ASUHAN KEPERAWATAN | ARTIKEL KESEHATAN

Kumpulan Asuhan Keperawatan, Informasi Keperawatan, Askep, Rencana Asuhan Keperawatan, dan Informasi Kesehatan Entries (RSS)

  

Home Posts RSS Comments RSS

Melakukan Asuhan Keperawatan (Askep) merupakan aspek legal bagi seorang perawat walaupun format model asuhan keperawatan di berbagai rumah sakit berbeda-beda. Seorang perawat Profesional di dorong untuk dapat memberikan Pelayanan Kesehatan seoptimal mungkin, memberikan informasi secara benar dengan memperhatikan aspek legal etik yang berlaku. Metode perawatan yang baik dan benar merupakan salah satu aspek yang dapat menentukan kualitas “asuhan keperawatan” (askep) yang diberikan yang secara langsung maupun tidak langsung dapat meningkatkan brand kita sebagai perawat profesional. Pemberian Asuhan keperawatan pada tingkat anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia hingga bagaimana kita menerapkan manajemen asuhan keperawatan secara tepat dan ilmiah diharapkan mampu meningkatkan kompetensi perawat khususnya di indonesia Herbal Oles ANTI EJAKULASI DINI Rekomendasi BOYKE! TAMBAH UKURAN,TAHAN LAMA, dsb Tanpa Obat MAU GAJI 20 JUTA ? KERJA 2 JAM MODAL CUMA 95RIBU INVESTASI 95 RIBU HASIL 30 JUTA/BULAN, MAU ? KumpulBlogger.com MAU GAJI 20 JUTA ? KERJA 2 JAM MODAL CUMA 95RIBU INVESTASI 95 RIBU HASIL 30 JUTA/BULAN, MAU ? OLES HERBAL UTK KUAT TAHAN LAMA REKOMENDASI BOYKE!

ASUHAN KEPERAWATAN CEDERA KEPALA
PENGERTIAN

• Perdarahan intraserebral Perdarahan di jaringan otak karena pecahnya pembuluh darah arteri. • Perdarahan subarachnoid: Perdarahan didalam rongga subarachnoid akibat robeknya pembuluh darah dan permukaan otak. perdarahan lambat dan sedikit. perubahan tanda-tanda vital. • Subdural hematoma Terkumpulnya darah antara duramater dan jaringan otak. komplikasi pernapasan. dapat terjadi akut dan kronik.Tekanan intrakranial meningkat yang dapat disebabkan oleh karena: • edema fokal atau difusi • hematoma epidural • hematoma subdural • hematoma intraserebral • over hidrasi . Perdarahan yang sering ditemukan: • Epidural hematom: Terdapat pengumpulan darah diantara tulang tengkorak dan duramater akibat pecahnya pembuluh darah/cabang-cabang arteri meningeal media yang terdapat di duramater. Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah vena/jembatan vena yang biasanya terdapat diantara duramater. Proses-proses fisiologi yang abnormal: . hemiparesa. metabolisme. penurunan nadi.Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstiil dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak. Pada cidera primer dapat terjadi: memar otak. Periode akut terjadi dalam 48 jam – 2 hari atau 2 minggu dan kronik dapat terjadi dalam 2 minggu atau beberapa bulan.Gangguan saluran nafas . Dilatasi pupil ipsilateral. Tanda dan gejala: Nyeri kepala. kapiler. mengantuk. irreguler. .Anemia . hampir selalu ada pada cedera kepala yang hebat. vena. Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1 – 2 hari. penurunan kesadaran.Shock Proses fisiologis yang abnormal ini lebih memperberat kerusakan cidera otak dan sangat mempengaruhi morbiditas dan mortalitas.Sepsis/septik syok . Tanda dan gejala: Nyeri kepala. Lokasi yang paling sering yaitu dilobus temporalis dan parietalis. peningkatan suhu. bingung.Kejang-kejang . laserasi. Tanda dan gejala: penurunan tingkat kesadaran. berfikir lambat. pernapasan dalam dan cepat kemudian dangkal. Cidera otak sekunder: Adalah kelainan patologi otak disebabkan kelainan biokimia. pembuluh darah ini tidak dapat menutup sendiri karena itu sangat berbahaya. menarik diri. kejang dan edema pupil. fisiologi yang timbul setelah trauma. dilatasi pupil. muntah. nyeri kepala. Cidera otak primer: Adalah kelainan patologi otak yang timbul segera akibat langsung dari trauma. hemiplegi kontralateral.

foto fobia. BRAIN Gangguan kesadaran merupakan salah satu bentuk manifestasi adanya gangguan otak akibat cidera kepala. stridor. kedalaman. muntah (mungkin proyektil). Pengkajian BREATHING Kompresi pada batang otak akan mengakibatkan gangguan irama jantung. sehingga terjadi perubahan pada pola napas. Gangguan yang tampak lidah jatuh kesalah satu sisi. kehilangan sebagian lapang pandang. konsentrasi. amnesia seputar kejadian. • Perubahan pupil (respon terhadap cahaya. takikardia yang diselingi dengan bradikardia. pengaruh emosi/tingkah laku dan memori). sinkope. maka dapat terjadi : • Perubahan status mental (orientasi. • Gangguan nervus hipoglosus. • Perubahan dalam penglihatan. seperti ketajamannya. kehilangan pendengaran. Perubahan frekuensi jantung (bradikardia. Penatalaksanaan: Konservatif • Bedrest total • Pemberian obat-obatan • Observasi tanda-tanda vital dan tingkat kesadaran. • Sering timbul hiccup/cegukan oleh karena kompresi pada nervus vagus menyebabkan kompresi spasmodik diafragma. wheezing ( kemungkinana karena aspirasi). BONE Pasien cidera kepala sering datang dalam keadaan parese. cenderung terjadi peningkatan produksi sputum pada jalan napas. Napas berbunyi. ketidakmampuan menahan miksi. bisa berupa Cheyne Stokes atau Ataxia breathing. keseimbangan tubuh. . Kehilangan kesadaran sementara. kewaspadaan. baal pada ekstrimitas. Bila perdarahan hebat/luas dan mengenai batang otak akan terjadi gangguan pada nervus cranialis. pemecahan masalah. sehingga kesulitan menelan. deviasi pada mata. mual. disritmia). Pada kondisi yang lama dapat terjadi kontraktur karena imobilisasi dan dapat pula terjadi spastisitas atau ketidakseimbangan antara otot-otot antagonis yang terjadi karena rusak atau putusnya hubungan antara pusat saraf di otak dengan refleks pada spinal selain itu dapat pula terjadi penurunan tonus otot. disatria. diplopia. simetri). tinitus. ronkhi. frekuensi maupun iramanya. Tekanan pada pusat vasomotor akan meningkatkan transmisi rangsangan parasimpatik ke jantung yang akan mengakibatkan denyut nadi menjadi lambat. hemiparese. vertigo. kembung dan mengalami perubahan selera. BOWEL Terjadi penurunan fungsi pencernaan: bising usus lemah. • Terjadi penurunan daya pendengaran. perhatian. merupakan tanda peningkatan tekanan intrakranial. BLOOD: Efek peningkatan tekanan intrakranial terhadap tekanan darah bervariasi. dilatasi pupil ipsilateral dan kaku kuduk. penurunan kesadaran. BLADER Pada cidera kepala sering terjadi gangguan berupa retensi. Gangguan menelan (disfagia) dan terganggunya proses eliminasi alvi.Tanda dan gejala: Nyeri kepala. disfagia. inkontinensia uri. paraplegi.

stasis cairan tubuh. Penurunan kerja silia. Kurang mengingat/keterbatasan kognitif. d perubahan kemampuan untuk mencerna nutrien (penurunan tingkat kesadaran). Kelemahan otot yang diperlukan untuk mengunyah. menentukan ukuran ventrikuler.Pemeriksaan Diagnostik: • CT Scan: tanpa/dengan kontras) mengidentifikasi adanya hemoragik. • Elektrolit: untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan tekanan intrakranial. Obstruksi trakeobronkhial. edema cerebral. dan rehabilitasi. tidak mengenal informasi. • X-Ray: mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur). 4. 5) Kerusakan mobilitas fisik b. Respon inflamasi tertekan (penggunaan steroid). disritmia jantung) 2) Resiko tinggi pola napas tidak efektif b. Prioritas perawatan: 1.d kerusakan neurovaskuler (cedera pada pusat pernapasan otak). kulit rusak. Terapi pembatasan /kewaspadaan keamanan. 8) Perubahan proses keluarga b. trauma.pengaturan fungsi secara optimal/mengembalikan ke fungsi normal. prosedur invasif. d transisi dan krisis situasional.d jaringan trauma.mendukung proses pemulihan koping klien/keluarga 5. perdarahan.mencegah komplikasi 3. d perubahan transmisi dan/atau integrasi (trauma atau defisit neurologis).pemberian informasi tentang proses penyakit. 3) Perubahan persepsi sensori b. • Angiografi serebral: menunjukkan kelainan sirkulasi serebral. d kerusakan persepsi atau kognitif. Penurunan kekuatan/tahanan. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN 1) Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penghentian aliran darah (hemoragi. edema cerebral. 4) Perubahan proses pikir b. pergeseran jaringan otak. fragmen tulang. seperti pergeseran jaringan otak akibat edema. DIAGNOSA KEPERAWATAN: 1) Perubahan perfusi jaringan serebral b. penurunan TD sistemik/hipoksia (hipovolemia. 6) Resiko tinggi terhadap infeksi b. imobilisasi. penurunan TD sistemik/hipoksia (hipovolemia. Status hipermetabolik.memaksimalkan perfusi/fungsi otak 2. 9) Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b. konflik psikologis.d penghentian aliran darah (hemoragi. • Analisa Gas Darah: medeteksi ventilasi atau masalah pernapasan (oksigenasi) jika terjadi peningkatan tekanan intrakranial. hematoma). Kekurangan nutrisi. prognosis. Ketidak pastian tentang hasil/harapan. misal: tirah baring. Kerusakan persepsi atau kognitif. d perubahan fisiologis. . hematoma). Perubahan integritas sistem tertutup (kebocoran CSS) 7) Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. rencana pengobatan. menelan. d kurang pemajanan. perubahan struktur garis (perdarahan / edema).

perluasan dan perkembangan kerusakan SSP. Mengkaji tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan bermanfaat dalam menentukan lokasi. Evaluasi keadaan pupil. nadi. peningkatan TIK. Pantau /catat status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai standar GCS. jika diikuti oleh penurunan kesadaran. suhu. Ukuran/ kesamaan ditentukan oleh keseimbangan antara persarafan simpatis dan parasimpatis. ukuran. kesamaan antara kiri dan kanan. Kriteria hasil: • Tanda vital stabil dan tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK Intervensi Rasional Tentukan faktor-faktor yg Penurunan tanda/gejala neurologis atau kegagalan dalam menyebabkan pemulihannya setelah serangan awal. Peningkatan kebutuhan metabolisme dan konsumsi oksigen terjadi (terutama saat demam dan menggigil) yang selanjutnya . menunjukkan koma/penurunan perfusi jaringan otak dan potensial perlunya pasien dirawat di perawatan intensif. dan fungsi motorik/sensorik. Hipovolemia/hipertensi dapat mengakibatkan kerusakan/iskhemia cerebral. Demam dapat mencerminkan kerusakan pada hipotalamus. Peningkatan TD sistemik yang diikuti oleh penurunan TD Pantau tanda-tanda vital: TD. frekuensi nafas. diastolik (nadi yang membesar) merupakan tanda terjadinya peningkatan TIK. reaksi terhadap cahaya.disritmia jantung) Tujuan: • Mempertahankan tingkat kesadaran biasa/perbaikan. kognisi. Respon terhadap cahaya mencerminkan fungsi yang terkombinasi dari saraf kranial optikus (II) dan okulomotor (III). Reaksi pupil diatur oleh saraf cranial okulomotor (III) berguna untuk menentukan apakah batang otak masih baik.

menyebabkan peningkatan TIK. Tinggikan kepala pasien 1545 derajad sesuai indikasi/yang dapat ditoleransi. muntah. turgor kulit dan membran mukosa. meminimalkan fluktuasi aliran vaskuler TD dan TIK. seperti lingkungan yang tenang. menurunkan reaksi fisiologis tubuh dan meningkatkan istirahat untuk mempertahankan atau menurunkan TIK. yang mana dapat meningkatkan vasodilatasi dan volume darah serebral yang meningkatkan TIK. Menurunkan hipoksemia. Pembatasan cairan diperlukan untuk menurunkan edema serebral. Steroid intraabdomen yang dapat meningkatkan TIK. mengejan. Iskemia/trauma serebral dapat mengakibatkan diabetes insipidus. Bantu pasien untuk menghindari /membatasi batuk. Gangguan ini dapat mengarahkan pada masalah hipotermia atau pelebaran pembuluh darah yang akhirnya akan berpengaruh negatif terhadap tekanan serebral. Bermanfaat sebagai ndikator dari cairan total tubuh yang terintegrasi dengan perfusi jaringan. Berikan oksigen tambahan Meningkatkan aliran balik vena dari kepala sehingga akan mengurangi kongesti dan oedema atau resiko terjadinya peningkatan TIK. menurunkan edema otak dan TIK. . Diuretik digunakan pada fase akut untuk menurunkan air dari sel otak. Batasi pemberian cairan sesuai indikasi. Pantau intake dan out put. Turunkan stimulasi eksternal Aktivitas ini akan meningkatkan tekanan intrathorak dan dan berikan kenyamanan.. Memberikan efek ketenangan.

Kriteria evaluasi : bebas sianosis. . Obstruksi trakeobronkhial. Rasional Perubahan dapat menandakan awitan komplikasi kedalaman pernapasan. GDA dalam batas normal Intervensi Pantau frekuensi. menurunkan inflamasi.sesuai indikasi. Pantau dan catat kompetensi reflek gag/menelan dan kemampuan pasien untuk melindungi jalan napas sendiri. Pasang jalan napas sesuai indikasi. Tujuan : mempertahankan pola pernapasan efektif. steroid. Kehilangan refleks menelan atau batuk menandakan perlunaya jalan napas buatan atau intubasi. yang selanjutnya menurunkan edema jaringan. Antipiretik menurunkan atau mengendalikan demam yang mempunyai pengaruh meningkatkan metabolisme serebral atau peningkatan kebutuhan terhadap oksigen. aktifitas kejang. analgetik. Angkat kepala tempat tidur sesuai aturannya. sedatif. Sedatif digunakan untuk mengendalikan kegelisahan. Untuk memudahkan ekspansi paru/ventilasi paru dan Kemampuan memobilisasi atau membersihkan sekresi penting untuk pemeliharaan jalan napas. antikonvulsan. Pernapasan lambat. agitasi. Analgesik untuk menghilangkan nyeri . 1) Resiko tinggi pola napas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler (cedera pada pusat pernapasan otak). periode apnea dapat menandakan perlunya ventilasi mekanis. irama. antipiretik. Antikonvulsan untuk mengatasi dan mencegah terjadinya Berikan obat sesuai indikasi. Catat pulmonal atau menandakan lokasi/luasnya keterlibatan ketidakteraturan pernapasan. Kerusakan persepsi atau kognitif. misal: diuretik. posisi miirng sesuai indikasi. otak.

bronkopneumoni. jangan lebih dari 10-15 menurunkan adanya kemungkinan lidah jatuh yang menyumbat jalan napas. dalam keadaan imobilisasi dan tidak dapat membersihkan jalan napasnya sendiri. tekanan oksimetri Lakukan ronsen thoraks ulang. kongesti. Catat karakter. detik. atau obstruksi jalan napas yang membahayakan oksigenasi cerebral dan/atau menandakan terjadinya infeksi paru. perhatikan daerah hipoventilasi dan adanya suara tambahan yang tidak normal misal: ronkhi. keseimbangan asam basa dan kebutuhan akan terapi. Jika pusat pernapasan Untuk mengidentifikasi adanya masalah paru seperti atelektasis. krekel. Pantau analisa gas darah. Memaksimalkan oksigen pada darah arteri dan membantu dalam pencegahan hipoksia. Melihat kembali keadaan ventilasi dan tandatandakomplikasi yang berkembang misal: atelektasi atau Berikan oksigen. Auskultasi suara napas. Penghisapan pada trakhea yang lebih dalam harus dilakukan dengan ekstra hati-hati karena hal tersebut dapat menyebabkan atau meningkatkan hipoksia yang menimbulkan vasokonstriksi yang pada akhirnya akan berpengaruh cukup besar pada perfusi jaringan. wheezing. warna Penghisapan biasanya dibutuhkan jika pasien koma atau dan kekeruhan dari sekret. . Lakukan penghisapan dengan ekstra hati-hati.Anjurkan pasien untuk melakukan napas dalam yang efektif bila pasien sadar. Mencegah/menurunkan atelektasis. Menentukan kecukupan pernapasan.

Observasi daerah kulit yang Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk mengalami kerusakan. prosedur invasif. bebas tanda-tanda infeksi. Peningkatan mobilisasi dan pembersihan sekresi paru untuk menurunkan resiko terjadinya pneumonia. Respon inflamasi tertekan (penggunaan steroid). . melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan terhadap komplikasi selanjutnya. peningkatan TIK fase akut tetapi tindakan ini seringkali berguna pada fase akut rehabilitasi untuk memobilisasi dan membersihkan jalan napas dan menurunkan resiko atelektasis/komplikasi paru lainnya. catat adanya demam. stasis cairan tubuh. Lakukan fisioterapi dada jika Walaupun merupakan kontraindikasi pada pasien dengan ada indikasi. Anjurkan untuk melakukan napas dalam.tertekan. Kekurangan nutrisi. kulit rusak. pertahankan nosokomial. latihan pengeluaran sekret paru secara terus menerus. Penurunan kerja silia. daerah yang terpasang alat invasi. tehnik cuci tangan yang baik. menggigil. Dapat mengindikasikan perkembangan sepsis yang selanjutnya memerlukan evaluasi atau tindakan dengan segera. mungkin diperlukan ventilasi mekanik.d jaringan trauma. Perubahan integritas sistem tertutup (kebocoran CSS) Tujuan: Mempertahankan normotermia. Pantau suhu tubuh secara teratur. Kriteria evaluasi: Mencapai penyembuhan luka tepat waktu. 2) Resiko tinggi terhadap infeksi b. Intervensi Rasional Berikan perawatan aseptik Cara pertama untuk menghindari terjadinya infeksi dan antiseptik. catat karakteristik dari drainase dan adanya inflamasi. diaforesis dan perubahan fungsi mental (penurunan kesadaran).

EGC.E.Observasi karakteristik sputum. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC. Jakarta. . PKB Ilmu Bedah XI – Traumatologi . DAFTAR PUSTAKA Abdul Hafid (1989). Strategi Dasar Penanganan Cidera Otak. Doenges M. Surabaya. Berikan antibiotik sesuai indikasi atelektasis. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Terapi profilatik dapat digunakan pada pasien yang mengalami trauma. Jakarta. kebocoran CSS atau setelah dilakukan pembedahan untuk menurunkan resiko terjadinya infeksi nosokomial. Edisi 3 . Edisi Revisi. Sjamsuhidajat. Wim de Jong (1997). (2000). R.