Anda di halaman 1dari 11

DIKENAL sebagai tokoh pengembang Psikologi Kognisi.

Lahir pada 1949 dan menyelesaikan studinya di Yale University di bidang psikologi pada 1972, dilanjutkan kuliah di Stanford University dengan meraih Ph.D. pada 1975. Kontribusi terbesarnya di bidang psikologi adalah karyanya tentang Triarchic Theory of Human Intelligence yang terkenal hingga sekarang. Ia mengaku terpengaruh oleh Piaget. Beberapa karyanya ia kemukakan tentang adanya korelasi antara Kreativitas, Inteligensi, Gaya Berpikir dan Pembelajaran.

Menurut Robert J Sternberg, cinta adalah semacam kisah yang terus ditulis orang. Ada tiga komponen penting dalam cinta, masing-masing intimacy, passion, dan commitment. Sayang, satu sama lain, kadar kandungannya tidak seimbang. SUKSES besar, biasanya bermula dari kesadaran akan sesuatu yang gagal. Inilah sebabnya, Roy tidak mikir panjang ketika ingin mendekati Rini. Meski dalam bayang-bayang hati kecilnya, dalam takaran matematikanya, ia pasti ancur abis di hadapan Rini. Bayangkan, Rini tidak cuma dikaruniai tinggi di atas 170 cm. Selain cantik, Rini cewek kutu buku. Kayak dictionary berjalan. Apa saja orang bertanya, cas-cis-cus deh jawabnya. Sedangkan Roy, apalah artinya cowok ini? Ngomongin soal tinggi, alamak, pasti deh di bawah 170 cm. Lewat jauh. Trus soal preformance, anak nongkrong mana yang mau trust sama Roy? Dekil, item dan berambut keriting. Kegagalan banyak cowok, karena ia selalu takut gagal sebelum bertempur, begitu Roy membela diri. Maka, dengan modal dan bahan baku ala kadarnya, mulailah perburuan cowok tengil ini atas cewek impiannya: Rini Tri Li-Li. Sejumlah skenario telah dirancangnya. Antara lain, Roy sudah membekali diri dengan 5 Anti:

Anti ngomong cerdas, karena segala bentuk kecerdasan sudah ada pada diri Rini. Anti bergaya beken, lantaran nama Rini adalah jaminan terhadap ketenaran seorang bintang di sekolah. Anti jaga image keren, lantaran model gerakan apa saja pasti lewat oleh penampilan Rini. Anti pamer tajir, karena Rini anak bankir hebat yang tanpa korup kekayaannya sudah selangit. Anti tampil modis, karena segala yang modis, segala yang fashionable dan inner handsome sudah tidak ada tempat di tubuh Roy.

Segitiga Sternberg
Cuma satu yang masih menjadi bekal dirinya, Teori Segitiga Cinta Sternberg. Kelak kalau bertemu akrab sama Rini, Roy akan menerapkan tiga komponen pokok: Intimacy (keintiman), Passion (gelora dan kegairahan), dan Commitment (komitmen).

Keintiman, berkaitan dengan bagaimana Roy mesti mencipta suasana pertemuan itu menjadi hangat. Misalnya mencipta suasana humor, sisi yang selama ini tidak dipunyai Rini. Roy akan memosisikan dirinya sebagai cowok tengil yang ngangenin, enak diajak ngobrol dan Rini bisa ketagihan karenanya. Dalam situasi seperti itu, bisa saja secara mengejutkan akan muncul dari bibir indah Rini kalimat berbunyi: Kamu ini lucu ya, Roy. Ngangenin deh ngobrol sama kamu! Kalau sudah begini, masuk deh umpan itu. Gelora, kalau pendekatan di atas lebih bersifat emosional, yang ini lebih ke motivasi. Kegairahan untuk lebih dekat, Rini merasa lebih hangat tiap kali dekat sama Roy, demikian sebaliknya. Gelora hati ini muncul perlahan namun pasti. Komitmen, andai Rini sudah berani memberi janji, atau setidaknya ada jadwal ketemu, itulah elemen terpenting yang sudah didapat Roy. Artinya, kendali Segitiga Cinta Sternberg udah di tangan.

3 Komponen dengan KANDUNGAN YANG BERBEDA


Hati-hati, deh. tidak semua hubungan kisah-kasih selalu muncul dalam tiga komponen yang happy ending. Menurut Sternberg, kandungan itu muncul dalam derajat kandungan yang bedabeda. Misalnya saja, Roy kuat pada komponen Intimacy, namun bisa aja lemah di Commitment. Ini akan memunculkan diskripsi (penggambaran) yang juga beda. Jalinan dengan Rini kelak akan berlari di tempat tanpa tujuan apa-apa. Sebaliknya, andai aja Rini kuat di komponen Intimacy, namun lemah di Passion, pasti yang terdeskriptif adalah hal-hal yang tidak serius, cenderung iseng dan berputar-putar. Yang paling ideal adalah munculnya derajat kandungan yang balance. Meski tidak terlalu menonjol, kelak bakal memperkuat jalinan. Jadi, dibutuhkan semacam latihan untuk melahirkan sebuah jalinan yang ideal. Berikut ini dimunculkan tabel sejumlah tipe, lengkap dengan dampak jenis hubungan dan efek penggambarannya di kelak kemudian hari. Nah, hubungan kalian termasuk yang mana, nih?!

TABEL Jenis Cinta dan Situasi Penggambarannya


Tipe Tidak ada cinta Suka Tergila-gila Cinta Hampa Romantic love Cinta Sempurna Situasi yang Muncul Tidak muncul 3 komponen Cuma dekat dan intim Hanya kegairahan Cuma komitmen Keintiman dan penuh gairah Semua komponen ada Deskripsi Pertemanan Persahabatan Tertarik sesaat Pasangan lama Physicly doang Tujuan setiap orang

POLA CINTA Menurut Teori Cinta Triangular Stenberg (1986; Stenberg & Barnes, 1985; Stenberg & Grajek, 1984), ketiga elemen cinta tersebut adalah intimasi, hasrat, dan komitmen. Intimasi, elemen emosional, mencakup pengungkapan diri yang mengarah kepada keterhubungan, kehangatan, dan kepercayaan. Hasrat, elemen motivasional, didasarkan kepada dorongan batin yang menerjemahkan gejolak fisiologis ke dalam hasrat seksual. Komitmen, elemen kognitif, adalah keputusan untuk mencintai dan untuk terus dicintai. Tipe

Tidak cinta

Deskripsi : Tidak adanya ketiga komponen cinta-intimasi, hasrat, dan komitmen. Hal ini mendeskripsikan sebagian besar hubungan interpersonal yang hanya interaksi kausal saja.

Menyukai

Deskripsi : Satu-satunya elemen yang ada adalah intimasi. Ada kedekatan, pemahaman, dukungan emosional, afeksi, keterikatan, dan kehangatan. Tidak ada hasrat atau komitmen.

Tergila-gila

Deskripsi : Hasrat adalah satu-satunya elemen yang ada. Ini adalah cinta pada Pandangan pertama, ketertarikan fisik yang kuat dan gairah seksual, tanpa intimasi atau komitmen. Kegilaan seperti ini dapat bergelora secara tiba-tiba dan padam sama cepatnya- atau, dengan beberapa syarat, akan berlangsung dalam waktu yang panjang.

Cinta kosong

Deskripsi : Elemen yang tersedia hanya komitmen. Cinta kosong kerap ditemukan dalam hubungan jangka panjang yang telah kehilangan intimasi dan hasrat, atau dalam perkawinan yang dijodohkan.

Cinta Romantis

Deskripsi :

Ada intimasi dan hasrat. Para pencinta romantis saling tertarik secara fisik dan terikat secara emosional. Akan tetapi, mereka tidak terkomitmen kepada yang lain.

Companionatte Love

Deskripsi : Elemen intimasi dan komitmen ada. Ini adalah hubungan pertemanan jangka panjang berkomitmen, seringkali terjadi dalam hubungan perkawinan di mana ketertarikan fisik sudah padam tapi pasangan tersebut merasa dekat satu dengan yang lain dan membuat keputusan untuk tetap bersama.

Cinta Semu (Fatuous Love)

Deskripsi : Hanya ada hasrat dan komitmen. Cinta jenis ini yang mengarah kepada lingkaran percumbuan, di mana pasangan membuat komitmen berdasarkan hasrat tanpa memberikan waktu kepada diri mereka untuk mengembangkan intimasi. Jenis cinta ini biasanya tidak berlangsung lama, terlepas dari niat awal ketika melakukan komitmen.

Cinta Sempurna (Consummate Love)

Deskripsi : Ketiga komponen ada dalam cinta sempurna ini, yang diperjuangkan banyak orang, terutama, dalam hubungan romantis. Lebih mudah mencapainya ketimbang mempertahankannya. Salah satu dari kedua pasangan tersebut dapat berubah dalam apa yang diinginkannya dari hubungan tersebut. Apabila pasangannya juga berubah, hubungan tersebut bisa jadi terus berlangsung dalam bentuk yang berbeda. Akan tetapi jika pasangannya tidak berubah, hubungan tersebut bisa putus. Sumber : Didasarkan kepada Stenberg, 1986. Referensi diambil dari : Buku Psikologi Perkembangan bagian V-IX edisi kesembilan, dikarang oleh Diane E. Papalia, Sally Wendkos Old, Ruth Duskin Feldman
Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari manusia, sudah lama tertarik dengan konsep cinta. Hanya saja masalahnya, sebagai sebuah konsep cinta sedemikian abstraknya sehingga sulit untuk didekati secara ilmiah. Dalam tulisan ini dipilih teori seorang psikolog, Robert Sternberg. Yang telah berusaha untuk menjabarkan cinta dalam konteks hubungan antara dua orang. Menurut Sternberg, cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Ada kisah tentang perang memperebutkan kekuasaan, misteri, permainan, dsb. Kisah pada setiap orang berasal dari "skenario" yang sudah dikenalnya, apakah dari orang tua, pengalaman, cerita, dsb. Kisah ini biasanya

mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan. Sternberg terkenal dengan teorinya tentang "Segitiga Cinta" (bukan cinta segitiga lho!). Segitiga cinta itu mengandung komponen : (1). Keintiman (Intimacy), (2). Gairah (Passion) dan (3). Komitmen. Keintiman adalah elemen emosi, yang didalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan (trust), dan keinginan untuk membina hubungan. Ciri-cirinya antara lain seseorang akan merasa dekat dengan seseorang, senang bercakap-cakap dengannya sampai waktu yang lama, merasa rindu bila lama tidak bertemu. Gairah adalah elemen motivasional yang didasari oleh dorongan dari dalam diri yang bersifat seksual. Komitmen adalah elemen kognitif, berupa keputusan untuk secara sinambung dan tetap menjalankan suatu kehidupan bersama. Menurut Sternberg, setiap komponen itu pada tiap-tiap orang berbeda derajatnya. Ada yang hanya tinggi di gairah, tapi rendah pada komitmen. Sedangkan cinta yang ideal adalah apabila ketiga komitmen itu berada dalam proporsi yang sesuai pada suatu waktu tertentu. Misalnya pada tahap awal hubungan, yang paling besar adalah komponen keintiman. Setelah keintiman berlanjut pada gairah yang lebih besar (dalam beberapa budaya) harus disertai dengan komitmen yang lebih besar, misalnya melalui perkawinan. Seperti telah diuraikan sebelumnya, pada hubungn cinta seseorang sangat ditentukan oleh pengalamannya sendiri mulai dari masa kanak-kanak. Bagaimana orang tuanya saling mengekspresikan perasaan cinta mereka (atau malah bertengkar melulu..). Hubungan awal denga n teman-teman dekat, kisah-kisah romantis sampai yang horor, dsb. akan membekas dan mempengaruhi seseorang dalam berhubungan. Karenanya setiap orang disarankan untuk menyadari kisah cinta yang ditulis untuk dirinya sendiri. Memang teori Sternberg tentang cinta ini belumlah lengkap dan memuaskan semua orang misalnya bagaimana teori ini dapat menjelaskan cinta ibu terhadap anak-anaknya? Atau bagaimana cinta dapat dipertentangkan dengan perang dan kebencian? Hanya saja, sebagai sebuah deskripsi ilmiah terhadap fenomena cinta, teori ini dapat dikatakan cukup membantu dalam memetakan pola-pola hubungan cinta antar individu.

Psikologi Cinta
Posted on 26/02/2012

Sebagai makhluk yang memiliki perasaan, kita tentunya mampu merasakan cinta, entah mencintai atau dicintai. Cinta melibatkan perasaan yang mendalam, terkadang rasa ketidakegoisan, maupun komitmen; dan cinta merupakan misteri besar dalam kehidupan manusia. Cinta merupakan komponen yang sudah ada di dalam hidup kita sejak kita mulai berada di dalam kandungan. Cinta dari ibu, cinta dari ayah, cinta dari sanak saudara, hingga cinta

dari guru, cinta dari sahabat, dari pasangan, dan seterusnya. Demikian pula saat kita mencintai orang lain; kita mencintai kedua orang tua kita, saudara kita, sahabat kita, pasangan, dan seterusnya. Tetapi apakah cinta kepada orang tua, cinta kepada sahabat, dan cinta kepada pasangan adalah perasaan yang sama? Tulisan kali ini akan membahas cinta yang dirasakan oleh sepasang manusia dari sudut pandang psikologi. Asal-Usul Cinta Dari mana cinta datang? Saya mendadak menjadi teringat pada sebuah lagu yang berlirik, cinta datang tiba-tiba. Apakah cinta datang secara tiba-tiba begitu saja? Teori perilaku mengatakan bahwa cinta muncul akibat adanya penguatan positif yang kita rasakan di dalam diri. Kita jatuh cinta kepada seseorang karena orang tersebut selalu memerhatikan atau menghargai diri kita. Dengan teori ini juga dapat dijelaskan alasan seorang anak begitu menyukai seorang guru yang selalu memberikan sang anak permen setiap mereka bertemu. Hubungan cinta akan muncul ketika ada sepasang manusia yang saling memberikan perasaan positif satu sama lain. Teori kognitif menjelaskan bahwa cinta muncul karena kita berpikir bahwa kita mencintai. Jika kita melakukan sesuatu tanpa diberikan apapun dan kita masih melakukannya, maka kita jatuh cinta. Sebagai contoh, seorang laki-laki berpikir, Saya selalu menemani dia berbelanja, padahal saya tidak mendapatkan apa-apa dari kegiatan ini. Kenapa saya mau menjemput dia? Kenapa saya mau menemani dirinya hingga larut malam? Saya pasti sedang jatuh cinta kepada dirinya! Beginilah teori kognitif. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa saat kita mengira seseorang menyukai kita, maka kita akan semakin mudah tertarik kepadanya. Teori evolusi menyatakan bahwa cinta muncul karena pada dasarnya kita membutuhkan perlindungan. Dengan cinta, kita mendapatkan pemenuhan atas perlindungan, dan kita dapat bereproduksi serta mewariskan genetika kepada generasi selanjutnya. Teori biologi menjelaskan cinta muncul karena adanya feromon. Feromon adalah zat kimia yang dikeluarkan oleh manusia dan hewan. Zat ini diproses di dalam hipotalamus, dan feromon memengaruhi pilihan kita terhadap pasangan. Dengan kata lain, kita tertarik pada lawan jenis karena tertarik terhadap feromon yang ia keluarkan. Macam-Macam Cinta Secara umum cinta terbagi menjadi dua, yaitu romantic love (cinta romantis) dan companionate love. Romantic love melibatkan rasa senang akan cinta, namun di satu sisi juga merasa khawatir akan kehilangan pasangan. Cinta romantis selalu mengharapkan cinta yang ideal, cinta yang penuh akan kebahagiaan dan romantika. Sedangkan companionate love adalah cinta yang melibatkan perasaan mendalam, kedekatan, dan juga keintiman. Pasangan dengan companionate love akan dapat menerima pasangan apa adanya dan percaya terhadap pasangan. Contoh dari romantic love adalah cinta yang umumnya terjadi pada sepasang remaja, sedangkan companionate love adalah cinta yang umumnya terjadi pada sepasang lansia yang sudah menikah selama puluhan tahun. Romantic love, meski penuh dengan harapan yang positif kepada

pasangan dan melibatkan kekhawatiran akan kehilangan pasangan, bukanlah jenis cinta yang buruk. Romantic love akan menjadi cinta yang baik jika dapat dikembangkan companionate love. John Alan Lee, seorang psikolog, menyatakan teori tentang cinta yang disebut sebagai warna cinta. Warna-warna cinta tersebut adalah: (1) Eros atau romantic lover: cinta dalam bentuk eros adalah cinta yang muncul semata-mata karena ketertarikan fisik. Cinta seperti ini adalah cinta yang mementingkan nafsu, dan tidak dapat bertahan lama. (2) Ludus atau game-playing lover: sesuai dengan namanya, cinta ini semata-mata seperti sebuah permainan. Orang yang ludus menyukai rayuan gombal. Cinta ini biasanya ditemukan pada kasus cinta monyet. (3) Storge atau quiet and calm lover: cinta ini adalah cinta yang diam. Rasa cinta ini tidak muncul dengan tiba-tiba dan tidak mengharapkan cinta yang ideal, romantis, pernikahan, atau sebagainya. Jika cinta ini berakhir, pasangan manusia tetap bisa berteman. (4) Mania atau crazy lover: cinta ini disebut gila karena penuh dengan posesivitas dan ketergantungan. Orang dengan cinta jenis ini akan begitu gelisah ketika pasangan tidak di sampingnya, namun di satu sisi akan langsung mengalami peningkatan mood ketika pasangan sudah di sampingnya. (5) Pragma atau practical lover: cinta ini penuh dengan daftar kualitas yang mereka harapkan dalam sebuah hubungan. Orang yang pragma mengharapkan cinta yang dalam dan berakhir pada pernikahan, bahkan mereka sudah merencanakan masa depan dari cinta mereka. (6) Agape atau selfless lover: cinta yang tidak mengharapkan apapun. Cinta yang tulus. Tidak mengharapkan balas, tidak cemburu, dan tidak meminta apapun. Robert Sternberg, seorang profesor psikologi, menggolongkan cinta dengan cara yang berbeda. Cinta adalah kombinasi dari hasrat (passion), keintiman atau kedekatan (intimacy), dan komitmen. Macam-macam cinta berdasarkan kombinasi tiga hal tersebut adalah: (1) Suka (liking): adanya keintiman atau kedekatan tetapi tidak ada hasrat dan komitmen. Liking biasanya muncul pada sepasang teman atau sahabat. (2) Infatuation: hanya ada hasrat tanpa ada kedekatan dan komitmen. Cinta jenis ini dapat dengan mudah hilang dan berganti kepada pasangan yang lain. (3) Empty love atau cinta kosong: hanya ada komitmen, tanpa ada kedekatan dan hasrat. Meskipun cinta jenis ini tidak melibatkan perasaan, tetapi perlu dikembangkan hingga terciptanya kedekatan dan hasrat.

(4) Romantic love atau cinta romantis: ada hasrat dan ada kedekatan, tetapi tidak ada komitmen. Cinta ini biasanya hanya untuk sekedar kesenangan saja, umumnya pada kasus cinta monyet. (5) Companionate love: adanya kedekatan dan komitmen, namun tanpa hasrat. Cinta ini dapat muncul pada sepasang sahabat atau pasangan menikah yang mengalami penurunan hubungan. (6) Fatuous love: cinta yang memiliki hasrat dan komitmen, tetapi tidak memiliki kedekatan. Cinta ini bisa dikatakan cinta yang bodoh karena muncul meskipun belum mengenal pasangan dengan baik (tidak adanya kedekatan). Cinta pada pandangan pertama dapat menjadi contoh dari cinta jenis ini. (7) Consummate love: cinta yang memiliki baik kedekatan, hasrat, dan komitmen. Cinta ini adalah cinta yang ideal dan jenis cinta yang terbaik. Pasangan dengan cinta jenis ini saling memahami satu sama lain, saling memiliki ketertarikan satu sama lain, dan memiliki komitmen untuk mempertahankan hubungan. Mengembangkan Cinta yang Ideal Cinta yang ideal adalah consummate love. Untuk mengembangkan cinta yang ideal, maka pasangan harus membina kedekatan. Pasangan harus saling terbuka dan mau berbagi satu sama lain. Mereka harus mau memberikan masukan dan siap untuk menerima masukan. Dengan sikap ini, pasangan seyogyanya mampu saling memahami. Dengan ini akan muncul kedekatan. Masing-masing dari pasangan juga harus mampu memperbaiki diri dan mengembangkan diri; baik secara fisik, kepribadian, maupun spiritual. Meskipun fisik bukanlah hal yang menentukan hubungan, tetapi pasangan perlu menjaga penampilan fisik agar tidak terlihat seperti tidak terurus, terkadang orang menghubungkan penampilan dengan kepribadian. Begitu juga dengan kepribadian, munculkan sikap yang dewasa, perhatian, hangat, dan sebagainya yang sekiranya dapat membuat pasangan nyaman. Dengan ini, diharapkan hasrat dapat muncul. Dan tentu saja, pasangan harus saling berkomitmen. Saling berjanji bahwa cinta ini (jika sepasang kekasih) tidak akan dikhianati dan mampu menjaga diri dari godaan lawan jenis lain. Agape atau cinta yang tidak mengharapkan balasan merupakan cinta yang juga tampak ideal. Tetapi bukan berarti cinta ini adalah bentuk cinta yang pasrah menerima pasangan apa adanya. Dalam berhubungan, kita memang perlu menerima keadaan pasangan sekalipun itu negatif. Misalnya adalah kasus pasangan yang kasar atau tidak mau bekerja, itu adalah sifat yang kurang baik dalam sebuah hubungan. Namun bukan berarti kita hanya pasrah menerima keadaan negatif pasangan, seharusnya kita membantunya untuk berubah. Berikan dukungan dan dampingan. Pasangan yang kasar jika dibiarkan tentu akan menimbulkan kekerasan, baik dalam masa pacaran ataupun dalam masa pernikahan (KDRT). Kita perlu memberikan penjelasan bahwa sifat kasar tersebut adalah sifat yang merugikan baik kepada diri sendiri, pasangan, dan hubungan. Ajaklah pasangan untuk berubah, dampingi dia. Selama ini mungkin kita hanya meminta ia untuk berubah tetapi tidak memberikan dukungan dan pendampingan sehingga pasangan merasa disalahkan. Jika pasangan sudah menikah dan suami tidak mau bekerja, berikan penjelasan mengapa sang suami perlu bekerja. Dalam rumah tangga, adalah wajar jika memerlukan uang. Tidak perlu melimpah, tetapi cukup untuk kehidupan sehari-hari saja sudah baik. Berikan dukungan kepada suami untuk bekerja, jika perlu bantu suami untuk menemukan pekerjaan yang

sesuai dengan minat dan potensinya; atau istri dan suami bisa sama-sama bekerja agar kondisi keuangan bisa lebih baik. Istri seharusnya tidak mendesak suami untuk menghasilkan uang yang lebih banyak, tetapi memberikan dukungan dan pendampingan agar suami dapat lebih bahagia dalam pekerjaan dan sejahtera baik mental dan fisik. Cinta adalah hal yang wajar namun misterius dalam kehidupan manusia. Cinta terkadang menyebabkan rasa sakit, tetapi juga memberikan rasa bahagia yang mendalam; semua tergantung pada jenis cinta dan pikiran kita. Jenis cinta apakah yang sedang anda miliki sekarang?

Fisiologi Cinta Romantik Dalam Pandangan Psikologi


Dalam hubungan antara jenis pasangan terutama yang sedang dilanda asmara, fenomena cinta sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dirasakan. Nah, ketika mata bertemu pandang yang berlanjut pada persentuhan tangan, biasanya orang akan merasakan gejala yang sama:- darah mengalir lebih cepat, semburat merah muncul di pipi, peluh dingin membasahi telapak tangan, bahkan menghela napas pun jadi terasa berat. Dalam situasi seperti inilah hati bagaikan bergolak, disesaki oleh gelora cinta. Menurut Helen Fischer seorang peneliti cinta di Universiti Boston, Amerika Serikat ini lagi, reaksi romantik seperti itu timbul kerana kerja sejumlah hormon yang ada dalam tubuh, khususnya hormon yang diproduksi otak. Gelora cinta manusia yang meluap-luap tidak jauh berbeda dengan reaksi kimia. Malangnya, senyawa antara hormon ini sangat dekat. Dan, berdasarkan teori Four Years Itch yang diumumkannya, daya tahan gelora cinta itu hanya mencapai empat tahun saja. Setelah itu, hancur tanpa kesan lagi. Sebagaimana yang terjadi pada sebuah reaksi kimia, wujudnya tidak akan pernah kembali seperti semula. Sesungguhnya pula, perasaan yang menghanyutkan dalam masa jatuh cinta tadi boleh dianalisis secara kimia. Jadi, prosesnya dimulakan pada saat mata saling bertemu. Tangan yang bersentuhan bagaikan dialiri arus eletrik. Fenomena ini sudah pasti kerana tindakbalas hormon tertentu yang ada di otak, mengalir ke seluruh saraf hingga ke pembuluh darah yang terkecil sekalipun. Inilah yang membuat wajah memerah, dan timbul perasaan melayang. Aliran darah yang demikian cepat membuat bernafas pun menjadi berat. Jika dipikirkan, bagaimana hormon dalam otak bekerja, ketika seseorang sedang jatuh cinta? Boleh dijelaskan sebagai berikut. Ketika hubungan mata sedang berlangsung, tertanam suatu `kesan. Inilah fase pertama. Otak bekerja bagaikan komputer yang menyediakan sejumlah data, dan menserasikannya dengan sejumlah data yang pernah direkam sebelumnya.

Ia mencari apa yang membuat pesona itu muncul. Kalau sudah begini, bau yang ditimbulkan oleh lawan jenis pun boleh menjadi pemicu timbulnya rasa romantik. Fasa kedua, yaitu munculnya hormon phenylethylamine (PEA) yang diproduksi otak. Inilah sebabnya ketika terkesan oleh seseorang, secara automatik senyum pun dilontarkan. Spontan, pusat PEA pun aktif bekerja ketika wisel mula diaktifkan. Hormon dopamine dan norepinephrine yang juga terdapat dalam saraf manusia, turut mendampingi. Hormon-hormon inilah yang menjadi pemicu timbulnya gelora cinta. Setelah dua tiga tahun, efektiviti hormonhormon ini mula berkurang. Fasa ketiga yaitu ketika gelora cinta sudah reda. Yang tersisa hanyalah kasih sayang. Hormon endorphins , senyawa kimia yang identik dengan morfin, mengalir ke otak. Sebagaimana efek yang ditimbulkan dadah dan sebagainya, saat inilah tubuh merasa nyaman, damai, dan tenang. Teori tentang cinta pernah popular sekitar 9 hingga 10 tahun yang lalu. Lebih tepat sekali, ketika pendekatan ilmu faal yang membedah tubuh manusia menjadi popular. Selanjutnya, teori ini kian berkembang dan mula dihubung-hubungkan dengan bidang ilmu lainnya. Kemudianya, ada juga teori cinta dengan pendekatan bioneurologi yang melihat, membandingkan, dan mengamati struktur otak orang gila misalnya, atau psikologi dan fisiologi yang mempelajari kaitan antara perilaku manusia dan pengaruh hormon pada tubuhnya. Cinta sebenarya sama dengan emosi. Kalau emosi seringkali ditentukan oleh sejumlah hormon (terutama dalam siklus menstruasi), maka hal yang sama juga berlaku dalam proses jatuh cinta. Terutama ketika terjadi cinta pada pandang pertama, ada getaran dalam tubuh. Tapi, apakah ya, gelora cinta semata-mata ditentukan oleh hormon dalam tubuh? Diane Lie seorang psikologi sekaligus peneliti rambang pada sebuah Universiti di Beijing membentangkan teorinya, meskipun urusan cinta boleh dijelaskan secara kimia, namun kecamuk cinta tidak semata-mata hanya ditentukan oleh aktivitas hormon, dan manusia tidak berdaya mengatasinya. Juga tidak selalu berarti bila kadar hormon berkurang, berarti getarannya pun berkurang. Memang, pemacu semburan cinta (PEA) tadi, memiliki pengaruh kerja yang tidak tahan lama. Hormon yang secara ilmiah memiliki kesamaan dengan amfetamin ini, hanya efektif bekerja selama 2-3 tahun saja. Lama kelamaan, tubuh pun bagaikan imun, `kebal terhadap si pemicu gelora.

Akan tetapi, sekali lagi, masih menurut Diane, proses jatuh cinta itu tidak semata-mata hanya dipengaruhi hormon dengan reaksi kimianya. Apalagi dalam proses orang bercinta hingga menikah, banyak faktor sosial lainnya yang menentukan. Contohnya proses jatuh cinta yang dalam bahasa jawa dipanggil versi Tresno Jalaran Soko Kulino yang bermaksud datangnya cinta karena pertemuan yang berulang-ulang . Demikian pula ketika kita marah dan ingin memaki orang lain, hormon memang punya pengaruh khusus, namun tetap ada faktor lain yang ikut menentukanya. Manusia merupakan makhluk yang paling kompleks. Jika proses reaksi kimia terjadi pada hewan, barulah teori rendahnya daya tahan PEA ini boleh dipercayai. Jadi, teori Helen Fiscer yang disebut Four Years Itch juga boleh dipatahkan. Pendeknya, teori PEA dilandaskan pada pendekatan ilmu eksakta, sedangkan teori Four Years Itch oleh Fischer yang lingkaran penelitiannya mencakup 62 jenis kultur ini, lebih menggunakan pendekatan sosial. Fischer, yang juga penulis buku Anatomy of Love , menemukan betapa angka perceraian mencapai puncaknya ketika usia perkawinan mencapai usia empat tahun. Kalaupun masa empat tahun itu telah dilalui, katanya, kemungkinan itu berkat hadirnya anak kedua. Kondisi ini membuat perkawinan mereka boleh bertahan hingga empat tahun lebih. Jadi, kalau kita main kira-kira, rasanya boleh dikatakan seru juga. Misalnya, masa bercinta telah dilalui tiga tahun, bererti kesempatan untuk boleh mempertahankan gelora cinta hanya ada di tahun pertama perkawinan. Lalu apa yang terjadi ketika masa perkawinan menjejak tahun kedua, ketiga dan seterusnya? Cuma ada sisa-sisa, atau bahkan punah ranah sama sekali? Lalu bagaimana dengan mereka yang mengalami masa bercinta lebih dari enam tahun? Menurut pandangan Diane, dalam hubungan suami istri atau bercinta, selain cinta, ada hubungan lain yang sifatnya friendship, (persahabatan). Kalau setelah beberapa waktu cinta itu menipis - mungkin kerana tersisihkan hal-hal lain, misalnya karena rutin yang dilakukan adalah hal-hal yang sama juga setiap hari, lalu segalanya jadi terasa membosankan.