Anda di halaman 1dari 2

Faktor-Faktor Pembatas Populasi

Pertumbuhan populasi dibatasi oleh fakor-faktor yang bergantung dan yang tidak bergantung pada kepadatan, yang keutamaan relatifnya bervariasi sesuai dengan spesies keadaan Faktor-faktor yang bergantung pada kepadatan mengatur pertumbuhan populasi dengan cara yang bervariasi sesuai dengan kepadatan. Faktor yang bergantung pada kepadatan akan semakin intensif ketika kepadatan akan semakin intensif ketika kepadatan populasi meningkat dan akhirnya dapat menstabilkan suatu populasi di dekat daya tampungnya. Beberapa faktor yang bergantung pada kepadatan kompetisi intraspesies untuk sumberdaya yang terbatas, peningkatan pemasangan, cekaman akibat kepadatan, atau penumpukan toksin dapat menyebabkan laju pertumbuhan populasi menurun pada kepadatan populasi yang tinggi. Kejadian dan kehebatan faktor-faktor yang tidak tergantung pada kepadatan, tidak berhubungan dengan kepadatan populasi. Faktor yang tidak bergantung pada kepadatan, seperti keadian-kejadian karena iklim dan kebakaran, menurunkan ukuran populasi pada fraksi tertentu, terlepas dari tingkat kepadatannya. Ukuran populasi banyak spesies, khususnya organisme kecil seperti serangga, dibatasi oleh faktor-faktor yang tidak bergantung pada kepadatan dan yang terjadi secara musiman. Gabungan faktor-faktor yang bergantung pada kepadatan dan yang tidak bergantung pada kepadatan, kemungkinan membatasi pertumbuhan sebagian besar populasi. Populasi yang secara umum bersifat stabil kemungkinan mendekati suatu daya tampung yang ditentukan oleh batas-batas yang bergantung pada kepadatan, akan tetapi fluktuasi jangka pendeknya tidak bergantung pada kepadatan. Banyak populasi ditandai dengan ketidakstabilan, seperti variasi musiman. Sebagai contoh, populasi rusa akan berkurang karena kelaparan pada musim dingin yang sangat dingin. Suhu dingin tersebut tidak bergantung pada kepadatan, akan tetapi pengaruhnya pada sebagian hewan adalah bergantung pada kepadatan karena kompetisi untuk mendapatkan makanan. Populasi beberapa spesies berfluktuasi sangat tidak menentu. Gabungan jenis faktor-faktor pembatas yang bebeda sangat komples dalam dinamika banyaknya populasi. Beberapa populasi memiliki siklus ledakan dan siklus penurunan yang beraturan. Sejumlah populasi memiliki fluktuasi kepadatan yang bersiklus. Kepadatan yang tinggi bia mengatur populasi seperti itu, atau siklus populasi mungkin disebabkan karena adanya kesenjangan (jeda) waktu dalam merespon faktor-faktor yang bergantung pada kepadatan, yang

menghasilkan fluktuasi beasar di atas dan di bawah daya tampungnya. Variasi populasi pada beberapa hean herbivora bisa menyebabkan fluktuasi secara bersamaan pada populasi pemangsanya. Penyebab siklus herbivora adalah komples, meliputi pengaruh pemangsaan dan fluktuasi sumber makanan.

Ledakan populasi manusia mengubah habitat dan mengurangi keanekaeragaman biologis di seluruh dunia

Gangguan manusia pada ekosistem alamiah telah mencapai proporsi yang epidemik. Penebangan ekosistem yang alamiah, yang umumnya penting untuk pengembangan pertaniann, industri, dan pemukiman, tidak diragukan lagi menyebabkan gangguan lokal paling besar pada lingkungan alamiah. Pemanenan kayu secara tebang rata juga merusak banyak sekali hutan. Secara relatif, sedikit habitat yang masih belum terganggu yang masih ada di banyak negara; di Amerika Serikat misalnya hanya 15% hutan primer awal (sebagian besar di antaranya berada di Alaska) dan kurang dari 1% padang rumput tinggi awal yang masih tersisa. Statistik pada hutan bahkan lebih buruk lagi di beberapa daerah lainnya, seperti Eropa, Cina, dan Australia. Pada tahun-tahin terakhir, para ahli lingkungan dan ahli biologi konservasi telah memfokuskan perhatian pada perusakan hutan tropis, yang merupakan ekosistem paling produktif di bumi ini. Beberapa taksiran menyatakan bahwa jika hutan tropis terus ditebang dengan laju pemotongan saat ini berkisar (sekitar 500.000 km2 per tahun di seluruh dunia), hampir semua jalur besar ekosistem ini akan hilang dalam tempo satu atau dua dekade. Pengembangan dan penebangan hutan tentunya bukan satu-satunya aktivitas manusia yang menggangu keseluruhan ekosistem. Akibat ekologis dari perang sangat menghancuran sekali. Selama perang Vietnam, misalnya Amerika Serikat menggunakan sejumlah besar defolian kimia untuk membunuh vegetasi yang dimanfaatkan tentara Viet Cong untuk menyembunyikan dirinya. Lebih baru lagi, ketika Perang Teluk Persia berakhir pada tahun 1991, tentara Irak menciptakanpetaka lain yang menghancurkan bentang alam. Tumpahan minyak yang sangat banyak mencemari ekosistem laut, dan pembakaran sumur minyak di Kuwait menghitamkan langit dan meninggalkan bekas berminyak pada apa saja yang ada di dekatnya.