Anda di halaman 1dari 8

PROGRAM REFORMA AGRARIA DAN METODOLOGI PENELITIAN AGRARIA 1

I.

PENDAHULUAN

Gunawan Wiradi

(1)

Bertolak dari kenyataan sederhana :

 

(a)

Di berbagai belahan dunia ini sebagian besar penduduk tinggal di pedesaan;

(b)

Sampai detik ini, makanan manusia untuk hidup itu masih terdiri dari bahan-bahan yang berasal dari sumber-sumber agraria (tanaman pangan, ternak, ikan);

(c)

Dalam sejarah perkembangan masyarakat manusia, berlangsung pembagian pekerjaan: orang desa menggarap tanah dan memelihara ternak, dan menghasilkan pangan. Orang kota mengerjakan hal-hal lain.

(2)

Atas

dasar

kenyataan

tersebut

di

atas,

ada

kenyataan

lain

yang

menimbulkan pertanyaan-pertanyaan.

 

(a)

"………… mengapa ratusan ribu orang di Asia, Afrika dan Amerika Latin, yang menggarap tanah, menabur benih, merawat ternak, menjaring ikan, mati kelaparan, sedangkan orang kota tetap hidup? …………. mengapa bencana kekurangan pangan, dan kemiskinan hampir selalu terjadi di pedesaan tempat pangan dihasilkan?" (Piere Spitz, 1979).

(b)

"Mengapa perjuangan golongan miskin, khususnya petani; dalam menuntut jangkauan yang lebih adil terhadap sumber-sumber agraria akhirnya selalu kalah?" (Powelson & Stock, 1987).

(c)

Mengapa upaya berbagai negara untuk melakukan pembaruan agraria dapat dikatakan hampir semuanya belum pernah berhasil? (Christodoulou, 1990).

(3)

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas:

 

(a) Masalahnya terletak pada soal "pengorganisasian sosial ekonomi masyarakat". Salah satu aspek dari sistem pengorganisasian yang tidak serasi itu adalah timpangnya sistem penguasaan tanah (Spitz, op. Cit.)

1 Bahan Ringkas, disajikan dalam Semiloka yang diselenggarakan oleh kerjasama tiga lembaga :

Pusat Kajian Agraria-IPB, P3K-UGM, dan Yayasan Akatiga Bandung, tanggal 13-15 September 2000, di Bogor

1

(b)

Mengapa rakyat selalu kalah, karena selalu "terkhianati". Mengapa, karena tak berdaya. Mengapa tak berdaya, karena tak terorganisir. (Powelson & Stock, op. Cit)

(c)

Mngapa hampir semua Reforma Agraria belum begitu berhasil?. Karena hampir semua negara itu menjalankannya secara "setengah hati". Mengapa, karena pada umumnya, pemerintah negara-negara

itu selalu bertumpu pada golongan ekonomi kuat (Christodoulou, op.

Di samping itu, faktor-faktor yang kondusif belum ada atau

belum dipersiapkan. Penilaian atas kenyataan obyektif yang ada, sering keliru, karena data yang lengkap dan teliti belum tersedia (R. King, 1977; Hayami, et. al, 1990).

cit).

(4) Demikianlah dengan latar belakang tersebut di atas itu, maka kegiatan pengumpulan data agraria sebaik mungkin, akan merupakan sumbangan yang berharga dalam rangka upaya kita untuk mewujudkan momentum yang kondusif bagi persiapan pelaksanaan Reforma Agraria. Data yang lengkap dengan tingkat ketelitian yang tinggi adalah salah satu prasyarat bagi berhasilnya Reforma Agraria.

II. AGENDA PENELITIAN AGRARIA

Penyediaan data agraria yang lengkap dan teliti bukanlah pekerjaan yang mudah. Ini sebenarnya merupakan kegiatan besar yang memerlukan tenaga dan dana yang besar, dan di berbagai negara merupakan tugas penerintah. Walaupun demikian, sumbangan lembaga-lembaga penelitian (baik di perguruan tinggi maupun di lembaga lain seperti LSM) tetap diperlukan.

1. Masalah agraria adalah masalah yang cakupannya sangat luas dan kompleks. Karena itu ratusan topik bisa dirumuskan untuk melakukan peneltian. Dalam hubungan ini, Lokakarya internasional tentang Reforma Agraria yang berlangsung di Selabintana, Sukabumi, Jawa Barat tahun 1981 menghasilkan sebuah inventarisasi sejumlah topik (lebih dari 45 topik) sebagai agenda penelitian. Hasil-hasil penelitian ini (seandainya dapat dilaksanakan) diharapkan dapat memberikan informasi-informasi yang diperlukan dalam rangka mempersiapkan program Reforma Agraria. Tentu saja, dari sejumlah besar topik-topik itu diperlukan adanya skala prioritas, data apa saja yang paling utama diperlukan lebih dahulu. Penentuan prioritas ini sebenarnya jug tergantung dari "sikon" masing-masing negara.

2. Demikianlah, bagi kita di Indonesia, kalau bangsa Indonesia memang berketetapan untuk melaksanakan Reforma Agraria, tugas untuk menyediakan data agraria yang komprehensif dan teliti itu, sudah sewajarnya menjadi tanggung ajwab BPS. Lembaga-lembaga lain sifatnya hanya menyumbang, namun sekaligus juga sebagai faktor pembanding.

3. Khususnya bagi kita yang berkumpul dalam semiloka ini, mengingat berbagai keterbatasan yang dimiliki, pemilihan prioritas itu memang benar-benar diperlukan. Karena itu, dari lebih 45 topik yang diinventarisir oleh Lokakarya Selabintana tersebut di atas, saya telah mencoba untuk menseleksi dan/atau

2

merangkumnya menjadi sekitar 12 topik (lihat lampiran). Dari 12 topik ini pun masih perlu dipilih mana yang seharusnya dilakuka lebih dahulu. Menurut saya, tiga topik yang disebut pertama merupakan prioritas utama. Sisanya, bisa diubah-ubah urutan prioritasnya, juga bisa digabung-gabungkan tergantung dari kondisi setempat dan tergantung dari kemampuan yang ada pada kita.

III. METODA PENELITIAN AGRARIA?

(1) Pertama-tama perlu dicatat bahwa barangkali yang hendak dibahas dalam semiloka ini bukanlah metodologi, melainkan metoda penelitian. Bahkan mungkin lebih sempit lagi dari itu, yaitu menyangkut teknik-teknik tertentu dalam mengerjakan tahap-tahap tertentu dalam keseluruhan proses penelitian. Mengapa ini perlu dicatat?

dari

epistemologi, filsafat ilmu, atau teori tentang pengetahuan" (A. Kaplan, 1964). Metodologi merupakan cabang dari logika (Hoult, 1969). Atau "metodologi adalah ilmu yang mempelajari dan membahas konsep-konsep

serta

Makna

asli

dari

istilah

metodologi

sebenarnya

adalah

"sinonim

teoritis

berbagai

metoda,

membahas

tentang alat-alat

penelitian,

kelebihan dan kelemahannya". (Noeng Mukajir, 1996).

Metoda penelitian adalah seperangkat langkah-langkah teknis yang tersusun secara sistematis dan logis, serta terkerangka atas dasar prinsip-prinsip ilmiah, untuk melakukan penelitian. Teknik adalah cara, atau gambaran konkrit bagaimana mengerjakan sesuatu (misal teknik wawancara; teknik menarik sampel; teknik menghitung indeks Gini, dlsb.)

(2) Sepanjang yang saya ketahui, sebenarnya tidak ada, atau belum ada, suatu metoda penelitian yang khas untuk studi agraria. Prinsip-prinsip umum metodologis tetap berlaku untuk memilih metoda-metoda yang sejauh ini telah tersedia. Pilihan metoda ini tergantung dari dua faktor pokok :

(a) Secara metodologi, pilihan itu tergantung dari pandangan dasar (paradigma) yang dianut; (b) Secara teknis, tergantung dari topik penelitiannya. Sebab, topik penelitian itu menentukan jenis data yang bagaimana yang diperlukan. Dan jenis data inilah yang menentukan metoda pengumpulannya di lapangan. Selain itu, tujuan penelitannya juga turut menentukan. Sekalipun topiknya sama, kalau tujuan penelitian itu berbeda maka jenis data yang dikehendaki mungkin berbeda.

(3) Seperti disebut di depan, tiga topik yang disebut pertama (lihat lampiran) merupakan prioritas pertama jika kita ingin melihat gambaran keagrariaan kita. Sebenarnya, topik ke-3 bisa digabungkan ke dalam topik ke-2. Kita coba untuk melihat satu per satu.

(4) Topik pertama sebenarnya bukan topik tapi hanya sebuah agenda yang pada dasarnya adalah pengumpulan data sekunder (walaupun mencakup

3

banyak "item"). Jadi, sepintas nampak relatif sangat mudah. Hanya saja, ada beberapa masalah yang harus diperhatikan:

(a)

apakah di setiap lokasi tersedia jenis data yang sama?

(b)

kalau tersedia, apakah tersusun dengan format yang sama, atau dengan format lain?

(c)

sejauh mana data sekunder itu dipercaya?

(d)

bagaimana mengidentifikasi kejanggalan-kejnggalan, dan mengatasinya langsung di lapangan? Pendeknya, mengumpulkan dan menggunakan data sekunder, tidaklah semudah yang dibayangkan. Peneliti dituntut untuk sabar/tekun, kritis, kreatif dan hati-hati. Data sekunder itu dikumpulkan dari berbagai sumber, antara lain: Kantor Desa, Kecamatan, Kabupaten, instansi- instansi terkait seperti Kantor Agraria, Kehutanan, Perkebunan, dll. Pengumpulan data sekunder bisa diprogramkan secara berbeda-beda (tergantung fungsinya).

(e)

Ada penelitian yang tujuannya memang hanya menganaliis data sekunder dengan topik tertentu. Dalam hal ini, pengumpulan data sekunder itu menjadi kegiatan "lapangan" secara khusus, terjadwal secara khusus dengan dana khusus, dengan "design" tertentu sesuai topik penelitiannya.

(f)

Jika data sekunder sebagai penunjang studi empiris, pengumpulannya bisa dilakukan bersama-sama dengan kegiatan lapangan dalam pegumpulan data primer, atau beberapa waktu sebelumnya, atau sesudahnya. (Artinya dalam satu paket penelitian. Baik penjadwalannya, maupun jenis data yang dikumpulkan, disesuaikan dengan topiknya).

(g)

Pengumpulan data sekunder sebagai program khusus (tetapi bukan seperti butir (e) tersebut di atas). Suatu lembaga melakukan pengumpulan data sekunder secara terus menerus secara sistematis. Data yang dikumpulkan adalah menyeluruh, mencakup semua hal yang berkaitan dengan agraria. Funginya untuk menunjang studi-studi dengan topik apapun. (Model inilah sebenarnya, yang dimaksud mengapa termasuk sebagai "topik", dalam Lampiran).

(5) Topik ke-2 dan ke-3 merupakan prioritas tertinggi karena mengandung maslah-masalah yang sangat mendasar dalam konteks Reforma Agraria. Topik ke-2 adalah topik yang berat karena sebenarnya merupakan gabungan dari beberapa topik khusus, dan sebenarnya topik ke-3 bisa dimasukkan juga ke dalamnya. Hanya saja, karena masalah fragmentasi tanah sering menjasi isu perdebatan, maka di sini dipisahkan sebagai topik tersendiri. Dalam praktek penelitian, kegiatan pengumpulan datanya bisa disatukan. Sebaliknya, bisa juga: bahkan topik ke-2 itu sendiri dipisahkan menjadi paling tidak empat topik:

(a)

struktur pemilikan tanah ("tenure")

(b)

struktur penguasaan tanah (termasuk "tenancy")

(c)

struktur penggunaan tanah

(d)

struktur dan distribusi pendapatan

Antara dipisah dan disatukan, "trade-off"-nya adalah:

4

(a)

Jika disatukan, kegiatan menjadi efisien. Tetapi syaratnya: dituntut ter- sedianya tenaga peneliti lapangan dengan kualitas yang memadai. Se- bab, keempat aspek itu saling berkaitan. Dan agar data itu "meaningful", keempat aspek itu memang harus dianalisis secara terintegrasi.

(b)

Jika dipisah-pisahkan, tugas pengumpulan data relatif lebih ringan. Tetapi pada tahap analisis akan mengalami kesulitan. Kecuali kalau tujuannya hanya memberikan "petanya"nya saja. Tetapi jika demikian, data itu menjadi kurang "meaningful".

(6) Dalam TOR banyak sekali ditemukan kata-kata peta dan pemetaan, yang seharusnya diberi tanda kutip "peta", "pemetaan". Sebab, yang dimaksud adalah bukan peta fisik seperti gambar peta geografis, melainkan gambaran yang dapat memberikan "overview" mengenai bermacam struktur tersebut di atas (dapat berbentuk bagan-bagan skematis, ataupun tabel-tabel yang berisi data-data kuantitaif).

(7) Mengingat bahwa topik ke-2 itu merupakan masalah dasar, dan berupa data- data kuantitatif, maka idealnya, metoda penelitiannya tidak ada lain kecuali sensus ("full enumeration survey"). Di negara manapun, data agraria yang digunakan untuk mempersiapkan program Reforma Agraria adalah data sensus (ini secara makro).

(8) Tentu saja, bagi lembaga-lembaga kecil, atau seperti kita yang berkumpul dalam semiloka ini, tidak mungkin melakukan sensus seluruh Indonesia. Bahkan dalam skala mikro desa pun metoda sensus sering dihindari dengan alasan waktu, tenaga dan dana yang terbatas. Itulah sebabnya orang lalu menggunakan "sample survey". Sekalipun secara ilmiah hasil "sample survey" (yang dilakukan dengan prosedur yang benar) dapat dipertanggungjawabkan sebagai "mewakili" gambaran lokasi yang diteliti, tetaapi secara substansial jelas tidak memberikan gambaran utuh. Karena itu, menurut saya, sebaiknya satuan wilayah yang dijadikan obyek adalah komunitas-komunitas kecil, tetapi pengumpulan datanya dilakukan dengan sensus, khususnya bagi jenis-jenis data yang memerlukan kuantifikasi. Bagi jenis-jenis data yang lain, tentu diperlukan metoda ini (lihat misalnya, untuk topik no.9, Lampiran).

(9) Untuk topik ke-2 itu, memang sebagian besar data yang dikehendaki adalah data kuantitatif. Walaupun demikian, informasi-informasi kualitatif juga diperlukan. Karena itu barangkali yang paling pas adalah metoda "serba ganda" (atau istilah Prof. Sayogyo "multiples") (lihat, Sayogyo, 1974). Ini dalam konteks penelitian ilmiah. Tetapi jika yang dimaksud, sebagai langkah awal, hanya semata-mata hendak mengetahui "peta" pemilikan tanah, misalnya, maka tak ada cara yang lebih baik kecuali "full enumeration" (sensus). Atau, dibantu dengan "potret udara".

III. PERBANDINGAN ANTAR DAERAH

(1) Di dalam TOR semiloka ini, terkesan jelas sekali adanya keinginan untuk mengetahui apakah bagi daerah yang berbeda kondisi agro-sosial-

5

ekonominya, diperlukan metoda yang berbeda. Khususnya, Jawa dan luar Jawa. Menurut saya, gagasan tersebut agak janggal. Mengapa? Sebab:

(2) Kalau itu dilakukan, kita menghadapi problem teoritis.

(a)

Kalau ingin membandingkan masalah yang sama dalam dua daerah yang berbeda, metodanya harus sama. Kalau metodanya berbeda datanya "incomparable"!

(b)

Kalau yang ingin dibandingkan adalah metodanya, maka obyeknya harus sama.

IV. CATATAN AKHIR

Membahas masalah metodologi penelitian tentu saja tidak dapat tuntas hanya dalam waktu satu dua jam. Di perguruan tinggi mata-kuliah metodologi diberikan paling sedikit satu semester. Karena itu, dalam mkalah pendek ini tentu saja masih banyak sekali problem-problem metodologis yang tidak dijamah. Sajian ringkas tersebut di atas itu hanya potongan-potongan sekedarnya, dan bahkan itupun mungkin juga belum jelas benar. (Penjelasan dengan contoh- contoh konkrit barangkali akan disajikan secara lisan dalam presentasi)

Di samping itu, mengingat bahwa tema semiloka ini adalah "metodologi", maka persoalan-persoalan pokok masalah agraria itu sendiri juga tidak dibahas dalam tulisan ini (kecuali hanya disinggung di bagian pendahuluan).

Walaupun demikian, sekadar sebagai pembuka pikiran mudah-mudahan isi makalah ini dapat berfungsi sebagai pemicu diskusi dan dapat mengundang pendapat-pendapat yang kreatif dan inovatif.

Sekian dan terima kasih.

DAFTAR ACUAN

1. CHRISTODOULOU, D. (1990): The Unpromised Land. Agrariran Reform and Conflict Worldwide. Zed Books Ltd. London and New Jersey.

2. HAYAMI, Y. M.A.R. QUISUMBING, l.S. ADRIANO (1990): Toward An Alternative Land Reform Paradigm. A. Philippine Perspective. Ateneo De Manila University Press Manila.

3. HOULT, T.F. (1977) :

Dictionary

Co.New Jersey.

of

Modern

Sosiology.

Littlefield.

Adam

&

4. KAPLAN, A. (1964):

The Conduct of Inquiry. Chandler Publishing Company.

San Fransisco.

6

5.

KING , R. (1977) :

Land Reform. A World Survey. Westview Press. Bpulder.

Colorado.

6. NOENG MUHADJIR (1966): Metodologi Penelitian Kualitatif.Edisi III Penerbit Rake Sarasin Yogyakarta.

7. POWELSON, J. P. and R. STOCK (1987): The Peasant Betrayed.

A.

Lincoln

Institute of Land Policy Book. Oelgeschlager, Gunn & Hain. Boston.

8. SAJOGYO (1974): "Some Notes on Research Planning and Field Data Collection". Makalah dalam lokakarya yang diselenggarakan oleh ADC, di Singapore, bulan November, 1974.

9. SPITZ, Piere (1979):

Silent Violence; Famine and Inequality. UNRISD. Rome.

7

LAMPIRAN

BEBERAPA TOPIK PENELITIAN

1. Inventarisasi peta-peta tanah, catatan-catatan pajak tanah, daftar pemilikan tanah, data sekunder lainnya.

2. Analisa mengenai susunan sebaran pemilikan tanah, penguasaan tanah, dan penggunaan tanah, yang dihubungkan dengan susunan sebaran pendapatan (baik dari pertanian, non-pertanian, maupun total)

3. Analisa mengenai sifat dan tingkat fragmentasi tanah.

4. Analisa mengenai keragaan sosial-ekonomi berbagai jenis satuan usahatani.

5. Mekanisme perolehan tanah/pembebasan tanah, baik bagi kepentingan umum, maupun untuk kepentingan perusahaan-perusahaan swasta.

6. Konversi penggunaan tanah dari pertanian ke non pertanian (termasuk lajunya dan dampaknya).

7. Investasi dalam tanah oleh kelompok-kelompok pengusaha non pertanian.

8. Komposisi, perilaku, dan hubungan sosial di antara pemilik tanah, dan antara pemilik tanah dan tunakisma, dalam masyarakat pedesaan.

9. Persepsi rakyat setempat mengenai hak-hak atas tanah dan fungsi tanah (nilai- nilai budaya yang melekat pada kepemilikan tanah).

10. Kedudukan dan sikap berbagai kelompok (organisasi sosial politik, LSM, birokrat, dan kelompok kepentingan lainnya) terhadap gagasan Reforma Agraria.

11. Sifat, jenis atau pola, dan luasnya sengketa tanah.

12. Mekanisme pendaftaran tanah dan pengukuran tanah (baik pengukuran yang dilakukan oleh instansi resmi maupun yang pernah dilakukan oleh kebiasaan rakyat sendiri).

ooUUUUUUoo

8