Profil Wilayah Provinsi Papua Barat

1

1.1

ASPEK FISIK DASAR

Aspek fisik dasar yang akan dipaparkan diantaranya mengenai batas administrasi dan geografi, klimatologi, suhu dan kelembaban, morfologi, kondisi geologi, karakteristik tanah, Hidrologi, karakteristik hidro-oseanografi, dan ketersediaan lahan. 1.1.1 Perkembangan Pembentukan Daerah

Provinsi Papua Barat secara definitif dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999 dengan nama Provinsi Irian Jaya Barat bersamaan dengan pembentukan Provinsi Irian Jaya Tengah, Kabupaten Mimika, Kabupaten Paniai, Kabupaten Puncak Jaya, dan Kota Sorong. Namun pemekaran wilayah provinsi ini ditangguhkan karena terjadi penolakan terhadap pemekaran ini, sementara pemekaran kabupaten tetap dilaksanakan sesuai UU Nomor 45 Tahun 1999 tersebut. Berdasarkan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat,

1-1

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Teluk Bintuni, dan Kabupaten Teluk Wondama di Provinsi Papua, maka terjadi pemekaran untuk beberapa kabupaten. Pemekaran wilayah untuk Provinsi Irian Jaya Barat sebagai berikut: 1. Kabupaten Sorong dengan dua kabupaten pemekaran, yaitu: Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Raja Ampat. 2. Kabupaten Manokwari dengan dua kabupaten pemekaran, yaitu: Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Teluk Wondama 3. Kabupaten Fak Fak dengan satu kabupaten pemekaran, yaitu Kabupaten Kaimana

Setelah memiliki wilayah yang jelas, penduduk, aparatur pemerintahan, anggaran, anggota DPRD, serta gurbernur dan wakil gubernur definitive, Provinsi Irian Jaya Barat mulai membangun dirinya secara sah. Sejak tanggal 18 April 2007, Provinsi Irian Jaya Barat berubah nama menjadi Provinsi Papua Barat, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007. Pada tahun 2008 dimekarkan satu kabupaten baru di Provinsi Papua Barat yaitu Kabupaten Tambrauw. Dasar hukum pembentukan Kabupaten Tambrauw adalah UndangUndang Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2008 dengan ibukota kabupaten yang terdapat di distrik Fef. Berdasarkan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 127/PUUVII/2009 tanggal 25 Januari 2009, Kabupaten Tambrauw dibentuk dari sebagian bekas wilayah Kabupaten Sorong dan Kabupaten Manokwari, yaitu Distrik Abun, Distrik Amberbaken, Distrik Fef, Distrik Kebar, Distrik Kwoor, Distrik Miyah, Distrik Moraid, Distrik Mubrani, Distrik Sausapor, Distrik Senopi, dan Distrik Yembun. Berdasarkan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI (Nomor 127/PUU-VII/2009 tanggal 25 Januari 2009), maka batas wilayah Kabupaten Tambrauw adalah sebagai berikut: Utara Selatan Barat Timur : Samudera Pasifik : Kabupaten Sorong Selatan : Kabupaten Sorong : Distrik Sidey, Kabupaten Manokwari

Pada tahun 2009 terdapat kabupaten baru yang dimekarkan yaitu Kabupaten Maybrat. Kabupaten Maybrat merupakan pemekaran dari wilayah kabupaten Sorong. Pada 27 Oktober 2008 dikeluarkan Keputusan Bupati Sorong Selatan Nomor 133 Tahun 2008 tentang Penyerahan Sebagian Cakupan Wilayah Bawahan Kabupaten Sorong Selatan ke

LAPORAN AKHIR 1-2

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten Sorong, wilayah yang diserahkan terdiri dari 11 (sebelas) distrik, yaitu: Distrik Aifat, Distrik Aifat Utara, Distrik Aifat Timur, Distrik Aifat Selatan, Distrik Aitinyo Barat, Distrik Aitinyo, Distrik Aitinyo Utara, Distrik Ayamaru, Distrik Ayamaru Utara, Distrik Ayamaru Timur, dan Distrik Mare. Pada 16 Januari 2009 disahkanlah UURI Tahun 2009 Nomor 13 tentang Pembentukan Kabupaten Maybrat sebagai hasil pemekaran dari kabupaten Sorong. Adapun komposisi distrik bawahannya adalah tepat sama dengan komposisi distrik di atas. Ini terjadi karena pemekaran dari Kabupaten Sorong Selatan belum memenuhi syarat teknis dan legalitas, jadi upaya percepatan berupa pemindahan kembali 11 distrik calon distrik Kabupaten Maybrat untuk sementara waktu ke kabupaten induknya, dan dilanjutkan dengan proses pembentukan Kabupaten Maybrat sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Sorong, bukan dari Kabupaten Sorong Selatan. Peresmian dilakukan pada tanggal 15 April 2009 di Jakarta, adapun batas wilayah Kabupaten Maybrat adalah sebagai berikut: Utara Selatan Barat Timur 1.1.2 : Fef, Senopi, Kebar : Kokoda, Kais : Moswaren, Wayer, Sawiat : Moskona Utara, Moskona Selatan Batas Administrasi dan Geografi

Provinsi Papua Barat secara geografis terletak pada 124°-132° Bujur Timur dan 0°-4° Lintang Selatan, tepat berada di bawah garis khatulistiwa dengan ketinggian 0-100 meter dari permukaan laut. Kabupaten Fakfak merupakan kabupaten tertinggi dengan ketinggian 10-100 meter diatas permukaan laut, sedangkan kota-kota lainnnya berkisar antara 10-50 meter diatas permukaan laut. Batas geografis Provinsi Papua Barat adalah : Sebelah Utara Sebelah Barat Sebelah Timur : Samudera Pasifik : Laut Seram (Provinsi Maluku) : Provinsi Papua Sebelah Selatan: Laut Banda (Provinsi Maluku)

Wilayah Provinsi Papua Barat memiliki 11 wilayah Pemerintahan Daerah yang terdiri dari 9 Kabupaten dan 1 Kota, 154 distrik, dan 1.361 kampung dengan luas wilayah secara keseluruhan sebesar 97.024,37 km² (berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2008). Luas dan perbandingan persentase luas wilayah kota kabupaten di Provinsi Papua Barat disajikan pada Tabel 1.1 dan Gambar 1.2. Pembagian Daerah Administratif menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 dapat dilihat pada Tabel 1.2. Secara spasial administrasi Provinsi Papua Barat diperinci berdasarkan kabupaten/kota dapat dilihat pada Gambar 1.1. Tabel 1.1 Luas Wilayah dan Persentase menurut Kabupaten/Kota LAPORAN AKHIR 1-3

2 Pembagian Daerah Administratif Provinsi Papua Barat menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 No.60 4.91 12.99 10.111 943.1 Persentase Luas Wilayah Provinsi Papua Barat Menurut Kabupaten/Kota Sumber: Diolah dari Provinsi Papua Barat Dalam Angka 2010 Tabel 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kabupaten/Kota Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana Kabupaten Teluk Wondama Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Manokwari Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Sorong Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Tambrauw Kabupaten Maybrat Kota Sorong Luas Planemetrik (Km2) 14.084.80 10.08 13.136.52 15.63 9.52 10.84 8.00 Total 144.236.699 13.8 18.953.521.33 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka 2010 Gambar 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kabupaten/Kota Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana Kabupaten Teluk Wondama Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Manokwari Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Sorong Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Tambrauw Kabupaten Maybrat Kota Sorong Total IbuKota Fakfak Kaimana Wasior Bintuni Manokwari Teminabuan Aimas Waisai Fef Kumurkek Sorong Jumlah Kecamatan 9 7 13 24 29 13 18 13 11* 11 6 154 Jumlah Kelurahan 7 2 1 2 9 2 13 1 1 30 68 Jumlah Kampung 122 84 75 114 402 110 118 97 53 108 1293 LAPORAN AKHIR 1-4 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Persentase (%) 9.35 12.500 14.55 7.320 18.38 0.21 No.871 6.65 100.665 12.5 19.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 * Disesuaikan dengan Keputusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 127/PUU-VII/2009 LAPORAN AKHIR 1-5 .

2 Peta Batas administrasi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-6 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

dan pola ganda (C). Pola tunggal D memiliki curah hujan tertinggi pada bulan Juli/Agustus. Angin Tenggara dan muson Barat Laut biasanya panas dan mengandung uap air yang diangkut ketika melewati samudera.313 1.492 4.1.964. 1. Pola umum iklim dan cuaca sangat dipengaruhi oleh topografinya yang kasar.964.600 2.3.537 2. Jumlah hujan yang jatuh di setiap tempat di Papua secara khusus dikendali oleh topografi.3 1. sedangkan dataran rendah di Selatan Kepala Burung dan jazirah Onin dan Bomberai serta dataran rendah di Selatan kordirela mendapatkan hujan terbanyak antara bulan April dan September ketika angin bertiup dari arah tenggara.209 127 2.3 Klimatologi Provinsi Papua Barat terletak tepat di sebelah Selatan garis khatulistiwa sehingga termasuk dalam wilayah tropika humida.323 2.351 2007 3.048 2. Pola umum ini menjadi rumit oleh topografi dan pola angin.345 2. Pola tunggal A atau pola sederhana (simple wave) memiliki curah hujan terendah pada bulan Juli/Agustus. Iklim di Provinsi Papua Barat memiliki 3 (tiga) pola yaitu pola tunggal (A dan D).106.091 2. sedangkan ketinggian dan kejajaran barisan pegunungan mempengaruhi pola angin dan presipitasi dalam setiap daerah.602 4.586 133 1. Pada pola B.1. Teluk Wondama Kab.537 2006 3. Pola A dan D menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antara jumlah curah hujan pada musim hujan dan musim kemarau.9 970 1.836 2.319 2. Sorong 2003 3. pantai Utara dan di sebelah Utara kordirela mendapatkan hujan terbanyak dari angin Barat Laut dalam bulan Oktober hingga Maret. Pada umumnya pegunungan di Kepala Burung. Pada pola ini biasanya curah hujan bulanan tidak teratur atau hampir merata sepanjang tahun.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Fakfak Kab. Pada pola C.3 2008 2. dalam setahun terjadi dua kali puncak curahan tertinggi atau dua kali puncak curahan terendah. Teluk Bintuni Kab.059 1.048 2005 3.470 2.680 2. Manokwari Kab. Musim hujan di setiap daerah tergantung dari waktu di mana musim ini terpaparkan pada satu atau kedua sistem angin tersebut.067.689 1. pola berfluktuasi (B). Sorong Selatan Kab.1 Curah Hujan Musim di Papua Barat dicirikan oleh angin Tenggara yang bertiup sekitar pertengahan April hingga September dan Muson Barat Laut yang di mulai dalam bulan Oktober hingga Maret.836 2004 3.3 4. maka iklim di Provinsi Papua Barat sangat bervariasi melebihi daerah Indonesia lainnya. Karena daerahnya yang bergunung-gunung.3 Banyaknya Curah Hujan di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2007 (mm) Kabupaten/Kota Kab.306 LAPORAN AKHIR 1-7 . Suhu sangat bergantung dari ketinggian. Tabel 1.3 4.964. Kaimana Kab. perbedaan antara jumlah curahan pada musim hujan dan musim kemarau tidak jelas.

Dari data diatas terlihat bahwa di Kabupaten Sorong. 288 hari hujan.3 dan Gambar 1. Secara spasial keadaan iklim dan persebaran curah hujan di Provinsi papua barat ditunjukkan pada Gambar 1. dengan curah hujan sekitar 2000 s. kelas IV dengan curah hujan antara 3000 s.537 Kota Sorong 2.d. Manokwari 187 178 203 Kab.d. dan kabupaten Raja Ampat. Kaimana 214 218 208 Kab. Hampir seluruh wilayah Papua Barat memiliki kelas curah hujan tipe III pola C.d. kelas II di kabupaten Kaimana dan Kabupaten manokwari.048 2. Pada tahun 2009 ini tidak terdapat kabupaten yang memiliki curah hujan kelas IV. Fakfak 210 210 232 Kab.3 mm (Sorong Selatan).351 181 2007 4. yaitu kelas I dengan curah hujan antara 0 s. Raja Ampat 185 220 230 Kota Sorong 185 218 230 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2006 228 177 254 150 230 156 156 156 2007 225 204 254 212 230 225 225 228 2008 176 215 223 225 286 286 288 Rata-rata jumlah hari hujan di Provinsi Papua Barat berkisar antara 150 s.3 Peta iklim LAPORAN AKHIR 1-8 .047 211 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Berdasarkan jumlah curah hujannya wilayah Papua Barat memiliki tiga kelas curah hujan.836 2. Kelas III di Kabupaten Fakfak. 5000 mm/tahun.d.4 Banyaknya Hari Hujan di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2008 (hari) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab. Tabel 1. 1000 mm/tahun. Kabupaten Manokwari memiliki jumlah hari hujan yang paling sedikit dibandingkan Kabupaten/Kota lainnya yaitu denan rata-rata sebanyak 192 hari hujan. kelas III dengan curah hujan antara 2000 s. 4000 mm/tahun.d. Teluk Bintuni Kab.964.2 mm (Kota Sorong) sampai dengan 4. dan kelas V dengan curah hujan antara 4000 s.d. Sorong Selatan 220 230 Kab. Raja Ampat 2. 3000 mm/tahun. Teluk Wondama Kab. Kabupaten Raja Ampat.964. Pada tahun 2009 curah hujan kelas I terdapat di Kota Sorong.3 369 2008 4.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2006 2. Sorong 185 220 230 Kab.2 Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab. 2000 mm/tahun. kabupaten Sorong Selatan.4.306 358. 3000 mm/tahun.d. dan Kota Sorong memiliki karakteristik jumlah hari hujan yang hampir serupa. Gambar 1. dan kelas V di Kabupaten Sorong. Rata-rata curah hujan selama tahun 2008 berkisar antara 358. kelas II dengan curah hujan antara 1000 s.836 2.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.4 Peta curah Hujan LAPORAN AKHIR 1-9 .

1. sedangkan di daerah LAPORAN AKHIR 1-10 . Pada malam hari. Di dataran rendah. sementara di daerah pegunungan pada 1500-2000 m dpl. suhu di sepanjang pantai 5-8 derajat lebih dingin daripada siang hari. suhu harian biasanya antara 29 oC – 32 oC.2 Suhu dan Kelembaban Suhu dan kelembaban merupakan komponen iklim paling konstan di Provinsi Papua Barat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. 5-10 derajat lebih dingin.3.

30 26.60 27.00 … 26.60 27.6 27.90 31.20 29. Fakfak Kab.90 21.60 33.15 26.70 25.30 24.6 Kab.80 31.78 81.30 24.43 23.9 85.05°C terjadi di wilayah Kabupaten Fakfak.80 24.17 2007 86.48 Kab.26 26.38 Kab.40 22.6 Suhu Udara Maksimum dan Minimum di Provinsi Papua Barat Tahun 20032008 (°C) Kabupaten/Kota 2004 Max Min 28. suhu udara tertinggi dalam kurun waktu 2004-2008 terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 32.60 27.40 83. Tabel 1.70 Kab.70 2007 Max Min 28.55 30. Teluk Bintuni … … … … Kab.00°C juga berada di Kabupaten Fakfak (data hasil pencatatan suhu udara pada beberapa stasiun yang berada di Kabupaten/Kota se-Provinsi Papua Tahun 2008).80 26.70 31.28 27.40 25.70 29. Raja Ampat 30.13 30.30 Kab.49 … … … 32.90 Kota Sorong 31.7 Kelembaban Udara Rata-rata di Papua Barat Tahun 2003-2008 (%) Kabupaten/Kota Kab.46 27.30 82.50 82.20 25.60 27.67 23.70 27. Teluk Wondama Kab.60 24.40 … … 2006 Max Min 22.6 27.30 27.80 26.73 21.30 84.70 26.70 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2006 25.83 2008 84.03 25.60 26.40 83.60 27.50 2004 85.40 … … 2005 Max Min 29.10 23.40 23.56°C di Kabupaten Fakfak.40 30.30 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Dari Tabel 1.68-27. Sorong Selatan 27.63 … … … 27.20 31.22 27.70 Kota Sorong 27.56 29.46 °C dengan suhu maksimal sebesar 28. Manokwari 27.60 2007 25. Teluk Wondama Kab.70 30.33 26.00 31. Kaimana Kab.0 83.3 Rata-Rata 25.46 27. Tabel 1.30 31.47 27.30 27.80 31.6.50 24.55 23. Sorong 31.50 84. Manokwari 27. dan suhu minimal sebesar 23.00 25.40 Kab.70 Kab. Fakfak 28.33 2005 85.90 31.60 Kab.80 30. Teluk Bintuni Kab.00 22.30 24.48 27. Raja Ampat 27.32 Tabel 1. Kaimana Kab.48 23.6 27.30 83.59 24.00 26.30 2008 Max Min 30.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 pegunungan kisarannya lebih lebar.40 25.10 29.5 terlihat bahwa suhu udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar 25.08 83.60 27.20 25.13°C di Kabupaten Manokwari.26 27. Sorong Selatan … … 31. Kaimana 27.50 … 23.08 LAPORAN AKHIR 1-11 .80 27. Karakteristik suhu di Provinsi Papua Barat tidak menunjukkan fluktuasi tahunan yang nyata.10 23. sedangkan suhu terendah juga terjadi pad atahun 2008 yaitu sebesar 21.10 2008 26.50 23.90 21.70 28. Teluk Wondama Kab.80 30.80 26.10 23.43 23.7 … 23. Fakfak Kab. Dari Tabel 1.08 27. Teluk Bintuni Kab. Manokwari 2003 84.2 27.49 … … … 32.92 83.60 32.8 Kab.68 27.67 2006 85. Sorong 27.05 23.30 27.63 27.5 Suhu Udara Rata-rata Menurut Lokasi Stasiun di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2008 (°C) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 Kab.47 27.00 22.20 33.

00 62.00 83.10 Kota Sorong 61.00 84.00 Kota Sorong 83.80 54.00 Kab.00 86.17 43. penyinaran matahari terendah terdapat di Kabupaten Manokwari sedangkan lama penyinaran tertinggi terdapat di Kabupaten Fakfak. Teluk Bintuni Kab.00 83.64 51. kelembaban udara yang relatif konstan. di mana daerah dataran rendah cenderung lebih lembab. Sorong Selatan 84.00 2008 107.81%.00 Kab.00 Kab.00 84.90 59. Karena berada di katulistiwa.90 58.00 87.00 59.00 87. Papua merupakan tempat yang kemungkinan salah satu tempat paling berawan di dunia.52 50. waktu siang hari (sekitar 12 jam) adalah konstan dengan variasi tahunan sekitar 30 menit antara hari terpanjang dan terpendek. Manokwari 63. kelembaban udara terendah terdapat di Kabupaten Kaimana sedangkan kelembaban tertinggi terdapat di Kota Sorong dan Kabupaten Raja Ampat.00 68.8 Rata-Rata Penyinaran Matahari Menurut Lokasi Stasiun di Kabupaten/Kota Tahun 2003-2008 (%) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 2006 Kab.70 49.30 59.4% s. Raja Ampat 84.00 54. berkisar dari 75-80%. Sorong 83. terutama di daerah pegunungan di mana awan cumulus hampir selalu meningkat ke tengah hari.00 62.00 84. Sorong 61.00 86.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 84.36% s.83 46.58 Kab.40 49.21 54. Keadaan ini merupakan gangguan utama bagi transportasi udara dengan pesawat kecil.40 46.25 87.40 58.00 83. 87.00 Penyinaran matahari rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar antara 52.00 86.00 84.00 59.80 46.08 59. Berdasarkan uraian karakteristik iklm tersebut.d.05 147.00 84.75 Kab. 128.40 49.40 49. Sorong Selatan 65. Kaimana 45.0%. Raja Ampat 61.00 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Kelembaban nisbi tinggi dan dan konstan.00 65.80 65.00 86.00 68.80 60.00 Kab. Provinsi Papua Barat yang memiliki keragaman suhu udara.08 53.37 125.80 Kab. Teluk Wondama Kab.00 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 2007 37. Fakfak 126.d.00 83.00 83.83 58. Kelembaban udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar antara 81. Tabel 1. Dengan kondisi seperti ini di wilayah Papua Barat memiliki potensi bagi pengembangan komoditi-komoditi pertanian apabila terutama dikaitkan dengan persentase lama penyinaran.9 115. penyinaran matahari yang hampir terus menerus sepanjang tahun.92 Kab. dan curah hujan yang cukup tinggi menjadi potensi besar bagi pengembangan budidaya tanaman pertanian dan perkebunan terutama untuk LAPORAN AKHIR 1-12 .

padang rumput dan padang alang-alang. (3) wilayah dengan ketinggian >500-1000 meter dpl. Sehingga.046.790 100 3. Sebagian besar wilayah Provinsi Papua Barat memiliki kelas lereng > 40% dengan bentuk wilayah berupa perbukitan. dominasi pemanfaatan lahan diarahkan pada hutan konservasi disamping untuk mencegah terjadinya bahaya erosi dan longsor.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 wilayah Kabupaten Manokwari. Kondisi ini merupakan salah satu elemen yang menjadi barrier transportasi antar wilayah.1.d > 1000 m.250 Kab Fakfak 1.054. (2) wilayah dengan ketinggian >100-500 meter dpl. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1. Teluk Bintuni.132 328.301 Jumlah >1000m 741. Pembagian wilayah Provinsi Papua Barat berdasarkan ketinggian wilayah dari permukaan laut dapat digolongkan kedalam empat kelompok yaitu: (1) wilayah dengan ketinggian 0-100 meter dpl.1.058 3.9.413.196 518. sistem transportasi darat maupun bagi pengembangan budidaya pertanian terutama untuk tanaman pangan.4. terutama transportasi darat.1. LAPORAN AKHIR 1-13 .4.868.847 288. Kondisi tersebut menjadi kendala utama bagi pemanfaatan lahan baik untuk pengembangan sarana dan prasarana fisik.366 1. 1.691 Kab Sorong 2. dan wilayah dengan ketinggian >1000 meter dpl.050 284.200 1. 1. rawa sampai dataran tinggi. dan Kabupaten Sorong Selatan mendapatkan potensi tersebut.600 344.192.2 Kelerengan Tinjauan atas morfologi wilayah didasarkan pada kondisi kelerengan atau kemiringan.109 Kota Sorong 162. Ketinggian wilayah di Provinsi Papua Barat bervariasi dari 0 s. sebagai berikut. diketahui bahwa kondisi topografi antar wilayah di Provinsi Papua Barat cukup bervariasi. 1.257.48 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Berdasarkan tabel di atas. Tabel 1.900 250.015.9 Luas Wilayah menurut Ketinggian dari Permukaan Laut dan Kabupaten/Kota (Ha) Wilayah Pengembangan 0-100m Kelas ketinggian >100-500m >500-1000 377. Kota Sorong.400 2.49 Kab Manokwari 1. serta dasar bagi kebijakan pemanfaatan lahan.01 182. dengan tipe tutupan lahan berupa hutan hujan tropis.1 Ketinggian Kondisi topografi Provinsi Papua Barat sangat bervariasi membentang mulai dari dataran rendah.4 Morfologi Kondisi Morfologi memaparkan mengenai informasi fisik wilayah yang meliputi ketinggian wilayah dan kelerengan.

06 78.200 313.10. Untuk jelasnya mengenai luas masing-masing kelas lereng lihat Tabel 1.636 57.108 Kota Sorong 257.310 158.100 1.434. maka secara garis besar Tanah Papua dapat diklasifikasikan kedalam tiga kelompok kelas lereng yaitu kelompok wilayah dengan kelas lereng datar sampai landai (kemiringan 0-15 %).10 Luas Wilayah menurut Kelas Lereng/Kemiringan dan Wilayah Pengembangan Kelas lereng 0-15% >15-40% >40% Kab Manokwari 1.453.49 LAPORAN AKHIR 1-14 . Tabel 1.000 344.998 19.582 49.502 Kab Fakfak 105.500 2.54 8.297 964 Kab Sorong 984.700 448.89 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009 Wilayah Pengembangan Jumlah 3.790. kelas lereng landai sampai curam (kemiringan >15– 40%). dan kelas lereng curam sampai sangat curam (>40 %).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dipandang dari sisi lereng.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.5 Peta kenampakan elevasi/ketinggian Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-15 .

6 Peta kemiringan lereng Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-16 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.7 Peta kenampakan topografi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-17 .

8 tentang Tatanan tektonik di Tanah Papua Evolusi tektonik yang terjadi selama Kenozoikum dihasilkan oleh tumbukan secara oblique antara kedua lempeng tersebut. Ketika lempeng India-Australia dan lempeng Pasifik bertemu di sekitar 40 juta tahun lalu. Gondwanaland. dimana lempeng Pasifik mengalami subduksi atau tertindih di bawah lempeng Australia. Sebagian besar daerah ini adalah lapisan batuan berumur Kenozoikum dan Mesozoikum yang tersesarkan dan terlipat. Pada saat dimulainya gerakan ke Utara dan rotasi dari benua super ini. Daerah ini merupakan daerah interaksi antara dua lempeng besar yaitu Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik.5. 1. Bagian daratan paling Utara pada Lempeng India-Australia antara 90-100 juta tahun lalu berada pada 480 Lintang Selatan yang merupakan titik pertemuan Lempeng India-Australia dan Pasifik. secara umum diasumsikan sebagai lokasi tipe dari busur kepulauan oseanik aktif–tumbukan kontinen (Dewey dan Bird. Australia. yang kesemuanya bergerak relatif terhadap sesamanya. pulau Papua mulai muncul di permukaan laut pada sekitar 350 Lintang Selatan.1. bahwa kerak bumi terbagi dalam tujuh lempeng sangat besar dan sejumlah lempeng lithosfer kecil lainnya. Selandia Baru dan Kaledonia Baru. Amerika Selatan. Awal terpisahkan benua ini dari posisi Selatannya terjadi pada masa Kretasius Tengah (kurang lebih 100 juta tahun lalu).1. yang diendapkan pada tepian kontinen aktif Australia. LAPORAN AKHIR 1-18 . 1979) Daratan Papua New Guinea dan Pegunungan Central Range. yang juga termasuk di dalamnya adalah Antartika. Setiap lempeng terdiri atas bagian kerak benua (kontinental) dan kerak samudera (oseanik). Pulau Papua merupakan produk pertumbuhan benua yang dihasilkan dari tubrukan kedua lempeng tersebut. lebar 150 km dengan topografi yang kasar dan sejumlah puncak setinggi lebih dari 3000 meter. India. Lempeng Benua India-Australia (atau biasa disebut lempeng Australia) bergerak ke arah Utara keluar dari posisi kutubnya dan bertubrukkan dengan Lempeng Samudra Pasifik yang bergerak ke arah Barat. Konsep lempeng tektonik yang telah diterima umum mengganggap. Proses ini berlanjut selama masa Pleistosen hingga pulau Papua terbentuk seperti di saat ini. Pegunungan Central Range merupakan sabuk yang memanjang sampai 1300 km. (Hamilton.1 Evolusi Tektonik Pulau Papua Pembentukan pulau Papua atau pulau New Guinea telah didiskusikan oleh berbagai ahli dan diringkas oleh Petocz (1984).5 Kondisi Geologi Kondisi geologi Tanah Papua pada dasarnya memiliki kesamaan dengan kondisi geologi umum yang dijumpai di Indonesia bagian timur. hal ini dapat dilihat pada Gambar 1. Bagian Selatan pulau Papua merupakan tepi Utara dari benua super kuno. 1970).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. seluruh Papua dan Australia bagian Utara berada di bawah permukaan laut.

1984) Wilayah Papua Barat sangat berpotensi terhadap gempa tektonik dan kemungkinan diikuti oleh tsunami. Setiap provinsi geologi memiliki karakteristiknya sendiri dalam sejarah stratigrafik. Terlepas dari batuan mantel sesar naik yang kemungkinan berumur Mesozoik dan beberapa kerak samudera Jurasik. Akan tetapi. seperti Sesar Sorong (SFZ). lempeng Pasifik ini terdiri atas volkanik busur-kepulauan dan sub-ordinat kerak samudera berumur Palaeogen. ini disebut Melanesian Orogeny (Dow and Sukamto. Oseanik.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dari evolusi tektonik menunjukkan. pada umumnya geologi Papua dapat dibagi ke dalam tiga provinsi geologi besar. sebaran paling luas dari aktivitas tektonik dan volkanik dimulai pada Miosen Akhir dan berlanjut hingga sekarang. Triasik. yaitu lempeng Australia dan Lempeng Pasifik. Hanya sebagian kecil yang dipengaruhi oleh proses tektonik dari zaman Paleozoik Awal hingga Tersier Akhir. serta pencatatan lengkap sejarah geologi hingga saat ini menunjukkan. Provinsi Kontinental terdiri atas sedimen yang terpisah dari kraton Australia. sebagai produk dari interaksi antara kedua lempeng. (island-arc volcanics complex) sebagai bagian dari lempeng Pasifik. Terdapat sejumlah lipatan dan sesar naik sebagai akibat dari interaksi (tubrukan) antara kedua lempeng tektonik. dan periode tektonik intens dari zona deformasi di sisi lainnya (New Guinea Mobile Belt). dan Miosen Pertengahan. bahwa batuan dari kraton Australia pada sebagian besar wilayah ini dicirikan oleh sedimentasi palung (shelf sedimentation). bahwa pada tahun 2004 telah terjadi beberapa kali gempa. Kretasius. ciri dominan dari perkembangan geologi Papua merupakan dikhotomi antara sejarah tektonik dari batuan mantap kraton Australia dan lempeng Pasifik di satu sisi. LAPORAN AKHIR 1-19 Provinsi Oseanik terdiri atas batuan Ofiolit (ophiolite rock) dan kompleks volkanik busur-kepulauan Provinsi Transisi adalah suatu zone yang terdiri atas deformasi tinggi dan batuan metamorfik regional . Walaupun pencatatannya terpisah-pisah. (2005). magmatik dan tektonik. Dari paparan di sepanjang tepi Utara dan dari eksplorasi permukaan bawah (sub-surface) di sebelah Selatan. bahwa geologi Papua sangat kompleks karena melibatkan interaksi antara dua lempeng tektonik. Batuan lempeng Pasifik pada umumnya letak-datar terpatah hanya oleh beberapa patahan. Menurut Dow et al. Kenyataan menunjukkan pula. yaitu provinsi Kontinental. dan Transisi. Menurut Sapiie (2000). Zone deformasi yang berada di sebelah Timur adalah bagian dari New Guinea Mobile Belt (Sabuk Mobil New Guinea) dan merupakan campuran dari batuan kraton Australia dan lempeng Pasifik. Batuan lempeng Pasifik yang terpaparkan di Papua berumur lebih muda. terdapat bukti bahwa batuannya berasal dari tektonik utama pada episode Paleozoik Pertengahan dan Oligosen maupun episode beku dalam Paleozoik Pertengahan. Sesar Ransiki (RFZ). Sesar Lungguru (LFZ) dan Sesar Tarera-Aiduna (TAFZ).

MO = Misool-Onin High. WT = Waipona Trough. RFZ = Ransiki Fault Zone.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.8 Setting Tektonik Papua Keterangan: MTFB = Mamberamo Thrust & Fold Belt. SFZ = Sorong Fault Zone. TAFZ = Tarera-Aiduna Fault Zone. (3).1. (2). dan (5). (4). Sedimentasi Senosoil Akhir. Paleozoic Basement. LAPORAN AKHIR 1-20 . LFB = Lengguru Fault Belt. Stratigrafi Lempeng Pasifik.2 Stratigrafi Dari berbagai publikasi yang dikompilasi Sapiie (2000). WO = Weyland Overthrust.5. YFZ = Yapen Fault Zone. menunjukkan bahwa stratigrafi wilayah Papua Barat terdiri atas: (1). Stratigrafi Zone Transisi. Tanda panah menunjukkan gerakan relatif antara lempeng Pasifik dan Australia 1. Sedimentasi Mesozoik hingga Senosoik.

Filitik (Phylliic) dan sedikit kuartzit (quartzite). batulumpur Aifat dan formasi Ainim. formasi Tipuma ditutupi oleh kelompok Aifam.9 Stratigrafi Pulau Papua (Sapiie. a. Di daerah Teluk Bintuni. kelompok ini tidak mengalami metamofosa. Formasi Kelompok Kembelangan Kelompok ini diketahui terbentang mulai dari Papua Barat hingga Arafura Platform. Formasi Kemoem ditutupi oleh kelompok Aifam. 2. Bagian atas dari kelompok ini disebut formasi Jass. Formasi ini dicirikan oleh batuan berwarna merah terang dengan sedikit bercak hijau muda. mulai dari Papua Barat hingga dekat perbatasan di sebelah Timur. yaitu formasi Aimau. Sedimentasi Mesizoik hingga Senosoik Formasi Tipuma Formasi Tipuma tersebar luas di Papua. namun di Leher Burung terjadi deformasi kuat dan termetamorfosa. Kelompok Kembelangan terdiri LAPORAN AKHIR 1-21 . Formasi ini diketahui berada di tepi Utara Papua Barat dan terdiri atas tiga formasi. (slate).RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Formasi ini tercampur oleh granit-biotit karboniferus (Melaiurna Granite). b. Paleozoic Basement Blok terluas dari strata Paleozoik berada di Timur Laut Papua Barat yang dikenal dengan Kemum High atau formasi Kemoem yang terdiri atas sabak. Di daerah Papua Barat. 2000) 1. batuan sedimen paparan airKelompok Aifam digunakan untuk mendeskripsikan dangkal.

berada di atas strata karbonat Miosen Pertengahan. dua di antaranya dijumpai di Papua Barat. 4. Di Papua. Biak. (3). Pulau Waigeo. Formasi Fumai Eosen. (3) Formasi Sirga Eosin Awal. Batuan metamorfik ini membentuk sabuk kontinyu (>1000 km) dari Papua hingga Papua New Guinea. Formasi Kais Miosen Pertengahan hingga Oligosen. Pegunungan Cycloop. Sedimentasi Senosoik Akhir Sedimentasi Senosoik Akhir dalam basement kontinental Australia dicirikan oleh sekuensi silisiklastik yang tebalnya berkilometer. Formasi Batu Gamping New Guinea Selama masa Cenozoik. pulau Yapen dan pegunungan Cycloop. Satuan ini disebut Formasi Hollandia dan tersebar luas di Waigeo.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 atas antarlapis batudebu dan batulumpur karboniferus pada lapisan bawah batupasir kuarsa glaukonitik butiran-halus serta sedikit shale pada lapisan atas. (2). plutonil basik. Kedua dataran ini menyatu sebagai suatu dataran luas yang membujur ke arah Barat daya Danau Sentani. Stratigrafi Zone Transisi Konvergensi antara lempeng Australia dan Pasifik menghasilkan batuan dalam zone deformasi. Formasi Waripi Paleosen hingga Eosen. 5. batuan asal penutup banyak dijumpai luas sepanjang sabuk Ophiolite Papua. yang terutama terdiri atas batuan metamorfik. c. dan mutu-tinggi metamorfik. volkanis pulau-arc (island-arc volcanis) dan sedimen laut-dangkal. kurang lebih pada batas Cretaceous dan Cenozoik. Stratigrafi Lempeng Pasifik Pada umumnya batuan lempeng Pasifik terdiri atas Batuan asal penutup (mantle derived rock). Umur kelompok ini berkisar dari Miosen Awal hingga Pliosen. Pulau New Guinea dicirikan oleh pengendapan (deposisi) karbonat yang dikenal sebagai Kelompok Batu Gamping New Guinea (NGLG). Kelompok ini berada di atas Kelompok Kembelangan dan terdiri atas empat formasi. Kelompok batuan ini diklasifikasikan sebagai zone transisi atau peralihan. Utara Pegunungan Gauttier dan sepanjang zone sesar Sorong dan Yapen pada umumnya terbentuk oleh batuan ultramafik. yaitu (1). Di Papua dikenal 3 (tiga) formasi utama. Formasi Imskin. Wilayah Papua secara umum terdiri dari dua dataran “Dataran Grime” dan “Dataran Sekoli”. 3. yaitu formasi Klasaman dan Steenkool. dan (4). Formasi Klasaman dan Steenkool berturut-turut dijumpai di cekungan Salawati dan Bintuni. Dataran ini memanjang dari Timur ke arah Barat dengan lebar LAPORAN AKHIR 1-22 . Kelompok ini berhubungan dengan formasi Waripi dari kelompok Batuan Gamping New Guinea atau New Guinea Limestone Group (NGLG). Sedimen dalam lempeng Pasifik dicirikan pula oleh karbonat laut-dangkal yang berasal dari pulau-arc.

di sebelah Timur sungai Grime terletak teras ke-5. Teras-teras ini berumur tua dan berada lebih tinggi serta tampak datar. Menurut Wentholt (1939). dan sedimen marin neogen. Di ujung sebelah Barat. Berdasarkan stratigrafi ini dapat disimpulkan bahwa wilayah Papua Barat terdiri dari empat ragam formasi batuan utama yaitu Batu gamping atau dolomit. merupakan daerah tertinggi dan tertua yang mengakhiri teras ke-4 dan ke-5 di sebelah Selatan. Dataran Grime dan Dataran Sekori merupakan lembah sedimentasi peninggalan zaman tersier yang terisi atas sedimen laut (marin) dan kemudian oleh bahan fluviatil. Wentholt (1939). pasir lanau). Hal ini dapat dipahami karena secara regional. Teras ke-5 ini mencakup dari arah Timur hingga arah garis Utara-Selatan melandai ke aras Utara. Menurut Schroo (1963). dan bergelombang lemah. menyatakan bahwa adanya ketinggian (elevasi) yang berselang-seling di seluruh daerah tersebut menyebabkan sungai-sungai memotong sedimen ini. Lahan yang berada di sebelah Timur Yanim Besar seluruhnya terbentuk dari material yang berasal dari pinggiran Utara daerah pegunungan Selatan. Sumbangan cabang-cabang sungai yang berasal dari pinggiran pegunungan Utara relatif kecil. Kedua sungai tersebut membawa bahan-bahan yang sama. namun setempat-setempat saja. Zwierzichi (1921) dalam Schroo (1963). terdapat Dataran Sekori yang besar. Juga di sini bentang lahannya tampak seluruhnya datar. Teras ke-3 dan ke-4 menempati sisa dataran di sebelah Barat kampung Janim Besar. Daerah teras ini melandai ke arah Barat laut dan kemudian ke arah Utara. wilayah Papua Barat terdiri dari dua lempeng. Di sebelah tenggara teras terendah ini berakhir dan berlanjut dengan teras ke-2 yang berada kurang lebih 10 m lebih tinggi. Di batas Utara dari teras ke-5. Teras ke-6. kedua teras ini melandai ke arah Utara hingga ke arah Barat laut. menyatakan bahwa dataran ini terbentuk pada zaman kwarter. seluruh lahan yang berada di sebelah Barat Yanim Besar (Braso) dibentuk oleh Sungai Grime dan cabang-cabang sungainya. menunjukkan bahwa tanah di Dataran Grime dan Dataran Sekori berasal dari hancuran batuan fluviatil sedimen kwarterner.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bentangan yang hampir sama. namun tidak jelas perkembangannya. Wentholt (1939). LAPORAN AKHIR 1-23 . batuan sedimen lepas (kerikil. membagi Dataran Grime ke dalam 6 teras utama. Selama periode ini dataran banjir terbentuk pada berbagai tingkat. Teras pertama dimulai dari dataran terendah dan termuda. kecuali daerah yang paling Barat oleh Sungai Sarmoai. dataran ini membentuk daerah rawa hingga ke arah pantai. terumbu koral terangkat pleistosin. Lebih lanjut Schroo (1961). Di Dataran Sekori ini juga terbentuk teras. batuan beku atau malihan. berbatasan dengan teras ke-4. di mana sisa-sisa daripadanya masih ditemukan sekarang dalam bentuk teras-teras yang luas. dan batuan sedimen padu (tak terbedakan).

dan Batuan Sedimen Klastik Plioplistosen. 1984) Terdapat tujuh Satuan Peta Tanah (SPT) yang dimodifikasikan Petocz (1984) dari Brookfield dan Hart (1971). Gambar 1. Pengaruh secara simultan dari kelima faktor pembentukan tanah tersebut menghasilkan jenis-jenis tanah dan penyebarannya.. tanah bertekstur berat.10 Peta Geologi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-24 . Hal ini sudah barang tentu akan mengganggu pertumbuhan tanaman. bahan induk. 1977). 1977). yaitu berkisar dari lempung liat berdebu hingga liat berdebu.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 yaitu Lempeng Benua Australia di bagian Selatan dan Lempeng Samudera Pasifik di bagian Utara. dan waktu.1. relief atau topografi. Pada saat itu Papua-Papua New Guinea mulai melepasakan diri dari Benua Australia. Batugamping yang berumur eosin-Miosen Tengah. kemudian berbenturan dengan Lempeng Samudera Pasifik pada Orogenesa Melanisia yang mengakibatkan sesar anjak miring ke Utara dan terbentuknya Pegunungan Tengah. Sedangkan diantara kedua lempeng adalah Lajur Sesar Anjak dan Lipatan Pegunungan Tengah atau “New Guinea Mobile Belt” (Dow. yang disebut sebagai Kelompok Batu Gamping New Guinea. bergerak ke arah Utara. yang berumur Mesozoikum (Dow drr. Kadar liat yang tinggi dapat menyebabkan akar tanaman sulit berkembang.1. sedangkan di Pegunungan Tengah terdiri dari beberapa batuan. Lempeng Samudera Pasifik terdiri dari batuan batuan ultramafik dan batuan busur gunung api Paleogen.6 Karakteristik Tanah Pada umumnya. dan 2) di bagian Utara terdiri dari Batuan Malihan Darewo yang berumur Oligosen (Dow.1984). 1. 1. yang berumur Mesozoikum yang disebut sebagai Kelompok Kembelangan. yaitu : 1) di bagian Selatan terdiri dari batuan sedimen yang berumur Mesozoikum sampai tersier yang tersesarkan dan terlipatkan. Tektonik Papua Barat diawali pada Permo-Trias.6.3 (Petocz. sedangkan pada Plistosin terjadi pensesaran anjak miring ke Selatan di bagian Utara. Selain itu. seperti terlihat pada Peta 2. Batuan ultrabasa disebut sebagai ofiolit. yaitu faktor Iklim. organisme atau vegetasi. berdampak pula terhadap rendahnya kapasitas infiltrasi (perembesan) tanah sehingga menyebabkan penggenangan air di permukaan tanah terutama di musim penghujan. yang disebut sebagai Orogenesa Tasman. Lempeng Benua Australia tersusun oleh batuan sedimen klastik.1 Jenis Tanah Pada umumnya terdapat lima faktor yang mempengaruhi pembentuan tanah.

Litosol dan Regosol (Entisol) LAPORAN AKHIR 1-25 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.

FAO/UNESCO (1974). Tanah ini biasanya berasosiasi dengan tanah Podzol (Spodosol) yang dicirikan oleh horison spodik. Berdasarkan klasifikasi USDA Soil Taxonomy (19975/1998). Tanah Regosol biasanya mengandung liat dan fragmen batuan lapuk.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Asosiasi jenis tanah ini dijumpai di daerah pegunungan tinggi yang kasar topografinya (2000-4500 m dpl) pada kordirela Tengah (pegunungan tengah) dan Kepala Burung hingga Leher Burung sebelah Utara. Pada altitut tinggi di mana curah hujannya tinggi. Berdasarkan klasifikasi tanah dari Pusat Penelitian Tanah Bogor (PPT)(1978/1982) dan FAO/UNESCO (1974). 1984) berpasir. terutama pada lereng tidak stabil. walaupun dijumpai pula tanah-tanah bersolum dalam yang relatif stabil dan berdrainase baik pada puncak-puncak bukit dan lereng bagian atas. pada umumnya adalah hidro-podzolik yang berkembang pada kondisi drainase buruk pada dataran dan kipas aluvial Pleistosen. sama dengan Podsolik. Selatan Kepala Burung dan di Utara depresi Meer Vlakte (Lakes-Plain). Horison permukaan mengalami pelindian hebat yang menghasilkan horison pencucian yang miskin hara dan (Petocz. tanah Podzolik sepadan dengan Ultisol. sedangkan tanah Litosol berada pada lereng-lereng batuan terjal. Menurut klasifikasi PPT (1978/1982) dan Inceptisol. Tanah ini dijumpai sedikit di wilayah pegunungan Kepala Burung dan terutama di Selatan Kordirela (pegunungan tengah). Arfak dan Tamrau. sepadan dengan Litosol. sedangkan menurut sistem klasifikasi USDA Soil Taxonomy (1975/1998). tanah ini dijumpai di pegunungan Wondiwoi. Sedangkan jenis tanah Podzolik Podzolik dataran rendah. sedangkan menurut Soil Taxonomy (19975/1998). 2. Di Papua Barat. tanah Brown Forest sama dengan Kambisol. Profil tanah pada umumnya dangkal karena ketidakstabilan lereng. 3. tanah ini menjadi meningkat kemasamannya. Jenis tanah ini dijumpai di jazirah Bomberai. Tanah Brown Forest (Inceptisol) Tanah ini berada pada perbukitan dan lereng pegunungan rendah pada sabuk Utara Papua dari bahan induk basik dan batuan kalkareus (kapur) dengan curah hujan sedang. Menurut klasifikasi PPT (1978/1982) Podzolik sepadan dengan Podsolik atau Kambisol (Podsolik Coklat). sedangkan menurut FAO/UNESCO (1974). sedangkan horison penimbunan kaya akan besi dan humus yang disebut horison spodik. Sering pula dijumpai berasosiasi dengan Regosol. kedua tanah ini diklasifikasikan sebagai Regosol sepadan dengan Entisol (Lithic Subgroup). Tanah Podzolik (Ultisol) Jenis tanah ini berkembang dari bahan induk masam di lereng pegunungan pada elevasi tinggi. Litosol dan LAPORAN AKHIR 1-26 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

4. Latosol (ultisol) dan Lateritik (oksisol)
Latosol adalah tanah yang mengalami pelapukan sangat tinggi, terutama di daerah dengan ketinggian rendah di mana dijumpai pula berasosiasi kelompok Lateritik. Lateritik berkembang pada kondisi yang sama dengan Latosol, namun dengan pengaruh hidromorfik karena berasosiasi dengan fluktuasi permukaan air tanah. Selain dijumpai luas di daerah Selatan Papua, Latosol juga dijumpai tersebar di Selatan Kepala Burung hingga ke Leher Burung sebelah Utara dan Selatan serta di kepulauan Raja Ampat. Latosol sepadan dengan Kambisol, Latosol, Lateritik (PPT, 1978/1982), Cambisol, Nitosol, Ferrasol (UNESCO, 1974) dan Iceptisol, Ultisol, oxisol (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998).

5. Rendzina (Molisol)
Pembentukan tanah ini dikendalikan kuat oleh bahan induk. Rendzina berbatu dangkal terdapat pada perbukitan batu gamping dan di sepanjang daerah pantai pada platform koral terangkat yang umumnya bercirikan karst. Tanah ini berkembang baik pada perbukitan antara Teluk Etna dan Arguni, pegunungan Kumawa dan Arfak dan di Barat daya pegunungan Tamrau. Rendzina dijumpai pula pada terumbu koral terangkat barusan muda. Rendzina dicirikan oleh horison permukaan lembab coklat tua, berada di atas bahan berpasir coklat kelabu tua yang berangsur ke dalam bahan koral. Rendzina sepadan dengan Rendzina (PPT, 1978/1982), Rendzina (UNESCO, 1974) dan Rendoll (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998).

6. Aluvial dan Gambut
Pada umumnya jenis tanah ini dijumpai pada semua ketinggian, baik di daerah kering maupun basah. Di daerah kering, dengan tekstur tanahnya kasar dan berdrainase baik dijumpai di dataran landai, dataran banjir mapan, dan kipas aluvial, sedangkan, di daerah basah dengan drainase jelek dijumpai di dataran banjir atau rawa dari aluvium atau gambut. Tanah dengan tekstur halus dan gleisasi kuat akibat drainase jelek selama musim hujan cenderung bereaksi sangat alkalin, berada di dekat pantai dan sungai yang dipengaruhi pasang surut, namun semakin ke menjauhi pantai semakin meningkat kemasaman tanahnya. Tanah gambut dataran rendah dijumpai luas di Utara dan Selatan teluk Bintuni, serta gambut pegunungan dalam luasan yang kecil berada di sekitar danau Anggi Gita dan Anggi Giji. Tanah Aluvial sepadan dengan tanah Aluvial (PPT, 1978/1982), Fluvisol (UNESCO,1974) dan Entisol, Inseptisol (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998). Tanah gambut menurut USDA Soil Taxonomy (1975/1998), sepadan dengan Histosol.

LAPORAN AKHIR 1-27

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

7. Tanah Salin
Tanah salin atau tanah garaman (salty soils) biasanya bertekstur halus, berdraenase jelek karena dipengaruhi pasang surutnya air laut, serta bahan liat marin termasuk di dalamnya. Vegetasi khas dari tanah ini adalah mangrove dan nipah. Tanah Salin berkembang baik di sepanjang pantai Selatan mulai dari pulau Kimaam hingga teluk Etna dan di Selatan Kepala Burung dan Teluk Bintuni. Tanah ini menunjang pertumbuhan habitat mangrove terluas di Indonesia. Tanah Saline menurut USDA Soil Taxonomy (1975/1998), sepadan dengan Entisol (Sulfaquent) dan Inseptisol (sulfaquept). Persebaran jenis-jenis tanah di Propinsi Papua Barat dapat dilihat pada Gambar 1.11: Tekstur Tanah Pada umumnya, tanah bertekstur berat, yaitu berkisar dari lempung liat berdebu hingga liat berdebu. Kadar liat yang tinggi dapat menyebabkan akar tanaman sulit berkembang. Selain itu, berdampak pula terhadap rendahnya kapasitas infiltrasi (perembesan) tanah sehingga menyebabkan penggenangan air di permukaan tanah terutama di musim penghujanan. Hal ini sudah barang tentu akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Untuk tujuan penanaman kakao, maka drainase permukaan maupun drainase internal sangat perlu diperhatikan, jika ingin memperoleh pertumbuhan dan produksi kakao yang baik. Untuk menanggulangi drainase yang jelek, maka perlu dibuatkan selokan-selokan drainase berukuran kecil hingga sedang serta cukup dalam agar kelebihan air dapat dikeluarkan, sehingga tanahnya selalu dalam keadaan kering (lembab) dan tidak jenuh air. Selain itu, agar pertumbuhan akar tanaman kakao tidak terhalang oleh lapisan liat yang kompak, maka perlu digali lubang tanaman yang cukup besar dan dalam. 1.1.6.2 Reaksi Tanah Pada umumnya, tanah bereaksi alkali hingga sangat alkali dengan kisaran pH rata-rata 7,0 – 7,8. Semakin dalam tanahnya semakin tinggi reaksi tanah, bahkan tidak jarang mencapai pH=8,0 atau lebih. Tingginya pH tanah ini disebabkan karena tingginya kadar kalsium tanah (kapur) yang terbawa bersama bahan endapan sungai yang berasal dari pegunungan dan perbukitan kapur di sekitarnya. Reaksi Tanah demikian menyebabkan sebagian besar unsur-unsur hara makro (N, P, K) dan mikro (Fe, Zn, Mn, B, Cu) berada dalam keadaan tidak tersedia bagi tanaman. Apabila reaksi tanah mencapai pH=8,0 atau lebih akan menyebabkan tanaman sulit menyerap fosfat dan unsur-unsur mikro.

LAPORAN AKHIR 1-28

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Pada saat penelitian dijumpai pertanaman kacang tanah milik masyarakat di Kampung Pobaim yang menunjukkan gejala kekuningan pada daun-daun muda. Gejala kekuningan ini diduga kuat karena kahat akan beberapa unsur mikro. Gejala klorosis ini diistilahkan sebagai “Klorosis Terimbaskan Kapur” (Lime Induced-Chlorosis), suatu gejala kekahatan hara yang biasanya muncul di tanah-tanah berkapur. Kation-Kation Tersedia Kation tersedia yang diukur adalah Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Kalium (K). Kadar Ca dan Mg tersedia pada umumnya sedang hingga sangat tinggi. Hal ini mengisyaratkan bahwa kebutuhan tanaman akan Ca dan Mg cukup memadai sehingga tidak perlu diberi pupuk dengan kedua unsur tersebut. Pada kadar Ca yang sangat tinggi seperti dijumpai di beberapa tempat justru mengganggu pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, K tersedia tergolong rendah hingga sangat rendah sehingga pemupukan K sangat diperlukan agar mendapatkan produksi tanaman yang baik. Dalam hal tanaman tahunan seperti kakao, maka pemupukan kalium setidaknya dilakukan setiap tahun. Hasil analisis mineral tanah juga mencerminkan rendahnya kadar K tanah. Mineral tanah penyumbang kalium dari jenis kalium-veldspat yang telah hancur menunjukkan status kalium tanah yang jelek. Fosfor Tanah Kadar fosfat tersedia tergolong agak tinggi hingga sangat tinggi. Hampir semua contoh tanah menunjukkan adanya mineral primer apatit penyumbang fosfat yang tergolong sporadis (<1%) hingga beberapa persen saja. Dari pengalaman membuktikan bahwa walaupun jumlahnya sangat sedikit atau sporadis (<1%), nilai fosfat tersedia biasanya tinggi. Dengan demikian unsur hara fosfor dianggap cukup bagi kebutuhan tanaman, sehingga pemupukan P tidak diperlukan selama beberapa waktu tanam. Fosfat dan Kalium Total Kadar fosfat dan kalium total mencerminkan cadangan hara tersebut dalam tanah. Pada umumnya, kadar fosfat total berkisar dari Sedang hingga Tinggi sehingga tidak mengkhawatirkan. Tampaknya kandungan fosfat total dan fosfat tersedia berkorelasi positif sehingga memperkuat dugaan bahwa kadar fosfat cukup bagi kebutuhan tanaman. Kadar kalium total berkisar dari agak rendah hingga sedang. Ini berarti bahwa cadangan kalium tanah tidak memadai bagi suatu usaha pertanian, sehingga diperlukan pemupukan untuk mempertahankan kadar kalium tanah. Bahan Organik Tanah Kadar karbon (C) organik tanah mencerminkan kadar bahan organik tanah. Bahan organik sangat penting karena berpengaruh terhadap perbaikan sifat fisika dan kimia tanah. Bahan organik membantu granulasi dan penstabilan agregat tanah sehingga memperbaiki retensi LAPORAN AKHIR 1-29

6. Struktur mempengaruhi drainase tanah karena struktur tanah menentukan proporsi ukuran pori tanah.6. Tekstur tanah mempengaruhi drainase. bahan organik meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK). Hal ini mengisyaratkan bahwa peningkatan dan perlindungan bahan organik tanah sangat penting dilakukan. kedalaman tanah merupakan faktor pembatas bagi penggunaan tanah untuk tanaman. namun demikian ada juga tanaman yang toleran terhadap drainase tanah yang jelek.12 Peta Kedalaman Tanah di Tanah Papua. Untuk menanggulangi kekurangan bahan organik dapat dilakukan dengan pemberian pupuk kandang. struktur tanah dan ada tidaknya lapisan kedap dalam tanah serta kemiringan lereng. Pada umumnya kadar C organik tanah tergolong rendah. Hal tersebut berkaitan dengan volume tanah yang dapat dijelajahi oleh akar tanaman.1. semakin kecil tekstur tanah semakin kuat memegang air demikian pula sebaliknya.4 Kondisi Drainase Tanah Drainase tanah merupakan salah satu parameter penentu dalam penilaian kualitas/karakteristik lahan. kompos. 1. Drainse tanah merupakan cerminan terhadap kondisi tata air baik di dalam tanah maupun di permukaan tanah. Kemiringan lereng mempengaruhi drainase. meningkatkan laju infiltrasi dan kapasitas memegang air. sedangkan perkolasi air dalam tanah ditentukan oleh ada atau tidaknya lapisan kedap.3 Kedalaman Tanah Di samping jenis tanah. Adapun kondisi kedalaman tanah di Tanah Papua dapat dilihat pada Gambar 1. Selain itu. Tanaman pada umumnya tumbuh dan berkembang dengan baik apabila drainase tanah baik. dimana drainase jelek atau terhambat biasanya terdapat pada tanah yang relatif datar atau daerah LAPORAN AKHIR 1-30 . yang berarti pula meningkatkan kemampuan menyerap kation unsur hara makro dan mikro sebagai sumber hara. sebab tekstur tanah menentukan kemampuan tanah memegang air.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 air tanah. 1. Drainase tanah penting diperhatikan sebab drainase tanah mempengaruhi lingkungan perakaran tanaman yaitu keadaan air dan udara tanah. Tidak kalah pentingnnya adalah dengan adanya bahan organik akan sangat berdaya terhadap biologi tanah. dan menanam penutup tanah (seperti Pueraria javanica atau Calopogonium mucunoides) terutama pada pertanaman kakao. Tanah dapat mempunyai drainase baik atau jelek tergantung pada kondisi internal dalam tanah seperti tekstur tanah.1.

drainase tanah di Tanah Papua dapat dilihat pada Gambar 1.11 Peta jenis tanah dan penyebarannya LAPORAN AKHIR 1-31 .13.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Untuk jelasnya mengenai kondisi cekungan bukan di daerah yang berlereng curam. Gambar 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.12 Peta Kedalaman Tanah LAPORAN AKHIR 1-32 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.13 Peta Drainase Tanah LAPORAN AKHIR 1-33 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

1.1.7

Hidrologi

Tinjauan terhadap sumberdaya air sangat urgen sifatnya dilakukan guna memahami potensi, bentuk penguasaan, penggunaan, dan kesesuaian pemanfaatan sumberdaya air. Keberadaan sungai yang wilayah alirannya (DAS) di lebih dari satu wilayah administratif menjadikan sungai menuntut sistem pengaturan yang spesifik. Wilayah Provinsi Papua Barat dilewati beberapa sungai yang tersebar di beberapa wilayah kabupaten/kota. Dari sungai besar di Papua Barat sebagian besar mengalir di wilayah pengembangan Sorong. Sungai-sungai tersebut menjadi sebuah sistem daerah aliran sungai yang mengalir sepanjang tahun. Potensi sumberdaya sungai terbesar di Papua Barat disajikan dalam Tabel 1.11 berikut ini. Tabel 1.11 Nama, Panjang, Lebar dan Kecepatan Arus Sungai menurut Kabupaten/Kota
Wilayah Pengembangan WP Manokwari WP Sorong Nama Sungai Panjang (Km) Lebar (m) 80-350 60-700 80-2.700 80-350 140-1200 40--250 40-1300 40-2.200 30-40 50-125 45-1250 20-25 50-570 40-700 200-800 Kecepatan (Km/jam) 1,26 2,95 3,06 1,26 2,7 2,88 2,88 0,9 0,9 2,52 3,06 0,9 0,9 1,62 2,7

Laore 163 Beraur 360 Kaibus 200 Kais 184 Kamundan 425 Aifat 174 Karaora 230 Minika 225 Remu 17 Sebak 267 Seramuk 229 WP Fakfak Umbawa 280 Uta 246 Warsamsan 320 Muturi 428 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2009

Sungai-sungai besar hingga kecil yang berasal dari wilayah pegunungan di bagian tengah Kepala Burung yang mengalir ke arah dataran rendah (berawa) dan bermuara di Teluk Bintuni. Selain itu, terdapat pula sejumlah sungai yang mengalir ke arah Selatan dan bermuara di pantai Selatan pada dan pantai Utara. Beberapa sungai besar yang bermuara di Teluk Bintuni adalah Sungai Arandai, Wiryagar, Kalitami, Seganoi, Kais, Kamundan, Teminabuan, Sermuk, Maambar, Woronggei dan Sanindar. Selain sungai juga dijumpai danau di daerah pegunungan, yaitu Danau Anggi Giji dan Anggi Gita serta Danau Ayamaru.

LAPORAN AKHIR 1-34

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Di Provinsi Papua Barat terdapat beberapa sungai yang membentuk beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS). Sebagian besar Daerah Aliran Sungai yang terbentuk adalah pada kabupaten-kabupaten di Wilayah Pengembangan Sorong. Sungai-sungai yang termasuk dalam kategoti terpanjang adalah Sungai Kamundan (425 km), Sungai Beraur (360 km), dan Sungai Warsamsan (320 km), sedangkan sungai-sungai yang termasuk kategori terlebar adalah Sungai Kaibus (80-2700 m), Sungai Minika (40-2200 m), Sungai Karabra (40-1300 m), Sungai Seramuk (45-1250 m), dan Sungai Kamundan (140-1200 m). Sungaisungai ini sebagian besar terletak di kabupaten-kabupaten di Wilayah Pengembangan Sorong. Berdasarkan data-data pada tabel di atas, beberapa sungai yang memiliki kecepatan arus paling deras antara lain adalah Sungai Seramuk (3,06 km/jam), Sungai Kaibus (3,06 km/jam), Sungai Beraur (2,95 km/jam), Sungai Aifat (2,88 km/jam), dan Sungai Karabra (2,88 km/jam). Sungai-sungai tersebut terletak pada Wilayah Pengembangan Sorong. Secara garis besar, daerah tangkapan sungai (catchment area) di Provinsi Papua Barat dapat dibagi ke dalam dua satuan wilayah sungai (SWS). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.12 dan Gambar 1.14 tentang Peta Hidrologi. Tabel 1.12 Pembagian Satuan Wilayah Sungai di Provinsi Papua Barat
Kabupaten T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari Manokwari T. Wondama T. Wondama T. Wondama T. Wondama Kaimana, Nabire Kaimana Kaimana Kaimana Kaimana, Fak Fak Fak Fak, Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak, T. Bintuni Sorong Selatan, Manokwari Manokwari, Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan, Sorong Sorong Selatan, Sorong WS B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba A2-27 Omba B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar B-50 Kamundan-Sebyar Nama Das Wasian Sebyar Kasi Mangopi Prafi Maruni Masawui Ransiki Windesi Wasimi Wondiwoi Woworama Omba Laenatum Lengguru Berari Madefa Karufa Bedidi Fak Fak Bomberai Wariagar Kamundan Kais Sekak Waromga Seremuk Karabra Luas (Km2) 4.851,000 12.981,400 693,200 1.917,200 1.169,300 193,320 111,110 584,300 23,560 617,400 172,820 279,700 8.610,200 379,500 1.870,000 1.029,900 4.605,570 477,400 1.355,600 88,760 2.033,300 6.720,000 9.732,250 4.232,740 830,700 810,430 884,600 5.989,230

LAPORAN AKHIR 1-35

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Kabupaten WS Nama Das Luas (Km2) Sorong Selatan, Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Kladuk 3.131,150 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Klasegun 848,510 Raja Ampat B-50 Kamundan-Sebyar Misol 848,160 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Salawati 368,910 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Samate 82,000 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Batanta 69,490 Raja Ampat B-50 Kamundan-Sebyar Waigeo 598,160 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Remu 46,440 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Warsamson 2.437,131 Sorong B-50 Kamundan-Sebyar Mega 1.048,340 MANOKWARI B-50 KAMUNDAN-SEBYAR MAON 682,300 Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Wesauni 626,933 T. Bintuni B-50 Kamundan-Sebyar Kasuari 1.971,850 T. Bintuni B-50 Kamundan-Sebyar Wagura 1.799,100 T. Wondama B-50 Kamundan-Sebyar Arumasa 2.497,000 T. Bintuni, Manokwari B-50 Kamundan-Sebyar Muturi 5.381,300 Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air, Jayapura 2005.

Tabel 1.13 Debit Sungai Dirinci Menurut DPS di Provinsi Papua Barat
No No. DPS 1 17 2 18 3 19 4 20 5 21 6 22 7 23 8 24 9 25 10 26 11 27 12 28 13 29 14 30 15 31 16 32 17 33 18 34 19 35 20 36 21 37 22 38 23 38 a 24 39 25 40 26 41 27 42 28 43 29 44 30 45 31 46 32 47 33 48 34 49 NAMA DPS Omba Laenatum Lengguru Berari Madefa Karufa Bedidi Fak Fak Bomberai Kasuari Wagura Arumasa Muturi Wasian Sebyar Wariagar Kamundan Kais Sekak Waromga Seremuk Karabra Kladuk Klasegun Misol Salawati Samate Batanta Waigeo Remu Warsamson Mega Koor Maon SWS B - 49 B - 49 B - 49 B - 49 B - 50 B - 49 B - 49 B - 49 B - 49 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 B - 50 Catchments Area (Km2) 8,610.200 379.500 1,870.000 1,029.900 4,605.570 477.400 1,355.600 88.760 2,033.300 1,971.850 1,799.100 2,497.000 5,381.300 4,851.000 12,981.400 6,720.000 9,732.250 4,232.740 830.700 810.430 884.600 5,989.230 3,131.150 848.510 848.160 368.910 82.000 69.490 216.500 46.440 2,437.131 1,048.340 1,202.800 682.300 Qn (m3/s) 316.919 29.086 141.454 96.869 374.730 38.903 107.968 11.747 146.870 142.232 165.546 127.979 476.337 364.562 825.032 432.319 796.177 221.554 46.634 50.282 58.182 302.739 195.716 58.497 53.437 27.064 6.183 5.338 13.309 4.721 147.467 120.947 140.594 104.163 KABUPATEN Kaimana, Nabire Kaimana Kaimana Kaimana Kaimana, Fak Fak Kaimana, Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak Fak, T. Bintuni T. Bintuni T. Bintuni T,Wondama T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari T. Bintuni, Manokwari Sorong Selatan, Manokwari Manokwari, Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan Sorong Selatan, Sorong Sorong Selatan, Sorong Sorong Sorong Raja Ampat Sorong Sorong Sorong Raja Ampat Sorong Sorong Sorong Sorong Manokwari

LAPORAN AKHIR 1-36

50 584.Wondama 43 58 Wasimi B .Wondama 44 59 Wondiwoi B . Sumber: Dinas PU (2003).600 Kaimana 04 Mbula 6.960 Manokwari 38 53 Prafi B .110 18.50 111.830 Manokwari 11 Ayamaru 10. 12 Hain 4. menyusul Asmat 951. Pertama air tanah yang terkandung dalam tanah hingga batas kedalaman perakaran pada umumnya tanaman atau pada solum tanah dan disebut sebagi kandungan lengas tanah atau soil moisture. Informasi selengkapanya di sajaikan pada Tabel 1. Kedua.50 193.916 Kaimana 07 Makiri 7.300 161. Ground water.50 626.50 1. Jayapura 2005. Biasa juga disebut sebagai air aquifer.527 Tel.796.814 Manokwari 39 54 Maruni B .917.933 108. Selain sungai.Wondama 45 60 Woworama B . Potensi air tanah dalam sangat signifikan di bebrapa kabupaten di Provinsi Papua baik dilihat dari luasan maupun luasan relatifnya.340 Kaimana 06 Berari 6.50 279. Studi Aplikasi SWS di Tanah Papua Potensi Air Tanah Air tanah mengandung dua pengertian.974 T.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 No No.640 Tel.240 Kaimana 02 Laamora 16.740 Kaimana 03 Urema 12.2 %).370 Manokwari 10 Anggi Gita 22.854 T. danau juga merupakan sumber air permukaan potensil. Luas areal yang meliputi air tanah dalam terbesar di Kabupaten Digul yakni 1.169. Tabel 1.153 Manokwari 42 57 Windesi B . air tanah di bawah permukaan bumi pada kedalaman lebih dari yang tersebut di atas.320 25.400 45. Di Papua Barat potensi air tanah dangkal cukup signifikan terdapat di Kabupaten Sorong Selatan (40 %).50 1.000 128. Di Provinsi Papua Barat terdapat 12 danau besar dan kecil yang tersebar di empat kabupaten/kota.883 Manokwari 37 52 Mangopi B .700 30. Bintuni 09 Anggi Gigi 21.850 Sorong Sel.300 76.50 0. dan disebut sebagai ground water.14 Luas dan Penyebaran Danau di Tanah Papua No Nama Danau Luas (Ha) Kabupaten 01 Aiwasa 10.820 18.50 23.14.574 T. Bintuni 08 Tanemot 17.596 Sorong Sel.872 ha LAPORAN AKHIR 1-37 .200 222.50 617.131 ha (62.816 T.Wondama Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air.560 3.648 Manokwari 36 51 Kasi B . DPS NAMA DPS SWS Catchments Area (Km2) Qn (m3/s) KABUPATEN 35 50 Wesauni B .024 Kaimana 05 Kamakawalor 23.50 172.958 Manokwari 41 56 Ransiki B .129 Manokwari 40 55 Masawui B .

Teluk Wondama 500.326.636 1. Di Provinsi Papua Barat.815 115.740 3.133.467 166.122 11.462 27.457 49.15.857 ha (20.927. Fak Fak 935. dan Mimika (458.037 651. Sorong Selatan 1. Tabel 1.241 2.278 237. Kaimana 1. Raja Ampat 741.029 116. Manokwari 1.421 263. Teluk Bintuni 1.637 164.15. Jayapura 2005.706. hanya Kabupaten Teluk Wondama yang secara relatif signifikan yakni 33 %.668 1.752 721.000 ha.698 1.080.757 531.766 944. namun secara mutlak kecil karena hanya mencakupi lahan seluas 165.359 650.324 181.195 1.588 680.004 10.637 6.091 LAPORAN AKHIR 1-38 .457.916 Sumber: Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumberdaya Air.495.242 9 Kab. Penyebaran lokasi air tanah diperlihatkan pada Tabel 1.530 391.793 241.058 Provinsi Papua Barat 9.123 3 Kab.098 1.432 ha (28.15 Distribusi Luas Areal Air Tanah (Ground Water) Menurut Kabupaten di Tanah Papua No AT Dlm dan Perairan Sedang 1 Kota Sorong 33.158 256.661.644 4 Kab.174 77.320 6 Kab.653 602 8 Kab.8 %).2 %). Penyebaran tersebut dapat pula dilihat pada Gambar 1.941 89.184 13.455 270.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 (49.897 30.304 61.843 1. Mappi 778.1 %). KABUPATEN Luas Wilayah AT Dangkal Tanpa AT 29.041 372.230.910 5 Kab.957. Sorong 1.907 7 Kab.071 806 110 2 Kab.154.

14 Peta Hidrologi Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-39 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.15 Peta Air Tanah LAPORAN AKHIR 1-40 .

dalam dokumen perencanaan perlu adanya kajian dan pertimbangan dari segi karakteristik hidro-oseanografi yang mencakup aspek fisik perairan dan aspek kimia perairan. Kisaran pasang surut (tidal range) adalah perbedaan tinggi muka air pada saat pasang maksimum dengan tinggi muka air pada saat surut minimum yang juga dipengaruhi oleh geometrik wilayah yang bersangkutan. dengan tipe pasut ganda campuran.1. Kecenderungannya.8 Karakteristik Hidro-Oseanografi Sebagian besar kota dan kabupaten-kabupaten di Provinsi Papua Barat yang sudah ada tumbuh dan berkembang di tepi laut.1 Aspek Fisik Perairan Naik turunnya muka laut dapat terjadi sekali sehari (pasut tunggal atau diurnal tide) atau dua kali sehari (pasut ganda atau semi diurnal tide). dalam bentuk hempasan ombak.1. pasang surut juga merupakan parameter oseanografi lain yang penting sebagai pembangkit arus di pantai.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.8.2–1. Gelombang laut terbentuk karena adanya proses alih energi dari angin ke permukaan laut. Pola arus pantai ini terutama ditentukan oleh besarnya sudut yang dibentuk antara gelombang yang datang dengan garis pantai. pertumbuhan tersebut akan mengikuti daerah eksisting. Gelombang ini merambat ke segala arah dengan membawa energi yang kemudian dilepaskan ke pantai LAPORAN AKHIR 1-41 . 1. Arus yang disebabkan oleh pasut ini dipengaruhi oleh dasar perairan. sedangkan pasut yang berperilaku di antara keduanya disebut sebagai pasut campuran. Selain gelombang.6 meter. Kisaran pasang surut di perairan Papua mencapai 3 . Pengamatan gelombang di perairan Papua relatif masih belum banyak dilakukan. Gelombang yang datang menuju pantai dapat menimbulkan arus pantai (nearshore current) yang berpengaruh terhadap proses sedimentasi ataupun abrasi di pantai. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Hasil penelitian Pusat Riset Teknologi Kelautan. atau pada saat-saat tertentu disebabkan oleh gempa di dasar laut. maka akan terbentuk arus menyusur pantai (longshore current) yang disebabkan oleh perbedaan teknan hidrostatik. Jika sudut datang cukup besar. Namun demikian sesungguhnya terdapat hubungan antara angin musim dan pola gerakan gelombang.2 m. Departemen Kelautan dan Perikanan tanggal 30 Juni–6 Juli 2005 menunjukkan bahwa tinggi gelombang di wilayah kajian berkisar antara 0. Arus pasang surut yang terkuat akan ditemui di dekat permukaan dan akan menurun kecepatannya semakin mendekati dasar perairan. Oleh karena itu.

dimulai sekitar bulan Mei sampai kira-kira bulan September. gaya gravitasi. yaitu C lebih rendah dari musim Barat. Kecepatan naiknya tampaknya kecil. Air yang naik ini bersumber dari kedalaman sekitar 125 – 300 m yang menyusup dari Lautan Pasifik. akibatnya air yang berada di lapisan bawahnya terangkat naik untuk mengisi kekosongan tersebut. Di perairan Papua. Demikian pula kandungan fosfat dan nitrat masing-masing naik dua kali lipat. arus periodik. upwelling terjadi di Laut Arafura (Wyrtki. Keadaan ini dipengaruhi dipengaruhi oleh keadaan rataan dan sedimentasi di pesisir pantai. Upwelling adalah menaiknya massa air laut dari lapisan bawah permukaan (dari kedalaman (150 – 250 m) karena proses fisik perairan. sedangkan salinitas lebih tinggi 1 per mil. Pola arus perairan Papua menurut P30-LIPI Ambon tahun 1992 bahwa pola arus dipengaruhi oleh pasang surut. gaya coriolis. dimana kecepatan arus rata-rata pada waktu pasang dan surut 7 – 8 cm/ det di daerah pesisirnya. Air naik di laut tersebut terjadi pada musim Timur. gaya gesekan. LAPORAN AKHIR 1-42 . karena dengan adanya volume air yang terangkat di daerah ini bisa mencapai 2 juta m3/detik. Karena pada saat tersebut angin musim Timur mendorong keluar air permukaan Laut Arafuru dengan laju yang lebih besar daripada yang dapat diimbangi oleh air permukaan sekitarnya. maka menaiknya massa air tersebut akan menyuburkan kawasan permukaannya.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Arus adalah gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horisontal dan vertikal masa air oleh perbedaan energi potensial. Keadaan arus laut umumnya terjadi akibat pengaruh beberapa gaya yang bersamaan yang terdiri dari arus tetap.0006 cm/detik. (pasut) dan arus angin. Tetapi ini mempunyai arti besar. dan gaya sentrifugal. diperkirakan 0. Karena massa air bawah permukaan pada umumnya lebih kaya zat hara dibandingkan dengan lapisan permukaannya. Akibat dari naiknya massa air ini adalah suhu permukaan menjadi lebih rendah. 1958). dan waktu pasang 11 cm/det. Bishop (1984) menyatakan bahwa gaya yang berperan dalam sirkulasi masa air adalah gaya gradient tekanan.

Pada saat musim Barat suhu permukaan laut cenderung lebih panas bila dibanding dengan pada musim Timur. yaitu : (a) musim Barat. Pada musim Timur kondisi oseanografis perairan ini banyak dipengaruhi oleh massa air dari Laut Banda (Wyrtki.16 Ketinggian Gelombang Laut 1. Sedangkan kadar oksigen terlarut (DO) di Perairan Utara dan Selatan berkisar antara 2. Wilayah perairan Selatan Papua merupakan perairan yang memiliki karakteristik massa air yang agak berbeda dengan perairan wilayah Indonesia lain.8. Hal ini disebabkan oleh letak geografis perairan tersebut yang berdekatan dan lebih terbuka dengan laut Banda. Musim Barat puncaknya terjadi pada bulan Februari.12 . 1980). kimia. dan (b) musim Timur. laut Timor dan samudera Hindia.02 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.3.39 µg-A/l dengan rataDinginnya suhu permukaan di musim Timur tersebut cenderung membuat perairan cenderung lebih subur yaitu dengan adanya LAPORAN AKHIR 1-43 . terutama ikan-ikan pelagis. Sifat fisik. kandungan konsentrasi fosfat berkisar antara 0. sedangkan musim Timur puncaknya terjadi pada bulan Agustus. Hal ini berpengaruh besar terhadap sebaran klorofil-a dan nutruen serta ikan-ikan pelagis di wilayah tersebut sehingga perairan ini juga dikenal sebagai salah satu daerah penangkapan ikan dan udang. peningkatan fitoplankton dan zooplankton.17 ml/l.4.1. dan biologi perairan pada kedua musim tersebut penyebarannya kisaran nilainya disajikan dalam Tabel 1. Tchernia.51 ml/l dengan ratarata 3.16. 1961. Dari tabel aspek fisik dan kimia adalah sesuatu proses yang dinamis dan sangat tergantung pada musim.2 Aspek Kimia Perairan Perairan di Papua sangat dipengaruhi oleh dua musim.

Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan HPHH Hutan Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) Hutan Suaka Alam (HSA) Hutan Lindung Hutan Produksi Kontrak Karya Kuasa Pertambangan Tanah negara yang telah diperuntukkan d. di dalamnya termasuk: • • • • • • • c.0 – 1.5 – 2. Penggunaan lahan sekarang (eksisting) memberi gambaran sejauh mana jenis dan tingkat pemanfaatan lahan yang telah dilakukan baik yang bersifat budidaya maupun bukan budidaya. Status tanah sekarang pada dasarnya sangat menentukan mudah dan dapat tidaknya suatu bidang tanah dikuasai atau dialihkan penguasaannya oleh pihak ketiga untuk kegiatan tertentu.000 500 – 1. di wilayah Papua Barat perlu diperhatikan adanya berbagai jenis status (penguasaan) tanah sebagai berikut: a.5 – 4.0 8 Fito Plankton (cell/dm3) 200 – 1.40 10 Larva Krustasea (Jumlah/m2) 500 – 1.5 6 Silikat (µm) 2. hasil interpretasi ETM7. Ketersediaan tanah pada dasarnya tidak dilepaskan dengan status atau penguasaannya sekarang.83 . Tabel 1.25 4 Fosfat (µm) 0.0 0.0 – 4. Kadar konsentrasi nitrat berkisar antara 0. Tanah negara yang dibebani.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 rata 1. dan hasil analisis 1.94 µg-A/ serta kadar konsentrasi silikat yang terukur berkisar antara 0.0.5 – 7. Dalam hal ini.0 3 Oksigen (cm3/cm2) 3.5 0.5 – 1.0 26. Kimia.5 4. Tanah negara bebas b.91.0 – 34. dan Biologi Perairan Papua No.1.5 7 Klorofil a (mg/m3) Gb 0.5 – 7.9 Ketersediaan Lahan Ketersediaan tanah atau lahan yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Guna Lahan sebagai suatu rencana dasar memberikan gambaran potensi lahan dan arahan bagi kawasan yang dapat dikembangkan/dibudidayakan atau karena limitasinya tidak dapat dikembangkan sama sekali berdasarkan faktor-faktor fisik dasar.19 µg-A/l sampai 40.000 Sumber: Netherlands Journal of Sea Research 25 (4): 431-447 (1990).8 2 Salinitas (ppm) 31.16 Kisaran Nilai Kondisi Fisik.5 – 2.800 200 – 3.1 . Parameter Musim Barat (Februari) Musim Timur (Agustus) 1 Suhu (oC) 28.34 µg-A/l .0 – 26. Tanah negara yang dikuasai penduduk LAPORAN AKHIR 1-44 .8 – 30.10 10 .5 5 Nitrat (µm) 0.5 1.0 30.53 µg-A/l.0 – 34.5 2.1 – 0.000 9 Zoo Plankton (cm3/cm2) 5 .

791 9.159 82. Faktor kondisi fisik Provinsi Papua Barat yang berbukit dengan banyak pulau menyebabkan pencatatan penggunaan lahan relatif lebih sulit dilakukan.838 88.302 Hutan 8.197 30. Misalnya pada kasus TGHK yang tumpang tindih dengan kuasa pertambangan atau Hak Penguasaan Hutan (HPH).256 5. Terlebih adanya kabupatenkabupaten bentukan baru menyebabkan pencataan data penggunaan lahan harus dilakukan ulang. yang pada umumnya mencakup areal yang sangat luas seperti HPH.226 5.001 8. konsesi.986 Sawah Tegalan 123.204 4. Hak Milik Permasalahan yang mencolok adalah sering terjadi ketidaksesuaian antara arahan rencana tata ruang pada suatu lokasi dengan status atau penguasaan tanahnya sekarang terutama untuk tanah negara yang dibebani.751 77.633 31.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 e.566 4.17 Penggunaan Lahan di Provinsi Papua Barat Berdasarkan Kabupaten/Kota dan Jenis Penggunaan Tahun 2008 (hektar) Kampung/ Perumahan Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat 10.258 24. Data mengenai lahan antara satu dan yang lainnya kerap menunjukkan perbedaan.397 9. 1.214 9.024 14.248 46. kuasa pertambangan kontrak karya.887 11.950 8. Tanah negara yang dikuasai instansi f.599 26. Tabel 1.509 4.520 LAPORAN AKHIR 1-45 .988 22.305 14.258 21. Terdapat kemungkinan adanya keterbatasan dalam pencatatan data penggunaan lahan.282 6.537 7.248 Kebun 8. Hak Guna Usaha h.224 28.606 5. Data tersebut hanya menunjukkan total luas Papua Barat sebesar 1 juta hektar. j.548 71.17 menunjukkan data penggunaan lahan di Provinsi Papua Barat yang dibedakan ke dalam beberapa kategori penggunaan lahan.378 239. Hak Milik Adat g.2 PENGGUNAAN LAHAN Pencatatan data mengenai penggunaan lahan di Papua Barat masih sangat terbatas.875 612 3. Hak Pakai i. Hak Pengelolaan Hak Guna Bangunan k.321 Kebun Campur 42.320 Semak 839 Tanah Rusak Lainlain 213.865 12. Hal ini dapat menjadi masalah jika dikaitkan dengan fungsi kawasan yang ingin dipertahankan (misalnya fungsi hidro-orologis).886 12.738 Total 407.883 5. Tabel 1.271 8.953 268.024 2.897 4.884 30.222 28.686 12.556 29.918 24.

Bintuni 3.00 1.224. Manokwari 2.700.18 Luas Hutan dan Perairan diProvinsi Papua Barat dirinci Per Kabupaten/Kota Tahun 2005-2008 Kabupaten/Kota 1.863.460 121.197 332.564.065.958 Hutan Semak Tanah Rusak Lainlain Total 27.716 16. Tabel 1. Menhutbun Nomor: 891/Kpts-II/1999) adalah sebesar 42.921. T.1 Kehutanan Potensi hutan di Provinsi Papua sangat tinggi.678.038 Kampung/ Perumahan Kota Sorong Papua Barat 16.412 Kebun 1.00 578.800.283.800.2.054 117.90 LAPORAN AKHIR 1-46 .496 hektar atau sekitar 22.118.836 82.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kebun Campur 2.546. Munculnya kategori tersebut sebagai yang tertinggi kemungkinan terkait dengan keterbatasan data.151. Kab.218 1.015 Sawah Tegalan 7.199.01 610.755 61.473 254.37 2. fungsi sebagai tegalan mendominasi penggunaan lahan di Papua Barat yaitu mencapai 254.76 persen.592 7. T. Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Papua secara keseluruhan (termasuk Provinsi Papua Barat) berdasarkan (SK.840 Ha yang terdiri dari Kawasan Hutan seluas 40. Gambar 1.480 Ha. Kab. Di luar kategori lain-lain. Wondama Luas Wilayah*) 1.17 Persentase Penggunaan Lahan di Papua Barat tahun 2005 Berdasarkan Jenis 1.292 123.00 Hutan+Perairan 1. Kab.360 Ha dan Kawasan Perairan 1. Fungsi perkebunan dan kebun campur kemudian memiliki presentase di bawah fungsi tegalan.496 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Luas pengunaan lain-lain menjadi kategori dengan presentase tertinggi.

450.224.84 19.718.653. Kaimana 9. Kab.00 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Berdasarkan fungsinya. Kab.64 19.339.960. Taman Nasional 0.726.146.02 0.641.072.17 % 1.885. terlihat memprihatinkan.53 1.379.700.850. Sorong Selatan 6. Sorong 5.736.385. Fakfak 8.25 2.34 1.00 608.352. Akan sangat kritis apabila proses tersebut berlangsung secara terus menerus tanpa upaya penanganan dari Departemen Kehutanan dan Pemda karena menyangkut isu global warming di mana Indonesia memiliki hutan yang mampu menyerap CO2 sedangkan kondisi sekarang ini. Dan sebagai hutan produksi baik yang terbatas maupun dapat dikonversi adalah sekitar 56%.45 2.05 1.41 11.00 1.726.17 4.02%.634.199. Tabel 1.58 41.58%.75 17.000.199.58 0.945.721.27 0. Kab.10 1.377.786.994.600.00 1.202. Hutan di Papua Barat diklasifikasikan menjadi 9 kategori.601.934.003. Kota Sorong Total 2.74 64.965. Hutan di wilayah ini memiliki fungsi sebagai kawasan konservasi terdiri dari kawasan Hutan Lindung sebesar 17.432.00 1. Kab.63 19.27%.138.50 686.00 31.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 724.27%.17 100.979.503.27 16. Kab.83 11.00 11.98 1.00 LAPORAN AKHIR 1-47 .199.28 2.665. Cagar Alam 24.19 Luas dan Prosentase Hutan berdasarkan Fungsi Hutan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Fungsi Hutan APL (Area Penggunaan lain) HL (Hutan Lindung) HP (Hutan Produksi) HPT (Hutan Produksi Terbatas) HPK (Hutan Produksi dapat dikonversi) CA (Cagar Alam) SM (Suaka Margasatwa) TN (Taman Nasional) TW Perairan Grand Total Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Luas (Ha) 196.16 24.84 1. Raja Ampat 7.59 33.000. Suaka Margasatwa 0.30 0. Pembalakan liar dan issu illegal logging yang berkembang adalah satu hal yang selalu terjadi. Fungsi-fungsi ini tentu apabila dilihat di lapangan tidak demikian nyata.

669.243.75 342.02 1.70 3.623.790.96 1.00 462.284.769.15 1.90 149.509.686.243.10 246.052.891.57 1.20 284.548.087.400.92 113.989.277.794.087.277.284.30 16.648.50 66.866.337.228.167.243.10 275.10 395.57 1.40 1.04 92.63 1.847.439.81 9.35 1.863.769.75 Jumlah Hutan Lindung 39.79 2.928.240.277.144.314.957.648.70 6.769.314.79 2.101.96 1.943.39 1.648.866.535.59 31.39 1.30 65.866.259.245.291.314.339.648.50 149.81 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Fungsi guna lahan hutan dalam data Pemanfaatan Lahan (Papua Barat Dalam Angka Tahun 2007) menunjukkan bahwa luas hutan di Papua Barat hanya sebesar 61.488.95 591.485.30 92.10 95.248.41 715.300.92 6.847.565.244.19 32.81 9.147.174.941.700.144.057.6 juta hektar atau sekitar 16.20 519.751.681.787.054.847.558.686.806.487.723.20 Luas Kawasan Hutan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 (Ha) Kabupaten/Kota Regency/ Municipality Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 2007 2006 2005 Hutan Kawasan Perlindungan Alam/ Kawasan Suaka Alam 44.270.16 310.087.529.345.06 1.337.35 1. Tabel 1.90 479.05 39.70 4.81 9.1176 LAPORAN AKHIR 1-48 .385.751.30 302.00 397.17 6.508.751.75 342.63 1.648.686.96 Tetap 388.290.35 Hutan Produksi Terbatas 202.96 1.75 342.30 379.086.97 342.364.816.20 37.39 1.35 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.525.087.18 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi di Papua Barat Tahun 2008 Satuan dalam% Luas Total 9.464.57 1.144.40 121.284.79 1.90 1.56 209.977.686.372.46 9.87 persen dari total luas hutan.70 320.87 86.00 204.847.314.39 Hutan Produksi yg Dikonversi 219.080.243.284.90 149.10 79.90 411.70 165.648.57 948. Kabupaten Teluk Bintuni dan Fakfak memiliki luas hutan lindung yang relatif kecil jika dibandingkan dengan total luas hutannya.817.95 785.769.458.648.13 5.79 Areal Penggunaan Lainnya 55.635.21 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2007 Hutan produksi mendominasi jenis hutan di Papua Barat sementara hutan lindung hanya seluas 1.600.617.046.370.90 253.893.50 442.20 93.648.503.90 132.25 1.866.44 20.79 2.144.29 2.018.751.43 489.49 309.14 327.277.865.55 1.

52 persen.7 juta hektar.000. Padahal.000.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 hektar atau hanya sekitar 5.000. Gambar 1. Fungsi-fungsi seperti tegalan. ataupun semak dan alang-alang memiliki kemungkinan untuk dikategorikan ke dalam hutan oleh data tentang lahan lainnya.00 1.000. Hal ini kemungkinan disebabkan dari perbedaan pemberian kategori dalam pencatatan penggunaan lahan.000.00 Fa kFa k Ka Te im lu an k a W on da Te m lu a k Bi nt un M a i So no k w ro ar ng i Se la ta n So ro ng R aj a Am Ko pa ta t So ro ng Berdasarkan data dari Balai Pemantapan Kawasan Hutan (2004).00 2.00 1. data luas hutan untuk setiap wilayah kabupaten setelah pemekaran masih belum pasti.21 berikut. Namun.00 0.000.000.500. LAPORAN AKHIR 1-49 .19 Luas Kawasan Hutan Menurut Kabupaten/Kota di Papua Barat Tahun 2008 2. kebun campur.00 500. perkebunan. dalam buku yang sama tercatat luas hutan di Papua Barat mencapai 9 juta hektar dari total luasan Papua Barat yang mencapai 11 juta hektar.500. proporsi luas kawasan hutan di Provinsi Papua Barat ditampilkan pada Tabel 1. luas kawasan hutan di Provinsi Papua Barat mencapai 9. Berdasarkan data sementara yang dikomplilasi dari berbagai sumber.

209.52 356.240.761.977.740.19 53.688.373.82 5.52* 1.55 283.13 80.092.636.045.32 737.44 23.23 1.78 100.34 413.21 231.114.005.537.90 1.36 4.180.46 0 0 0 23.84 1.22 16.262.120.46 Taman Wisata Alam 0 0 1.389.600.85 84.33 493.21 498.61 429.302.43 Total 37.60 281.477.834.461.99 Hutan Produksi Terbatas 203.47 260.784.08 10.837.379.328.163.87 32.928.13 Areal Penggunan Lain 52.15 Hutan Produksi 383.868.93 487.338.11 69.499.712.394.33 1.769.234.15 93.192.54 936.661.073.98 150.729.56 356.19 6.05 9.44 112.15 2.019.375.846.189.33 1.81 0 0 69.42 221.634.273.886.584.32 1.481.495.262.88 15.97 276.538.877.72 398.33 1.12 206.61 24.66* 0 14.39 1.475.008.138.27 0 0 10.985.439.83 530.41 500.047.174.20 2.77 243.52 Taman Nasional 0 0 270.24 153.21 682.60 Hutan Produksi Konversi 218.20 80.Tabel 1.684.41 1.857. 2004.371.560.397.747. 1-50 .39 Cagar Alam Suaka Marga Satwa 657.087.181.366.63 304.272.76 151.53 322.07 1.24 1.838.636.031.56 5.41 33.087.927.188.759.52 393.418.24 6.34 15.102.81 127.56 165.235.132.310.21 Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan.689.976.394.517.47 355.37 0 0 0 0 4.972.66 9.277. Keterangan: *) Bagian kawasan Taman Nasional yang masuk dalam wilayah Administrasi Pemerintahan Provinsi Papua Barat (tidak termasuk perairan laut dan kepulauan).604.12 0 55.342.941. 21 Persebaran Luas Kawasan Hutan (Ha) Menurut Fungsi pada Setiap Kabupaten di Provinsi Papua Barat Hutan Lindung Fakfak Kaimana Sorong Kota Srng Sor-Sel Mnkwr Bintuni Wondama Raja Ampat Papua Barat 41.389.29 17.723.

Sisa areal hutan produksi tersebut sebagian besar merupakan wilayah hutan yang topografinya berat. Untuk itu penataan fungsi kawasan perlu ditinjau kembali dan peninjauannnya dilaksanakan bersamaan dengan penetapan SDA tersedia di setiap wilayah Kabupaten/Kota. Dengan kondisi kawasan hutan produksi demikian. melaporkan bahwa luas kawasan hutan produksi di Papua Barat yang telah dibebani hak pengusahaan hutan (HPH) seluas 4. yaitu minimal 30%. Sementara Industri Primer Hasil Hutan (IPHH) yang berkembang di Papua Barat digolongkan menjadi 2 yaitu Industri yang berskala besar dengan nilai LAPORAN AKHIR 1-51 . Areal penggunaan lain seluas 2.211.210 Ha atau 66.273 Ha) dan sisanya seluas 2.62% memiliki slopes dari curam-sangat curam dengan kemiringan diatas 25%. namun sekitar 66. 1.84%. tetapi mengintensipkan pengembangan hutan tanaman baik Hutan Tanaman Industri (HTI) maupun Hutan Tanaman untuk tujuan Rehabilitasi Lahan Kritis (RHL) atau tujuan perlindungan lainnya. Di Provinsi Papua Barat sendiri telah dikeluarkan 29 unit HPH yang meliputi hutan seluas 4.65%). khususnya areal hutan produksi konversi persebarannya tidak merata di setiap kabupaten/kota. hutan produksi terbatas. dan hutan produksi konversi. maka pengembangan kehutanan kedepan tidak lagi hanya mengharapkan eksploitasi hutan alam.90% dari luas hutan produksi (6.063 Ha (43. terdiri atas hutan produksi tetap.10%) masih merupakan kawasan hutan produksi yang belum terbebani hak.250.2.97 Ha. Berdasarkan proporsi tersebut.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Fungsi hutan produksi menempati proporsi tertinggi (62. kawasan hutan di Papua Barat memiliki slopes yang bervariasi dari datar sampai sangat curam.069. Kanwil Kehutanan Irian Jaya (2001). Oleh karenanya dalam rencana pengembangan wilayah pembangunan di setiap kabupaten/kota perlu mempertimbangkan proporsi kawasan hutan untuk perlindungan ini. karena dengan pemekaran wilayah di Papua Barat. persebaran di setiap kabupaten/kota tentunya akan bervariasi.181. merupakan lahan-lahan pemukiman dan lahan budidaya. Selain itu. secara fisiografi. Kawasan hutan produksi. Proporsi tersebut perlu dipertimbangkan kembali. Hutan lindung dan hutan konservasi sebagai zona penyangga menempati luasan sebesar 34. diberikan Hak Pengusahaan Hutan dan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu kepada perusahaan dibidang terkait.2 Hak Pengusahaan Hutan (HPH) tata ruang wilayah pembangunan Provinsi Papua Barat dengan tetap memperhatikan karakeristik dan potensi Dalam pengusahaan dan pemanfaatan hutan. nampak bahwa kawasan hutan untuk tujuan perlindungan masih berada di atas persentase yang disyaratkan.654.51% dari luas kawasan hutan. Kawasan hutan ini perlu dipertahankan keutuhannya untuk jangka panjang.

396. Henrison Iriana (83.378 713.585. Tabel 1.994. Teluk Bintuni 1) Luas Hutan 2.930 791.332 14.620.601.003.366 4.630.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 produksi lebih dari 6.000 m3 dan industri di bawah sedang yaitu produksi dibawah 6.726. Sedikitnya terdapat 3 perusahaan berskala besar dan 15 perusahaan sedang yang bergerak dalam sektor kehutanan ini.220.921 Luas H. Pada tahun 2005 terdapat 23 HPH Aktif dengan RKT seluas 66.837 1.43 390.00 35. Artika Optima Inti Unit VI (57.391. Dan realisasi volume hanya sebesar 21.450 51.946 896.419 650.23 Kab.764.843 Realisasi RKT Luas (Ha) Volume 6.164.41 1.762 541.7% dari rata-rata rencana produksi per tahun.225.34 Ha.89 56. Termasuk areal PT.425.20 78.570.264.33 72.858 267.494 215.391.03 89.00 Kab.480.70 Ha.800 4.000 m3.721 173.570.25 Kab. Pada tahun 2006 terdapat 22 HPH Aktif dengan RKT seluas 65.28 22.570.076.146.53 28.537. Sorong Selatan 2) 1.620.004 Areal HPH 1.33 Total 11.719.836.010 311. Tidak termasuk areal konsesi PT.193.580.61 Ha.092.81 2.943 78.48 319.800 1.653 28.680 323.231. Sorong 1. Mitra Pembangunan Global seluas 98.570.225.007.60 61.187 11.23 Kawasan Hutan Produksi yang Telah Dibebani HPH/IUPHHK (Aktif+Dicabut) No.242. Fakfak 1.248 93.138.24 Kab. Prod 1.50 84.67 74.600 4.843.25 ha) dan PT.800 4.269.076 4.477 984.758.287.657 390.00 37. Teluk Wondama 610.458.493 6.36 1.49 Kota Sorong 41.00 390.300 1.960. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Kab.274. Perkembangan HPH tiap tahun menurun.000 609.620.431 1.03 9.083. Manokwari 1) 1.371.500 691.799.620.500 ha LAPORAN AKHIR 1-52 .13 66.617.657 2.998 922.636. Sedangkan pada tahun 2007 terdapat 20 HPH Aktif dengan RKT seluas 47.880.500 4.800 2.420. Raja Ampat 686.30 1.620.906 31.03 Kab.225 1.340 6.263.00 56.06 %HPH/HP 90.151 323.40 148.657 390.199.47 23. Namun Rata-rata realisasi RKT sebesar 32.665 955.843 2.07 8.300.426.00 10.392 599.434 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tabel 1.55 Kab.63 10.199. Kaimana 1.843 2.92 472.7% dari Rencana Luas RKT sepanjang Tahun 2000-2005.99 ha) 2.86 11.220.00 138.55 1.066 340.783 20.564.140 85.13 61.192 91.326.800 Target Tahunan Maksimum Luas (Ha) Volume 298.20 50.472 1.65 Kab.00 63.22 Daftar Kepemilikan SK IUPHHK dan RKT Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2004-2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 2004 SK IUPHHK (Ha) 311.832.951.657 49.360.803.726 6.051.920 202.910.

60 80.43 1.28 55.56 97. WANA KAYU HASILINDO PT. 11 HPH Kayu. Di Kabupaten Sorong Selatan.700 333.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dari Tabel 1.700 333. AGODA RIMBA IRIAN PT.012.000 51.820 139.000 84. BANGUN KAYU IRIAN PT. ARTIKA OPTIMA INTI N Unit VI PT.83 15.352.28 131.64 36. Raja Ampat Kota Sorong NAMA HPH/IUPHHK PT.00 139. yang 1 HPH Kayu juga telah dicabut.698.010.08 21.897. MULTI WAHANA WIJAYA PT.000 97. DHARMA MUKTI PERSADA Kab Teluk Wondama Kab Teluk Bintuni PT.68 37.41% hutan produksi di Provinsi Papua merupakan Areal HPH.000 119.492. HASRAT WIRA MANDIRI PT. 2 HPH Kayu telah dicabut yaitu milik PT Artika Optima Intin dan PT Henrinson Iriana.000 397/MenhutII/06 448/Kpts-II/88 279/Kpts-IV/88 547/Kpts-II/97 744/Kpts-II/90 759/Kpts-II/89 373.820.40 9. INTIMPURA TBR.000 SK HPH 81/Kpts-II/94 69/Kpts-II/89 01/Kpts-II/93 81/Kpts-II/94 735/Kpts-II/1993 69/Kpts-II/89 55/Menhut-II/06 534/Kpts-II/91 01/Kpts-II/93 735/Kpts-II/1993 69/Kpts-II/89 1142/Kpts-II/92 LUAS_SK 51.862.000 98. SAGINDO LESTARI UNIT II PT. Megapura Mambramo Bangun PT. BANGUN KAYU IRIAN PT. Di Kabupaten Teluk Bintuni terdapat 14 HPH yang terdiri dari 2 HPH Sagu.57 66.28 12. PT. BINTUNI UTAMA MURNI W. HENRISON IRIANA PT.07 6.600 119. Mancaraya Agro Mandiri Kab Sorong PT. WANA GALANG UTAMA PT. WAPOGA MUTIARA TIMBER PT.303.533.28 2.25% untuk pengusahaan hutan.600 333. PT. Sedang di Kabupaten Kaimana. Jenis HPH yang dipegang oleh perusahaan cukup bervariasi.000 299.000 299.32 286.264.729.09 108. Tabel 1. INTIMPURA TBR.502.000 01/Kpts-II/93 299.06 64.66 30.24 Direktori Perusahaan Pemerima HPH Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Kabupaten Kab. SAGINDO LESTARI UNIT I PT. Teluk Wondama dan Manokawri sebanyak 20 HPH berupa HPH Kayu diantaranya 3 HPH kayu telah dicabut. INDT. CO. pemegang HPH Kayu sebanyak 4 unit dan HPH sagu sebanyak 2 unit.745.118. HANURATA UNIT I PT. 174/Kpts-IV/88 137.100. CO. KALTIM HUTAMA PT.15 92.242.149.000 155.000 464/Kpts-II/92 212.61 270. HANURATA UNIT I PT. Namun dari 14 HPH tersebut. HASRAT WIRA MANDIRI PT.343.000 133. ARTIKA OPTIMA INTI N UNIT VI Kab Sorong Selatan PT.42 3.000 178.000 DIGITASI LUAS (HA) 14.183.53 26. CO.58 LAPORAN AKHIR 1-53 .23 di atas dapat dilihat bahwa sekitar 74.531.650. BANGUN KAYU IRIAN PT. Sedang di Kabupaten Fak-Fak terdapat 6 HPH kayu dan 1 HPPH Mangrove.00 123. 1 HPH Mangrove.683. INTIMPURA TBR.504. Kabupaten Teluk Bintuni memiliki luas produksi terbesar dan dimanfaatkan 90. PT.800 155.

59 68.800 150.219.165.733.30 152.368.000 156.000 150. INDT.000 95.000 Kab Kaimana PT.57 14. Tabel 1.240 373.000 212.000 319.236.13 Kabupaten NAMA HPH/IUPHHK PT. HENRISON IRIANA PT. SAGINDO LESTARI UNIT II PT.68 76.406. WUKIRASARI PT AGODA RIMBA IRIAN PT.07 Jumlah Produksi 42.078.000 156.00 376.436.997.780.000 155. PT.000 153.966.000 300.2 101. ARFAK INDRA PT.24 6. PT.670 319. KALTIM HUTAMA PT.08 19.23 82.26 87. DHARMA MUKTI PERSADA PT.540 155. BINTUNI UTAMA MURNI W.823.000 84.25 3.27 95. WUKIRASARI PT.11 127.30 15. PRABU ALASKA 48 Tahun 2002 651/Kpts-II/92 1142/Kpts-II/92 83.249. HANURATA UNIT II PT.461.11 89.000 153.426.39 82. HANURATA COY UNIT III PT.689. SAGINDO LESTARI UNIT I PT.49 72.600 239.670 174.861.000 133.000 98. HANURATA COY UNIT III PT.98 62.388. TELUK BINTUNI MINA AGRO K.000 170. TELUK BINTUNI MINA AGRO K.733.967.600 239.35 12.233.643.000 182.200. BUDI NYATA PT.631.91 187.921. Manokwari Mandiri Lestari PT. HANURATA UNIT II PT. IRMASULINDO UNIT II PT.90 10. WAPOGA MUTIARA TIMBER PT.000 76.25 Perkembangan Luas Penebangan Hutan Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Luas Penebangan 2. ARTIKA OPTIMA INTI UNIT II PT.6 1.332.000 137.728.186.12 72.240.79 98.65 12.764.786.97 83.300 209. CENTRICO PT.08 222. WANA IRIAN PERKASA PT.240.703.65 182.58 38.99 393/Kpts-II/92 464/Kpts-II/92 936/Kpts-II/92 744/Kpts-II/90 396/Kpts-II/90 811/Kpts-II/91 678/Kpts-II/89 379/Kpts-IV/87 154/Kpts-II/93 448/Kpts-II/88 81/Kpts-II/94 81/Kpts-II/94 08/Kpts-II/2001 279/Kpts-IV/88 180/Kpts-II/91 393/Kpts-II/92 547/Kpts-II/97 396/Kpts-II/90 759/Kpts-II/89 553/Kpts-II/89 174/Kpts-IV/88 81/Kpts-II/94 81/Kpts-II/94 180/Kpts-II/91 393/Kpts-II/92 239.300 209.236. WANA KAYU HASILINDO PT. RIMBAKAYU ARTHA MAS PT.70 60.263.186.04 80. PT.821.61 9. YOTEFA SARANA TIMBER PT.41 59. TELUK BINTUNI MINA AGRO K.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 SK HPH LUAS_SK DIGITASI LUAS (HA) 68. WANA GALANG UTAMA PT.900 178.786. PRABU ALASKA PT.98 LAPORAN AKHIR 1-54 .72 182.

866.446.18 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009.29 Kota Sorong Papua Barat 2007 14. hasil perhitungan Kegiatan pemanfaatan hutan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan.21 Luas Produksi Kayu (m3) Oleh Pemegang HPH di Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 120000 100000 80000 60000 40000 20000 0 Fak-Fak Kaimana Teluk Bintuni Sorong Raja Ampat LAPORAN AKHIR 1-55 .040.040.13 207. Luasnya lahan penebangan di Teluk Bintuni membuat kabupaten ini juga memiliki produksi kayu terbesar yaitu mencapai 101.263.65 2003 17.65 2005 14.135.866.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Raja Ampat 940 9.20 Luas Penebangan Hutan (Ha) Oleh Pemegang HPH di Papua Barat Tahun 2008 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 Fak-Fak Kaimana Teluk Bintuni Sorong Raja Ampat Gambar 1.13 207.040.866. Teluk Bintuni memiliki jumlah lahan terluas untuk penebangan yang dilakukan oleh perusaahan HPH yaitu seluas 6.66 249.733.6 m³.156.65 2004 14.13 207. Gambar 1.07 hektar.

di mana lingkungan marine cukup banyak kehidupan mikro organik yang terakumulasi menjadi cadangan hidrokarbon. Keuntungannya adalah dengan terjadinya penerobosan batuan beku dengan komposisi sedang ke dalam batuan sedimen di atasnya. Posisi tektonik Papua yang berada di Lingkar Pasifik. krom. kandungan timahnya berkisar antara 345-685 Deposit mineral belumdiketahui dan sampai saat ini potensi belum dimanfaatkan Deposit mineral belumdiketahui dan belum dieksplorasi 13.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. telah diketahui sepanjang jalur tersebut dari Amerika Selatan. Tabel 1. kobal. di daerah tersebut cukup potensial untuk diadakan eksplorasi minyak dan gas bumi. Keuntungan-keuntungan lainnya. mengingat keberhasilan Negara Papua New Guinea telah menemukan cekungancekungan minyak dan gas bumi yang cukup potensial. yaitu adanya cadangan batubara. Konsentrasi mineral-mineral logam diperkirakan terdapat pada Lajur Pegunungan Tengah Papua.26 Potensi Mineral Logam dan Non Logam bagi daerah-daerah yang potensial di Provinsi Papua Barat.3 Kawasan Pertambangan Pulau Papua yang diketahui terbentuk sejak jutaan tahun yang lalu sebagai hasil benturan Lempeng Benua Australia (Australia Plate) yang bergerak ke Utara dengan Lempeng Pasifik (Pacific Crustal Plate) yang bergerak ke arah Barat. Contohnya di daerah Kepala Burung. Akibat tektonik di Pulau Papua juga memungkinkan terbentuk cekungan dengan sedimensedimen yang cukup tebal dalam kondisi lingkungan laut. yang berupa cincin gunung api memberikan potensi endapan mineral yang besar. Papua New Guinea sampai ke Selandia Baru telah ditemukan banyak endapan emas dan tembaga kelas dunia. nikel. memungkinkan terbentuknya mineralisasi logam yang berasosiasi dengan perak dan emas. dan uranium. Untuk data potensi mineral logam maupun non logam dapat dilihat pada Tabel 1.2. Akibat benturan antara lempeng tersebut di atas menimbulkan keuntungan dan kerugian.26 Potensi Mineral Logam dan Non Logam di Provinsi Papua Barat Kabupaten/ Kota Manokwari Potensi Tambang Timah Distrik Distrik Ambarbaken sepanjang Sungai Waturi dan Sungai Warsomi Distrik Anggi Kampung Sutera Distrik Ambarbaken kampung Sutera Kampung Bomas dan Danau Anggi Giji Distrik Ambarbaken Terdapat merata di semua distrik dan melimpah Volume Cadangan Deposit mineral belumdiketahui. Philipina.92 Miliyar Ton Senk dan Tembaga Emas Batu Gamping LAPORAN AKHIR 1-56 . Tidak tertutup kemungkinan daerah-daerah lain seperti sampai saat ini masih terus dilakukan eksplorasi baik di daratan maupun lepas pantai.

38 metric ton. A12O3-12.28 Juta metric ton. MgO rata-rata 1. dan Berau. Batu Pasir. nisprematik sebesar 31.27 % kadar abu 2. Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Selatan (Pulau Wageo dan Gag). Genis Kuarsa sebesar 91.95 miliyar metric ton Volume cadadangan terbesar adalah gas alam sebesar 14. Gunung Nuasa. Muturi. Distrik Anggi. jenis kuarsa sebesar 91.29-1.39 metric ton.50 juta metric ton.4% Diorit Granit Teluk Bintuni Minyak dan Gas Bumi Batu Bara Mika Raja Ampat Cobalt Tembaga Nikel Mangan Batu bara Fosfat dan Opal Mika Batu Gamping Biji Besi Distrik Warmare di sekitar Kampung Wagesi. bahan galian adalah batu bara.6% . dan Distrik Kebar Tersebar di Distrik Kebar Kampung Atay Selatan Kandungan lempung terdiri dari Sio rata-rata 55%. dan Genis Pragmatic sebesar 31.84 % pausri gelas kaca Volume cadangan 26.15.21 juta metric ton dan jenis peckmatik sebesar 11. dan batu Gamping Kandungan mika 150. Waisian.855 juta ton m3 dan 12. Sungai Maryam Mogoi.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Volume Cadangan Kabupaten/ Kota Potensi Tambang Lempung Distrik penyebarannya Tersebar merata di Distrik Manokwari Pasir Batu Granit Pasir Kuarsa Distrik Manokwari an Distrik Warmare Distrik Ransiki. jenis kuarsa sebesar 61.4% Volume cadangan sebesar 1. Distrik Wageo Selatan Pulau Wageo dan Gag Distrik Wageo Selatan.13 m3 Volume cadangan sebesar 96.83 miliyar metric ton Volume cadangan 137. terdiri dari Genis Maskovit sebesar 15. 1 metric ton.31 juta metric ton. Distrik Ambarbaken.5 mt berdasarkan penelitian SiO2 – rata-rata 77. Pulau Wageo dan Gag. Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Wageo Utara dan Distrik Samate Distrik Misol Distrik Wasior Tersebar di Distrik Wasior dan Wendesi Distrik Wasior Teluk Wondama Cadangan deposit sebesar 90.5 metric ton Volume cadangan hipotetik batu bara 0.28 juta metric ton. A12O3 – Ratarata13.1 juta metric ton tersiri dari Genis Maskovit sebesar 19. Selain gas dan minyak bumi. yang terdiri dari jenis Moskovit sebesar 17.50 juta metric ton LAPORAN AKHIR 1-57 .65% Fe2O3 rata-rata 0.27 dan Fe203 rata-rata 10.3%.11 juta metric ton.3 TCF Cadangan mika sebesar 150. Batu Lumpur.

500 Ha dan jumlah cadangan +2.850 juta m3 Sebaran Volume 457. jumlah cadangan + 864 juta m3 Dengan kadar 3. Kokas. dan Fakfak Barat Menyebar di distrik Kokas. teluk Berau Buruway. Fakfak Timur. Aifat Timur. dan Klamono Distrik Salawati Distrik Sausapor Bomberai.  Di Kabupaten Manokwari.000 m2 Minyak Gas Lempung dan Sebaran 1. Bahan Galian Strategis. Sawiat. Berikut di bawah ini contoh endapan mineral yang ada di Provinsi Papua Barat. dan Mare Distrik Aifat dab Aifat Timur Distrik Sawiat. Ayamaru Utara.282. dan Kokas Menyebar di distrik Kokas.500 ha dengan ketebalan rata-rata 6 meter sehingga perkiraan cadangan adalah 90 juta m3 Luas 142. Sungai Waturi dan Sungai Warsayomi dan LAPORAN AKHIR 1-58 .000 m2 dengan kadar 0.500 Ha Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Menyebar di Distrik (Bandara Torea) Fakfak Fakfak Fakfak Fakfak Volume cadangan sebesar 1. dan Fak Fak Timur Distrik Teluk Etna.680. baik yang ekonomis maupun tidak.1 gr/ton Dengan kadar 16. Teluk Arguni. Inanwatan Distrik Kais.050 gr/ton hasil analisis laboratorium P3G Bandung Dengan kadar + 26.2 gr/ton Dengan kadar 47. Ayata. Timah terdapat di Distrik Amberbaken sepanjang Sungai Wapai. dan Mare Distrik Sausapor Distrik Sausapor dan Sawiat Distrik Sausapor Distrik Salawati.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Volume Cadangan Kabupaten/ Kota Sorong Selatan Potensi Tambang Minyak Bumi dan gas Batu Gamping Emas Fosfat Zink Marmer dan Bahan Baku Semen Tembaga Emas Tanah Hitam Batu Bara Koramit Biji Besi Pasir Kuarsa Distrik Distrik Kais.2 gr/ton Sumber: Peluang Bisnis dan Investasi Provinsi Papua Selain itu juga ditemukan beberapa macam endapan logam dan bukan logam.500 m2 Perak Tembaga Timbal Senk Jumlah cadangan kurang lebih 450 juta m3 dan Distrik Bomberai dengan luasan 12 Ha. buruway. Ayamaru Utara Distrik Aifat Timur Distrik Ayamaru. kampung Tawar dengan luas 4. Ayamaru. Ubadari.8 gr/ton Dengan kadar 15. Ayamaru Utara. Distrik Kokas Kabupaten Sorong Fak Fak Batu Gamping Batu Bara Emas Distrik Kokas pada Pegunungan Onin Distrik Teluk Etna.

92 milyar ton.  Kabupaten Teluk Bintuni memiliki ladang minyak terbesar di Papua.95 milyar metric ton. Tersebar di Distrik Warmare. Ada 5 (Lima) daerah di Kabupaten Teluk Bintuni yang terdapat banyak ladang gas alam yang menghasilkan minyak.rata-rata 0. Volume cadangan bahan galian ini sebesar 26. dan Danau Anggi Giji. Bomas. terdiri dari Si02 .76 %.35 milyar ton. batubara. Merdey. yaitu.05 juta ton. Muturi dan Berau. Kawasan Teluk Bintuni kaya akan minyak bumi dan gas alam.7 trilyun kaki kubik. Indonesia dengan Proyek "LNG Tangguh".rata-rata 77.5 juta metrik ton. lapangan gas di Kawasan Teluk Bintuni telah dieksploitasi oleh perusahaan multinasional BP. A1203 . Batuan ini dapat digunakan sebagai bahan bangunan.83 milyar ton.rata-rata 13.6 %.84 %. Aranday dan Babo. namun saat ini lapangan minyak tersebut telah dieksploitasi kembali. Daerah Mogoi. Pabrik pengolahan LNG akan beroperasi di daerah Saengga. Kandungan Timah berkisar 345-685 ton. antara lain. Cadangan batu gamping di Kabupaten Manokwari sangat melimpah. Patrindo. Daerah Mogoi dan Wasian telah diketahui kandungan minyaknya sejak Tahun 1952-1960 oleh NNGP Belanda. Diorit. Saat ini. Penyebarannya hampir merata di tiap distrik. Kandungan Pasir Kuarsa tersebut berdasarkan hasil penelitian. Gunung Nuasa. di sekitar Kampung Wasegi. Distrik Warmare dengan volume cadangan 2. kaca. British Gas. dan Distrik Oransbari dengan volume cadangan 2. jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainya di Papua. Emas terdapat di Distrik Amberbaken. Pasir Kuarsa. baik penanaman modal asing maupun nasional.rata-rata 0. Cadangan Granit tersebar di Distrik Ransiki dengan volume cadangan sebesar 96. Tanah Merah. Bahan Galian C. lapangan minyak yang ada terbengkalai untuk beberapa waktu lamanya. Sungai Maryam.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Distrik Anggi di Kampung Sutera. Wasian. Volume cadangan kedua distrik ini belum diteliti. Conoco Arco.5 milyar ton. Minyak bumi pemah dieksploitasi pada masa pemerintahan Belanda. Bahan Galian Strategis meliputi. Setelah penyerahan Papua ke Indonesia. kawasan ini juga memiliki kandungan gas bumi sebesar 13 trilyun kaki kubik dengan volume cadangan sebesar 23. dan timah. Sedangkan untuk ladang Wer (Tahun LAPORAN AKHIR 1-59 . Distrik Ransiki dengan volume cadangan 18. Distrik Anggi. Distrik Babo. Ca03 . Perusahaan yang sudah menanamkan modal. minyak dan gas alam cair.  Kabupaten Teluk Bintuni. di sekitar Kampung Atay Selatan dengan volume cadangan sebesar 137. Distrik Anggi merupakan lanjutan dari Distrik Ransiki dan Amberbaken merupakan lanjutan dari Distrik Kebar. dll. Potensi minyak bumi di Kawasan Teluk Bintuni tersebar di Distrik Bintuni. Distrik Manokwari dengan volume cadangan 13. dll. Paustri gelas. dengan hasilnya sekitar 7 juta barrel minyak mentah. Selain minyak.65 %. Seng dan Tembaga. Tersebar di Distrik Kebar. Batugamping. Bahan galian Vital. Weriagar. Sedangkan minyak bumi dengan volume cadangan sebesar 45 juta ton metric terletak di Kampung Homa.83 milyar metrik ton. Fe203 . dengan volume cadangan sebesar 136.

97.8 %. Uji laboratorium yang dilakukan di PPP Tekmira Bandung terhadap 3 contoh pasir kuarsa dari daerah Bomberay. dan disebut juga batuan karbonat. Emas di Distrik Aifat Timur.49. Ayamaru. Potensi daerah ini meliputi.51.935 kalori/kg. Batugamping adalah jenis k sedimen klastik atau non klastik yang disusun oleh 90% karbonat. Batugamping di Distrik Kais. batulumpur. Aifat Timur.5. di Sungai Thistoku dekat Kampung Horna. Ayamaru dan Mare.000 ton. Potensi Pasir Kuarsa (Quartzsand). dengan ketebalan rata-rata 6 meter. karbon tertambat 44.1 . perusahaan ARCO. batupasir.500. salah satu perusahaan swasta asal Inggris. Sawiat.000 liter per hari.  Kabupaten Raja Ampat.202. pasir kuarsa mencapai luas 1. 4 %. Kadar Belerang 0. yaitu. Inanwatan.000 Berdasarkan hasil analisis proksimat dari 10 contoh batubara oleh Direktorat Sumberdaya Mineral Bandung diperoleh kualitas dengan kisaran angka 5.  Kabupaten Sorong Selatan.000 m3.50. zat terbang 40.000 BOPD atau sf 795. silika yang cukup tinggi.1 . minyak bumi dan gas tersebar di Distrik Kais.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1990). sekitar 4.645%. 0. Di daerah Bomberay. Distrik Kokas. menemukan ladang gas alam terbesar di Weriagar. Batubara.27 %.9 km2. Tahun 1990-1995. Di Kabupaten ini ditemukan potensi logam kobal di Distrik Waigeo Selatan. LAPORAN AKHIR 1-60 . batugamping dan endapan sirtu 84. batulempung dan batulumpur seluas 768.32%. terdapat kandungan minyak mentah sebesar 5. 0. Mangan.11.1.3 . 97.48%.3 %. Data menunjukan bahwa kadar .6 km2. Menyebar di Distrik Kokas pada Daerah Pegunungan Onin.500 ha clan jumlah cadangan 2. Kadar Abu 2.20%. 97. dekat Kampung Beimes sekitar 20.850 juta m3 (Hasil Survei LPMITB).000.3 .500 ha. kelembaban tertambat 1.40%. Bahan galian lain yang ditemukan di Kabupaten Teluk Bintuni dan sekitarnya adalah batubara.820 – 7. Marmer dan Bahan Baku Semen di Distrik Sawiat. Cadangan hipotetik batubara di Sungai Thikoku. sehingga perkiraan cadangannya adalah 90 juta m3.10%. kesemuanya bersumber dari cekungan berproduksi Bintuni.  Kabupaten Fak Fak. 0. Goras dan I pulau di sekitar Kokas dengan luasan 142. Batugamping.8 kelembaban 3 -16 % dan HGI 40 .29 . Luas penyebaran batupasir kurang lebih 307. Tembaga di Waigeo Selatan Nikel di Distrik Waigeo Utara dan Samate. batugamping dan endapan sirtu. dengan kadar besi. Fosfat dan Opal di Distrik Misool.

22 Peta Sebaran Kawasan Pertambangan LAPORAN AKHIR 1-61 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

Cagar Alam Sidei Wibain 15.00 1.875. Cagar Alam Pulau Salawati Utara 2.00 111.27 Kawasan Konservasi yang Telah Ditetapkan di Provinsi Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 No.749.00 15. Nama Kawasan 1.001. Cagar Alam Wagura Kote 14.00 265.300.000. Raja Ampat Kab. Manokwari Kab. Tambrauw Kab.00 68. Cagar Alam Pulau Pegunungan Wondiboy 8.00 500. Taman Nasional Laut Tl Cendrawasih 20. Taman Wisata Alam Gunung Meja 17. Tambrauw Kab. Sorong Kab. Manokwari Kab.00 60. Cagar Alam Tambrauw Selatan 25. Raja Ampat Kab.193.00 5.660 945. Suaka Margasatwa Sabuda Tuturuga 11.4 Kawasan Konservasi Kawasan hutan yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi seluas 3. Raja Ampat Kab. Taman Wisata Alam Bariat 21.00 100.00 90.73 Ha.00 247. Bintuni Kab.00 191.909. Lokasi dan luas kawasan konservasi di Provinsi Papua Barat ditampilkan dalam Tabel 1. Manokwari Kab. Manokwari Kab.500.150. Taman Wisata Alam Klamono 22.00 188.00 170.00 62.000.00 73. Cagar Alam Tambrauw Utara 24. Manokwari Kab.000. Raja Ampat Kab. Suaka Margasatwa Laut Kepulauan Raja Ampat 7. taman wisata. Taman Wisata Sungai Sausiran 18. Cagar Alam Pegunungan Arfak 13. Tl Wondama Kab.00 1. Cagar Alam Pantai WekweKwoor 16.2.453. Cagar Alam Pegunungan Kumawa 9.350.022. Kawasan konservasi yang telah ditetapkan di Provinsi Papua Barat terbagi ke dalam empat kawasan yaitu kawasan cagar alam.000.000.000.500. Cagar Alam Pulau Misool Selatan 4.325. Taman Wisata Alam Moraid 23.411.720. Cagar Alam Pulau Batanta Barat 3. Cagar Alam Pegunungan Fak-Fak 10.27 berikut.37 9. dan taman nasional. Sorong Selatan Kab. Raja Ampat Kab. Raja Ampat Kab.00 300.00 119. Kaimana Kab. Kawasan konservasi tersebut tersebar di 26 lokasi dengan katagori kawasan dan luasan yang berbeda.90 Lokasi Kab. Fak-Fak Kab.000. suaka margasatwa.27 16. Cagar Alam Teluk Bintuni 12. Sorong Kab.53 1. Manokwari Kab.00 9.478. Manokwari Kab. Tabel 1. Cagar Alam Pulau Waigeo Timur 6. Cagar Alam Pantai Sausapor 26.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Taman Wisata Alam Sorong Sumber: Provinsi Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Luas (Ha) 58. Suaka Margasatwa Mubrani-Kaironi 19.00 153. Fak-Fak Kab. Cagar Alam Pulau Waigeo Barat 5. Manokwari Kab. Tambrauw Kota Sorong LAPORAN AKHIR 1-62 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.23 Peta Sebaran Cagar Alam LAPORAN AKHIR 1-63 .

lahan di wilayah Provinsi Papua Barat yang dipergunakan sebagai pemukiman sebagian besar terletak pada lahan-lahan di Wilayah Pengembangan Sorong. maka luas pemukiman di Provinsi Papua Barat mengambil sekitar 24% dari keseluruhan lahan pemukiman.2.307 WP SORONG 59. Kota Sorong memang merupakan kota yang paling menonjol di Provinsi Papua Barat dalam hal aktivitas perkotaan.47 persen. Kota ini merupakan gerbang bagi Provinsi Papua Barat menjadikan kegiatan jasa dan perdagangan dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat kekotaan terkonsentrasi di wilayah ini.015 hektar atau sekitar 10.28 Luas Lahan Permukiman di Provinsi Papua Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2003 (Ha) Wilayah Pengembangan WP MANOKWARI Kabupaten/Kota Kabupaten Manokwari Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Teluk Wondama Kota Sorong Kabupaten Sorong Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Fakfak Kabupaten Kaimana 2003 2002 Kampung Perumahan 41. Manokwari dan Kota Sorong merupakan wilayahwilayah yang memiliki fungsi guna lahan kampung/perumahan yang tertinggi.64 581 747. Jika dibandingkan dengan luas pemukiman di seluruh Papua.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Penggunaan lahan untuk fungsi kampung/perumahan di Kota Sorong mencapai lebih dari 50 persen dibandingkan dengan luasan totalnya.403 499 956.211. Manokwari adalah kabupaten yang menjadi ibukota dari Provinsi Papua Barat. Wilayahwilayah tersebut selama ini memang telah tumbuh menjadi sentra-sentra kegiatan perkotaan di Provinsi Papua Barat terutama untuk Kota Sorong. Kabupaten Sorong. Luas lahan pemukiman yang berupa kampung atau perumahan di Wilayah Pengembangan Sorong merupakan 49% dari seluruh luas lahan pemukiman di Provinsi Papua Barat. Sementara itu.42 Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2006 Sampai dengan tahun 2005.5 Areal Terbangun dan Pusat-pusat Permukiman Fungsi guna lahan sebagai daerah kampung/perumahan sebesar 117.64 WP FAKFAK PROVINSI PAPUA BARAT PROVINSI PAPUA BARAT 20. Wilayah Pengembangan Fakfak memiliki luas pemukiman yang paling sedikit di antara wilayah pengembangan yang lain.884 121. Tabel 1. LAPORAN AKHIR 1-64 .

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.24 Peta Sebaran Kawasan Lindung dan Budidaya LAPORAN AKHIR 1-65 .

25 Peta Sebaran Kawasan Lindung LAPORAN AKHIR 1-66 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

26 Peta Pengembangan Kawasan Kehutanan LAPORAN AKHIR 1-67 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. Sedangkan penduduk di Provinsi Papua Barat.68 % dari jumlah total penduduk di Provinsi Papua Barat. tentunya memiliki berbagai jenis layanan yang memadai.50 km2 dan total penduduk sebanyak 729. fungsi wilayah eksisting tentu masih berkaitan dengan fungsi wilayah sebelum Propinsi Papua Barat terbentuk. Jumlah penduduk terbesar terdapat di Kabupaten Manokwari yaitu sebanyak 172. Kota Sorong juga merupakan pusat kegiatan jasa dan perdagangan.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Provinsi Papua Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia Timur dengan luas wilayah 115. Sehingga dalam menjalankan fungsinya sebagai ibukota. Di sekitar Kota Sorong banyak terdapat kegiatan pertambangan di mana pengolahan dan perdagangannya terkonsentrasi di Kota Sorong. maka kepadatan penduduk yang diuraikan ini adalah kepadatan bruto. Sebagai wilayah otonomi baru. Wilayah yang juga tergolong wilayah dengan tingkat layanan tinggi di Papua Barat adalah Manokwari.363. netto dan kepadatan agraris. Sebagai sebuah propinsi yang baru terbentuk. fungsi-fungsi layanan yang semestinya ada kemungkinan besar belum berdiri.962 jiwa pada tahun 2006 yang tersebar secara tidak merata di kesembilan kabupaten/kota.4.885 jiwa atau 23. Manokwari merupakan ibukota dari Papua Barat. Dalam hal ini. Kepadatan bruto penduduk di Provinsi Papua jumlah penduduk paling rendah terdapat di Kabupaten Teluk Wondama. Kondisi ini telah ada sejak jaman pendudukan Belanda. fungsi wilayah merupakan indikator tingkat pelayanan wilayah yang menunjukkan seberapa besar peran suatu wilayah dalam mengikat wilayah sekitarnya.17% dari jumlah LAPORAN AKHIR 1-68 . yaitu 23. Kepadatan dapat dilihat dari beberapa pendekatan yaitu kepadatan bruto. Wilayah yang termasuk ke dalam kategori rendah adalah kabupaten-kabupaten baru hasil dari pemekaran wilayah.3 STRUKTUR TATA RUANG EKSISTING Struktur tata ruang eksisting di Propinsi Papua Barat meliputi sistem perkotaan dalam lingkup kabupaten dan sistem jaringan prasarana yang dalam hal ini adalah jaringan jalan. Fungsi wilayah yang dimaksud adalah merupakan pusat kegiatan suatu wilayah yang menjadi barometer perkembangan sebuah wilayah. 1. Hal ini juga terlihat dari transportasi eksisting dimana Kota Sorong memiliki simpul transportasi yang sangat strategis. Karena tidak adanya data lahan terbangun. Kota Sorong merupakan simpul kegiatan khususnya yang ada di Papua Barat.140 jiwa atau hanya 3. Selain sebagai gerbang tranportasi Papua Barat.4 ASPEK SOSIAL KEPENDUDUKAN 1. Dalam lingkup sistem perkotaan.

2 Komposisi Penduduk Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin LAPORAN AKHIR 1-69 . Kota ini hanya memiliki luasan tak lebih dari 1. Selain itu. Kondisi geografis beberapa wilayah kabupaten didominasi oleh karakter kelerengan 8% sehingga mempengaruhi terbentuknya pola permukiman penduduk. yaitu 153 jiwa/ km2.00 18 500.62 18 637.4. Karakter pola pemukiman loncat katak.50 104 919. Wilayah yang sedang mengalami perkembangan tentunya akan memiliki konsentrasi penduduk yang lebih tinggi.00 25 324. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 2004 Luas Wilayah 14 320. kepadatan penduduk di Provinsi Papua Barat relatif sangat rendah dengan kepadatan berkisar antara 4 – 12 jiwa/km2.11 126 093. dan Kabupaten teluk Wondama yaitu 2 jiwa/km2.105 km2 dan di kota ini terdapat banyak fasilitas sosial perekonomian sehingga di wilayah ini terjadi pemusatan penduduk.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Barat tidak terdistribusi secara merata. Tabel 1. dari kota/kabupaten satu ke kota/kabupaten lainnya. Pada umumnya.00 140 375. Kota Sorong merupakan kota yang memiliki kepadatan penduduk paling tinggi.29 Luas Wilayah.00 12 146.00 14 448. Sedangkan kepadatan penduduk terendah terdapat di Kabupaten Kaimana. 1.50 29 810. Secara umum.00 115 363.62 143 185. konsentrasi penduduk akan lebih tinggi di dataran rendah daripada di dataran tinggi.00 Jumlah Penduduk 66 864 41 973 23 140 54 528 172 855 61 463 98 691 41 170 169 278 729 962 715 999 702 202 651 958 642 472 RT 15 733 9 876 5 445 12 830 40 672 14 462 23 221 9 687 39 830 171 756 168 075 167 609 162 990 156 052 Kepadatan Penduduk Per km2 5 2 2 3 12 2 3 7 153 5 5 6 6 5 Per RT 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Tidak meratanya distribusi penduduk di sebuah wilayah antara lain karena kondisi geografis yang berbeda.50 1 105.00 6 084. faktor ketersediaan fasilitas pelayanan sosial ekonomi juga mempengaruhi sebaran penduduk di suatu wilayah.

Untuk lebih jelas.30 Rasio Jenis Kelamin Provinsi Papua Barat Tahun 2008 dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2007 2006 2005 2004 Jumlah Penduduk Laki-laki 33 507 21 011 11 784 30 682 93 163 31 782 52 570 21 739 86 846 383 084 383 084 379 277 362 672 343 920 Perempuan 33 357 20 962 11 356 23 846 79 692 29 681 46 121 19 431 82 432 346 878 346 878 343 704 339 530 308 038 66 864 41 973 23 140 54 528 172 855 61 463 98 691 41 170 169 278 729 962 729 962 722 981 702 202 651 958 Jumlah Sex Ratio 100.88 105. maka dapat dibedakan bahwa penduduk dengan jenis kelamin laki-laki berjumlah 383.30 berikut ini.35 110.67 116. Walaupun penduduk berjenis kelamin laki-laki lebih banyak. Jika diperinci lebih dalam.77 128.44.90 107.048 jiwa dan perempuan sebanyak 346. Hal ini akan berpengaruh pada angkatan kerja di suatu wilayah serta tingkat ketergantungan penduduk non produktif pada penduduk produktif.98 111. maka terdapat perbedaan antara masing-masing kecamatan. Tabel 1.44 110. Bila diperinci menurut jenis kelamin.35 106.82 111. Sex ratio diatas 100 menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki lebih dominan daripada jenis kelamin perempuan. namun untuk setiap kecamatan jumlah penduduk laki-laki masih lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan. LAPORAN AKHIR 1-70 . Selain itu. namun angka tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.878 jiwa dengan sex ratio sebesar 110. penggambaran penduduk menurut struktur usia juga diperlukan untuk perhitungan penyediaan fasilitas sosial dan ekonomi.45 100.44 110.08 113.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Klasifikasi penduduk menurut jenis kelamin dalam suatu wilayah digunakan untuk mengetahui sex ratio yang dimiliki oleh wilayah tersebut. jumlah penduduk Provinsi Papua Barat berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 1.65 Irian jaya Barat Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Komposisi Penduduk menurut Umur (Struktur Usia Penduduk) Penggambaran penduduk menurut struktur usia berguna untuk mengetahui jumlah penduduk produktif dan penduduk non produktif.23 103.

216 diikuti oleh penduduk usia muda (15-19 tahun) sebesar 78. diketahui bahwa jumlah penduduk dengan usia non produktif adalah sebesar 34. 10-14.799. Tabel 1. 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+ Total 2007 Laki-Laki 42 599 37 389 37 581 41 105 36 087 32 677 30 915 30 685 28 501 23 215 16 894 11 607 7 317 3 218 1 992 1 302 383 084 379 277 Perempuan 40 617 36 410 35 634 37 001 32 164 29 735 31 059 30 924 25 662 19 196 12 815 7 518 4 143 2 111 1 074 815 346 878 343 704 Jumlah 83 216 73 799 73 215 78 106 68 251 62 412 61 974 61 609 54 163 42 411 29 709 19 125 11 460 5 329 3 066 2 117 729 962 722 981 yaitu sebesar 83. kelompok umur 15 – 19 tahun cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok umur lainnya.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Berdasarkan data yang diperoleh tahun 2008. Sementara pada kelompok usia muda dan produktif.55% dan usia produktif sebesar 65. struktur penduduk Provinsi Papua Barat didominasi oleh penduduk usia balita (0-4 tahun) 77.45%.106 dan penduduk usia (5-9 tahun) sebesar Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-71 . Jika diperinci lebih dalam. 31 Komposisi Penduduk menurut Golongan Umur Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Golongan Umur 0-4 5-9. untuk usia produktif kelompok umur antara 0 – 14 tahun lebih banyak dibandingkan kelompok umur 60 – 75+ tahun. Berdasarkan kelompok umur.

275 jiwa atau 30. Dapat dilihat bahwa sampai dengan tahun 2006.32. untuk mencapai jenjang wajib belajar 9 tahun pun dirasakan sulit. sex ratio menunjukkan proporsi laki-laki selalu lebih tinggi dari pada perempuan namun ada satu di mana golongan umur 30-39 proporsi perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Jumlah penduduk dengan tingkat kelulusan pada bangku Sekolah Dasar menggambarkan bahwa tingkat pendidikan penduduk masih cenderung rendah. Masalah yang terjadi adalah kondisi ketenagakerjaan berupa tingkat partisipasi kerja wanita jauh lebih kecil dari pada pria.05% atau sebesar 45. Umur ini merupakan umur produktif di mana manusia menggunakan segala daya dan upaya untuk mengembangkan potensi dirinya. yaitu berjumlah 212. Terbatasnya kondisi ekonomi masyarakat dan LAPORAN AKHIR 1-72 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Bahkan. Sedangkan lulusan paling banyak penduduk lulusan SD. Komposisi Penduduk menurut Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan merupakan indikator kualitas sumber daya manusia di suatu wilayah. Kondisi tingkat pendidikan di Provinsi Papua Barat dapat digambarkan dari Tabel 1.23%.643 jiwa.27 Piramida Penduduk Provinsi papua Barat Tahun 2009 Dalam setiap golongan umur. jumlah penduduk yang tidak pernah atau belum pernah sekolah mencapai 6. Ini satu masalah yang harus dipikirkan untuk mengantisipasi ternjadinya pengangguran perempuan yang demikian banyak.

Raja Ampat. Prosentase tidak pernah mengenyam pendidikan masih sangat tinggi.92 4.26 4. Tabel 1.58 69. di Kabupaten Sorong untuk tingkat SLTP tercatat belum ada sekolah kejuruan (dari data BPS tahun 2005). Kesenjangan ini sangat signifikan apabila dibandingkan dengan kondisi sumber daya manusia di sejumlah provinsi di wilayah Indonesia Barat.57 0. Teluk Bintuni dan Teluk Wondama tidak memiliki sumber daya unggul dalam arti penduduk yang tamat universitas.00 SD/MI 11. Karena luasnya medan atau area lahan Papua Barat dan sulitnya jangkauan letak sekolah dengan tempat penjualan bahanbahan makanan serta barang-barang lain kebutuhan sehari-hari.37 Tidak Bersekolah Lagi 69. dan presentase menikmati dunia pendidikan tingkat atas masih sangat sedikit. Hal ini menjadi masalah secara internal karena kelemahan yang datang dari dalam ini bertemu dengan ancaman dari luar karena realitanya kualitas SDM pendatang memang secara empirik jauh lebih baik dan pendatang yang dalam ini memang datang untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam Provinsi Papua Barat. Bahkan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sarana prasarana pembelajaran baik formal maupun non formal sampai ke daerah terpencil adalah salah satu kendala.82 Masih Sekolah SMU/SMK/ SLTP MA 7.89 0.31 4. 32 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Kabupaten/Kota dan Status Pendidikan Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Tidak/Belum Pernah Sekolah 3.47% dari jumlah total penduduk yang tercatat. Sebagai contoh.14 15.41 10.62 PT 0.77 11. sering kali tidak dapat memperoleh tenaga guru untuk sekolah yang bersangkutan. bekerja pada sektor pertambangan dan perindustrian dan sektor kehutanan. Sumber daya manusia di Kabupaten Teluk Bintuni dan Teluk Wondama juga masih sangat terbatas.41 0. mengenyam pendidikan tinggi di luar wilayah namun lulusan perguruan masih tergolong sedikit yaitu sekitar 2.52 3.27 LAPORAN AKHIR 1-73 .30 65. Pemerintah telah mengusahakan sejumlah upaya untuk memberikan peluang kepada masyarakat untuk belajar ke wilayah Jawa.09 72.80 7.03 4. Salah satu kendala pemerintah dalam upaya pemerintah membangun sektor pendidikan di Papua Barat adalah sulitnya jangkauan di daerah pedalaman yang mengakibatkan sebagian besar penduduknya berpendidikan rendah.35 7.90 11. Jumlah tenaga pengajar yang tercermin dari rasio guru dan murid pun masih sangat kecil. beberapa kabupaten seperti Sorong.52 7.16 6.

63 1.45 68.12%).49 0.99 Tidak Bersekolah Lagi 56.03 SD/MI 11.48 74.15 1.40 4.96 4.82 1.24 15.59 5.62 7.36 2.12%).02 LAPORAN AKHIR 1-74 .70%).36 1.7% diikuti oleh agama Islam (41.47 Katolik 16. lainnya (0.51 7.84 12.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Masih Sekolah SMU/SMK/ SLTP MA 5.58 6. Tabel 1.72 Kabupaten Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 Tidak/Belum Pernah Sekolah 18.83 7.88 68.03 Lainnya 0.27%).18 76.33 Komposisi Penduduk Menurut Agama dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 Kabupaten/Kota Fak-Fak Islam 61.28 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Gambar 1.91 9.24 7.01 Konghucu 0.28 5.09 Budha 0.63 69.89 12.59 1. Katolik (7.50 2.14 3. Terdapat 1.28 Tingkat Pendidikan Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2007 Komposisi Penduduk Menurut Agama Penduduk Provinsi Papua Barat sebagian besar adalah pemeluk agama Kristen yang jumlahnya mencapai 50. Representasi dari banyaknya jumlah penduduk beragama diikuti oleh jumlah dan sebaran fasilitas ibadah yang terdistribusi di 9 kabupaten/kota.46 5. Konghucu (0.01%). Budha (0.18 2.497 gereja Protestan dan 664 masjid di Provinsi Papua Barat.15 PT 2.01 5.63 11.77 Hindu 0.63 Kristen 21.

87 2005 0 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-75 .505 2.513 35.767 6.4.07 0.88 7.012 11.032 13.585 Tahapan Keluarga Sejahtera Prasejahtera KS I 4.02 0.35 9 53.19 36.29 0.032 5.524 36.415 1.980 8.380 KK.52 1 KS III 1.503 34.576 10.22 44.915 9.52 1 23.891 72.699 3.01 0.476 10.067 1.40 5.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 9.607 4.190 9.3 Tingkat Kesejahteraan Penduduk Tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan kategori dari BPS di Provinsi Papua Barat masih cukup rendah. Sedangkan untuk Keluarga Sejahtera III dan III plus hanya 7.19 71.580 9.065 146 417 2.13 0 0.03 0 0.756 4.01 0.029 3.90 41. Tabel 1.729 19.90 7 3.48 50.03 0.664 3.03 13.092 40.10 7 28.08 22.70 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 1.52 2007 0 46.568 8.20 2 118.04 0.84 44.803 189.255 3.140 18 97 563 86 731 271 2.02 0.350 636 4.698 112 1.13 0.01 0 0.02 0.475 KS II 2.92 8 9.70 14.01 0.075 426 9.54 1.42 0.27 5.66%.01 0.19% atau sebanyak 46.94 41.12 0.060 15.02 0.254 5.02 0.02 0.05 0 0.01 0.01 0 0 0.325 8.390 8.01 0.01 0.15 0.03 0 0.533 8.35 40.33 6 118.160 6.700 498 1.12 2 3 4 5 6 7 8 9 Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 39.27 51.832 49.11 34.29 3 5.380 34.344 16.533 KS III + 178 5.33 6 Jumlah 55.98 6.77 4.665 5.36 0. 34 Tingkat Kesejahteraan Keluarga di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 4.474 7.60 0 23.04 52.998 11.380 34. Keluarga yang masih ada pada tahap Pra Sejahtera hampir mencapai separuh keluarga yang ada di Provinsi Papua Barat yaitu 39.50 51.532 17.93 59.87 2006 0 46.84 48.64 3 135.22 90. Angka yang sungguh sangat memprihatinkan.08 0.17 8.

4 Ketenagakerjaan Identifikasi aspek ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat dapat menggambarkan sektor potensial dan penyerapan tenaga kerja ditiap sektor.678 20.661 223. 316.441 22.81 Perempuan 235.577 25.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Fenomena ini sangat erat korelasinya dengan masalah yang ditemukan yaitu tidak tertampungnya perempuan pada tenaga kerja sektor formal.65 • Mencari Pekerjaan 3 LAPORAN AKHIR 1-76 .66 5. Angkatan kerja adalah penduduk yang sedang bekerja ditambah dengan pencari kerja. Dari jumlah angkatan kerja tersebut.382 jiwa atau 72% masuk dalam kategori angkatan kerja.189 jiwa dimana 56% dari pencari pekerjaan tersebut adalah perempuan.193 26.951 50.094 5.4.218 116.506 83.396 88.193 jiwa atau 88. Tabel 1.487 3.018 47.08 Jumlah 502.457 68.400 342.85 % sudah bekerja.15 7.971 43.382 316.883 91.584 14. 35 Kondisi Ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 NO 1 2 Jenis Kegiatan Utama Penduduk Usia Kerja Angkatan Kerja • Bekerja (Pengangguran Terbuka) Bukan Angkatan Kerja • Sekolah • Mengurus Rumah Tangga • Lainnya 4 TPAK (%) 5 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009 Laki-Laki 266.084 210.189 160.739 119.113 12. Penduduk usia kerja yang ada di Provinsi Papua Barat sebesar 502. Pengangguran di Provinsi Papua Barat tercatat sebesar 26.080 13.400 jiwa di mana yang sebesar 342.298 106.61 11.29 Tahapan Kesejahteraan Keluarga 1.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Gambar 1.30 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Papua Barat Tahun 2007

Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

TPAK menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) mengindikasikan besarnya penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) yang aktif secara ekonomi di suatu negara atau wilayah. TPAK diukur sebagai persentase jumlah angkatan kerja (bekerja dan pengangguran) terhadap jumlah penduduk usia kerja. Indikator tersebut menunjukkan besaran relatif dari pasokan tenaga kerja (labour supply) yang tersedia untuk memproduksi barang-barang dan jasa dalam suatu perekonomian. Sedangkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) diukur sebagai persentase penganggur terhadap jumlah angkatan kerja. TPT memberikan indikasi tentang penduduk usia kerja yang termasuk dalam kelompok pengangguran. TPT merupakan rasio jumlah penganggur terbuka terhadap jumlah angkatan kerja. Tingkat Pengangguran Terbuka di Provinsi Papua Barat adalah 7,65 %. Angka ini di bawah angka penganguran Indonesia sebesar 9,9 %. Terdapat perbedaan tingkat partisipasi antara pria dan wanita yang tercermin dari angka TPT pria sebesar 5,81 % dan wanita 11,08 %. Tabel 1.36 Penduduk Usia Kerja di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Golongan Umur
Golongan Umur 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran 18 996 5 339 39 779 7 764 44 925 5 814 42 298 3 379 47 348 2 546 38 529 857 32 286 313 24 399 123 Jumlah 24 335 47 543 50 739 45 677 49 894 39 386 32 599 24 522 % Bekerja thdp AK 78,06 83,67 88,54 92,60 94,90 97,82 99,04 99,50

LAPORAN AKHIR 1-77

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028
Jumlah 14 833 12 854 342 382 296 146 312 478 292 446 % Bekerja thdp AK 99,91 99,68 92,35 90,54 89,83 88,86

Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran 55-59 14 820 13 60+ 12 813 41 Papua Barat 316 193 26 189 2007 268 117 28 029 2006 280 705 31 770 2005 259 863 32 583 Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

Golongan Umur

Tingkat pengangguran di Provinsi Papua Barat relatif sedang,

berdasarkan golongan

umur, banyak dari golongan umur 20-24 yang belum mendapatkan pekerjaan, tertampung pada 9 lapangan usaha. Jumlah penduduk pada golongan umur 25-29 yang bekerja mencapai 44.925 jiwa. Dari tahun 2005-2008 angka jumlah angkatan kerja di Provinsi Papua Barat semakin meningkat dengan jumlah penduduk bekerja yang juga meningkat dan jumlah pengangguran yang menurun. Tabel 1.37 Penduduk Usia Kerja di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Dirinci per Kabupaten/Kota
Golongan Umur Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2005 Angkatan Kerja Bekerja 19.468 16.025 11.344 24.971 93.999 27.744 45.897 17.171 59.574 316.193 268.117 259.863 Pengangguran 3.081 1.330 949 2.118 3.627 908 2.413 525 11.238 26.189 28.029 32.583 22.549 17.355 12.293 27.089 97.626 28.652 48.310 17.696 70.812 342.38 2 296.146 292.446 86,34 92,34 92,28 92,18 96,28 96,83 95,01 97,03 84,13 92,35 90,54 88,86 Jumlah % Bekerja thdp AK

Sumber : Provinsi Papua Barat dalam Angka 2009

Dari Tabel 1.37 diatas terlihat bahwa jumlah pengangguran terbesar di Provinsi Papua Barat terdapat di Kota Sorong yaitu sebesar 11.238 jiwa. Demikian pula jika ditinjau dari persentase penduduk yang bekerja terhadap angkatan kerja maka Kota sorong memiliki persentase yang paling kecil. Jumlah pengangguran terkecil terdapat di Kabupaten Raja Ampat yaitu sebesar 525 jiwa dengan persentase penduduk yang bekerja terhadap angkatan kerja yang paling tinggi yaitu sebesar 97,03 %.

LAPORAN AKHIR 1-78

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT

2008-2028

Tabel 1.38 di bawah ini menjelaskan mengenai jumlah penduduk yang bekerja menurut lapangan kerja utama yang dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu sektor primer (Agriculture), sektor sekunder (Manufacture) dan sektor tersier (Services). Sektor A(Agriculture) termasuk didalamnya sektor pertanian. Sektor M (Manufacture) meliputi sektor pertambangan, Industri, listrik, gas, dan bangunan/konstruksi. Sedangkan sektor S Services) termasuk didalamnya sektor perdagangan, angkutan, pergudangan, keuangan, perusahaan, dan jasa masyarakat. Tabel 1. 38 Jumlah Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2007 di Provinsi Papua Barat
Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Lapangan Pekerjaan Utama A 9186 8146 1184 11609 60769 13895 20703 9521 4292 M 2417 673 154 2684 5823 646 8293 481 9568 S 8834 3788 1279 3789 14768 4933 10425 2610 27647 Total 20437 12607 2617 18082 81360 19474 39421 12612 41507

Papua Barat 139305 30739 78073 248117 Sumber : Statistik Tenaga Kerja Provinsi Papua Barat 2008

Dari tabel diatas terlihat bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor yang dominan yang digeluti oleh penduduk di setiap kabupaten di Provinsi Papua Barat kecuali Kota Sorong. Hal ni disebabkan karena karakteristik perkotaan yang telah mendominasi Kota Sorong sebagai pusat perdagangan di Provinsi Papua Barat. Untuk kabupaten lainnya, terlihat pola yang jelas yaitu didominasi oleh pertanian diikuti oleh sektor services dan terakhir oleh sektor manufacture. Dari Tabel 1.39 di bawah ini dapat ketahui bahwa jumlah tenaga kerja terserap sesuai data dari BPS adalah sebesar 40.400 jiwa yang terdistribusi pada lapangan pekerjaan sektor pertambangan, pertanian, konstruksi, jasa, industri pengolahan. Dari sekian industri yang terdapat di Provinsi Papua Barat, industri yang mampu menyerap tenaga kerja cukup tinggi adalah industri agro dan industri pengolahan. Tabel 1.39 Penyerapan Tenaga Kerja pada Sektor Industri Tahun 2007
Jenis Industri Industri Besar Agro Jenis Pertambangan Jumlah TK 2.847 13.189

LAPORAN AKHIR 1-79

Irian Jaya secara resmi menjadi bagian Republik Indonesia tahun 1963 setelah ditanda tanganinya New York Agreement antara pemerintah Indonesia dan Belanda tahun 1962 atau 18 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pernyataan bergabung dengan Indonesia dilakukan melalui PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) yang diadakan tahun 1969. yaitu bagian Barat menjadi milik Belanda sedangkan bagian Timur menjadi milik Jerman. Irian Jaya Barat dibentuk pada tanggal 6 Februari 2006 dan berubah namanya menjadi Papua Barat pada tanggal 7 Februari 2007.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 industri pengolahan listrik gas Konstruksi Penggalian Perhotelan 12. Pada tahun 2003 pemerintah Indonesia membagi wilayah Provinsi Irian Jaya menjadi 3 (tiga) provinsi. Ketrampilan dan keahlian juga menjadi kriteria penting bagi industri skala besar untuk mendapatkan sumber daya manusia yang lebih produktif. ternyata penyerapan tenaga kerjanya tidak besar sebab kebutuhan pekerja ini disuplai oleh wilayah lain dan pekerja dari mayarakat Papua sendiri merupakan minoritas.819 40.162 1.agro. Iklimnya tropis lembab karena letaknya di bawah khatulistiwa. 1.kulit Logam. pulau ini dibagi menjadi 2 bagian. Provinsi ini terletak di Pulau New Guinea yang merupakan pulau terbesar dalam kepulauan Melanesia.5 Adat dan Budaya Tradisional Provinsi Papua Barat adalah provinsi yang letaknya paling Timur dari Negara Kepulauan Republik Indonesia. Provinsi Irian Jaya dan Provinsi Irian Jaya Barat. Berdasar perjanjian Den Haag tanggal 16 Mei 1895. sehingga penduduk yang tidak memiliki keahlian tertentu dengan sendirinya akan tersisihkan dari dunia kerja formal.275 3.hasil hutan Total Tenaga Kerja (jiwa) Sumber : Statistik Tenaga Kerja Provinsi Papua Barat 2008 Jenis industri pertambangan meskipun memberikan sumbangan yang sangat besar pada perekonomian. Pada awalnya. Adat Suku-suku yang mendiami di Provinsi Papua dan Papua Barat tercatat ada 206 suku-suku. A. yakni antara 00 – 120 Lintang Selatan.4.218 1.279 262 399 1. Papua Barat menjadi satu provinsi dengan Irian Barat (1 Mei 1963 – 1973) dan kemudian berubah nama menjadi Irian Jaya (1973 – 2000).besi elektro Kimia. Di antara suku-suku itu mendiami wilayah provinsi Papua Barat tercatat ada sekitar 67 LAPORAN AKHIR 1-80 . yaitu : Provinsi Papua.400 Industri Kecil Menengah Sandang.950 3.

Hatam. Puragi. Buruai. dan Mapia. Ekari. Meoswar. Suku-suku itu adalah Suku Matbat. Karon Dori. Karas. Dengan demikian. Legenyem. Pom. Sistem perkawinan Suku Maibrat dan Karon di Kabupaten Sorong didasakan pada exogami klan kecil patrilineal (dalam bahasa Karon disebut rae sawam). Kemberano. Ansus. Wauyai.klan yang merupakan bagian dari masyarakat. Tunggare. Mai Brat. Abun. Kawe. Baham. Tandia. Yahadian. Woi. Acara pesta seperti itu adalah makan bersama. Kamoro. tanah adat adalah satu hal yang sangat penting. Bedoanas. Iresim. Mpur. Tanah merupakan modal awal kehidupan. Manikion. Uruangnirin. Kais. Pada saat melamar ketua klan dan tokoh-tokoh adat serta semua kerabat dari kedua belah pihak akan ikut serta. dalam tanah terkandung dan terkait berbagai nilai di antaranya nilai ekonomi. Suku Meyah. Duriankere. Tanahmerah. pertahanan dan religius magis. Yeretuar. Konda. Yaur. Wandamen. Suabo. Seget. Onin. Mor. Perkawinan antar keluarga dari pihak ayah dilarang sampi keturunan yang ke-4 dan ke-5. Apabila seorang pemuda menaruh hati pada seorang gadis maka orang tua si pemuda akan melamar gadis itu untuknya. Perkawinan di antara orang Arfak biasanya banyak diatur orangtua dan para kerabatnya. Kaburi. menyanyi. Dianggap sebagai exogami jika seorang pria Maibrat atau Karon kawin dengan gadis dari klan lain yang tinggal mengelompok di desa lain dan dianggap endogami jika seorang pria kawin dengan garis lain dari klan kecil lain tapi tinggal mengelompok di desa yang sama. Meyah. tanah ibarat seorang ibu yang memberikan kehidupan bagi anaknya. Bagi mereka. Tehit. perpindahan itu menjadi urusan komunal atau urusan semua anggota suku bukan urusan individu semata. Pengawasan terhadap anak gadis sangat ketat sehingga seorang pemuda tidak mudah mengganggunya. Waigeo. Roon. Moraid. Moi. Kuri. Dengan demikian. Jadi. Kokoda. Mer. Dalam pandangan suku-suku asli Papua pada umumnya. Sekarang pemuda dan pemudi sering mendapatkan jodoh melalui acara-acara adat seperti pesta tari adat yang bernama ares komer. jika terjadi perpindahan kepemilikan atas tanah. Semimi. Arguni. Hatam dan Manikion yang sering disebut orang Arfak tinggal di Kabupaten Manokwari dan terdiri dari 35 klan. fungsi tanah terintegrasi ke dalam keseluruhan aktivitas kehidupan. Arandai.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 suku. Pada suku-suku ini dikelompokkan dalam klan. Biga. Kadang-kadang orang sudah dijodohkan sejak kecil. Maden. LAPORAN AKHIR 1-81 . Moile. Kepemilikan tanah bagi suku Papua bersifat komunal. Moskona. Erokwanas.Tanah adat dalam konsep orang Papua adalah hak milik sekaligus hak atas penguasaannya. menari dan memuji seseorang dengan dengan pantun yang dilagukan. As. politis. Kalabra. Kamberau. Irarutu. Biak. Kowiai. Ma’ya. Mairasi. Iha. Sekar. Dusner.

Menurut Maria Sumardjono (2006) beberapa ciri pokok kelompok masyarakat hukum adat adalah mereka merupakan suatu kelompok manusia. Tetapi mengacu pada konsepsi yang bersumber pada hukum adat. dapat dikatakan penentu kriteria-kriteria masih ada atau tidaknya hak ulayat dilihat pada tiga hal. 3) Adanya kewenangan tertentu dari masyarakat hukum adat itu untuk mengelola tanah wilayahnya. dalam pelaksanaanya hak ulayat mengenal adanya fungsi sosial. tanah (untuk mengatur (pembuatan bercocok persediaan pemukiman/persawahan baru dan lain-lain) dan pemeliharaan tanah. 3) Mengatur dan menetapkan hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan hukum yang berkenaan dengan tanah (jual-beli. dan menyelenggarakan tanam. hak ulayat menunjukkan hubungan hukum antara masyarakat hukum (subyek hak) dan tanah/wilayah tertentu (obyek hak). karena hak ulayat beserta masyarakat hukum adat telah ada sebelum terbentuknya negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. 2) Mengatur dan menentukan hubungan hukum antara orang dengan tanah (memberikan hak tertentu pada subjyek tertentu). mempunyai kekayaan tersendiri terlepas dari kekayaan perseorangan. warisan dan lain-lain). yaitu masyarakat hukum adat itu yang memenuhi karakteristik tertentu . mempunyai kewenangan tertentu. Hak ulayat tersebut berisi wewenang untuk: 1) Mengatur pemukiman. 2) Obyek hak ulayat. Jadi. Penentuan kriteria keberadaan hak ulayat dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) dengan mengikutsertakan masyarakat hukum adat. Seperti juga hak atas tanah lainnya. UUPA (Undang-Undang Peraturan Agraria) tidak menentukan kriteria mengenai eksistensi hak ulayat. dan penggunaan lain-lain). yakni: 1) Subyek hak ulayat. hubungan antara masyarakat hukum adat dan tanah/wilayahnya adalah hubungan menguasai bukan memiliki. LSM dan instansi terkait dengan sumber daya alam. yakni tanah wilayah yang merupakan ruang tempat hidup dan bekerja (Lebensraum) mereka. peruntukan dan pemanfaatan serta pelestarian wilayahnya. Hal itu berarti bila tanah ulayat diperlukan untuk kepentingan umum ataupun kepentingan lain LAPORAN AKHIR 1-82 . Menurut Maria Sumardjono (2006). mempunyai batas wilayah tertentu. hak ulayat tidak bersifat ekslusif. Dengan demikian. termasuk menentukan hubungan yang berkenaan dengan persediaan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Hak yang melekat sebagai kompetensi khas pada masyarakat hukum adat berupa wewenang/kekuasaan mengurus dan mengatur tanah seisinya dengan daya laku ke dalam dan keluar disebut sebagai hak ulayat. Pengakuan eksistensi hak ulayat oleh UUPA (pasal 3) merupakan hal yang wajar.

Ketika berhadapan dengan hak ulayat diperlukan kesadaran dari pihak luar yang berarti harus membuka diri untuk memahami kesadaran hukum suatu masyarakat (yang dalam hal ini masyarakat Papua Barat) yang terwujud dalam tindakan nyata sehari-hari berangkat dari sudut pandang dan pola pikir masyarakat yang bersangkutan. kompensasi yang diberikan kapada masyarakat hukum adat hendaknya mempertimbangkan hilangnya atau berkurangnya sumber daya alam yang menjadi penghidupannya dan hilangnya pusat-pusat budaya dan religi masyarakat hukum adat tersebut. maka hak ulayat dapat diberikan pada pihak lain. Misalnya. (2003) mengatakan bahwa dalam pengamatannya selama 10 tahun di Irian Jaya (1977-1987) seringkali protes-protes warga masyarakat terhadap pemerintah atau kelompok lain hanya dilandasi kekhawatiaran mereka bahwa sumberdaya alam mereka tak akan dapat memenuhi kebutuhan mereka maupun anak cucu mereka. Mereka telah membangun orang Papua dengan logika dan dinamika orang Papua sendiri. Jadi pembangunan di Papua Barat berdasarkan karakteristik dan budaya yang terdapat pada masyarakatnya. pola-pola ekonomi harus ditata dengan LAPORAN AKHIR 1-83 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Aditjondro J. atau para pendatang memperlakukan sumber daya alam mereka tidak sesuai dengan tradisi penduduk setempat. sosiologis dan berwawasan lingkungan. Pembangunan di Papua Barat sebaiknya ditata bersama pemerintah setempat. Di Asmat dimisalkan ada 10 kampung. pengembangannya lebih ditekankan pada pendidikan dan ketrampilan berdasarkan karakteristik lingkungan setempat. Bukan karena mereka mau mendirikan satu negara sendiri yang lepas dari Republik Indonesia. di setiap kampung ada satu kelompok gergaji tarik. Dalam upaya mencapai kesepakatan. semacam prakoperasi yang mensuplai kebutuhan kayu untuk bangunan pemerintah. pemanfaatan hutan di Papua. Pemberian bidang tanah ulayat oleh masyarakat hukum adat dapat ditempuh dengan cara dilepaskan selamanya atau diberikan penggunaannya dalam jangka waktu tertentu. tempat ibadah ataupun memasok kebutuhan kayu untuk bangunan kaum transmigaran. Ahli antropologi. Pembangunan di Indonesia Bagian Timur khususnya Provinsi Papua Barat sebaiknya dikhususkan pada segi-segi yang antropologis. Kita bisa belajar dari Missi atau LSM di sana. tapi oleh komunitas setempat. ahli ekonomi maupun ekologi perlu dilibatkan untuk merekayasa unit-unit kegiatan yang fungsional. Dengan kata lain. Manfaat yang diperoleh pihak luar hendaknya juga dapat bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup dari masyarakat hukum adat yang bersangkutan. Untuk pengembangan ekonomi di Papua Barat. bukan dengan cara big logging company (pembabatan hutan oleh perusahaan besar) ataupun HPH (Hak Penguasaan Hutan).

Norma yang berlaku dalam adat suku-suku ini adalah ”menjaga keharmonisan antara manusia dengan manusia. tapi jika ada orang yang melanggar suatu hukum adat akan dihukum oleh melalui pengadilan adat yang terdiri dari para kepala klan. Satu tumitsen biasanya mempunyai 3-5 kamar. Atap rumah terbuat dari daun pandan . Norma tersebut di atas mengandung pengertian bahwa bila kita mengabaikan keharmonisan hubungan dengan sesama. termasuk paman. maka kita akan selalu berada dalam konflik dengan sesama. Apabila daya tampungnya terbatas. B. terdiri dari sepasang suami istri bersama keluarga inti dari 3-5 anak pria mereka. Kampung dan Rumah Menurut adat. seorang pria yang telah menikah menetap di rumah orang tuanya di tengah-tengah para kerabatnya (yaitu adat virilokal). dengan persetujuan ayah dari anakanak pria tadi. sedang lantainya dari belahan nibung atau bambu. Rumah dibangun cukup besar dan berbentuk segi empat dan dinding-dindingnya terbuat dari kulit pohon dan tanpa jendela. Tidak adanya jendela menyebabkan asap pekat dari perapian dari dalam rumah orang Arfak sangat mengganggu pernafasan dan berakibat banyaknya penduduk yang terkena penyakit paru-paru. Pohon yang digunakan untuk tiang tengah rumah disebut mesiyi (bahasa Meyah). lantai di ruang LAPORAN AKHIR 1-84 . yakni berzina atau melakukan perzinahan dengan seseorang yang masih ada hubungan kekerabatan yang dekat (incest). termasuk roh-roh yang hidup di alam serta keharmonisan antara manusia dengan arwah leluhurnya”. Bersetubuh dengan saudara sendiri atau istri orang lain. kemenakan ataupun ipar. Hukuman ini disebut ”Hanom-tagawim”. dibangun rumah yang baru. Walau tidak ada hukum formal dalam adat suku-suku ini. kepala kampung. Dalam satu rumah biasanya terdapat kamar untuk wanita (meraja) dan kamar pria (meiges) serta sebuah ruang duduk (umersa) di tengah.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 lebih kreatif dan dikembangkan berdasarkan karakteristik ekonomi dan kultur etnis setempat. Kelompok kekerabatan terkecil dalam masyarakat Suku Arfak adalah keluarga luas virilokal yang menghuni satu rumah (tumitsen). Budaya Tradisional 1. kepala desa dan beberapa tokoh orang tua lainnya. Hukuman ini ditimpakan kepada seseorang yang telah melakukan tindakan hanom. Ada satu hukuman yang sangat berat yang berlaku dalam adat suku di Papua Barat yaitu dibunuh tanpa boleh membela diri atau mendapat pembelaan dari siapapun. sebanyak pasang suami istri yang ada. Suatu rumah dengan suatu tempat khusus untuk upacara dan pesta adat disebut modambau . manusia dengan alam sekitarnya.

maju dua langkah dan mundur dua langkah seirama dengan lagu yang dibawakan. Sebelum masa pendudukan (sivilisasi) sebuah kampung suku Amungme yang cukup besar biasanya terdiri 15 – 20 buah rumah keluarga (Onggoi) dengan 5 – 8 buah rumah laki-laki (Itorei). Tem. Kalau dibandingkan dengan rumah suku Amungme yang hidup di lembah-lembah pegunungan bagian tengah di Irian. Dalam tarian ini para penari membentuk lingkaran sambil menyanyikan lagu-lagu asmara.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 tengah tak dialasai dengan batang-batang nibung sehingga menari dilakukan di atas tanah. Tarian ini dapat berlangsung semalam suntuk. b. Di sini mereka yang saling terpaut hatinya menyatakan kasih sayangnya dengan memberikan suatu benda. Weantagawi. dan Anyam-anyaman Ada empat bentuk tarian dalam adat suku ini yaitu: a. Tarian mudi-mudi Tarian ini diadakan di lapangan terbuka yang disebut Tup. atau berjalan atau berlari yang dilakukan sambil bernyanyi. gerakan ini diadakan di dalam rumah. Tarian Pesta LAPORAN AKHIR 1-85 . ada persamaan dalam hal bentuk dan bahan material dari bangunan rumah walau ada sedikit perbedaan dalam hal penggunaan dan pemanfaatan ruangan. d. Muda-mudi duduk berhadapan muka. merupakan gerakan berputar di tempat. seirama dengan lagu yang dibawakan. Dalam tarian ini para pemuda dan pemudi menyanyikan lagu dan pantun tentang cinta. Si pemuda melambai-lambaikan dedaunan kepada gadis yang disukainya dan bila si gadis menghampiri si pemuda sambil mengikuti irama lagu yang dinyanyikan dan menerima dedaunan yang dilambaikan berarti si gadis juga tertarik pada pemuda tersebut (arama emonggop agewin). merupakan gerakan berlari mondar-mondir di suatu tempat terbatas. Tup. Pipakwean. 2. b. di dalam sinar nyala api. yaitu: a. sambil bernyanyi kaum pemuda memberi daun kepada pemudi dan sebaliknya. Ukir. Para muda-mudi duduk berhadapan dipisahkan ole tungku api di antara mereka. c. dipisahkan oleh tungku apui. Gerakan ini diikuti langkahmengikuti irama. Ada tiga macam tarian. merupakan gerakan dua orang yang saling berhadapan muka sambil menghentakkan kaki di tanah bersama-sama. Ada tarian muda-mudi yang berlangsung di dalam rumah yang disebut Tem. Seni Tari.

de’maya (kalung). Sedangkan warna kuning dibuat dari akar tumbuh-tumbuhan dan tali-talian hutan. Mpur. Moraid. merah dan kuning. Kemudian mereka mengadakan tarian Tup yang ditarikan sepanjang pesta. Serat-serat itu diambil dari batang pohonnya kemudian dipintal menjadi benang yang kemudian dengan ini digunakan untuk membuat berbagai barang kebutuhan hidupnya. Warna putih dibuat dari tanah liat. mi’yepa (hiasan kepala yang dianyam memakai manik-manik). Manikion. Duriankere. isi keladi putih yang membusuk atau abu dari tungku api. Wandamen. Orang-orang datang sambil menyanyi lalu masuk ke lapangan pesta. Lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu kegembiraan. arang dapur atau dari buah-buahan hutan. Kerajinan Seni ukir kurang begitu dominan dalam kebudayaan suku di wilayah Papua Barat. Para wanita dan pria orang Arfak biasanya mengenakan perhiasan yang berupa gelang yang terbuat dari anyaman tali rotan dan disebut liya. Seget. c. Bahasa-bahasa yang digunakan ada 67 bahasa. Ma’ya.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tarian ini biasanya dilakukan di lapangan terbuka. Hatam. Biak. Warna merah dibuat dari tanah merah yang digali dari dalam tanah. Legenyem. Maden. Tarian Perang Tarian perang mirip dengan tarian pesta. Hiasan dan busana bagi wanita adalah rumbai-rumbai yang dibuat dari alang-alang dan serat kulit kayu yang diikatkan dipinggang dan kalung manik-manik (gemsya). Wauyai.Moskona. Karon Dori. Ukiran-ukiran yang khas itu juga dibuat padap perlatan-peralatan perang lainnya. Yang membedakannya adalah lagu-lagu yang dibawakan dalam tarian perang berisi lagu-lagu perjuangan yang membangkitkan semangat juang. Kebhinekaan Bahasa di Papua Di Provinsi Papua. Warna hitam dibuat dari asap lemak babi dan damar. Meyah. LAPORAN AKHIR 1-86 . Abun. Kawe. Biga. hitam. Waigeo. Provinsi Irian Jaya dan Provinsi Papua Barat tercatat ada 310 bahasa yang digunakan masyarakatnya. Di waktu senggang seorang pria Arfak mengukir serta melukis busur dan anak panahnya. kesenangan dan pujian. yakni : bahasa Matbat. Di provinsi Papua Barat sendiri tercatat ada 67 suku yang mendiaminya. Warna-warna yang mendominasi yang digunakan dalam kerajinan adalah putih. C. Seni ukir terbatas pada mengukir anak panah. Mereka berdiri membentuk lingkaran dan berputar sambil meneriakkan kata-kata “ka”. Arandai. Moi. As. breya (anyaman kulit dan bulu burung atau kasuari untuk hiasan kepala). 3.

fila Kuomtari tingkat golongan (lihat peta B). bahasa-bahasa di Non-Melanesia di provinsi Papua. yaitu daerah bagian belakang leher burung danpulau-pulau yang berhadapan dengan daerah pantai Waropen. Konda. Mai Brat. 33-35). Puragi. Moeliono dalam bab berjudul ”Ragam bahasa di Irian Barat” dalam buku berjudul Penduduk Irian Barat (1963: hal. Mor. Persebaran fila bahasa-bahasa Melanesia di ke tiga provinsi ini terlihat di peta B. Seorang ahli bahasa bernama C. Arguni. Ansus. Tanahmerah. Irarutu. Sumberdaya budaya yang dalam hal ini keragaman bahasa perlu mendapat perhatian untuk dikembangkan terlebih dahulu sebelum pengembangan sumberdaya alam dan sumberdaya penduduk Papua Barat itu sendiri untuk mendukung kegiatan pembangunan di provinsi Papua Barat. Bahasa-bahasa di provinsi Papua dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan besar yang oleh ahli linguistik disebut phylum (fila). Kuri. Kalabra. Berdasarkan pembagian fila. Tehit. Onin. Yaur. yaitu fila bahasa-bahasa Melanesia dan fila bahas-bahasa non-Melanesia. Yahadian. Dapat dikatakan provinsi ini menyimpan potensi sumberdaya manusia dan budaya. Mer. Karas. Baham. Pom. Tandia. Buruai. Iresim. Tunggare. derah Yapen Timur dan Barat serta pulaupulau sekitarnya. Kowiai. Kokoda. Dusner. Meoswar. Ekari. Sekar. 5) fila Warnbori tingkat isolat. Di seluruh Papua dapat digolongkan ke dalam bahasa-bahasa Melanesia. Menurut klasifikasi Loukotka ada paling sedikit 31 golongan bahasa di Papua. sebagian besar kepulauan Raja Ampat. 8) fila Sko tingkat golongan. 6) fila Taurap (Borumeso) tingkat isolat. 7) fila Pauwi tingkat isolat. Iha. Woi. Kais. daerah kepulauan Biak-Suntori. Mairasi. Pantar dan Halmahera Utara (Koentjaraningrat. Roon. Kamoro. Yeretuar. Suabo. Uruangnirin. Kamberau. Erokwanas. sebagian derah fak-fak dan Kaimana serta kepulauan kepulauan sekitar Kaimana. 2) fila Papua Barat. Sedangkan bahasa-bahasa non-Melanesia yang digunakan di Papua adalah khas Papua yang tidak mempunyai hubungan linguistik dengan bahasa-bahasa di luar Papua dan Papua Niugini. dan Mapia. 1994). 3) fila Teluk Cendrawasih.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kaburi. yaitu: 1) fila Trans Irian. Provinsi Papua berada di deretan Kepulauan Melanesia yang melingkar mulai dari kepulauan di sebelah Timur-laut Papua dilanjutkan ke arah Timur benua Australia hingga kepulauan Fiji di sebalah Utara Selandia Baru.M. Pulau Numfor derah sekitar Manokwari. Alor. Kemberano. Semimi. kecuali dengan bebereapa bahasa di pulau Timor. provinsi Irian Jaya dan Provinsi Papua Barat terdiri dari 9 fila. Loukotka telah melakukan upaya untuk mengklasifikasikan kebhinekaan bahasa di Papua dan dimuat secara singkat oleh A. Di dalamnya terdapat 234 bahasa yang masih diklasifikasikan LAPORAN AKHIR 1-87 . Bedoanas. 4) fila Kepala burung bagian Timur tingkat golongan. Waropen Bawah dan Atas di sekitar Waren.

j. h. Mairasi. Mor. 1. i. g. Koiwai. Karas. Semini dan Kamoro. yaitu golongan Fila Trans Irian yaitu Suabau. Di samping itu pemahaman terhadap bahasa-bahasa di provinsi Papua akan dapat mengurangi kesalah pahaman serta konflik yang mungkin timbul diantara penduduk asli dengan pihak-pihak luar yang berkaitan dengan perencanaan dan pembangunan di wilayah ini.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 juga secara geografikal. c. Uruangnirin dan Yaier. Tetapi ada 13 bahasa yang sama sekali berbeda golongannya. Bedoanas. Bahasa-bahasa di Kabupaten Sorong Bahasa-bahasa di Kabupaten Manokwari Bahasa-bahas di Kabupaten Biak-Numfor Bahasa-bahasa di Kabupaten Paniai Bahasa-bahasa di Kabupaten Fakfak Bahasa-bahasa di Kabupaten Irian Jaya Barat-daya Bahasa-bahasa di Kabupaten Jayapura Bahasa-bahasa di KabupatenJayawijaya Bahasa-bahasa di Kabupaten Merauke Bahasa-bahasa di Kabupaten Irian Jaya Tenggara Penggolongan bahasa menurut kabupaten itu berbeda dengan klasifikasi berdasarkan asas-asas linguistik.5. yang mendekati pembagian administratif dan provinsi ke dalam 10 kabupaten yaitu: a. mainasi. Kokoda. Mer.5 ASPEK EKONOMI WILAYAH 1. Bahasa Hatam dan Moile termasuk fila Kepala Burung Bagian Barat sedang bahasa Meyah dan Manikion adalah fila Kepala Burung Bagian Timur. Menurut Index of Irian Jaya Language. ada 22 bahasa dan beberapa diantaranya termasuk fila Austronesia-Melanesia. Irasutu. d. Bahasa Maibrat. e. Pengetahuan terhadap keragaman bahasa-bahasa di provinsi Papua Barat memang mutlak diperlukan untuk dapat mengkomunikasikan kepada penduduk tentang dan turut berpartisipasi di dalam perencanaan pembangunan serta manfaatnya khususnya progam-progam yang ada dalam RTRW Papua Barat agar mereka berperan serta Barat pembangunanan. Erokavanas. Buruwai. Sebagai contoh misalnya bahasa-bahsa di kabupaten Fakfak. Iha. bahasa Madik dan bahasa Karon adalah bahasa-bahasa yang berbeda dan oleh para ahli linguistik dimasukkan dalam satu golongan yaitu fila Papua Barat. Kamberau. Baham. yaitu Onin. Sekai. b. f. Arguna.1 Peranan dan Kontribusi Perekonomian Wilayah Provinsi Papua Barat dalam Konteks Nasional LAPORAN AKHIR 1-88 .

000.050. menempati peringkat ke-5 dari 33 provinsi.496 0. Kontribusi terbesar kepada Indonesia oleh Provinsi Papua Barat adalah pada sektor primer sebesar 1.034.90 430.5.154.693.94 triliun rupiah.717.339.40 Kontribusi (%) 0. yaitu dari perikanan dan pertambangan.059 0.176. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan.11 1.13 508.29 39.00 2.27 7.928.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2005.201. Angka ini menunjukkan.149 0.00 769. tiap lapangan usaha memiliki kontribusi tidak lebih dari 1%.179 0.289 0.70 230. 1. meningkat 177% dibandingkan tahun 2000 yaitu Rp.205 0. Persewaan.50 195. nilai PDRB Provinsi Papua Barat menempati ranking ke 29 dari 33 Provinsi di Indonesia dan menyumbang sekitar 0.072.296.10 771. dan Jasa Jasa-jasa Total PDRB Papua Barat (dalam ribu Rupiah) 2.281 0. Nilai PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan juga menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.225 0. orientasi untuk meningkatkan perekonomian dapat dikatakan masih sebatas untuk memenuhi kebutuhan ekonomi wilayah ini.284 Sumber : BPS.223.984. Provinsi Papua Barat memiliki pendapatan per kapita pada tahun 2005 sebesar Rp 12.00 26. Kekayaan alam yang berlimpah terutama di sektor primer Apabila ditinjau dari pendapatan per kapita.587.152.785. pendapatan per kapita ini tidak dapat digunakan untuk mengukur pendapatan di lapangan.903.724.20 276.89 622.528.370. Hal ini berarti bahwa peningkatan PDRB di Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-89 .91 PDRB Indonesia (dalam juta Rupiah) 363. 6.79 137.80 308.592 0.568.944.2 Struktur Ekonomi Wilayah Provinsi Papua Barat PDRB dan Perkembangannya Berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku.29% PDRB Nasional.580. 2006 Dekripsi lebih dalam tentang kontribusi Provinsi Papua Barat dapat ditunjukkan dengan presentase tiap lapangan usaha terhadap PDRB Indonesia. Tabel 1.67 565. PDRB Provinsi Papua Barat mencapai 8.968. Meskipun demikian. Gas.40 Persentase PDRB Papua Barat terhadap PDRB Indonesia Tahun 2005 dirinci per Lapangan Usaha Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.088%.037.20 180.089. Beberapa sektor unggulan seperti pertambangan dan perikanan memang diekspor ke luar wilayah. Secara umum.879.775.76 1.

70 226.537.94 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber: Papua Barat Dalam Angka 2009.297.38 7.95 160.82 6 369 374.256.601. Selisih antara PDRB Papua Barat dengan migas dan tanpa migas berdasarkan atas harga berlaku mencapai lebih dari 1 triliun.03 140. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tersebut berkembang sebesar 1.28 10 369 836.9 triliun.11 12 471 605.13 PDRB atas Dasar Harga Konstan Jumlah (Juta Rp) 3.18 5.56 134.89 4. PDRB Provinsi Papua LAPORAN AKHIR 1-90 .41 PDRB Provinsi Papua Barat Atas dasar Harga Berlaku dan Konstan 20002008 Tahun PDRB atas Dasar Harga Berlaku Jumlah (Juta Rp) 3.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bukan hanya karena dampak inflasi namun menunjukkan kenaikan produksi yang nyata. terus meningkat setiap tahunnya hingga menjadi sebesar 5.945.304.00 103.104.796.969.22 Perkembangan (%) 100. hasil perhitungan Gambar 1.957.32 4.76 Perkembangan (%) 100. Tabel 1.201.91 4.27 149.846.555.4 kali lipat antara kurun waktu 2000-2006.38 166. Berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku.49 121.551.51 triliun pada tahun 2006.391.89 4.59 116.17 199.089.903.02 315.597.601.98 4.23 5 934 315.92 125.403.00 109.370.204.19 140.03 262.34 5.17 5.206. perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat tanpa migas setara dengan perkembangan PDRB dengan migas. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tahun 2000 adalah sebesar 3.333.53 4.22 6.91 8.34 108.304.576.627.31 Perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat Tahun 2000-2006 Besar sumbangan migas untuk PDRB Papua Barat mencapai sekitar 20 persen sehingga sangat mempengaruhi perekonomian di Papua Barat.957.

88 3.00 100.00 200.15 192.802.00 50.49 kali lipat antara kurun waktu 2000-2006.69 138.75 3.289. Nilai PDRB Papua Barat tanpa migas atas dasar harga konstan juga menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.642.11 149.147. sedikit di atas bawah PDRB dengan migas yang sebesar 1.00 2.90 114.817.434.34 2003 4.903.700.89 2006 6.45 100. PDRB Papua Barat tanpa migas atas dasar harga konstan tahun 2000 adalah sebesar 2. hasil perhitungan Tahun Gambar 1.23 226. Tabel 1.2 triliun rupiah pada tahun 2006. PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan tersebut berkembang sebesar 1.30 3.137.42 3.18 113.281.996.912. pada tahun 2000 besar PDRB adalah 2.448.45 100.367.02 2.221.43 122.00 0. terus meningkat setiap tahunnya hingga menjadi sebesar 4.00 2001 3.417.96 130.36 triliun rupiah.06 128.38 2002 3.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 PDRB ADH Berlaku Tanpa Migas PDRB ADH Konstan Tanpa Migas LAPORAN AKHIR 1-91 .15 146. Setiap tahunnya PDRB Papua Barat tanpa migas menurut harga berlaku selalu meningkat.265.42 PDRB Provinsi Papua Barat Atas dasar Harga Berlaku dan Konstan Tanpa Migas Tahun 2000-2006 PDRB atas Dasar Perkembangan PDRB atas Dasar Perkembangan Harga Berlaku (%) Harga Konstan (%) Jumlah (Juta Rp) Jumlah (Juta Rp) 2000 2.32 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007. Sebelumnya.12 106.4 kali lipat.835.81 triliun rupiah.8 triliun rupiah.431.147.02 4.669.206.834.817.12 2005 5.795.00 150.00 165.183.617.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Barat tanpa migas pada tahun 2006 menurut harga berlaku mencapai 6.665.32 Perkembangan PDRB Provinsi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 20002006 250.42 2004 4.

LAPORAN AKHIR 1-92 .38 2002 10.66 13.02 6. sektor nonmigas mengalami kenaikan produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor nonmigas. Rata-rata pertumbuhan dalam kurun waktu tersebut untuk PDRB atas dasar harga berlaku adalah sebesar 14. 43 Pertumbuhan PDRB Provinsi Papua Barat 2000-2006 Dengan Migas Tanpa Migas Atas Dasar Atas Dasar Atas Dasar Atas Dasar Harga Berlaku Harga Konstan Harga Berlaku Harga Konstan 2001 9.69 5. Pertumbuhan setiap tahunnya terus meningkat hingga mencapai 7.83 7.49 2003 15.29 2005 20. hasil perhitungan Tahun Pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan juga selalu menunjukkan angka yang positif.08 11.08 persen.02 6.06 2004 18.48 6.91 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007. namun kemudian pertumbuhannya melambat menjadi 6.50 r 14. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2000 hingga 2006 sektor migas mengalami inflasi yang cukup tinggi dibandingkan dengan sektor nonmigas.04 7.03 4.56% dan angka pertumbuhan setiap tahunnya yang terus meningkat. Sementara itu. Tabel 1. namun lebih fluktuatif. Sementara itu dari segi produksi. Angka rata-rata pertumbuhan selama tahun 2000 hingga 2006 adalah sebesar 5.49 3.37 7.85 6.56 5. angka pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan justru menunjukkan rata-rata pertumbuhan yang lebih tinggi dan angka pertumbuhannya juga lebih fluktuatif dibandingkan dengan PDRB dengan migas atas dasar harga konstan. Angka pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku tanpa migas lebih fluktuatif dibandingkan PDRB dengan migas. Angka rata-ratanya juga menunjukkan angka yang lebih rendah.68 14.38 7.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pertumbuhan ekonomi Papua Barat selalu berada dalam kondisi positif dalam kurun waktu tahun 2000 hingga 2006. Analisis pertumbuhan PDRB tanpa migas menunjukkan hasil yang berbeda.63 7.17 6.74 persen pada tahun 2005.68 persen pada tahun 2003.34 13.39 12.74 2006 13.07 13.74 16.

90 3.23 2.07 Jasa-jasa 8.06 Perdagangan 7.13 12.55 3.75 14.00 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Dengan Migas Atas Dasar Harga Berlaku Dengan Migas Atas Dasar Harga Konstan Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan Rata-rata pertumbuhan PDRB Papua Barat atas dasar harga konstan pada kurun waktu 2000-2006 adalah sebesar 5.74 4.36 0.87 8.95 9. gas.43 4.90 9.29 Sekunder 6.35 3.33 7.40 1. Sektor pertambangan dan penggalian memiliki angka pertumbuhan yang paling rendah yaitu sebesar 1.77 Industri Pengolahan 6.34 8.91 17. dan air minum serta bangunan memiliki angka pertumbuhan yang sebesar 8.73 6.28 10.14 1. Gas. Jika dilihat pertumbuhan tiap-tiap sektor maka sektor angkutan dan komunikasi mengalami pertumbuhan yang tertinggi yaitu sebesar 12.11 -0.87 10.77 8.82 7.64%.97 10.38 8.31 PDRB 3.75 9.29%.13 8. dan Jasa -6.33 Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Papua Barat Tahun 2000-2006 25. Persewaan.17 5.61 13.84 Keuangan.66 Primer 0.34 2.95 11.00 0.52 9.72 12.25 Bangunan 6.38 9.34 5.04 30.89 5.64 LAPORAN AKHIR 1-93 . Kelompok sektor sekunder yang terdiri dari industri pengolahan listrik.07 7.09 3.77 9.00 5.43 Pertambangan dan Penggalian -4.93 14.79 8.34 -1.19 9.48 9.14%.39 6. Tabel 1.33 13. hasil perhitungan r 4.65 2.25 8.48% (lihat Tabel 1.75%.00 20.91 2.00 15.54 5.65 11.76 8.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.03 8.14 8.14% diikuti sektor pertanian sebesar 4.83 9.26 12.44).94 Tersier 7. Kedua sektor ini menjadi sektor dengan angka pertumbuhan di bawah angka pertumbuhan PDRB Provinsi Papua Barat.94 1.00 9.49 Angkutan dan Komunikasi 11.91 10.13 9.71 13.46 5.68 7. dan Air Minum 7.97 2.59 15.52 Listrik. Hal ini menjadikan kelompok sektor primer memiliki angka pertumbuhan yang paling rendah dibandingkan dengan kelompok sektor lainnya.44 Pertumbuhan PDRB Papua Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000-2006 Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 4.10 21.84 5.14 9.20 6.80 2.29 5. Sementara itu sektor tersier yang terdiri dari sektorsektor sisanya memiliki angka pertumbuhan tertinggi yaitu 9.56 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.91 7.69 4.73% disusul dengan sektor jas-jas yaitu sebesar 9.85 9.78 4.07 3.00 10.

74 7.06 6.20 6.20 10.14 9.42 5.60 5.75 14.91 10.49%.82 7.06 7.07 9.16 persen kepada PDRB berlaku Provinsi Papua Barat tahun 2006 diikuti oleh sektor industri pengolahan yang sebesar 1.57 6.95 5.89 5.84 Keuangan. Gas.38 9. hasil perhitungan r 4.91 2.11 4.79 8.93 14.72 12.09 3.13 8.03 8.67 Sekunder 7.429 triliun rupiah atau sebesar 27.65 11.05 2. Sebaliknya.16 Listrik. dan Air Minum 7.48 9.56 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.33 7.65 5. 45 Pertumbuhan PDRB Papua Barat Tanpa Migas Atas Dasar Harga Konstan 2000-2006 Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 4.29 6.29 6. aktivitas sekunder pada migas yang berupa kegiatan lanjutan memanfaatkan hasil dari sektor primer cenderung mengalami peningkatan. Tabel 1.552 triliun (17.00 9.26 7.94 7.38 8.49 7.14 9. Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa kegiatan primer pada sektor migas yang bergantung pada bahan baku mengalami kecenderungan perlambatan.50 Primer 4.78 9.74 6. Hal ini menunjukkan bahwa sekitar 24% industri pengolahan di Provinsi Papua digerakkan oleh kegiatan di sektor migas.46 PDRB Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Lapangan Usaha PDRB Atas PDRB Atas Dasar LAPORAN AKHIR 1-94 . Hal ini menyebabkan pertumbuhan kelompok sektor primer tanpa migas menjadi lebih tinggi dibandingkan denga migas.75 9.98 8.07 3.31 PDRB 6.35 Industri Pengolahan 7.83 9. dan Jasa -6.61 13.36%).84 5.13 7.87 10. Sektor pertanian merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu sebesar 2.90 9.33 13.38 7.28 10.23 6.07 Jasa-jasa 8.46 5.26 12.64%.53 5. sektor industri pengolahan dengan mengeliminir subsektor industri pengilangan minyak dan gas bumi memiliki angka yang menjadi lebih rendah yaitu sebesar 6.49 9.76 8.21 13. Tabel 1.49 Angkutan dan Komunikasi 11.43 Pertambangan dan Penggalian 8.13 12.27 3.66 10.19 9.34 8.91 4.47%) dan sektor pertambangan dan penggalian yang sebesar 1.97 10.34 2.741 triliun (19.25 Bangunan 6.97 2.77 9. Persewaan.64 PDRB dan Kontribusi Sumbangan setiap sektor dalam PDRB dapat menunjukkan komposisi perekonomian di wilayah tersebut.17 5.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pertumbuhan PDRB tanpa migas atas dasar harga konstan menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB dengan migas yaitu sebesar 9. sedangkan pertumbuhan kelompok sektor sekunder menjadi lebih rendah.77 7.04 30.73 6.53 Tersier 7.91 7.95 11. Sementara itu.85 9.25 8.13 9.06 Perdagangan 7.

48%) dan lapangan usaha industri pengolahan (13.53 29 098.74 872 426. Persewaan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Dasar Harga Berlaku Harga Konstan Jumlah % Jumlah % Pertanian 3 107 119.36 Jasa-jasa 1 005 409. Listrik.13 24.00 Primer 4.65 9.15 Tersier 3.53 Angkutan dan Komunikasi 866 875.83 39.02 10. Sektor pertanian tetap merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu sebesar 29. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian dan pertambangan penggalian memiliki jumlah yang tinggi jika dilihat dari segi produksi.81 1 098 592.052.37 32.978.78 Sekunder 4.00 6 369 374.54%).46 7.42 150 145.25 Industri Pengolahan 2 835 994.70 14.036.35 670 818.033.48 0.91 1 817 444. menunjukkan tingkat ketersediaan dan tingkat penggunaan dari infrastruktur dasar yang masih rendah di Papua Barat.991.953.32 10.70 10.76 100.38 22.07 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka Tahun 2009.50 1.58 8. dan Air Minum 66 030.13 8.859.23 572 822.66 23.34 0. lebih kecil dari 1% baik menurut PDRB atas dasar harga konstan maupun berlaku.02 17.346.46 Bangunan 1 150 834. Sementara itu industri pengolahan memiliki besaran produksi yang lebih rendah namun memiliki nilai yang lebih tinggi.06 684 491.44 31. Gas.05 13.43 Keuangan.72 2.70 Listrik. hasil perhitungan Terdapat perbedaan kontribusi bila menggunakan PDRB atas dasar harga konstan.22 100. dan Jasa 302 327. LAPORAN AKHIR 1-95 .56 6.26 2.09 2.55 27.12 45.95 473 536.474.10 28.99 Perdagangan 1 290 421.53 Pertambangan dan Penggalian 1 846 593.465.78 1.75 PDRB 12 471 605.916.31% kepada PDRB konstan Provinsi Papua Barat kemudian oleh pertambangan dan penggalian (19.712. dan air minum memberikan kontribusi terkecil. gas.

Besarnya kontribusi sektor primer yang hingga mencapai angka 44. PDRB tanpa migas atas dasar harga berlaku untuk sektor pertanian menjadi sektor dengan kontribusi tertinggi yang angkanya mencapai 2.52 persen dapat menunjukkan bahwa sektor ini merupakan sektor vital yang menjadi penopang utama perekonomian di Papua Barat.152 triliun atau sebesar 39.35 PDRB Papua Barat per Kelompok Sektor Tahun 2008 Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Konstan 2000 Analisis dengan mengeliminir migas menunujukkan beberapa perbedaan. Gambar 1.74%. Sektor primer tetap menjadi sektor dengan kontribusi tertinggi namun diikuti oleh sektor tersier baru kemudian sektor sekunder. Sektor perdagangan memiliki kontribusi terbesar kedua yaitu sebesar 508 miliar atau 14. Terdapat perbedaan jika menggunakan angka PDRB atas dasar harga berlaku.20 persen.982 triliun (44. Sektor sekunder ada pada posisi berikutnya dan kemudian diikuti oleh sektor tersier. Kontribusi LAPORAN AKHIR 1-96 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.34 PDRB Papua Barat per Sektor Tahun 2008 ADH Berlaku Kontribusi kelompok sektor utama dalam ekonomi berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku menunjukkan sektor primer yang terdiri dari pertanian dan pertambangan dan penggalian sebagai sektor yang memberikan kontribusi terbesar yaitu 3.52%).

36% turun menjadi 1.367.87 0. dan Jasa Jasa-jasa PDRB 6.121.560. sektor primer menjadi sektor dengan kontribusi sebesar 39.42 10.38% 10. dan Air Minum Bangunan Perdagangan 14.53% 2.804.289.141.62 1.96 10.06% 10.24 925.43 38.48 561814.038.226. Tabel 1.25 571658.59 100 39.60 24616. Begitu pula dengan sektor industri pengolahan meskipun tidak sejauh pada sektor pertambangan penggalian.49 10.204.59 440813.53 PDRB Atas Dasar Harga Konstan Jumlah (juta RP) % 1627118.429.82 38.06 649.20 48.221. Gas.21% atau senilai 2.41 39. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan.79 0.39 22.15% Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sektor pertambangan dan penggalian turun drastis dari 17.54 646.625.206.669.430.496.413.496 triliun rupiah.24% Berdasarkan kelompok sektor utama.75% Angkutan dan Komunikasi Keuangan.66 38.44 94706.68 42867.17 13.15% 38.54% 1.60 1. dan Jasa Jasa-jasa 11.53 Sekunder 1.7 13.75 715.587. Gas.47 PDRB Provinsi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 2006 Lapangan Usaha PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Jumlah (juta Rp) % 2.457.20 persen atau sebesar 649.11 Primer 2.36 PDRB Papua Barat per Sektor Tanpa Migas Tahun 2006 Pertanian 11.38 734.420.20% 0.434.22 11.15 151.166.644.46 2.26 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.59 11.53 14.32 Tersier 2.47 persen turun menjadi sebesar 10. Kontribusi sektor industri pengolahan tadinya sebesar 19.01 10.458.36 397041.458 miliar.59 1.986. Persewaan. Sektor tersier memiliki kontribusi sebesar 38. Persew aan. sedikit lebih rendah dibandingkan dengan jika memperhitungkan migas.42 miliar rupiah.02 445795.70 21.23 100 4.26 2. hasil perhitungan Gambar 1.91 38.15 67.21 1.06% atau hanya sebesar 67.93 9.64 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.60% atau LAPORAN AKHIR 1-97 .19 911.

Sektor sekunder memberikan kontribusi terendah yaitu sebesar 22.42 15.19% Primer Sekunder Tersier Pergeseran Struktur PDRB Provinsi Papua Barat PDRB Papua Barat yang ditampilkan secara time series dapat menjadi salah satu alat untuk mengetahui apakah terjadi perubahan atau pergeseran struktur ekonomi di wilayah tersebut.9 8 20.71 19. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan produksi dan inflasi sektorsektor di luar migas bergerak secara sebanding.77 21. Tabel 1.50 18. Adanya perubahan ini seiring dengan meningkatnya angka pertumbuhan pada sektor industri pengolahan tiap tahunnya dan pertumbuhan yang lambat dari sektor pertambangan dan penggalian.24 25.63 2001 32.1 2008 24.90 2005 27. Kedua sektor ini memang seolah-olah bertukar posisi. sebaliknya sektor pertambangan dan penggalian terus menurun.60% 39.37 PDRB Papua Barat per Kelompok Sektor Tahun 2006 38.85 13. Antara tahun 2000-2006 perubahan menonjol terjadi pada sektor pertambangan penggalian dan industri pengolahan.6 4 15.53 11.457 triliun rupiah.97 2006 27. Kontribusi sektor industri pengolahan terus meningkat.20 19.48 Persentase Tiap Sektor Ekonomi dalam PDRB Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2000-2008 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan 2000 32.31 19.86 18.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sebesar 2.8 1 22.413 triliun rupiah. Jika dilihat dari PDRB tanpa migas atas dasar harga konstan.94 2004 29.51 13.9 1 14.75 2002 32.21% 22. komposisinya juga memberikan angka komposisi yang cenderung setara dengan PDRB tanpa migas atas dasar harga berlaku.77 2003 31.16 17.45 18.7 LAPORAN AKHIR 1-98 .19% atau sebesar 1.36 19. Gambar 1.47 2007 26.

69 8.00 10. hasil perhitungan Gambar 1.06 100. Kedua sektor tersebut memiliki angka pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB secara total.19 26.28 23.64 2001 0.21 100.28 20.72 6.03 26.80 6.0 47. dan Jasa Angkutan dan Komunikasi Perdagangan Bangunan Listrik.0 44.01 6.41 7.91 1. Hal ini adalah akibat dari lebih rendahnya pertumbuhan sektor pertanian dan pertambangan penggalian yang termasuk ke dalam kelompok sektor primer dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.37 6.89 1. dan Air Minum Industri Pengolahan Pertambangan dan Penggalian Pertanian Jika dilihat dari kelompok sektor.28 1.34 26.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2003 0.59 8.78 9.77 18.02 100. Gas.5 8 7.58 persen pada tahun 2005. Persewaan.47 2007 0 0.61 10. sektor primer tetap merupakan sektor yang dominan dalam kurun waktu 2000 hingga 2006.3 5 6.35 7.59 23.86 5.67 8.53 9.93 100.50 7.91 8.62 25. LAPORAN AKHIR 1-99 .6 2 29.25 2008 4 0.0 57.38 1.54 8.78 100.71 100. Meski demikian sektor primer memiliki kontribusi yang terus menurun.22 1.43 6.29 1.81 2002 0.01 2005 0.01 27.23 10.38 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tahun 2000-2006 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Jasa-jasa Keuangan.0 46.56 8.0 42.15 9.51 27.42 8.81 7.0 52.0 54.59 8.47 6.72 32.92 24.87 2006 0.96 26.54 100.50 27.48 100.38 6.03 Lapangan Usaha Listrik.0 39.52 28. Kontribusi sektor primer adalahs sebesar 57.44 2.02 9.77 persen pada tahun 2000 menurun menjadi 44.1 1 Sumber: Provinsi Papua Barat Dalam Angka Tahun 2009.54 8.0 50. dan Jasa Jasa-jasa PDRB Primer Sekunder Tersier 2000 0. dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan.2 7 28.95 2.60 4. Gas.96 10. Persew aan.42 1.60 8.56 21.67 9.13 5.07 8.39 2004 0.88 100.

91 11.89 20.66 Bangunan 9.21 22.85 11.35 2.65 1.49 Sekunder 20. Persewaan.05 10.88 Tersier 33.86 20.60 Sektor sekunder menunjukkan terus mengalami peningkatan. Sementara itu kontribusi sektor tersier bergerak naik turun pada kisaran angka 23% hingga 28% setiapa tahunnya.43 0.36 2.49 Persentase Tiap Sektor Ekonomi dalam PDRB Papua Barat Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2000-2006 Lapangan Usaha 2000 2001 2002 2003 2004 Pertanian 45.06 10.75 11.87 7.30 9.00 40.94 1.33 7.01 Industri Pengolahan 10. dari 18.15 2.43 36.80 Angkutan dan Komunikasi 6.76 34. Sektor industri pengolahan yang terus tumbuh dan meningkat menjadi faktor tingginya kontribusi sektor sekunder.08 12.87 0. dan Air Minum 0.63 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.26 9.00 100.80 35.72 2006 38.48 44.15 1.52 0.73 10.78 41.76 20.53 100.45 8.00 Primer 46.01 persen pada tahun 2006.58 0.38 11.21 33.13 2.07 2.01 11.69 Jasa-jasa 11.93 10. jauh di atas sektor-sektor lainnya namun cenderung LAPORAN AKHIR 1-100 .35 9.59 persen pada tahun 2000 menjadi 28.00 100.44 13.42 14. Gas.19 38.64 11. dan Jasa 2.55 100.07 13.39 Pergeseran Kelompok Sektor Ekonomi Papua Barat Tahun 2000-2006 100% 80% 60% Tersier Sekunder Primer 40% 20% 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tabel 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.89 0.37 42.94 0.16 2. Dieliminirnya non migas praktis menjadikan sektor pertanian menjadi sektor paling vital bagi perekonomian Papua Barat.17 9.83 8.72 42. hasil perhitungan 2005 39.04 10.59 37.85 Keuangan.60 43.16 45.54 10.48 Pertambangan dan Penggalian 0.23 9.24 14.00 100.69 21.42 13.46 11.52 0.63 20.29 44.31 43.20 0.54 0.83 Listrik.00 39.29 PDRB 100.77 11.00 100.40 Perdagangan 12.85 11.

Peran sektor pertambangan dan penggalaian turun drastis hingga berkisar pada angka 1 persen. Gambar 1. Hal ini adalah akibat dari lebih rendahnya pertumbuhan sektor pertanian dibandingkan sektor-sektor lainnya.41 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 2000-2006 80% 60% Tersier Sekunder 40% Primer 20% LAPORAN AKHIR 1-101 2001 2002 2003 2004 2005 2006 0% 2000 . dan Air Minum 40% Industri Pengolahan Pertambangan dan Penggalian Pertanian 0% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 80% 20% Sektor sekunder bergerak pada angka yang relatif tetap yaitu memberikan kontribusi yang berkisar pada angka 20% pada tahun 2000 hingga 2004 dan sedikit mengalami kenaikan pada tahun 2006 menjadi 22.16 persen pada tahun 2000 menurun menjadi 40.60%. Gas. Kontribusinya pada tahun 2000 adalah sebesar 33. sektor primer sebagai sektor yang dominan dalam kurun waktu 2000 hingga 2006 di Provinsi Papua Barat. Kontribusi sektor primer adalah sebesar 46. dan Jasa Angkutan dan Komunikasi Perdagangan 60% Bangunan Listrik.21% dan tahun 2006 menjadi sebesar 38. Persew aan.40 Pergeseran Sektor Ekonomi Papua Barat Tanpa Migas Tahun 20002006 100% Jasa-jasa Keuangan. Kontribusi sektor primer tanpa migas lebih rendah dibandingkan dengan kontribusi sektor primer dengan migas.19%. 100% Gambar 1. Besar kontribusinya juga terus meningkat setiap tahunnya.78 persen pada tahun 2005. Dieliminirnya migas praktis menjadikan sektor primer bertumpu hampir sepenuhnya pada sektor pertanian. Sementara itu sektor tersier memiliki kontribusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontribusinya ketika memperhitungkan migas. Dilihat dari kelompok sektor.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 menurun. Meski demikian sektor primer memiliki kontribusi yang terus menurun.

Sektor pertanian di wilayah lainnya di Indonesia umumnya bergantung pada pertanian tanaman pangan dan perkebunan.3 Tinjauan Ekonomi Sektoral Tinjauan ekonomi sektoral berusaha melihat ekonomi wilayah Papua Barat dilihat dari 3 kelompok sektor utama yaitu sektor primer.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.57 triliun rupiah namun dari segi persentase kontribusi menurun menjadi 29. sektor keuangan.1 Sektor Primer Sektor primer merupakan sektor dengan sektor yang selama ini dominan di Provinsi Papua Barat.5. sektor ini memiliki kontribusi sebesar 1. dan jasa perusahaan. Secara fisik. Pada tahun 2005 meningkat menjadi 1. Pertumbuhan kedua sektor yang termasuk dalam sektor primer yaitu pertanian dan pertambangan penggalian termasuk yang paling lambat jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Meski demikian sektor ini mengalami kecenderungan memiliki kontribusi yang menurun. hotel. LAPORAN AKHIR 1-102 . listrik dan air minum serta sektor bangunan.27 triliun rupiah atau 32.3. dan tersier. Sementara itu sektor-sektor yang termasuk dalam kelompok sektor tersier adalah sektor perdagangan. 1. sekunder.66%. Sektor sekunder terdiri dari sektor industri pengolahan. sektor angkutan dan komunikasi. Perikanan dan kehutanan adalah subsektor yang paling menonjol dari sektor pertanian di Provinsi Papua Barat. Berdasar atas PDRB atas dasar harga konstan. dan sektor jasa-jasa. 1) Pertanian Sektor pertanian merupakan sektor paling dominan di Provinsi Papua Barat. dan restoran. Kelompok sektor primer terdiri dari sektor pertanian dan sektor pertambangan penggalian.24% dari PDRB Papua Barat pada tahun 2000. Papua Barat memang kaya akan hutan dan dikelilingi oleh lautan.5. Subsektor kehutanan dan perikanan merupakan subsektor yang paling berpengaruh pada sektor pertanian di Papua Barat. Pembagian ke dalam ketiga sektor tersebut berdasar pada asal terjadinya proses produksi. persewaan.

masyarakatnya sebenarnya tidak terbiasa membudidayakan padi namun kemudian beralih.336 1. Sementara itu subsektor tanaman pangan. Tabel 1.131 2.28 2. ketiga susbsektor ini sebenarnya dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas. Peternakan.21 10.18 10. Metroxylon sago). PETERNAKAN.1 Tanaman Bahan Makanan 218261.94 110.58 11. Kehutanan.279 871 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 31. Jika dikembangkan.093 2. tanaman sagu tergeser oleh nasi.95 Sumber : Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 LAPORAN AKHIR 1-103 .43 100.34 32.52 263602.88 487106. dan peternakan lebih bersifat kegiatan budidaya.21 Sumber : PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.78 1.24 1573097.54 10.18 2. Namun sejak beberapa dekade terakhir.49 1.823 2.02 111.50 Jumlah Produksi Pertanian.20 16.57 590345. Hal ini adalah akibat dari kebijakan pemerintah yang menjadikan nasi sebagai salah satu indikator kemakmuran dan menjadikannya sebagai bahan makan pokok secara nasional.543 2.58 10.137 855 2005 Produksi (ton) 24.87 148870.54 4.48 15. perkebunan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Sifat dari pertanian pada subsektor kehutanan dan perikanan lebih bersifat ekstraktif.67 10 Luas Panen (Ha) 8545 1947 1963 2170 1937 1819 925 2006 Produksi (ton) 27518 3120 21913 21405 1856 1917 944 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 32.85 1.57 8.72 1.81 5.2 Tanaman Perkebunan 113777.897 19.080 2.48 1. 2000 Jumlah % 2005 Jumlah r % 1275948.28 KEHUTANAN & PERIKANAN 1.00 10.66 4.991 2. dan Perikanan Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Lapangan Usaha PERTANIAN.94 5.51 Luas Panen.14 10.97 3.58 9.52 1.72 9.13 5.99 112.70 29. Tabel 1. kemiskinan merupakan salah satu isu utama di Provinsi Papua Barat. Produksi dan Rata-Rata Produksi Pertanian Tanaman Pangan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Jenis Pertanian Luas Panen (Ha) Padi sawah dan padi ladang Jagung Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau 7.86 2.40 83172.63 98.4 Kehutanan 430664. Terlebih karena. memanfaatkan langsung dari alam.76 11.64 9.85 98. Padahal untuk Papua Barat.66 10. hasil perhitungan Pertanian Tanaman Pangan Tanaman pangan pokok di Papua Barat pada umumnya adalah tanaman sagu (Metroxylon rumphii.21 Luas Panen (Ha) 11 467 1 070 2 052 1 524 958 1 624 560 2008 Produksi (ton) 39 537 1 711 23 071 15 341 979 1 740 557 Rata-Rata Produksi (Kw/Ha) 34.702 3.58 15.5 Perikanan 457877.317 25.3 Peternakan & Hasil-hasilnya 55366.

ubi jalar.92 1 208 100.63 363 100.80 1 540 100.64 954 100.16 2 416 110. Sementara itu ubi kayu memiliki jumlah produksi dalam ton yang tertinggi yaitu mencapai duapuluh lima ribu ton lebih. sementara penduduk asli lebih suka memilih tanaman keras seperti sagu dan ketela.65 1 058 100. Pada tahun 2005.54 1 833 111. LAPORAN AKHIR 1-104 .63 6 371 100.64 1 651 32. tanaman padi baik padi sawah maupun ladang memiliki luas tanam yang paling luas yaitu sebesar 7.38 Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Sumber : Papua Barat dalam Angka 2009 Tiga komoditi dengan produksi tertinggi adalah ubi kayu. Komoditi padi sawah juga paling banyak ditemui di Manokwari.823 hektar dengan jumlah produksi mencapai duapuluh empat ribu ton.67 10 784 35. disusul oleh Kabupaten Sorong dengan produksi sesbesar 6623 ton. Ubi kayu dan ubi jalar paling banyak diproduksi oleh Kabupaten Manokwari. Ubi Kayu.95 Luas Panen ( Ha) 132 72 165 221 1 137 38 218 34 35 Ubi Kayu Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 1 486 112.95 25 309 34.75 Luas Panen (Ha) 135 120 95 195 633 105 153 36 52 Ubi Jalar Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 1 362 100. dan Kota Sorong.58 832 115.32 1 059 34. Sorong Selatan. Tabel 1.11 194 34. komoditi pangan yang mengalami peningkatan produksi adalah padi.46 1 962 100. ubi jalar.52 Luas panen. pada tahun 2006 menghasilkan produksi mencapai lebih dari limabelas ribu ton.13 374 106. dan padi. dan kacang hijau.83 522 100.25 12 873 113.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tanaman padi umumnya dibudidayakan oleh para transmigran dari Jawa. Padi sawah tidak ditemukan di Kaimana. rata-rata produksi komoditi ini juga yang tertinggi yaitu mencapai 110 kwintal per hektar.83 381 112.30 216 26.22 419 110.07 2 459 111. Untuk tahun 2006. dan Ubi Jalar per Kabupaten/Kota di Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Luas Panen (Ha) 95 56 501 7 378 81 3 053 303 Padi sawah Produksi Rata-Rata (ton) Produksi (Kw/Ha) 324 34. Produksi dan Rata-rata Produksi Pertanian Padi Sawah.

dan Kacang Hijau per Kabupaten/Kota di Papua Barat tahun 2008 Kabupaten/Kota Padi Sawah Luas Panen (Ha) 85 51 365 6 507 3 053 297 10 358 7 580 7 546 6 415 5 231 Produksi (Ton) 298 180 1 293 22 920 10 784 1 043 36 518 26 101 24 810 20 896 16 445 Padi Ladang Luas Panen (Ha) 10 5 136 871 81 6 1 109 777 999 1 408 1 745 Produksi (Ton) 26 14 358 2 389 216 16 3 019 2 103 2 708 3 806 5 152 Jagung Luas Panen (Ha) 4 25 42 123 562 39 245 21 9 1 070 1 518 1 947 2 080 1 375 Produksi (Ton) 7 39 68 202 890 65 390 35 15 1 711 2 429 3 120 3 317 2 024 Ubi Kayu Luas Panen (Ha) 132 72 165 221 1 137 38 218 34 35 2 052 1 615 1 963 2 336 1 853 Produksi (Ton) 1 486 832 1 833 2 459 12 873 419 2 416 381 374 23 071 17 833 21 913 25 897 20 440 Ubi Jalar Luas Panen (Ha) 135 120 95 195 633 105 153 36 52 1 524 1 874 2 170 1 991 2 044 Produksi (Ton) 1 362 1 208 954 1 962 6 371 1 058 1 540 363 522 15 341 18 702 21 405 19 543 20 476 Kacang Tanah Luas Panen (Ha) 34 20 100 186 392 123 96 7 958 1 725 1 937 2 093 1 350 Produksi (Ton) 35 20 102 192 398 126 98 7 979 1 763 1 956 2 131 1 348 Kedelai Luas Panen (Ha) 2 12 36 152 1 305 23 78 16 1 624 1 282 1 819 2 137 1 326 Produksi (Ton) 2 13 40 162 1 398 26 82 17 1 740 1 360 1 917 2 279 1 523 Kacang Hijau Luas Panen (Ha) 1 14 28 160 179 100 71 7 560 667 925 855 570 Produksi (Ton) 1 13 27 160 176 103 71 7 557 670 944 871 412 Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Sorong 2008 2007 2006 2005 2004 Sumber : Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-105 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. Padi Ladang. Kedelai. 53 Luas panen dan Produksi Pertanian Padi Sawah. Kacang Tanah. dan Ubi Jalar. Ubi Kayu.

911 16. Wrmare.749 17.942 305 8.962 Kelapa sawit juga merupakan salah satu komoditi perkebunan dengan luas tanam terluas. Kelapa 9.54 Luas Area dan Produksi Tanaman Perkebunan Rakyat Di Provinsi Papua Barat 2003 . dan Coklat Di Provinsi Papua Barat 2003 – 2008 (Ha) Kabupaten Kelapa Sawit Kelapa Coklat LAPORAN AKHIR 1-106 . Coklat 7.326 218 5.749 3.970 2. Kelapa Sawit 11. Tanaman coklat merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menonjol. Kelapa.296 2.962 2008 Luas Produksi (ha) (ton) 750 60 5.965 2 2.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Perkebunan Produksi kelapa (kelapa buah) merupakan salah satu produk perkebunan tertinggi di Papua Barat.326 708 218 10.156 16.540 708 10. Jambu Mete 305 1 305 1 7. dan Prafi.436 5.911 1. Buah kelapa belum diolah secara intensif terutama untuk menghasilkan minyak goreng skala perusahaan.965 305 2 8. coklat juga dikembangkan oleh perkebunan rakyat dan terdapat di Kabupten Manokwari yaitu di sekitar Oransbari.340 15. Pengolahan biji sawit masih pada tahap pengolahan produk cruide palm oil (CPO). Diharapkan biji kakao dapat dimanfaatkan oleh perusahan yang mengolah biji kakao menjadi coklat bubuk. Data luas tanaman dan produksi dilihat dari jenis perkebunan berupa perkebunan rakyat adalah sebagai berikut: Tabel 1. Selain dikembangkan oleh perkebunan besar.463 2005 Produksi (ton) 60 1.811 4. Cengkeh 891 48 751 55 2. Tabel 1. namun baru dimanfatkan secara kecil-kecilan dan yang paling banyak adalah pemanfaatan santan kelapa untuk kebutuhan rumah tangga.540 17.594 5.899 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Jenis Tanaman Luas (ha) 750 5.749 16.2008 2003 2004 Luas Produksi Luas Produksi (ha) (ton) (ha) (ton) 1.463 2. Komoditas ini jika dikembangkan lebih intensif akan memberikan manfaat ekonomi yang besar karena memiliki nilai jual yang tinggi. terutama karena meningkatnya kebutuhan CPO sebagai salah satu bahan bakar energi alternatif untuk otomotif.55 Luas Area Tanaman (ha) dan Produksi (ton) Kelapa Sawit. Pala 5.897 6. Tanaman ini juga memiliki nilai jual yang tinggi. Kopi dan cengkeh memiliki luas tanam yang termasuk kecil dibandingkan dengan komoditi perkebunan lainnya. Kelapa tumbuh hampir merata di semua wilayah Papua Barat terutama wilayah pulau-pulau kecil dan pesisir.911 1.749 8.691 5.911 1.540 20.030 10.942 5. wilayah pantai dan dataran rendah. Ransiki. Kopi 391 197 708 214 5.

502 32. Kecuali ayam ras pedaging dan ayam kampung.193 45.708 12.344 597 1.239 273. dan Kaimana. Manokwari.719 83.415 204.309 48.794 80.259 13.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Produksi 384 1238 69 75 1433 750 1433 895 6277 Luas 170 854 250 250 3204 978 1807 950 8463 Produksi 36 57 295 105 959 75 286 978 2791 Luas Produksi Luas Fak-Fak 1095 Kaimana 1261 Teluk Wondama 126 Teluk Bintuni 5000 2170 66 Manokwari 11540 15156 2012 Sorong Selatan 290 Sorong 2012 Raja Ampat 3737 Kota Sorong Jumlah 16540 17326 10599 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Perkebunan rakyat kelapa sawit yang telah ada di Papua Barat baru terdapat di Kabupaten Manokwari dan Teluk Bintuni.427 29. Meski hanya terdapat di 2 (dua) kabupaten tersebut.822 846 10.379 35.283 66.429 30.610 868.274 405.755 Itik 252 57 61 527 10. Untuk komoditi kelapa.667 725. Tabel 1.777 Ayam Petelur 40.185 43.536 Kambing 580 571 173 288 5.425 11.923 23.297 34.110 Ayam Pedaging 2.330 912 1.012 66. luasan tertinggi ada di Raja Ampat namun produksi tertinggi terdapat di Sorong.036 155.508 229 5.835 580 2. komoditi ini sudah menjadi komoditi dengan produksi tertinggi di Papua Barat.961 33.769 54. Coklat memiliki luas tanam paling luas di Manokwari kemudian Sorong. babi dan jenis unggas.992 45.678 33.890 27.130 254.125 774.790 45.512 891. populasi jenis ternak lainnya paling banyak terdapat di Manokwari.56 Populasi Ternak menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 2005 Sapi 1. namum produksi tertinngi terdapat di Kabupaten Raja Ampat. Peternakan Komoditi peternakan yang ada di Provinsi Papua Barat adalah sapi.623 1.026 15.803 554 875 12.454 31.829 342. populasi ayam pedaging terdapat di Sorong.216 564 206 323 19.425 LAPORAN AKHIR 1-107 . Sementara itu.989 129.019 Ayam Buras 44.094 55 1.821 33.992 414. sementara ayam kampung paling tinggi terdapat di FakFak.107 493.106 360. kambing.223 11.923 Babi 921 467 624 1.676 68 236 13.

807 732.714 27. 58 Produksi Telur menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (kg) Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Ayam Kampung 19. telur ayam ras paling banyak diproduksi di Kabupaten Sorong.457 9.751 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Produksi telur unggas paling tinggi adalah dari jenis ayam ras petelur. memungkinkan wilayah ini memiliki tingkat konsumsi tinggi.770 19.593.475 49. Manokwari merupakan ibukota dan wilayah dengan jumlah penduduk tertinggi. Tabel 1.895 25.928 33.749 437. Sementara itu..164 Babi 13.027 26.827 35.463 757.227 298.278 28.612 Itik/Entog 1.504 14.873 Ayam Ras 199.379 1. 57 Produksi Daging Ternak menurut Jenis Ternak dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (kg) Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 2008 2007 2006 2005 Sapi 54.773 6.192 31.245 50 175 9.036 14.637 22.979 617 1.003 24.227 114.305 149.671 640 7.726 325 LAPORAN AKHIR 1-108 .866 9. Kabupaten Manokwari merupakan daerah penghasil daging peternakan tertinggi untuk jenis apapun.461 326.583 59.125 46.068 28.580 894.246 212.124 247.058 235.858 2.715 230.438 77.748 39.073 10.496 40 1.777 20.066 Ayam Pedaging 2.679 9.246 33.242 29.58 4 732.005 95.028 20.255 1.806 25.672 676. Tabel 1.966 808.214 Kambing 2. Produksi telur ayam kampung dan telur itik paling tinggi terdapat di Manokwari.186 467. termasuk ayam pedaging dan ayam kampung yang jumlah populasinya bukan yang tertinggi di Papua Barat.734 88.038 1.522 653.549 Ayam Buras/ Kampung 32.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Produksi daging ternak di Provinsi Papua Barat berupa hewan ternak sapi merupakan yang tertinggi dibanding dengan komoditi lainnya.546 3.339 22.658 90.347 235.304 14.156 531.942 38.358 Itik 187 42 45 391 7.467 483.514 340 366 3.048 Ayam Petelur 15.331 3.939 62.007 50.342 13.994 9.646 162.020 4.169 60.

417 78. Kab. India. T. Kab. Raja Ampat Luas Wilayah*) 1.466 287.052 315.156. Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Papua secara keseluruhan (termasuk Provinsi Papua Barat) berdasarkan (SK. Dengan menganalisis potensi dan pola pemasaran hasil hutan di Provinsi Papua Barat. nyatoh. Kab.00 608.382 69.700.800. kulit masohi. maka dapat diasumsikan bahwa sektor kehutanan termasuk dalam sektor basis di Provinsi Papua Barat.224.700.00 724. mersawa.00 1.6 m³. Kab.863.00 2.103 81. Hasil hutan di Provinsi Papua Barat antara lain adalah beberapa jenis kayu yang bernilai ekonomis seperti merbau.023 123.00 578.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 326.695 19.300 87. Selain itu. Kab.960. Hongkong.50 686. Sorong 5.\ Tabel 1.665. Luasnya lahan penebangan di Teluk Bintuni membuat kabupaten ini memiliki produksi kayu terbesar yaitu 101.604 93.242 10.125 74. gahau.400 286. T.733. sagu.600.549 Sorong Raja Ampat Kota Sorong PROVINSI PAPUA BARAT 2007 2006 2005 2004 2003 67.327 73.346 5.360 Ha dan Kawasan Perairan 1.899 35. kulit lawang.657 113.138.945. Kab. 59 Luas Hutan dan Perairan diProvinsi Papua Barat dirinci Per Kabupaten/Kota Kabupaten/Kota 1.079 259.01 610. Hasil produksi hutan di Provinsi Papua Barat sebagian besar diekspor ke negara lain.840 Ha yang terdiri dari Kawasan Hutan seluas 40. Manokwari 2. Pengolahan dan distribusi hasil-hasil hutan tersebut melalui jalur Pelabuhan Manokwari dan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.065.082 406 1.199.800.921.84 1.678.546.05 LAPORAN AKHIR 1-109 .90 1.37 2.480 Ha. matoa.753 640. Jepang.165 246. kayu kemenyan. ada pula produksi hutan non kayu seperti rotan. Wondama 4. Teluk Bintuni memiliki jumlah lahan terluas untuk penebangan yang dilakukan oleh perusaahan HPH yaitu seluas 6. Menhutbun Nomor: 891/Kpts-II/1999) sebesar 42.00 Hutan+Perairan 1.701 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Kehutanan Potensi hutan di Provinsi Papua sangat tinggi. pulai.500 74. dan Korea Selatan. medang dan bintangur. Bintuni 3.07 hektar.156 102.721.450.564. Sorong Selatan 6. resak.283.151. Adapun negara tujuan ekspor diantaranya adalah Negara Cina.099 334. Kegiatan pemanfaatan hutan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan.979.

Kab.00 31.165. perlu ada upaya dari pihak pemerintah daerah untuk melindungi kepentingan masyarakat.000 m3. Kaimana 9.6 1.24 6. hasil perhitungan Dalam pengusahaan dan pemanfaatan hutan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.00 1.57 940 14.53 1.13 14. Sehingga yang lebih mendapatkan hasil ekonomi dari industri kehutanan adalah para pemodal besar.994. Di Provinsi Papua Barat sendiri telah dikeluarkan 29 unit HPH yang meliputi hutan seluas 4. industri kehutanan adalah industri yang padat modal. Fakfak 8.97 Ha. Kab.2 101.003.377.25 3. Sementara Industri Primer Hasil Hutan (IPHH) yang berkembang di Papua Barat digolongkan menjadi 2 yaitu Industri yang berskala besar dengan nilai produksi lebih dari 6.823.000.654.000.58 38.00 1. Tabel 1.388.426. Untuk itu. Namun tentunya pengekploitasian hutan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi degradasi lingkungan yang drastis.726.00 11. diberikan Hak Pengusahaan Hutan dan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu kepada perusahaan dibidang terkait.786.29 207. Kota Sorong Grand Total Sumber: Papua Barat dalam Angka 2006.406.41 11.224. Perikanan LAPORAN AKHIR 1-110 .17 7.000 m3 dan industri di bawah sedang yaitu produksi dibawah 6.60 Perkembangan Luas Penebangan Hutan dan Hasilnya oleh Pemegang Hak Perusahaan Hutan Tahun 2006 (ha) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Luas Penebangan 2.850. Selain itu.866.432.733. Pendapatan dari sektor kehutanan merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi Provinsi Papua Barat.98 9.07 Jumlah Produksi 42.199.58 41.211.65 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2006.352.921. sehingga masih dapat menikmati hasil dari kekayaan hutan wilayah ini.135.736. Sedikitnya terdapat 3 perusahaan berskala besar dan 15 perusahaan sedang yang bergerak dalam sektor kehutanan ini. hasil perhitungan Sektor kehutanan di Provinsi Papua Barat memiliki potensi yang sangat baik.040.653.966.

peningkatan secara tajam produksi perikanan termasuk atribut perikanan lain (rumah tangga nelayan. Hal ini berkaitan erat sekali dengan kecenderungan kenaikan rumah tangga perikanan (skala kecil dan menengah) dan penambahan jumlah alat tangkap ikan. dan armada penangkapan) terjadi dari tahun 1997 yaitu bersamaan dengan mulai anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang berlanjut dengan krisis ekonomi/moneter.000.000. Secara agregat kenaikan produksi perikanan laut Provinsi Papua Barat dari kegiatan perikanan tangkap tahun 1991 – 2002 dapat dikatakan cukup tinggi.000.0 40.0 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 Fak-Fak Sorong Manokwari LAPORAN AKHIR 1-111 .0 30.0 20. dan hal ini diduga sebagai penyebab meningkatnya jumlah produksi perikanan.000. jumlah nelayan tradisional dan penambahan jumlah perusahaan penangkapan ikan serta adanya peningkatan jumlah dan jenis alat tangkap. Hasil Tangkapan Ikan Laut (kg/tahun) 60.000.0 10. alat tangkap.000. Dalam kurun waktu tersebut.000.000.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Berdasarkan Statistik Perikanan Provinsi Papua tahun 1991-2002.000.0 50. Peningkatan produksi terjadi pula sebagai akibat dari adanya upaya peningkatan pertumbuhan (rumah tangga perikanan) penduduk.0 0. produksi perikanan laut dari kabupaten-kabupaten yang ada di wilayah Papua Barat menunjukkan peningkatan produksi tangkapan untuk berbagai jenis ikan. Krisis ekonomi yang dialami oleh bangsa Indonesia justru membawa keberuntungan bagi para nelayan karena harga produk perikanan saat itu memiliki nilai tawar yang cukup baik.000. disamping pertumbuhan iklim investasi yang lebih baik lagi.000.000.

486 Jumlah 3. alat pendingin) dengan sistem kredit bergulir.010 Kapal Motor 461 107 20 30 315 25 61 467 1. jaring.108 728 319 463 4. terutama pada skala perikanan menengah ke bawah (subsisten).73% Perahu Papan Besar 3. LAPORAN AKHIR 1-112 . 2006).67% Motor Tempel 11. misalnya pengadaan alat penangkap (motor tempel. Bantuan yang diberikan berupa sarana produksi perikanan.30% Tanpa Perahu 21.43 Persentase Jumlah Rumah Tangga Perikanan di Papua Barat Menurut Kategori Besarnya Usaha Perikanan Kapal Motor 8.42 Gambar Produksi Perikanan (ton/tahun) pada Tiga Kabupaten di Provinsi Papua Barat (Wanggai.516 Perahu Tanpa Motor Jukung Perahu Papan 724 1215 171 286 77 84 111 122 181 1299 344 334 179 176 76 166 201 779 2.42% Jukung 27. et al. Tabel 1.96% Perahu Papan Sedang 8.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. telah memberikan kontribusi secara nyata terhadap peningkatan hasil tangkapan nelayan.064 4461 Motor Tempel 402 94 22 32 337 50 129 944 2..61 Jumlah Rumah Tangga Perikanan di Papua Barat Menurut Kategori Besarnya Usaha Perikanan dan Kabupaten Kota Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Tanpa Perahu 86 178 116 168 286 1 613 54 140 875 3.136 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Gambar 1.384 17.924 338 872 6.17% Perahu Papan Kecil 18.74% Kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir yang dilakukan oleh pemerintah baik pada tingkat nasional dan daerah (provinsi dan kabupaten) telah mendorong pula peningkatan jumlah alat tangkap.

00 5 214. Sumber daya laut lainnya di Papua Barat seperti udang dogol.40 530.6 kg yang tertangkap mengalami penurunan.00 487.60 106.40 210.8% pada tahun 1996 (Uktolseja.80 20.00 516.20 75. dan rumput laut.10 289. 62 Jumlah Produksi Perikanan Laut Menurut Jenis Ikan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 (Ton) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Teri 318.20 Madidhang 2 210.00 279.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Jenis-jenis ikan yang cukup dominan di Papua Barat adalah teri.70 219. dan madidhang.50 402.80 5 073.10 12 214.20 67.10 Kakap Putih 3 101.80 366. tenggiri. 63 Jumlah Nilai Produksi Perikanan Laut Menurut Jenis Ikan dan Kabupaten/Kota Tahun 2007 (Ribu Rupiah) Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Teri 2 288 487 534 772 482 726 642 821 Cakalang 20 214 752 4 723 767 2 548 646 3 393 898 Tenggiri 28 893 260 6 751 752 168 240 223 936 Madidhang 6 599 462 1 549 070 3 355 232 4 467 988 Kakap Putih 28 342 644 6 623 086 171 457 228 886 LAPORAN AKHIR 1-113 .70 25. Dinyatakan bahwa di wilayah perairan Papua sendiri. Tabel 1. (1998).40 89.60 703.50 334.30 60. udan putih/jebung. udang windu.20 366.20 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan untuk berbagai jenis ikan masih sangat rendah dibandingkan dengan potensi yang tersedia. kepiting.30 1 083. cumi-cumi. khususnya pada ikan cakalang yang tertangkap di perairan Indonesia Timur termasuk Papua.70 34.30 Cakalang 2 681.400 ton/tahun. peningkatan produksi di atas perlu dicermati secara mendalam dan hati-hati.70 960. Namun demikian jika mengaju pada hasil penelitian Uktoselja (1998).40 2 991.60 Tenggiri 4 677. potensi lestari untuk ikan pelagis besar secara keseluruhan adalah 612. 1998).60 127.30 27. dari 85.30 8 477.90 4 364.80 111.40 35.20 724.200 ton/tahun dan perikanan demersal untuk perairan Arafura dan sekitar perairan Papua sendiri sebesar 230. Tabel 1. cakalang.80 19 682. Sebagai gambaran dapat dikemukakan bahwa persentase ukuran ikan cakalang > 2.50 25.10 13.10 6 831.40 19.90 234.40 74.90 626.3 % pada tahun 1991 menjadi 36.10 4 941. dari data peningkatan produksi perikanan tangkap di atas dapat dikatakan bahwa status perikanan tangkap secara khusus di Provinsi Papua Barat masih berada jauh di bawah potensi lestari untuk perairan Papua berdasarkan Uktolseja et al. Walaupun tidak dilakukan pemisahan berdasarkan kategori jenis dan komposisi hasil tangkapan.10 2 347.60 748.60 1 206.

Adanya LAPORAN AKHIR 1-114 . Igomo. Terdapat beberapa daerah yang memiliki potensi galian logam namun belum dilakukan eksplorasi lebih lanjut. Tabel 1. Namun meski sumbangannya besar. Di Kabupaten Teluk Bintuni akan terdapat kegiatan pertambangan besar.063.350.53 7 2.53 24. LNG Tangguh (Bintuni) saat ini sedang dalam tahap konstruksi dan diperkirakan pada tahun 2009 sudah akan beroperasi.2 Pertambangan Tanpa Migas 0 0 0 0 0 2. Sektor ini hampir seluruhnya bertumpu pada subsektor pertambangan minyak dan gas bumi. Subsektor penggalian hanya memberikan kontribusi kurang dari 1% bagi PDRB Papua Barat.03 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007. 64 PDRB Sektor Pertambangan Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 dan 2005 Lapangan Usaha PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN 2. meski demikian memiliki kecenderungan untuk terus meningkat.4 8 985. Hal ini menyebabkan kontribusinya semakin menurun setiap tahunnya.42 0.170.76 20.546.4 r % 20.3 Penggalian 24. Penggalian selama ini belum memberikan hasil yang cukup signifikan bagi perekonomian Papua Barat.245. Batubara ynag terdapat di ketiga kawasan tersebut tergolong batubara muda karena masih menampakkan struktur kayu.699.91 2005 Jumlah 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tenggiri 2 409 067 95 977 175 894 526 699 3 704 638 42 949 463 Madidhang 48 054 418 373 982 685 385 1 902 763 13 381 443 80 369 743 Kakap Putih 2 606 085 158 433 290 356 905 125 6 115 393 45 441 465 Kabupaten Teri Cakalang Manokwari 6 913 721 36 502 296 Sorong Selatan 595 914 2 152 430 Sorong 1 092 113 3 944 694 Raja Ampat 3 270 231 11 812 015 Kota Sorong 23 001 797 83 082 069 Papua Barat 38 822 582 168 374 567 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 2) Pertambangan dan Penggalian Pertambangan dan penggalian merupakan salah satu sektor yang memberikan kontribusi terbesar bagi PDRB Papua Barat.20 0.62 37.820. hasil perhitungan Kegiatan pertambangan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dan saat ini usaha ini banyak terdapat di Sorong.06 % 25.010. Batubara sebagai salah satu barang galian juga cukup potensial di Papua Barat.74 1.1 Minyak dan Gas bumi 2000 Jumlah 1.05 1. Persebaran bahan galian batubara terutama terdapat di daerah kepala burung yaitu di daerah Homa. pertumbuhan pertambangan minyak dan gas bumi termasuk lambat jika dibandingkan sektor lain.101. dan Salawati.6 7 1.71 9.

bila ditinjau dari segi akibat yang ditimbulkan oleh kegiatan pertambangan mineral tersebut seluruhnya merupakan beban pemerintah daerah dan masyarakat yang berada di sekitar konsesi pertambangan tersebut.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 bahan tambang batubara ini mendorong peluang dikembangkannya Pembangkit Listrik Tenaga Uap untuk memenuhi kebutuhan listrik Papua Barat. Nama Perusahaan Tanggal Mulai Operasi Lokasi Konsesi Luas (Ha) 754.291.291 2. Menurut Laporan Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura (2004) bahwa investasi pertambangan umum di Papua terhenti pada tahun 2000.0 955.5 Tahap Kegiatan Eksplorasi Penyelidikan umum Penyelidikan Umum Penyelidikan Umum PT Irja Eastern Mineral 15 Feb 1997 Fak-Fak PT Siriwo Mining 28 Apr 1997 Fak-Fak PT Mineralindo Mas Salawati 28 Apr 1997 Sorong PT Barrick Mutiara Ransiki 28 Apr 1997 Fak-Fak Jumlah Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura (2004).020 Papua Barat 1. Tabel 1. Padahal.361. 3. Izin kegiatan perusahaan pertambangan seluruhnya dari pemerintah pusat.330.362. Ditinjau dari tahapan kegiatan pertambangannya. Peranan Pemerintah Daerah dalam penentuan kebijakan pada saat itu hampir tidak ada.0 2.500. investasi di bidang pertambangan umum mulai giat kembali. 2. 65 Banyaknya Usaha Sektor Pertambangan dan Penggalian Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha Fak-Fak 11 Kaimana 9 Teluk Wondama 5 Teluk Bintuni 21 Manokwari 32 Sorong Selatan 54 Sorong 95 Raja Ampat 1 Kota Sorong 1. Tabel 1.248 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 Tenaga Kerja 27 13 13 86 103 108 213 20 2.874 Perkembangan dan Status Pertambangan Umum Perusahaan pertambangan yang beroperasi di wilayah Papua Barat sebelum Otonomi Khusus ada 4 (empat) perusahaan. Hal ini sering menimbulkan konflik dan ketidakadilan dalam hal pembagian hasil dari kegiatan pertambangan mineral tersebut. 66 Perusahaan yang pernah beroperasi di wilayah Papua Barat (Sebelum Otsus) No. 1.553. Kebijakannya adalah bahwa di LAPORAN AKHIR 1-115 . Pada tahun 2002. 4. 1 (satu) perusahaan dalam taraf eksplorasi dan 3 (tiga) dalam taraf penyelidikan umum.5 457.0 124.

dan Platina Batubara Luas (Ha) 15.27 8 Des 2003 Pemerintah Provinsi Papua mengeluarkan surat Keputusan Nomor : 104 tahun 2002. Raja Ampat Kab. 2004. Ketentuan implementasi dari kebijakan ini adalah sementara sambil ada ketentuan lain yang diterbitkan.953 30.3. 67 Perusahaan Kuasa Pertambangan Umum di Wilaya Papua Barat No 1.5. 3. dan Platina Nikel. Chrom. Perusahaan/Kode Wilayah PT.250 6. Bila memperhatikan lokasi sumber bahan galian yang telah diberikan izin Kuasa Pertambangan umum. lokasi Raja Ampat sulit untuk direalisasikan karena sebagian wilayah merupakan kawasan konservasi yang secara yuridis formal tidak diperbolehkan untuk lokasi pertambangan. izin pertambangan tradisional diberikan. Sorong Selatan Distrik Aifat Kab. tercatat 11 wilayah KP baru yang diberikan izin oleh Gubernur Papua dengan total areal konsesi 355. tanggal 06 Agustus 2002 tentang Tata Cara Pemberian Kuasa Pertambangan Umum.891 62.950. 4. Sampai dengan awal November 2004. Tabel 1. Industri Sektor industri pengolahan merupakan sektor penyumbang PDRB terbesar untuk kelompok sektor sekunder. Khusus untuk masyarakat.91%. 1. Pada tahun 2000 subsektor industri besar/sedang memberikan kontribusi yang terbesar diantara subsektor lainnya dalam sektor industri pengolahan terhadap PDRB Papua Barat yaitu sebesar 273 miliar atau 6. dan Platina Nikel. Sorong Distrik Seget Bahan Galian Nikel. Chrom. PT.000 ha yang sebagian besar untuk penambangan Batubara. Kawei Sejahtera Mining PT.700.655. Dari 11 izin baru tersebut 5 (lima) perusahaan berada di wilayah Papua Barat.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Papua Izin Pertambangan dalam bentuk Kontrak Karya (KK) tidak diberlakukan. LAPORAN AKHIR 1-116 .2 Sektor Sekunder 1.28 Tahap Kegiatan Eksplorasi Eksplorasi Eksplorasi Penyelidikan Umum Penyelidikan Umum Ket 14 Okt 2004 14 Okt 2004 14 Okt 2004 8 Des 2003 5. Raja Ampat Kab. Walofi Mining PT. Chrom. Bahkan diberikan pula bantuan peralatan teknik penambangan terutama untuk bahan Galian C dan bahan Emas. Raja Ampat Kab. 27. 2. Perizinan hanya diberikan dalam bentuk Kuasa Pertambangan (KP). Papua Pacifik Minerals Lokasi Kab. Batan Pelei Mining PT. Papua Pacifik Batubara Minerals Total Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Jayapura.99 143.

060. 1 Industri Besar/Sedang 273.18% pada tahun 2005.951.61 0.080.162.81 44.350.053.964.3 11.31 BANGUNAN 260.1 21.13 8.404 22. dan rumah tangga.00 0.991.197 25. hampir mengejar subsektor industri besar/sedang.2 Air Bersih 4.577 154.159.126.737.72 4.25 15.786 98.264.562.085.85 7.594. industri digolongkan menajdi 4 kategori yaitu industri besar.528306 5 2 Sumber : PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.18 16.61 0.21% dalam kurun waktu 2000 hingga 2005.63 747. sedang.052.28 8.27 0.845 Ket: Data Kabupaten pemekaran masih bergabung dengan kabupaten induk Berdasarkan kemampuan menyerap tenaga kerja.21 8 LISTRIK.505 Nilai Produksi (ribu rupiah) 43.471 48.489 Nilai Investasi (ribu rupiah) 2985.12 7.37 22.10 0.566.92 4.3 Industri Pengilangan Minyak Bumi 154. hasil perhitungan Lapangan Usaha Industri pengilangan minyak bumi yang semula memberikan kontribusi sebesar 3.02 6.59 389.3 3. 69 Banyaknya Usaha Sektor Industri Pengolahan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha 414 Tenaga Kerja 8.22 0.801 757.06 0.456.09 7.371.987.7 6. 68 PDRB Papua Barat Kelompok Sektor Sekunder Tahun 2000 dan 2005 Atas Dasar Harga Konstan 2000 2000 2005 r Jumlah % Jumlah % INDUSTRI PENGOLAHAN 460.07 6.358. Subsektor ini tumbuh sebesar 16.130 1053.19 4 3.87 9.896.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.75 6.664.16 0. Tabel 1.755.91 374.904.50 4 3.36 Sektor Sekunder 735.829.966. Industri-industri tersebut LAPORAN AKHIR 1-117 .449.2 Industri Kecil Kerajinan Rumah Tangga 31. GAS & AIR BERSIH 14.2 18. kecil.05 3.066.1 Listrik 9.42 8.91 328.760.10 10.13 7.128 Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari 515 Sorong Selatan Sorong 449 Raja Ampat Kota Sorong 273 Papua Barat 1651 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2007 5520 11815 1410 27234 202.91% oada PDRB meningkat menjadi 6.59 1.38 14. Tumbuhnya subsektor ini menunjukkan bahwa ekonomi sektor migas di Papua Barat kini bergeser pada aktivitas pengolahan dibandingkan dengan aktivitas ekstraktif karena kegiatan ekstraktif minyak bumi dan gas cenderung mengalami pertumbuhan yang lambat.920.35 8.

Gas. 71 Banyaknya Usaha Sektor Listrik.926 12 218 2. Tabel 1. sehingga persentase kontribusinya juga terus meningkat. Industri yang paling banyak penyerap tenaga kerja berada di Kabupaten Sorong meskipun dari segi jumlah unit usaha sedikit lebih rendah dari Kabupaten Manokwari. Sektor ini memiliki grafik yang terus meningkat mengingat Papua Barat adalah provinsi baru dimana mengalami peningkatan kebutuhan akan layanan infrastruktur dasar.564 56 29 9 179 1. 70 Banyaknya Usaha Sektor Industri Pengolahan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Unit Usaha Fak-Fak 116 Kaimana 22 Teluk Wondama 40 Teluk Bintuni 99 Manokwari 394 Sorong Selatan 109 Sorong 1 098 Raja Ampat 179 Kota Sorong 219 Papua Barat 2 348 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Tenaga Kerja 364 73 189 343 2 135 277 6 539 372 1. dan Kabupaten Manokwari. Tabel 1. Kota Sorong. Listrik dan Air Minum Sektor listrik.951 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 LAPORAN AKHIR 1-118 . dan air bersih serta sektor bangunan. gas. diatas angka pertumbuhan PDRB total. dan Air Minum Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Unit Usaha 8 3 2 4 32 16 9 5 5 84 Tenaga Kerja 72 28 4 10 1. memiliki kontribusi yang kecil bagi PDRB Papua Barat namun memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi. Nilai investasi dan nilai produk pun lebih besar Kabupaten Sorong daripada Kabupaten Manokwari.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 cenderung terdapat di Kabupaten Sorong.

Beberapa diantaranya seperti Hutan Cagar Alam Pegunungan Arfak (68.610 3. 72 Banyaknya Usaha Sektor Bangunan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Sumber: Papua Barat dalam Angka 2008 Unit Usaha 82 82 3 36 73 18 7 0 171 472 Tenaga Kerja 503 335 37 138 849 83 24 0 1.5.579 1. Bangunan Papua Barat merupakan provinsi bentukan baru dan untuk itu diperlukan berbagai fasilitas baru serta mengalami peningkatan jumlah penduduk untuk mengisi posisiposisi baru yang dibutuhkan. Danau Kabori. Terdapat juga objek wisata yang belum dikembangkan seperti objek wisata Danau Anggi.3. Kabupaten Raja Ampat juga memiliki sumber daya laut yang sangat kaya. Hal ini mendorong pada naiknya kebutuhan akan layanan infrastruktur dan tentu saja juga maraknya kegiatan pembangunan fisik. Keberadaan Papua Barat sebagai provinsi baru dapat menjadi salah satu faktor meningkatnya kontribusi sektor primer. Hal ini karena Papua Barat akan memerlukan pusat-pusat baru yang akan diisi oleh kegiatan tersier. Suaka Margasatwa Pantai Sidey-Wabian (157 ha). sektor ini terus menujukkan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya. LAPORAN AKHIR 1-119 .776 ha). Cagar Alam Pegununan Tamrau Selatan (435.325 ha). Tabel 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 3.3 Sektor Tersier Sektor tersier di selama ini belum menjadi sektor yang menonjol di Papua Barat. Pariwisata Sektor pariwisata di Papua Barat merupakan yang diharapkan di masa depan akan menjadi leading sektor. Hutan Suaka Margasatwa Pantai Mubrani-Kaironi (170 ha). Gunung Meja dan Air Panas di Kebar dan masih banyak objek wisata lainnya yang belum digali. Meski demikian. 1.

67 0.89 1.2 Hotel 5.503.78 0.269. sehingga pariwisata sering disebut KEUANGAN.05 9.30 1. untuk itu perlu kewaspadaan dalam pengembangannya dengan mempertimbangakan faktor lingkungan.952.4. Angkutan Sungai 7.89 8.180.85 9.93 0.1.471. HOTEL & RESTORAN 5.57 71. Komunikasi 2000 Jumlah 340.2. Jasa Sosial Kernasyarakatan 23.70 11.87 0.67 92.64 1.21 14.67 12.94 0.25 0. Jasa Perusahaan 3.614.40 1.51 0.82 33.4.96 311.22 0.86 9.56 31. Jasa Hiburan & Rekreasi 10. Tabel 1.294.2.128.14 0.1 Perdagangan Besar & Eceran 5.32 8.59 8.21 8.38 9.627.80 1.469.75 PERUSAHAAN 8. Pemerintahan Umum 294.96 7.84 5.84 11.786.69 6.52 2.3 Restoran PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 7.06 0. Angkutan Udara 7.03 7. Angkutan Laut 7.10 JASA – JASA 335.14 2005 Jumlah 508.21 8.971.17 0. Lembaga Keuangan tanpa Bank 7.21 17. PERSEWAAN DAN JASA 66.779.93 105.05 0. Angkutan Jalan Raya 7.19 11. serta secara simultan dapat mengaktifkan sektor-sektor produksi lain.71 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2005.46 hidup.861.399.60 7.480.00 8.39 2.300.53 0. Obyek wisata potensial dikembangkan di Papua Barat mayoritas berupa wisata alam.63 9.3.395.36 8.595.64 84.57 108.576.43 7.46 % 8.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Bahkan spesies koral di kawasan ini diklaim sebagai salah satu yang terkaya di dunia.251.74 193.94 7.13 0. Peran sektor pariwisata dalam perekonomian Provinsi Papua Barat. peningkatan pendapatan dan taraf lokomotif perekonomian.37 0.36 0.535.299.6. hasil perhitungan LAPORAN AKHIR 1-120 .12 0.106.28 9. 73 PDRB Papua Barat Kelompok Sektor Tersier Tahun 2000 dan 2005 Atas Dasar Harga Konstan 2000 Lapangan Usaha PERDAGANGAN.3.865.01 0.82 23.46 345.14 11.18 0.59 8.19 8.67 9.13 465.41 20.683.5. belum menunjukkan kontribusi yang proporsional dengan potensi pariwisata yang dimiliki.740.60 0.38 23.39 45.159.856.498.272.489.18 r % 9.05 1.783.446.33 7.890.87 0.37 10.23 8.48 522.83 44.55 9.09 5.762.559.912. Jasa Penunjang Angkutan 7.1.85 7.950.32 0.14 6.199.17 9.4.50 18.16 0.63 6.1.37 4.2.447.75 9.542. Bank 22.24 1.44 460.14 49.84 8.582.20 0.6 27.41 13.66 6.59 8.336. Secara makro sektor pariwisata merupakan industri yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang cepat melalui: penyediaan kesempatan kerja.000. Sewa Bangunan 32.59 4.59 33. Jasa perorangan dan Rumah Tangga 6.28 20.3.17 Sektor Tersier 935.

Monumen Indonesia-Jepang Alam dan Budaya Danau Ayamaru. Cagar Alam Jamusaba. Pulau Ega dan Karas Alam Bahari dan Cagar Alam Gunung Kumawa.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1. Budaya dan Sejarah Kabupaten Teluk Wondama (Distrik Wasior. Danau Kabori. Rumah 1. Permandian Air Panas. Wasior Selatan dan Wasior Barat) Kabupaten Teluk Bintuni (Distrik Babo dan Timbuni) Kabupaten Sorong (Distrik Makbon. Klasaman). Windesi. Cagar Alam Wowo. aman Wisata bariat. Suaka Margasatwa Pantai MubraniKaironi. Taman Wisata Klamono. Berau. Monumen PEPERA Alam dan Bahari Cagar Alam Missol. Kota Sorong dan sekitarnya Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Fakfak (Distrik Fakfak Timur dan Barat) Kabupaten Kaimana (Kaimana. Suaka Margasatwa Pantai SideyWabian. Cagar Alam Pulau Waigeo. Masjid tertua di Tanah Papua. Teluk Arguni. Terumbu Karang. Pantai Pasir Putih.000 tiang.4 Pendapatan Per Kapita Pendapatan Pendapatan per kapita merupakan salah satu indikator tingkat kemakmuran ekonomi suatu wilayah. Salawati. dan Terumbu Karang Lokasi Kabupaten Manokwari (Distrik Kebar. Pantai Sausapor. Pulau Matan. Sausapor. Moraid. Tamrau Selatan. Pendapatan per kapita diperoleh dari hasil pendapatan dibagi dengan jumlah penduduk. Monumen PEPER. Klamono. Panorama Senja Sumber: BPS Provinsi Papua Barat 2006 Alam. Sumur Minayk Peninggalan NNGPM. kupu-kupu bersayap burung.5. Cagar Alam Gunung Fudi TMP Trikora. Cagar Alam Budaya Gunung Genefo. Pulau Shop. 74 Potensi Pariwisata Provinsi Papua Barat Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2005 Jenis Wisata Alam dan Budaya Obyek dan Daya Tarik Wisata Cagar Alam Pegunungan Arfak. Buruway dan Teluk Etna) 1. Pantai Pasir Putih. Terumbu Karang. Cagar Alam Batanta Barat. Pantai Peneluran Penyu Alam dan Budaya Gua Jepang. Kayeli Hot Water Spring Alam dan Budaya Pantai Tanjung Kasuari. Benteng Fort Du Bois. Danau Yamor. Pulau Kilimata. Danau Siwiki. Taman Laut Nasional Teluk Cenderawasih. Cagar Alam Gunung Karora. Pulai Adi. Danau Angi. Taman Wiata Klasman. Munumen Arfak. Monumen Perang Dunia II. Minyambouw dan Susurey) Alam dan Bahari Cagar Alam Pegunungan Arfak Bagian Selatan. Pulau Penyu. Makam Missionaris Kristen Pertama di Papua. Fosil Burung Garuda. Fosil Telapak Tangan. LAPORAN AKHIR 1-121 . Pulau Buaya. Peninggalan Sejarah Perang Dunia II Alam Cagar Alam Markoor. Pantai Pasir Putih Panjang. Air Terjun Sungai Karon. Cagar Alam Wondibu. Gunung Meja. Pulau Kafiau.

441.734.116.80 PDRB/kapita Tanpa Migas ADH Berlaku ADH Konstan 6.009.529.085.249.000.994. hasil perhitungan Gambar 1.064.349 10.236.267.354.13 9.008.52 8.444.09 7.12 6.75 12.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.307.592.249.93 12.176.336.414.913.076.503.19 6.85 5.110. 75 PDRB/kapita Papua Barat Tahun 2003-2006 Tahun 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita ADH Berlaku 9.10 ADH Konstan 7.44 PDRB/kapita Provinsi Papua Barat Tahun 2003 hingga 2006 14000000 12000000 10000000 8000000 6000000 4000000 2000000 0 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita Atas Dasar Harga Berlaku PDRB/kapita Atas Dasar Harga Konstan LAPORAN AKHIR 1-122 .51 7.298.709.516.59 8.406.30 8.300.705.292.62 5.16 Sumber: PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha tahun 2007.

RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.45 Peta Potensi Pariwisata Provinsi Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-123 .

UNDP. Sempat turunnya PDRB atas dasar harga konstan dipengaruhi oleh tingginya pertumbuhan penduduk dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB.3 juta rupiah pada 2005. kemudian mengalami penurunan pada tahun 2006. Perbedaannya mencapai hampir 4 juta rupiah atau menjadi hanya dua per tiga dari PDRB per kapita atas dasar harga berlaku yang memperhitungkan migas. Selama ini Papua Barat LAPORAN AKHIR 1-124 .12 juta rupiah dapat dikatakan cukup tinggi. 2004. BPS Besar PDRB per kapita Papua Barat yang mencapai 12. PDRB per kapita di Papua Barat juga terus meningkat dari semula 6. Meski demikian angka tersebut tidak serta merta dapat diidentikan dengan tingkat kemakmuran yang tinggi pula bagi warga Papua Barat. Tabel 1.4 juta pada 2003 meningkat menjadi 8. Tanpa memperhitungkan sektor migas. PDRB per kapita mengalami kenaikan hingga tahun 2005.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 PDRB per kapita Papua Barat menunjukkan peningkatan antara tahun 2003-2006 dilihat dari PDRB atas dasar harga berlaku. Dieliminirnya migas menyebabkan angka PDRB per kapita Papua Barat atas dasar harga berlaku menjadi lebih rendah. Tanpa migas. Hal ini memunjukkan betapa krusialnya peran migas dalam perekonomian di Provinsi Papua Barat. 76 Pendapatan Perkapita Riil Masyarakat Provinsi Papua Barat Tahun 19992000 Sumber: Indonesian Human Development Report. PDRB per kapita di Papua Barat tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan ketika migas diperhitungkan. Bappenas. Jika dilihat atas dasar harga konstan.

kapal laut dan kapal udara.000. jalan kabupaten. Hal ini menunjukkan bahwa kekayaan Papua Barat belum dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakatnya.000. perdagangan.00 8.000.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 sering diidentikkan dengan kemiskinan.00 2003 2004 2005 2006 PDRB/kapita Atas Dasar Harga Konstan PDRB/kapita Atas Dasar Harga Berlaku 1.000.000. Transportasi antar wilayah LAPORAN AKHIR 1-125 .000.000.000. jalan provinsi dan jalan negara. Sistem jaringan transportasi yang dimaksud adalah sistem jaringan jalan raya.000.000. pariwisata. Penentuan Struktur Ruang tidak bisa dilepaskan dari kondisi transportasi wilayah.000.00 2. berfungsi menghubungkan sentra-sentra produksi ke sentra-sentra/node konsumsi.000.000. sistem transportasi sangat memegang peranan yang penting.000.000.00 0. dan jalan arteri.000.000. Dari segi fungsinya jalan raya meliputi jalan lokal.00 3. sehingga penyediaan/pengembangan sarana dan prasarana perhubungan dalam suatu wilayah harus memadai dalam arti dapat menampung dan menunjang kelancaran aktivitas pergerakan yang ada dalam daerah itu sendiri maupun hubungannya dengan daerah lain.000.6 ASPEK TRANSPORTASI WILAYAH Transportasi merupakan kebutuhan sarana dan prasarana yang sangat menunjang dalam perkembangan interaksi antar daerah dan diharapkan dapat mendorong percepatan perkembangan antar wilayah khususnya dalam mendukung proses pertumbuhan dan pemerataan di bidang ekonomi.00 7.00 4.00 6.000. jalan kolektor.00 1. Dalam menunjang perkembangan suatu wilayah.00 5. sosial budaya jasa pelayanan dan stabilitas keamanan. Transportasi wilayah menentukan tingkat aksesibilitas wilayah. Gambar 1.46 PDRB per kapita Tanpa Migas Provinsi Papua Barat Tahun 2003 hingga 2006 10.000.00 9. Sedangkan dari segi manajemennya jalan raya meliputi jalan desa.

000 119.000 1. Sebagai pintu gerbang kawasan Papua Sebagai pusat pelayanan jasa. 1. Kabupaten Teluk Bintuni. Pelabuhan laut dan udara yang ada di kota Sorong merupakan yang terbesar di Provinsi Papua Barat. setelah terlebih dahulu melewati Kota Sorong.800 … 1 298. dan Kabupaten Teluk Wondama. 4.000 119. 5.415 402.915 402.670 632.207 5 400. Papua Barat memiliki tantangan yang unik dibandingkan daerah manapun di bidang infrastruktur.810 Jalan Provinsi 271.810 635. Kabupaten/ Kota Fak Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Jumlah 2007 Jalan Negara 0 132. Wilayah-wilayah lain hanya bisa dicapai oleh transportasi laut dan atau udara. sungai dan danau) sebagai transportasi utama.112 619.660 486.210 5. Transportasi laut dan udara tersebut menjadi transportasi utama antar wilayah. 1. khususnya untuk b. Sementara itu.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 di Papua Barat terutama menggunakan transportasi laut dan udara.700 56.310 90. 6. Sebagian kabupaten di Papua Barat menggunakan jalan darat sebagai transportasi utama untuk menghubungkan antar distrik/kecamatan. yaitu kondisi geografis.500 200.175 Jalan Kabupaten 271. Transportasi menghubungkan antara kabupaten kota yang ada di Provinsi Papua Barat. 7. Sebagai penggerak dan pendukung Wilayah Indonesia Timur Sebagai tempat kolektor dan distributor barang.000 615. Daerah dengan perairan yang dominan seperti Raja Ampat dan Kaimana sepenuhnya bergantung pada transportasi laut. 9.500 0 … 285.637 344.175 693.000 110. transportasi udara menjadi penghubung antar wilayah melalui penerbangan perintis.882.184. Kondisi transportasi darat untuk menghubungkan antar wilayah masih sangat minim.222 4 Total Jalan 543. Untuk Provinsi Papua Barat dalam konteks regional perannya adalah : a. Tabel 1.6.000 686.500 235. kecuali Kabupaten Raja Ampat.210 3. Kota Sorong menjadi gerbang transportasi bagi semua wilayah di Papua Barat. bahkan juga di Pulau Papua. 3. 8.000 0 … 85.1 Transportasi Darat darat bukan merupakan sistem yang utama.000 0 17. c. kondisinya juga masih sangat memprihatinkan.707 LAPORAN AKHIR 1-126 . d.000 121.000 1 319. Kabupaten-kabupaten ini masih mengandalkan transportasi air (laut. 77 Panjang Jalan menurut Kewenangan (Km) No.800 … 927. 2.000 0 18.475 142.550.

207 1 956.310 686. wilayahnya sulit dijangkau melalui darat.222 1 121. bahwa Kabupaten Manokwari memiliki jalan paling panjang yakni 1. bahwa jalan kabupaten adalah yang terpanjang yakni 1. Kabupaten Teluk Bintuni sedang melakukan pembangunan jalan darat yang dapat menghubungkan Ibukota Kabupaten menuju SP. Kabupaten Sorong Selatan membangun jalan dari Teminabuan menuju Kampung Manelek. Fak Fak dan Kabupaten Sorong Selatan. Berikut ini dapat dilihat panjang jalan menurut kewenangan.650 Km (67%) bila dibandingkan dengan jalan provinsi 448.430 Sumber : Papua Barat Dalam Angka 2009 Beberapa kabupaten/kota yang sebagian besar wilayahnya dapat dijangkau melalui transportasi darat adalah Kabupaten Manokwari. demikian juga Kabupaten Sorong dan Kabupaten Sorong Selatan.650 Km. Konda dan Distrik Seremuk serta beberapa distrik lainnya.470 5 184. Kondisi jalan pada semua kabupaten yang ada di Provinsi Papua Barat masih dalam tahap pembangunan.175 488. Sebagai contoh. dari panjang jalan yang ada di kabupaten lain.722 3 882. mengingat kondisi topografinya hanya bisa di jangkau melalui transportasi laut. Sorong. Kabupaten lain seperti Teluk Wondama. Bariat. Sedangkan panjang jalan berdasarkan status pemerintahan yang berwenang. Perbandingan total panjang jalan dengan jumlah penduduk di masing-masing kabupaten dapat dilihat dalam Tabel 1.78.096 Km. Panjang jalan di Provinsi Papua Barat hingga tahun 2007 tercatat 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 071.310 (14%).810 345. Pada umumnya kabupaten induk mempunyai tingkat asesibilitas yang relatif lebih baik jika dibandingkan dengan kabupaten pemekaran yang baru dibentuk seperti Raja Ampat dan Teluk Wondama.030. Ada kabupaten yang dapat ditempuh melalui darat walapun kondisi jalan raya masih dalam bentuk tanah dan dalam tahap pengerasan yakni Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bintuni.650 2006 2005 615.956. Kabupeten Raja Ampat sedang melakukan pembukaan jalan dari Waisai menuju Teluk Mayalibit. LAPORAN AKHIR 1-127 . Teluk Bintuni dan Kaimana. Panjang jalan berdasarkan tingkat kabupaten yang ada di Provinsi Papua Barat.121. Kabupaten Raja Ampat. Berdasarkan panjang jalan dan penyebaran jumlah empat penduduk yang berdomisili pada masing-masing kabupaten relatif jarang. sehingga transportasi utaman yang dipakai adalah laut atau udara.470 (19%) dan jalan negara Km 345.

000 47.000 124.310 Jenis Permukaan Kerikil Tanah 164. dan lain-lain 16.000 1 550. LAPORAN AKHIR 1-128 .707 5 184.200 … 487.137.000 0.550 Km.210 5 400.000 152.415 402.803. Teluk Wondama dan Sorong Selatan hanya bisa di darati oleh pesawat jenis tertentu seperti Twin Otter. 1.953 Total Lain-Lain 10.798 240. Transportasi Udara merupakan salah satu moda transportasi andalan di Provinsi Papua Barat mengingat kondisi geografisnya yang masih sulit ditembus oleh kendaraan bermotor.550 337.280 1 164.6. 2. curam dan diliputi hutan sehingga akses jalan darat menjadi sulit. Kabupaten/ Kota Fak Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Jumlah 2007 Aspal 269. 9. 8. Prasarana perhubungan udara utama di Provinsi Papua Barat adalah Lapangan Terbang Rendani di Manokwari.750 0 0 … 0 4.100 45.815 56. yang saat ini setidaknya terdapat berberapa perusahaan maskapai penerbangan yakni Bali Air dengan jenis pesawat IHS dan Merpati Nusantara Airline (MNA) dengan jenis pesawat DHC-6 dan F-27.100 135. 1.000 550.207 Sumber : Papua Barat Dalam Angka 2009 Dari tiga kabupaten yang tersedia datanya.226.310 Km.45 16. Salah satu jenis angkutan yang ada di Provinsi Papua Barat adalah pesawat terbang.630 336.171 2 226.000 10. kelima lapangan terbang ini selain didarati oleh pesawat penerbangan perintis jenis Twin Otter juga dapat didarati pesawat jenis Fokker dan Boing. Domine Edward Osok dan Jefman di Sorong.600 … … 473.112 619.700 141. 5. 78 Panjang Jalan menurut Tingkat Permukaan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 No. Hampir setiap hari ada jadwal penerbangan yang melayani beberapa ibukota kabupaten.000 2.130 2 371. 3.000 196.670 632.000 3.2 Transportasi Udara Transportasi udara menjadi penting di Provinsi Papua Barat karena karakteristik wilayah yang cukup bergunung. 4.201 1 688. Sedangkan di Kabupaten Teluk Bintuni.000 769. bahwa jenis permukaan jalan yang terpanjang adalah kerikil yakni 2.500 235.394 1 803. 7.550 543. 6.95 Km kemudian aspal 1.490 96.934 97.400 19. Torea di Fak Fak dan Tarum di Kaimana.39 Km.000 107.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.617 261. Tanah 1.000 119.800 … 1 298. .885 1 137.613 301.000 67.

Jumlah pergerakan dari masyarakat luar-dan dalam dapat ditunjukkan dengan pergerakan barang dan orang. Jumlah penumpang datang pada tahun 2003-2006 meningkat dari tahun ke tahun. sekaligus menunjang perkembangan dan pertumbuhan wilayah. Selain dua maskapai penerbangan tersebut juga terdapat pesawat yang tidak terjadwal yakni milik PT. 79 Jadwal dan Rute Penerbangan di Provinsi Papua Barat Maskapai Hari Rute Jenis Pesawat LAPORAN AKHIR 1-129 .47 Contoh Pesawat yang melayani kebutuhan transportasi udara di Provinsi Papua Barat Masyarakat di Provinsi Papua Barat tidak terlayani oleh transportasi udara setiap hari di setiap kota. Keberadaan alat transportasi ini sangat membantu kelancaran arus penumpang ke dan dari kota maupun kabupaten lain di Provinsi Papua Barat. maka penerbangan dibatalkan. di Manokwari ada beberapa perusahaan penerbangan carter yang bersedia terbang dengan kondisi apapun.87% dibanding tahun 2005. Pada tahun 2006 mencapai 142. pesawat hanya melayani kota tertentu pada hari-hari tertentu.538 orang. Fakfak.91% dan 84. Walaupun demikian. Kabupaten yang telah terlayani oleh penerbangan komersial antara lain adalah Kabupaten Manokwari. dengan harga carter rata-rata per jam terbang sebesar 4 (empat) juta rupiah.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1. Sedangkan pola pergerakan barang dan jasa dapat ditunjukkan dengan catatan mengenai arus lalu lintas. Tabel 1. Jumlah bongkar muat barang pada tahun 2006 mengalami peningkatan 80. Apabila cuaca mendung dan hujan gerimis.965 dan jumlah penumpang pergi 154. Untuk pos paket yang dibongkar mengalami peningkatan sebesar 247% sedangkan yang dimuat mengalami penurunan sebesar 297%. PAS dengan jenis Bolgow-105. Pola datang dan pergi masyarakat berasal dari Kota Sorong dan Manokwari. seperti maskapai penerbangan AMA. Sorong. dan Kaimana. Penerbangan dengan menggunakan pesawat ukuran relatif kecil kerap dipengaruhi oleh kondisi cuaca.

6. Beberapa jenis kapal penumpang yang singgah di pelabuhan di beberapa kabupaten di Provinsi Papua Barat selain KM Bukit Siguntang dan KM Tatamailau.3 Transportasi Laut Transportasi laut mempunyai peranan sangat penting pada perekonomian Papua Barat. Hal ini disebabkan karena kondisi fisik wilayah yang belum memungkinkan dibukanya jalan darat sehingga kota tersebut lebih mengandalkan transportasi air sebagai sarana perhubungan antar kota/kabupaten. baik yang masuk maupun yang keluar dari wilayah Papua Barat masih menggunakan transportasi laut. juga terdapat kapal PT Pelni yang melayari Pantai Selatan Papua.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 IHS Bali Air Senin Selasa Rabu Kamis MNA Senin Rabu Sabtu Kamis Jumat Sabtu Senin Kamis Mimika Air Kamis Tual Kaimana  Sorong  Manokwari Manokwari  Kaimana  Tual  Ambon  Tual Tual  Ambon  Tual  Kaimana  Manokwari Manokwari  Sorong  Kaimana  Tual  Ambon  Tual Biak  Nabire  Kaimana  Fak-Fak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Manokwari  Teluk Bintuni Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Nabire  EWI  Nabire Manokwari  Teluk Bintuni Manokwari  Teluk Bintuni Biak  Serui  Biak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Manokwari  Kaimana  Fak-Fak  Kaimana  BXB  Manokwari Sorong  NTI  Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Nabire  Biak Sorong  BXB  Sorong  Fak-Fak  Kaimana  Fak-Fak  Sorong Jayapura  ZRM  Nabire  Kaimana  Nabire  Biak Jayapura  Biak  Kaimana  Sorong  Kaimana  Biak  Jayapura Biak  Kaimana  Tual  Timika  Tual  Kaimana  Biak Potowai  Kaimana  Potowai Twin Otter Perintis 1. Hal ini terlihat dari sebagian besar mobilitas orang dan barang. Selain itu sebagian besar mobilitas orang dan barang di wilayah Papua Barat. baik antar kabupaten maupun antar distrik masih menggunakan moda transportasi laut. Jenis alat angkutan lain yang sangat penting bagi masyarakat di Papua Barat adalah kapal laut. Selain itu terdapat beberapa jenis kapal LAPORAN AKHIR 1-130 .

e. berdasarkan fungsi pelayanannya dapat diklasifikasikan atas : a. . Pelabuhan Utama Tersier adalah pelabuhan utama yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah menengah dan jangkauan pelayanan menengah. Pelabuhan Pengumpan Regional adalah pelabuhan yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut dalam jumlah kecil dan jangkauan pelayanan yang relatif dekat.48 Contoh Kapal Laut yang melayani kebutuhan transportasi di Provinsi Papua Barat Secara umum. b. melalui Sorong adalah sebagai berikut: LAPORAN AKHIR 1-131 . d. serta merupakan simpul dalam sistem jaringan transportasi laut internasional. Pelabuhan Utama Sekunder adalah pelabuhan utama yang berfungsi melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan pelayanan yang sangat luas dan berperan sebagai simpul pada sistem jaringan transportasi nasional. c. Pelabuhan Utama Primer adalah pelabuhan utama yang berfungsi melayani kegiatan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan pelayanan yang sangat luas. speedboat dan longboat untuk menjangkau wilayah-wilayah terpencil serta kapal nelayan. serta merupakan pengumpan pada Pelabuhan Utama. Gambar 1. jalur pelayanan transportasi air (laut) mampu melayani kota-kota/desa-desa di pesisir Provinsi Papua Barat. Rute kapal-kapal motor baik dari PELNI maupun milik swasta.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 barang yang memuat bahan kebutuhan pokok. Pelabuhan Pengumpan Lokal adalah pelabuhan yang berfungsi untuk melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut dalam jumlah kecil serta merupakan pengumpan pada Pelabuhan Utama dan Pelabuhan Pengumpan Regional. Sarana transportasi laut.

49 memperlihatkan kondisi maupun suasana pelabuhan utama di Provinsi Papua Barat. Di Kecamatan Kaimana terdapat pelabuhan laut yang mampu disinggahi kapal berukuran 5.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1.49 Kondisi Pelabuhan di Provinsi Papua Barat (kiri: Pelabuhan Kaimana. kareana apabila menggunakan pesawat udara. Pelni yang melayari Pantai Selatan Papua. Demikian juga untuk menjangkau Waisai. karena mereka umumnya merasa lebih mudah dan praktis apabila bekerja dekat dengan permukiman. Di Kabupaten Kaimana terdapat satu pelabuhan utama yang terletak di Kaimana Kota dan beberapa pelabuhan kecil yang tersebar di beberapa tempat. lebih sering menggunaka transpotasi laut dari pada transportasi udara. Gambar 1. Selain pelabuhan-pelabuhan umum tersebut perlu pula dikembangkan pelabuhan khusus untuk Kawasan Industri dan pelabuhan khusus bagi kepentingan pariwisata. kanan: Pelabuhan Teluk Bintuni) Pelabuhan-pelabuhan kecil yang ada saat ini umumnya merupakan pelabuhan pendaratan kapal nelayan milik nelayan setempat. ibu kota Kabupaten Raja Ampat. Selain itu juga terdapat pelabuhan pendaratan ikan yang saat ini sudah tidak lagi berfungsi. kemudian dilanjutkan dengan transportasi laut. Pembahasan mengenai transportasi laut tentunya tidak terlepas dari keberadaan pelabuhan laut yang merupakan prasarana yang harus ada baik skala kecil maupun besar. KM IWERI dengan rute Jayapura – Sarmi – Nabire – Serui – Biak – Korido – KM Lady Marina dengan rute: Merauke – Agast – Timika – Tuai – Kaimana – Manokwari – Saukorem – Sausapor – Sorong – Bintuni – Babo PP. Selain disinggahi kapal penumpang. pelabuhan ini juga sudah menerima pelayaran kapal milik PT. Perekonomian wilayah di Papua Barat umumnya digerakkan melalui perhubungan laut dan udara. satu-satunya transportasi antar pulau dan penunjang kegiatan masyarakat di Kabupaten Raja Ampat adalah angkutan laut. Gambar 1. Fakfak – Bintuni – Sorong PP. 2.000 DWT. Sebagai daerah kepulauan. rute perjalanan menuju Kota Sorong terlebih dahulu. LAPORAN AKHIR 1-132 .

Saonek. Sausapor. terdapat pelabuhan kecil yang melayani pelayaran perintis di daerah-daerah kepulauan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2006. Pelabuhan Fak Fak dan Pelabuhan Kaimana. pesisir pantai maupun sungai-sungai. di Provinsi Papua Barat terdapat 4 (empat) pelabuhan utama. Pelabuhan Manokwari. Selain itu. yaitu pelabuhan perintis Wasior. Saukorem. Windesi. Oransbari. Inantawan. Kalobo. Teminabuan. LAPORAN AKHIR 1-133 . yaitu Pelabuhan Sorong. Babo dan Kokas. Bintuni. Keempat pelabuhan utama ini digunakan sebagai pelabuhan komersil.

50 Peta Sarana dan Prasarana Transportasi LAPORAN AKHIR 1-134 .RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Gambar 1.

960 mwh terjual.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 1. maka pembangunan sarana dan prasarana energi juga menjadi kebutuhan vital dan mendesak di Provinsi Papua Barat. 80 Jumlah Rumah Tangga.087 mwh. hasil perhitungan Tabel 1.7. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan energi. meningkat sebanayk 3. Jumlah pelanggan pada tahun 2005 mengalami peningkatan menjadi 63238 pelanggan. meningkat dari jumlah tahun 2004 yang sebesar 61253 pelanggan.80 berikut. terdapat 71.80 tersebut membandingkan jumlah pelanggan PLN di Papua Barat dari jenis rumah tangga dengan jumlah rumah tangga di Papua Barat.1.7 ASPEK SARANA DAN PRASARANA WILAYAH PROVINSI PAPUA BARAT 1. Total kapasitas terpasang 21178 kw sementara beban puncak 27674 kw. Tabel 1.79 persen dari tahun sebelumnya.015 mwh yang dialirak dan 70. energi merupakan aspek yang sangat krusial. Banyaknya unit pembangkit tenaga listrik di Papua Barat pada tahun 2005 adalah 16 unit. Meski jumlah pelanggan terus meningkat. layanan PLN masih sangat kurang seperti terlihat pada Tabel 1.1 Prasarana Wilayah Provinsi Papua Barat 1. Dari total produksi tersebut. Total produksi selama tahun 2005 tercatat 79. Pembangkit listrik tenaga diesel sangat ini merupakan sumber energi yang paling utama.7. dilihat dari segi distribusi.1 Energi Dalam lingkup wilayah. Tingkat layanan listrik rata- LAPORAN AKHIR 1-135 . Penyediaan listrik di Papua Barat teridir dari dua macam yaitu pembangkit listrik tenaga diesel dan pembangkit listrik mikro hidro. Jumlah Pelanggan PLN Rumah Tangga dan Tingkat Layanan Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat 2007 2006 Sosial 287 107 25 24 709 106 205 106 548 2 117 2 117 2 117 Rumah tangga 5 744 1 741 237 737 16 602 1 186 5 739 1 886 20 543 54 415 54 415 54 415 Bisnis 772 439 14 91 1 799 83 153 32 2 052 5 435 5 435 5 435 Industri 2 5 1 5 13 13 13 Publik 247 63 11 13 273 38 45 38 530 1 258 1 258 1 258 Sumber: Papua Barat dalam angka 2007.

Tingkat layanan tersebut masih sangat jauh dari rata-rata yanng ada. Kebutuhan pos di Raja Ampat dipenuhi oleh rumah pos dan kantor pos desa. 81 Jumlah Kantor Pos dan Kantor Pos Pembantu Tahun 2008 Kabupaten Kantor Pos Kantor Pos Pembantu Kantor Pos dan Giro Tambahan Rumah Pos Kantor Pos Desa Jumlah Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong 1 … 6 1 1 … - … 1 1 1 … 4 5 9 7 1 … 3 7 11 19 1 1 2 … 13 6 8 3 34 41 1 Selatan Sorong 1 Raja Ampat Kota Sorong 1 1 Papua Barat 9 4 2007 3 11 Sumber : Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 Kantor pos hanya terdapat di dua wilayah yaitu Kota Sorong dan Manokwari sementara kantor pos pembantu terdapat di semua wilayah kecuali Kabupaten Raja Ampat.57 persen.81 berikut: Tabel 1. Wilayah Raja Ampat yang berupa kepulauan mungkin menjadi faktor kenapa kantor pos dalam skala kecil lebih berperan. Teluk Bintuni.89 persen. Untuk layanan pos. yang terkendala oleh kondisi topografi wilayah Papua Barat.7.1. Tingkat layanan yang paling ada di kabupaten-kabupaten baru dengan angka terendah ada pada kabupaten Teluk Wondama sebesar 4. dan Raja Ampat. 1.2 Komunikasi Infrastruktur komunikasi dan komunikasi pada tingkat provinsi lebih menitikberatkan pada persebaran dan tingkat layanan. Layanan telepon belum terdapat di Teluk Wondama. Layanan telepon dari Telkom saat ini baru terkonsentrasi di kabupaten dan kota terutama seperti Sorong dan Manokwari. jumlah sarana dapat dilihat pada Tabel 1. Rasio elektrifikasi di Indonesia rata-rata berkisar pada angka 50 persen. Tingkat layanan tertingi ada di kota Sorong yaitu sebesar 57. LAPORAN AKHIR 1-136 . Kondisi infrastruktur konumikasi dan perhubungan di Papau Barat tergolong masih sangat minim.47 persen.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 rata bagi rumah tangga di Papua adalah sebesar 32. Pemenuhan energi di Papua Barat masih sangat kurang baik dari segi jumlah maupun distribusi. Sorong Selatan.

074.905 1.272 1.515 2.3% dan sumber lainnya 0.490 39.936.330 2.607 8.496 3.365 145. Papua (Kompilasi data tahun 2007) LAPORAN AKHIR 1-137 .177.554 Sumber Air Mata Air 45 65.270 29.177.582.372.117 3.512 … … … Lainnya … … … 6. Tabel 1. Pada tahun 2004 mengalami penurunan yaitu hanya 3 perusahaan induk.138. 3 Kabupaten/ Kota Fak Fak Manokwari Kota Sorong Jumlah 2007 2006 2005 2004 Sungai 2.535 3.107. mata air 45.1.582. 1. Sumber air bersih yang digunakan berasal dari air sungai dan mata air pegunungan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Kondisi wilayah Papua Barat lebih memungkinkan pengembangan jaringan komunikasi nirkabel seperti telepon seluler dan telepon satelit.936.06 5.353 10.329 5.210 177.240 53.864 33. Sedangkan kapasitas efektif sama dengan tahun 2003 yakni 144 liter/detik.230.945 1.318 65. yang bersumber dari sungai sebanyak 3.923.6%.480 Sumber : Papua Barat Dalam Angka. 2009 Pada berikut nampak bahwa persentase sumber air bersih berasal dari sungai mencapai 54.464 1.047 73.005 Jumlah Khusus 42.767 Danau 32.907 617.422 4.117 2.383.331 687.149.480 M3.428.512 32. 2. 83 Banyaknya Pelanggan Air Minum yang Disalurkan Menurut Jenis Pelanggan Per Kabupaten/Kota Tahun 2006 (m3) No Kabupaten/ Sosial 69.330 M3 dan dari sumber lainnya sebanyak 6. Telah ada operator seluler yang menjangkau Papua Barat namun juga masih terkonsntrasi di wilayah seperti Kota Sorong.525. 3 perusahaan induk dan 1 perusahaan cabang.673 2.497 19.427 28.344 3.7.699 858.544 8. 82 Produksi Air Bersih Menurut Kabupaten/Kota dan Sumber Air yang Digunakan Tahun 2008 (m3) No.926.243.1%.363 3.427 5.230 16. Tetapi kapasitas potensial pada tahun 2004 mengalami kenaikan dari 268 liter/detik menjadi 297 liter/detik.626.3 Air Bersih Perusahaan air bersih pada tahun 2003 terdiri dari 4 perusahaan. sedangkan perusahaan cabang tidak difungsikan lagi.200 196. Total produksi air sebanyak 6.923.720 39.535 M3 dan dari mata air pegunungan sebanyak 2.496 2.370. 1.345M3.507 Kota 1 Fak Fak 2 Sorong 3 Manokwari 9 Kota Sorong Jumlah 6 Sumber : PDAM. Data tetntang air bersih masih memasukkan kabupaten bentukan baru dalam kabupaten induknya.690 Jenis Pelanggan Non Niaga Niaga Industri 667. Tabel 1.809 1.

Jumlah sarana pendidikan di Papua Barat pada tahun 2005 terdapat pada Tabel 1. dan Raja Ampat.507 M3. dan Kabupaten Manokwari. Non niaga merupakan pelanggan terbesar yakni 2.901 atau 1: 22. disusul Kabupaten Sorong.047 dan niaga sebesar 1. sedangkan sosial 177.149.2. Perbandingan kapasitas guru tersedia dan siswa pada jenjang pendidikan SD/MI diperoleh nilai sebesar 5.690 dan industri 28. Khusus untuk sarana pendidikan dengan jenjang pendidikan SMK sebagai jenjang kejuruan yang lebih menekankan pada profesionalisme ilmu belum tersebar pada semua kabupaten/kota.2 Sarana Wilayah Provinsi Papua Barat 1.84 berikut ini. Teluk Wondama. industri dan khusus relatif lebih kecil. Pada tingkat SMP/MTs diperoleh perbandingan kapasitas guru dan siswa sebesar 3. dan telah tersebar pada daerah kabupaten dan kota di wilayah ini. 1.428. Penggunaan air bersih yang terbanyak di Papua Barat adalah Kota Sorong dari semua jenis pelanggan yang di salurkan.699 Artinya non niaga merupakan pengguna air terbanyak di susul oleh niaga.253 LAPORAN AKHIR 1-138 . Tabel 1. sedangkan dari kategori sosial.1 Pendidikan Sarana dan tenaga pengajar pendidikan merupakan kapasitas yang mendukung proses belajar mengajar dalam kegiatan pendidikan.295 : 113. 84 Sarana Pendidikan di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten TK SD SMP SMA Fak-Fak 30 91 16 6 Kaimana 8 68 10 4 Teluk Wondama 1 42 4 1 Teluk Bintuni 6 64 14 4 Manokwari 32 166 28 13 Sorong Selatan 110 16 4 Sorong 47 115 21 5 Raja Ampat 2 80 17 2 Kota Sorong 35 70 24 16 Papua Barat 161 806 150 55 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 SMK 3 4 1 2 1 1 7 19 MA 1 1 1 1 4 Sarana pendidikan di Provinsi Papua Barat mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga perguruan tinggi telah tersedia.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pada tahun 2004 jumlah air minum yang disalurkan sebanyak 4. Kabupaten Fak Fak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa 1(satu) orang guru akau mengajar siswa jenjang pendidikan SD/Ml sebanyak 22 orang.005 dan yang khusus adalah 145.370.7. dirnana terdapat 3 (tiga) lokasi kabupaten yang belum memiliki jenjang SMK yaitu kabupaten Teluk Bintuni.284:32. sebaliknya untuk kota Sorong memiliki jenjang sekolah SMK yang cukup tinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya yaitu sebanyak 7 sekolah.066.7.

layanan di Papua Barat telah mencukupi.2 Kesehatan Layanan kesehatan adalah layanan krusial bagi masyarakat dan berkaitan dengan kualitas masyarakat. ternyata memiliki perbandingan yang cukup baik dalam proses belajar mengajar. meningkatkan kesehatan reproduksi.86 berikut ini. masyarakat harus menmepuh jarah yang jauh. Jenjang pendidikan perguruan tinggi yang tersedia di Provinsi Papua Barat terdiri dari Universitas Negeri Papua/UNIPA.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 atau 1:10. tingkat partisipasi masyarakat dalam pendidikan di Papua Barat masih rendah. mengurangi jumlah penyakit menyebar. Apabila dilihat dari perbandingan kapasitas guru dan siswa didik. Untuk dapat mencapai suatu sarana pendidikan. Pembangunan di bidang kesehatan dapat menjadi modal bagi peningkatan kualitas masyarakat. Tabel 1. SIT Otouw Gesler. STIE Sorong (Kabupaten Sorong). namun dari segi distribusi wilayah belum memenuhi. 85 Tenaga Pengajar di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat TK 98 8 1 28 98 4 64 301 602 SD 846 284 119 251 1035 783 795 233 949 5295 SMP 275 127 38 175 325 49 595 65 1635 3284 SMA 88 30 20 76 387 29 83 32 745 1490 SMK 60 65 15 115 15 85 215 570 MA 5 6 20 25 56 Sumber: Papua Barat dalam Angka 2009 Dilihat dari tingkat rasio antara sekolah dan tenaga pengajar dengan jumlah murid. LAPORAN AKHIR 1-139 . 1. Saint Paul Politeknik. Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian/STPP (Kabupaten Manokwari). Artinya bahwa 1(satu) orang guru pada tingkat SMP/MTs akan mengajar 10 siswa. Sekolah Pendidikan Agama Kristen/SPAK. Kenyataan ini erat kaitannya dengan masalah transportasi. layanan pendidikan memang telah memenuhi. Sekolah Tinggi Ilmu Hukum/STIH. Universitas Muhamadiyah Alamin/UNAMIN (Sorong). Dari segi jumlah penduduk. dan membudidayakan perilaku hidup sehat.2. STIE Maesa. Universitas Kristen Indonesia Papua /UKIP. Jumlah sarana layanan kesehatan di Papua Barat terdapat pada Tabel 1. Sekolah Tinggi Viktoria. Layanan kesehatan yang mencukupi dapat menurunkan tingkat kematian.7. Meski demikian.

7.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Tabel 1.3 Perekonomian LAPORAN AKHIR 1-140 . selain itu masyarakat harus menempuh perjalanan jauh untuk dapat memperoleh layanan kesehatan. Kaimana. Dokter gigi baru terdapat di Fak-fak. 86 Jumlah Sarana Kesehatan di Provinsi Papua Barat tahun 2008 Puskesmas Puskesmas Puskesmas Pembantu Keliling Fak-Fak 37 9 5 Kaimana 46 7 9 Teluk Wondama 22 6 10 Teluk Bintuni 28 15 10 Manokwari 84 19 19 Sorong Selatan 42 8 9 Sorong 22 12 2 Raja Ampat 33 13 21 Kota Sorong 25 5 8 Papua Barat 339 94 93 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 Kabupaten Rumah Sakit 1 BP 6 1 Posyandu 130 79 70 221 255 151 111 69 87 1. Sarana kesehatan tentu harus didukung oleh layanan tenaga kesehatan sperti dokter. 1. Sorong. Hal ini dapat dipahami karena lokasi-lokasi tersebut merupakan kabupaten lama (Provinsi Papua) sebelum pemekaran wilayah menjadi Provinsi Papua Barat.87 menunjukkan minimnya tenaga dokter di Papua Barat. Jumlah tenaga dokter di Papua Barat adalah sebagai berikut. 87 Jumlah Tenaga Dokter di Provinsi Papua Barat tahun 2008 Kabupaten Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Dokter Ahli 4 Dokter Umum 22 6 5 3 16 6 10 2 7 77 Dokter Gigi 2 1 21 2 9 34 2 7 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 Tabel 1. Jumlah sarana tersebut tentu masih sangat kurang.173 Polindes 8 31 14 8 74 36 7 7 35 2 1 8 18 11 2 9 12 41 Ketersediaan sarana kesehatan yang cukup tinggi ada pada lokasi Kabupaten Manokwari. Manokwari. dan Fakfak. dan Kota Sorong. Tabel 1. Untuk dokter ahli belum terdapat di semua kabupaten. Manokwari. Dokter umum memang telah tersedia di seluruh kabupaten walau terkonsentrasi di kabupaten induk. Kota Sorong. Kabupaten-kabupaten baru hingga tahun 2005 belum memiliki rumah sakit. hanya di Fak-Fak.2. dan Kota Sorong. Di wilayah-wilayah tersebut telah terdapat layanan rumah sakit.

6. bahwa toko/warung/kios menduduki urutan tertinggi. 89 Jumlah Perbankan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2007 No 1. Hotel/Penginapan. Kota Sorong Jumlah di Kota dan di Desa Jumlah di Kota Jumlah di Desa 1 Sumber: Papua Barat dalam Angka tahun 2009 b. Manokwari 4. 7. 3. Restoran/Rumah Makan. Bank Danamon). jumlah terbesarnya adalah kantor Bank Pemerintah. KUD. Tabel 1. Jumlah kantor cabang bank yang beroperasi di Provinsi Papua Barat kurang lebih berjumlah 60 kantor cabang. yang terdiri dari Bank Pemerintah Pusat (BNI. Fak Fak 2. Teluk Bintuni 8. dan Supermarket. Dari semua jenis usaha seperti: toko/warung/kios. 2. sedangkan yang lainnya lebih banyak tersebar di perkotaan.79 persen adalah bank-bank yang dikelola oleh swasta (Bank Mandiri. kemudian koperasi Unit Desa (KUD) dan non KUD. 88 Jumlah Perusahaan Perdagangan Menurut Golongan Usaha Pada Tingkat Desa dan Perkotaan No Kabupaten/ Kota Super Market 1 3 Restoran/ Rumah Makan 4 2 8 2 2 1 1 5 11 9 2 11 30 25 5 Toko/ Warung/ Kios 9 37 69 5 52 59 20 11 22 284 41 243 Hotel/ Penginapan 3 7 1 2 2 3 10 28 21 7 Koperasi Unit Desa 9 9 14 1 7 1 3 44 8 36 Koperasi Non KUD 7 4 7 2 1 16 4 41 8 33 1.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 a. Sorong Selatan 6. Kabupaten/ Kota Fak Fak Sorong Manokwari Kaimana Sorong Selatan Raja Ampat Teluk Bintuni Bank Umum 2 2 7 1 1 1 3 BPR 1 LAPORAN AKHIR 1-141 . Raja Ampat 7. Dari sejumlah bank yang beroperasi. Kaimana 5. dan non KUD sebagian besar berada di pedesaan. Sorong 3. Perbankan Sarana perbankan merupakan sarana yang penting dalam perekonomian. Tabel 1. Teluk Wondama 9. seperti Minimarket dan Supermarket.72 persen. BRI) sebesar 56.49 persen dan Bank Pembangunan Daerah (Bank Papua) sebesar 26. 4. sisanya sebesar 16. 5. Perdagangan Perusahaan perdagangan di Papua Barat menurut golongan usaha pada tingkat desa dan perkotaan.

Kota Sorong 6 Jumlah di Kota dan di Desa 24 Jumlah di Kota 19 Jumlah di Desa 5 Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2008 1 2 2 - Tabel 1. Jaringan jalan. 5. 4.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 8. Pola struktur ruang pada saat ini masih linier yaitu mengikuti pola jaringan jalan utama. Teluk Wondama 1 9. 3. B. Potensi Pengembangan Pola Ruang LAPORAN AKHIR 1-142 . yaitu: 1. 2. Sedangkan permukiman perdesaan membentuk kelompok secara tersebar. Pertanian. Permukiman. Kehutanan. Potensi Pengembangan Struktur Tata Ruang Secara umum kondisi tata ruang di wilayah perencanaan masih sangat sederhana. Kawasan perdagangan dan jasa. 90 Jumlah Bank dan Kantor Bank di Provinsi Papua Barat Tahun 2008 Rincian/ Description Bank Persero dan Bank Pemerintah Daerah Jumlah bank Jumlah kantor bank Bank Swasta Nasional Jumlah bank Jumlah kantor bank Bank Asing dan Bank Campuran Jumlah bank Jumlah kantor bank Jumlah bank Jumlah kantor bank Jumlah Bank Banks Kantor Bank 16 156 17 180 17 192 9 49 11 54 7 9 9 20 18 18 4 6 2004 2005 2006 2007 2008 Bank-bank Umum 129 153 165 45 48 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sumber: Papua Barat dalam Angka Tahun 2009 1. sehingga dapat mempermudah pengarahan fungsi-fungsi yang telah ditetapkan.8 POTENSI PROVINSI PAPUA BARAT BARAT A. Struktur ruang di kawasan ini hanya dibentuk oleh beberapa kegiatan.

Masih luasnya hutan sehingga dapat menujang program penanganan lingkungan. Potensi budaya yang beragam dapat dijadikan entry point bagi kawasan strategis sosial. Pola penggunaan lahan masih berpola pedesaan dengan didominasi oleh kebun campuran. D. masalah. Terdapat beberapa pintu gerbang nasional yang dapat ditingkatkan menjadi pintu gerbang internasional dalam rangka peningkatan kerjasama ekonomi. Terdapat beberapa komoditas unggulan yang bernilai ekspor cukup tinggi. karena memiliki dampak yang penting pada upaya pencapaian tujuan pengembangan wilayah dalam lingkup provinsi. LAPORAN AKHIR 1-143 . sehingga untuk pengembangan kawasan budidaya masih sangat terbuka. Dukungan keberadaan sumberdaya (hayati dan non hayati) pesisir. kawasan strategis lingkungan dan kawasan strategis sosial.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 Pola Ruang di Provinsi Papua Barat masih sangat terbatas. Terlebih adanya kabupaten-kabupaten bentukan baru menyebabkan pencatatan data penggunaan lahan harus dilakukan ulang. Perlunya konsep mitigasi bencana pada kawasan-kawasan yang mempunyai kerawanan terhadap bencana. Potensi Pengembangan Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Seperti diketahui Provinsi Papua Barat mempunyai wilayah pesisir. 5. 6. Adapun potensi. Faktor kondisi fisik Provinsi Papua Barat yang berbukit dengan banyak pulau menyebabkan pencatatan penggunaan lahan relatif lebih sulit dilakukan. Potensi dari kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: 1. Terdapatnya sumberdaya alam yang belum termanfaatkan sebagai penunjang fungsi kawasan strategis ekonomi. hal ini dapat dijadikan potensi pengembangan dengan mengalih fungsikan perkebunan yang kurang produktif menjadi lahan yang dilihat dari sisi ekonomisnya menjadi lebih tinggi. laut. Di Provinsi Papua Barat terdapat beberapa kawasan strategis ekonomi. 4. dan prospek kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Provinsi Papua Barat dapat dijelaskan sebagai berikut. laut dan pulaupulau kecil yang masih berpotensi untuk ditingkatkan dan dikembangkan pada masing-masing kawasan pemanfaatan ruang laut dalam rangka pengembangan kerjasama antar kawasan. Potensi Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi Kawasan strategis merupakan kawasan-kawasan dengan potensi dan atau permasalahan tertentu yang perlu diprioritaskan penanganannya secara sektoral maupun tata ruang. 1. 2. Data mengenai lahan antara satu dan yang lainnya kerap menunjukkan perbedaan. dan pulau-pulau kecil yang tersebar cukup luas. 3. C. Pola ruang yang ada berdasarkan data masih didominasi oleh hutan.

laut dan pulau-pulau kecil. 4. maka prospek pengembangan struktur tata ruang Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Penetapan fungsi PKN. LAPORAN AKHIR 1-144 . c) Pengembangan jaringan jalan dan transportasi lainnya sebagai penghubung dari pusat-pusat pelayanan. 5. 3. Hal ini juga didukung oleh posisi geografis Indonesia yang strategis. d) Penentuan hirarki jaringan jalan berdasarkan status pusat yang dihubungkannya. Keberadaan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan aksesibilitas ke luar wilayah Indonesia. 1. kapasitas maupun keragamannya. BIMPEAGA. Keberadaan kawasan kerjasama regional antar negara (IMT-GT. b) Pembangunan sarana dan prasarana yang menunjang fungsi pelayanan dari pusat-pusat tersebut sesuai dengan hirarkinya. IMS-GT. Permasalahan utama pengembangan Struktur Ruang Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Jaringan jalan yang belum menghubungkan pusat-pusat kegiatan sehingga belum terbentuk hirarki pusat yang baik. serta dalam meningkatkan mutu hasil produksi perikanan dan pesisir lainnya. dan lain-lain) sebagai pendorong sekaligus wilayah yang dapat menampung hasil-hasil produksi atau memanfaatkan jasa-jasa pada sektor pesisir dan kelautan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2. PKW dan PKL yang disesuaikan dengan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang dimiliki pada masing masing pusat tersebut. Perkotaan serta Struktur Ruang Selain potensi pengembangan struktur tata ruang. terdapat pula beberapa permasalahan dalam pembentukan struktur ruang tersebut. Berdasarkan potensi dan permasalahannya. Strategis Penataan Ruang Provinsi Papua Barat dan Prospek Pengembangannya Peran dan Fungsi Sistem. dan sekaligus potensi dalam pengembangan inlet-outlet pada wilayah pesisir melalui keberadaan pelabuhan laut. yaitu berada di antara dua benua dan dua samudera. e) Peningkatan akses sarana dan prasarana dasar pada permukiman di pedesaan.9 Isu 1. c) Pola permukiman pedesaan yang sangat menyebar sehingga mempersulit pelayanan dari sarana dan prasarana. Perkembangan teknologi perikanan dan kelautan yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan pengelolaan sumberdaya pesisir. Telah berkembangnya pemasaran produk perikanan dan pesisir lainnya ke luar negeri (ekspor). b) Masih minimnya sarana dan prasarana perkotaan. merupakan potensi yang masih dapat ditingkatkan dari sisi pangsa pasar.

misalnya bahan galian. Gambaran konflik ruang yang terjadi adalah: a) Konflik antara kawasan lindung dengan potensi pertambangan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 2. bentuk konflik yang dapat muncul adalah adanya persamaan lokasi atas peruntukan lahan yang didasarkan atas kondisi biofisik dengan potensi yang dikandung. d) Konflik antara kawasan lindung dengan pengembangan transportasi. Pola Ruang Masalah yang terjadi di Provinsi Papua Barat adalah masalah konflik penggunaan lahan. sehingga manfaat dapat diperoleh secara terus menerus. selain itu juga faktor kebencanaan perlu menjadi pertimbangan dalam pengembangan pola ruang di Provinsi Papua Barat. sehingga yang dikerjakan tidak habis dalam waktu dekat. yang didasarkan pada: a) Kawasan merupakan perwujudan sumberdaya dan kimah (asset). Di dalam tempat yang sama. b) Pembangunan menuju pola ruang yang diinginkan tersebut harus memperhatikan daya dukung lingkungan dan fisik dari wilayah-wilayah yang direncanakan. lahan yang seharusnya sebagai kawasan penyangga. Selain masalah konfilk penggunaan lahan. faktor fisik wilayah Provinsi Papua Barat yang bergelombang juga merupakan suatu kendala dalam pengembangan pola ruang yang diinginkan. c) Konflik antara kawasan lindung dengan kawasan budidaya lainnya. Untuk itu. Masalah lain yang timbul adalah masalah hak ulayat yang belum jelas dalam penguasaan lahan sehingga dalam penentuan batas administrasi serta batas kepemilikan lahan belum jelas tergambarkan. b) Prospek jangka panjang ke masa depan. juga ditemukan cadangan bahan galian. dalam pemanfaatan lahan harus didasarkan atas 3 terapan (perception) dari lahan. artinya manfaat yang lebih besar hendaknya dipertahankan keberadaannya. b) Konflik antara kawasan lindung dengan Hak Pengusahaan Hutan (HPH). dengan tetap memperhatikan daya dukung dan kemampuan wilayah dalam menampung kegiatan yang dipertahankan tersebut. c) Perlu adanya penyelesaian konflik yang terjadi dengan memperhatikan azas manfaat. maka prospek pengembangan pola ruang wilayah adalah sebagai berikut: a) Perlunya batas administrasi dan penguasaan hak ulayat dalam rangka menunjang pembangunan menuju pola ruang yang diinginkan. Berdasarkan potensi dan permasalahan yang telah diungkapkan pada sub bab sebelumnya. apabila LAPORAN AKHIR 1-145 . c) Keberlanjutan manfaat. atau kekayaan yang dapat dimanfaatkan.

b) Pembentukan keterkaitan dan distribusi produk untuk pengembangan budidaya perikanan. karena tidak adanya aturan yang jelas tentang penataan ruang pesisir dan lautan dan alokasi sumberdaya yang terdapat di kawasan pesisir. laut. Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Isu terkait dengan pengembangan kawasan pesisir danp-Pulau Kecil di Provinsi Irian Jaya adalah sebagai berikut: a) Kurangnya dukungan prasarana dan sarana (kelautan dan perikanan) serta keberadaan pusat-pusat kegiatan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi pesisir. dan lain-lain. f) Pencurian ikan oleh nelayan asing yang banyak terjadi pada perairan pada wilayah perbatasan. c) Kerusakan dan pencemaran lingkungan pesisir. yaitu penggunaan bahan peledak. Kerusakan akibat pemanfaatan berlebih (over exploitation) pada sebagian jenis sumberdaya pesisir (khususnya sumberdaya perikanan tangkap). LAPORAN AKHIR 1-146 . target dan rencana untuk mengeksploitasi sumberdaya pesisir. maupun pengembangan sumberdaya manusianya. d) bahan beracun sianida. c) Pengembangan sektor kepariwisataan bahari serta membentuk keterkaitan antar wisata yang mempunyai potensi yang sangat besar di Provinsi Papua Barat. Perbedaan tujuan. peristiwa tumpahan minyak. Dengan melihat potensi dan masalah yang terjadi maka prospek pengembangan kawasan pesisir. penambatan jangkar perahu. e) Rendahnya sumberdaya manusia (SDM) masyarakat dan aparat dalam merealisasikan proses (perencanaan. umumnya disebabkan oleh kegiatan-kegiatan perikanan yang bersifat destruktif. aktifitas pelayaran/perkapalan. sasaran dan rencana tersebut mendorong terjadinya konflik pemanfaatan sumberdaya (user conflict) dan konflik kewenangan (jurisdictional conflict) (CincinSain dan Kenneth. maka harus dikembalikan kepada fungsi lindung yang diembannya 3. pemanfaatan dan pengendalian) kerjasama antar kawasan dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir laut dan pulau-pulau kecil.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 kegiatan yang dimaksud sudah berakhir. 1998). b) Konflik pemanfaatan dan kewenangan. Beberapa stok sumberdaya ikan telah mengalami kondisi tangkap lebih (over fishing) seperti udang. Setiap pihak yang berkepentingan mempunyai tujuan. dan pulau-pulau kecil Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Pengembangan badan usaha bersama dalam bidang penangkapan ikan baik pengembangan sarana dan sarana penangkapan ikan.

Prospek dari pengembangan kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: a) Perlu adanya peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia dalam pengelolaan sumberdaya alam yang melimpah. Selain itu juga perlu adanya peningkatan daya saing sumber daya lokal sehingga sumberdaya dari luar yang datang juga mempunyai kualitas yang baik. mengingat kota-kota yang terbentuk di Provinsi Papua Barat sebagian besar berada pada wilayah pesisir. terutama transportasi darat sehingga kelancaran perangkutan barang dan orang menjadi terhambat dan mahal. d) Pengendalian dan pengawasan yang ketat serta pemberian sangsi yang tegas pada kawasan-kawasan strategis lingkungan. e) Menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan sosial-masyarakat Provinsi Papua Barat. Kawasan Strategis a) Kurangnya sumberdaya manusia baik dari kualitas maupun kuantitasnya dalam upaya pemanfaatan potensi sumberdaya alam yang begitu besar. c) Peningkatan pembangunan sarana dan prasarana transportasi sebagai penunjang pengembangan kawasan strategis. c) Belum termanfaatkannya potensi pasar dan pemasaran yang ada. 4. e) Pemanfaatan f) hutan produksi yang melebihi daya dukungnya. Masalah dari kawasan strategis di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: d) Masih sering terjadi illegal logging sehingga mengganggu fungsi lindung. b) Peningkatan status pintu gerbang Sorong dan Manokwari menjadi pintu gerbang nasional dan internasional. b) Keterbatasan sektor transportasi. LAPORAN AKHIR 1-147 . Terjadinya konflik sosial antar suku menjadi kendala dalam mengembangkan potensi budaya yang ada. sehingga mengganggu fungsi lindung yang ditetapkan.RTRW PROVINSI PAPUA BARAT 2008-2028 d) Pengembangan indusri pelayaran dan pengangkutan sebagai upaya untuk membentuk keterkaitan antar pusat-pusat pengembangan.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.