Profil Wilayah Provinsi Papua Barat

1

1.1

ASPEK FISIK DASAR

Aspek fisik dasar yang akan dipaparkan diantaranya mengenai batas administrasi dan geografi, klimatologi, suhu dan kelembaban, morfologi, kondisi geologi, karakteristik tanah, Hidrologi, karakteristik hidro-oseanografi, dan ketersediaan lahan. 1.1.1 Perkembangan Pembentukan Daerah

Provinsi Papua Barat secara definitif dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999 dengan nama Provinsi Irian Jaya Barat bersamaan dengan pembentukan Provinsi Irian Jaya Tengah, Kabupaten Mimika, Kabupaten Paniai, Kabupaten Puncak Jaya, dan Kota Sorong. Namun pemekaran wilayah provinsi ini ditangguhkan karena terjadi penolakan terhadap pemekaran ini, sementara pemekaran kabupaten tetap dilaksanakan sesuai UU Nomor 45 Tahun 1999 tersebut. Berdasarkan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat,

1-1

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Teluk Bintuni, dan Kabupaten Teluk Wondama di Provinsi Papua, maka terjadi pemekaran untuk beberapa kabupaten. Pemekaran wilayah untuk Provinsi Irian Jaya Barat sebagai berikut: 1. Kabupaten Sorong dengan dua kabupaten pemekaran, yaitu: Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Raja Ampat. 2. Kabupaten Manokwari dengan dua kabupaten pemekaran, yaitu: Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Teluk Wondama 3. Kabupaten Fak Fak dengan satu kabupaten pemekaran, yaitu Kabupaten Kaimana

Setelah memiliki wilayah yang jelas, penduduk, aparatur pemerintahan, anggaran, anggota DPRD, serta gurbernur dan wakil gubernur definitive, Provinsi Irian Jaya Barat mulai membangun dirinya secara sah. Sejak tanggal 18 April 2007, Provinsi Irian Jaya Barat berubah nama menjadi Provinsi Papua Barat, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007. Pada tahun 2008 dimekarkan satu kabupaten baru di Provinsi Papua Barat yaitu Kabupaten Tambrauw. Dasar hukum pembentukan Kabupaten Tambrauw adalah UndangUndang Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2008 dengan ibukota kabupaten yang terdapat di distrik Fef. Berdasarkan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 127/PUUVII/2009 tanggal 25 Januari 2009, Kabupaten Tambrauw dibentuk dari sebagian bekas wilayah Kabupaten Sorong dan Kabupaten Manokwari, yaitu Distrik Abun, Distrik Amberbaken, Distrik Fef, Distrik Kebar, Distrik Kwoor, Distrik Miyah, Distrik Moraid, Distrik Mubrani, Distrik Sausapor, Distrik Senopi, dan Distrik Yembun. Berdasarkan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI (Nomor 127/PUU-VII/2009 tanggal 25 Januari 2009), maka batas wilayah Kabupaten Tambrauw adalah sebagai berikut: Utara Selatan Barat Timur : Samudera Pasifik : Kabupaten Sorong Selatan : Kabupaten Sorong : Distrik Sidey, Kabupaten Manokwari

Pada tahun 2009 terdapat kabupaten baru yang dimekarkan yaitu Kabupaten Maybrat. Kabupaten Maybrat merupakan pemekaran dari wilayah kabupaten Sorong. Pada 27 Oktober 2008 dikeluarkan Keputusan Bupati Sorong Selatan Nomor 133 Tahun 2008 tentang Penyerahan Sebagian Cakupan Wilayah Bawahan Kabupaten Sorong Selatan ke

LAPORAN AKHIR 1-2

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten Sorong, wilayah yang diserahkan terdiri dari 11 (sebelas) distrik, yaitu: Distrik Aifat, Distrik Aifat Utara, Distrik Aifat Timur, Distrik Aifat Selatan, Distrik Aitinyo Barat, Distrik Aitinyo, Distrik Aitinyo Utara, Distrik Ayamaru, Distrik Ayamaru Utara, Distrik Ayamaru Timur, dan Distrik Mare. Pada 16 Januari 2009 disahkanlah UURI Tahun 2009 Nomor 13 tentang Pembentukan Kabupaten Maybrat sebagai hasil pemekaran dari kabupaten Sorong. Adapun komposisi distrik bawahannya adalah tepat sama dengan komposisi distrik di atas. Ini terjadi karena pemekaran dari Kabupaten Sorong Selatan belum memenuhi syarat teknis dan legalitas, jadi upaya percepatan berupa pemindahan kembali 11 distrik calon distrik Kabupaten Maybrat untuk sementara waktu ke kabupaten induknya, dan dilanjutkan dengan proses pembentukan Kabupaten Maybrat sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Sorong, bukan dari Kabupaten Sorong Selatan. Peresmian dilakukan pada tanggal 15 April 2009 di Jakarta, adapun batas wilayah Kabupaten Maybrat adalah sebagai berikut: Utara Selatan Barat Timur 1.1.2 : Fef, Senopi, Kebar : Kokoda, Kais : Moswaren, Wayer, Sawiat : Moskona Utara, Moskona Selatan Batas Administrasi dan Geografi

Provinsi Papua Barat secara geografis terletak pada 124°-132° Bujur Timur dan 0°-4° Lintang Selatan, tepat berada di bawah garis khatulistiwa dengan ketinggian 0-100 meter dari permukaan laut. Kabupaten Fakfak merupakan kabupaten tertinggi dengan ketinggian 10-100 meter diatas permukaan laut, sedangkan kota-kota lainnnya berkisar antara 10-50 meter diatas permukaan laut. Batas geografis Provinsi Papua Barat adalah : Sebelah Utara Sebelah Barat Sebelah Timur : Samudera Pasifik : Laut Seram (Provinsi Maluku) : Provinsi Papua Sebelah Selatan: Laut Banda (Provinsi Maluku)

Wilayah Provinsi Papua Barat memiliki 11 wilayah Pemerintahan Daerah yang terdiri dari 9 Kabupaten dan 1 Kota, 154 distrik, dan 1.361 kampung dengan luas wilayah secara keseluruhan sebesar 97.024,37 km² (berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2008). Luas dan perbandingan persentase luas wilayah kota kabupaten di Provinsi Papua Barat disajikan pada Tabel 1.1 dan Gambar 1.2. Pembagian Daerah Administratif menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 dapat dilihat pada Tabel 1.2. Secara spasial administrasi Provinsi Papua Barat diperinci berdasarkan kabupaten/kota dapat dilihat pada Gambar 1.1. Tabel 1.1 Luas Wilayah dan Persentase menurut Kabupaten/Kota LAPORAN AKHIR 1-3

80 10.55 7.320 18. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kabupaten/Kota Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana Kabupaten Teluk Wondama Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Manokwari Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Sorong Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Tambrauw Kabupaten Maybrat Kota Sorong Luas Planemetrik (Km2) 14.84 8.99 10.38 0.33 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka 2010 Gambar 1.2 Pembagian Daerah Administratif Provinsi Papua Barat menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 No.63 9.8 18.65 100. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kabupaten/Kota Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana Kabupaten Teluk Wondama Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Manokwari Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Sorong Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Tambrauw Kabupaten Maybrat Kota Sorong Total IbuKota Fakfak Kaimana Wasior Bintuni Manokwari Teminabuan Aimas Waisai Fef Kumurkek Sorong Jumlah Kecamatan 9 7 13 24 29 13 18 13 11* 11 6 154 Jumlah Kelurahan 7 2 1 2 9 2 13 1 1 30 68 Jumlah Kampung 122 84 75 114 402 110 118 97 53 108 1293 LAPORAN AKHIR 1-4 .953.871 6.35 12.111 943.52 10.21 No.5 19.236.91 12.08 13.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Persentase (%) 9.1 Persentase Luas Wilayah Provinsi Papua Barat Menurut Kabupaten/Kota Sumber: Diolah dari Provinsi Papua Barat Dalam Angka 2010 Tabel 1.500 14.136.521.00 Total 144.52 15.084.665 12.60 4.699 13.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 * Disesuaikan dengan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 127/PUU-VII/2009 LAPORAN AKHIR 1-5 .

2 Peta Batas administrasi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-6 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

Pada pola B. Teluk Wondama Kab. Teluk Bintuni Kab.3 Banyaknya Curah Hujan di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2007 (mm) Kabupaten/Kota Kab. dalam setahun terjadi dua kali puncak curahan tertinggi atau dua kali puncak curahan terendah.1.306 LAPORAN AKHIR 1-7 .602 4.9 970 1. Tabel 1. Musim hujan di setiap daerah tergantung dari waktu di mana musim ini terpaparkan pada satu atau kedua sistem angin tersebut.3 4. maka iklim di Provinsi Papua Barat sangat bervariasi melebihi daerah Indonesia lainnya. pantai Utara dan di sebelah Utara kordirela mendapatkan hujan terbanyak dari angin Barat Laut dalam bulan Oktober hingga Maret. Suhu sangat bergantung dari ketinggian.048 2.836 2. Pada umumnya pegunungan di Kepala Burung. sedangkan ketinggian dan kejajaran barisan pegunungan mempengaruhi pola angin dan presipitasi dalam setiap daerah.964.319 2. dan pola ganda (C). pola berfluktuasi (B).689 1. Fakfak Kab.586 133 1.106. Angin Tenggara dan muson Barat Laut biasanya panas dan mengandung uap air yang diangkut ketika melewati samudera. Iklim di Provinsi Papua Barat memiliki 3 (tiga) pola yaitu pola tunggal (A dan D).3 1.470 2. Pada pola ini biasanya curah hujan bulanan tidak teratur atau hampir merata sepanjang tahun.836 2004 3.351 2007 3.067.3 Klimatologi Provinsi Papua Barat terletak tepat di sebelah Selatan garis khatulistiwa sehingga termasuk dalam wilayah tropika humida.3 4.323 2.680 2. Pola tunggal A atau pola sederhana (simple wave) memiliki curah hujan terendah pada bulan Juli/Agustus.537 2006 3.1 Curah Hujan Musim di Papua Barat dicirikan oleh angin Tenggara yang bertiup sekitar pertengahan April hingga September dan Muson Barat Laut yang di mulai dalam bulan Oktober hingga Maret.048 2005 3. Pola A dan D menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antara jumlah curah hujan pada musim hujan dan musim kemarau.600 2.345 2. Pola umum ini menjadi rumit oleh topografi dan pola angin.3 2008 2.492 4.209 127 2.964.537 2.313 1. Sorong 2003 3. Kaimana Kab.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.1. 1. Pada pola C. Karena daerahnya yang bergunung-gunung.3. Jumlah hujan yang jatuh di setiap tempat di Papua secara khusus dikendali oleh topografi. Manokwari Kab.964.059 1. Pola umum iklim dan cuaca sangat dipengaruhi oleh topografinya yang kasar.091 2. Sorong Selatan Kab. Pola tunggal D memiliki curah hujan tertinggi pada bulan Juli/Agustus. perbedaan antara jumlah curahan pada musim hujan dan musim kemarau tidak jelas. sedangkan dataran rendah di Selatan Kepala Burung dan jazirah Onin dan Bomberai serta dataran rendah di Selatan kordirela mendapatkan hujan terbanyak antara bulan April dan September ketika angin bertiup dari arah tenggara.

Kelas III di Kabupaten Fakfak. Rata-rata curah hujan selama tahun 2008 berkisar antara 358. 2000 mm/tahun.d.048 2. Kabupaten Manokwari memiliki jumlah hari hujan yang paling sedikit dibandingkan Kabupaten/Kota lainnya yaitu denan rata-rata sebanyak 192 hari hujan. Pada tahun 2009 curah hujan kelas I terdapat di Kota Sorong. Pada tahun 2009 ini tidak terdapat kabupaten yang memiliki curah hujan kelas IV. Sorong 185 220 230 Kab. Kabupaten Raja Ampat. 1000 mm/tahun. dan Kota Sorong memiliki karakteristik jumlah hari hujan yang hampir serupa. Sorong Selatan 220 230 Kab.d. Tabel 1. kelas IV dengan curah hujan antara 3000 s. kelas II di kabupaten Kaimana dan Kabupaten manokwari.306 358. 288 hari hujan. dan kelas V dengan curah hujan antara 4000 s.964. 4000 mm/tahun. yaitu kelas I dengan curah hujan antara 0 s.351 181 2007 4. Secara spasial keadaan iklim dan persebaran curah hujan di Provinsi papua barat ditunjukkan pada Gambar 1.3 369 2008 4.d. 5000 mm/tahun.3 Peta iklim LAPORAN AKHIR 1-8 . kelas III dengan curah hujan antara 2000 s. 3000 mm/tahun. kabupaten Sorong Selatan. dan kabupaten Raja Ampat.d.836 2. Teluk Wondama Kab.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2006 2.3 mm (Sorong Selatan). dan kelas V di Kabupaten Sorong. Fakfak 210 210 232 Kab. 3000 mm/tahun.d.4. Teluk Bintuni Kab. Kaimana 214 218 208 Kab. Gambar 1.047 211 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Berdasarkan jumlah curah hujannya wilayah Papua Barat memiliki tiga kelas curah hujan. Raja Ampat 2.2 mm (Kota Sorong) sampai dengan 4. dengan curah hujan sekitar 2000 s.d.2 Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab.836 2. Dari data diatas terlihat bahwa di Kabupaten Sorong.964. kelas II dengan curah hujan antara 1000 s.3 dan Gambar 1.537 Kota Sorong 2.4 Banyaknya Hari Hujan di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2008 (hari) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab. Manokwari 187 178 203 Kab.d. Raja Ampat 185 220 230 Kota Sorong 185 218 230 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2006 228 177 254 150 230 156 156 156 2007 225 204 254 212 230 225 225 228 2008 176 215 223 225 286 286 288 Rata-rata jumlah hari hujan di Provinsi Papua Barat berkisar antara 150 s. Hampir seluruh wilayah Papua Barat memiliki kelas curah hujan tipe III pola C.

4 Peta curah Hujan LAPORAN AKHIR 1-9 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

sedangkan di daerah LAPORAN AKHIR 1-10 . suhu harian biasanya antara 29 oC – 32 oC. 5-10 derajat lebih dingin. Di dataran rendah. sementara di daerah pegunungan pada 1500-2000 m dpl.3. Pada malam hari.1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. suhu di sepanjang pantai 5-8 derajat lebih dingin daripada siang hari.2 Suhu dan Kelembaban Suhu dan kelembaban merupakan komponen iklim paling konstan di Provinsi Papua Barat.

Sorong 27.55 23.30 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Dari Tabel 1.92 83. Teluk Wondama Kab.40 25.80 27.30 84.17 2007 86.30 27. Manokwari 2003 84.50 24.26 26.10 23.26 27.10 23. Sorong 31.00°C juga berada di Kabupaten Fakfak (data hasil pencatatan suhu udara pada beberapa stasiun yang berada di Kabupaten/Kota se-Provinsi Papua Tahun 2008).40 83.30 83.90 Kota Sorong 31.70 28.43 23.55 30.70 2007 Max Min 28.49 … … … 32. Manokwari 27.60 Kab.60 27.70 29.30 26.5 terlihat bahwa suhu udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar 25.48 27.67 23.70 25.20 29. Tabel 1. Kaimana Kab. Sorong Selatan … … 31.30 82.30 27.60 27.6. Teluk Bintuni … … … … Kab.30 24.90 31.40 30.60 33.70 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2006 25. Sorong Selatan 27.56 29.43 23.00 31.48 23. Fakfak Kab.5 Suhu Udara Rata-rata Menurut Lokasi Stasiun di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2008 (°C) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab.80 31.2 27.60 24.00 26.80 31.70 31.33 2005 85.22 27.80 26. suhu udara tertinggi dalam kurun waktu 2004-2008 terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 32.80 26.80 24.47 27.00 22.60 32.49 … … … 32. dan suhu minimal sebesar 23.08 27. Raja Ampat 27.70 26.40 22.80 30.60 26. sedangkan suhu terendah juga terjadi pad atahun 2008 yaitu sebesar 21.83 2008 84.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 pegunungan kisarannya lebih lebar.6 27.30 27.40 … … 2006 Max Min 22.40 25. Tabel 1.90 21. Kaimana 27.00 25.9 85.00 … 26.56°C di Kabupaten Fakfak. Fakfak Kab.70 30.50 82.13 30. Kaimana Kab. Teluk Bintuni Kab.10 23.30 2008 Max Min 30.32 Tabel 1.40 83.20 33.7 Kelembaban Udara Rata-rata di Papua Barat Tahun 2003-2008 (%) Kabupaten/Kota Kab.50 … 23.70 Kota Sorong 27. Teluk Wondama Kab.70 Kab. Teluk Wondama Kab.38 Kab.7 … 23.33 26. Dari Tabel 1. Karakteristik suhu di Provinsi Papua Barat tidak menunjukkan fluktuasi tahunan yang nyata.46 °C dengan suhu maksimal sebesar 28.3 Rata-Rata 25. Manokwari 27.00 22.47 27.80 26.6 Kab.46 27.0 83.6 27.13°C di Kabupaten Manokwari.60 2007 25. Teluk Bintuni Kab.20 25.28 27.90 21.8 Kab.6 27.68-27.20 25.08 LAPORAN AKHIR 1-11 .50 23.10 2008 26.48 Kab.30 24.60 27.6 Suhu Udara Maksimum dan Minimum di Provinsi Papua Barat Tahun 20032008 (°C) Kabupaten/Kota 2004 Max Min 28.73 21.50 2004 85.70 Kab.30 31.40 23.05°C terjadi di wilayah Kabupaten Fakfak.40 … … 2005 Max Min 29.67 2006 85.78 81.30 Kab.63 … … … 27.20 31.15 26.60 27.40 Kab.05 23.60 27. Fakfak 28.60 27.03 25.70 27.59 24.80 30.63 27.68 27.08 83.50 84.46 27.10 29.30 24. Raja Ampat 30.90 31.

Kelembaban udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar antara 81.00 Kab.90 59.00 Kab. Keadaan ini merupakan gangguan utama bagi transportasi udara dengan pesawat kecil. Teluk Bintuni Kab.d. kelembaban udara yang relatif konstan.00 59.37 125. Papua merupakan tempat yang kemungkinan salah satu tempat paling berawan di dunia.00 59. di mana daerah dataran rendah cenderung lebih lembab.00 68.00 84.40 49.00 83.00 86. Fakfak 126.40 49.36% s. Kaimana 45.00 Kab.80 65.25 87.00 86.00 2008 107.80 46. penyinaran matahari yang hampir terus menerus sepanjang tahun.75 Kab.30 59.00 83.40 49.4% s.00 Kota Sorong 83.80 Kab.00 Penyinaran matahari rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar antara 52.00 65.08 53.83 46.08 59. Provinsi Papua Barat yang memiliki keragaman suhu udara. terutama di daerah pegunungan di mana awan cumulus hampir selalu meningkat ke tengah hari.80 60. Berdasarkan uraian karakteristik iklm tersebut.21 54.00 83.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 84.80 54.70 49.00 62.00 84. Sorong Selatan 65.05 147.00 54.83 58.00 83. Teluk Wondama Kab.58 Kab.40 58.92 Kab.00 62.00 68. kelembaban udara terendah terdapat di Kabupaten Kaimana sedangkan kelembaban tertinggi terdapat di Kota Sorong dan Kabupaten Raja Ampat.00 87. Manokwari 63.00 86.10 Kota Sorong 61.9 115.64 51.00 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Kelembaban nisbi tinggi dan dan konstan. Raja Ampat 84. Dengan kondisi seperti ini di wilayah Papua Barat memiliki potensi bagi pengembangan komoditi-komoditi pertanian apabila terutama dikaitkan dengan persentase lama penyinaran.8 Rata-Rata Penyinaran Matahari Menurut Lokasi Stasiun di Kabupaten/Kota Tahun 2003-2008 (%) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 2006 Kab.00 84.52 50.00 86.90 58.00 87. Sorong Selatan 84. Karena berada di katulistiwa. 128. Raja Ampat 61. penyinaran matahari terendah terdapat di Kabupaten Manokwari sedangkan lama penyinaran tertinggi terdapat di Kabupaten Fakfak.d.0%.00 84. dan curah hujan yang cukup tinggi menjadi potensi besar bagi pengembangan budidaya tanaman pertanian dan perkebunan terutama untuk LAPORAN AKHIR 1-12 . Sorong 61. waktu siang hari (sekitar 12 jam) adalah konstan dengan variasi tahunan sekitar 30 menit antara hari terpanjang dan terpendek.00 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2007 37.00 83. 87. Sorong 83.40 46. Tabel 1.81%.00 84. berkisar dari 75-80%.17 43.00 Kab.

dengan tipe tutupan lahan berupa hutan hujan tropis. serta dasar bagi kebijakan pemanfaatan lahan.058 3. diketahui bahwa kondisi topografi antar wilayah di Provinsi Papua Barat cukup bervariasi. dan wilayah dengan ketinggian >1000 meter dpl.4. Kondisi tersebut menjadi kendala utama bagi pemanfaatan lahan baik untuk pengembangan sarana dan prasarana fisik. (3) wilayah dengan ketinggian >500-1000 meter dpl. 1.015. Tabel 1. Kondisi ini merupakan salah satu elemen yang menjadi barrier transportasi antar wilayah. terutama transportasi darat.132 328. 1. dan Kabupaten Sorong Selatan mendapatkan potensi tersebut.1. padang rumput dan padang alang-alang.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 wilayah Kabupaten Manokwari. sistem transportasi darat maupun bagi pengembangan budidaya pertanian terutama untuk tanaman pangan.196 518. Sehingga. Pembagian wilayah Provinsi Papua Barat berdasarkan ketinggian wilayah dari permukaan laut dapat digolongkan kedalam empat kelompok yaitu: (1) wilayah dengan ketinggian 0-100 meter dpl.400 2.9 Luas Wilayah menurut Ketinggian dari Permukaan Laut dan Kabupaten/Kota (Ha) Wilayah Pengembangan 0-100m Kelas ketinggian >100-500m >500-1000 377.413.1 Ketinggian Kondisi topografi Provinsi Papua Barat sangat bervariasi membentang mulai dari dataran rendah.868. rawa sampai dataran tinggi.790 100 3.49 Kab Manokwari 1.109 Kota Sorong 162.257. Kota Sorong.4 Morfologi Kondisi Morfologi memaparkan mengenai informasi fisik wilayah yang meliputi ketinggian wilayah dan kelerengan. sebagai berikut.301 Jumlah >1000m 741.250 Kab Fakfak 1. Sebagian besar wilayah Provinsi Papua Barat memiliki kelas lereng > 40% dengan bentuk wilayah berupa perbukitan.9.48 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Berdasarkan tabel di atas. dominasi pemanfaatan lahan diarahkan pada hutan konservasi disamping untuk mencegah terjadinya bahaya erosi dan longsor.046.691 Kab Sorong 2.600 344.050 284.d > 1000 m. Ketinggian wilayah di Provinsi Papua Barat bervariasi dari 0 s.4.900 250.1.1.054. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1. Teluk Bintuni.2 Kelerengan Tinjauan atas morfologi wilayah didasarkan pada kondisi kelerengan atau kemiringan.200 1.366 1.192. (2) wilayah dengan ketinggian >100-500 meter dpl.847 288. 1. LAPORAN AKHIR 1-13 .01 182.

502 Kab Fakfak 105.000 344.100 1.453.790. dan kelas lereng curam sampai sangat curam (>40 %).10 Luas Wilayah menurut Kelas Lereng/Kemiringan dan Wilayah Pengembangan Kelas lereng 0-15% >15-40% >40% Kab Manokwari 1.700 448.500 2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dipandang dari sisi lereng.49 LAPORAN AKHIR 1-14 . Tabel 1. maka secara garis besar Tanah Papua dapat diklasifikasikan kedalam tiga kelompok kelas lereng yaitu kelompok wilayah dengan kelas lereng datar sampai landai (kemiringan 0-15 %).434.108 Kota Sorong 257.54 8.636 57. kelas lereng landai sampai curam (kemiringan >15– 40%).297 964 Kab Sorong 984.06 78.200 313.10.310 158.89 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Wilayah Pengembangan Jumlah 3.582 49. Untuk jelasnya mengenai luas masing-masing kelas lereng lihat Tabel 1.998 19.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.5 Peta kenampakan elevasi/ketinggian Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-15 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.6 Peta kemiringan lereng Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-16 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.7 Peta kenampakan topografi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-17 .

Gondwanaland. pulau Papua mulai muncul di permukaan laut pada sekitar 350 Lintang Selatan. lebar 150 km dengan topografi yang kasar dan sejumlah puncak setinggi lebih dari 3000 meter. yang juga termasuk di dalamnya adalah Antartika.5. 1.8 tentang Tatanan tektonik di Tanah Papua Evolusi tektonik yang terjadi selama Kenozoikum dihasilkan oleh tumbukan secara oblique antara kedua lempeng tersebut. dimana lempeng Pasifik mengalami subduksi atau tertindih di bawah lempeng Australia. Konsep lempeng tektonik yang telah diterima umum mengganggap. India.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Ketika lempeng India-Australia dan lempeng Pasifik bertemu di sekitar 40 juta tahun lalu. 1970). yang kesemuanya bergerak relatif terhadap sesamanya. LAPORAN AKHIR 1-18 . seluruh Papua dan Australia bagian Utara berada di bawah permukaan laut. Amerika Selatan. Daerah ini merupakan daerah interaksi antara dua lempeng besar yaitu Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. 1979) Daratan Papua New Guinea dan Pegunungan Central Range. Proses ini berlanjut selama masa Pleistosen hingga pulau Papua terbentuk seperti di saat ini.1. Pegunungan Central Range merupakan sabuk yang memanjang sampai 1300 km. Pulau Papua merupakan produk pertumbuhan benua yang dihasilkan dari tubrukan kedua lempeng tersebut.1 Evolusi Tektonik Pulau Papua Pembentukan pulau Papua atau pulau New Guinea telah didiskusikan oleh berbagai ahli dan diringkas oleh Petocz (1984). Pada saat dimulainya gerakan ke Utara dan rotasi dari benua super ini. Australia. Lempeng Benua India-Australia (atau biasa disebut lempeng Australia) bergerak ke arah Utara keluar dari posisi kutubnya dan bertubrukkan dengan Lempeng Samudra Pasifik yang bergerak ke arah Barat. Bagian Selatan pulau Papua merupakan tepi Utara dari benua super kuno. (Hamilton. Setiap lempeng terdiri atas bagian kerak benua (kontinental) dan kerak samudera (oseanik). Sebagian besar daerah ini adalah lapisan batuan berumur Kenozoikum dan Mesozoikum yang tersesarkan dan terlipat. Bagian daratan paling Utara pada Lempeng India-Australia antara 90-100 juta tahun lalu berada pada 480 Lintang Selatan yang merupakan titik pertemuan Lempeng India-Australia dan Pasifik. Selandia Baru dan Kaledonia Baru. bahwa kerak bumi terbagi dalam tujuh lempeng sangat besar dan sejumlah lempeng lithosfer kecil lainnya. Awal terpisahkan benua ini dari posisi Selatannya terjadi pada masa Kretasius Tengah (kurang lebih 100 juta tahun lalu).5 Kondisi Geologi Kondisi geologi Tanah Papua pada dasarnya memiliki kesamaan dengan kondisi geologi umum yang dijumpai di Indonesia bagian timur.1. yang diendapkan pada tepian kontinen aktif Australia. secara umum diasumsikan sebagai lokasi tipe dari busur kepulauan oseanik aktif–tumbukan kontinen (Dewey dan Bird. hal ini dapat dilihat pada Gambar 1.

Menurut Sapiie (2000). sebaran paling luas dari aktivitas tektonik dan volkanik dimulai pada Miosen Akhir dan berlanjut hingga sekarang. Terdapat sejumlah lipatan dan sesar naik sebagai akibat dari interaksi (tubrukan) antara kedua lempeng tektonik. yaitu lempeng Australia dan Lempeng Pasifik. (island-arc volcanics complex) sebagai bagian dari lempeng Pasifik. Triasik. serta pencatatan lengkap sejarah geologi hingga saat ini menunjukkan. Sesar Lungguru (LFZ) dan Sesar Tarera-Aiduna (TAFZ). ini disebut Melanesian Orogeny (Dow and Sukamto. LAPORAN AKHIR 1-19 Provinsi Oseanik terdiri atas batuan Ofiolit (ophiolite rock) dan kompleks volkanik busur-kepulauan Provinsi Transisi adalah suatu zone yang terdiri atas deformasi tinggi dan batuan metamorfik regional . ciri dominan dari perkembangan geologi Papua merupakan dikhotomi antara sejarah tektonik dari batuan mantap kraton Australia dan lempeng Pasifik di satu sisi. Menurut Dow et al. terdapat bukti bahwa batuannya berasal dari tektonik utama pada episode Paleozoik Pertengahan dan Oligosen maupun episode beku dalam Paleozoik Pertengahan. bahwa geologi Papua sangat kompleks karena melibatkan interaksi antara dua lempeng tektonik. yaitu provinsi Kontinental. Walaupun pencatatannya terpisah-pisah. bahwa pada tahun 2004 telah terjadi beberapa kali gempa. Zone deformasi yang berada di sebelah Timur adalah bagian dari New Guinea Mobile Belt (Sabuk Mobil New Guinea) dan merupakan campuran dari batuan kraton Australia dan lempeng Pasifik. Akan tetapi. (2005). pada umumnya geologi Papua dapat dibagi ke dalam tiga provinsi geologi besar. sebagai produk dari interaksi antara kedua lempeng. Provinsi Kontinental terdiri atas sedimen yang terpisah dari kraton Australia. Terlepas dari batuan mantel sesar naik yang kemungkinan berumur Mesozoik dan beberapa kerak samudera Jurasik. dan Transisi. Kretasius. bahwa batuan dari kraton Australia pada sebagian besar wilayah ini dicirikan oleh sedimentasi palung (shelf sedimentation). magmatik dan tektonik. 1984) Wilayah Papua Barat sangat berpotensi terhadap gempa tektonik dan kemungkinan diikuti oleh tsunami. seperti Sesar Sorong (SFZ). dan Miosen Pertengahan. Batuan lempeng Pasifik yang terpaparkan di Papua berumur lebih muda. Oseanik.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dari evolusi tektonik menunjukkan. lempeng Pasifik ini terdiri atas volkanik busur-kepulauan dan sub-ordinat kerak samudera berumur Palaeogen. Hanya sebagian kecil yang dipengaruhi oleh proses tektonik dari zaman Paleozoik Awal hingga Tersier Akhir. Kenyataan menunjukkan pula. Dari paparan di sepanjang tepi Utara dan dari eksplorasi permukaan bawah (sub-surface) di sebelah Selatan. Batuan lempeng Pasifik pada umumnya letak-datar terpatah hanya oleh beberapa patahan. Sesar Ransiki (RFZ). dan periode tektonik intens dari zona deformasi di sisi lainnya (New Guinea Mobile Belt). Setiap provinsi geologi memiliki karakteristiknya sendiri dalam sejarah stratigrafik.

Sedimentasi Senosoil Akhir.1. (3).5. WO = Weyland Overthrust. menunjukkan bahwa stratigrafi wilayah Papua Barat terdiri atas: (1). TAFZ = Tarera-Aiduna Fault Zone. Tanda panah menunjukkan gerakan relatif antara lempeng Pasifik dan Australia 1. Stratigrafi Lempeng Pasifik. Paleozoic Basement. (4).2 Stratigrafi Dari berbagai publikasi yang dikompilasi Sapiie (2000). Sedimentasi Mesozoik hingga Senosoik. MO = Misool-Onin High. (2). dan (5). WT = Waipona Trough.8 Setting Tektonik Papua Keterangan: MTFB = Mamberamo Thrust & Fold Belt.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. LFB = Lengguru Fault Belt. RFZ = Ransiki Fault Zone. YFZ = Yapen Fault Zone. LAPORAN AKHIR 1-20 . Stratigrafi Zone Transisi. SFZ = Sorong Fault Zone.

Kelompok Kembelangan terdiri LAPORAN AKHIR 1-21 . Formasi Kelompok Kembelangan Kelompok ini diketahui terbentang mulai dari Papua Barat hingga Arafura Platform. Formasi ini diketahui berada di tepi Utara Papua Barat dan terdiri atas tiga formasi. (slate). kelompok ini tidak mengalami metamofosa. batulumpur Aifat dan formasi Ainim. Formasi ini dicirikan oleh batuan berwarna merah terang dengan sedikit bercak hijau muda. batuan sedimen paparan airKelompok Aifam digunakan untuk mendeskripsikan dangkal. Formasi Kemoem ditutupi oleh kelompok Aifam. yaitu formasi Aimau.9 Stratigrafi Pulau Papua (Sapiie. b. a. Sedimentasi Mesizoik hingga Senosoik Formasi Tipuma Formasi Tipuma tersebar luas di Papua. Paleozoic Basement Blok terluas dari strata Paleozoik berada di Timur Laut Papua Barat yang dikenal dengan Kemum High atau formasi Kemoem yang terdiri atas sabak. Di daerah Papua Barat. Di daerah Teluk Bintuni. Filitik (Phylliic) dan sedikit kuartzit (quartzite). Bagian atas dari kelompok ini disebut formasi Jass. 2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. namun di Leher Burung terjadi deformasi kuat dan termetamorfosa. mulai dari Papua Barat hingga dekat perbatasan di sebelah Timur. 2000) 1. formasi Tipuma ditutupi oleh kelompok Aifam. Formasi ini tercampur oleh granit-biotit karboniferus (Melaiurna Granite).

Formasi Fumai Eosen. Pulau New Guinea dicirikan oleh pengendapan (deposisi) karbonat yang dikenal sebagai Kelompok Batu Gamping New Guinea (NGLG). Di Papua. Kelompok batuan ini diklasifikasikan sebagai zone transisi atau peralihan. (3). Kelompok ini berada di atas Kelompok Kembelangan dan terdiri atas empat formasi. Formasi Batu Gamping New Guinea Selama masa Cenozoik. Stratigrafi Lempeng Pasifik Pada umumnya batuan lempeng Pasifik terdiri atas Batuan asal penutup (mantle derived rock). pulau Yapen dan pegunungan Cycloop. (3) Formasi Sirga Eosin Awal. Pegunungan Cycloop. 3. Satuan ini disebut Formasi Hollandia dan tersebar luas di Waigeo. Umur kelompok ini berkisar dari Miosen Awal hingga Pliosen. Formasi Klasaman dan Steenkool berturut-turut dijumpai di cekungan Salawati dan Bintuni.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 atas antarlapis batudebu dan batulumpur karboniferus pada lapisan bawah batupasir kuarsa glaukonitik butiran-halus serta sedikit shale pada lapisan atas. dan mutu-tinggi metamorfik. 5. Wilayah Papua secara umum terdiri dari dua dataran “Dataran Grime” dan “Dataran Sekoli”. Sedimentasi Senosoik Akhir Sedimentasi Senosoik Akhir dalam basement kontinental Australia dicirikan oleh sekuensi silisiklastik yang tebalnya berkilometer. Formasi Waripi Paleosen hingga Eosen. 4. Stratigrafi Zone Transisi Konvergensi antara lempeng Australia dan Pasifik menghasilkan batuan dalam zone deformasi. Pulau Waigeo. batuan asal penutup banyak dijumpai luas sepanjang sabuk Ophiolite Papua. Formasi Kais Miosen Pertengahan hingga Oligosen. Kelompok ini berhubungan dengan formasi Waripi dari kelompok Batuan Gamping New Guinea atau New Guinea Limestone Group (NGLG). yaitu formasi Klasaman dan Steenkool. plutonil basik. (2). dan (4). yaitu (1). Di Papua dikenal 3 (tiga) formasi utama. kurang lebih pada batas Cretaceous dan Cenozoik. c. Formasi Imskin. yang terutama terdiri atas batuan metamorfik. volkanis pulau-arc (island-arc volcanis) dan sedimen laut-dangkal. dua di antaranya dijumpai di Papua Barat. Utara Pegunungan Gauttier dan sepanjang zone sesar Sorong dan Yapen pada umumnya terbentuk oleh batuan ultramafik. berada di atas strata karbonat Miosen Pertengahan. Kedua dataran ini menyatu sebagai suatu dataran luas yang membujur ke arah Barat daya Danau Sentani. Batuan metamorfik ini membentuk sabuk kontinyu (>1000 km) dari Papua hingga Papua New Guinea. Biak. Dataran ini memanjang dari Timur ke arah Barat dengan lebar LAPORAN AKHIR 1-22 . Sedimen dalam lempeng Pasifik dicirikan pula oleh karbonat laut-dangkal yang berasal dari pulau-arc.

