Anda di halaman 1dari 9

Makro Ergonomi

Diposkan oleh Ergonomi Makroergonomi adalah suatu subdisiplin ergonomi yang fokus mengkaji mengenai perancangan sistem kerja (Brian, 2002). Suatu sistem pekerjaan terdiri atas personil yang saling berinteraksi dengan perangkat keras dan lunak. Suatu sistem pekerjaan melibatkan dua atau lebih individu yang bekerja bersama untuk mencapai suatu tujuan umum dalam suatu organisasi. Subdisiplin ergonomi juga berkaitan dengan teknologi yang lain. Makroergonomi telah dikenal sebagai subdisiplin ergonomi yang terkait dengan hubungan manusia, organisasi dan teknologi. Makroergonomi merupakan sesuatu yang terintegrasi karena mencakup pengetahuan, metode, dan peralatan dari sistem sosio-teknik, psikologi industri, rancang-bangun sistem, ergonomi fisik, dan ergonomi teori. Dalam pelaksanaannya, makroergonomi menghadirkan suatu relung berharga yang tidak satupun dari area ini yang terabaikan. Sebagai ilmu pengetahuan, makro-ergonomi mengarahkan untuk mengembangkan suatu pemahaman sistem pekerjaan, perilaku, atau personil yang saling berinteraksi dengan perangkat keras atau lunak di dalam lingkungan fisik internal, lingkungan eksternal, dan struktur organisasi serta proses agar menjadi lebih baik. Pendekatan makroergonomi merupakan suatu proses pemecahan yang sistemik yang selanjutnya dilakukan pengkajian secara holistik dan melalui lintas disiplin ilmu serta melakukan pelibatan komponen atau pihak terkait dengan desain. Lebih jelasnya sistemik diartikan semua faktor yang diasumsikan mempengaruhi proses perancangan sistem kerja dan diperkirakan dapat menimbulkan masalah harus diperhitungkan dengan cara memasukkan kaidah ergonomi dalam setiap tahap perancangan desain. Pemecahan masalah dilakukan secara holistik yang menekankan bahwa semua faktor yang terkait atau yang diperkirakan terkait dengan masalah yang ada harus dipecahkan secara proaktif dan menyeluruh. Pendekatan holistik dalam intervensi ergonomi menekankan cara berpikir dan bertindak dalam melakukan perbaikan dengan menggunakan teknologi tepat guna. Penerapan pendekatan holistik memungkinkan terjadinya proses tawar menawar untuk mendapatkan suatu perbaikan kondisi kerja yang memenuhi keenam kriteria teknologi tepat guna dengan risiko dan dampak seminimal mungkin. Pendekatan interdisipliner menekankan bahwa proses pemecahan masalah dalam suatu sistem dibutuhkan para ahli dari berbagai disiplin ilmu. Selain keterlibatan terkait dengan lintas disiplin ilmu pendekatan makroergonomi juga menggunakan partisipasipan (ergonomi partisipasi). Wilson dan Haines (1998) mendefinisikan ergonomi partisipasi adalah proses perencanaan dan pengendalian dari sejumlah aktivitas yang melibatkan operator dengan pengetahuan dan kemampuan yang memadai dalam mempengaruhi proses dan hasil untuk mencapai tujuan tertentu. Manuaba (1999) menyatakan bahwa ergonomi partisipasi adalah semua yang akan terlibat terhadap pemecahan masalah atau terlaksananya satu gagasan harus dilibatkan sedini mungkin. Sedangkan Nagamachi (1995) menyatakan bahwa ergonomi partisipasi adalah pekerja aktif terlibat dalam mengimplementasikan pengetahuan dan prosedur ergonomi di tempat kerja mereka. Ergonomi partisipasi berawal dari mengorganisasi tim proyek untuk menyelesaikan

masalah-masalah ergonomi di tempat kerja. Ergonomi partisipasi menekankan pada pemecahan masalah secara holistik dengan melibatkan semua pihak terkait sedini mungkin dengan melalui proses yang sistematis (Manuaba, 2003). Partisipasi adalah keikutsertaan pihak terkait dalam sistem yang ada dalam menyelesaikan masalah secara bersama untuk mencapai tujuan tertentu (Adiputra, et al. 1997). Dengan demikian ergonomi partisipasi merupakan proses pemecahan masalah ergonomi dalam suatu sistem dengan melibatkan pihak terkait dari proses perencanaan sampai pada implementasi. Penerapan ergonomi partisipasi terbukti dapat meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja dalam program pelatihan melalui workshop di berbagai negara (Kawakami, et al. 2004). Intervensi ergonomi partisipasi merupakan studi yang cukup berhasil dalam merancang sistem kerja dan cukup efektif dalam mengurangi rasa nyeri serta mengurangi beban kerja pada industri (Laing, et al. 2005). Disamping itu ergonomi partisipasi sangat membantu dalam proses pelatihan pekerja dengan lebih baik dalam upaya meningkatkan produktivitas dan kualitas produk. Beberapa penelitian lain yang cukup berhasil dengan intervensi ergonomi partisipasi diantaranya pada rumah sakit, optimalisasi rotasi kerja pada pekerja pemadam kebakaran, workshop komputer di universitas (Evanof, et al. 1999; Jeppesen, 2003; Robertson, et al. 2002). Disamping metode yang telah disebutkan di atas, dalam makroergonomi juga digunakan beberapa metode lain seperti AHP (Erensal dan Albayrak, 2004). AHP digunakan dalam model pengambilan keputusan dalam makroergonomi.

Ergonomi Makro Ergonomi (sumber: wikipedia) Ergonomik (atau faktor manusia) adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara manusia dengan elemen-elemen lain dalam suatu sistem, serta profesi yang mempraktekkan teori, prinsip, data, dan metode dalam perancangan untuk mengoptimalkan sistem agar sesuai dengan kebutuhan, kelemahan, dan keterampilan manusia. Ergonomi berasal dari kata ergon dan nomos. Ergon berarti kerja, dan nomos berarti aturan, kaidah atau prinsip. Pendapat lain diungkapkan oleh Sutalaksana (1979): ergonomi adalah ilmu atau kaidah yang mempelajari manusia sebagai komponen dari suatu sistem kerja mencakup karakteristik fisikal maupun nifisikal, keterbatasan manusia, dan kemampuannya dalam rangka merancang suatu sistem yang efektif, aman, sehat, nyaman, dan efisien. Ergonomi dan Metode Ergonomi

Sumber (http://www.depkes.go.id/downloads/Ergonomi.PDF) Ergonomi yaitu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka. Sasaran penelitian ergonomi ialah manusia pada saat bekerja dalam lingkungan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia ialah untuk menurunkan stress yang akan dihadapi. Upayanya antara lain berupa menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh agar tidak melelahkan, pengaturan suhu, cahaya dan kelembaban bertujuan agar sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia. Ada beberapa definisi menyatakan bahwa ergonomi ditujukan untukfitting the job to the worker, sementara itu ILO antara lain menyatakan, sebagai ilmu terapan biologi manusia dan hubungannya dengan ilmu teknik bagi pekerja dan lingkungan kerjanya, agar mendapatkan kepuasan kerjayang maksimal selain meningkatkan produktivitasnya. Ruang lingkup ergonomik sangat luas aspeknya, antara lain meliputi : - Tehnik - Fisik - Pengalaman psikis - Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan otot dan persendian - Anthropometri - Sosiologi - Fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh, Oxygen up take, pols, dan aktivitas otot. - Desain, dll Metode Ergonomi 1. Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi tempat kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomik checklist dan pengukuran lingkungan kerja lainnya. Variasinya akan sangat luas mulai dari yang sederhana sampai kompleks. 2. Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada saat diagnosis. Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi meubel, letak pencahayaan atau jendela yang sesuai. Membeli furniture sesuai dengan demensi fisik pekerja. 3. Follow-up, dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif misalnya dengan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang sakit, nyeri bahu dan siku, keletihan , sakit kepala dan lain-lain. Secara obyektif misalnya dengan parameter produk yang ditolak, absensi sakit, angka kecelakaan dan lain-lain. Ergonomi Makro

(sumber:http://library.gunadarma.ac.id/index.php? appid=penulisan&sub=detail&npm=31400180&jenis=s1fti) Ergonomi Makro adalah pendekatan sistem sosioteknik dari tingkatan atas ke bawah yang diterapkan pada perancangan sistem kerja secara keseluruhan pada berbagai level interaksi ergonomi mikro seperti manusia-pekerjaan, manusiamesin dan manusia-perangkat lunak. Bagi para ergonomist, ergonomi makro merupakan suatu perspektif untuk melihat sistem dalam skala yang lebih besar agar investasi dari ergonomi mikro lebih berhasil. Ergonomi Mikro dan Ergonomi Makro ( sumber : buku Ergonomic How To Design for Ease and Efficiency seccond edition ) Ergonomi dapat membuat desain yang simple ( seperti sikat gigi, tombol untuk menghidupkan lampu, stop kontak) yang userfriendly dan dapat memberikan system kompleks (kereta api bawah tanah contohnya) yang aman, bersahabat, dan mudah untuk digunakan. Faktor manusia penting erat hubungannya dengan peralatan yang kita gunakan, simpel atau kompleks, di tempat kerja, di rumah, kapanpun, dan dimanapun. Tentunya, mendisain sebuah sistem transportasi umum atau rencana manufaktur lebh rumit sibandingkan dengan mendisain tanda bahaya. Transportasi dan system manufaktur terdiri dari beberapa orang yang memiliki tingkatan / level yang berbeda, semuanya berinteraksi satu sama lain dan dengan teknologi-teknologi yang berbeda dan semuanya memiliki tugas.dan tanggung jawab yang berbeda. Untuk desain seperti sistem sociotechnical dalam hubungannya dengan Human-organization interface technology membutuhkan makro ergonomic, seperti yang telah dipaparkan oleh Hendrik dan Kleiner (2000). Makroergonomi menjadi melebihi teknologi interface mikroergonomi tradisional yang memberikan perhatian khusus pada spesifikasi hardware, software, pekerjaan, dan lingkungan. Tentu, mendesain sebuah sikat gigi atau sebuah warning (larangan) lebih dari sekedar mempertimbangkan ukuran tangan seseorang yang membaca ketajamannnya. label tugas mikro atau mikroergonomi dapat menjadi persoalan untuk menetukan keputusan. Desain system kerja terus mempertimbangkan teknik yang relevan, lingkungan, factor-faktor social, dan interaksi mereka merupakan kajian ergonomic. Dan jika desain organisasi dan aspek manajemen- bahkan ekonomi dan regional- political implication- tugas ini sungguh-sungguh dalam realita makroergonomi. Ergonomi dan K3 ( sumber : pingin pintar.com) Ergonomi dan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.Keduanya mengarah kepada tujuan yang sama yakni peningkatan kualitas kehidupan kerja (quality of working life). Aspek kualitas kehidupan kerja merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi rasa kepercayaan dan rasa kepemilikan pekerja kepada perusahaan, yang berujung

kepada produktivitas dan kualitas kerja. Pencapaian kinerja manajemen K3 sangat tergantung kepada sejauh mana faktor ergonomi telah terperhatikan di perusahaan tersebut. Kenyataannya, kecelakaan kerja masih terjadi di berbagai perusahaan yang secara administratif telah lulus (comply) audit sistem manajemen K3. Ada ungkapan bahwa without ergonomics, safety management is not enough. Keluhan yang berhubungan dengan penurunan kemampuan kerja (work capability) berupa kelainan pada sistem ototrangka (musculoskeletal disorders) misalnya, seolah-olah luput dari mekanisme dan sistem audit K3 yang ada pada umumnya. Padahal data menunjukkan kompensasi biaya langsung akibat kelainan ini (overexertion) menempati rangking pertama (sekitar 30%) dibandingkan dengan bentuk kecelakaan-kecelakaan kerja yang lain. Kondisi berikut menunjukkan beberapa tanda-tanda suatu sistem kerja yang tidak ergonomik: Hasil kerja (kualitas dan kuantitas) yang tidak memuaskan Sering terjadi kecelakaan kerja atau kejadian yang hampir berupa kecelakaan Pekerja sering melakukan kesalahan (human error) Pekerja mengeluhkan adanya nyeri atau sakit pada leher, bahu, punggung, atau pinggang Alat kerja atau mesin yang tidak sesuai dengan karakteristik fisik pekerja Pekerja terlalu cepat lelah dan butuh istirahat yang panjang Postur kerja yang buruk, misalnya sering membungkuk, menjangkau, atau jongkok Lingkungan kerja yang tidak teratur, bising, pengap, atau redup Pekerja mengeluhkan beban kerja (fisik dan mental) yang berlebihan Komitmen kerja yang rendah Rendahnya partisipasi pekerja dalam sistem sumbang saran atau hilangnya sikap kepedulian terhadap pekerjaan bahkan keapatisan Ergonom

All about ergonomi makro Sebelum membahas tentang ergonomi makro, harustau dulu tentang ergonomi.. Ngerti donk anak TI apa itu ergonomi???????????????? Mulai dari APK 1 klo g salah ergonomi dah di singgung2, inget gak?? Diingetin lagi yah. Ergonomi Ergonomi yaitu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka. Sasaran penelitian ergonomi adalah manusia saat bekerja dalam lingkungan. Secara singakat dapat dikatakan bahwa ergonomi adalah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia untuk menurunkan stress yang akan dihadapi. Upayanya antara lain berupa menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh agar tidak melelahkan. Dan pengaturan suhu, cahaya, serta kelembaban bertujuan agar sesuai dengan kebutuhan manusia. Ada beberapa definisi menyatakan bahwa ergonomi ditujukan untuk fitting the job to the worker, sementara itu ILO antara lain menyatakan, sebagai ilmu terapan biologi manusia dan hubungannya dengan ilmu teknik bagi pekerja dan lingkungan kerjanya, agar mendapatkan kepuasan kerja

yang maksimal selain meningkatkan produktivitasnya. Ruang lingkup ergonomik sangat luas aspeknya, antara lain meliputi : - Tehnik - Fisik - Pengalaman psikis - Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan otot dan persendian - Anthropometri - Sosiologi - Fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh, Oxygen up take, pols, dan aktivitas otot. - Desain, dll Penerapan Ergonomi di tempat kerja bertujuan agar pekerja saat bekerja selalu dalam keadaan sehat, nyaman, selamat, produktif dan sejahtera. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, perlu kemauan, kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak. Pihak pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan sebagai lembaga yang bertanggungjawab terhadap kesehatan masyarakat, membuat berbagai peraturan, petunjuk teknis dan pedoman K3 di Tempat Kerja serta menjalin kerjasama lintas program maupun lintas sektor terkait dalam pembinaannya Setelah mengetahui apa itu ergonomi sekarang coba kiata membahas tentang ergonomi makro. Ergonomi dengan ergonomi makro tentunya mempunyai kaitan yang sangat erat, kasarannya ergonomi makro adalah ergonomi yang bersifat makro.. Maka dapat dikatakan juga Ergonomi Makro adalah pendekatan sistem sosioteknik dari tingkatan atas ke bawah yang diterapkan pada perancangan sistem kerja secara keseluruhan pada berbagai level interaksi ergonomi mikro seperti manusia-pekerjaan, manusia-mesin dan manusia-perangkat lunak. Bagi para ergonomist, ergonomi makro merupakan suatu perspektif untuk melihat sistem dalam skala yang lebih besar agar investasi dari ergonomi mikro lebih berhasil. http://bernadetaitarini.wordpress.com/2009/02/02/ergonomi-makro/

Hubungan Ergonomi Makro dan Ergonomi Mikro Ergonomi dapat membuat disain menjadi sederhana, mudah digunakan oleh siapapun dan dapat membuat sistem yang kompleks menjadi aman untuk digunakan. Faktor manusia merupakan faktor yang penting sebagai pendekatan setiap barang yang kita gunakan, kompleks atau sederhana, di tempat kerja, di rumah, kapanpun, dan di manapun. Tentu saja, merancang suatu pengangkutan umum sistem atau suatu bangunan pabrik adalah sesuatu yang jauh lebih mempersulit perusahaan dibanding perancangan suatu peringatan label. Transportasi dan sistem manufactruing meliputi banyak orang orang-orang pada tingkat yang berbeda, semua saling berinteraksi satu sama lain dan dengan teknologi berbeda dan semua mempunyai tanggung jawab dan tugas yang berbeda. Untuk mendisain beberapa sosioteknikal sistem dalam kaitannya dengan

" manusia-organisasi menghubungkan teknologi" maka dibutuhkan suatu pendekatan khusus yaitu ergonomi makro. Ergonomi makro menghubungkan ergonomi mikro yang tradisional dengan pokok-pokok perangkat keras, perangkat lunak, pekerjaan, suatu lingkungan. Desain suatu sistem pekerjaan melalui pertimbangan suatu relevan teknis, lingkungan, dan variabel sosial dan interaksinya adalah suatu tugas ergonomic yang umum. Jika melibatkan aspekaspek desain adan manajemen, bahkan ekonomi dan politik, maka hal ini merupakan sesuatu yang harus dipelajari dalam ergonomi makro. Oleh karena itu, ergonomi makro dan mikro harus digabungkan antara satu dengan yang lainnya karena segala aspek yang termasuk dalam ergonomi mikro (seperti peta-peta pekerja, produktivitas, SMED, Kaizen, dll) harus bisa diintegrasikan dengan para pelakunya yang berada dalam lingkup manajerial, yang notabene merupakan ruang lingkup / kajian yang ada dalam ergonomic makro. Sehingga dengan adanya relasi dengan masyarakat sekitar, pembeli, karyawan, dan supplier, semua bidang kajian ergonomi mikro ada manfaatnya dalam kehidupan manusia.

Pakar: implementasi ergonomi makro masih rendah


Jogja (ANTARA Jogja) - Implementasi ergonomi makro di Indonesia masih rendah karena kurangnya kepedulian terhadap dampak negatif sistem kerja yang tidak ergonomis, kata pakar teknik industri dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Hari Purnomo. "Padahal, implementasi ergonomi makro bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan kerja serta produktivitas pekerja, yang secara tidak langsung akan berdampak pada kesejahteraan dan kualitas hidup pekerja," katanya di Yogyakarta, Rabu. Menurut Hari dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII), kajian ergonomi makro hanya dilakukan oleh sebagian kecil para akademisi dan sedikit sekali diimplementasikan di perusahaan. "Hal itu menjadi tantangan dan peluang bagi ergonom dan perusahaan untuk dapat berkolaborasi dalam mengimplementasikan konsep ergonomi makro," kata Kepala Badan Perencana UII itu. Ia mengatakan, ergonomi merupakan ilmu yang mempelajari tentang manusia dan lingkungan untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan saat melakukan aktivitas kerja. "Di dalam ergonomi, prinsif, metode, dan data ilmiah dari bebagai disiplin ilmu diaplikasikan

untuk mengembangkan sistem perekayasaan, di mana manusia memainkan peranan penting," paparnya. Menurut dia, ergonomi merupakan interaksi antara manusia dan mesin dalam lingkungan kerja, yang bertujuan untuk mencapai hubungan optimal antara manusia dengan lingkungan kerjanya. "Pendekatan ergonomi ditujukan untuk menyerasikan tuntutan tugas, peralatan, cara kerja, dan lingkungan dengan kemampuan, kebolehan, dan batasan manusia, sehingga diperoleh kondisi kerja dan lingkungan yang sehat, aman, nyaman, dan efisien," ujarnya. Ia mengemukakan, aplikasi ergonomi secara umum mempunyai tujuan untuk menciptakan keadaan fisik dan psikis pekerja yang sehat, dengan mengupayakan rancangan peralatan, fasilitas, dan sistem kerja untuk meningkatkan performansi, keamanan, dan kepuasan pengguna. "Selain itu, aplikasi ergonomi juga bertujuan memberi jaminan sosial bagi pekerja selama masih bekerja atau usia produktif maupun ketika memasuki usia pascaproduktif," katanya. http://jogja.antaranews.com/berita/299175/pakar-implementasi-ergonomi-makro-masih-rendah

PENU T UP Globalisasi jelas membawa banyak tantangan, ancaman maupun peluang yang harus dihadapioleh dunia industri dan secara serta-merta akan langsung menjadi tanggung-jawab profesiTeknik Industri. Tantangan global tidak bisa tidak menghadapkan dunia pendidikan tinggiteknologi industri agar mampu mengikuti dan menangkap arah perkembangan sainsteknologiyang melaju cepat seiring dengan tuntutan masyarakat (termasuk industri) pemakai jasapendidikan tinggi. D isini pendidikan tinggi haruslah mampu mempersiapkan sumber-dayamanusia yang berkualitas, dan memenuhi tuntutan persyaratan maupun standard kompetensikerja yang berdaya-laku internasional. D engan mengacu pada ABET-Engineering Criteria 2000 ,maka seorang profesional Teknik Industri tidak saja harus menguasai kepakaran Teknik Industri;tetapi juga harus memiliki wawasan, pemahaman, dan kemampuan seperti halnya (a)kemampuan untuk bekerja dalam kelompok (organisasi), (b) pemahaman tentang tanggung jawab sosial dan etika profesi, (c) kemampuan berkomunikasi baik lisan maupun tulisan, (d)kesadaran lingkungan (alam maupun sosial), (e) kepekaan tinggi terhadap berbagai persoalanyang dihadapi menyangkut berbagai macam isue kontemporer, aktual maupun situasional dan (f)kemampuan berorganisasi, manajemen dan leadership, dan sebagainya. Berdasarkan ABETEngineering Criteria 2000 tersebut, seorang profesional Teknik Industri tidak saja diharapkanakan memiliki kemampuan akademis dan kompetensi profesi

keinsinyuran (engineering) yangbaik saja, tetapi juga memiliki wawasan dan kepekaan terhadap segala permasalahan yang adadi industri maupun masyarakat.Industri seharusnya dikelola secara khusus melalui pendekatan ergonomi. Banyak masalah yangterjadi di area sistem produksi yang memerlukan aplikasi konsep dan metode ergonomi untukpenyelesaiannya seperti rendahnya kualitas maupun produktivitas kerja. Begitu juga denganpermasalahan K3 ( Occupational Safety and Health ) yang banyak menimpa pekerja maupunbiaya tinggi yang muncul akibat produk cacat ( waste ) ataupun nonproductive activities ( idle,delay, material handling, accidents ), dan lain-lain. Persoalan-persoalan tersebut umumnyamuncul, oleh karena tidak diterapkannya pendekatan ergonomi pada saat perancangan stasiunkerja ( workstations/places ), fasilitas kerja ( machine and tools ), produk, proses, ataupunlingkungan kerja ( work environment ). D alam hal ini peneliti-peneliti ergonomi diharapkan maudan mampu memenuhi tantangan industri dengan mempromosikan pendekatan ergonomi( ergonomics method ) untuk memberikan kontibusi dan solusi konkritnya. Berangkat daripermasalahan ini studi tentang Ergo-Safety (Ergonomi Keselamatan dan Kesehatan Kerja)menjadi penting, wajib dan perlu diberikan/diajarkan dalam kurikulum di Program Studi TeknikIndustri. Ergo-Safety --disiplin ergonomi yang membahas tentang keselamatan dan kesehatankerja (K3) --- merupakan salah satu aplikasi ilmu ergonomi ( applied/occupational ergonomics )dalam hubungannya dengan performans