Anda di halaman 1dari 1

Zat pengawet yang ada dalam minuman kemasan itu sangat berbahaya.

Salah satunya bisa menyebabkan penyakit sistemic lupus erythematosus (SLE), penyakit yang meyerang sistem kekebalan tubuh. Komite Masyarakat Antibahan Pengawet (Kombet) kemarin merilis hasil risetnya terhadap 28 minuman dalam kemasan. Paling banyak diteliti adalah minuman isotonik. ''Ternyata sebagian besar minuman dalam kemasan mengandung bahan pengawet yang membahayakan tubuh,'' kata Ketua Kombet Nova Kurniawan saat Konferensi Pers di Hotel Sari Pan Pasific.
Quote:

Hasilnya, diklasifikasikan dalam empat kategori. Kategori pertama adalah produk yang tidak ditemukan bahan pengawet natrium benzoat dan kalium sorbat. Yakni Pocari Sweat, Vita-Zone, NU Apple EC, Jus AFI, dan Sportion. Kategori kedua, produk yang mengandung pengawet natrium benzoat dan mencantumkannya di label kemasan. Minuman yang masuk kategori ini adalah Freezz Mix, Ize Pop, Nihau Orange Drink, Zhuka Sweat, Amazone, Kino Sweat, Arinda Sweat, Arinda Ice Coffee, Cafeta, Vzone, Pocap, Amico Sweat, Okky Jelly Drink, Deli

Jus,Mizone,Fruitsam,dan CLICKZ(tambahan agan altair) Kategori ketiga, ada juga minuman yang mengandung dua pengawet, natrium benzoat dan kalium sorbat, tetapi hanya mencantumkan satu jenis pengawet. Yakni Boy-zone, dan Zegar Isotonik. Kategori keempat, yang paling parah adalah minuman yang mengandung pengawet, tapi tidak mencantumkannya dalam label kemasan. Minuman tersebut adalah Kopi Kap, Jolly Cool Drink, Zporto, Jungle Juice, Zestea, dan Mogu-mogu. ''Kategori ketiga dan keempat masuk dalam kategori pembohongan publik. Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan Depkes harus bertindak tegas dan menarik produk tersebut dari pasar,'' kata Nova.

Namun minuman ini sebenarnya tidak bisa dikonsumsi sembarangan karena kandungan natriumnya cukup tinggi. "Harus diwaspadi konsumsi minuman isotonik terutama pada orang dengan gangguan pencernaan, pasien hipertensi, juga pasien diabetes melitus yang kadar gulanya akan terganggu jika tidak memperhitungkan asupan gula dalam larutan isotonik tersebut," jelas Dr.Ari Fahrial Syam, Sp.PD, ketua advokasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia.