Anda di halaman 1dari 13

PENDAHULUAN Dalam kegiatan bisnis, transportasi memegang peranan penting dalam bisnis internasional terutama dalam perdagangan ekspor

impor. Transportasi akan menjamin kelancaran lalu lintas barang dan menjamin hak kepemilikan atas barang dengan

pengeluaran dokumen pengapalan yang sangat vital seperti bill of lading, airways bill dan lain-lain. hal yang harus diperhatikan dalam menunjang kelancaraan pendistribusian arus barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu badan usaha adalah perusahaan yang bergerak di dalam jasa pelayanan pengiriman. Kita menyadari bersama bahwa perusahaan yang bergerak di bidang ini sangat diperlukan dalam proses percepatan arus informasi dan penyampaian barang dari produsen kepada konsumen. Proses pengiriman barang dapat dilakukan dengan mempertimbangkan aspek geografis dari kedua negara yang melakukan kesepakatan. Pengiriman dapat dilakukan dengan pengangkutan laut, darat dan udara dan sangat berperanannya sangat penting sekali, karena selain sebagai alat fisik yang membawa barang-barang dari produsen ke konsumen, Jika di tinjau dari beberapa segi pengangkutan banyak mempunyai manfaat antara lain sebagai berikut : a. Dari kepentingan pengirim barang, pengirim memperoleh manfaat untuk konsumsi pribadi maupun keuntungan komersial. b. Dari segi pengangkut barang, pengangkut mendapat keuntungan material sejumlah uang atau keuntuangan immaterial, berupa peningkatan kepercayaan masyarakat atau jasa angkutan yang di usahakan oleh pengangkut c. Dari kepentingan penerima barang, penerima barang mendapat manfaat untuk kepentiangan konsumsi pribadi maupun keuntungan komersial. Dari beberapa uraian di atas ,penting untuk menjelaskan peranan penting alat transportasi laut, darat dan udara. Hal ini demi kelancaran kegiatan ekonomi maupun kegiatan sosial masyarkat, baik itu dalam negeri maupun luar negeri (kegiatan internasional).

TRANSPORTASI PERDAGANGAN LAUT

Persaingan bebas di tingkat internasional berarti efisiensi dan keharusan adanya kepastian hukum. Perdagangan dalam partai besar yang ditujukan untuk ekspor sangat dominan dilakukan melalui laut. Untuk keamanan, keselamatan dan kelancaran pengangkutan barang, baik eksportir maupun importir banyak menggunakan container. 1. Sejarah perundang-undangan laut Sejarah perunang-undangan laut dan perairan darat, sebagai yang telah di atur dalam buku kedua KUHD, I mulai sebelum berlakunya S. 1933-47 jis 38- dan 2 yang mulai berlaku pada 1 april 1938. Sebelum berlakunua undang-unang tersebut, perkembangan perundang-unangan pelayaran laut dan perairian mengikuti jalannya sejarah perundang-unangan tentang pelayaran laut dan darat di negeri belanda. Sebab menurut pasal 131 I.S.peundang-undagan hukum dagang itu selalu konkordans dengan perundang-undangan di negeiri belanda, sejarah perundang-undangan tersebut berhenti pada saat di undangkannya 184823, tgl 30 april 1847 yang mulai belaku pada 1 mei 1848. Staatbla tersebut berlaku di inonesia, yaitu kitab unang-undang hukum dagang (KUHD ). 2. Jenis- jenis Pengangkutan Laut Ada empat macam pelayaran pengangkutan laut, baik menurut PP 17 tahun 1988 tentang penyelenggaraan Pengangkutan Laut maupun menurut UU No. 21 tahun 1992 tentang pelayaran. a. Pelayaran Dalam Negeri Menurut PP No. 17 tahun 1988, pelayaran dalam negeri merupakan kegitan angkutanlaut antar pelabuhan di indonesia yang di lakukan secara tetap dan teratur dan/ atau dengan pelayaran yang tidak tetap dan tida tratur denga menggunakan jenis kapal. b. Pelayaran Rakyat Menurut PP No. 17 tahun 1988, pelayaran rakyat merupaka kegiatan angkutan laut khususu untuk barang atau hewan antar pelabuhan di indonesia dnegan menggunakan kapal layar motor sesuai dengan persyaratan di antaranya : 1. Dilakukan oleh perusahaan dalam salah satu badan usaha, termasuk koperasi.

2. Memiliki unit usaha perahu layar atau kapal motor dengan ukuran sampai dengan 850 m3 isi kotor atau kapal motor dengan ukuran sampai 100m3. Sementara itu, pasal 77 UU No. 21 tahun 1992 mengatakn bahwa pelayaran rakyat sebagai usaha rakyat yang bersifat tradisional merupakan bagian dari usaha angkutan peraiaran, mempunyai peranan yang penting dan karakteristik sendiri. c. Pelayaran Perintis Menurut pasa 84 UU No. 21 1992 pelayaran perintis ini berupa angkutan perairan yang menghubungkan daerah daerah terpencil dan belum berkembang. Adapunsebagai penyelenggara adalah pemerintah. Mengenai pelayaran perintis ini, PP No. 17 tahun 1988 menyatakan bahwa perlayaran perintis merupakan kegiatan angkutan laut yang dilkukan secara tetap dan teratur. d. Pelayaran Luar Negeri Pelayaran luar negeri merupaka pelayaran samudra sebagai kegiatan angkutan laut ke atau dari negeri yang di lakukan secara tetap dan teratur atau dengan pelayaran tidak tetap dan tidak menggunakan semua jenis kapal (pasal 9 ayat (5) PP No. 17 tahun 1988). Pelayaran luar negeri ini, menurut UU No. 21 tahun 1992, dilakukan oleh badan hukum Indonesia yang menurut UU No. 1 tahun 1985 berbentuk perseroan terbatas dan/atau perusahaan asing 3. Pihak-pihak dalam Pengangkutan Laut a. Pengangkutan Mengenai pengangkutan tidak di jumpai definisinya dalam kitab undang-undang hukum dagang (KUHD). Namun, menurut HMN. Poerwosutjipto (1985 : 4), pengangkutanadalah orang yang mengikat diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan/atau orang dari suatu tempat ke tempat tujuan teretentu dengan selamat. b. Pengiriman Barang Pengirim belum tentu pemilik barang , sering kali dalam praktik pengirim adalah ekspeditur atau perantara lain dalam bidang pengangkutan. Pasal 86 ayat (1) menyatakan bahwa ekspeditur adalah orang yang pekerjaannya menyuruh oranglain untuk menyelenggarakan pengangkutan barang-barang.

Karena merupakan perantara, ada dau jenis perjanjian yang perlu di buat oleh ekspeditur, yaitu sebagai berikut ; a. Perjanjian yang di buat oleh ekspeitur dengan pengirim I sebut ddengan perjanjian ekspedisi, yaitu perjanjian timbal balik atara ekpeditur dengan pengirim, dimana ekspeditur mengikatkan diri untuk mencari pengangkut yangbaik bagi si pengirim, sedangkan si pengirim mengikat diri untuk membayar profesi kepada ekpeditur. b. Perjanjian antara ekpditur atas nama pengirim dengan pengangkut di sebut perjanjian pengangkutan. b. Perjanjian antara ekspditur atas nama pengirim dengan pengangkut disebut perjanjian pengangkutan. Selain ekspeditur dan pengangkutan laut, di kenal pula pihak-pihak yang terkait lainya, yaitu sebagai berikut : a. Pengatur Muatan Pengatur muatan atau juru padat adalah orang yang tugasnya menetapkan tempat di mana suatu barnag harus di simpan dalam ruang kapal. Pengatur muatan ini merupakan perusahaan tersendiri dan mempunyai anak buah sendiri. Dengan demikian pengatur muatan terlepas dari perusahaan pengangkut/pemilik kapal namun dalam melaksanakan tugasnya di kapal pengangkut, pengatur pengatur muatan harus tunduk pada aturan yang ada di kapal (pasal 321 KUHD). b. Per-Veem-An/Ekspedisi Muatan Laut Per-Veem-An dan ekspeitur muatan laut adalah dua jenis perusahaan yang biasa terkait dalam proses pengankutan barang dan lazim ada dalam praktik pengangkutna laut di indonesia. Kedua jenis perusahaan ini I atur bersamaan dalam PP No. 2 tahun 1969 tentang penyelenggaraan dan pengusahaan angkutanlaut. Menurut pasal 1 PP no. 2 tahun 1969 yang di maksus dengan Per-Veem-An adalah usaha yang ditujukan kepada penumpang dan penumpukan barang-barang yang dilkukan dengan mengusahakan gudang-gudang, lapangan-lapangan, dimana di kerjakan dan disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan, yang meliputi antara lain kegiatan ekspeisi muatan, pengepakan, pengepakan kembali, sortasi, penyimpanan, pengukuhan,

penendaan dan lain-lain pekerjaan perlukanperdagangan dan pelayaran. c. Penerima

yang bersifat teknis

ekonomis

yang di

Kedudukan penerima dalam pengankutan barang adalah sebaga pihak yang menerima barang barang, yang tercantum dalam konosemen. Kedudukan ini timbul karena sebagimana yang telah kemukakan bahwa kewajiban pengangkut adalah menyerahkan barang yang di angkut kepada penerima. 4. Sarana Penunjang Pengangkutan LautKapal Pada pengangkutan melalui laut, kapal merupakan faktor yang mutlak harus ada karena berfungsi sebgai alat pengangkut. Menurut pasal 1 sub 2 UU No. 21 tahun 1992 tentang pelayaran, yang dimaksud dengan kapal adalah : kendaraan air dengan bentuk dan jenis apapun yang digerakkan dengan tenaga mekanik, tenaga angin, atau kuda, termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan di bawah permukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah. a. Pelabuhan Menurut sub 1 pasal 4 UU No. 21 tahun 1992 pelabuahan adalah : tempat yang terdiri dari daratan dan perairan disekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan ekonomi yang dipergunakan sebgai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan/atau pelayaran dan kegiatan penunjuang serta sebagai tempat perpindahan intra dan antarmoda transportasi. Sementara itu mengenai jenis-jenis pelabuhan di bedakan menjadi dua jenis, yaitu pelabuhan umum dan khusus. Pelabuhan umum di guanakan untuk kepentiangan masyarakat umum, sedangkan pelabuahan umum digunakan untuk kepentiangankepentiangan sendiri guana menunjang kegiatan tertentu.

b. Prasarana Pelayaran Dalam rangka menunjang kelancaran arus barang serta kelancaran dalam pelaksanaan bongkar muat dari dan/atau ke kapal pelabuhan di perlukan adanya sarana pelabuha seperti ; 1. Peraiaran pelabuhan, tempat-tempat kapal berlabuh agar dapat melakukan pekerjaan dengan aman. 2. Jembatan pendarat dan dermaga yang cukup kuat 3. Pelampung-pelampun untuk kapal-kapal terlambat 4. Gudang dan lapangan tempat barang-barang yang akan di muat ke dalam kapal dan di bongkar dari dalam kapal. 5. Pandu-pandu (pilot) untuk memandu kapal dan menjaga keselamatanya sewaktu memasuki atau meninggalkan pelabuahan. 6. Kapal-kapal tarik (tugboat) untuk menari kapal-kapal sewaktu memasuki atau meninggalkan pelabuhan 7. Peralatan bongkar muat di pelabhan 8. Pekerja/buruh yang cukup tersedia 9. Alat-alat telekomunokasi diguanakan untuk hungan intern, lokal, dan hbungan internasional yang cukup tersedia dan dapat I guanakan dengan baik .

5. Tanggung Jawab Pengangkut Dalam Pengangkutan Laut Dalam hal pengangkutan laut yang berkedudukan sebagai pengangkutan adalah pemilik kapal, sedangkan nahkoda dan anak buah kapal berkedudukan sebagai buruh (pekerja) atau orang yagn dipekerjakan oleh pemilik kapal, sesuai dengan ketentuan pasa 321 KUHD, nahkoda dan anak buah kapal hanya bertanggung jawab kepada pemilik kapal selaku majikannya. Pasal 321 KUHD berbunya sebagai berikut :

1. Pengusaha kapal terikat oleh perbuatan-perbuatan hukum yang dilakukan oleh mereka yang dalam dinas tetap atau sementara dari kapal itu dari dalam pekerjaanya dalam lingkungan kewenegang. 2. Ia bertanggung jawab terhadap kerugian yang ditimpakan pada pihak ketiga karena perbuatan melawan hukum dari mereka yang dalam dinas tetap atau sementara pada kapal karena jabatanya atau karena melaksanakan kegiatannya di kapal melakukan untuk kapal atau muatan.

Secara umum ada beberapa tipe kapal laut : 1. Conventional Liner Vesell, adalah jenis kapal pengangkut yang belum menggunakan container 2. Semi Container Vesell, adalah jenis kapal pengangkut yang sebagian menyediakan tempat untuk container 3. Full Container Vesell, adalah jenis kapal yang khusus mengangkut barangbarang yang dikemas dalam container dan berlabuh di dermaga atau pelabuhan peti kemas.

Sedangkan bila dilihat dari Jenis Layanan dari Kapal Pengangkut tersebut, dapat terbagi menjadi : 1. Conference Line, yaitu jenis pelayanan kapal yang memiliki jadual tetap berdasarkan persetujuan di antara anggota-anggota perusahaan pelayaran dan adanya kesamaan dalam penentuan tarif B/L . 2. Non Conference Line, perusahaan pelayaran yang tidak bergabung dalam kelompok perusahaan pelayaran dan tarif ditentukan berdasarkan harga pasar 3. NVOCC (Non Vessell Operating Common Carrier), yaitu perusahaan yang tidak memiliki armada pelayaran namun menyediakan jasa pengurusan transportasi. Kapal yang digunakan bisa kelompok 1 maupun 2. Dengan cara ini tarif yang dibayarkan oleh eksportir dapat lebih rendah, karena perusahaan ini biasanya mendapat potongan

harga dari perusahaan pelayaran asalkan dapat menjamin banyaknya barang yang dapat diangkut oleh perusahaan pelayaran tersebut dalam 1 tahun. 4. Tramper Service, jenis pelayanan kapal carter untuk melayani pengiriman barang dalam jumlah besar dan homogen. Untuk mengatur kewajiban dan tanggung jawab dari perusahaan pelayaran dibuatlah perjanjian internasional. Dokumen dokumen yang dibutuhkan untuk Angkutan Laut 1. Shipping Instuction , yaitu dokumen yang berisi instruksi dari shipper kepada agen pengangkut/carrier untuk mengangkut barang yang telah ditentukan 2. Shipping Order, yaitu dokumen order pengapalan dari agen pengangkutan ke armada pelayaran dalam hal ini diwakili oleh kapten kapal 3. Mates Receipt, yaitu tanda terima yang diberikan oleh mualim kapal sebagai tanda bahwa barang telah diterima di kapal 4. Bill of Lading, surat pengangkutan. Untuk bagian ini akan dijelaskan tersendiri 5. Manifest, yaitu rekapitulasi muatan dari pelabuhan muat ke pelabuhan bongkar 6. Delivery Order, yaitu dokumen yang diberikan agen pengangkutan kepada penerima barang sebagai tanda bahwa barang telah dapat diambil di pelabuhan Angkutan Laut dengan Container / Peti Kemas Container atau suatu peti empat persegi panjang, tahan cuaca, digunakan untuk mengangkut dan menyimpan sejumlah muatan kemasan dan barang- barang curah yang melindungi isinya dari kehilangan dan kerusakan, dapat dipisahkan dari alat transport, diperlakukan sebgai satuan muat dan jika pindah kapal tanpa harus dibongkar isinya. Dilihat dari jenisnya, ada beberapa tipe container, yaitu : 1. General Cargo Container (Dry / General Purpose Container) Container jenis ini umum digunakan untuk memuat barang-barang padat dan kering, baik yang telah dikemas dalam kotak sebelum dimuat di container maupun yang menggunakan alat bantu lain seperti hanger untuk garment.

2. Thermal Container Container yang dilengkapi dengan alat pendingin sehingga suhunya dapat diatur, contohnya adalah perishable dan refrigator cargo, yaitu container yang digunakan untuk memuat udang, ikan, daging atau buah-buahan. 3. Bulk Container Container yang digunakan untuk memuat barang curah, seperti kopi, dan Kacang-kacangan. Container ini dilengkapi dengan alata hidrolik yang dapat mengangkat satu sisinya pada saat barang yang dimuat akan dicurahkan. 4. Tank Container Disebut juga liquid cargo, yang digunakan untuk mengangkut barang cair /likuid. Pengangkutan LautKapal mempunyai peranan,antara lain: sebagai Forwarder atau sebagai konsolidari muatan, tugasnya adalah bertanggung jawab dalam muatan di agen pelayaran. sebagai wakil eksportir yang dimana dapat bertindak sebagai pemilik barang ekspor dan bertanggung jawab penuh terhadap ekspedisi pengiriman barang ekspor, termasuk mengurusi dokumen ekspor.

Hambatan-hambatan yang dihadapi transportasi Kapal Laut antara lain: 1. Peraturan: lambatnya pelayaran yang terjadi di perusahan pelayaran dalam pengambilan D/O, sehingga sering terjadi penundaan yang akan menyebabkan penyerahan kepada penerima akan terlambat. 2. Pengurusan Dokumen: adanya dokumen yang tidak jelas menerangkan kondisi barangnya akibatnya petugas bea dan cukai tidak yakin atau curiga akan kebenaran kondisi barang sehingga akan dilakukan pemeriksaan terhadap barang. 3. Tranportasi: tarif angkutan lokal yang cukup mahal. 4. Keterbatasan peralatan bongkar muat di Container Yard (CY) sehingga bila terjadi pengambilan Container oleh Trailer secara bersamaan mengakibatkan antrian yang cukup panjang.

TRANSPORTASI DARAT Prasarana jalan merupakan urat nadi kelancaran lalu lintas di darat. Lancarnya arus lalu lintas akan sangat menunjang perekonomian suatu daerah.
Transportasi darat mencakup

1. angkutan jalan raya,


Angkutan jalan raya sebagai penghubung antardaerah, antarkota, dan angkutan di dalam kota, berfungsi mendistribusikan barang dan jasa dari pusat-pusat pertumbuhan dan pusat produksi ke daerah pemasarannya. Angkutan jalan raya dalam proses perdagangan internasional dapat menggunakan truk atau sejenis mobil pengangkutan barang lainnya

Sektor jasa angkutan truk atau jasa angkutan barang, seperti halnya jasa angkutan penumpang, juga diatur berdasarkan Undang-Undang No. 14 Tahun 1992 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Meskipun dalam undang-undang tersebut secara tegas dijelaskan bahwa struktur dan golongan tarif angkutan dengan kendaraan umum ditetapkan oleh Pemerintah (pasal 42), namun pada kenyataannya khusus untuk jasa angkutan truk atau jasa angkutan barang tidak ada peraturan pemerintah yang mengatur hal tersebut. Dengan demikian struktur dan golongan tarif untuk jasa angkutan truk atau jasa angkutan barang sangat ditentukan sepenuhnya oleh kondisi dan perilaku pasar, berbeda dengan jenis jasa angkutan darat untuk penumpang. 2. angkutan kereta api. angkutan kereta api sebagai penghubung antarkota dan antardaerah berfungsi sebagai moda transportasi masal untuk penumpang, dan barang dalam jumlah besar. Tarif jasa pengiriman barang melalu jasa kereta api relative murah. Perhitungan tarif jasa pengiriman barang melalui kereta api ada yang dihitung dari banyaknya jumlah barang (unit) dan ada pula yang dihitung berdasarkan berat timbangan. Angkutan kereta api merupakan sarana transportasi yang tepat untuk melayani kebutuhan masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah serta kebutuhan pengangkutan barang dalam jumlah besar secara cepat, aman, dan efisien. Angkutan kereta api dibanding dengan angkutan yang lain memiliki keuntungan, yaitu tarifnya bersaing dan daya angkutnya yang besar. Pada kenyataannya tingkat pelayanan jasa angkutan kereta api masih rendah dibandingkan dengan angkutan lainnya. Hal ini disebabkan

oleh prasarana dan sarana kereta api yang belum memadai untuk melayani permintaan jasa angkutan kereta api, selain juga mutu pelayananny a yang masih belum memuaskan pengguna j asa. Dengan demikian, menjadi tantangan pula meningkatkan pelayanan angkutan kereta api agar mampu melayani kebutuhan masyarakat serta mendorong gerak perekonomian secara efektif dan efisien.

TRANSPORTASI PENGANGKUTAN BARANG MELALUI UDARA Aturan internasional yang mengaur mengenai pengangkutan melalui udara adalah: 1. Warsaw convetion (original) 1929 Dalam Warsaw convention, dokumen angkutannya disebut air consignment note (ACN) yang bukan merupakan document of title . ACN ditandatangani carrier setelah barang diterima. ACN tediri dari tiga bagian yaitu: a. first part, untuk carrier. b. Seccond part, untuk consignee (penerima barang) c. Third part, untuk consignor (pengirim) 2. Warsaw convention yang diamandemen tahun 1955 Dalam Warsaw convention yang diamandemen, dokumen angkutannya disebut air way bill (AWB). Air way bill ini cukup memuat point keberangkatan dan destinasi. Kontrak angkutan udara dapat dilakukan meelalui Warsaw convention yang pertama atau yang telah diamandemen. Secara umum angkutan udara dapat dikategorikan seabagai berikut : 1. Passenger Aircraft 2. All Cargo Aircraft 3. Mixed / Combined Airfreight

Dokumen-dokumen angkutan udara : - Airway Bill (AWB) - Master AWB) / House AWB- Shipping Instruction - Commercial Invoice - Shippers Declaration of Dangerous Cargo

Fungsi AWB : - Kontrak angkutan - Bukti penerimaan barang - Sertifikat asuransi - Petunjuk bagi staff penerbangan

Uang tambang untuk angkutan udara (air freight) didasarkan pada perhitungan berat dalam kilogram atau berat volume (voleme weight) tergantung mana yang lebih besar. Struktur rate air line General Cargo Rate (GCR) Special Commodity Rate (SCR) ULD Rate (Unit Load Device) Barang yang dapat diangkut dengan pesawat udara antara lain :

Barang-barang umum (general cargo), yaitu barang-barang yang tidak memerlukan penanganan khusus.

Barang-barang khusus (special cargo), yaitu barang-barang yang memerlukan penanganan khusus.

Ada beberapa alasan kenapa eksportir atau importir menggunakan AIR CARGO, antara lain :

Waktu pengiriman yang relatif lebih cepat, biasanya untuk barang yang urgent. Schedule lebih pasti (lebih tepat waktu) Keamanan lebih terjamin