Anda di halaman 1dari 5

1. a.

Bangunan Pengambilan Air Baku Intake Intake adalah jenis bangunan pengambilan air baku yang bersumber dari air permukaan yaitu danau/ situ/ kolam dan sungai. Perencanaan bangunan Intake harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

1.

Bangunan intake harus dapat menjamin penyaluran air baku dari

sumbernya ke sistim penyediaan air minum setiap saat, baik pada tinggi permukaan air di sumber air baku dalam keadaan maksimum maupun minimum. 2. 3. Bangunan intake harus dapat mencegah masuknya sampah dan Lokasi bangunan intake harus dipilih sedemikian rupa sehingga dapat kotoran lainnya yang dapat mengganggu bekerjanya pompa penyedot air baku. menghindari bertumpuknya lumpur yang dibawa oleh aliran sungai pada muka intake yang dapat menyumbat aliran air masuk kedalam intake

4.

Bangunan intake harus ditempatkan pada lokasi dengan kondisi

tanah yang stabil, dan diperkuat dengan pondasi pancang sehingga dapat aman terhadap kemingkinan longsor maupun amblas. Bangunan Intake yang umumnya digunakan di Indonesia terdiri dari beberapa bagian yaitu dinding intake, screen, kolam penampung, pintu air dan pompa, sebagaimana gambar dibawah ini :

1 Max 2 Min 3
TAMPAK ATAS

4 5

POTONGAN

Gambar 3.1 : Bangunan Intake yang terdiri dari 1. dinding intake, 2. screen, 3. kolam air, 4. pintu air dan 5. pompa air

Lokasi penempatan intake yang tepat :

LOKASI INTAKE JALUR ALIRAN UTAMA SUNGAI

LOKASI INTAKE

PENUMPUKAN LUMPUR

LOKASI INTAKE

b.

Broncaptering (Bangunan Penangkap Mata Air) Broncaptering adalah bangunan untuk menangkap mata air yang keluar dari sumbernya. Pembangunan Broncaptering harus memperhatikan karakter lingkungan alam yang ada seperti struktur batuan yang membentuk lapisan aquifer, elevasi keluarnya sumber air, pemanfaatan air yang telah berlangsung sebelumnya, dsb. Pembangunan Broncaptering perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

1).
2).

Elevasi muka air tertinggi pada bak penampung harus jauh lebih rendah dari elevasi keluarnya air dari sumber mata air secara alami Bangunan Broncaptering harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dapat menangkap aliran air dari sumber mata air yang keluar secara menyebar

3).

Broncaptering harus dilengkapi dengan saluran pelimpah, sehingga apabila jumlah aliran dari mata air lebih besar dari daya tampung bangunan penangkap, maka air dapat mengalir dengan bebas

4).

Pembangunan broncaptering harus memperhatikan aspek sosial masyarakat setempat yaitu dengan menyediakan saluran outflow yang dapat digunakan untuk pemakaian air oleh lingkungan dan masyarakat setempat sebagaimana yang telah berlangsung selama ini seperti untuk keperluan sumber air bagi lahan disekitarnya sehingga dapat mempertahankan kondisi lingkungan yang hijau, untuk keperluan mengairi ladang, kolam ikan dan keperluan lainnya

Bangunan Broncaptering setidaknya terdiri dari beberapa bagian sebagai berikut : Bangunan penagkap Bak pengumpul Bangunan pelindung, baik terhadap pencemaran akibat aliran air dari luar, maupun terhadap runtuhan dinding tebing disekitarnya, juga untuk melindungi gangguan dari hewan

Pemunculan Mata Air

Denah

Saluran Pengalih Aliran Air Dari Luar Bak Pengumpul Koral Dinding Penahan

Aquifer Pemunculan Mata Air


Potongan Melintang Gambar: Broncaptering

Inlet

a.

Gravity Aerator Sistim aerasi dengan cara menerjunkan air secara gravitasi yaitu untuk menciptakan luas permukaan air yang terekspose ke udara bebas lebih besar, juga terjadinya peristiwa benturan air yang diterjunkan dengan lantai dibawahnya.. Adanya benturan

air dapat menurunkan tegangan permukaan air sehingga mempermudah masuknya oksigen kedalam badan air. Salah satu jenis aerator ini dinamakan Cascades, yaitu terjunan air yang menggunakan beberapa ambang pelimpah yang disusun bertingkat . Contoh yang lain adalah dengan menjatuhkan butiran-butiran air ketinggian tertentu. (droplet) dengan

Cascades Material dapat berupa pasangan batu kali disiar, pasangan batu bata diplester, beton bertulang, atau campuran. Mata air adalah suatu titik dimana air muncul dengan sendirinya ke permukaan dari dalam tanah. Titik tersebut merupakan suatu tempat dimana permukaan muka air tanah (akuifer) bertemu dengan permukaan tanah. Titik di mana air mencapai permukaan tanah tersebut sering kali disebut sebagai mata dari mata air.Sumber dari aliran airnya berasal dari air tanah yang mengalami patahan sehingga muncul ke permukaan. Aliran ini dapat bersumber dari air tanah dangkal maupun dari air tanah dalam. Terdapat berbagai jenis mata air yang kita temui. Berdasarkan cara keluarnya air dari dalam tanah ke permukaan, mata air dapat dibedakan menjadi dua ; pertama adalah mata air rembesan, yaitu air yang keluar dari lereng-lereng yang umumnya tersebar dengan debit kecil. Karena sumbernya dari resapan umumnya air yang dihasilkan sangat tergantung kepada kualitas daerah sekitarnya. Sedangkan jenis yang kedua adalah mata air umbul, yaitu air yang keluar dari suatu daratan yang umumnya mempunyai debit lebih besar dan kualitas yang lebih baik karena berasal dari sumber yang terletak di daerah yang belum tercemar di atas gunung. Berdasar potensi sumber air di dalam tanah yang menjadi sumber utama mata air tersebut, ada dua jenis mata air, yaitu yang permanen dan non permanen. Mata air permanen mengeluarkan air sepanjang tahun, sementara yang nonpemanen hanya mengucurkan air di musim penghujan dalam debit yang kecil. Berdasar jenis dan kualitas air yang dihasilkan, mata air juga sangat tergantung kepada jalur dan lapisan mineral tanah yang dilaluinya. Oleh karenanya, mata air juga dapat dibedakan berdasarkan sifat fisik dan kimiawinya seperti berikut 1) Mata air panas bermineral. Air ini tidak dapat digunakan sebagai sumber air minum. Mata air panas bermineral adalah mata air yang umumnya terletak di daerah pegunungan vulkanis sehingga air tanah dari kerak bumi dipanaskan secara geotermal sebelum muncul ke permukaan. Oleh karenanya air yang dihasilkan memiliki temperatur bervariasi mulai dari hangat-hangat kuku sampai di atas titik didih. Disamping panas, umumnya air dari mata air panas banyak mengandung kadar mineral tinggi, seperti kalsium, litium, atau radium. Berbagai pihak mempercayai bahwa mandi berendam di dalam air panas bermineral dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, sehingga banyak dibangun pemandian air panas dan spa untuk tujuan rekreasi dan pengobatan. Pemandian Air Hangat Cumpleng Tawangmangu misalnya, menyajikan Pemandian Air Hangat yang berkadar belerang tinggi, dan di dalam lokasi tersebut juga terdapat sebanyak 7 (tujuh) jenismata air; 1. Air Hangat, 2. Air Mati, 3. Air Dingin,

4. Air Soda, 5. Air Hidup, 6. Air Bleng / Asin, 7. Air Urus-urus 2) Mata air dari pegunungan kapur. Adalah mata air yang sumber airnya dari sungai dibawah tanah yang menyelinap di bawah pegunungan kapur. Mata air jenis ini umumnya mempunyai debit besar dan sangat jernih namun memiliki tingkat kesadahan yang tinggi. 3) Mata Air Biasa. Adalah mata air yang keluar dari celah batu dan kerikil atau batu kristal di dalam tanah. Kebanyakan air yang bersumber dari mata air jenis ini kualitasnya sangat baik sehingga digunakan sebagai sumber air minum oleh masyarakat sekitarnya, PDAM atau bahkan untuk air dalam botol kemasan maupun air isi ulang Mata air panas bermineral dari daerah gunung vulkanik. Mata air dari pegunungan kapur. Terkait dengan kualitas air minum yang akan dikonsumsi oleh masyarakat, pemerintah telah mengeluarkan Kepmenkes No 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum, dimana air minum harus memenuhi : syarat kualitas fisik, kimia, mikrobiologi dan radioaktivitas. 1. Kualitas fisik yang dimaksud mencakup beberapa parameter diantaranya kekeruhan, warna, rasa, bau dan suhu. 2. Kualitas mikrobiologi dimaksud sebagai terbebas dari bakteri Escerichia Coli dan total koliform.

3.

Sedangkan kualitas kimia dimaksud bahwa kandungan zat kimia seperti arsenik, flourida, kromium, kadmium, nitrit, sianida, Fe dan Mn tidak melebihi batas yang ditentukan.

Oleh karenanya sangatlah penting untuk melakukan survey secara akurat, sehingga pembangunan PMA (penangkap mata air) hanya dilakukan untuk mata air yang memiliki karakteristik berikut ; 1. Mata air permanen yang selalu mengalir sepanjang tahun. 2. Volume air yang dihasilkan mencukupi kebutuhan. 3. Secara fisik jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dingin, dan kandungan kimia maupun biologi yang tidak melebihi batas yang diijinkan sebagai air minum. S