Profil Wilayah Provinsi Papua Barat

1

1.1

ASPEK FISIK DASAR

Aspek fisik dasar yang akan dipaparkan diantaranya mengenai batas administrasi dan geografi, klimatologi, suhu dan kelembaban, morfologi, kondisi geologi, karakteristik tanah, Hidrologi, karakteristik hidro-oseanografi, dan ketersediaan lahan. 1.1.1 Perkembangan Pembentukan Daerah

Provinsi Papua Barat secara definitif dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999 dengan nama Provinsi Irian Jaya Barat bersamaan dengan pembentukan Provinsi Irian Jaya Tengah, Kabupaten Mimika, Kabupaten Paniai, Kabupaten Puncak Jaya, dan Kota Sorong. Namun pemekaran wilayah provinsi ini ditangguhkan karena terjadi penolakan terhadap pemekaran ini, sementara pemekaran kabupaten tetap dilaksanakan sesuai UU Nomor 45 Tahun 1999 tersebut. Berdasarkan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat,

1-1

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Teluk Bintuni, dan Kabupaten Teluk Wondama di Provinsi Papua, maka terjadi pemekaran untuk beberapa kabupaten. Pemekaran wilayah untuk Provinsi Irian Jaya Barat sebagai berikut: 1. Kabupaten Sorong dengan dua kabupaten pemekaran, yaitu: Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Raja Ampat. 2. Kabupaten Manokwari dengan dua kabupaten pemekaran, yaitu: Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Teluk Wondama 3. Kabupaten Fak Fak dengan satu kabupaten pemekaran, yaitu Kabupaten Kaimana

Setelah memiliki wilayah yang jelas, penduduk, aparatur pemerintahan, anggaran, anggota DPRD, serta gurbernur dan wakil gubernur definitive, Provinsi Irian Jaya Barat mulai membangun dirinya secara sah. Sejak tanggal 18 April 2007, Provinsi Irian Jaya Barat berubah nama menjadi Provinsi Papua Barat, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007. Pada tahun 2008 dimekarkan satu kabupaten baru di Provinsi Papua Barat yaitu Kabupaten Tambrauw. Dasar hukum pembentukan Kabupaten Tambrauw adalah UndangUndang Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2008 dengan ibukota kabupaten yang terdapat di distrik Fef. Berdasarkan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 127/PUUVII/2009 tanggal 25 Januari 2009, Kabupaten Tambrauw dibentuk dari sebagian bekas wilayah Kabupaten Sorong dan Kabupaten Manokwari, yaitu Distrik Abun, Distrik Amberbaken, Distrik Fef, Distrik Kebar, Distrik Kwoor, Distrik Miyah, Distrik Moraid, Distrik Mubrani, Distrik Sausapor, Distrik Senopi, dan Distrik Yembun. Berdasarkan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI (Nomor 127/PUU-VII/2009 tanggal 25 Januari 2009), maka batas wilayah Kabupaten Tambrauw adalah sebagai berikut: Utara Selatan Barat Timur : Samudera Pasifik : Kabupaten Sorong Selatan : Kabupaten Sorong : Distrik Sidey, Kabupaten Manokwari

Pada tahun 2009 terdapat kabupaten baru yang dimekarkan yaitu Kabupaten Maybrat. Kabupaten Maybrat merupakan pemekaran dari wilayah kabupaten Sorong. Pada 27 Oktober 2008 dikeluarkan Keputusan Bupati Sorong Selatan Nomor 133 Tahun 2008 tentang Penyerahan Sebagian Cakupan Wilayah Bawahan Kabupaten Sorong Selatan ke

LAPORAN AKHIR 1-2

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten Sorong, wilayah yang diserahkan terdiri dari 11 (sebelas) distrik, yaitu: Distrik Aifat, Distrik Aifat Utara, Distrik Aifat Timur, Distrik Aifat Selatan, Distrik Aitinyo Barat, Distrik Aitinyo, Distrik Aitinyo Utara, Distrik Ayamaru, Distrik Ayamaru Utara, Distrik Ayamaru Timur, dan Distrik Mare. Pada 16 Januari 2009 disahkanlah UURI Tahun 2009 Nomor 13 tentang Pembentukan Kabupaten Maybrat sebagai hasil pemekaran dari kabupaten Sorong. Adapun komposisi distrik bawahannya adalah tepat sama dengan komposisi distrik di atas. Ini terjadi karena pemekaran dari Kabupaten Sorong Selatan belum memenuhi syarat teknis dan legalitas, jadi upaya percepatan berupa pemindahan kembali 11 distrik calon distrik Kabupaten Maybrat untuk sementara waktu ke kabupaten induknya, dan dilanjutkan dengan proses pembentukan Kabupaten Maybrat sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Sorong, bukan dari Kabupaten Sorong Selatan. Peresmian dilakukan pada tanggal 15 April 2009 di Jakarta, adapun batas wilayah Kabupaten Maybrat adalah sebagai berikut: Utara Selatan Barat Timur 1.1.2 : Fef, Senopi, Kebar : Kokoda, Kais : Moswaren, Wayer, Sawiat : Moskona Utara, Moskona Selatan Batas Administrasi dan Geografi

Provinsi Papua Barat secara geografis terletak pada 124°-132° Bujur Timur dan 0°-4° Lintang Selatan, tepat berada di bawah garis khatulistiwa dengan ketinggian 0-100 meter dari permukaan laut. Kabupaten Fakfak merupakan kabupaten tertinggi dengan ketinggian 10-100 meter diatas permukaan laut, sedangkan kota-kota lainnnya berkisar antara 10-50 meter diatas permukaan laut. Batas geografis Provinsi Papua Barat adalah : Sebelah Utara Sebelah Barat Sebelah Timur : Samudera Pasifik : Laut Seram (Provinsi Maluku) : Provinsi Papua Sebelah Selatan: Laut Banda (Provinsi Maluku)

Wilayah Provinsi Papua Barat memiliki 11 wilayah Pemerintahan Daerah yang terdiri dari 9 Kabupaten dan 1 Kota, 154 distrik, dan 1.361 kampung dengan luas wilayah secara keseluruhan sebesar 97.024,37 km² (berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2008). Luas dan perbandingan persentase luas wilayah kota kabupaten di Provinsi Papua Barat disajikan pada Tabel 1.1 dan Gambar 1.2. Pembagian Daerah Administratif menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 dapat dilihat pada Tabel 1.2. Secara spasial administrasi Provinsi Papua Barat diperinci berdasarkan kabupaten/kota dapat dilihat pada Gambar 1.1. Tabel 1.1 Luas Wilayah dan Persentase menurut Kabupaten/Kota LAPORAN AKHIR 1-3

953.136.871 6. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kabupaten/Kota Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana Kabupaten Teluk Wondama Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Manokwari Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Sorong Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Tambrauw Kabupaten Maybrat Kota Sorong Luas Planemetrik (Km2) 14.60 4.52 15.99 10.55 7.1 Persentase Luas Wilayah Provinsi Papua Barat Menurut Kabupaten/Kota Sumber: Diolah dari Provinsi Papua Barat Dalam Angka 2010 Tabel 1.65 100.500 14.5 19.8 18.38 0.08 13.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Persentase (%) 9.320 18.52 10.2 Pembagian Daerah Administratif Provinsi Papua Barat menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 No.84 8.91 12.33 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka 2010 Gambar 1.35 12.00 Total 144.084.699 13.80 10.521. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kabupaten/Kota Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana Kabupaten Teluk Wondama Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Manokwari Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Sorong Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Tambrauw Kabupaten Maybrat Kota Sorong Total IbuKota Fakfak Kaimana Wasior Bintuni Manokwari Teminabuan Aimas Waisai Fef Kumurkek Sorong Jumlah Kecamatan 9 7 13 24 29 13 18 13 11* 11 6 154 Jumlah Kelurahan 7 2 1 2 9 2 13 1 1 30 68 Jumlah Kampung 122 84 75 114 402 110 118 97 53 108 1293 LAPORAN AKHIR 1-4 .111 943.236.21 No.63 9.665 12.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 * Disesuaikan dengan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 127/PUU-VII/2009 LAPORAN AKHIR 1-5 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.2 Peta Batas administrasi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-6 .

106.836 2004 3.306 LAPORAN AKHIR 1-7 .470 2.345 2.689 1. dan pola ganda (C).067. pola berfluktuasi (B). 1. Kaimana Kab. Pola tunggal D memiliki curah hujan tertinggi pada bulan Juli/Agustus.492 4. Manokwari Kab.964.059 1. Pada pola ini biasanya curah hujan bulanan tidak teratur atau hampir merata sepanjang tahun. Suhu sangat bergantung dari ketinggian.1. Pada umumnya pegunungan di Kepala Burung.091 2.3 2008 2.680 2. Sorong Selatan Kab.319 2. Sorong 2003 3. dalam setahun terjadi dua kali puncak curahan tertinggi atau dua kali puncak curahan terendah. Pola tunggal A atau pola sederhana (simple wave) memiliki curah hujan terendah pada bulan Juli/Agustus. pantai Utara dan di sebelah Utara kordirela mendapatkan hujan terbanyak dari angin Barat Laut dalam bulan Oktober hingga Maret.209 127 2.602 4. Teluk Bintuni Kab.964.3 Banyaknya Curah Hujan di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2007 (mm) Kabupaten/Kota Kab. Musim hujan di setiap daerah tergantung dari waktu di mana musim ini terpaparkan pada satu atau kedua sistem angin tersebut.3 4.3 Klimatologi Provinsi Papua Barat terletak tepat di sebelah Selatan garis khatulistiwa sehingga termasuk dalam wilayah tropika humida. sedangkan ketinggian dan kejajaran barisan pegunungan mempengaruhi pola angin dan presipitasi dalam setiap daerah. Tabel 1.3. Teluk Wondama Kab.600 2.1 Curah Hujan Musim di Papua Barat dicirikan oleh angin Tenggara yang bertiup sekitar pertengahan April hingga September dan Muson Barat Laut yang di mulai dalam bulan Oktober hingga Maret. Karena daerahnya yang bergunung-gunung. Pola umum ini menjadi rumit oleh topografi dan pola angin.3 1.3 4. Fakfak Kab. sedangkan dataran rendah di Selatan Kepala Burung dan jazirah Onin dan Bomberai serta dataran rendah di Selatan kordirela mendapatkan hujan terbanyak antara bulan April dan September ketika angin bertiup dari arah tenggara. Pada pola C. Pola umum iklim dan cuaca sangat dipengaruhi oleh topografinya yang kasar. Pola A dan D menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antara jumlah curah hujan pada musim hujan dan musim kemarau. Pada pola B.1.048 2005 3.537 2006 3.9 970 1.537 2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. maka iklim di Provinsi Papua Barat sangat bervariasi melebihi daerah Indonesia lainnya.964.323 2. Iklim di Provinsi Papua Barat memiliki 3 (tiga) pola yaitu pola tunggal (A dan D). perbedaan antara jumlah curahan pada musim hujan dan musim kemarau tidak jelas.351 2007 3. Angin Tenggara dan muson Barat Laut biasanya panas dan mengandung uap air yang diangkut ketika melewati samudera.586 133 1.048 2.313 1.836 2. Jumlah hujan yang jatuh di setiap tempat di Papua secara khusus dikendali oleh topografi.

Teluk Bintuni Kab. Sorong 185 220 230 Kab. Sorong Selatan 220 230 Kab.351 181 2007 4.d. kelas IV dengan curah hujan antara 3000 s.d. Manokwari 187 178 203 Kab.306 358. Kabupaten Manokwari memiliki jumlah hari hujan yang paling sedikit dibandingkan Kabupaten/Kota lainnya yaitu denan rata-rata sebanyak 192 hari hujan.4 Banyaknya Hari Hujan di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2008 (hari) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab. Tabel 1. yaitu kelas I dengan curah hujan antara 0 s.3 Peta iklim LAPORAN AKHIR 1-8 .d.836 2. Fakfak 210 210 232 Kab.3 mm (Sorong Selatan).2 mm (Kota Sorong) sampai dengan 4. Kabupaten Raja Ampat.836 2.537 Kota Sorong 2. kelas III dengan curah hujan antara 2000 s. Teluk Wondama Kab.3 dan Gambar 1. dan kelas V di Kabupaten Sorong. 3000 mm/tahun.3 369 2008 4. Hampir seluruh wilayah Papua Barat memiliki kelas curah hujan tipe III pola C. Rata-rata curah hujan selama tahun 2008 berkisar antara 358. Raja Ampat 185 220 230 Kota Sorong 185 218 230 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2006 228 177 254 150 230 156 156 156 2007 225 204 254 212 230 225 225 228 2008 176 215 223 225 286 286 288 Rata-rata jumlah hari hujan di Provinsi Papua Barat berkisar antara 150 s. Gambar 1. Pada tahun 2009 ini tidak terdapat kabupaten yang memiliki curah hujan kelas IV. dan kelas V dengan curah hujan antara 4000 s. kelas II di kabupaten Kaimana dan Kabupaten manokwari. Dari data diatas terlihat bahwa di Kabupaten Sorong. 5000 mm/tahun. dan kabupaten Raja Ampat. kelas II dengan curah hujan antara 1000 s.4.048 2. 4000 mm/tahun. Pada tahun 2009 curah hujan kelas I terdapat di Kota Sorong.964.2 Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2006 2.964. Kaimana 214 218 208 Kab. Kelas III di Kabupaten Fakfak. 1000 mm/tahun.d. kabupaten Sorong Selatan.d. dengan curah hujan sekitar 2000 s. 2000 mm/tahun.d.d.047 211 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Berdasarkan jumlah curah hujannya wilayah Papua Barat memiliki tiga kelas curah hujan. Secara spasial keadaan iklim dan persebaran curah hujan di Provinsi papua barat ditunjukkan pada Gambar 1. Raja Ampat 2. 3000 mm/tahun. 288 hari hujan. dan Kota Sorong memiliki karakteristik jumlah hari hujan yang hampir serupa.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.4 Peta curah Hujan LAPORAN AKHIR 1-9 .

Pada malam hari. Di dataran rendah. suhu harian biasanya antara 29 oC – 32 oC.3. sedangkan di daerah LAPORAN AKHIR 1-10 .2 Suhu dan Kelembaban Suhu dan kelembaban merupakan komponen iklim paling konstan di Provinsi Papua Barat. sementara di daerah pegunungan pada 1500-2000 m dpl. 5-10 derajat lebih dingin. suhu di sepanjang pantai 5-8 derajat lebih dingin daripada siang hari.1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.

83 2008 84.00°C juga berada di Kabupaten Fakfak (data hasil pencatatan suhu udara pada beberapa stasiun yang berada di Kabupaten/Kota se-Provinsi Papua Tahun 2008).80 31.55 30.90 31. Sorong 31.10 23.5 Suhu Udara Rata-rata Menurut Lokasi Stasiun di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2008 (°C) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab.10 23.70 25.48 23.17 2007 86. Kaimana 27.70 31.50 2004 85. Fakfak 28.03 25.60 27.20 33.20 25.30 Kab.9 85.00 26.50 23. dan suhu minimal sebesar 23.70 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2006 25. Fakfak Kab.8 Kab.80 30.60 2007 25.00 … 26.80 27.60 26.6 27.40 22.40 … … 2006 Max Min 22.00 31.49 … … … 32.60 27.60 33.90 Kota Sorong 31. Kaimana Kab.22 27. Teluk Wondama Kab.50 82.67 2006 85.5 terlihat bahwa suhu udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar 25.46 27.90 21.6.46 °C dengan suhu maksimal sebesar 28.05°C terjadi di wilayah Kabupaten Fakfak. Sorong 27.70 30.55 23.7 Kelembaban Udara Rata-rata di Papua Barat Tahun 2003-2008 (%) Kabupaten/Kota Kab.60 27.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 pegunungan kisarannya lebih lebar.30 84.50 … 23. suhu udara tertinggi dalam kurun waktu 2004-2008 terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 32.30 24. Teluk Bintuni Kab.56°C di Kabupaten Fakfak.48 27.48 Kab.10 2008 26.00 25.70 Kab.40 Kab.40 25.47 27.90 21.2 27.30 83.60 32. Teluk Bintuni Kab.60 24.78 81.38 Kab. Raja Ampat 30.68-27.30 27.08 83.40 23.60 27. Manokwari 2003 84.30 24.80 31.70 28.15 26.80 30.32 Tabel 1.7 … 23. Fakfak Kab.40 83.26 26.30 2008 Max Min 30.63 27.6 Kab.70 29.68 27.0 83.30 82.30 27.30 31.00 22.46 27.20 25. Kaimana Kab.67 23. Teluk Wondama Kab.05 23.90 31.26 27.80 26.10 29.30 27.50 24.60 27.80 26. Sorong Selatan … … 31.49 … … … 32. Karakteristik suhu di Provinsi Papua Barat tidak menunjukkan fluktuasi tahunan yang nyata.00 22. Teluk Wondama Kab.33 2005 85. Tabel 1.20 31.73 21. Sorong Selatan 27.70 Kab.43 23.60 Kab. Dari Tabel 1.13°C di Kabupaten Manokwari.13 30.80 24. Manokwari 27.10 23.28 27.43 23.40 … … 2005 Max Min 29.56 29.80 26.40 25.30 26.63 … … … 27.70 27.08 27.20 29.60 27.6 27. Tabel 1.70 Kota Sorong 27.40 83. Teluk Bintuni … … … … Kab.70 2007 Max Min 28.30 24. Manokwari 27.08 LAPORAN AKHIR 1-11 .50 84.70 26.47 27.6 Suhu Udara Maksimum dan Minimum di Provinsi Papua Barat Tahun 20032008 (°C) Kabupaten/Kota 2004 Max Min 28.30 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Dari Tabel 1. Raja Ampat 27. sedangkan suhu terendah juga terjadi pad atahun 2008 yaitu sebesar 21.92 83.6 27.40 30.3 Rata-Rata 25.33 26.59 24.

Fakfak 126.92 Kab.83 58. Teluk Wondama Kab. Berdasarkan uraian karakteristik iklm tersebut. Kelembaban udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar antara 81.08 59. Sorong 83.81%.00 84.00 84.0%.4% s.00 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2007 37.00 83.00 84. dan curah hujan yang cukup tinggi menjadi potensi besar bagi pengembangan budidaya tanaman pertanian dan perkebunan terutama untuk LAPORAN AKHIR 1-12 .40 49. Raja Ampat 84.40 58.80 54.40 46.80 60. Keadaan ini merupakan gangguan utama bagi transportasi udara dengan pesawat kecil.37 125.75 Kab. kelembaban udara yang relatif konstan.40 49.58 Kab.30 59.00 Kab.00 62. Sorong Selatan 84. Karena berada di katulistiwa. Papua merupakan tempat yang kemungkinan salah satu tempat paling berawan di dunia.00 62. Kaimana 45.00 68.9 115.80 Kab.00 Kota Sorong 83.d.00 87.00 68.90 58.00 83.64 51.00 86.00 84.52 50.00 54. Sorong Selatan 65.00 83.00 84.83 46.00 2008 107.00 86. penyinaran matahari terendah terdapat di Kabupaten Manokwari sedangkan lama penyinaran tertinggi terdapat di Kabupaten Fakfak.00 59.00 86.21 54.00 83. Sorong 61.00 87.90 59. di mana daerah dataran rendah cenderung lebih lembab. penyinaran matahari yang hampir terus menerus sepanjang tahun.00 65. Teluk Bintuni Kab.d.00 Kab.36% s.17 43. Tabel 1. 87. waktu siang hari (sekitar 12 jam) adalah konstan dengan variasi tahunan sekitar 30 menit antara hari terpanjang dan terpendek.00 Kab. 128.00 83. Raja Ampat 61.80 46.70 49. kelembaban udara terendah terdapat di Kabupaten Kaimana sedangkan kelembaban tertinggi terdapat di Kota Sorong dan Kabupaten Raja Ampat.8 Rata-Rata Penyinaran Matahari Menurut Lokasi Stasiun di Kabupaten/Kota Tahun 2003-2008 (%) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 2006 Kab.25 87.08 53.05 147.00 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Kelembaban nisbi tinggi dan dan konstan.10 Kota Sorong 61.00 59.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 84. Provinsi Papua Barat yang memiliki keragaman suhu udara.00 86.40 49. Dengan kondisi seperti ini di wilayah Papua Barat memiliki potensi bagi pengembangan komoditi-komoditi pertanian apabila terutama dikaitkan dengan persentase lama penyinaran. Manokwari 63. berkisar dari 75-80%. terutama di daerah pegunungan di mana awan cumulus hampir selalu meningkat ke tengah hari.80 65.00 Kab.00 Penyinaran matahari rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar antara 52.

400 2.054.050 284.d > 1000 m. Pembagian wilayah Provinsi Papua Barat berdasarkan ketinggian wilayah dari permukaan laut dapat digolongkan kedalam empat kelompok yaitu: (1) wilayah dengan ketinggian 0-100 meter dpl.4.196 518. 1. Kondisi tersebut menjadi kendala utama bagi pemanfaatan lahan baik untuk pengembangan sarana dan prasarana fisik.132 328. Sebagian besar wilayah Provinsi Papua Barat memiliki kelas lereng > 40% dengan bentuk wilayah berupa perbukitan. Sehingga. 1.4 Morfologi Kondisi Morfologi memaparkan mengenai informasi fisik wilayah yang meliputi ketinggian wilayah dan kelerengan. sebagai berikut.49 Kab Manokwari 1.48 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Berdasarkan tabel di atas. (2) wilayah dengan ketinggian >100-500 meter dpl. sistem transportasi darat maupun bagi pengembangan budidaya pertanian terutama untuk tanaman pangan. rawa sampai dataran tinggi.1.257.847 288. terutama transportasi darat.900 250. padang rumput dan padang alang-alang. Kondisi ini merupakan salah satu elemen yang menjadi barrier transportasi antar wilayah.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 wilayah Kabupaten Manokwari. dengan tipe tutupan lahan berupa hutan hujan tropis.015. serta dasar bagi kebijakan pemanfaatan lahan.413. dan wilayah dengan ketinggian >1000 meter dpl.200 1.600 344.01 182. dominasi pemanfaatan lahan diarahkan pada hutan konservasi disamping untuk mencegah terjadinya bahaya erosi dan longsor. dan Kabupaten Sorong Selatan mendapatkan potensi tersebut. 1.046. Kota Sorong. (3) wilayah dengan ketinggian >500-1000 meter dpl.691 Kab Sorong 2.1 Ketinggian Kondisi topografi Provinsi Papua Barat sangat bervariasi membentang mulai dari dataran rendah. diketahui bahwa kondisi topografi antar wilayah di Provinsi Papua Barat cukup bervariasi. Teluk Bintuni. Ketinggian wilayah di Provinsi Papua Barat bervariasi dari 0 s.192.9.4.250 Kab Fakfak 1. LAPORAN AKHIR 1-13 .1.790 100 3.301 Jumlah >1000m 741.1.9 Luas Wilayah menurut Ketinggian dari Permukaan Laut dan Kabupaten/Kota (Ha) Wilayah Pengembangan 0-100m Kelas ketinggian >100-500m >500-1000 377. Tabel 1.2 Kelerengan Tinjauan atas morfologi wilayah didasarkan pada kondisi kelerengan atau kemiringan.868.109 Kota Sorong 162. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.366 1.058 3.

Tabel 1.200 313. dan kelas lereng curam sampai sangat curam (>40 %).000 344. kelas lereng landai sampai curam (kemiringan >15– 40%). maka secara garis besar Tanah Papua dapat diklasifikasikan kedalam tiga kelompok kelas lereng yaitu kelompok wilayah dengan kelas lereng datar sampai landai (kemiringan 0-15 %).06 78.49 LAPORAN AKHIR 1-14 .108 Kota Sorong 257.700 448.89 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Wilayah Pengembangan Jumlah 3.998 19.502 Kab Fakfak 105.10. Untuk jelasnya mengenai luas masing-masing kelas lereng lihat Tabel 1.582 49.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dipandang dari sisi lereng.500 2.100 1.636 57.790.297 964 Kab Sorong 984.310 158.434.453.54 8.10 Luas Wilayah menurut Kelas Lereng/Kemiringan dan Wilayah Pengembangan Kelas lereng 0-15% >15-40% >40% Kab Manokwari 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.5 Peta kenampakan elevasi/ketinggian Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-15 .

6 Peta kemiringan lereng Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-16 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

7 Peta kenampakan topografi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-17 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

Daerah ini merupakan daerah interaksi antara dua lempeng besar yaitu Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Gondwanaland. 1970). yang diendapkan pada tepian kontinen aktif Australia. Setiap lempeng terdiri atas bagian kerak benua (kontinental) dan kerak samudera (oseanik). Australia. 1.1 Evolusi Tektonik Pulau Papua Pembentukan pulau Papua atau pulau New Guinea telah didiskusikan oleh berbagai ahli dan diringkas oleh Petocz (1984). bahwa kerak bumi terbagi dalam tujuh lempeng sangat besar dan sejumlah lempeng lithosfer kecil lainnya. India. yang kesemuanya bergerak relatif terhadap sesamanya.8 tentang Tatanan tektonik di Tanah Papua Evolusi tektonik yang terjadi selama Kenozoikum dihasilkan oleh tumbukan secara oblique antara kedua lempeng tersebut.1. yang juga termasuk di dalamnya adalah Antartika. hal ini dapat dilihat pada Gambar 1. Lempeng Benua India-Australia (atau biasa disebut lempeng Australia) bergerak ke arah Utara keluar dari posisi kutubnya dan bertubrukkan dengan Lempeng Samudra Pasifik yang bergerak ke arah Barat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Bagian Selatan pulau Papua merupakan tepi Utara dari benua super kuno. pulau Papua mulai muncul di permukaan laut pada sekitar 350 Lintang Selatan. Ketika lempeng India-Australia dan lempeng Pasifik bertemu di sekitar 40 juta tahun lalu. (Hamilton. 1979) Daratan Papua New Guinea dan Pegunungan Central Range. Pulau Papua merupakan produk pertumbuhan benua yang dihasilkan dari tubrukan kedua lempeng tersebut. Proses ini berlanjut selama masa Pleistosen hingga pulau Papua terbentuk seperti di saat ini.1. Pegunungan Central Range merupakan sabuk yang memanjang sampai 1300 km. Amerika Selatan. secara umum diasumsikan sebagai lokasi tipe dari busur kepulauan oseanik aktif–tumbukan kontinen (Dewey dan Bird. Konsep lempeng tektonik yang telah diterima umum mengganggap. Bagian daratan paling Utara pada Lempeng India-Australia antara 90-100 juta tahun lalu berada pada 480 Lintang Selatan yang merupakan titik pertemuan Lempeng India-Australia dan Pasifik. Selandia Baru dan Kaledonia Baru. Pada saat dimulainya gerakan ke Utara dan rotasi dari benua super ini. Sebagian besar daerah ini adalah lapisan batuan berumur Kenozoikum dan Mesozoikum yang tersesarkan dan terlipat. dimana lempeng Pasifik mengalami subduksi atau tertindih di bawah lempeng Australia. lebar 150 km dengan topografi yang kasar dan sejumlah puncak setinggi lebih dari 3000 meter. seluruh Papua dan Australia bagian Utara berada di bawah permukaan laut.5 Kondisi Geologi Kondisi geologi Tanah Papua pada dasarnya memiliki kesamaan dengan kondisi geologi umum yang dijumpai di Indonesia bagian timur. Awal terpisahkan benua ini dari posisi Selatannya terjadi pada masa Kretasius Tengah (kurang lebih 100 juta tahun lalu). LAPORAN AKHIR 1-18 .5.

lempeng Pasifik ini terdiri atas volkanik busur-kepulauan dan sub-ordinat kerak samudera berumur Palaeogen. Walaupun pencatatannya terpisah-pisah. Kenyataan menunjukkan pula. LAPORAN AKHIR 1-19 Provinsi Oseanik terdiri atas batuan Ofiolit (ophiolite rock) dan kompleks volkanik busur-kepulauan Provinsi Transisi adalah suatu zone yang terdiri atas deformasi tinggi dan batuan metamorfik regional . Dari paparan di sepanjang tepi Utara dan dari eksplorasi permukaan bawah (sub-surface) di sebelah Selatan. Terdapat sejumlah lipatan dan sesar naik sebagai akibat dari interaksi (tubrukan) antara kedua lempeng tektonik. sebagai produk dari interaksi antara kedua lempeng. dan Miosen Pertengahan. serta pencatatan lengkap sejarah geologi hingga saat ini menunjukkan. sebaran paling luas dari aktivitas tektonik dan volkanik dimulai pada Miosen Akhir dan berlanjut hingga sekarang. dan Transisi. Menurut Sapiie (2000). ini disebut Melanesian Orogeny (Dow and Sukamto. magmatik dan tektonik. terdapat bukti bahwa batuannya berasal dari tektonik utama pada episode Paleozoik Pertengahan dan Oligosen maupun episode beku dalam Paleozoik Pertengahan. 1984) Wilayah Papua Barat sangat berpotensi terhadap gempa tektonik dan kemungkinan diikuti oleh tsunami. Terlepas dari batuan mantel sesar naik yang kemungkinan berumur Mesozoik dan beberapa kerak samudera Jurasik. Sesar Ransiki (RFZ). pada umumnya geologi Papua dapat dibagi ke dalam tiga provinsi geologi besar. Oseanik. Kretasius. dan periode tektonik intens dari zona deformasi di sisi lainnya (New Guinea Mobile Belt). Akan tetapi. Batuan lempeng Pasifik yang terpaparkan di Papua berumur lebih muda.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dari evolusi tektonik menunjukkan. Hanya sebagian kecil yang dipengaruhi oleh proses tektonik dari zaman Paleozoik Awal hingga Tersier Akhir. Triasik. (island-arc volcanics complex) sebagai bagian dari lempeng Pasifik. yaitu provinsi Kontinental. (2005). bahwa batuan dari kraton Australia pada sebagian besar wilayah ini dicirikan oleh sedimentasi palung (shelf sedimentation). Menurut Dow et al. ciri dominan dari perkembangan geologi Papua merupakan dikhotomi antara sejarah tektonik dari batuan mantap kraton Australia dan lempeng Pasifik di satu sisi. Batuan lempeng Pasifik pada umumnya letak-datar terpatah hanya oleh beberapa patahan. bahwa geologi Papua sangat kompleks karena melibatkan interaksi antara dua lempeng tektonik. Provinsi Kontinental terdiri atas sedimen yang terpisah dari kraton Australia. yaitu lempeng Australia dan Lempeng Pasifik. Sesar Lungguru (LFZ) dan Sesar Tarera-Aiduna (TAFZ). Zone deformasi yang berada di sebelah Timur adalah bagian dari New Guinea Mobile Belt (Sabuk Mobil New Guinea) dan merupakan campuran dari batuan kraton Australia dan lempeng Pasifik. seperti Sesar Sorong (SFZ). bahwa pada tahun 2004 telah terjadi beberapa kali gempa. Setiap provinsi geologi memiliki karakteristiknya sendiri dalam sejarah stratigrafik.

(3). LAPORAN AKHIR 1-20 . SFZ = Sorong Fault Zone. RFZ = Ransiki Fault Zone. YFZ = Yapen Fault Zone. Stratigrafi Zone Transisi. TAFZ = Tarera-Aiduna Fault Zone.2 Stratigrafi Dari berbagai publikasi yang dikompilasi Sapiie (2000). dan (5). Tanda panah menunjukkan gerakan relatif antara lempeng Pasifik dan Australia 1. MO = Misool-Onin High.8 Setting Tektonik Papua Keterangan: MTFB = Mamberamo Thrust & Fold Belt. (4). Sedimentasi Senosoil Akhir. Stratigrafi Lempeng Pasifik. Sedimentasi Mesozoik hingga Senosoik. menunjukkan bahwa stratigrafi wilayah Papua Barat terdiri atas: (1). (2). Paleozoic Basement.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.1.5. WO = Weyland Overthrust. LFB = Lengguru Fault Belt. WT = Waipona Trough.

formasi Tipuma ditutupi oleh kelompok Aifam. Kelompok Kembelangan terdiri LAPORAN AKHIR 1-21 . namun di Leher Burung terjadi deformasi kuat dan termetamorfosa. kelompok ini tidak mengalami metamofosa.9 Stratigrafi Pulau Papua (Sapiie. yaitu formasi Aimau. Formasi Kelompok Kembelangan Kelompok ini diketahui terbentang mulai dari Papua Barat hingga Arafura Platform. mulai dari Papua Barat hingga dekat perbatasan di sebelah Timur. b. Formasi Kemoem ditutupi oleh kelompok Aifam. batuan sedimen paparan airKelompok Aifam digunakan untuk mendeskripsikan dangkal. Bagian atas dari kelompok ini disebut formasi Jass. Formasi ini dicirikan oleh batuan berwarna merah terang dengan sedikit bercak hijau muda. (slate).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Di daerah Papua Barat. a. 2. Sedimentasi Mesizoik hingga Senosoik Formasi Tipuma Formasi Tipuma tersebar luas di Papua. Formasi ini tercampur oleh granit-biotit karboniferus (Melaiurna Granite). Di daerah Teluk Bintuni. Formasi ini diketahui berada di tepi Utara Papua Barat dan terdiri atas tiga formasi. Paleozoic Basement Blok terluas dari strata Paleozoik berada di Timur Laut Papua Barat yang dikenal dengan Kemum High atau formasi Kemoem yang terdiri atas sabak. 2000) 1. batulumpur Aifat dan formasi Ainim. Filitik (Phylliic) dan sedikit kuartzit (quartzite).

Formasi Batu Gamping New Guinea Selama masa Cenozoik. Utara Pegunungan Gauttier dan sepanjang zone sesar Sorong dan Yapen pada umumnya terbentuk oleh batuan ultramafik. Formasi Fumai Eosen. berada di atas strata karbonat Miosen Pertengahan. Kedua dataran ini menyatu sebagai suatu dataran luas yang membujur ke arah Barat daya Danau Sentani. Wilayah Papua secara umum terdiri dari dua dataran “Dataran Grime” dan “Dataran Sekoli”. Biak. yang terutama terdiri atas batuan metamorfik. kurang lebih pada batas Cretaceous dan Cenozoik. Dataran ini memanjang dari Timur ke arah Barat dengan lebar LAPORAN AKHIR 1-22 . Kelompok ini berada di atas Kelompok Kembelangan dan terdiri atas empat formasi. Sedimen dalam lempeng Pasifik dicirikan pula oleh karbonat laut-dangkal yang berasal dari pulau-arc. (3) Formasi Sirga Eosin Awal. c. (3). 3. Di Papua. Pegunungan Cycloop. yaitu (1). dan mutu-tinggi metamorfik. Formasi Imskin.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 atas antarlapis batudebu dan batulumpur karboniferus pada lapisan bawah batupasir kuarsa glaukonitik butiran-halus serta sedikit shale pada lapisan atas. plutonil basik. Stratigrafi Zone Transisi Konvergensi antara lempeng Australia dan Pasifik menghasilkan batuan dalam zone deformasi. dan (4). pulau Yapen dan pegunungan Cycloop. Stratigrafi Lempeng Pasifik Pada umumnya batuan lempeng Pasifik terdiri atas Batuan asal penutup (mantle derived rock). 5. Formasi Kais Miosen Pertengahan hingga Oligosen. (2). Pulau Waigeo. Pulau New Guinea dicirikan oleh pengendapan (deposisi) karbonat yang dikenal sebagai Kelompok Batu Gamping New Guinea (NGLG). yaitu formasi Klasaman dan Steenkool. Formasi Klasaman dan Steenkool berturut-turut dijumpai di cekungan Salawati dan Bintuni. Satuan ini disebut Formasi Hollandia dan tersebar luas di Waigeo. Kelompok batuan ini diklasifikasikan sebagai zone transisi atau peralihan. Formasi Waripi Paleosen hingga Eosen. Kelompok ini berhubungan dengan formasi Waripi dari kelompok Batuan Gamping New Guinea atau New Guinea Limestone Group (NGLG). batuan asal penutup banyak dijumpai luas sepanjang sabuk Ophiolite Papua. Batuan metamorfik ini membentuk sabuk kontinyu (>1000 km) dari Papua hingga Papua New Guinea. Umur kelompok ini berkisar dari Miosen Awal hingga Pliosen. Di Papua dikenal 3 (tiga) formasi utama. dua di antaranya dijumpai di Papua Barat. Sedimentasi Senosoik Akhir Sedimentasi Senosoik Akhir dalam basement kontinental Australia dicirikan oleh sekuensi silisiklastik yang tebalnya berkilometer. volkanis pulau-arc (island-arc volcanis) dan sedimen laut-dangkal. 4.

namun setempat-setempat saja. Sumbangan cabang-cabang sungai yang berasal dari pinggiran pegunungan Utara relatif kecil. Di batas Utara dari teras ke-5. Teras ke-6. merupakan daerah tertinggi dan tertua yang mengakhiri teras ke-4 dan ke-5 di sebelah Selatan. kedua teras ini melandai ke arah Utara hingga ke arah Barat laut. namun tidak jelas perkembangannya. LAPORAN AKHIR 1-23 . Di sebelah tenggara teras terendah ini berakhir dan berlanjut dengan teras ke-2 yang berada kurang lebih 10 m lebih tinggi. Zwierzichi (1921) dalam Schroo (1963). Lebih lanjut Schroo (1961).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bentangan yang hampir sama. dan bergelombang lemah. seluruh lahan yang berada di sebelah Barat Yanim Besar (Braso) dibentuk oleh Sungai Grime dan cabang-cabang sungainya. Menurut Wentholt (1939). pasir lanau). batuan beku atau malihan. wilayah Papua Barat terdiri dari dua lempeng. dataran ini membentuk daerah rawa hingga ke arah pantai. batuan sedimen lepas (kerikil. Teras ke-5 ini mencakup dari arah Timur hingga arah garis Utara-Selatan melandai ke aras Utara. menunjukkan bahwa tanah di Dataran Grime dan Dataran Sekori berasal dari hancuran batuan fluviatil sedimen kwarterner. Di ujung sebelah Barat. Hal ini dapat dipahami karena secara regional. Teras pertama dimulai dari dataran terendah dan termuda. Teras ke-3 dan ke-4 menempati sisa dataran di sebelah Barat kampung Janim Besar. membagi Dataran Grime ke dalam 6 teras utama. terdapat Dataran Sekori yang besar. Kedua sungai tersebut membawa bahan-bahan yang sama. Dataran Grime dan Dataran Sekori merupakan lembah sedimentasi peninggalan zaman tersier yang terisi atas sedimen laut (marin) dan kemudian oleh bahan fluviatil. dan batuan sedimen padu (tak terbedakan). Lahan yang berada di sebelah Timur Yanim Besar seluruhnya terbentuk dari material yang berasal dari pinggiran Utara daerah pegunungan Selatan. di sebelah Timur sungai Grime terletak teras ke-5. kecuali daerah yang paling Barat oleh Sungai Sarmoai. menyatakan bahwa adanya ketinggian (elevasi) yang berselang-seling di seluruh daerah tersebut menyebabkan sungai-sungai memotong sedimen ini. Di Dataran Sekori ini juga terbentuk teras. Wentholt (1939). terumbu koral terangkat pleistosin. dan sedimen marin neogen. di mana sisa-sisa daripadanya masih ditemukan sekarang dalam bentuk teras-teras yang luas. menyatakan bahwa dataran ini terbentuk pada zaman kwarter. Menurut Schroo (1963). Berdasarkan stratigrafi ini dapat disimpulkan bahwa wilayah Papua Barat terdiri dari empat ragam formasi batuan utama yaitu Batu gamping atau dolomit. Teras-teras ini berumur tua dan berada lebih tinggi serta tampak datar. Selama periode ini dataran banjir terbentuk pada berbagai tingkat. berbatasan dengan teras ke-4. Juga di sini bentang lahannya tampak seluruhnya datar. Wentholt (1939). Daerah teras ini melandai ke arah Barat laut dan kemudian ke arah Utara.

