Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Teori dan konsep perubahan sangat penting dalam dunia keperawatan, karena dalam teori dan konsep kita dapat mempelajari suatu kerangka kerja yang berhubungan dengan keseluruhan perubahan manusia dan lingkungan sekitar. Suatu perubahan sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat, apalagi jika seorang perawat berhasil menerapkan teori dan konsep perubahan dengan baik dalam masyarakat.

Perubahan bisa terjadi setiap saat, dan merupakan proses yang dinamik serta tidak dapat dielakkan. Berubah berarti beranjak dari keadaan yang semula. Tanpa berubah tidak ada pertumbuhan dan tidak ada dorongan. Namun dengan berubah terjadi ketakutan, kebingungan dan kegagalan dan kegembiraan. Setiap orang dapat memberikan perubahan pada orang lain. Merubah orang lain bisa bersifat implisit dan eksplisit atau bersifat tertutup dan terbuka. Kenyataan ini penting khususnya dalam kepemimpinan dan manajemen. Pemimpin secara konstan mencoba menggerakkkan sistem dari satu titik ke titik lainnya untuk memecahkan masalah.

Maka secara konstan pemimpin mengembangkan strategi untuk merubah orang lain dan memecahkan masalah. Keperawatan yang sedang berada pada proses profesionalisasi terus berusaha membuat atau merencanakan perubahan. Adaptasi terhadap perubahan telah menjadi persyaratan kerja dalam keperawatan. Personal keperawatan bekerja untuk beberapa pimpinan, termasuk klien dan keluarganya, dokter, manajer keperawatan, perawat pengawas dan perawat penanggung jawab yang berbeda dalam tiap ship. Perawat pelaksana menemukan peran bahwa mereka berubah beberapa kali dalam satu hari. Kadang seorang perawat menjadi manajer, kadang menjadi perawat klinik, kadang menjadi konsultan dan selalu dalam peran yang berbeda.

Sebagai perawat pelaksana maupun sebagai manajer keperawatan kita perlu membuat perubahan untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Perawat tentu saja berharap perubahan tersebut jangan sampai menimbulkan konflik. Oleh karena itu, sebaiknya perawat perlu mengetahui teori-teori yang mendasari perubahan.

1.2. Tujuan Penulisan

a. b.

Untuk mengetahui teori perubahan Lewin dan Lippit. Untuk mengetahui konsep berubah yang ada dalam pelayan kesehatan.

1.3. Manfat Penulisan

1. Mahasiswa dapat mempelajari bagaiman cara menerapkan teori perubahan menurut Lewin dan Lippit. 2. Mahasiswa dapat mempelajari bahkan dapat menerapakan konsep berubah serta bagianbagiannya dalam melakukan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

BAB II TINJAUAN TEORITIS

2.1.

Konsep Perubahan

Konsep merupakan suatu ide dimana terdapat suatu kesan yang abstrak yang dapat diorganisir menjadi simbol-simbol yang nyata. Sedangkan konsep keperawatan merupakan ide yang menyusun suatu rangka konseptual atau model keperawatan.

Perubahan merupakan suatu proses di mana terjadinya peralihan atau perpindahan dari status tetap (statis) menjadi status tetap yang bersifat dinamis , artinya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada , perubahan dapat mencakup keseimbangan personal sosial maupun organisasi untuk dapat menjadikan peribadian atau penyempurnaan serta dapat menerapkan ide atau konsep terbaru dalam mencapai tujuan tertentu.

Perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang direncanakan yaitu suatu usaha sistematik untuk mendesain ulang suatu organisasi dengan cara melakukan adaptasi pada perubahan yang terjadi dilingkungan eksternal maupun internal untuk mencapai sasaran baru. Banyak definisi pakar tentang berubah, dua diantaranya yaitu : 1. Berubah merupakan kegiatan atau proses yang membuat sesuatu atau seseorang berbeda dengan keadaan sebelumnya (Atkinson,1987) 2. Berubah merupakan proses yang menyebabkan perubahan pola perilaku individu atau institusi (Brooten,1978)

Perkembangan profesi keperawatan tidak terlepas dari konsep perubahan yang dimiliki oleh para praktisi, akademisi atau seseorang yang masih ingin mengembangkan keperawatan, yang memiliki keyakinan dan teori perubahan yang ingin dimilkinya. Sebagai gambaran dalam merubah profesi keperawatan kearah yang lebih profesional.

2.2.

Fungsi Perubahan

Adapun fungsi dari perubahan ialah : 1. 2. Perubahan ditujukan untuk menyelesaikan masalah. Perubahan ditujukan untuk membuat prosedur kerja lebih efisien.

3.

Perubahan ditujukan untuk mengurangi kegiatan yang tidak penting.

2.3 Teori Perubahan Lewin Kurt Lewin (Cameron&Green,2009) mengembangkan model atau konsep pemikirannya tentang perubahan dalam organisasi berdasar dari perspektif metaphora organisme. Model ini diketahui telah banyak diadopsi para manajer sampai pada hari ini. Model yang ia kembangkan berupa atau sering disebut sebagai force field analysis dengan three step model. Prinsip dasar dari model ini adalah kekuatan untuk bergerak atau berubah harus lebih besar dibandingkan kekuatan yang menentangnya di situasi apapun. Lewin menyarankan sebuah jalan untuk melihat proses keseluruhan dari suatu perubahan organisasi yang terdiri dari 3 (tiga) langkah. Langkah pertama adalah unfreezing, yaitu mendefiniskan bagaimana keadaan perusahaan sekarang (saat perusahaan akan mulai melakukan perubahan) memetakan apa saja kekuatan penggerak dan penentang perubahan serta menetapkan gambaran situasi akhir yang diinginkan dari perubahan yang akan dilakukan. Kedua adalah move, yaitu mulai melakukan pergerakan kepada keadaan baru yang diinginkan melalui partisipasi dan keterlibatan secara aktif karyawan. Ketiga adalah refreezing, yaitu fokus kepada membekukan atau menstabilkan kondisi yang baru melalui pengaturan kebijakan, penghargaan, dan membangun standar standar baru.

1.

Unfreezing

Pada proses ini yang dilakukan adalah mulai mencairkan keadaan dan penyadaran kepada karyawan tentang kebutuhan untuk berubah dan bersiap siap untuk menghadapinya. Unfreezing dapat dilakukan misalnya melalui komando atau instruksi langsung dari Direktur Utama di mana seluruh pihak agar memberikan komitmen dan dukungan maksimal serta memonitor dengan ketat semua aktifitas yang terkait dengan perubahan atau implementasi program maupun sistem baru. Setiap pihak maupun unit yang terlibat harus bekerjasama dan menjadikan perubahan sebagai tantangan tersendiri bagi karyawan.

2. Moving Moving dimulai dari mempersiapkan segala sesuatu demi mendukung kelancaran proyek perubahan. Mulai dari perencanaan sumber daya manusia yang diperlukan untuk mendukung kerja proyek, yakni perekrutan, pengangkatan dan sebagainya. Hal tersebut supaya di awal proyek segala sesuatu telah siap. Segala hal berkaitan dengan sarana dan prasarana pendukung juga dipersiapkan. Kantor atau base camp termasuk di dalamnya furniture, peralatan dan infrastructure dalam bekerja seperti komputer, LCD projector, kelistrikan, LAN, tempat filing

dokumen, server - server, software dan sebagainya. Selain itu, mobilisasi tim juga sudah didefinisikan dan di sepakati oleh fungsi fungsi yang bekerja sama dalam mewujudkan proyek perubahan baik dari pihak perusahaan maupun konsultan (apabila menggunakan jasa konsultan). Begitu pula dengan rancangan jadwal kerja harus telah disepakati. Dengan demikian, hal - hal spesifik dan teknis realisasi proyek perubahan siap dijalankan.

3.

Refreezing

Pada proses ini yang dilakukan adalah tidak membuka peluang kepada karyawan untuk melaksanakan pekerjaannya dengan cara cara terdahulu. Segala permasalahan terkait perubahan harus langsung coba di atasi. Jadikan karyawan tidak memiliki pilihan selain mengikuti perubahan yang ada. Perubahan yang telah berjalan di institutionalisasi sebagai standar dalam sistem kerja di perusahaan, kemudian juga dibuatkan kompetensi yang menjadi standar kebutuhan kompetensi dan pelatihan bagi berbagai jabatan yang ada di perusahaan.

Proses Perubahan perilaku menurut Lewin ( 1951 ) mengemukakan teori perubahan Unfreezing to refreezing yang berlangsung dalam lima tahap berikut : a. Fase Pencairan ( the unfreezing phase) Individu mulai mempertimbangkan penerimaan terhadap perubahan.Dalam keadaan ini ia siap menerima perubahan sikap dasar.Motivasi dan tingkah laku.Di dalam masyarakat pada fase ini, berada pada keadaan untuk mengubah kekuatan yang mempengaruhi prose perumusan kebijaksanaan, partisipasi masyarakat, dll

b. Fase Diagnosa masalah (problem diagnosis phase) : Individu mulai mengidentifikasi kekuatan-kekuatan, baik yang mendukung perlunya perubahan maupun menetang perubahan itu serta menganalisa kekuatan itu.

c. Fase penentuan tujuan (Goal Setting Phase) : Apabila masalahnya telah dipahami, maka individu menentukan tujuannya sesuai dengan perubahan yang diterimanya.

d. Fase Tingkah Laku baru (new behavior phase) : Pada fase ini individu mulai mencobanya dan membandingkan dengan praktik praktik yang telah dilakukan dan diharapkan.

e. Fase pembekuan ulang (the refreezing phase) : Apabila dianggap berguna, perubahan kemudian diasimilasikan menjadi pola tingkah laku yang permanen, misalnya : arti kesehatan bagi kehidupan manusia dan cara-cara pemeliharaan kesehatan.

2.4 Teori Perubahan Lippit Lippit (1958) mencoba mengembangkan teori yang disampaikan oleh Lewin dan menjabarkannya dalam tahap-tahap yang harus dilalui dalam perubahan berencana. Terdapat lima tahap perubahan yang disampaikan olehnya, tiga tahap merupakan ide dasar dari Lewin. Walaupun menyampaikan lima tahapan Tahap-tahap perubahan adalah sebagai berikut: (1) Tahap inisiasi keinginan untuk berubah (2) Penyusunan perubahan pola relasi yang ada (3) Melaksanakan perubahan (4) Perumusan dan stabilisasi perubahan (5) Pencapaian kondisi akhir yang dicita-citakan. Konsep pokok yang disampaikan oleh Lippit diturunkan dari Lewin tentang perubahan sosial dalam mekanisme interaksional. Perubahan terjadi karena munculnya tekanan-tekanan terhadap kelompok, individu, atau organisasi. Ia berkesimpulan bahwa kekuatan tekanan (driving forces) akan berhadapan dengan penolakan (resistences) untuk berubah. Perubahan dapat terjadi dengan memperkuat driving forces dan melemahkan resistences to change. Peran agen perubahan menjadi sangat penting dalam memberikan kekuatandriving force. Teori perubahan Lippitt didasarkan pada membawa dalam agen perubahan eksternal untuk menempatkan rencana di tempat untuk melakukan perubahan. Ada tujuh tahapan dalam teori ini dan mereka mendiagnosa masalah, menilai motivasi, menilai perubahan motivasi agen dan sumber daya, memilih objek perubahan yang progresif, memilih mengubah peran agen, mempertahankan perubahan, mengakhiri hubungan membantu. Teori ini dapat digunakan dalam keperawatan untuk perubahan, seperti:

1.

Mendiagnosis masalah.

Pada langkah ini, pemimpin perawat, perawat staf atau petugas kesehatan perawatan pemberitahuan dan diagnosa masalah. Kebutuhan untuk perubahan ini kemudian dibuat diketahui anggota lain dari staf yang akan terpengaruh, sehingga pertemuan dapat diadakan untuk memutuskan bagaimana untuk maju.

2.

Mengkaji motivasi dan kemampuan.

Cari tahu apakah orang-orang yang akan terpengaruh oleh perubahan yang bersedia untuk membiarkan hal itu terjadi atau menentangnya. Periksa untuk melihat apakah perubahan dapat dicapai didasarkan pada sumber daya yang tersedia seperti uang. Datang dengan solusi yang akan menangani semua masalah yang mungkin ditemui di jalan untuk berubah.

3.

Mengkaji perubahan terhadap hasil dan manfaatnya.

Menentukan apakah agen perubahan disewa dari perusahaan lain memiliki apa yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan dengan cara stamina, penerimaan pengalaman, oleh perawat dan staf lain, keinginan tulus untuk melihat proyek perubahan berhasil dan kepribadian yang tepat.

4.

Menetapkan tujuan untuk mengimplementasikan perubahan.

Rencana tersebut harus berisi langkah-langkah rinci yang mencakup jadwal dan tenggat waktu. Tanggung jawab tersebut kemudian ditugaskan untuk semua pihak yang terlibat dalam membuat perubahan terjadi. 5. Tentukan peran agen perubahan.

Biarkan setiap orang yang bekerja pada proyek perubahan tahu apa peran agen perubahan eksternal akan sehingga tidak akan ada kebingungan terhadap apa pekerjaannya, dengan demikian mencegah kesalahpahaman atau kebencian. 6. Mempertahankan perubahan.

Dalam langkah ini teori perubahan Lippitts itu, proyek perubahan dimonitor untuk kemajuan. Semua pihak yang terlibat dalam proyek perubahan berkomunikasi satu sama lain dan agen perubahan untuk memperbarui diri mereka sendiri tentang kemajuan tugas individu mereka.

7.

Hentikan bantuan.

Pada tahap ini, agen perubahan eksternal dibiarkan pergi oleh siapapun mempekerjakan dia dan diawasi karyanya. Pada tahap ini perubahan dibuat permanen dengan menciptakan aturan-aturan dan kebijakan yang harus diikuti.

2.5 Sifat dan Proses Perubahan Dalam proses perubahan akan menghasilkan penerapan diri konsep atau ide terbaru, Menurut Lancaster tahun 1982, proses perubahan memiliki tiga sifat diantaranya perubahan bersifat berkembang , spontan dan di rencanakan. 1. Perubahan bersifat berkembang

Sifat perubahan ini mengikuti dari proses perkembangan yang baik pada individu, kelompok atau masysrakat secara umum , proses perkembangan ini dimulai dari keadaan atau yang paling besar menuju keadaan yang optimal atau matang ,sebagai mana dalam perkembangan manusia sebagai mahluk individu yang memiliki sifat yang selalu berubah dalam tingkat perkembangan nya.

2.

