Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Maksud Adapun maksud dari praktikum ini adalah: 1. Mengetahui teknik dan metode interpretasi peta topografi bentang alam fluvial, 2. Mengetahui ciri khas morfologi bentang alam fluvial beserta aspek lingkungan yang menyertainya, meliputi pola pengaliran dan

pengaruhnya terhadap aktivitas manusia. 1.2. Tujuan Adapun tujuan dari praktikum adalah: 1. Mampu menjelaskan dan melakukan interpretasi peta topografi bentang alam vulkanikdengan teknik dan metode yang benar, 2. Mampu menjelaskan dan membedakan ciri khas morfologi bentang alam fluvial dengan bentang alam yang lain beserta aspek lingkungan yang menyertainya, meliputi pola pengaliran dan hubungannya dengan aktivitas manusia. 1.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaa Praktikum Laboratorium 1.3.1 Praktikum Laboratorium Hari Tanggal Waktu Tempat : Rabu : 25 April 2012 : Pukul 18.30 21.30 WIB : Ruang 201 Gedung Sukowati Universitas

Diponegoro Tembalang-Semarang 1.3.2 Praktikum Lapangan Hari Tanggal Waktu Tempat : Sabtu : 28 April 2012 : Pukul 06.00 10.00 WIB : Gunung Pati, Semarang

BAB II METODOLOGI 2.1 Praktikum Laboratorium 3.1.1 Alat a. b. c. d. e. f. Peta topografi Pensil Penggaris Penghapus Kalkulator Pensil Warna 21 Warna

3.1.1 Bahan a. b. c. Kertas HVS Milimeter Blok Kertas Kalkir

2.2 Praktikum Lapangan 3.2.1 Alat dan Bahan a. b. c. d. e. f. Peta topografi Pensil Kertas HVS Milimeter Blok Buku Catatan Lapangan Kompas Geologi

2.3 Diagram Alir 2.3.1 Diagram Alir Praktikum Lapangan

Mulai

Membedakan 3 saruan deliniasi yaitu, deliniasi fluvial, deliniasi denudasional, deliniasi rapat dan deliniasi renggang.

Berikan warna ungu tua untuk deliniasi rapat, dan gradasi ungu tua deliniasi renggag, untuk deliniasi fluvial berwarna coklat, dan untuk deliniasi fluvial dengan warna hijau.

Pada kertas kalkir selanjutnya memberi warna biru tua untuk sungai induk, warna biru muda untuk anak sungai,

dan warna merah utnuk jalan raya.

Membuat sayatan sebanyak 15 buah masing-masing 5 buah pada setiap deliniasi kontur rapat, renggang, dan fluvial yang menyayat tiap 5 kontur. Mengukur panjang tiap sayatan tersebut, kemudian

menghitung morfometer dan beda tinggi setiap satuan deliniasi. Membuat sayatan sepanjang minimal 25 cm sampai 30 cm yang melintasi deliniasi-deliniasi tersebut

Membuat pfofil eksagrasi dan profil normal

Membuat poster berdasarkan data-data yang sudah dibuat.

Selesai

2.3.3 Diagram Alir Praktikum Lapangan Mulai

Melakukan deskripsi baik, morfologi,bentang alam, litologi,potensi positif, potensi negatfi dan lain-lain

Melakukan sketsa daerah penelitian

Selesai

BAB III PERHITUNGAN MORFOMETRI


3.1 Satuan C ( Kontur Fluvial ) IK = x 25.000

h = 5 x 12,5 = 62,5 cm = 12,5 cm 3.3.1 Persen Kelerengan a. Sayatan 1 d11 = 0,5 cm d11= 0,5 x 25.000 = 125.00 cm = 125 m % d11 = x 100%

= 50 % b. Sayatan 2 d11 = 0,5 cm d11= 0,5 x 25.000 = 125.00 cm = 125 m % d11 = x 100%

= 50 % c. Sayatan 3 d13 = 0,4 cm d13= 0,4 x 25.000 = 10.000 cm = 100 m % d13 = x 100%

= 62,5% d. Sayatan 4 d13 = 0,4 cm d13= 0,4 x 25.000 = 10.000 cm = 100 m % d13 = x 100%

= 62,5% e. Sayatan 5

d15 = 0,3 cm d15= 0,3 x 25.000 = 7.500 cm = 75 m % d15 = x 100%

= 83,3 % Rata-rata kelerengan = = 51,3 % ( berbukit terjal ) Berdasarkan perhitungan diatas didapatkan rata-rata sebesar 51,3% dalam klasifikasi Van Zudam (1983) daerah dengan kontur agak rapat ini termasuk dalam daerah berbukit terjal. 3.2.2 Beda Tinggi Beda Tinggi = Top Hill Down Hill = 1099 m- 916m= 183 m Berdasarkan hasil perhitungan pengurangan beda tinggi antara top hill dan down hill didapat hasil sebesar 183 m dalam klasifikasi Van Zuidam (1983) termasuk dalam daerah berbukit bergelombang 3.2 Satuan B ( Kontur rapat) IK = x 25.000 h = 5 x 12,5 = 62,5 cm

= 12,5 cm 3.2.1 Persen Kelerengan a. Sayatan 1 d6 = 1,5 cm d6 = 1,5 x 25.000 =37.500 cm = 375 m % d6 = x 100%

= 16,6 % b. Sayatan 2 d7 = 2 cm d7 = 2 x 25.000 = 50.000 cm = 500 m % d7 = x 100%

= 12,5 %

c.

Sayatan 3 d7 = 2 cm d7 = 2 x 25.000 = 50.000 cm = 500 m % d7 = x 100%

= 12,5 % d. Sayatan 4 d9 = 1,3 cm d9 = 1,3 x 25.000 = 32.500 cm = 325 m % d9 = x 100%

= 19,5 % e. Sayatan 5 d10 = 2,4cm d10 = 2,4 x 25.000 = 60.000 cm = 600 m % d10 = x 100%

= 10,4 % Rata-rata kelerengan = = 63,8% ( Pegunungan Sangat Terjal ) Berdasarkan perhitungan diatas didapatkan rata-rata sebesar 63,8% dalam klasifikasi Van Zudam (1983) daerah dengan kontur rapat ini termasuk dalam daerah berbukit terjal. 3.2.2 Beda Tinggi Beda Tinggi = Top Hill Down Hill = 1610 m - 1297 = 312 m Berdasarkan hasil perhitungan pengurangan beda tinggi antara top hill dan down hill didapat hasil sebesar 312 m dalam klasifikasi Van Zuidam (1983) termasuk dalam daerah berbukit terjal. 3.3 Satuan A ( Kontur Renggang ) IK = x 25.000 h = 5 x 12,5 = 62,5 cm

= 12,5 cm

3.1.1 Persen Kelerengan a. Sayatan 1 d1 = 0,4 cm d1 % d1 = 0,4 x 25.000 = 10.000 cm = 100 m = x 100%

= 62,5 % b. Sayatan 2 d2 = 0,6 cm d2 = 0,6 x 25.000 = 15.000 cm = 150 m % d2 = x 100%

= 41,6% c. Sayatan 3 d3 = 0,5 cm d3= 0,5 x 25.000 = 12.500 cm = 125 m % d3 = x 100%

= 50 % d. Sayatan 4 d4 d4 % d4 = 0,8 cm = 0,8 x 25.000 = 20.000 cm = 200 m = x 100%

= 31,25 % e. Sayatan 5 d3 = 0,5 cm d3 % d3 = 0,5 x 25.000 = 12.500 cm = 125 m = x 100%

= 50 % Rata-rata kelerengan = = 47,07% ( berbukit terjal )

Berdasarkan perhitungan diatas didapatkan rata-rata sebesar 47,07% dalam klasifikasi Van Zudam (1983) daerah dengan kontur agak rapat ini termasuk dalam daerah berbukit terjal. 3.2.2 Beda Tinggi Beda Tinggi = Top Hill Down Hill = 2060m - 1622m = 437m Berdasarkan hasil perhitungan pengurangan beda tinggi antara top hill dan down hill didapat hasil sebesar 437,5 dalam klasifikasi Van Zuidam (1983) termasuk dalam daerah berbukit terjal. 3.4 Klasifikasi Van Zuidam
Tabel 1.1 Tabel Van Zuidam

Klasifikasi Relief Datar/ hampir datar Bergelombang Landai Bergelombang Miring Berbukit Bergelombang Berbukit Terjal Pegunungan Sangat Terjal Pegunungan Sangat Curam

Persen Lereng (%) 02 37 8 13 14 20 21 55 56 140 >140

Beda Tinggi (m) <5 5 25 50 75 75 200 200 500 500 1000 >1000

BAB IV PEMBAHASAN

Berdasarkan

praktikum

yang telah

dilaksanakan

baik

praktikum

laboratorium maupun praktikum lapnagn diperoleh pembahasan sebagai berikut : 4.1 Fisiografi / Pembentukan Proses Vulkanisme Gunung Ungaran terletak di kabupaten Ungaran, puncak tertinggi gunung ungaran terletak pada gunung botak dengan ketinggian 2050 m. Proses pembentukan Gunung Ungaran sendiri akibat adanya kegiatan vulkanisme yang berupa adanya tumbukan lempeng antara lempeng Hindia dan lempeng Indo-Australia. Akibat adanya tumbukan antara kedua lempeng ini menimbulkan adanya zona subduksi atau penunjaman lempeng Hindia ke bawah lempeng Indo-Australia sehingga terjadi parsial melting yang

mengakibatkan dapur magma menjadi besat sehingga menekan kerak bumi sehingga membentuk sebuah tonjolan yang kemudian berubah menjadi gunungapi selain akibat adanya desakan terbentuknya gunungapi ini juga akibat adanya sifat magma yang menuju tekan yang lebih rendah. Pembagian pegunungan Jawa dibagi menjadi 4 titik yaitu : 1. Cirebon 2. Cirebon Semarang 3. Semarang Surabaya 4. Selat Madura Akibat adanya pola-pola tektonik membentuk pola meratus yang arah tektoniknya dari barat laut ke tenggara namun karena adanya perubahan arah gerakan tektonik menjadi pola sundak yang arahnya utara selatan. Pada awalnya gunung ungaran selurus dengan sumbing sindoro, namun karena adanya perubahan tektonik tersebut gunung ungaran sekarang selurus dengan Gunung Merapi, Merbabu, dan Gunung Telomoyo.

10

4.2 Praktikum Laboratorium Berdasarkan praktikum laboratorium yang telah dilaksanakan diketahui bahwa dalam peta topografi dibagi menjadi 3 satuan deliniasi yaitu kontur rapat, agak rapar, dan renggang. 4.1.1 Satuan A ( Kontur Rapat ) Satuan deliniasi kontur rapat ini memiliki kontur sangat rapat karena menandakan daerah puncak gunung dengan kelerengan yang tinggi, daerah deliniasi ini diwarnai dengan warna merah dengan kepekatan warna paling tua. Pada peta topografi satuan deliniasi dngan kontur rapat ini menandakan bahwa daerah ini termasuk dalam daerah puncak pegunungan karena terdapat perbedaan kelerengan yang tinggi dengan daerah sekitarnya. Kelerengan ini terjadi akibat daerah ini termasuk dalam bentang alam vulkanik dimana banyak terpengaruh tenaga baik endogen maupun eksogen. Tenaga endogen pada bentang alam vulkanik bersifat membangun sedangkan tenaga eksogen seperti erosi dan pelapukan lebih bersifat merusak. Pada saruan deliniasi rapat ini biasanya ditemukan litologi yang didominasi oleh batuan beku sebagai hasil pembekuan magma karena daerah ini berada di puncak gunung dan juga endapan piroklastik sebagai hasil dari erupsi gunungapi. Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan menyayat 5 sayatan dengan menyayat tiap 5 kontur setiap sayatan diperoleh ratarata kelerengan sebesar 70,82% menurut klasifikasi Van Zuidam (1983) daerah ini termasuk dalam daerah dengan relief pegunung sangat terjal. Dengan beda tinggi 437 m yng juga menunjukkan bahwa daerah ini termasuk juga dalam relief pegunungan terjal. Daerah ini termasuk dalam fasies central karena daerah ini termasuk dalam puncak gunung dengan hasil litologi berupa batu beku yang merupakan hasil endapan magma.

11

Tata guna lahan pada daerah ini digunakan sebagai hutan lindung atau konservasi alam, karena hutan pada daerah ini masih lebat dan terjaga, adanya hutan lindung ini dapat digunakan sebagai tempat resapan cadamham air. 4.1.2 Satuan B ( Deliniasi Kontur Agak Rapat ) Satuan deliniasi B ditandai dengan kotur yang agak rapat pada peta topografi,dengan kelerengan yang cukup tinggi, daerah ini

ditandai dengan warna merah yang merupakan warna gradasi dari kontur bedeliniasi rapat. Daerah deliniasi agak rapat ini merupakan daerah yang menghubungkan daerah puncak dengan daerah kaki gunung sehingga daerah dengn satuan b deliniasi kontur agak rapat ini menandakan bahwa daerah ini termasu dalam daerah lereng gunung. Litologi yang biasa ditemukan di daerah lereng adalah batuan beku dari hasil pemekuan magma selain itu terdapat pula batuan sedimen yang merupakan hasil erosi dan transportasi dari batuan puncak gunung, kadang pada daerah ini juga ditemukan batuan metamorf akibat adanya proses metamorfisme penunnjaman lempeng, selain itu juga ditemukan batuan piroklastik akibat erupsi gunungapi. Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan menyayat 5 sayatan dengan menyayat tiap 5 kontur setiap sayatan diperoleh ratarata kelerengan sebesar 22,92% menurut klasifikasi Van Zuidam (1983) daerah ini termasuk dalam daerah dengan relief berbukit terjal. Dengan beda tinggi 312 m yng juga menunjukkan bahwa daerah ini termasuk juga dalam relief berbukit terjal. Daerah dengan relief ini termasuk dalam fasies proksimal, Fasies proksimal merupakan kawasan gunung api yang paling dekat dengan lokasi sumber atau fasies pusat. Asosiasi batuan pada kerucut gunung api komposit sangat didominasi oleh perselingan aliran lava dengan breksi piroklastika dan aglomerat. Kelompok batuan ini sangat

12

resistan, sehingga biasanya membentuk timbulan tertinggi pada gunung api purba. Pada daerah lereng biasanya dijadikan sebagai hutan lindung dan kawasan konservasi sebagai tata guna lahan, potensi positif daerah lereng sebagai lahan perkebunan, potensi negati daerah lereng adalah mudah longsor. 4.1.3 Satuan C ( Deliniasi Kontur Landai ) Satuan deliniasi satuan C termausk dalam kontur landai karena ditandai dengan kontur yang renggang karena semakin jauh dari pusat gunung jarak kontur semakin jauh. Pewarnaan pada daerah ini menggunkan wrna merah yang paling muda yang merupakan gradasi dari warna kontur rapat dan agak rapat. Satuan deliniasi renggang ini menunjukkan bahwa pada daerah ini merupakan daerah yang berada di kaki gunung pada daerah ini sudah terlihat banyak erosi, daerah ini sudah tidak selandai pucak gunung dan lereng gunung. Jenis litologi yang biasa ditemukan di kaki gunung sudah beraneka macam, ditemukan berbagai jenis batuan utama seperti batu beku, batu sedimen dan juga batu metamorf selain itu juga terdapat danya endapat piroklastik. Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan menyayat 5 sayatan dengan menyayat tiap 5 kontur setiap sayatan diperoleh ratarata kelerengan sebesar 12,2 % menurut klasifikasi Van Zuidam (1983) daerah ini termasuk dalam daerah dengan relief bergelombang Landai. Dengan beda tinggi yang juga menunjukkan bahwa daerah ini termasuk juga dalam daerah berbukit bergelombang. Adanya perbedaan jenis relief antara kelerengan dengan beda tinggi sehingga daerah satuan b deliniasi agak rapat termasuk dalam

13

berbukit bergelombang berbukit landai, perbedaan ini dikarenakan daerah cakupan deliniasi agak rapat ini luas. Daerah ini masuk dalam fasies medial jika dilihat dari litologi batuan yang sudah beragam serta mempunyai ukuran yang kecil selain itu endapan tuff dominan Tata guna lahan pada daerah ini sebagai pariwisata dan perkebunan, potensi positif daerah ini sebagai perumahan sedangkan potensi negatifnya adalah mudahlongsor. 4.3 Praktikum Lapangan Praktikum lapangan dilaksanakan di gunungpati semarang, daerah ini dapat ditempuk selam 30 menit dari kampus sukowati tembalang UNDIP. Daerah ini termasuk dalam morfologi sungai dan termasuk dalam bentang lam fluvial. 4.3.1 STA 1

Gambar 1.1 Peta Topografi Daerah Gunung Kalisodo

Pada peta topografi di atas terlihat adanya pembagian satuan deliniasi berupa deliniasi rapat, agak, rapat, dan landai. Gunung Kalisodo terlihat memiliki kontur yang rapat karena gunung kalisodo mempunyai kelerengan yang tinggi, namun disekeliling gunung kalisodo memiliki kontur yang landai. Bentuk gunung kalisodo berupa kerucutan, gunung kalisodo merupakan hasil penerobosan magma dari gunung ungaran, berdasarkan peta

14

topografi diatas diketahui bahwa gunung kalisodo merupakan parasit cone dari gunuung ungaran Gunung kendalisodo terbentuk karena adnya aktivitas magma yang menerobos melalui rekahan, daerah ini merupakan salah satu dari tiga parasit cone di gunung ungaran, arti dari parasit cone sendiri merupakan morfologi yang terbentuk sebagai hasil erupsi gunungapi yang berada pada lereng gunungapi yang lebih besar. Parasit cone terjadi akibat magma mencari saluran lain untuk keluar selain dari kepundan utama, magma kemudian menerobos lapisan batuan sehingga menekan lapisan batuan tersebut keatas membentuk kerucut sehingga magma dapat keluar.

Gambar 1.1 Parasit Cone Pada STA 1 litologi yang ditemukan berupa andesit basaltik selain itu juga ditemukan mineral seperti hornblende, biotit, dan andest, pada batuan di STA 1 ini terdapat perbedaan warna pada batuan karena kandungan magma yang berbeda, pada batuan disini juga ditemukan adanya warna merah yang diakibatkan karena oksidasi besi. Sedangakan pada STA 2 litologi yang ditemukan masih andesit basaltik namun disini juga ditemukan adanya lempung hasil alterasi. Pada STA 1Ditemukan adanya struktur kekar yang ditandai dengan adanya rembesan air, kekar ini terjadi akibat aktivitas magma, pda STA 2 jga ditemukan adanya rekahan atau kekar. Gunung kendalisodo ini termasuk dalam fase muda karena gunung ini terbentuk pada fase muda. Gunung Kendalisodo termasuk dalam fasies

15

proksimal karena gunung ini sangat dekat dengan gunung ungaran yang merupakan fasies sentral, selain dari letaknya juga dilihat dari litologi batuannya yang berupa andesit basaltik batuan ini sangat resisten sehingga dapat membentuk timbulan yang tinggi. Tata guna lahan gunung kendalisodo adalah sebagai pertambangan galian C, potensi positif sebagai sumber geothermal, sedangkan potensi negatifnya dalah mudah mengalami longsoran.

16

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian diatas adalah : 1. Gunung ungaran terbentuk karena antara tumbukan lempeng eurasia dengan lempeng australia. 2. Bentang alam vulkanik pada peta topografi ditandai dengan kontur yang rapat, karena memiliki kelerengan yang tinggi. 3. Litologi didominasi oleh batuan beku, dan endaoan piroklastik hasil erupsi gunung api. 4. Dalam topografi gunung ungaran dibagi menjadi 3 satuan deliniasi yaitu delinasi a kontur rapat, deliniasi b kontur agak rapat, dan deliniasi c kontur landai. 5. Gunung Kendalisodo merupakan parasit cone merupakan salah satu parasit cone dari gunung ungaran. 6. Tata guna lahan gunung ungaran adalah sebagai salah satu sumber geothermal, pariswisata, dan perkebunan. Potensi positif daerah sebagai PLTU, potensi negatir erupsi dan longsoran.

5.2 Saran 1. Waktu pelaksanaan praktikum diperpanjang 2. Potensi Gunung Ungaran perlu untuk dkembangakan

17

DAFTAR PUSTAKA

Asisten

Geomorfologi

dan

Geologi

Foto.2010.PendahuluanPraktikum

Geomorfologi dan Geologi Foto.Semarang.UNDIP http://sedimentologiduaribusembilan.blogspot.com/2010/12/fasies-gunung-apidan-aplikasinya.html ( Diakses tanggal 24 April 2012) http://www.scribd.com/doc/61994857/bentang-alam ( Diakses tanggal 24 April 2012) www.ptbudie.wordpress.com/2009/01/25/21/( Diakses tanggal 24 April 2012) www.slideshare.net/gitase/vulkanisme ( Diakses tanggal 25 April 2012) http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Ungaran ( Diakses tanggal 26 April 2012)

18

LAMPIRAN

19