu ia sempat melihat seorang lari kearah tegalan, dikejar oleh ke-lima Hantu yang menggunai ilmu lari "Tcrbang Atas Rumput".

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ia sudah lari beberapa puluh tindak ketika mendadak ia merandek. "Ah, celaka " ia berseru dalam hati. "Aku terjebak tipu Memancing Harimau Ke luar Gunung " Maka cepat luar biasa, ia lari balik. Baru ia menginjak lantai lauw-teng, atau ia sudah melihat satu bayangan lompat masuk kekamarnya Song Kie. ia kaget bukan main- ia cepat lompat masuk juga, kedua tangannya digerakkanorang itu sudah mengangkat tangannya hendak menghajar Song Kie tatkala ia merasakan angin menyamber padanya, ia tahu tentu ada orang membokong, ia menjadi gusar. Dengan lantas ia berkelit sambil memutar tubuh, habis itu dengan sama cepatnya ia membalas menyerang. Tubrukannya Tiong Hoa gagal, ia mesti mengagumi kesehatan orang itu. ia tertawa dingin, ia membuang tubuh kekiri dengan jurus "Naga gusar menggoyang ekor", Ber bareng dengan itu, ia mengulur tangannya dengan ilmunya yang didapat dari Cee Cit. Orang itu kaget, sia-sia belaka serangan nya itu. Lantas ia merasakan nyeri pada pundaknya yang kiri tercengkeram lima buah kuku mirip cakar besi, Bahna sakit, muka nya pun pucat. Tiong Hoa melihat orang berumur kira tiga puluh tahun, romannya bengis dan tak mengasih. "Kau murid siapa. Mau apa kau datang kemari ?" Tiong Hoa tanya membentak. orang itu tak dapat meloloskan diri, dia sangat kesakitan, keringatnya membasahkan dahinya. Tubuhnya pun bergemetaran, Tapi dia kepala besar, dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membungkam, mata nya mengawasi benci kepada si anak muda. Tiong Hoa melihat ke pembaringan, Song Kie lagi rebah diam saja, dia tak terluka, hatinya menjadi lega. Maka ia menoleh kepada orang tawanannya, sembari tertawa ia kata: "Kau bandel sekali. Tapi aku mempunyai daya menyuruh kau bicara " ia lantas menotok dengan lima buah jerijinya-orang itu kaget, napasnya jadi sesak. tubuh nya bagian dalam terasa sakit, tetapi ia mencoba bertahan, hingga matanya mendelik giginya dikertak, Akhirnya ia merintih. "Baiklah, nanti aku bicara..." katanya, susah. "Aku tidak kuatir kau tidak akan bicara" kata Tiong Hoa, tertawa dingin, ia mengendorkan tangannya tapi tidak melepaskanOrang itu menghela napas. Nyerinya rupanya berkurang, ia menatap dengan sinar matanya penasaran. "Sahabat," katanya, "Aku hendak mengambil jiwanya si siluman tua she Song, mengapa kau, merintangi ? Kau tahu, kau seperti membantu orang jahat berbuat jahat" "Enak kau bicara " tertawa si anak muda. "Apakah kau kira kau dapat sembarang mengambil jiwa nya si siluman tua she Song? Aku tanya, kau dapat perintah dari siapa?" "Aku mendapat perintah, aku tidak merdeka," orang itu menjawab, "Aku rasa walaupun aku memberitahukan kepada kau, kau juga bakal tidak dapat berbuat apa-apa, Aku diperintah..." Mendadak dia berhenti bicara lantas napasnya berhenti

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa heran, segera dia mengangkat kepalanya, maka diluar jendela ia melihat sesosok tubuh dengan potongan dan roman seperti seekor kera, tubuhnya bagian bawah tera ling jendela. Muka orang berbulu, sepasang matanya bersinar seperti api marong dan mulutnya seperti tertawa seperti bukan sangat bengis nampaknya. ooooo BAB 19 MANUSIA mirip kera itu tertawa dengan tiba-tiba, hingga kelihatan dua baris giginya yang putih. suara tertawa itu seram dan dapat membikin ciut nyalinya orang penakut. Lie Tiong Hoa melepaskan cekalannya atau si manusia kera itu segera lenyap. ia lantas lompat keluar, akan tetapi ia tidak melihat lagi manusia aneh itu, cuma terdengar suara angin serta terlihat banyak layer putih ditengah sungai. Ketika itu Tiong tiauw Ngo Mo kembali dengan laporannya bahwa mereka gagal menyandak orang yang dikejar itu. Tiong Hoa pun menuturkan pengalaman nya barusan, ia tanya apa manusia kera itu bukan seng-cioe Pek Wan Hang soe KeenKelima Hantu saling mengawasi, lalu Hantu yang nomor tiga berkata: "Tongkee bermusuh dengan sengcioe Pek Wan, kami berlima tidak mencampur tahu. Tongkee juga tidak mau menjelaskan apa-apa. seng-cioe Pek Wan jarang nampak didunia Kang ouw dan orang Rimba persilatan juga sedikit yang mengenalnya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

umumnya orang mendengar nama tak melihat muka, Aku pernah melihat dia dirumah makan Tay Kean Lauw dikota Keen-beng, maka itu. romannya itu tak cocok dengan penuturan dan pelukisan siauwhiap barusan, Mungkin ada orang lain yang mencelakai tongkee secara diam-diam itu." Tiong Hoa mengawasi Hantu itu, ia heranJadi kau percaya saudara Song bukan di celakai sengcioe Pek Wan hanya lain orang ?" ia tegakkan-sam Mo berpikir. "Inilah dugaanku belaka, jadi belum dapat dipastikan," dia menyahut "Kami berlima bersama tongkee, nama kami sangat terkenal, tidak demikian dengan Hang soe Keen yang pendiam yang tak suka menerbitkan onar bahkan dia dikenal ramah tamah. sebenarnya aku sangsi kalau dikatakan tongkee dan dia bermusuh, Hanyalah harus diingat dalam banyak hal suka terjadi sesuatu diluar sangkaan. Mengenai urusan penting begini, tidak berani aku mengambil kepastian." "Kalau begitu, mestinya urusan ini ada mengenai Lay Kang Koen Pouw," berkata Tiong Hoa setelah ia berpikir, "Harus diingat juga, siapa sangat pandai berpura-pura, dia dapat berlaku sebagai orang jujur asli...." ia berpikir pula, hingga ia berdiam sekian lama, Lalu ia kata: "ini manusia mirip kera membunuh orang untuk menutup mulut mestinya urusan bukan sembarang urusan, maka hai itu baiklah jangan kita tanyakan dulu pada saudara Song, kuatir ia nanti terkejut atau terlalu tertarik perhatiannya hingga darahnya buyar, hingga ia susah ditolong lagi. Aku pun percaya pihak sana tak nanti berhenti sampai disini saja. Maka itu aku pikir baiklah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saudara semua mengantar aku membawa saudara Song." Kelima Hantu setuju, bahkan mereka lantas memondong Song Kie, buat dibawa kesungai dimana mereka menyewa sebuah perahu, dengan begitu mereka menyeberang dan berlayar ke Kimieng sampai sepuluh lie lebih dihilirnya. Ketika itu sudah magrib, Mereka tidak melihat orang, atau orang-orang yang mencurigai Hai ini mengherankan Tiong Hoa begitu pun kelima Hantu itu. selama didaiam perahu, Tiong Hoa dapat ketika untuk berbicara dengan Tiong-tiauw Ngo Mo, maka sekarang ia mendapat kenyataan mereka dan berlima saudara benar ada orangorang bangsa laki- laki, benar roman mereka dingin tetapi hati mereka panas. Mereka she Kouw dan nama mereka menurut runtungan Jin, Gie, Lee. Tie dan sin"Siauwhiap." berkata Kouw Jin, Toa Mo si Hantu nomor satu, Kami harap kau tidak beranggapan keliru mengenai diri kami, janganlah mengira asal orang Rimba Hijau semuanya jahat dan mesti dihukum, bahwa sembarang orang dapat membunuhnya. Berandal pun ada yang mengenal keadilan- Kalau kami bersama tongkee mau bekerja, kami biasa mencari tahu dulu dengan teliti orang atau keluarga yang kami hendak jadikan kurban, Kami cuma turun tangan terhadap uang tidak halal atau hartawan busuk. Kalau umpama kata kami melukai orang baik-baik, itulah pasti karena kekeliruan, bukan disengaja. Jadi kami mau percaya kami jauh lebih menang daripada itu segala manusia palsu."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa tertawa. "Biar bagaimana," ia kata, "menjadi penjahat adalah pantangan kaum lurus dan umum tak memaafkannya dari itu, adalah pengharapanku saudara-saudara nanti mengubah cara hidupmu, Aku minta janganlah katakataku ini salah diterima." "Tidak," berkata Toa Mo yang hatinya bergerak. Untuk mendarat, Kouw Jin menggendong Song Kie. ia jalan ditengah, Didepan adalah Tiong Hoa, dan dibelakang keempat saudara angkatnya, itulah persiagaan untuk penyerangan gelap dari musuh tak dikenal. Tiong Hoa berjalan sambil memikirkan jalan yang dulu hari ia ambil untuk guha rahasia dari Ay sian, ia bersangsi karena jala nan itu sulit terutama banyak pepohonan nya. Malam itu, meski rembulan muncul, rimba sunyi, kecuali suara angin diantara pepohonan dan kutu-kutu. Tiong Hoa memasang telinga dan matanya. Tengah mereka berjalan itu, mendadak ia melihat sebuah pohon pekyang sejarak lima tombak diatas mana, pada cabangnya, ada berkibar sehelai bendera segi tiga, ia lantas berhenti bertindak dan mengawasi, begitu juga kelima Hantu, yang turut dapat melihat. Soe Mo, Hantu nomor empat, lantas maju, guna mengulur tangannya menurunkan bendera itu. Begitu ia melihat airmukanya berubah, ia terkejut karena berkuatir. Tiong Hoa menghampirkan Hantu itu, maka ia dapat melihat bendera tersebut yang bersulam sebuah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tengkorak warna putih disulam lebih jauh dengan tujuh bintang dari benang sutera merah. "Inilah tentu lambang atau pertanda orang kaum Kang ouw," pikir Tiong Hoa yang tidak tahu artinya bendera itu, ia pun tidak mengerti kenapa bendera itu kedapatan di rimba tanah pegunungan itu. Ketika ia mau minta keterangan pada Soe Mo, justeru Hantu itu membungkam dengan roman ketakutan seperti dia dipagut ular, mukanya meringis. Sedang begitu Jie Mo, Hantu yang nomor dua, sudah lantas berseru, dan sambil berseru itu, dengan dua jerijinya dia menotok punggungnya Soe Mo beberapa kali. Tangan kanan Soe Mo, yang tadi memegang bendera, iantas menjadi bengkak merah. Tiong Hoa heran, ia sangat tidak mengerti. TibatibaJie Mo dengan sangat berduka. "Siauwhiap^ kita bakal mati tanpa tempat kubur " Tiong Hoa heran bukan main. "Apa ?" ia menegaskan"Bendera ini adalah bendera perintah yang dinamakan cit Chee Koe-lauw Giam ong Leng," sahut Jie Mo, "Bendera ini sudah tiga-puluh tahun lamanya tak pernah muncul dalam dunia Kang ouw dan munculnya berarti siapa yang melihatnya dia mesti mati tanpa kesangsian lagi " Tiong Hoa tetap heran, ia tidak percaya keterangan itu. Maka ia tertawa dingin"Benarkah demikian berbahaya ?" tanyanya, "Laginya belum tentu bendera ini di tujukan terhadap kita siapakah pemilik bendera ini? Kenapa dia tidak lantas memperlihatkan dirinya?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mengetahui si anak muda tidak percaya, Jie Mo berkata pula: "Pemilik bendera ini adalah Cit Chee-Cioe Pouw Liok It si Tangan Tujuh Bintang. Dia telah berumur sembilan puluh lebih, romannya seperti seorang pelajar, ilmu silatnya lihai sekali, tetapi tabiat nya keras dan hatinya telengas. Dia sangat dimalui kedua pihak lurus dan sesat, Kata nya dia tinggal di Inlam selatan akan tetapi tidak tahu dikota mana. Dulu hari nama dia berendeng dengan namanya Pit Boe Keen si orang Kang ouw kenamaan terjuluk bintang pembunuh, hingga mereka dapat sebutan Pak it Lam Pouw, artinya Pit di Utara Pouw di selatan- Bedanya di antara mereka itu dijamannya itu, Pit Boe Keen su dari berusia lanjut, dia baru tigapuluh lebih. Katanya Pouw Liok It itu kalau dia membunuh orang, perbuatannya seperti tak terkentarakan atau tak tampak. Lie Tiong Hoa tidak percaya itu. Dia kata: "Aku mau lihat bagaimana caranya orang membunuh tak terkentarakan dan tak tampak.." Baru si anak muda berkata demikian- atau dari sisi mereka terdengar suara seram: "Bagus" suara itu perlahan tapi terdengar nyata, nadanya menakuti hingga dapat membangunkan bulu roma dan mengeluarkan keringat dinginTiong Haa lantas membentak. "Buat apa main sembunyi bagaikan iblis? Kalau benar laki-laki, mari perlihatkan diri" Berbareng ia berlompat kearah dari mana suara datang, adalah sebuah pohon- la lantas menyerang. Segera terdengar suara beradunya tangan, lalu terlihat daun-daun rontok.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menyusul itu dari kejauhan terdengar suara tertawa yang lama, makin lama makin kurang kerasnya, itulah tanda bahwa orang sudah pergi jauh. Tiong Hoa agak menyesal. Ketika ia balik kepada kawair- kawannya, ia melihat keempat Hantu sangat berduka, sedang soe Mo. Hantu nomor empat, lengannya tambah bengkak dan merah dan saking menahan nyeri, dia berdiam saja. Dia mengeluarkan banyak keringat dan romannya berduka campur kekuatiran "Siau-hiap. kendalikan hatimu, "Jie Mo memberi nasihat, Jikalau kau dapat menenangkan diri, belum tentu kita tak dapat keluar dari tempat berbahaya ini. Tadi aku belum bicara habis, sekarang kita baru menemui sehelai bendera. Didepan masih ada dua lagi. setelah kita menemui bendera yang ke-tiga, itu baru berarti jiwa kita hampir tak dapat ditolong lagi." Tiong Hoa tertawa dingin, ia seperti tidak menghiraukan Jie Mo, ia lompat kepada soe Mo, untuk menyamber tangan orang yang sakit itu dengan tangan kirinya, buat di-pegangi, dengan tangan kanannya ia menotok menekan jalan-darah kinceng. Soe Mo lagi menderita, hingga ia ingin menabas kutung lengannya itu, ketika jalan darahnya ditekan itu, ia kaget, ia merasa sangat panas, sampai ia merintih, Hanya sejenak. rasa nyerinya lenyap. diganti dengan rasa gatal yang sangat, ia tidak dapat menggaruk karena itu, ia nampak lucu . Tak lama Hantu nomor empat ini menderita nyeri dan gatal itu, sebentar kemudian terlihat hawa hitam mengepul keluar dari liang keringatnya, lalu itu disusul dengan bengkak berkurang secara perlahan, ia berdiam

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saja, ia tahu si anak muda lagi menolongi ia. Tentu sekali ia merasa bersyukur hingga d idalam hatinya berjanji akan mem balas budi sekalipun denganjiwanya. Tiong Hoa melepaskan tekanannya, dia memandang Hantu ke-dua dan berkata: "Aku lihat Pouw Liok It bukan satu laki-laki sejati. Dia liehay, kenapa dla tidak mau muncul berhadapan dengan kita ? Kenapa dia mengandali bendera Giam-ong Leng yang beracun itu, melukai orang secara diam-diam ? itulah perbuatan sangat hina-dina dan tak tahu malu, bukan perbuatan seorang enghiong. Dia membikin malu nama Pak Pit dan Lam Pouw itu pastilah Pit Boe Keen didunia bakal malu dan penasaran karenanya " Selagi berkata itu, Tiong Hoa menyapu tajam dengan sinarmatanya keempat penjuru, lalu dia menambahkan : "Pula ada satu hal yang membikin aku tidak jelas. Kita tidak bermusuh dengan dia, kenapa tanpa sebab dia mengganggu kita? Teranglah dia bangsa tak dapat membedakan terang dari gelap. dia sewenang-wenang, hingga kecewalah dia telah berusia demikian tinggi" Tiba tiba dari dalam rimba terdengar pula suara seram: "Eh, bocah, meskipun dampratanmu sangat kurang ajar, toh aku dibuatnya kagum dengan nyalimu yang besar. Baiklah kau ketahui, urusan memang bukan disebabkan kau hanya karena gara-gara Koay-bin Jin Him Song Kie. Tanpa sebab dia telah membinasakan sam-cioe Yacee Tam siauw Go yang menjadi cucu- muridku. Maka kau. jikalau kau tidak mau membantu mereka, masih ada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tempo