Perubahan bersifat spontan

Sifat perubahan ini dapat terjadi karena keadaan yang dapat memberikan respon tersendiri terhadap kejadian-kejadian yang bersifat alamiah yang diluar kehendak manusia yang tidak diramalkan atau diprediksi hingga sulit untuk di antisipasi seperti perubahan keadaan alam, tanah longsor banjir dll. Semuanya akan menimbulkan terjadi perubahan baik dalam diri, kelompok atau masyarakat bahkan pada sistem yang mengaturnya.

3.

Perubahan bersifat direncanakan

Perubahan bersifat direncanakan ini dilakukan bagi individu, kelompok atau masyarakat yang ingin mengadakan perubahan yang kearah yang lebih maju atau mencapai tingkat perkembangan yang lebih baik dari keadaan yang sebelumnya, sebagaimana perubahan dalam sistem pendidikan keperawatan di Indonesia yang selalu mengadakan perubahan sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran dan sistem pelayanan kesehatan pada umumnya.

2.6 Tipe Perubahan Perubahan merupakan sesuatu yang mungkin sulit diterima bagi seseorang, kelompok atau masyarakat yang belum memahami makna perubahan. Tipe-tipe perubahan sebagai berikut:

a. Tipe indoktrinasi Suatu perubahan yang lakukan oleh sekelompok atau masyarakat yang menginginkan pencapaian tujuan yang di harapkan dengan cara memberi doktrin atau menggunakan kekuatan sepihak untuk dapat berubah.

b.Tipe paksaan atau kekerasan Merupakan tipe perubahan dengan melakukan pemaksaan atau kekerasan pada anggota atau seorang dengan harapan tujuan yang hendak dicapai dapat terlaksana

c. Tipe teknokratik Merupakan tipe perubahan dengan melibatkan kekuatan lain dalam mencapai tujuan yang di harapkan terdapat satu pihak merumuskan tujuan dan pihak lain untuk membantu mencapai tujuan.

d. Tipe interaksional Merupakan perubahan dengan menggunakan kekuatan kelompok yang berintraksi satu dengan yang lain dalam mencapai tujuan yang harapkan dari perubahan.

e. Tipe sosialisasi Merupakan suatu perubahan dalam mencapai tujuan dengan menggunakan kerja sama dengan kelompok lain tetapi masih menggunakan kekuatan untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai.

f. Tipe emultif Merupakan suatu perubahan dengan menggunakan kekuatan unilateral dengan tidak merumuskan tujuan terlebih dahulu secara sungguh-sungguh perubahan ini dapat dilakukan pada system diorganisasi yang bawahannya berusaha.

g.Tipe alamiah Perubahan yang terjadi akibat sesuatu yang tidak disengaja tetapi dalam merumuskan dilakukan secara tidak sungguh-sungguh, seperti kecelakaan maka seseorang ingin mengadakan perubahan untuk lebih berhati-hati dalam berkendara dan lain sebagainya.

2.7 Proses Terjadinya Perubahan Dalam proses perubahan akan terjadi sebuah siklus. Siklus dalam sistem perubahan tersebut itulah yang dinamakan sebuah proses yang akan menghasilkan sesuatu dan berdampak pada sesuatu. Dalam proses perubahan terdapat komponen yang satu dengan yang lain dapat mempengaruhi seperti perubahan perilaku sosial , perubahan structural dan intitusional dan perubahan teknologi.

Proses perubahan dapat saling mempengaruhi komponen yang ada, sebagaimana contoh dengan adanya penemuan teknologi tepat guna,maka di masyarakat akan terjadi perubahan dalam perilaku sosial kemungkinan masyarakat akan menggunakan dari teknologi yang dihasilkan. Perilaku sosial di masyarakat akan dapat berubah struktural institusional dari sistem organisasi yang ada di masyarakat.

2.8 Motivasi Dalam Perubahan Motivasi Dalam perubahan Pada dasarnya setiap manusia mengalami proses perubahan dan memiliki sifat berubah, mengingat berubah merupakan salah satu bagian dari kebutuhan manusia. Berubah timbul karena adanya suatu motivasi yang ada dalam diri manusia. Motifasi timbul karena ada tuntutan kebutuhan dasar manusia sedang kebutuhan dasar manusia yang dimaksud antara lain:

a. Kebutuhan fisiologis seperti makanan, minum, tidur, oksigenasi dan lain-lain yang secara fisiologis dibutuhkan manusia untuk mempertahankan hidupnya, berdasarkan kebutuhan tersebut, manusia akan selalu ingin mempertahankan hidupnya dengan jalan memenuhi atau selalu mengadakan perubahan.

b. Kebutuhan aman. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan manusia agar mendapat jaminan keamanan atau perlindungan dari berbagai ancaman bahaya yang ada sehingga manusia selalu ingin memenuhinya dengan jalan mengadakan perubahan untuk mempertahankan kebutuhan tersebut, seperti mendapatkan pekerjaan yang tetap, bertempat tinggal yang aman dan lebih baik

c. Kebutuhan sosial. Ketentuan ini mutlak diperlukan karna manusia tidak akan dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain, sehingga untuk memenuhi kehidupan sosialnya manusia selalu termotivasi untuk mengadakan perubahan dalam memenuhi kebutuhan seperti mengadakan kegiatan sosial kemasyarakatan.

d. Kebutuhan penghargaan dan dihargai. Setiap manusia selalu ingin mengadakan penghargaan dimata masyarakat akan prestasi, status dan lain-lain untuk manusia akan termotivasi untuk mengadakan perubahan.

e. Kebutuhan aktualisasi diri, Kebutuhan perwujudan agar diakui masyarakat akan kemampuannya dan potensi yang dimiliki, akan motivasi seseorang untuk memacu diri dalam memenuhi suatu kebutuhan.

Kebutuhan interpersonal yang meliputi kebutuhan untuk berkumpul bersama, kebutuhan untuk melakukan kontrol dalam mendapatkan pengaruh dari lingkungan dalam menjalankan sesuatu dan kebutuhan untuk dikasihi dapat menjadikan motivasi tersendiri dalam mengadakan perubahan.

2.9 Tahap Pengelolaan Perubahan

Pengelolaan perubahan menjadi kompetensi utama bagi manajer perawat saat ini. Ketidakefektifan penerapan perubahan akan berdampak buruk terhadap manajer, staf, dan organisasi serta menghabiskan waktu dan dana yang sia-sia. Pegawai ingin belajar perubahan dari pimpinan. Bolton et al. (1992) menjelaskan 10 tahap pengelolaan perubahan organisasi sebagaimana pada tabel dibawah ini.

Tabel 1.2 tahap pengelolaan perubahan (bolton et. Al., 1992) Tahap Penjelasan Mendefinisikan tujuan perubahan dengan melakukan pengkajian kepada 1 orang yang layak, menguji dokumen, dan menulis bahan-bahan yang sudah dikembangkan, dan secara konsisten menatap kedepan sesuai visi yang telah ditetapkan. 2 Meyakinkan tentang kesesuaian tujuan perubahan dengan rencana strategis organisasi. 3 Dimana tujuan akan dapat dilaksanakan dengan baik dan orang lain akan dengan senang hati terlibat didalamnya. Menentukan siapa yang akan memimpin perubahan. Pemimpin 4 harus mengomunisasikan visi secara evektiv kepada setiap orang dimasing-masing tatanan. Jabatan organisasi dan berperan sebagai pelatih, mentor, pendengar, dan mendukung kerja kelompok. 5 6 Memfasilitasi komitmen semua pihak yang terlibat (stakeholders). Mengidentifikasi instrumen tujuan yang spesifik yang dapat dipergunakan sebagai tolak ukur pencapaian perubahan. Membangun suatu tim kerja yang solid. Tim kerja tersebut harus

mempunyai tanggung jawab yang jelas, mampu berkomunikasi dengan yang lainya, dan juga mampu melakukan negosiasi dan penyelesaian masalah. Melibatkan semua tim kesehatan yang turut serta dalam praktik

keperawatan profesional kepada pasien. Tim tersebut harus mendukung dan terlibat dalam perubahan yang diharapkan oleh organisasi.

9 10

Belajar dari kesalahan masa lalu untuk mengindari kesalahan yang sama. Mengajarkan kepada kelompok kerja tentang proses interaksi perencanaan yang baik. Selalu mengembang sesuatu yang komprehensif. Dengan mengomunikasikanya secara terus-menerus.

2.10 Strategi Untuk Mencapai Perubahan yang Baik Keberhasilan perubahan tergantung dari strategi yang diterapkan oleh agen pembaharu. Hal yang paling penting adalah harus MULAI. a. Mulai dari diri sendiri Perubahan dan pembenahan terhadap diri sendiri,baik sebagai indifidu maupun sebagai profesi merupakan titik sentral yang harus dimulai. Sebagai anggota profesi, perawat tidak akan pernah berubah atau bertamabah baik dalam mencapai suatu tujuan profesionalisme, kalau perawat belum memulai pada diri sendiri. Oleh karena itu selalu introspeksi dan mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan yang ada anak sangat membantu terhadap terlaksananya pengelolaan keperawatan kedepan. b. Mulai dari hal-hal yang kecil Perubahan yang besar yaitu profesionalisme mamager keperawatan Indonesia tidak akan pernah berhasil, kalau tidak dimulai terhadap hal-hal yang kecil. Hal-hal yang kecil yang harus dijaga dan ditanamkan perawat Indonesia adalah menjaga citra keperawatan yang sudahh mulai membaik dihati masyarakat dengan tidak merusaknya sendiri. c. Mulailah sekarang, jangan menunnggu-nunggu Sebagaimana disampaikan oleh nursalam (2000), lebih baik sedikit daripada tidak sama sekali, lebih baik sekarang daripada harus menunggu-nunggu terus. Memanfaatkan kesempatan yang

ada merupakan konsep nanajemen keperaatan saat ini dan masa yang akan datang. Kesempatan tidak akan dating dua kali dengan tawaran yang sama.

2.11 Pedoman Untuk Pelaksanaan Perubahan Untuk terlaksananya suatu perubahan, maka hal-hal yang tersebut dibawah ini dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan perubahan.

1.

Keterlibatan

Tidak ada seorang pun yang mengetahui semuanya. Menghargai kemampuan dan pengetahuan orang lain serta melibatkanya dalam perubahan merupakan langkah awal kesuksesan perubahan. Orang akan bekerja sama dan menerima pembaharuan jika mereka menerima suatu informasi tanpa ancaman dan bermanfaat bagi dirinya. 2. Motivasi

Orang akan terlibt aktif dalam pembaharuan jika mereka termotivasi. Motivasi tersebut akan timbul jika apa yang sudah dilakukan bermanfaat dan dihargai. 3. Perencanaan

Perencanaan ini termasuk jika sistem tidak bisa berjalan secara efektif dan perubahan apa yang harus dilaksanakan. 4. Legitimasi

Setiap perubahan harus mempunyai aspek legal yang jelas, siapa yang melanggar, dan dampak apa yang secara administratif harus diterima olehnya. 5. Pendidikan

Perubahan pada prinsipnya adalah pengulangan belajar atau pengenalan cara baru agar tujuan dapat tercapai. 6. Manajemen

Agen pembaharu harus menjadi model dalam perubahan dengan adanya keseimbangan antara kepemimpinan terhadap orang dan tujuan/produksi yang harus dicapai.

7.

Harapan

Berbagai harapan harus ditekankan oleh agen pembaharu: hasil yang berbeda engan sebelumnya direncanakan; terselesaikanya masalah-masalah diinstitusi kepercayaan dan reaksi yang positif dari staf. 8. Asuh (nurturen)

Bimbingan dan dukungan staf dalam perubahan. Orang memerlukan suatu bimbingan dan perhatian terhadap apa yang telah mereka lakukan, termasuk konsultasi terhadap hal-hal yang bersifat pribadi. 9. Percaya

Kunci utama dalam pelaksanaan perubahan adalah berkembangnya rasa percaya antar tim. Semua yang terlibat harus percaya kepada agen pembaharu dan agen pembaharu juga harus percaya kepada staf yang terlibat dalam perubahan.

2.12 Change Agen

Dalam perkembangan karier profesional, setiap individu akan terpanggil untuk menjadi agen pembaharu. Menjadi agen pembaharu akan menjadi hal yang sangat menarik dan menyenangkan sebagai bagian dari peran profesional. Keadaan tersebut akan terjadi, jika anda merespons setiap perubahan yang terjadi di sekeliling anda (vestal, 1999).

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengontrol perilaku anda dan bagaimana cara anda mengelola perubahan. Anda dapat memilih sebagai pionir, penjelajah, dan seseorang yang berpikiran positif, serta pelaku dengan motivasi yang tinggi. Anda dapat mengawali proses perubahan dengan mengurangi / menghilangkan hambatan-hambatan dan memulainya setahap demi setahap. Hal ini tidak berat untuk melihat perawat dapat mengentrol prilaku tersebut, sehingga perawat akan menjadi pemimpin yang baik pada masa depan.

Untuk menjadi seorang agen pembaharu yang efektif, anda perlu menjadi bagian dari perubahan dan tidak menjadi orang yang resisten terhadap perubahan, berpartisipasi aktif dalam perubahan yang sedang berlangsung akan menjadikan peran anda menjadi lebih bermakna dikemudian hari.

Menyelesaikan setiap fenomena yang terjadi dan memilih hal-hal yang akan diubah. Perubahan bukan hanya hal-hal yang mudah, tetapi juga hal-hal yang memerlukan suatu tantangan. Sebagaimana orang bijak mengatakan siapa saja bisa berhasil menyeberangi dilaut yang terang, tetapi keberhasilan menyeberangi ombak akan mendapatkan penghargaan yang sesungguhnya.

Hadapilah setiap perubahan dengan senang dan penuh humor. Yakinkan bahwa perubahan bahwa perubahan adalah hal yang menantang dan menjadi agen pembaharu akan lebih sulit. Jika anda menjadi stres karena terlalu serius dalam perubahan tersebut, maka anda akan mengalami gangguan kesehatan. Keadaan tersebut berdampak buruk terhadap diri anda sendiri dan institusi tempat anda bekerja.

Selalu berpikiran kedepan dari pada hanya merenungi hal-hal yang sudah terjadi pada masa lalu (fix, the past). Berpikirlah suatu cara terbaru dan kesempatan untuk terlaksananya suatu perubahan. Belajar dari kesalahan, dan berpikir terus kedepan akan menjadikan anda seorang agen pembaharu yang sukses. Hal yang harus disadari adalah bahwa apa yang akan anda lakukan sekarang belum tentu dapat dipetik manfaatnya pada saat ini. Oleh karena itu, kesuksesan dalam perubahan harus disertai langkah-langkah antisipatif untuk kesuksesan institusi di masa depan.

2.13 Respon Terhadap Suatu Perubahan

Bagi sebagian individu perubahan dapat dipandang sebagai suatu motivator dalam meningkatkan prestasi atau penghargaan. Tapi kadang-kadang perubahan juga dipandang sebagai sesuatu yang mengancam keberhasilan seseorang dan hilangnya penghargaan yang selama ini didapat. Apakah seseorang memandang perubahan sebagai suatu hal yang penting atau negatif. Umumnya dalam perubahan sering muncul resistensi atau adanya penolakan terhadap perubahan dalam berbagai tingkat dari orang yang mengalami perubahan tersebut.Menolak perubahan atau mempertahankan status quo ketika berusaha melakukan perubahan, bisa saja terjadi. Karena perubahan bisa merupakan sumber stress. Oleh karenanya timbullah perilaku tersebut. Penolakan sering didasarkan pada ancaman terhadap keamanan dari individu, karena perubahan akan mengubah perilaku yang ada. Jika perubahan menggunakan pendekatan pemecahan masalah maka harus diberitahukan mengenai dampak yang mungkin timbul akibat perubahan.

Faktor-faktor yang akan merangsang penolakan terhadap perubahan misalnya, kebiasaan,kepuasan akan diri sendiri dan ketakutan yang melibatkan ego. Orang-orang biasanya

takut berubah karena kurangnya pengetahuan, prasangka yang dihubungkan dengan pengalaman dan paparan dengan orang lain serta ketakutan pada perlunya usaha yang lebih besar untuk menghadapi kesulitan yang lebih tinggi. Perubahan memang menuntut investasi waktu dan usaha untuk belajar kembali. Bila keperawatan yang sekarang berada pada proses profesionalisasi untuk menjadi sebuah profesi yang mandiri takut atau tidak siap dengan perubahan dan dampak yang mungkin ditimbulkannya, bagaimana profesionalisasi itu akan terjadi? Beberapa contoh ketakutan yang mungkin dialami seseorang dalam suatu perubahan antara lain : 1. Takut karena tidak tahu. 2. Takut karena kehilangan kemampuan, keterampilan atau keahlian yang terkait dengan pekerjaannya. 3. Takut karena kehilangan kepercayaan / kedudukan. 4. Takut karena kehilangan imbalan. 5. Takut karena kehilangan penghargaan, dukungan dan perhatian orang lain.

2.14 Strategi Menghadapi Hambatan Perubahan Tindakan menghadapi hambatan pada dasarnya merupakan bentuk kegiatan belajar.Ada yang selalu ingin tahu dan merasa dirinya perlu untuk memahami hakikat dan pengaruh dari setiap hambatan yang menghadang mereka. Mereka tidak takut menghadapi,menerima sekaligus menantang ganjalan yang ada didepan mereka.Namun juga sebagian orang yang sedemikian takutnya menghadapi hambatan sehingga mereka selalu berusaha keras menghindarinya. Akibatnya,mereka tidak perna belajar sehingga mereka makin tidak berdaya jika ada masalah baru yang muncul. Mereka lebih suka menanggung penderitaan dan kebodohan daripada harus bersusah payah mengambil resiko untuk belajar,tentu saja kondisi orang-orang seperti ini sangat menyedihkan, jaga diri anda agar jangan sampai menjadi salah satu diantaranya. Berusahalah, untuk itu berikut ini akan di paparkan cara-cara menghadapi hambatan agar anda lebih berani memetik pelajaran darinya.

Langka pertama yang perlu dilakukan adalah memandang hambatan yang bersangkutan dalam perspektif positif tertentu,untuk mengetahui sejauh mana pengaruh atau arti penting dari hambatan tersebut terhadap keputusan yang hendak di tetapkan,ajukan pertanyaan berikut ini kepada diri sendiri:"Apa hal terburuk yang bisa terjadi? Apakah saya cukup kuat menanggung konsekuensinya? Berapa besar kemungkinan anda berhasil dalam menangani hambatan tersebut? Apa yang paling mungkin terjadi? bisakah saya menanggungnya?" Jika anda ternyata mampu

menjawab pertanyaan pertanyaan itu, maka anda telah memagari rasa takut terhadap hambatan sehingga tidak berkembang lebih jauh.

Cobalah lihat struktur rinci dari hambatan tersebut, apa aspek aspek yang bisa ditangani secara terpisah? Apa yang sekiranya harus di ubah untuk mengatasi atau meringankan kadar hambatan tersebut? Apakah anda mau dan mampu melaksanakannya? Kira-kira apa yang akan dilakukan orang lain apabila mereka menemui hambatan hambatan serupa?Bisakah anda meniru metode metode yang mereka terapkan?

Simklah berbagai perubahan yang dapat merombak struktur hambatan,atau hal hal yang mengharuskan kita menyesuaikan diri terhadapnya.Tindakan apa yang harus diambil untuk menguangi dampak negatifnya?

STRATEGI MENGATASI HAMBATAN

* Tempur * Evakuasi * Subversi * Aliansi

: Tumpas hambatan itu secara langsung. : Kitari hambatan itu untuk menemukan celah celah kelemahannya. : Perlemah kadar atau bobot hambatan itu sedikit demi sedikit. : Cari bantuan pihak lain untuk mengatasinya.

