Anda di halaman 1dari 11

KERAGAMAN TAFSIR AL-QURAN KONTEKS INDONESIA KERAGAMAN TAFSIR AL-QURAN KONTEKS INDONESIA Oleh : Prof. Dr. M.

Yunan Yusuf A. Pendahuluan

Waktu itu, saya hendak memulai penulisan disertasi untuk program S3 Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berjudul Corak Pemikiran Kalam Tafsir Al-Azhar. Tafsir AlAzhar adalah salah satu tafsir Quran yang dihasilkan oleh mufassir Indonesia, yakni Buya Hamka. Agar pengetahuan tentang Tafsir Al-Azhar tersebut lebih konprehensif, saya merasa perlu memperoleh sebuah gambaran awal tentang karakteristik Tafsir Quran yang ada di di Indonesia pada abad keduapuluh. Untuk keperluan itu saya melakukan sebuah penelitian individual dan menulis sebuah artikel tentang tafsir Quran di Indonesia pada abad keduapuluh. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan oleh Jurnal Ulumul Quran di bawah judul Karakteristik Tafsir Al-Quran di Indonesia pada Abad Keduapuluh. Sedangkan artikelnya dengan judul Perkembangan Metode Tafsir di Indonesia, dimuat oleh majallah Pesantren, yang diterbitkan oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, disingkat P3M. Penelitian tersebut dilakukan pada tahun 1990 dengan objek kajian 9 tafsir. Kesembilan tafsir itu adalah tafsir yang diawali oleh Mahmud Yunus dengan Tafsir Quran Karim Bahasa Indonesia sebagai titik awal, sampai kepada Tafsir Rahmat karya H. Oemar Bakry sebagai titik akhir. Tafsir Quran Karim Bahasa Indonesia mulai ditulis Mahmud Yunus pada tahun 1922, sedangkan Tafsir Rahmat, penerbitan perdananya pada tahun 1981. Di tengah rentangan kedua tafsir di atas dijumpai Al-Quran Tafsir Quran karya A. Hassan, Tafsir Al-Quran Karim karya tiga orang ulama asal Sumatera Timur, yakni Ustadz H.H. Halim Hassan, H. Zainal Arifin Abbas dan Abdurrahim Haitami, Tafsir Al-Azhar karya Hamka, Tafsir Quran karya H. Zainuddin Hamidi dan Fachruddin HS, dua tafsir, Tafsir Al-Quran Al-Majid Al-Nur dan Tafsir Al-Quran al-Karim al-Bayan karya Prof. Dr. TM. Hasby Ash-Shiddieqy dan Al-Quran dan Terjemahnya oleh Tim Departemen Agama. Dewasa ini sudah terlihat banyak kemajuan dalam penulisan tafsir Quran. Bukan saja kemajuan dari jumlah/kwantitatifnya, tetapi juga kemajuan dari sisi metodologis dan kandungan penafsirannya. Bila pada penelitian yang lalu tidak ditemukan penulisan tafsir yang mempergunakan metode mawdhui, maka sekarang metode mawdhui kelihatannya menjadi trend baru dalam penulisan tafsir Quran di Indonesia. Tema-tema seperti ekonomi, politik, gender, hubungan antar agama, serta mengungkap kembali konsep-koksep klassik yang dirujuk kepada al-Qurtan seperti kufur , takdir, laylat al-qadar, Muhammad SAW, meramaikan kemunculan tafsir-tafsir Quran tersebut. Karya-karya seperti Ensiklopedi Al-Quran karya Dawam Rahardjo, Konsep Kufr dalam AlQuran, karya Harifuddin Cawidu, Tafsir Bil Matsur Pesan Moral Al-Quran dan Tafsir Sufi AlFatihah Mukaddimah, karya Jalaluddin Rahmat, Tafsir Tematik Al-Quran Tentang Hubungan

Sosial Antarumat Beragama, karya Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpian Pusat Muhammadiyah, Tafsir Al-Ahkam, karya Syekh Abdul Halim Hasan, Tafsir Hikmah Sekitar Ibadah, Muamalah, Jin dan Manusia, karya Prof. Dr. Juhaya S. Praja, Tafsir Al-Hijri, Kajian Tafsir Al-Quran Surat An-Nisa, karya KH. Didin Hafidhuddin, Dalam Cahaya AlQuran Tafsir Ayat-ayat Sosial Politik, karya Syubah Asa, Wawasan Al-Quran, karya Quraish Shihab, Tafsir Kebencian, Studi Bias Gender dalam Tafsir Quran, karya Hj. Zaitunah Subhan dan Tafsir Emansipatoris, Arah Baru Studi Tafsir Al-Quran, karya Hendar Riyadi, MA. Kehadiran Tafsir Al-Mishbah, karya masterpiece Quraish Shihab memperkokoh perkembangan maju dari penulisan tafsir Quran di Indonesia.

B.

Sinopsis studi terdahulu

Apa isu yang dapat dijadikan penemuan pada tafsir Quran terdahulu ? Pertama-tama harus disebut adalah terobosan yang bersifat dobrakan dilakukan oleh Mahmud Yunus. Sebelum kehadiran Mahmud Yunus dengan tafsrinya Tafsir Quran Bahasa Indonesia, menafsirkan AlQuran masih dipandang haram. Saat itu menterjemahkan dan menafsirkan Al-Quran di luar bahasa Arab belum dapat diterima oleh para ulama. Itulah sebabnya Mahmud Yunus mendapat kecaman dari sebagian ulama yang tidak seutuju penafsiran Al-Quran tersebut. Yunus dikatakan sedang mengerjakan perkerjaan yang haram. Dengan alasan inilah barangkali Yunus pertama sekali menulis kayanya itu bukan dengan huruf Latin, tetapi dengan huruf Arab Melayu. Menurut Federspiel, beberapa tahun kemudian, ketika menjadi seorang mahasiswa di Universitas Al-Azhar, Mesir, dia memperoleh dorongan dari seorang dosen di sana. Dosen tersebut menjelaskan bahwa penerjemahan yang Anda lakukan dimaksudkan untuk memberitahu ummat Islam bahwa menterjemahkan Al-Quran itu diperbolehkan (mubah) dalam hukum Islam. Karena penerjemahan membantu Muslim non Arab untuk memahami ajaran Islam, maka ia merupakan perbuatan yang bermanfaat (fardhu kifayah). A.Hassan yang menulis tafsir Al-Furqan Tafsir Quran tidak lagi mengalami situasi pengharaman tersebut, sehingga ia langsung menulis tafsirnya dengan huruf Latin. Situasi yang dihadapi oleh Hassan adalah hiruk pikuk perdebatan masalah-masalah khilafiyah, yakni pertentangan antara kaum tradisional atau kaumtua dan kaum modernis atau kaum muda. Isu sentral ketika itu adalah di seputar apakah setiap muslim tetap berpegang teguh pada pendapat mazhab dengan keharusan taqlid, atau boleh tidak berpegang kepada mazhab, tetapi kembali kepada Al-Quran dan Sunnah dengan mepergunakan ijtihad. Pada tahun 2006 tafsir ini diterbitkan kembali oleh Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) bekerja sama dengan Penerbit Pustaka Mantiqi, Yayasan Ambadar Jakarta. Penerbitan tahun 2006 dengan penambahan judul sehingga judulnya menjadi Al-Furqan Tafsir Quran (Edisi Bahasa Indonesia Mutakhir). Tafsir Quran karya tiga serangkai Al-Ustadz A. Halim Hasan, H. Zainal Arifin Abbas dan Abdurrahim Haitami juga berada dalam suasana seperti yang dihadapi oleh A. Hassan. Perobahan zaman menuju peralihan sedang terjadi. Faham statis digantikan oleh faham dinamis menuju proses perobahan terutama dalam bidang pendidikan. Tapi berbeda dengan A. Hassan

ketiga serangkai ini tidaklah meninggalkan mazhab. Secara umum penggerak-penggerak Islam di Sumatea Timur yang tidak mau berpegang pada satu mazhab adalah dari persyarkatan Muhammadiyah. Sedang mereka dikenal bukan dari kalangan Muhammadiyah. Beranjak ke situasi politik, Tafsir Al-Azhar karya Hamka ditulis dalam suasana rumah tahanan sebagai akibat dari tahanan politik yang dikenakan terhadap Hamka oleh pemerintah Orde Lama yang dikendalikan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Kehidupan politik yang tidak menentu, bahaya komunisme yang semakin lama semakin mencekam, secara panjang lebar dikisahkan oleh Hamka dalam pendahuluan tafsirnya itu. Agaknya jiwa seniman dan jiwa dakwah Hamka banyak mewarnai penulisan Tafsir Al-Azhar. Keindahan bahasa dengan cinta dan lara, yang kemudian dihiasi dengan seloka dan pantun Minangkabau yang berpadu dalam himbauan untuk lebih dekat kepada Allah SWT. Sikap hidup Hamka yang dipatrikannya dalam ungkapan siang bertongkat tombak besi, malam berkalang kitab suci tergurat dengan sangat kuat dalam semangat teologis Hamka yang memberikan tekanan kuat kepada dinamika manusia yang mempunyai kemerdekaan dalam berkehendakdan berbuat. Sikap teologis seperti inilah kemudian melahirkan semangat kerja keras, tidak mau menyerah kepada keadaan dalam diri Hamka, sehingga ia mematri kredo hidupnya dengan untaian kata , sekali berarti, sesudah itu mati. Dua karya besar Prof. TM. Hasbi Ash-Shiddieqy, yakni Tafsir Al-Quran Al-Majid Al-Nur dan Tafsir Al-Quran al-Karim al-Bayan memperlihatkan suasan lain pula. Tinjauan tentang hukum Islam atau fiqh, menampakkan warna yang cukup jelas. Penafsiran ayat-ayat ahkam lebih panjang lebar diungkap. Ada kritikan terhadap karya ini yang dikatakan merupakan terjemahan dari Tafsir Al-Maraghy. Tetapi Hasbi membantahnya pada penerbitan ulang tafsirnya itu. Al-Quran dan Terjemahnya yang ditulis oleh sebuah Tim Departemen Agama menampak semangat alam pembangunan Indonesia. Apalagi penulis tafsir ini dikatakan merupakan proyek dari Yayasan Penyelenggara/ Penafsir Al-Quran Departemen Agama Republik Indoneisia. Sebuah pengantar panjang yang membicarakan tentang sejarah Al-Quran, Sejarah Nabi Muhammad, Al-Quran dan ilmu pengetahun mengawali tafsir ini. Ada indikasi bahwa pengantar panjang ini diselipi dengan sebuah plagiat terjemahan harfiah dari The Holy Quran, karya Abdullah Yusuf Ali. Tafsir Rahmat karya H. Oemar Bakry juga memperlihatkan corak perkembangan baru itu. Sebuah daftar panjang tentang pengelompokan ayat-ayat Al-Quran seperti keimanan, ibadah, sains dan teknologi, kesehatan, ekonomi, masyarakat dan kenegaraan, budi pekerti luhur dan sejarah, dapat dilihat dalam penulisan tafsir ini. Masalah air susu ibu (ASI) juga mendapat perhatian tafsir ini, yang dalam tafsir-tafsir sebelumnya tidak pernah dijumpai sama sekali. Sekurang-kurangnya ada tiga kesimpulanyang dapat ditemukan dari kajian tersebut. Pertama, dari sudut metode penafsiran pada umumnya tafsir Quran di Indonesia adalah sama. Sebahagian besar tafsir tersebut tidak mempergunakan sumber secara eksplisit, kendatipun sumber-sumber itu disebut dalam daftar marajinya. Kedua, dari sudut teknik penafsiran ditemukan dua kelompok tafsir. Kelompok pertama tafsir

yang mempergunakan teknik sederhana, yakni dimulai dari penyajian arti ayat-ayat Al-Quran , kemudian baru diberikan penafsiran globalnya. Sebagian besar tafsir Quran di Indonesia mempergunakan teknik penafsiran seperti ini. Kebalikan dari itu adalah teknik kelompok kedua. Yakni mempergunakan teknik yang lebih luas. Setelah dikemukakan terjemahan ayat, kemudian diberikan penafsiran secara panjang lebar. Dalam penafsiran panjang lebar tersebut diberikan juga arti kata yang terdapat dalam ayat-ayatnya. Ketiga, dari sudut aliran teologi, aliran teologi tradisional mendominasi penafsiran Quran di Indonesia. Penafsiran dari ayat-ayat mutasyabihat mempertegas kebenaran kesimpulan ini. Hanya sebagian kecil saja dari tafsir-tafsir itu yang menampilkan penafsiran yang bukan harfi yakni takwil, sebagaimana yang dianut oleh aliran teologi liberal. Sebagaimana diketahui pemikiran kalam tradisional adalah pemikiran kalam yang tidak memberikan kebebasan berkehendak dan berbuat kepada manusia, daya yang kecil bagi akal, kekusaan dan kehendak mutlah Tuhan yang berlaku semutlak-mutlaknya, serta terikat pada makna harfi dalam memberikan interpretasi ayat-ayat Al-Quran. Sedangkan pemikiran kalam rasional adalah pemikiran kalam yang memberikan kebebasan berbuat dan bekehendak kepada manusia, daya yang kuat kepada akal, kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan yang terbatas, tidak terikat kepada makna harfiah dan banyak memakai arti majazi (metaforis) dalam memberikan intepretasi terhadap ayat-ayat Al-Quran.

C.

Sebuah tinjauan selayang pandang tentang keragaman

Kata keragaman dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari akar kata ragam yang berarti macam atau jenis. Jadi bila disebut keragaman berarti perihal beragam-ragam, bermacam atau berjenis-jenis. Dari data yang tersaji di atas, keragaman tafsir Quran di Indonesia diperlihatkan dari tema dan issu yang dijadikan topik bahasan atau kajian yang djadikan sebagai bahan bagi penafsiran. Tema dan issu ini memperlihatkan kekayaan intelektual dalam kajian tafsir AlQuran yang muncul sekarang ini di Indonesia. Tijauan lanjutan ini hendak berupaya memberikan gambaran sepintas tentang keragaman tersebut. Pertama sekali disebut adalah Ensiklopedi Al-Quran karya Dawam Rahardjo. Sesuai dengan namanya, tafsir ini memang mempergunakan pendekatan ensiklopedis. Tafsir ini berasal dari kumpulan artikel Dawam dalam kolom khusus Jurnal Ulumul Quran. Dengan pendekatan ensiklopedis tersebut Dawam tidak mempergunakan metode tahlili, tetapi metode maudhui, yang memuat sebanyak 27 entri atau topic dimulai dari entri fitrah dan ditutup dengan entri amr maruf nahy munkar. Namun perlu dicatat disini, bahwa Dawam tidak mempergunakan seutuhnya langkah-langkah yang harus ditempuh bila mempergunakan metode maudhui, sebagai mana yang dirumuskan oleh Al-Farmawy. Oleh sebab itu tidak berlebihan sebuah komentar tentang hal ini diberikan oleh Nasarudin Umar, sebagaimana ulasannya : Jika dalam tafsir mawdhui penekanannya adalah penjelasan makna suatu ayat melalui ayat-ayat lain, yang dilengkapi dengan riwayatriwayat yang berkenaan dengan ayat tersebut, maka yang dominan dalam Ensiklopedi Al-Quran adalah penjelasan suatu tema dengan konsep-konsep non ayat dan non hadis. Jadi, unsure luar yang lebih dominan dijadikan alat untuk memahami suatu tema. Belum jelas apakah ayat lebih

kuat menjustifikasi teori, atau teori yang lebih kuat menjustifikasi ayat. Konsep Kufr dalam Al-Quran, karya Harifuddin Cawidu menyatakan dengan jelas bahwa tafsir ini mempergunakan metode mawdhui (tematik). Karya ini berasal dari disertasi doctor penulisnya pada Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Disertasi ini dia pertahankan pada sidang ujian doctor pada tanggal 27 Maret 1989, sudah itu diterbitkan pada tahun 1991. Hal ini dijelaskan oleh penulisnya. Metode yang dipilih untuk studi ini adalah mawdhui karena menurut hemat penulis, metode inilah yang paling tepat, setidak-tidaknya hingga saat ini untuk digunakan mengkaji konsep-konsep Al-Quran tentang suatu masalah bila diharapkan suatu hasil yang utuh dan konprehensif. Meskipun metode tafsir mawdhui yang mendasari pendekatan dalam studi ini, namun dalam menganalisis masalah, pendekatan lainpun tentu turut berperan. Seperti disebut di atas, semua ilmu bantu yang dapat lebih meperjelas masalah dapat saja digunakan dalam metode tafsir mawdhui sepanjang pendekatan itu relevan dengan masalah yang dibahas. Sebuah tafsir Qur;an yang agak unik adalah Tafsir Bil Matsur Pesan Moral Al-Quran karya Jalaluddin Rahmat yang akrab disapa dengan Kang Jalal. Keunikan tafsir ini adalah penyajian yang mengikuti metode tematik pesan moral tetapi pada waktu yang sama disajikan dalam bentuk tafsir bil matusr. Di dalam pendahuluan tafsir ini, Kang Jalal mengatalan bahwa tafsir ini mulai dia tulis pada tahun 1992, tepatnya menjelang Ramadhan 1413 Hijriyah, atas permintaan harian Republika untuk menulis kolom dengan judul Marhaban Ya Ramadhan. Pilihan tafsir bilmastur di tengah maraknya penulisan tafsir mawdhui bukan tidak punya alasan. Alasannya adalah untuk memberikan arah bagi masyarakat pencita Al-Quran dalam menafsirkan kitab suci tersebut. Sebagai akibat dari boomingnya perhatian terhadap Al-Quran, maka kegiatan pengajian, dan studi tafsirpun meningkat. Maka setiap orang merasa berkompeten dan mampu menafsirkan Al-Quran. Sebagian lagi dengan bebas menafsirkan Al-Quran tanpa bantuan Ilmu-ilmu Al-Quran (Ulumul Quran). Tidak jarang mereka menafsirkan yang anehaneh, dan akhirnya menafikan tafsir-tafsir yang lain. Sebagian lagi mengusulkan penafsiran kontekstual. Kita harus memahami ayat dengan melihat latar belakang historisnya. Kita harus melihat bagaimana Rasulullah SAW dan para sahabatnya memahami ayat-ayat itu. Sekurang-kurang ada semacam euphoria perhatian terhadap Al-Quran, sehingga memunculkan keinginan yang sangat kuat serta keberanian untuk menggali kandungan Al-Quran tersebut. Kegemaran menstabilo Al-Quran dan Terjemahnya Departemen Agama menjadi bukti fenomena ini. Hal sebagai akibat semakin terpatrinya pemahaman bahwa penafsiran yang paling sahih adalah menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran. Atau dengan kata lain satu ayat AlQuran ditafsirkan dengan ayat Al-Quran yang lain. Sehingga setiap orang memilih ayat lain untuk menafsirkan satu ayat dengan mempergunakan stabilo. Tetapi jangan dilupakan, memilih sembarang ayat Al-Quran untuk menafsirkan ayat Al-Quran yang lain, bisa membawa kepada hal yang menyesatkan. Hal inilah yang dikhawatirkan oleh Kang Jalal, bahwa menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran tanpa metode yang ketat akan menjerumuskan kepada ilusi. Ia merasa menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran, padahal kenyataannya ia hanya menghubungkan-hubungkan ayat-ayat menurut konstruksi teoretis yang

di milikinya (atau bahasa gampangnya menurut seleranya sendiri. Tidak layaknya rasanya melewatkan satu lagi karya tasfir dari Kang Jalal, yakni Tafsir Sufi AlFatihah Mukaddimah, yang terbit pada tahun 1999. Tafsir inilah adalah tafsir yang kedua ditulis oleh Kang Jalal. Bila pada tafsir pertama penafsirannya mempergunakan metode bil matsur, kali ini Kang Jalal memasuki ranah yang agak berbahaya, yakni tafsir sufi dengan mempergunakan metode sufistik. Karena tafsir sufi di dalam tradisi penulisan tafsir Al-Quran cenderung dikafirkan. Namun Kang Jalal memasuki ranah yang berbahaya tesebut dengan sebuah pertanggung-jawaban ilmiyah dan moral. Kang Jalal mulai menafsirkannya dengan sebuah pernyataan bahwa dia sebenarnya bukan menulis tafsir tetapi hanya menuliskan tafsir. Pernyataan ini jelas membersitkan kerendahan hati nan tulus dari seorang alim. Kang Jalal menulis : Saya bukan mufassir. Saya tidak memiliki secuilpun persyaratan seorang mufassir. Saya hanya penulis. Saya hanya menyampaikan apa yang saya baca. Dari kitab-kitab tafsir. Saya hanya akan berbagi informasi. Saya hanya seorang broker yang menjual informasi kepada pembaca. Saya hanya sebuah cerek kecil, yang menampung air dari berbagai sumber, kemudian mengalirkannya kepada siapapun yang kehausanTidak ada yang orisinal. Tidak ada yang baru. Nil novo sub sole. Seperti pelukis, saya hanya mencampur berbagai warna dan mengkombinasikan berbagai garis dan bentuk yang sudah ada. Yang orisinal dari saya mungkin hanya kanvasnya. Sesuai dengan judulnya, tafsir ini baru bersifat mukaddimah, belum menafsirkan surah AlFatihah secara lengkap dan utuh. Dengan predikat mukaddimah tersebut, Kang Jalal memulai urainnya dari menjelaskan perbedaan antara tafsir dan tawil, nama-nama surah Al-Fatihah, fadhilah Al-Fatihah, tafsir istiadzah dan delapan kasykul. Tak pelak lagi kaum muslimin di tanah air, yang membaca mukaddimah ini, pastilah merasa tertunggu-tunggu akan terbitnya Tafsir Sufi Al-Fatihah jilid-jilid selanjutnya. Walaupun tafsir ini tidak menafsirkan Al-Quran secara menyeluruh, namun mengingat masalah yang dimunculkannya adalah masalah krusial dan sedikit agak berbahaya dalam blantika pemikiran Islam di Indonesia, maka menyebut Tafsir Tematik Al-Quran Tentang Hubungan Sosial Antarumat Beragama, sangatlah penting. Tafsir ini adalah karya sebuah tim dari Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam, Pimpian Pusat Muhammadiyah yang pada waktu diketuai oleh M. Amin Abdullah. Majlis Tarjih setelah Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Banda Aceh, 1995, diberi tambahan muatan dengan penambahan nama Pengembangan Pemikiran Islam, sehingga majlis ini mengalami perobahan nama menjadi Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam. Dengan nama dan muatan baru tersebut, Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam memandang perlu memperhatikan dua dimensi wilayah keagamaan dan keislaman secara proporsional sekaligus, yakni religious practical guidance (fatwa dan tutunan keagamaan secara praktis) dan wilayah religious thought (pemikiran keagamaan). Jika sisi pertma bersifat mengikat (sebagaimana ummat Islam terikat pada aturan-turan dan norma-norma ibadah mahdhah), sisi kedua tidak perlu bersifat mengikat. Sisi kedua ini lebih merupakan wacana,dialog atau diskursus yang membuka visi, wawasan, gagasan dan sesitivitas yang sudah barang tentu tidak mesti harus didahului oleh keputusan Majelis Tarjih yang

mengikat - serta lebih menonjolkan aspek analisis akademis terhadap tata nilai,pandangan hidup dan wilayah moralitas publik. Oleh sebab itulah Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mempersiapkan sebuah agenda besar tentang masalah-masalah kontemporer yang dihadapi oleh ummat Islam Indonesia. Salah satu agenda besar itu adalah masalah hubungan antarumat beragama. Hal ini, demikian M. Amin Abdullah Ketua Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam ketika itu - sebagai perwujudan dari komitmen Muhammadiyah untuk membangun keselarasan antara Al-Quran dan harmonisasi dalam hubungan sosial dengan umat beragama lain, termasuk Kristen, dalam payung Negara Kesatuan Republik Indonesia, Muhammadiyah berupaya menyelesaikan problema akademis-scholarshiphermeneutis yang menjadi batu sandung hubungan antar umat beragama di Indonesia. Tafsir Tematik menyimpulkan bahwa perspektif pluralitas agama merupakan salah satu prinsip untuk melihat orang lain agama (the religious other) dan hubungan sosial antar umat beragama pada umumnya. Dalam konteks ini, Tafsir Tematik mengelaborasi konsep Ahli Kitab dalam AlQuran, karena dipandang sebagai prinsip Islam yang sangat penting untuk dipahami dalam rangka membangun hubungan sosial antar umat beragama. Tafsir Tematik ini menyimpulkan secara berbeda dari penafsiran konvensional selama ini, yaitu bahwa Ahli Kitab itu tediri dari Yahudi, Kristen, Majusi dan Sabiun. Ahli Kitab sesungguhnya bisa diperluas sampai Konfusianis, Hindu dan Buddha. Sebab, pendiskreditan komunitas agama tertentu sesungghnya dapat dipandang bertentangan dengan semangat Al-Quran; yang justru memperkenalkan ajaran toleransi dalam hubungan dengan komunitas agama lain. Tapi sayang kesimpulan yang dihasilkan oleh Tafsir Tematik tersebut tidak mendapat perhatian, yang oleh M. Amin Abdullah dikatakan tidak diakui secara resmi atau diterima setengah hati sebagai produk organisasi yang mengikat para anggotanya. Bahkan mendapat penentangan dari warga Muhammadiyah. Walaupun tidak ada kecaman yang frontal terhadap tafsir itu, tetapi dengan tidak pernah diceramahkan kandungan Tafsir Tematik itu dalam pengajian-pengajian Muhammadiyah, menjadi bukti atas penentangan tersebut. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta, Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam dikembalikan namanya menjadi Majlis Tarjih dengan penambahan nomenklatur Tajdid, sehingga Majlis ini bernama Majlis Tarjih dan Tajdid. Apakah ada kaitannya penerbitan Tafsir Tematik ini, dengan terlemparnya nama M. Amin Abdullah dari jajaran calon anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah,pada Muktamar ke-45 di Malang, tahun 2005, masih perlu diteliti lebih lanjut. Dua karya penting dari Quraish Shihab wajib disebut dalam kajian ini. Yakni Membumikan AlQuran, Wawasan Al-Quran dan Tafsir Al-Mishbah Pesan,Kesan dan Keserasian Al-Quran. Kewajiban itu disebabkan karena penulisnya Quraish Shihab adalah mufassir besar untuk kawasan Asia Tenggara. Di samping itu juga penulisannya mewakili dua metode yang lazim dipakai dalam menafsirkan Al-Quran, yakni metode mawdhui dan metode tahlili. Oleh sebab itu, tiga karya Quraish Shihab ini memperkokoh perkembangan maju dari penulisan tafsir Quran di Indonesia.

Karya-karya ini, ditambah dengan Lentera Hati dengan tidak menyebut Tafsir Al-Mishbah yang memaksa Federspiel untuk membicarakan Quraish Shihab dalam bukunya Popular Indonesian Literature of the Quran (PILQ). Sehingga mau tidakmau - walaupun sejak awal maksud itu akan dilakukannya pada buku berikutnya - akhirnya Federspiel memasukkannnya ke dalam bahagian epilog PILQ. Seharusnya pembicaraan Tafsir Al-Mishbah mendapat porsi dominan dalam bahagian ini. Tetapi karena keterbatasan waktu, pembicaraan lebih seriar tentang Tafsir Al-Mishbah akan dilanjutkan kemudian. Beralih ke tafsir berikutnya, yakni Tafsir Al-Ahkam, karya Syekh Abdul Halim Hasan. Tafsir ini dapat dikategorikan ke dalam tafsir mawdhui. Nama Syekh Abdul Halim Hassan, adalah salah seorang dari tiga serangkai para penulis Tafsir Quran. Dua lainnya adalah H. Zainal Arifin Abbas dan Abdurrahim Haitami. Berbeda dengan Tafsir Quran yang digarap bersama oleh tiga serangkai tersebut, tafsir ini hanya menafsirkan ayat-ayat yang bermuatan hukum. Ayat-ayat hukum yang terdapat dalam surah Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, Al-Maidah, AlAnam, Al-Araf, Al-Anfal, Al-Taubah, sampai ke surah Al-Kautsar. Menurut penulisnya, tafsir ini selesai ditulis pada Ahad 19 Syawal 1381 Hijriyah, bertepatan dengan 25 Maret 1961, pukul 09.00 WIB.Mungkin karena manuskripnya baru dapat ditemukan,maka penerbitannya baru dilakukan pada tahun 2006. Tafsir ini mendapat perhatian yang cukup besar dari para pemerakarsa penerbitannya. Ini terlihat pada sederetan kata pengantar dan kata sambutan yang ditampilkan pada tafsir ini. Alumni Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menulis sebuah karya tafsir yang diberi judul dengan Tafsir Hikmah Sekitar Ibadah, Muamalah, Jin dan Manusia. Dia adalah Prof. Dr. Juhaya S.Praja. Tafsir ini berasal dari tulisan bersambung yang dimuat pada tabloid Hikmah. Dengan pertimbangan pernah dimuat pada tabloid Hikmah inilah, kenapa tafsir ini diberi nama Tafsir Hikmah. Tafsir ini diterbitkan di Darul Ehsan Selangor Malaysia. Kesan tematik tidak dapat dihindari dari tafsir ini, karena tafsir ini menyajikan tema-tema sebagaimana yang disebut oleh judul. Kandungan tafsir ini dibagi ke dalam enam bahagian, yang masing-masing membahas dinamika ilmu tafsir, mujizat Al-Quran, ibadah, muamalah, manusia dan jin, dan wanita menurut Al-Quran. Menurut penulisnya, tafsir ini tafsir yang menggabungkan metode bil matsur dengan metode bil rayi dan pada waktu yang bersamaan juga mempergunakan metode mawdhui. Ia mulai dari pemilihan topik, lalu menghimpun ayat tentang topik tersebut, kemudian baru memberikan tafsiran terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan topik. Sebagaimana dijelaskan oleh Praja : Mengingat pembahasan topikal inilah, maka setiap topik bahasan didukung oleh ayat-ayat Al-Quran yang berhubungan dengan topic tersebut. Langkahlangkah penafsirannya disusun sebagai berikut. Pertama, menghimpun ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah yang menjaditopik bahasan. Langkah kedua, ayat-ayat berkenaan dengan topic tertentu itu ditafsirkan dengan menggunakan al-matsur dan al-rayi kemudian dianalisis. Langkah berikutnya ialah mengambil kesimpulan; yakni, kesimpulan yang dianggap relevan dengan kebutuhan masyarakat. Tujuannya untuk meningkatkan derajat keimanan dan ketakwaan serta kualitas hidup secara umum.

Tafsir berikutnya adalah Tafsir Al-Hijri, Kajian Tafsir Al-Quran Surat An-Nisa, karya KH. Didin Hafidhuddin. Cetakan pertama tafsir ini berangka tahun 2000. Tafsir ini berasal dari kuliah subuh yang diberikan oleh penulisnya di mesjid Al-Hijri, Universitas Ibnu Khaldun,Bogor. Itu sebabnya bahasa lisan dari tafsir masih sangat kentara. Hal ini juga ditegaskan oleh penulisnya sendiri yang masih tetap mempertahakan bahasa lisan dalam tafsir tersebut. Sesuai dengan judulnya, tafsir ini hanya berbicara tentang surah An-Nisa. Tidak diperoleh keterangan kenapa hanya surah An-Nisa saja yang ditafsirkan, tidak surah-surah lainnya. Kemungkinan yang dapat ditarik adalah bahwa kuliah subuh yang dilakukan setiap Ahad pagi tersebut bertema tentang pembentukan keluarga, sementara masalah pembinaan keluarga dalam Islam banyak terdapat dalam surah An-Nisa tersebut. Kuliah subuh yang berlangsung sejak tahun 1993, pada awalnya untuk mengisi kegiatan dalam rangka memakmurkan mesjid. Ketika penulisnya mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi ke Madinah, kajian tafsir tersebut diteruskan oleh Ustadz Drs. HE. Syamsuddin, dosen TPAIIPB dan Drs. Ibdalsyah, MA, Pimpinan Harian Pesantren Ulil Albab Bogor, yang juga dosen Fakultas Agama Islam Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Tafsir tematik yang bernuansa sosial politik ditulis oleh Syubah Asa. Tafsir ini diberi judul Dalam Cahaya Al-Quran Tafsir Ayat-ayat Sosial Politik. Berbeda dengan Tafsir Al-Hijri di atas, tafsir ini berasal dari artikel yang ditulis oleh penulisnya secara bersambung dalam majallah Panji Masyarakat. Panji Masyarakat sendiri menyediakan rubric Dalam Cahaya Al-Quran untuk keperluan tersebut. Tafsir ini pertama sekali diterbitkan oleh penerbit Gramedia pada tahun 2000. Tak dapat disangkal bahwa tafsir ini merupakan bentuk refleksi keprihatian penulisnya terhadap kondisi sosial politik bangsa Indonesia ketika itu. Hal ini digaris bawahi oleh Kuntowijoyo dalam kata pengantarnya. Kunto menulis : ..bahwa ayat yang dikutip dalam tafsir ini adalah respon terhadap peristiwa yang terjadi. Setiap ayat adalah cahaya yang menyoroti kejadiankejadian yang sedang popular. Tidak berlebihan kiranya menyebut tafsir ini sesuai dengan jiwa zaman, pada priode reformasi. Tafsir yang relatif baru adalah Tafsir Emansipatoris, Arah Baru StudiTafsir Al-Quran, karya Hendar Riyadi, MA. Tafsir ini terbit pada bulan Oktober 2005 dan dapat dikatakan masuk dalam barisan generasi baru dalam penulisan tafsir di Indonesia. Menangkap isyarat yang diperoleh dari proses lahirnya tafsir ini, dapatlah dikatakan bahwa tafsir ini berasal dari materi kuliah yang diberikan oleh penulisnya kepada mahasiswa di lingkungan IAIN. Namun ia nyaris jatuh kepada buku yang bukan tafsir, walaupun judulnya benar-benar memakai kata tafsir. Ia lebih bersifat studi tentang tafsir, bukan tafsir itu sendiri. Tetapi dengan memunculkan satu bab, yakni Bab 11, tentang wacana Yajuz dan Majuz dalam Al-Quran, tafsir ini dapat dikategorikan sebagai buku tasir yang mempergunakan metode mawdhui. Sebelum mengakhiri selayang pandang tentang keragaman tafsir Quran dalam konteks Indonesia ini, patut disebut karya Abd. Moqsith Ghazali, dengan judul Argumen Prularisme Agama. : Memabangun Toleransi Berbasis Al-Quran. Sepintas buku ini tidak layak digolongkan ke dalam kitab tafsir, karena kandungannya, sebagai disertasi S3 di UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta, adalah studi tentang tafsir. Berbagai kitab tafsir klassik dirujuk untuk menyusun kerangka berpikir dan menarik kesimpulan dalam studi ini. Tetapi tidak dapat disangkal bahwa studi ini sebenarnya merekonstruksi ulang penafsiran ayatayat yang berkaitan konsepsi toleransi dalam Al-Quran dengan menghadirkan ayat-ayat AlQuran tentang itu. Tema-tema tentang toleransi dan kebebasan beragama, pengakuan dan keselamatan ummat non Muslim, wawasan Al-Quran tentang Ahli Kitab, kafir dan musyrik, menikah dengan musyrik, kafir dan Ahli Kitab serta jihad dan perang, menempatkan tafsir ini ke dalam tafsir mawdhui. Karena tema yang diusung oleh tafsir ini adalah tema yang sedang menciptakan suasana controversial di tengah masyarakat, sambutan terhadap buku ini sangat besar. Penulisnya menjejal sebanyak 20 testimoni dengan catatan Prolog dari KH. Husein Muhammad, Pengasuh Pondok Peantren Darut Tauhid, Arjawinangun, Cirebon dan catatan epilog dari KH. Abdurrahman Wahid, yang disebut sebagai Intelektual Muslim dan Mantan Presiden RI. D. Catatan penutup Tafsir, sebagai didefinisikan oleh para ahli, adalah ilmu untuk menggali dan menangkap kandungan dan isi Al-Quran. Dalam kaitan inilah maka tafsir Al-Quran sangat diperlukan oleh ummat manusia. Tafsir Al-Quran memang suatu ilmu untuk menggali makna yang terkandung dalam Al-Quran. Karena Al-Quran itu kalam Allah, maka penggalian maknanya sebatas kemampuan manusia. Kemampuan manusia dalam hal ini harus difahami sebatas akal yang dikerahkan untuk mengungkap makna ayat-ayat Al-Quran. Secara khusus Imam Az-Zarqasyi mendefiniskan tafsir adalah ilmu untuk mengetahui pemahaman Kitabullah yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw, berupa penjelasan makna, pengeluaran hukum-hukum serta hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya. Tak dapat dipungkiri para mufassir menampilkan suasana zamannya dengan berbagainuansa yang mengitari diri dalam bentuk fenomena-fenomena social yang berbagai ragam. Kehadiran Tafsir Quran di Indonesia yang secara mayoritas menampilkan metode mawdhuI merupakan bentuk dari upaya menafsirkan Quran yang baru diperkenalkan melalui kuliah-kuliah tafsir di Program Pasca Sarjana IAIN/UIN. Persoalan-persoalan krusial dalam pemikiran islam mulai diretas dalam nuansa kesemarakan perhatian terhadap Al-Quran dan Tafsirnya. Oleh sebab itu studi-studi lebih lajut tentang fenomena ini sangat diperlukan dalam rangka memahami perkembangan Islam di negara Republik Indonesia tercinta.

Daftar Pustaka Abdullah, M. Amin, Perumusan Filsafat Pendidikan Muhammadiyah , (makalah tidak diterbitkan, dalam Forum Diskusi Pakar, Majlis Pendidikan Dasar dan Menengah, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Auditorium Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, 15 Juni 2010), Asa, Syubah, Dalam Cahaya Al-Quran : Tafsir Ayat-ayat Sosial

http://www.psq.or.id/index.php/in/component/content/article/102-artikel/197-keragaman-tafsir-alquran-konteks-indonesia