Profil Wilayah Provinsi Papua Barat

1

1.1

ASPEK FISIK DASAR

Aspek fisik dasar yang akan dipaparkan diantaranya mengenai batas administrasi dan geografi, klimatologi, suhu dan kelembaban, morfologi, kondisi geologi, karakteristik tanah, Hidrologi, karakteristik hidro-oseanografi, dan ketersediaan lahan. 1.1.1 Perkembangan Pembentukan Daerah

Provinsi Papua Barat secara definitif dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999 dengan nama Provinsi Irian Jaya Barat bersamaan dengan pembentukan Provinsi Irian Jaya Tengah, Kabupaten Mimika, Kabupaten Paniai, Kabupaten Puncak Jaya, dan Kota Sorong. Namun pemekaran wilayah provinsi ini ditangguhkan karena terjadi penolakan terhadap pemekaran ini, sementara pemekaran kabupaten tetap dilaksanakan sesuai UU Nomor 45 Tahun 1999 tersebut. Berdasarkan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat,

1-1

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Teluk Bintuni, dan Kabupaten Teluk Wondama di Provinsi Papua, maka terjadi pemekaran untuk beberapa kabupaten. Pemekaran wilayah untuk Provinsi Irian Jaya Barat sebagai berikut: 1. Kabupaten Sorong dengan dua kabupaten pemekaran, yaitu: Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Raja Ampat. 2. Kabupaten Manokwari dengan dua kabupaten pemekaran, yaitu: Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Teluk Wondama 3. Kabupaten Fak Fak dengan satu kabupaten pemekaran, yaitu Kabupaten Kaimana

Setelah memiliki wilayah yang jelas, penduduk, aparatur pemerintahan, anggaran, anggota DPRD, serta gurbernur dan wakil gubernur definitive, Provinsi Irian Jaya Barat mulai membangun dirinya secara sah. Sejak tanggal 18 April 2007, Provinsi Irian Jaya Barat berubah nama menjadi Provinsi Papua Barat, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007. Pada tahun 2008 dimekarkan satu kabupaten baru di Provinsi Papua Barat yaitu Kabupaten Tambrauw. Dasar hukum pembentukan Kabupaten Tambrauw adalah UndangUndang Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2008 dengan ibukota kabupaten yang terdapat di distrik Fef. Berdasarkan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 127/PUUVII/2009 tanggal 25 Januari 2009, Kabupaten Tambrauw dibentuk dari sebagian bekas wilayah Kabupaten Sorong dan Kabupaten Manokwari, yaitu Distrik Abun, Distrik Amberbaken, Distrik Fef, Distrik Kebar, Distrik Kwoor, Distrik Miyah, Distrik Moraid, Distrik Mubrani, Distrik Sausapor, Distrik Senopi, dan Distrik Yembun. Berdasarkan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI (Nomor 127/PUU-VII/2009 tanggal 25 Januari 2009), maka batas wilayah Kabupaten Tambrauw adalah sebagai berikut: Utara Selatan Barat Timur : Samudera Pasifik : Kabupaten Sorong Selatan : Kabupaten Sorong : Distrik Sidey, Kabupaten Manokwari

Pada tahun 2009 terdapat kabupaten baru yang dimekarkan yaitu Kabupaten Maybrat. Kabupaten Maybrat merupakan pemekaran dari wilayah kabupaten Sorong. Pada 27 Oktober 2008 dikeluarkan Keputusan Bupati Sorong Selatan Nomor 133 Tahun 2008 tentang Penyerahan Sebagian Cakupan Wilayah Bawahan Kabupaten Sorong Selatan ke

LAPORAN AKHIR 1-2

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten Sorong, wilayah yang diserahkan terdiri dari 11 (sebelas) distrik, yaitu: Distrik Aifat, Distrik Aifat Utara, Distrik Aifat Timur, Distrik Aifat Selatan, Distrik Aitinyo Barat, Distrik Aitinyo, Distrik Aitinyo Utara, Distrik Ayamaru, Distrik Ayamaru Utara, Distrik Ayamaru Timur, dan Distrik Mare. Pada 16 Januari 2009 disahkanlah UURI Tahun 2009 Nomor 13 tentang Pembentukan Kabupaten Maybrat sebagai hasil pemekaran dari kabupaten Sorong. Adapun komposisi distrik bawahannya adalah tepat sama dengan komposisi distrik di atas. Ini terjadi karena pemekaran dari Kabupaten Sorong Selatan belum memenuhi syarat teknis dan legalitas, jadi upaya percepatan berupa pemindahan kembali 11 distrik calon distrik Kabupaten Maybrat untuk sementara waktu ke kabupaten induknya, dan dilanjutkan dengan proses pembentukan Kabupaten Maybrat sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Sorong, bukan dari Kabupaten Sorong Selatan. Peresmian dilakukan pada tanggal 15 April 2009 di Jakarta, adapun batas wilayah Kabupaten Maybrat adalah sebagai berikut: Utara Selatan Barat Timur 1.1.2 : Fef, Senopi, Kebar : Kokoda, Kais : Moswaren, Wayer, Sawiat : Moskona Utara, Moskona Selatan Batas Administrasi dan Geografi

Provinsi Papua Barat secara geografis terletak pada 124°-132° Bujur Timur dan 0°-4° Lintang Selatan, tepat berada di bawah garis khatulistiwa dengan ketinggian 0-100 meter dari permukaan laut. Kabupaten Fakfak merupakan kabupaten tertinggi dengan ketinggian 10-100 meter diatas permukaan laut, sedangkan kota-kota lainnnya berkisar antara 10-50 meter diatas permukaan laut. Batas geografis Provinsi Papua Barat adalah : Sebelah Utara Sebelah Barat Sebelah Timur : Samudera Pasifik : Laut Seram (Provinsi Maluku) : Provinsi Papua Sebelah Selatan: Laut Banda (Provinsi Maluku)

Wilayah Provinsi Papua Barat memiliki 11 wilayah Pemerintahan Daerah yang terdiri dari 9 Kabupaten dan 1 Kota, 154 distrik, dan 1.361 kampung dengan luas wilayah secara keseluruhan sebesar 97.024,37 km² (berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2008). Luas dan perbandingan persentase luas wilayah kota kabupaten di Provinsi Papua Barat disajikan pada Tabel 1.1 dan Gambar 1.2. Pembagian Daerah Administratif menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 dapat dilihat pada Tabel 1.2. Secara spasial administrasi Provinsi Papua Barat diperinci berdasarkan kabupaten/kota dapat dilihat pada Gambar 1.1. Tabel 1.1 Luas Wilayah dan Persentase menurut Kabupaten/Kota LAPORAN AKHIR 1-3

65 100.55 7.99 10.21 No.35 12.699 13.500 14.084.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Persentase (%) 9.1 Persentase Luas Wilayah Provinsi Papua Barat Menurut Kabupaten/Kota Sumber: Diolah dari Provinsi Papua Barat Dalam Angka 2010 Tabel 1.00 Total 144.63 9.111 943.52 15.08 13.80 10. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kabupaten/Kota Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana Kabupaten Teluk Wondama Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Manokwari Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Sorong Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Tambrauw Kabupaten Maybrat Kota Sorong Total IbuKota Fakfak Kaimana Wasior Bintuni Manokwari Teminabuan Aimas Waisai Fef Kumurkek Sorong Jumlah Kecamatan 9 7 13 24 29 13 18 13 11* 11 6 154 Jumlah Kelurahan 7 2 1 2 9 2 13 1 1 30 68 Jumlah Kampung 122 84 75 114 402 110 118 97 53 108 1293 LAPORAN AKHIR 1-4 .236.60 4.84 8.52 10.8 18.38 0.953.871 6.320 18.33 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka 2010 Gambar 1.136. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kabupaten/Kota Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana Kabupaten Teluk Wondama Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Manokwari Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Sorong Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Tambrauw Kabupaten Maybrat Kota Sorong Luas Planemetrik (Km2) 14.5 19.521.665 12.91 12.2 Pembagian Daerah Administratif Provinsi Papua Barat menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 No.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 * Disesuaikan dengan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 127/PUU-VII/2009 LAPORAN AKHIR 1-5 .

2 Peta Batas administrasi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-6 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

Teluk Bintuni Kab.106. perbedaan antara jumlah curahan pada musim hujan dan musim kemarau tidak jelas.602 4.537 2. Sorong Selatan Kab.689 1. Pada pola ini biasanya curah hujan bulanan tidak teratur atau hampir merata sepanjang tahun.306 LAPORAN AKHIR 1-7 . Iklim di Provinsi Papua Barat memiliki 3 (tiga) pola yaitu pola tunggal (A dan D).3.9 970 1.1 Curah Hujan Musim di Papua Barat dicirikan oleh angin Tenggara yang bertiup sekitar pertengahan April hingga September dan Muson Barat Laut yang di mulai dalam bulan Oktober hingga Maret. Pola tunggal D memiliki curah hujan tertinggi pada bulan Juli/Agustus. Musim hujan di setiap daerah tergantung dari waktu di mana musim ini terpaparkan pada satu atau kedua sistem angin tersebut.048 2005 3.351 2007 3.1. sedangkan dataran rendah di Selatan Kepala Burung dan jazirah Onin dan Bomberai serta dataran rendah di Selatan kordirela mendapatkan hujan terbanyak antara bulan April dan September ketika angin bertiup dari arah tenggara. Pola umum ini menjadi rumit oleh topografi dan pola angin.067. maka iklim di Provinsi Papua Barat sangat bervariasi melebihi daerah Indonesia lainnya. Angin Tenggara dan muson Barat Laut biasanya panas dan mengandung uap air yang diangkut ketika melewati samudera.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Tabel 1. Pada umumnya pegunungan di Kepala Burung. Pada pola C. sedangkan ketinggian dan kejajaran barisan pegunungan mempengaruhi pola angin dan presipitasi dalam setiap daerah. 1.3 4.964.470 2. Kaimana Kab. Karena daerahnya yang bergunung-gunung.600 2.091 2. pantai Utara dan di sebelah Utara kordirela mendapatkan hujan terbanyak dari angin Barat Laut dalam bulan Oktober hingga Maret.1.323 2.964.048 2.209 127 2. Manokwari Kab. Pola A dan D menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antara jumlah curah hujan pada musim hujan dan musim kemarau.586 133 1. Suhu sangat bergantung dari ketinggian.319 2. Teluk Wondama Kab.3 4. Sorong 2003 3.680 2.492 4. Pada pola B.3 Klimatologi Provinsi Papua Barat terletak tepat di sebelah Selatan garis khatulistiwa sehingga termasuk dalam wilayah tropika humida. dalam setahun terjadi dua kali puncak curahan tertinggi atau dua kali puncak curahan terendah.345 2. dan pola ganda (C). Fakfak Kab.537 2006 3.3 2008 2.836 2004 3. Jumlah hujan yang jatuh di setiap tempat di Papua secara khusus dikendali oleh topografi.313 1. Pola umum iklim dan cuaca sangat dipengaruhi oleh topografinya yang kasar. Pola tunggal A atau pola sederhana (simple wave) memiliki curah hujan terendah pada bulan Juli/Agustus.3 Banyaknya Curah Hujan di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2007 (mm) Kabupaten/Kota Kab.964. pola berfluktuasi (B).836 2.3 1.059 1.

Sorong 185 220 230 Kab. Secara spasial keadaan iklim dan persebaran curah hujan di Provinsi papua barat ditunjukkan pada Gambar 1.048 2. Pada tahun 2009 ini tidak terdapat kabupaten yang memiliki curah hujan kelas IV. Teluk Bintuni Kab. 3000 mm/tahun.537 Kota Sorong 2.2 mm (Kota Sorong) sampai dengan 4. kelas II dengan curah hujan antara 1000 s. Teluk Wondama Kab. Gambar 1. Dari data diatas terlihat bahwa di Kabupaten Sorong. dengan curah hujan sekitar 2000 s. Kabupaten Manokwari memiliki jumlah hari hujan yang paling sedikit dibandingkan Kabupaten/Kota lainnya yaitu denan rata-rata sebanyak 192 hari hujan. dan kelas V di Kabupaten Sorong. dan kabupaten Raja Ampat.d. Sorong Selatan 220 230 Kab.3 369 2008 4.964. dan Kota Sorong memiliki karakteristik jumlah hari hujan yang hampir serupa. kabupaten Sorong Selatan. Raja Ampat 185 220 230 Kota Sorong 185 218 230 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2006 228 177 254 150 230 156 156 156 2007 225 204 254 212 230 225 225 228 2008 176 215 223 225 286 286 288 Rata-rata jumlah hari hujan di Provinsi Papua Barat berkisar antara 150 s. kelas II di kabupaten Kaimana dan Kabupaten manokwari.d. Tabel 1. dan kelas V dengan curah hujan antara 4000 s. Pada tahun 2009 curah hujan kelas I terdapat di Kota Sorong. Fakfak 210 210 232 Kab.047 211 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Berdasarkan jumlah curah hujannya wilayah Papua Barat memiliki tiga kelas curah hujan.306 358.3 Peta iklim LAPORAN AKHIR 1-8 .836 2. 1000 mm/tahun. kelas IV dengan curah hujan antara 3000 s.351 181 2007 4.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2006 2. Kelas III di Kabupaten Fakfak.3 dan Gambar 1.d. yaitu kelas I dengan curah hujan antara 0 s.d. Kaimana 214 218 208 Kab. 2000 mm/tahun.964. Manokwari 187 178 203 Kab.d.836 2.4 Banyaknya Hari Hujan di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2008 (hari) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab. 4000 mm/tahun. Rata-rata curah hujan selama tahun 2008 berkisar antara 358.4.d.3 mm (Sorong Selatan). 3000 mm/tahun.d. Kabupaten Raja Ampat. Hampir seluruh wilayah Papua Barat memiliki kelas curah hujan tipe III pola C. 5000 mm/tahun. kelas III dengan curah hujan antara 2000 s. 288 hari hujan.2 Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab. Raja Ampat 2.

4 Peta curah Hujan LAPORAN AKHIR 1-9 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

2 Suhu dan Kelembaban Suhu dan kelembaban merupakan komponen iklim paling konstan di Provinsi Papua Barat. sedangkan di daerah LAPORAN AKHIR 1-10 .1. suhu harian biasanya antara 29 oC – 32 oC. Di dataran rendah. sementara di daerah pegunungan pada 1500-2000 m dpl.3. Pada malam hari.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. 5-10 derajat lebih dingin. suhu di sepanjang pantai 5-8 derajat lebih dingin daripada siang hari.

30 27.13°C di Kabupaten Manokwari.50 2004 85.32 Tabel 1.38 Kab.6 Suhu Udara Maksimum dan Minimum di Provinsi Papua Barat Tahun 20032008 (°C) Kabupaten/Kota 2004 Max Min 28.20 25.60 27.50 24.60 27. Teluk Wondama Kab. Tabel 1.50 82. Sorong Selatan … … 31.80 30.50 23.60 26.40 30.50 … 23.92 83.90 21.2 27.70 Kota Sorong 27.26 27. Raja Ampat 27.20 29.80 31.47 27. Teluk Bintuni Kab.60 32.60 24.40 … … 2005 Max Min 29.0 83.59 24.22 27.08 83.60 27.70 Kab.49 … … … 32.10 29.30 31.13 30.10 23.80 27.90 21.46 °C dengan suhu maksimal sebesar 28.00 … 26.50 84.90 31.60 27.73 21.60 27. Sorong 31.30 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Dari Tabel 1.47 27.03 25.70 2007 Max Min 28. Teluk Wondama Kab.30 82.30 27.28 27.08 27.80 31.48 Kab.6. Teluk Bintuni … … … … Kab. Kaimana 27.5 terlihat bahwa suhu udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar 25.6 Kab.10 23.40 83.60 2007 25.80 26.05°C terjadi di wilayah Kabupaten Fakfak.70 29.68 27.43 23.30 24.55 30.7 … 23.40 23.10 2008 26.90 Kota Sorong 31. Kaimana Kab.05 23. suhu udara tertinggi dalam kurun waktu 2004-2008 terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 32.67 23.60 Kab.8 Kab. Raja Ampat 30.08 LAPORAN AKHIR 1-11 .17 2007 86.40 25.46 27.80 26.70 31.6 27.60 27.67 2006 85. Karakteristik suhu di Provinsi Papua Barat tidak menunjukkan fluktuasi tahunan yang nyata.83 2008 84. Fakfak 28.6 27.80 30.70 28.30 Kab.6 27.70 27.48 23.70 26.80 24.7 Kelembaban Udara Rata-rata di Papua Barat Tahun 2003-2008 (%) Kabupaten/Kota Kab.26 26.20 31.70 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2006 25.40 25.30 24.56 29.33 2005 85.30 27.78 81.68-27.33 26.49 … … … 32.63 … … … 27.15 26.20 33.5 Suhu Udara Rata-rata Menurut Lokasi Stasiun di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2008 (°C) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab. Kaimana Kab.43 23. Fakfak Kab. Dari Tabel 1. Teluk Wondama Kab. Manokwari 27.00 31.00 22.40 83.40 22.00 26.48 27.55 23.46 27.00 22. dan suhu minimal sebesar 23.00 25.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 pegunungan kisarannya lebih lebar. Sorong 27.30 83.70 25.70 30.70 Kab.56°C di Kabupaten Fakfak.60 33.30 26.30 2008 Max Min 30.40 Kab. Tabel 1.80 26.10 23.40 … … 2006 Max Min 22. Manokwari 2003 84. Manokwari 27.90 31.30 24.00°C juga berada di Kabupaten Fakfak (data hasil pencatatan suhu udara pada beberapa stasiun yang berada di Kabupaten/Kota se-Provinsi Papua Tahun 2008).30 84. Sorong Selatan 27. sedangkan suhu terendah juga terjadi pad atahun 2008 yaitu sebesar 21.63 27.20 25. Fakfak Kab. Teluk Bintuni Kab.3 Rata-Rata 25.9 85.

Provinsi Papua Barat yang memiliki keragaman suhu udara. penyinaran matahari terendah terdapat di Kabupaten Manokwari sedangkan lama penyinaran tertinggi terdapat di Kabupaten Fakfak.80 54.70 49. Tabel 1.d.83 46. Kaimana 45. Teluk Wondama Kab.08 53.00 Kab. Sorong Selatan 84.58 Kab.00 68.92 Kab.00 84.36% s.40 58.90 58.08 59. waktu siang hari (sekitar 12 jam) adalah konstan dengan variasi tahunan sekitar 30 menit antara hari terpanjang dan terpendek. Berdasarkan uraian karakteristik iklm tersebut.00 68. Sorong 61. Karena berada di katulistiwa.40 49.00 86.0%. terutama di daerah pegunungan di mana awan cumulus hampir selalu meningkat ke tengah hari.9 115.00 59. Teluk Bintuni Kab.17 43.80 Kab.00 83.8 Rata-Rata Penyinaran Matahari Menurut Lokasi Stasiun di Kabupaten/Kota Tahun 2003-2008 (%) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 2006 Kab.00 Kota Sorong 83.00 84.d.00 2008 107. Dengan kondisi seperti ini di wilayah Papua Barat memiliki potensi bagi pengembangan komoditi-komoditi pertanian apabila terutama dikaitkan dengan persentase lama penyinaran.40 49.00 Kab.83 58. Sorong 83.00 62.00 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2007 37. 128.4% s. di mana daerah dataran rendah cenderung lebih lembab.00 84.00 54.00 87.30 59. Manokwari 63.00 84.00 84.90 59.00 65.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 84.00 Penyinaran matahari rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar antara 52. 87.00 Kab. Raja Ampat 84. Keadaan ini merupakan gangguan utama bagi transportasi udara dengan pesawat kecil.05 147.00 83.81%. kelembaban udara terendah terdapat di Kabupaten Kaimana sedangkan kelembaban tertinggi terdapat di Kota Sorong dan Kabupaten Raja Ampat.21 54. Papua merupakan tempat yang kemungkinan salah satu tempat paling berawan di dunia.52 50.00 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Kelembaban nisbi tinggi dan dan konstan. penyinaran matahari yang hampir terus menerus sepanjang tahun.00 87. kelembaban udara yang relatif konstan.80 60.00 86. Sorong Selatan 65.80 65.75 Kab.00 86.37 125. berkisar dari 75-80%.00 Kab.00 59.25 87. Raja Ampat 61. Kelembaban udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar antara 81.00 86. Fakfak 126.64 51.00 83.00 62.00 83. dan curah hujan yang cukup tinggi menjadi potensi besar bagi pengembangan budidaya tanaman pertanian dan perkebunan terutama untuk LAPORAN AKHIR 1-12 .40 49.10 Kota Sorong 61.80 46.00 83.40 46.

790 100 3.1 Ketinggian Kondisi topografi Provinsi Papua Barat sangat bervariasi membentang mulai dari dataran rendah.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 wilayah Kabupaten Manokwari. Pembagian wilayah Provinsi Papua Barat berdasarkan ketinggian wilayah dari permukaan laut dapat digolongkan kedalam empat kelompok yaitu: (1) wilayah dengan ketinggian 0-100 meter dpl.400 2.900 250. terutama transportasi darat.196 518. Ketinggian wilayah di Provinsi Papua Barat bervariasi dari 0 s. Tabel 1. Teluk Bintuni. dengan tipe tutupan lahan berupa hutan hujan tropis.600 344. rawa sampai dataran tinggi.49 Kab Manokwari 1.d > 1000 m.109 Kota Sorong 162.01 182. Kondisi ini merupakan salah satu elemen yang menjadi barrier transportasi antar wilayah.1.250 Kab Fakfak 1. sistem transportasi darat maupun bagi pengembangan budidaya pertanian terutama untuk tanaman pangan.413.015.847 288. Kota Sorong. 1. LAPORAN AKHIR 1-13 .868. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.366 1.1.691 Kab Sorong 2.046.200 1.4. 1.2 Kelerengan Tinjauan atas morfologi wilayah didasarkan pada kondisi kelerengan atau kemiringan. Sebagian besar wilayah Provinsi Papua Barat memiliki kelas lereng > 40% dengan bentuk wilayah berupa perbukitan. dominasi pemanfaatan lahan diarahkan pada hutan konservasi disamping untuk mencegah terjadinya bahaya erosi dan longsor.192.9.48 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Berdasarkan tabel di atas. Sehingga.257.301 Jumlah >1000m 741.054.1.050 284. Kondisi tersebut menjadi kendala utama bagi pemanfaatan lahan baik untuk pengembangan sarana dan prasarana fisik.4. 1. (3) wilayah dengan ketinggian >500-1000 meter dpl.132 328. sebagai berikut. serta dasar bagi kebijakan pemanfaatan lahan. (2) wilayah dengan ketinggian >100-500 meter dpl. dan Kabupaten Sorong Selatan mendapatkan potensi tersebut.9 Luas Wilayah menurut Ketinggian dari Permukaan Laut dan Kabupaten/Kota (Ha) Wilayah Pengembangan 0-100m Kelas ketinggian >100-500m >500-1000 377.4 Morfologi Kondisi Morfologi memaparkan mengenai informasi fisik wilayah yang meliputi ketinggian wilayah dan kelerengan. dan wilayah dengan ketinggian >1000 meter dpl. diketahui bahwa kondisi topografi antar wilayah di Provinsi Papua Barat cukup bervariasi. padang rumput dan padang alang-alang.058 3.

700 448.06 78.10.582 49. kelas lereng landai sampai curam (kemiringan >15– 40%).49 LAPORAN AKHIR 1-14 . Untuk jelasnya mengenai luas masing-masing kelas lereng lihat Tabel 1. Tabel 1. dan kelas lereng curam sampai sangat curam (>40 %).790.10 Luas Wilayah menurut Kelas Lereng/Kemiringan dan Wilayah Pengembangan Kelas lereng 0-15% >15-40% >40% Kab Manokwari 1.108 Kota Sorong 257.54 8.100 1.453.89 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Wilayah Pengembangan Jumlah 3.500 2.502 Kab Fakfak 105.310 158.297 964 Kab Sorong 984.000 344.434. maka secara garis besar Tanah Papua dapat diklasifikasikan kedalam tiga kelompok kelas lereng yaitu kelompok wilayah dengan kelas lereng datar sampai landai (kemiringan 0-15 %).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dipandang dari sisi lereng.998 19.200 313.636 57.

5 Peta kenampakan elevasi/ketinggian Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-15 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.6 Peta kemiringan lereng Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-16 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.7 Peta kenampakan topografi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-17 .

1979) Daratan Papua New Guinea dan Pegunungan Central Range. pulau Papua mulai muncul di permukaan laut pada sekitar 350 Lintang Selatan.1. bahwa kerak bumi terbagi dalam tujuh lempeng sangat besar dan sejumlah lempeng lithosfer kecil lainnya. yang kesemuanya bergerak relatif terhadap sesamanya. Ketika lempeng India-Australia dan lempeng Pasifik bertemu di sekitar 40 juta tahun lalu. dimana lempeng Pasifik mengalami subduksi atau tertindih di bawah lempeng Australia. India. Pulau Papua merupakan produk pertumbuhan benua yang dihasilkan dari tubrukan kedua lempeng tersebut. hal ini dapat dilihat pada Gambar 1. LAPORAN AKHIR 1-18 . lebar 150 km dengan topografi yang kasar dan sejumlah puncak setinggi lebih dari 3000 meter.1. Setiap lempeng terdiri atas bagian kerak benua (kontinental) dan kerak samudera (oseanik). Daerah ini merupakan daerah interaksi antara dua lempeng besar yaitu Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. seluruh Papua dan Australia bagian Utara berada di bawah permukaan laut. Australia. 1. Awal terpisahkan benua ini dari posisi Selatannya terjadi pada masa Kretasius Tengah (kurang lebih 100 juta tahun lalu). Konsep lempeng tektonik yang telah diterima umum mengganggap.1 Evolusi Tektonik Pulau Papua Pembentukan pulau Papua atau pulau New Guinea telah didiskusikan oleh berbagai ahli dan diringkas oleh Petocz (1984).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Gondwanaland. Amerika Selatan. Pegunungan Central Range merupakan sabuk yang memanjang sampai 1300 km.5 Kondisi Geologi Kondisi geologi Tanah Papua pada dasarnya memiliki kesamaan dengan kondisi geologi umum yang dijumpai di Indonesia bagian timur. Selandia Baru dan Kaledonia Baru. Proses ini berlanjut selama masa Pleistosen hingga pulau Papua terbentuk seperti di saat ini.5. Lempeng Benua India-Australia (atau biasa disebut lempeng Australia) bergerak ke arah Utara keluar dari posisi kutubnya dan bertubrukkan dengan Lempeng Samudra Pasifik yang bergerak ke arah Barat. (Hamilton. Sebagian besar daerah ini adalah lapisan batuan berumur Kenozoikum dan Mesozoikum yang tersesarkan dan terlipat. yang juga termasuk di dalamnya adalah Antartika. yang diendapkan pada tepian kontinen aktif Australia.8 tentang Tatanan tektonik di Tanah Papua Evolusi tektonik yang terjadi selama Kenozoikum dihasilkan oleh tumbukan secara oblique antara kedua lempeng tersebut. secara umum diasumsikan sebagai lokasi tipe dari busur kepulauan oseanik aktif–tumbukan kontinen (Dewey dan Bird. 1970). Pada saat dimulainya gerakan ke Utara dan rotasi dari benua super ini. Bagian daratan paling Utara pada Lempeng India-Australia antara 90-100 juta tahun lalu berada pada 480 Lintang Selatan yang merupakan titik pertemuan Lempeng India-Australia dan Pasifik. Bagian Selatan pulau Papua merupakan tepi Utara dari benua super kuno.

Zone deformasi yang berada di sebelah Timur adalah bagian dari New Guinea Mobile Belt (Sabuk Mobil New Guinea) dan merupakan campuran dari batuan kraton Australia dan lempeng Pasifik. Menurut Dow et al. Kretasius. Sesar Ransiki (RFZ). Sesar Lungguru (LFZ) dan Sesar Tarera-Aiduna (TAFZ). ciri dominan dari perkembangan geologi Papua merupakan dikhotomi antara sejarah tektonik dari batuan mantap kraton Australia dan lempeng Pasifik di satu sisi. Terlepas dari batuan mantel sesar naik yang kemungkinan berumur Mesozoik dan beberapa kerak samudera Jurasik. Dari paparan di sepanjang tepi Utara dan dari eksplorasi permukaan bawah (sub-surface) di sebelah Selatan. yaitu lempeng Australia dan Lempeng Pasifik. bahwa pada tahun 2004 telah terjadi beberapa kali gempa. Hanya sebagian kecil yang dipengaruhi oleh proses tektonik dari zaman Paleozoik Awal hingga Tersier Akhir. Oseanik. terdapat bukti bahwa batuannya berasal dari tektonik utama pada episode Paleozoik Pertengahan dan Oligosen maupun episode beku dalam Paleozoik Pertengahan. Batuan lempeng Pasifik yang terpaparkan di Papua berumur lebih muda. dan periode tektonik intens dari zona deformasi di sisi lainnya (New Guinea Mobile Belt). bahwa batuan dari kraton Australia pada sebagian besar wilayah ini dicirikan oleh sedimentasi palung (shelf sedimentation). Triasik. Akan tetapi. bahwa geologi Papua sangat kompleks karena melibatkan interaksi antara dua lempeng tektonik. serta pencatatan lengkap sejarah geologi hingga saat ini menunjukkan. ini disebut Melanesian Orogeny (Dow and Sukamto. Terdapat sejumlah lipatan dan sesar naik sebagai akibat dari interaksi (tubrukan) antara kedua lempeng tektonik. Walaupun pencatatannya terpisah-pisah. Kenyataan menunjukkan pula. sebagai produk dari interaksi antara kedua lempeng.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dari evolusi tektonik menunjukkan. (island-arc volcanics complex) sebagai bagian dari lempeng Pasifik. dan Transisi. magmatik dan tektonik. dan Miosen Pertengahan. sebaran paling luas dari aktivitas tektonik dan volkanik dimulai pada Miosen Akhir dan berlanjut hingga sekarang. lempeng Pasifik ini terdiri atas volkanik busur-kepulauan dan sub-ordinat kerak samudera berumur Palaeogen. pada umumnya geologi Papua dapat dibagi ke dalam tiga provinsi geologi besar. (2005). Provinsi Kontinental terdiri atas sedimen yang terpisah dari kraton Australia. seperti Sesar Sorong (SFZ). Batuan lempeng Pasifik pada umumnya letak-datar terpatah hanya oleh beberapa patahan. yaitu provinsi Kontinental. LAPORAN AKHIR 1-19 Provinsi Oseanik terdiri atas batuan Ofiolit (ophiolite rock) dan kompleks volkanik busur-kepulauan Provinsi Transisi adalah suatu zone yang terdiri atas deformasi tinggi dan batuan metamorfik regional . 1984) Wilayah Papua Barat sangat berpotensi terhadap gempa tektonik dan kemungkinan diikuti oleh tsunami. Menurut Sapiie (2000). Setiap provinsi geologi memiliki karakteristiknya sendiri dalam sejarah stratigrafik.

MO = Misool-Onin High.8 Setting Tektonik Papua Keterangan: MTFB = Mamberamo Thrust & Fold Belt. (2). Sedimentasi Senosoil Akhir. SFZ = Sorong Fault Zone. LFB = Lengguru Fault Belt. TAFZ = Tarera-Aiduna Fault Zone. Stratigrafi Zone Transisi.5. Paleozoic Basement. RFZ = Ransiki Fault Zone.1. WO = Weyland Overthrust. Tanda panah menunjukkan gerakan relatif antara lempeng Pasifik dan Australia 1. dan (5). (4). Sedimentasi Mesozoik hingga Senosoik. YFZ = Yapen Fault Zone.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. (3).2 Stratigrafi Dari berbagai publikasi yang dikompilasi Sapiie (2000). menunjukkan bahwa stratigrafi wilayah Papua Barat terdiri atas: (1). WT = Waipona Trough. Stratigrafi Lempeng Pasifik. LAPORAN AKHIR 1-20 .

Formasi Kelompok Kembelangan Kelompok ini diketahui terbentang mulai dari Papua Barat hingga Arafura Platform. Formasi Kemoem ditutupi oleh kelompok Aifam. namun di Leher Burung terjadi deformasi kuat dan termetamorfosa. Bagian atas dari kelompok ini disebut formasi Jass. (slate).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. formasi Tipuma ditutupi oleh kelompok Aifam. Filitik (Phylliic) dan sedikit kuartzit (quartzite). Sedimentasi Mesizoik hingga Senosoik Formasi Tipuma Formasi Tipuma tersebar luas di Papua. mulai dari Papua Barat hingga dekat perbatasan di sebelah Timur. batuan sedimen paparan airKelompok Aifam digunakan untuk mendeskripsikan dangkal. Paleozoic Basement Blok terluas dari strata Paleozoik berada di Timur Laut Papua Barat yang dikenal dengan Kemum High atau formasi Kemoem yang terdiri atas sabak. Di daerah Papua Barat. a. kelompok ini tidak mengalami metamofosa.9 Stratigrafi Pulau Papua (Sapiie. Formasi ini dicirikan oleh batuan berwarna merah terang dengan sedikit bercak hijau muda. yaitu formasi Aimau. Formasi ini diketahui berada di tepi Utara Papua Barat dan terdiri atas tiga formasi. 2000) 1. Formasi ini tercampur oleh granit-biotit karboniferus (Melaiurna Granite). batulumpur Aifat dan formasi Ainim. Kelompok Kembelangan terdiri LAPORAN AKHIR 1-21 . 2. Di daerah Teluk Bintuni. b.

dan (4). kurang lebih pada batas Cretaceous dan Cenozoik. Sedimentasi Senosoik Akhir Sedimentasi Senosoik Akhir dalam basement kontinental Australia dicirikan oleh sekuensi silisiklastik yang tebalnya berkilometer. Umur kelompok ini berkisar dari Miosen Awal hingga Pliosen. Formasi Waripi Paleosen hingga Eosen. pulau Yapen dan pegunungan Cycloop. Pulau New Guinea dicirikan oleh pengendapan (deposisi) karbonat yang dikenal sebagai Kelompok Batu Gamping New Guinea (NGLG). c. Formasi Klasaman dan Steenkool berturut-turut dijumpai di cekungan Salawati dan Bintuni. Dataran ini memanjang dari Timur ke arah Barat dengan lebar LAPORAN AKHIR 1-22 . Kelompok batuan ini diklasifikasikan sebagai zone transisi atau peralihan. Satuan ini disebut Formasi Hollandia dan tersebar luas di Waigeo. Kelompok ini berhubungan dengan formasi Waripi dari kelompok Batuan Gamping New Guinea atau New Guinea Limestone Group (NGLG). Batuan metamorfik ini membentuk sabuk kontinyu (>1000 km) dari Papua hingga Papua New Guinea. berada di atas strata karbonat Miosen Pertengahan. dua di antaranya dijumpai di Papua Barat. (2).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 atas antarlapis batudebu dan batulumpur karboniferus pada lapisan bawah batupasir kuarsa glaukonitik butiran-halus serta sedikit shale pada lapisan atas. Pulau Waigeo. 3. batuan asal penutup banyak dijumpai luas sepanjang sabuk Ophiolite Papua. Formasi Fumai Eosen. Stratigrafi Lempeng Pasifik Pada umumnya batuan lempeng Pasifik terdiri atas Batuan asal penutup (mantle derived rock). Utara Pegunungan Gauttier dan sepanjang zone sesar Sorong dan Yapen pada umumnya terbentuk oleh batuan ultramafik. Di Papua dikenal 3 (tiga) formasi utama. Wilayah Papua secara umum terdiri dari dua dataran “Dataran Grime” dan “Dataran Sekoli”. volkanis pulau-arc (island-arc volcanis) dan sedimen laut-dangkal. dan mutu-tinggi metamorfik. plutonil basik. (3). 5. (3) Formasi Sirga Eosin Awal. yaitu (1). yang terutama terdiri atas batuan metamorfik. Kedua dataran ini menyatu sebagai suatu dataran luas yang membujur ke arah Barat daya Danau Sentani. Pegunungan Cycloop. 4. Stratigrafi Zone Transisi Konvergensi antara lempeng Australia dan Pasifik menghasilkan batuan dalam zone deformasi. Formasi Imskin. Di Papua. Formasi Batu Gamping New Guinea Selama masa Cenozoik. Formasi Kais Miosen Pertengahan hingga Oligosen. yaitu formasi Klasaman dan Steenkool. Biak. Kelompok ini berada di atas Kelompok Kembelangan dan terdiri atas empat formasi. Sedimen dalam lempeng Pasifik dicirikan pula oleh karbonat laut-dangkal yang berasal dari pulau-arc.

dan bergelombang lemah. Berdasarkan stratigrafi ini dapat disimpulkan bahwa wilayah Papua Barat terdiri dari empat ragam formasi batuan utama yaitu Batu gamping atau dolomit. terumbu koral terangkat pleistosin. Wentholt (1939). Teras ke-5 ini mencakup dari arah Timur hingga arah garis Utara-Selatan melandai ke aras Utara. namun tidak jelas perkembangannya. batuan beku atau malihan. Hal ini dapat dipahami karena secara regional. Menurut Schroo (1963). wilayah Papua Barat terdiri dari dua lempeng. berbatasan dengan teras ke-4. menyatakan bahwa dataran ini terbentuk pada zaman kwarter. LAPORAN AKHIR 1-23 . menyatakan bahwa adanya ketinggian (elevasi) yang berselang-seling di seluruh daerah tersebut menyebabkan sungai-sungai memotong sedimen ini. batuan sedimen lepas (kerikil. pasir lanau). Wentholt (1939). Teras-teras ini berumur tua dan berada lebih tinggi serta tampak datar.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bentangan yang hampir sama. Lahan yang berada di sebelah Timur Yanim Besar seluruhnya terbentuk dari material yang berasal dari pinggiran Utara daerah pegunungan Selatan. Zwierzichi (1921) dalam Schroo (1963). membagi Dataran Grime ke dalam 6 teras utama. kecuali daerah yang paling Barat oleh Sungai Sarmoai. Di sebelah tenggara teras terendah ini berakhir dan berlanjut dengan teras ke-2 yang berada kurang lebih 10 m lebih tinggi. namun setempat-setempat saja. Teras pertama dimulai dari dataran terendah dan termuda. dan sedimen marin neogen. Di batas Utara dari teras ke-5. dan batuan sedimen padu (tak terbedakan). Teras ke-3 dan ke-4 menempati sisa dataran di sebelah Barat kampung Janim Besar. di mana sisa-sisa daripadanya masih ditemukan sekarang dalam bentuk teras-teras yang luas. menunjukkan bahwa tanah di Dataran Grime dan Dataran Sekori berasal dari hancuran batuan fluviatil sedimen kwarterner. Dataran Grime dan Dataran Sekori merupakan lembah sedimentasi peninggalan zaman tersier yang terisi atas sedimen laut (marin) dan kemudian oleh bahan fluviatil. Di ujung sebelah Barat. merupakan daerah tertinggi dan tertua yang mengakhiri teras ke-4 dan ke-5 di sebelah Selatan. kedua teras ini melandai ke arah Utara hingga ke arah Barat laut. Di Dataran Sekori ini juga terbentuk teras. Kedua sungai tersebut membawa bahan-bahan yang sama. Juga di sini bentang lahannya tampak seluruhnya datar. terdapat Dataran Sekori yang besar. Sumbangan cabang-cabang sungai yang berasal dari pinggiran pegunungan Utara relatif kecil. dataran ini membentuk daerah rawa hingga ke arah pantai. Menurut Wentholt (1939). Daerah teras ini melandai ke arah Barat laut dan kemudian ke arah Utara. Selama periode ini dataran banjir terbentuk pada berbagai tingkat. Teras ke-6. seluruh lahan yang berada di sebelah Barat Yanim Besar (Braso) dibentuk oleh Sungai Grime dan cabang-cabang sungainya. di sebelah Timur sungai Grime terletak teras ke-5. Lebih lanjut Schroo (1961).

Pengaruh secara simultan dari kelima faktor pembentukan tanah tersebut menghasilkan jenis-jenis tanah dan penyebarannya.1. bergerak ke arah Utara. 1984) Terdapat tujuh Satuan Peta Tanah (SPT) yang dimodifikasikan Petocz (1984) dari Brookfield dan Hart (1971).1 Jenis Tanah Pada umumnya terdapat lima faktor yang mempengaruhi pembentuan tanah.1984). yang berumur Mesozoikum yang disebut sebagai Kelompok Kembelangan.1. Selain itu. Lempeng Samudera Pasifik terdiri dari batuan batuan ultramafik dan batuan busur gunung api Paleogen. Kadar liat yang tinggi dapat menyebabkan akar tanaman sulit berkembang. yang disebut sebagai Kelompok Batu Gamping New Guinea. seperti terlihat pada Peta 2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 yaitu Lempeng Benua Australia di bagian Selatan dan Lempeng Samudera Pasifik di bagian Utara. Lempeng Benua Australia tersusun oleh batuan sedimen klastik. relief atau topografi. yang berumur Mesozoikum (Dow drr. Sedangkan diantara kedua lempeng adalah Lajur Sesar Anjak dan Lipatan Pegunungan Tengah atau “New Guinea Mobile Belt” (Dow. yaitu berkisar dari lempung liat berdebu hingga liat berdebu. 1977). Batuan ultrabasa disebut sebagai ofiolit.10 Peta Geologi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-24 . tanah bertekstur berat. 1977). Batugamping yang berumur eosin-Miosen Tengah. berdampak pula terhadap rendahnya kapasitas infiltrasi (perembesan) tanah sehingga menyebabkan penggenangan air di permukaan tanah terutama di musim penghujan.6. Hal ini sudah barang tentu akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Tektonik Papua Barat diawali pada Permo-Trias. yang disebut sebagai Orogenesa Tasman. Pada saat itu Papua-Papua New Guinea mulai melepasakan diri dari Benua Australia. sedangkan pada Plistosin terjadi pensesaran anjak miring ke Selatan di bagian Utara. dan 2) di bagian Utara terdiri dari Batuan Malihan Darewo yang berumur Oligosen (Dow. Gambar 1. bahan induk. yaitu faktor Iklim. dan Batuan Sedimen Klastik Plioplistosen. sedangkan di Pegunungan Tengah terdiri dari beberapa batuan.3 (Petocz.. dan waktu. 1.6 Karakteristik Tanah Pada umumnya. kemudian berbenturan dengan Lempeng Samudera Pasifik pada Orogenesa Melanisia yang mengakibatkan sesar anjak miring ke Utara dan terbentuknya Pegunungan Tengah. organisme atau vegetasi. yaitu : 1) di bagian Selatan terdiri dari batuan sedimen yang berumur Mesozoikum sampai tersier yang tersesarkan dan terlipatkan. 1.

Litosol dan Regosol (Entisol) LAPORAN AKHIR 1-25 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.

sedangkan tanah Litosol berada pada lereng-lereng batuan terjal. Tanah ini dijumpai sedikit di wilayah pegunungan Kepala Burung dan terutama di Selatan Kordirela (pegunungan tengah). Berdasarkan klasifikasi USDA Soil Taxonomy (19975/1998). sepadan dengan Litosol. sedangkan menurut FAO/UNESCO (1974). Di Papua Barat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Asosiasi jenis tanah ini dijumpai di daerah pegunungan tinggi yang kasar topografinya (2000-4500 m dpl) pada kordirela Tengah (pegunungan tengah) dan Kepala Burung hingga Leher Burung sebelah Utara. Horison permukaan mengalami pelindian hebat yang menghasilkan horison pencucian yang miskin hara dan (Petocz. Profil tanah pada umumnya dangkal karena ketidakstabilan lereng. sedangkan horison penimbunan kaya akan besi dan humus yang disebut horison spodik. tanah ini menjadi meningkat kemasamannya. kedua tanah ini diklasifikasikan sebagai Regosol sepadan dengan Entisol (Lithic Subgroup). walaupun dijumpai pula tanah-tanah bersolum dalam yang relatif stabil dan berdrainase baik pada puncak-puncak bukit dan lereng bagian atas. sedangkan menurut Soil Taxonomy (19975/1998). Sering pula dijumpai berasosiasi dengan Regosol. 2. Tanah Regosol biasanya mengandung liat dan fragmen batuan lapuk. 3. sama dengan Podsolik. tanah ini dijumpai di pegunungan Wondiwoi. Selatan Kepala Burung dan di Utara depresi Meer Vlakte (Lakes-Plain). Pada altitut tinggi di mana curah hujannya tinggi. Tanah Podzolik (Ultisol) Jenis tanah ini berkembang dari bahan induk masam di lereng pegunungan pada elevasi tinggi. sedangkan menurut sistem klasifikasi USDA Soil Taxonomy (1975/1998). Litosol dan LAPORAN AKHIR 1-26 . tanah Podzolik sepadan dengan Ultisol. Arfak dan Tamrau. pada umumnya adalah hidro-podzolik yang berkembang pada kondisi drainase buruk pada dataran dan kipas aluvial Pleistosen. FAO/UNESCO (1974). Jenis tanah ini dijumpai di jazirah Bomberai. 1984) berpasir. Berdasarkan klasifikasi tanah dari Pusat Penelitian Tanah Bogor (PPT)(1978/1982) dan FAO/UNESCO (1974). Menurut klasifikasi PPT (1978/1982) Podzolik sepadan dengan Podsolik atau Kambisol (Podsolik Coklat). Menurut klasifikasi PPT (1978/1982) dan Inceptisol. tanah Brown Forest sama dengan Kambisol. terutama pada lereng tidak stabil. Tanah Brown Forest (Inceptisol) Tanah ini berada pada perbukitan dan lereng pegunungan rendah pada sabuk Utara Papua dari bahan induk basik dan batuan kalkareus (kapur) dengan curah hujan sedang. Sedangkan jenis tanah Podzolik Podzolik dataran rendah. Tanah ini biasanya berasosiasi dengan tanah Podzol (Spodosol) yang dicirikan oleh horison spodik.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

4. Latosol (ultisol) dan Lateritik (oksisol)
Latosol adalah tanah yang mengalami pelapukan sangat tinggi, terutama di daerah dengan ketinggian rendah di mana dijumpai pula berasosiasi kelompok Lateritik. Lateritik berkembang pada kondisi yang sama dengan Latosol, namun dengan pengaruh hidromorfik karena berasosiasi dengan fluktuasi permukaan air tanah. Selain dijumpai luas di daerah Selatan Papua, Latosol juga dijumpai tersebar di Selatan Kepala Burung hingga ke Leher Burung sebelah Utara dan Selatan serta di kepulauan Raja Ampat. Latosol sepadan dengan Kambisol, Latosol, Lateritik (PPT, 1978/1982), Cambisol, Nitosol, Ferrasol (UNESCO, 1974) dan Iceptisol, Ultisol, oxisol (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998).

5. Rendzina (Molisol)
Pembentukan tanah ini dikendalikan kuat oleh bahan induk. Rendzina berbatu dangkal terdapat pada perbukitan batu gamping dan di sepanjang daerah pantai pada platform koral terangkat yang umumnya bercirikan karst. Tanah ini berkembang baik pada perbukitan antara Teluk Etna dan Arguni, pegunungan Kumawa dan Arfak dan di Barat daya pegunungan Tamrau. Rendzina dijumpai pula pada terumbu koral terangkat barusan muda. Rendzina dicirikan oleh horison permukaan lembab coklat tua, berada di atas bahan berpasir coklat kelabu tua yang berangsur ke dalam bahan koral. Rendzina sepadan dengan Rendzina (PPT, 1978/1982), Rendzina (UNESCO, 1974) dan Rendoll (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998).

6. Aluvial dan Gambut
Pada umumnya jenis tanah ini dijumpai pada semua ketinggian, baik di daerah kering maupun basah. Di daerah kering, dengan tekstur tanahnya kasar dan berdrainase baik dijumpai di dataran landai, dataran banjir mapan, dan kipas aluvial, sedangkan, di daerah basah dengan drainase jelek dijumpai di dataran banjir atau rawa dari aluvium atau gambut. Tanah dengan tekstur halus dan gleisasi kuat akibat drainase jelek selama musim hujan cenderung bereaksi sangat alkalin, berada di dekat pantai dan sungai yang dipengaruhi pasang surut, namun semakin ke menjauhi pantai semakin meningkat kemasaman tanahnya. Tanah gambut dataran rendah dijumpai luas di Utara dan Selatan teluk Bintuni, serta gambut pegunungan dalam luasan yang kecil berada di sekitar danau Anggi Gita dan Anggi Giji. Tanah Aluvial sepadan dengan tanah Aluvial (PPT, 1978/1982), Fluvisol (UNESCO,1974) dan Entisol, Inseptisol (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998). Tanah gambut menurut USDA Soil Taxonomy (1975/1998), sepadan dengan Histosol.

LAPORAN AKHIR 1-27

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

7. Tanah Salin
Tanah salin atau tanah garaman (salty soils) biasanya bertekstur halus, berdraenase jelek karena dipengaruhi pasang surutnya air laut, serta bahan liat marin termasuk di dalamnya. Vegetasi khas dari tanah ini adalah mangrove dan nipah. Tanah Salin berkembang baik di sepanjang pantai Selatan mulai dari pulau Kimaam hingga teluk Etna dan di Selatan Kepala Burung dan Teluk Bintuni. Tanah ini menunjang pertumbuhan habitat mangrove terluas di Indonesia. Tanah Saline menurut USDA Soil Taxonomy (1975/1998), sepadan dengan Entisol (Sulfaquent) dan Inseptisol (sulfaquept). Persebaran jenis-jenis tanah di Propinsi Papua Barat dapat dilihat pada Gambar 1.11: Tekstur Tanah Pada umumnya, tanah bertekstur berat, yaitu berkisar dari lempung liat berdebu hingga liat berdebu. Kadar liat yang tinggi dapat menyebabkan akar tanaman sulit berkembang. Selain itu, berdampak pula terhadap rendahnya kapasitas infiltrasi (perembesan) tanah sehingga menyebabkan penggenangan air di permukaan tanah terutama di musim penghujanan. Hal ini sudah barang tentu akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Untuk tujuan penanaman kakao, maka drainase permukaan maupun drainase internal sangat perlu diperhatikan, jika ingin memperoleh pertumbuhan dan produksi kakao yang baik. Untuk menanggulangi drainase yang jelek, maka perlu dibuatkan selokan-selokan drainase berukuran kecil hingga sedang serta cukup dalam agar kelebihan air dapat dikeluarkan, sehingga tanahnya selalu dalam keadaan kering (lembab) dan tidak jenuh air. Selain itu, agar pertumbuhan akar tanaman kakao tidak terhalang oleh lapisan liat yang kompak, maka perlu digali lubang tanaman yang cukup besar dan dalam. 1.1.6.2 Reaksi Tanah Pada umumnya, tanah bereaksi alkali hingga sangat alkali dengan kisaran pH rata-rata 7,0 – 7,8. Semakin dalam tanahnya semakin tinggi reaksi tanah, bahkan tidak jarang mencapai pH=8,0 atau lebih. Tingginya pH tanah ini disebabkan karena tingginya kadar kalsium tanah (kapur) yang terbawa bersama bahan endapan sungai yang berasal dari pegunungan dan perbukitan kapur di sekitarnya. Reaksi Tanah demikian menyebabkan sebagian besar unsur-unsur hara makro (N, P, K) dan mikro (Fe, Zn, Mn, B, Cu) berada dalam keadaan tidak tersedia bagi tanaman. Apabila reaksi tanah mencapai pH=8,0 atau lebih akan menyebabkan tanaman sulit menyerap fosfat dan unsur-unsur mikro.

LAPORAN AKHIR 1-28

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Pada saat penelitian dijumpai pertanaman kacang tanah milik masyarakat di Kampung Pobaim yang menunjukkan gejala kekuningan pada daun-daun muda. Gejala kekuningan ini diduga kuat karena kahat akan beberapa unsur mikro. Gejala klorosis ini diistilahkan sebagai “Klorosis Terimbaskan Kapur” (Lime Induced-Chlorosis), suatu gejala kekahatan hara yang biasanya muncul di tanah-tanah berkapur. Kation-Kation Tersedia Kation tersedia yang diukur adalah Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Kalium (K). Kadar Ca dan Mg tersedia pada umumnya sedang hingga sangat tinggi. Hal ini mengisyaratkan bahwa kebutuhan tanaman akan Ca dan Mg cukup memadai sehingga tidak perlu diberi pupuk dengan kedua unsur tersebut. Pada kadar Ca yang sangat tinggi seperti dijumpai di beberapa tempat justru mengganggu pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, K tersedia tergolong rendah hingga sangat rendah sehingga pemupukan K sangat diperlukan agar mendapatkan produksi tanaman yang baik. Dalam hal tanaman tahunan seperti kakao, maka pemupukan kalium setidaknya dilakukan setiap tahun. Hasil analisis mineral tanah juga mencerminkan rendahnya kadar K tanah. Mineral tanah penyumbang kalium dari jenis kalium-veldspat yang telah hancur menunjukkan status kalium tanah yang jelek. Fosfor Tanah Kadar fosfat tersedia tergolong agak tinggi hingga sangat tinggi. Hampir semua contoh tanah menunjukkan adanya mineral primer apatit penyumbang fosfat yang tergolong sporadis (<1%) hingga beberapa persen saja. Dari pengalaman membuktikan bahwa walaupun jumlahnya sangat sedikit atau sporadis (<1%), nilai fosfat tersedia biasanya tinggi. Dengan demikian unsur hara fosfor dianggap cukup bagi kebutuhan tanaman, sehingga pemupukan P tidak diperlukan selama beberapa waktu tanam. Fosfat dan Kalium Total Kadar fosfat dan kalium total mencerminkan cadangan hara tersebut dalam tanah. Pada umumnya, kadar fosfat total berkisar dari Sedang hingga Tinggi sehingga tidak mengkhawatirkan. Tampaknya kandungan fosfat total dan fosfat tersedia berkorelasi positif sehingga memperkuat dugaan bahwa kadar fosfat cukup bagi kebutuhan tanaman. Kadar kalium total berkisar dari agak rendah hingga sedang. Ini berarti bahwa cadangan kalium tanah tidak memadai bagi suatu usaha pertanian, sehingga diperlukan pemupukan untuk mempertahankan kadar kalium tanah. Bahan Organik Tanah Kadar karbon (C) organik tanah mencerminkan kadar bahan organik tanah. Bahan organik sangat penting karena berpengaruh terhadap perbaikan sifat fisika dan kimia tanah. Bahan organik membantu granulasi dan penstabilan agregat tanah sehingga memperbaiki retensi LAPORAN AKHIR 1-29

Kemiringan lereng mempengaruhi drainase. Tanaman pada umumnya tumbuh dan berkembang dengan baik apabila drainase tanah baik. 1. Drainase tanah penting diperhatikan sebab drainase tanah mempengaruhi lingkungan perakaran tanaman yaitu keadaan air dan udara tanah. dimana drainase jelek atau terhambat biasanya terdapat pada tanah yang relatif datar atau daerah LAPORAN AKHIR 1-30 . Drainse tanah merupakan cerminan terhadap kondisi tata air baik di dalam tanah maupun di permukaan tanah. sebab tekstur tanah menentukan kemampuan tanah memegang air. Hal ini mengisyaratkan bahwa peningkatan dan perlindungan bahan organik tanah sangat penting dilakukan. kompos.12 Peta Kedalaman Tanah di Tanah Papua. sedangkan perkolasi air dalam tanah ditentukan oleh ada atau tidaknya lapisan kedap.4 Kondisi Drainase Tanah Drainase tanah merupakan salah satu parameter penentu dalam penilaian kualitas/karakteristik lahan. 1.6. Pada umumnya kadar C organik tanah tergolong rendah. Tidak kalah pentingnnya adalah dengan adanya bahan organik akan sangat berdaya terhadap biologi tanah. Tanah dapat mempunyai drainase baik atau jelek tergantung pada kondisi internal dalam tanah seperti tekstur tanah. meningkatkan laju infiltrasi dan kapasitas memegang air. Untuk menanggulangi kekurangan bahan organik dapat dilakukan dengan pemberian pupuk kandang. Struktur mempengaruhi drainase tanah karena struktur tanah menentukan proporsi ukuran pori tanah. Hal tersebut berkaitan dengan volume tanah yang dapat dijelajahi oleh akar tanaman. Selain itu.1. bahan organik meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK). Tekstur tanah mempengaruhi drainase. kedalaman tanah merupakan faktor pembatas bagi penggunaan tanah untuk tanaman. Adapun kondisi kedalaman tanah di Tanah Papua dapat dilihat pada Gambar 1.1. semakin kecil tekstur tanah semakin kuat memegang air demikian pula sebaliknya.3 Kedalaman Tanah Di samping jenis tanah. yang berarti pula meningkatkan kemampuan menyerap kation unsur hara makro dan mikro sebagai sumber hara. struktur tanah dan ada tidaknya lapisan kedap dalam tanah serta kemiringan lereng.6.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 air tanah. dan menanam penutup tanah (seperti Pueraria javanica atau Calopogonium mucunoides) terutama pada pertanaman kakao. namun demikian ada juga tanaman yang toleran terhadap drainase tanah yang jelek.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Untuk jelasnya mengenai kondisi cekungan bukan di daerah yang berlereng curam.13.11 Peta jenis tanah dan penyebarannya LAPORAN AKHIR 1-31 . Gambar 1. drainase tanah di Tanah Papua dapat dilihat pada Gambar 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.12 Peta Kedalaman Tanah LAPORAN AKHIR 1-32 .

13 Peta Drainase Tanah LAPORAN AKHIR 1-33 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

1.1.7

Hidrologi

Tinjauan terhadap sumberdaya air sangat urgen sifatnya dilakukan guna memahami potensi, bentuk penguasaan, penggunaan, dan kesesuaian pemanfaatan sumberdaya air. Keberadaan sungai yang wilayah alirannya (DAS) di lebih dari satu wilayah administratif menjadikan sungai menuntut sistem pengaturan yang spesifik. Wilayah Provinsi Papua Barat dilewati beberapa sungai yang tersebar di beberapa wilayah kabupaten/kota. Dari sungai besar di Papua Barat sebagian besar mengalir di wilayah pengembangan Sorong. Sungai-sungai tersebut menjadi sebuah sistem daerah aliran sungai yang mengalir sepanjang tahun. Potensi sumberdaya sungai terbesar di Papua Barat disajikan dalam Tabel 1.11 berikut ini. Tabel 1.11 Nama, Panjang, Lebar dan Kecepatan Arus Sungai menurut Kabupaten/Kota
Wilayah Pengembangan WP Manokwari WP Sorong Nama Sungai Panjang (Km) Lebar (m) 80-350 60-700 80-2.700 80-350 140-1200 40--250 40-1300 40-2.200 30-40 50-125 45-1250 20-25 50-570 40-700 200-800 Kecepatan (Km/jam) 1,26 2,95 3,06 1,26 2,7 2,88 2,88 0,9 0,9 2,52 3,06 0,9 0,9 1,62 2,7

Laore 163 Beraur 360 Kaibus 200 Kais 184 Kamundan 425 Aifat 174 Karaora 230 Minika 225 Remu 17 Sebak 267 Seramuk 229 WP Fakfak Umbawa 280 Uta 246 Warsamsan 320 Muturi 428 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009

Sungai-sungai besar hingga kecil yang berasal dari wilayah pegunungan di bagian tengah Kepala Burung yang mengalir ke arah dataran rendah (berawa) dan bermuara di Teluk Bintuni. Selain itu, terdapat pula sejumlah sungai yang mengalir ke arah Selatan dan bermuara di pantai Selatan pada dan pantai Utara. Beberapa sungai besar yang bermuara di Teluk Bintuni adalah Sungai Arandai, Wiryagar, Kalitami, Seganoi, Kais, Kamundan, Teminabuan, Sermuk, Maambar, Woronggei dan Sanindar. Selain sungai juga dijumpai danau di daerah pegunungan, yaitu Danau Anggi Giji dan Anggi Gita serta Danau Ayamaru.

LAPORAN AKHIR 1-34

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Di Provinsi Papua Barat terdapat beberapa sungai yang membentuk beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS). Sebagian besar Daerah Aliran Sungai yang terbentuk adalah pada kabupaten-kabupaten di Wilayah Pengembangan Sorong. Sungai-sungai yang termasuk dalam kategoti terpanjang adalah Sungai Kamundan (425 km), Sungai Beraur (360 km), dan Sungai Warsamsan (320 km), sedangkan sungai-sungai yang termasuk kategori terlebar adalah Sungai Kaibus (80-2700 m), Sungai Minika (40-2200 m), Sungai Karabra (40-1300 m), Sungai Seramuk (45-1250 m), dan Sungai Kamundan (140-1200 m). Sungaisungai ini sebagian besar terletak di kabupaten-kabupaten di Wilayah Pengembangan Sorong. Berdasarkan data-data pada tabel di atas, beberapa sungai yang memiliki kecepatan arus paling deras antara lain adalah Sungai Seramuk (3,06 km/jam), Sungai Kaibus (3,06 km/jam), Sungai Beraur (2,95 km/jam), Sungai Aifat (2,88 km/jam), dan Sungai Karabra (2,88 km/jam). Sungai-sungai tersebut terletak pada Wilayah Pengembangan Sorong. Secara garis besar, daerah tangkapan sungai (catchment area) di Provinsi Papua Barat dapat dibagi ke dalam dua satuan wilayah sungai (SWS). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.12 dan Gambar 1.14 tentang Peta Hidrologi. Tabel 1.12 Pembagian Satuan Wilayah Sungai di Provinsi Papua Barat
Kabupaten T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari T. Wondama T. Wondama T. Wondama T. Wondama Kaimana, Nabire Kaimana Kaimana Kaimana Kaimana, Fak Fak Fak Fak, Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak, T. Bintuni Sorong Selatan, Manokwari Manokwari, Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan, Sorong Sorong Selatan, Sorong WS B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar Nama Das Wasian Sebyar Kasi Mangopi Prafi Maruni Masawui Ransiki Windesi Wasimi Wondiwoi Woworama Omba Laenatum Lengguru Berari Madefa Karufa Bedidi Fak Fak Bomberai Wariagar Kamundan Kais Sekak Waromga Seremuk Karabra Luas (Km2) 4.851,000 12.981,400 693,200 1.917,200 1.169,300 193,320 111,110 584,300 23,560 617,400 172,820 279,700 8.610,200 379,500 1.870,000 1.029,900 4.605,570 477,400 1.355,600 88,760 2.033,300 6.720,000 9.732,250 4.232,740 830,700 810,430 884,600 5.989,230

LAPORAN AKHIR 1-35

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten WS Nama Das Luas (Km2) Sorong Selatan, Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Kladuk 3.131,150 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Klasegun 848,510 Raja Ampat B-50 Kamundan-Sebyar Misol 848,160 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Salawati 368,910 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Samate 82,000 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Batanta 69,490 Raja Ampat B-50 Kamundan-Sebyar Waigeo 598,160 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Remu 46,440 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Warsamson 2.437,131 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Mega 1.048,340 MANOKWARI B-50 KAMUNDAN-SEBYAR MAON 682,300 Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Wesauni 626,933 T. Bintuni B-50 Kamundan-Sebyar Kasuari 1.971,850 T. Bintuni B-50 Kamundan-Sebyar Wagura 1.799,100 T. Wondama B-50 Kamundan-Sebyar Arumasa 2.497,000 T. Bintuni, Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Muturi 5.381,300 Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air, Jayapura 2005.

Tabel 1.13 Debit Sungai Dirinci Menurut DPS di Provinsi Papua Barat
No No. DPS 1 17 2 18 3 19 4 20 5 21 6 22 7 23 8 24 9 25 10 26 11 27 12 28 13 29 14 30 15 31 16 32 17 33 18 34 19 35 20 36 21 37 22 38 23 38 a 24 39 25 40 26 41 27 42 28 43 29 44 30 45 31 46 32 47 33 48 34 49 NAMA DPS Omba Laenatum Lengguru Berari Madefa Karufa Bedidi Fak Fak Bomberai Kasuari Wagura Arumasa Muturi Wasian Sebyar Wariagar Kamundan Kais Sekak Waromga Seremuk Karabra Kladuk Klasegun Misol Salawati Samate Batanta Waigeo Remu Warsamson Mega Koor Maon SWS B - 49 B - 49 B - 49 B - 49 B - 50 B - 49 B - 49 B - 49 B - 49 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 Catchments Area (Km2) 8,610.200 379.500 1,870.000 1,029.900 4,605.570 477.400 1,355.600 88.760 2,033.300 1,971.850 1,799.100 2,497.000 5,381.300 4,851.000 12,981.400 6,720.000 9,732.250 4,232.740 830.700 810.430 884.600 5,989.230 3,131.150 848.510 848.160 368.910 82.000 69.490 216.500 46.440 2,437.131 1,048.340 1,202.800 682.300 Qn (m3/s) 316.919 29.086 141.454 96.869 374.730 38.903 107.968 11.747 146.870 142.232 165.546 127.979 476.337 364.562 825.032 432.319 796.177 221.554 46.634 50.282 58.182 302.739 195.716 58.497 53.437 27.064 6.183 5.338 13.309 4.721 147.467 120.947 140.594 104.163 KABUPATEN Kaimana, Nabire Kaimana Kaimana Kaimana Kaimana, Fak Fak Kaimana, Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak, T. Bintuni T. Bintuni T. Bintuni T,Wondama T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari Sorong Selatan, Manokwari Manokwari, Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan, Sorong Sorong Selatan, Sorong Sorong Sorong Raja Ampat Sorong Sorong Sorong Raja Ampat Sorong Sorong Sorong Sorong Manokwari

LAPORAN AKHIR 1-36

854 T.14.240 Kaimana 02 Laamora 16.14 Luas dan Penyebaran Danau di Tanah Papua No Nama Danau Luas (Ha) Kabupaten 01 Aiwasa 10.50 584.50 193.169.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 No No.600 Kaimana 04 Mbula 6.872 ha LAPORAN AKHIR 1-37 .110 18.Wondama 43 58 Wasimi B .816 T.400 45.958 Manokwari 41 56 Ransiki B .200 222.300 76.131 ha (62.024 Kaimana 05 Kamakawalor 23.796.50 1. Luas areal yang meliputi air tanah dalam terbesar di Kabupaten Digul yakni 1. danau juga merupakan sumber air permukaan potensil.Wondama Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air. Ground water.596 Sorong Sel.574 T.700 30.153 Manokwari 42 57 Windesi B . Di Provinsi Papua Barat terdapat 12 danau besar dan kecil yang tersebar di empat kabupaten/kota.50 626.320 25. Potensi air tanah dalam sangat signifikan di bebrapa kabupaten di Provinsi Papua baik dilihat dari luasan maupun luasan relatifnya.830 Manokwari 11 Ayamaru 10. menyusul Asmat 951.000 128. Selain sungai. Di Papua Barat potensi air tanah dangkal cukup signifikan terdapat di Kabupaten Sorong Selatan (40 %).933 108.370 Manokwari 10 Anggi Gita 22.50 0. Studi Aplikasi SWS di Tanah Papua Potensi Air Tanah Air tanah mengandung dua pengertian.917. air tanah di bawah permukaan bumi pada kedalaman lebih dari yang tersebut di atas. Pertama air tanah yang terkandung dalam tanah hingga batas kedalaman perakaran pada umumnya tanaman atau pada solum tanah dan disebut sebagi kandungan lengas tanah atau soil moisture.50 1.50 23.648 Manokwari 36 51 Kasi B . 12 Hain 4.560 3.50 617. DPS NAMA DPS SWS Catchments Area (Km2) Qn (m3/s) KABUPATEN 35 50 Wesauni B . Jayapura 2005.300 161.640 Tel. Bintuni 08 Tanemot 17. Kedua.850 Sorong Sel.974 T. Sumber: Dinas PU (2003).50 172. Biasa juga disebut sebagai air aquifer.527 Tel.340 Kaimana 06 Berari 6.Wondama 44 59 Wondiwoi B .50 111.820 18. Tabel 1. Informasi selengkapanya di sajaikan pada Tabel 1.2 %).740 Kaimana 03 Urema 12. dan disebut sebagai ground water.960 Manokwari 38 53 Prafi B .883 Manokwari 37 52 Mangopi B .50 279.916 Kaimana 07 Makiri 7.Wondama 45 60 Woworama B .814 Manokwari 39 54 Maruni B . Bintuni 09 Anggi Gigi 21.129 Manokwari 40 55 Masawui B .

Mappi 778.230.793 241.037 651. hanya Kabupaten Teluk Wondama yang secara relatif signifikan yakni 33 %.242 9 Kab. KABUPATEN Luas Wilayah AT Dangkal Tanpa AT 29.091 LAPORAN AKHIR 1-38 .2 %).195 1.320 6 Kab.897 30.910 5 Kab.637 164. Teluk Wondama 500.029 116. namun secara mutlak kecil karena hanya mencakupi lahan seluas 165.907 7 Kab.133.927.241 2.071 806 110 2 Kab. Penyebaran tersebut dapat pula dilihat pada Gambar 1. dan Mimika (458.123 3 Kab.004 10.752 721.455 270.530 391.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 (49.421 263. Raja Ampat 741.661.432 ha (28.941 89. Fak Fak 935. Kaimana 1.857 ha (20. Jayapura 2005.957.359 650.467 166.8 %).15 Distribusi Luas Areal Air Tanah (Ground Water) Menurut Kabupaten di Tanah Papua No AT Dlm dan Perairan Sedang 1 Kota Sorong 33.304 61. Di Provinsi Papua Barat.740 3.122 11.668 1.457 49.278 237.495.154.757 531.698 1.644 4 Kab.462 27.706.058 Provinsi Papua Barat 9.843 1.041 372.184 13. Penyebaran lokasi air tanah diperlihatkan pada Tabel 1.15.324 181.174 77.457. Manokwari 1.637 6.588 680. Teluk Bintuni 1.000 ha.636 1.080.15.1 %).098 1. Sorong 1. Tabel 1.326.653 602 8 Kab. Sorong Selatan 1.916 Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air.815 115.158 256.766 944.

14 Peta Hidrologi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-39 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

15 Peta Air Tanah LAPORAN AKHIR 1-40 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

Pengamatan gelombang di perairan Papua relatif masih belum banyak dilakukan. Kecenderungannya. 1.2 m. Pola arus pantai ini terutama ditentukan oleh besarnya sudut yang dibentuk antara gelombang yang datang dengan garis pantai. Hasil penelitian Pusat Riset Teknologi Kelautan. Departemen Kelautan dan Perikanan tanggal 30 Juni–6 Juli 2005 menunjukkan bahwa tinggi gelombang di wilayah kajian berkisar antara 0.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. maka akan terbentuk arus menyusur pantai (longshore current) yang disebabkan oleh perbedaan teknan hidrostatik. Selain gelombang. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. sedangkan pasut yang berperilaku di antara keduanya disebut sebagai pasut campuran. Gelombang ini merambat ke segala arah dengan membawa energi yang kemudian dilepaskan ke pantai LAPORAN AKHIR 1-41 . Oleh karena itu. Arus yang disebabkan oleh pasut ini dipengaruhi oleh dasar perairan. atau pada saat-saat tertentu disebabkan oleh gempa di dasar laut.1. Gelombang yang datang menuju pantai dapat menimbulkan arus pantai (nearshore current) yang berpengaruh terhadap proses sedimentasi ataupun abrasi di pantai.2–1. dalam bentuk hempasan ombak. Kisaran pasang surut di perairan Papua mencapai 3 . Jika sudut datang cukup besar.1. Gelombang laut terbentuk karena adanya proses alih energi dari angin ke permukaan laut.8.6 meter. pertumbuhan tersebut akan mengikuti daerah eksisting. Arus pasang surut yang terkuat akan ditemui di dekat permukaan dan akan menurun kecepatannya semakin mendekati dasar perairan.8 Karakteristik Hidro-Oseanografi Sebagian besar kota dan kabupaten-kabupaten di Provinsi Papua Barat yang sudah ada tumbuh dan berkembang di tepi laut. Namun demikian sesungguhnya terdapat hubungan antara angin musim dan pola gerakan gelombang. dalam dokumen perencanaan perlu adanya kajian dan pertimbangan dari segi karakteristik hidro-oseanografi yang mencakup aspek fisik perairan dan aspek kimia perairan. pasang surut juga merupakan parameter oseanografi lain yang penting sebagai pembangkit arus di pantai. dengan tipe pasut ganda campuran.1 Aspek Fisik Perairan Naik turunnya muka laut dapat terjadi sekali sehari (pasut tunggal atau diurnal tide) atau dua kali sehari (pasut ganda atau semi diurnal tide). Kisaran pasang surut (tidal range) adalah perbedaan tinggi muka air pada saat pasang maksimum dengan tinggi muka air pada saat surut minimum yang juga dipengaruhi oleh geometrik wilayah yang bersangkutan.

Tetapi ini mempunyai arti besar. (pasut) dan arus angin. Akibat dari naiknya massa air ini adalah suhu permukaan menjadi lebih rendah. diperkirakan 0. dimana kecepatan arus rata-rata pada waktu pasang dan surut 7 – 8 cm/ det di daerah pesisirnya. Upwelling adalah menaiknya massa air laut dari lapisan bawah permukaan (dari kedalaman (150 – 250 m) karena proses fisik perairan. upwelling terjadi di Laut Arafura (Wyrtki. maka menaiknya massa air tersebut akan menyuburkan kawasan permukaannya. dan gaya sentrifugal. Air naik di laut tersebut terjadi pada musim Timur. gaya coriolis. Air yang naik ini bersumber dari kedalaman sekitar 125 – 300 m yang menyusup dari Lautan Pasifik.0006 cm/detik. Demikian pula kandungan fosfat dan nitrat masing-masing naik dua kali lipat. Pola arus perairan Papua menurut P30-LIPI Ambon tahun 1992 bahwa pola arus dipengaruhi oleh pasang surut. LAPORAN AKHIR 1-42 . Kecepatan naiknya tampaknya kecil. dan waktu pasang 11 cm/det. Di perairan Papua. Karena massa air bawah permukaan pada umumnya lebih kaya zat hara dibandingkan dengan lapisan permukaannya. gaya gravitasi. yaitu C lebih rendah dari musim Barat. Keadaan arus laut umumnya terjadi akibat pengaruh beberapa gaya yang bersamaan yang terdiri dari arus tetap. akibatnya air yang berada di lapisan bawahnya terangkat naik untuk mengisi kekosongan tersebut. 1958). gaya gesekan. Keadaan ini dipengaruhi dipengaruhi oleh keadaan rataan dan sedimentasi di pesisir pantai. arus periodik.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Arus adalah gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horisontal dan vertikal masa air oleh perbedaan energi potensial. sedangkan salinitas lebih tinggi 1 per mil. Bishop (1984) menyatakan bahwa gaya yang berperan dalam sirkulasi masa air adalah gaya gradient tekanan. karena dengan adanya volume air yang terangkat di daerah ini bisa mencapai 2 juta m3/detik. Karena pada saat tersebut angin musim Timur mendorong keluar air permukaan Laut Arafuru dengan laju yang lebih besar daripada yang dapat diimbangi oleh air permukaan sekitarnya. dimulai sekitar bulan Mei sampai kira-kira bulan September.

yaitu : (a) musim Barat. Pada musim Timur kondisi oseanografis perairan ini banyak dipengaruhi oleh massa air dari Laut Banda (Wyrtki. Hal ini disebabkan oleh letak geografis perairan tersebut yang berdekatan dan lebih terbuka dengan laut Banda.4.39 µg-A/l dengan rataDinginnya suhu permukaan di musim Timur tersebut cenderung membuat perairan cenderung lebih subur yaitu dengan adanya LAPORAN AKHIR 1-43 . Musim Barat puncaknya terjadi pada bulan Februari.02 .2 Aspek Kimia Perairan Perairan di Papua sangat dipengaruhi oleh dua musim. Sifat fisik.16.16 Ketinggian Gelombang Laut 1. Pada saat musim Barat suhu permukaan laut cenderung lebih panas bila dibanding dengan pada musim Timur.12 . Dari tabel aspek fisik dan kimia adalah sesuatu proses yang dinamis dan sangat tergantung pada musim. Hal ini berpengaruh besar terhadap sebaran klorofil-a dan nutruen serta ikan-ikan pelagis di wilayah tersebut sehingga perairan ini juga dikenal sebagai salah satu daerah penangkapan ikan dan udang.1. kimia.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. 1980). terutama ikan-ikan pelagis. dan biologi perairan pada kedua musim tersebut penyebarannya kisaran nilainya disajikan dalam Tabel 1.8. dan (b) musim Timur. kandungan konsentrasi fosfat berkisar antara 0.17 ml/l. Sedangkan kadar oksigen terlarut (DO) di Perairan Utara dan Selatan berkisar antara 2.51 ml/l dengan ratarata 3. sedangkan musim Timur puncaknya terjadi pada bulan Agustus. laut Timor dan samudera Hindia.3. Tchernia. peningkatan fitoplankton dan zooplankton. Wilayah perairan Selatan Papua merupakan perairan yang memiliki karakteristik massa air yang agak berbeda dengan perairan wilayah Indonesia lain. 1961.

Kimia.91.8 – 30. di dalamnya termasuk: • • • • • • • c. hasil interpretasi ETM7.000 Sumber: Netherlands Journal of Sea Research 25 (4): 431-447 (1990). Tanah negara bebas b.94 µg-A/ serta kadar konsentrasi silikat yang terukur berkisar antara 0.5 – 1.5 4. Dalam hal ini.5 – 4. Kadar konsentrasi nitrat berkisar antara 0.5 – 2.0 0.16 Kisaran Nilai Kondisi Fisik.1 .5 – 2.0 8 Fito Plankton (cell/dm3) 200 – 1.0 – 1.800 200 – 3. Status tanah sekarang pada dasarnya sangat menentukan mudah dan dapat tidaknya suatu bidang tanah dikuasai atau dialihkan penguasaannya oleh pihak ketiga untuk kegiatan tertentu.34 µg-A/l .0 – 4.5 6 Silikat (µm) 2. Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan HPHH Hutan Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) Hutan Suaka Alam (HSA) Hutan Lindung Hutan Produksi Kontrak Karya Kuasa Pertambangan Tanah negara yang telah diperuntukkan d.8 2 Salinitas (ppm) 31.40 10 Larva Krustasea (Jumlah/m2) 500 – 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 rata 1.000 500 – 1.5 5 Nitrat (µm) 0.0 30. Tabel 1.0 26. Penggunaan lahan sekarang (eksisting) memberi gambaran sejauh mana jenis dan tingkat pemanfaatan lahan yang telah dilakukan baik yang bersifat budidaya maupun bukan budidaya.1 – 0.25 4 Fosfat (µm) 0.0 – 34. Parameter Musim Barat (Februari) Musim Timur (Agustus) 1 Suhu (oC) 28.19 µg-A/l sampai 40.9 Ketersediaan Lahan Ketersediaan tanah atau lahan yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Guna Lahan sebagai suatu rencana dasar memberikan gambaran potensi lahan dan arahan bagi kawasan yang dapat dikembangkan/dibudidayakan atau karena limitasinya tidak dapat dikembangkan sama sekali berdasarkan faktor-faktor fisik dasar. Ketersediaan tanah pada dasarnya tidak dilepaskan dengan status atau penguasaannya sekarang.5 7 Klorofil a (mg/m3) Gb 0.5 1.000 9 Zoo Plankton (cm3/cm2) 5 .5 – 7.5 2.53 µg-A/l. dan hasil analisis 1.0 3 Oksigen (cm3/cm2) 3.10 10 .83 . di wilayah Papua Barat perlu diperhatikan adanya berbagai jenis status (penguasaan) tanah sebagai berikut: a.0. dan Biologi Perairan Papua No. Tanah negara yang dikuasai penduduk LAPORAN AKHIR 1-44 .0 – 26.1.0 – 34.5 – 7. Tanah negara yang dibebani.5 0.

378 239.988 22.986 Sawah Tegalan 123.197 30. Hak Pakai i.599 26.950 8. Hal ini dapat menjadi masalah jika dikaitkan dengan fungsi kawasan yang ingin dipertahankan (misalnya fungsi hidro-orologis).222 28. kuasa pertambangan kontrak karya.248 Kebun 8.17 Penggunaan Lahan di Provinsi Papua Barat Berdasarkan Kabupaten/Kota dan Jenis Penggunaan Tahun 2008 (hektar) Kampung/ Perumahan Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat 10.305 14. Terdapat kemungkinan adanya keterbatasan dalam pencatatan data penggunaan lahan.321 Kebun Campur 42.897 4.302 Hutan 8.258 21.918 24.875 612 3.838 88. Data tersebut hanya menunjukkan total luas Papua Barat sebesar 1 juta hektar. Hak Milik Permasalahan yang mencolok adalah sering terjadi ketidaksesuaian antara arahan rencana tata ruang pada suatu lokasi dengan status atau penguasaan tanahnya sekarang terutama untuk tanah negara yang dibebani.556 29.271 8.226 5.751 77. 1.686 12.001 8. j. Hak Guna Usaha h.883 5.606 5.024 2. yang pada umumnya mencakup areal yang sangat luas seperti HPH. Tabel 1.248 46.17 menunjukkan data penggunaan lahan di Provinsi Papua Barat yang dibedakan ke dalam beberapa kategori penggunaan lahan.159 82.633 31.509 4. Data mengenai lahan antara satu dan yang lainnya kerap menunjukkan perbedaan.791 9.214 9. Tanah negara yang dikuasai instansi f.738 Total 407. Hak Milik Adat g.397 9.520 LAPORAN AKHIR 1-45 .258 24.256 5.537 7. Faktor kondisi fisik Provinsi Papua Barat yang berbukit dengan banyak pulau menyebabkan pencatatan penggunaan lahan relatif lebih sulit dilakukan.224 28.282 6.865 12. konsesi.204 4.2 PENGGUNAAN LAHAN Pencatatan data mengenai penggunaan lahan di Papua Barat masih sangat terbatas.953 268.548 71. Terlebih adanya kabupatenkabupaten bentukan baru menyebabkan pencataan data penggunaan lahan harus dilakukan ulang. Misalnya pada kasus TGHK yang tumpang tindih dengan kuasa pertambangan atau Hak Penguasaan Hutan (HPH).320 Semak 839 Tanah Rusak Lainlain 213.024 14.887 11.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 e. Hak Pengelolaan Hak Guna Bangunan k.566 4. Tabel 1.886 12.884 30.

00 578. Fungsi perkebunan dan kebun campur kemudian memiliki presentase di bawah fungsi tegalan.1 Kehutanan Potensi hutan di Provinsi Papua sangat tinggi.00 Hutan+Perairan 1.800.863. Gambar 1. Kab.958 Hutan Semak Tanah Rusak Lainlain Total 27.038 Kampung/ Perumahan Kota Sorong Papua Barat 16.054 117.800.197 332.473 254.496 hektar atau sekitar 22.00 1.17 Persentase Penggunaan Lahan di Papua Barat tahun 2005 Berdasarkan Jenis 1.065. Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Papua secara keseluruhan (termasuk Provinsi Papua Barat) berdasarkan (SK.18 Luas Hutan dan Perairan diProvinsi Papua Barat dirinci Per Kabupaten/Kota Tahun 2005-2008 Kabupaten/Kota 1.755 61.199.224.015 Sawah Tegalan 7.292 123. T. Tabel 1.716 16.840 Ha yang terdiri dari Kawasan Hutan seluas 40. Kab. fungsi sebagai tegalan mendominasi penggunaan lahan di Papua Barat yaitu mencapai 254.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kebun Campur 2.37 2. Di luar kategori lain-lain.546.118.412 Kebun 1.2. T.76 persen.218 1.592 7.460 121. Wondama Luas Wilayah*) 1.496 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Luas pengunaan lain-lain menjadi kategori dengan presentase tertinggi.678.01 610.90 LAPORAN AKHIR 1-46 . Kab.921.700. Menhutbun Nomor: 891/Kpts-II/1999) adalah sebesar 42.283.564.360 Ha dan Kawasan Perairan 1. Manokwari 2. Bintuni 3.151. Munculnya kategori tersebut sebagai yang tertinggi kemungkinan terkait dengan keterbatasan data.836 82.480 Ha.

994.25 2.17 % 1.199.146.377.30 0.00 31.786.05 1.339.45 2.665.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 724.84 19. Cagar Alam 24. Kota Sorong Total 2. Raja Ampat 7. terlihat memprihatinkan.352.00 11. Kaimana 9.432.934.34 1.58 0.53 1. Sorong 5.885.960.00 1.58 41.00 1.98 1.00 LAPORAN AKHIR 1-47 . Fungsi-fungsi ini tentu apabila dilihat di lapangan tidak demikian nyata.138.58%.224.000.74 64. Kab.17 100.726.726.202.27 16.19 Luas dan Prosentase Hutan berdasarkan Fungsi Hutan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Fungsi Hutan APL (Area Penggunaan lain) HL (Hutan Lindung) HP (Hutan Produksi) HPT (Hutan Produksi Terbatas) HPK (Hutan Produksi dapat dikonversi) CA (Cagar Alam) SM (Suaka Margasatwa) TN (Taman Nasional) TW Perairan Grand Total Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Luas (Ha) 196. Kab.450.721.600.700. Pembalakan liar dan issu illegal logging yang berkembang adalah satu hal yang selalu terjadi. Kab.63 19.503.965.00 1. Akan sangat kritis apabila proses tersebut berlangsung secara terus menerus tanpa upaya penanganan dari Departemen Kehutanan dan Pemda karena menyangkut isu global warming di mana Indonesia memiliki hutan yang mampu menyerap CO2 sedangkan kondisi sekarang ini.979.945.02 0.00 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Berdasarkan fungsinya.072. Hutan di Papua Barat diklasifikasikan menjadi 9 kategori.41 11. Kab.379.718.83 11.16 24. Fakfak 8.850.64 19.385.736.02%.00 608.17 4. Sorong Selatan 6.28 2.27%.10 1.199.75 17. Hutan di wilayah ini memiliki fungsi sebagai kawasan konservasi terdiri dari kawasan Hutan Lindung sebesar 17.27 0. Taman Nasional 0.84 1.641.653. Kab.199.59 33.003.000. Suaka Margasatwa 0. Tabel 1.50 686. Dan sebagai hutan produksi baik yang terbatas maupun dapat dikonversi adalah sekitar 56%.27%.634.601.

648.81 9.1176 LAPORAN AKHIR 1-48 .989. Kabupaten Teluk Bintuni dan Fakfak memiliki luas hutan lindung yang relatif kecil jika dibandingkan dengan total luas hutannya.648.751.794.174.13 5.75 342.57 1.751.525.87 86.337.893.70 320.70 4.97 342.787.46 9.90 1.75 Jumlah Hutan Lindung 39.503.751.50 66.535.30 92.558.30 379.865.769.04 92.751.866.686.439.291.39 1.259.39 1.90 149.56 209.337.817.30 302.63 1.314.19 32.863.686.10 79.400.458.600.018.18 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi di Papua Barat Tahun 2008 Satuan dalam% Luas Total 9.277.79 2.847.92 113.35 Hutan Produksi Terbatas 202.57 1.240.669.080.314.87 persen dari total luas hutan.648.370.10 275.75 342.44 20.372.57 1.90 411.41 715.054.96 1.35 1.847.806.248.488.977.243.769.35 1.928.284.245.90 132.617.700.55 1.96 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.63 1.14 327.25 1.00 204.96 1.957.847.144.464.95 591.10 246.277.10 395.79 Areal Penggunaan Lainnya 55.15 1.00 397.50 442.35 1.529.300.314.30 65.70 165.339.891.39 1.270.565.90 479.087.686.57 948.79 1.385.59 31.144.70 3.046.314.10 95.635.243.723.90 253.20 284.284.485.40 1.087.05 39.277.79 2.30 16.548.167.941.681.769.623.39 Hutan Produksi yg Dikonversi 219.95 785.487.101.20 Luas Kawasan Hutan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 (Ha) Kabupaten/Kota Regency/ Municipality Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 2007 2006 2005 Hutan Kawasan Perlindungan Alam/ Kawasan Suaka Alam 44.648.29 2.70 6.75 342.345.943.243.243.686.866.79 2.00 462.144.96 Tetap 388.16 310.277.20 93.790.244.284.20 37.06 1.147.087.866.02 1.92 6.648.057. Tabel 1.90 149.509.290.49 309.052.769.6 juta hektar atau sekitar 16.087.20 519.648.50 149.81 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Fungsi guna lahan hutan dalam data Pemanfaatan Lahan (Papua Barat Dalam Angka Tahun 2007) menunjukkan bahwa luas hutan di Papua Barat hanya sebesar 61.40 121.364.648.086.847.284.816.81 9.228.508.144.17 6.21 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2007 Hutan produksi mendominasi jenis hutan di Papua Barat sementara hutan lindung hanya seluas 1.648.81 9.866.43 489.

21 berikut. ataupun semak dan alang-alang memiliki kemungkinan untuk dikategorikan ke dalam hutan oleh data tentang lahan lainnya.00 1.7 juta hektar. luas kawasan hutan di Provinsi Papua Barat mencapai 9.00 2.00 500.000. LAPORAN AKHIR 1-49 . Padahal.00 Fa kFa k Ka Te im lu an k a W on da Te m lu a k Bi nt un M a i So no k w ro ar ng i Se la ta n So ro ng R aj a Am Ko pa ta t So ro ng Berdasarkan data dari Balai Pemantapan Kawasan Hutan (2004).00 1.000.000.000.52 persen. data luas hutan untuk setiap wilayah kabupaten setelah pemekaran masih belum pasti. Fungsi-fungsi seperti tegalan.500.000. Namun. Berdasarkan data sementara yang dikomplilasi dari berbagai sumber.19 Luas Kawasan Hutan Menurut Kabupaten/Kota di Papua Barat Tahun 2008 2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 hektar atau hanya sekitar 5.000. proporsi luas kawasan hutan di Provinsi Papua Barat ditampilkan pada Tabel 1.00 0.000. Gambar 1. Hal ini kemungkinan disebabkan dari perbedaan pemberian kategori dalam pencatatan penggunaan lahan. dalam buku yang sama tercatat luas hutan di Papua Barat mencapai 9 juta hektar dari total luasan Papua Barat yang mencapai 11 juta hektar. kebun campur. perkebunan.500.

41 33.846.163.60 281.37 0 0 0 0 4.52 Taman Nasional 0 0 270.33 1.66 9.747.87 32.19 53.11 69. 1-50 .389.56 5.495.102.42 221.33 1. 21 Persebaran Luas Kawasan Hutan (Ha) Menurut Fungsi pada Setiap Kabupaten di Provinsi Papua Barat Hutan Lindung Fakfak Kaimana Sorong Kota Srng Sor-Sel Mnkwr Bintuni Wondama Raja Ampat Papua Barat 41.21 231.837.34 15.310.379.19 6.499.366.27 0 0 10.88 15.087.78 100.192.477.972.834.087.32 737.29 17.759.24 6.15 93.33 1.120.174.77 243.273.52 356.46 0 0 0 23.52* 1.723.373.209.55 283.688.81 0 0 69.32 1.12 0 55.98 150.44 23.868.13 80.769.634.46 Taman Wisata Alam 0 0 1.81 127.36 4.83 530.189.188.Tabel 1.53 322.636.877.371.475.24 153.05 9.72 398.47 355.34 413.41 500.93 487.031.584.560.517.394.54 936.39 1.181.23 1.389.977.114.928.15 2.240.15 Hutan Produksi 383.56 356.397.41 1.47 260.784.636.56 165.21 682.684.63 304.132.729.761.21 Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan.44 112.342.84 1.481.22 16.85 84.21 498.976.61 24.20 2.52 393.538.262.886.604.047.76 151.073.375.138. 2004.262.97 276.537.600.941.092.235.461.234.82 5.20 80.302.08 10.019.418.272.277.328.008.689.740.857.005.39 Cagar Alam Suaka Marga Satwa 657.33 493.12 206.045.90 1.927.99 Hutan Produksi Terbatas 203. Keterangan: *) Bagian kawasan Taman Nasional yang masuk dalam wilayah Administrasi Pemerintahan Provinsi Papua Barat (tidak termasuk perairan laut dan kepulauan).985.712.61 429.60 Hutan Produksi Konversi 218.838.180.66* 0 14.394.439.338.24 1.07 1.43 Total 37.661.13 Areal Penggunan Lain 52.

Kawasan hutan produksi.51% dari luas kawasan hutan. dan hutan produksi konversi.65%).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Fungsi hutan produksi menempati proporsi tertinggi (62. merupakan lahan-lahan pemukiman dan lahan budidaya.211. Hutan lindung dan hutan konservasi sebagai zona penyangga menempati luasan sebesar 34.654. maka pengembangan kehutanan kedepan tidak lagi hanya mengharapkan eksploitasi hutan alam.2 Hak Pengusahaan Hutan (HPH) tata ruang wilayah pembangunan Provinsi Papua Barat dengan tetap memperhatikan karakeristik dan potensi Dalam pengusahaan dan pemanfaatan hutan. namun sekitar 66.62% memiliki slopes dari curam-sangat curam dengan kemiringan diatas 25%. khususnya areal hutan produksi konversi persebarannya tidak merata di setiap kabupaten/kota. karena dengan pemekaran wilayah di Papua Barat. Di Provinsi Papua Barat sendiri telah dikeluarkan 29 unit HPH yang meliputi hutan seluas 4. Selain itu. Sisa areal hutan produksi tersebut sebagian besar merupakan wilayah hutan yang topografinya berat. Untuk itu penataan fungsi kawasan perlu ditinjau kembali dan peninjauannnya dilaksanakan bersamaan dengan penetapan SDA tersedia di setiap wilayah Kabupaten/Kota.250. Proporsi tersebut perlu dipertimbangkan kembali.069. nampak bahwa kawasan hutan untuk tujuan perlindungan masih berada di atas persentase yang disyaratkan.2. tetapi mengintensipkan pengembangan hutan tanaman baik Hutan Tanaman Industri (HTI) maupun Hutan Tanaman untuk tujuan Rehabilitasi Lahan Kritis (RHL) atau tujuan perlindungan lainnya. Dengan kondisi kawasan hutan produksi demikian.063 Ha (43. terdiri atas hutan produksi tetap.84%.97 Ha. Oleh karenanya dalam rencana pengembangan wilayah pembangunan di setiap kabupaten/kota perlu mempertimbangkan proporsi kawasan hutan untuk perlindungan ini. persebaran di setiap kabupaten/kota tentunya akan bervariasi. kawasan hutan di Papua Barat memiliki slopes yang bervariasi dari datar sampai sangat curam. hutan produksi terbatas. Berdasarkan proporsi tersebut. Kawasan hutan ini perlu dipertahankan keutuhannya untuk jangka panjang.90% dari luas hutan produksi (6. yaitu minimal 30%. Areal penggunaan lain seluas 2. 1. secara fisiografi.273 Ha) dan sisanya seluas 2. diberikan Hak Pengusahaan Hutan dan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu kepada perusahaan dibidang terkait. Kanwil Kehutanan Irian Jaya (2001).10%) masih merupakan kawasan hutan produksi yang belum terbebani hak.181.210 Ha atau 66. melaporkan bahwa luas kawasan hutan produksi di Papua Barat yang telah dibebani hak pengusahaan hutan (HPH) seluas 4. Sementara Industri Primer Hasil Hutan (IPHH) yang berkembang di Papua Barat digolongkan menjadi 2 yaitu Industri yang berskala besar dengan nilai LAPORAN AKHIR 1-51 .

231.7% dari rata-rata rencana produksi per tahun. Sedangkan pada tahun 2007 terdapat 20 HPH Aktif dengan RKT seluas 47.921 Luas H.836.22 Daftar Kepemilikan SK IUPHHK dan RKT Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2004-2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 2004 SK IUPHHK (Ha) 311.420.500 ha LAPORAN AKHIR 1-52 .620.300 1.41 1.43 390.480.13 66.960.00 Kab.800 4.419 650.20 78. Manokwari 1) 1.48 319. Teluk Wondama 610.600 4.164.378 713.65 Kab.620. Tidak termasuk areal konsesi PT.00 37. Perkembangan HPH tiap tahun menurun.951.00 35.263.004 Areal HPH 1.665 955.192 91.843 2.60 61.500 4.86 11.800 Target Tahunan Maksimum Luas (Ha) Volume 298.199.450 51.762 541.570.800 4.930 791.199.564.570.225. Prod 1.620.138.55 Kab.300.007.726 6.434 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tabel 1.366 4.783 20.99 ha) 2. Artika Optima Inti Unit VI (57. Pada tahun 2006 terdapat 22 HPH Aktif dengan RKT seluas 65.371.40 148.225. Termasuk areal PT.493 6.620.494 215.000 609.30 1.680 323.000 m3 dan industri di bawah sedang yaitu produksi dibawah 6.880.89 56.00 56.472 1. Sorong Selatan 2) 1.00 10.653 28.657 390.570.55 1.28 22.431 1.657 49. Sorong 1. Kaimana 1.47 23.03 89.392 599.7% dari Rencana Luas RKT sepanjang Tahun 2000-2005.248 93.03 9.726.010 311.00 390.34 Ha.617.636.25 ha) dan PT.391.858 267.33 Total 11. Raja Ampat 686.832.00 63.580.803.570.426.799.943 78.843 Realisasi RKT Luas (Ha) Volume 6.220.63 10. Mitra Pembangunan Global seluas 98.36 1.274.360.092.23 Kab.721 173.076.146.140 85.500 691.20 50.076 4.220.477 984. Teluk Bintuni 1) Luas Hutan 2.00 138.242.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 produksi lebih dari 6.49 Kota Sorong 41.719.03 Kab.269.998 922.837 1.23 Kawasan Hutan Produksi yang Telah Dibebani HPH/IUPHHK (Aktif+Dicabut) No. Sedikitnya terdapat 3 perusahaan berskala besar dan 15 perusahaan sedang yang bergerak dalam sektor kehutanan ini.764.287.066 340.07 8. Dan realisasi volume hanya sebesar 21.630.151 323.326.61 Ha. Henrison Iriana (83.000 m3.53 28.25 Kab.800 1.601.458.391.843.187 11.585.425.67 74.910.225 1.946 896.50 84.537.06 %HPH/HP 90.994. Fakfak 1.003.264.920 202.800 2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Kab.620.13 61.758.657 2.193.051.396.70 Ha. Tabel 1.657 390. Namun Rata-rata realisasi RKT sebesar 32.92 472.81 2.843 2.332 14.083.24 Kab. Pada tahun 2005 terdapat 23 HPH Aktif dengan RKT seluas 66.340 6.906 31.33 72.

BANGUN KAYU IRIAN PT.303. HANURATA UNIT I PT.28 55.25% untuk pengusahaan hutan.000 DIGITASI LUAS (HA) 14.000 51. Namun dari 14 HPH tersebut. PT. CO. yang 1 HPH Kayu juga telah dicabut.531. HASRAT WIRA MANDIRI PT.118.149.66 30.000 SK HPH 81/Kpts-II/94 69/Kpts-II/89 01/Kpts-II/93 81/Kpts-II/94 735/Kpts-II/1993 69/Kpts-II/89 55/Menhut-II/06 534/Kpts-II/91 01/Kpts-II/93 735/Kpts-II/1993 69/Kpts-II/89 1142/Kpts-II/92 LUAS_SK 51.00 123. 2 HPH Kayu telah dicabut yaitu milik PT Artika Optima Intin dan PT Henrinson Iriana. Raja Ampat Kota Sorong NAMA HPH/IUPHHK PT. CO. INTIMPURA TBR.07 6.000 299. WANA GALANG UTAMA PT.61 270.820 139.000 397/MenhutII/06 448/Kpts-II/88 279/Kpts-IV/88 547/Kpts-II/97 744/Kpts-II/90 759/Kpts-II/89 373.012.100.683.000 98.000 119. ARTIKA OPTIMA INTI N Unit VI PT. ARTIKA OPTIMA INTI N UNIT VI Kab Sorong Selatan PT.57 66. BINTUNI UTAMA MURNI W.000 84.32 286. Jenis HPH yang dipegang oleh perusahaan cukup bervariasi.650.000 299.600 333. SAGINDO LESTARI UNIT II PT.600 119.700 333. CO.53 26.09 108. INTIMPURA TBR. INDT. WAPOGA MUTIARA TIMBER PT.000 97.000 01/Kpts-II/93 299.28 131.83 15.010. DHARMA MUKTI PERSADA Kab Teluk Wondama Kab Teluk Bintuni PT.08 21.68 37. BANGUN KAYU IRIAN PT.800 155.820.862.06 64. 1 HPH Mangrove. MULTI WAHANA WIJAYA PT. 11 HPH Kayu. BANGUN KAYU IRIAN PT.60 80.28 12. Kabupaten Teluk Bintuni memiliki luas produksi terbesar dan dimanfaatkan 90.28 2. Mancaraya Agro Mandiri Kab Sorong PT. Sedang di Kabupaten Kaimana.00 139. Sedang di Kabupaten Fak-Fak terdapat 6 HPH kayu dan 1 HPPH Mangrove. INTIMPURA TBR.698.000 464/Kpts-II/92 212.502. SAGINDO LESTARI UNIT I PT.000 133.58 LAPORAN AKHIR 1-53 . PT.15 92.700 333.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dari Tabel 1.352.492.40 9. Di Kabupaten Sorong Selatan.745.000 155.43 1. Megapura Mambramo Bangun PT.242. HANURATA UNIT I PT.343. WANA KAYU HASILINDO PT. Di Kabupaten Teluk Bintuni terdapat 14 HPH yang terdiri dari 2 HPH Sagu.897.183. PT. HASRAT WIRA MANDIRI PT. Tabel 1. Teluk Wondama dan Manokawri sebanyak 20 HPH berupa HPH Kayu diantaranya 3 HPH kayu telah dicabut.729.41% hutan produksi di Provinsi Papua merupakan Areal HPH.504.23 di atas dapat dilihat bahwa sekitar 74. pemegang HPH Kayu sebanyak 4 unit dan HPH sagu sebanyak 2 unit.64 36.42 3.264. HENRISON IRIANA PT. 174/Kpts-IV/88 137. AGODA RIMBA IRIAN PT.24 Direktori Perusahaan Pemerima HPH Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Kabupaten Kab.000 178. KALTIM HUTAMA PT.533.56 97.

TELUK BINTUNI MINA AGRO K.98 62. KALTIM HUTAMA PT. HENRISON IRIANA PT. RIMBAKAYU ARTHA MAS PT.240.900 178.49 72.670 319.186.65 12.11 89. PT.000 150.967.461.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 SK HPH LUAS_SK DIGITASI LUAS (HA) 68.821.861.25 3.26 87.25 Perkembangan Luas Penebangan Hutan Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Luas Penebangan 2.90 10.733.966.600 239.689. BUDI NYATA PT.300 209.97 83. YOTEFA SARANA TIMBER PT.41 59.000 84.000 300. SAGINDO LESTARI UNIT I PT. TELUK BINTUNI MINA AGRO K. WANA GALANG UTAMA PT. DHARMA MUKTI PERSADA PT. PRABU ALASKA PT. HANURATA UNIT II PT.728.764.000 156.65 182. SAGINDO LESTARI UNIT II PT. WAPOGA MUTIARA TIMBER PT.733.000 95. WUKIRASARI PT. HANURATA COY UNIT III PT. PRABU ALASKA 48 Tahun 2002 651/Kpts-II/92 1142/Kpts-II/92 83.643. BINTUNI UTAMA MURNI W. HANURATA UNIT II PT.24 6. IRMASULINDO UNIT II PT. WANA IRIAN PERKASA PT.233.2 101.08 222.263.000 319.000 182.388.13 Kabupaten NAMA HPH/IUPHHK PT.236.703.165.08 19.786. ARTIKA OPTIMA INTI UNIT II PT.27 95.186.07 Jumlah Produksi 42.000 155. WANA KAYU HASILINDO PT.780.68 76.368.000 Kab Kaimana PT.800 150.12 72.70 60.670 174.91 187. HANURATA COY UNIT III PT.600 239. CENTRICO PT.000 153.823.436.30 15.200.11 127. PT.000 170.35 12.631.57 14. INDT.240.000 76.99 393/Kpts-II/92 464/Kpts-II/92 936/Kpts-II/92 744/Kpts-II/90 396/Kpts-II/90 811/Kpts-II/91 678/Kpts-II/89 379/Kpts-IV/87 154/Kpts-II/93 448/Kpts-II/88 81/Kpts-II/94 81/Kpts-II/94 08/Kpts-II/2001 279/Kpts-IV/88 180/Kpts-II/91 393/Kpts-II/92 547/Kpts-II/97 396/Kpts-II/90 759/Kpts-II/89 553/Kpts-II/89 174/Kpts-IV/88 81/Kpts-II/94 81/Kpts-II/94 180/Kpts-II/91 393/Kpts-II/92 239.58 38.000 137.000 98. ARFAK INDRA PT.23 82.04 80.30 152. TELUK BINTUNI MINA AGRO K.98 LAPORAN AKHIR 1-54 .61 9.540 155.000 212.249.219. PT. Manokwari Mandiri Lestari PT.72 182.406. Tabel 1.078.997.00 376.6 1.786.000 156.39 82.000 153.79 98.300 209.332.59 68.921.236. WUKIRASARI PT AGODA RIMBA IRIAN PT.426.240 373.000 133.

040.18 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009.13 207.866. Luasnya lahan penebangan di Teluk Bintuni membuat kabupaten ini juga memiliki produksi kayu terbesar yaitu mencapai 101.07 hektar.21 Luas Produksi Kayu (m3) Oleh Pemegang HPH di Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 120000 100000 80000 60000 40000 20000 0 Fak-Fak Kaimana Teluk Bintuni Sorong Raja Ampat LAPORAN AKHIR 1-55 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Raja Ampat 940 9.13 207.866.29 Kota Sorong Papua Barat 2007 14.13 207.446.040.66 249.65 2005 14.65 2003 17.733.866.135.65 2004 14.20 Luas Penebangan Hutan (Ha) Oleh Pemegang HPH di Papua Barat Tahun 2008 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 Fak-Fak Kaimana Teluk Bintuni Sorong Raja Ampat Gambar 1. Gambar 1.156. hasil perhitungan Kegiatan pemanfaatan hutan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan.040. Teluk Bintuni memiliki jumlah lahan terluas untuk penebangan yang dilakukan oleh perusaahan HPH yaitu seluas 6.263.6 m³.

Philipina.2. yang berupa cincin gunung api memberikan potensi endapan mineral yang besar. Tidak tertutup kemungkinan daerah-daerah lain seperti sampai saat ini masih terus dilakukan eksplorasi baik di daratan maupun lepas pantai. Contohnya di daerah Kepala Burung. nikel.92 Miliyar Ton Senk dan Tembaga Emas Batu Gamping LAPORAN AKHIR 1-56 . mengingat keberhasilan Negara Papua New Guinea telah menemukan cekungancekungan minyak dan gas bumi yang cukup potensial. yaitu adanya cadangan batubara. Tabel 1. Konsentrasi mineral-mineral logam diperkirakan terdapat pada Lajur Pegunungan Tengah Papua. di mana lingkungan marine cukup banyak kehidupan mikro organik yang terakumulasi menjadi cadangan hidrokarbon. krom. Akibat tektonik di Pulau Papua juga memungkinkan terbentuk cekungan dengan sedimensedimen yang cukup tebal dalam kondisi lingkungan laut.26 Potensi Mineral Logam dan Non Logam di Provinsi Papua Barat Kabupaten/ Kota Manokwari Potensi Tambang Timah Distrik Distrik Ambarbaken sepanjang Sungai Waturi dan Sungai Warsomi Distrik Anggi Kampung Sutera Distrik Ambarbaken kampung Sutera Kampung Bomas dan Danau Anggi Giji Distrik Ambarbaken Terdapat merata di semua distrik dan melimpah Volume Cadangan Deposit mineral belumdiketahui. telah diketahui sepanjang jalur tersebut dari Amerika Selatan.3 Kawasan Pertambangan Pulau Papua yang diketahui terbentuk sejak jutaan tahun yang lalu sebagai hasil benturan Lempeng Benua Australia (Australia Plate) yang bergerak ke Utara dengan Lempeng Pasifik (Pacific Crustal Plate) yang bergerak ke arah Barat. kobal. dan uranium. kandungan timahnya berkisar antara 345-685 Deposit mineral belumdiketahui dan sampai saat ini potensi belum dimanfaatkan Deposit mineral belumdiketahui dan belum dieksplorasi 13.26 Potensi Mineral Logam dan Non Logam bagi daerah-daerah yang potensial di Provinsi Papua Barat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Keuntungannya adalah dengan terjadinya penerobosan batuan beku dengan komposisi sedang ke dalam batuan sedimen di atasnya. Untuk data potensi mineral logam maupun non logam dapat dilihat pada Tabel 1. Keuntungan-keuntungan lainnya. Posisi tektonik Papua yang berada di Lingkar Pasifik. Papua New Guinea sampai ke Selandia Baru telah ditemukan banyak endapan emas dan tembaga kelas dunia. memungkinkan terbentuknya mineralisasi logam yang berasosiasi dengan perak dan emas. Akibat benturan antara lempeng tersebut di atas menimbulkan keuntungan dan kerugian. di daerah tersebut cukup potensial untuk diadakan eksplorasi minyak dan gas bumi.

95 miliyar metric ton Volume cadadangan terbesar adalah gas alam sebesar 14.5 metric ton Volume cadangan hipotetik batu bara 0. Batu Lumpur.29-1. Sungai Maryam Mogoi.28 Juta metric ton. jenis kuarsa sebesar 91.50 juta metric ton LAPORAN AKHIR 1-57 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Volume Cadangan Kabupaten/ Kota Potensi Tambang Lempung Distrik penyebarannya Tersebar merata di Distrik Manokwari Pasir Batu Granit Pasir Kuarsa Distrik Manokwari an Distrik Warmare Distrik Ransiki.1 juta metric ton tersiri dari Genis Maskovit sebesar 19.38 metric ton. nisprematik sebesar 31. yang terdiri dari jenis Moskovit sebesar 17.5 mt berdasarkan penelitian SiO2 – rata-rata 77.27 % kadar abu 2. Distrik Ambarbaken.27 dan Fe203 rata-rata 10.50 juta metric ton. Muturi.13 m3 Volume cadangan sebesar 96.65% Fe2O3 rata-rata 0. Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Misol Distrik Wasior Tersebar di Distrik Wasior dan Wendesi Distrik Wasior Teluk Wondama Cadangan deposit sebesar 90. bahan galian adalah batu bara.31 juta metric ton. 1 metric ton. Distrik Anggi. MgO rata-rata 1.4% Volume cadangan sebesar 1. Waisian.11 juta metric ton.84 % pausri gelas kaca Volume cadangan 26.39 metric ton. A12O3 – Ratarata13. dan Genis Pragmatic sebesar 31. dan Berau. dan batu Gamping Kandungan mika 150.4% Diorit Granit Teluk Bintuni Minyak dan Gas Bumi Batu Bara Mika Raja Ampat Cobalt Tembaga Nikel Mangan Batu bara Fosfat dan Opal Mika Batu Gamping Biji Besi Distrik Warmare di sekitar Kampung Wagesi. Gunung Nuasa.28 juta metric ton.21 juta metric ton dan jenis peckmatik sebesar 11. jenis kuarsa sebesar 61.6% . Distrik Wageo Selatan Pulau Wageo dan Gag Distrik Wageo Selatan. dan Distrik Kebar Tersebar di Distrik Kebar Kampung Atay Selatan Kandungan lempung terdiri dari Sio rata-rata 55%.3 TCF Cadangan mika sebesar 150. A12O3-12.3%. Selain gas dan minyak bumi.15. Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Selatan (Pulau Wageo dan Gag).855 juta ton m3 dan 12.83 miliyar metric ton Volume cadangan 137. terdiri dari Genis Maskovit sebesar 15. Genis Kuarsa sebesar 91. Batu Pasir. Pulau Wageo dan Gag.

Sungai Waturi dan Sungai Warsayomi dan LAPORAN AKHIR 1-58 .500 ha dengan ketebalan rata-rata 6 meter sehingga perkiraan cadangan adalah 90 juta m3 Luas 142. Ayamaru.000 m2 Minyak Gas Lempung dan Sebaran 1.8 gr/ton Dengan kadar 15. Ubadari.282. dan Mare Distrik Sausapor Distrik Sausapor dan Sawiat Distrik Sausapor Distrik Salawati. Inanwatan Distrik Kais. Ayata.680.000 m2 dengan kadar 0. kampung Tawar dengan luas 4. Ayamaru Utara Distrik Aifat Timur Distrik Ayamaru.500 Ha Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Fakfak Fakfak Fakfak Fakfak Volume cadangan sebesar 1. jumlah cadangan + 864 juta m3 Dengan kadar 3. Berikut di bawah ini contoh endapan mineral yang ada di Provinsi Papua Barat. Timah terdapat di Distrik Amberbaken sepanjang Sungai Wapai. Ayamaru Utara. Distrik Kokas Kabupaten Sorong Fak Fak Batu Gamping Batu Bara Emas Distrik Kokas pada Pegunungan Onin Distrik Teluk Etna. teluk Berau Buruway. dan Kokas Menyebar di distrik Kokas. Ayamaru Utara.  Di Kabupaten Manokwari.500 m2 Perak Tembaga Timbal Senk Jumlah cadangan kurang lebih 450 juta m3 dan Distrik Bomberai dengan luasan 12 Ha.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Volume Cadangan Kabupaten/ Kota Sorong Selatan Potensi Tambang Minyak Bumi dan gas Batu Gamping Emas Fosfat Zink Marmer dan Bahan Baku Semen Tembaga Emas Tanah Hitam Batu Bara Koramit Biji Besi Pasir Kuarsa Distrik Distrik Kais. Fakfak Timur. buruway.2 gr/ton Dengan kadar 47. dan Fak Fak Timur Distrik Teluk Etna. Bahan Galian Strategis. Aifat Timur. dan Mare Distrik Aifat dab Aifat Timur Distrik Sawiat. dan Fakfak Barat Menyebar di distrik Kokas.050 gr/ton hasil analisis laboratorium P3G Bandung Dengan kadar + 26. dan Klamono Distrik Salawati Distrik Sausapor Bomberai.2 gr/ton Sumber: Peluang Bisnis dan Investasi Provinsi Papua Selain itu juga ditemukan beberapa macam endapan logam dan bukan logam. baik yang ekonomis maupun tidak.1 gr/ton Dengan kadar 16.500 Ha dan jumlah cadangan +2. Sawiat. Teluk Arguni.850 juta m3 Sebaran Volume 457. Kokas.

Gunung Nuasa. Bomas.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Distrik Anggi di Kampung Sutera. dengan volume cadangan sebesar 136. Patrindo. Distrik Babo. Ca03 . Sedangkan untuk ladang Wer (Tahun LAPORAN AKHIR 1-59 . Muturi dan Berau. Distrik Anggi. yaitu. Diorit.7 trilyun kaki kubik. Kawasan Teluk Bintuni kaya akan minyak bumi dan gas alam.rata-rata 77. Weriagar. Emas terdapat di Distrik Amberbaken. Cadangan batu gamping di Kabupaten Manokwari sangat melimpah. baik penanaman modal asing maupun nasional. Distrik Manokwari dengan volume cadangan 13. Tanah Merah. Sedangkan minyak bumi dengan volume cadangan sebesar 45 juta ton metric terletak di Kampung Homa.  Kabupaten Teluk Bintuni. Fe203 . antara lain. Distrik Warmare dengan volume cadangan 2. British Gas. namun saat ini lapangan minyak tersebut telah dieksploitasi kembali. Bahan Galian C. Cadangan Granit tersebar di Distrik Ransiki dengan volume cadangan sebesar 96. Minyak bumi pemah dieksploitasi pada masa pemerintahan Belanda. Merdey. Wasian. Penyebarannya hampir merata di tiap distrik. dll.35 milyar ton.92 milyar ton.76 %. terdiri dari Si02 .rata-rata 0. Tersebar di Distrik Warmare. Selain minyak. Pasir Kuarsa. kaca. Volume cadangan bahan galian ini sebesar 26.5 juta metrik ton. di sekitar Kampung Atay Selatan dengan volume cadangan sebesar 137.6 %. dan timah. Aranday dan Babo. Perusahaan yang sudah menanamkan modal. kawasan ini juga memiliki kandungan gas bumi sebesar 13 trilyun kaki kubik dengan volume cadangan sebesar 23. Setelah penyerahan Papua ke Indonesia. Saat ini. dan Distrik Oransbari dengan volume cadangan 2.rata-rata 13. A1203 . Volume cadangan kedua distrik ini belum diteliti. Sungai Maryam. Conoco Arco.  Kabupaten Teluk Bintuni memiliki ladang minyak terbesar di Papua. dan Danau Anggi Giji. lapangan gas di Kawasan Teluk Bintuni telah dieksploitasi oleh perusahaan multinasional BP. Ada 5 (Lima) daerah di Kabupaten Teluk Bintuni yang terdapat banyak ladang gas alam yang menghasilkan minyak. Batuan ini dapat digunakan sebagai bahan bangunan. Kandungan Pasir Kuarsa tersebut berdasarkan hasil penelitian. Daerah Mogoi dan Wasian telah diketahui kandungan minyaknya sejak Tahun 1952-1960 oleh NNGP Belanda. Kandungan Timah berkisar 345-685 ton.5 milyar ton.84 %. batubara. Tersebar di Distrik Kebar. Bahan galian Vital. dengan hasilnya sekitar 7 juta barrel minyak mentah.95 milyar metric ton. Paustri gelas. di sekitar Kampung Wasegi. Distrik Ransiki dengan volume cadangan 18. lapangan minyak yang ada terbengkalai untuk beberapa waktu lamanya. minyak dan gas alam cair. Seng dan Tembaga. dll. Daerah Mogoi. Pabrik pengolahan LNG akan beroperasi di daerah Saengga. Distrik Anggi merupakan lanjutan dari Distrik Ransiki dan Amberbaken merupakan lanjutan dari Distrik Kebar.05 juta ton.83 milyar metrik ton. Indonesia dengan Proyek "LNG Tangguh".83 milyar ton. Batugamping. Bahan Galian Strategis meliputi.rata-rata 0. Potensi minyak bumi di Kawasan Teluk Bintuni tersebar di Distrik Bintuni.65 %. jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainya di Papua.

000 Berdasarkan hasil analisis proksimat dari 10 contoh batubara oleh Direktorat Sumberdaya Mineral Bandung diperoleh kualitas dengan kisaran angka 5. Inanwatan. Goras dan I pulau di sekitar Kokas dengan luasan 142. zat terbang 40. dengan ketebalan rata-rata 6 meter. dekat Kampung Beimes sekitar 20.202. Batubara. silika yang cukup tinggi. 97. kesemuanya bersumber dari cekungan berproduksi Bintuni. 4 %. Potensi Pasir Kuarsa (Quartzsand). karbon tertambat 44. 97.1 .11. Fosfat dan Opal di Distrik Misool. terdapat kandungan minyak mentah sebesar 5. Ayamaru dan Mare.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1990).000 m3.8 %.40%.500 ha clan jumlah cadangan 2. Bahan galian lain yang ditemukan di Kabupaten Teluk Bintuni dan sekitarnya adalah batubara. Marmer dan Bahan Baku Semen di Distrik Sawiat. Distrik Kokas.000 liter per hari. Kadar Belerang 0.935 kalori/kg.500 ha. batugamping dan endapan sirtu 84.000. Kadar Abu 2. Di daerah Bomberay.8 kelembaban 3 -16 % dan HGI 40 . pasir kuarsa mencapai luas 1. yaitu.000 ton. Mangan. sekitar 4. LAPORAN AKHIR 1-60 .000 BOPD atau sf 795. 0.27 %.1.645%.9 km2.48%.3 .820 – 7. perusahaan ARCO. Aifat Timur. kelembaban tertambat 1. Cadangan hipotetik batubara di Sungai Thikoku. Potensi daerah ini meliputi.1 . Menyebar di Distrik Kokas pada Daerah Pegunungan Onin. Ayamaru. batupasir.5.3 %.10%. dengan kadar besi. Di Kabupaten ini ditemukan potensi logam kobal di Distrik Waigeo Selatan. minyak bumi dan gas tersebar di Distrik Kais. batulumpur. di Sungai Thistoku dekat Kampung Horna. Sawiat. 0.500. Tembaga di Waigeo Selatan Nikel di Distrik Waigeo Utara dan Samate. sehingga perkiraan cadangannya adalah 90 juta m3. Emas di Distrik Aifat Timur. Batugamping.850 juta m3 (Hasil Survei LPMITB).49. salah satu perusahaan swasta asal Inggris.  Kabupaten Sorong Selatan. Batugamping di Distrik Kais.  Kabupaten Raja Ampat. Tahun 1990-1995.50. batugamping dan endapan sirtu. menemukan ladang gas alam terbesar di Weriagar. Uji laboratorium yang dilakukan di PPP Tekmira Bandung terhadap 3 contoh pasir kuarsa dari daerah Bomberay.6 km2.32%. Data menunjukan bahwa kadar .  Kabupaten Fak Fak.51. 97. batulempung dan batulumpur seluas 768. 0.29 . dan disebut juga batuan karbonat. Luas penyebaran batupasir kurang lebih 307. Batugamping adalah jenis k sedimen klastik atau non klastik yang disusun oleh 90% karbonat.20%.3 .

22 Peta Sebaran Kawasan Pertambangan LAPORAN AKHIR 1-61 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

Taman Wisata Alam Gunung Meja 17.000. Tabel 1. Fak-Fak Kab.27 16.00 265. Tambrauw Kota Sorong LAPORAN AKHIR 1-62 .00 119. Fak-Fak Kab.000.00 15.00 247.000.00 62. Taman Wisata Sungai Sausiran 18.00 1.000.000.4 Kawasan Konservasi Kawasan hutan yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi seluas 3.00 1. Lokasi dan luas kawasan konservasi di Provinsi Papua Barat ditampilkan dalam Tabel 1.00 188.00 60. Manokwari Kab. Tambrauw Kab. Cagar Alam Tambrauw Selatan 25.73 Ha.478.749. Taman Wisata Alam Bariat 21. taman wisata. Cagar Alam Pegunungan Arfak 13.53 1. Taman Wisata Alam Moraid 23. Cagar Alam Pantai Sausapor 26. Suaka Margasatwa Sabuda Tuturuga 11. Cagar Alam Pegunungan Fak-Fak 10.00 170. Cagar Alam Teluk Bintuni 12. Cagar Alam Pulau Pegunungan Wondiboy 8. Sorong Selatan Kab.000. Bintuni Kab.90 Lokasi Kab.00 90. Cagar Alam Tambrauw Utara 24.00 300. Tambrauw Kab. Sorong Kab. Taman Wisata Alam Sorong Sumber: Provinsi Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Luas (Ha) 58. Manokwari Kab. Suaka Margasatwa Mubrani-Kaironi 19. Manokwari Kab.325.001.411.500.909. Manokwari Kab. dan taman nasional.00 100. Raja Ampat Kab.300.875.00 500. Raja Ampat Kab. Kawasan konservasi yang telah ditetapkan di Provinsi Papua Barat terbagi ke dalam empat kawasan yaitu kawasan cagar alam.00 68.27 Kawasan Konservasi yang Telah Ditetapkan di Provinsi Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 No.150. Taman Wisata Alam Klamono 22. Suaka Margasatwa Laut Kepulauan Raja Ampat 7. Cagar Alam Pegunungan Kumawa 9. Tl Wondama Kab. Cagar Alam Pulau Salawati Utara 2.660 945.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Manokwari Kab.022. Kawasan konservasi tersebut tersebar di 26 lokasi dengan katagori kawasan dan luasan yang berbeda.00 73.2. Nama Kawasan 1.37 9. Cagar Alam Pantai WekweKwoor 16. Raja Ampat Kab. suaka margasatwa. Sorong Kab.00 9.000. Manokwari Kab. Cagar Alam Pulau Waigeo Timur 6. Taman Nasional Laut Tl Cendrawasih 20.350. Cagar Alam Pulau Batanta Barat 3.193. Raja Ampat Kab.00 191.00 153.00 111. Cagar Alam Wagura Kote 14. Manokwari Kab.27 berikut. Cagar Alam Pulau Misool Selatan 4. Raja Ampat Kab. Cagar Alam Pulau Waigeo Barat 5.00 5.500. Manokwari Kab.453.720. Kaimana Kab. Raja Ampat Kab. Cagar Alam Sidei Wibain 15.

23 Peta Sebaran Cagar Alam LAPORAN AKHIR 1-63 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

211.307 WP SORONG 59. Wilayah Pengembangan Fakfak memiliki luas pemukiman yang paling sedikit di antara wilayah pengembangan yang lain. LAPORAN AKHIR 1-64 . Luas lahan pemukiman yang berupa kampung atau perumahan di Wilayah Pengembangan Sorong merupakan 49% dari seluruh luas lahan pemukiman di Provinsi Papua Barat.47 persen. Sementara itu. Kota Sorong memang merupakan kota yang paling menonjol di Provinsi Papua Barat dalam hal aktivitas perkotaan.64 WP FAKFAK PROVINSI PAPUA BARAT PROVINSI PAPUA BARAT 20.403 499 956. Manokwari dan Kota Sorong merupakan wilayahwilayah yang memiliki fungsi guna lahan kampung/perumahan yang tertinggi. lahan di wilayah Provinsi Papua Barat yang dipergunakan sebagai pemukiman sebagian besar terletak pada lahan-lahan di Wilayah Pengembangan Sorong.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Wilayahwilayah tersebut selama ini memang telah tumbuh menjadi sentra-sentra kegiatan perkotaan di Provinsi Papua Barat terutama untuk Kota Sorong. Tabel 1.64 581 747.5 Areal Terbangun dan Pusat-pusat Permukiman Fungsi guna lahan sebagai daerah kampung/perumahan sebesar 117. Manokwari adalah kabupaten yang menjadi ibukota dari Provinsi Papua Barat.884 121.28 Luas Lahan Permukiman di Provinsi Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2003 (Ha) Wilayah Pengembangan WP MANOKWARI Kabupaten/Kota Kabupaten Manokwari Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Teluk Wondama Kota Sorong Kabupaten Sorong Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana 2003 2002 Kampung Perumahan 41. maka luas pemukiman di Provinsi Papua Barat mengambil sekitar 24% dari keseluruhan lahan pemukiman.2. Penggunaan lahan untuk fungsi kampung/perumahan di Kota Sorong mencapai lebih dari 50 persen dibandingkan dengan luasan totalnya. Jika dibandingkan dengan luas pemukiman di seluruh Papua. Kabupaten Sorong.42 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2006 Sampai dengan tahun 2005. Kota ini merupakan gerbang bagi Provinsi Papua Barat menjadikan kegiatan jasa dan perdagangan dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat kekotaan terkonsentrasi di wilayah ini.015 hektar atau sekitar 10.

24 Peta Sebaran Kawasan Lindung dan Budidaya LAPORAN AKHIR 1-65 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.25 Peta Sebaran Kawasan Lindung LAPORAN AKHIR 1-66 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.26 Peta Pengembangan Kawasan Kehutanan LAPORAN AKHIR 1-67 .

fungsi-fungsi layanan yang semestinya ada kemungkinan besar belum berdiri. Sebagai sebuah propinsi yang baru terbentuk. Sebagai wilayah otonomi baru. Hal ini juga terlihat dari transportasi eksisting dimana Kota Sorong memiliki simpul transportasi yang sangat strategis.4. Dalam lingkup sistem perkotaan. Kepadatan dapat dilihat dari beberapa pendekatan yaitu kepadatan bruto. Kota Sorong juga merupakan pusat kegiatan jasa dan perdagangan. Wilayah yang termasuk ke dalam kategori rendah adalah kabupaten-kabupaten baru hasil dari pemekaran wilayah.17% dari jumlah LAPORAN AKHIR 1-68 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Kondisi ini telah ada sejak jaman pendudukan Belanda. Dalam hal ini. fungsi wilayah eksisting tentu masih berkaitan dengan fungsi wilayah sebelum Propinsi Papua Barat terbentuk. Manokwari merupakan ibukota dari Papua Barat. Selain sebagai gerbang tranportasi Papua Barat.4 ASPEK SOSIAL KEPENDUDUKAN 1.140 jiwa atau hanya 3. Kepadatan bruto penduduk di Provinsi Papua jumlah penduduk paling rendah terdapat di Kabupaten Teluk Wondama. fungsi wilayah merupakan indikator tingkat pelayanan wilayah yang menunjukkan seberapa besar peran suatu wilayah dalam mengikat wilayah sekitarnya.68 % dari jumlah total penduduk di Provinsi Papua Barat. netto dan kepadatan agraris. Fungsi wilayah yang dimaksud adalah merupakan pusat kegiatan suatu wilayah yang menjadi barometer perkembangan sebuah wilayah. Jumlah penduduk terbesar terdapat di Kabupaten Manokwari yaitu sebanyak 172. 1. Wilayah yang juga tergolong wilayah dengan tingkat layanan tinggi di Papua Barat adalah Manokwari. Karena tidak adanya data lahan terbangun.50 km2 dan total penduduk sebanyak 729. Di sekitar Kota Sorong banyak terdapat kegiatan pertambangan di mana pengolahan dan perdagangannya terkonsentrasi di Kota Sorong. yaitu 23.3 STRUKTUR TATA RUANG EKSISTING Struktur tata ruang eksisting di Propinsi Papua Barat meliputi sistem perkotaan dalam lingkup kabupaten dan sistem jaringan prasarana yang dalam hal ini adalah jaringan jalan. Kota Sorong merupakan simpul kegiatan khususnya yang ada di Papua Barat.363. maka kepadatan penduduk yang diuraikan ini adalah kepadatan bruto.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Provinsi Papua Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia Timur dengan luas wilayah 115.885 jiwa atau 23. tentunya memiliki berbagai jenis layanan yang memadai. Sedangkan penduduk di Provinsi Papua Barat.962 jiwa pada tahun 2006 yang tersebar secara tidak merata di kesembilan kabupaten/kota. Sehingga dalam menjalankan fungsinya sebagai ibukota.

00 25 324.29 Luas Wilayah. faktor ketersediaan fasilitas pelayanan sosial ekonomi juga mempengaruhi sebaran penduduk di suatu wilayah.50 29 810.62 143 185.00 12 146.50 104 919. kepadatan penduduk di Provinsi Papua Barat relatif sangat rendah dengan kepadatan berkisar antara 4 – 12 jiwa/km2. Sedangkan kepadatan penduduk terendah terdapat di Kabupaten Kaimana.00 140 375. dan Kabupaten teluk Wondama yaitu 2 jiwa/km2.00 Jumlah Penduduk 66 864 41 973 23 140 54 528 172 855 61 463 98 691 41 170 169 278 729 962 715 999 702 202 651 958 642 472 RT 15 733 9 876 5 445 12 830 40 672 14 462 23 221 9 687 39 830 171 756 168 075 167 609 162 990 156 052 Kepadatan Penduduk Per km2 5 2 2 3 12 2 3 7 153 5 5 6 6 5 Per RT 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Tidak meratanya distribusi penduduk di sebuah wilayah antara lain karena kondisi geografis yang berbeda. yaitu 153 jiwa/ km2.62 18 637. Kota ini hanya memiliki luasan tak lebih dari 1.4.2 Komposisi Penduduk Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin LAPORAN AKHIR 1-69 . 1. Wilayah yang sedang mengalami perkembangan tentunya akan memiliki konsentrasi penduduk yang lebih tinggi. dari kota/kabupaten satu ke kota/kabupaten lainnya. Pada umumnya. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 2004 Luas Wilayah 14 320.00 14 448.50 1 105. Kota Sorong merupakan kota yang memiliki kepadatan penduduk paling tinggi. Tabel 1. Karakter pola pemukiman loncat katak.00 6 084. konsentrasi penduduk akan lebih tinggi di dataran rendah daripada di dataran tinggi. Kondisi geografis beberapa wilayah kabupaten didominasi oleh karakter kelerengan 8% sehingga mempengaruhi terbentuknya pola permukiman penduduk.00 115 363.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Barat tidak terdistribusi secara merata.00 18 500. Secara umum.105 km2 dan di kota ini terdapat banyak fasilitas sosial perekonomian sehingga di wilayah ini terjadi pemusatan penduduk. Selain itu.11 126 093.

44.35 106. Bila diperinci menurut jenis kelamin. Selain itu. LAPORAN AKHIR 1-70 . namun untuk setiap kecamatan jumlah penduduk laki-laki masih lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan. Untuk lebih jelas.878 jiwa dengan sex ratio sebesar 110.44 110.67 116.82 111.30 berikut ini. Jika diperinci lebih dalam. maka terdapat perbedaan antara masing-masing kecamatan.45 100.44 110.30 Rasio Jenis Kelamin Provinsi Papua Barat Tahun 2008 dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2007 2006 2005 2004 Jumlah Penduduk Laki-laki 33 507 21 011 11 784 30 682 93 163 31 782 52 570 21 739 86 846 383 084 383 084 379 277 362 672 343 920 Perempuan 33 357 20 962 11 356 23 846 79 692 29 681 46 121 19 431 82 432 346 878 346 878 343 704 339 530 308 038 66 864 41 973 23 140 54 528 172 855 61 463 98 691 41 170 169 278 729 962 729 962 722 981 702 202 651 958 Jumlah Sex Ratio 100.98 111. maka dapat dibedakan bahwa penduduk dengan jenis kelamin laki-laki berjumlah 383.048 jiwa dan perempuan sebanyak 346.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Klasifikasi penduduk menurut jenis kelamin dalam suatu wilayah digunakan untuk mengetahui sex ratio yang dimiliki oleh wilayah tersebut. namun angka tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.23 103.35 110. penggambaran penduduk menurut struktur usia juga diperlukan untuk perhitungan penyediaan fasilitas sosial dan ekonomi. jumlah penduduk Provinsi Papua Barat berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 1. Sex ratio diatas 100 menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki lebih dominan daripada jenis kelamin perempuan.08 113. Walaupun penduduk berjenis kelamin laki-laki lebih banyak.88 105.65 Irian jaya Barat Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Komposisi Penduduk menurut Umur (Struktur Usia Penduduk) Penggambaran penduduk menurut struktur usia berguna untuk mengetahui jumlah penduduk produktif dan penduduk non produktif.90 107.77 128. Hal ini akan berpengaruh pada angkatan kerja di suatu wilayah serta tingkat ketergantungan penduduk non produktif pada penduduk produktif. Tabel 1.

Tabel 1.106 dan penduduk usia (5-9 tahun) sebesar Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-71 . 10-14. Jika diperinci lebih dalam. 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+ Total 2007 Laki-Laki 42 599 37 389 37 581 41 105 36 087 32 677 30 915 30 685 28 501 23 215 16 894 11 607 7 317 3 218 1 992 1 302 383 084 379 277 Perempuan 40 617 36 410 35 634 37 001 32 164 29 735 31 059 30 924 25 662 19 196 12 815 7 518 4 143 2 111 1 074 815 346 878 343 704 Jumlah 83 216 73 799 73 215 78 106 68 251 62 412 61 974 61 609 54 163 42 411 29 709 19 125 11 460 5 329 3 066 2 117 729 962 722 981 yaitu sebesar 83.55% dan usia produktif sebesar 65.45%. diketahui bahwa jumlah penduduk dengan usia non produktif adalah sebesar 34. untuk usia produktif kelompok umur antara 0 – 14 tahun lebih banyak dibandingkan kelompok umur 60 – 75+ tahun.216 diikuti oleh penduduk usia muda (15-19 tahun) sebesar 78. 31 Komposisi Penduduk menurut Golongan Umur Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Golongan Umur 0-4 5-9. Sementara pada kelompok usia muda dan produktif.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Berdasarkan data yang diperoleh tahun 2008.799. Berdasarkan kelompok umur. kelompok umur 15 – 19 tahun cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok umur lainnya. struktur penduduk Provinsi Papua Barat didominasi oleh penduduk usia balita (0-4 tahun) 77.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.05% atau sebesar 45. sex ratio menunjukkan proporsi laki-laki selalu lebih tinggi dari pada perempuan namun ada satu di mana golongan umur 30-39 proporsi perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Ini satu masalah yang harus dipikirkan untuk mengantisipasi ternjadinya pengangguran perempuan yang demikian banyak.643 jiwa. Sedangkan lulusan paling banyak penduduk lulusan SD. Jumlah penduduk dengan tingkat kelulusan pada bangku Sekolah Dasar menggambarkan bahwa tingkat pendidikan penduduk masih cenderung rendah. Bahkan.23%. Dapat dilihat bahwa sampai dengan tahun 2006. jumlah penduduk yang tidak pernah atau belum pernah sekolah mencapai 6.32.27 Piramida Penduduk Provinsi papua Barat Tahun 2009 Dalam setiap golongan umur. yaitu berjumlah 212. Umur ini merupakan umur produktif di mana manusia menggunakan segala daya dan upaya untuk mengembangkan potensi dirinya. Kondisi tingkat pendidikan di Provinsi Papua Barat dapat digambarkan dari Tabel 1.275 jiwa atau 30. Masalah yang terjadi adalah kondisi ketenagakerjaan berupa tingkat partisipasi kerja wanita jauh lebih kecil dari pada pria. Komposisi Penduduk menurut Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan merupakan indikator kualitas sumber daya manusia di suatu wilayah. Terbatasnya kondisi ekonomi masyarakat dan LAPORAN AKHIR 1-72 . untuk mencapai jenjang wajib belajar 9 tahun pun dirasakan sulit.

77 11. Sumber daya manusia di Kabupaten Teluk Bintuni dan Teluk Wondama juga masih sangat terbatas.09 72.80 7. di Kabupaten Sorong untuk tingkat SLTP tercatat belum ada sekolah kejuruan (dari data BPS tahun 2005).52 3. Kesenjangan ini sangat signifikan apabila dibandingkan dengan kondisi sumber daya manusia di sejumlah provinsi di wilayah Indonesia Barat.00 SD/MI 11.47% dari jumlah total penduduk yang tercatat.26 4.31 4.35 7.52 7.30 65. Bahkan.03 4. Karena luasnya medan atau area lahan Papua Barat dan sulitnya jangkauan letak sekolah dengan tempat penjualan bahanbahan makanan serta barang-barang lain kebutuhan sehari-hari. bekerja pada sektor pertambangan dan perindustrian dan sektor kehutanan. Pemerintah telah mengusahakan sejumlah upaya untuk memberikan peluang kepada masyarakat untuk belajar ke wilayah Jawa.82 Masih Sekolah SMU/SMK/ SLTP MA 7. sering kali tidak dapat memperoleh tenaga guru untuk sekolah yang bersangkutan.41 10.14 15.62 PT 0. Sebagai contoh.37 Tidak Bersekolah Lagi 69.58 69.27 LAPORAN AKHIR 1-73 . 32 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Kabupaten/Kota dan Status Pendidikan Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Tidak/Belum Pernah Sekolah 3.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sarana prasarana pembelajaran baik formal maupun non formal sampai ke daerah terpencil adalah salah satu kendala. Hal ini menjadi masalah secara internal karena kelemahan yang datang dari dalam ini bertemu dengan ancaman dari luar karena realitanya kualitas SDM pendatang memang secara empirik jauh lebih baik dan pendatang yang dalam ini memang datang untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam Provinsi Papua Barat.41 0. mengenyam pendidikan tinggi di luar wilayah namun lulusan perguruan masih tergolong sedikit yaitu sekitar 2. Tabel 1.89 0. Raja Ampat. Jumlah tenaga pengajar yang tercermin dari rasio guru dan murid pun masih sangat kecil.16 6. beberapa kabupaten seperti Sorong.90 11. dan presentase menikmati dunia pendidikan tingkat atas masih sangat sedikit. Prosentase tidak pernah mengenyam pendidikan masih sangat tinggi.57 0. Salah satu kendala pemerintah dalam upaya pemerintah membangun sektor pendidikan di Papua Barat adalah sulitnya jangkauan di daerah pedalaman yang mengakibatkan sebagian besar penduduknya berpendidikan rendah.92 4. Teluk Bintuni dan Teluk Wondama tidak memiliki sumber daya unggul dalam arti penduduk yang tamat universitas.

24 7.45 68.33 Komposisi Penduduk Menurut Agama dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 Kabupaten/Kota Fak-Fak Islam 61.36 1.03 Lainnya 0. Budha (0.47 Katolik 16.88 68. Terdapat 1.03 SD/MI 11.18 76.12%).7% diikuti oleh agama Islam (41.18 2.24 15.50 2.15 1.12%).84 12. Katolik (7.63 11.70%). Tabel 1.36 2.72 Kabupaten Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 Tidak/Belum Pernah Sekolah 18.91 9.59 5.28 Tingkat Pendidikan Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2007 Komposisi Penduduk Menurut Agama Penduduk Provinsi Papua Barat sebagian besar adalah pemeluk agama Kristen yang jumlahnya mencapai 50.62 7.48 74.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Masih Sekolah SMU/SMK/ SLTP MA 5. lainnya (0.28 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Gambar 1.58 6.46 5.40 4.82 1.15 PT 2.89 12.83 7.28 5.09 Budha 0.63 Kristen 21.27%).51 7.497 gereja Protestan dan 664 masjid di Provinsi Papua Barat.99 Tidak Bersekolah Lagi 56. Representasi dari banyaknya jumlah penduduk beragama diikuti oleh jumlah dan sebaran fasilitas ibadah yang terdistribusi di 9 kabupaten/kota.01 5.63 1.96 4.77 Hindu 0.63 69.14 3.01 Konghucu 0.49 0. Konghucu (0.01%).02 LAPORAN AKHIR 1-74 .59 1.

02 0.98 6.533 8.92 8 9.032 13.699 3.84 44.533 KS III + 178 5.505 2.94 41.19% atau sebanyak 46.980 8.11 34.36 0.04 52.02 0.891 72.27 51.075 426 9.255 3.254 5.160 6.35 40.15 0.915 9.524 36.08 0.012 11.325 8.998 11.01 0.01 0.70 14.190 9.729 19.01 0.474 7.04 0.50 51.90 41.02 0.10 7 28.380 KK.01 0.664 3.01 0 0 0.380 34.580 9.476 10.54 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 9.40 5.350 636 4.02 0.13 0 0.585 Tahapan Keluarga Sejahtera Prasejahtera KS I 4.17 8.03 0 0.84 48.48 50.3 Tingkat Kesejahteraan Penduduk Tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan kategori dari BPS di Provinsi Papua Barat masih cukup rendah.576 10.20 2 118.532 17.503 34.390 8.52 1 KS III 1.12 2 3 4 5 6 7 8 9 Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 39.01 0.4.08 22.032 5.01 0. Angka yang sungguh sangat memprihatinkan.344 16.19 36.22 90.87 2005 0 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-75 .52 2007 0 46.87 2006 0 46.29 3 5.05 0 0.42 0. Sedangkan untuk Keluarga Sejahtera III dan III plus hanya 7.767 6.832 49.415 1.568 8.07 0.607 4. 34 Tingkat Kesejahteraan Keluarga di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 4.33 6 Jumlah 55.060 15.02 0.93 59.01 0.13 0.33 6 118.140 18 97 563 86 731 271 2.22 44.092 40. Tabel 1.029 3.60 0 23.380 34.29 0.70 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 1.77 4.27 5.66%.065 146 417 2.665 5. Keluarga yang masih ada pada tahap Pra Sejahtera hampir mencapai separuh keluarga yang ada di Provinsi Papua Barat yaitu 39.700 498 1.02 0.52 1 23.19 71.03 0.64 3 135.803 189.756 4.475 KS II 2.03 13.35 9 53.12 0.03 0 0.513 35.067 1.698 112 1.90 7 3.88 7.01 0 0.

4 Ketenagakerjaan Identifikasi aspek ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat dapat menggambarkan sektor potensial dan penyerapan tenaga kerja ditiap sektor.189 160.396 88.81 Perempuan 235.193 26.189 jiwa dimana 56% dari pencari pekerjaan tersebut adalah perempuan.4.084 210.457 68.15 7. Fenomena ini sangat erat korelasinya dengan masalah yang ditemukan yaitu tidak tertampungnya perempuan pada tenaga kerja sektor formal.66 5.382 316.506 83. Tabel 1.29 Tahapan Kesejahteraan Keluarga 1. 316.113 12. Angkatan kerja adalah penduduk yang sedang bekerja ditambah dengan pencari kerja.080 13.487 3.08 Jumlah 502.218 116.951 50.193 jiwa atau 88.61 11.65 • Mencari Pekerjaan 3 LAPORAN AKHIR 1-76 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.678 20.584 14. Penduduk usia kerja yang ada di Provinsi Papua Barat sebesar 502. Pengangguran di Provinsi Papua Barat tercatat sebesar 26.85 % sudah bekerja.382 jiwa atau 72% masuk dalam kategori angkatan kerja.661 223.018 47.094 5.298 106.577 25.971 43. 35 Kondisi Ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 NO 1 2 Jenis Kegiatan Utama Penduduk Usia Kerja Angkatan Kerja • Bekerja (Pengangguran Terbuka) Bukan Angkatan Kerja • Sekolah • Mengurus Rumah Tangga • Lainnya 4 TPAK (%) 5 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Laki-Laki 266.441 22.400 342.400 jiwa di mana yang sebesar 342.739 119. Dari jumlah angkatan kerja tersebut.883 91.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Gambar 1.30 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Papua Barat Tahun 2007

Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

TPAK menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) mengindikasikan besarnya penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) yang aktif secara ekonomi di suatu negara atau wilayah. TPAK diukur sebagai persentase jumlah angkatan kerja (bekerja dan pengangguran) terhadap jumlah penduduk usia kerja. Indikator tersebut menunjukkan besaran relatif dari pasokan tenaga kerja (labour supply) yang tersedia untuk memproduksi barang-barang dan jasa dalam suatu perekonomian. Sedangkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) diukur sebagai persentase penganggur terhadap jumlah angkatan kerja. TPT memberikan indikasi tentang penduduk usia kerja yang termasuk dalam kelompok pengangguran. TPT merupakan rasio jumlah penganggur terbuka terhadap jumlah angkatan kerja. Tingkat Pengangguran Terbuka di Provinsi Papua Barat adalah 7,65 %. Angka ini di bawah angka penganguran Indonesia sebesar 9,9 %. Terdapat perbedaan tingkat partisipasi antara pria dan wanita yang tercermin dari angka TPT pria sebesar 5,81 % dan wanita 11,08 %. Tabel 1.36 Penduduk Usia Kerja di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Golongan Umur
Golongan Umur 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran 18 996 5 339 39 779 7 764 44 925 5 814 42 298 3 379 47 348 2 546 38 529 857 32 286 313 24 399 123 Jumlah 24 335 47 543 50 739 45 677 49 894 39 386 32 599 24 522 % Bekerja thdp AK 78,06 83,67 88,54 92,60 94,90 97,82 99,04 99,50

LAPORAN AKHIR 1-77

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028
Jumlah 14 833 12 854 342 382 296 146 312 478 292 446 % Bekerja thdp AK 99,91 99,68 92,35 90,54 89,83 88,86

Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran 55-59 14 820 13 60+ 12 813 41 Papua Barat 316 193 26 189 2007 268 117 28 029 2006 280 705 31 770 2005 259 863 32 583 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

Golongan Umur

Tingkat pengangguran di Provinsi Papua Barat relatif sedang,

berdasarkan golongan

umur, banyak dari golongan umur 20-24 yang belum mendapatkan pekerjaan, tertampung pada 9 lapangan usaha. Jumlah penduduk pada golongan umur 25-29 yang bekerja mencapai 44.925 jiwa. Dari tahun 2005-2008 angka jumlah angkatan kerja di Provinsi Papua Barat semakin meningkat dengan jumlah penduduk bekerja yang juga meningkat dan jumlah pengangguran yang menurun. Tabel 1.37 Penduduk Usia Kerja di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota
Golongan Umur Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2005 Angkatan Kerja Bekerja 19.468 16.025 11.344 24.971 93.999 27.744 45.897 17.171 59.574 316.193 268.117 259.863 Pengangguran 3.081 1.330 949 2.118 3.627 908 2.413 525 11.238 26.189 28.029 32.583 22.549 17.355 12.293 27.089 97.626 28.652 48.310 17.696 70.812 342.38 2 296.146 292.446 86,34 92,34 92,28 92,18 96,28 96,83 95,01 97,03 84,13 92,35 90,54 88,86 Jumlah % Bekerja thdp AK

Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

Dari Tabel 1.37 diatas terlihat bahwa jumlah pengangguran terbesar di Provinsi Papua Barat terdapat di Kota Sorong yaitu sebesar 11.238 jiwa. Demikian pula jika ditinjau dari persentase penduduk yang bekerja terhadap angkatan kerja maka Kota sorong memiliki persentase yang paling kecil. Jumlah pengangguran terkecil terdapat di Kabupaten Raja Ampat yaitu sebesar 525 jiwa dengan persentase penduduk yang bekerja terhadap angkatan kerja yang paling tinggi yaitu sebesar 97,03 %.

LAPORAN AKHIR 1-78

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Tabel 1.38 di bawah ini menjelaskan mengenai jumlah penduduk yang bekerja menurut lapangan kerja utama yang dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu sektor primer (Agriculture), sektor sekunder (Manufacture) dan sektor tersier (Services). Sektor A(Agriculture) termasuk didalamnya sektor pertanian. Sektor M (Manufacture) meliputi sektor pertambangan, Industri, listrik, gas, dan bangunan/konstruksi. Sedangkan sektor S Services) termasuk didalamnya sektor perdagangan, angkutan, pergudangan, keuangan, perusahaan, dan jasa masyarakat. Tabel 1. 38 Jumlah Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2007 di Provinsi Papua Barat
Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Lapangan Pekerjaan Utama A 9186 8146 1184 11609 60769 13895 20703 9521 4292 M 2417 673 154 2684 5823 646 8293 481 9568 S 8834 3788 1279 3789 14768 4933 10425 2610 27647 Total 20437 12607 2617 18082 81360 19474 39421 12612 41507

Papua Barat 139305 30739 78073 248117 Sumber : Statistik Tenaga Kerja Provinsi Papua Barat 2008

Dari tabel diatas terlihat bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor yang dominan yang digeluti oleh penduduk di setiap kabupaten di Provinsi Papua Barat kecuali Kota Sorong. Hal ni disebabkan karena karakteristik perkotaan yang telah mendominasi Kota Sorong sebagai pusat perdagangan di Provinsi Papua Barat. Untuk kabupaten lainnya, terlihat pola yang jelas yaitu didominasi oleh pertanian diikuti oleh sektor services dan terakhir oleh sektor manufacture. Dari Tabel 1.39 di bawah ini dapat ketahui bahwa jumlah tenaga kerja terserap sesuai data dari BPS adalah sebesar 40.400 jiwa yang terdistribusi pada lapangan pekerjaan sektor pertambangan, pertanian, konstruksi, jasa, industri pengolahan. Dari sekian industri yang terdapat di Provinsi Papua Barat, industri yang mampu menyerap tenaga kerja cukup tinggi adalah industri agro dan industri pengolahan. Tabel 1.39 Penyerapan Tenaga Kerja pada Sektor Industri Tahun 2007
Jenis Industri Industri Besar Agro Jenis Pertambangan Jumlah TK 2.847 13.189

LAPORAN AKHIR 1-79

Papua Barat menjadi satu provinsi dengan Irian Barat (1 Mei 1963 – 1973) dan kemudian berubah nama menjadi Irian Jaya (1973 – 2000). Provinsi ini terletak di Pulau New Guinea yang merupakan pulau terbesar dalam kepulauan Melanesia.5 Adat dan Budaya Tradisional Provinsi Papua Barat adalah provinsi yang letaknya paling Timur dari Negara Kepulauan Republik Indonesia. Adat Suku-suku yang mendiami di Provinsi Papua dan Papua Barat tercatat ada 206 suku-suku. A.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 industri pengolahan listrik gas Konstruksi Penggalian Perhotelan 12. Ketrampilan dan keahlian juga menjadi kriteria penting bagi industri skala besar untuk mendapatkan sumber daya manusia yang lebih produktif. yaitu bagian Barat menjadi milik Belanda sedangkan bagian Timur menjadi milik Jerman.819 40.hasil hutan Total Tenaga Kerja (jiwa) Sumber : Statistik Tenaga Kerja Provinsi Papua Barat 2008 Jenis industri pertambangan meskipun memberikan sumbangan yang sangat besar pada perekonomian. ternyata penyerapan tenaga kerjanya tidak besar sebab kebutuhan pekerja ini disuplai oleh wilayah lain dan pekerja dari mayarakat Papua sendiri merupakan minoritas. Provinsi Irian Jaya dan Provinsi Irian Jaya Barat.218 1.kulit Logam. 1. Berdasar perjanjian Den Haag tanggal 16 Mei 1895. Di antara suku-suku itu mendiami wilayah provinsi Papua Barat tercatat ada sekitar 67 LAPORAN AKHIR 1-80 . Pada tahun 2003 pemerintah Indonesia membagi wilayah Provinsi Irian Jaya menjadi 3 (tiga) provinsi.950 3. sehingga penduduk yang tidak memiliki keahlian tertentu dengan sendirinya akan tersisihkan dari dunia kerja formal. yaitu : Provinsi Papua. pulau ini dibagi menjadi 2 bagian.agro. Pernyataan bergabung dengan Indonesia dilakukan melalui PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) yang diadakan tahun 1969. Iklimnya tropis lembab karena letaknya di bawah khatulistiwa.279 262 399 1. yakni antara 00 – 120 Lintang Selatan. Pada awalnya.400 Industri Kecil Menengah Sandang.4.275 3.162 1. Irian Jaya secara resmi menjadi bagian Republik Indonesia tahun 1963 setelah ditanda tanganinya New York Agreement antara pemerintah Indonesia dan Belanda tahun 1962 atau 18 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Irian Jaya Barat dibentuk pada tanggal 6 Februari 2006 dan berubah namanya menjadi Papua Barat pada tanggal 7 Februari 2007.besi elektro Kimia.

Hatam dan Manikion yang sering disebut orang Arfak tinggal di Kabupaten Manokwari dan terdiri dari 35 klan. Moskona. Jadi. Yaur. Kokoda. Mer. Semimi. Pengawasan terhadap anak gadis sangat ketat sehingga seorang pemuda tidak mudah mengganggunya. Biak. Suku-suku itu adalah Suku Matbat. LAPORAN AKHIR 1-81 . Irarutu. Woi. menyanyi. Waigeo. Mairasi. Maden. Erokwanas. Kamberau. Konda. fungsi tanah terintegrasi ke dalam keseluruhan aktivitas kehidupan. jika terjadi perpindahan kepemilikan atas tanah. Yahadian. Kaburi. Apabila seorang pemuda menaruh hati pada seorang gadis maka orang tua si pemuda akan melamar gadis itu untuknya. Dalam pandangan suku-suku asli Papua pada umumnya. menari dan memuji seseorang dengan dengan pantun yang dilagukan. Dusner. Seget. tanah ibarat seorang ibu yang memberikan kehidupan bagi anaknya. Puragi. Moraid.klan yang merupakan bagian dari masyarakat. Meyah. Manikion. Moile. Onin. Suabo. Pada suku-suku ini dikelompokkan dalam klan. Kepemilikan tanah bagi suku Papua bersifat komunal. Pada saat melamar ketua klan dan tokoh-tokoh adat serta semua kerabat dari kedua belah pihak akan ikut serta. Kalabra. Hatam. Bagi mereka. Kowiai. Tanahmerah. Baham. Karas. dalam tanah terkandung dan terkait berbagai nilai di antaranya nilai ekonomi. Tanah merupakan modal awal kehidupan. Tandia. Arguni. Wandamen. Pom. Dianggap sebagai exogami jika seorang pria Maibrat atau Karon kawin dengan gadis dari klan lain yang tinggal mengelompok di desa lain dan dianggap endogami jika seorang pria kawin dengan garis lain dari klan kecil lain tapi tinggal mengelompok di desa yang sama. Buruai. Moi. Abun. Uruangnirin. dan Mapia.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 suku. Acara pesta seperti itu adalah makan bersama. Arandai. Bedoanas. Mor. Sistem perkawinan Suku Maibrat dan Karon di Kabupaten Sorong didasakan pada exogami klan kecil patrilineal (dalam bahasa Karon disebut rae sawam). Tunggare. Ansus. Mai Brat. Iresim. pertahanan dan religius magis. Suku Meyah. Kamoro. Dengan demikian. perpindahan itu menjadi urusan komunal atau urusan semua anggota suku bukan urusan individu semata. Roon. politis. Ekari. Sekarang pemuda dan pemudi sering mendapatkan jodoh melalui acara-acara adat seperti pesta tari adat yang bernama ares komer. Legenyem. Perkawinan di antara orang Arfak biasanya banyak diatur orangtua dan para kerabatnya. Ma’ya. Wauyai. Dengan demikian. Tehit. Kemberano. Kuri. Kais. Sekar. Karon Dori. Kawe. Iha. Biga. Meoswar. Kadang-kadang orang sudah dijodohkan sejak kecil. Perkawinan antar keluarga dari pihak ayah dilarang sampi keturunan yang ke-4 dan ke-5. Mpur. As. Yeretuar. tanah adat adalah satu hal yang sangat penting.Tanah adat dalam konsep orang Papua adalah hak milik sekaligus hak atas penguasaannya. Duriankere.

yakni: 1) Subyek hak ulayat. Pengakuan eksistensi hak ulayat oleh UUPA (pasal 3) merupakan hal yang wajar. tanah (untuk mengatur (pembuatan bercocok persediaan pemukiman/persawahan baru dan lain-lain) dan pemeliharaan tanah. hak ulayat tidak bersifat ekslusif. dalam pelaksanaanya hak ulayat mengenal adanya fungsi sosial. LSM dan instansi terkait dengan sumber daya alam. 3) Adanya kewenangan tertentu dari masyarakat hukum adat itu untuk mengelola tanah wilayahnya. Penentuan kriteria keberadaan hak ulayat dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) dengan mengikutsertakan masyarakat hukum adat. mempunyai kewenangan tertentu. dan menyelenggarakan tanam. 2) Obyek hak ulayat. karena hak ulayat beserta masyarakat hukum adat telah ada sebelum terbentuknya negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Hak yang melekat sebagai kompetensi khas pada masyarakat hukum adat berupa wewenang/kekuasaan mengurus dan mengatur tanah seisinya dengan daya laku ke dalam dan keluar disebut sebagai hak ulayat. yaitu masyarakat hukum adat itu yang memenuhi karakteristik tertentu . dapat dikatakan penentu kriteria-kriteria masih ada atau tidaknya hak ulayat dilihat pada tiga hal. mempunyai kekayaan tersendiri terlepas dari kekayaan perseorangan. Dengan demikian. Tetapi mengacu pada konsepsi yang bersumber pada hukum adat. warisan dan lain-lain). mempunyai batas wilayah tertentu. 2) Mengatur dan menentukan hubungan hukum antara orang dengan tanah (memberikan hak tertentu pada subjyek tertentu). dan penggunaan lain-lain). Seperti juga hak atas tanah lainnya. hubungan antara masyarakat hukum adat dan tanah/wilayahnya adalah hubungan menguasai bukan memiliki. Menurut Maria Sumardjono (2006) beberapa ciri pokok kelompok masyarakat hukum adat adalah mereka merupakan suatu kelompok manusia. Jadi. yakni tanah wilayah yang merupakan ruang tempat hidup dan bekerja (Lebensraum) mereka. Hak ulayat tersebut berisi wewenang untuk: 1) Mengatur pemukiman. hak ulayat menunjukkan hubungan hukum antara masyarakat hukum (subyek hak) dan tanah/wilayah tertentu (obyek hak). 3) Mengatur dan menetapkan hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan hukum yang berkenaan dengan tanah (jual-beli. Hal itu berarti bila tanah ulayat diperlukan untuk kepentingan umum ataupun kepentingan lain LAPORAN AKHIR 1-82 . peruntukan dan pemanfaatan serta pelestarian wilayahnya. Menurut Maria Sumardjono (2006). termasuk menentukan hubungan yang berkenaan dengan persediaan. UUPA (Undang-Undang Peraturan Agraria) tidak menentukan kriteria mengenai eksistensi hak ulayat.

bukan dengan cara big logging company (pembabatan hutan oleh perusahaan besar) ataupun HPH (Hak Penguasaan Hutan). Dalam upaya mencapai kesepakatan. maka hak ulayat dapat diberikan pada pihak lain.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Untuk pengembangan ekonomi di Papua Barat. pengembangannya lebih ditekankan pada pendidikan dan ketrampilan berdasarkan karakteristik lingkungan setempat. Ketika berhadapan dengan hak ulayat diperlukan kesadaran dari pihak luar yang berarti harus membuka diri untuk memahami kesadaran hukum suatu masyarakat (yang dalam hal ini masyarakat Papua Barat) yang terwujud dalam tindakan nyata sehari-hari berangkat dari sudut pandang dan pola pikir masyarakat yang bersangkutan. Ahli antropologi. Bukan karena mereka mau mendirikan satu negara sendiri yang lepas dari Republik Indonesia. Di Asmat dimisalkan ada 10 kampung. semacam prakoperasi yang mensuplai kebutuhan kayu untuk bangunan pemerintah. sosiologis dan berwawasan lingkungan. Aditjondro J. pola-pola ekonomi harus ditata dengan LAPORAN AKHIR 1-83 . Misalnya. (2003) mengatakan bahwa dalam pengamatannya selama 10 tahun di Irian Jaya (1977-1987) seringkali protes-protes warga masyarakat terhadap pemerintah atau kelompok lain hanya dilandasi kekhawatiaran mereka bahwa sumberdaya alam mereka tak akan dapat memenuhi kebutuhan mereka maupun anak cucu mereka. Kita bisa belajar dari Missi atau LSM di sana. di setiap kampung ada satu kelompok gergaji tarik. tempat ibadah ataupun memasok kebutuhan kayu untuk bangunan kaum transmigaran. Pemberian bidang tanah ulayat oleh masyarakat hukum adat dapat ditempuh dengan cara dilepaskan selamanya atau diberikan penggunaannya dalam jangka waktu tertentu. Jadi pembangunan di Papua Barat berdasarkan karakteristik dan budaya yang terdapat pada masyarakatnya. tapi oleh komunitas setempat. Mereka telah membangun orang Papua dengan logika dan dinamika orang Papua sendiri. Manfaat yang diperoleh pihak luar hendaknya juga dapat bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup dari masyarakat hukum adat yang bersangkutan. kompensasi yang diberikan kapada masyarakat hukum adat hendaknya mempertimbangkan hilangnya atau berkurangnya sumber daya alam yang menjadi penghidupannya dan hilangnya pusat-pusat budaya dan religi masyarakat hukum adat tersebut. Pembangunan di Papua Barat sebaiknya ditata bersama pemerintah setempat. atau para pendatang memperlakukan sumber daya alam mereka tidak sesuai dengan tradisi penduduk setempat. Dengan kata lain. ahli ekonomi maupun ekologi perlu dilibatkan untuk merekayasa unit-unit kegiatan yang fungsional. Pembangunan di Indonesia Bagian Timur khususnya Provinsi Papua Barat sebaiknya dikhususkan pada segi-segi yang antropologis. pemanfaatan hutan di Papua.

Walau tidak ada hukum formal dalam adat suku-suku ini. manusia dengan alam sekitarnya. termasuk paman. Kampung dan Rumah Menurut adat. Ada satu hukuman yang sangat berat yang berlaku dalam adat suku di Papua Barat yaitu dibunuh tanpa boleh membela diri atau mendapat pembelaan dari siapapun. Apabila daya tampungnya terbatas. Dalam satu rumah biasanya terdapat kamar untuk wanita (meraja) dan kamar pria (meiges) serta sebuah ruang duduk (umersa) di tengah. Suatu rumah dengan suatu tempat khusus untuk upacara dan pesta adat disebut modambau . B. kepala desa dan beberapa tokoh orang tua lainnya. dibangun rumah yang baru. yakni berzina atau melakukan perzinahan dengan seseorang yang masih ada hubungan kekerabatan yang dekat (incest). Hukuman ini disebut ”Hanom-tagawim”. Atap rumah terbuat dari daun pandan . maka kita akan selalu berada dalam konflik dengan sesama. termasuk roh-roh yang hidup di alam serta keharmonisan antara manusia dengan arwah leluhurnya”. Pohon yang digunakan untuk tiang tengah rumah disebut mesiyi (bahasa Meyah). seorang pria yang telah menikah menetap di rumah orang tuanya di tengah-tengah para kerabatnya (yaitu adat virilokal).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 lebih kreatif dan dikembangkan berdasarkan karakteristik ekonomi dan kultur etnis setempat. Norma tersebut di atas mengandung pengertian bahwa bila kita mengabaikan keharmonisan hubungan dengan sesama. Norma yang berlaku dalam adat suku-suku ini adalah ”menjaga keharmonisan antara manusia dengan manusia. Tidak adanya jendela menyebabkan asap pekat dari perapian dari dalam rumah orang Arfak sangat mengganggu pernafasan dan berakibat banyaknya penduduk yang terkena penyakit paru-paru. Rumah dibangun cukup besar dan berbentuk segi empat dan dinding-dindingnya terbuat dari kulit pohon dan tanpa jendela. Bersetubuh dengan saudara sendiri atau istri orang lain. dengan persetujuan ayah dari anakanak pria tadi. kepala kampung. Kelompok kekerabatan terkecil dalam masyarakat Suku Arfak adalah keluarga luas virilokal yang menghuni satu rumah (tumitsen). Budaya Tradisional 1. Satu tumitsen biasanya mempunyai 3-5 kamar. Hukuman ini ditimpakan kepada seseorang yang telah melakukan tindakan hanom. lantai di ruang LAPORAN AKHIR 1-84 . sebanyak pasang suami istri yang ada. kemenakan ataupun ipar. terdiri dari sepasang suami istri bersama keluarga inti dari 3-5 anak pria mereka. tapi jika ada orang yang melanggar suatu hukum adat akan dihukum oleh melalui pengadilan adat yang terdiri dari para kepala klan. sedang lantainya dari belahan nibung atau bambu.

c. Ada tiga macam tarian. Dalam tarian ini para pemuda dan pemudi menyanyikan lagu dan pantun tentang cinta. ada persamaan dalam hal bentuk dan bahan material dari bangunan rumah walau ada sedikit perbedaan dalam hal penggunaan dan pemanfaatan ruangan. dan Anyam-anyaman Ada empat bentuk tarian dalam adat suku ini yaitu: a. merupakan gerakan dua orang yang saling berhadapan muka sambil menghentakkan kaki di tanah bersama-sama. maju dua langkah dan mundur dua langkah seirama dengan lagu yang dibawakan. Weantagawi. merupakan gerakan berputar di tempat. Tarian Pesta LAPORAN AKHIR 1-85 . di dalam sinar nyala api. atau berjalan atau berlari yang dilakukan sambil bernyanyi. Pipakwean. Sebelum masa pendudukan (sivilisasi) sebuah kampung suku Amungme yang cukup besar biasanya terdiri 15 – 20 buah rumah keluarga (Onggoi) dengan 5 – 8 buah rumah laki-laki (Itorei). Tarian ini dapat berlangsung semalam suntuk. Di sini mereka yang saling terpaut hatinya menyatakan kasih sayangnya dengan memberikan suatu benda. Para muda-mudi duduk berhadapan dipisahkan ole tungku api di antara mereka. Ada tarian muda-mudi yang berlangsung di dalam rumah yang disebut Tem. Tarian mudi-mudi Tarian ini diadakan di lapangan terbuka yang disebut Tup. Tup. Seni Tari. d. b. Si pemuda melambai-lambaikan dedaunan kepada gadis yang disukainya dan bila si gadis menghampiri si pemuda sambil mengikuti irama lagu yang dinyanyikan dan menerima dedaunan yang dilambaikan berarti si gadis juga tertarik pada pemuda tersebut (arama emonggop agewin). seirama dengan lagu yang dibawakan. merupakan gerakan berlari mondar-mondir di suatu tempat terbatas. Ukir. Kalau dibandingkan dengan rumah suku Amungme yang hidup di lembah-lembah pegunungan bagian tengah di Irian. Gerakan ini diikuti langkahmengikuti irama. Tem.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 tengah tak dialasai dengan batang-batang nibung sehingga menari dilakukan di atas tanah. 2. yaitu: a. b. Muda-mudi duduk berhadapan muka. Dalam tarian ini para penari membentuk lingkaran sambil menyanyikan lagu-lagu asmara. gerakan ini diadakan di dalam rumah. sambil bernyanyi kaum pemuda memberi daun kepada pemudi dan sebaliknya. dipisahkan oleh tungku apui.

Kemudian mereka mengadakan tarian Tup yang ditarikan sepanjang pesta. yakni : bahasa Matbat. Di provinsi Papua Barat sendiri tercatat ada 67 suku yang mendiaminya. Hatam. Mpur. Wandamen. Legenyem. Warna-warna yang mendominasi yang digunakan dalam kerajinan adalah putih. Biak. Warna merah dibuat dari tanah merah yang digali dari dalam tanah. Provinsi Irian Jaya dan Provinsi Papua Barat tercatat ada 310 bahasa yang digunakan masyarakatnya. Biga. Maden. Yang membedakannya adalah lagu-lagu yang dibawakan dalam tarian perang berisi lagu-lagu perjuangan yang membangkitkan semangat juang. Sedangkan warna kuning dibuat dari akar tumbuh-tumbuhan dan tali-talian hutan. Abun. hitam. breya (anyaman kulit dan bulu burung atau kasuari untuk hiasan kepala). Manikion. kesenangan dan pujian. Karon Dori. merah dan kuning. Moi. Arandai. Warna putih dibuat dari tanah liat. Waigeo.Moskona. Orang-orang datang sambil menyanyi lalu masuk ke lapangan pesta. Di waktu senggang seorang pria Arfak mengukir serta melukis busur dan anak panahnya. Kawe. Kebhinekaan Bahasa di Papua Di Provinsi Papua. Tarian Perang Tarian perang mirip dengan tarian pesta. Kerajinan Seni ukir kurang begitu dominan dalam kebudayaan suku di wilayah Papua Barat. Mereka berdiri membentuk lingkaran dan berputar sambil meneriakkan kata-kata “ka”. C. Ma’ya. LAPORAN AKHIR 1-86 . Seni ukir terbatas pada mengukir anak panah. Seget. arang dapur atau dari buah-buahan hutan. Serat-serat itu diambil dari batang pohonnya kemudian dipintal menjadi benang yang kemudian dengan ini digunakan untuk membuat berbagai barang kebutuhan hidupnya.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tarian ini biasanya dilakukan di lapangan terbuka. Moraid. c. mi’yepa (hiasan kepala yang dianyam memakai manik-manik). Ukiran-ukiran yang khas itu juga dibuat padap perlatan-peralatan perang lainnya. Para wanita dan pria orang Arfak biasanya mengenakan perhiasan yang berupa gelang yang terbuat dari anyaman tali rotan dan disebut liya. As. isi keladi putih yang membusuk atau abu dari tungku api. Meyah. 3. Warna hitam dibuat dari asap lemak babi dan damar. Wauyai. Lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu kegembiraan. Duriankere. Bahasa-bahasa yang digunakan ada 67 bahasa. Hiasan dan busana bagi wanita adalah rumbai-rumbai yang dibuat dari alang-alang dan serat kulit kayu yang diikatkan dipinggang dan kalung manik-manik (gemsya). de’maya (kalung).

bahasa-bahasa di Non-Melanesia di provinsi Papua. Woi. sebagian derah fak-fak dan Kaimana serta kepulauan kepulauan sekitar Kaimana. Loukotka telah melakukan upaya untuk mengklasifikasikan kebhinekaan bahasa di Papua dan dimuat secara singkat oleh A. Suabo. Konda. fila Kuomtari tingkat golongan (lihat peta B). 5) fila Warnbori tingkat isolat. Dapat dikatakan provinsi ini menyimpan potensi sumberdaya manusia dan budaya. Yahadian. yaitu fila bahasa-bahasa Melanesia dan fila bahas-bahasa non-Melanesia. Moeliono dalam bab berjudul ”Ragam bahasa di Irian Barat” dalam buku berjudul Penduduk Irian Barat (1963: hal. yaitu: 1) fila Trans Irian. Di dalamnya terdapat 234 bahasa yang masih diklasifikasikan LAPORAN AKHIR 1-87 . Karas. Tandia. Arguni. Kokoda. Tunggare. Sumberdaya budaya yang dalam hal ini keragaman bahasa perlu mendapat perhatian untuk dikembangkan terlebih dahulu sebelum pengembangan sumberdaya alam dan sumberdaya penduduk Papua Barat itu sendiri untuk mendukung kegiatan pembangunan di provinsi Papua Barat. Iha. Seorang ahli bahasa bernama C. Provinsi Papua berada di deretan Kepulauan Melanesia yang melingkar mulai dari kepulauan di sebelah Timur-laut Papua dilanjutkan ke arah Timur benua Australia hingga kepulauan Fiji di sebalah Utara Selandia Baru. 3) fila Teluk Cendrawasih. Mor. 33-35). Mairasi. Kamoro. Irarutu. provinsi Irian Jaya dan Provinsi Papua Barat terdiri dari 9 fila. Kamberau. Pulau Numfor derah sekitar Manokwari. 8) fila Sko tingkat golongan. Dusner. Kowiai. yaitu daerah bagian belakang leher burung danpulau-pulau yang berhadapan dengan daerah pantai Waropen. 1994). Meoswar. Ekari. Ansus. 2) fila Papua Barat. Sedangkan bahasa-bahasa non-Melanesia yang digunakan di Papua adalah khas Papua yang tidak mempunyai hubungan linguistik dengan bahasa-bahasa di luar Papua dan Papua Niugini.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kaburi. Di seluruh Papua dapat digolongkan ke dalam bahasa-bahasa Melanesia. Buruai. Yeretuar.M. 7) fila Pauwi tingkat isolat. Alor. Tehit. Puragi. Persebaran fila bahasa-bahasa Melanesia di ke tiga provinsi ini terlihat di peta B. dan Mapia. Sekar. Waropen Bawah dan Atas di sekitar Waren. derah Yapen Timur dan Barat serta pulaupulau sekitarnya. Uruangnirin. Kalabra. Kais. Mer. Onin. Baham. Kemberano. Roon. kecuali dengan bebereapa bahasa di pulau Timor. Menurut klasifikasi Loukotka ada paling sedikit 31 golongan bahasa di Papua. Pantar dan Halmahera Utara (Koentjaraningrat. Semimi. Mai Brat. Tanahmerah. Yaur. 4) fila Kepala burung bagian Timur tingkat golongan. Erokwanas. 6) fila Taurap (Borumeso) tingkat isolat. Kuri. Berdasarkan pembagian fila. Bedoanas. sebagian besar kepulauan Raja Ampat. Iresim. Pom. daerah kepulauan Biak-Suntori. Bahasa-bahasa di provinsi Papua dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan besar yang oleh ahli linguistik disebut phylum (fila).

5. bahasa Madik dan bahasa Karon adalah bahasa-bahasa yang berbeda dan oleh para ahli linguistik dimasukkan dalam satu golongan yaitu fila Papua Barat. Iha. yaitu Onin. Mer. e. Buruwai. c. 1.5 ASPEK EKONOMI WILAYAH 1. d. Irasutu. Bahasa Maibrat. Bedoanas. yang mendekati pembagian administratif dan provinsi ke dalam 10 kabupaten yaitu: a.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 juga secara geografikal. g. Menurut Index of Irian Jaya Language.1 Peranan dan Kontribusi Perekonomian Wilayah Provinsi Papua Barat dalam Konteks Nasional LAPORAN AKHIR 1-88 . ada 22 bahasa dan beberapa diantaranya termasuk fila Austronesia-Melanesia. Semini dan Kamoro. Mor. Di samping itu pemahaman terhadap bahasa-bahasa di provinsi Papua akan dapat mengurangi kesalah pahaman serta konflik yang mungkin timbul diantara penduduk asli dengan pihak-pihak luar yang berkaitan dengan perencanaan dan pembangunan di wilayah ini. Baham. Arguna. Koiwai. Erokavanas. Bahasa Hatam dan Moile termasuk fila Kepala Burung Bagian Barat sedang bahasa Meyah dan Manikion adalah fila Kepala Burung Bagian Timur. mainasi. Tetapi ada 13 bahasa yang sama sekali berbeda golongannya. i. Sekai. j. b. Mairasi. Uruangnirin dan Yaier. Kokoda. f. Karas. Pengetahuan terhadap keragaman bahasa-bahasa di provinsi Papua Barat memang mutlak diperlukan untuk dapat mengkomunikasikan kepada penduduk tentang dan turut berpartisipasi di dalam perencanaan pembangunan serta manfaatnya khususnya progam-progam yang ada dalam RTRW Papua Barat agar mereka berperan serta Barat pembangunanan. Kamberau. yaitu golongan Fila Trans Irian yaitu Suabau. Sebagai contoh misalnya bahasa-bahsa di kabupaten Fakfak. h. Bahasa-bahasa di Kabupaten Sorong Bahasa-bahasa di Kabupaten Manokwari Bahasa-bahas di Kabupaten Biak-Numfor Bahasa-bahasa di Kabupaten Paniai Bahasa-bahasa di Kabupaten Fakfak Bahasa-bahasa di Kabupaten Irian Jaya Barat-daya Bahasa-bahasa di Kabupaten Jayapura Bahasa-bahasa di KabupatenJayawijaya Bahasa-bahasa di Kabupaten Merauke Bahasa-bahasa di Kabupaten Irian Jaya Tenggara Penggolongan bahasa menurut kabupaten itu berbeda dengan klasifikasi berdasarkan asas-asas linguistik.

1. tiap lapangan usaha memiliki kontribusi tidak lebih dari 1%.775.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2005.785.968.5. dan Jasa Jasa-jasa Total PDRB Papua Barat (dalam ribu Rupiah) 2.79 137.149 0. Nilai PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan juga menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.034. nilai PDRB Provinsi Papua Barat menempati ranking ke 29 dari 33 Provinsi di Indonesia dan menyumbang sekitar 0.205 0.154. meningkat 177% dibandingkan tahun 2000 yaitu Rp.20 276.70 230. Meskipun demikian.370. Provinsi Papua Barat memiliki pendapatan per kapita pada tahun 2005 sebesar Rp 12.879.296. Beberapa sektor unggulan seperti pertambangan dan perikanan memang diekspor ke luar wilayah.29% PDRB Nasional.20 180.10 771.11 1. menempati peringkat ke-5 dari 33 provinsi.91 PDRB Indonesia (dalam juta Rupiah) 363.984.179 0. yaitu dari perikanan dan pertambangan.90 430.289 0.80 308. PDRB Provinsi Papua Barat mencapai 8.67 565.580. Gas.724.176.94 triliun rupiah.40 Persentase PDRB Papua Barat terhadap PDRB Indonesia Tahun 2005 dirinci per Lapangan Usaha Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.037.496 0.13 508.29 39.944. Persewaan. Secara umum. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan.928. 6.00 2. orientasi untuk meningkatkan perekonomian dapat dikatakan masih sebatas untuk memenuhi kebutuhan ekonomi wilayah ini. Kekayaan alam yang berlimpah terutama di sektor primer Apabila ditinjau dari pendapatan per kapita.528.072.27 7.201.587.2 Struktur Ekonomi Wilayah Provinsi Papua Barat PDRB dan Perkembangannya Berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku.050.281 0.717. 2006 Dekripsi lebih dalam tentang kontribusi Provinsi Papua Barat dapat ditunjukkan dengan presentase tiap lapangan usaha terhadap PDRB Indonesia.000.40 Kontribusi (%) 0.89 622. Hal ini berarti bahwa peningkatan PDRB di Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-89 . Kontribusi terbesar kepada Indonesia oleh Provinsi Papua Barat adalah pada sektor primer sebesar 1.152.50 195.903. pendapatan per kapita ini tidak dapat digunakan untuk mengukur pendapatan di lapangan.00 769.693.592 0. Angka ini menunjukkan.089.76 1.223.225 0.088%.00 26.568.284 Sumber : BPS.339.059 0. Tabel 1.

551.49 121. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tahun 2000 adalah sebesar 3.92 125.903.32 4.18 5.19 140.53 4.601.333.403. Selisih antara PDRB Papua Barat dengan migas dan tanpa migas berdasarkan atas harga berlaku mencapai lebih dari 1 triliun.76 Perkembangan (%) 100.13 PDRB atas Dasar Harga Konstan Jumlah (Juta Rp) 3.4 kali lipat antara kurun waktu 2000-2006. Tabel 1.94 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber: Papua Barat Dalam Angka 2009. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tersebut berkembang sebesar 1.59 116.89 4.00 109.02 315. PDRB Provinsi Papua LAPORAN AKHIR 1-90 .201.03 262.391.969.23 5 934 315.104.256.51 triliun pada tahun 2006.627.17 5.70 226.089.89 4.28 10 369 836.206.537.41 PDRB Provinsi Papua Barat Atas dasar Harga Berlaku dan Konstan 20002008 Tahun PDRB atas Dasar Harga Berlaku Jumlah (Juta Rp) 3. Berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku.91 8.03 140.796.957.601.304.11 12 471 605.31 Perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat Tahun 2000-2006 Besar sumbangan migas untuk PDRB Papua Barat mencapai sekitar 20 persen sehingga sangat mempengaruhi perekonomian di Papua Barat.846.204.597.576.91 4.22 Perkembangan (%) 100.297.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bukan hanya karena dampak inflasi namun menunjukkan kenaikan produksi yang nyata.98 4.34 5.00 103.17 199.38 166.27 149.304.22 6.34 108.9 triliun. perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat tanpa migas setara dengan perkembangan PDRB dengan migas.945.957.56 134.95 160. terus meningkat setiap tahunnya hingga menjadi sebesar 5.555.82 6 369 374. hasil perhitungan Gambar 1.370.38 7.

42 PDRB Provinsi Papua Barat Atas dasar Harga Berlaku dan Konstan Tanpa Migas Tahun 2000-2006 PDRB atas Dasar Perkembangan PDRB atas Dasar Perkembangan Harga Berlaku (%) Harga Konstan (%) Jumlah (Juta Rp) Jumlah (Juta Rp) 2000 2.90 114.30 3.45 100.12 106. PDRB Papua Barat tanpa migas atas dasar harga konstan tahun 2000 adalah sebesar 2.802. Sebelumnya.06 128. Nilai PDRB Papua Barat tanpa migas atas dasar harga konstan juga menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. terus meningkat setiap tahunnya hingga menjadi sebesar 4.996.431.00 2.817.417. hasil perhitungan Tahun Gambar 1.221.12 2005 5.81 triliun rupiah.43 122. sedikit di atas bawah PDRB dengan migas yang sebesar 1.75 3.665.265.00 50.00 2001 3.42 3.147.89 2006 6.15 146.00 165.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 PDRB ADH Berlaku Tanpa Migas PDRB ADH Konstan Tanpa Migas LAPORAN AKHIR 1-91 .367.448.795.96 130.137. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tersebut berkembang sebesar 1.817.11 149.23 226.912.02 2.700.281.617.669.42 2004 4.2 triliun rupiah pada tahun 2006.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Barat tanpa migas pada tahun 2006 menurut harga berlaku mencapai 6.434.88 3.02 4.147. pada tahun 2000 besar PDRB adalah 2.45 100.00 200.183.32 Perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 20002006 250.18 113.15 192.206.34 2003 4.289.903.36 triliun rupiah.49 kali lipat antara kurun waktu 2000-2006.835.00 100.834.642.32 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007.69 138. Setiap tahunnya PDRB Papua Barat tanpa migas menurut harga berlaku selalu meningkat.8 triliun rupiah.4 kali lipat. Tabel 1.00 150.00 0.38 2002 3.

Rata-rata pertumbuhan dalam kurun waktu tersebut untuk PDRB atas dasar harga berlaku adalah sebesar 14.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pertumbuhan ekonomi Papua Barat selalu berada dalam kondisi positif dalam kurun waktu tahun 2000 hingga 2006. 43 Pertumbuhan PDRB Provinsi Papua Barat 2000-2006 Dengan Migas Tanpa Migas Atas Dasar Atas Dasar Atas Dasar Atas Dasar Harga Berlaku Harga Konstan Harga Berlaku Harga Konstan 2001 9. hasil perhitungan Tahun Pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan juga selalu menunjukkan angka yang positif.85 6. Tabel 1.07 13.63 7.56 5. sektor nonmigas mengalami kenaikan produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor nonmigas.04 7.08 11. Analisis pertumbuhan PDRB tanpa migas menunjukkan hasil yang berbeda. Sementara itu dari segi produksi.56% dan angka pertumbuhan setiap tahunnya yang terus meningkat. Angka rata-ratanya juga menunjukkan angka yang lebih rendah.29 2005 20.74 persen pada tahun 2005.34 13.39 12. namun lebih fluktuatif. Sementara itu. Angka rata-rata pertumbuhan selama tahun 2000 hingga 2006 adalah sebesar 5.02 6. namun kemudian pertumbuhannya melambat menjadi 6.02 6. Pertumbuhan setiap tahunnya terus meningkat hingga mencapai 7.83 7.49 3.48 6.38 2002 10.03 4.37 7.74 16.06 2004 18. LAPORAN AKHIR 1-92 . angka pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan justru menunjukkan rata-rata pertumbuhan yang lebih tinggi dan angka pertumbuhannya juga lebih fluktuatif dibandingkan dengan PDRB dengan migas atas dasar harga konstan.17 6.68 14. Angka pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku tanpa migas lebih fluktuatif dibandingkan PDRB dengan migas.38 7.69 5.91 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.74 2006 13.68 persen pada tahun 2003.50 r 14.08 persen. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2000 hingga 2006 sektor migas mengalami inflasi yang cukup tinggi dibandingkan dengan sektor nonmigas.49 2003 15.66 13.

65 2.46 5.13 12.73 6. Tabel 1.36 0.38 9.20 6.39 6.13 9.56 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007. dan Jasa -6.25 8.71 13.14 8.75%.40 1.68 7.64%.00 5.93 14.26 12.61 13.34 8.11 -0.44).09 3.48 9. Persewaan.29%.10 21.34 5.66 Primer 0.04 30.43 4.43 Pertambangan dan Penggalian -4.91 17.14 9. Sektor pertambangan dan penggalian memiliki angka pertumbuhan yang paling rendah yaitu sebesar 1.14 1. Kelompok sektor sekunder yang terdiri dari industri pengolahan listrik.95 11.44 Pertumbuhan PDRB Papua Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000-2006 Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 4.79 8.59 15.83 9.29 5.65 11.95 9.17 5.87 10.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.97 10.94 1.80 2.90 9.97 2.31 PDRB 3.90 3.84 5.00 15.73% disusul dengan sektor jas-jas yaitu sebesar 9.07 3.00 0. gas.69 4.25 Bangunan 6.28 10.76 8.94 Tersier 7.75 14.77 Industri Pengolahan 6. dan air minum serta bangunan memiliki angka pertumbuhan yang sebesar 8.52 9.49 Angkutan dan Komunikasi 11.14%.52 Listrik. Gas. Sementara itu sektor tersier yang terdiri dari sektorsektor sisanya memiliki angka pertumbuhan tertinggi yaitu 9.00 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Dengan Migas Atas Dasar Harga Berlaku Dengan Migas Atas Dasar Harga Konstan Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan Rata-rata pertumbuhan PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan pada kurun waktu 2000-2006 adalah sebesar 5.13 8.23 2.75 9.91 2. Kedua sektor ini menjadi sektor dengan angka pertumbuhan di bawah angka pertumbuhan PDRB Provinsi Papua Barat.07 7.07 Jasa-jasa 8.00 10.77 8.77 9.48% (lihat Tabel 1.34 -1.29 Sekunder 6. Hal ini menjadikan kelompok sektor primer memiliki angka pertumbuhan yang paling rendah dibandingkan dengan kelompok sektor lainnya.87 8.33 7.54 5.38 8.84 Keuangan.06 Perdagangan 7.03 8.33 13.19 9. dan Air Minum 7.00 9.35 3.78 4.91 7. hasil perhitungan r 4.89 5. Jika dilihat pertumbuhan tiap-tiap sektor maka sektor angkutan dan komunikasi mengalami pertumbuhan yang tertinggi yaitu sebesar 12.74 4.34 2.55 3.82 7.33 Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Papua Barat Tahun 2000-2006 25.72 12.64 LAPORAN AKHIR 1-93 .00 20.14% diikuti sektor pertanian sebesar 4.91 10.85 9.

dan Jasa -6. hasil perhitungan r 4.49 9.43 Pertambangan dan Penggalian 8.74 6.14 9.38 7.21 13. aktivitas sekunder pada migas yang berupa kegiatan lanjutan memanfaatkan hasil dari sektor primer cenderung mengalami peningkatan.91 2.36%).76 8.78 9.82 7. Hal ini menunjukkan bahwa sekitar 24% industri pengolahan di Provinsi Papua digerakkan oleh kegiatan di sektor migas.95 5.07 9.97 2.94 7.14 9. Gas.75 9.77 7.26 7.25 8.11 4. Hal ini menyebabkan pertumbuhan kelompok sektor primer tanpa migas menjadi lebih tinggi dibandingkan denga migas.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pertumbuhan PDRB tanpa migas atas dasar harga konstan menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB dengan migas yaitu sebesar 9.17 5.741 triliun (19.33 7.06 6. 45 Pertumbuhan PDRB Papua Barat Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan 2000-2006 Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 4.53 5.07 3.35 Industri Pengolahan 7.91 4.00 9.74 7.84 5.53 Tersier 7.06 Perdagangan 7. sedangkan pertumbuhan kelompok sektor sekunder menjadi lebih rendah.97 10.13 12.46 5.49%.13 8.38 8.49 Angkutan dan Komunikasi 11.84 Keuangan. Tabel 1.23 6.87 10.67 Sekunder 7. sektor industri pengolahan dengan mengeliminir subsektor industri pengilangan minyak dan gas bumi memiliki angka yang menjadi lebih rendah yaitu sebesar 6.60 5.16 Listrik.48 9.29 6.72 12.61 13.20 6.20 10.64%.19 9.25 Bangunan 6.34 2.56 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.79 8.65 5.04 30.91 7.50 Primer 4. Sebaliknya.13 7.28 10.16 persen kepada PDRB berlaku Provinsi Papua Barat tahun 2006 diikuti oleh sektor industri pengolahan yang sebesar 1.29 6.06 7.38 9.73 6.77 9.46 PDRB Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Lapangan Usaha PDRB Atas PDRB Atas Dasar LAPORAN AKHIR 1-94 .31 PDRB 6.26 12. Sektor pertanian merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu sebesar 2.03 8.07 Jasa-jasa 8.47%) dan sektor pertambangan dan penggalian yang sebesar 1.552 triliun (17.13 9.42 5.98 8.27 3.83 9.66 10.93 14. dan Air Minum 7.34 8. Sementara itu.09 3. Persewaan.75 14.65 11. Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa kegiatan primer pada sektor migas yang bergantung pada bahan baku mengalami kecenderungan perlambatan.49 7.90 9.57 6.95 11.429 triliun rupiah atau sebesar 27.33 13.91 10.64 PDRB dan Kontribusi Sumbangan setiap sektor dalam PDRB dapat menunjukkan komposisi perekonomian di wilayah tersebut. Tabel 1.05 2.85 9.89 5.

859.56 6. lebih kecil dari 1% baik menurut PDRB atas dasar harga konstan maupun berlaku.06 684 491.91 1 817 444.83 39.70 Listrik.32 10.978.09 2.34 0.44 31.50 1. LAPORAN AKHIR 1-95 . Listrik.07 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka Tahun 2009.916.58 8.66 23.55 27.78 Sekunder 4. Sementara itu industri pengolahan memiliki besaran produksi yang lebih rendah namun memiliki nilai yang lebih tinggi.474.70 10.99 Perdagangan 1 290 421.53 Angkutan dan Komunikasi 866 875.15 Tersier 3.74 872 426. Gas.23 572 822.953.465.54%).00 6 369 374.65 9.13 24.00 Primer 4.13 8.02 17.036.033.052.70 14.26 2.95 473 536. gas.02 10. Persewaan.35 670 818.48%) dan lapangan usaha industri pengolahan (13.38 22.48 0.10 28.53 29 098.46 Bangunan 1 150 834. dan air minum memberikan kontribusi terkecil. dan Jasa 302 327.75 PDRB 12 471 605.53 Pertambangan dan Penggalian 1 846 593.72 2.76 100. menunjukkan tingkat ketersediaan dan tingkat penggunaan dari infrastruktur dasar yang masih rendah di Papua Barat.78 1.12 45. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian dan pertambangan penggalian memiliki jumlah yang tinggi jika dilihat dari segi produksi.36 Jasa-jasa 1 005 409.712.37 32. Sektor pertanian tetap merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu sebesar 29. dan Air Minum 66 030.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dasar Harga Berlaku Harga Konstan Jumlah % Jumlah % Pertanian 3 107 119.31% kepada PDRB konstan Provinsi Papua Barat kemudian oleh pertambangan dan penggalian (19.991.46 7.22 100.25 Industri Pengolahan 2 835 994.43 Keuangan.81 1 098 592.05 13. hasil perhitungan Terdapat perbedaan kontribusi bila menggunakan PDRB atas dasar harga konstan.42 150 145.346.

Besarnya kontribusi sektor primer yang hingga mencapai angka 44. Sektor perdagangan memiliki kontribusi terbesar kedua yaitu sebesar 508 miliar atau 14. Terdapat perbedaan jika menggunakan angka PDRB atas dasar harga berlaku.35 PDRB Papua Barat per Kelompok Sektor Tahun 2008 Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Konstan 2000 Analisis dengan mengeliminir migas menunujukkan beberapa perbedaan.52 persen dapat menunjukkan bahwa sektor ini merupakan sektor vital yang menjadi penopang utama perekonomian di Papua Barat. Kontribusi LAPORAN AKHIR 1-96 . PDRB tanpa migas atas dasar harga berlaku untuk sektor pertanian menjadi sektor dengan kontribusi tertinggi yang angkanya mencapai 2.34 PDRB Papua Barat per Sektor Tahun 2008 ADH Berlaku Kontribusi kelompok sektor utama dalam ekonomi berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku menunjukkan sektor primer yang terdiri dari pertanian dan pertambangan dan penggalian sebagai sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu 3.152 triliun atau sebesar 39.52%). Sektor sekunder ada pada posisi berikutnya dan kemudian diikuti oleh sektor tersier.20 persen.74%. Gambar 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.982 triliun (44. Sektor primer tetap menjadi sektor dengan kontribusi tertinggi namun diikuti oleh sektor tersier baru kemudian sektor sekunder.

39 22.36 397041.53 PDRB Atas Dasar Harga Konstan Jumlah (juta RP) % 1627118.141.11 Primer 2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sektor pertambangan dan penggalian turun drastis dari 17.24 925.06% 10. Gas.38 734.75 715.60 1.7 13.804.458.82 38.48 561814. Kontribusi sektor industri pengolahan tadinya sebesar 19.41 39.26 2.289.496.36% turun menjadi 1.367.70 21.434.59 440813.15 67.430.21 1.24% Berdasarkan kelompok sektor utama.587. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan. dan Air Minum Bangunan Perdagangan 14.79 0.96 10.204.43 38.15% Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.458 miliar.413.75% Angkutan dan Komunikasi Keuangan.59 100 39.44 94706.06 649.42 miliar rupiah.60 24616. sedikit lebih rendah dibandingkan dengan jika memperhitungkan migas.87 0.20% 0.221.429.53 14.669.06% atau hanya sebesar 67.038.47 PDRB Provinsi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 2006 Lapangan Usaha PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Jumlah (juta Rp) % 2.54% 1.23 100 4.206.93 9.32 Tersier 2.644.226. hasil perhitungan Gambar 1.17 13.64 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.54 646.01 10. Gas. Persew aan.22 11.19 911.496 triliun rupiah. dan Jasa Jasa-jasa 11.20 48.15 151.60% atau LAPORAN AKHIR 1-97 .49 10.457.53% 2. Tabel 1.36 PDRB Papua Barat per Sektor Tanpa Migas Tahun 2006 Pertanian 11.59 1.62 1.20 persen atau sebesar 649. Begitu pula dengan sektor industri pengolahan meskipun tidak sejauh pada sektor pertambangan penggalian.38% 10.166.21% atau senilai 2.91 38.42 10. dan Jasa Jasa-jasa PDRB 6.59 11. Sektor tersier memiliki kontribusi sebesar 38.625.420.560. sektor primer menjadi sektor dengan kontribusi sebesar 39.66 38.15% 38.68 42867.47 persen turun menjadi sebesar 10.53 Sekunder 1.26 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.986.121. Persewaan.02 445795.46 2.25 571658.

42 15. sebaliknya sektor pertambangan dan penggalian terus menurun.71 19.51 13. Gambar 1.24 25.53 11.45 18.36 19.1 2008 24. Jika dilihat dari PDRB tanpa migas atas dasar harga konstan. Adanya perubahan ini seiring dengan meningkatnya angka pertumbuhan pada sektor industri pengolahan tiap tahunnya dan pertumbuhan yang lambat dari sektor pertambangan dan penggalian.77 21.37 PDRB Papua Barat per Kelompok Sektor Tahun 2006 38. Antara tahun 2000-2006 perubahan menonjol terjadi pada sektor pertambangan penggalian dan industri pengolahan.97 2006 27.457 triliun rupiah.94 2004 29. Kedua sektor ini memang seolah-olah bertukar posisi.86 18.31 19. komposisinya juga memberikan angka komposisi yang cenderung setara dengan PDRB tanpa migas atas dasar harga berlaku.90 2005 27.20 19.16 17.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sebesar 2.48 Persentase Tiap Sektor Ekonomi dalam PDRB Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2000-2008 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan 2000 32. Tabel 1.47 2007 26. Sektor sekunder memberikan kontribusi terendah yaitu sebesar 22.85 13.7 LAPORAN AKHIR 1-98 .8 1 22.9 1 14.77 2003 31.21% 22.75 2002 32. Kontribusi sektor industri pengolahan terus meningkat.63 2001 32.60% 39. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan produksi dan inflasi sektorsektor di luar migas bergerak secara sebanding.6 4 15.9 8 20.413 triliun rupiah.19% Primer Sekunder Tersier Pergeseran Struktur PDRB Provinsi Papua Barat PDRB Papua Barat yang ditampilkan secara time series dapat menjadi salah satu alat untuk mengetahui apakah terjadi perubahan atau pergeseran struktur ekonomi di wilayah tersebut.50 18.19% atau sebesar 1.

28 1.52 28.3 5 6. Gas.56 21.0 47.23 10.06 100.61 10.86 5.38 6.22 1. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan.38 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tahun 2000-2006 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Jasa-jasa Keuangan.02 9. LAPORAN AKHIR 1-99 .78 100. sektor primer tetap merupakan sektor yang dominan dalam kurun waktu 2000 hingga 2006.0 52.59 8.88 100.34 26.42 8.37 6.25 2008 4 0. Meski demikian sektor primer memiliki kontribusi yang terus menurun.01 27.96 26.64 2001 0.39 2004 0.02 100.54 100.48 100. hasil perhitungan Gambar 1.13 5.81 7.71 100.56 8.41 7.78 9.0 50.72 6.6 2 29.69 8.91 8.35 7.80 6.03 Lapangan Usaha Listrik.03 26.58 persen pada tahun 2005.67 8. dan Jasa Jasa-jasa PDRB Primer Sekunder Tersier 2000 0.87 2006 0.5 8 7.0 39.38 1.44 2.95 2.91 1.0 44. dan Jasa Angkutan dan Komunikasi Perdagangan Bangunan Listrik.01 6.96 10.19 26.77 persen pada tahun 2000 menurun menjadi 44.62 25. Persewaan.92 24.60 4.50 27.28 23.07 8.15 9.0 57. Gas.00 10.50 7. Kontribusi sektor primer adalahs sebesar 57.59 23.60 8.81 2002 0. Kedua sektor tersebut memiliki angka pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB secara total.89 1.54 8.53 9.42 1.29 1.2 7 28.72 32.54 8. dan Air Minum Industri Pengolahan Pertambangan dan Penggalian Pertanian Jika dilihat dari kelompok sektor.0 46.47 2007 0 0.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2003 0.59 8. Hal ini adalah akibat dari lebih rendahnya pertumbuhan sektor pertanian dan pertambangan penggalian yang termasuk ke dalam kelompok sektor primer dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.51 27. Persew aan.01 2005 0.43 6.93 100.77 18.28 20.47 6.21 100.0 54.0 42.67 9.1 1 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka Tahun 2009.

07 2.43 0.75 11.78 41.94 1.31 43.35 2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.63 20.85 11.54 10.72 42. dan Air Minum 0.52 0.89 20.72 2006 38.58 0.05 10.38 11.23 9.73 10.54 0.80 Angkutan dan Komunikasi 6.63 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.60 Sektor sekunder menunjukkan terus mengalami peningkatan.21 22.60 43. hasil perhitungan 2005 39.85 11.91 11.29 44.89 0.00 39.04 10.83 8.16 2.07 13.15 2.00 100.45 8. jauh di atas sektor-sektor lainnya namun cenderung LAPORAN AKHIR 1-100 .83 Listrik. Persewaan.53 100.88 Tersier 33.64 11.59 37.39 Pergeseran Kelompok Sektor Ekonomi Papua Barat Tahun 2000-2006 100% 80% 60% Tersier Sekunder Primer 40% 20% 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tabel 1.17 9.20 0.00 100.69 21.00 Primer 46.87 7. Gas.59 persen pada tahun 2000 menjadi 28.00 100.01 persen pada tahun 2006. Sementara itu kontribusi sektor tersier bergerak naik turun pada kisaran angka 23% hingga 28% setiapa tahunnya.42 14.21 33.80 35. Dieliminirnya non migas praktis menjadikan sektor pertanian menjadi sektor paling vital bagi perekonomian Papua Barat.19 38.48 44.49 Persentase Tiap Sektor Ekonomi dalam PDRB Papua Barat Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2000-2006 Lapangan Usaha 2000 2001 2002 2003 2004 Pertanian 45.87 0.76 20.24 14.01 11.40 Perdagangan 12.26 9. Sektor industri pengolahan yang terus tumbuh dan meningkat menjadi faktor tingginya kontribusi sektor sekunder.52 0.69 Jasa-jasa 11.36 2.55 100.48 Pertambangan dan Penggalian 0.01 Industri Pengolahan 10.06 10.65 1.15 1.93 10.43 36.35 9.42 13.49 Sekunder 20.44 13.30 9.46 11.16 45.37 42.76 34. dari 18.00 100.08 12. dan Jasa 2.94 0.77 11.86 20.85 Keuangan.33 7.66 Bangunan 9.29 PDRB 100.13 2.00 40.

Dieliminirnya migas praktis menjadikan sektor primer bertumpu hampir sepenuhnya pada sektor pertanian. Peran sektor pertambangan dan penggalaian turun drastis hingga berkisar pada angka 1 persen.78 persen pada tahun 2005. Dilihat dari kelompok sektor. Gas.21% dan tahun 2006 menjadi sebesar 38.19%. Kontribusi sektor primer adalah sebesar 46. Kontribusi sektor primer tanpa migas lebih rendah dibandingkan dengan kontribusi sektor primer dengan migas. Hal ini adalah akibat dari lebih rendahnya pertumbuhan sektor pertanian dibandingkan sektor-sektor lainnya. Gambar 1.60%. Besar kontribusinya juga terus meningkat setiap tahunnya. sektor primer sebagai sektor yang dominan dalam kurun waktu 2000 hingga 2006 di Provinsi Papua Barat. dan Jasa Angkutan dan Komunikasi Perdagangan 60% Bangunan Listrik.16 persen pada tahun 2000 menurun menjadi 40.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 menurun.41 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 2000-2006 80% 60% Tersier Sekunder 40% Primer 20% LAPORAN AKHIR 1-101 2001 2002 2003 2004 2005 2006 0% 2000 . Persew aan. 100% Gambar 1. Sementara itu sektor tersier memiliki kontribusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontribusinya ketika memperhitungkan migas. Meski demikian sektor primer memiliki kontribusi yang terus menurun.40 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 20002006 100% Jasa-jasa Keuangan. dan Air Minum 40% Industri Pengolahan Pertambangan dan Penggalian Pertanian 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 80% 20% Sektor sekunder bergerak pada angka yang relatif tetap yaitu memberikan kontribusi yang berkisar pada angka 20% pada tahun 2000 hingga 2004 dan sedikit mengalami kenaikan pada tahun 2006 menjadi 22. Kontribusinya pada tahun 2000 adalah sebesar 33.

LAPORAN AKHIR 1-102 . Pembagian ke dalam ketiga sektor tersebut berdasar pada asal terjadinya proses produksi. 1) Pertanian Sektor pertanian merupakan sektor paling dominan di Provinsi Papua Barat. sektor angkutan dan komunikasi.3. dan sektor jasa-jasa. Subsektor kehutanan dan perikanan merupakan subsektor yang paling berpengaruh pada sektor pertanian di Papua Barat.24% dari PDRB Papua Barat pada tahun 2000.5. Sementara itu sektor-sektor yang termasuk dalam kelompok sektor tersier adalah sektor perdagangan. Kelompok sektor primer terdiri dari sektor pertanian dan sektor pertambangan penggalian. Meski demikian sektor ini mengalami kecenderungan memiliki kontribusi yang menurun. listrik dan air minum serta sektor bangunan. persewaan.57 triliun rupiah namun dari segi persentase kontribusi menurun menjadi 29. dan tersier. Perikanan dan kehutanan adalah subsektor yang paling menonjol dari sektor pertanian di Provinsi Papua Barat.5.1 Sektor Primer Sektor primer merupakan sektor dengan sektor yang selama ini dominan di Provinsi Papua Barat. Sektor pertanian di wilayah lainnya di Indonesia umumnya bergantung pada pertanian tanaman pangan dan perkebunan. dan jasa perusahaan.66%. hotel. Pertumbuhan kedua sektor yang termasuk dalam sektor primer yaitu pertanian dan pertambangan penggalian termasuk yang paling lambat jika dibandingkan dengan sektor lainnya. sektor ini memiliki kontribusi sebesar 1. Pada tahun 2005 meningkat menjadi 1. Berdasar atas PDRB atas dasar harga konstan. Secara fisik. dan restoran. sektor keuangan.27 triliun rupiah atau 32.3 Tinjauan Ekonomi Sektoral Tinjauan ekonomi sektoral berusaha melihat ekonomi wilayah Papua Barat dilihat dari 3 kelompok sektor utama yaitu sektor primer. 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Sektor sekunder terdiri dari sektor industri pengolahan. sekunder. Papua Barat memang kaya akan hutan dan dikelilingi oleh lautan.

58 15. dan Perikanan Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Lapangan Usaha PERTANIAN.85 98. Padahal untuk Papua Barat. PETERNAKAN.5 Perikanan 457877. Metroxylon sago). Terlebih karena. Jika dikembangkan.543 2.58 11.64 9.66 4.24 1573097.63 98. memanfaatkan langsung dari alam.28 KEHUTANAN & PERIKANAN 1. kemiskinan merupakan salah satu isu utama di Provinsi Papua Barat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Sifat dari pertanian pada subsektor kehutanan dan perikanan lebih bersifat ekstraktif. Tabel 1.57 590345.52 1.87 148870.52 263602.991 2.4 Kehutanan 430664.14 10.18 2.85 1.1 Tanaman Bahan Makanan 218261.18 10.080 2.279 871 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 31. Kehutanan.13 5.336 1.43 100.72 1. ketiga susbsektor ini sebenarnya dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas.3 Peternakan & Hasil-hasilnya 55366.137 855 2005 Produksi (ton) 24. Tabel 1.58 10. Hal ini adalah akibat dari kebijakan pemerintah yang menjadikan nasi sebagai salah satu indikator kemakmuran dan menjadikannya sebagai bahan makan pokok secara nasional.21 Luas Panen (Ha) 11 467 1 070 2 052 1 524 958 1 624 560 2008 Produksi (ton) 39 537 1 711 23 071 15 341 979 1 740 557 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 34. Sementara itu subsektor tanaman pangan.88 487106.94 110.897 19. 2000 Jumlah % 2005 Jumlah r % 1275948.54 10.34 32. Peternakan.58 9.51 Luas Panen. Produksi dan Rata-Rata Produksi Pertanian Tanaman Pangan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Jenis Pertanian Luas Panen (Ha) Padi sawah dan padi ladang Jagung Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau 7.94 5.49 1.317 25. hasil perhitungan Pertanian Tanaman Pangan Tanaman pangan pokok di Papua Barat pada umumnya adalah tanaman sagu (Metroxylon rumphii.48 15. masyarakatnya sebenarnya tidak terbiasa membudidayakan padi namun kemudian beralih.72 9.40 83172.78 1.093 2.86 2. perkebunan.81 5.66 10.54 4.95 Sumber : Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 LAPORAN AKHIR 1-103 .02 111.823 2.67 10 Luas Panen (Ha) 8545 1947 1963 2170 1937 1819 925 2006 Produksi (ton) 27518 3120 21913 21405 1856 1917 944 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 32. tanaman sagu tergeser oleh nasi.2 Tanaman Perkebunan 113777.50 Jumlah Produksi Pertanian.21 Sumber : PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.131 2.702 3.70 29. Namun sejak beberapa dekade terakhir.57 8. dan peternakan lebih bersifat kegiatan budidaya.48 1.99 112.00 10.76 11.20 16.97 3.21 10.28 2.

sementara penduduk asli lebih suka memilih tanaman keras seperti sagu dan ketela. Tabel 1.38 Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Sumber : Papua Barat dalam Angka 2009 Tiga komoditi dengan produksi tertinggi adalah ubi kayu. dan Kota Sorong. Sementara itu ubi kayu memiliki jumlah produksi dalam ton yang tertinggi yaitu mencapai duapuluh lima ribu ton lebih. Untuk tahun 2006. dan kacang hijau.46 1 962 100.65 1 058 100. pada tahun 2006 menghasilkan produksi mencapai lebih dari limabelas ribu ton. rata-rata produksi komoditi ini juga yang tertinggi yaitu mencapai 110 kwintal per hektar.13 374 106. Sorong Selatan. tanaman padi baik padi sawah maupun ladang memiliki luas tanam yang paling luas yaitu sebesar 7. dan Ubi Jalar per Kabupaten/Kota di Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Luas Panen (Ha) 95 56 501 7 378 81 3 053 303 Padi sawah Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 324 34. Pada tahun 2005.95 25 309 34.16 2 416 110.63 6 371 100.52 Luas panen.22 419 110. Ubi kayu dan ubi jalar paling banyak diproduksi oleh Kabupaten Manokwari.25 12 873 113.58 832 115.92 1 208 100.64 954 100.83 381 112. disusul oleh Kabupaten Sorong dengan produksi sesbesar 6623 ton.95 Luas Panen ( Ha) 132 72 165 221 1 137 38 218 34 35 Ubi Kayu Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 1 486 112. ubi jalar. Komoditi padi sawah juga paling banyak ditemui di Manokwari.32 1 059 34. Ubi Kayu.83 522 100.07 2 459 111.64 1 651 32.823 hektar dengan jumlah produksi mencapai duapuluh empat ribu ton.30 216 26. Produksi dan Rata-rata Produksi Pertanian Padi Sawah. komoditi pangan yang mengalami peningkatan produksi adalah padi.75 Luas Panen (Ha) 135 120 95 195 633 105 153 36 52 Ubi Jalar Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 1 362 100.67 10 784 35.63 363 100. ubi jalar.11 194 34.80 1 540 100. LAPORAN AKHIR 1-104 .54 1 833 111. Padi sawah tidak ditemukan di Kaimana.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tanaman padi umumnya dibudidayakan oleh para transmigran dari Jawa. dan padi.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. 53 Luas panen dan Produksi Pertanian Padi Sawah. Kacang Tanah. Ubi Kayu. dan Ubi Jalar. Kedelai. dan Kacang Hijau per Kabupaten/Kota di Papua Barat tahun 2008 Kabupaten/Kota Padi Sawah Luas Panen (Ha) 85 51 365 6 507 3 053 297 10 358 7 580 7 546 6 415 5 231 Produksi (Ton) 298 180 1 293 22 920 10 784 1 043 36 518 26 101 24 810 20 896 16 445 Padi Ladang Luas Panen (Ha) 10 5 136 871 81 6 1 109 777 999 1 408 1 745 Produksi (Ton) 26 14 358 2 389 216 16 3 019 2 103 2 708 3 806 5 152 Jagung Luas Panen (Ha) 4 25 42 123 562 39 245 21 9 1 070 1 518 1 947 2 080 1 375 Produksi (Ton) 7 39 68 202 890 65 390 35 15 1 711 2 429 3 120 3 317 2 024 Ubi Kayu Luas Panen (Ha) 132 72 165 221 1 137 38 218 34 35 2 052 1 615 1 963 2 336 1 853 Produksi (Ton) 1 486 832 1 833 2 459 12 873 419 2 416 381 374 23 071 17 833 21 913 25 897 20 440 Ubi Jalar Luas Panen (Ha) 135 120 95 195 633 105 153 36 52 1 524 1 874 2 170 1 991 2 044 Produksi (Ton) 1 362 1 208 954 1 962 6 371 1 058 1 540 363 522 15 341 18 702 21 405 19 543 20 476 Kacang Tanah Luas Panen (Ha) 34 20 100 186 392 123 96 7 958 1 725 1 937 2 093 1 350 Produksi (Ton) 35 20 102 192 398 126 98 7 979 1 763 1 956 2 131 1 348 Kedelai Luas Panen (Ha) 2 12 36 152 1 305 23 78 16 1 624 1 282 1 819 2 137 1 326 Produksi (Ton) 2 13 40 162 1 398 26 82 17 1 740 1 360 1 917 2 279 1 523 Kacang Hijau Luas Panen (Ha) 1 14 28 160 179 100 71 7 560 667 925 855 570 Produksi (Ton) 1 13 27 160 176 103 71 7 557 670 944 871 412 Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Sorong 2008 2007 2006 2005 2004 Sumber : Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-105 . Padi Ladang.

970 2.54 Luas Area dan Produksi Tanaman Perkebunan Rakyat Di Provinsi Papua Barat 2003 .540 17. terutama karena meningkatnya kebutuhan CPO sebagai salah satu bahan bakar energi alternatif untuk otomotif. Cengkeh 891 48 751 55 2. Wrmare.965 2 2.942 305 8.911 1. Selain dikembangkan oleh perkebunan besar. Kelapa.942 5. Kelapa Sawit 11.326 708 218 10.436 5. coklat juga dikembangkan oleh perkebunan rakyat dan terdapat di Kabupten Manokwari yaitu di sekitar Oransbari.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Perkebunan Produksi kelapa (kelapa buah) merupakan salah satu produk perkebunan tertinggi di Papua Barat. Jambu Mete 305 1 305 1 7. Tanaman coklat merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menonjol.962 2008 Luas Produksi (ha) (ton) 750 60 5.326 218 5. dan Prafi.749 17. Tanaman ini juga memiliki nilai jual yang tinggi.749 8.691 5. Kelapa 9. Coklat 7. Kopi 391 197 708 214 5.962 Kelapa sawit juga merupakan salah satu komoditi perkebunan dengan luas tanam terluas. Pengolahan biji sawit masih pada tahap pengolahan produk cruide palm oil (CPO). namun baru dimanfatkan secara kecil-kecilan dan yang paling banyak adalah pemanfaatan santan kelapa untuk kebutuhan rumah tangga.030 10. Buah kelapa belum diolah secara intensif terutama untuk menghasilkan minyak goreng skala perusahaan.340 15. dan Coklat Di Provinsi Papua Barat 2003 – 2008 (Ha) Kabupaten Kelapa Sawit Kelapa Coklat LAPORAN AKHIR 1-106 .911 16.463 2005 Produksi (ton) 60 1.965 305 2 8.2008 2003 2004 Luas Produksi Luas Produksi (ha) (ton) (ha) (ton) 1.463 2. Komoditas ini jika dikembangkan lebih intensif akan memberikan manfaat ekonomi yang besar karena memiliki nilai jual yang tinggi.540 20. Diharapkan biji kakao dapat dimanfaatkan oleh perusahan yang mengolah biji kakao menjadi coklat bubuk.899 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Jenis Tanaman Luas (ha) 750 5.911 1. Kelapa tumbuh hampir merata di semua wilayah Papua Barat terutama wilayah pulau-pulau kecil dan pesisir.897 6.540 708 10. Tabel 1.156 16. Data luas tanaman dan produksi dilihat dari jenis perkebunan berupa perkebunan rakyat adalah sebagai berikut: Tabel 1.811 4.749 16.296 2. Ransiki.749 3.55 Luas Area Tanaman (ha) dan Produksi (ton) Kelapa Sawit.911 1. Pala 5.594 5. wilayah pantai dan dataran rendah. Kopi dan cengkeh memiliki luas tanam yang termasuk kecil dibandingkan dengan komoditi perkebunan lainnya.

283 66.125 774.429 30.239 273.536 Kambing 580 571 173 288 5.454 31.107 493. populasi jenis ternak lainnya paling banyak terdapat di Manokwari.790 45.427 29.130 254.992 414.777 Ayam Petelur 40.036 155.678 33.989 129.708 12.094 55 1.923 23.794 80.667 725.755 Itik 252 57 61 527 10.379 35.223 11.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Produksi 384 1238 69 75 1433 750 1433 895 6277 Luas 170 854 250 250 3204 978 1807 950 8463 Produksi 36 57 295 105 959 75 286 978 2791 Luas Produksi Luas Fak-Fak 1095 Kaimana 1261 Teluk Wondama 126 Teluk Bintuni 5000 2170 66 Manokwari 11540 15156 2012 Sorong Selatan 290 Sorong 2012 Raja Ampat 3737 Kota Sorong Jumlah 16540 17326 10599 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Perkebunan rakyat kelapa sawit yang telah ada di Papua Barat baru terdapat di Kabupaten Manokwari dan Teluk Bintuni.309 48. Coklat memiliki luas tanam paling luas di Manokwari kemudian Sorong. babi dan jenis unggas.193 45. sementara ayam kampung paling tinggi terdapat di FakFak. komoditi ini sudah menjadi komoditi dengan produksi tertinggi di Papua Barat. Manokwari. luasan tertinggi ada di Raja Ampat namun produksi tertinggi terdapat di Sorong. Peternakan Komoditi peternakan yang ada di Provinsi Papua Barat adalah sapi.890 27.719 83.415 204.835 580 2.502 32.829 342.110 Ayam Pedaging 2.185 43. populasi ayam pedaging terdapat di Sorong.821 33.803 554 875 12.425 11.822 846 10. Tabel 1. namum produksi tertinngi terdapat di Kabupaten Raja Ampat.425 LAPORAN AKHIR 1-107 .508 229 5.259 13.676 68 236 13.923 Babi 921 467 624 1.992 45. Meski hanya terdapat di 2 (dua) kabupaten tersebut.330 912 1.56 Populasi Ternak menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 Sapi 1.216 564 206 323 19.012 66. Kecuali ayam ras pedaging dan ayam kampung.610 868.623 1.106 360. Sementara itu.512 891. dan Kaimana. kambing.961 33. Untuk komoditi kelapa.274 405.769 54.026 15.019 Ayam Buras 44.344 597 1.297 34.

Manokwari merupakan ibukota dan wilayah dengan jumlah penduduk tertinggi. Tabel 1.038 1.748 39.005 95.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Produksi daging ternak di Provinsi Papua Barat berupa hewan ternak sapi merupakan yang tertinggi dibanding dengan komoditi lainnya.347 235.858 2.549 Ayam Buras/ Kampung 32. Sementara itu.058 235.461 326.192 31.339 22.305 149.020 4.646 162.073 10.726 325 LAPORAN AKHIR 1-108 .246 33. Produksi telur ayam kampung dan telur itik paling tinggi terdapat di Manokwari. Tabel 1.679 9. telur ayam ras paling banyak diproduksi di Kabupaten Sorong.777 20.807 732.379 1. termasuk ayam pedaging dan ayam kampung yang jumlah populasinya bukan yang tertinggi di Papua Barat.496 40 1. 58 Produksi Telur menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (kg) Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Ayam Kampung 19.342 13.467 483.169 60.58 4 732.546 3.773 6.066 Ayam Pedaging 2.749 437. 57 Produksi Daging Ternak menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (kg) Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 2007 2006 2005 Sapi 54.242 29.672 676..751 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Produksi telur unggas paling tinggi adalah dari jenis ayam ras petelur.027 26.514 340 366 3.278 28.036 14.895 25.714 27.068 28.245 50 175 9.304 14.028 20.593.942 38.637 22.246 212.331 3.048 Ayam Petelur 15. memungkinkan wilayah ini memiliki tingkat konsumsi tinggi.658 90.928 33. Kabupaten Manokwari merupakan daerah penghasil daging peternakan tertinggi untuk jenis apapun.770 19.873 Ayam Ras 199.214 Kambing 2.979 617 1.806 25.715 230.457 9.827 35.156 531.125 46.583 59.671 640 7.164 Babi 13.612 Itik/Entog 1.227 298.463 757.438 77.966 808.003 24.186 467.866 9.580 894.475 49.504 14.522 653.227 114.007 50.939 62.734 88.994 9.124 247.358 Itik 187 42 45 391 7.255 1.

151.00 578. kulit masohi. medang dan bintangur.500 74.657 113.07 hektar.37 2. sagu.400 286. dan Korea Selatan. Menhutbun Nomor: 891/Kpts-II/1999) sebesar 42. Kab.695 19.00 2.863.466 287.00 724.90 1. Jepang.840 Ha yang terdiri dari Kawasan Hutan seluas 40.065.00 1. Hongkong. T. kayu kemenyan. mersawa.945. pulai. Teluk Bintuni memiliki jumlah lahan terluas untuk penebangan yang dilakukan oleh perusaahan HPH yaitu seluas 6. Dengan menganalisis potensi dan pola pemasaran hasil hutan di Provinsi Papua Barat. Kegiatan pemanfaatan hutan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan.800.979. Bintuni 3.165 246.753 640. Kab.01 610. Hasil produksi hutan di Provinsi Papua Barat sebagian besar diekspor ke negara lain.023 123.564. Raja Ampat Luas Wilayah*) 1. Sorong 5. Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Papua secara keseluruhan (termasuk Provinsi Papua Barat) berdasarkan (SK.450.50 686. kulit lawang.899 35. maka dapat diasumsikan bahwa sektor kehutanan termasuk dalam sektor basis di Provinsi Papua Barat.700.283.721.082 406 1. Selain itu.00 Hutan+Perairan 1. ada pula produksi hutan non kayu seperti rotan.079 259.604 93.6 m³.05 LAPORAN AKHIR 1-109 . Hasil hutan di Provinsi Papua Barat antara lain adalah beberapa jenis kayu yang bernilai ekonomis seperti merbau.600.960.360 Ha dan Kawasan Perairan 1.224. Kab. Sorong Selatan 6. Kab.546. Wondama 4. Kab.138. Pengolahan dan distribusi hasil-hasil hutan tersebut melalui jalur Pelabuhan Manokwari dan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.921.382 69.00 608.\ Tabel 1.417 78. Kab.199. nyatoh.099 334. Adapun negara tujuan ekspor diantaranya adalah Negara Cina. T.156 102.701 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Kehutanan Potensi hutan di Provinsi Papua sangat tinggi. 59 Luas Hutan dan Perairan diProvinsi Papua Barat dirinci Per Kabupaten/Kota Kabupaten/Kota 1.678.800.700.84 1. Luasnya lahan penebangan di Teluk Bintuni membuat kabupaten ini memiliki produksi kayu terbesar yaitu 101.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 326.480 Ha.242 10.125 74.156.327 73.733.300 87. resak. India.346 5. gahau.549 Sorong Raja Ampat Kota Sorong PROVINSI PAPUA BARAT 2007 2006 2005 2004 2003 67.052 315. Manokwari 2.665.103 81. matoa.

432.211.57 940 14.733.000.866.53 1.6 1.00 1.653. perlu ada upaya dari pihak pemerintah daerah untuk melindungi kepentingan masyarakat.41 11.726.000 m3. Namun tentunya pengekploitasian hutan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi degradasi lingkungan yang drastis.00 31.00 11.850. Perikanan LAPORAN AKHIR 1-110 .994. Sedikitnya terdapat 3 perusahaan berskala besar dan 15 perusahaan sedang yang bergerak dalam sektor kehutanan ini.25 3. Kota Sorong Grand Total Sumber: Papua Barat dalam Angka 2006. sehingga masih dapat menikmati hasil dari kekayaan hutan wilayah ini.786.13 14.966.406.165.135.65 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2006.29 207.000 m3 dan industri di bawah sedang yaitu produksi dibawah 6.921.17 7.003.224.199.426.823. Kab. Fakfak 8.97 Ha. Kaimana 9.60 Perkembangan Luas Penebangan Hutan dan Hasilnya oleh Pemegang Hak Perusahaan Hutan Tahun 2006 (ha) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Luas Penebangan 2.000.58 38. Tabel 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.98 9. diberikan Hak Pengusahaan Hutan dan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu kepada perusahaan dibidang terkait. industri kehutanan adalah industri yang padat modal. Untuk itu. Kab. hasil perhitungan Sektor kehutanan di Provinsi Papua Barat memiliki potensi yang sangat baik. Sementara Industri Primer Hasil Hutan (IPHH) yang berkembang di Papua Barat digolongkan menjadi 2 yaitu Industri yang berskala besar dengan nilai produksi lebih dari 6. hasil perhitungan Dalam pengusahaan dan pemanfaatan hutan.58 41.040.736.388.2 101.352. Selain itu. Di Provinsi Papua Barat sendiri telah dikeluarkan 29 unit HPH yang meliputi hutan seluas 4.377.07 Jumlah Produksi 42. Sehingga yang lebih mendapatkan hasil ekonomi dari industri kehutanan adalah para pemodal besar. Pendapatan dari sektor kehutanan merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi Provinsi Papua Barat.654.24 6.00 1.

000. Dalam kurun waktu tersebut.0 20.000.000. jumlah nelayan tradisional dan penambahan jumlah perusahaan penangkapan ikan serta adanya peningkatan jumlah dan jenis alat tangkap. disamping pertumbuhan iklim investasi yang lebih baik lagi.0 10. dan armada penangkapan) terjadi dari tahun 1997 yaitu bersamaan dengan mulai anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang berlanjut dengan krisis ekonomi/moneter. Krisis ekonomi yang dialami oleh bangsa Indonesia justru membawa keberuntungan bagi para nelayan karena harga produk perikanan saat itu memiliki nilai tawar yang cukup baik.000. Hasil Tangkapan Ikan Laut (kg/tahun) 60.000.000.0 30.0 50.000.000.000.000. alat tangkap. peningkatan secara tajam produksi perikanan termasuk atribut perikanan lain (rumah tangga nelayan.0 0.0 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 Fak-Fak Sorong Manokwari LAPORAN AKHIR 1-111 .0 40. Hal ini berkaitan erat sekali dengan kecenderungan kenaikan rumah tangga perikanan (skala kecil dan menengah) dan penambahan jumlah alat tangkap ikan. Peningkatan produksi terjadi pula sebagai akibat dari adanya upaya peningkatan pertumbuhan (rumah tangga perikanan) penduduk. dan hal ini diduga sebagai penyebab meningkatnya jumlah produksi perikanan. Secara agregat kenaikan produksi perikanan laut Provinsi Papua Barat dari kegiatan perikanan tangkap tahun 1991 – 2002 dapat dikatakan cukup tinggi.000. produksi perikanan laut dari kabupaten-kabupaten yang ada di wilayah Papua Barat menunjukkan peningkatan produksi tangkapan untuk berbagai jenis ikan.000.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Berdasarkan Statistik Perikanan Provinsi Papua tahun 1991-2002.

42% Jukung 27.. LAPORAN AKHIR 1-112 . 2006).136 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Gambar 1. telah memberikan kontribusi secara nyata terhadap peningkatan hasil tangkapan nelayan. terutama pada skala perikanan menengah ke bawah (subsisten).384 17. alat pendingin) dengan sistem kredit bergulir.924 338 872 6. et al.42 Gambar Produksi Perikanan (ton/tahun) pada Tiga Kabupaten di Provinsi Papua Barat (Wanggai.064 4461 Motor Tempel 402 94 22 32 337 50 129 944 2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.43 Persentase Jumlah Rumah Tangga Perikanan di Papua Barat Menurut Kategori Besarnya Usaha Perikanan Kapal Motor 8.108 728 319 463 4.96% Perahu Papan Sedang 8.67% Motor Tempel 11. Tabel 1.486 Jumlah 3.74% Kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir yang dilakukan oleh pemerintah baik pada tingkat nasional dan daerah (provinsi dan kabupaten) telah mendorong pula peningkatan jumlah alat tangkap.73% Perahu Papan Besar 3. misalnya pengadaan alat penangkap (motor tempel. jaring.30% Tanpa Perahu 21.17% Perahu Papan Kecil 18.516 Perahu Tanpa Motor Jukung Perahu Papan 724 1215 171 286 77 84 111 122 181 1299 344 334 179 176 76 166 201 779 2.61 Jumlah Rumah Tangga Perikanan di Papua Barat Menurut Kategori Besarnya Usaha Perikanan dan Kabupaten Kota Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Tanpa Perahu 86 178 116 168 286 1 613 54 140 875 3.010 Kapal Motor 461 107 20 30 315 25 61 467 1. Bantuan yang diberikan berupa sarana produksi perikanan.

62 Jumlah Produksi Perikanan Laut Menurut Jenis Ikan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (Ton) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Teri 318.00 5 214. khususnya pada ikan cakalang yang tertangkap di perairan Indonesia Timur termasuk Papua.80 20.70 34. Tabel 1.70 25.40 89.400 ton/tahun.60 Tenggiri 4 677.00 487.80 111.30 1 083.80 366. cakalang.40 19. tenggiri. cumi-cumi. Walaupun tidak dilakukan pemisahan berdasarkan kategori jenis dan komposisi hasil tangkapan. Tabel 1.20 75.20 Madidhang 2 210.40 35.90 234. Sebagai gambaran dapat dikemukakan bahwa persentase ukuran ikan cakalang > 2.10 2 347. Sumber daya laut lainnya di Papua Barat seperti udang dogol. dan rumput laut. (1998). dan madidhang. 63 Jumlah Nilai Produksi Perikanan Laut Menurut Jenis Ikan dan Kabupaten/Kota Tahun 2007 (Ribu Rupiah) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Teri 2 288 487 534 772 482 726 642 821 Cakalang 20 214 752 4 723 767 2 548 646 3 393 898 Tenggiri 28 893 260 6 751 752 168 240 223 936 Madidhang 6 599 462 1 549 070 3 355 232 4 467 988 Kakap Putih 28 342 644 6 623 086 171 457 228 886 LAPORAN AKHIR 1-113 .60 1 206.10 6 831.40 74. potensi lestari untuk ikan pelagis besar secara keseluruhan adalah 612.40 2 991. dari 85.6 kg yang tertangkap mengalami penurunan. kepiting. dari data peningkatan produksi perikanan tangkap di atas dapat dikatakan bahwa status perikanan tangkap secara khusus di Provinsi Papua Barat masih berada jauh di bawah potensi lestari untuk perairan Papua berdasarkan Uktolseja et al. udang windu.50 25.60 703. Dinyatakan bahwa di wilayah perairan Papua sendiri.8% pada tahun 1996 (Uktolseja.20 366.90 626.00 279.90 4 364.10 12 214.200 ton/tahun dan perikanan demersal untuk perairan Arafura dan sekitar perairan Papua sendiri sebesar 230.20 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan untuk berbagai jenis ikan masih sangat rendah dibandingkan dengan potensi yang tersedia.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Jenis-jenis ikan yang cukup dominan di Papua Barat adalah teri.70 219.80 19 682.30 Cakalang 2 681. 1998).30 60.20 724. udan putih/jebung.50 334.20 67.30 27.80 5 073.60 106.10 4 941. peningkatan produksi di atas perlu dicermati secara mendalam dan hati-hati.10 Kakap Putih 3 101.30 8 477.10 289.3 % pada tahun 1991 menjadi 36.40 210.50 402.40 530.60 748. Namun demikian jika mengaju pada hasil penelitian Uktoselja (1998).10 13.60 127.00 516.70 960.

170.62 37. Penggalian selama ini belum memberikan hasil yang cukup signifikan bagi perekonomian Papua Barat.76 20.063. Tabel 1.53 7 2. Igomo. dan Salawati.91 2005 Jumlah 1.1 Minyak dan Gas bumi 2000 Jumlah 1. Batubara ynag terdapat di ketiga kawasan tersebut tergolong batubara muda karena masih menampakkan struktur kayu.20 0.03 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.6 7 1.71 9. Sektor ini hampir seluruhnya bertumpu pada subsektor pertambangan minyak dan gas bumi.245. Adanya LAPORAN AKHIR 1-114 .2 Pertambangan Tanpa Migas 0 0 0 0 0 2. pertumbuhan pertambangan minyak dan gas bumi termasuk lambat jika dibandingkan sektor lain. Subsektor penggalian hanya memberikan kontribusi kurang dari 1% bagi PDRB Papua Barat.350. 64 PDRB Sektor Pertambangan Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 dan 2005 Lapangan Usaha PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN 2. Batubara sebagai salah satu barang galian juga cukup potensial di Papua Barat. meski demikian memiliki kecenderungan untuk terus meningkat.820.4 8 985. Hal ini menyebabkan kontribusinya semakin menurun setiap tahunnya. Namun meski sumbangannya besar. Di Kabupaten Teluk Bintuni akan terdapat kegiatan pertambangan besar.546.05 1. hasil perhitungan Kegiatan pertambangan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dan saat ini usaha ini banyak terdapat di Sorong.699.101.74 1. LNG Tangguh (Bintuni) saat ini sedang dalam tahap konstruksi dan diperkirakan pada tahun 2009 sudah akan beroperasi.53 24.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tenggiri 2 409 067 95 977 175 894 526 699 3 704 638 42 949 463 Madidhang 48 054 418 373 982 685 385 1 902 763 13 381 443 80 369 743 Kakap Putih 2 606 085 158 433 290 356 905 125 6 115 393 45 441 465 Kabupaten Teri Cakalang Manokwari 6 913 721 36 502 296 Sorong Selatan 595 914 2 152 430 Sorong 1 092 113 3 944 694 Raja Ampat 3 270 231 11 812 015 Kota Sorong 23 001 797 83 082 069 Papua Barat 38 822 582 168 374 567 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 2) Pertambangan dan Penggalian Pertambangan dan penggalian merupakan salah satu sektor yang memberikan kontribusi terbesar bagi PDRB Papua Barat. Terdapat beberapa daerah yang memiliki potensi galian logam namun belum dilakukan eksplorasi lebih lanjut.010.06 % 25. Persebaran bahan galian batubara terutama terdapat di daerah kepala burung yaitu di daerah Homa.42 0.3 Penggalian 24.4 r % 20.

Tabel 1. Izin kegiatan perusahaan pertambangan seluruhnya dari pemerintah pusat. Ditinjau dari tahapan kegiatan pertambangannya.362. Tabel 1. bila ditinjau dari segi akibat yang ditimbulkan oleh kegiatan pertambangan mineral tersebut seluruhnya merupakan beban pemerintah daerah dan masyarakat yang berada di sekitar konsesi pertambangan tersebut.330. 1 (satu) perusahaan dalam taraf eksplorasi dan 3 (tiga) dalam taraf penyelidikan umum.5 457.5 Tahap Kegiatan Eksplorasi Penyelidikan umum Penyelidikan Umum Penyelidikan Umum PT Irja Eastern Mineral 15 Feb 1997 Fak-Fak PT Siriwo Mining 28 Apr 1997 Fak-Fak PT Mineralindo Mas Salawati 28 Apr 1997 Sorong PT Barrick Mutiara Ransiki 28 Apr 1997 Fak-Fak Jumlah Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura (2004). 2.291. 1.361. Pada tahun 2002. Hal ini sering menimbulkan konflik dan ketidakadilan dalam hal pembagian hasil dari kegiatan pertambangan mineral tersebut.248 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 Tenaga Kerja 27 13 13 86 103 108 213 20 2. Menurut Laporan Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura (2004) bahwa investasi pertambangan umum di Papua terhenti pada tahun 2000. 3.500.874 Perkembangan dan Status Pertambangan Umum Perusahaan pertambangan yang beroperasi di wilayah Papua Barat sebelum Otonomi Khusus ada 4 (empat) perusahaan.020 Papua Barat 1. 66 Perusahaan yang pernah beroperasi di wilayah Papua Barat (Sebelum Otsus) No.291 2.0 955. Peranan Pemerintah Daerah dalam penentuan kebijakan pada saat itu hampir tidak ada.553. Nama Perusahaan Tanggal Mulai Operasi Lokasi Konsesi Luas (Ha) 754.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bahan tambang batubara ini mendorong peluang dikembangkannya Pembangkit Listrik Tenaga Uap untuk memenuhi kebutuhan listrik Papua Barat. Kebijakannya adalah bahwa di LAPORAN AKHIR 1-115 .0 2. investasi di bidang pertambangan umum mulai giat kembali. 4. 65 Banyaknya Usaha Sektor Pertambangan dan Penggalian Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha Fak-Fak 11 Kaimana 9 Teluk Wondama 5 Teluk Bintuni 21 Manokwari 32 Sorong Selatan 54 Sorong 95 Raja Ampat 1 Kota Sorong 1. Padahal.0 124.

Perizinan hanya diberikan dalam bentuk Kuasa Pertambangan (KP). LAPORAN AKHIR 1-116 . tanggal 06 Agustus 2002 tentang Tata Cara Pemberian Kuasa Pertambangan Umum. 67 Perusahaan Kuasa Pertambangan Umum di Wilaya Papua Barat No 1. tercatat 11 wilayah KP baru yang diberikan izin oleh Gubernur Papua dengan total areal konsesi 355. Industri Sektor industri pengolahan merupakan sektor penyumbang PDRB terbesar untuk kelompok sektor sekunder. Chrom.700.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Papua Izin Pertambangan dalam bentuk Kontrak Karya (KK) tidak diberlakukan. izin pertambangan tradisional diberikan. Papua Pacifik Batubara Minerals Total Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura. Perusahaan/Kode Wilayah PT. lokasi Raja Ampat sulit untuk direalisasikan karena sebagian wilayah merupakan kawasan konservasi yang secara yuridis formal tidak diperbolehkan untuk lokasi pertambangan. Raja Ampat Kab. dan Platina Nikel. 2004. Khusus untuk masyarakat. 4. Ketentuan implementasi dari kebijakan ini adalah sementara sambil ada ketentuan lain yang diterbitkan.953 30.3. Papua Pacifik Minerals Lokasi Kab. Chrom. Raja Ampat Kab.891 62.91%.655. 3.28 Tahap Kegiatan Eksplorasi Eksplorasi Eksplorasi Penyelidikan Umum Penyelidikan Umum Ket 14 Okt 2004 14 Okt 2004 14 Okt 2004 8 Des 2003 5. 27. Sorong Selatan Distrik Aifat Kab. dan Platina Batubara Luas (Ha) 15. Bahkan diberikan pula bantuan peralatan teknik penambangan terutama untuk bahan Galian C dan bahan Emas. Kawei Sejahtera Mining PT. Walofi Mining PT. Raja Ampat Kab.000 ha yang sebagian besar untuk penambangan Batubara. PT. 2.250 6. dan Platina Nikel.2 Sektor Sekunder 1.950. Tabel 1. Pada tahun 2000 subsektor industri besar/sedang memberikan kontribusi yang terbesar diantara subsektor lainnya dalam sektor industri pengolahan terhadap PDRB Papua Barat yaitu sebesar 273 miliar atau 6.27 8 Des 2003 Pemerintah Provinsi Papua mengeluarkan surat Keputusan Nomor : 104 tahun 2002. Sampai dengan awal November 2004. Dari 11 izin baru tersebut 5 (lima) perusahaan berada di wilayah Papua Barat. Bila memperhatikan lokasi sumber bahan galian yang telah diberikan izin Kuasa Pertambangan umum. 1. Chrom.99 143. Batan Pelei Mining PT.5. Sorong Distrik Seget Bahan Galian Nikel.

2 18.22 0.449.10 10.21% dalam kurun waktu 2000 hingga 2005.760.87 9.371.786 98.664.3 3.3 11.471 48.13 8.1 Listrik 9.61 0.350.066.10 0.801 757.128 Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari 515 Sorong Selatan Sorong 449 Raja Ampat Kota Sorong 273 Papua Barat 1651 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2007 5520 11815 1410 27234 202.197 25. Subsektor ini tumbuh sebesar 16.505 Nilai Produksi (ribu rupiah) 43.577 154. 68 PDRB Papua Barat Kelompok Sektor Sekunder Tahun 2000 dan 2005 Atas Dasar Harga Konstan 2000 2000 2005 r Jumlah % Jumlah % INDUSTRI PENGOLAHAN 460.75 6. hasil perhitungan Lapangan Usaha Industri pengilangan minyak bumi yang semula memberikan kontribusi sebesar 3.38 14.964.18 16.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.562. Tumbuhnya subsektor ini menunjukkan bahwa ekonomi sektor migas di Papua Barat kini bergeser pada aktivitas pengolahan dibandingkan dengan aktivitas ekstraktif karena kegiatan ekstraktif minyak bumi dan gas cenderung mengalami pertumbuhan yang lambat.737. GAS & AIR BERSIH 14.052.25 15. hampir mengejar subsektor industri besar/sedang.50 4 3. industri digolongkan menajdi 4 kategori yaitu industri besar.159.16 0.966.02 6.2 Air Bersih 4.566.42 8. kecil.1 21. 1 Industri Besar/Sedang 273.81 44.18% pada tahun 2005.358.91 374.896.09 7.845 Ket: Data Kabupaten pemekaran masih bergabung dengan kabupaten induk Berdasarkan kemampuan menyerap tenaga kerja.59 389.92 4.528306 5 2 Sumber : PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.404 22.594.00 0.19 4 3.489 Nilai Investasi (ribu rupiah) 2985.904. 69 Banyaknya Usaha Sektor Industri Pengolahan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha 414 Tenaga Kerja 8.987.85 7.36 Sektor Sekunder 735. sedang.053.456.37 22.28 8.085.72 4.126.060.31 BANGUNAN 260.27 0.264.91% oada PDRB meningkat menjadi 6. dan rumah tangga.61 0.130 1053.920.05 3.951.63 747. Tabel 1.07 6.91 328.13 7.829.080.59 1.162.755.3 Industri Pengilangan Minyak Bumi 154.7 6.35 8.06 0. Industri-industri tersebut LAPORAN AKHIR 1-117 .2 Industri Kecil Kerajinan Rumah Tangga 31.21 8 LISTRIK.12 7.991.

dan Kabupaten Manokwari. Tabel 1. dan Air Minum Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Unit Usaha 8 3 2 4 32 16 9 5 5 84 Tenaga Kerja 72 28 4 10 1. 70 Banyaknya Usaha Sektor Industri Pengolahan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha Fak-Fak 116 Kaimana 22 Teluk Wondama 40 Teluk Bintuni 99 Manokwari 394 Sorong Selatan 109 Sorong 1 098 Raja Ampat 179 Kota Sorong 219 Papua Barat 2 348 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tenaga Kerja 364 73 189 343 2 135 277 6 539 372 1.564 56 29 9 179 1. Tabel 1. memiliki kontribusi yang kecil bagi PDRB Papua Barat namun memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi. gas.951 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-118 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 cenderung terdapat di Kabupaten Sorong. Nilai investasi dan nilai produk pun lebih besar Kabupaten Sorong daripada Kabupaten Manokwari.926 12 218 2. Gas. Kota Sorong. Sektor ini memiliki grafik yang terus meningkat mengingat Papua Barat adalah provinsi baru dimana mengalami peningkatan kebutuhan akan layanan infrastruktur dasar. 71 Banyaknya Usaha Sektor Listrik. Industri yang paling banyak penyerap tenaga kerja berada di Kabupaten Sorong meskipun dari segi jumlah unit usaha sedikit lebih rendah dari Kabupaten Manokwari. diatas angka pertumbuhan PDRB total. Listrik dan Air Minum Sektor listrik. sehingga persentase kontribusinya juga terus meningkat. dan air bersih serta sektor bangunan.

325 ha). Meski demikian. Gunung Meja dan Air Panas di Kebar dan masih banyak objek wisata lainnya yang belum digali.5. Terdapat juga objek wisata yang belum dikembangkan seperti objek wisata Danau Anggi. sektor ini terus menujukkan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya.579 1. Bangunan Papua Barat merupakan provinsi bentukan baru dan untuk itu diperlukan berbagai fasilitas baru serta mengalami peningkatan jumlah penduduk untuk mengisi posisiposisi baru yang dibutuhkan. Hal ini mendorong pada naiknya kebutuhan akan layanan infrastruktur dan tentu saja juga maraknya kegiatan pembangunan fisik. Hal ini karena Papua Barat akan memerlukan pusat-pusat baru yang akan diisi oleh kegiatan tersier. Hutan Suaka Margasatwa Pantai Mubrani-Kaironi (170 ha).3. Pariwisata Sektor pariwisata di Papua Barat merupakan yang diharapkan di masa depan akan menjadi leading sektor.3 Sektor Tersier Sektor tersier di selama ini belum menjadi sektor yang menonjol di Papua Barat. LAPORAN AKHIR 1-119 .610 3.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 3. Danau Kabori. Tabel 1. Beberapa diantaranya seperti Hutan Cagar Alam Pegunungan Arfak (68. 1.776 ha). Kabupaten Raja Ampat juga memiliki sumber daya laut yang sangat kaya. Keberadaan Papua Barat sebagai provinsi baru dapat menjadi salah satu faktor meningkatnya kontribusi sektor primer. Cagar Alam Pegununan Tamrau Selatan (435. Suaka Margasatwa Pantai Sidey-Wabian (157 ha). 72 Banyaknya Usaha Sektor Bangunan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 Unit Usaha 82 82 3 36 73 18 7 0 171 472 Tenaga Kerja 503 335 37 138 849 83 24 0 1.

128.50 18.14 2005 Jumlah 508. Peran sektor pariwisata dalam perekonomian Provinsi Papua Barat.46 % 8.3.971.87 0.40 1.37 0.783.106.48 522.89 8.1 Perdagangan Besar & Eceran 5.24 1.535.614. untuk itu perlu kewaspadaan dalam pengembangannya dengan mempertimbangakan faktor lingkungan.17 0.21 8.503.627.53 0.59 8.10 JASA – JASA 335.82 23.21 8.44 460.83 44.2.740.52 2.55 9.559.67 92.19 8.36 0.67 0.861.39 45.14 0.489.20 0. Pemerintahan Umum 294.69 6.17 9.41 13.446.85 9. Tabel 1.94 0.2 Hotel 5.64 84.75 PERUSAHAAN 8.14 49.1.59 8.856.17 Sektor Tersier 935.2.84 5.14 11.582. Angkutan Laut 7.03 7.05 9.19 11.59 8.294.28 9.299.469.39 2.12 0.3.28 20.447.159.890.06 0.51 0.93 0.13 0. PERSEWAAN DAN JASA 66.6 27.60 7.269.300.21 17.60 0.1.57 108.5.2.63 6.25 0.37 10.87 0. peningkatan pendapatan dan taraf lokomotif perekonomian.576. Jasa Perusahaan 3. Jasa Sosial Kernasyarakatan 23.66 6.46 hidup. Angkutan Sungai 7.59 4. HOTEL & RESTORAN 5. Sewa Bangunan 32.37 4.82 33.43 7. Jasa Penunjang Angkutan 7.93 105.75 9.05 0.38 23.1. belum menunjukkan kontribusi yang proporsional dengan potensi pariwisata yang dimiliki.71 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2005.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Bahkan spesies koral di kawasan ini diklaim sebagai salah satu yang terkaya di dunia.272.38 9.89 1.57 71.3. Jasa Hiburan & Rekreasi 10.56 31.683.498.64 1.01 0.542.471.399.18 r % 9.96 311.32 0.78 0.67 12.336.74 193.00 8. Secara makro sektor pariwisata merupakan industri yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang cepat melalui: penyediaan kesempatan kerja.16 0. Komunikasi 2000 Jumlah 340. hasil perhitungan LAPORAN AKHIR 1-120 . Angkutan Jalan Raya 7.59 33.912.94 7.180.762.22 0.46 345.86 9.33 7.21 14.251.4. 73 PDRB Papua Barat Kelompok Sektor Tersier Tahun 2000 dan 2005 Atas Dasar Harga Konstan 2000 Lapangan Usaha PERDAGANGAN. sehingga pariwisata sering disebut KEUANGAN.84 11. serta secara simultan dapat mengaktifkan sektor-sektor produksi lain.23 8.865.32 8.480.80 1.952.13 465.786.199.950.30 1. Angkutan Udara 7.96 7.36 8.18 0. Obyek wisata potensial dikembangkan di Papua Barat mayoritas berupa wisata alam.595.6.000.4.70 11.05 1.779. Bank 22.14 6.4.85 7. Jasa perorangan dan Rumah Tangga 6.67 9.3 Restoran PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 7.84 8.09 5. Lembaga Keuangan tanpa Bank 7.395.41 20.63 9.

Budaya dan Sejarah Kabupaten Teluk Wondama (Distrik Wasior. Pantai Sausapor. Pulau Kafiau. Pantai Pasir Putih Panjang.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. kupu-kupu bersayap burung. Berau. Pulau Kilimata. Suaka Margasatwa Pantai SideyWabian. Buruway dan Teluk Etna) 1. Peninggalan Sejarah Perang Dunia II Alam Cagar Alam Markoor. Klasaman). Danau Kabori.5. Cagar Alam Gunung Fudi TMP Trikora. Air Terjun Sungai Karon.4 Pendapatan Per Kapita Pendapatan Pendapatan per kapita merupakan salah satu indikator tingkat kemakmuran ekonomi suatu wilayah. Taman Laut Nasional Teluk Cenderawasih. Benteng Fort Du Bois. Pantai Pasir Putih.000 tiang. Windesi. Monumen PEPER. Cagar Alam Jamusaba. Cagar Alam Pulau Waigeo. Suaka Margasatwa Pantai MubraniKaironi. Pulau Buaya. Pendapatan per kapita diperoleh dari hasil pendapatan dibagi dengan jumlah penduduk. Terumbu Karang. Cagar Alam Wondibu. Cagar Alam Gunung Karora. Gunung Meja. Cagar Alam Wowo. Danau Siwiki. Pantai Pasir Putih. Sausapor. Monumen Perang Dunia II. Fosil Burung Garuda. Minyambouw dan Susurey) Alam dan Bahari Cagar Alam Pegunungan Arfak Bagian Selatan. Cagar Alam Budaya Gunung Genefo. Kayeli Hot Water Spring Alam dan Budaya Pantai Tanjung Kasuari. Teluk Arguni. Monumen Indonesia-Jepang Alam dan Budaya Danau Ayamaru. 74 Potensi Pariwisata Provinsi Papua Barat Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2005 Jenis Wisata Alam dan Budaya Obyek dan Daya Tarik Wisata Cagar Alam Pegunungan Arfak. Rumah 1. Makam Missionaris Kristen Pertama di Papua. Tamrau Selatan. Sumur Minayk Peninggalan NNGPM. Pulau Matan. Pulau Penyu. Monumen PEPERA Alam dan Bahari Cagar Alam Missol. Taman Wiata Klasman. Danau Angi. Klamono. Salawati. Moraid. Fosil Telapak Tangan. Masjid tertua di Tanah Papua. Pulai Adi. Panorama Senja Sumber: BPS Provinsi Papua Barat 2006 Alam. Kota Sorong dan sekitarnya Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Fakfak (Distrik Fakfak Timur dan Barat) Kabupaten Kaimana (Kaimana. Danau Yamor. Pulau Ega dan Karas Alam Bahari dan Cagar Alam Gunung Kumawa. Pantai Peneluran Penyu Alam dan Budaya Gua Jepang. dan Terumbu Karang Lokasi Kabupaten Manokwari (Distrik Kebar. aman Wisata bariat. Taman Wisata Klamono. Munumen Arfak. Permandian Air Panas. Cagar Alam Batanta Barat. Wasior Selatan dan Wasior Barat) Kabupaten Teluk Bintuni (Distrik Babo dan Timbuni) Kabupaten Sorong (Distrik Makbon. Terumbu Karang. LAPORAN AKHIR 1-121 . Pulau Shop.

529.176.09 7.267.349 10.292.13 9.516.116.503.52 8.300.709.064.592.16 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.008. hasil perhitungan Gambar 1.59 8.44 PDRB/kapita Provinsi Papua Barat Tahun 2003 hingga 2006 14000000 12000000 10000000 8000000 6000000 4000000 2000000 0 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita Atas Dasar Harga Berlaku PDRB/kapita Atas Dasar Harga Konstan LAPORAN AKHIR 1-122 .236.10 ADH Konstan 7.75 12.354.734.85 5.19 6.249.444.249.000.994.336.51 7. 75 PDRB/kapita Papua Barat Tahun 2003-2006 Tahun 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita ADH Berlaku 9.441.913.62 5.705.80 PDRB/kapita Tanpa Migas ADH Berlaku ADH Konstan 6.298.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.414.12 6.406.307.93 12.085.009.30 8.110.076.

45 Peta Potensi Pariwisata Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-123 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

Dieliminirnya migas menyebabkan angka PDRB per kapita Papua Barat atas dasar harga berlaku menjadi lebih rendah. 76 Pendapatan Perkapita Riil Masyarakat Provinsi Papua Barat Tahun 19992000 Sumber: Indonesian Human Development Report. Meski demikian angka tersebut tidak serta merta dapat diidentikan dengan tingkat kemakmuran yang tinggi pula bagi warga Papua Barat.3 juta rupiah pada 2005. kemudian mengalami penurunan pada tahun 2006. PDRB per kapita mengalami kenaikan hingga tahun 2005. 2004. PDRB per kapita di Papua Barat juga terus meningkat dari semula 6. Tanpa migas.4 juta pada 2003 meningkat menjadi 8. PDRB per kapita di Papua Barat tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan ketika migas diperhitungkan. Sempat turunnya PDRB atas dasar harga konstan dipengaruhi oleh tingginya pertumbuhan penduduk dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB.12 juta rupiah dapat dikatakan cukup tinggi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 PDRB per kapita Papua Barat menunjukkan peningkatan antara tahun 2003-2006 dilihat dari PDRB atas dasar harga berlaku. UNDP. Tabel 1. Tanpa memperhitungkan sektor migas. Selama ini Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-124 . BPS Besar PDRB per kapita Papua Barat yang mencapai 12. Hal ini memunjukkan betapa krusialnya peran migas dalam perekonomian di Provinsi Papua Barat. Jika dilihat atas dasar harga konstan. Perbedaannya mencapai hampir 4 juta rupiah atau menjadi hanya dua per tiga dari PDRB per kapita atas dasar harga berlaku yang memperhitungkan migas. Bappenas.

000. dan jalan arteri.000. Penentuan Struktur Ruang tidak bisa dilepaskan dari kondisi transportasi wilayah.000.00 4.00 6. jalan provinsi dan jalan negara.000.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sering diidentikkan dengan kemiskinan.000.6 ASPEK TRANSPORTASI WILAYAH Transportasi merupakan kebutuhan sarana dan prasarana yang sangat menunjang dalam perkembangan interaksi antar daerah dan diharapkan dapat mendorong percepatan perkembangan antar wilayah khususnya dalam mendukung proses pertumbuhan dan pemerataan di bidang ekonomi.000.000.000. pariwisata.00 2.000.00 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita Atas Dasar Harga Konstan PDRB/kapita Atas Dasar Harga Berlaku 1. sosial budaya jasa pelayanan dan stabilitas keamanan. perdagangan. sehingga penyediaan/pengembangan sarana dan prasarana perhubungan dalam suatu wilayah harus memadai dalam arti dapat menampung dan menunjang kelancaran aktivitas pergerakan yang ada dalam daerah itu sendiri maupun hubungannya dengan daerah lain.00 5.000. kapal laut dan kapal udara. Dari segi fungsinya jalan raya meliputi jalan lokal. jalan kolektor. Transportasi wilayah menentukan tingkat aksesibilitas wilayah. berfungsi menghubungkan sentra-sentra produksi ke sentra-sentra/node konsumsi. Sedangkan dari segi manajemennya jalan raya meliputi jalan desa.00 7.000.000. Transportasi antar wilayah LAPORAN AKHIR 1-125 .000.000.000. Sistem jaringan transportasi yang dimaksud adalah sistem jaringan jalan raya.00 9.000.00 1.00 3.000. jalan kabupaten. Hal ini menunjukkan bahwa kekayaan Papua Barat belum dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakatnya.00 0.000.000.46 PDRB per kapita Tanpa Migas Provinsi Papua Barat Tahun 2003 hingga 2006 10.000. Gambar 1. sistem transportasi sangat memegang peranan yang penting.00 8. Dalam menunjang perkembangan suatu wilayah.

yaitu kondisi geografis.800 … 927.000 1 319.000 121. setelah terlebih dahulu melewati Kota Sorong. Kabupaten Teluk Bintuni. 9. Kabupaten/ Kota Fak Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Jumlah 2007 Jalan Negara 0 132. 1.670 632. Kota Sorong menjadi gerbang transportasi bagi semua wilayah di Papua Barat.500 200. Tabel 1.500 0 … 285. Kondisi transportasi darat untuk menghubungkan antar wilayah masih sangat minim.000 110.700 56.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 di Papua Barat terutama menggunakan transportasi laut dan udara.660 486.210 5.882. 8.915 402.810 Jalan Provinsi 271. 7.310 90. d. Sebagai penggerak dan pendukung Wilayah Indonesia Timur Sebagai tempat kolektor dan distributor barang. 2.550.000 0 … 85. Daerah dengan perairan yang dominan seperti Raja Ampat dan Kaimana sepenuhnya bergantung pada transportasi laut. Sebagian kabupaten di Papua Barat menggunakan jalan darat sebagai transportasi utama untuk menghubungkan antar distrik/kecamatan. 3. Untuk Provinsi Papua Barat dalam konteks regional perannya adalah : a. Pelabuhan laut dan udara yang ada di kota Sorong merupakan yang terbesar di Provinsi Papua Barat. Kabupaten-kabupaten ini masih mengandalkan transportasi air (laut.500 235.1 Transportasi Darat darat bukan merupakan sistem yang utama.000 686. Sementara itu.475 142. khususnya untuk b. 5.707 LAPORAN AKHIR 1-126 .000 1.184. 4.210 3. kondisinya juga masih sangat memprihatinkan.000 0 17. Papua Barat memiliki tantangan yang unik dibandingkan daerah manapun di bidang infrastruktur.112 619.6.175 Jalan Kabupaten 271.637 344. bahkan juga di Pulau Papua. Sebagai pintu gerbang kawasan Papua Sebagai pusat pelayanan jasa.000 119. dan Kabupaten Teluk Wondama. kecuali Kabupaten Raja Ampat.810 635.175 693.000 0 18. c. Transportasi menghubungkan antara kabupaten kota yang ada di Provinsi Papua Barat. sungai dan danau) sebagai transportasi utama.800 … 1 298. Wilayah-wilayah lain hanya bisa dicapai oleh transportasi laut dan atau udara.222 4 Total Jalan 543. Transportasi laut dan udara tersebut menjadi transportasi utama antar wilayah.000 615. 6.000 119. transportasi udara menjadi penghubung antar wilayah melalui penerbangan perintis. 1. 77 Panjang Jalan menurut Kewenangan (Km) No.207 5 400.415 402.

096 Km. Perbandingan total panjang jalan dengan jumlah penduduk di masing-masing kabupaten dapat dilihat dalam Tabel 1.78.650 Km (67%) bila dibandingkan dengan jalan provinsi 448. Konda dan Distrik Seremuk serta beberapa distrik lainnya. bahwa Kabupaten Manokwari memiliki jalan paling panjang yakni 1.030.310 (14%). Kabupaten Raja Ampat. Kabupaten lain seperti Teluk Wondama.810 345. bahwa jalan kabupaten adalah yang terpanjang yakni 1. Kabupeten Raja Ampat sedang melakukan pembukaan jalan dari Waisai menuju Teluk Mayalibit.175 488. Berdasarkan panjang jalan dan penyebaran jumlah empat penduduk yang berdomisili pada masing-masing kabupaten relatif jarang. Kabupaten Sorong Selatan membangun jalan dari Teminabuan menuju Kampung Manelek.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 071. Kabupaten Teluk Bintuni sedang melakukan pembangunan jalan darat yang dapat menghubungkan Ibukota Kabupaten menuju SP. Ada kabupaten yang dapat ditempuh melalui darat walapun kondisi jalan raya masih dalam bentuk tanah dan dalam tahap pengerasan yakni Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bintuni. sehingga transportasi utaman yang dipakai adalah laut atau udara. Bariat. Fak Fak dan Kabupaten Sorong Selatan. mengingat kondisi topografinya hanya bisa di jangkau melalui transportasi laut. Pada umumnya kabupaten induk mempunyai tingkat asesibilitas yang relatif lebih baik jika dibandingkan dengan kabupaten pemekaran yang baru dibentuk seperti Raja Ampat dan Teluk Wondama.956.650 Km.430 Sumber : Papua Barat Dalam Angka 2009 Beberapa kabupaten/kota yang sebagian besar wilayahnya dapat dijangkau melalui transportasi darat adalah Kabupaten Manokwari.310 686.722 3 882. Panjang jalan di Provinsi Papua Barat hingga tahun 2007 tercatat 1. demikian juga Kabupaten Sorong dan Kabupaten Sorong Selatan.207 1 956.470 5 184. Teluk Bintuni dan Kaimana. Berikut ini dapat dilihat panjang jalan menurut kewenangan.121. Sorong. Panjang jalan berdasarkan tingkat kabupaten yang ada di Provinsi Papua Barat. Sedangkan panjang jalan berdasarkan status pemerintahan yang berwenang.650 2006 2005 615. Kondisi jalan pada semua kabupaten yang ada di Provinsi Papua Barat masih dalam tahap pembangunan.470 (19%) dan jalan negara Km 345. dari panjang jalan yang ada di kabupaten lain. wilayahnya sulit dijangkau melalui darat.222 1 121. Sebagai contoh. LAPORAN AKHIR 1-127 .

207 Sumber : Papua Barat Dalam Angka 2009 Dari tiga kabupaten yang tersedia datanya.798 240.310 Km.100 45.200 … 487.280 1 164.95 Km kemudian aspal 1.000 550.130 2 371.613 301.550 Km.000 0. kelima lapangan terbang ini selain didarati oleh pesawat penerbangan perintis jenis Twin Otter juga dapat didarati pesawat jenis Fokker dan Boing.750 0 0 … 0 4.500 235.000 47. Domine Edward Osok dan Jefman di Sorong.112 619.000 3. Sedangkan di Kabupaten Teluk Bintuni. . 5.630 336.000 2.45 16. bahwa jenis permukaan jalan yang terpanjang adalah kerikil yakni 2.550 543. Teluk Wondama dan Sorong Selatan hanya bisa di darati oleh pesawat jenis tertentu seperti Twin Otter.2 Transportasi Udara Transportasi udara menjadi penting di Provinsi Papua Barat karena karakteristik wilayah yang cukup bergunung.815 56. Kabupaten/ Kota Fak Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Jumlah 2007 Aspal 269.490 96.670 632. 9.617 261. 6.6.100 135.885 1 137. 2. 8.600 … … 473.700 141.707 5 184. 1.934 97.000 107.137. Transportasi Udara merupakan salah satu moda transportasi andalan di Provinsi Papua Barat mengingat kondisi geografisnya yang masih sulit ditembus oleh kendaraan bermotor.310 Jenis Permukaan Kerikil Tanah 164.000 1 550. Tanah 1. 3. 7. 4.000 67. yang saat ini setidaknya terdapat berberapa perusahaan maskapai penerbangan yakni Bali Air dengan jenis pesawat IHS dan Merpati Nusantara Airline (MNA) dengan jenis pesawat DHC-6 dan F-27.000 124. 78 Panjang Jalan menurut Tingkat Permukaan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 No.953 Total Lain-Lain 10.415 402.000 769.803. curam dan diliputi hutan sehingga akses jalan darat menjadi sulit. LAPORAN AKHIR 1-128 . 1.000 119.000 196.39 Km.800 … 1 298.171 2 226.000 10.400 19.201 1 688.550 337. Hampir setiap hari ada jadwal penerbangan yang melayani beberapa ibukota kabupaten. dan lain-lain 16. Salah satu jenis angkutan yang ada di Provinsi Papua Barat adalah pesawat terbang.226. Torea di Fak Fak dan Tarum di Kaimana.000 152.210 5 400.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. Prasarana perhubungan udara utama di Provinsi Papua Barat adalah Lapangan Terbang Rendani di Manokwari.394 1 803.

Jumlah bongkar muat barang pada tahun 2006 mengalami peningkatan 80. Apabila cuaca mendung dan hujan gerimis. Jumlah pergerakan dari masyarakat luar-dan dalam dapat ditunjukkan dengan pergerakan barang dan orang. Selain dua maskapai penerbangan tersebut juga terdapat pesawat yang tidak terjadwal yakni milik PT.91% dan 84. Pada tahun 2006 mencapai 142.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Sorong.87% dibanding tahun 2005. di Manokwari ada beberapa perusahaan penerbangan carter yang bersedia terbang dengan kondisi apapun. pesawat hanya melayani kota tertentu pada hari-hari tertentu.538 orang. Walaupun demikian.965 dan jumlah penumpang pergi 154. Sedangkan pola pergerakan barang dan jasa dapat ditunjukkan dengan catatan mengenai arus lalu lintas. Fakfak. 79 Jadwal dan Rute Penerbangan di Provinsi Papua Barat Maskapai Hari Rute Jenis Pesawat LAPORAN AKHIR 1-129 . Kabupaten yang telah terlayani oleh penerbangan komersial antara lain adalah Kabupaten Manokwari. Pola datang dan pergi masyarakat berasal dari Kota Sorong dan Manokwari. seperti maskapai penerbangan AMA.47 Contoh Pesawat yang melayani kebutuhan transportasi udara di Provinsi Papua Barat Masyarakat di Provinsi Papua Barat tidak terlayani oleh transportasi udara setiap hari di setiap kota. dan Kaimana. Jumlah penumpang datang pada tahun 2003-2006 meningkat dari tahun ke tahun. Keberadaan alat transportasi ini sangat membantu kelancaran arus penumpang ke dan dari kota maupun kabupaten lain di Provinsi Papua Barat. PAS dengan jenis Bolgow-105. Tabel 1. dengan harga carter rata-rata per jam terbang sebesar 4 (empat) juta rupiah. maka penerbangan dibatalkan. Penerbangan dengan menggunakan pesawat ukuran relatif kecil kerap dipengaruhi oleh kondisi cuaca. sekaligus menunjang perkembangan dan pertumbuhan wilayah. Untuk pos paket yang dibongkar mengalami peningkatan sebesar 247% sedangkan yang dimuat mengalami penurunan sebesar 297%.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 IHS Bali Air Senin Selasa Rabu Kamis MNA Senin Rabu Sabtu Kamis Jumat Sabtu Senin Kamis Mimika Air Kamis Tual Kaimana  Sorong  Manokwari Manokwari  Kaimana  Tual  Ambon  Tual Tual  Ambon  Tual  Kaimana  Manokwari Manokwari  Sorong  Kaimana  Tual  Ambon  Tual Biak  Nabire  Kaimana  Fak-Fak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Manokwari  Teluk Bintuni Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Nabire  EWI  Nabire Manokwari  Teluk Bintuni Manokwari  Teluk Bintuni Biak  Serui  Biak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Manokwari  Kaimana  Fak-Fak  Kaimana  BXB  Manokwari Sorong  NTI  Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Nabire  Biak Sorong  BXB  Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Jayapura  ZRM  Nabire  Kaimana  Nabire  Biak Jayapura  Biak  Kaimana  Sorong  Kaimana  Biak  Jayapura Biak  Kaimana  Tual  Timika  Tual  Kaimana  Biak Potowai  Kaimana  Potowai Twin Otter Perintis 1. baik yang masuk maupun yang keluar dari wilayah Papua Barat masih menggunakan transportasi laut.6. Selain itu terdapat beberapa jenis kapal LAPORAN AKHIR 1-130 . baik antar kabupaten maupun antar distrik masih menggunakan moda transportasi laut. juga terdapat kapal PT Pelni yang melayari Pantai Selatan Papua. Hal ini disebabkan karena kondisi fisik wilayah yang belum memungkinkan dibukanya jalan darat sehingga kota tersebut lebih mengandalkan transportasi air sebagai sarana perhubungan antar kota/kabupaten. Beberapa jenis kapal penumpang yang singgah di pelabuhan di beberapa kabupaten di Provinsi Papua Barat selain KM Bukit Siguntang dan KM Tatamailau.3 Transportasi Laut Transportasi laut mempunyai peranan sangat penting pada perekonomian Papua Barat. Hal ini terlihat dari sebagian besar mobilitas orang dan barang. Selain itu sebagian besar mobilitas orang dan barang di wilayah Papua Barat. Jenis alat angkutan lain yang sangat penting bagi masyarakat di Papua Barat adalah kapal laut.

speedboat dan longboat untuk menjangkau wilayah-wilayah terpencil serta kapal nelayan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 barang yang memuat bahan kebutuhan pokok. Pelabuhan Utama Tersier adalah pelabuhan utama yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah menengah dan jangkauan pelayanan menengah. Gambar 1. Rute kapal-kapal motor baik dari PELNI maupun milik swasta. . d. e. Pelabuhan Utama Primer adalah pelabuhan utama yang berfungsi melayani kegiatan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan pelayanan yang sangat luas. serta merupakan simpul dalam sistem jaringan transportasi laut internasional. Pelabuhan Pengumpan Lokal adalah pelabuhan yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut dalam jumlah kecil serta merupakan pengumpan pada Pelabuhan Utama dan Pelabuhan Pengumpan Regional. Sarana transportasi laut. melalui Sorong adalah sebagai berikut: LAPORAN AKHIR 1-131 . jalur pelayanan transportasi air (laut) mampu melayani kota-kota/desa-desa di pesisir Provinsi Papua Barat. b. berdasarkan fungsi pelayanannya dapat diklasifikasikan atas : a. Pelabuhan Pengumpan Regional adalah pelabuhan yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut dalam jumlah kecil dan jangkauan pelayanan yang relatif dekat. serta merupakan pengumpan pada Pelabuhan Utama. c. Pelabuhan Utama Sekunder adalah pelabuhan utama yang berfungsi melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan pelayanan yang sangat luas dan berperan sebagai simpul pada sistem jaringan transportasi nasional.48 Contoh Kapal Laut yang melayani kebutuhan transportasi di Provinsi Papua Barat Secara umum.

karena mereka umumnya merasa lebih mudah dan praktis apabila bekerja dekat dengan permukiman. lebih sering menggunaka transpotasi laut dari pada transportasi udara. kareana apabila menggunakan pesawat udara. kanan: Pelabuhan Teluk Bintuni) Pelabuhan-pelabuhan kecil yang ada saat ini umumnya merupakan pelabuhan pendaratan kapal nelayan milik nelayan setempat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Fakfak – Bintuni – Sorong PP. rute perjalanan menuju Kota Sorong terlebih dahulu.000 DWT. pelabuhan ini juga sudah menerima pelayaran kapal milik PT. Perekonomian wilayah di Papua Barat umumnya digerakkan melalui perhubungan laut dan udara. satu-satunya transportasi antar pulau dan penunjang kegiatan masyarakat di Kabupaten Raja Ampat adalah angkutan laut. Gambar 1. Pembahasan mengenai transportasi laut tentunya tidak terlepas dari keberadaan pelabuhan laut yang merupakan prasarana yang harus ada baik skala kecil maupun besar. Sebagai daerah kepulauan. Selain itu juga terdapat pelabuhan pendaratan ikan yang saat ini sudah tidak lagi berfungsi. Di Kecamatan Kaimana terdapat pelabuhan laut yang mampu disinggahi kapal berukuran 5. Pelni yang melayari Pantai Selatan Papua.49 Kondisi Pelabuhan di Provinsi Papua Barat (kiri: Pelabuhan Kaimana. 2.49 memperlihatkan kondisi maupun suasana pelabuhan utama di Provinsi Papua Barat. ibu kota Kabupaten Raja Ampat. Gambar 1. Selain disinggahi kapal penumpang. LAPORAN AKHIR 1-132 . Di Kabupaten Kaimana terdapat satu pelabuhan utama yang terletak di Kaimana Kota dan beberapa pelabuhan kecil yang tersebar di beberapa tempat. kemudian dilanjutkan dengan transportasi laut. Selain pelabuhan-pelabuhan umum tersebut perlu pula dikembangkan pelabuhan khusus untuk Kawasan Industri dan pelabuhan khusus bagi kepentingan pariwisata. Demikian juga untuk menjangkau Waisai. KM IWERI dengan rute Jayapura – Sarmi – Nabire – Serui – Biak – Korido – KM Lady Marina dengan rute: Merauke – Agast – Timika – Tuai – Kaimana – Manokwari – Saukorem – Sausapor – Sorong – Bintuni – Babo PP.

Oransbari. yaitu pelabuhan perintis Wasior. terdapat pelabuhan kecil yang melayani pelayaran perintis di daerah-daerah kepulauan. Babo dan Kokas. Keempat pelabuhan utama ini digunakan sebagai pelabuhan komersil. pesisir pantai maupun sungai-sungai. Sausapor. LAPORAN AKHIR 1-133 . di Provinsi Papua Barat terdapat 4 (empat) pelabuhan utama. Saonek. Teminabuan. Bintuni. Selain itu. Inantawan. yaitu Pelabuhan Sorong. Pelabuhan Fak Fak dan Pelabuhan Kaimana. Windesi. Pelabuhan Manokwari. Kalobo.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2006. Saukorem.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.50 Peta Sarana dan Prasarana Transportasi LAPORAN AKHIR 1-134 .

Tabel 1. energi merupakan aspek yang sangat krusial. layanan PLN masih sangat kurang seperti terlihat pada Tabel 1. maka pembangunan sarana dan prasarana energi juga menjadi kebutuhan vital dan mendesak di Provinsi Papua Barat. meningkat dari jumlah tahun 2004 yang sebesar 61253 pelanggan.7.1 Prasarana Wilayah Provinsi Papua Barat 1. terdapat 71.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. 80 Jumlah Rumah Tangga. Meski jumlah pelanggan terus meningkat.087 mwh. dilihat dari segi distribusi. Pembangkit listrik tenaga diesel sangat ini merupakan sumber energi yang paling utama. Penyediaan listrik di Papua Barat teridir dari dua macam yaitu pembangkit listrik tenaga diesel dan pembangkit listrik mikro hidro.7. Tingkat layanan listrik rata- LAPORAN AKHIR 1-135 . Total produksi selama tahun 2005 tercatat 79. hasil perhitungan Tabel 1. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan energi.015 mwh yang dialirak dan 70. Jumlah pelanggan pada tahun 2005 mengalami peningkatan menjadi 63238 pelanggan. meningkat sebanayk 3. Total kapasitas terpasang 21178 kw sementara beban puncak 27674 kw. Banyaknya unit pembangkit tenaga listrik di Papua Barat pada tahun 2005 adalah 16 unit. Dari total produksi tersebut.79 persen dari tahun sebelumnya.960 mwh terjual.7 ASPEK SARANA DAN PRASARANA WILAYAH PROVINSI PAPUA BARAT 1.1.1 Energi Dalam lingkup wilayah.80 berikut. Jumlah Pelanggan PLN Rumah Tangga dan Tingkat Layanan Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 Sosial 287 107 25 24 709 106 205 106 548 2 117 2 117 2 117 Rumah tangga 5 744 1 741 237 737 16 602 1 186 5 739 1 886 20 543 54 415 54 415 54 415 Bisnis 772 439 14 91 1 799 83 153 32 2 052 5 435 5 435 5 435 Industri 2 5 1 5 13 13 13 Publik 247 63 11 13 273 38 45 38 530 1 258 1 258 1 258 Sumber: Papua Barat dalam angka 2007.80 tersebut membandingkan jumlah pelanggan PLN di Papua Barat dari jenis rumah tangga dengan jumlah rumah tangga di Papua Barat.

Tingkat layanan yang paling ada di kabupaten-kabupaten baru dengan angka terendah ada pada kabupaten Teluk Wondama sebesar 4. Sorong Selatan. 81 Jumlah Kantor Pos dan Kantor Pos Pembantu Tahun 2008 Kabupaten Kantor Pos Kantor Pos Pembantu Kantor Pos dan Giro Tambahan Rumah Pos Kantor Pos Desa Jumlah Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong 1 … 6 1 1 … - … 1 1 1 … 4 5 9 7 1 … 3 7 11 19 1 1 2 … 13 6 8 3 34 41 1 Selatan Sorong 1 Raja Ampat Kota Sorong 1 1 Papua Barat 9 4 2007 3 11 Sumber : Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Kantor pos hanya terdapat di dua wilayah yaitu Kota Sorong dan Manokwari sementara kantor pos pembantu terdapat di semua wilayah kecuali Kabupaten Raja Ampat. yang terkendala oleh kondisi topografi wilayah Papua Barat. jumlah sarana dapat dilihat pada Tabel 1. Teluk Bintuni.81 berikut: Tabel 1. LAPORAN AKHIR 1-136 .1.89 persen.57 persen.2 Komunikasi Infrastruktur komunikasi dan komunikasi pada tingkat provinsi lebih menitikberatkan pada persebaran dan tingkat layanan. Layanan telepon belum terdapat di Teluk Wondama. Wilayah Raja Ampat yang berupa kepulauan mungkin menjadi faktor kenapa kantor pos dalam skala kecil lebih berperan. Pemenuhan energi di Papua Barat masih sangat kurang baik dari segi jumlah maupun distribusi.7. Kondisi infrastruktur konumikasi dan perhubungan di Papau Barat tergolong masih sangat minim. Untuk layanan pos. Kebutuhan pos di Raja Ampat dipenuhi oleh rumah pos dan kantor pos desa. Rasio elektrifikasi di Indonesia rata-rata berkisar pada angka 50 persen. Tingkat layanan tertingi ada di kota Sorong yaitu sebesar 57.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 rata bagi rumah tangga di Papua adalah sebesar 32. dan Raja Ampat. Tingkat layanan tersebut masih sangat jauh dari rata-rata yanng ada.47 persen. 1. Layanan telepon dari Telkom saat ini baru terkonsentrasi di kabupaten dan kota terutama seperti Sorong dan Manokwari.

936.3 Air Bersih Perusahaan air bersih pada tahun 2003 terdiri dari 4 perusahaan.720 39.365 145.353 10. Tabel 1. 3 perusahaan induk dan 1 perusahaan cabang. sedangkan perusahaan cabang tidak difungsikan lagi.496 3.005 Jumlah Khusus 42.117 3.200 196.607 8.363 3.074. 83 Banyaknya Pelanggan Air Minum yang Disalurkan Menurut Jenis Pelanggan Per Kabupaten/Kota Tahun 2006 (m3) No Kabupaten/ Sosial 69. 3 Kabupaten/ Kota Fak Fak Manokwari Kota Sorong Jumlah 2007 2006 2005 2004 Sungai 2.177.535 3.047 73.507 Kota 1 Fak Fak 2 Sorong 3 Manokwari 9 Kota Sorong Jumlah 6 Sumber : PDAM.6%.554 Sumber Air Mata Air 45 65. 2009 Pada berikut nampak bahwa persentase sumber air bersih berasal dari sungai mencapai 54.177.230.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kondisi wilayah Papua Barat lebih memungkinkan pengembangan jaringan komunikasi nirkabel seperti telepon seluler dan telepon satelit.318 65.690 Jenis Pelanggan Non Niaga Niaga Industri 667.905 1.422 4. Data tetntang air bersih masih memasukkan kabupaten bentukan baru dalam kabupaten induknya.515 2.496 2.427 5. Total produksi air sebanyak 6.480 M3.767 Danau 32.138.699 858.544 8. Tetapi kapasitas potensial pada tahun 2004 mengalami kenaikan dari 268 liter/detik menjadi 297 liter/detik.329 5.512 32. 2. 1.270 29.107.3% dan sumber lainnya 0.7.582.936.149.240 53. Tabel 1.330 2.490 39. Sedangkan kapasitas efektif sama dengan tahun 2003 yakni 144 liter/detik.345M3. Papua (Kompilasi data tahun 2007) LAPORAN AKHIR 1-137 .1. Telah ada operator seluler yang menjangkau Papua Barat namun juga masih terkonsntrasi di wilayah seperti Kota Sorong.945 1.427 28.383.210 177.372.497 19. yang bersumber dari sungai sebanyak 3.864 33.06 5.582. mata air 45.117 2.344 3.673 2.1%.272 1.370.525.243.330 M3 dan dari sumber lainnya sebanyak 6.230 16.464 1.512 … … … Lainnya … … … 6. 82 Produksi Air Bersih Menurut Kabupaten/Kota dan Sumber Air yang Digunakan Tahun 2008 (m3) No.626.907 617. Sumber air bersih yang digunakan berasal dari air sungai dan mata air pegunungan.331 687.923. Pada tahun 2004 mengalami penurunan yaitu hanya 3 perusahaan induk. 1.923.480 Sumber : Papua Barat Dalam Angka.535 M3 dan dari mata air pegunungan sebanyak 2.926.428.809 1.

Teluk Wondama. Pada tingkat SMP/MTs diperoleh perbandingan kapasitas guru dan siswa sebesar 3.7.699 Artinya non niaga merupakan pengguna air terbanyak di susul oleh niaga. 1.690 dan industri 28.7.2 Sarana Wilayah Provinsi Papua Barat 1.428.295 : 113. sebaliknya untuk kota Sorong memiliki jenjang sekolah SMK yang cukup tinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya yaitu sebanyak 7 sekolah.507 M3. Tabel 1. dan Raja Ampat. dirnana terdapat 3 (tiga) lokasi kabupaten yang belum memiliki jenjang SMK yaitu kabupaten Teluk Bintuni.370.1 Pendidikan Sarana dan tenaga pengajar pendidikan merupakan kapasitas yang mendukung proses belajar mengajar dalam kegiatan pendidikan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa 1(satu) orang guru akau mengajar siswa jenjang pendidikan SD/Ml sebanyak 22 orang. disusul Kabupaten Sorong.253 LAPORAN AKHIR 1-138 . Jumlah sarana pendidikan di Papua Barat pada tahun 2005 terdapat pada Tabel 1. Kabupaten Fak Fak.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2004 jumlah air minum yang disalurkan sebanyak 4. dan telah tersebar pada daerah kabupaten dan kota di wilayah ini.005 dan yang khusus adalah 145. Non niaga merupakan pelanggan terbesar yakni 2. 84 Sarana Pendidikan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten TK SD SMP SMA Fak-Fak 30 91 16 6 Kaimana 8 68 10 4 Teluk Wondama 1 42 4 1 Teluk Bintuni 6 64 14 4 Manokwari 32 166 28 13 Sorong Selatan 110 16 4 Sorong 47 115 21 5 Raja Ampat 2 80 17 2 Kota Sorong 35 70 24 16 Papua Barat 161 806 150 55 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 SMK 3 4 1 2 1 1 7 19 MA 1 1 1 1 4 Sarana pendidikan di Provinsi Papua Barat mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga perguruan tinggi telah tersedia.149. Penggunaan air bersih yang terbanyak di Papua Barat adalah Kota Sorong dari semua jenis pelanggan yang di salurkan. sedangkan sosial 177.284:32.066.84 berikut ini. Khusus untuk sarana pendidikan dengan jenjang pendidikan SMK sebagai jenjang kejuruan yang lebih menekankan pada profesionalisme ilmu belum tersebar pada semua kabupaten/kota.901 atau 1: 22. industri dan khusus relatif lebih kecil. sedangkan dari kategori sosial.2.047 dan niaga sebesar 1. dan Kabupaten Manokwari. Perbandingan kapasitas guru tersedia dan siswa pada jenjang pendidikan SD/MI diperoleh nilai sebesar 5.

Pembangunan di bidang kesehatan dapat menjadi modal bagi peningkatan kualitas masyarakat. STIE Maesa. Apabila dilihat dari perbandingan kapasitas guru dan siswa didik.2. 85 Tenaga Pengajar di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat TK 98 8 1 28 98 4 64 301 602 SD 846 284 119 251 1035 783 795 233 949 5295 SMP 275 127 38 175 325 49 595 65 1635 3284 SMA 88 30 20 76 387 29 83 32 745 1490 SMK 60 65 15 115 15 85 215 570 MA 5 6 20 25 56 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Dilihat dari tingkat rasio antara sekolah dan tenaga pengajar dengan jumlah murid. meningkatkan kesehatan reproduksi. Jumlah sarana layanan kesehatan di Papua Barat terdapat pada Tabel 1. Meski demikian. Jenjang pendidikan perguruan tinggi yang tersedia di Provinsi Papua Barat terdiri dari Universitas Negeri Papua/UNIPA. masyarakat harus menmepuh jarah yang jauh. ternyata memiliki perbandingan yang cukup baik dalam proses belajar mengajar.7. Tabel 1. Sekolah Pendidikan Agama Kristen/SPAK. Untuk dapat mencapai suatu sarana pendidikan. STIE Sorong (Kabupaten Sorong). Saint Paul Politeknik. layanan pendidikan memang telah memenuhi. SIT Otouw Gesler. Dari segi jumlah penduduk.86 berikut ini. dan membudidayakan perilaku hidup sehat. layanan di Papua Barat telah mencukupi. Universitas Kristen Indonesia Papua /UKIP. 1. LAPORAN AKHIR 1-139 . Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian/STPP (Kabupaten Manokwari).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 atau 1:10. Sekolah Tinggi Viktoria. Layanan kesehatan yang mencukupi dapat menurunkan tingkat kematian. Universitas Muhamadiyah Alamin/UNAMIN (Sorong).2 Kesehatan Layanan kesehatan adalah layanan krusial bagi masyarakat dan berkaitan dengan kualitas masyarakat. tingkat partisipasi masyarakat dalam pendidikan di Papua Barat masih rendah. namun dari segi distribusi wilayah belum memenuhi. mengurangi jumlah penyakit menyebar. Sekolah Tinggi Ilmu Hukum/STIH. Kenyataan ini erat kaitannya dengan masalah transportasi. Artinya bahwa 1(satu) orang guru pada tingkat SMP/MTs akan mengajar 10 siswa.

1. selain itu masyarakat harus menempuh perjalanan jauh untuk dapat memperoleh layanan kesehatan.2. Jumlah sarana tersebut tentu masih sangat kurang. Manokwari.7. Kabupaten-kabupaten baru hingga tahun 2005 belum memiliki rumah sakit. hanya di Fak-Fak.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.87 menunjukkan minimnya tenaga dokter di Papua Barat. Hal ini dapat dipahami karena lokasi-lokasi tersebut merupakan kabupaten lama (Provinsi Papua) sebelum pemekaran wilayah menjadi Provinsi Papua Barat. 87 Jumlah Tenaga Dokter di Provinsi Papua Barat tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Dokter Ahli 4 Dokter Umum 22 6 5 3 16 6 10 2 7 77 Dokter Gigi 2 1 21 2 9 34 2 7 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 Tabel 1. dan Kota Sorong. Sorong. Jumlah tenaga dokter di Papua Barat adalah sebagai berikut. Tabel 1. Kota Sorong. Kaimana. Untuk dokter ahli belum terdapat di semua kabupaten. Manokwari.173 Polindes 8 31 14 8 74 36 7 7 35 2 1 8 18 11 2 9 12 41 Ketersediaan sarana kesehatan yang cukup tinggi ada pada lokasi Kabupaten Manokwari. Di wilayah-wilayah tersebut telah terdapat layanan rumah sakit.3 Perekonomian LAPORAN AKHIR 1-140 . dan Kota Sorong. Dokter gigi baru terdapat di Fak-fak. dan Fakfak. Dokter umum memang telah tersedia di seluruh kabupaten walau terkonsentrasi di kabupaten induk. Sarana kesehatan tentu harus didukung oleh layanan tenaga kesehatan sperti dokter. 86 Jumlah Sarana Kesehatan di Provinsi Papua Barat tahun 2008 Puskesmas Puskesmas Puskesmas Pembantu Keliling Fak-Fak 37 9 5 Kaimana 46 7 9 Teluk Wondama 22 6 10 Teluk Bintuni 28 15 10 Manokwari 84 19 19 Sorong Selatan 42 8 9 Sorong 22 12 2 Raja Ampat 33 13 21 Kota Sorong 25 5 8 Papua Barat 339 94 93 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 Kabupaten Rumah Sakit 1 BP 6 1 Posyandu 130 79 70 221 255 151 111 69 87 1.

kemudian koperasi Unit Desa (KUD) dan non KUD.79 persen adalah bank-bank yang dikelola oleh swasta (Bank Mandiri. Teluk Bintuni 8. seperti Minimarket dan Supermarket. 4. Restoran/Rumah Makan. yang terdiri dari Bank Pemerintah Pusat (BNI. Teluk Wondama 9. 5. Perbankan Sarana perbankan merupakan sarana yang penting dalam perekonomian. Dari semua jenis usaha seperti: toko/warung/kios. sedangkan yang lainnya lebih banyak tersebar di perkotaan.72 persen. sisanya sebesar 16. dan non KUD sebagian besar berada di pedesaan.49 persen dan Bank Pembangunan Daerah (Bank Papua) sebesar 26. Sorong 3. Manokwari 4. Hotel/Penginapan. 7. BRI) sebesar 56. Tabel 1. Kota Sorong Jumlah di Kota dan di Desa Jumlah di Kota Jumlah di Desa 1 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 b. 6. Fak Fak 2. 88 Jumlah Perusahaan Perdagangan Menurut Golongan Usaha Pada Tingkat Desa dan Perkotaan No Kabupaten/ Kota Super Market 1 3 Restoran/ Rumah Makan 4 2 8 2 2 1 1 5 11 9 2 11 30 25 5 Toko/ Warung/ Kios 9 37 69 5 52 59 20 11 22 284 41 243 Hotel/ Penginapan 3 7 1 2 2 3 10 28 21 7 Koperasi Unit Desa 9 9 14 1 7 1 3 44 8 36 Koperasi Non KUD 7 4 7 2 1 16 4 41 8 33 1. Tabel 1. Sorong Selatan 6. jumlah terbesarnya adalah kantor Bank Pemerintah. bahwa toko/warung/kios menduduki urutan tertinggi. 3. KUD. Kaimana 5.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 a. Bank Danamon). 2. Jumlah kantor cabang bank yang beroperasi di Provinsi Papua Barat kurang lebih berjumlah 60 kantor cabang. dan Supermarket. Dari sejumlah bank yang beroperasi. Kabupaten/ Kota Fak Fak Sorong Manokwari Kaimana Sorong Selatan Raja Ampat Teluk Bintuni Bank Umum 2 2 7 1 1 1 3 BPR 1 LAPORAN AKHIR 1-141 . Perdagangan Perusahaan perdagangan di Papua Barat menurut golongan usaha pada tingkat desa dan perkotaan. Raja Ampat 7. 89 Jumlah Perbankan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2007 No 1.

Jaringan jalan. Permukiman.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 8. Teluk Wondama 1 9. 90 Jumlah Bank dan Kantor Bank di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Rincian/ Description Bank Persero dan Bank Pemerintah Daerah Jumlah bank Jumlah kantor bank Bank Swasta Nasional Jumlah bank Jumlah kantor bank Bank Asing dan Bank Campuran Jumlah bank Jumlah kantor bank Jumlah bank Jumlah kantor bank Jumlah Bank Banks Kantor Bank 16 156 17 180 17 192 9 49 11 54 7 9 9 20 18 18 4 6 2004 2005 2006 2007 2008 Bank-bank Umum 129 153 165 45 48 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 1. Potensi Pengembangan Pola Ruang LAPORAN AKHIR 1-142 . 3. Struktur ruang di kawasan ini hanya dibentuk oleh beberapa kegiatan. Kehutanan. Potensi Pengembangan Struktur Tata Ruang Secara umum kondisi tata ruang di wilayah perencanaan masih sangat sederhana. Sedangkan permukiman perdesaan membentuk kelompok secara tersebar. Kawasan perdagangan dan jasa. Pola struktur ruang pada saat ini masih linier yaitu mengikuti pola jaringan jalan utama. 2.8 POTENSI PROVINSI PAPUA BARAT BARAT A. yaitu: 1. Pertanian. Kota Sorong 6 Jumlah di Kota dan di Desa 24 Jumlah di Kota 19 Jumlah di Desa 5 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2008 1 2 2 - Tabel 1. sehingga dapat mempermudah pengarahan fungsi-fungsi yang telah ditetapkan. B. 4. 5.

Potensi Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi Kawasan strategis merupakan kawasan-kawasan dengan potensi dan atau permasalahan tertentu yang perlu diprioritaskan penanganannya secara sektoral maupun tata ruang. Terdapatnya sumberdaya alam yang belum termanfaatkan sebagai penunjang fungsi kawasan strategis ekonomi. Terdapat beberapa pintu gerbang nasional yang dapat ditingkatkan menjadi pintu gerbang internasional dalam rangka peningkatan kerjasama ekonomi. laut dan pulaupulau kecil yang masih berpotensi untuk ditingkatkan dan dikembangkan pada masing-masing kawasan pemanfaatan ruang laut dalam rangka pengembangan kerjasama antar kawasan. kawasan strategis lingkungan dan kawasan strategis sosial. Masih luasnya hutan sehingga dapat menujang program penanganan lingkungan. 5. Terdapat beberapa komoditas unggulan yang bernilai ekspor cukup tinggi. Terlebih adanya kabupaten-kabupaten bentukan baru menyebabkan pencatatan data penggunaan lahan harus dilakukan ulang. 3. Data mengenai lahan antara satu dan yang lainnya kerap menunjukkan perbedaan. hal ini dapat dijadikan potensi pengembangan dengan mengalih fungsikan perkebunan yang kurang produktif menjadi lahan yang dilihat dari sisi ekonomisnya menjadi lebih tinggi. LAPORAN AKHIR 1-143 . karena memiliki dampak yang penting pada upaya pencapaian tujuan pengembangan wilayah dalam lingkup provinsi. Perlunya konsep mitigasi bencana pada kawasan-kawasan yang mempunyai kerawanan terhadap bencana. Potensi Pengembangan Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Seperti diketahui Provinsi Papua Barat mempunyai wilayah pesisir. masalah. 2. 1. Potensi budaya yang beragam dapat dijadikan entry point bagi kawasan strategis sosial. laut. D. Pola ruang yang ada berdasarkan data masih didominasi oleh hutan. Potensi dari kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: 1. Pola penggunaan lahan masih berpola pedesaan dengan didominasi oleh kebun campuran. 4. dan prospek kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Provinsi Papua Barat dapat dijelaskan sebagai berikut. Faktor kondisi fisik Provinsi Papua Barat yang berbukit dengan banyak pulau menyebabkan pencatatan penggunaan lahan relatif lebih sulit dilakukan. sehingga untuk pengembangan kawasan budidaya masih sangat terbuka. Dukungan keberadaan sumberdaya (hayati dan non hayati) pesisir. Adapun potensi. 6. C. Di Provinsi Papua Barat terdapat beberapa kawasan strategis ekonomi. dan pulau-pulau kecil yang tersebar cukup luas.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pola Ruang di Provinsi Papua Barat masih sangat terbatas.

kapasitas maupun keragamannya. merupakan potensi yang masih dapat ditingkatkan dari sisi pangsa pasar. terdapat pula beberapa permasalahan dalam pembentukan struktur ruang tersebut. Perkotaan serta Struktur Ruang Selain potensi pengembangan struktur tata ruang. c) Pola permukiman pedesaan yang sangat menyebar sehingga mempersulit pelayanan dari sarana dan prasarana. laut dan pulau-pulau kecil. b) Masih minimnya sarana dan prasarana perkotaan. serta dalam meningkatkan mutu hasil produksi perikanan dan pesisir lainnya. maka prospek pengembangan struktur tata ruang Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Penetapan fungsi PKN.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2. Strategis Penataan Ruang Provinsi Papua Barat dan Prospek Pengembangannya Peran dan Fungsi Sistem. 5. dan sekaligus potensi dalam pengembangan inlet-outlet pada wilayah pesisir melalui keberadaan pelabuhan laut. Perkembangan teknologi perikanan dan kelautan yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan pengelolaan sumberdaya pesisir. Hal ini juga didukung oleh posisi geografis Indonesia yang strategis. e) Peningkatan akses sarana dan prasarana dasar pada permukiman di pedesaan.9 Isu 1. LAPORAN AKHIR 1-144 . Keberadaan kawasan kerjasama regional antar negara (IMT-GT. yaitu berada di antara dua benua dan dua samudera. 1. PKW dan PKL yang disesuaikan dengan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang dimiliki pada masing masing pusat tersebut. Permasalahan utama pengembangan Struktur Ruang Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Jaringan jalan yang belum menghubungkan pusat-pusat kegiatan sehingga belum terbentuk hirarki pusat yang baik. d) Penentuan hirarki jaringan jalan berdasarkan status pusat yang dihubungkannya. Telah berkembangnya pemasaran produk perikanan dan pesisir lainnya ke luar negeri (ekspor). IMS-GT. b) Pembangunan sarana dan prasarana yang menunjang fungsi pelayanan dari pusat-pusat tersebut sesuai dengan hirarkinya. c) Pengembangan jaringan jalan dan transportasi lainnya sebagai penghubung dari pusat-pusat pelayanan. dan lain-lain) sebagai pendorong sekaligus wilayah yang dapat menampung hasil-hasil produksi atau memanfaatkan jasa-jasa pada sektor pesisir dan kelautan. Keberadaan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan aksesibilitas ke luar wilayah Indonesia. Berdasarkan potensi dan permasalahannya. BIMPEAGA. 3. 4.

c) Keberlanjutan manfaat. b) Konflik antara kawasan lindung dengan Hak Pengusahaan Hutan (HPH). c) Konflik antara kawasan lindung dengan kawasan budidaya lainnya. atau kekayaan yang dapat dimanfaatkan. Untuk itu. juga ditemukan cadangan bahan galian. maka prospek pengembangan pola ruang wilayah adalah sebagai berikut: a) Perlunya batas administrasi dan penguasaan hak ulayat dalam rangka menunjang pembangunan menuju pola ruang yang diinginkan. dengan tetap memperhatikan daya dukung dan kemampuan wilayah dalam menampung kegiatan yang dipertahankan tersebut. Masalah lain yang timbul adalah masalah hak ulayat yang belum jelas dalam penguasaan lahan sehingga dalam penentuan batas administrasi serta batas kepemilikan lahan belum jelas tergambarkan. d) Konflik antara kawasan lindung dengan pengembangan transportasi. Pola Ruang Masalah yang terjadi di Provinsi Papua Barat adalah masalah konflik penggunaan lahan. faktor fisik wilayah Provinsi Papua Barat yang bergelombang juga merupakan suatu kendala dalam pengembangan pola ruang yang diinginkan. yang didasarkan pada: a) Kawasan merupakan perwujudan sumberdaya dan kimah (asset). bentuk konflik yang dapat muncul adalah adanya persamaan lokasi atas peruntukan lahan yang didasarkan atas kondisi biofisik dengan potensi yang dikandung. Selain masalah konfilk penggunaan lahan. Berdasarkan potensi dan permasalahan yang telah diungkapkan pada sub bab sebelumnya. c) Perlu adanya penyelesaian konflik yang terjadi dengan memperhatikan azas manfaat. b) Prospek jangka panjang ke masa depan. apabila LAPORAN AKHIR 1-145 . b) Pembangunan menuju pola ruang yang diinginkan tersebut harus memperhatikan daya dukung lingkungan dan fisik dari wilayah-wilayah yang direncanakan. Gambaran konflik ruang yang terjadi adalah: a) Konflik antara kawasan lindung dengan potensi pertambangan. Di dalam tempat yang sama. misalnya bahan galian.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2. sehingga yang dikerjakan tidak habis dalam waktu dekat. selain itu juga faktor kebencanaan perlu menjadi pertimbangan dalam pengembangan pola ruang di Provinsi Papua Barat. sehingga manfaat dapat diperoleh secara terus menerus. artinya manfaat yang lebih besar hendaknya dipertahankan keberadaannya. lahan yang seharusnya sebagai kawasan penyangga. dalam pemanfaatan lahan harus didasarkan atas 3 terapan (perception) dari lahan.

dan pulau-pulau kecil Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Pengembangan badan usaha bersama dalam bidang penangkapan ikan baik pengembangan sarana dan sarana penangkapan ikan. b) Konflik pemanfaatan dan kewenangan. pemanfaatan dan pengendalian) kerjasama antar kawasan dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir laut dan pulau-pulau kecil. Perbedaan tujuan. e) Rendahnya sumberdaya manusia (SDM) masyarakat dan aparat dalam merealisasikan proses (perencanaan. yaitu penggunaan bahan peledak. f) Pencurian ikan oleh nelayan asing yang banyak terjadi pada perairan pada wilayah perbatasan. aktifitas pelayaran/perkapalan. c) Pengembangan sektor kepariwisataan bahari serta membentuk keterkaitan antar wisata yang mempunyai potensi yang sangat besar di Provinsi Papua Barat. LAPORAN AKHIR 1-146 . 1998). penambatan jangkar perahu. b) Pembentukan keterkaitan dan distribusi produk untuk pengembangan budidaya perikanan. Setiap pihak yang berkepentingan mempunyai tujuan. peristiwa tumpahan minyak. c) Kerusakan dan pencemaran lingkungan pesisir. Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Isu terkait dengan pengembangan kawasan pesisir danp-Pulau Kecil di Provinsi Irian Jaya adalah sebagai berikut: a) Kurangnya dukungan prasarana dan sarana (kelautan dan perikanan) serta keberadaan pusat-pusat kegiatan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi pesisir. Kerusakan akibat pemanfaatan berlebih (over exploitation) pada sebagian jenis sumberdaya pesisir (khususnya sumberdaya perikanan tangkap). umumnya disebabkan oleh kegiatan-kegiatan perikanan yang bersifat destruktif. dan lain-lain. karena tidak adanya aturan yang jelas tentang penataan ruang pesisir dan lautan dan alokasi sumberdaya yang terdapat di kawasan pesisir. laut. Dengan melihat potensi dan masalah yang terjadi maka prospek pengembangan kawasan pesisir. maka harus dikembalikan kepada fungsi lindung yang diembannya 3. target dan rencana untuk mengeksploitasi sumberdaya pesisir. Beberapa stok sumberdaya ikan telah mengalami kondisi tangkap lebih (over fishing) seperti udang. sasaran dan rencana tersebut mendorong terjadinya konflik pemanfaatan sumberdaya (user conflict) dan konflik kewenangan (jurisdictional conflict) (CincinSain dan Kenneth. maupun pengembangan sumberdaya manusianya. d) bahan beracun sianida.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 kegiatan yang dimaksud sudah berakhir.

d) Pengendalian dan pengawasan yang ketat serta pemberian sangsi yang tegas pada kawasan-kawasan strategis lingkungan. Prospek dari pengembangan kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Perlu adanya peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia dalam pengelolaan sumberdaya alam yang melimpah. b) Keterbatasan sektor transportasi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 d) Pengembangan indusri pelayaran dan pengangkutan sebagai upaya untuk membentuk keterkaitan antar pusat-pusat pengembangan. Terjadinya konflik sosial antar suku menjadi kendala dalam mengembangkan potensi budaya yang ada. terutama transportasi darat sehingga kelancaran perangkutan barang dan orang menjadi terhambat dan mahal. Selain itu juga perlu adanya peningkatan daya saing sumber daya lokal sehingga sumberdaya dari luar yang datang juga mempunyai kualitas yang baik. sehingga mengganggu fungsi lindung yang ditetapkan. e) Menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan sosial-masyarakat Provinsi Papua Barat. LAPORAN AKHIR 1-147 . Masalah dari kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: d) Masih sering terjadi illegal logging sehingga mengganggu fungsi lindung. c) Peningkatan pembangunan sarana dan prasarana transportasi sebagai penunjang pengembangan kawasan strategis. c) Belum termanfaatkannya potensi pasar dan pemasaran yang ada. mengingat kota-kota yang terbentuk di Provinsi Papua Barat sebagian besar berada pada wilayah pesisir. b) Peningkatan status pintu gerbang Sorong dan Manokwari menjadi pintu gerbang nasional dan internasional. 4. e) Pemanfaatan f) hutan produksi yang melebihi daya dukungnya. Kawasan Strategis a) Kurangnya sumberdaya manusia baik dari kualitas maupun kuantitasnya dalam upaya pemanfaatan potensi sumberdaya alam yang begitu besar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful