Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dalam makalah ini akan dibahas mengenai sporozoa baik itu berbagai macam spesiesnya, hospesnya, penyakit yang dapat disebabkan oleh sporozoa dan juga pengobatannya. Seperti kita ketahiu, kelas sporozoa memiliki 3 (tiga) sifat yang berbeda antara genus yang satu dengan genus yang lain, perbedaan itu berupa : a. Genus sporozoa yang hidup didalam sel darah merah dan memerlukan vektor biologis, sifat ini terdapat pada Genus Plasmodium. b. Genus sporozoa yang hidup di dalam intestinal dan tidak memerlukan vektor biologis, sifat ini terdapat pada Genus Isospora dan Genus Eimerie. c. Parasit yang hidup di dalam sel endotel, leukosit mono-nukleus, cairan tubuh, sel jaringan tuan rumah dan belum diketahui vektor biologisnya, sifat ini yang terdapat pada genus toxoplasma. Parasit yang termasuk dalam kelas sporozoa berkembangbiak secara aseksual (skizogoni) dan seksual (sporogoni) secara bergantian. Kedua cara berkembang biak ini dapat berlangsung dalam satu hospes, seperti yang terjadi pada subkelas Coccidia, sedangkan berlangsung dalam dua hospes yang berbeda terdapat pada sub kelas haemosporidia (plasmodium). B. Tujuan Penulisan Setelah mempelajari makalah ini diharapkan kita sama-sama dapat memahami mengenai sporozoa dan hubungannya terhadap manusia.

BAB II PEMBAHASAN
SPOROZOA
Parasit yang termasuk sporozoa berkembangbiak secara seksual (skizogoni) dan aseksual (sporogoni) secara bergantian. Kedua cara berkembangbiak ini dapat berlangsung dalam satu hospes: hal ini ditemukan pada coccida. Pada haemosporidia (plasmodium) diperlukan dua hospes yang berlainan jenis. Parasite hidup di luar maupun di dalam sel bermacam macam organ vertebrata dan invertebrata. Spesies sporozoa yang dapat menghinggapi manusia termasuk : a. Coccdia; genus Eimeria, genus Isopora, dan genus Toxoplasma. b. Haemosporidia; genus Plasmodium. 1. Coccidia Dalam beberapa dekade terakhir dikemukakan penemuan baru, sehinnga beberapa coccidian menjadi jelas sebagai patogen pada manusia. Penemuan pertama pada tahun 1970 menjelaskan taksonomi parasit yang sudah dikenal sebagai patogen pada manusia selama setengah abad, yaitu Toxoplasma gondii adalah Coccidia dan kucing adalah hospes definitifnya. Penemuan lain pada tahun 1980 adalah parasit yang menyebabkan penyakit pada hewan peliharaan yaitu Cryptosporidium, juga patogen pada manusia dan menyebabkan infeksi oportunistik disertai diare pada penderita AIDS. Hospes dan Nama Penyakit Parasite ini hidup pada berbagai mamalia, burung dan ikan, termasuk manusia. Penyakit yang disebabkannya disebut koksidiosis. Distribusi Geografik Parasit ini terdapat di seluruh dunia, tetapi lebih banyak ditemukan di negeri beriklim panas. Morfologi dan Lingkaran Hidup Coccidia digolongkan berdasarkan bentuk ookista yang khas dan ukuran besarnya yang bervariasi, bentuk dan jumlah sporoblas serta sporozoit yang berbeda. Ookista mempunyai dinding, sitoplasmanya terdapat satu inti. Inti ookista membelah dan membentuk sporoblas. Pada perkembangan selanjutnya sporoblas membentuk dinding dan menjadi sporokista. Di dalam sporokista dibentuk sporozoit. Coccidia hidup dalam sel epitel usus, disini terjadi siklus aseksual yaitu skizogoni. Ookista yang berisi sporokista ditemukan dalam tinja. Bila sporokista matang tertelan oleh hospes, dirongga usu halus dindingnya akan pecah dan keluarlah sporozoit. Sporozoit akan masuk ke sel epitel usus halus dan menjadi trofozoit, trofozoit akan membesar kemudian intinya membelah menjadi banyak sehingga terbentuk merozoit. Bila skizon matang pecah, merozoit memasuki sel hospes lain, tumbuh menjadi trofozoit dan mulai lagi dengan skizogoni sampai beberapa kali.
2

Sebagian merozoit setelah menjadi trofozoit membentuk makrogametosit dan sebagian membentuk mikrogametosit. Setelah makrogamet dibuahi mikrogamet akan terbentuk zigot yang disebut ookista .di dalam ookista dibentuk sporoblas, yang pada perkembangan selanjutnya menjadi sporokista. Didalam sporokista dibentuk sporozoit. Pada genus Isospora, ookista matang berisi 2 sporokista yang masing-masing mengandung 4 trofozoit. Pada genus Eimeria, ookista matang berisi $sporokista yang masing-masing mengandung 2 sporosoit. 2. Eimeria Hospes Hospes parasit ini adalah binatang. Misalnya Eimeria clupearum hidup dalam hati ikan haring dan Eimeria sardinae dalam ikan sardin. Pada manusia kedua parasit ini hanya sebagai passant. Banyak spesies Eimeria lain yang patogen bagi binatang peliharaan seperti ayam, burung, kambing, sapi, dan babi. E.perforans terdapat dalam epitel usus kelinci. 3. Isospora Hospes dan Nama Penyakit Hospes Isospora kebanyakan pada burung, pada Isospora belli adalah manusia. Penyakitnya disebut isosporiasis. Distribusi Geografik Parasit ini mempunyai penyebaran luas, walaupun jarang ditemukan. Daerah endemic ditemukan di Afrika Selatan, Amerika Selatan, RRC, India, Jepang, Filipina, Indonesia dan pulau-pulau di Pasifik Selatan. Morfologi dan Daur Hidup Ookista I.belli berukuran 25-33 mikron. Dindingnya berlapis dua, rata dan tidak berwarna, sitoplasma bergranula dan mempunyai satu inti. Pada tinja segar ookista I.belli terdapat dalam semua stadium. Ookista matang dalam waktu 1-5 hari. Sporokista menghasilkan 4 sporozoit yang bentuknya memanjang dan mempunyai satu inti. Sporozoit masuk ke sel usus dan berkembang biak secara endodiogeni membentuk 2 merozoit sel anak. Pembelahan aseksual dapat terjadi berulang-ulang. Parasit hidup di vili usus halus dan jarang pada usus besar,. Patologi dan Gejala Klinis Masa inkubasi kurang dari 1 minggu. Infeksi biasanya berlangsung tanpa gejala atau dengan gejala usus ringan. Infeksi berat dapat menimbulkan diare. Infeksi I.belli dapat menyebabkan penyakit yang serius dan fatal. Gejala dapat berupa diare, steatore, sakit kepala, demam, malaise, nyeri abdomen, muntah, dehidrasi dan berat badan menurun.
3

Diagnosis Diagnosis dibuat dengan menemukan ookista dalam tinja. Metode flotasi lebih baik untuk sediaan tinja langsung dan metode kosentrasi sedimentasi lebih sensitive daripada sediaan langsung. Dengan pewarnaan modified acid-fast, ookista akan berwarna merah muda dengan sporoblast atau sporont berwarna merah terang, akan berwana biru pucat apabila menggunakan pewarnaan Giemsa, dan berwana merah jingga bila menggunakan teknik safarin-methylen blue. Pada kasus yang dicurigai tetapi tidak ditemukan ookista pada tinja maka dilakukan aspirasi duodenum, duodenal string test dan biopsy usus halus. Pengobatan Bila diperlukan obat , pilihannya adalah kombinasi trimetroprim (TMP) 160mg dan sulfametoksazol (SMX) 800mg diberikan 4 kali sehari salama 7-10 hari. Untuk anak-anak TMP (5mg/kg) SMX (25mg/kg) 2 kali sehari selama 7 hari. Epidemiologi Penularan terjadi melalui makanan dan air yang terkontaminasi dengan ookista atau sporokista. 4. Toxoplasma gondii Sejarah Toxoplasma gondii pada tahun 1908 pertama kali ditemukan pada binatang mengerat , yaitu Ctenodactylus gundi, disuatu laboratorium di Tunisia dan di Brazil pada seekor kelinci (Nicolle & Spelendore). Parasit ini ditemukan pada neonates dengan ensefalitis (1973). Walaupun transmisi intrauterine secara transplasental sudah diketahui, baru pada tahun 1970 daur hidup parasit ini menjadi jelas, ketika ditemukan daur hidupnya pada kucing. Setelah dikembangkan serologi yang sensitive oleh Sabin dan Feldman (1948), zat anti T.gondii ditemukan kosmopolit, terutama di daerah dengan iklim panas dan lembab. Hospes dan Nama Penyakit Hospes definitive T.gondii adalah kucing dan binatang sejenisnya (Felidae). Hospes perantaranya adalah manusia, mamalia lainnya dan burung. Parasit ini menyebabkan toksoplasmoisis kongenital dan toksoplasmosis akuisita. Distribusi Geografik Parasit ini ditemukan kosmopolit pada manusia dan binatang. Morfologi dan Daur Hidup T.gondii adalah spesies dari Coccidia yang mirip dengan Isospora. Dalam sel epitel usus halus kucing berlangsung daur seksual (skizogoni), dan daur seksual (gametogoni, sporogoni) yang menghasilkan ookista yang dikeluarkan bersama tinja. Bila ookista tertelan oleh mamalia lain atau burung (hospes perantara), maka pada berbagai jaringan hospes perantara ini dibentuk kelompok trofozoit secara aktifmdan disebut takizoit. Kecepatan takizoit Toxoplasma berkurang secara berangsur dan terbentuklah kista yang mengandung bradizoit ; masa ini adalah masa
4

infeksi klinis menahun yang biasanya merupakan infeksi laten. Pada hospes perantara dibentuk stadium istirahat, yaitu kista jaringan. Bila kucing sebagai hospes definitife maka hospes perantara yang terinfeksi. Dibebagai jaringan tubuh kucing ditemukan trofozoit dan kista jaringan. Pada manusia takizoit ditemukan pada infeksi akut dan dapat memasuki tiap sel yang berinti. Takizoit pada manusia adalah parasit obligat intra-selular. Takizoit berkembangbiak dalam sel secara endodiogeni. Kista jaringan dibentuk di dalam sel hospes bila takizoit yang membelah telah membentuk dinding. Ukuran kista berbeda-beda ; ada kista kecil yang mengandung beberapa organisme dan ada yang berukuran 200 mikron berisi 3000 organisme. Cara infeksi : 1. Pada toksoplasmosis kongenital transisi Toxoplasma kepada janin terjadi in utera melalui plasenta, bila ibunya mendapat infeksi primer waktu hamil. 2. Pada toksoplasmosis akuisita infeksi dapat terjadi, bila makan daging yang mengandung kista jaringan atau takizoit Toxoplasma. Selain itu infeksi dapat terjadi bila ookista yang dikeluarkan dengan tinja kucing tertelan. 3. Infeksi juga dapat terjadi di laboratorium pada orang yang bekerja dengan binatang percobaan yang terinfeksi T.gondii, melalaui jarum suntik atau alat-alat lain yang terkontaminasi. 4. Infeksi dapat terjadi dengan transplantasi organ dari donor yang menderita toksoplasmosis laten. Dan juga tranfusi darah. Patologi dan Gejala Klinis Setelah invasi yang biasanya terjadinya di usus, maka parasit memasuki sel berinti atau difagositosis. Sebagian parasit mati setelah difagositosis, sebagian lain berkembangbiak dalam sel, menyebabkan sel hospes pecah dan menyerang sel-sel lain. T.gondii dapat menyerang semua organ dan jaringan tubuh hospes, kecuali sel darah merah. Kerusakan yang terjadi pada jaringan tubuh, tergantung pada : 1. 2. 3. 4. umur virulensi strain Toxoplasma jumlah parasit organ yang diserang

Lesi pada susunan saraf pusat dan mata biasanya lebih berat dan permanen, oleh karena jaringan ini tidak mempunyai kemampuan untuk regenerasi. Kelainan pada susunan saraf pusat berupa nekrosis yang disertai dengan klasifikasi. Pada infeksi akut di retina ditemukan reaksi peradangan fokal dengan edema dan infiltrasi leukosit yang dapat menyebabkan kerusakan total dan pada proses penyembuhan menjadi parut (sikatriks) dengan atrofi retina dan koroid, disertai pigmentasi. Toksoplasmosis akuisita. Infeksi pada orang dewasa biasanya tidak diketahui oleh karena jarang (asimtomatik). Bila seorang ibu hamil mendapat infeksi primer, maka ia dapat melahirkan
5

anak dengan toksoplasmosis kongenital. Manifestasi klinis yang sering dijumpai pada toksoplasmosis akuisita akut adalah limfadenopati (servikal, supraklavikular, axial, inguinal,dan oksipital), rasa lelah, demam, nyeri otot dan rasa sakit kepala. Toxoplasma menyebabkan infeksi yang disebababkan imunosupresi berhubungan dengan transplantasi organ dan pengobatan keganasan. Toksoplasmosis kongenital. Gambaran klinis toksoplasmosis kongenital dapat bermacammacam antara lain prematuritas, retardasi pertumbuhan intrauterin, postmaturitas, retinokoroiditis, strabismus, kebutaan, retardasi psikomotor, mikrosefalus/hidrosefalus, kejang, hipotonus, icterus, anemia,dan hepatosplenomegali. Berat infeksi tergantung pada umur janin. Infeksi pada kehamilan muda dapat mengakibatkan abortus spontan dan kematian janin. Diagnosis Diagnosis toksoplasmosis akut dapat dipastikan bila menemukan takizoit dalam biopsy otak atau sumsum tulang, cairan serebrospinal dan ventrikel. IgG terhadap Toxoplasma biasanya muncul 1-2 minggu setelah infeksi dan biasanya menetap seumur hidup. IgM pada penderita imunokompromais biasanya tidak terdeteksi. Tes yang sering digunakan adalah ELISA untuk deteksi antibodi IgG dan IgM. Adanya zat anti IgM pada neonatus menujukkan bahwa zat anti dibuat oleh janin yang terinfeksi dalam uterus, karena zat anti IgM dari ibu yang berukuran lebih besar tidak dapat melalui plasenta, tidak seperti halnya zat anti IgG. Diagnosis pasti ensefalitis toksoplasmik ditetapkan dengan menemukan takizoit pada jaringan, darah atau cairan tubuh lainnya dan PCR untuk deteksi DNA T.gondii dengan menggunakan primer gen B1. Penggunaan PCR pada cairan ceresbropinal cukup sensitive dan sangat spesifik untuk diagnosis enseflalitis toksoplasmik. Pengobatan Obat yang dipakai sampai saat ini hanya membunuh stadium takizoit T.gondii dan tidak membasmi stadium kista, sehingga obat dapat memberantas infeksi akut, tetapi tidak dapat menghilangkan infeksi menahun, yang dapat aktif kembali. Pirimetamin diberikan dengan dosis 50 mg-75 mg sehari untuk dewasa selama 3 hari kemudian dikurangi menjadi 25 mg sehari. Asam folinat (leucovorin) diberikan 2-4 mg sehari atau dapat diberikan ragi roti 5-10 g sehari, 2 kali seminggu. Sulfonamid diberikan dengan dosis 50-100 mg /kg berat bada/hari selama beberapa minggu atau bulan. Spiramisin diberikan dengan dosis 100 mg/kg berat badan /hari selama 30-45 hari. Pada bayi dengan toksoplasmosis kongenital diberikan pirimetamin dengan loading dose 2 mg/kg berat bada/hari selama 2 hari, kemudian 1 mg selama 2-6 bulan. Sulfonamide 2X 50 mg sehari, asam folinat 10 mg 3 kali seminggu. Prognosis Toksoplasmosis akuisita biasanya tidak fatal. Gejala klinis dapat dihilangkan dengan pengobatan adekuat. Bayi yang dilahirkan dengan toksoplasmosis kongenital yang berat
6

biasanya meninggal atau tetap hidup dengan infeksi menahun dan gejala sisa sewaktu-waktu dapat mengalami eksaserbasi akut. Seorang ibu yang melahirkan anak dengan toksoplasmosis kongenital untuk selajutnya akan melahirkan anak normal, karena ibu tersebut telah mempunyai zat anti. Epidemiologi Di Indonesia prevalensi zat anti T.gondii yang positif pada manusia berkisar antara 2% dan 63%. Keadaan toksoplasmosis di suatu daerah dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kebiasaaan makan daging yang kurang matang, adanya kucing sebagai hewan peliharaan kesayangan, tikus dan burung sebagai hospes perantara, dan adanya vector seperti lalat atau lipas. Cacing tanah juga berperan untuk memindahkan ookista dari lapisan dalam kepermukaan tanah. Seekor kucing dapat mengeluarkan 10 juta butir ookista sehari selama 2 minggu, ookista matang dalam 1-5 hari dan dapat hidup lebih dari setahun ditanah yang panas dan lembab. Ookista mati pada suhu 45o-55oC. 5. Cryptosporidium Cryptosporidium adalah protozoa usus yang menyebabkan diare. Kasus pertama kriptosporidiosis pada manusia dilaporkan pada tahun 1976. Ternyata kriptosporidiosis terutama ditemukan pada penderita imunokompromais (AIDS) dan menyebabkan diare berat. Hospes dan Nama Penyakit Parasit ini ditemukan pada mamalia (manusia, sapi, domba, babi, mencit, kelinci, monyet, anjing, kucing), burung dan reptilian (ular). Penyakit yang disebabkannya disebut kriptosporidiosis. Distribusi Geografik Kriptosporidiosis pada manusia ditemukan kosmopolit. Morfologi dan Daur Hidup Cryptosporidium parvum adalah spesies yang menyebabkan infeksi pada manusia. Parasit itu termasuk Coccida yang mirip Isospora dan Toxoplasma. Infeksi terjadi apa bila tertelan ookista matang yang dikeluarkan bersama tinja hospes terinfeksi. Okskitasi terjadi di traktus gastrointestinal atas, sporozoit keluar dari ookista dan masuk ke sel epitel usus pada bagian apeks di dalam membran sel hospes, tetapi tidak di dalam sitoplasma, disebut meront. Patologi dan Gejala Klinis Pada manusia Cryptosporidium ditemukan di faring, esofagus, lambung, duodenum, yeyunum, ileum, apendiks, kolon, rectum, kandung empedu, dan saluran pancreas. Cryptosporidium hanya ditemukan di permukaan sel epitel. Cryptosporidium adalah penyebab diare terutama pada anak-anak dinegara berkembang dan lebih sering pada anak di bawah umur 1 tahun. Malnutrisi mempermudah anak mendapatkan kriptosporidiosis atau kriptosporidiosis menyebabkan malnutrisi masih belum jelas.
7

Pada hewan kriptosporidiosis merupakan penyakit akut disertai diare, anoreksia, dan turunya berat badan. Penyakit pada hewan merupakan penyakit yang sembuh sendiri atau fatal, tidak pernah menjadi menahun. Pada manusia beratnya penyakit ditentukan status imunnya. Pada penderita imunokompeten biasanya infeksi asimtomatik atau sembuh sendiri, sedangkan penderita imunokompromais sering menderita diare menahun yang berlanjut sampai meninggal. Kriptosporidiosis pada manusia biasanya disertai diare, tanpa adanya darah, kehilangan cairan dalam jumlah besar ( 3 liter sampai 17 liter ) dapat di jumpai pada pasien imunokompromais, yang munkin disebabkan toksin yang mirip dengan toksin kolera. Diare pada pasien imunokompeten dapat berlangsung sampai 1 bulan, sedangkan pada pasien imunokompromais diare munkin 4 bulan atau lebih. Gejala klinis lainnya adalah nyeri di ulu hati, mual, muntah, anoreksia, dan demam ringan. Kematian tidak langsung disebabkan oleh Crytosporidium, tetapi diare dan malnutrisi merupakan factor penting. Pada pasien AIDS, ada 4 manifestasi klinis kriptosporidiosis yaitu: 1. Diare seperti kolera 2. Diare kronis 3. Diare intermiten 4. Diare transient Diagnosis Diagnosis ditetapkan kriptosporidiosis ditetapkan dengan menemukan ookista dalam tinja segar atau yang diawetkan dengan formalin 10% atau dengan polivinil alcohol dengan pemeriksaan langsung. Ookista kecil sekali dan mirip dengan ragi sehingga pemeriksaan tinja dengan lugol sukar untuk membedakan ookista dari sel ragi. Cara yang lebih baik untuk identifikasi ookista adalah pemeriksaan sedia tinja yang dipulas dengan modifikasi pulasan Ziehl-Neelsen. Dengan pulasan tersebut ookista tampak bulat atau lonjong berwarna biru, bila jumlah ookista sedikit dapat dilakukan kosentrasi dulu dengan cara flotasi dengan gula, atau cara kosentrasi dengan formalin eter atau formalin etilasetat. Pemeriksaan tinja dengan menggunakan PCR lebih sensitive dari pada pemeriksaan yang dipulas pewarnaan Ziehl-Neelsen. Pengobatan Pengobatan yang ideal adalah perbaikan system imun dengan highly active antiretroviral therapy (HAART). Jika memang HAART tidak memungkinkan, beberapa anti biotik efektif terhadap Cryptosporidium yaitu : 1. Obat pilihan : paromomisin 4 kali 500 750 mg per hari. 2. Azitromisin 900 atau 1200 mg sekali sehari selama 2 minggu. 3. Nitazoksanid 100 200 mg 2 kali sehari (hanya diperlukan untuk pasien AIDS). 4. Spiramisin 3X1 gram selama 2 minggu. Epidemiologi Kriptosporidiosis ditemukan diseluruh dunia. Survey pada 248 anak sapi di Idahe menunjukan bahwa 110 ekor (44,4%) mengandung Cryptosporidium dalam tinjanya. Di Jakarta
8

Cryptosporidium ditemukan pada 11 (1,3%) dari 838 anak yang dirawat di beberapa rumah sakit dengan diare dan pada 4 (0,65%) dari 617 penderita diare dewasa yang dirawat dirumah sakit. Hewan atau pun manusia dapat menjadi sumber infeksi untuk manusia. Cryptosporidium merupakan penyebab diare pada orang bepergian serta pada pusat penjagaan harian anak anak ( day care centres ) dan dapat terjadi sebagai epidemic dengan transmisi melalui air. Klorinasi atau pemberian klor pada air minum tidak dapat membunuh ookista Cryptosporidium spp, begitu pila desinfektan yang dijual dipasaran. Ookista dapat dibunuh dengan pemanasan sampai 65oC selama 30 menit atau memasak air selama 1 menit, dengan 5% sodium hipoklorit atau 5% - 10% ammonia. 6. Cyclospora cayetanensis Sejarah Kasus infeksi dengan parasit ini pada manusia pertama kali dilaporkan pada tahun 1079. Setelah 1980 kasus infeksi lebih sering dilaporkan dari berbagai Negara. Hospes Hospesnya adalah manusia. Belum diketahui apakah hewan dapat terinfeksi dan hewan dapat menjadi sumber infeksi untuk manusia. Morfologi dan Daur Hidup Cyclospora adalah spesies yang termasuk Coccidia. Ookistanya berukuran 8-10 mikron. Ookista yang belum matang dikeluarkan dengan tinja dan akan terjadi sporulasi dalam satu sampai beberapa minggu pada suhu yang tinggi dan lembab. Ookista berisi 2 sporokista yang masing-masing mengandung 2 sporozoit. Pada hospes parasit terdapat intrasitoplasmik dan perkembangan terjadi dalam vakuol pada enterosit yeyunum. Infeksi terjadi dengan menelan ookista matang. Patologi dan Gejala Klinis Cyclospora ditemukan intraselular dalam eterosit yeyunum. Gejala klinis timbul kira-kira seminggu setelah empeksi (masa inkubasi). Cycloplasma menyebabkan diare yang sering disertai tinja cair, namun diare bukan keluhan utama dan yang sering adalah konstipasi. Gejala klinis lain anoreksia, berat badan turun, kembung, nyeri ulu hati, muntah, nyeri otot, demam ringan, dan lelah. Apabila tidak diobati penyakit dapat berlangsung beberapa hari sampai sebulan atau lebih lama dan penyakitnya dapat kambuh. Kadang-kadang infeksi Cyclospora berjalan asimtomatik. Diagnosis Diagnosis ditegakan dengan menemukan ookista dalam tinja segar atau tinja yang diawetkan dengan iodium, formalin 10%, kalium bikromat 2,5%. Selain tinja bahan lain yang dapat digunakan untuk pemeriksaan adalah aspirasi duodenum atau biopsy usus halus. Bila pemeriksaan negative perlu diulang pada 3 4 spesimen tinja. Ookista lebih mudah ditemukan bila tinja dikosentrasi dengan tehnik formalinetilasetat. Pemeriksaan tinja lebih mudah berhasil dengan mikroskop fluoresen ultraviolet . juga dapat digunakan pulasan tahan asam, karena
9

ookista Cyclospora kadang-kadang tahan asam (tidak berwarna atau merah muda sampai merah tua). Baru baru ini telah dikembangkan metode lain untuk deteksi Cyclospora pada sampel klinis yaitu flow cytometry sebagai alternative mikroskop. PCR merupakan metode yang dapat dipercaya untuk mendeteksi C.cayetanensis dari pada pemeriksaan dengan mikroskop. Pengobatan Obat yang efektif untuk dewasa adalah TMP 160 mg + sulfametoksazol 800 mg 4 x sehari selama 10 hari untuk infeksi awal, dan 3 kali seminggu untuk profilaksis. Untuk anak-anak TMP 5 mg/kg berat badan + sulfametoksazol 25 mg/kg berat badan 2 x sehari selama 7 hari. Pada penderita AIDS dapat diberikan dosis yang lebih tinggi dan dosis pemeliharaan yang lebih lama. Obat lain yang dapat digunakan adalah metronidazol, tinidazole, dan siprofloksasin. Epidemiologi Cyclospora ditemukan sebagai penyebab diare pada orang yang bepergian. Infeksi dapat terjadi pada semua umur, pada yang imunokompeten maupun yang imunokompromais. Pada tahun 1996 parasit ini ditemukan hampir pada 1000 orang di Amerika Serikat dan Kanada karena makan rasberri yang diimpor dari Guatemala dan menyebabkan 7 epidemi sejak April 1997 di California, Florida, New York, dan Texas. Pencegahan infeksi Cyclospora adalah dengan menghindari makanan dan minuman yang tercemar tinja. 7. Blastocystis hominis Sejarah Parasit ini pertama kali dilaporkan oleh Alexeieff (1911), kemudian oleh Brumpt (1912). Diduga parasit ini adalah sel ragi (yeast) apatogen yang ditemukan dalam tinja orang yang sakit maupun sehat. Pada tahun 1991 Zierdt menyatakan bahwa organisme ini adalah protozoa yang tergolong Sporozoa, yang menyebabkan penyakit pada manusia. Hospes dan Nama Penyakit B.hominis ditemukan pada manusia, kera, babi, dan munkin pada marmot, reptelia, kecoa, tikus dan berbagai hewan lainnya. Parasit ini menyebabkan blastokistosis. Distribusi Geografik B.hominis ditemukan di daerah tropic, subtropik. Morfologi dan Daur Hidup B.hominis mempunyai 4 bentuk : vacuolar, granular, ameboid dan bentuk kista. Bentuk Vakuolar. Bentuk ini paling sering ditemukan dalam tinja maupun biakan. Vakuol disebut benda sentral, yang dikelilingi oleh sitoplasma perifer yang mengandung nucleus, mitokondria dan badan golgi. Inti berjumlah 1-4. Bentuk Granular. Sel berisi granula yang mudah dilihat mikroskop yang mudah dilihat dengan mikroskop fase kontras.
10

Bentuk Ameboid. Stadium ini mempunyai bentuk yang tidak teratur dan banyak ditemukan dalam tinja maupun biakan, miripm leukosit. Bentuk Kista. Bentuk kista polimorfik, tetapi kebanyakan tampak oval atau sirkular. B.hominis berkembangbiak secara aseksual. Ada 4 macam pembelahan : belah passing, plasmotomi, skizogoni, dan endodeogeni. Pada manusia biasanya terjadi belah pasang. Dibanding bentuk lainnya bentuk kista yang paling tahan terhadap pengaruh lingkungan luar hospes dan munkin satu-satunya bentuk yang infektif. Cara infeksi melalui makanan dan air minum yang terkontaminasi parasit. Patologi dan Gejala Klinis B.hominis merupakan parasit yang patogen atau komensal masih kontroversial. Gejala gastrointestinal ditemukan pada pasien yang menderita imunosupresi sehingga B.hominis dinyatakan parasit oportunistik. Gejala infeksi infeksi adalah diare, flatulens, kembung, anoreksia, berat badan turun, muntah, nausea, konstipasi dan lain-lain. Infeksi pada anak berumur 4 tahun pernah dilaporkan dengan feses yang mengandung darah, yang kemudian menderita diare cair dengan gumpalan darah dan demam. Diagnosis Diagnosis infeksi ditegakkan dengan menemukan B.hominis di dalam tinja dengan pemeriksaan langsung, pewarnaan trikrom, teknik Kinyoun acid fast. Pemeriksaan tinja sebaiknya dilakukan pada 3 sampel penderita dengan gejala B.hominis. Pengobatan Pengobatan dianjurka bila hanya ditemukan B.hominis dalam tinja, disertai gejala gastrointesnital. Obat pilihan adalah metronidazole 750 mg 3 x sehari selama 10 hari, iodoquinol 650 mg 3 x sehari selama 20 hari. Obat yang efektif adalah furazolidon 4 x 100 mg selama 7 hari. Epidemiologi B.hominis terutama ditemukan di daerah tropis. Infeksi B,hominis ditemukan lebih sering pada homoseksual dengan atau tanpa infeksi HIV. Pencegahan infeksi dengan sanitasi lingkungan dan perorangan, serta mencegah pencemaran makanan dengan tinja dan selalu memasak air minum. 8. Microsporidia Sejarah Microsporidia termasuk Phylum Microspora. Phylum ini mengandung lebih dari 100 genus dan 1000 spesies. Kasus infeksi dilaporkan pada tahun 1959 pada seorang laki-laki Jepang yang pada pemeriksaan cairan serebrospinal ditemukan genus Encephalitozoon. Ada 7 genus yang dapat menginfeksi manusia yaitu, Enterocytozoon, Encephalitozoon, Nosema, Trachipleistophora, Pleistophora, Microsporidium dan brachiola.
11

Hospes dan Nama Penyakit Microsporidia ditemukan pada invertebrate dan vertebrata termasuk insekta, ikan , burung dan mamalia. Penyakit yang di timbulkan disebut mikrosporidiosis. Table 1. Tempat infeksi Microsporidia pada hospes Spesies Enterocytozoon bieneusi Hospes Manusia, babi, primata Tempat Infeksi Epitel usus halus, epitel saluran dan kandung empedu, hati, yang jarang polip hidung dan epitel bronkial

Encephalitozoon cuniculi Encephalitozoon hellem Encephalitozoon intestinalis

Mamalia termasuk manusia Hati, peritoneum, ginjal, usus, mata Manusia, burung betet Manusia Epitel kornea dan konjungtiva, polip hidung, ginjal Epitel usus halus sampai kolon, makrofag pada lamia propria, ginjal, mata dan kandung empedu Otot skelet, otot jantung, epitel kornea, ginjal, nasofaring Otak, ginjal, jantung, pancreas, tiroid, paratiroid, hati, limpa, sumsum tulang Otot skelet Stroma kornea Stroma kornea Stroma kornea Stroma kornea

Trachipleistophora hominis Trachipleistophora anthropophthera Pleistophora spp

Manusia manusia

Manusia, ikan

Vittaforma corneae (nosema Manusia corneum) Nasema ocularum Microsporidium ceylonensis Microsporidium africanum Manusia Manusia Manusia

Distribusi Geografik Parasit ini ditemukan di seluruh dunia. Morfologi dan Daur Hidup Microsporidia adalah parasit obligat intraseluler yang mempunyai 2 fase perkembangan yaitu fase skizogoni (merogoni) dan fase sporogoni. Microsporidia berukuran 1-20 mikron. Spora dapat berbentuk sferis, oval, atau memanjang. Infeksi dimulai dengan masuknya spora ke dalam sel hospes. Setelah terjadi penonjolan polar filament dan pengeluaran isi spora ke dalam sel hospes, parasit akan membelah diri melalui proses merogoni yang diikuti diferensiasi menjadi spora (sporogoni). Sporoplasma yang masuk kedalam sel hospes akan bermultipikasi dan berkembang biak menjadi meron berinti banyak, membrane sel akan menebal yang kemudian
12

akan berdiferenisiasi mmembentuk sporon. Sporon membelah dan membentuk sporoblas. Pada akhirnya sporoblas akan mengalami sitokinensis dan menghasilkan spora matang. Sel hospes yang terinfeksi pecah dan mengeluarkan spora, yang dapat menginfeksi sel lain. Infeksi E.bieneusi terutama berlokasi pada usus halus, walaupun traktus bilier dapat terkena. Tempat lainnya adalah ginjal, hati, sinus, dan otak. Patologi dan Gejala Klinis Lesi dan respon imun yang ditimbulkan oleh Microsporidia tergantung pada status imun hospes. Pada hospes imunokompeten infeksi dapat menjadi kronis dan subklinis. Pada hospes imunokompromais dapat mengakibatkan kematian. Microsporidia dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia dan melibatkan berbagai sitem organ yaitu intestinal, mata, otak, jantung, hati, sinus, paru, otot, dan ginjal. Diagnosis Diagnosis Microsporidia pada umumnya berdasarkan pemeriksaan dengan mikroskop cahaya atau electron, metode molekuler dan uji serologi. Specimen yang dapat digunakan adalah tinja, urin, sputum, bilasan bronkoalveolar, sekresi nasal, cairan serebrospinal dan biopsy jaringan. Untuk diagnosis konjungtivitas atau keratis dapat dilakukan dengan pemeriksaan apus konjungtiva atau kornea, kerokan atau biopsy specimen. Penilaian semikuantitatif jumlah spora per sampel tinja menurut Molina : 0 : tidak ada spora 1 : spora jarang 2 : beberapa spora 3: banyak spora Mikroskop cahaya dan transmission electron microscopy (TEM) adalah standar untuk diagnosis mikrosporidiosis, namun tidak dapat membedakan spesies. Mikroskop Cahaya Pada modifikasi trikrom, spora tampak berbentuk oval dan berwarna merah muda. Specimen yang dapat didunakan dengan pewarnaan modifikasi trikrom adalah tinja dan cairan tubuh lain. Pewarnaan Giemsa Spora dengan pewarnaan Giemsa akan berwarna biru muda. Pewarnaan gram Brown Brenn dan pewarnaan perak Warthin-Starry sering digunakan untuk mendeteksi Microsporidia pada potongan jaringan. Pengobatan Albendazol untuk Microsporidia invasive terutama genus Encephalitozoon. Kerjanya menghambat polimerisasi mikrotubul selama pembelahan inti sehingga mencegah pemisahaan kromosom. Dengan demikian pembelahan parasit dihambat dan mempunyai efek parasitosid.
13

Fumagillin merupakan antibiotik yang diproduksi oleh jamur Aspergillus fumigatus. Jika diberikan secara sistemik dengan dosis 20 mg 3 x sehari selama 2 minggu efektif untuk infeksi E.bienuesi dan secara topical dapat mengobati keratokonjungtivitis yang disebabkan oleh Encephalistozoon spp. Talidomid dapat digunakan untuk mengobati infeksi E.bieneusi yang tidak respon terhadap albendazol, dengan dosis 100 mg 4 x sehari selama 30 hari. Nitazoksanid diberikan 2 x 1 g perhari selama 60 hari. Itrakonazol, metronidazole, isetionat propamidin topical digunakan untuk infeksi epitel kornea. Epidemiologi Parasit dapat hidup di air pada suhu 4oC selama lebih dari 1 tahun. Transmisi Microsporidia terutama melalui fekal-oral atau urino-oral. Transmisi transplasental sering pada karnivora, tetapi belum dibuktikan pada manusia. Walaupun jarang juga pernah dilaporkan infeksi trauma.

14

Anda mungkin juga menyukai