Anda di halaman 1dari 21

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

BAB

Aqidah Islamiyah
A. PENDAHULUAN Setelah mengikuti perkuliahan Aqidah Islamiyah, anda diharapkan mampu: 1. Menjelaskan pengertian aqidah 2. Menjelaskan ruang lingkup pembahasan aqidah 3. Menjelaskan sumber aqidah Islam 4. Menjelaskan beberapa kaidah aqidah Islam 5. Menjelaskan fungsi aqidah B. PEMBAHASAN Kepercayaan adalah isu sentral (baca; masalah pokok) dari semua agama. Hal ini dikarenakan sistem ritus (tata cara penyembahan) dan sistem nilai (norma dan aturan) adalah konsekuensi logis dari sebuah kepercayaan. Dengan maksud lain, kemunculan agama diawali dengan terbangunnya kepercayaan. Lantas dari mana atau bagaimana permulaan proses pertumbuhan sebuah kepercayaan itu? Kepercayaan merupakan proses kejiwaan. Proses ini mampu mengesampingkan kemampuan akal untuk menemukan seperangkat jawaban terhadap kebutuhan fitrahi manusia akan adanya Dzat Supranatural yang melampaui dirinya dan alam raya ini (Tuhan). Proses menemukan jawaban ini bertitiktolak dari kontemplasi akal budi manusia yang menerawang jauh melampaui alam maya (metafisik), sehingga melahirkan banyak pertanyaan mendasar dari lubuk hati yang paling dalam.1 Ketidakmampuan akal menjawab di satu sisi, dan kecenderungan terhadap eksistensi Tuhan di sisi lain, memaksa manusia untuk menangguhkan potensi akal pikirannya, dan segera mengambil sikap percaya. Akan tetapi tidak berarti bahwa lahirnya

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

24

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

kepercayaan sebagai sikap keterpaksaan, melainkan tetap dalam koridor kesukarelaan dan proses yang alami. Namun kepercayaan yang telah terbangun ternyata bukanlah sesuatu yang baku (built in) dan konstan. Sejarah telah memperlihatkan bagaimana sistem kepercayaan manusia lebih merupakan sebuah organisma yang senantiasa tumbuh berkembang dari bentuk yang paling sederhana hanya sekadar percaya kepada Tuhan sampai sempurna menjadi sebuah agama. Dalam pandangan masyarakat primitif yang nomaden, kehidupan sangat bergantung pada hutan dan pepohonan sebagai sumber hidup, sehingga muncul sikap memuliakan (sakralisasi) terhadap pepohonan besar dan tua. Kehidupan manusia kemudian meningkat, yakni sudah mulai mengenal cara bercocok tanam dan mendiami suatu kawasan. Hal ini membawa mereka pada pemahaman baru yakni kehidupan sangat bergantung kepada air dan matahari, lalu mempertuhankannya. Bagi mereka, keduanya memiliki kekuatan gaib yang misterius sehingga harus disembah (dimuliakan). Faham seperti ini disebut dinamisme. Kecenderungan terhadap kekuatan gaib ini berkembang sampai disimpulkan bahwa ada pihak lain yang memiliki kekuatan gaib yang lebih misterius, yakni roh. Roh dinilai sebagai sumber kekuatan utama yang dimiliki setiap benda, hewan dan tumbuhan. Faham ini kemudian disebut animisme. Namun baik dinamisme maupun animisme, keduanya merupakan faham polyteisme dan hasil akal budi manusia semata. Secara sederhana, agama diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yaitu agama budaya yang mempertuhankan banyak tuhan (polyteisme); sebagai hasil akal budi manusia dalam upaya menemukan Tuhan, dan agama samawi/wahyu yang mempertuhankan satu tuhan (monoteisme); berasal dari Tuhan yang disampaikan kepada manusia melalui perantara utusan yaitu para Rasul. Islam adalah agama wahyu (monoteisme) di mana dalam sejarah kemunculannya murni berasal dari Tuhan (Allah Swt). Jalan menuju Islam adalah proses menemukan Allah Swt secara sadar dan berbasis ketulusan nurani dan penyelidikan akal. Dalam mengajak manusia untuk beriman (percaya) kepada Allah Swt, Islam sama sekali tidak melalui jalur kekerasan
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

25

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

dan paksaan. Dengan demikian kepercayaan atau keimanan akan tumbuh dengan wajar dalam jiwa.


Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. 2: 256). Ayat ini sekaligus menjawab pertanyaan mengapa dalam kerasulan Muhammad Saw, Islam hampir tidak pernah menggunakan mujizat berupa kejadian dan perbuatan luar biasa yang dapat menyilaukan akal sehat dan pikiran manusia normal, dengan tujuan membuat manusia menerima dan percaya kepada Islam tanpa peninjauan dan penyelidikan akal.2 Padahal jika Allah Swt menghendaki, maka semua manusia bisa dipaksa atau diwajibkan untuk mengimani-Nya tanpa syarat (QS. 26: 4). Hanya, Allah Swt lebih menyukai keimanan yang muncul dari kesadaran dan pemerikasaan. Manusia diajak dan diarahkan kepada realitas alam raya. Supaya diperhatikan bagaimana dunia ini dibangun dengan susunan yang teratur dan teguh, saling berhubungan satu dengan lain dan menjadi satu kesatuan erat (QS. 2: 164, QS. 84: 1-4, QS. 82: 1-5, QS. 51: 4749). Di kala itulah keimanan dan pengakuan yang mutlak akan timbul.3 Kecuali itu, manusia diharapkan memenuhi kalbunya dengan akidah Islam berdasarkan dali-dalil yang meyakinkan. Kecuali itu, Islam yang diimani dapat membangkitkan kesadaran batin dan perasaan murni kemanusiaan.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

26

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

Lantas mana yang lebih utama antara keimanan berbasis pertimbangan akal atau keimanan yang timbul dari perasaan murni manusia? Dalam hal ini Abbas Mahmud al-Aqqad berpandangan bahwa faktor kesadaran yang melahirkan keimanan ini merupakan faktor yang paling kuat dan kokoh dibanding dengan faktor lain seperti argumentasi-argumentasi logis (pertimbangan akal).4 Hal ini dikarenakan akal memiliki keterbatasan untuk memahami sesuatu yang Tak Terbatas. Peri kemanusiaan yang murni (nurani) di satu sisi dan kemampuan analisis akal manusia di sisi lain, sebenarnya tidak berada dalam posisi yang saling dipertentangkan, sehingga dicari mana yang lebih utama. Karena sejatinya berawal dari kesadaran fitrahi manusia yang mendorong menerima wahyu kemudian membimbing akal. Sama halnya dengan proses menemukan realitas Mutlak di awal, proses tumbuh-berkembangnya keimanan juga tidak serta merta jadi dan sempurna menjadi keyakinan (aqidah), akan tetapi melalui tahapan-tahapan yang panjang. Sebelum sampai pada tingkat yakin, tahapan pertama adalah syak; yaitu sama kuat antara menerima dan menolak. Kedua zhan, yaitu salah satu lebih kuat (sedikit) dari yang lainnya karena sudah ada dalil yang menguatkannya. Ketiga ghalabatu al-zhan, yaitu cenderung lebih menguatkan salah satu karena sudah meyakini dalil kebenarannya. Dan jika keyakinan sudah sampai pada tingkat ilmu, maka sempurnalah ia menjadi aqdah (keyakinan yang kokoh).5 Barangkali kisah perjalanan Nabi Ibrahim As dalam menemukan Tuhan (Allah Swt) bisa dijadikan perumpamaan yang tepat. Tatkala ia (Ibrahim As) berjalan di gelap malam dan memandangi bintang-bintang, ia berkata inilah Tuhanku, tetapi ketika bintang-bintang tersebut tenggelam, ia menarik kembali ucapannya. Hal ini terulang ketika ia melihat bulan. Lantas ia bergumam sekiranya Dia tidak memberi petunjuk, maka niscaya aku akan tersesat. Hingga kemudian ia melihat matahari yang bersinar terang, ia berkata inilah Tuhanku (karena ini lebih besar/menakjubkan), tetapi ketika matahari juga akhirnya tenggelam ia akhirnya berkata bahwa sesungguhnya ia berlepas diri dari kesesatan/kemusyrikan kaumnya. Lantas ia menghadapkan wajahnya (menghadapkan kalbunya) kepada Dzat Pencipta alam raya (cenderung kepada ad-Dn
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

27

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

yang benar). Proses ini ia jalani, karena nuraninya memberontak terhadap apa yang dilakukan oleh kaumnya; yaitu menyembah berhala (QS. 6: 74 79). Dan sangat jelas bahwa di tengah usahanya itu, Ibrahim As senantiasa mengharapkan bimbingan wahyu dari realitas Mutlak. Ibrahim (As) seperti digambarkan di atas, adalah figur manusia yang telah sempurna peta kemanusiaannya. Hal ini dikarenakan ia senantiasa berupaya memperteguh aspek soul kehidupan kalbu/jiwani yang paling dalam jiwa sebagai fondasi spiritual yang menopang aktivitas psikis lainnya. Aspek soul (iman) yang teguh merupakan entitas manusia untuk menjalin relasi vertikal dengan Tuhan, sehingga mampu merangkai fungsi aspek psikis lainnya dalam relasi horizontal dengan penuh keyakinan (mantap).6 Keimanan yang telah menjadi keyakinan (aqidah) harus mendatangkan ketentraman jiwa manusia, karena kebutuhan hidupnya sudah terjembatani. Bila seseorang sudah meyakini suatu kebenaran, maka dia harus menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran tersebut. Untuk sampai pada keimanan yang menentramkan jiwa, harus sampai pada derajat yakin, dan untuk sampai pada yakin, maka akal harus menyusun penjelasan rasional untuk membenarkan apa yang diimani hatinya. Fitrah manusia memang cenderung kepada Tuhan, dan indera (akal) digunakan untuk menguji dan membuktikannya.7 Inilah tahapan yang benar, karena memang akal sesuai dengan makna kebahasaannya aql yang berarti tali pengikat. Ia adalah potensi manusiawi yang berfungsi sebagai alat pengikat manusia agar tidak terjerumus ke dalam dosa dan kesalahan. Tanpa akal, siapapun akan terjerumus (baca; tersesat) meski memiliki pengetahuan teoritis yang mendalam.8 Tetapi fungsi pengikat ini tidak berarti akal dapat beriri sendiri, karena akal juga digambarkan sebagai kemampuan berenang seseorang. Ia sangat berguna dan penting manakala gelombang dan ombak normal. Tetapi ketika ombak pasang dan gelombang membahana, maka kemampuan berenang menjadi tidak berguna; bisa atau tidak bisa berenang sama saja, dan dalam kondisi ini manusia membutuhkan pelampung; dan pelampung inilah tuntunan wahyu (agama).9 1. Pengertian Aqidah
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

28

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

Secara etimologis, aqidah berasal dari kata aqada yaqidu aqdan aqdatan. Aqdan berarti simpul, ikatan, perjanjian dan kokoh. Dan setelah menjadi aqdatan (aqidah) maka bermakna keyakinan. Sintesa antara makna kata aqdan dan aqdah adalah keyakinan itu tersimpul dengan kokoh di dalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian.10 Hasil penelusuran terhadap kata bentukannya (aqd) adalah berarti sesuatu yang mengendap dan mengental di dasar atau di dalam. 11 Sehingga bisa dimaknai bahwa keyakinan yang tersimpan kokoh di dalam pusat kemanusiaan manusia; yakni hati. Untuk sampai pada makna terminologis, maka perlu dibahas aspek-aspek pembangun akidah. Pertama, hakikat akidah adalah keyakinan yang mengikat dalam jiwa. Kedua, materi akidah adalah keimanan (kepercayaan) kepada aspek ilahiyat (ketuhanan), nubuwat (risalah para nabi), ruhaniyat (alam metafisik), dan samiyat (alam gaib). Kesemuanya tertuang dalam rukun iman yang enam (arkn al-mn). Ketiga, sumber akidah yaitu dua sumber wahyu (al-Quran dan as-Sunnah). Keempat, tujuan/fungsi akidah, yaitu sebagai pengikat fitrah manusia yang cenderung kepada kebenaran (tauhid), dan peneguh kepercayaan tersebut menjadi keyakinan hidup. Dengan demikian, akidah dapat diartikan sebagai: keyakinan yang tersimpan kokoh di dalam jiwa, meliputi perkara-perkara yang harus diimani (rukun iman), ditetapkan dari al-Quran dan as-Sunnah, sebagai fondasi keberagamaan seorang muslim. Asy Syahid Hasan al-Banna memberikan satu definisi terminologis lain tentang akidah sebagai: aqaid (jamak dari akidah) adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati (mu), mendatangkan ketenteraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan 12 Istilah akidah dalam Islam adalah sesuatu yang badihy, yaitu masuk dalam kategori sesuatu yang kebenarannya perlu dalil pembuktian, tetapi karena sudah sangat umum dan mendarah daging di dalam diri setiap muslim, maka kebenaran itu tidak lagi perlu pembuktian. Dengan maksud lain, bagi sebagian besar orang istilah akidah sudah tidak perlu dicari-cari dalil pembenarannya (dharury). Sementara bagi pihak lain,
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

29

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

akidah masih memerlukan dalil-dalil pembuktian. Metode pembuktian akidah harus diawali dari pengakuan terhadap kecenderungan (fitrah) manusia kepada kebenaran (tauhid), lalu mengerahkan indera untuk mencari kebenaran tersebut. Sementara akal digunakan untuk menguji kebenaran yang ditemukan indera. Namun ada hal-hal yang tidak dapat dijangkau akal sehingga memerlukan wahyu untuk menunjukkan dan mengantarkan manusia kepada siapa Tuhan yang sebenarnya. Tingkat pemahaman manusia terhadap dalil (argumentasi) dan pengalaman bersama kebenaran, akan sangat menentukan tingkat keyakinan (akidah) yang terpatri di dalam hatinya. Akidah seringkali diidentikkan dengan istilah iman. Upaya identifikasi ini tidak keliru, mengingat memang terdapat titik temu antara akidah dan iman. Persamaan keduanya bisa ditinjau dari aspek semantik kebahasaannya maupun dari ruang lingkup kajiannya. Akidah adalah bagian dalam dari iman. Jika iman hanya dimaknai sebagai pembenaran di dalam hati saja, maka akidah dan iman adalah bersinonim. Dengan demikian akidah dapat dimaknai sebagai kebenaran yang dapat diterima manusia berdasarkan fitrah, pertimbangan akal dan bimbingan wahyu, terpatri secara kokoh di dalam hati. Pembenaran (tashdq) terhadap kebenaran ini tereprentasikan dalam kalimat pengakuan; syahadatain. Kalimat ini merupakan indikator vital bahwa seseorang telah memiliki akidah (Islam).13 Pengakuan terhadap risalah Nabi Muhammad Saw, berarti membenarkan dan meyakini dengan sempurna tentang semua pokok-pokok ajaran Islam (ushuluddin).


BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

30

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasulrasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."

2. Ruang Lingkup Pembahasan Akidah Karena akidah adalah pokok dari agama, maka ruang lingkup yang menjadi objek bahasannya pun adalah segala unsur pokok ajaran agama (Islam). Beberapa unsur keimanan yang dimaksud adalah:14 a. Ilahiyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan ketuhanan (al-ilh), seperti wujud (ada) Allah, nama-nama dan sifat-sifat Allah. Terutama pengakuan terhadap wahdaniat (keesaan) Allah, yakni membenarkan fakta bahwa hanya Ia sendiri yang menciptakan, mengatur dan mengurus segala sesuatu. Tiada bersekutu dengan siapapun tentang kekuasaan dan kemuliaan. Tiada yang menyerupai-Nya tentang zat dan sifat-Nya. Hanya Dia saja yang berhak disembah, dipuja dan dimuliakan secara istimewa. Tidak boleh menghadapkan kalbu, mengajukan permintaan dan menundukan diri melainkan hanya kepadaNya.15


Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS. 112: 1-4)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

31

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

Pengakuan terhadap wahdaniyat Allah ini merupakan kesempurnaan akidah tentang Allah, karena dari sini mengandung dua aspek tauhid, yaitu tauhid rubbubiyah dan tauhid uluhiyah. Sangat tidak memadai jika pengakuan (baca; keimanan) seseorang hanya dalam tahapan rubbubiyah, karena keimanan syaitan dan masyarakat jahiliyah dahulu pun telah sampai pada taraf ini. Sehingga untuk menyempurnakan akidah, harus dilanjutkan pada tahapan uluhiyah. Penjelasan lebih mendalam tentang kedua tahapan tauhid ini, akan disampaikan pada bagian lain buku ini. b. Nubuwat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasul, termasuk di dalamnya kajian tentang kitab-kitab Allah dan mujizat yang dianugerahkan sebagai peneguh kenabian mereka, karomah dan lainnya. Untuk menyampaikan dan menerangkan syariat, Allah memilih di antara hamba-Nya yang dipandang layak sebagai utusan-Nya untuk memikul risalah ilahi. Kepada mereka disampaikan wahyu melalui perantara malaikat meski terkadang Allah menemui secara langsung dalam rangka menyeru manusia kepada keimanan dan amal shaleh. c. Ruhaniyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik (ghaib) seperti malaikat, jin, iblis, syaitan, roh dan lainnya. Keimanan terhadap alam supranatural ini masuk dalam kategori pokok ajaran agama Islam bahkan semua agama sekaligus menjadi wilayah yang hanya bisa didekati dengan keimanan atau kepercayaan. d. Samiyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa al-Quran dan as-Sunnah. Seperti alam diketahui melalui sami (wahyu) yaitu penghitungan, surga dan neraka. Selain beberapa objek pembahasan di atas, pembahasan akidah juga bisa mengikuti sistematika arkn al-mn, yaitu:16 1. Iman kepada Allah Swt 2. Iman kepada Malaikat 3. Iman kepada Kitab-kitab Allah
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

barzakh (kubur), azab kubur, akhirat, hari kiamat, hari berbangkit, hari

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

32

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

4. Iman kepada Nabi dan Rasul 5. Iman kepada Hari Akhir, dan 6. Iman kepada Taqdir Allah Perkara cakupan akidah ini telah disebutkan secara jelas terutama oleh asSunnah dalam hadits tentang iman, Islam dan ihsan sehingga praktis tidak ada perbedaan pandangan (ikhtilaf) terhadap hal ini. 3. Sumber Akidah Islam Sumber akidah ini tentunya al-Quran dan as-Sunnah, karena hanya dua sumber ini saja yang memadai untuk menjelaskan kompleksitas agama wahyu Islam. Kecuali itu, perkara akidah hanya dapat didekati dengan kepercayaan dan nurani kemanusiaan murni meski dapat diuji dan diperteguh melalui pertimbangan akal dan ini hanya dapat dipenuhi melalui kabar-kabar samiyat (al-Quran dan as-Sunnah) yang notabene berasal dari Dzat Yang Menguasai perkara tersebut. Namun dalam menetapkan al-Quran dan as-Sunnah sebagai sumber akidah, ada dua hal yang mesti diperhatikan dan diteliti secara seksama, yaitu kedua sumber tersebut harus mengandung kebenaran pasti (qath); dan memiliki tujutan yang tegas (tidak multi-interpretable).17 Kebenaran pasti berarti kabar itu benar berasal dari Allah Swt atau Rasul-Nya secara meyakinkan. Dan dalam hal ini al-Quran jelas tidak memiliki keraguan sedikitpun. Namun terhadap as-Sunnah, maka hanya hadits mutawatir-lah yang dapat diterima, dikarenakan bersumber pasti dan bertujuan tegas. Sedangkan hadits ahad meski shahih tidak dapat dijadikan sandaran akidah Islam. hadits (sunnah) ahad hanya menimbulkan persangkaan. Allah membolehkan mempergunakan persangkaan di dalam masalah amal, yaitu cabang dan bukan yang bersifat ilmiah seperti akidah pokok dalam agama (Asnawi).18 Yang dimaksud dengan hadits ahad hanya menimbulkan persangkaan di atas adalah bahwa kebersambungannya dengan Rasul hanya kemungkinan (zhann), dan memiliki dua atau lebih substansi pembahasan. Akal pikiran tidak memadai dijadikan sumber akidah Islam, namun akal bisa difungsikan untuk memahami nash-nash yang terdapat dalam dua sumber wahyu, dan
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

33

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

dalam kondisi tertentu dapat menguji atau membuktikan kebenaran al-Quran dan asSunnah secara ilmiah.19 Meski dipahami sebagai daya pikir yang dapat mengantarkan seseorang untuk mengerti dan memahami persoalan yang dihadapi, namun kemampuan akal terbatas dan memiliki domain tersendiri. Inilah yang mesti difahami secara hatihati, karena di samping akal dengan kemampuannya bisa membuktikan adanya Tuhan, tetapi kemampuan akal juga (pernah) membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Islam adalah agama rasional. Ini benar! Tetapi apakah maknanya? Apakah berarti Islam merujuk pada akal? Atau Islam memberikan kebebasan berkeyakinan (baca; berbuat) sesuai petunjuk dan arahan akal? Tidak dapat dipungkiri, ada banyak ayat al-Quran dan hadits yang memuji kaum berakal dan mendorong manusia untuk memfungsikan akalnya. Namun tujuannya adalah agar manusia menerima dengan baik ketetapan dari siapapun selama sejalan dengan akal, dan menolak apa dan dari siapapun jika memang bertentangan dengan akal. Tetapi bukan berarti menolak sesuatu yang tidak dipahami akal, selama hal tersebut berasal dari siapa yang menurut akal sehat dipastikan benar.20 Sebagaimana kita harus menerima ajaran Nabi meski tidak paham karena akal sehat kita berkata bahwa ia (Nabi) tidak mungkin berbohong. Ada tiga wilayah yang seringkali tersamarkan. Yaitu pertama wilayah rasional (fisika), yang secara hakikat benar dan dapat dijangkau akal. Kedua wilayah irrasional, yang secara hakikat tidak benar karena bertentangan dengan akal. Dan ketiga wilayah supra-rasional (metafisika), yang secara hakikat benar hanya tidak terjangkau akal. Termasuk dalam wilayah ini adalah segala sesuatu yang tidak terikat pada ruang dan waktu.21 Upaya menguji kebenaran nash-nash secara ilmiah yang dilakukan akal hanya berkutat pada wilayah rasional (fisika), selain itu hanya bisa didekati dengan keimanan. Dalam hal ini jelas pesan Nabi Saw: berpikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan berpikir tentang Dzat-Nya, karena akan membuatmu binasa (HR. AthThabarani). Kebinasaan itu disebabkan betapa argumentasi logis tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan dan memadai, terutama permasalahan ketuhanan (akidah). Bukankah eksistensi dan kehendak Tuhan telah lama menjadi tema sentral pemikiran
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

34

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

spekulatif dan perbincangan kaum berakal (filosof)? Namun semua jawaban tidaklah memuaskan, atau bahkan menimbulkan permasalahan baru yang seringkali lebih rumit. 4. Beberapa Kaidah Akidah Beberapa kaidah berikut akan memperjelas sejauhmana fitrah dan kinerja akal berperan dalam permasalahan akidah.22 a. Apa yang saya dapat dengan indera, saya yakini adanya, kecuali bila Pertama kali orang melihat sebatang kayu yang bengkok di dalam gelas berisi air putih, maka anak berkesimpulan bahwa kayu tersebut benar-benar bengkok. Namun di kemudian waktu ternyata dibuktikan bahwa hal itu salah dan hanya tipuan inderawi. Sehingga ketika melihat untuk kedua kalinya, akal akan segera menolak dan mengatakan tidak demikian (bengkok) adanya (tetapi lurus).23 Begitu banyak fenomena alam yang bersifat fatamorgana ini. Seperti kita masih kecil yang dibuat terlena dengan kondisi sejati bintang-bintang di langit. Secara kasat mata atau simpulan kali pertama kita saksikan bahwa bintang-bintang tersebut sangat kecil, berkerlipan dan bersinar layaknya lampu. Namun seiring berjalannya waktu kita mendapatkan kenyataan bahwa kesimpulan selama ini salah. Karena ilmu pengetahuan menjelaskan bahwa bintang-bintang tersebut adalah planet-planet layaknya Bumi dan beberapa di antaranya jauh lebih besar dari Bumi, serta tidak memancarkan cahaya layaknya lampu. b. Keyakinan, di samping diperoleh dengan menyaksikan langsung, juga Terkadang kita dipaksa meyakini sesuatu yang belum disaksikan oleh indera mata. Bahkan jika keyakinan demi keyakinan dikajiulang, maka akan didapati keyakinan yang belum disaksikan lebih banyak daripada keyakinan dengan menyaksikan langsung. Keyakinan tentang negara-negara di Benua Afrika misalnya, begitu kuat tanpa keraguan sedikitpun bahwa negara-negara tersebut benar ada di Afrika. Mesir,
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

akal saya mengatakan tidak berdasarkan pengalaman masa lalu.

bisa melalui berita dari seseorang yang diyakini kejujurannya.

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

35

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

Libya, Maroko kita yakini keberadaannya meskipun belum menyaksikannya. Begitu juga dengan fakta sejarah, kita begitu yakin bahwa Daulah Umayyah dan Abbasiyah pernah eksis dan merajai hampir setengah dunia selama tujuh abad lamanya. Keyakinan ini kita dapati dari berita (baca; data) yang dibawa oleh pihakpihak yang menurut pertimbangan akal sehat benar dan dapat dipertanggungjawabkan (valid). Kebenaran ini tidak dapat dipungkiri karena sudah maklum disepakati khalayak. Jika ingin membuktikannya mari lakukan eksperimen berikut, di hadapan banyak orang anda berkata bahwa Patih Gadjah Mada itu cuma mitos dan anda tidak mempercayainya karena tidak menyaksikan sendiri. Anda akan melihat tanggapan ketidaksetujuan khalayak seraya berusaha memperbaiki argumentasi dan sikap keras kepala anda dengan menunjukkan fakta sejarah yang tak terbantahkan secara ilmiah, atau ada yang berpandangan bahwa anda sedang berkhayal, meracau bahkan gila. c. Anda tidak berhak memungkiri wujudnya sesuatu, hanya karena anda Hakikat kebenaran tidak selamanya harus dapat dijangkau indera. Hal ini dikarenakan kemampuan indera memang sangat terbatas. Telinga misalnya, tidak bisa mendengar gerakan semut dalam jarak dekat sekalipun. Atau melihat bermacam-macam gelombang suara di udara, sementara ada begitu banyak pemancar radio dan stasiun televisi.24 Pun karena keterbatasannya, indera mata tidak bisa melihat vitamin yang dikandung sayur-sayuran dan atau protein yang dikandung minuman (susu). Tetapi keterbatasan ini tidak lantas menjadikan manusia memungkiri hakikat sebuah kebenaran. d. Seseorang hanya bisa mengkhayalkan sesuatu yang sudah pernah Tidak ada kreator murni selain Allah Swt. Segala ciptaan, temuan dan hasil pengamatan yang dilakukan manusia hanya berkutat pada kasus-kasus recovery.
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

tidak bisa menjangkaunya dengan indera mata

dijangkau oleh inderanya.

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

36

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

Segala pikiran dan visualisasi (khayalan) yang dilakukan manusia tidak lain hanya mengurai kembali memori yang pernah dijangkau indera. Seorang arsitek yang merancang sebuah model rumah ideal, pada hakikatnya ia sedang membangkitkan memorinya tentang berbagai model rumah, kemudian melakukan visualisasi (berkhayal) tentang rumah ideal (baru). Namun ke-baru-an rumah hasil rancangannya tetap berdasar pada model-model rumah yang telah ada. Khayalan seorang sutradara film tentang sosok (baca; lakon) bidadari, bukanlah suatu daya kreasi yang mandiri, tetapi berpijak pada memori perempuanperempuan cantik nan anggun yang coba disinergikan dengan idealitas bidadari sebagai sosok perempuan tercantik. Akal pikiran manusia mampu untuk berimajinasi dan bervisualisasi tentang suatu realitas, sepanjang realitas tersebut adalah terikat oleh hukum (dimensi) yang terjangkau indera. Sementara realitas yang berdimensi lain dan tak mampu dijangkau indera, tidak bisa dihadirkan dalam alam pikir (berkhayal), tetapi bisa dihadirkan dalam alam rasa (iman). e. waktu. Akal manusia hanya dapat memikirkan dan memahami segala sesuatu yang terikat dengan ruang dan waktu (dimensi kemanusiaan). Bahkan akal tidak bisa menjangkau hikmah, dan baru memahaminya ketika hikmah tersebut terhidang di hadapannya. Alkisah seorang anak mendapat wasiat untuk tidak menebangi pepohonan di sekitar rumahnya. Sang anak berpikir mungkin inilah yang membuat udara di rumah segar. Lantas ia berpikir bukankah lebih segar jika ditanami bunga? Maka ditebanglah pepohonan itu dan diganti dengan tanaman bunga. Apa yang terjadi? Sejak itu ia sering mandapati ular yang masuk ke rumahnya. Sang anak lantas bergumam sekarang saya baru tahu mengapa ayah melarang saya menebangi pepohonan di sekitar rumah, sementara bunga tidak berfungsi apaapa.25 Akal sang anak baru mengetahui hikmah ucapan ayahnya, tatkala hikmah itu sendiri yang mendatanginya.
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

Akal hanya bisa menjangkau hal-hal yang terikat dengan ruang dan

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

37

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

Sebenarnya, segala sesuatu selama bergelar makhluk terikat oleh ruang dan waktu. Hanya, ruang dan waktu yang dimiliki masing-masing makhluk berbedabeda. Artinya, jika manusia hidup dalam dimensi kemanusiaan (fisika), maka makhluk hidup lain juga hidup dalam dimensinya (fisika/metafisika). Kecuali itu, setiap makhluk telah terikat oleh hukum-hukum tertentu yang tidak bisa dilanggar. Karena melanggarnya berarti akan merusak ekosistem dan keseimbangan alam raya (makrokosmos). f. Iman adalah fitrah setiap manusia. Dalam kondisi bagaimana dan di manapun manusia akan berusaha mencari sandaran hidup. Hal ini karena pada fitrahnya manusia merasa ada sesuatu yang melampau dirinya, sehingga cenderung untuk meminta bantuan dan perlindungan kepadanya. Dan sesuatu tersebut adalah Tuhan. Menghadapi masalah remeh-temeh sekalipun manusia tidak luput dari usaha mencari bantuan dan lindungan ini, lazimnya seseorang yang meminta rekomendasi pejabat agar lulus ujian PNS. Manusia yang mengaku dirinya tuhan seperti Firaun, ketika merasa kehilangan harapan hidup, padahal ia masih ingin hidup dan berkuasa, fitrah kemudian menuntunnya kepada Dzat yang melampauinya. Pada saat demikian, fitrah Firaun membimbing lisannya untuk secara refleks memanggil Tuhan dan meminta pertolongan, padahal sebelumnya sedikitpun ia tidak pernah menyebut nama Tuhan. Ya Tuhan, terima kasih karena sampai saat ini saya masih atheis. Anekdot ini tidak saja menggelikan, tetapi sekaligus menggugah akal dan rasa manusia. g. Kepuasan material di dunia sangat terbatas. Manusia tidak akan pernah merasa puas terhadap apa yang telah dimilikinya. Sebut saja seseorang yang sangat ingin memiliki sepeda, setelah itu ia pasti ingin memiliki motor, kemudian ingin mobil, itupun tidak puas jika tidak berganti-ganti merk mobil, setelah itu ia ingin memiliki pesawat, kapal pesiar dan begitu seterusnya.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

38

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

Tersebutlah seorang mahasiswa yang mengaku siap menikah jika ia sudah memiliki penghasilan minimal Rp. 300 rb per bulan, namun ketika ia bisa menghasilkan uang sebanyak itu, ia lantas bergumam zaman sekarang uang Rp 300 rb bisa beli apa? Sesuatu yang awalnya luar biasa, tetapi setelah dicapai menjadi biasa saja. Keinginannya pun bertambah, yakni siap menikah jika penghasilannya minimal Rp. 500 rb per bulan. Pada akhirnya sampai sang mahasiswa lulus dan bekerja tetap saja belum siap untuk menikah. Spekulasi aqliyah yang membuat perameter puas tidak pernah memuaskan akal karena sangat terikat oleh dimensi kemanusiaan yang materiil dan nisbi (relatif). Sementara hawa nafsu tidak terjebak dengan dimensi tersebut. Bagaimana akal yang terbatas mampu meredam hawa nafsu yang tidak terbatas? Oleh karena itu, akal manusia membutuhkan bimbingan sesuatu agar bisa mencapai kepuasan yang hakiki. h. Keyakinan tentang Hari Akhir adalah konsekuensi logis dari keyakinan Adakah di antara kita yang mempercayai seseorang hanya lantaran ia memiliki nama tertentu? Tentu jawabnya tidak. Tidak ada seorangpun yang percaya dan menjadi fanatik karena hanya mengenal namanya. Kecuali itu, mempercayai seseorang, berarti mempercayai ucapannya, sifat-sifatnya, idealismenya, dan segala yang melekat padanya. Sejak zaman azali, keimanan manusia terhadap Tuhan tidak berhenti pada tataran nama, tetapi (mesti) berlanjut pada sikap mempercayai kemampuan (baca; kekuasaan) Tuhan sebagai kemampuan yang serba Maha; Maha Perkasa, Maha Adil dan Maha Sempurna. Sama halnya ketika anda beriman kepada Allah Swt, maka konsekuensi logisnya adalah anda mesti menerima segala kemampuan yang dimiliki Allah Swt. Atau justru lantaran kemampuan-Nya itulah yang membuat anda mengimani-Nya. Hal tersebut muncul karena hati tidak terpuaskan oleh segala produk yang disuguhkan akal berupa hukum dan sistem hidup. Betapapun berat vonis
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

tentang adanya Allah.

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

39

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

hukuman hakim atas seorang pelaku kriminal, masih saja menyisakan rasa tidak puas. Atau terhadap mereka yang dipandang jahat namun terbebas dari segala tuntutan hukum, nurani manusia akan mendorongnya berucap tunggulah sampai keadilan Tuhan ditegakkan. Kecuali itu, iman kepada Allah Swt erat relasinya dengan keimanan kepada sifat dan kemampuan-Nya. Atau justru lantaran sifat dan kemampuan-Nya itulah Ia (Allah Swt) diimani. 5. Fungsi Akidah Jika dilihat dari periode dakwah Islam yang dilakukan Nabi Saw, maka jelas terungkap bahwa periode dakwah I (Makkah) lebih lama daripada periode dakwah II (Madinah). Selama 13 tahun lamanya, konsentrasi Nabi Saw terfokus pada upaya membangun fondasi agama (akidah) yang kokoh. Begitu kokohya landasan akidah Islam inilah yang membuat Islam dengan mudahmembangun Kerajaan Tuhan (syariat Islam) pada periode setelahnya. Begitulah akidah, sebagai dasar dan fondasi untuk mendirikan bangunan. Semakin tinggi bangunan yang akan didirikan, harus semakin kokoh fondasi yang dibuat. Kalau fondasinya lemah bangunan akan cepat roboh. Kecuali itu, tidak ada bangunan tanpa fondasi.26 Jika kita mencoba menjabarkan manusia dalam satu keutuhan peta kemanusiaan, maka di dalamnya terdapat kompleksitas aspek psikis yang saling terintegrasi. Agar kesemua aspek psikis berperan optimal, setiap individu dituntut untuk menyeimbangkan relasi vertikal dan relasi horizontal. Aspek soul (kehidupan jiwani yang terdalam) merupakan entitas manusia untuk menjalin relasi vertikal dengan Tuhan Yang Maha Esa. Keyakinan yang teguh akan iman merupakan fondasi spiritual dalam menopang optimalisasi fungsi-fungsi aspek psikis lainnya.27 Dengan relasi vertikal yang kokoh, individu akan mampu merangkai fungsi aspek psikis lainnya dalam relasi horizontal. Tingkat kekokohan relasi vertikal ini sangat mempengaruhi tingkat pemahaman dan penerimaan diri, sehingga akan mengikis tuntas emosi negatif manusia yang paranoid, hasad, egoisme, iri hati dan lainnya.
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

40

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

Jika sistematika ajaran Islam dikelompokkan ke dalam akidah-ibadahsyariah-akhlak, atau iman-Islam-ihsan, maka sesungguhnya kesemua itu menunjukkan suatu keniscayaan, sehingga antara satu aspek dengan aspek lain tidak dapat dipisahkan. Akidah yang kuat akan melahirkan ibadah yang tertib, syariah yang taat dan akhlak yang anggun. Tingkat kemantapan akidah sangat menentukan totalitas ibadah (kepasrahan dan ketundukan) seseorang. Tidaklah seseorang yang lalai mengingat Allah Swt melainkan ia telah melalaikan dirinya sendiri. Sebaliknya, seorang hamba yang menyibukkan mengingat Allah Swt (dzikrullah), membuat ia semakin sadar diri. Kesadaran akan keberadaan, tugas dan tujuan diri ini akan membuat seseorang mampu menerima dirinya. Kesadaran dan penerimaan ini pada akhirnya mengikis emosi negatif di satu sisi, dan menumbuhkan emosi positif di sisi lain; kepekaan sosial, toleran terhadap keberbedaan, rasa berbagi bertambah dan memiliki jiwa besar. Optimalisasi fungsi masing-masing aspek di atas, adalah proses yang berjalan secara sinergi sebagai satu kesatuan gerakan menuju keseimbangan jasmani ruhani, keseimbangan relasi vertikal (hablu min al-Allh) dan relasi horizontal (hablu min al-ns). C. RANGKUMAN Jalan menuju Islam adalah proses menemukan Allah Swt secara sadar dan berbasis ketulusan nurani dan penyelidikan akal. Dalam mengajak manusia untuk beriman (percaya) kepada Allah Swt, Islam sama sekali tidak melalui jalur kekerasan dan paksaan. Dengan demikian kepercayaan atau keimanan akan tumbuh dengan wajar dalam jiwa. Jalan menuju Islam adalah proses menemukan Allah Swt secara sadar dan berbasis ketulusan nurani dan penyelidikan akal. Dalam mengajak manusia untuk beriman (percaya) kepada Allah Swt, Islam sama sekali tidak melalui jalur kekerasan dan paksaan. Dengan demikian kepercayaan atau keimanan akan tumbuh dengan wajar dalam jiwa.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

41

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

Secara etimologis, aqidah berasal dari kata aqada yaqidu aqdan - aqdatan. Aqdan berarti simpul, ikatan, perjanjian dan kokoh. Dan setelah menjadi aqdatan (aqidah) maka bermakna keyakinan. Adapun secara terminologis akidah dapat diartikan sebagai keyakinan yang tersimpan kokoh di dalam jiwa, meliputi perkara-perkara yang harus diimani (rukun iman), ditetapkan dari al-Quran dan as-Sunnah, sebagai fondasi keberagamaan seorang muslim. Segala unsur pokok ajaran agama (Islam) adalah ruang lingkup pembahasan akidah. Beberapa unsur keimanan yang dimaksud adalah:28 Pertama, Ilahiyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan ketuhanan (al-ilh), seperti wujud (ada) Allah, nama-nama dan sifat-sifat Allah. Kedua, Nubuwat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasul, termasuk di dalamnya kajian tentang kitab-kitab Allah dan mujizat yang dianugerahkan sebagai peneguh kenabian mereka, karomah dan lainnya. Ketiga, Ruhaniyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik (ghib) seperti malaikat, jin, iblis, syaitan, roh dan lainnya. Keempat, Samiyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui melalui sami (wahyu) yaitu al-Quran dan as-Sunnah. Sumber akidah ini tentunya al-Quran dan as-Sunnah, karena hanya dua sumber ini saja yang memadai untuk menjelaskan kompleksitas agama wahyu Islam. Kecuali itu, perkara akidah hanya dapat didekati dengan kepercayaan dan nurani kemanusiaan murni meski dapat diuji dan diperteguh melalui pertimbangan akal dan ini hanya dapat dipenuhi melalui kabar-kabar samiyat (al-Quran dan as-Sunnah) yang notabene berasal dari Dzat Yang Menguasai perkara tersebut. Akidah adalah dasar dan fondasi untuk mendirikan bangunan. Semakin tinggi bangunan yang akan didirikan, harus semakin kokoh fondasi yang dibuat. Kalau fondasinya lemah bangunan akan cepat roboh. Kecuali itu, tidak ada bangunan tanpa fondasi. D. LATIHAN

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

42

Dirasah Islamiyah, al-Mutaqaddimah

1. 2. 3. yang benar! 4.

Jika iman menjadi tema sentral semua agama, maka Akidah adalah masalah pokok agama, jelaskan

bagaimana perbedaan konsepsionalnya dengan akidah Islam? permasalahan pokok agama yang menjadi objek kajian akidah! Akal dijunjung karena kemampuannya yang hebat, namun pemujaan akal justru menyesatkan. Jelaskan koridor penggunaan akal Jika akidah dipandang sebagai fondasi, lantas bagaimana

fungsi akidah sebagai fondasi agama?

E. REFERENSI/END NOTE

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

43

2 3 4

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

21 22 23 24 25

26 27 28

Abdul Majid, dkk. 1996. Al Islam I. Malang: Lembaga Studi Islam-Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Malang. Mahmud Syaltut. 1984. Akidah dan Syariah Islam I (terj. Fahruddin HS). Jakarta: Bumi Aksara Idem. M. Quraish Shihab. 2005. Logika Agama; Kedudukan Wahyu dan batas-batas Akal dalam Islam. Jakarta: Lentera Hati dan Pusat Studi Al-Quran Yunahar Ilyas. 1998. Kuliah Aqidah. Yogyakarta: LIPPI UMY. Sawitri Supardi Sadarjoen. 2005. Jiwa yang Rentan. Jakarta: KOMPAS. Idem M. Quraish Shihab. Loc. Cit. Idem. Yunahar Ilyas. Loc. Cit. Atabik Ali. 1999. Kamus Arab Kontemporer. Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum. Al-Banna, dalam Yunahar Ilyas. Op. Cit Mahmud Syaltut. 1984. Akidah dan Syariah Islam I (terj. Fahruddin HS). Jakarta: Bumi Aksara. Yunahar Ilyas. 1998. Kuliah Aqidah. Yogyakarta: LIPPI UMY. Mahmud Syaltut. Op. Cit. Yunahar Ilyas. Op. Cit. Mahmud Syaltut. 1984. Akidah dan Syariah Islam I (terj. Fahruddin HS). Jakarta: Bumi Aksara. Idem. Yunahar Ilyas. Loc. Cit. M. Quraish Shihab. 2005. Logika Agama; Kedudukan Wahyu dan batas-batas Akal dalam Islam. Jakarta: Lentera Hati dan Pusat Studi Al-Quran. Yunahar Ilyas. Op. Cit. Syekh Ali Thanthawi, dalam Yunahar Ilyas. Idem. Yunahar Ilyas. Idem. Idem. M. Quraish Shihab. 2005. Logika Agama; Kedudukan Wahyu dan batas-batas Akal dalam Islam. Jakarta: Lentera Hati dan Pusat Studi Al-Quran. Yunahar Ilyas. Op. Cit. Sawitri Supardi Sadarjoen. 2005. Jiwa yang Rentan. Jakarta: KOMPAS. Yunahar Ilyas. 1998. Kuliah Aqidah. Yogyakarta: LIPPI UMY.