Batuan ultrabasa disebut sebagai ofiolit. Lempeng Benua Australia tersusun oleh batuan sedimen klastik. Hal ini sudah barang tentu akan mengganggu pertumbuhan tanaman. kemudian berbenturan dengan Lempeng Samudera Pasifik pada Orogenesa Melanisia yang mengakibatkan sesar anjak miring ke Utara dan terbentuknya Pegunungan Tengah. dan waktu. 1977).. berdampak pula terhadap rendahnya kapasitas infiltrasi (perembesan) tanah sehingga menyebabkan penggenangan air di permukaan tanah terutama di musim penghujan.1 Jenis Tanah Pada umumnya terdapat lima faktor yang mempengaruhi pembentuan tanah. bahan induk.6 Karakteristik Tanah Pada umumnya. yang disebut sebagai Orogenesa Tasman. 1.10 Peta Geologi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-24 . 1984) Terdapat tujuh Satuan Peta Tanah (SPT) yang dimodifikasikan Petocz (1984) dari Brookfield dan Hart (1971). Batugamping yang berumur eosin-Miosen Tengah.6.1. Kadar liat yang tinggi dapat menyebabkan akar tanaman sulit berkembang. yang berumur Mesozoikum yang disebut sebagai Kelompok Kembelangan. seperti terlihat pada Peta 2. dan Batuan Sedimen Klastik Plioplistosen. 1977). sedangkan di Pegunungan Tengah terdiri dari beberapa batuan. relief atau topografi. yang berumur Mesozoikum (Dow drr.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 yaitu Lempeng Benua Australia di bagian Selatan dan Lempeng Samudera Pasifik di bagian Utara. Selain itu. Pengaruh secara simultan dari kelima faktor pembentukan tanah tersebut menghasilkan jenis-jenis tanah dan penyebarannya. bergerak ke arah Utara. tanah bertekstur berat. sedangkan pada Plistosin terjadi pensesaran anjak miring ke Selatan di bagian Utara. Lempeng Samudera Pasifik terdiri dari batuan batuan ultramafik dan batuan busur gunung api Paleogen. yaitu berkisar dari lempung liat berdebu hingga liat berdebu. Pada saat itu Papua-Papua New Guinea mulai melepasakan diri dari Benua Australia. dan 2) di bagian Utara terdiri dari Batuan Malihan Darewo yang berumur Oligosen (Dow.3 (Petocz. Gambar 1.1984). organisme atau vegetasi. Sedangkan diantara kedua lempeng adalah Lajur Sesar Anjak dan Lipatan Pegunungan Tengah atau “New Guinea Mobile Belt” (Dow.1. 1. yaitu : 1) di bagian Selatan terdiri dari batuan sedimen yang berumur Mesozoikum sampai tersier yang tersesarkan dan terlipatkan. Tektonik Papua Barat diawali pada Permo-Trias. yang disebut sebagai Kelompok Batu Gamping New Guinea. yaitu faktor Iklim.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Litosol dan Regosol (Entisol) LAPORAN AKHIR 1-25 .

Tanah ini biasanya berasosiasi dengan tanah Podzol (Spodosol) yang dicirikan oleh horison spodik. sedangkan tanah Litosol berada pada lereng-lereng batuan terjal. walaupun dijumpai pula tanah-tanah bersolum dalam yang relatif stabil dan berdrainase baik pada puncak-puncak bukit dan lereng bagian atas. kedua tanah ini diklasifikasikan sebagai Regosol sepadan dengan Entisol (Lithic Subgroup). sedangkan menurut sistem klasifikasi USDA Soil Taxonomy (1975/1998). Selatan Kepala Burung dan di Utara depresi Meer Vlakte (Lakes-Plain).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Asosiasi jenis tanah ini dijumpai di daerah pegunungan tinggi yang kasar topografinya (2000-4500 m dpl) pada kordirela Tengah (pegunungan tengah) dan Kepala Burung hingga Leher Burung sebelah Utara. Sedangkan jenis tanah Podzolik Podzolik dataran rendah. 3. Menurut klasifikasi PPT (1978/1982) dan Inceptisol. Pada altitut tinggi di mana curah hujannya tinggi. Di Papua Barat. Jenis tanah ini dijumpai di jazirah Bomberai. Litosol dan LAPORAN AKHIR 1-26 . Tanah Regosol biasanya mengandung liat dan fragmen batuan lapuk. sedangkan menurut Soil Taxonomy (19975/1998). Menurut klasifikasi PPT (1978/1982) Podzolik sepadan dengan Podsolik atau Kambisol (Podsolik Coklat). Arfak dan Tamrau. 1984) berpasir. pada umumnya adalah hidro-podzolik yang berkembang pada kondisi drainase buruk pada dataran dan kipas aluvial Pleistosen. tanah ini menjadi meningkat kemasamannya. 2. tanah Podzolik sepadan dengan Ultisol. FAO/UNESCO (1974). Tanah Podzolik (Ultisol) Jenis tanah ini berkembang dari bahan induk masam di lereng pegunungan pada elevasi tinggi. sama dengan Podsolik. tanah Brown Forest sama dengan Kambisol. Tanah ini dijumpai sedikit di wilayah pegunungan Kepala Burung dan terutama di Selatan Kordirela (pegunungan tengah). Tanah Brown Forest (Inceptisol) Tanah ini berada pada perbukitan dan lereng pegunungan rendah pada sabuk Utara Papua dari bahan induk basik dan batuan kalkareus (kapur) dengan curah hujan sedang. sepadan dengan Litosol. Profil tanah pada umumnya dangkal karena ketidakstabilan lereng. Berdasarkan klasifikasi USDA Soil Taxonomy (19975/1998). Horison permukaan mengalami pelindian hebat yang menghasilkan horison pencucian yang miskin hara dan (Petocz. sedangkan horison penimbunan kaya akan besi dan humus yang disebut horison spodik. terutama pada lereng tidak stabil. Berdasarkan klasifikasi tanah dari Pusat Penelitian Tanah Bogor (PPT)(1978/1982) dan FAO/UNESCO (1974). tanah ini dijumpai di pegunungan Wondiwoi. Sering pula dijumpai berasosiasi dengan Regosol. sedangkan menurut FAO/UNESCO (1974).

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

4. Latosol (ultisol) dan Lateritik (oksisol)
Latosol adalah tanah yang mengalami pelapukan sangat tinggi, terutama di daerah dengan ketinggian rendah di mana dijumpai pula berasosiasi kelompok Lateritik. Lateritik berkembang pada kondisi yang sama dengan Latosol, namun dengan pengaruh hidromorfik karena berasosiasi dengan fluktuasi permukaan air tanah. Selain dijumpai luas di daerah Selatan Papua, Latosol juga dijumpai tersebar di Selatan Kepala Burung hingga ke Leher Burung sebelah Utara dan Selatan serta di kepulauan Raja Ampat. Latosol sepadan dengan Kambisol, Latosol, Lateritik (PPT, 1978/1982), Cambisol, Nitosol, Ferrasol (UNESCO, 1974) dan Iceptisol, Ultisol, oxisol (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998).

5. Rendzina (Molisol)
Pembentukan tanah ini dikendalikan kuat oleh bahan induk. Rendzina berbatu dangkal terdapat pada perbukitan batu gamping dan di sepanjang daerah pantai pada platform koral terangkat yang umumnya bercirikan karst. Tanah ini berkembang baik pada perbukitan antara Teluk Etna dan Arguni, pegunungan Kumawa dan Arfak dan di Barat daya pegunungan Tamrau. Rendzina dijumpai pula pada terumbu koral terangkat barusan muda. Rendzina dicirikan oleh horison permukaan lembab coklat tua, berada di atas bahan berpasir coklat kelabu tua yang berangsur ke dalam bahan koral. Rendzina sepadan dengan Rendzina (PPT, 1978/1982), Rendzina (UNESCO, 1974) dan Rendoll (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998).

6. Aluvial dan Gambut
Pada umumnya jenis tanah ini dijumpai pada semua ketinggian, baik di daerah kering maupun basah. Di daerah kering, dengan tekstur tanahnya kasar dan berdrainase baik dijumpai di dataran landai, dataran banjir mapan, dan kipas aluvial, sedangkan, di daerah basah dengan drainase jelek dijumpai di dataran banjir atau rawa dari aluvium atau gambut. Tanah dengan tekstur halus dan gleisasi kuat akibat drainase jelek selama musim hujan cenderung bereaksi sangat alkalin, berada di dekat pantai dan sungai yang dipengaruhi pasang surut, namun semakin ke menjauhi pantai semakin meningkat kemasaman tanahnya. Tanah gambut dataran rendah dijumpai luas di Utara dan Selatan teluk Bintuni, serta gambut pegunungan dalam luasan yang kecil berada di sekitar danau Anggi Gita dan Anggi Giji. Tanah Aluvial sepadan dengan tanah Aluvial (PPT, 1978/1982), Fluvisol (UNESCO,1974) dan Entisol, Inseptisol (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998). Tanah gambut menurut USDA Soil Taxonomy (1975/1998), sepadan dengan Histosol.

LAPORAN AKHIR 1-27

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

7. Tanah Salin
Tanah salin atau tanah garaman (salty soils) biasanya bertekstur halus, berdraenase jelek karena dipengaruhi pasang surutnya air laut, serta bahan liat marin termasuk di dalamnya. Vegetasi khas dari tanah ini adalah mangrove dan nipah. Tanah Salin berkembang baik di sepanjang pantai Selatan mulai dari pulau Kimaam hingga teluk Etna dan di Selatan Kepala Burung dan Teluk Bintuni. Tanah ini menunjang pertumbuhan habitat mangrove terluas di Indonesia. Tanah Saline menurut USDA Soil Taxonomy (1975/1998), sepadan dengan Entisol (Sulfaquent) dan Inseptisol (sulfaquept). Persebaran jenis-jenis tanah di Propinsi Papua Barat dapat dilihat pada Gambar 1.11: Tekstur Tanah Pada umumnya, tanah bertekstur berat, yaitu berkisar dari lempung liat berdebu hingga liat berdebu. Kadar liat yang tinggi dapat menyebabkan akar tanaman sulit berkembang. Selain itu, berdampak pula terhadap rendahnya kapasitas infiltrasi (perembesan) tanah sehingga menyebabkan penggenangan air di permukaan tanah terutama di musim penghujanan. Hal ini sudah barang tentu akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Untuk tujuan penanaman kakao, maka drainase permukaan maupun drainase internal sangat perlu diperhatikan, jika ingin memperoleh pertumbuhan dan produksi kakao yang baik. Untuk menanggulangi drainase yang jelek, maka perlu dibuatkan selokan-selokan drainase berukuran kecil hingga sedang serta cukup dalam agar kelebihan air dapat dikeluarkan, sehingga tanahnya selalu dalam keadaan kering (lembab) dan tidak jenuh air. Selain itu, agar pertumbuhan akar tanaman kakao tidak terhalang oleh lapisan liat yang kompak, maka perlu digali lubang tanaman yang cukup besar dan dalam. 1.1.6.2 Reaksi Tanah Pada umumnya, tanah bereaksi alkali hingga sangat alkali dengan kisaran pH rata-rata 7,0 – 7,8. Semakin dalam tanahnya semakin tinggi reaksi tanah, bahkan tidak jarang mencapai pH=8,0 atau lebih. Tingginya pH tanah ini disebabkan karena tingginya kadar kalsium tanah (kapur) yang terbawa bersama bahan endapan sungai yang berasal dari pegunungan dan perbukitan kapur di sekitarnya. Reaksi Tanah demikian menyebabkan sebagian besar unsur-unsur hara makro (N, P, K) dan mikro (Fe, Zn, Mn, B, Cu) berada dalam keadaan tidak tersedia bagi tanaman. Apabila reaksi tanah mencapai pH=8,0 atau lebih akan menyebabkan tanaman sulit menyerap fosfat dan unsur-unsur mikro.

LAPORAN AKHIR 1-28

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Pada saat penelitian dijumpai pertanaman kacang tanah milik masyarakat di Kampung Pobaim yang menunjukkan gejala kekuningan pada daun-daun muda. Gejala kekuningan ini diduga kuat karena kahat akan beberapa unsur mikro. Gejala klorosis ini diistilahkan sebagai “Klorosis Terimbaskan Kapur” (Lime Induced-Chlorosis), suatu gejala kekahatan hara yang biasanya muncul di tanah-tanah berkapur. Kation-Kation Tersedia Kation tersedia yang diukur adalah Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Kalium (K). Kadar Ca dan Mg tersedia pada umumnya sedang hingga sangat tinggi. Hal ini mengisyaratkan bahwa kebutuhan tanaman akan Ca dan Mg cukup memadai sehingga tidak perlu diberi pupuk dengan kedua unsur tersebut. Pada kadar Ca yang sangat tinggi seperti dijumpai di beberapa tempat justru mengganggu pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, K tersedia tergolong rendah hingga sangat rendah sehingga pemupukan K sangat diperlukan agar mendapatkan produksi tanaman yang baik. Dalam hal tanaman tahunan seperti kakao, maka pemupukan kalium setidaknya dilakukan setiap tahun. Hasil analisis mineral tanah juga mencerminkan rendahnya kadar K tanah. Mineral tanah penyumbang kalium dari jenis kalium-veldspat yang telah hancur menunjukkan status kalium tanah yang jelek. Fosfor Tanah Kadar fosfat tersedia tergolong agak tinggi hingga sangat tinggi. Hampir semua contoh tanah menunjukkan adanya mineral primer apatit penyumbang fosfat yang tergolong sporadis (<1%) hingga beberapa persen saja. Dari pengalaman membuktikan bahwa walaupun jumlahnya sangat sedikit atau sporadis (<1%), nilai fosfat tersedia biasanya tinggi. Dengan demikian unsur hara fosfor dianggap cukup bagi kebutuhan tanaman, sehingga pemupukan P tidak diperlukan selama beberapa waktu tanam. Fosfat dan Kalium Total Kadar fosfat dan kalium total mencerminkan cadangan hara tersebut dalam tanah. Pada umumnya, kadar fosfat total berkisar dari Sedang hingga Tinggi sehingga tidak mengkhawatirkan. Tampaknya kandungan fosfat total dan fosfat tersedia berkorelasi positif sehingga memperkuat dugaan bahwa kadar fosfat cukup bagi kebutuhan tanaman. Kadar kalium total berkisar dari agak rendah hingga sedang. Ini berarti bahwa cadangan kalium tanah tidak memadai bagi suatu usaha pertanian, sehingga diperlukan pemupukan untuk mempertahankan kadar kalium tanah. Bahan Organik Tanah Kadar karbon (C) organik tanah mencerminkan kadar bahan organik tanah. Bahan organik sangat penting karena berpengaruh terhadap perbaikan sifat fisika dan kimia tanah. Bahan organik membantu granulasi dan penstabilan agregat tanah sehingga memperbaiki retensi LAPORAN AKHIR 1-29

Kemiringan lereng mempengaruhi drainase. semakin kecil tekstur tanah semakin kuat memegang air demikian pula sebaliknya. Hal ini mengisyaratkan bahwa peningkatan dan perlindungan bahan organik tanah sangat penting dilakukan. Adapun kondisi kedalaman tanah di Tanah Papua dapat dilihat pada Gambar 1. sebab tekstur tanah menentukan kemampuan tanah memegang air. kompos. yang berarti pula meningkatkan kemampuan menyerap kation unsur hara makro dan mikro sebagai sumber hara. 1. namun demikian ada juga tanaman yang toleran terhadap drainase tanah yang jelek. Tekstur tanah mempengaruhi drainase. Tanah dapat mempunyai drainase baik atau jelek tergantung pada kondisi internal dalam tanah seperti tekstur tanah. meningkatkan laju infiltrasi dan kapasitas memegang air. dan menanam penutup tanah (seperti Pueraria javanica atau Calopogonium mucunoides) terutama pada pertanaman kakao. Tidak kalah pentingnnya adalah dengan adanya bahan organik akan sangat berdaya terhadap biologi tanah. dimana drainase jelek atau terhambat biasanya terdapat pada tanah yang relatif datar atau daerah LAPORAN AKHIR 1-30 . Pada umumnya kadar C organik tanah tergolong rendah. kedalaman tanah merupakan faktor pembatas bagi penggunaan tanah untuk tanaman. Drainase tanah penting diperhatikan sebab drainase tanah mempengaruhi lingkungan perakaran tanaman yaitu keadaan air dan udara tanah.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 air tanah.1. Untuk menanggulangi kekurangan bahan organik dapat dilakukan dengan pemberian pupuk kandang.3 Kedalaman Tanah Di samping jenis tanah. 1. sedangkan perkolasi air dalam tanah ditentukan oleh ada atau tidaknya lapisan kedap.6. struktur tanah dan ada tidaknya lapisan kedap dalam tanah serta kemiringan lereng.1.4 Kondisi Drainase Tanah Drainase tanah merupakan salah satu parameter penentu dalam penilaian kualitas/karakteristik lahan. Hal tersebut berkaitan dengan volume tanah yang dapat dijelajahi oleh akar tanaman. Struktur mempengaruhi drainase tanah karena struktur tanah menentukan proporsi ukuran pori tanah. Tanaman pada umumnya tumbuh dan berkembang dengan baik apabila drainase tanah baik. bahan organik meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK).6.12 Peta Kedalaman Tanah di Tanah Papua. Drainse tanah merupakan cerminan terhadap kondisi tata air baik di dalam tanah maupun di permukaan tanah. Selain itu.

13. drainase tanah di Tanah Papua dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Untuk jelasnya mengenai kondisi cekungan bukan di daerah yang berlereng curam.11 Peta jenis tanah dan penyebarannya LAPORAN AKHIR 1-31 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.12 Peta Kedalaman Tanah LAPORAN AKHIR 1-32 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.13 Peta Drainase Tanah LAPORAN AKHIR 1-33 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

1.1.7

Hidrologi

Tinjauan terhadap sumberdaya air sangat urgen sifatnya dilakukan guna memahami potensi, bentuk penguasaan, penggunaan, dan kesesuaian pemanfaatan sumberdaya air. Keberadaan sungai yang wilayah alirannya (DAS) di lebih dari satu wilayah administratif menjadikan sungai menuntut sistem pengaturan yang spesifik. Wilayah Provinsi Papua Barat dilewati beberapa sungai yang tersebar di beberapa wilayah kabupaten/kota. Dari sungai besar di Papua Barat sebagian besar mengalir di wilayah pengembangan Sorong. Sungai-sungai tersebut menjadi sebuah sistem daerah aliran sungai yang mengalir sepanjang tahun. Potensi sumberdaya sungai terbesar di Papua Barat disajikan dalam Tabel 1.11 berikut ini. Tabel 1.11 Nama, Panjang, Lebar dan Kecepatan Arus Sungai menurut Kabupaten/Kota
Wilayah Pengembangan WP Manokwari WP Sorong Nama Sungai Panjang (Km) Lebar (m) 80-350 60-700 80-2.700 80-350 140-1200 40--250 40-1300 40-2.200 30-40 50-125 45-1250 20-25 50-570 40-700 200-800 Kecepatan (Km/jam) 1,26 2,95 3,06 1,26 2,7 2,88 2,88 0,9 0,9 2,52 3,06 0,9 0,9 1,62 2,7

Laore 163 Beraur 360 Kaibus 200 Kais 184 Kamundan 425 Aifat 174 Karaora 230 Minika 225 Remu 17 Sebak 267 Seramuk 229 WP Fakfak Umbawa 280 Uta 246 Warsamsan 320 Muturi 428 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009

Sungai-sungai besar hingga kecil yang berasal dari wilayah pegunungan di bagian tengah Kepala Burung yang mengalir ke arah dataran rendah (berawa) dan bermuara di Teluk Bintuni. Selain itu, terdapat pula sejumlah sungai yang mengalir ke arah Selatan dan bermuara di pantai Selatan pada dan pantai Utara. Beberapa sungai besar yang bermuara di Teluk Bintuni adalah Sungai Arandai, Wiryagar, Kalitami, Seganoi, Kais, Kamundan, Teminabuan, Sermuk, Maambar, Woronggei dan Sanindar. Selain sungai juga dijumpai danau di daerah pegunungan, yaitu Danau Anggi Giji dan Anggi Gita serta Danau Ayamaru.

LAPORAN AKHIR 1-34

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Di Provinsi Papua Barat terdapat beberapa sungai yang membentuk beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS). Sebagian besar Daerah Aliran Sungai yang terbentuk adalah pada kabupaten-kabupaten di Wilayah Pengembangan Sorong. Sungai-sungai yang termasuk dalam kategoti terpanjang adalah Sungai Kamundan (425 km), Sungai Beraur (360 km), dan Sungai Warsamsan (320 km), sedangkan sungai-sungai yang termasuk kategori terlebar adalah Sungai Kaibus (80-2700 m), Sungai Minika (40-2200 m), Sungai Karabra (40-1300 m), Sungai Seramuk (45-1250 m), dan Sungai Kamundan (140-1200 m). Sungaisungai ini sebagian besar terletak di kabupaten-kabupaten di Wilayah Pengembangan Sorong. Berdasarkan data-data pada tabel di atas, beberapa sungai yang memiliki kecepatan arus paling deras antara lain adalah Sungai Seramuk (3,06 km/jam), Sungai Kaibus (3,06 km/jam), Sungai Beraur (2,95 km/jam), Sungai Aifat (2,88 km/jam), dan Sungai Karabra (2,88 km/jam). Sungai-sungai tersebut terletak pada Wilayah Pengembangan Sorong. Secara garis besar, daerah tangkapan sungai (catchment area) di Provinsi Papua Barat dapat dibagi ke dalam dua satuan wilayah sungai (SWS). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.12 dan Gambar 1.14 tentang Peta Hidrologi. Tabel 1.12 Pembagian Satuan Wilayah Sungai di Provinsi Papua Barat
Kabupaten T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari T. Wondama T. Wondama T. Wondama T. Wondama Kaimana, Nabire Kaimana Kaimana Kaimana Kaimana, Fak Fak Fak Fak, Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak, T. Bintuni Sorong Selatan, Manokwari Manokwari, Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan, Sorong Sorong Selatan, Sorong WS B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar Nama Das Wasian Sebyar Kasi Mangopi Prafi Maruni Masawui Ransiki Windesi Wasimi Wondiwoi Woworama Omba Laenatum Lengguru Berari Madefa Karufa Bedidi Fak Fak Bomberai Wariagar Kamundan Kais Sekak Waromga Seremuk Karabra Luas (Km2) 4.851,000 12.981,400 693,200 1.917,200 1.169,300 193,320 111,110 584,300 23,560 617,400 172,820 279,700 8.610,200 379,500 1.870,000 1.029,900 4.605,570 477,400 1.355,600 88,760 2.033,300 6.720,000 9.732,250 4.232,740 830,700 810,430 884,600 5.989,230

LAPORAN AKHIR 1-35

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten WS Nama Das Luas (Km2) Sorong Selatan, Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Kladuk 3.131,150 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Klasegun 848,510 Raja Ampat B-50 Kamundan-Sebyar Misol 848,160 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Salawati 368,910 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Samate 82,000 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Batanta 69,490 Raja Ampat B-50 Kamundan-Sebyar Waigeo 598,160 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Remu 46,440 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Warsamson 2.437,131 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Mega 1.048,340 MANOKWARI B-50 KAMUNDAN-SEBYAR MAON 682,300 Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Wesauni 626,933 T. Bintuni B-50 Kamundan-Sebyar Kasuari 1.971,850 T. Bintuni B-50 Kamundan-Sebyar Wagura 1.799,100 T. Wondama B-50 Kamundan-Sebyar Arumasa 2.497,000 T. Bintuni, Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Muturi 5.381,300 Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air, Jayapura 2005.

Tabel 1.13 Debit Sungai Dirinci Menurut DPS di Provinsi Papua Barat
No No. DPS 1 17 2 18 3 19 4 20 5 21 6 22 7 23 8 24 9 25 10 26 11 27 12 28 13 29 14 30 15 31 16 32 17 33 18 34 19 35 20 36 21 37 22 38 23 38 a 24 39 25 40 26 41 27 42 28 43 29 44 30 45 31 46 32 47 33 48 34 49 NAMA DPS Omba Laenatum Lengguru Berari Madefa Karufa Bedidi Fak Fak Bomberai Kasuari Wagura Arumasa Muturi Wasian Sebyar Wariagar Kamundan Kais Sekak Waromga Seremuk Karabra Kladuk Klasegun Misol Salawati Samate Batanta Waigeo Remu Warsamson Mega Koor Maon SWS B - 49 B - 49 B - 49 B - 49 B - 50 B - 49 B - 49 B - 49 B - 49 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 Catchments Area (Km2) 8,610.200 379.500 1,870.000 1,029.900 4,605.570 477.400 1,355.600 88.760 2,033.300 1,971.850 1,799.100 2,497.000 5,381.300 4,851.000 12,981.400 6,720.000 9,732.250 4,232.740 830.700 810.430 884.600 5,989.230 3,131.150 848.510 848.160 368.910 82.000 69.490 216.500 46.440 2,437.131 1,048.340 1,202.800 682.300 Qn (m3/s) 316.919 29.086 141.454 96.869 374.730 38.903 107.968 11.747 146.870 142.232 165.546 127.979 476.337 364.562 825.032 432.319 796.177 221.554 46.634 50.282 58.182 302.739 195.716 58.497 53.437 27.064 6.183 5.338 13.309 4.721 147.467 120.947 140.594 104.163 KABUPATEN Kaimana, Nabire Kaimana Kaimana Kaimana Kaimana, Fak Fak Kaimana, Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak, T. Bintuni T. Bintuni T. Bintuni T,Wondama T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari Sorong Selatan, Manokwari Manokwari, Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan, Sorong Sorong Selatan, Sorong Sorong Sorong Raja Ampat Sorong Sorong Sorong Raja Ampat Sorong Sorong Sorong Sorong Manokwari

LAPORAN AKHIR 1-36

dan disebut sebagai ground water.200 222. Biasa juga disebut sebagai air aquifer. Selain sungai.240 Kaimana 02 Laamora 16.917. Informasi selengkapanya di sajaikan pada Tabel 1.560 3.000 128.574 T.700 30.300 76.320 25. Potensi air tanah dalam sangat signifikan di bebrapa kabupaten di Provinsi Papua baik dilihat dari luasan maupun luasan relatifnya.50 584.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 No No.640 Tel.340 Kaimana 06 Berari 6. Tabel 1.740 Kaimana 03 Urema 12. menyusul Asmat 951.50 111.Wondama 44 59 Wondiwoi B . Ground water. Bintuni 08 Tanemot 17. Studi Aplikasi SWS di Tanah Papua Potensi Air Tanah Air tanah mengandung dua pengertian. Pertama air tanah yang terkandung dalam tanah hingga batas kedalaman perakaran pada umumnya tanaman atau pada solum tanah dan disebut sebagi kandungan lengas tanah atau soil moisture.816 T. Luas areal yang meliputi air tanah dalam terbesar di Kabupaten Digul yakni 1.169.960 Manokwari 38 53 Prafi B .50 1.370 Manokwari 10 Anggi Gita 22.974 T.50 0.50 279. Jayapura 2005.50 1.50 23. Sumber: Dinas PU (2003). danau juga merupakan sumber air permukaan potensil.110 18.527 Tel.600 Kaimana 04 Mbula 6. air tanah di bawah permukaan bumi pada kedalaman lebih dari yang tersebut di atas. Kedua. Bintuni 09 Anggi Gigi 21.648 Manokwari 36 51 Kasi B .Wondama Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air.024 Kaimana 05 Kamakawalor 23.50 617.14.131 ha (62.796.596 Sorong Sel. DPS NAMA DPS SWS Catchments Area (Km2) Qn (m3/s) KABUPATEN 35 50 Wesauni B .400 45.830 Manokwari 11 Ayamaru 10. Di Papua Barat potensi air tanah dangkal cukup signifikan terdapat di Kabupaten Sorong Selatan (40 %).854 T.50 172.850 Sorong Sel.50 193.2 %).153 Manokwari 42 57 Windesi B .883 Manokwari 37 52 Mangopi B .916 Kaimana 07 Makiri 7.933 108.14 Luas dan Penyebaran Danau di Tanah Papua No Nama Danau Luas (Ha) Kabupaten 01 Aiwasa 10.Wondama 43 58 Wasimi B .50 626.958 Manokwari 41 56 Ransiki B .Wondama 45 60 Woworama B .814 Manokwari 39 54 Maruni B .129 Manokwari 40 55 Masawui B .820 18.300 161.872 ha LAPORAN AKHIR 1-37 . 12 Hain 4. Di Provinsi Papua Barat terdapat 12 danau besar dan kecil yang tersebar di empat kabupaten/kota.

123 3 Kab.080.927.455 270.462 27.766 944.15. Fak Fak 935. Teluk Wondama 500.740 3.122 11. Penyebaran tersebut dapat pula dilihat pada Gambar 1. Teluk Bintuni 1.133.644 4 Kab.174 77.071 806 110 2 Kab.029 116.916 Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air.637 164. Mappi 778. Kaimana 1.910 5 Kab.432 ha (28.15 Distribusi Luas Areal Air Tanah (Ground Water) Menurut Kabupaten di Tanah Papua No AT Dlm dan Perairan Sedang 1 Kota Sorong 33.8 %).098 1.15.304 61.757 531. Sorong Selatan 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 (49. Raja Ampat 741.637 6.184 13. Manokwari 1. Di Provinsi Papua Barat. dan Mimika (458.457.058 Provinsi Papua Barat 9.158 256.706.091 LAPORAN AKHIR 1-38 .457 49.668 1.037 651.004 10.752 721. namun secara mutlak kecil karena hanya mencakupi lahan seluas 165.857 ha (20. KABUPATEN Luas Wilayah AT Dangkal Tanpa AT 29.897 30.843 1.815 115.359 650.241 2. Tabel 1.698 1.242 9 Kab.195 1. Jayapura 2005.000 ha.421 263.2 %).324 181.793 241.320 6 Kab.661.957.530 391.1 %).495. Sorong 1.907 7 Kab.636 1.041 372.588 680.278 237.467 166. hanya Kabupaten Teluk Wondama yang secara relatif signifikan yakni 33 %. Penyebaran lokasi air tanah diperlihatkan pada Tabel 1.653 602 8 Kab.230.941 89.326.154.

14 Peta Hidrologi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-39 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.15 Peta Air Tanah LAPORAN AKHIR 1-40 .

dengan tipe pasut ganda campuran. Gelombang ini merambat ke segala arah dengan membawa energi yang kemudian dilepaskan ke pantai LAPORAN AKHIR 1-41 . Arus pasang surut yang terkuat akan ditemui di dekat permukaan dan akan menurun kecepatannya semakin mendekati dasar perairan. maka akan terbentuk arus menyusur pantai (longshore current) yang disebabkan oleh perbedaan teknan hidrostatik. Pengamatan gelombang di perairan Papua relatif masih belum banyak dilakukan. Gelombang yang datang menuju pantai dapat menimbulkan arus pantai (nearshore current) yang berpengaruh terhadap proses sedimentasi ataupun abrasi di pantai.2 m. Hasil penelitian Pusat Riset Teknologi Kelautan. 1. atau pada saat-saat tertentu disebabkan oleh gempa di dasar laut. Kisaran pasang surut (tidal range) adalah perbedaan tinggi muka air pada saat pasang maksimum dengan tinggi muka air pada saat surut minimum yang juga dipengaruhi oleh geometrik wilayah yang bersangkutan.8 Karakteristik Hidro-Oseanografi Sebagian besar kota dan kabupaten-kabupaten di Provinsi Papua Barat yang sudah ada tumbuh dan berkembang di tepi laut. Pola arus pantai ini terutama ditentukan oleh besarnya sudut yang dibentuk antara gelombang yang datang dengan garis pantai.1 Aspek Fisik Perairan Naik turunnya muka laut dapat terjadi sekali sehari (pasut tunggal atau diurnal tide) atau dua kali sehari (pasut ganda atau semi diurnal tide). Kecenderungannya. sedangkan pasut yang berperilaku di antara keduanya disebut sebagai pasut campuran. dalam bentuk hempasan ombak. Oleh karena itu.1. Badan Riset Kelautan dan Perikanan.6 meter. Kisaran pasang surut di perairan Papua mencapai 3 .2–1. dalam dokumen perencanaan perlu adanya kajian dan pertimbangan dari segi karakteristik hidro-oseanografi yang mencakup aspek fisik perairan dan aspek kimia perairan. pertumbuhan tersebut akan mengikuti daerah eksisting. Gelombang laut terbentuk karena adanya proses alih energi dari angin ke permukaan laut.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Jika sudut datang cukup besar. pasang surut juga merupakan parameter oseanografi lain yang penting sebagai pembangkit arus di pantai.1. Namun demikian sesungguhnya terdapat hubungan antara angin musim dan pola gerakan gelombang. Selain gelombang.8. Departemen Kelautan dan Perikanan tanggal 30 Juni–6 Juli 2005 menunjukkan bahwa tinggi gelombang di wilayah kajian berkisar antara 0. Arus yang disebabkan oleh pasut ini dipengaruhi oleh dasar perairan.

yaitu C lebih rendah dari musim Barat. arus periodik. Karena massa air bawah permukaan pada umumnya lebih kaya zat hara dibandingkan dengan lapisan permukaannya. gaya gravitasi. dan gaya sentrifugal. 1958). diperkirakan 0. Bishop (1984) menyatakan bahwa gaya yang berperan dalam sirkulasi masa air adalah gaya gradient tekanan.0006 cm/detik. Keadaan arus laut umumnya terjadi akibat pengaruh beberapa gaya yang bersamaan yang terdiri dari arus tetap. maka menaiknya massa air tersebut akan menyuburkan kawasan permukaannya. Kecepatan naiknya tampaknya kecil. Upwelling adalah menaiknya massa air laut dari lapisan bawah permukaan (dari kedalaman (150 – 250 m) karena proses fisik perairan. Akibat dari naiknya massa air ini adalah suhu permukaan menjadi lebih rendah. sedangkan salinitas lebih tinggi 1 per mil. gaya coriolis. Keadaan ini dipengaruhi dipengaruhi oleh keadaan rataan dan sedimentasi di pesisir pantai. gaya gesekan. (pasut) dan arus angin. Demikian pula kandungan fosfat dan nitrat masing-masing naik dua kali lipat. Air naik di laut tersebut terjadi pada musim Timur. Karena pada saat tersebut angin musim Timur mendorong keluar air permukaan Laut Arafuru dengan laju yang lebih besar daripada yang dapat diimbangi oleh air permukaan sekitarnya.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Arus adalah gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horisontal dan vertikal masa air oleh perbedaan energi potensial. LAPORAN AKHIR 1-42 . dimana kecepatan arus rata-rata pada waktu pasang dan surut 7 – 8 cm/ det di daerah pesisirnya. dan waktu pasang 11 cm/det. dimulai sekitar bulan Mei sampai kira-kira bulan September. upwelling terjadi di Laut Arafura (Wyrtki. akibatnya air yang berada di lapisan bawahnya terangkat naik untuk mengisi kekosongan tersebut. Air yang naik ini bersumber dari kedalaman sekitar 125 – 300 m yang menyusup dari Lautan Pasifik. Tetapi ini mempunyai arti besar. karena dengan adanya volume air yang terangkat di daerah ini bisa mencapai 2 juta m3/detik. Pola arus perairan Papua menurut P30-LIPI Ambon tahun 1992 bahwa pola arus dipengaruhi oleh pasang surut. Di perairan Papua.

1. sedangkan musim Timur puncaknya terjadi pada bulan Agustus. kimia. Wilayah perairan Selatan Papua merupakan perairan yang memiliki karakteristik massa air yang agak berbeda dengan perairan wilayah Indonesia lain. Hal ini disebabkan oleh letak geografis perairan tersebut yang berdekatan dan lebih terbuka dengan laut Banda. Hal ini berpengaruh besar terhadap sebaran klorofil-a dan nutruen serta ikan-ikan pelagis di wilayah tersebut sehingga perairan ini juga dikenal sebagai salah satu daerah penangkapan ikan dan udang. 1961. Dari tabel aspek fisik dan kimia adalah sesuatu proses yang dinamis dan sangat tergantung pada musim. Tchernia.02 .4. Sedangkan kadar oksigen terlarut (DO) di Perairan Utara dan Selatan berkisar antara 2. laut Timor dan samudera Hindia. 1980). Pada musim Timur kondisi oseanografis perairan ini banyak dipengaruhi oleh massa air dari Laut Banda (Wyrtki.8.2 Aspek Kimia Perairan Perairan di Papua sangat dipengaruhi oleh dua musim. Musim Barat puncaknya terjadi pada bulan Februari. Pada saat musim Barat suhu permukaan laut cenderung lebih panas bila dibanding dengan pada musim Timur. dan biologi perairan pada kedua musim tersebut penyebarannya kisaran nilainya disajikan dalam Tabel 1. terutama ikan-ikan pelagis.16.12 .51 ml/l dengan ratarata 3. Sifat fisik. peningkatan fitoplankton dan zooplankton.16 Ketinggian Gelombang Laut 1. kandungan konsentrasi fosfat berkisar antara 0.39 µg-A/l dengan rataDinginnya suhu permukaan di musim Timur tersebut cenderung membuat perairan cenderung lebih subur yaitu dengan adanya LAPORAN AKHIR 1-43 . yaitu : (a) musim Barat.17 ml/l.3. dan (b) musim Timur.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

5 5 Nitrat (µm) 0.53 µg-A/l.5 2.5 7 Klorofil a (mg/m3) Gb 0.1. hasil interpretasi ETM7.83 .5 – 2.800 200 – 3.0 26.5 – 7.5 0.5 1.5 6 Silikat (µm) 2.0 – 34.8 2 Salinitas (ppm) 31.1 – 0.000 Sumber: Netherlands Journal of Sea Research 25 (4): 431-447 (1990).19 µg-A/l sampai 40.91.5 – 7.25 4 Fosfat (µm) 0. Status tanah sekarang pada dasarnya sangat menentukan mudah dan dapat tidaknya suatu bidang tanah dikuasai atau dialihkan penguasaannya oleh pihak ketiga untuk kegiatan tertentu.0 30.5 – 4.000 9 Zoo Plankton (cm3/cm2) 5 . Tanah negara yang dikuasai penduduk LAPORAN AKHIR 1-44 . Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan HPHH Hutan Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) Hutan Suaka Alam (HSA) Hutan Lindung Hutan Produksi Kontrak Karya Kuasa Pertambangan Tanah negara yang telah diperuntukkan d. Parameter Musim Barat (Februari) Musim Timur (Agustus) 1 Suhu (oC) 28.16 Kisaran Nilai Kondisi Fisik.0 – 4. Kimia.0 0. Tabel 1. dan hasil analisis 1.94 µg-A/ serta kadar konsentrasi silikat yang terukur berkisar antara 0.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 rata 1.0 3 Oksigen (cm3/cm2) 3. di wilayah Papua Barat perlu diperhatikan adanya berbagai jenis status (penguasaan) tanah sebagai berikut: a.0. Tanah negara yang dibebani. di dalamnya termasuk: • • • • • • • c.10 10 . Kadar konsentrasi nitrat berkisar antara 0.40 10 Larva Krustasea (Jumlah/m2) 500 – 1. Tanah negara bebas b.34 µg-A/l .5 – 1. Dalam hal ini.8 – 30.0 – 34. Ketersediaan tanah pada dasarnya tidak dilepaskan dengan status atau penguasaannya sekarang. dan Biologi Perairan Papua No.0 8 Fito Plankton (cell/dm3) 200 – 1.0 – 1.000 500 – 1.9 Ketersediaan Lahan Ketersediaan tanah atau lahan yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Guna Lahan sebagai suatu rencana dasar memberikan gambaran potensi lahan dan arahan bagi kawasan yang dapat dikembangkan/dibudidayakan atau karena limitasinya tidak dapat dikembangkan sama sekali berdasarkan faktor-faktor fisik dasar.5 – 2. Penggunaan lahan sekarang (eksisting) memberi gambaran sejauh mana jenis dan tingkat pemanfaatan lahan yang telah dilakukan baik yang bersifat budidaya maupun bukan budidaya.5 4.1 .0 – 26.

Hak Milik Adat g.875 612 3.953 268.302 Hutan 8.751 77. yang pada umumnya mencakup areal yang sangat luas seperti HPH.258 21.321 Kebun Campur 42. Hak Guna Usaha h. Tabel 1. Data mengenai lahan antara satu dan yang lainnya kerap menunjukkan perbedaan. Data tersebut hanya menunjukkan total luas Papua Barat sebesar 1 juta hektar.222 28.606 5.548 71. Tabel 1.204 4. Terdapat kemungkinan adanya keterbatasan dalam pencatatan data penggunaan lahan.17 Penggunaan Lahan di Provinsi Papua Barat Berdasarkan Kabupaten/Kota dan Jenis Penggunaan Tahun 2008 (hektar) Kampung/ Perumahan Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat 10.248 46.258 24.886 12.282 6.566 4.271 8.887 11.214 9.988 22. Faktor kondisi fisik Provinsi Papua Barat yang berbukit dengan banyak pulau menyebabkan pencatatan penggunaan lahan relatif lebih sulit dilakukan.159 82.397 9.378 239.950 8.884 30.2 PENGGUNAAN LAHAN Pencatatan data mengenai penggunaan lahan di Papua Barat masih sangat terbatas.256 5.599 26.865 12.537 7.197 30. konsesi.248 Kebun 8. Terlebih adanya kabupatenkabupaten bentukan baru menyebabkan pencataan data penggunaan lahan harus dilakukan ulang. Tanah negara yang dikuasai instansi f.320 Semak 839 Tanah Rusak Lainlain 213.305 14.883 5.918 24.024 14.791 9.986 Sawah Tegalan 123.686 12. j.838 88. Hak Milik Permasalahan yang mencolok adalah sering terjadi ketidaksesuaian antara arahan rencana tata ruang pada suatu lokasi dengan status atau penguasaan tanahnya sekarang terutama untuk tanah negara yang dibebani.633 31.738 Total 407. Hal ini dapat menjadi masalah jika dikaitkan dengan fungsi kawasan yang ingin dipertahankan (misalnya fungsi hidro-orologis). Hak Pakai i.001 8. kuasa pertambangan kontrak karya. Hak Pengelolaan Hak Guna Bangunan k.224 28.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 e.17 menunjukkan data penggunaan lahan di Provinsi Papua Barat yang dibedakan ke dalam beberapa kategori penggunaan lahan. 1.509 4.897 4.024 2.520 LAPORAN AKHIR 1-45 . Misalnya pada kasus TGHK yang tumpang tindih dengan kuasa pertambangan atau Hak Penguasaan Hutan (HPH).226 5.556 29.

Kab.546.224. Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Papua secara keseluruhan (termasuk Provinsi Papua Barat) berdasarkan (SK. T.00 578.197 332.496 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Luas pengunaan lain-lain menjadi kategori dengan presentase tertinggi.76 persen. Fungsi perkebunan dan kebun campur kemudian memiliki presentase di bawah fungsi tegalan.678.199.800. Di luar kategori lain-lain.90 LAPORAN AKHIR 1-46 .496 hektar atau sekitar 22.840 Ha yang terdiri dari Kawasan Hutan seluas 40.01 610. Bintuni 3.473 254.065.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kebun Campur 2.412 Kebun 1.863.118.958 Hutan Semak Tanah Rusak Lainlain Total 27.054 117.460 121.700.480 Ha. Kab.800.921.151. Wondama Luas Wilayah*) 1. fungsi sebagai tegalan mendominasi penggunaan lahan di Papua Barat yaitu mencapai 254. Kab. Menhutbun Nomor: 891/Kpts-II/1999) adalah sebesar 42.283.00 Hutan+Perairan 1.2.218 1. T.17 Persentase Penggunaan Lahan di Papua Barat tahun 2005 Berdasarkan Jenis 1.755 61.292 123. Manokwari 2.37 2.836 82.038 Kampung/ Perumahan Kota Sorong Papua Barat 16. Tabel 1. Munculnya kategori tersebut sebagai yang tertinggi kemungkinan terkait dengan keterbatasan data.00 1.360 Ha dan Kawasan Perairan 1.015 Sawah Tegalan 7. Gambar 1.592 7.18 Luas Hutan dan Perairan diProvinsi Papua Barat dirinci Per Kabupaten/Kota Tahun 2005-2008 Kabupaten/Kota 1.1 Kehutanan Potensi hutan di Provinsi Papua sangat tinggi.564.716 16.

50 686.199.960.34 1.072.00 1.25 2.53 1.00 1.58%. Kaimana 9.224.59 33.83 11.84 1.700. Tabel 1.27 16.352.28 2.27 0.432.721.02 0.58 41. Akan sangat kritis apabila proses tersebut berlangsung secara terus menerus tanpa upaya penanganan dari Departemen Kehutanan dan Pemda karena menyangkut isu global warming di mana Indonesia memiliki hutan yang mampu menyerap CO2 sedangkan kondisi sekarang ini.503. Pembalakan liar dan issu illegal logging yang berkembang adalah satu hal yang selalu terjadi.641.75 17.00 LAPORAN AKHIR 1-47 .00 11. Fungsi-fungsi ini tentu apabila dilihat di lapangan tidak demikian nyata.601. Kota Sorong Total 2. Kab. Fakfak 8.003.653.16 24.58 0.19 Luas dan Prosentase Hutan berdasarkan Fungsi Hutan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Fungsi Hutan APL (Area Penggunaan lain) HL (Hutan Lindung) HP (Hutan Produksi) HPT (Hutan Produksi Terbatas) HPK (Hutan Produksi dapat dikonversi) CA (Cagar Alam) SM (Suaka Margasatwa) TN (Taman Nasional) TW Perairan Grand Total Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Luas (Ha) 196.979. Kab.850.17 4.63 19.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 724.17 % 1.718. Dan sebagai hutan produksi baik yang terbatas maupun dapat dikonversi adalah sekitar 56%. Suaka Margasatwa 0.339.27%. Cagar Alam 24.02%.934. Sorong Selatan 6.74 64.965.45 2.199.64 19.736.27%.17 100.30 0.146.10 1. Kab.385.726. Hutan di Papua Barat diklasifikasikan menjadi 9 kategori.00 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Berdasarkan fungsinya.726. Taman Nasional 0.000. Hutan di wilayah ini memiliki fungsi sebagai kawasan konservasi terdiri dari kawasan Hutan Lindung sebesar 17. Sorong 5.379.00 1.98 1. Raja Ampat 7.945.634.994. Kab.600. terlihat memprihatinkan.199.84 19.138.00 608.786.41 11.377.885.00 31. Kab.05 1.450.202.665.000.

30 92.39 1.769.63 1.05 39.14 327.20 284.400.57 948.485.43 489.10 79.75 342.96 Tetap 388.101.35 1.44 20.284.90 149.806.70 3.70 165. Kabupaten Teluk Bintuni dan Fakfak memiliki luas hutan lindung yang relatif kecil jika dibandingkan dengan total luas hutannya.15 1.277.700.50 149.90 149.057.04 92.95 591.300.55 1.314.865.87 persen dari total luas hutan.686.6 juta hektar atau sekitar 16.525.59 31.243.648.314.81 9.90 132.144.50 442.339.90 479.243.10 246.284.240.087.248.35 1.10 275.337.989.086.723.648.866.13 5.535.63 1.46 9.600.284.052.816.259.81 9.509.75 342.16 310.243.370.847.81 9.20 93.503.372.144.96 1.174.314.49 309.548.70 6.57 1.277.847.087.751.623.20 37.364.928.167.681.863.00 397.00 462.79 Areal Penggunaan Lainnya 55.10 95.866.790.17 6.617.277.40 121.751.957.75 342.270.686.866.1176 LAPORAN AKHIR 1-48 .30 379.290.648.75 Jumlah Hutan Lindung 39.751.10 395.57 1.686.39 1.769.90 1.054.487.79 2.558.245.144.508.35 Hutan Produksi Terbatas 202.529.19 32.21 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2007 Hutan produksi mendominasi jenis hutan di Papua Barat sementara hutan lindung hanya seluas 1.20 Luas Kawasan Hutan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 (Ha) Kabupaten/Kota Regency/ Municipality Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 2007 2006 2005 Hutan Kawasan Perlindungan Alam/ Kawasan Suaka Alam 44.087.90 253.92 6.565.00 204.337.92 113.046.228.96 1.847.95 785.977.648.41 715.439.79 2.458.147.277.080.488.81 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Fungsi guna lahan hutan dalam data Pemanfaatan Lahan (Papua Barat Dalam Angka Tahun 2007) menunjukkan bahwa luas hutan di Papua Barat hanya sebesar 61.284.96 1.648.648.02 1.893.385.30 65.30 302.669.866.794.70 320.50 66.57 1.648.769.79 2.635.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.70 4.847.244.891.751.90 411.243.941.56 209.018.79 1.291.686.39 1.30 16.25 1.817.40 1.18 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi di Papua Barat Tahun 2008 Satuan dalam% Luas Total 9.345.39 Hutan Produksi yg Dikonversi 219.314.35 1.648.943.087.769.87 86.787.29 2. Tabel 1.20 519.97 342.464.144.06 1.

21 berikut. Berdasarkan data sementara yang dikomplilasi dari berbagai sumber.00 500.00 1.000. Gambar 1. data luas hutan untuk setiap wilayah kabupaten setelah pemekaran masih belum pasti. perkebunan.000. Padahal. Hal ini kemungkinan disebabkan dari perbedaan pemberian kategori dalam pencatatan penggunaan lahan.00 0.00 Fa kFa k Ka Te im lu an k a W on da Te m lu a k Bi nt un M a i So no k w ro ar ng i Se la ta n So ro ng R aj a Am Ko pa ta t So ro ng Berdasarkan data dari Balai Pemantapan Kawasan Hutan (2004).7 juta hektar.000. dalam buku yang sama tercatat luas hutan di Papua Barat mencapai 9 juta hektar dari total luasan Papua Barat yang mencapai 11 juta hektar.000. ataupun semak dan alang-alang memiliki kemungkinan untuk dikategorikan ke dalam hutan oleh data tentang lahan lainnya.000. LAPORAN AKHIR 1-49 .00 2.000.52 persen. kebun campur.00 1. Namun.000.500.19 Luas Kawasan Hutan Menurut Kabupaten/Kota di Papua Barat Tahun 2008 2. luas kawasan hutan di Provinsi Papua Barat mencapai 9. proporsi luas kawasan hutan di Provinsi Papua Barat ditampilkan pada Tabel 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 hektar atau hanya sekitar 5.500. Fungsi-fungsi seperti tegalan.

21 Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan.338.499.05 9.36 4.76 151.277.477.636.72 398.44 23.47 260.78 100.389.272.42 221.857.97 276.475.29 17.604.740.21 682.941.747.15 93.82 5.838.46 0 0 0 23.55 283.234.21 498.81 0 0 69.688.240.15 2.684. Keterangan: *) Bagian kawasan Taman Nasional yang masuk dalam wilayah Administrasi Pemerintahan Provinsi Papua Barat (tidak termasuk perairan laut dan kepulauan).12 206.976. 1-50 .373.81 127.88 15.56 356.43 Total 37.21 231.32 737.41 500.634.52 Taman Nasional 0 0 270.273.52 393.32 1.66 9.837. 21 Persebaran Luas Kawasan Hutan (Ha) Menurut Fungsi pada Setiap Kabupaten di Provinsi Papua Barat Hutan Lindung Fakfak Kaimana Sorong Kota Srng Sor-Sel Mnkwr Bintuni Wondama Raja Ampat Papua Barat 41.54 936.60 281.12 0 55.045.19 53.114.761.61 429.461.33 1.087.13 80.047.371.11 69.375.584.33 1.600.031.90 1.23 1.138.19 6.517.235.61 24.37 0 0 0 0 4.189.22 16.927.342.769.39 1.20 2.379.181.636.689.394.39 Cagar Alam Suaka Marga Satwa 657.439.977.46 Taman Wisata Alam 0 0 1.310.27 0 0 10.005.84 1.192.93 487.Tabel 1.495.60 Hutan Produksi Konversi 218.087.712.538.56 165.33 1.24 1.34 413.15 Hutan Produksi 383.120.366.08 10. 2004.13 Areal Penggunan Lain 52.20 80.877.77 243.53 322.886.98 150.008.397.47 355.759.102.24 6.560.87 32.24 153.163.209.073.418.729.092.537.328.985.302.188.928.394.63 304.41 33.481.44 112.85 84.83 530.56 5.52 356.132.34 15.262.99 Hutan Produksi Terbatas 203.180.174.33 493.661.07 1.262.019.868.389.784.846.972.41 1.66* 0 14.52* 1.723.834.

250.10%) masih merupakan kawasan hutan produksi yang belum terbebani hak. namun sekitar 66. dan hutan produksi konversi. kawasan hutan di Papua Barat memiliki slopes yang bervariasi dari datar sampai sangat curam. Kawasan hutan produksi. tetapi mengintensipkan pengembangan hutan tanaman baik Hutan Tanaman Industri (HTI) maupun Hutan Tanaman untuk tujuan Rehabilitasi Lahan Kritis (RHL) atau tujuan perlindungan lainnya. yaitu minimal 30%. Kanwil Kehutanan Irian Jaya (2001). Hutan lindung dan hutan konservasi sebagai zona penyangga menempati luasan sebesar 34.069.90% dari luas hutan produksi (6. maka pengembangan kehutanan kedepan tidak lagi hanya mengharapkan eksploitasi hutan alam.65%).62% memiliki slopes dari curam-sangat curam dengan kemiringan diatas 25%. diberikan Hak Pengusahaan Hutan dan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu kepada perusahaan dibidang terkait.654. Kawasan hutan ini perlu dipertahankan keutuhannya untuk jangka panjang. melaporkan bahwa luas kawasan hutan produksi di Papua Barat yang telah dibebani hak pengusahaan hutan (HPH) seluas 4.181. persebaran di setiap kabupaten/kota tentunya akan bervariasi. Areal penggunaan lain seluas 2. Proporsi tersebut perlu dipertimbangkan kembali. khususnya areal hutan produksi konversi persebarannya tidak merata di setiap kabupaten/kota. Dengan kondisi kawasan hutan produksi demikian. Untuk itu penataan fungsi kawasan perlu ditinjau kembali dan peninjauannnya dilaksanakan bersamaan dengan penetapan SDA tersedia di setiap wilayah Kabupaten/Kota.210 Ha atau 66. Selain itu. nampak bahwa kawasan hutan untuk tujuan perlindungan masih berada di atas persentase yang disyaratkan.063 Ha (43.273 Ha) dan sisanya seluas 2.97 Ha. 1. karena dengan pemekaran wilayah di Papua Barat. Sisa areal hutan produksi tersebut sebagian besar merupakan wilayah hutan yang topografinya berat. Sementara Industri Primer Hasil Hutan (IPHH) yang berkembang di Papua Barat digolongkan menjadi 2 yaitu Industri yang berskala besar dengan nilai LAPORAN AKHIR 1-51 . Berdasarkan proporsi tersebut. secara fisiografi. terdiri atas hutan produksi tetap.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Fungsi hutan produksi menempati proporsi tertinggi (62. Di Provinsi Papua Barat sendiri telah dikeluarkan 29 unit HPH yang meliputi hutan seluas 4.84%.2.51% dari luas kawasan hutan. merupakan lahan-lahan pemukiman dan lahan budidaya. hutan produksi terbatas. Oleh karenanya dalam rencana pengembangan wilayah pembangunan di setiap kabupaten/kota perlu mempertimbangkan proporsi kawasan hutan untuk perlindungan ini.2 Hak Pengusahaan Hutan (HPH) tata ruang wilayah pembangunan Provinsi Papua Barat dengan tetap memperhatikan karakeristik dan potensi Dalam pengusahaan dan pemanfaatan hutan.211.

000 609.23 Kab.800 4.620. Sorong Selatan 2) 1.500 4.55 Kab.477 984.264.758.00 138.36 1. Tidak termasuk areal konsesi PT.47 23.657 2.371.00 Kab.07 8.22 Daftar Kepemilikan SK IUPHHK dan RKT Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2004-2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 2004 SK IUPHHK (Ha) 311.138.494 215.570.391.24 Kab.836.843 2.762 541.25 Kab.000 m3.620.960.601.00 56.783 20.832.225 1.81 2.480.146.248 93.00 63.620. Kaimana 1. Pada tahun 2006 terdapat 22 HPH Aktif dengan RKT seluas 65.61 Ha.726. Fakfak 1.220. Henrison Iriana (83.500 ha LAPORAN AKHIR 1-52 . Namun Rata-rata realisasi RKT sebesar 32.003. Manokwari 1) 1.564. Teluk Wondama 610.076 4.269.434 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tabel 1.326.946 896.921 Luas H.472 1.06 %HPH/HP 90.263.570.580.99 ha) 2.800 1.425.7% dari rata-rata rencana produksi per tahun.25 ha) dan PT.800 2.906 31.287. Artika Optima Inti Unit VI (57. Teluk Bintuni 1) Luas Hutan 2.657 390.450 51.43 390.800 Target Tahunan Maksimum Luas (Ha) Volume 298.657 49.60 61.366 4.537.41 1.89 56.843 2.274. Perkembangan HPH tiap tahun menurun.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 produksi lebih dari 6.000 m3 dan industri di bawah sedang yaitu produksi dibawah 6.23 Kawasan Hutan Produksi yang Telah Dibebani HPH/IUPHHK (Aktif+Dicabut) No.03 9.55 1.220.858 267.617.00 37.199.300 1.33 Total 11.164. Pada tahun 2005 terdapat 23 HPH Aktif dengan RKT seluas 66.20 78.00 10.151 323.420.231.620.193.332 14.242.49 Kota Sorong 41.570.843.00 35.803.419 650.7% dari Rencana Luas RKT sepanjang Tahun 2000-2005.70 Ha.00 390.837 1.880.600 4.680 323.066 340.225.40 148.010 311.630.192 91.004 Areal HPH 1.721 173.951.051.636.930 791.391. Mitra Pembangunan Global seluas 98.943 78.764. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Kab. Tabel 1.500 691. Sedikitnya terdapat 3 perusahaan berskala besar dan 15 perusahaan sedang yang bergerak dalam sektor kehutanan ini.53 28. Dan realisasi volume hanya sebesar 21.657 390.920 202.076.800 4.083.30 1.392 599.910. Sorong 1. Prod 1.799.63 10.13 66.396.20 50.360.48 319.225.34 Ha.458.998 922.03 89.665 955.67 74.28 22.92 472.726 6.86 11.994.03 Kab.431 1.007.300.570.620.585.33 72.199.493 6.092.140 85.378 713.426.13 61. Termasuk areal PT.843 Realisasi RKT Luas (Ha) Volume 6. Sedangkan pada tahun 2007 terdapat 20 HPH Aktif dengan RKT seluas 47. Raja Ampat 686.340 6.50 84.187 11.719.653 28.65 Kab.

58 LAPORAN AKHIR 1-53 .820.000 84. yang 1 HPH Kayu juga telah dicabut. HENRISON IRIANA PT.08 21.000 133. KALTIM HUTAMA PT. WANA KAYU HASILINDO PT.56 97.68 37. SAGINDO LESTARI UNIT I PT.42 3.820 139.28 2. HANURATA UNIT I PT. INTIMPURA TBR. Megapura Mambramo Bangun PT. Mancaraya Agro Mandiri Kab Sorong PT.24 Direktori Perusahaan Pemerima HPH Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Kabupaten Kab.149. INDT. AGODA RIMBA IRIAN PT. Di Kabupaten Teluk Bintuni terdapat 14 HPH yang terdiri dari 2 HPH Sagu. Raja Ampat Kota Sorong NAMA HPH/IUPHHK PT.53 26.700 333. HASRAT WIRA MANDIRI PT. CO.000 299. WAPOGA MUTIARA TIMBER PT. Sedang di Kabupaten Fak-Fak terdapat 6 HPH kayu dan 1 HPPH Mangrove. Jenis HPH yang dipegang oleh perusahaan cukup bervariasi. PT. ARTIKA OPTIMA INTI N UNIT VI Kab Sorong Selatan PT. BANGUN KAYU IRIAN PT. 2 HPH Kayu telah dicabut yaitu milik PT Artika Optima Intin dan PT Henrinson Iriana.492.264.502.000 97.504. HASRAT WIRA MANDIRI PT.729. 1 HPH Mangrove.000 397/MenhutII/06 448/Kpts-II/88 279/Kpts-IV/88 547/Kpts-II/97 744/Kpts-II/90 759/Kpts-II/89 373. 174/Kpts-IV/88 137. BANGUN KAYU IRIAN PT.61 270.23 di atas dapat dilihat bahwa sekitar 74.07 6.000 299.25% untuk pengusahaan hutan. Di Kabupaten Sorong Selatan.28 12. WANA GALANG UTAMA PT.303. DHARMA MUKTI PERSADA Kab Teluk Wondama Kab Teluk Bintuni PT.800 155. 11 HPH Kayu.242.43 1.862.32 286. Tabel 1.40 9. INTIMPURA TBR. ARTIKA OPTIMA INTI N Unit VI PT. Teluk Wondama dan Manokawri sebanyak 20 HPH berupa HPH Kayu diantaranya 3 HPH kayu telah dicabut. BINTUNI UTAMA MURNI W.64 36.41% hutan produksi di Provinsi Papua merupakan Areal HPH.00 123. CO. BANGUN KAYU IRIAN PT.698.000 51. pemegang HPH Kayu sebanyak 4 unit dan HPH sagu sebanyak 2 unit.000 464/Kpts-II/92 212.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dari Tabel 1.700 333.000 DIGITASI LUAS (HA) 14.000 178.897. SAGINDO LESTARI UNIT II PT.000 SK HPH 81/Kpts-II/94 69/Kpts-II/89 01/Kpts-II/93 81/Kpts-II/94 735/Kpts-II/1993 69/Kpts-II/89 55/Menhut-II/06 534/Kpts-II/91 01/Kpts-II/93 735/Kpts-II/1993 69/Kpts-II/89 1142/Kpts-II/92 LUAS_SK 51.531.60 80.06 64.83 15.28 55.343. Kabupaten Teluk Bintuni memiliki luas produksi terbesar dan dimanfaatkan 90.00 139.600 333.683.650. Namun dari 14 HPH tersebut.28 131.600 119. PT.118. PT.000 98.183. Sedang di Kabupaten Kaimana.09 108. HANURATA UNIT I PT.533.66 30.000 119.000 155.352.57 66.100.012. CO.745.000 01/Kpts-II/93 299.010. INTIMPURA TBR. MULTI WAHANA WIJAYA PT.15 92.

000 153. PT.24 6. IRMASULINDO UNIT II PT.000 212.000 300.000 95. WANA KAYU HASILINDO PT.68 76.000 156.04 80. DHARMA MUKTI PERSADA PT.000 84. HANURATA COY UNIT III PT.11 89.65 12.13 Kabupaten NAMA HPH/IUPHHK PT.728.49 72.000 Kab Kaimana PT.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 SK HPH LUAS_SK DIGITASI LUAS (HA) 68.000 133.6 1.540 155. BUDI NYATA PT. Tabel 1.000 153. CENTRICO PT. HANURATA COY UNIT III PT.23 82.921.30 15.000 319. WAPOGA MUTIARA TIMBER PT.000 155.426.99 393/Kpts-II/92 464/Kpts-II/92 936/Kpts-II/92 744/Kpts-II/90 396/Kpts-II/90 811/Kpts-II/91 678/Kpts-II/89 379/Kpts-IV/87 154/Kpts-II/93 448/Kpts-II/88 81/Kpts-II/94 81/Kpts-II/94 08/Kpts-II/2001 279/Kpts-IV/88 180/Kpts-II/91 393/Kpts-II/92 547/Kpts-II/97 396/Kpts-II/90 759/Kpts-II/89 553/Kpts-II/89 174/Kpts-IV/88 81/Kpts-II/94 81/Kpts-II/94 180/Kpts-II/91 393/Kpts-II/92 239.219.165.436. PT.300 209.861.233.61 9.70 60. WANA GALANG UTAMA PT.08 19.30 152. HANURATA UNIT II PT.26 87.98 62.58 38. Manokwari Mandiri Lestari PT.780.240. PRABU ALASKA PT.263.07 Jumlah Produksi 42.600 239.670 174.11 127.078.786.764.91 187.97 83.823.368.967.186.59 68. WUKIRASARI PT AGODA RIMBA IRIAN PT.703.600 239. YOTEFA SARANA TIMBER PT. INDT. WANA IRIAN PERKASA PT.733.000 182.406. SAGINDO LESTARI UNIT II PT.643.236.98 LAPORAN AKHIR 1-54 .670 319.631. WUKIRASARI PT. RIMBAKAYU ARTHA MAS PT. PT.25 Perkembangan Luas Penebangan Hutan Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Luas Penebangan 2.821.200. SAGINDO LESTARI UNIT I PT.186.000 76.2 101.79 98.000 150.997. TELUK BINTUNI MINA AGRO K.27 95.966.733.25 3.900 178.57 14.249.08 222.388. HANURATA UNIT II PT.300 209.65 182. TELUK BINTUNI MINA AGRO K.39 82. ARFAK INDRA PT. BINTUNI UTAMA MURNI W.00 376.000 137.236.461.000 156.12 72.41 59. HENRISON IRIANA PT. PRABU ALASKA 48 Tahun 2002 651/Kpts-II/92 1142/Kpts-II/92 83.000 170.800 150.72 182. KALTIM HUTAMA PT. ARTIKA OPTIMA INTI UNIT II PT.786. TELUK BINTUNI MINA AGRO K.689.240.332.240 373.000 98.90 10.35 12.

21 Luas Produksi Kayu (m3) Oleh Pemegang HPH di Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 120000 100000 80000 60000 40000 20000 0 Fak-Fak Kaimana Teluk Bintuni Sorong Raja Ampat LAPORAN AKHIR 1-55 . Luasnya lahan penebangan di Teluk Bintuni membuat kabupaten ini juga memiliki produksi kayu terbesar yaitu mencapai 101.040.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Raja Ampat 940 9.13 207.65 2003 17.866.65 2005 14.07 hektar.13 207.20 Luas Penebangan Hutan (Ha) Oleh Pemegang HPH di Papua Barat Tahun 2008 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 Fak-Fak Kaimana Teluk Bintuni Sorong Raja Ampat Gambar 1.866.13 207.040.18 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009.866.65 2004 14.6 m³.29 Kota Sorong Papua Barat 2007 14.135. Teluk Bintuni memiliki jumlah lahan terluas untuk penebangan yang dilakukan oleh perusaahan HPH yaitu seluas 6.040.156. Gambar 1.263.66 249.733.446. hasil perhitungan Kegiatan pemanfaatan hutan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan.

Posisi tektonik Papua yang berada di Lingkar Pasifik. yang berupa cincin gunung api memberikan potensi endapan mineral yang besar. Konsentrasi mineral-mineral logam diperkirakan terdapat pada Lajur Pegunungan Tengah Papua.2. di mana lingkungan marine cukup banyak kehidupan mikro organik yang terakumulasi menjadi cadangan hidrokarbon. dan uranium. Philipina. krom. Contohnya di daerah Kepala Burung. kobal. di daerah tersebut cukup potensial untuk diadakan eksplorasi minyak dan gas bumi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Keuntungannya adalah dengan terjadinya penerobosan batuan beku dengan komposisi sedang ke dalam batuan sedimen di atasnya.26 Potensi Mineral Logam dan Non Logam di Provinsi Papua Barat Kabupaten/ Kota Manokwari Potensi Tambang Timah Distrik Distrik Ambarbaken sepanjang Sungai Waturi dan Sungai Warsomi Distrik Anggi Kampung Sutera Distrik Ambarbaken kampung Sutera Kampung Bomas dan Danau Anggi Giji Distrik Ambarbaken Terdapat merata di semua distrik dan melimpah Volume Cadangan Deposit mineral belumdiketahui. Akibat benturan antara lempeng tersebut di atas menimbulkan keuntungan dan kerugian. memungkinkan terbentuknya mineralisasi logam yang berasosiasi dengan perak dan emas. mengingat keberhasilan Negara Papua New Guinea telah menemukan cekungancekungan minyak dan gas bumi yang cukup potensial. Keuntungan-keuntungan lainnya. telah diketahui sepanjang jalur tersebut dari Amerika Selatan. Papua New Guinea sampai ke Selandia Baru telah ditemukan banyak endapan emas dan tembaga kelas dunia.3 Kawasan Pertambangan Pulau Papua yang diketahui terbentuk sejak jutaan tahun yang lalu sebagai hasil benturan Lempeng Benua Australia (Australia Plate) yang bergerak ke Utara dengan Lempeng Pasifik (Pacific Crustal Plate) yang bergerak ke arah Barat. Akibat tektonik di Pulau Papua juga memungkinkan terbentuk cekungan dengan sedimensedimen yang cukup tebal dalam kondisi lingkungan laut. Tidak tertutup kemungkinan daerah-daerah lain seperti sampai saat ini masih terus dilakukan eksplorasi baik di daratan maupun lepas pantai. Tabel 1. yaitu adanya cadangan batubara. kandungan timahnya berkisar antara 345-685 Deposit mineral belumdiketahui dan sampai saat ini potensi belum dimanfaatkan Deposit mineral belumdiketahui dan belum dieksplorasi 13. Untuk data potensi mineral logam maupun non logam dapat dilihat pada Tabel 1.26 Potensi Mineral Logam dan Non Logam bagi daerah-daerah yang potensial di Provinsi Papua Barat. nikel.92 Miliyar Ton Senk dan Tembaga Emas Batu Gamping LAPORAN AKHIR 1-56 .

39 metric ton. jenis kuarsa sebesar 61. dan batu Gamping Kandungan mika 150.4% Diorit Granit Teluk Bintuni Minyak dan Gas Bumi Batu Bara Mika Raja Ampat Cobalt Tembaga Nikel Mangan Batu bara Fosfat dan Opal Mika Batu Gamping Biji Besi Distrik Warmare di sekitar Kampung Wagesi.84 % pausri gelas kaca Volume cadangan 26.95 miliyar metric ton Volume cadadangan terbesar adalah gas alam sebesar 14. Sungai Maryam Mogoi. Batu Pasir. Batu Lumpur. terdiri dari Genis Maskovit sebesar 15.27 % kadar abu 2. Muturi. MgO rata-rata 1.3 TCF Cadangan mika sebesar 150. Genis Kuarsa sebesar 91. Waisian.27 dan Fe203 rata-rata 10. 1 metric ton.31 juta metric ton.50 juta metric ton LAPORAN AKHIR 1-57 .5 metric ton Volume cadangan hipotetik batu bara 0. bahan galian adalah batu bara.28 juta metric ton. A12O3 – Ratarata13. Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Selatan (Pulau Wageo dan Gag). Pulau Wageo dan Gag.13 m3 Volume cadangan sebesar 96.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Volume Cadangan Kabupaten/ Kota Potensi Tambang Lempung Distrik penyebarannya Tersebar merata di Distrik Manokwari Pasir Batu Granit Pasir Kuarsa Distrik Manokwari an Distrik Warmare Distrik Ransiki.11 juta metric ton. Distrik Wageo Selatan Pulau Wageo dan Gag Distrik Wageo Selatan. dan Berau.6% .855 juta ton m3 dan 12.50 juta metric ton. dan Distrik Kebar Tersebar di Distrik Kebar Kampung Atay Selatan Kandungan lempung terdiri dari Sio rata-rata 55%. jenis kuarsa sebesar 91. Gunung Nuasa. nisprematik sebesar 31.29-1. Selain gas dan minyak bumi.1 juta metric ton tersiri dari Genis Maskovit sebesar 19. dan Genis Pragmatic sebesar 31.3%. A12O3-12.83 miliyar metric ton Volume cadangan 137. Distrik Anggi. Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Misol Distrik Wasior Tersebar di Distrik Wasior dan Wendesi Distrik Wasior Teluk Wondama Cadangan deposit sebesar 90.65% Fe2O3 rata-rata 0. yang terdiri dari jenis Moskovit sebesar 17.21 juta metric ton dan jenis peckmatik sebesar 11.38 metric ton.5 mt berdasarkan penelitian SiO2 – rata-rata 77.28 Juta metric ton.15.4% Volume cadangan sebesar 1. Distrik Ambarbaken.

8 gr/ton Dengan kadar 15. dan Kokas Menyebar di distrik Kokas.282. Ubadari.850 juta m3 Sebaran Volume 457.000 m2 Minyak Gas Lempung dan Sebaran 1. teluk Berau Buruway.000 m2 dengan kadar 0. dan Fak Fak Timur Distrik Teluk Etna. Teluk Arguni. Ayamaru Utara. Berikut di bawah ini contoh endapan mineral yang ada di Provinsi Papua Barat. Ayamaru Utara. kampung Tawar dengan luas 4. dan Mare Distrik Sausapor Distrik Sausapor dan Sawiat Distrik Sausapor Distrik Salawati.2 gr/ton Dengan kadar 47. Kokas. baik yang ekonomis maupun tidak. dan Fakfak Barat Menyebar di distrik Kokas.500 ha dengan ketebalan rata-rata 6 meter sehingga perkiraan cadangan adalah 90 juta m3 Luas 142.500 m2 Perak Tembaga Timbal Senk Jumlah cadangan kurang lebih 450 juta m3 dan Distrik Bomberai dengan luasan 12 Ha.1 gr/ton Dengan kadar 16. dan Mare Distrik Aifat dab Aifat Timur Distrik Sawiat.680. Sungai Waturi dan Sungai Warsayomi dan LAPORAN AKHIR 1-58 . Ayata.500 Ha Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Fakfak Fakfak Fakfak Fakfak Volume cadangan sebesar 1. Bahan Galian Strategis. Aifat Timur. Distrik Kokas Kabupaten Sorong Fak Fak Batu Gamping Batu Bara Emas Distrik Kokas pada Pegunungan Onin Distrik Teluk Etna. Timah terdapat di Distrik Amberbaken sepanjang Sungai Wapai. Ayamaru. buruway. Inanwatan Distrik Kais. jumlah cadangan + 864 juta m3 Dengan kadar 3. Ayamaru Utara Distrik Aifat Timur Distrik Ayamaru. dan Klamono Distrik Salawati Distrik Sausapor Bomberai. Sawiat.  Di Kabupaten Manokwari.050 gr/ton hasil analisis laboratorium P3G Bandung Dengan kadar + 26.2 gr/ton Sumber: Peluang Bisnis dan Investasi Provinsi Papua Selain itu juga ditemukan beberapa macam endapan logam dan bukan logam.500 Ha dan jumlah cadangan +2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Volume Cadangan Kabupaten/ Kota Sorong Selatan Potensi Tambang Minyak Bumi dan gas Batu Gamping Emas Fosfat Zink Marmer dan Bahan Baku Semen Tembaga Emas Tanah Hitam Batu Bara Koramit Biji Besi Pasir Kuarsa Distrik Distrik Kais. Fakfak Timur.

Minyak bumi pemah dieksploitasi pada masa pemerintahan Belanda. kaca. Tersebar di Distrik Kebar. dengan hasilnya sekitar 7 juta barrel minyak mentah. Pasir Kuarsa. dengan volume cadangan sebesar 136.95 milyar metric ton. jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainya di Papua.76 %. Muturi dan Berau. lapangan gas di Kawasan Teluk Bintuni telah dieksploitasi oleh perusahaan multinasional BP. British Gas. Saat ini. Selain minyak.6 %. Paustri gelas. Bomas. Aranday dan Babo. di sekitar Kampung Atay Selatan dengan volume cadangan sebesar 137. Bahan Galian C. Penyebarannya hampir merata di tiap distrik. Sedangkan untuk ladang Wer (Tahun LAPORAN AKHIR 1-59 . dll. Volume cadangan bahan galian ini sebesar 26.83 milyar ton.92 milyar ton. Sungai Maryam. Distrik Ransiki dengan volume cadangan 18. Weriagar. Merdey. lapangan minyak yang ada terbengkalai untuk beberapa waktu lamanya.65 %.05 juta ton. Patrindo.5 juta metrik ton. minyak dan gas alam cair. Wasian. Potensi minyak bumi di Kawasan Teluk Bintuni tersebar di Distrik Bintuni. dan timah. Volume cadangan kedua distrik ini belum diteliti. Distrik Anggi merupakan lanjutan dari Distrik Ransiki dan Amberbaken merupakan lanjutan dari Distrik Kebar. Daerah Mogoi dan Wasian telah diketahui kandungan minyaknya sejak Tahun 1952-1960 oleh NNGP Belanda. Distrik Warmare dengan volume cadangan 2. kawasan ini juga memiliki kandungan gas bumi sebesar 13 trilyun kaki kubik dengan volume cadangan sebesar 23.  Kabupaten Teluk Bintuni. Gunung Nuasa. Cadangan batu gamping di Kabupaten Manokwari sangat melimpah. Batuan ini dapat digunakan sebagai bahan bangunan. Fe203 . A1203 . Perusahaan yang sudah menanamkan modal. Ada 5 (Lima) daerah di Kabupaten Teluk Bintuni yang terdapat banyak ladang gas alam yang menghasilkan minyak.5 milyar ton. terdiri dari Si02 . Distrik Babo.rata-rata 0. Bahan Galian Strategis meliputi. Conoco Arco. Kandungan Pasir Kuarsa tersebut berdasarkan hasil penelitian.rata-rata 13. Kawasan Teluk Bintuni kaya akan minyak bumi dan gas alam. baik penanaman modal asing maupun nasional. namun saat ini lapangan minyak tersebut telah dieksploitasi kembali. Tanah Merah. Distrik Manokwari dengan volume cadangan 13. dan Danau Anggi Giji. Cadangan Granit tersebar di Distrik Ransiki dengan volume cadangan sebesar 96.rata-rata 77. Tersebar di Distrik Warmare. Indonesia dengan Proyek "LNG Tangguh". antara lain. Diorit.rata-rata 0. Kandungan Timah berkisar 345-685 ton.35 milyar ton. Sedangkan minyak bumi dengan volume cadangan sebesar 45 juta ton metric terletak di Kampung Homa. Emas terdapat di Distrik Amberbaken.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Distrik Anggi di Kampung Sutera. Batugamping.7 trilyun kaki kubik.83 milyar metrik ton.  Kabupaten Teluk Bintuni memiliki ladang minyak terbesar di Papua. batubara. Setelah penyerahan Papua ke Indonesia. Seng dan Tembaga. dll. dan Distrik Oransbari dengan volume cadangan 2.84 %. Daerah Mogoi. yaitu. Pabrik pengolahan LNG akan beroperasi di daerah Saengga. di sekitar Kampung Wasegi. Bahan galian Vital. Distrik Anggi. Ca03 .

500 ha. Kadar Abu 2. dekat Kampung Beimes sekitar 20. 0. Bahan galian lain yang ditemukan di Kabupaten Teluk Bintuni dan sekitarnya adalah batubara. Sawiat.5. dengan ketebalan rata-rata 6 meter. Inanwatan.935 kalori/kg.3 %. Ayamaru.820 – 7. sekitar 4.6 km2.000 ton. Tembaga di Waigeo Selatan Nikel di Distrik Waigeo Utara dan Samate.000 m3. Luas penyebaran batupasir kurang lebih 307. Di daerah Bomberay.49.645%. Data menunjukan bahwa kadar . dengan kadar besi.000 BOPD atau sf 795.8 kelembaban 3 -16 % dan HGI 40 .000 liter per hari. Cadangan hipotetik batubara di Sungai Thikoku.8 %. minyak bumi dan gas tersebar di Distrik Kais.32%. silika yang cukup tinggi.000 Berdasarkan hasil analisis proksimat dari 10 contoh batubara oleh Direktorat Sumberdaya Mineral Bandung diperoleh kualitas dengan kisaran angka 5. kelembaban tertambat 1. karbon tertambat 44.202. batugamping dan endapan sirtu 84.1. 97. 0. salah satu perusahaan swasta asal Inggris.500 ha clan jumlah cadangan 2.11.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1990).20%. Uji laboratorium yang dilakukan di PPP Tekmira Bandung terhadap 3 contoh pasir kuarsa dari daerah Bomberay.48%.850 juta m3 (Hasil Survei LPMITB).1 . Batugamping adalah jenis k sedimen klastik atau non klastik yang disusun oleh 90% karbonat. zat terbang 40. Ayamaru dan Mare. Potensi Pasir Kuarsa (Quartzsand).500. Di Kabupaten ini ditemukan potensi logam kobal di Distrik Waigeo Selatan. 0. 97.10%.29 .51.  Kabupaten Raja Ampat.3 . Mangan.1 . batugamping dan endapan sirtu.27 %. Goras dan I pulau di sekitar Kokas dengan luasan 142. batulumpur. Potensi daerah ini meliputi.  Kabupaten Fak Fak. Aifat Timur. yaitu. perusahaan ARCO. kesemuanya bersumber dari cekungan berproduksi Bintuni.40%. Kadar Belerang 0.000.3 . Marmer dan Bahan Baku Semen di Distrik Sawiat. dan disebut juga batuan karbonat. terdapat kandungan minyak mentah sebesar 5. Fosfat dan Opal di Distrik Misool. Menyebar di Distrik Kokas pada Daerah Pegunungan Onin. Distrik Kokas.9 km2. LAPORAN AKHIR 1-60 . 4 %. Batugamping di Distrik Kais.  Kabupaten Sorong Selatan. Emas di Distrik Aifat Timur. Batugamping. menemukan ladang gas alam terbesar di Weriagar. di Sungai Thistoku dekat Kampung Horna. batulempung dan batulumpur seluas 768. pasir kuarsa mencapai luas 1. Batubara. batupasir.50. 97. sehingga perkiraan cadangannya adalah 90 juta m3. Tahun 1990-1995.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.22 Peta Sebaran Kawasan Pertambangan LAPORAN AKHIR 1-61 .

Taman Wisata Sungai Sausiran 18. Sorong Selatan Kab.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Cagar Alam Sidei Wibain 15. Taman Nasional Laut Tl Cendrawasih 20. Cagar Alam Pulau Batanta Barat 3.478.00 90.909.453.720. Cagar Alam Pegunungan Kumawa 9.325.000. Kawasan konservasi tersebut tersebar di 26 lokasi dengan katagori kawasan dan luasan yang berbeda.411.000. Cagar Alam Pulau Pegunungan Wondiboy 8. Taman Wisata Alam Gunung Meja 17. Raja Ampat Kab.00 170. Taman Wisata Alam Bariat 21. Manokwari Kab. Tabel 1.4 Kawasan Konservasi Kawasan hutan yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi seluas 3. Bintuni Kab.150. taman wisata.53 1. Cagar Alam Pegunungan Arfak 13. Cagar Alam Pantai Sausapor 26. dan taman nasional.00 1. Tl Wondama Kab. Taman Wisata Alam Klamono 22.37 9.00 500. Manokwari Kab.00 191. Manokwari Kab.00 5. Cagar Alam Pulau Waigeo Barat 5.022.00 9. Cagar Alam Pulau Misool Selatan 4.875. Cagar Alam Wagura Kote 14.193.27 berikut.73 Ha.90 Lokasi Kab. Suaka Margasatwa Mubrani-Kaironi 19.749.00 62.2.00 60.660 945. Tambrauw Kab. Manokwari Kab.00 73.00 153.00 100.00 1. Suaka Margasatwa Sabuda Tuturuga 11. Cagar Alam Pantai WekweKwoor 16. Cagar Alam Pulau Waigeo Timur 6.00 111.00 188.300. Manokwari Kab. Cagar Alam Tambrauw Utara 24.500. Manokwari Kab. Taman Wisata Alam Moraid 23.350. Cagar Alam Pegunungan Fak-Fak 10. Cagar Alam Teluk Bintuni 12.000. Lokasi dan luas kawasan konservasi di Provinsi Papua Barat ditampilkan dalam Tabel 1.00 119.500.000. Manokwari Kab.27 16. Cagar Alam Tambrauw Selatan 25.001. Taman Wisata Alam Sorong Sumber: Provinsi Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Luas (Ha) 58.00 68.000. Sorong Kab. Kawasan konservasi yang telah ditetapkan di Provinsi Papua Barat terbagi ke dalam empat kawasan yaitu kawasan cagar alam. Cagar Alam Pulau Salawati Utara 2. Raja Ampat Kab. Raja Ampat Kab. Raja Ampat Kab. Sorong Kab. Fak-Fak Kab.000.00 265. Kaimana Kab. Fak-Fak Kab. Manokwari Kab.00 15. Raja Ampat Kab.00 300. Raja Ampat Kab. Tambrauw Kota Sorong LAPORAN AKHIR 1-62 . Nama Kawasan 1.27 Kawasan Konservasi yang Telah Ditetapkan di Provinsi Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 No. suaka margasatwa.000. Tambrauw Kab. Suaka Margasatwa Laut Kepulauan Raja Ampat 7.00 247.

23 Peta Sebaran Cagar Alam LAPORAN AKHIR 1-63 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

Sementara itu.211.403 499 956. Kota Sorong memang merupakan kota yang paling menonjol di Provinsi Papua Barat dalam hal aktivitas perkotaan. Jika dibandingkan dengan luas pemukiman di seluruh Papua.47 persen.2. Wilayah Pengembangan Fakfak memiliki luas pemukiman yang paling sedikit di antara wilayah pengembangan yang lain.015 hektar atau sekitar 10. Manokwari adalah kabupaten yang menjadi ibukota dari Provinsi Papua Barat. lahan di wilayah Provinsi Papua Barat yang dipergunakan sebagai pemukiman sebagian besar terletak pada lahan-lahan di Wilayah Pengembangan Sorong.42 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2006 Sampai dengan tahun 2005. Penggunaan lahan untuk fungsi kampung/perumahan di Kota Sorong mencapai lebih dari 50 persen dibandingkan dengan luasan totalnya. Luas lahan pemukiman yang berupa kampung atau perumahan di Wilayah Pengembangan Sorong merupakan 49% dari seluruh luas lahan pemukiman di Provinsi Papua Barat.28 Luas Lahan Permukiman di Provinsi Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2003 (Ha) Wilayah Pengembangan WP MANOKWARI Kabupaten/Kota Kabupaten Manokwari Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Teluk Wondama Kota Sorong Kabupaten Sorong Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana 2003 2002 Kampung Perumahan 41. Tabel 1.64 581 747.64 WP FAKFAK PROVINSI PAPUA BARAT PROVINSI PAPUA BARAT 20. LAPORAN AKHIR 1-64 . Wilayahwilayah tersebut selama ini memang telah tumbuh menjadi sentra-sentra kegiatan perkotaan di Provinsi Papua Barat terutama untuk Kota Sorong. Kabupaten Sorong.884 121. maka luas pemukiman di Provinsi Papua Barat mengambil sekitar 24% dari keseluruhan lahan pemukiman. Manokwari dan Kota Sorong merupakan wilayahwilayah yang memiliki fungsi guna lahan kampung/perumahan yang tertinggi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.307 WP SORONG 59. Kota ini merupakan gerbang bagi Provinsi Papua Barat menjadikan kegiatan jasa dan perdagangan dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat kekotaan terkonsentrasi di wilayah ini.5 Areal Terbangun dan Pusat-pusat Permukiman Fungsi guna lahan sebagai daerah kampung/perumahan sebesar 117.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.24 Peta Sebaran Kawasan Lindung dan Budidaya LAPORAN AKHIR 1-65 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.25 Peta Sebaran Kawasan Lindung LAPORAN AKHIR 1-66 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.26 Peta Pengembangan Kawasan Kehutanan LAPORAN AKHIR 1-67 .

17% dari jumlah LAPORAN AKHIR 1-68 . fungsi wilayah eksisting tentu masih berkaitan dengan fungsi wilayah sebelum Propinsi Papua Barat terbentuk.3 STRUKTUR TATA RUANG EKSISTING Struktur tata ruang eksisting di Propinsi Papua Barat meliputi sistem perkotaan dalam lingkup kabupaten dan sistem jaringan prasarana yang dalam hal ini adalah jaringan jalan. Manokwari merupakan ibukota dari Papua Barat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Sebagai sebuah propinsi yang baru terbentuk. Kondisi ini telah ada sejak jaman pendudukan Belanda. yaitu 23. fungsi-fungsi layanan yang semestinya ada kemungkinan besar belum berdiri. tentunya memiliki berbagai jenis layanan yang memadai.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Provinsi Papua Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia Timur dengan luas wilayah 115.962 jiwa pada tahun 2006 yang tersebar secara tidak merata di kesembilan kabupaten/kota.50 km2 dan total penduduk sebanyak 729. Dalam lingkup sistem perkotaan. Sehingga dalam menjalankan fungsinya sebagai ibukota.363. 1.885 jiwa atau 23. Kota Sorong merupakan simpul kegiatan khususnya yang ada di Papua Barat. Jumlah penduduk terbesar terdapat di Kabupaten Manokwari yaitu sebanyak 172. Sebagai wilayah otonomi baru. Kota Sorong juga merupakan pusat kegiatan jasa dan perdagangan. Karena tidak adanya data lahan terbangun.140 jiwa atau hanya 3. maka kepadatan penduduk yang diuraikan ini adalah kepadatan bruto. netto dan kepadatan agraris. Kepadatan dapat dilihat dari beberapa pendekatan yaitu kepadatan bruto.4. Fungsi wilayah yang dimaksud adalah merupakan pusat kegiatan suatu wilayah yang menjadi barometer perkembangan sebuah wilayah.4 ASPEK SOSIAL KEPENDUDUKAN 1. Di sekitar Kota Sorong banyak terdapat kegiatan pertambangan di mana pengolahan dan perdagangannya terkonsentrasi di Kota Sorong. Hal ini juga terlihat dari transportasi eksisting dimana Kota Sorong memiliki simpul transportasi yang sangat strategis. Selain sebagai gerbang tranportasi Papua Barat.68 % dari jumlah total penduduk di Provinsi Papua Barat. fungsi wilayah merupakan indikator tingkat pelayanan wilayah yang menunjukkan seberapa besar peran suatu wilayah dalam mengikat wilayah sekitarnya. Wilayah yang termasuk ke dalam kategori rendah adalah kabupaten-kabupaten baru hasil dari pemekaran wilayah. Sedangkan penduduk di Provinsi Papua Barat. Kepadatan bruto penduduk di Provinsi Papua jumlah penduduk paling rendah terdapat di Kabupaten Teluk Wondama. Dalam hal ini. Wilayah yang juga tergolong wilayah dengan tingkat layanan tinggi di Papua Barat adalah Manokwari.

dari kota/kabupaten satu ke kota/kabupaten lainnya. Kota Sorong merupakan kota yang memiliki kepadatan penduduk paling tinggi. Selain itu.4. yaitu 153 jiwa/ km2.62 18 637. faktor ketersediaan fasilitas pelayanan sosial ekonomi juga mempengaruhi sebaran penduduk di suatu wilayah.50 1 105. 1.50 29 810. konsentrasi penduduk akan lebih tinggi di dataran rendah daripada di dataran tinggi.62 143 185.2 Komposisi Penduduk Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin LAPORAN AKHIR 1-69 . Sedangkan kepadatan penduduk terendah terdapat di Kabupaten Kaimana. Tabel 1.00 6 084. dan Kabupaten teluk Wondama yaitu 2 jiwa/km2.00 115 363.00 25 324.29 Luas Wilayah. Karakter pola pemukiman loncat katak.50 104 919. Kota ini hanya memiliki luasan tak lebih dari 1. Kondisi geografis beberapa wilayah kabupaten didominasi oleh karakter kelerengan 8% sehingga mempengaruhi terbentuknya pola permukiman penduduk.00 18 500.11 126 093.105 km2 dan di kota ini terdapat banyak fasilitas sosial perekonomian sehingga di wilayah ini terjadi pemusatan penduduk.00 140 375.00 Jumlah Penduduk 66 864 41 973 23 140 54 528 172 855 61 463 98 691 41 170 169 278 729 962 715 999 702 202 651 958 642 472 RT 15 733 9 876 5 445 12 830 40 672 14 462 23 221 9 687 39 830 171 756 168 075 167 609 162 990 156 052 Kepadatan Penduduk Per km2 5 2 2 3 12 2 3 7 153 5 5 6 6 5 Per RT 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Tidak meratanya distribusi penduduk di sebuah wilayah antara lain karena kondisi geografis yang berbeda. Pada umumnya. Secara umum.00 12 146.00 14 448.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Barat tidak terdistribusi secara merata. Wilayah yang sedang mengalami perkembangan tentunya akan memiliki konsentrasi penduduk yang lebih tinggi. kepadatan penduduk di Provinsi Papua Barat relatif sangat rendah dengan kepadatan berkisar antara 4 – 12 jiwa/km2. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 2004 Luas Wilayah 14 320.

048 jiwa dan perempuan sebanyak 346. LAPORAN AKHIR 1-70 . Selain itu. penggambaran penduduk menurut struktur usia juga diperlukan untuk perhitungan penyediaan fasilitas sosial dan ekonomi.23 103.45 100. jumlah penduduk Provinsi Papua Barat berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 1. Hal ini akan berpengaruh pada angkatan kerja di suatu wilayah serta tingkat ketergantungan penduduk non produktif pada penduduk produktif. Bila diperinci menurut jenis kelamin. namun untuk setiap kecamatan jumlah penduduk laki-laki masih lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan.44 110.67 116.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Klasifikasi penduduk menurut jenis kelamin dalam suatu wilayah digunakan untuk mengetahui sex ratio yang dimiliki oleh wilayah tersebut.878 jiwa dengan sex ratio sebesar 110. maka dapat dibedakan bahwa penduduk dengan jenis kelamin laki-laki berjumlah 383. Walaupun penduduk berjenis kelamin laki-laki lebih banyak.82 111. namun angka tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.88 105.30 Rasio Jenis Kelamin Provinsi Papua Barat Tahun 2008 dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2007 2006 2005 2004 Jumlah Penduduk Laki-laki 33 507 21 011 11 784 30 682 93 163 31 782 52 570 21 739 86 846 383 084 383 084 379 277 362 672 343 920 Perempuan 33 357 20 962 11 356 23 846 79 692 29 681 46 121 19 431 82 432 346 878 346 878 343 704 339 530 308 038 66 864 41 973 23 140 54 528 172 855 61 463 98 691 41 170 169 278 729 962 729 962 722 981 702 202 651 958 Jumlah Sex Ratio 100.44. Tabel 1.90 107.44 110.35 106.30 berikut ini.77 128. Jika diperinci lebih dalam. Sex ratio diatas 100 menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki lebih dominan daripada jenis kelamin perempuan.35 110. maka terdapat perbedaan antara masing-masing kecamatan.08 113.65 Irian jaya Barat Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Komposisi Penduduk menurut Umur (Struktur Usia Penduduk) Penggambaran penduduk menurut struktur usia berguna untuk mengetahui jumlah penduduk produktif dan penduduk non produktif.98 111. Untuk lebih jelas.

kelompok umur 15 – 19 tahun cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok umur lainnya.45%. Sementara pada kelompok usia muda dan produktif. diketahui bahwa jumlah penduduk dengan usia non produktif adalah sebesar 34. Jika diperinci lebih dalam. Tabel 1. Berdasarkan kelompok umur.216 diikuti oleh penduduk usia muda (15-19 tahun) sebesar 78.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Berdasarkan data yang diperoleh tahun 2008. 10-14.106 dan penduduk usia (5-9 tahun) sebesar Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-71 . 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+ Total 2007 Laki-Laki 42 599 37 389 37 581 41 105 36 087 32 677 30 915 30 685 28 501 23 215 16 894 11 607 7 317 3 218 1 992 1 302 383 084 379 277 Perempuan 40 617 36 410 35 634 37 001 32 164 29 735 31 059 30 924 25 662 19 196 12 815 7 518 4 143 2 111 1 074 815 346 878 343 704 Jumlah 83 216 73 799 73 215 78 106 68 251 62 412 61 974 61 609 54 163 42 411 29 709 19 125 11 460 5 329 3 066 2 117 729 962 722 981 yaitu sebesar 83. untuk usia produktif kelompok umur antara 0 – 14 tahun lebih banyak dibandingkan kelompok umur 60 – 75+ tahun. 31 Komposisi Penduduk menurut Golongan Umur Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Golongan Umur 0-4 5-9.55% dan usia produktif sebesar 65.799. struktur penduduk Provinsi Papua Barat didominasi oleh penduduk usia balita (0-4 tahun) 77.

yaitu berjumlah 212. Dapat dilihat bahwa sampai dengan tahun 2006. Sedangkan lulusan paling banyak penduduk lulusan SD.27 Piramida Penduduk Provinsi papua Barat Tahun 2009 Dalam setiap golongan umur. sex ratio menunjukkan proporsi laki-laki selalu lebih tinggi dari pada perempuan namun ada satu di mana golongan umur 30-39 proporsi perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.643 jiwa.05% atau sebesar 45.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Komposisi Penduduk menurut Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan merupakan indikator kualitas sumber daya manusia di suatu wilayah. untuk mencapai jenjang wajib belajar 9 tahun pun dirasakan sulit. jumlah penduduk yang tidak pernah atau belum pernah sekolah mencapai 6. Jumlah penduduk dengan tingkat kelulusan pada bangku Sekolah Dasar menggambarkan bahwa tingkat pendidikan penduduk masih cenderung rendah. Bahkan. Umur ini merupakan umur produktif di mana manusia menggunakan segala daya dan upaya untuk mengembangkan potensi dirinya.275 jiwa atau 30. Kondisi tingkat pendidikan di Provinsi Papua Barat dapat digambarkan dari Tabel 1. Ini satu masalah yang harus dipikirkan untuk mengantisipasi ternjadinya pengangguran perempuan yang demikian banyak.32.23%. Terbatasnya kondisi ekonomi masyarakat dan LAPORAN AKHIR 1-72 . Masalah yang terjadi adalah kondisi ketenagakerjaan berupa tingkat partisipasi kerja wanita jauh lebih kecil dari pada pria.

Salah satu kendala pemerintah dalam upaya pemerintah membangun sektor pendidikan di Papua Barat adalah sulitnya jangkauan di daerah pedalaman yang mengakibatkan sebagian besar penduduknya berpendidikan rendah.92 4. Kesenjangan ini sangat signifikan apabila dibandingkan dengan kondisi sumber daya manusia di sejumlah provinsi di wilayah Indonesia Barat.52 3.57 0. beberapa kabupaten seperti Sorong.90 11. mengenyam pendidikan tinggi di luar wilayah namun lulusan perguruan masih tergolong sedikit yaitu sekitar 2.30 65.89 0. bekerja pada sektor pertambangan dan perindustrian dan sektor kehutanan.62 PT 0. Teluk Bintuni dan Teluk Wondama tidak memiliki sumber daya unggul dalam arti penduduk yang tamat universitas. Sebagai contoh. Raja Ampat.37 Tidak Bersekolah Lagi 69.35 7.09 72. Tabel 1.58 69.47% dari jumlah total penduduk yang tercatat. di Kabupaten Sorong untuk tingkat SLTP tercatat belum ada sekolah kejuruan (dari data BPS tahun 2005).00 SD/MI 11.27 LAPORAN AKHIR 1-73 .41 10. Jumlah tenaga pengajar yang tercermin dari rasio guru dan murid pun masih sangat kecil.82 Masih Sekolah SMU/SMK/ SLTP MA 7. Karena luasnya medan atau area lahan Papua Barat dan sulitnya jangkauan letak sekolah dengan tempat penjualan bahanbahan makanan serta barang-barang lain kebutuhan sehari-hari. Prosentase tidak pernah mengenyam pendidikan masih sangat tinggi.26 4.31 4.80 7.52 7. Sumber daya manusia di Kabupaten Teluk Bintuni dan Teluk Wondama juga masih sangat terbatas.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sarana prasarana pembelajaran baik formal maupun non formal sampai ke daerah terpencil adalah salah satu kendala. Hal ini menjadi masalah secara internal karena kelemahan yang datang dari dalam ini bertemu dengan ancaman dari luar karena realitanya kualitas SDM pendatang memang secara empirik jauh lebih baik dan pendatang yang dalam ini memang datang untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam Provinsi Papua Barat.41 0. Pemerintah telah mengusahakan sejumlah upaya untuk memberikan peluang kepada masyarakat untuk belajar ke wilayah Jawa. sering kali tidak dapat memperoleh tenaga guru untuk sekolah yang bersangkutan.14 15.03 4.77 11. 32 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Kabupaten/Kota dan Status Pendidikan Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Tidak/Belum Pernah Sekolah 3. dan presentase menikmati dunia pendidikan tingkat atas masih sangat sedikit. Bahkan.16 6.

Representasi dari banyaknya jumlah penduduk beragama diikuti oleh jumlah dan sebaran fasilitas ibadah yang terdistribusi di 9 kabupaten/kota.24 7.01%).28 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Gambar 1.58 6.91 9.63 11.59 1.18 76.01 5. Konghucu (0.47 Katolik 16.09 Budha 0.83 7.59 5.89 12.63 1.01 Konghucu 0.14 3.84 12.12%).497 gereja Protestan dan 664 masjid di Provinsi Papua Barat.15 1.46 5.45 68.03 Lainnya 0.36 1.15 PT 2.51 7.28 Tingkat Pendidikan Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2007 Komposisi Penduduk Menurut Agama Penduduk Provinsi Papua Barat sebagian besar adalah pemeluk agama Kristen yang jumlahnya mencapai 50.33 Komposisi Penduduk Menurut Agama dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 Kabupaten/Kota Fak-Fak Islam 61.88 68.63 Kristen 21.7% diikuti oleh agama Islam (41.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Masih Sekolah SMU/SMK/ SLTP MA 5. Budha (0.77 Hindu 0.99 Tidak Bersekolah Lagi 56.72 Kabupaten Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 Tidak/Belum Pernah Sekolah 18. Tabel 1. Katolik (7.49 0.96 4. lainnya (0.48 74.12%).27%).62 7.18 2. Terdapat 1.70%).03 SD/MI 11.82 1.02 LAPORAN AKHIR 1-74 .28 5.36 2.40 4.50 2.24 15.63 69.

08 22.029 3.90 41.065 146 417 2.254 5.33 6 Jumlah 55.803 189.02 0.29 3 5.915 9.698 112 1.474 7.02 0.060 15. Angka yang sungguh sangat memprihatinkan.52 2007 0 46.02 0. Tabel 1.092 40.01 0.84 44.503 34.54 1.70 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 1.475 KS II 2.02 0.05 0 0.01 0.576 10.27 51.50 51.22 44.980 8. 34 Tingkat Kesejahteraan Keluarga di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 4.032 13.02 0.07 0.13 0.585 Tahapan Keluarga Sejahtera Prasejahtera KS I 4.40 5.140 18 97 563 86 731 271 2.29 0.03 0 0.93 59.27 5.87 2005 0 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-75 .190 9.513 35.35 9 53.01 0 0.12 0.067 1. Keluarga yang masih ada pada tahap Pra Sejahtera hampir mencapai separuh keluarga yang ada di Provinsi Papua Barat yaitu 39.350 636 4.17 8.580 9.01 0 0 0.325 8.832 49.04 52.255 3.90 7 3.70 14.01 0.19 71.607 4.767 6.98 6.03 13.42 0.568 8.88 7.160 6.20 2 118.03 0 0.33 6 118.35 40.36 0.476 10.756 4.19% atau sebanyak 46.390 8.01 0.04 0.60 0 23.380 34.02 0.3 Tingkat Kesejahteraan Penduduk Tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan kategori dari BPS di Provinsi Papua Barat masih cukup rendah.729 19.01 0.52 1 23.4.92 8 9.94 41.19 36.665 5.15 0.075 426 9.700 498 1.891 72.03 0.01 0.380 34.64 3 135.52 1 KS III 1.415 1.699 3.505 2. Sedangkan untuk Keluarga Sejahtera III dan III plus hanya 7.032 5.08 0.87 2006 0 46.12 2 3 4 5 6 7 8 9 Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 39.532 17.012 11.998 11.01 0.533 8.380 KK.84 48.77 4.533 KS III + 178 5.664 3.344 16.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 9.10 7 28.48 50.66%.11 34.13 0 0.524 36.22 90.

Angkatan kerja adalah penduduk yang sedang bekerja ditambah dengan pencari kerja.577 25.457 68.66 5. 316.29 Tahapan Kesejahteraan Keluarga 1.85 % sudah bekerja.584 14.678 20.080 13.113 12.298 106.382 316.971 43. Penduduk usia kerja yang ada di Provinsi Papua Barat sebesar 502. Tabel 1.65 • Mencari Pekerjaan 3 LAPORAN AKHIR 1-76 .094 5.883 91.218 116.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. 35 Kondisi Ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 NO 1 2 Jenis Kegiatan Utama Penduduk Usia Kerja Angkatan Kerja • Bekerja (Pengangguran Terbuka) Bukan Angkatan Kerja • Sekolah • Mengurus Rumah Tangga • Lainnya 4 TPAK (%) 5 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Laki-Laki 266.193 jiwa atau 88.739 119.951 50. Fenomena ini sangat erat korelasinya dengan masalah yang ditemukan yaitu tidak tertampungnya perempuan pada tenaga kerja sektor formal.08 Jumlah 502.400 jiwa di mana yang sebesar 342.81 Perempuan 235.661 223.15 7.382 jiwa atau 72% masuk dalam kategori angkatan kerja.189 jiwa dimana 56% dari pencari pekerjaan tersebut adalah perempuan.396 88.084 210.61 11.018 47.487 3.4.189 160.193 26. Pengangguran di Provinsi Papua Barat tercatat sebesar 26.506 83.441 22.4 Ketenagakerjaan Identifikasi aspek ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat dapat menggambarkan sektor potensial dan penyerapan tenaga kerja ditiap sektor.400 342. Dari jumlah angkatan kerja tersebut.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Gambar 1.30 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Papua Barat Tahun 2007

Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

TPAK menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) mengindikasikan besarnya penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) yang aktif secara ekonomi di suatu negara atau wilayah. TPAK diukur sebagai persentase jumlah angkatan kerja (bekerja dan pengangguran) terhadap jumlah penduduk usia kerja. Indikator tersebut menunjukkan besaran relatif dari pasokan tenaga kerja (labour supply) yang tersedia untuk memproduksi barang-barang dan jasa dalam suatu perekonomian. Sedangkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) diukur sebagai persentase penganggur terhadap jumlah angkatan kerja. TPT memberikan indikasi tentang penduduk usia kerja yang termasuk dalam kelompok pengangguran. TPT merupakan rasio jumlah penganggur terbuka terhadap jumlah angkatan kerja. Tingkat Pengangguran Terbuka di Provinsi Papua Barat adalah 7,65 %. Angka ini di bawah angka penganguran Indonesia sebesar 9,9 %. Terdapat perbedaan tingkat partisipasi antara pria dan wanita yang tercermin dari angka TPT pria sebesar 5,81 % dan wanita 11,08 %. Tabel 1.36 Penduduk Usia Kerja di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Golongan Umur
Golongan Umur 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran 18 996 5 339 39 779 7 764 44 925 5 814 42 298 3 379 47 348 2 546 38 529 857 32 286 313 24 399 123 Jumlah 24 335 47 543 50 739 45 677 49 894 39 386 32 599 24 522 % Bekerja thdp AK 78,06 83,67 88,54 92,60 94,90 97,82 99,04 99,50

LAPORAN AKHIR 1-77

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028
Jumlah 14 833 12 854 342 382 296 146 312 478 292 446 % Bekerja thdp AK 99,91 99,68 92,35 90,54 89,83 88,86

Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran 55-59 14 820 13 60+ 12 813 41 Papua Barat 316 193 26 189 2007 268 117 28 029 2006 280 705 31 770 2005 259 863 32 583 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

Golongan Umur

Tingkat pengangguran di Provinsi Papua Barat relatif sedang,

berdasarkan golongan

umur, banyak dari golongan umur 20-24 yang belum mendapatkan pekerjaan, tertampung pada 9 lapangan usaha. Jumlah penduduk pada golongan umur 25-29 yang bekerja mencapai 44.925 jiwa. Dari tahun 2005-2008 angka jumlah angkatan kerja di Provinsi Papua Barat semakin meningkat dengan jumlah penduduk bekerja yang juga meningkat dan jumlah pengangguran yang menurun. Tabel 1.37 Penduduk Usia Kerja di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota
Golongan Umur Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2005 Angkatan Kerja Bekerja 19.468 16.025 11.344 24.971 93.999 27.744 45.897 17.171 59.574 316.193 268.117 259.863 Pengangguran 3.081 1.330 949 2.118 3.627 908 2.413 525 11.238 26.189 28.029 32.583 22.549 17.355 12.293 27.089 97.626 28.652 48.310 17.696 70.812 342.38 2 296.146 292.446 86,34 92,34 92,28 92,18 96,28 96,83 95,01 97,03 84,13 92,35 90,54 88,86 Jumlah % Bekerja thdp AK

Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

Dari Tabel 1.37 diatas terlihat bahwa jumlah pengangguran terbesar di Provinsi Papua Barat terdapat di Kota Sorong yaitu sebesar 11.238 jiwa. Demikian pula jika ditinjau dari persentase penduduk yang bekerja terhadap angkatan kerja maka Kota sorong memiliki persentase yang paling kecil. Jumlah pengangguran terkecil terdapat di Kabupaten Raja Ampat yaitu sebesar 525 jiwa dengan persentase penduduk yang bekerja terhadap angkatan kerja yang paling tinggi yaitu sebesar 97,03 %.

LAPORAN AKHIR 1-78

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Tabel 1.38 di bawah ini menjelaskan mengenai jumlah penduduk yang bekerja menurut lapangan kerja utama yang dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu sektor primer (Agriculture), sektor sekunder (Manufacture) dan sektor tersier (Services). Sektor A(Agriculture) termasuk didalamnya sektor pertanian. Sektor M (Manufacture) meliputi sektor pertambangan, Industri, listrik, gas, dan bangunan/konstruksi. Sedangkan sektor S Services) termasuk didalamnya sektor perdagangan, angkutan, pergudangan, keuangan, perusahaan, dan jasa masyarakat. Tabel 1. 38 Jumlah Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2007 di Provinsi Papua Barat
Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Lapangan Pekerjaan Utama A 9186 8146 1184 11609 60769 13895 20703 9521 4292 M 2417 673 154 2684 5823 646 8293 481 9568 S 8834 3788 1279 3789 14768 4933 10425 2610 27647 Total 20437 12607 2617 18082 81360 19474 39421 12612 41507

Papua Barat 139305 30739 78073 248117 Sumber : Statistik Tenaga Kerja Provinsi Papua Barat 2008

Dari tabel diatas terlihat bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor yang dominan yang digeluti oleh penduduk di setiap kabupaten di Provinsi Papua Barat kecuali Kota Sorong. Hal ni disebabkan karena karakteristik perkotaan yang telah mendominasi Kota Sorong sebagai pusat perdagangan di Provinsi Papua Barat. Untuk kabupaten lainnya, terlihat pola yang jelas yaitu didominasi oleh pertanian diikuti oleh sektor services dan terakhir oleh sektor manufacture. Dari Tabel 1.39 di bawah ini dapat ketahui bahwa jumlah tenaga kerja terserap sesuai data dari BPS adalah sebesar 40.400 jiwa yang terdistribusi pada lapangan pekerjaan sektor pertambangan, pertanian, konstruksi, jasa, industri pengolahan. Dari sekian industri yang terdapat di Provinsi Papua Barat, industri yang mampu menyerap tenaga kerja cukup tinggi adalah industri agro dan industri pengolahan. Tabel 1.39 Penyerapan Tenaga Kerja pada Sektor Industri Tahun 2007
Jenis Industri Industri Besar Agro Jenis Pertambangan Jumlah TK 2.847 13.189

LAPORAN AKHIR 1-79

Adat Suku-suku yang mendiami di Provinsi Papua dan Papua Barat tercatat ada 206 suku-suku.kulit Logam.819 40. Papua Barat menjadi satu provinsi dengan Irian Barat (1 Mei 1963 – 1973) dan kemudian berubah nama menjadi Irian Jaya (1973 – 2000).hasil hutan Total Tenaga Kerja (jiwa) Sumber : Statistik Tenaga Kerja Provinsi Papua Barat 2008 Jenis industri pertambangan meskipun memberikan sumbangan yang sangat besar pada perekonomian.279 262 399 1.5 Adat dan Budaya Tradisional Provinsi Papua Barat adalah provinsi yang letaknya paling Timur dari Negara Kepulauan Republik Indonesia. yakni antara 00 – 120 Lintang Selatan. Ketrampilan dan keahlian juga menjadi kriteria penting bagi industri skala besar untuk mendapatkan sumber daya manusia yang lebih produktif. Provinsi ini terletak di Pulau New Guinea yang merupakan pulau terbesar dalam kepulauan Melanesia.950 3.4. 1. Iklimnya tropis lembab karena letaknya di bawah khatulistiwa. Di antara suku-suku itu mendiami wilayah provinsi Papua Barat tercatat ada sekitar 67 LAPORAN AKHIR 1-80 . A.218 1.400 Industri Kecil Menengah Sandang. sehingga penduduk yang tidak memiliki keahlian tertentu dengan sendirinya akan tersisihkan dari dunia kerja formal.275 3. Pernyataan bergabung dengan Indonesia dilakukan melalui PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) yang diadakan tahun 1969.besi elektro Kimia. Provinsi Irian Jaya dan Provinsi Irian Jaya Barat.162 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 industri pengolahan listrik gas Konstruksi Penggalian Perhotelan 12. ternyata penyerapan tenaga kerjanya tidak besar sebab kebutuhan pekerja ini disuplai oleh wilayah lain dan pekerja dari mayarakat Papua sendiri merupakan minoritas. yaitu : Provinsi Papua. yaitu bagian Barat menjadi milik Belanda sedangkan bagian Timur menjadi milik Jerman. Pada awalnya. Pada tahun 2003 pemerintah Indonesia membagi wilayah Provinsi Irian Jaya menjadi 3 (tiga) provinsi. Irian Jaya secara resmi menjadi bagian Republik Indonesia tahun 1963 setelah ditanda tanganinya New York Agreement antara pemerintah Indonesia dan Belanda tahun 1962 atau 18 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.agro. Berdasar perjanjian Den Haag tanggal 16 Mei 1895. Irian Jaya Barat dibentuk pada tanggal 6 Februari 2006 dan berubah namanya menjadi Papua Barat pada tanggal 7 Februari 2007. pulau ini dibagi menjadi 2 bagian.

Perkawinan di antara orang Arfak biasanya banyak diatur orangtua dan para kerabatnya. Bedoanas. Kepemilikan tanah bagi suku Papua bersifat komunal. Kalabra. Kuri. Sekar. pertahanan dan religius magis. Mer. Arandai. politis. Tehit. Erokwanas. Kemberano. Suku-suku itu adalah Suku Matbat. Ekari. Dusner. Moile. Apabila seorang pemuda menaruh hati pada seorang gadis maka orang tua si pemuda akan melamar gadis itu untuknya. Pom. Mairasi. Suku Meyah. dan Mapia. Moraid. Wauyai. Kamoro. Karon Dori. Hatam. Dalam pandangan suku-suku asli Papua pada umumnya. Onin. Hatam dan Manikion yang sering disebut orang Arfak tinggal di Kabupaten Manokwari dan terdiri dari 35 klan. Baham.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 suku. dalam tanah terkandung dan terkait berbagai nilai di antaranya nilai ekonomi. menari dan memuji seseorang dengan dengan pantun yang dilagukan. Wandamen. Mai Brat. Konda. Puragi. Kamberau. Tunggare. Meoswar. Moi. Kaburi. Kadang-kadang orang sudah dijodohkan sejak kecil. Mpur. Waigeo. Semimi. Buruai. Pada saat melamar ketua klan dan tokoh-tokoh adat serta semua kerabat dari kedua belah pihak akan ikut serta. menyanyi. perpindahan itu menjadi urusan komunal atau urusan semua anggota suku bukan urusan individu semata. Sistem perkawinan Suku Maibrat dan Karon di Kabupaten Sorong didasakan pada exogami klan kecil patrilineal (dalam bahasa Karon disebut rae sawam). Dengan demikian. Bagi mereka. Arguni. Tanahmerah. Yahadian. fungsi tanah terintegrasi ke dalam keseluruhan aktivitas kehidupan.klan yang merupakan bagian dari masyarakat. Acara pesta seperti itu adalah makan bersama. Suabo. Kais. Yeretuar. Sekarang pemuda dan pemudi sering mendapatkan jodoh melalui acara-acara adat seperti pesta tari adat yang bernama ares komer. Legenyem. Kowiai. Jadi. Ansus. tanah adat adalah satu hal yang sangat penting. Maden. Tandia. Perkawinan antar keluarga dari pihak ayah dilarang sampi keturunan yang ke-4 dan ke-5. Uruangnirin. Biga. Dengan demikian. Moskona. Abun. Biak. tanah ibarat seorang ibu yang memberikan kehidupan bagi anaknya. As. Yaur. Tanah merupakan modal awal kehidupan. Karas. Meyah. Mor. Duriankere. Ma’ya. Roon. Iresim. Pada suku-suku ini dikelompokkan dalam klan. LAPORAN AKHIR 1-81 . Irarutu. Seget.Tanah adat dalam konsep orang Papua adalah hak milik sekaligus hak atas penguasaannya. Kokoda. Iha. jika terjadi perpindahan kepemilikan atas tanah. Woi. Pengawasan terhadap anak gadis sangat ketat sehingga seorang pemuda tidak mudah mengganggunya. Kawe. Manikion. Dianggap sebagai exogami jika seorang pria Maibrat atau Karon kawin dengan gadis dari klan lain yang tinggal mengelompok di desa lain dan dianggap endogami jika seorang pria kawin dengan garis lain dari klan kecil lain tapi tinggal mengelompok di desa yang sama.

Tetapi mengacu pada konsepsi yang bersumber pada hukum adat. warisan dan lain-lain). mempunyai kekayaan tersendiri terlepas dari kekayaan perseorangan. Jadi. tanah (untuk mengatur (pembuatan bercocok persediaan pemukiman/persawahan baru dan lain-lain) dan pemeliharaan tanah. dapat dikatakan penentu kriteria-kriteria masih ada atau tidaknya hak ulayat dilihat pada tiga hal. Penentuan kriteria keberadaan hak ulayat dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) dengan mengikutsertakan masyarakat hukum adat. dan menyelenggarakan tanam.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Hak yang melekat sebagai kompetensi khas pada masyarakat hukum adat berupa wewenang/kekuasaan mengurus dan mengatur tanah seisinya dengan daya laku ke dalam dan keluar disebut sebagai hak ulayat. peruntukan dan pemanfaatan serta pelestarian wilayahnya. dan penggunaan lain-lain). 3) Adanya kewenangan tertentu dari masyarakat hukum adat itu untuk mengelola tanah wilayahnya. mempunyai kewenangan tertentu. Pengakuan eksistensi hak ulayat oleh UUPA (pasal 3) merupakan hal yang wajar. karena hak ulayat beserta masyarakat hukum adat telah ada sebelum terbentuknya negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Menurut Maria Sumardjono (2006) beberapa ciri pokok kelompok masyarakat hukum adat adalah mereka merupakan suatu kelompok manusia. 2) Obyek hak ulayat. hubungan antara masyarakat hukum adat dan tanah/wilayahnya adalah hubungan menguasai bukan memiliki. yaitu masyarakat hukum adat itu yang memenuhi karakteristik tertentu . Dengan demikian. 3) Mengatur dan menetapkan hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan hukum yang berkenaan dengan tanah (jual-beli. mempunyai batas wilayah tertentu. hak ulayat menunjukkan hubungan hukum antara masyarakat hukum (subyek hak) dan tanah/wilayah tertentu (obyek hak). UUPA (Undang-Undang Peraturan Agraria) tidak menentukan kriteria mengenai eksistensi hak ulayat. 2) Mengatur dan menentukan hubungan hukum antara orang dengan tanah (memberikan hak tertentu pada subjyek tertentu). Hal itu berarti bila tanah ulayat diperlukan untuk kepentingan umum ataupun kepentingan lain LAPORAN AKHIR 1-82 . LSM dan instansi terkait dengan sumber daya alam. dalam pelaksanaanya hak ulayat mengenal adanya fungsi sosial. Hak ulayat tersebut berisi wewenang untuk: 1) Mengatur pemukiman. hak ulayat tidak bersifat ekslusif. yakni: 1) Subyek hak ulayat. termasuk menentukan hubungan yang berkenaan dengan persediaan. Menurut Maria Sumardjono (2006). Seperti juga hak atas tanah lainnya. yakni tanah wilayah yang merupakan ruang tempat hidup dan bekerja (Lebensraum) mereka.

atau para pendatang memperlakukan sumber daya alam mereka tidak sesuai dengan tradisi penduduk setempat. Pemberian bidang tanah ulayat oleh masyarakat hukum adat dapat ditempuh dengan cara dilepaskan selamanya atau diberikan penggunaannya dalam jangka waktu tertentu. bukan dengan cara big logging company (pembabatan hutan oleh perusahaan besar) ataupun HPH (Hak Penguasaan Hutan). Pembangunan di Papua Barat sebaiknya ditata bersama pemerintah setempat. Untuk pengembangan ekonomi di Papua Barat. sosiologis dan berwawasan lingkungan. Pembangunan di Indonesia Bagian Timur khususnya Provinsi Papua Barat sebaiknya dikhususkan pada segi-segi yang antropologis. tempat ibadah ataupun memasok kebutuhan kayu untuk bangunan kaum transmigaran. Ahli antropologi. pengembangannya lebih ditekankan pada pendidikan dan ketrampilan berdasarkan karakteristik lingkungan setempat. ahli ekonomi maupun ekologi perlu dilibatkan untuk merekayasa unit-unit kegiatan yang fungsional. maka hak ulayat dapat diberikan pada pihak lain. di setiap kampung ada satu kelompok gergaji tarik. tapi oleh komunitas setempat. (2003) mengatakan bahwa dalam pengamatannya selama 10 tahun di Irian Jaya (1977-1987) seringkali protes-protes warga masyarakat terhadap pemerintah atau kelompok lain hanya dilandasi kekhawatiaran mereka bahwa sumberdaya alam mereka tak akan dapat memenuhi kebutuhan mereka maupun anak cucu mereka. Dengan kata lain. Mereka telah membangun orang Papua dengan logika dan dinamika orang Papua sendiri. Bukan karena mereka mau mendirikan satu negara sendiri yang lepas dari Republik Indonesia. Ketika berhadapan dengan hak ulayat diperlukan kesadaran dari pihak luar yang berarti harus membuka diri untuk memahami kesadaran hukum suatu masyarakat (yang dalam hal ini masyarakat Papua Barat) yang terwujud dalam tindakan nyata sehari-hari berangkat dari sudut pandang dan pola pikir masyarakat yang bersangkutan. Jadi pembangunan di Papua Barat berdasarkan karakteristik dan budaya yang terdapat pada masyarakatnya. Aditjondro J. Dalam upaya mencapai kesepakatan. Kita bisa belajar dari Missi atau LSM di sana. pola-pola ekonomi harus ditata dengan LAPORAN AKHIR 1-83 . Misalnya. pemanfaatan hutan di Papua. kompensasi yang diberikan kapada masyarakat hukum adat hendaknya mempertimbangkan hilangnya atau berkurangnya sumber daya alam yang menjadi penghidupannya dan hilangnya pusat-pusat budaya dan religi masyarakat hukum adat tersebut. Manfaat yang diperoleh pihak luar hendaknya juga dapat bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup dari masyarakat hukum adat yang bersangkutan. Di Asmat dimisalkan ada 10 kampung.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. semacam prakoperasi yang mensuplai kebutuhan kayu untuk bangunan pemerintah.

Kampung dan Rumah Menurut adat. Budaya Tradisional 1. Hukuman ini disebut ”Hanom-tagawim”. Pohon yang digunakan untuk tiang tengah rumah disebut mesiyi (bahasa Meyah). Satu tumitsen biasanya mempunyai 3-5 kamar. B. kemenakan ataupun ipar. Apabila daya tampungnya terbatas. Norma tersebut di atas mengandung pengertian bahwa bila kita mengabaikan keharmonisan hubungan dengan sesama. Kelompok kekerabatan terkecil dalam masyarakat Suku Arfak adalah keluarga luas virilokal yang menghuni satu rumah (tumitsen). manusia dengan alam sekitarnya. Atap rumah terbuat dari daun pandan . kepala kampung. Ada satu hukuman yang sangat berat yang berlaku dalam adat suku di Papua Barat yaitu dibunuh tanpa boleh membela diri atau mendapat pembelaan dari siapapun. Hukuman ini ditimpakan kepada seseorang yang telah melakukan tindakan hanom. maka kita akan selalu berada dalam konflik dengan sesama. seorang pria yang telah menikah menetap di rumah orang tuanya di tengah-tengah para kerabatnya (yaitu adat virilokal). termasuk paman. Suatu rumah dengan suatu tempat khusus untuk upacara dan pesta adat disebut modambau . Walau tidak ada hukum formal dalam adat suku-suku ini. Norma yang berlaku dalam adat suku-suku ini adalah ”menjaga keharmonisan antara manusia dengan manusia. Tidak adanya jendela menyebabkan asap pekat dari perapian dari dalam rumah orang Arfak sangat mengganggu pernafasan dan berakibat banyaknya penduduk yang terkena penyakit paru-paru. Rumah dibangun cukup besar dan berbentuk segi empat dan dinding-dindingnya terbuat dari kulit pohon dan tanpa jendela. sedang lantainya dari belahan nibung atau bambu.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 lebih kreatif dan dikembangkan berdasarkan karakteristik ekonomi dan kultur etnis setempat. tapi jika ada orang yang melanggar suatu hukum adat akan dihukum oleh melalui pengadilan adat yang terdiri dari para kepala klan. lantai di ruang LAPORAN AKHIR 1-84 . dengan persetujuan ayah dari anakanak pria tadi. Bersetubuh dengan saudara sendiri atau istri orang lain. kepala desa dan beberapa tokoh orang tua lainnya. Dalam satu rumah biasanya terdapat kamar untuk wanita (meraja) dan kamar pria (meiges) serta sebuah ruang duduk (umersa) di tengah. terdiri dari sepasang suami istri bersama keluarga inti dari 3-5 anak pria mereka. sebanyak pasang suami istri yang ada. termasuk roh-roh yang hidup di alam serta keharmonisan antara manusia dengan arwah leluhurnya”. dibangun rumah yang baru. yakni berzina atau melakukan perzinahan dengan seseorang yang masih ada hubungan kekerabatan yang dekat (incest).

seirama dengan lagu yang dibawakan. Muda-mudi duduk berhadapan muka. dan Anyam-anyaman Ada empat bentuk tarian dalam adat suku ini yaitu: a. Seni Tari.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 tengah tak dialasai dengan batang-batang nibung sehingga menari dilakukan di atas tanah. merupakan gerakan berputar di tempat. atau berjalan atau berlari yang dilakukan sambil bernyanyi. Kalau dibandingkan dengan rumah suku Amungme yang hidup di lembah-lembah pegunungan bagian tengah di Irian. Dalam tarian ini para penari membentuk lingkaran sambil menyanyikan lagu-lagu asmara. gerakan ini diadakan di dalam rumah. Tarian Pesta LAPORAN AKHIR 1-85 . 2. Gerakan ini diikuti langkahmengikuti irama. Ada tiga macam tarian. Ada tarian muda-mudi yang berlangsung di dalam rumah yang disebut Tem. Dalam tarian ini para pemuda dan pemudi menyanyikan lagu dan pantun tentang cinta. Sebelum masa pendudukan (sivilisasi) sebuah kampung suku Amungme yang cukup besar biasanya terdiri 15 – 20 buah rumah keluarga (Onggoi) dengan 5 – 8 buah rumah laki-laki (Itorei). c. b. Di sini mereka yang saling terpaut hatinya menyatakan kasih sayangnya dengan memberikan suatu benda. Tem. maju dua langkah dan mundur dua langkah seirama dengan lagu yang dibawakan. d. merupakan gerakan berlari mondar-mondir di suatu tempat terbatas. di dalam sinar nyala api. Tup. Ukir. b. Si pemuda melambai-lambaikan dedaunan kepada gadis yang disukainya dan bila si gadis menghampiri si pemuda sambil mengikuti irama lagu yang dinyanyikan dan menerima dedaunan yang dilambaikan berarti si gadis juga tertarik pada pemuda tersebut (arama emonggop agewin). dipisahkan oleh tungku apui. yaitu: a. sambil bernyanyi kaum pemuda memberi daun kepada pemudi dan sebaliknya. Tarian mudi-mudi Tarian ini diadakan di lapangan terbuka yang disebut Tup. ada persamaan dalam hal bentuk dan bahan material dari bangunan rumah walau ada sedikit perbedaan dalam hal penggunaan dan pemanfaatan ruangan. Pipakwean. Weantagawi. merupakan gerakan dua orang yang saling berhadapan muka sambil menghentakkan kaki di tanah bersama-sama. Para muda-mudi duduk berhadapan dipisahkan ole tungku api di antara mereka. Tarian ini dapat berlangsung semalam suntuk.

Lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu kegembiraan. Abun. Moi. Warna putih dibuat dari tanah liat. Wandamen. Seni ukir terbatas pada mengukir anak panah. mi’yepa (hiasan kepala yang dianyam memakai manik-manik). Maden. breya (anyaman kulit dan bulu burung atau kasuari untuk hiasan kepala). Hatam. Karon Dori. isi keladi putih yang membusuk atau abu dari tungku api. Di waktu senggang seorang pria Arfak mengukir serta melukis busur dan anak panahnya. c. Kebhinekaan Bahasa di Papua Di Provinsi Papua. Seget. LAPORAN AKHIR 1-86 . yakni : bahasa Matbat. Sedangkan warna kuning dibuat dari akar tumbuh-tumbuhan dan tali-talian hutan. Para wanita dan pria orang Arfak biasanya mengenakan perhiasan yang berupa gelang yang terbuat dari anyaman tali rotan dan disebut liya. Di provinsi Papua Barat sendiri tercatat ada 67 suku yang mendiaminya. Manikion. Biak. As. arang dapur atau dari buah-buahan hutan. Kemudian mereka mengadakan tarian Tup yang ditarikan sepanjang pesta. Arandai. Tarian Perang Tarian perang mirip dengan tarian pesta. Legenyem. Orang-orang datang sambil menyanyi lalu masuk ke lapangan pesta.Moskona. Biga. Kawe. Kerajinan Seni ukir kurang begitu dominan dalam kebudayaan suku di wilayah Papua Barat. Ukiran-ukiran yang khas itu juga dibuat padap perlatan-peralatan perang lainnya. de’maya (kalung). Serat-serat itu diambil dari batang pohonnya kemudian dipintal menjadi benang yang kemudian dengan ini digunakan untuk membuat berbagai barang kebutuhan hidupnya. Warna-warna yang mendominasi yang digunakan dalam kerajinan adalah putih. Yang membedakannya adalah lagu-lagu yang dibawakan dalam tarian perang berisi lagu-lagu perjuangan yang membangkitkan semangat juang. Meyah. Bahasa-bahasa yang digunakan ada 67 bahasa. Warna hitam dibuat dari asap lemak babi dan damar.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tarian ini biasanya dilakukan di lapangan terbuka. Waigeo. Hiasan dan busana bagi wanita adalah rumbai-rumbai yang dibuat dari alang-alang dan serat kulit kayu yang diikatkan dipinggang dan kalung manik-manik (gemsya). Mpur. Duriankere. Warna merah dibuat dari tanah merah yang digali dari dalam tanah. Mereka berdiri membentuk lingkaran dan berputar sambil meneriakkan kata-kata “ka”. Wauyai. merah dan kuning. Ma’ya. Moraid. hitam. kesenangan dan pujian. Provinsi Irian Jaya dan Provinsi Papua Barat tercatat ada 310 bahasa yang digunakan masyarakatnya. C. 3.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kaburi. Pantar dan Halmahera Utara (Koentjaraningrat. Pom. 7) fila Pauwi tingkat isolat. Di dalamnya terdapat 234 bahasa yang masih diklasifikasikan LAPORAN AKHIR 1-87 . Erokwanas. yaitu fila bahasa-bahasa Melanesia dan fila bahas-bahasa non-Melanesia. Tunggare. Semimi. Yeretuar. Arguni. 2) fila Papua Barat. 8) fila Sko tingkat golongan. Tanahmerah. Suabo. Baham. Bedoanas. Karas. yaitu daerah bagian belakang leher burung danpulau-pulau yang berhadapan dengan daerah pantai Waropen. Kamberau. Bahasa-bahasa di provinsi Papua dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan besar yang oleh ahli linguistik disebut phylum (fila). Kowiai. 5) fila Warnbori tingkat isolat. Yaur. Uruangnirin. derah Yapen Timur dan Barat serta pulaupulau sekitarnya. sebagian derah fak-fak dan Kaimana serta kepulauan kepulauan sekitar Kaimana.M. 3) fila Teluk Cendrawasih. Pulau Numfor derah sekitar Manokwari. Waropen Bawah dan Atas di sekitar Waren. Kokoda. Mai Brat. fila Kuomtari tingkat golongan (lihat peta B). Dusner. Tandia. Sedangkan bahasa-bahasa non-Melanesia yang digunakan di Papua adalah khas Papua yang tidak mempunyai hubungan linguistik dengan bahasa-bahasa di luar Papua dan Papua Niugini. Kalabra. 4) fila Kepala burung bagian Timur tingkat golongan. Kuri. Di seluruh Papua dapat digolongkan ke dalam bahasa-bahasa Melanesia. yaitu: 1) fila Trans Irian. Yahadian. kecuali dengan bebereapa bahasa di pulau Timor. Ansus. Loukotka telah melakukan upaya untuk mengklasifikasikan kebhinekaan bahasa di Papua dan dimuat secara singkat oleh A. Meoswar. Alor. Iresim. Puragi. Kais. daerah kepulauan Biak-Suntori. Ekari. Dapat dikatakan provinsi ini menyimpan potensi sumberdaya manusia dan budaya. Persebaran fila bahasa-bahasa Melanesia di ke tiga provinsi ini terlihat di peta B. Woi. Sekar. 1994). Sumberdaya budaya yang dalam hal ini keragaman bahasa perlu mendapat perhatian untuk dikembangkan terlebih dahulu sebelum pengembangan sumberdaya alam dan sumberdaya penduduk Papua Barat itu sendiri untuk mendukung kegiatan pembangunan di provinsi Papua Barat. Konda. Provinsi Papua berada di deretan Kepulauan Melanesia yang melingkar mulai dari kepulauan di sebelah Timur-laut Papua dilanjutkan ke arah Timur benua Australia hingga kepulauan Fiji di sebalah Utara Selandia Baru. Iha. Moeliono dalam bab berjudul ”Ragam bahasa di Irian Barat” dalam buku berjudul Penduduk Irian Barat (1963: hal. Tehit. Kamoro. Onin. Mor. Mairasi. dan Mapia. 33-35). Menurut klasifikasi Loukotka ada paling sedikit 31 golongan bahasa di Papua. 6) fila Taurap (Borumeso) tingkat isolat. Berdasarkan pembagian fila. sebagian besar kepulauan Raja Ampat. bahasa-bahasa di Non-Melanesia di provinsi Papua. Buruai. Kemberano. Seorang ahli bahasa bernama C. Mer. Roon. Irarutu. provinsi Irian Jaya dan Provinsi Papua Barat terdiri dari 9 fila.

Menurut Index of Irian Jaya Language. Erokavanas. Tetapi ada 13 bahasa yang sama sekali berbeda golongannya. Di samping itu pemahaman terhadap bahasa-bahasa di provinsi Papua akan dapat mengurangi kesalah pahaman serta konflik yang mungkin timbul diantara penduduk asli dengan pihak-pihak luar yang berkaitan dengan perencanaan dan pembangunan di wilayah ini. Mor. Iha.1 Peranan dan Kontribusi Perekonomian Wilayah Provinsi Papua Barat dalam Konteks Nasional LAPORAN AKHIR 1-88 . Bahasa Maibrat. e. Bahasa Hatam dan Moile termasuk fila Kepala Burung Bagian Barat sedang bahasa Meyah dan Manikion adalah fila Kepala Burung Bagian Timur. Uruangnirin dan Yaier. d. bahasa Madik dan bahasa Karon adalah bahasa-bahasa yang berbeda dan oleh para ahli linguistik dimasukkan dalam satu golongan yaitu fila Papua Barat. Buruwai. Sekai. Bahasa-bahasa di Kabupaten Sorong Bahasa-bahasa di Kabupaten Manokwari Bahasa-bahas di Kabupaten Biak-Numfor Bahasa-bahasa di Kabupaten Paniai Bahasa-bahasa di Kabupaten Fakfak Bahasa-bahasa di Kabupaten Irian Jaya Barat-daya Bahasa-bahasa di Kabupaten Jayapura Bahasa-bahasa di KabupatenJayawijaya Bahasa-bahasa di Kabupaten Merauke Bahasa-bahasa di Kabupaten Irian Jaya Tenggara Penggolongan bahasa menurut kabupaten itu berbeda dengan klasifikasi berdasarkan asas-asas linguistik. Kamberau. i. Karas. f. mainasi. Mairasi. Semini dan Kamoro. ada 22 bahasa dan beberapa diantaranya termasuk fila Austronesia-Melanesia.5. yang mendekati pembagian administratif dan provinsi ke dalam 10 kabupaten yaitu: a.5 ASPEK EKONOMI WILAYAH 1. Bedoanas. Koiwai. c. Arguna. 1. g. Sebagai contoh misalnya bahasa-bahsa di kabupaten Fakfak. h. Kokoda.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 juga secara geografikal. Baham. yaitu Onin. Pengetahuan terhadap keragaman bahasa-bahasa di provinsi Papua Barat memang mutlak diperlukan untuk dapat mengkomunikasikan kepada penduduk tentang dan turut berpartisipasi di dalam perencanaan pembangunan serta manfaatnya khususnya progam-progam yang ada dalam RTRW Papua Barat agar mereka berperan serta Barat pembangunanan. yaitu golongan Fila Trans Irian yaitu Suabau. Irasutu. Mer. j. b.

94 triliun rupiah. Hal ini berarti bahwa peningkatan PDRB di Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-89 .70 230.903. dan Jasa Jasa-jasa Total PDRB Papua Barat (dalam ribu Rupiah) 2. Meskipun demikian. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan.088%.284 Sumber : BPS.944.724.580.000.089. Secara umum.80 308.5. 1.281 0.775.928.00 26.13 508.717.693.91 PDRB Indonesia (dalam juta Rupiah) 363.20 180.223.205 0.176.984. Kontribusi terbesar kepada Indonesia oleh Provinsi Papua Barat adalah pada sektor primer sebesar 1.2 Struktur Ekonomi Wilayah Provinsi Papua Barat PDRB dan Perkembangannya Berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku.289 0.050.67 565.79 137. Persewaan.225 0.037. Provinsi Papua Barat memiliki pendapatan per kapita pada tahun 2005 sebesar Rp 12. Nilai PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan juga menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.339.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2005. PDRB Provinsi Papua Barat mencapai 8.528. meningkat 177% dibandingkan tahun 2000 yaitu Rp. yaitu dari perikanan dan pertambangan.40 Persentase PDRB Papua Barat terhadap PDRB Indonesia Tahun 2005 dirinci per Lapangan Usaha Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. pendapatan per kapita ini tidak dapat digunakan untuk mengukur pendapatan di lapangan.152.370.149 0.00 2.27 7. Kekayaan alam yang berlimpah terutama di sektor primer Apabila ditinjau dari pendapatan per kapita.10 771.785. 6.90 430. Beberapa sektor unggulan seperti pertambangan dan perikanan memang diekspor ke luar wilayah.40 Kontribusi (%) 0.072.879. menempati peringkat ke-5 dari 33 provinsi.89 622.11 1. orientasi untuk meningkatkan perekonomian dapat dikatakan masih sebatas untuk memenuhi kebutuhan ekonomi wilayah ini.034. tiap lapangan usaha memiliki kontribusi tidak lebih dari 1%.592 0.29 39.50 195.568.296.496 0.059 0. Angka ini menunjukkan.00 769.587.968. Tabel 1. nilai PDRB Provinsi Papua Barat menempati ranking ke 29 dari 33 Provinsi di Indonesia dan menyumbang sekitar 0.76 1.29% PDRB Nasional.20 276.154. Gas.179 0. 2006 Dekripsi lebih dalam tentang kontribusi Provinsi Papua Barat dapat ditunjukkan dengan presentase tiap lapangan usaha terhadap PDRB Indonesia.201.

945.201.70 226.256.00 103. Tabel 1.22 Perkembangan (%) 100.089.53 4.333.403.91 4.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bukan hanya karena dampak inflasi namun menunjukkan kenaikan produksi yang nyata.94 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber: Papua Barat Dalam Angka 2009.597.00 109.27 149.796. Berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku.91 8.28 10 369 836. hasil perhitungan Gambar 1.34 5.19 140.957.601.304.204.02 315.98 4. perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat tanpa migas setara dengan perkembangan PDRB dengan migas.89 4.627.537.969.92 125.03 140. PDRB Provinsi Papua LAPORAN AKHIR 1-90 .957.56 134.4 kali lipat antara kurun waktu 2000-2006.03 262.51 triliun pada tahun 2006.601.41 PDRB Provinsi Papua Barat Atas dasar Harga Berlaku dan Konstan 20002008 Tahun PDRB atas Dasar Harga Berlaku Jumlah (Juta Rp) 3.34 108.903.17 5.391.38 166. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tahun 2000 adalah sebesar 3.370.82 6 369 374.18 5.576.13 PDRB atas Dasar Harga Konstan Jumlah (Juta Rp) 3.59 116.95 160.297.551.38 7.104.9 triliun.206. Selisih antara PDRB Papua Barat dengan migas dan tanpa migas berdasarkan atas harga berlaku mencapai lebih dari 1 triliun.304.17 199. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tersebut berkembang sebesar 1.555.11 12 471 605.23 5 934 315.846.76 Perkembangan (%) 100.31 Perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat Tahun 2000-2006 Besar sumbangan migas untuk PDRB Papua Barat mencapai sekitar 20 persen sehingga sangat mempengaruhi perekonomian di Papua Barat.32 4.22 6.49 121. terus meningkat setiap tahunnya hingga menjadi sebesar 5.89 4.

43 122.42 PDRB Provinsi Papua Barat Atas dasar Harga Berlaku dan Konstan Tanpa Migas Tahun 2000-2006 PDRB atas Dasar Perkembangan PDRB atas Dasar Perkembangan Harga Berlaku (%) Harga Konstan (%) Jumlah (Juta Rp) Jumlah (Juta Rp) 2000 2.642.90 114.15 192.912.795. Nilai PDRB Papua Barat tanpa migas atas dasar harga konstan juga menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Sebelumnya.42 2004 4.00 100.00 200.4 kali lipat.00 165.417.431. Setiap tahunnya PDRB Papua Barat tanpa migas menurut harga berlaku selalu meningkat.2 triliun rupiah pada tahun 2006.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Barat tanpa migas pada tahun 2006 menurut harga berlaku mencapai 6. pada tahun 2000 besar PDRB adalah 2.89 2006 6.183.817.02 4. Tabel 1.221.448.00 150.434.665.49 kali lipat antara kurun waktu 2000-2006. PDRB Papua Barat tanpa migas atas dasar harga konstan tahun 2000 adalah sebesar 2.30 3.38 2002 3.817. hasil perhitungan Tahun Gambar 1.289.137.96 130.265.835.834.00 2001 3.15 146.617.45 100.32 Perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 20002006 250.36 triliun rupiah.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 PDRB ADH Berlaku Tanpa Migas PDRB ADH Konstan Tanpa Migas LAPORAN AKHIR 1-91 .45 100.00 0.12 106.12 2005 5.206. terus meningkat setiap tahunnya hingga menjadi sebesar 4.23 226.02 2.42 3.996.00 50.88 3.18 113.669.81 triliun rupiah.11 149. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tersebut berkembang sebesar 1.147.367.147.8 triliun rupiah.75 3.700. sedikit di atas bawah PDRB dengan migas yang sebesar 1.903.34 2003 4.802.06 128.281.00 2.32 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007.69 138.

LAPORAN AKHIR 1-92 . Rata-rata pertumbuhan dalam kurun waktu tersebut untuk PDRB atas dasar harga berlaku adalah sebesar 14. Sementara itu.37 7.74 16.38 7. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2000 hingga 2006 sektor migas mengalami inflasi yang cukup tinggi dibandingkan dengan sektor nonmigas.17 6.56% dan angka pertumbuhan setiap tahunnya yang terus meningkat.02 6.49 3.06 2004 18.50 r 14.74 2006 13.83 7.02 6. Sementara itu dari segi produksi.56 5.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pertumbuhan ekonomi Papua Barat selalu berada dalam kondisi positif dalam kurun waktu tahun 2000 hingga 2006.39 12. Pertumbuhan setiap tahunnya terus meningkat hingga mencapai 7. Angka rata-ratanya juga menunjukkan angka yang lebih rendah. sektor nonmigas mengalami kenaikan produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor nonmigas.85 6.68 14. Analisis pertumbuhan PDRB tanpa migas menunjukkan hasil yang berbeda. hasil perhitungan Tahun Pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan juga selalu menunjukkan angka yang positif.29 2005 20.63 7. Angka rata-rata pertumbuhan selama tahun 2000 hingga 2006 adalah sebesar 5.08 persen.34 13.38 2002 10.68 persen pada tahun 2003. namun lebih fluktuatif. angka pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan justru menunjukkan rata-rata pertumbuhan yang lebih tinggi dan angka pertumbuhannya juga lebih fluktuatif dibandingkan dengan PDRB dengan migas atas dasar harga konstan.07 13. 43 Pertumbuhan PDRB Provinsi Papua Barat 2000-2006 Dengan Migas Tanpa Migas Atas Dasar Atas Dasar Atas Dasar Atas Dasar Harga Berlaku Harga Konstan Harga Berlaku Harga Konstan 2001 9. Angka pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku tanpa migas lebih fluktuatif dibandingkan PDRB dengan migas.66 13.91 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.69 5. Tabel 1.74 persen pada tahun 2005.03 4.48 6.04 7.08 11.49 2003 15. namun kemudian pertumbuhannya melambat menjadi 6.

13 12.94 1.00 0.85 9.75 9.65 2.90 3.36 0.74 4.91 10.31 PDRB 3.87 8. gas.56 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.38 8.91 2.09 3.64 LAPORAN AKHIR 1-93 .91 7.33 13.75%. Sementara itu sektor tersier yang terdiri dari sektorsektor sisanya memiliki angka pertumbuhan tertinggi yaitu 9. dan air minum serta bangunan memiliki angka pertumbuhan yang sebesar 8.34 8. Sektor pertambangan dan penggalian memiliki angka pertumbuhan yang paling rendah yaitu sebesar 1.07 3.26 12.71 13. Persewaan.55 3.40 1.14 9. dan Jasa -6.11 -0.14 1.73 6.64%.95 11.34 -1.25 8.89 5.46 5. hasil perhitungan r 4.34 5.61 13.76 8.48 9.66 Primer 0.54 5.04 30.48% (lihat Tabel 1. Kedua sektor ini menjadi sektor dengan angka pertumbuhan di bawah angka pertumbuhan PDRB Provinsi Papua Barat.91 17.52 Listrik.80 2.65 11.07 Jasa-jasa 8.29 Sekunder 6. Gas. Tabel 1. Jika dilihat pertumbuhan tiap-tiap sektor maka sektor angkutan dan komunikasi mengalami pertumbuhan yang tertinggi yaitu sebesar 12.00 20.97 10.77 8.33 7.93 14.94 Tersier 7.83 9.14%. dan Air Minum 7.00 9.13 9.79 8.28 10.78 4.06 Perdagangan 7.39 6.95 9.77 9.29%.44).33 Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Papua Barat Tahun 2000-2006 25.14 8.68 7. Kelompok sektor sekunder yang terdiri dari industri pengolahan listrik.97 2.44 Pertumbuhan PDRB Papua Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000-2006 Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 4.25 Bangunan 6.75 14.10 21.23 2.84 Keuangan.00 15.84 5.17 5.77 Industri Pengolahan 6.14% diikuti sektor pertanian sebesar 4.00 10.73% disusul dengan sektor jas-jas yaitu sebesar 9.19 9.69 4. Hal ini menjadikan kelompok sektor primer memiliki angka pertumbuhan yang paling rendah dibandingkan dengan kelompok sektor lainnya.49 Angkutan dan Komunikasi 11.87 10.43 4.00 5.03 8.90 9.43 Pertambangan dan Penggalian -4.29 5.07 7.13 8.82 7.20 6.59 15.34 2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.52 9.38 9.00 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Dengan Migas Atas Dasar Harga Berlaku Dengan Migas Atas Dasar Harga Konstan Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan Rata-rata pertumbuhan PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan pada kurun waktu 2000-2006 adalah sebesar 5.72 12.35 3.

13 9.26 7.07 3.79 8. Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa kegiatan primer pada sektor migas yang bergantung pada bahan baku mengalami kecenderungan perlambatan.49 9.46 5. sedangkan pertumbuhan kelompok sektor sekunder menjadi lebih rendah.57 6.05 2.06 6.65 5.33 7.27 3.29 6.43 Pertambangan dan Penggalian 8.23 6.78 9. 45 Pertumbuhan PDRB Papua Barat Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan 2000-2006 Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 4.93 14.91 7.73 6.77 7.74 6.91 4.49%.28 10. Tabel 1.552 triliun (17.49 7.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pertumbuhan PDRB tanpa migas atas dasar harga konstan menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB dengan migas yaitu sebesar 9. Persewaan.25 Bangunan 6.75 14.97 10.14 9. aktivitas sekunder pada migas yang berupa kegiatan lanjutan memanfaatkan hasil dari sektor primer cenderung mengalami peningkatan.47%) dan sektor pertambangan dan penggalian yang sebesar 1.46 PDRB Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Lapangan Usaha PDRB Atas PDRB Atas Dasar LAPORAN AKHIR 1-94 .11 4.85 9.65 11.72 12.76 8.38 8.95 11.21 13. Hal ini menunjukkan bahwa sekitar 24% industri pengolahan di Provinsi Papua digerakkan oleh kegiatan di sektor migas.06 Perdagangan 7.56 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.34 2.04 30.53 Tersier 7. Hal ini menyebabkan pertumbuhan kelompok sektor primer tanpa migas menjadi lebih tinggi dibandingkan denga migas.97 2.82 7.77 9.25 8.87 10. dan Jasa -6.13 7.98 8. Gas.26 12. dan Air Minum 7.07 9.31 PDRB 6.03 8.29 6.49 Angkutan dan Komunikasi 11.53 5.84 5.90 9.07 Jasa-jasa 8. sektor industri pengolahan dengan mengeliminir subsektor industri pengilangan minyak dan gas bumi memiliki angka yang menjadi lebih rendah yaitu sebesar 6.50 Primer 4. Sektor pertanian merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu sebesar 2.34 8.67 Sekunder 7.14 9.83 9.42 5.61 13.35 Industri Pengolahan 7.429 triliun rupiah atau sebesar 27.13 12.94 7.38 9.20 6.64 PDRB dan Kontribusi Sumbangan setiap sektor dalam PDRB dapat menunjukkan komposisi perekonomian di wilayah tersebut.20 10.13 8.66 10.84 Keuangan.91 2.89 5.95 5.64%.09 3.91 10.48 9.17 5.38 7.33 13.75 9.00 9. Sementara itu.16 Listrik.06 7.60 5.16 persen kepada PDRB berlaku Provinsi Papua Barat tahun 2006 diikuti oleh sektor industri pengolahan yang sebesar 1.741 triliun (19. Sebaliknya. Tabel 1. hasil perhitungan r 4.74 7.19 9.36%).

42 150 145.65 9.70 14.72 2.25 Industri Pengolahan 2 835 994.36 Jasa-jasa 1 005 409.22 100. dan air minum memberikan kontribusi terkecil.346.02 17.31% kepada PDRB konstan Provinsi Papua Barat kemudian oleh pertambangan dan penggalian (19.12 45.953.50 1.052.74 872 426.465. LAPORAN AKHIR 1-95 .99 Perdagangan 1 290 421.81 1 098 592.91 1 817 444.66 23.48%) dan lapangan usaha industri pengolahan (13.78 1.55 27.53 Pertambangan dan Penggalian 1 846 593. Sementara itu industri pengolahan memiliki besaran produksi yang lebih rendah namun memiliki nilai yang lebih tinggi.56 6.26 2.916.978.53 29 098.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dasar Harga Berlaku Harga Konstan Jumlah % Jumlah % Pertanian 3 107 119.23 572 822.00 Primer 4.70 Listrik.036. Listrik. menunjukkan tingkat ketersediaan dan tingkat penggunaan dari infrastruktur dasar yang masih rendah di Papua Barat.15 Tersier 3.78 Sekunder 4.10 28. Gas.53 Angkutan dan Komunikasi 866 875.46 7. Sektor pertanian tetap merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu sebesar 29. hasil perhitungan Terdapat perbedaan kontribusi bila menggunakan PDRB atas dasar harga konstan.02 10.06 684 491.46 Bangunan 1 150 834.95 473 536.34 0.43 Keuangan.00 6 369 374.05 13.474. lebih kecil dari 1% baik menurut PDRB atas dasar harga konstan maupun berlaku.76 100.09 2. Persewaan.033.83 39. dan Jasa 302 327.712.48 0. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian dan pertambangan penggalian memiliki jumlah yang tinggi jika dilihat dari segi produksi.07 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka Tahun 2009.58 8.35 670 818.13 24.991.859. gas.37 32.38 22.32 10.75 PDRB 12 471 605.54%).70 10.44 31.13 8. dan Air Minum 66 030.

34 PDRB Papua Barat per Sektor Tahun 2008 ADH Berlaku Kontribusi kelompok sektor utama dalam ekonomi berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku menunjukkan sektor primer yang terdiri dari pertanian dan pertambangan dan penggalian sebagai sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu 3.20 persen.74%. Terdapat perbedaan jika menggunakan angka PDRB atas dasar harga berlaku. Besarnya kontribusi sektor primer yang hingga mencapai angka 44.152 triliun atau sebesar 39. Sektor primer tetap menjadi sektor dengan kontribusi tertinggi namun diikuti oleh sektor tersier baru kemudian sektor sekunder. Sektor sekunder ada pada posisi berikutnya dan kemudian diikuti oleh sektor tersier.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.52 persen dapat menunjukkan bahwa sektor ini merupakan sektor vital yang menjadi penopang utama perekonomian di Papua Barat. Sektor perdagangan memiliki kontribusi terbesar kedua yaitu sebesar 508 miliar atau 14.35 PDRB Papua Barat per Kelompok Sektor Tahun 2008 Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Konstan 2000 Analisis dengan mengeliminir migas menunujukkan beberapa perbedaan.52%). Kontribusi LAPORAN AKHIR 1-96 . PDRB tanpa migas atas dasar harga berlaku untuk sektor pertanian menjadi sektor dengan kontribusi tertinggi yang angkanya mencapai 2.982 triliun (44. Gambar 1.

02 445795. Gas.46 2.42 miliar rupiah.93 9.39 22. dan Jasa Jasa-jasa PDRB 6.420.48 561814.26 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.54% 1.38% 10.560.66 38. Begitu pula dengan sektor industri pengolahan meskipun tidak sejauh pada sektor pertambangan penggalian. Gas.43 38.59 100 39. hasil perhitungan Gambar 1.19 911.47 persen turun menjadi sebesar 10. Kontribusi sektor industri pengolahan tadinya sebesar 19. Sektor tersier memiliki kontribusi sebesar 38.430.96 10.91 38. dan Air Minum Bangunan Perdagangan 14.206.11 Primer 2.59 440813.42 10.22 11.53% 2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sektor pertambangan dan penggalian turun drastis dari 17. dan Jasa Jasa-jasa 11.20 48.458 miliar.23 100 4.457.26 2.15 151.166.36 PDRB Papua Barat per Sektor Tanpa Migas Tahun 2006 Pertanian 11.24% Berdasarkan kelompok sektor utama.24 925.496.53 PDRB Atas Dasar Harga Konstan Jumlah (juta RP) % 1627118.38 734.01 10.625. sedikit lebih rendah dibandingkan dengan jika memperhitungkan migas.20% 0.60 24616.49 10.06% atau hanya sebesar 67.226.25 571658.75% Angkutan dan Komunikasi Keuangan.60% atau LAPORAN AKHIR 1-97 .20 persen atau sebesar 649.17 13.038.204.141.47 PDRB Provinsi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 2006 Lapangan Usaha PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Jumlah (juta Rp) % 2.669.21% atau senilai 2.986.367.68 42867. Persew aan.644. Tabel 1.289.429.64 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.06 649.62 1.21 1.59 11.87 0.59 1.70 21.804.79 0.15 67.06% 10.53 14.53 Sekunder 1.458.36% turun menjadi 1.221.82 38.7 13.60 1.15% 38.36 397041.121.75 715.434.413.54 646. sektor primer menjadi sektor dengan kontribusi sebesar 39.496 triliun rupiah.32 Tersier 2. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan.15% Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.41 39.587.44 94706. Persewaan.

16 17.413 triliun rupiah.21% 22.53 11. Jika dilihat dari PDRB tanpa migas atas dasar harga konstan. Kedua sektor ini memang seolah-olah bertukar posisi.6 4 15.51 13. Adanya perubahan ini seiring dengan meningkatnya angka pertumbuhan pada sektor industri pengolahan tiap tahunnya dan pertumbuhan yang lambat dari sektor pertambangan dan penggalian.63 2001 32. Kontribusi sektor industri pengolahan terus meningkat. Antara tahun 2000-2006 perubahan menonjol terjadi pada sektor pertambangan penggalian dan industri pengolahan. sebaliknya sektor pertambangan dan penggalian terus menurun.457 triliun rupiah.19% Primer Sekunder Tersier Pergeseran Struktur PDRB Provinsi Papua Barat PDRB Papua Barat yang ditampilkan secara time series dapat menjadi salah satu alat untuk mengetahui apakah terjadi perubahan atau pergeseran struktur ekonomi di wilayah tersebut.47 2007 26.75 2002 32. komposisinya juga memberikan angka komposisi yang cenderung setara dengan PDRB tanpa migas atas dasar harga berlaku.20 19.45 18. Sektor sekunder memberikan kontribusi terendah yaitu sebesar 22. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan produksi dan inflasi sektorsektor di luar migas bergerak secara sebanding.50 18.48 Persentase Tiap Sektor Ekonomi dalam PDRB Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2000-2008 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan 2000 32.24 25.7 LAPORAN AKHIR 1-98 .77 2003 31.36 19.19% atau sebesar 1.85 13. Tabel 1.97 2006 27.42 15.9 1 14.1 2008 24.8 1 22.37 PDRB Papua Barat per Kelompok Sektor Tahun 2006 38.71 19. Gambar 1.77 21.90 2005 27.86 18.9 8 20.31 19.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sebesar 2.94 2004 29.60% 39.

Hal ini adalah akibat dari lebih rendahnya pertumbuhan sektor pertanian dan pertambangan penggalian yang termasuk ke dalam kelompok sektor primer dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2003 0.35 7.0 46.81 7.22 1.2 7 28.54 100.60 4.54 8.87 2006 0.81 2002 0.0 39.93 100.77 persen pada tahun 2000 menurun menjadi 44.56 21.00 10.44 2.52 28.0 44.28 1. Persewaan. hasil perhitungan Gambar 1.21 100.15 9.59 23.58 persen pada tahun 2005.51 27.37 6.61 10.54 8.0 50.38 1.5 8 7.48 100. sektor primer tetap merupakan sektor yang dominan dalam kurun waktu 2000 hingga 2006.50 27.96 26. LAPORAN AKHIR 1-99 .3 5 6.03 Lapangan Usaha Listrik.02 100.89 1.71 100.78 100.96 10.01 27.01 6.92 24.0 54.64 2001 0.02 9.72 6.67 9. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan.6 2 29.42 1.07 8.43 6.67 8.62 25.01 2005 0.19 26.91 8.23 10. Gas.0 42. dan Jasa Jasa-jasa PDRB Primer Sekunder Tersier 2000 0.0 57.0 47.47 6. dan Jasa Angkutan dan Komunikasi Perdagangan Bangunan Listrik.1 1 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka Tahun 2009.25 2008 4 0.60 8. Meski demikian sektor primer memiliki kontribusi yang terus menurun. Gas.59 8.42 8.86 5. dan Air Minum Industri Pengolahan Pertambangan dan Penggalian Pertanian Jika dilihat dari kelompok sektor.38 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tahun 2000-2006 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Jasa-jasa Keuangan.47 2007 0 0.95 2.13 5.29 1.0 52.88 100.39 2004 0.50 7.78 9.03 26.59 8.69 8.56 8.77 18.53 9. Kontribusi sektor primer adalahs sebesar 57.41 7.28 23. Kedua sektor tersebut memiliki angka pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB secara total.34 26.38 6.06 100.72 32.28 20. Persew aan.80 6.91 1.

59 persen pada tahun 2000 menjadi 28.77 11.15 2.65 1.63 20.00 100.87 0.44 13.40 Perdagangan 12.31 43.19 38.07 13. dan Air Minum 0.63 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.85 11.72 2006 38.00 100.60 Sektor sekunder menunjukkan terus mengalami peningkatan. Sektor industri pengolahan yang terus tumbuh dan meningkat menjadi faktor tingginya kontribusi sektor sekunder.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.37 42.46 11.07 2.36 2.94 1.23 9.83 Listrik.33 7.54 10.17 9.00 100.15 1.66 Bangunan 9.48 Pertambangan dan Penggalian 0.76 20.35 2.38 11.00 39.89 0.72 42.78 41.69 Jasa-jasa 11.48 44.49 Sekunder 20.21 22.52 0.05 10.01 Industri Pengolahan 10.00 Primer 46.73 10.60 43.89 20.20 0.83 8.43 0.45 8.42 13.35 9. dan Jasa 2.75 11.76 34.29 PDRB 100.16 45.00 100.42 14.80 35.26 9. Dieliminirnya non migas praktis menjadikan sektor pertanian menjadi sektor paling vital bagi perekonomian Papua Barat.93 10.13 2.52 0. Gas. jauh di atas sektor-sektor lainnya namun cenderung LAPORAN AKHIR 1-100 .21 33.54 0.55 100.85 Keuangan.43 36.29 44.53 100.01 11.87 7.49 Persentase Tiap Sektor Ekonomi dalam PDRB Papua Barat Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2000-2006 Lapangan Usaha 2000 2001 2002 2003 2004 Pertanian 45.69 21.30 9.58 0.64 11.85 11. dari 18.91 11.08 12.80 Angkutan dan Komunikasi 6.88 Tersier 33. Persewaan.00 40.04 10.94 0.16 2.24 14.01 persen pada tahun 2006.59 37.86 20.39 Pergeseran Kelompok Sektor Ekonomi Papua Barat Tahun 2000-2006 100% 80% 60% Tersier Sekunder Primer 40% 20% 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tabel 1.06 10. Sementara itu kontribusi sektor tersier bergerak naik turun pada kisaran angka 23% hingga 28% setiapa tahunnya. hasil perhitungan 2005 39.

sektor primer sebagai sektor yang dominan dalam kurun waktu 2000 hingga 2006 di Provinsi Papua Barat. Kontribusi sektor primer tanpa migas lebih rendah dibandingkan dengan kontribusi sektor primer dengan migas. Besar kontribusinya juga terus meningkat setiap tahunnya. Meski demikian sektor primer memiliki kontribusi yang terus menurun.41 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 2000-2006 80% 60% Tersier Sekunder 40% Primer 20% LAPORAN AKHIR 1-101 2001 2002 2003 2004 2005 2006 0% 2000 . 100% Gambar 1. Persew aan. Gambar 1. dan Jasa Angkutan dan Komunikasi Perdagangan 60% Bangunan Listrik.19%. Dieliminirnya migas praktis menjadikan sektor primer bertumpu hampir sepenuhnya pada sektor pertanian. Dilihat dari kelompok sektor.40 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 20002006 100% Jasa-jasa Keuangan. dan Air Minum 40% Industri Pengolahan Pertambangan dan Penggalian Pertanian 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 80% 20% Sektor sekunder bergerak pada angka yang relatif tetap yaitu memberikan kontribusi yang berkisar pada angka 20% pada tahun 2000 hingga 2004 dan sedikit mengalami kenaikan pada tahun 2006 menjadi 22. Kontribusinya pada tahun 2000 adalah sebesar 33.60%.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 menurun. Kontribusi sektor primer adalah sebesar 46.78 persen pada tahun 2005.16 persen pada tahun 2000 menurun menjadi 40.21% dan tahun 2006 menjadi sebesar 38. Sementara itu sektor tersier memiliki kontribusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontribusinya ketika memperhitungkan migas. Peran sektor pertambangan dan penggalaian turun drastis hingga berkisar pada angka 1 persen. Hal ini adalah akibat dari lebih rendahnya pertumbuhan sektor pertanian dibandingkan sektor-sektor lainnya. Gas.

Kelompok sektor primer terdiri dari sektor pertanian dan sektor pertambangan penggalian. Papua Barat memang kaya akan hutan dan dikelilingi oleh lautan. sektor ini memiliki kontribusi sebesar 1. persewaan.27 triliun rupiah atau 32. sektor angkutan dan komunikasi. 1.5. dan sektor jasa-jasa. Pertumbuhan kedua sektor yang termasuk dalam sektor primer yaitu pertanian dan pertambangan penggalian termasuk yang paling lambat jika dibandingkan dengan sektor lainnya.3 Tinjauan Ekonomi Sektoral Tinjauan ekonomi sektoral berusaha melihat ekonomi wilayah Papua Barat dilihat dari 3 kelompok sektor utama yaitu sektor primer. dan jasa perusahaan. sektor keuangan. dan restoran.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Pada tahun 2005 meningkat menjadi 1. sekunder.1 Sektor Primer Sektor primer merupakan sektor dengan sektor yang selama ini dominan di Provinsi Papua Barat. Subsektor kehutanan dan perikanan merupakan subsektor yang paling berpengaruh pada sektor pertanian di Papua Barat. Berdasar atas PDRB atas dasar harga konstan.66%.3. Sementara itu sektor-sektor yang termasuk dalam kelompok sektor tersier adalah sektor perdagangan. 1) Pertanian Sektor pertanian merupakan sektor paling dominan di Provinsi Papua Barat. Sektor sekunder terdiri dari sektor industri pengolahan. Perikanan dan kehutanan adalah subsektor yang paling menonjol dari sektor pertanian di Provinsi Papua Barat.24% dari PDRB Papua Barat pada tahun 2000. Secara fisik. Meski demikian sektor ini mengalami kecenderungan memiliki kontribusi yang menurun. dan tersier.5.57 triliun rupiah namun dari segi persentase kontribusi menurun menjadi 29. listrik dan air minum serta sektor bangunan. Sektor pertanian di wilayah lainnya di Indonesia umumnya bergantung pada pertanian tanaman pangan dan perkebunan. Pembagian ke dalam ketiga sektor tersebut berdasar pada asal terjadinya proses produksi. LAPORAN AKHIR 1-102 . hotel.

81 5. dan peternakan lebih bersifat kegiatan budidaya. Hal ini adalah akibat dari kebijakan pemerintah yang menjadikan nasi sebagai salah satu indikator kemakmuran dan menjadikannya sebagai bahan makan pokok secara nasional.3 Peternakan & Hasil-hasilnya 55366. Tabel 1.63 98. Padahal untuk Papua Barat.49 1. Terlebih karena.72 9. dan Perikanan Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Lapangan Usaha PERTANIAN.99 112.72 1. Kehutanan.080 2.21 10.21 Luas Panen (Ha) 11 467 1 070 2 052 1 524 958 1 624 560 2008 Produksi (ton) 39 537 1 711 23 071 15 341 979 1 740 557 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 34.70 29. Tabel 1.58 11.093 2.52 1.66 4.40 83172.21 Sumber : PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.4 Kehutanan 430664.94 110. Namun sejak beberapa dekade terakhir.24 1573097.85 1. Sementara itu subsektor tanaman pangan.317 25.50 Jumlah Produksi Pertanian.97 3.00 10.87 148870.137 855 2005 Produksi (ton) 24.66 10.279 871 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 31.88 487106.14 10.58 10.48 15.34 32. perkebunan.43 100.18 10. masyarakatnya sebenarnya tidak terbiasa membudidayakan padi namun kemudian beralih.95 Sumber : Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 LAPORAN AKHIR 1-103 .78 1.13 5. 2000 Jumlah % 2005 Jumlah r % 1275948.28 KEHUTANAN & PERIKANAN 1. Peternakan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Sifat dari pertanian pada subsektor kehutanan dan perikanan lebih bersifat ekstraktif. kemiskinan merupakan salah satu isu utama di Provinsi Papua Barat.543 2.2 Tanaman Perkebunan 113777.5 Perikanan 457877.54 10.64 9.86 2.18 2.54 4.57 8. PETERNAKAN.51 Luas Panen. Produksi dan Rata-Rata Produksi Pertanian Tanaman Pangan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Jenis Pertanian Luas Panen (Ha) Padi sawah dan padi ladang Jagung Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau 7.28 2. tanaman sagu tergeser oleh nasi.52 263602.336 1.67 10 Luas Panen (Ha) 8545 1947 1963 2170 1937 1819 925 2006 Produksi (ton) 27518 3120 21913 21405 1856 1917 944 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 32. Jika dikembangkan. Metroxylon sago).76 11.20 16. memanfaatkan langsung dari alam.57 590345.58 9.94 5.02 111.702 3.897 19.1 Tanaman Bahan Makanan 218261.85 98. ketiga susbsektor ini sebenarnya dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas.991 2.131 2. hasil perhitungan Pertanian Tanaman Pangan Tanaman pangan pokok di Papua Barat pada umumnya adalah tanaman sagu (Metroxylon rumphii.823 2.48 1.58 15.

25 12 873 113. ubi jalar. disusul oleh Kabupaten Sorong dengan produksi sesbesar 6623 ton.823 hektar dengan jumlah produksi mencapai duapuluh empat ribu ton.65 1 058 100.30 216 26.64 954 100. Untuk tahun 2006.95 25 309 34.46 1 962 100. Pada tahun 2005. Produksi dan Rata-rata Produksi Pertanian Padi Sawah. dan kacang hijau.83 381 112.52 Luas panen. sementara penduduk asli lebih suka memilih tanaman keras seperti sagu dan ketela. Ubi kayu dan ubi jalar paling banyak diproduksi oleh Kabupaten Manokwari. pada tahun 2006 menghasilkan produksi mencapai lebih dari limabelas ribu ton.63 6 371 100. dan padi. Komoditi padi sawah juga paling banyak ditemui di Manokwari. Padi sawah tidak ditemukan di Kaimana.38 Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Sumber : Papua Barat dalam Angka 2009 Tiga komoditi dengan produksi tertinggi adalah ubi kayu. dan Ubi Jalar per Kabupaten/Kota di Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Luas Panen (Ha) 95 56 501 7 378 81 3 053 303 Padi sawah Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 324 34. tanaman padi baik padi sawah maupun ladang memiliki luas tanam yang paling luas yaitu sebesar 7.22 419 110. komoditi pangan yang mengalami peningkatan produksi adalah padi. Sementara itu ubi kayu memiliki jumlah produksi dalam ton yang tertinggi yaitu mencapai duapuluh lima ribu ton lebih. dan Kota Sorong.07 2 459 111.32 1 059 34. Ubi Kayu. ubi jalar.16 2 416 110.80 1 540 100.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tanaman padi umumnya dibudidayakan oleh para transmigran dari Jawa.54 1 833 111.67 10 784 35.13 374 106.58 832 115. rata-rata produksi komoditi ini juga yang tertinggi yaitu mencapai 110 kwintal per hektar.92 1 208 100.95 Luas Panen ( Ha) 132 72 165 221 1 137 38 218 34 35 Ubi Kayu Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 1 486 112.83 522 100. LAPORAN AKHIR 1-104 . Sorong Selatan.75 Luas Panen (Ha) 135 120 95 195 633 105 153 36 52 Ubi Jalar Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 1 362 100.64 1 651 32.11 194 34. Tabel 1.63 363 100.

dan Ubi Jalar. Kacang Tanah. Ubi Kayu. Kedelai. dan Kacang Hijau per Kabupaten/Kota di Papua Barat tahun 2008 Kabupaten/Kota Padi Sawah Luas Panen (Ha) 85 51 365 6 507 3 053 297 10 358 7 580 7 546 6 415 5 231 Produksi (Ton) 298 180 1 293 22 920 10 784 1 043 36 518 26 101 24 810 20 896 16 445 Padi Ladang Luas Panen (Ha) 10 5 136 871 81 6 1 109 777 999 1 408 1 745 Produksi (Ton) 26 14 358 2 389 216 16 3 019 2 103 2 708 3 806 5 152 Jagung Luas Panen (Ha) 4 25 42 123 562 39 245 21 9 1 070 1 518 1 947 2 080 1 375 Produksi (Ton) 7 39 68 202 890 65 390 35 15 1 711 2 429 3 120 3 317 2 024 Ubi Kayu Luas Panen (Ha) 132 72 165 221 1 137 38 218 34 35 2 052 1 615 1 963 2 336 1 853 Produksi (Ton) 1 486 832 1 833 2 459 12 873 419 2 416 381 374 23 071 17 833 21 913 25 897 20 440 Ubi Jalar Luas Panen (Ha) 135 120 95 195 633 105 153 36 52 1 524 1 874 2 170 1 991 2 044 Produksi (Ton) 1 362 1 208 954 1 962 6 371 1 058 1 540 363 522 15 341 18 702 21 405 19 543 20 476 Kacang Tanah Luas Panen (Ha) 34 20 100 186 392 123 96 7 958 1 725 1 937 2 093 1 350 Produksi (Ton) 35 20 102 192 398 126 98 7 979 1 763 1 956 2 131 1 348 Kedelai Luas Panen (Ha) 2 12 36 152 1 305 23 78 16 1 624 1 282 1 819 2 137 1 326 Produksi (Ton) 2 13 40 162 1 398 26 82 17 1 740 1 360 1 917 2 279 1 523 Kacang Hijau Luas Panen (Ha) 1 14 28 160 179 100 71 7 560 667 925 855 570 Produksi (Ton) 1 13 27 160 176 103 71 7 557 670 944 871 412 Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Sorong 2008 2007 2006 2005 2004 Sumber : Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-105 . 53 Luas panen dan Produksi Pertanian Padi Sawah.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. Padi Ladang.

Coklat 7.749 17.594 5. Kelapa 9. Ransiki. coklat juga dikembangkan oleh perkebunan rakyat dan terdapat di Kabupten Manokwari yaitu di sekitar Oransbari. Buah kelapa belum diolah secara intensif terutama untuk menghasilkan minyak goreng skala perusahaan. Jambu Mete 305 1 305 1 7. Pengolahan biji sawit masih pada tahap pengolahan produk cruide palm oil (CPO).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Perkebunan Produksi kelapa (kelapa buah) merupakan salah satu produk perkebunan tertinggi di Papua Barat. Tanaman ini juga memiliki nilai jual yang tinggi.942 5.749 16.749 3.540 17. Kopi 391 197 708 214 5.540 20.463 2.911 16. dan Prafi. wilayah pantai dan dataran rendah. Tabel 1.54 Luas Area dan Produksi Tanaman Perkebunan Rakyat Di Provinsi Papua Barat 2003 .2008 2003 2004 Luas Produksi Luas Produksi (ha) (ton) (ha) (ton) 1. Selain dikembangkan oleh perkebunan besar.55 Luas Area Tanaman (ha) dan Produksi (ton) Kelapa Sawit. Tanaman coklat merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menonjol.540 708 10. Diharapkan biji kakao dapat dimanfaatkan oleh perusahan yang mengolah biji kakao menjadi coklat bubuk. terutama karena meningkatnya kebutuhan CPO sebagai salah satu bahan bakar energi alternatif untuk otomotif. Data luas tanaman dan produksi dilihat dari jenis perkebunan berupa perkebunan rakyat adalah sebagai berikut: Tabel 1. Kelapa tumbuh hampir merata di semua wilayah Papua Barat terutama wilayah pulau-pulau kecil dan pesisir.962 Kelapa sawit juga merupakan salah satu komoditi perkebunan dengan luas tanam terluas. Komoditas ini jika dikembangkan lebih intensif akan memberikan manfaat ekonomi yang besar karena memiliki nilai jual yang tinggi.326 218 5.030 10.899 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Jenis Tanaman Luas (ha) 750 5. Kopi dan cengkeh memiliki luas tanam yang termasuk kecil dibandingkan dengan komoditi perkebunan lainnya.965 305 2 8. namun baru dimanfatkan secara kecil-kecilan dan yang paling banyak adalah pemanfaatan santan kelapa untuk kebutuhan rumah tangga.749 8.340 15. Wrmare.296 2.463 2005 Produksi (ton) 60 1.942 305 8.970 2. Pala 5. Kelapa Sawit 11.156 16.691 5.965 2 2.911 1.911 1.962 2008 Luas Produksi (ha) (ton) 750 60 5.911 1. dan Coklat Di Provinsi Papua Barat 2003 – 2008 (Ha) Kabupaten Kelapa Sawit Kelapa Coklat LAPORAN AKHIR 1-106 .326 708 218 10.811 4. Cengkeh 891 48 751 55 2.897 6. Kelapa.436 5.

namum produksi tertinngi terdapat di Kabupaten Raja Ampat. Untuk komoditi kelapa.427 29.822 846 10.274 405.036 155.502 32. komoditi ini sudah menjadi komoditi dengan produksi tertinggi di Papua Barat.508 229 5.890 27.309 48.708 12.821 33.961 33.283 66. Coklat memiliki luas tanam paling luas di Manokwari kemudian Sorong.239 273.676 68 236 13.026 15.185 43. Sementara itu.379 35.125 774.415 204.454 31.330 912 1.769 54.536 Kambing 580 571 173 288 5.512 891.678 33.297 34.989 129.790 45.923 Babi 921 467 624 1.829 342.094 55 1. kambing.425 11.667 725.755 Itik 252 57 61 527 10.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Produksi 384 1238 69 75 1433 750 1433 895 6277 Luas 170 854 250 250 3204 978 1807 950 8463 Produksi 36 57 295 105 959 75 286 978 2791 Luas Produksi Luas Fak-Fak 1095 Kaimana 1261 Teluk Wondama 126 Teluk Bintuni 5000 2170 66 Manokwari 11540 15156 2012 Sorong Selatan 290 Sorong 2012 Raja Ampat 3737 Kota Sorong Jumlah 16540 17326 10599 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Perkebunan rakyat kelapa sawit yang telah ada di Papua Barat baru terdapat di Kabupaten Manokwari dan Teluk Bintuni.344 597 1. populasi ayam pedaging terdapat di Sorong.012 66.803 554 875 12.835 580 2.110 Ayam Pedaging 2.216 564 206 323 19.623 1.719 83.130 254.107 493.56 Populasi Ternak menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 Sapi 1.429 30. luasan tertinggi ada di Raja Ampat namun produksi tertinggi terdapat di Sorong. dan Kaimana.992 414.992 45.259 13. sementara ayam kampung paling tinggi terdapat di FakFak. Meski hanya terdapat di 2 (dua) kabupaten tersebut.106 360.923 23. babi dan jenis unggas.425 LAPORAN AKHIR 1-107 . Tabel 1.610 868.794 80.193 45. Kecuali ayam ras pedaging dan ayam kampung. Peternakan Komoditi peternakan yang ada di Provinsi Papua Barat adalah sapi. populasi jenis ternak lainnya paling banyak terdapat di Manokwari.777 Ayam Petelur 40.019 Ayam Buras 44.223 11. Manokwari.

.227 298. memungkinkan wilayah ini memiliki tingkat konsumsi tinggi. Tabel 1. Kabupaten Manokwari merupakan daerah penghasil daging peternakan tertinggi untuk jenis apapun.255 1.331 3.058 235.028 20.036 14.305 149. termasuk ayam pedaging dan ayam kampung yang jumlah populasinya bukan yang tertinggi di Papua Barat.671 640 7.546 3. Tabel 1.246 33.726 325 LAPORAN AKHIR 1-108 .773 6.858 2.994 9.048 Ayam Petelur 15.164 Babi 13.679 9.522 653.593.214 Kambing 2.777 20.475 49.866 9.658 90.005 95.125 46.068 28.58 4 732.358 Itik 187 42 45 391 7.027 26.928 33.748 39.463 757.246 212.749 437.242 29.169 60.504 14.467 483.124 247.245 50 175 9.156 531.073 10.580 894.304 14.807 732.751 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Produksi telur unggas paling tinggi adalah dari jenis ayam ras petelur.637 22. Produksi telur ayam kampung dan telur itik paling tinggi terdapat di Manokwari.186 467. 58 Produksi Telur menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (kg) Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Ayam Kampung 19.549 Ayam Buras/ Kampung 32.496 40 1. telur ayam ras paling banyak diproduksi di Kabupaten Sorong.979 617 1.020 4.192 31.278 28.715 230.770 19.939 62.873 Ayam Ras 199.734 88.583 59.347 235.942 38.827 35.066 Ayam Pedaging 2.438 77.457 9.342 13.379 1. 57 Produksi Daging Ternak menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (kg) Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 2007 2006 2005 Sapi 54.672 676.227 114.646 162.895 25. Sementara itu.806 25.339 22.461 326.714 27.038 1.514 340 366 3. Manokwari merupakan ibukota dan wilayah dengan jumlah penduduk tertinggi.612 Itik/Entog 1.966 808.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Produksi daging ternak di Provinsi Papua Barat berupa hewan ternak sapi merupakan yang tertinggi dibanding dengan komoditi lainnya.003 24.007 50.

Kab.156. Bintuni 3. mersawa. Kegiatan pemanfaatan hutan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan.960.346 5.678. Wondama 4.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 326. Adapun negara tujuan ekspor diantaranya adalah Negara Cina. Pengolahan dan distribusi hasil-hasil hutan tersebut melalui jalur Pelabuhan Manokwari dan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.840 Ha yang terdiri dari Kawasan Hutan seluas 40.695 19.700.099 334.300 87. gahau.753 640.327 73. maka dapat diasumsikan bahwa sektor kehutanan termasuk dalam sektor basis di Provinsi Papua Barat.05 LAPORAN AKHIR 1-109 .00 724.138.733. T. medang dan bintangur.079 259. India.6 m³. Kab. Luasnya lahan penebangan di Teluk Bintuni membuat kabupaten ini memiliki produksi kayu terbesar yaitu 101.00 578.979.199.00 Hutan+Perairan 1.450. Raja Ampat Luas Wilayah*) 1. Kab. sagu.721. 59 Luas Hutan dan Perairan diProvinsi Papua Barat dirinci Per Kabupaten/Kota Kabupaten/Kota 1. kulit lawang.665.165 246.37 2.00 608.564.921.224.480 Ha.360 Ha dan Kawasan Perairan 1.417 78. matoa.899 35.546.01 610. Hasil hutan di Provinsi Papua Barat antara lain adalah beberapa jenis kayu yang bernilai ekonomis seperti merbau.657 113. Sorong 5. Teluk Bintuni memiliki jumlah lahan terluas untuk penebangan yang dilakukan oleh perusaahan HPH yaitu seluas 6.549 Sorong Raja Ampat Kota Sorong PROVINSI PAPUA BARAT 2007 2006 2005 2004 2003 67.604 93.84 1.466 287.701 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Kehutanan Potensi hutan di Provinsi Papua sangat tinggi.50 686.800.052 315.242 10.945.065. Selain itu.00 2. Jepang. kayu kemenyan. resak.156 102.103 81. dan Korea Selatan.700.600.125 74. Dengan menganalisis potensi dan pola pemasaran hasil hutan di Provinsi Papua Barat.283.800.863. Kab.151. Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Papua secara keseluruhan (termasuk Provinsi Papua Barat) berdasarkan (SK.90 1. Manokwari 2. Sorong Selatan 6. Kab.023 123. kulit masohi.07 hektar.400 286.\ Tabel 1. Kab. Hongkong.00 1. T. Hasil produksi hutan di Provinsi Papua Barat sebagian besar diekspor ke negara lain. Menhutbun Nomor: 891/Kpts-II/1999) sebesar 42.382 69.082 406 1. ada pula produksi hutan non kayu seperti rotan.500 74. pulai. nyatoh.

003.57 940 14. diberikan Hak Pengusahaan Hutan dan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu kepada perusahaan dibidang terkait.53 1.352.25 3.040.211.921. hasil perhitungan Sektor kehutanan di Provinsi Papua Barat memiliki potensi yang sangat baik.653.17 7. Selain itu.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Sehingga yang lebih mendapatkan hasil ekonomi dari industri kehutanan adalah para pemodal besar.726.07 Jumlah Produksi 42.406.224.000. Sementara Industri Primer Hasil Hutan (IPHH) yang berkembang di Papua Barat digolongkan menjadi 2 yaitu Industri yang berskala besar dengan nilai produksi lebih dari 6. Namun tentunya pengekploitasian hutan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi degradasi lingkungan yang drastis.000 m3 dan industri di bawah sedang yaitu produksi dibawah 6.850. Kab. Kota Sorong Grand Total Sumber: Papua Barat dalam Angka 2006.2 101.24 6.866.58 38.13 14.00 11. perlu ada upaya dari pihak pemerintah daerah untuk melindungi kepentingan masyarakat.00 1.000 m3.00 1.823.41 11. Tabel 1.58 41.199. industri kehutanan adalah industri yang padat modal.65 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2006. sehingga masih dapat menikmati hasil dari kekayaan hutan wilayah ini. Kaimana 9. Fakfak 8.97 Ha.6 1.736.654.165.000. hasil perhitungan Dalam pengusahaan dan pemanfaatan hutan. Untuk itu.98 9.432.426. Kab.00 31.135.29 207.377.966.786.994. Di Provinsi Papua Barat sendiri telah dikeluarkan 29 unit HPH yang meliputi hutan seluas 4.60 Perkembangan Luas Penebangan Hutan dan Hasilnya oleh Pemegang Hak Perusahaan Hutan Tahun 2006 (ha) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Luas Penebangan 2. Pendapatan dari sektor kehutanan merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi Provinsi Papua Barat.733. Perikanan LAPORAN AKHIR 1-110 . Sedikitnya terdapat 3 perusahaan berskala besar dan 15 perusahaan sedang yang bergerak dalam sektor kehutanan ini.388.

Krisis ekonomi yang dialami oleh bangsa Indonesia justru membawa keberuntungan bagi para nelayan karena harga produk perikanan saat itu memiliki nilai tawar yang cukup baik.000. Secara agregat kenaikan produksi perikanan laut Provinsi Papua Barat dari kegiatan perikanan tangkap tahun 1991 – 2002 dapat dikatakan cukup tinggi. alat tangkap.000.000. disamping pertumbuhan iklim investasi yang lebih baik lagi.0 20.0 30. peningkatan secara tajam produksi perikanan termasuk atribut perikanan lain (rumah tangga nelayan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Berdasarkan Statistik Perikanan Provinsi Papua tahun 1991-2002. dan armada penangkapan) terjadi dari tahun 1997 yaitu bersamaan dengan mulai anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang berlanjut dengan krisis ekonomi/moneter.000.000.000.0 0.000. Hal ini berkaitan erat sekali dengan kecenderungan kenaikan rumah tangga perikanan (skala kecil dan menengah) dan penambahan jumlah alat tangkap ikan. produksi perikanan laut dari kabupaten-kabupaten yang ada di wilayah Papua Barat menunjukkan peningkatan produksi tangkapan untuk berbagai jenis ikan.0 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 Fak-Fak Sorong Manokwari LAPORAN AKHIR 1-111 . dan hal ini diduga sebagai penyebab meningkatnya jumlah produksi perikanan.000. jumlah nelayan tradisional dan penambahan jumlah perusahaan penangkapan ikan serta adanya peningkatan jumlah dan jenis alat tangkap.0 10.0 50. Peningkatan produksi terjadi pula sebagai akibat dari adanya upaya peningkatan pertumbuhan (rumah tangga perikanan) penduduk. Dalam kurun waktu tersebut. Hasil Tangkapan Ikan Laut (kg/tahun) 60.000.0 40.000.000.000.

486 Jumlah 3. misalnya pengadaan alat penangkap (motor tempel. Tabel 1.30% Tanpa Perahu 21.42% Jukung 27.. LAPORAN AKHIR 1-112 .136 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Gambar 1.064 4461 Motor Tempel 402 94 22 32 337 50 129 944 2. jaring. 2006).42 Gambar Produksi Perikanan (ton/tahun) pada Tiga Kabupaten di Provinsi Papua Barat (Wanggai. terutama pada skala perikanan menengah ke bawah (subsisten).108 728 319 463 4.43 Persentase Jumlah Rumah Tangga Perikanan di Papua Barat Menurut Kategori Besarnya Usaha Perikanan Kapal Motor 8.67% Motor Tempel 11. alat pendingin) dengan sistem kredit bergulir. et al.010 Kapal Motor 461 107 20 30 315 25 61 467 1.73% Perahu Papan Besar 3. Bantuan yang diberikan berupa sarana produksi perikanan.516 Perahu Tanpa Motor Jukung Perahu Papan 724 1215 171 286 77 84 111 122 181 1299 344 334 179 176 76 166 201 779 2.74% Kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir yang dilakukan oleh pemerintah baik pada tingkat nasional dan daerah (provinsi dan kabupaten) telah mendorong pula peningkatan jumlah alat tangkap. telah memberikan kontribusi secara nyata terhadap peningkatan hasil tangkapan nelayan.384 17.61 Jumlah Rumah Tangga Perikanan di Papua Barat Menurut Kategori Besarnya Usaha Perikanan dan Kabupaten Kota Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Tanpa Perahu 86 178 116 168 286 1 613 54 140 875 3.17% Perahu Papan Kecil 18.96% Perahu Papan Sedang 8.924 338 872 6.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

cumi-cumi.8% pada tahun 1996 (Uktolseja.70 34. udang windu.200 ton/tahun dan perikanan demersal untuk perairan Arafura dan sekitar perairan Papua sendiri sebesar 230. Sumber daya laut lainnya di Papua Barat seperti udang dogol.10 Kakap Putih 3 101.40 2 991.90 234.00 5 214. potensi lestari untuk ikan pelagis besar secara keseluruhan adalah 612. 63 Jumlah Nilai Produksi Perikanan Laut Menurut Jenis Ikan dan Kabupaten/Kota Tahun 2007 (Ribu Rupiah) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Teri 2 288 487 534 772 482 726 642 821 Cakalang 20 214 752 4 723 767 2 548 646 3 393 898 Tenggiri 28 893 260 6 751 752 168 240 223 936 Madidhang 6 599 462 1 549 070 3 355 232 4 467 988 Kakap Putih 28 342 644 6 623 086 171 457 228 886 LAPORAN AKHIR 1-113 .30 60. dari 85.30 8 477.60 127. 1998).40 89. cakalang. kepiting. dan rumput laut.40 35.10 289. Dinyatakan bahwa di wilayah perairan Papua sendiri.00 516.30 Cakalang 2 681.400 ton/tahun.80 5 073.20 724.10 6 831. peningkatan produksi di atas perlu dicermati secara mendalam dan hati-hati.80 19 682. (1998).80 366.20 75.40 530.40 19.10 13. Walaupun tidak dilakukan pemisahan berdasarkan kategori jenis dan komposisi hasil tangkapan.30 27.70 219. dari data peningkatan produksi perikanan tangkap di atas dapat dikatakan bahwa status perikanan tangkap secara khusus di Provinsi Papua Barat masih berada jauh di bawah potensi lestari untuk perairan Papua berdasarkan Uktolseja et al.40 210.20 67.40 74.70 25.10 4 941.60 1 206.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Jenis-jenis ikan yang cukup dominan di Papua Barat adalah teri.80 111.60 Tenggiri 4 677. 62 Jumlah Produksi Perikanan Laut Menurut Jenis Ikan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (Ton) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Teri 318.10 2 347.60 748.10 12 214.00 487. Namun demikian jika mengaju pada hasil penelitian Uktoselja (1998).6 kg yang tertangkap mengalami penurunan.60 703.00 279.90 4 364.60 106. Tabel 1. udan putih/jebung.20 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan untuk berbagai jenis ikan masih sangat rendah dibandingkan dengan potensi yang tersedia.80 20.30 1 083.50 334. tenggiri. khususnya pada ikan cakalang yang tertangkap di perairan Indonesia Timur termasuk Papua.50 25.3 % pada tahun 1991 menjadi 36. Sebagai gambaran dapat dikemukakan bahwa persentase ukuran ikan cakalang > 2.20 366. Tabel 1.90 626.50 402.20 Madidhang 2 210.70 960. dan madidhang.

Subsektor penggalian hanya memberikan kontribusi kurang dari 1% bagi PDRB Papua Barat.42 0.06 % 25.4 8 985.101.91 2005 Jumlah 1.62 37.546.71 9.76 20.74 1. Namun meski sumbangannya besar.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tenggiri 2 409 067 95 977 175 894 526 699 3 704 638 42 949 463 Madidhang 48 054 418 373 982 685 385 1 902 763 13 381 443 80 369 743 Kakap Putih 2 606 085 158 433 290 356 905 125 6 115 393 45 441 465 Kabupaten Teri Cakalang Manokwari 6 913 721 36 502 296 Sorong Selatan 595 914 2 152 430 Sorong 1 092 113 3 944 694 Raja Ampat 3 270 231 11 812 015 Kota Sorong 23 001 797 83 082 069 Papua Barat 38 822 582 168 374 567 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 2) Pertambangan dan Penggalian Pertambangan dan penggalian merupakan salah satu sektor yang memberikan kontribusi terbesar bagi PDRB Papua Barat. Terdapat beberapa daerah yang memiliki potensi galian logam namun belum dilakukan eksplorasi lebih lanjut.350.170. Adanya LAPORAN AKHIR 1-114 . Persebaran bahan galian batubara terutama terdapat di daerah kepala burung yaitu di daerah Homa.6 7 1. Batubara sebagai salah satu barang galian juga cukup potensial di Papua Barat.4 r % 20. Igomo.2 Pertambangan Tanpa Migas 0 0 0 0 0 2. pertumbuhan pertambangan minyak dan gas bumi termasuk lambat jika dibandingkan sektor lain.1 Minyak dan Gas bumi 2000 Jumlah 1.699. hasil perhitungan Kegiatan pertambangan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dan saat ini usaha ini banyak terdapat di Sorong.05 1. Tabel 1.245. Hal ini menyebabkan kontribusinya semakin menurun setiap tahunnya. Batubara ynag terdapat di ketiga kawasan tersebut tergolong batubara muda karena masih menampakkan struktur kayu. dan Salawati. Di Kabupaten Teluk Bintuni akan terdapat kegiatan pertambangan besar.3 Penggalian 24. LNG Tangguh (Bintuni) saat ini sedang dalam tahap konstruksi dan diperkirakan pada tahun 2009 sudah akan beroperasi.53 7 2. 64 PDRB Sektor Pertambangan Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 dan 2005 Lapangan Usaha PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN 2. Penggalian selama ini belum memberikan hasil yang cukup signifikan bagi perekonomian Papua Barat.20 0.03 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.063.820. Sektor ini hampir seluruhnya bertumpu pada subsektor pertambangan minyak dan gas bumi. meski demikian memiliki kecenderungan untuk terus meningkat.010.53 24.

Tabel 1. Ditinjau dari tahapan kegiatan pertambangannya. Nama Perusahaan Tanggal Mulai Operasi Lokasi Konsesi Luas (Ha) 754. investasi di bidang pertambangan umum mulai giat kembali. bila ditinjau dari segi akibat yang ditimbulkan oleh kegiatan pertambangan mineral tersebut seluruhnya merupakan beban pemerintah daerah dan masyarakat yang berada di sekitar konsesi pertambangan tersebut.5 Tahap Kegiatan Eksplorasi Penyelidikan umum Penyelidikan Umum Penyelidikan Umum PT Irja Eastern Mineral 15 Feb 1997 Fak-Fak PT Siriwo Mining 28 Apr 1997 Fak-Fak PT Mineralindo Mas Salawati 28 Apr 1997 Sorong PT Barrick Mutiara Ransiki 28 Apr 1997 Fak-Fak Jumlah Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura (2004).500.0 124.0 955.330. 3. 1 (satu) perusahaan dalam taraf eksplorasi dan 3 (tiga) dalam taraf penyelidikan umum.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bahan tambang batubara ini mendorong peluang dikembangkannya Pembangkit Listrik Tenaga Uap untuk memenuhi kebutuhan listrik Papua Barat.874 Perkembangan dan Status Pertambangan Umum Perusahaan pertambangan yang beroperasi di wilayah Papua Barat sebelum Otonomi Khusus ada 4 (empat) perusahaan. Izin kegiatan perusahaan pertambangan seluruhnya dari pemerintah pusat.0 2.362. 2. Pada tahun 2002.361. Peranan Pemerintah Daerah dalam penentuan kebijakan pada saat itu hampir tidak ada.248 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 Tenaga Kerja 27 13 13 86 103 108 213 20 2. Tabel 1.020 Papua Barat 1. 4.291. 65 Banyaknya Usaha Sektor Pertambangan dan Penggalian Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha Fak-Fak 11 Kaimana 9 Teluk Wondama 5 Teluk Bintuni 21 Manokwari 32 Sorong Selatan 54 Sorong 95 Raja Ampat 1 Kota Sorong 1.291 2. 66 Perusahaan yang pernah beroperasi di wilayah Papua Barat (Sebelum Otsus) No. Menurut Laporan Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura (2004) bahwa investasi pertambangan umum di Papua terhenti pada tahun 2000. Padahal. 1.5 457.553. Hal ini sering menimbulkan konflik dan ketidakadilan dalam hal pembagian hasil dari kegiatan pertambangan mineral tersebut. Kebijakannya adalah bahwa di LAPORAN AKHIR 1-115 .

Perizinan hanya diberikan dalam bentuk Kuasa Pertambangan (KP). Bila memperhatikan lokasi sumber bahan galian yang telah diberikan izin Kuasa Pertambangan umum.700. Tabel 1. Kawei Sejahtera Mining PT. dan Platina Batubara Luas (Ha) 15. Khusus untuk masyarakat. 1.91%. Batan Pelei Mining PT. Chrom.3. tanggal 06 Agustus 2002 tentang Tata Cara Pemberian Kuasa Pertambangan Umum. 2. dan Platina Nikel.5. PT. 27.28 Tahap Kegiatan Eksplorasi Eksplorasi Eksplorasi Penyelidikan Umum Penyelidikan Umum Ket 14 Okt 2004 14 Okt 2004 14 Okt 2004 8 Des 2003 5. 3.27 8 Des 2003 Pemerintah Provinsi Papua mengeluarkan surat Keputusan Nomor : 104 tahun 2002.655. Ketentuan implementasi dari kebijakan ini adalah sementara sambil ada ketentuan lain yang diterbitkan. 4. izin pertambangan tradisional diberikan. Perusahaan/Kode Wilayah PT. Sorong Selatan Distrik Aifat Kab.250 6. Sampai dengan awal November 2004. LAPORAN AKHIR 1-116 .891 62. tercatat 11 wilayah KP baru yang diberikan izin oleh Gubernur Papua dengan total areal konsesi 355.950. Industri Sektor industri pengolahan merupakan sektor penyumbang PDRB terbesar untuk kelompok sektor sekunder. Dari 11 izin baru tersebut 5 (lima) perusahaan berada di wilayah Papua Barat. Pada tahun 2000 subsektor industri besar/sedang memberikan kontribusi yang terbesar diantara subsektor lainnya dalam sektor industri pengolahan terhadap PDRB Papua Barat yaitu sebesar 273 miliar atau 6. Raja Ampat Kab. Papua Pacifik Minerals Lokasi Kab. Chrom. Papua Pacifik Batubara Minerals Total Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura. Bahkan diberikan pula bantuan peralatan teknik penambangan terutama untuk bahan Galian C dan bahan Emas. Sorong Distrik Seget Bahan Galian Nikel. dan Platina Nikel. Walofi Mining PT. lokasi Raja Ampat sulit untuk direalisasikan karena sebagian wilayah merupakan kawasan konservasi yang secara yuridis formal tidak diperbolehkan untuk lokasi pertambangan.2 Sektor Sekunder 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Papua Izin Pertambangan dalam bentuk Kontrak Karya (KK) tidak diberlakukan. Raja Ampat Kab.000 ha yang sebagian besar untuk penambangan Batubara. 2004.953 30.99 143. 67 Perusahaan Kuasa Pertambangan Umum di Wilaya Papua Barat No 1. Raja Ampat Kab. Chrom.

13 8. Tumbuhnya subsektor ini menunjukkan bahwa ekonomi sektor migas di Papua Barat kini bergeser pada aktivitas pengolahan dibandingkan dengan aktivitas ekstraktif karena kegiatan ekstraktif minyak bumi dan gas cenderung mengalami pertumbuhan yang lambat.25 15.00 0.3 Industri Pengilangan Minyak Bumi 154.489 Nilai Investasi (ribu rupiah) 2985.130 1053.59 389.594.920.75 6.052.904. Tabel 1.07 6.2 Industri Kecil Kerajinan Rumah Tangga 31.13 7.2 18.27 0.371.91 328.50 4 3.951.72 4. 1 Industri Besar/Sedang 273.19 4 3.3 3.42 8. 68 PDRB Papua Barat Kelompok Sektor Sekunder Tahun 2000 dan 2005 Atas Dasar Harga Konstan 2000 2000 2005 r Jumlah % Jumlah % INDUSTRI PENGOLAHAN 460.92 4. GAS & AIR BERSIH 14.16 0.085.066.1 21.06 0.18% pada tahun 2005.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.350.664.87 9.505 Nilai Produksi (ribu rupiah) 43.63 747.37 22.1 Listrik 9.38 14.264. Industri-industri tersebut LAPORAN AKHIR 1-117 .126.28 8.896.755.21 8 LISTRIK. sedang.10 0.404 22.053.562.85 7. hampir mengejar subsektor industri besar/sedang.18 16.22 0.91 374.59 1.31 BANGUNAN 260.566.060.12 7. industri digolongkan menajdi 4 kategori yaitu industri besar.159.801 757.61 0.35 8.3 11.61 0.966.10 10.964.829.05 3.36 Sektor Sekunder 735.21% dalam kurun waktu 2000 hingga 2005. 69 Banyaknya Usaha Sektor Industri Pengolahan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha 414 Tenaga Kerja 8.09 7. Subsektor ini tumbuh sebesar 16.449.471 48. dan rumah tangga.02 6.91% oada PDRB meningkat menjadi 6.81 44.7 6.080.786 98.987.358.128 Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari 515 Sorong Selatan Sorong 449 Raja Ampat Kota Sorong 273 Papua Barat 1651 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2007 5520 11815 1410 27234 202. hasil perhitungan Lapangan Usaha Industri pengilangan minyak bumi yang semula memberikan kontribusi sebesar 3.456.845 Ket: Data Kabupaten pemekaran masih bergabung dengan kabupaten induk Berdasarkan kemampuan menyerap tenaga kerja.991.737.760.577 154.2 Air Bersih 4. kecil.197 25.162.528306 5 2 Sumber : PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.

Listrik dan Air Minum Sektor listrik. memiliki kontribusi yang kecil bagi PDRB Papua Barat namun memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi. Gas.951 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-118 . dan Kabupaten Manokwari. gas. Nilai investasi dan nilai produk pun lebih besar Kabupaten Sorong daripada Kabupaten Manokwari. sehingga persentase kontribusinya juga terus meningkat. Tabel 1. 71 Banyaknya Usaha Sektor Listrik. 70 Banyaknya Usaha Sektor Industri Pengolahan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha Fak-Fak 116 Kaimana 22 Teluk Wondama 40 Teluk Bintuni 99 Manokwari 394 Sorong Selatan 109 Sorong 1 098 Raja Ampat 179 Kota Sorong 219 Papua Barat 2 348 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tenaga Kerja 364 73 189 343 2 135 277 6 539 372 1. Kota Sorong.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 cenderung terdapat di Kabupaten Sorong. diatas angka pertumbuhan PDRB total.926 12 218 2. dan air bersih serta sektor bangunan. Industri yang paling banyak penyerap tenaga kerja berada di Kabupaten Sorong meskipun dari segi jumlah unit usaha sedikit lebih rendah dari Kabupaten Manokwari.564 56 29 9 179 1. Tabel 1. Sektor ini memiliki grafik yang terus meningkat mengingat Papua Barat adalah provinsi baru dimana mengalami peningkatan kebutuhan akan layanan infrastruktur dasar. dan Air Minum Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Unit Usaha 8 3 2 4 32 16 9 5 5 84 Tenaga Kerja 72 28 4 10 1.

1. Danau Kabori. Keberadaan Papua Barat sebagai provinsi baru dapat menjadi salah satu faktor meningkatnya kontribusi sektor primer. Meski demikian.579 1. Kabupaten Raja Ampat juga memiliki sumber daya laut yang sangat kaya. Gunung Meja dan Air Panas di Kebar dan masih banyak objek wisata lainnya yang belum digali. Hutan Suaka Margasatwa Pantai Mubrani-Kaironi (170 ha). Cagar Alam Pegununan Tamrau Selatan (435.5.776 ha). Pariwisata Sektor pariwisata di Papua Barat merupakan yang diharapkan di masa depan akan menjadi leading sektor. 72 Banyaknya Usaha Sektor Bangunan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 Unit Usaha 82 82 3 36 73 18 7 0 171 472 Tenaga Kerja 503 335 37 138 849 83 24 0 1.3. Terdapat juga objek wisata yang belum dikembangkan seperti objek wisata Danau Anggi. LAPORAN AKHIR 1-119 .325 ha). Bangunan Papua Barat merupakan provinsi bentukan baru dan untuk itu diperlukan berbagai fasilitas baru serta mengalami peningkatan jumlah penduduk untuk mengisi posisiposisi baru yang dibutuhkan.3 Sektor Tersier Sektor tersier di selama ini belum menjadi sektor yang menonjol di Papua Barat. Tabel 1. Beberapa diantaranya seperti Hutan Cagar Alam Pegunungan Arfak (68. Suaka Margasatwa Pantai Sidey-Wabian (157 ha).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 3.610 3. sektor ini terus menujukkan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya. Hal ini karena Papua Barat akan memerlukan pusat-pusat baru yang akan diisi oleh kegiatan tersier. Hal ini mendorong pada naiknya kebutuhan akan layanan infrastruktur dan tentu saja juga maraknya kegiatan pembangunan fisik.

48 522.56 31.159.503.71 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2005.21 14.3.78 0.13 465.272. PERSEWAAN DAN JASA 66.38 9.63 9.952.30 1.2 Hotel 5.000. Secara makro sektor pariwisata merupakan industri yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang cepat melalui: penyediaan kesempatan kerja.32 0. Bank 22.783.395.890.14 49. Komunikasi 2000 Jumlah 340.535.19 8. Jasa perorangan dan Rumah Tangga 6.43 7.3 Restoran PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 7.4.52 2.64 1.84 8.25 0.74 193.576.14 2005 Jumlah 508.17 9.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Bahkan spesies koral di kawasan ini diklaim sebagai salah satu yang terkaya di dunia.46 345.489. belum menunjukkan kontribusi yang proporsional dengan potensi pariwisata yang dimiliki.44 460.82 33.1.93 105.38 23.22 0.336. Angkutan Sungai 7.64 84.69 6. Sewa Bangunan 32.180. Tabel 1.20 0.471.94 7.66 6.53 0.05 0. Angkutan Udara 7. Peran sektor pariwisata dalam perekonomian Provinsi Papua Barat.75 PERUSAHAAN 8.779.251.447.6.41 13.24 1.23 8.33 7.865.13 0.912.96 311. Angkutan Jalan Raya 7.950. Obyek wisata potensial dikembangkan di Papua Barat mayoritas berupa wisata alam.861.856.51 0.4.60 0.40 1.28 20.41 20.21 17.294.1.199.67 9.106.87 0.627.86 9.03 7. serta secara simultan dapat mengaktifkan sektor-sektor produksi lain.559.18 r % 9.85 7.93 0.28 9. peningkatan pendapatan dan taraf lokomotif perekonomian.96 7.1 Perdagangan Besar & Eceran 5.2. Lembaga Keuangan tanpa Bank 7.59 33. Angkutan Laut 7.63 6. Pemerintahan Umum 294.05 9. Jasa Hiburan & Rekreasi 10.59 8.05 1.19 11.971.12 0. Jasa Sosial Kernasyarakatan 23.87 0.39 45.84 11.01 0.300.446.57 71.762.67 0.480.14 11. Jasa Penunjang Angkutan 7.37 4.57 108.37 10.75 9.32 8.36 8.67 92.39 2.299. untuk itu perlu kewaspadaan dalam pengembangannya dengan mempertimbangakan faktor lingkungan.2.80 1.498.1.36 0. sehingga pariwisata sering disebut KEUANGAN.4. 73 PDRB Papua Barat Kelompok Sektor Tersier Tahun 2000 dan 2005 Atas Dasar Harga Konstan 2000 Lapangan Usaha PERDAGANGAN.10 JASA – JASA 335. HOTEL & RESTORAN 5.14 6.16 0.3.84 5.00 8.786.542.46 % 8. Jasa Perusahaan 3.70 11.582.21 8.683.55 9.60 7.17 Sektor Tersier 935.6 27.46 hidup.59 8.469.18 0.82 23.89 8.83 44.06 0.17 0.09 5.89 1.5.50 18.21 8.94 0.59 4.614.595. hasil perhitungan LAPORAN AKHIR 1-120 .37 0.3.740.85 9.128.2.269.59 8.399.67 12.14 0.

Benteng Fort Du Bois. Cagar Alam Wowo. Monumen PEPER. Minyambouw dan Susurey) Alam dan Bahari Cagar Alam Pegunungan Arfak Bagian Selatan. Taman Wisata Klamono. Pendapatan per kapita diperoleh dari hasil pendapatan dibagi dengan jumlah penduduk. Terumbu Karang. Permandian Air Panas. Teluk Arguni. Pulau Kilimata. Moraid. Cagar Alam Wondibu.4 Pendapatan Per Kapita Pendapatan Pendapatan per kapita merupakan salah satu indikator tingkat kemakmuran ekonomi suatu wilayah. Klamono. Sausapor. Monumen PEPERA Alam dan Bahari Cagar Alam Missol. Fosil Burung Garuda. Windesi. Pulai Adi. Taman Wiata Klasman. Wasior Selatan dan Wasior Barat) Kabupaten Teluk Bintuni (Distrik Babo dan Timbuni) Kabupaten Sorong (Distrik Makbon. Munumen Arfak. Klasaman). Cagar Alam Gunung Karora. Tamrau Selatan. Cagar Alam Pulau Waigeo. Panorama Senja Sumber: BPS Provinsi Papua Barat 2006 Alam. Sumur Minayk Peninggalan NNGPM. kupu-kupu bersayap burung. Pulau Buaya. Cagar Alam Jamusaba. dan Terumbu Karang Lokasi Kabupaten Manokwari (Distrik Kebar. Pantai Pasir Putih. Pantai Pasir Putih Panjang. Pantai Peneluran Penyu Alam dan Budaya Gua Jepang. Pulau Matan. Monumen Perang Dunia II. Gunung Meja. Pantai Sausapor.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. Kota Sorong dan sekitarnya Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Fakfak (Distrik Fakfak Timur dan Barat) Kabupaten Kaimana (Kaimana. Terumbu Karang. Danau Yamor. Suaka Margasatwa Pantai SideyWabian. Kayeli Hot Water Spring Alam dan Budaya Pantai Tanjung Kasuari.000 tiang. Taman Laut Nasional Teluk Cenderawasih. Suaka Margasatwa Pantai MubraniKaironi. aman Wisata bariat. Pulau Ega dan Karas Alam Bahari dan Cagar Alam Gunung Kumawa. Rumah 1. Monumen Indonesia-Jepang Alam dan Budaya Danau Ayamaru. Berau. Cagar Alam Gunung Fudi TMP Trikora. Makam Missionaris Kristen Pertama di Papua. Cagar Alam Batanta Barat. Masjid tertua di Tanah Papua. Fosil Telapak Tangan. Danau Siwiki. Danau Kabori. Pulau Kafiau. Pulau Penyu. Peninggalan Sejarah Perang Dunia II Alam Cagar Alam Markoor. Danau Angi. Pantai Pasir Putih. Salawati. Buruway dan Teluk Etna) 1. Pulau Shop. LAPORAN AKHIR 1-121 . 74 Potensi Pariwisata Provinsi Papua Barat Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2005 Jenis Wisata Alam dan Budaya Obyek dan Daya Tarik Wisata Cagar Alam Pegunungan Arfak. Budaya dan Sejarah Kabupaten Teluk Wondama (Distrik Wasior.5. Air Terjun Sungai Karon. Cagar Alam Budaya Gunung Genefo.

592.008.80 PDRB/kapita Tanpa Migas ADH Berlaku ADH Konstan 6.52 8.441.503.705. 75 PDRB/kapita Papua Barat Tahun 2003-2006 Tahun 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita ADH Berlaku 9.51 7.085.349 10.444.13 9.44 PDRB/kapita Provinsi Papua Barat Tahun 2003 hingga 2006 14000000 12000000 10000000 8000000 6000000 4000000 2000000 0 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita Atas Dasar Harga Berlaku PDRB/kapita Atas Dasar Harga Konstan LAPORAN AKHIR 1-122 .267.19 6.913.292.009.10 ADH Konstan 7.110.249.516.176.354.414.307.529.249.75 12.298. hasil perhitungan Gambar 1.59 8.30 8.300.406.16 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.93 12.09 7.064.12 6.709.000.076.236.116.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.994.85 5.62 5.734.336.

45 Peta Potensi Pariwisata Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-123 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

76 Pendapatan Perkapita Riil Masyarakat Provinsi Papua Barat Tahun 19992000 Sumber: Indonesian Human Development Report. PDRB per kapita di Papua Barat juga terus meningkat dari semula 6. Sempat turunnya PDRB atas dasar harga konstan dipengaruhi oleh tingginya pertumbuhan penduduk dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB. Selama ini Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-124 .12 juta rupiah dapat dikatakan cukup tinggi. Tanpa migas. Tanpa memperhitungkan sektor migas.3 juta rupiah pada 2005. Meski demikian angka tersebut tidak serta merta dapat diidentikan dengan tingkat kemakmuran yang tinggi pula bagi warga Papua Barat. PDRB per kapita di Papua Barat tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan ketika migas diperhitungkan. Jika dilihat atas dasar harga konstan. kemudian mengalami penurunan pada tahun 2006.4 juta pada 2003 meningkat menjadi 8. UNDP. Hal ini memunjukkan betapa krusialnya peran migas dalam perekonomian di Provinsi Papua Barat. Tabel 1. 2004.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 PDRB per kapita Papua Barat menunjukkan peningkatan antara tahun 2003-2006 dilihat dari PDRB atas dasar harga berlaku. Perbedaannya mencapai hampir 4 juta rupiah atau menjadi hanya dua per tiga dari PDRB per kapita atas dasar harga berlaku yang memperhitungkan migas. BPS Besar PDRB per kapita Papua Barat yang mencapai 12. Dieliminirnya migas menyebabkan angka PDRB per kapita Papua Barat atas dasar harga berlaku menjadi lebih rendah. PDRB per kapita mengalami kenaikan hingga tahun 2005. Bappenas.

000. Penentuan Struktur Ruang tidak bisa dilepaskan dari kondisi transportasi wilayah. sistem transportasi sangat memegang peranan yang penting.00 7.00 8. Dalam menunjang perkembangan suatu wilayah.00 2.000.00 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita Atas Dasar Harga Konstan PDRB/kapita Atas Dasar Harga Berlaku 1.000. dan jalan arteri.00 4.000. jalan kolektor.00 0.000.000.000.000.000. Hal ini menunjukkan bahwa kekayaan Papua Barat belum dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakatnya.46 PDRB per kapita Tanpa Migas Provinsi Papua Barat Tahun 2003 hingga 2006 10. jalan provinsi dan jalan negara.00 6. sehingga penyediaan/pengembangan sarana dan prasarana perhubungan dalam suatu wilayah harus memadai dalam arti dapat menampung dan menunjang kelancaran aktivitas pergerakan yang ada dalam daerah itu sendiri maupun hubungannya dengan daerah lain.000.00 1.000. pariwisata.000.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sering diidentikkan dengan kemiskinan.000.00 3.000. Transportasi wilayah menentukan tingkat aksesibilitas wilayah. berfungsi menghubungkan sentra-sentra produksi ke sentra-sentra/node konsumsi. Sedangkan dari segi manajemennya jalan raya meliputi jalan desa.000.00 5.000.6 ASPEK TRANSPORTASI WILAYAH Transportasi merupakan kebutuhan sarana dan prasarana yang sangat menunjang dalam perkembangan interaksi antar daerah dan diharapkan dapat mendorong percepatan perkembangan antar wilayah khususnya dalam mendukung proses pertumbuhan dan pemerataan di bidang ekonomi. Dari segi fungsinya jalan raya meliputi jalan lokal.000. Transportasi antar wilayah LAPORAN AKHIR 1-125 .000. Sistem jaringan transportasi yang dimaksud adalah sistem jaringan jalan raya.00 9. perdagangan. sosial budaya jasa pelayanan dan stabilitas keamanan. jalan kabupaten. kapal laut dan kapal udara. Gambar 1.000.000.

000 119.637 344.000 121.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 di Papua Barat terutama menggunakan transportasi laut dan udara.000 0 … 85.670 632.000 0 18.210 3. Kabupaten/ Kota Fak Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Jumlah 2007 Jalan Negara 0 132. Papua Barat memiliki tantangan yang unik dibandingkan daerah manapun di bidang infrastruktur. 5.112 619.475 142. khususnya untuk b.207 5 400. Kabupaten-kabupaten ini masih mengandalkan transportasi air (laut. 8. kecuali Kabupaten Raja Ampat. 9.915 402.000 1.222 4 Total Jalan 543.810 635. Tabel 1. yaitu kondisi geografis.210 5. Transportasi laut dan udara tersebut menjadi transportasi utama antar wilayah.000 615. c. sungai dan danau) sebagai transportasi utama.810 Jalan Provinsi 271. dan Kabupaten Teluk Wondama.800 … 1 298.6. Daerah dengan perairan yang dominan seperti Raja Ampat dan Kaimana sepenuhnya bergantung pada transportasi laut.882.500 200. Untuk Provinsi Papua Barat dalam konteks regional perannya adalah : a.500 235. 1. Kondisi transportasi darat untuk menghubungkan antar wilayah masih sangat minim. Kota Sorong menjadi gerbang transportasi bagi semua wilayah di Papua Barat.000 119.660 486. Sebagai penggerak dan pendukung Wilayah Indonesia Timur Sebagai tempat kolektor dan distributor barang.184.000 0 17. transportasi udara menjadi penghubung antar wilayah melalui penerbangan perintis. 2. 6. Wilayah-wilayah lain hanya bisa dicapai oleh transportasi laut dan atau udara.000 1 319.1 Transportasi Darat darat bukan merupakan sistem yang utama.415 402. kondisinya juga masih sangat memprihatinkan. 3. Transportasi menghubungkan antara kabupaten kota yang ada di Provinsi Papua Barat.707 LAPORAN AKHIR 1-126 .000 110. Sebagian kabupaten di Papua Barat menggunakan jalan darat sebagai transportasi utama untuk menghubungkan antar distrik/kecamatan.175 693.500 0 … 285. bahkan juga di Pulau Papua. Pelabuhan laut dan udara yang ada di kota Sorong merupakan yang terbesar di Provinsi Papua Barat.000 686. Kabupaten Teluk Bintuni. d.310 90. setelah terlebih dahulu melewati Kota Sorong. 1.550. Sementara itu.800 … 927. 77 Panjang Jalan menurut Kewenangan (Km) No. Sebagai pintu gerbang kawasan Papua Sebagai pusat pelayanan jasa.175 Jalan Kabupaten 271.700 56. 7. 4.

Ada kabupaten yang dapat ditempuh melalui darat walapun kondisi jalan raya masih dalam bentuk tanah dan dalam tahap pengerasan yakni Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bintuni. sehingga transportasi utaman yang dipakai adalah laut atau udara.310 686.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 071. bahwa jalan kabupaten adalah yang terpanjang yakni 1. Sebagai contoh.096 Km.470 5 184. Bariat. Kabupaten lain seperti Teluk Wondama. dari panjang jalan yang ada di kabupaten lain.030.650 Km (67%) bila dibandingkan dengan jalan provinsi 448. Konda dan Distrik Seremuk serta beberapa distrik lainnya. mengingat kondisi topografinya hanya bisa di jangkau melalui transportasi laut. Panjang jalan di Provinsi Papua Barat hingga tahun 2007 tercatat 1.175 488. Kondisi jalan pada semua kabupaten yang ada di Provinsi Papua Barat masih dalam tahap pembangunan.470 (19%) dan jalan negara Km 345.121. Kabupeten Raja Ampat sedang melakukan pembukaan jalan dari Waisai menuju Teluk Mayalibit.956.222 1 121.310 (14%).207 1 956. wilayahnya sulit dijangkau melalui darat. Panjang jalan berdasarkan tingkat kabupaten yang ada di Provinsi Papua Barat. Kabupaten Raja Ampat. Fak Fak dan Kabupaten Sorong Selatan. Berikut ini dapat dilihat panjang jalan menurut kewenangan. LAPORAN AKHIR 1-127 . Berdasarkan panjang jalan dan penyebaran jumlah empat penduduk yang berdomisili pada masing-masing kabupaten relatif jarang. Sedangkan panjang jalan berdasarkan status pemerintahan yang berwenang. Perbandingan total panjang jalan dengan jumlah penduduk di masing-masing kabupaten dapat dilihat dalam Tabel 1.722 3 882. demikian juga Kabupaten Sorong dan Kabupaten Sorong Selatan. Sorong. Pada umumnya kabupaten induk mempunyai tingkat asesibilitas yang relatif lebih baik jika dibandingkan dengan kabupaten pemekaran yang baru dibentuk seperti Raja Ampat dan Teluk Wondama.650 2006 2005 615.430 Sumber : Papua Barat Dalam Angka 2009 Beberapa kabupaten/kota yang sebagian besar wilayahnya dapat dijangkau melalui transportasi darat adalah Kabupaten Manokwari. Kabupaten Sorong Selatan membangun jalan dari Teminabuan menuju Kampung Manelek.810 345. Teluk Bintuni dan Kaimana.78.650 Km. bahwa Kabupaten Manokwari memiliki jalan paling panjang yakni 1. Kabupaten Teluk Bintuni sedang melakukan pembangunan jalan darat yang dapat menghubungkan Ibukota Kabupaten menuju SP.

9. Prasarana perhubungan udara utama di Provinsi Papua Barat adalah Lapangan Terbang Rendani di Manokwari. 7.100 45.000 2.201 1 688.815 56.934 97.953 Total Lain-Lain 10.210 5 400.000 124.000 152. 2. LAPORAN AKHIR 1-128 . 1.400 19. Sedangkan di Kabupaten Teluk Bintuni. bahwa jenis permukaan jalan yang terpanjang adalah kerikil yakni 2.000 107. 6.630 336. Teluk Wondama dan Sorong Selatan hanya bisa di darati oleh pesawat jenis tertentu seperti Twin Otter.617 261.100 135. yang saat ini setidaknya terdapat berberapa perusahaan maskapai penerbangan yakni Bali Air dengan jenis pesawat IHS dan Merpati Nusantara Airline (MNA) dengan jenis pesawat DHC-6 dan F-27. Transportasi Udara merupakan salah satu moda transportasi andalan di Provinsi Papua Barat mengingat kondisi geografisnya yang masih sulit ditembus oleh kendaraan bermotor.137. 3.550 Km. Domine Edward Osok dan Jefman di Sorong.2 Transportasi Udara Transportasi udara menjadi penting di Provinsi Papua Barat karena karakteristik wilayah yang cukup bergunung.000 67.885 1 137.000 550.670 632. Tanah 1. 4.207 Sumber : Papua Barat Dalam Angka 2009 Dari tiga kabupaten yang tersedia datanya.130 2 371.550 543.000 10.000 196. Torea di Fak Fak dan Tarum di Kaimana.226.707 5 184.394 1 803. dan lain-lain 16. curam dan diliputi hutan sehingga akses jalan darat menjadi sulit.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. 78 Panjang Jalan menurut Tingkat Permukaan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 No.310 Jenis Permukaan Kerikil Tanah 164.800 … 1 298.45 16.39 Km.600 … … 473. 1. Kabupaten/ Kota Fak Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Jumlah 2007 Aspal 269.200 … 487.750 0 0 … 0 4. 5.613 301. .000 0.000 1 550.171 2 226.000 769.500 235.95 Km kemudian aspal 1.000 119.803. Hampir setiap hari ada jadwal penerbangan yang melayani beberapa ibukota kabupaten.798 240.700 141. 8.550 337.000 47. Salah satu jenis angkutan yang ada di Provinsi Papua Barat adalah pesawat terbang.490 96.6.310 Km.415 402.280 1 164. kelima lapangan terbang ini selain didarati oleh pesawat penerbangan perintis jenis Twin Otter juga dapat didarati pesawat jenis Fokker dan Boing.112 619.000 3.

Selain dua maskapai penerbangan tersebut juga terdapat pesawat yang tidak terjadwal yakni milik PT. pesawat hanya melayani kota tertentu pada hari-hari tertentu. Jumlah penumpang datang pada tahun 2003-2006 meningkat dari tahun ke tahun. Walaupun demikian. PAS dengan jenis Bolgow-105.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. 79 Jadwal dan Rute Penerbangan di Provinsi Papua Barat Maskapai Hari Rute Jenis Pesawat LAPORAN AKHIR 1-129 .965 dan jumlah penumpang pergi 154. Untuk pos paket yang dibongkar mengalami peningkatan sebesar 247% sedangkan yang dimuat mengalami penurunan sebesar 297%. maka penerbangan dibatalkan. Pada tahun 2006 mencapai 142. Fakfak. Jumlah pergerakan dari masyarakat luar-dan dalam dapat ditunjukkan dengan pergerakan barang dan orang.87% dibanding tahun 2005. di Manokwari ada beberapa perusahaan penerbangan carter yang bersedia terbang dengan kondisi apapun. Tabel 1. sekaligus menunjang perkembangan dan pertumbuhan wilayah. Penerbangan dengan menggunakan pesawat ukuran relatif kecil kerap dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Jumlah bongkar muat barang pada tahun 2006 mengalami peningkatan 80. Kabupaten yang telah terlayani oleh penerbangan komersial antara lain adalah Kabupaten Manokwari. dengan harga carter rata-rata per jam terbang sebesar 4 (empat) juta rupiah. Apabila cuaca mendung dan hujan gerimis.91% dan 84. Keberadaan alat transportasi ini sangat membantu kelancaran arus penumpang ke dan dari kota maupun kabupaten lain di Provinsi Papua Barat. Pola datang dan pergi masyarakat berasal dari Kota Sorong dan Manokwari. Sedangkan pola pergerakan barang dan jasa dapat ditunjukkan dengan catatan mengenai arus lalu lintas.538 orang. dan Kaimana. Sorong. seperti maskapai penerbangan AMA.47 Contoh Pesawat yang melayani kebutuhan transportasi udara di Provinsi Papua Barat Masyarakat di Provinsi Papua Barat tidak terlayani oleh transportasi udara setiap hari di setiap kota.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 IHS Bali Air Senin Selasa Rabu Kamis MNA Senin Rabu Sabtu Kamis Jumat Sabtu Senin Kamis Mimika Air Kamis Tual Kaimana  Sorong  Manokwari Manokwari  Kaimana  Tual  Ambon  Tual Tual  Ambon  Tual  Kaimana  Manokwari Manokwari  Sorong  Kaimana  Tual  Ambon  Tual Biak  Nabire  Kaimana  Fak-Fak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Manokwari  Teluk Bintuni Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Nabire  EWI  Nabire Manokwari  Teluk Bintuni Manokwari  Teluk Bintuni Biak  Serui  Biak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Manokwari  Kaimana  Fak-Fak  Kaimana  BXB  Manokwari Sorong  NTI  Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Nabire  Biak Sorong  BXB  Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Jayapura  ZRM  Nabire  Kaimana  Nabire  Biak Jayapura  Biak  Kaimana  Sorong  Kaimana  Biak  Jayapura Biak  Kaimana  Tual  Timika  Tual  Kaimana  Biak Potowai  Kaimana  Potowai Twin Otter Perintis 1. Hal ini disebabkan karena kondisi fisik wilayah yang belum memungkinkan dibukanya jalan darat sehingga kota tersebut lebih mengandalkan transportasi air sebagai sarana perhubungan antar kota/kabupaten. baik antar kabupaten maupun antar distrik masih menggunakan moda transportasi laut. Hal ini terlihat dari sebagian besar mobilitas orang dan barang. baik yang masuk maupun yang keluar dari wilayah Papua Barat masih menggunakan transportasi laut.3 Transportasi Laut Transportasi laut mempunyai peranan sangat penting pada perekonomian Papua Barat. Selain itu sebagian besar mobilitas orang dan barang di wilayah Papua Barat. juga terdapat kapal PT Pelni yang melayari Pantai Selatan Papua. Jenis alat angkutan lain yang sangat penting bagi masyarakat di Papua Barat adalah kapal laut. Beberapa jenis kapal penumpang yang singgah di pelabuhan di beberapa kabupaten di Provinsi Papua Barat selain KM Bukit Siguntang dan KM Tatamailau. Selain itu terdapat beberapa jenis kapal LAPORAN AKHIR 1-130 .6.

. d. b. Pelabuhan Pengumpan Lokal adalah pelabuhan yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut dalam jumlah kecil serta merupakan pengumpan pada Pelabuhan Utama dan Pelabuhan Pengumpan Regional. e.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 barang yang memuat bahan kebutuhan pokok. berdasarkan fungsi pelayanannya dapat diklasifikasikan atas : a.48 Contoh Kapal Laut yang melayani kebutuhan transportasi di Provinsi Papua Barat Secara umum. Sarana transportasi laut. serta merupakan simpul dalam sistem jaringan transportasi laut internasional. melalui Sorong adalah sebagai berikut: LAPORAN AKHIR 1-131 . Pelabuhan Pengumpan Regional adalah pelabuhan yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut dalam jumlah kecil dan jangkauan pelayanan yang relatif dekat. Pelabuhan Utama Sekunder adalah pelabuhan utama yang berfungsi melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan pelayanan yang sangat luas dan berperan sebagai simpul pada sistem jaringan transportasi nasional. Pelabuhan Utama Tersier adalah pelabuhan utama yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah menengah dan jangkauan pelayanan menengah. Pelabuhan Utama Primer adalah pelabuhan utama yang berfungsi melayani kegiatan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan pelayanan yang sangat luas. c. Gambar 1. Rute kapal-kapal motor baik dari PELNI maupun milik swasta. jalur pelayanan transportasi air (laut) mampu melayani kota-kota/desa-desa di pesisir Provinsi Papua Barat. serta merupakan pengumpan pada Pelabuhan Utama. speedboat dan longboat untuk menjangkau wilayah-wilayah terpencil serta kapal nelayan.

Gambar 1. karena mereka umumnya merasa lebih mudah dan praktis apabila bekerja dekat dengan permukiman. ibu kota Kabupaten Raja Ampat. rute perjalanan menuju Kota Sorong terlebih dahulu. Fakfak – Bintuni – Sorong PP. pelabuhan ini juga sudah menerima pelayaran kapal milik PT. satu-satunya transportasi antar pulau dan penunjang kegiatan masyarakat di Kabupaten Raja Ampat adalah angkutan laut. Pembahasan mengenai transportasi laut tentunya tidak terlepas dari keberadaan pelabuhan laut yang merupakan prasarana yang harus ada baik skala kecil maupun besar. Demikian juga untuk menjangkau Waisai.49 Kondisi Pelabuhan di Provinsi Papua Barat (kiri: Pelabuhan Kaimana. kareana apabila menggunakan pesawat udara. Gambar 1. lebih sering menggunaka transpotasi laut dari pada transportasi udara.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. kanan: Pelabuhan Teluk Bintuni) Pelabuhan-pelabuhan kecil yang ada saat ini umumnya merupakan pelabuhan pendaratan kapal nelayan milik nelayan setempat. KM IWERI dengan rute Jayapura – Sarmi – Nabire – Serui – Biak – Korido – KM Lady Marina dengan rute: Merauke – Agast – Timika – Tuai – Kaimana – Manokwari – Saukorem – Sausapor – Sorong – Bintuni – Babo PP. Di Kecamatan Kaimana terdapat pelabuhan laut yang mampu disinggahi kapal berukuran 5.49 memperlihatkan kondisi maupun suasana pelabuhan utama di Provinsi Papua Barat. Perekonomian wilayah di Papua Barat umumnya digerakkan melalui perhubungan laut dan udara. Pelni yang melayari Pantai Selatan Papua. 2. kemudian dilanjutkan dengan transportasi laut. Selain pelabuhan-pelabuhan umum tersebut perlu pula dikembangkan pelabuhan khusus untuk Kawasan Industri dan pelabuhan khusus bagi kepentingan pariwisata.000 DWT. Sebagai daerah kepulauan. Selain itu juga terdapat pelabuhan pendaratan ikan yang saat ini sudah tidak lagi berfungsi. Selain disinggahi kapal penumpang. Di Kabupaten Kaimana terdapat satu pelabuhan utama yang terletak di Kaimana Kota dan beberapa pelabuhan kecil yang tersebar di beberapa tempat. LAPORAN AKHIR 1-132 .

Kalobo.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2006. di Provinsi Papua Barat terdapat 4 (empat) pelabuhan utama. Inantawan. Selain itu. Oransbari. Keempat pelabuhan utama ini digunakan sebagai pelabuhan komersil. LAPORAN AKHIR 1-133 . Sausapor. pesisir pantai maupun sungai-sungai. yaitu Pelabuhan Sorong. terdapat pelabuhan kecil yang melayani pelayaran perintis di daerah-daerah kepulauan. Saukorem. Babo dan Kokas. Windesi. Bintuni. Saonek. Pelabuhan Fak Fak dan Pelabuhan Kaimana. Teminabuan. yaitu pelabuhan perintis Wasior. Pelabuhan Manokwari.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.50 Peta Sarana dan Prasarana Transportasi LAPORAN AKHIR 1-134 .

80 berikut. Meski jumlah pelanggan terus meningkat. Dari total produksi tersebut. Jumlah Pelanggan PLN Rumah Tangga dan Tingkat Layanan Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 Sosial 287 107 25 24 709 106 205 106 548 2 117 2 117 2 117 Rumah tangga 5 744 1 741 237 737 16 602 1 186 5 739 1 886 20 543 54 415 54 415 54 415 Bisnis 772 439 14 91 1 799 83 153 32 2 052 5 435 5 435 5 435 Industri 2 5 1 5 13 13 13 Publik 247 63 11 13 273 38 45 38 530 1 258 1 258 1 258 Sumber: Papua Barat dalam angka 2007.1 Energi Dalam lingkup wilayah.1.7.7. layanan PLN masih sangat kurang seperti terlihat pada Tabel 1. Jumlah pelanggan pada tahun 2005 mengalami peningkatan menjadi 63238 pelanggan. Tabel 1. terdapat 71. Penyediaan listrik di Papua Barat teridir dari dua macam yaitu pembangkit listrik tenaga diesel dan pembangkit listrik mikro hidro.015 mwh yang dialirak dan 70. hasil perhitungan Tabel 1.80 tersebut membandingkan jumlah pelanggan PLN di Papua Barat dari jenis rumah tangga dengan jumlah rumah tangga di Papua Barat. Pembangkit listrik tenaga diesel sangat ini merupakan sumber energi yang paling utama. meningkat dari jumlah tahun 2004 yang sebesar 61253 pelanggan. Banyaknya unit pembangkit tenaga listrik di Papua Barat pada tahun 2005 adalah 16 unit. Tingkat layanan listrik rata- LAPORAN AKHIR 1-135 . Total kapasitas terpasang 21178 kw sementara beban puncak 27674 kw. 80 Jumlah Rumah Tangga. energi merupakan aspek yang sangat krusial. dilihat dari segi distribusi. meningkat sebanayk 3. maka pembangunan sarana dan prasarana energi juga menjadi kebutuhan vital dan mendesak di Provinsi Papua Barat.79 persen dari tahun sebelumnya.960 mwh terjual.7 ASPEK SARANA DAN PRASARANA WILAYAH PROVINSI PAPUA BARAT 1. Total produksi selama tahun 2005 tercatat 79.087 mwh. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan energi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.1 Prasarana Wilayah Provinsi Papua Barat 1.

1. Kondisi infrastruktur konumikasi dan perhubungan di Papau Barat tergolong masih sangat minim. Wilayah Raja Ampat yang berupa kepulauan mungkin menjadi faktor kenapa kantor pos dalam skala kecil lebih berperan. Untuk layanan pos.89 persen.2 Komunikasi Infrastruktur komunikasi dan komunikasi pada tingkat provinsi lebih menitikberatkan pada persebaran dan tingkat layanan. Tingkat layanan tertingi ada di kota Sorong yaitu sebesar 57. Pemenuhan energi di Papua Barat masih sangat kurang baik dari segi jumlah maupun distribusi.47 persen. Layanan telepon belum terdapat di Teluk Wondama. Tingkat layanan tersebut masih sangat jauh dari rata-rata yanng ada. Layanan telepon dari Telkom saat ini baru terkonsentrasi di kabupaten dan kota terutama seperti Sorong dan Manokwari. Tingkat layanan yang paling ada di kabupaten-kabupaten baru dengan angka terendah ada pada kabupaten Teluk Wondama sebesar 4. dan Raja Ampat. Kebutuhan pos di Raja Ampat dipenuhi oleh rumah pos dan kantor pos desa. 81 Jumlah Kantor Pos dan Kantor Pos Pembantu Tahun 2008 Kabupaten Kantor Pos Kantor Pos Pembantu Kantor Pos dan Giro Tambahan Rumah Pos Kantor Pos Desa Jumlah Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong 1 … 6 1 1 … - … 1 1 1 … 4 5 9 7 1 … 3 7 11 19 1 1 2 … 13 6 8 3 34 41 1 Selatan Sorong 1 Raja Ampat Kota Sorong 1 1 Papua Barat 9 4 2007 3 11 Sumber : Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Kantor pos hanya terdapat di dua wilayah yaitu Kota Sorong dan Manokwari sementara kantor pos pembantu terdapat di semua wilayah kecuali Kabupaten Raja Ampat. Teluk Bintuni.7. jumlah sarana dapat dilihat pada Tabel 1. yang terkendala oleh kondisi topografi wilayah Papua Barat. 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 rata bagi rumah tangga di Papua adalah sebesar 32. Rasio elektrifikasi di Indonesia rata-rata berkisar pada angka 50 persen.81 berikut: Tabel 1.57 persen. Sorong Selatan. LAPORAN AKHIR 1-136 .

230. Data tetntang air bersih masih memasukkan kabupaten bentukan baru dalam kabupaten induknya.365 145.905 1.344 3.230 16.270 29.345M3.809 1.149.626.923.330 2.1%.497 19. 2009 Pada berikut nampak bahwa persentase sumber air bersih berasal dari sungai mencapai 54.370.507 Kota 1 Fak Fak 2 Sorong 3 Manokwari 9 Kota Sorong Jumlah 6 Sumber : PDAM.490 39.3 Air Bersih Perusahaan air bersih pada tahun 2003 terdiri dari 4 perusahaan.6%.767 Danau 32.3% dan sumber lainnya 0. 83 Banyaknya Pelanggan Air Minum yang Disalurkan Menurut Jenis Pelanggan Per Kabupaten/Kota Tahun 2006 (m3) No Kabupaten/ Sosial 69.138.936.117 3. 3 Kabupaten/ Kota Fak Fak Manokwari Kota Sorong Jumlah 2007 2006 2005 2004 Sungai 2.496 2.525.512 … … … Lainnya … … … 6.936.582.480 Sumber : Papua Barat Dalam Angka.607 8.330 M3 dan dari sumber lainnya sebanyak 6.074.329 5.464 1.005 Jumlah Khusus 42. sedangkan perusahaan cabang tidak difungsikan lagi.554 Sumber Air Mata Air 45 65.427 28.864 33.240 53.7.353 10.582.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kondisi wilayah Papua Barat lebih memungkinkan pengembangan jaringan komunikasi nirkabel seperti telepon seluler dan telepon satelit. Telah ada operator seluler yang menjangkau Papua Barat namun juga masih terkonsntrasi di wilayah seperti Kota Sorong. 2.372. Tabel 1.427 5.06 5.515 2.673 2. 1.117 2. yang bersumber dari sungai sebanyak 3.945 1.512 32.177.047 73.383. Tetapi kapasitas potensial pada tahun 2004 mengalami kenaikan dari 268 liter/detik menjadi 297 liter/detik.200 196.699 858.926. Papua (Kompilasi data tahun 2007) LAPORAN AKHIR 1-137 . Tabel 1.480 M3.690 Jenis Pelanggan Non Niaga Niaga Industri 667.422 4.907 617.720 39.331 687.535 3. Pada tahun 2004 mengalami penurunan yaitu hanya 3 perusahaan induk.923. 1. mata air 45.428. Sumber air bersih yang digunakan berasal dari air sungai dan mata air pegunungan. Total produksi air sebanyak 6.272 1. Sedangkan kapasitas efektif sama dengan tahun 2003 yakni 144 liter/detik.107. 82 Produksi Air Bersih Menurut Kabupaten/Kota dan Sumber Air yang Digunakan Tahun 2008 (m3) No.535 M3 dan dari mata air pegunungan sebanyak 2.318 65.243.1.177.210 177.363 3. 3 perusahaan induk dan 1 perusahaan cabang.544 8.496 3.

sedangkan dari kategori sosial. dirnana terdapat 3 (tiga) lokasi kabupaten yang belum memiliki jenjang SMK yaitu kabupaten Teluk Bintuni.253 LAPORAN AKHIR 1-138 .7.047 dan niaga sebesar 1. industri dan khusus relatif lebih kecil.7. Khusus untuk sarana pendidikan dengan jenjang pendidikan SMK sebagai jenjang kejuruan yang lebih menekankan pada profesionalisme ilmu belum tersebar pada semua kabupaten/kota. disusul Kabupaten Sorong. Perbandingan kapasitas guru tersedia dan siswa pada jenjang pendidikan SD/MI diperoleh nilai sebesar 5.2.295 : 113. Penggunaan air bersih yang terbanyak di Papua Barat adalah Kota Sorong dari semua jenis pelanggan yang di salurkan.1 Pendidikan Sarana dan tenaga pengajar pendidikan merupakan kapasitas yang mendukung proses belajar mengajar dalam kegiatan pendidikan.066.370.901 atau 1: 22. Teluk Wondama.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2004 jumlah air minum yang disalurkan sebanyak 4. dan telah tersebar pada daerah kabupaten dan kota di wilayah ini.84 berikut ini.149. Kabupaten Fak Fak. dan Raja Ampat. Tabel 1. sedangkan sosial 177.005 dan yang khusus adalah 145. sebaliknya untuk kota Sorong memiliki jenjang sekolah SMK yang cukup tinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya yaitu sebanyak 7 sekolah. 1. Non niaga merupakan pelanggan terbesar yakni 2. Jumlah sarana pendidikan di Papua Barat pada tahun 2005 terdapat pada Tabel 1.507 M3. Pada tingkat SMP/MTs diperoleh perbandingan kapasitas guru dan siswa sebesar 3. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa 1(satu) orang guru akau mengajar siswa jenjang pendidikan SD/Ml sebanyak 22 orang. 84 Sarana Pendidikan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten TK SD SMP SMA Fak-Fak 30 91 16 6 Kaimana 8 68 10 4 Teluk Wondama 1 42 4 1 Teluk Bintuni 6 64 14 4 Manokwari 32 166 28 13 Sorong Selatan 110 16 4 Sorong 47 115 21 5 Raja Ampat 2 80 17 2 Kota Sorong 35 70 24 16 Papua Barat 161 806 150 55 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 SMK 3 4 1 2 1 1 7 19 MA 1 1 1 1 4 Sarana pendidikan di Provinsi Papua Barat mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga perguruan tinggi telah tersedia.690 dan industri 28.284:32.2 Sarana Wilayah Provinsi Papua Barat 1.428. dan Kabupaten Manokwari.699 Artinya non niaga merupakan pengguna air terbanyak di susul oleh niaga.

Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian/STPP (Kabupaten Manokwari). Pembangunan di bidang kesehatan dapat menjadi modal bagi peningkatan kualitas masyarakat. Meski demikian. ternyata memiliki perbandingan yang cukup baik dalam proses belajar mengajar. STIE Sorong (Kabupaten Sorong). 1. Universitas Muhamadiyah Alamin/UNAMIN (Sorong). Sekolah Pendidikan Agama Kristen/SPAK. Apabila dilihat dari perbandingan kapasitas guru dan siswa didik. layanan pendidikan memang telah memenuhi.2 Kesehatan Layanan kesehatan adalah layanan krusial bagi masyarakat dan berkaitan dengan kualitas masyarakat. mengurangi jumlah penyakit menyebar. Jenjang pendidikan perguruan tinggi yang tersedia di Provinsi Papua Barat terdiri dari Universitas Negeri Papua/UNIPA.2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 atau 1:10. Layanan kesehatan yang mencukupi dapat menurunkan tingkat kematian. STIE Maesa. meningkatkan kesehatan reproduksi.86 berikut ini. Universitas Kristen Indonesia Papua /UKIP. masyarakat harus menmepuh jarah yang jauh. Sekolah Tinggi Viktoria. Artinya bahwa 1(satu) orang guru pada tingkat SMP/MTs akan mengajar 10 siswa. LAPORAN AKHIR 1-139 . layanan di Papua Barat telah mencukupi. Kenyataan ini erat kaitannya dengan masalah transportasi. tingkat partisipasi masyarakat dalam pendidikan di Papua Barat masih rendah. SIT Otouw Gesler. Dari segi jumlah penduduk. Sekolah Tinggi Ilmu Hukum/STIH. 85 Tenaga Pengajar di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat TK 98 8 1 28 98 4 64 301 602 SD 846 284 119 251 1035 783 795 233 949 5295 SMP 275 127 38 175 325 49 595 65 1635 3284 SMA 88 30 20 76 387 29 83 32 745 1490 SMK 60 65 15 115 15 85 215 570 MA 5 6 20 25 56 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Dilihat dari tingkat rasio antara sekolah dan tenaga pengajar dengan jumlah murid. dan membudidayakan perilaku hidup sehat. Tabel 1. namun dari segi distribusi wilayah belum memenuhi. Jumlah sarana layanan kesehatan di Papua Barat terdapat pada Tabel 1. Saint Paul Politeknik. Untuk dapat mencapai suatu sarana pendidikan.7.

1.3 Perekonomian LAPORAN AKHIR 1-140 . Jumlah sarana tersebut tentu masih sangat kurang.7. Sarana kesehatan tentu harus didukung oleh layanan tenaga kesehatan sperti dokter. Kabupaten-kabupaten baru hingga tahun 2005 belum memiliki rumah sakit. Kaimana. 87 Jumlah Tenaga Dokter di Provinsi Papua Barat tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Dokter Ahli 4 Dokter Umum 22 6 5 3 16 6 10 2 7 77 Dokter Gigi 2 1 21 2 9 34 2 7 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 Tabel 1. Sorong.173 Polindes 8 31 14 8 74 36 7 7 35 2 1 8 18 11 2 9 12 41 Ketersediaan sarana kesehatan yang cukup tinggi ada pada lokasi Kabupaten Manokwari.87 menunjukkan minimnya tenaga dokter di Papua Barat. Untuk dokter ahli belum terdapat di semua kabupaten. Hal ini dapat dipahami karena lokasi-lokasi tersebut merupakan kabupaten lama (Provinsi Papua) sebelum pemekaran wilayah menjadi Provinsi Papua Barat. dan Kota Sorong. Di wilayah-wilayah tersebut telah terdapat layanan rumah sakit. Tabel 1. Dokter umum memang telah tersedia di seluruh kabupaten walau terkonsentrasi di kabupaten induk. dan Fakfak. Manokwari.2. hanya di Fak-Fak. Dokter gigi baru terdapat di Fak-fak. Jumlah tenaga dokter di Papua Barat adalah sebagai berikut. selain itu masyarakat harus menempuh perjalanan jauh untuk dapat memperoleh layanan kesehatan. Manokwari. 86 Jumlah Sarana Kesehatan di Provinsi Papua Barat tahun 2008 Puskesmas Puskesmas Puskesmas Pembantu Keliling Fak-Fak 37 9 5 Kaimana 46 7 9 Teluk Wondama 22 6 10 Teluk Bintuni 28 15 10 Manokwari 84 19 19 Sorong Selatan 42 8 9 Sorong 22 12 2 Raja Ampat 33 13 21 Kota Sorong 25 5 8 Papua Barat 339 94 93 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 Kabupaten Rumah Sakit 1 BP 6 1 Posyandu 130 79 70 221 255 151 111 69 87 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. Kota Sorong. dan Kota Sorong.

dan non KUD sebagian besar berada di pedesaan. Dari sejumlah bank yang beroperasi. Dari semua jenis usaha seperti: toko/warung/kios. 2. 6. Perdagangan Perusahaan perdagangan di Papua Barat menurut golongan usaha pada tingkat desa dan perkotaan. Jumlah kantor cabang bank yang beroperasi di Provinsi Papua Barat kurang lebih berjumlah 60 kantor cabang. dan Supermarket. Perbankan Sarana perbankan merupakan sarana yang penting dalam perekonomian. 4. 7. sisanya sebesar 16. Fak Fak 2. yang terdiri dari Bank Pemerintah Pusat (BNI. kemudian koperasi Unit Desa (KUD) dan non KUD. bahwa toko/warung/kios menduduki urutan tertinggi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 a. Kota Sorong Jumlah di Kota dan di Desa Jumlah di Kota Jumlah di Desa 1 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 b. Teluk Bintuni 8.79 persen adalah bank-bank yang dikelola oleh swasta (Bank Mandiri. 88 Jumlah Perusahaan Perdagangan Menurut Golongan Usaha Pada Tingkat Desa dan Perkotaan No Kabupaten/ Kota Super Market 1 3 Restoran/ Rumah Makan 4 2 8 2 2 1 1 5 11 9 2 11 30 25 5 Toko/ Warung/ Kios 9 37 69 5 52 59 20 11 22 284 41 243 Hotel/ Penginapan 3 7 1 2 2 3 10 28 21 7 Koperasi Unit Desa 9 9 14 1 7 1 3 44 8 36 Koperasi Non KUD 7 4 7 2 1 16 4 41 8 33 1. Sorong Selatan 6. Tabel 1. seperti Minimarket dan Supermarket. KUD.49 persen dan Bank Pembangunan Daerah (Bank Papua) sebesar 26. Restoran/Rumah Makan. Raja Ampat 7. 3. Kabupaten/ Kota Fak Fak Sorong Manokwari Kaimana Sorong Selatan Raja Ampat Teluk Bintuni Bank Umum 2 2 7 1 1 1 3 BPR 1 LAPORAN AKHIR 1-141 . BRI) sebesar 56. Teluk Wondama 9. Kaimana 5.72 persen. Manokwari 4. Sorong 3. 5. 89 Jumlah Perbankan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2007 No 1. Tabel 1. Hotel/Penginapan. sedangkan yang lainnya lebih banyak tersebar di perkotaan. jumlah terbesarnya adalah kantor Bank Pemerintah. Bank Danamon).

Pertanian. Potensi Pengembangan Pola Ruang LAPORAN AKHIR 1-142 . Struktur ruang di kawasan ini hanya dibentuk oleh beberapa kegiatan. 4. Permukiman. 3. Teluk Wondama 1 9. Potensi Pengembangan Struktur Tata Ruang Secara umum kondisi tata ruang di wilayah perencanaan masih sangat sederhana. 2. Jaringan jalan. 90 Jumlah Bank dan Kantor Bank di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Rincian/ Description Bank Persero dan Bank Pemerintah Daerah Jumlah bank Jumlah kantor bank Bank Swasta Nasional Jumlah bank Jumlah kantor bank Bank Asing dan Bank Campuran Jumlah bank Jumlah kantor bank Jumlah bank Jumlah kantor bank Jumlah Bank Banks Kantor Bank 16 156 17 180 17 192 9 49 11 54 7 9 9 20 18 18 4 6 2004 2005 2006 2007 2008 Bank-bank Umum 129 153 165 45 48 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 1. Kawasan perdagangan dan jasa. Pola struktur ruang pada saat ini masih linier yaitu mengikuti pola jaringan jalan utama. Kota Sorong 6 Jumlah di Kota dan di Desa 24 Jumlah di Kota 19 Jumlah di Desa 5 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2008 1 2 2 - Tabel 1. yaitu: 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 8. Sedangkan permukiman perdesaan membentuk kelompok secara tersebar. 5. Kehutanan. sehingga dapat mempermudah pengarahan fungsi-fungsi yang telah ditetapkan.8 POTENSI PROVINSI PAPUA BARAT BARAT A. B.

Potensi Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi Kawasan strategis merupakan kawasan-kawasan dengan potensi dan atau permasalahan tertentu yang perlu diprioritaskan penanganannya secara sektoral maupun tata ruang. Terdapat beberapa komoditas unggulan yang bernilai ekspor cukup tinggi. sehingga untuk pengembangan kawasan budidaya masih sangat terbuka. Faktor kondisi fisik Provinsi Papua Barat yang berbukit dengan banyak pulau menyebabkan pencatatan penggunaan lahan relatif lebih sulit dilakukan. dan prospek kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Provinsi Papua Barat dapat dijelaskan sebagai berikut. Data mengenai lahan antara satu dan yang lainnya kerap menunjukkan perbedaan. 2. C. Potensi dari kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: 1. laut dan pulaupulau kecil yang masih berpotensi untuk ditingkatkan dan dikembangkan pada masing-masing kawasan pemanfaatan ruang laut dalam rangka pengembangan kerjasama antar kawasan. Di Provinsi Papua Barat terdapat beberapa kawasan strategis ekonomi. 5. 3. Masih luasnya hutan sehingga dapat menujang program penanganan lingkungan. Terdapatnya sumberdaya alam yang belum termanfaatkan sebagai penunjang fungsi kawasan strategis ekonomi. Pola penggunaan lahan masih berpola pedesaan dengan didominasi oleh kebun campuran. hal ini dapat dijadikan potensi pengembangan dengan mengalih fungsikan perkebunan yang kurang produktif menjadi lahan yang dilihat dari sisi ekonomisnya menjadi lebih tinggi. LAPORAN AKHIR 1-143 . 1. Terlebih adanya kabupaten-kabupaten bentukan baru menyebabkan pencatatan data penggunaan lahan harus dilakukan ulang. karena memiliki dampak yang penting pada upaya pencapaian tujuan pengembangan wilayah dalam lingkup provinsi. Terdapat beberapa pintu gerbang nasional yang dapat ditingkatkan menjadi pintu gerbang internasional dalam rangka peningkatan kerjasama ekonomi. masalah. Dukungan keberadaan sumberdaya (hayati dan non hayati) pesisir. Pola ruang yang ada berdasarkan data masih didominasi oleh hutan. Perlunya konsep mitigasi bencana pada kawasan-kawasan yang mempunyai kerawanan terhadap bencana. 4. laut. Potensi Pengembangan Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Seperti diketahui Provinsi Papua Barat mempunyai wilayah pesisir. dan pulau-pulau kecil yang tersebar cukup luas. 6. D. Adapun potensi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pola Ruang di Provinsi Papua Barat masih sangat terbatas. kawasan strategis lingkungan dan kawasan strategis sosial. Potensi budaya yang beragam dapat dijadikan entry point bagi kawasan strategis sosial.

4. Perkotaan serta Struktur Ruang Selain potensi pengembangan struktur tata ruang.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2. laut dan pulau-pulau kecil. Strategis Penataan Ruang Provinsi Papua Barat dan Prospek Pengembangannya Peran dan Fungsi Sistem. c) Pola permukiman pedesaan yang sangat menyebar sehingga mempersulit pelayanan dari sarana dan prasarana. 5. serta dalam meningkatkan mutu hasil produksi perikanan dan pesisir lainnya. dan lain-lain) sebagai pendorong sekaligus wilayah yang dapat menampung hasil-hasil produksi atau memanfaatkan jasa-jasa pada sektor pesisir dan kelautan. b) Masih minimnya sarana dan prasarana perkotaan. BIMPEAGA. dan sekaligus potensi dalam pengembangan inlet-outlet pada wilayah pesisir melalui keberadaan pelabuhan laut. terdapat pula beberapa permasalahan dalam pembentukan struktur ruang tersebut. merupakan potensi yang masih dapat ditingkatkan dari sisi pangsa pasar. IMS-GT. Telah berkembangnya pemasaran produk perikanan dan pesisir lainnya ke luar negeri (ekspor). 3.9 Isu 1. Perkembangan teknologi perikanan dan kelautan yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan pengelolaan sumberdaya pesisir. yaitu berada di antara dua benua dan dua samudera. b) Pembangunan sarana dan prasarana yang menunjang fungsi pelayanan dari pusat-pusat tersebut sesuai dengan hirarkinya. kapasitas maupun keragamannya. PKW dan PKL yang disesuaikan dengan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang dimiliki pada masing masing pusat tersebut. Permasalahan utama pengembangan Struktur Ruang Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Jaringan jalan yang belum menghubungkan pusat-pusat kegiatan sehingga belum terbentuk hirarki pusat yang baik. Keberadaan kawasan kerjasama regional antar negara (IMT-GT. maka prospek pengembangan struktur tata ruang Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Penetapan fungsi PKN. LAPORAN AKHIR 1-144 . Keberadaan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan aksesibilitas ke luar wilayah Indonesia. Hal ini juga didukung oleh posisi geografis Indonesia yang strategis. 1. Berdasarkan potensi dan permasalahannya. e) Peningkatan akses sarana dan prasarana dasar pada permukiman di pedesaan. c) Pengembangan jaringan jalan dan transportasi lainnya sebagai penghubung dari pusat-pusat pelayanan. d) Penentuan hirarki jaringan jalan berdasarkan status pusat yang dihubungkannya.

sehingga manfaat dapat diperoleh secara terus menerus. Di dalam tempat yang sama. Masalah lain yang timbul adalah masalah hak ulayat yang belum jelas dalam penguasaan lahan sehingga dalam penentuan batas administrasi serta batas kepemilikan lahan belum jelas tergambarkan. b) Pembangunan menuju pola ruang yang diinginkan tersebut harus memperhatikan daya dukung lingkungan dan fisik dari wilayah-wilayah yang direncanakan. Untuk itu. dalam pemanfaatan lahan harus didasarkan atas 3 terapan (perception) dari lahan. faktor fisik wilayah Provinsi Papua Barat yang bergelombang juga merupakan suatu kendala dalam pengembangan pola ruang yang diinginkan. c) Keberlanjutan manfaat. atau kekayaan yang dapat dimanfaatkan. b) Prospek jangka panjang ke masa depan. yang didasarkan pada: a) Kawasan merupakan perwujudan sumberdaya dan kimah (asset). Gambaran konflik ruang yang terjadi adalah: a) Konflik antara kawasan lindung dengan potensi pertambangan. c) Konflik antara kawasan lindung dengan kawasan budidaya lainnya. Berdasarkan potensi dan permasalahan yang telah diungkapkan pada sub bab sebelumnya. dengan tetap memperhatikan daya dukung dan kemampuan wilayah dalam menampung kegiatan yang dipertahankan tersebut. selain itu juga faktor kebencanaan perlu menjadi pertimbangan dalam pengembangan pola ruang di Provinsi Papua Barat. Selain masalah konfilk penggunaan lahan. artinya manfaat yang lebih besar hendaknya dipertahankan keberadaannya.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2. d) Konflik antara kawasan lindung dengan pengembangan transportasi. c) Perlu adanya penyelesaian konflik yang terjadi dengan memperhatikan azas manfaat. sehingga yang dikerjakan tidak habis dalam waktu dekat. juga ditemukan cadangan bahan galian. bentuk konflik yang dapat muncul adalah adanya persamaan lokasi atas peruntukan lahan yang didasarkan atas kondisi biofisik dengan potensi yang dikandung. b) Konflik antara kawasan lindung dengan Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Pola Ruang Masalah yang terjadi di Provinsi Papua Barat adalah masalah konflik penggunaan lahan. maka prospek pengembangan pola ruang wilayah adalah sebagai berikut: a) Perlunya batas administrasi dan penguasaan hak ulayat dalam rangka menunjang pembangunan menuju pola ruang yang diinginkan. lahan yang seharusnya sebagai kawasan penyangga. misalnya bahan galian. apabila LAPORAN AKHIR 1-145 .

umumnya disebabkan oleh kegiatan-kegiatan perikanan yang bersifat destruktif. f) Pencurian ikan oleh nelayan asing yang banyak terjadi pada perairan pada wilayah perbatasan. dan lain-lain. Dengan melihat potensi dan masalah yang terjadi maka prospek pengembangan kawasan pesisir.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 kegiatan yang dimaksud sudah berakhir. aktifitas pelayaran/perkapalan. LAPORAN AKHIR 1-146 . peristiwa tumpahan minyak. b) Konflik pemanfaatan dan kewenangan. Perbedaan tujuan. sasaran dan rencana tersebut mendorong terjadinya konflik pemanfaatan sumberdaya (user conflict) dan konflik kewenangan (jurisdictional conflict) (CincinSain dan Kenneth. Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Isu terkait dengan pengembangan kawasan pesisir danp-Pulau Kecil di Provinsi Irian Jaya adalah sebagai berikut: a) Kurangnya dukungan prasarana dan sarana (kelautan dan perikanan) serta keberadaan pusat-pusat kegiatan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi pesisir. dan pulau-pulau kecil Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Pengembangan badan usaha bersama dalam bidang penangkapan ikan baik pengembangan sarana dan sarana penangkapan ikan. Kerusakan akibat pemanfaatan berlebih (over exploitation) pada sebagian jenis sumberdaya pesisir (khususnya sumberdaya perikanan tangkap). c) Kerusakan dan pencemaran lingkungan pesisir. Beberapa stok sumberdaya ikan telah mengalami kondisi tangkap lebih (over fishing) seperti udang. 1998). penambatan jangkar perahu. maupun pengembangan sumberdaya manusianya. e) Rendahnya sumberdaya manusia (SDM) masyarakat dan aparat dalam merealisasikan proses (perencanaan. maka harus dikembalikan kepada fungsi lindung yang diembannya 3. target dan rencana untuk mengeksploitasi sumberdaya pesisir. b) Pembentukan keterkaitan dan distribusi produk untuk pengembangan budidaya perikanan. d) bahan beracun sianida. yaitu penggunaan bahan peledak. karena tidak adanya aturan yang jelas tentang penataan ruang pesisir dan lautan dan alokasi sumberdaya yang terdapat di kawasan pesisir. pemanfaatan dan pengendalian) kerjasama antar kawasan dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir laut dan pulau-pulau kecil. c) Pengembangan sektor kepariwisataan bahari serta membentuk keterkaitan antar wisata yang mempunyai potensi yang sangat besar di Provinsi Papua Barat. laut. Setiap pihak yang berkepentingan mempunyai tujuan.

terutama transportasi darat sehingga kelancaran perangkutan barang dan orang menjadi terhambat dan mahal. c) Belum termanfaatkannya potensi pasar dan pemasaran yang ada. e) Pemanfaatan f) hutan produksi yang melebihi daya dukungnya. LAPORAN AKHIR 1-147 . Prospek dari pengembangan kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Perlu adanya peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia dalam pengelolaan sumberdaya alam yang melimpah. c) Peningkatan pembangunan sarana dan prasarana transportasi sebagai penunjang pengembangan kawasan strategis. sehingga mengganggu fungsi lindung yang ditetapkan. e) Menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan sosial-masyarakat Provinsi Papua Barat. Masalah dari kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: d) Masih sering terjadi illegal logging sehingga mengganggu fungsi lindung. Kawasan Strategis a) Kurangnya sumberdaya manusia baik dari kualitas maupun kuantitasnya dalam upaya pemanfaatan potensi sumberdaya alam yang begitu besar.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 d) Pengembangan indusri pelayaran dan pengangkutan sebagai upaya untuk membentuk keterkaitan antar pusat-pusat pengembangan. mengingat kota-kota yang terbentuk di Provinsi Papua Barat sebagian besar berada pada wilayah pesisir. 4. Terjadinya konflik sosial antar suku menjadi kendala dalam mengembangkan potensi budaya yang ada. d) Pengendalian dan pengawasan yang ketat serta pemberian sangsi yang tegas pada kawasan-kawasan strategis lingkungan. b) Keterbatasan sektor transportasi. Selain itu juga perlu adanya peningkatan daya saing sumber daya lokal sehingga sumberdaya dari luar yang datang juga mempunyai kualitas yang baik. b) Peningkatan status pintu gerbang Sorong dan Manokwari menjadi pintu gerbang nasional dan internasional.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful