Anda di halaman 1dari 14

PENDAHULUAN

Latar Belakang Tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) termasuk famili Solanaceae merupakan tanaman setahun yang berbentuk herbaceus (perdu) dan umumnya tumbuh baik pada ketinggian 600-900 m di atas permukaan laut. Pada dataran rendah tomat dapat tumbuh tetapi umurnya lebih singkat dan produksinya lebih rendah dibanding di dataran tinggi. Selama ini produsen benih lebih banyak merilis varietas-varietas tomat untuk dataran tinggi yang berada lebih dari 750 m di atas permuakan laut. Ketika pekebun membudidayakan varietas tersebut di dataran rendah, produksinya pun anjlok. Oleh karena suhu tinggi, kualitas polen atau serbuk sari bunga tomat menjadi buruk dan mudah rontok. Pada suhu tinggi, tanaman memproduksi cukup tinggi hormon penuaan, yaitu etilen sehingga bunga menjadi gugur dan persentase fruit-set sangat rendah. Itulah sebabnya produksi tomat di dataran rendah lebih kecil jika dibandingkan di dataran tinggi (Dwi Utami, 2009). Sekarang ini dikenal beberapa varietas tomat yang dibudidayakan di dataran rendah seperti Intan, Ratna, Permata, LV, dan CLN yang memiliki produksi lebih rendah di banding tomat yang dibudidayakan di dataran tinggi. Produksinya berkisar antara 5 24 ton/Ha. Varietas-varietas tersebut memiliki ketahanan yang lebih baik dari serangan hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman tomat misalnya layu fusarium, pseudomonas dan lain-lain. Selain mempunyai rasa yang lezat, tomat juga memiliki komposisi zat yang cukup lengkap dan baik. Yang cukup menonjol dari komposisi tersebut

xiv
Universitas Sumatera Utara

adalah vitamin A dan C. Tomat seperti halnya dengan sayuran dan buah-buahan lainnya, dapat diolah menjadi berbagai macam produk makanan. Komposisi zat gizi buah tomat dalam 100 gram adalah protein (1 gr), karbohidrat (4,2 gr), lemak (0,3 gr), kalsium (5 mg), fosfor (27 mg),zat besi (0,5 mg), vitamin A (karoten) 1500 SI, vitamin B (tiamin) 60 mg, vitamin C 40 mg (Yani dan Ade, 2004). Tomat merupakan sayuran populer di Indonesia. Produksinya di Indonesia tahun 2005 mencapai 647.020 ton (Redaksi Agromedia, 2007) dan tiap tahun akan meningkat mengimbangi kebutuhan masyarakat yang meningkat dan juga perluasan pasar (ekspor). Salah satu produk berbahan tomat adalah saus. Para produsen saus menghadapi kendala dalam pengolahan tomat yaitu, ketika menghancurkan biji. Apabila tomat yang menjadi bahan baku saus mengandung sedikit biji, maka proses pengolahan akan menjadi lebih efisien. Buah tomat parthenokarpi adalah galur tomat tanpa biji yang diciptakan untuk memenuhi keinginan para podusen saus. Parthenokarpi merupakan buah yang terbentuk tanpa terlebih didahului adanya polinasi atau fertilisasi. Parthenokarpi dapat dikatakan kurang menguntungkan bagi program produsen benih/biji, karena tidak terbentuk biji pada buah. Akan tetapi, parthenokarpi bermanfaat bagi peningkatan kualitas dan produktivitas buah khususnya pada jenis tanaman komersial hortikultura. Selain dapat terjadi secara alami, parthenokarpi juga dapat dilakukan secara buatan. Salah satu cara untuk pembuatan buah parthenokarpi adalah dengan pemberian hormon pengatur tumbuh misalnya auksin dan gibberelin (GA3).

xv
Universitas Sumatera Utara

GA3 sudah lama dikenal sebagai hormon pencetak buah tanpa biji atau memperkecil ukuran biji. Biji muda banyak mengandung hormon auksin dan gibberelin. Hormon itu diproduksi biji untuk pembesaran buah. Saat gibberelin atau auksin ditambah dari luar biji tak berkembang karena pembesaran buah disokong dari luar. Gibberellin sebagai hormon tumbuh pada tanaman sangat berpengaruh terhadap sifat kerdil genetik (genetic dwarfism), pembungaan, parthenocarpy, mobilisasi karbohidrat selama perkecambahan, dan aspek fisiologi lainnya. Gibberellin mempunyai peranan dalam mendukung; perpanjangan sel, aktivitas kambium, dan mendukung pembentukan RNA baru serta sintesa protein (Abidin, 1983). Gibberelin (GA3) adalah zat pengatur tumbuh yang berperan dalam fungsi pembelahan sel di seluruh bagian tanaman baik pada akar, batang, daun dan buah. Tinggi rendahnya kandungan hormon GA3 pada tanaman akan menentukan bagaimana tanaman tersebut tumbuh pada fase vegetatif dan berbunga pada fase generatif. Dapat dikatakan bahwa hormon GA3 memainkan fungsi penting dalam perpindahan fase vegetatif ke fase generatif. Pertumbuhan tanaman yang dirangsang dengan menggunakan hormon GA3 dapat tumbuh 2 kali lebih cepat dibanding dengan tanaman yang tidak dirangsang. Perlakuan hormon GA3 pada buah-buahan seperti melon, semangka, tomat, nanas, dan lain-lain akan mempercepat besarnya buah dalam tempo singkat

(http://www.trubus-online.co.id, 2010).

xvi
Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitan tentang Peningkatan mutu dan hasil tanaman tomat

(Lycopersicum esculentum Mill.) dengan pemberian hormon GA3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah mengetahui peningkatan mutu dan hasil tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) dengan pemberian hormon GA3. Hipotesis Penelitian Konsentrasi dan frekuensi pemberian GA3 serta interaksi keduanya berpengaruh terhadap peningkatan mutu dan hasil tanaman tomat. Kegunaan Penelitian Sebagai bahan penulisan skripsi yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dan Sebagai bahan informasi bagi pihak yang memerlukan.

TINJAUAN PUSTAKA

xvii
Universitas Sumatera Utara

Tinjauan Umum Tanaman Tomat Klasifikasi tanaman tomat menurut Rismunandar (1999) adalah : Kingdom Divisio Sub divisio Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Solanales : Solanaceae : Lycopersicon (Lycopersicum) : Lycopersicum esculentum Mill. Tomat memiliki akar tunggang yang bisa tumbuh menembus tanah, sekaligus akar serabut (akar samping) yang bisa tumbuh menyebar ke segala arah. Sayangnya kemampuannya menembus lapisan tanah terbatas, yakni pada kedalaman 30-70 cm. Sesuai sifat perakarannya, tomat bisa tumbuh dengan baik di tanah yang gembur dan mengikat air (Redaksi Agromedia, 2007). Batang tomat walaupun tidak sekeras tanaman tahunan, tetapi cukup kuat. Warna batang hijau dan berbentuk persegi sampai bulat. Pada permukaan batangnya ditumbuhi banyak rambut halus terutama bagian yang berwarna hijau. Di antara rambut-rambut tersebut biasanya terdapat rambut kelenjar. Pada bagian buku-bukunya terjadi penebalan dan kadang-kadang pada buku bagian bawah terdapat akar-akar pendek. Jika dibiarkan (tidak dipangkas), tanaman tomat akan mempunyai banyak cabang yang menyebar merata (Yani dan Ade, 2004).

xviii
Universitas Sumatera Utara

Bunga tanaman tomat termasuk sempurna (hermaprodit). Dengan demikian, tomat bisa melakukan penyerbukan sendiri, sekaligus mampu melakukan penyerbukan silang dengan bantuan serangga, seperti lebah. Penyerbukan silang lebih umum terjadi di daerah tropis dibandingkan di daerah beriklim sedang. Bunga berwarna kuning dan tersusun dalam satu rangkaian (dompolan), tergantung varietasnya. Bunga tomat dapat pula menghasilkan buah tanpa adanya persarian, yaitu dengan bantuan zat hormon (fruit-tone) yang disemprotkan langsung pada bunga. Dalam istilan botani disebut pembuahan parthenocarpi (Rismunandar, 1995). Bagian dalam buah memiliki ruang-ruang yang dipenuhi biji. Ukuran buah tomat dan beratnya bervariasi tergantung varietasnya. Biji tomat berbentuk pipih, berbulu, dan berwarna putih, putih kekuningan atau cokelat muda. Panjangnya 3-5 mm dan lebar 2-4 mm (Redaksi Agromedia, 2007). Syarat Tumbuh Iklim Tomat dapat tumbuh dalam musim hujan ataupun musim kemarau, namun dalam musin basah tidak terjamin baik hasilnya. Iklim yang basah akan membentuk tanaman yang rimbun, tetapi bunganya berkurang, dan di daerah pegunungan akan timbul penyakit daun yang dapat membuat fatal

pertumbuhannya. Musim kemarau yang terik dengan angin yang kencang akan menghambat pertumbuhan bunga (mengering dan berguguran)

(Rismunandar, 1995). Pada hakikatnya tanaman dapat tumbuh dan menghasilkan di dataran rendah maupun tinggi. Semakin tinggi suatu tempat, suhu udara akan semakin

xix
Universitas Sumatera Utara

rendah dan sebaliknya. Faktor suhu biasanya mempunyai hubungan dengan pertumbuhan tanaman. Semakin tinggi suhu selama masa pertumbuhan, maka semakin tinggi pula pertumbuhannya. Hal ini berpengaruh terhadap waktu panennya. Semakin tinggi suhu, maka semakin cepat waktu panennya (Redaksi Agromedia, 2007). Kekurangan sinar matahari menyebabkan tanaman tomat mudah terserang penyakit, baik parasit maupun non parasit. Sinar matahari berintensitas tinggi akan menghasilkan vitamin C dan karoten (provitamin A) yang lebih tinggi. Suhu udara rata-rata harian yang optimal untuk pertumbuhan tanaman tomat adalah suhu siang hari 18-29 0C dan pada malam hari 10-20 0C. Pada tanaman yang masih muda, kelembaban udara yang tinggi yakni 95 % sangat baik untuk merangsang pertumbuhan (http://www.nusaku.com/forum, 2010). Tanah Tanaman tomat dapat tumbuh di segala jenis tanah, mulai tanah pasir sampai tanah lempung berpasir yang subur, gembur, banyak mengandung bahan organik serta unsur hara dan mudah merembeskan air. Selain itu akar tanaman tomat rentan terhadap kekurangan oksigen oleh karena itu air tidak boleh tergenang (http://www.nusaku.com/forum/, 2010). Derajat keasaman (pH) tanah yang ideal untuk pertumbuhan tomat adalah pH 7 atau netral. Jika pH tanah terlalu masam atau di bawah 5,5 disarankan agar dilakukan pengapuran. pH yang terlalu masam akan menghambat penyerapan unsur hara oleh tanaman dan akan menguntungkan pertumbuhan jamur seperti Rhizoctonia sp. dan Phytium sp. (Redaksi Agromedia, 1997).

xx
Universitas Sumatera Utara

Mutu buah tomat Beberapa hal yang termasuk dalam standar mutu tomat adalah sebagai berikut : 1. Produksi buah mencapai 25 ton/Ha. 2. Ukuran buah yang dihasilkan seragam, tergantung pada permintaan pasar. 3. Kesamaan sifat varietas seragam. 4. Keseragaman tingkat kematangan buah (60%-90%) tergantung permintaan pasar. 5. Utuh, bebas dari bercak, tidak memar, tidak pecah, busuk, terbelah dan terkelupas 6. Berat buah yang dihasilkan rata-rata 30 % besar, 35 % sedang, dan 35 % kecil. 7. Buah aman untuk dikonsumsi. 8. Rasa segar buah cukup baik. 9. Berdasarkan ukurannya, buah tomat dibedakan menjadin 4 tipe yakni, cherry (15 mm), oblong atau elongated (30 mm), round (35 mm), dan ribbed (35 mm) (Redaksi Agromedia, 2007). Dalam SNI, tomat segar digolongkan dalam 3 ukuran berat menurut kultivarnya, yaitu : Besar, bila berat buah > 150 gr/buah Sedang, bila berat buah 100-150 gr/buah Kecil, bila berat buah < 100 gr/buah Buah tomat dikatakan tua apabila buah tomat telah mencapai tingkat perkembangan fisiologis yang menjamin proses pematangan yang sempurna dan

xxi
Universitas Sumatera Utara

rongga buah telah berisi bahan yang mempunyai kekentalan menyerupai jeli/gelatine, serta biji buah mencapai tingkat perkembangan sempurna. Buah tomat dinyatakan terlalu matang dan lunak apabila buah tomat telah mencapai kematangan penuh dengan tekstur daging buah lunak

(http://www.puslitbangBSN.syaratmututomat, 2010). Untuk menangkap peluang ekspor yang cukup baik, tentunya harus diimbangi dengan peningkatan mutu yang baik pula. Dalam mempersiapkan mutu ekspor yang lebih baik, seragam, dan mampu bersaing dengan mutu dari negara lain diperlukan adanya standar mutu tomat yang jelas. Untuk kebutuhan pasar dikenal dua jenis mutu yaitu mutu I dan II. Kerusakan maksimum pada buah tomat mutu I sekitar 5% sedangkan pada mutu II sekitar 10 %

(Yani dan Ade, 2004). Gibberellin Gibberellin adalah jenis hormon tumbuh yang mula mula diketemukan di Jepang oleh Kurosawa dalam tahun 1926. Kurosawa melakukan penelitian terhadap penyakit bakane pada tanaman padi yang disebabkan oleh jamur Gibberella fujikuroi. Gejala khas dari penyakit ini ialah : apabila tanaman padi terserang, maka tanaman tersebut memperlihatkan batang dan daun yang memanjang secara tidak normal (Abidin, 1983). Pada 1920-an para peneliti Jepang menyelidiki suatu penyakit cendawan pada padi yang disebabkan oleh Gibberella fujikuroi. Bila cendawan ini dikulturkan, ternyata mengeluarkan suatu zat medium yang disebut gibberellin A, yang dapat mendorong gejala timbulnya penyakit bila disemprotkan pada tanaman

xxii
Universitas Sumatera Utara

sehat dan dapat mendorong pemanjangan batang pada sejumlah jenis tanaman lain (Heddy, 1986). GA merupakan diterpenoid, yang menempatkan zat itu dalam keluarga kimia yang secara bersama-sama dengan khlorofil dan karoten. GA yang berbedabeda dinamai dengan kode huruf-nomor (GA1, GA2, GA3, , GA52). Jenis GA yang pertama kali diidentifikasi, merupakan yang paling dikenal dan paling banyak diteliti adalah Asam giberelat (GA3). Hal yang menarik, GA3 mempunyai kisaran aktivitas fisiologis paling lebar. O
C=O

OH CH2 CH3 COOH Gambar : GA3 (Gardner dkk, 1991). Gibberellin disintesis di beberapa bagian tanaman khususnya dalam jaringan tumbuh yang aktif seperti embrio dan jaringan meristem. Gibberellin ditransportasi cepat dalam tanaman, kelihatan pada transportasi phloem dan xylem. Ada beberapa campuran yang dikenal menghambat pengaruh gibberellin. Hal ini meliputi zat penghambat pertumbuhan seperti AMU-1618, CCC, dan Phosphon-D (Pradhan, 1997). Agar aplikasi zat pengatur tumbuh efektif dalam mengatur pertumbuhan dan perkembangan tanaman, pertama tama zat pengatur tumbuh tersebut harus masuk ke dalam jaringan tanaman. Zat pengatur tumbuh mungkin diserap melalui akar atau daun. Laju serapan zat pengatur tumbuh oleh tanaman tergantung pada beberapa faktor, antara lain : spesies tanaman yang bersangkutan, organ tanaman yang diberi perlakuan, sifat kimia dan solubilitas dari zat pengatur tumbuh yang HO

xxiii
Universitas Sumatera Utara

bersangkutan, pelarut yang digunakan, dan kondisi lingkungan, terutama suhu dan kelembaban. Faktor faktor lingkungan akan ikut berperan. Secara umum, kondisi lingkungan yang menghambat translokasi air, unsur hara, atau senyawa organik lainnya juga akan menghambat pergerakan zat pengatur tumbuh dalam tubuh tanaman (Lakitan, 1996). Gibberellin dapat terdapat di dalam lebih dari satu keadaan pada sebuah tanaman. Semua organ tanaman yang lebih tinggi mengandung gibberellin, tetapi konsentrasi gibberellin sama sekali tidak konstan di seluruh tanaman. Tingkat tertinggi ditemukan di dalam biji, dengan tingkat luar biasa terdapat pada endosperma cair dari beberapa biji. Daun-daun muda kaya dengan gibberellin dibandingkan dengan daun yang yang lebih tua dan tangkai dewasa. Secara umum gibberellin dipusatkan di daerah tanaman yang paling cepat tumbuh dan berkembang, seperti yang bisa diharapkan untuk zat yang terlibat dalam pengaturan pertumbuhan dan produksi tanaman (Wilkins, 1989). Seperti auxin, gibberellin pun berpengaruh terhadap parthenokarpi. Hasil penelitian Barker dan Collin (1965) asam giberelat (GA3) lebih efektif dalam terjadinya parthenokarpi dibanding dengan auxin yang dilakukan pada blueberry. Begitu pula Delvin dan Demoranville pada tahun 1967 meneliti pear dengan mengaplikasikan GA3. Dari hasil penelitiannya dapat diambil kesimpulan bahwa kultivar tersebut mempunyai respon terhadap aplikasi GA3 sehingga dapat meningkatkan tandan buah (fruit set) dan hasil. Istilah parthenokarpi adalah buah yang mengandung sedikit biji atau tanpa biji. Faktor-faktor penyebab terjadinya parthenokarpi ada 2, yaitu buatan dan alami. Peristiwa bertemunya pollen (sel jantan) dengan bakal biji (sel telur) di

xxiv
Universitas Sumatera Utara

dalam bakal buah (ovary) disebut pembuahan (fertilisasi). Kemudian bakal buah akan membesar dan berkembang menjadi buah bersamaan dengan pembentukan biji. Biji yang sedang berkembang mengandung hormon tumbuhan seperti auxin dan gibberellin. Dengan penyemprotan hormon secara eksogen, maka biji tidak berkembang karena pembesaran buah disokong dari luar (Duryatmo, 2008). Penyemprotan dengan GA sebelum panen mempunyai pengaruh yang menyolok dalam mengurangi laju perkembangan, pemasakan, pematangan dan penuaan buah-buah kesemek. Beberapa pengaruh pemberian GA pada jeruk adalah terhambatnya lenyapnya khlorofil, peningkatan ketebalan kulit, penundaan penimbunan karotenoid-karotenoid pada jeruk manis Navel (Coggins dan Hield, 1962), dan peningkatan asam askorbat (vitamin C) dibanding dengan sitrun Lisbon yang tidak diberi perlakuan (Tjitrosoepomo, 1993). Bukti untuk peranan gibberellin untuk pengendalian pertumbuhan buah terus bertumbuh. Sekarang telah ditetapkan bahwa bunga yang tidak difertilisasi dari banyak tanaman seperti misalnya tomat dan varietas apel tertentu dapat dibuat untuk mengeluarkan buah-buah yang tampaknya normal tetapi tidak berbiji jika diberi gibberellin (Crane, 1964). Sebagai tambahan, sebuah korelasi kuat telah diperlihatkan pada buah normal antara kandungan gibberellin pada berbagai tahap dan tingkat pertumbuhan buah (Jackson, 1966). Setelah fertilisasi, sintesis gibberellin terjadi pada endosperma dan embrio. Gibberellin ini sebaliknya diperlukan untuk memungkinkan pertumbuhan buah berlangsung (Wilkins, 1989). Penggunaan GA3 pada anggur dengan perlakuan GA3 sebesar 200 ppm pada waktu gugurnya kalipta (daun pelindung bunga) menghasilkan anggur yang lebih besar dan kualitas rasa yang meningkat (Gardner, dkk, 1991).

xxv
Universitas Sumatera Utara

Pada tanaman durian, GA3 dengan konsentrasi 100 ppm disemprotkan dengan interval seminggu sekali untuk mencegah rontok bunga. GA3 meningkatkan kemampuan bunga menyerap makanan hasil fotosintesis, sehingga bunganya tahan gugur (http://www.radarsampit.com, 2010). Di dalam proses pematangan, gibberellin mempunyai peranan yang penting yaitu mampu mengundurkan pematangan (ripening) dan pemasakan (maturing) suatu jenis buah. Asam gibberelat yang diterapkan dalam buah pisang yang matang ternyata pemasakannya dapat ditunda (Abidin, 1983). Pengaruh gibberellin juga merangsang pembungaan. Kebanyakan tanaman memerlukan suhu dingin selama periode waktu tertentu diikuti hari panjang untuk dapat berbunga. Pada tanaman-tanaman tersebut suhu dingin menyebabkan terjadinya balting (perpanjangan batang) yang mengawali proses pembungaan tersebut. Gibberellin dapat mengganti pengaruh suhu dingin pada tanamantanaman tersebut dan dapat mendorong terjadinya pembungaan

(Wattimena, 1985). Salah satu efek utama dari gibberellin adalah mendorong pemanjangan batang dan daun. Di dalam proses pembelahan sel bukan saja dipengaruhi oleh gibberellin tetapi juga oleh auksin. Pengaruh gibberellin umumnya meningkatkan kerja auksin, walaupun mekanisme interaksi kedua ZPT tersebut belum diketahui secara pasti. Perbedaan antara gibberellin dan auksin dalam proses adalah bahwa gibberellin lebih aktif pada tanaman utuh sedangkan auksin pada potonganpotongan organ tanaman seperti stek akar, stek tunas dan lan-lain

(http://www.iel.ipb.ac.id/sac/hibah/2003/sf_tumbuhan/ZPT.html, 2010).

xxvi
Universitas Sumatera Utara

Peranan gibberellin dapat menyebabkan tinggi tanaman menjadi 3-5 kali tingginya yang normal. Suatu kol yang biasanya hanya 3 dm tingginya, setelah diberi gibberellin, maka kol tersebut mencapai tinggi 3,5 m. Percobaan ini dilaksanakan di University of Michigan. Selain itu, mempercepat tumbuhnya sayur-sayuran, dapat menyingkat waktu panenan sampai 50%. Sayur-sayuran yang biasanya baru dapat dipetik setelah 4 atau 5 minggu, maka dengan penggunaan gibberellin, sayur-sayuran tersebut sudah dapat dipetik setelah 2 atau 3 minggu (Dwidjoseputro, 1980). Fungsi gibberellin dapat mengatur pembentukan protein dan asam nukleat (bagian senyawa DNA). Gibberellin dengan konsentrasi tinggi (sampai 1000 ppm) menghambat pembentukan akar. Gibberellin pada konsentrasi rendah mendorong pertumbuhan akar adventif seperti yang terjadi pada stek batang kacang kapri, dan mempercepat pembelahan serta pertumbuhan sel hingga tanaman cepat menjadi tinggi (Ashari, 2006). GA3 dapat menstimulir perpanjangan sel karena GA3 menghidrolisa pati yang akan mendukung terbentuknya amylase. Sebagai akibat dari proses tersebut, maka konsentrasi gula meningkat, yang mengakibatkan tekanan osmotik didalam sel tersebut menjadi naik sehingga ada kecenderungan sel tersebut bekembang dan menambah tinggi tanaman (Weaver, 1972) .

xxvii
Universitas Sumatera Utara