LAPORAN AKHIR 1-23 . menunjukkan bahwa tanah di Dataran Grime dan Dataran Sekori berasal dari hancuran batuan fluviatil sedimen kwarterner. Teras pertama dimulai dari dataran terendah dan termuda. dataran ini membentuk daerah rawa hingga ke arah pantai. Menurut Schroo (1963). namun tidak jelas perkembangannya. di sebelah Timur sungai Grime terletak teras ke-5. Di batas Utara dari teras ke-5. dan bergelombang lemah. Hal ini dapat dipahami karena secara regional. Lebih lanjut Schroo (1961). menyatakan bahwa adanya ketinggian (elevasi) yang berselang-seling di seluruh daerah tersebut menyebabkan sungai-sungai memotong sedimen ini.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bentangan yang hampir sama. Selama periode ini dataran banjir terbentuk pada berbagai tingkat. Dataran Grime dan Dataran Sekori merupakan lembah sedimentasi peninggalan zaman tersier yang terisi atas sedimen laut (marin) dan kemudian oleh bahan fluviatil. Juga di sini bentang lahannya tampak seluruhnya datar. Di ujung sebelah Barat. membagi Dataran Grime ke dalam 6 teras utama. Wentholt (1939). kedua teras ini melandai ke arah Utara hingga ke arah Barat laut. berbatasan dengan teras ke-4. Teras-teras ini berumur tua dan berada lebih tinggi serta tampak datar. Daerah teras ini melandai ke arah Barat laut dan kemudian ke arah Utara. terdapat Dataran Sekori yang besar. wilayah Papua Barat terdiri dari dua lempeng. dan batuan sedimen padu (tak terbedakan). pasir lanau). kecuali daerah yang paling Barat oleh Sungai Sarmoai. seluruh lahan yang berada di sebelah Barat Yanim Besar (Braso) dibentuk oleh Sungai Grime dan cabang-cabang sungainya. Zwierzichi (1921) dalam Schroo (1963). Lahan yang berada di sebelah Timur Yanim Besar seluruhnya terbentuk dari material yang berasal dari pinggiran Utara daerah pegunungan Selatan. Di Dataran Sekori ini juga terbentuk teras. Sumbangan cabang-cabang sungai yang berasal dari pinggiran pegunungan Utara relatif kecil. menyatakan bahwa dataran ini terbentuk pada zaman kwarter. Di sebelah tenggara teras terendah ini berakhir dan berlanjut dengan teras ke-2 yang berada kurang lebih 10 m lebih tinggi. Teras ke-3 dan ke-4 menempati sisa dataran di sebelah Barat kampung Janim Besar. dan sedimen marin neogen. Kedua sungai tersebut membawa bahan-bahan yang sama. Berdasarkan stratigrafi ini dapat disimpulkan bahwa wilayah Papua Barat terdiri dari empat ragam formasi batuan utama yaitu Batu gamping atau dolomit. terumbu koral terangkat pleistosin. di mana sisa-sisa daripadanya masih ditemukan sekarang dalam bentuk teras-teras yang luas. batuan sedimen lepas (kerikil. Teras ke-5 ini mencakup dari arah Timur hingga arah garis Utara-Selatan melandai ke aras Utara. Menurut Wentholt (1939). merupakan daerah tertinggi dan tertua yang mengakhiri teras ke-4 dan ke-5 di sebelah Selatan. namun setempat-setempat saja. Wentholt (1939). batuan beku atau malihan. Teras ke-6.

Tektonik Papua Barat diawali pada Permo-Trias. Selain itu.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 yaitu Lempeng Benua Australia di bagian Selatan dan Lempeng Samudera Pasifik di bagian Utara. Batugamping yang berumur eosin-Miosen Tengah. yang berumur Mesozoikum yang disebut sebagai Kelompok Kembelangan. kemudian berbenturan dengan Lempeng Samudera Pasifik pada Orogenesa Melanisia yang mengakibatkan sesar anjak miring ke Utara dan terbentuknya Pegunungan Tengah. bergerak ke arah Utara. yang disebut sebagai Orogenesa Tasman.6 Karakteristik Tanah Pada umumnya.. organisme atau vegetasi.1. dan waktu. yaitu faktor Iklim. Pengaruh secara simultan dari kelima faktor pembentukan tanah tersebut menghasilkan jenis-jenis tanah dan penyebarannya.1. relief atau topografi.6. Sedangkan diantara kedua lempeng adalah Lajur Sesar Anjak dan Lipatan Pegunungan Tengah atau “New Guinea Mobile Belt” (Dow. 1977). 1. sedangkan di Pegunungan Tengah terdiri dari beberapa batuan. sedangkan pada Plistosin terjadi pensesaran anjak miring ke Selatan di bagian Utara. Lempeng Benua Australia tersusun oleh batuan sedimen klastik.3 (Petocz. dan Batuan Sedimen Klastik Plioplistosen. 1977). 1984) Terdapat tujuh Satuan Peta Tanah (SPT) yang dimodifikasikan Petocz (1984) dari Brookfield dan Hart (1971). Pada saat itu Papua-Papua New Guinea mulai melepasakan diri dari Benua Australia. Batuan ultrabasa disebut sebagai ofiolit. bahan induk.10 Peta Geologi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-24 . yaitu berkisar dari lempung liat berdebu hingga liat berdebu.1984). Hal ini sudah barang tentu akan mengganggu pertumbuhan tanaman. tanah bertekstur berat. Gambar 1. yaitu : 1) di bagian Selatan terdiri dari batuan sedimen yang berumur Mesozoikum sampai tersier yang tersesarkan dan terlipatkan. dan 2) di bagian Utara terdiri dari Batuan Malihan Darewo yang berumur Oligosen (Dow.1 Jenis Tanah Pada umumnya terdapat lima faktor yang mempengaruhi pembentuan tanah. yang disebut sebagai Kelompok Batu Gamping New Guinea. berdampak pula terhadap rendahnya kapasitas infiltrasi (perembesan) tanah sehingga menyebabkan penggenangan air di permukaan tanah terutama di musim penghujan. Lempeng Samudera Pasifik terdiri dari batuan batuan ultramafik dan batuan busur gunung api Paleogen. Kadar liat yang tinggi dapat menyebabkan akar tanaman sulit berkembang. 1. yang berumur Mesozoikum (Dow drr. seperti terlihat pada Peta 2.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Litosol dan Regosol (Entisol) LAPORAN AKHIR 1-25 .

sama dengan Podsolik. FAO/UNESCO (1974). Litosol dan LAPORAN AKHIR 1-26 . Sedangkan jenis tanah Podzolik Podzolik dataran rendah. 1984) berpasir. Tanah ini biasanya berasosiasi dengan tanah Podzol (Spodosol) yang dicirikan oleh horison spodik. Tanah Regosol biasanya mengandung liat dan fragmen batuan lapuk. sedangkan horison penimbunan kaya akan besi dan humus yang disebut horison spodik. kedua tanah ini diklasifikasikan sebagai Regosol sepadan dengan Entisol (Lithic Subgroup). sedangkan menurut FAO/UNESCO (1974). Tanah ini dijumpai sedikit di wilayah pegunungan Kepala Burung dan terutama di Selatan Kordirela (pegunungan tengah). 2. Berdasarkan klasifikasi tanah dari Pusat Penelitian Tanah Bogor (PPT)(1978/1982) dan FAO/UNESCO (1974). Jenis tanah ini dijumpai di jazirah Bomberai. sedangkan menurut Soil Taxonomy (19975/1998). Di Papua Barat. Arfak dan Tamrau. pada umumnya adalah hidro-podzolik yang berkembang pada kondisi drainase buruk pada dataran dan kipas aluvial Pleistosen. Sering pula dijumpai berasosiasi dengan Regosol. Tanah Brown Forest (Inceptisol) Tanah ini berada pada perbukitan dan lereng pegunungan rendah pada sabuk Utara Papua dari bahan induk basik dan batuan kalkareus (kapur) dengan curah hujan sedang. tanah ini dijumpai di pegunungan Wondiwoi. Pada altitut tinggi di mana curah hujannya tinggi. sepadan dengan Litosol. tanah Brown Forest sama dengan Kambisol. Selatan Kepala Burung dan di Utara depresi Meer Vlakte (Lakes-Plain). tanah ini menjadi meningkat kemasamannya. Menurut klasifikasi PPT (1978/1982) dan Inceptisol. terutama pada lereng tidak stabil. Profil tanah pada umumnya dangkal karena ketidakstabilan lereng. sedangkan menurut sistem klasifikasi USDA Soil Taxonomy (1975/1998). walaupun dijumpai pula tanah-tanah bersolum dalam yang relatif stabil dan berdrainase baik pada puncak-puncak bukit dan lereng bagian atas. Tanah Podzolik (Ultisol) Jenis tanah ini berkembang dari bahan induk masam di lereng pegunungan pada elevasi tinggi. sedangkan tanah Litosol berada pada lereng-lereng batuan terjal. tanah Podzolik sepadan dengan Ultisol. Horison permukaan mengalami pelindian hebat yang menghasilkan horison pencucian yang miskin hara dan (Petocz. Menurut klasifikasi PPT (1978/1982) Podzolik sepadan dengan Podsolik atau Kambisol (Podsolik Coklat). Berdasarkan klasifikasi USDA Soil Taxonomy (19975/1998). 3.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Asosiasi jenis tanah ini dijumpai di daerah pegunungan tinggi yang kasar topografinya (2000-4500 m dpl) pada kordirela Tengah (pegunungan tengah) dan Kepala Burung hingga Leher Burung sebelah Utara.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

4. Latosol (ultisol) dan Lateritik (oksisol)
Latosol adalah tanah yang mengalami pelapukan sangat tinggi, terutama di daerah dengan ketinggian rendah di mana dijumpai pula berasosiasi kelompok Lateritik. Lateritik berkembang pada kondisi yang sama dengan Latosol, namun dengan pengaruh hidromorfik karena berasosiasi dengan fluktuasi permukaan air tanah. Selain dijumpai luas di daerah Selatan Papua, Latosol juga dijumpai tersebar di Selatan Kepala Burung hingga ke Leher Burung sebelah Utara dan Selatan serta di kepulauan Raja Ampat. Latosol sepadan dengan Kambisol, Latosol, Lateritik (PPT, 1978/1982), Cambisol, Nitosol, Ferrasol (UNESCO, 1974) dan Iceptisol, Ultisol, oxisol (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998).

5. Rendzina (Molisol)
Pembentukan tanah ini dikendalikan kuat oleh bahan induk. Rendzina berbatu dangkal terdapat pada perbukitan batu gamping dan di sepanjang daerah pantai pada platform koral terangkat yang umumnya bercirikan karst. Tanah ini berkembang baik pada perbukitan antara Teluk Etna dan Arguni, pegunungan Kumawa dan Arfak dan di Barat daya pegunungan Tamrau. Rendzina dijumpai pula pada terumbu koral terangkat barusan muda. Rendzina dicirikan oleh horison permukaan lembab coklat tua, berada di atas bahan berpasir coklat kelabu tua yang berangsur ke dalam bahan koral. Rendzina sepadan dengan Rendzina (PPT, 1978/1982), Rendzina (UNESCO, 1974) dan Rendoll (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998).

6. Aluvial dan Gambut
Pada umumnya jenis tanah ini dijumpai pada semua ketinggian, baik di daerah kering maupun basah. Di daerah kering, dengan tekstur tanahnya kasar dan berdrainase baik dijumpai di dataran landai, dataran banjir mapan, dan kipas aluvial, sedangkan, di daerah basah dengan drainase jelek dijumpai di dataran banjir atau rawa dari aluvium atau gambut. Tanah dengan tekstur halus dan gleisasi kuat akibat drainase jelek selama musim hujan cenderung bereaksi sangat alkalin, berada di dekat pantai dan sungai yang dipengaruhi pasang surut, namun semakin ke menjauhi pantai semakin meningkat kemasaman tanahnya. Tanah gambut dataran rendah dijumpai luas di Utara dan Selatan teluk Bintuni, serta gambut pegunungan dalam luasan yang kecil berada di sekitar danau Anggi Gita dan Anggi Giji. Tanah Aluvial sepadan dengan tanah Aluvial (PPT, 1978/1982), Fluvisol (UNESCO,1974) dan Entisol, Inseptisol (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998). Tanah gambut menurut USDA Soil Taxonomy (1975/1998), sepadan dengan Histosol.

LAPORAN AKHIR 1-27

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

7. Tanah Salin
Tanah salin atau tanah garaman (salty soils) biasanya bertekstur halus, berdraenase jelek karena dipengaruhi pasang surutnya air laut, serta bahan liat marin termasuk di dalamnya. Vegetasi khas dari tanah ini adalah mangrove dan nipah. Tanah Salin berkembang baik di sepanjang pantai Selatan mulai dari pulau Kimaam hingga teluk Etna dan di Selatan Kepala Burung dan Teluk Bintuni. Tanah ini menunjang pertumbuhan habitat mangrove terluas di Indonesia. Tanah Saline menurut USDA Soil Taxonomy (1975/1998), sepadan dengan Entisol (Sulfaquent) dan Inseptisol (sulfaquept). Persebaran jenis-jenis tanah di Propinsi Papua Barat dapat dilihat pada Gambar 1.11: Tekstur Tanah Pada umumnya, tanah bertekstur berat, yaitu berkisar dari lempung liat berdebu hingga liat berdebu. Kadar liat yang tinggi dapat menyebabkan akar tanaman sulit berkembang. Selain itu, berdampak pula terhadap rendahnya kapasitas infiltrasi (perembesan) tanah sehingga menyebabkan penggenangan air di permukaan tanah terutama di musim penghujanan. Hal ini sudah barang tentu akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Untuk tujuan penanaman kakao, maka drainase permukaan maupun drainase internal sangat perlu diperhatikan, jika ingin memperoleh pertumbuhan dan produksi kakao yang baik. Untuk menanggulangi drainase yang jelek, maka perlu dibuatkan selokan-selokan drainase berukuran kecil hingga sedang serta cukup dalam agar kelebihan air dapat dikeluarkan, sehingga tanahnya selalu dalam keadaan kering (lembab) dan tidak jenuh air. Selain itu, agar pertumbuhan akar tanaman kakao tidak terhalang oleh lapisan liat yang kompak, maka perlu digali lubang tanaman yang cukup besar dan dalam. 1.1.6.2 Reaksi Tanah Pada umumnya, tanah bereaksi alkali hingga sangat alkali dengan kisaran pH rata-rata 7,0 – 7,8. Semakin dalam tanahnya semakin tinggi reaksi tanah, bahkan tidak jarang mencapai pH=8,0 atau lebih. Tingginya pH tanah ini disebabkan karena tingginya kadar kalsium tanah (kapur) yang terbawa bersama bahan endapan sungai yang berasal dari pegunungan dan perbukitan kapur di sekitarnya. Reaksi Tanah demikian menyebabkan sebagian besar unsur-unsur hara makro (N, P, K) dan mikro (Fe, Zn, Mn, B, Cu) berada dalam keadaan tidak tersedia bagi tanaman. Apabila reaksi tanah mencapai pH=8,0 atau lebih akan menyebabkan tanaman sulit menyerap fosfat dan unsur-unsur mikro.

LAPORAN AKHIR 1-28

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Pada saat penelitian dijumpai pertanaman kacang tanah milik masyarakat di Kampung Pobaim yang menunjukkan gejala kekuningan pada daun-daun muda. Gejala kekuningan ini diduga kuat karena kahat akan beberapa unsur mikro. Gejala klorosis ini diistilahkan sebagai “Klorosis Terimbaskan Kapur” (Lime Induced-Chlorosis), suatu gejala kekahatan hara yang biasanya muncul di tanah-tanah berkapur. Kation-Kation Tersedia Kation tersedia yang diukur adalah Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Kalium (K). Kadar Ca dan Mg tersedia pada umumnya sedang hingga sangat tinggi. Hal ini mengisyaratkan bahwa kebutuhan tanaman akan Ca dan Mg cukup memadai sehingga tidak perlu diberi pupuk dengan kedua unsur tersebut. Pada kadar Ca yang sangat tinggi seperti dijumpai di beberapa tempat justru mengganggu pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, K tersedia tergolong rendah hingga sangat rendah sehingga pemupukan K sangat diperlukan agar mendapatkan produksi tanaman yang baik. Dalam hal tanaman tahunan seperti kakao, maka pemupukan kalium setidaknya dilakukan setiap tahun. Hasil analisis mineral tanah juga mencerminkan rendahnya kadar K tanah. Mineral tanah penyumbang kalium dari jenis kalium-veldspat yang telah hancur menunjukkan status kalium tanah yang jelek. Fosfor Tanah Kadar fosfat tersedia tergolong agak tinggi hingga sangat tinggi. Hampir semua contoh tanah menunjukkan adanya mineral primer apatit penyumbang fosfat yang tergolong sporadis (<1%) hingga beberapa persen saja. Dari pengalaman membuktikan bahwa walaupun jumlahnya sangat sedikit atau sporadis (<1%), nilai fosfat tersedia biasanya tinggi. Dengan demikian unsur hara fosfor dianggap cukup bagi kebutuhan tanaman, sehingga pemupukan P tidak diperlukan selama beberapa waktu tanam. Fosfat dan Kalium Total Kadar fosfat dan kalium total mencerminkan cadangan hara tersebut dalam tanah. Pada umumnya, kadar fosfat total berkisar dari Sedang hingga Tinggi sehingga tidak mengkhawatirkan. Tampaknya kandungan fosfat total dan fosfat tersedia berkorelasi positif sehingga memperkuat dugaan bahwa kadar fosfat cukup bagi kebutuhan tanaman. Kadar kalium total berkisar dari agak rendah hingga sedang. Ini berarti bahwa cadangan kalium tanah tidak memadai bagi suatu usaha pertanian, sehingga diperlukan pemupukan untuk mempertahankan kadar kalium tanah. Bahan Organik Tanah Kadar karbon (C) organik tanah mencerminkan kadar bahan organik tanah. Bahan organik sangat penting karena berpengaruh terhadap perbaikan sifat fisika dan kimia tanah. Bahan organik membantu granulasi dan penstabilan agregat tanah sehingga memperbaiki retensi LAPORAN AKHIR 1-29

struktur tanah dan ada tidaknya lapisan kedap dalam tanah serta kemiringan lereng. Struktur mempengaruhi drainase tanah karena struktur tanah menentukan proporsi ukuran pori tanah. Tanah dapat mempunyai drainase baik atau jelek tergantung pada kondisi internal dalam tanah seperti tekstur tanah. dimana drainase jelek atau terhambat biasanya terdapat pada tanah yang relatif datar atau daerah LAPORAN AKHIR 1-30 . Untuk menanggulangi kekurangan bahan organik dapat dilakukan dengan pemberian pupuk kandang. Selain itu.6.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 air tanah. sedangkan perkolasi air dalam tanah ditentukan oleh ada atau tidaknya lapisan kedap. semakin kecil tekstur tanah semakin kuat memegang air demikian pula sebaliknya. sebab tekstur tanah menentukan kemampuan tanah memegang air. Pada umumnya kadar C organik tanah tergolong rendah. namun demikian ada juga tanaman yang toleran terhadap drainase tanah yang jelek. Drainase tanah penting diperhatikan sebab drainase tanah mempengaruhi lingkungan perakaran tanaman yaitu keadaan air dan udara tanah. Tanaman pada umumnya tumbuh dan berkembang dengan baik apabila drainase tanah baik. kompos.1. bahan organik meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK). kedalaman tanah merupakan faktor pembatas bagi penggunaan tanah untuk tanaman. Adapun kondisi kedalaman tanah di Tanah Papua dapat dilihat pada Gambar 1. Kemiringan lereng mempengaruhi drainase.3 Kedalaman Tanah Di samping jenis tanah. Tidak kalah pentingnnya adalah dengan adanya bahan organik akan sangat berdaya terhadap biologi tanah. dan menanam penutup tanah (seperti Pueraria javanica atau Calopogonium mucunoides) terutama pada pertanaman kakao. meningkatkan laju infiltrasi dan kapasitas memegang air. 1. Drainse tanah merupakan cerminan terhadap kondisi tata air baik di dalam tanah maupun di permukaan tanah.12 Peta Kedalaman Tanah di Tanah Papua. Hal ini mengisyaratkan bahwa peningkatan dan perlindungan bahan organik tanah sangat penting dilakukan.4 Kondisi Drainase Tanah Drainase tanah merupakan salah satu parameter penentu dalam penilaian kualitas/karakteristik lahan. 1.1. Hal tersebut berkaitan dengan volume tanah yang dapat dijelajahi oleh akar tanaman.6. Tekstur tanah mempengaruhi drainase. yang berarti pula meningkatkan kemampuan menyerap kation unsur hara makro dan mikro sebagai sumber hara.

13.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Untuk jelasnya mengenai kondisi cekungan bukan di daerah yang berlereng curam.11 Peta jenis tanah dan penyebarannya LAPORAN AKHIR 1-31 . drainase tanah di Tanah Papua dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1.

12 Peta Kedalaman Tanah LAPORAN AKHIR 1-32 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.13 Peta Drainase Tanah LAPORAN AKHIR 1-33 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

1.1.7

Hidrologi

Tinjauan terhadap sumberdaya air sangat urgen sifatnya dilakukan guna memahami potensi, bentuk penguasaan, penggunaan, dan kesesuaian pemanfaatan sumberdaya air. Keberadaan sungai yang wilayah alirannya (DAS) di lebih dari satu wilayah administratif menjadikan sungai menuntut sistem pengaturan yang spesifik. Wilayah Provinsi Papua Barat dilewati beberapa sungai yang tersebar di beberapa wilayah kabupaten/kota. Dari sungai besar di Papua Barat sebagian besar mengalir di wilayah pengembangan Sorong. Sungai-sungai tersebut menjadi sebuah sistem daerah aliran sungai yang mengalir sepanjang tahun. Potensi sumberdaya sungai terbesar di Papua Barat disajikan dalam Tabel 1.11 berikut ini. Tabel 1.11 Nama, Panjang, Lebar dan Kecepatan Arus Sungai menurut Kabupaten/Kota
Wilayah Pengembangan WP Manokwari WP Sorong Nama Sungai Panjang (Km) Lebar (m) 80-350 60-700 80-2.700 80-350 140-1200 40--250 40-1300 40-2.200 30-40 50-125 45-1250 20-25 50-570 40-700 200-800 Kecepatan (Km/jam) 1,26 2,95 3,06 1,26 2,7 2,88 2,88 0,9 0,9 2,52 3,06 0,9 0,9 1,62 2,7

Laore 163 Beraur 360 Kaibus 200 Kais 184 Kamundan 425 Aifat 174 Karaora 230 Minika 225 Remu 17 Sebak 267 Seramuk 229 WP Fakfak Umbawa 280 Uta 246 Warsamsan 320 Muturi 428 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009

Sungai-sungai besar hingga kecil yang berasal dari wilayah pegunungan di bagian tengah Kepala Burung yang mengalir ke arah dataran rendah (berawa) dan bermuara di Teluk Bintuni. Selain itu, terdapat pula sejumlah sungai yang mengalir ke arah Selatan dan bermuara di pantai Selatan pada dan pantai Utara. Beberapa sungai besar yang bermuara di Teluk Bintuni adalah Sungai Arandai, Wiryagar, Kalitami, Seganoi, Kais, Kamundan, Teminabuan, Sermuk, Maambar, Woronggei dan Sanindar. Selain sungai juga dijumpai danau di daerah pegunungan, yaitu Danau Anggi Giji dan Anggi Gita serta Danau Ayamaru.

LAPORAN AKHIR 1-34

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Di Provinsi Papua Barat terdapat beberapa sungai yang membentuk beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS). Sebagian besar Daerah Aliran Sungai yang terbentuk adalah pada kabupaten-kabupaten di Wilayah Pengembangan Sorong. Sungai-sungai yang termasuk dalam kategoti terpanjang adalah Sungai Kamundan (425 km), Sungai Beraur (360 km), dan Sungai Warsamsan (320 km), sedangkan sungai-sungai yang termasuk kategori terlebar adalah Sungai Kaibus (80-2700 m), Sungai Minika (40-2200 m), Sungai Karabra (40-1300 m), Sungai Seramuk (45-1250 m), dan Sungai Kamundan (140-1200 m). Sungaisungai ini sebagian besar terletak di kabupaten-kabupaten di Wilayah Pengembangan Sorong. Berdasarkan data-data pada tabel di atas, beberapa sungai yang memiliki kecepatan arus paling deras antara lain adalah Sungai Seramuk (3,06 km/jam), Sungai Kaibus (3,06 km/jam), Sungai Beraur (2,95 km/jam), Sungai Aifat (2,88 km/jam), dan Sungai Karabra (2,88 km/jam). Sungai-sungai tersebut terletak pada Wilayah Pengembangan Sorong. Secara garis besar, daerah tangkapan sungai (catchment area) di Provinsi Papua Barat dapat dibagi ke dalam dua satuan wilayah sungai (SWS). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.12 dan Gambar 1.14 tentang Peta Hidrologi. Tabel 1.12 Pembagian Satuan Wilayah Sungai di Provinsi Papua Barat
Kabupaten T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari T. Wondama T. Wondama T. Wondama T. Wondama Kaimana, Nabire Kaimana Kaimana Kaimana Kaimana, Fak Fak Fak Fak, Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak, T. Bintuni Sorong Selatan, Manokwari Manokwari, Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan, Sorong Sorong Selatan, Sorong WS B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar Nama Das Wasian Sebyar Kasi Mangopi Prafi Maruni Masawui Ransiki Windesi Wasimi Wondiwoi Woworama Omba Laenatum Lengguru Berari Madefa Karufa Bedidi Fak Fak Bomberai Wariagar Kamundan Kais Sekak Waromga Seremuk Karabra Luas (Km2) 4.851,000 12.981,400 693,200 1.917,200 1.169,300 193,320 111,110 584,300 23,560 617,400 172,820 279,700 8.610,200 379,500 1.870,000 1.029,900 4.605,570 477,400 1.355,600 88,760 2.033,300 6.720,000 9.732,250 4.232,740 830,700 810,430 884,600 5.989,230

LAPORAN AKHIR 1-35

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten WS Nama Das Luas (Km2) Sorong Selatan, Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Kladuk 3.131,150 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Klasegun 848,510 Raja Ampat B-50 Kamundan-Sebyar Misol 848,160 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Salawati 368,910 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Samate 82,000 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Batanta 69,490 Raja Ampat B-50 Kamundan-Sebyar Waigeo 598,160 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Remu 46,440 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Warsamson 2.437,131 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Mega 1.048,340 MANOKWARI B-50 KAMUNDAN-SEBYAR MAON 682,300 Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Wesauni 626,933 T. Bintuni B-50 Kamundan-Sebyar Kasuari 1.971,850 T. Bintuni B-50 Kamundan-Sebyar Wagura 1.799,100 T. Wondama B-50 Kamundan-Sebyar Arumasa 2.497,000 T. Bintuni, Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Muturi 5.381,300 Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air, Jayapura 2005.

Tabel 1.13 Debit Sungai Dirinci Menurut DPS di Provinsi Papua Barat
No No. DPS 1 17 2 18 3 19 4 20 5 21 6 22 7 23 8 24 9 25 10 26 11 27 12 28 13 29 14 30 15 31 16 32 17 33 18 34 19 35 20 36 21 37 22 38 23 38 a 24 39 25 40 26 41 27 42 28 43 29 44 30 45 31 46 32 47 33 48 34 49 NAMA DPS Omba Laenatum Lengguru Berari Madefa Karufa Bedidi Fak Fak Bomberai Kasuari Wagura Arumasa Muturi Wasian Sebyar Wariagar Kamundan Kais Sekak Waromga Seremuk Karabra Kladuk Klasegun Misol Salawati Samate Batanta Waigeo Remu Warsamson Mega Koor Maon SWS B - 49 B - 49 B - 49 B - 49 B - 50 B - 49 B - 49 B - 49 B - 49 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 Catchments Area (Km2) 8,610.200 379.500 1,870.000 1,029.900 4,605.570 477.400 1,355.600 88.760 2,033.300 1,971.850 1,799.100 2,497.000 5,381.300 4,851.000 12,981.400 6,720.000 9,732.250 4,232.740 830.700 810.430 884.600 5,989.230 3,131.150 848.510 848.160 368.910 82.000 69.490 216.500 46.440 2,437.131 1,048.340 1,202.800 682.300 Qn (m3/s) 316.919 29.086 141.454 96.869 374.730 38.903 107.968 11.747 146.870 142.232 165.546 127.979 476.337 364.562 825.032 432.319 796.177 221.554 46.634 50.282 58.182 302.739 195.716 58.497 53.437 27.064 6.183 5.338 13.309 4.721 147.467 120.947 140.594 104.163 KABUPATEN Kaimana, Nabire Kaimana Kaimana Kaimana Kaimana, Fak Fak Kaimana, Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak, T. Bintuni T. Bintuni T. Bintuni T,Wondama T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari Sorong Selatan, Manokwari Manokwari, Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan, Sorong Sorong Selatan, Sorong Sorong Sorong Raja Ampat Sorong Sorong Sorong Raja Ampat Sorong Sorong Sorong Sorong Manokwari

LAPORAN AKHIR 1-36

Wondama 45 60 Woworama B . Bintuni 09 Anggi Gigi 21. dan disebut sebagai ground water.50 1. menyusul Asmat 951.300 76.300 161.024 Kaimana 05 Kamakawalor 23.169.958 Manokwari 41 56 Ransiki B .883 Manokwari 37 52 Mangopi B .153 Manokwari 42 57 Windesi B .700 30.400 45.50 617.Wondama Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air. air tanah di bawah permukaan bumi pada kedalaman lebih dari yang tersebut di atas.916 Kaimana 07 Makiri 7.640 Tel. Luas areal yang meliputi air tanah dalam terbesar di Kabupaten Digul yakni 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 No No. Jayapura 2005. Ground water. Selain sungai.960 Manokwari 38 53 Prafi B .740 Kaimana 03 Urema 12.50 0.320 25.000 128. Kedua.830 Manokwari 11 Ayamaru 10.14. 12 Hain 4.596 Sorong Sel.974 T. Sumber: Dinas PU (2003).50 23.816 T. Biasa juga disebut sebagai air aquifer.648 Manokwari 36 51 Kasi B .50 584. Bintuni 08 Tanemot 17.814 Manokwari 39 54 Maruni B .50 279.240 Kaimana 02 Laamora 16.796.50 172.Wondama 44 59 Wondiwoi B .370 Manokwari 10 Anggi Gita 22.200 222. danau juga merupakan sumber air permukaan potensil.560 3. Tabel 1.131 ha (62.933 108.110 18.527 Tel. Studi Aplikasi SWS di Tanah Papua Potensi Air Tanah Air tanah mengandung dua pengertian.917.Wondama 43 58 Wasimi B .854 T.129 Manokwari 40 55 Masawui B .50 193.50 626.50 1.2 %).574 T.820 18. Di Papua Barat potensi air tanah dangkal cukup signifikan terdapat di Kabupaten Sorong Selatan (40 %).340 Kaimana 06 Berari 6. Pertama air tanah yang terkandung dalam tanah hingga batas kedalaman perakaran pada umumnya tanaman atau pada solum tanah dan disebut sebagi kandungan lengas tanah atau soil moisture. Informasi selengkapanya di sajaikan pada Tabel 1.14 Luas dan Penyebaran Danau di Tanah Papua No Nama Danau Luas (Ha) Kabupaten 01 Aiwasa 10. Di Provinsi Papua Barat terdapat 12 danau besar dan kecil yang tersebar di empat kabupaten/kota.50 111.872 ha LAPORAN AKHIR 1-37 .600 Kaimana 04 Mbula 6. Potensi air tanah dalam sangat signifikan di bebrapa kabupaten di Provinsi Papua baik dilihat dari luasan maupun luasan relatifnya. DPS NAMA DPS SWS Catchments Area (Km2) Qn (m3/s) KABUPATEN 35 50 Wesauni B .850 Sorong Sel.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 (49.457.766 944.091 LAPORAN AKHIR 1-38 . dan Mimika (458.457 49.071 806 110 2 Kab.278 237.653 602 8 Kab.058 Provinsi Papua Barat 9.324 181.530 391.184 13.242 9 Kab.158 256.359 650. Teluk Bintuni 1. hanya Kabupaten Teluk Wondama yang secara relatif signifikan yakni 33 %.2 %). Jayapura 2005.15 Distribusi Luas Areal Air Tanah (Ground Water) Menurut Kabupaten di Tanah Papua No AT Dlm dan Perairan Sedang 1 Kota Sorong 33.320 6 Kab.174 77. Raja Ampat 741.133.793 241.857 ha (20.644 4 Kab.041 372.740 3.897 30.843 1. Di Provinsi Papua Barat.122 11. Teluk Wondama 500. Mappi 778.668 1. Sorong 1.637 164. Kaimana 1.230.304 61.1 %).636 1.421 263.462 27.757 531.910 5 Kab. Sorong Selatan 1.661.004 10.241 2. Tabel 1.037 651. Penyebaran tersebut dapat pula dilihat pada Gambar 1. Fak Fak 935.8 %).154.957.195 1.752 721.15.698 1. KABUPATEN Luas Wilayah AT Dangkal Tanpa AT 29.455 270.706.637 6.000 ha.467 166.123 3 Kab.080.326.098 1. namun secara mutlak kecil karena hanya mencakupi lahan seluas 165. Manokwari 1.815 115.927.916 Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air.588 680.907 7 Kab.941 89.15.432 ha (28.029 116. Penyebaran lokasi air tanah diperlihatkan pada Tabel 1.495.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.14 Peta Hidrologi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-39 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.15 Peta Air Tanah LAPORAN AKHIR 1-40 .

Oleh karena itu. atau pada saat-saat tertentu disebabkan oleh gempa di dasar laut. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Pengamatan gelombang di perairan Papua relatif masih belum banyak dilakukan. pasang surut juga merupakan parameter oseanografi lain yang penting sebagai pembangkit arus di pantai. Kisaran pasang surut (tidal range) adalah perbedaan tinggi muka air pada saat pasang maksimum dengan tinggi muka air pada saat surut minimum yang juga dipengaruhi oleh geometrik wilayah yang bersangkutan. Selain gelombang.8. pertumbuhan tersebut akan mengikuti daerah eksisting. Arus pasang surut yang terkuat akan ditemui di dekat permukaan dan akan menurun kecepatannya semakin mendekati dasar perairan. dengan tipe pasut ganda campuran.8 Karakteristik Hidro-Oseanografi Sebagian besar kota dan kabupaten-kabupaten di Provinsi Papua Barat yang sudah ada tumbuh dan berkembang di tepi laut. Hasil penelitian Pusat Riset Teknologi Kelautan. Kisaran pasang surut di perairan Papua mencapai 3 .6 meter. Namun demikian sesungguhnya terdapat hubungan antara angin musim dan pola gerakan gelombang. maka akan terbentuk arus menyusur pantai (longshore current) yang disebabkan oleh perbedaan teknan hidrostatik. Pola arus pantai ini terutama ditentukan oleh besarnya sudut yang dibentuk antara gelombang yang datang dengan garis pantai. Departemen Kelautan dan Perikanan tanggal 30 Juni–6 Juli 2005 menunjukkan bahwa tinggi gelombang di wilayah kajian berkisar antara 0. Arus yang disebabkan oleh pasut ini dipengaruhi oleh dasar perairan.1 Aspek Fisik Perairan Naik turunnya muka laut dapat terjadi sekali sehari (pasut tunggal atau diurnal tide) atau dua kali sehari (pasut ganda atau semi diurnal tide). Gelombang laut terbentuk karena adanya proses alih energi dari angin ke permukaan laut. sedangkan pasut yang berperilaku di antara keduanya disebut sebagai pasut campuran.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.1. 1.1. Gelombang yang datang menuju pantai dapat menimbulkan arus pantai (nearshore current) yang berpengaruh terhadap proses sedimentasi ataupun abrasi di pantai. Jika sudut datang cukup besar.2–1. Gelombang ini merambat ke segala arah dengan membawa energi yang kemudian dilepaskan ke pantai LAPORAN AKHIR 1-41 . Kecenderungannya.2 m. dalam dokumen perencanaan perlu adanya kajian dan pertimbangan dari segi karakteristik hidro-oseanografi yang mencakup aspek fisik perairan dan aspek kimia perairan. dalam bentuk hempasan ombak.

Kecepatan naiknya tampaknya kecil. yaitu C lebih rendah dari musim Barat.0006 cm/detik. Bishop (1984) menyatakan bahwa gaya yang berperan dalam sirkulasi masa air adalah gaya gradient tekanan. upwelling terjadi di Laut Arafura (Wyrtki. diperkirakan 0. gaya coriolis. Pola arus perairan Papua menurut P30-LIPI Ambon tahun 1992 bahwa pola arus dipengaruhi oleh pasang surut. dimulai sekitar bulan Mei sampai kira-kira bulan September. Demikian pula kandungan fosfat dan nitrat masing-masing naik dua kali lipat. Karena pada saat tersebut angin musim Timur mendorong keluar air permukaan Laut Arafuru dengan laju yang lebih besar daripada yang dapat diimbangi oleh air permukaan sekitarnya. Tetapi ini mempunyai arti besar. Air naik di laut tersebut terjadi pada musim Timur. Karena massa air bawah permukaan pada umumnya lebih kaya zat hara dibandingkan dengan lapisan permukaannya. sedangkan salinitas lebih tinggi 1 per mil. Di perairan Papua. Air yang naik ini bersumber dari kedalaman sekitar 125 – 300 m yang menyusup dari Lautan Pasifik. maka menaiknya massa air tersebut akan menyuburkan kawasan permukaannya. arus periodik. LAPORAN AKHIR 1-42 . 1958). Keadaan ini dipengaruhi dipengaruhi oleh keadaan rataan dan sedimentasi di pesisir pantai. dimana kecepatan arus rata-rata pada waktu pasang dan surut 7 – 8 cm/ det di daerah pesisirnya. akibatnya air yang berada di lapisan bawahnya terangkat naik untuk mengisi kekosongan tersebut.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Arus adalah gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horisontal dan vertikal masa air oleh perbedaan energi potensial. gaya gravitasi. dan waktu pasang 11 cm/det. gaya gesekan. Keadaan arus laut umumnya terjadi akibat pengaruh beberapa gaya yang bersamaan yang terdiri dari arus tetap. Akibat dari naiknya massa air ini adalah suhu permukaan menjadi lebih rendah. karena dengan adanya volume air yang terangkat di daerah ini bisa mencapai 2 juta m3/detik. dan gaya sentrifugal. (pasut) dan arus angin. Upwelling adalah menaiknya massa air laut dari lapisan bawah permukaan (dari kedalaman (150 – 250 m) karena proses fisik perairan.

Wilayah perairan Selatan Papua merupakan perairan yang memiliki karakteristik massa air yang agak berbeda dengan perairan wilayah Indonesia lain.12 .39 µg-A/l dengan rataDinginnya suhu permukaan di musim Timur tersebut cenderung membuat perairan cenderung lebih subur yaitu dengan adanya LAPORAN AKHIR 1-43 .51 ml/l dengan ratarata 3.17 ml/l. sedangkan musim Timur puncaknya terjadi pada bulan Agustus. Hal ini disebabkan oleh letak geografis perairan tersebut yang berdekatan dan lebih terbuka dengan laut Banda. kandungan konsentrasi fosfat berkisar antara 0.16 Ketinggian Gelombang Laut 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.2 Aspek Kimia Perairan Perairan di Papua sangat dipengaruhi oleh dua musim. terutama ikan-ikan pelagis.1. Pada saat musim Barat suhu permukaan laut cenderung lebih panas bila dibanding dengan pada musim Timur. Dari tabel aspek fisik dan kimia adalah sesuatu proses yang dinamis dan sangat tergantung pada musim. kimia. dan biologi perairan pada kedua musim tersebut penyebarannya kisaran nilainya disajikan dalam Tabel 1. 1961. Pada musim Timur kondisi oseanografis perairan ini banyak dipengaruhi oleh massa air dari Laut Banda (Wyrtki. Sifat fisik. dan (b) musim Timur. yaitu : (a) musim Barat. laut Timor dan samudera Hindia.3. Tchernia.16. peningkatan fitoplankton dan zooplankton. 1980). Sedangkan kadar oksigen terlarut (DO) di Perairan Utara dan Selatan berkisar antara 2. Musim Barat puncaknya terjadi pada bulan Februari. Hal ini berpengaruh besar terhadap sebaran klorofil-a dan nutruen serta ikan-ikan pelagis di wilayah tersebut sehingga perairan ini juga dikenal sebagai salah satu daerah penangkapan ikan dan udang.02 .8.4.

5 – 4.0 3 Oksigen (cm3/cm2) 3.0 – 34. Parameter Musim Barat (Februari) Musim Timur (Agustus) 1 Suhu (oC) 28. dan hasil analisis 1.0 30.25 4 Fosfat (µm) 0. hasil interpretasi ETM7.5 – 2.91.0 26.83 .16 Kisaran Nilai Kondisi Fisik.0 – 26.000 500 – 1.5 6 Silikat (µm) 2.5 – 7.000 9 Zoo Plankton (cm3/cm2) 5 .5 5 Nitrat (µm) 0.0 – 4. Dalam hal ini.1 . Penggunaan lahan sekarang (eksisting) memberi gambaran sejauh mana jenis dan tingkat pemanfaatan lahan yang telah dilakukan baik yang bersifat budidaya maupun bukan budidaya.000 Sumber: Netherlands Journal of Sea Research 25 (4): 431-447 (1990). di wilayah Papua Barat perlu diperhatikan adanya berbagai jenis status (penguasaan) tanah sebagai berikut: a.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 rata 1.5 1.0 0.53 µg-A/l.94 µg-A/ serta kadar konsentrasi silikat yang terukur berkisar antara 0.1 – 0.5 2.0.0 – 34.800 200 – 3. Ketersediaan tanah pada dasarnya tidak dilepaskan dengan status atau penguasaannya sekarang. Tabel 1. Tanah negara bebas b. Tanah negara yang dikuasai penduduk LAPORAN AKHIR 1-44 . Kadar konsentrasi nitrat berkisar antara 0. Kimia.5 – 2.5 4.9 Ketersediaan Lahan Ketersediaan tanah atau lahan yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Guna Lahan sebagai suatu rencana dasar memberikan gambaran potensi lahan dan arahan bagi kawasan yang dapat dikembangkan/dibudidayakan atau karena limitasinya tidak dapat dikembangkan sama sekali berdasarkan faktor-faktor fisik dasar.5 – 7.5 7 Klorofil a (mg/m3) Gb 0.5 – 1.10 10 . dan Biologi Perairan Papua No.19 µg-A/l sampai 40.1.34 µg-A/l .5 0.0 8 Fito Plankton (cell/dm3) 200 – 1. Tanah negara yang dibebani. di dalamnya termasuk: • • • • • • • c. Status tanah sekarang pada dasarnya sangat menentukan mudah dan dapat tidaknya suatu bidang tanah dikuasai atau dialihkan penguasaannya oleh pihak ketiga untuk kegiatan tertentu. Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan HPHH Hutan Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) Hutan Suaka Alam (HSA) Hutan Lindung Hutan Produksi Kontrak Karya Kuasa Pertambangan Tanah negara yang telah diperuntukkan d.40 10 Larva Krustasea (Jumlah/m2) 500 – 1.0 – 1.8 2 Salinitas (ppm) 31.8 – 30.

302 Hutan 8.537 7.397 9.548 71.256 5.751 77. Hak Pengelolaan Hak Guna Bangunan k.633 31.001 8.897 4. Misalnya pada kasus TGHK yang tumpang tindih dengan kuasa pertambangan atau Hak Penguasaan Hutan (HPH). Hak Milik Permasalahan yang mencolok adalah sering terjadi ketidaksesuaian antara arahan rencana tata ruang pada suatu lokasi dengan status atau penguasaan tanahnya sekarang terutama untuk tanah negara yang dibebani.887 11.024 14.204 4.159 82.986 Sawah Tegalan 123.884 30.271 8. Tabel 1. Tabel 1.305 14.321 Kebun Campur 42.875 612 3.886 12. Terlebih adanya kabupatenkabupaten bentukan baru menyebabkan pencataan data penggunaan lahan harus dilakukan ulang. Hal ini dapat menjadi masalah jika dikaitkan dengan fungsi kawasan yang ingin dipertahankan (misalnya fungsi hidro-orologis).918 24.17 Penggunaan Lahan di Provinsi Papua Barat Berdasarkan Kabupaten/Kota dan Jenis Penggunaan Tahun 2008 (hektar) Kampung/ Perumahan Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat 10.197 30.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 e.258 24.566 4.738 Total 407.509 4.883 5.024 2.248 Kebun 8. Hak Guna Usaha h.865 12.224 28.214 9. Faktor kondisi fisik Provinsi Papua Barat yang berbukit dengan banyak pulau menyebabkan pencatatan penggunaan lahan relatif lebih sulit dilakukan.606 5. Hak Pakai i. Tanah negara yang dikuasai instansi f. yang pada umumnya mencakup areal yang sangat luas seperti HPH.953 268.988 22.17 menunjukkan data penggunaan lahan di Provinsi Papua Barat yang dibedakan ke dalam beberapa kategori penggunaan lahan. Data tersebut hanya menunjukkan total luas Papua Barat sebesar 1 juta hektar.599 26. j.2 PENGGUNAAN LAHAN Pencatatan data mengenai penggunaan lahan di Papua Barat masih sangat terbatas.838 88. konsesi.248 46.282 6. Hak Milik Adat g.556 29. Data mengenai lahan antara satu dan yang lainnya kerap menunjukkan perbedaan.222 28.950 8. kuasa pertambangan kontrak karya.378 239. 1. Terdapat kemungkinan adanya keterbatasan dalam pencatatan data penggunaan lahan.258 21.791 9.320 Semak 839 Tanah Rusak Lainlain 213.520 LAPORAN AKHIR 1-45 .226 5.686 12.

592 7. Kab.015 Sawah Tegalan 7. Tabel 1.151. Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Papua secara keseluruhan (termasuk Provinsi Papua Barat) berdasarkan (SK.118.00 578. Kab.473 254.546.76 persen. Bintuni 3.199.065.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kebun Campur 2.755 61. Kab.283.1 Kehutanan Potensi hutan di Provinsi Papua sangat tinggi.37 2.412 Kebun 1.496 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Luas pengunaan lain-lain menjadi kategori dengan presentase tertinggi.218 1.800.840 Ha yang terdiri dari Kawasan Hutan seluas 40.921. Manokwari 2.460 121.224.958 Hutan Semak Tanah Rusak Lainlain Total 27.17 Persentase Penggunaan Lahan di Papua Barat tahun 2005 Berdasarkan Jenis 1. fungsi sebagai tegalan mendominasi penggunaan lahan di Papua Barat yaitu mencapai 254. Wondama Luas Wilayah*) 1.480 Ha. Menhutbun Nomor: 891/Kpts-II/1999) adalah sebesar 42.863.496 hektar atau sekitar 22.038 Kampung/ Perumahan Kota Sorong Papua Barat 16. Fungsi perkebunan dan kebun campur kemudian memiliki presentase di bawah fungsi tegalan.00 Hutan+Perairan 1.90 LAPORAN AKHIR 1-46 .678.00 1.01 610. T.700. Di luar kategori lain-lain.197 332.292 123.18 Luas Hutan dan Perairan diProvinsi Papua Barat dirinci Per Kabupaten/Kota Tahun 2005-2008 Kabupaten/Kota 1.564. T. Gambar 1. Munculnya kategori tersebut sebagai yang tertinggi kemungkinan terkait dengan keterbatasan data.800.836 82.716 16.054 117.2.360 Ha dan Kawasan Perairan 1.

00 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Berdasarkan fungsinya.28 2.63 19.600.16 24.34 1.30 0.736.00 1.352.377. Kota Sorong Total 2.58 41. Kab. Fakfak 8.00 1.965.450.653. Akan sangat kritis apabila proses tersebut berlangsung secara terus menerus tanpa upaya penanganan dari Departemen Kehutanan dan Pemda karena menyangkut isu global warming di mana Indonesia memiliki hutan yang mampu menyerap CO2 sedangkan kondisi sekarang ini.850. Kab. Kaimana 9.27%. Hutan di Papua Barat diklasifikasikan menjadi 9 kategori.00 608. Raja Ampat 7. Taman Nasional 0. Pembalakan liar dan issu illegal logging yang berkembang adalah satu hal yang selalu terjadi.00 31.27 0.601.75 17.00 LAPORAN AKHIR 1-47 .726.700. Cagar Alam 24.17 % 1.50 686.202.02 0.00 1.199. Suaka Margasatwa 0.146.05 1.000.64 19. Hutan di wilayah ini memiliki fungsi sebagai kawasan konservasi terdiri dari kawasan Hutan Lindung sebesar 17.25 2.934. Sorong 5. Kab.994.339. Kab.503.00 11.17 100. Dan sebagai hutan produksi baik yang terbatas maupun dapat dikonversi adalah sekitar 56%. terlihat memprihatinkan.960.17 4.072.45 2.379.726.59 33.58 0.718.641.199.74 64.199.432.003.98 1.10 1.945.02%.53 1.58%.000.634.41 11. Tabel 1.84 19.83 11.138.665.27 16.224.786.84 1.27%.721.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 724. Fungsi-fungsi ini tentu apabila dilihat di lapangan tidak demikian nyata.19 Luas dan Prosentase Hutan berdasarkan Fungsi Hutan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Fungsi Hutan APL (Area Penggunaan lain) HL (Hutan Lindung) HP (Hutan Produksi) HPT (Hutan Produksi Terbatas) HPK (Hutan Produksi dapat dikonversi) CA (Cagar Alam) SM (Suaka Margasatwa) TN (Taman Nasional) TW Perairan Grand Total Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Luas (Ha) 196.979.385. Kab. Sorong Selatan 6.885.

681.70 320.96 1.787.290.503.75 Jumlah Hutan Lindung 39.29 2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.508. Kabupaten Teluk Bintuni dan Fakfak memiliki luas hutan lindung yang relatif kecil jika dibandingkan dengan total luas hutannya.18 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi di Papua Barat Tahun 2008 Satuan dalam% Luas Total 9.81 9.277.240.370.97 342.02 1.20 Luas Kawasan Hutan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 (Ha) Kabupaten/Kota Regency/ Municipality Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 2007 2006 2005 Hutan Kawasan Perlindungan Alam/ Kawasan Suaka Alam 44.087.44 20.648.87 persen dari total luas hutan.167.96 1.35 1.17 6.101.794.20 284.337.866.847. Tabel 1.30 65.16 310.686.509.372.558.10 246.25 1.817.75 342.648.20 519.75 342.277.439.087.080.525.70 165.90 1.50 66.70 3.39 1.243.00 462.81 9.957.41 715.13 5.10 79.57 1.314.529.90 479.600.79 2.49 309.57 948.700.087.55 1.43 489.723.458.648.891.40 121.623.018.487.345.270.39 1.144.989.228.648.244.847.70 6.314.751.39 1.144.400.893.686.488.79 1.243.648.35 1.816.686.147.385.790.648.20 37.046.284.535.635.6 juta hektar atau sekitar 16.174.277.39 Hutan Produksi yg Dikonversi 219.92 113.30 16.87 86.769.928.50 149.57 1.92 6.81 9.59 31.50 442.806.648.04 92.057.90 149.245.339.485.284.847.769.79 2.63 1.686.464.144.30 302.30 379.054.56 209.669.20 93.259.79 2.337.95 591.35 1.57 1.79 Areal Penggunaan Lainnya 55.865.15 1.14 327.21 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2007 Hutan produksi mendominasi jenis hutan di Papua Barat sementara hutan lindung hanya seluas 1.81 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Fungsi guna lahan hutan dalam data Pemanfaatan Lahan (Papua Barat Dalam Angka Tahun 2007) menunjukkan bahwa luas hutan di Papua Barat hanya sebesar 61.10 275.05 39.943.548.00 204.00 397.243.90 411.291.277.086.284.941.10 395.90 132.46 9.40 1.144.95 785.90 149.751.06 1.75 342.10 95.96 1.35 Hutan Produksi Terbatas 202.300.1176 LAPORAN AKHIR 1-48 .96 Tetap 388.314.70 4.866.977.866.617.769.751.63 1.90 253.863.364.565.19 32.052.248.769.751.30 92.284.648.243.866.087.314.847.

proporsi luas kawasan hutan di Provinsi Papua Barat ditampilkan pada Tabel 1.00 1.00 1. Padahal.000.000. ataupun semak dan alang-alang memiliki kemungkinan untuk dikategorikan ke dalam hutan oleh data tentang lahan lainnya. kebun campur. perkebunan.500.7 juta hektar.52 persen. Hal ini kemungkinan disebabkan dari perbedaan pemberian kategori dalam pencatatan penggunaan lahan. Berdasarkan data sementara yang dikomplilasi dari berbagai sumber. Gambar 1. Fungsi-fungsi seperti tegalan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 hektar atau hanya sekitar 5.00 Fa kFa k Ka Te im lu an k a W on da Te m lu a k Bi nt un M a i So no k w ro ar ng i Se la ta n So ro ng R aj a Am Ko pa ta t So ro ng Berdasarkan data dari Balai Pemantapan Kawasan Hutan (2004). Namun.000. dalam buku yang sama tercatat luas hutan di Papua Barat mencapai 9 juta hektar dari total luasan Papua Barat yang mencapai 11 juta hektar.000. LAPORAN AKHIR 1-49 .00 2. luas kawasan hutan di Provinsi Papua Barat mencapai 9.21 berikut. data luas hutan untuk setiap wilayah kabupaten setelah pemekaran masih belum pasti.00 0.000.000.000.500.00 500.19 Luas Kawasan Hutan Menurut Kabupaten/Kota di Papua Barat Tahun 2008 2.

114.584.499.192.634.22 16.41 1.834.759.379.985.32 737.262.47 260.05 9.976.61 429.29 17.24 6.972.273.81 0 0 69.66* 0 14.461.44 23.439.389.15 93.481.723.366.538.418.23 1.604.55 283. 21 Persebaran Luas Kawasan Hutan (Ha) Menurut Fungsi pada Setiap Kabupaten di Provinsi Papua Barat Hutan Lindung Fakfak Kaimana Sorong Kota Srng Sor-Sel Mnkwr Bintuni Wondama Raja Ampat Papua Barat 41.560.52 356.88 15.784.60 Hutan Produksi Konversi 218.661.477.262.39 1.073.373. 1-50 . 2004.34 413.56 5.19 6.97 276.66 9.120.342.44 112.174.27 0 0 10.52* 1.15 Hutan Produksi 383.56 165.047.600.277.20 2.375.41 33.24 1.61 24.85 84.21 682.11 69.837.12 206.46 Taman Wisata Alam 0 0 1.33 493.102.24 153.181.82 5.36 4.941.81 127.83 530.15 2.209.240.684.310.189.46 0 0 0 23.234.087.33 1.338.72 398.394.47 355.838.08 10.33 1.475.180.63 304.031.495.Tabel 1.537.328.21 498.32 1.689.005.389.90 1.394.927.60 281. Keterangan: *) Bagian kawasan Taman Nasional yang masuk dalam wilayah Administrasi Pemerintahan Provinsi Papua Barat (tidak termasuk perairan laut dan kepulauan).397.99 Hutan Produksi Terbatas 203.045.517.77 243.636.977.84 1.138.13 80.235.008.21 231.761.78 100.740.087.87 32.188.42 221.092.769.928.163.846.636.41 500.43 Total 37.712.39 Cagar Alam Suaka Marga Satwa 657.272.53 322.729.19 53.371.56 356.877.20 80.886.302.37 0 0 0 0 4.76 151.33 1.52 Taman Nasional 0 0 270.34 15.12 0 55.688.93 487.98 150.868.019.52 393.13 Areal Penggunan Lain 52.132.21 Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan.07 1.747.857.54 936.

Kawasan hutan ini perlu dipertahankan keutuhannya untuk jangka panjang. dan hutan produksi konversi. merupakan lahan-lahan pemukiman dan lahan budidaya.211.210 Ha atau 66. hutan produksi terbatas. maka pengembangan kehutanan kedepan tidak lagi hanya mengharapkan eksploitasi hutan alam.181.97 Ha. melaporkan bahwa luas kawasan hutan produksi di Papua Barat yang telah dibebani hak pengusahaan hutan (HPH) seluas 4.84%.273 Ha) dan sisanya seluas 2. Dengan kondisi kawasan hutan produksi demikian. nampak bahwa kawasan hutan untuk tujuan perlindungan masih berada di atas persentase yang disyaratkan. khususnya areal hutan produksi konversi persebarannya tidak merata di setiap kabupaten/kota.654. terdiri atas hutan produksi tetap. yaitu minimal 30%. Berdasarkan proporsi tersebut. Kawasan hutan produksi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Fungsi hutan produksi menempati proporsi tertinggi (62.063 Ha (43. Hutan lindung dan hutan konservasi sebagai zona penyangga menempati luasan sebesar 34.250. kawasan hutan di Papua Barat memiliki slopes yang bervariasi dari datar sampai sangat curam. Selain itu. secara fisiografi.10%) masih merupakan kawasan hutan produksi yang belum terbebani hak. Untuk itu penataan fungsi kawasan perlu ditinjau kembali dan peninjauannnya dilaksanakan bersamaan dengan penetapan SDA tersedia di setiap wilayah Kabupaten/Kota. Oleh karenanya dalam rencana pengembangan wilayah pembangunan di setiap kabupaten/kota perlu mempertimbangkan proporsi kawasan hutan untuk perlindungan ini. Proporsi tersebut perlu dipertimbangkan kembali. diberikan Hak Pengusahaan Hutan dan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu kepada perusahaan dibidang terkait. karena dengan pemekaran wilayah di Papua Barat.2. persebaran di setiap kabupaten/kota tentunya akan bervariasi. Areal penggunaan lain seluas 2. Kanwil Kehutanan Irian Jaya (2001). 1. Sisa areal hutan produksi tersebut sebagian besar merupakan wilayah hutan yang topografinya berat.65%).069. namun sekitar 66.51% dari luas kawasan hutan.90% dari luas hutan produksi (6. tetapi mengintensipkan pengembangan hutan tanaman baik Hutan Tanaman Industri (HTI) maupun Hutan Tanaman untuk tujuan Rehabilitasi Lahan Kritis (RHL) atau tujuan perlindungan lainnya.2 Hak Pengusahaan Hutan (HPH) tata ruang wilayah pembangunan Provinsi Papua Barat dengan tetap memperhatikan karakeristik dan potensi Dalam pengusahaan dan pemanfaatan hutan. Sementara Industri Primer Hasil Hutan (IPHH) yang berkembang di Papua Barat digolongkan menjadi 2 yaitu Industri yang berskala besar dengan nilai LAPORAN AKHIR 1-51 .62% memiliki slopes dari curam-sangat curam dengan kemiringan diatas 25%. Di Provinsi Papua Barat sendiri telah dikeluarkan 29 unit HPH yang meliputi hutan seluas 4.

858 267. Henrison Iriana (83.500 691.657 390.34 Ha.719.570.800 1.199. Namun Rata-rata realisasi RKT sebesar 32.665 955.800 2.25 Kab.657 2.003.07 8.066 340.00 37.906 31.7% dari rata-rata rencana produksi per tahun.263.63 10. Sorong 1.076 4.70 Ha. Fakfak 1.332 14.570.193.49 Kota Sorong 41.300.657 390. Termasuk areal PT.921 Luas H. Perkembangan HPH tiap tahun menurun.537.225 1. Pada tahun 2005 terdapat 23 HPH Aktif dengan RKT seluas 66.092.20 50.620. Teluk Bintuni 1) Luas Hutan 2.231.360.636.392 599.225.426.55 Kab.138.800 4.920 202.458.22 Daftar Kepemilikan SK IUPHHK dan RKT Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2004-2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 2004 SK IUPHHK (Ha) 311.89 56.800 4.140 85.620.617.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 produksi lebih dari 6.00 138.494 215.25 ha) dan PT.762 541.836.92 472.726.13 61.051.000 609.601.61 Ha.004 Areal HPH 1.472 1.248 93.580.23 Kab.36 1.300 1.910.00 Kab.86 11.41 1.220.06 %HPH/HP 90.960.340 6.431 1.199.600 4. Tabel 1.420.880. Dan realisasi volume hanya sebesar 21.53 28. Tidak termasuk areal konsesi PT.33 72.00 63.803.65 Kab.083.264.7% dari Rencana Luas RKT sepanjang Tahun 2000-2005.721 173.843. Sorong Selatan 2) 1.000 m3.680 323.187 11.570.630.657 49.03 9.43 390.326. Sedangkan pada tahun 2007 terdapat 20 HPH Aktif dengan RKT seluas 47.007.33 Total 11.837 1.396.434 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tabel 1.450 51.585.425.30 1. Prod 1.493 6.951.99 ha) 2.799. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Kab.620.47 23.758.269. Artika Optima Inti Unit VI (57. Manokwari 1) 1.03 Kab.00 390.843 2.23 Kawasan Hutan Produksi yang Telah Dibebani HPH/IUPHHK (Aktif+Dicabut) No.225.843 Realisasi RKT Luas (Ha) Volume 6.24 Kab.242.00 56.81 2.366 4.00 35.726 6.783 20.930 791.800 Target Tahunan Maksimum Luas (Ha) Volume 298.477 984.391.946 896.03 89.164. Sedikitnya terdapat 3 perusahaan berskala besar dan 15 perusahaan sedang yang bergerak dalam sektor kehutanan ini.60 61.48 319.843 2.287.764.500 ha LAPORAN AKHIR 1-52 . Mitra Pembangunan Global seluas 98.000 m3 dan industri di bawah sedang yaitu produksi dibawah 6.220.274.50 84.146.55 1.28 22.192 91. Teluk Wondama 610.010 311.00 10.620.653 28.500 4.564.994.076.832. Kaimana 1. Pada tahun 2006 terdapat 22 HPH Aktif dengan RKT seluas 65.998 922.620.943 78.13 66.570.480.391.371.67 74. Raja Ampat 686.151 323.419 650.20 78.378 713.40 148.

Di Kabupaten Teluk Bintuni terdapat 14 HPH yang terdiri dari 2 HPH Sagu. Di Kabupaten Sorong Selatan.820 139.683. ARTIKA OPTIMA INTI N Unit VI PT.533. AGODA RIMBA IRIAN PT.700 333. pemegang HPH Kayu sebanyak 4 unit dan HPH sagu sebanyak 2 unit.09 108. Sedang di Kabupaten Kaimana. HANURATA UNIT I PT. SAGINDO LESTARI UNIT I PT.100.43 1. CO.012.800 155.600 119. INDT.000 84.64 36. HASRAT WIRA MANDIRI PT. WANA KAYU HASILINDO PT.58 LAPORAN AKHIR 1-53 . PT.000 01/Kpts-II/93 299.08 21.000 464/Kpts-II/92 212.000 178.07 6.000 397/MenhutII/06 448/Kpts-II/88 279/Kpts-IV/88 547/Kpts-II/97 744/Kpts-II/90 759/Kpts-II/89 373. INTIMPURA TBR.000 133.729. Raja Ampat Kota Sorong NAMA HPH/IUPHHK PT.06 64. INTIMPURA TBR.32 286.42 3.24 Direktori Perusahaan Pemerima HPH Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Kabupaten Kab.650.41% hutan produksi di Provinsi Papua merupakan Areal HPH.56 97. WAPOGA MUTIARA TIMBER PT.23 di atas dapat dilihat bahwa sekitar 74.40 9.303. CO. MULTI WAHANA WIJAYA PT.502. 1 HPH Mangrove.118. Namun dari 14 HPH tersebut.000 155.60 80. 174/Kpts-IV/88 137.343.57 66.83 15.28 2. Tabel 1. BINTUNI UTAMA MURNI W.000 97.28 131.000 98.242.010.600 333. Megapura Mambramo Bangun PT. ARTIKA OPTIMA INTI N UNIT VI Kab Sorong Selatan PT.15 92.28 12.25% untuk pengusahaan hutan. DHARMA MUKTI PERSADA Kab Teluk Wondama Kab Teluk Bintuni PT.700 333.000 299.000 299. INTIMPURA TBR. 11 HPH Kayu. BANGUN KAYU IRIAN PT. Teluk Wondama dan Manokawri sebanyak 20 HPH berupa HPH Kayu diantaranya 3 HPH kayu telah dicabut.264.862.000 DIGITASI LUAS (HA) 14. SAGINDO LESTARI UNIT II PT. HENRISON IRIANA PT.897. Mancaraya Agro Mandiri Kab Sorong PT. WANA GALANG UTAMA PT.745. HANURATA UNIT I PT.531. Jenis HPH yang dipegang oleh perusahaan cukup bervariasi.28 55. KALTIM HUTAMA PT.000 SK HPH 81/Kpts-II/94 69/Kpts-II/89 01/Kpts-II/93 81/Kpts-II/94 735/Kpts-II/1993 69/Kpts-II/89 55/Menhut-II/06 534/Kpts-II/91 01/Kpts-II/93 735/Kpts-II/1993 69/Kpts-II/89 1142/Kpts-II/92 LUAS_SK 51.61 270.53 26. yang 1 HPH Kayu juga telah dicabut. Kabupaten Teluk Bintuni memiliki luas produksi terbesar dan dimanfaatkan 90. CO.698. Sedang di Kabupaten Fak-Fak terdapat 6 HPH kayu dan 1 HPPH Mangrove.00 123. BANGUN KAYU IRIAN PT.00 139. HASRAT WIRA MANDIRI PT. 2 HPH Kayu telah dicabut yaitu milik PT Artika Optima Intin dan PT Henrinson Iriana.820.149.352.492.66 30.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dari Tabel 1. PT.183.000 51. PT.000 119.68 37.504. BANGUN KAYU IRIAN PT.

30 15.13 Kabupaten NAMA HPH/IUPHHK PT.000 300.000 150.186.406. PT.98 LAPORAN AKHIR 1-54 . SAGINDO LESTARI UNIT I PT.631.821. ARFAK INDRA PT.12 72.078.39 82.11 127. PT.300 209.368.35 12.79 98.249.689.59 68. WUKIRASARI PT AGODA RIMBA IRIAN PT.000 319.000 95. TELUK BINTUNI MINA AGRO K. RIMBAKAYU ARTHA MAS PT. PRABU ALASKA 48 Tahun 2002 651/Kpts-II/92 1142/Kpts-II/92 83.72 182.25 3.000 84. TELUK BINTUNI MINA AGRO K.263.967.540 155.24 6. Manokwari Mandiri Lestari PT.04 80. BINTUNI UTAMA MURNI W.186.000 155.08 222.764.800 150.000 182. HANURATA COY UNIT III PT.997. WUKIRASARI PT.58 38. WANA KAYU HASILINDO PT.165. PT.240 373. WANA GALANG UTAMA PT.57 14. YOTEFA SARANA TIMBER PT.240. SAGINDO LESTARI UNIT II PT.000 Kab Kaimana PT.25 Perkembangan Luas Penebangan Hutan Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Luas Penebangan 2.000 156.000 153.91 187.97 83.70 60.236.99 393/Kpts-II/92 464/Kpts-II/92 936/Kpts-II/92 744/Kpts-II/90 396/Kpts-II/90 811/Kpts-II/91 678/Kpts-II/89 379/Kpts-IV/87 154/Kpts-II/93 448/Kpts-II/88 81/Kpts-II/94 81/Kpts-II/94 08/Kpts-II/2001 279/Kpts-IV/88 180/Kpts-II/91 393/Kpts-II/92 547/Kpts-II/97 396/Kpts-II/90 759/Kpts-II/89 553/Kpts-II/89 174/Kpts-IV/88 81/Kpts-II/94 81/Kpts-II/94 180/Kpts-II/91 393/Kpts-II/92 239.26 87.000 170.786.98 62.461.000 98.823.966.426.200. HANURATA UNIT II PT.388.27 95. WANA IRIAN PERKASA PT.240.6 1.65 182.921.780.733.233.861.436. DHARMA MUKTI PERSADA PT.786.61 9.643. WAPOGA MUTIARA TIMBER PT.670 174.236.41 59.11 89.300 209.900 178.600 239.90 10.728.219.65 12.00 376.30 152. PRABU ALASKA PT. KALTIM HUTAMA PT.2 101.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 SK HPH LUAS_SK DIGITASI LUAS (HA) 68.000 76.600 239. HANURATA UNIT II PT.332.68 76.000 137. HANURATA COY UNIT III PT. Tabel 1.08 19.49 72.733. IRMASULINDO UNIT II PT.000 156.000 153.000 133.000 212. HENRISON IRIANA PT. INDT. ARTIKA OPTIMA INTI UNIT II PT. CENTRICO PT. BUDI NYATA PT.670 319.07 Jumlah Produksi 42.703.23 82. TELUK BINTUNI MINA AGRO K.

29 Kota Sorong Papua Barat 2007 14.866.263.20 Luas Penebangan Hutan (Ha) Oleh Pemegang HPH di Papua Barat Tahun 2008 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 Fak-Fak Kaimana Teluk Bintuni Sorong Raja Ampat Gambar 1.040.156. Teluk Bintuni memiliki jumlah lahan terluas untuk penebangan yang dilakukan oleh perusaahan HPH yaitu seluas 6.65 2004 14.040. hasil perhitungan Kegiatan pemanfaatan hutan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan.135.13 207.13 207.13 207.07 hektar.866.65 2003 17.65 2005 14. Gambar 1.040.866. Luasnya lahan penebangan di Teluk Bintuni membuat kabupaten ini juga memiliki produksi kayu terbesar yaitu mencapai 101.446.733.6 m³.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Raja Ampat 940 9.18 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009.66 249.21 Luas Produksi Kayu (m3) Oleh Pemegang HPH di Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 120000 100000 80000 60000 40000 20000 0 Fak-Fak Kaimana Teluk Bintuni Sorong Raja Ampat LAPORAN AKHIR 1-55 .

Philipina. Konsentrasi mineral-mineral logam diperkirakan terdapat pada Lajur Pegunungan Tengah Papua. Tidak tertutup kemungkinan daerah-daerah lain seperti sampai saat ini masih terus dilakukan eksplorasi baik di daratan maupun lepas pantai. Papua New Guinea sampai ke Selandia Baru telah ditemukan banyak endapan emas dan tembaga kelas dunia. Contohnya di daerah Kepala Burung. kobal.3 Kawasan Pertambangan Pulau Papua yang diketahui terbentuk sejak jutaan tahun yang lalu sebagai hasil benturan Lempeng Benua Australia (Australia Plate) yang bergerak ke Utara dengan Lempeng Pasifik (Pacific Crustal Plate) yang bergerak ke arah Barat. Untuk data potensi mineral logam maupun non logam dapat dilihat pada Tabel 1. mengingat keberhasilan Negara Papua New Guinea telah menemukan cekungancekungan minyak dan gas bumi yang cukup potensial. nikel. Akibat tektonik di Pulau Papua juga memungkinkan terbentuk cekungan dengan sedimensedimen yang cukup tebal dalam kondisi lingkungan laut. di mana lingkungan marine cukup banyak kehidupan mikro organik yang terakumulasi menjadi cadangan hidrokarbon. memungkinkan terbentuknya mineralisasi logam yang berasosiasi dengan perak dan emas.26 Potensi Mineral Logam dan Non Logam di Provinsi Papua Barat Kabupaten/ Kota Manokwari Potensi Tambang Timah Distrik Distrik Ambarbaken sepanjang Sungai Waturi dan Sungai Warsomi Distrik Anggi Kampung Sutera Distrik Ambarbaken kampung Sutera Kampung Bomas dan Danau Anggi Giji Distrik Ambarbaken Terdapat merata di semua distrik dan melimpah Volume Cadangan Deposit mineral belumdiketahui. Posisi tektonik Papua yang berada di Lingkar Pasifik. krom.92 Miliyar Ton Senk dan Tembaga Emas Batu Gamping LAPORAN AKHIR 1-56 . Keuntungan-keuntungan lainnya. telah diketahui sepanjang jalur tersebut dari Amerika Selatan.26 Potensi Mineral Logam dan Non Logam bagi daerah-daerah yang potensial di Provinsi Papua Barat. kandungan timahnya berkisar antara 345-685 Deposit mineral belumdiketahui dan sampai saat ini potensi belum dimanfaatkan Deposit mineral belumdiketahui dan belum dieksplorasi 13. dan uranium. Tabel 1. Akibat benturan antara lempeng tersebut di atas menimbulkan keuntungan dan kerugian.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. di daerah tersebut cukup potensial untuk diadakan eksplorasi minyak dan gas bumi. Keuntungannya adalah dengan terjadinya penerobosan batuan beku dengan komposisi sedang ke dalam batuan sedimen di atasnya. yang berupa cincin gunung api memberikan potensi endapan mineral yang besar.2. yaitu adanya cadangan batubara.

31 juta metric ton. Batu Pasir. jenis kuarsa sebesar 91. Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Selatan (Pulau Wageo dan Gag).29-1.65% Fe2O3 rata-rata 0.5 metric ton Volume cadangan hipotetik batu bara 0.11 juta metric ton.28 Juta metric ton. dan Berau.3 TCF Cadangan mika sebesar 150.6% .3%.95 miliyar metric ton Volume cadadangan terbesar adalah gas alam sebesar 14. Genis Kuarsa sebesar 91. jenis kuarsa sebesar 61. nisprematik sebesar 31.50 juta metric ton LAPORAN AKHIR 1-57 .15.83 miliyar metric ton Volume cadangan 137.4% Diorit Granit Teluk Bintuni Minyak dan Gas Bumi Batu Bara Mika Raja Ampat Cobalt Tembaga Nikel Mangan Batu bara Fosfat dan Opal Mika Batu Gamping Biji Besi Distrik Warmare di sekitar Kampung Wagesi.39 metric ton.5 mt berdasarkan penelitian SiO2 – rata-rata 77. dan batu Gamping Kandungan mika 150. Distrik Wageo Selatan Pulau Wageo dan Gag Distrik Wageo Selatan. bahan galian adalah batu bara. Batu Lumpur. MgO rata-rata 1.50 juta metric ton. 1 metric ton. Waisian.1 juta metric ton tersiri dari Genis Maskovit sebesar 19.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Volume Cadangan Kabupaten/ Kota Potensi Tambang Lempung Distrik penyebarannya Tersebar merata di Distrik Manokwari Pasir Batu Granit Pasir Kuarsa Distrik Manokwari an Distrik Warmare Distrik Ransiki.855 juta ton m3 dan 12.27 dan Fe203 rata-rata 10. Pulau Wageo dan Gag.38 metric ton. terdiri dari Genis Maskovit sebesar 15.27 % kadar abu 2.84 % pausri gelas kaca Volume cadangan 26.21 juta metric ton dan jenis peckmatik sebesar 11. dan Genis Pragmatic sebesar 31. dan Distrik Kebar Tersebar di Distrik Kebar Kampung Atay Selatan Kandungan lempung terdiri dari Sio rata-rata 55%. A12O3 – Ratarata13. Selain gas dan minyak bumi. A12O3-12. Distrik Ambarbaken.4% Volume cadangan sebesar 1. Distrik Anggi.28 juta metric ton. Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Misol Distrik Wasior Tersebar di Distrik Wasior dan Wendesi Distrik Wasior Teluk Wondama Cadangan deposit sebesar 90. Gunung Nuasa.13 m3 Volume cadangan sebesar 96. Muturi. Sungai Maryam Mogoi. yang terdiri dari jenis Moskovit sebesar 17.

dan Mare Distrik Aifat dab Aifat Timur Distrik Sawiat. dan Klamono Distrik Salawati Distrik Sausapor Bomberai.000 m2 dengan kadar 0. kampung Tawar dengan luas 4.500 m2 Perak Tembaga Timbal Senk Jumlah cadangan kurang lebih 450 juta m3 dan Distrik Bomberai dengan luasan 12 Ha. Ayamaru Utara. Sungai Waturi dan Sungai Warsayomi dan LAPORAN AKHIR 1-58 .2 gr/ton Sumber: Peluang Bisnis dan Investasi Provinsi Papua Selain itu juga ditemukan beberapa macam endapan logam dan bukan logam.850 juta m3 Sebaran Volume 457. dan Fakfak Barat Menyebar di distrik Kokas. Berikut di bawah ini contoh endapan mineral yang ada di Provinsi Papua Barat. Kokas. Aifat Timur.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Volume Cadangan Kabupaten/ Kota Sorong Selatan Potensi Tambang Minyak Bumi dan gas Batu Gamping Emas Fosfat Zink Marmer dan Bahan Baku Semen Tembaga Emas Tanah Hitam Batu Bara Koramit Biji Besi Pasir Kuarsa Distrik Distrik Kais. Teluk Arguni.8 gr/ton Dengan kadar 15. Distrik Kokas Kabupaten Sorong Fak Fak Batu Gamping Batu Bara Emas Distrik Kokas pada Pegunungan Onin Distrik Teluk Etna.500 ha dengan ketebalan rata-rata 6 meter sehingga perkiraan cadangan adalah 90 juta m3 Luas 142. dan Mare Distrik Sausapor Distrik Sausapor dan Sawiat Distrik Sausapor Distrik Salawati. baik yang ekonomis maupun tidak. teluk Berau Buruway.000 m2 Minyak Gas Lempung dan Sebaran 1.050 gr/ton hasil analisis laboratorium P3G Bandung Dengan kadar + 26. Ayata.680. dan Fak Fak Timur Distrik Teluk Etna.1 gr/ton Dengan kadar 16. Ayamaru Utara Distrik Aifat Timur Distrik Ayamaru.500 Ha dan jumlah cadangan +2. Ayamaru Utara. dan Kokas Menyebar di distrik Kokas. Ubadari.282. jumlah cadangan + 864 juta m3 Dengan kadar 3. Ayamaru. Bahan Galian Strategis.  Di Kabupaten Manokwari. Inanwatan Distrik Kais. Sawiat.2 gr/ton Dengan kadar 47. buruway. Fakfak Timur. Timah terdapat di Distrik Amberbaken sepanjang Sungai Wapai.500 Ha Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Fakfak Fakfak Fakfak Fakfak Volume cadangan sebesar 1.

