P. 1
Bab 1 Profil Provinsi Papua Barat

Bab 1 Profil Provinsi Papua Barat

|Views: 2,970|Likes:
Dipublikasikan oleh Irland Fardani

More info:

Published by: Irland Fardani on May 04, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/15/2013

pdf

text

original

Profil Wilayah Provinsi Papua Barat

1

1.1

ASPEK FISIK DASAR

Aspek fisik dasar yang akan dipaparkan diantaranya mengenai batas administrasi dan geografi, klimatologi, suhu dan kelembaban, morfologi, kondisi geologi, karakteristik tanah, Hidrologi, karakteristik hidro-oseanografi, dan ketersediaan lahan. 1.1.1 Perkembangan Pembentukan Daerah

Provinsi Papua Barat secara definitif dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999 dengan nama Provinsi Irian Jaya Barat bersamaan dengan pembentukan Provinsi Irian Jaya Tengah, Kabupaten Mimika, Kabupaten Paniai, Kabupaten Puncak Jaya, dan Kota Sorong. Namun pemekaran wilayah provinsi ini ditangguhkan karena terjadi penolakan terhadap pemekaran ini, sementara pemekaran kabupaten tetap dilaksanakan sesuai UU Nomor 45 Tahun 1999 tersebut. Berdasarkan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat,

1-1

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Teluk Bintuni, dan Kabupaten Teluk Wondama di Provinsi Papua, maka terjadi pemekaran untuk beberapa kabupaten. Pemekaran wilayah untuk Provinsi Irian Jaya Barat sebagai berikut: 1. Kabupaten Sorong dengan dua kabupaten pemekaran, yaitu: Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Raja Ampat. 2. Kabupaten Manokwari dengan dua kabupaten pemekaran, yaitu: Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Teluk Wondama 3. Kabupaten Fak Fak dengan satu kabupaten pemekaran, yaitu Kabupaten Kaimana

Setelah memiliki wilayah yang jelas, penduduk, aparatur pemerintahan, anggaran, anggota DPRD, serta gurbernur dan wakil gubernur definitive, Provinsi Irian Jaya Barat mulai membangun dirinya secara sah. Sejak tanggal 18 April 2007, Provinsi Irian Jaya Barat berubah nama menjadi Provinsi Papua Barat, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007. Pada tahun 2008 dimekarkan satu kabupaten baru di Provinsi Papua Barat yaitu Kabupaten Tambrauw. Dasar hukum pembentukan Kabupaten Tambrauw adalah UndangUndang Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2008 dengan ibukota kabupaten yang terdapat di distrik Fef. Berdasarkan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 127/PUUVII/2009 tanggal 25 Januari 2009, Kabupaten Tambrauw dibentuk dari sebagian bekas wilayah Kabupaten Sorong dan Kabupaten Manokwari, yaitu Distrik Abun, Distrik Amberbaken, Distrik Fef, Distrik Kebar, Distrik Kwoor, Distrik Miyah, Distrik Moraid, Distrik Mubrani, Distrik Sausapor, Distrik Senopi, dan Distrik Yembun. Berdasarkan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI (Nomor 127/PUU-VII/2009 tanggal 25 Januari 2009), maka batas wilayah Kabupaten Tambrauw adalah sebagai berikut: Utara Selatan Barat Timur : Samudera Pasifik : Kabupaten Sorong Selatan : Kabupaten Sorong : Distrik Sidey, Kabupaten Manokwari

Pada tahun 2009 terdapat kabupaten baru yang dimekarkan yaitu Kabupaten Maybrat. Kabupaten Maybrat merupakan pemekaran dari wilayah kabupaten Sorong. Pada 27 Oktober 2008 dikeluarkan Keputusan Bupati Sorong Selatan Nomor 133 Tahun 2008 tentang Penyerahan Sebagian Cakupan Wilayah Bawahan Kabupaten Sorong Selatan ke

LAPORAN AKHIR 1-2

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten Sorong, wilayah yang diserahkan terdiri dari 11 (sebelas) distrik, yaitu: Distrik Aifat, Distrik Aifat Utara, Distrik Aifat Timur, Distrik Aifat Selatan, Distrik Aitinyo Barat, Distrik Aitinyo, Distrik Aitinyo Utara, Distrik Ayamaru, Distrik Ayamaru Utara, Distrik Ayamaru Timur, dan Distrik Mare. Pada 16 Januari 2009 disahkanlah UURI Tahun 2009 Nomor 13 tentang Pembentukan Kabupaten Maybrat sebagai hasil pemekaran dari kabupaten Sorong. Adapun komposisi distrik bawahannya adalah tepat sama dengan komposisi distrik di atas. Ini terjadi karena pemekaran dari Kabupaten Sorong Selatan belum memenuhi syarat teknis dan legalitas, jadi upaya percepatan berupa pemindahan kembali 11 distrik calon distrik Kabupaten Maybrat untuk sementara waktu ke kabupaten induknya, dan dilanjutkan dengan proses pembentukan Kabupaten Maybrat sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Sorong, bukan dari Kabupaten Sorong Selatan. Peresmian dilakukan pada tanggal 15 April 2009 di Jakarta, adapun batas wilayah Kabupaten Maybrat adalah sebagai berikut: Utara Selatan Barat Timur 1.1.2 : Fef, Senopi, Kebar : Kokoda, Kais : Moswaren, Wayer, Sawiat : Moskona Utara, Moskona Selatan Batas Administrasi dan Geografi

Provinsi Papua Barat secara geografis terletak pada 124°-132° Bujur Timur dan 0°-4° Lintang Selatan, tepat berada di bawah garis khatulistiwa dengan ketinggian 0-100 meter dari permukaan laut. Kabupaten Fakfak merupakan kabupaten tertinggi dengan ketinggian 10-100 meter diatas permukaan laut, sedangkan kota-kota lainnnya berkisar antara 10-50 meter diatas permukaan laut. Batas geografis Provinsi Papua Barat adalah : Sebelah Utara Sebelah Barat Sebelah Timur : Samudera Pasifik : Laut Seram (Provinsi Maluku) : Provinsi Papua Sebelah Selatan: Laut Banda (Provinsi Maluku)

Wilayah Provinsi Papua Barat memiliki 11 wilayah Pemerintahan Daerah yang terdiri dari 9 Kabupaten dan 1 Kota, 154 distrik, dan 1.361 kampung dengan luas wilayah secara keseluruhan sebesar 97.024,37 km² (berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2008). Luas dan perbandingan persentase luas wilayah kota kabupaten di Provinsi Papua Barat disajikan pada Tabel 1.1 dan Gambar 1.2. Pembagian Daerah Administratif menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 dapat dilihat pada Tabel 1.2. Secara spasial administrasi Provinsi Papua Barat diperinci berdasarkan kabupaten/kota dapat dilihat pada Gambar 1.1. Tabel 1.1 Luas Wilayah dan Persentase menurut Kabupaten/Kota LAPORAN AKHIR 1-3

111 943.8 18.55 7.63 9.500 14.00 Total 144.953.99 10.5 19.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Persentase (%) 9. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kabupaten/Kota Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana Kabupaten Teluk Wondama Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Manokwari Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Sorong Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Tambrauw Kabupaten Maybrat Kota Sorong Luas Planemetrik (Km2) 14.84 8.871 6.1 Persentase Luas Wilayah Provinsi Papua Barat Menurut Kabupaten/Kota Sumber: Diolah dari Provinsi Papua Barat Dalam Angka 2010 Tabel 1.21 No.60 4.521.65 100.136.35 12.236.33 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka 2010 Gambar 1.665 12. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kabupaten/Kota Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana Kabupaten Teluk Wondama Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Manokwari Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Sorong Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Tambrauw Kabupaten Maybrat Kota Sorong Total IbuKota Fakfak Kaimana Wasior Bintuni Manokwari Teminabuan Aimas Waisai Fef Kumurkek Sorong Jumlah Kecamatan 9 7 13 24 29 13 18 13 11* 11 6 154 Jumlah Kelurahan 7 2 1 2 9 2 13 1 1 30 68 Jumlah Kampung 122 84 75 114 402 110 118 97 53 108 1293 LAPORAN AKHIR 1-4 .52 10.80 10.320 18.084.08 13.38 0.91 12.2 Pembagian Daerah Administratif Provinsi Papua Barat menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 No.52 15.699 13.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 * Disesuaikan dengan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 127/PUU-VII/2009 LAPORAN AKHIR 1-5 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.2 Peta Batas administrasi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-6 .

Pola umum ini menjadi rumit oleh topografi dan pola angin. dan pola ganda (C).345 2. perbedaan antara jumlah curahan pada musim hujan dan musim kemarau tidak jelas. Jumlah hujan yang jatuh di setiap tempat di Papua secara khusus dikendali oleh topografi.306 LAPORAN AKHIR 1-7 . Pada pola ini biasanya curah hujan bulanan tidak teratur atau hampir merata sepanjang tahun. Pada umumnya pegunungan di Kepala Burung.537 2006 3. Angin Tenggara dan muson Barat Laut biasanya panas dan mengandung uap air yang diangkut ketika melewati samudera.492 4. sedangkan ketinggian dan kejajaran barisan pegunungan mempengaruhi pola angin dan presipitasi dalam setiap daerah. Pada pola C. pantai Utara dan di sebelah Utara kordirela mendapatkan hujan terbanyak dari angin Barat Laut dalam bulan Oktober hingga Maret. Manokwari Kab.680 2.836 2004 3. Pola A dan D menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antara jumlah curah hujan pada musim hujan dan musim kemarau. Karena daerahnya yang bergunung-gunung. Sorong 2003 3.067.9 970 1. Suhu sangat bergantung dari ketinggian. Sorong Selatan Kab.3 Klimatologi Provinsi Papua Barat terletak tepat di sebelah Selatan garis khatulistiwa sehingga termasuk dalam wilayah tropika humida.600 2.964.059 1. Kaimana Kab.048 2005 3.3 Banyaknya Curah Hujan di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2007 (mm) Kabupaten/Kota Kab. Tabel 1.048 2. maka iklim di Provinsi Papua Barat sangat bervariasi melebihi daerah Indonesia lainnya. Teluk Bintuni Kab.323 2. Musim hujan di setiap daerah tergantung dari waktu di mana musim ini terpaparkan pada satu atau kedua sistem angin tersebut. sedangkan dataran rendah di Selatan Kepala Burung dan jazirah Onin dan Bomberai serta dataran rendah di Selatan kordirela mendapatkan hujan terbanyak antara bulan April dan September ketika angin bertiup dari arah tenggara.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.836 2.106. 1.1 Curah Hujan Musim di Papua Barat dicirikan oleh angin Tenggara yang bertiup sekitar pertengahan April hingga September dan Muson Barat Laut yang di mulai dalam bulan Oktober hingga Maret.586 133 1.1.319 2.537 2. pola berfluktuasi (B).3 1.209 127 2.3 4. Pola umum iklim dan cuaca sangat dipengaruhi oleh topografinya yang kasar.964. Fakfak Kab.351 2007 3.602 4.470 2. Iklim di Provinsi Papua Barat memiliki 3 (tiga) pola yaitu pola tunggal (A dan D).964. dalam setahun terjadi dua kali puncak curahan tertinggi atau dua kali puncak curahan terendah.3 2008 2. Teluk Wondama Kab. Pola tunggal A atau pola sederhana (simple wave) memiliki curah hujan terendah pada bulan Juli/Agustus. Pada pola B.689 1. Pola tunggal D memiliki curah hujan tertinggi pada bulan Juli/Agustus.1.091 2.313 1.3 4.3.

d.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2006 2. Teluk Wondama Kab.306 358.836 2. dan kelas V dengan curah hujan antara 4000 s. 4000 mm/tahun. 5000 mm/tahun.4 Banyaknya Hari Hujan di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2008 (hari) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab. kelas II dengan curah hujan antara 1000 s. Rata-rata curah hujan selama tahun 2008 berkisar antara 358. Raja Ampat 2.d. Pada tahun 2009 curah hujan kelas I terdapat di Kota Sorong. Tabel 1. kelas IV dengan curah hujan antara 3000 s. Kaimana 214 218 208 Kab. Teluk Bintuni Kab. kabupaten Sorong Selatan. Kabupaten Manokwari memiliki jumlah hari hujan yang paling sedikit dibandingkan Kabupaten/Kota lainnya yaitu denan rata-rata sebanyak 192 hari hujan. dengan curah hujan sekitar 2000 s. dan kelas V di Kabupaten Sorong.964.d. Sorong Selatan 220 230 Kab.3 mm (Sorong Selatan).3 Peta iklim LAPORAN AKHIR 1-8 . kelas II di kabupaten Kaimana dan Kabupaten manokwari. 2000 mm/tahun.2 mm (Kota Sorong) sampai dengan 4. Pada tahun 2009 ini tidak terdapat kabupaten yang memiliki curah hujan kelas IV.4. Kabupaten Raja Ampat.537 Kota Sorong 2.2 Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab.351 181 2007 4. kelas III dengan curah hujan antara 2000 s. Kelas III di Kabupaten Fakfak.d. 3000 mm/tahun. Hampir seluruh wilayah Papua Barat memiliki kelas curah hujan tipe III pola C. Dari data diatas terlihat bahwa di Kabupaten Sorong. Secara spasial keadaan iklim dan persebaran curah hujan di Provinsi papua barat ditunjukkan pada Gambar 1. Fakfak 210 210 232 Kab.3 369 2008 4.d. 3000 mm/tahun. Gambar 1.d.048 2.964.836 2. Raja Ampat 185 220 230 Kota Sorong 185 218 230 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2006 228 177 254 150 230 156 156 156 2007 225 204 254 212 230 225 225 228 2008 176 215 223 225 286 286 288 Rata-rata jumlah hari hujan di Provinsi Papua Barat berkisar antara 150 s.3 dan Gambar 1. Manokwari 187 178 203 Kab.047 211 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Berdasarkan jumlah curah hujannya wilayah Papua Barat memiliki tiga kelas curah hujan.d. 1000 mm/tahun. dan Kota Sorong memiliki karakteristik jumlah hari hujan yang hampir serupa. dan kabupaten Raja Ampat. yaitu kelas I dengan curah hujan antara 0 s. Sorong 185 220 230 Kab. 288 hari hujan.

4 Peta curah Hujan LAPORAN AKHIR 1-9 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

Di dataran rendah.1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. suhu harian biasanya antara 29 oC – 32 oC. suhu di sepanjang pantai 5-8 derajat lebih dingin daripada siang hari. sementara di daerah pegunungan pada 1500-2000 m dpl. Pada malam hari. sedangkan di daerah LAPORAN AKHIR 1-10 .3. 5-10 derajat lebih dingin.2 Suhu dan Kelembaban Suhu dan kelembaban merupakan komponen iklim paling konstan di Provinsi Papua Barat.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 pegunungan kisarannya lebih lebar. Tabel 1.00 26.60 27. Manokwari 27. Fakfak Kab. Sorong Selatan … … 31.73 21.26 26.60 32.30 84. Raja Ampat 27.70 31.2 27.50 82.30 27.80 24.48 23.30 31.10 29.90 21.90 31. Sorong 27.60 27.05°C terjadi di wilayah Kabupaten Fakfak.00 22.80 26. Kaimana Kab.70 30.30 24.43 23. Manokwari 27.13 30.20 25.80 26.90 21.43 23.80 27. Fakfak 28. Teluk Bintuni … … … … Kab.22 27.49 … … … 32.70 Kab.40 22.60 2007 25.70 27.0 83.80 31.30 27.40 … … 2006 Max Min 22.63 27.20 33.40 83.70 25.13°C di Kabupaten Manokwari.48 Kab.56°C di Kabupaten Fakfak.60 26.32 Tabel 1. Dari Tabel 1.5 terlihat bahwa suhu udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar 25.30 83.80 26.5 Suhu Udara Rata-rata Menurut Lokasi Stasiun di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2008 (°C) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab.60 27.03 25.10 23. Raja Ampat 30.60 27.50 23.83 2008 84.80 31.7 … 23.6 Suhu Udara Maksimum dan Minimum di Provinsi Papua Barat Tahun 20032008 (°C) Kabupaten/Kota 2004 Max Min 28.40 Kab.46 27.40 83.30 2008 Max Min 30.9 85.78 81.92 83.26 27.60 24.00°C juga berada di Kabupaten Fakfak (data hasil pencatatan suhu udara pada beberapa stasiun yang berada di Kabupaten/Kota se-Provinsi Papua Tahun 2008).10 23.30 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Dari Tabel 1.60 27.49 … … … 32.70 2007 Max Min 28.6 27.30 27.33 26.08 LAPORAN AKHIR 1-11 .60 33.40 25.70 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2006 25.33 2005 85. Teluk Bintuni Kab.28 27.40 30.55 30.70 28.59 24.6.20 31.68 27. suhu udara tertinggi dalam kurun waktu 2004-2008 terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 32.08 83.00 25.60 Kab.30 24.48 27. dan suhu minimal sebesar 23.30 Kab. Tabel 1. Teluk Wondama Kab.40 … … 2005 Max Min 29. Kaimana 27.8 Kab.70 26.60 27. sedangkan suhu terendah juga terjadi pad atahun 2008 yaitu sebesar 21.6 27.46 °C dengan suhu maksimal sebesar 28.05 23.50 24.20 25.00 31.10 2008 26.40 25.70 29.55 23.6 27.20 29.08 27.50 2004 85. Manokwari 2003 84.67 23.47 27.30 82.50 84.70 Kab.68-27.47 27. Sorong 31.30 24. Karakteristik suhu di Provinsi Papua Barat tidak menunjukkan fluktuasi tahunan yang nyata. Teluk Bintuni Kab.90 Kota Sorong 31.46 27.90 31.3 Rata-Rata 25.56 29.67 2006 85. Kaimana Kab.30 26.15 26.6 Kab.63 … … … 27.00 22.38 Kab.80 30.80 30.10 23. Teluk Wondama Kab.40 23. Sorong Selatan 27.50 … 23.17 2007 86. Fakfak Kab. Teluk Wondama Kab.00 … 26.7 Kelembaban Udara Rata-rata di Papua Barat Tahun 2003-2008 (%) Kabupaten/Kota Kab.70 Kota Sorong 27.

00 Kota Sorong 83. Teluk Wondama Kab.40 49.36% s.80 46. waktu siang hari (sekitar 12 jam) adalah konstan dengan variasi tahunan sekitar 30 menit antara hari terpanjang dan terpendek.40 49.83 46.08 53. Karena berada di katulistiwa.00 86.8 Rata-Rata Penyinaran Matahari Menurut Lokasi Stasiun di Kabupaten/Kota Tahun 2003-2008 (%) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 2006 Kab.00 84.4% s.25 87.00 84.81%.70 49.52 50. Tabel 1.00 83.17 43.00 84.80 65. 128.40 46.d. Provinsi Papua Barat yang memiliki keragaman suhu udara.00 Kab.00 Penyinaran matahari rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar antara 52.58 Kab.40 49.00 84.80 54.00 65.00 59. Kelembaban udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar antara 81.00 84.00 86.00 83.80 Kab.00 Kab.00 68.92 Kab. Raja Ampat 61.37 125. Sorong 83. kelembaban udara terendah terdapat di Kabupaten Kaimana sedangkan kelembaban tertinggi terdapat di Kota Sorong dan Kabupaten Raja Ampat.00 Kab.00 86.21 54. Kaimana 45.00 54. Teluk Bintuni Kab.0%. kelembaban udara yang relatif konstan.75 Kab.00 2008 107. Sorong Selatan 84.90 58.d.00 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Kelembaban nisbi tinggi dan dan konstan. Manokwari 63.80 60. Keadaan ini merupakan gangguan utama bagi transportasi udara dengan pesawat kecil. terutama di daerah pegunungan di mana awan cumulus hampir selalu meningkat ke tengah hari. dan curah hujan yang cukup tinggi menjadi potensi besar bagi pengembangan budidaya tanaman pertanian dan perkebunan terutama untuk LAPORAN AKHIR 1-12 . Raja Ampat 84. Dengan kondisi seperti ini di wilayah Papua Barat memiliki potensi bagi pengembangan komoditi-komoditi pertanian apabila terutama dikaitkan dengan persentase lama penyinaran. 87. berkisar dari 75-80%.30 59.64 51. Sorong Selatan 65.10 Kota Sorong 61.00 83.00 83.00 62.40 58.00 83.83 58.00 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2007 37. penyinaran matahari terendah terdapat di Kabupaten Manokwari sedangkan lama penyinaran tertinggi terdapat di Kabupaten Fakfak.00 68.9 115.05 147.08 59. penyinaran matahari yang hampir terus menerus sepanjang tahun.00 Kab. Fakfak 126.90 59.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 84.00 86.00 62.00 87. Berdasarkan uraian karakteristik iklm tersebut. di mana daerah dataran rendah cenderung lebih lembab. Sorong 61.00 87.00 59. Papua merupakan tempat yang kemungkinan salah satu tempat paling berawan di dunia.

2 Kelerengan Tinjauan atas morfologi wilayah didasarkan pada kondisi kelerengan atau kemiringan. (2) wilayah dengan ketinggian >100-500 meter dpl. dengan tipe tutupan lahan berupa hutan hujan tropis.046. Kondisi ini merupakan salah satu elemen yang menjadi barrier transportasi antar wilayah.d > 1000 m.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 wilayah Kabupaten Manokwari.900 250.01 182.1 Ketinggian Kondisi topografi Provinsi Papua Barat sangat bervariasi membentang mulai dari dataran rendah.257.192.790 100 3.301 Jumlah >1000m 741.132 328. 1.250 Kab Fakfak 1. diketahui bahwa kondisi topografi antar wilayah di Provinsi Papua Barat cukup bervariasi. terutama transportasi darat.4. rawa sampai dataran tinggi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1. (3) wilayah dengan ketinggian >500-1000 meter dpl.196 518. Sebagian besar wilayah Provinsi Papua Barat memiliki kelas lereng > 40% dengan bentuk wilayah berupa perbukitan. Ketinggian wilayah di Provinsi Papua Barat bervariasi dari 0 s. Tabel 1.600 344.1.49 Kab Manokwari 1.058 3. Teluk Bintuni. dan Kabupaten Sorong Selatan mendapatkan potensi tersebut. Pembagian wilayah Provinsi Papua Barat berdasarkan ketinggian wilayah dari permukaan laut dapat digolongkan kedalam empat kelompok yaitu: (1) wilayah dengan ketinggian 0-100 meter dpl. dominasi pemanfaatan lahan diarahkan pada hutan konservasi disamping untuk mencegah terjadinya bahaya erosi dan longsor. Kondisi tersebut menjadi kendala utama bagi pemanfaatan lahan baik untuk pengembangan sarana dan prasarana fisik.400 2.366 1. Kota Sorong.4.054. LAPORAN AKHIR 1-13 . padang rumput dan padang alang-alang.050 284.109 Kota Sorong 162.48 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Berdasarkan tabel di atas.847 288. Sehingga.1.015.9 Luas Wilayah menurut Ketinggian dari Permukaan Laut dan Kabupaten/Kota (Ha) Wilayah Pengembangan 0-100m Kelas ketinggian >100-500m >500-1000 377.868.413. serta dasar bagi kebijakan pemanfaatan lahan. 1.9. dan wilayah dengan ketinggian >1000 meter dpl.4 Morfologi Kondisi Morfologi memaparkan mengenai informasi fisik wilayah yang meliputi ketinggian wilayah dan kelerengan. sebagai berikut.1.691 Kab Sorong 2.200 1. 1. sistem transportasi darat maupun bagi pengembangan budidaya pertanian terutama untuk tanaman pangan.

54 8.89 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Wilayah Pengembangan Jumlah 3.636 57. Tabel 1.582 49.700 448.100 1.49 LAPORAN AKHIR 1-14 .200 313.453.06 78.10. dan kelas lereng curam sampai sangat curam (>40 %).000 344.790.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dipandang dari sisi lereng.500 2.502 Kab Fakfak 105.10 Luas Wilayah menurut Kelas Lereng/Kemiringan dan Wilayah Pengembangan Kelas lereng 0-15% >15-40% >40% Kab Manokwari 1. kelas lereng landai sampai curam (kemiringan >15– 40%).297 964 Kab Sorong 984. Untuk jelasnya mengenai luas masing-masing kelas lereng lihat Tabel 1.108 Kota Sorong 257.434. maka secara garis besar Tanah Papua dapat diklasifikasikan kedalam tiga kelompok kelas lereng yaitu kelompok wilayah dengan kelas lereng datar sampai landai (kemiringan 0-15 %).310 158.998 19.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.5 Peta kenampakan elevasi/ketinggian Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-15 .

6 Peta kemiringan lereng Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-16 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

7 Peta kenampakan topografi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-17 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

LAPORAN AKHIR 1-18 . Bagian Selatan pulau Papua merupakan tepi Utara dari benua super kuno.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Amerika Selatan. Sebagian besar daerah ini adalah lapisan batuan berumur Kenozoikum dan Mesozoikum yang tersesarkan dan terlipat. secara umum diasumsikan sebagai lokasi tipe dari busur kepulauan oseanik aktif–tumbukan kontinen (Dewey dan Bird. Pegunungan Central Range merupakan sabuk yang memanjang sampai 1300 km. Australia. Pulau Papua merupakan produk pertumbuhan benua yang dihasilkan dari tubrukan kedua lempeng tersebut. yang kesemuanya bergerak relatif terhadap sesamanya. Setiap lempeng terdiri atas bagian kerak benua (kontinental) dan kerak samudera (oseanik). Gondwanaland.8 tentang Tatanan tektonik di Tanah Papua Evolusi tektonik yang terjadi selama Kenozoikum dihasilkan oleh tumbukan secara oblique antara kedua lempeng tersebut.1. 1. seluruh Papua dan Australia bagian Utara berada di bawah permukaan laut.5. Daerah ini merupakan daerah interaksi antara dua lempeng besar yaitu Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik.1 Evolusi Tektonik Pulau Papua Pembentukan pulau Papua atau pulau New Guinea telah didiskusikan oleh berbagai ahli dan diringkas oleh Petocz (1984). hal ini dapat dilihat pada Gambar 1. yang juga termasuk di dalamnya adalah Antartika. lebar 150 km dengan topografi yang kasar dan sejumlah puncak setinggi lebih dari 3000 meter. yang diendapkan pada tepian kontinen aktif Australia. 1979) Daratan Papua New Guinea dan Pegunungan Central Range. Awal terpisahkan benua ini dari posisi Selatannya terjadi pada masa Kretasius Tengah (kurang lebih 100 juta tahun lalu). Lempeng Benua India-Australia (atau biasa disebut lempeng Australia) bergerak ke arah Utara keluar dari posisi kutubnya dan bertubrukkan dengan Lempeng Samudra Pasifik yang bergerak ke arah Barat.1. dimana lempeng Pasifik mengalami subduksi atau tertindih di bawah lempeng Australia. pulau Papua mulai muncul di permukaan laut pada sekitar 350 Lintang Selatan. 1970). bahwa kerak bumi terbagi dalam tujuh lempeng sangat besar dan sejumlah lempeng lithosfer kecil lainnya. Bagian daratan paling Utara pada Lempeng India-Australia antara 90-100 juta tahun lalu berada pada 480 Lintang Selatan yang merupakan titik pertemuan Lempeng India-Australia dan Pasifik. Proses ini berlanjut selama masa Pleistosen hingga pulau Papua terbentuk seperti di saat ini. Konsep lempeng tektonik yang telah diterima umum mengganggap.5 Kondisi Geologi Kondisi geologi Tanah Papua pada dasarnya memiliki kesamaan dengan kondisi geologi umum yang dijumpai di Indonesia bagian timur. (Hamilton. Ketika lempeng India-Australia dan lempeng Pasifik bertemu di sekitar 40 juta tahun lalu. Pada saat dimulainya gerakan ke Utara dan rotasi dari benua super ini. Selandia Baru dan Kaledonia Baru. India.

Sesar Lungguru (LFZ) dan Sesar Tarera-Aiduna (TAFZ).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dari evolusi tektonik menunjukkan. yaitu lempeng Australia dan Lempeng Pasifik. Akan tetapi. ini disebut Melanesian Orogeny (Dow and Sukamto. dan Transisi. sebagai produk dari interaksi antara kedua lempeng. Kenyataan menunjukkan pula. Batuan lempeng Pasifik pada umumnya letak-datar terpatah hanya oleh beberapa patahan. Walaupun pencatatannya terpisah-pisah. Triasik. Terdapat sejumlah lipatan dan sesar naik sebagai akibat dari interaksi (tubrukan) antara kedua lempeng tektonik. bahwa pada tahun 2004 telah terjadi beberapa kali gempa. (2005). Menurut Sapiie (2000). yaitu provinsi Kontinental. Terlepas dari batuan mantel sesar naik yang kemungkinan berumur Mesozoik dan beberapa kerak samudera Jurasik. bahwa geologi Papua sangat kompleks karena melibatkan interaksi antara dua lempeng tektonik. 1984) Wilayah Papua Barat sangat berpotensi terhadap gempa tektonik dan kemungkinan diikuti oleh tsunami. Hanya sebagian kecil yang dipengaruhi oleh proses tektonik dari zaman Paleozoik Awal hingga Tersier Akhir. dan periode tektonik intens dari zona deformasi di sisi lainnya (New Guinea Mobile Belt). (island-arc volcanics complex) sebagai bagian dari lempeng Pasifik. ciri dominan dari perkembangan geologi Papua merupakan dikhotomi antara sejarah tektonik dari batuan mantap kraton Australia dan lempeng Pasifik di satu sisi. pada umumnya geologi Papua dapat dibagi ke dalam tiga provinsi geologi besar. Kretasius. Menurut Dow et al. Dari paparan di sepanjang tepi Utara dan dari eksplorasi permukaan bawah (sub-surface) di sebelah Selatan. bahwa batuan dari kraton Australia pada sebagian besar wilayah ini dicirikan oleh sedimentasi palung (shelf sedimentation). serta pencatatan lengkap sejarah geologi hingga saat ini menunjukkan. sebaran paling luas dari aktivitas tektonik dan volkanik dimulai pada Miosen Akhir dan berlanjut hingga sekarang. LAPORAN AKHIR 1-19 Provinsi Oseanik terdiri atas batuan Ofiolit (ophiolite rock) dan kompleks volkanik busur-kepulauan Provinsi Transisi adalah suatu zone yang terdiri atas deformasi tinggi dan batuan metamorfik regional . Provinsi Kontinental terdiri atas sedimen yang terpisah dari kraton Australia. lempeng Pasifik ini terdiri atas volkanik busur-kepulauan dan sub-ordinat kerak samudera berumur Palaeogen. Sesar Ransiki (RFZ). dan Miosen Pertengahan. Zone deformasi yang berada di sebelah Timur adalah bagian dari New Guinea Mobile Belt (Sabuk Mobil New Guinea) dan merupakan campuran dari batuan kraton Australia dan lempeng Pasifik. magmatik dan tektonik. seperti Sesar Sorong (SFZ). Batuan lempeng Pasifik yang terpaparkan di Papua berumur lebih muda. terdapat bukti bahwa batuannya berasal dari tektonik utama pada episode Paleozoik Pertengahan dan Oligosen maupun episode beku dalam Paleozoik Pertengahan. Oseanik. Setiap provinsi geologi memiliki karakteristiknya sendiri dalam sejarah stratigrafik.

8 Setting Tektonik Papua Keterangan: MTFB = Mamberamo Thrust & Fold Belt. WT = Waipona Trough. (4). Stratigrafi Zone Transisi. (2). YFZ = Yapen Fault Zone. RFZ = Ransiki Fault Zone. Stratigrafi Lempeng Pasifik. MO = Misool-Onin High.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. LFB = Lengguru Fault Belt.1. Sedimentasi Mesozoik hingga Senosoik. SFZ = Sorong Fault Zone.2 Stratigrafi Dari berbagai publikasi yang dikompilasi Sapiie (2000). dan (5).5. WO = Weyland Overthrust. Paleozoic Basement. TAFZ = Tarera-Aiduna Fault Zone. LAPORAN AKHIR 1-20 . menunjukkan bahwa stratigrafi wilayah Papua Barat terdiri atas: (1). Tanda panah menunjukkan gerakan relatif antara lempeng Pasifik dan Australia 1. (3). Sedimentasi Senosoil Akhir.

Formasi Kemoem ditutupi oleh kelompok Aifam. mulai dari Papua Barat hingga dekat perbatasan di sebelah Timur. formasi Tipuma ditutupi oleh kelompok Aifam. batulumpur Aifat dan formasi Ainim. namun di Leher Burung terjadi deformasi kuat dan termetamorfosa. b. 2000) 1. Kelompok Kembelangan terdiri LAPORAN AKHIR 1-21 . Sedimentasi Mesizoik hingga Senosoik Formasi Tipuma Formasi Tipuma tersebar luas di Papua.9 Stratigrafi Pulau Papua (Sapiie. Formasi ini tercampur oleh granit-biotit karboniferus (Melaiurna Granite). (slate). a. kelompok ini tidak mengalami metamofosa. Formasi Kelompok Kembelangan Kelompok ini diketahui terbentang mulai dari Papua Barat hingga Arafura Platform. Formasi ini diketahui berada di tepi Utara Papua Barat dan terdiri atas tiga formasi. Filitik (Phylliic) dan sedikit kuartzit (quartzite). Di daerah Papua Barat. Di daerah Teluk Bintuni. Bagian atas dari kelompok ini disebut formasi Jass. yaitu formasi Aimau.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Paleozoic Basement Blok terluas dari strata Paleozoik berada di Timur Laut Papua Barat yang dikenal dengan Kemum High atau formasi Kemoem yang terdiri atas sabak. Formasi ini dicirikan oleh batuan berwarna merah terang dengan sedikit bercak hijau muda. 2. batuan sedimen paparan airKelompok Aifam digunakan untuk mendeskripsikan dangkal.

Dataran ini memanjang dari Timur ke arah Barat dengan lebar LAPORAN AKHIR 1-22 . Umur kelompok ini berkisar dari Miosen Awal hingga Pliosen. 3. Utara Pegunungan Gauttier dan sepanjang zone sesar Sorong dan Yapen pada umumnya terbentuk oleh batuan ultramafik. kurang lebih pada batas Cretaceous dan Cenozoik. Stratigrafi Lempeng Pasifik Pada umumnya batuan lempeng Pasifik terdiri atas Batuan asal penutup (mantle derived rock). Sedimentasi Senosoik Akhir Sedimentasi Senosoik Akhir dalam basement kontinental Australia dicirikan oleh sekuensi silisiklastik yang tebalnya berkilometer. Pulau New Guinea dicirikan oleh pengendapan (deposisi) karbonat yang dikenal sebagai Kelompok Batu Gamping New Guinea (NGLG).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 atas antarlapis batudebu dan batulumpur karboniferus pada lapisan bawah batupasir kuarsa glaukonitik butiran-halus serta sedikit shale pada lapisan atas. yaitu (1). 4. Sedimen dalam lempeng Pasifik dicirikan pula oleh karbonat laut-dangkal yang berasal dari pulau-arc. (3). (2). Pulau Waigeo. Formasi Fumai Eosen. Biak. Formasi Imskin. yaitu formasi Klasaman dan Steenkool. (3) Formasi Sirga Eosin Awal. berada di atas strata karbonat Miosen Pertengahan. Batuan metamorfik ini membentuk sabuk kontinyu (>1000 km) dari Papua hingga Papua New Guinea. Satuan ini disebut Formasi Hollandia dan tersebar luas di Waigeo. Kelompok ini berhubungan dengan formasi Waripi dari kelompok Batuan Gamping New Guinea atau New Guinea Limestone Group (NGLG). Kelompok batuan ini diklasifikasikan sebagai zone transisi atau peralihan. volkanis pulau-arc (island-arc volcanis) dan sedimen laut-dangkal. Kelompok ini berada di atas Kelompok Kembelangan dan terdiri atas empat formasi. Formasi Klasaman dan Steenkool berturut-turut dijumpai di cekungan Salawati dan Bintuni. 5. yang terutama terdiri atas batuan metamorfik. Pegunungan Cycloop. Di Papua. c. plutonil basik. dua di antaranya dijumpai di Papua Barat. Di Papua dikenal 3 (tiga) formasi utama. Formasi Waripi Paleosen hingga Eosen. dan mutu-tinggi metamorfik. Stratigrafi Zone Transisi Konvergensi antara lempeng Australia dan Pasifik menghasilkan batuan dalam zone deformasi. pulau Yapen dan pegunungan Cycloop. Kedua dataran ini menyatu sebagai suatu dataran luas yang membujur ke arah Barat daya Danau Sentani. Wilayah Papua secara umum terdiri dari dua dataran “Dataran Grime” dan “Dataran Sekoli”. Formasi Batu Gamping New Guinea Selama masa Cenozoik. Formasi Kais Miosen Pertengahan hingga Oligosen. dan (4). batuan asal penutup banyak dijumpai luas sepanjang sabuk Ophiolite Papua.

kedua teras ini melandai ke arah Utara hingga ke arah Barat laut. berbatasan dengan teras ke-4. LAPORAN AKHIR 1-23 . membagi Dataran Grime ke dalam 6 teras utama. terdapat Dataran Sekori yang besar. Teras-teras ini berumur tua dan berada lebih tinggi serta tampak datar. Di Dataran Sekori ini juga terbentuk teras. Wentholt (1939). Teras ke-6. merupakan daerah tertinggi dan tertua yang mengakhiri teras ke-4 dan ke-5 di sebelah Selatan. dataran ini membentuk daerah rawa hingga ke arah pantai. Wentholt (1939). Teras ke-3 dan ke-4 menempati sisa dataran di sebelah Barat kampung Janim Besar. batuan beku atau malihan. kecuali daerah yang paling Barat oleh Sungai Sarmoai. Selama periode ini dataran banjir terbentuk pada berbagai tingkat. Teras pertama dimulai dari dataran terendah dan termuda. di mana sisa-sisa daripadanya masih ditemukan sekarang dalam bentuk teras-teras yang luas. di sebelah Timur sungai Grime terletak teras ke-5. Daerah teras ini melandai ke arah Barat laut dan kemudian ke arah Utara. namun tidak jelas perkembangannya. dan batuan sedimen padu (tak terbedakan). menyatakan bahwa adanya ketinggian (elevasi) yang berselang-seling di seluruh daerah tersebut menyebabkan sungai-sungai memotong sedimen ini. Di sebelah tenggara teras terendah ini berakhir dan berlanjut dengan teras ke-2 yang berada kurang lebih 10 m lebih tinggi. Lebih lanjut Schroo (1961). Sumbangan cabang-cabang sungai yang berasal dari pinggiran pegunungan Utara relatif kecil. menunjukkan bahwa tanah di Dataran Grime dan Dataran Sekori berasal dari hancuran batuan fluviatil sedimen kwarterner. Di batas Utara dari teras ke-5. Berdasarkan stratigrafi ini dapat disimpulkan bahwa wilayah Papua Barat terdiri dari empat ragam formasi batuan utama yaitu Batu gamping atau dolomit. pasir lanau). seluruh lahan yang berada di sebelah Barat Yanim Besar (Braso) dibentuk oleh Sungai Grime dan cabang-cabang sungainya. wilayah Papua Barat terdiri dari dua lempeng. Di ujung sebelah Barat. Menurut Wentholt (1939). dan sedimen marin neogen. batuan sedimen lepas (kerikil.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bentangan yang hampir sama. menyatakan bahwa dataran ini terbentuk pada zaman kwarter. Teras ke-5 ini mencakup dari arah Timur hingga arah garis Utara-Selatan melandai ke aras Utara. Dataran Grime dan Dataran Sekori merupakan lembah sedimentasi peninggalan zaman tersier yang terisi atas sedimen laut (marin) dan kemudian oleh bahan fluviatil. Hal ini dapat dipahami karena secara regional. dan bergelombang lemah. Zwierzichi (1921) dalam Schroo (1963). Lahan yang berada di sebelah Timur Yanim Besar seluruhnya terbentuk dari material yang berasal dari pinggiran Utara daerah pegunungan Selatan. Kedua sungai tersebut membawa bahan-bahan yang sama. terumbu koral terangkat pleistosin. namun setempat-setempat saja. Juga di sini bentang lahannya tampak seluruhnya datar. Menurut Schroo (1963).

dan waktu.1. Sedangkan diantara kedua lempeng adalah Lajur Sesar Anjak dan Lipatan Pegunungan Tengah atau “New Guinea Mobile Belt” (Dow. berdampak pula terhadap rendahnya kapasitas infiltrasi (perembesan) tanah sehingga menyebabkan penggenangan air di permukaan tanah terutama di musim penghujan. yaitu faktor Iklim. 1. sedangkan pada Plistosin terjadi pensesaran anjak miring ke Selatan di bagian Utara. Batugamping yang berumur eosin-Miosen Tengah. Lempeng Samudera Pasifik terdiri dari batuan batuan ultramafik dan batuan busur gunung api Paleogen. Selain itu. yang berumur Mesozoikum (Dow drr. 1977).1984). 1984) Terdapat tujuh Satuan Peta Tanah (SPT) yang dimodifikasikan Petocz (1984) dari Brookfield dan Hart (1971). yang berumur Mesozoikum yang disebut sebagai Kelompok Kembelangan. Hal ini sudah barang tentu akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Tektonik Papua Barat diawali pada Permo-Trias. 1977). dan 2) di bagian Utara terdiri dari Batuan Malihan Darewo yang berumur Oligosen (Dow. Kadar liat yang tinggi dapat menyebabkan akar tanaman sulit berkembang.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 yaitu Lempeng Benua Australia di bagian Selatan dan Lempeng Samudera Pasifik di bagian Utara. seperti terlihat pada Peta 2. Pengaruh secara simultan dari kelima faktor pembentukan tanah tersebut menghasilkan jenis-jenis tanah dan penyebarannya. relief atau topografi. 1. Gambar 1. Pada saat itu Papua-Papua New Guinea mulai melepasakan diri dari Benua Australia.1 Jenis Tanah Pada umumnya terdapat lima faktor yang mempengaruhi pembentuan tanah.10 Peta Geologi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-24 .1. yang disebut sebagai Orogenesa Tasman. Lempeng Benua Australia tersusun oleh batuan sedimen klastik. bahan induk. yaitu : 1) di bagian Selatan terdiri dari batuan sedimen yang berumur Mesozoikum sampai tersier yang tersesarkan dan terlipatkan..6. tanah bertekstur berat. organisme atau vegetasi. bergerak ke arah Utara. dan Batuan Sedimen Klastik Plioplistosen.3 (Petocz. kemudian berbenturan dengan Lempeng Samudera Pasifik pada Orogenesa Melanisia yang mengakibatkan sesar anjak miring ke Utara dan terbentuknya Pegunungan Tengah. yaitu berkisar dari lempung liat berdebu hingga liat berdebu. sedangkan di Pegunungan Tengah terdiri dari beberapa batuan.6 Karakteristik Tanah Pada umumnya. Batuan ultrabasa disebut sebagai ofiolit. yang disebut sebagai Kelompok Batu Gamping New Guinea.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Litosol dan Regosol (Entisol) LAPORAN AKHIR 1-25 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Asosiasi jenis tanah ini dijumpai di daerah pegunungan tinggi yang kasar topografinya (2000-4500 m dpl) pada kordirela Tengah (pegunungan tengah) dan Kepala Burung hingga Leher Burung sebelah Utara. Berdasarkan klasifikasi USDA Soil Taxonomy (19975/1998). kedua tanah ini diklasifikasikan sebagai Regosol sepadan dengan Entisol (Lithic Subgroup). Menurut klasifikasi PPT (1978/1982) dan Inceptisol. walaupun dijumpai pula tanah-tanah bersolum dalam yang relatif stabil dan berdrainase baik pada puncak-puncak bukit dan lereng bagian atas. Horison permukaan mengalami pelindian hebat yang menghasilkan horison pencucian yang miskin hara dan (Petocz. sedangkan menurut FAO/UNESCO (1974). tanah ini menjadi meningkat kemasamannya. tanah Brown Forest sama dengan Kambisol. 2. Arfak dan Tamrau. sedangkan menurut sistem klasifikasi USDA Soil Taxonomy (1975/1998). Pada altitut tinggi di mana curah hujannya tinggi. FAO/UNESCO (1974). Berdasarkan klasifikasi tanah dari Pusat Penelitian Tanah Bogor (PPT)(1978/1982) dan FAO/UNESCO (1974). Tanah Regosol biasanya mengandung liat dan fragmen batuan lapuk. terutama pada lereng tidak stabil. Selatan Kepala Burung dan di Utara depresi Meer Vlakte (Lakes-Plain). sedangkan menurut Soil Taxonomy (19975/1998). tanah ini dijumpai di pegunungan Wondiwoi. sama dengan Podsolik. Tanah Podzolik (Ultisol) Jenis tanah ini berkembang dari bahan induk masam di lereng pegunungan pada elevasi tinggi. sepadan dengan Litosol. Tanah Brown Forest (Inceptisol) Tanah ini berada pada perbukitan dan lereng pegunungan rendah pada sabuk Utara Papua dari bahan induk basik dan batuan kalkareus (kapur) dengan curah hujan sedang. Sedangkan jenis tanah Podzolik Podzolik dataran rendah. 3. Sering pula dijumpai berasosiasi dengan Regosol. Tanah ini biasanya berasosiasi dengan tanah Podzol (Spodosol) yang dicirikan oleh horison spodik. tanah Podzolik sepadan dengan Ultisol. Di Papua Barat. 1984) berpasir. sedangkan tanah Litosol berada pada lereng-lereng batuan terjal. Litosol dan LAPORAN AKHIR 1-26 . Jenis tanah ini dijumpai di jazirah Bomberai. Menurut klasifikasi PPT (1978/1982) Podzolik sepadan dengan Podsolik atau Kambisol (Podsolik Coklat). Tanah ini dijumpai sedikit di wilayah pegunungan Kepala Burung dan terutama di Selatan Kordirela (pegunungan tengah). sedangkan horison penimbunan kaya akan besi dan humus yang disebut horison spodik. pada umumnya adalah hidro-podzolik yang berkembang pada kondisi drainase buruk pada dataran dan kipas aluvial Pleistosen. Profil tanah pada umumnya dangkal karena ketidakstabilan lereng.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

4. Latosol (ultisol) dan Lateritik (oksisol)
Latosol adalah tanah yang mengalami pelapukan sangat tinggi, terutama di daerah dengan ketinggian rendah di mana dijumpai pula berasosiasi kelompok Lateritik. Lateritik berkembang pada kondisi yang sama dengan Latosol, namun dengan pengaruh hidromorfik karena berasosiasi dengan fluktuasi permukaan air tanah. Selain dijumpai luas di daerah Selatan Papua, Latosol juga dijumpai tersebar di Selatan Kepala Burung hingga ke Leher Burung sebelah Utara dan Selatan serta di kepulauan Raja Ampat. Latosol sepadan dengan Kambisol, Latosol, Lateritik (PPT, 1978/1982), Cambisol, Nitosol, Ferrasol (UNESCO, 1974) dan Iceptisol, Ultisol, oxisol (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998).

5. Rendzina (Molisol)
Pembentukan tanah ini dikendalikan kuat oleh bahan induk. Rendzina berbatu dangkal terdapat pada perbukitan batu gamping dan di sepanjang daerah pantai pada platform koral terangkat yang umumnya bercirikan karst. Tanah ini berkembang baik pada perbukitan antara Teluk Etna dan Arguni, pegunungan Kumawa dan Arfak dan di Barat daya pegunungan Tamrau. Rendzina dijumpai pula pada terumbu koral terangkat barusan muda. Rendzina dicirikan oleh horison permukaan lembab coklat tua, berada di atas bahan berpasir coklat kelabu tua yang berangsur ke dalam bahan koral. Rendzina sepadan dengan Rendzina (PPT, 1978/1982), Rendzina (UNESCO, 1974) dan Rendoll (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998).

6. Aluvial dan Gambut
Pada umumnya jenis tanah ini dijumpai pada semua ketinggian, baik di daerah kering maupun basah. Di daerah kering, dengan tekstur tanahnya kasar dan berdrainase baik dijumpai di dataran landai, dataran banjir mapan, dan kipas aluvial, sedangkan, di daerah basah dengan drainase jelek dijumpai di dataran banjir atau rawa dari aluvium atau gambut. Tanah dengan tekstur halus dan gleisasi kuat akibat drainase jelek selama musim hujan cenderung bereaksi sangat alkalin, berada di dekat pantai dan sungai yang dipengaruhi pasang surut, namun semakin ke menjauhi pantai semakin meningkat kemasaman tanahnya. Tanah gambut dataran rendah dijumpai luas di Utara dan Selatan teluk Bintuni, serta gambut pegunungan dalam luasan yang kecil berada di sekitar danau Anggi Gita dan Anggi Giji. Tanah Aluvial sepadan dengan tanah Aluvial (PPT, 1978/1982), Fluvisol (UNESCO,1974) dan Entisol, Inseptisol (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998). Tanah gambut menurut USDA Soil Taxonomy (1975/1998), sepadan dengan Histosol.

LAPORAN AKHIR 1-27

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

7. Tanah Salin
Tanah salin atau tanah garaman (salty soils) biasanya bertekstur halus, berdraenase jelek karena dipengaruhi pasang surutnya air laut, serta bahan liat marin termasuk di dalamnya. Vegetasi khas dari tanah ini adalah mangrove dan nipah. Tanah Salin berkembang baik di sepanjang pantai Selatan mulai dari pulau Kimaam hingga teluk Etna dan di Selatan Kepala Burung dan Teluk Bintuni. Tanah ini menunjang pertumbuhan habitat mangrove terluas di Indonesia. Tanah Saline menurut USDA Soil Taxonomy (1975/1998), sepadan dengan Entisol (Sulfaquent) dan Inseptisol (sulfaquept). Persebaran jenis-jenis tanah di Propinsi Papua Barat dapat dilihat pada Gambar 1.11: Tekstur Tanah Pada umumnya, tanah bertekstur berat, yaitu berkisar dari lempung liat berdebu hingga liat berdebu. Kadar liat yang tinggi dapat menyebabkan akar tanaman sulit berkembang. Selain itu, berdampak pula terhadap rendahnya kapasitas infiltrasi (perembesan) tanah sehingga menyebabkan penggenangan air di permukaan tanah terutama di musim penghujanan. Hal ini sudah barang tentu akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Untuk tujuan penanaman kakao, maka drainase permukaan maupun drainase internal sangat perlu diperhatikan, jika ingin memperoleh pertumbuhan dan produksi kakao yang baik. Untuk menanggulangi drainase yang jelek, maka perlu dibuatkan selokan-selokan drainase berukuran kecil hingga sedang serta cukup dalam agar kelebihan air dapat dikeluarkan, sehingga tanahnya selalu dalam keadaan kering (lembab) dan tidak jenuh air. Selain itu, agar pertumbuhan akar tanaman kakao tidak terhalang oleh lapisan liat yang kompak, maka perlu digali lubang tanaman yang cukup besar dan dalam. 1.1.6.2 Reaksi Tanah Pada umumnya, tanah bereaksi alkali hingga sangat alkali dengan kisaran pH rata-rata 7,0 – 7,8. Semakin dalam tanahnya semakin tinggi reaksi tanah, bahkan tidak jarang mencapai pH=8,0 atau lebih. Tingginya pH tanah ini disebabkan karena tingginya kadar kalsium tanah (kapur) yang terbawa bersama bahan endapan sungai yang berasal dari pegunungan dan perbukitan kapur di sekitarnya. Reaksi Tanah demikian menyebabkan sebagian besar unsur-unsur hara makro (N, P, K) dan mikro (Fe, Zn, Mn, B, Cu) berada dalam keadaan tidak tersedia bagi tanaman. Apabila reaksi tanah mencapai pH=8,0 atau lebih akan menyebabkan tanaman sulit menyerap fosfat dan unsur-unsur mikro.

LAPORAN AKHIR 1-28

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Pada saat penelitian dijumpai pertanaman kacang tanah milik masyarakat di Kampung Pobaim yang menunjukkan gejala kekuningan pada daun-daun muda. Gejala kekuningan ini diduga kuat karena kahat akan beberapa unsur mikro. Gejala klorosis ini diistilahkan sebagai “Klorosis Terimbaskan Kapur” (Lime Induced-Chlorosis), suatu gejala kekahatan hara yang biasanya muncul di tanah-tanah berkapur. Kation-Kation Tersedia Kation tersedia yang diukur adalah Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Kalium (K). Kadar Ca dan Mg tersedia pada umumnya sedang hingga sangat tinggi. Hal ini mengisyaratkan bahwa kebutuhan tanaman akan Ca dan Mg cukup memadai sehingga tidak perlu diberi pupuk dengan kedua unsur tersebut. Pada kadar Ca yang sangat tinggi seperti dijumpai di beberapa tempat justru mengganggu pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, K tersedia tergolong rendah hingga sangat rendah sehingga pemupukan K sangat diperlukan agar mendapatkan produksi tanaman yang baik. Dalam hal tanaman tahunan seperti kakao, maka pemupukan kalium setidaknya dilakukan setiap tahun. Hasil analisis mineral tanah juga mencerminkan rendahnya kadar K tanah. Mineral tanah penyumbang kalium dari jenis kalium-veldspat yang telah hancur menunjukkan status kalium tanah yang jelek. Fosfor Tanah Kadar fosfat tersedia tergolong agak tinggi hingga sangat tinggi. Hampir semua contoh tanah menunjukkan adanya mineral primer apatit penyumbang fosfat yang tergolong sporadis (<1%) hingga beberapa persen saja. Dari pengalaman membuktikan bahwa walaupun jumlahnya sangat sedikit atau sporadis (<1%), nilai fosfat tersedia biasanya tinggi. Dengan demikian unsur hara fosfor dianggap cukup bagi kebutuhan tanaman, sehingga pemupukan P tidak diperlukan selama beberapa waktu tanam. Fosfat dan Kalium Total Kadar fosfat dan kalium total mencerminkan cadangan hara tersebut dalam tanah. Pada umumnya, kadar fosfat total berkisar dari Sedang hingga Tinggi sehingga tidak mengkhawatirkan. Tampaknya kandungan fosfat total dan fosfat tersedia berkorelasi positif sehingga memperkuat dugaan bahwa kadar fosfat cukup bagi kebutuhan tanaman. Kadar kalium total berkisar dari agak rendah hingga sedang. Ini berarti bahwa cadangan kalium tanah tidak memadai bagi suatu usaha pertanian, sehingga diperlukan pemupukan untuk mempertahankan kadar kalium tanah. Bahan Organik Tanah Kadar karbon (C) organik tanah mencerminkan kadar bahan organik tanah. Bahan organik sangat penting karena berpengaruh terhadap perbaikan sifat fisika dan kimia tanah. Bahan organik membantu granulasi dan penstabilan agregat tanah sehingga memperbaiki retensi LAPORAN AKHIR 1-29

Pada umumnya kadar C organik tanah tergolong rendah. sebab tekstur tanah menentukan kemampuan tanah memegang air. Struktur mempengaruhi drainase tanah karena struktur tanah menentukan proporsi ukuran pori tanah.1. yang berarti pula meningkatkan kemampuan menyerap kation unsur hara makro dan mikro sebagai sumber hara. Untuk menanggulangi kekurangan bahan organik dapat dilakukan dengan pemberian pupuk kandang. 1. kompos.4 Kondisi Drainase Tanah Drainase tanah merupakan salah satu parameter penentu dalam penilaian kualitas/karakteristik lahan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 air tanah. Hal tersebut berkaitan dengan volume tanah yang dapat dijelajahi oleh akar tanaman. dan menanam penutup tanah (seperti Pueraria javanica atau Calopogonium mucunoides) terutama pada pertanaman kakao. namun demikian ada juga tanaman yang toleran terhadap drainase tanah yang jelek. struktur tanah dan ada tidaknya lapisan kedap dalam tanah serta kemiringan lereng. Kemiringan lereng mempengaruhi drainase. kedalaman tanah merupakan faktor pembatas bagi penggunaan tanah untuk tanaman.6. dimana drainase jelek atau terhambat biasanya terdapat pada tanah yang relatif datar atau daerah LAPORAN AKHIR 1-30 .1. Tekstur tanah mempengaruhi drainase. Tidak kalah pentingnnya adalah dengan adanya bahan organik akan sangat berdaya terhadap biologi tanah. Selain itu. Tanaman pada umumnya tumbuh dan berkembang dengan baik apabila drainase tanah baik. Tanah dapat mempunyai drainase baik atau jelek tergantung pada kondisi internal dalam tanah seperti tekstur tanah. Adapun kondisi kedalaman tanah di Tanah Papua dapat dilihat pada Gambar 1. 1. Hal ini mengisyaratkan bahwa peningkatan dan perlindungan bahan organik tanah sangat penting dilakukan. Drainse tanah merupakan cerminan terhadap kondisi tata air baik di dalam tanah maupun di permukaan tanah.3 Kedalaman Tanah Di samping jenis tanah. meningkatkan laju infiltrasi dan kapasitas memegang air. sedangkan perkolasi air dalam tanah ditentukan oleh ada atau tidaknya lapisan kedap.6.12 Peta Kedalaman Tanah di Tanah Papua. bahan organik meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK). Drainase tanah penting diperhatikan sebab drainase tanah mempengaruhi lingkungan perakaran tanaman yaitu keadaan air dan udara tanah. semakin kecil tekstur tanah semakin kuat memegang air demikian pula sebaliknya.

13.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Untuk jelasnya mengenai kondisi cekungan bukan di daerah yang berlereng curam.11 Peta jenis tanah dan penyebarannya LAPORAN AKHIR 1-31 . Gambar 1. drainase tanah di Tanah Papua dapat dilihat pada Gambar 1.

12 Peta Kedalaman Tanah LAPORAN AKHIR 1-32 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

13 Peta Drainase Tanah LAPORAN AKHIR 1-33 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

1.1.7

Hidrologi

Tinjauan terhadap sumberdaya air sangat urgen sifatnya dilakukan guna memahami potensi, bentuk penguasaan, penggunaan, dan kesesuaian pemanfaatan sumberdaya air. Keberadaan sungai yang wilayah alirannya (DAS) di lebih dari satu wilayah administratif menjadikan sungai menuntut sistem pengaturan yang spesifik. Wilayah Provinsi Papua Barat dilewati beberapa sungai yang tersebar di beberapa wilayah kabupaten/kota. Dari sungai besar di Papua Barat sebagian besar mengalir di wilayah pengembangan Sorong. Sungai-sungai tersebut menjadi sebuah sistem daerah aliran sungai yang mengalir sepanjang tahun. Potensi sumberdaya sungai terbesar di Papua Barat disajikan dalam Tabel 1.11 berikut ini. Tabel 1.11 Nama, Panjang, Lebar dan Kecepatan Arus Sungai menurut Kabupaten/Kota
Wilayah Pengembangan WP Manokwari WP Sorong Nama Sungai Panjang (Km) Lebar (m) 80-350 60-700 80-2.700 80-350 140-1200 40--250 40-1300 40-2.200 30-40 50-125 45-1250 20-25 50-570 40-700 200-800 Kecepatan (Km/jam) 1,26 2,95 3,06 1,26 2,7 2,88 2,88 0,9 0,9 2,52 3,06 0,9 0,9 1,62 2,7

Laore 163 Beraur 360 Kaibus 200 Kais 184 Kamundan 425 Aifat 174 Karaora 230 Minika 225 Remu 17 Sebak 267 Seramuk 229 WP Fakfak Umbawa 280 Uta 246 Warsamsan 320 Muturi 428 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009

Sungai-sungai besar hingga kecil yang berasal dari wilayah pegunungan di bagian tengah Kepala Burung yang mengalir ke arah dataran rendah (berawa) dan bermuara di Teluk Bintuni. Selain itu, terdapat pula sejumlah sungai yang mengalir ke arah Selatan dan bermuara di pantai Selatan pada dan pantai Utara. Beberapa sungai besar yang bermuara di Teluk Bintuni adalah Sungai Arandai, Wiryagar, Kalitami, Seganoi, Kais, Kamundan, Teminabuan, Sermuk, Maambar, Woronggei dan Sanindar. Selain sungai juga dijumpai danau di daerah pegunungan, yaitu Danau Anggi Giji dan Anggi Gita serta Danau Ayamaru.

LAPORAN AKHIR 1-34

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Di Provinsi Papua Barat terdapat beberapa sungai yang membentuk beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS). Sebagian besar Daerah Aliran Sungai yang terbentuk adalah pada kabupaten-kabupaten di Wilayah Pengembangan Sorong. Sungai-sungai yang termasuk dalam kategoti terpanjang adalah Sungai Kamundan (425 km), Sungai Beraur (360 km), dan Sungai Warsamsan (320 km), sedangkan sungai-sungai yang termasuk kategori terlebar adalah Sungai Kaibus (80-2700 m), Sungai Minika (40-2200 m), Sungai Karabra (40-1300 m), Sungai Seramuk (45-1250 m), dan Sungai Kamundan (140-1200 m). Sungaisungai ini sebagian besar terletak di kabupaten-kabupaten di Wilayah Pengembangan Sorong. Berdasarkan data-data pada tabel di atas, beberapa sungai yang memiliki kecepatan arus paling deras antara lain adalah Sungai Seramuk (3,06 km/jam), Sungai Kaibus (3,06 km/jam), Sungai Beraur (2,95 km/jam), Sungai Aifat (2,88 km/jam), dan Sungai Karabra (2,88 km/jam). Sungai-sungai tersebut terletak pada Wilayah Pengembangan Sorong. Secara garis besar, daerah tangkapan sungai (catchment area) di Provinsi Papua Barat dapat dibagi ke dalam dua satuan wilayah sungai (SWS). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.12 dan Gambar 1.14 tentang Peta Hidrologi. Tabel 1.12 Pembagian Satuan Wilayah Sungai di Provinsi Papua Barat
Kabupaten T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari T. Wondama T. Wondama T. Wondama T. Wondama Kaimana, Nabire Kaimana Kaimana Kaimana Kaimana, Fak Fak Fak Fak, Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak, T. Bintuni Sorong Selatan, Manokwari Manokwari, Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan, Sorong Sorong Selatan, Sorong WS B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar Nama Das Wasian Sebyar Kasi Mangopi Prafi Maruni Masawui Ransiki Windesi Wasimi Wondiwoi Woworama Omba Laenatum Lengguru Berari Madefa Karufa Bedidi Fak Fak Bomberai Wariagar Kamundan Kais Sekak Waromga Seremuk Karabra Luas (Km2) 4.851,000 12.981,400 693,200 1.917,200 1.169,300 193,320 111,110 584,300 23,560 617,400 172,820 279,700 8.610,200 379,500 1.870,000 1.029,900 4.605,570 477,400 1.355,600 88,760 2.033,300 6.720,000 9.732,250 4.232,740 830,700 810,430 884,600 5.989,230

LAPORAN AKHIR 1-35

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten WS Nama Das Luas (Km2) Sorong Selatan, Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Kladuk 3.131,150 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Klasegun 848,510 Raja Ampat B-50 Kamundan-Sebyar Misol 848,160 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Salawati 368,910 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Samate 82,000 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Batanta 69,490 Raja Ampat B-50 Kamundan-Sebyar Waigeo 598,160 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Remu 46,440 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Warsamson 2.437,131 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Mega 1.048,340 MANOKWARI B-50 KAMUNDAN-SEBYAR MAON 682,300 Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Wesauni 626,933 T. Bintuni B-50 Kamundan-Sebyar Kasuari 1.971,850 T. Bintuni B-50 Kamundan-Sebyar Wagura 1.799,100 T. Wondama B-50 Kamundan-Sebyar Arumasa 2.497,000 T. Bintuni, Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Muturi 5.381,300 Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air, Jayapura 2005.

Tabel 1.13 Debit Sungai Dirinci Menurut DPS di Provinsi Papua Barat
No No. DPS 1 17 2 18 3 19 4 20 5 21 6 22 7 23 8 24 9 25 10 26 11 27 12 28 13 29 14 30 15 31 16 32 17 33 18 34 19 35 20 36 21 37 22 38 23 38 a 24 39 25 40 26 41 27 42 28 43 29 44 30 45 31 46 32 47 33 48 34 49 NAMA DPS Omba Laenatum Lengguru Berari Madefa Karufa Bedidi Fak Fak Bomberai Kasuari Wagura Arumasa Muturi Wasian Sebyar Wariagar Kamundan Kais Sekak Waromga Seremuk Karabra Kladuk Klasegun Misol Salawati Samate Batanta Waigeo Remu Warsamson Mega Koor Maon SWS B - 49 B - 49 B - 49 B - 49 B - 50 B - 49 B - 49 B - 49 B - 49 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 Catchments Area (Km2) 8,610.200 379.500 1,870.000 1,029.900 4,605.570 477.400 1,355.600 88.760 2,033.300 1,971.850 1,799.100 2,497.000 5,381.300 4,851.000 12,981.400 6,720.000 9,732.250 4,232.740 830.700 810.430 884.600 5,989.230 3,131.150 848.510 848.160 368.910 82.000 69.490 216.500 46.440 2,437.131 1,048.340 1,202.800 682.300 Qn (m3/s) 316.919 29.086 141.454 96.869 374.730 38.903 107.968 11.747 146.870 142.232 165.546 127.979 476.337 364.562 825.032 432.319 796.177 221.554 46.634 50.282 58.182 302.739 195.716 58.497 53.437 27.064 6.183 5.338 13.309 4.721 147.467 120.947 140.594 104.163 KABUPATEN Kaimana, Nabire Kaimana Kaimana Kaimana Kaimana, Fak Fak Kaimana, Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak, T. Bintuni T. Bintuni T. Bintuni T,Wondama T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari Sorong Selatan, Manokwari Manokwari, Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan, Sorong Sorong Selatan, Sorong Sorong Sorong Raja Ampat Sorong Sorong Sorong Raja Ampat Sorong Sorong Sorong Sorong Manokwari

LAPORAN AKHIR 1-36

700 30.50 584. menyusul Asmat 951.200 222.50 1.740 Kaimana 03 Urema 12.872 ha LAPORAN AKHIR 1-37 . Luas areal yang meliputi air tanah dalam terbesar di Kabupaten Digul yakni 1.820 18.400 45.50 111.110 18.640 Tel.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 No No.129 Manokwari 40 55 Masawui B .024 Kaimana 05 Kamakawalor 23.169. 12 Hain 4.816 T.50 1.14 Luas dan Penyebaran Danau di Tanah Papua No Nama Danau Luas (Ha) Kabupaten 01 Aiwasa 10.50 0.131 ha (62.50 617.527 Tel. dan disebut sebagai ground water.600 Kaimana 04 Mbula 6.300 161.50 626.340 Kaimana 06 Berari 6. Di Provinsi Papua Barat terdapat 12 danau besar dan kecil yang tersebar di empat kabupaten/kota.574 T.596 Sorong Sel. Studi Aplikasi SWS di Tanah Papua Potensi Air Tanah Air tanah mengandung dua pengertian. Informasi selengkapanya di sajaikan pada Tabel 1.320 25.50 23.Wondama Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air. Pertama air tanah yang terkandung dalam tanah hingga batas kedalaman perakaran pada umumnya tanaman atau pada solum tanah dan disebut sebagi kandungan lengas tanah atau soil moisture. Di Papua Barat potensi air tanah dangkal cukup signifikan terdapat di Kabupaten Sorong Selatan (40 %). danau juga merupakan sumber air permukaan potensil.560 3.Wondama 44 59 Wondiwoi B . air tanah di bawah permukaan bumi pada kedalaman lebih dari yang tersebut di atas.814 Manokwari 39 54 Maruni B .000 128.50 172.Wondama 43 58 Wasimi B .830 Manokwari 11 Ayamaru 10.2 %). Kedua.50 279.917.240 Kaimana 02 Laamora 16.974 T. Jayapura 2005. Selain sungai.370 Manokwari 10 Anggi Gita 22. Tabel 1. Biasa juga disebut sebagai air aquifer.960 Manokwari 38 53 Prafi B .916 Kaimana 07 Makiri 7.850 Sorong Sel. DPS NAMA DPS SWS Catchments Area (Km2) Qn (m3/s) KABUPATEN 35 50 Wesauni B .933 108.648 Manokwari 36 51 Kasi B . Bintuni 08 Tanemot 17. Sumber: Dinas PU (2003).153 Manokwari 42 57 Windesi B . Bintuni 09 Anggi Gigi 21.50 193. Ground water.796.14. Potensi air tanah dalam sangat signifikan di bebrapa kabupaten di Provinsi Papua baik dilihat dari luasan maupun luasan relatifnya.300 76.Wondama 45 60 Woworama B .883 Manokwari 37 52 Mangopi B .854 T.958 Manokwari 41 56 Ransiki B .

Mappi 778.133.174 77.661.326.000 ha.320 6 Kab.432 ha (28.637 6.123 3 Kab.2 %).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 (49.698 1.752 721.154.037 651.184 13.004 10.815 115.910 5 Kab. dan Mimika (458.359 650. Tabel 1.15.080.757 531. Di Provinsi Papua Barat.957.098 1.091 LAPORAN AKHIR 1-38 .041 372.1 %).324 181.421 263.495. hanya Kabupaten Teluk Wondama yang secara relatif signifikan yakni 33 %. Teluk Bintuni 1.941 89.907 7 Kab.588 680. Kaimana 1.071 806 110 2 Kab.122 11.462 27.637 164.766 944. Fak Fak 935.706.530 391.8 %).457 49. Penyebaran tersebut dapat pula dilihat pada Gambar 1.029 116.241 2. Manokwari 1. namun secara mutlak kecil karena hanya mencakupi lahan seluas 165.15.916 Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air.740 3.897 30.927.793 241.455 270.636 1.668 1.304 61. KABUPATEN Luas Wilayah AT Dangkal Tanpa AT 29. Sorong Selatan 1.242 9 Kab.653 602 8 Kab.644 4 Kab.058 Provinsi Papua Barat 9.278 237. Teluk Wondama 500.467 166.15 Distribusi Luas Areal Air Tanah (Ground Water) Menurut Kabupaten di Tanah Papua No AT Dlm dan Perairan Sedang 1 Kota Sorong 33.230.195 1.843 1. Penyebaran lokasi air tanah diperlihatkan pada Tabel 1.857 ha (20.457. Sorong 1.158 256. Raja Ampat 741. Jayapura 2005.

14 Peta Hidrologi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-39 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.15 Peta Air Tanah LAPORAN AKHIR 1-40 .

pasang surut juga merupakan parameter oseanografi lain yang penting sebagai pembangkit arus di pantai. Gelombang ini merambat ke segala arah dengan membawa energi yang kemudian dilepaskan ke pantai LAPORAN AKHIR 1-41 . Pengamatan gelombang di perairan Papua relatif masih belum banyak dilakukan.8. sedangkan pasut yang berperilaku di antara keduanya disebut sebagai pasut campuran. Jika sudut datang cukup besar.2 m. Arus pasang surut yang terkuat akan ditemui di dekat permukaan dan akan menurun kecepatannya semakin mendekati dasar perairan.2–1. Oleh karena itu.1. pertumbuhan tersebut akan mengikuti daerah eksisting. Kisaran pasang surut (tidal range) adalah perbedaan tinggi muka air pada saat pasang maksimum dengan tinggi muka air pada saat surut minimum yang juga dipengaruhi oleh geometrik wilayah yang bersangkutan. dengan tipe pasut ganda campuran. Namun demikian sesungguhnya terdapat hubungan antara angin musim dan pola gerakan gelombang. Arus yang disebabkan oleh pasut ini dipengaruhi oleh dasar perairan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. dalam dokumen perencanaan perlu adanya kajian dan pertimbangan dari segi karakteristik hidro-oseanografi yang mencakup aspek fisik perairan dan aspek kimia perairan.6 meter. 1. Badan Riset Kelautan dan Perikanan.1. Kisaran pasang surut di perairan Papua mencapai 3 . Gelombang laut terbentuk karena adanya proses alih energi dari angin ke permukaan laut. Hasil penelitian Pusat Riset Teknologi Kelautan. Departemen Kelautan dan Perikanan tanggal 30 Juni–6 Juli 2005 menunjukkan bahwa tinggi gelombang di wilayah kajian berkisar antara 0. maka akan terbentuk arus menyusur pantai (longshore current) yang disebabkan oleh perbedaan teknan hidrostatik.8 Karakteristik Hidro-Oseanografi Sebagian besar kota dan kabupaten-kabupaten di Provinsi Papua Barat yang sudah ada tumbuh dan berkembang di tepi laut. Pola arus pantai ini terutama ditentukan oleh besarnya sudut yang dibentuk antara gelombang yang datang dengan garis pantai.1 Aspek Fisik Perairan Naik turunnya muka laut dapat terjadi sekali sehari (pasut tunggal atau diurnal tide) atau dua kali sehari (pasut ganda atau semi diurnal tide). dalam bentuk hempasan ombak. Gelombang yang datang menuju pantai dapat menimbulkan arus pantai (nearshore current) yang berpengaruh terhadap proses sedimentasi ataupun abrasi di pantai. Selain gelombang. atau pada saat-saat tertentu disebabkan oleh gempa di dasar laut. Kecenderungannya.

Akibat dari naiknya massa air ini adalah suhu permukaan menjadi lebih rendah. Demikian pula kandungan fosfat dan nitrat masing-masing naik dua kali lipat. Karena massa air bawah permukaan pada umumnya lebih kaya zat hara dibandingkan dengan lapisan permukaannya.0006 cm/detik. upwelling terjadi di Laut Arafura (Wyrtki. Keadaan arus laut umumnya terjadi akibat pengaruh beberapa gaya yang bersamaan yang terdiri dari arus tetap. Pola arus perairan Papua menurut P30-LIPI Ambon tahun 1992 bahwa pola arus dipengaruhi oleh pasang surut. (pasut) dan arus angin. akibatnya air yang berada di lapisan bawahnya terangkat naik untuk mengisi kekosongan tersebut. karena dengan adanya volume air yang terangkat di daerah ini bisa mencapai 2 juta m3/detik. Di perairan Papua. gaya coriolis. sedangkan salinitas lebih tinggi 1 per mil. dan gaya sentrifugal. Keadaan ini dipengaruhi dipengaruhi oleh keadaan rataan dan sedimentasi di pesisir pantai. Bishop (1984) menyatakan bahwa gaya yang berperan dalam sirkulasi masa air adalah gaya gradient tekanan. 1958). dimulai sekitar bulan Mei sampai kira-kira bulan September. gaya gesekan. dimana kecepatan arus rata-rata pada waktu pasang dan surut 7 – 8 cm/ det di daerah pesisirnya. LAPORAN AKHIR 1-42 . Air naik di laut tersebut terjadi pada musim Timur. yaitu C lebih rendah dari musim Barat. Kecepatan naiknya tampaknya kecil. Karena pada saat tersebut angin musim Timur mendorong keluar air permukaan Laut Arafuru dengan laju yang lebih besar daripada yang dapat diimbangi oleh air permukaan sekitarnya. arus periodik. gaya gravitasi. Air yang naik ini bersumber dari kedalaman sekitar 125 – 300 m yang menyusup dari Lautan Pasifik. Upwelling adalah menaiknya massa air laut dari lapisan bawah permukaan (dari kedalaman (150 – 250 m) karena proses fisik perairan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Arus adalah gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horisontal dan vertikal masa air oleh perbedaan energi potensial. Tetapi ini mempunyai arti besar. dan waktu pasang 11 cm/det. diperkirakan 0. maka menaiknya massa air tersebut akan menyuburkan kawasan permukaannya.

Sedangkan kadar oksigen terlarut (DO) di Perairan Utara dan Selatan berkisar antara 2. 1961. Musim Barat puncaknya terjadi pada bulan Februari. terutama ikan-ikan pelagis. Sifat fisik. Hal ini berpengaruh besar terhadap sebaran klorofil-a dan nutruen serta ikan-ikan pelagis di wilayah tersebut sehingga perairan ini juga dikenal sebagai salah satu daerah penangkapan ikan dan udang. sedangkan musim Timur puncaknya terjadi pada bulan Agustus.16.8.1. Hal ini disebabkan oleh letak geografis perairan tersebut yang berdekatan dan lebih terbuka dengan laut Banda. Pada saat musim Barat suhu permukaan laut cenderung lebih panas bila dibanding dengan pada musim Timur. dan biologi perairan pada kedua musim tersebut penyebarannya kisaran nilainya disajikan dalam Tabel 1. 1980). Dari tabel aspek fisik dan kimia adalah sesuatu proses yang dinamis dan sangat tergantung pada musim.51 ml/l dengan ratarata 3.39 µg-A/l dengan rataDinginnya suhu permukaan di musim Timur tersebut cenderung membuat perairan cenderung lebih subur yaitu dengan adanya LAPORAN AKHIR 1-43 .3.12 .17 ml/l. Pada musim Timur kondisi oseanografis perairan ini banyak dipengaruhi oleh massa air dari Laut Banda (Wyrtki. laut Timor dan samudera Hindia. peningkatan fitoplankton dan zooplankton. kimia. Tchernia. kandungan konsentrasi fosfat berkisar antara 0.4. dan (b) musim Timur. Wilayah perairan Selatan Papua merupakan perairan yang memiliki karakteristik massa air yang agak berbeda dengan perairan wilayah Indonesia lain.2 Aspek Kimia Perairan Perairan di Papua sangat dipengaruhi oleh dua musim. yaitu : (a) musim Barat.02 .16 Ketinggian Gelombang Laut 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

000 Sumber: Netherlands Journal of Sea Research 25 (4): 431-447 (1990).8 2 Salinitas (ppm) 31. Tanah negara yang dikuasai penduduk LAPORAN AKHIR 1-44 .5 – 7.5 – 1.1 – 0.1 . Status tanah sekarang pada dasarnya sangat menentukan mudah dan dapat tidaknya suatu bidang tanah dikuasai atau dialihkan penguasaannya oleh pihak ketiga untuk kegiatan tertentu. Kimia. Parameter Musim Barat (Februari) Musim Timur (Agustus) 1 Suhu (oC) 28.5 6 Silikat (µm) 2.0 0.9 Ketersediaan Lahan Ketersediaan tanah atau lahan yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Guna Lahan sebagai suatu rencana dasar memberikan gambaran potensi lahan dan arahan bagi kawasan yang dapat dikembangkan/dibudidayakan atau karena limitasinya tidak dapat dikembangkan sama sekali berdasarkan faktor-faktor fisik dasar.5 1. di wilayah Papua Barat perlu diperhatikan adanya berbagai jenis status (penguasaan) tanah sebagai berikut: a.0 26.94 µg-A/ serta kadar konsentrasi silikat yang terukur berkisar antara 0.83 . Tanah negara bebas b. dan Biologi Perairan Papua No.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 rata 1. Ketersediaan tanah pada dasarnya tidak dilepaskan dengan status atau penguasaannya sekarang.34 µg-A/l .0.0 – 34. Dalam hal ini.19 µg-A/l sampai 40. Kadar konsentrasi nitrat berkisar antara 0.800 200 – 3.1. di dalamnya termasuk: • • • • • • • c.0 3 Oksigen (cm3/cm2) 3.5 – 4.5 – 2.000 9 Zoo Plankton (cm3/cm2) 5 . Tabel 1.0 30.000 500 – 1.5 4.8 – 30.5 0.5 – 7.5 2.16 Kisaran Nilai Kondisi Fisik.0 – 26.91.0 – 34.0 – 4.0 8 Fito Plankton (cell/dm3) 200 – 1. dan hasil analisis 1. hasil interpretasi ETM7.10 10 . Tanah negara yang dibebani.0 – 1.53 µg-A/l. Penggunaan lahan sekarang (eksisting) memberi gambaran sejauh mana jenis dan tingkat pemanfaatan lahan yang telah dilakukan baik yang bersifat budidaya maupun bukan budidaya. Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan HPHH Hutan Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) Hutan Suaka Alam (HSA) Hutan Lindung Hutan Produksi Kontrak Karya Kuasa Pertambangan Tanah negara yang telah diperuntukkan d.5 7 Klorofil a (mg/m3) Gb 0.5 5 Nitrat (µm) 0.5 – 2.40 10 Larva Krustasea (Jumlah/m2) 500 – 1.25 4 Fosfat (µm) 0.

17 Penggunaan Lahan di Provinsi Papua Barat Berdasarkan Kabupaten/Kota dan Jenis Penggunaan Tahun 2008 (hektar) Kampung/ Perumahan Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat 10.197 30.988 22. konsesi.865 12.248 Kebun 8. Hak Milik Permasalahan yang mencolok adalah sering terjadi ketidaksesuaian antara arahan rencana tata ruang pada suatu lokasi dengan status atau penguasaan tanahnya sekarang terutama untuk tanah negara yang dibebani.738 Total 407. Tanah negara yang dikuasai instansi f.378 239.791 9.226 5. Tabel 1.2 PENGGUNAAN LAHAN Pencatatan data mengenai penggunaan lahan di Papua Barat masih sangat terbatas.953 268.224 28. j.302 Hutan 8.520 LAPORAN AKHIR 1-45 .887 11. Terlebih adanya kabupatenkabupaten bentukan baru menyebabkan pencataan data penggunaan lahan harus dilakukan ulang.320 Semak 839 Tanah Rusak Lainlain 213.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 e. yang pada umumnya mencakup areal yang sangat luas seperti HPH.17 menunjukkan data penggunaan lahan di Provinsi Papua Barat yang dibedakan ke dalam beberapa kategori penggunaan lahan.838 88.509 4.271 8. Hak Pakai i.986 Sawah Tegalan 123. Misalnya pada kasus TGHK yang tumpang tindih dengan kuasa pertambangan atau Hak Penguasaan Hutan (HPH).633 31.875 612 3.918 24.897 4. Data mengenai lahan antara satu dan yang lainnya kerap menunjukkan perbedaan.886 12. Tabel 1.606 5.305 14. Hak Guna Usaha h.222 28.751 77.599 26.321 Kebun Campur 42.397 9. Terdapat kemungkinan adanya keterbatasan dalam pencatatan data penggunaan lahan.548 71.537 7.001 8.282 6.024 2. Hak Milik Adat g.686 12. kuasa pertambangan kontrak karya. 1.159 82.566 4. Data tersebut hanya menunjukkan total luas Papua Barat sebesar 1 juta hektar.248 46.214 9.556 29.883 5.258 21.884 30.024 14.256 5.258 24. Hak Pengelolaan Hak Guna Bangunan k. Hal ini dapat menjadi masalah jika dikaitkan dengan fungsi kawasan yang ingin dipertahankan (misalnya fungsi hidro-orologis).204 4.950 8. Faktor kondisi fisik Provinsi Papua Barat yang berbukit dengan banyak pulau menyebabkan pencatatan penggunaan lahan relatif lebih sulit dilakukan.

283.218 1.496 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Luas pengunaan lain-lain menjadi kategori dengan presentase tertinggi.592 7.118.90 LAPORAN AKHIR 1-46 .224. Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Papua secara keseluruhan (termasuk Provinsi Papua Barat) berdasarkan (SK.054 117.473 254.863. T.678.197 332.840 Ha yang terdiri dari Kawasan Hutan seluas 40.755 61.292 123. Kab.700.716 16.360 Ha dan Kawasan Perairan 1. Kab. Bintuni 3.546. fungsi sebagai tegalan mendominasi penggunaan lahan di Papua Barat yaitu mencapai 254.564.01 610.958 Hutan Semak Tanah Rusak Lainlain Total 27. Wondama Luas Wilayah*) 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kebun Campur 2.460 121. Gambar 1.199.17 Persentase Penggunaan Lahan di Papua Barat tahun 2005 Berdasarkan Jenis 1. Tabel 1.18 Luas Hutan dan Perairan diProvinsi Papua Barat dirinci Per Kabupaten/Kota Tahun 2005-2008 Kabupaten/Kota 1. Di luar kategori lain-lain. T.00 1.038 Kampung/ Perumahan Kota Sorong Papua Barat 16. Kab.480 Ha.800.00 578.37 2.921.76 persen.2.412 Kebun 1.00 Hutan+Perairan 1. Menhutbun Nomor: 891/Kpts-II/1999) adalah sebesar 42.065.1 Kehutanan Potensi hutan di Provinsi Papua sangat tinggi.496 hektar atau sekitar 22.800. Manokwari 2. Fungsi perkebunan dan kebun campur kemudian memiliki presentase di bawah fungsi tegalan.836 82.015 Sawah Tegalan 7.151. Munculnya kategori tersebut sebagai yang tertinggi kemungkinan terkait dengan keterbatasan data.

Kab.721. Sorong 5.45 2.377.58 41.726.63 19.00 608.600.653.75 17.726. Tabel 1.994.41 11.25 2.02 0.16 24.379. Dan sebagai hutan produksi baik yang terbatas maupun dapat dikonversi adalah sekitar 56%.072.700. Taman Nasional 0.202. Cagar Alam 24.199.00 31.718.02%.59 33. Pembalakan liar dan issu illegal logging yang berkembang adalah satu hal yang selalu terjadi.17 100.30 0.50 686. Raja Ampat 7.138.00 LAPORAN AKHIR 1-47 . Fakfak 8.634.27 16.385.00 11. Akan sangat kritis apabila proses tersebut berlangsung secara terus menerus tanpa upaya penanganan dari Departemen Kehutanan dan Pemda karena menyangkut isu global warming di mana Indonesia memiliki hutan yang mampu menyerap CO2 sedangkan kondisi sekarang ini.64 19.00 1.84 19.28 2.34 1.850.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 724.98 1. Kab.53 1.945. Kab.17 4.003.58%.58 0.00 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Berdasarkan fungsinya.979.83 11.74 64.965.641.146.352.05 1.199. Kaimana 9.503. Sorong Selatan 6.199. terlihat memprihatinkan.885.19 Luas dan Prosentase Hutan berdasarkan Fungsi Hutan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Fungsi Hutan APL (Area Penggunaan lain) HL (Hutan Lindung) HP (Hutan Produksi) HPT (Hutan Produksi Terbatas) HPK (Hutan Produksi dapat dikonversi) CA (Cagar Alam) SM (Suaka Margasatwa) TN (Taman Nasional) TW Perairan Grand Total Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Luas (Ha) 196.000.27%.934.665.339.17 % 1.450.27%. Kab. Kota Sorong Total 2.786. Kab. Hutan di wilayah ini memiliki fungsi sebagai kawasan konservasi terdiri dari kawasan Hutan Lindung sebesar 17.84 1.960.27 0.000.432. Suaka Margasatwa 0.10 1.601.224. Hutan di Papua Barat diklasifikasikan menjadi 9 kategori. Fungsi-fungsi ini tentu apabila dilihat di lapangan tidak demikian nyata.00 1.00 1.736.

816.20 284.314.794.847.81 9.96 1.75 342.00 462.243.488.485.243.90 149.723.866.866.59 31.291.39 1.751.464.101.240.20 93.087.893.147.75 Jumlah Hutan Lindung 39.57 1.244.167.863.02 1.648.243.054.13 5.617.087.30 92.70 4.90 1.35 1.300.686.866.270.503.00 397. Kabupaten Teluk Bintuni dan Fakfak memiliki luas hutan lindung yang relatif kecil jika dibandingkan dengan total luas hutannya.35 Hutan Produksi Terbatas 202.290.70 6.81 9.79 Areal Penggunaan Lainnya 55.508.600.046.97 342.90 149.04 92.372.55 1.345.751.10 246.509.17 6.686.817.787.174.259.847.806.79 2.29 2.086.487.49 309.228.769.284.277.865.866.635.75 342.847.70 165.957.144.364.847.39 1.052.96 1.14 327.648.277.1176 LAPORAN AKHIR 1-48 .337.95 785.90 479.400.92 113.385.56 209.15 1.57 1.57 948.623.529.681.669.751.648.20 519.941.6 juta hektar atau sekitar 16.39 Hutan Produksi yg Dikonversi 219.018.63 1.41 715.977.40 121.19 32.57 1.943.16 310.337.43 489.00 204.20 Luas Kawasan Hutan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 (Ha) Kabupaten/Kota Regency/ Municipality Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 2007 2006 2005 Hutan Kawasan Perlindungan Alam/ Kawasan Suaka Alam 44.87 persen dari total luas hutan.565.686.248.700.458.648.243. Tabel 1.080.81 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Fungsi guna lahan hutan dalam data Pemanfaatan Lahan (Papua Barat Dalam Angka Tahun 2007) menunjukkan bahwa luas hutan di Papua Barat hanya sebesar 61.751.35 1.39 1.50 442.63 1.370.92 6.769.648.10 275.769.525.30 65.79 2.30 379.087.35 1.75 342.648.277.40 1.790.44 20.50 66.10 79.057.25 1.90 253.548.30 302.79 2.087.245.314.79 1.891.439.20 37.18 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi di Papua Barat Tahun 2008 Satuan dalam% Luas Total 9.535.95 591.96 Tetap 388.769.06 1.81 9.90 411.70 3.284.30 16.686.314.339.21 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2007 Hutan produksi mendominasi jenis hutan di Papua Barat sementara hutan lindung hanya seluas 1.928.05 39.558.144.46 9.90 132.648.284.96 1.144.648.144.87 86.314.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.70 320.10 395.10 95.284.277.989.50 149.

Padahal.00 0.52 persen.21 berikut. dalam buku yang sama tercatat luas hutan di Papua Barat mencapai 9 juta hektar dari total luasan Papua Barat yang mencapai 11 juta hektar.000.000.500.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 hektar atau hanya sekitar 5. Berdasarkan data sementara yang dikomplilasi dari berbagai sumber.7 juta hektar.19 Luas Kawasan Hutan Menurut Kabupaten/Kota di Papua Barat Tahun 2008 2.00 2. Hal ini kemungkinan disebabkan dari perbedaan pemberian kategori dalam pencatatan penggunaan lahan. ataupun semak dan alang-alang memiliki kemungkinan untuk dikategorikan ke dalam hutan oleh data tentang lahan lainnya. data luas hutan untuk setiap wilayah kabupaten setelah pemekaran masih belum pasti. luas kawasan hutan di Provinsi Papua Barat mencapai 9.000. Namun. Fungsi-fungsi seperti tegalan.000. LAPORAN AKHIR 1-49 .00 500.500. perkebunan. proporsi luas kawasan hutan di Provinsi Papua Barat ditampilkan pada Tabel 1.00 1.00 Fa kFa k Ka Te im lu an k a W on da Te m lu a k Bi nt un M a i So no k w ro ar ng i Se la ta n So ro ng R aj a Am Ko pa ta t So ro ng Berdasarkan data dari Balai Pemantapan Kawasan Hutan (2004).000. kebun campur.000. Gambar 1.000.00 1.

98 150.41 1.560.600.338.29 17.60 281.174.82 5.761.22 16.33 1.019.928.389.12 206.689.120.46 Taman Wisata Alam 0 0 1.310.389.234.927.90 1.21 682.240.77 243.08 10.53 322.235.941.33 493.688.537.55 283.418.277.24 1.85 84.188.272.13 80.81 0 0 69. 2004.61 429.93 487.729.63 304.66* 0 14.78 100.985.838.88 15.495.33 1.636.379.846.33 1.12 0 55.81 127.477.342.604.684.868.972.56 165.11 69.52 356.21 498.723.24 6.21 Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan.584.661.481.138.27 0 0 10.43 Total 37.461.328.47 260.834.636.784.52* 1.15 2.747.047.538.61 24.180.087. Keterangan: *) Bagian kawasan Taman Nasional yang masuk dalam wilayah Administrasi Pemerintahan Provinsi Papua Barat (tidak termasuk perairan laut dan kepulauan).72 398.262.36 4.008.15 Hutan Produksi 383.371.52 Taman Nasional 0 0 270.394.837.24 153.83 530.15 93.439.20 80.114.56 356.273.32 1.54 936.499.857.634.886.163.209.32 737.19 6.52 393.181.42 221.39 Cagar Alam Suaka Marga Satwa 657.44 112.07 1.517.87 32.37 0 0 0 0 4.189.34 413.397.366.759.375.092.47 355.373.073.877.99 Hutan Produksi Terbatas 203.976.005.13 Areal Penggunan Lain 52.302.740.031. 21 Persebaran Luas Kawasan Hutan (Ha) Menurut Fungsi pada Setiap Kabupaten di Provinsi Papua Barat Hutan Lindung Fakfak Kaimana Sorong Kota Srng Sor-Sel Mnkwr Bintuni Wondama Raja Ampat Papua Barat 41.46 0 0 0 23.20 2.045.39 1.19 53.Tabel 1. 1-50 .05 9.66 9.475.087.41 33.34 15.769.41 500.21 231.84 1.60 Hutan Produksi Konversi 218.97 276.56 5.712.192.76 151.102.977.23 1.44 23.394.262.132.

2 Hak Pengusahaan Hutan (HPH) tata ruang wilayah pembangunan Provinsi Papua Barat dengan tetap memperhatikan karakeristik dan potensi Dalam pengusahaan dan pemanfaatan hutan. Di Provinsi Papua Barat sendiri telah dikeluarkan 29 unit HPH yang meliputi hutan seluas 4.211.65%).063 Ha (43.250. karena dengan pemekaran wilayah di Papua Barat.10%) masih merupakan kawasan hutan produksi yang belum terbebani hak. melaporkan bahwa luas kawasan hutan produksi di Papua Barat yang telah dibebani hak pengusahaan hutan (HPH) seluas 4. secara fisiografi. Oleh karenanya dalam rencana pengembangan wilayah pembangunan di setiap kabupaten/kota perlu mempertimbangkan proporsi kawasan hutan untuk perlindungan ini. Areal penggunaan lain seluas 2. Selain itu.2. nampak bahwa kawasan hutan untuk tujuan perlindungan masih berada di atas persentase yang disyaratkan. dan hutan produksi konversi. kawasan hutan di Papua Barat memiliki slopes yang bervariasi dari datar sampai sangat curam.62% memiliki slopes dari curam-sangat curam dengan kemiringan diatas 25%. terdiri atas hutan produksi tetap.90% dari luas hutan produksi (6. namun sekitar 66. Hutan lindung dan hutan konservasi sebagai zona penyangga menempati luasan sebesar 34. Kawasan hutan ini perlu dipertahankan keutuhannya untuk jangka panjang. Sementara Industri Primer Hasil Hutan (IPHH) yang berkembang di Papua Barat digolongkan menjadi 2 yaitu Industri yang berskala besar dengan nilai LAPORAN AKHIR 1-51 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Fungsi hutan produksi menempati proporsi tertinggi (62.181. yaitu minimal 30%.84%. merupakan lahan-lahan pemukiman dan lahan budidaya. Berdasarkan proporsi tersebut.273 Ha) dan sisanya seluas 2. khususnya areal hutan produksi konversi persebarannya tidak merata di setiap kabupaten/kota. diberikan Hak Pengusahaan Hutan dan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu kepada perusahaan dibidang terkait. maka pengembangan kehutanan kedepan tidak lagi hanya mengharapkan eksploitasi hutan alam. 1. Proporsi tersebut perlu dipertimbangkan kembali. tetapi mengintensipkan pengembangan hutan tanaman baik Hutan Tanaman Industri (HTI) maupun Hutan Tanaman untuk tujuan Rehabilitasi Lahan Kritis (RHL) atau tujuan perlindungan lainnya. Untuk itu penataan fungsi kawasan perlu ditinjau kembali dan peninjauannnya dilaksanakan bersamaan dengan penetapan SDA tersedia di setiap wilayah Kabupaten/Kota.97 Ha. Kawasan hutan produksi.210 Ha atau 66.069. Dengan kondisi kawasan hutan produksi demikian.51% dari luas kawasan hutan. Kanwil Kehutanan Irian Jaya (2001).654. Sisa areal hutan produksi tersebut sebagian besar merupakan wilayah hutan yang topografinya berat. persebaran di setiap kabupaten/kota tentunya akan bervariasi. hutan produksi terbatas.

03 Kab.36 1.340 6.537.22 Daftar Kepemilikan SK IUPHHK dan RKT Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2004-2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 2004 SK IUPHHK (Ha) 311.00 10.450 51.391.140 85.274. Fakfak 1.843 Realisasi RKT Luas (Ha) Volume 6.799.076 4.00 390.360.28 22.63 10. Pada tahun 2006 terdapat 22 HPH Aktif dengan RKT seluas 65.00 Kab.193.083.910.391. Sedikitnya terdapat 3 perusahaan berskala besar dan 15 perusahaan sedang yang bergerak dalam sektor kehutanan ini.03 9. Tabel 1.25 Kab.81 2.99 ha) 2.092.800 Target Tahunan Maksimum Luas (Ha) Volume 298.03 89. Raja Ampat 686.858 267.138.67 74.680 323.564. Sorong Selatan 2) 1.40 148.570.477 984.580.50 84.300 1.570.425.803. Henrison Iriana (83.187 11.420.65 Kab. Manokwari 1) 1.726 6. Termasuk areal PT.066 340.832.837 1.7% dari rata-rata rencana produksi per tahun.665 955.930 791. Prod 1.946 896.843 2.287.620.764.49 Kota Sorong 41. Kaimana 1.570.843.500 691.657 49.332 14.800 4.151 323.500 ha LAPORAN AKHIR 1-52 .726.419 650.657 2. Artika Optima Inti Unit VI (57.34 Ha.86 11.998 922.225.61 Ha.225 1.199.53 28.920 202.800 2.960.620.617.263.225.493 6.269.378 713.89 56.500 4.164. Tidak termasuk areal konsesi PT.620.007.570.657 390.010 311.00 56.23 Kawasan Hutan Produksi yang Telah Dibebani HPH/IUPHHK (Aktif+Dicabut) No.220.800 4.13 61.199.192 91.41 1.30 1.20 78.366 4.426.620.800 1.494 215. Pada tahun 2005 terdapat 23 HPH Aktif dengan RKT seluas 66.000 m3 dan industri di bawah sedang yaitu produksi dibawah 6.25 ha) dan PT.458.13 66. Teluk Wondama 610.24 Kab.06 %HPH/HP 90.472 1.00 37.480. Sedangkan pada tahun 2007 terdapat 20 HPH Aktif dengan RKT seluas 47.55 1.762 541.951.585.600 4.943 78.48 319. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Kab.620. Teluk Bintuni 1) Luas Hutan 2.371.396.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 produksi lebih dari 6.7% dari Rencana Luas RKT sepanjang Tahun 2000-2005.70 Ha.231.47 23.000 609.719.721 173.630.55 Kab.146.843 2.434 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tabel 1.076.264.07 8.880.20 50.653 28.836.783 20.392 599. Sorong 1.601.300.00 35.906 31.00 63. Dan realisasi volume hanya sebesar 21.248 93.003. Mitra Pembangunan Global seluas 98.004 Areal HPH 1.051.000 m3.60 61.242.636. Perkembangan HPH tiap tahun menurun.758.220.657 390. Namun Rata-rata realisasi RKT sebesar 32.92 472.23 Kab.33 72.326.00 138.431 1.921 Luas H.43 390.33 Total 11.994.

09 108. 174/Kpts-IV/88 137.08 21.32 286.000 299.000 133. BANGUN KAYU IRIAN PT.60 80.700 333. Tabel 1.23 di atas dapat dilihat bahwa sekitar 74.28 131. PT. WAPOGA MUTIARA TIMBER PT.42 3.000 DIGITASI LUAS (HA) 14.352.57 66. Di Kabupaten Sorong Selatan.729.000 464/Kpts-II/92 212.502. Kabupaten Teluk Bintuni memiliki luas produksi terbesar dan dimanfaatkan 90. 1 HPH Mangrove. BANGUN KAYU IRIAN PT. CO.000 178.000 155.698.00 139.61 270.600 119. HASRAT WIRA MANDIRI PT. INDT.600 333.06 64.000 51. KALTIM HUTAMA PT. PT.40 9. Mancaraya Agro Mandiri Kab Sorong PT.149. Sedang di Kabupaten Kaimana.43 1. INTIMPURA TBR.010. Di Kabupaten Teluk Bintuni terdapat 14 HPH yang terdiri dari 2 HPH Sagu.118.012. Megapura Mambramo Bangun PT. yang 1 HPH Kayu juga telah dicabut. Namun dari 14 HPH tersebut.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dari Tabel 1.28 55. BINTUNI UTAMA MURNI W. Teluk Wondama dan Manokawri sebanyak 20 HPH berupa HPH Kayu diantaranya 3 HPH kayu telah dicabut.000 98. BANGUN KAYU IRIAN PT.000 84.000 97.820. HENRISON IRIANA PT. PT.531.28 12.53 26.303. Sedang di Kabupaten Fak-Fak terdapat 6 HPH kayu dan 1 HPPH Mangrove. Jenis HPH yang dipegang oleh perusahaan cukup bervariasi.183.56 97.07 6. WANA GALANG UTAMA PT. Raja Ampat Kota Sorong NAMA HPH/IUPHHK PT.15 92.58 LAPORAN AKHIR 1-53 .000 119.83 15. AGODA RIMBA IRIAN PT.00 123.24 Direktori Perusahaan Pemerima HPH Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Kabupaten Kab.700 333.492. HANURATA UNIT I PT. HASRAT WIRA MANDIRI PT.800 155. INTIMPURA TBR. CO.533.41% hutan produksi di Provinsi Papua merupakan Areal HPH. ARTIKA OPTIMA INTI N Unit VI PT.745. ARTIKA OPTIMA INTI N UNIT VI Kab Sorong Selatan PT.242. HANURATA UNIT I PT.000 397/MenhutII/06 448/Kpts-II/88 279/Kpts-IV/88 547/Kpts-II/97 744/Kpts-II/90 759/Kpts-II/89 373. WANA KAYU HASILINDO PT. pemegang HPH Kayu sebanyak 4 unit dan HPH sagu sebanyak 2 unit.28 2. CO. 2 HPH Kayu telah dicabut yaitu milik PT Artika Optima Intin dan PT Henrinson Iriana.100. MULTI WAHANA WIJAYA PT.264.862.000 299.683.000 SK HPH 81/Kpts-II/94 69/Kpts-II/89 01/Kpts-II/93 81/Kpts-II/94 735/Kpts-II/1993 69/Kpts-II/89 55/Menhut-II/06 534/Kpts-II/91 01/Kpts-II/93 735/Kpts-II/1993 69/Kpts-II/89 1142/Kpts-II/92 LUAS_SK 51.25% untuk pengusahaan hutan.820 139. 11 HPH Kayu.897. DHARMA MUKTI PERSADA Kab Teluk Wondama Kab Teluk Bintuni PT. INTIMPURA TBR.64 36.000 01/Kpts-II/93 299.68 37. SAGINDO LESTARI UNIT I PT.66 30.650.504.343. SAGINDO LESTARI UNIT II PT.

08 222.000 137. DHARMA MUKTI PERSADA PT.236.733.000 156. YOTEFA SARANA TIMBER PT. KALTIM HUTAMA PT. BINTUNI UTAMA MURNI W.643. RIMBAKAYU ARTHA MAS PT.733.49 72.25 Perkembangan Luas Penebangan Hutan Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Luas Penebangan 2.27 95.300 209.631.000 Kab Kaimana PT. HENRISON IRIANA PT.12 72.000 153. PT. WUKIRASARI PT AGODA RIMBA IRIAN PT.000 133.967.000 155. ARTIKA OPTIMA INTI UNIT II PT.30 15.000 95. WAPOGA MUTIARA TIMBER PT.000 156. WANA IRIAN PERKASA PT.41 59.670 319.249.786.000 150. TELUK BINTUNI MINA AGRO K.00 376.68 76.165. PT.79 98.780.97 83.332.186.04 80. PRABU ALASKA PT.61 9.966.000 84. INDT.200.000 170.26 87. PRABU ALASKA 48 Tahun 2002 651/Kpts-II/92 1142/Kpts-II/92 83.078.35 12.23 82.11 89.000 319.000 300.91 187.13 Kabupaten NAMA HPH/IUPHHK PT.764.233.821.219.426.800 150.07 Jumlah Produksi 42. TELUK BINTUNI MINA AGRO K. WANA KAYU HASILINDO PT.90 10.600 239.263.703.08 19.728. HANURATA COY UNIT III PT. TELUK BINTUNI MINA AGRO K.900 178.240.388.57 14.6 1.000 212.65 12.000 98.823.368.861.11 127.000 76. WANA GALANG UTAMA PT. HANURATA UNIT II PT.30 152.240 373.39 82.99 393/Kpts-II/92 464/Kpts-II/92 936/Kpts-II/92 744/Kpts-II/90 396/Kpts-II/90 811/Kpts-II/91 678/Kpts-II/89 379/Kpts-IV/87 154/Kpts-II/93 448/Kpts-II/88 81/Kpts-II/94 81/Kpts-II/94 08/Kpts-II/2001 279/Kpts-IV/88 180/Kpts-II/91 393/Kpts-II/92 547/Kpts-II/97 396/Kpts-II/90 759/Kpts-II/89 553/Kpts-II/89 174/Kpts-IV/88 81/Kpts-II/94 81/Kpts-II/94 180/Kpts-II/91 393/Kpts-II/92 239.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 SK HPH LUAS_SK DIGITASI LUAS (HA) 68.461. CENTRICO PT.540 155.436.25 3. ARFAK INDRA PT.72 182. IRMASULINDO UNIT II PT.600 239. SAGINDO LESTARI UNIT II PT.58 38.406.300 209. HANURATA UNIT II PT. WUKIRASARI PT.2 101.186.24 6. Tabel 1.59 68.921. BUDI NYATA PT. HANURATA COY UNIT III PT.70 60.997. Manokwari Mandiri Lestari PT.98 LAPORAN AKHIR 1-54 .000 153.240.236.98 62. SAGINDO LESTARI UNIT I PT.670 174.000 182.65 182.786. PT.689.

29 Kota Sorong Papua Barat 2007 14.65 2003 17.446.07 hektar.040.040.13 207.65 2005 14.733. Luasnya lahan penebangan di Teluk Bintuni membuat kabupaten ini juga memiliki produksi kayu terbesar yaitu mencapai 101. Gambar 1.866.866.18 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009.66 249.21 Luas Produksi Kayu (m3) Oleh Pemegang HPH di Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 120000 100000 80000 60000 40000 20000 0 Fak-Fak Kaimana Teluk Bintuni Sorong Raja Ampat LAPORAN AKHIR 1-55 . Teluk Bintuni memiliki jumlah lahan terluas untuk penebangan yang dilakukan oleh perusaahan HPH yaitu seluas 6.13 207.65 2004 14.866. hasil perhitungan Kegiatan pemanfaatan hutan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan.20 Luas Penebangan Hutan (Ha) Oleh Pemegang HPH di Papua Barat Tahun 2008 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 Fak-Fak Kaimana Teluk Bintuni Sorong Raja Ampat Gambar 1.263.13 207.135.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Raja Ampat 940 9.156.6 m³.040.

Philipina. yang berupa cincin gunung api memberikan potensi endapan mineral yang besar. Posisi tektonik Papua yang berada di Lingkar Pasifik. dan uranium. Akibat tektonik di Pulau Papua juga memungkinkan terbentuk cekungan dengan sedimensedimen yang cukup tebal dalam kondisi lingkungan laut.92 Miliyar Ton Senk dan Tembaga Emas Batu Gamping LAPORAN AKHIR 1-56 . Akibat benturan antara lempeng tersebut di atas menimbulkan keuntungan dan kerugian.26 Potensi Mineral Logam dan Non Logam di Provinsi Papua Barat Kabupaten/ Kota Manokwari Potensi Tambang Timah Distrik Distrik Ambarbaken sepanjang Sungai Waturi dan Sungai Warsomi Distrik Anggi Kampung Sutera Distrik Ambarbaken kampung Sutera Kampung Bomas dan Danau Anggi Giji Distrik Ambarbaken Terdapat merata di semua distrik dan melimpah Volume Cadangan Deposit mineral belumdiketahui. Konsentrasi mineral-mineral logam diperkirakan terdapat pada Lajur Pegunungan Tengah Papua. kobal. di mana lingkungan marine cukup banyak kehidupan mikro organik yang terakumulasi menjadi cadangan hidrokarbon.26 Potensi Mineral Logam dan Non Logam bagi daerah-daerah yang potensial di Provinsi Papua Barat. Untuk data potensi mineral logam maupun non logam dapat dilihat pada Tabel 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. mengingat keberhasilan Negara Papua New Guinea telah menemukan cekungancekungan minyak dan gas bumi yang cukup potensial.2. memungkinkan terbentuknya mineralisasi logam yang berasosiasi dengan perak dan emas. di daerah tersebut cukup potensial untuk diadakan eksplorasi minyak dan gas bumi. Papua New Guinea sampai ke Selandia Baru telah ditemukan banyak endapan emas dan tembaga kelas dunia.3 Kawasan Pertambangan Pulau Papua yang diketahui terbentuk sejak jutaan tahun yang lalu sebagai hasil benturan Lempeng Benua Australia (Australia Plate) yang bergerak ke Utara dengan Lempeng Pasifik (Pacific Crustal Plate) yang bergerak ke arah Barat. Contohnya di daerah Kepala Burung. Keuntungan-keuntungan lainnya. telah diketahui sepanjang jalur tersebut dari Amerika Selatan. Keuntungannya adalah dengan terjadinya penerobosan batuan beku dengan komposisi sedang ke dalam batuan sedimen di atasnya. nikel. kandungan timahnya berkisar antara 345-685 Deposit mineral belumdiketahui dan sampai saat ini potensi belum dimanfaatkan Deposit mineral belumdiketahui dan belum dieksplorasi 13. krom. Tabel 1. Tidak tertutup kemungkinan daerah-daerah lain seperti sampai saat ini masih terus dilakukan eksplorasi baik di daratan maupun lepas pantai. yaitu adanya cadangan batubara.

50 juta metric ton LAPORAN AKHIR 1-57 .15. 1 metric ton. Genis Kuarsa sebesar 91. yang terdiri dari jenis Moskovit sebesar 17. Gunung Nuasa. dan Distrik Kebar Tersebar di Distrik Kebar Kampung Atay Selatan Kandungan lempung terdiri dari Sio rata-rata 55%.65% Fe2O3 rata-rata 0.38 metric ton.50 juta metric ton. Muturi. nisprematik sebesar 31.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Volume Cadangan Kabupaten/ Kota Potensi Tambang Lempung Distrik penyebarannya Tersebar merata di Distrik Manokwari Pasir Batu Granit Pasir Kuarsa Distrik Manokwari an Distrik Warmare Distrik Ransiki.3%.28 juta metric ton. Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Misol Distrik Wasior Tersebar di Distrik Wasior dan Wendesi Distrik Wasior Teluk Wondama Cadangan deposit sebesar 90.29-1. terdiri dari Genis Maskovit sebesar 15.1 juta metric ton tersiri dari Genis Maskovit sebesar 19.28 Juta metric ton. dan Berau. Batu Lumpur. Distrik Ambarbaken. bahan galian adalah batu bara.5 mt berdasarkan penelitian SiO2 – rata-rata 77. Distrik Anggi.95 miliyar metric ton Volume cadadangan terbesar adalah gas alam sebesar 14. dan batu Gamping Kandungan mika 150.3 TCF Cadangan mika sebesar 150. jenis kuarsa sebesar 91.4% Diorit Granit Teluk Bintuni Minyak dan Gas Bumi Batu Bara Mika Raja Ampat Cobalt Tembaga Nikel Mangan Batu bara Fosfat dan Opal Mika Batu Gamping Biji Besi Distrik Warmare di sekitar Kampung Wagesi. Distrik Wageo Selatan Pulau Wageo dan Gag Distrik Wageo Selatan. Selain gas dan minyak bumi. A12O3 – Ratarata13. A12O3-12.5 metric ton Volume cadangan hipotetik batu bara 0.11 juta metric ton. Pulau Wageo dan Gag.39 metric ton.21 juta metric ton dan jenis peckmatik sebesar 11. MgO rata-rata 1.84 % pausri gelas kaca Volume cadangan 26. Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Selatan (Pulau Wageo dan Gag).83 miliyar metric ton Volume cadangan 137. Sungai Maryam Mogoi. Waisian.27 % kadar abu 2.31 juta metric ton. Batu Pasir.4% Volume cadangan sebesar 1.855 juta ton m3 dan 12.13 m3 Volume cadangan sebesar 96.6% . dan Genis Pragmatic sebesar 31.27 dan Fe203 rata-rata 10. jenis kuarsa sebesar 61.

 Di Kabupaten Manokwari. Berikut di bawah ini contoh endapan mineral yang ada di Provinsi Papua Barat. dan Klamono Distrik Salawati Distrik Sausapor Bomberai.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Volume Cadangan Kabupaten/ Kota Sorong Selatan Potensi Tambang Minyak Bumi dan gas Batu Gamping Emas Fosfat Zink Marmer dan Bahan Baku Semen Tembaga Emas Tanah Hitam Batu Bara Koramit Biji Besi Pasir Kuarsa Distrik Distrik Kais.680.2 gr/ton Dengan kadar 47. Fakfak Timur.282.1 gr/ton Dengan kadar 16. kampung Tawar dengan luas 4. Ayamaru Utara Distrik Aifat Timur Distrik Ayamaru. Ubadari. Bahan Galian Strategis. Ayata. Ayamaru Utara.500 m2 Perak Tembaga Timbal Senk Jumlah cadangan kurang lebih 450 juta m3 dan Distrik Bomberai dengan luasan 12 Ha. Sungai Waturi dan Sungai Warsayomi dan LAPORAN AKHIR 1-58 .500 ha dengan ketebalan rata-rata 6 meter sehingga perkiraan cadangan adalah 90 juta m3 Luas 142. Ayamaru Utara.500 Ha Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Fakfak Fakfak Fakfak Fakfak Volume cadangan sebesar 1. buruway. dan Mare Distrik Aifat dab Aifat Timur Distrik Sawiat. dan Fakfak Barat Menyebar di distrik Kokas. teluk Berau Buruway. jumlah cadangan + 864 juta m3 Dengan kadar 3.000 m2 dengan kadar 0. Distrik Kokas Kabupaten Sorong Fak Fak Batu Gamping Batu Bara Emas Distrik Kokas pada Pegunungan Onin Distrik Teluk Etna.000 m2 Minyak Gas Lempung dan Sebaran 1. Teluk Arguni. dan Kokas Menyebar di distrik Kokas.050 gr/ton hasil analisis laboratorium P3G Bandung Dengan kadar + 26.500 Ha dan jumlah cadangan +2. dan Mare Distrik Sausapor Distrik Sausapor dan Sawiat Distrik Sausapor Distrik Salawati. Ayamaru. Kokas. baik yang ekonomis maupun tidak. Aifat Timur.850 juta m3 Sebaran Volume 457. Inanwatan Distrik Kais. Sawiat. Timah terdapat di Distrik Amberbaken sepanjang Sungai Wapai.2 gr/ton Sumber: Peluang Bisnis dan Investasi Provinsi Papua Selain itu juga ditemukan beberapa macam endapan logam dan bukan logam. dan Fak Fak Timur Distrik Teluk Etna.8 gr/ton Dengan kadar 15.

 Kabupaten Teluk Bintuni memiliki ladang minyak terbesar di Papua.5 juta metrik ton. Distrik Manokwari dengan volume cadangan 13.6 %. baik penanaman modal asing maupun nasional. Conoco Arco. Perusahaan yang sudah menanamkan modal.rata-rata 77. Tersebar di Distrik Warmare. dll. Tanah Merah. dll. Distrik Babo. Ada 5 (Lima) daerah di Kabupaten Teluk Bintuni yang terdapat banyak ladang gas alam yang menghasilkan minyak. Kawasan Teluk Bintuni kaya akan minyak bumi dan gas alam. batubara. Sungai Maryam. Paustri gelas. Patrindo. Bahan Galian Strategis meliputi. Emas terdapat di Distrik Amberbaken.84 %. Weriagar. lapangan gas di Kawasan Teluk Bintuni telah dieksploitasi oleh perusahaan multinasional BP. terdiri dari Si02 . Bahan Galian C. antara lain. Wasian. dengan hasilnya sekitar 7 juta barrel minyak mentah. Fe203 .rata-rata 13. namun saat ini lapangan minyak tersebut telah dieksploitasi kembali. Pasir Kuarsa.35 milyar ton.rata-rata 0. Penyebarannya hampir merata di tiap distrik.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Distrik Anggi di Kampung Sutera. Sedangkan minyak bumi dengan volume cadangan sebesar 45 juta ton metric terletak di Kampung Homa. kaca. Cadangan Granit tersebar di Distrik Ransiki dengan volume cadangan sebesar 96. lapangan minyak yang ada terbengkalai untuk beberapa waktu lamanya. Tersebar di Distrik Kebar. Distrik Ransiki dengan volume cadangan 18. Saat ini. Gunung Nuasa. Sedangkan untuk ladang Wer (Tahun LAPORAN AKHIR 1-59 . Distrik Anggi. Minyak bumi pemah dieksploitasi pada masa pemerintahan Belanda. Cadangan batu gamping di Kabupaten Manokwari sangat melimpah.65 %. Ca03 . Pabrik pengolahan LNG akan beroperasi di daerah Saengga.5 milyar ton. British Gas. Setelah penyerahan Papua ke Indonesia.7 trilyun kaki kubik. Kandungan Pasir Kuarsa tersebut berdasarkan hasil penelitian. dengan volume cadangan sebesar 136. Batugamping.76 %. Selain minyak. Aranday dan Babo. Volume cadangan kedua distrik ini belum diteliti. Batuan ini dapat digunakan sebagai bahan bangunan. di sekitar Kampung Atay Selatan dengan volume cadangan sebesar 137. dan timah. Seng dan Tembaga.05 juta ton.83 milyar ton.83 milyar metrik ton. Daerah Mogoi.95 milyar metric ton.92 milyar ton. dan Distrik Oransbari dengan volume cadangan 2.  Kabupaten Teluk Bintuni. A1203 . di sekitar Kampung Wasegi. Indonesia dengan Proyek "LNG Tangguh". Diorit. Distrik Warmare dengan volume cadangan 2. Distrik Anggi merupakan lanjutan dari Distrik Ransiki dan Amberbaken merupakan lanjutan dari Distrik Kebar. Potensi minyak bumi di Kawasan Teluk Bintuni tersebar di Distrik Bintuni. Kandungan Timah berkisar 345-685 ton. jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainya di Papua. dan Danau Anggi Giji.rata-rata 0. kawasan ini juga memiliki kandungan gas bumi sebesar 13 trilyun kaki kubik dengan volume cadangan sebesar 23. Bomas. Merdey. minyak dan gas alam cair. Volume cadangan bahan galian ini sebesar 26. yaitu. Daerah Mogoi dan Wasian telah diketahui kandungan minyaknya sejak Tahun 1952-1960 oleh NNGP Belanda. Muturi dan Berau. Bahan galian Vital.

menemukan ladang gas alam terbesar di Weriagar. batugamping dan endapan sirtu 84. Cadangan hipotetik batubara di Sungai Thikoku. 0. Emas di Distrik Aifat Timur.3 . 97.000 BOPD atau sf 795.10%. Tembaga di Waigeo Selatan Nikel di Distrik Waigeo Utara dan Samate.1 . batugamping dan endapan sirtu. Ayamaru. 4 %.000 liter per hari. terdapat kandungan minyak mentah sebesar 5. Uji laboratorium yang dilakukan di PPP Tekmira Bandung terhadap 3 contoh pasir kuarsa dari daerah Bomberay. Kadar Belerang 0. zat terbang 40.9 km2. Batugamping adalah jenis k sedimen klastik atau non klastik yang disusun oleh 90% karbonat.500 ha clan jumlah cadangan 2. di Sungai Thistoku dekat Kampung Horna. batulumpur. Sawiat. Batugamping di Distrik Kais. minyak bumi dan gas tersebar di Distrik Kais. batupasir.000 m3.850 juta m3 (Hasil Survei LPMITB). Tahun 1990-1995. Batubara.000 Berdasarkan hasil analisis proksimat dari 10 contoh batubara oleh Direktorat Sumberdaya Mineral Bandung diperoleh kualitas dengan kisaran angka 5. Ayamaru dan Mare. Potensi Pasir Kuarsa (Quartzsand).32%. sekitar 4. dan disebut juga batuan karbonat.3 . 97. silika yang cukup tinggi.40%.935 kalori/kg.48%. Di Kabupaten ini ditemukan potensi logam kobal di Distrik Waigeo Selatan. batulempung dan batulumpur seluas 768.20%. dekat Kampung Beimes sekitar 20. Batugamping. Fosfat dan Opal di Distrik Misool. Distrik Kokas. perusahaan ARCO.  Kabupaten Raja Ampat.27 %. Menyebar di Distrik Kokas pada Daerah Pegunungan Onin. LAPORAN AKHIR 1-60 .29 . Inanwatan.645%. kelembaban tertambat 1.  Kabupaten Sorong Selatan. Mangan.000. Bahan galian lain yang ditemukan di Kabupaten Teluk Bintuni dan sekitarnya adalah batubara.500 ha. dengan kadar besi. dengan ketebalan rata-rata 6 meter. yaitu. 0.1 .49.11. Potensi daerah ini meliputi.50. karbon tertambat 44.1. Goras dan I pulau di sekitar Kokas dengan luasan 142. Di daerah Bomberay. 97.  Kabupaten Fak Fak.5. kesemuanya bersumber dari cekungan berproduksi Bintuni. Kadar Abu 2. 0.6 km2.51.202.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1990). sehingga perkiraan cadangannya adalah 90 juta m3.3 %.000 ton. Data menunjukan bahwa kadar .820 – 7.8 %. Marmer dan Bahan Baku Semen di Distrik Sawiat. Aifat Timur.8 kelembaban 3 -16 % dan HGI 40 . salah satu perusahaan swasta asal Inggris.500. Luas penyebaran batupasir kurang lebih 307. pasir kuarsa mencapai luas 1.

22 Peta Sebaran Kawasan Pertambangan LAPORAN AKHIR 1-61 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

Tl Wondama Kab.000.00 5. taman wisata.193. Kaimana Kab. Cagar Alam Pulau Waigeo Timur 6.909.001. Lokasi dan luas kawasan konservasi di Provinsi Papua Barat ditampilkan dalam Tabel 1.478. Suaka Margasatwa Mubrani-Kaironi 19. Cagar Alam Pegunungan Arfak 13. Raja Ampat Kab. Cagar Alam Sidei Wibain 15. Cagar Alam Pegunungan Fak-Fak 10.00 90.749. Tambrauw Kab. Manokwari Kab.00 111. Raja Ampat Kab. Raja Ampat Kab. Kawasan konservasi yang telah ditetapkan di Provinsi Papua Barat terbagi ke dalam empat kawasan yaitu kawasan cagar alam.00 170. Manokwari Kab. Kawasan konservasi tersebut tersebar di 26 lokasi dengan katagori kawasan dan luasan yang berbeda. Taman Wisata Sungai Sausiran 18.00 73.00 153. Cagar Alam Teluk Bintuni 12.875.00 15. Manokwari Kab. Raja Ampat Kab.53 1. Cagar Alam Pulau Misool Selatan 4.300.411.00 265. Manokwari Kab. Manokwari Kab. Cagar Alam Wagura Kote 14. Sorong Kab. Taman Nasional Laut Tl Cendrawasih 20. Tabel 1.90 Lokasi Kab.00 247.27 Kawasan Konservasi yang Telah Ditetapkan di Provinsi Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 No. Cagar Alam Pulau Waigeo Barat 5.00 300.00 100.00 9.00 62. Taman Wisata Alam Klamono 22.350.00 500.73 Ha. Cagar Alam Pulau Batanta Barat 3. Manokwari Kab. Bintuni Kab. Cagar Alam Tambrauw Utara 24.000. Taman Wisata Alam Moraid 23.022. Manokwari Kab. Manokwari Kab. Fak-Fak Kab.00 191.660 945. Cagar Alam Tambrauw Selatan 25.00 1. Tambrauw Kab. Nama Kawasan 1. Suaka Margasatwa Sabuda Tuturuga 11. Cagar Alam Pantai WekweKwoor 16.000.453.4 Kawasan Konservasi Kawasan hutan yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi seluas 3.000.000.325. dan taman nasional.37 9. Taman Wisata Alam Sorong Sumber: Provinsi Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Luas (Ha) 58. Raja Ampat Kab. Cagar Alam Pegunungan Kumawa 9.00 60.27 16.00 1.500.2. Taman Wisata Alam Bariat 21.000.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.000.27 berikut.500. Cagar Alam Pulau Salawati Utara 2.00 119.00 188. suaka margasatwa. Raja Ampat Kab. Cagar Alam Pulau Pegunungan Wondiboy 8. Taman Wisata Alam Gunung Meja 17. Suaka Margasatwa Laut Kepulauan Raja Ampat 7.720. Sorong Selatan Kab. Cagar Alam Pantai Sausapor 26.00 68. Sorong Kab. Fak-Fak Kab. Tambrauw Kota Sorong LAPORAN AKHIR 1-62 .150.

23 Peta Sebaran Cagar Alam LAPORAN AKHIR 1-63 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

2. Manokwari adalah kabupaten yang menjadi ibukota dari Provinsi Papua Barat. Manokwari dan Kota Sorong merupakan wilayahwilayah yang memiliki fungsi guna lahan kampung/perumahan yang tertinggi.211. Sementara itu. LAPORAN AKHIR 1-64 . lahan di wilayah Provinsi Papua Barat yang dipergunakan sebagai pemukiman sebagian besar terletak pada lahan-lahan di Wilayah Pengembangan Sorong. Jika dibandingkan dengan luas pemukiman di seluruh Papua.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Kota ini merupakan gerbang bagi Provinsi Papua Barat menjadikan kegiatan jasa dan perdagangan dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat kekotaan terkonsentrasi di wilayah ini. Penggunaan lahan untuk fungsi kampung/perumahan di Kota Sorong mencapai lebih dari 50 persen dibandingkan dengan luasan totalnya. Kota Sorong memang merupakan kota yang paling menonjol di Provinsi Papua Barat dalam hal aktivitas perkotaan.47 persen.5 Areal Terbangun dan Pusat-pusat Permukiman Fungsi guna lahan sebagai daerah kampung/perumahan sebesar 117. Wilayah Pengembangan Fakfak memiliki luas pemukiman yang paling sedikit di antara wilayah pengembangan yang lain.307 WP SORONG 59.42 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2006 Sampai dengan tahun 2005.015 hektar atau sekitar 10.64 WP FAKFAK PROVINSI PAPUA BARAT PROVINSI PAPUA BARAT 20.64 581 747.28 Luas Lahan Permukiman di Provinsi Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2003 (Ha) Wilayah Pengembangan WP MANOKWARI Kabupaten/Kota Kabupaten Manokwari Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Teluk Wondama Kota Sorong Kabupaten Sorong Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana 2003 2002 Kampung Perumahan 41.884 121. Kabupaten Sorong. maka luas pemukiman di Provinsi Papua Barat mengambil sekitar 24% dari keseluruhan lahan pemukiman. Wilayahwilayah tersebut selama ini memang telah tumbuh menjadi sentra-sentra kegiatan perkotaan di Provinsi Papua Barat terutama untuk Kota Sorong.403 499 956. Tabel 1. Luas lahan pemukiman yang berupa kampung atau perumahan di Wilayah Pengembangan Sorong merupakan 49% dari seluruh luas lahan pemukiman di Provinsi Papua Barat.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.24 Peta Sebaran Kawasan Lindung dan Budidaya LAPORAN AKHIR 1-65 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.25 Peta Sebaran Kawasan Lindung LAPORAN AKHIR 1-66 .

26 Peta Pengembangan Kawasan Kehutanan LAPORAN AKHIR 1-67 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

maka kepadatan penduduk yang diuraikan ini adalah kepadatan bruto. Selain sebagai gerbang tranportasi Papua Barat.17% dari jumlah LAPORAN AKHIR 1-68 .962 jiwa pada tahun 2006 yang tersebar secara tidak merata di kesembilan kabupaten/kota.4 ASPEK SOSIAL KEPENDUDUKAN 1. netto dan kepadatan agraris. Kepadatan bruto penduduk di Provinsi Papua jumlah penduduk paling rendah terdapat di Kabupaten Teluk Wondama.50 km2 dan total penduduk sebanyak 729. Fungsi wilayah yang dimaksud adalah merupakan pusat kegiatan suatu wilayah yang menjadi barometer perkembangan sebuah wilayah. Dalam hal ini. Dalam lingkup sistem perkotaan.3 STRUKTUR TATA RUANG EKSISTING Struktur tata ruang eksisting di Propinsi Papua Barat meliputi sistem perkotaan dalam lingkup kabupaten dan sistem jaringan prasarana yang dalam hal ini adalah jaringan jalan. fungsi-fungsi layanan yang semestinya ada kemungkinan besar belum berdiri. Di sekitar Kota Sorong banyak terdapat kegiatan pertambangan di mana pengolahan dan perdagangannya terkonsentrasi di Kota Sorong. Wilayah yang juga tergolong wilayah dengan tingkat layanan tinggi di Papua Barat adalah Manokwari. Kota Sorong juga merupakan pusat kegiatan jasa dan perdagangan. Hal ini juga terlihat dari transportasi eksisting dimana Kota Sorong memiliki simpul transportasi yang sangat strategis. Sedangkan penduduk di Provinsi Papua Barat. fungsi wilayah eksisting tentu masih berkaitan dengan fungsi wilayah sebelum Propinsi Papua Barat terbentuk. fungsi wilayah merupakan indikator tingkat pelayanan wilayah yang menunjukkan seberapa besar peran suatu wilayah dalam mengikat wilayah sekitarnya.363. Sehingga dalam menjalankan fungsinya sebagai ibukota. Sebagai sebuah propinsi yang baru terbentuk. Wilayah yang termasuk ke dalam kategori rendah adalah kabupaten-kabupaten baru hasil dari pemekaran wilayah. Manokwari merupakan ibukota dari Papua Barat.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Provinsi Papua Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia Timur dengan luas wilayah 115.4. Kota Sorong merupakan simpul kegiatan khususnya yang ada di Papua Barat. Sebagai wilayah otonomi baru. tentunya memiliki berbagai jenis layanan yang memadai. Karena tidak adanya data lahan terbangun.140 jiwa atau hanya 3.885 jiwa atau 23.68 % dari jumlah total penduduk di Provinsi Papua Barat. 1. Kondisi ini telah ada sejak jaman pendudukan Belanda. Kepadatan dapat dilihat dari beberapa pendekatan yaitu kepadatan bruto. yaitu 23. Jumlah penduduk terbesar terdapat di Kabupaten Manokwari yaitu sebanyak 172.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.

1.105 km2 dan di kota ini terdapat banyak fasilitas sosial perekonomian sehingga di wilayah ini terjadi pemusatan penduduk.2 Komposisi Penduduk Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin LAPORAN AKHIR 1-69 . Kota ini hanya memiliki luasan tak lebih dari 1.50 29 810.11 126 093.50 104 919.00 Jumlah Penduduk 66 864 41 973 23 140 54 528 172 855 61 463 98 691 41 170 169 278 729 962 715 999 702 202 651 958 642 472 RT 15 733 9 876 5 445 12 830 40 672 14 462 23 221 9 687 39 830 171 756 168 075 167 609 162 990 156 052 Kepadatan Penduduk Per km2 5 2 2 3 12 2 3 7 153 5 5 6 6 5 Per RT 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Tidak meratanya distribusi penduduk di sebuah wilayah antara lain karena kondisi geografis yang berbeda.62 18 637.00 6 084.29 Luas Wilayah. kepadatan penduduk di Provinsi Papua Barat relatif sangat rendah dengan kepadatan berkisar antara 4 – 12 jiwa/km2. faktor ketersediaan fasilitas pelayanan sosial ekonomi juga mempengaruhi sebaran penduduk di suatu wilayah. Kondisi geografis beberapa wilayah kabupaten didominasi oleh karakter kelerengan 8% sehingga mempengaruhi terbentuknya pola permukiman penduduk.00 14 448.4.00 115 363. Wilayah yang sedang mengalami perkembangan tentunya akan memiliki konsentrasi penduduk yang lebih tinggi.50 1 105. Secara umum. Kota Sorong merupakan kota yang memiliki kepadatan penduduk paling tinggi. konsentrasi penduduk akan lebih tinggi di dataran rendah daripada di dataran tinggi. Sedangkan kepadatan penduduk terendah terdapat di Kabupaten Kaimana.00 12 146.00 140 375.00 25 324. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 2004 Luas Wilayah 14 320. Pada umumnya. Tabel 1. dan Kabupaten teluk Wondama yaitu 2 jiwa/km2.00 18 500. dari kota/kabupaten satu ke kota/kabupaten lainnya.62 143 185. yaitu 153 jiwa/ km2. Karakter pola pemukiman loncat katak.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Barat tidak terdistribusi secara merata. Selain itu.

Walaupun penduduk berjenis kelamin laki-laki lebih banyak. penggambaran penduduk menurut struktur usia juga diperlukan untuk perhitungan penyediaan fasilitas sosial dan ekonomi.44.08 113.30 Rasio Jenis Kelamin Provinsi Papua Barat Tahun 2008 dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2007 2006 2005 2004 Jumlah Penduduk Laki-laki 33 507 21 011 11 784 30 682 93 163 31 782 52 570 21 739 86 846 383 084 383 084 379 277 362 672 343 920 Perempuan 33 357 20 962 11 356 23 846 79 692 29 681 46 121 19 431 82 432 346 878 346 878 343 704 339 530 308 038 66 864 41 973 23 140 54 528 172 855 61 463 98 691 41 170 169 278 729 962 729 962 722 981 702 202 651 958 Jumlah Sex Ratio 100.44 110.23 103. Untuk lebih jelas. Bila diperinci menurut jenis kelamin.30 berikut ini.90 107.98 111.878 jiwa dengan sex ratio sebesar 110.44 110. Sex ratio diatas 100 menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki lebih dominan daripada jenis kelamin perempuan. maka dapat dibedakan bahwa penduduk dengan jenis kelamin laki-laki berjumlah 383.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Klasifikasi penduduk menurut jenis kelamin dalam suatu wilayah digunakan untuk mengetahui sex ratio yang dimiliki oleh wilayah tersebut. namun angka tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. LAPORAN AKHIR 1-70 .88 105.048 jiwa dan perempuan sebanyak 346.82 111.67 116.35 106. namun untuk setiap kecamatan jumlah penduduk laki-laki masih lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan. Selain itu.77 128. Hal ini akan berpengaruh pada angkatan kerja di suatu wilayah serta tingkat ketergantungan penduduk non produktif pada penduduk produktif.65 Irian jaya Barat Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Komposisi Penduduk menurut Umur (Struktur Usia Penduduk) Penggambaran penduduk menurut struktur usia berguna untuk mengetahui jumlah penduduk produktif dan penduduk non produktif. Jika diperinci lebih dalam.35 110. Tabel 1.45 100. maka terdapat perbedaan antara masing-masing kecamatan. jumlah penduduk Provinsi Papua Barat berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 1.

diketahui bahwa jumlah penduduk dengan usia non produktif adalah sebesar 34. kelompok umur 15 – 19 tahun cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok umur lainnya. 10-14. Sementara pada kelompok usia muda dan produktif. Berdasarkan kelompok umur.45%. untuk usia produktif kelompok umur antara 0 – 14 tahun lebih banyak dibandingkan kelompok umur 60 – 75+ tahun. 31 Komposisi Penduduk menurut Golongan Umur Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Golongan Umur 0-4 5-9.106 dan penduduk usia (5-9 tahun) sebesar Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-71 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Berdasarkan data yang diperoleh tahun 2008. Tabel 1. struktur penduduk Provinsi Papua Barat didominasi oleh penduduk usia balita (0-4 tahun) 77.799. Jika diperinci lebih dalam. 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+ Total 2007 Laki-Laki 42 599 37 389 37 581 41 105 36 087 32 677 30 915 30 685 28 501 23 215 16 894 11 607 7 317 3 218 1 992 1 302 383 084 379 277 Perempuan 40 617 36 410 35 634 37 001 32 164 29 735 31 059 30 924 25 662 19 196 12 815 7 518 4 143 2 111 1 074 815 346 878 343 704 Jumlah 83 216 73 799 73 215 78 106 68 251 62 412 61 974 61 609 54 163 42 411 29 709 19 125 11 460 5 329 3 066 2 117 729 962 722 981 yaitu sebesar 83.55% dan usia produktif sebesar 65.216 diikuti oleh penduduk usia muda (15-19 tahun) sebesar 78.

27 Piramida Penduduk Provinsi papua Barat Tahun 2009 Dalam setiap golongan umur. untuk mencapai jenjang wajib belajar 9 tahun pun dirasakan sulit.643 jiwa. Umur ini merupakan umur produktif di mana manusia menggunakan segala daya dan upaya untuk mengembangkan potensi dirinya. Sedangkan lulusan paling banyak penduduk lulusan SD.275 jiwa atau 30. Masalah yang terjadi adalah kondisi ketenagakerjaan berupa tingkat partisipasi kerja wanita jauh lebih kecil dari pada pria. Dapat dilihat bahwa sampai dengan tahun 2006. sex ratio menunjukkan proporsi laki-laki selalu lebih tinggi dari pada perempuan namun ada satu di mana golongan umur 30-39 proporsi perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Bahkan. Terbatasnya kondisi ekonomi masyarakat dan LAPORAN AKHIR 1-72 .23%. jumlah penduduk yang tidak pernah atau belum pernah sekolah mencapai 6. Komposisi Penduduk menurut Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan merupakan indikator kualitas sumber daya manusia di suatu wilayah.05% atau sebesar 45. Ini satu masalah yang harus dipikirkan untuk mengantisipasi ternjadinya pengangguran perempuan yang demikian banyak. yaitu berjumlah 212.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Jumlah penduduk dengan tingkat kelulusan pada bangku Sekolah Dasar menggambarkan bahwa tingkat pendidikan penduduk masih cenderung rendah.32. Kondisi tingkat pendidikan di Provinsi Papua Barat dapat digambarkan dari Tabel 1.

37 Tidak Bersekolah Lagi 69. Tabel 1.80 7.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sarana prasarana pembelajaran baik formal maupun non formal sampai ke daerah terpencil adalah salah satu kendala.89 0.27 LAPORAN AKHIR 1-73 . Jumlah tenaga pengajar yang tercermin dari rasio guru dan murid pun masih sangat kecil.03 4. beberapa kabupaten seperti Sorong. Salah satu kendala pemerintah dalam upaya pemerintah membangun sektor pendidikan di Papua Barat adalah sulitnya jangkauan di daerah pedalaman yang mengakibatkan sebagian besar penduduknya berpendidikan rendah.82 Masih Sekolah SMU/SMK/ SLTP MA 7. Prosentase tidak pernah mengenyam pendidikan masih sangat tinggi.90 11. Teluk Bintuni dan Teluk Wondama tidak memiliki sumber daya unggul dalam arti penduduk yang tamat universitas. sering kali tidak dapat memperoleh tenaga guru untuk sekolah yang bersangkutan. mengenyam pendidikan tinggi di luar wilayah namun lulusan perguruan masih tergolong sedikit yaitu sekitar 2.41 0.31 4.52 7.62 PT 0.00 SD/MI 11. Raja Ampat.14 15.52 3. Pemerintah telah mengusahakan sejumlah upaya untuk memberikan peluang kepada masyarakat untuk belajar ke wilayah Jawa. dan presentase menikmati dunia pendidikan tingkat atas masih sangat sedikit. Karena luasnya medan atau area lahan Papua Barat dan sulitnya jangkauan letak sekolah dengan tempat penjualan bahanbahan makanan serta barang-barang lain kebutuhan sehari-hari. 32 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Kabupaten/Kota dan Status Pendidikan Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Tidak/Belum Pernah Sekolah 3. Bahkan. di Kabupaten Sorong untuk tingkat SLTP tercatat belum ada sekolah kejuruan (dari data BPS tahun 2005). Kesenjangan ini sangat signifikan apabila dibandingkan dengan kondisi sumber daya manusia di sejumlah provinsi di wilayah Indonesia Barat. Sebagai contoh.57 0.09 72.16 6.92 4. Sumber daya manusia di Kabupaten Teluk Bintuni dan Teluk Wondama juga masih sangat terbatas.30 65.47% dari jumlah total penduduk yang tercatat. bekerja pada sektor pertambangan dan perindustrian dan sektor kehutanan.77 11.35 7.26 4. Hal ini menjadi masalah secara internal karena kelemahan yang datang dari dalam ini bertemu dengan ancaman dari luar karena realitanya kualitas SDM pendatang memang secara empirik jauh lebih baik dan pendatang yang dalam ini memang datang untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam Provinsi Papua Barat.41 10.58 69.

15 PT 2.28 5.01%). Budha (0.91 9. Terdapat 1.7% diikuti oleh agama Islam (41.45 68.14 3. Tabel 1.89 12.48 74. Konghucu (0.36 1. Katolik (7.70%). lainnya (0.84 12.59 1.36 2.24 7.28 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Gambar 1.59 5.63 Kristen 21.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Masih Sekolah SMU/SMK/ SLTP MA 5.03 Lainnya 0.63 1.497 gereja Protestan dan 664 masjid di Provinsi Papua Barat.58 6.62 7.01 5.99 Tidak Bersekolah Lagi 56.24 15.46 5.72 Kabupaten Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 Tidak/Belum Pernah Sekolah 18.47 Katolik 16.63 69. Representasi dari banyaknya jumlah penduduk beragama diikuti oleh jumlah dan sebaran fasilitas ibadah yang terdistribusi di 9 kabupaten/kota.63 11.18 76.02 LAPORAN AKHIR 1-74 .77 Hindu 0.82 1.18 2.96 4.50 2.40 4.27%).03 SD/MI 11.12%).09 Budha 0.49 0.28 Tingkat Pendidikan Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2007 Komposisi Penduduk Menurut Agama Penduduk Provinsi Papua Barat sebagian besar adalah pemeluk agama Kristen yang jumlahnya mencapai 50.51 7.88 68.12%).83 7.33 Komposisi Penduduk Menurut Agama dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 Kabupaten/Kota Fak-Fak Islam 61.15 1.01 Konghucu 0.

33 6 118.474 7.4.803 189.01 0 0.380 34.060 15.576 10.891 72.01 0.22 90.524 36.513 35.140 18 97 563 86 731 271 2.33 6 Jumlah 55.390 8.580 9.19 36.533 KS III + 178 5.832 49.998 11.54 1.70 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 1.767 6.19 71.64 3 135.94 41.20 2 118.032 13.664 3.27 5.350 636 4.29 3 5.52 2007 0 46.01 0 0 0.532 17.503 34.915 9.01 0.756 4.01 0.29 0.87 2005 0 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-75 .04 0.93 59.42 0.13 0.065 146 417 2.01 0.84 44.04 52.980 8.067 1.699 3.87 2006 0 46.66%.17 8.02 0.607 4.35 40.01 0.92 8 9.729 19.075 426 9.10 7 28. Keluarga yang masih ada pada tahap Pra Sejahtera hampir mencapai separuh keluarga yang ada di Provinsi Papua Barat yaitu 39.52 1 KS III 1.07 0.48 50.254 5.476 10.15 0.19% atau sebanyak 46.22 44.160 6.12 2 3 4 5 6 7 8 9 Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 39. 34 Tingkat Kesejahteraan Keluarga di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 4.13 0 0.029 3.03 0.90 7 3.3 Tingkat Kesejahteraan Penduduk Tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan kategori dari BPS di Provinsi Papua Barat masih cukup rendah.50 51.03 13.84 48. Angka yang sungguh sangat memprihatinkan.03 0 0. Tabel 1.27 51.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 9.88 7.60 0 23.02 0.05 0 0.35 9 53.01 0.092 40.698 112 1.02 0.77 4.505 2.02 0.585 Tahapan Keluarga Sejahtera Prasejahtera KS I 4.08 22.344 16.475 KS II 2.08 0.01 0.190 9.380 KK.255 3.415 1.012 11.36 0. Sedangkan untuk Keluarga Sejahtera III dan III plus hanya 7.533 8.568 8.98 6.032 5.90 41.11 34.02 0.02 0.70 14.380 34.03 0 0.700 498 1.665 5.40 5.12 0.52 1 23.325 8.

382 jiwa atau 72% masuk dalam kategori angkatan kerja.298 106. Dari jumlah angkatan kerja tersebut.084 210. 316.951 50.739 119.4.218 116.66 5.61 11.678 20.81 Perempuan 235.441 22.382 316.400 jiwa di mana yang sebesar 342.661 223. Pengangguran di Provinsi Papua Barat tercatat sebesar 26.883 91.193 26.396 88. Angkatan kerja adalah penduduk yang sedang bekerja ditambah dengan pencari kerja.094 5. 35 Kondisi Ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 NO 1 2 Jenis Kegiatan Utama Penduduk Usia Kerja Angkatan Kerja • Bekerja (Pengangguran Terbuka) Bukan Angkatan Kerja • Sekolah • Mengurus Rumah Tangga • Lainnya 4 TPAK (%) 5 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Laki-Laki 266.971 43.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.400 342. Tabel 1.487 3.189 jiwa dimana 56% dari pencari pekerjaan tersebut adalah perempuan.4 Ketenagakerjaan Identifikasi aspek ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat dapat menggambarkan sektor potensial dan penyerapan tenaga kerja ditiap sektor.15 7.29 Tahapan Kesejahteraan Keluarga 1.08 Jumlah 502.457 68.65 • Mencari Pekerjaan 3 LAPORAN AKHIR 1-76 . Fenomena ini sangat erat korelasinya dengan masalah yang ditemukan yaitu tidak tertampungnya perempuan pada tenaga kerja sektor formal.189 160.193 jiwa atau 88.577 25. Penduduk usia kerja yang ada di Provinsi Papua Barat sebesar 502.506 83.85 % sudah bekerja.080 13.113 12.018 47.584 14.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Gambar 1.30 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Papua Barat Tahun 2007

Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

TPAK menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) mengindikasikan besarnya penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) yang aktif secara ekonomi di suatu negara atau wilayah. TPAK diukur sebagai persentase jumlah angkatan kerja (bekerja dan pengangguran) terhadap jumlah penduduk usia kerja. Indikator tersebut menunjukkan besaran relatif dari pasokan tenaga kerja (labour supply) yang tersedia untuk memproduksi barang-barang dan jasa dalam suatu perekonomian. Sedangkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) diukur sebagai persentase penganggur terhadap jumlah angkatan kerja. TPT memberikan indikasi tentang penduduk usia kerja yang termasuk dalam kelompok pengangguran. TPT merupakan rasio jumlah penganggur terbuka terhadap jumlah angkatan kerja. Tingkat Pengangguran Terbuka di Provinsi Papua Barat adalah 7,65 %. Angka ini di bawah angka penganguran Indonesia sebesar 9,9 %. Terdapat perbedaan tingkat partisipasi antara pria dan wanita yang tercermin dari angka TPT pria sebesar 5,81 % dan wanita 11,08 %. Tabel 1.36 Penduduk Usia Kerja di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Golongan Umur
Golongan Umur 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran 18 996 5 339 39 779 7 764 44 925 5 814 42 298 3 379 47 348 2 546 38 529 857 32 286 313 24 399 123 Jumlah 24 335 47 543 50 739 45 677 49 894 39 386 32 599 24 522 % Bekerja thdp AK 78,06 83,67 88,54 92,60 94,90 97,82 99,04 99,50

LAPORAN AKHIR 1-77

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028
Jumlah 14 833 12 854 342 382 296 146 312 478 292 446 % Bekerja thdp AK 99,91 99,68 92,35 90,54 89,83 88,86

Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran 55-59 14 820 13 60+ 12 813 41 Papua Barat 316 193 26 189 2007 268 117 28 029 2006 280 705 31 770 2005 259 863 32 583 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

Golongan Umur

Tingkat pengangguran di Provinsi Papua Barat relatif sedang,

berdasarkan golongan

umur, banyak dari golongan umur 20-24 yang belum mendapatkan pekerjaan, tertampung pada 9 lapangan usaha. Jumlah penduduk pada golongan umur 25-29 yang bekerja mencapai 44.925 jiwa. Dari tahun 2005-2008 angka jumlah angkatan kerja di Provinsi Papua Barat semakin meningkat dengan jumlah penduduk bekerja yang juga meningkat dan jumlah pengangguran yang menurun. Tabel 1.37 Penduduk Usia Kerja di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota
Golongan Umur Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2005 Angkatan Kerja Bekerja 19.468 16.025 11.344 24.971 93.999 27.744 45.897 17.171 59.574 316.193 268.117 259.863 Pengangguran 3.081 1.330 949 2.118 3.627 908 2.413 525 11.238 26.189 28.029 32.583 22.549 17.355 12.293 27.089 97.626 28.652 48.310 17.696 70.812 342.38 2 296.146 292.446 86,34 92,34 92,28 92,18 96,28 96,83 95,01 97,03 84,13 92,35 90,54 88,86 Jumlah % Bekerja thdp AK

Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

Dari Tabel 1.37 diatas terlihat bahwa jumlah pengangguran terbesar di Provinsi Papua Barat terdapat di Kota Sorong yaitu sebesar 11.238 jiwa. Demikian pula jika ditinjau dari persentase penduduk yang bekerja terhadap angkatan kerja maka Kota sorong memiliki persentase yang paling kecil. Jumlah pengangguran terkecil terdapat di Kabupaten Raja Ampat yaitu sebesar 525 jiwa dengan persentase penduduk yang bekerja terhadap angkatan kerja yang paling tinggi yaitu sebesar 97,03 %.

LAPORAN AKHIR 1-78

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Tabel 1.38 di bawah ini menjelaskan mengenai jumlah penduduk yang bekerja menurut lapangan kerja utama yang dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu sektor primer (Agriculture), sektor sekunder (Manufacture) dan sektor tersier (Services). Sektor A(Agriculture) termasuk didalamnya sektor pertanian. Sektor M (Manufacture) meliputi sektor pertambangan, Industri, listrik, gas, dan bangunan/konstruksi. Sedangkan sektor S Services) termasuk didalamnya sektor perdagangan, angkutan, pergudangan, keuangan, perusahaan, dan jasa masyarakat. Tabel 1. 38 Jumlah Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2007 di Provinsi Papua Barat
Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Lapangan Pekerjaan Utama A 9186 8146 1184 11609 60769 13895 20703 9521 4292 M 2417 673 154 2684 5823 646 8293 481 9568 S 8834 3788 1279 3789 14768 4933 10425 2610 27647 Total 20437 12607 2617 18082 81360 19474 39421 12612 41507

Papua Barat 139305 30739 78073 248117 Sumber : Statistik Tenaga Kerja Provinsi Papua Barat 2008

Dari tabel diatas terlihat bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor yang dominan yang digeluti oleh penduduk di setiap kabupaten di Provinsi Papua Barat kecuali Kota Sorong. Hal ni disebabkan karena karakteristik perkotaan yang telah mendominasi Kota Sorong sebagai pusat perdagangan di Provinsi Papua Barat. Untuk kabupaten lainnya, terlihat pola yang jelas yaitu didominasi oleh pertanian diikuti oleh sektor services dan terakhir oleh sektor manufacture. Dari Tabel 1.39 di bawah ini dapat ketahui bahwa jumlah tenaga kerja terserap sesuai data dari BPS adalah sebesar 40.400 jiwa yang terdistribusi pada lapangan pekerjaan sektor pertambangan, pertanian, konstruksi, jasa, industri pengolahan. Dari sekian industri yang terdapat di Provinsi Papua Barat, industri yang mampu menyerap tenaga kerja cukup tinggi adalah industri agro dan industri pengolahan. Tabel 1.39 Penyerapan Tenaga Kerja pada Sektor Industri Tahun 2007
Jenis Industri Industri Besar Agro Jenis Pertambangan Jumlah TK 2.847 13.189

LAPORAN AKHIR 1-79

A. 1. Di antara suku-suku itu mendiami wilayah provinsi Papua Barat tercatat ada sekitar 67 LAPORAN AKHIR 1-80 . yakni antara 00 – 120 Lintang Selatan. Ketrampilan dan keahlian juga menjadi kriteria penting bagi industri skala besar untuk mendapatkan sumber daya manusia yang lebih produktif. yaitu bagian Barat menjadi milik Belanda sedangkan bagian Timur menjadi milik Jerman. Iklimnya tropis lembab karena letaknya di bawah khatulistiwa. Provinsi ini terletak di Pulau New Guinea yang merupakan pulau terbesar dalam kepulauan Melanesia. Provinsi Irian Jaya dan Provinsi Irian Jaya Barat. yaitu : Provinsi Papua.218 1. Irian Jaya secara resmi menjadi bagian Republik Indonesia tahun 1963 setelah ditanda tanganinya New York Agreement antara pemerintah Indonesia dan Belanda tahun 1962 atau 18 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.819 40.hasil hutan Total Tenaga Kerja (jiwa) Sumber : Statistik Tenaga Kerja Provinsi Papua Barat 2008 Jenis industri pertambangan meskipun memberikan sumbangan yang sangat besar pada perekonomian. sehingga penduduk yang tidak memiliki keahlian tertentu dengan sendirinya akan tersisihkan dari dunia kerja formal.279 262 399 1. Pada tahun 2003 pemerintah Indonesia membagi wilayah Provinsi Irian Jaya menjadi 3 (tiga) provinsi.kulit Logam. Papua Barat menjadi satu provinsi dengan Irian Barat (1 Mei 1963 – 1973) dan kemudian berubah nama menjadi Irian Jaya (1973 – 2000).162 1.agro. Berdasar perjanjian Den Haag tanggal 16 Mei 1895. Irian Jaya Barat dibentuk pada tanggal 6 Februari 2006 dan berubah namanya menjadi Papua Barat pada tanggal 7 Februari 2007. Pada awalnya.275 3.5 Adat dan Budaya Tradisional Provinsi Papua Barat adalah provinsi yang letaknya paling Timur dari Negara Kepulauan Republik Indonesia. Adat Suku-suku yang mendiami di Provinsi Papua dan Papua Barat tercatat ada 206 suku-suku. ternyata penyerapan tenaga kerjanya tidak besar sebab kebutuhan pekerja ini disuplai oleh wilayah lain dan pekerja dari mayarakat Papua sendiri merupakan minoritas.4. Pernyataan bergabung dengan Indonesia dilakukan melalui PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) yang diadakan tahun 1969.950 3.400 Industri Kecil Menengah Sandang. pulau ini dibagi menjadi 2 bagian.besi elektro Kimia.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 industri pengolahan listrik gas Konstruksi Penggalian Perhotelan 12.

Baham. perpindahan itu menjadi urusan komunal atau urusan semua anggota suku bukan urusan individu semata. Biak. Ekari. Apabila seorang pemuda menaruh hati pada seorang gadis maka orang tua si pemuda akan melamar gadis itu untuknya. politis. Meyah. Suku-suku itu adalah Suku Matbat. Arguni. Manikion. Uruangnirin. Kuri. Sistem perkawinan Suku Maibrat dan Karon di Kabupaten Sorong didasakan pada exogami klan kecil patrilineal (dalam bahasa Karon disebut rae sawam). Kawe. Onin. Mor. Maden. Tanah merupakan modal awal kehidupan. Dengan demikian. Meoswar. Mer. Irarutu. Iresim. Pada saat melamar ketua klan dan tokoh-tokoh adat serta semua kerabat dari kedua belah pihak akan ikut serta. Wauyai. LAPORAN AKHIR 1-81 . Seget. Erokwanas. Dusner. As. Roon. Dengan demikian. Tehit. Moskona. Yaur. Karas. Moile.Tanah adat dalam konsep orang Papua adalah hak milik sekaligus hak atas penguasaannya. Suku Meyah. Bedoanas. Kadang-kadang orang sudah dijodohkan sejak kecil. Pengawasan terhadap anak gadis sangat ketat sehingga seorang pemuda tidak mudah mengganggunya. dalam tanah terkandung dan terkait berbagai nilai di antaranya nilai ekonomi. Mairasi. Waigeo. Puragi. Pom. Karon Dori. Woi. Pada suku-suku ini dikelompokkan dalam klan. Mpur. Iha. Sekarang pemuda dan pemudi sering mendapatkan jodoh melalui acara-acara adat seperti pesta tari adat yang bernama ares komer. Legenyem. Bagi mereka. Semimi. Perkawinan di antara orang Arfak biasanya banyak diatur orangtua dan para kerabatnya. Acara pesta seperti itu adalah makan bersama. Perkawinan antar keluarga dari pihak ayah dilarang sampi keturunan yang ke-4 dan ke-5. Wandamen. Kalabra. Hatam. Yeretuar. Biga. dan Mapia. Kemberano. fungsi tanah terintegrasi ke dalam keseluruhan aktivitas kehidupan. Suabo.klan yang merupakan bagian dari masyarakat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 suku. Mai Brat. Kepemilikan tanah bagi suku Papua bersifat komunal. tanah ibarat seorang ibu yang memberikan kehidupan bagi anaknya. Ma’ya. Arandai. Konda. Kowiai. Duriankere. Tandia. Kamoro. Kamberau. jika terjadi perpindahan kepemilikan atas tanah. Jadi. Dianggap sebagai exogami jika seorang pria Maibrat atau Karon kawin dengan gadis dari klan lain yang tinggal mengelompok di desa lain dan dianggap endogami jika seorang pria kawin dengan garis lain dari klan kecil lain tapi tinggal mengelompok di desa yang sama. Buruai. Moi. pertahanan dan religius magis. Tunggare. Dalam pandangan suku-suku asli Papua pada umumnya. menari dan memuji seseorang dengan dengan pantun yang dilagukan. tanah adat adalah satu hal yang sangat penting. Moraid. Hatam dan Manikion yang sering disebut orang Arfak tinggal di Kabupaten Manokwari dan terdiri dari 35 klan. Ansus. Kaburi. Sekar. Abun. Kais. Tanahmerah. Kokoda. menyanyi. Yahadian.

termasuk menentukan hubungan yang berkenaan dengan persediaan. dan penggunaan lain-lain). Seperti juga hak atas tanah lainnya. mempunyai batas wilayah tertentu. Hal itu berarti bila tanah ulayat diperlukan untuk kepentingan umum ataupun kepentingan lain LAPORAN AKHIR 1-82 . dan menyelenggarakan tanam. Penentuan kriteria keberadaan hak ulayat dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) dengan mengikutsertakan masyarakat hukum adat. Tetapi mengacu pada konsepsi yang bersumber pada hukum adat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Hak yang melekat sebagai kompetensi khas pada masyarakat hukum adat berupa wewenang/kekuasaan mengurus dan mengatur tanah seisinya dengan daya laku ke dalam dan keluar disebut sebagai hak ulayat. mempunyai kewenangan tertentu. 2) Mengatur dan menentukan hubungan hukum antara orang dengan tanah (memberikan hak tertentu pada subjyek tertentu). UUPA (Undang-Undang Peraturan Agraria) tidak menentukan kriteria mengenai eksistensi hak ulayat. 3) Mengatur dan menetapkan hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan hukum yang berkenaan dengan tanah (jual-beli. warisan dan lain-lain). LSM dan instansi terkait dengan sumber daya alam. hak ulayat tidak bersifat ekslusif. yakni tanah wilayah yang merupakan ruang tempat hidup dan bekerja (Lebensraum) mereka. Hak ulayat tersebut berisi wewenang untuk: 1) Mengatur pemukiman. Menurut Maria Sumardjono (2006). peruntukan dan pemanfaatan serta pelestarian wilayahnya. yaitu masyarakat hukum adat itu yang memenuhi karakteristik tertentu . karena hak ulayat beserta masyarakat hukum adat telah ada sebelum terbentuknya negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. dalam pelaksanaanya hak ulayat mengenal adanya fungsi sosial. 3) Adanya kewenangan tertentu dari masyarakat hukum adat itu untuk mengelola tanah wilayahnya. mempunyai kekayaan tersendiri terlepas dari kekayaan perseorangan. 2) Obyek hak ulayat. Pengakuan eksistensi hak ulayat oleh UUPA (pasal 3) merupakan hal yang wajar. Dengan demikian. hubungan antara masyarakat hukum adat dan tanah/wilayahnya adalah hubungan menguasai bukan memiliki. Jadi. Menurut Maria Sumardjono (2006) beberapa ciri pokok kelompok masyarakat hukum adat adalah mereka merupakan suatu kelompok manusia. yakni: 1) Subyek hak ulayat. tanah (untuk mengatur (pembuatan bercocok persediaan pemukiman/persawahan baru dan lain-lain) dan pemeliharaan tanah. hak ulayat menunjukkan hubungan hukum antara masyarakat hukum (subyek hak) dan tanah/wilayah tertentu (obyek hak). dapat dikatakan penentu kriteria-kriteria masih ada atau tidaknya hak ulayat dilihat pada tiga hal.

pemanfaatan hutan di Papua. sosiologis dan berwawasan lingkungan. Pemberian bidang tanah ulayat oleh masyarakat hukum adat dapat ditempuh dengan cara dilepaskan selamanya atau diberikan penggunaannya dalam jangka waktu tertentu. bukan dengan cara big logging company (pembabatan hutan oleh perusahaan besar) ataupun HPH (Hak Penguasaan Hutan). Dengan kata lain. pola-pola ekonomi harus ditata dengan LAPORAN AKHIR 1-83 . Aditjondro J. Di Asmat dimisalkan ada 10 kampung. maka hak ulayat dapat diberikan pada pihak lain. (2003) mengatakan bahwa dalam pengamatannya selama 10 tahun di Irian Jaya (1977-1987) seringkali protes-protes warga masyarakat terhadap pemerintah atau kelompok lain hanya dilandasi kekhawatiaran mereka bahwa sumberdaya alam mereka tak akan dapat memenuhi kebutuhan mereka maupun anak cucu mereka. Jadi pembangunan di Papua Barat berdasarkan karakteristik dan budaya yang terdapat pada masyarakatnya. Ahli antropologi. Pembangunan di Indonesia Bagian Timur khususnya Provinsi Papua Barat sebaiknya dikhususkan pada segi-segi yang antropologis.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Untuk pengembangan ekonomi di Papua Barat. Pembangunan di Papua Barat sebaiknya ditata bersama pemerintah setempat. di setiap kampung ada satu kelompok gergaji tarik. Bukan karena mereka mau mendirikan satu negara sendiri yang lepas dari Republik Indonesia. ahli ekonomi maupun ekologi perlu dilibatkan untuk merekayasa unit-unit kegiatan yang fungsional. Manfaat yang diperoleh pihak luar hendaknya juga dapat bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup dari masyarakat hukum adat yang bersangkutan. Kita bisa belajar dari Missi atau LSM di sana. Misalnya. Ketika berhadapan dengan hak ulayat diperlukan kesadaran dari pihak luar yang berarti harus membuka diri untuk memahami kesadaran hukum suatu masyarakat (yang dalam hal ini masyarakat Papua Barat) yang terwujud dalam tindakan nyata sehari-hari berangkat dari sudut pandang dan pola pikir masyarakat yang bersangkutan. Dalam upaya mencapai kesepakatan. atau para pendatang memperlakukan sumber daya alam mereka tidak sesuai dengan tradisi penduduk setempat. tapi oleh komunitas setempat. kompensasi yang diberikan kapada masyarakat hukum adat hendaknya mempertimbangkan hilangnya atau berkurangnya sumber daya alam yang menjadi penghidupannya dan hilangnya pusat-pusat budaya dan religi masyarakat hukum adat tersebut. Mereka telah membangun orang Papua dengan logika dan dinamika orang Papua sendiri. semacam prakoperasi yang mensuplai kebutuhan kayu untuk bangunan pemerintah. pengembangannya lebih ditekankan pada pendidikan dan ketrampilan berdasarkan karakteristik lingkungan setempat. tempat ibadah ataupun memasok kebutuhan kayu untuk bangunan kaum transmigaran.

Pohon yang digunakan untuk tiang tengah rumah disebut mesiyi (bahasa Meyah). termasuk roh-roh yang hidup di alam serta keharmonisan antara manusia dengan arwah leluhurnya”. Tidak adanya jendela menyebabkan asap pekat dari perapian dari dalam rumah orang Arfak sangat mengganggu pernafasan dan berakibat banyaknya penduduk yang terkena penyakit paru-paru. sebanyak pasang suami istri yang ada. termasuk paman. Atap rumah terbuat dari daun pandan . dibangun rumah yang baru. seorang pria yang telah menikah menetap di rumah orang tuanya di tengah-tengah para kerabatnya (yaitu adat virilokal). Bersetubuh dengan saudara sendiri atau istri orang lain. Kampung dan Rumah Menurut adat. Norma tersebut di atas mengandung pengertian bahwa bila kita mengabaikan keharmonisan hubungan dengan sesama. Hukuman ini ditimpakan kepada seseorang yang telah melakukan tindakan hanom. Ada satu hukuman yang sangat berat yang berlaku dalam adat suku di Papua Barat yaitu dibunuh tanpa boleh membela diri atau mendapat pembelaan dari siapapun. Suatu rumah dengan suatu tempat khusus untuk upacara dan pesta adat disebut modambau . dengan persetujuan ayah dari anakanak pria tadi. Budaya Tradisional 1. yakni berzina atau melakukan perzinahan dengan seseorang yang masih ada hubungan kekerabatan yang dekat (incest). Rumah dibangun cukup besar dan berbentuk segi empat dan dinding-dindingnya terbuat dari kulit pohon dan tanpa jendela. kepala desa dan beberapa tokoh orang tua lainnya. B. maka kita akan selalu berada dalam konflik dengan sesama. kemenakan ataupun ipar.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 lebih kreatif dan dikembangkan berdasarkan karakteristik ekonomi dan kultur etnis setempat. sedang lantainya dari belahan nibung atau bambu. Dalam satu rumah biasanya terdapat kamar untuk wanita (meraja) dan kamar pria (meiges) serta sebuah ruang duduk (umersa) di tengah. Hukuman ini disebut ”Hanom-tagawim”. tapi jika ada orang yang melanggar suatu hukum adat akan dihukum oleh melalui pengadilan adat yang terdiri dari para kepala klan. manusia dengan alam sekitarnya. lantai di ruang LAPORAN AKHIR 1-84 . terdiri dari sepasang suami istri bersama keluarga inti dari 3-5 anak pria mereka. Apabila daya tampungnya terbatas. kepala kampung. Satu tumitsen biasanya mempunyai 3-5 kamar. Walau tidak ada hukum formal dalam adat suku-suku ini. Kelompok kekerabatan terkecil dalam masyarakat Suku Arfak adalah keluarga luas virilokal yang menghuni satu rumah (tumitsen). Norma yang berlaku dalam adat suku-suku ini adalah ”menjaga keharmonisan antara manusia dengan manusia.

sambil bernyanyi kaum pemuda memberi daun kepada pemudi dan sebaliknya. seirama dengan lagu yang dibawakan. Si pemuda melambai-lambaikan dedaunan kepada gadis yang disukainya dan bila si gadis menghampiri si pemuda sambil mengikuti irama lagu yang dinyanyikan dan menerima dedaunan yang dilambaikan berarti si gadis juga tertarik pada pemuda tersebut (arama emonggop agewin). ada persamaan dalam hal bentuk dan bahan material dari bangunan rumah walau ada sedikit perbedaan dalam hal penggunaan dan pemanfaatan ruangan. maju dua langkah dan mundur dua langkah seirama dengan lagu yang dibawakan. Sebelum masa pendudukan (sivilisasi) sebuah kampung suku Amungme yang cukup besar biasanya terdiri 15 – 20 buah rumah keluarga (Onggoi) dengan 5 – 8 buah rumah laki-laki (Itorei). Ukir. Gerakan ini diikuti langkahmengikuti irama. merupakan gerakan dua orang yang saling berhadapan muka sambil menghentakkan kaki di tanah bersama-sama. b. yaitu: a. b. Weantagawi. Tarian mudi-mudi Tarian ini diadakan di lapangan terbuka yang disebut Tup. Dalam tarian ini para penari membentuk lingkaran sambil menyanyikan lagu-lagu asmara. atau berjalan atau berlari yang dilakukan sambil bernyanyi. 2. c.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 tengah tak dialasai dengan batang-batang nibung sehingga menari dilakukan di atas tanah. Tem. merupakan gerakan berputar di tempat. di dalam sinar nyala api. Dalam tarian ini para pemuda dan pemudi menyanyikan lagu dan pantun tentang cinta. Di sini mereka yang saling terpaut hatinya menyatakan kasih sayangnya dengan memberikan suatu benda. gerakan ini diadakan di dalam rumah. Ada tiga macam tarian. Ada tarian muda-mudi yang berlangsung di dalam rumah yang disebut Tem. merupakan gerakan berlari mondar-mondir di suatu tempat terbatas. d. Tarian Pesta LAPORAN AKHIR 1-85 . Tup. Kalau dibandingkan dengan rumah suku Amungme yang hidup di lembah-lembah pegunungan bagian tengah di Irian. Seni Tari. dipisahkan oleh tungku apui. Tarian ini dapat berlangsung semalam suntuk. Muda-mudi duduk berhadapan muka. dan Anyam-anyaman Ada empat bentuk tarian dalam adat suku ini yaitu: a. Para muda-mudi duduk berhadapan dipisahkan ole tungku api di antara mereka. Pipakwean.

Wandamen. 3. Moraid. isi keladi putih yang membusuk atau abu dari tungku api.Moskona. Bahasa-bahasa yang digunakan ada 67 bahasa.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tarian ini biasanya dilakukan di lapangan terbuka. Provinsi Irian Jaya dan Provinsi Papua Barat tercatat ada 310 bahasa yang digunakan masyarakatnya. breya (anyaman kulit dan bulu burung atau kasuari untuk hiasan kepala). Para wanita dan pria orang Arfak biasanya mengenakan perhiasan yang berupa gelang yang terbuat dari anyaman tali rotan dan disebut liya. Kawe. Biga. c. de’maya (kalung). Ukiran-ukiran yang khas itu juga dibuat padap perlatan-peralatan perang lainnya. merah dan kuning. Meyah. Maden. Arandai. Manikion. Di waktu senggang seorang pria Arfak mengukir serta melukis busur dan anak panahnya. Warna putih dibuat dari tanah liat. Orang-orang datang sambil menyanyi lalu masuk ke lapangan pesta. Waigeo. Yang membedakannya adalah lagu-lagu yang dibawakan dalam tarian perang berisi lagu-lagu perjuangan yang membangkitkan semangat juang. yakni : bahasa Matbat. kesenangan dan pujian. Biak. Seni ukir terbatas pada mengukir anak panah. Warna hitam dibuat dari asap lemak babi dan damar. Abun. Duriankere. Lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu kegembiraan. Hatam. Warna merah dibuat dari tanah merah yang digali dari dalam tanah. Di provinsi Papua Barat sendiri tercatat ada 67 suku yang mendiaminya. Ma’ya. Hiasan dan busana bagi wanita adalah rumbai-rumbai yang dibuat dari alang-alang dan serat kulit kayu yang diikatkan dipinggang dan kalung manik-manik (gemsya). Legenyem. C. Kemudian mereka mengadakan tarian Tup yang ditarikan sepanjang pesta. Serat-serat itu diambil dari batang pohonnya kemudian dipintal menjadi benang yang kemudian dengan ini digunakan untuk membuat berbagai barang kebutuhan hidupnya. Mpur. Sedangkan warna kuning dibuat dari akar tumbuh-tumbuhan dan tali-talian hutan. LAPORAN AKHIR 1-86 . Warna-warna yang mendominasi yang digunakan dalam kerajinan adalah putih. Kebhinekaan Bahasa di Papua Di Provinsi Papua. arang dapur atau dari buah-buahan hutan. As. Wauyai. hitam. Moi. mi’yepa (hiasan kepala yang dianyam memakai manik-manik). Seget. Mereka berdiri membentuk lingkaran dan berputar sambil meneriakkan kata-kata “ka”. Kerajinan Seni ukir kurang begitu dominan dalam kebudayaan suku di wilayah Papua Barat. Tarian Perang Tarian perang mirip dengan tarian pesta. Karon Dori.

Persebaran fila bahasa-bahasa Melanesia di ke tiga provinsi ini terlihat di peta B. Mai Brat. Konda. Woi. fila Kuomtari tingkat golongan (lihat peta B). Kuri. Kokoda. 7) fila Pauwi tingkat isolat. Tehit. yaitu daerah bagian belakang leher burung danpulau-pulau yang berhadapan dengan daerah pantai Waropen. Bedoanas. Mer. 2) fila Papua Barat. Sedangkan bahasa-bahasa non-Melanesia yang digunakan di Papua adalah khas Papua yang tidak mempunyai hubungan linguistik dengan bahasa-bahasa di luar Papua dan Papua Niugini. Uruangnirin. Meoswar. Tanahmerah. Alor. 1994). Bahasa-bahasa di provinsi Papua dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan besar yang oleh ahli linguistik disebut phylum (fila). 5) fila Warnbori tingkat isolat. daerah kepulauan Biak-Suntori. Kais. Moeliono dalam bab berjudul ”Ragam bahasa di Irian Barat” dalam buku berjudul Penduduk Irian Barat (1963: hal. Di dalamnya terdapat 234 bahasa yang masih diklasifikasikan LAPORAN AKHIR 1-87 . 8) fila Sko tingkat golongan. Arguni. Dusner. Buruai. Provinsi Papua berada di deretan Kepulauan Melanesia yang melingkar mulai dari kepulauan di sebelah Timur-laut Papua dilanjutkan ke arah Timur benua Australia hingga kepulauan Fiji di sebalah Utara Selandia Baru. Mor. Pom. Roon. dan Mapia. Yeretuar. bahasa-bahasa di Non-Melanesia di provinsi Papua. Iresim. Sekar. Kalabra. Puragi. Waropen Bawah dan Atas di sekitar Waren. Sumberdaya budaya yang dalam hal ini keragaman bahasa perlu mendapat perhatian untuk dikembangkan terlebih dahulu sebelum pengembangan sumberdaya alam dan sumberdaya penduduk Papua Barat itu sendiri untuk mendukung kegiatan pembangunan di provinsi Papua Barat. Ekari. 4) fila Kepala burung bagian Timur tingkat golongan. Berdasarkan pembagian fila. Ansus. Mairasi. Yahadian. Tandia. Tunggare.M. Dapat dikatakan provinsi ini menyimpan potensi sumberdaya manusia dan budaya. Pantar dan Halmahera Utara (Koentjaraningrat. Pulau Numfor derah sekitar Manokwari. provinsi Irian Jaya dan Provinsi Papua Barat terdiri dari 9 fila. Kamoro. Iha. Semimi. Yaur. Suabo. 6) fila Taurap (Borumeso) tingkat isolat. yaitu: 1) fila Trans Irian. Onin. sebagian besar kepulauan Raja Ampat. Kemberano. yaitu fila bahasa-bahasa Melanesia dan fila bahas-bahasa non-Melanesia. Irarutu. sebagian derah fak-fak dan Kaimana serta kepulauan kepulauan sekitar Kaimana. derah Yapen Timur dan Barat serta pulaupulau sekitarnya. Kowiai. Kamberau. Seorang ahli bahasa bernama C. kecuali dengan bebereapa bahasa di pulau Timor. Erokwanas. Loukotka telah melakukan upaya untuk mengklasifikasikan kebhinekaan bahasa di Papua dan dimuat secara singkat oleh A. 3) fila Teluk Cendrawasih. Karas. Di seluruh Papua dapat digolongkan ke dalam bahasa-bahasa Melanesia. Menurut klasifikasi Loukotka ada paling sedikit 31 golongan bahasa di Papua. 33-35). Baham.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kaburi.

g. Semini dan Kamoro. c. Kamberau.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 juga secara geografikal. Di samping itu pemahaman terhadap bahasa-bahasa di provinsi Papua akan dapat mengurangi kesalah pahaman serta konflik yang mungkin timbul diantara penduduk asli dengan pihak-pihak luar yang berkaitan dengan perencanaan dan pembangunan di wilayah ini. Pengetahuan terhadap keragaman bahasa-bahasa di provinsi Papua Barat memang mutlak diperlukan untuk dapat mengkomunikasikan kepada penduduk tentang dan turut berpartisipasi di dalam perencanaan pembangunan serta manfaatnya khususnya progam-progam yang ada dalam RTRW Papua Barat agar mereka berperan serta Barat pembangunanan. yaitu Onin. Baham. Sekai. yaitu golongan Fila Trans Irian yaitu Suabau. Bedoanas. Tetapi ada 13 bahasa yang sama sekali berbeda golongannya. Irasutu. Iha. Erokavanas. Buruwai. Uruangnirin dan Yaier. Bahasa-bahasa di Kabupaten Sorong Bahasa-bahasa di Kabupaten Manokwari Bahasa-bahas di Kabupaten Biak-Numfor Bahasa-bahasa di Kabupaten Paniai Bahasa-bahasa di Kabupaten Fakfak Bahasa-bahasa di Kabupaten Irian Jaya Barat-daya Bahasa-bahasa di Kabupaten Jayapura Bahasa-bahasa di KabupatenJayawijaya Bahasa-bahasa di Kabupaten Merauke Bahasa-bahasa di Kabupaten Irian Jaya Tenggara Penggolongan bahasa menurut kabupaten itu berbeda dengan klasifikasi berdasarkan asas-asas linguistik.5 ASPEK EKONOMI WILAYAH 1. yang mendekati pembagian administratif dan provinsi ke dalam 10 kabupaten yaitu: a. i. Menurut Index of Irian Jaya Language. j. ada 22 bahasa dan beberapa diantaranya termasuk fila Austronesia-Melanesia. Bahasa Hatam dan Moile termasuk fila Kepala Burung Bagian Barat sedang bahasa Meyah dan Manikion adalah fila Kepala Burung Bagian Timur. e. 1.1 Peranan dan Kontribusi Perekonomian Wilayah Provinsi Papua Barat dalam Konteks Nasional LAPORAN AKHIR 1-88 . h. d. Mor. f. b. Mer. Karas. Koiwai. mainasi. bahasa Madik dan bahasa Karon adalah bahasa-bahasa yang berbeda dan oleh para ahli linguistik dimasukkan dalam satu golongan yaitu fila Papua Barat. Arguna. Mairasi. Kokoda. Bahasa Maibrat. Sebagai contoh misalnya bahasa-bahsa di kabupaten Fakfak.5.

928.580.034. Beberapa sektor unggulan seperti pertambangan dan perikanan memang diekspor ke luar wilayah.13 508. 1. Provinsi Papua Barat memiliki pendapatan per kapita pada tahun 2005 sebesar Rp 12.20 180.724.90 430. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan.00 2.903.059 0.205 0. dan Jasa Jasa-jasa Total PDRB Papua Barat (dalam ribu Rupiah) 2.80 308.94 triliun rupiah. Kontribusi terbesar kepada Indonesia oleh Provinsi Papua Barat adalah pada sektor primer sebesar 1.587.968. Kekayaan alam yang berlimpah terutama di sektor primer Apabila ditinjau dari pendapatan per kapita.154.11 1.775.496 0.89 622.785.289 0. Hal ini berarti bahwa peningkatan PDRB di Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-89 .568. Meskipun demikian.20 276.879.179 0. PDRB Provinsi Papua Barat mencapai 8.10 771.152. 6. Gas. Persewaan.149 0.281 0.201.2 Struktur Ekonomi Wilayah Provinsi Papua Barat PDRB dan Perkembangannya Berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku.91 PDRB Indonesia (dalam juta Rupiah) 363.592 0. menempati peringkat ke-5 dari 33 provinsi.29 39. Nilai PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan juga menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. pendapatan per kapita ini tidak dapat digunakan untuk mengukur pendapatan di lapangan.284 Sumber : BPS.717. nilai PDRB Provinsi Papua Barat menempati ranking ke 29 dari 33 Provinsi di Indonesia dan menyumbang sekitar 0.5.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2005. Angka ini menunjukkan.79 137. 2006 Dekripsi lebih dalam tentang kontribusi Provinsi Papua Barat dapat ditunjukkan dengan presentase tiap lapangan usaha terhadap PDRB Indonesia.528.76 1.339.225 0.693. orientasi untuk meningkatkan perekonomian dapat dikatakan masih sebatas untuk memenuhi kebutuhan ekonomi wilayah ini.223. tiap lapangan usaha memiliki kontribusi tidak lebih dari 1%.00 769.370.29% PDRB Nasional.944.176.00 26.50 195. Secara umum.089. Tabel 1.67 565.072.40 Persentase PDRB Papua Barat terhadap PDRB Indonesia Tahun 2005 dirinci per Lapangan Usaha Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.088%.050. yaitu dari perikanan dan pertambangan.27 7. meningkat 177% dibandingkan tahun 2000 yaitu Rp.40 Kontribusi (%) 0.296.984.000.037.70 230.

601.31 Perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat Tahun 2000-2006 Besar sumbangan migas untuk PDRB Papua Barat mencapai sekitar 20 persen sehingga sangat mempengaruhi perekonomian di Papua Barat.370.204.03 262.11 12 471 605.70 226.597.391.98 4.903.28 10 369 836.27 149.403.02 315.9 triliun.41 PDRB Provinsi Papua Barat Atas dasar Harga Berlaku dan Konstan 20002008 Tahun PDRB atas Dasar Harga Berlaku Jumlah (Juta Rp) 3. Berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku.95 160. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tahun 2000 adalah sebesar 3.34 5.104.56 134.537.304.94 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber: Papua Barat Dalam Angka 2009.89 4.91 4.00 109. terus meningkat setiap tahunnya hingga menjadi sebesar 5.576.23 5 934 315.17 5.945.297.38 166.304.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bukan hanya karena dampak inflasi namun menunjukkan kenaikan produksi yang nyata.89 4. Tabel 1. perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat tanpa migas setara dengan perkembangan PDRB dengan migas.555.76 Perkembangan (%) 100.82 6 369 374.201.91 8.846.00 103.206.796.17 199.601.19 140.957.53 4. hasil perhitungan Gambar 1.49 121.4 kali lipat antara kurun waktu 2000-2006.32 4. PDRB Provinsi Papua LAPORAN AKHIR 1-90 .333.13 PDRB atas Dasar Harga Konstan Jumlah (Juta Rp) 3.627.59 116.92 125.38 7.969.551.256.51 triliun pada tahun 2006.22 6.22 Perkembangan (%) 100.957.34 108.03 140. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tersebut berkembang sebesar 1. Selisih antara PDRB Papua Barat dengan migas dan tanpa migas berdasarkan atas harga berlaku mencapai lebih dari 1 triliun.089.18 5.

34 2003 4.2 triliun rupiah pada tahun 2006.30 3.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 PDRB ADH Berlaku Tanpa Migas PDRB ADH Konstan Tanpa Migas LAPORAN AKHIR 1-91 .02 4.00 165.665.12 106.38 2002 3.8 triliun rupiah.42 PDRB Provinsi Papua Barat Atas dasar Harga Berlaku dan Konstan Tanpa Migas Tahun 2000-2006 PDRB atas Dasar Perkembangan PDRB atas Dasar Perkembangan Harga Berlaku (%) Harga Konstan (%) Jumlah (Juta Rp) Jumlah (Juta Rp) 2000 2.49 kali lipat antara kurun waktu 2000-2006.642.221.88 3.802. pada tahun 2000 besar PDRB adalah 2. Sebelumnya.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Barat tanpa migas pada tahun 2006 menurut harga berlaku mencapai 6.32 Perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 20002006 250.417.15 146.700.147.45 100. Setiap tahunnya PDRB Papua Barat tanpa migas menurut harga berlaku selalu meningkat.795.617. sedikit di atas bawah PDRB dengan migas yang sebesar 1.96 130.23 226.00 0.00 2. Nilai PDRB Papua Barat tanpa migas atas dasar harga konstan juga menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. PDRB Papua Barat tanpa migas atas dasar harga konstan tahun 2000 adalah sebesar 2.36 triliun rupiah.18 113. hasil perhitungan Tahun Gambar 1.15 192.90 114.434.137.45 100.02 2.281.43 122.11 149.265.00 150.912.00 200.183.75 3.06 128.669.12 2005 5.00 100.4 kali lipat.431.903.996.147.42 2004 4. terus meningkat setiap tahunnya hingga menjadi sebesar 4.00 50.42 3.32 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007.69 138.835.289.834. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tersebut berkembang sebesar 1.817.89 2006 6.817.206.448.81 triliun rupiah.00 2001 3.367. Tabel 1.

69 5.08 persen.74 2006 13.85 6. Sementara itu.08 11. sektor nonmigas mengalami kenaikan produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor nonmigas. namun lebih fluktuatif. 43 Pertumbuhan PDRB Provinsi Papua Barat 2000-2006 Dengan Migas Tanpa Migas Atas Dasar Atas Dasar Atas Dasar Atas Dasar Harga Berlaku Harga Konstan Harga Berlaku Harga Konstan 2001 9.49 2003 15.74 16.17 6.39 12.07 13.04 7.91 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.68 14.02 6.83 7. Sementara itu dari segi produksi.06 2004 18.38 2002 10.02 6.37 7.49 3. LAPORAN AKHIR 1-92 . Angka rata-ratanya juga menunjukkan angka yang lebih rendah.48 6.34 13. Tabel 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pertumbuhan ekonomi Papua Barat selalu berada dalam kondisi positif dalam kurun waktu tahun 2000 hingga 2006.50 r 14.56% dan angka pertumbuhan setiap tahunnya yang terus meningkat.56 5. Angka pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku tanpa migas lebih fluktuatif dibandingkan PDRB dengan migas. Rata-rata pertumbuhan dalam kurun waktu tersebut untuk PDRB atas dasar harga berlaku adalah sebesar 14.29 2005 20. angka pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan justru menunjukkan rata-rata pertumbuhan yang lebih tinggi dan angka pertumbuhannya juga lebih fluktuatif dibandingkan dengan PDRB dengan migas atas dasar harga konstan.38 7. namun kemudian pertumbuhannya melambat menjadi 6. Pertumbuhan setiap tahunnya terus meningkat hingga mencapai 7.66 13.68 persen pada tahun 2003. hasil perhitungan Tahun Pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan juga selalu menunjukkan angka yang positif. Angka rata-rata pertumbuhan selama tahun 2000 hingga 2006 adalah sebesar 5. Analisis pertumbuhan PDRB tanpa migas menunjukkan hasil yang berbeda.63 7. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2000 hingga 2006 sektor migas mengalami inflasi yang cukup tinggi dibandingkan dengan sektor nonmigas.74 persen pada tahun 2005.03 4.

14%.34 5.29 Sekunder 6.95 11.11 -0.75%. Tabel 1.55 3.00 10.90 3.82 7.09 3.94 1.28 10.97 10.38 9.52 Listrik.31 PDRB 3.89 5.44 Pertumbuhan PDRB Papua Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000-2006 Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 4.00 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Dengan Migas Atas Dasar Harga Berlaku Dengan Migas Atas Dasar Harga Konstan Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan Rata-rata pertumbuhan PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan pada kurun waktu 2000-2006 adalah sebesar 5.56 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.77 8. Kedua sektor ini menjadi sektor dengan angka pertumbuhan di bawah angka pertumbuhan PDRB Provinsi Papua Barat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.20 6.65 2.87 8. Kelompok sektor sekunder yang terdiri dari industri pengolahan listrik.14 8.91 17.84 5.46 5.23 2.40 1.34 -1.33 Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Papua Barat Tahun 2000-2006 25. hasil perhitungan r 4.38 8.35 3. dan Air Minum 7.91 7.65 11. Hal ini menjadikan kelompok sektor primer memiliki angka pertumbuhan yang paling rendah dibandingkan dengan kelompok sektor lainnya.43 Pertambangan dan Penggalian -4.69 4.91 10.00 20.07 7.36 0.29%.17 5.19 9.26 12.00 0.04 30. Sementara itu sektor tersier yang terdiri dari sektorsektor sisanya memiliki angka pertumbuhan tertinggi yaitu 9.34 2.83 9.25 8.68 7.73% disusul dengan sektor jas-jas yaitu sebesar 9.72 12.74 4.48 9.25 Bangunan 6. Gas.13 8.10 21. Persewaan.64%.29 5.95 9.61 13.54 5. Sektor pertambangan dan penggalian memiliki angka pertumbuhan yang paling rendah yaitu sebesar 1.00 9.90 9.77 9.64 LAPORAN AKHIR 1-93 .71 13.06 Perdagangan 7. dan Jasa -6.94 Tersier 7.14% diikuti sektor pertanian sebesar 4.07 3. Jika dilihat pertumbuhan tiap-tiap sektor maka sektor angkutan dan komunikasi mengalami pertumbuhan yang tertinggi yaitu sebesar 12.39 6.87 10.48% (lihat Tabel 1.44).13 12.73 6.85 9.91 2.59 15.93 14.77 Industri Pengolahan 6.14 1. dan air minum serta bangunan memiliki angka pertumbuhan yang sebesar 8.80 2.34 8.84 Keuangan.97 2.66 Primer 0.33 7.75 9.14 9.00 15.75 14.13 9.79 8.43 4.33 13.00 5.07 Jasa-jasa 8.76 8.52 9.49 Angkutan dan Komunikasi 11.78 4.03 8. gas.

00 9.75 9.06 Perdagangan 7. 45 Pertumbuhan PDRB Papua Barat Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan 2000-2006 Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 4.29 6.89 5.14 9.38 7. hasil perhitungan r 4. Hal ini menunjukkan bahwa sekitar 24% industri pengolahan di Provinsi Papua digerakkan oleh kegiatan di sektor migas.21 13.38 8.95 5. sedangkan pertumbuhan kelompok sektor sekunder menjadi lebih rendah.85 9.65 5.05 2.11 4.16 persen kepada PDRB berlaku Provinsi Papua Barat tahun 2006 diikuti oleh sektor industri pengolahan yang sebesar 1.33 13.14 9.94 7.91 7.23 6.53 5. Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa kegiatan primer pada sektor migas yang bergantung pada bahan baku mengalami kecenderungan perlambatan.49 9.72 12.552 triliun (17. Gas.20 6.36%).91 2. dan Air Minum 7.60 5.84 Keuangan.84 5.97 10.65 11.34 2.91 10.17 5.64 PDRB dan Kontribusi Sumbangan setiap sektor dalam PDRB dapat menunjukkan komposisi perekonomian di wilayah tersebut.20 10.25 Bangunan 6.87 10.57 6.35 Industri Pengolahan 7.13 9.66 10.38 9.07 3.26 12.46 PDRB Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Lapangan Usaha PDRB Atas PDRB Atas Dasar LAPORAN AKHIR 1-94 .27 3.43 Pertambangan dan Penggalian 8.91 4. Sebaliknya.07 9.03 8.64%.95 11.28 10.49 Angkutan dan Komunikasi 11.48 9.13 12.07 Jasa-jasa 8.29 6.50 Primer 4.90 9.09 3. sektor industri pengolahan dengan mengeliminir subsektor industri pengilangan minyak dan gas bumi memiliki angka yang menjadi lebih rendah yaitu sebesar 6. Sementara itu.13 7.75 14. aktivitas sekunder pada migas yang berupa kegiatan lanjutan memanfaatkan hasil dari sektor primer cenderung mengalami peningkatan.78 9.13 8.46 5.06 7.19 9.33 7. Tabel 1.98 8.47%) dan sektor pertambangan dan penggalian yang sebesar 1.74 7.77 7.42 5.67 Sekunder 7.56 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007. Sektor pertanian merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu sebesar 2.53 Tersier 7.16 Listrik.93 14.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pertumbuhan PDRB tanpa migas atas dasar harga konstan menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB dengan migas yaitu sebesar 9.31 PDRB 6.741 triliun (19.26 7. Persewaan.34 8.04 30.83 9.49%.76 8.77 9.06 6.49 7. Tabel 1.61 13.74 6.25 8.82 7.73 6.79 8. Hal ini menyebabkan pertumbuhan kelompok sektor primer tanpa migas menjadi lebih tinggi dibandingkan denga migas.429 triliun rupiah atau sebesar 27. dan Jasa -6.97 2.

74 872 426. gas.81 1 098 592.978.991.036.859.916.75 PDRB 12 471 605.02 17.91 1 817 444.53 29 098.38 22.12 45.37 32.55 27.31% kepada PDRB konstan Provinsi Papua Barat kemudian oleh pertambangan dan penggalian (19.25 Industri Pengolahan 2 835 994.50 1.42 150 145.54%).53 Pertambangan dan Penggalian 1 846 593. Sektor pertanian tetap merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu sebesar 29. Listrik.78 Sekunder 4.70 10.70 14. menunjukkan tingkat ketersediaan dan tingkat penggunaan dari infrastruktur dasar yang masih rendah di Papua Barat. lebih kecil dari 1% baik menurut PDRB atas dasar harga konstan maupun berlaku.53 Angkutan dan Komunikasi 866 875.95 473 536.44 31.58 8.48 0.35 670 818. LAPORAN AKHIR 1-95 . Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian dan pertambangan penggalian memiliki jumlah yang tinggi jika dilihat dari segi produksi.05 13.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dasar Harga Berlaku Harga Konstan Jumlah % Jumlah % Pertanian 3 107 119.712.56 6.10 28.36 Jasa-jasa 1 005 409.07 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka Tahun 2009.26 2.46 Bangunan 1 150 834. hasil perhitungan Terdapat perbedaan kontribusi bila menggunakan PDRB atas dasar harga konstan.70 Listrik. Sementara itu industri pengolahan memiliki besaran produksi yang lebih rendah namun memiliki nilai yang lebih tinggi.00 6 369 374.72 2.953. dan Jasa 302 327.052. dan Air Minum 66 030. Persewaan.13 8.43 Keuangan.99 Perdagangan 1 290 421.09 2.23 572 822.65 9.48%) dan lapangan usaha industri pengolahan (13.02 10.66 23.474.00 Primer 4.34 0.15 Tersier 3. dan air minum memberikan kontribusi terkecil.32 10.13 24.033.346.06 684 491.465.83 39.76 100.78 1.22 100. Gas.46 7.

74%. Besarnya kontribusi sektor primer yang hingga mencapai angka 44.35 PDRB Papua Barat per Kelompok Sektor Tahun 2008 Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Konstan 2000 Analisis dengan mengeliminir migas menunujukkan beberapa perbedaan.52 persen dapat menunjukkan bahwa sektor ini merupakan sektor vital yang menjadi penopang utama perekonomian di Papua Barat. Gambar 1.20 persen.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Sektor primer tetap menjadi sektor dengan kontribusi tertinggi namun diikuti oleh sektor tersier baru kemudian sektor sekunder.982 triliun (44. Sektor perdagangan memiliki kontribusi terbesar kedua yaitu sebesar 508 miliar atau 14. Terdapat perbedaan jika menggunakan angka PDRB atas dasar harga berlaku.152 triliun atau sebesar 39. Sektor sekunder ada pada posisi berikutnya dan kemudian diikuti oleh sektor tersier. Kontribusi LAPORAN AKHIR 1-96 . PDRB tanpa migas atas dasar harga berlaku untuk sektor pertanian menjadi sektor dengan kontribusi tertinggi yang angkanya mencapai 2.34 PDRB Papua Barat per Sektor Tahun 2008 ADH Berlaku Kontribusi kelompok sektor utama dalam ekonomi berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku menunjukkan sektor primer yang terdiri dari pertanian dan pertambangan dan penggalian sebagai sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu 3.52%).

15 67.644.49 10.60% atau LAPORAN AKHIR 1-97 .434.206.93 9.60 24616.59 1.02 445795.121.26 2.42 10.75% Angkutan dan Komunikasi Keuangan.38 734.41 39.82 38.496.53 PDRB Atas Dasar Harga Konstan Jumlah (juta RP) % 1627118.36 PDRB Papua Barat per Sektor Tanpa Migas Tahun 2006 Pertanian 11.166.429.06 649.75 715.625. hasil perhitungan Gambar 1.54% 1.986. dan Jasa Jasa-jasa 11. Kontribusi sektor industri pengolahan tadinya sebesar 19.59 11.47 persen turun menjadi sebesar 10. Tabel 1.560.496 triliun rupiah.96 10.26 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007. Persewaan.24 925.43 38.47 PDRB Provinsi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 2006 Lapangan Usaha PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Jumlah (juta Rp) % 2.21% atau senilai 2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sektor pertambangan dan penggalian turun drastis dari 17.87 0.15% 38.038.221.458.430.91 38.458 miliar.44 94706.21 1.367.46 2. Persew aan.64 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.62 1.32 Tersier 2.06% atau hanya sebesar 67. Sektor tersier memiliki kontribusi sebesar 38.7 13.420.53 14.70 21.53% 2.20 persen atau sebesar 649.36% turun menjadi 1.36 397041.19 911. Gas. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan.20 48.38% 10.06% 10.23 100 4. Begitu pula dengan sektor industri pengolahan meskipun tidak sejauh pada sektor pertambangan penggalian. dan Jasa Jasa-jasa PDRB 6.60 1.204.39 22.669.42 miliar rupiah.587. sedikit lebih rendah dibandingkan dengan jika memperhitungkan migas.79 0.24% Berdasarkan kelompok sektor utama.17 13.59 440813.15% Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.20% 0.457.289.22 11.804.226.11 Primer 2.59 100 39.25 571658.66 38.01 10. sektor primer menjadi sektor dengan kontribusi sebesar 39. dan Air Minum Bangunan Perdagangan 14.48 561814.413.68 42867. Gas.141.54 646.53 Sekunder 1.15 151.

Adanya perubahan ini seiring dengan meningkatnya angka pertumbuhan pada sektor industri pengolahan tiap tahunnya dan pertumbuhan yang lambat dari sektor pertambangan dan penggalian.85 13.97 2006 27.63 2001 32.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sebesar 2.94 2004 29.24 25. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan produksi dan inflasi sektorsektor di luar migas bergerak secara sebanding. komposisinya juga memberikan angka komposisi yang cenderung setara dengan PDRB tanpa migas atas dasar harga berlaku.9 1 14.86 18. sebaliknya sektor pertambangan dan penggalian terus menurun. Antara tahun 2000-2006 perubahan menonjol terjadi pada sektor pertambangan penggalian dan industri pengolahan.60% 39.16 17.9 8 20.7 LAPORAN AKHIR 1-98 .77 21.20 19.75 2002 32.36 19.19% Primer Sekunder Tersier Pergeseran Struktur PDRB Provinsi Papua Barat PDRB Papua Barat yang ditampilkan secara time series dapat menjadi salah satu alat untuk mengetahui apakah terjadi perubahan atau pergeseran struktur ekonomi di wilayah tersebut.457 triliun rupiah.77 2003 31.90 2005 27.53 11.45 18. Jika dilihat dari PDRB tanpa migas atas dasar harga konstan. Kedua sektor ini memang seolah-olah bertukar posisi.6 4 15.413 triliun rupiah.8 1 22.31 19.47 2007 26.48 Persentase Tiap Sektor Ekonomi dalam PDRB Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2000-2008 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan 2000 32.71 19.42 15. Sektor sekunder memberikan kontribusi terendah yaitu sebesar 22. Kontribusi sektor industri pengolahan terus meningkat.19% atau sebesar 1.21% 22.37 PDRB Papua Barat per Kelompok Sektor Tahun 2006 38.1 2008 24.50 18.51 13. Gambar 1. Tabel 1.

91 8.0 52.95 2. Kontribusi sektor primer adalahs sebesar 57.01 6.0 42.00 10.91 1.22 1.87 2006 0.02 9.93 100.67 8.78 100.81 7.88 100.86 5.01 2005 0.58 persen pada tahun 2005. dan Jasa Angkutan dan Komunikasi Perdagangan Bangunan Listrik.64 2001 0.59 8.41 7. Gas.54 8.38 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tahun 2000-2006 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Jasa-jasa Keuangan.67 9.5 8 7.37 6. sektor primer tetap merupakan sektor yang dominan dalam kurun waktu 2000 hingga 2006.50 27.47 2007 0 0.59 23.56 21.81 2002 0.02 100.54 100.39 2004 0.03 Lapangan Usaha Listrik.28 23.56 8. dan Air Minum Industri Pengolahan Pertambangan dan Penggalian Pertanian Jika dilihat dari kelompok sektor.25 2008 4 0.13 5.42 1.0 47.72 32.96 26.60 8.77 18.62 25.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2003 0. Meski demikian sektor primer memiliki kontribusi yang terus menurun.59 8.1 1 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka Tahun 2009.51 27.6 2 29. hasil perhitungan Gambar 1.0 46.34 26.96 10.3 5 6.38 6. Kedua sektor tersebut memiliki angka pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB secara total.69 8.28 20.60 4.29 1.54 8.61 10. Hal ini adalah akibat dari lebih rendahnya pertumbuhan sektor pertanian dan pertambangan penggalian yang termasuk ke dalam kelompok sektor primer dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.52 28.35 7.23 10.53 9.38 1.0 39.07 8.0 50.48 100.72 6.15 9.0 44. Persewaan.47 6.21 100.44 2.2 7 28. Persew aan. dan Jasa Jasa-jasa PDRB Primer Sekunder Tersier 2000 0.0 54. LAPORAN AKHIR 1-99 . dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan.50 7.01 27.92 24. Gas.89 1.77 persen pada tahun 2000 menurun menjadi 44.03 26.80 6.0 57.28 1.42 8.06 100.78 9.43 6.71 100.19 26.

64 11.91 11.63 20.58 0.17 9.63 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.06 10. Sementara itu kontribusi sektor tersier bergerak naik turun pada kisaran angka 23% hingga 28% setiapa tahunnya.72 2006 38.48 Pertambangan dan Penggalian 0. dari 18.05 10.87 0.76 20.20 0. Gas.01 persen pada tahun 2006.31 43.29 PDRB 100.87 7. Dieliminirnya non migas praktis menjadikan sektor pertanian menjadi sektor paling vital bagi perekonomian Papua Barat.94 1.54 10.83 Listrik.07 2.80 35.40 Perdagangan 12.42 14.46 11.60 Sektor sekunder menunjukkan terus mengalami peningkatan. hasil perhitungan 2005 39.43 0.85 Keuangan.26 9.13 2.15 2.66 Bangunan 9.07 13.00 100.55 100.73 10.52 0.94 0.60 43.30 9.89 0.54 0.72 42.00 100.49 Sekunder 20.59 persen pada tahun 2000 menjadi 28.85 11.52 0.19 38.77 11.53 100. Sektor industri pengolahan yang terus tumbuh dan meningkat menjadi faktor tingginya kontribusi sektor sekunder.33 7.01 Industri Pengolahan 10.69 Jasa-jasa 11.39 Pergeseran Kelompok Sektor Ekonomi Papua Barat Tahun 2000-2006 100% 80% 60% Tersier Sekunder Primer 40% 20% 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tabel 1.00 Primer 46.42 13.23 9.01 11.38 11.43 36.93 10.21 22.78 41.00 40.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.15 1. dan Jasa 2.45 8.35 9.85 11.76 34.48 44.00 100.16 45.29 44.04 10.37 42.35 2.69 21.00 100.21 33. dan Air Minum 0.75 11.00 39.44 13.83 8.08 12.88 Tersier 33.65 1.16 2. Persewaan.80 Angkutan dan Komunikasi 6.49 Persentase Tiap Sektor Ekonomi dalam PDRB Papua Barat Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2000-2006 Lapangan Usaha 2000 2001 2002 2003 2004 Pertanian 45.86 20.89 20.24 14.36 2.59 37. jauh di atas sektor-sektor lainnya namun cenderung LAPORAN AKHIR 1-100 .

60%. Dieliminirnya migas praktis menjadikan sektor primer bertumpu hampir sepenuhnya pada sektor pertanian. Kontribusi sektor primer adalah sebesar 46. Hal ini adalah akibat dari lebih rendahnya pertumbuhan sektor pertanian dibandingkan sektor-sektor lainnya.41 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 2000-2006 80% 60% Tersier Sekunder 40% Primer 20% LAPORAN AKHIR 1-101 2001 2002 2003 2004 2005 2006 0% 2000 . dan Jasa Angkutan dan Komunikasi Perdagangan 60% Bangunan Listrik. Dilihat dari kelompok sektor.21% dan tahun 2006 menjadi sebesar 38. dan Air Minum 40% Industri Pengolahan Pertambangan dan Penggalian Pertanian 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 80% 20% Sektor sekunder bergerak pada angka yang relatif tetap yaitu memberikan kontribusi yang berkisar pada angka 20% pada tahun 2000 hingga 2004 dan sedikit mengalami kenaikan pada tahun 2006 menjadi 22. sektor primer sebagai sektor yang dominan dalam kurun waktu 2000 hingga 2006 di Provinsi Papua Barat.19%. Meski demikian sektor primer memiliki kontribusi yang terus menurun. Peran sektor pertambangan dan penggalaian turun drastis hingga berkisar pada angka 1 persen.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 menurun. Kontribusi sektor primer tanpa migas lebih rendah dibandingkan dengan kontribusi sektor primer dengan migas. Sementara itu sektor tersier memiliki kontribusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontribusinya ketika memperhitungkan migas. Persew aan. Besar kontribusinya juga terus meningkat setiap tahunnya. Gambar 1.40 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 20002006 100% Jasa-jasa Keuangan.16 persen pada tahun 2000 menurun menjadi 40. Kontribusinya pada tahun 2000 adalah sebesar 33. Gas. 100% Gambar 1.78 persen pada tahun 2005.

Pada tahun 2005 meningkat menjadi 1. Sementara itu sektor-sektor yang termasuk dalam kelompok sektor tersier adalah sektor perdagangan. sekunder. listrik dan air minum serta sektor bangunan. sektor ini memiliki kontribusi sebesar 1. sektor keuangan.24% dari PDRB Papua Barat pada tahun 2000. Meski demikian sektor ini mengalami kecenderungan memiliki kontribusi yang menurun.27 triliun rupiah atau 32. Papua Barat memang kaya akan hutan dan dikelilingi oleh lautan.3 Tinjauan Ekonomi Sektoral Tinjauan ekonomi sektoral berusaha melihat ekonomi wilayah Papua Barat dilihat dari 3 kelompok sektor utama yaitu sektor primer. Sektor sekunder terdiri dari sektor industri pengolahan. Pertumbuhan kedua sektor yang termasuk dalam sektor primer yaitu pertanian dan pertambangan penggalian termasuk yang paling lambat jika dibandingkan dengan sektor lainnya.1 Sektor Primer Sektor primer merupakan sektor dengan sektor yang selama ini dominan di Provinsi Papua Barat.57 triliun rupiah namun dari segi persentase kontribusi menurun menjadi 29.5.5.66%. persewaan. dan jasa perusahaan. Secara fisik. Perikanan dan kehutanan adalah subsektor yang paling menonjol dari sektor pertanian di Provinsi Papua Barat. 1) Pertanian Sektor pertanian merupakan sektor paling dominan di Provinsi Papua Barat. Sektor pertanian di wilayah lainnya di Indonesia umumnya bergantung pada pertanian tanaman pangan dan perkebunan. dan restoran. Subsektor kehutanan dan perikanan merupakan subsektor yang paling berpengaruh pada sektor pertanian di Papua Barat. Kelompok sektor primer terdiri dari sektor pertanian dan sektor pertambangan penggalian. sektor angkutan dan komunikasi. LAPORAN AKHIR 1-102 . Berdasar atas PDRB atas dasar harga konstan. Pembagian ke dalam ketiga sektor tersebut berdasar pada asal terjadinya proses produksi. dan tersier.3. hotel. dan sektor jasa-jasa.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. 1.

49 1.21 Sumber : PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.58 15.94 5.4 Kehutanan 430664.66 10.97 3. Metroxylon sago).897 19.48 15.080 2.85 98.093 2.24 1573097.54 4. Produksi dan Rata-Rata Produksi Pertanian Tanaman Pangan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Jenis Pertanian Luas Panen (Ha) Padi sawah dan padi ladang Jagung Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau 7.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Sifat dari pertanian pada subsektor kehutanan dan perikanan lebih bersifat ekstraktif.72 1.279 871 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 31.70 29.21 10. Terlebih karena. 2000 Jumlah % 2005 Jumlah r % 1275948.34 32. Tabel 1. Hal ini adalah akibat dari kebijakan pemerintah yang menjadikan nasi sebagai salah satu indikator kemakmuran dan menjadikannya sebagai bahan makan pokok secara nasional.58 10. Sementara itu subsektor tanaman pangan.57 590345. Kehutanan.50 Jumlah Produksi Pertanian.18 2. perkebunan.64 9.336 1. memanfaatkan langsung dari alam.87 148870.67 10 Luas Panen (Ha) 8545 1947 1963 2170 1937 1819 925 2006 Produksi (ton) 27518 3120 21913 21405 1856 1917 944 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 32.52 263602. Jika dikembangkan.95 Sumber : Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 LAPORAN AKHIR 1-103 .51 Luas Panen.00 10.81 5.137 855 2005 Produksi (ton) 24.54 10.1 Tanaman Bahan Makanan 218261.40 83172.991 2. Namun sejak beberapa dekade terakhir.58 9.543 2. dan peternakan lebih bersifat kegiatan budidaya.72 9.48 1.702 3.317 25.85 1. ketiga susbsektor ini sebenarnya dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas.63 98.14 10. masyarakatnya sebenarnya tidak terbiasa membudidayakan padi namun kemudian beralih.20 16. Peternakan.43 100.2 Tanaman Perkebunan 113777.13 5.52 1.28 2.86 2.94 110.5 Perikanan 457877.76 11.78 1. hasil perhitungan Pertanian Tanaman Pangan Tanaman pangan pokok di Papua Barat pada umumnya adalah tanaman sagu (Metroxylon rumphii.88 487106.18 10.02 111. dan Perikanan Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Lapangan Usaha PERTANIAN.3 Peternakan & Hasil-hasilnya 55366.131 2.823 2. tanaman sagu tergeser oleh nasi.21 Luas Panen (Ha) 11 467 1 070 2 052 1 524 958 1 624 560 2008 Produksi (ton) 39 537 1 711 23 071 15 341 979 1 740 557 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 34.66 4. kemiskinan merupakan salah satu isu utama di Provinsi Papua Barat.58 11.28 KEHUTANAN & PERIKANAN 1. Tabel 1. PETERNAKAN. Padahal untuk Papua Barat.99 112.57 8.

Produksi dan Rata-rata Produksi Pertanian Padi Sawah.46 1 962 100. LAPORAN AKHIR 1-104 .16 2 416 110.65 1 058 100. pada tahun 2006 menghasilkan produksi mencapai lebih dari limabelas ribu ton.95 25 309 34. dan Kota Sorong.52 Luas panen.95 Luas Panen ( Ha) 132 72 165 221 1 137 38 218 34 35 Ubi Kayu Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 1 486 112.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tanaman padi umumnya dibudidayakan oleh para transmigran dari Jawa. Sementara itu ubi kayu memiliki jumlah produksi dalam ton yang tertinggi yaitu mencapai duapuluh lima ribu ton lebih. Ubi Kayu.67 10 784 35.38 Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Sumber : Papua Barat dalam Angka 2009 Tiga komoditi dengan produksi tertinggi adalah ubi kayu. rata-rata produksi komoditi ini juga yang tertinggi yaitu mencapai 110 kwintal per hektar. ubi jalar.823 hektar dengan jumlah produksi mencapai duapuluh empat ribu ton. dan Ubi Jalar per Kabupaten/Kota di Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Luas Panen (Ha) 95 56 501 7 378 81 3 053 303 Padi sawah Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 324 34.25 12 873 113.54 1 833 111. Ubi kayu dan ubi jalar paling banyak diproduksi oleh Kabupaten Manokwari.75 Luas Panen (Ha) 135 120 95 195 633 105 153 36 52 Ubi Jalar Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 1 362 100. sementara penduduk asli lebih suka memilih tanaman keras seperti sagu dan ketela.07 2 459 111.13 374 106.11 194 34.92 1 208 100. Tabel 1. dan kacang hijau.30 216 26.22 419 110. Padi sawah tidak ditemukan di Kaimana. komoditi pangan yang mengalami peningkatan produksi adalah padi.63 363 100.83 522 100.63 6 371 100. Pada tahun 2005.83 381 112.32 1 059 34. ubi jalar.64 954 100.58 832 115. Untuk tahun 2006. tanaman padi baik padi sawah maupun ladang memiliki luas tanam yang paling luas yaitu sebesar 7.80 1 540 100. disusul oleh Kabupaten Sorong dengan produksi sesbesar 6623 ton. Komoditi padi sawah juga paling banyak ditemui di Manokwari. Sorong Selatan.64 1 651 32. dan padi.

Padi Ladang. dan Kacang Hijau per Kabupaten/Kota di Papua Barat tahun 2008 Kabupaten/Kota Padi Sawah Luas Panen (Ha) 85 51 365 6 507 3 053 297 10 358 7 580 7 546 6 415 5 231 Produksi (Ton) 298 180 1 293 22 920 10 784 1 043 36 518 26 101 24 810 20 896 16 445 Padi Ladang Luas Panen (Ha) 10 5 136 871 81 6 1 109 777 999 1 408 1 745 Produksi (Ton) 26 14 358 2 389 216 16 3 019 2 103 2 708 3 806 5 152 Jagung Luas Panen (Ha) 4 25 42 123 562 39 245 21 9 1 070 1 518 1 947 2 080 1 375 Produksi (Ton) 7 39 68 202 890 65 390 35 15 1 711 2 429 3 120 3 317 2 024 Ubi Kayu Luas Panen (Ha) 132 72 165 221 1 137 38 218 34 35 2 052 1 615 1 963 2 336 1 853 Produksi (Ton) 1 486 832 1 833 2 459 12 873 419 2 416 381 374 23 071 17 833 21 913 25 897 20 440 Ubi Jalar Luas Panen (Ha) 135 120 95 195 633 105 153 36 52 1 524 1 874 2 170 1 991 2 044 Produksi (Ton) 1 362 1 208 954 1 962 6 371 1 058 1 540 363 522 15 341 18 702 21 405 19 543 20 476 Kacang Tanah Luas Panen (Ha) 34 20 100 186 392 123 96 7 958 1 725 1 937 2 093 1 350 Produksi (Ton) 35 20 102 192 398 126 98 7 979 1 763 1 956 2 131 1 348 Kedelai Luas Panen (Ha) 2 12 36 152 1 305 23 78 16 1 624 1 282 1 819 2 137 1 326 Produksi (Ton) 2 13 40 162 1 398 26 82 17 1 740 1 360 1 917 2 279 1 523 Kacang Hijau Luas Panen (Ha) 1 14 28 160 179 100 71 7 560 667 925 855 570 Produksi (Ton) 1 13 27 160 176 103 71 7 557 670 944 871 412 Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Sorong 2008 2007 2006 2005 2004 Sumber : Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-105 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. dan Ubi Jalar. Kacang Tanah. Ubi Kayu. Kedelai. 53 Luas panen dan Produksi Pertanian Padi Sawah.

Tanaman ini juga memiliki nilai jual yang tinggi. Coklat 7.911 1. terutama karena meningkatnya kebutuhan CPO sebagai salah satu bahan bakar energi alternatif untuk otomotif.911 1. Diharapkan biji kakao dapat dimanfaatkan oleh perusahan yang mengolah biji kakao menjadi coklat bubuk. Buah kelapa belum diolah secara intensif terutama untuk menghasilkan minyak goreng skala perusahaan.691 5.749 16.962 2008 Luas Produksi (ha) (ton) 750 60 5.55 Luas Area Tanaman (ha) dan Produksi (ton) Kelapa Sawit.340 15.749 8.2008 2003 2004 Luas Produksi Luas Produksi (ha) (ton) (ha) (ton) 1.540 20.540 17.970 2. Tanaman coklat merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menonjol. Kelapa tumbuh hampir merata di semua wilayah Papua Barat terutama wilayah pulau-pulau kecil dan pesisir. Komoditas ini jika dikembangkan lebih intensif akan memberikan manfaat ekonomi yang besar karena memiliki nilai jual yang tinggi. Ransiki. Kelapa.899 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Jenis Tanaman Luas (ha) 750 5. Pengolahan biji sawit masih pada tahap pengolahan produk cruide palm oil (CPO).326 218 5. Kelapa Sawit 11.326 708 218 10.811 4.749 17.897 6. namun baru dimanfatkan secara kecil-kecilan dan yang paling banyak adalah pemanfaatan santan kelapa untuk kebutuhan rumah tangga. Data luas tanaman dan produksi dilihat dari jenis perkebunan berupa perkebunan rakyat adalah sebagai berikut: Tabel 1.54 Luas Area dan Produksi Tanaman Perkebunan Rakyat Di Provinsi Papua Barat 2003 . Wrmare.911 16.942 305 8. Cengkeh 891 48 751 55 2.030 10. Selain dikembangkan oleh perkebunan besar.463 2005 Produksi (ton) 60 1.911 1.965 305 2 8. Jambu Mete 305 1 305 1 7.594 5.540 708 10. Tabel 1.156 16. wilayah pantai dan dataran rendah.296 2.962 Kelapa sawit juga merupakan salah satu komoditi perkebunan dengan luas tanam terluas. Kopi 391 197 708 214 5.942 5.965 2 2. Kopi dan cengkeh memiliki luas tanam yang termasuk kecil dibandingkan dengan komoditi perkebunan lainnya.749 3. dan Prafi. coklat juga dikembangkan oleh perkebunan rakyat dan terdapat di Kabupten Manokwari yaitu di sekitar Oransbari.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Perkebunan Produksi kelapa (kelapa buah) merupakan salah satu produk perkebunan tertinggi di Papua Barat.436 5. dan Coklat Di Provinsi Papua Barat 2003 – 2008 (Ha) Kabupaten Kelapa Sawit Kelapa Coklat LAPORAN AKHIR 1-106 . Kelapa 9. Pala 5.463 2.

890 27.223 11.989 129.822 846 10.610 868.623 1.992 45.512 891.821 33.019 Ayam Buras 44.297 34.502 32.427 29. sementara ayam kampung paling tinggi terdapat di FakFak. luasan tertinggi ada di Raja Ampat namun produksi tertinggi terdapat di Sorong.012 66.344 597 1. babi dan jenis unggas.508 229 5. kambing. Untuk komoditi kelapa.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Produksi 384 1238 69 75 1433 750 1433 895 6277 Luas 170 854 250 250 3204 978 1807 950 8463 Produksi 36 57 295 105 959 75 286 978 2791 Luas Produksi Luas Fak-Fak 1095 Kaimana 1261 Teluk Wondama 126 Teluk Bintuni 5000 2170 66 Manokwari 11540 15156 2012 Sorong Selatan 290 Sorong 2012 Raja Ampat 3737 Kota Sorong Jumlah 16540 17326 10599 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Perkebunan rakyat kelapa sawit yang telah ada di Papua Barat baru terdapat di Kabupaten Manokwari dan Teluk Bintuni.755 Itik 252 57 61 527 10. komoditi ini sudah menjadi komoditi dengan produksi tertinggi di Papua Barat. dan Kaimana.309 48.829 342.676 68 236 13. Peternakan Komoditi peternakan yang ada di Provinsi Papua Barat adalah sapi.026 15. namum produksi tertinngi terdapat di Kabupaten Raja Ampat.259 13. Coklat memiliki luas tanam paling luas di Manokwari kemudian Sorong.777 Ayam Petelur 40. populasi ayam pedaging terdapat di Sorong. Tabel 1.769 54.719 83. populasi jenis ternak lainnya paling banyak terdapat di Manokwari.036 155.429 30.961 33.330 912 1.274 405.708 12.923 23.239 273.193 45.794 80.216 564 206 323 19.379 35.667 725.536 Kambing 580 571 173 288 5.185 43.678 33.56 Populasi Ternak menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 Sapi 1.803 554 875 12.415 204.790 45.107 493.992 414. Manokwari.125 774.425 11. Sementara itu.094 55 1.106 360.110 Ayam Pedaging 2.835 580 2.283 66.130 254.425 LAPORAN AKHIR 1-107 . Kecuali ayam ras pedaging dan ayam kampung.454 31. Meski hanya terdapat di 2 (dua) kabupaten tersebut.923 Babi 921 467 624 1.

942 38.214 Kambing 2.246 33.379 1. 58 Produksi Telur menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (kg) Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Ayam Kampung 19.255 1.734 88.066 Ayam Pedaging 2.549 Ayam Buras/ Kampung 32. Manokwari merupakan ibukota dan wilayah dengan jumlah penduduk tertinggi. Kabupaten Manokwari merupakan daerah penghasil daging peternakan tertinggi untuk jenis apapun.751 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Produksi telur unggas paling tinggi adalah dari jenis ayam ras petelur.003 24.726 325 LAPORAN AKHIR 1-108 .770 19.504 14.245 50 175 9.007 50.671 640 7.895 25.858 2.036 14.522 653.305 149.467 483.646 162.227 114.939 62. Tabel 1.546 3.461 326.807 732.866 9.073 10.186 467.58 4 732.773 6.873 Ayam Ras 199.339 22.806 25. Tabel 1.068 28.593.304 14.612 Itik/Entog 1.714 27.124 247.227 298.005 95.827 35.347 235.514 340 366 3. telur ayam ras paling banyak diproduksi di Kabupaten Sorong.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Produksi daging ternak di Provinsi Papua Barat berupa hewan ternak sapi merupakan yang tertinggi dibanding dengan komoditi lainnya.156 531.966 808.749 437.580 894.331 3.169 60.994 9.358 Itik 187 42 45 391 7..192 31. memungkinkan wilayah ini memiliki tingkat konsumsi tinggi.438 77.457 9.038 1.679 9.242 29. termasuk ayam pedaging dan ayam kampung yang jumlah populasinya bukan yang tertinggi di Papua Barat.979 617 1.475 49.020 4.928 33. Sementara itu.028 20.342 13.672 676.496 40 1. 57 Produksi Daging Ternak menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (kg) Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 2007 2006 2005 Sapi 54.637 22.048 Ayam Petelur 15.058 235.748 39.658 90.715 230.125 46. Produksi telur ayam kampung dan telur itik paling tinggi terdapat di Manokwari.777 20.583 59.164 Babi 13.246 212.278 28.027 26.463 757.

kayu kemenyan.695 19. pulai. nyatoh. Bintuni 3.721.00 578.103 81.417 78.800. matoa.979. Sorong 5.564.945. Hongkong. Selain itu.84 1.05 LAPORAN AKHIR 1-109 .90 1. Jepang.50 686.480 Ha.165 246. Kab.37 2.00 608.360 Ha dan Kawasan Perairan 1.125 74.678.701 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Kehutanan Potensi hutan di Provinsi Papua sangat tinggi. Kab.382 69.665. Kab.023 123.242 10.199.099 334. dan Korea Selatan. Kegiatan pemanfaatan hutan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan.500 74. India.00 2. T. Pengolahan dan distribusi hasil-hasil hutan tersebut melalui jalur Pelabuhan Manokwari dan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Sorong Selatan 6. Teluk Bintuni memiliki jumlah lahan terluas untuk penebangan yang dilakukan oleh perusaahan HPH yaitu seluas 6.466 287. Menhutbun Nomor: 891/Kpts-II/1999) sebesar 42.00 1.327 73.604 93.753 640. Raja Ampat Luas Wilayah*) 1. gahau.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 326.052 315. Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Papua secara keseluruhan (termasuk Provinsi Papua Barat) berdasarkan (SK.657 113. T.00 Hutan+Perairan 1.\ Tabel 1. Adapun negara tujuan ekspor diantaranya adalah Negara Cina.156.921.082 406 1.224. Kab.840 Ha yang terdiri dari Kawasan Hutan seluas 40. Kab.065.600.346 5. resak.700.6 m³.138.156 102.863.450.800. kulit masohi. Hasil hutan di Provinsi Papua Barat antara lain adalah beberapa jenis kayu yang bernilai ekonomis seperti merbau.899 35. Hasil produksi hutan di Provinsi Papua Barat sebagian besar diekspor ke negara lain.546.07 hektar. ada pula produksi hutan non kayu seperti rotan.300 87. maka dapat diasumsikan bahwa sektor kehutanan termasuk dalam sektor basis di Provinsi Papua Barat.00 724. kulit lawang.960. Kab.733. medang dan bintangur.151.01 610.700. Manokwari 2.400 286.079 259. Wondama 4. Dengan menganalisis potensi dan pola pemasaran hasil hutan di Provinsi Papua Barat.549 Sorong Raja Ampat Kota Sorong PROVINSI PAPUA BARAT 2007 2006 2005 2004 2003 67. 59 Luas Hutan dan Perairan diProvinsi Papua Barat dirinci Per Kabupaten/Kota Kabupaten/Kota 1. mersawa. sagu.283. Luasnya lahan penebangan di Teluk Bintuni membuat kabupaten ini memiliki produksi kayu terbesar yaitu 101.

Kota Sorong Grand Total Sumber: Papua Barat dalam Angka 2006.135. hasil perhitungan Sektor kehutanan di Provinsi Papua Barat memiliki potensi yang sangat baik.966.432.000 m3.00 11.13 14.07 Jumlah Produksi 42.000. perlu ada upaya dari pihak pemerintah daerah untuk melindungi kepentingan masyarakat.58 41.850. Sementara Industri Primer Hasil Hutan (IPHH) yang berkembang di Papua Barat digolongkan menjadi 2 yaitu Industri yang berskala besar dengan nilai produksi lebih dari 6.388.653.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.726.866. hasil perhitungan Dalam pengusahaan dan pemanfaatan hutan.224.17 7.426. Pendapatan dari sektor kehutanan merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi Provinsi Papua Barat.25 3.736.165.00 1.921. Sehingga yang lebih mendapatkan hasil ekonomi dari industri kehutanan adalah para pemodal besar.2 101.654.24 6.97 Ha.000 m3 dan industri di bawah sedang yaitu produksi dibawah 6.00 1.29 207. industri kehutanan adalah industri yang padat modal. Kaimana 9.377.786.199. Kab.58 38.406.00 31.040.57 940 14. Perikanan LAPORAN AKHIR 1-110 . sehingga masih dapat menikmati hasil dari kekayaan hutan wilayah ini.352. Kab. Fakfak 8.65 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2006. Untuk itu.41 11.53 1.003. Di Provinsi Papua Barat sendiri telah dikeluarkan 29 unit HPH yang meliputi hutan seluas 4.60 Perkembangan Luas Penebangan Hutan dan Hasilnya oleh Pemegang Hak Perusahaan Hutan Tahun 2006 (ha) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Luas Penebangan 2. Selain itu. Namun tentunya pengekploitasian hutan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi degradasi lingkungan yang drastis. diberikan Hak Pengusahaan Hutan dan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu kepada perusahaan dibidang terkait. Sedikitnya terdapat 3 perusahaan berskala besar dan 15 perusahaan sedang yang bergerak dalam sektor kehutanan ini. Tabel 1.000.733.6 1.994.98 9.211.823.

000.000.0 10. Dalam kurun waktu tersebut.000.000.0 0.000.000. Peningkatan produksi terjadi pula sebagai akibat dari adanya upaya peningkatan pertumbuhan (rumah tangga perikanan) penduduk.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Berdasarkan Statistik Perikanan Provinsi Papua tahun 1991-2002.0 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 Fak-Fak Sorong Manokwari LAPORAN AKHIR 1-111 . jumlah nelayan tradisional dan penambahan jumlah perusahaan penangkapan ikan serta adanya peningkatan jumlah dan jenis alat tangkap.000.0 50. Hal ini berkaitan erat sekali dengan kecenderungan kenaikan rumah tangga perikanan (skala kecil dan menengah) dan penambahan jumlah alat tangkap ikan. Secara agregat kenaikan produksi perikanan laut Provinsi Papua Barat dari kegiatan perikanan tangkap tahun 1991 – 2002 dapat dikatakan cukup tinggi.0 20. Hasil Tangkapan Ikan Laut (kg/tahun) 60.000. dan hal ini diduga sebagai penyebab meningkatnya jumlah produksi perikanan.0 30.000.000.0 40. produksi perikanan laut dari kabupaten-kabupaten yang ada di wilayah Papua Barat menunjukkan peningkatan produksi tangkapan untuk berbagai jenis ikan. peningkatan secara tajam produksi perikanan termasuk atribut perikanan lain (rumah tangga nelayan.000. disamping pertumbuhan iklim investasi yang lebih baik lagi.000. Krisis ekonomi yang dialami oleh bangsa Indonesia justru membawa keberuntungan bagi para nelayan karena harga produk perikanan saat itu memiliki nilai tawar yang cukup baik. alat tangkap. dan armada penangkapan) terjadi dari tahun 1997 yaitu bersamaan dengan mulai anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang berlanjut dengan krisis ekonomi/moneter.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.516 Perahu Tanpa Motor Jukung Perahu Papan 724 1215 171 286 77 84 111 122 181 1299 344 334 179 176 76 166 201 779 2. misalnya pengadaan alat penangkap (motor tempel.42% Jukung 27.064 4461 Motor Tempel 402 94 22 32 337 50 129 944 2.486 Jumlah 3. Tabel 1.108 728 319 463 4.010 Kapal Motor 461 107 20 30 315 25 61 467 1. 2006). jaring.42 Gambar Produksi Perikanan (ton/tahun) pada Tiga Kabupaten di Provinsi Papua Barat (Wanggai.136 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Gambar 1.30% Tanpa Perahu 21. telah memberikan kontribusi secara nyata terhadap peningkatan hasil tangkapan nelayan.43 Persentase Jumlah Rumah Tangga Perikanan di Papua Barat Menurut Kategori Besarnya Usaha Perikanan Kapal Motor 8. terutama pada skala perikanan menengah ke bawah (subsisten). et al.67% Motor Tempel 11. LAPORAN AKHIR 1-112 .96% Perahu Papan Sedang 8.61 Jumlah Rumah Tangga Perikanan di Papua Barat Menurut Kategori Besarnya Usaha Perikanan dan Kabupaten Kota Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Tanpa Perahu 86 178 116 168 286 1 613 54 140 875 3.384 17.73% Perahu Papan Besar 3.74% Kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir yang dilakukan oleh pemerintah baik pada tingkat nasional dan daerah (provinsi dan kabupaten) telah mendorong pula peningkatan jumlah alat tangkap. alat pendingin) dengan sistem kredit bergulir.924 338 872 6.17% Perahu Papan Kecil 18. Bantuan yang diberikan berupa sarana produksi perikanan..

20 67. dari data peningkatan produksi perikanan tangkap di atas dapat dikatakan bahwa status perikanan tangkap secara khusus di Provinsi Papua Barat masih berada jauh di bawah potensi lestari untuk perairan Papua berdasarkan Uktolseja et al.00 487.50 334.30 60.70 25.10 13. Dinyatakan bahwa di wilayah perairan Papua sendiri.8% pada tahun 1996 (Uktolseja.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Jenis-jenis ikan yang cukup dominan di Papua Barat adalah teri.30 8 477.40 35.00 279.90 4 364. Walaupun tidak dilakukan pemisahan berdasarkan kategori jenis dan komposisi hasil tangkapan. (1998).90 626.50 402. dari 85.10 4 941.50 25.10 Kakap Putih 3 101. udang windu.200 ton/tahun dan perikanan demersal untuk perairan Arafura dan sekitar perairan Papua sendiri sebesar 230. tenggiri.60 748. khususnya pada ikan cakalang yang tertangkap di perairan Indonesia Timur termasuk Papua. peningkatan produksi di atas perlu dicermati secara mendalam dan hati-hati.20 366.30 Cakalang 2 681. 63 Jumlah Nilai Produksi Perikanan Laut Menurut Jenis Ikan dan Kabupaten/Kota Tahun 2007 (Ribu Rupiah) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Teri 2 288 487 534 772 482 726 642 821 Cakalang 20 214 752 4 723 767 2 548 646 3 393 898 Tenggiri 28 893 260 6 751 752 168 240 223 936 Madidhang 6 599 462 1 549 070 3 355 232 4 467 988 Kakap Putih 28 342 644 6 623 086 171 457 228 886 LAPORAN AKHIR 1-113 . Sebagai gambaran dapat dikemukakan bahwa persentase ukuran ikan cakalang > 2.90 234.30 1 083.80 19 682.40 74.40 210. Tabel 1.40 19.10 12 214.3 % pada tahun 1991 menjadi 36. 1998).10 6 831.70 219.60 703.20 75. Tabel 1.70 960. kepiting.70 34. udan putih/jebung.60 106.40 2 991.10 289. Namun demikian jika mengaju pada hasil penelitian Uktoselja (1998). potensi lestari untuk ikan pelagis besar secara keseluruhan adalah 612.40 89.400 ton/tahun.10 2 347.00 5 214.80 5 073.60 127.40 530.30 27.60 Tenggiri 4 677. cakalang.80 20. dan madidhang. cumi-cumi.20 724.20 Madidhang 2 210.60 1 206. Sumber daya laut lainnya di Papua Barat seperti udang dogol.80 111. dan rumput laut.6 kg yang tertangkap mengalami penurunan. 62 Jumlah Produksi Perikanan Laut Menurut Jenis Ikan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (Ton) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Teri 318.00 516.80 366.20 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan untuk berbagai jenis ikan masih sangat rendah dibandingkan dengan potensi yang tersedia.

010. dan Salawati.06 % 25. Batubara ynag terdapat di ketiga kawasan tersebut tergolong batubara muda karena masih menampakkan struktur kayu.71 9. meski demikian memiliki kecenderungan untuk terus meningkat.2 Pertambangan Tanpa Migas 0 0 0 0 0 2. Batubara sebagai salah satu barang galian juga cukup potensial di Papua Barat. LNG Tangguh (Bintuni) saat ini sedang dalam tahap konstruksi dan diperkirakan pada tahun 2009 sudah akan beroperasi.546.063.245. pertumbuhan pertambangan minyak dan gas bumi termasuk lambat jika dibandingkan sektor lain.4 r % 20.53 7 2. Persebaran bahan galian batubara terutama terdapat di daerah kepala burung yaitu di daerah Homa.53 24. Terdapat beberapa daerah yang memiliki potensi galian logam namun belum dilakukan eksplorasi lebih lanjut.03 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.05 1.170.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tenggiri 2 409 067 95 977 175 894 526 699 3 704 638 42 949 463 Madidhang 48 054 418 373 982 685 385 1 902 763 13 381 443 80 369 743 Kakap Putih 2 606 085 158 433 290 356 905 125 6 115 393 45 441 465 Kabupaten Teri Cakalang Manokwari 6 913 721 36 502 296 Sorong Selatan 595 914 2 152 430 Sorong 1 092 113 3 944 694 Raja Ampat 3 270 231 11 812 015 Kota Sorong 23 001 797 83 082 069 Papua Barat 38 822 582 168 374 567 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 2) Pertambangan dan Penggalian Pertambangan dan penggalian merupakan salah satu sektor yang memberikan kontribusi terbesar bagi PDRB Papua Barat.1 Minyak dan Gas bumi 2000 Jumlah 1.20 0.4 8 985.3 Penggalian 24.76 20.820.91 2005 Jumlah 1.699. Hal ini menyebabkan kontribusinya semakin menurun setiap tahunnya. Penggalian selama ini belum memberikan hasil yang cukup signifikan bagi perekonomian Papua Barat.62 37.42 0.101. Namun meski sumbangannya besar. Adanya LAPORAN AKHIR 1-114 . hasil perhitungan Kegiatan pertambangan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dan saat ini usaha ini banyak terdapat di Sorong.350. Igomo.74 1. Sektor ini hampir seluruhnya bertumpu pada subsektor pertambangan minyak dan gas bumi. 64 PDRB Sektor Pertambangan Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 dan 2005 Lapangan Usaha PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN 2. Tabel 1.6 7 1. Di Kabupaten Teluk Bintuni akan terdapat kegiatan pertambangan besar. Subsektor penggalian hanya memberikan kontribusi kurang dari 1% bagi PDRB Papua Barat.

Izin kegiatan perusahaan pertambangan seluruhnya dari pemerintah pusat. Menurut Laporan Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura (2004) bahwa investasi pertambangan umum di Papua terhenti pada tahun 2000.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bahan tambang batubara ini mendorong peluang dikembangkannya Pembangkit Listrik Tenaga Uap untuk memenuhi kebutuhan listrik Papua Barat.291. Ditinjau dari tahapan kegiatan pertambangannya. Pada tahun 2002. 66 Perusahaan yang pernah beroperasi di wilayah Papua Barat (Sebelum Otsus) No.291 2.874 Perkembangan dan Status Pertambangan Umum Perusahaan pertambangan yang beroperasi di wilayah Papua Barat sebelum Otonomi Khusus ada 4 (empat) perusahaan.361. 2.5 Tahap Kegiatan Eksplorasi Penyelidikan umum Penyelidikan Umum Penyelidikan Umum PT Irja Eastern Mineral 15 Feb 1997 Fak-Fak PT Siriwo Mining 28 Apr 1997 Fak-Fak PT Mineralindo Mas Salawati 28 Apr 1997 Sorong PT Barrick Mutiara Ransiki 28 Apr 1997 Fak-Fak Jumlah Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura (2004). Nama Perusahaan Tanggal Mulai Operasi Lokasi Konsesi Luas (Ha) 754. 1 (satu) perusahaan dalam taraf eksplorasi dan 3 (tiga) dalam taraf penyelidikan umum. 3.0 2. Tabel 1. investasi di bidang pertambangan umum mulai giat kembali.330.553.362. 65 Banyaknya Usaha Sektor Pertambangan dan Penggalian Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha Fak-Fak 11 Kaimana 9 Teluk Wondama 5 Teluk Bintuni 21 Manokwari 32 Sorong Selatan 54 Sorong 95 Raja Ampat 1 Kota Sorong 1. Padahal.0 955.0 124.020 Papua Barat 1. Hal ini sering menimbulkan konflik dan ketidakadilan dalam hal pembagian hasil dari kegiatan pertambangan mineral tersebut. Tabel 1.500. Peranan Pemerintah Daerah dalam penentuan kebijakan pada saat itu hampir tidak ada. 1. bila ditinjau dari segi akibat yang ditimbulkan oleh kegiatan pertambangan mineral tersebut seluruhnya merupakan beban pemerintah daerah dan masyarakat yang berada di sekitar konsesi pertambangan tersebut. 4. Kebijakannya adalah bahwa di LAPORAN AKHIR 1-115 .5 457.248 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 Tenaga Kerja 27 13 13 86 103 108 213 20 2.

700. Perusahaan/Kode Wilayah PT. LAPORAN AKHIR 1-116 . 2004. Khusus untuk masyarakat. 27. 2. Bila memperhatikan lokasi sumber bahan galian yang telah diberikan izin Kuasa Pertambangan umum.655.950.250 6. Tabel 1. Papua Pacifik Batubara Minerals Total Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura.5. tanggal 06 Agustus 2002 tentang Tata Cara Pemberian Kuasa Pertambangan Umum.891 62. Sorong Selatan Distrik Aifat Kab. Papua Pacifik Minerals Lokasi Kab.953 30. Raja Ampat Kab.000 ha yang sebagian besar untuk penambangan Batubara. dan Platina Nikel.27 8 Des 2003 Pemerintah Provinsi Papua mengeluarkan surat Keputusan Nomor : 104 tahun 2002. Chrom. Pada tahun 2000 subsektor industri besar/sedang memberikan kontribusi yang terbesar diantara subsektor lainnya dalam sektor industri pengolahan terhadap PDRB Papua Barat yaitu sebesar 273 miliar atau 6. Batan Pelei Mining PT.99 143. PT.28 Tahap Kegiatan Eksplorasi Eksplorasi Eksplorasi Penyelidikan Umum Penyelidikan Umum Ket 14 Okt 2004 14 Okt 2004 14 Okt 2004 8 Des 2003 5. 3.3. Ketentuan implementasi dari kebijakan ini adalah sementara sambil ada ketentuan lain yang diterbitkan. Chrom. Perizinan hanya diberikan dalam bentuk Kuasa Pertambangan (KP).91%. Raja Ampat Kab. 4. tercatat 11 wilayah KP baru yang diberikan izin oleh Gubernur Papua dengan total areal konsesi 355. dan Platina Nikel.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Papua Izin Pertambangan dalam bentuk Kontrak Karya (KK) tidak diberlakukan. Walofi Mining PT. 67 Perusahaan Kuasa Pertambangan Umum di Wilaya Papua Barat No 1. dan Platina Batubara Luas (Ha) 15.2 Sektor Sekunder 1. izin pertambangan tradisional diberikan. Bahkan diberikan pula bantuan peralatan teknik penambangan terutama untuk bahan Galian C dan bahan Emas. Chrom. Industri Sektor industri pengolahan merupakan sektor penyumbang PDRB terbesar untuk kelompok sektor sekunder. Dari 11 izin baru tersebut 5 (lima) perusahaan berada di wilayah Papua Barat. 1. lokasi Raja Ampat sulit untuk direalisasikan karena sebagian wilayah merupakan kawasan konservasi yang secara yuridis formal tidak diperbolehkan untuk lokasi pertambangan. Raja Ampat Kab. Sorong Distrik Seget Bahan Galian Nikel. Kawei Sejahtera Mining PT. Sampai dengan awal November 2004.

162.2 18.801 757. 1 Industri Besar/Sedang 273.38 14. industri digolongkan menajdi 4 kategori yaitu industri besar.1 21.91 374.05 3.18% pada tahun 2005.28 8.528306 5 2 Sumber : PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.18 16.21 8 LISTRIK.991.987.21% dalam kurun waktu 2000 hingga 2005.404 22.350.1 Listrik 9.16 0.92 4.845 Ket: Data Kabupaten pemekaran masih bergabung dengan kabupaten induk Berdasarkan kemampuan menyerap tenaga kerja. kecil.35 8.053.371.42 8.060.066.07 6.31 BANGUNAN 260.966. Tumbuhnya subsektor ini menunjukkan bahwa ekonomi sektor migas di Papua Barat kini bergeser pada aktivitas pengolahan dibandingkan dengan aktivitas ekstraktif karena kegiatan ekstraktif minyak bumi dan gas cenderung mengalami pertumbuhan yang lambat.72 4.3 Industri Pengilangan Minyak Bumi 154.786 98.2 Air Bersih 4. 69 Banyaknya Usaha Sektor Industri Pengolahan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha 414 Tenaga Kerja 8.59 1.02 6.50 4 3.505 Nilai Produksi (ribu rupiah) 43.09 7.19 4 3.63 747.126. Tabel 1. 68 PDRB Papua Barat Kelompok Sektor Sekunder Tahun 2000 dan 2005 Atas Dasar Harga Konstan 2000 2000 2005 r Jumlah % Jumlah % INDUSTRI PENGOLAHAN 460.3 3. Industri-industri tersebut LAPORAN AKHIR 1-117 .358.896.36 Sektor Sekunder 735.052.75 6.737.489 Nilai Investasi (ribu rupiah) 2985.755. GAS & AIR BERSIH 14.964.449.159.12 7.91% oada PDRB meningkat menjadi 6.10 10.22 0. dan rumah tangga. hasil perhitungan Lapangan Usaha Industri pengilangan minyak bumi yang semula memberikan kontribusi sebesar 3.085.13 8.471 48.080.37 22.7 6.951.25 15.87 9.130 1053.85 7.594.91 328.61 0.3 11.577 154.664.61 0. hampir mengejar subsektor industri besar/sedang.760.456.00 0.128 Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari 515 Sorong Selatan Sorong 449 Raja Ampat Kota Sorong 273 Papua Barat 1651 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2007 5520 11815 1410 27234 202.06 0.920.13 7.81 44.904.27 0. sedang.566. Subsektor ini tumbuh sebesar 16.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.59 389.10 0.197 25.829.562.2 Industri Kecil Kerajinan Rumah Tangga 31.264.

564 56 29 9 179 1. diatas angka pertumbuhan PDRB total. Gas. Nilai investasi dan nilai produk pun lebih besar Kabupaten Sorong daripada Kabupaten Manokwari. sehingga persentase kontribusinya juga terus meningkat. dan Kabupaten Manokwari. gas. Tabel 1. dan Air Minum Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Unit Usaha 8 3 2 4 32 16 9 5 5 84 Tenaga Kerja 72 28 4 10 1. Kota Sorong. Industri yang paling banyak penyerap tenaga kerja berada di Kabupaten Sorong meskipun dari segi jumlah unit usaha sedikit lebih rendah dari Kabupaten Manokwari. Tabel 1. Listrik dan Air Minum Sektor listrik.926 12 218 2.951 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-118 . dan air bersih serta sektor bangunan. 70 Banyaknya Usaha Sektor Industri Pengolahan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha Fak-Fak 116 Kaimana 22 Teluk Wondama 40 Teluk Bintuni 99 Manokwari 394 Sorong Selatan 109 Sorong 1 098 Raja Ampat 179 Kota Sorong 219 Papua Barat 2 348 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tenaga Kerja 364 73 189 343 2 135 277 6 539 372 1. memiliki kontribusi yang kecil bagi PDRB Papua Barat namun memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 cenderung terdapat di Kabupaten Sorong. Sektor ini memiliki grafik yang terus meningkat mengingat Papua Barat adalah provinsi baru dimana mengalami peningkatan kebutuhan akan layanan infrastruktur dasar. 71 Banyaknya Usaha Sektor Listrik.

3.776 ha). Meski demikian. sektor ini terus menujukkan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya. 1. Keberadaan Papua Barat sebagai provinsi baru dapat menjadi salah satu faktor meningkatnya kontribusi sektor primer. Terdapat juga objek wisata yang belum dikembangkan seperti objek wisata Danau Anggi. Danau Kabori. 72 Banyaknya Usaha Sektor Bangunan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 Unit Usaha 82 82 3 36 73 18 7 0 171 472 Tenaga Kerja 503 335 37 138 849 83 24 0 1. Suaka Margasatwa Pantai Sidey-Wabian (157 ha). Hutan Suaka Margasatwa Pantai Mubrani-Kaironi (170 ha). Beberapa diantaranya seperti Hutan Cagar Alam Pegunungan Arfak (68.3 Sektor Tersier Sektor tersier di selama ini belum menjadi sektor yang menonjol di Papua Barat. LAPORAN AKHIR 1-119 . Bangunan Papua Barat merupakan provinsi bentukan baru dan untuk itu diperlukan berbagai fasilitas baru serta mengalami peningkatan jumlah penduduk untuk mengisi posisiposisi baru yang dibutuhkan. Gunung Meja dan Air Panas di Kebar dan masih banyak objek wisata lainnya yang belum digali. Kabupaten Raja Ampat juga memiliki sumber daya laut yang sangat kaya.325 ha).579 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 3. Pariwisata Sektor pariwisata di Papua Barat merupakan yang diharapkan di masa depan akan menjadi leading sektor.610 3. Hal ini mendorong pada naiknya kebutuhan akan layanan infrastruktur dan tentu saja juga maraknya kegiatan pembangunan fisik.5. Hal ini karena Papua Barat akan memerlukan pusat-pusat baru yang akan diisi oleh kegiatan tersier. Cagar Alam Pegununan Tamrau Selatan (435. Tabel 1.

37 0.3.70 11.14 6. 73 PDRB Papua Barat Kelompok Sektor Tersier Tahun 2000 dan 2005 Atas Dasar Harga Konstan 2000 Lapangan Usaha PERDAGANGAN.952.6 27. Angkutan Laut 7.595.14 2005 Jumlah 508.446.861.67 92.480.44 460.80 1.1 Perdagangan Besar & Eceran 5.59 8.53 0.67 0. Jasa Penunjang Angkutan 7.40 1.559.2.82 33.106.740. Jasa Perusahaan 3.37 10.38 9.32 0.89 1.17 9. hasil perhitungan LAPORAN AKHIR 1-120 .783.576.128.950.23 8.84 8.48 522. Angkutan Jalan Raya 7.36 8.582.199.1. sehingga pariwisata sering disebut KEUANGAN.2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Bahkan spesies koral di kawasan ini diklaim sebagai salah satu yang terkaya di dunia.779.395. Peran sektor pariwisata dalam perekonomian Provinsi Papua Barat.09 5.180.14 0.66 6.05 9.63 9.96 7.19 11.51 0.912.03 7.94 7.6. Jasa Hiburan & Rekreasi 10.39 45.159. Sewa Bangunan 32.22 0.272.85 9.75 9. Secara makro sektor pariwisata merupakan industri yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang cepat melalui: penyediaan kesempatan kerja.05 0.762.64 84.94 0.83 44.59 8.13 465.683.37 4.498.1.21 14.01 0.4.41 13.96 311.60 0.299.24 1.503. Lembaga Keuangan tanpa Bank 7.25 0.336.82 23. Jasa perorangan dan Rumah Tangga 6.86 9.85 7.21 8.28 9.21 8.269.84 11.399.3. Komunikasi 2000 Jumlah 340. Obyek wisata potensial dikembangkan di Papua Barat mayoritas berupa wisata alam.16 0.59 33.542.856.971.56 31.300. Bank 22. serta secara simultan dapat mengaktifkan sektor-sektor produksi lain.52 2.38 23.890. HOTEL & RESTORAN 5.46 % 8.20 0.59 4. PERSEWAAN DAN JASA 66.74 193.55 9.63 6.84 5.57 108. peningkatan pendapatan dan taraf lokomotif perekonomian.786.1.13 0.67 9.2. Angkutan Sungai 7.14 11.4. Pemerintahan Umum 294.12 0. Tabel 1.71 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2005.46 345. Angkutan Udara 7.17 0.18 r % 9.36 0.06 0.294.614.469.19 8.57 71.30 1.78 0. Jasa Sosial Kernasyarakatan 23.89 8.64 1.21 17.59 8.00 8. untuk itu perlu kewaspadaan dalam pengembangannya dengan mempertimbangakan faktor lingkungan.10 JASA – JASA 335.627.535.46 hidup. belum menunjukkan kontribusi yang proporsional dengan potensi pariwisata yang dimiliki.43 7.447.865.3 Restoran PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 7.60 7.489.39 2.17 Sektor Tersier 935.28 20.67 12.50 18.32 8.69 6.3.87 0.251.14 49.33 7.471.75 PERUSAHAAN 8.93 105.18 0.2 Hotel 5.05 1.93 0.87 0.5.4.000.41 20.

Gunung Meja. Cagar Alam Jamusaba. Pantai Sausapor. Sausapor. Berau. Pulau Shop. Sumur Minayk Peninggalan NNGPM. Terumbu Karang. LAPORAN AKHIR 1-121 .4 Pendapatan Per Kapita Pendapatan Pendapatan per kapita merupakan salah satu indikator tingkat kemakmuran ekonomi suatu wilayah. Tamrau Selatan. Air Terjun Sungai Karon. kupu-kupu bersayap burung. Pulau Penyu. Cagar Alam Gunung Karora. Wasior Selatan dan Wasior Barat) Kabupaten Teluk Bintuni (Distrik Babo dan Timbuni) Kabupaten Sorong (Distrik Makbon. Taman Laut Nasional Teluk Cenderawasih.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. Cagar Alam Wondibu. Budaya dan Sejarah Kabupaten Teluk Wondama (Distrik Wasior. Monumen PEPER. Masjid tertua di Tanah Papua. Peninggalan Sejarah Perang Dunia II Alam Cagar Alam Markoor. Klamono. Danau Yamor. Pantai Peneluran Penyu Alam dan Budaya Gua Jepang. Klasaman). Suaka Margasatwa Pantai SideyWabian. Danau Siwiki. Moraid. Pulau Buaya. Cagar Alam Budaya Gunung Genefo. Suaka Margasatwa Pantai MubraniKaironi. Salawati. Munumen Arfak. Pulau Kilimata. 74 Potensi Pariwisata Provinsi Papua Barat Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2005 Jenis Wisata Alam dan Budaya Obyek dan Daya Tarik Wisata Cagar Alam Pegunungan Arfak. Pendapatan per kapita diperoleh dari hasil pendapatan dibagi dengan jumlah penduduk. Teluk Arguni. Cagar Alam Pulau Waigeo. dan Terumbu Karang Lokasi Kabupaten Manokwari (Distrik Kebar.000 tiang. Fosil Telapak Tangan. Pantai Pasir Putih Panjang. Rumah 1. Danau Kabori. Taman Wiata Klasman. Cagar Alam Wowo. Panorama Senja Sumber: BPS Provinsi Papua Barat 2006 Alam. Monumen Indonesia-Jepang Alam dan Budaya Danau Ayamaru. Danau Angi. Pulau Kafiau. Pantai Pasir Putih. Monumen PEPERA Alam dan Bahari Cagar Alam Missol. Makam Missionaris Kristen Pertama di Papua. Taman Wisata Klamono. Fosil Burung Garuda. Windesi. Kota Sorong dan sekitarnya Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Fakfak (Distrik Fakfak Timur dan Barat) Kabupaten Kaimana (Kaimana. Pulau Ega dan Karas Alam Bahari dan Cagar Alam Gunung Kumawa. Minyambouw dan Susurey) Alam dan Bahari Cagar Alam Pegunungan Arfak Bagian Selatan. Cagar Alam Gunung Fudi TMP Trikora. Buruway dan Teluk Etna) 1. Kayeli Hot Water Spring Alam dan Budaya Pantai Tanjung Kasuari.5. Benteng Fort Du Bois. aman Wisata bariat. Permandian Air Panas. Pantai Pasir Putih. Monumen Perang Dunia II. Pulau Matan. Terumbu Karang. Pulai Adi. Cagar Alam Batanta Barat.

09 7.994.592.414.10 ADH Konstan 7.267.52 8.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.292.307.336.93 12.349 10.406.16 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.064.236.80 PDRB/kapita Tanpa Migas ADH Berlaku ADH Konstan 6.076.441.000.354.30 8.13 9.734.12 6.249. hasil perhitungan Gambar 1.176.009.444.008.503.51 7.913.85 5. 75 PDRB/kapita Papua Barat Tahun 2003-2006 Tahun 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita ADH Berlaku 9.709.529.516.19 6.75 12.298.44 PDRB/kapita Provinsi Papua Barat Tahun 2003 hingga 2006 14000000 12000000 10000000 8000000 6000000 4000000 2000000 0 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita Atas Dasar Harga Berlaku PDRB/kapita Atas Dasar Harga Konstan LAPORAN AKHIR 1-122 .705.116.59 8.249.300.085.110.62 5.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.45 Peta Potensi Pariwisata Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-123 .

2004. Selama ini Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-124 . Jika dilihat atas dasar harga konstan.4 juta pada 2003 meningkat menjadi 8.12 juta rupiah dapat dikatakan cukup tinggi. kemudian mengalami penurunan pada tahun 2006. 76 Pendapatan Perkapita Riil Masyarakat Provinsi Papua Barat Tahun 19992000 Sumber: Indonesian Human Development Report. PDRB per kapita di Papua Barat juga terus meningkat dari semula 6.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 PDRB per kapita Papua Barat menunjukkan peningkatan antara tahun 2003-2006 dilihat dari PDRB atas dasar harga berlaku. Sempat turunnya PDRB atas dasar harga konstan dipengaruhi oleh tingginya pertumbuhan penduduk dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB. Hal ini memunjukkan betapa krusialnya peran migas dalam perekonomian di Provinsi Papua Barat. Dieliminirnya migas menyebabkan angka PDRB per kapita Papua Barat atas dasar harga berlaku menjadi lebih rendah. PDRB per kapita di Papua Barat tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan ketika migas diperhitungkan. Tanpa migas. Perbedaannya mencapai hampir 4 juta rupiah atau menjadi hanya dua per tiga dari PDRB per kapita atas dasar harga berlaku yang memperhitungkan migas. Tanpa memperhitungkan sektor migas. Bappenas. UNDP. Tabel 1. Meski demikian angka tersebut tidak serta merta dapat diidentikan dengan tingkat kemakmuran yang tinggi pula bagi warga Papua Barat. PDRB per kapita mengalami kenaikan hingga tahun 2005. BPS Besar PDRB per kapita Papua Barat yang mencapai 12.3 juta rupiah pada 2005.

000. jalan kabupaten.00 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita Atas Dasar Harga Konstan PDRB/kapita Atas Dasar Harga Berlaku 1.000. kapal laut dan kapal udara. Sistem jaringan transportasi yang dimaksud adalah sistem jaringan jalan raya. Transportasi wilayah menentukan tingkat aksesibilitas wilayah.000. Penentuan Struktur Ruang tidak bisa dilepaskan dari kondisi transportasi wilayah.00 5.000.00 1.00 8. berfungsi menghubungkan sentra-sentra produksi ke sentra-sentra/node konsumsi.000. jalan provinsi dan jalan negara. jalan kolektor.00 9.00 7.46 PDRB per kapita Tanpa Migas Provinsi Papua Barat Tahun 2003 hingga 2006 10.00 0.000. dan jalan arteri.00 2.000.000.00 3. Sedangkan dari segi manajemennya jalan raya meliputi jalan desa. pariwisata. sosial budaya jasa pelayanan dan stabilitas keamanan.000.6 ASPEK TRANSPORTASI WILAYAH Transportasi merupakan kebutuhan sarana dan prasarana yang sangat menunjang dalam perkembangan interaksi antar daerah dan diharapkan dapat mendorong percepatan perkembangan antar wilayah khususnya dalam mendukung proses pertumbuhan dan pemerataan di bidang ekonomi.00 4.000. Hal ini menunjukkan bahwa kekayaan Papua Barat belum dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakatnya. Dalam menunjang perkembangan suatu wilayah.00 6.000.000. perdagangan.000.000. Transportasi antar wilayah LAPORAN AKHIR 1-125 . Gambar 1.000.000. Dari segi fungsinya jalan raya meliputi jalan lokal.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sering diidentikkan dengan kemiskinan.000.000.000. sehingga penyediaan/pengembangan sarana dan prasarana perhubungan dalam suatu wilayah harus memadai dalam arti dapat menampung dan menunjang kelancaran aktivitas pergerakan yang ada dalam daerah itu sendiri maupun hubungannya dengan daerah lain.000. sistem transportasi sangat memegang peranan yang penting.

175 693. Transportasi laut dan udara tersebut menjadi transportasi utama antar wilayah. transportasi udara menjadi penghubung antar wilayah melalui penerbangan perintis. Kabupaten Teluk Bintuni.915 402. Kabupaten/ Kota Fak Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Jumlah 2007 Jalan Negara 0 132. Daerah dengan perairan yang dominan seperti Raja Ampat dan Kaimana sepenuhnya bergantung pada transportasi laut. dan Kabupaten Teluk Wondama. c.500 200.670 632.112 619. sungai dan danau) sebagai transportasi utama. Kabupaten-kabupaten ini masih mengandalkan transportasi air (laut.175 Jalan Kabupaten 271. yaitu kondisi geografis.500 0 … 285.310 90.000 119.000 121. 6.000 119. Sebagian kabupaten di Papua Barat menggunakan jalan darat sebagai transportasi utama untuk menghubungkan antar distrik/kecamatan.550.1 Transportasi Darat darat bukan merupakan sistem yang utama. Sementara itu. kondisinya juga masih sangat memprihatinkan.000 0 18. Papua Barat memiliki tantangan yang unik dibandingkan daerah manapun di bidang infrastruktur.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 di Papua Barat terutama menggunakan transportasi laut dan udara.810 Jalan Provinsi 271.475 142.810 635. Wilayah-wilayah lain hanya bisa dicapai oleh transportasi laut dan atau udara. 4. 2. khususnya untuk b. Pelabuhan laut dan udara yang ada di kota Sorong merupakan yang terbesar di Provinsi Papua Barat.000 615.000 0 … 85. Untuk Provinsi Papua Barat dalam konteks regional perannya adalah : a. 5. 1.800 … 1 298.210 5. Transportasi menghubungkan antara kabupaten kota yang ada di Provinsi Papua Barat. Kondisi transportasi darat untuk menghubungkan antar wilayah masih sangat minim. Tabel 1.6.184. 9.000 1 319.500 235.700 56. Sebagai pintu gerbang kawasan Papua Sebagai pusat pelayanan jasa.000 0 17. 8.000 1. d. 77 Panjang Jalan menurut Kewenangan (Km) No.637 344.707 LAPORAN AKHIR 1-126 . 1. kecuali Kabupaten Raja Ampat.660 486.000 686.882. 7. 3. bahkan juga di Pulau Papua.207 5 400.222 4 Total Jalan 543.800 … 927.415 402. Kota Sorong menjadi gerbang transportasi bagi semua wilayah di Papua Barat. setelah terlebih dahulu melewati Kota Sorong.210 3. Sebagai penggerak dan pendukung Wilayah Indonesia Timur Sebagai tempat kolektor dan distributor barang.000 110.

650 Km (67%) bila dibandingkan dengan jalan provinsi 448. Berikut ini dapat dilihat panjang jalan menurut kewenangan.030.096 Km. Ada kabupaten yang dapat ditempuh melalui darat walapun kondisi jalan raya masih dalam bentuk tanah dan dalam tahap pengerasan yakni Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bintuni. Kabupaten Sorong Selatan membangun jalan dari Teminabuan menuju Kampung Manelek. Sebagai contoh.470 (19%) dan jalan negara Km 345.650 Km. Berdasarkan panjang jalan dan penyebaran jumlah empat penduduk yang berdomisili pada masing-masing kabupaten relatif jarang. Bariat. Teluk Bintuni dan Kaimana. Kabupeten Raja Ampat sedang melakukan pembukaan jalan dari Waisai menuju Teluk Mayalibit. demikian juga Kabupaten Sorong dan Kabupaten Sorong Selatan. bahwa Kabupaten Manokwari memiliki jalan paling panjang yakni 1.470 5 184. wilayahnya sulit dijangkau melalui darat.430 Sumber : Papua Barat Dalam Angka 2009 Beberapa kabupaten/kota yang sebagian besar wilayahnya dapat dijangkau melalui transportasi darat adalah Kabupaten Manokwari.810 345. dari panjang jalan yang ada di kabupaten lain.222 1 121. Sorong.78. Kabupaten Teluk Bintuni sedang melakukan pembangunan jalan darat yang dapat menghubungkan Ibukota Kabupaten menuju SP. Perbandingan total panjang jalan dengan jumlah penduduk di masing-masing kabupaten dapat dilihat dalam Tabel 1. Konda dan Distrik Seremuk serta beberapa distrik lainnya.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 071. LAPORAN AKHIR 1-127 . Sedangkan panjang jalan berdasarkan status pemerintahan yang berwenang. Kabupaten Raja Ampat.207 1 956. bahwa jalan kabupaten adalah yang terpanjang yakni 1.310 (14%). mengingat kondisi topografinya hanya bisa di jangkau melalui transportasi laut. Kondisi jalan pada semua kabupaten yang ada di Provinsi Papua Barat masih dalam tahap pembangunan. Pada umumnya kabupaten induk mempunyai tingkat asesibilitas yang relatif lebih baik jika dibandingkan dengan kabupaten pemekaran yang baru dibentuk seperti Raja Ampat dan Teluk Wondama.175 488.956. Kabupaten lain seperti Teluk Wondama. Panjang jalan di Provinsi Papua Barat hingga tahun 2007 tercatat 1. sehingga transportasi utaman yang dipakai adalah laut atau udara.121.650 2006 2005 615. Panjang jalan berdasarkan tingkat kabupaten yang ada di Provinsi Papua Barat.310 686.722 3 882. Fak Fak dan Kabupaten Sorong Selatan.

Kabupaten/ Kota Fak Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Jumlah 2007 Aspal 269.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. kelima lapangan terbang ini selain didarati oleh pesawat penerbangan perintis jenis Twin Otter juga dapat didarati pesawat jenis Fokker dan Boing. dan lain-lain 16.137. Transportasi Udara merupakan salah satu moda transportasi andalan di Provinsi Papua Barat mengingat kondisi geografisnya yang masih sulit ditembus oleh kendaraan bermotor.201 1 688.45 16.000 10.310 Km. Prasarana perhubungan udara utama di Provinsi Papua Barat adalah Lapangan Terbang Rendani di Manokwari.550 543. .500 235.000 2.95 Km kemudian aspal 1. Salah satu jenis angkutan yang ada di Provinsi Papua Barat adalah pesawat terbang.800 … 1 298. 5.000 107. curam dan diliputi hutan sehingga akses jalan darat menjadi sulit.207 Sumber : Papua Barat Dalam Angka 2009 Dari tiga kabupaten yang tersedia datanya. Teluk Wondama dan Sorong Selatan hanya bisa di darati oleh pesawat jenis tertentu seperti Twin Otter.000 67.394 1 803. 78 Panjang Jalan menurut Tingkat Permukaan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 No.000 152. Domine Edward Osok dan Jefman di Sorong.6.953 Total Lain-Lain 10. 3. yang saat ini setidaknya terdapat berberapa perusahaan maskapai penerbangan yakni Bali Air dengan jenis pesawat IHS dan Merpati Nusantara Airline (MNA) dengan jenis pesawat DHC-6 dan F-27.815 56. Hampir setiap hari ada jadwal penerbangan yang melayani beberapa ibukota kabupaten. 1.617 261.550 Km.000 0.885 1 137.100 45. 8. 7.750 0 0 … 0 4.39 Km.210 5 400. 2.200 … 487. Tanah 1.226.630 336.613 301.000 550.934 97. 6.803.000 3.700 141.400 19.000 196. LAPORAN AKHIR 1-128 .415 402.130 2 371.550 337. bahwa jenis permukaan jalan yang terpanjang adalah kerikil yakni 2. 9.310 Jenis Permukaan Kerikil Tanah 164.000 47.171 2 226.000 1 550. 1.100 135.000 119.280 1 164. 4.707 5 184. Torea di Fak Fak dan Tarum di Kaimana.670 632.798 240.000 124.600 … … 473.112 619.490 96.2 Transportasi Udara Transportasi udara menjadi penting di Provinsi Papua Barat karena karakteristik wilayah yang cukup bergunung.000 769. Sedangkan di Kabupaten Teluk Bintuni.

