Profil Wilayah Provinsi Papua Barat

1

1.1

ASPEK FISIK DASAR

Aspek fisik dasar yang akan dipaparkan diantaranya mengenai batas administrasi dan geografi, klimatologi, suhu dan kelembaban, morfologi, kondisi geologi, karakteristik tanah, Hidrologi, karakteristik hidro-oseanografi, dan ketersediaan lahan. 1.1.1 Perkembangan Pembentukan Daerah

Provinsi Papua Barat secara definitif dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999 dengan nama Provinsi Irian Jaya Barat bersamaan dengan pembentukan Provinsi Irian Jaya Tengah, Kabupaten Mimika, Kabupaten Paniai, Kabupaten Puncak Jaya, dan Kota Sorong. Namun pemekaran wilayah provinsi ini ditangguhkan karena terjadi penolakan terhadap pemekaran ini, sementara pemekaran kabupaten tetap dilaksanakan sesuai UU Nomor 45 Tahun 1999 tersebut. Berdasarkan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat,

1-1

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Teluk Bintuni, dan Kabupaten Teluk Wondama di Provinsi Papua, maka terjadi pemekaran untuk beberapa kabupaten. Pemekaran wilayah untuk Provinsi Irian Jaya Barat sebagai berikut: 1. Kabupaten Sorong dengan dua kabupaten pemekaran, yaitu: Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Raja Ampat. 2. Kabupaten Manokwari dengan dua kabupaten pemekaran, yaitu: Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Teluk Wondama 3. Kabupaten Fak Fak dengan satu kabupaten pemekaran, yaitu Kabupaten Kaimana

Setelah memiliki wilayah yang jelas, penduduk, aparatur pemerintahan, anggaran, anggota DPRD, serta gurbernur dan wakil gubernur definitive, Provinsi Irian Jaya Barat mulai membangun dirinya secara sah. Sejak tanggal 18 April 2007, Provinsi Irian Jaya Barat berubah nama menjadi Provinsi Papua Barat, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007. Pada tahun 2008 dimekarkan satu kabupaten baru di Provinsi Papua Barat yaitu Kabupaten Tambrauw. Dasar hukum pembentukan Kabupaten Tambrauw adalah UndangUndang Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2008 dengan ibukota kabupaten yang terdapat di distrik Fef. Berdasarkan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 127/PUUVII/2009 tanggal 25 Januari 2009, Kabupaten Tambrauw dibentuk dari sebagian bekas wilayah Kabupaten Sorong dan Kabupaten Manokwari, yaitu Distrik Abun, Distrik Amberbaken, Distrik Fef, Distrik Kebar, Distrik Kwoor, Distrik Miyah, Distrik Moraid, Distrik Mubrani, Distrik Sausapor, Distrik Senopi, dan Distrik Yembun. Berdasarkan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI (Nomor 127/PUU-VII/2009 tanggal 25 Januari 2009), maka batas wilayah Kabupaten Tambrauw adalah sebagai berikut: Utara Selatan Barat Timur : Samudera Pasifik : Kabupaten Sorong Selatan : Kabupaten Sorong : Distrik Sidey, Kabupaten Manokwari

Pada tahun 2009 terdapat kabupaten baru yang dimekarkan yaitu Kabupaten Maybrat. Kabupaten Maybrat merupakan pemekaran dari wilayah kabupaten Sorong. Pada 27 Oktober 2008 dikeluarkan Keputusan Bupati Sorong Selatan Nomor 133 Tahun 2008 tentang Penyerahan Sebagian Cakupan Wilayah Bawahan Kabupaten Sorong Selatan ke

LAPORAN AKHIR 1-2

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten Sorong, wilayah yang diserahkan terdiri dari 11 (sebelas) distrik, yaitu: Distrik Aifat, Distrik Aifat Utara, Distrik Aifat Timur, Distrik Aifat Selatan, Distrik Aitinyo Barat, Distrik Aitinyo, Distrik Aitinyo Utara, Distrik Ayamaru, Distrik Ayamaru Utara, Distrik Ayamaru Timur, dan Distrik Mare. Pada 16 Januari 2009 disahkanlah UURI Tahun 2009 Nomor 13 tentang Pembentukan Kabupaten Maybrat sebagai hasil pemekaran dari kabupaten Sorong. Adapun komposisi distrik bawahannya adalah tepat sama dengan komposisi distrik di atas. Ini terjadi karena pemekaran dari Kabupaten Sorong Selatan belum memenuhi syarat teknis dan legalitas, jadi upaya percepatan berupa pemindahan kembali 11 distrik calon distrik Kabupaten Maybrat untuk sementara waktu ke kabupaten induknya, dan dilanjutkan dengan proses pembentukan Kabupaten Maybrat sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Sorong, bukan dari Kabupaten Sorong Selatan. Peresmian dilakukan pada tanggal 15 April 2009 di Jakarta, adapun batas wilayah Kabupaten Maybrat adalah sebagai berikut: Utara Selatan Barat Timur 1.1.2 : Fef, Senopi, Kebar : Kokoda, Kais : Moswaren, Wayer, Sawiat : Moskona Utara, Moskona Selatan Batas Administrasi dan Geografi

Provinsi Papua Barat secara geografis terletak pada 124°-132° Bujur Timur dan 0°-4° Lintang Selatan, tepat berada di bawah garis khatulistiwa dengan ketinggian 0-100 meter dari permukaan laut. Kabupaten Fakfak merupakan kabupaten tertinggi dengan ketinggian 10-100 meter diatas permukaan laut, sedangkan kota-kota lainnnya berkisar antara 10-50 meter diatas permukaan laut. Batas geografis Provinsi Papua Barat adalah : Sebelah Utara Sebelah Barat Sebelah Timur : Samudera Pasifik : Laut Seram (Provinsi Maluku) : Provinsi Papua Sebelah Selatan: Laut Banda (Provinsi Maluku)

Wilayah Provinsi Papua Barat memiliki 11 wilayah Pemerintahan Daerah yang terdiri dari 9 Kabupaten dan 1 Kota, 154 distrik, dan 1.361 kampung dengan luas wilayah secara keseluruhan sebesar 97.024,37 km² (berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2008). Luas dan perbandingan persentase luas wilayah kota kabupaten di Provinsi Papua Barat disajikan pada Tabel 1.1 dan Gambar 1.2. Pembagian Daerah Administratif menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 dapat dilihat pada Tabel 1.2. Secara spasial administrasi Provinsi Papua Barat diperinci berdasarkan kabupaten/kota dapat dilihat pada Gambar 1.1. Tabel 1.1 Luas Wilayah dan Persentase menurut Kabupaten/Kota LAPORAN AKHIR 1-3

60 4.65 100.99 10.80 10.52 10.63 9.500 14.236.871 6.33 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka 2010 Gambar 1.21 No.953.084.1 Persentase Luas Wilayah Provinsi Papua Barat Menurut Kabupaten/Kota Sumber: Diolah dari Provinsi Papua Barat Dalam Angka 2010 Tabel 1.320 18. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kabupaten/Kota Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana Kabupaten Teluk Wondama Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Manokwari Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Sorong Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Tambrauw Kabupaten Maybrat Kota Sorong Total IbuKota Fakfak Kaimana Wasior Bintuni Manokwari Teminabuan Aimas Waisai Fef Kumurkek Sorong Jumlah Kecamatan 9 7 13 24 29 13 18 13 11* 11 6 154 Jumlah Kelurahan 7 2 1 2 9 2 13 1 1 30 68 Jumlah Kampung 122 84 75 114 402 110 118 97 53 108 1293 LAPORAN AKHIR 1-4 .8 18.665 12.91 12. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kabupaten/Kota Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana Kabupaten Teluk Wondama Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Manokwari Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Sorong Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Tambrauw Kabupaten Maybrat Kota Sorong Luas Planemetrik (Km2) 14.699 13.35 12.111 943.38 0.00 Total 144.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Persentase (%) 9.5 19.521.55 7.136.84 8.2 Pembagian Daerah Administratif Provinsi Papua Barat menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 No.08 13.52 15.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 * Disesuaikan dengan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 127/PUU-VII/2009 LAPORAN AKHIR 1-5 .

2 Peta Batas administrasi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-6 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

3 1. pola berfluktuasi (B).836 2004 3. Sorong 2003 3. Tabel 1.586 133 1.600 2. Pola tunggal D memiliki curah hujan tertinggi pada bulan Juli/Agustus. perbedaan antara jumlah curahan pada musim hujan dan musim kemarau tidak jelas. Suhu sangat bergantung dari ketinggian.106. Kaimana Kab. Pada pola ini biasanya curah hujan bulanan tidak teratur atau hampir merata sepanjang tahun.319 2.345 2.351 2007 3. sedangkan ketinggian dan kejajaran barisan pegunungan mempengaruhi pola angin dan presipitasi dalam setiap daerah.1 Curah Hujan Musim di Papua Barat dicirikan oleh angin Tenggara yang bertiup sekitar pertengahan April hingga September dan Muson Barat Laut yang di mulai dalam bulan Oktober hingga Maret.048 2005 3. Pada pola B.964. maka iklim di Provinsi Papua Barat sangat bervariasi melebihi daerah Indonesia lainnya.323 2. Pola A dan D menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antara jumlah curah hujan pada musim hujan dan musim kemarau.3 Klimatologi Provinsi Papua Barat terletak tepat di sebelah Selatan garis khatulistiwa sehingga termasuk dalam wilayah tropika humida. Sorong Selatan Kab.3 2008 2. sedangkan dataran rendah di Selatan Kepala Burung dan jazirah Onin dan Bomberai serta dataran rendah di Selatan kordirela mendapatkan hujan terbanyak antara bulan April dan September ketika angin bertiup dari arah tenggara. Manokwari Kab.537 2.091 2. Pola tunggal A atau pola sederhana (simple wave) memiliki curah hujan terendah pada bulan Juli/Agustus.209 127 2. dalam setahun terjadi dua kali puncak curahan tertinggi atau dua kali puncak curahan terendah.313 1. Pada pola C. Teluk Bintuni Kab. Fakfak Kab. Musim hujan di setiap daerah tergantung dari waktu di mana musim ini terpaparkan pada satu atau kedua sistem angin tersebut. Pola umum iklim dan cuaca sangat dipengaruhi oleh topografinya yang kasar.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.067. Pola umum ini menjadi rumit oleh topografi dan pola angin. Karena daerahnya yang bergunung-gunung.3 4. Angin Tenggara dan muson Barat Laut biasanya panas dan mengandung uap air yang diangkut ketika melewati samudera. Pada umumnya pegunungan di Kepala Burung. dan pola ganda (C). Iklim di Provinsi Papua Barat memiliki 3 (tiga) pola yaitu pola tunggal (A dan D). 1.680 2.3 Banyaknya Curah Hujan di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2007 (mm) Kabupaten/Kota Kab.3.492 4.1.964.059 1.602 4.048 2. Teluk Wondama Kab.537 2006 3.964.470 2.689 1. Jumlah hujan yang jatuh di setiap tempat di Papua secara khusus dikendali oleh topografi.9 970 1.836 2.3 4. pantai Utara dan di sebelah Utara kordirela mendapatkan hujan terbanyak dari angin Barat Laut dalam bulan Oktober hingga Maret.1.306 LAPORAN AKHIR 1-7 .

351 181 2007 4.3 mm (Sorong Selatan). dan kelas V di Kabupaten Sorong. 288 hari hujan.d. dan Kota Sorong memiliki karakteristik jumlah hari hujan yang hampir serupa. dengan curah hujan sekitar 2000 s. Secara spasial keadaan iklim dan persebaran curah hujan di Provinsi papua barat ditunjukkan pada Gambar 1.4. 3000 mm/tahun. dan kabupaten Raja Ampat. Sorong Selatan 220 230 Kab.836 2. Teluk Wondama Kab. kelas III dengan curah hujan antara 2000 s. Dari data diatas terlihat bahwa di Kabupaten Sorong.3 Peta iklim LAPORAN AKHIR 1-8 . Sorong 185 220 230 Kab.047 211 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Berdasarkan jumlah curah hujannya wilayah Papua Barat memiliki tiga kelas curah hujan. 5000 mm/tahun.d.048 2.3 369 2008 4.d. Fakfak 210 210 232 Kab.3 dan Gambar 1. Hampir seluruh wilayah Papua Barat memiliki kelas curah hujan tipe III pola C. 4000 mm/tahun. Raja Ampat 185 220 230 Kota Sorong 185 218 230 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2006 228 177 254 150 230 156 156 156 2007 225 204 254 212 230 225 225 228 2008 176 215 223 225 286 286 288 Rata-rata jumlah hari hujan di Provinsi Papua Barat berkisar antara 150 s. Kabupaten Raja Ampat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2006 2. Kelas III di Kabupaten Fakfak. Rata-rata curah hujan selama tahun 2008 berkisar antara 358. Pada tahun 2009 curah hujan kelas I terdapat di Kota Sorong. Raja Ampat 2. dan kelas V dengan curah hujan antara 4000 s. Kabupaten Manokwari memiliki jumlah hari hujan yang paling sedikit dibandingkan Kabupaten/Kota lainnya yaitu denan rata-rata sebanyak 192 hari hujan.d. Gambar 1.2 Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab.d.964. yaitu kelas I dengan curah hujan antara 0 s.d.4 Banyaknya Hari Hujan di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2008 (hari) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab.537 Kota Sorong 2. kelas IV dengan curah hujan antara 3000 s.836 2. 1000 mm/tahun.d. kabupaten Sorong Selatan. 3000 mm/tahun.2 mm (Kota Sorong) sampai dengan 4. kelas II dengan curah hujan antara 1000 s.964. 2000 mm/tahun. Teluk Bintuni Kab. Tabel 1. Pada tahun 2009 ini tidak terdapat kabupaten yang memiliki curah hujan kelas IV.306 358. Manokwari 187 178 203 Kab. kelas II di kabupaten Kaimana dan Kabupaten manokwari. Kaimana 214 218 208 Kab.

4 Peta curah Hujan LAPORAN AKHIR 1-9 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

5-10 derajat lebih dingin.3. Di dataran rendah. sementara di daerah pegunungan pada 1500-2000 m dpl. Pada malam hari.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. suhu di sepanjang pantai 5-8 derajat lebih dingin daripada siang hari. suhu harian biasanya antara 29 oC – 32 oC.2 Suhu dan Kelembaban Suhu dan kelembaban merupakan komponen iklim paling konstan di Provinsi Papua Barat.1. sedangkan di daerah LAPORAN AKHIR 1-10 .

70 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2006 25.7 Kelembaban Udara Rata-rata di Papua Barat Tahun 2003-2008 (%) Kabupaten/Kota Kab.55 23.49 … … … 32.40 … … 2005 Max Min 29.10 23.00 25.40 Kab.22 27.48 Kab.60 33. Raja Ampat 30.10 23.30 84.28 27. Teluk Bintuni Kab.60 27.90 31.30 Kab.40 83.5 Suhu Udara Rata-rata Menurut Lokasi Stasiun di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2008 (°C) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab.6 Kab. Fakfak Kab.40 23. Karakteristik suhu di Provinsi Papua Barat tidak menunjukkan fluktuasi tahunan yang nyata.70 31.68-27.33 2005 85.47 27. Manokwari 27.7 … 23.38 Kab.30 24.6 27. Teluk Bintuni … … … … Kab.90 Kota Sorong 31.3 Rata-Rata 25.30 27. Raja Ampat 27.70 2007 Max Min 28.00 26.43 23.20 33.30 31.00°C juga berada di Kabupaten Fakfak (data hasil pencatatan suhu udara pada beberapa stasiun yang berada di Kabupaten/Kota se-Provinsi Papua Tahun 2008).70 29.48 27.32 Tabel 1.08 LAPORAN AKHIR 1-11 .78 81. Kaimana Kab. Fakfak 28.60 27.30 83. Fakfak Kab.60 2007 25.70 26.43 23.30 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Dari Tabel 1.70 Kota Sorong 27.20 25. Teluk Bintuni Kab.80 27.60 26. Manokwari 27.40 22.8 Kab.60 24.33 26.30 2008 Max Min 30.20 29.56 29.05°C terjadi di wilayah Kabupaten Fakfak. sedangkan suhu terendah juga terjadi pad atahun 2008 yaitu sebesar 21.73 21.2 27.6 27.0 83.00 22.90 31.50 23.30 24.15 26.05 23.40 25.70 28.40 … … 2006 Max Min 22.83 2008 84.60 27.6.63 … … … 27.80 24.46 27.90 21.50 84.50 24.48 23.10 29.40 25.30 24.80 26.56°C di Kabupaten Fakfak. dan suhu minimal sebesar 23.00 31.00 22.50 2004 85.59 24.70 25.55 30.6 Suhu Udara Maksimum dan Minimum di Provinsi Papua Barat Tahun 20032008 (°C) Kabupaten/Kota 2004 Max Min 28.47 27.60 27.68 27. Sorong 31.80 26. Tabel 1. Kaimana 27. Tabel 1.30 27.60 Kab.03 25.5 terlihat bahwa suhu udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar 25.00 … 26.13 30.63 27.6 27.92 83. Sorong Selatan 27.9 85.90 21. Sorong Selatan … … 31.46 °C dengan suhu maksimal sebesar 28. suhu udara tertinggi dalam kurun waktu 2004-2008 terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 32.80 30. Dari Tabel 1.08 27. Teluk Wondama Kab.30 82.60 27. Manokwari 2003 84.13°C di Kabupaten Manokwari.40 30.20 31. Kaimana Kab.50 82.67 23.67 2006 85.70 Kab.60 27.49 … … … 32.80 31.10 23.80 31.70 30.40 83.17 2007 86.46 27.26 27. Teluk Wondama Kab. Teluk Wondama Kab.50 … 23. Sorong 27.60 32.20 25.10 2008 26.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 pegunungan kisarannya lebih lebar.70 27.80 26.26 26.30 27.70 Kab.30 26.80 30.08 83.

00 84.17 43.00 65.00 83.00 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Kelembaban nisbi tinggi dan dan konstan.00 59.52 50.40 58.83 46.00 87. penyinaran matahari terendah terdapat di Kabupaten Manokwari sedangkan lama penyinaran tertinggi terdapat di Kabupaten Fakfak. Manokwari 63. terutama di daerah pegunungan di mana awan cumulus hampir selalu meningkat ke tengah hari.00 83.00 Kab. Sorong Selatan 65.08 53.00 84.80 60. 87.00 87.00 62.4% s.00 Kab.08 59.40 46. Kaimana 45.00 83.00 62. Keadaan ini merupakan gangguan utama bagi transportasi udara dengan pesawat kecil.21 54. 128.30 59. Raja Ampat 84.80 46.58 Kab.8 Rata-Rata Penyinaran Matahari Menurut Lokasi Stasiun di Kabupaten/Kota Tahun 2003-2008 (%) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 2006 Kab.00 54.64 51. penyinaran matahari yang hampir terus menerus sepanjang tahun.9 115.d.40 49.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 84.83 58. Teluk Wondama Kab.80 54.00 86.00 84. dan curah hujan yang cukup tinggi menjadi potensi besar bagi pengembangan budidaya tanaman pertanian dan perkebunan terutama untuk LAPORAN AKHIR 1-12 .00 68. di mana daerah dataran rendah cenderung lebih lembab. kelembaban udara yang relatif konstan.00 84.36% s.70 49.00 2008 107.90 58.81%.00 86. waktu siang hari (sekitar 12 jam) adalah konstan dengan variasi tahunan sekitar 30 menit antara hari terpanjang dan terpendek.00 Kab.00 83. Fakfak 126.d.92 Kab.00 Kota Sorong 83. kelembaban udara terendah terdapat di Kabupaten Kaimana sedangkan kelembaban tertinggi terdapat di Kota Sorong dan Kabupaten Raja Ampat.90 59.05 147.00 Kab. berkisar dari 75-80%. Sorong 83. Raja Ampat 61.10 Kota Sorong 61.80 Kab. Berdasarkan uraian karakteristik iklm tersebut. Sorong 61. Tabel 1.80 65. Papua merupakan tempat yang kemungkinan salah satu tempat paling berawan di dunia.00 84.40 49.00 86. Karena berada di katulistiwa.00 Penyinaran matahari rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar antara 52.00 68.00 86.37 125.75 Kab.40 49.00 83. Kelembaban udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar antara 81.0%.00 59. Dengan kondisi seperti ini di wilayah Papua Barat memiliki potensi bagi pengembangan komoditi-komoditi pertanian apabila terutama dikaitkan dengan persentase lama penyinaran. Sorong Selatan 84.00 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2007 37. Teluk Bintuni Kab.25 87. Provinsi Papua Barat yang memiliki keragaman suhu udara.

terutama transportasi darat.400 2.1 Ketinggian Kondisi topografi Provinsi Papua Barat sangat bervariasi membentang mulai dari dataran rendah.366 1.015.600 344.9 Luas Wilayah menurut Ketinggian dari Permukaan Laut dan Kabupaten/Kota (Ha) Wilayah Pengembangan 0-100m Kelas ketinggian >100-500m >500-1000 377.49 Kab Manokwari 1. 1. dan wilayah dengan ketinggian >1000 meter dpl. rawa sampai dataran tinggi. Teluk Bintuni.050 284.868.200 1. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.058 3.847 288. 1.301 Jumlah >1000m 741.196 518. dengan tipe tutupan lahan berupa hutan hujan tropis.4. Ketinggian wilayah di Provinsi Papua Barat bervariasi dari 0 s.4.1.109 Kota Sorong 162. padang rumput dan padang alang-alang.192. (3) wilayah dengan ketinggian >500-1000 meter dpl. (2) wilayah dengan ketinggian >100-500 meter dpl. Kondisi tersebut menjadi kendala utama bagi pemanfaatan lahan baik untuk pengembangan sarana dan prasarana fisik.132 328. Tabel 1.257.054. 1. Sehingga.2 Kelerengan Tinjauan atas morfologi wilayah didasarkan pada kondisi kelerengan atau kemiringan. Sebagian besar wilayah Provinsi Papua Barat memiliki kelas lereng > 40% dengan bentuk wilayah berupa perbukitan.4 Morfologi Kondisi Morfologi memaparkan mengenai informasi fisik wilayah yang meliputi ketinggian wilayah dan kelerengan.9. sebagai berikut.250 Kab Fakfak 1.01 182. serta dasar bagi kebijakan pemanfaatan lahan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 wilayah Kabupaten Manokwari.48 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Berdasarkan tabel di atas. Kota Sorong.1. Pembagian wilayah Provinsi Papua Barat berdasarkan ketinggian wilayah dari permukaan laut dapat digolongkan kedalam empat kelompok yaitu: (1) wilayah dengan ketinggian 0-100 meter dpl. dan Kabupaten Sorong Selatan mendapatkan potensi tersebut.900 250. LAPORAN AKHIR 1-13 . diketahui bahwa kondisi topografi antar wilayah di Provinsi Papua Barat cukup bervariasi.790 100 3.1.413.d > 1000 m. sistem transportasi darat maupun bagi pengembangan budidaya pertanian terutama untuk tanaman pangan.046.691 Kab Sorong 2. Kondisi ini merupakan salah satu elemen yang menjadi barrier transportasi antar wilayah. dominasi pemanfaatan lahan diarahkan pada hutan konservasi disamping untuk mencegah terjadinya bahaya erosi dan longsor.

310 158. Tabel 1.200 313.108 Kota Sorong 257.582 49.54 8.49 LAPORAN AKHIR 1-14 .10 Luas Wilayah menurut Kelas Lereng/Kemiringan dan Wilayah Pengembangan Kelas lereng 0-15% >15-40% >40% Kab Manokwari 1.000 344.100 1. Untuk jelasnya mengenai luas masing-masing kelas lereng lihat Tabel 1.502 Kab Fakfak 105.297 964 Kab Sorong 984.434. maka secara garis besar Tanah Papua dapat diklasifikasikan kedalam tiga kelompok kelas lereng yaitu kelompok wilayah dengan kelas lereng datar sampai landai (kemiringan 0-15 %).06 78.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dipandang dari sisi lereng.636 57.790.10.89 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Wilayah Pengembangan Jumlah 3.500 2.700 448.998 19.453. dan kelas lereng curam sampai sangat curam (>40 %). kelas lereng landai sampai curam (kemiringan >15– 40%).

5 Peta kenampakan elevasi/ketinggian Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-15 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.6 Peta kemiringan lereng Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-16 .

7 Peta kenampakan topografi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-17 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

5 Kondisi Geologi Kondisi geologi Tanah Papua pada dasarnya memiliki kesamaan dengan kondisi geologi umum yang dijumpai di Indonesia bagian timur. (Hamilton. Selandia Baru dan Kaledonia Baru. dimana lempeng Pasifik mengalami subduksi atau tertindih di bawah lempeng Australia. bahwa kerak bumi terbagi dalam tujuh lempeng sangat besar dan sejumlah lempeng lithosfer kecil lainnya.5. Gondwanaland. India. yang juga termasuk di dalamnya adalah Antartika. Pada saat dimulainya gerakan ke Utara dan rotasi dari benua super ini. seluruh Papua dan Australia bagian Utara berada di bawah permukaan laut. Daerah ini merupakan daerah interaksi antara dua lempeng besar yaitu Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Amerika Selatan. secara umum diasumsikan sebagai lokasi tipe dari busur kepulauan oseanik aktif–tumbukan kontinen (Dewey dan Bird. hal ini dapat dilihat pada Gambar 1. Konsep lempeng tektonik yang telah diterima umum mengganggap. 1970). yang diendapkan pada tepian kontinen aktif Australia. Proses ini berlanjut selama masa Pleistosen hingga pulau Papua terbentuk seperti di saat ini. lebar 150 km dengan topografi yang kasar dan sejumlah puncak setinggi lebih dari 3000 meter. pulau Papua mulai muncul di permukaan laut pada sekitar 350 Lintang Selatan. Australia. LAPORAN AKHIR 1-18 . Lempeng Benua India-Australia (atau biasa disebut lempeng Australia) bergerak ke arah Utara keluar dari posisi kutubnya dan bertubrukkan dengan Lempeng Samudra Pasifik yang bergerak ke arah Barat. yang kesemuanya bergerak relatif terhadap sesamanya. Ketika lempeng India-Australia dan lempeng Pasifik bertemu di sekitar 40 juta tahun lalu.8 tentang Tatanan tektonik di Tanah Papua Evolusi tektonik yang terjadi selama Kenozoikum dihasilkan oleh tumbukan secara oblique antara kedua lempeng tersebut. Pulau Papua merupakan produk pertumbuhan benua yang dihasilkan dari tubrukan kedua lempeng tersebut.1 Evolusi Tektonik Pulau Papua Pembentukan pulau Papua atau pulau New Guinea telah didiskusikan oleh berbagai ahli dan diringkas oleh Petocz (1984). Sebagian besar daerah ini adalah lapisan batuan berumur Kenozoikum dan Mesozoikum yang tersesarkan dan terlipat.1. Bagian daratan paling Utara pada Lempeng India-Australia antara 90-100 juta tahun lalu berada pada 480 Lintang Selatan yang merupakan titik pertemuan Lempeng India-Australia dan Pasifik.1. Setiap lempeng terdiri atas bagian kerak benua (kontinental) dan kerak samudera (oseanik). 1979) Daratan Papua New Guinea dan Pegunungan Central Range.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. 1. Awal terpisahkan benua ini dari posisi Selatannya terjadi pada masa Kretasius Tengah (kurang lebih 100 juta tahun lalu). Pegunungan Central Range merupakan sabuk yang memanjang sampai 1300 km. Bagian Selatan pulau Papua merupakan tepi Utara dari benua super kuno.

dan periode tektonik intens dari zona deformasi di sisi lainnya (New Guinea Mobile Belt). Triasik. Sesar Ransiki (RFZ). (island-arc volcanics complex) sebagai bagian dari lempeng Pasifik. Hanya sebagian kecil yang dipengaruhi oleh proses tektonik dari zaman Paleozoik Awal hingga Tersier Akhir. bahwa geologi Papua sangat kompleks karena melibatkan interaksi antara dua lempeng tektonik. lempeng Pasifik ini terdiri atas volkanik busur-kepulauan dan sub-ordinat kerak samudera berumur Palaeogen. ini disebut Melanesian Orogeny (Dow and Sukamto. yaitu lempeng Australia dan Lempeng Pasifik. Akan tetapi. magmatik dan tektonik. Terlepas dari batuan mantel sesar naik yang kemungkinan berumur Mesozoik dan beberapa kerak samudera Jurasik. Oseanik. bahwa pada tahun 2004 telah terjadi beberapa kali gempa. ciri dominan dari perkembangan geologi Papua merupakan dikhotomi antara sejarah tektonik dari batuan mantap kraton Australia dan lempeng Pasifik di satu sisi. dan Transisi. terdapat bukti bahwa batuannya berasal dari tektonik utama pada episode Paleozoik Pertengahan dan Oligosen maupun episode beku dalam Paleozoik Pertengahan. Kenyataan menunjukkan pula. Sesar Lungguru (LFZ) dan Sesar Tarera-Aiduna (TAFZ). Walaupun pencatatannya terpisah-pisah. Zone deformasi yang berada di sebelah Timur adalah bagian dari New Guinea Mobile Belt (Sabuk Mobil New Guinea) dan merupakan campuran dari batuan kraton Australia dan lempeng Pasifik. serta pencatatan lengkap sejarah geologi hingga saat ini menunjukkan. seperti Sesar Sorong (SFZ). LAPORAN AKHIR 1-19 Provinsi Oseanik terdiri atas batuan Ofiolit (ophiolite rock) dan kompleks volkanik busur-kepulauan Provinsi Transisi adalah suatu zone yang terdiri atas deformasi tinggi dan batuan metamorfik regional . Dari paparan di sepanjang tepi Utara dan dari eksplorasi permukaan bawah (sub-surface) di sebelah Selatan. Provinsi Kontinental terdiri atas sedimen yang terpisah dari kraton Australia. Terdapat sejumlah lipatan dan sesar naik sebagai akibat dari interaksi (tubrukan) antara kedua lempeng tektonik.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dari evolusi tektonik menunjukkan. yaitu provinsi Kontinental. 1984) Wilayah Papua Barat sangat berpotensi terhadap gempa tektonik dan kemungkinan diikuti oleh tsunami. Kretasius. pada umumnya geologi Papua dapat dibagi ke dalam tiga provinsi geologi besar. Batuan lempeng Pasifik yang terpaparkan di Papua berumur lebih muda. Menurut Dow et al. Batuan lempeng Pasifik pada umumnya letak-datar terpatah hanya oleh beberapa patahan. sebagai produk dari interaksi antara kedua lempeng. dan Miosen Pertengahan. sebaran paling luas dari aktivitas tektonik dan volkanik dimulai pada Miosen Akhir dan berlanjut hingga sekarang. bahwa batuan dari kraton Australia pada sebagian besar wilayah ini dicirikan oleh sedimentasi palung (shelf sedimentation). Setiap provinsi geologi memiliki karakteristiknya sendiri dalam sejarah stratigrafik. Menurut Sapiie (2000). (2005).

RFZ = Ransiki Fault Zone. (3). Stratigrafi Zone Transisi. LAPORAN AKHIR 1-20 .8 Setting Tektonik Papua Keterangan: MTFB = Mamberamo Thrust & Fold Belt. LFB = Lengguru Fault Belt. Paleozoic Basement. TAFZ = Tarera-Aiduna Fault Zone. WT = Waipona Trough. (4). menunjukkan bahwa stratigrafi wilayah Papua Barat terdiri atas: (1). Tanda panah menunjukkan gerakan relatif antara lempeng Pasifik dan Australia 1. MO = Misool-Onin High.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. YFZ = Yapen Fault Zone. Sedimentasi Mesozoik hingga Senosoik. dan (5). SFZ = Sorong Fault Zone. (2). Sedimentasi Senosoil Akhir. Stratigrafi Lempeng Pasifik. WO = Weyland Overthrust.2 Stratigrafi Dari berbagai publikasi yang dikompilasi Sapiie (2000).1.5.

Formasi ini diketahui berada di tepi Utara Papua Barat dan terdiri atas tiga formasi. mulai dari Papua Barat hingga dekat perbatasan di sebelah Timur. Filitik (Phylliic) dan sedikit kuartzit (quartzite). 2. Kelompok Kembelangan terdiri LAPORAN AKHIR 1-21 . Bagian atas dari kelompok ini disebut formasi Jass. Formasi ini dicirikan oleh batuan berwarna merah terang dengan sedikit bercak hijau muda. batuan sedimen paparan airKelompok Aifam digunakan untuk mendeskripsikan dangkal. Formasi ini tercampur oleh granit-biotit karboniferus (Melaiurna Granite).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. yaitu formasi Aimau. Sedimentasi Mesizoik hingga Senosoik Formasi Tipuma Formasi Tipuma tersebar luas di Papua. (slate). Di daerah Teluk Bintuni. Di daerah Papua Barat. a. Paleozoic Basement Blok terluas dari strata Paleozoik berada di Timur Laut Papua Barat yang dikenal dengan Kemum High atau formasi Kemoem yang terdiri atas sabak. b. 2000) 1. kelompok ini tidak mengalami metamofosa. Formasi Kemoem ditutupi oleh kelompok Aifam. namun di Leher Burung terjadi deformasi kuat dan termetamorfosa. Formasi Kelompok Kembelangan Kelompok ini diketahui terbentang mulai dari Papua Barat hingga Arafura Platform.9 Stratigrafi Pulau Papua (Sapiie. batulumpur Aifat dan formasi Ainim. formasi Tipuma ditutupi oleh kelompok Aifam.

(3). volkanis pulau-arc (island-arc volcanis) dan sedimen laut-dangkal. (3) Formasi Sirga Eosin Awal. Kelompok ini berhubungan dengan formasi Waripi dari kelompok Batuan Gamping New Guinea atau New Guinea Limestone Group (NGLG). Wilayah Papua secara umum terdiri dari dua dataran “Dataran Grime” dan “Dataran Sekoli”. Utara Pegunungan Gauttier dan sepanjang zone sesar Sorong dan Yapen pada umumnya terbentuk oleh batuan ultramafik. Di Papua. dua di antaranya dijumpai di Papua Barat. Pulau New Guinea dicirikan oleh pengendapan (deposisi) karbonat yang dikenal sebagai Kelompok Batu Gamping New Guinea (NGLG). Formasi Klasaman dan Steenkool berturut-turut dijumpai di cekungan Salawati dan Bintuni. Kelompok ini berada di atas Kelompok Kembelangan dan terdiri atas empat formasi. c. pulau Yapen dan pegunungan Cycloop. Kelompok batuan ini diklasifikasikan sebagai zone transisi atau peralihan. (2). Sedimentasi Senosoik Akhir Sedimentasi Senosoik Akhir dalam basement kontinental Australia dicirikan oleh sekuensi silisiklastik yang tebalnya berkilometer. Kedua dataran ini menyatu sebagai suatu dataran luas yang membujur ke arah Barat daya Danau Sentani.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 atas antarlapis batudebu dan batulumpur karboniferus pada lapisan bawah batupasir kuarsa glaukonitik butiran-halus serta sedikit shale pada lapisan atas. batuan asal penutup banyak dijumpai luas sepanjang sabuk Ophiolite Papua. Formasi Imskin. Stratigrafi Zone Transisi Konvergensi antara lempeng Australia dan Pasifik menghasilkan batuan dalam zone deformasi. Satuan ini disebut Formasi Hollandia dan tersebar luas di Waigeo. dan (4). Formasi Kais Miosen Pertengahan hingga Oligosen. 5. plutonil basik. 3. Dataran ini memanjang dari Timur ke arah Barat dengan lebar LAPORAN AKHIR 1-22 . Biak. Sedimen dalam lempeng Pasifik dicirikan pula oleh karbonat laut-dangkal yang berasal dari pulau-arc. Pegunungan Cycloop. Formasi Fumai Eosen. kurang lebih pada batas Cretaceous dan Cenozoik. berada di atas strata karbonat Miosen Pertengahan. yaitu formasi Klasaman dan Steenkool. yang terutama terdiri atas batuan metamorfik. Stratigrafi Lempeng Pasifik Pada umumnya batuan lempeng Pasifik terdiri atas Batuan asal penutup (mantle derived rock). dan mutu-tinggi metamorfik. 4. Di Papua dikenal 3 (tiga) formasi utama. Pulau Waigeo. yaitu (1). Formasi Batu Gamping New Guinea Selama masa Cenozoik. Umur kelompok ini berkisar dari Miosen Awal hingga Pliosen. Formasi Waripi Paleosen hingga Eosen. Batuan metamorfik ini membentuk sabuk kontinyu (>1000 km) dari Papua hingga Papua New Guinea.

Zwierzichi (1921) dalam Schroo (1963). Wentholt (1939). Teras-teras ini berumur tua dan berada lebih tinggi serta tampak datar. seluruh lahan yang berada di sebelah Barat Yanim Besar (Braso) dibentuk oleh Sungai Grime dan cabang-cabang sungainya. kedua teras ini melandai ke arah Utara hingga ke arah Barat laut. Menurut Schroo (1963). kecuali daerah yang paling Barat oleh Sungai Sarmoai. LAPORAN AKHIR 1-23 . dan sedimen marin neogen. Hal ini dapat dipahami karena secara regional. di sebelah Timur sungai Grime terletak teras ke-5. membagi Dataran Grime ke dalam 6 teras utama. batuan sedimen lepas (kerikil. Sumbangan cabang-cabang sungai yang berasal dari pinggiran pegunungan Utara relatif kecil. Teras ke-5 ini mencakup dari arah Timur hingga arah garis Utara-Selatan melandai ke aras Utara. Juga di sini bentang lahannya tampak seluruhnya datar. dan batuan sedimen padu (tak terbedakan). Teras ke-6. Di batas Utara dari teras ke-5. Teras pertama dimulai dari dataran terendah dan termuda. Lahan yang berada di sebelah Timur Yanim Besar seluruhnya terbentuk dari material yang berasal dari pinggiran Utara daerah pegunungan Selatan. Berdasarkan stratigrafi ini dapat disimpulkan bahwa wilayah Papua Barat terdiri dari empat ragam formasi batuan utama yaitu Batu gamping atau dolomit. Wentholt (1939). Selama periode ini dataran banjir terbentuk pada berbagai tingkat. dan bergelombang lemah.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bentangan yang hampir sama. Teras ke-3 dan ke-4 menempati sisa dataran di sebelah Barat kampung Janim Besar. namun tidak jelas perkembangannya. namun setempat-setempat saja. Di Dataran Sekori ini juga terbentuk teras. batuan beku atau malihan. Kedua sungai tersebut membawa bahan-bahan yang sama. Di ujung sebelah Barat. dataran ini membentuk daerah rawa hingga ke arah pantai. menyatakan bahwa adanya ketinggian (elevasi) yang berselang-seling di seluruh daerah tersebut menyebabkan sungai-sungai memotong sedimen ini. Menurut Wentholt (1939). di mana sisa-sisa daripadanya masih ditemukan sekarang dalam bentuk teras-teras yang luas. Di sebelah tenggara teras terendah ini berakhir dan berlanjut dengan teras ke-2 yang berada kurang lebih 10 m lebih tinggi. terumbu koral terangkat pleistosin. pasir lanau). wilayah Papua Barat terdiri dari dua lempeng. menunjukkan bahwa tanah di Dataran Grime dan Dataran Sekori berasal dari hancuran batuan fluviatil sedimen kwarterner. menyatakan bahwa dataran ini terbentuk pada zaman kwarter. berbatasan dengan teras ke-4. Daerah teras ini melandai ke arah Barat laut dan kemudian ke arah Utara. merupakan daerah tertinggi dan tertua yang mengakhiri teras ke-4 dan ke-5 di sebelah Selatan. Dataran Grime dan Dataran Sekori merupakan lembah sedimentasi peninggalan zaman tersier yang terisi atas sedimen laut (marin) dan kemudian oleh bahan fluviatil. terdapat Dataran Sekori yang besar. Lebih lanjut Schroo (1961).

. Pengaruh secara simultan dari kelima faktor pembentukan tanah tersebut menghasilkan jenis-jenis tanah dan penyebarannya. sedangkan di Pegunungan Tengah terdiri dari beberapa batuan. yang disebut sebagai Orogenesa Tasman. Batugamping yang berumur eosin-Miosen Tengah.1984). seperti terlihat pada Peta 2. bahan induk. Kadar liat yang tinggi dapat menyebabkan akar tanaman sulit berkembang. Lempeng Benua Australia tersusun oleh batuan sedimen klastik. Tektonik Papua Barat diawali pada Permo-Trias. dan 2) di bagian Utara terdiri dari Batuan Malihan Darewo yang berumur Oligosen (Dow.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 yaitu Lempeng Benua Australia di bagian Selatan dan Lempeng Samudera Pasifik di bagian Utara. yaitu berkisar dari lempung liat berdebu hingga liat berdebu. Lempeng Samudera Pasifik terdiri dari batuan batuan ultramafik dan batuan busur gunung api Paleogen. 1984) Terdapat tujuh Satuan Peta Tanah (SPT) yang dimodifikasikan Petocz (1984) dari Brookfield dan Hart (1971). Pada saat itu Papua-Papua New Guinea mulai melepasakan diri dari Benua Australia.1 Jenis Tanah Pada umumnya terdapat lima faktor yang mempengaruhi pembentuan tanah. Hal ini sudah barang tentu akan mengganggu pertumbuhan tanaman.6. yang disebut sebagai Kelompok Batu Gamping New Guinea. yang berumur Mesozoikum (Dow drr. 1977).3 (Petocz. 1977). 1. dan waktu. Sedangkan diantara kedua lempeng adalah Lajur Sesar Anjak dan Lipatan Pegunungan Tengah atau “New Guinea Mobile Belt” (Dow.6 Karakteristik Tanah Pada umumnya. Batuan ultrabasa disebut sebagai ofiolit. relief atau topografi. Selain itu. tanah bertekstur berat. berdampak pula terhadap rendahnya kapasitas infiltrasi (perembesan) tanah sehingga menyebabkan penggenangan air di permukaan tanah terutama di musim penghujan. sedangkan pada Plistosin terjadi pensesaran anjak miring ke Selatan di bagian Utara. dan Batuan Sedimen Klastik Plioplistosen.1. organisme atau vegetasi. bergerak ke arah Utara. Gambar 1. yaitu faktor Iklim.1. 1. kemudian berbenturan dengan Lempeng Samudera Pasifik pada Orogenesa Melanisia yang mengakibatkan sesar anjak miring ke Utara dan terbentuknya Pegunungan Tengah. yang berumur Mesozoikum yang disebut sebagai Kelompok Kembelangan. yaitu : 1) di bagian Selatan terdiri dari batuan sedimen yang berumur Mesozoikum sampai tersier yang tersesarkan dan terlipatkan.10 Peta Geologi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-24 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Litosol dan Regosol (Entisol) LAPORAN AKHIR 1-25 .

Profil tanah pada umumnya dangkal karena ketidakstabilan lereng. Tanah Regosol biasanya mengandung liat dan fragmen batuan lapuk.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Asosiasi jenis tanah ini dijumpai di daerah pegunungan tinggi yang kasar topografinya (2000-4500 m dpl) pada kordirela Tengah (pegunungan tengah) dan Kepala Burung hingga Leher Burung sebelah Utara. Berdasarkan klasifikasi USDA Soil Taxonomy (19975/1998). terutama pada lereng tidak stabil. Menurut klasifikasi PPT (1978/1982) dan Inceptisol. Litosol dan LAPORAN AKHIR 1-26 . sedangkan menurut sistem klasifikasi USDA Soil Taxonomy (1975/1998). Pada altitut tinggi di mana curah hujannya tinggi. Menurut klasifikasi PPT (1978/1982) Podzolik sepadan dengan Podsolik atau Kambisol (Podsolik Coklat). FAO/UNESCO (1974). Jenis tanah ini dijumpai di jazirah Bomberai. tanah ini menjadi meningkat kemasamannya. sedangkan tanah Litosol berada pada lereng-lereng batuan terjal. sedangkan menurut FAO/UNESCO (1974). Tanah ini dijumpai sedikit di wilayah pegunungan Kepala Burung dan terutama di Selatan Kordirela (pegunungan tengah). sedangkan menurut Soil Taxonomy (19975/1998). walaupun dijumpai pula tanah-tanah bersolum dalam yang relatif stabil dan berdrainase baik pada puncak-puncak bukit dan lereng bagian atas. 1984) berpasir. sepadan dengan Litosol. tanah Brown Forest sama dengan Kambisol. sama dengan Podsolik. 2. Tanah Podzolik (Ultisol) Jenis tanah ini berkembang dari bahan induk masam di lereng pegunungan pada elevasi tinggi. Di Papua Barat. sedangkan horison penimbunan kaya akan besi dan humus yang disebut horison spodik. Tanah ini biasanya berasosiasi dengan tanah Podzol (Spodosol) yang dicirikan oleh horison spodik. Arfak dan Tamrau. Tanah Brown Forest (Inceptisol) Tanah ini berada pada perbukitan dan lereng pegunungan rendah pada sabuk Utara Papua dari bahan induk basik dan batuan kalkareus (kapur) dengan curah hujan sedang. Sering pula dijumpai berasosiasi dengan Regosol. tanah Podzolik sepadan dengan Ultisol. tanah ini dijumpai di pegunungan Wondiwoi. Berdasarkan klasifikasi tanah dari Pusat Penelitian Tanah Bogor (PPT)(1978/1982) dan FAO/UNESCO (1974). pada umumnya adalah hidro-podzolik yang berkembang pada kondisi drainase buruk pada dataran dan kipas aluvial Pleistosen. Horison permukaan mengalami pelindian hebat yang menghasilkan horison pencucian yang miskin hara dan (Petocz. 3. kedua tanah ini diklasifikasikan sebagai Regosol sepadan dengan Entisol (Lithic Subgroup). Selatan Kepala Burung dan di Utara depresi Meer Vlakte (Lakes-Plain). Sedangkan jenis tanah Podzolik Podzolik dataran rendah.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

4. Latosol (ultisol) dan Lateritik (oksisol)
Latosol adalah tanah yang mengalami pelapukan sangat tinggi, terutama di daerah dengan ketinggian rendah di mana dijumpai pula berasosiasi kelompok Lateritik. Lateritik berkembang pada kondisi yang sama dengan Latosol, namun dengan pengaruh hidromorfik karena berasosiasi dengan fluktuasi permukaan air tanah. Selain dijumpai luas di daerah Selatan Papua, Latosol juga dijumpai tersebar di Selatan Kepala Burung hingga ke Leher Burung sebelah Utara dan Selatan serta di kepulauan Raja Ampat. Latosol sepadan dengan Kambisol, Latosol, Lateritik (PPT, 1978/1982), Cambisol, Nitosol, Ferrasol (UNESCO, 1974) dan Iceptisol, Ultisol, oxisol (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998).

5. Rendzina (Molisol)
Pembentukan tanah ini dikendalikan kuat oleh bahan induk. Rendzina berbatu dangkal terdapat pada perbukitan batu gamping dan di sepanjang daerah pantai pada platform koral terangkat yang umumnya bercirikan karst. Tanah ini berkembang baik pada perbukitan antara Teluk Etna dan Arguni, pegunungan Kumawa dan Arfak dan di Barat daya pegunungan Tamrau. Rendzina dijumpai pula pada terumbu koral terangkat barusan muda. Rendzina dicirikan oleh horison permukaan lembab coklat tua, berada di atas bahan berpasir coklat kelabu tua yang berangsur ke dalam bahan koral. Rendzina sepadan dengan Rendzina (PPT, 1978/1982), Rendzina (UNESCO, 1974) dan Rendoll (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998).

6. Aluvial dan Gambut
Pada umumnya jenis tanah ini dijumpai pada semua ketinggian, baik di daerah kering maupun basah. Di daerah kering, dengan tekstur tanahnya kasar dan berdrainase baik dijumpai di dataran landai, dataran banjir mapan, dan kipas aluvial, sedangkan, di daerah basah dengan drainase jelek dijumpai di dataran banjir atau rawa dari aluvium atau gambut. Tanah dengan tekstur halus dan gleisasi kuat akibat drainase jelek selama musim hujan cenderung bereaksi sangat alkalin, berada di dekat pantai dan sungai yang dipengaruhi pasang surut, namun semakin ke menjauhi pantai semakin meningkat kemasaman tanahnya. Tanah gambut dataran rendah dijumpai luas di Utara dan Selatan teluk Bintuni, serta gambut pegunungan dalam luasan yang kecil berada di sekitar danau Anggi Gita dan Anggi Giji. Tanah Aluvial sepadan dengan tanah Aluvial (PPT, 1978/1982), Fluvisol (UNESCO,1974) dan Entisol, Inseptisol (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998). Tanah gambut menurut USDA Soil Taxonomy (1975/1998), sepadan dengan Histosol.

LAPORAN AKHIR 1-27

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

7. Tanah Salin
Tanah salin atau tanah garaman (salty soils) biasanya bertekstur halus, berdraenase jelek karena dipengaruhi pasang surutnya air laut, serta bahan liat marin termasuk di dalamnya. Vegetasi khas dari tanah ini adalah mangrove dan nipah. Tanah Salin berkembang baik di sepanjang pantai Selatan mulai dari pulau Kimaam hingga teluk Etna dan di Selatan Kepala Burung dan Teluk Bintuni. Tanah ini menunjang pertumbuhan habitat mangrove terluas di Indonesia. Tanah Saline menurut USDA Soil Taxonomy (1975/1998), sepadan dengan Entisol (Sulfaquent) dan Inseptisol (sulfaquept). Persebaran jenis-jenis tanah di Propinsi Papua Barat dapat dilihat pada Gambar 1.11: Tekstur Tanah Pada umumnya, tanah bertekstur berat, yaitu berkisar dari lempung liat berdebu hingga liat berdebu. Kadar liat yang tinggi dapat menyebabkan akar tanaman sulit berkembang. Selain itu, berdampak pula terhadap rendahnya kapasitas infiltrasi (perembesan) tanah sehingga menyebabkan penggenangan air di permukaan tanah terutama di musim penghujanan. Hal ini sudah barang tentu akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Untuk tujuan penanaman kakao, maka drainase permukaan maupun drainase internal sangat perlu diperhatikan, jika ingin memperoleh pertumbuhan dan produksi kakao yang baik. Untuk menanggulangi drainase yang jelek, maka perlu dibuatkan selokan-selokan drainase berukuran kecil hingga sedang serta cukup dalam agar kelebihan air dapat dikeluarkan, sehingga tanahnya selalu dalam keadaan kering (lembab) dan tidak jenuh air. Selain itu, agar pertumbuhan akar tanaman kakao tidak terhalang oleh lapisan liat yang kompak, maka perlu digali lubang tanaman yang cukup besar dan dalam. 1.1.6.2 Reaksi Tanah Pada umumnya, tanah bereaksi alkali hingga sangat alkali dengan kisaran pH rata-rata 7,0 – 7,8. Semakin dalam tanahnya semakin tinggi reaksi tanah, bahkan tidak jarang mencapai pH=8,0 atau lebih. Tingginya pH tanah ini disebabkan karena tingginya kadar kalsium tanah (kapur) yang terbawa bersama bahan endapan sungai yang berasal dari pegunungan dan perbukitan kapur di sekitarnya. Reaksi Tanah demikian menyebabkan sebagian besar unsur-unsur hara makro (N, P, K) dan mikro (Fe, Zn, Mn, B, Cu) berada dalam keadaan tidak tersedia bagi tanaman. Apabila reaksi tanah mencapai pH=8,0 atau lebih akan menyebabkan tanaman sulit menyerap fosfat dan unsur-unsur mikro.

LAPORAN AKHIR 1-28

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Pada saat penelitian dijumpai pertanaman kacang tanah milik masyarakat di Kampung Pobaim yang menunjukkan gejala kekuningan pada daun-daun muda. Gejala kekuningan ini diduga kuat karena kahat akan beberapa unsur mikro. Gejala klorosis ini diistilahkan sebagai “Klorosis Terimbaskan Kapur” (Lime Induced-Chlorosis), suatu gejala kekahatan hara yang biasanya muncul di tanah-tanah berkapur. Kation-Kation Tersedia Kation tersedia yang diukur adalah Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Kalium (K). Kadar Ca dan Mg tersedia pada umumnya sedang hingga sangat tinggi. Hal ini mengisyaratkan bahwa kebutuhan tanaman akan Ca dan Mg cukup memadai sehingga tidak perlu diberi pupuk dengan kedua unsur tersebut. Pada kadar Ca yang sangat tinggi seperti dijumpai di beberapa tempat justru mengganggu pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, K tersedia tergolong rendah hingga sangat rendah sehingga pemupukan K sangat diperlukan agar mendapatkan produksi tanaman yang baik. Dalam hal tanaman tahunan seperti kakao, maka pemupukan kalium setidaknya dilakukan setiap tahun. Hasil analisis mineral tanah juga mencerminkan rendahnya kadar K tanah. Mineral tanah penyumbang kalium dari jenis kalium-veldspat yang telah hancur menunjukkan status kalium tanah yang jelek. Fosfor Tanah Kadar fosfat tersedia tergolong agak tinggi hingga sangat tinggi. Hampir semua contoh tanah menunjukkan adanya mineral primer apatit penyumbang fosfat yang tergolong sporadis (<1%) hingga beberapa persen saja. Dari pengalaman membuktikan bahwa walaupun jumlahnya sangat sedikit atau sporadis (<1%), nilai fosfat tersedia biasanya tinggi. Dengan demikian unsur hara fosfor dianggap cukup bagi kebutuhan tanaman, sehingga pemupukan P tidak diperlukan selama beberapa waktu tanam. Fosfat dan Kalium Total Kadar fosfat dan kalium total mencerminkan cadangan hara tersebut dalam tanah. Pada umumnya, kadar fosfat total berkisar dari Sedang hingga Tinggi sehingga tidak mengkhawatirkan. Tampaknya kandungan fosfat total dan fosfat tersedia berkorelasi positif sehingga memperkuat dugaan bahwa kadar fosfat cukup bagi kebutuhan tanaman. Kadar kalium total berkisar dari agak rendah hingga sedang. Ini berarti bahwa cadangan kalium tanah tidak memadai bagi suatu usaha pertanian, sehingga diperlukan pemupukan untuk mempertahankan kadar kalium tanah. Bahan Organik Tanah Kadar karbon (C) organik tanah mencerminkan kadar bahan organik tanah. Bahan organik sangat penting karena berpengaruh terhadap perbaikan sifat fisika dan kimia tanah. Bahan organik membantu granulasi dan penstabilan agregat tanah sehingga memperbaiki retensi LAPORAN AKHIR 1-29

meningkatkan laju infiltrasi dan kapasitas memegang air. Struktur mempengaruhi drainase tanah karena struktur tanah menentukan proporsi ukuran pori tanah. Drainse tanah merupakan cerminan terhadap kondisi tata air baik di dalam tanah maupun di permukaan tanah. Adapun kondisi kedalaman tanah di Tanah Papua dapat dilihat pada Gambar 1. Untuk menanggulangi kekurangan bahan organik dapat dilakukan dengan pemberian pupuk kandang. dimana drainase jelek atau terhambat biasanya terdapat pada tanah yang relatif datar atau daerah LAPORAN AKHIR 1-30 .3 Kedalaman Tanah Di samping jenis tanah. Drainase tanah penting diperhatikan sebab drainase tanah mempengaruhi lingkungan perakaran tanaman yaitu keadaan air dan udara tanah. namun demikian ada juga tanaman yang toleran terhadap drainase tanah yang jelek. Tanaman pada umumnya tumbuh dan berkembang dengan baik apabila drainase tanah baik.4 Kondisi Drainase Tanah Drainase tanah merupakan salah satu parameter penentu dalam penilaian kualitas/karakteristik lahan.12 Peta Kedalaman Tanah di Tanah Papua. Tanah dapat mempunyai drainase baik atau jelek tergantung pada kondisi internal dalam tanah seperti tekstur tanah. 1.1. kedalaman tanah merupakan faktor pembatas bagi penggunaan tanah untuk tanaman.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 air tanah. Kemiringan lereng mempengaruhi drainase. Hal ini mengisyaratkan bahwa peningkatan dan perlindungan bahan organik tanah sangat penting dilakukan. sedangkan perkolasi air dalam tanah ditentukan oleh ada atau tidaknya lapisan kedap. sebab tekstur tanah menentukan kemampuan tanah memegang air. 1. Tekstur tanah mempengaruhi drainase. yang berarti pula meningkatkan kemampuan menyerap kation unsur hara makro dan mikro sebagai sumber hara.6. dan menanam penutup tanah (seperti Pueraria javanica atau Calopogonium mucunoides) terutama pada pertanaman kakao. Tidak kalah pentingnnya adalah dengan adanya bahan organik akan sangat berdaya terhadap biologi tanah. kompos. bahan organik meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK). Hal tersebut berkaitan dengan volume tanah yang dapat dijelajahi oleh akar tanaman. semakin kecil tekstur tanah semakin kuat memegang air demikian pula sebaliknya.6.1. Selain itu. Pada umumnya kadar C organik tanah tergolong rendah. struktur tanah dan ada tidaknya lapisan kedap dalam tanah serta kemiringan lereng.

Gambar 1.13.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Untuk jelasnya mengenai kondisi cekungan bukan di daerah yang berlereng curam.11 Peta jenis tanah dan penyebarannya LAPORAN AKHIR 1-31 . drainase tanah di Tanah Papua dapat dilihat pada Gambar 1.

12 Peta Kedalaman Tanah LAPORAN AKHIR 1-32 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.13 Peta Drainase Tanah LAPORAN AKHIR 1-33 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

1.1.7

Hidrologi

Tinjauan terhadap sumberdaya air sangat urgen sifatnya dilakukan guna memahami potensi, bentuk penguasaan, penggunaan, dan kesesuaian pemanfaatan sumberdaya air. Keberadaan sungai yang wilayah alirannya (DAS) di lebih dari satu wilayah administratif menjadikan sungai menuntut sistem pengaturan yang spesifik. Wilayah Provinsi Papua Barat dilewati beberapa sungai yang tersebar di beberapa wilayah kabupaten/kota. Dari sungai besar di Papua Barat sebagian besar mengalir di wilayah pengembangan Sorong. Sungai-sungai tersebut menjadi sebuah sistem daerah aliran sungai yang mengalir sepanjang tahun. Potensi sumberdaya sungai terbesar di Papua Barat disajikan dalam Tabel 1.11 berikut ini. Tabel 1.11 Nama, Panjang, Lebar dan Kecepatan Arus Sungai menurut Kabupaten/Kota
Wilayah Pengembangan WP Manokwari WP Sorong Nama Sungai Panjang (Km) Lebar (m) 80-350 60-700 80-2.700 80-350 140-1200 40--250 40-1300 40-2.200 30-40 50-125 45-1250 20-25 50-570 40-700 200-800 Kecepatan (Km/jam) 1,26 2,95 3,06 1,26 2,7 2,88 2,88 0,9 0,9 2,52 3,06 0,9 0,9 1,62 2,7

Laore 163 Beraur 360 Kaibus 200 Kais 184 Kamundan 425 Aifat 174 Karaora 230 Minika 225 Remu 17 Sebak 267 Seramuk 229 WP Fakfak Umbawa 280 Uta 246 Warsamsan 320 Muturi 428 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009

Sungai-sungai besar hingga kecil yang berasal dari wilayah pegunungan di bagian tengah Kepala Burung yang mengalir ke arah dataran rendah (berawa) dan bermuara di Teluk Bintuni. Selain itu, terdapat pula sejumlah sungai yang mengalir ke arah Selatan dan bermuara di pantai Selatan pada dan pantai Utara. Beberapa sungai besar yang bermuara di Teluk Bintuni adalah Sungai Arandai, Wiryagar, Kalitami, Seganoi, Kais, Kamundan, Teminabuan, Sermuk, Maambar, Woronggei dan Sanindar. Selain sungai juga dijumpai danau di daerah pegunungan, yaitu Danau Anggi Giji dan Anggi Gita serta Danau Ayamaru.

LAPORAN AKHIR 1-34

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Di Provinsi Papua Barat terdapat beberapa sungai yang membentuk beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS). Sebagian besar Daerah Aliran Sungai yang terbentuk adalah pada kabupaten-kabupaten di Wilayah Pengembangan Sorong. Sungai-sungai yang termasuk dalam kategoti terpanjang adalah Sungai Kamundan (425 km), Sungai Beraur (360 km), dan Sungai Warsamsan (320 km), sedangkan sungai-sungai yang termasuk kategori terlebar adalah Sungai Kaibus (80-2700 m), Sungai Minika (40-2200 m), Sungai Karabra (40-1300 m), Sungai Seramuk (45-1250 m), dan Sungai Kamundan (140-1200 m). Sungaisungai ini sebagian besar terletak di kabupaten-kabupaten di Wilayah Pengembangan Sorong. Berdasarkan data-data pada tabel di atas, beberapa sungai yang memiliki kecepatan arus paling deras antara lain adalah Sungai Seramuk (3,06 km/jam), Sungai Kaibus (3,06 km/jam), Sungai Beraur (2,95 km/jam), Sungai Aifat (2,88 km/jam), dan Sungai Karabra (2,88 km/jam). Sungai-sungai tersebut terletak pada Wilayah Pengembangan Sorong. Secara garis besar, daerah tangkapan sungai (catchment area) di Provinsi Papua Barat dapat dibagi ke dalam dua satuan wilayah sungai (SWS). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.12 dan Gambar 1.14 tentang Peta Hidrologi. Tabel 1.12 Pembagian Satuan Wilayah Sungai di Provinsi Papua Barat
Kabupaten T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari T. Wondama T. Wondama T. Wondama T. Wondama Kaimana, Nabire Kaimana Kaimana Kaimana Kaimana, Fak Fak Fak Fak, Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak, T. Bintuni Sorong Selatan, Manokwari Manokwari, Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan, Sorong Sorong Selatan, Sorong WS B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar Nama Das Wasian Sebyar Kasi Mangopi Prafi Maruni Masawui Ransiki Windesi Wasimi Wondiwoi Woworama Omba Laenatum Lengguru Berari Madefa Karufa Bedidi Fak Fak Bomberai Wariagar Kamundan Kais Sekak Waromga Seremuk Karabra Luas (Km2) 4.851,000 12.981,400 693,200 1.917,200 1.169,300 193,320 111,110 584,300 23,560 617,400 172,820 279,700 8.610,200 379,500 1.870,000 1.029,900 4.605,570 477,400 1.355,600 88,760 2.033,300 6.720,000 9.732,250 4.232,740 830,700 810,430 884,600 5.989,230

LAPORAN AKHIR 1-35

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten WS Nama Das Luas (Km2) Sorong Selatan, Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Kladuk 3.131,150 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Klasegun 848,510 Raja Ampat B-50 Kamundan-Sebyar Misol 848,160 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Salawati 368,910 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Samate 82,000 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Batanta 69,490 Raja Ampat B-50 Kamundan-Sebyar Waigeo 598,160 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Remu 46,440 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Warsamson 2.437,131 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Mega 1.048,340 MANOKWARI B-50 KAMUNDAN-SEBYAR MAON 682,300 Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Wesauni 626,933 T. Bintuni B-50 Kamundan-Sebyar Kasuari 1.971,850 T. Bintuni B-50 Kamundan-Sebyar Wagura 1.799,100 T. Wondama B-50 Kamundan-Sebyar Arumasa 2.497,000 T. Bintuni, Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Muturi 5.381,300 Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air, Jayapura 2005.

Tabel 1.13 Debit Sungai Dirinci Menurut DPS di Provinsi Papua Barat
No No. DPS 1 17 2 18 3 19 4 20 5 21 6 22 7 23 8 24 9 25 10 26 11 27 12 28 13 29 14 30 15 31 16 32 17 33 18 34 19 35 20 36 21 37 22 38 23 38 a 24 39 25 40 26 41 27 42 28 43 29 44 30 45 31 46 32 47 33 48 34 49 NAMA DPS Omba Laenatum Lengguru Berari Madefa Karufa Bedidi Fak Fak Bomberai Kasuari Wagura Arumasa Muturi Wasian Sebyar Wariagar Kamundan Kais Sekak Waromga Seremuk Karabra Kladuk Klasegun Misol Salawati Samate Batanta Waigeo Remu Warsamson Mega Koor Maon SWS B - 49 B - 49 B - 49 B - 49 B - 50 B - 49 B - 49 B - 49 B - 49 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 Catchments Area (Km2) 8,610.200 379.500 1,870.000 1,029.900 4,605.570 477.400 1,355.600 88.760 2,033.300 1,971.850 1,799.100 2,497.000 5,381.300 4,851.000 12,981.400 6,720.000 9,732.250 4,232.740 830.700 810.430 884.600 5,989.230 3,131.150 848.510 848.160 368.910 82.000 69.490 216.500 46.440 2,437.131 1,048.340 1,202.800 682.300 Qn (m3/s) 316.919 29.086 141.454 96.869 374.730 38.903 107.968 11.747 146.870 142.232 165.546 127.979 476.337 364.562 825.032 432.319 796.177 221.554 46.634 50.282 58.182 302.739 195.716 58.497 53.437 27.064 6.183 5.338 13.309 4.721 147.467 120.947 140.594 104.163 KABUPATEN Kaimana, Nabire Kaimana Kaimana Kaimana Kaimana, Fak Fak Kaimana, Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak, T. Bintuni T. Bintuni T. Bintuni T,Wondama T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari Sorong Selatan, Manokwari Manokwari, Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan, Sorong Sorong Selatan, Sorong Sorong Sorong Raja Ampat Sorong Sorong Sorong Raja Ampat Sorong Sorong Sorong Sorong Manokwari

LAPORAN AKHIR 1-36

50 23.50 193.14 Luas dan Penyebaran Danau di Tanah Papua No Nama Danau Luas (Ha) Kabupaten 01 Aiwasa 10. Bintuni 08 Tanemot 17.796.600 Kaimana 04 Mbula 6.000 128.50 626.700 30.320 25.153 Manokwari 42 57 Windesi B . Jayapura 2005.574 T. Selain sungai.200 222.300 76.169.50 0.640 Tel.Wondama Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air. dan disebut sebagai ground water.820 18. Ground water. Bintuni 09 Anggi Gigi 21.50 584. Kedua.50 172.50 617.400 45.024 Kaimana 05 Kamakawalor 23.816 T.240 Kaimana 02 Laamora 16.740 Kaimana 03 Urema 12.958 Manokwari 41 56 Ransiki B . Di Provinsi Papua Barat terdapat 12 danau besar dan kecil yang tersebar di empat kabupaten/kota.50 279.527 Tel. menyusul Asmat 951.2 %).854 T.916 Kaimana 07 Makiri 7. Studi Aplikasi SWS di Tanah Papua Potensi Air Tanah Air tanah mengandung dua pengertian.370 Manokwari 10 Anggi Gita 22. danau juga merupakan sumber air permukaan potensil.50 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 No No.917.830 Manokwari 11 Ayamaru 10. Luas areal yang meliputi air tanah dalam terbesar di Kabupaten Digul yakni 1.648 Manokwari 36 51 Kasi B .883 Manokwari 37 52 Mangopi B .974 T.933 108. Di Papua Barat potensi air tanah dangkal cukup signifikan terdapat di Kabupaten Sorong Selatan (40 %).50 111. 12 Hain 4.Wondama 45 60 Woworama B .340 Kaimana 06 Berari 6.Wondama 43 58 Wasimi B . Potensi air tanah dalam sangat signifikan di bebrapa kabupaten di Provinsi Papua baik dilihat dari luasan maupun luasan relatifnya. Informasi selengkapanya di sajaikan pada Tabel 1. Pertama air tanah yang terkandung dalam tanah hingga batas kedalaman perakaran pada umumnya tanaman atau pada solum tanah dan disebut sebagi kandungan lengas tanah atau soil moisture. Biasa juga disebut sebagai air aquifer.850 Sorong Sel.Wondama 44 59 Wondiwoi B . Sumber: Dinas PU (2003).560 3.300 161.596 Sorong Sel.14. Tabel 1.872 ha LAPORAN AKHIR 1-37 .814 Manokwari 39 54 Maruni B . air tanah di bawah permukaan bumi pada kedalaman lebih dari yang tersebut di atas.960 Manokwari 38 53 Prafi B .50 1.129 Manokwari 40 55 Masawui B .110 18. DPS NAMA DPS SWS Catchments Area (Km2) Qn (m3/s) KABUPATEN 35 50 Wesauni B .131 ha (62.

668 1.467 166. Teluk Wondama 500.637 164.326.815 115.278 237.122 11.462 27. Raja Ampat 741. Sorong 1.637 6. dan Mimika (458.195 1.041 372.957.927.098 1.588 680. Tabel 1.757 531.636 1.324 181.091 LAPORAN AKHIR 1-38 .661.432 ha (28. Fak Fak 935.071 806 110 2 Kab.793 241.1 %).184 13.004 10. Penyebaran tersebut dapat pula dilihat pada Gambar 1.916 Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air.530 391.740 3.15.8 %).941 89.897 30.766 944.15.457 49.029 116.421 263.706.058 Provinsi Papua Barat 9.457.15 Distribusi Luas Areal Air Tanah (Ground Water) Menurut Kabupaten di Tanah Papua No AT Dlm dan Perairan Sedang 1 Kota Sorong 33. Sorong Selatan 1.037 651.857 ha (20.242 9 Kab.000 ha. Manokwari 1. namun secara mutlak kecil karena hanya mencakupi lahan seluas 165. Di Provinsi Papua Barat.495.304 61. hanya Kabupaten Teluk Wondama yang secara relatif signifikan yakni 33 %.230. Penyebaran lokasi air tanah diperlihatkan pada Tabel 1.843 1. Kaimana 1.359 650. KABUPATEN Luas Wilayah AT Dangkal Tanpa AT 29. Mappi 778.154.698 1.080.2 %).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 (49.158 256.133.174 77.644 4 Kab.455 270.241 2. Teluk Bintuni 1.653 602 8 Kab.752 721.320 6 Kab. Jayapura 2005.123 3 Kab.907 7 Kab.910 5 Kab.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.14 Peta Hidrologi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-39 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.15 Peta Air Tanah LAPORAN AKHIR 1-40 .

2–1. sedangkan pasut yang berperilaku di antara keduanya disebut sebagai pasut campuran.8 Karakteristik Hidro-Oseanografi Sebagian besar kota dan kabupaten-kabupaten di Provinsi Papua Barat yang sudah ada tumbuh dan berkembang di tepi laut. Selain gelombang.8. Kisaran pasang surut (tidal range) adalah perbedaan tinggi muka air pada saat pasang maksimum dengan tinggi muka air pada saat surut minimum yang juga dipengaruhi oleh geometrik wilayah yang bersangkutan. Arus yang disebabkan oleh pasut ini dipengaruhi oleh dasar perairan. dalam dokumen perencanaan perlu adanya kajian dan pertimbangan dari segi karakteristik hidro-oseanografi yang mencakup aspek fisik perairan dan aspek kimia perairan.1. Gelombang ini merambat ke segala arah dengan membawa energi yang kemudian dilepaskan ke pantai LAPORAN AKHIR 1-41 . Badan Riset Kelautan dan Perikanan. pasang surut juga merupakan parameter oseanografi lain yang penting sebagai pembangkit arus di pantai. pertumbuhan tersebut akan mengikuti daerah eksisting.1. Pengamatan gelombang di perairan Papua relatif masih belum banyak dilakukan. maka akan terbentuk arus menyusur pantai (longshore current) yang disebabkan oleh perbedaan teknan hidrostatik. Namun demikian sesungguhnya terdapat hubungan antara angin musim dan pola gerakan gelombang. dalam bentuk hempasan ombak. Arus pasang surut yang terkuat akan ditemui di dekat permukaan dan akan menurun kecepatannya semakin mendekati dasar perairan. Gelombang yang datang menuju pantai dapat menimbulkan arus pantai (nearshore current) yang berpengaruh terhadap proses sedimentasi ataupun abrasi di pantai. Kecenderungannya. Gelombang laut terbentuk karena adanya proses alih energi dari angin ke permukaan laut.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.1 Aspek Fisik Perairan Naik turunnya muka laut dapat terjadi sekali sehari (pasut tunggal atau diurnal tide) atau dua kali sehari (pasut ganda atau semi diurnal tide). Pola arus pantai ini terutama ditentukan oleh besarnya sudut yang dibentuk antara gelombang yang datang dengan garis pantai. 1. dengan tipe pasut ganda campuran. Jika sudut datang cukup besar.2 m. atau pada saat-saat tertentu disebabkan oleh gempa di dasar laut. Departemen Kelautan dan Perikanan tanggal 30 Juni–6 Juli 2005 menunjukkan bahwa tinggi gelombang di wilayah kajian berkisar antara 0.6 meter. Hasil penelitian Pusat Riset Teknologi Kelautan. Kisaran pasang surut di perairan Papua mencapai 3 . Oleh karena itu.

dimana kecepatan arus rata-rata pada waktu pasang dan surut 7 – 8 cm/ det di daerah pesisirnya. Akibat dari naiknya massa air ini adalah suhu permukaan menjadi lebih rendah. arus periodik. sedangkan salinitas lebih tinggi 1 per mil. Pola arus perairan Papua menurut P30-LIPI Ambon tahun 1992 bahwa pola arus dipengaruhi oleh pasang surut. Air naik di laut tersebut terjadi pada musim Timur. upwelling terjadi di Laut Arafura (Wyrtki. maka menaiknya massa air tersebut akan menyuburkan kawasan permukaannya.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Arus adalah gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horisontal dan vertikal masa air oleh perbedaan energi potensial. Di perairan Papua. Bishop (1984) menyatakan bahwa gaya yang berperan dalam sirkulasi masa air adalah gaya gradient tekanan. akibatnya air yang berada di lapisan bawahnya terangkat naik untuk mengisi kekosongan tersebut.0006 cm/detik. gaya gesekan. dan waktu pasang 11 cm/det. gaya gravitasi. 1958). Karena massa air bawah permukaan pada umumnya lebih kaya zat hara dibandingkan dengan lapisan permukaannya. dimulai sekitar bulan Mei sampai kira-kira bulan September. LAPORAN AKHIR 1-42 . dan gaya sentrifugal. Kecepatan naiknya tampaknya kecil. Upwelling adalah menaiknya massa air laut dari lapisan bawah permukaan (dari kedalaman (150 – 250 m) karena proses fisik perairan. (pasut) dan arus angin. Karena pada saat tersebut angin musim Timur mendorong keluar air permukaan Laut Arafuru dengan laju yang lebih besar daripada yang dapat diimbangi oleh air permukaan sekitarnya. Keadaan arus laut umumnya terjadi akibat pengaruh beberapa gaya yang bersamaan yang terdiri dari arus tetap. Keadaan ini dipengaruhi dipengaruhi oleh keadaan rataan dan sedimentasi di pesisir pantai. Tetapi ini mempunyai arti besar. yaitu C lebih rendah dari musim Barat. Demikian pula kandungan fosfat dan nitrat masing-masing naik dua kali lipat. diperkirakan 0. Air yang naik ini bersumber dari kedalaman sekitar 125 – 300 m yang menyusup dari Lautan Pasifik. karena dengan adanya volume air yang terangkat di daerah ini bisa mencapai 2 juta m3/detik. gaya coriolis.

kimia. 1961. Pada saat musim Barat suhu permukaan laut cenderung lebih panas bila dibanding dengan pada musim Timur.16.02 .39 µg-A/l dengan rataDinginnya suhu permukaan di musim Timur tersebut cenderung membuat perairan cenderung lebih subur yaitu dengan adanya LAPORAN AKHIR 1-43 . Sedangkan kadar oksigen terlarut (DO) di Perairan Utara dan Selatan berkisar antara 2. sedangkan musim Timur puncaknya terjadi pada bulan Agustus. Sifat fisik.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. yaitu : (a) musim Barat.12 .4.51 ml/l dengan ratarata 3. Wilayah perairan Selatan Papua merupakan perairan yang memiliki karakteristik massa air yang agak berbeda dengan perairan wilayah Indonesia lain. Musim Barat puncaknya terjadi pada bulan Februari.1.8. dan biologi perairan pada kedua musim tersebut penyebarannya kisaran nilainya disajikan dalam Tabel 1. dan (b) musim Timur. laut Timor dan samudera Hindia.3. Pada musim Timur kondisi oseanografis perairan ini banyak dipengaruhi oleh massa air dari Laut Banda (Wyrtki. 1980). Hal ini disebabkan oleh letak geografis perairan tersebut yang berdekatan dan lebih terbuka dengan laut Banda. peningkatan fitoplankton dan zooplankton.16 Ketinggian Gelombang Laut 1. Tchernia. Dari tabel aspek fisik dan kimia adalah sesuatu proses yang dinamis dan sangat tergantung pada musim. terutama ikan-ikan pelagis.17 ml/l. kandungan konsentrasi fosfat berkisar antara 0.2 Aspek Kimia Perairan Perairan di Papua sangat dipengaruhi oleh dua musim. Hal ini berpengaruh besar terhadap sebaran klorofil-a dan nutruen serta ikan-ikan pelagis di wilayah tersebut sehingga perairan ini juga dikenal sebagai salah satu daerah penangkapan ikan dan udang.

di wilayah Papua Barat perlu diperhatikan adanya berbagai jenis status (penguasaan) tanah sebagai berikut: a.40 10 Larva Krustasea (Jumlah/m2) 500 – 1.5 1.000 9 Zoo Plankton (cm3/cm2) 5 .8 – 30.0 – 34. Parameter Musim Barat (Februari) Musim Timur (Agustus) 1 Suhu (oC) 28.800 200 – 3. Penggunaan lahan sekarang (eksisting) memberi gambaran sejauh mana jenis dan tingkat pemanfaatan lahan yang telah dilakukan baik yang bersifat budidaya maupun bukan budidaya. Tanah negara bebas b.5 4. Tanah negara yang dikuasai penduduk LAPORAN AKHIR 1-44 .91.1.000 Sumber: Netherlands Journal of Sea Research 25 (4): 431-447 (1990).5 – 2.5 – 2. Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan HPHH Hutan Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) Hutan Suaka Alam (HSA) Hutan Lindung Hutan Produksi Kontrak Karya Kuasa Pertambangan Tanah negara yang telah diperuntukkan d. dan hasil analisis 1.5 5 Nitrat (µm) 0.1 .5 – 1. Ketersediaan tanah pada dasarnya tidak dilepaskan dengan status atau penguasaannya sekarang.5 6 Silikat (µm) 2. di dalamnya termasuk: • • • • • • • c.0 8 Fito Plankton (cell/dm3) 200 – 1.83 .5 7 Klorofil a (mg/m3) Gb 0. Dalam hal ini.9 Ketersediaan Lahan Ketersediaan tanah atau lahan yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Guna Lahan sebagai suatu rencana dasar memberikan gambaran potensi lahan dan arahan bagi kawasan yang dapat dikembangkan/dibudidayakan atau karena limitasinya tidak dapat dikembangkan sama sekali berdasarkan faktor-faktor fisik dasar. Tabel 1.0 30. Kimia.0 3 Oksigen (cm3/cm2) 3.0 – 34.0 – 26.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 rata 1.19 µg-A/l sampai 40.5 0.0 – 4.16 Kisaran Nilai Kondisi Fisik.0.000 500 – 1.94 µg-A/ serta kadar konsentrasi silikat yang terukur berkisar antara 0. dan Biologi Perairan Papua No. Status tanah sekarang pada dasarnya sangat menentukan mudah dan dapat tidaknya suatu bidang tanah dikuasai atau dialihkan penguasaannya oleh pihak ketiga untuk kegiatan tertentu.0 – 1.5 – 7.34 µg-A/l . Tanah negara yang dibebani.10 10 .5 2.53 µg-A/l. hasil interpretasi ETM7.5 – 7.0 0.8 2 Salinitas (ppm) 31. Kadar konsentrasi nitrat berkisar antara 0.0 26.25 4 Fosfat (µm) 0.5 – 4.1 – 0.

