Anda di halaman 1dari 4

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang dengan jumlah penduduk yang sangat banyak setelah Cina, India dan Amerika. Data dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana dan Kontrasepsi Nasional (BKKBN) tahun 2007 menyatakan bahwa penduduk Indonesia sekitar 224,9 juta jiwa. Jumlah ini menunjukan Indonesia memiliki penduduk yang terbanyak keempat di dunia, tetapi dari segi kualitas masih rendah. Para pakar kependudukan memperkirakan Indonesia akan mengalami ledakan jumlah penduduk (baby booming) yang dari 220 juta jiwa pada tahun 2009 menjadi 247,5 juta jiwa pada tahun 2015 dan 273 juta jiwa pada tahun 2025. Dengan kesadaran ini, maka, suatu program telah dijalankan pemerintah Indonesia untuk menahan ledakan penduduk, yaitu melalui program yang dikenal dengan Keluarga Berencana (KB). Program ini cukup efektif dalam menurunkan laju pertumbuhan penduduk. Bila semua keluarga ikut ber-KB, akan terbentuk keluarga kecil bahagia dan sejahtera, sehingga kehidupan masyarakat menjadi lebih baik, kata Kabid Program Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Tengah, Titi Murwani. Prevalensi KB menurut alat KB dari peserta KB aktif di Indonesia adalah 66,20%. Alat KB yang dominan adalah suntikan (34%) dan pil KB (17%). (Iswarati, 2005) Berdasarkan Profil Kesehatan Kota Medan tahun 2008 jumlah peserta KB aktif (63,58%) dan jumlah peserta KB aktif dengan menggunakan pil KB (21,27%) yang berada diurutan kedua setelah penggunaan alat kontrasepsi suntik (23,36%).

Universitas Sumatera Utara

Kebanyakan wanita akan mengalami vaginal discharge dan tidak semua keputihan yang terjadi adalah normal. Jumlah vaginal discharge yang keluar berbeda-beda pada setiap wanita. Ada wanita yang mengalami vaginal discharge yang sangat sedikit dan jarang terjadi, namun ada juga wanita yang mengalami keputihan setiap hari. Keputihan yang normal akan selalu berubah di sepanjang hidup seorang wanita (Anonim, 2010). Perubahan pada keseimbangan bakteri normal di vagina bisa menyebabkan perubahan pada bau, warna, bentuk dari keputihan yang keluar. Terdapat beberapa masalah yang menyebabkan ketidakseimbangan tersebut, antaranya adalah

pemakaian antibiotik, infeksi yang ditularkan melalui hubungan kelamin, pemakaian pil kontrasepsi, menderita penyakit diabetes melitus, infeksi jamur dan lain-lain (Anonim, 2010). Di Indonesia kejadian keputihan semakin meningkat. Berdasarkan hasil penelitian menyebutkan bahwa tahun 2002, 50% wanita Indonesia pernah mengalami keputihan, kemudian pada tahun 2003, 60% wanita pernah mengalami keputihan, sedangkan tahun 2004 hampir 70% wanita Indomesia pernah mengalami keputihan setidaknya sekali dalam seumur hidup (Kumalasari T., 2005). Menurut AJ. Singh (2007) tentang hasil penelitian berkaitan dengan kriteria sekret vagina, 94.8% sekret berair/cair, 28% sekret yang bewarna kuning, 64% tidak terdapat keluhan nyeri pada alat kelamin, 47% sekret yang berbau, 45% sekret yang tidak berbau, dan 77% sekret vagina yang mengganggu aktivitas harian wanita. Kebanyakan wanita tersebut mengalami gatal apabila warna sekret berubah menjadi kekuningan.

Universitas Sumatera Utara

Menurut Hanafiah TM (2000) di PKBRS RSUD Dr. Pirngadi Medan ditemukan keputihan akibat infeksi kandida 13,75% pada pengguna alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR), 18,5% pada pengguna pil, dan 14,0% pada pengguna KB suntik. Menurut Mahadi IDR (1982) di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Pirngadi Medan ditemukan dari 100 orang penderita keputihan terdapat 13% pengguna alat kontrasepsi, 5% pengguna pil, dan 8% pengguna AKDR. Menurut Barus IG (1997) di PKBRS RSUD Dr. Pirngadi Medan ditemukan keputihan akibat infeksi kandida, 17% pada pengguna AKDR, 11% pada pengguna pil, dan 0% pada pengguna KB suntik (Darmani E. H, 2003).

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka diperlukan suatu penelitian untuk menjawab permasalahan yang terjadi yaitu apakah ada hubungan penggunaan alat kontrasepsi kombinasi hormonal (pil) dengan kejadian vaginal discharge patologis?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara penggunaan alat kontrasepsi kombinasi hormonal (pil) dengan kejadian vaginal discharge patologis pada dosen wanita Universitas Sumatera Utara (USU). 1.3.2. Tujuan Khusus 1. Mengetahui jumlah dosen wanita yang menggunakan alat kontrasepsi kombinasi hormonal (pil). 2. Mengetahui jumlah dosen wanita yang mengalami vaginal discharge patologis akibat penggunaan kontrasepsi kombinasi hormonal tersebut. 3. Mengetahui apakah terdapat hubungan antara pemakaian alat kontrasepsi kombinasi hormonal (pil) dengan kejadian vaginal discharge patologis.

Universitas Sumatera Utara

4. Mengetahui karakteristik discharge yang terjadi akibat penggunaan alat kontrasepsi kombinasi hormonal (pil). 5. Mengetahui jenis vaginal discharge pada pemakai alat kontrasepsi kombinasi hormonal (pil).

1.4. Manfaat Penelitian 1. Mengetahui persentase kejadian vaginal discharge pada pemakai alat kontrasepsi kombinasi hormonal (pil). 2. Peneliti dapat menerapkan pengetahuan tentang community reseach program sehingga dapat menambah kemampuan peneliti untuk melakukan penelitian. 3. Menjadi sumber pustaka bagi peneliti lain yang ingin meneliti hal yang sama.

Universitas Sumatera Utara