Anda di halaman 1dari 3

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Cabai merah (Capsicum annuum L.) termasuk dalam suku Solanaceae. Tanaman cabai diperbanyak melalui biji yang ditanam dari tanaman yang sehat serta bebas dari hama dan penyakit. Penggunaan benih yang unggul dan bermutu tinggi merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan produksi tanaman yang menguntungkan secara ekonomis (Syamsuddin 2003). Akan tetapi, penanaman cabai dihadapkan dengan berbagai masalah, diantaranya teknis budidaya, kekurangan nutrisi, serta serangan hama dan penyakit. Salah satu penyakit yang sering menyerang cabai adalah layu Fusarium. Famili Solanaceae (tomat, kentang, cabai dan tanaman lainnya) diinfeksi oleh jamur yang dapat menyebabkan layu Fusarium dan layu Verticillium. Organisme penyebab penyakit biasanya masuk melalui akar muda dan kemudian tumbuh dan berkembang sehingga akan mengkolonisasi bagian pembuluh dari akar dan batang, bagian pembuluh batang tersumbat dan gagal menyalurkan air ke daun (Miller et al. 1986).

Di Indonesia penyakit layu sudah lama dikenal, tetapi umumnya orang menduga bahwa penyakit ini hanya satu jenis yaitu yang disebabkan oleh bakteri (Pseudomonas solanacearum). Bahkan dalam laporan-laporan terdahulu penyebab penyakit layu selalu disebut sebagai penyakit bakteri. Di negara-negara lain sudah lama dikenal bahwa sebagian dari penyakit layu pada tanaman Solanaceae disebabkan oleh Fusarium (Semangun 1996).

Oleh karena fungisida sintetik berpengaruh negatif terhadap lingkungan, akhir-akhir ini penggunaan mikroorganisme antagonis sebagai agensia alternatif pengendali berbagai jenis patogen tanaman semakin banyak diteliti dan

Universitas Sumatera Utara

dikembangkan (Sutariati & Wahab 2010), salah satu penanganan layu Fusarium yaitu dengan menggunakan bakteri yang mampu memproduksi enzim kitinase. Di antara bakteri kitinolitik adalah Aeromonas hydrophila, A. caviae, Pseudomonas maltophila, Bacillus licheniformis, B. circulans, Vibrio furnissii, Xanthomonas spp., dan Serratia marcescens (Gohel et al. 2003). A. caviae dan S. marcescens mampu menghambat pertumbuhan miselia F. oxysporum pada kecambah tomat (Prihatna 2003). Beberapa contoh penelitian yaitu bakteri kitinolitik dengan Fusarium oxysporum dan Alternaria solani (Ferniah et al. 2003).

Enkapsulasi adalah proses pembentukan kapsul yang menyelubungi suatu bahan. Bahan yang diselubungi umumnya disebut bahan inti atau bahan aktif. Bahan inti tersebut dapat berbentuk padat, cair atau gas. Enkapsulasi dapat dilakukan pada sel bakteri sebagai bahan inti (Frazier dan Westhoff 1998). Beberapa penelitian yang menggunakan bakteri sebagai bahan inti yaitu Lactobacillus casei

dan Bifidobacterium bifidum terenkapsulasi kalsium alginat (Kim et al. 1996), Lactobacillus plantarum terenkapsulasi susu skim dan gum arab (Rizqiati et al. 2009) dan Methylobacterium spp. terenkapsulasi beberapa komposisi bahan pelapis (alginate, gum arab) (Eka et al. 2008). Kapsulasi dengan menambahkan subtansi prebiotik dalam produk merupakan salah satu faktor yang dapat digunakan untuk meningkatkan viabilitas organisme pada produk (Kneifel et al. 1993). Berdasarkan kemampuan bakteri kitinolitik yang telah diuji dalam menghambat perkembangan jamur patogen seperti F. oxysporum (Irawati 2008), diperlukan pengujian enkapsulasi benih cabai merah dengan memanfaatkan isolat bakteri kitinolitik yang potensial dengan menggunakan bahan pembawa seperti alginat dan tapioka sebagai bahan pelapis benih (enkapsulasi) cabai merah. Dalam penelitian ini perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai enkapsulasi bahan pelapis alginat dan tapioka terhadap benih cabai merah dengan memanfaatkan isolat bakteri kitinolitik yang potensial sebagai pengendali hayati jamur patogen.

Universitas Sumatera Utara

1.2 Permasalahan

Bakteri kitinolitik dalam enkapsulasi pada benih cabai merah diharapkan mampu menghambat pertumbuhan jamur F. oxysporum. Untuk itu perlu dilakukan pengujian bahan pelapis benih yang baik untuk melapisi benih cabai merah dan bakteri kitinolitik.

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui viabilitas bakteri kitinolitik dalam enkapsulasi benih cabai merah bahan pelapis alginat-kitosan dan tapioka. 2. Untuk mengetahui potensi bakteri kitinolitik dalam bentuk enkapsulasi pada benih cabai merah sebagai pengendali hayati terhadap infeksi jamur F. oxysporum.

1.4 Hipotesis

1. Viabilitas bakteri kitinolitik dalam enkapsulasi alginat-kitosan dan tapioka pada benih cabai merah tetap tinggi. 2. Bakteri kitinolitik dalam enkapsulasi alginat-kitosan dan tapioka pada benih cabai merah tetap mampu menghambat pertumbuhan jamur F. oxysporum. 3. Viabilitas benih cabai yang dienkapsulasi alginat-kitosan dan tapioka dengan bakteri kitinolitik tetap tinggi.

1.5 Manfaat

Dapat meningkatkan kualitas benih cabai merah terhadap serangan jamur patogen khususnya jamur F. oxysporum.

Universitas Sumatera Utara