Anda di halaman 1dari 12

LITERATURE REVIEW SENYAWA PADA KOPI

A. BUAH KOPI
Tanaman kopi Robusta tumbuh baik di dataran rendah sampai ketinggian sekitar 1.000 m diatas permukaan laut, daerah-daerah dengan suhu sekitar 200C. Tanaman kopi arabika menghendaki daerah-daerah yang lebih tinggi sampai ketinggian sekitar 1700 m diatas permukaan laut, daerah-daerah yang umumnya dengan suhu sekitar 10-16C. Untuk tumbuh subur kopi diperlukan curah hujan sekitar 2.000-3.000 mm tiap tahun serta memerlukan waktu musim kering sekurang-kurangnya 1-2 bulan pada waktu berbunga dan pad a waktu pemetikan buah. Tanaman kopi mulai dapat menghasilkan setelah umur 4-5 tahun tergantung pada pemeliharaan dan iklim setempat. Tanaman kopi dapat memberi hasil tinggi mulai umur 8 tahun dan dapat berbuah baik selama 15 -18 tahun, jika pemeliharaan tanaman kopi baik, akan menghasilkan sampai umur sekitar 30 tahun. Buah kopi yang sudah masak pada umumnya akan bewarna kuning kemerahan sampai merah tua. Tetapi ada pula buah yang belum cukup tua tetapi telah terlihat bewarna kuning kemerahan pucat yaitu kopi yang terserang hama bubuk buah kopi. Buah kopi terserang bubuk ini ada yang sampai mengering di tangkai atau luruh ke tanah. Buah kopi yang kering tersebut dipetik dan yangluruh di lahan dipungut secara terpisah dari buah yang masak dan dinamakan pungutan "lelesan". Pada akhir masa panen dikenal panen "rampasan" atau "racutan" yaitu memetik semua buah yang tertinggal di pohon sampai habis, termasuk yang masih muda. Petikan rampasan ini dimaksudkan guna memutus siklus hidup hama bubuk buah. Pemetikan buah kopi dilakukan secara manual. Untuk memperoleh hasil yang bermutu tinggi, buah kopi harus dipetik setelah betul-betul matang, kopi memerlukan waktu dari kuncup bunga 811 bulan untuk robusta den 6 sampai 8 bulan untuk arabica. Beberapa jenis kopi seperti kopi liberika dan kopi yang ditanam di daerah basah akan menghasilkan buah sepanjang tahun sehingga pemanenan bisa dilakukan sepanjang tahun. Kopi jenis robusta dan kopi yang ditanam di daerah kering biasanya menghasilkan buah pada musim tertentu sehingga pemanenan juga dilakukan secara musiman. Musim panen ini biasanya terjadi mulai bulan Mei/Juni dan berakhir pada bulan Agustus/September. Diperkirakan hasil tanaman perkebunan, besar dapat mencapai 1000 kg per hektar per tahun, sedangkan kopi robusta tanaman rakyat hanya mencapai 500 kg dan kopi arabika rakyat 200 kg per hektar per tahun.

Gambar 1. Struktur buah kopi Dimana;1= potongan tengah; 2= biji kopi (endosperm) 3= kulit ari (testa, epidermis) 4= parchment(hull, endocarp) 5=lapisan pektin 6=pulp (mesocarp) 7= Kulit luar (pericarp, exocarp).

Yesuf (2010) menyatakan bahwa pulp kopi buah kopi mengandung 40 -42 % (basis kering). Pulp mengandung 11% crude protein. Kulit cangkang (husk) mengandung 10% crude protein, 16% lignin, 57 % serat detergen netral dan serat detergen asam 52%, yang menunjukkan bahwa husk mengandung serat yang kurang berserat. Pulp dari proses kering juga kaya akan penol yang larut, proanthocyanidins yang tak laryt, tannin, kafein serta semua yang secara kolektiv dikategorikan sebagai komponen anti nutrisi dan komponen physiologi ketika dijadikan pakan ternak. (Pandey et al., 2000).Pulp dari proses basah mengandung

5.6% lignin, 30 serat detergen netral dan 26% serat detergen asam yang menunjukkan bahwa pulp memiliki nilai pakan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pulp kering. Kehadiran protein, gula, mineral dan kadar air yang tinggi merupakan substrat yang sempurna bagi pertumbuhan microorganisme dan sangat cepat untuk rusak. Pulp kopi juga dapat digunakan sebagai substrat dalam bioproses dan vermicomposting. Composting merupakan dekomposisi biologis atau suatu bio oksidasi bahan organik yang dipercepat menggunbakan microorganisms. Pada proses composting, bahan organik yang heterogen di transformasi menjadi produk sejenis humus yang homogen yang dapat digunakan sebagai pupuk. Elias (1979) menyatakan bahwa buah kopi terdiri dari 29 % pulp (adbk). Komposisi kimia pulp segar, pulp kering dan pulp yang difermentasi dan dikeringkan dapat dilihat pada Tabel 1, komponen organik lainya pada pulp dapat dilihat pada Tabel 2, kandungan mineral dapat dilihat pada Tabel 3, konstituen dinding sel serta struktur polisakarida (g%) dapat dilihat pada Tabel 4, serta komposisi asam amino esensial dan non esensial seperti pada tabel5.

Tabel 1a. Komposisi pulp kopi

Mucilage, terdapat diantara pulp dan hull, yang mewakili 5% buah kopi (adbk) (Bressani et al. 1972).Mucilage terdiri dari lapisan setebal 0.52 mm yang secara kuat menempel pada hulls. Secara fisik mucilage merupakan sistim koloid dan menjadi hydrogel yang lyophilic. Secara kimia mucilage mengandung air, pectins, gula, dan asam organik. Selama pematangan buah kopi calcium pectate yang berlokasi di lamela dan protopectin dari dinding sel terkonversi menjadi pectin. Transformasi atau hydrolysis protopectins menghasilkan disintegrasi dinding sel, dan meninggalkan plasma sel menjadi bebas. Disamping pectins, plasma ini mengandung gula dan asam organik yang diturunkan dari metabolisme dan konversi pati menjadi gula (Carbonell and Vilanova 1974). Komposisi mucilage diperlihatkan pada Tabel 7 dan Tabel 7a.

Tabel. 7.a. Komposisi mucilage

Komposisi huls kopi dan kandungan karbohidrat pada huls dapat dilihat pada Tabel 8 dan Tabel 9.

Ortiz A.R, etal (2004), melakukan analisa emisi buah kopi pada beberapa tingkat kematangan yang berbeda menggunakan headspace dinamis dan keadaan gas chromatography/mass spectrometry analysis untuk kopi arabika yang berasala dari Colombia. Komposisi zat volatile yang diemisikan oleh buah kopi didominasi oleh alkohol utamanya etanol pada semua tingkat kematangan. Buah kopi yang terlalu matang mempunyai emisi volatil yang didominasi oleh senyawa ester, alkjohol, keton dan aldehida. Senyawa

yang paling rendah monoterpenes. 2-Methyl furan terdeteksi pada berbagai tingkat kematangan, monoterpenes dikenal sebagai senyawa volatil yang menarik serangga. Kehadiran etanol dan alkohol lainya pada komposisi senyawa volatil dapat menjelaskan efektivitas penggunaan perangkap dengan campuran alkohol untuk mendeteksi dan menangkap serangga pelubang biji kopi.
Komposisi kopi biji dapat dilihat seperti pada Tabel 10.

Situs www.ICO.com menyatakan bahwa biji kopi arabika dan kopi robusta mempunyai komposisi yang berbeda. Komposisi kimia biji kopi (green coffee/green bean) kopi arabika dan robusta dapat dilihat pada Tabel 11, sedangkan komposisi karbo hidrat pada biji kopi dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 11. Komposisi kimia biji kopi (adbk)

Tabel 12. Komposisi karbohidrat kopi biji (adbk)

Tabel 13. Komposisi asam lemak pada biji kopi (% total lemak)

Tabel 14. Komposisi Lemak biji kopi ( % total lemak)

Tabel 15. Asam Amino bebas dan protein biji kopi

Tabel 16. Komposisi asam amino biji kopi (% dari total protein)

Tabel 17. Purine alkaloid pada biji kopi

Tabel 18. Asam Klorogenat biji kopi (% adbk).

Tabel 19. Asam alifatik biji kopi (% adbk)

Tabel 20. Komposisi Lemak pada biji kopi ( Maier, 1981)

Tabel 21. Asam Lemak pada triacylglicerol pada kopi biji (%)

Tabel 22. Distribusi (%) desmethylsterol pada kopi arabika dan robusta (Mariani and Fedeli, 1991)

Rios, O.G et al (2004) melaporkan pengaruh ekologi pengolahan pasca panen terhadap aroma kopi sangrai. Pengolahan pasca panen meliputi 3 variasi proses basah dan proses ekologi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kopi yang diproses dengan proses basah tradisional menggunakan mikroorganisme mempunyai aroma yang lebih baik dibabndingkan dengan yang diproses ekologis yang merupakan metode mekanis. Senyawa volatil yang teridentifikasi pada kopi sangrai sepertilterlihat pada Tabel . 23, dan perbandingan antara senyawa volatil pada biji kopi dan kopi sangrai ditunjukkan pada tabel 24.

Tabel 23. Senyawa Volatil pada Kopi sangrai

Tabel 24. Perbandingan senyawa volatil biji kopi dan kopi sangrai