Anda di halaman 1dari 2

15 Edisi 6-12 Juli 2011 No.

3413 Tahun XLI

Pengadaan Bibit Tebu Melalui Kultur Jaringan


Oleh: Ika Mariska & Suci Rahayu

ebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman penting yang bernilai ekonomi tinggi, dipakai sebagai

bahan baku utama penghasil gula pasir. Pemerintah telah mencanangkan swasembada gula pada tahun 2014. Untuk mencapai sasaran swasembada, salah satu faktor penting adalah perluasan areal baik milik Perusahaan Perkebunan Nasional (PTPN) maupun perkebunan rakyat dan penggunaan varietas tebu unggul yang dianjurkan. Peningkatan produksi tanaman tebu dipengaruhi oleh penyediaan bibit unggul yang bermutu antara lain memiliki rendemen gula yang tinggi, kualitas gilingan yang tinggi, tipe kemasakan, tahan terhadap penyakit, serta dapat beradaptasi pada perubahan iklim global (antara lain drainase yang buruk). Kebutuhan gula nasional tahun 2014 diperkirakan mencapai 5,7 juta ton. Dengan demikian untuk mempercepat pencapaian hasil melalui perluasan areal pertanaman tebu memerlukan bibit dalam jumlah yang banyak. Pengadaan bibit tebu dalam skala besar, cepat dan murah merupakan hal yang sangat diperlukan saat ini. Penyediaan bibit unggul yang berkualitas baik merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam pengembangan pertanian di masa mendatang khususnya tanaman tebu. Pengadaan bibit pada tanaman tebu khususnya yang akan dieksploitasi secara besar-besaran dalam waktu yang cepat akan sulit dicapai melalui teknik konvensional. Salah satu teknologi harapan yang banyak dilaporkan dan telah terbukti memberikan keberhasilan adalah melalui teknik kultur jaringan. Melalui kultur jaringan tanaman tebu dapat diperbanyak setiap waktu sesuai kebutuhan karena faktor perbanyakannya yang tinggi. Varietas baru yang telah dihasilkan para pemulia dapat segera dikembangkan melalui kultur jaringan sehingga dapat digunakan oleh para petani, PTPN maupun pengguna lainnya. Perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan khususnya tanaman tebu telah banyak diterapkan di negara lainnya seperti Australia. Keberhasilan perbanyakan tebu secara cepat, massal, seragam dan tidak merubah sifat dari pohon induknya sangat tergantung pada penguasaan protokol perbanyakan terutama masalah regenerasi yang sangat menentukan kecepatan Pengadaan bibit per satuan waktu, per satuan luas. Untuk mendukung program swasembada gula yang memerlukan bibit dalam jumlah yang banyak maka Badan Litbang Pertanian telah memulai memperbanyak tanaman tebu pada berbagai varietas unggul yang direkomendasikan. Dengan demikian untuk yang melakukan operasional laboratorium produksi secara rutin harus menguasai berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan perbanyakan cepat tanaman tebu melalui kultur jaringan. Salah satu penerapan kultur jaringan di bidang pertanian adalah untuk perbanyakan tanaman. Kultur jaringan adalah penanaman jaringan tanaman (mata tunas, daun muda atau organ tanaman lainnya) pada media buatan yang diatur secara aseptik dan dapat ditumbuhkan membentuk tanaman lengkap (plantlet). Dari 1 mata tunas atau meristem atau jaringan daun muda pada tanaman tebu setelah 1- 2 bulan dapat terbentuk kalus dan 1- 2 bulan berikutnya kalus dapat diregenerasi menghasilkan 20 tunas/anakan baru. Dengan perhitungan secara matematis dalam 1 tahun dari 1 bahan tanaman yang berupa potongan daun muda, meristem atau mata tunas dapat diproduksi sekitar 204. Walaupun demikian perhitungan tersebut secara ideal belum diperhitungkan apabila ada kontaminasi, kemampuan regenerasi yang rendah dan kematian pada tahap aklimatisasi. Di samping faktor perbanyakan yang tinggi keuntungan lainnya apabila tebu diperbanyak melalui kultur jaringan dapat menghasilkan bibit yang bebas penyakit antara lain penyakit pembuluh. Namun demikian untuk menghasilkan bibit sehat maka penggunaan bahan tanaman awal (eksplan) yang akan dikulturkan dalam media kultur jaringan harus berupa meristem (titik tumbuh). Meristem ukurannya sangat kecil dan umumnya harus diisolasi di bawah mikroskop binokuler. Penggunaan meristem sebagai eksplan tuntuk menghasilkan bibit sehat pada mulanya dilakukan Morel tahun 1960 pada tanaman anggrek Cymbidium. Keberhasilan tersebut telah memberikan inspirasi pada banyak laboratorium kultur jaringan di manca negara untuk memproduksi bibit sehat melalui kultur jaringan. Sistem regenerasi pada kultur dapat dilakukan melalui 2 jalur yaitu organogenesis dan somatik embriogenesis. Di masa mendatang produksi bibit melalui somatik embriogenesis banyak mendapat perhatian untuk diaplikasikan pada berbagai tanaman khususnya tanaman hutan karena dapat berasal dari 1 sel vegetatif. Dengan demikian untuk perbanyakan massal somatik embriogenesis dapat mempercepat pengembangan varietas unggul. Untuk itu Badan Litbang Pertanian telah membangun laboratorium somatik embriogenesis dan mikropropagasi sebagai unit produksi bibit unggul dengan Puslitbang Perkebunan sebagai koordinator operasionalnya. Laboratorium tersebut berlokasi di Bogor dan mempunyai kapasitas cukup besar. Dapat menghasilkan sekitar 500.000 -1 juta plantlet berkualitas baik setiap tahunnya. Walaupun demikian produksi bibit tersebut dapat tercapai apabila SDMnya cukup memadai, karena dalam teknologi kultur jaringan diperlukan pengetahuan dan keterampilan khusus.

Dalam perbanyakan bibit tebu melalui kultur jaringan dapat dikatakan berhasil apabila tidak merubah sifat baik pohon induk, bibit yang dihasilkan bebas penyakit, teknik/ protokol perbanyakan tebu tidak terlalu rumit dan kemampuan regenerasi yang tinggi dan tentu saja harus ekonomis. Untuk tanaman tebu tampaknya faktor-faktor tersebut di atas telah diantisipasi dengan telah dilakukannya penelitian mengenai perbanyakan bibit tebu yang cepat dan relatif lebih murah. Telah diperhitungkan penggunaan bahan-bahan kimia yang relatif sederhana tanpa mengurangi kemampuan regenerasi (multiplikasi) dari jaringan yang dikulturkan, penggunaan enersi untuk pendingin udara dan cahaya yang diperhitungkan secermat mungkin sehingga dapat menekan biaya produksi serta optimasi teknik aklimatisasi. Di samping itu nilai ekonomi dapat tercapai apabila tanaman yang akan diperbanyak harus dalam jumlah yang banyak dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Untuk mendukung program swasembada gula maka kultur jaringan dapat dimanfaatkan sebagai sarana perbanyakan cepat varietas unggul dan laboratorium Badan Litbang Pertanian dapat berperan serta melalui percepatan pengadaan bibit unggul dari varietas yang telah direkomendasikan. Di samping itu Puslitbang Perkebunan telah mengadakan Bimbingan Teknis Pembibitan Tebu asal kultur jaringan pada bulan Mei 2011. Peserta Bimbingan Teknis tersebut di samping para peneliti dari Balai-Balai Penelitian diutamakan juga dari peneliti di Balai-Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dari berbagai propinsi yang ada di bawah Badan Litbang Pertanian karena areal pertanaman tebu tersebar di berbagai propinsi. Dalam acara tersebut para pakar kultur jaringan dari Badan Litbang Pertanian dan pemulia P3GI serta peneliti lainnya telah memberikan bimbingan bagaimana menangani bibit asal kultur jaringan mulai dari tahap aklimatisasi (tahapan adaptasi) bibit asal kultur jaringan di rumah kaca/ pembibitan, sampai menjadi benih GI dan benih G2 sebelum ditanam di kebun. Benih benih G2 tersebut merupakan bagal mikro berdiameter 10 -18 mm dan memiliki 1 mata tunas dorman sebanyak 6 - 8. Rencananya benih G2 tersebut akan ditanam di Warteb (Warung Tebu) di beberapa propinsi.