897 4. Tabel 1. Hak Guna Usaha h.197 30.204 4.024 14.258 21.001 8. Tabel 1.282 6.256 5.875 612 3.556 29. Data tersebut hanya menunjukkan total luas Papua Barat sebesar 1 juta hektar. Hak Pakai i. kuasa pertambangan kontrak karya.224 28. Misalnya pada kasus TGHK yang tumpang tindih dengan kuasa pertambangan atau Hak Penguasaan Hutan (HPH). Terlebih adanya kabupatenkabupaten bentukan baru menyebabkan pencataan data penggunaan lahan harus dilakukan ulang.918 24.024 2.248 Kebun 8.271 8.302 Hutan 8.988 22.509 4.17 Penggunaan Lahan di Provinsi Papua Barat Berdasarkan Kabupaten/Kota dan Jenis Penggunaan Tahun 2008 (hektar) Kampung/ Perumahan Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat 10.214 9. Terdapat kemungkinan adanya keterbatasan dalam pencatatan data penggunaan lahan. j. 1.886 12.226 5.887 11.159 82.606 5.986 Sawah Tegalan 123.599 26.248 46. Hal ini dapat menjadi masalah jika dikaitkan dengan fungsi kawasan yang ingin dipertahankan (misalnya fungsi hidro-orologis).17 menunjukkan data penggunaan lahan di Provinsi Papua Barat yang dibedakan ke dalam beberapa kategori penggunaan lahan.321 Kebun Campur 42.258 24. Hak Milik Permasalahan yang mencolok adalah sering terjadi ketidaksesuaian antara arahan rencana tata ruang pada suatu lokasi dengan status atau penguasaan tanahnya sekarang terutama untuk tanah negara yang dibebani.953 268.791 9.686 12. Faktor kondisi fisik Provinsi Papua Barat yang berbukit dengan banyak pulau menyebabkan pencatatan penggunaan lahan relatif lebih sulit dilakukan. Hak Pengelolaan Hak Guna Bangunan k.2 PENGGUNAAN LAHAN Pencatatan data mengenai penggunaan lahan di Papua Barat masih sangat terbatas.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 e.378 239.884 30.520 LAPORAN AKHIR 1-45 .838 88. yang pada umumnya mencakup areal yang sangat luas seperti HPH. Hak Milik Adat g.751 77.537 7. Data mengenai lahan antara satu dan yang lainnya kerap menunjukkan perbedaan.883 5.738 Total 407.865 12.566 4. Tanah negara yang dikuasai instansi f.397 9.633 31.950 8.222 28. konsesi.305 14.548 71.320 Semak 839 Tanah Rusak Lainlain 213.

37 2.592 7.00 578.2. Kab.700.224. T. Wondama Luas Wilayah*) 1.473 254.038 Kampung/ Perumahan Kota Sorong Papua Barat 16.564.015 Sawah Tegalan 7.76 persen.151.496 hektar atau sekitar 22. Tabel 1. Menhutbun Nomor: 891/Kpts-II/1999) adalah sebesar 42.921.840 Ha yang terdiri dari Kawasan Hutan seluas 40.218 1.283.678. Kab.546. Bintuni 3.460 121. Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Papua secara keseluruhan (termasuk Provinsi Papua Barat) berdasarkan (SK. Kab.00 Hutan+Perairan 1.065.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kebun Campur 2.716 16.90 LAPORAN AKHIR 1-46 . fungsi sebagai tegalan mendominasi penggunaan lahan di Papua Barat yaitu mencapai 254.01 610. Munculnya kategori tersebut sebagai yang tertinggi kemungkinan terkait dengan keterbatasan data.292 123.18 Luas Hutan dan Perairan diProvinsi Papua Barat dirinci Per Kabupaten/Kota Tahun 2005-2008 Kabupaten/Kota 1.412 Kebun 1. T.17 Persentase Penggunaan Lahan di Papua Barat tahun 2005 Berdasarkan Jenis 1. Fungsi perkebunan dan kebun campur kemudian memiliki presentase di bawah fungsi tegalan.496 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Luas pengunaan lain-lain menjadi kategori dengan presentase tertinggi.118.836 82.480 Ha.863.360 Ha dan Kawasan Perairan 1. Manokwari 2.054 117. Di luar kategori lain-lain. Gambar 1.1 Kehutanan Potensi hutan di Provinsi Papua sangat tinggi.800.199.00 1.197 332.755 61.800.958 Hutan Semak Tanah Rusak Lainlain Total 27.

50 686.83 11.00 1.27%. Sorong Selatan 6.00 11.199. Hutan di wilayah ini memiliki fungsi sebagai kawasan konservasi terdiri dari kawasan Hutan Lindung sebesar 17.16 24.05 1. Suaka Margasatwa 0. Pembalakan liar dan issu illegal logging yang berkembang adalah satu hal yang selalu terjadi.721.979.27 16.00 31. Cagar Alam 24. Dan sebagai hutan produksi baik yang terbatas maupun dapat dikonversi adalah sekitar 56%. Kab.146.718.202.25 2. Hutan di Papua Barat diklasifikasikan menjadi 9 kategori. Fakfak 8. Fungsi-fungsi ini tentu apabila dilihat di lapangan tidak demikian nyata.379.34 1.450.19 Luas dan Prosentase Hutan berdasarkan Fungsi Hutan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Fungsi Hutan APL (Area Penggunaan lain) HL (Hutan Lindung) HP (Hutan Produksi) HPT (Hutan Produksi Terbatas) HPK (Hutan Produksi dapat dikonversi) CA (Cagar Alam) SM (Suaka Margasatwa) TN (Taman Nasional) TW Perairan Grand Total Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Luas (Ha) 196.003.41 11.600.352.17 % 1.786. Kaimana 9.934.994. Kab.30 0.385. Akan sangat kritis apabila proses tersebut berlangsung secara terus menerus tanpa upaya penanganan dari Departemen Kehutanan dan Pemda karena menyangkut isu global warming di mana Indonesia memiliki hutan yang mampu menyerap CO2 sedangkan kondisi sekarang ini. Raja Ampat 7.700.58 0.736.653.000.27%.885.641. Kota Sorong Total 2.224.199.58 41.503.17 100.601.02%.02 0. Kab.945.00 LAPORAN AKHIR 1-47 .138.960.53 1. Taman Nasional 0.64 19.850.84 19.00 1.00 1.27 0.199.59 33.339.58%.00 608.75 17.726.000.634.00 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Berdasarkan fungsinya.28 2. Sorong 5.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 724.45 2.84 1.63 19.74 64.665.965.98 1.10 1.432.377.726.072.17 4. Kab. terlihat memprihatinkan. Tabel 1. Kab.

957.989.769.57 1.686.40 121.866.314.00 397.21 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2007 Hutan produksi mendominasi jenis hutan di Papua Barat sementara hutan lindung hanya seluas 1.548.10 79.18 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi di Papua Barat Tahun 2008 Satuan dalam% Luas Total 9.259.147.080.90 479.75 342.787.648.41 715.488.648.39 Hutan Produksi yg Dikonversi 219.485.30 65.248.96 Tetap 388.558.97 342.400.941.90 1.6 juta hektar atau sekitar 16.92 6.30 16.439.20 519.87 persen dari total luas hutan.75 Jumlah Hutan Lindung 39.648.96 1.243.10 246.17 6.70 4.314.018.866.723.751.39 1.79 Areal Penggunaan Lainnya 55.39 1.508.96 1. Kabupaten Teluk Bintuni dan Fakfak memiliki luas hutan lindung yang relatif kecil jika dibandingkan dengan total luas hutannya.339.144.700.087.35 Hutan Produksi Terbatas 202.087.75 342.39 1.794.81 9.44 20.686.277.40 1.863.43 489.458.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.144.92 113.167.893.20 Luas Kawasan Hutan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 (Ha) Kabupaten/Kota Regency/ Municipality Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 2007 2006 2005 Hutan Kawasan Perlindungan Alam/ Kawasan Suaka Alam 44.509.087.270.865.20 284.291.277.769.372.345.623.144.525.751.15 1.617.314.00 204.50 149.635.648.10 275.943.46 9.35 1.290.648.144.240.50 442.503.243.79 1.847.057.817.529.81 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Fungsi guna lahan hutan dalam data Pemanfaatan Lahan (Papua Barat Dalam Angka Tahun 2007) menunjukkan bahwa luas hutan di Papua Barat hanya sebesar 61.751.648.847.70 6.96 1.866.57 948.686.686.16 310.891.600.086.385.847.977.10 395.751.90 253.57 1.769.284.79 2.1176 LAPORAN AKHIR 1-48 .769.57 1.05 39.806.90 132.228.30 302.90 149.565.25 1.56 209.59 31.790.464.00 462.277.06 1.535.284.19 32.75 342.49 309.30 92.63 1.284.866.20 93.35 1.087.10 95.046.052.244.55 1.245.243.90 411.054.29 2.87 86.101.79 2.300.648.81 9.90 149.04 92.277.14 327.364.70 165.487.669.30 379.95 591.79 2.314.20 37. Tabel 1.370.63 1.681.81 9.284.70 320.648.337.50 66.337.13 5.816.95 785.174.928.35 1.02 1.847.70 3.243.

00 Fa kFa k Ka Te im lu an k a W on da Te m lu a k Bi nt un M a i So no k w ro ar ng i Se la ta n So ro ng R aj a Am Ko pa ta t So ro ng Berdasarkan data dari Balai Pemantapan Kawasan Hutan (2004). Hal ini kemungkinan disebabkan dari perbedaan pemberian kategori dalam pencatatan penggunaan lahan.000. Fungsi-fungsi seperti tegalan.000.00 1.00 1. perkebunan.19 Luas Kawasan Hutan Menurut Kabupaten/Kota di Papua Barat Tahun 2008 2. data luas hutan untuk setiap wilayah kabupaten setelah pemekaran masih belum pasti.52 persen. luas kawasan hutan di Provinsi Papua Barat mencapai 9.7 juta hektar. proporsi luas kawasan hutan di Provinsi Papua Barat ditampilkan pada Tabel 1.00 2.500.000. ataupun semak dan alang-alang memiliki kemungkinan untuk dikategorikan ke dalam hutan oleh data tentang lahan lainnya.000.00 500. LAPORAN AKHIR 1-49 .000. Gambar 1. kebun campur. Namun. Padahal.500. dalam buku yang sama tercatat luas hutan di Papua Barat mencapai 9 juta hektar dari total luasan Papua Barat yang mencapai 11 juta hektar.000.000.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 hektar atau hanya sekitar 5. Berdasarkan data sementara yang dikomplilasi dari berbagai sumber.21 berikut.00 0.

375.759.87 32.073. Keterangan: *) Bagian kawasan Taman Nasional yang masuk dalam wilayah Administrasi Pemerintahan Provinsi Papua Barat (tidak termasuk perairan laut dan kepulauan).33 1.517.33 1.008.07 1.636.83 530.39 Cagar Alam Suaka Marga Satwa 657.102.12 0 55.857.22 16.24 6.495. 21 Persebaran Luas Kawasan Hutan (Ha) Menurut Fungsi pada Setiap Kabupaten di Provinsi Papua Barat Hutan Lindung Fakfak Kaimana Sorong Kota Srng Sor-Sel Mnkwr Bintuni Wondama Raja Ampat Papua Barat 41.439.15 2.636.302.877.138.63 304.537.689.85 84.209.688.66* 0 14.604.723.52* 1.087.37 0 0 0 0 4.235.389.20 2.192.418.33 1. 2004.045.08 10.39 1.461.93 487.46 Taman Wisata Alam 0 0 1.846.397.60 281.33 493.15 Hutan Produksi 383.475.174.120.54 936.769.838.272.114.27 0 0 10.132.373.60 Hutan Produksi Konversi 218.20 80.90 1.52 393.05 9.338.36 4.310.21 498.41 500.277.976.32 737.366.273.837.005.19 53.34 15.84 1.928.47 260.477.985.97 276.394.55 283.11 69.834.379.99 Hutan Produksi Terbatas 203.180.52 356.12 206.394.634.23 1.371.977.82 5.19 6.189.81 127.262.031.389.729.761.24 153.240.584.29 17.15 93.43 Total 37.72 398.42 221.047.886.52 Taman Nasional 0 0 270.868.092.560.13 80.53 322.740.600.56 5.087.21 682.941.21 Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan.81 0 0 69.44 112.66 9.188.61 429.Tabel 1.684.41 33.13 Areal Penggunan Lain 52.78 100.46 0 0 0 23.181.56 356.538. 1-50 .47 355.784.24 1.234.342.747.61 24.661.163.77 243.328.56 165.41 1.98 150.44 23.21 231.927.34 413.019.88 15.481.262.32 1.972.712.499.76 151.

Oleh karenanya dalam rencana pengembangan wilayah pembangunan di setiap kabupaten/kota perlu mempertimbangkan proporsi kawasan hutan untuk perlindungan ini. hutan produksi terbatas. yaitu minimal 30%.10%) masih merupakan kawasan hutan produksi yang belum terbebani hak. Berdasarkan proporsi tersebut. Selain itu. nampak bahwa kawasan hutan untuk tujuan perlindungan masih berada di atas persentase yang disyaratkan.51% dari luas kawasan hutan. melaporkan bahwa luas kawasan hutan produksi di Papua Barat yang telah dibebani hak pengusahaan hutan (HPH) seluas 4.84%. terdiri atas hutan produksi tetap. 1. Sisa areal hutan produksi tersebut sebagian besar merupakan wilayah hutan yang topografinya berat.2. Di Provinsi Papua Barat sendiri telah dikeluarkan 29 unit HPH yang meliputi hutan seluas 4.211. diberikan Hak Pengusahaan Hutan dan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu kepada perusahaan dibidang terkait. Areal penggunaan lain seluas 2. merupakan lahan-lahan pemukiman dan lahan budidaya.97 Ha. namun sekitar 66.90% dari luas hutan produksi (6.063 Ha (43.250. persebaran di setiap kabupaten/kota tentunya akan bervariasi. Sementara Industri Primer Hasil Hutan (IPHH) yang berkembang di Papua Barat digolongkan menjadi 2 yaitu Industri yang berskala besar dengan nilai LAPORAN AKHIR 1-51 .654. khususnya areal hutan produksi konversi persebarannya tidak merata di setiap kabupaten/kota. maka pengembangan kehutanan kedepan tidak lagi hanya mengharapkan eksploitasi hutan alam. Kanwil Kehutanan Irian Jaya (2001). secara fisiografi. karena dengan pemekaran wilayah di Papua Barat. Untuk itu penataan fungsi kawasan perlu ditinjau kembali dan peninjauannnya dilaksanakan bersamaan dengan penetapan SDA tersedia di setiap wilayah Kabupaten/Kota. Hutan lindung dan hutan konservasi sebagai zona penyangga menempati luasan sebesar 34.65%). kawasan hutan di Papua Barat memiliki slopes yang bervariasi dari datar sampai sangat curam. dan hutan produksi konversi.181.62% memiliki slopes dari curam-sangat curam dengan kemiringan diatas 25%.069. Kawasan hutan ini perlu dipertahankan keutuhannya untuk jangka panjang.210 Ha atau 66.273 Ha) dan sisanya seluas 2. Dengan kondisi kawasan hutan produksi demikian.2 Hak Pengusahaan Hutan (HPH) tata ruang wilayah pembangunan Provinsi Papua Barat dengan tetap memperhatikan karakeristik dan potensi Dalam pengusahaan dan pemanfaatan hutan. Proporsi tersebut perlu dipertimbangkan kembali. tetapi mengintensipkan pengembangan hutan tanaman baik Hutan Tanaman Industri (HTI) maupun Hutan Tanaman untuk tujuan Rehabilitasi Lahan Kritis (RHL) atau tujuan perlindungan lainnya. Kawasan hutan produksi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Fungsi hutan produksi menempati proporsi tertinggi (62.

665 955.726.396.570.225.657 390.920 202.192 91.371.199.800 2.00 35.620. Sedikitnya terdapat 3 perusahaan berskala besar dan 15 perusahaan sedang yang bergerak dalam sektor kehutanan ini.836. Sorong Selatan 2) 1. Teluk Wondama 610.248 93.274.601.906 31.960.758.083.007.946 896.630.70 Ha.326.06 %HPH/HP 90. Tabel 1.477 984.726 6.000 m3 dan industri di bawah sedang yaitu produksi dibawah 6.33 Total 11.564. Pada tahun 2006 terdapat 22 HPH Aktif dengan RKT seluas 65. Prod 1.764.7% dari Rencana Luas RKT sepanjang Tahun 2000-2005.55 Kab.391.910. Artika Optima Inti Unit VI (57.03 Kab.22 Daftar Kepemilikan SK IUPHHK dan RKT Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2004-2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 2004 SK IUPHHK (Ha) 311.000 m3.500 4.843 2. Fakfak 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Kab.360.832.63 10.00 390.943 78.799.03 89.998 922.25 Kab.300 1.193. Namun Rata-rata realisasi RKT sebesar 32.263.55 1.392 599.13 66.41 1. Sorong 1. Kaimana 1.151 323.921 Luas H.00 63.391.287.493 6.146.164.653 28.580.03 9.47 23. Dan realisasi volume hanya sebesar 21.220.858 267.89 56.225.066 340.420.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 produksi lebih dari 6.585.837 1.425.92 472.570.138.472 1.24 Kab.076.620.434 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tabel 1.199.426.13 61.61 Ha.600 4.20 78.00 56.53 28.500 691.187 11.264.617.762 541.636.004 Areal HPH 1.620.00 37.40 148.657 2. Raja Ampat 686.65 Kab.431 1.721 173.67 74.000 609.366 4.570.537.340 6. Perkembangan HPH tiap tahun menurun.00 Kab.231.092. Mitra Pembangunan Global seluas 98.494 215.242. Henrison Iriana (83.34 Ha.003.86 11.49 Kota Sorong 41.076 4.783 20.20 50.378 713.00 138.680 323.25 ha) dan PT.480.220.140 85.880. Manokwari 1) 1.23 Kawasan Hutan Produksi yang Telah Dibebani HPH/IUPHHK (Aktif+Dicabut) No.99 ha) 2.657 390.269.620.419 650.951.620.458.051.225 1.50 84.30 1.28 22. Tidak termasuk areal konsesi PT.800 4.23 Kab.332 14. Pada tahun 2005 terdapat 23 HPH Aktif dengan RKT seluas 66.800 1.843 Realisasi RKT Luas (Ha) Volume 6. Teluk Bintuni 1) Luas Hutan 2.00 10.719. Termasuk areal PT.36 1.843 2.657 49.33 72.450 51.60 61.843.930 791.48 319.803.81 2.300.7% dari rata-rata rencana produksi per tahun.800 4.010 311.570.43 390. Sedangkan pada tahun 2007 terdapat 20 HPH Aktif dengan RKT seluas 47.500 ha LAPORAN AKHIR 1-52 .994.07 8.800 Target Tahunan Maksimum Luas (Ha) Volume 298.

000 97.303. Kabupaten Teluk Bintuni memiliki luas produksi terbesar dan dimanfaatkan 90.15 92.66 30.00 139. ARTIKA OPTIMA INTI N UNIT VI Kab Sorong Selatan PT.28 55.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dari Tabel 1.600 119.000 133.00 123. HASRAT WIRA MANDIRI PT. BINTUNI UTAMA MURNI W.000 SK HPH 81/Kpts-II/94 69/Kpts-II/89 01/Kpts-II/93 81/Kpts-II/94 735/Kpts-II/1993 69/Kpts-II/89 55/Menhut-II/06 534/Kpts-II/91 01/Kpts-II/93 735/Kpts-II/1993 69/Kpts-II/89 1142/Kpts-II/92 LUAS_SK 51. HASRAT WIRA MANDIRI PT.531.700 333.07 6. BANGUN KAYU IRIAN PT.897. 174/Kpts-IV/88 137. HENRISON IRIANA PT.683. yang 1 HPH Kayu juga telah dicabut.41% hutan produksi di Provinsi Papua merupakan Areal HPH.000 51. PT.862.56 97.492. WANA GALANG UTAMA PT.149.242. Sedang di Kabupaten Kaimana.60 80.533. PT.650. Raja Ampat Kota Sorong NAMA HPH/IUPHHK PT.08 21. SAGINDO LESTARI UNIT I PT. PT. INTIMPURA TBR. Namun dari 14 HPH tersebut.09 108.118. BANGUN KAYU IRIAN PT.010.800 155.000 84. KALTIM HUTAMA PT.820 139.64 36. Di Kabupaten Sorong Selatan.000 464/Kpts-II/92 212.42 3. INTIMPURA TBR.06 64. 1 HPH Mangrove.28 131.40 9.000 178.000 98. AGODA RIMBA IRIAN PT. DHARMA MUKTI PERSADA Kab Teluk Wondama Kab Teluk Bintuni PT. Jenis HPH yang dipegang oleh perusahaan cukup bervariasi. CO. WAPOGA MUTIARA TIMBER PT.000 299. CO.012. Sedang di Kabupaten Fak-Fak terdapat 6 HPH kayu dan 1 HPPH Mangrove.504.352. MULTI WAHANA WIJAYA PT.100.700 333. CO.000 155.43 1.23 di atas dapat dilihat bahwa sekitar 74.745. Di Kabupaten Teluk Bintuni terdapat 14 HPH yang terdiri dari 2 HPH Sagu.58 LAPORAN AKHIR 1-53 . INTIMPURA TBR. Mancaraya Agro Mandiri Kab Sorong PT. Teluk Wondama dan Manokawri sebanyak 20 HPH berupa HPH Kayu diantaranya 3 HPH kayu telah dicabut.000 397/MenhutII/06 448/Kpts-II/88 279/Kpts-IV/88 547/Kpts-II/97 744/Kpts-II/90 759/Kpts-II/89 373.000 DIGITASI LUAS (HA) 14. BANGUN KAYU IRIAN PT.53 26.600 333.502. WANA KAYU HASILINDO PT.820. 11 HPH Kayu.183. pemegang HPH Kayu sebanyak 4 unit dan HPH sagu sebanyak 2 unit.698. ARTIKA OPTIMA INTI N Unit VI PT.000 299.343. Megapura Mambramo Bangun PT. 2 HPH Kayu telah dicabut yaitu milik PT Artika Optima Intin dan PT Henrinson Iriana. HANURATA UNIT I PT.000 119.28 2.83 15. INDT.28 12.32 286.000 01/Kpts-II/93 299.61 270.68 37.25% untuk pengusahaan hutan.264.57 66.729. HANURATA UNIT I PT. SAGINDO LESTARI UNIT II PT. Tabel 1.24 Direktori Perusahaan Pemerima HPH Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Kabupaten Kab.

WUKIRASARI PT AGODA RIMBA IRIAN PT.631.426.240 373.000 Kab Kaimana PT.670 174.997.30 152.12 72.61 9.98 LAPORAN AKHIR 1-54 . DHARMA MUKTI PERSADA PT.967.91 187.6 1. PT. YOTEFA SARANA TIMBER PT. ARFAK INDRA PT.25 Perkembangan Luas Penebangan Hutan Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Luas Penebangan 2. PRABU ALASKA 48 Tahun 2002 651/Kpts-II/92 1142/Kpts-II/92 83.643. IRMASULINDO UNIT II PT.65 182.186.733.436.240. ARTIKA OPTIMA INTI UNIT II PT. HANURATA COY UNIT III PT. Manokwari Mandiri Lestari PT. HANURATA COY UNIT III PT.000 212.08 19.249.000 95. KALTIM HUTAMA PT.600 239. WANA GALANG UTAMA PT.219.39 82.186.406.26 87.200.30 15.300 209.79 98.233. WANA IRIAN PERKASA PT.49 72.000 182.000 156.821.823. RIMBAKAYU ARTHA MAS PT.540 155. TELUK BINTUNI MINA AGRO K.263.68 76.165.90 10.97 83.332.000 84.000 98.000 150.966. SAGINDO LESTARI UNIT II PT.000 300.000 153.2 101.078.00 376.24 6.11 89.04 80.72 182. PT.600 239. TELUK BINTUNI MINA AGRO K.08 222.000 133.800 150.921. CENTRICO PT.861.786. HANURATA UNIT II PT.000 76. INDT.764.689. WUKIRASARI PT. BUDI NYATA PT.98 62.461.000 137.57 14.99 393/Kpts-II/92 464/Kpts-II/92 936/Kpts-II/92 744/Kpts-II/90 396/Kpts-II/90 811/Kpts-II/91 678/Kpts-II/89 379/Kpts-IV/87 154/Kpts-II/93 448/Kpts-II/88 81/Kpts-II/94 81/Kpts-II/94 08/Kpts-II/2001 279/Kpts-IV/88 180/Kpts-II/91 393/Kpts-II/92 547/Kpts-II/97 396/Kpts-II/90 759/Kpts-II/89 553/Kpts-II/89 174/Kpts-IV/88 81/Kpts-II/94 81/Kpts-II/94 180/Kpts-II/91 393/Kpts-II/92 239.786.000 153.70 60.240.11 127.27 95.388. PT.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 SK HPH LUAS_SK DIGITASI LUAS (HA) 68. SAGINDO LESTARI UNIT I PT.41 59.368.59 68. TELUK BINTUNI MINA AGRO K. WANA KAYU HASILINDO PT.000 156.13 Kabupaten NAMA HPH/IUPHHK PT.780.733.900 178. Tabel 1.58 38. WAPOGA MUTIARA TIMBER PT.000 319.670 319.23 82.35 12. BINTUNI UTAMA MURNI W.236.65 12.25 3.703. HENRISON IRIANA PT.728.000 170.000 155.07 Jumlah Produksi 42.300 209.236. PRABU ALASKA PT. HANURATA UNIT II PT.

6 m³.07 hektar.040.733.866.263.21 Luas Produksi Kayu (m3) Oleh Pemegang HPH di Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 120000 100000 80000 60000 40000 20000 0 Fak-Fak Kaimana Teluk Bintuni Sorong Raja Ampat LAPORAN AKHIR 1-55 .65 2004 14.65 2005 14. Gambar 1. Teluk Bintuni memiliki jumlah lahan terluas untuk penebangan yang dilakukan oleh perusaahan HPH yaitu seluas 6.13 207.135.13 207.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Raja Ampat 940 9.20 Luas Penebangan Hutan (Ha) Oleh Pemegang HPH di Papua Barat Tahun 2008 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 Fak-Fak Kaimana Teluk Bintuni Sorong Raja Ampat Gambar 1. hasil perhitungan Kegiatan pemanfaatan hutan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan.18 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009.866.866.156.040.65 2003 17.13 207.040.29 Kota Sorong Papua Barat 2007 14.446. Luasnya lahan penebangan di Teluk Bintuni membuat kabupaten ini juga memiliki produksi kayu terbesar yaitu mencapai 101.66 249.

Philipina.92 Miliyar Ton Senk dan Tembaga Emas Batu Gamping LAPORAN AKHIR 1-56 .26 Potensi Mineral Logam dan Non Logam bagi daerah-daerah yang potensial di Provinsi Papua Barat. Contohnya di daerah Kepala Burung. memungkinkan terbentuknya mineralisasi logam yang berasosiasi dengan perak dan emas. nikel. yang berupa cincin gunung api memberikan potensi endapan mineral yang besar. Keuntungan-keuntungan lainnya.26 Potensi Mineral Logam dan Non Logam di Provinsi Papua Barat Kabupaten/ Kota Manokwari Potensi Tambang Timah Distrik Distrik Ambarbaken sepanjang Sungai Waturi dan Sungai Warsomi Distrik Anggi Kampung Sutera Distrik Ambarbaken kampung Sutera Kampung Bomas dan Danau Anggi Giji Distrik Ambarbaken Terdapat merata di semua distrik dan melimpah Volume Cadangan Deposit mineral belumdiketahui.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Akibat tektonik di Pulau Papua juga memungkinkan terbentuk cekungan dengan sedimensedimen yang cukup tebal dalam kondisi lingkungan laut. telah diketahui sepanjang jalur tersebut dari Amerika Selatan. Untuk data potensi mineral logam maupun non logam dapat dilihat pada Tabel 1. kandungan timahnya berkisar antara 345-685 Deposit mineral belumdiketahui dan sampai saat ini potensi belum dimanfaatkan Deposit mineral belumdiketahui dan belum dieksplorasi 13. yaitu adanya cadangan batubara. di daerah tersebut cukup potensial untuk diadakan eksplorasi minyak dan gas bumi.2. di mana lingkungan marine cukup banyak kehidupan mikro organik yang terakumulasi menjadi cadangan hidrokarbon.3 Kawasan Pertambangan Pulau Papua yang diketahui terbentuk sejak jutaan tahun yang lalu sebagai hasil benturan Lempeng Benua Australia (Australia Plate) yang bergerak ke Utara dengan Lempeng Pasifik (Pacific Crustal Plate) yang bergerak ke arah Barat. kobal. krom. Akibat benturan antara lempeng tersebut di atas menimbulkan keuntungan dan kerugian. mengingat keberhasilan Negara Papua New Guinea telah menemukan cekungancekungan minyak dan gas bumi yang cukup potensial. Tabel 1. Posisi tektonik Papua yang berada di Lingkar Pasifik. dan uranium. Tidak tertutup kemungkinan daerah-daerah lain seperti sampai saat ini masih terus dilakukan eksplorasi baik di daratan maupun lepas pantai. Keuntungannya adalah dengan terjadinya penerobosan batuan beku dengan komposisi sedang ke dalam batuan sedimen di atasnya. Konsentrasi mineral-mineral logam diperkirakan terdapat pada Lajur Pegunungan Tengah Papua. Papua New Guinea sampai ke Selandia Baru telah ditemukan banyak endapan emas dan tembaga kelas dunia.

Gunung Nuasa. Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Misol Distrik Wasior Tersebar di Distrik Wasior dan Wendesi Distrik Wasior Teluk Wondama Cadangan deposit sebesar 90. Distrik Wageo Selatan Pulau Wageo dan Gag Distrik Wageo Selatan.3 TCF Cadangan mika sebesar 150.855 juta ton m3 dan 12. Distrik Anggi. nisprematik sebesar 31. Sungai Maryam Mogoi.28 juta metric ton.28 Juta metric ton. A12O3 – Ratarata13.50 juta metric ton LAPORAN AKHIR 1-57 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Volume Cadangan Kabupaten/ Kota Potensi Tambang Lempung Distrik penyebarannya Tersebar merata di Distrik Manokwari Pasir Batu Granit Pasir Kuarsa Distrik Manokwari an Distrik Warmare Distrik Ransiki.95 miliyar metric ton Volume cadadangan terbesar adalah gas alam sebesar 14. Waisian.65% Fe2O3 rata-rata 0. 1 metric ton.84 % pausri gelas kaca Volume cadangan 26. Batu Pasir. Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Selatan (Pulau Wageo dan Gag). dan Distrik Kebar Tersebar di Distrik Kebar Kampung Atay Selatan Kandungan lempung terdiri dari Sio rata-rata 55%. yang terdiri dari jenis Moskovit sebesar 17. Selain gas dan minyak bumi.5 metric ton Volume cadangan hipotetik batu bara 0. Muturi.4% Diorit Granit Teluk Bintuni Minyak dan Gas Bumi Batu Bara Mika Raja Ampat Cobalt Tembaga Nikel Mangan Batu bara Fosfat dan Opal Mika Batu Gamping Biji Besi Distrik Warmare di sekitar Kampung Wagesi.27 dan Fe203 rata-rata 10. dan Genis Pragmatic sebesar 31.38 metric ton.11 juta metric ton.83 miliyar metric ton Volume cadangan 137.50 juta metric ton. Pulau Wageo dan Gag. Genis Kuarsa sebesar 91.31 juta metric ton.1 juta metric ton tersiri dari Genis Maskovit sebesar 19.39 metric ton.29-1.27 % kadar abu 2. dan batu Gamping Kandungan mika 150. bahan galian adalah batu bara.5 mt berdasarkan penelitian SiO2 – rata-rata 77.3%. dan Berau.15.13 m3 Volume cadangan sebesar 96.4% Volume cadangan sebesar 1. Distrik Ambarbaken. terdiri dari Genis Maskovit sebesar 15.21 juta metric ton dan jenis peckmatik sebesar 11. jenis kuarsa sebesar 91. Batu Lumpur. MgO rata-rata 1. jenis kuarsa sebesar 61.6% . A12O3-12.

Sawiat.2 gr/ton Sumber: Peluang Bisnis dan Investasi Provinsi Papua Selain itu juga ditemukan beberapa macam endapan logam dan bukan logam. Ayamaru.680. Timah terdapat di Distrik Amberbaken sepanjang Sungai Wapai. Bahan Galian Strategis.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Volume Cadangan Kabupaten/ Kota Sorong Selatan Potensi Tambang Minyak Bumi dan gas Batu Gamping Emas Fosfat Zink Marmer dan Bahan Baku Semen Tembaga Emas Tanah Hitam Batu Bara Koramit Biji Besi Pasir Kuarsa Distrik Distrik Kais. dan Mare Distrik Aifat dab Aifat Timur Distrik Sawiat.500 ha dengan ketebalan rata-rata 6 meter sehingga perkiraan cadangan adalah 90 juta m3 Luas 142. Sungai Waturi dan Sungai Warsayomi dan LAPORAN AKHIR 1-58 .500 m2 Perak Tembaga Timbal Senk Jumlah cadangan kurang lebih 450 juta m3 dan Distrik Bomberai dengan luasan 12 Ha.000 m2 dengan kadar 0. dan Fak Fak Timur Distrik Teluk Etna. Ayata. Ayamaru Utara.500 Ha Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Fakfak Fakfak Fakfak Fakfak Volume cadangan sebesar 1.282.1 gr/ton Dengan kadar 16. Distrik Kokas Kabupaten Sorong Fak Fak Batu Gamping Batu Bara Emas Distrik Kokas pada Pegunungan Onin Distrik Teluk Etna.2 gr/ton Dengan kadar 47. baik yang ekonomis maupun tidak. jumlah cadangan + 864 juta m3 Dengan kadar 3.850 juta m3 Sebaran Volume 457. Aifat Timur.8 gr/ton Dengan kadar 15. Berikut di bawah ini contoh endapan mineral yang ada di Provinsi Papua Barat. buruway. kampung Tawar dengan luas 4. Inanwatan Distrik Kais. dan Fakfak Barat Menyebar di distrik Kokas.  Di Kabupaten Manokwari. teluk Berau Buruway. Fakfak Timur. Kokas. dan Klamono Distrik Salawati Distrik Sausapor Bomberai.000 m2 Minyak Gas Lempung dan Sebaran 1. Ayamaru Utara. Teluk Arguni.050 gr/ton hasil analisis laboratorium P3G Bandung Dengan kadar + 26. dan Kokas Menyebar di distrik Kokas. Ayamaru Utara Distrik Aifat Timur Distrik Ayamaru.500 Ha dan jumlah cadangan +2. dan Mare Distrik Sausapor Distrik Sausapor dan Sawiat Distrik Sausapor Distrik Salawati. Ubadari.

Daerah Mogoi dan Wasian telah diketahui kandungan minyaknya sejak Tahun 1952-1960 oleh NNGP Belanda. dll.rata-rata 0.7 trilyun kaki kubik. terdiri dari Si02 . Volume cadangan bahan galian ini sebesar 26.rata-rata 0. Distrik Ransiki dengan volume cadangan 18. Tersebar di Distrik Warmare. Selain minyak. lapangan minyak yang ada terbengkalai untuk beberapa waktu lamanya.65 %. Wasian. Bahan Galian Strategis meliputi.5 juta metrik ton.  Kabupaten Teluk Bintuni memiliki ladang minyak terbesar di Papua. namun saat ini lapangan minyak tersebut telah dieksploitasi kembali. Ada 5 (Lima) daerah di Kabupaten Teluk Bintuni yang terdapat banyak ladang gas alam yang menghasilkan minyak. Perusahaan yang sudah menanamkan modal. Emas terdapat di Distrik Amberbaken. Indonesia dengan Proyek "LNG Tangguh". Seng dan Tembaga. Cadangan Granit tersebar di Distrik Ransiki dengan volume cadangan sebesar 96.05 juta ton. dan Danau Anggi Giji. Kandungan Pasir Kuarsa tersebut berdasarkan hasil penelitian. di sekitar Kampung Atay Selatan dengan volume cadangan sebesar 137.83 milyar ton. Distrik Manokwari dengan volume cadangan 13. Merdey. lapangan gas di Kawasan Teluk Bintuni telah dieksploitasi oleh perusahaan multinasional BP.35 milyar ton. Saat ini. Pabrik pengolahan LNG akan beroperasi di daerah Saengga. Gunung Nuasa. Diorit. A1203 . yaitu.rata-rata 13. baik penanaman modal asing maupun nasional.rata-rata 77. Fe203 . kawasan ini juga memiliki kandungan gas bumi sebesar 13 trilyun kaki kubik dengan volume cadangan sebesar 23. Sedangkan minyak bumi dengan volume cadangan sebesar 45 juta ton metric terletak di Kampung Homa. antara lain. Paustri gelas. Bahan galian Vital.83 milyar metrik ton. Batugamping. Kawasan Teluk Bintuni kaya akan minyak bumi dan gas alam. Cadangan batu gamping di Kabupaten Manokwari sangat melimpah. dengan volume cadangan sebesar 136. Patrindo.76 %. dan timah. Weriagar. Distrik Warmare dengan volume cadangan 2. British Gas. Bahan Galian C. Distrik Anggi merupakan lanjutan dari Distrik Ransiki dan Amberbaken merupakan lanjutan dari Distrik Kebar. Sungai Maryam.5 milyar ton. Pasir Kuarsa. Conoco Arco. Potensi minyak bumi di Kawasan Teluk Bintuni tersebar di Distrik Bintuni. Aranday dan Babo.84 %.6 %. Penyebarannya hampir merata di tiap distrik. kaca.95 milyar metric ton. Volume cadangan kedua distrik ini belum diteliti. batubara. Distrik Anggi. minyak dan gas alam cair. Sedangkan untuk ladang Wer (Tahun LAPORAN AKHIR 1-59 . Daerah Mogoi. Batuan ini dapat digunakan sebagai bahan bangunan. Setelah penyerahan Papua ke Indonesia. Muturi dan Berau. Bomas. di sekitar Kampung Wasegi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Distrik Anggi di Kampung Sutera. dengan hasilnya sekitar 7 juta barrel minyak mentah. Ca03 .  Kabupaten Teluk Bintuni. Distrik Babo. Tanah Merah. Minyak bumi pemah dieksploitasi pada masa pemerintahan Belanda. jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainya di Papua. Tersebar di Distrik Kebar.92 milyar ton. Kandungan Timah berkisar 345-685 ton. dll. dan Distrik Oransbari dengan volume cadangan 2.

97. Batugamping adalah jenis k sedimen klastik atau non klastik yang disusun oleh 90% karbonat. Cadangan hipotetik batubara di Sungai Thikoku. 97. Potensi daerah ini meliputi. batulempung dan batulumpur seluas 768.51. Uji laboratorium yang dilakukan di PPP Tekmira Bandung terhadap 3 contoh pasir kuarsa dari daerah Bomberay.000 m3.000 Berdasarkan hasil analisis proksimat dari 10 contoh batubara oleh Direktorat Sumberdaya Mineral Bandung diperoleh kualitas dengan kisaran angka 5. Data menunjukan bahwa kadar . Inanwatan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1990).000 BOPD atau sf 795. Distrik Kokas.645%. Di daerah Bomberay.20%.850 juta m3 (Hasil Survei LPMITB). kelembaban tertambat 1.000 liter per hari. Bahan galian lain yang ditemukan di Kabupaten Teluk Bintuni dan sekitarnya adalah batubara.000. Marmer dan Bahan Baku Semen di Distrik Sawiat. 0. Batugamping di Distrik Kais.  Kabupaten Sorong Selatan.49.8 %. Aifat Timur. di Sungai Thistoku dekat Kampung Horna. zat terbang 40.40%. batugamping dan endapan sirtu 84. Emas di Distrik Aifat Timur.820 – 7. pasir kuarsa mencapai luas 1. 4 %.3 %.202.935 kalori/kg.500 ha clan jumlah cadangan 2. batulumpur. Tahun 1990-1995.27 %. batupasir.11.29 . terdapat kandungan minyak mentah sebesar 5.1. Goras dan I pulau di sekitar Kokas dengan luasan 142.3 . salah satu perusahaan swasta asal Inggris. sekitar 4.3 . Fosfat dan Opal di Distrik Misool.50. sehingga perkiraan cadangannya adalah 90 juta m3.32%. menemukan ladang gas alam terbesar di Weriagar. kesemuanya bersumber dari cekungan berproduksi Bintuni. dan disebut juga batuan karbonat. 0.500. Mangan. Potensi Pasir Kuarsa (Quartzsand). silika yang cukup tinggi. Kadar Abu 2.48%. Sawiat.500 ha. Batubara. dekat Kampung Beimes sekitar 20. Batugamping.1 . dengan ketebalan rata-rata 6 meter. yaitu. 97.8 kelembaban 3 -16 % dan HGI 40 . Luas penyebaran batupasir kurang lebih 307.  Kabupaten Fak Fak. perusahaan ARCO. minyak bumi dan gas tersebar di Distrik Kais.9 km2. Ayamaru.10%.000 ton.5. batugamping dan endapan sirtu.6 km2.  Kabupaten Raja Ampat. Tembaga di Waigeo Selatan Nikel di Distrik Waigeo Utara dan Samate. Menyebar di Distrik Kokas pada Daerah Pegunungan Onin. Ayamaru dan Mare. karbon tertambat 44. Kadar Belerang 0. 0. dengan kadar besi. Di Kabupaten ini ditemukan potensi logam kobal di Distrik Waigeo Selatan. LAPORAN AKHIR 1-60 .1 .

22 Peta Sebaran Kawasan Pertambangan LAPORAN AKHIR 1-61 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

00 73.00 5.00 62. Taman Nasional Laut Tl Cendrawasih 20.500. Taman Wisata Alam Moraid 23.00 191. Sorong Kab.53 1.022.00 100.411.00 265. Cagar Alam Pegunungan Arfak 13. Nama Kawasan 1. Manokwari Kab.00 90. Kaimana Kab. Kawasan konservasi tersebut tersebar di 26 lokasi dengan katagori kawasan dan luasan yang berbeda. Cagar Alam Pulau Pegunungan Wondiboy 8. Raja Ampat Kab.27 Kawasan Konservasi yang Telah Ditetapkan di Provinsi Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 No.27 16. Manokwari Kab. Tabel 1. Taman Wisata Alam Klamono 22. Raja Ampat Kab. Tambrauw Kab. Manokwari Kab.150.000.27 berikut.875. taman wisata.2.193. Bintuni Kab. Manokwari Kab.000. Manokwari Kab. Taman Wisata Alam Bariat 21. Manokwari Kab. Raja Ampat Kab.00 170.00 68.00 1. Cagar Alam Pulau Misool Selatan 4. Raja Ampat Kab.00 15.00 9.909. Manokwari Kab. Suaka Margasatwa Laut Kepulauan Raja Ampat 7.000.00 1. Suaka Margasatwa Mubrani-Kaironi 19.37 9.4 Kawasan Konservasi Kawasan hutan yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi seluas 3.478. Cagar Alam Pantai WekweKwoor 16. Manokwari Kab.001. Raja Ampat Kab. Tambrauw Kota Sorong LAPORAN AKHIR 1-62 .000. Cagar Alam Wagura Kote 14. Taman Wisata Sungai Sausiran 18. Suaka Margasatwa Sabuda Tuturuga 11.453.00 153.660 945. dan taman nasional.00 247.500. Fak-Fak Kab.300.00 188.350. Taman Wisata Alam Gunung Meja 17.00 119. suaka margasatwa.00 500.00 60.749. Cagar Alam Pulau Batanta Barat 3.000. Fak-Fak Kab.90 Lokasi Kab. Taman Wisata Alam Sorong Sumber: Provinsi Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Luas (Ha) 58. Cagar Alam Pulau Waigeo Timur 6. Cagar Alam Pantai Sausapor 26.000. Tambrauw Kab. Cagar Alam Teluk Bintuni 12. Raja Ampat Kab.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Sorong Kab. Lokasi dan luas kawasan konservasi di Provinsi Papua Barat ditampilkan dalam Tabel 1.325. Cagar Alam Pegunungan Fak-Fak 10. Cagar Alam Tambrauw Selatan 25. Cagar Alam Pulau Salawati Utara 2. Cagar Alam Tambrauw Utara 24.00 111. Kawasan konservasi yang telah ditetapkan di Provinsi Papua Barat terbagi ke dalam empat kawasan yaitu kawasan cagar alam.73 Ha. Cagar Alam Pegunungan Kumawa 9. Tl Wondama Kab. Sorong Selatan Kab. Cagar Alam Pulau Waigeo Barat 5. Cagar Alam Sidei Wibain 15.720.000.00 300.

23 Peta Sebaran Cagar Alam LAPORAN AKHIR 1-63 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

Kabupaten Sorong.64 581 747.015 hektar atau sekitar 10. Jika dibandingkan dengan luas pemukiman di seluruh Papua. Wilayahwilayah tersebut selama ini memang telah tumbuh menjadi sentra-sentra kegiatan perkotaan di Provinsi Papua Barat terutama untuk Kota Sorong.42 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2006 Sampai dengan tahun 2005. Sementara itu.5 Areal Terbangun dan Pusat-pusat Permukiman Fungsi guna lahan sebagai daerah kampung/perumahan sebesar 117. Manokwari adalah kabupaten yang menjadi ibukota dari Provinsi Papua Barat. Penggunaan lahan untuk fungsi kampung/perumahan di Kota Sorong mencapai lebih dari 50 persen dibandingkan dengan luasan totalnya.28 Luas Lahan Permukiman di Provinsi Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2003 (Ha) Wilayah Pengembangan WP MANOKWARI Kabupaten/Kota Kabupaten Manokwari Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Teluk Wondama Kota Sorong Kabupaten Sorong Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana 2003 2002 Kampung Perumahan 41.211.403 499 956. lahan di wilayah Provinsi Papua Barat yang dipergunakan sebagai pemukiman sebagian besar terletak pada lahan-lahan di Wilayah Pengembangan Sorong. LAPORAN AKHIR 1-64 . Manokwari dan Kota Sorong merupakan wilayahwilayah yang memiliki fungsi guna lahan kampung/perumahan yang tertinggi.2.47 persen.307 WP SORONG 59. maka luas pemukiman di Provinsi Papua Barat mengambil sekitar 24% dari keseluruhan lahan pemukiman. Wilayah Pengembangan Fakfak memiliki luas pemukiman yang paling sedikit di antara wilayah pengembangan yang lain. Kota ini merupakan gerbang bagi Provinsi Papua Barat menjadikan kegiatan jasa dan perdagangan dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat kekotaan terkonsentrasi di wilayah ini.64 WP FAKFAK PROVINSI PAPUA BARAT PROVINSI PAPUA BARAT 20. Luas lahan pemukiman yang berupa kampung atau perumahan di Wilayah Pengembangan Sorong merupakan 49% dari seluruh luas lahan pemukiman di Provinsi Papua Barat.884 121.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Tabel 1. Kota Sorong memang merupakan kota yang paling menonjol di Provinsi Papua Barat dalam hal aktivitas perkotaan.

24 Peta Sebaran Kawasan Lindung dan Budidaya LAPORAN AKHIR 1-65 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

25 Peta Sebaran Kawasan Lindung LAPORAN AKHIR 1-66 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.26 Peta Pengembangan Kawasan Kehutanan LAPORAN AKHIR 1-67 .

Kota Sorong merupakan simpul kegiatan khususnya yang ada di Papua Barat. Sehingga dalam menjalankan fungsinya sebagai ibukota.885 jiwa atau 23.4. Kondisi ini telah ada sejak jaman pendudukan Belanda. Sebagai sebuah propinsi yang baru terbentuk. Fungsi wilayah yang dimaksud adalah merupakan pusat kegiatan suatu wilayah yang menjadi barometer perkembangan sebuah wilayah. Hal ini juga terlihat dari transportasi eksisting dimana Kota Sorong memiliki simpul transportasi yang sangat strategis. Manokwari merupakan ibukota dari Papua Barat. netto dan kepadatan agraris. Jumlah penduduk terbesar terdapat di Kabupaten Manokwari yaitu sebanyak 172. fungsi-fungsi layanan yang semestinya ada kemungkinan besar belum berdiri. Kota Sorong juga merupakan pusat kegiatan jasa dan perdagangan.140 jiwa atau hanya 3.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Provinsi Papua Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia Timur dengan luas wilayah 115. Selain sebagai gerbang tranportasi Papua Barat. Wilayah yang juga tergolong wilayah dengan tingkat layanan tinggi di Papua Barat adalah Manokwari. Sebagai wilayah otonomi baru. fungsi wilayah merupakan indikator tingkat pelayanan wilayah yang menunjukkan seberapa besar peran suatu wilayah dalam mengikat wilayah sekitarnya. Di sekitar Kota Sorong banyak terdapat kegiatan pertambangan di mana pengolahan dan perdagangannya terkonsentrasi di Kota Sorong.4 ASPEK SOSIAL KEPENDUDUKAN 1.17% dari jumlah LAPORAN AKHIR 1-68 . fungsi wilayah eksisting tentu masih berkaitan dengan fungsi wilayah sebelum Propinsi Papua Barat terbentuk.3 STRUKTUR TATA RUANG EKSISTING Struktur tata ruang eksisting di Propinsi Papua Barat meliputi sistem perkotaan dalam lingkup kabupaten dan sistem jaringan prasarana yang dalam hal ini adalah jaringan jalan. Dalam hal ini. Karena tidak adanya data lahan terbangun.363. Kepadatan bruto penduduk di Provinsi Papua jumlah penduduk paling rendah terdapat di Kabupaten Teluk Wondama. tentunya memiliki berbagai jenis layanan yang memadai. yaitu 23.68 % dari jumlah total penduduk di Provinsi Papua Barat. 1. maka kepadatan penduduk yang diuraikan ini adalah kepadatan bruto. Wilayah yang termasuk ke dalam kategori rendah adalah kabupaten-kabupaten baru hasil dari pemekaran wilayah. Kepadatan dapat dilihat dari beberapa pendekatan yaitu kepadatan bruto. Dalam lingkup sistem perkotaan. Sedangkan penduduk di Provinsi Papua Barat.962 jiwa pada tahun 2006 yang tersebar secara tidak merata di kesembilan kabupaten/kota.50 km2 dan total penduduk sebanyak 729.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.

Kondisi geografis beberapa wilayah kabupaten didominasi oleh karakter kelerengan 8% sehingga mempengaruhi terbentuknya pola permukiman penduduk. Wilayah yang sedang mengalami perkembangan tentunya akan memiliki konsentrasi penduduk yang lebih tinggi.00 14 448.11 126 093.00 115 363.00 6 084.50 29 810.00 Jumlah Penduduk 66 864 41 973 23 140 54 528 172 855 61 463 98 691 41 170 169 278 729 962 715 999 702 202 651 958 642 472 RT 15 733 9 876 5 445 12 830 40 672 14 462 23 221 9 687 39 830 171 756 168 075 167 609 162 990 156 052 Kepadatan Penduduk Per km2 5 2 2 3 12 2 3 7 153 5 5 6 6 5 Per RT 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Tidak meratanya distribusi penduduk di sebuah wilayah antara lain karena kondisi geografis yang berbeda.50 1 105. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 2004 Luas Wilayah 14 320.4.29 Luas Wilayah.00 18 500.62 143 185. Karakter pola pemukiman loncat katak. dari kota/kabupaten satu ke kota/kabupaten lainnya. Secara umum.00 12 146.2 Komposisi Penduduk Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin LAPORAN AKHIR 1-69 . Selain itu. 1.50 104 919.00 25 324. Sedangkan kepadatan penduduk terendah terdapat di Kabupaten Kaimana. faktor ketersediaan fasilitas pelayanan sosial ekonomi juga mempengaruhi sebaran penduduk di suatu wilayah. Kota ini hanya memiliki luasan tak lebih dari 1. Pada umumnya. yaitu 153 jiwa/ km2. konsentrasi penduduk akan lebih tinggi di dataran rendah daripada di dataran tinggi.62 18 637.105 km2 dan di kota ini terdapat banyak fasilitas sosial perekonomian sehingga di wilayah ini terjadi pemusatan penduduk. Kota Sorong merupakan kota yang memiliki kepadatan penduduk paling tinggi. dan Kabupaten teluk Wondama yaitu 2 jiwa/km2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Barat tidak terdistribusi secara merata. kepadatan penduduk di Provinsi Papua Barat relatif sangat rendah dengan kepadatan berkisar antara 4 – 12 jiwa/km2. Tabel 1.00 140 375.

44 110.35 106. jumlah penduduk Provinsi Papua Barat berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 1.44. Selain itu.08 113.45 100. Hal ini akan berpengaruh pada angkatan kerja di suatu wilayah serta tingkat ketergantungan penduduk non produktif pada penduduk produktif.30 berikut ini.90 107.67 116.88 105. namun angka tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.44 110. maka dapat dibedakan bahwa penduduk dengan jenis kelamin laki-laki berjumlah 383.048 jiwa dan perempuan sebanyak 346. Sex ratio diatas 100 menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki lebih dominan daripada jenis kelamin perempuan. Jika diperinci lebih dalam. Untuk lebih jelas.23 103. namun untuk setiap kecamatan jumlah penduduk laki-laki masih lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan. Bila diperinci menurut jenis kelamin.65 Irian jaya Barat Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Komposisi Penduduk menurut Umur (Struktur Usia Penduduk) Penggambaran penduduk menurut struktur usia berguna untuk mengetahui jumlah penduduk produktif dan penduduk non produktif.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Klasifikasi penduduk menurut jenis kelamin dalam suatu wilayah digunakan untuk mengetahui sex ratio yang dimiliki oleh wilayah tersebut. maka terdapat perbedaan antara masing-masing kecamatan.35 110.98 111.77 128. penggambaran penduduk menurut struktur usia juga diperlukan untuk perhitungan penyediaan fasilitas sosial dan ekonomi. Tabel 1. LAPORAN AKHIR 1-70 .878 jiwa dengan sex ratio sebesar 110.82 111.30 Rasio Jenis Kelamin Provinsi Papua Barat Tahun 2008 dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2007 2006 2005 2004 Jumlah Penduduk Laki-laki 33 507 21 011 11 784 30 682 93 163 31 782 52 570 21 739 86 846 383 084 383 084 379 277 362 672 343 920 Perempuan 33 357 20 962 11 356 23 846 79 692 29 681 46 121 19 431 82 432 346 878 346 878 343 704 339 530 308 038 66 864 41 973 23 140 54 528 172 855 61 463 98 691 41 170 169 278 729 962 729 962 722 981 702 202 651 958 Jumlah Sex Ratio 100. Walaupun penduduk berjenis kelamin laki-laki lebih banyak.

diketahui bahwa jumlah penduduk dengan usia non produktif adalah sebesar 34.55% dan usia produktif sebesar 65. 31 Komposisi Penduduk menurut Golongan Umur Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Golongan Umur 0-4 5-9. Sementara pada kelompok usia muda dan produktif.45%.799. 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+ Total 2007 Laki-Laki 42 599 37 389 37 581 41 105 36 087 32 677 30 915 30 685 28 501 23 215 16 894 11 607 7 317 3 218 1 992 1 302 383 084 379 277 Perempuan 40 617 36 410 35 634 37 001 32 164 29 735 31 059 30 924 25 662 19 196 12 815 7 518 4 143 2 111 1 074 815 346 878 343 704 Jumlah 83 216 73 799 73 215 78 106 68 251 62 412 61 974 61 609 54 163 42 411 29 709 19 125 11 460 5 329 3 066 2 117 729 962 722 981 yaitu sebesar 83. struktur penduduk Provinsi Papua Barat didominasi oleh penduduk usia balita (0-4 tahun) 77. kelompok umur 15 – 19 tahun cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok umur lainnya.106 dan penduduk usia (5-9 tahun) sebesar Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-71 . 10-14. Jika diperinci lebih dalam.216 diikuti oleh penduduk usia muda (15-19 tahun) sebesar 78.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Berdasarkan data yang diperoleh tahun 2008. Berdasarkan kelompok umur. Tabel 1. untuk usia produktif kelompok umur antara 0 – 14 tahun lebih banyak dibandingkan kelompok umur 60 – 75+ tahun.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.643 jiwa. sex ratio menunjukkan proporsi laki-laki selalu lebih tinggi dari pada perempuan namun ada satu di mana golongan umur 30-39 proporsi perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. untuk mencapai jenjang wajib belajar 9 tahun pun dirasakan sulit. jumlah penduduk yang tidak pernah atau belum pernah sekolah mencapai 6.05% atau sebesar 45. Bahkan. Dapat dilihat bahwa sampai dengan tahun 2006. Sedangkan lulusan paling banyak penduduk lulusan SD. Terbatasnya kondisi ekonomi masyarakat dan LAPORAN AKHIR 1-72 . Jumlah penduduk dengan tingkat kelulusan pada bangku Sekolah Dasar menggambarkan bahwa tingkat pendidikan penduduk masih cenderung rendah. Masalah yang terjadi adalah kondisi ketenagakerjaan berupa tingkat partisipasi kerja wanita jauh lebih kecil dari pada pria. Komposisi Penduduk menurut Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan merupakan indikator kualitas sumber daya manusia di suatu wilayah. Kondisi tingkat pendidikan di Provinsi Papua Barat dapat digambarkan dari Tabel 1.27 Piramida Penduduk Provinsi papua Barat Tahun 2009 Dalam setiap golongan umur. Umur ini merupakan umur produktif di mana manusia menggunakan segala daya dan upaya untuk mengembangkan potensi dirinya.32. Ini satu masalah yang harus dipikirkan untuk mengantisipasi ternjadinya pengangguran perempuan yang demikian banyak.275 jiwa atau 30. yaitu berjumlah 212.23%.

47% dari jumlah total penduduk yang tercatat. beberapa kabupaten seperti Sorong.90 11.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sarana prasarana pembelajaran baik formal maupun non formal sampai ke daerah terpencil adalah salah satu kendala.27 LAPORAN AKHIR 1-73 . dan presentase menikmati dunia pendidikan tingkat atas masih sangat sedikit.09 72.41 10.03 4. Sebagai contoh.82 Masih Sekolah SMU/SMK/ SLTP MA 7.14 15. Pemerintah telah mengusahakan sejumlah upaya untuk memberikan peluang kepada masyarakat untuk belajar ke wilayah Jawa.92 4.00 SD/MI 11. Bahkan.35 7.30 65. Teluk Bintuni dan Teluk Wondama tidak memiliki sumber daya unggul dalam arti penduduk yang tamat universitas.77 11. 32 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Kabupaten/Kota dan Status Pendidikan Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Tidak/Belum Pernah Sekolah 3.57 0. bekerja pada sektor pertambangan dan perindustrian dan sektor kehutanan. di Kabupaten Sorong untuk tingkat SLTP tercatat belum ada sekolah kejuruan (dari data BPS tahun 2005). Prosentase tidak pernah mengenyam pendidikan masih sangat tinggi. Salah satu kendala pemerintah dalam upaya pemerintah membangun sektor pendidikan di Papua Barat adalah sulitnya jangkauan di daerah pedalaman yang mengakibatkan sebagian besar penduduknya berpendidikan rendah.62 PT 0. Hal ini menjadi masalah secara internal karena kelemahan yang datang dari dalam ini bertemu dengan ancaman dari luar karena realitanya kualitas SDM pendatang memang secara empirik jauh lebih baik dan pendatang yang dalam ini memang datang untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam Provinsi Papua Barat.89 0.41 0.26 4. Sumber daya manusia di Kabupaten Teluk Bintuni dan Teluk Wondama juga masih sangat terbatas.37 Tidak Bersekolah Lagi 69. Jumlah tenaga pengajar yang tercermin dari rasio guru dan murid pun masih sangat kecil.31 4.16 6.58 69. Karena luasnya medan atau area lahan Papua Barat dan sulitnya jangkauan letak sekolah dengan tempat penjualan bahanbahan makanan serta barang-barang lain kebutuhan sehari-hari. Raja Ampat. Kesenjangan ini sangat signifikan apabila dibandingkan dengan kondisi sumber daya manusia di sejumlah provinsi di wilayah Indonesia Barat.52 7. Tabel 1.52 3. sering kali tidak dapat memperoleh tenaga guru untuk sekolah yang bersangkutan. mengenyam pendidikan tinggi di luar wilayah namun lulusan perguruan masih tergolong sedikit yaitu sekitar 2.80 7.

72 Kabupaten Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 Tidak/Belum Pernah Sekolah 18.88 68.63 Kristen 21.18 76. Budha (0.09 Budha 0.63 11.01%).03 SD/MI 11.15 1. lainnya (0.45 68.59 5.70%).82 1.63 1.51 7. Konghucu (0.83 7.40 4. Katolik (7.63 69.99 Tidak Bersekolah Lagi 56.49 0. Tabel 1. Terdapat 1.15 PT 2.47 Katolik 16.01 5.24 7.02 LAPORAN AKHIR 1-74 .12%).03 Lainnya 0.36 2.27%).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Masih Sekolah SMU/SMK/ SLTP MA 5.14 3.28 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Gambar 1.497 gereja Protestan dan 664 masjid di Provinsi Papua Barat.89 12.12%).58 6. Representasi dari banyaknya jumlah penduduk beragama diikuti oleh jumlah dan sebaran fasilitas ibadah yang terdistribusi di 9 kabupaten/kota.91 9.01 Konghucu 0.59 1.36 1.77 Hindu 0.46 5.48 74.18 2.84 12.50 2.28 5.7% diikuti oleh agama Islam (41.28 Tingkat Pendidikan Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2007 Komposisi Penduduk Menurut Agama Penduduk Provinsi Papua Barat sebagian besar adalah pemeluk agama Kristen yang jumlahnya mencapai 50.62 7.96 4.33 Komposisi Penduduk Menurut Agama dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 Kabupaten/Kota Fak-Fak Islam 61.24 15.

380 34.19 36.390 8.01 0.756 4.700 498 1.01 0.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 9.10 7 28.02 0.832 49.52 1 23.03 0.22 44.54 1.533 8.19% atau sebanyak 46.12 2 3 4 5 6 7 8 9 Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 39.01 0 0.980 8.48 50.87 2005 0 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-75 .02 0.35 9 53.19 71.475 KS II 2.84 44.380 KK.08 0.94 41.568 8.12 0.415 1.505 2.3 Tingkat Kesejahteraan Penduduk Tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan kategori dari BPS di Provinsi Papua Barat masih cukup rendah.92 8 9.032 5.02 0.70 14.915 9.22 90.03 13.067 1.33 6 Jumlah 55.93 59.08 22.075 426 9.52 1 KS III 1.01 0.580 9.524 36.36 0.90 7 3.27 51.29 3 5.803 189.664 3.98 6. Sedangkan untuk Keluarga Sejahtera III dan III plus hanya 7.585 Tahapan Keluarga Sejahtera Prasejahtera KS I 4.092 40.66%.532 17.05 0 0.380 34.998 11.40 5.607 4.729 19.13 0.160 6.01 0. Tabel 1.17 8.02 0.698 112 1.03 0 0.13 0 0.01 0 0 0.344 16.060 15.576 10.04 52.88 7.476 10.032 13.02 0.350 636 4. Keluarga yang masih ada pada tahap Pra Sejahtera hampir mencapai separuh keluarga yang ada di Provinsi Papua Barat yaitu 39.11 34.52 2007 0 46.70 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 1.503 34.64 3 135.20 2 118.35 40.255 3.012 11.27 5.01 0.03 0 0.15 0.699 3.87 2006 0 46.60 0 23.4. 34 Tingkat Kesejahteraan Keluarga di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 4.77 4.065 146 417 2.29 0.325 8.33 6 118.90 41.07 0.767 6.04 0. Angka yang sungguh sangat memprihatinkan.190 9.891 72.029 3.50 51.42 0.513 35.01 0.665 5.01 0.84 48.02 0.533 KS III + 178 5.140 18 97 563 86 731 271 2.474 7.254 5.

Fenomena ini sangat erat korelasinya dengan masalah yang ditemukan yaitu tidak tertampungnya perempuan pada tenaga kerja sektor formal.441 22. Pengangguran di Provinsi Papua Barat tercatat sebesar 26.584 14. 316.81 Perempuan 235.4 Ketenagakerjaan Identifikasi aspek ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat dapat menggambarkan sektor potensial dan penyerapan tenaga kerja ditiap sektor.29 Tahapan Kesejahteraan Keluarga 1.739 119.193 jiwa atau 88.85 % sudah bekerja.113 12.189 160.66 5.65 • Mencari Pekerjaan 3 LAPORAN AKHIR 1-76 .4.218 116.951 50.678 20. Tabel 1.971 43.457 68. 35 Kondisi Ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 NO 1 2 Jenis Kegiatan Utama Penduduk Usia Kerja Angkatan Kerja • Bekerja (Pengangguran Terbuka) Bukan Angkatan Kerja • Sekolah • Mengurus Rumah Tangga • Lainnya 4 TPAK (%) 5 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Laki-Laki 266.08 Jumlah 502.018 47. Penduduk usia kerja yang ada di Provinsi Papua Barat sebesar 502.883 91.577 25.084 210.400 jiwa di mana yang sebesar 342.61 11.382 jiwa atau 72% masuk dalam kategori angkatan kerja. Dari jumlah angkatan kerja tersebut.400 342.193 26.382 316.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.661 223.396 88.189 jiwa dimana 56% dari pencari pekerjaan tersebut adalah perempuan.15 7.080 13.487 3. Angkatan kerja adalah penduduk yang sedang bekerja ditambah dengan pencari kerja.094 5.506 83.298 106.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Gambar 1.30 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Papua Barat Tahun 2007

Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

TPAK menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) mengindikasikan besarnya penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) yang aktif secara ekonomi di suatu negara atau wilayah. TPAK diukur sebagai persentase jumlah angkatan kerja (bekerja dan pengangguran) terhadap jumlah penduduk usia kerja. Indikator tersebut menunjukkan besaran relatif dari pasokan tenaga kerja (labour supply) yang tersedia untuk memproduksi barang-barang dan jasa dalam suatu perekonomian. Sedangkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) diukur sebagai persentase penganggur terhadap jumlah angkatan kerja. TPT memberikan indikasi tentang penduduk usia kerja yang termasuk dalam kelompok pengangguran. TPT merupakan rasio jumlah penganggur terbuka terhadap jumlah angkatan kerja. Tingkat Pengangguran Terbuka di Provinsi Papua Barat adalah 7,65 %. Angka ini di bawah angka penganguran Indonesia sebesar 9,9 %. Terdapat perbedaan tingkat partisipasi antara pria dan wanita yang tercermin dari angka TPT pria sebesar 5,81 % dan wanita 11,08 %. Tabel 1.36 Penduduk Usia Kerja di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Golongan Umur
Golongan Umur 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran 18 996 5 339 39 779 7 764 44 925 5 814 42 298 3 379 47 348 2 546 38 529 857 32 286 313 24 399 123 Jumlah 24 335 47 543 50 739 45 677 49 894 39 386 32 599 24 522 % Bekerja thdp AK 78,06 83,67 88,54 92,60 94,90 97,82 99,04 99,50

LAPORAN AKHIR 1-77

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028
Jumlah 14 833 12 854 342 382 296 146 312 478 292 446 % Bekerja thdp AK 99,91 99,68 92,35 90,54 89,83 88,86

Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran 55-59 14 820 13 60+ 12 813 41 Papua Barat 316 193 26 189 2007 268 117 28 029 2006 280 705 31 770 2005 259 863 32 583 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

Golongan Umur

Tingkat pengangguran di Provinsi Papua Barat relatif sedang,

berdasarkan golongan

umur, banyak dari golongan umur 20-24 yang belum mendapatkan pekerjaan, tertampung pada 9 lapangan usaha. Jumlah penduduk pada golongan umur 25-29 yang bekerja mencapai 44.925 jiwa. Dari tahun 2005-2008 angka jumlah angkatan kerja di Provinsi Papua Barat semakin meningkat dengan jumlah penduduk bekerja yang juga meningkat dan jumlah pengangguran yang menurun. Tabel 1.37 Penduduk Usia Kerja di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota
Golongan Umur Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2005 Angkatan Kerja Bekerja 19.468 16.025 11.344 24.971 93.999 27.744 45.897 17.171 59.574 316.193 268.117 259.863 Pengangguran 3.081 1.330 949 2.118 3.627 908 2.413 525 11.238 26.189 28.029 32.583 22.549 17.355 12.293 27.089 97.626 28.652 48.310 17.696 70.812 342.38 2 296.146 292.446 86,34 92,34 92,28 92,18 96,28 96,83 95,01 97,03 84,13 92,35 90,54 88,86 Jumlah % Bekerja thdp AK

Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

Dari Tabel 1.37 diatas terlihat bahwa jumlah pengangguran terbesar di Provinsi Papua Barat terdapat di Kota Sorong yaitu sebesar 11.238 jiwa. Demikian pula jika ditinjau dari persentase penduduk yang bekerja terhadap angkatan kerja maka Kota sorong memiliki persentase yang paling kecil. Jumlah pengangguran terkecil terdapat di Kabupaten Raja Ampat yaitu sebesar 525 jiwa dengan persentase penduduk yang bekerja terhadap angkatan kerja yang paling tinggi yaitu sebesar 97,03 %.

LAPORAN AKHIR 1-78

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Tabel 1.38 di bawah ini menjelaskan mengenai jumlah penduduk yang bekerja menurut lapangan kerja utama yang dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu sektor primer (Agriculture), sektor sekunder (Manufacture) dan sektor tersier (Services). Sektor A(Agriculture) termasuk didalamnya sektor pertanian. Sektor M (Manufacture) meliputi sektor pertambangan, Industri, listrik, gas, dan bangunan/konstruksi. Sedangkan sektor S Services) termasuk didalamnya sektor perdagangan, angkutan, pergudangan, keuangan, perusahaan, dan jasa masyarakat. Tabel 1. 38 Jumlah Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2007 di Provinsi Papua Barat
Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Lapangan Pekerjaan Utama A 9186 8146 1184 11609 60769 13895 20703 9521 4292 M 2417 673 154 2684 5823 646 8293 481 9568 S 8834 3788 1279 3789 14768 4933 10425 2610 27647 Total 20437 12607 2617 18082 81360 19474 39421 12612 41507

Papua Barat 139305 30739 78073 248117 Sumber : Statistik Tenaga Kerja Provinsi Papua Barat 2008

Dari tabel diatas terlihat bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor yang dominan yang digeluti oleh penduduk di setiap kabupaten di Provinsi Papua Barat kecuali Kota Sorong. Hal ni disebabkan karena karakteristik perkotaan yang telah mendominasi Kota Sorong sebagai pusat perdagangan di Provinsi Papua Barat. Untuk kabupaten lainnya, terlihat pola yang jelas yaitu didominasi oleh pertanian diikuti oleh sektor services dan terakhir oleh sektor manufacture. Dari Tabel 1.39 di bawah ini dapat ketahui bahwa jumlah tenaga kerja terserap sesuai data dari BPS adalah sebesar 40.400 jiwa yang terdistribusi pada lapangan pekerjaan sektor pertambangan, pertanian, konstruksi, jasa, industri pengolahan. Dari sekian industri yang terdapat di Provinsi Papua Barat, industri yang mampu menyerap tenaga kerja cukup tinggi adalah industri agro dan industri pengolahan. Tabel 1.39 Penyerapan Tenaga Kerja pada Sektor Industri Tahun 2007
Jenis Industri Industri Besar Agro Jenis Pertambangan Jumlah TK 2.847 13.189

LAPORAN AKHIR 1-79

yaitu : Provinsi Papua.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 industri pengolahan listrik gas Konstruksi Penggalian Perhotelan 12. Di antara suku-suku itu mendiami wilayah provinsi Papua Barat tercatat ada sekitar 67 LAPORAN AKHIR 1-80 .hasil hutan Total Tenaga Kerja (jiwa) Sumber : Statistik Tenaga Kerja Provinsi Papua Barat 2008 Jenis industri pertambangan meskipun memberikan sumbangan yang sangat besar pada perekonomian. Berdasar perjanjian Den Haag tanggal 16 Mei 1895. Pada awalnya. 1.400 Industri Kecil Menengah Sandang. yakni antara 00 – 120 Lintang Selatan. Provinsi ini terletak di Pulau New Guinea yang merupakan pulau terbesar dalam kepulauan Melanesia. Adat Suku-suku yang mendiami di Provinsi Papua dan Papua Barat tercatat ada 206 suku-suku. Irian Jaya secara resmi menjadi bagian Republik Indonesia tahun 1963 setelah ditanda tanganinya New York Agreement antara pemerintah Indonesia dan Belanda tahun 1962 atau 18 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pernyataan bergabung dengan Indonesia dilakukan melalui PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) yang diadakan tahun 1969.950 3.819 40. Pada tahun 2003 pemerintah Indonesia membagi wilayah Provinsi Irian Jaya menjadi 3 (tiga) provinsi.279 262 399 1. ternyata penyerapan tenaga kerjanya tidak besar sebab kebutuhan pekerja ini disuplai oleh wilayah lain dan pekerja dari mayarakat Papua sendiri merupakan minoritas.kulit Logam.4.5 Adat dan Budaya Tradisional Provinsi Papua Barat adalah provinsi yang letaknya paling Timur dari Negara Kepulauan Republik Indonesia.218 1. yaitu bagian Barat menjadi milik Belanda sedangkan bagian Timur menjadi milik Jerman.162 1. Ketrampilan dan keahlian juga menjadi kriteria penting bagi industri skala besar untuk mendapatkan sumber daya manusia yang lebih produktif. pulau ini dibagi menjadi 2 bagian. Iklimnya tropis lembab karena letaknya di bawah khatulistiwa. Irian Jaya Barat dibentuk pada tanggal 6 Februari 2006 dan berubah namanya menjadi Papua Barat pada tanggal 7 Februari 2007.besi elektro Kimia. A. Papua Barat menjadi satu provinsi dengan Irian Barat (1 Mei 1963 – 1973) dan kemudian berubah nama menjadi Irian Jaya (1973 – 2000). Provinsi Irian Jaya dan Provinsi Irian Jaya Barat.275 3. sehingga penduduk yang tidak memiliki keahlian tertentu dengan sendirinya akan tersisihkan dari dunia kerja formal.agro.

