Profil Wilayah Provinsi Papua Barat

1

1.1

ASPEK FISIK DASAR

Aspek fisik dasar yang akan dipaparkan diantaranya mengenai batas administrasi dan geografi, klimatologi, suhu dan kelembaban, morfologi, kondisi geologi, karakteristik tanah, Hidrologi, karakteristik hidro-oseanografi, dan ketersediaan lahan. 1.1.1 Perkembangan Pembentukan Daerah

Provinsi Papua Barat secara definitif dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999 dengan nama Provinsi Irian Jaya Barat bersamaan dengan pembentukan Provinsi Irian Jaya Tengah, Kabupaten Mimika, Kabupaten Paniai, Kabupaten Puncak Jaya, dan Kota Sorong. Namun pemekaran wilayah provinsi ini ditangguhkan karena terjadi penolakan terhadap pemekaran ini, sementara pemekaran kabupaten tetap dilaksanakan sesuai UU Nomor 45 Tahun 1999 tersebut. Berdasarkan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat,

1-1

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Teluk Bintuni, dan Kabupaten Teluk Wondama di Provinsi Papua, maka terjadi pemekaran untuk beberapa kabupaten. Pemekaran wilayah untuk Provinsi Irian Jaya Barat sebagai berikut: 1. Kabupaten Sorong dengan dua kabupaten pemekaran, yaitu: Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Raja Ampat. 2. Kabupaten Manokwari dengan dua kabupaten pemekaran, yaitu: Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Teluk Wondama 3. Kabupaten Fak Fak dengan satu kabupaten pemekaran, yaitu Kabupaten Kaimana

Setelah memiliki wilayah yang jelas, penduduk, aparatur pemerintahan, anggaran, anggota DPRD, serta gurbernur dan wakil gubernur definitive, Provinsi Irian Jaya Barat mulai membangun dirinya secara sah. Sejak tanggal 18 April 2007, Provinsi Irian Jaya Barat berubah nama menjadi Provinsi Papua Barat, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007. Pada tahun 2008 dimekarkan satu kabupaten baru di Provinsi Papua Barat yaitu Kabupaten Tambrauw. Dasar hukum pembentukan Kabupaten Tambrauw adalah UndangUndang Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2008 dengan ibukota kabupaten yang terdapat di distrik Fef. Berdasarkan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 127/PUUVII/2009 tanggal 25 Januari 2009, Kabupaten Tambrauw dibentuk dari sebagian bekas wilayah Kabupaten Sorong dan Kabupaten Manokwari, yaitu Distrik Abun, Distrik Amberbaken, Distrik Fef, Distrik Kebar, Distrik Kwoor, Distrik Miyah, Distrik Moraid, Distrik Mubrani, Distrik Sausapor, Distrik Senopi, dan Distrik Yembun. Berdasarkan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI (Nomor 127/PUU-VII/2009 tanggal 25 Januari 2009), maka batas wilayah Kabupaten Tambrauw adalah sebagai berikut: Utara Selatan Barat Timur : Samudera Pasifik : Kabupaten Sorong Selatan : Kabupaten Sorong : Distrik Sidey, Kabupaten Manokwari

Pada tahun 2009 terdapat kabupaten baru yang dimekarkan yaitu Kabupaten Maybrat. Kabupaten Maybrat merupakan pemekaran dari wilayah kabupaten Sorong. Pada 27 Oktober 2008 dikeluarkan Keputusan Bupati Sorong Selatan Nomor 133 Tahun 2008 tentang Penyerahan Sebagian Cakupan Wilayah Bawahan Kabupaten Sorong Selatan ke

LAPORAN AKHIR 1-2

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten Sorong, wilayah yang diserahkan terdiri dari 11 (sebelas) distrik, yaitu: Distrik Aifat, Distrik Aifat Utara, Distrik Aifat Timur, Distrik Aifat Selatan, Distrik Aitinyo Barat, Distrik Aitinyo, Distrik Aitinyo Utara, Distrik Ayamaru, Distrik Ayamaru Utara, Distrik Ayamaru Timur, dan Distrik Mare. Pada 16 Januari 2009 disahkanlah UURI Tahun 2009 Nomor 13 tentang Pembentukan Kabupaten Maybrat sebagai hasil pemekaran dari kabupaten Sorong. Adapun komposisi distrik bawahannya adalah tepat sama dengan komposisi distrik di atas. Ini terjadi karena pemekaran dari Kabupaten Sorong Selatan belum memenuhi syarat teknis dan legalitas, jadi upaya percepatan berupa pemindahan kembali 11 distrik calon distrik Kabupaten Maybrat untuk sementara waktu ke kabupaten induknya, dan dilanjutkan dengan proses pembentukan Kabupaten Maybrat sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Sorong, bukan dari Kabupaten Sorong Selatan. Peresmian dilakukan pada tanggal 15 April 2009 di Jakarta, adapun batas wilayah Kabupaten Maybrat adalah sebagai berikut: Utara Selatan Barat Timur 1.1.2 : Fef, Senopi, Kebar : Kokoda, Kais : Moswaren, Wayer, Sawiat : Moskona Utara, Moskona Selatan Batas Administrasi dan Geografi

Provinsi Papua Barat secara geografis terletak pada 124°-132° Bujur Timur dan 0°-4° Lintang Selatan, tepat berada di bawah garis khatulistiwa dengan ketinggian 0-100 meter dari permukaan laut. Kabupaten Fakfak merupakan kabupaten tertinggi dengan ketinggian 10-100 meter diatas permukaan laut, sedangkan kota-kota lainnnya berkisar antara 10-50 meter diatas permukaan laut. Batas geografis Provinsi Papua Barat adalah : Sebelah Utara Sebelah Barat Sebelah Timur : Samudera Pasifik : Laut Seram (Provinsi Maluku) : Provinsi Papua Sebelah Selatan: Laut Banda (Provinsi Maluku)

Wilayah Provinsi Papua Barat memiliki 11 wilayah Pemerintahan Daerah yang terdiri dari 9 Kabupaten dan 1 Kota, 154 distrik, dan 1.361 kampung dengan luas wilayah secara keseluruhan sebesar 97.024,37 km² (berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2008). Luas dan perbandingan persentase luas wilayah kota kabupaten di Provinsi Papua Barat disajikan pada Tabel 1.1 dan Gambar 1.2. Pembagian Daerah Administratif menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 dapat dilihat pada Tabel 1.2. Secara spasial administrasi Provinsi Papua Barat diperinci berdasarkan kabupaten/kota dapat dilihat pada Gambar 1.1. Tabel 1.1 Luas Wilayah dan Persentase menurut Kabupaten/Kota LAPORAN AKHIR 1-3

84 8.084.871 6.1 Persentase Luas Wilayah Provinsi Papua Barat Menurut Kabupaten/Kota Sumber: Diolah dari Provinsi Papua Barat Dalam Angka 2010 Tabel 1.33 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka 2010 Gambar 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kabupaten/Kota Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana Kabupaten Teluk Wondama Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Manokwari Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Sorong Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Tambrauw Kabupaten Maybrat Kota Sorong Luas Planemetrik (Km2) 14.00 Total 144.5 19.136.99 10.236.500 14. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kabupaten/Kota Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana Kabupaten Teluk Wondama Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Manokwari Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Sorong Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Tambrauw Kabupaten Maybrat Kota Sorong Total IbuKota Fakfak Kaimana Wasior Bintuni Manokwari Teminabuan Aimas Waisai Fef Kumurkek Sorong Jumlah Kecamatan 9 7 13 24 29 13 18 13 11* 11 6 154 Jumlah Kelurahan 7 2 1 2 9 2 13 1 1 30 68 Jumlah Kampung 122 84 75 114 402 110 118 97 53 108 1293 LAPORAN AKHIR 1-4 .953.2 Pembagian Daerah Administratif Provinsi Papua Barat menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 No.8 18.665 12.63 9.52 15.52 10.38 0.80 10.91 12.21 No.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Persentase (%) 9.60 4.521.35 12.699 13.55 7.65 100.08 13.111 943.320 18.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 * Disesuaikan dengan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 127/PUU-VII/2009 LAPORAN AKHIR 1-5 .

2 Peta Batas administrasi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-6 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

319 2. pantai Utara dan di sebelah Utara kordirela mendapatkan hujan terbanyak dari angin Barat Laut dalam bulan Oktober hingga Maret.306 LAPORAN AKHIR 1-7 . Fakfak Kab. Pola tunggal D memiliki curah hujan tertinggi pada bulan Juli/Agustus. sedangkan dataran rendah di Selatan Kepala Burung dan jazirah Onin dan Bomberai serta dataran rendah di Selatan kordirela mendapatkan hujan terbanyak antara bulan April dan September ketika angin bertiup dari arah tenggara. Teluk Bintuni Kab.3 1.3 4.3 2008 2.836 2004 3. Kaimana Kab.345 2. Musim hujan di setiap daerah tergantung dari waktu di mana musim ini terpaparkan pada satu atau kedua sistem angin tersebut.059 1. sedangkan ketinggian dan kejajaran barisan pegunungan mempengaruhi pola angin dan presipitasi dalam setiap daerah.537 2.602 4.689 1. Tabel 1.3 4.470 2.537 2006 3. dan pola ganda (C).3. Angin Tenggara dan muson Barat Laut biasanya panas dan mengandung uap air yang diangkut ketika melewati samudera. Iklim di Provinsi Papua Barat memiliki 3 (tiga) pola yaitu pola tunggal (A dan D).323 2. Manokwari Kab.106.3 Banyaknya Curah Hujan di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2007 (mm) Kabupaten/Kota Kab. Pada pola C. Pada pola B. Pola tunggal A atau pola sederhana (simple wave) memiliki curah hujan terendah pada bulan Juli/Agustus. Pola umum ini menjadi rumit oleh topografi dan pola angin. Suhu sangat bergantung dari ketinggian. perbedaan antara jumlah curahan pada musim hujan dan musim kemarau tidak jelas.1.209 127 2. Teluk Wondama Kab.9 970 1.048 2005 3. dalam setahun terjadi dua kali puncak curahan tertinggi atau dua kali puncak curahan terendah.586 133 1.1 Curah Hujan Musim di Papua Barat dicirikan oleh angin Tenggara yang bertiup sekitar pertengahan April hingga September dan Muson Barat Laut yang di mulai dalam bulan Oktober hingga Maret. Pada pola ini biasanya curah hujan bulanan tidak teratur atau hampir merata sepanjang tahun. pola berfluktuasi (B).351 2007 3.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.067.3 Klimatologi Provinsi Papua Barat terletak tepat di sebelah Selatan garis khatulistiwa sehingga termasuk dalam wilayah tropika humida.836 2. 1.048 2.964.313 1.680 2. Pada umumnya pegunungan di Kepala Burung. maka iklim di Provinsi Papua Barat sangat bervariasi melebihi daerah Indonesia lainnya.964.091 2.1.492 4. Karena daerahnya yang bergunung-gunung. Sorong 2003 3. Pola A dan D menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antara jumlah curah hujan pada musim hujan dan musim kemarau. Sorong Selatan Kab.964. Jumlah hujan yang jatuh di setiap tempat di Papua secara khusus dikendali oleh topografi. Pola umum iklim dan cuaca sangat dipengaruhi oleh topografinya yang kasar.600 2.

d.d. 3000 mm/tahun.d.4. Teluk Wondama Kab.047 211 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Berdasarkan jumlah curah hujannya wilayah Papua Barat memiliki tiga kelas curah hujan.3 369 2008 4.351 181 2007 4. dengan curah hujan sekitar 2000 s. Pada tahun 2009 curah hujan kelas I terdapat di Kota Sorong. kelas II di kabupaten Kaimana dan Kabupaten manokwari.d. 5000 mm/tahun.964. Dari data diatas terlihat bahwa di Kabupaten Sorong. Tabel 1. kelas III dengan curah hujan antara 2000 s. Secara spasial keadaan iklim dan persebaran curah hujan di Provinsi papua barat ditunjukkan pada Gambar 1.048 2. Teluk Bintuni Kab.d. kabupaten Sorong Selatan. 4000 mm/tahun. Hampir seluruh wilayah Papua Barat memiliki kelas curah hujan tipe III pola C.d.537 Kota Sorong 2. yaitu kelas I dengan curah hujan antara 0 s.3 Peta iklim LAPORAN AKHIR 1-8 .d.4 Banyaknya Hari Hujan di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2008 (hari) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab.2 Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab.964. Sorong 185 220 230 Kab. 1000 mm/tahun. Raja Ampat 2. Sorong Selatan 220 230 Kab.836 2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2006 2. Rata-rata curah hujan selama tahun 2008 berkisar antara 358. dan kabupaten Raja Ampat. Manokwari 187 178 203 Kab. kelas IV dengan curah hujan antara 3000 s. 3000 mm/tahun. Pada tahun 2009 ini tidak terdapat kabupaten yang memiliki curah hujan kelas IV. Fakfak 210 210 232 Kab. Kaimana 214 218 208 Kab. 288 hari hujan. Kelas III di Kabupaten Fakfak. Kabupaten Manokwari memiliki jumlah hari hujan yang paling sedikit dibandingkan Kabupaten/Kota lainnya yaitu denan rata-rata sebanyak 192 hari hujan.306 358. dan kelas V di Kabupaten Sorong. dan kelas V dengan curah hujan antara 4000 s. Kabupaten Raja Ampat. dan Kota Sorong memiliki karakteristik jumlah hari hujan yang hampir serupa.3 mm (Sorong Selatan). 2000 mm/tahun.836 2.2 mm (Kota Sorong) sampai dengan 4. Raja Ampat 185 220 230 Kota Sorong 185 218 230 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2006 228 177 254 150 230 156 156 156 2007 225 204 254 212 230 225 225 228 2008 176 215 223 225 286 286 288 Rata-rata jumlah hari hujan di Provinsi Papua Barat berkisar antara 150 s. Gambar 1.3 dan Gambar 1. kelas II dengan curah hujan antara 1000 s.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.4 Peta curah Hujan LAPORAN AKHIR 1-9 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. sementara di daerah pegunungan pada 1500-2000 m dpl. Di dataran rendah.3. sedangkan di daerah LAPORAN AKHIR 1-10 . 5-10 derajat lebih dingin. suhu harian biasanya antara 29 oC – 32 oC. suhu di sepanjang pantai 5-8 derajat lebih dingin daripada siang hari.1.2 Suhu dan Kelembaban Suhu dan kelembaban merupakan komponen iklim paling konstan di Provinsi Papua Barat. Pada malam hari.

10 23.30 Kab.20 29.80 24. suhu udara tertinggi dalam kurun waktu 2004-2008 terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 32.20 25.22 27.10 2008 26.60 27. Karakteristik suhu di Provinsi Papua Barat tidak menunjukkan fluktuasi tahunan yang nyata.70 26.46 °C dengan suhu maksimal sebesar 28.70 2007 Max Min 28.3 Rata-Rata 25.56 29.46 27.40 25.48 23. Teluk Wondama Kab.17 2007 86.30 24.60 27.6 27.80 30.83 2008 84.30 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Dari Tabel 1. Kaimana Kab.40 22.63 … … … 27.67 23.08 27.48 Kab.55 30.26 27.30 2008 Max Min 30.47 27.70 Kab.08 LAPORAN AKHIR 1-11 .48 27.90 31.20 33.70 31.03 25.00 25. Sorong Selatan 27.70 27.60 2007 25.70 Kab. Sorong Selatan … … 31.46 27.30 31.30 84.00 22.50 84.80 26.40 25.60 26.28 27.92 83.2 27.7 … 23. Sorong 27.30 83.80 31.73 21. Tabel 1.70 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2006 25.60 27.43 23.6. Raja Ampat 27.30 26.60 Kab.30 27. Manokwari 27.70 29.05 23.05°C terjadi di wilayah Kabupaten Fakfak. Teluk Bintuni Kab.00 31.50 2004 85.00 … 26.30 24.5 terlihat bahwa suhu udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar 25.40 83.55 23.80 27.6 27.30 82. Teluk Wondama Kab.0 83.70 28. Teluk Bintuni Kab.10 23.33 2005 85.13 30. Kaimana Kab.80 26.49 … … … 32.68-27.10 23.10 29.6 Kab.13°C di Kabupaten Manokwari. dan suhu minimal sebesar 23. Fakfak Kab. Manokwari 2003 84.40 83.30 24. Sorong 31.90 21.5 Suhu Udara Rata-rata Menurut Lokasi Stasiun di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2008 (°C) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab.15 26.00°C juga berada di Kabupaten Fakfak (data hasil pencatatan suhu udara pada beberapa stasiun yang berada di Kabupaten/Kota se-Provinsi Papua Tahun 2008). Teluk Bintuni … … … … Kab. Tabel 1.40 23.9 85. Fakfak Kab. Raja Ampat 30.90 Kota Sorong 31.50 82.6 Suhu Udara Maksimum dan Minimum di Provinsi Papua Barat Tahun 20032008 (°C) Kabupaten/Kota 2004 Max Min 28.32 Tabel 1.40 Kab. Manokwari 27. Teluk Wondama Kab.60 27.30 27.90 31. Fakfak 28.67 2006 85.59 24.70 30.33 26.90 21.80 31.20 31.00 22.47 27.60 27.68 27.50 24.56°C di Kabupaten Fakfak.7 Kelembaban Udara Rata-rata di Papua Barat Tahun 2003-2008 (%) Kabupaten/Kota Kab.70 25.43 23.60 27.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 pegunungan kisarannya lebih lebar.80 26.6 27.50 … 23. sedangkan suhu terendah juga terjadi pad atahun 2008 yaitu sebesar 21.60 33.60 32.50 23.30 27.49 … … … 32. Kaimana 27.00 26.40 … … 2006 Max Min 22.40 30.80 30.70 Kota Sorong 27.26 26.08 83.40 … … 2005 Max Min 29.8 Kab.63 27.78 81. Dari Tabel 1.38 Kab.20 25.60 24.

128.80 60. Fakfak 126. Raja Ampat 61. penyinaran matahari terendah terdapat di Kabupaten Manokwari sedangkan lama penyinaran tertinggi terdapat di Kabupaten Fakfak. Teluk Bintuni Kab.00 Kota Sorong 83. terutama di daerah pegunungan di mana awan cumulus hampir selalu meningkat ke tengah hari. Berdasarkan uraian karakteristik iklm tersebut. Karena berada di katulistiwa. waktu siang hari (sekitar 12 jam) adalah konstan dengan variasi tahunan sekitar 30 menit antara hari terpanjang dan terpendek.00 62.80 54.4% s. 87.00 84.90 59.80 Kab.9 115. Dengan kondisi seperti ini di wilayah Papua Barat memiliki potensi bagi pengembangan komoditi-komoditi pertanian apabila terutama dikaitkan dengan persentase lama penyinaran.52 50.00 84.00 86.00 87. Sorong 83.00 68. kelembaban udara terendah terdapat di Kabupaten Kaimana sedangkan kelembaban tertinggi terdapat di Kota Sorong dan Kabupaten Raja Ampat. penyinaran matahari yang hampir terus menerus sepanjang tahun. Papua merupakan tempat yang kemungkinan salah satu tempat paling berawan di dunia.70 49. Keadaan ini merupakan gangguan utama bagi transportasi udara dengan pesawat kecil.37 125.83 46.21 54.00 84. Raja Ampat 84.00 Kab.58 Kab. kelembaban udara yang relatif konstan.83 58.80 65.00 Penyinaran matahari rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar antara 52.00 65.00 68. Kaimana 45.05 147.00 Kab.00 Kab.08 53. berkisar dari 75-80%.00 86.8 Rata-Rata Penyinaran Matahari Menurut Lokasi Stasiun di Kabupaten/Kota Tahun 2003-2008 (%) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 2006 Kab.40 49. Sorong Selatan 65.00 86.92 Kab.40 58.00 59.40 49.00 Kab.00 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Kelembaban nisbi tinggi dan dan konstan.00 59. dan curah hujan yang cukup tinggi menjadi potensi besar bagi pengembangan budidaya tanaman pertanian dan perkebunan terutama untuk LAPORAN AKHIR 1-12 .75 Kab.00 84.64 51.d.00 83.00 87.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 84. Sorong 61. Manokwari 63.00 84.81%.00 2008 107.40 46.36% s.08 59.0%. Tabel 1.00 83.00 62. Teluk Wondama Kab.00 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2007 37.80 46.40 49.25 87.d. di mana daerah dataran rendah cenderung lebih lembab.00 54.30 59.00 83.10 Kota Sorong 61. Kelembaban udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar antara 81.00 86. Provinsi Papua Barat yang memiliki keragaman suhu udara.00 83.17 43. Sorong Selatan 84.90 58.00 83.

Sebagian besar wilayah Provinsi Papua Barat memiliki kelas lereng > 40% dengan bentuk wilayah berupa perbukitan.192.1.790 100 3.050 284. 1. Tabel 1.9 Luas Wilayah menurut Ketinggian dari Permukaan Laut dan Kabupaten/Kota (Ha) Wilayah Pengembangan 0-100m Kelas ketinggian >100-500m >500-1000 377. Kondisi tersebut menjadi kendala utama bagi pemanfaatan lahan baik untuk pengembangan sarana dan prasarana fisik. diketahui bahwa kondisi topografi antar wilayah di Provinsi Papua Barat cukup bervariasi.49 Kab Manokwari 1. serta dasar bagi kebijakan pemanfaatan lahan. dan wilayah dengan ketinggian >1000 meter dpl.1 Ketinggian Kondisi topografi Provinsi Papua Barat sangat bervariasi membentang mulai dari dataran rendah. rawa sampai dataran tinggi.400 2. Ketinggian wilayah di Provinsi Papua Barat bervariasi dari 0 s.413. Kota Sorong.054. Kondisi ini merupakan salah satu elemen yang menjadi barrier transportasi antar wilayah.109 Kota Sorong 162. Pembagian wilayah Provinsi Papua Barat berdasarkan ketinggian wilayah dari permukaan laut dapat digolongkan kedalam empat kelompok yaitu: (1) wilayah dengan ketinggian 0-100 meter dpl. terutama transportasi darat. Sehingga. LAPORAN AKHIR 1-13 .2 Kelerengan Tinjauan atas morfologi wilayah didasarkan pada kondisi kelerengan atau kemiringan. sistem transportasi darat maupun bagi pengembangan budidaya pertanian terutama untuk tanaman pangan. Teluk Bintuni.9. sebagai berikut.200 1.366 1. (2) wilayah dengan ketinggian >100-500 meter dpl.046. 1.600 344.1.1.900 250.132 328.015.d > 1000 m.01 182.4 Morfologi Kondisi Morfologi memaparkan mengenai informasi fisik wilayah yang meliputi ketinggian wilayah dan kelerengan. padang rumput dan padang alang-alang.301 Jumlah >1000m 741.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 wilayah Kabupaten Manokwari.058 3.4.691 Kab Sorong 2. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1. dengan tipe tutupan lahan berupa hutan hujan tropis.4.257.196 518.48 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Berdasarkan tabel di atas. dan Kabupaten Sorong Selatan mendapatkan potensi tersebut.847 288.868. (3) wilayah dengan ketinggian >500-1000 meter dpl. dominasi pemanfaatan lahan diarahkan pada hutan konservasi disamping untuk mencegah terjadinya bahaya erosi dan longsor. 1.250 Kab Fakfak 1.

000 344.310 158.06 78.500 2.998 19.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dipandang dari sisi lereng.100 1. kelas lereng landai sampai curam (kemiringan >15– 40%).10 Luas Wilayah menurut Kelas Lereng/Kemiringan dan Wilayah Pengembangan Kelas lereng 0-15% >15-40% >40% Kab Manokwari 1. maka secara garis besar Tanah Papua dapat diklasifikasikan kedalam tiga kelompok kelas lereng yaitu kelompok wilayah dengan kelas lereng datar sampai landai (kemiringan 0-15 %).49 LAPORAN AKHIR 1-14 . Tabel 1. Untuk jelasnya mengenai luas masing-masing kelas lereng lihat Tabel 1.790.700 448.54 8.108 Kota Sorong 257.582 49.10.297 964 Kab Sorong 984.200 313.434.636 57. dan kelas lereng curam sampai sangat curam (>40 %).89 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Wilayah Pengembangan Jumlah 3.502 Kab Fakfak 105.453.

5 Peta kenampakan elevasi/ketinggian Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-15 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

6 Peta kemiringan lereng Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-16 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

7 Peta kenampakan topografi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-17 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

Pulau Papua merupakan produk pertumbuhan benua yang dihasilkan dari tubrukan kedua lempeng tersebut. Daerah ini merupakan daerah interaksi antara dua lempeng besar yaitu Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. LAPORAN AKHIR 1-18 . India. yang juga termasuk di dalamnya adalah Antartika. Awal terpisahkan benua ini dari posisi Selatannya terjadi pada masa Kretasius Tengah (kurang lebih 100 juta tahun lalu). Bagian Selatan pulau Papua merupakan tepi Utara dari benua super kuno. Ketika lempeng India-Australia dan lempeng Pasifik bertemu di sekitar 40 juta tahun lalu. Setiap lempeng terdiri atas bagian kerak benua (kontinental) dan kerak samudera (oseanik).8 tentang Tatanan tektonik di Tanah Papua Evolusi tektonik yang terjadi selama Kenozoikum dihasilkan oleh tumbukan secara oblique antara kedua lempeng tersebut.1. secara umum diasumsikan sebagai lokasi tipe dari busur kepulauan oseanik aktif–tumbukan kontinen (Dewey dan Bird. Pada saat dimulainya gerakan ke Utara dan rotasi dari benua super ini. hal ini dapat dilihat pada Gambar 1. Lempeng Benua India-Australia (atau biasa disebut lempeng Australia) bergerak ke arah Utara keluar dari posisi kutubnya dan bertubrukkan dengan Lempeng Samudra Pasifik yang bergerak ke arah Barat. yang diendapkan pada tepian kontinen aktif Australia. Amerika Selatan. dimana lempeng Pasifik mengalami subduksi atau tertindih di bawah lempeng Australia. Selandia Baru dan Kaledonia Baru. Bagian daratan paling Utara pada Lempeng India-Australia antara 90-100 juta tahun lalu berada pada 480 Lintang Selatan yang merupakan titik pertemuan Lempeng India-Australia dan Pasifik. lebar 150 km dengan topografi yang kasar dan sejumlah puncak setinggi lebih dari 3000 meter.5. 1979) Daratan Papua New Guinea dan Pegunungan Central Range. Konsep lempeng tektonik yang telah diterima umum mengganggap. 1. 1970).1 Evolusi Tektonik Pulau Papua Pembentukan pulau Papua atau pulau New Guinea telah didiskusikan oleh berbagai ahli dan diringkas oleh Petocz (1984).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Australia.5 Kondisi Geologi Kondisi geologi Tanah Papua pada dasarnya memiliki kesamaan dengan kondisi geologi umum yang dijumpai di Indonesia bagian timur.1. bahwa kerak bumi terbagi dalam tujuh lempeng sangat besar dan sejumlah lempeng lithosfer kecil lainnya. yang kesemuanya bergerak relatif terhadap sesamanya. seluruh Papua dan Australia bagian Utara berada di bawah permukaan laut. Proses ini berlanjut selama masa Pleistosen hingga pulau Papua terbentuk seperti di saat ini. Pegunungan Central Range merupakan sabuk yang memanjang sampai 1300 km. Gondwanaland. (Hamilton. Sebagian besar daerah ini adalah lapisan batuan berumur Kenozoikum dan Mesozoikum yang tersesarkan dan terlipat. pulau Papua mulai muncul di permukaan laut pada sekitar 350 Lintang Selatan.

ciri dominan dari perkembangan geologi Papua merupakan dikhotomi antara sejarah tektonik dari batuan mantap kraton Australia dan lempeng Pasifik di satu sisi. Terdapat sejumlah lipatan dan sesar naik sebagai akibat dari interaksi (tubrukan) antara kedua lempeng tektonik. Batuan lempeng Pasifik yang terpaparkan di Papua berumur lebih muda. lempeng Pasifik ini terdiri atas volkanik busur-kepulauan dan sub-ordinat kerak samudera berumur Palaeogen. Hanya sebagian kecil yang dipengaruhi oleh proses tektonik dari zaman Paleozoik Awal hingga Tersier Akhir. (2005). seperti Sesar Sorong (SFZ). Akan tetapi. Kenyataan menunjukkan pula. pada umumnya geologi Papua dapat dibagi ke dalam tiga provinsi geologi besar.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dari evolusi tektonik menunjukkan. Provinsi Kontinental terdiri atas sedimen yang terpisah dari kraton Australia. Terlepas dari batuan mantel sesar naik yang kemungkinan berumur Mesozoik dan beberapa kerak samudera Jurasik. bahwa geologi Papua sangat kompleks karena melibatkan interaksi antara dua lempeng tektonik. Dari paparan di sepanjang tepi Utara dan dari eksplorasi permukaan bawah (sub-surface) di sebelah Selatan. Kretasius. Setiap provinsi geologi memiliki karakteristiknya sendiri dalam sejarah stratigrafik. LAPORAN AKHIR 1-19 Provinsi Oseanik terdiri atas batuan Ofiolit (ophiolite rock) dan kompleks volkanik busur-kepulauan Provinsi Transisi adalah suatu zone yang terdiri atas deformasi tinggi dan batuan metamorfik regional . Menurut Dow et al. Sesar Ransiki (RFZ). Triasik. serta pencatatan lengkap sejarah geologi hingga saat ini menunjukkan. magmatik dan tektonik. Walaupun pencatatannya terpisah-pisah. Zone deformasi yang berada di sebelah Timur adalah bagian dari New Guinea Mobile Belt (Sabuk Mobil New Guinea) dan merupakan campuran dari batuan kraton Australia dan lempeng Pasifik. terdapat bukti bahwa batuannya berasal dari tektonik utama pada episode Paleozoik Pertengahan dan Oligosen maupun episode beku dalam Paleozoik Pertengahan. ini disebut Melanesian Orogeny (Dow and Sukamto. Oseanik. dan periode tektonik intens dari zona deformasi di sisi lainnya (New Guinea Mobile Belt). Batuan lempeng Pasifik pada umumnya letak-datar terpatah hanya oleh beberapa patahan. yaitu lempeng Australia dan Lempeng Pasifik. 1984) Wilayah Papua Barat sangat berpotensi terhadap gempa tektonik dan kemungkinan diikuti oleh tsunami. bahwa batuan dari kraton Australia pada sebagian besar wilayah ini dicirikan oleh sedimentasi palung (shelf sedimentation). yaitu provinsi Kontinental. dan Transisi. sebaran paling luas dari aktivitas tektonik dan volkanik dimulai pada Miosen Akhir dan berlanjut hingga sekarang. dan Miosen Pertengahan. sebagai produk dari interaksi antara kedua lempeng. bahwa pada tahun 2004 telah terjadi beberapa kali gempa. Sesar Lungguru (LFZ) dan Sesar Tarera-Aiduna (TAFZ). (island-arc volcanics complex) sebagai bagian dari lempeng Pasifik. Menurut Sapiie (2000).

menunjukkan bahwa stratigrafi wilayah Papua Barat terdiri atas: (1). (4). YFZ = Yapen Fault Zone. RFZ = Ransiki Fault Zone. (2). TAFZ = Tarera-Aiduna Fault Zone. (3). Stratigrafi Zone Transisi.5. Sedimentasi Senosoil Akhir.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. LFB = Lengguru Fault Belt. Paleozoic Basement. Tanda panah menunjukkan gerakan relatif antara lempeng Pasifik dan Australia 1.1. MO = Misool-Onin High.2 Stratigrafi Dari berbagai publikasi yang dikompilasi Sapiie (2000). WO = Weyland Overthrust. Sedimentasi Mesozoik hingga Senosoik. SFZ = Sorong Fault Zone. dan (5). Stratigrafi Lempeng Pasifik. LAPORAN AKHIR 1-20 . WT = Waipona Trough.8 Setting Tektonik Papua Keterangan: MTFB = Mamberamo Thrust & Fold Belt.

2. batulumpur Aifat dan formasi Ainim. Bagian atas dari kelompok ini disebut formasi Jass. Formasi ini tercampur oleh granit-biotit karboniferus (Melaiurna Granite).9 Stratigrafi Pulau Papua (Sapiie. Sedimentasi Mesizoik hingga Senosoik Formasi Tipuma Formasi Tipuma tersebar luas di Papua. Kelompok Kembelangan terdiri LAPORAN AKHIR 1-21 . Formasi Kemoem ditutupi oleh kelompok Aifam. namun di Leher Burung terjadi deformasi kuat dan termetamorfosa. a. (slate).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. kelompok ini tidak mengalami metamofosa. Paleozoic Basement Blok terluas dari strata Paleozoik berada di Timur Laut Papua Barat yang dikenal dengan Kemum High atau formasi Kemoem yang terdiri atas sabak. 2000) 1. b. Filitik (Phylliic) dan sedikit kuartzit (quartzite). Di daerah Teluk Bintuni. batuan sedimen paparan airKelompok Aifam digunakan untuk mendeskripsikan dangkal. Formasi ini diketahui berada di tepi Utara Papua Barat dan terdiri atas tiga formasi. Formasi Kelompok Kembelangan Kelompok ini diketahui terbentang mulai dari Papua Barat hingga Arafura Platform. yaitu formasi Aimau. formasi Tipuma ditutupi oleh kelompok Aifam. Di daerah Papua Barat. Formasi ini dicirikan oleh batuan berwarna merah terang dengan sedikit bercak hijau muda. mulai dari Papua Barat hingga dekat perbatasan di sebelah Timur.

c. Sedimen dalam lempeng Pasifik dicirikan pula oleh karbonat laut-dangkal yang berasal dari pulau-arc. Pulau New Guinea dicirikan oleh pengendapan (deposisi) karbonat yang dikenal sebagai Kelompok Batu Gamping New Guinea (NGLG). (3). Biak. Stratigrafi Zone Transisi Konvergensi antara lempeng Australia dan Pasifik menghasilkan batuan dalam zone deformasi. volkanis pulau-arc (island-arc volcanis) dan sedimen laut-dangkal. Kelompok ini berada di atas Kelompok Kembelangan dan terdiri atas empat formasi. kurang lebih pada batas Cretaceous dan Cenozoik. Batuan metamorfik ini membentuk sabuk kontinyu (>1000 km) dari Papua hingga Papua New Guinea. plutonil basik. Wilayah Papua secara umum terdiri dari dua dataran “Dataran Grime” dan “Dataran Sekoli”. dan mutu-tinggi metamorfik. Formasi Imskin. Pulau Waigeo. Formasi Batu Gamping New Guinea Selama masa Cenozoik. Di Papua dikenal 3 (tiga) formasi utama. yaitu formasi Klasaman dan Steenkool. Satuan ini disebut Formasi Hollandia dan tersebar luas di Waigeo. Utara Pegunungan Gauttier dan sepanjang zone sesar Sorong dan Yapen pada umumnya terbentuk oleh batuan ultramafik. (3) Formasi Sirga Eosin Awal.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 atas antarlapis batudebu dan batulumpur karboniferus pada lapisan bawah batupasir kuarsa glaukonitik butiran-halus serta sedikit shale pada lapisan atas. yaitu (1). Kelompok ini berhubungan dengan formasi Waripi dari kelompok Batuan Gamping New Guinea atau New Guinea Limestone Group (NGLG). (2). 3. Stratigrafi Lempeng Pasifik Pada umumnya batuan lempeng Pasifik terdiri atas Batuan asal penutup (mantle derived rock). Dataran ini memanjang dari Timur ke arah Barat dengan lebar LAPORAN AKHIR 1-22 . Sedimentasi Senosoik Akhir Sedimentasi Senosoik Akhir dalam basement kontinental Australia dicirikan oleh sekuensi silisiklastik yang tebalnya berkilometer. Formasi Kais Miosen Pertengahan hingga Oligosen. 5. Pegunungan Cycloop. batuan asal penutup banyak dijumpai luas sepanjang sabuk Ophiolite Papua. Formasi Waripi Paleosen hingga Eosen. berada di atas strata karbonat Miosen Pertengahan. dan (4). Di Papua. dua di antaranya dijumpai di Papua Barat. Umur kelompok ini berkisar dari Miosen Awal hingga Pliosen. Kelompok batuan ini diklasifikasikan sebagai zone transisi atau peralihan. 4. Formasi Fumai Eosen. Kedua dataran ini menyatu sebagai suatu dataran luas yang membujur ke arah Barat daya Danau Sentani. Formasi Klasaman dan Steenkool berturut-turut dijumpai di cekungan Salawati dan Bintuni. pulau Yapen dan pegunungan Cycloop. yang terutama terdiri atas batuan metamorfik.

terumbu koral terangkat pleistosin. Selama periode ini dataran banjir terbentuk pada berbagai tingkat. batuan sedimen lepas (kerikil. Wentholt (1939). membagi Dataran Grime ke dalam 6 teras utama. Sumbangan cabang-cabang sungai yang berasal dari pinggiran pegunungan Utara relatif kecil. berbatasan dengan teras ke-4. Lebih lanjut Schroo (1961). seluruh lahan yang berada di sebelah Barat Yanim Besar (Braso) dibentuk oleh Sungai Grime dan cabang-cabang sungainya. Di batas Utara dari teras ke-5. Teras pertama dimulai dari dataran terendah dan termuda. Menurut Wentholt (1939). pasir lanau). kecuali daerah yang paling Barat oleh Sungai Sarmoai. Di Dataran Sekori ini juga terbentuk teras. terdapat Dataran Sekori yang besar. Juga di sini bentang lahannya tampak seluruhnya datar. dan bergelombang lemah. dan batuan sedimen padu (tak terbedakan). kedua teras ini melandai ke arah Utara hingga ke arah Barat laut. merupakan daerah tertinggi dan tertua yang mengakhiri teras ke-4 dan ke-5 di sebelah Selatan. di sebelah Timur sungai Grime terletak teras ke-5. LAPORAN AKHIR 1-23 . menyatakan bahwa adanya ketinggian (elevasi) yang berselang-seling di seluruh daerah tersebut menyebabkan sungai-sungai memotong sedimen ini. Daerah teras ini melandai ke arah Barat laut dan kemudian ke arah Utara. Zwierzichi (1921) dalam Schroo (1963). Teras ke-6. Hal ini dapat dipahami karena secara regional. Menurut Schroo (1963). di mana sisa-sisa daripadanya masih ditemukan sekarang dalam bentuk teras-teras yang luas. Teras ke-5 ini mencakup dari arah Timur hingga arah garis Utara-Selatan melandai ke aras Utara. Dataran Grime dan Dataran Sekori merupakan lembah sedimentasi peninggalan zaman tersier yang terisi atas sedimen laut (marin) dan kemudian oleh bahan fluviatil. Di ujung sebelah Barat. namun tidak jelas perkembangannya. Teras ke-3 dan ke-4 menempati sisa dataran di sebelah Barat kampung Janim Besar. wilayah Papua Barat terdiri dari dua lempeng. Wentholt (1939). menyatakan bahwa dataran ini terbentuk pada zaman kwarter. menunjukkan bahwa tanah di Dataran Grime dan Dataran Sekori berasal dari hancuran batuan fluviatil sedimen kwarterner. Lahan yang berada di sebelah Timur Yanim Besar seluruhnya terbentuk dari material yang berasal dari pinggiran Utara daerah pegunungan Selatan. dan sedimen marin neogen. Teras-teras ini berumur tua dan berada lebih tinggi serta tampak datar. batuan beku atau malihan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bentangan yang hampir sama. Kedua sungai tersebut membawa bahan-bahan yang sama. namun setempat-setempat saja. Berdasarkan stratigrafi ini dapat disimpulkan bahwa wilayah Papua Barat terdiri dari empat ragam formasi batuan utama yaitu Batu gamping atau dolomit. Di sebelah tenggara teras terendah ini berakhir dan berlanjut dengan teras ke-2 yang berada kurang lebih 10 m lebih tinggi. dataran ini membentuk daerah rawa hingga ke arah pantai.

yang berumur Mesozoikum yang disebut sebagai Kelompok Kembelangan.1. yaitu faktor Iklim.1. sedangkan pada Plistosin terjadi pensesaran anjak miring ke Selatan di bagian Utara..1 Jenis Tanah Pada umumnya terdapat lima faktor yang mempengaruhi pembentuan tanah.6. 1. 1984) Terdapat tujuh Satuan Peta Tanah (SPT) yang dimodifikasikan Petocz (1984) dari Brookfield dan Hart (1971).3 (Petocz. yang disebut sebagai Kelompok Batu Gamping New Guinea. 1977). bergerak ke arah Utara. 1. kemudian berbenturan dengan Lempeng Samudera Pasifik pada Orogenesa Melanisia yang mengakibatkan sesar anjak miring ke Utara dan terbentuknya Pegunungan Tengah. relief atau topografi. Hal ini sudah barang tentu akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Selain itu.1984). yang berumur Mesozoikum (Dow drr.6 Karakteristik Tanah Pada umumnya. dan 2) di bagian Utara terdiri dari Batuan Malihan Darewo yang berumur Oligosen (Dow. Sedangkan diantara kedua lempeng adalah Lajur Sesar Anjak dan Lipatan Pegunungan Tengah atau “New Guinea Mobile Belt” (Dow.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 yaitu Lempeng Benua Australia di bagian Selatan dan Lempeng Samudera Pasifik di bagian Utara. tanah bertekstur berat. yaitu berkisar dari lempung liat berdebu hingga liat berdebu. Pada saat itu Papua-Papua New Guinea mulai melepasakan diri dari Benua Australia. Kadar liat yang tinggi dapat menyebabkan akar tanaman sulit berkembang. Pengaruh secara simultan dari kelima faktor pembentukan tanah tersebut menghasilkan jenis-jenis tanah dan penyebarannya. organisme atau vegetasi. Tektonik Papua Barat diawali pada Permo-Trias. Lempeng Samudera Pasifik terdiri dari batuan batuan ultramafik dan batuan busur gunung api Paleogen. 1977). sedangkan di Pegunungan Tengah terdiri dari beberapa batuan. Batugamping yang berumur eosin-Miosen Tengah. dan Batuan Sedimen Klastik Plioplistosen. yang disebut sebagai Orogenesa Tasman.10 Peta Geologi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-24 . berdampak pula terhadap rendahnya kapasitas infiltrasi (perembesan) tanah sehingga menyebabkan penggenangan air di permukaan tanah terutama di musim penghujan. Lempeng Benua Australia tersusun oleh batuan sedimen klastik. dan waktu. Batuan ultrabasa disebut sebagai ofiolit. Gambar 1. seperti terlihat pada Peta 2. yaitu : 1) di bagian Selatan terdiri dari batuan sedimen yang berumur Mesozoikum sampai tersier yang tersesarkan dan terlipatkan. bahan induk.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Litosol dan Regosol (Entisol) LAPORAN AKHIR 1-25 .

terutama pada lereng tidak stabil. sama dengan Podsolik. Jenis tanah ini dijumpai di jazirah Bomberai. sedangkan horison penimbunan kaya akan besi dan humus yang disebut horison spodik. tanah ini dijumpai di pegunungan Wondiwoi. tanah Podzolik sepadan dengan Ultisol. pada umumnya adalah hidro-podzolik yang berkembang pada kondisi drainase buruk pada dataran dan kipas aluvial Pleistosen. Tanah ini biasanya berasosiasi dengan tanah Podzol (Spodosol) yang dicirikan oleh horison spodik. tanah Brown Forest sama dengan Kambisol. 1984) berpasir. Sedangkan jenis tanah Podzolik Podzolik dataran rendah. Tanah ini dijumpai sedikit di wilayah pegunungan Kepala Burung dan terutama di Selatan Kordirela (pegunungan tengah). sedangkan menurut Soil Taxonomy (19975/1998). Menurut klasifikasi PPT (1978/1982) Podzolik sepadan dengan Podsolik atau Kambisol (Podsolik Coklat).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Asosiasi jenis tanah ini dijumpai di daerah pegunungan tinggi yang kasar topografinya (2000-4500 m dpl) pada kordirela Tengah (pegunungan tengah) dan Kepala Burung hingga Leher Burung sebelah Utara. Profil tanah pada umumnya dangkal karena ketidakstabilan lereng. Berdasarkan klasifikasi tanah dari Pusat Penelitian Tanah Bogor (PPT)(1978/1982) dan FAO/UNESCO (1974). Menurut klasifikasi PPT (1978/1982) dan Inceptisol. Di Papua Barat. 3. Tanah Regosol biasanya mengandung liat dan fragmen batuan lapuk. sedangkan menurut sistem klasifikasi USDA Soil Taxonomy (1975/1998). Selatan Kepala Burung dan di Utara depresi Meer Vlakte (Lakes-Plain). FAO/UNESCO (1974). Arfak dan Tamrau. Tanah Podzolik (Ultisol) Jenis tanah ini berkembang dari bahan induk masam di lereng pegunungan pada elevasi tinggi. 2. sedangkan tanah Litosol berada pada lereng-lereng batuan terjal. Horison permukaan mengalami pelindian hebat yang menghasilkan horison pencucian yang miskin hara dan (Petocz. Berdasarkan klasifikasi USDA Soil Taxonomy (19975/1998). tanah ini menjadi meningkat kemasamannya. sepadan dengan Litosol. Litosol dan LAPORAN AKHIR 1-26 . Pada altitut tinggi di mana curah hujannya tinggi. kedua tanah ini diklasifikasikan sebagai Regosol sepadan dengan Entisol (Lithic Subgroup). Tanah Brown Forest (Inceptisol) Tanah ini berada pada perbukitan dan lereng pegunungan rendah pada sabuk Utara Papua dari bahan induk basik dan batuan kalkareus (kapur) dengan curah hujan sedang. walaupun dijumpai pula tanah-tanah bersolum dalam yang relatif stabil dan berdrainase baik pada puncak-puncak bukit dan lereng bagian atas. Sering pula dijumpai berasosiasi dengan Regosol. sedangkan menurut FAO/UNESCO (1974).

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

4. Latosol (ultisol) dan Lateritik (oksisol)
Latosol adalah tanah yang mengalami pelapukan sangat tinggi, terutama di daerah dengan ketinggian rendah di mana dijumpai pula berasosiasi kelompok Lateritik. Lateritik berkembang pada kondisi yang sama dengan Latosol, namun dengan pengaruh hidromorfik karena berasosiasi dengan fluktuasi permukaan air tanah. Selain dijumpai luas di daerah Selatan Papua, Latosol juga dijumpai tersebar di Selatan Kepala Burung hingga ke Leher Burung sebelah Utara dan Selatan serta di kepulauan Raja Ampat. Latosol sepadan dengan Kambisol, Latosol, Lateritik (PPT, 1978/1982), Cambisol, Nitosol, Ferrasol (UNESCO, 1974) dan Iceptisol, Ultisol, oxisol (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998).

5. Rendzina (Molisol)
Pembentukan tanah ini dikendalikan kuat oleh bahan induk. Rendzina berbatu dangkal terdapat pada perbukitan batu gamping dan di sepanjang daerah pantai pada platform koral terangkat yang umumnya bercirikan karst. Tanah ini berkembang baik pada perbukitan antara Teluk Etna dan Arguni, pegunungan Kumawa dan Arfak dan di Barat daya pegunungan Tamrau. Rendzina dijumpai pula pada terumbu koral terangkat barusan muda. Rendzina dicirikan oleh horison permukaan lembab coklat tua, berada di atas bahan berpasir coklat kelabu tua yang berangsur ke dalam bahan koral. Rendzina sepadan dengan Rendzina (PPT, 1978/1982), Rendzina (UNESCO, 1974) dan Rendoll (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998).

6. Aluvial dan Gambut
Pada umumnya jenis tanah ini dijumpai pada semua ketinggian, baik di daerah kering maupun basah. Di daerah kering, dengan tekstur tanahnya kasar dan berdrainase baik dijumpai di dataran landai, dataran banjir mapan, dan kipas aluvial, sedangkan, di daerah basah dengan drainase jelek dijumpai di dataran banjir atau rawa dari aluvium atau gambut. Tanah dengan tekstur halus dan gleisasi kuat akibat drainase jelek selama musim hujan cenderung bereaksi sangat alkalin, berada di dekat pantai dan sungai yang dipengaruhi pasang surut, namun semakin ke menjauhi pantai semakin meningkat kemasaman tanahnya. Tanah gambut dataran rendah dijumpai luas di Utara dan Selatan teluk Bintuni, serta gambut pegunungan dalam luasan yang kecil berada di sekitar danau Anggi Gita dan Anggi Giji. Tanah Aluvial sepadan dengan tanah Aluvial (PPT, 1978/1982), Fluvisol (UNESCO,1974) dan Entisol, Inseptisol (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998). Tanah gambut menurut USDA Soil Taxonomy (1975/1998), sepadan dengan Histosol.

LAPORAN AKHIR 1-27

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

7. Tanah Salin
Tanah salin atau tanah garaman (salty soils) biasanya bertekstur halus, berdraenase jelek karena dipengaruhi pasang surutnya air laut, serta bahan liat marin termasuk di dalamnya. Vegetasi khas dari tanah ini adalah mangrove dan nipah. Tanah Salin berkembang baik di sepanjang pantai Selatan mulai dari pulau Kimaam hingga teluk Etna dan di Selatan Kepala Burung dan Teluk Bintuni. Tanah ini menunjang pertumbuhan habitat mangrove terluas di Indonesia. Tanah Saline menurut USDA Soil Taxonomy (1975/1998), sepadan dengan Entisol (Sulfaquent) dan Inseptisol (sulfaquept). Persebaran jenis-jenis tanah di Propinsi Papua Barat dapat dilihat pada Gambar 1.11: Tekstur Tanah Pada umumnya, tanah bertekstur berat, yaitu berkisar dari lempung liat berdebu hingga liat berdebu. Kadar liat yang tinggi dapat menyebabkan akar tanaman sulit berkembang. Selain itu, berdampak pula terhadap rendahnya kapasitas infiltrasi (perembesan) tanah sehingga menyebabkan penggenangan air di permukaan tanah terutama di musim penghujanan. Hal ini sudah barang tentu akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Untuk tujuan penanaman kakao, maka drainase permukaan maupun drainase internal sangat perlu diperhatikan, jika ingin memperoleh pertumbuhan dan produksi kakao yang baik. Untuk menanggulangi drainase yang jelek, maka perlu dibuatkan selokan-selokan drainase berukuran kecil hingga sedang serta cukup dalam agar kelebihan air dapat dikeluarkan, sehingga tanahnya selalu dalam keadaan kering (lembab) dan tidak jenuh air. Selain itu, agar pertumbuhan akar tanaman kakao tidak terhalang oleh lapisan liat yang kompak, maka perlu digali lubang tanaman yang cukup besar dan dalam. 1.1.6.2 Reaksi Tanah Pada umumnya, tanah bereaksi alkali hingga sangat alkali dengan kisaran pH rata-rata 7,0 – 7,8. Semakin dalam tanahnya semakin tinggi reaksi tanah, bahkan tidak jarang mencapai pH=8,0 atau lebih. Tingginya pH tanah ini disebabkan karena tingginya kadar kalsium tanah (kapur) yang terbawa bersama bahan endapan sungai yang berasal dari pegunungan dan perbukitan kapur di sekitarnya. Reaksi Tanah demikian menyebabkan sebagian besar unsur-unsur hara makro (N, P, K) dan mikro (Fe, Zn, Mn, B, Cu) berada dalam keadaan tidak tersedia bagi tanaman. Apabila reaksi tanah mencapai pH=8,0 atau lebih akan menyebabkan tanaman sulit menyerap fosfat dan unsur-unsur mikro.

LAPORAN AKHIR 1-28

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Pada saat penelitian dijumpai pertanaman kacang tanah milik masyarakat di Kampung Pobaim yang menunjukkan gejala kekuningan pada daun-daun muda. Gejala kekuningan ini diduga kuat karena kahat akan beberapa unsur mikro. Gejala klorosis ini diistilahkan sebagai “Klorosis Terimbaskan Kapur” (Lime Induced-Chlorosis), suatu gejala kekahatan hara yang biasanya muncul di tanah-tanah berkapur. Kation-Kation Tersedia Kation tersedia yang diukur adalah Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Kalium (K). Kadar Ca dan Mg tersedia pada umumnya sedang hingga sangat tinggi. Hal ini mengisyaratkan bahwa kebutuhan tanaman akan Ca dan Mg cukup memadai sehingga tidak perlu diberi pupuk dengan kedua unsur tersebut. Pada kadar Ca yang sangat tinggi seperti dijumpai di beberapa tempat justru mengganggu pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, K tersedia tergolong rendah hingga sangat rendah sehingga pemupukan K sangat diperlukan agar mendapatkan produksi tanaman yang baik. Dalam hal tanaman tahunan seperti kakao, maka pemupukan kalium setidaknya dilakukan setiap tahun. Hasil analisis mineral tanah juga mencerminkan rendahnya kadar K tanah. Mineral tanah penyumbang kalium dari jenis kalium-veldspat yang telah hancur menunjukkan status kalium tanah yang jelek. Fosfor Tanah Kadar fosfat tersedia tergolong agak tinggi hingga sangat tinggi. Hampir semua contoh tanah menunjukkan adanya mineral primer apatit penyumbang fosfat yang tergolong sporadis (<1%) hingga beberapa persen saja. Dari pengalaman membuktikan bahwa walaupun jumlahnya sangat sedikit atau sporadis (<1%), nilai fosfat tersedia biasanya tinggi. Dengan demikian unsur hara fosfor dianggap cukup bagi kebutuhan tanaman, sehingga pemupukan P tidak diperlukan selama beberapa waktu tanam. Fosfat dan Kalium Total Kadar fosfat dan kalium total mencerminkan cadangan hara tersebut dalam tanah. Pada umumnya, kadar fosfat total berkisar dari Sedang hingga Tinggi sehingga tidak mengkhawatirkan. Tampaknya kandungan fosfat total dan fosfat tersedia berkorelasi positif sehingga memperkuat dugaan bahwa kadar fosfat cukup bagi kebutuhan tanaman. Kadar kalium total berkisar dari agak rendah hingga sedang. Ini berarti bahwa cadangan kalium tanah tidak memadai bagi suatu usaha pertanian, sehingga diperlukan pemupukan untuk mempertahankan kadar kalium tanah. Bahan Organik Tanah Kadar karbon (C) organik tanah mencerminkan kadar bahan organik tanah. Bahan organik sangat penting karena berpengaruh terhadap perbaikan sifat fisika dan kimia tanah. Bahan organik membantu granulasi dan penstabilan agregat tanah sehingga memperbaiki retensi LAPORAN AKHIR 1-29

Kemiringan lereng mempengaruhi drainase. kedalaman tanah merupakan faktor pembatas bagi penggunaan tanah untuk tanaman.1. dan menanam penutup tanah (seperti Pueraria javanica atau Calopogonium mucunoides) terutama pada pertanaman kakao. sedangkan perkolasi air dalam tanah ditentukan oleh ada atau tidaknya lapisan kedap. Untuk menanggulangi kekurangan bahan organik dapat dilakukan dengan pemberian pupuk kandang. kompos. Drainase tanah penting diperhatikan sebab drainase tanah mempengaruhi lingkungan perakaran tanaman yaitu keadaan air dan udara tanah. Pada umumnya kadar C organik tanah tergolong rendah. bahan organik meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK). meningkatkan laju infiltrasi dan kapasitas memegang air. 1.6. Drainse tanah merupakan cerminan terhadap kondisi tata air baik di dalam tanah maupun di permukaan tanah. struktur tanah dan ada tidaknya lapisan kedap dalam tanah serta kemiringan lereng. 1. Tanah dapat mempunyai drainase baik atau jelek tergantung pada kondisi internal dalam tanah seperti tekstur tanah. Struktur mempengaruhi drainase tanah karena struktur tanah menentukan proporsi ukuran pori tanah. namun demikian ada juga tanaman yang toleran terhadap drainase tanah yang jelek. Hal ini mengisyaratkan bahwa peningkatan dan perlindungan bahan organik tanah sangat penting dilakukan. Tekstur tanah mempengaruhi drainase. Selain itu.4 Kondisi Drainase Tanah Drainase tanah merupakan salah satu parameter penentu dalam penilaian kualitas/karakteristik lahan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 air tanah. Tanaman pada umumnya tumbuh dan berkembang dengan baik apabila drainase tanah baik. dimana drainase jelek atau terhambat biasanya terdapat pada tanah yang relatif datar atau daerah LAPORAN AKHIR 1-30 . sebab tekstur tanah menentukan kemampuan tanah memegang air. yang berarti pula meningkatkan kemampuan menyerap kation unsur hara makro dan mikro sebagai sumber hara.6.12 Peta Kedalaman Tanah di Tanah Papua.3 Kedalaman Tanah Di samping jenis tanah. semakin kecil tekstur tanah semakin kuat memegang air demikian pula sebaliknya. Adapun kondisi kedalaman tanah di Tanah Papua dapat dilihat pada Gambar 1. Hal tersebut berkaitan dengan volume tanah yang dapat dijelajahi oleh akar tanaman.1. Tidak kalah pentingnnya adalah dengan adanya bahan organik akan sangat berdaya terhadap biologi tanah.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Untuk jelasnya mengenai kondisi cekungan bukan di daerah yang berlereng curam.13.11 Peta jenis tanah dan penyebarannya LAPORAN AKHIR 1-31 . Gambar 1. drainase tanah di Tanah Papua dapat dilihat pada Gambar 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.12 Peta Kedalaman Tanah LAPORAN AKHIR 1-32 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.13 Peta Drainase Tanah LAPORAN AKHIR 1-33 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

1.1.7

Hidrologi

Tinjauan terhadap sumberdaya air sangat urgen sifatnya dilakukan guna memahami potensi, bentuk penguasaan, penggunaan, dan kesesuaian pemanfaatan sumberdaya air. Keberadaan sungai yang wilayah alirannya (DAS) di lebih dari satu wilayah administratif menjadikan sungai menuntut sistem pengaturan yang spesifik. Wilayah Provinsi Papua Barat dilewati beberapa sungai yang tersebar di beberapa wilayah kabupaten/kota. Dari sungai besar di Papua Barat sebagian besar mengalir di wilayah pengembangan Sorong. Sungai-sungai tersebut menjadi sebuah sistem daerah aliran sungai yang mengalir sepanjang tahun. Potensi sumberdaya sungai terbesar di Papua Barat disajikan dalam Tabel 1.11 berikut ini. Tabel 1.11 Nama, Panjang, Lebar dan Kecepatan Arus Sungai menurut Kabupaten/Kota
Wilayah Pengembangan WP Manokwari WP Sorong Nama Sungai Panjang (Km) Lebar (m) 80-350 60-700 80-2.700 80-350 140-1200 40--250 40-1300 40-2.200 30-40 50-125 45-1250 20-25 50-570 40-700 200-800 Kecepatan (Km/jam) 1,26 2,95 3,06 1,26 2,7 2,88 2,88 0,9 0,9 2,52 3,06 0,9 0,9 1,62 2,7

Laore 163 Beraur 360 Kaibus 200 Kais 184 Kamundan 425 Aifat 174 Karaora 230 Minika 225 Remu 17 Sebak 267 Seramuk 229 WP Fakfak Umbawa 280 Uta 246 Warsamsan 320 Muturi 428 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009

Sungai-sungai besar hingga kecil yang berasal dari wilayah pegunungan di bagian tengah Kepala Burung yang mengalir ke arah dataran rendah (berawa) dan bermuara di Teluk Bintuni. Selain itu, terdapat pula sejumlah sungai yang mengalir ke arah Selatan dan bermuara di pantai Selatan pada dan pantai Utara. Beberapa sungai besar yang bermuara di Teluk Bintuni adalah Sungai Arandai, Wiryagar, Kalitami, Seganoi, Kais, Kamundan, Teminabuan, Sermuk, Maambar, Woronggei dan Sanindar. Selain sungai juga dijumpai danau di daerah pegunungan, yaitu Danau Anggi Giji dan Anggi Gita serta Danau Ayamaru.

LAPORAN AKHIR 1-34

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Di Provinsi Papua Barat terdapat beberapa sungai yang membentuk beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS). Sebagian besar Daerah Aliran Sungai yang terbentuk adalah pada kabupaten-kabupaten di Wilayah Pengembangan Sorong. Sungai-sungai yang termasuk dalam kategoti terpanjang adalah Sungai Kamundan (425 km), Sungai Beraur (360 km), dan Sungai Warsamsan (320 km), sedangkan sungai-sungai yang termasuk kategori terlebar adalah Sungai Kaibus (80-2700 m), Sungai Minika (40-2200 m), Sungai Karabra (40-1300 m), Sungai Seramuk (45-1250 m), dan Sungai Kamundan (140-1200 m). Sungaisungai ini sebagian besar terletak di kabupaten-kabupaten di Wilayah Pengembangan Sorong. Berdasarkan data-data pada tabel di atas, beberapa sungai yang memiliki kecepatan arus paling deras antara lain adalah Sungai Seramuk (3,06 km/jam), Sungai Kaibus (3,06 km/jam), Sungai Beraur (2,95 km/jam), Sungai Aifat (2,88 km/jam), dan Sungai Karabra (2,88 km/jam). Sungai-sungai tersebut terletak pada Wilayah Pengembangan Sorong. Secara garis besar, daerah tangkapan sungai (catchment area) di Provinsi Papua Barat dapat dibagi ke dalam dua satuan wilayah sungai (SWS). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.12 dan Gambar 1.14 tentang Peta Hidrologi. Tabel 1.12 Pembagian Satuan Wilayah Sungai di Provinsi Papua Barat
Kabupaten T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari T. Wondama T. Wondama T. Wondama T. Wondama Kaimana, Nabire Kaimana Kaimana Kaimana Kaimana, Fak Fak Fak Fak, Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak, T. Bintuni Sorong Selatan, Manokwari Manokwari, Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan, Sorong Sorong Selatan, Sorong WS B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar Nama Das Wasian Sebyar Kasi Mangopi Prafi Maruni Masawui Ransiki Windesi Wasimi Wondiwoi Woworama Omba Laenatum Lengguru Berari Madefa Karufa Bedidi Fak Fak Bomberai Wariagar Kamundan Kais Sekak Waromga Seremuk Karabra Luas (Km2) 4.851,000 12.981,400 693,200 1.917,200 1.169,300 193,320 111,110 584,300 23,560 617,400 172,820 279,700 8.610,200 379,500 1.870,000 1.029,900 4.605,570 477,400 1.355,600 88,760 2.033,300 6.720,000 9.732,250 4.232,740 830,700 810,430 884,600 5.989,230

LAPORAN AKHIR 1-35

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten WS Nama Das Luas (Km2) Sorong Selatan, Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Kladuk 3.131,150 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Klasegun 848,510 Raja Ampat B-50 Kamundan-Sebyar Misol 848,160 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Salawati 368,910 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Samate 82,000 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Batanta 69,490 Raja Ampat B-50 Kamundan-Sebyar Waigeo 598,160 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Remu 46,440 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Warsamson 2.437,131 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Mega 1.048,340 MANOKWARI B-50 KAMUNDAN-SEBYAR MAON 682,300 Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Wesauni 626,933 T. Bintuni B-50 Kamundan-Sebyar Kasuari 1.971,850 T. Bintuni B-50 Kamundan-Sebyar Wagura 1.799,100 T. Wondama B-50 Kamundan-Sebyar Arumasa 2.497,000 T. Bintuni, Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Muturi 5.381,300 Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air, Jayapura 2005.

Tabel 1.13 Debit Sungai Dirinci Menurut DPS di Provinsi Papua Barat
No No. DPS 1 17 2 18 3 19 4 20 5 21 6 22 7 23 8 24 9 25 10 26 11 27 12 28 13 29 14 30 15 31 16 32 17 33 18 34 19 35 20 36 21 37 22 38 23 38 a 24 39 25 40 26 41 27 42 28 43 29 44 30 45 31 46 32 47 33 48 34 49 NAMA DPS Omba Laenatum Lengguru Berari Madefa Karufa Bedidi Fak Fak Bomberai Kasuari Wagura Arumasa Muturi Wasian Sebyar Wariagar Kamundan Kais Sekak Waromga Seremuk Karabra Kladuk Klasegun Misol Salawati Samate Batanta Waigeo Remu Warsamson Mega Koor Maon SWS B - 49 B - 49 B - 49 B - 49 B - 50 B - 49 B - 49 B - 49 B - 49 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 Catchments Area (Km2) 8,610.200 379.500 1,870.000 1,029.900 4,605.570 477.400 1,355.600 88.760 2,033.300 1,971.850 1,799.100 2,497.000 5,381.300 4,851.000 12,981.400 6,720.000 9,732.250 4,232.740 830.700 810.430 884.600 5,989.230 3,131.150 848.510 848.160 368.910 82.000 69.490 216.500 46.440 2,437.131 1,048.340 1,202.800 682.300 Qn (m3/s) 316.919 29.086 141.454 96.869 374.730 38.903 107.968 11.747 146.870 142.232 165.546 127.979 476.337 364.562 825.032 432.319 796.177 221.554 46.634 50.282 58.182 302.739 195.716 58.497 53.437 27.064 6.183 5.338 13.309 4.721 147.467 120.947 140.594 104.163 KABUPATEN Kaimana, Nabire Kaimana Kaimana Kaimana Kaimana, Fak Fak Kaimana, Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak, T. Bintuni T. Bintuni T. Bintuni T,Wondama T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari Sorong Selatan, Manokwari Manokwari, Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan, Sorong Sorong Selatan, Sorong Sorong Sorong Raja Ampat Sorong Sorong Sorong Raja Ampat Sorong Sorong Sorong Sorong Manokwari

LAPORAN AKHIR 1-36

872 ha LAPORAN AKHIR 1-37 . Bintuni 09 Anggi Gigi 21. DPS NAMA DPS SWS Catchments Area (Km2) Qn (m3/s) KABUPATEN 35 50 Wesauni B . Biasa juga disebut sebagai air aquifer.370 Manokwari 10 Anggi Gita 22. Di Provinsi Papua Barat terdapat 12 danau besar dan kecil yang tersebar di empat kabupaten/kota.400 45.300 161.50 617. Di Papua Barat potensi air tanah dangkal cukup signifikan terdapat di Kabupaten Sorong Selatan (40 %).Wondama Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air.527 Tel.916 Kaimana 07 Makiri 7.596 Sorong Sel. Potensi air tanah dalam sangat signifikan di bebrapa kabupaten di Provinsi Papua baik dilihat dari luasan maupun luasan relatifnya.153 Manokwari 42 57 Windesi B .796.974 T.50 111. menyusul Asmat 951. Informasi selengkapanya di sajaikan pada Tabel 1.648 Manokwari 36 51 Kasi B .50 279.574 T. 12 Hain 4.169.000 128.700 30.Wondama 45 60 Woworama B .50 193.854 T. Luas areal yang meliputi air tanah dalam terbesar di Kabupaten Digul yakni 1.024 Kaimana 05 Kamakawalor 23.50 0.131 ha (62. Pertama air tanah yang terkandung dalam tanah hingga batas kedalaman perakaran pada umumnya tanaman atau pada solum tanah dan disebut sebagi kandungan lengas tanah atau soil moisture.816 T.883 Manokwari 37 52 Mangopi B .14 Luas dan Penyebaran Danau di Tanah Papua No Nama Danau Luas (Ha) Kabupaten 01 Aiwasa 10.830 Manokwari 11 Ayamaru 10.933 108.960 Manokwari 38 53 Prafi B . Ground water.Wondama 43 58 Wasimi B .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 No No.50 1.129 Manokwari 40 55 Masawui B .340 Kaimana 06 Berari 6.2 %).958 Manokwari 41 56 Ransiki B .600 Kaimana 04 Mbula 6.50 584.300 76.640 Tel.110 18. Sumber: Dinas PU (2003). Studi Aplikasi SWS di Tanah Papua Potensi Air Tanah Air tanah mengandung dua pengertian. Tabel 1.820 18.814 Manokwari 39 54 Maruni B .850 Sorong Sel.740 Kaimana 03 Urema 12.917. Jayapura 2005. dan disebut sebagai ground water.200 222.560 3. Kedua.50 172. air tanah di bawah permukaan bumi pada kedalaman lebih dari yang tersebut di atas.14.Wondama 44 59 Wondiwoi B .240 Kaimana 02 Laamora 16.50 23.320 25. danau juga merupakan sumber air permukaan potensil. Selain sungai.50 626.50 1. Bintuni 08 Tanemot 17.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 (49. Teluk Bintuni 1. Di Provinsi Papua Barat.467 166.857 ha (20.916 Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air.320 6 Kab.15.174 77.957.195 1.757 531. Fak Fak 935.041 372. Penyebaran tersebut dapat pula dilihat pada Gambar 1.636 1.242 9 Kab.495. hanya Kabupaten Teluk Wondama yang secara relatif signifikan yakni 33 %.661.793 241.698 1. Raja Ampat 741.278 237. Sorong Selatan 1.058 Provinsi Papua Barat 9.588 680.15 Distribusi Luas Areal Air Tanah (Ground Water) Menurut Kabupaten di Tanah Papua No AT Dlm dan Perairan Sedang 1 Kota Sorong 33.927.004 10. KABUPATEN Luas Wilayah AT Dangkal Tanpa AT 29.071 806 110 2 Kab.037 651.897 30.091 LAPORAN AKHIR 1-38 .421 263.230. Sorong 1.098 1. Kaimana 1.530 391. namun secara mutlak kecil karena hanya mencakupi lahan seluas 165.1 %).752 721.000 ha.462 27.644 4 Kab.304 61.653 602 8 Kab. Penyebaran lokasi air tanah diperlihatkan pada Tabel 1.941 89.359 650.455 270.432 ha (28. Tabel 1.706.158 256.637 6.457.123 3 Kab. Manokwari 1.029 116.907 7 Kab.080.8 %).668 1.154.740 3.133.637 164.457 49.2 %).843 1.815 115.184 13.241 2. Jayapura 2005.122 11.910 5 Kab. dan Mimika (458.766 944.326. Teluk Wondama 500.324 181. Mappi 778.15.

14 Peta Hidrologi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-39 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

15 Peta Air Tanah LAPORAN AKHIR 1-40 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

maka akan terbentuk arus menyusur pantai (longshore current) yang disebabkan oleh perbedaan teknan hidrostatik. Oleh karena itu.8. dalam bentuk hempasan ombak.2–1. Arus yang disebabkan oleh pasut ini dipengaruhi oleh dasar perairan.2 m. Gelombang yang datang menuju pantai dapat menimbulkan arus pantai (nearshore current) yang berpengaruh terhadap proses sedimentasi ataupun abrasi di pantai. dalam dokumen perencanaan perlu adanya kajian dan pertimbangan dari segi karakteristik hidro-oseanografi yang mencakup aspek fisik perairan dan aspek kimia perairan. 1. pertumbuhan tersebut akan mengikuti daerah eksisting. Gelombang laut terbentuk karena adanya proses alih energi dari angin ke permukaan laut. Pengamatan gelombang di perairan Papua relatif masih belum banyak dilakukan. Pola arus pantai ini terutama ditentukan oleh besarnya sudut yang dibentuk antara gelombang yang datang dengan garis pantai. Hasil penelitian Pusat Riset Teknologi Kelautan.1. Selain gelombang.6 meter. Kisaran pasang surut (tidal range) adalah perbedaan tinggi muka air pada saat pasang maksimum dengan tinggi muka air pada saat surut minimum yang juga dipengaruhi oleh geometrik wilayah yang bersangkutan. Departemen Kelautan dan Perikanan tanggal 30 Juni–6 Juli 2005 menunjukkan bahwa tinggi gelombang di wilayah kajian berkisar antara 0. Namun demikian sesungguhnya terdapat hubungan antara angin musim dan pola gerakan gelombang. atau pada saat-saat tertentu disebabkan oleh gempa di dasar laut. Arus pasang surut yang terkuat akan ditemui di dekat permukaan dan akan menurun kecepatannya semakin mendekati dasar perairan.1 Aspek Fisik Perairan Naik turunnya muka laut dapat terjadi sekali sehari (pasut tunggal atau diurnal tide) atau dua kali sehari (pasut ganda atau semi diurnal tide). Kecenderungannya. dengan tipe pasut ganda campuran. sedangkan pasut yang berperilaku di antara keduanya disebut sebagai pasut campuran. Badan Riset Kelautan dan Perikanan.8 Karakteristik Hidro-Oseanografi Sebagian besar kota dan kabupaten-kabupaten di Provinsi Papua Barat yang sudah ada tumbuh dan berkembang di tepi laut. Gelombang ini merambat ke segala arah dengan membawa energi yang kemudian dilepaskan ke pantai LAPORAN AKHIR 1-41 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Jika sudut datang cukup besar.1. pasang surut juga merupakan parameter oseanografi lain yang penting sebagai pembangkit arus di pantai. Kisaran pasang surut di perairan Papua mencapai 3 .

Demikian pula kandungan fosfat dan nitrat masing-masing naik dua kali lipat. yaitu C lebih rendah dari musim Barat. Bishop (1984) menyatakan bahwa gaya yang berperan dalam sirkulasi masa air adalah gaya gradient tekanan. LAPORAN AKHIR 1-42 . dimulai sekitar bulan Mei sampai kira-kira bulan September. Akibat dari naiknya massa air ini adalah suhu permukaan menjadi lebih rendah. karena dengan adanya volume air yang terangkat di daerah ini bisa mencapai 2 juta m3/detik. Upwelling adalah menaiknya massa air laut dari lapisan bawah permukaan (dari kedalaman (150 – 250 m) karena proses fisik perairan. Di perairan Papua. (pasut) dan arus angin. Keadaan ini dipengaruhi dipengaruhi oleh keadaan rataan dan sedimentasi di pesisir pantai. sedangkan salinitas lebih tinggi 1 per mil.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Arus adalah gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horisontal dan vertikal masa air oleh perbedaan energi potensial. dan waktu pasang 11 cm/det. Air naik di laut tersebut terjadi pada musim Timur. gaya gravitasi. Pola arus perairan Papua menurut P30-LIPI Ambon tahun 1992 bahwa pola arus dipengaruhi oleh pasang surut. Keadaan arus laut umumnya terjadi akibat pengaruh beberapa gaya yang bersamaan yang terdiri dari arus tetap. Karena massa air bawah permukaan pada umumnya lebih kaya zat hara dibandingkan dengan lapisan permukaannya. gaya coriolis. dimana kecepatan arus rata-rata pada waktu pasang dan surut 7 – 8 cm/ det di daerah pesisirnya. Karena pada saat tersebut angin musim Timur mendorong keluar air permukaan Laut Arafuru dengan laju yang lebih besar daripada yang dapat diimbangi oleh air permukaan sekitarnya. Air yang naik ini bersumber dari kedalaman sekitar 125 – 300 m yang menyusup dari Lautan Pasifik. 1958). upwelling terjadi di Laut Arafura (Wyrtki.0006 cm/detik. Tetapi ini mempunyai arti besar. gaya gesekan. maka menaiknya massa air tersebut akan menyuburkan kawasan permukaannya. diperkirakan 0. arus periodik. akibatnya air yang berada di lapisan bawahnya terangkat naik untuk mengisi kekosongan tersebut. Kecepatan naiknya tampaknya kecil. dan gaya sentrifugal.

kimia. dan biologi perairan pada kedua musim tersebut penyebarannya kisaran nilainya disajikan dalam Tabel 1. terutama ikan-ikan pelagis.3.17 ml/l. kandungan konsentrasi fosfat berkisar antara 0.51 ml/l dengan ratarata 3.16.8.39 µg-A/l dengan rataDinginnya suhu permukaan di musim Timur tersebut cenderung membuat perairan cenderung lebih subur yaitu dengan adanya LAPORAN AKHIR 1-43 .12 . dan (b) musim Timur.4. 1980).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Musim Barat puncaknya terjadi pada bulan Februari. peningkatan fitoplankton dan zooplankton.02 . Tchernia. Sifat fisik. 1961. yaitu : (a) musim Barat. Sedangkan kadar oksigen terlarut (DO) di Perairan Utara dan Selatan berkisar antara 2.1. Hal ini berpengaruh besar terhadap sebaran klorofil-a dan nutruen serta ikan-ikan pelagis di wilayah tersebut sehingga perairan ini juga dikenal sebagai salah satu daerah penangkapan ikan dan udang. sedangkan musim Timur puncaknya terjadi pada bulan Agustus. laut Timor dan samudera Hindia. Pada saat musim Barat suhu permukaan laut cenderung lebih panas bila dibanding dengan pada musim Timur.16 Ketinggian Gelombang Laut 1. Pada musim Timur kondisi oseanografis perairan ini banyak dipengaruhi oleh massa air dari Laut Banda (Wyrtki. Wilayah perairan Selatan Papua merupakan perairan yang memiliki karakteristik massa air yang agak berbeda dengan perairan wilayah Indonesia lain. Dari tabel aspek fisik dan kimia adalah sesuatu proses yang dinamis dan sangat tergantung pada musim. Hal ini disebabkan oleh letak geografis perairan tersebut yang berdekatan dan lebih terbuka dengan laut Banda.2 Aspek Kimia Perairan Perairan di Papua sangat dipengaruhi oleh dua musim.

5 – 4.19 µg-A/l sampai 40.5 – 7.0 26. Tabel 1. Status tanah sekarang pada dasarnya sangat menentukan mudah dan dapat tidaknya suatu bidang tanah dikuasai atau dialihkan penguasaannya oleh pihak ketiga untuk kegiatan tertentu. Penggunaan lahan sekarang (eksisting) memberi gambaran sejauh mana jenis dan tingkat pemanfaatan lahan yang telah dilakukan baik yang bersifat budidaya maupun bukan budidaya.10 10 . Parameter Musim Barat (Februari) Musim Timur (Agustus) 1 Suhu (oC) 28. Ketersediaan tanah pada dasarnya tidak dilepaskan dengan status atau penguasaannya sekarang. dan Biologi Perairan Papua No.9 Ketersediaan Lahan Ketersediaan tanah atau lahan yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Guna Lahan sebagai suatu rencana dasar memberikan gambaran potensi lahan dan arahan bagi kawasan yang dapat dikembangkan/dibudidayakan atau karena limitasinya tidak dapat dikembangkan sama sekali berdasarkan faktor-faktor fisik dasar. Tanah negara yang dibebani.5 4.0 30. dan hasil analisis 1. hasil interpretasi ETM7.34 µg-A/l .800 200 – 3. di dalamnya termasuk: • • • • • • • c.000 Sumber: Netherlands Journal of Sea Research 25 (4): 431-447 (1990). Dalam hal ini.1 . Kadar konsentrasi nitrat berkisar antara 0.8 – 30. di wilayah Papua Barat perlu diperhatikan adanya berbagai jenis status (penguasaan) tanah sebagai berikut: a.5 0.83 . Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan HPHH Hutan Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) Hutan Suaka Alam (HSA) Hutan Lindung Hutan Produksi Kontrak Karya Kuasa Pertambangan Tanah negara yang telah diperuntukkan d.16 Kisaran Nilai Kondisi Fisik.000 500 – 1.5 – 2.0 8 Fito Plankton (cell/dm3) 200 – 1.5 1.0 0.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 rata 1.5 5 Nitrat (µm) 0.5 7 Klorofil a (mg/m3) Gb 0.53 µg-A/l.1.40 10 Larva Krustasea (Jumlah/m2) 500 – 1.5 2.0 – 1. Tanah negara yang dikuasai penduduk LAPORAN AKHIR 1-44 .0.0 – 34.91.8 2 Salinitas (ppm) 31.0 3 Oksigen (cm3/cm2) 3.5 – 7.94 µg-A/ serta kadar konsentrasi silikat yang terukur berkisar antara 0. Tanah negara bebas b.5 – 1.0 – 4.1 – 0.25 4 Fosfat (µm) 0.5 – 2.5 6 Silikat (µm) 2.000 9 Zoo Plankton (cm3/cm2) 5 . Kimia.0 – 34.0 – 26.

Hak Pakai i.320 Semak 839 Tanah Rusak Lainlain 213.224 28.248 Kebun 8. Tabel 1.865 12.258 21. Hak Milik Permasalahan yang mencolok adalah sering terjadi ketidaksesuaian antara arahan rencana tata ruang pada suatu lokasi dengan status atau penguasaan tanahnya sekarang terutama untuk tanah negara yang dibebani.256 5.599 26.875 612 3. Data tersebut hanya menunjukkan total luas Papua Barat sebesar 1 juta hektar.258 24.520 LAPORAN AKHIR 1-45 .17 Penggunaan Lahan di Provinsi Papua Barat Berdasarkan Kabupaten/Kota dan Jenis Penggunaan Tahun 2008 (hektar) Kampung/ Perumahan Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat 10. j.548 71.953 268.302 Hutan 8. kuasa pertambangan kontrak karya.001 8. konsesi.321 Kebun Campur 42. Hak Guna Usaha h.633 31.686 12.884 30. Tabel 1.282 6.271 8.887 11.305 14. 1.886 12.226 5. Tanah negara yang dikuasai instansi f.751 77.509 4.738 Total 407.918 24.556 29.197 30.222 28.566 4. Faktor kondisi fisik Provinsi Papua Barat yang berbukit dengan banyak pulau menyebabkan pencatatan penggunaan lahan relatif lebih sulit dilakukan. Terdapat kemungkinan adanya keterbatasan dalam pencatatan data penggunaan lahan. Data mengenai lahan antara satu dan yang lainnya kerap menunjukkan perbedaan.024 14.214 9.986 Sawah Tegalan 123. Hak Milik Adat g.17 menunjukkan data penggunaan lahan di Provinsi Papua Barat yang dibedakan ke dalam beberapa kategori penggunaan lahan.791 9.883 5.897 4.2 PENGGUNAAN LAHAN Pencatatan data mengenai penggunaan lahan di Papua Barat masih sangat terbatas.204 4. Terlebih adanya kabupatenkabupaten bentukan baru menyebabkan pencataan data penggunaan lahan harus dilakukan ulang.378 239. Hal ini dapat menjadi masalah jika dikaitkan dengan fungsi kawasan yang ingin dipertahankan (misalnya fungsi hidro-orologis).950 8.988 22.397 9. yang pada umumnya mencakup areal yang sangat luas seperti HPH.248 46. Misalnya pada kasus TGHK yang tumpang tindih dengan kuasa pertambangan atau Hak Penguasaan Hutan (HPH).159 82.838 88. Hak Pengelolaan Hak Guna Bangunan k.606 5.537 7.024 2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 e.

Kab.37 2.015 Sawah Tegalan 7.01 610.412 Kebun 1.958 Hutan Semak Tanah Rusak Lainlain Total 27.90 LAPORAN AKHIR 1-46 .473 254.218 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kebun Campur 2. Munculnya kategori tersebut sebagai yang tertinggi kemungkinan terkait dengan keterbatasan data.00 Hutan+Perairan 1.921.292 123.1 Kehutanan Potensi hutan di Provinsi Papua sangat tinggi. Bintuni 3.840 Ha yang terdiri dari Kawasan Hutan seluas 40. fungsi sebagai tegalan mendominasi penggunaan lahan di Papua Barat yaitu mencapai 254.065.18 Luas Hutan dan Perairan diProvinsi Papua Barat dirinci Per Kabupaten/Kota Tahun 2005-2008 Kabupaten/Kota 1.592 7. Kab.224.678.716 16.496 hektar atau sekitar 22.00 1.800.038 Kampung/ Perumahan Kota Sorong Papua Barat 16. T.283.755 61. Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Papua secara keseluruhan (termasuk Provinsi Papua Barat) berdasarkan (SK.199. T.800.564.360 Ha dan Kawasan Perairan 1.151.054 117.460 121. Wondama Luas Wilayah*) 1.700. Gambar 1. Kab.836 82. Manokwari 2.2. Fungsi perkebunan dan kebun campur kemudian memiliki presentase di bawah fungsi tegalan. Di luar kategori lain-lain.17 Persentase Penggunaan Lahan di Papua Barat tahun 2005 Berdasarkan Jenis 1. Menhutbun Nomor: 891/Kpts-II/1999) adalah sebesar 42.76 persen.197 332. Tabel 1.496 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Luas pengunaan lain-lain menjadi kategori dengan presentase tertinggi.480 Ha.00 578.546.118.863.

979.00 11.00 608.27%. Tabel 1.00 1.721.726.379.945.30 0.25 2. Kab.27%. terlihat memprihatinkan. Pembalakan liar dan issu illegal logging yang berkembang adalah satu hal yang selalu terjadi.601.84 1.736.28 2. Dan sebagai hutan produksi baik yang terbatas maupun dapat dikonversi adalah sekitar 56%.02%.58 0.385.600.00 LAPORAN AKHIR 1-47 .58%.27 16.199.072.17 100.98 1.53 1.50 686.75 17.934. Kab.00 31.19 Luas dan Prosentase Hutan berdasarkan Fungsi Hutan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Fungsi Hutan APL (Area Penggunaan lain) HL (Hutan Lindung) HP (Hutan Produksi) HPT (Hutan Produksi Terbatas) HPK (Hutan Produksi dapat dikonversi) CA (Cagar Alam) SM (Suaka Margasatwa) TN (Taman Nasional) TW Perairan Grand Total Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Luas (Ha) 196.000.00 1. Raja Ampat 7.653. Suaka Margasatwa 0. Kab.83 11.352.59 33.10 1.000. Sorong 5.850.34 1.726.16 24. Kab.27 0.199.700.00 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Berdasarkan fungsinya.64 19. Cagar Alam 24.503.965.665.17 4.74 64.199.003.17 % 1.63 19. Kota Sorong Total 2. Hutan di wilayah ini memiliki fungsi sebagai kawasan konservasi terdiri dari kawasan Hutan Lindung sebesar 17.202. Kab.00 1.718.641. Fungsi-fungsi ini tentu apabila dilihat di lapangan tidak demikian nyata.02 0. Hutan di Papua Barat diklasifikasikan menjadi 9 kategori.05 1.960. Fakfak 8.450.58 41.994.432.224.634.41 11.786.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 724. Taman Nasional 0.45 2.84 19.146.377.885. Akan sangat kritis apabila proses tersebut berlangsung secara terus menerus tanpa upaya penanganan dari Departemen Kehutanan dan Pemda karena menyangkut isu global warming di mana Indonesia memiliki hutan yang mampu menyerap CO2 sedangkan kondisi sekarang ini. Sorong Selatan 6. Kaimana 9.138.339.

847.535.144.054.75 Jumlah Hutan Lindung 39.314.686.41 715.600.96 1.080.790.270.49 309.96 Tetap 388.35 1.681.087.10 395.558.769.101.847.79 1.92 113.90 479.300.50 149.364.337.95 785.35 Hutan Produksi Terbatas 202.59 31.228.487.866.17 6.372.284.20 284.97 342.458.284.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.817.086.529.10 95.39 1.046.751.893.509.866.243.508.337.81 9.339.70 6.30 92.635.018.291.16 310.57 1.525.79 2.90 253.92 6.1176 LAPORAN AKHIR 1-48 .00 397.623.989.248.30 302.90 149.794.686.144.057.243.648.44 20.75 342.977.96 1.00 462.277.56 209.75 342.548.81 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Fungsi guna lahan hutan dalam data Pemanfaatan Lahan (Papua Barat Dalam Angka Tahun 2007) menunjukkan bahwa luas hutan di Papua Barat hanya sebesar 61.00 204.174.35 1.63 1.284.769.751.565.18 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi di Papua Barat Tahun 2008 Satuan dalam% Luas Total 9.40 121.70 4.40 1.63 1.277.943.863.87 86.79 Areal Penggunaan Lainnya 55.243.617.10 246.90 132.928.314.244.46 9.847.20 37.806.648.29 2.90 411.866.052.144.79 2.20 Luas Kawasan Hutan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 (Ha) Kabupaten/Kota Regency/ Municipality Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 2007 2006 2005 Hutan Kawasan Perlindungan Alam/ Kawasan Suaka Alam 44.147.957.345.30 379.648.865.39 Hutan Produksi yg Dikonversi 219.39 1.769.488.144.50 66.087.57 948.20 519.95 591.669.245.30 65.19 32.751.847.167.43 489.15 1.05 39.57 1.087.240.96 1.81 9.55 1.13 5.35 1.243.769.648.648.70 3.57 1.39 1.400.50 442.06 1.21 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2007 Hutan produksi mendominasi jenis hutan di Papua Barat sementara hutan lindung hanya seluas 1.686.90 149.787.503.70 165.648.866.290.314.087.723.259.385.464.277.30 16.439.370.10 275.648.87 persen dari total luas hutan.941.686.14 327.751.6 juta hektar atau sekitar 16.648.485.816.04 92.25 1. Tabel 1.79 2.891.20 93.81 9.75 342.284.277.70 320.314.700.90 1.02 1.10 79. Kabupaten Teluk Bintuni dan Fakfak memiliki luas hutan lindung yang relatif kecil jika dibandingkan dengan total luas hutannya.

000.000.19 Luas Kawasan Hutan Menurut Kabupaten/Kota di Papua Barat Tahun 2008 2. ataupun semak dan alang-alang memiliki kemungkinan untuk dikategorikan ke dalam hutan oleh data tentang lahan lainnya.000.00 1.7 juta hektar. Fungsi-fungsi seperti tegalan. Padahal.000.000.000. luas kawasan hutan di Provinsi Papua Barat mencapai 9.00 Fa kFa k Ka Te im lu an k a W on da Te m lu a k Bi nt un M a i So no k w ro ar ng i Se la ta n So ro ng R aj a Am Ko pa ta t So ro ng Berdasarkan data dari Balai Pemantapan Kawasan Hutan (2004).21 berikut. kebun campur.00 2.00 0. Namun. proporsi luas kawasan hutan di Provinsi Papua Barat ditampilkan pada Tabel 1. dalam buku yang sama tercatat luas hutan di Papua Barat mencapai 9 juta hektar dari total luasan Papua Barat yang mencapai 11 juta hektar. Berdasarkan data sementara yang dikomplilasi dari berbagai sumber.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 hektar atau hanya sekitar 5. perkebunan.00 500.000.00 1. Gambar 1.500.52 persen. data luas hutan untuk setiap wilayah kabupaten setelah pemekaran masih belum pasti.500. LAPORAN AKHIR 1-49 . Hal ini kemungkinan disebabkan dari perbedaan pemberian kategori dalam pencatatan penggunaan lahan.

371.209.44 112.636.52 393.538.61 429.60 Hutan Produksi Konversi 218.174.418.005.78 100.163.073.39 Cagar Alam Suaka Marga Satwa 657.24 6.495. 21 Persebaran Luas Kawasan Hutan (Ha) Menurut Fungsi pada Setiap Kabupaten di Provinsi Papua Barat Hutan Lindung Fakfak Kaimana Sorong Kota Srng Sor-Sel Mnkwr Bintuni Wondama Raja Ampat Papua Barat 41.42 221.235.019.05 9.46 Taman Wisata Alam 0 0 1.604.272.33 493.273.81 127.81 0 0 69.12 206.031.584.684.33 1.36 4.857.087.19 53.661.72 398.976.310.88 15.66* 0 14.20 2.08 10.27 0 0 10.54 936.985.41 500.15 2.972.44 23.84 1.240.461.11 69.56 5.52 356.045.33 1.180.181.76 151.13 Areal Penggunan Lain 52.47 260.600.439.560.877.475.537.24 1.77 243.61 24.342.689.481.328.712.21 498.43 Total 37.29 17.56 356.499.34 15. 2004.32 1.39 1.83 530.07 1.234. 1-50 .12 0 55.868.55 283.389.82 5.834.375.189.636.20 80.120.23 1.52 Taman Nasional 0 0 270.087.15 Hutan Produksi 383.41 1.21 231.477.13 80.927.Tabel 1.837.389.761.047.46 0 0 0 23.262.188.688.56 165.759.21 682.99 Hutan Produksi Terbatas 203.784.277.769.19 6.928.21 Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan.941.723.15 93.366.66 9.302.397.52* 1.517.977.634.90 1.97 276.138.394.740.32 737.846.85 84.41 33.132.114.34 413.092.747.729.838.338.008.379.63 304.93 487.102.53 322.22 16.47 355.192. Keterangan: *) Bagian kawasan Taman Nasional yang masuk dalam wilayah Administrasi Pemerintahan Provinsi Papua Barat (tidak termasuk perairan laut dan kepulauan).60 281.262.394.87 32.24 153.373.37 0 0 0 0 4.98 150.886.33 1.

diberikan Hak Pengusahaan Hutan dan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu kepada perusahaan dibidang terkait.2 Hak Pengusahaan Hutan (HPH) tata ruang wilayah pembangunan Provinsi Papua Barat dengan tetap memperhatikan karakeristik dan potensi Dalam pengusahaan dan pemanfaatan hutan. merupakan lahan-lahan pemukiman dan lahan budidaya.654.210 Ha atau 66.2.65%).273 Ha) dan sisanya seluas 2. Dengan kondisi kawasan hutan produksi demikian.063 Ha (43. Kanwil Kehutanan Irian Jaya (2001). Oleh karenanya dalam rencana pengembangan wilayah pembangunan di setiap kabupaten/kota perlu mempertimbangkan proporsi kawasan hutan untuk perlindungan ini. karena dengan pemekaran wilayah di Papua Barat.51% dari luas kawasan hutan. yaitu minimal 30%.62% memiliki slopes dari curam-sangat curam dengan kemiringan diatas 25%. Kawasan hutan produksi. Sisa areal hutan produksi tersebut sebagian besar merupakan wilayah hutan yang topografinya berat.250. khususnya areal hutan produksi konversi persebarannya tidak merata di setiap kabupaten/kota. nampak bahwa kawasan hutan untuk tujuan perlindungan masih berada di atas persentase yang disyaratkan. Hutan lindung dan hutan konservasi sebagai zona penyangga menempati luasan sebesar 34. 1. maka pengembangan kehutanan kedepan tidak lagi hanya mengharapkan eksploitasi hutan alam. Proporsi tersebut perlu dipertimbangkan kembali. dan hutan produksi konversi. tetapi mengintensipkan pengembangan hutan tanaman baik Hutan Tanaman Industri (HTI) maupun Hutan Tanaman untuk tujuan Rehabilitasi Lahan Kritis (RHL) atau tujuan perlindungan lainnya.90% dari luas hutan produksi (6. Di Provinsi Papua Barat sendiri telah dikeluarkan 29 unit HPH yang meliputi hutan seluas 4. persebaran di setiap kabupaten/kota tentunya akan bervariasi. Kawasan hutan ini perlu dipertahankan keutuhannya untuk jangka panjang.069. terdiri atas hutan produksi tetap.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Fungsi hutan produksi menempati proporsi tertinggi (62.181. melaporkan bahwa luas kawasan hutan produksi di Papua Barat yang telah dibebani hak pengusahaan hutan (HPH) seluas 4. Areal penggunaan lain seluas 2. kawasan hutan di Papua Barat memiliki slopes yang bervariasi dari datar sampai sangat curam. secara fisiografi.97 Ha. Sementara Industri Primer Hasil Hutan (IPHH) yang berkembang di Papua Barat digolongkan menjadi 2 yaitu Industri yang berskala besar dengan nilai LAPORAN AKHIR 1-51 . Selain itu. Berdasarkan proporsi tersebut. hutan produksi terbatas.84%. Untuk itu penataan fungsi kawasan perlu ditinjau kembali dan peninjauannnya dilaksanakan bersamaan dengan penetapan SDA tersedia di setiap wilayah Kabupaten/Kota.10%) masih merupakan kawasan hutan produksi yang belum terbebani hak.211. namun sekitar 66.

391.220.300 1.657 2.00 10.225.396.371.500 691.906 31.03 89.843 2.7% dari rata-rata rencana produksi per tahun.220.657 390.50 84.721 173.000 609.00 63.076.620.719.40 148.287.138.921 Luas H.003.392 599.425. Sedangkan pada tahun 2007 terdapat 20 HPH Aktif dengan RKT seluas 47.601. Tidak termasuk areal konsesi PT.231.30 1.665 955.03 9.60 61.225.076 4.53 28.63 10.00 37.33 Total 11.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 produksi lebih dari 6.994.23 Kawasan Hutan Produksi yang Telah Dibebani HPH/IUPHHK (Aktif+Dicabut) No.083.43 390.426.199. Artika Optima Inti Unit VI (57.360.420.758. Manokwari 1) 1.00 390.340 6.263.010 311.636. Dan realisasi volume hanya sebesar 21.140 85.600 4.28 22.07 8.843 Realisasi RKT Luas (Ha) Volume 6.65 Kab. Teluk Wondama 610.570.366 4.00 138.33 72.843.617.13 66.7% dari Rencana Luas RKT sepanjang Tahun 2000-2005.99 ha) 2.493 6. Kaimana 1.832.946 896.762 541.799.951.570.164. Pada tahun 2006 terdapat 22 HPH Aktif dengan RKT seluas 65. Prod 1.192 91.89 56.726.25 ha) dan PT.36 1.391.146.500 ha LAPORAN AKHIR 1-52 .24 Kab.55 1.858 267.20 78.48 319.930 791.269.274. Namun Rata-rata realisasi RKT sebesar 32.00 Kab.580.657 390.00 35. Sorong Selatan 2) 1.910.837 1. Termasuk areal PT.242.943 78. Teluk Bintuni 1) Luas Hutan 2.25 Kab.20 50.920 202.537.570. Sorong 1.960.67 74.570.34 Ha.680 323.187 11.092.657 49. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Kab.23 Kab.70 Ha.49 Kota Sorong 41.620.480.477 984.620.86 11.264.800 Target Tahunan Maksimum Luas (Ha) Volume 298.300.450 51.47 23. Sedikitnya terdapat 3 perusahaan berskala besar dan 15 perusahaan sedang yang bergerak dalam sektor kehutanan ini.803.248 93.783 20.800 1.151 323.13 61.378 713.066 340.564.800 2.620.800 4.92 472.81 2.332 14.726 6.764.472 1.458.431 1.000 m3.585. Perkembangan HPH tiap tahun menurun.22 Daftar Kepemilikan SK IUPHHK dan RKT Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2004-2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 2004 SK IUPHHK (Ha) 311. Henrison Iriana (83.326.55 Kab.880.434 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tabel 1.06 %HPH/HP 90.193.494 215. Mitra Pembangunan Global seluas 98. Fakfak 1. Raja Ampat 686.199.004 Areal HPH 1.843 2.225 1. Pada tahun 2005 terdapat 23 HPH Aktif dengan RKT seluas 66.03 Kab.620.61 Ha.007.000 m3 dan industri di bawah sedang yaitu produksi dibawah 6.500 4.41 1.051.630.419 650.800 4.00 56. Tabel 1.653 28.998 922.836.

118.64 36. Sedang di Kabupaten Kaimana.23 di atas dapat dilihat bahwa sekitar 74. Jenis HPH yang dipegang oleh perusahaan cukup bervariasi.000 155. SAGINDO LESTARI UNIT I PT. Sedang di Kabupaten Fak-Fak terdapat 6 HPH kayu dan 1 HPPH Mangrove.07 6. Raja Ampat Kota Sorong NAMA HPH/IUPHHK PT.24 Direktori Perusahaan Pemerima HPH Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Kabupaten Kab. MULTI WAHANA WIJAYA PT.502.000 01/Kpts-II/93 299.700 333. PT.000 397/MenhutII/06 448/Kpts-II/88 279/Kpts-IV/88 547/Kpts-II/97 744/Kpts-II/90 759/Kpts-II/89 373.683. pemegang HPH Kayu sebanyak 4 unit dan HPH sagu sebanyak 2 unit. WAPOGA MUTIARA TIMBER PT.000 464/Kpts-II/92 212.504.897.533.32 286. 11 HPH Kayu.729.800 155.66 30.000 97. Teluk Wondama dan Manokawri sebanyak 20 HPH berupa HPH Kayu diantaranya 3 HPH kayu telah dicabut.264.28 12.000 133.000 299. WANA GALANG UTAMA PT. HASRAT WIRA MANDIRI PT. INTIMPURA TBR. INDT. CO.40 9. PT. WANA KAYU HASILINDO PT.09 108.000 DIGITASI LUAS (HA) 14. Namun dari 14 HPH tersebut.000 119.25% untuk pengusahaan hutan. CO.000 299. 174/Kpts-IV/88 137.28 2.745. Mancaraya Agro Mandiri Kab Sorong PT.012.010.00 139. BANGUN KAYU IRIAN PT.820 139. KALTIM HUTAMA PT.352.61 270.58 LAPORAN AKHIR 1-53 . 2 HPH Kayu telah dicabut yaitu milik PT Artika Optima Intin dan PT Henrinson Iriana. Megapura Mambramo Bangun PT. SAGINDO LESTARI UNIT II PT. yang 1 HPH Kayu juga telah dicabut.183.15 92. Kabupaten Teluk Bintuni memiliki luas produksi terbesar dan dimanfaatkan 90. CO. INTIMPURA TBR.698.242.28 55.700 333.492.08 21. BINTUNI UTAMA MURNI W.600 119. HASRAT WIRA MANDIRI PT. AGODA RIMBA IRIAN PT.000 51.68 37.53 26. BANGUN KAYU IRIAN PT.000 178. HANURATA UNIT I PT. ARTIKA OPTIMA INTI N Unit VI PT.41% hutan produksi di Provinsi Papua merupakan Areal HPH.000 SK HPH 81/Kpts-II/94 69/Kpts-II/89 01/Kpts-II/93 81/Kpts-II/94 735/Kpts-II/1993 69/Kpts-II/89 55/Menhut-II/06 534/Kpts-II/91 01/Kpts-II/93 735/Kpts-II/1993 69/Kpts-II/89 1142/Kpts-II/92 LUAS_SK 51. DHARMA MUKTI PERSADA Kab Teluk Wondama Kab Teluk Bintuni PT.06 64.00 123.57 66. HENRISON IRIANA PT.000 98.149. Di Kabupaten Teluk Bintuni terdapat 14 HPH yang terdiri dari 2 HPH Sagu.83 15.650. HANURATA UNIT I PT.56 97.600 333.43 1.531.820. INTIMPURA TBR.303.100. 1 HPH Mangrove. Di Kabupaten Sorong Selatan.343. PT.000 84.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dari Tabel 1.42 3. Tabel 1.60 80. ARTIKA OPTIMA INTI N UNIT VI Kab Sorong Selatan PT.862. BANGUN KAYU IRIAN PT.28 131.

PT.800 150.25 3. YOTEFA SARANA TIMBER PT.236.540 155.49 72. DHARMA MUKTI PERSADA PT.24 6.72 182.39 82. Manokwari Mandiri Lestari PT. PRABU ALASKA PT.000 156. WANA KAYU HASILINDO PT. TELUK BINTUNI MINA AGRO K.000 300.643.733.200.98 LAPORAN AKHIR 1-54 .186. HANURATA UNIT II PT. ARFAK INDRA PT. TELUK BINTUNI MINA AGRO K.764.90 10.786. TELUK BINTUNI MINA AGRO K. ARTIKA OPTIMA INTI UNIT II PT.461. PT.821. RIMBAKAYU ARTHA MAS PT. PRABU ALASKA 48 Tahun 2002 651/Kpts-II/92 1142/Kpts-II/92 83. SAGINDO LESTARI UNIT II PT.000 170.70 60.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 SK HPH LUAS_SK DIGITASI LUAS (HA) 68.240.300 209.98 62. IRMASULINDO UNIT II PT.240.000 137.861.91 187. PT.388. HENRISON IRIANA PT.000 319.186.249.900 178.997.65 182.000 Kab Kaimana PT.263. WUKIRASARI PT.689.08 222.670 319. KALTIM HUTAMA PT. HANURATA UNIT II PT.59 68.000 153.670 174.26 87.921.000 212. WANA IRIAN PERKASA PT.000 182.078.000 153.6 1.236. INDT. CENTRICO PT.97 83. BUDI NYATA PT.2 101.30 152.436.58 38.823.240 373.233.219. BINTUNI UTAMA MURNI W.79 98.11 127.165. HANURATA COY UNIT III PT.57 14.000 84.368.600 239.68 76. SAGINDO LESTARI UNIT I PT.000 155.08 19.99 393/Kpts-II/92 464/Kpts-II/92 936/Kpts-II/92 744/Kpts-II/90 396/Kpts-II/90 811/Kpts-II/91 678/Kpts-II/89 379/Kpts-IV/87 154/Kpts-II/93 448/Kpts-II/88 81/Kpts-II/94 81/Kpts-II/94 08/Kpts-II/2001 279/Kpts-IV/88 180/Kpts-II/91 393/Kpts-II/92 547/Kpts-II/97 396/Kpts-II/90 759/Kpts-II/89 553/Kpts-II/89 174/Kpts-IV/88 81/Kpts-II/94 81/Kpts-II/94 180/Kpts-II/91 393/Kpts-II/92 239.00 376.000 76.426.332. HANURATA COY UNIT III PT.406.733.41 59. Tabel 1.728.07 Jumlah Produksi 42.000 156.35 12.65 12.13 Kabupaten NAMA HPH/IUPHHK PT.703.966.61 9.27 95.25 Perkembangan Luas Penebangan Hutan Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Luas Penebangan 2. WANA GALANG UTAMA PT.23 82.967. WUKIRASARI PT AGODA RIMBA IRIAN PT.786.600 239.000 98.04 80.300 209.12 72.000 95.11 89.631.780. WAPOGA MUTIARA TIMBER PT.000 133.000 150.30 15.

29 Kota Sorong Papua Barat 2007 14.446. hasil perhitungan Kegiatan pemanfaatan hutan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan.13 207.18 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009.040.21 Luas Produksi Kayu (m3) Oleh Pemegang HPH di Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 120000 100000 80000 60000 40000 20000 0 Fak-Fak Kaimana Teluk Bintuni Sorong Raja Ampat LAPORAN AKHIR 1-55 .866.65 2004 14.07 hektar.6 m³.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Raja Ampat 940 9.040.65 2003 17.156.135.13 207.65 2005 14.20 Luas Penebangan Hutan (Ha) Oleh Pemegang HPH di Papua Barat Tahun 2008 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 Fak-Fak Kaimana Teluk Bintuni Sorong Raja Ampat Gambar 1. Teluk Bintuni memiliki jumlah lahan terluas untuk penebangan yang dilakukan oleh perusaahan HPH yaitu seluas 6.66 249.733.040. Luasnya lahan penebangan di Teluk Bintuni membuat kabupaten ini juga memiliki produksi kayu terbesar yaitu mencapai 101.263.866.13 207. Gambar 1.866.

nikel.3 Kawasan Pertambangan Pulau Papua yang diketahui terbentuk sejak jutaan tahun yang lalu sebagai hasil benturan Lempeng Benua Australia (Australia Plate) yang bergerak ke Utara dengan Lempeng Pasifik (Pacific Crustal Plate) yang bergerak ke arah Barat. Papua New Guinea sampai ke Selandia Baru telah ditemukan banyak endapan emas dan tembaga kelas dunia. Contohnya di daerah Kepala Burung. Tidak tertutup kemungkinan daerah-daerah lain seperti sampai saat ini masih terus dilakukan eksplorasi baik di daratan maupun lepas pantai.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Philipina. Untuk data potensi mineral logam maupun non logam dapat dilihat pada Tabel 1. Akibat tektonik di Pulau Papua juga memungkinkan terbentuk cekungan dengan sedimensedimen yang cukup tebal dalam kondisi lingkungan laut.2. yang berupa cincin gunung api memberikan potensi endapan mineral yang besar. Konsentrasi mineral-mineral logam diperkirakan terdapat pada Lajur Pegunungan Tengah Papua. Keuntungannya adalah dengan terjadinya penerobosan batuan beku dengan komposisi sedang ke dalam batuan sedimen di atasnya. yaitu adanya cadangan batubara.26 Potensi Mineral Logam dan Non Logam bagi daerah-daerah yang potensial di Provinsi Papua Barat. di mana lingkungan marine cukup banyak kehidupan mikro organik yang terakumulasi menjadi cadangan hidrokarbon. mengingat keberhasilan Negara Papua New Guinea telah menemukan cekungancekungan minyak dan gas bumi yang cukup potensial. kobal. di daerah tersebut cukup potensial untuk diadakan eksplorasi minyak dan gas bumi. krom.26 Potensi Mineral Logam dan Non Logam di Provinsi Papua Barat Kabupaten/ Kota Manokwari Potensi Tambang Timah Distrik Distrik Ambarbaken sepanjang Sungai Waturi dan Sungai Warsomi Distrik Anggi Kampung Sutera Distrik Ambarbaken kampung Sutera Kampung Bomas dan Danau Anggi Giji Distrik Ambarbaken Terdapat merata di semua distrik dan melimpah Volume Cadangan Deposit mineral belumdiketahui. telah diketahui sepanjang jalur tersebut dari Amerika Selatan. kandungan timahnya berkisar antara 345-685 Deposit mineral belumdiketahui dan sampai saat ini potensi belum dimanfaatkan Deposit mineral belumdiketahui dan belum dieksplorasi 13. memungkinkan terbentuknya mineralisasi logam yang berasosiasi dengan perak dan emas. Posisi tektonik Papua yang berada di Lingkar Pasifik. Akibat benturan antara lempeng tersebut di atas menimbulkan keuntungan dan kerugian. Keuntungan-keuntungan lainnya.92 Miliyar Ton Senk dan Tembaga Emas Batu Gamping LAPORAN AKHIR 1-56 . dan uranium. Tabel 1.

1 metric ton. A12O3 – Ratarata13.83 miliyar metric ton Volume cadangan 137. Batu Lumpur. Distrik Ambarbaken. Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Selatan (Pulau Wageo dan Gag).39 metric ton. terdiri dari Genis Maskovit sebesar 15.5 metric ton Volume cadangan hipotetik batu bara 0.21 juta metric ton dan jenis peckmatik sebesar 11.3%.27 % kadar abu 2.4% Volume cadangan sebesar 1. nisprematik sebesar 31.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Volume Cadangan Kabupaten/ Kota Potensi Tambang Lempung Distrik penyebarannya Tersebar merata di Distrik Manokwari Pasir Batu Granit Pasir Kuarsa Distrik Manokwari an Distrik Warmare Distrik Ransiki. dan batu Gamping Kandungan mika 150.4% Diorit Granit Teluk Bintuni Minyak dan Gas Bumi Batu Bara Mika Raja Ampat Cobalt Tembaga Nikel Mangan Batu bara Fosfat dan Opal Mika Batu Gamping Biji Besi Distrik Warmare di sekitar Kampung Wagesi.27 dan Fe203 rata-rata 10. jenis kuarsa sebesar 61.15. Waisian.13 m3 Volume cadangan sebesar 96.31 juta metric ton. dan Berau. Distrik Wageo Selatan Pulau Wageo dan Gag Distrik Wageo Selatan.28 Juta metric ton. Sungai Maryam Mogoi.95 miliyar metric ton Volume cadadangan terbesar adalah gas alam sebesar 14. jenis kuarsa sebesar 91. Genis Kuarsa sebesar 91.50 juta metric ton.38 metric ton.84 % pausri gelas kaca Volume cadangan 26. Gunung Nuasa.855 juta ton m3 dan 12. MgO rata-rata 1.1 juta metric ton tersiri dari Genis Maskovit sebesar 19. Distrik Anggi. dan Distrik Kebar Tersebar di Distrik Kebar Kampung Atay Selatan Kandungan lempung terdiri dari Sio rata-rata 55%. Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Misol Distrik Wasior Tersebar di Distrik Wasior dan Wendesi Distrik Wasior Teluk Wondama Cadangan deposit sebesar 90. dan Genis Pragmatic sebesar 31.6% .5 mt berdasarkan penelitian SiO2 – rata-rata 77.28 juta metric ton. A12O3-12.50 juta metric ton LAPORAN AKHIR 1-57 . Muturi.29-1.11 juta metric ton.65% Fe2O3 rata-rata 0. Pulau Wageo dan Gag. bahan galian adalah batu bara. Batu Pasir. Selain gas dan minyak bumi.3 TCF Cadangan mika sebesar 150. yang terdiri dari jenis Moskovit sebesar 17.

Fakfak Timur.500 m2 Perak Tembaga Timbal Senk Jumlah cadangan kurang lebih 450 juta m3 dan Distrik Bomberai dengan luasan 12 Ha. Distrik Kokas Kabupaten Sorong Fak Fak Batu Gamping Batu Bara Emas Distrik Kokas pada Pegunungan Onin Distrik Teluk Etna. dan Mare Distrik Aifat dab Aifat Timur Distrik Sawiat. dan Fak Fak Timur Distrik Teluk Etna.000 m2 Minyak Gas Lempung dan Sebaran 1.282. jumlah cadangan + 864 juta m3 Dengan kadar 3.2 gr/ton Sumber: Peluang Bisnis dan Investasi Provinsi Papua Selain itu juga ditemukan beberapa macam endapan logam dan bukan logam. Timah terdapat di Distrik Amberbaken sepanjang Sungai Wapai. buruway. baik yang ekonomis maupun tidak.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Volume Cadangan Kabupaten/ Kota Sorong Selatan Potensi Tambang Minyak Bumi dan gas Batu Gamping Emas Fosfat Zink Marmer dan Bahan Baku Semen Tembaga Emas Tanah Hitam Batu Bara Koramit Biji Besi Pasir Kuarsa Distrik Distrik Kais.2 gr/ton Dengan kadar 47.500 ha dengan ketebalan rata-rata 6 meter sehingga perkiraan cadangan adalah 90 juta m3 Luas 142. Ayamaru Utara Distrik Aifat Timur Distrik Ayamaru. Ayamaru.500 Ha Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Fakfak Fakfak Fakfak Fakfak Volume cadangan sebesar 1. Sawiat. Inanwatan Distrik Kais. Ayamaru Utara.500 Ha dan jumlah cadangan +2. Sungai Waturi dan Sungai Warsayomi dan LAPORAN AKHIR 1-58 . dan Klamono Distrik Salawati Distrik Sausapor Bomberai. Aifat Timur. dan Fakfak Barat Menyebar di distrik Kokas.000 m2 dengan kadar 0.8 gr/ton Dengan kadar 15. Berikut di bawah ini contoh endapan mineral yang ada di Provinsi Papua Barat.1 gr/ton Dengan kadar 16. Bahan Galian Strategis.680. kampung Tawar dengan luas 4. Teluk Arguni. Ubadari.850 juta m3 Sebaran Volume 457.050 gr/ton hasil analisis laboratorium P3G Bandung Dengan kadar + 26. Kokas. teluk Berau Buruway. dan Mare Distrik Sausapor Distrik Sausapor dan Sawiat Distrik Sausapor Distrik Salawati. Ayata.  Di Kabupaten Manokwari. dan Kokas Menyebar di distrik Kokas. Ayamaru Utara.

Indonesia dengan Proyek "LNG Tangguh". Emas terdapat di Distrik Amberbaken. Kawasan Teluk Bintuni kaya akan minyak bumi dan gas alam. Aranday dan Babo. Cadangan batu gamping di Kabupaten Manokwari sangat melimpah. jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainya di Papua. Daerah Mogoi dan Wasian telah diketahui kandungan minyaknya sejak Tahun 1952-1960 oleh NNGP Belanda.05 juta ton. Tersebar di Distrik Kebar. Distrik Babo. Bahan Galian C. Bomas. dan timah. Fe203 . Tanah Merah.5 juta metrik ton. Minyak bumi pemah dieksploitasi pada masa pemerintahan Belanda. Batuan ini dapat digunakan sebagai bahan bangunan. Diorit.95 milyar metric ton.  Kabupaten Teluk Bintuni.65 %. Kandungan Pasir Kuarsa tersebut berdasarkan hasil penelitian.84 %. Merdey. Bahan galian Vital. Muturi dan Berau. namun saat ini lapangan minyak tersebut telah dieksploitasi kembali. minyak dan gas alam cair. dengan volume cadangan sebesar 136. Weriagar. lapangan gas di Kawasan Teluk Bintuni telah dieksploitasi oleh perusahaan multinasional BP. Volume cadangan bahan galian ini sebesar 26. Pasir Kuarsa. Saat ini.83 milyar metrik ton.  Kabupaten Teluk Bintuni memiliki ladang minyak terbesar di Papua. dengan hasilnya sekitar 7 juta barrel minyak mentah.rata-rata 13. Penyebarannya hampir merata di tiap distrik.rata-rata 0. Volume cadangan kedua distrik ini belum diteliti. Cadangan Granit tersebar di Distrik Ransiki dengan volume cadangan sebesar 96. dan Distrik Oransbari dengan volume cadangan 2.rata-rata 77. terdiri dari Si02 . Distrik Manokwari dengan volume cadangan 13. Perusahaan yang sudah menanamkan modal.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Distrik Anggi di Kampung Sutera. Distrik Ransiki dengan volume cadangan 18.rata-rata 0.5 milyar ton. kawasan ini juga memiliki kandungan gas bumi sebesar 13 trilyun kaki kubik dengan volume cadangan sebesar 23. antara lain. Gunung Nuasa.83 milyar ton. kaca. Distrik Anggi. Patrindo. Selain minyak. Sedangkan untuk ladang Wer (Tahun LAPORAN AKHIR 1-59 . Sungai Maryam. baik penanaman modal asing maupun nasional. Daerah Mogoi. Potensi minyak bumi di Kawasan Teluk Bintuni tersebar di Distrik Bintuni.6 %. Conoco Arco. Bahan Galian Strategis meliputi. Ada 5 (Lima) daerah di Kabupaten Teluk Bintuni yang terdapat banyak ladang gas alam yang menghasilkan minyak. dll. Ca03 . Kandungan Timah berkisar 345-685 ton. Distrik Warmare dengan volume cadangan 2. Pabrik pengolahan LNG akan beroperasi di daerah Saengga.76 %. Wasian.35 milyar ton. Tersebar di Distrik Warmare. dan Danau Anggi Giji. dll. di sekitar Kampung Atay Selatan dengan volume cadangan sebesar 137. A1203 . Paustri gelas. Distrik Anggi merupakan lanjutan dari Distrik Ransiki dan Amberbaken merupakan lanjutan dari Distrik Kebar. batubara. British Gas. lapangan minyak yang ada terbengkalai untuk beberapa waktu lamanya. yaitu. Batugamping. Seng dan Tembaga. Sedangkan minyak bumi dengan volume cadangan sebesar 45 juta ton metric terletak di Kampung Homa. di sekitar Kampung Wasegi. Setelah penyerahan Papua ke Indonesia.7 trilyun kaki kubik.92 milyar ton.

3 %. dengan ketebalan rata-rata 6 meter. Batugamping adalah jenis k sedimen klastik atau non klastik yang disusun oleh 90% karbonat.3 . salah satu perusahaan swasta asal Inggris. batugamping dan endapan sirtu.29 . dengan kadar besi. pasir kuarsa mencapai luas 1. Kadar Belerang 0. 97. batupasir.11. Sawiat. 0.500 ha clan jumlah cadangan 2.000 m3.645%. 0. 97.1 .202. Tembaga di Waigeo Selatan Nikel di Distrik Waigeo Utara dan Samate.000 Berdasarkan hasil analisis proksimat dari 10 contoh batubara oleh Direktorat Sumberdaya Mineral Bandung diperoleh kualitas dengan kisaran angka 5. Aifat Timur.  Kabupaten Fak Fak. Batugamping. Batugamping di Distrik Kais. Ayamaru dan Mare. Luas penyebaran batupasir kurang lebih 307. Marmer dan Bahan Baku Semen di Distrik Sawiat. Batubara. Emas di Distrik Aifat Timur. Distrik Kokas. kelembaban tertambat 1.000 BOPD atau sf 795.  Kabupaten Sorong Selatan. Data menunjukan bahwa kadar . Potensi Pasir Kuarsa (Quartzsand). terdapat kandungan minyak mentah sebesar 5. batulumpur. Goras dan I pulau di sekitar Kokas dengan luasan 142.49. batugamping dan endapan sirtu 84. Tahun 1990-1995.27 %. 97. Bahan galian lain yang ditemukan di Kabupaten Teluk Bintuni dan sekitarnya adalah batubara. dekat Kampung Beimes sekitar 20.1. Ayamaru. Mangan. Fosfat dan Opal di Distrik Misool.  Kabupaten Raja Ampat. sehingga perkiraan cadangannya adalah 90 juta m3.50.500.000 ton.40%.935 kalori/kg.51. sekitar 4.9 km2.500 ha. di Sungai Thistoku dekat Kampung Horna. karbon tertambat 44.1 . perusahaan ARCO.8 %. Inanwatan. batulempung dan batulumpur seluas 768.20%. menemukan ladang gas alam terbesar di Weriagar.820 – 7. zat terbang 40.48%. Cadangan hipotetik batubara di Sungai Thikoku. silika yang cukup tinggi. Menyebar di Distrik Kokas pada Daerah Pegunungan Onin.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1990). minyak bumi dan gas tersebar di Distrik Kais. Di daerah Bomberay. Kadar Abu 2. LAPORAN AKHIR 1-60 . yaitu. kesemuanya bersumber dari cekungan berproduksi Bintuni.32%.5. Di Kabupaten ini ditemukan potensi logam kobal di Distrik Waigeo Selatan.850 juta m3 (Hasil Survei LPMITB).6 km2.8 kelembaban 3 -16 % dan HGI 40 .3 . Uji laboratorium yang dilakukan di PPP Tekmira Bandung terhadap 3 contoh pasir kuarsa dari daerah Bomberay.000. dan disebut juga batuan karbonat.000 liter per hari. 4 %.10%. Potensi daerah ini meliputi. 0.

22 Peta Sebaran Kawasan Pertambangan LAPORAN AKHIR 1-61 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

00 73.00 188. Kaimana Kab.000.2. Raja Ampat Kab.749. Cagar Alam Pegunungan Kumawa 9.90 Lokasi Kab. Cagar Alam Pegunungan Fak-Fak 10.00 500. taman wisata.411. Kawasan konservasi yang telah ditetapkan di Provinsi Papua Barat terbagi ke dalam empat kawasan yaitu kawasan cagar alam. Cagar Alam Pulau Salawati Utara 2.909.00 191. Manokwari Kab. Tl Wondama Kab.73 Ha.4 Kawasan Konservasi Kawasan hutan yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi seluas 3.150.00 100. Taman Wisata Alam Sorong Sumber: Provinsi Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Luas (Ha) 58. Sorong Kab. Manokwari Kab.022.00 9.453. Cagar Alam Pulau Waigeo Timur 6.27 berikut. Taman Wisata Alam Moraid 23. Cagar Alam Sidei Wibain 15.00 119. Manokwari Kab.000. Tambrauw Kota Sorong LAPORAN AKHIR 1-62 .660 945. Taman Nasional Laut Tl Cendrawasih 20.000. suaka margasatwa. Raja Ampat Kab.500. Taman Wisata Alam Bariat 21.00 62.00 247. Cagar Alam Tambrauw Utara 24. Kawasan konservasi tersebut tersebar di 26 lokasi dengan katagori kawasan dan luasan yang berbeda. Cagar Alam Pulau Batanta Barat 3.001.53 1. dan taman nasional.37 9.00 5. Sorong Kab. Cagar Alam Pulau Misool Selatan 4. Lokasi dan luas kawasan konservasi di Provinsi Papua Barat ditampilkan dalam Tabel 1.000.000.720. Suaka Margasatwa Sabuda Tuturuga 11.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.350.00 300. Cagar Alam Pantai WekweKwoor 16. Suaka Margasatwa Mubrani-Kaironi 19. Cagar Alam Pulau Pegunungan Wondiboy 8. Cagar Alam Tambrauw Selatan 25.478.000. Raja Ampat Kab. Manokwari Kab.00 1. Tabel 1.000. Cagar Alam Pulau Waigeo Barat 5.300.500.00 153. Raja Ampat Kab. Sorong Selatan Kab.875.00 265. Taman Wisata Alam Klamono 22.27 Kawasan Konservasi yang Telah Ditetapkan di Provinsi Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 No. Taman Wisata Sungai Sausiran 18. Taman Wisata Alam Gunung Meja 17.00 60.00 1. Manokwari Kab. Manokwari Kab. Tambrauw Kab. Suaka Margasatwa Laut Kepulauan Raja Ampat 7.00 68.27 16.00 111. Raja Ampat Kab. Cagar Alam Pegunungan Arfak 13. Cagar Alam Wagura Kote 14. Fak-Fak Kab. Raja Ampat Kab. Manokwari Kab. Nama Kawasan 1. Cagar Alam Teluk Bintuni 12.325.00 170. Cagar Alam Pantai Sausapor 26. Fak-Fak Kab.00 90.193.00 15. Manokwari Kab. Tambrauw Kab. Bintuni Kab.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.23 Peta Sebaran Cagar Alam LAPORAN AKHIR 1-63 .

Sementara itu.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Luas lahan pemukiman yang berupa kampung atau perumahan di Wilayah Pengembangan Sorong merupakan 49% dari seluruh luas lahan pemukiman di Provinsi Papua Barat. Kota ini merupakan gerbang bagi Provinsi Papua Barat menjadikan kegiatan jasa dan perdagangan dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat kekotaan terkonsentrasi di wilayah ini.64 WP FAKFAK PROVINSI PAPUA BARAT PROVINSI PAPUA BARAT 20. Kabupaten Sorong.2. LAPORAN AKHIR 1-64 . Wilayah Pengembangan Fakfak memiliki luas pemukiman yang paling sedikit di antara wilayah pengembangan yang lain.403 499 956.47 persen. maka luas pemukiman di Provinsi Papua Barat mengambil sekitar 24% dari keseluruhan lahan pemukiman. lahan di wilayah Provinsi Papua Barat yang dipergunakan sebagai pemukiman sebagian besar terletak pada lahan-lahan di Wilayah Pengembangan Sorong. Tabel 1.42 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2006 Sampai dengan tahun 2005. Manokwari adalah kabupaten yang menjadi ibukota dari Provinsi Papua Barat.015 hektar atau sekitar 10. Jika dibandingkan dengan luas pemukiman di seluruh Papua.5 Areal Terbangun dan Pusat-pusat Permukiman Fungsi guna lahan sebagai daerah kampung/perumahan sebesar 117.28 Luas Lahan Permukiman di Provinsi Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2003 (Ha) Wilayah Pengembangan WP MANOKWARI Kabupaten/Kota Kabupaten Manokwari Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Teluk Wondama Kota Sorong Kabupaten Sorong Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana 2003 2002 Kampung Perumahan 41. Wilayahwilayah tersebut selama ini memang telah tumbuh menjadi sentra-sentra kegiatan perkotaan di Provinsi Papua Barat terutama untuk Kota Sorong. Penggunaan lahan untuk fungsi kampung/perumahan di Kota Sorong mencapai lebih dari 50 persen dibandingkan dengan luasan totalnya.64 581 747. Manokwari dan Kota Sorong merupakan wilayahwilayah yang memiliki fungsi guna lahan kampung/perumahan yang tertinggi.307 WP SORONG 59.884 121.211. Kota Sorong memang merupakan kota yang paling menonjol di Provinsi Papua Barat dalam hal aktivitas perkotaan.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.24 Peta Sebaran Kawasan Lindung dan Budidaya LAPORAN AKHIR 1-65 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.25 Peta Sebaran Kawasan Lindung LAPORAN AKHIR 1-66 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.26 Peta Pengembangan Kawasan Kehutanan LAPORAN AKHIR 1-67 .

Wilayah yang juga tergolong wilayah dengan tingkat layanan tinggi di Papua Barat adalah Manokwari. Sedangkan penduduk di Provinsi Papua Barat. Manokwari merupakan ibukota dari Papua Barat. maka kepadatan penduduk yang diuraikan ini adalah kepadatan bruto. yaitu 23. Kota Sorong juga merupakan pusat kegiatan jasa dan perdagangan.4. tentunya memiliki berbagai jenis layanan yang memadai. Karena tidak adanya data lahan terbangun. Jumlah penduduk terbesar terdapat di Kabupaten Manokwari yaitu sebanyak 172. fungsi-fungsi layanan yang semestinya ada kemungkinan besar belum berdiri. Kota Sorong merupakan simpul kegiatan khususnya yang ada di Papua Barat.68 % dari jumlah total penduduk di Provinsi Papua Barat. Di sekitar Kota Sorong banyak terdapat kegiatan pertambangan di mana pengolahan dan perdagangannya terkonsentrasi di Kota Sorong. fungsi wilayah eksisting tentu masih berkaitan dengan fungsi wilayah sebelum Propinsi Papua Barat terbentuk. Sehingga dalam menjalankan fungsinya sebagai ibukota.3 STRUKTUR TATA RUANG EKSISTING Struktur tata ruang eksisting di Propinsi Papua Barat meliputi sistem perkotaan dalam lingkup kabupaten dan sistem jaringan prasarana yang dalam hal ini adalah jaringan jalan. Selain sebagai gerbang tranportasi Papua Barat.50 km2 dan total penduduk sebanyak 729.363. 1. Wilayah yang termasuk ke dalam kategori rendah adalah kabupaten-kabupaten baru hasil dari pemekaran wilayah.885 jiwa atau 23.17% dari jumlah LAPORAN AKHIR 1-68 .962 jiwa pada tahun 2006 yang tersebar secara tidak merata di kesembilan kabupaten/kota.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Fungsi wilayah yang dimaksud adalah merupakan pusat kegiatan suatu wilayah yang menjadi barometer perkembangan sebuah wilayah. Kondisi ini telah ada sejak jaman pendudukan Belanda. Dalam lingkup sistem perkotaan. netto dan kepadatan agraris. Kepadatan bruto penduduk di Provinsi Papua jumlah penduduk paling rendah terdapat di Kabupaten Teluk Wondama. Sebagai wilayah otonomi baru.4 ASPEK SOSIAL KEPENDUDUKAN 1.140 jiwa atau hanya 3. fungsi wilayah merupakan indikator tingkat pelayanan wilayah yang menunjukkan seberapa besar peran suatu wilayah dalam mengikat wilayah sekitarnya. Hal ini juga terlihat dari transportasi eksisting dimana Kota Sorong memiliki simpul transportasi yang sangat strategis. Sebagai sebuah propinsi yang baru terbentuk. Kepadatan dapat dilihat dari beberapa pendekatan yaitu kepadatan bruto.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Provinsi Papua Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia Timur dengan luas wilayah 115. Dalam hal ini.

00 18 500.00 115 363. Kota Sorong merupakan kota yang memiliki kepadatan penduduk paling tinggi. yaitu 153 jiwa/ km2.62 18 637.00 140 375.50 29 810. kepadatan penduduk di Provinsi Papua Barat relatif sangat rendah dengan kepadatan berkisar antara 4 – 12 jiwa/km2. Sedangkan kepadatan penduduk terendah terdapat di Kabupaten Kaimana.2 Komposisi Penduduk Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin LAPORAN AKHIR 1-69 .00 25 324.00 6 084.62 143 185.00 Jumlah Penduduk 66 864 41 973 23 140 54 528 172 855 61 463 98 691 41 170 169 278 729 962 715 999 702 202 651 958 642 472 RT 15 733 9 876 5 445 12 830 40 672 14 462 23 221 9 687 39 830 171 756 168 075 167 609 162 990 156 052 Kepadatan Penduduk Per km2 5 2 2 3 12 2 3 7 153 5 5 6 6 5 Per RT 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Tidak meratanya distribusi penduduk di sebuah wilayah antara lain karena kondisi geografis yang berbeda.00 12 146. Kota ini hanya memiliki luasan tak lebih dari 1. Karakter pola pemukiman loncat katak.50 1 105. Secara umum.00 14 448.4.11 126 093. Selain itu. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 2004 Luas Wilayah 14 320.105 km2 dan di kota ini terdapat banyak fasilitas sosial perekonomian sehingga di wilayah ini terjadi pemusatan penduduk. konsentrasi penduduk akan lebih tinggi di dataran rendah daripada di dataran tinggi. dari kota/kabupaten satu ke kota/kabupaten lainnya. Wilayah yang sedang mengalami perkembangan tentunya akan memiliki konsentrasi penduduk yang lebih tinggi.50 104 919. dan Kabupaten teluk Wondama yaitu 2 jiwa/km2.29 Luas Wilayah. Tabel 1. Pada umumnya. Kondisi geografis beberapa wilayah kabupaten didominasi oleh karakter kelerengan 8% sehingga mempengaruhi terbentuknya pola permukiman penduduk. faktor ketersediaan fasilitas pelayanan sosial ekonomi juga mempengaruhi sebaran penduduk di suatu wilayah.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Barat tidak terdistribusi secara merata. 1.

878 jiwa dengan sex ratio sebesar 110.048 jiwa dan perempuan sebanyak 346.77 128.30 berikut ini.23 103. Hal ini akan berpengaruh pada angkatan kerja di suatu wilayah serta tingkat ketergantungan penduduk non produktif pada penduduk produktif.98 111.90 107. LAPORAN AKHIR 1-70 .65 Irian jaya Barat Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Komposisi Penduduk menurut Umur (Struktur Usia Penduduk) Penggambaran penduduk menurut struktur usia berguna untuk mengetahui jumlah penduduk produktif dan penduduk non produktif.35 110.35 106. jumlah penduduk Provinsi Papua Barat berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 1.67 116. Sex ratio diatas 100 menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki lebih dominan daripada jenis kelamin perempuan. Walaupun penduduk berjenis kelamin laki-laki lebih banyak.82 111. namun untuk setiap kecamatan jumlah penduduk laki-laki masih lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan.08 113. Bila diperinci menurut jenis kelamin.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Klasifikasi penduduk menurut jenis kelamin dalam suatu wilayah digunakan untuk mengetahui sex ratio yang dimiliki oleh wilayah tersebut. Selain itu.44 110.45 100.44 110.88 105. maka dapat dibedakan bahwa penduduk dengan jenis kelamin laki-laki berjumlah 383. penggambaran penduduk menurut struktur usia juga diperlukan untuk perhitungan penyediaan fasilitas sosial dan ekonomi. Tabel 1. Jika diperinci lebih dalam.44. Untuk lebih jelas. maka terdapat perbedaan antara masing-masing kecamatan.30 Rasio Jenis Kelamin Provinsi Papua Barat Tahun 2008 dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2007 2006 2005 2004 Jumlah Penduduk Laki-laki 33 507 21 011 11 784 30 682 93 163 31 782 52 570 21 739 86 846 383 084 383 084 379 277 362 672 343 920 Perempuan 33 357 20 962 11 356 23 846 79 692 29 681 46 121 19 431 82 432 346 878 346 878 343 704 339 530 308 038 66 864 41 973 23 140 54 528 172 855 61 463 98 691 41 170 169 278 729 962 729 962 722 981 702 202 651 958 Jumlah Sex Ratio 100. namun angka tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.

15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+ Total 2007 Laki-Laki 42 599 37 389 37 581 41 105 36 087 32 677 30 915 30 685 28 501 23 215 16 894 11 607 7 317 3 218 1 992 1 302 383 084 379 277 Perempuan 40 617 36 410 35 634 37 001 32 164 29 735 31 059 30 924 25 662 19 196 12 815 7 518 4 143 2 111 1 074 815 346 878 343 704 Jumlah 83 216 73 799 73 215 78 106 68 251 62 412 61 974 61 609 54 163 42 411 29 709 19 125 11 460 5 329 3 066 2 117 729 962 722 981 yaitu sebesar 83. 31 Komposisi Penduduk menurut Golongan Umur Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Golongan Umur 0-4 5-9. 10-14. struktur penduduk Provinsi Papua Barat didominasi oleh penduduk usia balita (0-4 tahun) 77.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Berdasarkan data yang diperoleh tahun 2008. diketahui bahwa jumlah penduduk dengan usia non produktif adalah sebesar 34. Berdasarkan kelompok umur.216 diikuti oleh penduduk usia muda (15-19 tahun) sebesar 78. Sementara pada kelompok usia muda dan produktif.45%. Jika diperinci lebih dalam. untuk usia produktif kelompok umur antara 0 – 14 tahun lebih banyak dibandingkan kelompok umur 60 – 75+ tahun.799. kelompok umur 15 – 19 tahun cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok umur lainnya.106 dan penduduk usia (5-9 tahun) sebesar Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-71 . Tabel 1.55% dan usia produktif sebesar 65.

Komposisi Penduduk menurut Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan merupakan indikator kualitas sumber daya manusia di suatu wilayah.32.275 jiwa atau 30.05% atau sebesar 45. untuk mencapai jenjang wajib belajar 9 tahun pun dirasakan sulit. jumlah penduduk yang tidak pernah atau belum pernah sekolah mencapai 6. Masalah yang terjadi adalah kondisi ketenagakerjaan berupa tingkat partisipasi kerja wanita jauh lebih kecil dari pada pria. Dapat dilihat bahwa sampai dengan tahun 2006. sex ratio menunjukkan proporsi laki-laki selalu lebih tinggi dari pada perempuan namun ada satu di mana golongan umur 30-39 proporsi perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.643 jiwa. Sedangkan lulusan paling banyak penduduk lulusan SD.27 Piramida Penduduk Provinsi papua Barat Tahun 2009 Dalam setiap golongan umur. Bahkan.23%. Umur ini merupakan umur produktif di mana manusia menggunakan segala daya dan upaya untuk mengembangkan potensi dirinya. Ini satu masalah yang harus dipikirkan untuk mengantisipasi ternjadinya pengangguran perempuan yang demikian banyak. Jumlah penduduk dengan tingkat kelulusan pada bangku Sekolah Dasar menggambarkan bahwa tingkat pendidikan penduduk masih cenderung rendah. Terbatasnya kondisi ekonomi masyarakat dan LAPORAN AKHIR 1-72 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. yaitu berjumlah 212. Kondisi tingkat pendidikan di Provinsi Papua Barat dapat digambarkan dari Tabel 1.

52 7. Raja Ampat.35 7.57 0.58 69. Bahkan.30 65. mengenyam pendidikan tinggi di luar wilayah namun lulusan perguruan masih tergolong sedikit yaitu sekitar 2. Teluk Bintuni dan Teluk Wondama tidak memiliki sumber daya unggul dalam arti penduduk yang tamat universitas. Hal ini menjadi masalah secara internal karena kelemahan yang datang dari dalam ini bertemu dengan ancaman dari luar karena realitanya kualitas SDM pendatang memang secara empirik jauh lebih baik dan pendatang yang dalam ini memang datang untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam Provinsi Papua Barat.37 Tidak Bersekolah Lagi 69. Kesenjangan ini sangat signifikan apabila dibandingkan dengan kondisi sumber daya manusia di sejumlah provinsi di wilayah Indonesia Barat. Pemerintah telah mengusahakan sejumlah upaya untuk memberikan peluang kepada masyarakat untuk belajar ke wilayah Jawa. Prosentase tidak pernah mengenyam pendidikan masih sangat tinggi.16 6.31 4.62 PT 0. bekerja pada sektor pertambangan dan perindustrian dan sektor kehutanan. Salah satu kendala pemerintah dalam upaya pemerintah membangun sektor pendidikan di Papua Barat adalah sulitnya jangkauan di daerah pedalaman yang mengakibatkan sebagian besar penduduknya berpendidikan rendah.26 4. 32 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Kabupaten/Kota dan Status Pendidikan Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Tidak/Belum Pernah Sekolah 3.77 11.14 15.41 10.89 0. dan presentase menikmati dunia pendidikan tingkat atas masih sangat sedikit.82 Masih Sekolah SMU/SMK/ SLTP MA 7. Sumber daya manusia di Kabupaten Teluk Bintuni dan Teluk Wondama juga masih sangat terbatas.41 0. Karena luasnya medan atau area lahan Papua Barat dan sulitnya jangkauan letak sekolah dengan tempat penjualan bahanbahan makanan serta barang-barang lain kebutuhan sehari-hari.00 SD/MI 11. beberapa kabupaten seperti Sorong. Tabel 1.03 4.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sarana prasarana pembelajaran baik formal maupun non formal sampai ke daerah terpencil adalah salah satu kendala. Sebagai contoh.27 LAPORAN AKHIR 1-73 . di Kabupaten Sorong untuk tingkat SLTP tercatat belum ada sekolah kejuruan (dari data BPS tahun 2005).90 11.80 7. sering kali tidak dapat memperoleh tenaga guru untuk sekolah yang bersangkutan.52 3. Jumlah tenaga pengajar yang tercermin dari rasio guru dan murid pun masih sangat kecil.47% dari jumlah total penduduk yang tercatat.09 72.92 4.

47 Katolik 16.63 1. Konghucu (0.09 Budha 0.49 0.7% diikuti oleh agama Islam (41.24 7.63 11.15 1.18 2.28 5.01%).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Masih Sekolah SMU/SMK/ SLTP MA 5.12%).70%).28 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Gambar 1.59 5.01 Konghucu 0.99 Tidak Bersekolah Lagi 56.27%). Terdapat 1.40 4.50 2.03 Lainnya 0.46 5.01 5.28 Tingkat Pendidikan Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2007 Komposisi Penduduk Menurut Agama Penduduk Provinsi Papua Barat sebagian besar adalah pemeluk agama Kristen yang jumlahnya mencapai 50.45 68.02 LAPORAN AKHIR 1-74 .36 1.88 68.62 7.83 7.63 Kristen 21.48 74.51 7.58 6.33 Komposisi Penduduk Menurut Agama dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 Kabupaten/Kota Fak-Fak Islam 61. lainnya (0.12%).24 15.91 9. Budha (0.03 SD/MI 11.84 12. Tabel 1.18 76.77 Hindu 0. Katolik (7. Representasi dari banyaknya jumlah penduduk beragama diikuti oleh jumlah dan sebaran fasilitas ibadah yang terdistribusi di 9 kabupaten/kota.497 gereja Protestan dan 664 masjid di Provinsi Papua Barat.59 1.63 69.72 Kabupaten Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 Tidak/Belum Pernah Sekolah 18.36 2.82 1.89 12.15 PT 2.14 3.96 4.

254 5.190 9.350 636 4.075 426 9.98 6.767 6.380 34.01 0.87 2006 0 46.90 7 3.19% atau sebanyak 46.607 4.01 0.01 0 0.02 0.568 8.980 8.27 51.032 5. Tabel 1.52 1 KS III 1.03 0.70 14.585 Tahapan Keluarga Sejahtera Prasejahtera KS I 4.699 3. Angka yang sungguh sangat memprihatinkan.48 50.01 0.832 49.012 11.04 52.380 34.33 6 118.803 189.77 4.998 11.54 1.40 5.729 19.15 0.90 41.533 KS III + 178 5.10 7 28.92 8 9.915 9.475 KS II 2.503 34.84 44.032 13.02 0.03 0 0.20 2 118.50 51.11 34.17 8.02 0. 34 Tingkat Kesejahteraan Keluarga di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 4.474 7.29 3 5.36 0.19 71.12 2 3 4 5 6 7 8 9 Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 39.35 40.580 9.19 36.02 0.22 90.01 0.88 7.065 146 417 2.700 498 1.22 44.60 0 23.01 0.255 3.94 41.35 9 53.13 0.27 5.476 10.576 10.160 6.08 0.02 0.02 0.42 0.067 1.87 2005 0 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-75 .4.03 13.01 0.533 8.33 6 Jumlah 55.060 15.07 0.52 1 23. Keluarga yang masih ada pada tahap Pra Sejahtera hampir mencapai separuh keluarga yang ada di Provinsi Papua Barat yaitu 39.532 17.698 112 1.01 0 0 0.665 5.664 3. Sedangkan untuk Keluarga Sejahtera III dan III plus hanya 7.513 35.140 18 97 563 86 731 271 2.08 22.64 3 135.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 9.3 Tingkat Kesejahteraan Penduduk Tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan kategori dari BPS di Provinsi Papua Barat masih cukup rendah.93 59.52 2007 0 46.01 0.13 0 0.092 40.04 0.029 3.325 8.415 1.380 KK.05 0 0.524 36.891 72.70 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 1.505 2.390 8.344 16.84 48.03 0 0.756 4.12 0.66%.29 0.

883 91. 35 Kondisi Ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 NO 1 2 Jenis Kegiatan Utama Penduduk Usia Kerja Angkatan Kerja • Bekerja (Pengangguran Terbuka) Bukan Angkatan Kerja • Sekolah • Mengurus Rumah Tangga • Lainnya 4 TPAK (%) 5 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Laki-Laki 266.661 223.457 68.08 Jumlah 502. Dari jumlah angkatan kerja tersebut.298 106.739 119.29 Tahapan Kesejahteraan Keluarga 1.4 Ketenagakerjaan Identifikasi aspek ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat dapat menggambarkan sektor potensial dan penyerapan tenaga kerja ditiap sektor.15 7.396 88.81 Perempuan 235.584 14. Pengangguran di Provinsi Papua Barat tercatat sebesar 26.193 26.094 5.506 83. Angkatan kerja adalah penduduk yang sedang bekerja ditambah dengan pencari kerja.441 22.400 jiwa di mana yang sebesar 342.4.382 316.66 5.61 11. Tabel 1.084 210.113 12.971 43.487 3. Fenomena ini sangat erat korelasinya dengan masalah yang ditemukan yaitu tidak tertampungnya perempuan pada tenaga kerja sektor formal.577 25.193 jiwa atau 88.080 13. Penduduk usia kerja yang ada di Provinsi Papua Barat sebesar 502.189 jiwa dimana 56% dari pencari pekerjaan tersebut adalah perempuan.382 jiwa atau 72% masuk dalam kategori angkatan kerja.400 342.85 % sudah bekerja.218 116. 316.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.678 20.65 • Mencari Pekerjaan 3 LAPORAN AKHIR 1-76 .018 47.189 160.951 50.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Gambar 1.30 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Papua Barat Tahun 2007

Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

TPAK menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) mengindikasikan besarnya penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) yang aktif secara ekonomi di suatu negara atau wilayah. TPAK diukur sebagai persentase jumlah angkatan kerja (bekerja dan pengangguran) terhadap jumlah penduduk usia kerja. Indikator tersebut menunjukkan besaran relatif dari pasokan tenaga kerja (labour supply) yang tersedia untuk memproduksi barang-barang dan jasa dalam suatu perekonomian. Sedangkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) diukur sebagai persentase penganggur terhadap jumlah angkatan kerja. TPT memberikan indikasi tentang penduduk usia kerja yang termasuk dalam kelompok pengangguran. TPT merupakan rasio jumlah penganggur terbuka terhadap jumlah angkatan kerja. Tingkat Pengangguran Terbuka di Provinsi Papua Barat adalah 7,65 %. Angka ini di bawah angka penganguran Indonesia sebesar 9,9 %. Terdapat perbedaan tingkat partisipasi antara pria dan wanita yang tercermin dari angka TPT pria sebesar 5,81 % dan wanita 11,08 %. Tabel 1.36 Penduduk Usia Kerja di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Golongan Umur
Golongan Umur 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran 18 996 5 339 39 779 7 764 44 925 5 814 42 298 3 379 47 348 2 546 38 529 857 32 286 313 24 399 123 Jumlah 24 335 47 543 50 739 45 677 49 894 39 386 32 599 24 522 % Bekerja thdp AK 78,06 83,67 88,54 92,60 94,90 97,82 99,04 99,50

LAPORAN AKHIR 1-77

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028
Jumlah 14 833 12 854 342 382 296 146 312 478 292 446 % Bekerja thdp AK 99,91 99,68 92,35 90,54 89,83 88,86

Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran 55-59 14 820 13 60+ 12 813 41 Papua Barat 316 193 26 189 2007 268 117 28 029 2006 280 705 31 770 2005 259 863 32 583 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

Golongan Umur

Tingkat pengangguran di Provinsi Papua Barat relatif sedang,

berdasarkan golongan

umur, banyak dari golongan umur 20-24 yang belum mendapatkan pekerjaan, tertampung pada 9 lapangan usaha. Jumlah penduduk pada golongan umur 25-29 yang bekerja mencapai 44.925 jiwa. Dari tahun 2005-2008 angka jumlah angkatan kerja di Provinsi Papua Barat semakin meningkat dengan jumlah penduduk bekerja yang juga meningkat dan jumlah pengangguran yang menurun. Tabel 1.37 Penduduk Usia Kerja di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota
Golongan Umur Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2005 Angkatan Kerja Bekerja 19.468 16.025 11.344 24.971 93.999 27.744 45.897 17.171 59.574 316.193 268.117 259.863 Pengangguran 3.081 1.330 949 2.118 3.627 908 2.413 525 11.238 26.189 28.029 32.583 22.549 17.355 12.293 27.089 97.626 28.652 48.310 17.696 70.812 342.38 2 296.146 292.446 86,34 92,34 92,28 92,18 96,28 96,83 95,01 97,03 84,13 92,35 90,54 88,86 Jumlah % Bekerja thdp AK

Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

Dari Tabel 1.37 diatas terlihat bahwa jumlah pengangguran terbesar di Provinsi Papua Barat terdapat di Kota Sorong yaitu sebesar 11.238 jiwa. Demikian pula jika ditinjau dari persentase penduduk yang bekerja terhadap angkatan kerja maka Kota sorong memiliki persentase yang paling kecil. Jumlah pengangguran terkecil terdapat di Kabupaten Raja Ampat yaitu sebesar 525 jiwa dengan persentase penduduk yang bekerja terhadap angkatan kerja yang paling tinggi yaitu sebesar 97,03 %.

LAPORAN AKHIR 1-78

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Tabel 1.38 di bawah ini menjelaskan mengenai jumlah penduduk yang bekerja menurut lapangan kerja utama yang dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu sektor primer (Agriculture), sektor sekunder (Manufacture) dan sektor tersier (Services). Sektor A(Agriculture) termasuk didalamnya sektor pertanian. Sektor M (Manufacture) meliputi sektor pertambangan, Industri, listrik, gas, dan bangunan/konstruksi. Sedangkan sektor S Services) termasuk didalamnya sektor perdagangan, angkutan, pergudangan, keuangan, perusahaan, dan jasa masyarakat. Tabel 1. 38 Jumlah Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2007 di Provinsi Papua Barat
Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Lapangan Pekerjaan Utama A 9186 8146 1184 11609 60769 13895 20703 9521 4292 M 2417 673 154 2684 5823 646 8293 481 9568 S 8834 3788 1279 3789 14768 4933 10425 2610 27647 Total 20437 12607 2617 18082 81360 19474 39421 12612 41507

Papua Barat 139305 30739 78073 248117 Sumber : Statistik Tenaga Kerja Provinsi Papua Barat 2008

Dari tabel diatas terlihat bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor yang dominan yang digeluti oleh penduduk di setiap kabupaten di Provinsi Papua Barat kecuali Kota Sorong. Hal ni disebabkan karena karakteristik perkotaan yang telah mendominasi Kota Sorong sebagai pusat perdagangan di Provinsi Papua Barat. Untuk kabupaten lainnya, terlihat pola yang jelas yaitu didominasi oleh pertanian diikuti oleh sektor services dan terakhir oleh sektor manufacture. Dari Tabel 1.39 di bawah ini dapat ketahui bahwa jumlah tenaga kerja terserap sesuai data dari BPS adalah sebesar 40.400 jiwa yang terdistribusi pada lapangan pekerjaan sektor pertambangan, pertanian, konstruksi, jasa, industri pengolahan. Dari sekian industri yang terdapat di Provinsi Papua Barat, industri yang mampu menyerap tenaga kerja cukup tinggi adalah industri agro dan industri pengolahan. Tabel 1.39 Penyerapan Tenaga Kerja pada Sektor Industri Tahun 2007
Jenis Industri Industri Besar Agro Jenis Pertambangan Jumlah TK 2.847 13.189

LAPORAN AKHIR 1-79

ternyata penyerapan tenaga kerjanya tidak besar sebab kebutuhan pekerja ini disuplai oleh wilayah lain dan pekerja dari mayarakat Papua sendiri merupakan minoritas. Irian Jaya Barat dibentuk pada tanggal 6 Februari 2006 dan berubah namanya menjadi Papua Barat pada tanggal 7 Februari 2007. yaitu bagian Barat menjadi milik Belanda sedangkan bagian Timur menjadi milik Jerman. Pernyataan bergabung dengan Indonesia dilakukan melalui PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) yang diadakan tahun 1969. Iklimnya tropis lembab karena letaknya di bawah khatulistiwa. sehingga penduduk yang tidak memiliki keahlian tertentu dengan sendirinya akan tersisihkan dari dunia kerja formal.400 Industri Kecil Menengah Sandang.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 industri pengolahan listrik gas Konstruksi Penggalian Perhotelan 12. Di antara suku-suku itu mendiami wilayah provinsi Papua Barat tercatat ada sekitar 67 LAPORAN AKHIR 1-80 .5 Adat dan Budaya Tradisional Provinsi Papua Barat adalah provinsi yang letaknya paling Timur dari Negara Kepulauan Republik Indonesia.hasil hutan Total Tenaga Kerja (jiwa) Sumber : Statistik Tenaga Kerja Provinsi Papua Barat 2008 Jenis industri pertambangan meskipun memberikan sumbangan yang sangat besar pada perekonomian. pulau ini dibagi menjadi 2 bagian. yaitu : Provinsi Papua.950 3. Provinsi Irian Jaya dan Provinsi Irian Jaya Barat. Irian Jaya secara resmi menjadi bagian Republik Indonesia tahun 1963 setelah ditanda tanganinya New York Agreement antara pemerintah Indonesia dan Belanda tahun 1962 atau 18 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. 1. Berdasar perjanjian Den Haag tanggal 16 Mei 1895. Provinsi ini terletak di Pulau New Guinea yang merupakan pulau terbesar dalam kepulauan Melanesia.agro.4.275 3.218 1.162 1. yakni antara 00 – 120 Lintang Selatan.besi elektro Kimia. Ketrampilan dan keahlian juga menjadi kriteria penting bagi industri skala besar untuk mendapatkan sumber daya manusia yang lebih produktif. A. Papua Barat menjadi satu provinsi dengan Irian Barat (1 Mei 1963 – 1973) dan kemudian berubah nama menjadi Irian Jaya (1973 – 2000).279 262 399 1. Pada awalnya. Adat Suku-suku yang mendiami di Provinsi Papua dan Papua Barat tercatat ada 206 suku-suku. Pada tahun 2003 pemerintah Indonesia membagi wilayah Provinsi Irian Jaya menjadi 3 (tiga) provinsi.819 40.kulit Logam.

As. Kawe. Ansus. Karas. Karon Dori. Abun. Bagi mereka. Uruangnirin. Irarutu.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 suku. Erokwanas. fungsi tanah terintegrasi ke dalam keseluruhan aktivitas kehidupan. Yeretuar. Tunggare. Pada saat melamar ketua klan dan tokoh-tokoh adat serta semua kerabat dari kedua belah pihak akan ikut serta. Moi. Tanah merupakan modal awal kehidupan. Wauyai. Kaburi. Baham. Mai Brat. Kepemilikan tanah bagi suku Papua bersifat komunal. Wandamen. Hatam dan Manikion yang sering disebut orang Arfak tinggal di Kabupaten Manokwari dan terdiri dari 35 klan. Hatam. Meyah. Sistem perkawinan Suku Maibrat dan Karon di Kabupaten Sorong didasakan pada exogami klan kecil patrilineal (dalam bahasa Karon disebut rae sawam). Pengawasan terhadap anak gadis sangat ketat sehingga seorang pemuda tidak mudah mengganggunya. Kuri. Sekarang pemuda dan pemudi sering mendapatkan jodoh melalui acara-acara adat seperti pesta tari adat yang bernama ares komer. Dengan demikian. Moraid. Acara pesta seperti itu adalah makan bersama. Kamoro. Iha. Roon. Mairasi. Moskona. Perkawinan di antara orang Arfak biasanya banyak diatur orangtua dan para kerabatnya. Meoswar. Dalam pandangan suku-suku asli Papua pada umumnya. Duriankere. Mer. Buruai. Sekar. Pom. Ekari. jika terjadi perpindahan kepemilikan atas tanah. Yahadian. Kokoda. Dianggap sebagai exogami jika seorang pria Maibrat atau Karon kawin dengan gadis dari klan lain yang tinggal mengelompok di desa lain dan dianggap endogami jika seorang pria kawin dengan garis lain dari klan kecil lain tapi tinggal mengelompok di desa yang sama. Arandai. Kamberau. politis. Bedoanas. Semimi. Mor. Yaur. Moile. Waigeo. Tanahmerah. tanah ibarat seorang ibu yang memberikan kehidupan bagi anaknya. Kais. dalam tanah terkandung dan terkait berbagai nilai di antaranya nilai ekonomi. Legenyem. Kalabra. Dusner. Maden. Jadi. Pada suku-suku ini dikelompokkan dalam klan. Mpur. Seget. Kemberano.klan yang merupakan bagian dari masyarakat. Woi. Suabo. menari dan memuji seseorang dengan dengan pantun yang dilagukan. Apabila seorang pemuda menaruh hati pada seorang gadis maka orang tua si pemuda akan melamar gadis itu untuknya. tanah adat adalah satu hal yang sangat penting. perpindahan itu menjadi urusan komunal atau urusan semua anggota suku bukan urusan individu semata. Iresim. Arguni. Kadang-kadang orang sudah dijodohkan sejak kecil. pertahanan dan religius magis. Puragi.Tanah adat dalam konsep orang Papua adalah hak milik sekaligus hak atas penguasaannya. Ma’ya. LAPORAN AKHIR 1-81 . Manikion. Konda. Biga. Tehit. Biak. Suku Meyah. Tandia. Onin. Kowiai. Dengan demikian. dan Mapia. Perkawinan antar keluarga dari pihak ayah dilarang sampi keturunan yang ke-4 dan ke-5. menyanyi. Suku-suku itu adalah Suku Matbat.

Seperti juga hak atas tanah lainnya. termasuk menentukan hubungan yang berkenaan dengan persediaan. dan menyelenggarakan tanam. Tetapi mengacu pada konsepsi yang bersumber pada hukum adat. Penentuan kriteria keberadaan hak ulayat dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) dengan mengikutsertakan masyarakat hukum adat. Hak ulayat tersebut berisi wewenang untuk: 1) Mengatur pemukiman. tanah (untuk mengatur (pembuatan bercocok persediaan pemukiman/persawahan baru dan lain-lain) dan pemeliharaan tanah. 2) Mengatur dan menentukan hubungan hukum antara orang dengan tanah (memberikan hak tertentu pada subjyek tertentu). Jadi. yakni: 1) Subyek hak ulayat. mempunyai kewenangan tertentu. mempunyai batas wilayah tertentu. Hal itu berarti bila tanah ulayat diperlukan untuk kepentingan umum ataupun kepentingan lain LAPORAN AKHIR 1-82 . LSM dan instansi terkait dengan sumber daya alam. hak ulayat tidak bersifat ekslusif. peruntukan dan pemanfaatan serta pelestarian wilayahnya.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Hak yang melekat sebagai kompetensi khas pada masyarakat hukum adat berupa wewenang/kekuasaan mengurus dan mengatur tanah seisinya dengan daya laku ke dalam dan keluar disebut sebagai hak ulayat. UUPA (Undang-Undang Peraturan Agraria) tidak menentukan kriteria mengenai eksistensi hak ulayat. hubungan antara masyarakat hukum adat dan tanah/wilayahnya adalah hubungan menguasai bukan memiliki. dapat dikatakan penentu kriteria-kriteria masih ada atau tidaknya hak ulayat dilihat pada tiga hal. dalam pelaksanaanya hak ulayat mengenal adanya fungsi sosial. mempunyai kekayaan tersendiri terlepas dari kekayaan perseorangan. 2) Obyek hak ulayat. dan penggunaan lain-lain). Menurut Maria Sumardjono (2006). hak ulayat menunjukkan hubungan hukum antara masyarakat hukum (subyek hak) dan tanah/wilayah tertentu (obyek hak). karena hak ulayat beserta masyarakat hukum adat telah ada sebelum terbentuknya negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. yaitu masyarakat hukum adat itu yang memenuhi karakteristik tertentu . warisan dan lain-lain). 3) Adanya kewenangan tertentu dari masyarakat hukum adat itu untuk mengelola tanah wilayahnya. Pengakuan eksistensi hak ulayat oleh UUPA (pasal 3) merupakan hal yang wajar. Dengan demikian. 3) Mengatur dan menetapkan hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan hukum yang berkenaan dengan tanah (jual-beli. Menurut Maria Sumardjono (2006) beberapa ciri pokok kelompok masyarakat hukum adat adalah mereka merupakan suatu kelompok manusia. yakni tanah wilayah yang merupakan ruang tempat hidup dan bekerja (Lebensraum) mereka.

Misalnya. ahli ekonomi maupun ekologi perlu dilibatkan untuk merekayasa unit-unit kegiatan yang fungsional. sosiologis dan berwawasan lingkungan. Aditjondro J.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Kita bisa belajar dari Missi atau LSM di sana. semacam prakoperasi yang mensuplai kebutuhan kayu untuk bangunan pemerintah. pemanfaatan hutan di Papua. tapi oleh komunitas setempat. Dalam upaya mencapai kesepakatan. Pembangunan di Indonesia Bagian Timur khususnya Provinsi Papua Barat sebaiknya dikhususkan pada segi-segi yang antropologis. pengembangannya lebih ditekankan pada pendidikan dan ketrampilan berdasarkan karakteristik lingkungan setempat. maka hak ulayat dapat diberikan pada pihak lain. Pembangunan di Papua Barat sebaiknya ditata bersama pemerintah setempat. Mereka telah membangun orang Papua dengan logika dan dinamika orang Papua sendiri. bukan dengan cara big logging company (pembabatan hutan oleh perusahaan besar) ataupun HPH (Hak Penguasaan Hutan). Di Asmat dimisalkan ada 10 kampung. Ketika berhadapan dengan hak ulayat diperlukan kesadaran dari pihak luar yang berarti harus membuka diri untuk memahami kesadaran hukum suatu masyarakat (yang dalam hal ini masyarakat Papua Barat) yang terwujud dalam tindakan nyata sehari-hari berangkat dari sudut pandang dan pola pikir masyarakat yang bersangkutan. Bukan karena mereka mau mendirikan satu negara sendiri yang lepas dari Republik Indonesia. (2003) mengatakan bahwa dalam pengamatannya selama 10 tahun di Irian Jaya (1977-1987) seringkali protes-protes warga masyarakat terhadap pemerintah atau kelompok lain hanya dilandasi kekhawatiaran mereka bahwa sumberdaya alam mereka tak akan dapat memenuhi kebutuhan mereka maupun anak cucu mereka. di setiap kampung ada satu kelompok gergaji tarik. atau para pendatang memperlakukan sumber daya alam mereka tidak sesuai dengan tradisi penduduk setempat. Dengan kata lain. Ahli antropologi. Jadi pembangunan di Papua Barat berdasarkan karakteristik dan budaya yang terdapat pada masyarakatnya. Pemberian bidang tanah ulayat oleh masyarakat hukum adat dapat ditempuh dengan cara dilepaskan selamanya atau diberikan penggunaannya dalam jangka waktu tertentu. pola-pola ekonomi harus ditata dengan LAPORAN AKHIR 1-83 . Untuk pengembangan ekonomi di Papua Barat. Manfaat yang diperoleh pihak luar hendaknya juga dapat bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup dari masyarakat hukum adat yang bersangkutan. kompensasi yang diberikan kapada masyarakat hukum adat hendaknya mempertimbangkan hilangnya atau berkurangnya sumber daya alam yang menjadi penghidupannya dan hilangnya pusat-pusat budaya dan religi masyarakat hukum adat tersebut. tempat ibadah ataupun memasok kebutuhan kayu untuk bangunan kaum transmigaran.

yakni berzina atau melakukan perzinahan dengan seseorang yang masih ada hubungan kekerabatan yang dekat (incest). maka kita akan selalu berada dalam konflik dengan sesama. Pohon yang digunakan untuk tiang tengah rumah disebut mesiyi (bahasa Meyah). Rumah dibangun cukup besar dan berbentuk segi empat dan dinding-dindingnya terbuat dari kulit pohon dan tanpa jendela. sebanyak pasang suami istri yang ada. Bersetubuh dengan saudara sendiri atau istri orang lain. terdiri dari sepasang suami istri bersama keluarga inti dari 3-5 anak pria mereka. Apabila daya tampungnya terbatas. kepala kampung. tapi jika ada orang yang melanggar suatu hukum adat akan dihukum oleh melalui pengadilan adat yang terdiri dari para kepala klan. seorang pria yang telah menikah menetap di rumah orang tuanya di tengah-tengah para kerabatnya (yaitu adat virilokal). Hukuman ini ditimpakan kepada seseorang yang telah melakukan tindakan hanom. Norma tersebut di atas mengandung pengertian bahwa bila kita mengabaikan keharmonisan hubungan dengan sesama. kemenakan ataupun ipar. Dalam satu rumah biasanya terdapat kamar untuk wanita (meraja) dan kamar pria (meiges) serta sebuah ruang duduk (umersa) di tengah. dibangun rumah yang baru. Hukuman ini disebut ”Hanom-tagawim”. Norma yang berlaku dalam adat suku-suku ini adalah ”menjaga keharmonisan antara manusia dengan manusia. manusia dengan alam sekitarnya. dengan persetujuan ayah dari anakanak pria tadi. sedang lantainya dari belahan nibung atau bambu. kepala desa dan beberapa tokoh orang tua lainnya. Satu tumitsen biasanya mempunyai 3-5 kamar. lantai di ruang LAPORAN AKHIR 1-84 . Budaya Tradisional 1. Tidak adanya jendela menyebabkan asap pekat dari perapian dari dalam rumah orang Arfak sangat mengganggu pernafasan dan berakibat banyaknya penduduk yang terkena penyakit paru-paru. termasuk paman. B. Kelompok kekerabatan terkecil dalam masyarakat Suku Arfak adalah keluarga luas virilokal yang menghuni satu rumah (tumitsen).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 lebih kreatif dan dikembangkan berdasarkan karakteristik ekonomi dan kultur etnis setempat. Suatu rumah dengan suatu tempat khusus untuk upacara dan pesta adat disebut modambau . Ada satu hukuman yang sangat berat yang berlaku dalam adat suku di Papua Barat yaitu dibunuh tanpa boleh membela diri atau mendapat pembelaan dari siapapun. Kampung dan Rumah Menurut adat. Atap rumah terbuat dari daun pandan . termasuk roh-roh yang hidup di alam serta keharmonisan antara manusia dengan arwah leluhurnya”. Walau tidak ada hukum formal dalam adat suku-suku ini.

di dalam sinar nyala api. 2. Di sini mereka yang saling terpaut hatinya menyatakan kasih sayangnya dengan memberikan suatu benda. Tarian ini dapat berlangsung semalam suntuk. atau berjalan atau berlari yang dilakukan sambil bernyanyi. Kalau dibandingkan dengan rumah suku Amungme yang hidup di lembah-lembah pegunungan bagian tengah di Irian. merupakan gerakan berlari mondar-mondir di suatu tempat terbatas. Gerakan ini diikuti langkahmengikuti irama. c. ada persamaan dalam hal bentuk dan bahan material dari bangunan rumah walau ada sedikit perbedaan dalam hal penggunaan dan pemanfaatan ruangan. Weantagawi. maju dua langkah dan mundur dua langkah seirama dengan lagu yang dibawakan. Si pemuda melambai-lambaikan dedaunan kepada gadis yang disukainya dan bila si gadis menghampiri si pemuda sambil mengikuti irama lagu yang dinyanyikan dan menerima dedaunan yang dilambaikan berarti si gadis juga tertarik pada pemuda tersebut (arama emonggop agewin). b. Tem. merupakan gerakan dua orang yang saling berhadapan muka sambil menghentakkan kaki di tanah bersama-sama. Tarian Pesta LAPORAN AKHIR 1-85 . seirama dengan lagu yang dibawakan. Ada tiga macam tarian. Seni Tari. dan Anyam-anyaman Ada empat bentuk tarian dalam adat suku ini yaitu: a. dipisahkan oleh tungku apui. Dalam tarian ini para penari membentuk lingkaran sambil menyanyikan lagu-lagu asmara. yaitu: a. Pipakwean. Ukir. Para muda-mudi duduk berhadapan dipisahkan ole tungku api di antara mereka. Tup. b. Ada tarian muda-mudi yang berlangsung di dalam rumah yang disebut Tem. merupakan gerakan berputar di tempat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 tengah tak dialasai dengan batang-batang nibung sehingga menari dilakukan di atas tanah. Tarian mudi-mudi Tarian ini diadakan di lapangan terbuka yang disebut Tup. sambil bernyanyi kaum pemuda memberi daun kepada pemudi dan sebaliknya. Dalam tarian ini para pemuda dan pemudi menyanyikan lagu dan pantun tentang cinta. Sebelum masa pendudukan (sivilisasi) sebuah kampung suku Amungme yang cukup besar biasanya terdiri 15 – 20 buah rumah keluarga (Onggoi) dengan 5 – 8 buah rumah laki-laki (Itorei). Muda-mudi duduk berhadapan muka. gerakan ini diadakan di dalam rumah. d.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tarian ini biasanya dilakukan di lapangan terbuka. Wauyai. Wandamen. Arandai. Seni ukir terbatas pada mengukir anak panah. Provinsi Irian Jaya dan Provinsi Papua Barat tercatat ada 310 bahasa yang digunakan masyarakatnya. Biak. Abun. Di waktu senggang seorang pria Arfak mengukir serta melukis busur dan anak panahnya. Seget. Ukiran-ukiran yang khas itu juga dibuat padap perlatan-peralatan perang lainnya. Yang membedakannya adalah lagu-lagu yang dibawakan dalam tarian perang berisi lagu-lagu perjuangan yang membangkitkan semangat juang. Maden. Warna merah dibuat dari tanah merah yang digali dari dalam tanah. Karon Dori. Mpur. Moi. c. Warna hitam dibuat dari asap lemak babi dan damar. Ma’ya. arang dapur atau dari buah-buahan hutan. Kebhinekaan Bahasa di Papua Di Provinsi Papua. Kerajinan Seni ukir kurang begitu dominan dalam kebudayaan suku di wilayah Papua Barat. Sedangkan warna kuning dibuat dari akar tumbuh-tumbuhan dan tali-talian hutan. Hiasan dan busana bagi wanita adalah rumbai-rumbai yang dibuat dari alang-alang dan serat kulit kayu yang diikatkan dipinggang dan kalung manik-manik (gemsya). Serat-serat itu diambil dari batang pohonnya kemudian dipintal menjadi benang yang kemudian dengan ini digunakan untuk membuat berbagai barang kebutuhan hidupnya. Warna-warna yang mendominasi yang digunakan dalam kerajinan adalah putih. Meyah. Bahasa-bahasa yang digunakan ada 67 bahasa. breya (anyaman kulit dan bulu burung atau kasuari untuk hiasan kepala). isi keladi putih yang membusuk atau abu dari tungku api. kesenangan dan pujian. Kawe. de’maya (kalung). Legenyem. Moraid. mi’yepa (hiasan kepala yang dianyam memakai manik-manik). Para wanita dan pria orang Arfak biasanya mengenakan perhiasan yang berupa gelang yang terbuat dari anyaman tali rotan dan disebut liya. Biga. Hatam. Mereka berdiri membentuk lingkaran dan berputar sambil meneriakkan kata-kata “ka”. Tarian Perang Tarian perang mirip dengan tarian pesta. Lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu kegembiraan. hitam. merah dan kuning. Manikion. C.Moskona. LAPORAN AKHIR 1-86 . yakni : bahasa Matbat. Waigeo. Orang-orang datang sambil menyanyi lalu masuk ke lapangan pesta. As. Duriankere. Kemudian mereka mengadakan tarian Tup yang ditarikan sepanjang pesta. 3. Di provinsi Papua Barat sendiri tercatat ada 67 suku yang mendiaminya. Warna putih dibuat dari tanah liat.

Mer. daerah kepulauan Biak-Suntori. sebagian besar kepulauan Raja Ampat. 1994). Yaur. Suabo. sebagian derah fak-fak dan Kaimana serta kepulauan kepulauan sekitar Kaimana. Kais. bahasa-bahasa di Non-Melanesia di provinsi Papua. Arguni. 7) fila Pauwi tingkat isolat. Kokoda. 33-35). Baham. Tandia. kecuali dengan bebereapa bahasa di pulau Timor. Dusner. Erokwanas. Ekari. Provinsi Papua berada di deretan Kepulauan Melanesia yang melingkar mulai dari kepulauan di sebelah Timur-laut Papua dilanjutkan ke arah Timur benua Australia hingga kepulauan Fiji di sebalah Utara Selandia Baru. provinsi Irian Jaya dan Provinsi Papua Barat terdiri dari 9 fila. Woi. Dapat dikatakan provinsi ini menyimpan potensi sumberdaya manusia dan budaya. Konda. Kamberau. Persebaran fila bahasa-bahasa Melanesia di ke tiga provinsi ini terlihat di peta B. Loukotka telah melakukan upaya untuk mengklasifikasikan kebhinekaan bahasa di Papua dan dimuat secara singkat oleh A.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kaburi. 8) fila Sko tingkat golongan. 4) fila Kepala burung bagian Timur tingkat golongan. yaitu fila bahasa-bahasa Melanesia dan fila bahas-bahasa non-Melanesia. Mairasi. Iha. Pantar dan Halmahera Utara (Koentjaraningrat. Seorang ahli bahasa bernama C. Sekar. Pulau Numfor derah sekitar Manokwari. Mai Brat. Irarutu. Tanahmerah. Ansus. Iresim. Bedoanas. Di seluruh Papua dapat digolongkan ke dalam bahasa-bahasa Melanesia. Puragi. Buruai. Kemberano. Waropen Bawah dan Atas di sekitar Waren. Pom. Alor. Uruangnirin. Onin. fila Kuomtari tingkat golongan (lihat peta B). Yahadian. Yeretuar. 6) fila Taurap (Borumeso) tingkat isolat. Mor. yaitu daerah bagian belakang leher burung danpulau-pulau yang berhadapan dengan daerah pantai Waropen. 3) fila Teluk Cendrawasih. Kalabra. Sumberdaya budaya yang dalam hal ini keragaman bahasa perlu mendapat perhatian untuk dikembangkan terlebih dahulu sebelum pengembangan sumberdaya alam dan sumberdaya penduduk Papua Barat itu sendiri untuk mendukung kegiatan pembangunan di provinsi Papua Barat. Kamoro. Bahasa-bahasa di provinsi Papua dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan besar yang oleh ahli linguistik disebut phylum (fila). Karas. Tunggare. Kowiai. Kuri. Roon. 5) fila Warnbori tingkat isolat. dan Mapia. Moeliono dalam bab berjudul ”Ragam bahasa di Irian Barat” dalam buku berjudul Penduduk Irian Barat (1963: hal. Berdasarkan pembagian fila. Semimi. Menurut klasifikasi Loukotka ada paling sedikit 31 golongan bahasa di Papua. Tehit. Sedangkan bahasa-bahasa non-Melanesia yang digunakan di Papua adalah khas Papua yang tidak mempunyai hubungan linguistik dengan bahasa-bahasa di luar Papua dan Papua Niugini. yaitu: 1) fila Trans Irian. derah Yapen Timur dan Barat serta pulaupulau sekitarnya. Meoswar. Di dalamnya terdapat 234 bahasa yang masih diklasifikasikan LAPORAN AKHIR 1-87 . 2) fila Papua Barat.M.

yaitu golongan Fila Trans Irian yaitu Suabau. Pengetahuan terhadap keragaman bahasa-bahasa di provinsi Papua Barat memang mutlak diperlukan untuk dapat mengkomunikasikan kepada penduduk tentang dan turut berpartisipasi di dalam perencanaan pembangunan serta manfaatnya khususnya progam-progam yang ada dalam RTRW Papua Barat agar mereka berperan serta Barat pembangunanan.5.1 Peranan dan Kontribusi Perekonomian Wilayah Provinsi Papua Barat dalam Konteks Nasional LAPORAN AKHIR 1-88 . Mor. h. Semini dan Kamoro. bahasa Madik dan bahasa Karon adalah bahasa-bahasa yang berbeda dan oleh para ahli linguistik dimasukkan dalam satu golongan yaitu fila Papua Barat. Karas. Mer.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 juga secara geografikal. Koiwai. g. ada 22 bahasa dan beberapa diantaranya termasuk fila Austronesia-Melanesia. Tetapi ada 13 bahasa yang sama sekali berbeda golongannya. j. Kamberau. Buruwai. Arguna. Bedoanas. yang mendekati pembagian administratif dan provinsi ke dalam 10 kabupaten yaitu: a. Menurut Index of Irian Jaya Language. Iha. yaitu Onin. 1. i. Mairasi. Baham. Bahasa Maibrat. Sekai. f. c. mainasi. Di samping itu pemahaman terhadap bahasa-bahasa di provinsi Papua akan dapat mengurangi kesalah pahaman serta konflik yang mungkin timbul diantara penduduk asli dengan pihak-pihak luar yang berkaitan dengan perencanaan dan pembangunan di wilayah ini. Bahasa Hatam dan Moile termasuk fila Kepala Burung Bagian Barat sedang bahasa Meyah dan Manikion adalah fila Kepala Burung Bagian Timur. Bahasa-bahasa di Kabupaten Sorong Bahasa-bahasa di Kabupaten Manokwari Bahasa-bahas di Kabupaten Biak-Numfor Bahasa-bahasa di Kabupaten Paniai Bahasa-bahasa di Kabupaten Fakfak Bahasa-bahasa di Kabupaten Irian Jaya Barat-daya Bahasa-bahasa di Kabupaten Jayapura Bahasa-bahasa di KabupatenJayawijaya Bahasa-bahasa di Kabupaten Merauke Bahasa-bahasa di Kabupaten Irian Jaya Tenggara Penggolongan bahasa menurut kabupaten itu berbeda dengan klasifikasi berdasarkan asas-asas linguistik.5 ASPEK EKONOMI WILAYAH 1. Kokoda. d. b. Erokavanas. e. Uruangnirin dan Yaier. Irasutu. Sebagai contoh misalnya bahasa-bahsa di kabupaten Fakfak.

370.2 Struktur Ekonomi Wilayah Provinsi Papua Barat PDRB dan Perkembangannya Berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku.580.00 26.94 triliun rupiah.91 PDRB Indonesia (dalam juta Rupiah) 363. Angka ini menunjukkan.225 0.149 0.879.050. nilai PDRB Provinsi Papua Barat menempati ranking ke 29 dari 33 Provinsi di Indonesia dan menyumbang sekitar 0.496 0.984.80 308.284 Sumber : BPS.296.089.40 Persentase PDRB Papua Barat terhadap PDRB Indonesia Tahun 2005 dirinci per Lapangan Usaha Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. 1.072. Hal ini berarti bahwa peningkatan PDRB di Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-89 . Persewaan. pendapatan per kapita ini tidak dapat digunakan untuk mengukur pendapatan di lapangan.40 Kontribusi (%) 0. meningkat 177% dibandingkan tahun 2000 yaitu Rp.592 0.037.000. 2006 Dekripsi lebih dalam tentang kontribusi Provinsi Papua Barat dapat ditunjukkan dengan presentase tiap lapangan usaha terhadap PDRB Indonesia.13 508.034.11 1. Kekayaan alam yang berlimpah terutama di sektor primer Apabila ditinjau dari pendapatan per kapita.717. Gas.568. PDRB Provinsi Papua Barat mencapai 8. orientasi untuk meningkatkan perekonomian dapat dikatakan masih sebatas untuk memenuhi kebutuhan ekonomi wilayah ini.20 180.339.176. Kontribusi terbesar kepada Indonesia oleh Provinsi Papua Barat adalah pada sektor primer sebesar 1.179 0.29% PDRB Nasional.29 39.76 1.27 7. dan Jasa Jasa-jasa Total PDRB Papua Barat (dalam ribu Rupiah) 2.724.205 0.201.693.775. Nilai PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan juga menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Provinsi Papua Barat memiliki pendapatan per kapita pada tahun 2005 sebesar Rp 12. menempati peringkat ke-5 dari 33 provinsi.289 0.088%. 6. Beberapa sektor unggulan seperti pertambangan dan perikanan memang diekspor ke luar wilayah. tiap lapangan usaha memiliki kontribusi tidak lebih dari 1%. Meskipun demikian.79 137.152.67 565.10 771.587.20 276. yaitu dari perikanan dan pertambangan. Secara umum.89 622.50 195.00 769.70 230. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan.223.5.928.00 2.903.968.528.785.90 430.944.154.281 0.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2005.059 0. Tabel 1.

91 8.796.23 5 934 315.41 PDRB Provinsi Papua Barat Atas dasar Harga Berlaku dan Konstan 20002008 Tahun PDRB atas Dasar Harga Berlaku Jumlah (Juta Rp) 3.38 166.03 140.957.969.089.18 5.11 12 471 605.201.92 125.304.19 140.601.304.846.333.02 315.4 kali lipat antara kurun waktu 2000-2006.22 Perkembangan (%) 100.53 4.49 121.28 10 369 836. Tabel 1. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tersebut berkembang sebesar 1.627.17 199.17 5.204. terus meningkat setiap tahunnya hingga menjadi sebesar 5.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bukan hanya karena dampak inflasi namun menunjukkan kenaikan produksi yang nyata.34 108. perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat tanpa migas setara dengan perkembangan PDRB dengan migas.555.104.551.22 6.91 4.601.32 4.297.89 4.56 134.94 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber: Papua Barat Dalam Angka 2009.945.76 Perkembangan (%) 100.597.38 7.537.206.34 5.391. PDRB Provinsi Papua LAPORAN AKHIR 1-90 .98 4.13 PDRB atas Dasar Harga Konstan Jumlah (Juta Rp) 3.31 Perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat Tahun 2000-2006 Besar sumbangan migas untuk PDRB Papua Barat mencapai sekitar 20 persen sehingga sangat mempengaruhi perekonomian di Papua Barat. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tahun 2000 adalah sebesar 3.89 4.9 triliun. hasil perhitungan Gambar 1.59 116.00 109.256.00 103.403.903.576.27 149. Selisih antara PDRB Papua Barat dengan migas dan tanpa migas berdasarkan atas harga berlaku mencapai lebih dari 1 triliun.95 160.82 6 369 374.957.370.51 triliun pada tahun 2006.03 262. Berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku.70 226.

75 3.265.38 2002 3.434.42 2004 4.00 50.00 200.00 2. sedikit di atas bawah PDRB dengan migas yang sebesar 1.448. PDRB Papua Barat tanpa migas atas dasar harga konstan tahun 2000 adalah sebesar 2.34 2003 4.11 149.147.137. Nilai PDRB Papua Barat tanpa migas atas dasar harga konstan juga menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.617.00 2001 3.8 triliun rupiah.42 PDRB Provinsi Papua Barat Atas dasar Harga Berlaku dan Konstan Tanpa Migas Tahun 2000-2006 PDRB atas Dasar Perkembangan PDRB atas Dasar Perkembangan Harga Berlaku (%) Harga Konstan (%) Jumlah (Juta Rp) Jumlah (Juta Rp) 2000 2.289.281.49 kali lipat antara kurun waktu 2000-2006.183.06 128.12 2005 5.00 0. terus meningkat setiap tahunnya hingga menjadi sebesar 4.206.96 130.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 PDRB ADH Berlaku Tanpa Migas PDRB ADH Konstan Tanpa Migas LAPORAN AKHIR 1-91 . Setiap tahunnya PDRB Papua Barat tanpa migas menurut harga berlaku selalu meningkat.43 122.45 100.88 3.89 2006 6.18 113.834. Sebelumnya.00 150.36 triliun rupiah. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tersebut berkembang sebesar 1.2 triliun rupiah pada tahun 2006.417.912.00 165.00 100.802.903.42 3.817.367.81 triliun rupiah.12 106.30 3.69 138.15 192.32 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007.835.23 226.02 2.665.147. pada tahun 2000 besar PDRB adalah 2.4 kali lipat.795.02 4.90 114.32 Perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 20002006 250.431.15 146.45 100.669.642. Tabel 1. hasil perhitungan Tahun Gambar 1.817.996.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Barat tanpa migas pada tahun 2006 menurut harga berlaku mencapai 6.700.221.

06 2004 18. 43 Pertumbuhan PDRB Provinsi Papua Barat 2000-2006 Dengan Migas Tanpa Migas Atas Dasar Atas Dasar Atas Dasar Atas Dasar Harga Berlaku Harga Konstan Harga Berlaku Harga Konstan 2001 9.63 7.08 persen.04 7.08 11. Tabel 1.03 4. Analisis pertumbuhan PDRB tanpa migas menunjukkan hasil yang berbeda.37 7. LAPORAN AKHIR 1-92 . namun lebih fluktuatif.66 13.02 6. Sementara itu.48 6. Sementara itu dari segi produksi.39 12.74 persen pada tahun 2005.83 7. Angka rata-ratanya juga menunjukkan angka yang lebih rendah.49 2003 15. Rata-rata pertumbuhan dalam kurun waktu tersebut untuk PDRB atas dasar harga berlaku adalah sebesar 14. Angka pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku tanpa migas lebih fluktuatif dibandingkan PDRB dengan migas.56 5.91 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.69 5.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pertumbuhan ekonomi Papua Barat selalu berada dalam kondisi positif dalam kurun waktu tahun 2000 hingga 2006.38 2002 10.74 16. Pertumbuhan setiap tahunnya terus meningkat hingga mencapai 7. angka pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan justru menunjukkan rata-rata pertumbuhan yang lebih tinggi dan angka pertumbuhannya juga lebih fluktuatif dibandingkan dengan PDRB dengan migas atas dasar harga konstan.29 2005 20. namun kemudian pertumbuhannya melambat menjadi 6.17 6. Angka rata-rata pertumbuhan selama tahun 2000 hingga 2006 adalah sebesar 5.34 13.74 2006 13.56% dan angka pertumbuhan setiap tahunnya yang terus meningkat.49 3. hasil perhitungan Tahun Pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan juga selalu menunjukkan angka yang positif. sektor nonmigas mengalami kenaikan produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor nonmigas.85 6.68 14.02 6.50 r 14. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2000 hingga 2006 sektor migas mengalami inflasi yang cukup tinggi dibandingkan dengan sektor nonmigas.07 13.68 persen pada tahun 2003.38 7.

29%.34 -1. dan Jasa -6.93 14.29 Sekunder 6.28 10.64 LAPORAN AKHIR 1-93 .77 8.26 12. Jika dilihat pertumbuhan tiap-tiap sektor maka sektor angkutan dan komunikasi mengalami pertumbuhan yang tertinggi yaitu sebesar 12.83 9.95 11.07 Jasa-jasa 8.82 7.73% disusul dengan sektor jas-jas yaitu sebesar 9.04 30.65 11.77 9.10 21.69 4.89 5.80 2.90 3.23 2.55 3.34 5.25 Bangunan 6.14% diikuti sektor pertanian sebesar 4. Kelompok sektor sekunder yang terdiri dari industri pengolahan listrik.00 5.20 6.84 5.49 Angkutan dan Komunikasi 11. gas. Tabel 1.38 8.97 2.52 Listrik.14 9.03 8.33 Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Papua Barat Tahun 2000-2006 25.59 15.33 13. Persewaan.00 10.91 2.97 10.11 -0.77 Industri Pengolahan 6.34 2.54 5.76 8. Sementara itu sektor tersier yang terdiri dari sektorsektor sisanya memiliki angka pertumbuhan tertinggi yaitu 9.29 5.87 10.00 0.34 8.13 9.07 7.78 4.07 3.38 9.36 0.84 Keuangan.14 1.13 12.00 9.39 6.48% (lihat Tabel 1.68 7.17 5.56 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.40 1.33 7.91 7. dan Air Minum 7. dan air minum serta bangunan memiliki angka pertumbuhan yang sebesar 8.00 20.46 5.14%. Hal ini menjadikan kelompok sektor primer memiliki angka pertumbuhan yang paling rendah dibandingkan dengan kelompok sektor lainnya.00 15.75 14.00 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Dengan Migas Atas Dasar Harga Berlaku Dengan Migas Atas Dasar Harga Konstan Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan Rata-rata pertumbuhan PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan pada kurun waktu 2000-2006 adalah sebesar 5.91 17.66 Primer 0.44).87 8.94 Tersier 7.90 9.95 9.52 9.35 3.44 Pertumbuhan PDRB Papua Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000-2006 Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 4.79 8.31 PDRB 3.73 6.13 8. Gas.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Kedua sektor ini menjadi sektor dengan angka pertumbuhan di bawah angka pertumbuhan PDRB Provinsi Papua Barat.43 4.06 Perdagangan 7. hasil perhitungan r 4.85 9.48 9.91 10.65 2. Sektor pertambangan dan penggalian memiliki angka pertumbuhan yang paling rendah yaitu sebesar 1.64%.72 12.75%.14 8.71 13.25 8.74 4.61 13.94 1.19 9.43 Pertambangan dan Penggalian -4.09 3.75 9.

49 Angkutan dan Komunikasi 11.06 Perdagangan 7.16 persen kepada PDRB berlaku Provinsi Papua Barat tahun 2006 diikuti oleh sektor industri pengolahan yang sebesar 1.38 8. hasil perhitungan r 4.20 10. 45 Pertumbuhan PDRB Papua Barat Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan 2000-2006 Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 4.06 6.07 3.79 8.49 9.95 5.42 5.17 5.64 PDRB dan Kontribusi Sumbangan setiap sektor dalam PDRB dapat menunjukkan komposisi perekonomian di wilayah tersebut.03 8.60 5.04 30.76 8.13 9.21 13. Sementara itu. Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa kegiatan primer pada sektor migas yang bergantung pada bahan baku mengalami kecenderungan perlambatan.90 9.13 8.84 5.35 Industri Pengolahan 7.97 2. dan Jasa -6.26 12.74 7.49%. Hal ini menyebabkan pertumbuhan kelompok sektor primer tanpa migas menjadi lebih tinggi dibandingkan denga migas.65 5.67 Sekunder 7.20 6.75 9.23 6.46 5.31 PDRB 6.09 3.53 5.47%) dan sektor pertambangan dan penggalian yang sebesar 1.97 10. Tabel 1.07 Jasa-jasa 8.06 7. sedangkan pertumbuhan kelompok sektor sekunder menjadi lebih rendah.48 9.91 10.27 3.07 9.50 Primer 4.93 14.43 Pertambangan dan Penggalian 8.38 9.25 Bangunan 6. dan Air Minum 7.91 2.14 9.00 9. Sektor pertanian merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu sebesar 2. Gas.46 PDRB Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Lapangan Usaha PDRB Atas PDRB Atas Dasar LAPORAN AKHIR 1-94 .91 4.95 11.74 6. sektor industri pengolahan dengan mengeliminir subsektor industri pengilangan minyak dan gas bumi memiliki angka yang menjadi lebih rendah yaitu sebesar 6.16 Listrik.19 9. aktivitas sekunder pada migas yang berupa kegiatan lanjutan memanfaatkan hasil dari sektor primer cenderung mengalami peningkatan.33 7.73 6. Sebaliknya.89 5.38 7.741 triliun (19.84 Keuangan. Persewaan.65 11.36%).49 7.91 7.57 6. Tabel 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pertumbuhan PDRB tanpa migas atas dasar harga konstan menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB dengan migas yaitu sebesar 9.34 8.13 7.13 12.77 7.77 9.28 10.552 triliun (17.14 9.29 6.94 7.429 triliun rupiah atau sebesar 27.87 10.26 7. Hal ini menunjukkan bahwa sekitar 24% industri pengolahan di Provinsi Papua digerakkan oleh kegiatan di sektor migas.61 13.82 7.66 10.29 6.33 13.11 4.25 8.53 Tersier 7.98 8.05 2.83 9.72 12.64%.75 14.85 9.34 2.78 9.56 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.

42 150 145.12 45.26 2.43 Keuangan.978.31% kepada PDRB konstan Provinsi Papua Barat kemudian oleh pertambangan dan penggalian (19.99 Perdagangan 1 290 421.02 17.76 100.465.95 473 536. LAPORAN AKHIR 1-95 .75 PDRB 12 471 605.37 32.916.53 Angkutan dan Komunikasi 866 875.00 6 369 374.53 Pertambangan dan Penggalian 1 846 593. Gas.38 22.05 13.48 0.83 39.859.44 31.70 14. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian dan pertambangan penggalian memiliki jumlah yang tinggi jika dilihat dari segi produksi. Persewaan.712.15 Tersier 3.09 2. dan Jasa 302 327.07 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka Tahun 2009.02 10.58 8.346.65 9.50 1. Listrik. gas.23 572 822. lebih kecil dari 1% baik menurut PDRB atas dasar harga konstan maupun berlaku.53 29 098.22 100.13 24. Sektor pertanian tetap merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu sebesar 29.48%) dan lapangan usaha industri pengolahan (13.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dasar Harga Berlaku Harga Konstan Jumlah % Jumlah % Pertanian 3 107 119. menunjukkan tingkat ketersediaan dan tingkat penggunaan dari infrastruktur dasar yang masih rendah di Papua Barat. dan Air Minum 66 030.66 23.70 Listrik.78 Sekunder 4.474. hasil perhitungan Terdapat perbedaan kontribusi bila menggunakan PDRB atas dasar harga konstan.13 8.34 0.10 28.036.91 1 817 444.991.78 1.033.70 10.953.74 872 426.46 7.36 Jasa-jasa 1 005 409.46 Bangunan 1 150 834.25 Industri Pengolahan 2 835 994.00 Primer 4.56 6.72 2.06 684 491.55 27. dan air minum memberikan kontribusi terkecil. Sementara itu industri pengolahan memiliki besaran produksi yang lebih rendah namun memiliki nilai yang lebih tinggi.35 670 818.81 1 098 592.32 10.54%).052.

52 persen dapat menunjukkan bahwa sektor ini merupakan sektor vital yang menjadi penopang utama perekonomian di Papua Barat. Sektor sekunder ada pada posisi berikutnya dan kemudian diikuti oleh sektor tersier. Sektor perdagangan memiliki kontribusi terbesar kedua yaitu sebesar 508 miliar atau 14. PDRB tanpa migas atas dasar harga berlaku untuk sektor pertanian menjadi sektor dengan kontribusi tertinggi yang angkanya mencapai 2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Gambar 1.152 triliun atau sebesar 39.982 triliun (44. Terdapat perbedaan jika menggunakan angka PDRB atas dasar harga berlaku.20 persen. Besarnya kontribusi sektor primer yang hingga mencapai angka 44. Kontribusi LAPORAN AKHIR 1-96 .52%).34 PDRB Papua Barat per Sektor Tahun 2008 ADH Berlaku Kontribusi kelompok sektor utama dalam ekonomi berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku menunjukkan sektor primer yang terdiri dari pertanian dan pertambangan dan penggalian sebagai sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu 3.35 PDRB Papua Barat per Kelompok Sektor Tahun 2008 Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Konstan 2000 Analisis dengan mengeliminir migas menunujukkan beberapa perbedaan.74%. Sektor primer tetap menjadi sektor dengan kontribusi tertinggi namun diikuti oleh sektor tersier baru kemudian sektor sekunder.

19 911.15 67.804. sedikit lebih rendah dibandingkan dengan jika memperhitungkan migas.986. sektor primer menjadi sektor dengan kontribusi sebesar 39.496 triliun rupiah.68 42867.560.62 1.21 1.79 0.166.82 38.121. dan Air Minum Bangunan Perdagangan 14.36 PDRB Papua Barat per Sektor Tanpa Migas Tahun 2006 Pertanian 11.47 PDRB Provinsi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 2006 Lapangan Usaha PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Jumlah (juta Rp) % 2.75 715.206.48 561814.46 2.41 39.20 48.221.06 649.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sektor pertambangan dan penggalian turun drastis dari 17.496.43 38.54 646.457. dan Jasa Jasa-jasa 11.87 0.429.458.420.06% atau hanya sebesar 67.53 Sekunder 1.367.038.42 10. hasil perhitungan Gambar 1.60 1.70 21.24 925.20 persen atau sebesar 649.93 9.53 14.458 miliar. Sektor tersier memiliki kontribusi sebesar 38.01 10.587.02 445795.59 1.66 38. Persew aan. dan Jasa Jasa-jasa PDRB 6.60 24616.20% 0.64 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.59 100 39.413.60% atau LAPORAN AKHIR 1-97 .434.47 persen turun menjadi sebesar 10.06% 10. Persewaan.96 10.11 Primer 2.24% Berdasarkan kelompok sektor utama.54% 1.38 734.7 13.289.53% 2.39 22.141.44 94706.42 miliar rupiah.38% 10.26 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.75% Angkutan dan Komunikasi Keuangan.430. Tabel 1.32 Tersier 2. Gas.23 100 4. Begitu pula dengan sektor industri pengolahan meskipun tidak sejauh pada sektor pertambangan penggalian. Kontribusi sektor industri pengolahan tadinya sebesar 19.49 10.59 11.22 11.53 PDRB Atas Dasar Harga Konstan Jumlah (juta RP) % 1627118.26 2.15% Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.91 38.15 151.669.204.25 571658.625.59 440813.644.226. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan.36 397041.21% atau senilai 2.17 13.15% 38.36% turun menjadi 1. Gas.

86 18.45 18. Adanya perubahan ini seiring dengan meningkatnya angka pertumbuhan pada sektor industri pengolahan tiap tahunnya dan pertumbuhan yang lambat dari sektor pertambangan dan penggalian. Sektor sekunder memberikan kontribusi terendah yaitu sebesar 22.90 2005 27.21% 22.8 1 22. Jika dilihat dari PDRB tanpa migas atas dasar harga konstan.36 19.9 1 14.42 15. Antara tahun 2000-2006 perubahan menonjol terjadi pada sektor pertambangan penggalian dan industri pengolahan.63 2001 32.75 2002 32. Tabel 1.457 triliun rupiah. Gambar 1.71 19. Kedua sektor ini memang seolah-olah bertukar posisi.16 17.9 8 20.94 2004 29.7 LAPORAN AKHIR 1-98 .77 21.50 18. Kontribusi sektor industri pengolahan terus meningkat. sebaliknya sektor pertambangan dan penggalian terus menurun.413 triliun rupiah.60% 39. komposisinya juga memberikan angka komposisi yang cenderung setara dengan PDRB tanpa migas atas dasar harga berlaku.48 Persentase Tiap Sektor Ekonomi dalam PDRB Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2000-2008 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan 2000 32. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan produksi dan inflasi sektorsektor di luar migas bergerak secara sebanding.97 2006 27.31 19.85 13.6 4 15.37 PDRB Papua Barat per Kelompok Sektor Tahun 2006 38.19% atau sebesar 1.24 25.20 19.53 11.19% Primer Sekunder Tersier Pergeseran Struktur PDRB Provinsi Papua Barat PDRB Papua Barat yang ditampilkan secara time series dapat menjadi salah satu alat untuk mengetahui apakah terjadi perubahan atau pergeseran struktur ekonomi di wilayah tersebut.1 2008 24.77 2003 31.47 2007 26.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sebesar 2.51 13.

88 100.38 1.81 7.34 26.80 6. dan Jasa Angkutan dan Komunikasi Perdagangan Bangunan Listrik.67 8. hasil perhitungan Gambar 1. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan.07 8.54 8.95 2.15 9.86 5.59 8.67 9.13 5.00 10.54 8.38 6.62 25.56 8.1 1 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka Tahun 2009.28 23.28 1.03 Lapangan Usaha Listrik.93 100.01 27.19 26.0 42.28 20.39 2004 0.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2003 0.96 26. Gas.59 23.0 47.87 2006 0.06 100.35 7.03 26. dan Jasa Jasa-jasa PDRB Primer Sekunder Tersier 2000 0.50 27.53 9.81 2002 0.47 2007 0 0.78 9.48 100.0 44.71 100.01 6.77 18.02 9.42 1.01 2005 0.64 2001 0.43 6.44 2.5 8 7.25 2008 4 0.91 8.54 100.6 2 29.22 1.38 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tahun 2000-2006 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Jasa-jasa Keuangan.0 57.69 8. Gas.61 10.51 27.89 1.72 6.72 32.52 28.0 54.92 24. Hal ini adalah akibat dari lebih rendahnya pertumbuhan sektor pertanian dan pertambangan penggalian yang termasuk ke dalam kelompok sektor primer dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.77 persen pada tahun 2000 menurun menjadi 44. dan Air Minum Industri Pengolahan Pertambangan dan Penggalian Pertanian Jika dilihat dari kelompok sektor.21 100.0 50. Persewaan.60 4. Kedua sektor tersebut memiliki angka pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB secara total.91 1.60 8.41 7. Persew aan.59 8.02 100.23 10.0 46.0 39.42 8.78 100.96 10. Meski demikian sektor primer memiliki kontribusi yang terus menurun.58 persen pada tahun 2005. LAPORAN AKHIR 1-99 .3 5 6.50 7.37 6. sektor primer tetap merupakan sektor yang dominan dalam kurun waktu 2000 hingga 2006.29 1. Kontribusi sektor primer adalahs sebesar 57.0 52.47 6.2 7 28.56 21.

00 100.60 43.35 2.80 Angkutan dan Komunikasi 6.44 13.08 12.58 0.83 Listrik.91 11.63 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.69 Jasa-jasa 11.13 2. Sektor industri pengolahan yang terus tumbuh dan meningkat menjadi faktor tingginya kontribusi sektor sekunder.85 11.59 37. Dieliminirnya non migas praktis menjadikan sektor pertanian menjadi sektor paling vital bagi perekonomian Papua Barat.59 persen pada tahun 2000 menjadi 28.04 10. jauh di atas sektor-sektor lainnya namun cenderung LAPORAN AKHIR 1-100 . dan Air Minum 0.46 11.30 9.37 42. Gas.29 44.66 Bangunan 9.00 100.20 0.54 10.43 36.36 2.39 Pergeseran Kelompok Sektor Ekonomi Papua Barat Tahun 2000-2006 100% 80% 60% Tersier Sekunder Primer 40% 20% 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tabel 1.89 0.53 100.00 39.69 21.07 2.38 11.23 9.42 13.42 14.60 Sektor sekunder menunjukkan terus mengalami peningkatan.00 100.94 0.01 11.43 0. dan Jasa 2.29 PDRB 100.63 20. hasil perhitungan 2005 39.24 14.88 Tersier 33.49 Persentase Tiap Sektor Ekonomi dalam PDRB Papua Barat Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2000-2006 Lapangan Usaha 2000 2001 2002 2003 2004 Pertanian 45.21 33.15 2.00 100.93 10.40 Perdagangan 12.21 22.72 2006 38.35 9.87 0.33 7.83 8.00 40.01 persen pada tahun 2006.01 Industri Pengolahan 10.49 Sekunder 20.00 Primer 46.76 34.87 7.64 11. Sementara itu kontribusi sektor tersier bergerak naik turun pada kisaran angka 23% hingga 28% setiapa tahunnya.16 2.48 44.17 9.85 11.55 100.77 11.86 20.19 38.85 Keuangan.26 9.15 1.06 10.07 13.52 0.78 41.65 1.05 10.80 35.48 Pertambangan dan Penggalian 0.45 8.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.75 11.89 20.76 20.31 43.72 42.54 0. Persewaan. dari 18.16 45.94 1.52 0.73 10.

Gas.41 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 2000-2006 80% 60% Tersier Sekunder 40% Primer 20% LAPORAN AKHIR 1-101 2001 2002 2003 2004 2005 2006 0% 2000 . 100% Gambar 1.19%.16 persen pada tahun 2000 menurun menjadi 40. Hal ini adalah akibat dari lebih rendahnya pertumbuhan sektor pertanian dibandingkan sektor-sektor lainnya. sektor primer sebagai sektor yang dominan dalam kurun waktu 2000 hingga 2006 di Provinsi Papua Barat. Peran sektor pertambangan dan penggalaian turun drastis hingga berkisar pada angka 1 persen. Kontribusi sektor primer tanpa migas lebih rendah dibandingkan dengan kontribusi sektor primer dengan migas.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 menurun.78 persen pada tahun 2005. Sementara itu sektor tersier memiliki kontribusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontribusinya ketika memperhitungkan migas. Besar kontribusinya juga terus meningkat setiap tahunnya. Gambar 1.40 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 20002006 100% Jasa-jasa Keuangan. dan Jasa Angkutan dan Komunikasi Perdagangan 60% Bangunan Listrik.21% dan tahun 2006 menjadi sebesar 38.60%. Persew aan. Kontribusi sektor primer adalah sebesar 46. Meski demikian sektor primer memiliki kontribusi yang terus menurun. dan Air Minum 40% Industri Pengolahan Pertambangan dan Penggalian Pertanian 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 80% 20% Sektor sekunder bergerak pada angka yang relatif tetap yaitu memberikan kontribusi yang berkisar pada angka 20% pada tahun 2000 hingga 2004 dan sedikit mengalami kenaikan pada tahun 2006 menjadi 22. Kontribusinya pada tahun 2000 adalah sebesar 33. Dieliminirnya migas praktis menjadikan sektor primer bertumpu hampir sepenuhnya pada sektor pertanian. Dilihat dari kelompok sektor.

3 Tinjauan Ekonomi Sektoral Tinjauan ekonomi sektoral berusaha melihat ekonomi wilayah Papua Barat dilihat dari 3 kelompok sektor utama yaitu sektor primer. Pada tahun 2005 meningkat menjadi 1. listrik dan air minum serta sektor bangunan. hotel. 1) Pertanian Sektor pertanian merupakan sektor paling dominan di Provinsi Papua Barat. Subsektor kehutanan dan perikanan merupakan subsektor yang paling berpengaruh pada sektor pertanian di Papua Barat.5. Pembagian ke dalam ketiga sektor tersebut berdasar pada asal terjadinya proses produksi.3. persewaan.27 triliun rupiah atau 32. Sektor sekunder terdiri dari sektor industri pengolahan. 1. Perikanan dan kehutanan adalah subsektor yang paling menonjol dari sektor pertanian di Provinsi Papua Barat. dan sektor jasa-jasa. dan restoran. Sementara itu sektor-sektor yang termasuk dalam kelompok sektor tersier adalah sektor perdagangan. Pertumbuhan kedua sektor yang termasuk dalam sektor primer yaitu pertanian dan pertambangan penggalian termasuk yang paling lambat jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Secara fisik. Papua Barat memang kaya akan hutan dan dikelilingi oleh lautan. Sektor pertanian di wilayah lainnya di Indonesia umumnya bergantung pada pertanian tanaman pangan dan perkebunan.1 Sektor Primer Sektor primer merupakan sektor dengan sektor yang selama ini dominan di Provinsi Papua Barat.5.57 triliun rupiah namun dari segi persentase kontribusi menurun menjadi 29. Berdasar atas PDRB atas dasar harga konstan. sektor angkutan dan komunikasi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. dan tersier. dan jasa perusahaan.24% dari PDRB Papua Barat pada tahun 2000. Meski demikian sektor ini mengalami kecenderungan memiliki kontribusi yang menurun. sektor ini memiliki kontribusi sebesar 1. sekunder. sektor keuangan. LAPORAN AKHIR 1-102 . Kelompok sektor primer terdiri dari sektor pertanian dan sektor pertambangan penggalian.66%.

317 25.823 2.66 4. Produksi dan Rata-Rata Produksi Pertanian Tanaman Pangan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Jenis Pertanian Luas Panen (Ha) Padi sawah dan padi ladang Jagung Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau 7. Tabel 1.40 83172.87 148870. dan Perikanan Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Lapangan Usaha PERTANIAN. hasil perhitungan Pertanian Tanaman Pangan Tanaman pangan pokok di Papua Barat pada umumnya adalah tanaman sagu (Metroxylon rumphii. Namun sejak beberapa dekade terakhir.1 Tanaman Bahan Makanan 218261.51 Luas Panen.02 111. Jika dikembangkan. masyarakatnya sebenarnya tidak terbiasa membudidayakan padi namun kemudian beralih.99 112.5 Perikanan 457877.137 855 2005 Produksi (ton) 24.702 3.00 10.57 590345.2 Tanaman Perkebunan 113777.58 15.543 2. tanaman sagu tergeser oleh nasi. Padahal untuk Papua Barat.131 2.58 11. Tabel 1.57 8.18 2.72 1.4 Kehutanan 430664. PETERNAKAN. Sementara itu subsektor tanaman pangan.49 1.54 4.34 32.85 1.48 1.88 487106.97 3. 2000 Jumlah % 2005 Jumlah r % 1275948.14 10.28 KEHUTANAN & PERIKANAN 1.279 871 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 31. Kehutanan. Peternakan.67 10 Luas Panen (Ha) 8545 1947 1963 2170 1937 1819 925 2006 Produksi (ton) 27518 3120 21913 21405 1856 1917 944 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 32.94 110.48 15. memanfaatkan langsung dari alam.64 9.52 1.86 2.21 10.336 1.50 Jumlah Produksi Pertanian.70 29.52 263602.58 10.3 Peternakan & Hasil-hasilnya 55366. Terlebih karena. perkebunan.991 2.13 5.21 Sumber : PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.58 9.21 Luas Panen (Ha) 11 467 1 070 2 052 1 524 958 1 624 560 2008 Produksi (ton) 39 537 1 711 23 071 15 341 979 1 740 557 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 34.20 16.24 1573097.54 10.85 98.093 2.897 19.76 11.080 2. Metroxylon sago). ketiga susbsektor ini sebenarnya dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas.63 98.72 9.94 5.95 Sumber : Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 LAPORAN AKHIR 1-103 .78 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Sifat dari pertanian pada subsektor kehutanan dan perikanan lebih bersifat ekstraktif.66 10. kemiskinan merupakan salah satu isu utama di Provinsi Papua Barat.28 2. dan peternakan lebih bersifat kegiatan budidaya.43 100. Hal ini adalah akibat dari kebijakan pemerintah yang menjadikan nasi sebagai salah satu indikator kemakmuran dan menjadikannya sebagai bahan makan pokok secara nasional.81 5.18 10.

Komoditi padi sawah juga paling banyak ditemui di Manokwari. sementara penduduk asli lebih suka memilih tanaman keras seperti sagu dan ketela. LAPORAN AKHIR 1-104 . Tabel 1.63 363 100. Sorong Selatan. ubi jalar.67 10 784 35.07 2 459 111. Padi sawah tidak ditemukan di Kaimana.30 216 26. Produksi dan Rata-rata Produksi Pertanian Padi Sawah.83 381 112.95 Luas Panen ( Ha) 132 72 165 221 1 137 38 218 34 35 Ubi Kayu Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 1 486 112.64 1 651 32.32 1 059 34.22 419 110.13 374 106.38 Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Sumber : Papua Barat dalam Angka 2009 Tiga komoditi dengan produksi tertinggi adalah ubi kayu. dan Kota Sorong. tanaman padi baik padi sawah maupun ladang memiliki luas tanam yang paling luas yaitu sebesar 7. komoditi pangan yang mengalami peningkatan produksi adalah padi.46 1 962 100. Ubi kayu dan ubi jalar paling banyak diproduksi oleh Kabupaten Manokwari. rata-rata produksi komoditi ini juga yang tertinggi yaitu mencapai 110 kwintal per hektar. Sementara itu ubi kayu memiliki jumlah produksi dalam ton yang tertinggi yaitu mencapai duapuluh lima ribu ton lebih. dan padi.65 1 058 100.54 1 833 111.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tanaman padi umumnya dibudidayakan oleh para transmigran dari Jawa.16 2 416 110.63 6 371 100.64 954 100.25 12 873 113.95 25 309 34.58 832 115.75 Luas Panen (Ha) 135 120 95 195 633 105 153 36 52 Ubi Jalar Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 1 362 100. disusul oleh Kabupaten Sorong dengan produksi sesbesar 6623 ton. ubi jalar.823 hektar dengan jumlah produksi mencapai duapuluh empat ribu ton.52 Luas panen. pada tahun 2006 menghasilkan produksi mencapai lebih dari limabelas ribu ton.80 1 540 100.11 194 34.83 522 100. dan Ubi Jalar per Kabupaten/Kota di Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Luas Panen (Ha) 95 56 501 7 378 81 3 053 303 Padi sawah Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 324 34. Ubi Kayu. dan kacang hijau. Untuk tahun 2006.92 1 208 100. Pada tahun 2005.

Ubi Kayu. dan Kacang Hijau per Kabupaten/Kota di Papua Barat tahun 2008 Kabupaten/Kota Padi Sawah Luas Panen (Ha) 85 51 365 6 507 3 053 297 10 358 7 580 7 546 6 415 5 231 Produksi (Ton) 298 180 1 293 22 920 10 784 1 043 36 518 26 101 24 810 20 896 16 445 Padi Ladang Luas Panen (Ha) 10 5 136 871 81 6 1 109 777 999 1 408 1 745 Produksi (Ton) 26 14 358 2 389 216 16 3 019 2 103 2 708 3 806 5 152 Jagung Luas Panen (Ha) 4 25 42 123 562 39 245 21 9 1 070 1 518 1 947 2 080 1 375 Produksi (Ton) 7 39 68 202 890 65 390 35 15 1 711 2 429 3 120 3 317 2 024 Ubi Kayu Luas Panen (Ha) 132 72 165 221 1 137 38 218 34 35 2 052 1 615 1 963 2 336 1 853 Produksi (Ton) 1 486 832 1 833 2 459 12 873 419 2 416 381 374 23 071 17 833 21 913 25 897 20 440 Ubi Jalar Luas Panen (Ha) 135 120 95 195 633 105 153 36 52 1 524 1 874 2 170 1 991 2 044 Produksi (Ton) 1 362 1 208 954 1 962 6 371 1 058 1 540 363 522 15 341 18 702 21 405 19 543 20 476 Kacang Tanah Luas Panen (Ha) 34 20 100 186 392 123 96 7 958 1 725 1 937 2 093 1 350 Produksi (Ton) 35 20 102 192 398 126 98 7 979 1 763 1 956 2 131 1 348 Kedelai Luas Panen (Ha) 2 12 36 152 1 305 23 78 16 1 624 1 282 1 819 2 137 1 326 Produksi (Ton) 2 13 40 162 1 398 26 82 17 1 740 1 360 1 917 2 279 1 523 Kacang Hijau Luas Panen (Ha) 1 14 28 160 179 100 71 7 560 667 925 855 570 Produksi (Ton) 1 13 27 160 176 103 71 7 557 670 944 871 412 Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Sorong 2008 2007 2006 2005 2004 Sumber : Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-105 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. Kedelai. 53 Luas panen dan Produksi Pertanian Padi Sawah. dan Ubi Jalar. Padi Ladang. Kacang Tanah.

749 8.030 10.749 17.749 3. Komoditas ini jika dikembangkan lebih intensif akan memberikan manfaat ekonomi yang besar karena memiliki nilai jual yang tinggi.970 2. Kelapa tumbuh hampir merata di semua wilayah Papua Barat terutama wilayah pulau-pulau kecil dan pesisir.540 20.594 5.911 1. Cengkeh 891 48 751 55 2. Data luas tanaman dan produksi dilihat dari jenis perkebunan berupa perkebunan rakyat adalah sebagai berikut: Tabel 1. Pengolahan biji sawit masih pada tahap pengolahan produk cruide palm oil (CPO).911 1. namun baru dimanfatkan secara kecil-kecilan dan yang paling banyak adalah pemanfaatan santan kelapa untuk kebutuhan rumah tangga.463 2005 Produksi (ton) 60 1.2008 2003 2004 Luas Produksi Luas Produksi (ha) (ton) (ha) (ton) 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Perkebunan Produksi kelapa (kelapa buah) merupakan salah satu produk perkebunan tertinggi di Papua Barat.540 708 10. Coklat 7.911 1.749 16. Pala 5. Diharapkan biji kakao dapat dimanfaatkan oleh perusahan yang mengolah biji kakao menjadi coklat bubuk. Kelapa Sawit 11.463 2. Kelapa.965 305 2 8.326 708 218 10.55 Luas Area Tanaman (ha) dan Produksi (ton) Kelapa Sawit.811 4.962 Kelapa sawit juga merupakan salah satu komoditi perkebunan dengan luas tanam terluas.54 Luas Area dan Produksi Tanaman Perkebunan Rakyat Di Provinsi Papua Barat 2003 . coklat juga dikembangkan oleh perkebunan rakyat dan terdapat di Kabupten Manokwari yaitu di sekitar Oransbari.436 5.911 16. dan Prafi.326 218 5. dan Coklat Di Provinsi Papua Barat 2003 – 2008 (Ha) Kabupaten Kelapa Sawit Kelapa Coklat LAPORAN AKHIR 1-106 .965 2 2. wilayah pantai dan dataran rendah. Tanaman coklat merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menonjol.156 16.962 2008 Luas Produksi (ha) (ton) 750 60 5.897 6. Kelapa 9.942 5. Kopi 391 197 708 214 5. Kopi dan cengkeh memiliki luas tanam yang termasuk kecil dibandingkan dengan komoditi perkebunan lainnya.899 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Jenis Tanaman Luas (ha) 750 5.942 305 8.296 2. Wrmare.540 17.691 5. Tanaman ini juga memiliki nilai jual yang tinggi. Jambu Mete 305 1 305 1 7. terutama karena meningkatnya kebutuhan CPO sebagai salah satu bahan bakar energi alternatif untuk otomotif. Selain dikembangkan oleh perkebunan besar. Buah kelapa belum diolah secara intensif terutama untuk menghasilkan minyak goreng skala perusahaan. Tabel 1. Ransiki.340 15.

822 846 10.803 554 875 12.794 80. Peternakan Komoditi peternakan yang ada di Provinsi Papua Barat adalah sapi.297 34.019 Ayam Buras 44.036 155.125 774.769 54.110 Ayam Pedaging 2.961 33.989 129.274 405.185 43.309 48.835 580 2.992 414. namum produksi tertinngi terdapat di Kabupaten Raja Ampat.012 66.623 1.429 30.829 342.56 Populasi Ternak menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 Sapi 1. Coklat memiliki luas tanam paling luas di Manokwari kemudian Sorong.330 912 1.678 33.283 66.427 29.512 891. Kecuali ayam ras pedaging dan ayam kampung.777 Ayam Petelur 40.508 229 5. dan Kaimana.890 27. Meski hanya terdapat di 2 (dua) kabupaten tersebut.216 564 206 323 19.193 45.026 15. Untuk komoditi kelapa.923 23.790 45.454 31.259 13.130 254.923 Babi 921 467 624 1.107 493.821 33. kambing. Tabel 1. Manokwari.425 11.425 LAPORAN AKHIR 1-107 .415 204.992 45.502 32.667 725.719 83.379 35.610 868. Sementara itu. komoditi ini sudah menjadi komoditi dengan produksi tertinggi di Papua Barat.223 11.708 12.755 Itik 252 57 61 527 10. sementara ayam kampung paling tinggi terdapat di FakFak.239 273.106 360. populasi jenis ternak lainnya paling banyak terdapat di Manokwari. babi dan jenis unggas.344 597 1.676 68 236 13. populasi ayam pedaging terdapat di Sorong.094 55 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Produksi 384 1238 69 75 1433 750 1433 895 6277 Luas 170 854 250 250 3204 978 1807 950 8463 Produksi 36 57 295 105 959 75 286 978 2791 Luas Produksi Luas Fak-Fak 1095 Kaimana 1261 Teluk Wondama 126 Teluk Bintuni 5000 2170 66 Manokwari 11540 15156 2012 Sorong Selatan 290 Sorong 2012 Raja Ampat 3737 Kota Sorong Jumlah 16540 17326 10599 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Perkebunan rakyat kelapa sawit yang telah ada di Papua Barat baru terdapat di Kabupaten Manokwari dan Teluk Bintuni. luasan tertinggi ada di Raja Ampat namun produksi tertinggi terdapat di Sorong.536 Kambing 580 571 173 288 5.

192 31.773 6. 58 Produksi Telur menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (kg) Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Ayam Kampung 19.749 437.463 757.242 29.005 95.358 Itik 187 42 45 391 7.637 22.246 212.646 162.751 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Produksi telur unggas paling tinggi adalah dari jenis ayam ras petelur. Produksi telur ayam kampung dan telur itik paling tinggi terdapat di Manokwari.007 50.714 27. Tabel 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Produksi daging ternak di Provinsi Papua Barat berupa hewan ternak sapi merupakan yang tertinggi dibanding dengan komoditi lainnya.979 617 1.028 20.156 531. 57 Produksi Daging Ternak menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (kg) Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 2007 2006 2005 Sapi 54.066 Ayam Pedaging 2.278 28.715 230.227 298.858 2.748 39.342 13.125 46.777 20. Sementara itu.169 60.770 19.522 653.514 340 366 3.214 Kambing 2.304 14.504 14.020 4.379 1.438 77.027 26.038 1.928 33.245 50 175 9.672 676. memungkinkan wilayah ini memiliki tingkat konsumsi tinggi.068 28.475 49.939 62.305 149.593.227 114.339 22.994 9.347 235.246 33.457 9.671 640 7.124 247.036 14. Manokwari merupakan ibukota dan wilayah dengan jumlah penduduk tertinggi. termasuk ayam pedaging dan ayam kampung yang jumlah populasinya bukan yang tertinggi di Papua Barat.734 88.461 326. telur ayam ras paling banyak diproduksi di Kabupaten Sorong.546 3.866 9. Kabupaten Manokwari merupakan daerah penghasil daging peternakan tertinggi untuk jenis apapun.331 3.58 4 732.496 40 1.966 808.942 38.073 10.255 1.186 467.048 Ayam Petelur 15.726 325 LAPORAN AKHIR 1-108 .873 Ayam Ras 199.658 90.679 9.058 235.807 732.549 Ayam Buras/ Kampung 32.612 Itik/Entog 1.003 24.580 894.164 Babi 13.467 483.583 59.806 25.895 25.. Tabel 1.827 35.

450. pulai.840 Ha yang terdiri dari Kawasan Hutan seluas 40. gahau.701 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Kehutanan Potensi hutan di Provinsi Papua sangat tinggi.721. Sorong Selatan 6. matoa.00 Hutan+Perairan 1. kulit lawang.417 78.84 1.082 406 1. dan Korea Selatan.90 1. Kab. medang dan bintangur.665. Kab. Manokwari 2. sagu.800.50 686.07 hektar.733.065.103 81.125 74.695 19. 59 Luas Hutan dan Perairan diProvinsi Papua Barat dirinci Per Kabupaten/Kota Kabupaten/Kota 1. Menhutbun Nomor: 891/Kpts-II/1999) sebesar 42.899 35.960.052 315.00 724.800.00 608.01 610.346 5. Sorong 5.600. Kab.327 73.678. Hongkong.00 578. mersawa. Selain itu. kulit masohi.199.549 Sorong Raja Ampat Kota Sorong PROVINSI PAPUA BARAT 2007 2006 2005 2004 2003 67.165 246. nyatoh. India.500 74.360 Ha dan Kawasan Perairan 1.863.979. Bintuni 3.921. maka dapat diasumsikan bahwa sektor kehutanan termasuk dalam sektor basis di Provinsi Papua Barat. Hasil hutan di Provinsi Papua Barat antara lain adalah beberapa jenis kayu yang bernilai ekonomis seperti merbau.945. Jepang. kayu kemenyan.700. T.079 259.657 113. Wondama 4.37 2.283. Adapun negara tujuan ekspor diantaranya adalah Negara Cina.604 93. Kab. Teluk Bintuni memiliki jumlah lahan terluas untuk penebangan yang dilakukan oleh perusaahan HPH yaitu seluas 6.156.6 m³.546.151. Kegiatan pemanfaatan hutan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan.138.00 2. resak.023 123.466 287.242 10. Pengolahan dan distribusi hasil-hasil hutan tersebut melalui jalur Pelabuhan Manokwari dan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.00 1. Luasnya lahan penebangan di Teluk Bintuni membuat kabupaten ini memiliki produksi kayu terbesar yaitu 101.382 69.156 102. Hasil produksi hutan di Provinsi Papua Barat sebagian besar diekspor ke negara lain.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 326.700.480 Ha.05 LAPORAN AKHIR 1-109 .300 87.753 640.099 334.564. T. ada pula produksi hutan non kayu seperti rotan. Dengan menganalisis potensi dan pola pemasaran hasil hutan di Provinsi Papua Barat.\ Tabel 1. Kab. Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Papua secara keseluruhan (termasuk Provinsi Papua Barat) berdasarkan (SK.400 286.224. Kab. Raja Ampat Luas Wilayah*) 1.

Pendapatan dari sektor kehutanan merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi Provinsi Papua Barat.224.211.786. Perikanan LAPORAN AKHIR 1-110 .25 3.07 Jumlah Produksi 42. Untuk itu. Namun tentunya pengekploitasian hutan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi degradasi lingkungan yang drastis. sehingga masih dapat menikmati hasil dari kekayaan hutan wilayah ini.97 Ha.966. Kota Sorong Grand Total Sumber: Papua Barat dalam Angka 2006. Selain itu. Tabel 1. Kab.17 7.003. perlu ada upaya dari pihak pemerintah daerah untuk melindungi kepentingan masyarakat.388.921.13 14. Sehingga yang lebih mendapatkan hasil ekonomi dari industri kehutanan adalah para pemodal besar.000 m3 dan industri di bawah sedang yaitu produksi dibawah 6. hasil perhitungan Dalam pengusahaan dan pemanfaatan hutan. Sementara Industri Primer Hasil Hutan (IPHH) yang berkembang di Papua Barat digolongkan menjadi 2 yaitu Industri yang berskala besar dengan nilai produksi lebih dari 6.00 31. Fakfak 8. hasil perhitungan Sektor kehutanan di Provinsi Papua Barat memiliki potensi yang sangat baik.199. Di Provinsi Papua Barat sendiri telah dikeluarkan 29 unit HPH yang meliputi hutan seluas 4.6 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.000.98 9.00 11.000 m3. Sedikitnya terdapat 3 perusahaan berskala besar dan 15 perusahaan sedang yang bergerak dalam sektor kehutanan ini.726.850.994.866.000.352. diberikan Hak Pengusahaan Hutan dan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu kepada perusahaan dibidang terkait.24 6.040.00 1.736.2 101.57 940 14.58 41.432.377.60 Perkembangan Luas Penebangan Hutan dan Hasilnya oleh Pemegang Hak Perusahaan Hutan Tahun 2006 (ha) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Luas Penebangan 2.406.135.653.29 207.00 1.58 38.823.426.165.733.654. Kaimana 9. industri kehutanan adalah industri yang padat modal.65 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2006.41 11. Kab.53 1.

peningkatan secara tajam produksi perikanan termasuk atribut perikanan lain (rumah tangga nelayan.000. Dalam kurun waktu tersebut.000.000. Peningkatan produksi terjadi pula sebagai akibat dari adanya upaya peningkatan pertumbuhan (rumah tangga perikanan) penduduk. dan armada penangkapan) terjadi dari tahun 1997 yaitu bersamaan dengan mulai anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang berlanjut dengan krisis ekonomi/moneter.000. Secara agregat kenaikan produksi perikanan laut Provinsi Papua Barat dari kegiatan perikanan tangkap tahun 1991 – 2002 dapat dikatakan cukup tinggi.000.0 40.0 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 Fak-Fak Sorong Manokwari LAPORAN AKHIR 1-111 .0 10.000. produksi perikanan laut dari kabupaten-kabupaten yang ada di wilayah Papua Barat menunjukkan peningkatan produksi tangkapan untuk berbagai jenis ikan.0 20.000.000. disamping pertumbuhan iklim investasi yang lebih baik lagi. Hal ini berkaitan erat sekali dengan kecenderungan kenaikan rumah tangga perikanan (skala kecil dan menengah) dan penambahan jumlah alat tangkap ikan. Krisis ekonomi yang dialami oleh bangsa Indonesia justru membawa keberuntungan bagi para nelayan karena harga produk perikanan saat itu memiliki nilai tawar yang cukup baik. alat tangkap.000.000. Hasil Tangkapan Ikan Laut (kg/tahun) 60.0 0.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Berdasarkan Statistik Perikanan Provinsi Papua tahun 1991-2002.0 50. jumlah nelayan tradisional dan penambahan jumlah perusahaan penangkapan ikan serta adanya peningkatan jumlah dan jenis alat tangkap. dan hal ini diduga sebagai penyebab meningkatnya jumlah produksi perikanan.000.0 30.000.

61 Jumlah Rumah Tangga Perikanan di Papua Barat Menurut Kategori Besarnya Usaha Perikanan dan Kabupaten Kota Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Tanpa Perahu 86 178 116 168 286 1 613 54 140 875 3.010 Kapal Motor 461 107 20 30 315 25 61 467 1.42 Gambar Produksi Perikanan (ton/tahun) pada Tiga Kabupaten di Provinsi Papua Barat (Wanggai.67% Motor Tempel 11.74% Kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir yang dilakukan oleh pemerintah baik pada tingkat nasional dan daerah (provinsi dan kabupaten) telah mendorong pula peningkatan jumlah alat tangkap.384 17. terutama pada skala perikanan menengah ke bawah (subsisten).486 Jumlah 3. et al. 2006).17% Perahu Papan Kecil 18.108 728 319 463 4. jaring.136 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Gambar 1.516 Perahu Tanpa Motor Jukung Perahu Papan 724 1215 171 286 77 84 111 122 181 1299 344 334 179 176 76 166 201 779 2. Tabel 1. Bantuan yang diberikan berupa sarana produksi perikanan.73% Perahu Papan Besar 3.43 Persentase Jumlah Rumah Tangga Perikanan di Papua Barat Menurut Kategori Besarnya Usaha Perikanan Kapal Motor 8.924 338 872 6.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. misalnya pengadaan alat penangkap (motor tempel. LAPORAN AKHIR 1-112 ..42% Jukung 27.96% Perahu Papan Sedang 8. telah memberikan kontribusi secara nyata terhadap peningkatan hasil tangkapan nelayan.30% Tanpa Perahu 21. alat pendingin) dengan sistem kredit bergulir.064 4461 Motor Tempel 402 94 22 32 337 50 129 944 2.

Sumber daya laut lainnya di Papua Barat seperti udang dogol. udang windu.400 ton/tahun.60 106. 1998).50 25.10 Kakap Putih 3 101.60 127.10 13. kepiting.60 1 206. potensi lestari untuk ikan pelagis besar secara keseluruhan adalah 612.40 530.20 366.00 279.200 ton/tahun dan perikanan demersal untuk perairan Arafura dan sekitar perairan Papua sendiri sebesar 230.40 89. cumi-cumi.80 19 682. cakalang.10 289.60 Tenggiri 4 677.80 20.60 703.70 960. dari data peningkatan produksi perikanan tangkap di atas dapat dikatakan bahwa status perikanan tangkap secara khusus di Provinsi Papua Barat masih berada jauh di bawah potensi lestari untuk perairan Papua berdasarkan Uktolseja et al.3 % pada tahun 1991 menjadi 36.8% pada tahun 1996 (Uktolseja. Walaupun tidak dilakukan pemisahan berdasarkan kategori jenis dan komposisi hasil tangkapan.10 4 941. Namun demikian jika mengaju pada hasil penelitian Uktoselja (1998).20 75.40 210.80 366.20 724. Sebagai gambaran dapat dikemukakan bahwa persentase ukuran ikan cakalang > 2.70 219. Dinyatakan bahwa di wilayah perairan Papua sendiri. 62 Jumlah Produksi Perikanan Laut Menurut Jenis Ikan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (Ton) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Teri 318.00 516. dari 85. (1998).10 2 347.50 334.00 487.30 27. udan putih/jebung.10 12 214.90 626.80 111.90 4 364.30 Cakalang 2 681.40 2 991.70 34. dan madidhang.50 402.00 5 214. peningkatan produksi di atas perlu dicermati secara mendalam dan hati-hati.40 35.30 1 083. tenggiri.20 Madidhang 2 210.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Jenis-jenis ikan yang cukup dominan di Papua Barat adalah teri. Tabel 1. 63 Jumlah Nilai Produksi Perikanan Laut Menurut Jenis Ikan dan Kabupaten/Kota Tahun 2007 (Ribu Rupiah) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Teri 2 288 487 534 772 482 726 642 821 Cakalang 20 214 752 4 723 767 2 548 646 3 393 898 Tenggiri 28 893 260 6 751 752 168 240 223 936 Madidhang 6 599 462 1 549 070 3 355 232 4 467 988 Kakap Putih 28 342 644 6 623 086 171 457 228 886 LAPORAN AKHIR 1-113 .60 748.70 25.90 234.30 60. dan rumput laut.80 5 073.40 19. khususnya pada ikan cakalang yang tertangkap di perairan Indonesia Timur termasuk Papua.6 kg yang tertangkap mengalami penurunan.20 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan untuk berbagai jenis ikan masih sangat rendah dibandingkan dengan potensi yang tersedia.10 6 831. Tabel 1.40 74.30 8 477.20 67.

Batubara ynag terdapat di ketiga kawasan tersebut tergolong batubara muda karena masih menampakkan struktur kayu.101.06 % 25. Subsektor penggalian hanya memberikan kontribusi kurang dari 1% bagi PDRB Papua Barat.2 Pertambangan Tanpa Migas 0 0 0 0 0 2.91 2005 Jumlah 1. Batubara sebagai salah satu barang galian juga cukup potensial di Papua Barat.6 7 1.546.53 7 2.170.76 20. pertumbuhan pertambangan minyak dan gas bumi termasuk lambat jika dibandingkan sektor lain. Di Kabupaten Teluk Bintuni akan terdapat kegiatan pertambangan besar. Sektor ini hampir seluruhnya bertumpu pada subsektor pertambangan minyak dan gas bumi. Tabel 1.4 8 985.3 Penggalian 24.4 r % 20.010.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tenggiri 2 409 067 95 977 175 894 526 699 3 704 638 42 949 463 Madidhang 48 054 418 373 982 685 385 1 902 763 13 381 443 80 369 743 Kakap Putih 2 606 085 158 433 290 356 905 125 6 115 393 45 441 465 Kabupaten Teri Cakalang Manokwari 6 913 721 36 502 296 Sorong Selatan 595 914 2 152 430 Sorong 1 092 113 3 944 694 Raja Ampat 3 270 231 11 812 015 Kota Sorong 23 001 797 83 082 069 Papua Barat 38 822 582 168 374 567 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 2) Pertambangan dan Penggalian Pertambangan dan penggalian merupakan salah satu sektor yang memberikan kontribusi terbesar bagi PDRB Papua Barat. Terdapat beberapa daerah yang memiliki potensi galian logam namun belum dilakukan eksplorasi lebih lanjut.245.71 9. Hal ini menyebabkan kontribusinya semakin menurun setiap tahunnya.62 37. Igomo. Persebaran bahan galian batubara terutama terdapat di daerah kepala burung yaitu di daerah Homa. meski demikian memiliki kecenderungan untuk terus meningkat.063. LNG Tangguh (Bintuni) saat ini sedang dalam tahap konstruksi dan diperkirakan pada tahun 2009 sudah akan beroperasi.03 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.05 1.74 1. Adanya LAPORAN AKHIR 1-114 .20 0. dan Salawati. Penggalian selama ini belum memberikan hasil yang cukup signifikan bagi perekonomian Papua Barat.42 0. Namun meski sumbangannya besar.53 24. 64 PDRB Sektor Pertambangan Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 dan 2005 Lapangan Usaha PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN 2.820.1 Minyak dan Gas bumi 2000 Jumlah 1. hasil perhitungan Kegiatan pertambangan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dan saat ini usaha ini banyak terdapat di Sorong.350.699.

020 Papua Barat 1. bila ditinjau dari segi akibat yang ditimbulkan oleh kegiatan pertambangan mineral tersebut seluruhnya merupakan beban pemerintah daerah dan masyarakat yang berada di sekitar konsesi pertambangan tersebut.361. 1.5 457. Nama Perusahaan Tanggal Mulai Operasi Lokasi Konsesi Luas (Ha) 754. 4. 2. Izin kegiatan perusahaan pertambangan seluruhnya dari pemerintah pusat.291. 1 (satu) perusahaan dalam taraf eksplorasi dan 3 (tiga) dalam taraf penyelidikan umum. Kebijakannya adalah bahwa di LAPORAN AKHIR 1-115 . Tabel 1.0 955. 66 Perusahaan yang pernah beroperasi di wilayah Papua Barat (Sebelum Otsus) No. Menurut Laporan Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura (2004) bahwa investasi pertambangan umum di Papua terhenti pada tahun 2000. Hal ini sering menimbulkan konflik dan ketidakadilan dalam hal pembagian hasil dari kegiatan pertambangan mineral tersebut.553.5 Tahap Kegiatan Eksplorasi Penyelidikan umum Penyelidikan Umum Penyelidikan Umum PT Irja Eastern Mineral 15 Feb 1997 Fak-Fak PT Siriwo Mining 28 Apr 1997 Fak-Fak PT Mineralindo Mas Salawati 28 Apr 1997 Sorong PT Barrick Mutiara Ransiki 28 Apr 1997 Fak-Fak Jumlah Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura (2004). Tabel 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bahan tambang batubara ini mendorong peluang dikembangkannya Pembangkit Listrik Tenaga Uap untuk memenuhi kebutuhan listrik Papua Barat. 65 Banyaknya Usaha Sektor Pertambangan dan Penggalian Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha Fak-Fak 11 Kaimana 9 Teluk Wondama 5 Teluk Bintuni 21 Manokwari 32 Sorong Selatan 54 Sorong 95 Raja Ampat 1 Kota Sorong 1. investasi di bidang pertambangan umum mulai giat kembali. 3.874 Perkembangan dan Status Pertambangan Umum Perusahaan pertambangan yang beroperasi di wilayah Papua Barat sebelum Otonomi Khusus ada 4 (empat) perusahaan.0 2. Pada tahun 2002.362.0 124. Peranan Pemerintah Daerah dalam penentuan kebijakan pada saat itu hampir tidak ada. Padahal.248 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 Tenaga Kerja 27 13 13 86 103 108 213 20 2.291 2.330.500. Ditinjau dari tahapan kegiatan pertambangannya.

Sampai dengan awal November 2004. Pada tahun 2000 subsektor industri besar/sedang memberikan kontribusi yang terbesar diantara subsektor lainnya dalam sektor industri pengolahan terhadap PDRB Papua Barat yaitu sebesar 273 miliar atau 6.2 Sektor Sekunder 1. Chrom. Sorong Selatan Distrik Aifat Kab.28 Tahap Kegiatan Eksplorasi Eksplorasi Eksplorasi Penyelidikan Umum Penyelidikan Umum Ket 14 Okt 2004 14 Okt 2004 14 Okt 2004 8 Des 2003 5.891 62. Raja Ampat Kab.91%. 2004. Industri Sektor industri pengolahan merupakan sektor penyumbang PDRB terbesar untuk kelompok sektor sekunder. dan Platina Batubara Luas (Ha) 15.250 6. Khusus untuk masyarakat.700. 2. Bila memperhatikan lokasi sumber bahan galian yang telah diberikan izin Kuasa Pertambangan umum.5. Tabel 1. 4.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Papua Izin Pertambangan dalam bentuk Kontrak Karya (KK) tidak diberlakukan. Raja Ampat Kab. dan Platina Nikel. izin pertambangan tradisional diberikan. PT. Ketentuan implementasi dari kebijakan ini adalah sementara sambil ada ketentuan lain yang diterbitkan. 27. Batan Pelei Mining PT.655. lokasi Raja Ampat sulit untuk direalisasikan karena sebagian wilayah merupakan kawasan konservasi yang secara yuridis formal tidak diperbolehkan untuk lokasi pertambangan. Papua Pacifik Batubara Minerals Total Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura. 67 Perusahaan Kuasa Pertambangan Umum di Wilaya Papua Barat No 1. Bahkan diberikan pula bantuan peralatan teknik penambangan terutama untuk bahan Galian C dan bahan Emas. tanggal 06 Agustus 2002 tentang Tata Cara Pemberian Kuasa Pertambangan Umum. Kawei Sejahtera Mining PT. 1. Sorong Distrik Seget Bahan Galian Nikel. Perizinan hanya diberikan dalam bentuk Kuasa Pertambangan (KP). Perusahaan/Kode Wilayah PT. 3.953 30. Dari 11 izin baru tersebut 5 (lima) perusahaan berada di wilayah Papua Barat. Papua Pacifik Minerals Lokasi Kab.950. Chrom. Raja Ampat Kab.000 ha yang sebagian besar untuk penambangan Batubara. tercatat 11 wilayah KP baru yang diberikan izin oleh Gubernur Papua dengan total areal konsesi 355.3.27 8 Des 2003 Pemerintah Provinsi Papua mengeluarkan surat Keputusan Nomor : 104 tahun 2002.99 143. LAPORAN AKHIR 1-116 . Chrom. Walofi Mining PT. dan Platina Nikel.

2 18.404 22.87 9.02 6.2 Industri Kecil Kerajinan Rumah Tangga 31.18% pada tahun 2005.197 25.159.27 0.21 8 LISTRIK.991.91 328.505 Nilai Produksi (ribu rupiah) 43.00 0.562.13 7.264.128 Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari 515 Sorong Selatan Sorong 449 Raja Ampat Kota Sorong 273 Papua Barat 1651 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2007 5520 11815 1410 27234 202.358.951.10 10.31 BANGUNAN 260.594.42 8.987. Tumbuhnya subsektor ini menunjukkan bahwa ekonomi sektor migas di Papua Barat kini bergeser pada aktivitas pengolahan dibandingkan dengan aktivitas ekstraktif karena kegiatan ekstraktif minyak bumi dan gas cenderung mengalami pertumbuhan yang lambat.737.786 98.829.22 0.080. dan rumah tangga.12 7.664.21% dalam kurun waktu 2000 hingga 2005.72 4.81 44.449.456.066.1 21. 68 PDRB Papua Barat Kelompok Sektor Sekunder Tahun 2000 dan 2005 Atas Dasar Harga Konstan 2000 2000 2005 r Jumlah % Jumlah % INDUSTRI PENGOLAHAN 460.845 Ket: Data Kabupaten pemekaran masih bergabung dengan kabupaten induk Berdasarkan kemampuan menyerap tenaga kerja.085.966.3 Industri Pengilangan Minyak Bumi 154.09 7.130 1053. 1 Industri Besar/Sedang 273.3 3.50 4 3. Tabel 1.36 Sektor Sekunder 735.3 11.060.10 0.471 48. hampir mengejar subsektor industri besar/sedang.801 757.2 Air Bersih 4.06 0.528306 5 2 Sumber : PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.61 0.755.1 Listrik 9.37 22. Industri-industri tersebut LAPORAN AKHIR 1-117 .91% oada PDRB meningkat menjadi 6.59 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.566. sedang.13 8.896.35 8. industri digolongkan menajdi 4 kategori yaitu industri besar.25 15.577 154. GAS & AIR BERSIH 14.964. Subsektor ini tumbuh sebesar 16. hasil perhitungan Lapangan Usaha Industri pengilangan minyak bumi yang semula memberikan kontribusi sebesar 3.904.7 6.920.63 747.07 6.38 14.126.760.59 389.75 6.489 Nilai Investasi (ribu rupiah) 2985. kecil.92 4.85 7.16 0.05 3.350.19 4 3.61 0.053.18 16.28 8.371.162.91 374.052. 69 Banyaknya Usaha Sektor Industri Pengolahan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha 414 Tenaga Kerja 8.

926 12 218 2. gas. Listrik dan Air Minum Sektor listrik.564 56 29 9 179 1. Sektor ini memiliki grafik yang terus meningkat mengingat Papua Barat adalah provinsi baru dimana mengalami peningkatan kebutuhan akan layanan infrastruktur dasar.951 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-118 . 71 Banyaknya Usaha Sektor Listrik. dan air bersih serta sektor bangunan. diatas angka pertumbuhan PDRB total. Kota Sorong. memiliki kontribusi yang kecil bagi PDRB Papua Barat namun memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi. sehingga persentase kontribusinya juga terus meningkat. Industri yang paling banyak penyerap tenaga kerja berada di Kabupaten Sorong meskipun dari segi jumlah unit usaha sedikit lebih rendah dari Kabupaten Manokwari. dan Kabupaten Manokwari. Tabel 1. 70 Banyaknya Usaha Sektor Industri Pengolahan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha Fak-Fak 116 Kaimana 22 Teluk Wondama 40 Teluk Bintuni 99 Manokwari 394 Sorong Selatan 109 Sorong 1 098 Raja Ampat 179 Kota Sorong 219 Papua Barat 2 348 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tenaga Kerja 364 73 189 343 2 135 277 6 539 372 1. dan Air Minum Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Unit Usaha 8 3 2 4 32 16 9 5 5 84 Tenaga Kerja 72 28 4 10 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 cenderung terdapat di Kabupaten Sorong. Gas. Tabel 1. Nilai investasi dan nilai produk pun lebih besar Kabupaten Sorong daripada Kabupaten Manokwari.

Beberapa diantaranya seperti Hutan Cagar Alam Pegunungan Arfak (68.3 Sektor Tersier Sektor tersier di selama ini belum menjadi sektor yang menonjol di Papua Barat. Pariwisata Sektor pariwisata di Papua Barat merupakan yang diharapkan di masa depan akan menjadi leading sektor.579 1. Kabupaten Raja Ampat juga memiliki sumber daya laut yang sangat kaya. 72 Banyaknya Usaha Sektor Bangunan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 Unit Usaha 82 82 3 36 73 18 7 0 171 472 Tenaga Kerja 503 335 37 138 849 83 24 0 1. sektor ini terus menujukkan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya. LAPORAN AKHIR 1-119 . Hutan Suaka Margasatwa Pantai Mubrani-Kaironi (170 ha). 1. Suaka Margasatwa Pantai Sidey-Wabian (157 ha). Tabel 1.325 ha). Danau Kabori.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 3. Gunung Meja dan Air Panas di Kebar dan masih banyak objek wisata lainnya yang belum digali.776 ha). Bangunan Papua Barat merupakan provinsi bentukan baru dan untuk itu diperlukan berbagai fasilitas baru serta mengalami peningkatan jumlah penduduk untuk mengisi posisiposisi baru yang dibutuhkan. Meski demikian. Cagar Alam Pegununan Tamrau Selatan (435. Hal ini mendorong pada naiknya kebutuhan akan layanan infrastruktur dan tentu saja juga maraknya kegiatan pembangunan fisik. Hal ini karena Papua Barat akan memerlukan pusat-pusat baru yang akan diisi oleh kegiatan tersier. Terdapat juga objek wisata yang belum dikembangkan seperti objek wisata Danau Anggi.610 3.3.5. Keberadaan Papua Barat sebagai provinsi baru dapat menjadi salah satu faktor meningkatnya kontribusi sektor primer.

469.57 71.159.32 8. sehingga pariwisata sering disebut KEUANGAN.24 1. Jasa Sosial Kernasyarakatan 23.83 44.21 8.180.489.59 33.43 7.14 0.28 9.128.41 13.18 0.51 0. Jasa Hiburan & Rekreasi 10.46 hidup.89 1.37 4.614.912.67 12.294. Secara makro sektor pariwisata merupakan industri yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang cepat melalui: penyediaan kesempatan kerja.36 8.740.69 6.03 7.40 1.582.2.78 0. PERSEWAAN DAN JASA 66.19 8.37 0. 73 PDRB Papua Barat Kelompok Sektor Tersier Tahun 2000 dan 2005 Atas Dasar Harga Konstan 2000 Lapangan Usaha PERDAGANGAN.50 18.269.75 PERUSAHAAN 8. peningkatan pendapatan dan taraf lokomotif perekonomian.950. Tabel 1.33 7.86 9.272.3.4.75 9.13 465. Pemerintahan Umum 294.96 7.38 9.94 7. Peran sektor pariwisata dalam perekonomian Provinsi Papua Barat.38 23. Angkutan Laut 7.783.82 23. Bank 22.762.2 Hotel 5.64 84.14 49.01 0.2.21 17.952.17 Sektor Tersier 935.84 5.32 0.19 11.2.22 0.44 460.5.85 9.595.59 4.53 0.48 522.4. untuk itu perlu kewaspadaan dalam pengembangannya dengan mempertimbangakan faktor lingkungan. Jasa Penunjang Angkutan 7.4. Angkutan Udara 7. Jasa perorangan dan Rumah Tangga 6.84 8.55 9.28 20.84 11.05 1.1.106.87 0.683.14 11.446.251. Angkutan Jalan Raya 7.503.94 0.559.82 33.57 108.627.80 1. Sewa Bangunan 32.336.39 2.64 1.395.37 10.6 27.46 % 8. Obyek wisata potensial dikembangkan di Papua Barat mayoritas berupa wisata alam.25 0. Angkutan Sungai 7.96 311.971.60 7.71 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2005.20 0.67 92.05 0.59 8.46 345.471.861.52 2.67 0.1.67 9.447.06 0. Jasa Perusahaan 3.17 9.87 0.93 105.21 8.12 0.1 Perdagangan Besar & Eceran 5.59 8.399.41 20.6.18 r % 9.74 193.56 31.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Bahkan spesies koral di kawasan ini diklaim sebagai salah satu yang terkaya di dunia.779.498.890.786.856.09 5.199.17 0.535.000. HOTEL & RESTORAN 5.14 2005 Jumlah 508.85 7.3 Restoran PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 7.3.23 8.36 0.1. Komunikasi 2000 Jumlah 340.66 6.39 45.21 14.3.60 0.30 1.00 8.59 8. serta secara simultan dapat mengaktifkan sektor-sektor produksi lain.10 JASA – JASA 335.63 6.542. hasil perhitungan LAPORAN AKHIR 1-120 .300.480.70 11.05 9.13 0. belum menunjukkan kontribusi yang proporsional dengan potensi pariwisata yang dimiliki.299.16 0. Lembaga Keuangan tanpa Bank 7.576.865.14 6.89 8.93 0.63 9.

LAPORAN AKHIR 1-121 . Danau Kabori. 74 Potensi Pariwisata Provinsi Papua Barat Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2005 Jenis Wisata Alam dan Budaya Obyek dan Daya Tarik Wisata Cagar Alam Pegunungan Arfak. dan Terumbu Karang Lokasi Kabupaten Manokwari (Distrik Kebar. Pendapatan per kapita diperoleh dari hasil pendapatan dibagi dengan jumlah penduduk. Pulau Buaya. aman Wisata bariat. Pantai Pasir Putih. Pulau Kilimata. Taman Wiata Klasman.4 Pendapatan Per Kapita Pendapatan Pendapatan per kapita merupakan salah satu indikator tingkat kemakmuran ekonomi suatu wilayah.000 tiang. Cagar Alam Budaya Gunung Genefo. Cagar Alam Gunung Karora. Buruway dan Teluk Etna) 1. Monumen Perang Dunia II. Panorama Senja Sumber: BPS Provinsi Papua Barat 2006 Alam. Pantai Sausapor. Danau Siwiki. Tamrau Selatan. Pulau Penyu. Kota Sorong dan sekitarnya Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Fakfak (Distrik Fakfak Timur dan Barat) Kabupaten Kaimana (Kaimana. Pulau Shop. Taman Laut Nasional Teluk Cenderawasih. Moraid. Pulau Kafiau. Air Terjun Sungai Karon. Pulau Matan. Pantai Peneluran Penyu Alam dan Budaya Gua Jepang. Pantai Pasir Putih. Berau. Sausapor.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. kupu-kupu bersayap burung. Klamono. Monumen PEPERA Alam dan Bahari Cagar Alam Missol. Rumah 1. Cagar Alam Batanta Barat. Budaya dan Sejarah Kabupaten Teluk Wondama (Distrik Wasior. Wasior Selatan dan Wasior Barat) Kabupaten Teluk Bintuni (Distrik Babo dan Timbuni) Kabupaten Sorong (Distrik Makbon. Cagar Alam Jamusaba. Gunung Meja. Klasaman).5. Monumen PEPER. Terumbu Karang. Cagar Alam Pulau Waigeo. Makam Missionaris Kristen Pertama di Papua. Taman Wisata Klamono. Pulau Ega dan Karas Alam Bahari dan Cagar Alam Gunung Kumawa. Fosil Telapak Tangan. Suaka Margasatwa Pantai MubraniKaironi. Danau Angi. Minyambouw dan Susurey) Alam dan Bahari Cagar Alam Pegunungan Arfak Bagian Selatan. Permandian Air Panas. Munumen Arfak. Windesi. Peninggalan Sejarah Perang Dunia II Alam Cagar Alam Markoor. Salawati. Cagar Alam Gunung Fudi TMP Trikora. Fosil Burung Garuda. Benteng Fort Du Bois. Suaka Margasatwa Pantai SideyWabian. Monumen Indonesia-Jepang Alam dan Budaya Danau Ayamaru. Pantai Pasir Putih Panjang. Masjid tertua di Tanah Papua. Cagar Alam Wowo. Kayeli Hot Water Spring Alam dan Budaya Pantai Tanjung Kasuari. Pulai Adi. Terumbu Karang. Teluk Arguni. Sumur Minayk Peninggalan NNGPM. Cagar Alam Wondibu. Danau Yamor.

009.064.44 PDRB/kapita Provinsi Papua Barat Tahun 2003 hingga 2006 14000000 12000000 10000000 8000000 6000000 4000000 2000000 0 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita Atas Dasar Harga Berlaku PDRB/kapita Atas Dasar Harga Konstan LAPORAN AKHIR 1-122 .406.516.249.000.236.085.267.249.12 6.16 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.503.52 8. 75 PDRB/kapita Papua Barat Tahun 2003-2006 Tahun 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita ADH Berlaku 9.110.85 5.913.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.734.414.292.441.176.349 10.30 8.13 9.51 7.076.10 ADH Konstan 7.09 7.19 6.994.529.59 8.592.008.75 12.709.300.336.62 5.354.307.444.116.93 12.705.80 PDRB/kapita Tanpa Migas ADH Berlaku ADH Konstan 6.298. hasil perhitungan Gambar 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.45 Peta Potensi Pariwisata Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-123 .

Tanpa memperhitungkan sektor migas. Sempat turunnya PDRB atas dasar harga konstan dipengaruhi oleh tingginya pertumbuhan penduduk dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB. 76 Pendapatan Perkapita Riil Masyarakat Provinsi Papua Barat Tahun 19992000 Sumber: Indonesian Human Development Report.3 juta rupiah pada 2005.12 juta rupiah dapat dikatakan cukup tinggi. PDRB per kapita mengalami kenaikan hingga tahun 2005. kemudian mengalami penurunan pada tahun 2006. Bappenas. 2004. Tanpa migas.4 juta pada 2003 meningkat menjadi 8. UNDP. Tabel 1. PDRB per kapita di Papua Barat juga terus meningkat dari semula 6. Perbedaannya mencapai hampir 4 juta rupiah atau menjadi hanya dua per tiga dari PDRB per kapita atas dasar harga berlaku yang memperhitungkan migas. PDRB per kapita di Papua Barat tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan ketika migas diperhitungkan. Jika dilihat atas dasar harga konstan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 PDRB per kapita Papua Barat menunjukkan peningkatan antara tahun 2003-2006 dilihat dari PDRB atas dasar harga berlaku. BPS Besar PDRB per kapita Papua Barat yang mencapai 12. Selama ini Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-124 . Meski demikian angka tersebut tidak serta merta dapat diidentikan dengan tingkat kemakmuran yang tinggi pula bagi warga Papua Barat. Dieliminirnya migas menyebabkan angka PDRB per kapita Papua Barat atas dasar harga berlaku menjadi lebih rendah. Hal ini memunjukkan betapa krusialnya peran migas dalam perekonomian di Provinsi Papua Barat.

sistem transportasi sangat memegang peranan yang penting. jalan kabupaten. Transportasi wilayah menentukan tingkat aksesibilitas wilayah.00 6.000.6 ASPEK TRANSPORTASI WILAYAH Transportasi merupakan kebutuhan sarana dan prasarana yang sangat menunjang dalam perkembangan interaksi antar daerah dan diharapkan dapat mendorong percepatan perkembangan antar wilayah khususnya dalam mendukung proses pertumbuhan dan pemerataan di bidang ekonomi.00 4.000. Penentuan Struktur Ruang tidak bisa dilepaskan dari kondisi transportasi wilayah.000.000. Dalam menunjang perkembangan suatu wilayah. pariwisata.000.000.000. Sistem jaringan transportasi yang dimaksud adalah sistem jaringan jalan raya.00 3. berfungsi menghubungkan sentra-sentra produksi ke sentra-sentra/node konsumsi.000. kapal laut dan kapal udara. Gambar 1.000. Transportasi antar wilayah LAPORAN AKHIR 1-125 .46 PDRB per kapita Tanpa Migas Provinsi Papua Barat Tahun 2003 hingga 2006 10. Sedangkan dari segi manajemennya jalan raya meliputi jalan desa. sehingga penyediaan/pengembangan sarana dan prasarana perhubungan dalam suatu wilayah harus memadai dalam arti dapat menampung dan menunjang kelancaran aktivitas pergerakan yang ada dalam daerah itu sendiri maupun hubungannya dengan daerah lain. jalan kolektor.000.000.000. Hal ini menunjukkan bahwa kekayaan Papua Barat belum dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakatnya.00 9.000.00 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita Atas Dasar Harga Konstan PDRB/kapita Atas Dasar Harga Berlaku 1.000.000.00 7.00 8.000. perdagangan.000.00 1.00 2. dan jalan arteri. Dari segi fungsinya jalan raya meliputi jalan lokal.00 5.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sering diidentikkan dengan kemiskinan. sosial budaya jasa pelayanan dan stabilitas keamanan.000.000. jalan provinsi dan jalan negara.000.00 0.

500 235. 2. 9.670 632. khususnya untuk b. Papua Barat memiliki tantangan yang unik dibandingkan daerah manapun di bidang infrastruktur. 5.637 344. 7. sungai dan danau) sebagai transportasi utama.550.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 di Papua Barat terutama menggunakan transportasi laut dan udara.000 119. Pelabuhan laut dan udara yang ada di kota Sorong merupakan yang terbesar di Provinsi Papua Barat. Transportasi menghubungkan antara kabupaten kota yang ada di Provinsi Papua Barat. Sebagai penggerak dan pendukung Wilayah Indonesia Timur Sebagai tempat kolektor dan distributor barang.800 … 927. dan Kabupaten Teluk Wondama.6. 6. 1.810 635.1 Transportasi Darat darat bukan merupakan sistem yang utama. Daerah dengan perairan yang dominan seperti Raja Ampat dan Kaimana sepenuhnya bergantung pada transportasi laut.112 619.882.000 686. 3.915 402. Kabupaten-kabupaten ini masih mengandalkan transportasi air (laut.000 119.000 1. Transportasi laut dan udara tersebut menjadi transportasi utama antar wilayah. Kabupaten Teluk Bintuni.222 4 Total Jalan 543.210 3. Sementara itu.800 … 1 298. Sebagian kabupaten di Papua Barat menggunakan jalan darat sebagai transportasi utama untuk menghubungkan antar distrik/kecamatan. Kondisi transportasi darat untuk menghubungkan antar wilayah masih sangat minim.000 1 319.415 402.000 0 … 85. kondisinya juga masih sangat memprihatinkan. Tabel 1. 77 Panjang Jalan menurut Kewenangan (Km) No.475 142. yaitu kondisi geografis. bahkan juga di Pulau Papua.500 0 … 285.500 200.000 110.810 Jalan Provinsi 271. Sebagai pintu gerbang kawasan Papua Sebagai pusat pelayanan jasa.210 5. setelah terlebih dahulu melewati Kota Sorong.660 486. d. kecuali Kabupaten Raja Ampat.175 Jalan Kabupaten 271.175 693. 4. 1. transportasi udara menjadi penghubung antar wilayah melalui penerbangan perintis. Kabupaten/ Kota Fak Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Jumlah 2007 Jalan Negara 0 132. 8.707 LAPORAN AKHIR 1-126 . c.000 0 18. Untuk Provinsi Papua Barat dalam konteks regional perannya adalah : a.184.700 56. Kota Sorong menjadi gerbang transportasi bagi semua wilayah di Papua Barat.000 615.207 5 400.000 0 17.310 90.000 121. Wilayah-wilayah lain hanya bisa dicapai oleh transportasi laut dan atau udara.

LAPORAN AKHIR 1-127 . Kabupaten Teluk Bintuni sedang melakukan pembangunan jalan darat yang dapat menghubungkan Ibukota Kabupaten menuju SP.222 1 121.310 686.470 (19%) dan jalan negara Km 345.121. Konda dan Distrik Seremuk serta beberapa distrik lainnya. Bariat. Berikut ini dapat dilihat panjang jalan menurut kewenangan. Kabupaten Raja Ampat.030. Kabupaten Sorong Selatan membangun jalan dari Teminabuan menuju Kampung Manelek. Kondisi jalan pada semua kabupaten yang ada di Provinsi Papua Barat masih dalam tahap pembangunan.430 Sumber : Papua Barat Dalam Angka 2009 Beberapa kabupaten/kota yang sebagian besar wilayahnya dapat dijangkau melalui transportasi darat adalah Kabupaten Manokwari. Sedangkan panjang jalan berdasarkan status pemerintahan yang berwenang.470 5 184. Perbandingan total panjang jalan dengan jumlah penduduk di masing-masing kabupaten dapat dilihat dalam Tabel 1. Fak Fak dan Kabupaten Sorong Selatan. sehingga transportasi utaman yang dipakai adalah laut atau udara.956. Teluk Bintuni dan Kaimana. bahwa jalan kabupaten adalah yang terpanjang yakni 1. demikian juga Kabupaten Sorong dan Kabupaten Sorong Selatan.78.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 071. wilayahnya sulit dijangkau melalui darat. mengingat kondisi topografinya hanya bisa di jangkau melalui transportasi laut. Sebagai contoh.722 3 882.207 1 956. Ada kabupaten yang dapat ditempuh melalui darat walapun kondisi jalan raya masih dalam bentuk tanah dan dalam tahap pengerasan yakni Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bintuni. Pada umumnya kabupaten induk mempunyai tingkat asesibilitas yang relatif lebih baik jika dibandingkan dengan kabupaten pemekaran yang baru dibentuk seperti Raja Ampat dan Teluk Wondama.096 Km. Kabupeten Raja Ampat sedang melakukan pembukaan jalan dari Waisai menuju Teluk Mayalibit.650 2006 2005 615. Panjang jalan berdasarkan tingkat kabupaten yang ada di Provinsi Papua Barat.650 Km (67%) bila dibandingkan dengan jalan provinsi 448. Sorong.175 488. dari panjang jalan yang ada di kabupaten lain.310 (14%). Kabupaten lain seperti Teluk Wondama. Berdasarkan panjang jalan dan penyebaran jumlah empat penduduk yang berdomisili pada masing-masing kabupaten relatif jarang.810 345.650 Km. bahwa Kabupaten Manokwari memiliki jalan paling panjang yakni 1. Panjang jalan di Provinsi Papua Barat hingga tahun 2007 tercatat 1.

100 135.310 Jenis Permukaan Kerikil Tanah 164. 8.000 769.95 Km kemudian aspal 1.885 1 137.700 141.000 152. 7.112 619. curam dan diliputi hutan sehingga akses jalan darat menjadi sulit.550 Km.137.617 261.310 Km. 2. Teluk Wondama dan Sorong Selatan hanya bisa di darati oleh pesawat jenis tertentu seperti Twin Otter.210 5 400. 5.200 … 487.500 235.201 1 688.2 Transportasi Udara Transportasi udara menjadi penting di Provinsi Papua Barat karena karakteristik wilayah yang cukup bergunung.000 550.803.000 107. Salah satu jenis angkutan yang ada di Provinsi Papua Barat adalah pesawat terbang.000 3.490 96. Domine Edward Osok dan Jefman di Sorong.400 19.415 402.953 Total Lain-Lain 10.000 47.000 119. Kabupaten/ Kota Fak Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Jumlah 2007 Aspal 269.798 240.750 0 0 … 0 4. yang saat ini setidaknya terdapat berberapa perusahaan maskapai penerbangan yakni Bali Air dengan jenis pesawat IHS dan Merpati Nusantara Airline (MNA) dengan jenis pesawat DHC-6 dan F-27.000 1 550. kelima lapangan terbang ini selain didarati oleh pesawat penerbangan perintis jenis Twin Otter juga dapat didarati pesawat jenis Fokker dan Boing.670 632. Tanah 1. Torea di Fak Fak dan Tarum di Kaimana.000 124. LAPORAN AKHIR 1-128 .800 … 1 298.100 45.613 301.130 2 371.934 97. 1.171 2 226.000 67. 3.707 5 184. bahwa jenis permukaan jalan yang terpanjang adalah kerikil yakni 2. Prasarana perhubungan udara utama di Provinsi Papua Barat adalah Lapangan Terbang Rendani di Manokwari.000 0.815 56.000 196. .45 16.600 … … 473.630 336.280 1 164.226. 78 Panjang Jalan menurut Tingkat Permukaan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 No.39 Km.550 543.207 Sumber : Papua Barat Dalam Angka 2009 Dari tiga kabupaten yang tersedia datanya. 4.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.000 10.550 337. Sedangkan di Kabupaten Teluk Bintuni.6. dan lain-lain 16.000 2. Transportasi Udara merupakan salah satu moda transportasi andalan di Provinsi Papua Barat mengingat kondisi geografisnya yang masih sulit ditembus oleh kendaraan bermotor.394 1 803. 1. Hampir setiap hari ada jadwal penerbangan yang melayani beberapa ibukota kabupaten. 9. 6.

87% dibanding tahun 2005. PAS dengan jenis Bolgow-105. Kabupaten yang telah terlayani oleh penerbangan komersial antara lain adalah Kabupaten Manokwari. Penerbangan dengan menggunakan pesawat ukuran relatif kecil kerap dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Jumlah bongkar muat barang pada tahun 2006 mengalami peningkatan 80. dengan harga carter rata-rata per jam terbang sebesar 4 (empat) juta rupiah. di Manokwari ada beberapa perusahaan penerbangan carter yang bersedia terbang dengan kondisi apapun. Untuk pos paket yang dibongkar mengalami peningkatan sebesar 247% sedangkan yang dimuat mengalami penurunan sebesar 297%. sekaligus menunjang perkembangan dan pertumbuhan wilayah.538 orang. Jumlah penumpang datang pada tahun 2003-2006 meningkat dari tahun ke tahun. Tabel 1.91% dan 84. Pola datang dan pergi masyarakat berasal dari Kota Sorong dan Manokwari. seperti maskapai penerbangan AMA. Sorong. pesawat hanya melayani kota tertentu pada hari-hari tertentu. Selain dua maskapai penerbangan tersebut juga terdapat pesawat yang tidak terjadwal yakni milik PT. Jumlah pergerakan dari masyarakat luar-dan dalam dapat ditunjukkan dengan pergerakan barang dan orang. Sedangkan pola pergerakan barang dan jasa dapat ditunjukkan dengan catatan mengenai arus lalu lintas. Keberadaan alat transportasi ini sangat membantu kelancaran arus penumpang ke dan dari kota maupun kabupaten lain di Provinsi Papua Barat.965 dan jumlah penumpang pergi 154. 79 Jadwal dan Rute Penerbangan di Provinsi Papua Barat Maskapai Hari Rute Jenis Pesawat LAPORAN AKHIR 1-129 . Walaupun demikian. dan Kaimana. Pada tahun 2006 mencapai 142.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. maka penerbangan dibatalkan. Apabila cuaca mendung dan hujan gerimis. Fakfak.47 Contoh Pesawat yang melayani kebutuhan transportasi udara di Provinsi Papua Barat Masyarakat di Provinsi Papua Barat tidak terlayani oleh transportasi udara setiap hari di setiap kota.

Hal ini terlihat dari sebagian besar mobilitas orang dan barang.6. Beberapa jenis kapal penumpang yang singgah di pelabuhan di beberapa kabupaten di Provinsi Papua Barat selain KM Bukit Siguntang dan KM Tatamailau. juga terdapat kapal PT Pelni yang melayari Pantai Selatan Papua. Selain itu sebagian besar mobilitas orang dan barang di wilayah Papua Barat.3 Transportasi Laut Transportasi laut mempunyai peranan sangat penting pada perekonomian Papua Barat. Selain itu terdapat beberapa jenis kapal LAPORAN AKHIR 1-130 . Hal ini disebabkan karena kondisi fisik wilayah yang belum memungkinkan dibukanya jalan darat sehingga kota tersebut lebih mengandalkan transportasi air sebagai sarana perhubungan antar kota/kabupaten.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 IHS Bali Air Senin Selasa Rabu Kamis MNA Senin Rabu Sabtu Kamis Jumat Sabtu Senin Kamis Mimika Air Kamis Tual Kaimana  Sorong  Manokwari Manokwari  Kaimana  Tual  Ambon  Tual Tual  Ambon  Tual  Kaimana  Manokwari Manokwari  Sorong  Kaimana  Tual  Ambon  Tual Biak  Nabire  Kaimana  Fak-Fak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Manokwari  Teluk Bintuni Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Nabire  EWI  Nabire Manokwari  Teluk Bintuni Manokwari  Teluk Bintuni Biak  Serui  Biak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Manokwari  Kaimana  Fak-Fak  Kaimana  BXB  Manokwari Sorong  NTI  Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Nabire  Biak Sorong  BXB  Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Jayapura  ZRM  Nabire  Kaimana  Nabire  Biak Jayapura  Biak  Kaimana  Sorong  Kaimana  Biak  Jayapura Biak  Kaimana  Tual  Timika  Tual  Kaimana  Biak Potowai  Kaimana  Potowai Twin Otter Perintis 1. baik yang masuk maupun yang keluar dari wilayah Papua Barat masih menggunakan transportasi laut. Jenis alat angkutan lain yang sangat penting bagi masyarakat di Papua Barat adalah kapal laut. baik antar kabupaten maupun antar distrik masih menggunakan moda transportasi laut.

.48 Contoh Kapal Laut yang melayani kebutuhan transportasi di Provinsi Papua Barat Secara umum. speedboat dan longboat untuk menjangkau wilayah-wilayah terpencil serta kapal nelayan. jalur pelayanan transportasi air (laut) mampu melayani kota-kota/desa-desa di pesisir Provinsi Papua Barat. e. Gambar 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 barang yang memuat bahan kebutuhan pokok. serta merupakan simpul dalam sistem jaringan transportasi laut internasional. berdasarkan fungsi pelayanannya dapat diklasifikasikan atas : a. serta merupakan pengumpan pada Pelabuhan Utama. b. Pelabuhan Utama Primer adalah pelabuhan utama yang berfungsi melayani kegiatan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan pelayanan yang sangat luas. melalui Sorong adalah sebagai berikut: LAPORAN AKHIR 1-131 . c. Sarana transportasi laut. Pelabuhan Pengumpan Lokal adalah pelabuhan yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut dalam jumlah kecil serta merupakan pengumpan pada Pelabuhan Utama dan Pelabuhan Pengumpan Regional. Pelabuhan Utama Tersier adalah pelabuhan utama yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah menengah dan jangkauan pelayanan menengah. Rute kapal-kapal motor baik dari PELNI maupun milik swasta. Pelabuhan Utama Sekunder adalah pelabuhan utama yang berfungsi melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan pelayanan yang sangat luas dan berperan sebagai simpul pada sistem jaringan transportasi nasional. Pelabuhan Pengumpan Regional adalah pelabuhan yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut dalam jumlah kecil dan jangkauan pelayanan yang relatif dekat. d.

Selain pelabuhan-pelabuhan umum tersebut perlu pula dikembangkan pelabuhan khusus untuk Kawasan Industri dan pelabuhan khusus bagi kepentingan pariwisata. Fakfak – Bintuni – Sorong PP. Pembahasan mengenai transportasi laut tentunya tidak terlepas dari keberadaan pelabuhan laut yang merupakan prasarana yang harus ada baik skala kecil maupun besar. LAPORAN AKHIR 1-132 . Selain itu juga terdapat pelabuhan pendaratan ikan yang saat ini sudah tidak lagi berfungsi. Selain disinggahi kapal penumpang. kareana apabila menggunakan pesawat udara. kanan: Pelabuhan Teluk Bintuni) Pelabuhan-pelabuhan kecil yang ada saat ini umumnya merupakan pelabuhan pendaratan kapal nelayan milik nelayan setempat. pelabuhan ini juga sudah menerima pelayaran kapal milik PT. Sebagai daerah kepulauan. kemudian dilanjutkan dengan transportasi laut. Di Kecamatan Kaimana terdapat pelabuhan laut yang mampu disinggahi kapal berukuran 5. satu-satunya transportasi antar pulau dan penunjang kegiatan masyarakat di Kabupaten Raja Ampat adalah angkutan laut.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Perekonomian wilayah di Papua Barat umumnya digerakkan melalui perhubungan laut dan udara. Gambar 1. Di Kabupaten Kaimana terdapat satu pelabuhan utama yang terletak di Kaimana Kota dan beberapa pelabuhan kecil yang tersebar di beberapa tempat.49 memperlihatkan kondisi maupun suasana pelabuhan utama di Provinsi Papua Barat. Pelni yang melayari Pantai Selatan Papua. Gambar 1. lebih sering menggunaka transpotasi laut dari pada transportasi udara. ibu kota Kabupaten Raja Ampat. karena mereka umumnya merasa lebih mudah dan praktis apabila bekerja dekat dengan permukiman. rute perjalanan menuju Kota Sorong terlebih dahulu.000 DWT. KM IWERI dengan rute Jayapura – Sarmi – Nabire – Serui – Biak – Korido – KM Lady Marina dengan rute: Merauke – Agast – Timika – Tuai – Kaimana – Manokwari – Saukorem – Sausapor – Sorong – Bintuni – Babo PP. 2.49 Kondisi Pelabuhan di Provinsi Papua Barat (kiri: Pelabuhan Kaimana. Demikian juga untuk menjangkau Waisai.

Pelabuhan Fak Fak dan Pelabuhan Kaimana. di Provinsi Papua Barat terdapat 4 (empat) pelabuhan utama. Oransbari. Pelabuhan Manokwari. Teminabuan. yaitu pelabuhan perintis Wasior. Saonek. LAPORAN AKHIR 1-133 . terdapat pelabuhan kecil yang melayani pelayaran perintis di daerah-daerah kepulauan. Bintuni.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2006. yaitu Pelabuhan Sorong. Kalobo. Selain itu. Babo dan Kokas. Saukorem. pesisir pantai maupun sungai-sungai. Sausapor. Inantawan. Keempat pelabuhan utama ini digunakan sebagai pelabuhan komersil. Windesi.

50 Peta Sarana dan Prasarana Transportasi LAPORAN AKHIR 1-134 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

energi merupakan aspek yang sangat krusial. Jumlah Pelanggan PLN Rumah Tangga dan Tingkat Layanan Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 Sosial 287 107 25 24 709 106 205 106 548 2 117 2 117 2 117 Rumah tangga 5 744 1 741 237 737 16 602 1 186 5 739 1 886 20 543 54 415 54 415 54 415 Bisnis 772 439 14 91 1 799 83 153 32 2 052 5 435 5 435 5 435 Industri 2 5 1 5 13 13 13 Publik 247 63 11 13 273 38 45 38 530 1 258 1 258 1 258 Sumber: Papua Barat dalam angka 2007. Jumlah pelanggan pada tahun 2005 mengalami peningkatan menjadi 63238 pelanggan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Banyaknya unit pembangkit tenaga listrik di Papua Barat pada tahun 2005 adalah 16 unit.1 Prasarana Wilayah Provinsi Papua Barat 1.960 mwh terjual. Pembangkit listrik tenaga diesel sangat ini merupakan sumber energi yang paling utama. Dari total produksi tersebut. layanan PLN masih sangat kurang seperti terlihat pada Tabel 1. meningkat sebanayk 3. Penyediaan listrik di Papua Barat teridir dari dua macam yaitu pembangkit listrik tenaga diesel dan pembangkit listrik mikro hidro. Total produksi selama tahun 2005 tercatat 79. Meski jumlah pelanggan terus meningkat. hasil perhitungan Tabel 1.1.087 mwh. meningkat dari jumlah tahun 2004 yang sebesar 61253 pelanggan.7.80 berikut. Tabel 1. dilihat dari segi distribusi.79 persen dari tahun sebelumnya.015 mwh yang dialirak dan 70. 80 Jumlah Rumah Tangga.7. Total kapasitas terpasang 21178 kw sementara beban puncak 27674 kw. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan energi.1 Energi Dalam lingkup wilayah. Tingkat layanan listrik rata- LAPORAN AKHIR 1-135 . maka pembangunan sarana dan prasarana energi juga menjadi kebutuhan vital dan mendesak di Provinsi Papua Barat. terdapat 71.80 tersebut membandingkan jumlah pelanggan PLN di Papua Barat dari jenis rumah tangga dengan jumlah rumah tangga di Papua Barat.7 ASPEK SARANA DAN PRASARANA WILAYAH PROVINSI PAPUA BARAT 1.

2 Komunikasi Infrastruktur komunikasi dan komunikasi pada tingkat provinsi lebih menitikberatkan pada persebaran dan tingkat layanan. Layanan telepon belum terdapat di Teluk Wondama. LAPORAN AKHIR 1-136 . yang terkendala oleh kondisi topografi wilayah Papua Barat. Sorong Selatan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 rata bagi rumah tangga di Papua adalah sebesar 32. Tingkat layanan yang paling ada di kabupaten-kabupaten baru dengan angka terendah ada pada kabupaten Teluk Wondama sebesar 4. Rasio elektrifikasi di Indonesia rata-rata berkisar pada angka 50 persen. Layanan telepon dari Telkom saat ini baru terkonsentrasi di kabupaten dan kota terutama seperti Sorong dan Manokwari.47 persen.81 berikut: Tabel 1.7. Pemenuhan energi di Papua Barat masih sangat kurang baik dari segi jumlah maupun distribusi. Teluk Bintuni. Untuk layanan pos. dan Raja Ampat. Kondisi infrastruktur konumikasi dan perhubungan di Papau Barat tergolong masih sangat minim. 1.1. Kebutuhan pos di Raja Ampat dipenuhi oleh rumah pos dan kantor pos desa.57 persen. Tingkat layanan tertingi ada di kota Sorong yaitu sebesar 57. jumlah sarana dapat dilihat pada Tabel 1. Tingkat layanan tersebut masih sangat jauh dari rata-rata yanng ada. 81 Jumlah Kantor Pos dan Kantor Pos Pembantu Tahun 2008 Kabupaten Kantor Pos Kantor Pos Pembantu Kantor Pos dan Giro Tambahan Rumah Pos Kantor Pos Desa Jumlah Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong 1 … 6 1 1 … - … 1 1 1 … 4 5 9 7 1 … 3 7 11 19 1 1 2 … 13 6 8 3 34 41 1 Selatan Sorong 1 Raja Ampat Kota Sorong 1 1 Papua Barat 9 4 2007 3 11 Sumber : Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Kantor pos hanya terdapat di dua wilayah yaitu Kota Sorong dan Manokwari sementara kantor pos pembantu terdapat di semua wilayah kecuali Kabupaten Raja Ampat. Wilayah Raja Ampat yang berupa kepulauan mungkin menjadi faktor kenapa kantor pos dalam skala kecil lebih berperan.89 persen.

047 73.210 177.372. Tetapi kapasitas potensial pada tahun 2004 mengalami kenaikan dari 268 liter/detik menjadi 297 liter/detik.554 Sumber Air Mata Air 45 65.1%. Total produksi air sebanyak 6.074. 3 Kabupaten/ Kota Fak Fak Manokwari Kota Sorong Jumlah 2007 2006 2005 2004 Sungai 2. Pada tahun 2004 mengalami penurunan yaitu hanya 3 perusahaan induk.923.6%.243. 83 Banyaknya Pelanggan Air Minum yang Disalurkan Menurut Jenis Pelanggan Per Kabupaten/Kota Tahun 2006 (m3) No Kabupaten/ Sosial 69.240 53. Sumber air bersih yang digunakan berasal dari air sungai dan mata air pegunungan.329 5.318 65.607 8. 82 Produksi Air Bersih Menurut Kabupaten/Kota dan Sumber Air yang Digunakan Tahun 2008 (m3) No.512 … … … Lainnya … … … 6.905 1. yang bersumber dari sungai sebanyak 3.907 617.3 Air Bersih Perusahaan air bersih pada tahun 2003 terdiri dari 4 perusahaan.177.512 32.582. 2009 Pada berikut nampak bahwa persentase sumber air bersih berasal dari sungai mencapai 54.383.7. sedangkan perusahaan cabang tidak difungsikan lagi.331 687.496 2.490 39.230 16.497 19.496 3.864 33.363 3.582.422 4.330 M3 dan dari sumber lainnya sebanyak 6.525.480 M3.535 M3 dan dari mata air pegunungan sebanyak 2.365 145.117 3.936.230.767 Danau 32.330 2. 1.138.270 29.177.200 196.345M3. Sedangkan kapasitas efektif sama dengan tahun 2003 yakni 144 liter/detik. Telah ada operator seluler yang menjangkau Papua Barat namun juga masih terkonsntrasi di wilayah seperti Kota Sorong. Tabel 1. mata air 45.005 Jumlah Khusus 42. 3 perusahaan induk dan 1 perusahaan cabang.464 1.344 3.272 1.544 8. Data tetntang air bersih masih memasukkan kabupaten bentukan baru dalam kabupaten induknya.107.3% dan sumber lainnya 0.626.428.353 10.923.370.690 Jenis Pelanggan Non Niaga Niaga Industri 667.427 28.945 1. Papua (Kompilasi data tahun 2007) LAPORAN AKHIR 1-137 . 1.936.117 2.699 858.515 2.1.427 5.06 5.507 Kota 1 Fak Fak 2 Sorong 3 Manokwari 9 Kota Sorong Jumlah 6 Sumber : PDAM.535 3.480 Sumber : Papua Barat Dalam Angka.720 39.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kondisi wilayah Papua Barat lebih memungkinkan pengembangan jaringan komunikasi nirkabel seperti telepon seluler dan telepon satelit. Tabel 1.809 1. 2.926.149.673 2.

2.428. disusul Kabupaten Sorong. Khusus untuk sarana pendidikan dengan jenjang pendidikan SMK sebagai jenjang kejuruan yang lebih menekankan pada profesionalisme ilmu belum tersebar pada semua kabupaten/kota. sebaliknya untuk kota Sorong memiliki jenjang sekolah SMK yang cukup tinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya yaitu sebanyak 7 sekolah. dirnana terdapat 3 (tiga) lokasi kabupaten yang belum memiliki jenjang SMK yaitu kabupaten Teluk Bintuni. Jumlah sarana pendidikan di Papua Barat pada tahun 2005 terdapat pada Tabel 1. Kabupaten Fak Fak.284:32.066. sedangkan dari kategori sosial.507 M3.1 Pendidikan Sarana dan tenaga pengajar pendidikan merupakan kapasitas yang mendukung proses belajar mengajar dalam kegiatan pendidikan. dan Kabupaten Manokwari.699 Artinya non niaga merupakan pengguna air terbanyak di susul oleh niaga. Penggunaan air bersih yang terbanyak di Papua Barat adalah Kota Sorong dari semua jenis pelanggan yang di salurkan. dan telah tersebar pada daerah kabupaten dan kota di wilayah ini.7.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2004 jumlah air minum yang disalurkan sebanyak 4.2 Sarana Wilayah Provinsi Papua Barat 1.149. Perbandingan kapasitas guru tersedia dan siswa pada jenjang pendidikan SD/MI diperoleh nilai sebesar 5.047 dan niaga sebesar 1.253 LAPORAN AKHIR 1-138 . dan Raja Ampat.7.690 dan industri 28. Pada tingkat SMP/MTs diperoleh perbandingan kapasitas guru dan siswa sebesar 3.901 atau 1: 22.295 : 113. industri dan khusus relatif lebih kecil. sedangkan sosial 177. Teluk Wondama. Non niaga merupakan pelanggan terbesar yakni 2. 84 Sarana Pendidikan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten TK SD SMP SMA Fak-Fak 30 91 16 6 Kaimana 8 68 10 4 Teluk Wondama 1 42 4 1 Teluk Bintuni 6 64 14 4 Manokwari 32 166 28 13 Sorong Selatan 110 16 4 Sorong 47 115 21 5 Raja Ampat 2 80 17 2 Kota Sorong 35 70 24 16 Papua Barat 161 806 150 55 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 SMK 3 4 1 2 1 1 7 19 MA 1 1 1 1 4 Sarana pendidikan di Provinsi Papua Barat mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga perguruan tinggi telah tersedia. Tabel 1. 1.84 berikut ini.370. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa 1(satu) orang guru akau mengajar siswa jenjang pendidikan SD/Ml sebanyak 22 orang.005 dan yang khusus adalah 145.

namun dari segi distribusi wilayah belum memenuhi. Artinya bahwa 1(satu) orang guru pada tingkat SMP/MTs akan mengajar 10 siswa. Jumlah sarana layanan kesehatan di Papua Barat terdapat pada Tabel 1. SIT Otouw Gesler. LAPORAN AKHIR 1-139 . 1. Pembangunan di bidang kesehatan dapat menjadi modal bagi peningkatan kualitas masyarakat. Jenjang pendidikan perguruan tinggi yang tersedia di Provinsi Papua Barat terdiri dari Universitas Negeri Papua/UNIPA. tingkat partisipasi masyarakat dalam pendidikan di Papua Barat masih rendah. masyarakat harus menmepuh jarah yang jauh. STIE Sorong (Kabupaten Sorong). layanan di Papua Barat telah mencukupi.2. 85 Tenaga Pengajar di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat TK 98 8 1 28 98 4 64 301 602 SD 846 284 119 251 1035 783 795 233 949 5295 SMP 275 127 38 175 325 49 595 65 1635 3284 SMA 88 30 20 76 387 29 83 32 745 1490 SMK 60 65 15 115 15 85 215 570 MA 5 6 20 25 56 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Dilihat dari tingkat rasio antara sekolah dan tenaga pengajar dengan jumlah murid.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 atau 1:10. Sekolah Pendidikan Agama Kristen/SPAK. mengurangi jumlah penyakit menyebar. Tabel 1. Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian/STPP (Kabupaten Manokwari). ternyata memiliki perbandingan yang cukup baik dalam proses belajar mengajar. Meski demikian. Kenyataan ini erat kaitannya dengan masalah transportasi. Sekolah Tinggi Viktoria. Universitas Muhamadiyah Alamin/UNAMIN (Sorong). meningkatkan kesehatan reproduksi.7. Sekolah Tinggi Ilmu Hukum/STIH. Saint Paul Politeknik. Dari segi jumlah penduduk. Layanan kesehatan yang mencukupi dapat menurunkan tingkat kematian. STIE Maesa. Untuk dapat mencapai suatu sarana pendidikan. dan membudidayakan perilaku hidup sehat.86 berikut ini. Apabila dilihat dari perbandingan kapasitas guru dan siswa didik.2 Kesehatan Layanan kesehatan adalah layanan krusial bagi masyarakat dan berkaitan dengan kualitas masyarakat. layanan pendidikan memang telah memenuhi. Universitas Kristen Indonesia Papua /UKIP.

Jumlah tenaga dokter di Papua Barat adalah sebagai berikut. dan Kota Sorong.7. 87 Jumlah Tenaga Dokter di Provinsi Papua Barat tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Dokter Ahli 4 Dokter Umum 22 6 5 3 16 6 10 2 7 77 Dokter Gigi 2 1 21 2 9 34 2 7 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 Tabel 1. Kabupaten-kabupaten baru hingga tahun 2005 belum memiliki rumah sakit. Kaimana. Sorong. Jumlah sarana tersebut tentu masih sangat kurang. Hal ini dapat dipahami karena lokasi-lokasi tersebut merupakan kabupaten lama (Provinsi Papua) sebelum pemekaran wilayah menjadi Provinsi Papua Barat. Manokwari.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. selain itu masyarakat harus menempuh perjalanan jauh untuk dapat memperoleh layanan kesehatan. 86 Jumlah Sarana Kesehatan di Provinsi Papua Barat tahun 2008 Puskesmas Puskesmas Puskesmas Pembantu Keliling Fak-Fak 37 9 5 Kaimana 46 7 9 Teluk Wondama 22 6 10 Teluk Bintuni 28 15 10 Manokwari 84 19 19 Sorong Selatan 42 8 9 Sorong 22 12 2 Raja Ampat 33 13 21 Kota Sorong 25 5 8 Papua Barat 339 94 93 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 Kabupaten Rumah Sakit 1 BP 6 1 Posyandu 130 79 70 221 255 151 111 69 87 1. Manokwari. Kota Sorong.173 Polindes 8 31 14 8 74 36 7 7 35 2 1 8 18 11 2 9 12 41 Ketersediaan sarana kesehatan yang cukup tinggi ada pada lokasi Kabupaten Manokwari.3 Perekonomian LAPORAN AKHIR 1-140 . dan Fakfak. Untuk dokter ahli belum terdapat di semua kabupaten. Dokter umum memang telah tersedia di seluruh kabupaten walau terkonsentrasi di kabupaten induk. hanya di Fak-Fak.87 menunjukkan minimnya tenaga dokter di Papua Barat.2. Di wilayah-wilayah tersebut telah terdapat layanan rumah sakit. dan Kota Sorong. Sarana kesehatan tentu harus didukung oleh layanan tenaga kesehatan sperti dokter. Dokter gigi baru terdapat di Fak-fak. Tabel 1. 1.

Teluk Bintuni 8. bahwa toko/warung/kios menduduki urutan tertinggi. dan non KUD sebagian besar berada di pedesaan. Dari sejumlah bank yang beroperasi. Kaimana 5. Hotel/Penginapan. Teluk Wondama 9. Kota Sorong Jumlah di Kota dan di Desa Jumlah di Kota Jumlah di Desa 1 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 b. BRI) sebesar 56. yang terdiri dari Bank Pemerintah Pusat (BNI. Jumlah kantor cabang bank yang beroperasi di Provinsi Papua Barat kurang lebih berjumlah 60 kantor cabang. 2. kemudian koperasi Unit Desa (KUD) dan non KUD. Dari semua jenis usaha seperti: toko/warung/kios. 7.72 persen. Tabel 1. 89 Jumlah Perbankan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2007 No 1. 88 Jumlah Perusahaan Perdagangan Menurut Golongan Usaha Pada Tingkat Desa dan Perkotaan No Kabupaten/ Kota Super Market 1 3 Restoran/ Rumah Makan 4 2 8 2 2 1 1 5 11 9 2 11 30 25 5 Toko/ Warung/ Kios 9 37 69 5 52 59 20 11 22 284 41 243 Hotel/ Penginapan 3 7 1 2 2 3 10 28 21 7 Koperasi Unit Desa 9 9 14 1 7 1 3 44 8 36 Koperasi Non KUD 7 4 7 2 1 16 4 41 8 33 1. Raja Ampat 7. 4. Kabupaten/ Kota Fak Fak Sorong Manokwari Kaimana Sorong Selatan Raja Ampat Teluk Bintuni Bank Umum 2 2 7 1 1 1 3 BPR 1 LAPORAN AKHIR 1-141 . dan Supermarket. Tabel 1. Perdagangan Perusahaan perdagangan di Papua Barat menurut golongan usaha pada tingkat desa dan perkotaan. seperti Minimarket dan Supermarket. 3. jumlah terbesarnya adalah kantor Bank Pemerintah. Manokwari 4.79 persen adalah bank-bank yang dikelola oleh swasta (Bank Mandiri. sisanya sebesar 16. Bank Danamon). Perbankan Sarana perbankan merupakan sarana yang penting dalam perekonomian. 6. KUD. Sorong 3. Sorong Selatan 6.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 a. Fak Fak 2.49 persen dan Bank Pembangunan Daerah (Bank Papua) sebesar 26. sedangkan yang lainnya lebih banyak tersebar di perkotaan. 5. Restoran/Rumah Makan.

5. Potensi Pengembangan Struktur Tata Ruang Secara umum kondisi tata ruang di wilayah perencanaan masih sangat sederhana. Struktur ruang di kawasan ini hanya dibentuk oleh beberapa kegiatan. Pola struktur ruang pada saat ini masih linier yaitu mengikuti pola jaringan jalan utama. Kota Sorong 6 Jumlah di Kota dan di Desa 24 Jumlah di Kota 19 Jumlah di Desa 5 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2008 1 2 2 - Tabel 1. Permukiman. Pertanian. Potensi Pengembangan Pola Ruang LAPORAN AKHIR 1-142 . yaitu: 1. Kehutanan. 2. 4. 90 Jumlah Bank dan Kantor Bank di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Rincian/ Description Bank Persero dan Bank Pemerintah Daerah Jumlah bank Jumlah kantor bank Bank Swasta Nasional Jumlah bank Jumlah kantor bank Bank Asing dan Bank Campuran Jumlah bank Jumlah kantor bank Jumlah bank Jumlah kantor bank Jumlah Bank Banks Kantor Bank 16 156 17 180 17 192 9 49 11 54 7 9 9 20 18 18 4 6 2004 2005 2006 2007 2008 Bank-bank Umum 129 153 165 45 48 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 1. Kawasan perdagangan dan jasa. Sedangkan permukiman perdesaan membentuk kelompok secara tersebar. Jaringan jalan.8 POTENSI PROVINSI PAPUA BARAT BARAT A. B. 3. sehingga dapat mempermudah pengarahan fungsi-fungsi yang telah ditetapkan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 8. Teluk Wondama 1 9.

Potensi budaya yang beragam dapat dijadikan entry point bagi kawasan strategis sosial. 2. hal ini dapat dijadikan potensi pengembangan dengan mengalih fungsikan perkebunan yang kurang produktif menjadi lahan yang dilihat dari sisi ekonomisnya menjadi lebih tinggi. Adapun potensi. 4. Perlunya konsep mitigasi bencana pada kawasan-kawasan yang mempunyai kerawanan terhadap bencana. laut. C. Potensi dari kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: 1. Dukungan keberadaan sumberdaya (hayati dan non hayati) pesisir. masalah. Terdapat beberapa komoditas unggulan yang bernilai ekspor cukup tinggi. Terdapatnya sumberdaya alam yang belum termanfaatkan sebagai penunjang fungsi kawasan strategis ekonomi. Data mengenai lahan antara satu dan yang lainnya kerap menunjukkan perbedaan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pola Ruang di Provinsi Papua Barat masih sangat terbatas. sehingga untuk pengembangan kawasan budidaya masih sangat terbuka. Terdapat beberapa pintu gerbang nasional yang dapat ditingkatkan menjadi pintu gerbang internasional dalam rangka peningkatan kerjasama ekonomi. kawasan strategis lingkungan dan kawasan strategis sosial. 1. Masih luasnya hutan sehingga dapat menujang program penanganan lingkungan. 6. Faktor kondisi fisik Provinsi Papua Barat yang berbukit dengan banyak pulau menyebabkan pencatatan penggunaan lahan relatif lebih sulit dilakukan. 5. Potensi Pengembangan Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Seperti diketahui Provinsi Papua Barat mempunyai wilayah pesisir. Potensi Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi Kawasan strategis merupakan kawasan-kawasan dengan potensi dan atau permasalahan tertentu yang perlu diprioritaskan penanganannya secara sektoral maupun tata ruang. LAPORAN AKHIR 1-143 . D. Pola ruang yang ada berdasarkan data masih didominasi oleh hutan. dan pulau-pulau kecil yang tersebar cukup luas. karena memiliki dampak yang penting pada upaya pencapaian tujuan pengembangan wilayah dalam lingkup provinsi. laut dan pulaupulau kecil yang masih berpotensi untuk ditingkatkan dan dikembangkan pada masing-masing kawasan pemanfaatan ruang laut dalam rangka pengembangan kerjasama antar kawasan. dan prospek kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Provinsi Papua Barat dapat dijelaskan sebagai berikut. 3. Di Provinsi Papua Barat terdapat beberapa kawasan strategis ekonomi. Terlebih adanya kabupaten-kabupaten bentukan baru menyebabkan pencatatan data penggunaan lahan harus dilakukan ulang. Pola penggunaan lahan masih berpola pedesaan dengan didominasi oleh kebun campuran.

c) Pengembangan jaringan jalan dan transportasi lainnya sebagai penghubung dari pusat-pusat pelayanan. b) Pembangunan sarana dan prasarana yang menunjang fungsi pelayanan dari pusat-pusat tersebut sesuai dengan hirarkinya. Keberadaan kawasan kerjasama regional antar negara (IMT-GT. dan lain-lain) sebagai pendorong sekaligus wilayah yang dapat menampung hasil-hasil produksi atau memanfaatkan jasa-jasa pada sektor pesisir dan kelautan. Keberadaan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan aksesibilitas ke luar wilayah Indonesia. Telah berkembangnya pemasaran produk perikanan dan pesisir lainnya ke luar negeri (ekspor). serta dalam meningkatkan mutu hasil produksi perikanan dan pesisir lainnya. d) Penentuan hirarki jaringan jalan berdasarkan status pusat yang dihubungkannya.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2. maka prospek pengembangan struktur tata ruang Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Penetapan fungsi PKN. PKW dan PKL yang disesuaikan dengan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang dimiliki pada masing masing pusat tersebut. yaitu berada di antara dua benua dan dua samudera. BIMPEAGA. kapasitas maupun keragamannya. laut dan pulau-pulau kecil. 5. Perkembangan teknologi perikanan dan kelautan yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan pengelolaan sumberdaya pesisir. e) Peningkatan akses sarana dan prasarana dasar pada permukiman di pedesaan. Permasalahan utama pengembangan Struktur Ruang Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Jaringan jalan yang belum menghubungkan pusat-pusat kegiatan sehingga belum terbentuk hirarki pusat yang baik. 1. b) Masih minimnya sarana dan prasarana perkotaan. 4. 3. LAPORAN AKHIR 1-144 . Perkotaan serta Struktur Ruang Selain potensi pengembangan struktur tata ruang. Berdasarkan potensi dan permasalahannya. Hal ini juga didukung oleh posisi geografis Indonesia yang strategis.9 Isu 1. terdapat pula beberapa permasalahan dalam pembentukan struktur ruang tersebut. c) Pola permukiman pedesaan yang sangat menyebar sehingga mempersulit pelayanan dari sarana dan prasarana. IMS-GT. Strategis Penataan Ruang Provinsi Papua Barat dan Prospek Pengembangannya Peran dan Fungsi Sistem. merupakan potensi yang masih dapat ditingkatkan dari sisi pangsa pasar. dan sekaligus potensi dalam pengembangan inlet-outlet pada wilayah pesisir melalui keberadaan pelabuhan laut.

apabila LAPORAN AKHIR 1-145 . maka prospek pengembangan pola ruang wilayah adalah sebagai berikut: a) Perlunya batas administrasi dan penguasaan hak ulayat dalam rangka menunjang pembangunan menuju pola ruang yang diinginkan. dengan tetap memperhatikan daya dukung dan kemampuan wilayah dalam menampung kegiatan yang dipertahankan tersebut. lahan yang seharusnya sebagai kawasan penyangga. Untuk itu. d) Konflik antara kawasan lindung dengan pengembangan transportasi. sehingga yang dikerjakan tidak habis dalam waktu dekat. bentuk konflik yang dapat muncul adalah adanya persamaan lokasi atas peruntukan lahan yang didasarkan atas kondisi biofisik dengan potensi yang dikandung. faktor fisik wilayah Provinsi Papua Barat yang bergelombang juga merupakan suatu kendala dalam pengembangan pola ruang yang diinginkan. selain itu juga faktor kebencanaan perlu menjadi pertimbangan dalam pengembangan pola ruang di Provinsi Papua Barat. Gambaran konflik ruang yang terjadi adalah: a) Konflik antara kawasan lindung dengan potensi pertambangan. c) Konflik antara kawasan lindung dengan kawasan budidaya lainnya. atau kekayaan yang dapat dimanfaatkan. yang didasarkan pada: a) Kawasan merupakan perwujudan sumberdaya dan kimah (asset). c) Perlu adanya penyelesaian konflik yang terjadi dengan memperhatikan azas manfaat. misalnya bahan galian. dalam pemanfaatan lahan harus didasarkan atas 3 terapan (perception) dari lahan. Masalah lain yang timbul adalah masalah hak ulayat yang belum jelas dalam penguasaan lahan sehingga dalam penentuan batas administrasi serta batas kepemilikan lahan belum jelas tergambarkan. b) Konflik antara kawasan lindung dengan Hak Pengusahaan Hutan (HPH). b) Pembangunan menuju pola ruang yang diinginkan tersebut harus memperhatikan daya dukung lingkungan dan fisik dari wilayah-wilayah yang direncanakan. Berdasarkan potensi dan permasalahan yang telah diungkapkan pada sub bab sebelumnya. b) Prospek jangka panjang ke masa depan. Selain masalah konfilk penggunaan lahan. Pola Ruang Masalah yang terjadi di Provinsi Papua Barat adalah masalah konflik penggunaan lahan. juga ditemukan cadangan bahan galian. Di dalam tempat yang sama. c) Keberlanjutan manfaat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2. artinya manfaat yang lebih besar hendaknya dipertahankan keberadaannya. sehingga manfaat dapat diperoleh secara terus menerus.

b) Konflik pemanfaatan dan kewenangan. f) Pencurian ikan oleh nelayan asing yang banyak terjadi pada perairan pada wilayah perbatasan. umumnya disebabkan oleh kegiatan-kegiatan perikanan yang bersifat destruktif. penambatan jangkar perahu. b) Pembentukan keterkaitan dan distribusi produk untuk pengembangan budidaya perikanan. karena tidak adanya aturan yang jelas tentang penataan ruang pesisir dan lautan dan alokasi sumberdaya yang terdapat di kawasan pesisir. d) bahan beracun sianida. dan lain-lain. Kerusakan akibat pemanfaatan berlebih (over exploitation) pada sebagian jenis sumberdaya pesisir (khususnya sumberdaya perikanan tangkap). LAPORAN AKHIR 1-146 . yaitu penggunaan bahan peledak. peristiwa tumpahan minyak. sasaran dan rencana tersebut mendorong terjadinya konflik pemanfaatan sumberdaya (user conflict) dan konflik kewenangan (jurisdictional conflict) (CincinSain dan Kenneth.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 kegiatan yang dimaksud sudah berakhir. Perbedaan tujuan. 1998). maka harus dikembalikan kepada fungsi lindung yang diembannya 3. Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Isu terkait dengan pengembangan kawasan pesisir danp-Pulau Kecil di Provinsi Irian Jaya adalah sebagai berikut: a) Kurangnya dukungan prasarana dan sarana (kelautan dan perikanan) serta keberadaan pusat-pusat kegiatan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi pesisir. c) Kerusakan dan pencemaran lingkungan pesisir. maupun pengembangan sumberdaya manusianya. Beberapa stok sumberdaya ikan telah mengalami kondisi tangkap lebih (over fishing) seperti udang. laut. dan pulau-pulau kecil Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Pengembangan badan usaha bersama dalam bidang penangkapan ikan baik pengembangan sarana dan sarana penangkapan ikan. c) Pengembangan sektor kepariwisataan bahari serta membentuk keterkaitan antar wisata yang mempunyai potensi yang sangat besar di Provinsi Papua Barat. aktifitas pelayaran/perkapalan. e) Rendahnya sumberdaya manusia (SDM) masyarakat dan aparat dalam merealisasikan proses (perencanaan. Dengan melihat potensi dan masalah yang terjadi maka prospek pengembangan kawasan pesisir. pemanfaatan dan pengendalian) kerjasama antar kawasan dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir laut dan pulau-pulau kecil. target dan rencana untuk mengeksploitasi sumberdaya pesisir. Setiap pihak yang berkepentingan mempunyai tujuan.

e) Menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan sosial-masyarakat Provinsi Papua Barat. e) Pemanfaatan f) hutan produksi yang melebihi daya dukungnya. b) Keterbatasan sektor transportasi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 d) Pengembangan indusri pelayaran dan pengangkutan sebagai upaya untuk membentuk keterkaitan antar pusat-pusat pengembangan. sehingga mengganggu fungsi lindung yang ditetapkan. 4. c) Belum termanfaatkannya potensi pasar dan pemasaran yang ada. Prospek dari pengembangan kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Perlu adanya peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia dalam pengelolaan sumberdaya alam yang melimpah. terutama transportasi darat sehingga kelancaran perangkutan barang dan orang menjadi terhambat dan mahal. Masalah dari kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: d) Masih sering terjadi illegal logging sehingga mengganggu fungsi lindung. b) Peningkatan status pintu gerbang Sorong dan Manokwari menjadi pintu gerbang nasional dan internasional. d) Pengendalian dan pengawasan yang ketat serta pemberian sangsi yang tegas pada kawasan-kawasan strategis lingkungan. Kawasan Strategis a) Kurangnya sumberdaya manusia baik dari kualitas maupun kuantitasnya dalam upaya pemanfaatan potensi sumberdaya alam yang begitu besar. c) Peningkatan pembangunan sarana dan prasarana transportasi sebagai penunjang pengembangan kawasan strategis. Terjadinya konflik sosial antar suku menjadi kendala dalam mengembangkan potensi budaya yang ada. mengingat kota-kota yang terbentuk di Provinsi Papua Barat sebagian besar berada pada wilayah pesisir. Selain itu juga perlu adanya peningkatan daya saing sumber daya lokal sehingga sumberdaya dari luar yang datang juga mempunyai kualitas yang baik. LAPORAN AKHIR 1-147 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful