Anda di halaman 1dari 17

1

PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN TERHADAP KEMAMPUAN KELUARGA MENSTIMULASI PERKEMBANGAN ANAK USIA 0 12 BULAN

Oleh : Andi Lis Arming Gandini NPM. 220 120 110524

PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan hidayah-Nya jualah akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap kemampuan keluarga menstimulasi perkembangan anak usia 0 12 bulan. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah

Metodologi Penelitia. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu Dosen Mata kuliah ini yang telah membimbing dan memberikan arahan beserta saran - sarannya yang sangat membantu dalam penyelesaian makalah ini. Penulis sangat menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih sangat jauh dari

kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan masukan dan saran guna kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat terutama bagi penulis sendiri dan bagi para pembaca pada umumnya. Atas perhatian dan bantuannya penulis ucapkan terima kasih.

Bandung, Mei 2012 Penyusun,

Andi Lis Arming Gandini

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

....

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang B. Rumusan masalah C. Tujuan penelitian ...

D. Kegunaan penelitian ...

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN A. Tinjauan umum tentang penyuluhan kesehatan

B. Pengetahuan, sikap dan perilaku ibu dalam memberikan stimulasi perkembangan anak ................... C. Kebutuhan untuk mengoptimalkan perkembangan kemampuan dasar Anak

BAB III PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN KEMAMPUAN KELUARGA MENSTIMULASI ANAK USIA 0 12 BULAN

TERHADAP

PERKEMBANGAN

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ... B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang. Anak mempunyai potensi dan kemampuan yang dahsyat yang harus dikembangkan agar dapat menjadi sumber daya manusia yang handal kelak dikemudian hari. Menurut Soerdojojo. (2000) Anak mempunyai hak hak yang salah satunya adalah hak untuk berkembang (Developmental Rights). Ketika anak sudah tumbuh maka anak harus mendapatkan stimulasi stimulasi agar bisa berkembang sesuai dengan tahap perkembanganya. Upaya pembinaan kesejahteraan anak pada Dasawarsa Anak Indonesia kedua Tahun 1996 2006 diarahkan pada pembinaan kelangsungan hidup, perkembangan dan perlindungan dan partispasi anak dengan penekanan pada pembinaan perkembangan anak. (Depkes, 1998) Dalam artian umum anak adalah pewaris, dan calon pengemban bangsa. Secara lebih dramatis dikatakan bahwa anak merupakan modal sosio-ekonomi suatu bangsa. Menurut Sunarwati,(1996) Dalam artian individual, anak bagi orang tuanya mempunyai suatu nilai khusus yang penting pula. Dalam kedua aspek tersebut, yang diharapkan adalah agar anak dapat tumbuh dan berkembang sebaik baiknya sehingga kelak menjadi orang dewasa yang sehat, baik secara fisik, mental dan

psikososial sebagai sumber daya manusia yang berkualitas. Tahun tahun pertama kehidupan merupakan kurun waktu yang sangat penting dan kritis yang merupakan masa / tahun tahun keemasan (Golden Priod), dengan demikian sudah selayaknya dimanfaatkan secara maksimal. Dalam ekologi anak system mikro dan system mini (keluarga)

adalah yang dekat dan penting serta mempunyai peranan utama dalam proses perkembangan anak yang pada tahun tahun pertama kebutuhan

dasarnya (Asuh, asah, asih)

secara totalitas

bergantung dengan

lingkungan keluarga terutama ibu yang sering berinteraksi dengan anak. Perkembangan anak dapat dicapai secara optimal apabila orang tua terutama ibu melakukan berbagai upaya dalam rangka pemenuhan kebutuhan asuh, asah, asih yang salah satunya adalah menstimulasi perkembangan anak. Stimulasi merupakan hal yang sangat penting. Anak yang sering mendapat stimulasi yang terarah akan lebih cepat berkembang dibandingka dengan anak yang kurang atau bahkan tidak mendapat stimulasi. Namun dalam realitanya masih banyak orang tua yang tidak memahami bagaimana mengasuh anak secara efektif, menstimulasi anak untuk mencapai perkembangan yang optimal. Dari penjelasan tersebut diatas menunjukkan bahwa kebutuhan anak akan stimulasi perkembangan sangatlah penting untuk mencapai perkembangan yang optimal. Penyuluhan kesehatan merupakan strategi yang tepat untuk menyiapkan dan meningkatkan kemampuan orang tua (terutama ibu) dalam berperan secara aktif dalam menstimulasi

perkembangan anaknya.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian dan latar belakang di atas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimakah pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap kemampuan ibu menstimulasi perkembangan anak usia 0-12 bulan ?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum. Untuk mengetahui Pengaruh Penyuluhan Kesehatan terhadap Kemampuan Keluarga Menstimulasi Perkembangan Anak Usia 0 12 Bulan

2. Tujuan Khusus. a. Untuk mengetahui Pengaruh Penyuluhan Kesehatan terhadap Peningkatan Pengetahuan Ibu mengenai Pemberian Stimulasi Perkembangan Anak. b. Untuk mengetahui Pengaruh Penyuluhan Kesehatan terhadap Peningkatan Sikap Ibu mengenai Pemberian Stimulasi

Perkembangan Anak. c. Untuk mengetahui Pengaruh Penyuluhan Kesehatan terhadap Peningkatan Perilaku Ibu mengenai Pemberian Stimulasi

Perkembangan Anak.

D. Kegunaan Penelitian 1. Aspek Teoretis Untuk pengembangan ilmu keperawatan yang terkait dengan Pengaruh Penyuluhan Kesehatan terhadap Kemampuan Keluarga Menstimulasi Perkembangan Anak Usia 0 12 Bulan 2. Aspek Praktis Dapat memberikan informasi tentang penyuluhan terhadap pengaruh kesehatan terhadap kemampuan keluarga menstimulasi perkembangan anak.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Penyuluhan Kesehatan. Penyuluhan kesehatan identik dengan pendidikan kesehatan karena

keduanya beriorentasi kepada perilaku yang diharapkan yaitu perilaku sehat, sehingga mempunyai kemampuan mengenal masalah kesehatan dirinya, keluarga dan kelompoknya dalam meningkatkan kesehatannya. Menurut Azrul Azwar (1998) penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyaratakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan.

B. Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Ibu Dalam Meberikan Stimulasi Perkembangan Anak. Pengetahuan biasanya di dapat dari pengalaman, dari guru, dari orang tua, teman, buku dan media massa. Pengetahuan ini ini dapat membentuk keyakinan tertentu sehingga seorang berprilaku sesuai keyakinan tersebut (Depkes RI, 1998). Natoatmodjo(2003), mengatakan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu akibat dari proses penginderaan terhadap suatu obyek. Penginderaan tersebut terjadi sebagian besar berasal melalui pengelihatan dan penginderaan Penilaian pengetahuan pada umumnya dilakukan melalui test dan wawancara dan alat bantu kuesioner berisi materi yang ingin diukur dari responden (Aswar, 1997)

Menurut Notoatmojo (2003), sikap merupakan reaksi yang masih tertutup, tidak dapat dilihat secara langsung. Sikap hanya dapat diitafsirkan dari perilakuyang nampak. Kartono (1990). Menyatakan bahwa sikap seseorang adalah predisposisi (keadaan mudah terpengaruh) untuk memberikan tanggapan terhadap rangsangan lingkungan yang dapat memuli atau membimbing tingkah laku orang tersebu. Secara definitif sikap berarti suatu keadaan jiwa dan keadaan pikir yang dipersiapkan untuk memberikan tanggapan. Menurut Sarwono (1997) perilaku manusia merupkn hasil dari segala mcam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan respon / reaksi seseorang individu terhadap stimulasi yang berasal dari luar atau mendapat informasi tentang objek tersebut seperti penyuluhan kesehtan, maka inividu tersebut berusah untuk mngubah perilakunya. Menurut Mantra (1997) perilaku ialah respon individu terhadap stimulsibaikm yang berasal dari luar maupun dari dlm dirinya.

C. Kebutuhan Untuk mengoptimalkan Perkembangan Kemampuan Dasar Anak. Orang tua mempunyai kewajiban untuk mendampingi dan memberi rasa aman, sehingga anak mampu mengembangkan kemampuan dasarnya dengan optimal perlu stimulasi dari orang tua agar bayi mampu melakukan tugas perkembangannya, pemberian stimulasi ini dapat dilakukan setiap saat, jika bayi siap melakukannya, baik saat makan ,mandi, bermain bahkan menjelang tidur.

1. Motorik Kasar. Pada walnya, ketika bayi diangkat, kepala akan terkulai ke belakang atau ke depan. Tetapi, menjelang bulan ketiga, ia mulai mampu

mengendalikan kepalanya. Otot-otot lehernya mulai kuat, namun pada saat bayi diangkat, kepalanya masih belum tegak benar. Jika sampai dengan usa 3 bulan kepalanya masih terkulai ke belakabg atau ke depan, berarti dia belum mampu mengendalikan kepalanya, yang kemungkinan diseabkan otot-otot lehernya belum kuat. Untuk itu perlu diberikan stimulasi dengan cara anak diangkat badannya, atau diletakkan di tempat tidur atau dilantai yang sudah diberi kasur tipis dengan posisi tengkurap. Lalu panggil namanya agar terdorong untuk mengangkat atau menggerakkan kepalanya. Jika ia tampak kelelahan atau menangis segera kembalikang keposis terlentang. Ulangi hal ini beberapa kali dalam sehari Dalam posis duduk, awalnay ia akan terguling sepeerti bola. Menjelang bulan ketiga, kepalanya sudah mulai ditegakkan walaupun Cuma sebentar. Twetapi, bayi masih harus dibantu untuk duduk karena otot punggung yang belum berkembang baik. Itupun untuk waktu yangtidak lama. Pada awal 3 bulan bayi memeng belum dapat didudukkan sendiri tanpa bantuan. Misalnya dengan mendudukannya dalam posisi dipngku dengan menghadap ke depan, sehingga tidak terlalu membebani tulang punggungnya. Jika didudukkan sendiri atau dipaksakan duduk dalam posisis tanpa bantuan, kelak akan membuat punggungnya menjadi bungkuk. Untuk membantu agar bayi dapat uduk dengan bantuan, bayi

10

perlu dilatih agar otot punggungnya menjadi kuat. Cara melatihnya, selain dipijat, juga dengan cara stimulasi agar ia mau mengangkat kepala dan bahunya dalam posisi tengkurap Dalam posisi tengkurap, awalnya kepalanya tidak bisa diangkat, lutut tertekuk berada di bawah perut, namun menjelang bulan ketiga, ia mulai mampu mengangkat kepala dan bahunya bertumpu pada kedua tangannya Jika sampai dengan usia 3 bulan bayi belum dapat mengangkat kepala maupun bahunya , kemungkinan otot-otot lehernya dan atangannya yang belum kuat, oleh karena itu perlu distimulasi dengan cara diajak bermain dalam posisi tengkurap, sama seperti untuk melatih mengangkat kepala. Pada posisi berdiri awalnya, ketika bayi diangkat dan kedua kakinya menyentuh suatu permulkaan, ia kanamenggunakan gerak refleks berjalan, tetapi menjelang bulan ketiga, kedua kakinya sudah mulai ckup kuat untuk menopang tubuhnya sesaat kemudian terjatu dengan lutut tertekuk. 2. Motorik halus Memberikan reaksi dengan melihat ke arah sumber cahaya ( misalnya dari lampu senter yang digerakkan ke kiri dan ke kanan). 3. Berbicara, berbahasa dan kecerdasan Selain menangis, bayi juga mengeluarkan suara-suara lain seperti ketika cegukan, bersin, bersendawa suara. Mengoceh dan memberikan reaksi terhadap

11

4. Personal social Stimulasi atau latihan perkembangan yang perlu diberikan pada anak umur sampai 3 bulan: a. Menunjukkan rasa cinta, kasih saying dan rasa aman dengan : Berbicara dengan lembut Memeluk dan mencium anak Membuai dan menimang anak

b. Menirukan ocehan, gerakan dan mimik anak Mengajak anak bicara dan memperdengarkan berbagai suara c. Melatih anak membalikkan badan dari telentang ke telungkup Bantulah memiringkan badan anak ketika telentang sampai ia dapat membalikkan badannya sendiri. d. Melatih anak mengangkat kepalanya ketika telungkup,

memperhatikan benda-benda bergerak. Perlihatkan benda yang menarik atau berwarna menyolok ketika anak telungkup agar ia mengangkat kepalanya. e. Melatih anak menggenggam benda. Sentuhkan pensil pada punggung tangan atau ujung jari anak agar ia belajar menggenggam.

12

Kemampuan perkembangan yang perlu dicapai anak pada umur 3 6 bulan: a. Motorik Kasar Bayi sudah mampu menggerakkan kepalanya, dalam posisi berbaring ia dapat mengangkat kepalanya dengan tegak lurus, lalu berputar memandang sekelilingnya Bayi sudah dapat di dudukkan tegak lurus, namun dengan bantuan di bagian belakang punggungnya. Seperti ketika di pangku dalam posisi duduk menghadap kedepan. b. Bayi sudah mulai mampu mengangkat kepala dan dadanya pad posisi tengkurap; kemudian belajar beguling dari posisi telentang ketengkurap atau sebaliknya; setelh itu dengan mudah ia akan bergulingan ditempat tidur. c. Menjelang bulan keenam, kakinya sudah mulai kuat menopang tubuhnya, namun hanya sesaat saja, krena otot kakinya belum berkembang sempurna, Mengangkat kepala dengan tegak pada posisi telungkup.

13

BAB III PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN TERHADAP KEMAMPUAN KELUARGA MENSTIMULASI PERKEMBANGAN ANAK USIA 0 12 BULAN

Bayi risiko tinggi ialah bayi yang secara klinis belum menunjukkan hambatan perkem-bangan tetapi berpotensi untuk mengalami gangguan

perkembangan akibat faktor risiko biomedik maupun lingkungan psikososial, atau sosial ekonomi yang dialami sejak masa konsepsi sampai masa neonatal. Plastisitas otak adalah kemampuan susunan saraf untuk menyesuaikan diri berupa perubahan anatomi, kemampuan neurokimiawi atau perubahan metabolik. Stimulasi dini adalah rangsangan auditori, visual, taktil dan kinestetik yang diberikan sejak perkembangan otak dini, dengan harapan dapat merangsang kuantitas dan kualitas sinaps sel-sel otak, untuk mengoptimalkan fungsi otak. Stimulasi dini harus memperhatikan tahapan maturasi otak, waktu, jenis stimulasi, cara melakukan stimulasi, intensitas, perbedaan individual, keterpaduan dan dukungan program lain yang berkelanjutan. Peran dokter dan perawat di ruang bayi baru lahir, serta orangtua sangat penting, oleh karena itu mereka perlu dibekali pengetahuan dan ketrampilan mengenai stimulasi dini (Soedjatmiko, 2006). Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang pada anak diantaranya adalah faktor keluarga. Kemampuan keluarga dalam melakukan stimulasi tumbuh kembang sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh keluarga terutama ibu. Untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal, harus dilakukan stimulasi pertumbuhan dan

14

perkembangan sejak sedini mungkin, yaitu dimulai dari tahun pertama kehidupan anak pada usia 0-12 bulan. Desain penelitian dengan menggunakan quasi experiment two group design pre dan post test. Responden penelitian ini sebanyak 35 ibu-ibu yang memiliki anak usia bayi dan bertempat tinggal diwilayah Puskesmas Kalibagor Kabupaten Banyumas yang memenuhi kriteria inklusi. Cara pengambilan sampel dengan quota sampling. Responden dibagi menjadi 2 kelompok; 18 responden sebagai kelompok intervensi dan 17 responden sebagai kelompok kontrol. Rata-rata pengetahuan tentang stimulasi tumbuh kembang bayi pada saat pre test dan post test untuk kelompok intevensi terdapat perbedaan yang signifikan dengan nilai p =0.003, sedangkan untuk rata-rata ketrampilan pada saat pre test dan post tidak terdapat perbedaan yang signifikan dengan nilai p =0.126. Pada kelompok control didapatkan rata-rata pengetahuan tentang stimulasi tumbuh kembang bayi pada saat pre test dan post test terdapat perbedaan yang signifikan dengan nilai p=0,031, sedangkan untuk tingkat ketrampilan tidak terdapat perbedaan pada saat pre test dan post test dengan nilai p=0.107 (Wijayanti, 2006). Penelitian Purwandari (2012) Kebutuhan informasi pada keluarga untuk tidak menimbulkan dampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan pada bayi dengan memberikan intervensi kepada keluarga dengan memberikan pengetahuan dan stimulasi. Perilaku yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan bayi (aspek personal sosial, bahasa, motorik kasar dan motorik halus) pada kelompok yang diberikan intervensi pada kelompok kontrol.

15

Berdasarkan uraian diatas, Perawat mempunyai peran yang strategis dalam meningkatkan kemampuan keluarga khususnya ibu, sehingga ibu mempunyai kemampuan melakukan stimulasi tumbuh kembang untuk membantu

mengoptimalkan kesehatan anak. Perawat perlu memberikan penjelasan yang akurat tentang stimulasi tumbuh kembang, sejauhmana manfaat dari stimulasi yang diberikan, hal-hal yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak, bagaimana orang tua harus bersikap dan sebagainya. Penjelasan ini akan sangat bermanfaat bagi orang tua sehingga orang tua dapat melaksanakan peran dan fungsinya, sehingga fungsi keluarga dalam hal perawatan kesehatan akan berkembang dengan optimal, serta fungsi keluarga yang lainnya tidak akan terganggu.

16

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Strategi untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam tumbuh kembang anak dengan memberikan pengetahuan dan stimulasi kepada ibu. pengetahuan dan stimulasi yang diberikan berupa penjelasan tentang perkembangan anak, stimulasi yang diberikan dapat bermanfaat bagi orang tua dalam melaksanakan peran dan fungsi keluarga sehingga perawatan kesehatan akan lebih optimal.

B. Saran Diharapkan keluarga dapat mengetahui tahap tumbuh kembang anak sehingga tidak berdampak terhadap kesehatan anak.

17

DAFTAR PUSTAKA

Azwar Azrul, (1998). Deteksi Dini Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan Anak, EGC, Jakarta Depkes RI, (1998), Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak, Departemen Kesehatan, Jakarta Notoatmodjo, S. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta Purwandari, dkk. (2012). Family-based Empowerment Model to Improve Infant Growth and Development. International Nursing Conference. Soedjatmiko. (2006). Pentingnya Stimulasi Dini untuk Merangsang Perkembangan Bayi dan Balita Terutama pada Bayi Risiko Tinggi. Sari Pediatri, Vol 8, No 3, Wijayanti, (2006). Dampak Penggunaan Modul Terhadap Peningkatan Pengetahuan Dan Ketrampilan Keluarga Dalam Menstimulasi Tumbuh Kembang Bayi. Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume 1, No.2.