Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masalah Fisika merupakan suatu ilmu pengetahuan alam yang sangat berperan dalam menghasilkan tekhnologi canggih pada abad modern ini, dan banyak pula kemajuan yang bisa di hasilkan akibat perkembangan ilmu fisika, ilmu fisika pada bidang optik telah menciptakan peralatan-peralatan mutakhir diantaranya kamera yang di gunakan oleh umat manusia untuk mengabadikan peristiwa, kamera analog merupakan peralatan optik yang digunakan untuk menyimpan atau merekam bayangan dalam bentuk gambar atau foto yang di simpan di film. Menurut Indrajit (2002 : 168), kamera adalah alat untuk merekam suatu objek berupa tempat atau peristiwa , cara kerja kamera sama dengan cara kerja mata, hanya saja komponen-komponen yang terdapat di kamera tidak terdapat di mata, namun fungsinya sama. Menurut Kanginan (2000: 9), kamera dan mata memiliki kesamaan pada diagram sinar pembentukan bayangan. Benda yang di amati oleh kamera dan mata terletak di depan lensa tepatnya di depan 2F2, dan bayangan di bentuk di belakang lensa di antara F1 dan 2F1. Bayangan ini adalah bayangan nyata, terbalik dan diperkecil. Lensa kamera merupakan bagian dari kamera yang berfungsi untuk memfokuskan bayangan, mirip lensa pada mata. Diafragma dan shutter berfungsi untuk membuka dan menutup lensa, bagian ini mirip dengan iris dan pupil pada

mata. Kamera di lengkapi dengan film yang berfungsi sebagai tempat bayangan, bagian ini mirip retina pada mata. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis paparkan, timbul pertanyaan bagi penulis, bagaimanakah proses pembentukan bayangan pada kamera analog dan prinsip kerja kamera analog. Untuk menjawab pertanyaan ini secara ilmiah maka penulis tertarik untuk membuat makalah dengan mengangkat judul Prinsip Kerja Kamera Analog.

1.2 Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang masalah di atas yang menjadi rumusan masalah adalah : Bagaimana prinsip kerja kamera analog. 1.3 Tujuan Pembahasan

Berdasarkan latar belakang yang telah di kemukakan, maka penulis bertujuan untuk :Menjelaskan prinsip kerja kamera analog.

1.4 Manfaat Penulisan

Mamfaat dari penulisan ini adalah sebagai berikut :

1. Menambah pengetahuan bagi penulis tentang proses pembentukan bayangan pada kamera anaolg dan prinsip kerja kamera analog. 2. Menambah pengetahuan bagi pembaca untuk memahami proses pembentukan bayangan pada kamera analog dan prinsip kerja kamera analog.

1.5 Batasan Masalah Agar penulis lebih terarah, maka perlu kiranya di batasi permasalahan yang akan di bahas adalah prinsip kerja kamera analog dan pembentukan bayangan pada kamera analog.

BAB II LANDASAN TEORITIS

2.1 Alat Optik Optik adalah cabang fisika yang mempelajari tentang sifat cahaya dan interaksi cahaya dengan materi. Tidak banyak orang tahu bahwa orang yang pertama menjelaskan soal mekanisme penglihatan pada manusia adalah ilmuwan muslim Irak yang bernama Ibnu Al Haitam atau di barat dikenal dengan nama Alhazen, dalam kitabnya Al Manadhir atau kitab optik , ia menjelaskan berbagai fenomena cahaya termasuk sistem penglihatan manusia. Dan akhirnya Al Haitam dikenal dengan nama bapak optik. Menurut Elisa (2008: 1), salah satu karya yang paling menomental adalah ketika Al Haitam bersama muridnya, Kamal Ad-Din, untuk pertama sekali meneliti tentang kamera Obskura, kamera inilah yang mendasari kinerja kamera sekarang yang digunakan oleh umat manusia pada saat ini. Alat optik adalah alat bantu yang di gunakan untuk melihat benda-benda yang ukurannya kecil. Contohnya : a) Mata b) Kamera c) Mikroskop d) lup e) periskop

2.2 Pengertian Kamera Analog. Kamera analog adalah suatu alat optik yang di gunakan untuk menyimpan atau merekam bayangan dalm bentuk gambar atau foto dengan mengunakan film. ( gambar1 )

( gambar 1) Sumber (http//www.gambarkameraanalog.co.id)

Menurut Indrajit ( 2002: 168 ), kamera analog adalah alat untuk merekam suatu objek berupa tempat atau peristiwa. Dan menurut setyono ( 2006: 328), kamera analog adalah alat untuk merekam bayangan dalam bentuk foto. 2.3 Fungsi Kamera Kamera analog ini di gunakan untuk merekam bayangan, menurut Indrajit (2002: 169), kamera analog berfungsi untuk menyimpan atau merekam bayangan yang disimpan di film. 2.4 Bagian Dan Fungsi Kamera Analog

( gambar 2 ) Sumber (Mangunwiyoto 2006:32)

Sebuah kamera minimal terdiri dari kotak kedap cahaya (badan kamera), system lensa, pemantik potret(shutter) dan pemutar film. Menurut Kanginan (2004: 93), Bagian utama sebuah kamera analog adalah sebuah kotak kedap cahaya. Pada bagian depan terdapat sistem lensa dan pada bagian belakang terdapat sebuah film yang berungsi sebagai layar untuk menangkap bayangan yang di bentuk oleh lensa kamera. Lensa kamera merupakan bagian dari kamera yang berfungsi untuk memfokuskan bayangan. Diagram dan shutter berfungsi untuk membuka dan menutup lensa dan kamera analog di lengkapi dengan film yang berfungsi sebagai tempat pembentukan bayangan. Pelat film terbuat dari pelat seluloid (celuloid) yang di lapisi dengan lapisan glatin dan perak bromida yang menghasilkan negatif, setelah di cuci negatif di gunakan untuk mendapat gambar positif pada kertas potret. Kertas potret terbuat dari kertas yang di tutup dengan lapisan tipis kolodium bercampur perak klorida . gambar yang di timpal pada sebidang kaca atau film dinamakan diapositif (Harjono 2003: 66). 2.4.1 Lensa Kamera

Menurut Kanginan (2006: 177), lensa adalah benda bening yang di batasi oleh dua buah bidang lengkung atau satu buah bidang lengkung dan satu buah bidang datar. Tim e-dukasi (2008) menjelaskan bahwa, lensa adalah material transparan (umumnya terbuat dari plastik atau kaca) yang memiliki dua permukaan (salah satu atau keduanya memiliki permukaan melengkung) sehingga dapat membelokkan sinar yang melewatinya.

Menurut Zaelani (2006:278), lensa adalah benda bening yang di batasi oleh dua buah bidang lengkung. Dari ketiga pendapat tersebut di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa, lensa adalah benda bening yang di batasi oleh dua bidang

lengkung atau salah satu permukaan memiliki bidang lengkung yang umumnya terbuat dari kaca atau pun plastik dan dapat membelokkan sinar yang melewatinya. Berdasarkan pengertian di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa lensa merupakan bidang bening yang membatasi dua permukaan. Pembiasan pada lensa cembung 1. Sinar-Sinar Istimewa Pada Lensa Cembung Lensa cembung mempunyai tiga sinar istimewa yaitu (1) sinar datang yang sejajar dengan sumbu utama lensa di biaskan melalui titik fokus seperti di tunjukkan pada gambar

M1

F1

F2

M2

Sumber (Zaelani 2006 :280 )

(2) Sinar datang yang melalui titik fokus di biaskan sejajar sumbu utama seperti di tunjukan pada gambar

M1

F1

F2 Sumber (Zaelani 2006 :280 )

M2

(3) Sinar datang melalui pusat kelengkungan tidak di biaskan melainkan di teruskan,

seperti pada gambar

M1

F1

F2

M2

Sumber (Zaelani 2006:280 )

2. Penentuan Bayangan Pada Lensa Cembung Pada lensa cembung untuk persamaan jarak fokus dapat di hitung 1/f = 1/s + 1/s (Zaelani 2006 :282) (1) Untuk perbesaran bayangan berlaku rumus : M= = ( Zaelani 2006 : 282)..(2)

Keterangan : f = titik focus (m) s = jarak benda (m) s = jarak bayangan (m) h = tinggi benda (m) h = tinggi bayangan (m) M = perbesaran bayangan

Ketentuan tanda pada lensa a. untuk benda 1. 2. benda nyata (di belakang lensa ) = s positif benda maya (di depan lensa ) = s negatif

b. untuk bayangan 1. bayangan nyata (di belakang lensa ) = s positif 2. bayangan maya (di depan lensa )= s negatif

10

c. untuk fokus 1. lensa cembung (konvergen ) = f positif 2. lensa cekung (divergen) = f negatif 2.5.2 Badan Kamera

Badan kamera adalah ruangan yang sama sekali kedap cahaya, namun dihubungkan dengan lensa yang menjadi satu-satunya tempat cahaya masuk. Di dalam bagian ini cahaya yang difokuskan oleh lensa akan diatur agar tepat mengenai dan membakar film.

2.5.3

Film

Pembagian film berdasarkan ukuran yaitu ukuran small format ( 35 mm), ukuran medium format (100-120 mm ) dan large format. Angka di atas berarti ukuran diagonal film yang di gunakan. Setiap jenis ukuran film harus mengunakan kamera yang berbeda pula

Film gulung merujuk pada lembaran plastik yang digunakan untuk merekam gambar. Plastik tersebut sudah diperlakukan khusus, sehingga sensitif akan

cahaya.Film ini dilapisi dengan emulsi yang mengandung garam perak halida (diikat dengan gelatin) dengan kristal berbagai ukuran yang menentukan sensitivitas, kontras, dan resolusi film. Ketika resolusi cukup terpajan pada cahaya (atau bentuk radiasi elektromagneti lain seperti sinar X), film ini membentuk gambar laten (tak terlihat). Proses kimia dapat terjadi untuk membentuk gambar yang terlihat.

11

Pada waktu seseorang memotret suatu benda dengan kamera. shutter terbuka dan cahaya masuk ke lensa. Lensa itu kemudian membentuk bayangan di film. Film ini mengandung bahan kimia yang sensitif terhadap cahaya, sehingga ketika cahaya dari objek dengan berbagai intensitas mengenai film, tercetaklah bayangan pada film itu. Menurut Wahono (2004:41), ada tiga penyetelan pada kamera analog agar dapat hasil yang baik adalah kelajuan shutter, f-stop, dan penfokusan. Walaupun banyak kamera saat ini melakukan penyetelan secara otomatis, pemahaman ketiga hal tersebut sangat berguna dalam pengunaan kamera analog. Adapun ketiga bagian tersebut yaitu a) Kelajuan Shutter Kelajuan shutter ini mengacu pada berapa lama shutter (penutupkamera) di buka dan film terbuka. Laju ini bisa bervariasi dalam satu sekon atau lebih (waktu pencahayaan) sampai 1/1000 sekon atau lebih kecil lagi. Untuk menghindari karena gerak kamera, laju yang lebih cepat dari 1/100 sekon biasanya di gunakan, jika benda bergerak, laju shutter yang lebih tinggi di butuhkan untuk menghentikan gerak tersebut. Untuk mendapatkan gambar yang baik, yaitu shutter di buka lebih dari 1/50 sekon. Dalam situasi yang terang sekali kita hanya perlu membuka shutter singkat saja misalnya 1/20 sekon.

12

b)

f-stop

gambar di bawah ini beberapa diameter bukaan (aperture) yang berbeda

gambar 3
Sumber (http//www.gambarkameraanalog.co.id)

Menurut wahono (2004:42), banyaknya cahaya yang mencapai film harus di kendalikan dengan hati-hati untuk menghindari kekurangan cahaya (terlalu sedikit cahaya senhingga yang terlihat hanya benda yang paling terang) atau kelebihan cahaya (terlalu banyak cahaya, sehingga semua benda yang terang tampak sama, tanpa adanya kontras dan kesan tercuci). Untuk mengendalikan bukaan suatu stop atau diafragma mata, yang bukaanya dengan diameter variabel, di letakkan di belakang lensa.

13

Ukuran bukaan bervariasi untuk mfengimbangi hari-hari yang terang atau gelap. Kepekaan film yang di gunakan, dan kelajuan shutter yang berbeda, ukuran bukaan diatur dengan f-stop yang di rumuskan f-stop =

..(3)

Dimana f adalah panjang fokus lensa dan D adalah diameter bukaan, sebagai contoh, jika lensa dengan panjang fokus, f=50 mm memiliki bukaan, D = 25 mm , di katakan lensa tersebut diatur pada f/2, jika lensa diatur pada f/8, bukaan hanya 6
(50/6 = 8). Semakin cepat kelajuuan shutter, atau hari semakin gelap, semakin

besar bukaan harus di buka untuk mendapatkan pandangan yang sesuai. Hal ini berhubungan denfan angka f-stop . semakin banyak cahaya yang melewati lensa menuju film. Angka f terkecil dari sebuah lensa (bukaan terbesar) di sebut sebagai kelajuan lensa. Keuntungan lensa cepat yaitu memungkinkan pengambilan gambar dengan kondisi cahaya yang buruk. c) Pemfokusan

Menurut Wahono (2004:43), pemfokusan adalah peletakn lensa pada posisi yang benar relatif terhadap film untuk mendapatkan bayangan yang palingg tajam. Jarak bayangan minimum, untuk benda di jarak tak terhingga dan sama panjang fokus, sebagai mana bisa di lihat dari persamaan : 1/f = 1/s + 1/s ..(2)

14

Untuk memfokuskan benda-benda dekat, lensa harus di jauhkan dari film, dan ini biasanya di lakukan dengan memutar sebuah gelang pafa lensa. Jika lensa berfokus pada benda dekat, bayangan tajam dari benda tersebut, tetapi benda yang jauh mungkin kabur, dan sebaliknya

2.6

Pembentukan Bayangan Pada Kamera Analog

Kamera dan mata memiliki kesamaan pada di agram sinar pembentukan bayangan . benda yang di amati oleh kamera dan mata terletak di depan lensa di depan 2F2 (S > 2f) bayangan di bentuk di belakang lensa di antara F1 dan 2F1. Bayangan ini adalah bayangan nyata, terbalik, dan di perkecil. Menurut haliday (2000:198), apabila nomor ruang benda di tambah nomor ruang bayangan harus sama dengan 5. Oleh sebab itu bayangan pada kamera analog terletak pada ruang II bayangan, di karenakan benda yang di potret selalu terletak pada ruang III benda.

2.7 Prinsip Kerja Kamera Analog pola kerja kamera analog sama dengan mata, yaitu mengambil bayangan nyata, terbalik dan dan di perkecil, hal ini dapat terwujud karena kerja lensa cembung yang berada di bagian depan kamera, hingga bayangan tepat jatuh pada film yang di tempatkan di belakang dalam kamera. Gambar analogi prinsip kerja mata dan kamera analog

15

Gambar 4

Prinsip kerja kamera adalah : 1. dengan di bukanya penutup lensa, cahaya dapat masuk lensa kamera (penutup lensa = pelupuk mata)

16

2.

objek atau yang di ambil gambarnya terletak pada jarak lebih besar dari 2f (f= jarak folus lensa)

3.

bayangan yang terbentuk pada film adalah nyata, di perkeci dan terbalik, yaitu di antara f dan 2f (film=retina)

4.

agar bayangan pada film setajam-tajamnya, lensa kamera (lensa cenbung) dapat di geser maju atau mundur (lensa kamera = lensa mata)

