Anda di halaman 1dari 15

PERILAKU BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi dalam Perspektif Islam II Dosen Pengampu: Siti Fatimah, M.Si

Oleh: Choirrera Yelzy Sugiono Risa Nur Fitriyana Yadhi Wira Yudha 09810001 09810236 09810270

Kelas F

Maret 2012

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

PERILAKU BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF ISLAM

A. Perkembangan Perilaku Beragama Pada dasarnya perilaku merupakan kesediaan untuk bertindak. Lebih jauh Skinner (dalam Ramaliyus, 2002) mengartikan perilaku sebagai suatu kecenderungan untuk merespon suatu hal sebagai perwujudan perilaku positif atau penghilangan perilaku negatif. Sementara beragama yang memiliki kata dasar agama, yang secara harfiah berarti tidak kacau (a berarti tidak, gama berarti kacau), merupakan bentuk ikatan kepatuhan terhadap apa yang dipercayai dan dianutnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa perilaku beragama adalah bentuk dari ekspresi jiwa dalam bentuk tingkah laku yang didasarkan pada ajaran agama yang dianutnya. Daradjat (2003) membagi perilaku individu dalam beragama menjadi 4 kategori, yaitu perilaku yang tergolong: 1. Kepercayaan ikut-ikutan 2. Kepercayaan dengan kesadaran 3. Percaya, tetapi ragu 4. Tidak percaya atau cenderung atheis. Keempat perilaku beragama manusia tersebut terjadi didasarkan pada konflik antara jiwa dan raga dalam diri manusia. Dalam konteks agama, manusia menerima bisikan-bisikan yang bersumber dari 3 hal, di mana bisikan tersebut akan berpengaruh pada prasangka, prasangka berpengaruh pada keyakinan dan keyakinan sendiri berpengaruh pada perilaku yang sesuai dengan bisikan yang diyakini kebenarannya. Berikut ini klasifikasi bisikan yang diterima manusia dan respon atas bisikan memunculkan perilaku yakni:

1. Al-Khatir al-Syaitani, yaitu bisikan setan yang disebut was-was. Was-was yaitu bisikan dari setan yang selalu mengajak untuk berbuat kemaksiatan, kekufuran, kefasikan, kemusyrikan, dan kerusakan. 2. Al-Khatir al-Insani, yaitu bisikan hati dari dalam diri manusia yang terdiri atas (a). al-Khatir al-Aql, yaitu bisikan yang bisa mempertimbangkan secara rasional apakah untuk mengikuti perintah Allah atau bisikan setan. (b) al-Khatir al-Nafs, yaitu bisikan yang selalu mengajak untuk memenuhi tuntutan nafsu impulsive dan primitive yang seakan tidak terbatas. 3. Al-Khatir al-Malaki, yaitu bisikan dari malaikat yang selalu mengajak untuk berbuat kebajikan, taat pada perintah Allah. 4. Al-Khatir al-Rabbani, yaitu bisikan yang langsung dari Allah. Biasanya khusus untuk para nabi atau orang-orang suci jiwanya (waliyullah). Sesuai dengan perkembangan manusia, perilaku beragama manusia juga memiliki fase-fase perkembangan. Sururin (2004) membagi fase perkembangan perilaku beragama menjadi 4, yaitu: 1. Fase anak-anak Anak memaknai Tuhan seperti manusia yang super hebat dan bisa menolong mereka dalam keadaan apapun. Karena pada fase ini, anak-anak akan mengfungsikan nalar pendengarannya yang belum bisa memberikan arahan pada proses penyadaran terhadap obyek secara mendalam. Firman Allah, Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur. Sifat agama pada anak tumbuh mengikuti pola ideas concept on authority, maksudnya konsep keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka. Orang tua mempunyai pengaruh terhadap anak sesuai dengan prinsip eksplorasi yang mereka miliki. Dengan demikian, ketaatan kepada ajaran agama merupakan kebiasaan yang menjadi milik mereka, yang mereka pelajari dari orang tua maupun guru mereka. AlQuran sendiri menyebutkan bagaimana anak hanya menerima secara polos tanpa ada analisis secara mendalam terhadap ajaran orang tuanya

