Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK

KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU

Oleh: 1. Erna Noviana M D 2. M Ahyar Lutfi 3. Novita Nurmasari (4301409040) (4301409045) (4301409070)

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2011

A. Tujuan Melalui percobaan ini mahasiswa diharapkan dapat memahami apa yang dimaksud larutan jenuh, dapat mengetahui pengaruh suhu terhadap kelarutan asam borat dan dapat menentukan harga kelarutan asam borat pada berbagai suhu, kemudian dari harga kelarutan tersebut dapat dihitung panas pelarutan asam borat.

B. Dasar Teori Jika kelarutan suhu suatu system kimia dalam keseimbangan dengan padatan, cairan atau gas yang lain pada suhu tertentu maka larutan disebut jenuh. Larutan jenuh adalah larutan yang kandungan solutenya sudah mencapai maksimal sehingga penambahan solute lebih lanjut tidak dapat larut. Konsentrasi solute dalam larutan jenuh disebut kelarutan. Untuk solute padat maka larutan jenuhnya terjadi keseimbangan dimana molekul fase padat meninggalkan fasenya dan masuk ke fase cairan dengan kecepatan sama dengan molekul-molekul ion dari fase cair yang mengkristal menjadi fase padat. Dalam larutan jenuh terjadi keseimbangan antara molekul zat yang larut dan yang tidak larut.keseimbangan itu dapat dituliskan sebagai berikut : A(p) Dimana : A (l) : molekul zat terlarut A (p) : molekul zat yang tidak larut Tetapan kesimbangan proses pelarutan tersebut : K= Dimana : az : keaktifan zat yang larut az : keaktifan zat yang tidak larut, yang mengambil harga satu untuk zat padat dalam keadaan standar yz : koefisien keaktifan zat yang larut mz : kemolalan zat yang larut yang karena larutan jenuh disebut kelarutan A(l)

(Tim Kimia Fisika, 2011) Hubungan antara keseimbangan tetap dan temperature subsolute atau kelarutan dengan temperature dirumuskan vant hoff : = ln s = log s = [ ] =

atau ln Dimana :

H = panas pelarutan zat per mol (kal/g mol) R = konstanta gas ideal (1,987 kal/g mol K) T = suhu (K) s = kelarutan per 1000 gr solute Panas pelarutan yang dihitung ini adalah panas yang diserap jika 1 mol padatan dilarutkan dalam larutan yang sudah dalam keadaan jenuh. Hal ini berbeda dengan panas pelarutan untuk larutan encer yang biasa terdapat dalam table panas pelarutan. Pada umumnya panas pelarutan bernilai (+), sehingga menurut vant hoff kenaikan suhu akan meningkatkan jumlah zat terlarut (panas pelarutan (+)) = endotermis. Sedangkan untuk zat zat yang panas pelarutannya (-) adalh eksotermis. Kenaikan suhu akan menurunkan jumlah zat yang terlarut. (Tim Kimia Fisika, 2011) Proses apa saja yang bersifat endotermis dalam satu arah adalah eksoterm dalam arah yang lain. Karena proses pembentukan larutan dalam proses pengkristalan berlangsung

dengan laju dalam proses pengkristalan berlangsung dengan laju yang sama dengan kesetimbangan maka perubahan energy netto adalah nol. Tetapi jika suhu dinaikkan maka proses akan menyerap kalor. Dalam hal ini pembentukan larutan lebih disukai. Segera setelah sushu dinaikkan tidak berada pada kesetimbangan karena ada lagi zat yang melarut. Suatu zat yang menyerap kalor ketika melarut cenderung lebih mudah larut pada suhu tinggi. (Kleinfelter, 1996) Kelarutan zat menurut suhu sangat berbeda beda. Pada suhu tertentu larutan jenuh yang bersentuhan dengan zat terlarut yang tidak larut dalam larutan itu adalh sebuah contoh mengenai kesetimbangan dinamik. Karena dihadapkan dengan system

kesetimbangn, dapat menggunakan prinsip le chatelier. Untuk menganalisis bagaimana gangguan itu pada system akan mempengaruhi kedudukan kesetimbangan. Gangguan ini antara lain perubahan pada suhu ini cenderung menggeser kesetimbangan kea rah penyerap kalor. Jike pelarut dari zat terlarut lebih banyak merupakan peristiwa endoterm, seperti dinyatakan dalam persamaan : Kalor + zat terlarut + larutan (l1) larutan (l2)

Dengan larutan (l2) lebih pekat daripada larutan(l1) maka kenaikan suhu akan meningkatkan kelarutan. Dengan kata lain, kesetimbangan bergeser ke kanan karena meningkatnya suhu. Untuk kebanyakan padatan dan cairan yang dilakukan dalam pelarut cairan, biasaarutannya kelarutan meningkat dengan kenaikan suhu. Untuk gas, pembentukan larutan dalam cairan ketimbangan dapat dinyatakan dengan : Gas + larutan (1) larutan (2) + kalor hapir selalu eksoterm, sehingga

Untuk kesetimabngan ini, peningkatan suhu malah akan mengusir gas dan larutan sebeb pergeseran ini ke kiri adalah endoterm. Karena itu gas hamppir selalu menjadi kurang larut dalam cairan jika suhunya dinaikkan.

(Atkins, 1994) Pengaruh temperatur dalam kesetimbangan kimia ditentukan dengan persamaan :[ ] p=
o

dengan

yang disebut persamaan vant hoff. Pada reaksi endoterm

konstanta kesetimbangan akan naik seiring dengan naiknya termperatur. Pada reaksi eksoterm konstanta kesetimbangan akan turun dengan naiknya temperatur. (Robert A Alberty Silbey, 1996) Pada larutan jenuh terjadi kesetimbangan antara zat terlarut dalam larutan dan zat tidak larut. Dalam kesetimbangan ini, kecepatan melarut sama dengan kecepatan mengendap. Artinya konsentrasi zat dalam larutan akan selalu sama.

C. Cara Kerja Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah antara lain: tabung reaksi besar, erlenmeyer, termometer , buret, statif, klem, beaker glas 1000 ml , beaker glass kecil, pipet tetes , corong, pengaduk, pipet volume 10 ml, labu takar 100 ml, dan penangas air. Sedangkan bahan yang digunakan adalah antara lain: Asam borat jenuh, Larutan NaOH 0,05 M, Indikator PP, dan aquades. Cara kerja dari percobaan kali ini adalah asam borat dibuat larutan jenuh pada suhu 50OC sebanyak 100 ml. Kemudian larutan asam borat jenuh dimasukkan ke dalam beker glass kecil. Beker glass kecil tersebut dimasukkan ke dalam beker glass besar yang berisi es batu dan garam. Kemudian termometer dimasukkan ke beker glass kecil. Larutan dalam tabung terus diaduk, bila suhu turun sampai 450C larutan dipipet 10 ml dan diencerkan 100 ml dalam labu takar. Begitu juga untuk penurunan suhu 40,35,30,25,20OC. Larutan dititrasi dengan NaOH 0,05 N, indicator PP 3 tetes. Volume NaOH yang dibutuhkan, dicatat dalam table pengamatan.

Diagram alir :

Kristal asam borat dilarutkan dalam aquades 100 ml pada suhu 50 OC sampai jenuh

Asam borat jenuh dimasukkan dalam beker glass kecil

Beker glass kecil masuk ke beker glass besar yang sudah diisi garam dan es batu Tambahkan thermometer ke dalam beker glass kecil Larutan diaduk, bila suhu turun sampai 45 OC larutan diambil 10 ml lalu diencerkan sampai 100 ml

Larutan yang diencerkan diambil 10 ml ditambah indicator pp 3 tetes untuk dititrasi dengan NaOH 0,05 N

Dilakukan hal yang sama untuk penurunan suhu 40,35,30,25,20OC

Volume NaOH yang dibutuhkan dicatat dalam tabel pengamatan

Gambar 1. Diagram kerja kelarutan sebagai fungsi suhu

D. Tabel Pengamatan Tabel 1. Data pengamatan Titrasi Asam Borat dan NaOH No T(0C) asam borat 1 2 3 4 5 6 45 40 35 30 25 20 V1 6,92 6,55 6,25 6,02 5,13 4,52 V NaOH 0,05 M (ml) V2 6,91 6,59 6,29 6,05 5,15 4,49 V rata-rata 6,915 6,57 6,27 6,035 5,14 4,505

E.Analisis Data 1. Kelarutan Asam Borat a. Pada suhu 45 V1 = V NaOH = 6, 915 ml Setelah pengenceran V1xN1 = V2xN2 6,915x0,05 = 10xN2 N2 = 0,0346 N N1 = N NaOH = 0,05 N V2 = V asam borat = 10 ml Sebelum Pengenceran V1xM1 = V2xM2 10xM = 10x0,0346 M = 0,0346 M

Jadi kelarutan H3BO3 = 0,346 M. Analisis selanjutnya ada di lampiran. Tabel 2. Tabel Kelarutan Asam Borat dalam berbagai suhu T (oK) 318 313 308 303 298 293 s (M) 0,346 0,3285 0,3135 0,3 0,257 0,225

2. Menentukan panas pelarutan Asam Borat dengan perhitungan Untuk T1 = 318 oK, T2 = 313 oK Ln Ln = = [ ] [ ][ ]

-0,0519 = H =

( -5,023.10-5) J/mol. Analisis selanjutnya ada di lampiran.

3. Kosentrasi asam borat sebelum dititrasi M= x

= 1,138 M 4. Menentukan panas pelarutan Asam Borat dengan Grafik ln s vs 1/T Tabel 3. Tabel Ln s dan 1/T T (0 K) 318 313 308 303 298 293 1/T (K-1) 0.003145 0,003195 0,003247 0.0033 0,003356 0,003413 s 0,346 0,3285 0,3135 0,3 0,257 0,225 Ln s -1,0613 -1,1132 -1,1599 -1,2039 -1,3587 -1,4917

Ln s = -

. +C

Didapat a = 3,920 b = -1572 r = 0,937

-1572

-1572 X 8,314 J/mol H = 13069,608 J/mol

F. Pembahasan Praktikum kelarutan sebagai fungsi suhu ini bertujuan untuk menentukan pengaruh suhu terhadap kelarutan suatu zat dan menghitung panas pelarutannya. Zat yang digunakan pada praktikum ini adalah asam borat. Digunakan asam borat karena kelarutannya sangat sensitive terhadap suhu sehingga dengan berubahnya suhu, kelarutan asam borat juga akan berubah selain itu asam borat memiliki kelarutan yang kecil bila dilarutkan dalam air. Langkah pertama yang dilakukan pada praktikum ini adalah melarutkan Kristal asam borat ke dalam aquades 100 ml pada suhu 50 0C. asam borat dilarutkan sedikit demi sedikit hingga asam boratnya tidak dapat larut lagi dalam aquades tersebut. Larutan yang diperoleh tersebut merupakan larutan jenuh. Reaksi pada saat terjadi kesetimbangan asam borat dalam aquades adalah : H3BO3(S) + H2O(l) H3BO3(aq)

Pada saat pembuatan larutan jenuh yang perlu diperhatikan adalah larutan jangan sampai lewat jenuh, sehingga endapat yang dihasilkan tidak terlalu banyak. Untuk larutan jenuh, setelah terjadi kesetimbangan antara zat terlarut dalam larutan dan zat yang tidak larut maka dalam kesetimbangan tersebut kecepatan melarut sama dengan kecepatan mengendap yang artinya konsentrasi zat dalam larutan akan selalu tetap. Tetapi apabila kesetimbangan diganggu misalnya dengan cara suhunya dirubah, maka konsentrasi larutan akan berubah. Setelah larutan jenuh selesai dibuat, langkah selanjutnya yaitu larutan asam borat jenuh dimasukkan dalam tabung reaksi besar yang suhunya selalu diamati dengan thermometer. Selanjutnya suhu diturunkan sampai 450C kemudian dipipet 10 ml untuk dititrasi dengan NaOH 0,05 N. Sebelum dititrasi, larutan diencerkan sebanyak 100 ml selanjutnya dipipet 10 ml untuk dititrasi dengan NaOH dan ditambahkan indicator pp 3 tetes. Titrasi dilakukan secara duplo (2 kali pengulangan). Untuk membuktikan bahwa bila suhu diturunkan, kelarutan zat juga turun sehingga dilakukan perlakuan yang sama untuk penurunan suhu sebesar 40, 35, 39, 25, 20 0C. Dari hasil titrasi diperoleh volume NaOH. Volume NaOH tersebut digunakan untuk menghitung kelarutan asam borat. Kelarutan asam borat dapat dicari dengan rumus V1.M1 sehingga kelarutannya dapat diketahui. Molaritas zat yang larut disebut kelarutan karena larutan tersebut larutan yang jenuh.

Dari hasil perhitungan pada tabel 2 dapat disimpulkan bahwa apabila kelarutan semakin rendah maka volume NaOH yang diperlukan juga semakin kecil. Besarnya kelarutan dipengaruhi oleh faktor : Jenis pelarut dan zat terlarut : bila zat pelarut sesuai dengan zat terlarut maka kelarutannya semakin besar Pengadukan : semakin besar frekuensi pengadukan maka semakin banyak zat yang terlarut Temperatur : semakin tinggi temperatur maka akan semakin besar kelarutannya Berdasarkan harga kelarutan pada tabel 2, maka dapat dihitung panas pelarutannya dengan menggunakan persamaan Vant Hoff sebagai berikut: Ln = [ ]

Dari persamaan diatas maka didapatkan 5 H, kemudian dihitung harga rata-rata H sebesar 13089,415 J/mol. Selain menggunakan persamaan Vant Hoff. Panas pelarutan Asam Borat dapat dihitung menggunakan regresi linier. Sebelumnya dibuat grafik ln s vs 1/T seperti pada grafik 1. Sumbu x adalah 1/T sedangkan sumbu y adalah ln s. Maka grafik tersebut akan diperoleh persamaan y = a + bx Dimana Ln s = Y b x a , sehingga

Dari regresi linear dapat diperoleh slope, dimana slope adalah b = harga J/mol. dapat ditentukan. Harga

berdasarkan grafik 1. adalah sebesar 13069,608

Setelah digunakan 2 cara yang berbeda untuk menghitung panas pelarutan maka didapatkan hasil yang sedikit berbeda, tetapi hasilnya sama-sama positif. Hal ini menunjukan bahea reaksi tersebut bersifat endoterm atau menyerap panas, sehingga terjadi perpindahan panas dari lingkungan ke sistem. Pada reaksi endotermis , semakin tinggi suhu maka semakin banyak zat yang larut.

0 0.0031 -0.2 -0.4 -0.6 ln s -0.8 -1 -1.2 -1.4 -1.6

Grafik ln s vs 1/T
0.00315 0.0032 0.00325 0.0033 0.00335 0.0034 0.00345

y = -1572.6x + 3.9205 R = 0.9374

1/T

Grafik 1. Grafik ln s vs 1/T

Hubungan antara kelarutan dan suhu dapat dilihat dari grafik 1. Pada grafik 1 dapat dilihat bahwa semakin tinggi suhu maka semakin besar kelarutan suatu zat.

G. Kesimpulan Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Larutan jenuh merupakan suatu larutan sudah tidak dapat melarutkan lagi zat terlarutnya. 2. Semakin tinggi suhu maka semakin besar kelarutan suatu zat 3. Kelarutan asam borat dalam aquades pada berbagai suhu adalah T (0 K) 318 313 308 303 298 293 s (M) 0,346 0,3285 0,3135 0,3 0,257 0,225

4. Panas pelarutan dari percobaan diperoleh : Dari grafik Dari perhitungan : 13069,608 J/mol : 13089,415 J/mol

H. Saran Saran yang dapat diberikan dalam praktikum kali ini adalah 1. Dalam membuat larutan jenuh harus diperhatikan benar benar apakah larutan tersebut sudah mengendap atau belum sehingga larutan nantinya tidak kelewat jenuh. 2. Pada titrasi sebaiknya dilakukan duplo atau triplo bila data yang diperoleh memiliki selisih yang cukup jauh, karena biasanya praktikan yang melakukan titrasi kurang jeli dalam melihat perubahan warna. 3. Pada saat pengambilan 10 ml asam borat yang telah jenuh menggunakan pipet volume sebaiknya ujung pipet volume diberi pipa silikon yang telah diisi dengan kapas atau glasswool untuk menghidari partikel partikel kecil yang belum mengendap ikut masuk dalam pipet volume sehingga mengganggu hasil konsentrasi asam borat yang diperoleh pada suhu tertentu.

I. Daftar Pustaka Alberty, Robert A and Robert J.Silbey. 1996. Physical Chemistry 2nd edition. USA: John Wiley and sons inc. Atkins, PW. 1994. Kimia Fsika. Jakarta: Elangga Kleinfelter, Keenan. 1996. Kimia Untuk Universitas. Jakarta: Erlangga Tim Dosen Kimia Fisik. 2011. Diktat Petunjuk Praktikum Kimia Fisik. Semarang : Laboratorium Kimia Universitas Negeri Semarang

J. Lampiran 1. Menghitung kelarutan asam borat b. Pada suhu 40 V1 = V NaOH = 6,57 ml N1 = N NaOH = 0,05 N V2 = V asam borat = 10 ml Setelah pengenceran V1xN1 = V2xN2 6,57x0,05 = 10xN2 N2 = 0,03285 N Jadi kelarutan kelarutan H3BO3 = 0,3285 M Sebelum Pengenceran V1xM1 = V2xM2 10x M = 10x0,03285 = 0,3285 M

c. Pada suhu 35 V1 = V NaOH = 6,27 ml N1 = N NaOH = 0,05 N V2 = V asam borat = 10 ml Setelah pengenceran V1xN1 = V2xN2 6,27x0,05 = 10xN2 N2 = 0,03135 N Jadi kelarutan kelarutan H3BO3 = 0,3135 M Sebelum Pengenceran V1xM1 = V2xM2 10xM = 10x0,03135 M = 0,3135 M

d. Pada suhu 30 V1 = V NaOH = 6,035 ml N1 = N NaOH = 0,05 N V2 = V asam borat = 10 ml

Setelah pengenceran V1xN1 = V2xN2 6,035x0,05 = 10xN2 N2 = 0,03 N Jadi kelarutan kelarutan H3BO3 = 0,3 M

Sebelum Pengenceran V1xM1 = V2 xM2 10xM = 10x0,03 M = 0,3 M

e. Pada suhu 25 V1 = V NaOH = 5,14 ml N1 = N NaOH = 0,05 N V2 = V asam borat = 10 ml Setelah pengenceran V1xN1 = V2xN2 5,14x0,05 = 10xN2 N2 = 0,0257 N Jadi kelarutan kelarutan H3BO3 = 0,257 M Sebelum Pengenceran V1xM1 = V2xM2 10xM = 10x0,0257 M = 0,257 M

f. Pada suhu 20 V1 = V NaOH = 4,505 ml N1 = N NaOH = 0,05 N V2 = V asam borat = 10 ml Setelah pengenceran V1xN1 = V2xN2 4,505x0,05 = 10xN2 N2 = 0,0225 N Jadi kelarutan kelarutan H3BO3 = 0,225 M Sebelum Pengenceran V1xM1 = V2xM2 10xM = 10x0,0225 M = 0,225 M

2. Kosentrasi asam borat sebelum dititrasi M= x

= 1,138 M

3. Menentukan panas pelarutan Asam Borat dengan perhitungan Untuk T1 = 318 oK, T2 = 313 oK Ln Ln = = [ ] [ ][ ]

-0,0519 = H Ln Ln = = [ = ]

( -5,023.10-5) J/mol

[ ( -5,023.10-5)

][

-0,38858 = H

= 7492,133264 J/mol

Untuk T1 = 308 oK, T2 = 303 oK Ln Ln = = [ ] [ ][ ]

-0,36596 = H

( -5,355767.10-5)

= 6830,5702 J/mol

Untuk T1 = 303 oK, T2 = 298 oK

Ln Ln

[ =

] [ ][ ]

-1,2862 = H

( -5,355767.10-5)

= 23227,75227 J/mol

Untuk T1 = 298 oK, T2 = 293 oK Ln Ln -1,1056 = H = [ = ] [ ][ ]

( -5,72646.10-5)

= 19306,83675 J/mol

H rata-rata =

= J/mol

= 13089,415 J/mol

4. Menentukan panas pelarutan Asam Borat dengan Grafik ln s vs 1/T T (0 K) 318 313 308 303 298 293 I/T (K-1) 0.003145 0,003195 0,003247 0.0033 0,003356 0,003413 S 0,346 0,3285 0,3135 0,3 0,257 0,225 Ln S -1,0613 -1,1132 -1,1599 -1,2039 -1,3587 -1,4917