PENDAHULUAN Islam adalah ajaran yang sumbernya dari Allah SWT.

Syariat Islam tidak akan basi sepanjang waktu dan tidak akan kusam sepanjang masa. Semua hukum baik yang berbentuk perintah maupun yang berbentuk larangan yang terdapat dalam syariat bukanlah tanpa makna, akan tetapi mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Para ulama mengistilahkan tujuan tersebut dengan istilah maqasid syariah, yang akan kami bahas pengertian, tingkatan dalam makalah ini. Adapun inti dari konsep maqasid al-syariah adalah untuk mewujudkan kebaikan sekaligus menghindarkan keburukan atau menarik manfaat dan menolak mudarat, istilah yang sepadan dengan inti dari maqasid al-syariah tersebut adalah maslahat, karena penetapan hukum dalam Islam harus bermuara kepada maslahat. Elastisitas, moderat, dan kesesuaian Islam dengan fitrah manusia adalah bentuk konkrit kebenaran Islam sebagai sebuah aturan universal yang bisa dipakai kapan saja, dimana saja, dan dalam kondisi apa saja. Syariat Islam tidak akan pernah basi sepanjang waktu dan tidak akan usam sepanjang masa. Islam adalah ajaran yang sumbernya dari Tuhan, shalih likulli zaman wa makan, karena memang sifat dan tabiat ajaran Islam yang relevan dan realistis sepanjang sejarah peradaban dunia, mulai dibukanya lembaran awal kehidupan, sampai pada episode akhir dari perjalanan panjang kehidupan ini. Rumusan Masalah 1) Pengertian? 2) Asas-asas? 3) Tingkatan kemaslahatan? 4) Peranan dalam pengembangan hukum maqashid syari’ah dengan qiyas, istihsan, mashlahah mursalah, dan saddu al-zari’at?

PEMBAHASAN

Jiwa. 1. secara otomatis pikiran kita akan tertuju pada seorang Al-Syatibi. Juga dia bukanlah satu-satunya penarik gerbang maqashid sekaligus peletak embrionya. Beliau mencoba menguak tujuan dalam kapasitas kecil. yang dapat dilihat dari dua sudut pandang. para ulama sudah mempelajari dan memunculkan ide ini. Agama Agama adalah sekumpulan akidah. ibadah. Ketika kita berbicara tentang maqashid. bahkan beberapa tahun sebelum keberadaanya. Untuk menegakkan agama islam telah disyariatkan iman dan hukum pokok islam sebagai dasar agama islam. meskipun . Maqashid Al-Syariah. Menurut Syatibi tujuan akhir hukum adalah satu yaitu maslahah atau kebaikan dan kesejahteraan umat islam. Kehormatan dan Kekayaan. sebab pada abad ke tiga hijriah telah muncul peletak pertama maqashid syariah beliau dikenal dengan sebutan Al-Turmudzi Al-Hakim. Tujuan tersebut dapat ditelusuri dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah sebagai alasan bagi rumusan suatu hukum yang berorientasi kepada kemaslahatan umat manusia. yang secara substansial mengandung kemaslahatan. Akal. Yang pertama kemaslahatan akhirat yang dijamin oleh akidah dan kemaslahatan dunia yang dijamin oleh muamalat. hukum dan undang-undang yang disyariatkan oleh Allah SWT untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan mereka dan hubungan mereka satu sama lain. keagamaan. 2) Asas-asas Menurut al-Syatibi ada lima hal yang termasuk kategori dharuri yaitu memelihara Agama. Namun sebenarnya beliau bukanlah orang pertama yang berbicara tentang maqashid. Beliau adalah pengembang teori maqashid syariah.1) Pengertian Maqashid syariah berarti tujuan Allah dan Rasul-Nya dalam merumuskan hukum-hukum islam.

pakian. 5.sedangkan untuk memelihara harta kekayaan agama islam mensyariatkan pengharaman pencurian. Untuk memelihara lima pokok ilmiah syarit islam turunan. pertukaran. Untuk menghasilkan dan memperoleh harta kekayaan. Dan firman Alloh dalam mewajibkan qishash: “Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu. Memperbolehkan berbagai muamalah. Setiap ayat hukum bila diteliti akan ditemukan alasan pembetukannya di atas.”(QS. minuman. agama islam. Kehormatan Untuk melihara agama islam mensyaritkan hukuman hadd bagi laki-laki yang perempuan yang berzina dan hukuman hadd bagi orang yang membunuh orang lain yang berbuat zina. 4. hai orang-orang yang berakal. Jiwa Untuk memelihara jiwa dalam dan menjamin kelangsungan kehidupan. 3.2. serta menghindarkan bahaya maupun pengharaman riba. Akal Untuk memelihara akal agama islam mensyariatkan pengharaman minuman khamar dan segala yang memabukkan dan mengenakan hukuman terhadap orang yang meminumnya atau mempegunakan segala yang memabukkan. keharaman melemparkan kehancuran menghindarkan diri dari bahaya yang mengancam jiwanya. agama islam mensyariatkan pewajiban berusaha mendapatkan rezeki.Al-Baqarah 2:179) . tanpa saksi. supaya kamu bertakwa. mensyariatkan kewjiban diri memperoleh dari sesuatu dan yang dapat kewajiban menghidupinyan berupa hal-hal yang bersifat dhorury seperti makanan. perdagangan dan kerjasama dalam usaha.ganti rugi terhadap orang yang merusakkan harta orang lain. Harta Kekayaan.

islam mensyaritkan beberapa hukum rukhsah (keringnan) misalnya. kebutuhan hajiyat dan kebutuhan tahsiniyat. dimana bilamana tidak terwujudnya tidak sampe mengancam keselamatannya. islam membolehkan tidak berpuasa bilamana dalam perjalanan dalam jarak tertentu dengan syarat diganti pada hari yang lain. Dalam lapangan muamalat disyariatkan banyak macam kontrak (akad). serta macam-macam jual beli. Kebutuhan Dharuriyat Adalah tingkat kebutuhan yang harus ada atau disebut dengan kebutuhan primer. Bila tingkat kebutuhan ini tidak terpenuhi. Suatu kesempitan menimbulkan keringanan dalam syariat islam sebagaimana firman Alloh: “…Dan Dia (Allah) tak sekali-kali menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…” (QS. dan demikian juga halnya dengan orang yang sedang sakit. sewa menyewa. a. Kebutuhan Hajizat Kebutuhan hajizat ialah kebutuhan-kebutuhan sekunder. syirkah (perseroan) mudharabah (berniaga dengan modal orang lain dengan perjanjian bagi laba) dan beberapa hukum rukhsah dalam muamalat.3) Tingkatan Kemaslahatan Menurut Al-Syatibi kemaslahatan yang akan diwujudkan terbagi menjadi menjadi tiga tingkatan yaitu dharuriyat. Dalam lapangan ibarat. akan terancam keselamatan umat manusia baik di dunia maupun di akhirat kelak. Al Maidah 5:6) . namun akan sulit kesulitan. b.

dan berhias dengan keindahan yang sesuai dengan tuntutan norma dan akhlak. aturan hidup menjadi cacat. banyak timbul kerusakan diantara manusia dan kemaslahatan jadi tersia-siakan.Qur’an: “…tetapi dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu. 3) Diperbolehkan akad pada barang yang tidak ada. seperti pada akad salam . haajiy (sekunder) dan tahsiiniy (pelengkap) maka jelaslah bahwa dharuriy (kebutuhan primer) adalah tujuan paling utama. Hukum tentang kebutuhan pelengkap tidak boleh dijaga jika dalam penjagaannya dapat merusak hukum tentang kebutuhan primer dan sekunder. kesulitan dan beban berat yang harus dipikulnya. Tujuan syariat seperti itu bisa dilihat dalam ayat Al. hal-hal yang merupakan kepatutan menurut adat istiadat. 2) Diperbolehkan menggunakan barang najis jika berupa obat atau dalam keadaan terpaksa. urutan kedua adalah haajiy (kebutuhan sekunder) karena tanpa dia manusia akan mengalami kesempitan.” (QS.c. karena menjaga najis adalah tahsiiny sedangkan pengobatan dan menolak bahaya adalah dhorury. Karena penyempurnaan tidak perlu dijaga jika dapat merusak kepada yang disempurnakan. supaya kamu bersyukur. menghindarkan hal-hal yang tidak enak dipandang mata. Al Maidah 5:6) Dari apa telah dijelaskan dimuka mengenai pengertian dharuriy (primer). Kebutuhan Tahsiniyat Kebutuhan tahsiniyat ialah tingkat kebutuhan yang apabila tidak dipenuhi mangncam eksistensi salah satu dari lima pokok diatas dan tidak pula menimbulkan kesulitan. tetapi manusia akan keluar dari tuntutan menjadi manusia sempurna dan bermartabat serta yang dianggap baik menurut akal sehat. seperti dikemukakan Al-Syatibi. karena tanpanya. karena meskipun dia aturan hidup manusia itu tidak rusak dan tidak pula ditimpa kesulitan. oleh karena itu : 1) Diperbolehkan membuka aurat jika dituntut dalam pengobatan atau penyembuhan luka karena menutup aurat karena menutup aurat adalah perbuatan tahsiiny sedangkan pengobatan adalah dhorury. Berikutnya adalah tahsiiny (kebutuhan pelengkap). Tingkat kebutuhan ini berupa kebutuhan pelengkap.

. Tetapi menaggung beban kesulitan ini. Hukum haajiy (kebutuhan sekunder) tidak boleh dijaga jika dapat merusak kepada hukum dhorury (kebutuhan primer). Hukum-hukum ini menyia-nyiakan hukum dharury karena menjaga hukum dharury yang lebih penting. Maka agar mukalaf tidak tertimpa kesulitan apapun.krena dalam mematuhi semua yang diperintahkan atau tidak boleh dilakukan mukalaf tidak lepas dari kesulitan. pengairan dan jual beli. barang yang tidak ada. Dipotong anggota tubuhnya. hukuman dan lain-lain. maka boleh menjaga diri dari kematian meskipun dengan mengorbankan harta orang lain. jika dalam penjagaannya dapat merusak kepada hukuman dharury yang lebih utama. meskipun terjadi pengorbanan jiwa. meskipun beban yang mereka tanggung sangat berat. karena menjaga jiwa lebih penting daripada menjaga akal. Berdasarkan urutan prioritas ini ditetapkan hukum yang dapat menganalisir tujuan-tujuan tersebut. Sudah dibuktikan bahwa tujuan syari’ dalam menetapkan hukumnya tidak lepas dari penjagaan pada salah satu dari tiga hal itu. Karena semua pembebanan mesti mengandung beban dan payah. maka banyak sekali hukum dharury yang sia-sia seperti ibadah. diperbolehkan akad yang tidak jelas. c) Jika dipaksa merusak harta orang lain. 4) Peranan dalam pengembangan hukum maqashid syari’ah dengan qiyas. Tidak boleh merusak salah satu hukum kecuali. Adapun hukum dharury wajib dijaga. Dan tujuan-tujuan itu dalam penjagaannya bertingkat sesuai dengan prioritasnya. Oleh karena itu : a) Wajib berijtihad untuk mempertahankan agama. atau dari hal yang dapat menyempurnakannya. Oleh karena itu. dalam muzara’ah (menggarap tanah petanian).(pesanan) dan pekerja industri. karena dituntut oleh kebutuhan manusia untuk mengindahkan kebutuhan-kebutuhan ini. karena mempertahankan agama lebih penting daripada pengorbanan jiwa. atau terpaksa karena sangat haus. melaksanakan fardlu dan wajib adalah keharusan bagi mukalaf yang tidak dalam keadaan diperbolehkan melaksanakan rukhsah. b) Boleh minum khamar jika dipaksa meminumnya (dengan ancaman) dibunuh. adalah upaya dalam menjaga kebutuhan primer manusia.

Dalam kajian Ushul Fiqh. maka terhadapnya dapat dilakukan qiyas (analogi). Qiyas. mashlahah mursalah. apa yang dianggap mashlahah bila sejalan atau tidak dengan petunjuk-petunjuk umum syariat. istihsan. seperti ditegaskan oleh Abd alWahhab Khallaf. Jika tidak ada ayat atau hadis secara khusus yang akan dijadikan al-maqis ‘alaih. Dari sini dapat dikembangkan dengan metode analogi (qiyas) bahwa setiap yang sifatnya memabukkan adalah juga haram. seperti qiyas. qiyas hanya bisa dilakukan bilamana ada ayat atau hadis yang secara khusus dapat dijadikan tempat mengqiyaskannya yang dikenal dengan al maqis ‘alaih (tempat meng. al-Maidah: 90). adalah hal sangat penting yang dapat dijadikan alat bantu untuk memahami redaksi al-Qur’an dan Sunnah. Dari hasil penelitian ulama ditemukan bahwa Maqashid Syari’ah dari diharamkannya minuman khamar ialah sifat memabukkannya yang merusak akal pikiran. Dengan demikian. baru bisa dilaksanakan bilamana dapat ditemukan Maqashid Syari’ah-nya yang merupakan alasan logis (‘illat) dari suatu hukum. dan maslahah mursalah adalah metode-metode pengembangan hukum Islam yang didasarkan atas Maqashid Syari’ah. dan saddu al-zari’at Pengetahuan tentang Maqashid Syari’ah. Sebagai contoh. kemudian karena dalam satu kondisi bila ketentuan itu diterapkan akan berbenturan dengan ketentuan atau kepentingan lain yang lebih . ‘iilat hukum dalam suatu ayat atau hadis bila diketahui. Jika yang akan diketahui hukumnya itu telah ditetapkan hukumnya dalam nash atau melalui qiyas.istihsan. menyelesaikan dalil-dalil yang bertentangan dan yang sangat penting lagi adalah untuk menetapkan hukum terhadap kasus yang tidak tertampung oleh Al-Qur’an dan Sunnah secara kajian kebahasaan. sedangkan khamar itu sendiri hanyalah sebagai salah satu contoh dari yang memabukkan. tentang kasus diharamkannya minuman khamar (QS. yang menjadi alasan logis (‘iilat) dari keharaman khamar adalah sifat memabukkannya. tetapi termasuk dalam tujuan syariat secara umum seperti untuk memelihara sekurangnya salah satu dari kebutuhan-kebutuhan di atas tadi. Dengan demikian. dapat diakui sebagai landasan hukum yang dikenal mashlahah mursalah.qiyas-kan). Metode istinbat. misalnya. Artinya. dalam hal ini dilakukan metode maslahah mursalah.

“istihsan adalah semua hal yang dianggap baik oleh mujtahid menurut akalnya”. sad al-zari’ah. Di bawah ini akan dijelaskan tentang metode-metode yang berdasarkan atas maqasyid syari’ah. dan ‘urf (adat kebiasaan).umum dan lebih layak menurut syara’ untuk dipertahankan. khusus dalam kondisi tersebut. seperti telah diuraikan secara singkat pada pembahasan dalil-dalil hukum di atas. Jika terdapat suatu kejadian yang tidak ada ketentuan syari’at dan tidak ada ‘illat yang keluar dari syara’ yang menentukan . yaitu praktik qiyas. dan pembeli mengaku harganya sembilan puluh juneh. maka masuk pula secara otomatis hak perairan (irigasi). istihsan. yakni menghitung-hitung sesuatu dan menganggapnya kebaikan. kemudian penjual mengaku bahwa harganya adalah seratus juneh. maka mereka berdua bersumpah berdasarkan istihsan. Metode penetapan hukum melalui maqashid syari’ah dalam praktikpraktik istinbat tersebut. hak lewat ke dalam wakaf tanpa harus menyebutkannya berdasarkan istihsan. Menurut al-Ghazali dalam kitabnya al-Mustashfa juz I : 137. Ijtihad seperti ini dikenal dengan istihsan. di samping dissebut sebagai metode penetapan hukum melalui maqashid syari’ah. hak air minum. maka ketentuan itu dapat ditinggalkan. juga oleh sebagian besar ulama ushul fiqh disebut sebagai dalil-dalil pendukung. dan istislah (mashlahah mursalah). b) Pengecualian kasuistis (juz’iyyah) dari suatu hukum kulli (umum) dengan adanya suatu dalil. Fuqaha Hanafiyah membagi istihsan menjadi dua macam yaitu : a) Pentarjihan qiyas khafi (yang tersembunyi) atas qiyas jali (nyata). istihsan diartikan meminta berbuat kebaikan. Seorang pewakaf apabila mewakafkan sebidang tanah pertanian. dan lainnya seperti istishab. 1) Istihsan Secara harfiyah. tetapi tidak ada juga pembatalnya. 2) Maslahah Mursalah Maslahah mursalah adalah suatu kemaslahatan yang tidak mempunyai dalil. Apabila penjual dan pembeli bersengketa mengenai jumlah harga sebelum serah terima yang dijual.

seperti menjual buah anggur kepada orang atau perusahaan yang biasa memproduksi minuman keras. menanam anggur itu tidak perlu dilarang. c) Zari’at yang berdasarkan dugaan yang kuat akan membawa kepada mafsadat. Karena itu menurut ahli ushul fiqih. Zari’at ini harus dilarang. Seorang hakim dilarang menerima hadiah dari pihak yang sedang beperkara. 3) Saddu al-Zari’at Saddu al-Zari’at diartikan sebagai upaya mujtahid untuk menerapkan larangan terhadap satu kasus hukum yang pada dasarnya mubah. Terhadap zari’at semacam ini. b) Zari’at yang jarang membawa mafsadat. sebelum perkara diputuskan. seperti menanam dan membudidayakan pohon anggur. transaksi jual beli secara kredit. para ahli ushul fiqih sepakat melarangnya. Adapun contoh dari metode ini adalah kasus pemberian hadiah kepada hakim. maka kejadian tersebut dinamakan maslahah mursalah. Misalnya. karena dikhawatirkan akan membawa kepada ketidakadilan dalam menatapkan hukum mengenai kasus yang sedang ditangani. namun hal itu termasuk jarang. Para ahli ushul fiqih mencoba membagi zari’at ini menjadi empat kategori. namun kekhawatiran terjadinya tidak sampai pada dugaan yang kuat. manakala dihubungkan dengan kemungkinan membawa dampak negatif dan membantu tindakan yang diharamkan. Pembagian ini akan menjadi penting artinya. yakni suatu ketentuan yang berdasarkan pemeliharaan kemadharatan atau untuk menyatakan suatu manfaat. seperti menggali sumur di jalan umum yang gelap. Meskipun buah anggur kemungkinan dibuat minuman keras. melainkan atas dasar asumsi biasa. yakni memelihara dari kemadharatan dan menjaga kemanfaatannya. d) Zari’at yang sering kali membawa mafsadat. .kejelasan hukum kejadian tersebut. Larangan itu dimaksudkan untuk menghindari perbuatan atau tindakan lain yang dilarang kelihatannya metode ini bersifat preventif artinya segala sesuatu yang mubah tetapi embawa kepada perbuatan yang haram. maka hukumnya menjadi haram. Tujuan utama maslahah mursalah adalah kemaslahatan. Adapun pembagian itu adalah sebagai berikut: a) Zari’at yang secara pasti akan membawa mafsadat. kemudian ditemukan sesuatu yang sesuai dengan hukum syara’.

Pengetahuan tentang Maqashid Syari’ah.KESIMPULAN Maqashid syariah berarti tujuan Allah dan Rasul-Nya dalam merumuskan hukum-hukum islam. Akal. kebutuhan hajiyat dan kebutuhan tahsiniyat. adalah hal sangat penting yang dapat dijadikan alat bantu untuk memahami redaksi al-Qur’an dan Sunnah. Menurut Al-Syatibi kemaslahatan yang akan diwujudkan terbagi menjadi menjadi tiga tingkatan yaitu dharuriyat. menyelesaikan dalil-dalil yang bertentangan dan yang sangat penting lagi adalah untuk menetapkan hukum terhadap kasus yang tidak tertampung oleh Al-Qur’an dan Sunnah secara kajian kebahasaan. Kehormatan dan Kekayaan. Menurut al-Syatibi ada lima hal yang termasuk kategori dharuri yaitu memelihara Agama. Tujuan tersebut dapat ditelusuri dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah sebagai alasan bagi rumusan suatu hukum yang berorientasi kepada kemaslahatan umat manusia. . Jiwa. seperti ditegaskan oleh Abd alWahhab Khallaf.

Ilmu Ushul Fiqh (1994). Semarang: Dina Utama Semarang. Satria Effendi. Zein.DAFTAR PUSTAKA Djamil. Juhaya S. Praja. M. (1997) Filsafat Hukum Islam. Ilmu Ushul Fiqih (2007). Jakarta: Logos Wacana. Abdul Wahhab Khallaf. Bandung: Pustaka Setia. . Ushul fiqh (2004). Fathurrahman. Jakarta : Gramedia.