Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH DASAR PEMBERANTASAN PENYAKIT

PROGRAM IMUNISASI CAMPAK

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 4 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Ayuk Kurniati Santy Kusno H MT Oktaveni Dela Pratiwi S Avinda Dita D Ria Helda Pratiwi Dina Supriyati 25010110120072 25010110120073 25010110120074 25010110120075 25010110120076 25010110120077 25010110120078

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini dengan judul Program Imunisasi Campak. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar Pemberantasan Penyakit pada semester 4 ini. Pada kesempatan ini pula kami mengucapkan terima kasih kepada: a. Praba Ginanjar, SKM,M.Kes yang telah membimbing dan memberi arahan dalam penulisan makalah ini. b. Teman-teman makalah ini. c. Kedua orang tua kami yang selalu memberikan semangat, dan doa dalam pelaksanaan penulisan. Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna. Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tulisan ini. yang telah membantu menyelesaikan penulisan

Semarang,

April 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Situasi ekonomi dan kesehatan Negara saat ini pencegahan primer merupakan cara yang terbaik sebagai prioritas dalam memperbaiki kesehatan anak. Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan. Imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin ke dalam tubuh manusia, untuk mencegah penyakit. Tujuan diberikannya imunisasi adalah diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit tertentu. Manfaat imunisasi dapat dirasakan dalam 3 kategori yaitu secara individu, sosial dan dalam menunjang sistem kesehatan nasional. Singkatnya, apabila seorang anak telah mendapatkan imunisasi akan terhindar dari penyakit infeksi yang ganas. Semakin anak yang melakukan imunisasi maka semakin berkurangnya angka kesakitan dan mortalits. Dengan mencegah seorang anak dari penyakit infeksi, berarti akan meningkatkan kualitas hidup anak dan meningkatkan daya produktifitas anak. Dengan pemberian imunisasi dasar secara lengkap, terjadinya penyakit terhadap bayi dapat dihindari. Adapun manfaat imunisasi antara lain : a. Dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian. b. Upaya pencegahan yang sangat efektif terhadap timbulnya penyakit. c. Untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada diri seseorang atau sekelompok masyarakat. d. Mencegah kecacatan atau kematian bayi. e. Dapat meningkatkan derajat kesehatan untuk menciptakan bangsa yang kuat dan berakal budi untuk melanjutkan pembangunan negara.

Secara umum imunisasi dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam : a). Imunisasi Aktif Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri, contohnya adalah imunisasi polio dan campak. Imunisasi aktif merupakan pemberian zat sebagai antigen yang diharapkan akan terjadi suatu proses infeksi buatan sehingga tubuh mengalami reaksi imunologi spesifik yang akan menghasilkan respon seluler dan humoral serta dihasilkannya sel memori, sehingga apabila benar benar terjadi infeksi maka tubuh secara cepat dapat merespon. b). Imunisasi Pasif Imunisasi pasif adalah penyuntikkan sejumlah antibodi, sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah penyuntikkan ATS (Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami kecelakaan. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi terhadap campak. Imunisasi pasif merupakan pemberian imunoglobulin, yaitu suatu zat yang dihasilkan melalui proses infeksi yang dapat berasal dari plasma manusia atau binatang yang digunakan untuk mengatasi mikroba yang diduga sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi. Macam imuninasi dapat dibagi menjadi 5 dasar imunisasi yang wajib diberikan, yaitu: Imunisasi BCG, imunisasi campak, imnusasi hepatitis B, imunisasi polio dan imunisasi DTP. Yang akan kita bahas yaitu mengenai imunisasi campak.

Campak adalah penyakit infeksi menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi dan stadium konvalesensi. Campak, adalah salah satu infeksi menular anak-anak, disebabkan oleh virus Rubella. Campak yang sangat menular dan penyakit virus akut, umumnya ditemukan pada anak-anak, terutama di musim dingin dan musim semi dalam

kondisi iklim iklim. Bagi anak yang bergizi baik dan sehat, tidak akan menjadi masalah bila terserang campak. Namun, bila campak menyerang anak-anak dengan gizi buruk, dapat berakibat fatal. Orang yang terinfeksi dengan campak mengalami gatal, ruam merah menyala kecil yang berkembang di seluruh tubuh mereka dalam waktu sekitar tiga hari setelah infeksi dimulai. Hal ini juga disertai dengan demam tinggi, bersin, batuk terus-menerus dan mudah marah.Gejala lain dari campak adalah mata berair merah, hidung berair, dan kehilangan nafsu makan. Penyakit ini berasaldari kata Latin yang berarti "Little Red" seperti yang menyebabkan ruam merah kecil di seluruh tubuh.

B. Rumusan Masalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Menjelaskan etiologi penyakit Menjelaskan masa inkubasi dan penularan Menjelaskan gejala dan tanda penyakit serta cara diagnosis Menjelaskan tentang pengobatan Menjelaskan faktor yang berhubungan Menjelaskan cara pencegahan Menjelaskan gambaran epidemiologi secara umum Menjelaskan gambaran epidemiologinya di Indonesia Menjelaskan tujuan jangka panjang P3M

10. Menjelaskan tujuan jangka pendek P3M 11. Menjelaskan strategi P3M 12. Menjelaskan ukuran-ukuran yang dipakai dalam P3M 13. Menjelaskan target P3M 14. Menjelaskan cara evaluasi dari program P2M

C. Tujuan 1. 2. 3. Untuk mengetahui etiologi penyakit Untuk mengetahui masa inkubasi dan penularan Untuk mengetahui gejala dan tanda penyakit serta cara diagnosisi

4. 5. 6. 7. 8. 9.

Untuk mengetahui pengobatan Untuk mengetahui faktor yang berhubungan Untuk mengetahui cara pencegahan Untuk mengetahui gambaran epidemiologi secara umum Untuk mengetahui gambaran epidemiologinya di Indonesia Untuk mengetahui tujuan jangka panjang P3M

10. Untuk mengetahui tujuan jangka pendek P3M 11. Untuk mengetahui strategi P3M 12. Untuk mengetahui ukuran-ukuran yang dipakai dalam P3M 13. Untuk mengetahui target P3M 14. Untuk mengetahui cara evaluasi dari program P2M

BAB II PEMBAHASAN

A. Etiologi Penyakit Campak Campak juga dikenal dengan nama morbili atau morbillia dan rubeola (bahasa Latin), yang kemudian dalam bahasa Jerman disebut dengan nama masern, dalam bahasa Islandia dikenal dengan nama mislingar dan measles dalam bahasa Inggris. Campak adalah penyakit infeksi yang sangat menular yang disebabkan oleh virus, dengan gejala-gejala eksantem akut, demam, kadang kataral selaput lendir dan saluran pernapasan, gejala-gejala mata, kemudian diikuti erupsi makulopapula yang berwarna merah dan diakhiri dengan deskuamasi dari kulit. Agent campak adalah measles virus yang termasuk dalam famili paramyxoviridae anggota genus morbilivirus. Virus campak sangat sensitif terhadap temperatur sehingga virus ini menjadi tidak aktif pada suhu 37 derajat Celcius atau bila dimasukkan ke dalam lemari es selama beberapa jam. Dengan pembekuan lambat maka infektivitasnya akan hilang. B. Masa inkubasi dan Penularan Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Virus penyebab campak ini biasanya hidup pada daerah tenggorokan dan saluran pernapasan. Campak adalah penyakit yang sangat menular. Virus campak dapat hidup dan berkembang biak pada selaput lendir tenggorok, hidung dan saluran pernapasan. Anak yang terinfeksi oleh virus campak dapat menularkan virus ini kepada lingkungannya, terutama orangorang yang tinggal serumah dengan anak. Pada saat anak yang terinfeksi bersin atau batuk, virus juga dibatukkan dan terbawa oleh udara. Anak dan orang lain yang belum mendapatkan imunisasi campak, akan mudah sekali terinfeksi jika menghirup udara pernapasan yang

mengandung virus. Penularan virus juga dapat terjadi jika anak memegang atau memasukkan tangannya yang terkontaminasi dengan virus ke dalam hidung atau mulut. Biasanya virus dapat ditularkan 4 hari sebelum ruam timbul sampai 4 hari setelah ruam pertama kali timbul. Masa Inkubasi Tahap masa inkubasi terbagi menjadi 3, diantarannya : Fase pertama disebut masa inkubasi yang berlangsung sekitar 10-12 hari. Pada fase ini, anak sudah mulai terkena infeksi tapi pada dirinya belum tampak gejala apa pun. Bercak-bercak merah yang merupakan ciri khas campak belum keluar. Fase kedua (fase prodormal) barulah timbul gejala yang mirip penyakit flu, seperti batuk, pilek, dan demam. Mata tampak kemerah-merahan dan berair. Bila melihat sesuatu, mata akan silau (photo phobia). Di sebelah dalam mulut muncul bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari. Terkadang anak juga mengalami diare. Satu-dua hari kemudian timbul demam tinggi yang turun naik, berkisar 38-40,5 derajat Celcius. Fase ketiga ditandai dengan keluarnya bercak merah seiring dengan demam tinggi yang terjadi. Namun, bercak tak langsung muncul di seluruh tubuh, melainkan bertahap dan merambat. Bermula dari belakang kuping, leher, dada, muka, tangan dan kaki. Warnanya pun khas; merah dengan ukuran yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil. Bercak-bercak merah ini dalam bahasa kedokterannya disebut makulopapuler. Biasanya bercak memenuhi seluruh tubuh dalam waktu sekitar satu minggu. Namun, ini pun tergantung padadaya tahan tubuh masing-masing anak. Bila daya tahan tubuhnya baik maka bercak merahnya tak terlalu menyebar dan tak terlalu penuh. Umumnya jika bercak merahnya sudah keluar, demam akan turun dengan sendirinya. Bercak merah pun makin lama menjadi kehitaman dan bersisik (hiperpigmentasi), lalu rontok atau sembuh dengan sendirinya.

Penularan Campak Campak ditularkan melalui penyebaran droplet, kontak langsung, melalui sekret hidung atau tenggorokan dari orang yang terinfeksi. Masa penularan berlangsung mulai dari hari pertama sebelum munculnya gejala prodormal biasanya sekitar 4 hari sebelum timbulnya ruam, minimal hari kedua setelah timbulnya ruam. C. Gejala dan tanda penyakit dan cara diagnosis Gejala mulai timbul dalam waktu 7-14 hari setelah terinfeksi, yaitu berupa: - Panas badan - nyeri tenggorokan] - hidung meler ( Coryza ) - batuk ( Cough ) - Bercak Koplik - nyeri otot - mata merah ( conjuctivitis ) 2-4 hari kemudian muncul bintik putih kecil di mulut bagian dalam (bintik Koplik). Ruam (kemerahan di kulit) yang terasa agak gatal muncul 3-5 hari setelah timbulnya gejala diatas. Ruam ini bisa berbentuk makula (ruam kemerahan yang mendatar) maupun papula (ruam kemerahan yang menonjol). Pada awalnya ruam tampak di wajah, yaitu di depan dan di bawah telinga serta di leher sebelah samping. Dalam waktu 1-2 hari, ruam menyebar ke batang tubuh, lengan dan kaki, sedangkan ruam di wajah mulai memudar. Pada puncak penyakit, penderita merasa sangat sakit, ruamnya meluas serta suhu tubuhnya mencapai 40 Celsius. 3-5 hari kemudian suhu tubuhnya turun, penderita mulai merasa baik dan ruam yang tersisa segera menghilang. Demam, kecapaian, pilek, batuk dan mata yang radang dan merah selama beberapa hari diikuti dengan ruam jerawat merah yang mulai pada muka dan merebak ke tubuh dan ada selama 4 hari hingga 7 hari. Cara diagnosis yang dilakukan yaitu berdasarkan gejala dan ruam kulit yang khas. Pemeriksaan lain yang mungkin perlu dilakukan: -

pemeriksaan darah, pemeriksaan darah tepi - pemeriksaan Ig M anti campak Pemeriksaan komplikasi campak :

enteritis Ensephalopati, Bronkopneumoni

D. Pengobatan Pengobatan campak dilakukan dengan mengobati gejala yang timbul. Demam yang terjadi akan ditangani dengan obat penurun demam. Jika anak mengalami diare maka diberi obat untuk mengatasi diarenya. Batuk akan diatasi dengan mengobati batuknya. Dokter pun akan menyiapkan obat antikejang bila anak punya bakat kejang. Intinya, segala gejala yang muncul harus diobati karena jika tidak, maka campak bisa berbahaya. Dampaknya bisa bermacam-macam, bahkan bisa terjadi komplikasi. Perlu diketahui, penyakit campak dikategorikan sebagai penyakit campak ringan dan yang berat. Disebut ringan, bila setelah 1-2 hari pengobatan, gejala-gejala yang timbul membaik. Disebut berat bila pengobatan yang diberikan sudah tak mempan karena mungkin sudah ada komplikasi. Komplikasi dapat terjadi karena virus campak menyebar melalui aliran darah ke jaringan tubuh lainnya. Yang paling sering menimbulkan kematian pada anak adalah kompilkasi radang paru-paru (broncho pneumonia) dan radang otak (ensefalitis). Komplikasi ini bisa terjadi cepat selama berlangsung penyakitnya. Gejala ensefalitis yaitu kejang satu kali atau berulang, kesadaran anak menurun, dan panasnya susah turun karena sudah terjadi infeksi tumpangan yang sampai ke otak. Lain halnya, komplikasi radang paru-paru ditandai dengan batuk berdahak, pilek, dan sesak napas. Jadi, kematian yang ditimbulkan biasanya bukan karena penyakit campak itu sendiri, melainkan

karena komplikasi. Umumnya campak yang berat terjadi pada anak yang kurang gizi. Tatalaksana medik Pengobatan bersifat suportif, terdiri dari : 1) Pemberian cairan yang cukup 2) Kalori yang sesuai dan jenis makanan yang disesuaikan dengan tingkat kesadaran dan adanya komplikasi 3) Suplemen nutrisi 4) Antibiotik diberikan apabila terjadi infeksi sekunder 5) Anti konvulsi apabila terjadi kejang 6) Pemberian vitamin A. Campak tanpa komplikasi : 1) Hindari penularan 2) Tirah baring di tempat tidur 3) Vitamin A 100.000 IU, apabila disetai malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari 4) Diet makanan cukup cairan, kalori yang memadai. Jenis makanan disesuaikan dengan tingkat kesadaran pasien dan ada tidaknya komplikasi Campak dengan komplikasi : 1) Ensefalopati/ensefalitis a. Antibiotika bila diperlukan, antivirus dan lainya sesuai dengan PDT ensefalitis b. Kortikosteroid, bila diperlukan sesuai dengan PDT ensefalitis c. Kebutuhan jumlah cairan disesuaikan dengan kebutuhan serta koreksi terhadap gangguan elektrolit

2) Bronkopneumonia : a. Antibiotika sesuai dengan PDT pneumonia b. Oksigen nasal atau dengan masker c. Koreksi gangguan keseimbangan asam-basa, gas darah dn elektrolit 3) Enteritis : koreksi dehidrasi sesuai derajat dehidrasi (lihat Bab enteritis dehidrasi). 4) Pada kasus campak dengan komplikasi bronkhopneumonia dan gizi kurang perlu dipantau terhadap adanya infeksi TB laten. Pantau gejala klinis serta lakukan uji Tuberkulin setelah 1-3 bulan penyembuhan. 5) Pantau keadaan gizi untuk gizi kurang/buruk. Tatalaksana Epidemiologik Langkah Preventif Imunisasi campak termasuk dalam program imunisasi nasional sejak tahun 1982, angka cakupan imunisasi menurun < 80% dalam 3 tahun terakhir sehingga masih dijumpai daerah kantong risiko tinggi transmisi virus campak. Cara reduksi campak terdiri dari : a) Pengobatan pasien campak dengan memberikan vitamin A b) Imunisasi campak PPI : diberikan pada umur 9 bulan. Imunisasi campak dapat diberikan bersama vaksin MMR pada umur 12-15 bulan Mass campaign, bersamaan dengan Pekan Imunisasi nasional Catch-up immunization, diberikan pada anak sekolah dasar kelas 1-6, disertai dengan keep up dan strengthening.

E. Faktor yang berhubungan a. Host (Penjamu) Beberapa faktor Host yang meningkatkan risiko terjadinya campak antara lain: Umur Pada sebagian besar masyarakat, maternal antibodi akan

melindungi bayi terhadap

campak selama 6 bulan dan penyakit tersebut

akan dimodifikasi oleh tingkat maternal antibodi yang tersisa sampai bagian pertama dari tahun kedua kehidupan. Tetapi, di beberapa populasi, khususnya Afrika, jumlah kasus terjadi secara signifikan pada usia dibawah 1 tahun, dan angka kematian mencapai 42% pada kelompok usia kurang dari 4 tahun. Di luar periode ini, semua umur sepertinya memiliki kerentanan yang sama terhadap infeksi. Umur terkena campak lebih tergantung oleh kebiasaan individu daripada sifat alamiah virus Jenis Kelamin Tidak ada perbedaan insiden dan tingkat kefatalan penyakit campak pada wanita ataupun pria. Bagaimanapun, titer antibodi wanita secara garis besar lebih tinggi daripada pria. Umur Pemberian Imunisasi Sisa antibodi yang diterima dari ibu melalui plasenta merupakan faktor yang penting untuk menentukan umur imunisasi campak dapat diberikan pada balita. Maternal antibodi tersebut dapat mempengaruhi respon imun terhadap vaksin campak hidup dan pemberian imunisasi yang terlalu awal tidak selalu menghasilkan imunitas atau kekebalan yang adekuat. Pada umur 9 bulan, sekitar 10% bayi di beberapa negara masih mempunyai antibodi dari ibu yang dapat mengganggu respons terhadap imunisasi. Menunda imunisasi dapat meningkatkan angka serokonversi. Secara umum di negara berkembang akan didapatkan angka serokenversi lebih dari 85% bila vaksin diberikan pada umur 9 bulan. Sedangkan di

negara maju, anak akan kehilangan antibodi maternal saat berumur 12-15 bulan sehingga pada umur tersebut direkomendasikan pemberian vaksin campak. Pekerjaan Dalam lingkungan sosio ekonomis yang buruk, anak-anak lebih mudah mengalami infeksi silang. Kemiskinan bertanggungjawab terhadap penyakit yang ditemukan pada anak. Hal ini karena kemiskinan mengurangi kapasitas orang tua untuk mendukung perawatan kesehatan yang memadai pada anak, cenderung memiliki higiene yang kurang, miskin diet, miskin pendidikan. Frekuensi relatif anak dari orang tua yang berpenghasilan rendah 3 kali lebih besar memiliki risiko imunisasi terlambat dan 4 kali lebih tinggi menyebabkan kematian anak dibanding anak yang orang tuanya berpenghasilan cukup Pendidikan Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang untuk bertindak dan mencari penyebab serta solusi dalam hidupnya. Orang yang berpendidikan lebih tinggi biasanya akan bertindak lebih rasional. Oleh karena itu orang yang berpendidikan akan lebih mudah menerima gagasan baru. Pendidikan juga mempengaruhi pola berpikir pragmatis dan rasional terhadap adat kebiasaan, dengan pendidikan lebih tinggi orang dapat lebih mudah untuk menerima ide atau masalah baru. Imunisasi Vaksin campak adalah preparat virus yang dilemahkan dan berasal dari berbagai strain campak yang diisolasi. Vaksin dapat melindungi tubuh dari infeksi dan memiliki efek penting dalam epidemiologis penyakit yaitu mengubah distribusi relatif umur kasus dan terjadi pergeseran ke umur yang lebih tua. Pemberian imunisasi pada masa bayi akan menurunkan penularan agen infeksi dan mengurangi peluang seseorang yang rentan untuk terpajan pada agen tersebut. Anak yang belum diimunisasi akan tumbuh menjadi besar atau dewasa tanpa pernah terpajan dengan agen

infeksi tersebut. Pada campak, manifestasi penyakit yang paling berat biasanya terjadi pada anak berumur kurang dari 3 tahun. Status Gizi Kejadian kematian karena campak lebih tinggi pada kondisi malnutrisi, tetapi belum dapat dibedakan antara efek malnutrisi terhadap kegawatan penyakit campak dan efek yang ditimbulkan penyakit campak terhadap nutrisi yang dikarenakan penurunan selera makan dan kemampuan untuk mencerna makanan. Scrimshaw ASI Eksklusif Sebanyak lebih dari tiga puluh jenis imunoglobulin terdapat di dalam ASI yang dapat diidentifikasi dengan teknik-teknik terbaru. Delapan belas diantaranya berasal dari serum si ibu dan sisanya hanya ditemukan di dalam ASI/kolostrum. Imunoglobulin yang terpenting yang dapat ditemukan pada kolostrum adalah IgA, tidak saja karena konsentrasinya yang tinggi tetapi juga karena aktivitas biologiknya. IgA dalam kolostrum dan ASI sangat berkhasiat melindungi tubuh bayi terhadap penyakit infeksi. Selain daripada itu imunoglobulin G dapat menembus plasenta dan berada dalam konsentrasi yang cukup tinggi di dalam darah janin/bayi sampai umur beberapa bulan, sehingga dapat memberikan perlindungan terhadap beberapa jenis penyakit. Adapun jenis antibodi yang dapat ditransfer dengan baik melalui plasenta adalah difteri, tetanus, campak, rubela, parotitis, polio, dan stafilokokus b. Agent Penyebab infeksi adalah virus campak, anggota genus Morbilivirus dari famili Paramyxoviridae c. Lingkungan Epidemi campak dapat terjadi setiap 2 tahun di negara berkembang dengan cakupan vaksinasi yang rendah. Status imunitas populasi merupakan faktor penentu. Penyakit akan meledak jika terdapat akumulasi anak-anak yang suseptibel. Ketika penyakit ini masuk ke dalam komunitas tertutup yang belum pernah mengalami endemi, suatu epidemi akan terjadi dengan

cepat dan angka serangan mendekati 100%. Pada tempat dimana jarang terjangkit penyakit, angka kematian bisa setinggi 25%.7

F.Cara Pencegahan Pencegahan Tingkat Awal (Primordial Prevention) Pencegahan tingkat awal berhubungan dengan keadaan penyakit yang masih dalam tahap prepatogenesis atau penyakit belum tampak yang dapat dilakukan dengan memantapkan status kesehatan balita dengan memberikan makanan bergizi sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention) Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mencegah seseorang terkena penyakit campak, yaitu a. Memberi penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya

pelaksanaan imunisasi campak untuk semua bayi. b. Imunisasi dengan virus campak hidup yang dilemahkan, yang diberikan pada semua anak berumur 9 bulan sangat dianjurkan karena dapat melindungi sampai jangka waktu 4-5 tahun. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention) Pencegahan tingkat kedua ditujukan untuk mendeteksi penyakit sedini mungkin untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Dengan demikian pencegahan ini sekurang-kurangnya dapat menghambat atau memperlambat progrefisitas penyakit, mencegah komplikasi, dan

membatasi kemungkinan kecatatan, yaitu: a. Menentukan diagnosis campak dengan benar baik melalui pemeriksaan fisik atau darah. b. Mencegah perluasan infeksi. Anak yang menderita campak jangan masuk sekolah selama empat hari setelah timbulnya rash. Menempatkan anak pada ruang khusus atau mempertahankan isolasi di rumah sakit dengan melakukan pemisahan penderita pada stadium kataral yakni dari hari

pertama hingga hari keempat setelah timbulnya rash yang dapat mengurangi keterpajanan pasien-pasien dengan risiko tinggi lainnya. c. Pengobatan simtomatik diberikan untuk mengurangi keluhan penderita yakni antipiretik untuk menurunkan panas dan juga obat batuk. Antibiotika hanya diberikan bila terjadi infeksi sekunder untuk mencegah komplikasi. d. Diet dengan gizi tinggi kalori dan tinggi protein bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh penderita sehingga dapat mengurangi terjadinya komplikasi campak yakni bronkhitis, otitis media, pneumonia, ensefalomielitis, abortus, dan miokarditis yang reversibel. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention) Pencegahan tingkat ketiga bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian. Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan pada pencegahan tertier yaitu : a. Penanganan akibat lanjutan dari komplikasi campak. b. Pemberian vitamin A dosis tinggi karena cadangan vitamin A akan turun secara cepat terutama pada anak kurang gizi yang akan menurunkan imunitas mereka.

G. Gambaran Epidemiologi Umum Epidemiologi Penyakit Campak Epidemiologi penyakit Campak mempelajari tentang frekuensi, penyebaran dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. - Distribusi Frekuensi Penyakit Campak a. Orang Campak adalah penyakit menular yang dapat menginfeksi anakanak pada usia dibawah 15 bulan, anak usia sekolah atau remaja. Penyebaran penyakit Campak berdasarkan umur berbeda dari satu daerah dengan daerah lain, tergantung dari kepadatan penduduknya, terisolasi atau

tidaknya daerah tersebut. Pada daerah urban yang berpenduduk padat transmisi virus Campak sangat tinggi. b. Tempat Berdasarkan tempat penyebaran penyakit Campak berbeda, dimana daerah perkotaan siklus epidemi Campak terjadi setiap 2-4 tahun sekali, sedangkan di daerah pedesaan penyakit Campak jarang terjadi, tetapi bila sewaktu-waktu terdapat penyakit Campak maka serangan dapat bersifat wabah dan menyerang kelompok umur yang rentan.12 Berdasarkan profil kesehatan tahun 2008 terdapat jumlah kasus Campak yaitu 3424 kasus di Jawa barat, di Banten 1552 kasus, di Jawa tengah 1001 kasus. c. Waktu Dari hasil penelitian retrospektif oleh Jusak di rumah sakit umum daerah Dr. Sutomo Surabaya pada tahun 1989, ditemukan Campak di Indonesia sepanjang tahun, dimana peningkatan kasus terjadi pada bulan Maret dan mencapai puncak pada bulan Mei, Agustus, September dan oktober. - Determinan Penyakit Campak Faktor-faktor yang menyebabkan tingginya kasus Campak pada balita di suatu daerah adalah : a. Faktor Host 1. Status Imunisasi Balita yang tidak mendapat imunisasi Campak kemungkinan kena penyakit Campak sangat besar. Dari hasil penyelikan tim Ditjen PPM & PLP dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tentang KLB penyakit Campak di Desa Cinta Manis Kecamatan Banyuasin Sumatera Selatan (1996) dengan desain cross sectional, ditemukan balita yang tidak mendapat imunisasi Campak mempunyai risiko 5 kali lebih besar untuk terkena campak di banding balita yang mendapat Imunisasi.

2. Status Gizi Balita dengan status gizi kurang mempunyai resiko lebih tinggi untuk terkena penyakit Campak dari pada balita dengan gizi baik. Menurut penelitian Siregar (2003) di Bogor, anak berumur 9 bulan sampai dengan 6 tahun yang status gizinya kurang mempunyai risiko 4,6 kali untuk terserang Campak disbanding dengan anak yang status gizinya baik. b. Faktor Environment 1. Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan Desa terpencil, pedalaman, daerah sulit, daerah yang tidak terjangkau pelayanan kesehatan khususnya imunisasi, daerah ini merupakan daerah rawan terhadap penularan penyakit Campak. Epidemiologi Campak di Dunia Campak adalah endemik pada sebagian besar dunia. Dahulu, epidemi cenderung terjadi secara irreguler, tampak pada musim semi di kota-kota besar dengan interval 2 sampai 4 tahun ketika kelompok anak yang rentan terpajan. Campak sangat menular, sekitar 90% kontak keluarga yang rentan mendapat penyakit. Campak jarang subklinis. Sebelum penggunaan vaksin campak, puncak insiden pada umur 5-10 tahun; kebanyakan orang dewasa imun. Sekarang di Amerika Serikat, campak terjadi paling sering pada anak umur sekolah yang belum diimunisasi dan pada remaja dan orang dewasa muda yang telah diimunisasi. Epidemi telah terjadi di sekolah menengah atas dan universitas dimana tingkat imunisasi tinggi. Epidemi ini diduga terutama karena kegagalan vaksin. Walaupun ada kebangkitan kembali campak di Amerika Serikat dari tahun 1989-1991; jumlah kasus campak yang dilaporkan turun menjadi rendah pada tahun 1993, mungkin akibat vaksinasi yang luas. Mereka yang lebih tua dari 30 tahun sebenarnya semua imun. Karena campak masih merupakan penyakit lazim di banyak negara, orang-orang

yang infektif masuk negara ini mungkin menginfeksi masyarakat Amerika Serikat dan wisatawan Amerika yang ke luar negeri berisiko terpajan disana Pada tahun 1980, sebelum adanya vaksinisasi secara menyeluruh campak menyebabkan sekitar 2,6 juta kematian setiap tahunya. Dari data terakhir didapatkan, kematian global yang diakibatkan oleh penyakit campak telah menurun sebesar 78 % dari 733.000 orang pada tahun 2000 menjadi 164.000 orang pada tahun 2008. Secara molekular epidemiologi, campak telah dieliminasi dari Amerika Serikat sejak tahun 1993. Kasuskasus campak yang terjadi di Amerika Serikat setelah tahun 1993 merupakan kasus. Campak importasi dengan virus campak berasal dari negara lain.

H. Gambaran Epidemiologinya di Indonesia Epidemiologi Campak di Indonesia Di Indonesia pada tahun 2010, dilaporkan terdapat 17.139 kasus campak dengan Incidence Rate sebesar 0,73 per 10.000 penduduk. Sedangkan jumlah kasus yang terjadi pada KLB campak pada tahun 2010 sebanyak 2570 kasus dengan jumlah kasus yang meninggal sebanyak 6 kasus (depkes R1, 2011). Pada tahun 2011 di Tasikmalaya telah terhadi wabah dengan jumlah penderita yaitu Tasikmalaya, 2011) 180 orang. (Dinkes

I. Tujuan Jangka Panjang P3M Untuk menghilangkan penyakit campak Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat J. Tujuan Jangka Pendek P3M Untuk memberikan kekebalan kepada masyarakat agar terhindar dari penyakit campak Untuk mencegah timbulnya wabah campak K. Tahapan dan Strategi P3M Campak Pada sidang CDC/PAHO/WHO tahun 1996 menyimpulkan bahwa campak dimungkinkan untuk dieradikasi, karena satu-satunya pejamu (host) atau reservoir campak hanya pada manusia dan adanya vaksin dengan potensi yang cukup tinggi dengan effikasi vanksin 85%. Diperkirakan eradikasi akan dapat dicapai 10 15 tahun setelah eliminasi (penyakitmenular.info). WHO mencanangkan beberapa tahapan dalam upaya pemberantasan campak yaitu

reduksi, eliminasi dan eradikasi dengan strategi yang berbeda-beda pada setiap tahap: Tahap Reduksi Tahap ini dibagi dalam 2 tahap a.Tahap pengendalian campak Pada tahap ini ditandai dengan upaya peningkatan cakupan imunisasi campak rutin dan upaya imunisasi tambahan di daerah dengan morbiditas campak yang tinggi. Daerah-daerah ini masih merupakan daerah endemis campak, tetapi telah terjadi
:

penurunan insiden dan kematian, dengan pola epidemiologi kasus campak menunjukkan 2 puncak setiap tahun. b.Tahap Pencegahan KLB Cakupan imunisasi dapat dipertahankan tinggi > 80% dan merata, terjadi penurunan tajam kasus dan kematian, insiden campak telah bergeser kepada umur yang lebih tua, dengan interval KLB antara 4-8 tahun. Pengertian reduksi campak adalah menurunkan angka kematian sebesar 90% pada tahun 2009 dibandingkan tahun 2000 dengan strategi yang dilakukan sebagai berikut: 1. Meningkatkan cakupan imunisasi rutin minimal 90% di desa (UCI) dengan indikator cakupan campak, DPT3, Polio 4. 2. 95% desa mencapai UCI. 3. Pemberian imunisasi campak dosis kedua pada anak kelas 1 SD, secara nasional dimulai tahun 2006. 4. Meningkatkan surveilans epidemiologi berbasis rumah sakit dan puskesmas. 5. Penyelidikan KLB disertai pemeriksaan laboratorium. 6. Tatalaksana kasus dengan pemberian Vit A dan pengobatan adekuat terhadap komplikasi. 7. Rujukan kasus sesuai indikasi.

Tahap Eliminasi Cakupan imunisasi sangat tinggi > 95% dan daerah-daerah dengan cakupan imunisasi rendah sudah sangat kecil jumlahnya. Kasus campak sudah jarang dan KLB hampir tidak pernah terjadi. Anak-anak yang dicurigai rentan (tidak terlindung) harus diselidiki dan diberikan imuniasi campak. Tahun 2010 diharapkan masuk kedalam tahap eliminasi campak dengan tujuan untuk memutus transmisi virus campak indigenous dengan strategi yang dilakukan sebagai berikut: 1. Mencapai cakupan imunisasi rutin 95% di setiap desa. 2. Pemberian imunisasi campak dosis kedua pada anak kelas 1 SD dengan cakupan minimal 95%. 3. Melaksanakan surveilans berbasis kasus individu dengan melakukan konfirmasi laboratorium. 4. Tatalaksana kasus dengan pemberian Vitamin A dan pengobatan adekuat terhadap komplikasi. 5. Rujukan kasus sesuai dengan indikasi. Tahap Eradikasi Cakupan imunisasi sangat tinggi dan merata, serta kasus campak sudah tidak ditemukan. Transmisi virus campak sudah dapat diputuskan, dan negara-negara di dunia sudah memasuki tahap eliminasi. Pada tahap ini tidak ditemukan lagi virus campak, cakupan imunisasi sangat tinggi dan merata dengan strategi yang dilakukan sebagai berikut: 1. Mencapai cakupan imunisasi rutin 95% di setiap desa. 2. Pemberian imunisasi campak dosis kedua pada anak kelas 1 SD dengan cakupan 100%. 3. Imunisasi campak tambahan. 4. Melaksanakan surveilans ketat berbasis kasus individu dengan konfirmasi laboratorium.

5. Tatalaksana kasus dengan pemberian Vitamin A dan pengobatan adekuat terhadap komplikasi. 6. Rujukan kasus sesuai dengan indikasi. L. Ukuran-ukuran yang dipakai dalam P3M

Proporsi imunisasi campak (PIC) pada anak yang berusia 1 tahun. PIC adalah perbandingan antara banyaknya anak berumur 1 tahun yang telah menerima paling sedikit satu kali imunisasi campak terhadap jumlah anak berumur 1 tahun, dan dinyatakan dalam persentase. Indikator ini merupakan suatu ukuran cakupan dan kualitas sistem pemeliharaan kesehatan anak di suatu wilayah. Imunisasi adalah unsur penting untuk mengurangi kematian balita.

Presentase Bayi Diimunisasi Lengkap


=

Jumlah Bayi yang mendapat imunisasi lengkap di suatu wilayah 1 tahun Jumlah Bayi pada wilayah dan tahun yang sama x 100%

M. Target P3M yang ingin dicapai adalah: 100% Rumah Sakit, Puskesmas, dan swasta melaporkan kasus campak tepat waktu (tanggal 10 setiap bulannya), Angka kematian 0%, Kejadian luar biasa (KLB) campak 0%, 100% masyarakat terlayani air bersih Angka kesakitan < 1% (50 / 1000 penduduk tahun 2005) 100% kader terlatih tentang penanganan penderita campak, 100% penderita campak tertangani, 100% tenaga medis dan paramedis melakukan tatalaksana campak (MTBS), 100% ketepatan diagnosis,

100% cakupan imunisasi campak, 100% Puskesmas mempunyai protap tatalaksana campak, 100% penderita campak diobati, 100% PDAM bebas kuman, 100% Puskesmas Kecamatan dan Puskesmas Kelurahan melakukan pemeriksaan sattus, 100% Puskesmas Kecamatan mempunyai klinik sanitasi, dan 100% masyarakat menggunakan jamban pada daerah kumuh.

N. Evaluasi Program P3M Campak

Definisi evaluasi menurut The American Public Association, adalah suatu proses untuk menentukan nilai atau jumlah keberhasilan dari pelaksanaan suatu program dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan,sedangkan menurut The Internacional Clearing House on Adolescent Fertility Control for Population Options, evaluasi adalah suatu proses yang teratur dan sistematis dalam membandingkan hasil yang dicapai dengan tolak ukur atau kriteria yang telah ditetapkan, dilanjutkan dengan pengambilankesimpulan serta penyusunan saran-saran, yang dapat dilakukan pada setiaptahap dari pelaksanaan program. Berdasarkan tujuannya, evaluasi dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu: Evaluasi Formatif Ini merupakan jenis evaluasi yang dilakukan pada tahap awal program.Tujuan dari evaluasi formatif adalah untuk meyakinkan bahwa rencanayang akan disusun benar-benar telah sesuai dengan masalah yang ditemukan, sehingga nantinya dapat menyelesaikan masalah tersebut. Evaluasi promotif Ini merupakan jenis evaluasi yang dilakukan pada saat program sedang dilaksanakan. Tujuan dari evaluasi promotif adalah untuk mengukur apakah program yang sedang dilaksanakan tersebut telah sesuai

dengan rencana atau tidak dan apakah terjadi penyimpangan dapat merugikan tujuan program. Evaluasi Sumatif Ini merupakan jenis evaluasi yang dilaksanakan pada saat program telahselesai. Tujuannya adalah untuk mengukur keluaran (output ) atau dampak (impact) bila memungkinkan. Jenis evaluasi ini dilakukan dalam makalah ini. Secara umum, langkah-langkah membuat evaluasi program meliputi: 1. Penetapan indikator dari unsur keluaran, 2. Penetapan tolak ukur dari tiap indikator keluaran, 3. Perbandingan pencapaian masing-masing indikator keluaran program dan tolak ukurnya, 4. Penetapan priorotas masalah, 5. Pembuatan kerangka konsep dari maslah yang diprioritaskan, 6. Pengidentifikasian penyebab masalah, 7. Pembuatan alternatif pemecahan masalah, 8. Penentuan prioritas cara pemecahan masalah yang dirangkum dalam kesimpulan dan saran.

BAB III KESIMPULAN A. Kesimpulan 1. Campak adalah penyakit infeksi yang sangat menular yang disebabkan oleh virus, dengan gejala-gejala eksantem akut, demam, kadang kataral selaput lendir dan saluran pernapasan, gejala-gejala mata. 2. Campak ditularkan melalui penyebaran droplet, kontak langsung, melalui sekret hidung atau tenggorokan dari orang yang terinfeksi. 3. Epidemiologi penyakit Campak mempelajari tentang frekuensi, penyebaran dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. 4. Imunisasi campak termasuk dalam program imunisasi nasional sejak tahun 1982, angka cakupan imunisasi menurun < 80% dalam 3 tahun terakhir sehingga masih dijumpai daerah kantong risiko tinggi transmisi virus campak. 5. Tujuan Jangka Panjang P3M untuk menghilangkan penyakit campak, untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, sedangkan tujuan jangka pendek untuk memberikan kekebalan kepada masyarakat agar terhindar dari
penyakit campak, untuk mencegah timbulnya wabah campak

6. Tahapan dan Strategi P3M Campak terdiri dari tahap reduksi (pengendalian dan pencegahan), tahap eliminasi dan tahap eradikasi. 7. Evaluasi Program P3M Campak terdiri dari evaluasi formatif, evaluasi promotif dan evaluasi sumatif.

B. Saran 1. Masyarakat diharapkan mengetahui pentingnya imunisasi campak. 2. Penyedia pelayanan kesehatan diharapkan dapat memberikan pelayanan imunisasi campak yang menyeluruh kepada masyarkat.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Pediman Tata laksana Diare dan Campak. http://dinkessulsel.go.id/new/images/pdf/pedoman/pedoman%20tatalaksana%20diare.p df . Diakses tanggal 27 Januari 2012 Anonim. 2011. Etiologi Infektivitas & Epidemiologi Penyakit Campak http://wihans.web.id/m/etiologi-infektivitas-epidemiologi-penyakitcampak. Diakses pada tanggal 19 April 2012. Semarang Anonim. 2012.Bab-1 Campak http://www.scribd.com/doc/81090192/Bab-1 Diakses pada tanggal 19 April 2012. Semarang Azrimaidaliza. 2007. Vitamin A, Imunitas Dan Kaitannya dengan

Penyakit Infeksi. http://www.jurnalkesmas.com/index.php/kesmas/article/view/58/4.diakses pada tanggal 27 Januari 2012Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1999. Program Pemberantasan Diare dan Campak Terhadap Tindakan Pemberantasan Penyakit.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24904/4/Chapter %20II.pdf . WHO. 2011. Indonesia reported cases http://apps.who.int/immunization_monitoring/en/globalsummary/timeserie s/TSincidenceByCountry.cfm?C=IDN. Diakses pada tanggal 19 April 2012. Semarang Anonim. 2004. Epidemiology of Measles --- United States, 20012003. http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/mm5331a3.htm. pada tanggal 19 April 2012. Semarang Diakses