tentang agama yang dianut orang tuanya seperti pada surat Al-Baqarah 132-133. 2. Fase Remaja Jiwa keagamaan ditandai dengan ibadah disertai penghayatan yang tulus. Agama adalah pengalaman dan penghayatan dunia dalam seseorang tentang ketuhanan disertai keimanan dan peribadatan. Al-Quran Surah ash-Shafat ayat 102 memberikan gambaran bahwa Ismail pada usia yang sudah mulai menapaki remaja, ia sudah dapat memaknai Tuhan secara sadar. Ismail adalah tipe remaja yang berada pada posisi kesadaran puncak di masa remaja. Remaja adalah fase yang produktif, semangat mencari ilmu, fase memperoleh kebahagiaan dan tanggung jawab keagamaan. Pada fase ini remaja digolongkan manusia yang sudah diberi beban melaksanakan perintah. Dia sudah mempunyai kesadaran penuh tentang Tuhan dan condong kearah syahwat sesuai dengan perubahan fisik dan tingkah lakunya. 3. Fase Dewasa Orang dewasa menurut Charlote Buchler adalah usia yang memiliki kemantapan jiwa, tanggung jawab serta sudah menyadari makna hidup. Berdasarkan hal ini, maka sikap keberagamaan orang seseorang pada usia dewasa sulit diubah. Jikapun terjadi perubahan mungkin proses itu terjadi setelah didasarkan atas pertimbangan yang matang. Sikap keberagamaan orang dewasa memiliki perspektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Selain itu sikap keberagamaan ini umumnya juga dilandasi oleh pendalaman pengertian dan perluasan pemahaman tentang ajaran agama yang dianutnya. 4. Fase Usia Lanjut Menurut Ibnu Jauzi (dalam Sururin, 2004) pada usia ini manusia sudah mulai menampakkan sisi-sisi kelemahan, mulai wara sampai takut pada kematian. Rasulullah saw. menyebut fase ini sebagai fase Mutarak alManaya (berperang melawan kematian). Pada fase ini manusia sangat disibukkan mendekat kepada Allah, selalu ingat akhirat, zuhud di dunia,

sungguh-sungguh dalam menjalankan perintah Allah, menjauhi sesuatu yang melalaikan. B. Agama dan Kesehatan Mental Masa sekarang, Kesehatan mental memandang manusia sebagai satu kesatuan psikosomatis, kesatuan jiwa raga atau kesatuan rohani dan jasmani secara utuh. Tujuan dari ilmu Kesehatan mental tentunya adalah menciptakan mental yang sehat. Sedikit berbeda dengan Psikoterapi yang menangani orang sakit untuk disembuhkan, Kesehatan mental lebih pada menangani orang yang sehat untuk dibina agar tidak jatuh menjadi sakit mental. Meski begitu, kedua ilmu tersebut saling berkaitan. Terkait dengan Agama, pada dasarnya hampir semua psikiater dan psikolog beranggapan bahwa ilmu agama dan ilmu pengetahuan adalah berlawanan. Hal ini menyebabkan usaha usaha yang didasarkan pada ajaran ajaran agama seperti kiai, pendeta, pastor dalam membantu mengatasi gangguan kejiwaan dianggap belum bisa diakui eksistensinya. Keadaan yang demikian ini disebabkan oleh adanya pemikiran bahwa agama bukanlah sesuatu yang bisa masuk dalam bidang ilmu pengetahuan. Penganut pemikiran seperti ini adalah para ilmuwan yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran sekularistik yang membuat pemisahan antara ilmiah dan agama. Psikologi dalam perspektif islam berfungsi dalam membantu menampakan hubungan antara apa yang diajarkan agama islam dan ilmu pengetahuan dalam kaitannya dengan kesehatan mental. Dalam agama islam, para penganut agama dituntut untuk beriman dan bertaqwa serta mengerjakan seluruh perintah Tuhannya, demi menciptakan pribadi yang religius. Agama islam memandang pribadi yang religius sebagai pribadi yang sehat jasmani dan rohani, dengan kata lain, mempunyai mental yang sehat. Fakta ini kemudian menjelaskan sejajarnya tujuan antara imu agama islam dengan ilmu kesehatan mental. Ilmu Kesehatan mental menjelaskan bahwa mental yang sehat tumbuh dalam pribadi yang utuh dan mantap. Pribadi yang utuh atau kepribadian yang terintegrasi menunjukan adanya susunan hierarki yang teratur dan kerjasama yang harmonis antara fungsi fungsi kejiwaan atau aspek aspek mental. Kalau pada

seseorang terjadi kekacauan peranan fungsi kejiwaan maka keadaan mental terganggu. Derajat integrasi dan keharmonisan menunjukan derajat keutuhan kepribadian dan derajat kesehatan. Self atau diri sendiri didasari merupakan pusat, pengendali, perekat, dan pemersatu seluruh fungsi kepribadian, baik pemikiran, motivasi, maupun alam perasaan. Dalam tujuan mencapai pribadi yang utuh sempurna, selalu ada hal hal, kegiatan, pemikiran, motivasi, reaksi, sikap atau perilaku yang tidak terkontrol, tidak disadari secara penuh. Hal yang tidak disadari berhubungan dengan jasmani dalam istilah agama disebut Nafsu Hewani. Sedangkan hal hal yang kurang disadari dan lebih berhubungan dengan nilai nilai keagamaan disebut Jiwa Rohani. Dalam Agama dan Kesehatan mental serta kaitannya dengan pribadi yang utuh, Humor sangat penting dalam mencegah terjadinya gangguan jiwa. Humor dapat membantu mengintegrasikan kepribadian seseorang dengan mengabaikan semua konflik batin yang sedang dialami. Dengan Humor, manusia terampar dalam dunia main-main dan terlepas dari keseriusan. Saat seseorang dapat menertawakan kekurangan dirinya sendiri, saat itulah ada jalan untuk mengatur kembali dan menyusun fungsi kejiwaan yang tidak utuh menuju kesembuhan. Dalam Humor terdapat pula relaksasi atau pengunduran mental dari tegangan hidup, namun bersifat sementara. Relaksasi yang sebenarnya terdapat dalam kehidupan beragama. Keutuhan kepribadian dalam memasuki islam berarti satu kesatuan mental yang mencakup pengendalian nafsu hewani, pemikiran, motivasi, alam perasaan, keimanan, akhlak dan fungsi fungsi kejiwaan. Keutuhan kepribadian tidak berarti harus memiliki pandangan hidup yang lengkap dan kebutuhan hidup yang terpenuhi. Bahkan pencapaian kebutuhan hidup yang lengkap mengakibatkan kekosongan dan hilangnya semangat hidup. Kewajiban dan tugas hidup yg belum terselesaikanlah yang dapat menimbulkan motivasi serta integritas kepribadian. Dengan begitu, agama merupakan alat atau metode yang dapat mempersatukan fregmen kehidupan serta mengintegrasikan fungsi kejiwaan untuk menjadi kepribadian yang utuh, selaras dengan mental yang sehat dalam ilmu Kesehatan Mental.

Prinsip prinsip Kesehatan Mental: A. Berdasarkan Kodrat Manusia (Nature of Man) Prinsip 1. Kesehatan mental dan adjustment menghendaki adanya kesehatan badan dan integritas (kesatuan) organisme. Prinsip 2. Untuk mempertahankan kesehatan mental dan penyesuaian diri yang baik, perilaku manusia harus sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk biologis, sosial psikologis dan rohaniah. (Makhluk yang mempunyai dorongan, kebutuhan, nafsu, moral, intelek, emosi, rohani, agama) Prinsip 3. Kesehatan mental dan adjustment menghendaki integritas dan kontrol diri (self-integrity and self-control) yang meliputi pengendalian pikiran, khayalan, keinginan, kemauan, ambisi, dan tingkah laku. Prinsip 4. Untuk mencapai dan mempertahankan kesehatan mental dan adjustment, diperlukan pengetahuan yang luas tentang diri sendiri. (self-insight) Prinsip 5. Kesehatan mental dan adjustment menghendaki suatu pengertian yang sehat tentang diri sendiri yang mencakup penerimaan diri sendiri (self-acceptance) dan penilaian yang realistis terhadap status dan harga dirinya. Prinsip 6. Untuk mencapai kesehatan mental dan adjustment diperlukan suatu usaha terus-menerus untuk mengembangkan diri atau meningkatkan d iri (self-improvement) dan merealisasikan diri (selfrealization) Prinsip 7. Kemantapan mental dan penyesuaian diri yang baik memerlukan suatu perkembangan yang berlanjut dalam diri manusia dalam sifat-sifat moral yang tinggi. Prinsip 8. Untuk mencapai dan mempertahankan kesehatan mental dan adjustment perlu belajar dan mengembangakan kebiasaan yang baik. Prinsip 9. Stabilitas mental dan adjustment menghendaki suatu kemampuan untuk merubah sesuatu sesuai dengan perubahan kepribadian.

Prinsip 10. Kesehatan mental dan adjustment menghendaki usaha yang berlanjut untuk menjadi dewasa/matang, dalam berpikir, memutuskan sesuatu, sikap, emosi, dan bertingkah laku.

Prinsip 11. Kesehatan mental dan adjustment menghendaki manusia belajar cara-cara menyelesaikan konflik, frustasi dan ketegangan ketegangan jiwa yang timbul secara efektif dan efisien.

B. Berdasarkan hubungan manusia dengan manusia lain dan lingkungannya: Prinsip 12. Kesehatan Mental dan adjustment bergantung pada hubungan manusiawi yang sehat, terutama hubungan dalam kehidupan keluarga. Prinsip 13. Kebahagiaan dan adjustment bergantung pada pekerjaan yang sesuai dan memuaskan. Prinsip 14. Kesehatan mental dan adjustment menghendaki sikap yang realistis dengan menerima realitas tanpa diputar balik serta menerima hal hal yang objektif dan sehat.

C. Berdasarkan hubungan manusia dengan Tuhan: Prinsip 15. Kesehatan dan kemantapan mental menghendaki agar setiap orang memiliki kesadaran yang mekin berkembang mengenai suatu REALITAS yang lebih besar dan luhur daripada dirinya sendiri, dimana ia sangat bergantung padanya dengan cara yang sangat fundamental. Prinsip 16. Kesehatan mental dan ketenangan bati menghendaki hubungan aktif dan konstan dengan Tuhan melalui penerimaan dan pelaksanaan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

C. Gangguan Perkembangan Jiwa Keagamaan Agama menyangkut kehidupan batin manusia yang menggambarkan tentang sesuatu yang sakral. Jiwa keagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai

dengan kadar ketaatannya terhadap agama, yaitu integrasi secara kompleks antara pengetahuan agama, perasaan agama, serta tindak keagamaan dalam diri seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa sikap keagamaan berhubungan erat dengan gejala kejiwaan seseorang. Dalam perkembangannya, jiwa keagamaan manusia dapat berkembang dengan baik ataupun tidak. Sebab beranjak dari kenyataan yang ada, jiwa keagamaan terbentuk oleh dua faktor, yaitu faktor intern dan ekstern yang sangat mempengaruhi terhadap perkembangan jiwa keagamaan seseorang. 1. Faktor intern, meliputi: a. Hereditas Jiwa keagamaan memang bukan secara lagsung sebagai faktor bawaan yang diwariskan turun temurun, melainkan terbentuk dari berbagai unsur kejiwaan lainnya yang mencakup kognitif, efektif dan konatif. b. Tingkat Usia Berbagai penelitian psikologi agama menunjukkan adanya hubungan antara tingkat usia dengan perkembangan jiwa keagamaan, meskipun faktor usia bukan merupakan faktor satu-satunya sebagai penentu perkembangan jiwa keagamaan seseorang. Namun pada

kenyataannya hal ini dapat dilihat dari adanya perbedaan pemahaman agama pada tingkat usia yang berbeda. c. Kepribadian Kepribadian yang sering disebut sebagai identitas seseorang yang sedikit banyak menampilkan ciri-ciri pembeda dari individu lain diluar dirinya. Perbedaan inilah yang diperkirakan mempengaruhi perkembangan aspek-aspek kejiwaan termasuk jiwa keagamaan.

d. Kondisi kejiwaan Sama halnya dengan kepribadian, kondisi kejiwaan seseorang menjadi faktor intern yang menyatu dengan kepribadian orang tersebut yang akan berperan terhadap perkembangan jiwa keagamaan manusia.

2. Faktor ekstern, meliputi: a. Lingkungan keluarga Keluarga merupakan fase sosialisasi awal bagi pembentukan jiwa keagamaan anak, Sigmun Freud dengan konsep Father Image (Citra Kebapaan) menyatakan bahwa perkembangan jiwa keagamaan anak dipengaruhi oleh citra anak terhadap ayahnya, jika seorang ayah menunjukkan sikap dan perilaku yang baik maka anak pun akan cenderung mengidentifikasikan sikap sang ayah kepada dirinya, begitu juga sebaliknya. Keluarga dinilai sebagai faktor yang paling dominan dalam meletakkan dasar bagi perkembangan jiwa

keagamaan. b. Lingkungan institusional Lingkungan institusional yang ikut mempengaruhi terhadap

perkembangan jiwa keagamaan seeorang yaitu dapat berupa institusi formal seperti sekolah ataupun yang non formal seperti berbagai organisasi dan perkumpulan, dan dalam lingkungan formal seperti sekolah guru sebagai pendidik dan pergaulan antar teman menjadi salahsatu yang berperan penting dalam menanamkan kebiasaan yang baik. c. Lingkungan masyarakat Kondisi lingkungan masyarakat ini dinilai turut mempengaruhi kondisi jiwa keagamaan masyarakatnya. Kondisi jiwa keagamaan masyarakatnya sendiri merupakan cerminan kondisi lingkungan tempat tinggalnya.

Suatu tradisi keagamaan dapat menimbulkan dua sisi dalam perkembangan jiwa keagamaan seseorang, yaitu fanatisme dan ketaatan. David Riesman melihat ada tiga model konfirmitas karakter, yaitu: (1).Arahan tradisi (Traditional Directed) (2). Arahan dalam (inner Directed), (3). Arahan orang lain (Other Directed). Pendapat tersebut mengungkapkan bahwa karakter terbentuk oleh pengaruh lingkungan, dan dalam pembentukan kepribadian aspek

emosional dipandang sebagai unsur yang dominan. Fanatisme dan ketaatan terhadap ajaran agama sepertinya tidak dapat dilepaskan dari peran aspek emosional. David Riesman melihat bahwa tradisi kultural sering dijadikan penentu dimana seeorang harus melakukan apa yang telah dilakukan oleh nenek moyang. Sifat fanatisme dinilai merugikan bagi kehidupan beragama dan sifat ini dibedakan dari sifat ketaatan, karena ketaatan merupakan upaya untuk menampilkan arahan dalam (Inner Directed) dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama, bukan karena arahan tradisi (Traditional Directed) ataupun arahan orang lain (Other Directed).

D.

Kebermaknaan Hidup Tiap orang senantiasa menginginkan dirinya menjadi orang berguna dan

berharga bagi keluarga, lingkungan masyarakat, dan dirinya sendiri. Keinginan atau hasrat untuk hidup bermakna memang benar-benar merupakan motivasi utama pada manusia untuk menjadi pribadi yang bermartabat, terhormat, dan berharga dengan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan hidup yang jelas dan bermakna. Keinginan ini sama sekali bukan suatu yang diada-adakan, tapi suatu kenyataan yang benar-benar ada dan dirasakan dalam kehidupan setiap orang. Keinginan untuk hidup bermakna dapat menimbulkan perasaan bahagia. Sebaliknya jika tidak terpenuhi dapat menimbulkan kekecewaan hidup dan penghayatan diri hampa tak bermakna dan jika berlarut-larut dapat menimbulkan berbagai gangguan perasaan dan penyesuaian diri yang menghambat

pengembangan pribadi dan harga diri.

Makna Hidup Makna hidup adalah hal-hal yang dipandang penting, dirasakan berharga, dan diyakini sebagai suatu yang benar serta dapat dijadikan tujuan hidup oleh seseorang. Karakteristik makna hidup adalah personal, temporer, dan unik, artinya apa yang dianggap penting dapat berubah dari waktu ke waktu. Saat-saat bermakna berarti bagi seseorang belum tentu berarti bagi orang lain, oleh karena itu makna hidup mempunyai karakteristik personal. Sifat lainnya adalah konkrit

dan spesifik, artinya makna hidup benar-benar dapat ditemukan dalam pengalaman nyata dan dalam kehidupan sehari-hari. Makna hidup pun berfungsi sebagai pedoman dan arah dari kegiatan kita, sehingga makna hidup itu seakanakan menantang kita untuk memenuhinya. Karena keunikan dan kekhususannya itu, makna hidup tak dapat diberikan oleh siapa pun, tapi harus dicari, dan ditemukan sendiri. Orang lain hanyalah sekedar menunjukkan berbagai sumber makna hidup dan hal-hal yang mungkin berarti. Tapi pada akhirnya individu sendiri yang menentukan apa yang dianggap dan dirasakan bermakna baginya.

Sumber-sumber Makna Hidup Ada 3 nilai yang merupakan sumber makna hidup: 1. Creative Values (nilai-nilai kreatif) Bekerja dan berkarya serta melaksanakan tugas dengan keterlibatan dan tanggung jawab penuh pada pekerjaan. Pekerjaan merupakan sarana yang dapat memberikan kesempatan untuk menemukan dan

mengembangkan makna hidup. Namun makna hidup bukan terletak pada pekerjaan, melainkan pada sikap dan cara kerja yang mencerminkan keterlibatan pribadi pada pekerjaannya. Berbuat kebajikan dan melakukan hal-hal bermanfaat termasuk usaha merealisasikan nilai-nilai kreatif. 2. Experiental Values (nilai-nilai penghayatan) Meyakini dan menghayati kebenaran, kebajikan, keindahan, keadilan, keimanan, dan nilai-nilai lain yang dianggap berharga. Dalam hal ini, cinta kasih merupakan nilai yang sangat penting dalam mengembangkan hidup bermakna. Dengan jalan kasih mengasihi, seseorang akan merasakan hidupnya penuh dengan pengalaman-pengalaman penuh makna dan membahagiakan. 3. Attitidinal Values (nilai-nilai bersikap) Penerimaan dan pengambilan sikap yang tepat terhadap penderitaan yang tidak dapat dihindari setelah segala usaha dilakukan secara optimal namun tidak berhasil mengatasinya. Suatu peristiwa tidak dapat dihindari, hanya sikap menghadapinyalah yang dapat diubah. Dengan begitu,

seseorang diharapkan dapat mengurangi beban yang dihadapinya, bahkan mungkin dapat memberikan pengalaman berharga serta makna apabila seseorang tersebut mampu mengatasinya dengan baik.

Hidup Bermakna Mereka yang menghayati hidup bermakna akan menunjukkan corak kehidupan penuh gairah dan optimisme dalam menjalani kehidupannya. Tunjuan hidup pun jelas bagi mereka, jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan demikian kegiatan-kegiatan mereka pun menjadi lebih terarah dan lebih mereka sadari, serta merasakan sendiri kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya. Mereka juga mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, dalam arti menyadari batasan-batasan tapi dalam keterbatasan itu mereka tetap dapat menentukan sendiri apa yang paling baik. mereka akan luwes dalam pergaulan, tapi tidak sampai terbawa atau menjadi kehilangan identitas dirinya. Jika suatu saat mereka berada pada situasi yang tak menyenangkan atau mengalami kesendirian, mereka akan menghadapi dengan tabah dan menyadari bahwa selalu ada hikmah dibalik peristiwa itu. Orang-orang yang menghayati hidup bermakna adalah mereka yang mampu menyintai dan menerima cinta kasih orang lain, serta menyadari bahwa cinta kasih adalah salah satu nilai hidup yang menjadikan hidup ini bermakna. Gambaran mengenai hidup bermakna menunjukkan bahwa bila makna hidup ditemukan dan tujuan hidup ditetapkan serta berhasil pula direalisasikan, maka kehidupan akan dirasakan sangat berarti yang nantinya akan menimbulkan kebahagiaan. Dilain sisi, jika seseorang tidak berhasil menemukan dan memenuhi makna hidupnya, maka keinginan atau hasrat untuk hidup bermakna tidak tercapai. Akibatnya ia akan mengalami semacam frustasi yang disebut frustasi eksistensial dengan keluhan utama merasakan hidupnya hampa dan tidak bermakna yang dapat mengarah pada penderitaan hidupnya. Hidup tidak bermakna bukanlah merupakan penyakit, melainkan semacam kondisi kehidupan manusia berupa gangguan neurosis, sikap totaliter (berbuat sesuatu karena orang lain mengharapkannya berbuat seperti itu), dan gaya hidup konformistis (mudah terbawa situasi dan pantang ketinggalan mode).

Metodologi untuk Menemukan Makna Hidup Logoanalisis merupakan metode untuk menemukan dan mengembangkan makna hidup yang dikembangkan James C. Crumbaugh. Pengembangan pribadi adalah usaha terencana untuk meningkatkan wawasan, ketrampilan, dan sikap kedewasaan untuk mencapai kodisi yang lebih baik dalam mewujudkan citra diri yang diinginkan. Usaha ini dilandasi oleh kesadaran bahwa manusia sebagai the self determining being dalam batasan-batasan tertentu memiliki kemampuan dan kebebasan untuk menentukan apa yang paling baik untuk dirinya sebagai upaya mengubah nasibnya menjadi lebih baik lagi. Logoanalisis bertujuan untuk membantu menemukan makna hidup bagi setiap orang yang ingin mengembangkan kehidupan bermakna dengan menerapkan program pelatihan diri: 1. Pemahaman diri 2. Bertindak positif 3. Pengakraban hubungan 4. Pendalaman dan penerapan tri nilai 5. Ibadah Kuncinya adalah sejauh mana kita dapat menyesuaikan diri terhadap tuntutan modernisasi dan mampu pula menemukan makna dari kehidupan tersebut yang sering tersirat dalam pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain. Usaha penemuan makna hidup ini memerlukan niat yang kuat dan pemahaman mendalam tentang makna hidup itu sendiri serta menguasai metode-metodenya, dan dalam kenyataannya selalu membutuhkan dukungan lingkungan terdekat.

DAFTAR PUSTAKA
Darajat, Zakiah. (2003). Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang. Jalaluddin. (1996). Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo. Ramayulis. (2002). Pengantar Psikologi Agama. Jakarta: Kalam Mulia. Sururin. (2004). Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Raja Grafindo. Thouless, Robeth H. (1992). Pengantar Psikologi Agama (Terj.). Diterjemahkan oleh Machnun Husein. Jakarta: Rajawali. Bastaman, Hanna D. (1997). Integrasi Psikologi dengan Islam. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Alyadi, Abdul Aziz. (1997). Psikologi Agama. Bandung: Sinar Baru.