Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN I.

1 Latar Belakang Pemakaian pewarna rambut saat ini sudah semakin meluas, hal ini berdampak pada meningkatnya produksi pewarna rambut dan di pasaran pun dapat ditemukan berbagai

variasi pewarna rambut. Komposisi zat aktif dan bahan tambahan yang terdapat dalam pewarna rambut pun beragam. Maka pengetahuan tentang bahan apa saja yang digunakan pada pewarna rambut dan karakteristiknya perlu diketahui untuk melakukan identifikasi untuk analisis sediaan pewarna rambut.

I.2

Rumusan Masalah Adapun hal-hal yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain : penggolongan

pewarna rambut beserta contoh masing-masing golongan, karakteristik ideal pewarnaa rambut, proses dan cara kerj pewarnaan rambut, dan identifikasi zat pewarna rambut.

I.3

Tujuan Penulisan Penyusunan makalah ini bertujuan untuk mengetahui serta memahami penggolongan

pewarna rambut, apa sajabahan penyusun sediaan pewarna rambut, bagaimana karakteristik ideal pewarna rambut, cara kerja pewarnaan rambut, dan bagaimana cara identifikasi berbagai jenis bahan pewarna rambut.

I.4

Metode Penulisan Dalam penyusunan makalah ini, penulis menggunakan metode pustaka, yaitu dengan

mencari informasi sebanyak-banyaknya dari literatur-literatur yang menjelaskan mengenai komponen-komponen penyusun pewarna rambut dan bagaimana cara identifikasinya.

I.5

Sistematika Penulisan Sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Penulisan 1.4 Metode Penelitian 1.5 Sistematika Penulisan BAB II ISI II.1. Penggolongan Pewarna Rambut II.2. Karakteristik Pewarnaan Ranbut Yang Ideal II.3. Jenis Pewarna Rambut II.4. Faktor Proses Pewarnaan II.5. Cara Kerja Pewarnaan Rambut II.6. Pembentuk Warna Pada Rambut II.7. Identifikasi BAB III PENUTUP III.1 Kesimpulan III.2 Saran DAFTAR PUSTAKA

BAB II RESUME PEWARNA RAMBUT Pewarna Rambut Warna rambut manusia bermacam-macam bergantung pada jenis pigmen yang terdapat dalam korteks rambut. Untuk mengubah warna rambut diperlukan pengetahuan tentang warna dasar (primer) yang terdiri dari warna merah, kuning, biru. Warna sekunder adalah warna yang dibentuk dari campuran warna primer, yaitu warna merah-kuning (jingga), kuning-biru (hijau), merah-biru (ungu). Warna tersier adalah campuran warna sekunder, yaitu merah-jingga. Jingga-kuning, dan sebagainnya.

II.1 Penggolongan Pewarna Rambut 1. Berdasarkan Proses proses pewarnaan dapat dilakukan dengan segera, yaitu langsung mencapai warna akhir. Sebagian besar cat rambut menggunakan proses ini. Proses pewarnaan rambut yang lain adalah dengan cara bertahap (gradual, restorer), secara sedikit demi sedikit mengubah warna rambut, misalnya dari rambut kecokelatan menjadi lebih gelap (coklat hitam) lalu menjadi hitam. Kosmetika ini popular digunakan oleh pria yang ingin tidak menarik perhatian umum pada pewarnaan rambutnya, sedangkan wanita kurang menyukai proses ini. 2. Sediaan sediaan tunggal dan sediaan campuran. Sediaan tunggal (one step) dapat langsung digunakan untuk mewarnai rambut. sediaan campuran (two step, tidak langsung) terdiri atas campuran dua bagian, yaitu bagian yang memutihkan rambut asal (toner) dan bagian yang mewarnai rambut (intermediate).

3. Bahan Zat warna alam, yaitu bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, misalnya dari indigo, gambir (Uncaria gambir), hena (Lawsonia alba), kamomil

(Matricacia chammomilla), kayu brazil (Caesalpiniabraziliensis atau C. echinata) Kelebihan : tidakmerugikan sistem Kekurangan: warna yang dihasilkan relatif keras dan tidak alami terutama sesudahpenggunaan berulang, perubahan rambutmenjadi kaku, liat , kadangkadang rapuh dandipengaruhi oleh pengeriting permanen. Zat warna logam Zat warna logam antara lain dari bismut nitrat, kadmium sulfat, kobalt sulfat,nikel sulfat, AgNO3, CuSO4 dan Pb. Acetat(1-2%) Zat warna asam Zat warna asam misalnya asam pirogalat ( perlu penambahan alkali untuk mempercepatOksidasi).

Zat warna sintetik Zat warna sintetik, misalnya DC orange no.4, DC hitam, DC coklat, 4-amino3-nitrofenilaminoetilamina,2-amino-4-nitrofeniletanolamina,5,8dihidroksinaftokinon,hitambiru naftol, dan lain-lain.

4. Sistem Pewarnaan sementara (temporary colouring) Pewarnaan sementara adalah jenis sistem pewarnaan rambut yang dapat mewarnai rambut dalam jangka waktu singkat dan akan segera luntur bila dibasahi oleh air atau shampoo. Bahan pewarna : pewarna asam yang

mempunyai molekul besar, contoh asam pirogalat, dan asam tartrat. Oleh karena itu, pewarna ini hanya dapat mewarnai permukaan rambut saja, tidak dapat terpenetrasi sampai ke cortex rambut, sehingga zat warnannya mudah terlepas. Bentuk sedian: cair, mousse, gel, dan spray. Pewarnaan semipermanen (semipermanent colouring)
4

Pewarnaan semipermanen adalah jenis sistem pewarnaan rambut yang warnanya dapat bertahan beberapa hari atau antara 3-6 kali shampoo. Bahan pewarna jenis ini memiliki molekul yang kecil dan memiliki afinitas yang baik terhadap keratin rambut.Oleh karena itu, pewarna ini dapat terpenetrasi sampai ke korteks rambut. Bahan aktif: dari tumbuhan seperti hena (L.alba) atau bahan sintetik seperti golongan coal tar dyes, nitroanilin, nitrofenilen diamin, nitroaminofenol, atau aminoantrakuinon. Pewarnaan permanen (permanent colouring) Pewarnaan permanen adalah jenis sistem pewarnaan rambut yang dapat bertahan lama (mingguan sampai bulanan), tahan terhadap pembasahan oleh sampo atau air, dan tahan terhadap faktor eksternal lainnya seperti penyikatan, penggosokan, cahaya, dan lain-lain. Sistem pewarnaan ini disebut juga oxidation colouring, karena proses pewarnaan melalui proses oksidasi di dalam (in situ) batang rambut.

Proses ini terdiri atas dua bagian: bagian yang memutihkan melanin korteks rambut, umunya digunakan lotio hidrogen peroksida 2-5% bagianintermediate color yang mewarnai rambut yang sudah putih tersebut, umumnya digunakan parafenilendiamin (PPDA).

II.2 Karakteristik Pewarnaan Rambut yang Ideal 1. Tidak berbahaya, yaitu tidak boleh melukai batang rambut dan mewarnai rambut tanpa merusak tekstur alami dan kehalusan rambut, tidak boleh memiliki efek iritasi dan tidak sensitif, dan tidak boleh memiliki efek toksik ketika terjadi kontak dengan kulit. Masalah yang dapat terjadi karena kandungan kimia zat pewarna rambut antara lain mutagenik, karsinogenik, dan teratogenik. 2. Stabil secara fisika dan kimia, yaitu terhadap udara, sinar matahari, penggosokan, dan keringat.
5

3. Dapat digabungkan dengan pewarnaan rambut yang lain, jika rambut diberikan perawatan seperti pemucat rambut, pengeritingan rambut, dicuci dengan sampo, maka hal ini tidak menghilangkan warna dari rambut. 4. Stabil pada aqueos solution, yaitu stabil dalam bentuk larutan dan formulasinya harus tetap stabil ketika dijual dan digunakan. 5. Selektifitas yang baik, sangat penting bagi suatu sediaan pewarna rambut, karena setiap rambut memiliki tekstur yang heterogen. 6. Afinitas pada keratin rambut Afinitas merupakan karakteristik fisikokimia yang penting dipertimbangkan untuk penetrasi zat pewarna ke batang rambut. Sifat ini penting untuk mengetahui suhu dan lamanya proses pewarnaan rambut.

II.3 Jenis Pewarna Rambut 1. Pewarna Rambut Temporer Acid dyes: azo, trifenilmetan, xantene, azine, antrakuinon Basic dyes: azo, trifenilmetan, azine, indolanilin, indofenol, indoamin (proses yang paling sering digunakan karena pewarnaannya lebih merata melalui reaksi oksidasi). Disperse dyes: azo , antrakuinon Metallic dyes: azo

2. Pewarna Rambut Semi-Permanen Secara umum mempunyai molekul yang lebih kecil dan kebanyakan merupakan golongan nitro. Warna yang dihasilkan terang dan tajam. Pewarna rambut yang tergolong dalam pewarna rambut semipermanen sebagian besar merupakan kelompok senyawa nitrophenylendiamins, nitroaminophenols, dan aminoantraquinons. Nitrophenylendiamins dan nitroaminophenols menghasilkan warna violet sampai biru.
6

Nitrofenilendiamin Banyak digunakan karena sintesisnya yang mudah dan range warna yang dihasilkan juga lebih beragam. Berdasarkan isomer dan substitusinya, dapat diperoleh spektrum warna dari kuning sampai violet dengan range panjang gelombang 140 nm. Nitrofenilendiamin dapat dijabarkan berdasarkan struktur kimianya

R1, R2, dan R3 dapat sama, berbeda, dan dapat pula mewakili unsur H atau disubstitusi oleh kelompok alkil seperti -CH3, -CH2CH2OH, -CH2CH2NH2, CH2COOH, -CH2CONH2, dan lain-lain. Beradasarkan posisi yang ditempati oleh kelompok NO2 dan NHR3, cat ini dapat dianggap sebagai derivat-derivat dari 4-nitro-o-feniendiamin, 2-nitro-p-fenilendiamin, atau 4-nitro-m- fenilendiamin. Proses alkilasi dari R1, R2, R3 terbukti dapat meningkatkan intensitas warna dan rangenya, hal ini dapat diamati pada tabel.

Alkilasi Nitro-p-fenilendiamin 4-amino-3-nitro-N-metilendiamin 4-amino-3-nitro-N-(2-hidroksietil)anilin 4-(2-hidroksietil)amino-3-nitro-anilin 4-(2-hidroksietil)amino-3-nitro-N-(2hidroksietil)aniline

Warna Merah jingga Ungu Merah violet Merah violet Violet

4-(2-hidroksietil)amino-3-nitro-N,N(bis(2-hidroksieti)l)aniline 4-metilamino-3-nitro-N,N-(bis(2hidroksietil))aniline 4-metilamino-3-nitro-N-metil-N-(2hidroksietil)aniline 4-nitro-o-fenilendiamin 2-amino-4-nitro-N-(2hidroksietil)anilin T e 2-(2-hidroksietil)amino-4-nitro-N-(2hidroksietil)aniline

Violet biru

Biru violet

Violet biru

Kuning jingga Jingga

Jingga

r 2-amino-4-nitro-N-(trisn (hidroksimetil))metilanilin y a 4-nitro-m-fenilendiamin a

Jingga

Kuning

Ternyata, tidak hanya kelompok dari substitusi nitroanilin yang dapat dikembangkan, antara lain: Derivat-derivat tersubstitusi pada cincin aromatik dengan donor elektron lemah seperti CH3 atau -OCH3; Derivat-derivat dari nitrodifenilamin seperti: 4-(bis-(2-hidroksietil))amino-3nitro-4-metilamino-difenilamin (biru); 2-nitro-4-(bis-(2-hidroksietil))aminodifenilamin; 2-nitro-4-metoksi-difenilamin; 2-nitro-4-amino-difenilamin. Nitroaminophenols Variasi isomer dan substitusi yang beragam memungkinkan formulator untuk menghasilkan range warna yang lebih luas yaitu kuning sampai orange kemerahan dengan panjang gelombang sekitar 80 nm. Nitroaminophenols dapat dijabarkan berdasarkan struktur kimianya.

Dimana R1 dan R2 dapat sama, berbeda, dan dapat pula mewakili unsur H atau kelompok alkil yang lebih rendah, disubstitusi dapat pula tidak, seperti CH3 dan CH2CH2OH dan dimana n dapat 1 atau 2. Berdasarkan posisi dari kelompok nitro dan amino, jenis-jenis cat rambut dapat dibuat dan yang paling penting ditunjukkan pada tabel. Derivat-derivat lain dengan pensubstitusi yang berbeda juga telah disintesa. 2-amino-4-nitro-phenol 2-amino-4,6-dinitro-phenol pikramik) 2-amino-5-nitro-phenol 2-(2-hidroksietil)amino-5-nitro-phenol metil eter 2-(2-hidroksietil)amino-5-nitro-phenol-2- Kuning hidroksietil eter 4-amino-2-nitro-phenol 4-metilamino-2-nitro-phenol 4-metilamino-2,6-dinitro-phenol isopikramik) 4-amino-3-nitro-phenol 4-(2-hidroksietil)amino-3-nitro-phenol 4-(2-hidroksietil)amino-3-nitro-phenol Jingga tua Merah Jingga Pink salmon Merah mawar (asam Merah mawar Kuning Jingga Kuning Jingga (asam Jingga tua

metal eter 4-amino-3-nitro-phenol-2-hidroksietil eter Jingga

Aminoanthraquinone Aminoanthraquinone menampilkan seluruh range dari cat yang berasal dari amino dan hidroksi-anthraquinon dengan semua variasi substituennya.

1-amino-4-metilamino antraquinon (disperse violet 4/solvent violet 12/color Index No. 61105) 1,4-diamino-5-nitro anthraquinon (disperse violet 8/color Index No. 62030) 1,4,5,8-tetra amino anthraquinon (disperse blue 1/solvent blue 18/ color Index No. 64500) 1-metilamino-4-(2-hidroksietil) amino anthraquinon 1-hidroksi-2,4-diamino antraquinon.

Pewarna lainnya Selain kelompok nitrophenildiamins, nitroaminophenols dan

aminoanthraquinons juga dapat digunakan senyawa lain dalam pewarna semi permanen. Pertimbangan penggunaan senyawa ini adalah ukuran molekul dan krakter

10

hidrofiliknya. Nitroalanin, dinitroalanin dan azo merupakan pewarna lain yang digunakan sebagai pewarna rambut semipermanen. Tabel. Pewarna rambut semi permanen lainnya HC Yellow No.6 HC Yellow No.15 HC Yellow No.2 HC Orange No.1 HC Yellow No.7 Dispersi Black 9 2-Hydroxyethyl picramic acid Kuning Kuning Orange Orange Orange Orange Merah-orange

Sejumlah cat lainnya dapat digunakan dalam formulasi pewarnaan semi permanen. Secara umum, untuk membantu memodifikasi warna: sebagai contoh, dapat digunakan derivat azo heterosiklik dan derivat-derivat dari azomerocianin. Penggunaan cat yang reaktif mulai digunakan pada bidang pewarnaan tekstil. Pengklasifikasian berbagai prosedur dan komposisi dari pewarna 1) Prosedur yang didasarkan pada kesimultanan atau keberhasilan penggunaan dari thiol khususnya thioglicollik 2) berdasarkan kegunaan dari berbagai solvent. 3) berdasarkan permintaan dari pasar. 4) penggunaan komplek anionic-kationik. 3. Pewarna Rambut Permanen Pewarna rambut permanen banyak digunakan karena warnannya lebih tahan lama daripada pewarna rambut semipermanen. Contoh pewarna rambut permanen diantarannya pewarna oksidasi, pewarna yang berasal dari tumbuhan dan pewarna rambut logam (metallic hair color).
11

Pewarna Rambut Oksidasi (oxidation hair colour) Pewarna rambut permanen berdasarkan penggunaan pewarna oksidasi, sehingga disebut pewarna-para, dengan zat yang tidak berwarna ketika digunakan di kepala (prekusor) dan diubah menjadi materi yang berwarna in situ pada rambut sebagai akibat dari hasil reaksi kimia saat pewarnaan. Prekusor ini dapat diklasifikasikan menjadi 2 kategori; senyawa yang disebut dasar oksidasi atau intermediet primer dan yang disebut coupler atau modifikator. Reaksi kimia pada pembentukan zat warna adalah reaksi oksidasi dan coupling (penggabungan) atau kondensasi oleh kerja dari zat pengoksidasi, berefek pada pH basa (biasanya berdasarkan adanya ammonia). Zat pengoksidasi ini umumnya hidrogen peroksida atau salah satu turunan bentuk padatnya yaitu urea peroksida atau melamin peroksida. Faktanya, hidrogen peroksida dapat bekerja pada bagian pigmen melanin dari rambut dengan mengoksidasi dan melarutkannya sehingga menghilangkan warna rambut. Pigmen melanin merupakan sumber dari warna asli rambut. Untuk merangkum dalam kerjanya untuk menghasilkan warna, membutuhkan 3 jenis reaksi kimia, yaitu: 1. dasar atau intermediate primer 2. coupler atau permodifikasi 3. agen pereaksi, umumnya hidrogen peroksida.

Dasar Dasar biasanya berupa senyawa aromatik, biasanya turunan benzen, tersubstitusi oleh setidaknya dua gugus pendonor elektron seperti NH2 dengan/atau OH yang saling membentuk para atau orto; bentuk ini memudahkan untuk proses oksidasi. Senyawa yang paling penting dari kelas ini adalah p-fenilendiamin dan p-aminofenol, dan o-fenilendiamin, yang salah satunya dapat ditambahkan p- atau o-dihidroksibenzen. Tambahan:

12

1. Proses dari alkilasi pada NH2 dan pengubahannya menjadi NR1R2 (dimana R1 dan R2 dapat sama atau berbeda, dapat berupa H atau alkil lainnya) menjadikannya salah satu jumlah dasar yang tersedia sangat banyak 2. Selain itu, peningkatan timbul dari substitusi pada cincin benzen oleh pendonor elektron yang lemah seperti OCH3, -CH3, -NHCOCH3, dsb, yang dapat menghasilkan dasar yang mempunyai bagian yang khusus atau berbeda 3. Juga cincin aromatik yang lain dapat digunakan seperti piridin, pirimidin, quinolin, indol, pirazolon, benzimidazol, dsb. Memberikan seri yang baru dari dasar oksidasi. dasar yang penting yaitu:p-fenilendiamin, p-toluendiamin (2,5-toluendiamin, kadang-kadang disebut p-toluylendiamin atau p-tolydiamin), p-aminodifenilamin, p-aminofenol, p-diamonoanisol, o-fenilendiamin, o-aminofenol Coupler atau Modifikator Coupler atau modifikator adalah senyawa aromatik, biasanya turunan benzen, tersubstitusi oleh gugus yang sama (-NH2 dan OH) seperti dasar, tetapi kali ini saling membentuk posisi meta. Pada posisi ini, harus diperhatikan bahwa coupler tidak memiliki bagian yang mudah oksidasi seperti H2O2. Jangkauan dari coupler dapat diperluas seperti: 1. dengan menambahkan pendonor elektron seperti OCH3, -NHCOCH3, dsb. Dengan atau tanpa variasi alkilasi dari gugus OH atau NH2 oleh alkil dan hidroksialkil. 2. Dengan menggunakan cincin heterosiklik seperti piridin, quinolin, indazol, benzimidazol, benzoxazin, pirazolon. Coupler yang biasa digunakan adalahm-fenilendiamin, 2,4-diaminoanisol,

Resorcinol, m-klororesorcinol, m-aminofenol, 1,5-dihidroksinaftalen, 6-metil-2-aminofenol, 2-metilresorcinol


Tipe-tipe produk pewarna rambut permanen

Larutan,

biasanya

berupa

larutan

sederhana

atau

larutan

alkohol.

Untuk

mempertahankan struktur rambut biasanya ditambahkan asam organik dan pelarutpelarut khusus atau dapat juga sebelum dilakukan pewarnaan rambut diberi nutrisi berupa komponen-komponen kationik. Larutan pewarna ini dapat dibeli langsung dalam bentuk larutan atau dilarutkan sendiri bila akan digunakan.
13

Hair spray, medium yang digunakan adalah dengan mendispersikan 3% PVP di dalam air. Aerosol , Sediaan aerosol harus menghindari kontak antara air dengan wadah aerosol yang berupa kaleng untuk mencegah korosi wadah aerosol. Pewarna Rambut Permanen lainnya Ada pewarna yang berasal dari tumbuhan misalnya daun Henna (senyawa aktifnya 2hidroksi-1,4-oftokinon) dan bunga Cammomile (4,5,7,-trihidroksiflavon). Mereka membentuk ikatan atau yang menyebabkan reaksi adisi pada posisi 1,4 dengan protein rambut yang tidak terdapat gugus amino dan residu nukleofilik yang lain. Basa mineral dari rambut dapat teroksidasi oleh berbagai logam diantarannya besi, bismuth, nikel, dan kobalt.

II.4 Faktor Proses Pewarnaan Pewarna rambut memiliki range mulai dari very light blonde sampai hitam. 1. Campuran zat warna Larutan pewarna rambut yang akan digunakan biasanya berupa zat warna campuran, bisa 3 sampai 10 zat warna campuran. 2. Konsentrasi pewarna rambut Konsentrasi yang digunakan biasanya sangat sedikit dan dibatasi penggunaanya (kira-kira 0,01-5%). 3. Durasi proses pewarnaan rambut Waktu yang dibutuhkan untuk kontak antara rambut dan zat pewarna sekitar 5-40 menit. 4. Jumlah larutan yang digunakan. Pada wanita biasanya digunakan 15-100 ml. 5. Frekuensi mewarnai rambut. Untuk pewarna rambut temporer seminggu sekali. Untuk pewarna rambut permanen sebulan sekali. 6. Perawatan setelah pewarnaan.
14

Pewarna harus diformulasikan sedemikian rupa sehingga penetrasi zat warna ke dalam kulit kepala dapat dihindari. Hal ini dapat dihindari dengan membilas rambut dengan air setelah penggunaan zat warna rambut permanen atau dengan menggunakan sampo sehingga zat warna rambut tidak diabsorbsi ke dalam kulit kepala.

II.5 Cara Kerja Pewarnaan Rambut Zat warna oksidasi biasanya tidak berwarna, produk dengan berat molekul rendah. Mereka dapat masuk melalui kutikula menuju ke lubang rambut, di mana mengoksidasi menghasilkan lebih besar molekul berwarna terperangkap dalam rambut. Permanen atau bertahan lama menghasilkan penutupan warna rambut yang asli. Zat warna oksidasi dibagi menjadi dua kategori, oksidasi dasar (intermediet primer) dan coupler (intermediet sekunder). Untuk menghasilkan warna menggunakan produk ini, paling tidak salah satunya dikombinasikan dengan oksidan yang cocok di bawah kondisi alkali (basa). Kondisi pada saat penggunaan menentukan lamanya hasil warna. Warna permanen dapat mencerahkan pigmen alami rambut yang biasanya mengandung ammonia dan digunakan dengan hidrogen peroksida 6% atau lebih besar. Alkali yang lebih lembut mungkin digunakan dengan hidrogen peroksida kekuatan sedikit untuk menyediakan hasil yang tahan lama dengan pengaruh yang sedikit pada struktur rambut. Selanjutnya mampu menghasilkan warna yang lebih bercahaya daripada rambut awalnya. Karena kemampuannya menutupi warna asli dan menghasilkan warna yang tahan lama, zat warna oksidasi merupakan yang paling terkenal dalam kelasnya. Mereka menyediakan jangkauan warna yang besar dan cocok digunakan untuk berbagai tujuan, misalnya untuk fashion, memperbaiki warna, dan menutupi uban.

II.6 Pembentuk Warna Pada Rambut Gambaran umum dari perubahan warna terjadi dalam seri seperti reaksi oksidasi dan reaksi coupling yang secara skematik dapat dijelaskan: 1. Pembentukan Quinonimin
15

Bagian ini mencakup proses oksidasi dari dasar dibantu kerja dari basa H2O2 dengan pembentukan quinon monoimin dari p- dan o-aminofenol dan quinodimin dari p- dan o-fenildiamin. Cara yang sama pada struktur kation quinin imonium yang lain, diturunkan dari basa yang lain dapat diwakili. 2. Pembentukan difenilamin Kation quinin imonium yang bentuk pada proses pertama, secepatnya mengalami konjugasi tipe-Michael penambahan dengan pseudo-karbanion dari coupler, memberikan substitusi N pada p-fenilendiamin, dalam kata lain. Substitusi difenilamin yang berbeda. Struktur senyawa nukleofilik dapat menambah pada NH dari quinonimin dengan menyerang atom ditrogen tidak hanya pada struktur meta dari coupler tapi juga para-basa yang tidak teroksidasi, dan kemudian berfungsi sebagai coupler untuk iminnya sendiri. 3. Pembentukan warna Bentuk sementara difenilamin sebelumnya dapat dilihat pada gilirannya sebagai dasar oksidasi yang baru. Dasar oksidasi ini, pada cincin benzen akan tersubstitusi paling tidak 3 gugus (pada posisi 1, 2, 4 atau 1, 2, 5) oleh gugus pendonor elektron. Kebaikan dari proses ini yaitu kemampuan oksidasi dan kemampuannya untuk couple, untuk mempertinggi derajatnya. Kemudian, mereka dioksidasi dan diubah menjadi andoamin, indoanilin, atau indofenol- menjadi gugus pertama zat warna-atau mereka bekerja sebagai coupler dan ikut serta dalam penyerangan pada quinonimin dari para-dasar yang asli, yang kemudian berlanjut terbentuk pada reaksi medium, yang kemudian menjadi double fenilamin. Senyawa baru ini mudah dioksidasi pada gilirannya, memberi reaksi pada bentuk oksidasinya menjadi grup zat warna yang baru dengan 3 cincin benzen. Proses penambahan dari quinonimin awal menjadi bentuk aromatik sementara yaitu senyawa yang lebih terkondensasi, diikuti dengan oksidasi lanjutan menjadi zat warna baru dengan lebih dari 3 cincin benzen. Semua zat warna dan pigmen, strukturnya belum dapat dijelaskan secara sempurna menjadi grup ketiga yang terbentuk pada rambut. Ini kemudian menyatakan kembali bahwa pewarnaan rambut oleh proses zat warna permanen adalah hasil dari kompetisi antara zat warna indoamin dan zat warna
16

yang mempunyai aliran kondensasi dan oksidasi jauh dari reaksi primernya. Contoh warna yang dapat terjadi dengan bermacam coupler dan p-fenilendiamin mencakup : Coupler Resorcinol m-aminofenol Warna yang dihasilkan Hijau/Cokelat Biru

2,4 diaminoanisol dan m- fenilendiamin Ungu-Biru l-naftol

II.7 Identifikasi Isolasi pewarna dari produk dan pemisahan campuran pewarna merupakan kendala dalam identifikasi zat pewarna. Pencampuran dengan beberapa reagen juga dapat dilakukan untuk melihat reaksi atau perubahan yang timbul, yaitu seperti penambahan asam sitrat, asam sulfat, asam hidroklorida, NaOH, dan Sodium karbonat. Salah satu identifikasi penting untuk pewarna azo adalah sifat reduksinya sehingga kita dapat mengidentifikasi hasil reduksi pewarna azo. Pewarna yang larut dalam air biasanya direduksi dalam air panas dengan penambahan Natrium hidrosulfit. Biasanya, reduksi terdiri dari senyawa amin terdiazotasi ditambah dengan derivat amino dari campuran di mana komponen diazo berasal. Komponen basa yang diperoleh dapat dipisahkan dari senyawa-senyawa asam dan netral dengan destilasi uap atau dengan ekstraksi menggunakan larutan basa, di mana komponen netral dapat terdestilasi uap atau diekstraksi dari air dan dapat terbawa ke dalam hasil ekstraksi. Alternatif untuk mengatasi hal ini adalah pemisahan dengan prosedur kromatografi. Spektrometri UV-vis juga dapat digunakan untuk identifikasi dengan hanya menggunakan beberapa miligram sampel. Pelarut yang digunakan untuk perbandingan tersebut sebaiknya dipilih yang paling berbed (aprotik-protik, asam-basa, polar-nonpolar) dan berdasarkan karakteristik spektrum pelarut. Infrared (IR) juga digunakan secara luas. Teknik ini lebih sulit dan lebih mahal tapi biasanya menghasilkan tingkat kepastian yang lebih tinggi. Selain IR juga terdapat Nuclear Magnetik Resonance (NMR) yaitu teknik spektrum yang paling tidak sensitif,
17

paling sulit dan paling mahal, tapi alat ini sangat sempurna untuk mempelajari struktur senyawa organik. Rincian identifikasi masing-masing dari zat yang menyusun pewarna rambut: 1. Aminophenol

a) Pemerian Nama lain : 4-amino-1hidroksibenzen; hidroksianilin; azol Pemerian kristal putih b) Reaksi: Larutan zat + H2SO4 coklat, jika dibasakan biru ungu Larutan zat + Kalium bikromat + HCl encer biru ungu Larutan zat + FeCl3 ungu coklat : serbuk atau 4activol; Kelarutan : larut dalam air, pelarut organik alkohol, eter, keton, ester Titik didih Titik lebur : 188-190oC : 195oC

2. Resorcin

a) Pemerian

Nama lain : m-hidroksi benzendiol;

benzen-1,3-diol; benzen; 1,3-

hidrokuinon; m-benzenadiol; mdioksibenzol Pemerian : hablur bentuk

1,3-dihidroksi

benzen; 3-hidroksi fenol; m-

jarum/serbuk hablur putih, bau khas, rasa manis diikuti pahit


18

Kelarutan

: mudah larut dalam

Titik didih Titik lebur pH

: 109-111oC : 280oC : 5.2

air, etanol 95%, eter, gliserol, sukar larut dalam kloroform


b) Reaksi:

10 ml larutan 1% b/v + 2 tetes FeCl3 violet kebiruan, + NH3 encer kuning kecoklatan 100 mg zat dalam 2 ml larutan NaOH + 1 tetes kloroform, panaskan merah tua, + HCl sedikit berlebih kuning pucat Dengan pereaksi phtalein: o Zat + asam phtalat anhidrat + H2SO4 (p), panaskan coklat, encerkan dengan air, basakan dengan NaOH 4N, fluoresensi hijau kuat Larutan zat dalam air + NaOH 2N + 1 tetes CHCl3, panaskan merah, + asam encer warna merah hilang Reaksi Marquis: o Larutan zat dalam H2SO4 (p) + larutan encer formalin cincin warna (merah, coklat, jingga, ungu, hijau, dll) 50 mg zat + 100 mg asam tartrat + 10 tetes H2SO4 (p), panaskan merah tua Reaksi Muhliman: o Zat + beberapa tetes CHCl3 + 3 tetes air + KOH/NaOH padat, panaskan merah Dengan pereaksi Nessler (KI, HgCl + KOH): o Zat + pereaksi jingga kuning Zat + aquabrom kuning terang Zat + FeCl3 + NaHCO3 violet biru Zat + Ag amoniakal (NH4OH + NaOH + AgNO3) coklat Zat + HNO3 encer merah jingga Zat + HNO3 (p) merah ungu Zat + Ca(OH)2 kuning Zat + AgNO3 abu-abu Zat + DAB-HCl merah ungu Larutan zat + Ag amoniak (NH4OH + NaOH + AgNO3) coklat Zat + 100 mg asam tartat + 10 tetes H2SO4 merah tua

19

3.

Naphtol

a) Reaksi:

BM Titik leleh

: 144,17 : 95-97oC hablur

BM Titik leleh 123oC

: 144,17 : 121-

Organoleptis : RUMUS BANGUN DAN SIFAT FISIKOKIMIA ZAT

atau serbuk hablur, tidak Organoleptis : serpihan berwarna atau agak atau serbuk hablur

merah muda dan berbau khas Kelarutan :

putih, bau khas lemah, jika terpapar warna : cahaya

berubah

tidak larut dalam air, Kelarutan larut dalam

etanol, sangat sukar larut dalam air, larut dalam etanol, eter, kloroform, dan

benzen, dan eter

larutan alkali Reaksi warna azo: Zat direaksikan dengan diazo A dan diazo B (4:1) Zat + FeCl3 hijau endapan violet ungu dgn endapan putih Zat dalam KOH/NaOH Zat + KOH + CHCl3 Zat + aq. Iod + NaOH Dengan reaksi Marquis: Zat + H2SO4 (p) + larutan encer
20

merah

merah

hijau gumpalan putih hijau kuning dgn gumpalan putih fluoresensi ungu biru tidak berwarna hijau

Zat + aquabrom

fluoresensi biru muda biru violet keruh coklat

formalin Zat + pereaksi Loco Milton merah terang kuning jingga

4.

Pyrogallol

a) Pemerian Nama lain : trihidroksibenzen Pemerian : serbuk hablur putih 1,2,3 Kelarutan dalam air Titik lebur : 132-134oC : sangat mudah larut

b) Reaksi Larutan zat + FeCl3 merah coklat, + NaHCO3 biru Larutan zat + NaOH merah coklat Larutan zat + aqua calcis ungu coklat Dengan pereaksi Marquis: Zat + H2SO4 (p) + larutan encer formalin merah, panaskan kemudian diamkan endapan merah tua Larutan zat + Pb-asetat rosa muda Larutan zat + 1 tetes flurorogusin (50 mg dalam 25 ml air), diamkan 30 menit pink violet Larutan zat + vanilin dalam H2SO4 merah rosa, panaskan endapan merah prambors Larutan zat + H2SO4 + asam tartrat 10% cincin ungu + air coklat-kuning muda + NH4OH berlebih kuning hijau Fluoresensi dalam NH4OH merah ungu Larutan zat + aq brom merah coklat Larutan zat + Ag amoniak hijau hitam

21

5. Kresol

a) Pemerian BM Pemerian : 138,16 : larutan jernih Sifat : netral atau agak asam terhadap lakmus Kelarutan: agak sukar larut dalam air, membentuk larutan keruh, larut dalam alkali hidroksida, dapat

berwarna kuning muda sampai coklat merah Bau : fenol spesifik Sifat pembiasan: tinggi

bercampur dengan etanol, eter, dan gliserol

b) Reaksi spesifik: Zat + FeCl3 (suasana asam) biru-violet Orto : ungu-biru keruh

Meta : ungu keruh Para : biru keruh

Zat + aquabrom endapan Orto : endapan putih

Meta : endapan putih Para : tidak ada endapan, kuning

o-kresol + asam pikrat kristal jarum kuning jingga reaksi Marquis: Zat + H2SO4 (p) + larutan encer formalin merah Reaksi lain: fenol dalam suasana basa ion fenolat + FeCl3 kompleks biru fenol + aquabrom substitusi pada posisi orto dan para terhadap gugus -OH - posisi orto dan para - posisi meta : endapan putih : tidak terbentuk endapan (kuning)
22

6. n-Phenylendiamin

a) Pemerian titik didih : 252oC titik lebur : 104 C pH b) reaksi: zat + H2O2 senyawa quinoid hitam (basa Bandrowski) dapat dipercepat dengan aldehid 10 mg sampel + 2 tetes H2SO4 encer + 10 ml air + 1 tetes K2Cr2O7 (1:1000) + 1 ml eter, kocok eter berwarna biru : 9,2
o

kelarutan air

: sukar larut dalam

23

BAB III PENUTUP

III.1. Kesimpulan Pewarna rambut dapat digolongkan berdasarkan proses, sediaan, bahan dan sistem pewarnaan. Karakteristik ideal pewarna rambut meliputi kestabilan sediaan dan efektifitas terhadap rambut. Perubahan warna pada ranbut secara skematik terbagi menjadi pembentukan quinonimin, pembentukan difenilamin, dan pembentukan warna. Karena bervariasinya pewarna rambut, proses identifikasi zat pun harus dilakukan dengan beragam cara dan proses. III.2. Saran Karakteristik ideal pewarna rambut perlu diperhatikan untuk membuat sediaan pewarna rambut yang baik. Bahan-bahan pewarna rambut juga perlu dipelajari lebih lanjut untuk memudahkan identifikasi pewarna rambut.

24

DAFTAR PUSTAKA Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.1995.Farmakope Indonesia Ed.IV.Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

25

Anda mungkin juga menyukai