Anda di halaman 1dari 8

Essay Tokoh Negarawan di Indonesia dan di Dunia

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kewarganegaraan KU2071

oleh Puspita Wahyuningsih NIM : 13309067 Kelas 14

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie


Nama: Jusuf Habibie Lahir: Agama: Jabatan : Prof. Dr.Ing. Dr. Sc.h.c. Bacharuddin Pare-Pare, 25 Juni 1936 Islam Presiden RI Ketiga (1998-1999) Pendiri dan Ketua Dewan Pembina The Habibie Center Istri: dr. Hasri Ainun Habibie (Menikah 12 Mei 1962) Anak: Ilham Akbar dan Thareq Kemal Cucu: Empat orang Ayah: Alwi Abdul Jalil Habibie Ibu: R.A. Tuti Marini Puspowardoyo Jumlah Saudara:Anak Keempat dari Delapan Bersaudara Pendidikan : 1. ITB Bandung, tahun 1954 2. Rheinisch Westfalische Technische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman, dengan gelar Diplom-Ingenieur, predikat Cum laude pada Fakultas Mekanikal Engineering, Departemen Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang (1955-1960). 3. Rheinisch Westfalische Technische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman, dengan gelar doktor konstruksi pesawat terbang, predikat Summa Cum laude, pada Fakultas Mekanikal Engineering, Departemen Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang (1960-1965). 4. Menyampaikan pidato pengukuhan gelar profesor tentang konstruksi pesawat terbang di ITB Bandung, pada tahun 1977. Pekerjaan : 1. Kepala Riset dan Pengembangan Analisis Struktur pada perusahaan Hamburger Flugzeugbau Gmbh, Hamburg, Jerman antara tahun 1965-1969. 2. Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada Pesawat Komersial dan Angkut Militer MBB Gmbh, di Hamburg dan Munchen antara 1969-19973 3. Wakil Presiden dan Direktur Teknologi pada MBB Gmbh, Hamburg dan Munchen tahun 1973-1978 4. Penasehat Senior Teknologi pada Dewan Direksi MBB tahun 1978.

5. Pulang ke Indonesia dan memimpin Divisi Advanced Technology Pertamina, yang merupakan cikal bakal BPPT, tahun 1974-1978. 6. Penasehat Pemerintah Indonesia di Bidang Pengembangan Teknologi dan Pesawat Terbang, bertanggungjawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia Soeharto pada tahun 1974-1978. 7. Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tahun 1978-1998. 8. Wakil Presiden R.I. pada 11 Maret 1998-21 Mei 1998. 9. Presiden RI 21 Mei 1998-20 Oktober 1999. Organisasi: Pendiri dan Ketua Umum ICMI

Penghargaan: Theodore van Karman Award

Masa Muda Dimasa kecil, Habibie telah menunjukkan kecerdasan dan semangat tinggi pada ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya Fisika. Selama enam bulan, ia kuliah di Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB), dan dilanjutkan ke Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule Jerman pada 1955. Dengan dibiayai oleh ibunya, R.A. Tuti Marini Puspowardoyo, Habibie muda menghabiskan 10 tahun untuk menyelesaikan studi S-1 hingga S-3 di Aachen-Jerman. Karir di Industri Selama menjadi mahasiswa tingkat doktoral, BJ Habibie sudah mulai bekerja untuk menghidupi keluarganya dan biaya studinya. Setelah lulus, BJ Habibie bekerja di Messerschmitt-Blkow-Blohm atau MBB Hamburg (1965-1969 sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang, dan kemudian menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB (1969-1973). Atas kinerja dan kebriliannya, 4 tahun kemudian, ia dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode 1973-1978 serta menjadi Penasihast Senior bidang teknologi untuk Dewan Direktur MBB (1978 ). Dialah menjadi satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki jabatan nomor dua di perusahaan pesawat terbang Jerman ini. Kembali ke Indonesia Ketika (Alm) Presiden Soeharto mengirim Ibnu Sutowo ke Jerman untuk menemui seraya membujuk Habibie pulang ke Indonesia, BJ Habibie bersedia dan melepaskan jabatan, posisi dan prestise tinggi di Jerman. Hal ini dilakukan BJ Habibie demi memberi sumbangsih ilmu dan teknologi pada bangsa ini. Pada 1974 di usia 38 tahun, BJ Habibie pulang ke tanah air. Iapun diangkat menjadi penasihat pemerintah (langsung dibawah Presiden) di bidang teknologi pesawat terbang dan teknologi

tinggi hingga tahun 1978. Meskipun demikian dari tahun 1974-1978, Habibie masih sering pulang pergi ke Jerman karena masih menjabat sebagai Vice Presiden dan Direktur Teknologi di MBB. Habibie mulai benar-benar fokus setelah ia melepaskan jabatan tingginya di Perusahaan Pesawat Jerman MBB pada 1978. Dan sejak itu, dari tahun 1978 hingga 1997, ia diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus merangkap sebagai Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Disamping itu Habibie juga diangkat sebagai Ketua Dewan Riset Nasional dan berbagai jabatan lainnya. Ketika menjadi Menristek, Habibie mengimplementasikan visinya yakni membawa Indonesia menjadi negara industri berteknologi tinggi. Ia mendorong adanya lompatan dalam strategi pembangunan yakni melompat dari agraris langsung menuju negara industri maju. Visinya yang langsung membawa Indonesia menjadi negara Industri mendapat pertentangan dari berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri yang menghendaki pembangunan secara bertahap yang dimulai dari fokus investasi di bidang pertanian. Habibie menjadi RI-1 Soeharto mundur, maka Wakilnya yakni BJ Habibie pun diangkat menjadi Presiden RI ke-3 berdasarkan pasal 8 UUD 1945. Namun, masa jabatannya sebagai presiden hanya bertahan selama 512 hari. Habibie mewarisi kondisi kacau balau pasca pengunduran diri Soeharto akibat salah urus di masa orde baru, sehingga menimbulkan maraknya kerusuhan dan disintegerasi hampir seluruh wilayah Indonesia. Meski sangat singkat, kepemimpinan Presiden Habibie mampu membawa bangsa Indonesia dari jurang kehancuran akibat krisis. Presiden Habibie berhasil memimpin negara keluar dari dalam keadaan ultra-krisis, melaksanankan transisi dari negara otorian menjadi demokrasi. Sukses melaksanakan pemilu 1999 dengan multi parti (48 partai), sukses membawa perubahan signifikan pada stabilitas, demokratisasi dan reformasi di Indonesia.

Essay Habibie merupakan tokoh Indonesia yang berpengaruh tidak hanya di Indonesia, namun di dunia internasional pun Habibie memberikan kontribusi nyata bagi dunia khususnya dalam bidang teknologi pesawat. Kepada Indonesia sendiri, Habibie secara khusus memberikan kontribusinya dalam bidang politik, dimulai dari karirnya sebagai menristek, penasihat presiden, sampai menjadi presiden RI. Banyak sekali yang dapat dipelajari dari sosok Habibie ini. Memiliki kemampuan otak yang sangat cerdas, tidak membuatnya sombong dan manja, namun Habibie memanfaatkannya dengan baik untuk kepentingan orang banyak. Sebagai satu-satunya orang Asia yang mendapat jabatan tinggi di perusahaan industri perusahaan terkemuka di Jerman, tentu secara materi maupun kedudukan sudah sangat terpenuhi. Namun, Habibie tidak keberatan saat ia diminta kembali ke tanah airnya, Indonesia. Sebagai tanda terima kasih kepada bangsa, Negara, dan khususnya ibunya yang telah menyekolahkannya di Jerman, Habibie turut serta membangun negeri ini di bawah pemerintahan Presiden Soeharto. Sikap kritis dan kemampuannya yang high-tech, menuntunnya pada posisi nomor satu di negeri ini. Keberanian mengeluarkan pendapat dan membenarkan hal yang menyimpang, akhirnya menggulingkan pemerintahan Presiden Soeharto yang pada saat itu memang dipenuhi KKN dan rakyat lama-kelamaan semakin geram dengan kepemimpinannya yang otoriter. Daya analisis dan kemauan berusaha yang giat, ulet, dan berani mengambil resiko, mengantarkan Habibie menjadi Presiden RI yang ketiga dengan berbagai kebijakannya yang berhasil membangun kembali Indonesia dari keterpurukan. Sifat-sifat Habibie yang seperti itulah yang dapat menjadi tauladan bagi kita. Pribadi yang sederhana di balik berbagai kemewahan, serta keuletan, mengantar pada kesuksesan.

Benjamin Franklin
Benjamin Franklin adalah perwujudan ideologi rasionalitas manusia a la gerakan Pencerahan. Praktis namun idealistis, tekun dan sangat sukses, Franklin merekam masa-masa awal kehidupannya dalam autobiografinya. Sebagai penulis, pengusaha percetakan, penerbit, ilmuwan, dermawan dan diplomat, ia adalah tokoh paling terkenal dan dihormati di zamannya. Franklin adalah orang Amerika pertama yang sukses berswadaya, seorang demokrat miskin yang lahir di era aristokrasi. Berkat keteladanannya, era tersebut akhirnya ditinggalkan masyarakat. Franklin lahir di Boston, Massachussets, pada tanggal 17 Januari 1706. Ayahnya Josiah Franklin adalah seorang pembuat sabun dan lilin yang menikah dua kali. Ia adalah anak kelimabelas dari tujuh belas orang anak yang dimiliki Josiah. Pada usia sepuluh tahun Franklin diberhentikan dari sekolah dasar oleh ayahnya karena faktor kekurangan biaya. Ia juga sempat kembali bersekolah di Boston Latin School tetapi tidak tamat. Kemudian ia diperbantukan di perusahaan percetakan milik kakaknya James yang mempublikasikan The New England Courant. Dalam banyak hal, dampak Pencerahan terpancar dalam kehidupan Franklin yang berbakat ini. Ia otodidak namun melahap tulisan-tulisan John Locke, Lord Shaftesbury, Joseph Addison, dan para penulis Pencerahan lainnya. Pada suatu saat ketika Franklin berusia tujuhbelas tahun ia dan kakaknya James bertengkar dan akhirnya ia pergi meninggalkan rumah dan bahkan kota Boston. Pada awalnya Franklin menuju ke New York, dan kemudian ke Philadelphia di mana ia tiba pada bulan Oktober tahun 1723. Di kota itu ia bekerja di sebuah percetakan. Beberapa bulan kemudian Franklin pergi ke London untuk membeli mesin ketik atas permintaan dari Gubernur Pennsylvania William Keith yang berjanji akan membiayainya kembali ke toko percetakannya, namun saat masih berada di London Keith membatalkan perjanjiannya. Selama berada di Inggris (172426), Franklin bekerja di berbagai perusahaan percetakan sampai uang tabungannya cukup untuk membawa ia kembali ke Philadelphia. Franklin kemudian membuka percetakan miliknya sendiri pada tahun 1729. Bisnisnya ini berjalan lancar dan dua tahun berikutnya dia mulai menerbitkan Pennsylvania Gazette, salah satu koran yang paling berpengaruh di zamannya. Tahun 1730 Benjamin Franklin menikah dengan Deborah Read Rogers putri seorang pengusaha di Philadelphia. Mereka memiliki tiga orang anak, yaitu William, Francis, dan Sarah. Pada tahun 1731 Franklin mendirikan perpustakaan keliling pertama di Amerika dan juga unit pemadam kebakaran (Union Fire Company) pertama di Pennsylvania (1736). Setelah sebelumnya ia mendirikan debating club yang berkembang menjadi American Philosophical

Society dimana ia menjadi ketuanya, pada tahun 1743 Franklin mulai memprakarsai berdirinya The Academy and College of Philadelphia dan ia ditunjuk untuk mengepalainya pada tahun 1749. Akademi ini resmi dibuka pada tahun 1751, dan kemudian menjadi University of Pennsylvania. Saat berada dalam Kongres Albany (1754) sebagai delegasi Pennsylvania, Franklin mengajukan sebuah opsi tentang penyatuan ke-13 koloni Inggris di Amerika untuk berotonomisasi, yang mana opsi ini diterima oleh sebagian besar delegasi namun akhirnya ditolak oleh majelis wilayah koloni dan pemerintah Inggris. Setelah masa jabatannya sebagai wakil rakyat di majelis umum berakhir. Franklin diutus ke Inggris sebagai delegasi Legislatif Pennsylvania di mana ia disambut baik oleh anggota masyarakat ilmuwan dan para ahli sastra yang menghargai karyanya. Setelah kembali ke Philadelphia tahun 1762, dia terpilih kembali sebagai wakil rakyat. Franklin sangat mendukung pandangan yang sudah umum pada waktu itu bahwa Inggris harus melonggarkan kendalinya terhadap masyarakat koloni Amerika dan mengizinkan mereka memiliki peran pemerintahan yang lebih besar untuk mengurus negerinya sendiri. Saat menjadi delegasi dalam Kongres Kontinental (Continental Congress) atau kongres kedua, opsinya mengenai penyatuan ke-13 koloni kembali mendapat tanggapan yang positif oleh hampir seluruh delegasi, dan melalui perjuangan yang cukup alot akhirnya seluruh delegasi menyetujuinya hingga diputuskanlah sebuah petisi tentang otonomisasi daerahdaerah koloni Inggris di Amerika. Pada tahun 1774 Franklin pergi ke Inggris untuk mengajukan petisi tersebut kepada Raja George III atas nama rakyat jajahan dan Kongres Kontinental yang baru terbentuk. Raja dan majelis tuan tanah menolak petisi tersebut, dan pada saat dia kembali ke Philadelphia, Perang Revolusi Amerika telah mulai. Dia juga membantu Thomas Jefferson dalam merancang draf Deklarasi Kemerdekaan (Declaration of Independence), yang juga turut ditandatanganinya pada tanggal 4 Juli 1776. Saat itulah ke-13 daerah koloni Inggris di Amerika memproklamirkan kemerdekaannya dan membentuk sebuah negara baru dengan naman The United States of America (Amerika Serikat). Pada tahun 1776 saat perang masih bergolak Franklin ditunjuk sebagai duta besar Amerika Serikat untuk Perancis. Dalam tugasnya ini ia berhasil meyakinkan pemerintah Perancis agar mau mendukung Amerika Serikat, baik dari segi persenjataan maupun persediaan makanan. Setelah perang, Franklin terpilih sebagai salah-satu utusan Amerika Serikat untuk merundingkan pakta damai dengan Inggris di Paris pada tahun 1782 hingga 1783. Perundingan ini menghasilkan suatu perjanjian yang dirumuskan dalam The Treaty of Paris yang ditandatangani juga oleh Franklin. Ia kembali ke Amerika Serikat dari Perancis pada tahun 1785 dan dua tahun kemudian menjadi anggota Konvensi Konstitusi di mana ia juga turut merancang draf dan menandatangani The Constitution of the United States (Konstitusi Amerika Serikat). Pada tahun 1787 Franklin terpilih sebagai President of the Pennsylvania.

Pada tanggal 17 April 1790 Benjamin Franklin meninggal dunia di usianya yang ke-84 tahun. Essay Kemampuan multitalenta yang luar biasa dari tokoh Benjamin Franklin merupakan pelajaran berguna bagi kita. Meskipun dalam keadaan yang sederhana dan sempat tidak berhenti sekolah, namun itu semua bukan penghalang untuk menjadi orang sukses. Kemauan berusaha dan sikap mandiri, bias dicontoh dari tokoh ini. Keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya, karena sesungguhnya manusia dapat mempelajari apapun sendiri dari alam ini. Memiliki kemampuan yang luar biasa dan seimbang tidak hanya di bidang iptek, namun juga kemanusiaan , juga politik membuat Ben menjadi orang yang dihormati dan berpengaruh di dunia ini. Sebagai kaum muda, sudah sepantasnya kita pun berjuang dan berusaha untuk berguna bagi dunia. Membuat keterbatasan menjadi karya merupakan pelajaran yang dapat diambil dari tokoh ini.