Anda di halaman 1dari 2

Nama : Larena Yudisa Putri Kelas : XII IPA 1 Asal Sekolah : SMA Negeri 1 Payakumbuh

Sepucuk Surat Dari Calon Mahasiswi IPB I believe I can fly like a star. Kata itu masih menggema dalam setiap langkah kaki ini. Dulu, aku pernah menonton sebuah kisah alumni IPB yang menuliskan mimpinya di dalam secarik kertas. Memang hati ini tertawa melecehkan saat melihat seratus keinginan pemuda tersebut. Tetapi, setelah selesai menontonnya, air mataku menetes. Saat itulah aku mulai bermimpi untuk masa depan. Jika aku menjadi mahasiswa IPB, aku yakin aku bisa mewujudkan mimpi yang selama ini semua orang, bahkan guru besar di seluruh dunia juga memimpikannya. Namaku Larena Yudisa Putri. Hampir tiga tahun Aku berada di SMA ini, Aku belum tau entah kemana akan melanjutkan sekolah jika lulus nanti. Pengetahuanku akan ilmu pengetahuan masih minim. Dua tahun lalu, saat beberapa teman bertanya dimana aku akan kuliah nanti, Aku hanya terdiam. Pernah sekali aku menjawab karena terpaksa, jika Aku bisa, Aku ingin menjadi salah satu mahasiswi geofisika IPB. Serentak, beberapa teman yang prestasinya di atasku, tertawa dengan terbahak-bahak. Aku dilecehkan, karena bisa dikatakan nilai fisikaku rendah. Tetapi, bagiku bukan nilailah yang terpenting. Asalkan sudah mengerti pelajaran, itu merupakan suatu nikmat yang begitu berharga bagiku. Wajahku mulai memerah, mata ini mulai meneteskan air mata kembali. Tuhan, Aku berharap buatlah Aku tersenyum walau hanya sesaat. Mungkin karena keinginanku yang tinggi menjadi mahasiswi geofisika IPB, di tertawakan di kelas itu sudah biasa bagiku. Mengapa tidak, bagi sekolah kami, siswa yang mengenakan almamater IPB jika tamat nanti hanyalah bagi siswa peringkat kelas saja. Aku? Jika ditanya ingin, Aku amat ingin. Tapi apa daya, menjadi salah satu siswi untuk mengikuti seleksi mahasiswa undangan saja Aku tak lulus. Aku bersyukur atas apa yang tuhan anugrahkan padaku, hidupku, serta bumi yang masih layak untuk di tempati bagi orang kotor seperti Aku. Aku tertarik pada Ilmu Bumi, karena Aku ingin mengubah dunia. Saat semua orang berbondong-bondong menjadi salah satu mahasiswa pertambangan, nuklir, perminyakan, partikel atom, dsb, Aku ingin menjadi teman dan melindungi Bumi. Saat teknologi menghasilkan senyawa kimia seperti karbon dioksida, Aku ingin menghasilkan oksigen. Serta saat dimana plastik mulai merajalela, bisakah Aku menghilangkannya tanpa merusak bumi?. Tiga tahun Aku menjadi siswi SMA Negeri 1 Payakumbuh, tiga tahun pula Aku mempelajari tentang Ilmu Alam dan Bumi. Alhamdulillah, dengan mempelari Geosains, Aku mendapatkan pengalaman baru. Dua tahun berturut Aku mengikuti ajang bergengsi Olimpiade Tingkat Provinsi dengan mata pelajaran Geosains. Tanpa ditertawakan dan dicemooh khalayak banyak, belum tentu Aku bisa meraih juara 2 dan 3 OSN yang kuikuti. Bagiku, bukan prestasi apa yang telah kuraih hingga umur 17 tahun ini. Bukan sebanyak apa uang yang di dapat jika suatu saat Aku bekerja nanti. Tetapi, pelajaran apa yang berharga dalam hidupku selama ini, serta apa yang bisa kuberikan pada dunia, agar bumi tetap terjaga kelestariannya untuk generasi masa depan.

Nama : Larena Yudisa Putri Kelas : XII IPA 1 Asal Sekolah : SMA Negeri 1 Payakumbuh

Banyak hal yang telah kupelajari dari bumi sebagai rumahku, banyak hal pula yang menyebabkan bumi rusak dari tangan-tangan pembuat onar. Jika Aku di bolehkan untuk menulis, Aku ingin menulis sebuah surat untuk presiden. Politik itu penting, tapi Alam sebagai lokasi politik harus sangat di pentingkan. Untuk itulah, kuketik sebuah catatan kecil kepada Bapak, Ibu, serta kakak-kakak yang kini menjadi salah satu keluarga besar Institut Pertanian Bogor. Siapapun kita, dimana kita berada, lindungilah Bumi. Cukup membuang sampah pada tempatnya saja itu sudah membuat bumi tersenyum. Jika di izinkan oleh sang Maha Kuasa, Aku ingin menjadi salah satu bagian dari Keluarga Besar Institut Pertanian Bogor. Karena dengan menjadi mahasiswa Geofisika dan Meteorologi IPB, impian pertamaku hampir terwujudkan. Jika kamu bertanya apakah Aku mempunyai mimpi, akan ku jawab iya. Jika kamu bertanya berapa banyak impianku, Yaitu lebih banyak dari kumpulan impian semua orang. Jika kamu bertanya apa mimpi pertamaku, Aku akan tersenyum, dimana impianku adalah sebuah mimpi yang belum bisa diwujudkan bahkan oleh Guru Besar atau Profesor sekalipun. Jika kamu memaksaku untuk menjawab pertanyaanmu, Aku ingin kamu tertawa. Dengan menertawakanku, saat itulah tanganku bisa menggapai impian ini. Aku ingin menghilangkan plastik, tanpa menggunakan bahan kimiawi ataupun api, dan sebagainya, untuk mencegah globalisasi. Tertawalah sekeras mungkin. Tertawalah !. Dengan menertawakanku, langkah kakiku menuju IPB untuk menggapai mimpi akan segera terwujud. IPB, tunggulah mahasiswimu ini. Aku akan membanggakanmu, seperti Aku membanggakan orang tersayang bagiku. Sekian dari suratku ini. Ini ceritaku, ini impianku. Apa impianmu, wahai Institut Pertanian Bogor?.