Anda di halaman 1dari 21

2.

Oleh : 1. Ibrahim Rumaratu 201010260311008 Aseshena Tuhfat Tuhana Kailuhu 201010260311009 3. Restu Putri Astuti 201010260311023 4. Nurita Ariani 201010260311028

Jurusan Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang 2012

Salah satu faktor pendukung dalam keberhasilan usaha budidaya ikan adalah ketersediaan pakan. Pemberian pakan yang berkualitas dalam jumlah yang cukup akan memperkecil persentase larva yang mati. Salah satu jenis pakan yaitu pakan alami Dalam kegiatan budidaya pakan alami ada dua jenis rangkaian aktivitas, yaitu budidaya fitoplankton dan budidaya zooplankton.

TEKNIK BUDIDAYA FITOPLANKTON Chlorella sp

Klasifikasi Kingdom : Plantae Phylum : Chlorophyta Kelas : Chlorophyceae Ordo : Chlorococcales Family : Chlorellaceae Genus : Chlorella Species : Chlorella sp.

Faktor Fisika

Suhu 25-30 C, Salinitas 0-35 ppt, pH optimum antara 8,0 - 8,5 Cahaya, Chlorella sp sangat membutuhkan cahaya untuk proses fotosintesis

Faktor Kimia

Faktor kimia adalah unsur hara dalam media pemeliharaan harus sesuai dengan kebutuhan jenis plankton yang akan dikultur.

Faktor Biologi

Faktor biologis meliputi penyediaan bibit yang bermutu (termasuk kemurnian) dan jumlah yang mencukupi serta kandungan gizi bibit

Cara Kultur Chlorella sp

Skala Laboratorium Skala Massal

1 3

Cuci erlenmeyer dengan detergen, direbus hingga mendidih / gunakan autoklaf

Erlenmeyer dengan volume air 1 liter yang sudah difilterisasi dan direbus telebih dahulu

2 4

Tempatkan pada rak dengan aerasi , lampu neon 20 watt, suhu 21 250C

Dilakukan pemupukan pupuk Walne 1 ml untuk 1 liter media


Biarkan selama 10 15 hari, jika sudah berwarna hijau, maka fitoplankton sudah tumbuh dengan baik

Penanaman bibit 10 20% dari volume

Chlorella siap dipanen

Persiapkan bak fiber, bak beton min 500l 200ton. Bentuk bulat / persegi

Bersihkan wadah dengan menyikat hingga kotoran hilang

Filterisasi air yg akan dipergunakan

Inokulasikan Chlorella ke dalam media sebanyak 100 l iter yg berasal dari kultur skala lab.

Lakukan pemupukan . Pupuk NPK dan TSP 25gr/m3.

Gunakan chlorin (30 g/ton air) untuk sanitasi air selama 6 jam, beri aerasi, dan gunakan natrium thiosulfat untuk menetralkan air

Selama budidaya, air harus selalu diaerasi dan wadah terkena sinar matahari. Kedalaman air min. 40 cm

Chlorella dapat dipanen setelah 7 hari setelah inokulasi ditandai dengan warna hijau segar

Secara Langsung

1. Dapat dipindahkan langsung ke bak pemeliharaan larva atau rotifera dengan cara mengalirkan media melalaui selang dengan cara perbedaan tinggi. Paling mudah. 2. Cara lain dengan menggunakan pompa air, media Chlorella dipindahkan ke bak larva atau bak budidaya rotifera.

1. Chlorella disisakan sebanyak 50% dari volume total dan dilakukan pengisian air dan pemupukan lanjutan dosis dan macam pupuk sama seperti pada awal budidaya. 2. Dalam pemanenan fitoplankton Chlorella biasanya sebelum pemanenan diberikan NaOH 1-2 ml/l. Tujuannya untuk mempercepat proses pengendapan untuk skala massal. 3. Jika skala laboratorium langsung diberikan kepada zooplankton yang ada di laboratorium.

Secara Bertahap

TEKNIK BUDIDAYA ZOOPLANKTON Artemia salina

Klasifikasi Phylum : Arthropoda Kelas : Crustacea Ordo : Anostraca Family : Artemiidae Genus : Artemia Species : Artemia salina Linn

Ukuran 10-20 mm, menyerupai udang kecil Bagian kepala besar, mengecil ke ekor Di kepala terdapat sepasang mata dan sepasang antenula (sungut) Bagian tubuh terdapat torakopoda Sepasang alat kelamin terletak di antara ekor dan pasangan kaki yaitu penis pada jantan dan ovarium pada betina Makanan artemia berupa detritus bahan organik, ganggang renik, diatom, bakteri dan cendawan Cara berkembangbiak dibedakan menjadi biseksual dan partenogenetik Artemia menelan makanannya dikumpulkan dimulut melalui gerakan kaki. Kaki berfungsi sebagai alat gerak dan bernafas.

Perbandingan kandungan nutrisi Daphnia sp dan Artemia salina


Organisme kering Bahan (%) Komposisi bahan Jumlah Energi Karbohidrat 14,1 6,0-22,7 4,4 -

Protein Daphnia sp Artemia 7,0 10,0 50 50-60

Lemak 10,1 7,027,0

Pertumbuhan Artemia yang baik suhu berkisar antara 25-30 0 C Mudjiman (2004) menyarankan menggunakan salinitas 30 ppt saat penetasan untuk mendapatkan hasil yang optimum,tetapi mampu hidup pada rentang salinitas 5 -150 ppt pH 8-9 merupakan paling baik Bak Pemeliharaan pada bak beton, bak kayu berlapis plastik maupun bak fiberglass dilengkapi dengan aerasi. Tersedia makanan untuk artemia makanan buatan (dedak halus) maupun makanan hidup (Tetraselmis sp, Chaetoceros sp, Skeletonema sp)

Tetaskan cyst Artemia untuk menghasilkan nauplius (Jumlah cyst yang ditetaskan 10 - 15 gram untuk 1 ton air) Berikan makanan (dedak halus atau plankton) jumlahnya ditentukan berdasarkan kecerahan air antara 15-20cm medium pemeliharaan

Isi bak beton, fiber, kayu dengan air bersalinitas antara 20 - 35 permil yang disaring terlebih dahulu dengan perputaran air sec.penuh Tebarkan nauplius Artemia yang baru menetas dan aerasi medium pemeliharaan kedalaman 80-100cm. Salinitas 30 ppt menghasilkan biomassa, 120 ppt menghasilkan kista.

pemanenan biomassa Artemia, 7 sampai 15 hari

Pastikan tanggul atau pematang tambak bebas dari kebocoran.

Pemupukan untuk menumbuhkan pakan alami,Dosis pupuk kandang 3.000 kg/ha/tanam , TSP 150 kg/ha/tanam, dan urea 150 kg/ha/tanam. Air laut dialirkan ke petakan reservoir dengan kedalaman 60 -100 cm salinitas 30-35ppt Penebaran benih artemia air ditandai tambak yang berwarna hijau keruh dan tingkat kecerahannya tidak lebih dari 20 cm. Selama pemeliharaan, artemia harus mendapat pengawasan yang intensif agar hasilnya optimal.

petakan reservoir II dialirkan ke petakan pemeliharaan Penetasan kista artemia dengan wadah&aerasi. Bentuk wadahnya kerucut dengan kepadatan kista sekitar 5 -10 g /liter air.

Skala Laboratorium

1. Panen artemia setelah umur 2 minggu dg ukuran 8 mm 2. Matikan aerasi selama 10 menit 3. Jika pemanenan di malam hari, dasar wadah disinari lampu agar Artemia terkonsentrasi di dasar wadah dan cangkang Artemia akan terkumpul dipermukaan air. 4. Setelah terkonsentrasi maka kran dasar dibuka atau dilakukan penyiponan dasar. hindarilah terbawanya cangkang. 5. Artemia yang dipanen disaring dengan saringan 125 mikron, setelah itu dibilas dengan air laut.

Pemanenan dari bak. Matikan aerasi selama 30 menit. Artemia yang sudah dipermukaan air, ambil dengan seser halus

Skala Massal 1. Panen setelah 14 hari pemeliharaan, ukuran 10mm 2. Pembuatan lubang pembuangan air (spill gate) keluar dari tambak dan dipasang jaring bentuk V uk. Mesh 1-1,5cm 3. Di bagian luar spill gate dipasang jaring bentuk V mesh 800/1.000 mikron 4. Artemia yg sudah terkumpul diambil dengan seser dan dimasukkan ke dalam wadah berisi air laut bersih, 5. Pemberian aerasi selama 5menit agar terpisah dari kotoran 6. Matikan aerasi, kotoran akan mengendap dibawah dan dapat disedot melalui selang
Untuk kista dipanen setiap hari selama kurun waktu 2 bulan biomassa dipanen sekali selama satu periode budidaya. Pemanenan dapat dimulai pada akhir minggu ketiga terhitung sejak artemia ditebarkan ke dalam tambak. Tanda-tanda kista yang siap dipanen adalah terdapat butiran-buturian halus berwarna coklat tua yang mengapung di tambak. Pada sistem budidaya tambak, biomassa artemia dipanen setelah masa pemanenan kista yang terakhir yang ditandai dengan mortalitas induk sudah mulai meningkat, sementara produksi kista mencapai jumlah terendah.

TERIMAKASIH