ASUHAN KEPERAWATAN | ARTIKEL KESEHATAN

Kumpulan Asuhan Keperawatan, Informasi Keperawatan, Askep, Rencana Asuhan Keperawatan, dan Informasi Kesehatan Entries (RSS)

  

Home Posts RSS Comments RSS

Melakukan Asuhan Keperawatan (Askep) merupakan aspek legal bagi seorang perawat walaupun format model asuhan keperawatan di berbagai rumah sakit berbeda-beda. Seorang perawat Profesional di dorong untuk dapat memberikan Pelayanan Kesehatan seoptimal mungkin, memberikan informasi secara benar dengan memperhatikan aspek legal etik yang berlaku. Metode perawatan yang baik dan benar merupakan salah satu aspek yang dapat menentukan kualitas “asuhan keperawatan” (askep) yang diberikan yang secara langsung maupun tidak langsung dapat meningkatkan brand kita sebagai perawat profesional. Pemberian Asuhan keperawatan pada tingkat anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia hingga bagaimana kita menerapkan manajemen asuhan keperawatan secara tepat dan ilmiah diharapkan mampu meningkatkan kompetensi perawat khususnya di indonesia Herbal Oles ANTI EJAKULASI DINI Rekomendasi BOYKE! TAMBAH UKURAN,TAHAN LAMA, dsb Tanpa Obat MAU GAJI 20 JUTA ? KERJA 2 JAM MODAL CUMA 95RIBU INVESTASI 95 RIBU HASIL 30 JUTA/BULAN, MAU ? KumpulBlogger.com MAU GAJI 20 JUTA ? KERJA 2 JAM MODAL CUMA 95RIBU INVESTASI 95 RIBU HASIL 30 JUTA/BULAN, MAU ? OLES HERBAL UTK KUAT TAHAN LAMA REKOMENDASI BOYKE!

ASUHAN KEPERAWATAN CEDERA KEPALA
PENGERTIAN

penurunan nadi. Periode akut terjadi dalam 48 jam – 2 hari atau 2 minggu dan kronik dapat terjadi dalam 2 minggu atau beberapa bulan. Tanda dan gejala: penurunan tingkat kesadaran. laserasi. muntah. menarik diri. Cidera otak primer: Adalah kelainan patologi otak yang timbul segera akibat langsung dari trauma.Tekanan intrakranial meningkat yang dapat disebabkan oleh karena: • edema fokal atau difusi • hematoma epidural • hematoma subdural • hematoma intraserebral • over hidrasi . Proses-proses fisiologi yang abnormal: . pembuluh darah ini tidak dapat menutup sendiri karena itu sangat berbahaya. • Perdarahan intraserebral Perdarahan di jaringan otak karena pecahnya pembuluh darah arteri. • Perdarahan subarachnoid: Perdarahan didalam rongga subarachnoid akibat robeknya pembuluh darah dan permukaan otak. irreguler. Lokasi yang paling sering yaitu dilobus temporalis dan parietalis. Perdarahan yang sering ditemukan: • Epidural hematom: Terdapat pengumpulan darah diantara tulang tengkorak dan duramater akibat pecahnya pembuluh darah/cabang-cabang arteri meningeal media yang terdapat di duramater. • Subdural hematoma Terkumpulnya darah antara duramater dan jaringan otak.Shock Proses fisiologis yang abnormal ini lebih memperberat kerusakan cidera otak dan sangat mempengaruhi morbiditas dan mortalitas. Tanda dan gejala: Nyeri kepala. berfikir lambat. . dilatasi pupil.Gangguan saluran nafas . perdarahan lambat dan sedikit. pernapasan dalam dan cepat kemudian dangkal.Anemia . Tanda dan gejala: Nyeri kepala.Sepsis/septik syok . metabolisme. bingung. perubahan tanda-tanda vital. mengantuk. nyeri kepala. kejang dan edema pupil. hemiplegi kontralateral. dapat terjadi akut dan kronik. komplikasi pernapasan. Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1 – 2 hari.Kejang-kejang . peningkatan suhu. vena.Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstiil dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak. hemiparesa. fisiologi yang timbul setelah trauma. kapiler. Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah vena/jembatan vena yang biasanya terdapat diantara duramater. Dilatasi pupil ipsilateral. penurunan kesadaran. Pada cidera primer dapat terjadi: memar otak. Cidera otak sekunder: Adalah kelainan patologi otak disebabkan kelainan biokimia. hampir selalu ada pada cedera kepala yang hebat.

keseimbangan tubuh. • Perubahan pupil (respon terhadap cahaya. konsentrasi. disfagia. kehilangan sebagian lapang pandang. mual. deviasi pada mata. . bisa berupa Cheyne Stokes atau Ataxia breathing. vertigo. frekuensi maupun iramanya. BONE Pasien cidera kepala sering datang dalam keadaan parese. hemiparese. • Terjadi penurunan daya pendengaran. tinitus. kewaspadaan. ketidakmampuan menahan miksi. perhatian. cenderung terjadi peningkatan produksi sputum pada jalan napas. sinkope. Bila perdarahan hebat/luas dan mengenai batang otak akan terjadi gangguan pada nervus cranialis. Napas berbunyi. disritmia). baal pada ekstrimitas. diplopia. pemecahan masalah. seperti ketajamannya. ronkhi. • Sering timbul hiccup/cegukan oleh karena kompresi pada nervus vagus menyebabkan kompresi spasmodik diafragma. merupakan tanda peningkatan tekanan intrakranial. BLOOD: Efek peningkatan tekanan intrakranial terhadap tekanan darah bervariasi. amnesia seputar kejadian. inkontinensia uri. Tekanan pada pusat vasomotor akan meningkatkan transmisi rangsangan parasimpatik ke jantung yang akan mengakibatkan denyut nadi menjadi lambat. Pada kondisi yang lama dapat terjadi kontraktur karena imobilisasi dan dapat pula terjadi spastisitas atau ketidakseimbangan antara otot-otot antagonis yang terjadi karena rusak atau putusnya hubungan antara pusat saraf di otak dengan refleks pada spinal selain itu dapat pula terjadi penurunan tonus otot. stridor. maka dapat terjadi : • Perubahan status mental (orientasi. • Gangguan nervus hipoglosus. penurunan kesadaran. kehilangan pendengaran. Gangguan yang tampak lidah jatuh kesalah satu sisi. BOWEL Terjadi penurunan fungsi pencernaan: bising usus lemah. BLADER Pada cidera kepala sering terjadi gangguan berupa retensi. simetri). kedalaman.Tanda dan gejala: Nyeri kepala. Penatalaksanaan: Konservatif • Bedrest total • Pemberian obat-obatan • Observasi tanda-tanda vital dan tingkat kesadaran. Gangguan menelan (disfagia) dan terganggunya proses eliminasi alvi. Pengkajian BREATHING Kompresi pada batang otak akan mengakibatkan gangguan irama jantung. disatria. foto fobia. BRAIN Gangguan kesadaran merupakan salah satu bentuk manifestasi adanya gangguan otak akibat cidera kepala. sehingga terjadi perubahan pada pola napas. dilatasi pupil ipsilateral dan kaku kuduk. kembung dan mengalami perubahan selera. • Perubahan dalam penglihatan. paraplegi. Perubahan frekuensi jantung (bradikardia. sehingga kesulitan menelan. muntah (mungkin proyektil). Kehilangan kesadaran sementara. wheezing ( kemungkinana karena aspirasi). pengaruh emosi/tingkah laku dan memori). takikardia yang diselingi dengan bradikardia.

Prioritas perawatan: 1. d transisi dan krisis situasional. dan rehabilitasi. d perubahan kemampuan untuk mencerna nutrien (penurunan tingkat kesadaran). 9) Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b.mencegah komplikasi 3. Status hipermetabolik. imobilisasi. d perubahan transmisi dan/atau integrasi (trauma atau defisit neurologis). Kerusakan persepsi atau kognitif. konflik psikologis. perdarahan.d penghentian aliran darah (hemoragi. d perubahan fisiologis. d kerusakan persepsi atau kognitif. menelan. • X-Ray: mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur). d kurang pemajanan. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN 1) Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penghentian aliran darah (hemoragi. stasis cairan tubuh. 4. Penurunan kekuatan/tahanan. Perubahan integritas sistem tertutup (kebocoran CSS) 7) Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. trauma. 4) Perubahan proses pikir b.memaksimalkan perfusi/fungsi otak 2. tidak mengenal informasi. 8) Perubahan proses keluarga b. misal: tirah baring. edema cerebral. Penurunan kerja silia.d jaringan trauma. Respon inflamasi tertekan (penggunaan steroid). seperti pergeseran jaringan otak akibat edema. Obstruksi trakeobronkhial. hematoma). penurunan TD sistemik/hipoksia (hipovolemia. pergeseran jaringan otak. hematoma). fragmen tulang.mendukung proses pemulihan koping klien/keluarga 5. prosedur invasif. 6) Resiko tinggi terhadap infeksi b. menentukan ukuran ventrikuler. edema cerebral. rencana pengobatan. perubahan struktur garis (perdarahan / edema). DIAGNOSA KEPERAWATAN: 1) Perubahan perfusi jaringan serebral b. Kekurangan nutrisi. disritmia jantung) 2) Resiko tinggi pola napas tidak efektif b.pemberian informasi tentang proses penyakit.pengaturan fungsi secara optimal/mengembalikan ke fungsi normal. Kurang mengingat/keterbatasan kognitif. prognosis. • Elektrolit: untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan tekanan intrakranial. Terapi pembatasan /kewaspadaan keamanan. kulit rusak.Pemeriksaan Diagnostik: • CT Scan: tanpa/dengan kontras) mengidentifikasi adanya hemoragik. • Angiografi serebral: menunjukkan kelainan sirkulasi serebral. Kelemahan otot yang diperlukan untuk mengunyah. 5) Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan neurovaskuler (cedera pada pusat pernapasan otak). . penurunan TD sistemik/hipoksia (hipovolemia. Ketidak pastian tentang hasil/harapan. 3) Perubahan persepsi sensori b. • Analisa Gas Darah: medeteksi ventilasi atau masalah pernapasan (oksigenasi) jika terjadi peningkatan tekanan intrakranial.

Kriteria hasil: • Tanda vital stabil dan tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK Intervensi Rasional Tentukan faktor-faktor yg Penurunan tanda/gejala neurologis atau kegagalan dalam menyebabkan pemulihannya setelah serangan awal. frekuensi nafas.disritmia jantung) Tujuan: • Mempertahankan tingkat kesadaran biasa/perbaikan. kesamaan antara kiri dan kanan. Respon terhadap cahaya mencerminkan fungsi yang terkombinasi dari saraf kranial optikus (II) dan okulomotor (III). peningkatan TIK. perluasan dan perkembangan kerusakan SSP. Evaluasi keadaan pupil. Mengkaji tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan bermanfaat dalam menentukan lokasi. Pantau /catat status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai standar GCS. kognisi. Demam dapat mencerminkan kerusakan pada hipotalamus. Reaksi pupil diatur oleh saraf cranial okulomotor (III) berguna untuk menentukan apakah batang otak masih baik. Peningkatan kebutuhan metabolisme dan konsumsi oksigen terjadi (terutama saat demam dan menggigil) yang selanjutnya . Peningkatan TD sistemik yang diikuti oleh penurunan TD Pantau tanda-tanda vital: TD. reaksi terhadap cahaya. ukuran. Ukuran/ kesamaan ditentukan oleh keseimbangan antara persarafan simpatis dan parasimpatis. jika diikuti oleh penurunan kesadaran. dan fungsi motorik/sensorik. nadi. menunjukkan koma/penurunan perfusi jaringan otak dan potensial perlunya pasien dirawat di perawatan intensif. Hipovolemia/hipertensi dapat mengakibatkan kerusakan/iskhemia cerebral. suhu. diastolik (nadi yang membesar) merupakan tanda terjadinya peningkatan TIK.

Pembatasan cairan diperlukan untuk menurunkan edema serebral. mengejan. Turunkan stimulasi eksternal Aktivitas ini akan meningkatkan tekanan intrathorak dan dan berikan kenyamanan. Diuretik digunakan pada fase akut untuk menurunkan air dari sel otak. Tinggikan kepala pasien 1545 derajad sesuai indikasi/yang dapat ditoleransi. Bantu pasien untuk menghindari /membatasi batuk. Iskemia/trauma serebral dapat mengakibatkan diabetes insipidus. Menurunkan hipoksemia.menyebabkan peningkatan TIK. Memberikan efek ketenangan. muntah. Bermanfaat sebagai ndikator dari cairan total tubuh yang terintegrasi dengan perfusi jaringan. menurunkan reaksi fisiologis tubuh dan meningkatkan istirahat untuk mempertahankan atau menurunkan TIK. yang mana dapat meningkatkan vasodilatasi dan volume darah serebral yang meningkatkan TIK. Steroid intraabdomen yang dapat meningkatkan TIK. menurunkan edema otak dan TIK. Gangguan ini dapat mengarahkan pada masalah hipotermia atau pelebaran pembuluh darah yang akhirnya akan berpengaruh negatif terhadap tekanan serebral. turgor kulit dan membran mukosa. Batasi pemberian cairan sesuai indikasi.. Pantau intake dan out put. meminimalkan fluktuasi aliran vaskuler TD dan TIK. . Berikan oksigen tambahan Meningkatkan aliran balik vena dari kepala sehingga akan mengurangi kongesti dan oedema atau resiko terjadinya peningkatan TIK. seperti lingkungan yang tenang.

Pasang jalan napas sesuai indikasi. Antikonvulsan untuk mengatasi dan mencegah terjadinya Berikan obat sesuai indikasi. agitasi. Antipiretik menurunkan atau mengendalikan demam yang mempunyai pengaruh meningkatkan metabolisme serebral atau peningkatan kebutuhan terhadap oksigen. otak. Tujuan : mempertahankan pola pernapasan efektif.sesuai indikasi. Untuk memudahkan ekspansi paru/ventilasi paru dan Kemampuan memobilisasi atau membersihkan sekresi penting untuk pemeliharaan jalan napas. antipiretik. Pantau dan catat kompetensi reflek gag/menelan dan kemampuan pasien untuk melindungi jalan napas sendiri. Angkat kepala tempat tidur sesuai aturannya. Pernapasan lambat. periode apnea dapat menandakan perlunya ventilasi mekanis. Obstruksi trakeobronkhial. steroid. yang selanjutnya menurunkan edema jaringan. 1) Resiko tinggi pola napas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler (cedera pada pusat pernapasan otak). posisi miirng sesuai indikasi. analgetik. Kerusakan persepsi atau kognitif. Sedatif digunakan untuk mengendalikan kegelisahan. misal: diuretik. antikonvulsan. Rasional Perubahan dapat menandakan awitan komplikasi kedalaman pernapasan. Kehilangan refleks menelan atau batuk menandakan perlunaya jalan napas buatan atau intubasi. sedatif. aktifitas kejang. Catat pulmonal atau menandakan lokasi/luasnya keterlibatan ketidakteraturan pernapasan. menurunkan inflamasi. Analgesik untuk menghilangkan nyeri . . irama. Kriteria evaluasi : bebas sianosis. GDA dalam batas normal Intervensi Pantau frekuensi.

Jika pusat pernapasan Untuk mengidentifikasi adanya masalah paru seperti atelektasis. Melihat kembali keadaan ventilasi dan tandatandakomplikasi yang berkembang misal: atelektasi atau Berikan oksigen. atau obstruksi jalan napas yang membahayakan oksigenasi cerebral dan/atau menandakan terjadinya infeksi paru. bronkopneumoni. Memaksimalkan oksigen pada darah arteri dan membantu dalam pencegahan hipoksia.Anjurkan pasien untuk melakukan napas dalam yang efektif bila pasien sadar. keseimbangan asam basa dan kebutuhan akan terapi. kongesti. warna Penghisapan biasanya dibutuhkan jika pasien koma atau dan kekeruhan dari sekret. Menentukan kecukupan pernapasan. dalam keadaan imobilisasi dan tidak dapat membersihkan jalan napasnya sendiri. perhatikan daerah hipoventilasi dan adanya suara tambahan yang tidak normal misal: ronkhi. Auskultasi suara napas. krekel. . tekanan oksimetri Lakukan ronsen thoraks ulang. jangan lebih dari 10-15 menurunkan adanya kemungkinan lidah jatuh yang menyumbat jalan napas. Lakukan penghisapan dengan ekstra hati-hati. wheezing. Catat karakter. Penghisapan pada trakhea yang lebih dalam harus dilakukan dengan ekstra hati-hati karena hal tersebut dapat menyebabkan atau meningkatkan hipoksia yang menimbulkan vasokonstriksi yang pada akhirnya akan berpengaruh cukup besar pada perfusi jaringan. Mencegah/menurunkan atelektasis. detik. Pantau analisa gas darah.

Kekurangan nutrisi. stasis cairan tubuh. peningkatan TIK fase akut tetapi tindakan ini seringkali berguna pada fase akut rehabilitasi untuk memobilisasi dan membersihkan jalan napas dan menurunkan resiko atelektasis/komplikasi paru lainnya. pertahankan nosokomial. menggigil. melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan terhadap komplikasi selanjutnya. mungkin diperlukan ventilasi mekanik. diaforesis dan perubahan fungsi mental (penurunan kesadaran). Respon inflamasi tertekan (penggunaan steroid). daerah yang terpasang alat invasi. tehnik cuci tangan yang baik. 2) Resiko tinggi terhadap infeksi b. prosedur invasif. Perubahan integritas sistem tertutup (kebocoran CSS) Tujuan: Mempertahankan normotermia. Peningkatan mobilisasi dan pembersihan sekresi paru untuk menurunkan resiko terjadinya pneumonia. Pantau suhu tubuh secara teratur. Anjurkan untuk melakukan napas dalam. latihan pengeluaran sekret paru secara terus menerus. Dapat mengindikasikan perkembangan sepsis yang selanjutnya memerlukan evaluasi atau tindakan dengan segera. bebas tanda-tanda infeksi. kulit rusak. catat adanya demam. Intervensi Rasional Berikan perawatan aseptik Cara pertama untuk menghindari terjadinya infeksi dan antiseptik. Lakukan fisioterapi dada jika Walaupun merupakan kontraindikasi pada pasien dengan ada indikasi. Penurunan kerja silia.tertekan. Kriteria evaluasi: Mencapai penyembuhan luka tepat waktu. . Observasi daerah kulit yang Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk mengalami kerusakan.d jaringan trauma. catat karakteristik dari drainase dan adanya inflamasi.

Edisi Revisi. Terapi profilatik dapat digunakan pada pasien yang mengalami trauma. R. (2000). Jakarta. Wim de Jong (1997). Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Abdul Hafid (1989). . Strategi Dasar Penanganan Cidera Otak. Berikan antibiotik sesuai indikasi atelektasis. EGC. Edisi 3 . Sjamsuhidajat. EGC. Buku Ajar Ilmu Bedah. Doenges M. Surabaya.Observasi karakteristik sputum. PKB Ilmu Bedah XI – Traumatologi .E. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. kebocoran CSS atau setelah dilakukan pembedahan untuk menurunkan resiko terjadinya infeksi nosokomial.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful