Anda di halaman 1dari 26

Pengantar

Bagian ini secara khusus menguraikan riwayat hidup Gibran dengan berbagai latar belakang yang mempengaruhinya. Tujuannya adalah agar dapat mengenal Gibran secara lebih dekat, baik sejarah perjalanan kehidupannya maupun konteks dan latar belakang yang melahirkan pandangan dan gagasannya.

1. Riwayat Hidup

1. 1.

Di Bawah Rimbunan Cedar 1 (1888 1895)

1 Biasanya juga disebut sebagai pohon Aras. Bagi masyarakat Lebanon Aras atau Cedar memiliki makna ganda, baik secara politis maupun spiritual-keagamaan. Sebagai lambang negara pohon Cedar menjulang tinggi pada bendera Lebanon. Sementara itu salah satu kelompok semi-militer Lebanon menyebut dirinya „Pelindung Pohon Aras‟. Hal „melindungi‟ ini tidak berkaitan dengan pohon yang sudah hampir punah di Lebanon, melainkan karena semangat dan jiwa persekutuan Kristen di Lebanon yang terancam. Inilah makna sipritual dari pohon Cedar atau Aras. Sebab seperti diketahui bahwa jauh sebelum kelahiran Gibran, pohon Cedar atau Aras disebut „Pohon Tuhan‟ atau „Pohon Tuhan dari Surga‟. Sampai kelahiran Gibran dan sampai saat ini, hutan pohon Cedar atau Aras di dekat rumah Gibran disebut sebagai pohon Cedar suci. Apabila bagian hutan ini diserahkan ke kota terdekat, kota Bisharilah yang mendapat kehormatan itu. Karena kakek Gibran adalah seorang imam, dengan demikian keluarganya akan memiliki hak pertama untuk menjadi penjaga „Pohon-Pohon Cedar Tuhan‟. Bdk. Anton Wissels, Arab dan Kristen, Gereja-Gereja Kristen Di Timur Tengah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001, hal. 45. bdk. jg. Joseph Sheban, Hidup dan Cinta Kahlil Gibran, Bandung:

Diwan Sheban, hal. 19-20.

Gibran Kahlil Gibran demikianlah nama Gibran yang sebenarnya. Pemberian nama ini mengikuti tradisi yang berlaku dalam masyarakat Arab, kendatipun tidak semua, nama pertama adalah namanya sendiri, nama kedua adalah nama ayah dan nama ketiga adalah nama kakek. Akan tetapi ketika dalam perantauannya kelak ke Amerika, orang Amerika terkesan aneh kalau nama sendiri sama dengan nama keluarga, maka sejak bersekolah di sana dihilangkanlah nama pertama sehingga selanjutnya dikenal sebgai Kahlil Gibran saja. 2

Kahlil Gibran dilahirkan pada tanggal 6 Desember 1883 di Lebanon, tepatnya di Besharri, sebuah kota kecil yang terletak di dataran tinggi pinggiran salah satu karang terjal yang indah Jabal al-arz atau yang biasa di sebut Wadi Qadisha (gunung suci). Gibran dibesarkan dalam keluarga penganut agama Kristen Katolik Maronit 3 yang taat dari pasangan Kahlil Gibran dan Kamila Rahmi.

2 Fuad Hasan, Menapak Jejak Khallil Gibran, Jakarta: Pustaka Jaya, 2000, hal. 23-24.

3 Gereja Maronit adalah satu-satunya Gereja dari Ritus Timur yang berada dalam naungan Roma. Sebagian besar anggotanya tinggal di Lebanon. Nama Maronit sendiri berasal dari nama seorang pertapa, Maron (+458), yang menetap dekat Apamea dan Sungai Orontes, Syria. Theodoret dalam biografinya menyebutkan bahwa Maron selalu hidup dalam doa yang khusuk. Orang-orang yang berada di sekitarnya menyebut Maron sebagai seorang Santo, lantaran itu setelah Maron meninggal mereka meneruskan cara hidup dan spiritualitasnya. Mereka membentuk komunitas yang semakin besar dan menamakan diri sebagai maronit. Itulah awal mula Gereja Maronit. Dalam perjalanan sejarah Gereja, kaum Maronit selalu setia kepada ajaran yang benar, walaupun beberapa saat cenderung kepada monotelitisme atau monophystisme, karena

Ayahnya, Kahlil Gibran seorang pegawai pajak yang berpenghasilan sangat terbatas. Ia seorang yang tegar dan gagah, tetapi kecanduannya pada alkohol dan kebiasaannya berjudi mengakibatkan keluarganya berada dalam kemelut ekonomi. Ia sering mabuk dan suka berkelahi dan bahkan kadang berlaku kasar terhadap istri dan anak-anaknya.

mengikuti Batrik Sergius dari Konstantinopel (638) yang menyangkal kehendak manusiawi dalam Kristus. Sejak semula Gereja Maronit berpegang teguh kepada Allah Yang Maha Esa dan Allah Tritunggal. Pada abad ke 7 Gereja Maronit menyusun hierarki sendiri. Disebutkan bahwa Gereja Maronit Lebanon adalah Gereja yang pertama berhubungan dengan Roma. Jeremias Al-Amshiti (1199-1230) adalah Patriach Maronit pertama yang mengunjungi Roma dan mengikuti Konsili Lateran (1215). Pada abad ke-13 persatuan dengan Roma tidak berjalan lancar karena Perang Salib, tatapi akhirnya dikukuhkan kembali dalam Konsisili Firenze (1445). P. Yohanes Eliano, SJ dan P. John Bruno, SJ bekerja keras untuk membina persatuan ini dan berkat usaha kedua orang ini sejak 1584 Gereja Maronit memakai bahasa dan ritus Siria-Barat dalam liturgi. Mula-mula para uskup hidup serumah dengan batrik, yaitu „batrik Antiokhia dan seluruh Timur‟ mereka bertempat tinggal di Biara Bherke dekat Beirut. Keuskupan- keuskupan teritorial mula didirikan sejak 1736. Sejak 1926 gereja Maronit menjadi agama utama Negara Lebanon yang merdeka, kendati hanya mencakup kurang lebih 30 % penduduknya waktu itu. Presiden Lebanon selau seorang Maronit. Sekitar 470 ribu Maronit tinggal di Lebanon, dan hampir sama banyaknya dengan di Amerika, Israel, Sria, dan Mesir, jumlah seluruhnya 1,7 juta orang. Kongregasi para Santo Fransiskus menyebar ke Amerika dan Kongregasi Suster-Suster Santo Antonius bahkan didirikan di Amerika. Bdk. New Catholic Encyclopedia, Second Edition, Washington DC: Thomson Gale, 2003, hal. 192-201. Wissels, Op.Cit., hal. 45- 61. Adolf Heuken, Ensiklopedi Gereja, Jilid V, Jakarta: Cipta Loka Caraka, 2005, hal. 199.

“Aku mengaguminya kerena kekuatannya, kejujurannya dan integritasnya. Keberaniannya untuk tampil dengan kesejatian dirinya, keterusterangannya dan sifatnya yang pantang menyerah itulah yang sering menjerumuskannya ke dalam berbagai kesulitan. Jika beratus-ratus orang mengelilinginya, maka dengan sepatah kata saja mereka dapat ditundukkannya.” 4

Namun demikian, ayahnya sering mengajaknya mengunjungi beberapa kota kuno seperti Baalbek, Homs, dan Hamah. Sifat inilah yang disukai Gibran dari Ayahnya. Ayahnya adalah seorang petualang yang sangat menyukai tempat- tempat bersejarah dan indah. Adakalanya ayahnya mengajak Gibran bermalam di ketinggian gunung cedar dan menginap di tenda penggembalaan sambil menikmati suasana yang damai di bawah cahaya bulan dan bintang yang amat mempesona.

Bertolak belakang dengan sifat ayahnya, ibunya Kamila Rahmi lebih memberikan rasa kasih sayang yang mendalam pada diri Gibran. Ibunya adalah anak dari Istifan Rahmi seorang imam Gereja Maronit. Sebelum menikah dengan Gibran, Kamila adalah janda dari Abdul Salam (yang meninggal di tempat perantauan, Brasil). Kepada Kamila, Abdul Salam memberikan seorang anak laki-laki yang bernama Boutros (yang juga biasa disebut Peter). 5

4 Hasan, Op.Cit., hal. 35.

5 Ibid., hal. 36.

Kamila dikenal sebagai wanita yang berkemauan keras tetapi lemah lembut tutur katanya. Ia juga tergolong wanita yang cerdas serta sangat mahir dalam berbahasa asing. Kepada anak-anaknya ia mengajarkan bahasa Arab, Prancis, dan Inggris. Ia sangat memperhatikan cita-cita anak-anaknya. Meskipun tidak pernah mengikuti pendidikan formal, kebjaksanaannya sangat mempengaruhi anak-anaknya termasuk Gibran.

Namun, karena situasi ekonomi Lebanon yang morat-marit karena tekanan kekuasaan asing, juga karena situasi ekonomi keluarga yang berantakan karena percecokan antara ayah yang pemabuk dan ibu yang penuh dengan ketakutan, Gibran mencari ketenangan dalam kedamaian Wadi Qadisha, lembah suci yang dirimbuni pohon-pohon cedar. Seperti dilukiskan Barbara Young, seorang kawan dan penulis biografinya:

“Mengunjungi Wadi Qadisha berarti meninggalkan peradaban modern dan membenamkan jiwa dan raga ke dunia yang kuno dan tak mengenal batas waktu. Wadi Qadisha merupakan sebuah tempat liar yang indah dan menakjubkan, dan ia memiliki kekuatan besar yang memaksa pikiran untuk melontarkan kata-kata yag kita miliki untuk keabadian.” 6

6 Sheban, Op.Cit., hal. 17-18.

Secara naluriah ia mengalami keindahan dan merasakan kesucian alam yang merangsangnya menjadi semakin lebih dekat dengan dunia sekitarnya. Baginya ini adalah saat ketika alam merasukinya untuk selalu menyembulkan inspirasi, merancang dan mencipta.

1. 2. Di Perantauan (1895 1898)

Pada suatu hari di bulan Juni Boutros, kakak tirinya, meminta kepada ibunya untuk meninggalkan Lebanon. Keputusan untuk hijrah dianggap paling tepat pada masa itu selain sebagai bentuk pemberotakan terhadap kehidupan ekonomi Lebanon yang secara umum makin hari semakin buruk, juga karena melihat ayah tirinya tidak dapat dijadikan sebagai pegangan dalam mengayomi kehidupan ekonomi keluarga karena sering mabuk dan sehari-hari menganggur. Keterhimpitan itu semakin mendera keluarga Gibran ketika ayahnya dituduh terlibat kasus korupsi. Ayahnya divonis bersalah, hukuman dijatuhkan dan semua harta disita.

Lantaran itu, pada tanggal 25 Juni 1895 akhirnya keluarga Gibran menempuh perjalanan 5.000 mil jauhnya, mengarungi lautan menuju pulau Ellis, New York. Tidak berapa lama di tempat persinggahan para emigran itu, mereka melanjutkan perjalanan ke South End, Boston, sebuah daerah dengan jajaran rumah sewaan berhimpitan yang padat penghuninya serta lorong-lorong yang penuh dengan kotoran dan sampah. Di sana pula Kamila bersama keempat anaknya Boutros, Gibran, Mariana dan Sultanah mendiami sebuah rumah sewaan kecil.

Di tempatnya yang baru, Gibran mengawali hidupnya dengan mulai bersekolah di Quincy school for boys. Sebuah

sekolah rakyat dengan anak-anak dari berbagai latar suku bangsa. Dari antara teman-teman seusianya Gibran termasuk anak yang cerdas, sehingga secara intelektual Gibran tidak mengalami kesulitan dalam beradaptasi di sekolah tersebut. Kendatipun Gibran mengalami kemudahan di sekolah tersebut, namun dari hatinya yang paling dalam, Gibran merasakan ada sesuatu yang hilang.

Gibran merasa sangat kesepian, ia merasa kehilangan keindahan Lebanon dengan langit-langit yang tinggi membiru, udara segar dengan batu pohon Cedar, air dari gunung yang sejuk dan bening mengalir membasahi Besharri. Kerinduannya pada Lebanon semakin terasa, ketika ia menemukan sebuah ruang kelas yang sempit dan gelap, dengan tangga yang berderak-derak menuju lantai atas, kebisingan lalu lintas dan pengapnya udara 7 .

Dalam kesendiriannya Gibran memutuskan untuk kembali ke Lebanon, tetapi karena dukungan keluarga dan kecerdasaanya ia berusaha untuk bertahan di sekolah tersebut. Kecerdasan Gibran di Quincy school for boys menarik perhatian guru-gurunya. Guru bahasa Inggrisnya amat terkesan oleh kemahirannya berbahasa, dan kepada Gibran dipinjamkannya buku-buku yang makin merangsang jiwa kesusastraan. Guru keseniannya pun secara diam-diam mengagumi Gibran. Gambar-gambar dan sketsa-sketsa Gibran sangat elok untuk dilihat dan kaya akan nilai artistik. Guru seni lukisnya mengikuti perkembangannya begitu

7 A. Sudiarja, Baringkan Aku Dalam Keteduhan Pohon-Pohon Sedar, Basis, No. 09-10, Tahun ke-54, September-Oktober 2005, hal. 61.

terpesona dengan lukisan-lukisan yang dihasilkannya, sehingga gurunya merasa perlu untuk meminta penilaian seorang pelukis profesional.

Melihat potensinya yang begitu besar, guru-gurunya menyarankan agar ia mengikuti kursus menggambar. Gibran akhirnya dimasukkan ke Denison House, sebuah rumah lukis. Di sana Gibran berkenalan dengan Florence Pierce seorang guru lukis, dan Nona Jessie Fremont Bealae yang nantinya memperkenalkan Gibran pada Fred Holland Day, seorang pencinta buku, pemilik sebuah penerbit, sastrawan sekaligus seniman. Day kemudian membimbing Gibran sambil memperkenalkannya dengan karya-larya monumental dari penulis-penulis besar seperti Keats, Shelly, Blake, Emerson, Whitman dan juga Maurice Maeterlinck.

Makin hari Gibran semakin menyadari bahwa ada potensi tersembunyi dalam dirinya yang mesti dibuka dan diasah terus menerus. Kecerdasan dan daya imajinasinya yang kuat selalu memotivasinya untuk terus menerus membuka ruang misteri dalam dirinya. Ia menyadari pula bahwa apa yang sedang dan akan dijalankannya merupakan jalan yang mampu mengungkapkan realitas secara terang-terangan, serentak menciptakan kebebasan dan merasakan kedamaian.

1. 3. Kembali Ke Rimbunan Cedar (1898 1902)

Lebanon, dengan Wadi Qadisha-nya, tidak hanya memekarkan kuntum inspirasi, tetapi juga di bukit Cedar itu Gibran temukan dirinya. Barisan bukit terjal dan rangkaian padang rumput serta segala keindahannya, lembah yang mempesona dan bisikan angin sepoi adalah jiwa baginya. Jiwa Gibran adalah jiwa dan roh dari seorang yang

meletakkan kepala pada lengannya di bawah bayangan pohon-pohon cedar suci, damai dalam lindungan Allah dan cahaya surya. 8 Di samping kerinduan yang mendalam pada tanah kelahirannya, ibunya dan Peter juga mendesaknya untuk kembali mendapatkan pendidikan yang baik di sana. 9

Pada tahun 1898 Gibran kembali ke tanah kelahirannya. Ketika itu usianya menginjak 13 tahun, Gibran masuk Madrasah Al-Hikmah, sebuah sekolah milik Gereja Maronit yang didirikan Uskup Joseph Debs. Di Madrasah tersebut Gibran mendalami sastra Arab dan Prancis, kedokteran, hukum, sejarah dan juga musik. 10 Tidak hanya itu, ia juga mendalami teologi agama-agama dan bahasa Sirinia dan Aramia sebagai bahasa Gereja Maronit. Di sini selama dua kali sehari Gibran mengikuti acara di Gereja. Masa ini sangat berpengaruh terhadap kentalnya orientasi religius yang terpantul dalam karyanya di kemudian hari.

Maka dapat dipahami kalau selama menempuh pendidikan di Madrasah Al-Hikmah yang mengutamakan sastra dan bahasa serta ilmu agama-agama makin mengasah kepekaan Gibran sebagai pribadi yang sensitif. 11 Gairah intelektualnya berkembang begitu cepat sedang usianya masih sangat muda. Pada tahun 1899 bersama teman-teman mereka membidani Al-Hakikat (Sang Kebenaran) sebuah majalah yang

8 Kahlil Gibran, Lebanon dan Lebanonku, Kata-Kata Mutiara, Jakarta:

Pustaka Jaya, 1989, hal. 11-14.

9 Sudiarja, Op. Cit., hal. 61.

10 Hasan, Op.Cit., hal. 38.

11 Ibid., hal.39.

berorientasi pada sastra dan filsafat. 12 Lima tahun kemudian, tahun 1901 Gibran lulus dari Madrasah Al-Hikmah dan sejak saat itu ia bercita-cita untuk berkelana dan mendalami pengetahuan dan kemampuan artistiknya ke Eropa.

1. 4. Beruntun Tertimpa Musibah (1902 1908)

Pada tahun 1902 Gibran kembali ke Boston karena keluarganya ditimpa musibah penyakit yang ganas. Perkampungan padat South End tempat keluarga Gibran menetap diserang Virus Tuberculosis (TBC). Menyedihkan memang, udara yang pekat dan pengap karena bau sampah yang menyesakkan dada serta gizi yang buruk tidak dapat dihindarkan. Berhadapan dengan situasi tersebut Gibran merasa sangat bersalah. Baginya andaikata mereka sekeluarga menetap di Besharri, di bawah lereng gunung cedar dengan udara yang bersih dan segar, maka tidak mungkin keluarganya akan digerogoti penyakit yang mematikan itu.

Namun kenyataan berkehendak lain, pada tanggal 4 April 1902, ketika Gibran dalam perjalanan menuju Boston nyawa justru merenggut adiknya Sultanah yang baru berusia dua belas tahun.

“Bagiku Tuhan mati bersama Sultanah, dan paru- parunya dimakan habis oleh kuman tuberculosis sebagaimana terjadi dengan paru-paru Sultanah.” 13

12 Sudiarja, Op. Cit., hal. 62.

13 Hasan, Op.Cit., hal. 40.

Setahun kemudian, tepatnya 12 Maret 1903, Peter, kakaknya yang menjadi tulang punggung keluarga pun meninggal dunia akibat TBC, kemudian menyusul ibunya pada tanggal 28 Juni 1903 karena kanker dan TBC. Bagi Gibran kepergian ibunya adalah kehilangan motivator sekaligus guru yang senantiasa melahirkan imajinasi.

“Panggilan terindah adalah panggilan “ibuku”. Itulah kata-kata yang penuh haru dan cinta, kata- kata yang manis dan sayang yang keluar dari relung- relung hati. Ibu adalah segalanya, dialah penghibur kita dalam kesedihan, tumpuan harap kita dalam penderitaan dan daya kekuatan kita dalam kelemahan. Dialah sumber kasih, belas kasihan, kecenderungan hati dan ampunan.” 14

Kematian segenap anggota keluarganya membuat Gibran merasa sangat terpukul. Ia menyadari benar betapa ia telah mengalami banyak pengorbanan dari ibu, kakak dan adiknya. Tampaknya keberutungan belum memihak kepada Gibran, sebab hampir bersamaan dengan serentetan peristiwa kematian keluarganya itu, seluruh lukisan yang dipamerkannya dimakan api bersama terbakarnya bioskop Fred Hollad Day, tempat dipamerkan karya-karyanya. 15

Beruntun musibah yang menimpanya tidak membuat Gibran putus asa. Bagi Gibran, kehidupan harus dihadapi dan setiap

14 Kahlil Gibran, Sayap-Sayap Patah, Jakarta: Pustaka Jaya, 1990, hal.

103.

15 Hasan, Op. Cit., hal. 41.

masalah yang dihadapinya merupakan awal untuk sesuatu yang baru. Lantaran itu, Gibran dan adik satu-satunya yang masih hidup Mariana mencoba untuk memulai kehidupan secara baru. Gibran di samping melukis dan menulis, juga bekerja sambilan sebagai penjilid buku dan Mariana menerima pesanan jahitan. Pekerjaan-pekerjaan itu tentu saja tidak mendapatkan hasil yang besar, maka keduanya berusaha untuk hemat dengan menabung.

1. 5. Periode Produktif (1908 1929)

Sesudah mengalami masa yang menyedihkan itu, Gibran kembali bangkit dan makin produktif dengan melahirkan karya-karya baru. Gibran semakin gila menulis dan melukis, lantaran itu karya-karyanya mulai diakui. Sebelum keberangkatannya ke Paris, dalam usia masih 20 tahun, terbit darinya dua buku yang berjudul Nubdah fi fann al-Musiqa (sekilas tentang musik) yang berisi sejarah musik dan ara’is al- Muruj (putri lembah) yang berisi kumpulan cerita. 16

Ketika di Paris antara tahun 1908 sampai 1910 17 , Gibran belajar pada Akademi Julian, sebuah sekolah seni bergengsi di Paris dan mengikuti berbagai kursus seni. 18 Dari sana

16 Miftahul Munir, Filsafat Humanisme Teistik, Menurut Kahlil Gibran, Yogyakarta: Penerbit Paramadina, 2005, hal. 55.

17 Alexander Yopi Hendra Susanto, Nabi Segala Zaman, Memahami Pemikiran Kahlil Gibran Dalam Sang Nabi, Maumere: Ledalero, 2005, hal. 31.

18 Salah satu di antaranya adalah pada studio seni milik Pierre Marcel Beronneau, seorang pelukis visioner. Di sini Gibran belajar tentang nilai warna-warni dan juga menulis. Di tempat ini juga ia berkenalan dengan Aguste Rodin, seorang pemahat aliran

Gibran kembali menerbitkan buku yang menggemparkan Al- Arwah al Mutamarridah (jiwa pemberontak) yang merupakan kumpulan empat karya prosanya yang terdiri atas Wardah Hani, Ranjang Pengantin, Jeritan Dari Liang Kubur dan Kahlil si Bocah Kufur. Karyanya ini lahir dari keberpihakannya yang mendalam terhadap tanah kelahiranya, Lebanon. Gibran melihat bahwa pergolakan politik di Timur Tengah, khususnya Lebanon semakin panas, dan jiwa nasionalismenyapun ikut bergejolak. Lantas, sebagai reaksi pemberontakan diterbitkannya Al-Arwah al Mutamarridah (jiwa pemberontak), untuk mengajak kaum muda Lebanon melawan penjajahan Turki dan memperbaharui hidup.

Justru, karena karyanya tersebut, tidak hanya penguasa Turki yang marah besar, tetapi juga pihak Gereja Maronit pun kebakaran jenggot. Buku-buku Gibran yang sudah terbit mereka bakar di depan umum. Pihak Gerejapun ikut-ikutan

Romantik Perancis, yang nantinya akan memperkanlkan Gibran dengan gagasan-gagasan William Blake. Karena gaya ekspresionisnya ini maka Rodin menjuluki penyair dan pelukis Lebanon ini sebagai “The American Blake”, sedangkan gurunya yang lain Henri de Rochefort menyebutnya sebagai “ William Blake dari abad kedua puluh”. Pujian ini beragkat dari kemiripan lukisan Blake dan Gibran. Keduanya sama-sama menekankan pada imajinasi dan pencarian batin dalam melahirkan karya-karyanya. Imajinasi bagi keduanya adalah sumber pengetahuan dan inspirasi, juga merupakan sebuah intuisi yang lebih mendalam. Bagi keduanya pencarian batin melalui imajinasi dapat menghantarkan manusia menuju sebuah kebenaran dan pemebabasan. Namun demikian dalam beberapa hal keduanya berbeda, di antaranya Blake memandang alam sebagai suatu yang kejam, sementara bagi Gibran memandang alam sebagai sebuah harmoni. bdk. Sudiarja, Op. Cit., hal. 64. Susanto, Op.Cit., hal. 31-32.

menolaknya sampai akhirnya Gibran diekskomunikasikan dari Gereja, sebab mereka menilai bukunya sebagai yang berbahaya, revolusioner dan mengancam jiwa anak muda, serta bertentangan dengan kemapanan Gereja.

Reputasinya semakin menanjak tidak hanya karena tulisan- tulisannya tetapi juga karena lukisannya. Sebagian besar lukisan-lukisan Gibran adalah ilustrasi yang memenuhi halaman-halaman tulisannya. Dan ciri khas lukisan-lukisan Gibran adalah tentang tubuh-tubuh telanjang, bayangan- bayangan berwarna abu-abu dan gelap. Gerakan dan setingnya adalah usaha untuk menghubungkan manusia dengan segala aspek kehidupannya dengan Tuhan. 19

Ketika Autum (musim gugur) diterima untuk dipamerkan di Societe Nationale des Beaux-Art berbagai undanganpun datang bertubi. Pada tahun yang sama, 1909, pihak Societe Nationale des Beaux-Art kembali mengundangnya untuk ikut memamerkan lukisan-lukisannya. Pada tahun yang sama pula datang berita yang mengejutkan dari Lebanon kalau Gibran ayahnya meninggal dunia. Jarak antara mereka sekan semakin rapat dalam cinta ketika kenangan masa lalu disingkapkan kembali. Tetapi, gairah cipta dan dan gelora berkarya dalam diri Gibran tidak turut mati dalam kesedihan yang mendalam. 20

Dari sinilah karya-karya Gibran mulai membuka mata kesusastraan dunia, tidak hanya di Arab, khususnya Lebanon

19 Sheban, Op.Cit., hal. 52-53.

20 Susanto, Op. Cit., hal. 33.

tanah kelahirnnya sendiri tetapi juga untuk Eropa dan Amerika. Pada tahun 1910 Gibran kembali ke Amerika dan bersama saudarinya Marianna, keduanya menetap di Greenwich Village. 21 Adik satu-satunya ini telah menjadi seorang yang introvert, sehingga tidak bisa bergaul dengan orang lain bahkan memutuskan untuk tidak mau menikah 22

Dua tahun kemudian, tahun 1912, Ajnihah al-Matakassirah (sayap-sayap patah) diterbitkannya 23 . Pada tahun yang sama beberapa penulis Arab termasuk Gibran menerbitkan majalah berkala al-Funun (kesustraan), dan pada tahun 1920, Gibran membentuk al-Rabithah al-Qalamiyah (perkumpulan penulis) bersama beberapa penulis keturunan Arab seperti Nasseb Ariba, Rasyheed Ayoub, Mikhail Naimy, Abdul Messeeh Hadad, Nadra Haddad, Ellias Atallah dengan Gibran menjadi ketuanya. 24

21 Suheil Bushuri dan Joe Jenkins, Kahlil Gibran Manusia dan Penyair, Jakarta: Gramedia, 2000, hal. 152.

22 Munir, Op. Cit., hal. 56.

23 Karena karyanya ini Kahlil Gibran secara amat unik bekenalan dengan May Ziadah seorang kritikus dan juga sastrawan Mesir. Perkenalan mereka berawal dari kritik May Ziadah atas Anihah Al- Mutakasiroh (sayap-sayap patah). Perkenalan keduanya disebut unik karena tidak hanya terjalin melalui surat menyurat dalam jangka waktu hampir 18 tahun (dari tahun 1912 hingga 1931) tetapi lebih dari itu keduanya tidak pernah berjumpa muka sampai maut memisahkan mereka. Bdk. Bushuri, Op. Cit., hal. 11-12.

24 Martin L. Wolf (ed), Treasury of Kahlil Gibran, Yogyakarta:

Tarawang Press, 2002, hal. XVI.

Tiga tahun berselang, tepatnya pada tahun 1923 lahirlah daripadanya The Prophet (Sang Nabi). Inilah karya Gibran yang membuat namanya menjulang sebagai sastrawan dan filsuf dengan khalayak pembacanya tersebar di berbagai penjuru dunia, karena penerjemahannya yang lebih dari dua puluh bahasa Timur dan Barat. Secara umum Sang Nabi merefleksikan tema-tema kehidupan, baik tentang manusia dan segala tindakannya, alam dengan segala keindahannya, juga tentang Tuhan dengan segala kemahakuasannya.

1. 6.

Kembali Selamanya Ke Rimbunan Cedar (1929 -

1931)

Pada Januari 1929 Gibran menyadari secara sungguh kalau fisiknya melemah karena sakit menggerogotinya, sebab hasil rontgen menunjukkan bahwa ia mengalami pembengkakan pada bagian hati. Sejak saat itu sebagian besar waktunya ia habiskan di tempat tidur, dengan ditemani oleh adiknya Marianna. 25

Awal April 1931, kondisi fisik Gibran mulai memburuk. Pada tanggal 10 bulan itu Gibran dilarikan ke rumah sakit Santo Vincet, di Seventh Avenue New York karena sirosis hati dan TBC dini di sebelah paru-parunya. Tepat pada jam 10.55 malam itu, menjelang Jumad pertama sesudah Paskah akhirnya Gibran menghembuskan napasnya yang terakhir di hadapan imam dan beberapa kerabat. Tanggal 23 Juni tahun yang sama, kapal Sirana mengantarnya ke Lebanon melalui rute yang dulu pernah dilaluinya ke Amerika sebagai imigran dan meniti karier sebagai penyair besar. 26 Di tanah

25 Bushrui, Op. Cit., hal. 399.

26 Bdk. Hasan, Op.Cit., hal.9-98. Bushuri, Op.Cit., hal. 424-427.

kelahirannya, Gibran dikuburkan di sebuah biara kuno Mar Sarkis, sebuah tempat yang sudah lama ditinggalkan penghuninya.

Kerinduan Gibran untuk dikuburkan di Mar Sarkis merupakan cita-cita masa kecilnya. Gibran sering menyendiri di tempat tersebut sambil menikmati bunyi serunai anak- anak penggembala domba. Dalam kesendirian itu Gibran mengalami keheningan dan kedamaian. Gibran berharap agar suatu saat kelak ia dapat mengalami keheningan yang panjang dalam perjumpaannya bersama sang Khalik. Idaman itu akhirnya terwujud. Jenazah Gibran disemayamkan pada sebuah gua yang terbentuk dari batu karang alami. Mulut gua tersebut disumpal dengan sebatang pohon kayu besar, di sampingnya tertulis sederetan kata „Di Sini Berbaring Nabi Kami Gibran‟ 27

2. Perjumpaan yang Menghidupkan

27 Tentang tulisan ini muncul pro dan kontra. Ada yang mengatakan bahwa pada awalnya di batu karang tersebut tertulis „di sini berbaring di antara kami Gibran‟ dalam deretan kata-kata tersebut tidak disebutkan Gibran sebagai Nabi. Tetapi karena perpindahan letak beberapa titik pada huruf-huruf Arab maka yang tertulis menjadi „di sini berbaring nabi kami Gibran‟ Tulisan ini akhirnya menimbulkan perselisihan yang memakan waktu yang lama. Maka diputuskan untuk menghapus saja tulisan tersebut. Namun para pengagum Gibran sampai kini masih bertahan pada pendapat bahwa tulisan yang berbunyi „di sini berbaring nabi kami Gibran‟ yang benar, karena kata-kata „di antara kami‟ tidak sesuai dengan kenyataan bahwa jenazah Gibran hanya satu-satunya yang dibaringkan di pemakaman Mar Sarkis. Bdk. Hasan, Op.Cit., hal. 97-98, 101.

2. 1. Yesus Teladan Agung

Ada banyak figur yang mempengaruhi hidup dan karya Gibran, sebutlah di antaranya adalah Al-Farid, yang disebutnya sebagai seorang pujangga yang beriman, yang jiwanya murni bagaikan pancaran sinar matahari. Al-Ghazali, St. Agustinus serta Ibnu Sina dikaguminya juga karena melalui pandangan dan gagasan mereka Gibran menemukan dan memahami dunia ini sebagai tangga untuk mencapai kebenaran abadi.Selain itu, jika hendak dilacak lebih jauh tampaknya Gibran banyak membaca dan sangat terpengaruh dengan imam-imam tinggi Isthar, Baal, dan Tamouz. Gibran juga mengenal Nabi Musa, para Rasul dan tokoh-tokoh dalam Injil. Rasa dahaganya yang begitu besar terhadap rimba raya pengetahuan dan jagad raya makna membawanya untuk bertemu dengan Budha, Zoroaster, Konghucu, Leonardo da Vinci, Wiliam Blake, Rabindranath Tagore, Voltaire, Rousseau, Nietczhe, Jefferson, Emerson, dan bahkan Lincoln. 28

Namun, dari semua figur yang dikagumi, Yesus mendapat tempat yang sangat istimewa dalam kehidupan Gibran. Kepribadian Yesus sangat mempengaruhi pemikiran filsafat dan intuisi seni Gibran. Di dalam pribadi Yesus Gibran selalu menemukan misteri, gairah, cinta, imajinasi, tragedi, keindahan, romansa dan kebenaran. Lantaran itu ia memandang Yesus sebagai teladan manusia agung yang dengan amat sempurna mengungkapkan keilahian Allah. Bagi Gibran Yesus adalah manusia sempurna. 29

28 Sheban, Op. Cit., hal. 63-77.

29 Joseph Peter Ghougassian, Sayap-Sayap Pemikiran Kahlil Gibran, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2000, hal. 50-52.

2. 2. Injil Sebagai Pegangan Hidup

Sebagai bagian dari keluarga beragama Kristen Maronit, Kitab Suci khususnya Injil tentunya tidak hanya diyakini, dihormati dan ditaati tetapi juga dijadikan sebagai dasar dan pengangan hidup. 30 Hal ini tampak Ketika berusia sebelas tahun Gibran telah menghafal seluruh Kitab Mazmur. Dan ketika dewasa, setelah menulis karyanya yang berjudul Sang Nabi, ia menulis Yesus, Putra manusia, sebuah buku yang merefleksikan pengetahuan yang luas tentang Injil. 31

Selanjutnya dalam karyanya yang lain yang berjudul Yohanes Si Gila Gibran menyerukan agar Kitab Suci, khususnya Injil tetap dijadikan sebagai pegangan hidup, agar kehidupan tidak terjebak dalam kemunafikan. Kepada temannya Gibran menulis keprihatinannya tersebut:

“Aku melihat bahwa para penulis awal menyerang praktik-praktik agama ketika mereka memberontak pada kelaliman beberapa pendeta. Perbuatan mereka tidak benar karena agama adalah keyakinan yang alami bagi manusia, tetapi menjadikan agama sebagai alasan untuk melakukan kezaliman adalah salah. Itulah mengapa saya yakin bahwa Yohanes di ceritaku adalah tokoh yang benar-benar percaya kepada Yesus, Injil dan ajarannya.” 32

30 Ibid., hal. 61.

31 Sheban, Op. Cit., hal. 71.

32 Ibid., hal. 76.

2. 3. Orang-Orang Tercinta

Sederet nama orang terdekat dan dicintai Gibran sebagian besarnya adalah kaun wanita, namun sampai akhir hidupnya Gibran tidak menikahi seorang pun dari mereka. Ada dua alasan utama mengapa Gibran tidak mau menikah atau dinikahi. Pertama, Gibran tidak sepenuhnya yakin jika seorang wanita yang mencintainya benar-benar akan mencintainya secara sungguh. Sebab jangan-jangan wanita tersebut hanya mencintainya karena mengagumi dirinya sebagai pelukis atau penyair, dan bukan karena dirinya sendiri apa adanya. Kedua, Gibran juga khawatir akan membuat istrinya merasa kurang diperhatikan jika ia memutuskan untuk menikah, lantaran akan menyibukkan hari-harinya dengan kegiatannya lantas melupakan sang istri. Oleh karenaya Gibran memutuskan untuk tidak menikah dan memilih untuk hidup lajang sampai akhir hayatnya. 33

Namun demikian kedekatannya dengan wanita memberi pengaruh dalam cara pandangnya. Bagi Gibran wanita adalah jendela mata dan pintu roh yang senantiasa melahirkan imajinasi dalam berkarya. 34 Wanita-wanita tersebut antara lain Micheline, wanita yang meminta Gibran untuk menikahinya tetapi ditolak, lantas sejak itu ia meninggalkan apartemennya dan menghilang. Mary Haskell yang dihadiahi Gibran Sayap-Sayap Patah. Dialah wanita yang senantiasa menyokong Gibran secara finansial. Josephine Preston Peabody yang menjadikan Gibran seorang seniman, Barbara Young, dialah murid pertama yang menyatakan

33 Hasan, Op.Cit., hal. 7-76.

34 Sheban, Op.Cit., hal. 117.

kekagumannya kepada Gibran sebagai manusia abadi. May Ziadah yang bercinta tapi tanpa pernah berjumpa muka, Salma Karamy cinta pertama Gibran, Mariana dan Sultanah adik-adiknya, juga Peter kakaknya dan Gibran ayahnya. Bagi Gibran mereka adalah orang-orang yang menyalakan api ketika kesepian, memberikan cinta ketika gusar, memberikan ketenangan ketika terombang-ambing dalam kebimbangan.

35

Dari antara wanita yang hidup di dekatnya, Ibunya Kamila Rahmi adalah seorang wanita yang paling besar pengaruhnya dalam kehidupan Gibran. Dalam Sayap-Sayap Patah Gibran mengatakan tentang ibunya:

Ibu adalah segala-galanya dalam kehidupan, dialah pelipur lara di kala sedih, harapan di saat susah dan sumber kekuatan ketika lemah. Dia merupakan mata air kasih sayang, kesabaran, dan ampunan. Orang yang kehilangan ibunya, berarti telah kehilangan dada tempat menyandarkan kepalanya, tangan yang memberi berkat dan kedua mata yang mengawasi.” 36

2. 4. Tempat Persinggahan

Di antara tempat-tempat yang dikunjungi Gibran seperti Nazareth, Betlehem, Jerusalem, Tirus, Sidon, Tripoli, Baalbek, Madinah, Damaskus, Alepo, Palmyra, Paris, dan Boston, yang paling berpengaruh dalam hidupnya adalah Wadi Qadisha. Di sinilah untuk pertama kalinya Gibran

35 Ibid., hal. 103-127.

36 Ibid., hal. 103.

mengalami keindahan alam dan merasakan kedekatannya. Alam bagianya adalah sumber inspirasi, tempat di mana imajinasi itu muncul dan berkembang.

Kendati demikian tempat-tempat lain selain Wadi Qadisha bukan berarti tidak mempengaruhinya, semuanya merupakan titik-titik kecil dalam peta perjalanannya, di antaranya memiliki pengaruh yang kuat dalam pemikiran, tulisan, dan filsafat Gibran. Tidak heran saat Gibran berada di Nazareth, ia memutuskan untuk menulis bukunya yang berjudul Yesus Putra Manusia. 37

Kenangannya akan tempat-tempat yang pernah disinggahinya tidak hanya memendarkan inspirasi baginya, tapi lebih dari itu Gibran justru merasakan kalau jiwanya menjadi satu dengan tempat-tempat tersebut. Dalam surat kepada sepupunya Gibran menulis:

“Hal-hal yang disukai oleh seorang anak senantiasa berada di dalam hatinya hingga ia tua nanti. Hal yang paling indah dalam kehidupan adalah bahwa jiwa-jiwa kita senantiasa berada di tempat-tempat yang pernah dinikmati oleh diri kita sendiri. Akulah salah satu orang yang mengingat tempat-tempat itu tanpa terbatas oleh jarak atau waktu.” 38

3.

Karya-Karya

37 Ibid., hal. 23-27.

38 Ibid., hal. 20.

Sebagian besar karya Gibran baik yang ditulis dalam bahasa Arab maupun Inggris, meski tidak semua, sebenarnya merupakan kumpulan artikel yang tersebar di berbagai surat kabar seperti al-Muhajer, Mi’aat Al Gharb, Al-Hilal di Mesir, Al-Barq di Lebanon dan Al-Funun. 39 Di samping itu juga selama Gibran hidup tidak semua karyanya ia terbitkan. Ini tampak seperti dalam surat kepada temannya

“Selama masa muda aku menulis banyak prosa dan puisi, tetapi sejak dulu sampai nanti aku tidak akan melakukan kejahatan dengan menerbitkannya.” 40

Tetapi, para pengagum Gibran menerbitkan apapun yang mereka dapatkan. Beberapa karya Gibran dalam bahasa Arab, antara lain: al-Arwah al-Mutamarridah (1906) Ara`is al Muruj (1908), al-Ajnihah al-Mutakassirah (1912), Dam’ah wa Ibtisamah (1914), al-Mawakib (1918), al-Awasif (1920), al- Badayi wa Taray’if (1925). 41

Sedangkan yang diterbitkan dalam bahasa Inggris, antara lain: The Madman (1918), Twenty Drawings (1919), The Forerunner (1920), The Prophet (1923), 42 Sand and Foem (1926), Jesus the Son of Man (1928), The Earth Gods (1931), The

39 Sudiarja, Op.Cit., hal. 65.

40 Sheban, Op.Cit., hal. 31-32.

41 Susanto, Op.Cit., hal. 47.

42 Awalnya karya ini ditulis Gibran ketika masih berusia 15 tahun dalam bahasa Arab dengan judul An-Nabi, akan tetapi baru pada tahun 1923 baru diterbitkannya setelah mengalami revisi terus menerus. Bdk. Hasan, Op. Cit., hal. 44.

Wanderer (1932), The Garden of the Prophet (1933), Prose Poesm (1934), Secrest of the Hearts (1947) Spirits Rebellious (1948), Tears and Laughter (1949, A Tear and a Smile (1950) Voice of the Master (1959), A Self-portrait (1959), Thoughts and Meditations (1960), The Vision (1997) Spirit Brides (1998) 43 .

Masih terdapat 38 tulisan singkat berupa artikel dan puisi yang tersebar di berbagai media cetak dan surat kabar 44 . Juga sejumlah lukisan dan sketsa, antara lain yang berjudul La Priere (sembahyang), Harmoni di Puncak, La Monde Divin (Alam Ilahi), Autum (musim gugur), Micheline, Kamila Rahmi, Marry Haskell dan Pemain Harpa. 45

Kesimpulan

Ada dua hal yang dapat disimpulkan dari uraian di atas. Pertama, sepanjang hidup Gibran, pena dan kuaslah yang menjadi tempat menuangkan imajinasi dan perasaan sampai menjadikan dirinya sebuah ikon sejarah. Daripadanya lahir zaman baru dalam gaya yang dipengaruhi oleh pemikiran Barat dan pemberontakan dalam jiwa generasi muda negaranya. Kedua, gerakan dan latar karya-karyanya adalah usaha untuk menghubungkan sesuatu yang diketahui dan sesuatu yang tak diketahui, menggambarkan cinta, kesedihan dan kehidupannya dalam kaitannya dengan Tuhan. Menapaki jejak Gibran, membenam dalam karya-karya dapat disimpulkan sesungguhnya Gibran adalah homo religiosus sejati, seorang manusia yang beriman kepada Allah.***

43 Ibid., hal. 169.

44 Susanto, Op.Cit., hal. 48.

45 Hasan, Op.Cit., hal. 278-290.