untuk kau mengangkat kaki dari sini, aku si orang tua tidak nanti meminta jiwamu" Tiong Hoa telah menduga didalam rimba itu ada konconya Pouw Liok It, sengaja ia keluar kata-katanya yang tajam itu, ia tidak sangka, Pouw Liok It sendiri masih berada disitu, ia lantas menjawab dengan suaranya yang dalam: "Loocianpwee, kabaran yang tersiar ditengah jalan itu tak dapat kau percaya habis. Cara bagaimana loocianpwee ketahui Tam siauw Go terbinasa ditangannya Song Kie? Adakah itu loocianpwee menyaksikannya sendiri atau hanya mendengar kabar angin saja? Mana dapat pendengaran lantas dijadikan kenyataan?" Dari dalam rimba itu keluarlah kata-kata dingini. Bocah, bagus sikapmu Mulanya kau kasar, lalu kau menghormat. Apakah kau sangka aku si orang tua mudah diogok orang ? Aku mempunyai seorang saksinya saksi itu ada ditanganku. Mana mungkin itulah kabar dusta belaka ?" Tiong Hoa ragu-ragu juga mendengar Pouw Liok It mempunyai saksi. "Loocianpwee, mengapa loocianpvvee tidak sudi memperlihatkan diri?" ia tanya, "orang sebagai loocianpwee kenapa mesti jeri terhadap Song Kie yang tinggal matinya saja serta Tiong-tiauw Ngo Mo dan aku yang rendah yang kepandaian silatnya tak berarti" Dari dalam rimba terdengar suara tertawa yang nyaring, sampai burung-burung pada kaget dan terbang serabutan sambil cecowetan- Lama tertawa itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Aku si orang tua mana jeri terhadap kamu ?" katanya, habis tertawa, "Tapi inilah kebiasaanku, maka tak dapat aku muncul didepan kamu Kalau sebentar tiga helai bendera sudah keluar semua, itu berarti kamu tersiksa dengan ketakutan dan penderitaan Song Kie mesti ditotok sadar agar dia turut menderita juga, supaya dia tersiksa sampai mati Bocah, kalau sekarang kau mengundurkan diri masih sempat, jikalau kau tunggu sampai munculnya ketiga bendera itu, aku kuatir kau tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk menolong dirimu." Tiong Hoa tertawa menyindir. "Menepati janji, menghormati kepercayaan itulah pokok dasarnya seorang ksatria" ia kata. "Biarnya aku diancam dengan kapak. tak nanti aku meninggalkan sahabatku, perbuatan hina semacam itu, biarnya kau maafkan, loocianpwee, tak dapat aku lakukan. Mana aku yang rendah ada muka menemui orang-orang gagah dikolong langit ini?" "Sungguh gagah" Pouw Liok It didalam rimba memuji. Tiong Hoa tidak menghiraukan ia berkata pula: "Aku yang rendah masih belum mengerti jelas, Loocianpwee mengatakan mempunyai saksi, tetapi, siapakah saksi itu? Maukah loocianpwee menunjuki dia? Aku yang rendah tak ingin loocianpwee mengadakan apa yang tidak-tidak" Pouw Liok it mengasi dengar suara yang nyaring dan dingin sekali: "Bukan melainkan saksi manusia juga ada bukti barang nya Tam siauw Go serta Kam-Liang sam Too berbareng mendapat serangan paku rahasia Thianlong-teng Benar pakunya sendiri telah orang polisi yang berpengalaman dikota raja menyaksikan luka itu luka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bekas paku dicabuti Song Kie, tetapi rahasia tersebut. saksinya adalah orang yang buta dua-dua matanya, yaitu Lo-sat Kwie Bo." Tiong Hoa terkejut mendengar disebutnya Lo-sat KwieBo, tanpa merasa ia mundur dua tindak. Didalam hatinya, ia kata: pantas Lo-sat Kwie Bo lenyap dari rumah penginapan di Hoei Ho Kauw, kiranya dia diculik orang she Pouw ini...." Karena ini ia menjadi ingat Cek In Nio si nona cantik manis yang ia senantiasa ingat saja, ia pun pikirkan, berupa susah hatinya si nona mencari ibunya yang lenyap tak keruan paran itu, Karena berpikir begini, ia lantas dapat pikirkan lain"Locianpwee," ia berkata, "mengapa loo-cianpwee, agaknya kurang kecerdasan? Lo-sat Kwie Bo telah buta dua matanya, dia bukannya melihat sendiri, cara bagaimana loocianpwee main mempercayainya? Pula ketika peristiwa terjadi, aku yang rendah hadir dan menyaksikannya sendiri, Ketika itu Lo-sat KwieBo terpisah jauh seratus lie lebih ia berada didalam peti mati rusak di dalam kuil san sin Bio di Lay-soei diluar kota barat, Maka itu ada kemungkinan rupanya loocianpwee telah mengompes Lo-sat KwieBo dengan siksaan hingga dia tak tahan menderita dan terpaksa memberikan pengakuan secara sembarangan-" "Benarkah begitu?" Pouw Liok It membentak. "kau bicaralah lebih jelas" Tiong Hoa tertawa mengejek. "Malam itu aku yang rendah berada di Kho-pie-tiem, disana hampir aku bentrok dengan Song Kie dan Tiong tiauw Ngo Mo, Tak dapat aku menerima penggunaannya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Toa Mo, Disaat aku hendak menyerang dia mendadak datang empat bayangan orang, larinya pesat luar biasa. Justeru itu Toa Mo berseru: "Mereka datang" sebelum aku mengerti apa-apa Ngo Mo sudah berlompat maju menghalangi empat orang itu. Mereka berempat rupanya tak takut mereka maju terus. Justeru itu, satu orang lain datang dengan tiba-tiba dua sinar terang menyamber kepada empat orang itu. siapa dapat menolong diri dari serangan sekonyongkonyong itu ?" "Siapakah dia ?" Liok It tanya. "Dialah Thian Hong cinjin dari Tay Pa san " sahut Tiong Hoa. "Buat bicara terus terang, Song Kie beramai itu lagi mengarah cangkir kemala Coei In Pwee, mereka sama sekali tidak berniat membinasakan Tam siauw Go dan Kam-Liang sam Too. Jilid 15 : Bendera Giam-ong-leng Melihat Thian Hong menyerang empat orang itu, Song Kie beramai juga maju, Untuk dapat menolong, dia mendahului, menyerang dengan paku Thian Long Teng, sama sekali dia menggunai sembilan batang, Thian Hong liehay sekali, sebelum paku mengenai tubuh nya, ia sudah berlompat tinggi, hingga loloslah dirinya, dan semua paku lewat dibawahan kakinya. Ketika ia berlompat itu, ia sekalian mengibas kearah Tam Siauw Go berempat, maka semua paku bertukar haluannya dan mengenai Siauw Go dan kawan-kawannya itu, hingga mereka roboh dan jiwanya terbang. Song Kie terkejut, Karena itu, ia kena didului Thian Hong cinjin, imam itu berhasil mengambil kotak warna

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hitam dari tubuh Siauw Go. Song Kie lantas saja menyerang, Tepat Thian Hong berkelit, dari sampingnya berlompat seorang nona bertubuh kecil dan lincah, yang merampas kotak itu yang berada dalam tangannya si imam itu, lantas dia lari menghilang ditempat gelap. Aku lantas menyusul nona itu. Dia lari kedalam kuil Sun SinBio itu. Disitu Baru aku ketahui, dialah Cek In Nio, gadis tunggal dari Lo-sat Kwie Bo, Aku sendiri, hampir aku terbinasa ditangan nyonya itu Diluar dugaanku, aku kepergok nyonya itu, dia lantas menyerang aku dengan pukulan angin Peklkoet Im Hong, jikalau aku tidak segera ditolongi Nona Cek itu.. Liok It tertawa. "Keteranganmu ini aku si orang tua percaya delapan bagian," ia kata. "Oleh karena itu terang sudah Lo-sat Kwie Bo tidak bersalah, aku yang rendah mohon loocianpwee memerdekakannya," Tiong Hoa, minta. Liok Pouw It tertawa pula seram. "Tak demikian mudah " katanya, "Dulu hari itu Lo-sat Kwie Bo telah memusuhkan aku si orang tua, dia hampir membikin keluargaku habis semuanya, maka tak dapat tidak, dia mesti disiksa sampai dia menemui ajalnya, supaya penasaranku teriampiaskan" Tiong Hoa bingung juga, orang sukar di-kasi mengerti. Tapi ia tidak kurang akal, ia lantas tertawa. "Loocianpwe," katanya dingin, ^apabila perbuatan loocianpwee ini tersiar kepada orang banyak, aku kuatir loocianpwee mendapat malu hingga tak dapat loocianpwee bertemu orang" "Apa kau hendak bilang?^ tanya Liok It gusar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa beriaku tenang. "Lo-sat KwieBo sudah buta dua-dua matanya, dia juga bercacad kedua kakinya," ia kata, "selagi loocianpwee berkepandaian tinggi dan ternama besar, sekarang bukannya loocianpwee menakluki dia dengan ilmu kepandaian loocianpwee justeru menculik padanya, tidakkah perbuatan itu membuat orang merasa penasaran sekali?" Rimba itu sunyi. Baru selang sejenak terdengar pertanyaan- "Menurut kau, bagaimana?" "Menurut aku yang rendah, paling baik Lo-sat KwieBo dimerdekakan," kata Tiong Hoa, "Dengan begitu maka nama loocianp-wee sebagai seorang bijaksana dan mulia pasti akan segera tersiar, sebaliknya karena Lo-sat Kwie Bo masih mempunyai seorang anak perempuan, aku akan cari anaknya itu, buat memberitahukan dimana adanya ibu-nya, lalu aku yang rendah nanti menemani dia melakukan perkunjungan kepadi loo-cianpwee. itu waktu, jikalau dengan kepandaian loocianpwee dapat loocianpwee mengalahkan dia, urusan tidak ada lagi, akan tetapi andaikata apa lacur loocianpwee yang kena dikalahkan, baiklah Lo-sat KwieBo merdekakan, lalu perkara sakit hati ini dibikin habis sampai disitu saja" Liok Pouw It tertawa nyaring, "Baik, baik, aku turut saran kau ini" katanya. "Akan tetapi Giam ong Leng sudah dikeluarkan. tak dapat itu ditarik pulang, suka aku menghargai kau karena kau sangat bersungguh-sungguh bekerja untuk sahabat, karena kau bernyali besar sekali, Giam ong Leng yang ke-dua dan ketiga aku biarkan saja, aku sendiri tidak bakal turun tangan, akan tetapi disana

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

masih ada banyak muridku maka terserahlah kepada untung-untung kamu sendiri" Msndengar itu, Tiong Hoa ketahui bahwa pertempuran tetap tak dapat diluputkan maka alisnya berbangkit bangun, Terus dia kata nyaring: "jikalau pertempuran sampai terjadi sukar orang terluput dari kematian atau luka-luka, hal ini haraplah loocianpwe mengetahuinya. selain dari itu, aku yang rendah juga mohon loocianpwee memberitahukan alamat loocianpwe." Dari dalam rimba terdengar suara dingin dari Pouw Liok It: Didalam rimba ini sebala perangkap diatur olehku si orang tua, maka itu soal mati atau hidup tidaklah menjadi soal lagi, kau baikj angan buat pikiran, Kau pun harus ketahui, belum tentu kau dapat keluar dengan selamat dari tempat ini. Tentangaia matku, jikalau kau hendak pergi kesana, kau pergilah ke Hek Liong Thoa di koen-beng, disana kau cari seng cioe Pek Wan Hang soe Koen, nanti dia boleh menunjuki jalan kepada kamu, Aku beri tempo setengah tahun-" Lantas rimba menjadi sunyi. Tiong Hoa percaya Pouw Liok It sudah berlalu, maka ia menoleh kepada Ngo Mo, yang mengawasi ia dengan sinar mata ber-syukur, ia bersenyum. "Asal kita berlaku teliti dan waspada, mungkin tak ada bahayanya." kata ia sabar, "Mari" Anak muda ini lantas berjalan pula diikuti kelima kawannya. Ketika itu sinar rembulan guram, bayangan d idalam rimba mirip gerak-geriknya setan-setan, sedang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bergerak-geraknya daun daun mengeluarkan suara perlahan tetapi berisik, menambah suasana suram. Tengah mereka berjalan itu, tiba-tiba mereka mendengar pekik hantu, nyaring dan menyeramkan, datangnya bergantian dari delapan penjuru rimba. suara itu mendebarkan, dapat membikin hati goncang. Tiong Hoa berenam menenangkan hati, mereka berpura tuli, mereka jalan terus dengan waspada, Mereka tidak menggubris yang suara membangkitkan bulu roma itu terdengar datang makin dekat, makin dekat. Tiba-tiba dari dalam rimba terlihat menyambernya beberapa benda hitam kecil. "Hati- hati" Tiong Hoa berseru, memperingati. Ia lantas menyampok. guna menghalau benda itu, yang ia duga senjata rahasia adanya. Ketika tangan bajunya membentur barang itu, yang terus jatuh ketanah, ia merasa menyampok benda yang lunak-lunak keras, segera ia mengawasi. Untuk kagetnya, ia mendapatkan bangkainya seekor bungka laut yang panjang cuma lima dim. itulah ular paling berbisa, siapa kena terpa gut, racunnya akan membuat orang lantas binasa, ia menggigil sendirinya mengenali itu macam ular. Ngo Mo juga telah menggunai senjatanya masingmasing menangkis bokongan serupa itu, hingga banyak ular terbinasakan,syukur mereka semua lolos dari bahaya itu. Habis serangan gelap itu, disitu terdengar suara yang luar biasa, yang menyeramkan, lalu kemudian, rimba dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekitarnya menjadi sunyi pula. Kesunyian itu merupakan alamat bakal datangnya hujan lebat atau angin besar.... Tiong Hoa beramai maju terus, mereka memasang mata dan telinga. Tidak lama dari arah depan terlihat bergeraknya dua sosok tubuh mendatangi kearah mereka, Kelihatannya kedua tubuh itu berjalan perlahan tapi tibanya lekas. Dengan lantas keduanya berhenti, untuk berdiri mengawasi. Lantaran keduanya berdiri membelakangi rembulan, wajah mereka tak tampak tegas. "Saudara-saudara Tiong-tiauw, banyak baik " yang disebelah kiri lantas menyapa. "Apakah kamu masih ingat sahabat-sahabat lamamu ?" Jie Mo, Keuw Gie mengawasi lantas tertawa lebar. "Kiranya kamu berdua, jiewie " kata dia. Jiewie terkenal, siapa pun menghargai mu, siapa sangka sekarang jiewie masuk dalam kalangan Giam ong Leng, sungguh juwie membuat Keuw Gie menyesal sekali." Dua orang itu tidak menyahuti, hanya dengan tajam mereka mengawasi Tiong Hoa. "Siauwhiap. mari kuperkenalkan " berkata Keuw Gie, "Kedua tuan-tuan ini yalah pendekar-pendekar dari Inlam, inilah Loo-soe Tan Hong Wan, yang digelarkan in Lie Kimkong, dan ini Loosoe Ang Kim Tat gelar sin-cioe Tok Goat " "Aku yang rendah merasa beruntung dengan pertemuan ini" kata Tiong Hoa tawar, "Ada urusan apa jiewie loosoe memegat kami ?" "Tidak apa-apa," menjawab Tan Hong Wan, "Kami mendengar selama ini nama Siauwhiap sangat terkenal, dari itu kami ingin kita main-main barang dua jurus "

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Aku yang rendah yalah seorang anak sekolahan-" kata Tiong Hoa tertawa, "hanya terpaksa saja aku masuk dalam dunia Kang ouw, sebenarnya aku tidak mempunyai kebisaan suatu apa, melainkan beberapa sahabat yang telah menyebut-nyebut namaku, dari itu aku minta janganlah jiewie percaya segala berita diluaran. Dapat aku menerangkan, didalam tempo setengah tahun yang mendatang pasti aku bakal berkunjung kepada Pouw Tongkoe, maka itu kalau itu waktu jiewie loosoe sudi memberi pengajaran padaku temponya masih belum terlambat." Mendengar itu Ang Kim Tat yang berdiri disisi Tan Hong Wan, tertawa. "Kau terlalu merendah Siauwhiap " katanya. "jikalau Siauwhiap tidak suka memberi pengajaran padaku, aku tidak dapat memaksa, cukup asal Siauwhiap sudi menerima satu tangannya, Tak Perduli siapa rne nang siapa kalah, setelah ini aku si orang she Tan akan meminta diri." Tiong Hoa mengerti, dua orang ini lagi menjalankan titah Giam ong Leng, tak dapat mereka mundur tanpa bertempur dulu, maka itu ia bersenyum dan kata: "silahkan Tan Loosoe mulai" "Maaf. berkata Hong Wan, yang lantas meluncurkan tangannya, Tiong Hoa heran melihat orang bergerak mirip jurus permulaan dari ilmu silatnya, yaitu Sian-thian Thay It ciang, lekas ia menyambuti dengan tangan kanan juga, Maka kedua tangan beradu keras nyaring suara-nya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kesudahannya itu tubuh Tan Hong Wan limbung, tubuh si anak muda itu bersenyum manis. Tan Hong Wan heran melihat anak muda itu bersilat sama. ia pun terkejut untuk ketangguhannya si anak muda, Tapi ia tidak mau menanyakan apa-apa karena disitu bukan tempatnya, ia lantas mundur satu tindak sembari tertawa ia kata: "Lagi setengah tahun-aku si orang she Tan akan menantikan Siauwhiap didalam Hek Liong Thoa" Segera setelah ucapannya itu, Hong Wan mencelat mundur diturut Ang Kim Tat, maka sedetik kemudian, keduanya sudah lenyap didalam rimba disisi mereka. Tiong Hoa dan kawan-kawannya mengawasi kemudian anak muda ini tertawa. "Mari kita berjalan terus" katanya, "Rasanya didepan aman semua" Tiong-tiauw Ngo Mo menyahuti, lantas mereka berjalan dengan cepat. Perjalanan ini benar-benar sulit, apapula itu waktu di waktu malam, Tiong Hoa berlaku teliti mencarijalan mengingat-ingat tempat yang ia pernah datangi itu. Bersama kawan-kawannya, ia mesti berputar-kayun ditanah pegunungan itu. Baru setelah fajar menyingsing, ia melihat jurang atau lembah yang mirip dengan tempat yang ia pernah injak. "Disini." katanya kemudian, berseru, "Mereka telah tiba dijalanan tempat keluar dari gua. Lalu ia menambahkan- Aku minta saudara semua menantikan disini, Aku akan pergi untuk lekas kembali" Tiong-tiauw N go Mo mengangguk.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong Hoa mengawasi keatas, untuk menimbangnimbang tingginya tempat serta lompatnya nanti, ia tidak menanti lantas untuk terus bekerja. Mulanya ia menjejak tanah, membikin tubuhnya membal naik, Itulah tipu-silat "Pengtee ceng in," atau "Awan hijau ditanah datar." segera tubuhnya berlompat tinggi tujuh- delapan kaki. Untuk naik lebih jauh, dengan kaki kanannya ia menjejak paha kirinya, ia lantas terapung empat Iima-tombak. Kali ini ia mengulur tangannya, yang dapat bertambah panjang, maka itu ia kena menjambret cabang pohon, hingga selanjutnya ia dapat manjat terus, tangan dan kakinya bekerja sama. Ketika ia menyamber rotan, mendadak rotan itu tercabut akarnya ia kaget karena tubuhnya turun mendadak, Tapi dalam kagetnya, segera ia menggunai Pek-houw-kang, tipu silat Cecak Merambat. Tiong-tiauw Ngo Mo melihat kejadian itu, mereka kaget bukan main- Kalau si anak muda jatuh terus tentulah remuk tubuhnya, Maka legalah hati mereka mendapatkan kawan itu dapat menolong diri. sekarang mereka jadi mengagumi Pek Houw Kang, ilmu yang biasa dimiliki segala pencuri. Hanya mereka masih bersangsi apa orang dapat menaiki terus lamping jurang itu yang tinggi sekali. Tiong Hoa sendiri tidak tahu apa yang orang pikir, ia mengumpulkan semangatnya ia mengerahkan tenaga dikedua tangan dan kaki, untuk dapat bertahan terus, ia naik terus dengan cepat. Toa Mo menghela napas. "Benarlah, gelombang yang dibelakang mendorong ombak yang diriepan, orang tua tertukar dengan orang muda " katanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Untuk kami, didalam dunia Kang ouw sudah tidak ada tempat pula. Pantas ketika pertama kali aku masuk dalam Rimba Hijau rasanya aku seperti terjeblos dalam lumpur. Maka kalau sekarang aku mengubah cara hidupku, pasti masih keburu, Biarlah, setelah Siauwhiap berhasil menolongi tongkee, aku nanti cukur gundul rambutku, untuk menjadi pendeta, guna hidup dikuii yang sunyi sambil membaca doa saja guna menebus segala dosaku." Ketika itu angin bertiup keras, kabut semakin tebal. ooooo BAB 20 LIE TIONG HOA berhasil manjat terus. Dia jalan di tepian tebing, terus sampai dimulut gua yang dia kenal itu. Lantas dia masuk ke dalamnya. Baru berjalan kira dua puluh tombak, hidungnya telah dapat mencium harumnya buah piepa. hingga girangnya bukan kepalang, apa pula setelah maju lebih jauh, matanya melihat buah itu yang berwarna kuning emas. Tapi kapan matanya melihat cabang-cabang p^hon dan sekitar gua, hatinya mendadak terbuka, inilah dunia yang lain daripada yang baru dia tinggalkan. Disini segala apa sunyi dan tenang, tak berisik dan busuk seperti dunia Kang-ouw. Ketika dia melihat tempat duduk Ay sian, dia teringat akan orang tua yang baik budi itu. Dia menjadi terharu hingga ia menghela napas, Akan tetapi dia sabar, Maka lekas-lekas dia menjambret buah p^epa, dia memetik tiga renceng, setelah dia masuki itu kedalam sakunya, dia pergi keluar pula dengan cepat, setibanya diluar, dimana kabut putih semua, dia lantas bersiul nyaring, hingga siulannya ber kumandang dilembah sekitarnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiong-tiauw Ngo Mo tengah menantikan dengan pikiran mereka bekerja terus tatkala mereka mendengar siulan itu, yang segera disusul dengan melayang turunnya sesosok tubuh, Mereka tahu itulah kawan mereka, Toa Mo Kouw Jin maju menyambut "Kau berhasil, Siauwhiap?" dia menyapa. "Syukur, aku berhasil" sahut si anak muda, "Ketika dulu hari aku keluar dari gua, aku tidak mengambil jalan ini, tetapi sekarang aku perlu tempo, maka itu, kecuali aku tidak berdiam lama didalam gua, aku pun lompat turun disini." Ia lantas menghampirkan Song Kie, untuk terus menotok. membuka jalan darah kakak angkat itu, hingga Koay-binJin Him dapat lantas sadar dan membuka matanya, Mata itu bersinar guram. Habis dia merintih, lantas dia merampula, mukanya meringis, Suatu tanda dia menahan sakit. Rupanya dia tetap putus asa. Tiong Hoa segera merogoh kedalam saku nya. Dengan tangan kirinya, ia membuka mulut Song Kie, maka ia dapat menyusupi buah piepa masuk kedalam mulut saudara yang tengah terluka parah itu. ia memasuki satu demi satu. maka terus ia mengancuri setangkai buah terdiri dari belasan biji, dalam tempo yang lekas, Song Kie telah makan habis semuanya, yang terasa lezat sekali. Tiong Hoa mengawasi Dia melihat dari muka orang bahwa rasa nyerinya saudara itu mulai berkurang, Habis menelan, rintihan pun tak terdengar lagi. Dia tahu khasiat nya obat sudah bekerja, maka terus dia lantas

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menguruti seluruh tubuh kawan itu, guna menyalurkan darahnya. Tidak lama, Song Kie sadar betul-betul, Dia merasa telah lenyap rasa nyerinya, Dia mengawasi Tiong Hoa yang lagi mengurutinya, Dia dapat menduga kepada pertolongan saudara muda itu. Bukan main ia bersyukur dan terharu, hingga air mata lantas mengucur deras. Tiong Hoa melihat bahwa ia sudah mengurut cukup, maka ia menghentikan bekerjanya kedua tangannya. Song Kie lantas bergerak bangun ia lantas merasa ringan seperti biasa kecuali tenaganya belum pulih semua, Dengan lantas dia mencekal erat kedua tangannya Tiong Hoa saking terharu itu, ia menangis terisak. "Adik, budimu ini tak nanti aku lupai" ia kata, "Tak tahu aku bagaimana harus membalasnya ... " "Jangan berkata begini saudara Song," berkata si anak muda. Adalah keharusanku menolongi siapa pun yang perlu ditolong apa pula kau, Umpama keadaan kita sebalik nya, apakah saudara akan duduk diam saja tak menolong aku?" sembari berkata, anak muda ini mengeluarkan satu renceng piepa. "Saudara saudara, makanlah ini " katanya, ia membagi belasan biji buah itu kepada keempat Hantu. Soe Mo letih sekali, mereka pun terkena sedikit asap beracun, setelah makan buah-buah itu, puliblah kesegaran mereka, Tentu sekali mereka jadi sangat bersyukur Mereka lantas mengucapkan terima kasih mereka. Mengawasi keatas, kearah gua. Toa Mo menghela napas dan berkata: "jikalau lain hari aku dapat kembali

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kemari, ingin aku berdiam didalamnya dengan ditemani hanya kitab suci, untuk selamanya tinggal disini," Hati Tiong Hoa tergerak. "Ssaudara ingat kepada sang Buddha, itu lah bagus," katanya. "Setelah tong kee pulih kesehatannya dan kami selesai membantunya," kata Toa Mo, "kami berlima ingin mengundurkan diri dari dunia Kang ouw." Song Kie setuju, dia tertawa. Pikiranmu sama dengan pikiranku " katanya. "inilah kepastian kita bersama " Selama itu, sekian waktu sudah berlalu, maka kabut pun mulai buyar, hingga segala apa nampak nyata, Dimata mereka, lembah indah sekali. Tapi tak dapat mereka berlama-lama disitu, maka bertujuh mereka segera berlalu, mencari jalan keluar, Karena Song Kie masih lemas, dia tak dapat mengguna i ilmunya lari cepat. Sembari berjalan Tiong Hoa tuturkan tentang urusan Giam ong Leng. Song Kie berpikir, lalu dia berkata: "Kau memindahkan bencana untuk Thian Hong Cinjin, itu memang bagus, hanya berbareng aengan itu, kau sendiri terjatuh dalam lingkungan pengaruh Giam ong Leng itu." " Kenapa begitu?" tanya Tiong Hoa, tidak mengerti. Koay-bin Jin Him tertawa. "Inilah karena kejujuran kau, adikku." sahutnya tertawa, "Pouw Liok It seorang sangat cerdik, ketika dia menangkap Lo-sat Kwie Bo. itu pasti bukan dilakukan didalam rumah penginapan hanya setelah nyonya itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dipancing keluar. Tentu dia memancing begitu dia ketahui si nyonya berada dalam rumah penginapan itu. Kalau dia menemui kau serta gadisnya Losat Kwie Bo, mana dia mau melepaskan dengan begitu saja? Setelah dia mendengar dari kau cangkir kemala terjatuh didalam tangannya si nona, pasti dia akan menyiarkan berita pancingan supaya si nona mencari atau menyusul ibunya itu. Dia pasti tidak mau menyebutkan dimana dia telah mengurung si nyonya." sembari berkata, Song Kie menatap si anak muda. "Meski benar Pouw Liok It disebut Pak Pit Lam ouw." ia menambahkan "dalam tenaga dalam dia tak dapat direndengi dengan pit Boe Koen, buktinya ketika Pit Boe Koen pergi mencari dia, dia selalu mengasi alasan lagi pergi keluar, selamanya: dia tidak sudi menemukan walaupun usia mereka berdua beda banyak. yaitu Pit Boe Koen sudah langsung dan dia baru tigapuluh, kalau dia kalah tak usah dia malu. Pouw Liok It tetap menjaga dirinya, Demikian sudah terjadi, selama hidupnya, Pit Boe Koen belum pernah bertemu dengannya. sebaliknya dia menghendaki kitab silatnya PitBoe Koen, tetapi dia tak dapat jalan memilikinya...." Tiba-tiba Song Kie berdiam ia nampak ragu-ragu. "Ah, mengapa otakku jadi butek sekali." katanya, "Bukankah kematiannya guruku, Tong Beng siansoe, terjadi ditangannya?" Tapi ia menggeleng kepala, ia menambahkan "Tak mungkin Ketika itu kitab silat lenyap bersama, Kalau dia yang melakukan kejahatan kenapa kitab itu berada ditangannya Kongsoen Coe Liong?" Kata-kata yang belakangan ini seperti ditujukan kepada dirinya sendiri, Lalu dia tertawa dan berkata pula:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Adik bakal mengunjungi Pouw Liok lt, maka itu waktu kau pasti akan mengetahui duduknya perkara yang benar, Dapat aku terangkan diluar nampak Pouw Liok It lemah-lembut dan halus budi-pekertinya, didalam dia keras dan teleng as, ambekannya besar sekali. Dia mau menjadi jago tunggal kaum Rimba Persilatan selama hidupnya, dia cuma jeri terhadap empat orang." "Siapakah empat orang itu?" tanya Tiong Hoa. "Yang satu yaitu Hok In siangjin dari see Koen Loen, pendeta yang beribadat itu." sahut Song Kie, menerangkan- "Yang satu lagi yalah Cit Yang sin-nie, pendeta wanita dari kuil Cie Tiok Am dipulau Ban Keng di Tang Hay, laut Timur, Bhikshuni itu kesohor untuk tenaga dalamnya Cit Yang sinkang serta pukulan tapak tangannya Kimkong cioe InOrang yang ketiga yalah gurumu. Thian Yoe Sioe, yang ilmu silatnya luar biasa, hingga mirip dengan ilmu silat kaum sesat, Yang keempat yaitu Gouw Bie Taysoe, paman dari ketua Siauw Lim Pay. Mungkin ada lain orang lagi tapi aku tak tahu. Karena jeri terhadap keempat orang liehay itu, buat sementara dia tidak berani sembarang main gila, sekarang dia mendapat tahu kitab silat terjatuh dalam tangannya Kwie lam Ciauw, maka itu dia bekerja. Ada kemungkinan sekarang ini Kwie Lim Ciauw sudah menjadi orang sebawahannya, sudah kukatakan. dia sangat cerdik, rupanya dia menduga kau dan Cek In Nio telah menjadi satu pasangan, maka dia mau memancing kamu. siapa saja diantara kamu yang tertawan, pasti itu dapat dig una i sebagi alat memaksa untuk diserahkannya cangkir kemala Coei In Pwee itu. Bukankah kau jadi akan terjebak olehnya, adikku ?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mukanya Tiong Hoa bersemu merah, "Dengan Cek In Nio itu aku cuma bertemu sebentaran, kita tidak ada pergaulan erat, jangan kata cinta." ia berkata, Saudara Song, kau menduga berlebihan, Kalau Pouw Liok It juga menduga demikian, dia pasti salah rabah" Song Kie tertawa. Jikalau adikku tidak percaya dugaanku, kau tunggulah nanti" katanya. Perjalanan mereka dilanjuti, terus siang dan malam, menuju ke shoasay selatanooo Ditempat penyeberangan di ouwpak Barat terlihat munculnya seorang muda tampan ditepian sungai, bajunya hijau, dandanannya seperti pelajar. Dia mencari sebuah perahu untuk membawanya berlayar kearah soecoanDialah Tiong Hoa, yang habis mengantari Song Kie dan berdiam kira setengah bulan-lantas berangkat untuk mencari Nona Cek In Nio. Dia menggunai kendaraan air karena dia ingin melihat keindahan, sungai diselat Boe Kiap. Dia tidak kesusu karena janji pertemuan di Hek Liong Thoa lama nya setengah tahun, penyeberangan itu selat see Leng Kiap. maka untuk tiba di Boe Kiap. dia harus melewati perjalanan delapanpuluh lie lebih, itu waktu dipertengahan musim panas, selagi air pasang, perahu berjalan perlahan, satu hari tiada melebihkan duapuluh lie. Perahu mesti di tarik orang. Berduduk seorang diri di kepala perahu Tiong Hoa memandang kedepan kekiri dan kanan, sering dia melihat tunggul wadas yang muncul dipermukaan air. Benar- benar perlayaran disitu berbahaya. Atau dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

duduk pasang omong dengan juragan perahu, yang menuturkan ini dan itu mengenai perlayaranJuragan perahu itu yang sudah berusia limapuluh tujuh tahun, berkepala botak dan kumisnya jarang, tangannya tak pernah lepas dari sebatang hoencwee, pipanya yang panjang, Dia pun mempunyai suara yang nyaring serta sepasang mata yang tajam. Baru dua hari. dan baru melihat perjalanan tigapuluh lie. Tiong Hoa sudah lantas bergaul erat dengan juragan itu hingga ia ketahui orang bernama Cian sim Hoo. Dia senang bicara dengan sianak muda, polos bicaranya, sebab dia melihat pemuda ini seorang pelajar muda. Tiong Hoa bermata jeli, ia menduga sam Hoo pandai silat, akan tetapi karena orang tidak membicarakannya, ia tidak mau menimbulkannya. Dihari ke-tiga, mendekati sore, kembali Tiong Hoa duduk pasang omong dengan sam Hoo, Kali ini mereka sekalian menghadapi poci arak. Baru sekarang, karena pengaruh air kata-kata, Sam Hoo memberitahukan bahwa dulunya ialah seorang piauwsoe, disebabkan bertemu begal, hampir ia hilang jiwanya, maka kemudian ia meletaki goloknya dan terus hidup sebagai juragan perahu sampai sekarang ini. Tiong Hoa mengasi lihat roman heran"Inilah aneh " katanya, "Menurut