* Penyekatan : Cegah pengaruhnya agar tidak menyebar. * Ketahanan : Tunggu saja hambatan itu hilang sendiri,luntur pengaruhnya. * Reli :Pupuklah keberanian dengan mengingat kembali keberhasilan anda.

2.15 Perubahan Dalam Keperawatan Dalam perkembangannya keperawatan juga mengalami proses perubahan seiring dengan kemauan dan teknologi. Aplikasi perawat dalam perubahan antara lain: 1. Memberikan pelayanan kesehatan melalui asuhan keperawatan untuk selalu berubah kearah kemandirian.

2.

Melakukan perubahan kearah yang professional.

3. Memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat dengan mengadakan perubahan dalam penerapan model asuhan keperawatan yang tepat, sesuai dengan lingkup praktek keperawatan. 4. 5. Mengadakan perubahan melalui penelitian keperawatan. Menunjukkan jiwa professional dalam tugas dan tanggung jawab.

2.16 Hubungan Penelitian Keperawatan dengan Perubahan Penelitian keperawatan adalah proses ilmiah yang berguna untuk memvalidasi pengetahuan yg ada dan membangun pengetahuan baru baik langsung/tdk langsung dpt mempengaruhi praktikpraktik keperawatan. (Burn & Grove, 1993) Tujuan Penelitian Keperawatan : 1.Memperjelas deskripsi (gambaran) suatu fenomena keperawatan 2.Menjelaskan komponen dari suatu fenomena keperawatan 3.Menjelaskan berbagai aspek yang mempengaruhi suatu fenomena 4.Mengidentifikasi sebab dan akibat terjadinya suatu fenomena 5.Mengidentifikasi keefektifan suatu intervensi terhadap suatu fenomena keperawatan Profesi kesehatan menghadapi banyak masalah yang mencerminkan kompleksitas dalam menghadapi kebutuhan masyarakat. Banyak profesional yang tidak menyadari pentingnya memahami berbagai minat dan metoda atau cara untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Banyak pula yang tidak merasakan pentingnya untuk mengenali berbagai minat dan metoda untuk memenuhi kebutuhan ini. Metoda ilmiah merupakan upaya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat. Metoda ilmiah merupakan cara untuk menyelesaikan masalah, membuat rasional atau logika pengalaman manusia, memahami keteraturan, memprediksi kemungkinan masa depan melalui proses keperawatan, penelitian.

Para ahli berpendapat bahwa penelitian keperawatan sudah berkembang pertama di USA yaitu Florence Nightingale (1859). Penelitian keperawatan secara gradual terus berkembang, meski hanya sedikit perawat yang mempunyai latar belakang pendidikan untuk melaksanakan studi dibidangnya.

Peristiwa Historikal Nightingale, peneliti pertama Berdirinya Asosiasi Alumni Perawat menjadi ANA

Publikasi pertama American Journal of Nursing Penelitian keperawatan (Nursing Research) Berdirinya Institut Penelitian Keperawatan Berdirinya American Nurses Foundation Studi Hughes tentang fungsi dan aktivitas keperawatan Berdirinya komisi ANA tentang penelitian Berdirinya Southern Regional Educational Board (SREB) Publikasi pertama International Journal of Nursing Studies ANA mensponsori Konferensi Penelitian Keperawatan Publikasi pertama Image Berdirinya komisi ANA tentang penelitian keperawatan Berdirinya konsil ANA Publikasi pertama Research in Nursing and Health Publikasi pertama Western Journal of Nursing Research Conduct and Letilization of Research Publikasi pertama Annual Review of Nursing Research National Center for Nursing Research Publikasi pertama Applied Nursing Research Sumber: Burns and Grove, 1994

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan tinjauan teori pada bab II maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Konsep merupakan suatu ide dimana terdapat suatu kesan yang abstrak yang dapat diorganisir menjadi simbol-simbol yang nyata. Sedangkan konsep keperawatan merupakan ide yang menyusun suatu rangka konseptual atau model keperawatan. Teori dan konsep perubahan sangat penting dalam dunia keperawatan, karena dalam teori dan konsep kita dapat mempelajari suatu kerangka kerja yang berhubungan dengan keseluruhan perubahan manusia dan lingkungan sekitar. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang direncanakan yaitu suatu usaha sistematik untuk mendesain ulang suatu organisasi dengan cara melakukan adaptasi pada perubahan yang terjadi dilingkungan eksternal maupun internal untuk mencapai sasaran baru. Untuk terlaksananya suatu perubahan, maka hal-hal yang tersebut dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan perubahan yaitu keterlibatan, motivasi, perencanaan, legitimasi, pendidikan, manajemen, harapan, asuh (nurturen), percaya

DAFTAR PUSTAKA

1. Hidayat, Aziz Alimul (2004). Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Surabaya: Salemba Medika. 2. Nursalam (2007). Manajemen Keperawatan Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta: Salemba Medika 3. Uha Suliha,et al, 2002, Pendidikan Kesehatan Dalam Keperawatan, Jakarta : EGC