5.

dengan menekan tombol kamera shutter ( penutup jalan cahaya) di belakang lensa membuka dengan dan dengan cepat menutup kembali. Pada saat shutter membuka sebentar, cahaya masuk melalui diafragma sehingga mencapai film (negatif). Cahaya yang mengenai film menimbulkan perubahan kimia pada film, dan bila film di cuci di peroleh diapositif (klise). Kemudian bila di cetak pada kertas foto, lalu dicuci maka di dapat gambar (positif)

6.

intesitas cahaya yang mengenai film di tentukan oleh kecepatan membuka dan menutup shutter serta lebar diafragma (diafragma kamera= diafragnma iris yang membentuk pupil)

pada waktu seseorang memotret suatu benda dengan kamera, shutter terbuka dan sinar yang masuk lensa.lensa ini kemudian membentuk bayangan di film. Film mengandung bahan kimia yang sensitif terhadap cahaya, sehingga ketika cahaya dari benda dengan berbagai intensitas mengenai film, tercetaklah bayangan pada film. . Prinsip kerja kamera adalah menangkap cahaya yang di hasilkan oleh suatu

benda, Cahaya masuk ke kamera lewat lensa. Cahaya masuk ke dalam kamera
17

melalui bagian yang disebut lensa.cahaya yang masuk ke dalam lensa terlebih dahulu di atur dengan mengunakan aperture. Cahaya dipastikan hanya boleh melalui bagian lensa ini yang berupa lubang (berbentuk lingkaran). Lubang ini ibarat jendela kamera ke dunia luar, dan jendela ini punya ukuran lubang tertentu, persis saat kita membuka mata atau menutup mata. Kamera sendiri juga memiliki komponen untuk mengatur kecepatan si lubang ini membuka saat kita perintahkan. Dengan mengatur dua properties ini, intensitas cahaya yang masuk ke kamera dapat diatur. Ketika di potret, kamera menangkap cahaya yang di hasilkan benda, kemudian di teruskan ke lensa, cahaya yang masuk ke dalam lensa terlebih dahulu di atur dengan mengunakan aperture. kita ketahui bahwa lensa yang di pakai oleh kamera adalah lensa cembung yang bersifat mengumpulkan sinar, sinar yang di kumpulkan di film akan membentuk bayangan, di karenakan film pada kamera analog di lapisi dengan emulsi yang mengandung garam perak halida (di ikat dengan gelatin), dan apabila cahaya sedikit saja menyentuh film akan terjadi perubahan kimia, yang akan membentuk bayangan pada film. Apabila film di cetak pada kertas foto maka akan di dapatkan gambar.

18

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Dari Pembahasan diatas maka dapat diambil kesimpulan yaitu : 1. Prinsip kerja kamera adalah menangkap cahaya yang di hasilkan oleh suatu benda, Cahaya masuk ke kamera lewat lensa. Cahaya masuk ke dalam kamera melalui bagian yang disebut lensa.cahaya yang masuk ke dalam lensa terlebih dahulu di atur dengan mengunakan aperture. 2. Ketika di potret, kamera menangkap cahaya yang di hasilkan benda, kemudian di teruskan ke lensa, cahaya yang masuk ke dalam lensa terlebih dahulu di atur dengan mengunakan aperture 3.2 Saran Diharapkan adanya penelitian tentang bagaimana bisa membuat sebuah kamera dengan prinsip analog serta pengembangannya.

19

DAFTAR PUSTAKA

Indrajit, (2007). Fisika bilingual untuk SMA kelas X, yrama widya, Jakarta. Kanginan, M. (2000). Fisika 2C untuk SMP, erlangga, Jakarta. Kanginan, M. (2002). Fisika untuk SMA kelas X, erlangga, Jakarta. Kanginan, M (2006) fisika untuk kelas XI, jilid I, grafindo media pratama, Jakarta Sulistyo. (2007). Intisari fisika untuk SMA, pustaka setia, bandung.

20