Anda di halaman 1dari 15

SATUAN ACARA PENYULUHAN RESIKO KANKER SERVIKS PADA PERNIKAHAN USIA DINI

Disusun Sebagai Syarat Pemenuhan Tugas Keperawatan komunitas

Disusun Oleh :

Habibah (010801040)

PRAKTIK KEPERAWATAN KOMUNITAS PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN UNGARAN 2011

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Bidang studi Topik Sub topik Sasaran Tempat Hari/ Tanggal Waktu

: Keperawatan Komunitas : Pernikahan Usia Dini : Resiko Kanker Serviks Pada Pernikahan Usia Dini : Remaja Dusun Siroto : Rumah Bapak Akmal Kepala Dusun Siroto : Jumat 28 oktober 2011 : 30 Menit

A. Latar belakang Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, saat ini penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia. Di Indonesia, setiap tahun terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker serviks. Sekitar 8000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian. Menurut WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita kanker serviks yang tertinggi di dunia. Mengapa bisa begitu berbahaya? Pasalnya, kanker serviks muncul seperti musuh dalam selimut. Sulit sekali dideteksi hingga penyakit telah mencapai stadium lanjut. Hubungan seks pada usia muda atau pernikahan pada usia muda merupakan faktor risiko utama. Semakin muda seorang perempuan melakukan hubungan seks, semakin besar risikonya untuk terkena kanker serviks. Berdasarkan penelitian para ahli, perempuan yang melakukan hubungan seks pada usia kurang dari 17 tahun mempunyai resiko 3 kali lebih besar dari pada yang menikah pada usia lebih dari 20 tahun. Akhir-akhir ini marak terjadi pernikahan dini pada kalangan remaja. Hal itu terjadi pada umur kira-kira 13-17 tahun, yaitu pada saat SMP maupun SMA.. Begitu pula yang terjadi pada remaja di RW V Dusun Siroto Desa Nyatnyono. Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan pada tanggal 7-14 Oktober 2011 menunjukkan bahwa banyak terdapat remaja yang menikah dibawah umur 20 tahun.

Dengan latar belakang diatas mahasiswa praktik keperawatan komunitas STIKES Ngudi Waluyo merasa perlu mengadakan penyuluhan kesehatan tentang resiko abortus pada pernikahan usia dini. B. Tujuan 1. Tujuan Instruksional Umum Setelah mendapatkan penyuluhan diharapkan remaja tidak menikah diusia dini (< 20 tahun). 2. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan remaja mampu : Mengetahui definisi dan faktor-faktor yang mempengaruhi pernikahan usia dini Mengetahui dampak pernikahan dini dari berbagai aspek Mengetahui resiko kanker serviks pada kehamilan pernikahan dini Mengetahui definisi dan faktor-faktor penyebab kanker serviks Mengetahui cara pencegahan kanker serviks

C. Materi Terlampir

D. Media 1. Leaflet 2. Laptop 3. LCD

E. Metode 1. Ceramah 2. Tanya jawab 3. Diskusi

F. Kegiatan No 1. Tahap Pembukaan Waktu 5 menit Kegiatan penyuluhan Mengucapkan salam Perkenalan Kegiatan remakja Menjawab salam Mendenarkan

Menjelaskan maksud dan tujuan Mendengarkan dan penyuluhan (tujuan umum dan tujuan khusus) Apersepsi memperhatikan penjelasan diberikan (mengkaji tingkat Menjawab pertanyaan menyampaikan yang diketahui dan yang

pengetahuan sasaran terhadap materi yang akan disampaikan dengan pertanyaan pembukaan)

tentang pernikahan usia Menjelaskan definisi pernikahan dini Menyebutkan dan menjelaskan faktor-faktor yang dini dan

kanker serviks 2. Pelaksanaan 20 menit Mendengarkan dan memperhatikan Mendengarkan dan memperhatikan

mempengaruhi pernikahan pada usia dini Menjelaskan pernikahan dini dari kesehatan, psikologis, dan dampak segi segi sosial Mendengarkan dan memperhatikan Mendengarkan definisi dan dan memperhatikan Bertanya apabila Mendengarkan dan memperahatikan

kependudukan ekonomi Menjelaskan serviks

resiko

kanker

pada

kehamilan

pernikahan dini Menjelaskan

faktor-faktor penyebab kanker

serviks Memberikan kesempatan untuk bertanya hal yang belum jelas Memberikan penjelasan

belum mengerti Memperhatikan

terhadap pertanyaan sasaran Menyimpulkan materi yang telah diberikan. Menjawab Mengevalusi materi yang telah disampaikan Memberi reinforcement positif atas jawaban yang diberikan Salam penutup Menjawab salam pertanyaan Mendengarkan

3.

Penutup

2 menit

G. Evaluasi Prosedur evaluasi 1. Evaluasi dilakukan selama proses dan pada akhir kegiatan dengan memberikan pertanyaan secara lisan sebagai berikut : a. Jelaskan tentang definisi dan faktor-faktor yang mempengaruhi pernikahan usia dini ? b. Jelaskan dampak pernikahan dini dari berbagai aspek ? c. Jelaskan resiko kanker serviks pada kehamilan pernikahan dini d. Jelaskan definisi dan faktor-faktor penyebab kanker serviks e. Mengetahui cara pencegahan kanker serviks

2. Kriteria evaluasi a. Evaluasi Struktur 1) Menyiapkan SAP 2) Menyiapkan materi dan media 3) Melakukan kontrak waktu dengan sasaran 4) Menyiapkan alat dan bahan

5) Menyiapkan tempat 6) Menyiapkan pertanyaan b. Evaluasi proses 1) Sasaran memperhatikan selama diberikan pendidikan kesehatan 2) Sasaran aktif bertanya terhadap hal yang belum diketahui 3) Sasaran menjawab pertanyaan pemberi materi 4) Sasaran tidak meninggalkan tempat saat pendidikan kesehatan 5) tanya jawab c. Evaluasi hasil 1) Pendidikan kesehatan berhasil baik bila sasaran mampu menjawab 80 % atau lebih pertanyaan dengan benar 2) Pendidikan kesehatan dikatakan berhasil atau cukup baik bila sasaran mampu menjawab antara 50 % - 80 % pertanyaan dengan benar 3) Pendidikan kesehatan dikatakan kurang berhasil atau tidak baik apabila sasaran hanya mampu menjawab kurang dari 50 % pertanyaan dengan benar.

Lampiran

I. PERNIKAHAN DINI A. Definisi Pernikahan adalah peristiwa yang sakral dalam kehidupan masyarakat Indonesia, yang masih tetap mengunjung tinggi nilai adat dan agama yang beraneka ragam (Ida Bagus Gde Manuaba ; 2002 ; 11). Pernikahan usia muda adalah pernikahan yang dilangsungkan pada waktu remaja < 20 tahun (Jazimah, 2006). B. Faktor Faktor Penyebab Pernikahan Usia Muda 1. Sosial budaya Faktor ini merupakan faktor yang paling sering menyebabkan perkawinan usia muda. Perkawinan usia muda banyak dilakukan di daerah pedesaan karena adat istiadat yang kuat. Banyak masyarakat berpendapat untuk apa sekolah sampai perguruan tinggi, nantinya perempuan selalu kerja di dapur. Pada sebagian masyarakat, perempuan melakukan hubungan seks pada masa remaja karena mereka diharapkan menikah dan melahirkan anak pada usia muda. 2. Pendidikan Tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan banyak terjadinya perkawinan usia muda. Ada juga yang menuntut mereka harus menyeleseikan pendidikan dan hal itu dapat menunda pernikahan mereka. 3. Faktor Lain Di zaman seperti sekarang ini, hubungan seksual diluar pernikahan banyak dilakukan. Faktor utama yang mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah adalah membaca buku porno dan menonton blue film. Sehingga jika terjadi kehamilan akibat hubungan seks pra nikah maka jalan yang di ambil adalah menikah pada usia muda. Tetapi ada beberapa remaja yang berpandangan bahwa mereka menikah muda agar terhindar dari perbuatan dosa,seperti seks sebelum

nikah. Hal ini tanpa didasari oleh pengetahuan mereka tentang akibat menikah pada usia muda (Jazimah, 2006).

C. Dampak Perkawinan Usia Muda 1. Segi Kesehatan a. Bagi perempuan 1) Study epidemiologi kanker serviks : resiko meningkat lebih dari 10x bila jumlah mitra sex 6/lebih atau bila berhubungan seks paertama dibawah usia 15 tahun 2) E6-Semakin muda wanita memiliki anak pertama, semakin rentan terkena kanker serviks 3) Resiko terkena penyakit menular seksual b. Kualitas anak 1) Bayi berat lahir rendah (BBLR) sangat tinggi, adanya kebutuhan nutrisi yang harus lebih banyak untuk kehamilannya dan kebutuhan pertumbuhan ibu sendiri 2) Bayi-bayi yang dilahirkan dari ibu yang berusia dibawah 18 tahun rata-rata lebih kecil dan bayi dengan BBR memiliki kemungkinan 5-30x lebih tinggi untuk meninggal 2. Segi psikologis a. Banyaknya pernikahan usia muda berbanding lurus dengan tingginya angka perceraian b. Ego remaja yang masih tinggi c. Keharmonisan keluarga dan perceraian d. Banyaknya kasus perceraian merupakan dampak dari mudanya usia pasangan bercerai ketika memutuskan untuk menikah e. Perselingkuhan f. Ketidakcocokan hubungan dengan orang tua maupun mertua g. Psikologis yang belum matang, sehingga cenderung labil dan emosional h. Kurang mampu untuk bersosialisasi dan adaptasi

3. Segi kependudukan Dengan makin banyak pasangan menikah muda maka tingkat kesuburan pun makin tinggi. Sehingga dengan tingginya tingkat kesuburan ini menyebabkan pertambahan penduduk juga tinggi (Jazimah, 2006). 4. Sosial dan ekonomi Perkawinan yang dianggap dapat menyelesaikan masalah kehamilan remaja tidak lepas dari kemelut seperti : a. Penghasilan yang terbatas sehingga kelangsungan hamilnya dapat menimbulkan berbagai masalah kebidanan. b. Putus sekolah, sehingga pendidikan menjadi terlantar c. Putus kerja, karena berbagai alasan, sehingga menambah sulitnya masalah sosial ekonomi. d. Ketergantungan sosial ekonomi pada orang tua dapat menimbulkan stress (tekanan batin) e. Nilai gizi yang relatif rendah dapat menimbulkan berbagai masalah kebidanan (Ida Bagus Gde Manuaba ; 2002 ; 26).

II. KANKER SERVIKS A. Pengertian Leher rahim (serviks) adalah bagian bawah uterus (rahim). Rahim memiliki 2 bagian. Bagian atas, disebut tubuh rahim, adalah tempat di mana bayi tumbuh. Leher rahim, di bagian bawah, menghubungkan tubuh rahim ke vagina, atau disebut juga jalan lahir. Kanker serviks adalah penyakit kanker yang terjadi pada daerah leher rahim. Yaitu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim. Letaknya antara rahim (uterus) dengan liang senggama wanita (vagina). Kanker ini 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim. Berawal terjadi pada leher rahim, apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar ke organorgan lain di seluruh tubuh penderita.

Ada 2 jenis utama kanker serviks. Sekitar 8-9 dari 10 jenis yang ada adalah karsinoma sel skuamosa. Di bawah mikroskop, kanker jenis ini terbentuk dari sel-sel seperti sel-sel skuamosa yang menutupi permukaan serviks. Sebagian besar sisanya adalah adenokarsinoma. Kanker ini dimulai pada sel-sel kelenjar yang membuat lendir. Jarang terjadi, kanker serviks memiliki kedua jenis fitur diatas dan disebut karsinoma campuran. Jenis lainnya (seperti melanoma, sarkoma, dan limfoma) yang paling sering terjadi di bagian lain dari tubuh. Jumlah prevalensi wanita pengidap kanker serviks di Indonesia terbilang cukup besar. Setiap hari, ditemukan 40-45 kasus baru dengan jumlah kematian mencapai 20-25 orang. Sementara jumlah wanita yang berisiko mengidapnya mencapai 48 juta orang.

B. Faktor Resiko Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks, antara lain adalah : 1. Hubungan seks pada usia muda atau pernikahan pada usia muda Faktor ini merupakan faktor risiko utama. Semakin muda seorang perempuan melakukan hubungan seks, semakin besar risikonya untuk terkena kanker serviks. Berdasarkan penelitian para ahli, perempuan yang melakukan hubungan seks pada usia kurang dari 17 tahun mempunyai resiko 3 kali lebih besar daripada yang menikah pada usia lebih dari 20 tahun. 2. Berganti-ganti pasangan seksual Perilaku seksual berupa gonta-ganti pasangan seks akan meningkatkan penularan penyakit kelamin. Penyakit yang ditularkan seperti infeksi human papilloma virus (HPV) telah terbukti dapat meningkatkan timbulnya kanker serviks, penis dan vulva. Resiko terkena kanker serviks menjadi 10 kali lipat pada wanita yang mempunyai partner seksual 6 orang atau lebih. Di samping itu, virus herpes simpleks tipe-2 dapat menjadi faktor pendamping. 3. Merokok

Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Ada banyak penelitian yang menyatakan hubungan antara kebiasaan merokok dengan meningkatnya risiko seseorang terjangkit penyakit kanker serviks. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan di Karolinska Institute di Swedia dan dipublikasikan di British Journal of Cancer pada tahun 2001. Menurut Joakam Dillner, M.D., peneliti yang memimpin riset tersebut, zat nikotin serta racun lain yang masuk ke dalam darah melalui asap rokok mampu meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi cervical neoplasia atau tumbuhnya sel-sel abnormal pada rahim. Cervical neoplasia adalah kondisi awal berkembangnya kanker serviks di dalam tubuh seseorang, ujarnya. 4. Defisiensi zat gizi Ada beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa defisiensi asam folat dapat meningkatkan risiko terjadinya displasia ringan dan sedang, serta mungkin juga meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks pada wanita yang makanannya rendah beta karoten dan retinol (vitamin A). Trauma kronis pada serviks seperti persalinan, infeksi, dan iritasi menahun.

C. Tanda-Tanda Pada fase prakanker, sering tidak ada gejala atau tanda-tanda yang khas. Namun, kadang bisa ditemukan gejala-gejala sebagai berikut : 1. Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina. 2. Perdarahan setelah sanggama yang kemudian berlanjut menjadi perdarahan yang abnormal. 3. Timbulnya perdarahan setelah masa menopause 4. Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan dapat bercampur dengan darah. 5. Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi perdarahan kronis. 6. Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang panggul. Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah,

kemungkinan terjadi hidronefrosis. Selain itu, bisa juga timbul nyeri di tempat-tempat lainnya. 7. Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, edema kaki, timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rectum), terbentuknya fistel vesikovaginal atau rektovaginal, atau timbul gejala-gejala akibat metastasis jauh. Seperti layaknya kanker, jenis kanker ini juga dapat mengalami penyebaran (metastasis). Penyebaran kanker serviks ada 3 macam, yaitu 1. Melalui pembuluh limfe (limfogen) menuju ke kelenjar getah bening lainnya 2. Melalui pembuluh darah (hematogen) 3. Penyebaran langsung ke parametrium, korpus uterus, vagina, kandung kencing dan rectum. Penyebaran jauh melalui pembuluh darah dan pembuluh limfe terutama ke paru-paru, kelenjar getah bening mediastinum dan supraklavikuler, tulang dan hati. Penyebaran ke paru-paru menimbulkan gejala batuk, batuk darah, dan kadang-kadang nyeri dada. Kadang disertai pembesaran kelenjar getah bening supraklavikula terutama sebelah kiri. D. Penyebab kanker serviks Pertama, kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini memiliki lebih dari 100 tipe, di mana sebagian besar di antaranya tidak berbahaya dan akan lenyap dengan sendirinya. Jenis virus HPV yang menyebabkan kanker serviks dan paling fatal.Akibatnya adalah virus HPV tipe 16 dan 18. Kedua, selain disebabkan oleh virus HPV, sel-sel abnormal pada leher rahim juga bisa tumbuh akibat paparan radiasi atau pencemaran bahan kimia yang terjadi dalam jangka waktu cukup lama.

E. Cara penularan kanker serviks Penularan virus HPV bisa terjadi melalui hubungan seksual, terutama yang dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Penularan virus ini dapat terjadi baik dengan cara transmisi melalui organ genital ke organ genital, oral ke genital, maupun secara manual ke genital. Karenanya, penggunaan kondom saat melakukan hubungan intim tidak terlalu berpengaruh mencegah penularan virus HPV. Sebab, tak hanya menular melalui cairan, virus ini bisa berpindah melalui sentuhan kulit. F. Masa pertumbuhan kanker serviks Masa preinvasif (pertumbuhan sel-sel abnormal sebelum menjadi keganasan) penyakit ini terbilang cukup lama, sehingga penderita yang berhasil mendeteksinya sejak dini dapat melakukan berbagai langkah untuk mengatasinya. Infeksi menetap akan menyebabkan pertumbuhan sel abnormal yang akhirnya dapat mengarah pada perkembangan kanker. Perkembangan ini memakan waktu antara 5-20 tahun, mulai dari tahap infeksi, lesi pra-kanker hingga positif menjadi kanker serviks.

G. Vaksinasi HPV Pada pertengahan tahun 2006 telah beredar vaksin pencegah infeksi HPV tipe 16 dan 18 yang menjadi penyebab kanker serviks. Vaksin ini bekerja dengan cara meningkatkan kekebalan tubuh dan menangkap virus sebelum memasuki sel-sel serviks. Selain membentengi dari penyakit kanker serviks, vaksin ini juga bekerja ganda melindungi perempuan dari ancaman HPV tipe 6 dan 11 yang menyebabkan kutil kelamin. Yang perlu ditekankan adalah, vaksinasi ini baru efektif apabila diberikan pada perempuan berusia 9 sampai 26 tahun yang belum aktif secara seksual. Vaksin diberikan sebanyak 3 kali dalam jangka waktu tertentu. Dengan vaksinasi, risiko terkena kanker serviks bisa menurun hingga 75%. Ada kabar gembira, mulai tahun ini harga vaksin yang semula Rp 1.300.000,sekali suntik menjadi Rp 700.000,- sekali suntik.

Vaksin ini telah diujikan pada ribuan perempuan di seluruh dunia. Hasilnya tidak menunjukkan adanya efek samping yang berbahaya. Efek samping yang paling sering dikeluhkan adalah demam dan kemerahan, nyeri, dan bengkak di tempat suntikan. Efek samping yang sering ditemui lainnya adalah berdarah dan gatal di tempat suntikan. Vaksin ini sendiri tidak dianjurkan untuk perempuan hamil. Namun, ibu menyusui boleh menerima vaksin ini. Penyembuhan kanker serviks Berhubung tidak mengeluhkan gejala apa pun, penderita kanker serviks biasanya datang ke rumah sakit ketika penyakitnya sudah mencapai stadium 3. Masalahnya, kanker serviks yang sudah mencapai stadium 2 sampai stadium 4 telah mengakibatkan kerusakan pada organ-organ tubuh, seperti kandung kemih, ginjal, dan lainnya. Karenanya, operasi pengangkatan rahim saja tidak cukup membuat penderita sembuh seperti sedia kala. Selain operasi, penderita masih harus mendapatkan terapi tambahan, seperti radiasi dan kemoterapi. Langkah tersebut sekalipun tidak dapat menjamin 100% penderita mengalami kesembuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Hudak,Carolyn M (1997). Keperawatan Kritis :Pendekatan Holistik. Alih bahasa: Allenidekania dkk. Jakarta.EGC. Lackmans (1996). Care Principle and Practice of Medical Surgical Nursing. Philadelpia:WB Saunders Company.

Pasiyan

rahmatullah

(1999).Geriatrik:

Ilmu

Kesehatan

Usia

Lanjut.

editor:R.boedhi Darmoso dan Hadi Martono,Jakarta, Balai Penerbit FKUI.

Price sylvia Anderson (1994). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Alih bahasa: Peter anugerah. Jakarta. EGC.

Reevers, Charlene J, et all (2000). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba medica.

Smeltzer SC, Bare B.G (2000). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume 1. Jakarta:EGC.