Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

PENETAPAN KARBOHIDRAT METODE IODIN

OLEH : KELOMPOK V Musyair Muh. Iqbal Andi Marlisa Bossa Samang Desi Ayu Saputri Pratiwi Dewi Rismayanti Raodah Kurnia Paslar Kiki Riskiana

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan karena atas berkat dan limpahan rahmat-Nya lah sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Makalah yang berjudul Kimia Pangan ini dibuat agar kita dapat megetahui dan memahami komposisi pangan, mutu pangan, keamanan pangan, reaksi-reaksi kimia pada pangan, analisa pengolahan, pektin dan karagenan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini. Pertama, yaitu kepada Ibu yang telah membimbing kami dalam mata kuliah Kimia Pangan II. Dan kedua, kepada teman-teman yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Namun, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga kami membutuhkan saran dan kritik dari para pembaca untuk perbaikan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Makassar, Desember 2011

Penulis

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Indonesia terkenal sebagai negara yang kaya akan hasil pertaniannya hingga disebut sebagai negara agraris. Secara umum hasil dari pertanian, seperti jagung, telur, minyak dan sebagainya mengandung karbohidrat, protein, dan lemak. Namun, kandungan setiap gizi tersebut bervariasi pada setiap hasil pertanian. Makanan yang kita konsumsi haruslah mengandung sumber

karbohidrat karena karbohidrat berfungsi sebagai cadangan energi sehingga manusia dapat melakukan aktivitas. Hasil pertanian sumber karbohidrat yaitu ubi kayu, ubi jalar, kentang, jagung, gadung dan sebagainya yang memiliki kandungan karbohidrat yang berbeda-beda. Sumber karbohidrat sering disebut sebagai makanan pokok. Makanan pokok yang terkenal adalah beras. Namun, dengan adanya berbagai sumber karbohidrat lainnya beras dapat digantikan dengan ubi kayu, ubi jalar, kentang, jagung, gadung dan sebagainya karena memiliki kandungan gizi yang mendekati beras, tapi pemanfaatannya secara komersial masih belum banyak dilakukan. Analisa karbohidrat pada hasil pertanian dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan uji iodin. Hasil pertanian yang mengandung karbohidrat jika ditetesi iodin akan mengubah warnah menjadi biru kehitaman. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan praktikum ini untuk mengetahui kandungan karbohidrat pada berbagai hasil pertanian dan olahannya seperti pada tepung gadung, tepung tapioka tepung maizena, jagung, dan ubi kayu dan mengetahui cara analisa karbohidrat dengan iodin.

B. Tujuan dan Kegunaan Tujuan yang ingin dicapai dari praktikum ini adalah: 1. Untuk mengetahui ada atau tidaknya karbohidrat dalam bahan pangan, misalnya pada berbagai bahan pangan. 2. Untuk mengetahui cara pengujian karbohidrat dengan metode iodin. Kegunaan praktikum adalah sebagai sumber informasi mengenai ada atau tidaknya karbohidrat pada bahan pangan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat dan mengetahui metode iodin dalam pengujian karbohidrat dalam berbagai bahan pangan yang sring dikonsumsi.

II. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat Praktikum Aplikasi Teknik Laboratorium dilaksanakan pada hari Rabu, 9 Oktober 2011, pukul 08.00-11.00, bertempat di Laboratorium Kimia Analisa dan Pengawasan Mutu Pangan, Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian

Universitas Hasanuddin, Makassar. B. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah ; - timbangan analitik - erlenmeyer - pipet tetes - gelas ukur - tabung reaksi - stopwatch

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah : - tepung gadung - tepung tapioka - tepung maizena - tepung jagung - tepung ubi kayu - larutan HCl 3% - larutan NaOH 6 M - aquadest - iodium - aluminium foil - tissue roll

C. Prosedur Kerja Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah: a. Bahan ditimbang sebanyak 5 gram dengan menggunakan timbangan analitik. b. Bahan yang telah ditimbang, dimasukkan ke dalam erlenmeyer. c. Ditambahkan aquadest 50 ml. d. Dimasukkan ke dalam3 tabung reaksi sebanyak 3 ml. e. Tiap tabung ditambahkan masing-masing satu perlakuan: I = Diberi aquades 2 tetes II = Diberi larutan HCl 3% 2 tetes III= Diberi larutan NaOH 2 tetes f. Diamati perubahan warna yang terjadi.

g. Ditambahkan iodin 5 tetes, kemudian diamati perubahan warna yang terjadi. h. Bahan dipanaskan selama 5 menit pada suhu 600C, diamati perubahan warna yang terjadi. i. Bahan didinginkan selama 10 menit, diamati perubahan warna yang terjadi.

III. HASIL PEMBAHASAN

A. Hasil Hasil yang diperoleh dari praktikum ini dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 01. Hasil Pengamatan Warna Uji Iodin Karbohidrat (Perlakuan I yaitu Diberi Aquades 2 Tetes) Perlakuan No. Sampel Aquades Iodin Dipanaskan Didinginkan Tepung Putih 1. Putih Putih Putih Gadung keabuan Tepung 2. Putih Ungu muda Ungu muda Ungu muda Tapioka Tepung Coklat, Coklat, 3. Putih Ungu Maizena menggumpal menggumpal 4. Jagung Kuning Ungu Putih Putih Endapan Endapan 5. Ubi Kayu Putih Ungu (putih keruh) (putih keruh) dan ungu dan ungu Sumber: Data Primer, Praktikum Aplikasi Teknik Laboratorium, 2011. Tabel 02. Hasil Pengamatan Warna Uji Iodin Karbohidrat (Perlakuan II yaitu Diberi Larutan HCl 3% 2 Tetes) Perlakuan No. Sampel HCl Iodin Dipanaskan Didinginkan Coklat Tepung 1. Putih Ungu Ungu kecoklatan keunguan, Gadung menggumpal Tepung 2. Putih Ungu tua Ungu tua Ungu tua Tapioka Tepung Ungu tua Ungu tua 3. Putih Ungu tua Maizena menggumpal menggumpal 4. Jagung Kuning Abu-abu Ungu Ungu 5. Ubi Kayu Putih bersih Ungu pekat Endapan (putih bening) dan ungu Endapan (putih bening) dan ungu

Sumber: Data Primer, Praktikum Aplikasi Teknik Laboratorium, 2011.

Tabel 03. Hasil Pengamatan Warna Uji Iodin Karbohidrat (Perlakuan III yaitu Diberi Larutan NaOH 6 M 2 Tetes) Perlakuan No. Sampel NaOH Iodin Dipanaskan Didinginkan Tepung Putih Menggumpal 1. Putih Coklat Gadung kekuningan (putih tulang) Putih Tepung Putih 2. Putih Putih menggumpal Tapioka menggumpal 3. 4. Tepung Maizena Jagung Putih Kuning Putih Bening menggumpal Bening menggumpal

Kuning Kuning Kuning pucat pucat Putih Ungu 5. Ubi Kayu Kuning Kuning keruh keruh Sumber: Data Primer, Praktikum Aplikasi Teknik Laboratorium, 2011. B. Pembahasan 1. Tepung Gadung Hasil praktikum uji iodine pada penambahan aquadest 2 tetes pada tepung gadung menunjukkan tidak adanya perubahan warna. Hal ini terjadi karena aquadest memiliki sifat netral dan tidak mempunyai sifat yang dapat menghasilkan reaksi dengan karbohidrat oleh karenanya warna tetap putih. Aquadest bersifat netral sehingga tidak dapat menghidrolisa glukosa walaupun disertai pemanasan. Setelah itu ditambahkan dengan iodin warna larutan berubah menjadi putih keabu-abuan. Hal ini disebabakan karena iodium dapat bereaksi dengan larutan tepung gadung dan membentuk warna abu-abu. Warna abuabu disebabkan adanya amilum pada tepung gadung. Karbohidrat apabila ditambahkan dengan iodine akan menghasilkan perubahan warna atau berwarna gelap, yang bertujuannya mengetahui keberadaan amilum.

Kemudian dipanaskan selama 5 menit warnanya kembali mejadi putih, dan setelah didinginkan menghasilkan warna putih. Hasil praktikum uji iodine karbohidrat pada penambahan HCl memberikan warna putih. HCL memiliki sifat mempercepat terjadinya sebuah reaksi oleh karena itu warna pada larutan sangat cepat berubah dan HCL sebagai katalisator. Setelah ditetesi dengan iodin warnanya berubah menjadi ungu, kemudian setelah dipananaskan 5 menit warna berubah menjadi warna ungu kecoklatan, dan setelah didinginkan selama 10 menit menghasilkan warna coklat dan terjadi gumpalan. Hasil praktikum uji iodine pada penambahan NaOH menunjukkan warna putih. Kemudian ditetesi iodium warnanya berubah menjadi coklat, lalu setelah dipanaskan selama 5 menit warnanya berubah menjadi putih kembali, dan setelah didinginkan warnanya menjadi putih tulang dan

menggumpal. NaOH merupakan pemberi suasana alkalis sehingga dapat mempengaruhi warna larutan karbohidrat dan menyebabakan dekomposisi dan karamelisasi yang menyebabakan penggumpalan pada karbohidrat. 2. Tepung Tapioka Pengujian karbohidrat dengan metode iodin dilakukan dengan memberi perlakuan yang berbeda terhadap sampel (tepung tapioka), yaitu pada sampel pertama ditetesi aquadest sebanyak dua tetes. Setelah ditetesi dengan aquades, sampel tidak mengalami perubahan warna, yaitu tetap berwarna putih. Hal ini terjadi karena aquadest merupakan pelarut yang tidak ikut bereaksi dengan larutan, karena merupakan air suling atau air murni

dan bukan merupakan reagen. Aquades disebut air suling merupakan air hasil penyulingan. Aquades bukanlah reagen, dan aquades memiliki pH netral, tidak asam maupun tidak basa. Setelah ditetesi iodium sampel

berubah warna menjadi ungu muda. Hal ini terjadi karena iodium mampu bereaksi dengan pati, karena dalam larutan pati terdapat unit-unit glukosa yang membentuk rantai heliks karena adanya ikatan dengan konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk ini menyebabkan pati dapat membentuk kompleks dengan molekul iodium yang dapat masuk ke dalam spiralnya, sehingga membentuk warna ungu. Warna ungu ini disebabkan karena banyak kandungan amilopektin pada pati. Dengan penambahan iodium fraksi memberikan warna ungu sampai merah. Setelah dipanaskan, sampel tidak mengalami perubahan yaitu tetap berwarna ungu muda. Hal ini terjadi karena karbohidrat tidak mampu terhidrolisis jika tidak dalam keadaan asam, sehingga pada saat pemanasan tidak terjadi kondensasi aiodin terhadap karbohidrat. Perlakuan dengan penambahan HCl memberikan warna putih, karena HCl disini hanya sebagai reagen yang mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi sehingga sampel tidak mengalami perubahan warna. HCl berfungsi untuk mempercepat reaksi namun tidak ikut bereaksi. Setelah ditambahkan iodin sampel berwarna ungu tua. Hal ini terjadi karena, adanya reagen yang digunakan mampu mempercepat terjadinya reaksi membentuk warna ungu tua. Warna ungu tua ini menandakan bahwa dalam tepung banyak mengandung karbohidrat jenis pati yaitu amilopektin yang mampu bereaksi

dengan iodin membentuk warna ungu. Fraksi yang tidak larut pada pati disebut amilopektin dengan kadar 80%, dengan penambahan iodium fraksi memberikan warna ungu sampai merah. Setelah dipanaskan tidak mengalami perubahan, seharusnya terbentuk endapan karena pemanasan dalam keadaan asam bisa menyebabkan terjadinya hidrolisis pati.

Perubahan warna menjadi biru tua dan menghasilkan endapan biru setelah dipanaskan merupakan hasil dari kondensasi iodin dengan karbohidrat. Ketidaksesuaian ini terjadi karena setelah dipanaskan sampel kami kocok sehingga endapannya hilang. Perlakuan dengan penambahan NaOH menghasilkan warna putih karena sama halnya dengan HCl, NaOH juga hanya sebagai reagen yang mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi. Setelah ditambahkan iodin, sampel tetap berwarna putih, dan setelah dipanaskan juga berwarna putih dan menggumpal hal ini terjadi karena NaOH mampu memperlambat terjadinya hidrolisis pati karena Adanya NaOH yang bersifat basa mengikat iod sehingga tidak menghasilkan warna. Amilum dengan iodine dapat

membentuk kompleks biru, dengan adanya NaOH yang bersifat basa mengikat iod sehingga warna biru hilang. 3. Tepung Maizena Hasil praktikum uji iodin karbohidrat pada penambahan

aquadest 2 tetes pada tepung maizena menunjukkan tidak adanya perubahan warna yang terjadi. Hal ini terjadi karena aquadest bersifat netral sehingga tidak dapat menghidrolisa glukosa.

Pengaruh penambahan larutan iodin terhadap tepung maizena yang telah ditetesi aquadest menunjukkan terjadinya perubahan warna menjadi ungu. Hal ini terjadi karena iodium bereaksi dengan pati sehingga membentuk warna ungu. Warna ungu ini menunjukkan adanya amilopektin yang terkandung pada pati. Setelah dipanaskan, terjadi perubahan menjadi warna coklat,

menggumpal. Hal ini terjadi karena amilun akan terhidrolisis menjadi monosakarida sehingga terjadi karamelisasi menjadi coklat dan pada suhu yang tinggi pati akan membentu gel sehingga mengumpal. Dan setelah didinginkan tidak terjadi perubahan yaitu berwarna coklat dan menggumpal. Hal ini terjadi karena granula pati telah pecah akibat pemanasan sehingga tidak dapat kembali kebentuk semula. Hasil praktikum uji iodin karbohidrat pada penambahan HCl

memberikan warna putih, karena HCl berfungsi sebagai katalisator (tidak ikut bereaksi) hanya mempercepat terjadi reaksi. HCl merupakan asam kuat yang berfungsi sebagai katalisator. Setelah ditambahkan iodin terjadi perubahan warna menjadi ungu tua. Hal ini terjadi karena tepung maizena mengandung amilopektin sehingga membentuk warna ungu. Amilopektin dengan iodin akan berwarna merah

violet. Setelah dipanaskan tidak mengalami perubahan warna, namun membentuk gumpalan karena pemanasan dan keadaan asam dapat menyebabkan hidrolisis pada pati.

Hasil praktikum uji iodin karbohidrat pada penambahan NaOH menunjukkan warna putih karena, NaOH juga hanya sebagai katalisator yang mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi. Setelah ditambahkan iodin tidak terjadi perubahan warna yaitu tetap putih dan setelah dipanaskan juga berwarna putih dan menggumpal hal ini terjadi karena NaOH mampu memperlambat terjadinya hidrolisis pati karena adanya NaOH yang bersifat basa mengikat iod sehingga tidak menghasilkan warna. Na+ pada NaOH yang bersifat alkalis dapat mengikat iodin sehingga warna biru kehitaman menjadi hilang. 4. Tepung Jagung Hasil yang diperoleh dari pengujian karbohidrat dengan metode iod warna jagung sebelum dilakukan penambahan aquades berwarna kuning dan setelah ditambahkan dengan aquades warnanya tetap yaitu kuning. Hal ini terjadi karena aquades bersifat netral sehingga tidak dapat menghidrolisa glukosa pada jagung. Warna yang diperoleh setelah penambahan iodium menghasilkan warna ungu. Hal ini membuktikan adanya pati yang terkandung didalam jagung, setelah dipanaskan warna pada sampel berubah menjadi warna putih dan setelah didinginkan warna pada sampel tetap berwarna putih. Hal ini terjadi karena adanya penambahan iodin pada sampel akan mengakibatkan terjadinya perubahan warna yang membuktikan adanya pati dalam sampel. Aquadest bersifat netral sehingga tidak dapat menghidrolisa glukosa walaupun disertai pemanasan. Aquadest hanya berfungsi sebagai pelarut.

Warna pada jagung sebelum ditambahkan HCl berwarna kuning, setelah ditambahkan HCl warna jagung tetap berwarna kuning. Hal ini terjadi karena HCl merupakan asam kuat yang bertindak sebagai katalisator yang berfungsi mempercepat reaksi tetapi tidak ikut bereaksi. Warna pada jagung setelah ditambahkan iodium warna jagung berubah menjadi warna abu-abu, setelah dipanaskan berwarna ungu dan setelah didinginkan tetap berwarna ungu. Hal ini membuktikan adanya pengaruh asam terhadap perubahan sifat sakarosa dan maltosa dari gula non reduksi yang dapat terhirolisis menjadi gula reduksi yaitu glukosa dan fruktosa, HCl yang bertujuan untuk

mengetahui pengaruh asam pada karbohidrat. HCl bertujuan untuk mengetahui pengaruh asam terhadap perubahan sifat sakarosa dan maltosa dari gula non reduksi yang dapat terhirolisis menjadi gula reduksi yaitu glukosa dan fruktosa. Warna pada jagung sebelum ditambahkan NaOH berwarna kuning setelah ditambahkan NaOH berwarna kuning keruh. Hal ini disebabkan karena penambahan NaOH memberi suasana alkalis sehingga dapat mempengaruhi warna larutan sukrosa, maltosa, dan glukosa. Warna pada jagung setelah dilakukan pemanasan kembali berwarna kuning dan setelah pendinginan berwarna kuning keruh. Hal ini terjadi karena ikatan antara Na dan I bila dipanaskan kembali renggang sehingga mengakibatkan perubahan warna menjadi kuning keruh dan apabila didiamkan bias balik lagi sehingga terbentuk warna kuning kembali. Penambahan NaOH memberi suasana alkalis sehingga dapat mempengaruhi warna larutan sukrosa, maltosa, dan

glukosa, dan apabila ikatan Na dan I dipanaskan kembali renggang sehinnga mengakibatkan perubahan warna dan apabila didiamkan bias balik lagi sehingga terbentuk warna seperti semula. Warna jagung yang ditambah aquades setelah dipanaskan berwarna putih, warna jagung yang ditambahkan HCl setelah dipanaskan berwarna ungu sedangkan warna jagung yang ditambahkan dengan NaOH setelah dipanaskan berwarna kuning. Hal ini terjadi karena dengan dilakukannya pemanasan dapat memnbuat ikatan pada senyawa HCl dan NaOH menjadi renggang sehingga NaOH menyebabkan memberi perubahan suasana warna pada jagung. dapat

Penambahan

alkalis

sehingga

mempengaruhi warna larutan sukrosa, maltosa, dan glukosa, dan apabila ikatan Na dan I dipanaskan kembali renggang sehingga mengakibatkan perubahan warna. Warna jagung yang ditambahkan aquades setelah dipanaskan kemudian didinginkan menghasilkan warna putih, sedangkan warna jagung yang ditambahkan HCl setelah dipanaskan kemudian didinginkan berwarna kuning pucat. Hal ini diterjadi karena ikatan senyawa yang telah dipanaskan kemudian didinginkan mengalami bias balik sehingga mengubah warna menjadi warna semula. Apabila ikatan Na dan I dipanaskan kembali renggang sehinnga mengakibatkan perubahan warna dan apabila didiamkan bias balik lagi sehingga terbentuk warna seperti semula. Karbohidrat yang terdapat pada jagung merupakan golongan

karbohidrat polisakarida, karena dari hasil praktikum setelah penambahan

iodin warna jagung berubah menjadi warna ungu. Hal ini membuktikan adanya pati yang terkandung dalam sampel dan pati termasuk kelompok karbohidrat polisakarida. Sampel yang ditambahkan iodin akan

menghasilkan warna ungu yang membuktikan adanya pati dalam sampel tersebut dan pati merupakan kelompok golongan polisakarida yang banyak terdapat dalam golongan umbi seperi kentang dan pada biji-bijian seperti jagung. 5. Tepung Ubi Kayu Hasil pengamatan pada ubi kayu pada penambahan aquades tetap berwarna putih, setelah penambahan iodine berubah warna menjadi ungu. Setelah dipanaskan selama 5 menit pada suhu 600C terjadi endapan berwarna putih keruh dan ungu dan setelah didinginkan tetap terjadi endapan dan tidak mengalami perubahan warna. Warna ungu pada pemberian iodin menunjukkan pada ubi jalar mengandung karbohidrat. Penambahan larutan iodin (I2) dapat digunakan untuk mendeteksi adanya pati, karena reaksinya sangat peka dan spesifik. Hasil pengamatan pada ubi kayu pada penambahan HCl 3% mengalami perubahan yaitu berwarna putih bersih, setelah penambahan iodin berubah warna menjadi ungu pekat. Setelah dipanaskan selama 5 menit pada suhu 600C terjadi endapan berwarna putih bening dan ungu dan setelah didinginkan selama 10 menit tetap terjadi endapan dan tidak mengalami perubahan warna. Penambahan HCl yang bersifat asam kuat berfungsi untuk mempercepat reaksi untuk pembentukan warna pada

penambahan iodin. HCl merupakan asam kuat yang berfungsi sebagai katalisator. Berfungsi untuk mempercepat reaksi namun tidak ikut bereaksi. Hasil pengamatan pada ubi kayu pada penambahan NaOH 6 M mengalami perubahan yaitu berwarna putih keruh, setelah penambahan iodine tidak mengalami perubahan warna yaitu putih keruh. Setelah dipanaskan selama 5 menit pada suhu 600C terjadi perubahan warna yaitu kuning dan setelah didinginkan selama 10 menit tetap terjadi endapan dan tidak mengalami perubahan warna. Penambahan NaOH ini memberikan kondisi alkali pada larutan bahan ubi kayu sehingga menghambat kerja iodin dan tidak menghasilkan warna ungu ataupun endapan pada pengujian kandungan karbohidrat dalam suatu bahan pangan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Na pada NaOH yang bersifat alkalis dapat mengikat iodin. Karbohidrat pada ubi kayu yaitu tergolong jenis polisakarida, di mana polisakarida di dalamnya terdiri dari amilum dan selulosa. Terjadinya reaksi amilum dan iodin menghasilkan warna ungu yang menunjukkan adanya karbohidrat jenis polisakarida pada ubi kayu tersebut. Terjadinya reaksi amilum dan iod pengujian iodin yang menghasilkan warna ungu menandakan bahwa bahan pangan mengandung karbohidrat, terutama pada ubi kayu yang memiliki jenis polisakarida yang mudah untuk dicerna karena masuk dalam jenis tepung atau pati yang tersusun atas gula sederhana. Pemanasan selama 5 menit menyebabkan ikatan amilum dan iodin akan terputus dan menyebabkan larutan tersebut menjadi berwarna bening. Dengan pemanasan larutan, warna ungu tersebut hilang dan menjadi bening.

Hal ini terjadi karena ikatan semu antara amilum dengan iodin mudah putus dengan adanya pemanasan. Pendinginan yang dilakukan selama 10 menit menyebabkan ikatan antara amilum dan iodin akan terbentuk kembali dan menjadi berwarna ungu lagi. Setelah didinginkan maka ikatan tersebut menjadi ungu kembali karena ikatan tersebut akan terbentuk lagi, akan tetapi pada percobaan yang dilakukan, warna yang terbentuk tetap bening setelah pendinginan.

IV. PENUTUP

A. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat ditarik pada praktikum kali ini adalah: 1. Tepung gadung, tepung tapioka, tepung maizena, jagung dan ubi kayu memiliki kandungan karbohidrat, yang ditunjukkan terjadinya perubahan warna setelah dilakukan uji karbohidrat metode iodin. 2. Penambahan HCl berfungsi sebagai katalisator dan mempercepat reaksi namun tidak ikut bereaksi. NaOH berfungsi memberi suasana alkalis sehingga dapat mempengaruhi warna larutan sukrosa, maltosa, dan glukosa. Iodin berfungsi untuk mendeteksi adanya pati, karena reaksinya sangat peka dan spesifik.

B. Saran