Kawe. Ma’ya. Sekarang pemuda dan pemudi sering mendapatkan jodoh melalui acara-acara adat seperti pesta tari adat yang bernama ares komer. Baham. Acara pesta seperti itu adalah makan bersama. Yahadian. Biga. Kemberano. Ansus. Puragi. tanah ibarat seorang ibu yang memberikan kehidupan bagi anaknya. Meyah. Ekari. perpindahan itu menjadi urusan komunal atau urusan semua anggota suku bukan urusan individu semata. Arguni. jika terjadi perpindahan kepemilikan atas tanah. Moskona. Maden. Seget. As. Abun. Sekar. Semimi. Pada suku-suku ini dikelompokkan dalam klan. Mor.Tanah adat dalam konsep orang Papua adalah hak milik sekaligus hak atas penguasaannya. Tunggare. Karas. Dalam pandangan suku-suku asli Papua pada umumnya. Kepemilikan tanah bagi suku Papua bersifat komunal. Kadang-kadang orang sudah dijodohkan sejak kecil. dalam tanah terkandung dan terkait berbagai nilai di antaranya nilai ekonomi. Roon. Buruai. Mairasi. Mpur. Perkawinan di antara orang Arfak biasanya banyak diatur orangtua dan para kerabatnya. Mai Brat. Kamoro. Erokwanas. Bagi mereka. Karon Dori. politis. Pada saat melamar ketua klan dan tokoh-tokoh adat serta semua kerabat dari kedua belah pihak akan ikut serta. Tanahmerah. Moile. Kais. Manikion. Arandai. menyanyi. dan Mapia. Woi.klan yang merupakan bagian dari masyarakat. Wandamen. Tandia. Tehit. Kowiai. Konda. Wauyai. Suku-suku itu adalah Suku Matbat. tanah adat adalah satu hal yang sangat penting. Kokoda. Yeretuar. Pengawasan terhadap anak gadis sangat ketat sehingga seorang pemuda tidak mudah mengganggunya. Mer. Dengan demikian. Legenyem. Suabo. Kuri. Dengan demikian. Onin. Uruangnirin.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 suku. Sistem perkawinan Suku Maibrat dan Karon di Kabupaten Sorong didasakan pada exogami klan kecil patrilineal (dalam bahasa Karon disebut rae sawam). LAPORAN AKHIR 1-81 . Biak. Kalabra. Hatam dan Manikion yang sering disebut orang Arfak tinggal di Kabupaten Manokwari dan terdiri dari 35 klan. Waigeo. Tanah merupakan modal awal kehidupan. menari dan memuji seseorang dengan dengan pantun yang dilagukan. Perkawinan antar keluarga dari pihak ayah dilarang sampi keturunan yang ke-4 dan ke-5. fungsi tanah terintegrasi ke dalam keseluruhan aktivitas kehidupan. Iha. Jadi. Kamberau. pertahanan dan religius magis. Moi. Duriankere. Yaur. Iresim. Bedoanas. Kaburi. Irarutu. Hatam. Meoswar. Dianggap sebagai exogami jika seorang pria Maibrat atau Karon kawin dengan gadis dari klan lain yang tinggal mengelompok di desa lain dan dianggap endogami jika seorang pria kawin dengan garis lain dari klan kecil lain tapi tinggal mengelompok di desa yang sama. Suku Meyah. Moraid. Pom. Apabila seorang pemuda menaruh hati pada seorang gadis maka orang tua si pemuda akan melamar gadis itu untuknya. Dusner.

3) Adanya kewenangan tertentu dari masyarakat hukum adat itu untuk mengelola tanah wilayahnya. dan menyelenggarakan tanam. Pengakuan eksistensi hak ulayat oleh UUPA (pasal 3) merupakan hal yang wajar. 3) Mengatur dan menetapkan hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan hukum yang berkenaan dengan tanah (jual-beli. yakni tanah wilayah yang merupakan ruang tempat hidup dan bekerja (Lebensraum) mereka. Tetapi mengacu pada konsepsi yang bersumber pada hukum adat. Seperti juga hak atas tanah lainnya. dalam pelaksanaanya hak ulayat mengenal adanya fungsi sosial. karena hak ulayat beserta masyarakat hukum adat telah ada sebelum terbentuknya negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. hak ulayat tidak bersifat ekslusif. warisan dan lain-lain). Dengan demikian. Jadi. hak ulayat menunjukkan hubungan hukum antara masyarakat hukum (subyek hak) dan tanah/wilayah tertentu (obyek hak). dan penggunaan lain-lain). mempunyai batas wilayah tertentu. yaitu masyarakat hukum adat itu yang memenuhi karakteristik tertentu . 2) Obyek hak ulayat. termasuk menentukan hubungan yang berkenaan dengan persediaan. dapat dikatakan penentu kriteria-kriteria masih ada atau tidaknya hak ulayat dilihat pada tiga hal. Penentuan kriteria keberadaan hak ulayat dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) dengan mengikutsertakan masyarakat hukum adat. Menurut Maria Sumardjono (2006). 2) Mengatur dan menentukan hubungan hukum antara orang dengan tanah (memberikan hak tertentu pada subjyek tertentu). UUPA (Undang-Undang Peraturan Agraria) tidak menentukan kriteria mengenai eksistensi hak ulayat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Hak yang melekat sebagai kompetensi khas pada masyarakat hukum adat berupa wewenang/kekuasaan mengurus dan mengatur tanah seisinya dengan daya laku ke dalam dan keluar disebut sebagai hak ulayat. hubungan antara masyarakat hukum adat dan tanah/wilayahnya adalah hubungan menguasai bukan memiliki. tanah (untuk mengatur (pembuatan bercocok persediaan pemukiman/persawahan baru dan lain-lain) dan pemeliharaan tanah. LSM dan instansi terkait dengan sumber daya alam. Hal itu berarti bila tanah ulayat diperlukan untuk kepentingan umum ataupun kepentingan lain LAPORAN AKHIR 1-82 . Menurut Maria Sumardjono (2006) beberapa ciri pokok kelompok masyarakat hukum adat adalah mereka merupakan suatu kelompok manusia. yakni: 1) Subyek hak ulayat. peruntukan dan pemanfaatan serta pelestarian wilayahnya. Hak ulayat tersebut berisi wewenang untuk: 1) Mengatur pemukiman. mempunyai kewenangan tertentu. mempunyai kekayaan tersendiri terlepas dari kekayaan perseorangan.

Pemberian bidang tanah ulayat oleh masyarakat hukum adat dapat ditempuh dengan cara dilepaskan selamanya atau diberikan penggunaannya dalam jangka waktu tertentu. Mereka telah membangun orang Papua dengan logika dan dinamika orang Papua sendiri. Jadi pembangunan di Papua Barat berdasarkan karakteristik dan budaya yang terdapat pada masyarakatnya. atau para pendatang memperlakukan sumber daya alam mereka tidak sesuai dengan tradisi penduduk setempat. di setiap kampung ada satu kelompok gergaji tarik. (2003) mengatakan bahwa dalam pengamatannya selama 10 tahun di Irian Jaya (1977-1987) seringkali protes-protes warga masyarakat terhadap pemerintah atau kelompok lain hanya dilandasi kekhawatiaran mereka bahwa sumberdaya alam mereka tak akan dapat memenuhi kebutuhan mereka maupun anak cucu mereka. Dengan kata lain. maka hak ulayat dapat diberikan pada pihak lain. Manfaat yang diperoleh pihak luar hendaknya juga dapat bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup dari masyarakat hukum adat yang bersangkutan. sosiologis dan berwawasan lingkungan. Misalnya. Pembangunan di Papua Barat sebaiknya ditata bersama pemerintah setempat. semacam prakoperasi yang mensuplai kebutuhan kayu untuk bangunan pemerintah. kompensasi yang diberikan kapada masyarakat hukum adat hendaknya mempertimbangkan hilangnya atau berkurangnya sumber daya alam yang menjadi penghidupannya dan hilangnya pusat-pusat budaya dan religi masyarakat hukum adat tersebut. Dalam upaya mencapai kesepakatan. bukan dengan cara big logging company (pembabatan hutan oleh perusahaan besar) ataupun HPH (Hak Penguasaan Hutan). tapi oleh komunitas setempat. Ahli antropologi. ahli ekonomi maupun ekologi perlu dilibatkan untuk merekayasa unit-unit kegiatan yang fungsional. tempat ibadah ataupun memasok kebutuhan kayu untuk bangunan kaum transmigaran. pengembangannya lebih ditekankan pada pendidikan dan ketrampilan berdasarkan karakteristik lingkungan setempat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Aditjondro J. Untuk pengembangan ekonomi di Papua Barat. pemanfaatan hutan di Papua. Ketika berhadapan dengan hak ulayat diperlukan kesadaran dari pihak luar yang berarti harus membuka diri untuk memahami kesadaran hukum suatu masyarakat (yang dalam hal ini masyarakat Papua Barat) yang terwujud dalam tindakan nyata sehari-hari berangkat dari sudut pandang dan pola pikir masyarakat yang bersangkutan. Bukan karena mereka mau mendirikan satu negara sendiri yang lepas dari Republik Indonesia. pola-pola ekonomi harus ditata dengan LAPORAN AKHIR 1-83 . Pembangunan di Indonesia Bagian Timur khususnya Provinsi Papua Barat sebaiknya dikhususkan pada segi-segi yang antropologis. Di Asmat dimisalkan ada 10 kampung. Kita bisa belajar dari Missi atau LSM di sana.

Hukuman ini ditimpakan kepada seseorang yang telah melakukan tindakan hanom. Rumah dibangun cukup besar dan berbentuk segi empat dan dinding-dindingnya terbuat dari kulit pohon dan tanpa jendela. kepala kampung. Norma yang berlaku dalam adat suku-suku ini adalah ”menjaga keharmonisan antara manusia dengan manusia. kepala desa dan beberapa tokoh orang tua lainnya. B. Walau tidak ada hukum formal dalam adat suku-suku ini.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 lebih kreatif dan dikembangkan berdasarkan karakteristik ekonomi dan kultur etnis setempat. lantai di ruang LAPORAN AKHIR 1-84 . Bersetubuh dengan saudara sendiri atau istri orang lain. Hukuman ini disebut ”Hanom-tagawim”. tapi jika ada orang yang melanggar suatu hukum adat akan dihukum oleh melalui pengadilan adat yang terdiri dari para kepala klan. dengan persetujuan ayah dari anakanak pria tadi. Satu tumitsen biasanya mempunyai 3-5 kamar. termasuk roh-roh yang hidup di alam serta keharmonisan antara manusia dengan arwah leluhurnya”. yakni berzina atau melakukan perzinahan dengan seseorang yang masih ada hubungan kekerabatan yang dekat (incest). Pohon yang digunakan untuk tiang tengah rumah disebut mesiyi (bahasa Meyah). sedang lantainya dari belahan nibung atau bambu. Ada satu hukuman yang sangat berat yang berlaku dalam adat suku di Papua Barat yaitu dibunuh tanpa boleh membela diri atau mendapat pembelaan dari siapapun. sebanyak pasang suami istri yang ada. Dalam satu rumah biasanya terdapat kamar untuk wanita (meraja) dan kamar pria (meiges) serta sebuah ruang duduk (umersa) di tengah. manusia dengan alam sekitarnya. seorang pria yang telah menikah menetap di rumah orang tuanya di tengah-tengah para kerabatnya (yaitu adat virilokal). Budaya Tradisional 1. terdiri dari sepasang suami istri bersama keluarga inti dari 3-5 anak pria mereka. Apabila daya tampungnya terbatas. Suatu rumah dengan suatu tempat khusus untuk upacara dan pesta adat disebut modambau . Atap rumah terbuat dari daun pandan . kemenakan ataupun ipar. Kelompok kekerabatan terkecil dalam masyarakat Suku Arfak adalah keluarga luas virilokal yang menghuni satu rumah (tumitsen). maka kita akan selalu berada dalam konflik dengan sesama. dibangun rumah yang baru. Tidak adanya jendela menyebabkan asap pekat dari perapian dari dalam rumah orang Arfak sangat mengganggu pernafasan dan berakibat banyaknya penduduk yang terkena penyakit paru-paru. Kampung dan Rumah Menurut adat. termasuk paman. Norma tersebut di atas mengandung pengertian bahwa bila kita mengabaikan keharmonisan hubungan dengan sesama.

Tarian mudi-mudi Tarian ini diadakan di lapangan terbuka yang disebut Tup. d. b. di dalam sinar nyala api. Gerakan ini diikuti langkahmengikuti irama. 2. dipisahkan oleh tungku apui. Muda-mudi duduk berhadapan muka. Di sini mereka yang saling terpaut hatinya menyatakan kasih sayangnya dengan memberikan suatu benda. Ukir. atau berjalan atau berlari yang dilakukan sambil bernyanyi. Tem. merupakan gerakan dua orang yang saling berhadapan muka sambil menghentakkan kaki di tanah bersama-sama. Tup. merupakan gerakan berputar di tempat. Kalau dibandingkan dengan rumah suku Amungme yang hidup di lembah-lembah pegunungan bagian tengah di Irian. Ada tiga macam tarian. maju dua langkah dan mundur dua langkah seirama dengan lagu yang dibawakan. Tarian Pesta LAPORAN AKHIR 1-85 . Para muda-mudi duduk berhadapan dipisahkan ole tungku api di antara mereka. Si pemuda melambai-lambaikan dedaunan kepada gadis yang disukainya dan bila si gadis menghampiri si pemuda sambil mengikuti irama lagu yang dinyanyikan dan menerima dedaunan yang dilambaikan berarti si gadis juga tertarik pada pemuda tersebut (arama emonggop agewin). b. yaitu: a. Tarian ini dapat berlangsung semalam suntuk.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 tengah tak dialasai dengan batang-batang nibung sehingga menari dilakukan di atas tanah. dan Anyam-anyaman Ada empat bentuk tarian dalam adat suku ini yaitu: a. Dalam tarian ini para penari membentuk lingkaran sambil menyanyikan lagu-lagu asmara. Pipakwean. Weantagawi. Seni Tari. gerakan ini diadakan di dalam rumah. Dalam tarian ini para pemuda dan pemudi menyanyikan lagu dan pantun tentang cinta. seirama dengan lagu yang dibawakan. Ada tarian muda-mudi yang berlangsung di dalam rumah yang disebut Tem. merupakan gerakan berlari mondar-mondir di suatu tempat terbatas. sambil bernyanyi kaum pemuda memberi daun kepada pemudi dan sebaliknya. Sebelum masa pendudukan (sivilisasi) sebuah kampung suku Amungme yang cukup besar biasanya terdiri 15 – 20 buah rumah keluarga (Onggoi) dengan 5 – 8 buah rumah laki-laki (Itorei). ada persamaan dalam hal bentuk dan bahan material dari bangunan rumah walau ada sedikit perbedaan dalam hal penggunaan dan pemanfaatan ruangan. c.

Biak. Moi. LAPORAN AKHIR 1-86 . Seni ukir terbatas pada mengukir anak panah. merah dan kuning. Wauyai. mi’yepa (hiasan kepala yang dianyam memakai manik-manik). Moraid. As. Tarian Perang Tarian perang mirip dengan tarian pesta. Waigeo. Karon Dori. Sedangkan warna kuning dibuat dari akar tumbuh-tumbuhan dan tali-talian hutan. Ma’ya. Biga. Lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu kegembiraan. Para wanita dan pria orang Arfak biasanya mengenakan perhiasan yang berupa gelang yang terbuat dari anyaman tali rotan dan disebut liya. 3. Bahasa-bahasa yang digunakan ada 67 bahasa. Legenyem. Seget. Abun. Hatam. de’maya (kalung). Arandai. Provinsi Irian Jaya dan Provinsi Papua Barat tercatat ada 310 bahasa yang digunakan masyarakatnya. Duriankere. Ukiran-ukiran yang khas itu juga dibuat padap perlatan-peralatan perang lainnya. Kebhinekaan Bahasa di Papua Di Provinsi Papua. Warna merah dibuat dari tanah merah yang digali dari dalam tanah. Kerajinan Seni ukir kurang begitu dominan dalam kebudayaan suku di wilayah Papua Barat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tarian ini biasanya dilakukan di lapangan terbuka. Warna putih dibuat dari tanah liat. Di waktu senggang seorang pria Arfak mengukir serta melukis busur dan anak panahnya. hitam. c. C. Orang-orang datang sambil menyanyi lalu masuk ke lapangan pesta. Di provinsi Papua Barat sendiri tercatat ada 67 suku yang mendiaminya. Wandamen. isi keladi putih yang membusuk atau abu dari tungku api. Warna hitam dibuat dari asap lemak babi dan damar. Yang membedakannya adalah lagu-lagu yang dibawakan dalam tarian perang berisi lagu-lagu perjuangan yang membangkitkan semangat juang. Kawe. kesenangan dan pujian. Mpur.Moskona. Mereka berdiri membentuk lingkaran dan berputar sambil meneriakkan kata-kata “ka”. Kemudian mereka mengadakan tarian Tup yang ditarikan sepanjang pesta. Hiasan dan busana bagi wanita adalah rumbai-rumbai yang dibuat dari alang-alang dan serat kulit kayu yang diikatkan dipinggang dan kalung manik-manik (gemsya). Serat-serat itu diambil dari batang pohonnya kemudian dipintal menjadi benang yang kemudian dengan ini digunakan untuk membuat berbagai barang kebutuhan hidupnya. Meyah. yakni : bahasa Matbat. Manikion. Warna-warna yang mendominasi yang digunakan dalam kerajinan adalah putih. Maden. arang dapur atau dari buah-buahan hutan. breya (anyaman kulit dan bulu burung atau kasuari untuk hiasan kepala).

Ansus. sebagian derah fak-fak dan Kaimana serta kepulauan kepulauan sekitar Kaimana. Ekari. Sedangkan bahasa-bahasa non-Melanesia yang digunakan di Papua adalah khas Papua yang tidak mempunyai hubungan linguistik dengan bahasa-bahasa di luar Papua dan Papua Niugini.M. Onin. Sumberdaya budaya yang dalam hal ini keragaman bahasa perlu mendapat perhatian untuk dikembangkan terlebih dahulu sebelum pengembangan sumberdaya alam dan sumberdaya penduduk Papua Barat itu sendiri untuk mendukung kegiatan pembangunan di provinsi Papua Barat. Mor. Tandia. provinsi Irian Jaya dan Provinsi Papua Barat terdiri dari 9 fila. bahasa-bahasa di Non-Melanesia di provinsi Papua. yaitu: 1) fila Trans Irian. Roon. daerah kepulauan Biak-Suntori. Kamoro. Kowiai. Kalabra. dan Mapia. 3) fila Teluk Cendrawasih. 8) fila Sko tingkat golongan. Arguni. Yaur. Bedoanas. 4) fila Kepala burung bagian Timur tingkat golongan. Dusner. Iha. Seorang ahli bahasa bernama C. Dapat dikatakan provinsi ini menyimpan potensi sumberdaya manusia dan budaya. Alor. Yeretuar. Mairasi. Suabo. Puragi. Menurut klasifikasi Loukotka ada paling sedikit 31 golongan bahasa di Papua. Meoswar. Tunggare. Di dalamnya terdapat 234 bahasa yang masih diklasifikasikan LAPORAN AKHIR 1-87 . 2) fila Papua Barat. Kais. Kamberau. 7) fila Pauwi tingkat isolat. Tanahmerah. Konda. Yahadian.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kaburi. Mai Brat. Karas. Pom. Persebaran fila bahasa-bahasa Melanesia di ke tiga provinsi ini terlihat di peta B. Uruangnirin. Waropen Bawah dan Atas di sekitar Waren. Berdasarkan pembagian fila. Pulau Numfor derah sekitar Manokwari. Semimi. Pantar dan Halmahera Utara (Koentjaraningrat. Baham. Tehit. Bahasa-bahasa di provinsi Papua dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan besar yang oleh ahli linguistik disebut phylum (fila). Moeliono dalam bab berjudul ”Ragam bahasa di Irian Barat” dalam buku berjudul Penduduk Irian Barat (1963: hal. 6) fila Taurap (Borumeso) tingkat isolat. 5) fila Warnbori tingkat isolat. yaitu daerah bagian belakang leher burung danpulau-pulau yang berhadapan dengan daerah pantai Waropen. Loukotka telah melakukan upaya untuk mengklasifikasikan kebhinekaan bahasa di Papua dan dimuat secara singkat oleh A. sebagian besar kepulauan Raja Ampat. Kuri. Iresim. Buruai. Woi. derah Yapen Timur dan Barat serta pulaupulau sekitarnya. Sekar. 1994). Erokwanas. fila Kuomtari tingkat golongan (lihat peta B). Provinsi Papua berada di deretan Kepulauan Melanesia yang melingkar mulai dari kepulauan di sebelah Timur-laut Papua dilanjutkan ke arah Timur benua Australia hingga kepulauan Fiji di sebalah Utara Selandia Baru. 33-35). Di seluruh Papua dapat digolongkan ke dalam bahasa-bahasa Melanesia. Mer. yaitu fila bahasa-bahasa Melanesia dan fila bahas-bahasa non-Melanesia. Kemberano. Kokoda. Irarutu. kecuali dengan bebereapa bahasa di pulau Timor.

Semini dan Kamoro. Menurut Index of Irian Jaya Language. g. Sebagai contoh misalnya bahasa-bahsa di kabupaten Fakfak. Mer. Pengetahuan terhadap keragaman bahasa-bahasa di provinsi Papua Barat memang mutlak diperlukan untuk dapat mengkomunikasikan kepada penduduk tentang dan turut berpartisipasi di dalam perencanaan pembangunan serta manfaatnya khususnya progam-progam yang ada dalam RTRW Papua Barat agar mereka berperan serta Barat pembangunanan.1 Peranan dan Kontribusi Perekonomian Wilayah Provinsi Papua Barat dalam Konteks Nasional LAPORAN AKHIR 1-88 . h. e. Karas. Kamberau. b. Kokoda. yaitu golongan Fila Trans Irian yaitu Suabau. Mor.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 juga secara geografikal. Sekai. f. bahasa Madik dan bahasa Karon adalah bahasa-bahasa yang berbeda dan oleh para ahli linguistik dimasukkan dalam satu golongan yaitu fila Papua Barat. Bahasa-bahasa di Kabupaten Sorong Bahasa-bahasa di Kabupaten Manokwari Bahasa-bahas di Kabupaten Biak-Numfor Bahasa-bahasa di Kabupaten Paniai Bahasa-bahasa di Kabupaten Fakfak Bahasa-bahasa di Kabupaten Irian Jaya Barat-daya Bahasa-bahasa di Kabupaten Jayapura Bahasa-bahasa di KabupatenJayawijaya Bahasa-bahasa di Kabupaten Merauke Bahasa-bahasa di Kabupaten Irian Jaya Tenggara Penggolongan bahasa menurut kabupaten itu berbeda dengan klasifikasi berdasarkan asas-asas linguistik. Mairasi. c. Bedoanas. Di samping itu pemahaman terhadap bahasa-bahasa di provinsi Papua akan dapat mengurangi kesalah pahaman serta konflik yang mungkin timbul diantara penduduk asli dengan pihak-pihak luar yang berkaitan dengan perencanaan dan pembangunan di wilayah ini.5 ASPEK EKONOMI WILAYAH 1.5. Uruangnirin dan Yaier. Koiwai. d. Iha. yang mendekati pembagian administratif dan provinsi ke dalam 10 kabupaten yaitu: a. Tetapi ada 13 bahasa yang sama sekali berbeda golongannya. j. ada 22 bahasa dan beberapa diantaranya termasuk fila Austronesia-Melanesia. yaitu Onin. 1. Buruwai. Baham. Bahasa Maibrat. Arguna. Irasutu. Bahasa Hatam dan Moile termasuk fila Kepala Burung Bagian Barat sedang bahasa Meyah dan Manikion adalah fila Kepala Burung Bagian Timur. Erokavanas. mainasi. i.

903. nilai PDRB Provinsi Papua Barat menempati ranking ke 29 dari 33 Provinsi di Indonesia dan menyumbang sekitar 0. tiap lapangan usaha memiliki kontribusi tidak lebih dari 1%.13 508.154. meningkat 177% dibandingkan tahun 2000 yaitu Rp. Angka ini menunjukkan. pendapatan per kapita ini tidak dapat digunakan untuk mengukur pendapatan di lapangan.80 308. PDRB Provinsi Papua Barat mencapai 8.149 0. Persewaan.00 2.088%.879.528.50 195.94 triliun rupiah. menempati peringkat ke-5 dari 33 provinsi.050.10 771.717.693. Meskipun demikian.059 0.205 0.201.034.91 PDRB Indonesia (dalam juta Rupiah) 363.152.785.944. Hal ini berarti bahwa peningkatan PDRB di Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-89 .928.496 0. 2006 Dekripsi lebih dalam tentang kontribusi Provinsi Papua Barat dapat ditunjukkan dengan presentase tiap lapangan usaha terhadap PDRB Indonesia.968.339. Kekayaan alam yang berlimpah terutama di sektor primer Apabila ditinjau dari pendapatan per kapita. Nilai PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan juga menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.223.568.5. orientasi untuk meningkatkan perekonomian dapat dikatakan masih sebatas untuk memenuhi kebutuhan ekonomi wilayah ini.89 622.037.29 39. yaitu dari perikanan dan pertambangan.281 0.2 Struktur Ekonomi Wilayah Provinsi Papua Barat PDRB dan Perkembangannya Berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku.289 0.76 1.90 430.724.592 0.40 Persentase PDRB Papua Barat terhadap PDRB Indonesia Tahun 2005 dirinci per Lapangan Usaha Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Kontribusi terbesar kepada Indonesia oleh Provinsi Papua Barat adalah pada sektor primer sebesar 1. 1.179 0.580.072. 6.296.089. Beberapa sektor unggulan seperti pertambangan dan perikanan memang diekspor ke luar wilayah.67 565.20 180.000. Provinsi Papua Barat memiliki pendapatan per kapita pada tahun 2005 sebesar Rp 12.79 137. dan Jasa Jasa-jasa Total PDRB Papua Barat (dalam ribu Rupiah) 2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2005.29% PDRB Nasional.587. Secara umum.00 769. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan. Tabel 1.284 Sumber : BPS. Gas.225 0.984.11 1.370.20 276.70 230.27 7.176.775.00 26.40 Kontribusi (%) 0.

903.82 6 369 374.403.304.34 108.551.333.00 103. Tabel 1.4 kali lipat antara kurun waktu 2000-2006.204.089.537.555.95 160.256.9 triliun.76 Perkembangan (%) 100.304.89 4.597.32 4.53 4.19 140.370.18 5. perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat tanpa migas setara dengan perkembangan PDRB dengan migas. hasil perhitungan Gambar 1.03 140.13 PDRB atas Dasar Harga Konstan Jumlah (Juta Rp) 3. terus meningkat setiap tahunnya hingga menjadi sebesar 5.601. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tahun 2000 adalah sebesar 3.796.51 triliun pada tahun 2006.34 5.27 149.11 12 471 605.91 8.22 Perkembangan (%) 100.91 4.17 199.969.70 226.104.627.957.957.92 125.28 10 369 836.846.94 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber: Papua Barat Dalam Angka 2009.31 Perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat Tahun 2000-2006 Besar sumbangan migas untuk PDRB Papua Barat mencapai sekitar 20 persen sehingga sangat mempengaruhi perekonomian di Papua Barat.601.56 134.17 5.945.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bukan hanya karena dampak inflasi namun menunjukkan kenaikan produksi yang nyata.391.201.89 4.03 262.41 PDRB Provinsi Papua Barat Atas dasar Harga Berlaku dan Konstan 20002008 Tahun PDRB atas Dasar Harga Berlaku Jumlah (Juta Rp) 3.297.38 7.49 121.576.23 5 934 315.98 4.02 315. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tersebut berkembang sebesar 1.38 166. Selisih antara PDRB Papua Barat dengan migas dan tanpa migas berdasarkan atas harga berlaku mencapai lebih dari 1 triliun.22 6. PDRB Provinsi Papua LAPORAN AKHIR 1-90 .206.00 109. Berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku.59 116.

42 3.00 2001 3.221.700. hasil perhitungan Tahun Gambar 1.90 114. pada tahun 2000 besar PDRB adalah 2.00 50.43 122.36 triliun rupiah.669.88 3.00 150.996.642.00 165.281.912.434.00 2.32 Perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 20002006 250.12 106.06 128.75 3.02 4.30 3.81 triliun rupiah.23 226.45 100.00 100.02 2. terus meningkat setiap tahunnya hingga menjadi sebesar 4.15 192. sedikit di atas bawah PDRB dengan migas yang sebesar 1.00 200.34 2003 4.38 2002 3.289.795.4 kali lipat.32 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007.147. Sebelumnya. Setiap tahunnya PDRB Papua Barat tanpa migas menurut harga berlaku selalu meningkat.42 PDRB Provinsi Papua Barat Atas dasar Harga Berlaku dan Konstan Tanpa Migas Tahun 2000-2006 PDRB atas Dasar Perkembangan PDRB atas Dasar Perkembangan Harga Berlaku (%) Harga Konstan (%) Jumlah (Juta Rp) Jumlah (Juta Rp) 2000 2.8 triliun rupiah. PDRB Papua Barat tanpa migas atas dasar harga konstan tahun 2000 adalah sebesar 2.448.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Barat tanpa migas pada tahun 2006 menurut harga berlaku mencapai 6.183.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 PDRB ADH Berlaku Tanpa Migas PDRB ADH Konstan Tanpa Migas LAPORAN AKHIR 1-91 .835.2 triliun rupiah pada tahun 2006.431.265.49 kali lipat antara kurun waktu 2000-2006.206. Tabel 1.617. Nilai PDRB Papua Barat tanpa migas atas dasar harga konstan juga menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.817.367.15 146.69 138.96 130.11 149.137.00 0.417.89 2006 6.12 2005 5.42 2004 4.903. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tersebut berkembang sebesar 1.147.834.18 113.665.45 100.802.817.

namun lebih fluktuatif.34 13. angka pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan justru menunjukkan rata-rata pertumbuhan yang lebih tinggi dan angka pertumbuhannya juga lebih fluktuatif dibandingkan dengan PDRB dengan migas atas dasar harga konstan.74 persen pada tahun 2005.74 16.02 6.49 2003 15. sektor nonmigas mengalami kenaikan produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor nonmigas.06 2004 18.08 11.66 13.83 7.50 r 14. Angka rata-rata pertumbuhan selama tahun 2000 hingga 2006 adalah sebesar 5.68 14.69 5. Angka rata-ratanya juga menunjukkan angka yang lebih rendah.08 persen. Rata-rata pertumbuhan dalam kurun waktu tersebut untuk PDRB atas dasar harga berlaku adalah sebesar 14. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2000 hingga 2006 sektor migas mengalami inflasi yang cukup tinggi dibandingkan dengan sektor nonmigas.07 13.56% dan angka pertumbuhan setiap tahunnya yang terus meningkat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pertumbuhan ekonomi Papua Barat selalu berada dalam kondisi positif dalam kurun waktu tahun 2000 hingga 2006.68 persen pada tahun 2003. 43 Pertumbuhan PDRB Provinsi Papua Barat 2000-2006 Dengan Migas Tanpa Migas Atas Dasar Atas Dasar Atas Dasar Atas Dasar Harga Berlaku Harga Konstan Harga Berlaku Harga Konstan 2001 9. Sementara itu dari segi produksi. LAPORAN AKHIR 1-92 .37 7.74 2006 13.91 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007. Tabel 1. Sementara itu.29 2005 20.49 3.85 6. Pertumbuhan setiap tahunnya terus meningkat hingga mencapai 7.02 6. Angka pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku tanpa migas lebih fluktuatif dibandingkan PDRB dengan migas.39 12. namun kemudian pertumbuhannya melambat menjadi 6. Analisis pertumbuhan PDRB tanpa migas menunjukkan hasil yang berbeda.63 7. hasil perhitungan Tahun Pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan juga selalu menunjukkan angka yang positif.48 6.03 4.38 2002 10.17 6.04 7.38 7.56 5.

46 5. Persewaan.34 5.69 4.14%.83 9.73 6. gas.25 Bangunan 6.09 3.13 8.29 5.23 2.33 13.03 8.06 Perdagangan 7.11 -0.52 Listrik.40 1. Sementara itu sektor tersier yang terdiri dari sektorsektor sisanya memiliki angka pertumbuhan tertinggi yaitu 9.82 7.52 9.61 13.55 3.59 15.07 Jasa-jasa 8.75 14. Sektor pertambangan dan penggalian memiliki angka pertumbuhan yang paling rendah yaitu sebesar 1.91 10.75 9.77 9.77 8.00 10.25 8.49 Angkutan dan Komunikasi 11.34 -1. Kedua sektor ini menjadi sektor dengan angka pertumbuhan di bawah angka pertumbuhan PDRB Provinsi Papua Barat.87 8.33 Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Papua Barat Tahun 2000-2006 25. dan Jasa -6. Hal ini menjadikan kelompok sektor primer memiliki angka pertumbuhan yang paling rendah dibandingkan dengan kelompok sektor lainnya.80 2.87 10.93 14.19 9.95 11.29 Sekunder 6.17 5.36 0.77 Industri Pengolahan 6.34 8.04 30.00 15.33 7.38 9.90 9.94 1.10 21.00 5. dan Air Minum 7.64%.39 6.07 3.38 8.97 10.79 8.14 1.72 12.13 9.00 0.76 8.43 Pertambangan dan Penggalian -4.97 2.91 7.14 8.44).73% disusul dengan sektor jas-jas yaitu sebesar 9. Jika dilihat pertumbuhan tiap-tiap sektor maka sektor angkutan dan komunikasi mengalami pertumbuhan yang tertinggi yaitu sebesar 12.90 3.14 9.85 9.84 5.56 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.91 17.00 9.71 13.26 12.35 3.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. dan air minum serta bangunan memiliki angka pertumbuhan yang sebesar 8.28 10.94 Tersier 7.07 7.31 PDRB 3.74 4. Gas.20 6.89 5.48 9.65 11.75%.65 2. Tabel 1.14% diikuti sektor pertanian sebesar 4.34 2.84 Keuangan.54 5.95 9.66 Primer 0.00 20.13 12.00 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Dengan Migas Atas Dasar Harga Berlaku Dengan Migas Atas Dasar Harga Konstan Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan Rata-rata pertumbuhan PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan pada kurun waktu 2000-2006 adalah sebesar 5.43 4.64 LAPORAN AKHIR 1-93 .29%.91 2.48% (lihat Tabel 1.68 7. Kelompok sektor sekunder yang terdiri dari industri pengolahan listrik.44 Pertumbuhan PDRB Papua Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000-2006 Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 4. hasil perhitungan r 4.78 4.

53 Tersier 7. dan Jasa -6.05 2. Persewaan.38 9.16 persen kepada PDRB berlaku Provinsi Papua Barat tahun 2006 diikuti oleh sektor industri pengolahan yang sebesar 1.07 Jasa-jasa 8.29 6.65 11.06 Perdagangan 7.552 triliun (17.33 7.67 Sekunder 7.49 Angkutan dan Komunikasi 11.36%).53 5.91 7.33 13. Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa kegiatan primer pada sektor migas yang bergantung pada bahan baku mengalami kecenderungan perlambatan.74 7.78 9.31 PDRB 6.91 2.85 9.64%.49%.04 30.66 10. hasil perhitungan r 4.75 9.34 2. Tabel 1.07 3.50 Primer 4.03 8.95 11.20 10.16 Listrik.91 4.43 Pertambangan dan Penggalian 8.28 10.82 7.429 triliun rupiah atau sebesar 27.09 3.60 5.56 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.42 5.13 9.95 5.98 8.48 9. Hal ini menunjukkan bahwa sekitar 24% industri pengolahan di Provinsi Papua digerakkan oleh kegiatan di sektor migas.75 14.97 2.06 7. Hal ini menyebabkan pertumbuhan kelompok sektor primer tanpa migas menjadi lebih tinggi dibandingkan denga migas. Sementara itu.72 12.47%) dan sektor pertambangan dan penggalian yang sebesar 1.49 9.87 10.65 5.57 6.84 5.76 8.13 8.06 6.26 7.91 10.84 Keuangan.20 6.83 9.34 8.38 8. 45 Pertumbuhan PDRB Papua Barat Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan 2000-2006 Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 4. sedangkan pertumbuhan kelompok sektor sekunder menjadi lebih rendah. aktivitas sekunder pada migas yang berupa kegiatan lanjutan memanfaatkan hasil dari sektor primer cenderung mengalami peningkatan.14 9.07 9.93 14.25 8.27 3.64 PDRB dan Kontribusi Sumbangan setiap sektor dalam PDRB dapat menunjukkan komposisi perekonomian di wilayah tersebut.61 13. sektor industri pengolahan dengan mengeliminir subsektor industri pengilangan minyak dan gas bumi memiliki angka yang menjadi lebih rendah yaitu sebesar 6. Gas.94 7.29 6. Tabel 1.11 4.21 13. Sebaliknya.14 9. dan Air Minum 7.46 5.13 7.35 Industri Pengolahan 7.23 6.77 7.46 PDRB Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Lapangan Usaha PDRB Atas PDRB Atas Dasar LAPORAN AKHIR 1-94 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pertumbuhan PDRB tanpa migas atas dasar harga konstan menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB dengan migas yaitu sebesar 9.19 9.25 Bangunan 6.17 5. Sektor pertanian merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu sebesar 2.74 6.90 9.49 7.73 6.26 12.13 12.89 5.00 9.77 9.741 triliun (19.97 10.38 7.79 8.

052.95 473 536.46 Bangunan 1 150 834.53 Angkutan dan Komunikasi 866 875.99 Perdagangan 1 290 421.26 2.54%). dan Air Minum 66 030.10 28.53 Pertambangan dan Penggalian 1 846 593.13 8.53 29 098.02 17. Persewaan.46 7. lebih kecil dari 1% baik menurut PDRB atas dasar harga konstan maupun berlaku.916.346.48 0.65 9.15 Tersier 3.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dasar Harga Berlaku Harga Konstan Jumlah % Jumlah % Pertanian 3 107 119.953.56 6.81 1 098 592.991.712. Listrik.38 22.43 Keuangan. dan Jasa 302 327.859.12 45. LAPORAN AKHIR 1-95 .25 Industri Pengolahan 2 835 994.50 1.474. Sektor pertanian tetap merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu sebesar 29.465.06 684 491.76 100.55 27.37 32.44 31. hasil perhitungan Terdapat perbedaan kontribusi bila menggunakan PDRB atas dasar harga konstan.02 10. dan air minum memberikan kontribusi terkecil.42 150 145.70 Listrik.23 572 822.09 2.36 Jasa-jasa 1 005 409.978.35 670 818.75 PDRB 12 471 605.72 2.05 13.70 14.58 8.036. Gas.74 872 426. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian dan pertambangan penggalian memiliki jumlah yang tinggi jika dilihat dari segi produksi.66 23. Sementara itu industri pengolahan memiliki besaran produksi yang lebih rendah namun memiliki nilai yang lebih tinggi.00 6 369 374.34 0. gas.07 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka Tahun 2009.13 24.78 1.91 1 817 444.83 39.78 Sekunder 4.22 100.48%) dan lapangan usaha industri pengolahan (13.70 10.00 Primer 4.033. menunjukkan tingkat ketersediaan dan tingkat penggunaan dari infrastruktur dasar yang masih rendah di Papua Barat.31% kepada PDRB konstan Provinsi Papua Barat kemudian oleh pertambangan dan penggalian (19.32 10.

20 persen.52%). Sektor perdagangan memiliki kontribusi terbesar kedua yaitu sebesar 508 miliar atau 14.35 PDRB Papua Barat per Kelompok Sektor Tahun 2008 Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Konstan 2000 Analisis dengan mengeliminir migas menunujukkan beberapa perbedaan.34 PDRB Papua Barat per Sektor Tahun 2008 ADH Berlaku Kontribusi kelompok sektor utama dalam ekonomi berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku menunjukkan sektor primer yang terdiri dari pertanian dan pertambangan dan penggalian sebagai sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu 3. Sektor sekunder ada pada posisi berikutnya dan kemudian diikuti oleh sektor tersier. Terdapat perbedaan jika menggunakan angka PDRB atas dasar harga berlaku.982 triliun (44. Sektor primer tetap menjadi sektor dengan kontribusi tertinggi namun diikuti oleh sektor tersier baru kemudian sektor sekunder. PDRB tanpa migas atas dasar harga berlaku untuk sektor pertanian menjadi sektor dengan kontribusi tertinggi yang angkanya mencapai 2. Besarnya kontribusi sektor primer yang hingga mencapai angka 44.52 persen dapat menunjukkan bahwa sektor ini merupakan sektor vital yang menjadi penopang utama perekonomian di Papua Barat. Gambar 1.152 triliun atau sebesar 39.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Kontribusi LAPORAN AKHIR 1-96 .74%.

Tabel 1. sedikit lebih rendah dibandingkan dengan jika memperhitungkan migas.24% Berdasarkan kelompok sektor utama.458.68 42867.46 2.47 persen turun menjadi sebesar 10.41 39.38% 10.20% 0.367.15 151.66 38.496.26 2.644.44 94706.49 10.11 Primer 2.93 9.560.60% atau LAPORAN AKHIR 1-97 .457.54 646.434.59 11.204. Gas.17 13.804. Persew aan.22 11.36 397041.429.64 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.458 miliar.62 1.70 21.59 100 39. Sektor tersier memiliki kontribusi sebesar 38.15% Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Kontribusi sektor industri pengolahan tadinya sebesar 19.75% Angkutan dan Komunikasi Keuangan.59 1.20 48.91 38.221. hasil perhitungan Gambar 1.226.26 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.06% 10. Gas.420.36 PDRB Papua Barat per Sektor Tanpa Migas Tahun 2006 Pertanian 11.54% 1. Begitu pula dengan sektor industri pengolahan meskipun tidak sejauh pada sektor pertambangan penggalian.02 445795.21 1.42 10.06% atau hanya sebesar 67.60 1. Persewaan.79 0.430. dan Jasa Jasa-jasa 11.53 14.38 734.01 10.47 PDRB Provinsi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 2006 Lapangan Usaha PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Jumlah (juta Rp) % 2.15 67.43 38.82 38.24 925.15% 38. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan. sektor primer menjadi sektor dengan kontribusi sebesar 39.87 0.625.166.06 649.39 22.986.53 Sekunder 1.36% turun menjadi 1.96 10.121.53% 2.21% atau senilai 2.48 561814.75 715.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sektor pertambangan dan penggalian turun drastis dari 17.19 911.60 24616.206.587.141.23 100 4.32 Tersier 2.25 571658.7 13. dan Jasa Jasa-jasa PDRB 6. dan Air Minum Bangunan Perdagangan 14.59 440813.038.289.53 PDRB Atas Dasar Harga Konstan Jumlah (juta RP) % 1627118.496 triliun rupiah.413.669.42 miliar rupiah.20 persen atau sebesar 649.

9 1 14.16 17.36 19.86 18.37 PDRB Papua Barat per Kelompok Sektor Tahun 2006 38.90 2005 27.53 11.19% atau sebesar 1.71 19.457 triliun rupiah.77 21. Jika dilihat dari PDRB tanpa migas atas dasar harga konstan. komposisinya juga memberikan angka komposisi yang cenderung setara dengan PDRB tanpa migas atas dasar harga berlaku.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sebesar 2.413 triliun rupiah. Adanya perubahan ini seiring dengan meningkatnya angka pertumbuhan pada sektor industri pengolahan tiap tahunnya dan pertumbuhan yang lambat dari sektor pertambangan dan penggalian.9 8 20.63 2001 32.20 19.48 Persentase Tiap Sektor Ekonomi dalam PDRB Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2000-2008 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan 2000 32.75 2002 32.24 25.8 1 22. Tabel 1.7 LAPORAN AKHIR 1-98 .31 19. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan produksi dan inflasi sektorsektor di luar migas bergerak secara sebanding.77 2003 31.42 15. sebaliknya sektor pertambangan dan penggalian terus menurun.47 2007 26.94 2004 29.21% 22.85 13.6 4 15.51 13.19% Primer Sekunder Tersier Pergeseran Struktur PDRB Provinsi Papua Barat PDRB Papua Barat yang ditampilkan secara time series dapat menjadi salah satu alat untuk mengetahui apakah terjadi perubahan atau pergeseran struktur ekonomi di wilayah tersebut.97 2006 27. Gambar 1. Sektor sekunder memberikan kontribusi terendah yaitu sebesar 22. Kontribusi sektor industri pengolahan terus meningkat.45 18. Antara tahun 2000-2006 perubahan menonjol terjadi pada sektor pertambangan penggalian dan industri pengolahan. Kedua sektor ini memang seolah-olah bertukar posisi.60% 39.50 18.1 2008 24.

21 100.96 10.29 1. hasil perhitungan Gambar 1.00 10.42 1.3 5 6.93 100. sektor primer tetap merupakan sektor yang dominan dalam kurun waktu 2000 hingga 2006.59 8.50 7. dan Jasa Angkutan dan Komunikasi Perdagangan Bangunan Listrik.38 6.44 2.25 2008 4 0.78 9.86 5.06 100. dan Jasa Jasa-jasa PDRB Primer Sekunder Tersier 2000 0.38 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tahun 2000-2006 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Jasa-jasa Keuangan.91 1.39 2004 0.62 25.54 8.2 7 28.34 26.41 7.43 6.0 50.5 8 7. Meski demikian sektor primer memiliki kontribusi yang terus menurun.0 39.28 23. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan.03 26.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2003 0.59 23.52 28.0 46.0 47.56 8.02 9.37 6.47 2007 0 0.92 24. LAPORAN AKHIR 1-99 .60 4.54 8. Persewaan.0 52.51 27.1 1 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka Tahun 2009.01 6. Gas.89 1.67 8.88 100.19 26. Persew aan.38 1.47 6.13 5.0 54.0 44.95 2.77 18.58 persen pada tahun 2005.78 100.28 1.23 10.0 57.01 27.0 42.81 2002 0.6 2 29.22 1.42 8.56 21.35 7.81 7. Gas.77 persen pada tahun 2000 menurun menjadi 44.71 100.72 32.59 8. dan Air Minum Industri Pengolahan Pertambangan dan Penggalian Pertanian Jika dilihat dari kelompok sektor.80 6.91 8. Kedua sektor tersebut memiliki angka pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB secara total.67 9.54 100.61 10.15 9. Kontribusi sektor primer adalahs sebesar 57.48 100.60 8. Hal ini adalah akibat dari lebih rendahnya pertumbuhan sektor pertanian dan pertambangan penggalian yang termasuk ke dalam kelompok sektor primer dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.64 2001 0.28 20.87 2006 0.96 26.69 8.53 9.02 100.03 Lapangan Usaha Listrik.07 8.72 6.01 2005 0.50 27.

46 11.83 Listrik. Sektor industri pengolahan yang terus tumbuh dan meningkat menjadi faktor tingginya kontribusi sektor sekunder.35 2.93 10.35 9. jauh di atas sektor-sektor lainnya namun cenderung LAPORAN AKHIR 1-100 .42 13.66 Bangunan 9.75 11.77 11.49 Sekunder 20.59 37.21 33.15 1.94 1.54 10.48 Pertambangan dan Penggalian 0.85 11.01 Industri Pengolahan 10.31 43.83 8.07 2.00 100.86 20.73 10.80 Angkutan dan Komunikasi 6.39 Pergeseran Kelompok Sektor Ekonomi Papua Barat Tahun 2000-2006 100% 80% 60% Tersier Sekunder Primer 40% 20% 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tabel 1.00 Primer 46.43 36.23 9.40 Perdagangan 12.59 persen pada tahun 2000 menjadi 28.72 42.63 20.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.55 100.06 10.42 14. dan Jasa 2.78 41.21 22.49 Persentase Tiap Sektor Ekonomi dalam PDRB Papua Barat Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2000-2006 Lapangan Usaha 2000 2001 2002 2003 2004 Pertanian 45.33 7. Gas.16 45.48 44.00 40.15 2.07 13.89 20.85 Keuangan.00 100.00 39.01 11.00 100.53 100.94 0. Persewaan.26 9. Sementara itu kontribusi sektor tersier bergerak naik turun pada kisaran angka 23% hingga 28% setiapa tahunnya.00 100.65 1. Dieliminirnya non migas praktis menjadikan sektor pertanian menjadi sektor paling vital bagi perekonomian Papua Barat.52 0.85 11.37 42.36 2.60 Sektor sekunder menunjukkan terus mengalami peningkatan.13 2.05 10.17 9. dan Air Minum 0.29 44.24 14.76 34.87 0.44 13.01 persen pada tahun 2006.60 43.63 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.43 0.80 35.38 11.91 11.19 38.69 21.04 10.64 11.45 8.72 2006 38.58 0.89 0. hasil perhitungan 2005 39.87 7.54 0.88 Tersier 33.76 20.52 0. dari 18.20 0.30 9.69 Jasa-jasa 11.08 12.29 PDRB 100.16 2.

100% Gambar 1.21% dan tahun 2006 menjadi sebesar 38. dan Jasa Angkutan dan Komunikasi Perdagangan 60% Bangunan Listrik. Gas.40 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 20002006 100% Jasa-jasa Keuangan.78 persen pada tahun 2005. Kontribusinya pada tahun 2000 adalah sebesar 33. Kontribusi sektor primer adalah sebesar 46. Dieliminirnya migas praktis menjadikan sektor primer bertumpu hampir sepenuhnya pada sektor pertanian.41 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 2000-2006 80% 60% Tersier Sekunder 40% Primer 20% LAPORAN AKHIR 1-101 2001 2002 2003 2004 2005 2006 0% 2000 . Gambar 1. Meski demikian sektor primer memiliki kontribusi yang terus menurun. sektor primer sebagai sektor yang dominan dalam kurun waktu 2000 hingga 2006 di Provinsi Papua Barat. Peran sektor pertambangan dan penggalaian turun drastis hingga berkisar pada angka 1 persen. dan Air Minum 40% Industri Pengolahan Pertambangan dan Penggalian Pertanian 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 80% 20% Sektor sekunder bergerak pada angka yang relatif tetap yaitu memberikan kontribusi yang berkisar pada angka 20% pada tahun 2000 hingga 2004 dan sedikit mengalami kenaikan pada tahun 2006 menjadi 22. Besar kontribusinya juga terus meningkat setiap tahunnya. Dilihat dari kelompok sektor. Persew aan. Sementara itu sektor tersier memiliki kontribusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontribusinya ketika memperhitungkan migas. Kontribusi sektor primer tanpa migas lebih rendah dibandingkan dengan kontribusi sektor primer dengan migas.19%.16 persen pada tahun 2000 menurun menjadi 40.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 menurun.60%. Hal ini adalah akibat dari lebih rendahnya pertumbuhan sektor pertanian dibandingkan sektor-sektor lainnya.

Meski demikian sektor ini mengalami kecenderungan memiliki kontribusi yang menurun.1 Sektor Primer Sektor primer merupakan sektor dengan sektor yang selama ini dominan di Provinsi Papua Barat. persewaan. Sementara itu sektor-sektor yang termasuk dalam kelompok sektor tersier adalah sektor perdagangan. LAPORAN AKHIR 1-102 . Subsektor kehutanan dan perikanan merupakan subsektor yang paling berpengaruh pada sektor pertanian di Papua Barat.5. Sektor pertanian di wilayah lainnya di Indonesia umumnya bergantung pada pertanian tanaman pangan dan perkebunan. Perikanan dan kehutanan adalah subsektor yang paling menonjol dari sektor pertanian di Provinsi Papua Barat.3 Tinjauan Ekonomi Sektoral Tinjauan ekonomi sektoral berusaha melihat ekonomi wilayah Papua Barat dilihat dari 3 kelompok sektor utama yaitu sektor primer. Berdasar atas PDRB atas dasar harga konstan. Secara fisik.57 triliun rupiah namun dari segi persentase kontribusi menurun menjadi 29. sektor angkutan dan komunikasi. dan sektor jasa-jasa. dan tersier.24% dari PDRB Papua Barat pada tahun 2000.66%.27 triliun rupiah atau 32. hotel.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Pertumbuhan kedua sektor yang termasuk dalam sektor primer yaitu pertanian dan pertambangan penggalian termasuk yang paling lambat jika dibandingkan dengan sektor lainnya. listrik dan air minum serta sektor bangunan. 1. Kelompok sektor primer terdiri dari sektor pertanian dan sektor pertambangan penggalian. dan jasa perusahaan. 1) Pertanian Sektor pertanian merupakan sektor paling dominan di Provinsi Papua Barat. dan restoran.5. Pembagian ke dalam ketiga sektor tersebut berdasar pada asal terjadinya proses produksi. sektor keuangan. Sektor sekunder terdiri dari sektor industri pengolahan.3. Pada tahun 2005 meningkat menjadi 1. sekunder. sektor ini memiliki kontribusi sebesar 1. Papua Barat memang kaya akan hutan dan dikelilingi oleh lautan.

PETERNAKAN. kemiskinan merupakan salah satu isu utama di Provinsi Papua Barat. perkebunan.137 855 2005 Produksi (ton) 24.20 16.13 5. Kehutanan.72 9.3 Peternakan & Hasil-hasilnya 55366.131 2.897 19.81 5.67 10 Luas Panen (Ha) 8545 1947 1963 2170 1937 1819 925 2006 Produksi (ton) 27518 3120 21913 21405 1856 1917 944 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 32. Namun sejak beberapa dekade terakhir. Tabel 1.58 15.4 Kehutanan 430664.94 110.95 Sumber : Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 LAPORAN AKHIR 1-103 .24 1573097. tanaman sagu tergeser oleh nasi.63 98.58 9.57 590345.5 Perikanan 457877.823 2. Padahal untuk Papua Barat.70 29. masyarakatnya sebenarnya tidak terbiasa membudidayakan padi namun kemudian beralih.28 2. ketiga susbsektor ini sebenarnya dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas.991 2.279 871 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 31.66 4. dan peternakan lebih bersifat kegiatan budidaya.543 2.86 2.18 10.18 2.702 3.317 25.66 10.336 1.2 Tanaman Perkebunan 113777. Peternakan.00 10. Terlebih karena.14 10.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Sifat dari pertanian pada subsektor kehutanan dan perikanan lebih bersifat ekstraktif.48 15. Produksi dan Rata-Rata Produksi Pertanian Tanaman Pangan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Jenis Pertanian Luas Panen (Ha) Padi sawah dan padi ladang Jagung Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau 7.64 9.58 10.48 1. hasil perhitungan Pertanian Tanaman Pangan Tanaman pangan pokok di Papua Barat pada umumnya adalah tanaman sagu (Metroxylon rumphii.58 11.85 1.99 112.50 Jumlah Produksi Pertanian. Hal ini adalah akibat dari kebijakan pemerintah yang menjadikan nasi sebagai salah satu indikator kemakmuran dan menjadikannya sebagai bahan makan pokok secara nasional.49 1.080 2.87 148870.57 8. Metroxylon sago).34 32.97 3.1 Tanaman Bahan Makanan 218261.093 2.02 111.21 Sumber : PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007. Tabel 1.52 263602.94 5.88 487106.52 1.43 100.85 98. 2000 Jumlah % 2005 Jumlah r % 1275948.78 1.28 KEHUTANAN & PERIKANAN 1.54 4.21 Luas Panen (Ha) 11 467 1 070 2 052 1 524 958 1 624 560 2008 Produksi (ton) 39 537 1 711 23 071 15 341 979 1 740 557 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 34.40 83172. Jika dikembangkan.72 1. dan Perikanan Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Lapangan Usaha PERTANIAN.21 10. Sementara itu subsektor tanaman pangan.54 10. memanfaatkan langsung dari alam.51 Luas Panen.76 11.

Ubi Kayu. Sorong Selatan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tanaman padi umumnya dibudidayakan oleh para transmigran dari Jawa.58 832 115.54 1 833 111.64 954 100. Tabel 1.46 1 962 100. disusul oleh Kabupaten Sorong dengan produksi sesbesar 6623 ton.22 419 110. dan Ubi Jalar per Kabupaten/Kota di Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Luas Panen (Ha) 95 56 501 7 378 81 3 053 303 Padi sawah Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 324 34. komoditi pangan yang mengalami peningkatan produksi adalah padi. pada tahun 2006 menghasilkan produksi mencapai lebih dari limabelas ribu ton.92 1 208 100.83 381 112.52 Luas panen.63 363 100.11 194 34. dan Kota Sorong.25 12 873 113.83 522 100.80 1 540 100. Komoditi padi sawah juga paling banyak ditemui di Manokwari.30 216 26.13 374 106. Ubi kayu dan ubi jalar paling banyak diproduksi oleh Kabupaten Manokwari. tanaman padi baik padi sawah maupun ladang memiliki luas tanam yang paling luas yaitu sebesar 7.63 6 371 100. LAPORAN AKHIR 1-104 . Produksi dan Rata-rata Produksi Pertanian Padi Sawah.95 Luas Panen ( Ha) 132 72 165 221 1 137 38 218 34 35 Ubi Kayu Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 1 486 112.65 1 058 100.95 25 309 34. rata-rata produksi komoditi ini juga yang tertinggi yaitu mencapai 110 kwintal per hektar. ubi jalar.07 2 459 111. dan padi.67 10 784 35.75 Luas Panen (Ha) 135 120 95 195 633 105 153 36 52 Ubi Jalar Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 1 362 100.38 Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Sumber : Papua Barat dalam Angka 2009 Tiga komoditi dengan produksi tertinggi adalah ubi kayu. Padi sawah tidak ditemukan di Kaimana.32 1 059 34. Pada tahun 2005. Sementara itu ubi kayu memiliki jumlah produksi dalam ton yang tertinggi yaitu mencapai duapuluh lima ribu ton lebih. sementara penduduk asli lebih suka memilih tanaman keras seperti sagu dan ketela.823 hektar dengan jumlah produksi mencapai duapuluh empat ribu ton.64 1 651 32. Untuk tahun 2006. dan kacang hijau.16 2 416 110. ubi jalar.

53 Luas panen dan Produksi Pertanian Padi Sawah. Padi Ladang. Kacang Tanah. Kedelai. dan Ubi Jalar. dan Kacang Hijau per Kabupaten/Kota di Papua Barat tahun 2008 Kabupaten/Kota Padi Sawah Luas Panen (Ha) 85 51 365 6 507 3 053 297 10 358 7 580 7 546 6 415 5 231 Produksi (Ton) 298 180 1 293 22 920 10 784 1 043 36 518 26 101 24 810 20 896 16 445 Padi Ladang Luas Panen (Ha) 10 5 136 871 81 6 1 109 777 999 1 408 1 745 Produksi (Ton) 26 14 358 2 389 216 16 3 019 2 103 2 708 3 806 5 152 Jagung Luas Panen (Ha) 4 25 42 123 562 39 245 21 9 1 070 1 518 1 947 2 080 1 375 Produksi (Ton) 7 39 68 202 890 65 390 35 15 1 711 2 429 3 120 3 317 2 024 Ubi Kayu Luas Panen (Ha) 132 72 165 221 1 137 38 218 34 35 2 052 1 615 1 963 2 336 1 853 Produksi (Ton) 1 486 832 1 833 2 459 12 873 419 2 416 381 374 23 071 17 833 21 913 25 897 20 440 Ubi Jalar Luas Panen (Ha) 135 120 95 195 633 105 153 36 52 1 524 1 874 2 170 1 991 2 044 Produksi (Ton) 1 362 1 208 954 1 962 6 371 1 058 1 540 363 522 15 341 18 702 21 405 19 543 20 476 Kacang Tanah Luas Panen (Ha) 34 20 100 186 392 123 96 7 958 1 725 1 937 2 093 1 350 Produksi (Ton) 35 20 102 192 398 126 98 7 979 1 763 1 956 2 131 1 348 Kedelai Luas Panen (Ha) 2 12 36 152 1 305 23 78 16 1 624 1 282 1 819 2 137 1 326 Produksi (Ton) 2 13 40 162 1 398 26 82 17 1 740 1 360 1 917 2 279 1 523 Kacang Hijau Luas Panen (Ha) 1 14 28 160 179 100 71 7 560 667 925 855 570 Produksi (Ton) 1 13 27 160 176 103 71 7 557 670 944 871 412 Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Sorong 2008 2007 2006 2005 2004 Sumber : Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-105 . Ubi Kayu.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.

749 8. Kopi dan cengkeh memiliki luas tanam yang termasuk kecil dibandingkan dengan komoditi perkebunan lainnya.2008 2003 2004 Luas Produksi Luas Produksi (ha) (ton) (ha) (ton) 1. Tanaman ini juga memiliki nilai jual yang tinggi.436 5.911 16.463 2005 Produksi (ton) 60 1. Selain dikembangkan oleh perkebunan besar.962 2008 Luas Produksi (ha) (ton) 750 60 5.911 1.540 17. Kelapa Sawit 11. wilayah pantai dan dataran rendah.911 1. Komoditas ini jika dikembangkan lebih intensif akan memberikan manfaat ekonomi yang besar karena memiliki nilai jual yang tinggi.965 305 2 8. Cengkeh 891 48 751 55 2.942 305 8. Kelapa.691 5.897 6. dan Coklat Di Provinsi Papua Barat 2003 – 2008 (Ha) Kabupaten Kelapa Sawit Kelapa Coklat LAPORAN AKHIR 1-106 . Jambu Mete 305 1 305 1 7. Ransiki.540 20. Pala 5.54 Luas Area dan Produksi Tanaman Perkebunan Rakyat Di Provinsi Papua Barat 2003 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Perkebunan Produksi kelapa (kelapa buah) merupakan salah satu produk perkebunan tertinggi di Papua Barat.463 2. Coklat 7. Kelapa tumbuh hampir merata di semua wilayah Papua Barat terutama wilayah pulau-pulau kecil dan pesisir.55 Luas Area Tanaman (ha) dan Produksi (ton) Kelapa Sawit. terutama karena meningkatnya kebutuhan CPO sebagai salah satu bahan bakar energi alternatif untuk otomotif. namun baru dimanfatkan secara kecil-kecilan dan yang paling banyak adalah pemanfaatan santan kelapa untuk kebutuhan rumah tangga. Kopi 391 197 708 214 5.911 1.811 4.594 5.030 10.326 708 218 10.942 5.962 Kelapa sawit juga merupakan salah satu komoditi perkebunan dengan luas tanam terluas. Kelapa 9. dan Prafi.326 218 5.749 17.749 3. Diharapkan biji kakao dapat dimanfaatkan oleh perusahan yang mengolah biji kakao menjadi coklat bubuk.540 708 10. Wrmare. Tabel 1.970 2. Pengolahan biji sawit masih pada tahap pengolahan produk cruide palm oil (CPO).296 2.156 16.749 16. Tanaman coklat merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menonjol. coklat juga dikembangkan oleh perkebunan rakyat dan terdapat di Kabupten Manokwari yaitu di sekitar Oransbari.965 2 2. Data luas tanaman dan produksi dilihat dari jenis perkebunan berupa perkebunan rakyat adalah sebagai berikut: Tabel 1.340 15. Buah kelapa belum diolah secara intensif terutama untuk menghasilkan minyak goreng skala perusahaan.899 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Jenis Tanaman Luas (ha) 750 5.

259 13.425 11. Peternakan Komoditi peternakan yang ada di Provinsi Papua Barat adalah sapi.829 342.107 493.427 29.512 891. luasan tertinggi ada di Raja Ampat namun produksi tertinggi terdapat di Sorong. Manokwari.185 43. dan Kaimana.719 83.989 129.610 868.502 32.283 66.415 204. babi dan jenis unggas.012 66.708 12. populasi ayam pedaging terdapat di Sorong.330 912 1.676 68 236 13.297 34.309 48.777 Ayam Petelur 40.125 774.835 580 2. Untuk komoditi kelapa.094 55 1.755 Itik 252 57 61 527 10.536 Kambing 580 571 173 288 5.274 405.110 Ayam Pedaging 2. sementara ayam kampung paling tinggi terdapat di FakFak.106 360.223 11.678 33. Sementara itu.803 554 875 12. komoditi ini sudah menjadi komoditi dengan produksi tertinggi di Papua Barat.961 33.130 254.794 80.344 597 1. populasi jenis ternak lainnya paling banyak terdapat di Manokwari. Kecuali ayam ras pedaging dan ayam kampung.026 15.454 31.508 229 5.822 846 10.992 414.216 564 206 323 19.821 33.193 45.379 35.239 273. Tabel 1.790 45. namum produksi tertinngi terdapat di Kabupaten Raja Ampat.56 Populasi Ternak menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 Sapi 1.623 1.429 30.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Produksi 384 1238 69 75 1433 750 1433 895 6277 Luas 170 854 250 250 3204 978 1807 950 8463 Produksi 36 57 295 105 959 75 286 978 2791 Luas Produksi Luas Fak-Fak 1095 Kaimana 1261 Teluk Wondama 126 Teluk Bintuni 5000 2170 66 Manokwari 11540 15156 2012 Sorong Selatan 290 Sorong 2012 Raja Ampat 3737 Kota Sorong Jumlah 16540 17326 10599 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Perkebunan rakyat kelapa sawit yang telah ada di Papua Barat baru terdapat di Kabupaten Manokwari dan Teluk Bintuni.769 54.923 23. kambing.923 Babi 921 467 624 1.992 45.019 Ayam Buras 44.667 725. Meski hanya terdapat di 2 (dua) kabupaten tersebut.425 LAPORAN AKHIR 1-107 .036 155.890 27. Coklat memiliki luas tanam paling luas di Manokwari kemudian Sorong.

379 1. Tabel 1.966 808.549 Ayam Buras/ Kampung 32.073 10.806 25.514 340 366 3.546 3.003 24. Sementara itu. Produksi telur ayam kampung dan telur itik paling tinggi terdapat di Manokwari.438 77.246 33.038 1.777 20.463 757.748 39.939 62.048 Ayam Petelur 15.339 22.331 3.858 2. Tabel 1. memungkinkan wilayah ini memiliki tingkat konsumsi tinggi.583 59.637 22.770 19.658 90. 58 Produksi Telur menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (kg) Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Ayam Kampung 19.672 676.457 9.461 326.036 14.347 235.751 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Produksi telur unggas paling tinggi adalah dari jenis ayam ras petelur.245 50 175 9.671 640 7.612 Itik/Entog 1.979 617 1.005 95.467 483.773 6.928 33.873 Ayam Ras 199.58 4 732.994 9.734 88.255 1.866 9.186 467.066 Ayam Pedaging 2. Kabupaten Manokwari merupakan daerah penghasil daging peternakan tertinggi untuk jenis apapun.827 35.726 325 LAPORAN AKHIR 1-108 .942 38.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Produksi daging ternak di Provinsi Papua Barat berupa hewan ternak sapi merupakan yang tertinggi dibanding dengan komoditi lainnya. termasuk ayam pedaging dan ayam kampung yang jumlah populasinya bukan yang tertinggi di Papua Barat.807 732.164 Babi 13.007 50. telur ayam ras paling banyak diproduksi di Kabupaten Sorong. 57 Produksi Daging Ternak menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (kg) Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 2007 2006 2005 Sapi 54.227 298..475 49.278 28.304 14.192 31.749 437.020 4.715 230.679 9.646 162.028 20.242 29.580 894.522 653.504 14.246 212.496 40 1.125 46.342 13.227 114.305 149.358 Itik 187 42 45 391 7.895 25.214 Kambing 2.068 28. Manokwari merupakan ibukota dan wilayah dengan jumlah penduduk tertinggi.027 26.058 235.714 27.593.156 531.124 247.169 60.

37 2. Manokwari 2.6 m³. Teluk Bintuni memiliki jumlah lahan terluas untuk penebangan yang dilakukan oleh perusaahan HPH yaitu seluas 6. Pengolahan dan distribusi hasil-hasil hutan tersebut melalui jalur Pelabuhan Manokwari dan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.753 640.00 1. Selain itu.125 74.480 Ha. Dengan menganalisis potensi dan pola pemasaran hasil hutan di Provinsi Papua Barat.07 hektar. 59 Luas Hutan dan Perairan diProvinsi Papua Barat dirinci Per Kabupaten/Kota Kabupaten/Kota 1. Kegiatan pemanfaatan hutan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan. Menhutbun Nomor: 891/Kpts-II/1999) sebesar 42.921. dan Korea Selatan. Adapun negara tujuan ekspor diantaranya adalah Negara Cina.840 Ha yang terdiri dari Kawasan Hutan seluas 40.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 326. Wondama 4.600. Hasil produksi hutan di Provinsi Papua Barat sebagian besar diekspor ke negara lain. pulai.400 286. matoa. Kab.800.00 2. Sorong 5.665.500 74.079 259. Hongkong.360 Ha dan Kawasan Perairan 1.283. kulit masohi.604 93. kayu kemenyan.50 686.678.346 5.546.224.945. Luasnya lahan penebangan di Teluk Bintuni membuat kabupaten ini memiliki produksi kayu terbesar yaitu 101.00 608.082 406 1.199. Raja Ampat Luas Wilayah*) 1.065.701 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Kehutanan Potensi hutan di Provinsi Papua sangat tinggi.00 Hutan+Perairan 1.84 1.05 LAPORAN AKHIR 1-109 . Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Papua secara keseluruhan (termasuk Provinsi Papua Barat) berdasarkan (SK. Hasil hutan di Provinsi Papua Barat antara lain adalah beberapa jenis kayu yang bernilai ekonomis seperti merbau. mersawa. Jepang. Sorong Selatan 6.549 Sorong Raja Ampat Kota Sorong PROVINSI PAPUA BARAT 2007 2006 2005 2004 2003 67. ada pula produksi hutan non kayu seperti rotan.450.863.960.695 19. kulit lawang.90 1.00 724.417 78. T.156 102. nyatoh. India.979.382 69. T.099 334. Kab.733. gahau.899 35.\ Tabel 1.052 315.466 287. Kab.165 246.721.564.327 73. Kab.800. maka dapat diasumsikan bahwa sektor kehutanan termasuk dalam sektor basis di Provinsi Papua Barat. medang dan bintangur.138.103 81.657 113.00 578. Kab.156.300 87.023 123.700. sagu. resak.700. Bintuni 3.01 610. Kab.242 10.151.

Sementara Industri Primer Hasil Hutan (IPHH) yang berkembang di Papua Barat digolongkan menjadi 2 yaitu Industri yang berskala besar dengan nilai produksi lebih dari 6. Selain itu.966.57 940 14.17 7.65 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2006. Kab. hasil perhitungan Dalam pengusahaan dan pemanfaatan hutan.654.733.726. industri kehutanan adalah industri yang padat modal.426.866.040.00 1.41 11.58 38. Di Provinsi Papua Barat sendiri telah dikeluarkan 29 unit HPH yang meliputi hutan seluas 4.00 31. diberikan Hak Pengusahaan Hutan dan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu kepada perusahaan dibidang terkait. Pendapatan dari sektor kehutanan merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi Provinsi Papua Barat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.135. Sedikitnya terdapat 3 perusahaan berskala besar dan 15 perusahaan sedang yang bergerak dalam sektor kehutanan ini.00 11. Sehingga yang lebih mendapatkan hasil ekonomi dari industri kehutanan adalah para pemodal besar.07 Jumlah Produksi 42.60 Perkembangan Luas Penebangan Hutan dan Hasilnya oleh Pemegang Hak Perusahaan Hutan Tahun 2006 (ha) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Luas Penebangan 2.97 Ha.850. Kota Sorong Grand Total Sumber: Papua Barat dalam Angka 2006.29 207.388.224.211.00 1.165.003. Untuk itu.406.98 9.823. Namun tentunya pengekploitasian hutan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi degradasi lingkungan yang drastis.921. Tabel 1.377.53 1.24 6.000.736.199. hasil perhitungan Sektor kehutanan di Provinsi Papua Barat memiliki potensi yang sangat baik.13 14.432.000 m3.000. sehingga masih dapat menikmati hasil dari kekayaan hutan wilayah ini. Perikanan LAPORAN AKHIR 1-110 . perlu ada upaya dari pihak pemerintah daerah untuk melindungi kepentingan masyarakat.000 m3 dan industri di bawah sedang yaitu produksi dibawah 6.58 41. Kaimana 9.2 101.786.352.25 3.653.994. Kab. Fakfak 8.6 1.

000.000. dan armada penangkapan) terjadi dari tahun 1997 yaitu bersamaan dengan mulai anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang berlanjut dengan krisis ekonomi/moneter.0 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 Fak-Fak Sorong Manokwari LAPORAN AKHIR 1-111 . Dalam kurun waktu tersebut.0 50.0 10. Hasil Tangkapan Ikan Laut (kg/tahun) 60. Peningkatan produksi terjadi pula sebagai akibat dari adanya upaya peningkatan pertumbuhan (rumah tangga perikanan) penduduk.000. Krisis ekonomi yang dialami oleh bangsa Indonesia justru membawa keberuntungan bagi para nelayan karena harga produk perikanan saat itu memiliki nilai tawar yang cukup baik.0 30.000.0 40.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Berdasarkan Statistik Perikanan Provinsi Papua tahun 1991-2002. alat tangkap.000. Hal ini berkaitan erat sekali dengan kecenderungan kenaikan rumah tangga perikanan (skala kecil dan menengah) dan penambahan jumlah alat tangkap ikan. Secara agregat kenaikan produksi perikanan laut Provinsi Papua Barat dari kegiatan perikanan tangkap tahun 1991 – 2002 dapat dikatakan cukup tinggi. peningkatan secara tajam produksi perikanan termasuk atribut perikanan lain (rumah tangga nelayan.000.000.0 20.000.000.000.000.0 0.000. dan hal ini diduga sebagai penyebab meningkatnya jumlah produksi perikanan. jumlah nelayan tradisional dan penambahan jumlah perusahaan penangkapan ikan serta adanya peningkatan jumlah dan jenis alat tangkap. disamping pertumbuhan iklim investasi yang lebih baik lagi. produksi perikanan laut dari kabupaten-kabupaten yang ada di wilayah Papua Barat menunjukkan peningkatan produksi tangkapan untuk berbagai jenis ikan.

Tabel 1.73% Perahu Papan Besar 3.61 Jumlah Rumah Tangga Perikanan di Papua Barat Menurut Kategori Besarnya Usaha Perikanan dan Kabupaten Kota Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Tanpa Perahu 86 178 116 168 286 1 613 54 140 875 3.67% Motor Tempel 11.010 Kapal Motor 461 107 20 30 315 25 61 467 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.924 338 872 6. et al. jaring.064 4461 Motor Tempel 402 94 22 32 337 50 129 944 2.42% Jukung 27.486 Jumlah 3. telah memberikan kontribusi secara nyata terhadap peningkatan hasil tangkapan nelayan. LAPORAN AKHIR 1-112 .43 Persentase Jumlah Rumah Tangga Perikanan di Papua Barat Menurut Kategori Besarnya Usaha Perikanan Kapal Motor 8.384 17.17% Perahu Papan Kecil 18.516 Perahu Tanpa Motor Jukung Perahu Papan 724 1215 171 286 77 84 111 122 181 1299 344 334 179 176 76 166 201 779 2.96% Perahu Papan Sedang 8. Bantuan yang diberikan berupa sarana produksi perikanan.30% Tanpa Perahu 21. misalnya pengadaan alat penangkap (motor tempel. 2006).108 728 319 463 4.74% Kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir yang dilakukan oleh pemerintah baik pada tingkat nasional dan daerah (provinsi dan kabupaten) telah mendorong pula peningkatan jumlah alat tangkap. alat pendingin) dengan sistem kredit bergulir.136 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Gambar 1.42 Gambar Produksi Perikanan (ton/tahun) pada Tiga Kabupaten di Provinsi Papua Barat (Wanggai. terutama pada skala perikanan menengah ke bawah (subsisten)..

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Jenis-jenis ikan yang cukup dominan di Papua Barat adalah teri.00 279.00 5 214.20 67.50 402. udang windu.10 13. Tabel 1.20 75. Dinyatakan bahwa di wilayah perairan Papua sendiri.40 35.80 5 073.80 19 682.90 234. dan madidhang. cumi-cumi.20 Madidhang 2 210. potensi lestari untuk ikan pelagis besar secara keseluruhan adalah 612.80 111.40 210. khususnya pada ikan cakalang yang tertangkap di perairan Indonesia Timur termasuk Papua. cakalang.30 60.50 334. 1998). dari 85.00 516.20 724.200 ton/tahun dan perikanan demersal untuk perairan Arafura dan sekitar perairan Papua sendiri sebesar 230.30 1 083. Sebagai gambaran dapat dikemukakan bahwa persentase ukuran ikan cakalang > 2.60 127.40 530.60 Tenggiri 4 677.30 8 477.90 626.10 289. Tabel 1.400 ton/tahun.30 Cakalang 2 681.60 1 206.10 12 214.10 6 831.40 74.60 106.50 25.60 748. tenggiri. 63 Jumlah Nilai Produksi Perikanan Laut Menurut Jenis Ikan dan Kabupaten/Kota Tahun 2007 (Ribu Rupiah) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Teri 2 288 487 534 772 482 726 642 821 Cakalang 20 214 752 4 723 767 2 548 646 3 393 898 Tenggiri 28 893 260 6 751 752 168 240 223 936 Madidhang 6 599 462 1 549 070 3 355 232 4 467 988 Kakap Putih 28 342 644 6 623 086 171 457 228 886 LAPORAN AKHIR 1-113 . (1998).70 34.80 20.20 366.3 % pada tahun 1991 menjadi 36.40 2 991.8% pada tahun 1996 (Uktolseja.30 27.10 4 941. 62 Jumlah Produksi Perikanan Laut Menurut Jenis Ikan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (Ton) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Teri 318.70 25. udan putih/jebung. Walaupun tidak dilakukan pemisahan berdasarkan kategori jenis dan komposisi hasil tangkapan. dan rumput laut. Namun demikian jika mengaju pada hasil penelitian Uktoselja (1998).70 219.00 487.80 366. dari data peningkatan produksi perikanan tangkap di atas dapat dikatakan bahwa status perikanan tangkap secara khusus di Provinsi Papua Barat masih berada jauh di bawah potensi lestari untuk perairan Papua berdasarkan Uktolseja et al. Sumber daya laut lainnya di Papua Barat seperti udang dogol.10 Kakap Putih 3 101. kepiting.60 703.40 89.10 2 347. peningkatan produksi di atas perlu dicermati secara mendalam dan hati-hati.90 4 364.6 kg yang tertangkap mengalami penurunan.20 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan untuk berbagai jenis ikan masih sangat rendah dibandingkan dengan potensi yang tersedia.70 960.40 19.

74 1.4 r % 20.546. Penggalian selama ini belum memberikan hasil yang cukup signifikan bagi perekonomian Papua Barat. Namun meski sumbangannya besar.3 Penggalian 24. Terdapat beberapa daerah yang memiliki potensi galian logam namun belum dilakukan eksplorasi lebih lanjut. Di Kabupaten Teluk Bintuni akan terdapat kegiatan pertambangan besar.4 8 985.820.063.010.71 9.170.03 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007. Persebaran bahan galian batubara terutama terdapat di daerah kepala burung yaitu di daerah Homa.06 % 25. Hal ini menyebabkan kontribusinya semakin menurun setiap tahunnya.42 0. pertumbuhan pertambangan minyak dan gas bumi termasuk lambat jika dibandingkan sektor lain.53 7 2.91 2005 Jumlah 1.6 7 1. dan Salawati.62 37. Igomo.20 0. Batubara ynag terdapat di ketiga kawasan tersebut tergolong batubara muda karena masih menampakkan struktur kayu. Adanya LAPORAN AKHIR 1-114 .76 20. 64 PDRB Sektor Pertambangan Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 dan 2005 Lapangan Usaha PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN 2. Tabel 1.350. LNG Tangguh (Bintuni) saat ini sedang dalam tahap konstruksi dan diperkirakan pada tahun 2009 sudah akan beroperasi. hasil perhitungan Kegiatan pertambangan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dan saat ini usaha ini banyak terdapat di Sorong.101.245. Subsektor penggalian hanya memberikan kontribusi kurang dari 1% bagi PDRB Papua Barat.53 24. meski demikian memiliki kecenderungan untuk terus meningkat.699.1 Minyak dan Gas bumi 2000 Jumlah 1. Batubara sebagai salah satu barang galian juga cukup potensial di Papua Barat. Sektor ini hampir seluruhnya bertumpu pada subsektor pertambangan minyak dan gas bumi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tenggiri 2 409 067 95 977 175 894 526 699 3 704 638 42 949 463 Madidhang 48 054 418 373 982 685 385 1 902 763 13 381 443 80 369 743 Kakap Putih 2 606 085 158 433 290 356 905 125 6 115 393 45 441 465 Kabupaten Teri Cakalang Manokwari 6 913 721 36 502 296 Sorong Selatan 595 914 2 152 430 Sorong 1 092 113 3 944 694 Raja Ampat 3 270 231 11 812 015 Kota Sorong 23 001 797 83 082 069 Papua Barat 38 822 582 168 374 567 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 2) Pertambangan dan Penggalian Pertambangan dan penggalian merupakan salah satu sektor yang memberikan kontribusi terbesar bagi PDRB Papua Barat.05 1.2 Pertambangan Tanpa Migas 0 0 0 0 0 2.

874 Perkembangan dan Status Pertambangan Umum Perusahaan pertambangan yang beroperasi di wilayah Papua Barat sebelum Otonomi Khusus ada 4 (empat) perusahaan. Padahal.553. Izin kegiatan perusahaan pertambangan seluruhnya dari pemerintah pusat.362.248 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 Tenaga Kerja 27 13 13 86 103 108 213 20 2. Tabel 1. 1 (satu) perusahaan dalam taraf eksplorasi dan 3 (tiga) dalam taraf penyelidikan umum. bila ditinjau dari segi akibat yang ditimbulkan oleh kegiatan pertambangan mineral tersebut seluruhnya merupakan beban pemerintah daerah dan masyarakat yang berada di sekitar konsesi pertambangan tersebut. 4.5 457.330. Kebijakannya adalah bahwa di LAPORAN AKHIR 1-115 .020 Papua Barat 1. Peranan Pemerintah Daerah dalam penentuan kebijakan pada saat itu hampir tidak ada. Pada tahun 2002. Menurut Laporan Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura (2004) bahwa investasi pertambangan umum di Papua terhenti pada tahun 2000. Ditinjau dari tahapan kegiatan pertambangannya. 3. investasi di bidang pertambangan umum mulai giat kembali. 65 Banyaknya Usaha Sektor Pertambangan dan Penggalian Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha Fak-Fak 11 Kaimana 9 Teluk Wondama 5 Teluk Bintuni 21 Manokwari 32 Sorong Selatan 54 Sorong 95 Raja Ampat 1 Kota Sorong 1.0 955.500. Nama Perusahaan Tanggal Mulai Operasi Lokasi Konsesi Luas (Ha) 754. 1.291.0 2. Tabel 1.5 Tahap Kegiatan Eksplorasi Penyelidikan umum Penyelidikan Umum Penyelidikan Umum PT Irja Eastern Mineral 15 Feb 1997 Fak-Fak PT Siriwo Mining 28 Apr 1997 Fak-Fak PT Mineralindo Mas Salawati 28 Apr 1997 Sorong PT Barrick Mutiara Ransiki 28 Apr 1997 Fak-Fak Jumlah Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura (2004). 66 Perusahaan yang pernah beroperasi di wilayah Papua Barat (Sebelum Otsus) No.361. 2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bahan tambang batubara ini mendorong peluang dikembangkannya Pembangkit Listrik Tenaga Uap untuk memenuhi kebutuhan listrik Papua Barat. Hal ini sering menimbulkan konflik dan ketidakadilan dalam hal pembagian hasil dari kegiatan pertambangan mineral tersebut.291 2.0 124.

3.99 143.3. 1. Ketentuan implementasi dari kebijakan ini adalah sementara sambil ada ketentuan lain yang diterbitkan.700.27 8 Des 2003 Pemerintah Provinsi Papua mengeluarkan surat Keputusan Nomor : 104 tahun 2002. Papua Pacifik Minerals Lokasi Kab.2 Sektor Sekunder 1. Raja Ampat Kab. Chrom.953 30. Khusus untuk masyarakat. Perizinan hanya diberikan dalam bentuk Kuasa Pertambangan (KP). PT.655. Sorong Distrik Seget Bahan Galian Nikel. tanggal 06 Agustus 2002 tentang Tata Cara Pemberian Kuasa Pertambangan Umum. Raja Ampat Kab. tercatat 11 wilayah KP baru yang diberikan izin oleh Gubernur Papua dengan total areal konsesi 355.891 62. Bila memperhatikan lokasi sumber bahan galian yang telah diberikan izin Kuasa Pertambangan umum.91%. LAPORAN AKHIR 1-116 . Tabel 1. Chrom. dan Platina Nikel. 2004. dan Platina Batubara Luas (Ha) 15. Pada tahun 2000 subsektor industri besar/sedang memberikan kontribusi yang terbesar diantara subsektor lainnya dalam sektor industri pengolahan terhadap PDRB Papua Barat yaitu sebesar 273 miliar atau 6. dan Platina Nikel. lokasi Raja Ampat sulit untuk direalisasikan karena sebagian wilayah merupakan kawasan konservasi yang secara yuridis formal tidak diperbolehkan untuk lokasi pertambangan.950. 27. Sorong Selatan Distrik Aifat Kab. Batan Pelei Mining PT. Industri Sektor industri pengolahan merupakan sektor penyumbang PDRB terbesar untuk kelompok sektor sekunder. izin pertambangan tradisional diberikan.000 ha yang sebagian besar untuk penambangan Batubara. Chrom. Kawei Sejahtera Mining PT. Bahkan diberikan pula bantuan peralatan teknik penambangan terutama untuk bahan Galian C dan bahan Emas. 4. Walofi Mining PT. Papua Pacifik Batubara Minerals Total Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura. Perusahaan/Kode Wilayah PT. Sampai dengan awal November 2004.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Papua Izin Pertambangan dalam bentuk Kontrak Karya (KK) tidak diberlakukan. Dari 11 izin baru tersebut 5 (lima) perusahaan berada di wilayah Papua Barat.5. Raja Ampat Kab. 2. 67 Perusahaan Kuasa Pertambangan Umum di Wilaya Papua Barat No 1.250 6.28 Tahap Kegiatan Eksplorasi Eksplorasi Eksplorasi Penyelidikan Umum Penyelidikan Umum Ket 14 Okt 2004 14 Okt 2004 14 Okt 2004 8 Des 2003 5.

449.951.61 0.1 21.35 8. Tabel 1.991.91 328.3 11.61 0.159. Subsektor ini tumbuh sebesar 16.2 Industri Kecil Kerajinan Rumah Tangga 31.42 8.2 18.13 7.489 Nilai Investasi (ribu rupiah) 2985.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.72 4.126.21 8 LISTRIK.02 6.50 4 3.59 389.81 44. sedang.577 154.25 15.18 16.264.760.920.904.085. Tumbuhnya subsektor ini menunjukkan bahwa ekonomi sektor migas di Papua Barat kini bergeser pada aktivitas pengolahan dibandingkan dengan aktivitas ekstraktif karena kegiatan ekstraktif minyak bumi dan gas cenderung mengalami pertumbuhan yang lambat.59 1.92 4. industri digolongkan menajdi 4 kategori yaitu industri besar.128 Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari 515 Sorong Selatan Sorong 449 Raja Ampat Kota Sorong 273 Papua Barat 1651 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2007 5520 11815 1410 27234 202.18% pada tahun 2005.197 25.3 3.052.22 0. 68 PDRB Papua Barat Kelompok Sektor Sekunder Tahun 2000 dan 2005 Atas Dasar Harga Konstan 2000 2000 2005 r Jumlah % Jumlah % INDUSTRI PENGOLAHAN 460.130 1053.05 3.080.964.63 747.987.528306 5 2 Sumber : PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.00 0.162.91% oada PDRB meningkat menjadi 6.38 14.91 374. 1 Industri Besar/Sedang 273.7 6.505 Nilai Produksi (ribu rupiah) 43.562.06 0.060.37 22. hasil perhitungan Lapangan Usaha Industri pengilangan minyak bumi yang semula memberikan kontribusi sebesar 3.27 0.2 Air Bersih 4.845 Ket: Data Kabupaten pemekaran masih bergabung dengan kabupaten induk Berdasarkan kemampuan menyerap tenaga kerja.786 98.358.066.21% dalam kurun waktu 2000 hingga 2005. 69 Banyaknya Usaha Sektor Industri Pengolahan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha 414 Tenaga Kerja 8.10 0. dan rumah tangga.16 0.755.829.456. GAS & AIR BERSIH 14.19 4 3.3 Industri Pengilangan Minyak Bumi 154.801 757.13 8.966.31 BANGUNAN 260. Industri-industri tersebut LAPORAN AKHIR 1-117 . hampir mengejar subsektor industri besar/sedang.1 Listrik 9.471 48. kecil.10 10.566.737.75 6.896.594.053.371.07 6.85 7.350.12 7.404 22.09 7.36 Sektor Sekunder 735.664.28 8.87 9.

Nilai investasi dan nilai produk pun lebih besar Kabupaten Sorong daripada Kabupaten Manokwari. Listrik dan Air Minum Sektor listrik. Gas. dan Air Minum Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Unit Usaha 8 3 2 4 32 16 9 5 5 84 Tenaga Kerja 72 28 4 10 1. Tabel 1. gas. dan Kabupaten Manokwari.926 12 218 2. dan air bersih serta sektor bangunan. Sektor ini memiliki grafik yang terus meningkat mengingat Papua Barat adalah provinsi baru dimana mengalami peningkatan kebutuhan akan layanan infrastruktur dasar.564 56 29 9 179 1. 70 Banyaknya Usaha Sektor Industri Pengolahan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha Fak-Fak 116 Kaimana 22 Teluk Wondama 40 Teluk Bintuni 99 Manokwari 394 Sorong Selatan 109 Sorong 1 098 Raja Ampat 179 Kota Sorong 219 Papua Barat 2 348 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tenaga Kerja 364 73 189 343 2 135 277 6 539 372 1.951 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-118 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 cenderung terdapat di Kabupaten Sorong. Kota Sorong. diatas angka pertumbuhan PDRB total. memiliki kontribusi yang kecil bagi PDRB Papua Barat namun memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi. sehingga persentase kontribusinya juga terus meningkat. Tabel 1. 71 Banyaknya Usaha Sektor Listrik. Industri yang paling banyak penyerap tenaga kerja berada di Kabupaten Sorong meskipun dari segi jumlah unit usaha sedikit lebih rendah dari Kabupaten Manokwari.

3. Hal ini karena Papua Barat akan memerlukan pusat-pusat baru yang akan diisi oleh kegiatan tersier.5. Danau Kabori. Keberadaan Papua Barat sebagai provinsi baru dapat menjadi salah satu faktor meningkatnya kontribusi sektor primer.3 Sektor Tersier Sektor tersier di selama ini belum menjadi sektor yang menonjol di Papua Barat. 1. Terdapat juga objek wisata yang belum dikembangkan seperti objek wisata Danau Anggi. Pariwisata Sektor pariwisata di Papua Barat merupakan yang diharapkan di masa depan akan menjadi leading sektor. sektor ini terus menujukkan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya. Hal ini mendorong pada naiknya kebutuhan akan layanan infrastruktur dan tentu saja juga maraknya kegiatan pembangunan fisik.610 3. Gunung Meja dan Air Panas di Kebar dan masih banyak objek wisata lainnya yang belum digali. Suaka Margasatwa Pantai Sidey-Wabian (157 ha).325 ha).579 1. Hutan Suaka Margasatwa Pantai Mubrani-Kaironi (170 ha).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 3. Meski demikian. Kabupaten Raja Ampat juga memiliki sumber daya laut yang sangat kaya.776 ha). Cagar Alam Pegununan Tamrau Selatan (435. 72 Banyaknya Usaha Sektor Bangunan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 Unit Usaha 82 82 3 36 73 18 7 0 171 472 Tenaga Kerja 503 335 37 138 849 83 24 0 1. Beberapa diantaranya seperti Hutan Cagar Alam Pegunungan Arfak (68. LAPORAN AKHIR 1-119 . Tabel 1. Bangunan Papua Barat merupakan provinsi bentukan baru dan untuk itu diperlukan berbagai fasilitas baru serta mengalami peningkatan jumlah penduduk untuk mengisi posisiposisi baru yang dibutuhkan.

untuk itu perlu kewaspadaan dalam pengembangannya dengan mempertimbangakan faktor lingkungan.60 0. Obyek wisata potensial dikembangkan di Papua Barat mayoritas berupa wisata alam. Jasa Penunjang Angkutan 7.37 0.69 6.53 0.6 27.12 0.96 311.67 12.25 0.13 465.6.1.67 92.23 8.71 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2005.57 71. HOTEL & RESTORAN 5.75 PERUSAHAAN 8.3 Restoran PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 7.17 0. Bank 22.294.3.683.180.89 8.05 1.32 0.37 4.14 0.21 14.14 2005 Jumlah 508.3.43 7.41 20. Komunikasi 2000 Jumlah 340. Secara makro sektor pariwisata merupakan industri yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang cepat melalui: penyediaan kesempatan kerja.78 0.84 5.559.783.85 7.4.28 9.48 522.66 6.447.14 11.856.82 23.28 20.75 9.39 45.446.3.399.128.50 18.2.17 Sektor Tersier 935.05 9.10 JASA – JASA 335.471.00 8.94 7.762.41 13.480.13 0.64 84.67 9.52 2.1 Perdagangan Besar & Eceran 5.01 0.87 0.20 0. Jasa perorangan dan Rumah Tangga 6.84 8.63 9.30 1.503.63 6.865.19 8.03 7.489.32 8.82 33.44 460.106.22 0.55 9. PERSEWAAN DAN JASA 66.64 1.890.36 0.2.39 2.5.299.59 4. Angkutan Laut 7.4. belum menunjukkan kontribusi yang proporsional dengan potensi pariwisata yang dimiliki.159. Pemerintahan Umum 294.59 33.21 8.56 31. Sewa Bangunan 32.779.18 r % 9.582.94 0.542.861. hasil perhitungan LAPORAN AKHIR 1-120 .84 11.912.57 108.2.74 193.17 9.576.38 9. Lembaga Keuangan tanpa Bank 7.51 0.740.93 105.614.18 0.21 8.4.24 1.59 8.1.251.33 7.395.952.300. Jasa Hiburan & Rekreasi 10. Angkutan Sungai 7.86 9.96 7. Angkutan Jalan Raya 7.627.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Bahkan spesies koral di kawasan ini diklaim sebagai salah satu yang terkaya di dunia.67 0.38 23.93 0.46 % 8.786. sehingga pariwisata sering disebut KEUANGAN.336. Tabel 1.37 10.950.85 9.498.46 345.14 49.59 8.971. peningkatan pendapatan dan taraf lokomotif perekonomian.199.36 8. Jasa Perusahaan 3.89 1.06 0.000.60 7. Peran sektor pariwisata dalam perekonomian Provinsi Papua Barat.16 0. Angkutan Udara 7.2 Hotel 5.469.14 6.535.1.80 1.87 0.272.83 44.40 1. 73 PDRB Papua Barat Kelompok Sektor Tersier Tahun 2000 dan 2005 Atas Dasar Harga Konstan 2000 Lapangan Usaha PERDAGANGAN.21 17.09 5.595. Jasa Sosial Kernasyarakatan 23.269.70 11. serta secara simultan dapat mengaktifkan sektor-sektor produksi lain.05 0.19 11.46 hidup.59 8.

Monumen Indonesia-Jepang Alam dan Budaya Danau Ayamaru. Minyambouw dan Susurey) Alam dan Bahari Cagar Alam Pegunungan Arfak Bagian Selatan. Pulau Ega dan Karas Alam Bahari dan Cagar Alam Gunung Kumawa. Pulau Penyu. Pulai Adi. Makam Missionaris Kristen Pertama di Papua. Monumen Perang Dunia II. Peninggalan Sejarah Perang Dunia II Alam Cagar Alam Markoor. Teluk Arguni. dan Terumbu Karang Lokasi Kabupaten Manokwari (Distrik Kebar. Fosil Burung Garuda. Terumbu Karang. Pantai Sausapor. Klamono. Benteng Fort Du Bois. Taman Wiata Klasman. Air Terjun Sungai Karon. Pantai Pasir Putih. Suaka Margasatwa Pantai MubraniKaironi. Danau Yamor. Taman Wisata Klamono. Pulau Matan. Windesi. Sumur Minayk Peninggalan NNGPM. kupu-kupu bersayap burung. Wasior Selatan dan Wasior Barat) Kabupaten Teluk Bintuni (Distrik Babo dan Timbuni) Kabupaten Sorong (Distrik Makbon. Rumah 1. Panorama Senja Sumber: BPS Provinsi Papua Barat 2006 Alam. Terumbu Karang. Pulau Kilimata. Masjid tertua di Tanah Papua. Kayeli Hot Water Spring Alam dan Budaya Pantai Tanjung Kasuari. Cagar Alam Batanta Barat. Pantai Pasir Putih Panjang. aman Wisata bariat. Cagar Alam Budaya Gunung Genefo. Pantai Peneluran Penyu Alam dan Budaya Gua Jepang.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. Tamrau Selatan. Pendapatan per kapita diperoleh dari hasil pendapatan dibagi dengan jumlah penduduk. Cagar Alam Wowo. Gunung Meja. Monumen PEPERA Alam dan Bahari Cagar Alam Missol. Klasaman). Budaya dan Sejarah Kabupaten Teluk Wondama (Distrik Wasior. Cagar Alam Pulau Waigeo. Taman Laut Nasional Teluk Cenderawasih.4 Pendapatan Per Kapita Pendapatan Pendapatan per kapita merupakan salah satu indikator tingkat kemakmuran ekonomi suatu wilayah. Permandian Air Panas. Buruway dan Teluk Etna) 1. 74 Potensi Pariwisata Provinsi Papua Barat Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2005 Jenis Wisata Alam dan Budaya Obyek dan Daya Tarik Wisata Cagar Alam Pegunungan Arfak. Berau. Cagar Alam Gunung Karora. Danau Siwiki. Monumen PEPER. Sausapor. Cagar Alam Jamusaba. Kota Sorong dan sekitarnya Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Fakfak (Distrik Fakfak Timur dan Barat) Kabupaten Kaimana (Kaimana. Pulau Buaya. Pulau Shop. Fosil Telapak Tangan. Cagar Alam Wondibu. Suaka Margasatwa Pantai SideyWabian. Danau Angi. Munumen Arfak.5. Pulau Kafiau. Salawati. LAPORAN AKHIR 1-121 . Moraid. Pantai Pasir Putih.000 tiang. Danau Kabori. Cagar Alam Gunung Fudi TMP Trikora.

592.298.406.80 PDRB/kapita Tanpa Migas ADH Berlaku ADH Konstan 6.110.116.10 ADH Konstan 7.62 5.09 7.176.249.249.354.516.12 6.441.064.709.307.52 8. 75 PDRB/kapita Papua Barat Tahun 2003-2006 Tahun 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita ADH Berlaku 9.93 12.51 7.85 5.009.292.349 10.30 8.300.336.267.000.529.44 PDRB/kapita Provinsi Papua Barat Tahun 2003 hingga 2006 14000000 12000000 10000000 8000000 6000000 4000000 2000000 0 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita Atas Dasar Harga Berlaku PDRB/kapita Atas Dasar Harga Konstan LAPORAN AKHIR 1-122 .913.085.16 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.734.19 6. hasil perhitungan Gambar 1.994.75 12.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.59 8.076.705.414.13 9.008.236.503.444.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.45 Peta Potensi Pariwisata Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-123 .

UNDP. kemudian mengalami penurunan pada tahun 2006. PDRB per kapita mengalami kenaikan hingga tahun 2005. Dieliminirnya migas menyebabkan angka PDRB per kapita Papua Barat atas dasar harga berlaku menjadi lebih rendah. Perbedaannya mencapai hampir 4 juta rupiah atau menjadi hanya dua per tiga dari PDRB per kapita atas dasar harga berlaku yang memperhitungkan migas.4 juta pada 2003 meningkat menjadi 8. Tanpa memperhitungkan sektor migas. Selama ini Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-124 . Bappenas. PDRB per kapita di Papua Barat tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan ketika migas diperhitungkan. BPS Besar PDRB per kapita Papua Barat yang mencapai 12. PDRB per kapita di Papua Barat juga terus meningkat dari semula 6.12 juta rupiah dapat dikatakan cukup tinggi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 PDRB per kapita Papua Barat menunjukkan peningkatan antara tahun 2003-2006 dilihat dari PDRB atas dasar harga berlaku. Tabel 1. Tanpa migas. Jika dilihat atas dasar harga konstan. 76 Pendapatan Perkapita Riil Masyarakat Provinsi Papua Barat Tahun 19992000 Sumber: Indonesian Human Development Report.3 juta rupiah pada 2005. 2004. Hal ini memunjukkan betapa krusialnya peran migas dalam perekonomian di Provinsi Papua Barat. Meski demikian angka tersebut tidak serta merta dapat diidentikan dengan tingkat kemakmuran yang tinggi pula bagi warga Papua Barat. Sempat turunnya PDRB atas dasar harga konstan dipengaruhi oleh tingginya pertumbuhan penduduk dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB.

sistem transportasi sangat memegang peranan yang penting.46 PDRB per kapita Tanpa Migas Provinsi Papua Barat Tahun 2003 hingga 2006 10.000. Transportasi antar wilayah LAPORAN AKHIR 1-125 . Transportasi wilayah menentukan tingkat aksesibilitas wilayah. Gambar 1.000. perdagangan.00 8.00 9.000.00 7. jalan provinsi dan jalan negara.00 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita Atas Dasar Harga Konstan PDRB/kapita Atas Dasar Harga Berlaku 1. kapal laut dan kapal udara.000.00 4.000.00 5.000. jalan kolektor. Sedangkan dari segi manajemennya jalan raya meliputi jalan desa.00 3. Dari segi fungsinya jalan raya meliputi jalan lokal. pariwisata.000.00 6.000. sehingga penyediaan/pengembangan sarana dan prasarana perhubungan dalam suatu wilayah harus memadai dalam arti dapat menampung dan menunjang kelancaran aktivitas pergerakan yang ada dalam daerah itu sendiri maupun hubungannya dengan daerah lain. Hal ini menunjukkan bahwa kekayaan Papua Barat belum dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakatnya.6 ASPEK TRANSPORTASI WILAYAH Transportasi merupakan kebutuhan sarana dan prasarana yang sangat menunjang dalam perkembangan interaksi antar daerah dan diharapkan dapat mendorong percepatan perkembangan antar wilayah khususnya dalam mendukung proses pertumbuhan dan pemerataan di bidang ekonomi.00 1.000.000.000.000.000. berfungsi menghubungkan sentra-sentra produksi ke sentra-sentra/node konsumsi. Sistem jaringan transportasi yang dimaksud adalah sistem jaringan jalan raya.00 2.000.000. Dalam menunjang perkembangan suatu wilayah.00 0. jalan kabupaten.000. sosial budaya jasa pelayanan dan stabilitas keamanan. dan jalan arteri.000.000.000.000. Penentuan Struktur Ruang tidak bisa dilepaskan dari kondisi transportasi wilayah.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sering diidentikkan dengan kemiskinan.

500 0 … 285.700 56.6. Kota Sorong menjadi gerbang transportasi bagi semua wilayah di Papua Barat. Sebagian kabupaten di Papua Barat menggunakan jalan darat sebagai transportasi utama untuk menghubungkan antar distrik/kecamatan.000 686. dan Kabupaten Teluk Wondama. Pelabuhan laut dan udara yang ada di kota Sorong merupakan yang terbesar di Provinsi Papua Barat.500 235. 5.000 110. Kabupaten Teluk Bintuni.310 90.000 121.184.670 632. 1.500 200. 1.637 344. yaitu kondisi geografis.210 3. khususnya untuk b.210 5. c. setelah terlebih dahulu melewati Kota Sorong. bahkan juga di Pulau Papua. Sementara itu.882.415 402. Kondisi transportasi darat untuk menghubungkan antar wilayah masih sangat minim. 4. Kabupaten-kabupaten ini masih mengandalkan transportasi air (laut. Daerah dengan perairan yang dominan seperti Raja Ampat dan Kaimana sepenuhnya bergantung pada transportasi laut.000 1. kecuali Kabupaten Raja Ampat. Wilayah-wilayah lain hanya bisa dicapai oleh transportasi laut dan atau udara.000 119. Kabupaten/ Kota Fak Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Jumlah 2007 Jalan Negara 0 132. 8.175 693.800 … 1 298.000 615.000 0 … 85.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 di Papua Barat terutama menggunakan transportasi laut dan udara.1 Transportasi Darat darat bukan merupakan sistem yang utama. 77 Panjang Jalan menurut Kewenangan (Km) No.660 486. 2. 3. Untuk Provinsi Papua Barat dalam konteks regional perannya adalah : a.175 Jalan Kabupaten 271.000 0 17. Papua Barat memiliki tantangan yang unik dibandingkan daerah manapun di bidang infrastruktur. Transportasi menghubungkan antara kabupaten kota yang ada di Provinsi Papua Barat.000 1 319.475 142. transportasi udara menjadi penghubung antar wilayah melalui penerbangan perintis. 9. Sebagai penggerak dan pendukung Wilayah Indonesia Timur Sebagai tempat kolektor dan distributor barang.810 635.112 619.000 119. kondisinya juga masih sangat memprihatinkan. 7.222 4 Total Jalan 543.707 LAPORAN AKHIR 1-126 . Tabel 1.915 402.800 … 927. Transportasi laut dan udara tersebut menjadi transportasi utama antar wilayah.810 Jalan Provinsi 271.207 5 400. sungai dan danau) sebagai transportasi utama.000 0 18. Sebagai pintu gerbang kawasan Papua Sebagai pusat pelayanan jasa. d.550. 6.

LAPORAN AKHIR 1-127 . Kabupaten Sorong Selatan membangun jalan dari Teminabuan menuju Kampung Manelek.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 071. Bariat. Panjang jalan di Provinsi Papua Barat hingga tahun 2007 tercatat 1. mengingat kondisi topografinya hanya bisa di jangkau melalui transportasi laut. Perbandingan total panjang jalan dengan jumlah penduduk di masing-masing kabupaten dapat dilihat dalam Tabel 1.310 686. Sedangkan panjang jalan berdasarkan status pemerintahan yang berwenang. Kabupaten Teluk Bintuni sedang melakukan pembangunan jalan darat yang dapat menghubungkan Ibukota Kabupaten menuju SP.810 345. Pada umumnya kabupaten induk mempunyai tingkat asesibilitas yang relatif lebih baik jika dibandingkan dengan kabupaten pemekaran yang baru dibentuk seperti Raja Ampat dan Teluk Wondama. Konda dan Distrik Seremuk serta beberapa distrik lainnya. bahwa jalan kabupaten adalah yang terpanjang yakni 1. Panjang jalan berdasarkan tingkat kabupaten yang ada di Provinsi Papua Barat. Sebagai contoh.470 5 184.956. Kabupaten lain seperti Teluk Wondama. Kabupaten Raja Ampat. Sorong.650 Km (67%) bila dibandingkan dengan jalan provinsi 448.650 2006 2005 615. Kondisi jalan pada semua kabupaten yang ada di Provinsi Papua Barat masih dalam tahap pembangunan.030.310 (14%). bahwa Kabupaten Manokwari memiliki jalan paling panjang yakni 1. Teluk Bintuni dan Kaimana.207 1 956.430 Sumber : Papua Barat Dalam Angka 2009 Beberapa kabupaten/kota yang sebagian besar wilayahnya dapat dijangkau melalui transportasi darat adalah Kabupaten Manokwari.722 3 882. wilayahnya sulit dijangkau melalui darat. Berikut ini dapat dilihat panjang jalan menurut kewenangan.470 (19%) dan jalan negara Km 345. dari panjang jalan yang ada di kabupaten lain. Ada kabupaten yang dapat ditempuh melalui darat walapun kondisi jalan raya masih dalam bentuk tanah dan dalam tahap pengerasan yakni Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bintuni.121. sehingga transportasi utaman yang dipakai adalah laut atau udara. Kabupeten Raja Ampat sedang melakukan pembukaan jalan dari Waisai menuju Teluk Mayalibit.175 488. Fak Fak dan Kabupaten Sorong Selatan.222 1 121.78.096 Km. Berdasarkan panjang jalan dan penyebaran jumlah empat penduduk yang berdomisili pada masing-masing kabupaten relatif jarang.650 Km. demikian juga Kabupaten Sorong dan Kabupaten Sorong Selatan.

613 301.000 47.000 2.815 56.000 3. Hampir setiap hari ada jadwal penerbangan yang melayani beberapa ibukota kabupaten. 3. curam dan diliputi hutan sehingga akses jalan darat menjadi sulit.280 1 164.550 337. 5. Teluk Wondama dan Sorong Selatan hanya bisa di darati oleh pesawat jenis tertentu seperti Twin Otter. Domine Edward Osok dan Jefman di Sorong.707 5 184.600 … … 473. 7.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.630 336.310 Km.201 1 688.39 Km. 9.885 1 137. Tanah 1.798 240.100 45. 2.000 769.550 Km.137.500 235.490 96.95 Km kemudian aspal 1. 1.000 0. 6.6.226.000 196.934 97. Transportasi Udara merupakan salah satu moda transportasi andalan di Provinsi Papua Barat mengingat kondisi geografisnya yang masih sulit ditembus oleh kendaraan bermotor.207 Sumber : Papua Barat Dalam Angka 2009 Dari tiga kabupaten yang tersedia datanya. . Prasarana perhubungan udara utama di Provinsi Papua Barat adalah Lapangan Terbang Rendani di Manokwari.415 402.000 152. bahwa jenis permukaan jalan yang terpanjang adalah kerikil yakni 2.310 Jenis Permukaan Kerikil Tanah 164. kelima lapangan terbang ini selain didarati oleh pesawat penerbangan perintis jenis Twin Otter juga dapat didarati pesawat jenis Fokker dan Boing. 1.550 543.2 Transportasi Udara Transportasi udara menjadi penting di Provinsi Papua Barat karena karakteristik wilayah yang cukup bergunung. Sedangkan di Kabupaten Teluk Bintuni.000 119. LAPORAN AKHIR 1-128 . yang saat ini setidaknya terdapat berberapa perusahaan maskapai penerbangan yakni Bali Air dengan jenis pesawat IHS dan Merpati Nusantara Airline (MNA) dengan jenis pesawat DHC-6 dan F-27.000 550.100 135. 8.45 16. Kabupaten/ Kota Fak Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Jumlah 2007 Aspal 269.400 19.617 261.000 107.130 2 371. Salah satu jenis angkutan yang ada di Provinsi Papua Barat adalah pesawat terbang.394 1 803.200 … 487.800 … 1 298.750 0 0 … 0 4. Torea di Fak Fak dan Tarum di Kaimana.700 141.171 2 226.000 10. dan lain-lain 16.953 Total Lain-Lain 10.803. 78 Panjang Jalan menurut Tingkat Permukaan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 No.000 1 550. 4.670 632.112 619.000 124.210 5 400.000 67.

seperti maskapai penerbangan AMA. Sorong. Jumlah bongkar muat barang pada tahun 2006 mengalami peningkatan 80. Walaupun demikian. di Manokwari ada beberapa perusahaan penerbangan carter yang bersedia terbang dengan kondisi apapun. Jumlah penumpang datang pada tahun 2003-2006 meningkat dari tahun ke tahun. Untuk pos paket yang dibongkar mengalami peningkatan sebesar 247% sedangkan yang dimuat mengalami penurunan sebesar 297%. Selain dua maskapai penerbangan tersebut juga terdapat pesawat yang tidak terjadwal yakni milik PT. Kabupaten yang telah terlayani oleh penerbangan komersial antara lain adalah Kabupaten Manokwari. dengan harga carter rata-rata per jam terbang sebesar 4 (empat) juta rupiah. Jumlah pergerakan dari masyarakat luar-dan dalam dapat ditunjukkan dengan pergerakan barang dan orang. Apabila cuaca mendung dan hujan gerimis.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Tabel 1. Pola datang dan pergi masyarakat berasal dari Kota Sorong dan Manokwari. pesawat hanya melayani kota tertentu pada hari-hari tertentu. Penerbangan dengan menggunakan pesawat ukuran relatif kecil kerap dipengaruhi oleh kondisi cuaca. PAS dengan jenis Bolgow-105. Sedangkan pola pergerakan barang dan jasa dapat ditunjukkan dengan catatan mengenai arus lalu lintas. Fakfak. Pada tahun 2006 mencapai 142.87% dibanding tahun 2005.47 Contoh Pesawat yang melayani kebutuhan transportasi udara di Provinsi Papua Barat Masyarakat di Provinsi Papua Barat tidak terlayani oleh transportasi udara setiap hari di setiap kota. Keberadaan alat transportasi ini sangat membantu kelancaran arus penumpang ke dan dari kota maupun kabupaten lain di Provinsi Papua Barat. sekaligus menunjang perkembangan dan pertumbuhan wilayah. maka penerbangan dibatalkan.91% dan 84.965 dan jumlah penumpang pergi 154. dan Kaimana. 79 Jadwal dan Rute Penerbangan di Provinsi Papua Barat Maskapai Hari Rute Jenis Pesawat LAPORAN AKHIR 1-129 .538 orang.

Selain itu terdapat beberapa jenis kapal LAPORAN AKHIR 1-130 . baik yang masuk maupun yang keluar dari wilayah Papua Barat masih menggunakan transportasi laut. baik antar kabupaten maupun antar distrik masih menggunakan moda transportasi laut. Beberapa jenis kapal penumpang yang singgah di pelabuhan di beberapa kabupaten di Provinsi Papua Barat selain KM Bukit Siguntang dan KM Tatamailau. Hal ini disebabkan karena kondisi fisik wilayah yang belum memungkinkan dibukanya jalan darat sehingga kota tersebut lebih mengandalkan transportasi air sebagai sarana perhubungan antar kota/kabupaten.6. Hal ini terlihat dari sebagian besar mobilitas orang dan barang. juga terdapat kapal PT Pelni yang melayari Pantai Selatan Papua. Jenis alat angkutan lain yang sangat penting bagi masyarakat di Papua Barat adalah kapal laut.3 Transportasi Laut Transportasi laut mempunyai peranan sangat penting pada perekonomian Papua Barat. Selain itu sebagian besar mobilitas orang dan barang di wilayah Papua Barat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 IHS Bali Air Senin Selasa Rabu Kamis MNA Senin Rabu Sabtu Kamis Jumat Sabtu Senin Kamis Mimika Air Kamis Tual Kaimana  Sorong  Manokwari Manokwari  Kaimana  Tual  Ambon  Tual Tual  Ambon  Tual  Kaimana  Manokwari Manokwari  Sorong  Kaimana  Tual  Ambon  Tual Biak  Nabire  Kaimana  Fak-Fak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Manokwari  Teluk Bintuni Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Nabire  EWI  Nabire Manokwari  Teluk Bintuni Manokwari  Teluk Bintuni Biak  Serui  Biak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Manokwari  Kaimana  Fak-Fak  Kaimana  BXB  Manokwari Sorong  NTI  Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Nabire  Biak Sorong  BXB  Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Jayapura  ZRM  Nabire  Kaimana  Nabire  Biak Jayapura  Biak  Kaimana  Sorong  Kaimana  Biak  Jayapura Biak  Kaimana  Tual  Timika  Tual  Kaimana  Biak Potowai  Kaimana  Potowai Twin Otter Perintis 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 barang yang memuat bahan kebutuhan pokok. b. .48 Contoh Kapal Laut yang melayani kebutuhan transportasi di Provinsi Papua Barat Secara umum. Pelabuhan Pengumpan Regional adalah pelabuhan yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut dalam jumlah kecil dan jangkauan pelayanan yang relatif dekat. Gambar 1. Sarana transportasi laut. berdasarkan fungsi pelayanannya dapat diklasifikasikan atas : a. Pelabuhan Utama Primer adalah pelabuhan utama yang berfungsi melayani kegiatan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan pelayanan yang sangat luas. d. serta merupakan simpul dalam sistem jaringan transportasi laut internasional. speedboat dan longboat untuk menjangkau wilayah-wilayah terpencil serta kapal nelayan. jalur pelayanan transportasi air (laut) mampu melayani kota-kota/desa-desa di pesisir Provinsi Papua Barat. serta merupakan pengumpan pada Pelabuhan Utama. Rute kapal-kapal motor baik dari PELNI maupun milik swasta. Pelabuhan Pengumpan Lokal adalah pelabuhan yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut dalam jumlah kecil serta merupakan pengumpan pada Pelabuhan Utama dan Pelabuhan Pengumpan Regional. melalui Sorong adalah sebagai berikut: LAPORAN AKHIR 1-131 . c. e. Pelabuhan Utama Tersier adalah pelabuhan utama yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah menengah dan jangkauan pelayanan menengah. Pelabuhan Utama Sekunder adalah pelabuhan utama yang berfungsi melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan pelayanan yang sangat luas dan berperan sebagai simpul pada sistem jaringan transportasi nasional.

Pelni yang melayari Pantai Selatan Papua. Gambar 1. Demikian juga untuk menjangkau Waisai. LAPORAN AKHIR 1-132 . kemudian dilanjutkan dengan transportasi laut. satu-satunya transportasi antar pulau dan penunjang kegiatan masyarakat di Kabupaten Raja Ampat adalah angkutan laut. Selain pelabuhan-pelabuhan umum tersebut perlu pula dikembangkan pelabuhan khusus untuk Kawasan Industri dan pelabuhan khusus bagi kepentingan pariwisata. pelabuhan ini juga sudah menerima pelayaran kapal milik PT. Gambar 1. Selain itu juga terdapat pelabuhan pendaratan ikan yang saat ini sudah tidak lagi berfungsi.000 DWT. Perekonomian wilayah di Papua Barat umumnya digerakkan melalui perhubungan laut dan udara. KM IWERI dengan rute Jayapura – Sarmi – Nabire – Serui – Biak – Korido – KM Lady Marina dengan rute: Merauke – Agast – Timika – Tuai – Kaimana – Manokwari – Saukorem – Sausapor – Sorong – Bintuni – Babo PP. ibu kota Kabupaten Raja Ampat. Fakfak – Bintuni – Sorong PP. Sebagai daerah kepulauan. rute perjalanan menuju Kota Sorong terlebih dahulu.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Selain disinggahi kapal penumpang. Pembahasan mengenai transportasi laut tentunya tidak terlepas dari keberadaan pelabuhan laut yang merupakan prasarana yang harus ada baik skala kecil maupun besar. lebih sering menggunaka transpotasi laut dari pada transportasi udara. Di Kecamatan Kaimana terdapat pelabuhan laut yang mampu disinggahi kapal berukuran 5. kanan: Pelabuhan Teluk Bintuni) Pelabuhan-pelabuhan kecil yang ada saat ini umumnya merupakan pelabuhan pendaratan kapal nelayan milik nelayan setempat.49 memperlihatkan kondisi maupun suasana pelabuhan utama di Provinsi Papua Barat. kareana apabila menggunakan pesawat udara. 2. Di Kabupaten Kaimana terdapat satu pelabuhan utama yang terletak di Kaimana Kota dan beberapa pelabuhan kecil yang tersebar di beberapa tempat. karena mereka umumnya merasa lebih mudah dan praktis apabila bekerja dekat dengan permukiman.49 Kondisi Pelabuhan di Provinsi Papua Barat (kiri: Pelabuhan Kaimana.

Saonek. Windesi. Keempat pelabuhan utama ini digunakan sebagai pelabuhan komersil. Pelabuhan Fak Fak dan Pelabuhan Kaimana. terdapat pelabuhan kecil yang melayani pelayaran perintis di daerah-daerah kepulauan. yaitu Pelabuhan Sorong. Inantawan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2006. Teminabuan. Oransbari. di Provinsi Papua Barat terdapat 4 (empat) pelabuhan utama. Saukorem. Pelabuhan Manokwari. Selain itu. pesisir pantai maupun sungai-sungai. yaitu pelabuhan perintis Wasior. Babo dan Kokas. Sausapor. Bintuni. Kalobo. LAPORAN AKHIR 1-133 .

50 Peta Sarana dan Prasarana Transportasi LAPORAN AKHIR 1-134 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

7. 80 Jumlah Rumah Tangga. Total kapasitas terpasang 21178 kw sementara beban puncak 27674 kw. dilihat dari segi distribusi.1 Energi Dalam lingkup wilayah.087 mwh.1.7 ASPEK SARANA DAN PRASARANA WILAYAH PROVINSI PAPUA BARAT 1. meningkat sebanayk 3. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan energi.960 mwh terjual. layanan PLN masih sangat kurang seperti terlihat pada Tabel 1. meningkat dari jumlah tahun 2004 yang sebesar 61253 pelanggan. energi merupakan aspek yang sangat krusial.80 tersebut membandingkan jumlah pelanggan PLN di Papua Barat dari jenis rumah tangga dengan jumlah rumah tangga di Papua Barat. Meski jumlah pelanggan terus meningkat. Tingkat layanan listrik rata- LAPORAN AKHIR 1-135 . Pembangkit listrik tenaga diesel sangat ini merupakan sumber energi yang paling utama.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Total produksi selama tahun 2005 tercatat 79. maka pembangunan sarana dan prasarana energi juga menjadi kebutuhan vital dan mendesak di Provinsi Papua Barat. Jumlah pelanggan pada tahun 2005 mengalami peningkatan menjadi 63238 pelanggan.79 persen dari tahun sebelumnya. Dari total produksi tersebut. Penyediaan listrik di Papua Barat teridir dari dua macam yaitu pembangkit listrik tenaga diesel dan pembangkit listrik mikro hidro. hasil perhitungan Tabel 1.7. Tabel 1.015 mwh yang dialirak dan 70.1 Prasarana Wilayah Provinsi Papua Barat 1. Banyaknya unit pembangkit tenaga listrik di Papua Barat pada tahun 2005 adalah 16 unit.80 berikut. terdapat 71. Jumlah Pelanggan PLN Rumah Tangga dan Tingkat Layanan Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 Sosial 287 107 25 24 709 106 205 106 548 2 117 2 117 2 117 Rumah tangga 5 744 1 741 237 737 16 602 1 186 5 739 1 886 20 543 54 415 54 415 54 415 Bisnis 772 439 14 91 1 799 83 153 32 2 052 5 435 5 435 5 435 Industri 2 5 1 5 13 13 13 Publik 247 63 11 13 273 38 45 38 530 1 258 1 258 1 258 Sumber: Papua Barat dalam angka 2007.

jumlah sarana dapat dilihat pada Tabel 1.47 persen.81 berikut: Tabel 1.7. Layanan telepon dari Telkom saat ini baru terkonsentrasi di kabupaten dan kota terutama seperti Sorong dan Manokwari. Tingkat layanan yang paling ada di kabupaten-kabupaten baru dengan angka terendah ada pada kabupaten Teluk Wondama sebesar 4.1. Wilayah Raja Ampat yang berupa kepulauan mungkin menjadi faktor kenapa kantor pos dalam skala kecil lebih berperan. Sorong Selatan. yang terkendala oleh kondisi topografi wilayah Papua Barat. LAPORAN AKHIR 1-136 . Tingkat layanan tersebut masih sangat jauh dari rata-rata yanng ada. Kondisi infrastruktur konumikasi dan perhubungan di Papau Barat tergolong masih sangat minim. Teluk Bintuni. Rasio elektrifikasi di Indonesia rata-rata berkisar pada angka 50 persen. Kebutuhan pos di Raja Ampat dipenuhi oleh rumah pos dan kantor pos desa. Tingkat layanan tertingi ada di kota Sorong yaitu sebesar 57.2 Komunikasi Infrastruktur komunikasi dan komunikasi pada tingkat provinsi lebih menitikberatkan pada persebaran dan tingkat layanan. 81 Jumlah Kantor Pos dan Kantor Pos Pembantu Tahun 2008 Kabupaten Kantor Pos Kantor Pos Pembantu Kantor Pos dan Giro Tambahan Rumah Pos Kantor Pos Desa Jumlah Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong 1 … 6 1 1 … - … 1 1 1 … 4 5 9 7 1 … 3 7 11 19 1 1 2 … 13 6 8 3 34 41 1 Selatan Sorong 1 Raja Ampat Kota Sorong 1 1 Papua Barat 9 4 2007 3 11 Sumber : Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Kantor pos hanya terdapat di dua wilayah yaitu Kota Sorong dan Manokwari sementara kantor pos pembantu terdapat di semua wilayah kecuali Kabupaten Raja Ampat. Untuk layanan pos.89 persen.57 persen. Layanan telepon belum terdapat di Teluk Wondama. Pemenuhan energi di Papua Barat masih sangat kurang baik dari segi jumlah maupun distribusi. dan Raja Ampat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 rata bagi rumah tangga di Papua adalah sebesar 32. 1.

83 Banyaknya Pelanggan Air Minum yang Disalurkan Menurut Jenis Pelanggan Per Kabupaten/Kota Tahun 2006 (m3) No Kabupaten/ Sosial 69.496 3.6%.512 … … … Lainnya … … … 6.270 29.230. 2.427 5.177.210 177.372.923.329 5.480 M3.240 53. 1.720 39.272 1.200 196. Total produksi air sebanyak 6.138. 3 Kabupaten/ Kota Fak Fak Manokwari Kota Sorong Jumlah 2007 2006 2005 2004 Sungai 2.512 32.428.554 Sumber Air Mata Air 45 65.535 M3 dan dari mata air pegunungan sebanyak 2.074.673 2. 3 perusahaan induk dan 1 perusahaan cabang.582. mata air 45. sedangkan perusahaan cabang tidak difungsikan lagi.383.923.422 4.330 2.177.3 Air Bersih Perusahaan air bersih pada tahun 2003 terdiri dari 4 perusahaan.767 Danau 32.907 617.626. 1.370.525.945 1.427 28.496 2.318 65. Tabel 1.353 10.607 8.107.905 1.490 39.497 19. Telah ada operator seluler yang menjangkau Papua Barat namun juga masih terkonsntrasi di wilayah seperti Kota Sorong.480 Sumber : Papua Barat Dalam Angka.345M3.117 2.926.005 Jumlah Khusus 42. 82 Produksi Air Bersih Menurut Kabupaten/Kota dan Sumber Air yang Digunakan Tahun 2008 (m3) No.464 1.344 3.690 Jenis Pelanggan Non Niaga Niaga Industri 667. Tetapi kapasitas potensial pada tahun 2004 mengalami kenaikan dari 268 liter/detik menjadi 297 liter/detik.7.809 1.1.515 2.331 687. Tabel 1. Sedangkan kapasitas efektif sama dengan tahun 2003 yakni 144 liter/detik.582. 2009 Pada berikut nampak bahwa persentase sumber air bersih berasal dari sungai mencapai 54. yang bersumber dari sungai sebanyak 3.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kondisi wilayah Papua Barat lebih memungkinkan pengembangan jaringan komunikasi nirkabel seperti telepon seluler dan telepon satelit.149.544 8.864 33. Papua (Kompilasi data tahun 2007) LAPORAN AKHIR 1-137 .507 Kota 1 Fak Fak 2 Sorong 3 Manokwari 9 Kota Sorong Jumlah 6 Sumber : PDAM. Pada tahun 2004 mengalami penurunan yaitu hanya 3 perusahaan induk.243.535 3. Sumber air bersih yang digunakan berasal dari air sungai dan mata air pegunungan.047 73.936.06 5.330 M3 dan dari sumber lainnya sebanyak 6.117 3.1%.365 145.936. Data tetntang air bersih masih memasukkan kabupaten bentukan baru dalam kabupaten induknya.230 16.3% dan sumber lainnya 0.363 3.699 858.

dan Kabupaten Manokwari. Non niaga merupakan pelanggan terbesar yakni 2. industri dan khusus relatif lebih kecil.284:32. sebaliknya untuk kota Sorong memiliki jenjang sekolah SMK yang cukup tinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya yaitu sebanyak 7 sekolah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa 1(satu) orang guru akau mengajar siswa jenjang pendidikan SD/Ml sebanyak 22 orang.690 dan industri 28.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2004 jumlah air minum yang disalurkan sebanyak 4. dan telah tersebar pada daerah kabupaten dan kota di wilayah ini. Tabel 1.253 LAPORAN AKHIR 1-138 . sedangkan sosial 177. dan Raja Ampat. Jumlah sarana pendidikan di Papua Barat pada tahun 2005 terdapat pada Tabel 1.7. sedangkan dari kategori sosial.149.428. Pada tingkat SMP/MTs diperoleh perbandingan kapasitas guru dan siswa sebesar 3. Perbandingan kapasitas guru tersedia dan siswa pada jenjang pendidikan SD/MI diperoleh nilai sebesar 5. Teluk Wondama.699 Artinya non niaga merupakan pengguna air terbanyak di susul oleh niaga.370.2. 84 Sarana Pendidikan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten TK SD SMP SMA Fak-Fak 30 91 16 6 Kaimana 8 68 10 4 Teluk Wondama 1 42 4 1 Teluk Bintuni 6 64 14 4 Manokwari 32 166 28 13 Sorong Selatan 110 16 4 Sorong 47 115 21 5 Raja Ampat 2 80 17 2 Kota Sorong 35 70 24 16 Papua Barat 161 806 150 55 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 SMK 3 4 1 2 1 1 7 19 MA 1 1 1 1 4 Sarana pendidikan di Provinsi Papua Barat mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga perguruan tinggi telah tersedia.047 dan niaga sebesar 1. 1. dirnana terdapat 3 (tiga) lokasi kabupaten yang belum memiliki jenjang SMK yaitu kabupaten Teluk Bintuni.901 atau 1: 22. Kabupaten Fak Fak.005 dan yang khusus adalah 145. Khusus untuk sarana pendidikan dengan jenjang pendidikan SMK sebagai jenjang kejuruan yang lebih menekankan pada profesionalisme ilmu belum tersebar pada semua kabupaten/kota. disusul Kabupaten Sorong. Penggunaan air bersih yang terbanyak di Papua Barat adalah Kota Sorong dari semua jenis pelanggan yang di salurkan.295 : 113.2 Sarana Wilayah Provinsi Papua Barat 1.7.84 berikut ini.066.507 M3.1 Pendidikan Sarana dan tenaga pengajar pendidikan merupakan kapasitas yang mendukung proses belajar mengajar dalam kegiatan pendidikan.

86 berikut ini. Dari segi jumlah penduduk. 85 Tenaga Pengajar di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat TK 98 8 1 28 98 4 64 301 602 SD 846 284 119 251 1035 783 795 233 949 5295 SMP 275 127 38 175 325 49 595 65 1635 3284 SMA 88 30 20 76 387 29 83 32 745 1490 SMK 60 65 15 115 15 85 215 570 MA 5 6 20 25 56 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Dilihat dari tingkat rasio antara sekolah dan tenaga pengajar dengan jumlah murid. Layanan kesehatan yang mencukupi dapat menurunkan tingkat kematian.7.2 Kesehatan Layanan kesehatan adalah layanan krusial bagi masyarakat dan berkaitan dengan kualitas masyarakat. Tabel 1. Jenjang pendidikan perguruan tinggi yang tersedia di Provinsi Papua Barat terdiri dari Universitas Negeri Papua/UNIPA.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 atau 1:10. masyarakat harus menmepuh jarah yang jauh. tingkat partisipasi masyarakat dalam pendidikan di Papua Barat masih rendah. LAPORAN AKHIR 1-139 . ternyata memiliki perbandingan yang cukup baik dalam proses belajar mengajar. layanan pendidikan memang telah memenuhi. Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian/STPP (Kabupaten Manokwari). Universitas Muhamadiyah Alamin/UNAMIN (Sorong). mengurangi jumlah penyakit menyebar. Meski demikian.2. Sekolah Tinggi Ilmu Hukum/STIH. STIE Sorong (Kabupaten Sorong). Jumlah sarana layanan kesehatan di Papua Barat terdapat pada Tabel 1. 1. Universitas Kristen Indonesia Papua /UKIP. Apabila dilihat dari perbandingan kapasitas guru dan siswa didik. layanan di Papua Barat telah mencukupi. dan membudidayakan perilaku hidup sehat. STIE Maesa. Artinya bahwa 1(satu) orang guru pada tingkat SMP/MTs akan mengajar 10 siswa. Kenyataan ini erat kaitannya dengan masalah transportasi. Pembangunan di bidang kesehatan dapat menjadi modal bagi peningkatan kualitas masyarakat. SIT Otouw Gesler. Sekolah Tinggi Viktoria. meningkatkan kesehatan reproduksi. Untuk dapat mencapai suatu sarana pendidikan. Saint Paul Politeknik. namun dari segi distribusi wilayah belum memenuhi. Sekolah Pendidikan Agama Kristen/SPAK.

Jumlah tenaga dokter di Papua Barat adalah sebagai berikut. dan Kota Sorong. Hal ini dapat dipahami karena lokasi-lokasi tersebut merupakan kabupaten lama (Provinsi Papua) sebelum pemekaran wilayah menjadi Provinsi Papua Barat. Di wilayah-wilayah tersebut telah terdapat layanan rumah sakit. Untuk dokter ahli belum terdapat di semua kabupaten.87 menunjukkan minimnya tenaga dokter di Papua Barat.173 Polindes 8 31 14 8 74 36 7 7 35 2 1 8 18 11 2 9 12 41 Ketersediaan sarana kesehatan yang cukup tinggi ada pada lokasi Kabupaten Manokwari. Sorong.7. Jumlah sarana tersebut tentu masih sangat kurang. 1. 86 Jumlah Sarana Kesehatan di Provinsi Papua Barat tahun 2008 Puskesmas Puskesmas Puskesmas Pembantu Keliling Fak-Fak 37 9 5 Kaimana 46 7 9 Teluk Wondama 22 6 10 Teluk Bintuni 28 15 10 Manokwari 84 19 19 Sorong Selatan 42 8 9 Sorong 22 12 2 Raja Ampat 33 13 21 Kota Sorong 25 5 8 Papua Barat 339 94 93 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 Kabupaten Rumah Sakit 1 BP 6 1 Posyandu 130 79 70 221 255 151 111 69 87 1. hanya di Fak-Fak. Dokter gigi baru terdapat di Fak-fak. Kabupaten-kabupaten baru hingga tahun 2005 belum memiliki rumah sakit. Tabel 1. Manokwari. selain itu masyarakat harus menempuh perjalanan jauh untuk dapat memperoleh layanan kesehatan. 87 Jumlah Tenaga Dokter di Provinsi Papua Barat tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Dokter Ahli 4 Dokter Umum 22 6 5 3 16 6 10 2 7 77 Dokter Gigi 2 1 21 2 9 34 2 7 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 Tabel 1. Manokwari. Kota Sorong.2. Sarana kesehatan tentu harus didukung oleh layanan tenaga kesehatan sperti dokter.3 Perekonomian LAPORAN AKHIR 1-140 . Kaimana. dan Kota Sorong. Dokter umum memang telah tersedia di seluruh kabupaten walau terkonsentrasi di kabupaten induk.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. dan Fakfak.

Manokwari 4. 7. 6. Sorong Selatan 6. 89 Jumlah Perbankan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2007 No 1. 3.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 a. dan Supermarket. Restoran/Rumah Makan. BRI) sebesar 56. Hotel/Penginapan. jumlah terbesarnya adalah kantor Bank Pemerintah. 2. Tabel 1. 4. 5. Perdagangan Perusahaan perdagangan di Papua Barat menurut golongan usaha pada tingkat desa dan perkotaan. Perbankan Sarana perbankan merupakan sarana yang penting dalam perekonomian. Sorong 3. Dari sejumlah bank yang beroperasi. sedangkan yang lainnya lebih banyak tersebar di perkotaan. sisanya sebesar 16. Tabel 1. Raja Ampat 7. 88 Jumlah Perusahaan Perdagangan Menurut Golongan Usaha Pada Tingkat Desa dan Perkotaan No Kabupaten/ Kota Super Market 1 3 Restoran/ Rumah Makan 4 2 8 2 2 1 1 5 11 9 2 11 30 25 5 Toko/ Warung/ Kios 9 37 69 5 52 59 20 11 22 284 41 243 Hotel/ Penginapan 3 7 1 2 2 3 10 28 21 7 Koperasi Unit Desa 9 9 14 1 7 1 3 44 8 36 Koperasi Non KUD 7 4 7 2 1 16 4 41 8 33 1. Jumlah kantor cabang bank yang beroperasi di Provinsi Papua Barat kurang lebih berjumlah 60 kantor cabang. Kabupaten/ Kota Fak Fak Sorong Manokwari Kaimana Sorong Selatan Raja Ampat Teluk Bintuni Bank Umum 2 2 7 1 1 1 3 BPR 1 LAPORAN AKHIR 1-141 . Teluk Bintuni 8. KUD. bahwa toko/warung/kios menduduki urutan tertinggi. Bank Danamon).79 persen adalah bank-bank yang dikelola oleh swasta (Bank Mandiri.49 persen dan Bank Pembangunan Daerah (Bank Papua) sebesar 26. Kota Sorong Jumlah di Kota dan di Desa Jumlah di Kota Jumlah di Desa 1 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 b. Dari semua jenis usaha seperti: toko/warung/kios. Teluk Wondama 9. Fak Fak 2.72 persen. yang terdiri dari Bank Pemerintah Pusat (BNI. Kaimana 5. kemudian koperasi Unit Desa (KUD) dan non KUD. seperti Minimarket dan Supermarket. dan non KUD sebagian besar berada di pedesaan.

B. Jaringan jalan. 4. Kawasan perdagangan dan jasa. Pola struktur ruang pada saat ini masih linier yaitu mengikuti pola jaringan jalan utama. yaitu: 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 8.8 POTENSI PROVINSI PAPUA BARAT BARAT A. Pertanian. Kota Sorong 6 Jumlah di Kota dan di Desa 24 Jumlah di Kota 19 Jumlah di Desa 5 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2008 1 2 2 - Tabel 1. 5. Teluk Wondama 1 9. Potensi Pengembangan Pola Ruang LAPORAN AKHIR 1-142 . 2. Potensi Pengembangan Struktur Tata Ruang Secara umum kondisi tata ruang di wilayah perencanaan masih sangat sederhana. Permukiman. Struktur ruang di kawasan ini hanya dibentuk oleh beberapa kegiatan. 90 Jumlah Bank dan Kantor Bank di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Rincian/ Description Bank Persero dan Bank Pemerintah Daerah Jumlah bank Jumlah kantor bank Bank Swasta Nasional Jumlah bank Jumlah kantor bank Bank Asing dan Bank Campuran Jumlah bank Jumlah kantor bank Jumlah bank Jumlah kantor bank Jumlah Bank Banks Kantor Bank 16 156 17 180 17 192 9 49 11 54 7 9 9 20 18 18 4 6 2004 2005 2006 2007 2008 Bank-bank Umum 129 153 165 45 48 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 1. sehingga dapat mempermudah pengarahan fungsi-fungsi yang telah ditetapkan. Sedangkan permukiman perdesaan membentuk kelompok secara tersebar. Kehutanan. 3.

Terlebih adanya kabupaten-kabupaten bentukan baru menyebabkan pencatatan data penggunaan lahan harus dilakukan ulang. Adapun potensi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pola Ruang di Provinsi Papua Barat masih sangat terbatas. Terdapat beberapa komoditas unggulan yang bernilai ekspor cukup tinggi. Potensi dari kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: 1. Potensi Pengembangan Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Seperti diketahui Provinsi Papua Barat mempunyai wilayah pesisir. LAPORAN AKHIR 1-143 . 4. Potensi Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi Kawasan strategis merupakan kawasan-kawasan dengan potensi dan atau permasalahan tertentu yang perlu diprioritaskan penanganannya secara sektoral maupun tata ruang. Pola penggunaan lahan masih berpola pedesaan dengan didominasi oleh kebun campuran. karena memiliki dampak yang penting pada upaya pencapaian tujuan pengembangan wilayah dalam lingkup provinsi. dan pulau-pulau kecil yang tersebar cukup luas. laut dan pulaupulau kecil yang masih berpotensi untuk ditingkatkan dan dikembangkan pada masing-masing kawasan pemanfaatan ruang laut dalam rangka pengembangan kerjasama antar kawasan. hal ini dapat dijadikan potensi pengembangan dengan mengalih fungsikan perkebunan yang kurang produktif menjadi lahan yang dilihat dari sisi ekonomisnya menjadi lebih tinggi. Dukungan keberadaan sumberdaya (hayati dan non hayati) pesisir. Terdapatnya sumberdaya alam yang belum termanfaatkan sebagai penunjang fungsi kawasan strategis ekonomi. Di Provinsi Papua Barat terdapat beberapa kawasan strategis ekonomi. 6. kawasan strategis lingkungan dan kawasan strategis sosial. Pola ruang yang ada berdasarkan data masih didominasi oleh hutan. C. Masih luasnya hutan sehingga dapat menujang program penanganan lingkungan. Data mengenai lahan antara satu dan yang lainnya kerap menunjukkan perbedaan. laut. 3. sehingga untuk pengembangan kawasan budidaya masih sangat terbuka. 5. Terdapat beberapa pintu gerbang nasional yang dapat ditingkatkan menjadi pintu gerbang internasional dalam rangka peningkatan kerjasama ekonomi. dan prospek kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Provinsi Papua Barat dapat dijelaskan sebagai berikut. Perlunya konsep mitigasi bencana pada kawasan-kawasan yang mempunyai kerawanan terhadap bencana. Potensi budaya yang beragam dapat dijadikan entry point bagi kawasan strategis sosial. D. Faktor kondisi fisik Provinsi Papua Barat yang berbukit dengan banyak pulau menyebabkan pencatatan penggunaan lahan relatif lebih sulit dilakukan. 2. 1. masalah.

b) Pembangunan sarana dan prasarana yang menunjang fungsi pelayanan dari pusat-pusat tersebut sesuai dengan hirarkinya. yaitu berada di antara dua benua dan dua samudera. e) Peningkatan akses sarana dan prasarana dasar pada permukiman di pedesaan. Telah berkembangnya pemasaran produk perikanan dan pesisir lainnya ke luar negeri (ekspor). Permasalahan utama pengembangan Struktur Ruang Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Jaringan jalan yang belum menghubungkan pusat-pusat kegiatan sehingga belum terbentuk hirarki pusat yang baik. c) Pengembangan jaringan jalan dan transportasi lainnya sebagai penghubung dari pusat-pusat pelayanan. merupakan potensi yang masih dapat ditingkatkan dari sisi pangsa pasar. 4. LAPORAN AKHIR 1-144 . dan sekaligus potensi dalam pengembangan inlet-outlet pada wilayah pesisir melalui keberadaan pelabuhan laut. 3. 5. c) Pola permukiman pedesaan yang sangat menyebar sehingga mempersulit pelayanan dari sarana dan prasarana. BIMPEAGA. d) Penentuan hirarki jaringan jalan berdasarkan status pusat yang dihubungkannya.9 Isu 1. serta dalam meningkatkan mutu hasil produksi perikanan dan pesisir lainnya. Strategis Penataan Ruang Provinsi Papua Barat dan Prospek Pengembangannya Peran dan Fungsi Sistem. Hal ini juga didukung oleh posisi geografis Indonesia yang strategis. PKW dan PKL yang disesuaikan dengan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang dimiliki pada masing masing pusat tersebut. terdapat pula beberapa permasalahan dalam pembentukan struktur ruang tersebut. Perkotaan serta Struktur Ruang Selain potensi pengembangan struktur tata ruang. Perkembangan teknologi perikanan dan kelautan yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan pengelolaan sumberdaya pesisir. Keberadaan kawasan kerjasama regional antar negara (IMT-GT. b) Masih minimnya sarana dan prasarana perkotaan. Keberadaan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan aksesibilitas ke luar wilayah Indonesia. IMS-GT. 1. kapasitas maupun keragamannya. dan lain-lain) sebagai pendorong sekaligus wilayah yang dapat menampung hasil-hasil produksi atau memanfaatkan jasa-jasa pada sektor pesisir dan kelautan. maka prospek pengembangan struktur tata ruang Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Penetapan fungsi PKN.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2. laut dan pulau-pulau kecil. Berdasarkan potensi dan permasalahannya.

sehingga yang dikerjakan tidak habis dalam waktu dekat. juga ditemukan cadangan bahan galian. Pola Ruang Masalah yang terjadi di Provinsi Papua Barat adalah masalah konflik penggunaan lahan. dengan tetap memperhatikan daya dukung dan kemampuan wilayah dalam menampung kegiatan yang dipertahankan tersebut. selain itu juga faktor kebencanaan perlu menjadi pertimbangan dalam pengembangan pola ruang di Provinsi Papua Barat. Gambaran konflik ruang yang terjadi adalah: a) Konflik antara kawasan lindung dengan potensi pertambangan. b) Konflik antara kawasan lindung dengan Hak Pengusahaan Hutan (HPH). apabila LAPORAN AKHIR 1-145 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2. atau kekayaan yang dapat dimanfaatkan. c) Konflik antara kawasan lindung dengan kawasan budidaya lainnya. c) Perlu adanya penyelesaian konflik yang terjadi dengan memperhatikan azas manfaat. sehingga manfaat dapat diperoleh secara terus menerus. b) Prospek jangka panjang ke masa depan. lahan yang seharusnya sebagai kawasan penyangga. artinya manfaat yang lebih besar hendaknya dipertahankan keberadaannya. c) Keberlanjutan manfaat. yang didasarkan pada: a) Kawasan merupakan perwujudan sumberdaya dan kimah (asset). dalam pemanfaatan lahan harus didasarkan atas 3 terapan (perception) dari lahan. misalnya bahan galian. faktor fisik wilayah Provinsi Papua Barat yang bergelombang juga merupakan suatu kendala dalam pengembangan pola ruang yang diinginkan. d) Konflik antara kawasan lindung dengan pengembangan transportasi. Berdasarkan potensi dan permasalahan yang telah diungkapkan pada sub bab sebelumnya. Masalah lain yang timbul adalah masalah hak ulayat yang belum jelas dalam penguasaan lahan sehingga dalam penentuan batas administrasi serta batas kepemilikan lahan belum jelas tergambarkan. bentuk konflik yang dapat muncul adalah adanya persamaan lokasi atas peruntukan lahan yang didasarkan atas kondisi biofisik dengan potensi yang dikandung. b) Pembangunan menuju pola ruang yang diinginkan tersebut harus memperhatikan daya dukung lingkungan dan fisik dari wilayah-wilayah yang direncanakan. Selain masalah konfilk penggunaan lahan. Untuk itu. maka prospek pengembangan pola ruang wilayah adalah sebagai berikut: a) Perlunya batas administrasi dan penguasaan hak ulayat dalam rangka menunjang pembangunan menuju pola ruang yang diinginkan. Di dalam tempat yang sama.

maupun pengembangan sumberdaya manusianya. maka harus dikembalikan kepada fungsi lindung yang diembannya 3. sasaran dan rencana tersebut mendorong terjadinya konflik pemanfaatan sumberdaya (user conflict) dan konflik kewenangan (jurisdictional conflict) (CincinSain dan Kenneth. dan pulau-pulau kecil Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Pengembangan badan usaha bersama dalam bidang penangkapan ikan baik pengembangan sarana dan sarana penangkapan ikan. Setiap pihak yang berkepentingan mempunyai tujuan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 kegiatan yang dimaksud sudah berakhir. yaitu penggunaan bahan peledak. c) Kerusakan dan pencemaran lingkungan pesisir. laut. umumnya disebabkan oleh kegiatan-kegiatan perikanan yang bersifat destruktif. karena tidak adanya aturan yang jelas tentang penataan ruang pesisir dan lautan dan alokasi sumberdaya yang terdapat di kawasan pesisir. peristiwa tumpahan minyak. dan lain-lain. target dan rencana untuk mengeksploitasi sumberdaya pesisir. penambatan jangkar perahu. Kerusakan akibat pemanfaatan berlebih (over exploitation) pada sebagian jenis sumberdaya pesisir (khususnya sumberdaya perikanan tangkap). Perbedaan tujuan. Dengan melihat potensi dan masalah yang terjadi maka prospek pengembangan kawasan pesisir. aktifitas pelayaran/perkapalan. f) Pencurian ikan oleh nelayan asing yang banyak terjadi pada perairan pada wilayah perbatasan. Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Isu terkait dengan pengembangan kawasan pesisir danp-Pulau Kecil di Provinsi Irian Jaya adalah sebagai berikut: a) Kurangnya dukungan prasarana dan sarana (kelautan dan perikanan) serta keberadaan pusat-pusat kegiatan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi pesisir. 1998). LAPORAN AKHIR 1-146 . b) Pembentukan keterkaitan dan distribusi produk untuk pengembangan budidaya perikanan. b) Konflik pemanfaatan dan kewenangan. pemanfaatan dan pengendalian) kerjasama antar kawasan dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir laut dan pulau-pulau kecil. c) Pengembangan sektor kepariwisataan bahari serta membentuk keterkaitan antar wisata yang mempunyai potensi yang sangat besar di Provinsi Papua Barat. Beberapa stok sumberdaya ikan telah mengalami kondisi tangkap lebih (over fishing) seperti udang. d) bahan beracun sianida. e) Rendahnya sumberdaya manusia (SDM) masyarakat dan aparat dalam merealisasikan proses (perencanaan.

terutama transportasi darat sehingga kelancaran perangkutan barang dan orang menjadi terhambat dan mahal. c) Peningkatan pembangunan sarana dan prasarana transportasi sebagai penunjang pengembangan kawasan strategis.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 d) Pengembangan indusri pelayaran dan pengangkutan sebagai upaya untuk membentuk keterkaitan antar pusat-pusat pengembangan. e) Pemanfaatan f) hutan produksi yang melebihi daya dukungnya. b) Keterbatasan sektor transportasi. 4. b) Peningkatan status pintu gerbang Sorong dan Manokwari menjadi pintu gerbang nasional dan internasional. e) Menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan sosial-masyarakat Provinsi Papua Barat. Terjadinya konflik sosial antar suku menjadi kendala dalam mengembangkan potensi budaya yang ada. Kawasan Strategis a) Kurangnya sumberdaya manusia baik dari kualitas maupun kuantitasnya dalam upaya pemanfaatan potensi sumberdaya alam yang begitu besar. mengingat kota-kota yang terbentuk di Provinsi Papua Barat sebagian besar berada pada wilayah pesisir. sehingga mengganggu fungsi lindung yang ditetapkan. c) Belum termanfaatkannya potensi pasar dan pemasaran yang ada. LAPORAN AKHIR 1-147 . d) Pengendalian dan pengawasan yang ketat serta pemberian sangsi yang tegas pada kawasan-kawasan strategis lingkungan. Prospek dari pengembangan kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Perlu adanya peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia dalam pengelolaan sumberdaya alam yang melimpah. Selain itu juga perlu adanya peningkatan daya saing sumber daya lokal sehingga sumberdaya dari luar yang datang juga mempunyai kualitas yang baik. Masalah dari kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: d) Masih sering terjadi illegal logging sehingga mengganggu fungsi lindung.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful