Anda di halaman 1dari 5

Nama NIM

: Fatma Muthia Kinanti : A01109121

Mata Kuliah : Hukum Kewarganegaraan & Keimigrasian Dosen : Rommy Patra S.H., M.H.

Reformasi Keimigrasian dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011


Pada tanggal 7 April 2011 lalu, Undang-Undang Keimigrasian yang baru telah disahkan untuk menggantikan UU Keimigrasian lama yang telah berusia hampit 2 dekade. Undangundang yang baru ini telah dipersiapkan lama sekali oleh Direktorat Jenderal Imigrasi Departemen Hukum dan HAM RI. Gagasan untuk pembaharuan UU no. 9/1992 tersebut sudah mulai timbul sejak sekitar tahun 1998an karena ketidakpuasan internal Ditjen. Imigrasi terhadap materi yang terkandung dalamnya. Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang keimigrasian disampaikan Presiden kepada Pimpinan DPR-RI dengan surat Nomor R-16/Pres/2/2010 tanggal 23 Februari 2010. Dalam surat tersebut, disampaikan bahwa RUU Keimigrasian ini merupakan penyampaian yang kedua kali, setelah sebelumnya pernah disampaikan oleh Presiden melalui Surat Nomor R.18/Pres/10/2005 tanggal 12 Oktober 2005. Presiden menunjuk Menteri Hukum dan HAM untuk mewakili Presiden dalam pembahasan RUU ini di DPR. Menindaklanjuti Surat Presiden tersebut, Rapat Badan Musyawarah (Bamus) DPR RI tanggal 25 Februari 2010 memutuskan bahwa pembahasan RUU Keimigrasian ditugaskan kepada Komisi III yang kemudian disampaikan melalui Surat Ketua DPR Nomor TU.04/2118/DPR/ RI/III/2010 tanggal 11 Maret 2010 perihal penugasan untuk membahas RUU tentang keimigrasian. 1 Untuk melaksanakan penugasan pembahasan RUU ini, Komisi III telah mengadakan Rapat Kerja dengan Menteri Hukum dan HAM yang mewakili Presiden serta membentuk Panitia Kerja (Panja) RUU Keimigrasian yang selanjutnya ditugaskan membahas substansi/ materi RUU tersebut. Dalam kesempatan Rapat kerja dengan Menteri Hukum dan HAM telah dipahami bahwa arus globalisasi yang terjadi dewasa ini telah menyebabkan terjadinya perubahan di berbagai aspek kehidupan masyarakat yang berimplikasi pada bidang keimigrasian. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi kembali terhadap Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Keimigrasian ini dalam perkembangannya membutuhkan waktu cukup lama, yakni hampir satu tahun. Namun demikian, Ditjen Keimigrasian menganggap waktu yang lama memang diperlukan untuk menyempurnakan draft RUU tersebut. Pada kesempatan tersebut, Panja RUU Keimigrasian menyampaikan perlunya dilakukan pengkajian yang lebih komprehensif atas materi yang terdapat dalam RUU Keimigrasian. Hal ini dikarenakan pembahasan RUU Keimigrasian sebagai pengganti Undang-undang nomor 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian bertujuan mengubah berbagai kebijakan Keimigrasian Indonesia yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Adapun landasan Filosofis dan sosiologis dari peraturan perundangan-undangan imigrasi yang baru, menurut Ditjen Imigrasi, yaitu :
1

www.imigrasi.go.id

1. Mencegah penyalahgunaan wewenang; 2. Reformasi Birokrasi dan pelayanan publik yang efektif, efisien dan memiliki kepastian hukum; 3. Pembaruan penyelenggaraan fungsi keimigrasian yang berbasis sistem informasi dan manajemen keimigrasian; 4. Memodernisasi pendekatan keamanan dengan penghormatan HAM; 5. Memajukan kesejahteraan masyarakat dengan mendukung peningkatan investasi, pariwisata dan serta mengayomi hubungan sosial budaya bangsa Indonesia dalam pergaulan internasional. 6. Melalui pembahasan yang mendalam dalam rapat kerja maupun rapat Panja, tim perumus dan tim sinkronisasi, akhirnya berhasil dicapai kesepakatan dan dirumuskan materi RUU Keimigrasian sesuai dengan paradigma baru dalam suatu sistematika yang lebih jelas, sehingga pada akhirnya pembahasan RUU Keimigrasian dapat diselesaikan.

RUU Keimigrasian yang telah disepakati pada pembicaraan tingkat I telah merumuskan berbagai pembaruan, antara lain: 1. Leading Sector fungsi keimigrasian yang telah diletakkan di Kementerian Hukum dan HAM; 2. Organisasi Direktorat Jenderal Imigrasi yang otonom; 3. Penerapan Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian sebagai penunjang pelaksanaan fungsi Keimigrasian dengan perangkat dan aplikasi teknologi informasi dan komunikasi; 4. Penegasan bahwa setiap Warga Negara Indonesia tidak dapat ditolak masuk wilayah Indonesia; 5. Pengaturan sterilisasi area Imigrasi di setiap Tempat Pemeriksaan Imigrasi di bandar udara, pelabuhan laut,dan pos lintas batas; 6. Menteri Luar Negeri didelegasikan untuk mengatur hal yang terkait dengan paspor, visa dan izin tinggal untuk tugas diplomatik dan dinas; 7. Pengaturan visa yang lebih jelas tujuan pemberian dan subjeknya; 8. Pengaturan izin tinggal tetap yang diberikan untuk waktu yang tidak terbatas dengan tetap memiliki kewajiban melapor ke Kantor Imigrasi setiap 5 (lima) tahun dengan tidak dikenai biaya; 9. Kemudahan bagi eks Warga Negara Indonesia dan eks subjek anak berkewarganegaraan ganda Republik Indonesia untuk memiliki Izin Tinggal Tetap; 10. Kemudahan bagi pemegang Izin Tinggal Terbatas dan Izin Tinggal Tetap karena perkawinan campuran untuk melakukan pekerjaan dan/atau usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup dan/atau keluarganya; 11. Pengaturan penjamin sebagai pihak yang bertanggung jawab atas keberadaan dan kegiatan orang asing selama berada di wilayah Indonesia; 12. Perluasan perspektif pengawasan keimigrasian yaitu pengawasan yang berbasis data dan informasi, pengawasan lapangan yang menyertakan tim pengawasan dari abdan atau instansi pemerintah terkait, serta penguatan fungsi intelijen Keimigrasian; 13. Tindakan administratif Keimigrasian sebagai salah satu proses penegakan hukum di luar sistem peradilan; 14. Rumah dan ruang detensi sebagai tempat penempatan sementara bagi orang asing yang melanggar peraturan perundang-undangan dan korban perdagangan orang dan penyelundupan manusia;

15. Kewenangan preventif dan represif Menteri Hukum dan HAM dalam penanganan perdagangan orang dan penyelundupan manusia; 16. Pencegahan dalam keadaan yang mendesak di mana pejabat yang berwenang dapat meminta secara langsung kepada pejabat Imigrasi di Tempat Pemeriksaan Keimigrasian; 17. PPNS Keimigrasian diberi wewenang sebagai penyidik tindak pidana Keimigrasian; 18. Ketentuan pidana yang mengatur kriminalisasi bagi penanggung jawab alat angkut, penjamin, pengurus, atau penanggung jawab penginapan, pelaku perdagangan orang dan penyelundupan manusia, pembuat maupun pengguna dan penyimpan dokumen keimigrasian palsu, pelaku perkawinan semu, deteni serta pejabat Imigrasi atau pejabat lain yang melakukan penyalahgunaan wewenang dan tidak melaksanakan tugas sesuai prosedur; dan 19. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia peserta pendidikan khusus Keimigrasian minimal sarjana. Komisi III DPR RI telah mengadakan rapat kerja dengan Menteri Hukum dan HAM dalam rangka pembicaraan tingkat I pada 31 Maret 2011 dengan agenda Laporan Ketua Panja kepada Pleno Komisi III, mengenai hasil pembahasan RUU tentang Keimigrasian, pendapat mini fraksi di mana seluruh fraksi menyatakan persetujuan dengan pengambilan keputusan, serta diakhiri dengan penandatanganan draft RUU. Diamandemenkannya Undang-undang imigrasi ini memudahkan pasangan perkawinan campuran maupun anak hasil hasil perkawinan campuran dalam hal kepengurusan ijin tempat tinggal dan bekerja. Setelah 2 tahun usia pernikahan seorang pasangan WNA mendapatkan Ijin Tinggal Tetap (ITAP) sebelumnya akan diberikan Ijin Tinggal Terbatas (ITAS) dan tidak memerlukan Visa Kerja untuk dapat mencari nafkah dan menghidupi keluarganya di Indonesia. Demikian juga dengan anak hasil perkawinan campuran jika setelah batas Duo Nationality (18 tahun) memutuskan untuk berkewarganegaraan Asing, mereka mendapatkan ITAP dan bisa bekerja di Indonesia tanpa Ijin Kerja. Amandemen UU Imigrasi ini sangat membantu pasangan perkawinan campuran, paling tidak WNI pasangan WNA akhirnya mendapatkan hak yang sejajar dengan WNI lainnya, suami/ istri dapat bekerja dan tinggal dengan tenang dan layak. Julia Mace, istri seorang berkewarganegaraan Prancis, mengatakan, ia sangat bahagia RUU Keimigrasian baru ini akhirnya disahkan. Pasalnya, UU Keimigrasian memberikan persamaan hak bagi keluarga perkawinan campuran. "Kini suami dan keluarga kami tidak lagi disamakan dengan profesional yang harus memperpanjang izin tinggal sementara," kata Julia. Julia menambahkan, karena usia pernikahanya sudah 17 tahun, maka suaminya bisa memperoleh izin tinggal tetap karena menikah sudah lebih dari 2 tahun, sebagaimana syarat UU.2 Kemudahan-kemudahan inilah yang memang diharapkan terhadap UU No. 6 Tahun 2011 ini agar tercipta reformasi dalam bidang keimigrasian.

www.detiknews.com

Selain tanggapan-tanggapan positif dari kalangan pasangan campuran, uji materi diajukan kepada MK terhadap pasal 16 ayat 1 huruf b UU no. 6 Tahun 2011. dimohonkan oleh tujuh pengacara tersebut beragendakan mendengar jawaban Pemerintah dan DPR. Para pemohon tersebut, yakni Rico Pandeirot, Afrian bondjol, Yulius Irawansyah, Slamet Yuwono, Rachmati, Dewi ekuwi Vina, dan Gusti Made Kartika menyatakan sangat keberatan bila seseorang yang masih dalam proses penyelidikan sudah dilarang untuk berpergian ke luar negeri. Pasalnya, para Pemohon menganggap tindakan tersebut merupakan suatu bentuk perampasan kemerdekaan atau suatu bentuk upaya paksa. Pelarangan bepergian ke luar negeri itu juga dianggap bertentangan dengan Pasal 1 butir 5 KUHAP yang berbunyi, Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Pemerintah yang diwakili oleh Sekretaris Dirjen Imigrasi Kemenhukham Erwin Aziz menjelaskan penolakan untuk tidak memberangkatkan orang keluar ke wilayah Indonesia dalam rangka penyelidikan seperti yang diatur dalam Pasal 16 ayat (1) huruf b UU Keimigrasian tetap dibutuhkan berdasarkan pertimbangan pejabat yang berwewenang untuk melindungi kepentingan nasional berdasarkan undang-undang. Anggapan para Pemohon yang menyatakan bahwa dapat terjadi penyelidikan secara sewenang-wenang dan dapat dipandang akan berpotensi merugikan hak konstitusionalnya adalah tidak tepat dan tidak berdasar karena penyelidikan yang sewenang-wenang tidak boleh dilakukan. Jadi kami ulangi, tidak boleh dilakukan karena harus didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, jelas Erwin Selain itu, menurut Erwin, maksud dari ketentuan Pasal 16 ayat (1) huruf b UU Keimigrasian bahwa pejabat Imigrasi menolak orang untuk keluar wilayah Indonesia ditujukan pada suatu kepentingan penyelidikan dan penyidikan oleh instansi atau lembaga penegak hukum. Konteks penolakan tersebut adalah dengan tidak memberangkatkan keluar wilayah Indonesia terhadap orang, setelah adanya permintaan dari pejabat yang berwenang. Jadi, kami garis bawahi sekali lagi, Permintaan dari pejabat yang berwenang. Yang dimaksud dengan Pejabat yang berwenang sebagaimana diatur dalam Pasal 91 ayat (2) Undang-Undang Keimigrasian, terdiri atas: Menteri Keuangan, Jaksa Agung, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Kepala Badan Narkotika Nasional, atau, Pimpinan Kementerian atau lembaga yang berdasarkan undang-undang memiliki kewenang pencegahan, ujar Erwin. Erwin menjelaskan penolakan oleh pejabat imigrasi kepada orang yang akan keluar wilayah Indonesia dilaksanakan dalam konteks pencegahan. Pencegahan yang dilaksanakan, lanjut Erwin, harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu seperti diatur dalam Pasal 94 UU Keimigrasian. Pertama, harus ditetapkan dengan keputusan tertulis oleh pejabat yang berwenang. Kedua, keputusan tersebut memuat sekurang-kurangnya nama, jenis kelamin, tempat dan tanggal lahir atau umur, foto yang dikenai pencegahan, alasan pencegahan serta jangka waktu pencegahan. Tidak dipenuhinya kriteria tersebut, menteri dapat menolak permintaan pelaksaan pencegahan yang akan disampaikan kepada pejabat yang berwenang dalam waktu paling lambat 7 hari, sejak tanggal permohonan diterima disertai dengan alasan penolakan, paparnya. 3 Pasal 16 UU No. 6 Tahun 2011 :
3

www.mahkamahkonstitusi.go.id

(1) Pejabat Imigrasi menolak orang untuk keluar Wilayah Indonesia dalam hal orang tersebut: a. tidak memiliki Dokumen Perjalanan yang sah dan masih berlaku; b. diperlukan untuk kepentingan penyelidikan dan penyidikan atas permintaan pejabat yang berwenang; atau c. namanya tercantum dalam daftar Pencegahan. Permohonan uji materi kedua datang dari Yusril Ihza Mahendra. Adanya frasa 'dan setiap kali dapat diperpanjang paling lama enam bulan,' dalam Pasal 97 ayat (1) UU Keimigrasian, dinilai oleh Mantan Menteri Hukum dan HAM, Yusril Ihza Mahendra, memberi peluang kepada Menteri Hukum dan HAM, Jaksa Agung, Menteri Keuangan, Ketua KPK dan Kapolri untuk mencegah seseorang berpergian keluar negeri seumur hidup. "Dalam negara hukum, tak boleh memberi peluang negara bertindak sewenang-wenang terhadap warga negaranya," ujar Yusril. Untuk itu, Yusril mengajukan permohonan uji materi UU Keimigrasian, ke Mahkamah Konstitusi (MK), karena telah bertentangan dengan konstitusi UUD 45, Pasal 1 ayat (3), Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 28E ayat (1). Menurut Yusril, pengajuan uji materi Undang-undang ini merupakan bagian dari perlawanannya terhadap Kejaksaan Agung yang selama ini telah bertindak sewenang-wenang terhadap dirinya. Diketahui Yusril ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Sisminbakum, oleh Kejaksaan Agung. Pasal 97 ayat (1) UU No. 6 Tahun 2011:
Jangka waktu Pencegahan berlaku paling lama 6 (enam) bulan dan setiap kali dapat diperpanjang paling lama 6 (enam) bulan.

Terlepas dari berbagai gugatan yang ditujukan terhadap Undang-undang ini, perubahan atas sistem keimigrasian memang sangat diperlukan. Imigrasi sebagai pintu yang membatasi kita dengan dunia luar memerlukan reformasi dalam pengelolaannya. Peraturan keimigrasian harus memperhatikan masalah HAM dan memberikan kemudahan-kemudahan bagi masyarakat internal negara. Dalam dunia yang sekarang dikenal sebagai dunia borderless, peraturan keimigrasian yang terkesan ramah kepada dunia luar dianggap perlu sehingga Indonesia dapat mengambil keuntungan dari keterbukaan tersebut baik dari segi ekonomi, budaya dan sosial.