Fakfak. sekaligus menunjang perkembangan dan pertumbuhan wilayah. dan Kaimana. Sedangkan pola pergerakan barang dan jasa dapat ditunjukkan dengan catatan mengenai arus lalu lintas. Sorong. Pada tahun 2006 mencapai 142. Apabila cuaca mendung dan hujan gerimis. Walaupun demikian. Jumlah bongkar muat barang pada tahun 2006 mengalami peningkatan 80. 79 Jadwal dan Rute Penerbangan di Provinsi Papua Barat Maskapai Hari Rute Jenis Pesawat LAPORAN AKHIR 1-129 . Untuk pos paket yang dibongkar mengalami peningkatan sebesar 247% sedangkan yang dimuat mengalami penurunan sebesar 297%. Keberadaan alat transportasi ini sangat membantu kelancaran arus penumpang ke dan dari kota maupun kabupaten lain di Provinsi Papua Barat. Jumlah penumpang datang pada tahun 2003-2006 meningkat dari tahun ke tahun. Penerbangan dengan menggunakan pesawat ukuran relatif kecil kerap dipengaruhi oleh kondisi cuaca.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Pola datang dan pergi masyarakat berasal dari Kota Sorong dan Manokwari. seperti maskapai penerbangan AMA. pesawat hanya melayani kota tertentu pada hari-hari tertentu.87% dibanding tahun 2005.538 orang. di Manokwari ada beberapa perusahaan penerbangan carter yang bersedia terbang dengan kondisi apapun.47 Contoh Pesawat yang melayani kebutuhan transportasi udara di Provinsi Papua Barat Masyarakat di Provinsi Papua Barat tidak terlayani oleh transportasi udara setiap hari di setiap kota. dengan harga carter rata-rata per jam terbang sebesar 4 (empat) juta rupiah. Tabel 1. Kabupaten yang telah terlayani oleh penerbangan komersial antara lain adalah Kabupaten Manokwari. Selain dua maskapai penerbangan tersebut juga terdapat pesawat yang tidak terjadwal yakni milik PT. PAS dengan jenis Bolgow-105. Jumlah pergerakan dari masyarakat luar-dan dalam dapat ditunjukkan dengan pergerakan barang dan orang. maka penerbangan dibatalkan.91% dan 84.965 dan jumlah penumpang pergi 154.

baik antar kabupaten maupun antar distrik masih menggunakan moda transportasi laut. Hal ini disebabkan karena kondisi fisik wilayah yang belum memungkinkan dibukanya jalan darat sehingga kota tersebut lebih mengandalkan transportasi air sebagai sarana perhubungan antar kota/kabupaten. Selain itu terdapat beberapa jenis kapal LAPORAN AKHIR 1-130 . Beberapa jenis kapal penumpang yang singgah di pelabuhan di beberapa kabupaten di Provinsi Papua Barat selain KM Bukit Siguntang dan KM Tatamailau. Hal ini terlihat dari sebagian besar mobilitas orang dan barang. Jenis alat angkutan lain yang sangat penting bagi masyarakat di Papua Barat adalah kapal laut.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 IHS Bali Air Senin Selasa Rabu Kamis MNA Senin Rabu Sabtu Kamis Jumat Sabtu Senin Kamis Mimika Air Kamis Tual Kaimana  Sorong  Manokwari Manokwari  Kaimana  Tual  Ambon  Tual Tual  Ambon  Tual  Kaimana  Manokwari Manokwari  Sorong  Kaimana  Tual  Ambon  Tual Biak  Nabire  Kaimana  Fak-Fak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Manokwari  Teluk Bintuni Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Nabire  EWI  Nabire Manokwari  Teluk Bintuni Manokwari  Teluk Bintuni Biak  Serui  Biak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Manokwari  Kaimana  Fak-Fak  Kaimana  BXB  Manokwari Sorong  NTI  Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Nabire  Biak Sorong  BXB  Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Jayapura  ZRM  Nabire  Kaimana  Nabire  Biak Jayapura  Biak  Kaimana  Sorong  Kaimana  Biak  Jayapura Biak  Kaimana  Tual  Timika  Tual  Kaimana  Biak Potowai  Kaimana  Potowai Twin Otter Perintis 1.3 Transportasi Laut Transportasi laut mempunyai peranan sangat penting pada perekonomian Papua Barat. Selain itu sebagian besar mobilitas orang dan barang di wilayah Papua Barat.6. baik yang masuk maupun yang keluar dari wilayah Papua Barat masih menggunakan transportasi laut. juga terdapat kapal PT Pelni yang melayari Pantai Selatan Papua.

serta merupakan simpul dalam sistem jaringan transportasi laut internasional. d. e. Pelabuhan Utama Tersier adalah pelabuhan utama yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah menengah dan jangkauan pelayanan menengah. Gambar 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 barang yang memuat bahan kebutuhan pokok. b. serta merupakan pengumpan pada Pelabuhan Utama.48 Contoh Kapal Laut yang melayani kebutuhan transportasi di Provinsi Papua Barat Secara umum. . Rute kapal-kapal motor baik dari PELNI maupun milik swasta. berdasarkan fungsi pelayanannya dapat diklasifikasikan atas : a. jalur pelayanan transportasi air (laut) mampu melayani kota-kota/desa-desa di pesisir Provinsi Papua Barat. Sarana transportasi laut. Pelabuhan Utama Sekunder adalah pelabuhan utama yang berfungsi melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan pelayanan yang sangat luas dan berperan sebagai simpul pada sistem jaringan transportasi nasional. Pelabuhan Pengumpan Regional adalah pelabuhan yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut dalam jumlah kecil dan jangkauan pelayanan yang relatif dekat. c. speedboat dan longboat untuk menjangkau wilayah-wilayah terpencil serta kapal nelayan. Pelabuhan Utama Primer adalah pelabuhan utama yang berfungsi melayani kegiatan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan pelayanan yang sangat luas. melalui Sorong adalah sebagai berikut: LAPORAN AKHIR 1-131 . Pelabuhan Pengumpan Lokal adalah pelabuhan yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut dalam jumlah kecil serta merupakan pengumpan pada Pelabuhan Utama dan Pelabuhan Pengumpan Regional.

49 memperlihatkan kondisi maupun suasana pelabuhan utama di Provinsi Papua Barat.49 Kondisi Pelabuhan di Provinsi Papua Barat (kiri: Pelabuhan Kaimana. karena mereka umumnya merasa lebih mudah dan praktis apabila bekerja dekat dengan permukiman. Pembahasan mengenai transportasi laut tentunya tidak terlepas dari keberadaan pelabuhan laut yang merupakan prasarana yang harus ada baik skala kecil maupun besar.000 DWT. kanan: Pelabuhan Teluk Bintuni) Pelabuhan-pelabuhan kecil yang ada saat ini umumnya merupakan pelabuhan pendaratan kapal nelayan milik nelayan setempat. Gambar 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Di Kabupaten Kaimana terdapat satu pelabuhan utama yang terletak di Kaimana Kota dan beberapa pelabuhan kecil yang tersebar di beberapa tempat. LAPORAN AKHIR 1-132 . Di Kecamatan Kaimana terdapat pelabuhan laut yang mampu disinggahi kapal berukuran 5. Fakfak – Bintuni – Sorong PP. KM IWERI dengan rute Jayapura – Sarmi – Nabire – Serui – Biak – Korido – KM Lady Marina dengan rute: Merauke – Agast – Timika – Tuai – Kaimana – Manokwari – Saukorem – Sausapor – Sorong – Bintuni – Babo PP. Selain pelabuhan-pelabuhan umum tersebut perlu pula dikembangkan pelabuhan khusus untuk Kawasan Industri dan pelabuhan khusus bagi kepentingan pariwisata. satu-satunya transportasi antar pulau dan penunjang kegiatan masyarakat di Kabupaten Raja Ampat adalah angkutan laut. kemudian dilanjutkan dengan transportasi laut. rute perjalanan menuju Kota Sorong terlebih dahulu. Selain itu juga terdapat pelabuhan pendaratan ikan yang saat ini sudah tidak lagi berfungsi. Demikian juga untuk menjangkau Waisai. pelabuhan ini juga sudah menerima pelayaran kapal milik PT. Sebagai daerah kepulauan. Gambar 1. 2. kareana apabila menggunakan pesawat udara. ibu kota Kabupaten Raja Ampat. Perekonomian wilayah di Papua Barat umumnya digerakkan melalui perhubungan laut dan udara. Pelni yang melayari Pantai Selatan Papua. Selain disinggahi kapal penumpang. lebih sering menggunaka transpotasi laut dari pada transportasi udara.

Bintuni.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2006. Pelabuhan Manokwari. Pelabuhan Fak Fak dan Pelabuhan Kaimana. pesisir pantai maupun sungai-sungai. Oransbari. Sausapor. Babo dan Kokas. Saukorem. Teminabuan. Keempat pelabuhan utama ini digunakan sebagai pelabuhan komersil. Saonek. di Provinsi Papua Barat terdapat 4 (empat) pelabuhan utama. Windesi. terdapat pelabuhan kecil yang melayani pelayaran perintis di daerah-daerah kepulauan. Selain itu. LAPORAN AKHIR 1-133 . Inantawan. Kalobo. yaitu pelabuhan perintis Wasior. yaitu Pelabuhan Sorong.

50 Peta Sarana dan Prasarana Transportasi LAPORAN AKHIR 1-134 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

1 Energi Dalam lingkup wilayah.1 Prasarana Wilayah Provinsi Papua Barat 1. Tabel 1. meningkat dari jumlah tahun 2004 yang sebesar 61253 pelanggan.7 ASPEK SARANA DAN PRASARANA WILAYAH PROVINSI PAPUA BARAT 1. Dari total produksi tersebut. Total kapasitas terpasang 21178 kw sementara beban puncak 27674 kw. hasil perhitungan Tabel 1. Jumlah pelanggan pada tahun 2005 mengalami peningkatan menjadi 63238 pelanggan.7. Total produksi selama tahun 2005 tercatat 79. meningkat sebanayk 3.960 mwh terjual. Banyaknya unit pembangkit tenaga listrik di Papua Barat pada tahun 2005 adalah 16 unit. Penyediaan listrik di Papua Barat teridir dari dua macam yaitu pembangkit listrik tenaga diesel dan pembangkit listrik mikro hidro. Jumlah Pelanggan PLN Rumah Tangga dan Tingkat Layanan Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 Sosial 287 107 25 24 709 106 205 106 548 2 117 2 117 2 117 Rumah tangga 5 744 1 741 237 737 16 602 1 186 5 739 1 886 20 543 54 415 54 415 54 415 Bisnis 772 439 14 91 1 799 83 153 32 2 052 5 435 5 435 5 435 Industri 2 5 1 5 13 13 13 Publik 247 63 11 13 273 38 45 38 530 1 258 1 258 1 258 Sumber: Papua Barat dalam angka 2007. 80 Jumlah Rumah Tangga.087 mwh. energi merupakan aspek yang sangat krusial. Pembangkit listrik tenaga diesel sangat ini merupakan sumber energi yang paling utama.1. maka pembangunan sarana dan prasarana energi juga menjadi kebutuhan vital dan mendesak di Provinsi Papua Barat.79 persen dari tahun sebelumnya. layanan PLN masih sangat kurang seperti terlihat pada Tabel 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Meski jumlah pelanggan terus meningkat. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan energi. terdapat 71.80 berikut. dilihat dari segi distribusi.7. Tingkat layanan listrik rata- LAPORAN AKHIR 1-135 .80 tersebut membandingkan jumlah pelanggan PLN di Papua Barat dari jenis rumah tangga dengan jumlah rumah tangga di Papua Barat.015 mwh yang dialirak dan 70.

7. yang terkendala oleh kondisi topografi wilayah Papua Barat. Tingkat layanan tertingi ada di kota Sorong yaitu sebesar 57. 81 Jumlah Kantor Pos dan Kantor Pos Pembantu Tahun 2008 Kabupaten Kantor Pos Kantor Pos Pembantu Kantor Pos dan Giro Tambahan Rumah Pos Kantor Pos Desa Jumlah Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong 1 … 6 1 1 … - … 1 1 1 … 4 5 9 7 1 … 3 7 11 19 1 1 2 … 13 6 8 3 34 41 1 Selatan Sorong 1 Raja Ampat Kota Sorong 1 1 Papua Barat 9 4 2007 3 11 Sumber : Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Kantor pos hanya terdapat di dua wilayah yaitu Kota Sorong dan Manokwari sementara kantor pos pembantu terdapat di semua wilayah kecuali Kabupaten Raja Ampat.1. Teluk Bintuni.89 persen. LAPORAN AKHIR 1-136 . Layanan telepon belum terdapat di Teluk Wondama.57 persen. Tingkat layanan yang paling ada di kabupaten-kabupaten baru dengan angka terendah ada pada kabupaten Teluk Wondama sebesar 4. Untuk layanan pos.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 rata bagi rumah tangga di Papua adalah sebesar 32. Pemenuhan energi di Papua Barat masih sangat kurang baik dari segi jumlah maupun distribusi. Kebutuhan pos di Raja Ampat dipenuhi oleh rumah pos dan kantor pos desa. Tingkat layanan tersebut masih sangat jauh dari rata-rata yanng ada. Wilayah Raja Ampat yang berupa kepulauan mungkin menjadi faktor kenapa kantor pos dalam skala kecil lebih berperan. 1. dan Raja Ampat. Sorong Selatan. Layanan telepon dari Telkom saat ini baru terkonsentrasi di kabupaten dan kota terutama seperti Sorong dan Manokwari.2 Komunikasi Infrastruktur komunikasi dan komunikasi pada tingkat provinsi lebih menitikberatkan pada persebaran dan tingkat layanan. Rasio elektrifikasi di Indonesia rata-rata berkisar pada angka 50 persen.81 berikut: Tabel 1.47 persen. jumlah sarana dapat dilihat pada Tabel 1. Kondisi infrastruktur konumikasi dan perhubungan di Papau Barat tergolong masih sangat minim.

363 3. yang bersumber dari sungai sebanyak 3.864 33.554 Sumber Air Mata Air 45 65.7.809 1.515 2. mata air 45.428.230 16.507 Kota 1 Fak Fak 2 Sorong 3 Manokwari 9 Kota Sorong Jumlah 6 Sumber : PDAM.496 2.330 2.330 M3 dan dari sumber lainnya sebanyak 6. Total produksi air sebanyak 6.177.480 M3. Sedangkan kapasitas efektif sama dengan tahun 2003 yakni 144 liter/detik.06 5.177. sedangkan perusahaan cabang tidak difungsikan lagi.607 8.936.138.149.383.318 65.329 5.200 196.544 8. Tetapi kapasitas potensial pada tahun 2004 mengalami kenaikan dari 268 liter/detik menjadi 297 liter/detik. Tabel 1.512 … … … Lainnya … … … 6.117 2.427 5.936.005 Jumlah Khusus 42. 3 perusahaan induk dan 1 perusahaan cabang.074.535 3. 83 Banyaknya Pelanggan Air Minum yang Disalurkan Menurut Jenis Pelanggan Per Kabupaten/Kota Tahun 2006 (m3) No Kabupaten/ Sosial 69.535 M3 dan dari mata air pegunungan sebanyak 2.372.117 3.107.926.496 3.767 Danau 32. Data tetntang air bersih masih memasukkan kabupaten bentukan baru dalam kabupaten induknya.1. 82 Produksi Air Bersih Menurut Kabupaten/Kota dan Sumber Air yang Digunakan Tahun 2008 (m3) No. Sumber air bersih yang digunakan berasal dari air sungai dan mata air pegunungan.699 858.6%.353 10.690 Jenis Pelanggan Non Niaga Niaga Industri 667.230.673 2. Telah ada operator seluler yang menjangkau Papua Barat namun juga masih terkonsntrasi di wilayah seperti Kota Sorong. 3 Kabupaten/ Kota Fak Fak Manokwari Kota Sorong Jumlah 2007 2006 2005 2004 Sungai 2.331 687.525.365 145. Papua (Kompilasi data tahun 2007) LAPORAN AKHIR 1-137 .582. 2009 Pada berikut nampak bahwa persentase sumber air bersih berasal dari sungai mencapai 54.3 Air Bersih Perusahaan air bersih pada tahun 2003 terdiri dari 4 perusahaan.907 617.243. 1.370.480 Sumber : Papua Barat Dalam Angka.240 53.270 29.210 177. 1.427 28.582.1%.626.047 73. Pada tahun 2004 mengalami penurunan yaitu hanya 3 perusahaan induk.512 32.345M3.464 1.490 39.497 19.344 3.272 1.923.3% dan sumber lainnya 0. 2.720 39.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kondisi wilayah Papua Barat lebih memungkinkan pengembangan jaringan komunikasi nirkabel seperti telepon seluler dan telepon satelit. Tabel 1.905 1.422 4.923.945 1.

84 Sarana Pendidikan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten TK SD SMP SMA Fak-Fak 30 91 16 6 Kaimana 8 68 10 4 Teluk Wondama 1 42 4 1 Teluk Bintuni 6 64 14 4 Manokwari 32 166 28 13 Sorong Selatan 110 16 4 Sorong 47 115 21 5 Raja Ampat 2 80 17 2 Kota Sorong 35 70 24 16 Papua Barat 161 806 150 55 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 SMK 3 4 1 2 1 1 7 19 MA 1 1 1 1 4 Sarana pendidikan di Provinsi Papua Barat mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga perguruan tinggi telah tersedia. 1.149. dirnana terdapat 3 (tiga) lokasi kabupaten yang belum memiliki jenjang SMK yaitu kabupaten Teluk Bintuni.690 dan industri 28. sedangkan dari kategori sosial. Penggunaan air bersih yang terbanyak di Papua Barat adalah Kota Sorong dari semua jenis pelanggan yang di salurkan.699 Artinya non niaga merupakan pengguna air terbanyak di susul oleh niaga.507 M3.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2004 jumlah air minum yang disalurkan sebanyak 4. sedangkan sosial 177.901 atau 1: 22. dan telah tersebar pada daerah kabupaten dan kota di wilayah ini. Jumlah sarana pendidikan di Papua Barat pada tahun 2005 terdapat pada Tabel 1.1 Pendidikan Sarana dan tenaga pengajar pendidikan merupakan kapasitas yang mendukung proses belajar mengajar dalam kegiatan pendidikan.7.047 dan niaga sebesar 1.066.84 berikut ini.253 LAPORAN AKHIR 1-138 .2. Pada tingkat SMP/MTs diperoleh perbandingan kapasitas guru dan siswa sebesar 3. Tabel 1. Khusus untuk sarana pendidikan dengan jenjang pendidikan SMK sebagai jenjang kejuruan yang lebih menekankan pada profesionalisme ilmu belum tersebar pada semua kabupaten/kota.7. dan Raja Ampat.295 : 113.284:32. Non niaga merupakan pelanggan terbesar yakni 2. dan Kabupaten Manokwari. Kabupaten Fak Fak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa 1(satu) orang guru akau mengajar siswa jenjang pendidikan SD/Ml sebanyak 22 orang. sebaliknya untuk kota Sorong memiliki jenjang sekolah SMK yang cukup tinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya yaitu sebanyak 7 sekolah.2 Sarana Wilayah Provinsi Papua Barat 1. disusul Kabupaten Sorong.370. Perbandingan kapasitas guru tersedia dan siswa pada jenjang pendidikan SD/MI diperoleh nilai sebesar 5. industri dan khusus relatif lebih kecil.428.005 dan yang khusus adalah 145. Teluk Wondama.

Kenyataan ini erat kaitannya dengan masalah transportasi. STIE Sorong (Kabupaten Sorong). Apabila dilihat dari perbandingan kapasitas guru dan siswa didik. mengurangi jumlah penyakit menyebar.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 atau 1:10. Sekolah Tinggi Ilmu Hukum/STIH. meningkatkan kesehatan reproduksi. Jenjang pendidikan perguruan tinggi yang tersedia di Provinsi Papua Barat terdiri dari Universitas Negeri Papua/UNIPA.86 berikut ini. Universitas Kristen Indonesia Papua /UKIP. tingkat partisipasi masyarakat dalam pendidikan di Papua Barat masih rendah. dan membudidayakan perilaku hidup sehat. Meski demikian. masyarakat harus menmepuh jarah yang jauh. 85 Tenaga Pengajar di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat TK 98 8 1 28 98 4 64 301 602 SD 846 284 119 251 1035 783 795 233 949 5295 SMP 275 127 38 175 325 49 595 65 1635 3284 SMA 88 30 20 76 387 29 83 32 745 1490 SMK 60 65 15 115 15 85 215 570 MA 5 6 20 25 56 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Dilihat dari tingkat rasio antara sekolah dan tenaga pengajar dengan jumlah murid. Jumlah sarana layanan kesehatan di Papua Barat terdapat pada Tabel 1. Dari segi jumlah penduduk.2.2 Kesehatan Layanan kesehatan adalah layanan krusial bagi masyarakat dan berkaitan dengan kualitas masyarakat. SIT Otouw Gesler. layanan di Papua Barat telah mencukupi. STIE Maesa. LAPORAN AKHIR 1-139 . Sekolah Tinggi Viktoria. Sekolah Pendidikan Agama Kristen/SPAK. Untuk dapat mencapai suatu sarana pendidikan. Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian/STPP (Kabupaten Manokwari).7. Tabel 1. Pembangunan di bidang kesehatan dapat menjadi modal bagi peningkatan kualitas masyarakat. ternyata memiliki perbandingan yang cukup baik dalam proses belajar mengajar. layanan pendidikan memang telah memenuhi. Universitas Muhamadiyah Alamin/UNAMIN (Sorong). namun dari segi distribusi wilayah belum memenuhi. Artinya bahwa 1(satu) orang guru pada tingkat SMP/MTs akan mengajar 10 siswa. Layanan kesehatan yang mencukupi dapat menurunkan tingkat kematian. 1. Saint Paul Politeknik.

Kaimana.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. Sarana kesehatan tentu harus didukung oleh layanan tenaga kesehatan sperti dokter. Jumlah sarana tersebut tentu masih sangat kurang.3 Perekonomian LAPORAN AKHIR 1-140 . Di wilayah-wilayah tersebut telah terdapat layanan rumah sakit. Dokter umum memang telah tersedia di seluruh kabupaten walau terkonsentrasi di kabupaten induk. Hal ini dapat dipahami karena lokasi-lokasi tersebut merupakan kabupaten lama (Provinsi Papua) sebelum pemekaran wilayah menjadi Provinsi Papua Barat.87 menunjukkan minimnya tenaga dokter di Papua Barat. Dokter gigi baru terdapat di Fak-fak. Untuk dokter ahli belum terdapat di semua kabupaten. 87 Jumlah Tenaga Dokter di Provinsi Papua Barat tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Dokter Ahli 4 Dokter Umum 22 6 5 3 16 6 10 2 7 77 Dokter Gigi 2 1 21 2 9 34 2 7 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 Tabel 1.7. hanya di Fak-Fak. Manokwari. 86 Jumlah Sarana Kesehatan di Provinsi Papua Barat tahun 2008 Puskesmas Puskesmas Puskesmas Pembantu Keliling Fak-Fak 37 9 5 Kaimana 46 7 9 Teluk Wondama 22 6 10 Teluk Bintuni 28 15 10 Manokwari 84 19 19 Sorong Selatan 42 8 9 Sorong 22 12 2 Raja Ampat 33 13 21 Kota Sorong 25 5 8 Papua Barat 339 94 93 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 Kabupaten Rumah Sakit 1 BP 6 1 Posyandu 130 79 70 221 255 151 111 69 87 1. selain itu masyarakat harus menempuh perjalanan jauh untuk dapat memperoleh layanan kesehatan. Kota Sorong. Manokwari. Tabel 1. Jumlah tenaga dokter di Papua Barat adalah sebagai berikut. dan Kota Sorong. dan Kota Sorong. Kabupaten-kabupaten baru hingga tahun 2005 belum memiliki rumah sakit. Sorong. 1.173 Polindes 8 31 14 8 74 36 7 7 35 2 1 8 18 11 2 9 12 41 Ketersediaan sarana kesehatan yang cukup tinggi ada pada lokasi Kabupaten Manokwari. dan Fakfak.2.

Sorong 3. BRI) sebesar 56. 88 Jumlah Perusahaan Perdagangan Menurut Golongan Usaha Pada Tingkat Desa dan Perkotaan No Kabupaten/ Kota Super Market 1 3 Restoran/ Rumah Makan 4 2 8 2 2 1 1 5 11 9 2 11 30 25 5 Toko/ Warung/ Kios 9 37 69 5 52 59 20 11 22 284 41 243 Hotel/ Penginapan 3 7 1 2 2 3 10 28 21 7 Koperasi Unit Desa 9 9 14 1 7 1 3 44 8 36 Koperasi Non KUD 7 4 7 2 1 16 4 41 8 33 1. kemudian koperasi Unit Desa (KUD) dan non KUD.49 persen dan Bank Pembangunan Daerah (Bank Papua) sebesar 26. sisanya sebesar 16. 6. Raja Ampat 7. 3. Dari sejumlah bank yang beroperasi. Tabel 1. Kota Sorong Jumlah di Kota dan di Desa Jumlah di Kota Jumlah di Desa 1 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 b. Perdagangan Perusahaan perdagangan di Papua Barat menurut golongan usaha pada tingkat desa dan perkotaan. jumlah terbesarnya adalah kantor Bank Pemerintah. Restoran/Rumah Makan. 5. Teluk Bintuni 8. Manokwari 4. Bank Danamon). Dari semua jenis usaha seperti: toko/warung/kios. KUD.79 persen adalah bank-bank yang dikelola oleh swasta (Bank Mandiri. dan non KUD sebagian besar berada di pedesaan. 89 Jumlah Perbankan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2007 No 1. Fak Fak 2. 2. Jumlah kantor cabang bank yang beroperasi di Provinsi Papua Barat kurang lebih berjumlah 60 kantor cabang. sedangkan yang lainnya lebih banyak tersebar di perkotaan. 4. Kaimana 5. Sorong Selatan 6. Teluk Wondama 9.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 a. bahwa toko/warung/kios menduduki urutan tertinggi. 7. Hotel/Penginapan.72 persen. seperti Minimarket dan Supermarket. Tabel 1. dan Supermarket. yang terdiri dari Bank Pemerintah Pusat (BNI. Kabupaten/ Kota Fak Fak Sorong Manokwari Kaimana Sorong Selatan Raja Ampat Teluk Bintuni Bank Umum 2 2 7 1 1 1 3 BPR 1 LAPORAN AKHIR 1-141 . Perbankan Sarana perbankan merupakan sarana yang penting dalam perekonomian.

sehingga dapat mempermudah pengarahan fungsi-fungsi yang telah ditetapkan. 4. Struktur ruang di kawasan ini hanya dibentuk oleh beberapa kegiatan. 3. Kehutanan. Teluk Wondama 1 9. Permukiman. Potensi Pengembangan Pola Ruang LAPORAN AKHIR 1-142 . 2.8 POTENSI PROVINSI PAPUA BARAT BARAT A. 5. 90 Jumlah Bank dan Kantor Bank di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Rincian/ Description Bank Persero dan Bank Pemerintah Daerah Jumlah bank Jumlah kantor bank Bank Swasta Nasional Jumlah bank Jumlah kantor bank Bank Asing dan Bank Campuran Jumlah bank Jumlah kantor bank Jumlah bank Jumlah kantor bank Jumlah Bank Banks Kantor Bank 16 156 17 180 17 192 9 49 11 54 7 9 9 20 18 18 4 6 2004 2005 2006 2007 2008 Bank-bank Umum 129 153 165 45 48 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 1. Pertanian. Pola struktur ruang pada saat ini masih linier yaitu mengikuti pola jaringan jalan utama. Sedangkan permukiman perdesaan membentuk kelompok secara tersebar. Kawasan perdagangan dan jasa. Potensi Pengembangan Struktur Tata Ruang Secara umum kondisi tata ruang di wilayah perencanaan masih sangat sederhana. Kota Sorong 6 Jumlah di Kota dan di Desa 24 Jumlah di Kota 19 Jumlah di Desa 5 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2008 1 2 2 - Tabel 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 8. B. Jaringan jalan. yaitu: 1.

3. Terdapat beberapa pintu gerbang nasional yang dapat ditingkatkan menjadi pintu gerbang internasional dalam rangka peningkatan kerjasama ekonomi. Potensi Pengembangan Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Seperti diketahui Provinsi Papua Barat mempunyai wilayah pesisir. 1. LAPORAN AKHIR 1-143 . 6. D. C. Masih luasnya hutan sehingga dapat menujang program penanganan lingkungan. hal ini dapat dijadikan potensi pengembangan dengan mengalih fungsikan perkebunan yang kurang produktif menjadi lahan yang dilihat dari sisi ekonomisnya menjadi lebih tinggi. Potensi Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi Kawasan strategis merupakan kawasan-kawasan dengan potensi dan atau permasalahan tertentu yang perlu diprioritaskan penanganannya secara sektoral maupun tata ruang. 5. Terdapatnya sumberdaya alam yang belum termanfaatkan sebagai penunjang fungsi kawasan strategis ekonomi. Potensi dari kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: 1. Pola penggunaan lahan masih berpola pedesaan dengan didominasi oleh kebun campuran. Perlunya konsep mitigasi bencana pada kawasan-kawasan yang mempunyai kerawanan terhadap bencana. Faktor kondisi fisik Provinsi Papua Barat yang berbukit dengan banyak pulau menyebabkan pencatatan penggunaan lahan relatif lebih sulit dilakukan. Dukungan keberadaan sumberdaya (hayati dan non hayati) pesisir. masalah. Terdapat beberapa komoditas unggulan yang bernilai ekspor cukup tinggi. karena memiliki dampak yang penting pada upaya pencapaian tujuan pengembangan wilayah dalam lingkup provinsi. sehingga untuk pengembangan kawasan budidaya masih sangat terbuka. laut dan pulaupulau kecil yang masih berpotensi untuk ditingkatkan dan dikembangkan pada masing-masing kawasan pemanfaatan ruang laut dalam rangka pengembangan kerjasama antar kawasan. Di Provinsi Papua Barat terdapat beberapa kawasan strategis ekonomi. 2. Potensi budaya yang beragam dapat dijadikan entry point bagi kawasan strategis sosial. Adapun potensi. Pola ruang yang ada berdasarkan data masih didominasi oleh hutan. 4. dan pulau-pulau kecil yang tersebar cukup luas. dan prospek kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Provinsi Papua Barat dapat dijelaskan sebagai berikut. kawasan strategis lingkungan dan kawasan strategis sosial. Terlebih adanya kabupaten-kabupaten bentukan baru menyebabkan pencatatan data penggunaan lahan harus dilakukan ulang. Data mengenai lahan antara satu dan yang lainnya kerap menunjukkan perbedaan. laut.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pola Ruang di Provinsi Papua Barat masih sangat terbatas.

c) Pengembangan jaringan jalan dan transportasi lainnya sebagai penghubung dari pusat-pusat pelayanan. maka prospek pengembangan struktur tata ruang Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Penetapan fungsi PKN. b) Masih minimnya sarana dan prasarana perkotaan. 5.9 Isu 1. kapasitas maupun keragamannya. IMS-GT.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2. 1. terdapat pula beberapa permasalahan dalam pembentukan struktur ruang tersebut. c) Pola permukiman pedesaan yang sangat menyebar sehingga mempersulit pelayanan dari sarana dan prasarana. Telah berkembangnya pemasaran produk perikanan dan pesisir lainnya ke luar negeri (ekspor). Strategis Penataan Ruang Provinsi Papua Barat dan Prospek Pengembangannya Peran dan Fungsi Sistem. dan lain-lain) sebagai pendorong sekaligus wilayah yang dapat menampung hasil-hasil produksi atau memanfaatkan jasa-jasa pada sektor pesisir dan kelautan. Keberadaan kawasan kerjasama regional antar negara (IMT-GT. LAPORAN AKHIR 1-144 . BIMPEAGA. Perkotaan serta Struktur Ruang Selain potensi pengembangan struktur tata ruang. Berdasarkan potensi dan permasalahannya. e) Peningkatan akses sarana dan prasarana dasar pada permukiman di pedesaan. yaitu berada di antara dua benua dan dua samudera. d) Penentuan hirarki jaringan jalan berdasarkan status pusat yang dihubungkannya. 4. dan sekaligus potensi dalam pengembangan inlet-outlet pada wilayah pesisir melalui keberadaan pelabuhan laut. serta dalam meningkatkan mutu hasil produksi perikanan dan pesisir lainnya. Keberadaan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan aksesibilitas ke luar wilayah Indonesia. Permasalahan utama pengembangan Struktur Ruang Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Jaringan jalan yang belum menghubungkan pusat-pusat kegiatan sehingga belum terbentuk hirarki pusat yang baik. merupakan potensi yang masih dapat ditingkatkan dari sisi pangsa pasar. Hal ini juga didukung oleh posisi geografis Indonesia yang strategis. Perkembangan teknologi perikanan dan kelautan yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan pengelolaan sumberdaya pesisir. 3. PKW dan PKL yang disesuaikan dengan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang dimiliki pada masing masing pusat tersebut. laut dan pulau-pulau kecil. b) Pembangunan sarana dan prasarana yang menunjang fungsi pelayanan dari pusat-pusat tersebut sesuai dengan hirarkinya.

selain itu juga faktor kebencanaan perlu menjadi pertimbangan dalam pengembangan pola ruang di Provinsi Papua Barat. Untuk itu. b) Prospek jangka panjang ke masa depan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2. maka prospek pengembangan pola ruang wilayah adalah sebagai berikut: a) Perlunya batas administrasi dan penguasaan hak ulayat dalam rangka menunjang pembangunan menuju pola ruang yang diinginkan. lahan yang seharusnya sebagai kawasan penyangga. Di dalam tempat yang sama. yang didasarkan pada: a) Kawasan merupakan perwujudan sumberdaya dan kimah (asset). b) Pembangunan menuju pola ruang yang diinginkan tersebut harus memperhatikan daya dukung lingkungan dan fisik dari wilayah-wilayah yang direncanakan. b) Konflik antara kawasan lindung dengan Hak Pengusahaan Hutan (HPH). dengan tetap memperhatikan daya dukung dan kemampuan wilayah dalam menampung kegiatan yang dipertahankan tersebut. d) Konflik antara kawasan lindung dengan pengembangan transportasi. atau kekayaan yang dapat dimanfaatkan. Gambaran konflik ruang yang terjadi adalah: a) Konflik antara kawasan lindung dengan potensi pertambangan. Selain masalah konfilk penggunaan lahan. sehingga yang dikerjakan tidak habis dalam waktu dekat. Berdasarkan potensi dan permasalahan yang telah diungkapkan pada sub bab sebelumnya. misalnya bahan galian. c) Perlu adanya penyelesaian konflik yang terjadi dengan memperhatikan azas manfaat. sehingga manfaat dapat diperoleh secara terus menerus. faktor fisik wilayah Provinsi Papua Barat yang bergelombang juga merupakan suatu kendala dalam pengembangan pola ruang yang diinginkan. dalam pemanfaatan lahan harus didasarkan atas 3 terapan (perception) dari lahan. c) Keberlanjutan manfaat. artinya manfaat yang lebih besar hendaknya dipertahankan keberadaannya. Masalah lain yang timbul adalah masalah hak ulayat yang belum jelas dalam penguasaan lahan sehingga dalam penentuan batas administrasi serta batas kepemilikan lahan belum jelas tergambarkan. bentuk konflik yang dapat muncul adalah adanya persamaan lokasi atas peruntukan lahan yang didasarkan atas kondisi biofisik dengan potensi yang dikandung. juga ditemukan cadangan bahan galian. c) Konflik antara kawasan lindung dengan kawasan budidaya lainnya. Pola Ruang Masalah yang terjadi di Provinsi Papua Barat adalah masalah konflik penggunaan lahan. apabila LAPORAN AKHIR 1-145 .

dan lain-lain. Setiap pihak yang berkepentingan mempunyai tujuan. c) Kerusakan dan pencemaran lingkungan pesisir. b) Konflik pemanfaatan dan kewenangan. Dengan melihat potensi dan masalah yang terjadi maka prospek pengembangan kawasan pesisir. d) bahan beracun sianida. c) Pengembangan sektor kepariwisataan bahari serta membentuk keterkaitan antar wisata yang mempunyai potensi yang sangat besar di Provinsi Papua Barat. pemanfaatan dan pengendalian) kerjasama antar kawasan dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir laut dan pulau-pulau kecil. f) Pencurian ikan oleh nelayan asing yang banyak terjadi pada perairan pada wilayah perbatasan. maka harus dikembalikan kepada fungsi lindung yang diembannya 3. b) Pembentukan keterkaitan dan distribusi produk untuk pengembangan budidaya perikanan. maupun pengembangan sumberdaya manusianya. penambatan jangkar perahu. Beberapa stok sumberdaya ikan telah mengalami kondisi tangkap lebih (over fishing) seperti udang. karena tidak adanya aturan yang jelas tentang penataan ruang pesisir dan lautan dan alokasi sumberdaya yang terdapat di kawasan pesisir. Kerusakan akibat pemanfaatan berlebih (over exploitation) pada sebagian jenis sumberdaya pesisir (khususnya sumberdaya perikanan tangkap). dan pulau-pulau kecil Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Pengembangan badan usaha bersama dalam bidang penangkapan ikan baik pengembangan sarana dan sarana penangkapan ikan. umumnya disebabkan oleh kegiatan-kegiatan perikanan yang bersifat destruktif. yaitu penggunaan bahan peledak. 1998). target dan rencana untuk mengeksploitasi sumberdaya pesisir. Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Isu terkait dengan pengembangan kawasan pesisir danp-Pulau Kecil di Provinsi Irian Jaya adalah sebagai berikut: a) Kurangnya dukungan prasarana dan sarana (kelautan dan perikanan) serta keberadaan pusat-pusat kegiatan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi pesisir. Perbedaan tujuan. e) Rendahnya sumberdaya manusia (SDM) masyarakat dan aparat dalam merealisasikan proses (perencanaan. laut. peristiwa tumpahan minyak.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 kegiatan yang dimaksud sudah berakhir. sasaran dan rencana tersebut mendorong terjadinya konflik pemanfaatan sumberdaya (user conflict) dan konflik kewenangan (jurisdictional conflict) (CincinSain dan Kenneth. LAPORAN AKHIR 1-146 . aktifitas pelayaran/perkapalan.

c) Belum termanfaatkannya potensi pasar dan pemasaran yang ada. LAPORAN AKHIR 1-147 . terutama transportasi darat sehingga kelancaran perangkutan barang dan orang menjadi terhambat dan mahal.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 d) Pengembangan indusri pelayaran dan pengangkutan sebagai upaya untuk membentuk keterkaitan antar pusat-pusat pengembangan. Selain itu juga perlu adanya peningkatan daya saing sumber daya lokal sehingga sumberdaya dari luar yang datang juga mempunyai kualitas yang baik. Terjadinya konflik sosial antar suku menjadi kendala dalam mengembangkan potensi budaya yang ada. 4. sehingga mengganggu fungsi lindung yang ditetapkan. c) Peningkatan pembangunan sarana dan prasarana transportasi sebagai penunjang pengembangan kawasan strategis. Kawasan Strategis a) Kurangnya sumberdaya manusia baik dari kualitas maupun kuantitasnya dalam upaya pemanfaatan potensi sumberdaya alam yang begitu besar. b) Keterbatasan sektor transportasi. e) Menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan sosial-masyarakat Provinsi Papua Barat. d) Pengendalian dan pengawasan yang ketat serta pemberian sangsi yang tegas pada kawasan-kawasan strategis lingkungan. e) Pemanfaatan f) hutan produksi yang melebihi daya dukungnya. Prospek dari pengembangan kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Perlu adanya peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia dalam pengelolaan sumberdaya alam yang melimpah. Masalah dari kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: d) Masih sering terjadi illegal logging sehingga mengganggu fungsi lindung. mengingat kota-kota yang terbentuk di Provinsi Papua Barat sebagian besar berada pada wilayah pesisir. b) Peningkatan status pintu gerbang Sorong dan Manokwari menjadi pintu gerbang nasional dan internasional.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->