Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN SURVEI KONSUMSI MAKANAN METODE FOOD RECALL 24 JAM DAN FOOD RECORDS Laporan ini disusun untuk

memenuhi tugas praktikum penilaian status gizi Dosen Pengampu :

Disusun Oleh Candra Trias W


: Kelompok 14

Fatima Tuzzahroh Ika Trisnawati Rahmawati Oktavia Mandasari

Dian Asmaraningtyas Asri Kurnia Wisnu Prastagani PROGDI S1 GIZI FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2011


BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang
Masalah gizi di Indonesia dan di negara berkembang pada umumnya masih didominasi oleh masalah Kurang Energi Protein ( KEP ), masalah Anemia Besi, masalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium ( GAKY ), masalah Kurang Vitamin A ( KVA ) dan masalah obesitas terutama di kota-kota besar. Pada Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi tahun 1993, telah terungkap bahwa Indonesia mengalami masalah gizi inda yang artinya sementara masalah gizi kurang belum dapat diatasi secara menyeluruh, sudah muncul masalah baru, yaitu berupa gizi lebih. Masalah gizi, meskipun sering berkaitan dengan masalah kekurangan pangan, pemecahannya tidak selalu berupa peningkatan produksi dan pengadaan pangan. Pada kasus tertentu, seperti dalam keadaan krisis ( bencana kekeringan, perang, kekacauan sosial, krisis ekonomi ), masalah gizi muncul akibat masalah ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, yaitu kemampuan rumah tangga memperoleh makanan untuk semua anggotanya. Menyadari hal itu, peningkatan status gizi masyarakat memerlukan kebijakan yang menjamin setiap anggota masyarakat untuk memperoleh makanan yang cukup jumlah dan mutunya. Dalam konteks itu masalah gizi tidak lagi semata-mata masalah kesehatan tetapi juga masalah kemiskinan, pemerataan, dan masalah kesempatan kerja. Untuk mengatasi masalah gizi, pemerintah menggalakkan program perbaikan gizi antara lain melalui peningkatan mutu konsumsi pangan dan penganekaragaman konsumsi pangan. Disamping itu sasaran program perbaikan gizi juga ditujukan untuk menanamkan perilaku gizi yang baik dan benar sesuai dengan Pedoman Umum Gizi Seimbang ( Kodyat, 1997 ).

II.

Tujuan dan manfaat


Mencatat dan menilai data survey konsumsi makanan dengan metode recall 24 jam dari seorang responden dan metode food records dari diri sendiri sebagai responden. Manfaat : Mengetahui jumlah asupan makanan yang dikonsumsi dan melihat status gizi seseorang

III.Prinsip
Recall 24 jam Wawancara dengan menggunakan kuesioner terstruktur kepada responden dan mencatat semua yang dimakan dan diminum responden selama 24 jam (kemarin-saat ini). Food Records Responden mencatat sendiri semua yang ia makan dan minum setiap kali

IV.

Tinjauan Pustaka

Upaya perbaikan gizi dengan ruang lingkup nasional dimulai pada tahun 1980. Diawali dengan berbagai survei dasar, disusun strategi dan kebijakan yang pada umumnya melibatkan berbagai sektor terkait. Keberhasilan program perbaikan gizi dinilai berdasarkan laporan rutin dan juga survei berkala melalui survei khusus maupun diintegrasikan pada survei nasional seperti Susenas, Survei Kesehatan Rumah Tangga dan lain-lain. Masalah gizi kurang pada anak berkelanjutan pada wanita usia subur, yang akan melahirkan anak dengan risiko BBLR, disertai dengan masalah anemia dan gizi mikro lainnya, seperti kurang yodium, selenium, kalsium, dan seng. Faktor penyebab langsung dari masalah gizi kurang ini berkaitan dengan konsumsi gizi. Pada periode 1995-2000, masih dijumpai

hampir 50% rumah tangga mengkonsumsi makanan kurang dari 70% terhadap angka kecukupan gizi yang dianjurkan (2200 Kkal/kapita/hari; 48 gram protein/kapita/hari) (Direktorat Gizi Masyarakat, 2004) Survei konsumsi makanan digunakan untuk menentukan data dasar (database) gizi dan/atau menentukan status gizi kelompok populasi tertentu/menyeluruh, dgn cara survei crross-secttiionall. Selain itu, dapat juga digunakan untuk mengidentifikasi dan mendiskripsikan sub kelompok populasi yang at risk terhadap malnutrisi kronik. Hasil survei gizi nasional dapat berguna untuk mengalokasikan sumberdaya pada kelompok yang membutuhkan dan untuk memformulasikan kebijakan bagi peningkatan status gizi pada keseluruhan populasi. Survei juga dapat digunakan untuk mengevaluasi intervensi gizi dengan membandingkan antara baseline data sebelum dan setelah intervensi (Suyatno,2000). Selain survey ada yang disebut dengan surveilen Ciri khas yaitu monitoring berkelanjutan dari status gizi populasi tertentu, dimana data dikumpulkan, dianalisis dan digunakan untuk jangkawaktu yang panjang, sehingga dapat mengidentifikasi penyebab malnutrisi kronik dan akut. Hasil surveilen dapat digunakan untuk menyusun tindakan intervensi, selain juga dapat digunakan untuk memonitor pengaruh kebijakan pemerintah dan mengevaluasi efikasi dan efektivitas program intervensi gizi. Program Surveilen di AS yang terkenal adalah National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) Intervensi Gizi ditargetkan pada sub-kelompok populasi yang at risk Ada 3 type intervensi gizi: suplementation, fortification dan dietary approaches Monitoring dan evaluasi menjadi komponen esesial pada semua program intervensi gizi, Monitoring digunakan untuk mengukur syarat pelayanan, utilisasi, cakupan, dan juga biaya program. Type evaluasi diantaranya adalah:
-

adequacy evaluation: menggunakan within-group design dengan membandingkan antara hasil vs target. plausibility evaluation: dg between-group quasi experimental design ( ada kelompok intervensi dan kontrol), tanpa randomisasi probability evaluation: dg randomized trials,controlled, double blind experimental trial.

Survei konsumsi makanan berdasarkan jenis data yang dikumpulkan meliputi :


Kelompok I adalah metoda kuantitatif, misalnya: cara recallll atau record, penimbangan.

Kelompok II adalah metoda kualitatif, misalnya: diiettary hiisttory dan frekuensi konsumsi,

berisi informasi restropektif tentang pola makanan dalam periode lama. Indikator yang dibutuhkan diantaranya :
-

Tunggal

: - Total/rata konsumsi energi, protein dsb Frekuensi konsumsi dll

Gabungan/Indeks : Tingkat kecukupan energi, protein dsb

Metode Konsumsi Tingkat Individu diantaranya:


-

Metode Konsumsi Harian Kuantitatif::

Metode Recall 24 jam Pengulangan Recall 24 jam


Perkiraan Pencatatan Pangan (Estimated Food Record)

Penimbangan Pangan (Weighed Food Record)


-

Metode Konsumsi Pangan Kualitatif::


Sejarah Makan

Kuesioner Frekuensi Pangan V. Alat Alat Bahan : alat Tulis : Responden

VI. Cara Kerja Langkah langkah pelaksanaan recall 24 jam : 1. Petugas atau pewawancara menanyakan kembali dan mencatat semua makanan dan minuman yang dikonsumsi responden dalam ukuran rumah tangga ( URT ) selama kurun waktu 24 jam yang lalu.

2. Menganalisis bahan makanan ke dalam zat gizi dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan.
No Nama Metode recall 24 jam Energi 1 2 3 4 5 6 7 Protein 62,9 % 78,32% 98,89% 203,8% 98,1% 59,4% 138,5% 105,7% Zat Besi 21,2% 33,64% 25,84% 12,11% 80% 14,43% 102,12% 41,33% Metode food record Energi 46,24% 62,08% 73,52% 35,74% 47,89% 73,07% 84,66% 60,46% Protein 80% 73,84% 118,2% 90,3% 62,08% 43,25% 132,48% 85,73% Zat Besi 14,62% 72,56% 24,42% 12,11% 33,07% 7,69% 201,52% 52,28%

Candra Trias W
Ika Trisnawati Dian Asmaraningtyas Rachmawati oktavia Wisnu prastagani Fatima T Asri kurnia TOTAL

77,08 %
59,94% 68,76% 48,84% 54,14% 56,03% 101,12% 66,56%

3. Membandingkan dengan Daftar Kecukupan Gizi yang Dianjurkan ( DKGA ) atau Angka Kecukupan Gizi ( AKG ) untuk Indonesia. Langkah-langkah pelaksanaan food record : 1. Responden mencatat makanan yang dikonsumsi dalam URT atau gram ( nama masakan, cara persiapan, dan pemasakan bahan makanan ). 2. Petugas memperkirakan/estimasi URT ke dalam ukuran berat ( gram ) untuk bahan makanan yang dikonsumsi tadi. 3. Menganalisis bahan makanan ke dalam zat gizi dengan DKBM. 4. Membandingkan dengan AKG.

VII. Data Hasil Pengamatan

VIII. Pembahasan
Survei diet atau penilaian konsumsi makanan adalah salah satu metode yangdigunakan dalam penentuan status gizi perorangan atau kelompok. Secara umumsurvei konsumsi makanan dimaksudkan untuk mengetahui kebiasaan makan dangambaran tingkat kecukupan bahan makanan dan zat gizi pada tingkat kelompok,rumah tangga dan perorangan serta faktorfaktor yang berpengaruh terhadapkonsumsi makanan tersebut. Survei konsumsi makanan ini dapat menghasilkan data yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Secara kuantitatif akan diketahui jumlah dan jenis pangan yangdikonsumsi. Metode pengumpulan data yang dapat digunakan adalah metode recall 24 jam food records dan weighing method Secara kualitatif akan diketahui frekuensi makan maupun cara memperoleh

pangan. Metode pengumpulan data yangdapat digunakan adalah food frequency questionnaire Dan dietary history. Pada penelitian survei konsumsi makanan ini kami mengambil 7 responden dengan metode recall 24 jam dan metode food records. Pada metode recall 24 jam petugas menanyakan kembali semua makanan yang telah dimakan responden pada waktu yang lalu. Wawancara ini bisa dimulai dari waktu makan terakhir bangun tidur hari ini sampai bangun tidur kemarin ataupun sebelumnya. Sedangkan pada metode food records responden harus mencatat sendiri makanan yang beliau makan. Dari penelitian kali ini didapatkan hasil 66,56% pada konsumsi energi dengan metode recall 24 jam, sedangkan pada metode food records didapatkan hasil 60,46%. Hal ini kami rasa masih kurang untuk mencukupi kebutuhan energi yang kita butuhkan. Kekurangan energi ini bisa berakibat pada timbulnya penyakit KEK. Sedangkan kebutuhan protein didapatkan hasil 105,7% pada metode recall 24 jam dan 85,7% pada metode food records. Pada kebutuhan zat besi didapatkan hasil 41,33% pada metode recall 24 jam dan 52,8% pada metode food records. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa konsumsi energi dan zat besi dalam metode recall 24 jam dan food records masih kurang bahkan defisit bila dibandingkan dengan AKG yang ada. Sedangkan pada konsumsi protein pada metode recall 24 jam sudah memenuhi kebutuhan dan dapat dikatakan baik tetapi pada metode food records masih sedang bila dibandingkan dengan AKG. Karena pada AKG tingkat klasifikasi dibagi menjadi 4 yaitu : Baik Sedang Kurang Defisit : > 100% AKG : 80 99% AKG : 70 80% AKG : < 70% AKG

Kekurangan kebutuhan zat besi terutama pada wanita dapat menyebabkan anemia defisiensi besi. Anemia defisiensi besi sangat banyak diderita oleh wanita indonesia. Pencegahan dari anemia ini maka kita harus memenuhi kebutuhan zat besi sesuai dengan AKG serta memerhatikan cara pengonsumsiannya agar tidak salah dalam cara mengkonsumsi dan dapat diserap oleh tubuh secara sempurna.

Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi angka kecukupan energi yang dihasilkan oleh seseorang, diantaranya adalah pola makan, pemilihan bahan makanan, serta kebiasaan makan. Pola makan adalah cara individu atau kelompok individu memilih bahan makanan dan mengkonsumsinya sebagai tanggapan dari pengaruh fisiologi, sosial dan budaya diukur dengan frekuensi, jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi setiap hari (Suhardjo, 2003). Pemilihan bahan makanan ternyata dipengaruhi oleh unsur-unsur tertentu. Pertama, sumber-sumber pengetahuan masyarakat dalam memilih dan mengolah pangan mereka seharihari. Kedua, aspek aset dan akses masyarakat terhadap pangan mereka sehari-hari. Ketiga, pengaruh tokoh panutan atau yang berpengaruh. Pengaruh tokoh panutan terutama berkenaan dengan hubungan bapak anak, jika keluarga yang memperoleh pangan atau nafkah berupa uang kontan melalui usaha tani majikan (Santoso dan Ranti, 2004). Kebiasaan makan adalah cara-cara individu dan kelompok individu memilih, mengkonsumsi, dan menggunakan makanan-makanan yang tersedia, yang didasarkan kepada faktor-faktor sosial dan budaya di mana ia/mereka hidup. Kebiasaan makan individu, keluarga dan masyarakat dipengaruhi oleh faktor perilaku, faktor lingkungan sosial, faktor lingkungan ekonomi, lingkungan ekologi, faktor ketersediaan bahan makanan, dan faktor perkembangan teknologi. Pada pengambilan data kami menggunakan 7 responding dengan hari yang sama dan ada yang tidak sama. Di saat pelaksaan kendala yang didapat yaitu pada metode recall 24 jam para petugas mengalami kesulitan saat data di pindahkan ke URT dan gram karena petugas tidak tahu langsung. Untuk metode record kendala ada pada responden. Karena responden merasa terbebani sehingga menu yang dikonsumsi saat pelaksanaan pengambilan data menunya sangat simpel dan dipermudah. Kelebihan dari kedua metode ini sama-sama cepat, efisien dan murah.

IX.

Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Konsumsi rata rata energi dari responden sebesar 66,56% pada metode recall 24

jam dan 60,46% pada metode food records. Kebutuhan energi ini masih kurang bahkan defisif bila dibanding dengan AKG.

2. Konsumsi rata rata protein dari responden sebesar 105,7% pada metode recall 24

jam dan 85,73% pada metode food records. 3. Konsumsi rata rata zat besi dari responden sebesar 41,33% pada metode recall 24 jam dan 52,28% pada metode food records.
4. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi angka kecukupan energi yang dihasilkan

oleh seseorang, diantaranya adalah pola makan, pemilihan bahan makanan, serta kebiasaan makan.

X. Daftar Pustaka
Direktorat Gizi Masyarakat. 2004. Surveilan Gizi. Jakarta; Perpustakaan RI. Suyatno. 2000 . Survei Konsumsi Indikator Gizi . Semarang; Univercity Diponegoro Press. Supariasa, dkk . 2002 . Penilaian Status Gizi . jakarta ; EGC kedokteran