Anda di halaman 1dari 3

3.

Pendidikan Budi Pekerti

Pengertian pendidikan budi pekerti menurut Haidar (2004) adalah usaha sadar yang dilakukan dalam rangka menanamkan atau menginternalisasikan nilai-nilai moral ke dalam sikap dan prilaku peserta didik agar memiliki sikap dan prilaku yang luhur dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam berinteraksi dengan Tuhan, dengan sesama manusia maupun dengan alam/lingkungan. Tujuan pendidikan budi pekerti adalah untuk mengembangkan nilai, sikap dan prilaku siswa yang memancarkan akhlak mulia/budi pekerti luhur (Haidar, 2004). Hal ini mengandung arti bahwa dalam pendidikan budi pekerti, nilai-nilai yang ingin dibentuk adalah nilai-nilai akhlak yang mulia, yaitu tertanamnya nilai-nilai akhlak yang mulia ke dalam diri peserta didik yang kemudian terwujud dalam tingkah lakunya. Kebudayaan merupakan keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah laku. Dari defenisi kebudayaan ini, dapat dilihat bahwa kebudayaan akan terbentuk dari hasil proses pendidikan. Tetapi dalam prakteknya, ada beberapa proses pendidikan merupakan hasil pengaruh dari budaya manusia daerah tersebut dan juga kebutuhan. Kasus ini dapat dilihat dari materi pendidikan yang digunakan setiap negara berbeda dengan negara yang lain. Indonesia memiliki berbagai jenis budaya. Oleh karena itu, Indonesia sangat mudah dipecah belah karena memiliki keberagaman budaya. Tetapi materi pendidikan Indonesia berusaha untuk menciptakan persatuan bangsa Indonesia di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui memberikan materi-materi yang berkaitan dengan kesatuan dalam keragaman (unity in diversity) sejak dini. Hal ini dapat dilihat dengan materi yang diperoleh di tingkat Sekolah Dasar memiliki tema berkaitan sikap tenggang rasa, saling menghormati dsb. Penanaman pendidikan yang berkaitan dengan kesatuan dalam keragaman ditanamkan sejak dini di Indonesia dikarenakan Indonesia ingin menanamkan budaya keragaman di wilayah NKRI. Maksud dari sistem pendidikan informal di sini adalah pendidikan yang diperoleh bukan dari lembaga formal seperti sekolah tetapi diperoleh dari nilai-nilai yang hidup di daerah tersebut. Karakter manusia di Indonesia akan berbeda di setiap daerah, hal ini dikarenakan adanya perbedaan pendidikan informal setiap daerah tersebut yang selanjutnya karakter tersebut akan menjadi budaya dari daerah tersebut.

Hal menarik di Indonesia adalah dengan adanya keragaman ini, maka karakter manusia yang dihasilkan di Indonesia akan beragam yang selanjutnya menjadi kekuatan bangsa Indonesia untuk melakukan suatu perubahan postif yang besar. Tetapi kondisi ini akan tidak menghasilkan perubahan positif jika kekuatan keragaman ini disalahgunakan. Setiap bangsa akan memiliki sistem pendidikan dan budaya yang berbeda. Tetapi yang menjadi terpenting adalah bagaimana bangsa tersebut bisa membentuk manusia yang visioner yang notabene bisa melakukan perubahan positif yang besar. Manusia yang visioner tak terlepas dengan manusia pembelajar. Manusia dapat melakukan proses belajar tentang, belajar melakukan dan belajar menjadi. Belajar menjadi adalah proses manusia belajar memanusiakan diri. Memanusiakan diri maksudnya adalah merenungkan hakikat dirinya terlebih dahulu, mencari jati dirinya, menghayati keberadaannya sebagai apa dan siapa. Selain manusia pembelajar, pembentukan karakter manusia visoner juga memerlukan adanya pola berpikir besar yaitu berpikir terhadap sesuatu dengan sudut pandang yang positif. Setiap bangsa memiliki system pendidikan dan budaya yang berbeda. Pendidikan dan budaya merupakan suatu system yang saling berpengaruh. Dua hal tersebut selanjutnya menunjukan karakter bangsa tersebut. Menuju suatu perubahan besar tergantung terhadap karakter suatu bangsa. Hal ini dapat dilihat negara-negara Asia Timur bisa maju dengan karakter kerja keras bangsa tersebut. Berbeda hal dengan negara-negara barat yang memiliki karakter berpikir bebas dan kerja efektif untuk melakukan suatu perubahan besar. Hal yang menjadi irisan dari perbedaan karakter untuk menuju perubahan yaitu jiwa visioner. Nilai moral merupakan salah satu sarana untuk mengatur kehidupan manusia, yang sangat menentukan dalam setiap kebudayaan. Dewasa ini seperti yang kita ketahui dunia telah terbuka, sehingga mempengaruhi ikatan moral. Ikatan nilai moral yang mulai melemah akan mempengaruhi masyarakat dalam krisis moral. Ketika ikatan moral menjadi longgar maka masyarakat perlu diadakannya revival pendidikan moral. Faktor-faktor yang mendukung pentingnya pendidikan moral : a. Melemahnya ikatan keluarga b. Kecenderungan negatif dalam kehidupan pemuda c. Perlu dibangun kembali nilai-nilai etik Nilai-nilai dasar budi pekerti perlu dipupuk sejak dini. Nilai tersebut bukan sebuah nilai sebjektif, melainkan nilai objektif yang merupakan dasar perekat dan

pengikat hidup bersama. Nilai budi pekerti merupakan nilai hakikat kemanusiaan yang diperlukan untuk meningkatkan kemakmuran hidup bersama. Sebagai pengajar, ada beberapa cara untuk mewujudkan lingkungan pendidikan agar efektif dalam mengajarkan budi pekerti, yakni: Menjadi contoh dalam mewujudkan nilai moral di lingkungan sekolah Menciptakan masyarakat sekolah yang bermoral Mempraktikan disiplin moral Menciptakan situasi demokratis di kelas Mewujudkan nilai melalui kurikulum Menciptakan budaya kerjasama Mengembangkan refleksi moral Mengajarkan revollusi konflik