Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Biologi perikanan sebagai dasar ilmu mengenai semua aspek-aspek yang berhubungan dengan studi biologi ikan. Setiap mahluk hidup mengalami pertumbuhan selama hidupnya dan melakukan reproduksi untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Begitu pula yang terjadi pada ikan, pertumbuhan tersebut dapat diamati secara fisik atau melalui pengamatan perkembangan jaringan. Pertumbuhan pada ikan dapat berlangsung lambat ataupun cepat. Pertumbuhan adalah perubahan ukuran bagian-bagian tubuh dan fungsi fisiologis tubuh. (Affandi, 2003). Reproduksi adalah salah satu cara suatu mahluk hidup mempertahankan kelangsungan hidupnya. Begitupun juga dengan ikan, ikan merupakan salah satu mahluk hidup yang melakukan reproduksi untuk melestarikan/melangsungkan kehidupannya. Pada dasarnya, ikan bersifat ovivar (bertelur). Jadi ikan melakukan reproduksi dengan cara bertelur. Ikan melakukuan reproduksi pada saat musim ikan itu melakukan reproduksi, setiap ikan musimnya berbeda-beda. Musim reproduksi/pemijahan ikan mempengaruhi terhadap jumlah telur yang dihasilkan ikat tersebut. Jika pada musimnya ikan akan mengeluarkan telur yang banyak. Selain itu juga jumlah telur yang dihasilkan dipengaruhi oleh ketersediaan atau asupan makanan yang dimakan oleh ikan (Mustamu, 2011). Pengetahuan mengenai fekunditas merupakan salah satu aspek yang memegang peranan penting dalam dunia perikanan. Fekunditas ikan merupakan aspek yang berhubungan dengan dinamika populasi, sifat-sifat rasial, produksi dan persoalan stok rekruitmen. Fekunditas merupakan kemampuan reproduksi ikan yang ditunjukkan dengan jumlah telur yang ada dalam ovarium ikan betina. Secara tidak langsung melalui fekunditas ini kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang akan dihasilkan dan akan menentukan pula jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan. Oleh karena itu ada faktor-faktor lain yang memegang peranan

penting dan sangat erat hubungannya dengan strategi reproduksi dalam rangka mempertahankan kehadiran spesies tersebut di alam (Wahyuni, 2010). Reproduksi merupakan hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup suatu organisme. Bayangkan apabila ada suatu organisme yang tidak melakukan reproduksi, tentu saja akan mengganggu keseimbangan alam. Bayangkan saja bila salah astu rantai makanan hilang. Tentu akan tidak seimbang proses ala mini. Yang akan menghancurkan sebuah ekosistem atau bahkan peradaban 2009). (Prasetya,

1.2 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum Fekunditas dan Diameter Telur Ikan Lele (Clarias batrachus) adalah guna untuk mengetahui jumlah telur dari ikan lele, mengetahui ukuran telur terhadap perkembangan individu menjelang pemijahan, dan untuk menduga produktifitas dan potensi produksi dari kelompok ikan lele tersebut.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Fekunditas Fekunditas ikan merupakan aspek yang berhubungan dengan dinamika populasi, sifat-sifa trasial, produksi dan persoalan stok rekruitmen. Fekunditas merupakan kemampuan reproduksi ikan yang ditunjukkan dengan jumlah telur yang ada dalam ovarium ikan betina. Secara tidak langsung melalui fekunditas ini kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang akan dihasilkan dan akan menentukan pula jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan (Effendi , 1997). Jumlah telur yang terdapat dalam ovarium ikan dinamakan fekunditas individu. Dalam hal ini ia memperhitungkan telur yang ukurannya berlain-lainan. selanjutnya ia menyatakan bahwa fekunditas individu adalah jumlah telur dari generasi tahun itu yang akan dikeluarkan tahun itu pula. Dalam ovari biasanya ada dua macam ukuran telur, yang besar dan yang kecil (Nikolsky, 1963). Untuk ikan ikan tropik dan sub-tropik, definisi fekunditas yang paling cocok mengingat kondisinya ialah jumlah telur yang dikeluarkan oleh ikan dalam rata-rata massa hidupnya. Parameter ini relevan dalam study populasi dan dapat ditentukan karena kematangan tiap-tiap ikan pada waktu pertama kalinya dapat diketahui dan juga statistik kecepatan mortalitasnya dapat ditentukan pula dalam pengelolaan perikanan yang baik (Rahmat, 2009). Secara sederhana Fekunditas dapat diartikan oleh jumlah telur yang dikeluarkan oleh ikan. Terdapat beberapa jenis Fekunditas diantaranya : 1. Fekunditas individu adalah jumlah telur yang dikeluarkan dari generasi tahun itu dan akan dikeluarkan pada tahun itu pula.
2. Fekunditas relatif adalah jumlah telur per satuan panjang dan berat. 3. Fekunditas total adalah jumlah jumlah telur yang dihasilkan ikan selama

hidupnya (Effendie, 1997).

2.1.1 Jenis- Jenis Fekunditas

Ikan-ikan yang termasuk dalam golongan vivipar, ikan yang melahirkan anakanaknya, mempunyai 3 macam fekunditas : 1. Prefertilized fecundity Jumlah telur didalam ovarium sebelum terjadi pembuahan. 2. Fertilized fecundity Jumlah telur yang dibuahi dalam ovarium 3. Larval fecundity Jumlah telur yang sudah menetas menjadi larva tetapi belum dikeluarkan (Rahmat, 2009). Kaidah-kaidah dalam fekunditas berikut :
a. Sampai umur tertentu fekunditas itu akan bertambah

kemudian

menurun

lagi, fekunditasr elatifnya menurun sebelum terjadi penurunan fekunditas mutlaknya. Fekunditas relatif maksimum terjadi pada golongan ikan muda. Ikan-ikan tua kadang-kadang tidak memijah setiap tahun. Individu yang tumbuh dan masak lebih cepat mempunyai tendensi mati lebih dahulu.
b. Fekunditas mutlak atau relatif sering menjadi kecil pada

ikan-ikan spesies

atau yang

kelas

umur

yang jumlahnya

banyak,

terjadi

untuk

mempunyai perbedaan makanan diantara kelompok umur.


c. Pengaturan fekunditas terbanyak dalam berespon terhadap persediaan

makanan berhubungan dengan telur yang dihasilkan oleh ikan yang cepat pertumbuhannya, lebih gemuk dan lebih besar. Mekanismenya berhubungan dengan pemasakan oosit dan pengisapan telur. Kenaikan fekunditas populasi dapat disebabkan oleh kematangan gonad yang lebih awal dari individu yang tumbuh lebih cepat.
d. Ikan yang bentuknya kecil dengan kematangan gonad lebih

awal

serta

fekunditasnya tinggi mungkin disebabkan oleh kandungan makanan dan predator dalam jumlah besar. e. Perbedaan fekunditas diantara populasi spesies yang hidup pada
f. Fekunditas disesuaikan secara otomatis melalui metabolisme

kondisi yang

lingkungan yang berbeda-beda, bentuk migran fekunditasnya lebih besar. mengadakan reaksi terhadap perubahan persediaan makanan dan

menghasilkan perubahan dalam pertumbuhan, seperti ukuran pada umur tertentu, ukuran dan jumlah telur atau jumlah siklus pemijahan dalam satu tahun.
g. Fekunditas bertambah dalam mengadakan respon terhadap perbaikan

makanan melalui kematangan gonad yang terjadi lebih awal, menambah kematangan individu pada individu yang lebih gemuk dan mengurangi antara siklus pemijahan (Wahyuni, 2010).

2.2 Ikan Lele Lele lokal merupakan ikan asli perairan Indonesia. Istilah lokal digunakan untuk membedakannya dengan ikan lele jenis lain, terutama lele Jumbo. Namun demikian, ada juga sebagian orang yang menyebutnya dengan sebutan lele saja. Sesuai dengan namanya, ikan lele lokal sudah sejak lama menjadi penghuni perairan air tawar di berbagai daerah di tanah air. Sebagai ikan asli perairan Indonesia, tentu saja ikan ini sudah sangat populer di kalangan masyarakat. Bahkan,setiap daerah memiliki panggilan tersendiri untuk menyebut namanya. Saat ini, kegiatan pembudidayaan lele lokal tampak semakin banyak dan berkembang pesat.Hal ini didukung oleh aspek teknis pembudidayaannya yang menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik, sehingga semakin mudah diterapkan. Selain itu, di pasaran lele ukuran konsumsi, memiliki konsumen fanatik dalam jumlah yang tidak kecil (Khairul,2008). Ikan ini memiliki kulit berlendir dan tidak bersisik (mempunyai pigmen hitam yang berubah menjadi pucat bila terkena cahaya matahari, dua buah lubang penciuman yang terletak dibelakang bibir atas, sirip punggung dan dubur memanjang sampai ke pangkal ekor namun tidak menyatu dengan sirip ekor, panjang maksimum mencapai 400 mm. Ikan lele memiliki alat pernapasan tambahan yang disebut Aborescen organ yang merupakan membran yang berlipatlipat penuh dengan kapiler darah. Alat ini terletak didalam ruangan sebelah atas insang. Dalam sejarah hidupnya lele lele harus mengambil oksigen dari udara

langsung, untuk itu ia akan menyembul kepermukaan air. Oleh karena itu jika pada kolam banyak terdapat eceng gondok ikan ini tidak berdaya (Sambas, 2010). Lele berkembang biak secara ovipar (eksternal), yaitu pembuahan terjadi di luar tubuh. Artinya, spermatozoa membuah telur di luar tubuh ikan. Untuk membuahi telur, spermatozoa harus bergerak. Spermatozoa pada induk jantan tersebut bersifat immotile dalam cairan plasmanya dan akan bergerak apabila bercampur dengan air (Mahyudin, 2011). Ikan lele yang hidup di alam memijah pada musim penghujan dari bulan Mei sampai Oktober. Ikan lele juga dapat memijah sewaktu-waktu sepanjang tahun, apabila keadaan air kolam sering berganti. Pemijahan juga di pengaruhi oleh makanan yang diberikan. Makanan yang bermutu baik akan meningkatkan vitalitas ikan sehingga ikan lele lebih sering memijah. Apabila telah dewasa, lele betina akan membentuk telur di dalam indung telurnya. Sedangkan lele jantan membentuk sperma. Bila telur-telurnya telah berkembang maksimum yaitu mencapai tingkat yang matang untuk siap dibuahi maka secara alamiah ikan lele akan memijah atau kawin(Sambas, 2010).

BAB III

METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum Adapun dilaksanakannya praktikum Biologi Perikanan Fekunditas dan Diameter Telur Ikan Lele (Clarias batrachus) ini pada hari Sabtu tanggal 7 April 2012 bertempat di ruangan Laboraturium Terpadu Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan dimulai pada pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai. 3.2 Alat dan Bahan Praktikum Adapun alat yang digunakan pada praktikum biologi perikanan ini dengan judul Fekunditas dan Diameter Telur adalah nampan/baki untuk meletakkan gonad ikan lele yang akan diidentifikasi, tabung reaksi ukuran 10 ml yang digunakan untuk meletakkan gonad yang akan diukur, cawan petri digunakan untuk meletakkan telur-telur dari gonad tersebut agar telur dapat dihitung dengan mudah, pipet tetes diunakan untuk mengambil sample air yang akan dimasukkan kedalam tabung reaksi, alat tulis digunakan untuk mencatat hasil praktikum, kertas milimeter untuk mengukur gonad tersebut, dan kamera digital digunakan untuk mengambil hasil dari praktikum kali ini. Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sampel telur dari ikan lele yang telah diberi alkohol dalam botol sampel dan air pengenceran gonad yaitu air biasa /aqua. 3.3 Prosedur Praktikum Adapun prosedur praktikum dalam praktikum biologi perikanan dengan judul fekunditas dan diameter telur adalah sebagai berikut: 1. Diambil sampel gonad yang telah didapat dari ikan nila tersebut yaitu dengan TKG IV yang terdapat dalam sampel botol yang telah diberikan alkohol didalamnya. 2. Dikeluarkan gonadnya, kemudian timbang gonad tersebut dengan menggunakan timbangan digital dan catat berapa berat dari gonad tersebut.

3. Dihitung volume gonad tersebut dengan memasukkan gonad kedalam tabung reaksi dan berikan air kedalam tersebut dan hitung volume airnya. 4. Diambil kembali gonadnya, lalu ambil sampel telur contoh sebanyak 100 butir telur dan hitung volume airnya seperti pada gonad tersebut. 5. Dihitung dalam analisis fekunditas dengan menggunakan data di atas yang sudah dilakukan dengan menggunakan metode volumetrik, dan metode grafimetrik, dengan rumus: X:x=V:v Dimana: X = Jumlah telur yan akan dicari x = Jumlah telur contoh V = Volume seluruh gonad V = Volume gonad contoh 6. Setelah dihitung nilai fekunditasnya, kemudian ambil gonadnya lalu dipotong dengan 3 bagian yaitu bagian depan, tengah, dan belakang, dan ambil sampel telur dari bagian yang sudah dipotong.
7. Dimasukkan telur contoh kedalam tabung reaksi kemudian isi air dan hitung

volumenya.

Dihomogenkan

telur

dengan

air

dan

ambil

dengan

menggunakan pipet tetes sebesar 1 cc. Kemudian hitung berat telur contoh tadi dengan menggunakan timbangan digital. Diletakkan di atas cawan petri dan kemudian hitung telur yang diambil dalam 1 cc tadi. 8. Dan kemudian hitung pengumpulan dan analisis data dari gonad tersebut dengan menggunakan rumus:

F=
Keterangan: F = Fekunditas yang dicari G = Berat Gonad Total V = Volume pengenceran X = Jumlah telur yang ada dalam 1 cc Q = Berat telur contoh BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Gambar 1. Ikan Lele (Clarias batrachus niloticus) Klasifikasi Ikan Lele (Clarias batrachus niloticus) Kingdom : Animalia Phyllum Kelas Sub-kelas Ordo Sub-ordo Famili Genus : Chordata : Pisces : Teleostei : Ostariophysi : Siluroidea : Clariidae : Clarias

Spesies: Clarias batrachus

Gambar 2. Gonad Ikan Lele (Clarias batrachus niloticus) Menghitung Nilai Fekunditas Menghitung nilai fekunditas dapat dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

10

dan Dimana: = Jumlah telur yang akan dicari X = Jumlah telur contoh = Volume seluruh gonad V = Volume gonad contoh Diketahui : Jumlah telur contoh (X) Volume seluruh gonad ( Berat gonad total (G) Berat telur contoh (Q) Ditanya : Penyelesaian Penyelesaian: a. Metode Volumetrik b. Metode Grafimetrik = 410 butir = 50 ml = 53,68 gr = 0.59 gr G = Berat gonad total Q = Berat telur contoh

Volume gonad contoh (V) = 0,9 ml

Jumlah telur yang dicari ( ) .. ?

= =
0.9 x = 20.500 X = 22.778 butir telur 0.59 X

= =
=
= 22.008 37.303 butir telur

Menghitung Nilai Fekunditas dengan Pengumpulan dan Analisis Data Menghitung nilai fekunditas dapat dengan menggunakan pengumpulan dan analisi data dengan rumus: F Keterangan: F = Fekunditas yang dicari =

11

G = Berat gonad total V = Volume pengenceran X = Jumlah telur yang ada dalam 1 cc Q = Berat telur contoh Dik: G = 53,68 gr V = 2.9 ml Q = 0,72 gr X = 218 butir Dit: F =....?

Penyelesaian: F =

= = = 47.134 butir telur

4.2 Pembahasan Berdasarkan hasil kegiatan praktikum biologi perikanan dengan judul Fekunditas dan Diameter Telur Ikan Lele (Clarias batrachus niloticus) didapatkan berbagai pengetahuan dan informasi yang sangat penting untuk diketahui. Hal ini berkenaan dengan cara mengetahui gonad ikan tersebut dan terdapat dalam fase keberapa sesuai dengan ketentuan yang ada. Pada praktikum ini gonad yang digunakan adalah gonad telur ikan lele dengan tingkat kematangan gonad III. Gonad ini digunakan untuk mengukur fekunditas dimana fekunditas adalah jumlah seluruh telur yang dihasilkan oleh ikan betina selama hidupnya, hal ini sesuai dengan pernyataan Effendie (1997) menyatakan jumlah telur yang dikeluarkan oleh ikan.

12

Untuk menghitung nilai fekunditas dapat digunakan metode volumetrik maupun metode grafimetrik. Adapun hasil yang didapat dengan menggunakan metode volumetrik adalah 22.778 butir dan metode grafimetrik adala 37.303 butir. Nilai fekunditas dengan menggunakan 2 metode ini mempunyai hasil yang sangat berbeda. Nilai fekunditas setiap ikan berbeda-beda, Hal ini disebabkan tingkat kematangan gonad pada ikan setiap bagian tidak sama, semakin matang gonad ikan maka diameter telurnya semakin besar karna adanya pembentukan kuning telur begitu juga sebaliknya semakin rendah tingkat kematangan gonad ikan maka diameter telur semakin kecil. Selain hal hal tersebut ada faktor lain yang bisa mempengaruhi jumlah telur pada ovari ikan yaitu umur/ukuran individu ikan, jenis dan jumlah makanan yang dimakan, lingkungan tempat ikan itu hidup dan faktor fisiologi tubuh. Menurut Rahmat (2009) dari fekunditas secara tidak langsung kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang akan dihasilkan dan akan menentukan jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan. Dalam hubungan ini tentu ada faktor-faktor lain yang memegang peranan penting dansangan erat hubungannya dengan strategi reproduksi dalam rangka mempertahankan kehadiran spesies itu di alam.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diambil dalam praktikum biologi perikanan dengan judul Fekunditas dan Diameter Telur adalah sebagai berikut:

13

1. Fekunditas merupakan kemampuan reproduksi ikan yang ditunjukkan

dengan jumlah telur yang ada dalam ovarium ikan betina.


2. Perhitungan nilai fekunditas dilakukan untuk mengetahui jumlah telur yang

dapat dihasilkan pada waktu pemijahan dan memodifikasi metode gravimetrik dan volumetrik
3. Nilai fekunditas dapat dihitung dengan menggunakan metode volumetrik

sehingga hasil yang didapat adalah 22.778 butir, sedangkan dengan metode grafimetrik adalah 37.303 butir.
4. Nilai fekunditas dengan metode pengumpulan dan analisis data bahwa

gonad ikan nila tersebut menghasilkan sebanyak 47.134 butir telur. 5. Dari fekunditas kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang dihasilkan dan akan menentukan jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan.
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi fekunditas serta hal-hal lain yang

berhubungan dengan itu, sebagai berikut: komposisi umur, persediaan makanan, kepadatan populasi, suhu perairan, oksigen terlarut dan faktor fisiologi tubuh.. 5.2 Saran Sebaiknya pada praktikum biologi perairan dengan judul Fekunditas dan Diameter Telur ini, praktikan harus lebih memahami apa yang akan dipraktekkan didalam laboratorium sehingga pada saat akan melakukan praktikum, praktikan mengerti, memahami, dan dapat mengatur waktu agar kegiatan dapat cepat terselesaikan.