apa yang aku dengar, untuk mengendalikan perahu disini, orang mesti bekerja semenjak masih kecil, tetapi kau maju setengah jalan, bagaimana kau menguasainya ?" cian Sam Hoo mengurut kumisnya, Dia bersenyum. "Engko Lie yang kecil, kau tidak tahu" katanya riang gembira, "Mendiang ayahku yalah seorang juragan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perahu yang pandai sejak masih kecil aku mengikuti ayahku itu dari itu aku telah mempunyai kepandaianku. oleh karena penghasilan ayah itu waktu bagus, aku mengambil ketika belajar silat sampai sembilan tahunkemudian aku bekerja sebagai piauwsoe. Diluar dugaanku sekarang aku melanjuti penghidupan mendiang ayahku itu.... pekerjaan piauwsoe sungguh berbahaya" "Benarkah menjadi piauwsoe sulit sekali," Tiong Hoa tanya. Sam Hoo tertawa pula. "Engko kecil belajar surat, tak tahu kau bahayanya dunia Kang ouw" dia kata, "Apa pula bangsa piauwsoe, selagi melindungi barang, hatinya terus berdebaran mendengar angin menggoncangkan rumput saja kita rasa seperti musuh besar datang disiang hari mata terus melotot diwaktu malam tak dapat tidur nyenyak, jikalau kau tidak percaya coba lihat disana? Dia menunjuk kesebuah perahu yang ketiga, dia menyambungi: "Lihat itu orang usia pertengahan yang lagi berdiri dikepala perahu, Dialah piauwsoe yang menyamar yang lagi mengiringi apa yang disebut piauw gelap. Bukankah dia nampak tak tentram hati, matanya selalu celingukan? itulah tanda hatinya terganggu Aku bekas ciauwsoe, aku tahu baik. Tiong Hoa memandang kepada orang yang ditunjuk itu yang dandan sebagai seorang dagang, dia benar selalu memperhatikan tempat lebat dengan pepohonan dikedua tepi sungai, sedang air mukanya guram. "Aku tidakjelas." katanya habis mengawasi orang itu " Kenapa dia mesti mengambil jalan air? Bukankah jalan darat lebih cepat dan orang pun dapat kabur lebih

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mudah? Kenapa dia seperti mengantarkan diri kedalam perangkap?" Sam Hoo menggeleng kepala. "Kau tidak tahu, engko kecil." kata dia, "Diselatan barat, jalan darat makin terganggu Disana banyak sekali rombongan penjahat, Biasanya, sebelum kita mulai keluar dari kantor kita, mereka sudah mendapat tahu dan bersiap menunggu, kebanyakan selain piauw hilang, si piauwsoe pun dapat terbinasa atau ringannya terluka parah, begitulah banyak piauwsoe yang menyamar, jikalau aku tidak keliru menduga disebelah depan, diselat Tiat Koan Kiap. mungkin bakal terjadi onar...." "Bagaimana kau ketahui itu ?" Tiong Hoa tanya. sam Hoo tertawa tanpa menjawab. "Didalam perahu yang ke-lima ada sepasang pria dan wanita," katanya, " mereka itu pasti bukan sembarang orang. Kalau sebentar terjadi sesuatu, engko kecil, aku harap jangan kau keluar, kau tidur saja dalam perahu, pasti tidak terjadi apa-apa." Tiong Hoa mengangguk tanpa membuang suatu apa, kedua tangannya memeluk lututnya, matanya mengawasi air mengalir deras, sebaliknya dari memperhatikan orang-orang yang disebutkan si juragan perahu ia ingat pengalamannya yang telah lalu. Ketika habis mengantarkan Song Kie hingga ia menggunai tempo senggang setengah bulan, pemuda ini ingat lukisan Yoe san Goat Eng dan ia pernah membuat penyelidikan ia tidak berhasil mendapatkan endusan apaapa. ia menjadi seperti putus asa hingga ia memikir buat tak memperdulikan lebih jauh, sekarang ia mau mencari Cek In Nio saja. "Ah," ia menghela napas perlahan apabila ia ingat Nona Cek, Cian sam Hoo heran-

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Entah apa yang dipikirkan pemuda ini maka ia berduka..." pikirnya, Dia tidak dapat menerka, Maka dia tertawa dan kata. " Engko kecil, mari kita bicara tentang rembulan permai, mari kita minum arak kita Mari keringi cawan ini." Hanya sekilas lalu, lenyaplah apa yang Tiong Hoa pikirkan ia lantas bersenyum. ia menyambut meminum kering cawannya. Terus ia dapat bicara pula sambil tertawa. Ketika itu kendaraan air lewat dibagian sungai yang kedua tepinya lebat dengan pepohonan, yang bayangannya meneduhkan permukaan air, sedang suara airnya nyaring. Lagi sedikit didepan, kedua pinggiran tinggi merupakan tebing, diatasnya pun banyak pepohonannya, hingga bagian itu bukan melainkan teduh bahkan gelap. Tepat diikuti waktu, mendadak berbunyi suara terompet keong ditepian kanan, dari arah pepohonan seperti rimba itu: suara itu mengaung keatas, tajam terdengarnya. Sam Hoo mendengar suara itu dengan sikapnya tenang tak berubah, sebaliknya Tiong Hoa terperanjat terus dia berbangkit. Melihat demikian, si juragan perahu menarik tangan orang seraya berkata : "Engko kecil, jikalau kau takut, kau duduk saja dikepala perahu ini, kau boleh menonton keramaian- Atau silahkan kau masuk kedalam, disana jangan kau berkutik." Tiong Hoa duduk pula. Ketika ia melihat kepada beberapa puluh tukang menarik perahu, ia mendapatkan mereka menunda pekerjaan mereka, dadung perahu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dilkat kepada pohon, lantas semuanya duduk mendeprok ditanah, tangan mereka dipakai menutupi kepala mereka. semua tukang perahu itu ada anak-buah perahu-perahu yang di ikat satu dengan lain dan ditarik berbareng. Kemudian Tiong Hoa memandang ke perahu nomor tiga, ia mendapatkan disisisisaudagar usia pertengahan ada berdiri dua orang petani, yang lengannya kasar, yang romannya bengis. Segera juga dari tepian, terdengar suara orang bertanya: "Apakah didalam perahu disana ada co congpiauw-tauw dari Tay Saen Piauw Kiok dari Gie-ciang. Kalau benar, silahkan congpiauw-tauw keluar, agar tak usah sampai jatuh kurban-kurban yang tak bersangkut paut" Mendengar pertanyaan itu, si saudagar usia pertengahan bersinar kedua matanya, terus dia tertawa lebar dan menyahuti: "Aku co Peng Hoei, aku berdiri disini Kamujangan melihat lain orang siapakah pemimpin kamu? Kenapa dia tidak mau periihatkan dirinya? jikalau ada bicara, mari kita bicara terus terang, buat apa main sembunyi-sembunyi" Orang didarat itu berkata pula nyaring: Bagus Kim Kauw Beng ciang tak kecewa menja satu laki-laki Tongkee kami Mo Kim Giok bakal segera sampai Apakah tuan tidak mau mendarat untuk kita pasang omong disini?" Orang itu belum berhenti bicara ketika si saudagar serta dua kawannya saling susul berlompat ke tepian,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gerakan mereka pesat lompatan mereka jauh. sebentar saja dia sudah menaruh kaki didepan rimba. "Nah, silahkan masuk ke dalam rimba, untuk berbicara," kata lagi suara didalam rimba tadi. Co Peng Hoei bertiga saling mengawasi lantas mereka bertindak kedalam rimba sambil mengangkat kepala, suatu tanda mereka tidak takut. Tatkala itu dari perahu nomor lima terlihat dua orang berlompat kedarat, merekalah sepasang priya dan wanita, yang masing-masing memakai tutup muka hitam dan dipunggung tergondol dua batang tombak pendek. Gesit lompatan mereka. Tiba di-darat, mereka lantas menyusul masuk ke-dalam rimba. Lie Tiong Hoa bangun berdiri, dia ngoceh sendirian: "Dikolong langit yang luas ini, tidak ada keanehan yang tidak ada. Demikian kejadian seperti ini, belumpernah aku melihatnya. Ah, baiklah aku pergi menyaksikan, supaya taklah kecewa hidupku ini. Lantas dia berjalan cepat kepinggiran perahu. Si juragan terkejut, ia berbangkit untuk menyamber tangan orang, ia kalah cepat, Anak muda itu terus turun dipapan perahu, untuk mendarat. "Ah" sam Hoo mengeluh sambil menggeleng kepala. Tiong Hoa berjalan terus memasuki rimba yang diambil ketiga piauwsoe itu serta sepasang priya dan wanita tadi. Rimba itu gelap tapi disitu terdengar suara orang, ia duga itulah suara Peng Hoei bertiga, ia masih bertindak ketika mendadak muncul seorang dari belakang sebuah pohon besar, dia beroman bengis, tangannya menCekal golok.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kau siapa, tuan?" orang itu tanya, "Kalau kau pesiar silahkan kau kembali keperahu, jangan kau lancang mengintai kemari itu berarti kematian" Tiong Hoa tidak menjawab, hanya tangannya meluncur, jari tangannya menotokjalan darah thian-kie orang itu, yang lantas roboh tanpa bersuara lagi, ia tidak menghiraukan orang itu, ia lantas lompat naik keatas pohon. untuk maju terus belasan tombak. akan akhirnya bersempunyi di sebuah cabang yang lebat daunnya, untuk mengintai. Di dalam situ ada tanah kosong belasan tombak sekitarnya, Co Peng Hoei dan dua kawannya berdiri berendeng. Didepan mereka terdapat lima orang. "Kemana perginya mereka?" tanya Tiong Hoa didalam hati, ia tidak melihat si pria dan wanita dari perahu kelima, Tentu mereka pun menonton seperti aku ini, tanpa terlihat lain orang Maka ia lihat kelilingan tapi tetap ia tidak berhasil mendapatkan mereka itu. Ketika itu terdengar suara Co Peng Hoei, tak sabaran: "Mana tongke kamu si orang she Mo? Kenapa dia masih belum muncul? Aku si orang she Co tidak dapat menanti terlalu lama, kami hendak kembali keperahu kami" Satu diantara lima orang itu, yang tubuhnya kurus dan usianya lanjut, dengan mata galak menyahuti dingin: "Co Toa-piauwsoe kau telah datang, kau sabarlah. Jikalau tidak ada urusan lainnya, pasti tong ke kami sudah sampai disini. Aku minta sukalah kau menanti pula sebentar jikalau toa-piauwsoe tetap mau kembali keperahu, tak ada halangannya persilahkan, asal kau tinggal disini siang-ang-piauw yang kau lindungi itu"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Co Peng Hoei tertawa nyaring. "Siang-ang-piauw kami terdiri dari sepuluh butir mutiara dan sepasang burung Wanyoh kemala, harganya mahal seperti mahalnya sebuah kota," ia berkata, jikalau kamu menghendaki itu, berat untuk kami, berbahaya untuk kamu. Kehilangan itu berarti aku si orang she Co tidak dapat menggantinya. Sedang kamu, tak nanti kamu diampuni soe coan congtok. Maka itu sahabat baiklah kau jangan berpikir yang tidak-tidak" Berbareng dengan kata-kata si piauwsoe, dari dalam rimba terdengar tertawa yang nyaring sekali, disusul munculnya sebuah tubuh yang besar, berhenti didepannya Peng Hoei. Dialah seorang dengan potongan muka singa dan mata besar, pinggang lebar dan kekar, jenggotnya putih pendek seperti barisan tombak. seluruhnya dia nampak keren. Tapi dia merangkap kedua tangannya dan berkata: "Aku menyesal sudah membikin Co Congpiauw-tauw menunggu lama siang-ang piauw ini harta yang tiehoe dari Gie-ciang peras dari rakyatnya untuk dihadiahkan kepada congtok darisoecoan buat si congtok nanti pakai menyuap pihak lebih atas guna dia membeli pangkat Hoantay. Aku tahu cong-piauwtauw berhati murah, maka itu kenapa kau mau menanggung untuk siang-ang piauw ini?" "Mo Tongkee, kelihatannya kau tidak mengerti keadaan, tawar, Aku si orang she Co membuka piauwkiok. kalau ada permintaan tolong, tidak dapat aku tolak. Akupun tidak memperhatikan barang apa yang mesti di-antar, aku hanya mengantar sampai kepada alamatnya. jikalau tongkee mau turun tangan juga,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tolonglah memandang padaku, aku minta kau turun tangan setelah nanti aku menyelesaikan tugasku, Bukankah itu masih belum terlambat?" Mo Kim Giok tertawa tawar juga. "Tapi kami, kami makan mengandali gunung, kami minum mengandali sungai, tempat kita ada batas daerahnya masing-masing" dia berkata, jikalau aku turut kau, cong-piauw tauw, bukankah klta jadi harus makan angin?" Co Peng Hoei habis sabar. "Habis Mo Tongkee menghendaki apa?" dia tanya dingin. "Sudah terang bukan?" katanya tertawa kering, "Buat apa kita ngoceh pula tanpa perlunya? sekarang ini kita cuma harus mengandal kepandaian masing-masing" Piauwsoe itu berani, dia berlaku jumawa. "Baiklah" dia menerima tantangan "Sudah lama aku si orang she Co mendengar tentang ilmu golok Kipe-kiong sin Too dari toongkee, yang terdiri dari delapan puluhsatu jurus, ingin aku belajar kenal dengan itu" Mo Kim Giok belum menjawab, atau ia sudah didului si orang tua kurus, kate dan kecil, yang bermula bicara tadi. Dia lompat maju seraya berkata: "Tongkee, biarlah aku Boe Goan Pa main-main dengan sian-tian Kim-kauw yang diandalkan orang jumawa ini" Habis berkata, terus dia merabah ke-pinggangnya, untuk mengeluarkan serenceng gelang Kioe-coe-bo Lianhoan-koan hingga senjatanya itu mengasi dengar suara nyaring berisik, itulah senjata yang tak masuk dalam hitungan senjata resmi, terbuatnya dari emas hitam, besarnya lima dim bundar, pinggirannya tajam sekali.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Karena dipakaikan alat, gelang itu dapat dipakai menimpuk seperti senjata rahasia. Co Peng Hoei terperanjat mendengar nama orang, sebab ia ketahui orang yalah jago dari Kam Liang, didaerahnya wanita dan anak-anak pun mengetahuinya. Dalam ilmu silat, dia mungkin lebih liehay daripada Mo Kim Giok, maka heran dia suka meng- hamba kepada orang she Mo itu orang. Ia lantas mengawasi tongkee itu, ia melihat sinar mata orang jeri terhadap si orang she Boe, ia lantas menduga duduknya hal, ia kata dalam hatinya: "Pasti Mo Kim Giok sudah mengundang serigala masuk kedalam rumahnya, sekarang baru dia insaf, tapi tentulah sudah kasip. dibelakang hari dia mungkin bakal digeragoti hingga ketulang-tulangnya " Habis berpikir itu, ia berkata keras: "Mo Tongkee karena sikap kau ini, maka sekarang siang-ang-piauw yang aku lindungi ini menjadi barang seperti tanpa pemiliknya, siapa yang menang, dialah yang mendapatkannya Meski begitu, aku masih kurang mengerti, aku ingin minta penjelasan mu. Coba bilang, apakah Mo Tongkee yang menghendaki ini ataukah Boe Tongkee yang ingin memilikinya sendiri ? sudah banyak tahun aku mengiringi piauw, baru kali ini aku menemui kejadian aneh seperti ini ?" Dua-dua Mo Kim Giok dan Boe Goan Pa terperanjat, roman mereka berubah, ia mengerti, ia lantas tertawa dingin tak hentinya. Pada tiga tahun dulu Boe Goan Pa menjagoi dijalan Kam-Liang, kejahatannya tak berhitung lalu dia kena

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dirobohkan seorang pendeta tua, yang telah menyateroni-nya kesarangnya dimana dia diharuskan membubarkan rombongannya serta mengubah cara hidupnya. Mulanya dia memandang enteng pendeta itu, tapi ketika mereka bertempur dalam tiga jurus senjatanya kena dibikin terpental dan dadanya ditepuk hingga dia terluka didalam, muntah darah dan jatuh pingsanKetika dia mendusin, si pendeta sudah berlalu, Karena malu, dia kabur ke-tempatnya Mo Kim Giok. Baru satu tahun, hati jahatnya terbangun pula, terus dia ber-aksi lagi, Dengan kecerdikannya, dia mengambil hatinya semua orangnya Kim Giok. Kemudian Kim Giok melihat orang bermaksud tidak baik tetapi sudah kasip. terpaksa ia berdaya secara diamdiam guna menyingkirkan kawan berhati serong ini, Dalam urusan memegat Co Peng Hoe ini Mo Kim Giok tidak setuju. Dia takut, sebab piauw itu m