Perusahaan yang sudah menanamkan modal. dan Danau Anggi Giji.83 milyar metrik ton. Distrik Anggi. Aranday dan Babo.84 %. Bahan Galian C. Ca03 . baik penanaman modal asing maupun nasional. Tersebar di Distrik Kebar. lapangan gas di Kawasan Teluk Bintuni telah dieksploitasi oleh perusahaan multinasional BP. Paustri gelas. Patrindo. Distrik Manokwari dengan volume cadangan 13. Distrik Warmare dengan volume cadangan 2. Seng dan Tembaga.  Kabupaten Teluk Bintuni.65 %. kaca. Selain minyak. Volume cadangan kedua distrik ini belum diteliti. Distrik Babo. dll. di sekitar Kampung Atay Selatan dengan volume cadangan sebesar 137. A1203 . terdiri dari Si02 . Kawasan Teluk Bintuni kaya akan minyak bumi dan gas alam. Cadangan Granit tersebar di Distrik Ransiki dengan volume cadangan sebesar 96.5 milyar ton. Weriagar. Setelah penyerahan Papua ke Indonesia. Cadangan batu gamping di Kabupaten Manokwari sangat melimpah. Pabrik pengolahan LNG akan beroperasi di daerah Saengga. lapangan minyak yang ada terbengkalai untuk beberapa waktu lamanya. Minyak bumi pemah dieksploitasi pada masa pemerintahan Belanda. minyak dan gas alam cair. di sekitar Kampung Wasegi.6 %.76 %. Bomas.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Distrik Anggi di Kampung Sutera. Daerah Mogoi.5 juta metrik ton. Pasir Kuarsa. Merdey. Saat ini. Volume cadangan bahan galian ini sebesar 26. Tanah Merah. Kandungan Pasir Kuarsa tersebut berdasarkan hasil penelitian. Sungai Maryam. dengan volume cadangan sebesar 136.rata-rata 13. Sedangkan untuk ladang Wer (Tahun LAPORAN AKHIR 1-59 . Wasian. Muturi dan Berau.7 trilyun kaki kubik. Kandungan Timah berkisar 345-685 ton. Fe203 .  Kabupaten Teluk Bintuni memiliki ladang minyak terbesar di Papua. dll. Bahan galian Vital. Indonesia dengan Proyek "LNG Tangguh". Gunung Nuasa. Bahan Galian Strategis meliputi. dan Distrik Oransbari dengan volume cadangan 2.95 milyar metric ton. British Gas. namun saat ini lapangan minyak tersebut telah dieksploitasi kembali. Tersebar di Distrik Warmare. Emas terdapat di Distrik Amberbaken. Diorit.83 milyar ton. batubara. Batuan ini dapat digunakan sebagai bahan bangunan. yaitu.05 juta ton. Daerah Mogoi dan Wasian telah diketahui kandungan minyaknya sejak Tahun 1952-1960 oleh NNGP Belanda. Distrik Anggi merupakan lanjutan dari Distrik Ransiki dan Amberbaken merupakan lanjutan dari Distrik Kebar.rata-rata 77. Sedangkan minyak bumi dengan volume cadangan sebesar 45 juta ton metric terletak di Kampung Homa. dan timah. Penyebarannya hampir merata di tiap distrik. dengan hasilnya sekitar 7 juta barrel minyak mentah. kawasan ini juga memiliki kandungan gas bumi sebesar 13 trilyun kaki kubik dengan volume cadangan sebesar 23.rata-rata 0. jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainya di Papua. Conoco Arco.92 milyar ton. Distrik Ransiki dengan volume cadangan 18. antara lain. Batugamping. Potensi minyak bumi di Kawasan Teluk Bintuni tersebar di Distrik Bintuni. Ada 5 (Lima) daerah di Kabupaten Teluk Bintuni yang terdapat banyak ladang gas alam yang menghasilkan minyak.35 milyar ton.rata-rata 0.

97. Mangan. Data menunjukan bahwa kadar . Bahan galian lain yang ditemukan di Kabupaten Teluk Bintuni dan sekitarnya adalah batubara. Batubara. 0. batulempung dan batulumpur seluas 768. yaitu. kelembaban tertambat 1.40%. Aifat Timur.820 – 7. 0.202. Distrik Kokas. 0. dan disebut juga batuan karbonat.500. Goras dan I pulau di sekitar Kokas dengan luasan 142.000 m3. Kadar Abu 2.000 Berdasarkan hasil analisis proksimat dari 10 contoh batubara oleh Direktorat Sumberdaya Mineral Bandung diperoleh kualitas dengan kisaran angka 5.1 . sehingga perkiraan cadangannya adalah 90 juta m3.1.51. zat terbang 40. Uji laboratorium yang dilakukan di PPP Tekmira Bandung terhadap 3 contoh pasir kuarsa dari daerah Bomberay. Luas penyebaran batupasir kurang lebih 307. Di daerah Bomberay.000 liter per hari. Kadar Belerang 0. Inanwatan. Batugamping. salah satu perusahaan swasta asal Inggris. kesemuanya bersumber dari cekungan berproduksi Bintuni.27 %. karbon tertambat 44. Potensi Pasir Kuarsa (Quartzsand). 97.  Kabupaten Fak Fak.9 km2. dengan kadar besi.8 %.10%. 97. Ayamaru dan Mare. 4 %.3 .32%. dekat Kampung Beimes sekitar 20. menemukan ladang gas alam terbesar di Weriagar. Batugamping di Distrik Kais.850 juta m3 (Hasil Survei LPMITB).5.49. Potensi daerah ini meliputi. Tembaga di Waigeo Selatan Nikel di Distrik Waigeo Utara dan Samate.500 ha. batulumpur.1 . Batugamping adalah jenis k sedimen klastik atau non klastik yang disusun oleh 90% karbonat. Marmer dan Bahan Baku Semen di Distrik Sawiat. Menyebar di Distrik Kokas pada Daerah Pegunungan Onin. Di Kabupaten ini ditemukan potensi logam kobal di Distrik Waigeo Selatan.8 kelembaban 3 -16 % dan HGI 40 .500 ha clan jumlah cadangan 2.50. Fosfat dan Opal di Distrik Misool. batugamping dan endapan sirtu. pasir kuarsa mencapai luas 1. terdapat kandungan minyak mentah sebesar 5.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1990).  Kabupaten Raja Ampat.20%. LAPORAN AKHIR 1-60 . di Sungai Thistoku dekat Kampung Horna.6 km2. batupasir.11.3 . silika yang cukup tinggi. Tahun 1990-1995. Cadangan hipotetik batubara di Sungai Thikoku. batugamping dan endapan sirtu 84.000. Emas di Distrik Aifat Timur. Sawiat.935 kalori/kg. Ayamaru.  Kabupaten Sorong Selatan.29 .000 BOPD atau sf 795. minyak bumi dan gas tersebar di Distrik Kais.3 %. sekitar 4.48%. perusahaan ARCO. dengan ketebalan rata-rata 6 meter.000 ton.645%.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.22 Peta Sebaran Kawasan Pertambangan LAPORAN AKHIR 1-61 .

Manokwari Kab.000.00 90. Lokasi dan luas kawasan konservasi di Provinsi Papua Barat ditampilkan dalam Tabel 1. Sorong Kab. Cagar Alam Teluk Bintuni 12.00 5.000. Sorong Selatan Kab.000.27 berikut.001. Cagar Alam Sidei Wibain 15. Cagar Alam Wagura Kote 14.00 100. Manokwari Kab.150. Suaka Margasatwa Mubrani-Kaironi 19.660 945.00 1.000.00 170.500. Tambrauw Kota Sorong LAPORAN AKHIR 1-62 . Nama Kawasan 1. Taman Wisata Sungai Sausiran 18. Taman Nasional Laut Tl Cendrawasih 20. Tl Wondama Kab.00 300. Raja Ampat Kab. Manokwari Kab.27 Kawasan Konservasi yang Telah Ditetapkan di Provinsi Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 No. Kaimana Kab.478.00 500.022. Cagar Alam Pulau Waigeo Barat 5. Raja Ampat Kab.37 9.749.411. Cagar Alam Pegunungan Fak-Fak 10. Suaka Margasatwa Sabuda Tuturuga 11.000. Cagar Alam Pulau Batanta Barat 3.00 119. suaka margasatwa.00 73.73 Ha.00 9.453. Raja Ampat Kab.00 1. Manokwari Kab. Manokwari Kab.00 60.4 Kawasan Konservasi Kawasan hutan yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi seluas 3. Taman Wisata Alam Gunung Meja 17. Manokwari Kab. dan taman nasional.27 16.500.00 191.90 Lokasi Kab. Manokwari Kab. Cagar Alam Tambrauw Utara 24.875. Cagar Alam Pulau Misool Selatan 4. Manokwari Kab. Taman Wisata Alam Bariat 21. Tambrauw Kab. Taman Wisata Alam Sorong Sumber: Provinsi Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Luas (Ha) 58. Kawasan konservasi yang telah ditetapkan di Provinsi Papua Barat terbagi ke dalam empat kawasan yaitu kawasan cagar alam. Sorong Kab. Raja Ampat Kab. Cagar Alam Pegunungan Kumawa 9. Kawasan konservasi tersebut tersebar di 26 lokasi dengan katagori kawasan dan luasan yang berbeda.000. Tabel 1.000.720. Raja Ampat Kab.300. Cagar Alam Tambrauw Selatan 25.325. Cagar Alam Pulau Pegunungan Wondiboy 8. Fak-Fak Kab. Raja Ampat Kab. Taman Wisata Alam Moraid 23. Cagar Alam Pantai Sausapor 26.00 247. Tambrauw Kab.00 15. Suaka Margasatwa Laut Kepulauan Raja Ampat 7. Cagar Alam Pegunungan Arfak 13.350.53 1. taman wisata.00 188. Bintuni Kab.00 153. Cagar Alam Pulau Waigeo Timur 6. Cagar Alam Pantai WekweKwoor 16.2.00 62. Fak-Fak Kab.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.909. Taman Wisata Alam Klamono 22. Cagar Alam Pulau Salawati Utara 2.00 111.00 68.193.00 265.

23 Peta Sebaran Cagar Alam LAPORAN AKHIR 1-63 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

884 121.2.47 persen.403 499 956. Tabel 1.28 Luas Lahan Permukiman di Provinsi Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2003 (Ha) Wilayah Pengembangan WP MANOKWARI Kabupaten/Kota Kabupaten Manokwari Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Teluk Wondama Kota Sorong Kabupaten Sorong Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana 2003 2002 Kampung Perumahan 41. lahan di wilayah Provinsi Papua Barat yang dipergunakan sebagai pemukiman sebagian besar terletak pada lahan-lahan di Wilayah Pengembangan Sorong.64 WP FAKFAK PROVINSI PAPUA BARAT PROVINSI PAPUA BARAT 20. Manokwari adalah kabupaten yang menjadi ibukota dari Provinsi Papua Barat. Manokwari dan Kota Sorong merupakan wilayahwilayah yang memiliki fungsi guna lahan kampung/perumahan yang tertinggi. Penggunaan lahan untuk fungsi kampung/perumahan di Kota Sorong mencapai lebih dari 50 persen dibandingkan dengan luasan totalnya.64 581 747. maka luas pemukiman di Provinsi Papua Barat mengambil sekitar 24% dari keseluruhan lahan pemukiman. Kota ini merupakan gerbang bagi Provinsi Papua Barat menjadikan kegiatan jasa dan perdagangan dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat kekotaan terkonsentrasi di wilayah ini. Sementara itu. Kabupaten Sorong.5 Areal Terbangun dan Pusat-pusat Permukiman Fungsi guna lahan sebagai daerah kampung/perumahan sebesar 117. Kota Sorong memang merupakan kota yang paling menonjol di Provinsi Papua Barat dalam hal aktivitas perkotaan. Luas lahan pemukiman yang berupa kampung atau perumahan di Wilayah Pengembangan Sorong merupakan 49% dari seluruh luas lahan pemukiman di Provinsi Papua Barat.211. LAPORAN AKHIR 1-64 . Wilayahwilayah tersebut selama ini memang telah tumbuh menjadi sentra-sentra kegiatan perkotaan di Provinsi Papua Barat terutama untuk Kota Sorong.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.307 WP SORONG 59. Jika dibandingkan dengan luas pemukiman di seluruh Papua.015 hektar atau sekitar 10.42 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2006 Sampai dengan tahun 2005. Wilayah Pengembangan Fakfak memiliki luas pemukiman yang paling sedikit di antara wilayah pengembangan yang lain.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.24 Peta Sebaran Kawasan Lindung dan Budidaya LAPORAN AKHIR 1-65 .

25 Peta Sebaran Kawasan Lindung LAPORAN AKHIR 1-66 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

26 Peta Pengembangan Kawasan Kehutanan LAPORAN AKHIR 1-67 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

Hal ini juga terlihat dari transportasi eksisting dimana Kota Sorong memiliki simpul transportasi yang sangat strategis. yaitu 23. Selain sebagai gerbang tranportasi Papua Barat. Dalam hal ini.885 jiwa atau 23. tentunya memiliki berbagai jenis layanan yang memadai. Sehingga dalam menjalankan fungsinya sebagai ibukota. Sebagai wilayah otonomi baru. 1. Kota Sorong merupakan simpul kegiatan khususnya yang ada di Papua Barat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Sedangkan penduduk di Provinsi Papua Barat.962 jiwa pada tahun 2006 yang tersebar secara tidak merata di kesembilan kabupaten/kota. maka kepadatan penduduk yang diuraikan ini adalah kepadatan bruto. Wilayah yang termasuk ke dalam kategori rendah adalah kabupaten-kabupaten baru hasil dari pemekaran wilayah. Dalam lingkup sistem perkotaan. Di sekitar Kota Sorong banyak terdapat kegiatan pertambangan di mana pengolahan dan perdagangannya terkonsentrasi di Kota Sorong. fungsi wilayah eksisting tentu masih berkaitan dengan fungsi wilayah sebelum Propinsi Papua Barat terbentuk.363. netto dan kepadatan agraris. Sebagai sebuah propinsi yang baru terbentuk.68 % dari jumlah total penduduk di Provinsi Papua Barat. Manokwari merupakan ibukota dari Papua Barat. Kepadatan dapat dilihat dari beberapa pendekatan yaitu kepadatan bruto.50 km2 dan total penduduk sebanyak 729. Kepadatan bruto penduduk di Provinsi Papua jumlah penduduk paling rendah terdapat di Kabupaten Teluk Wondama.3 STRUKTUR TATA RUANG EKSISTING Struktur tata ruang eksisting di Propinsi Papua Barat meliputi sistem perkotaan dalam lingkup kabupaten dan sistem jaringan prasarana yang dalam hal ini adalah jaringan jalan. Kota Sorong juga merupakan pusat kegiatan jasa dan perdagangan. Karena tidak adanya data lahan terbangun. Jumlah penduduk terbesar terdapat di Kabupaten Manokwari yaitu sebanyak 172. Wilayah yang juga tergolong wilayah dengan tingkat layanan tinggi di Papua Barat adalah Manokwari. Fungsi wilayah yang dimaksud adalah merupakan pusat kegiatan suatu wilayah yang menjadi barometer perkembangan sebuah wilayah.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Provinsi Papua Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia Timur dengan luas wilayah 115.140 jiwa atau hanya 3. fungsi wilayah merupakan indikator tingkat pelayanan wilayah yang menunjukkan seberapa besar peran suatu wilayah dalam mengikat wilayah sekitarnya. Kondisi ini telah ada sejak jaman pendudukan Belanda.17% dari jumlah LAPORAN AKHIR 1-68 .4 ASPEK SOSIAL KEPENDUDUKAN 1.4. fungsi-fungsi layanan yang semestinya ada kemungkinan besar belum berdiri.

1.00 6 084. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 2004 Luas Wilayah 14 320.62 18 637.4.50 104 919.62 143 185.00 115 363.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Barat tidak terdistribusi secara merata. Secara umum. Karakter pola pemukiman loncat katak.00 12 146. Kota ini hanya memiliki luasan tak lebih dari 1. Kota Sorong merupakan kota yang memiliki kepadatan penduduk paling tinggi. Selain itu.00 Jumlah Penduduk 66 864 41 973 23 140 54 528 172 855 61 463 98 691 41 170 169 278 729 962 715 999 702 202 651 958 642 472 RT 15 733 9 876 5 445 12 830 40 672 14 462 23 221 9 687 39 830 171 756 168 075 167 609 162 990 156 052 Kepadatan Penduduk Per km2 5 2 2 3 12 2 3 7 153 5 5 6 6 5 Per RT 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Tidak meratanya distribusi penduduk di sebuah wilayah antara lain karena kondisi geografis yang berbeda. Wilayah yang sedang mengalami perkembangan tentunya akan memiliki konsentrasi penduduk yang lebih tinggi.00 18 500.29 Luas Wilayah. faktor ketersediaan fasilitas pelayanan sosial ekonomi juga mempengaruhi sebaran penduduk di suatu wilayah.11 126 093. dari kota/kabupaten satu ke kota/kabupaten lainnya. Pada umumnya. konsentrasi penduduk akan lebih tinggi di dataran rendah daripada di dataran tinggi. kepadatan penduduk di Provinsi Papua Barat relatif sangat rendah dengan kepadatan berkisar antara 4 – 12 jiwa/km2.00 140 375. dan Kabupaten teluk Wondama yaitu 2 jiwa/km2.50 1 105. Sedangkan kepadatan penduduk terendah terdapat di Kabupaten Kaimana. Kondisi geografis beberapa wilayah kabupaten didominasi oleh karakter kelerengan 8% sehingga mempengaruhi terbentuknya pola permukiman penduduk. yaitu 153 jiwa/ km2.00 25 324.2 Komposisi Penduduk Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin LAPORAN AKHIR 1-69 .00 14 448.50 29 810.105 km2 dan di kota ini terdapat banyak fasilitas sosial perekonomian sehingga di wilayah ini terjadi pemusatan penduduk. Tabel 1.

Untuk lebih jelas. maka dapat dibedakan bahwa penduduk dengan jenis kelamin laki-laki berjumlah 383.08 113.35 110. Tabel 1.45 100. jumlah penduduk Provinsi Papua Barat berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 1.23 103.65 Irian jaya Barat Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Komposisi Penduduk menurut Umur (Struktur Usia Penduduk) Penggambaran penduduk menurut struktur usia berguna untuk mengetahui jumlah penduduk produktif dan penduduk non produktif.30 Rasio Jenis Kelamin Provinsi Papua Barat Tahun 2008 dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2007 2006 2005 2004 Jumlah Penduduk Laki-laki 33 507 21 011 11 784 30 682 93 163 31 782 52 570 21 739 86 846 383 084 383 084 379 277 362 672 343 920 Perempuan 33 357 20 962 11 356 23 846 79 692 29 681 46 121 19 431 82 432 346 878 346 878 343 704 339 530 308 038 66 864 41 973 23 140 54 528 172 855 61 463 98 691 41 170 169 278 729 962 729 962 722 981 702 202 651 958 Jumlah Sex Ratio 100. namun untuk setiap kecamatan jumlah penduduk laki-laki masih lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan. Hal ini akan berpengaruh pada angkatan kerja di suatu wilayah serta tingkat ketergantungan penduduk non produktif pada penduduk produktif.82 111. penggambaran penduduk menurut struktur usia juga diperlukan untuk perhitungan penyediaan fasilitas sosial dan ekonomi.048 jiwa dan perempuan sebanyak 346. Walaupun penduduk berjenis kelamin laki-laki lebih banyak.878 jiwa dengan sex ratio sebesar 110. maka terdapat perbedaan antara masing-masing kecamatan. Selain itu.44.98 111.44 110.44 110.77 128.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Klasifikasi penduduk menurut jenis kelamin dalam suatu wilayah digunakan untuk mengetahui sex ratio yang dimiliki oleh wilayah tersebut.30 berikut ini. namun angka tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Bila diperinci menurut jenis kelamin.67 116.90 107. Sex ratio diatas 100 menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki lebih dominan daripada jenis kelamin perempuan. Jika diperinci lebih dalam.35 106.88 105. LAPORAN AKHIR 1-70 .

diketahui bahwa jumlah penduduk dengan usia non produktif adalah sebesar 34. 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+ Total 2007 Laki-Laki 42 599 37 389 37 581 41 105 36 087 32 677 30 915 30 685 28 501 23 215 16 894 11 607 7 317 3 218 1 992 1 302 383 084 379 277 Perempuan 40 617 36 410 35 634 37 001 32 164 29 735 31 059 30 924 25 662 19 196 12 815 7 518 4 143 2 111 1 074 815 346 878 343 704 Jumlah 83 216 73 799 73 215 78 106 68 251 62 412 61 974 61 609 54 163 42 411 29 709 19 125 11 460 5 329 3 066 2 117 729 962 722 981 yaitu sebesar 83. Berdasarkan kelompok umur.45%. Tabel 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Berdasarkan data yang diperoleh tahun 2008. 10-14.216 diikuti oleh penduduk usia muda (15-19 tahun) sebesar 78.106 dan penduduk usia (5-9 tahun) sebesar Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-71 . kelompok umur 15 – 19 tahun cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok umur lainnya. Jika diperinci lebih dalam. 31 Komposisi Penduduk menurut Golongan Umur Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Golongan Umur 0-4 5-9. Sementara pada kelompok usia muda dan produktif. struktur penduduk Provinsi Papua Barat didominasi oleh penduduk usia balita (0-4 tahun) 77. untuk usia produktif kelompok umur antara 0 – 14 tahun lebih banyak dibandingkan kelompok umur 60 – 75+ tahun.799.55% dan usia produktif sebesar 65.

untuk mencapai jenjang wajib belajar 9 tahun pun dirasakan sulit. Komposisi Penduduk menurut Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan merupakan indikator kualitas sumber daya manusia di suatu wilayah. Masalah yang terjadi adalah kondisi ketenagakerjaan berupa tingkat partisipasi kerja wanita jauh lebih kecil dari pada pria. Sedangkan lulusan paling banyak penduduk lulusan SD. Bahkan. jumlah penduduk yang tidak pernah atau belum pernah sekolah mencapai 6. Ini satu masalah yang harus dipikirkan untuk mengantisipasi ternjadinya pengangguran perempuan yang demikian banyak.643 jiwa.32. sex ratio menunjukkan proporsi laki-laki selalu lebih tinggi dari pada perempuan namun ada satu di mana golongan umur 30-39 proporsi perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.275 jiwa atau 30. Kondisi tingkat pendidikan di Provinsi Papua Barat dapat digambarkan dari Tabel 1. Jumlah penduduk dengan tingkat kelulusan pada bangku Sekolah Dasar menggambarkan bahwa tingkat pendidikan penduduk masih cenderung rendah.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Dapat dilihat bahwa sampai dengan tahun 2006.23%. Umur ini merupakan umur produktif di mana manusia menggunakan segala daya dan upaya untuk mengembangkan potensi dirinya. Terbatasnya kondisi ekonomi masyarakat dan LAPORAN AKHIR 1-72 . yaitu berjumlah 212.05% atau sebesar 45.27 Piramida Penduduk Provinsi papua Barat Tahun 2009 Dalam setiap golongan umur.

Prosentase tidak pernah mengenyam pendidikan masih sangat tinggi.80 7.27 LAPORAN AKHIR 1-73 . Salah satu kendala pemerintah dalam upaya pemerintah membangun sektor pendidikan di Papua Barat adalah sulitnya jangkauan di daerah pedalaman yang mengakibatkan sebagian besar penduduknya berpendidikan rendah. di Kabupaten Sorong untuk tingkat SLTP tercatat belum ada sekolah kejuruan (dari data BPS tahun 2005).09 72.26 4.14 15. Karena luasnya medan atau area lahan Papua Barat dan sulitnya jangkauan letak sekolah dengan tempat penjualan bahanbahan makanan serta barang-barang lain kebutuhan sehari-hari. Pemerintah telah mengusahakan sejumlah upaya untuk memberikan peluang kepada masyarakat untuk belajar ke wilayah Jawa. Sumber daya manusia di Kabupaten Teluk Bintuni dan Teluk Wondama juga masih sangat terbatas. mengenyam pendidikan tinggi di luar wilayah namun lulusan perguruan masih tergolong sedikit yaitu sekitar 2.30 65.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sarana prasarana pembelajaran baik formal maupun non formal sampai ke daerah terpencil adalah salah satu kendala. Raja Ampat. bekerja pada sektor pertambangan dan perindustrian dan sektor kehutanan.57 0. Sebagai contoh.37 Tidak Bersekolah Lagi 69. Bahkan.31 4. Tabel 1.00 SD/MI 11.90 11.47% dari jumlah total penduduk yang tercatat.41 10.35 7.92 4.62 PT 0.52 3. sering kali tidak dapat memperoleh tenaga guru untuk sekolah yang bersangkutan.89 0.58 69. Hal ini menjadi masalah secara internal karena kelemahan yang datang dari dalam ini bertemu dengan ancaman dari luar karena realitanya kualitas SDM pendatang memang secara empirik jauh lebih baik dan pendatang yang dalam ini memang datang untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam Provinsi Papua Barat. Kesenjangan ini sangat signifikan apabila dibandingkan dengan kondisi sumber daya manusia di sejumlah provinsi di wilayah Indonesia Barat. dan presentase menikmati dunia pendidikan tingkat atas masih sangat sedikit.52 7.41 0. 32 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Kabupaten/Kota dan Status Pendidikan Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Tidak/Belum Pernah Sekolah 3. Teluk Bintuni dan Teluk Wondama tidak memiliki sumber daya unggul dalam arti penduduk yang tamat universitas. Jumlah tenaga pengajar yang tercermin dari rasio guru dan murid pun masih sangat kecil.16 6.77 11.82 Masih Sekolah SMU/SMK/ SLTP MA 7.03 4. beberapa kabupaten seperti Sorong.

12%).18 76. lainnya (0.01 5.14 3.88 68.48 74.84 12.03 Lainnya 0. Tabel 1.27%). Katolik (7.82 1.58 6.36 1. Terdapat 1.45 68.63 1.62 7.12%).50 2.33 Komposisi Penduduk Menurut Agama dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 Kabupaten/Kota Fak-Fak Islam 61.01 Konghucu 0.89 12.03 SD/MI 11.63 69.15 PT 2.18 2.09 Budha 0.96 4.63 Kristen 21.59 5.15 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Masih Sekolah SMU/SMK/ SLTP MA 5.40 4.24 7.24 15.36 2.77 Hindu 0.01%).02 LAPORAN AKHIR 1-74 .46 5.83 7.99 Tidak Bersekolah Lagi 56.7% diikuti oleh agama Islam (41. Budha (0.72 Kabupaten Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 Tidak/Belum Pernah Sekolah 18.28 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Gambar 1. Konghucu (0.497 gereja Protestan dan 664 masjid di Provinsi Papua Barat.49 0.28 5.59 1.70%).91 9. Representasi dari banyaknya jumlah penduduk beragama diikuti oleh jumlah dan sebaran fasilitas ibadah yang terdistribusi di 9 kabupaten/kota.47 Katolik 16.28 Tingkat Pendidikan Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2007 Komposisi Penduduk Menurut Agama Penduduk Provinsi Papua Barat sebagian besar adalah pemeluk agama Kristen yang jumlahnya mencapai 50.51 7.63 11.

380 KK.325 8.54 1.29 3 5.13 0 0.03 0.254 5.48 50.067 1.03 0 0.19% atau sebanyak 46.505 2.344 16.190 9.64 3 135.580 9.607 4.891 72.52 1 23.513 35.998 11.01 0.02 0.70 14.803 189.065 146 417 2.390 8.22 90.04 52.380 34.915 9. Tabel 1. Angka yang sungguh sangat memprihatinkan.474 7.87 2006 0 46.08 0.032 5.02 0.832 49.4.42 0.90 7 3.17 8.012 11.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 9.52 2007 0 46.380 34.980 8.33 6 118.04 0.01 0.60 0 23.87 2005 0 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-75 .532 17.029 3.01 0.35 40.66%.03 13.02 0.29 0.27 51.160 6.665 5.90 41.19 71.98 6. Sedangkan untuk Keluarga Sejahtera III dan III plus hanya 7.01 0.02 0.07 0.05 0 0.93 59.032 13.11 34.50 51.15 0.503 34.415 1. Keluarga yang masih ada pada tahap Pra Sejahtera hampir mencapai separuh keluarga yang ada di Provinsi Papua Barat yaitu 39.01 0 0.568 8.699 3.10 7 28.27 5.092 40.94 41.767 6.475 KS II 2.524 36.01 0.52 1 KS III 1.03 0 0.756 4.40 5. 34 Tingkat Kesejahteraan Keluarga di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 4.533 KS III + 178 5.01 0 0 0.19 36.664 3.08 22.22 44.02 0.350 636 4.70 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 1.12 2 3 4 5 6 7 8 9 Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 39.77 4.84 48.075 426 9.585 Tahapan Keluarga Sejahtera Prasejahtera KS I 4.140 18 97 563 86 731 271 2.12 0.02 0.20 2 118.01 0.255 3.476 10.576 10.36 0.01 0.88 7.700 498 1.060 15.729 19.92 8 9.13 0.3 Tingkat Kesejahteraan Penduduk Tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan kategori dari BPS di Provinsi Papua Barat masih cukup rendah.84 44.698 112 1.35 9 53.533 8.33 6 Jumlah 55.

094 5.113 12.298 106. 316.66 5. Tabel 1.382 316.487 3.4 Ketenagakerjaan Identifikasi aspek ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat dapat menggambarkan sektor potensial dan penyerapan tenaga kerja ditiap sektor.661 223.084 210.883 91.506 83.29 Tahapan Kesejahteraan Keluarga 1.85 % sudah bekerja.577 25.584 14.396 88.080 13. Angkatan kerja adalah penduduk yang sedang bekerja ditambah dengan pencari kerja.441 22. 35 Kondisi Ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 NO 1 2 Jenis Kegiatan Utama Penduduk Usia Kerja Angkatan Kerja • Bekerja (Pengangguran Terbuka) Bukan Angkatan Kerja • Sekolah • Mengurus Rumah Tangga • Lainnya 4 TPAK (%) 5 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Laki-Laki 266. Dari jumlah angkatan kerja tersebut.018 47. Pengangguran di Provinsi Papua Barat tercatat sebesar 26.81 Perempuan 235.382 jiwa atau 72% masuk dalam kategori angkatan kerja.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.218 116.193 26.678 20.61 11.08 Jumlah 502.400 jiwa di mana yang sebesar 342.15 7. Fenomena ini sangat erat korelasinya dengan masalah yang ditemukan yaitu tidak tertampungnya perempuan pada tenaga kerja sektor formal.65 • Mencari Pekerjaan 3 LAPORAN AKHIR 1-76 .951 50.193 jiwa atau 88.971 43.739 119.400 342. Penduduk usia kerja yang ada di Provinsi Papua Barat sebesar 502.189 jiwa dimana 56% dari pencari pekerjaan tersebut adalah perempuan.189 160.4.457 68.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Gambar 1.30 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Papua Barat Tahun 2007

Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

TPAK menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) mengindikasikan besarnya penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) yang aktif secara ekonomi di suatu negara atau wilayah. TPAK diukur sebagai persentase jumlah angkatan kerja (bekerja dan pengangguran) terhadap jumlah penduduk usia kerja. Indikator tersebut menunjukkan besaran relatif dari pasokan tenaga kerja (labour supply) yang tersedia untuk memproduksi barang-barang dan jasa dalam suatu perekonomian. Sedangkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) diukur sebagai persentase penganggur terhadap jumlah angkatan kerja. TPT memberikan indikasi tentang penduduk usia kerja yang termasuk dalam kelompok pengangguran. TPT merupakan rasio jumlah penganggur terbuka terhadap jumlah angkatan kerja. Tingkat Pengangguran Terbuka di Provinsi Papua Barat adalah 7,65 %. Angka ini di bawah angka penganguran Indonesia sebesar 9,9 %. Terdapat perbedaan tingkat partisipasi antara pria dan wanita yang tercermin dari angka TPT pria sebesar 5,81 % dan wanita 11,08 %. Tabel 1.36 Penduduk Usia Kerja di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Golongan Umur
Golongan Umur 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran 18 996 5 339 39 779 7 764 44 925 5 814 42 298 3 379 47 348 2 546 38 529 857 32 286 313 24 399 123 Jumlah 24 335 47 543 50 739 45 677 49 894 39 386 32 599 24 522 % Bekerja thdp AK 78,06 83,67 88,54 92,60 94,90 97,82 99,04 99,50

LAPORAN AKHIR 1-77

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028
Jumlah 14 833 12 854 342 382 296 146 312 478 292 446 % Bekerja thdp AK 99,91 99,68 92,35 90,54 89,83 88,86

Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran 55-59 14 820 13 60+ 12 813 41 Papua Barat 316 193 26 189 2007 268 117 28 029 2006 280 705 31 770 2005 259 863 32 583 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

Golongan Umur

Tingkat pengangguran di Provinsi Papua Barat relatif sedang,

berdasarkan golongan

umur, banyak dari golongan umur 20-24 yang belum mendapatkan pekerjaan, tertampung pada 9 lapangan usaha. Jumlah penduduk pada golongan umur 25-29 yang bekerja mencapai 44.925 jiwa. Dari tahun 2005-2008 angka jumlah angkatan kerja di Provinsi Papua Barat semakin meningkat dengan jumlah penduduk bekerja yang juga meningkat dan jumlah pengangguran yang menurun. Tabel 1.37 Penduduk Usia Kerja di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota
Golongan Umur Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2005 Angkatan Kerja Bekerja 19.468 16.025 11.344 24.971 93.999 27.744 45.897 17.171 59.574 316.193 268.117 259.863 Pengangguran 3.081 1.330 949 2.118 3.627 908 2.413 525 11.238 26.189 28.029 32.583 22.549 17.355 12.293 27.089 97.626 28.652 48.310 17.696 70.812 342.38 2 296.146 292.446 86,34 92,34 92,28 92,18 96,28 96,83 95,01 97,03 84,13 92,35 90,54 88,86 Jumlah % Bekerja thdp AK

Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

Dari Tabel 1.37 diatas terlihat bahwa jumlah pengangguran terbesar di Provinsi Papua Barat terdapat di Kota Sorong yaitu sebesar 11.238 jiwa. Demikian pula jika ditinjau dari persentase penduduk yang bekerja terhadap angkatan kerja maka Kota sorong memiliki persentase yang paling kecil. Jumlah pengangguran terkecil terdapat di Kabupaten Raja Ampat yaitu sebesar 525 jiwa dengan persentase penduduk yang bekerja terhadap angkatan kerja yang paling tinggi yaitu sebesar 97,03 %.

LAPORAN AKHIR 1-78

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Tabel 1.38 di bawah ini menjelaskan mengenai jumlah penduduk yang bekerja menurut lapangan kerja utama yang dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu sektor primer (Agriculture), sektor sekunder (Manufacture) dan sektor tersier (Services). Sektor A(Agriculture) termasuk didalamnya sektor pertanian. Sektor M (Manufacture) meliputi sektor pertambangan, Industri, listrik, gas, dan bangunan/konstruksi. Sedangkan sektor S Services) termasuk didalamnya sektor perdagangan, angkutan, pergudangan, keuangan, perusahaan, dan jasa masyarakat. Tabel 1. 38 Jumlah Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2007 di Provinsi Papua Barat
Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Lapangan Pekerjaan Utama A 9186 8146 1184 11609 60769 13895 20703 9521 4292 M 2417 673 154 2684 5823 646 8293 481 9568 S 8834 3788 1279 3789 14768 4933 10425 2610 27647 Total 20437 12607 2617 18082 81360 19474 39421 12612 41507

Papua Barat 139305 30739 78073 248117 Sumber : Statistik Tenaga Kerja Provinsi Papua Barat 2008

Dari tabel diatas terlihat bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor yang dominan yang digeluti oleh penduduk di setiap kabupaten di Provinsi Papua Barat kecuali Kota Sorong. Hal ni disebabkan karena karakteristik perkotaan yang telah mendominasi Kota Sorong sebagai pusat perdagangan di Provinsi Papua Barat. Untuk kabupaten lainnya, terlihat pola yang jelas yaitu didominasi oleh pertanian diikuti oleh sektor services dan terakhir oleh sektor manufacture. Dari Tabel 1.39 di bawah ini dapat ketahui bahwa jumlah tenaga kerja terserap sesuai data dari BPS adalah sebesar 40.400 jiwa yang terdistribusi pada lapangan pekerjaan sektor pertambangan, pertanian, konstruksi, jasa, industri pengolahan. Dari sekian industri yang terdapat di Provinsi Papua Barat, industri yang mampu menyerap tenaga kerja cukup tinggi adalah industri agro dan industri pengolahan. Tabel 1.39 Penyerapan Tenaga Kerja pada Sektor Industri Tahun 2007
Jenis Industri Industri Besar Agro Jenis Pertambangan Jumlah TK 2.847 13.189

LAPORAN AKHIR 1-79

pulau ini dibagi menjadi 2 bagian. Pada awalnya. Adat Suku-suku yang mendiami di Provinsi Papua dan Papua Barat tercatat ada 206 suku-suku.950 3.kulit Logam.218 1. Provinsi Irian Jaya dan Provinsi Irian Jaya Barat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 industri pengolahan listrik gas Konstruksi Penggalian Perhotelan 12.hasil hutan Total Tenaga Kerja (jiwa) Sumber : Statistik Tenaga Kerja Provinsi Papua Barat 2008 Jenis industri pertambangan meskipun memberikan sumbangan yang sangat besar pada perekonomian. Ketrampilan dan keahlian juga menjadi kriteria penting bagi industri skala besar untuk mendapatkan sumber daya manusia yang lebih produktif. yaitu : Provinsi Papua. 1.275 3. Irian Jaya Barat dibentuk pada tanggal 6 Februari 2006 dan berubah namanya menjadi Papua Barat pada tanggal 7 Februari 2007. yakni antara 00 – 120 Lintang Selatan.279 262 399 1. yaitu bagian Barat menjadi milik Belanda sedangkan bagian Timur menjadi milik Jerman. Irian Jaya secara resmi menjadi bagian Republik Indonesia tahun 1963 setelah ditanda tanganinya New York Agreement antara pemerintah Indonesia dan Belanda tahun 1962 atau 18 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Di antara suku-suku itu mendiami wilayah provinsi Papua Barat tercatat ada sekitar 67 LAPORAN AKHIR 1-80 . Berdasar perjanjian Den Haag tanggal 16 Mei 1895.agro.besi elektro Kimia.5 Adat dan Budaya Tradisional Provinsi Papua Barat adalah provinsi yang letaknya paling Timur dari Negara Kepulauan Republik Indonesia. sehingga penduduk yang tidak memiliki keahlian tertentu dengan sendirinya akan tersisihkan dari dunia kerja formal.4.400 Industri Kecil Menengah Sandang. Pernyataan bergabung dengan Indonesia dilakukan melalui PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) yang diadakan tahun 1969.162 1.819 40. Iklimnya tropis lembab karena letaknya di bawah khatulistiwa. Pada tahun 2003 pemerintah Indonesia membagi wilayah Provinsi Irian Jaya menjadi 3 (tiga) provinsi. A. Provinsi ini terletak di Pulau New Guinea yang merupakan pulau terbesar dalam kepulauan Melanesia. ternyata penyerapan tenaga kerjanya tidak besar sebab kebutuhan pekerja ini disuplai oleh wilayah lain dan pekerja dari mayarakat Papua sendiri merupakan minoritas. Papua Barat menjadi satu provinsi dengan Irian Barat (1 Mei 1963 – 1973) dan kemudian berubah nama menjadi Irian Jaya (1973 – 2000).

Irarutu. Konda. As. Moraid. dan Mapia. Seget. Sekar. Pada suku-suku ini dikelompokkan dalam klan. Buruai. Hatam dan Manikion yang sering disebut orang Arfak tinggal di Kabupaten Manokwari dan terdiri dari 35 klan. tanah ibarat seorang ibu yang memberikan kehidupan bagi anaknya. Suku-suku itu adalah Suku Matbat. Mor. Pom. Yaur. Onin. Tanah merupakan modal awal kehidupan. Biga. Kamoro. Sistem perkawinan Suku Maibrat dan Karon di Kabupaten Sorong didasakan pada exogami klan kecil patrilineal (dalam bahasa Karon disebut rae sawam).klan yang merupakan bagian dari masyarakat. Tanahmerah. Kokoda. Kowiai. Tunggare. Duriankere. Moskona. Mpur. Pada saat melamar ketua klan dan tokoh-tokoh adat serta semua kerabat dari kedua belah pihak akan ikut serta. Suabo. Manikion. Abun. jika terjadi perpindahan kepemilikan atas tanah. Puragi. Mai Brat. Arguni. Dengan demikian. Kemberano. tanah adat adalah satu hal yang sangat penting. Moile. dalam tanah terkandung dan terkait berbagai nilai di antaranya nilai ekonomi. Dengan demikian. Kalabra. Mer. Uruangnirin. Bedoanas. Yahadian. Moi. Legenyem. Wauyai. Woi. politis. Jadi. Iresim. Meoswar. Iha. pertahanan dan religius magis. Biak. Acara pesta seperti itu adalah makan bersama. Dianggap sebagai exogami jika seorang pria Maibrat atau Karon kawin dengan gadis dari klan lain yang tinggal mengelompok di desa lain dan dianggap endogami jika seorang pria kawin dengan garis lain dari klan kecil lain tapi tinggal mengelompok di desa yang sama. Dalam pandangan suku-suku asli Papua pada umumnya. Karas. Pengawasan terhadap anak gadis sangat ketat sehingga seorang pemuda tidak mudah mengganggunya. Kais. Waigeo. Perkawinan di antara orang Arfak biasanya banyak diatur orangtua dan para kerabatnya. Wandamen. Kaburi. menari dan memuji seseorang dengan dengan pantun yang dilagukan. Yeretuar. Apabila seorang pemuda menaruh hati pada seorang gadis maka orang tua si pemuda akan melamar gadis itu untuknya. Sekarang pemuda dan pemudi sering mendapatkan jodoh melalui acara-acara adat seperti pesta tari adat yang bernama ares komer. menyanyi. Roon. LAPORAN AKHIR 1-81 . Arandai. Baham. Tandia. fungsi tanah terintegrasi ke dalam keseluruhan aktivitas kehidupan. Kawe.Tanah adat dalam konsep orang Papua adalah hak milik sekaligus hak atas penguasaannya. Hatam.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 suku. Maden. Mairasi. perpindahan itu menjadi urusan komunal atau urusan semua anggota suku bukan urusan individu semata. Kadang-kadang orang sudah dijodohkan sejak kecil. Ansus. Kepemilikan tanah bagi suku Papua bersifat komunal. Dusner. Ekari. Kamberau. Perkawinan antar keluarga dari pihak ayah dilarang sampi keturunan yang ke-4 dan ke-5. Kuri. Meyah. Karon Dori. Suku Meyah. Semimi. Ma’ya. Erokwanas. Bagi mereka. Tehit.

3) Adanya kewenangan tertentu dari masyarakat hukum adat itu untuk mengelola tanah wilayahnya. LSM dan instansi terkait dengan sumber daya alam. UUPA (Undang-Undang Peraturan Agraria) tidak menentukan kriteria mengenai eksistensi hak ulayat. mempunyai kekayaan tersendiri terlepas dari kekayaan perseorangan. Pengakuan eksistensi hak ulayat oleh UUPA (pasal 3) merupakan hal yang wajar. tanah (untuk mengatur (pembuatan bercocok persediaan pemukiman/persawahan baru dan lain-lain) dan pemeliharaan tanah. peruntukan dan pemanfaatan serta pelestarian wilayahnya. Seperti juga hak atas tanah lainnya. dalam pelaksanaanya hak ulayat mengenal adanya fungsi sosial. 2) Mengatur dan menentukan hubungan hukum antara orang dengan tanah (memberikan hak tertentu pada subjyek tertentu). warisan dan lain-lain). dapat dikatakan penentu kriteria-kriteria masih ada atau tidaknya hak ulayat dilihat pada tiga hal. 3) Mengatur dan menetapkan hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan hukum yang berkenaan dengan tanah (jual-beli. Tetapi mengacu pada konsepsi yang bersumber pada hukum adat. 2) Obyek hak ulayat. yakni: 1) Subyek hak ulayat. hubungan antara masyarakat hukum adat dan tanah/wilayahnya adalah hubungan menguasai bukan memiliki. mempunyai batas wilayah tertentu. dan penggunaan lain-lain). Hak ulayat tersebut berisi wewenang untuk: 1) Mengatur pemukiman. karena hak ulayat beserta masyarakat hukum adat telah ada sebelum terbentuknya negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Menurut Maria Sumardjono (2006) beberapa ciri pokok kelompok masyarakat hukum adat adalah mereka merupakan suatu kelompok manusia. Dengan demikian.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Hak yang melekat sebagai kompetensi khas pada masyarakat hukum adat berupa wewenang/kekuasaan mengurus dan mengatur tanah seisinya dengan daya laku ke dalam dan keluar disebut sebagai hak ulayat. Hal itu berarti bila tanah ulayat diperlukan untuk kepentingan umum ataupun kepentingan lain LAPORAN AKHIR 1-82 . mempunyai kewenangan tertentu. termasuk menentukan hubungan yang berkenaan dengan persediaan. hak ulayat tidak bersifat ekslusif. Jadi. Menurut Maria Sumardjono (2006). yakni tanah wilayah yang merupakan ruang tempat hidup dan bekerja (Lebensraum) mereka. hak ulayat menunjukkan hubungan hukum antara masyarakat hukum (subyek hak) dan tanah/wilayah tertentu (obyek hak). Penentuan kriteria keberadaan hak ulayat dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) dengan mengikutsertakan masyarakat hukum adat. yaitu masyarakat hukum adat itu yang memenuhi karakteristik tertentu . dan menyelenggarakan tanam.

Mereka telah membangun orang Papua dengan logika dan dinamika orang Papua sendiri. bukan dengan cara big logging company (pembabatan hutan oleh perusahaan besar) ataupun HPH (Hak Penguasaan Hutan). Dalam upaya mencapai kesepakatan. Pembangunan di Indonesia Bagian Timur khususnya Provinsi Papua Barat sebaiknya dikhususkan pada segi-segi yang antropologis. Misalnya. Pembangunan di Papua Barat sebaiknya ditata bersama pemerintah setempat. pengembangannya lebih ditekankan pada pendidikan dan ketrampilan berdasarkan karakteristik lingkungan setempat. kompensasi yang diberikan kapada masyarakat hukum adat hendaknya mempertimbangkan hilangnya atau berkurangnya sumber daya alam yang menjadi penghidupannya dan hilangnya pusat-pusat budaya dan religi masyarakat hukum adat tersebut. Aditjondro J. sosiologis dan berwawasan lingkungan. ahli ekonomi maupun ekologi perlu dilibatkan untuk merekayasa unit-unit kegiatan yang fungsional. Bukan karena mereka mau mendirikan satu negara sendiri yang lepas dari Republik Indonesia. Dengan kata lain. Di Asmat dimisalkan ada 10 kampung. semacam prakoperasi yang mensuplai kebutuhan kayu untuk bangunan pemerintah. (2003) mengatakan bahwa dalam pengamatannya selama 10 tahun di Irian Jaya (1977-1987) seringkali protes-protes warga masyarakat terhadap pemerintah atau kelompok lain hanya dilandasi kekhawatiaran mereka bahwa sumberdaya alam mereka tak akan dapat memenuhi kebutuhan mereka maupun anak cucu mereka. pemanfaatan hutan di Papua. tapi oleh komunitas setempat. Manfaat yang diperoleh pihak luar hendaknya juga dapat bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup dari masyarakat hukum adat yang bersangkutan. Jadi pembangunan di Papua Barat berdasarkan karakteristik dan budaya yang terdapat pada masyarakatnya. Ahli antropologi. Pemberian bidang tanah ulayat oleh masyarakat hukum adat dapat ditempuh dengan cara dilepaskan selamanya atau diberikan penggunaannya dalam jangka waktu tertentu. Ketika berhadapan dengan hak ulayat diperlukan kesadaran dari pihak luar yang berarti harus membuka diri untuk memahami kesadaran hukum suatu masyarakat (yang dalam hal ini masyarakat Papua Barat) yang terwujud dalam tindakan nyata sehari-hari berangkat dari sudut pandang dan pola pikir masyarakat yang bersangkutan. di setiap kampung ada satu kelompok gergaji tarik. Untuk pengembangan ekonomi di Papua Barat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. maka hak ulayat dapat diberikan pada pihak lain. pola-pola ekonomi harus ditata dengan LAPORAN AKHIR 1-83 . tempat ibadah ataupun memasok kebutuhan kayu untuk bangunan kaum transmigaran. atau para pendatang memperlakukan sumber daya alam mereka tidak sesuai dengan tradisi penduduk setempat. Kita bisa belajar dari Missi atau LSM di sana.

Norma tersebut di atas mengandung pengertian bahwa bila kita mengabaikan keharmonisan hubungan dengan sesama. Kelompok kekerabatan terkecil dalam masyarakat Suku Arfak adalah keluarga luas virilokal yang menghuni satu rumah (tumitsen). Satu tumitsen biasanya mempunyai 3-5 kamar. termasuk roh-roh yang hidup di alam serta keharmonisan antara manusia dengan arwah leluhurnya”. manusia dengan alam sekitarnya. Budaya Tradisional 1. Hukuman ini ditimpakan kepada seseorang yang telah melakukan tindakan hanom. kemenakan ataupun ipar. Ada satu hukuman yang sangat berat yang berlaku dalam adat suku di Papua Barat yaitu dibunuh tanpa boleh membela diri atau mendapat pembelaan dari siapapun. sedang lantainya dari belahan nibung atau bambu. dibangun rumah yang baru. Rumah dibangun cukup besar dan berbentuk segi empat dan dinding-dindingnya terbuat dari kulit pohon dan tanpa jendela. tapi jika ada orang yang melanggar suatu hukum adat akan dihukum oleh melalui pengadilan adat yang terdiri dari para kepala klan. seorang pria yang telah menikah menetap di rumah orang tuanya di tengah-tengah para kerabatnya (yaitu adat virilokal). termasuk paman. yakni berzina atau melakukan perzinahan dengan seseorang yang masih ada hubungan kekerabatan yang dekat (incest). dengan persetujuan ayah dari anakanak pria tadi. Walau tidak ada hukum formal dalam adat suku-suku ini. Norma yang berlaku dalam adat suku-suku ini adalah ”menjaga keharmonisan antara manusia dengan manusia. Dalam satu rumah biasanya terdapat kamar untuk wanita (meraja) dan kamar pria (meiges) serta sebuah ruang duduk (umersa) di tengah. Tidak adanya jendela menyebabkan asap pekat dari perapian dari dalam rumah orang Arfak sangat mengganggu pernafasan dan berakibat banyaknya penduduk yang terkena penyakit paru-paru. sebanyak pasang suami istri yang ada. Bersetubuh dengan saudara sendiri atau istri orang lain. terdiri dari sepasang suami istri bersama keluarga inti dari 3-5 anak pria mereka.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 lebih kreatif dan dikembangkan berdasarkan karakteristik ekonomi dan kultur etnis setempat. Kampung dan Rumah Menurut adat. kepala kampung. Apabila daya tampungnya terbatas. Pohon yang digunakan untuk tiang tengah rumah disebut mesiyi (bahasa Meyah). kepala desa dan beberapa tokoh orang tua lainnya. B. maka kita akan selalu berada dalam konflik dengan sesama. lantai di ruang LAPORAN AKHIR 1-84 . Hukuman ini disebut ”Hanom-tagawim”. Suatu rumah dengan suatu tempat khusus untuk upacara dan pesta adat disebut modambau . Atap rumah terbuat dari daun pandan .

Tarian mudi-mudi Tarian ini diadakan di lapangan terbuka yang disebut Tup. Di sini mereka yang saling terpaut hatinya menyatakan kasih sayangnya dengan memberikan suatu benda. atau berjalan atau berlari yang dilakukan sambil bernyanyi. sambil bernyanyi kaum pemuda memberi daun kepada pemudi dan sebaliknya. Si pemuda melambai-lambaikan dedaunan kepada gadis yang disukainya dan bila si gadis menghampiri si pemuda sambil mengikuti irama lagu yang dinyanyikan dan menerima dedaunan yang dilambaikan berarti si gadis juga tertarik pada pemuda tersebut (arama emonggop agewin). merupakan gerakan berlari mondar-mondir di suatu tempat terbatas. Tarian ini dapat berlangsung semalam suntuk. ada persamaan dalam hal bentuk dan bahan material dari bangunan rumah walau ada sedikit perbedaan dalam hal penggunaan dan pemanfaatan ruangan. Muda-mudi duduk berhadapan muka. d. yaitu: a. b. dipisahkan oleh tungku apui. Para muda-mudi duduk berhadapan dipisahkan ole tungku api di antara mereka. Tem. Pipakwean. di dalam sinar nyala api. Sebelum masa pendudukan (sivilisasi) sebuah kampung suku Amungme yang cukup besar biasanya terdiri 15 – 20 buah rumah keluarga (Onggoi) dengan 5 – 8 buah rumah laki-laki (Itorei). Dalam tarian ini para penari membentuk lingkaran sambil menyanyikan lagu-lagu asmara. Ada tiga macam tarian. seirama dengan lagu yang dibawakan. c.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 tengah tak dialasai dengan batang-batang nibung sehingga menari dilakukan di atas tanah. Ada tarian muda-mudi yang berlangsung di dalam rumah yang disebut Tem. gerakan ini diadakan di dalam rumah. dan Anyam-anyaman Ada empat bentuk tarian dalam adat suku ini yaitu: a. merupakan gerakan berputar di tempat. b. Ukir. Gerakan ini diikuti langkahmengikuti irama. Kalau dibandingkan dengan rumah suku Amungme yang hidup di lembah-lembah pegunungan bagian tengah di Irian. Weantagawi. Tarian Pesta LAPORAN AKHIR 1-85 . Dalam tarian ini para pemuda dan pemudi menyanyikan lagu dan pantun tentang cinta. Tup. 2. maju dua langkah dan mundur dua langkah seirama dengan lagu yang dibawakan. merupakan gerakan dua orang yang saling berhadapan muka sambil menghentakkan kaki di tanah bersama-sama. Seni Tari.

Seni ukir terbatas pada mengukir anak panah. Warna merah dibuat dari tanah merah yang digali dari dalam tanah. Arandai. Lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu kegembiraan. Bahasa-bahasa yang digunakan ada 67 bahasa. C. Biga. merah dan kuning. Tarian Perang Tarian perang mirip dengan tarian pesta. Warna hitam dibuat dari asap lemak babi dan damar.Moskona. Hiasan dan busana bagi wanita adalah rumbai-rumbai yang dibuat dari alang-alang dan serat kulit kayu yang diikatkan dipinggang dan kalung manik-manik (gemsya). Abun. As. Meyah. Waigeo. LAPORAN AKHIR 1-86 . yakni : bahasa Matbat. Manikion. Warna-warna yang mendominasi yang digunakan dalam kerajinan adalah putih. Duriankere. Orang-orang datang sambil menyanyi lalu masuk ke lapangan pesta. Kawe. Warna putih dibuat dari tanah liat. Serat-serat itu diambil dari batang pohonnya kemudian dipintal menjadi benang yang kemudian dengan ini digunakan untuk membuat berbagai barang kebutuhan hidupnya. Ma’ya. breya (anyaman kulit dan bulu burung atau kasuari untuk hiasan kepala). Seget. Ukiran-ukiran yang khas itu juga dibuat padap perlatan-peralatan perang lainnya. Wandamen. hitam. Hatam. Biak. arang dapur atau dari buah-buahan hutan. c. mi’yepa (hiasan kepala yang dianyam memakai manik-manik). 3. Di provinsi Papua Barat sendiri tercatat ada 67 suku yang mendiaminya. Sedangkan warna kuning dibuat dari akar tumbuh-tumbuhan dan tali-talian hutan. Moi. Kemudian mereka mengadakan tarian Tup yang ditarikan sepanjang pesta. Para wanita dan pria orang Arfak biasanya mengenakan perhiasan yang berupa gelang yang terbuat dari anyaman tali rotan dan disebut liya. Kebhinekaan Bahasa di Papua Di Provinsi Papua. Mereka berdiri membentuk lingkaran dan berputar sambil meneriakkan kata-kata “ka”. Moraid. Mpur.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tarian ini biasanya dilakukan di lapangan terbuka. Maden. Legenyem. Di waktu senggang seorang pria Arfak mengukir serta melukis busur dan anak panahnya. isi keladi putih yang membusuk atau abu dari tungku api. Provinsi Irian Jaya dan Provinsi Papua Barat tercatat ada 310 bahasa yang digunakan masyarakatnya. kesenangan dan pujian. Kerajinan Seni ukir kurang begitu dominan dalam kebudayaan suku di wilayah Papua Barat. Wauyai. Yang membedakannya adalah lagu-lagu yang dibawakan dalam tarian perang berisi lagu-lagu perjuangan yang membangkitkan semangat juang. de’maya (kalung). Karon Dori.

Meoswar. Woi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kaburi. Moeliono dalam bab berjudul ”Ragam bahasa di Irian Barat” dalam buku berjudul Penduduk Irian Barat (1963: hal. Dapat dikatakan provinsi ini menyimpan potensi sumberdaya manusia dan budaya. Kemberano. Irarutu. Seorang ahli bahasa bernama C. Kais. Mor. Kamberau. sebagian besar kepulauan Raja Ampat. Iresim. Bedoanas. Tandia. Waropen Bawah dan Atas di sekitar Waren. Konda. derah Yapen Timur dan Barat serta pulaupulau sekitarnya. Puragi. Kuri. sebagian derah fak-fak dan Kaimana serta kepulauan kepulauan sekitar Kaimana. Tunggare. Tehit. Yeretuar. bahasa-bahasa di Non-Melanesia di provinsi Papua.M. yaitu fila bahasa-bahasa Melanesia dan fila bahas-bahasa non-Melanesia. Pom. Loukotka telah melakukan upaya untuk mengklasifikasikan kebhinekaan bahasa di Papua dan dimuat secara singkat oleh A. 2) fila Papua Barat. fila Kuomtari tingkat golongan (lihat peta B). Menurut klasifikasi Loukotka ada paling sedikit 31 golongan bahasa di Papua. 5) fila Warnbori tingkat isolat. Kowiai. Erokwanas. Bahasa-bahasa di provinsi Papua dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan besar yang oleh ahli linguistik disebut phylum (fila). 6) fila Taurap (Borumeso) tingkat isolat. daerah kepulauan Biak-Suntori. Buruai. Alor. Mai Brat. Dusner. Sedangkan bahasa-bahasa non-Melanesia yang digunakan di Papua adalah khas Papua yang tidak mempunyai hubungan linguistik dengan bahasa-bahasa di luar Papua dan Papua Niugini. 8) fila Sko tingkat golongan. Tanahmerah. Ekari. Yahadian. Suabo. 3) fila Teluk Cendrawasih. Sekar. Mer. Provinsi Papua berada di deretan Kepulauan Melanesia yang melingkar mulai dari kepulauan di sebelah Timur-laut Papua dilanjutkan ke arah Timur benua Australia hingga kepulauan Fiji di sebalah Utara Selandia Baru. Kokoda. Pantar dan Halmahera Utara (Koentjaraningrat. provinsi Irian Jaya dan Provinsi Papua Barat terdiri dari 9 fila. Di dalamnya terdapat 234 bahasa yang masih diklasifikasikan LAPORAN AKHIR 1-87 . 33-35). Kamoro. Roon. Sumberdaya budaya yang dalam hal ini keragaman bahasa perlu mendapat perhatian untuk dikembangkan terlebih dahulu sebelum pengembangan sumberdaya alam dan sumberdaya penduduk Papua Barat itu sendiri untuk mendukung kegiatan pembangunan di provinsi Papua Barat. Yaur. Iha. Baham. kecuali dengan bebereapa bahasa di pulau Timor. Mairasi. Ansus. 1994). Persebaran fila bahasa-bahasa Melanesia di ke tiga provinsi ini terlihat di peta B. dan Mapia. Kalabra. Karas. Uruangnirin. yaitu daerah bagian belakang leher burung danpulau-pulau yang berhadapan dengan daerah pantai Waropen. Semimi. Arguni. yaitu: 1) fila Trans Irian. Pulau Numfor derah sekitar Manokwari. Berdasarkan pembagian fila. 7) fila Pauwi tingkat isolat. Onin. Di seluruh Papua dapat digolongkan ke dalam bahasa-bahasa Melanesia. 4) fila Kepala burung bagian Timur tingkat golongan.

5. Baham.1 Peranan dan Kontribusi Perekonomian Wilayah Provinsi Papua Barat dalam Konteks Nasional LAPORAN AKHIR 1-88 . Arguna. Di samping itu pemahaman terhadap bahasa-bahasa di provinsi Papua akan dapat mengurangi kesalah pahaman serta konflik yang mungkin timbul diantara penduduk asli dengan pihak-pihak luar yang berkaitan dengan perencanaan dan pembangunan di wilayah ini. Pengetahuan terhadap keragaman bahasa-bahasa di provinsi Papua Barat memang mutlak diperlukan untuk dapat mengkomunikasikan kepada penduduk tentang dan turut berpartisipasi di dalam perencanaan pembangunan serta manfaatnya khususnya progam-progam yang ada dalam RTRW Papua Barat agar mereka berperan serta Barat pembangunanan. Buruwai. Karas. Irasutu. Tetapi ada 13 bahasa yang sama sekali berbeda golongannya. Menurut Index of Irian Jaya Language. Bahasa-bahasa di Kabupaten Sorong Bahasa-bahasa di Kabupaten Manokwari Bahasa-bahas di Kabupaten Biak-Numfor Bahasa-bahasa di Kabupaten Paniai Bahasa-bahasa di Kabupaten Fakfak Bahasa-bahasa di Kabupaten Irian Jaya Barat-daya Bahasa-bahasa di Kabupaten Jayapura Bahasa-bahasa di KabupatenJayawijaya Bahasa-bahasa di Kabupaten Merauke Bahasa-bahasa di Kabupaten Irian Jaya Tenggara Penggolongan bahasa menurut kabupaten itu berbeda dengan klasifikasi berdasarkan asas-asas linguistik. Bahasa Hatam dan Moile termasuk fila Kepala Burung Bagian Barat sedang bahasa Meyah dan Manikion adalah fila Kepala Burung Bagian Timur. Bahasa Maibrat. f. yaitu golongan Fila Trans Irian yaitu Suabau. Uruangnirin dan Yaier. Mairasi. c. Mor. Mer. Sebagai contoh misalnya bahasa-bahsa di kabupaten Fakfak. mainasi. j. Kamberau. Bedoanas. ada 22 bahasa dan beberapa diantaranya termasuk fila Austronesia-Melanesia. e. d.5 ASPEK EKONOMI WILAYAH 1. Koiwai.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 juga secara geografikal. Kokoda. h. bahasa Madik dan bahasa Karon adalah bahasa-bahasa yang berbeda dan oleh para ahli linguistik dimasukkan dalam satu golongan yaitu fila Papua Barat. g. 1. Sekai. Iha. Erokavanas. b. yaitu Onin. yang mendekati pembagian administratif dan provinsi ke dalam 10 kabupaten yaitu: a. i. Semini dan Kamoro.

785.059 0. Beberapa sektor unggulan seperti pertambangan dan perikanan memang diekspor ke luar wilayah. pendapatan per kapita ini tidak dapat digunakan untuk mengukur pendapatan di lapangan.296.10 771. Tabel 1.903.693.67 565.968.89 622. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan.928.528.201. Kekayaan alam yang berlimpah terutama di sektor primer Apabila ditinjau dari pendapatan per kapita.724.592 0. Persewaan.944.050.037. Gas.984. Provinsi Papua Barat memiliki pendapatan per kapita pada tahun 2005 sebesar Rp 12. Kontribusi terbesar kepada Indonesia oleh Provinsi Papua Barat adalah pada sektor primer sebesar 1.20 276.000. meningkat 177% dibandingkan tahun 2000 yaitu Rp.587.225 0.2 Struktur Ekonomi Wilayah Provinsi Papua Barat PDRB dan Perkembangannya Berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku.339. yaitu dari perikanan dan pertambangan. Angka ini menunjukkan.50 195.580.281 0.176.90 430. PDRB Provinsi Papua Barat mencapai 8.70 230.29 39.289 0.717.072.149 0.13 508.91 PDRB Indonesia (dalam juta Rupiah) 363. dan Jasa Jasa-jasa Total PDRB Papua Barat (dalam ribu Rupiah) 2. tiap lapangan usaha memiliki kontribusi tidak lebih dari 1%.775.20 180. 1.154. Hal ini berarti bahwa peningkatan PDRB di Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-89 . 2006 Dekripsi lebih dalam tentang kontribusi Provinsi Papua Barat dapat ditunjukkan dengan presentase tiap lapangan usaha terhadap PDRB Indonesia.00 26.879.00 769.00 2.568.94 triliun rupiah.27 7.11 1.179 0.088%.79 137. orientasi untuk meningkatkan perekonomian dapat dikatakan masih sebatas untuk memenuhi kebutuhan ekonomi wilayah ini.40 Kontribusi (%) 0.5.205 0. Nilai PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan juga menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.284 Sumber : BPS. menempati peringkat ke-5 dari 33 provinsi.034.089.80 308. Secara umum.370.40 Persentase PDRB Papua Barat terhadap PDRB Indonesia Tahun 2005 dirinci per Lapangan Usaha Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.152.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2005. 6.29% PDRB Nasional. Meskipun demikian.223. nilai PDRB Provinsi Papua Barat menempati ranking ke 29 dari 33 Provinsi di Indonesia dan menyumbang sekitar 0.76 1.496 0.

27 149.22 Perkembangan (%) 100.59 116.104.4 kali lipat antara kurun waktu 2000-2006.89 4.903.28 10 369 836. PDRB Provinsi Papua LAPORAN AKHIR 1-90 .98 4.32 4.19 140.576.597.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bukan hanya karena dampak inflasi namun menunjukkan kenaikan produksi yang nyata.18 5.02 315.201.089.03 262.91 4.555.370.796.9 triliun.51 triliun pada tahun 2006.49 121.601.297.95 160. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tersebut berkembang sebesar 1.204.304.41 PDRB Provinsi Papua Barat Atas dasar Harga Berlaku dan Konstan 20002008 Tahun PDRB atas Dasar Harga Berlaku Jumlah (Juta Rp) 3.945.22 6.34 5.00 109.13 PDRB atas Dasar Harga Konstan Jumlah (Juta Rp) 3.92 125.601.957.957.391.23 5 934 315.76 Perkembangan (%) 100.969.89 4.17 199. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tahun 2000 adalah sebesar 3.53 4.11 12 471 605.256.91 8.34 108.627.70 226.403.304.31 Perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat Tahun 2000-2006 Besar sumbangan migas untuk PDRB Papua Barat mencapai sekitar 20 persen sehingga sangat mempengaruhi perekonomian di Papua Barat. perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat tanpa migas setara dengan perkembangan PDRB dengan migas.551. Tabel 1.38 7.94 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber: Papua Barat Dalam Angka 2009. Selisih antara PDRB Papua Barat dengan migas dan tanpa migas berdasarkan atas harga berlaku mencapai lebih dari 1 triliun.537.17 5.333.03 140. hasil perhitungan Gambar 1.846.82 6 369 374.00 103.38 166.56 134. Berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku.206. terus meningkat setiap tahunnya hingga menjadi sebesar 5.

PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tersebut berkembang sebesar 1.42 2004 4.289.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 PDRB ADH Berlaku Tanpa Migas PDRB ADH Konstan Tanpa Migas LAPORAN AKHIR 1-91 .795.221.15 146.11 149.42 3. Tabel 1.12 2005 5.49 kali lipat antara kurun waktu 2000-2006.00 165.817.18 113.834.281. PDRB Papua Barat tanpa migas atas dasar harga konstan tahun 2000 adalah sebesar 2.02 4.90 114. Nilai PDRB Papua Barat tanpa migas atas dasar harga konstan juga menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.835.265.42 PDRB Provinsi Papua Barat Atas dasar Harga Berlaku dan Konstan Tanpa Migas Tahun 2000-2006 PDRB atas Dasar Perkembangan PDRB atas Dasar Perkembangan Harga Berlaku (%) Harga Konstan (%) Jumlah (Juta Rp) Jumlah (Juta Rp) 2000 2.669.32 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007.45 100.206.642.75 3.12 106.434. sedikit di atas bawah PDRB dengan migas yang sebesar 1. terus meningkat setiap tahunnya hingga menjadi sebesar 4.23 226.817.81 triliun rupiah.903.700.02 2.15 192.38 2002 3.665.8 triliun rupiah.367.4 kali lipat.147.00 0.802.30 3.00 100.448.00 200. Setiap tahunnya PDRB Papua Barat tanpa migas menurut harga berlaku selalu meningkat. hasil perhitungan Tahun Gambar 1.00 2.34 2003 4.88 3.2 triliun rupiah pada tahun 2006.32 Perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 20002006 250.45 100. Sebelumnya.00 50. pada tahun 2000 besar PDRB adalah 2.89 2006 6.69 138.06 128.36 triliun rupiah.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Barat tanpa migas pada tahun 2006 menurut harga berlaku mencapai 6.137.147.00 150.43 122.912.617.996.00 2001 3.183.431.96 130.417.

69 5.34 13.91 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2000 hingga 2006 sektor migas mengalami inflasi yang cukup tinggi dibandingkan dengan sektor nonmigas. sektor nonmigas mengalami kenaikan produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor nonmigas.56% dan angka pertumbuhan setiap tahunnya yang terus meningkat.08 11. Sementara itu dari segi produksi. Angka pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku tanpa migas lebih fluktuatif dibandingkan PDRB dengan migas.08 persen.17 6. 43 Pertumbuhan PDRB Provinsi Papua Barat 2000-2006 Dengan Migas Tanpa Migas Atas Dasar Atas Dasar Atas Dasar Atas Dasar Harga Berlaku Harga Konstan Harga Berlaku Harga Konstan 2001 9.39 12. Angka rata-ratanya juga menunjukkan angka yang lebih rendah.02 6.02 6.68 persen pada tahun 2003.37 7.03 4. Pertumbuhan setiap tahunnya terus meningkat hingga mencapai 7.83 7.49 2003 15.06 2004 18.29 2005 20. namun lebih fluktuatif. Angka rata-rata pertumbuhan selama tahun 2000 hingga 2006 adalah sebesar 5. Sementara itu.07 13.04 7. LAPORAN AKHIR 1-92 . Rata-rata pertumbuhan dalam kurun waktu tersebut untuk PDRB atas dasar harga berlaku adalah sebesar 14. namun kemudian pertumbuhannya melambat menjadi 6.56 5.68 14.63 7. angka pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan justru menunjukkan rata-rata pertumbuhan yang lebih tinggi dan angka pertumbuhannya juga lebih fluktuatif dibandingkan dengan PDRB dengan migas atas dasar harga konstan.38 7.38 2002 10.85 6.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pertumbuhan ekonomi Papua Barat selalu berada dalam kondisi positif dalam kurun waktu tahun 2000 hingga 2006.66 13.74 16.50 r 14. Analisis pertumbuhan PDRB tanpa migas menunjukkan hasil yang berbeda.48 6.74 2006 13. hasil perhitungan Tahun Pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan juga selalu menunjukkan angka yang positif.74 persen pada tahun 2005. Tabel 1.49 3.

29%.23 2.54 5.73% disusul dengan sektor jas-jas yaitu sebesar 9.35 3.66 Primer 0.07 3. Hal ini menjadikan kelompok sektor primer memiliki angka pertumbuhan yang paling rendah dibandingkan dengan kelompok sektor lainnya.87 8. Kedua sektor ini menjadi sektor dengan angka pertumbuhan di bawah angka pertumbuhan PDRB Provinsi Papua Barat.64 LAPORAN AKHIR 1-93 .55 3.04 30.80 2.00 5. Tabel 1.10 21.91 2.74 4.77 Industri Pengolahan 6.14 1.94 Tersier 7.29 Sekunder 6. Persewaan.75%.78 4.14 9.90 3.00 0.73 6.25 8.84 Keuangan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.14 8.82 7.00 10.68 7. Sementara itu sektor tersier yang terdiri dari sektorsektor sisanya memiliki angka pertumbuhan tertinggi yaitu 9. Gas.20 6.14%. Kelompok sektor sekunder yang terdiri dari industri pengolahan listrik.44).93 14. dan air minum serta bangunan memiliki angka pertumbuhan yang sebesar 8.14% diikuti sektor pertanian sebesar 4.36 0.95 9.31 PDRB 3.52 9. gas.56 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.91 7.28 10.33 7.84 5.75 14.83 9.38 8.76 8.48 9.64%.39 6.97 10.72 12.06 Perdagangan 7.69 4.48% (lihat Tabel 1.19 9.94 1.61 13. dan Air Minum 7.34 -1. Jika dilihat pertumbuhan tiap-tiap sektor maka sektor angkutan dan komunikasi mengalami pertumbuhan yang tertinggi yaitu sebesar 12.00 9.17 5.09 3.52 Listrik.43 4.03 8.00 20.33 Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Papua Barat Tahun 2000-2006 25.13 9.97 2.91 10.38 9.13 12.90 9.29 5.77 9.34 2.59 15. hasil perhitungan r 4.49 Angkutan dan Komunikasi 11.07 7.40 1. dan Jasa -6.77 8.26 12.65 11.00 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Dengan Migas Atas Dasar Harga Berlaku Dengan Migas Atas Dasar Harga Konstan Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan Rata-rata pertumbuhan PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan pada kurun waktu 2000-2006 adalah sebesar 5.65 2.34 8.95 11.43 Pertambangan dan Penggalian -4.07 Jasa-jasa 8.75 9.13 8.33 13.87 10.85 9. Sektor pertambangan dan penggalian memiliki angka pertumbuhan yang paling rendah yaitu sebesar 1.11 -0.25 Bangunan 6.79 8.91 17.44 Pertumbuhan PDRB Papua Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000-2006 Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 4.71 13.34 5.00 15.89 5.46 5.

21 13.85 9.84 Keuangan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pertumbuhan PDRB tanpa migas atas dasar harga konstan menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB dengan migas yaitu sebesar 9.03 8. Hal ini menunjukkan bahwa sekitar 24% industri pengolahan di Provinsi Papua digerakkan oleh kegiatan di sektor migas.94 7.74 6.97 2.13 8.06 Perdagangan 7.49 7.29 6.75 14.25 Bangunan 6.09 3.34 8. Tabel 1.46 PDRB Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Lapangan Usaha PDRB Atas PDRB Atas Dasar LAPORAN AKHIR 1-94 .42 5.28 10.26 12.00 9. hasil perhitungan r 4. Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa kegiatan primer pada sektor migas yang bergantung pada bahan baku mengalami kecenderungan perlambatan.57 6.17 5.06 6.90 9. Sementara itu.95 11. dan Jasa -6.23 6.75 9.04 30.53 Tersier 7.20 6. Tabel 1.46 5.49%.89 5.47%) dan sektor pertambangan dan penggalian yang sebesar 1.91 4.87 10.72 12.78 9.79 8.48 9.73 6.05 2.29 6.60 5. Sebaliknya.19 9. dan Air Minum 7.97 10.31 PDRB 6.429 triliun rupiah atau sebesar 27.26 7.84 5.53 5.91 2.13 7.34 2. Persewaan.33 7. Hal ini menyebabkan pertumbuhan kelompok sektor primer tanpa migas menjadi lebih tinggi dibandingkan denga migas.65 5.43 Pertambangan dan Penggalian 8.38 9.11 4.06 7.50 Primer 4.67 Sekunder 7.14 9.36%).83 9. 45 Pertumbuhan PDRB Papua Barat Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan 2000-2006 Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 4.25 8.91 10.66 10. Gas.07 Jasa-jasa 8.76 8.35 Industri Pengolahan 7.38 7.49 9.93 14.56 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.552 triliun (17.64 PDRB dan Kontribusi Sumbangan setiap sektor dalam PDRB dapat menunjukkan komposisi perekonomian di wilayah tersebut.13 12.07 3.61 13.49 Angkutan dan Komunikasi 11.91 7.77 9.27 3.14 9.65 11.07 9.741 triliun (19.16 persen kepada PDRB berlaku Provinsi Papua Barat tahun 2006 diikuti oleh sektor industri pengolahan yang sebesar 1.95 5.16 Listrik.82 7.33 13.77 7. sektor industri pengolahan dengan mengeliminir subsektor industri pengilangan minyak dan gas bumi memiliki angka yang menjadi lebih rendah yaitu sebesar 6.64%. sedangkan pertumbuhan kelompok sektor sekunder menjadi lebih rendah.38 8.20 10.74 7.13 9. aktivitas sekunder pada migas yang berupa kegiatan lanjutan memanfaatkan hasil dari sektor primer cenderung mengalami peningkatan.98 8. Sektor pertanian merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu sebesar 2.

66 23.48 0. LAPORAN AKHIR 1-95 .13 24.00 6 369 374.53 Angkutan dan Komunikasi 866 875.25 Industri Pengolahan 2 835 994.46 7.978. menunjukkan tingkat ketersediaan dan tingkat penggunaan dari infrastruktur dasar yang masih rendah di Papua Barat.22 100.53 Pertambangan dan Penggalian 1 846 593.36 Jasa-jasa 1 005 409.91 1 817 444.31% kepada PDRB konstan Provinsi Papua Barat kemudian oleh pertambangan dan penggalian (19.916.43 Keuangan.95 473 536.10 28.70 14.75 PDRB 12 471 605.70 10.78 Sekunder 4. Persewaan.052.02 10.83 39. dan Air Minum 66 030. Sementara itu industri pengolahan memiliki besaran produksi yang lebih rendah namun memiliki nilai yang lebih tinggi.07 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka Tahun 2009. Gas.58 8. dan air minum memberikan kontribusi terkecil.12 45.859.38 22.346.56 6.53 29 098.474.13 8.991.78 1.54%).23 572 822.37 32.42 150 145.09 2.76 100.02 17.953. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian dan pertambangan penggalian memiliki jumlah yang tinggi jika dilihat dari segi produksi. dan Jasa 302 327.35 670 818.712.26 2.48%) dan lapangan usaha industri pengolahan (13. gas.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dasar Harga Berlaku Harga Konstan Jumlah % Jumlah % Pertanian 3 107 119. hasil perhitungan Terdapat perbedaan kontribusi bila menggunakan PDRB atas dasar harga konstan.06 684 491.44 31. Listrik.50 1.81 1 098 592.99 Perdagangan 1 290 421.05 13.32 10.00 Primer 4.55 27.72 2.033.65 9. lebih kecil dari 1% baik menurut PDRB atas dasar harga konstan maupun berlaku.70 Listrik.74 872 426.15 Tersier 3.46 Bangunan 1 150 834.036. Sektor pertanian tetap merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu sebesar 29.34 0.465.

Sektor perdagangan memiliki kontribusi terbesar kedua yaitu sebesar 508 miliar atau 14.35 PDRB Papua Barat per Kelompok Sektor Tahun 2008 Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Konstan 2000 Analisis dengan mengeliminir migas menunujukkan beberapa perbedaan.74%. Sektor sekunder ada pada posisi berikutnya dan kemudian diikuti oleh sektor tersier. Kontribusi LAPORAN AKHIR 1-96 . Gambar 1. Besarnya kontribusi sektor primer yang hingga mencapai angka 44. Sektor primer tetap menjadi sektor dengan kontribusi tertinggi namun diikuti oleh sektor tersier baru kemudian sektor sekunder.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Terdapat perbedaan jika menggunakan angka PDRB atas dasar harga berlaku. PDRB tanpa migas atas dasar harga berlaku untuk sektor pertanian menjadi sektor dengan kontribusi tertinggi yang angkanya mencapai 2.52 persen dapat menunjukkan bahwa sektor ini merupakan sektor vital yang menjadi penopang utama perekonomian di Papua Barat.982 triliun (44.34 PDRB Papua Barat per Sektor Tahun 2008 ADH Berlaku Kontribusi kelompok sektor utama dalam ekonomi berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku menunjukkan sektor primer yang terdiri dari pertanian dan pertambangan dan penggalian sebagai sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu 3.20 persen.52%).152 triliun atau sebesar 39.

Begitu pula dengan sektor industri pengolahan meskipun tidak sejauh pada sektor pertambangan penggalian.15 67.367.420.48 561814.15 151.804.434. Persew aan.75 715. Persewaan.23 100 4.06% atau hanya sebesar 67. dan Jasa Jasa-jasa PDRB 6.11 Primer 2.60% atau LAPORAN AKHIR 1-97 .42 10.53 14.53% 2.587.26 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.496.26 2. sektor primer menjadi sektor dengan kontribusi sebesar 39.141.458.54 646.25 571658.47 PDRB Provinsi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 2006 Lapangan Usaha PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Jumlah (juta Rp) % 2.01 10.413. Tabel 1.226. hasil perhitungan Gambar 1.21% atau senilai 2.47 persen turun menjadi sebesar 10.644.36% turun menjadi 1.64 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.62 1.289.70 21.221.75% Angkutan dan Komunikasi Keuangan.38% 10.038.60 24616.457.59 100 39.24% Berdasarkan kelompok sektor utama.93 9.53 Sekunder 1. Gas.458 miliar.22 11.59 11.59 1.24 925.82 38.430.15% Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. dan Jasa Jasa-jasa 11.39 22.625.41 39.15% 38.06% 10. Gas.06 649.91 38.204.02 445795.46 2.36 397041.166.44 94706.68 42867. sedikit lebih rendah dibandingkan dengan jika memperhitungkan migas.38 734. Kontribusi sektor industri pengolahan tadinya sebesar 19. dan Air Minum Bangunan Perdagangan 14.60 1.496 triliun rupiah.42 miliar rupiah.36 PDRB Papua Barat per Sektor Tanpa Migas Tahun 2006 Pertanian 11.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sektor pertambangan dan penggalian turun drastis dari 17.32 Tersier 2.429.17 13.121.20 48.669.21 1.87 0.96 10.43 38.20 persen atau sebesar 649. Sektor tersier memiliki kontribusi sebesar 38.66 38.560. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan.206.19 911.986.53 PDRB Atas Dasar Harga Konstan Jumlah (juta RP) % 1627118.79 0.59 440813.54% 1.49 10.20% 0.7 13.

36 19. komposisinya juga memberikan angka komposisi yang cenderung setara dengan PDRB tanpa migas atas dasar harga berlaku.21% 22.86 18.8 1 22.413 triliun rupiah.1 2008 24.6 4 15. Antara tahun 2000-2006 perubahan menonjol terjadi pada sektor pertambangan penggalian dan industri pengolahan.50 18.77 2003 31.20 19.75 2002 32.9 8 20.53 11.48 Persentase Tiap Sektor Ekonomi dalam PDRB Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2000-2008 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan 2000 32.19% Primer Sekunder Tersier Pergeseran Struktur PDRB Provinsi Papua Barat PDRB Papua Barat yang ditampilkan secara time series dapat menjadi salah satu alat untuk mengetahui apakah terjadi perubahan atau pergeseran struktur ekonomi di wilayah tersebut.37 PDRB Papua Barat per Kelompok Sektor Tahun 2006 38. Kedua sektor ini memang seolah-olah bertukar posisi.60% 39.16 17. Tabel 1. Gambar 1.51 13.97 2006 27. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan produksi dan inflasi sektorsektor di luar migas bergerak secara sebanding.94 2004 29.9 1 14.7 LAPORAN AKHIR 1-98 . sebaliknya sektor pertambangan dan penggalian terus menurun.71 19.45 18. Jika dilihat dari PDRB tanpa migas atas dasar harga konstan.85 13.77 21.63 2001 32.42 15. Sektor sekunder memberikan kontribusi terendah yaitu sebesar 22.31 19.47 2007 26.90 2005 27.24 25.457 triliun rupiah. Kontribusi sektor industri pengolahan terus meningkat.19% atau sebesar 1. Adanya perubahan ini seiring dengan meningkatnya angka pertumbuhan pada sektor industri pengolahan tiap tahunnya dan pertumbuhan yang lambat dari sektor pertambangan dan penggalian.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sebesar 2.

80 6.51 27.54 8.93 100.67 8.47 2007 0 0. Meski demikian sektor primer memiliki kontribusi yang terus menurun. Hal ini adalah akibat dari lebih rendahnya pertumbuhan sektor pertanian dan pertambangan penggalian yang termasuk ke dalam kelompok sektor primer dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.92 24.42 1.6 2 29. dan Jasa Angkutan dan Komunikasi Perdagangan Bangunan Listrik.69 8.47 6.03 Lapangan Usaha Listrik.60 8.88 100.0 57.02 9.19 26.44 2.96 10.28 23.59 8.58 persen pada tahun 2005.13 5.64 2001 0.38 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tahun 2000-2006 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Jasa-jasa Keuangan.67 9.62 25.2 7 28.34 26.29 1.37 6.50 7.54 8.21 100.77 18.01 27.07 8.59 8.28 1. dan Jasa Jasa-jasa PDRB Primer Sekunder Tersier 2000 0. Persew aan.02 100.3 5 6.15 9. dan Air Minum Industri Pengolahan Pertambangan dan Penggalian Pertanian Jika dilihat dari kelompok sektor.23 10.42 8.39 2004 0.72 32.87 2006 0.43 6. Gas.50 27.41 7.25 2008 4 0.00 10.01 2005 0.0 50.1 1 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka Tahun 2009.38 6. Persewaan.0 52.22 1. LAPORAN AKHIR 1-99 .0 44.59 23.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2003 0.03 26.0 47.48 100.0 46.91 1.95 2.0 42. Kontribusi sektor primer adalahs sebesar 57.72 6. Gas.71 100.78 9. sektor primer tetap merupakan sektor yang dominan dalam kurun waktu 2000 hingga 2006.5 8 7.56 21.35 7. Kedua sektor tersebut memiliki angka pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB secara total.28 20.91 8.78 100.0 54.0 39.54 100. hasil perhitungan Gambar 1.60 4.52 28.96 26.06 100.61 10.56 8.77 persen pada tahun 2000 menurun menjadi 44.81 7.89 1.01 6.38 1.53 9. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan.86 5.81 2002 0.

35 9.13 2. Dieliminirnya non migas praktis menjadikan sektor pertanian menjadi sektor paling vital bagi perekonomian Papua Barat.35 2.24 14. dari 18.72 42.01 Industri Pengolahan 10.00 100.52 0.69 21.17 9.78 41.19 38.63 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.80 Angkutan dan Komunikasi 6.85 Keuangan.01 persen pada tahun 2006. Sementara itu kontribusi sektor tersier bergerak naik turun pada kisaran angka 23% hingga 28% setiapa tahunnya.38 11.08 12.07 13.20 0.04 10.69 Jasa-jasa 11.63 20.31 43.73 10.06 10.46 11.44 13.48 Pertambangan dan Penggalian 0.54 0.48 44. hasil perhitungan 2005 39.75 11.64 11.89 20.86 20.59 37.45 8.49 Persentase Tiap Sektor Ekonomi dalam PDRB Papua Barat Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2000-2006 Lapangan Usaha 2000 2001 2002 2003 2004 Pertanian 45. Sektor industri pengolahan yang terus tumbuh dan meningkat menjadi faktor tingginya kontribusi sektor sekunder.01 11.29 44. Persewaan.36 2.85 11.42 14.94 1.83 8.77 11.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.16 2.88 Tersier 33.85 11.43 36.30 9.00 Primer 46.60 Sektor sekunder menunjukkan terus mengalami peningkatan. jauh di atas sektor-sektor lainnya namun cenderung LAPORAN AKHIR 1-100 .66 Bangunan 9.29 PDRB 100.21 22.89 0.94 0.72 2006 38.76 34.80 35.65 1.15 1.05 10.07 2.26 9.00 39.42 13.87 0.52 0.60 43.54 10. dan Jasa 2.33 7.76 20.00 100.00 100.15 2.91 11. dan Air Minum 0.58 0.49 Sekunder 20.00 40.16 45.23 9.00 100.55 100.21 33.39 Pergeseran Kelompok Sektor Ekonomi Papua Barat Tahun 2000-2006 100% 80% 60% Tersier Sekunder Primer 40% 20% 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tabel 1.40 Perdagangan 12.83 Listrik. Gas.53 100.87 7.37 42.59 persen pada tahun 2000 menjadi 28.43 0.93 10.

Besar kontribusinya juga terus meningkat setiap tahunnya.21% dan tahun 2006 menjadi sebesar 38. dan Jasa Angkutan dan Komunikasi Perdagangan 60% Bangunan Listrik. Dieliminirnya migas praktis menjadikan sektor primer bertumpu hampir sepenuhnya pada sektor pertanian. Gas. Hal ini adalah akibat dari lebih rendahnya pertumbuhan sektor pertanian dibandingkan sektor-sektor lainnya. Meski demikian sektor primer memiliki kontribusi yang terus menurun. dan Air Minum 40% Industri Pengolahan Pertambangan dan Penggalian Pertanian 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 80% 20% Sektor sekunder bergerak pada angka yang relatif tetap yaitu memberikan kontribusi yang berkisar pada angka 20% pada tahun 2000 hingga 2004 dan sedikit mengalami kenaikan pada tahun 2006 menjadi 22.60%. Gambar 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 menurun.19%. Kontribusinya pada tahun 2000 adalah sebesar 33.16 persen pada tahun 2000 menurun menjadi 40. Dilihat dari kelompok sektor.40 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 20002006 100% Jasa-jasa Keuangan. Persew aan. Kontribusi sektor primer adalah sebesar 46. Peran sektor pertambangan dan penggalaian turun drastis hingga berkisar pada angka 1 persen. Sementara itu sektor tersier memiliki kontribusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontribusinya ketika memperhitungkan migas.41 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 2000-2006 80% 60% Tersier Sekunder 40% Primer 20% LAPORAN AKHIR 1-101 2001 2002 2003 2004 2005 2006 0% 2000 . 100% Gambar 1. sektor primer sebagai sektor yang dominan dalam kurun waktu 2000 hingga 2006 di Provinsi Papua Barat. Kontribusi sektor primer tanpa migas lebih rendah dibandingkan dengan kontribusi sektor primer dengan migas.78 persen pada tahun 2005.

Kelompok sektor primer terdiri dari sektor pertanian dan sektor pertambangan penggalian.3 Tinjauan Ekonomi Sektoral Tinjauan ekonomi sektoral berusaha melihat ekonomi wilayah Papua Barat dilihat dari 3 kelompok sektor utama yaitu sektor primer. LAPORAN AKHIR 1-102 . Pertumbuhan kedua sektor yang termasuk dalam sektor primer yaitu pertanian dan pertambangan penggalian termasuk yang paling lambat jika dibandingkan dengan sektor lainnya. 1) Pertanian Sektor pertanian merupakan sektor paling dominan di Provinsi Papua Barat. sekunder.5.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. sektor ini memiliki kontribusi sebesar 1.24% dari PDRB Papua Barat pada tahun 2000.66%. Pada tahun 2005 meningkat menjadi 1.5. Sektor pertanian di wilayah lainnya di Indonesia umumnya bergantung pada pertanian tanaman pangan dan perkebunan. dan restoran. Berdasar atas PDRB atas dasar harga konstan. sektor angkutan dan komunikasi. Secara fisik. dan jasa perusahaan.27 triliun rupiah atau 32. Meski demikian sektor ini mengalami kecenderungan memiliki kontribusi yang menurun. listrik dan air minum serta sektor bangunan. 1. Sementara itu sektor-sektor yang termasuk dalam kelompok sektor tersier adalah sektor perdagangan. Pembagian ke dalam ketiga sektor tersebut berdasar pada asal terjadinya proses produksi. Papua Barat memang kaya akan hutan dan dikelilingi oleh lautan. hotel.57 triliun rupiah namun dari segi persentase kontribusi menurun menjadi 29. persewaan. dan tersier.1 Sektor Primer Sektor primer merupakan sektor dengan sektor yang selama ini dominan di Provinsi Papua Barat.3. sektor keuangan. Subsektor kehutanan dan perikanan merupakan subsektor yang paling berpengaruh pada sektor pertanian di Papua Barat. Sektor sekunder terdiri dari sektor industri pengolahan. dan sektor jasa-jasa. Perikanan dan kehutanan adalah subsektor yang paling menonjol dari sektor pertanian di Provinsi Papua Barat.

58 15. dan Perikanan Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Lapangan Usaha PERTANIAN.40 83172.991 2. ketiga susbsektor ini sebenarnya dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas.21 Sumber : PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007. 2000 Jumlah % 2005 Jumlah r % 1275948.137 855 2005 Produksi (ton) 24.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Sifat dari pertanian pada subsektor kehutanan dan perikanan lebih bersifat ekstraktif.52 1.28 2.66 4. Terlebih karena.3 Peternakan & Hasil-hasilnya 55366.00 10.336 1.50 Jumlah Produksi Pertanian.72 1.897 19.58 11.02 111.093 2.58 9.21 10.2 Tanaman Perkebunan 113777.18 2.72 9.823 2. Metroxylon sago).87 148870.080 2.95 Sumber : Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 LAPORAN AKHIR 1-103 .86 2.99 112.88 487106.78 1. Jika dikembangkan.18 10.702 3.543 2.54 4.64 9.76 11. Namun sejak beberapa dekade terakhir.13 5.1 Tanaman Bahan Makanan 218261. PETERNAKAN. Sementara itu subsektor tanaman pangan.24 1573097. hasil perhitungan Pertanian Tanaman Pangan Tanaman pangan pokok di Papua Barat pada umumnya adalah tanaman sagu (Metroxylon rumphii.52 263602. masyarakatnya sebenarnya tidak terbiasa membudidayakan padi namun kemudian beralih. Produksi dan Rata-Rata Produksi Pertanian Tanaman Pangan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Jenis Pertanian Luas Panen (Ha) Padi sawah dan padi ladang Jagung Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau 7.94 110.58 10.20 16. Peternakan.57 8.48 1. Hal ini adalah akibat dari kebijakan pemerintah yang menjadikan nasi sebagai salah satu indikator kemakmuran dan menjadikannya sebagai bahan makan pokok secara nasional.94 5. Tabel 1.21 Luas Panen (Ha) 11 467 1 070 2 052 1 524 958 1 624 560 2008 Produksi (ton) 39 537 1 711 23 071 15 341 979 1 740 557 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 34. Kehutanan.48 15. kemiskinan merupakan salah satu isu utama di Provinsi Papua Barat.43 100.67 10 Luas Panen (Ha) 8545 1947 1963 2170 1937 1819 925 2006 Produksi (ton) 27518 3120 21913 21405 1856 1917 944 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 32.51 Luas Panen.85 98. Padahal untuk Papua Barat.57 590345.14 10.279 871 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 31.4 Kehutanan 430664. perkebunan.317 25. memanfaatkan langsung dari alam.34 32.54 10. Tabel 1. tanaman sagu tergeser oleh nasi.66 10.63 98.5 Perikanan 457877.97 3. dan peternakan lebih bersifat kegiatan budidaya.131 2.70 29.49 1.85 1.81 5.28 KEHUTANAN & PERIKANAN 1.

ubi jalar.65 1 058 100.16 2 416 110. Padi sawah tidak ditemukan di Kaimana. dan Ubi Jalar per Kabupaten/Kota di Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Luas Panen (Ha) 95 56 501 7 378 81 3 053 303 Padi sawah Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 324 34. pada tahun 2006 menghasilkan produksi mencapai lebih dari limabelas ribu ton. komoditi pangan yang mengalami peningkatan produksi adalah padi. dan Kota Sorong.75 Luas Panen (Ha) 135 120 95 195 633 105 153 36 52 Ubi Jalar Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 1 362 100. Produksi dan Rata-rata Produksi Pertanian Padi Sawah. Ubi kayu dan ubi jalar paling banyak diproduksi oleh Kabupaten Manokwari.58 832 115.22 419 110.52 Luas panen. sementara penduduk asli lebih suka memilih tanaman keras seperti sagu dan ketela. LAPORAN AKHIR 1-104 .823 hektar dengan jumlah produksi mencapai duapuluh empat ribu ton.64 954 100. dan kacang hijau. disusul oleh Kabupaten Sorong dengan produksi sesbesar 6623 ton. Untuk tahun 2006.63 6 371 100.95 25 309 34.92 1 208 100. Komoditi padi sawah juga paling banyak ditemui di Manokwari.83 381 112.13 374 106.07 2 459 111.80 1 540 100. Tabel 1. Ubi Kayu.25 12 873 113.38 Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Sumber : Papua Barat dalam Angka 2009 Tiga komoditi dengan produksi tertinggi adalah ubi kayu.64 1 651 32. Pada tahun 2005.95 Luas Panen ( Ha) 132 72 165 221 1 137 38 218 34 35 Ubi Kayu Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 1 486 112. dan padi.54 1 833 111.32 1 059 34. ubi jalar. Sorong Selatan.11 194 34. Sementara itu ubi kayu memiliki jumlah produksi dalam ton yang tertinggi yaitu mencapai duapuluh lima ribu ton lebih.67 10 784 35. rata-rata produksi komoditi ini juga yang tertinggi yaitu mencapai 110 kwintal per hektar.30 216 26.46 1 962 100.83 522 100. tanaman padi baik padi sawah maupun ladang memiliki luas tanam yang paling luas yaitu sebesar 7.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tanaman padi umumnya dibudidayakan oleh para transmigran dari Jawa.63 363 100.

Padi Ladang. 53 Luas panen dan Produksi Pertanian Padi Sawah. Kedelai. dan Kacang Hijau per Kabupaten/Kota di Papua Barat tahun 2008 Kabupaten/Kota Padi Sawah Luas Panen (Ha) 85 51 365 6 507 3 053 297 10 358 7 580 7 546 6 415 5 231 Produksi (Ton) 298 180 1 293 22 920 10 784 1 043 36 518 26 101 24 810 20 896 16 445 Padi Ladang Luas Panen (Ha) 10 5 136 871 81 6 1 109 777 999 1 408 1 745 Produksi (Ton) 26 14 358 2 389 216 16 3 019 2 103 2 708 3 806 5 152 Jagung Luas Panen (Ha) 4 25 42 123 562 39 245 21 9 1 070 1 518 1 947 2 080 1 375 Produksi (Ton) 7 39 68 202 890 65 390 35 15 1 711 2 429 3 120 3 317 2 024 Ubi Kayu Luas Panen (Ha) 132 72 165 221 1 137 38 218 34 35 2 052 1 615 1 963 2 336 1 853 Produksi (Ton) 1 486 832 1 833 2 459 12 873 419 2 416 381 374 23 071 17 833 21 913 25 897 20 440 Ubi Jalar Luas Panen (Ha) 135 120 95 195 633 105 153 36 52 1 524 1 874 2 170 1 991 2 044 Produksi (Ton) 1 362 1 208 954 1 962 6 371 1 058 1 540 363 522 15 341 18 702 21 405 19 543 20 476 Kacang Tanah Luas Panen (Ha) 34 20 100 186 392 123 96 7 958 1 725 1 937 2 093 1 350 Produksi (Ton) 35 20 102 192 398 126 98 7 979 1 763 1 956 2 131 1 348 Kedelai Luas Panen (Ha) 2 12 36 152 1 305 23 78 16 1 624 1 282 1 819 2 137 1 326 Produksi (Ton) 2 13 40 162 1 398 26 82 17 1 740 1 360 1 917 2 279 1 523 Kacang Hijau Luas Panen (Ha) 1 14 28 160 179 100 71 7 560 667 925 855 570 Produksi (Ton) 1 13 27 160 176 103 71 7 557 670 944 871 412 Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Sorong 2008 2007 2006 2005 2004 Sumber : Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-105 . Ubi Kayu. Kacang Tanah.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. dan Ubi Jalar.

Cengkeh 891 48 751 55 2. namun baru dimanfatkan secara kecil-kecilan dan yang paling banyak adalah pemanfaatan santan kelapa untuk kebutuhan rumah tangga.962 2008 Luas Produksi (ha) (ton) 750 60 5. Kelapa Sawit 11.340 15. Kelapa.326 218 5. Diharapkan biji kakao dapat dimanfaatkan oleh perusahan yang mengolah biji kakao menjadi coklat bubuk. Kopi 391 197 708 214 5.54 Luas Area dan Produksi Tanaman Perkebunan Rakyat Di Provinsi Papua Barat 2003 .942 5. Coklat 7. Pengolahan biji sawit masih pada tahap pengolahan produk cruide palm oil (CPO).296 2.540 708 10.540 20. terutama karena meningkatnya kebutuhan CPO sebagai salah satu bahan bakar energi alternatif untuk otomotif.970 2.55 Luas Area Tanaman (ha) dan Produksi (ton) Kelapa Sawit.691 5. Data luas tanaman dan produksi dilihat dari jenis perkebunan berupa perkebunan rakyat adalah sebagai berikut: Tabel 1. Komoditas ini jika dikembangkan lebih intensif akan memberikan manfaat ekonomi yang besar karena memiliki nilai jual yang tinggi.2008 2003 2004 Luas Produksi Luas Produksi (ha) (ton) (ha) (ton) 1.965 2 2. Kelapa 9.897 6.811 4. Ransiki. Selain dikembangkan oleh perkebunan besar.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Perkebunan Produksi kelapa (kelapa buah) merupakan salah satu produk perkebunan tertinggi di Papua Barat.962 Kelapa sawit juga merupakan salah satu komoditi perkebunan dengan luas tanam terluas.899 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Jenis Tanaman Luas (ha) 750 5.030 10. Wrmare.463 2005 Produksi (ton) 60 1. wilayah pantai dan dataran rendah. Buah kelapa belum diolah secara intensif terutama untuk menghasilkan minyak goreng skala perusahaan.749 16.463 2.749 3. Tabel 1.749 8.156 16.911 1. Jambu Mete 305 1 305 1 7.911 16.911 1. Tanaman coklat merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menonjol.749 17.911 1.594 5.942 305 8.540 17. dan Prafi. dan Coklat Di Provinsi Papua Barat 2003 – 2008 (Ha) Kabupaten Kelapa Sawit Kelapa Coklat LAPORAN AKHIR 1-106 . Kopi dan cengkeh memiliki luas tanam yang termasuk kecil dibandingkan dengan komoditi perkebunan lainnya. coklat juga dikembangkan oleh perkebunan rakyat dan terdapat di Kabupten Manokwari yaitu di sekitar Oransbari.326 708 218 10. Tanaman ini juga memiliki nilai jual yang tinggi.965 305 2 8. Pala 5.436 5. Kelapa tumbuh hampir merata di semua wilayah Papua Barat terutama wilayah pulau-pulau kecil dan pesisir.

110 Ayam Pedaging 2.309 48.822 846 10.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Produksi 384 1238 69 75 1433 750 1433 895 6277 Luas 170 854 250 250 3204 978 1807 950 8463 Produksi 36 57 295 105 959 75 286 978 2791 Luas Produksi Luas Fak-Fak 1095 Kaimana 1261 Teluk Wondama 126 Teluk Bintuni 5000 2170 66 Manokwari 11540 15156 2012 Sorong Selatan 290 Sorong 2012 Raja Ampat 3737 Kota Sorong Jumlah 16540 17326 10599 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Perkebunan rakyat kelapa sawit yang telah ada di Papua Barat baru terdapat di Kabupaten Manokwari dan Teluk Bintuni.379 35.829 342.019 Ayam Buras 44. komoditi ini sudah menjadi komoditi dengan produksi tertinggi di Papua Barat.429 30. luasan tertinggi ada di Raja Ampat namun produksi tertinggi terdapat di Sorong.989 129.508 229 5.821 33.676 68 236 13.026 15.790 45.890 27.708 12.259 13.344 597 1.193 45.536 Kambing 580 571 173 288 5.425 LAPORAN AKHIR 1-107 .667 725. dan Kaimana.769 54. Manokwari.803 554 875 12. Peternakan Komoditi peternakan yang ada di Provinsi Papua Barat adalah sapi.106 360.223 11. populasi ayam pedaging terdapat di Sorong.992 414.678 33. babi dan jenis unggas.094 55 1.755 Itik 252 57 61 527 10.835 580 2. Coklat memiliki luas tanam paling luas di Manokwari kemudian Sorong.923 23.012 66.777 Ayam Petelur 40.719 83. Untuk komoditi kelapa.036 155.239 273. populasi jenis ternak lainnya paling banyak terdapat di Manokwari.961 33.185 43.512 891.427 29.130 254.425 11.274 405. Kecuali ayam ras pedaging dan ayam kampung. sementara ayam kampung paling tinggi terdapat di FakFak.283 66.216 564 206 323 19.415 204. Tabel 1.125 774. Sementara itu.610 868.56 Populasi Ternak menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 Sapi 1. Meski hanya terdapat di 2 (dua) kabupaten tersebut.794 80.330 912 1. kambing.623 1.923 Babi 921 467 624 1.297 34.107 493.992 45.454 31. namum produksi tertinngi terdapat di Kabupaten Raja Ampat.502 32.

748 39.873 Ayam Ras 199.827 35.966 808.027 26..546 3.278 28.770 19.438 77.461 326. Kabupaten Manokwari merupakan daerah penghasil daging peternakan tertinggi untuk jenis apapun.593.895 25.038 1.504 14.726 325 LAPORAN AKHIR 1-108 .028 20.242 29.304 14.646 162.942 38.612 Itik/Entog 1.549 Ayam Buras/ Kampung 32.339 22.658 90.522 653.036 14.580 894.715 230.777 20.463 757.496 40 1.928 33.305 149.246 33.994 9.125 46.192 31. Sementara itu.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Produksi daging ternak di Provinsi Papua Barat berupa hewan ternak sapi merupakan yang tertinggi dibanding dengan komoditi lainnya. Tabel 1.379 1.979 617 1.467 483.073 10. telur ayam ras paling banyak diproduksi di Kabupaten Sorong.048 Ayam Petelur 15.358 Itik 187 42 45 391 7.186 467.066 Ayam Pedaging 2.866 9.342 13.245 50 175 9.475 49.457 9.734 88.164 Babi 13.255 1. Produksi telur ayam kampung dan telur itik paling tinggi terdapat di Manokwari.679 9.156 531.751 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Produksi telur unggas paling tinggi adalah dari jenis ayam ras petelur.347 235.331 3.020 4.003 24.939 62.246 212.058 235.671 640 7. Manokwari merupakan ibukota dan wilayah dengan jumlah penduduk tertinggi.514 340 366 3. 57 Produksi Daging Ternak menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (kg) Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 2007 2006 2005 Sapi 54.714 27.068 28.58 4 732.637 22.227 114.749 437.773 6.672 676. termasuk ayam pedaging dan ayam kampung yang jumlah populasinya bukan yang tertinggi di Papua Barat.227 298. Tabel 1.214 Kambing 2. 58 Produksi Telur menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (kg) Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Ayam Kampung 19.007 50.005 95. memungkinkan wilayah ini memiliki tingkat konsumsi tinggi.806 25.858 2.583 59.807 732.124 247.169 60.

549 Sorong Raja Ampat Kota Sorong PROVINSI PAPUA BARAT 2007 2006 2005 2004 2003 67.800. sagu.564. kulit lawang. Hasil hutan di Provinsi Papua Barat antara lain adalah beberapa jenis kayu yang bernilai ekonomis seperti merbau.546. Selain itu. Teluk Bintuni memiliki jumlah lahan terluas untuk penebangan yang dilakukan oleh perusaahan HPH yaitu seluas 6. Luasnya lahan penebangan di Teluk Bintuni membuat kabupaten ini memiliki produksi kayu terbesar yaitu 101.00 2.657 113.346 5.700.156 102.382 69. Jepang. ada pula produksi hutan non kayu seperti rotan.224. Sorong Selatan 6. mersawa.600.417 78.945. India.079 259.242 10. Bintuni 3.800.50 686. Dengan menganalisis potensi dan pola pemasaran hasil hutan di Provinsi Papua Barat.721. Kab.665. Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Papua secara keseluruhan (termasuk Provinsi Papua Barat) berdasarkan (SK.300 87. nyatoh.400 286.466 287.103 81.023 123.\ Tabel 1. gahau.05 LAPORAN AKHIR 1-109 . T.480 Ha. Kab.099 334.37 2. medang dan bintangur.199.151. T. kulit masohi.960. dan Korea Selatan. Hasil produksi hutan di Provinsi Papua Barat sebagian besar diekspor ke negara lain. Adapun negara tujuan ekspor diantaranya adalah Negara Cina.125 74. Kegiatan pemanfaatan hutan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan.360 Ha dan Kawasan Perairan 1.165 246.678. resak.450.327 73.733.283. Wondama 4. Kab. Kab. Pengolahan dan distribusi hasil-hasil hutan tersebut melalui jalur Pelabuhan Manokwari dan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Menhutbun Nomor: 891/Kpts-II/1999) sebesar 42.700.065.695 19.753 640.07 hektar.84 1.6 m³.138. pulai. Manokwari 2. Kab.01 610. maka dapat diasumsikan bahwa sektor kehutanan termasuk dalam sektor basis di Provinsi Papua Barat. Sorong 5.00 Hutan+Perairan 1. 59 Luas Hutan dan Perairan diProvinsi Papua Barat dirinci Per Kabupaten/Kota Kabupaten/Kota 1.500 74.082 406 1. Raja Ampat Luas Wilayah*) 1.840 Ha yang terdiri dari Kawasan Hutan seluas 40. kayu kemenyan. Kab.899 35.052 315.00 608.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 326.00 578.90 1.979.00 1.156. Hongkong.921. matoa.604 93.00 724.701 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Kehutanan Potensi hutan di Provinsi Papua sangat tinggi.863.

13 14.921. Selain itu. Sedikitnya terdapat 3 perusahaan berskala besar dan 15 perusahaan sedang yang bergerak dalam sektor kehutanan ini.6 1.07 Jumlah Produksi 42. Kab.733.040. Kaimana 9.786.00 11. Sehingga yang lebih mendapatkan hasil ekonomi dari industri kehutanan adalah para pemodal besar. industri kehutanan adalah industri yang padat modal.966.653.388.866.352.000 m3 dan industri di bawah sedang yaitu produksi dibawah 6. Di Provinsi Papua Barat sendiri telah dikeluarkan 29 unit HPH yang meliputi hutan seluas 4.654.726.165. Kab.29 207.426. Kota Sorong Grand Total Sumber: Papua Barat dalam Angka 2006.00 1.224.823.53 1.2 101.850.24 6.41 11.98 9. Perikanan LAPORAN AKHIR 1-110 .377.25 3.135. perlu ada upaya dari pihak pemerintah daerah untuk melindungi kepentingan masyarakat.97 Ha. Untuk itu. diberikan Hak Pengusahaan Hutan dan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu kepada perusahaan dibidang terkait.736.57 940 14. Namun tentunya pengekploitasian hutan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi degradasi lingkungan yang drastis.199.58 38.406.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.00 1. Tabel 1. hasil perhitungan Dalam pengusahaan dan pemanfaatan hutan.000 m3. Pendapatan dari sektor kehutanan merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi Provinsi Papua Barat.003.000.58 41.17 7.994. sehingga masih dapat menikmati hasil dari kekayaan hutan wilayah ini.432.65 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2006.60 Perkembangan Luas Penebangan Hutan dan Hasilnya oleh Pemegang Hak Perusahaan Hutan Tahun 2006 (ha) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Luas Penebangan 2. hasil perhitungan Sektor kehutanan di Provinsi Papua Barat memiliki potensi yang sangat baik.000. Sementara Industri Primer Hasil Hutan (IPHH) yang berkembang di Papua Barat digolongkan menjadi 2 yaitu Industri yang berskala besar dengan nilai produksi lebih dari 6. Fakfak 8.211.00 31.

0 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 Fak-Fak Sorong Manokwari LAPORAN AKHIR 1-111 . Dalam kurun waktu tersebut. dan hal ini diduga sebagai penyebab meningkatnya jumlah produksi perikanan.000.000. peningkatan secara tajam produksi perikanan termasuk atribut perikanan lain (rumah tangga nelayan. Hal ini berkaitan erat sekali dengan kecenderungan kenaikan rumah tangga perikanan (skala kecil dan menengah) dan penambahan jumlah alat tangkap ikan. alat tangkap.000.000. Secara agregat kenaikan produksi perikanan laut Provinsi Papua Barat dari kegiatan perikanan tangkap tahun 1991 – 2002 dapat dikatakan cukup tinggi. Krisis ekonomi yang dialami oleh bangsa Indonesia justru membawa keberuntungan bagi para nelayan karena harga produk perikanan saat itu memiliki nilai tawar yang cukup baik.000. jumlah nelayan tradisional dan penambahan jumlah perusahaan penangkapan ikan serta adanya peningkatan jumlah dan jenis alat tangkap. dan armada penangkapan) terjadi dari tahun 1997 yaitu bersamaan dengan mulai anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang berlanjut dengan krisis ekonomi/moneter. Peningkatan produksi terjadi pula sebagai akibat dari adanya upaya peningkatan pertumbuhan (rumah tangga perikanan) penduduk.000.0 40.0 20.000.000.000. produksi perikanan laut dari kabupaten-kabupaten yang ada di wilayah Papua Barat menunjukkan peningkatan produksi tangkapan untuk berbagai jenis ikan.0 50. disamping pertumbuhan iklim investasi yang lebih baik lagi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Berdasarkan Statistik Perikanan Provinsi Papua tahun 1991-2002. Hasil Tangkapan Ikan Laut (kg/tahun) 60.000.0 30.000.0 0.0 10.000.

924 338 872 6. LAPORAN AKHIR 1-112 .74% Kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir yang dilakukan oleh pemerintah baik pada tingkat nasional dan daerah (provinsi dan kabupaten) telah mendorong pula peningkatan jumlah alat tangkap.42% Jukung 27.73% Perahu Papan Besar 3.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.136 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Gambar 1. et al. terutama pada skala perikanan menengah ke bawah (subsisten).. Tabel 1.43 Persentase Jumlah Rumah Tangga Perikanan di Papua Barat Menurut Kategori Besarnya Usaha Perikanan Kapal Motor 8.30% Tanpa Perahu 21.516 Perahu Tanpa Motor Jukung Perahu Papan 724 1215 171 286 77 84 111 122 181 1299 344 334 179 176 76 166 201 779 2.17% Perahu Papan Kecil 18. misalnya pengadaan alat penangkap (motor tempel.67% Motor Tempel 11. jaring.486 Jumlah 3. telah memberikan kontribusi secara nyata terhadap peningkatan hasil tangkapan nelayan. 2006).108 728 319 463 4.61 Jumlah Rumah Tangga Perikanan di Papua Barat Menurut Kategori Besarnya Usaha Perikanan dan Kabupaten Kota Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Tanpa Perahu 86 178 116 168 286 1 613 54 140 875 3.42 Gambar Produksi Perikanan (ton/tahun) pada Tiga Kabupaten di Provinsi Papua Barat (Wanggai.384 17.010 Kapal Motor 461 107 20 30 315 25 61 467 1.96% Perahu Papan Sedang 8. Bantuan yang diberikan berupa sarana produksi perikanan. alat pendingin) dengan sistem kredit bergulir.064 4461 Motor Tempel 402 94 22 32 337 50 129 944 2.

Tabel 1.10 13.40 210.10 12 214.10 289. khususnya pada ikan cakalang yang tertangkap di perairan Indonesia Timur termasuk Papua.30 Cakalang 2 681. Sebagai gambaran dapat dikemukakan bahwa persentase ukuran ikan cakalang > 2.00 516.30 1 083.30 8 477. Tabel 1.90 4 364.20 366.90 234.60 106.40 530. potensi lestari untuk ikan pelagis besar secara keseluruhan adalah 612.50 25.40 2 991.20 75.70 25.40 89. dan rumput laut.60 703.3 % pada tahun 1991 menjadi 36. dan madidhang.80 5 073. 62 Jumlah Produksi Perikanan Laut Menurut Jenis Ikan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (Ton) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Teri 318. (1998). Sumber daya laut lainnya di Papua Barat seperti udang dogol.60 1 206.400 ton/tahun.30 27.00 279.00 487.200 ton/tahun dan perikanan demersal untuk perairan Arafura dan sekitar perairan Papua sendiri sebesar 230.30 60.6 kg yang tertangkap mengalami penurunan.20 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan untuk berbagai jenis ikan masih sangat rendah dibandingkan dengan potensi yang tersedia. dari 85.8% pada tahun 1996 (Uktolseja. 63 Jumlah Nilai Produksi Perikanan Laut Menurut Jenis Ikan dan Kabupaten/Kota Tahun 2007 (Ribu Rupiah) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Teri 2 288 487 534 772 482 726 642 821 Cakalang 20 214 752 4 723 767 2 548 646 3 393 898 Tenggiri 28 893 260 6 751 752 168 240 223 936 Madidhang 6 599 462 1 549 070 3 355 232 4 467 988 Kakap Putih 28 342 644 6 623 086 171 457 228 886 LAPORAN AKHIR 1-113 . Dinyatakan bahwa di wilayah perairan Papua sendiri. cakalang.80 19 682.10 Kakap Putih 3 101.80 111. Namun demikian jika mengaju pada hasil penelitian Uktoselja (1998).40 74.70 960.60 Tenggiri 4 677. Walaupun tidak dilakukan pemisahan berdasarkan kategori jenis dan komposisi hasil tangkapan. kepiting.00 5 214. 1998).40 19. peningkatan produksi di atas perlu dicermati secara mendalam dan hati-hati. udan putih/jebung. udang windu.90 626.60 127.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Jenis-jenis ikan yang cukup dominan di Papua Barat adalah teri.60 748.10 2 347.50 402.70 34.50 334.20 67. dari data peningkatan produksi perikanan tangkap di atas dapat dikatakan bahwa status perikanan tangkap secara khusus di Provinsi Papua Barat masih berada jauh di bawah potensi lestari untuk perairan Papua berdasarkan Uktolseja et al.80 366.80 20. cumi-cumi.10 6 831.20 Madidhang 2 210.40 35.20 724.70 219. tenggiri.10 4 941.

74 1. Namun meski sumbangannya besar.4 r % 20.2 Pertambangan Tanpa Migas 0 0 0 0 0 2. Tabel 1.53 7 2. Subsektor penggalian hanya memberikan kontribusi kurang dari 1% bagi PDRB Papua Barat. hasil perhitungan Kegiatan pertambangan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dan saat ini usaha ini banyak terdapat di Sorong. Hal ini menyebabkan kontribusinya semakin menurun setiap tahunnya. Persebaran bahan galian batubara terutama terdapat di daerah kepala burung yaitu di daerah Homa. Igomo. meski demikian memiliki kecenderungan untuk terus meningkat.101.546.350. Sektor ini hampir seluruhnya bertumpu pada subsektor pertambangan minyak dan gas bumi.010.3 Penggalian 24.4 8 985.03 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007. dan Salawati.62 37.063. Batubara ynag terdapat di ketiga kawasan tersebut tergolong batubara muda karena masih menampakkan struktur kayu.1 Minyak dan Gas bumi 2000 Jumlah 1.245. Penggalian selama ini belum memberikan hasil yang cukup signifikan bagi perekonomian Papua Barat.42 0. Terdapat beberapa daerah yang memiliki potensi galian logam namun belum dilakukan eksplorasi lebih lanjut.76 20.699. Adanya LAPORAN AKHIR 1-114 .820.53 24.05 1. 64 PDRB Sektor Pertambangan Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 dan 2005 Lapangan Usaha PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN 2. Batubara sebagai salah satu barang galian juga cukup potensial di Papua Barat. Di Kabupaten Teluk Bintuni akan terdapat kegiatan pertambangan besar. LNG Tangguh (Bintuni) saat ini sedang dalam tahap konstruksi dan diperkirakan pada tahun 2009 sudah akan beroperasi.20 0.170.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tenggiri 2 409 067 95 977 175 894 526 699 3 704 638 42 949 463 Madidhang 48 054 418 373 982 685 385 1 902 763 13 381 443 80 369 743 Kakap Putih 2 606 085 158 433 290 356 905 125 6 115 393 45 441 465 Kabupaten Teri Cakalang Manokwari 6 913 721 36 502 296 Sorong Selatan 595 914 2 152 430 Sorong 1 092 113 3 944 694 Raja Ampat 3 270 231 11 812 015 Kota Sorong 23 001 797 83 082 069 Papua Barat 38 822 582 168 374 567 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 2) Pertambangan dan Penggalian Pertambangan dan penggalian merupakan salah satu sektor yang memberikan kontribusi terbesar bagi PDRB Papua Barat. pertumbuhan pertambangan minyak dan gas bumi termasuk lambat jika dibandingkan sektor lain.91 2005 Jumlah 1.71 9.6 7 1.06 % 25.

361. Hal ini sering menimbulkan konflik dan ketidakadilan dalam hal pembagian hasil dari kegiatan pertambangan mineral tersebut.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bahan tambang batubara ini mendorong peluang dikembangkannya Pembangkit Listrik Tenaga Uap untuk memenuhi kebutuhan listrik Papua Barat.500. Tabel 1.362.330. Kebijakannya adalah bahwa di LAPORAN AKHIR 1-115 . Tabel 1.5 457. Ditinjau dari tahapan kegiatan pertambangannya. 65 Banyaknya Usaha Sektor Pertambangan dan Penggalian Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha Fak-Fak 11 Kaimana 9 Teluk Wondama 5 Teluk Bintuni 21 Manokwari 32 Sorong Selatan 54 Sorong 95 Raja Ampat 1 Kota Sorong 1. Izin kegiatan perusahaan pertambangan seluruhnya dari pemerintah pusat.5 Tahap Kegiatan Eksplorasi Penyelidikan umum Penyelidikan Umum Penyelidikan Umum PT Irja Eastern Mineral 15 Feb 1997 Fak-Fak PT Siriwo Mining 28 Apr 1997 Fak-Fak PT Mineralindo Mas Salawati 28 Apr 1997 Sorong PT Barrick Mutiara Ransiki 28 Apr 1997 Fak-Fak Jumlah Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura (2004).0 124.0 2.0 955. 3. bila ditinjau dari segi akibat yang ditimbulkan oleh kegiatan pertambangan mineral tersebut seluruhnya merupakan beban pemerintah daerah dan masyarakat yang berada di sekitar konsesi pertambangan tersebut. 66 Perusahaan yang pernah beroperasi di wilayah Papua Barat (Sebelum Otsus) No. 4. 1. Padahal.248 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 Tenaga Kerja 27 13 13 86 103 108 213 20 2.020 Papua Barat 1. investasi di bidang pertambangan umum mulai giat kembali. Pada tahun 2002.553. Nama Perusahaan Tanggal Mulai Operasi Lokasi Konsesi Luas (Ha) 754. 1 (satu) perusahaan dalam taraf eksplorasi dan 3 (tiga) dalam taraf penyelidikan umum. 2. Peranan Pemerintah Daerah dalam penentuan kebijakan pada saat itu hampir tidak ada.874 Perkembangan dan Status Pertambangan Umum Perusahaan pertambangan yang beroperasi di wilayah Papua Barat sebelum Otonomi Khusus ada 4 (empat) perusahaan. Menurut Laporan Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura (2004) bahwa investasi pertambangan umum di Papua terhenti pada tahun 2000.291.291 2.

Sorong Distrik Seget Bahan Galian Nikel. Raja Ampat Kab. 4.950. Batan Pelei Mining PT.000 ha yang sebagian besar untuk penambangan Batubara. tercatat 11 wilayah KP baru yang diberikan izin oleh Gubernur Papua dengan total areal konsesi 355. Sampai dengan awal November 2004. 2004.700. Bila memperhatikan lokasi sumber bahan galian yang telah diberikan izin Kuasa Pertambangan umum. 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Papua Izin Pertambangan dalam bentuk Kontrak Karya (KK) tidak diberlakukan. lokasi Raja Ampat sulit untuk direalisasikan karena sebagian wilayah merupakan kawasan konservasi yang secara yuridis formal tidak diperbolehkan untuk lokasi pertambangan. 3. Papua Pacifik Batubara Minerals Total Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura.2 Sektor Sekunder 1. 27. 67 Perusahaan Kuasa Pertambangan Umum di Wilaya Papua Barat No 1. Pada tahun 2000 subsektor industri besar/sedang memberikan kontribusi yang terbesar diantara subsektor lainnya dalam sektor industri pengolahan terhadap PDRB Papua Barat yaitu sebesar 273 miliar atau 6. Walofi Mining PT.3. Sorong Selatan Distrik Aifat Kab.91%. izin pertambangan tradisional diberikan. Chrom. Tabel 1. Papua Pacifik Minerals Lokasi Kab.28 Tahap Kegiatan Eksplorasi Eksplorasi Eksplorasi Penyelidikan Umum Penyelidikan Umum Ket 14 Okt 2004 14 Okt 2004 14 Okt 2004 8 Des 2003 5. Perizinan hanya diberikan dalam bentuk Kuasa Pertambangan (KP). Perusahaan/Kode Wilayah PT. LAPORAN AKHIR 1-116 .99 143. PT. dan Platina Nikel. 2. Khusus untuk masyarakat. Chrom. Dari 11 izin baru tersebut 5 (lima) perusahaan berada di wilayah Papua Barat.891 62.953 30.655. Bahkan diberikan pula bantuan peralatan teknik penambangan terutama untuk bahan Galian C dan bahan Emas.5. Raja Ampat Kab. dan Platina Batubara Luas (Ha) 15. Ketentuan implementasi dari kebijakan ini adalah sementara sambil ada ketentuan lain yang diterbitkan. Kawei Sejahtera Mining PT. Chrom. Industri Sektor industri pengolahan merupakan sektor penyumbang PDRB terbesar untuk kelompok sektor sekunder. tanggal 06 Agustus 2002 tentang Tata Cara Pemberian Kuasa Pertambangan Umum.27 8 Des 2003 Pemerintah Provinsi Papua mengeluarkan surat Keputusan Nomor : 104 tahun 2002. dan Platina Nikel.250 6. Raja Ampat Kab.

737.801 757. dan rumah tangga. sedang.75 6. Tumbuhnya subsektor ini menunjukkan bahwa ekonomi sektor migas di Papua Barat kini bergeser pada aktivitas pengolahan dibandingkan dengan aktivitas ekstraktif karena kegiatan ekstraktif minyak bumi dan gas cenderung mengalami pertumbuhan yang lambat.63 747.920.18 16.966.130 1053.16 0.02 6.991.22 0.06 0.264.10 0.09 7.489 Nilai Investasi (ribu rupiah) 2985.594.829.755.128 Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari 515 Sorong Selatan Sorong 449 Raja Ampat Kota Sorong 273 Papua Barat 1651 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2007 5520 11815 1410 27234 202.35 8.562.21% dalam kurun waktu 2000 hingga 2005.2 18.27 0.197 25.91 374.42 8.060.13 7.896.38 14.12 7.471 48.964.505 Nilai Produksi (ribu rupiah) 43.760.61 0. 69 Banyaknya Usaha Sektor Industri Pengolahan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha 414 Tenaga Kerja 8.664.159.126. Tabel 1. Subsektor ini tumbuh sebesar 16.25 15.577 154.350.81 44.162.91% oada PDRB meningkat menjadi 6.85 7.566.528306 5 2 Sumber : PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007. Industri-industri tersebut LAPORAN AKHIR 1-117 .987.87 9.3 3.456.21 8 LISTRIK.080.50 4 3.59 389.1 21.3 Industri Pengilangan Minyak Bumi 154.951.05 3.19 4 3.066.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.7 6.845 Ket: Data Kabupaten pemekaran masih bergabung dengan kabupaten induk Berdasarkan kemampuan menyerap tenaga kerja.28 8.053.1 Listrik 9. 1 Industri Besar/Sedang 273.10 10.07 6. industri digolongkan menajdi 4 kategori yaitu industri besar.449.61 0.72 4.13 8.052.786 98.2 Industri Kecil Kerajinan Rumah Tangga 31.18% pada tahun 2005.91 328.2 Air Bersih 4.92 4. kecil.085.31 BANGUNAN 260. GAS & AIR BERSIH 14. hampir mengejar subsektor industri besar/sedang.358. 68 PDRB Papua Barat Kelompok Sektor Sekunder Tahun 2000 dan 2005 Atas Dasar Harga Konstan 2000 2000 2005 r Jumlah % Jumlah % INDUSTRI PENGOLAHAN 460.3 11.37 22.371.00 0.59 1.404 22. hasil perhitungan Lapangan Usaha Industri pengilangan minyak bumi yang semula memberikan kontribusi sebesar 3.36 Sektor Sekunder 735.904.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 cenderung terdapat di Kabupaten Sorong.926 12 218 2. gas. 71 Banyaknya Usaha Sektor Listrik. Kota Sorong. Listrik dan Air Minum Sektor listrik. Tabel 1. Industri yang paling banyak penyerap tenaga kerja berada di Kabupaten Sorong meskipun dari segi jumlah unit usaha sedikit lebih rendah dari Kabupaten Manokwari. sehingga persentase kontribusinya juga terus meningkat. dan air bersih serta sektor bangunan. Gas. diatas angka pertumbuhan PDRB total. Sektor ini memiliki grafik yang terus meningkat mengingat Papua Barat adalah provinsi baru dimana mengalami peningkatan kebutuhan akan layanan infrastruktur dasar.564 56 29 9 179 1. Nilai investasi dan nilai produk pun lebih besar Kabupaten Sorong daripada Kabupaten Manokwari. dan Air Minum Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Unit Usaha 8 3 2 4 32 16 9 5 5 84 Tenaga Kerja 72 28 4 10 1. 70 Banyaknya Usaha Sektor Industri Pengolahan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha Fak-Fak 116 Kaimana 22 Teluk Wondama 40 Teluk Bintuni 99 Manokwari 394 Sorong Selatan 109 Sorong 1 098 Raja Ampat 179 Kota Sorong 219 Papua Barat 2 348 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tenaga Kerja 364 73 189 343 2 135 277 6 539 372 1.951 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-118 . memiliki kontribusi yang kecil bagi PDRB Papua Barat namun memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi. Tabel 1. dan Kabupaten Manokwari.

Danau Kabori.579 1. Meski demikian.5. Gunung Meja dan Air Panas di Kebar dan masih banyak objek wisata lainnya yang belum digali.610 3. Beberapa diantaranya seperti Hutan Cagar Alam Pegunungan Arfak (68.776 ha).3.3 Sektor Tersier Sektor tersier di selama ini belum menjadi sektor yang menonjol di Papua Barat. Keberadaan Papua Barat sebagai provinsi baru dapat menjadi salah satu faktor meningkatnya kontribusi sektor primer. 1. Hutan Suaka Margasatwa Pantai Mubrani-Kaironi (170 ha). 72 Banyaknya Usaha Sektor Bangunan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 Unit Usaha 82 82 3 36 73 18 7 0 171 472 Tenaga Kerja 503 335 37 138 849 83 24 0 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 3. Hal ini karena Papua Barat akan memerlukan pusat-pusat baru yang akan diisi oleh kegiatan tersier. Pariwisata Sektor pariwisata di Papua Barat merupakan yang diharapkan di masa depan akan menjadi leading sektor.325 ha). Tabel 1. Hal ini mendorong pada naiknya kebutuhan akan layanan infrastruktur dan tentu saja juga maraknya kegiatan pembangunan fisik. Suaka Margasatwa Pantai Sidey-Wabian (157 ha). LAPORAN AKHIR 1-119 . sektor ini terus menujukkan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya. Cagar Alam Pegununan Tamrau Selatan (435. Bangunan Papua Barat merupakan provinsi bentukan baru dan untuk itu diperlukan berbagai fasilitas baru serta mengalami peningkatan jumlah penduduk untuk mengisi posisiposisi baru yang dibutuhkan. Terdapat juga objek wisata yang belum dikembangkan seperti objek wisata Danau Anggi. Kabupaten Raja Ampat juga memiliki sumber daya laut yang sangat kaya.

57 108.60 7.971.2.865. Secara makro sektor pariwisata merupakan industri yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang cepat melalui: penyediaan kesempatan kerja.595.33 7.03 7. belum menunjukkan kontribusi yang proporsional dengan potensi pariwisata yang dimiliki. Angkutan Udara 7.17 Sektor Tersier 935. Sewa Bangunan 32.559.5.25 0.18 0.41 13.1.269. untuk itu perlu kewaspadaan dalam pengembangannya dengan mempertimbangakan faktor lingkungan.94 0. Angkutan Laut 7.3 Restoran PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 7.67 0. hasil perhitungan LAPORAN AKHIR 1-120 .503.37 4.614.52 2.78 0.399.59 8. sehingga pariwisata sering disebut KEUANGAN.28 9.60 0.542.19 11.952.3.20 0.21 17.1.21 14. Jasa Sosial Kernasyarakatan 23.480.17 9.106.50 18.01 0.39 2.40 1.37 0.59 8.56 31.779.2. Peran sektor pariwisata dalam perekonomian Provinsi Papua Barat.21 8.4.89 1.2 Hotel 5.2.19 8.94 7.48 522.159.67 12.22 0.67 92.84 8.18 r % 9.96 7.24 1.950.28 20.447. PERSEWAAN DAN JASA 66. Angkutan Jalan Raya 7.87 0.762.13 465.75 9.75 PERUSAHAAN 8.395.251.4.84 5.890.446.05 9.85 9.23 8.576.59 33.87 0.199. Komunikasi 2000 Jumlah 340.1 Perdagangan Besar & Eceran 5.6. Jasa perorangan dan Rumah Tangga 6.6 27.000.70 11.535.16 0.69 6. Pemerintahan Umum 294.63 6.14 49. 73 PDRB Papua Barat Kelompok Sektor Tersier Tahun 2000 dan 2005 Atas Dasar Harga Konstan 2000 Lapangan Usaha PERDAGANGAN.13 0.82 23.498.09 5.740.272.84 11.3.469.46 hidup.1.63 9.38 9.17 0.93 0.86 9.43 7.489.59 8.912.05 1.14 6.41 20.683. Bank 22.4.861. Jasa Perusahaan 3.856.96 311. Lembaga Keuangan tanpa Bank 7. Jasa Penunjang Angkutan 7.336.12 0.06 0.59 4.71 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2005.46 % 8.83 44.14 0.627.74 193.39 45. HOTEL & RESTORAN 5.89 8.80 1. peningkatan pendapatan dan taraf lokomotif perekonomian.783.93 105.82 33.582.53 0.128.00 8.30 1.64 1. Tabel 1.36 0.10 JASA – JASA 335.44 460.14 2005 Jumlah 508.37 10.471.67 9.51 0. Angkutan Sungai 7.180.57 71.21 8.786.36 8.55 9. serta secara simultan dapat mengaktifkan sektor-sektor produksi lain.3.38 23.14 11.85 7.46 345.66 6.294.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Bahkan spesies koral di kawasan ini diklaim sebagai salah satu yang terkaya di dunia.299.32 8. Jasa Hiburan & Rekreasi 10.32 0. Obyek wisata potensial dikembangkan di Papua Barat mayoritas berupa wisata alam.300.64 84.05 0.

Suaka Margasatwa Pantai SideyWabian. Danau Angi. Buruway dan Teluk Etna) 1. Suaka Margasatwa Pantai MubraniKaironi. Danau Siwiki.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. Teluk Arguni. Klamono. Pulau Matan. Berau. Monumen PEPERA Alam dan Bahari Cagar Alam Missol. Monumen Indonesia-Jepang Alam dan Budaya Danau Ayamaru. Pulau Kafiau. Sausapor. Pulau Shop. Pulau Buaya. Kayeli Hot Water Spring Alam dan Budaya Pantai Tanjung Kasuari. Taman Wiata Klasman. Pantai Pasir Putih Panjang. Cagar Alam Batanta Barat. Fosil Burung Garuda. Salawati. Pulai Adi. Cagar Alam Budaya Gunung Genefo. Cagar Alam Wondibu. Wasior Selatan dan Wasior Barat) Kabupaten Teluk Bintuni (Distrik Babo dan Timbuni) Kabupaten Sorong (Distrik Makbon. Pulau Ega dan Karas Alam Bahari dan Cagar Alam Gunung Kumawa. Pendapatan per kapita diperoleh dari hasil pendapatan dibagi dengan jumlah penduduk. Peninggalan Sejarah Perang Dunia II Alam Cagar Alam Markoor. 74 Potensi Pariwisata Provinsi Papua Barat Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2005 Jenis Wisata Alam dan Budaya Obyek dan Daya Tarik Wisata Cagar Alam Pegunungan Arfak. Masjid tertua di Tanah Papua. Gunung Meja. Munumen Arfak. kupu-kupu bersayap burung. Taman Laut Nasional Teluk Cenderawasih. Sumur Minayk Peninggalan NNGPM.000 tiang. Terumbu Karang. Pulau Penyu. dan Terumbu Karang Lokasi Kabupaten Manokwari (Distrik Kebar. Pantai Pasir Putih. Benteng Fort Du Bois. Permandian Air Panas. Cagar Alam Jamusaba. LAPORAN AKHIR 1-121 . Air Terjun Sungai Karon. Moraid. Cagar Alam Wowo. Fosil Telapak Tangan. Taman Wisata Klamono. Rumah 1. Pantai Sausapor. Cagar Alam Gunung Fudi TMP Trikora. Minyambouw dan Susurey) Alam dan Bahari Cagar Alam Pegunungan Arfak Bagian Selatan. Cagar Alam Gunung Karora. Danau Kabori. Tamrau Selatan. Kota Sorong dan sekitarnya Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Fakfak (Distrik Fakfak Timur dan Barat) Kabupaten Kaimana (Kaimana.4 Pendapatan Per Kapita Pendapatan Pendapatan per kapita merupakan salah satu indikator tingkat kemakmuran ekonomi suatu wilayah. aman Wisata bariat. Monumen PEPER. Makam Missionaris Kristen Pertama di Papua. Monumen Perang Dunia II. Budaya dan Sejarah Kabupaten Teluk Wondama (Distrik Wasior. Cagar Alam Pulau Waigeo. Panorama Senja Sumber: BPS Provinsi Papua Barat 2006 Alam. Danau Yamor. Klasaman). Windesi. Pantai Pasir Putih. Pulau Kilimata. Terumbu Karang. Pantai Peneluran Penyu Alam dan Budaya Gua Jepang.5.

93 12.516.009.80 PDRB/kapita Tanpa Migas ADH Berlaku ADH Konstan 6.300. hasil perhitungan Gambar 1.10 ADH Konstan 7.62 5.705.236.44 PDRB/kapita Provinsi Papua Barat Tahun 2003 hingga 2006 14000000 12000000 10000000 8000000 6000000 4000000 2000000 0 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita Atas Dasar Harga Berlaku PDRB/kapita Atas Dasar Harga Konstan LAPORAN AKHIR 1-122 .267.076.75 12.85 5.354.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.441.12 6.336.529.307.52 8.444.16 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.913.406.51 7.110.09 7.249.19 6.008.292.298.734.349 10.503.592.249. 75 PDRB/kapita Papua Barat Tahun 2003-2006 Tahun 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita ADH Berlaku 9.709.085.994.30 8.13 9.064.176.116.414.59 8.000.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.45 Peta Potensi Pariwisata Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-123 .

Tabel 1. PDRB per kapita mengalami kenaikan hingga tahun 2005.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 PDRB per kapita Papua Barat menunjukkan peningkatan antara tahun 2003-2006 dilihat dari PDRB atas dasar harga berlaku. PDRB per kapita di Papua Barat juga terus meningkat dari semula 6. kemudian mengalami penurunan pada tahun 2006. Bappenas. PDRB per kapita di Papua Barat tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan ketika migas diperhitungkan. 76 Pendapatan Perkapita Riil Masyarakat Provinsi Papua Barat Tahun 19992000 Sumber: Indonesian Human Development Report. Perbedaannya mencapai hampir 4 juta rupiah atau menjadi hanya dua per tiga dari PDRB per kapita atas dasar harga berlaku yang memperhitungkan migas. Tanpa memperhitungkan sektor migas. Meski demikian angka tersebut tidak serta merta dapat diidentikan dengan tingkat kemakmuran yang tinggi pula bagi warga Papua Barat. 2004. Hal ini memunjukkan betapa krusialnya peran migas dalam perekonomian di Provinsi Papua Barat.3 juta rupiah pada 2005. BPS Besar PDRB per kapita Papua Barat yang mencapai 12.12 juta rupiah dapat dikatakan cukup tinggi. Dieliminirnya migas menyebabkan angka PDRB per kapita Papua Barat atas dasar harga berlaku menjadi lebih rendah.4 juta pada 2003 meningkat menjadi 8. Selama ini Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-124 . Tanpa migas. Jika dilihat atas dasar harga konstan. UNDP. Sempat turunnya PDRB atas dasar harga konstan dipengaruhi oleh tingginya pertumbuhan penduduk dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB.

000.000.000. Penentuan Struktur Ruang tidak bisa dilepaskan dari kondisi transportasi wilayah. sehingga penyediaan/pengembangan sarana dan prasarana perhubungan dalam suatu wilayah harus memadai dalam arti dapat menampung dan menunjang kelancaran aktivitas pergerakan yang ada dalam daerah itu sendiri maupun hubungannya dengan daerah lain.000.000.000.000.000.00 9.000.00 0.000. perdagangan.000.000.00 6.00 5.000.000. Sistem jaringan transportasi yang dimaksud adalah sistem jaringan jalan raya.000.000. dan jalan arteri. pariwisata.00 1. berfungsi menghubungkan sentra-sentra produksi ke sentra-sentra/node konsumsi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sering diidentikkan dengan kemiskinan. jalan provinsi dan jalan negara. Hal ini menunjukkan bahwa kekayaan Papua Barat belum dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakatnya. sosial budaya jasa pelayanan dan stabilitas keamanan.000. sistem transportasi sangat memegang peranan yang penting.46 PDRB per kapita Tanpa Migas Provinsi Papua Barat Tahun 2003 hingga 2006 10.000. jalan kolektor.00 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita Atas Dasar Harga Konstan PDRB/kapita Atas Dasar Harga Berlaku 1.6 ASPEK TRANSPORTASI WILAYAH Transportasi merupakan kebutuhan sarana dan prasarana yang sangat menunjang dalam perkembangan interaksi antar daerah dan diharapkan dapat mendorong percepatan perkembangan antar wilayah khususnya dalam mendukung proses pertumbuhan dan pemerataan di bidang ekonomi.000. Transportasi antar wilayah LAPORAN AKHIR 1-125 .000. kapal laut dan kapal udara.00 3. Transportasi wilayah menentukan tingkat aksesibilitas wilayah.00 2. Dalam menunjang perkembangan suatu wilayah.00 7. Gambar 1. Sedangkan dari segi manajemennya jalan raya meliputi jalan desa. jalan kabupaten. Dari segi fungsinya jalan raya meliputi jalan lokal.00 8.00 4.

700 56.6.882. dan Kabupaten Teluk Wondama.112 619.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 di Papua Barat terutama menggunakan transportasi laut dan udara. Sebagai pintu gerbang kawasan Papua Sebagai pusat pelayanan jasa. d.207 5 400.415 402. 9.000 0 18.000 615.000 121.000 1 319.800 … 927. 7.175 693. bahkan juga di Pulau Papua. Kabupaten Teluk Bintuni.500 0 … 285. 8.500 235.310 90. Sebagai penggerak dan pendukung Wilayah Indonesia Timur Sebagai tempat kolektor dan distributor barang. 2.210 3.660 486.800 … 1 298. khususnya untuk b.000 1. 4. 1.475 142. Daerah dengan perairan yang dominan seperti Raja Ampat dan Kaimana sepenuhnya bergantung pada transportasi laut.184.000 119. Sebagian kabupaten di Papua Barat menggunakan jalan darat sebagai transportasi utama untuk menghubungkan antar distrik/kecamatan. Kabupaten/ Kota Fak Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Jumlah 2007 Jalan Negara 0 132. kondisinya juga masih sangat memprihatinkan. setelah terlebih dahulu melewati Kota Sorong. Kabupaten-kabupaten ini masih mengandalkan transportasi air (laut. Sementara itu. 3.550. 6. sungai dan danau) sebagai transportasi utama.222 4 Total Jalan 543. kecuali Kabupaten Raja Ampat.000 686. yaitu kondisi geografis. 5.1 Transportasi Darat darat bukan merupakan sistem yang utama. Transportasi laut dan udara tersebut menjadi transportasi utama antar wilayah.000 0 … 85.000 119.500 200.637 344. Untuk Provinsi Papua Barat dalam konteks regional perannya adalah : a. Wilayah-wilayah lain hanya bisa dicapai oleh transportasi laut dan atau udara. Papua Barat memiliki tantangan yang unik dibandingkan daerah manapun di bidang infrastruktur.000 0 17. Kota Sorong menjadi gerbang transportasi bagi semua wilayah di Papua Barat.175 Jalan Kabupaten 271. Kondisi transportasi darat untuk menghubungkan antar wilayah masih sangat minim. 1. 77 Panjang Jalan menurut Kewenangan (Km) No.000 110.810 635.810 Jalan Provinsi 271. transportasi udara menjadi penghubung antar wilayah melalui penerbangan perintis. Tabel 1.915 402. c. Transportasi menghubungkan antara kabupaten kota yang ada di Provinsi Papua Barat.670 632.707 LAPORAN AKHIR 1-126 .210 5. Pelabuhan laut dan udara yang ada di kota Sorong merupakan yang terbesar di Provinsi Papua Barat.

810 345.030.722 3 882.956.650 Km. Kabupaten Sorong Selatan membangun jalan dari Teminabuan menuju Kampung Manelek. Sorong. bahwa Kabupaten Manokwari memiliki jalan paling panjang yakni 1. Sebagai contoh. Fak Fak dan Kabupaten Sorong Selatan.470 (19%) dan jalan negara Km 345. Kabupaten Raja Ampat. Kondisi jalan pada semua kabupaten yang ada di Provinsi Papua Barat masih dalam tahap pembangunan.096 Km.310 686. Ada kabupaten yang dapat ditempuh melalui darat walapun kondisi jalan raya masih dalam bentuk tanah dan dalam tahap pengerasan yakni Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bintuni.207 1 956. Kabupeten Raja Ampat sedang melakukan pembukaan jalan dari Waisai menuju Teluk Mayalibit. Kabupaten lain seperti Teluk Wondama.310 (14%).650 2006 2005 615. mengingat kondisi topografinya hanya bisa di jangkau melalui transportasi laut. Perbandingan total panjang jalan dengan jumlah penduduk di masing-masing kabupaten dapat dilihat dalam Tabel 1. Panjang jalan di Provinsi Papua Barat hingga tahun 2007 tercatat 1. Sedangkan panjang jalan berdasarkan status pemerintahan yang berwenang.175 488.78. demikian juga Kabupaten Sorong dan Kabupaten Sorong Selatan.222 1 121. bahwa jalan kabupaten adalah yang terpanjang yakni 1.430 Sumber : Papua Barat Dalam Angka 2009 Beberapa kabupaten/kota yang sebagian besar wilayahnya dapat dijangkau melalui transportasi darat adalah Kabupaten Manokwari. Teluk Bintuni dan Kaimana. wilayahnya sulit dijangkau melalui darat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 071. Pada umumnya kabupaten induk mempunyai tingkat asesibilitas yang relatif lebih baik jika dibandingkan dengan kabupaten pemekaran yang baru dibentuk seperti Raja Ampat dan Teluk Wondama. dari panjang jalan yang ada di kabupaten lain. LAPORAN AKHIR 1-127 . Konda dan Distrik Seremuk serta beberapa distrik lainnya. Berikut ini dapat dilihat panjang jalan menurut kewenangan.470 5 184. sehingga transportasi utaman yang dipakai adalah laut atau udara. Bariat.121. Berdasarkan panjang jalan dan penyebaran jumlah empat penduduk yang berdomisili pada masing-masing kabupaten relatif jarang. Panjang jalan berdasarkan tingkat kabupaten yang ada di Provinsi Papua Barat.650 Km (67%) bila dibandingkan dengan jalan provinsi 448. Kabupaten Teluk Bintuni sedang melakukan pembangunan jalan darat yang dapat menghubungkan Ibukota Kabupaten menuju SP.

171 2 226.815 56. LAPORAN AKHIR 1-128 .613 301. 7. kelima lapangan terbang ini selain didarati oleh pesawat penerbangan perintis jenis Twin Otter juga dapat didarati pesawat jenis Fokker dan Boing.100 135.400 19.394 1 803. 2.550 543.800 … 1 298. 3.953 Total Lain-Lain 10.500 235.798 240.550 337. yang saat ini setidaknya terdapat berberapa perusahaan maskapai penerbangan yakni Bali Air dengan jenis pesawat IHS dan Merpati Nusantara Airline (MNA) dengan jenis pesawat DHC-6 dan F-27. .95 Km kemudian aspal 1.200 … 487.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.550 Km.2 Transportasi Udara Transportasi udara menjadi penting di Provinsi Papua Barat karena karakteristik wilayah yang cukup bergunung.226.45 16.000 2. 5.885 1 137. Domine Edward Osok dan Jefman di Sorong.201 1 688. Prasarana perhubungan udara utama di Provinsi Papua Barat adalah Lapangan Terbang Rendani di Manokwari. Kabupaten/ Kota Fak Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Jumlah 2007 Aspal 269.000 124.100 45. 1.000 3.000 10.137. Salah satu jenis angkutan yang ada di Provinsi Papua Barat adalah pesawat terbang.6.490 96.000 1 550.670 632.415 402. 78 Panjang Jalan menurut Tingkat Permukaan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 No.750 0 0 … 0 4. 6. Transportasi Udara merupakan salah satu moda transportasi andalan di Provinsi Papua Barat mengingat kondisi geografisnya yang masih sulit ditembus oleh kendaraan bermotor.000 152.000 0. Hampir setiap hari ada jadwal penerbangan yang melayani beberapa ibukota kabupaten. 1. bahwa jenis permukaan jalan yang terpanjang adalah kerikil yakni 2.617 261.000 769. 4.803. Tanah 1.000 107. 9. 8.000 119. Torea di Fak Fak dan Tarum di Kaimana.130 2 371.000 550. curam dan diliputi hutan sehingga akses jalan darat menjadi sulit.112 619.700 141.310 Jenis Permukaan Kerikil Tanah 164.280 1 164.39 Km.000 196.934 97.000 47.210 5 400. Sedangkan di Kabupaten Teluk Bintuni.630 336.600 … … 473.310 Km. dan lain-lain 16. Teluk Wondama dan Sorong Selatan hanya bisa di darati oleh pesawat jenis tertentu seperti Twin Otter.707 5 184.000 67.207 Sumber : Papua Barat Dalam Angka 2009 Dari tiga kabupaten yang tersedia datanya.

dengan harga carter rata-rata per jam terbang sebesar 4 (empat) juta rupiah. Jumlah pergerakan dari masyarakat luar-dan dalam dapat ditunjukkan dengan pergerakan barang dan orang. PAS dengan jenis Bolgow-105. seperti maskapai penerbangan AMA. Walaupun demikian. sekaligus menunjang perkembangan dan pertumbuhan wilayah. Pola datang dan pergi masyarakat berasal dari Kota Sorong dan Manokwari. Tabel 1.91% dan 84. dan Kaimana.47 Contoh Pesawat yang melayani kebutuhan transportasi udara di Provinsi Papua Barat Masyarakat di Provinsi Papua Barat tidak terlayani oleh transportasi udara setiap hari di setiap kota.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Penerbangan dengan menggunakan pesawat ukuran relatif kecil kerap dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Sedangkan pola pergerakan barang dan jasa dapat ditunjukkan dengan catatan mengenai arus lalu lintas. Selain dua maskapai penerbangan tersebut juga terdapat pesawat yang tidak terjadwal yakni milik PT. maka penerbangan dibatalkan. Pada tahun 2006 mencapai 142. Sorong. Fakfak.538 orang. Untuk pos paket yang dibongkar mengalami peningkatan sebesar 247% sedangkan yang dimuat mengalami penurunan sebesar 297%. Jumlah bongkar muat barang pada tahun 2006 mengalami peningkatan 80. Kabupaten yang telah terlayani oleh penerbangan komersial antara lain adalah Kabupaten Manokwari. 79 Jadwal dan Rute Penerbangan di Provinsi Papua Barat Maskapai Hari Rute Jenis Pesawat LAPORAN AKHIR 1-129 . di Manokwari ada beberapa perusahaan penerbangan carter yang bersedia terbang dengan kondisi apapun.87% dibanding tahun 2005. Apabila cuaca mendung dan hujan gerimis. pesawat hanya melayani kota tertentu pada hari-hari tertentu.965 dan jumlah penumpang pergi 154. Keberadaan alat transportasi ini sangat membantu kelancaran arus penumpang ke dan dari kota maupun kabupaten lain di Provinsi Papua Barat. Jumlah penumpang datang pada tahun 2003-2006 meningkat dari tahun ke tahun.

baik antar kabupaten maupun antar distrik masih menggunakan moda transportasi laut.3 Transportasi Laut Transportasi laut mempunyai peranan sangat penting pada perekonomian Papua Barat. Beberapa jenis kapal penumpang yang singgah di pelabuhan di beberapa kabupaten di Provinsi Papua Barat selain KM Bukit Siguntang dan KM Tatamailau.6. Selain itu sebagian besar mobilitas orang dan barang di wilayah Papua Barat. juga terdapat kapal PT Pelni yang melayari Pantai Selatan Papua. Hal ini disebabkan karena kondisi fisik wilayah yang belum memungkinkan dibukanya jalan darat sehingga kota tersebut lebih mengandalkan transportasi air sebagai sarana perhubungan antar kota/kabupaten. baik yang masuk maupun yang keluar dari wilayah Papua Barat masih menggunakan transportasi laut. Hal ini terlihat dari sebagian besar mobilitas orang dan barang. Selain itu terdapat beberapa jenis kapal LAPORAN AKHIR 1-130 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 IHS Bali Air Senin Selasa Rabu Kamis MNA Senin Rabu Sabtu Kamis Jumat Sabtu Senin Kamis Mimika Air Kamis Tual Kaimana  Sorong  Manokwari Manokwari  Kaimana  Tual  Ambon  Tual Tual  Ambon  Tual  Kaimana  Manokwari Manokwari  Sorong  Kaimana  Tual  Ambon  Tual Biak  Nabire  Kaimana  Fak-Fak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Manokwari  Teluk Bintuni Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Nabire  EWI  Nabire Manokwari  Teluk Bintuni Manokwari  Teluk Bintuni Biak  Serui  Biak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Manokwari  Kaimana  Fak-Fak  Kaimana  BXB  Manokwari Sorong  NTI  Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Nabire  Biak Sorong  BXB  Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Jayapura  ZRM  Nabire  Kaimana  Nabire  Biak Jayapura  Biak  Kaimana  Sorong  Kaimana  Biak  Jayapura Biak  Kaimana  Tual  Timika  Tual  Kaimana  Biak Potowai  Kaimana  Potowai Twin Otter Perintis 1. Jenis alat angkutan lain yang sangat penting bagi masyarakat di Papua Barat adalah kapal laut.

melalui Sorong adalah sebagai berikut: LAPORAN AKHIR 1-131 . Pelabuhan Utama Tersier adalah pelabuhan utama yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah menengah dan jangkauan pelayanan menengah. d. Pelabuhan Utama Primer adalah pelabuhan utama yang berfungsi melayani kegiatan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan pelayanan yang sangat luas. serta merupakan simpul dalam sistem jaringan transportasi laut internasional.48 Contoh Kapal Laut yang melayani kebutuhan transportasi di Provinsi Papua Barat Secara umum. serta merupakan pengumpan pada Pelabuhan Utama. e. b. Gambar 1. jalur pelayanan transportasi air (laut) mampu melayani kota-kota/desa-desa di pesisir Provinsi Papua Barat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 barang yang memuat bahan kebutuhan pokok. Rute kapal-kapal motor baik dari PELNI maupun milik swasta. Sarana transportasi laut. speedboat dan longboat untuk menjangkau wilayah-wilayah terpencil serta kapal nelayan. . Pelabuhan Pengumpan Regional adalah pelabuhan yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut dalam jumlah kecil dan jangkauan pelayanan yang relatif dekat. Pelabuhan Pengumpan Lokal adalah pelabuhan yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut dalam jumlah kecil serta merupakan pengumpan pada Pelabuhan Utama dan Pelabuhan Pengumpan Regional. c. Pelabuhan Utama Sekunder adalah pelabuhan utama yang berfungsi melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan pelayanan yang sangat luas dan berperan sebagai simpul pada sistem jaringan transportasi nasional. berdasarkan fungsi pelayanannya dapat diklasifikasikan atas : a.

Selain disinggahi kapal penumpang. karena mereka umumnya merasa lebih mudah dan praktis apabila bekerja dekat dengan permukiman. kareana apabila menggunakan pesawat udara. Perekonomian wilayah di Papua Barat umumnya digerakkan melalui perhubungan laut dan udara. KM IWERI dengan rute Jayapura – Sarmi – Nabire – Serui – Biak – Korido – KM Lady Marina dengan rute: Merauke – Agast – Timika – Tuai – Kaimana – Manokwari – Saukorem – Sausapor – Sorong – Bintuni – Babo PP. kanan: Pelabuhan Teluk Bintuni) Pelabuhan-pelabuhan kecil yang ada saat ini umumnya merupakan pelabuhan pendaratan kapal nelayan milik nelayan setempat. Gambar 1. Fakfak – Bintuni – Sorong PP. 2. ibu kota Kabupaten Raja Ampat. LAPORAN AKHIR 1-132 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. rute perjalanan menuju Kota Sorong terlebih dahulu. kemudian dilanjutkan dengan transportasi laut.000 DWT. Selain itu juga terdapat pelabuhan pendaratan ikan yang saat ini sudah tidak lagi berfungsi. Di Kecamatan Kaimana terdapat pelabuhan laut yang mampu disinggahi kapal berukuran 5. Pelni yang melayari Pantai Selatan Papua.49 memperlihatkan kondisi maupun suasana pelabuhan utama di Provinsi Papua Barat. lebih sering menggunaka transpotasi laut dari pada transportasi udara. satu-satunya transportasi antar pulau dan penunjang kegiatan masyarakat di Kabupaten Raja Ampat adalah angkutan laut.49 Kondisi Pelabuhan di Provinsi Papua Barat (kiri: Pelabuhan Kaimana. Gambar 1. Di Kabupaten Kaimana terdapat satu pelabuhan utama yang terletak di Kaimana Kota dan beberapa pelabuhan kecil yang tersebar di beberapa tempat. Selain pelabuhan-pelabuhan umum tersebut perlu pula dikembangkan pelabuhan khusus untuk Kawasan Industri dan pelabuhan khusus bagi kepentingan pariwisata. pelabuhan ini juga sudah menerima pelayaran kapal milik PT. Sebagai daerah kepulauan. Pembahasan mengenai transportasi laut tentunya tidak terlepas dari keberadaan pelabuhan laut yang merupakan prasarana yang harus ada baik skala kecil maupun besar. Demikian juga untuk menjangkau Waisai.

Inantawan. Oransbari. Kalobo. Teminabuan. Sausapor. Saonek. Pelabuhan Manokwari. terdapat pelabuhan kecil yang melayani pelayaran perintis di daerah-daerah kepulauan. LAPORAN AKHIR 1-133 . yaitu Pelabuhan Sorong. Windesi. Saukorem. di Provinsi Papua Barat terdapat 4 (empat) pelabuhan utama. pesisir pantai maupun sungai-sungai. Selain itu. Pelabuhan Fak Fak dan Pelabuhan Kaimana.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2006. yaitu pelabuhan perintis Wasior. Babo dan Kokas. Keempat pelabuhan utama ini digunakan sebagai pelabuhan komersil. Bintuni.

50 Peta Sarana dan Prasarana Transportasi LAPORAN AKHIR 1-134 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

terdapat 71.1.7.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.7 ASPEK SARANA DAN PRASARANA WILAYAH PROVINSI PAPUA BARAT 1. Penyediaan listrik di Papua Barat teridir dari dua macam yaitu pembangkit listrik tenaga diesel dan pembangkit listrik mikro hidro. Pembangkit listrik tenaga diesel sangat ini merupakan sumber energi yang paling utama. Dari total produksi tersebut.087 mwh. Total kapasitas terpasang 21178 kw sementara beban puncak 27674 kw.80 tersebut membandingkan jumlah pelanggan PLN di Papua Barat dari jenis rumah tangga dengan jumlah rumah tangga di Papua Barat. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan energi. Jumlah pelanggan pada tahun 2005 mengalami peningkatan menjadi 63238 pelanggan. layanan PLN masih sangat kurang seperti terlihat pada Tabel 1. 80 Jumlah Rumah Tangga.1 Prasarana Wilayah Provinsi Papua Barat 1. Tabel 1.7.1 Energi Dalam lingkup wilayah. meningkat dari jumlah tahun 2004 yang sebesar 61253 pelanggan. Total produksi selama tahun 2005 tercatat 79. energi merupakan aspek yang sangat krusial. Tingkat layanan listrik rata- LAPORAN AKHIR 1-135 . Jumlah Pelanggan PLN Rumah Tangga dan Tingkat Layanan Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 Sosial 287 107 25 24 709 106 205 106 548 2 117 2 117 2 117 Rumah tangga 5 744 1 741 237 737 16 602 1 186 5 739 1 886 20 543 54 415 54 415 54 415 Bisnis 772 439 14 91 1 799 83 153 32 2 052 5 435 5 435 5 435 Industri 2 5 1 5 13 13 13 Publik 247 63 11 13 273 38 45 38 530 1 258 1 258 1 258 Sumber: Papua Barat dalam angka 2007. Banyaknya unit pembangkit tenaga listrik di Papua Barat pada tahun 2005 adalah 16 unit. dilihat dari segi distribusi. Meski jumlah pelanggan terus meningkat.960 mwh terjual.015 mwh yang dialirak dan 70.79 persen dari tahun sebelumnya. maka pembangunan sarana dan prasarana energi juga menjadi kebutuhan vital dan mendesak di Provinsi Papua Barat. meningkat sebanayk 3.80 berikut. hasil perhitungan Tabel 1.

Wilayah Raja Ampat yang berupa kepulauan mungkin menjadi faktor kenapa kantor pos dalam skala kecil lebih berperan. Layanan telepon dari Telkom saat ini baru terkonsentrasi di kabupaten dan kota terutama seperti Sorong dan Manokwari. LAPORAN AKHIR 1-136 .57 persen. yang terkendala oleh kondisi topografi wilayah Papua Barat. 81 Jumlah Kantor Pos dan Kantor Pos Pembantu Tahun 2008 Kabupaten Kantor Pos Kantor Pos Pembantu Kantor Pos dan Giro Tambahan Rumah Pos Kantor Pos Desa Jumlah Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong 1 … 6 1 1 … - … 1 1 1 … 4 5 9 7 1 … 3 7 11 19 1 1 2 … 13 6 8 3 34 41 1 Selatan Sorong 1 Raja Ampat Kota Sorong 1 1 Papua Barat 9 4 2007 3 11 Sumber : Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Kantor pos hanya terdapat di dua wilayah yaitu Kota Sorong dan Manokwari sementara kantor pos pembantu terdapat di semua wilayah kecuali Kabupaten Raja Ampat. Rasio elektrifikasi di Indonesia rata-rata berkisar pada angka 50 persen. Tingkat layanan tertingi ada di kota Sorong yaitu sebesar 57. dan Raja Ampat. Sorong Selatan.47 persen. jumlah sarana dapat dilihat pada Tabel 1.7.81 berikut: Tabel 1. Pemenuhan energi di Papua Barat masih sangat kurang baik dari segi jumlah maupun distribusi. Kondisi infrastruktur konumikasi dan perhubungan di Papau Barat tergolong masih sangat minim. 1. Tingkat layanan tersebut masih sangat jauh dari rata-rata yanng ada.2 Komunikasi Infrastruktur komunikasi dan komunikasi pada tingkat provinsi lebih menitikberatkan pada persebaran dan tingkat layanan.89 persen. Tingkat layanan yang paling ada di kabupaten-kabupaten baru dengan angka terendah ada pada kabupaten Teluk Wondama sebesar 4. Kebutuhan pos di Raja Ampat dipenuhi oleh rumah pos dan kantor pos desa. Layanan telepon belum terdapat di Teluk Wondama.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 rata bagi rumah tangga di Papua adalah sebesar 32. Teluk Bintuni.1. Untuk layanan pos.

210 177.582.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kondisi wilayah Papua Barat lebih memungkinkan pengembangan jaringan komunikasi nirkabel seperti telepon seluler dan telepon satelit.496 2.270 29. 2. Tetapi kapasitas potensial pada tahun 2004 mengalami kenaikan dari 268 liter/detik menjadi 297 liter/detik.230.525. Papua (Kompilasi data tahun 2007) LAPORAN AKHIR 1-137 .329 5.138.422 4.005 Jumlah Khusus 42.230 16.582. Tabel 1.3 Air Bersih Perusahaan air bersih pada tahun 2003 terdiri dari 4 perusahaan. Sedangkan kapasitas efektif sama dengan tahun 2003 yakni 144 liter/detik. sedangkan perusahaan cabang tidak difungsikan lagi.923. Tabel 1.200 196.177.344 3.515 2.673 2.330 2.809 1.1.074. Pada tahun 2004 mengalami penurunan yaitu hanya 3 perusahaan induk.480 Sumber : Papua Barat Dalam Angka.512 … … … Lainnya … … … 6.331 687.554 Sumber Air Mata Air 45 65.427 28. Sumber air bersih yang digunakan berasal dari air sungai dan mata air pegunungan.926.1%.699 858.767 Danau 32.507 Kota 1 Fak Fak 2 Sorong 3 Manokwari 9 Kota Sorong Jumlah 6 Sumber : PDAM.535 M3 dan dari mata air pegunungan sebanyak 2.464 1.372.117 2. Telah ada operator seluler yang menjangkau Papua Barat namun juga masih terkonsntrasi di wilayah seperti Kota Sorong.272 1. 3 perusahaan induk dan 1 perusahaan cabang.936.330 M3 dan dari sumber lainnya sebanyak 6.945 1.720 39.117 3.497 19. yang bersumber dari sungai sebanyak 3.690 Jenis Pelanggan Non Niaga Niaga Industri 667.864 33.06 5. 82 Produksi Air Bersih Menurut Kabupaten/Kota dan Sumber Air yang Digunakan Tahun 2008 (m3) No.318 65.6%.544 8.149.177.936.535 3.490 39.345M3.7.240 53.353 10. 1.428.607 8.383.905 1. Data tetntang air bersih masih memasukkan kabupaten bentukan baru dalam kabupaten induknya. 1. Total produksi air sebanyak 6.427 5.363 3.3% dan sumber lainnya 0.365 145.243.907 617. 83 Banyaknya Pelanggan Air Minum yang Disalurkan Menurut Jenis Pelanggan Per Kabupaten/Kota Tahun 2006 (m3) No Kabupaten/ Sosial 69. 3 Kabupaten/ Kota Fak Fak Manokwari Kota Sorong Jumlah 2007 2006 2005 2004 Sungai 2.923. 2009 Pada berikut nampak bahwa persentase sumber air bersih berasal dari sungai mencapai 54.496 3.370.512 32.047 73.107. mata air 45.480 M3.626.

2 Sarana Wilayah Provinsi Papua Barat 1.047 dan niaga sebesar 1. dan Kabupaten Manokwari.005 dan yang khusus adalah 145.253 LAPORAN AKHIR 1-138 . Khusus untuk sarana pendidikan dengan jenjang pendidikan SMK sebagai jenjang kejuruan yang lebih menekankan pada profesionalisme ilmu belum tersebar pada semua kabupaten/kota. sebaliknya untuk kota Sorong memiliki jenjang sekolah SMK yang cukup tinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya yaitu sebanyak 7 sekolah.7. disusul Kabupaten Sorong.2. dan Raja Ampat. industri dan khusus relatif lebih kecil.7.428. dirnana terdapat 3 (tiga) lokasi kabupaten yang belum memiliki jenjang SMK yaitu kabupaten Teluk Bintuni.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2004 jumlah air minum yang disalurkan sebanyak 4.1 Pendidikan Sarana dan tenaga pengajar pendidikan merupakan kapasitas yang mendukung proses belajar mengajar dalam kegiatan pendidikan.699 Artinya non niaga merupakan pengguna air terbanyak di susul oleh niaga. sedangkan dari kategori sosial.284:32.066. Jumlah sarana pendidikan di Papua Barat pada tahun 2005 terdapat pada Tabel 1. dan telah tersebar pada daerah kabupaten dan kota di wilayah ini. sedangkan sosial 177.295 : 113.690 dan industri 28.149. 1.507 M3. Perbandingan kapasitas guru tersedia dan siswa pada jenjang pendidikan SD/MI diperoleh nilai sebesar 5. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa 1(satu) orang guru akau mengajar siswa jenjang pendidikan SD/Ml sebanyak 22 orang.901 atau 1: 22. Pada tingkat SMP/MTs diperoleh perbandingan kapasitas guru dan siswa sebesar 3. Teluk Wondama. Penggunaan air bersih yang terbanyak di Papua Barat adalah Kota Sorong dari semua jenis pelanggan yang di salurkan.370. Tabel 1. Non niaga merupakan pelanggan terbesar yakni 2. 84 Sarana Pendidikan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten TK SD SMP SMA Fak-Fak 30 91 16 6 Kaimana 8 68 10 4 Teluk Wondama 1 42 4 1 Teluk Bintuni 6 64 14 4 Manokwari 32 166 28 13 Sorong Selatan 110 16 4 Sorong 47 115 21 5 Raja Ampat 2 80 17 2 Kota Sorong 35 70 24 16 Papua Barat 161 806 150 55 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 SMK 3 4 1 2 1 1 7 19 MA 1 1 1 1 4 Sarana pendidikan di Provinsi Papua Barat mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga perguruan tinggi telah tersedia.84 berikut ini. Kabupaten Fak Fak.

Untuk dapat mencapai suatu sarana pendidikan. LAPORAN AKHIR 1-139 . tingkat partisipasi masyarakat dalam pendidikan di Papua Barat masih rendah. Apabila dilihat dari perbandingan kapasitas guru dan siswa didik. Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian/STPP (Kabupaten Manokwari). Sekolah Tinggi Viktoria.7. masyarakat harus menmepuh jarah yang jauh. Universitas Muhamadiyah Alamin/UNAMIN (Sorong). Dari segi jumlah penduduk. Pembangunan di bidang kesehatan dapat menjadi modal bagi peningkatan kualitas masyarakat. 1.2. Artinya bahwa 1(satu) orang guru pada tingkat SMP/MTs akan mengajar 10 siswa. layanan pendidikan memang telah memenuhi. layanan di Papua Barat telah mencukupi. Kenyataan ini erat kaitannya dengan masalah transportasi. 85 Tenaga Pengajar di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat TK 98 8 1 28 98 4 64 301 602 SD 846 284 119 251 1035 783 795 233 949 5295 SMP 275 127 38 175 325 49 595 65 1635 3284 SMA 88 30 20 76 387 29 83 32 745 1490 SMK 60 65 15 115 15 85 215 570 MA 5 6 20 25 56 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Dilihat dari tingkat rasio antara sekolah dan tenaga pengajar dengan jumlah murid. Jumlah sarana layanan kesehatan di Papua Barat terdapat pada Tabel 1.86 berikut ini.2 Kesehatan Layanan kesehatan adalah layanan krusial bagi masyarakat dan berkaitan dengan kualitas masyarakat. Tabel 1. Layanan kesehatan yang mencukupi dapat menurunkan tingkat kematian. meningkatkan kesehatan reproduksi. mengurangi jumlah penyakit menyebar. ternyata memiliki perbandingan yang cukup baik dalam proses belajar mengajar. Meski demikian.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 atau 1:10. namun dari segi distribusi wilayah belum memenuhi. STIE Sorong (Kabupaten Sorong). dan membudidayakan perilaku hidup sehat. Sekolah Tinggi Ilmu Hukum/STIH. Universitas Kristen Indonesia Papua /UKIP. SIT Otouw Gesler. STIE Maesa. Sekolah Pendidikan Agama Kristen/SPAK. Saint Paul Politeknik. Jenjang pendidikan perguruan tinggi yang tersedia di Provinsi Papua Barat terdiri dari Universitas Negeri Papua/UNIPA.

dan Kota Sorong. Jumlah sarana tersebut tentu masih sangat kurang.3 Perekonomian LAPORAN AKHIR 1-140 . dan Fakfak. 86 Jumlah Sarana Kesehatan di Provinsi Papua Barat tahun 2008 Puskesmas Puskesmas Puskesmas Pembantu Keliling Fak-Fak 37 9 5 Kaimana 46 7 9 Teluk Wondama 22 6 10 Teluk Bintuni 28 15 10 Manokwari 84 19 19 Sorong Selatan 42 8 9 Sorong 22 12 2 Raja Ampat 33 13 21 Kota Sorong 25 5 8 Papua Barat 339 94 93 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 Kabupaten Rumah Sakit 1 BP 6 1 Posyandu 130 79 70 221 255 151 111 69 87 1. Dokter umum memang telah tersedia di seluruh kabupaten walau terkonsentrasi di kabupaten induk. Di wilayah-wilayah tersebut telah terdapat layanan rumah sakit.7. Kaimana. Kota Sorong. Dokter gigi baru terdapat di Fak-fak. dan Kota Sorong. 87 Jumlah Tenaga Dokter di Provinsi Papua Barat tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Dokter Ahli 4 Dokter Umum 22 6 5 3 16 6 10 2 7 77 Dokter Gigi 2 1 21 2 9 34 2 7 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 Tabel 1. Hal ini dapat dipahami karena lokasi-lokasi tersebut merupakan kabupaten lama (Provinsi Papua) sebelum pemekaran wilayah menjadi Provinsi Papua Barat. selain itu masyarakat harus menempuh perjalanan jauh untuk dapat memperoleh layanan kesehatan. Tabel 1.87 menunjukkan minimnya tenaga dokter di Papua Barat.173 Polindes 8 31 14 8 74 36 7 7 35 2 1 8 18 11 2 9 12 41 Ketersediaan sarana kesehatan yang cukup tinggi ada pada lokasi Kabupaten Manokwari. Sorong. 1.2. Sarana kesehatan tentu harus didukung oleh layanan tenaga kesehatan sperti dokter. Jumlah tenaga dokter di Papua Barat adalah sebagai berikut. Manokwari. Manokwari. hanya di Fak-Fak. Untuk dokter ahli belum terdapat di semua kabupaten. Kabupaten-kabupaten baru hingga tahun 2005 belum memiliki rumah sakit.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.

Tabel 1. seperti Minimarket dan Supermarket. dan Supermarket. Fak Fak 2. Tabel 1. Kabupaten/ Kota Fak Fak Sorong Manokwari Kaimana Sorong Selatan Raja Ampat Teluk Bintuni Bank Umum 2 2 7 1 1 1 3 BPR 1 LAPORAN AKHIR 1-141 . Perbankan Sarana perbankan merupakan sarana yang penting dalam perekonomian. Raja Ampat 7. Dari sejumlah bank yang beroperasi. Perdagangan Perusahaan perdagangan di Papua Barat menurut golongan usaha pada tingkat desa dan perkotaan. Bank Danamon). Manokwari 4. KUD. Restoran/Rumah Makan. BRI) sebesar 56. Teluk Wondama 9. Kota Sorong Jumlah di Kota dan di Desa Jumlah di Kota Jumlah di Desa 1 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 b. sedangkan yang lainnya lebih banyak tersebar di perkotaan. Hotel/Penginapan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 a. 88 Jumlah Perusahaan Perdagangan Menurut Golongan Usaha Pada Tingkat Desa dan Perkotaan No Kabupaten/ Kota Super Market 1 3 Restoran/ Rumah Makan 4 2 8 2 2 1 1 5 11 9 2 11 30 25 5 Toko/ Warung/ Kios 9 37 69 5 52 59 20 11 22 284 41 243 Hotel/ Penginapan 3 7 1 2 2 3 10 28 21 7 Koperasi Unit Desa 9 9 14 1 7 1 3 44 8 36 Koperasi Non KUD 7 4 7 2 1 16 4 41 8 33 1. 2. 5. jumlah terbesarnya adalah kantor Bank Pemerintah.72 persen. 3. 89 Jumlah Perbankan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2007 No 1.49 persen dan Bank Pembangunan Daerah (Bank Papua) sebesar 26.79 persen adalah bank-bank yang dikelola oleh swasta (Bank Mandiri. Dari semua jenis usaha seperti: toko/warung/kios. 4. Jumlah kantor cabang bank yang beroperasi di Provinsi Papua Barat kurang lebih berjumlah 60 kantor cabang. dan non KUD sebagian besar berada di pedesaan. Teluk Bintuni 8. yang terdiri dari Bank Pemerintah Pusat (BNI. sisanya sebesar 16. 7. Sorong Selatan 6. kemudian koperasi Unit Desa (KUD) dan non KUD. Sorong 3. bahwa toko/warung/kios menduduki urutan tertinggi. Kaimana 5. 6.

Kehutanan. Pertanian. Struktur ruang di kawasan ini hanya dibentuk oleh beberapa kegiatan. Potensi Pengembangan Struktur Tata Ruang Secara umum kondisi tata ruang di wilayah perencanaan masih sangat sederhana. Permukiman. Potensi Pengembangan Pola Ruang LAPORAN AKHIR 1-142 . Kawasan perdagangan dan jasa. yaitu: 1. 90 Jumlah Bank dan Kantor Bank di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Rincian/ Description Bank Persero dan Bank Pemerintah Daerah Jumlah bank Jumlah kantor bank Bank Swasta Nasional Jumlah bank Jumlah kantor bank Bank Asing dan Bank Campuran Jumlah bank Jumlah kantor bank Jumlah bank Jumlah kantor bank Jumlah Bank Banks Kantor Bank 16 156 17 180 17 192 9 49 11 54 7 9 9 20 18 18 4 6 2004 2005 2006 2007 2008 Bank-bank Umum 129 153 165 45 48 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 1. sehingga dapat mempermudah pengarahan fungsi-fungsi yang telah ditetapkan.8 POTENSI PROVINSI PAPUA BARAT BARAT A. 5. B. 3. Pola struktur ruang pada saat ini masih linier yaitu mengikuti pola jaringan jalan utama. Sedangkan permukiman perdesaan membentuk kelompok secara tersebar. 4. Kota Sorong 6 Jumlah di Kota dan di Desa 24 Jumlah di Kota 19 Jumlah di Desa 5 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2008 1 2 2 - Tabel 1. 2. Jaringan jalan. Teluk Wondama 1 9.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 8.

Perlunya konsep mitigasi bencana pada kawasan-kawasan yang mempunyai kerawanan terhadap bencana. Adapun potensi. Terlebih adanya kabupaten-kabupaten bentukan baru menyebabkan pencatatan data penggunaan lahan harus dilakukan ulang. karena memiliki dampak yang penting pada upaya pencapaian tujuan pengembangan wilayah dalam lingkup provinsi. Terdapat beberapa komoditas unggulan yang bernilai ekspor cukup tinggi. 2. Pola penggunaan lahan masih berpola pedesaan dengan didominasi oleh kebun campuran. Faktor kondisi fisik Provinsi Papua Barat yang berbukit dengan banyak pulau menyebabkan pencatatan penggunaan lahan relatif lebih sulit dilakukan. dan prospek kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Provinsi Papua Barat dapat dijelaskan sebagai berikut. Masih luasnya hutan sehingga dapat menujang program penanganan lingkungan. 5. LAPORAN AKHIR 1-143 . 4. 1. Data mengenai lahan antara satu dan yang lainnya kerap menunjukkan perbedaan. Pola ruang yang ada berdasarkan data masih didominasi oleh hutan. Di Provinsi Papua Barat terdapat beberapa kawasan strategis ekonomi. 6.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pola Ruang di Provinsi Papua Barat masih sangat terbatas. hal ini dapat dijadikan potensi pengembangan dengan mengalih fungsikan perkebunan yang kurang produktif menjadi lahan yang dilihat dari sisi ekonomisnya menjadi lebih tinggi. C. masalah. Potensi budaya yang beragam dapat dijadikan entry point bagi kawasan strategis sosial. D. sehingga untuk pengembangan kawasan budidaya masih sangat terbuka. laut. Potensi Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi Kawasan strategis merupakan kawasan-kawasan dengan potensi dan atau permasalahan tertentu yang perlu diprioritaskan penanganannya secara sektoral maupun tata ruang. dan pulau-pulau kecil yang tersebar cukup luas. kawasan strategis lingkungan dan kawasan strategis sosial. Terdapat beberapa pintu gerbang nasional yang dapat ditingkatkan menjadi pintu gerbang internasional dalam rangka peningkatan kerjasama ekonomi. laut dan pulaupulau kecil yang masih berpotensi untuk ditingkatkan dan dikembangkan pada masing-masing kawasan pemanfaatan ruang laut dalam rangka pengembangan kerjasama antar kawasan. Terdapatnya sumberdaya alam yang belum termanfaatkan sebagai penunjang fungsi kawasan strategis ekonomi. Potensi Pengembangan Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Seperti diketahui Provinsi Papua Barat mempunyai wilayah pesisir. Dukungan keberadaan sumberdaya (hayati dan non hayati) pesisir. 3. Potensi dari kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: 1.

4. Keberadaan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan aksesibilitas ke luar wilayah Indonesia. terdapat pula beberapa permasalahan dalam pembentukan struktur ruang tersebut. serta dalam meningkatkan mutu hasil produksi perikanan dan pesisir lainnya. b) Pembangunan sarana dan prasarana yang menunjang fungsi pelayanan dari pusat-pusat tersebut sesuai dengan hirarkinya. d) Penentuan hirarki jaringan jalan berdasarkan status pusat yang dihubungkannya. kapasitas maupun keragamannya. 5. maka prospek pengembangan struktur tata ruang Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Penetapan fungsi PKN. Perkotaan serta Struktur Ruang Selain potensi pengembangan struktur tata ruang. BIMPEAGA.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2. Telah berkembangnya pemasaran produk perikanan dan pesisir lainnya ke luar negeri (ekspor). Keberadaan kawasan kerjasama regional antar negara (IMT-GT. PKW dan PKL yang disesuaikan dengan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang dimiliki pada masing masing pusat tersebut. LAPORAN AKHIR 1-144 . IMS-GT. laut dan pulau-pulau kecil. b) Masih minimnya sarana dan prasarana perkotaan. e) Peningkatan akses sarana dan prasarana dasar pada permukiman di pedesaan.9 Isu 1. Strategis Penataan Ruang Provinsi Papua Barat dan Prospek Pengembangannya Peran dan Fungsi Sistem. c) Pola permukiman pedesaan yang sangat menyebar sehingga mempersulit pelayanan dari sarana dan prasarana. Permasalahan utama pengembangan Struktur Ruang Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Jaringan jalan yang belum menghubungkan pusat-pusat kegiatan sehingga belum terbentuk hirarki pusat yang baik. c) Pengembangan jaringan jalan dan transportasi lainnya sebagai penghubung dari pusat-pusat pelayanan. yaitu berada di antara dua benua dan dua samudera. Perkembangan teknologi perikanan dan kelautan yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan pengelolaan sumberdaya pesisir. 3. merupakan potensi yang masih dapat ditingkatkan dari sisi pangsa pasar. Hal ini juga didukung oleh posisi geografis Indonesia yang strategis. 1. dan lain-lain) sebagai pendorong sekaligus wilayah yang dapat menampung hasil-hasil produksi atau memanfaatkan jasa-jasa pada sektor pesisir dan kelautan. Berdasarkan potensi dan permasalahannya. dan sekaligus potensi dalam pengembangan inlet-outlet pada wilayah pesisir melalui keberadaan pelabuhan laut.

Selain masalah konfilk penggunaan lahan. b) Pembangunan menuju pola ruang yang diinginkan tersebut harus memperhatikan daya dukung lingkungan dan fisik dari wilayah-wilayah yang direncanakan. artinya manfaat yang lebih besar hendaknya dipertahankan keberadaannya. c) Keberlanjutan manfaat. atau kekayaan yang dapat dimanfaatkan. Di dalam tempat yang sama. yang didasarkan pada: a) Kawasan merupakan perwujudan sumberdaya dan kimah (asset). misalnya bahan galian.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2. bentuk konflik yang dapat muncul adalah adanya persamaan lokasi atas peruntukan lahan yang didasarkan atas kondisi biofisik dengan potensi yang dikandung. maka prospek pengembangan pola ruang wilayah adalah sebagai berikut: a) Perlunya batas administrasi dan penguasaan hak ulayat dalam rangka menunjang pembangunan menuju pola ruang yang diinginkan. sehingga manfaat dapat diperoleh secara terus menerus. lahan yang seharusnya sebagai kawasan penyangga. b) Prospek jangka panjang ke masa depan. d) Konflik antara kawasan lindung dengan pengembangan transportasi. Berdasarkan potensi dan permasalahan yang telah diungkapkan pada sub bab sebelumnya. selain itu juga faktor kebencanaan perlu menjadi pertimbangan dalam pengembangan pola ruang di Provinsi Papua Barat. b) Konflik antara kawasan lindung dengan Hak Pengusahaan Hutan (HPH). c) Perlu adanya penyelesaian konflik yang terjadi dengan memperhatikan azas manfaat. Masalah lain yang timbul adalah masalah hak ulayat yang belum jelas dalam penguasaan lahan sehingga dalam penentuan batas administrasi serta batas kepemilikan lahan belum jelas tergambarkan. sehingga yang dikerjakan tidak habis dalam waktu dekat. dengan tetap memperhatikan daya dukung dan kemampuan wilayah dalam menampung kegiatan yang dipertahankan tersebut. Pola Ruang Masalah yang terjadi di Provinsi Papua Barat adalah masalah konflik penggunaan lahan. dalam pemanfaatan lahan harus didasarkan atas 3 terapan (perception) dari lahan. apabila LAPORAN AKHIR 1-145 . c) Konflik antara kawasan lindung dengan kawasan budidaya lainnya. juga ditemukan cadangan bahan galian. Untuk itu. Gambaran konflik ruang yang terjadi adalah: a) Konflik antara kawasan lindung dengan potensi pertambangan. faktor fisik wilayah Provinsi Papua Barat yang bergelombang juga merupakan suatu kendala dalam pengembangan pola ruang yang diinginkan.

penambatan jangkar perahu. d) bahan beracun sianida. sasaran dan rencana tersebut mendorong terjadinya konflik pemanfaatan sumberdaya (user conflict) dan konflik kewenangan (jurisdictional conflict) (CincinSain dan Kenneth. umumnya disebabkan oleh kegiatan-kegiatan perikanan yang bersifat destruktif. yaitu penggunaan bahan peledak. e) Rendahnya sumberdaya manusia (SDM) masyarakat dan aparat dalam merealisasikan proses (perencanaan. 1998). c) Kerusakan dan pencemaran lingkungan pesisir. laut. pemanfaatan dan pengendalian) kerjasama antar kawasan dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir laut dan pulau-pulau kecil. maupun pengembangan sumberdaya manusianya. peristiwa tumpahan minyak.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 kegiatan yang dimaksud sudah berakhir. b) Konflik pemanfaatan dan kewenangan. c) Pengembangan sektor kepariwisataan bahari serta membentuk keterkaitan antar wisata yang mempunyai potensi yang sangat besar di Provinsi Papua Barat. b) Pembentukan keterkaitan dan distribusi produk untuk pengembangan budidaya perikanan. maka harus dikembalikan kepada fungsi lindung yang diembannya 3. dan pulau-pulau kecil Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Pengembangan badan usaha bersama dalam bidang penangkapan ikan baik pengembangan sarana dan sarana penangkapan ikan. Beberapa stok sumberdaya ikan telah mengalami kondisi tangkap lebih (over fishing) seperti udang. target dan rencana untuk mengeksploitasi sumberdaya pesisir. karena tidak adanya aturan yang jelas tentang penataan ruang pesisir dan lautan dan alokasi sumberdaya yang terdapat di kawasan pesisir. f) Pencurian ikan oleh nelayan asing yang banyak terjadi pada perairan pada wilayah perbatasan. Dengan melihat potensi dan masalah yang terjadi maka prospek pengembangan kawasan pesisir. Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Isu terkait dengan pengembangan kawasan pesisir danp-Pulau Kecil di Provinsi Irian Jaya adalah sebagai berikut: a) Kurangnya dukungan prasarana dan sarana (kelautan dan perikanan) serta keberadaan pusat-pusat kegiatan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi pesisir. dan lain-lain. aktifitas pelayaran/perkapalan. Kerusakan akibat pemanfaatan berlebih (over exploitation) pada sebagian jenis sumberdaya pesisir (khususnya sumberdaya perikanan tangkap). Setiap pihak yang berkepentingan mempunyai tujuan. Perbedaan tujuan. LAPORAN AKHIR 1-146 .

b) Keterbatasan sektor transportasi. Masalah dari kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: d) Masih sering terjadi illegal logging sehingga mengganggu fungsi lindung. Terjadinya konflik sosial antar suku menjadi kendala dalam mengembangkan potensi budaya yang ada. LAPORAN AKHIR 1-147 . 4. e) Menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan sosial-masyarakat Provinsi Papua Barat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 d) Pengembangan indusri pelayaran dan pengangkutan sebagai upaya untuk membentuk keterkaitan antar pusat-pusat pengembangan. e) Pemanfaatan f) hutan produksi yang melebihi daya dukungnya. d) Pengendalian dan pengawasan yang ketat serta pemberian sangsi yang tegas pada kawasan-kawasan strategis lingkungan. sehingga mengganggu fungsi lindung yang ditetapkan. mengingat kota-kota yang terbentuk di Provinsi Papua Barat sebagian besar berada pada wilayah pesisir. Selain itu juga perlu adanya peningkatan daya saing sumber daya lokal sehingga sumberdaya dari luar yang datang juga mempunyai kualitas yang baik. Prospek dari pengembangan kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Perlu adanya peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia dalam pengelolaan sumberdaya alam yang melimpah. terutama transportasi darat sehingga kelancaran perangkutan barang dan orang menjadi terhambat dan mahal. Kawasan Strategis a) Kurangnya sumberdaya manusia baik dari kualitas maupun kuantitasnya dalam upaya pemanfaatan potensi sumberdaya alam yang begitu besar. b) Peningkatan status pintu gerbang Sorong dan Manokwari menjadi pintu gerbang nasional dan internasional. c) Peningkatan pembangunan sarana dan prasarana transportasi sebagai penunjang pengembangan kawasan strategis. c) Belum termanfaatkannya potensi pasar dan pemasaran yang ada.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful