Anda di halaman 1dari 38

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Seluruh bidang pelayanan kesehatan sedang berubah, dan tidak satu pun perubahan yang berjalan lebih cepat dibandingkan yang terjadi di bidang perawatan. Dalam perawatan, perawat memberikan bantuan langsung kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarkat karena adanya kelemahan fisik, mental, dan keterbatasan pengetahuan serta kurangnya kemampuan

melaksanakan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Hal ini memberikan suatu tantangan yang sangat menyenangkan dan nyata bagi perawat. Dalam paradigma sehat dirumuskan visi Indonesia Sehat 2015 yang berbunyi Gambaran nyata masyarakat Indonesia pada masa yang akan datang yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, mampu memperoleh pelayananan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kesehatan pada dasarnya merupakan

masalah yang sangat penting dan paling berharga bagi kehidupan manusia khususnya dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia sehingga tujuan pembangunan nasional untuk menuju masyarakat adil dan makmur tercapai dan juga kesehatan bukannya suatu yang konsumtif, melainkan suatu investasi, karena kesehatan menjamin adanya SDM yang berproduktif secara sosial dan ekonomi. Dalam keperawatan digunakan proses keperawatan yang merupakan suatu proses pemecahan masalah yang dianamis dalam usaha

memperbaiki atau memelihara klien sampai ketaraf optimum melalui suatu pendekatan yang sistematis untuk mengenal dan membantu memenuhi kebutuhan dasar klien, untuk membantu mengembangkan potensi klien dalam memelihara kesehatannya sehingga tidak selalu bergantung kepada orang lain. Psoriasis dilaporkan terdapat pada 2 sampai 5 juta orang Amerika. Penyakit ini tampak sebagai plak tebal eritematosa dan papula-papula yang tertutup oleh sisik putih seperti perak. Plak ini biasanya terdapat di daerah lutut, siku dan kulit kepala. Tetapi erupsi kulit ini dapat menyerang bagian tubuh manapun kecuali selaput lendir. Kuku sering tampak tebal dan kekuning-kuningan, timbul lekukan multipel dan terpisah dari jaringan dasar kuku. Penyakit kulit ini dapat juga disertai artritis dan secara klasik menyerang sendi interfalang distal. Pada pasien ini tidak ditemukan faktor reumatoid. Artritis tidak selalu berkaitan dengan beratnya psoriasis.

B . Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Untuk mendapatkan gambaran nyata tentang Asuhan Keperawatan pada pasien Psoriasis. 2. Tujuan khusus a. Mengetahui pengertian. Penyebab, Perjalanan penyakit dan Penatalaksanaan pada pasien dengan penyakit psioriasis b. Mengetahui apa yang seharusnya dikaji pada pasien psioriasis

c. Mendapatkan gambaran dan mengetahui Diagnosa keperawatan yang diangkat pada pasien psioriasis. d. Mengetahui Rencana Asuhan Keperawatan pada pasien Psioriasis.

BAB II KONSEP DASAR MEDIS

A. Definisi Psoriasis merupakan penyakit inflamasi noninfeksius yang kronik pada kulit di mana produksi sel-sel epidermis terjadi dengan kecepatan kurang lebih enam hingga Sembilan kali lebih besar dari pada kecepatan yang normal.Sel sel yang baru terbentuk bergerak lebih cepat kepermukaan kulit sehingga tampak sebagai sisik atau flak jaringan epidermis yang profus.Sel epidermis yang mengalami psoriasis dapat berjalan dari lapisan sel basal epidermis ke stratum korneum (permukaan dan melepaskan diri dalam waktu 3 hingga 4 hari sehingga sangat berbeda waktu 26 hingga 28 hari yang normal.Sebagai akibat dari peningkatan jumlah sel basal dan pergerakan sel yang cepat , kejadian maturasi dan pertumbuhan sel yang normal tidak dapat berlangsung.Proses yang abnormal inin tidak memungkinkan terbentuknya lapisan proktektif kulit yang normal. Psoriasis merupakan penyakit kronik yang dapat terjadi pada setiap usia . Perjalanan alamiah penyakit ini sangat berfluktuasi.Misalnya , sinar matahari , istirahat dan musim panas biasanya baik untuk pasien psoriasis. Psoriasis merupakan penyakit yang diturunkan , meskipun cara penurunan penyakit ini belum dimengerti sepenuhnya .

Psoriasis merupakan penyakit radang kulit kronik dan rekuren / kambuhan, ditandai dengan adanya bercak-bercak kemerahan dengan sisik putih yang kasar dan tebal. (httt//www.sinarharapan.co.id) Psoriasis adalah penyakit inflamasi non infeksius yang kronik pada kulit dimana produksi sel-sel epidermis terjadi dengan kecepatan 6-9 x lebih besar daripada kecepatan sel normal. (Smeltzer, Suzanne, hal 1875) Psoriasis adalah sejenis penyakit kulit kronis yang tidak menular, sering kambuh, yang disebabkan oleh proses autoimun dan kadang-kadang dapat diturunkan. Psoriasis adalah sejenis penyakit kulit yang penderitanya mengalami proses pergantian kulit yang terlalu cepat. Biasanya bentuk kulit bersisik.

Kemunculan penyakit ini terkadang untuk jangka waktu lama atau timbul/hilang, penyakit ini secara klinis sifatnya tidak mengancam jiwa dan tidak menular tetapi karena timbulnya dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja sehingga dapat menurunkan kualitas hidup serta mengganggu kekuatan mental seseorang bila tidak dirawat dengan baik. (www.psoriasis.or.id) B. Etiologi Penyebab psoriasis sampai saat ini belum diketahui. Diduga penyakit ini diwariskan secara poligenik. Walaupun sebagian besar penderita psoriasis

timbul secara spontan, namun pada beberapa penderita dijumpai adanya faktor pencetus antara lain: 1. Trauma Psoriasis pertama kali timbul pada tempat-tempat yang terkena trauma, garukan, luka bekas operasi, bekas vaksinasi, dan sebagainya.

Kemungkinan hal ini merupakan mekanisme fenomena Koebner. Khas pada psoriasis timbul setelah 7-14 hari terjadinya trauma. 2. Infeksi Pada anak-anak terutama infeksi Streptokokus hemolitikus sering menyebabkan psoriasis gutata. Psoriasis juga timbul setelah infeksi kuman lain dan infeksi virus tertentu, namun menghilang setelah infeksinya sembuh. 3. Iklim Beberapa kasus cenderung menyembuh pada musim panas, sedangkan pada musim penghujan akan kambuh. 4. Faktor endokrin Insiden tertinggi pada masa pubertas dan menopause. Psoriasis cenderung membaik selama kehamilan dan kambuh serta resisten terhadap pengobatan setelah melahirkan. Kadang-kadang psoriasis pustulosa generalisata timbul pada waktu hamil dan setelah pengobatan progesteron dosis tinggi.

5. Sinar matahari Walaupun umumnya sinar matahari bermanfaat bagi penderita psoriasis namun pada beberapa penderita sinar matahari yang kuat dapat merangsang timbulnya psoriasis. Pengobatan fotokimia mempunyai efek yang serupa pada beberapa penderita. 6. Metabolik Hipokalsemia dapat menimbulkan psoriasis. 7. Obat-obatan Antimalaria seperti mepakrin dan klorokuin kadang-kadang dapat memperberat psoriasis, bahkan dapat menyebabkan eritrodermia. Pengobatan dengan kortikosteroid topikal atau sistemik dosis tinggi dapat menimbulkan efek withdrawal. Lithium yang dipakai pada pengobatan penderita mania dan depresi telah diakui sebagai pencetus psoriasis. Alkohol dalam jumlah besar diduga dapat memperburuk psoriasis. Hipersensitivitas terhadap nistatin, yodium, salisilat dan progesteron dapat menimbulkan psoriasis pustulosa generalisata. Berdasarkan penelitian para dokter, ada beberapa hal yang diperkirakan dapat memicu timbulnya Psoriasis, antara lain adalah : Garukan/gesekan dan tekanan yang berulang-ulang , misalnya pada saat gatal digaruk terlalu kuat atau penekanan anggota tubuh terlalu sering pada saat beraktivitas. Bila Psoriasis sudah muncul dan kemudian digaruk/dikorek, maka akan mengakibatkan kulit bertambah tebal.

Obat telan tertentu antara lain obat anti hipertensi dan antibiotik. Mengoleskan obat terlalu keras bagi kulit. Emosi tak terkendali. Makanan berkalori sangat tinggi sehingga badan terasa panas dan kulit menjadi merah , misalnya mengandung alcohol. Tempat-tempat tertentu pada tubuh cenderung terkena kelainan ini;

tempat-tempat tersebut mencakup kulit kepala, daerah disekitar siku serta lutut, punggung bagian bawah dan genetalia. Psoriasis juga dapat ditemukan pada permukaan ekstensor lengan dan tungkai, daerah disekitar sakrum, serta lipatan intergluteal. Distribusi simetri dilateral merupakan cirihas psoriasis. Pada kurang lebih seperempat hingga separuh dari pasien-pasien, kelainan tersebut mengenai kuku yang menyebabkan terjadinya piting, perubahan pada kuku serta pemngumpulan pada ujung bebas dan pemisahan lempeng kuku. kalau psoriasis terjadi pada telapak kaki dan tangan, keadaan ini bisa menimbulkan lesi pustule. C. Patofisiologi Patogenesis terjadinya psoriasis, diperkirakan karena: 1. Terjadi peningkatan turnover pada epidermis atau kecepatan

pembentukannya dimana

kulit normal memerlukan waktu 26sehingga gambaran klinik itu

28 hari, pada psoriasis hanya 3-4 hari

tampak adanya skuama dimana hiperkeratotik. Disamping pematangan sel-sel epidermis tidak sempurna.

2. Adanya faktor keturunan ditandai dengan perjalanan penyakit yang kronik dimana terdapat penyembuhan dan kekambuhan spontan serta predileksi lesinya pada tempat-tempat tertentu. 3. Perubahan-perubahan biokimia yang terjadi pada psoriasis meliputi: a) Peningkatan replikasi DNA. b) Berubahnya kadar siklik nukleotida. c) Kelainan prostaglandin dan prekursornya. d) Berubahnya metabolisme karbohidrat. Normalnya sel kulit akan matur pada 28-30 hari dan kemudian terlepas dari permukaan kulit. Pada penderita psoriasis, sel kulit akan matur dan menuju permukaan kulit pada 3-4 hari, sehingga akan menonjol dan menimbulkan bentukan peninggian kumpulan plak berwarna kemerahan. Warna kemerahan tersebut berasal dari peningkatan suplai darah untuk nutrisi bagi sel kulit yang bersangkutan. Bentukan berwarna putih seperti tetesan lilin (atau sisik putih) merupakan campuran sel kulit yang mati. Bila dilakukan kerokan pada permukaan psoriasis, maka akan timbul gejala koebner phenomenon. Terdapat banyak tipe dari psoriasis, misalnya plaque, guttate, pustular, inverse, dan erythrodermic psoriasis. Umumnya psoriasis akan timbul pada kulit kepala, siku bagian luar, lutut, maupun daerah penekanan lainnya. Tetapi psoriasis dapat pula berkembang di daerah lain, termasuk pada kuku, telapak tangan, genitalia, wajah, dll. Pemeriksaan histopatologi pada biopsi kulit penderita psoriasis menunjukkan adanya penebalan epidermis dan stratum korneum dan

pelebaran pembuluh-pembuluh darah dermis bagian atas. Jumlah sel-sel basal yang bermitosis jelas meningkat. Sel-sel yang membelah dengan cepat itu bergerak dengan cepat ke bagian permukaan epidermis yang menebal. Proliferasi dan migrasi sel-sel epidermis yang cepat ini menyebabkan epidermis menjadi tebal dan diliputi keratin yang tebal (sisik yang berwarna seperti perak). Peningkatan kecepatan mitosis sel-sel epidermis ini agaknya antara lain disebabkan oleh kadar nukleotida siklik yang abnormal, terutama adenosin monofosfat (AMP) siklik dan guanosin monofosfat (GMP) sikli. Prostaglandin dan poliamin juga abnormal pada penyakit ini. Peranan setiap kelainan tersebut dalam mempengaruhi pembentukan plak psoriatik belum dapat dimengerti secara jelas D. Manifestasi klinis Ileguler yang lebar. Psoriasis dapat menimbulkan permasalahan mulai dari kosmetikaa Lesi muncul sebagai bercak-bercak merah menonjol pada kulit yang ditutupi oleh sisik berwarna perak. Bercak-bercak bersisik tersebut karena penumpukan kulit yang hidup dan mati akibat peningkatankecepatan pertumbuhan serta pergantian sel-sel kulit yang sangat besar. Jika sisisk tersebut dikerok maka terlihat dasar lesiyang berwarnaa merah gelap dengan titik-titik perdarahan. Bercak=bercak ini tidak basah dan bisa terasa gatal atau tidak gatal. tetap berukuran kecil sehingga terbentuk psoriasis gutata. Biasanya lesi melebar secara perlahan-lahan, tetapi setelah beberapa bulan kemudian, lesi-

10

lesi tersebut akan menyatu sehingga terbentuk bercak yang mengganggu hingga keadaan yang menimbulkan cacat dan ketidakmampuan fisik. Tempat-tempat tertentu pada tubuh cenderung terkena kelainan ini; tempat-tempat tersebut mencakup kulit kepala, daerah disekitar siku serta lutut, punggung bagian bawah dan genetalia. Psoriasis juga dapat ditemukan pada permukaan ekstensor lengan dan tungkai, daerah disekitar sakrum, serta lipatan intergluteal. Distribusi simetri dilateral merupakan cirihas psoriasis. Pada kurang lebih seperempat hingga separuh dari pasien-pasien, kelainan tersebut mengenai kuku yang menyebabkan terjadinya piting, perubahan pada kuku serta pemngumpulan pada ujung bebas dan pemisahan lempeng kuku. kalau psoriasis terjadi pada telapak kaki dan tangan, keadaan ini bisa menimbulkan lesi pustule. Gejala dari psoriasis antara lain: Mengeluh gatal ringan Bercak-bercak eritema yang meninggi, skuama diatasnya. Terdapat fenomena tetesan lilin Menyebabkan kelainan kuku

E. Penatalaksanaan Tujuan penatalaksanaan adalah untuk memperlambat pergantian epidermis, meningkatkan resolusi lesi psoriatik dan mengendalikan penyakit tersebut. Pendekatan terapeutik harus berupa pendekatan yang dapat dipahami oleh pasien, pendekatan ini harus bisa diterima secara kosmetik dan tidak

11

mempengaruhi cara hidup pasien. Terapi psoriasis akan melibatkan komitmen waktu dan upaya oleh pasien dan mungkin pula keluarganya. Ada tiga terapi yang standar: topikal, intralesi dan sistemik. a) Terapi topical Preparat yang dioleskan secara topikal digunakan untuk melambatkan aktivitas epidermis yang berlebihan tanpa mempengaruhi jaringan lainnya. Obat-obatannya mencakup preparat ter, anthralin, asam salisilat dan kortikosteroid. Terapi dengan preparat ini cenderung mensupresi epidermopoisis (pembentukan sel-sel epidermis). b) Formulasi ter Mencakup losion, salep, pasta, krim dan sampo. Rendaman ter dapat menimbulkan retardasi dan inhibisi terhadap pertumbuhan jaringan psoriatik yang cepat. Terapi ter dapat dikombinasikan dengan sinar ultraviolet-B yang dosisnya ditentukan secara cermat sehingga

menghasilkan radiasi dengan panjang gelombang antara 280 dan 320 nanometer (nm). Selama fase terapi ini pasien dianjurkan untuk menggunakan kacamata pelindung dan melindungi matanya. Pemakaian sampo ter setiap hari yang diikuti dengan pengolesan losion steroid dapat digunakan untuk lesi kulit kepala. Pasien juga diajarkan untuk menghilangkan sisik yang berlebihan dengan menggosoknya memakai sikat lunak pada waktu amndi. c) Anthralin

12

Adalah preparat (Anthra-Derm, Dritho-Crme, Lasan) yang berguna untuk mengatasi plak psoriatik yang tebal yang resisten terhadap preparat kortikosteroid atau preparat ter lainnya. d) Kortikosteroid Topikal dapat dioleskan untuk memberikan efek antiinflamasi. Setelah obat ini dioleskan, bagian kulit yang diobati ditutup dengan kasa lembaran plastik oklusif untuk menggalakkan penetrasi obat dan melunakkan plak yang bersisik. e) Terapi intralesi Penyuntikan triamsinolon asetonida intralesi (Aristocort, Kenalog-10, Trymex) dapat dilakukan langsung kedalam berck-bercak psoriasis yang terlihat nyata atau yang terisolasi dan resisten terhadap bentuk terapi lainnya. Kita harus hati-hati agar kulit yang normal tidak disuntuik dengan obat ini. f) Terapi sistemik Metotreksat bekerja dengan cara menghambat sintesis DNA dalam sel epidermis sehingga mengurangi waktu pergantian epidermis yang psoriatik. Walaupun begitu, obat ini bisa sangat toksik, khususnya bagi hepar yang dapat mengalamim kerusakan yang irreversible. Jadi, pemantauan melalui pemeriksaan laboratorium harus dilakukan untuk memastikan bahwa sistem hepatik, hematopoitik dan renal pasien masih berfungsi secara adekuat.

13

Pasien tidak boleh minum minuman alkohol selama menjalani pengobatan dengan metotreksat karena preparat ini akan memperbesar kemungkinan kerusakn hepar. Metotreksat bersifat teratogenik

(menimbulkan cacat fisik janin) pada wanita hamil. Hidroksiurea menghambat replikasi sel dengan mempengaruhi sintesis DNA. Monitoring pasien dilakukan untuk memantau tanda-tanda dan gejal depresi sumsum tulang. Siklosporin A, suatu peptida siklik yang dipakai untuk mencegah rejeksi organ yang dicangkokkan, menunjukkan beberapa keberhasilan dalam pengobatan kasus-kasus psoriasis yang berat dan resisten terhadap terapi. Kendati demikian, penggunaannya amat terbatas mengingat efek samping hipertensi dan nefroktoksisitas yang ditimbulkan (Stiller, 1994). Retinoid oral (derivat sintetik vitamin A dan metabolitnya, asam vitamin A) akan memodulasi pertumbuhan serta diferensiasi jaringan epiterial, dan dengan demikian pemakaian preparat ini memberikan harapan yang besar dalam pengobatan pasien psoriasis yang berat. Fotokemoterapi. Terapi psoriasis yang sangat mempengaruhi keadaan umum pasien adalah psoralen dan sinar ultraviolet A (PUVA). Terapi PUVA meliputi pemberian preparat fotosensitisasi (biasanya 8metoksipsoralen) dalam dosis standar yang kemudian diikuti dengan pajanan sinar ultraviolet gelombang panjang setelah kadar obat dalam plasma mencapai puncaknya. Meskipun mekanisme kerjanya tidak dimengerti sepenuhnya, namun diperkirakan ketika kulit yang sudah

14

diobati dengan psoralen itu terpajan sinar ultraviolet A, maka psoralen akan berkaitan dengan DNA dan menurunkan proliferasi sel. PUVA bukan terapi tanpa bahaya; terapi ini disertai dengan resiko jangka panjang terjadinya kanker kulit, katarak dan penuaan prematur kulit. Terapi PUVA mensyaratkan agar psoralen diberikan peroral dan setelah 2 jam kemudian diikuti oleh irradiasi sinar ultraviolet gelombang panjang denagn intensitas tinggi. (sinar ultraviolet merupakan bagian dari spektrum elektromagnetik yang mengandung panjang gelombang yang berkisar dari 180 hingga 400 nm). Terapi sinar ultraviolet B (UVB) juga digunakan untuk mengatasi plak yang menyeluruh. Terapi ini dikombinasikan dengan terapi topikal ter batubara (terapi goeckerman). Efek sampingnya serupa dengan efek samping pada terapi PUVA. Etretinate (Tergison) adalah obat yang relatif baru (1986). Ia adalah derivat dari Vitamin A. Bisa diminum sendiri atau dikombinasi dengan sinar ultraviolet. Hal ini dilakukan pada penderita yang sudah bandel dengan obat obat lainnya yang terdahulu. Di antara pengobatan tersebut diatas, yang paling efektif untuk mengobati psoriasis adalah dengan ultraviolet (fototerapi), karena dengan fototerapi penyakit psoriasis dapat lebih cepat mengalami clearing atau almost clearing (keadaan dimana kelainan / gejala psoriasis hilang atau hampir hilang). Keadaan ini disebut remisi. Masa remisi fototerapi

15

tersebut bisa bertahan lebih lama dibandingkan dengan pengobatan lainnya. Pengobatan fotokemoterapi, yaitu dengan menggunakan kombinasi radiasi ultraviolet dan oral psoralen (PUVA), namun kelemahannya adalah untuk jangka panjang dapat menimbulkan kanker kulit. Fototerapi UVB konvensional dengan menggunakan sinar UVB broadband dengan panjang gelombang 290-320 nm. Terapi kurang praktis karana pasien harus masuk ke dalam light box. F. Pengobatan Pengobatan psoriasis kronik memerlukan pengetahuan tentang berbagai metode pengobatan, kesabaran, dan dokter serta perawat yang

berpengalaman. Penyakit yang terlokalisasi diobati dengan kortikosteroid topical pada wajah dan daerah intertriginosa, dan pada anak-anak digunakan steroid yang lemah seperti hidrokortison 1,5%. Steroid lain yang lemah adalah alclometason ( aclovate) dan desonid ( desowen). Sedangkan pada tubuh, eksremitas dan kulit kepala dianjurkan pemakain steroid kekuatan sedang, seperti triamsinolon ( aristocort ), mometason ( elocon ), betametason valerat ( valisone ), dan flutikason ( cultivate ). Steroid kuat fluosianida ( lidex), halsinonida ( halog), klobetasol ( Temovate ), halobetasol ( ultravate ), dan betametason dipropionat ( Diprolene ) dipakai hanya unyuk plak yang resisten. Steroid berkuatan sedang naamun dapat menyebabkan atrofi kulit yang ireversibel dan penekanan sumbu hipotalamus hipofisis adrenal. Tidak

16

dianjurkan pengobatan dengan steroid topical yang kuat melebihi 2 minggu, dan dosis total tidak boleh melebihi 50 gram krim perminggu. Preparat ter dalam krim atau shampoo jarang dipakai. Menggosok

tubuh dengan minyak yang mengandung ter ( Balnetar ) juga membantu. Semua obat-obatan ini berefek mengurangi proliferasi sel, membuat epidermis menjadi lebih tipis dan menyebabkan plak dan skuama yang ditimbulkan oleh psoriasis menghilang. Derivate vitamin D3 (Donovex), dapay digunakan dengan keberhasilan yang tinggi pada sekitar 30% pasien dengan plak psoriasis. Seringkali donovex digunakan 3 hingga 4 kali perminggu yang dikombinasikan dengan steroid topical yang kuat. Derivat retinoid (Tazorac) digunakan sebagai gel topical untuk plak tebal psoriasis yang terlokalisir. Pengobatan tersebut dapat menyebabkan iritasi local dan seharusnya tidak digunakan pada wanita yang dapat menyuebabkan iritasi local dan seharusnya tidak digunakan pada wanita yang dapat hamil ketika menjadi terapi. Psoriasis generalisata yang berat perlu dirawat di rumah-sakit untuk mendapatkan perawatan intensif dengan steroid topical, ter, dan penyinaran dengan sinar ultraviolet. Sayangnya, kekambuhan psoriasis sering timbul 3 sampaii 6 bulan setelah pasien dipulangkan dari rumah-sakit. Psoriasis berat sekarang dapat diobati pada pasien rawat jalan dengan pengobatan yang didasarkan pada kombinasi penggunaan psoralen yaitu suatu pengobatan footosensitisasi oral dengan psoralen dan sinar ultraviolet panjang (PUVA). UVA tidak efektif kecuali dikombinasikan dengan psoralen. Pengobatan ini

17

sebaiknya jangan dilakukan terhadap pasien yang memiliki riwayat radiasi sinar X, kanker kulit, atau katarak. Pengobatan dengan cara ini menyebabkan karsinoma sel skuamosa, terutama bila dilakukan pada skrotum. Sinar ultraviolet yang lebih pendek ( UVB) berhasil dipakai pada pengobatan psoriasis yang berat.modifikasi sinar UVB membuat para dokter mengobati pasiennya dengan berkas UVB yang sangat tipis,yang lebih efektif dibandingkan sinar UVB yang konvensional. Obat antineoplastik oral yaitu metotreksat tampaknya berguna untuk mengobati pasien dengan psoriasis tipe plak yang berat, psoriasis pustularis, atau arthritis yang membuat pasien menjadi cacat. Tetapi obat oral ini dapat menyebabkan sirosis hati yang ireversebel, atau menekan sumsum tulang. Pengobatan yang lama dengan menggunakan metotreksat membutuhkan pengawasan enzim hati, jumlah leokosit, dan eritrosit yang lebih sering. Biopsy hati biasanya diperlukan ketika dosis kumulatif metotreksat mencapai 1 gram. Metode pengobatan terbaru untuk psoriasis adalah etretinat oral ( Tegison). Retinoid aromatic oral yang baru ini sangat baik untuk mengobati psoriasis eritrodermik danpustularis dan berguna untuk psoriasis plak yang membandel. Obat ini tidak boleh diberikan pada perempuan usia subur karena merupakan teratogen yang kuat. Retinoid juga meningkatkan kadar enzim hati, kolesterol dan trigliserida. Efek samping yang timbul termasuk pengeringan kulit, kehilangan rambut, sakit kepala, diare, miallgia dan artralgia. Bila dipakai lebih dari 12 bulan, harus dilakukan pemeriksaan radiogram tulang untuk memerisa deposit kalsium pada sendi.

18

Asitresin oral (Soriatatance) adalah retinoid yang diindikasikan untuk pengobatan psoriasis berat, termasuk jenis eritrodermik dan pustular. Perempuan yang sedang hamil atau bermaksud untuk hamil setelah paling tidak 3 tahun menghentikan pengobatan sebaiknya tidak menggunakan eritresin oral. Efek samping dan diperlukannya pemantauan enzim hati dan kolesterol sama dengan erittinat oral.

G. Komplikasi Penyakit ini dapat disertai artritis asimetris pada lebih dari satu sendi dengan factor rheumatoid yang negatif. Perubahan akritik ini dapat terjadi sebelum atau sesudah munculnya lesi kulit. Hubungan antara arthritis dan psoriasis yang belum dipahami. Komplikasi lainnya berupa keadaan psoriatic eksfoliatif dimana penyakit tersebut berlanjut dengan mengenai seluruh

permukaan tubuh. Malah fisiologik. Psoriasis dapat menimbulkan frustrasi pada pasien; orang yang melihatnya dapat saja mengamati, berkomentar, mengajukan pertanyaan yang menjengkelkan pasien atau bahkan menghindari pasien. Penyakit ini pada akhirnya bisa menghabiskan sumber daya pasien, mempengaruhi pekerjaannya dan membuat hidup pasien sebagai penderitaan .para remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap efek psikologik penyakit ini. Keluarga juga dapat terkena efek tersebut karena pengobatan yang menghabiskan waktu, pemakaian salep yang mengotori dan

pengelupasan terus-menerus sehingga dapat mengacaukan kehidupan rumah

19

serta menimbulkan kekesalahan. Frustrasi pasien dapat diekspresikan lewat sikap bermusuhan yang ditujukan kepada petugas kesehatan dan orang lain.

20

BAB III KONSEP DASAR KEPERAWATAN A. Pengkajian Pengkajian keperawatan berfokus pada cara pasien menghadapi kondisi kulit yang psoriatic, penampakan kulit normal dan penampakan lesi kulit. Manifestasi utama yang terlihat adalah papula merah bersisik yamg menyatu umtuk membentuk plak berbentuk oval dengan batas yang jelas. Sisik atau skuama yang berwarna putih perak juga terdapat. Daerah kulit didekatnya akan memperlihatkan plak yang licin dan merah dengan permukaan yang mengalami maserasi. Pemeriksaan harus dilakukan pada daerah-daerah, khususnya yang cenderung untuk mengalami psoriasis, yaitu: siku, lutut, kulit kepala, cela gluteus, jari-jari tangan dan jari-jari kaki(uantuk menemukan lubang-lubang kecil). Perawat harus menilai dampak penyakit tersebut pada pasien dan strategi koping yang digunakan untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari serta interaksi antara anggota keluarga dan teman-teman. Banyak pasien perlu ditenteramkan kekhawatirannya dengan penjelasan bahwa penyakitnya itu tidak menular, bukan menerminkan higine perorangan yang buruk dan juga bukan kanker kulit. Pengkajian 11 Pola Gordon: a. Pola Persepsi Kesehatan 1) Adanya riwayat infeksi sebelumya. 2) Pengobatan sebelumnya tidak berhasil.

21

3) Riwayat mengonsumsi obat-obatan tertentu, mis., vitamin; jamu. 4) Adakah konsultasi rutin ke Dokter. 5) Hygiene personal yang kurang. 6) Lingkungan yang kurang sehat, tinggal berdesak-desakan. b. Pola Nutrisi Metabolik 1) Pola makan sehari-hari: jumlah makanan, waktu makan, berapa kali sehari makan. 2) Kebiasaan mengonsumsi makanan tertentu: berminyak, pedas. 3) Jenis makanan yang disukai. 4) Napsu makan menurun. 5) Muntah-muntah. 6) Penurunan berat badan. 7) Turgor kulit buruk, kering, bersisik, pecah-pecah, benjolan. 8) Perubahan warna kulit, terdapat bercak-bercak, gatal-gatal, rasa terbakar atau perih. c. Pola Eliminasi 1) Sering berkeringat. 2) Tanyakan pola berkemih dan bowel. d. Pola Aktivitas dan Latihan 1) Pemenuhan sehari-hari terganggu. 2) Kelemahan umum, malaise. 3) Toleransi terhadap aktivitas rendah. 4) Mudah berkeringat saat melakukan aktivitas ringan.

22

5) Perubahan pola napas saat melakukan aktivitas. e. Pola Tidur dan Istirahat 1) Kesulitan tidur pada malam hari karena stres. 2) Mimpi buruk. f. Pola Persepsi Kognitif 1) Perubahan dalam konsentrasi dan daya ingat. 2) Pengetahuan akan penyakitnya. g. Pola Persepsi dan Konsep Diri 1) Perasaan tidak percaya diri atau minder. 2) Perasaan terisolasi. h. Pola Hubungan dengan Sesama 1) Hidup sendiri atau berkeluarga 2) Frekuensi interaksi berkurang 3) Perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran i. Pola Reproduksi Seksualitas 1) Gangguan pemenuhan kebutuhan biologis dengan pasangan. 2) Penggunaan obat KB mempengaruhi hormon. j. Pola Mekanisme Koping dan Toleransi Terhadap Stress 1) Emosi tidak stabil 2) Ansietas, takut akan penyakitnya 3) Disorientasi, gelisah k. Pola Sistem Kepercayaan 1) Perubahan dalam diri klien dalam melakukan ibadah

23

2) Agama yang dianut

24

B. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan data-data hasil pengkajian keperawatan, diagnosis keperwatan pasien yang utama menakup: a. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan terapinya. b. Gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan lesi dan reaksi inflamasi. c. Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan perasaan malu terhadap penampakan diri dan persepsi diri tentang ketidakbersihan.

C. Intervensi Keperawatan 1) Tingakatkan pemahaman Perawat harus menjelaskan dengan perasaan yang peka bahwa sampai saat ini masih belum terdapat pengobatan untuk penyembuhan total penyakit psoriasis, bahwa penanganan seumur hidup tidak diperlukan dan bhwa keadaan ini dapat dihilangkan serta kendalikan. Patofisilogi psoriasis ditinjau kembali termasuk factor-faktor

pencetusnya, yaitu: setiap iritasi atau cedera pada kulit (luka tersayat, abrasi, terbakar cahaya matahari), setia penyakit yang baru saja menjangkiti ( misalnya streptokokus pada faring) dan stress emosional. Perlu ditegaskan bahwa trauma yang berulang-ulang pada kulit di samping lingkungan yang tidak mendukung (misalnya, hawa dingin) atau preparat tertentu (misalnya, litium, penyekat-beta, indometasin) dapat membuat psoriasis kambuh kembali. Kepada pasien harus diingatkan

25

bahwa pemakaian obat-obat tanpa resep doctor dapat memperburuk penyakit psoriasis yang ringan. Peninjauan kembali dan penjelasan tentang program terapa merupakan unsure esensial untuk menjmin kepatuhan pasien. Sebagai contoh, jika pasien menderita kelainan ringan yang hanya terbatas pada daerah tertentu, seperti siku atau lutut, penggunaan emolien untuk mempertahankan kulit dan mengurangi pembentukan sisik mungkin merupakan satu-satunya terapi yang diperlukan. Di lain pihak. Jika pasien menggunakan antralin, maka jadwal pemberian obat, efek samping yang mungkin timbul dan permasalahan yang perlu dilaporkan kepada perawat atau dokter harus dijelaskan. Sebagaian besar pasien akan memerlukan rencana perawatan yang lebih komprehensif yang berkisar mulai dari pemakaian obat-obat tropical dab sampo hingga terapi yang lebih kompleks dan memakan waktu lama seperti kombinasi psoralen dengan sinar ultraviolet A (PUVA). Lembar penyuluhan pasien yang mencakup uraian tentang terapi dan pedoman khusus akan membantu, kendati tidak dapat menggantikan pembicaraan tatap muka mengenai rencana terapi. a. Tingkatkan Integritas Kulit Untuk menghindari cedera kulit, pasien harus dinasehati agar tidak mencubit atau menggarauk daerah yang sakit. Tindakan untuk mencegah kekeringan kulit perlu dianjurkan karena kulit yang kering akan memperburuk keadaan psioriasis. Tindakan membasuh lesi

26

yang terlampau sering akan menambah rasa sakit dan pembentukan sisik. Air yang dipakai harus hangat dan tidak panas; kulit harus dikeringkan dengan cara menepuknya memakai handuk dan bukan mengosoknya kuat-kuat. Preparat emolien memiliki efek pelembap dengan menimbulkan lapisan oklusif pada permukaan kulit sehingga kehilangan air yang normalnya akan terjadi dapat dihambat dan demikian air yang terperangkap itu akan meniptakan dehidrasi stratum korneum. Larutan pembersih emolien atau bath oil dapat menambah rasa nyaman pada luka dan mengurangi pembentukaan sisik. Pelunakan kulit dapat mencegah fisura. b. Perbaiki Konsep Diri dan Citra Tubuh Hubungan terapeutik antara professional pelayanan kesehatan dan penderita psoriasis merupakan hubungan yang mencakup pendidikan serta dukungan. Setelah hubungan tersebut diciptakan, pasien harus lebih memiliki keyakinan diri dan pemberdayaan dalam melaksanakan program terapi serta menggunakan strategi koping yang membantu mengatasi perubahan pada konsep-diri serta citra tubuh yang ditimbulkan oleh penyakit psoriasis tersebut. Pengenalan terhadap strategi koping yang berhasil dijalankan oleh penderita psoriasis lainnya dan saran-saran untuk mengurangi atau menghadapi situasi penuh-stres di rumah, sekolah atau tempat kerja akan memfasilitasi ekspektasi pasien yang lebih positif dan kesediaannya untuk memahami sifat penyakit yang kronikitu.

27

c. Pendidikan pasien dan pertimbangan perawatan di rumah Bahan untuk penyuluhan yang sudah dicetak dapat disediakan untuk memperkuat diskusi tatap-muka dengan pasien mengenai pedoman terapi dan berbagai masalah lainnya. Sebagi contoh, pasien dan keluarga yang merawatnya mungkin perlu mengetahui bahwa preparat topical antralin akan meninggalkan noda berwarna ungu kecoklatan pada kulit kendati noda warna ini nantinya akan hilang setelah terapi antralin dihentikan. Disamping itu, kepada mereka harus dianjurkan untuk menutup lesi yang diolesi antralin (dengan memakai kasa, stoking, atau penutup lainnya yang lunak) agar preparat ini tidak menimbulkan noda warna pada pakaian, perabot atau seprei. Pasien-pasien yang memakai preparat topical kortikosteroid berkali-kali pada muka dan sekitar mata harus mewaspadai kemungkinan terjadinya katarak. Pedoman yang ketat dalam pemakaian obat-obat ini perlu ditekankan, karena penggunaan yang berlebihan dapat mengakibatkan atrofi kulit, striae (guratan pada kulit) dan resistensi obat. Pemakaian preparat terbisa menimbulkan kesan jorok dan sukar dilaksanakan sehingga kebanyakan pasien tidak menerimanya dengan sepenuh hati. Pengolesan preparat ter bias membutuhkan waktu sampai 2 jam atau lebih dan memerlukan pelaksanaan upayaupaya kosmetika. Penyampaian tip tentang cara pemakaian dan hasil

28

akhir yang diharapkan dari terapi tersebut untuk memastikan kepatuhan pasien akan berlangsung melalui jalan panjang. Fotokemoterapi (PUVA) yang hanya dilakukan pada psoriasis yang sedang hingga berat akan menimbulkan fotosensitisasi yang berarti bahwa kulit pasien menjadi peka terhadap sinar matahari sampai metoksalen yang diberikan telah diekskresikan ke luar dari tubuh (dalam waktu sekitar 6 sampai 8 jam). Karena itu, pasien yang menjalani terapi PUVA harus menghindari pajanan sinar matahari. Jika pajanan ini tidak terelakkan. Kulit pasien harus dilindungi dengan preparat tabir-surya dan pakaian. Kacamata gelap yang berwarna kelabu atau hijau harus digunakan untuk melindungi mata selama dan sesudah terapi; pemeriksaan olfalmologik harus dilaksanakan secara teratur. Mual, yang menjadi masalah pada sebagian pasien, akan berkurang jika metoksalen diberikan bersama makanan. Pelumas dan bath oil dapat digunakan untuk membantu menghilangkan skuama dan mencegah kekeringan yang berlebihan pada kulit. Tidak ada krim atau pun minyak yang berlebihan pada kulit. Tidak ada krim atau pun minyak yang dapat dipakai pada kulit kecuali yang akan dilindungi terhadap sinar ultraviolet. Preparat kontrasepsi harus digunakan wanita dalam usia reproduktif yang melakukan hubungan seks karena efek teratogenik PUVA masih belum diketahui. Pasien yang menjalani terapi ini harus

mendapatkan pengawasan yang konstan serta seksama dan

29

dimotivasi untuk mengenali setiap perubahan yang tidak lazim pada kulit. Jika dikehendaki, pasien dapat dikonsulkan pada seorang professional kesehatan jiwa yang bisa mengurangi strain emosional dan memberikan dukungan. Menjadi anggota sebuah kelompok pendukung dapat pula membantu pasien untuk mengakui bahwa dirinya tidak sendirian dalam mengalami berbagai proses

penyesuaian kehidupan sebagai respon terhadap penyakit kronik yang tampak nyata. The National Psoriasis Foundation telah menerbitkan bulletin dan laporang berkala tentang berbagai perkembangan baru yang relevan dalam hal penyakit ini. \

1. DP1 Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi antara dermal-epidermal sekunder akibat psoriasis. Tujuan : Kerusakan integritas kulit dapat teratasi dalam 3 x 24 jam. Kriteria Hasil : a. Area terbebas dari infeksi lanjut. b. Kulit bersih, kering, dan lembab Intervensi : a. Kaji keadaan kulit R/ : Mengetahui dan mengidetifikasi kerusakan kulit untuk melakukan intervensi yang tepat.

30

b. Kaji keadaan umum dan observasi TTV R/ Mengetahui perubahan status kesehatan pasien. c. Kaji perubahan warna kulit R/ : Megetahui keefektifan sirkulasi dan mengidentifikasi terjadinya komplikasi. d. Pertahankan agar daerah yang terinfeksi tetap bersih dan kering R/ : Membantu mempercepat proses penyembuhan. e. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat-obatan R/ : Untuk mempercepat penyembuhan.

2. DP2 Ketakutan berhubungan dengan perubahan penampilan Tujuan : Ketakutan teratasi setelah 3 x 24 jam. Kriteria Hasil : a. Klien menyatakan peningkatan kenyamanan psikologis dan fisiologis. b. Dapat menjelaskan pola koping yang efektif dan tidak efektif. c. Mengidentifikasi respons kopingnya sendiri. Intervensi : a. Kaji ulang perubahan biologis dan fisiologis R/ : Reaksi fisik kronis terhadap stresor-stresor menunjukkan adanya penyakit kronis dan ketahanan rendah. b. Gunakan sentuhan sebagai toleransi R/ : Kadang-kadang dengan memegang secara hangat akan menolongnya mempertahankan kontrol.

31

c.

Dukung jenis koping yang disukai ketika mekanisme adaftif digunakan R/ : Marah merupakan respon yang adaptif yang menyertai rasa takut.

d.

Anjurkan untuk mengekspresikan perasaannya R/ : Dapat mengurangi stres pada pasien.

e.

Anjurkan untuk menggunakan mekanisme koping yang normal R/ : Ketepatan dalam menggunakan koping merupakan salah satu cara mengurangi ketakutan.

f.

Anjurkan klien untuk mencari stresor dan menghadapi rasa takutnya R/ : Kesadaran akan faktor penyebabkan ketakutan akan memperkuat kontrol dan mencegah perasaan takut yang makin memuncak.

3. DP3 : Ansietas yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan sekunder akibat penyakit psoriasis Tujuan : Ansietas dapat diminimalkan sampai dengan diatasi setelah 3 x 24 jam Kriteria Hasil : a. Pasien tampak rileks b. Pasien mendemonstrasikan/menunjukan kemampuan mengatasi

masalah dan menggunakan sumber-sumber secara efektif c. Tanda-tanda vital normal d. Pasien melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi Intervensi :

32

a. Kaji tingkat ansietas dan diskusikan penyebab bila mungkin R/ : Identifikasi masalah spesifik akan meningkatkan kemampuan individu untuk menghadapinya dengan lebih realistis b. Kaji ulang keadaan umum pasien dan TTV R/ : Sebagai indikator awal dalam menentukan intervensi berikutnya c. Berikan waktu pasien untuk mengungkapkan masalahnya dan dorongan ekspresi yang bebas, misalnya rasa marah, takut, ragu R/ : Agar pasien merasa diterima d. Jelaskan semua prosedur dan pengobatan R/ : Ketidaktahuan dan kurangnya pemahaman dapat menyebabkan timbulnya ansietas e. Diskusikan perilaku koping alternatif dan tehnik pemecahan masalah R/ : Mengurangi kecemasan pasien

4. DP4 Gangguan konsep diri berhubungan dengan krisis kepercayaan diri. Tujuan : Gangguan konsep diri teratasi dalam 3 x 24 jam Kriteria Hasil : a. Dapat berinteraksi seperti biasa. b. Rasa percaya diri timbul kembali. Intervensi : a. Kaji perubahan perilaku pasien seperti menutup diri, malu berhadapan dengan orang lain R/ : Mengetahui tingkat ketidakpercayaan diri pasien dalam menentukan intervensi selanjutnya.

33

b. Bersikap realistis dan positif selama pengobatan, pada penyuluhan pasien R/ : Meningkatkan kepercayaan dan mengadakan hubungan antara perawat-pasien. c. Beri harapan dalam parameter situasi individu R/ : Meningkatkan perilaku positif d. Berikan penguatan positif terhadap kemajuan R/ : Kata-kata penguatan dapat mendukung terjadinya perilaku koping positif. e. Dorong interaksi keluarga R/ : Mempertahankan garis komunikasi dan memberikan dukungan terus-menerus pada pasien.

5. DP5 Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi. Tujuan : Pengetahuan pasien bertambah Kriteria Hasil : a. Pasien menunjukkan pemahaman akan penyakitnya. b. Pasien menunjukkan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Intervensi : a. Kaji ulang pengobatan R/ : Pengulangan memungkinkan kesempatan untuk bertanya dan meyakinkan pemahaman yang akurat. b. Ajar tanda dan gejala serta kemungkinan yang dapat menimbulkan inflamasi R/ : Agar pasien memahami dan mencegah faktor resiko inflamasi serta dapat mengantisipasi secara dini kelanjutan keadaan tersebut.

34

c. Diskusikan jadwal pengobatan R/ : Agar pasien dapat menentukan waktu yang tepat untuk terapi sehingga memahami fungsi terapi yang diikuti. d. Diskusikan tentang peningkatan jadwal kunjungan ke Dokter R/ : Agar pasien lebih mengerti akan kondisinya D. Evaluasi Hasil yang diharapkan 1. Mencapai pengetahuan dan pemahaman terhadap proses penyakit serta therapinya a. Mendeskripsikan psoriasis dan therapy yang dipreskripsikan b. Mengutarakan dengan kata-kata bahwa trauma, infeksi dan stress emosional merupakan factor pemicu c. Mempertahankan pengendalian penyakit dengan therapy yang tepat d. Memperagakan penggunaan therapy topikal yan benar 2. Mencapai kulit yang lebih halusdan pengendalian lesi. a. Tidak ada lesi baru yang timbul b. Mempertahankan kulit agar selalu terlumasi dan lunak 3. Mengembangkan kesadaran untuk penerimaan diri a. Mengindentifikasi orang yang bias diajak untuk membicarakan perasaan dan keprihatinan. b. Mengekspresikan optimisme tentang hasil akhir terapi 4. Tidak mengalami arthritis psoriatic a. Tidak mengalami ganguan rasa nyaman pada sendi

35

b. Lesi kulit dapat dikendalikan tanpa perluasan penyakit

36

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Psoriasis merupakan penyakit kronik yang dapat terjadi pada setiap usia dan dilaporkan pada dua sampai lima juta orang Amerika. Psoriassis merupakan penyakit herediter, meskipun cara penurunannya masi belum dipahami. Psoriassis tampak sebagai plak eritem tebal yang ditutup[i oleh sisik putih seperti plak. Plak biasanya terletak pada lutut, siku, dan kulit kepala. Terapi psoriassis kronik memerlukan pengetahuan berbagai metode pengobatan, kesabaran, dan dokter atau praktisi perawat yang berpengalaman. Pengobatan harus pleksibel, dan terapi alternatif harus diberikan jika pasien gagal berespon dengan program pengobatan aslinya. Psoriassis generalisata berat memerlukan perawatan dirumah sakit untuk terapi steroid topikal yang intensif, ter, dan sinar ultraviolet. Kasus psoriasis makin sering dijumpai. Meskipun tidak menyebabkan kematian, penyakit ini menyebabkan gangguan kosmetik, terlebih lagi mengingat perjalanan penyakitnya menahun dan residif.Insidens pada orang kulit putih lebih tinggi dari pada kulit berwarna Insidens pada pria agak lebih banyak dari pada wanita. Proriasis terdapat pada semua usia, tetapi umumnya pada orang dewasa.

37

B. Saran Semoga dengan adanya makalah yang berjudul Psoriasis ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya, terutama bagi Mahasiswa Mahasiswi Fakultas Kesehatan Jurusan Keperawatan Universitas Borneo Tarakan. Agar makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan yang sebelumnya kita belun ketahui, Dan dengan adanya makalah ini kita dapat mengetahui tanda dan gejala seseorang yang terkena Psioriasis , mengetahui penyebab nya dan cara penanganannya.

38