P. 1
kota semarang

kota semarang

|Views: 1,141|Likes:
Dipublikasikan oleh Elrizky Jazwan

More info:

Published by: Elrizky Jazwan on May 08, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/24/2013

pdf

text

original

Sections

  • 2.1.1.2 Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian
  • 2.1.1.3 Pendidikan
  • 2.1.1.4 Perpustakaan
  • 2.1.1.5. Pemuda dan Olah Raga
  • 2.1.1.6. Kesehatan
  • 2.1.1.7. Kesejahteraan Sosial
  • 2.1.1.8. Kemiskinan
  • 2.1.1.9. Kebudayaan
  • 2.1.1.10 Agama
  • 2.1.1.11 Perempuan dan anak
  • 2.1.2.2. Industri
  • 2.1.2.3. Koperasi dan UMKM
  • 2.1.2.4. Investasi
  • 2.1.2.5. Pertanian
  • 2.1.2.6. Kelautan dan Perikanan
  • 2.1.2.7. Pertambangan
  • 2.1.2.8. Perdagangan
  • 2.1.2.9. Pariwisata
  • 2.1.3 ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
  • 2.1.4.1 Perhubungan
  • 2.1.4.2. Perumahan dan Permukiman
  • 2.1.4.3. Sumber Daya Air
  • 2.1.4.4. Telekomunikasi
  • 2.1.4.5. Energi
  • 2.1.5 POLITIK DAN TATA PEMERINTAHAN
  • 2.1.6. KEAMANAN DAN KETERTIBAN
  • 2.1.7. HUKUM DAN APARATUR 2.1.7.1 Hukum
  • 2.1.8.1 Wilayah
  • 2.1.8.2 Tata Ruang
  • 2.1.8.3 Pertanahan
  • 2.1.9 SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP
  • 2.2.1.2 Ketenagakerjaan dan Transmigrasi
  • 2.2.1.3 Pendidikan
  • 2.2.1.4 Perpustakaan
  • 2.2.1.5 Kesehatan
  • 2.2.1.6 Pemuda dan Olahraga
  • 2.2.1.8 Kemiskinan
  • 2.2.1.9 Kebudayaan
  • 2.2.1.10 Agama
  • 2.2.1.11 Perempuan dan Anak
  • 2.2.2.1 Kondisi dan Struktur ekonomi
  • 2.2.2.2 Industri
  • 2.2.2.3 Koperasi dan UKM
  • 2.2.2.4 Investasi
  • 2.2.2.5 Pertanian
  • 2.2.2.6 Kelautan dan Perikanan
  • 2.2.2.7 Pertambangan
  • 2.2.2.8 Perdagangan
  • 2.2.2.9 Pariwisata
  • 2.2.3. ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
  • 2.2.4.1 Perhubungan
  • 2.2.4.2 Perumahan dan permukiman
  • 2.2.4.3 Sumberdaya air
  • 2.2.4.4 Telekomunikasi
  • 2.2.4.5 Energi
  • 2.2.5. POLITIK DAN TATA PEMERINTAHAN
  • 2.2.6. KEAMANAN DAN KETERTIBAN
  • 2.2.7. HUKUM DAN APARATUR 2.2.7.1 Hukum
  • 2.2.8.1 Wilayah
  • 2.2.8.2 Penataan Ruang
  • 2.2.8.3 Pertanahan
  • 2.2.9. SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP
  • 2.3.2 Ekonomi
  • 2.3.5 Politik dan Tata Pemerintahan
  • 2.3.9 Sumber`Daya Alam dan Lingkungan Hidup
  • 2.4.1 Daya Saing Ekonomi Daerah
  • 2.4.2 Kualitas sumber daya manusia
  • 2.4.3 Kondisi Kawasan
  • 2.4.4 Pemerintahan dan Pelayanan Publik
  • 2.4.5. Komitmen Pemangku Kepentingan

BAB II KONDISI UMUM KOTA SEMARANG 2.1.

KONDISI SAAT INI Kota Semarang merupakan Ibukota Propinsi Jawa Tengah, berada pada perlintasan Jalur Jalan Utara Pulau Jawa yang menghubungkan Kota Surabaya dan Jakarta. Secara geografis, terletak diantara 109o 35„ – 110o 50„ Bujur Timur dan 6o 50‟ – 7o 10‟ Lintang Selatan. Dengan luas 373,70 km2, Kota Semarang memiliki batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut: Sebelah utara Sebelah Selatan Sebelah Timur Sebelah Barat : Laut Jawa : Kabupaten Semarang : Kabupaten Demak : Kabupaten Kendal

Sebelum tahun 1976 luas Kota Semarang 99,40 km2 dan setelah terjadinya pemekaran sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1976, dengan menggabungkan sebagian wilayah Kabupaten Semarang, sebagian Kabupaten Kendal, sebagian Kabupaten Demak luas wilayah Kota menjadi 373,70 km2. Curah hujan tahunan kota Semarang rata-rata sebesar 2.790 mm, suhu udara berkisar antara 22,60 C sampai dengan 32,10 C, dengan kelembaban udara tahunan rata-rata 77%. Wilayah Kota Semarang seluas 373,70 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2005 sebesar 1.419.478 jiwa. Kota Semarang terbagi menjadi 16 Kecamatan dan 177 Kelurahan. Dari 16 kecamatan yang ada, terdapat 2 kecamatan yang mempunyai wilayah terluas yaitu kecamatan Mijen (57,55 km2) dan Kecamatan Gunungpati (54,11 km2). Kedua Kecamatan tersebut terletak dibagian selatan yang merupakan wilayah perbukitan dan sebagian besar wilayahnya terdapat areal persawahan dan perkebunan. Sedangkan kecamatan yang mempunyai luas terkecil adalah Kecamatan Semarang Selatan (5,93 km2) diikuti oleh Kecamatan Semarang Tengah (6,14 km2) .

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025

II - 1

Secara topografis Kota Semarang terdiri dari daerah perbukitan, dataran rendah dan daerah pantai, dengan demikian topografi Kota Semarang menunjukkan adanya berbagai kemiringan dan tonjolan. Daerah pantai 65,22% wilayahnya adalah dataran dengan kemiringan 25% dan 37,78 % merupakan daerah perbukitan dengan kemiringan 15-40%. Kondisi lereng tanah Kota Semarang dibagi menjadi 4 jenis kelerengan yaitu lereng I (0-2%) meliputi kecamatan Genuk, Pedurungan, Gayamsari, Semarang Timur, Semarang Utara dan Tugu, serta sebagian wilayah Kecamatan Tembalang, Banyumanik dan Mijen. Lereng II (2-5%) meliputi Kecamatan Semarang Barat, Semarang Selatan, Candisari, Gajahmungkur, Gunungpati dan Ngaliyan, lereng III (15-40%) meliputi wilayah di sekitar Kaligarang dan Kali Kreo (Kecamatan Gunungpati), sebagian wilayah kecamatan Mijen (daerah Wonoplumbon) dan sebagian wilayah Kecamatan Banyumanik, serta Kecamatan Candisari. Sedangkan lereng IV (> 50%) meliputi sebagian wilayah Banyumanik (sebelah tenggara), dan sebagian wilayah Kecamatan Gunungpati, terutama disekitar Kaligarang dan Kali Kripik. Kota Bawah yang sebagian besar tanahnya terdiri dari pasir dan lempung. Pemanfaatan lahan lebih banyak digunakan untuk jalan, permukiman atau perumahan, bangunan, halaman, kawasan industri, tambak, empang dan persawahan. Kota Bawah sebagai pusat kegiatan pemerintahan, perdagangan, perindustrian, pendidikan dan kebudayaan, angkutan atau transportasi dan perikanan. Berbeda dengan daeah perbukitan atau Kota Atas yang struktur geologinya sebagian besar terdiri dari batuan beku. Wilayah Kota Semarang berada pada ketinggian antara 0 sampai dengan 348,00 meter dpl (di atas permukaan air laut). Secara topografi terdiri atas daerah pantai, dataran rendah dan perbukitan, sehingga memiliki wilayah yang disebut sebagai kota bawah dan kota atas. mempunyai ketinggian 90,56 Pada daerah perbukitan - 348 MDPL yang diwakili oleh titik tinggi yang

berlokasi di Jatingaleh dan Gombel, Semarang Selatan, Tugu, Mijen, dan

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025

II - 2

Gunungpati, dan di dataran rendah mempunyai ketinggian 0,75 MDPL. Kota bawah merupakan pantai dan dataran rendah yang memiliki kemiringan antara 0% sampai 5%, sedangkan dibagian Selatan merupakan daerah dataran tinggi dengan kemiringan bervariasi antara 5%-40%. Secara lengkap ketinggian tempat di Kota Semarang dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Table 2.1 KETINGGIAN TEMPAT DI KOTA SEMARANG
No.
1. 2.

Bagian Wilayah
Daerah Pantai Daerah Dataran Rendah - Pusat Kota (Depan Hotel Dibya Puri Semarang) - Simpang Lima Daerah Perbukitan - Candi Baru - Jatingaleh - Gombel - Mijen - Gunungpati Barat - Gunungpati Tmur

Ketinggian (MDPL)
0,75 2,45 3,49 90,56 136,00 270,00 253,00 259,00 348,00

3.

Sumber : Kota Semarang Dalam Angka Tahun 2005

Didalam proses perkembangannya, Kota Semarang sangat dipengaruhi oleh keadaan alamnya yang membentuk suatu kota yang mempunyai ciri khas yaitu terdiri dari daerah perbukitan, dataran rendah dan daerah pantai. Dengan demikian topografi Kota Semarang menunjukkan adanya berbagai kemiringan tanah berkisar antara 0 persen sampai 40 persen (curam) dan ketinggian antara 0,75 – 348,00 MDPL. Di Kota Semarang mengalir 9 (sembilan) sungai besar dan beberapa sungai kecil, adapun 9 sungai besar tersebut antara lain sungai Banjir Kanal Timur, Banjir Kanal Barat, Kali Babon, Kali Kreo, Kali Kripik, Kaligarang, Kali Semarang, Kali Bringin, dan Kali Plumbon. Sedangkan penanganan drainase di Kota Semarang terbagi atas dua karakteristik wilayah, yaitu penanganan daerah atas dan daerah bawah. Penanganan daerah atas terbagi ke dalam beberapa pelayanan DAS, yaitu DAS Babon, DAS Banjir Kanal Timur, DAS Banjir Kanal Barat, DAS Silandak/Siangker, DAS Bringin dan DAS Plumbon. Sementara bagian bawah

terbagi kedalam empat sistem drainase meliputi sistem Drainase Semarang Timur, Sistem Drainase Semarang Tengah, Sistem Drainase Semarang Barat dan
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025

II - 3

Sistem Drainase Semarang Tugu. Arah pembangunan pembangunan manusia pembangunan. Semarang dapat dilihat Kota Semarang sangat berkaitan dengan subyek maupun obyek secara makro di Kota makro yaitu Indeks yang sejahtera sebagai dari salah satu

Kemajuan pembangunan manusia indikator

Pembangunan Manusia (IPM).

Peningkatan angka IPM di Kota Semarang

secara umum masih lamban, dari perkembangan IPM selama 10 tahun terakhir mengalami pertumbuhan rata-rata 1 % pertahun. Pada tahun 2005 IPM Kota Semarang mencapai 75,3 % yang terdiri dari indeks pendidikan sebesar 82 % yang meliputi angka melek huruf sebesar 94 % dan rata-rata lama sekolah sebesar 58 %, indek kesehatan sebesar 71,8 % dan indek daya beli masyarakat sebesar 53 %. Walaupun angka IPM mengalami perkembangan yang tidak signifikan namun selama lima tahun terkahir pembangunan Kota Semarang telah menunjukkan arah yang tepat dimana hasil akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian Jumlah penduduk miskin sejak tahun 1993 sampai dengan tahun 2005 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 0,21 % pertahun. Peningkatan tersebut dipicu dengan adanya krisis ekonomi yang belum pulih. 2.1.1 2.1.1.1 SOSIAL, BUDAYA DAN KEHIDUPAN BERAGAMA Kependudukan dan Keluarga Berencana Jumlah penduduk Kota Semarang menurut data BPS sampai akhir Desember tahun 2005 sebesar 1.419.478 jiwa. Dengan jumlah sebesar itu Kota Semarang termasuk dalam 5 besar Kabupaten/Kota yang mempunyai jumlah penduduk terbesar di Jawa Tengah. Pertumbuhan penduduk selama 5 (lima) tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang semakin meningkat. Jumlah penduduk Kota Semarang tahun 2000 sebanyak 1.309.667 jiwa dan sampai dengan tahun 2005 sebesar 1.419.478 jiwa. Laju pertumbuhan penduduk selama lima tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang fluktuatif, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 1,62 % per tahun.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025

II - 4

2005 dapat dikendalikan dan mengalami penurunan dari 0.148 4.43 1.09 % namun pertumbuhan penduduk dapat dikendalikan kembali sehingga mengalami penurunan.349 6. 7.55 43. kemudian Kecamatan Genuk (4. Kecamatan Gunungpati (3.99%). 13.478 Kepadatan Penduduk (/km2) 760 1. 12.72 154.14 77.551 44.93 85.94%.16%).69 111.94 3.78 25.42 Sumber Data Semarang Dalam Angka Pertumbuhan penduduk paling tinggi berada di Kecamatan Mijen sebesar 4.54 80. Semarang Barat (1.39 72. Tugu (1.12 0.204 6.111 25.16 -1.57 1.738 9.794 10.62 % per tahun.72%).549 37.489 373.38 2.581 7. 11.317 2. 10. 14.453 12.02 %.661 10.95%).68 0. 6.419.18 66.43 1.7 83.57%).62 -0. penduduk selama lima tahun Secara kumulatif pertumbuhan terakhir (2000-2005) mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 1.22 3. 3. Kecamatan-kecamatan yang mempunyai pertumbuhan penduduk tinggi merupakan daerah pengembangan areal perumahan dan industri. Kecamatan Mijen Gunungpati Banyumanik Gajahmungkur Semarang Selatan Candisari Tembalang Pedurungan Genuk Gayamsari Semarang Timur Semarang Utara Semarang Tengah Semarang Barat Tugu Ngaliyan Jumlah Luas Wilayah Jumlah (km) Penduduk (jiwa) 57.43%). 8.74 155.710 7. Gajahmungkur (0.248 21. Kecamatan Semarang Tengah (1.16%). 1.146 804 2.95 4. 9.38 1. Kecamatan Ngaliyan (1.Laju pertumbuhan penduduk dari tahun 2000 .16 0. 16.430 27. kecamatan Gayamsari (0.704 6.812 20.5 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 .741 6. Sedangkan kecamatan-kecamatan yang mempunyai pertumbuhan penduduk kecil atau bahkan negatif diantaranya adalah II .371 12.752 54. Kecamatan Tembalang (2.72 1. 15.865 11. 4. 5.662 14.97 124.99 0.636 10.354 31.99 99.07 60.2 Kepadatan Penduduk dan Pertumbuhan Penduduk Kota Semarang Tahun 2005 No.11 62.620 7. Dan persebaran laju pertumbuhan pada masing-masing wilayah sampai dengan tahun 2005 mengalami pertumbuhan yang tidak sama. Kecamatan Pedurungan (3.44 -0.7 1. hanya pada tahun 2001 yang mengalami pertumbuhan yang meningkatkan yakni 2.22%).2 115.44%).43%). Tabel 2. 2.453 2.619 Pertumbuhan ( % /thn) 4.424 5.

Kecamatan Candisari (-0.562 19. jumlah kematian sebanyak penduduk yang datang sebanyak 38.172 jiwa.38%) dan Kecamatan Semarang Selatan (0. Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Lahir 16.107 Sumber Semarang Dalam Angka Besarnya penduduk yang datang ke Kota Semarang disebabkan daya tarik kota Semarang sebagai kota perdagangan.925 25. Masyarakat dan keluarga masih enggan untuk membicarakan masalah reproduksi secara terbuka dalam keluarga. industri dan pendidikan. Kecamatan Semarang Utara (0.657 29.162 17.62%).504 Pindah 26.520 35. Kecamatan Semarang Timur (-0.6 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 .68%).38%).12%). Pertumbuhan penduduk untuk masing-masing kecamatan di Kota Semarang kondisinya sangat bervariasi. orang tua.390 26.682 36.066 34.107 jiwa. 8. Pemahaman dan kesadaran tentang hak dan kesehatan reproduksi remaja masih rendah dan tidak tepat. Para anak dan remaja lebih merasa nyaman mendiskusikannya secara terbuka II .910 jiwa dan Tabel 2. jasa. Hal ini sangat Pada tahun dipengaruhi oleh jumlah kelahiran.105 8. kematian dan migrasi.948 37.770 16.Kecamatan Banyumanik (-1. Datang dan Pindah Kota Semarang Tahun 2000 . 2005 jumlah kelahiran sebanyak 19.063 7.273 6. Pembangunan Keluarga Berencana dan kesejahteraan keluarga.172 38.172 6.019 26. Mati.778 7.910 penduduk yang pergi sebanyak 29.3 Perkembangan Penduduk Lahir. Sebagian besar masyarakat.25 persen pasangan usia subur (PUS) menggunakan kontrasepsi.2005 Penduduk (jiwa) Mati Datang 6. tidak memakai kontrasepsi (unmet need).75 persen PUS yang sebenarnya tidak ingin anak atau menunda kehamilannya.133 15.367 25. berdasarkan pendataan keluarga 2002 hanya 76.504 jiwa.320 35. sedangkan 23.315 17. maupun remaja belum memahami hakhak dan kesehatan reproduksi remaja.

1. Rata-rata kelahiran total selama tahun 2000-2003 dibawah angka 2 Total Fertility Rate (TFR<2). Indikator ini menunjukkan suatu ukuran dari keberhasilan dalam upaya pengendalian kelahiran.949 jiwa. Pemahaman yang tidak benar tentang hak-hak dan kesehatan reproduksi ini menyebabkan banyaknya remaja yang berperilaku menyimpang tanpa menyadari akibatnya terhadap kesehatan reproduksi mereka.1. Pemahaman nilai-nilai adat.72%. dan agama yang menganggap pembahasan kesehatan reproduksi sebagai hal yang tabu justru lebih populer. yang kemudian diubah menjadi Kepres Nomor.2 Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian Jumlah penduduk berdasarkan usia produktif selama lima tahun terakhir mengalami pertumbuhan rata-rata pertahun sebesar 1.97 % penduduk Kota Semarang 31.64) tahun dan penduduk usia tidak produktif (0-14 dan 65 tahun keatas) sebesar Dari data tersebut diketahui bahwa angka beban tanggungan sebesar Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Penyerahan kewenangan Bidang KB kepada Pemerintah Kota sesuai dengan Kepres Nomor 103/2001.03 %. Sekitar 68.dengan sesama teman. 9/2004. adalah penduduk usia produktif (15 .7 .948 jiwa sampai dengan tahun 2005 sebesar 978. budaya. pusat atau lembaga advokasi dan konseling hak-hak dan kesehatan reproduksi bagi remaja yang ada saat ini masih terbatas jangkauannya dan belum memuaskan mutunya. Pada tahun 2000 sebesar 898. Pendidikan kesehatan reproduksi remaja melalui jalur sekolah belum sepenuhnya berhasil. menuntut adanya komitmen yang tinggi dari Pemerintah Kota Semarang tentang arti pentingnya pelaksanaan program KB bagi keberhasilan pembangunan. Sementara itu. 2. banyaknya remaja yang kurang Semua ini mengakibatkan atau mempunyai memahami pandangan yang tidak tepat tentang masalah kesehatan reproduksi.

45 %

yang berarti setiap 100

orang penduduk usia produktif

menanggung sekitar 45 penduduk usia tidak produktif.
Tabel 2.4
Jumlah Penduduk Kota Semarang Berdasarkan Usia Tahun 2000 - 2005 Usia 10 - 14 15 – 65 121,824 898,984 124,659 904,331 128,403 921,325 125,533 951,412 127,440 966,522 978,949 122,614

Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005

0–9 252,386 259,102 268,071 264,201 267,561 278,346

65 + 36,473 34,228 32,206 37,047 37,610 39,569

Jumlah 1,309,667 1,322,320 1,350,005 1,378,193 1,399,133 1,419,478

Sumber Data Semarang Dalam Angka

Struktur

Penduduk

menurut

tenaga

kerja

dapat

digambarkan

berdasarkan pada penduduk usia kerja. Jumlah angkatan kerja pada tahun 2000 sebanyak 680.150 orang sampai dengan tahun 2005 sebanyak 756.887 orang atau mengalami pertumbuhan rata-rata 2,26% per tahun.
Tabel 2.5
Perkembangan Usia Kerja, Angkatan Kerja, Pencari Kerja, Pengangguran, dan TPAK Kota Semarang Tahun 2000 -2005 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Usia Kerja 898,984 904,331 921,325 951,412 966,522 978,949 Angkatan Pencari Pengangg Kerja Kerja uran 19,491 191,095 680,150 19,514 162,254 686,517 16,020 165,498 685,865 12,133 172,342 600,748 15,166 163,946 609,875 16,484 190,113 756,887 TPAK 75.66% 75.91% 74.44% 63.14% 63.10% 77.32%

Sumber Data Semarang Dalam Angka

Dilihat dari Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yakni perbandingan antara penduduk usia kerja dengan jumlah angkatan kerja, mulai tahun 2000 sampai dengan 2005 mengalami pertumbuhan yang fluktuatif. Hal tersebut Pada tahun 2005 merupakan pertumbuhan yang paling tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya yakni sebesar 77,32%. menunjukkan bahwa perlunya peningkatan lapangan

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025

II - 8

pekerjaan yang cukup guna menampung banyaknya penduduk usia kerja. Hubungan industrial tenaga kerja di Kota Semarang sampai tahun 2000 terdapat 326 kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) dan 26 kasus perselisihan hubungan industrial (PHI) sedangkan pada tahun 2005 kasus PHK turun menjadi 263 kasus dan PHI naik menjadi 52 kasus Upaya perluasan kesempatan kerja dalam rangka mengurangi pengangguran telah dilakukan, antara lain melalui penempatan tenaga kerja baik di dalam maupun di luar negeri, penyelenggaraan bursa kerja, dan pengembangan informasi tenaga kerja. Adapun upaya peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja dilakukan melalui berbagai kegiatan pelatihan kerja dan magang. Upaya perluasan kesempatan kerja juga dilakukan melalui program transmigrasi, selama lima tahun terakhir jumlah penempatan transmigrasi pada tahun 2000 dan 2004 tidak ada penempatan transmigrasi asal Semarang sedangkan pada tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 masing-masing sebanyak pada tahun 2001 sebanyak 12 KK (52 jiwa), tahun 2002 sebanyak 14 KK (39 jiwa), tahun 2003 sebanyak 2 KK (2 jiwa) dan pada tahun 2005 sebanyak 10 KK(24 jiwa). ditekankan Pelaksanaan pada program transmigrasi tidak semata-mata tetapi pada target pemindahan penduduk,

pencapaian kesejahteraan transmigran dan perannya dalam rangka pengembangan pusat-pusat pertumbuhan di daerah penempatan. 2.1.1.3 Pendidikan Pembangunan pendidikan pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu menghadapi setiap perubahan dan diharapkan dapat membentuk manusia seutuhnya yaitu beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, sehat

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025

II - 9

jasmani dan rohani, mandiri, bertanggungjawab dan memiliki etos kerja yang tinggi. Perkembangan indikator pendidikan dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2005 mengalami peningkatan yang cukup baik. Keberhasilan pembangunan pendidikan dapat diukur dengan ratarata lama sekolah dan angka melek huruf. Kedua indeks ini menjadi indikator utama dalam indeks pendidikan yang menentukan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pada tahun 2005 rata-rata lama sekolah di Kota Semarang mencapai 9,6 tahun atau sebesar 58 %, sedangkan angka melek huruf tidak bersekolah.
Tabel 2.6 Perkembangan APK dan APM Pendidikan Kota Semaran Tahun 2000 - 2005
No 1. 2. 3. Jenjang Pendidikan APK SD/MI SLTP/MTs SMA/SMK/MA 105.44 96.32 87.08 102.85 91.48 86.5 101.98 93.64 92.48 103.22 94.49 83.42 100.87 92.34 83.42 109.52 87.19 83.13 2000 2001 Tahun 2002 2003 2004 2005

sebesar 94 %.

Penduduk Kota Semarang yang

masih buta aksara sebagian besar adalah penduduk usia lanjut yang

APM 1. SD/MI 82.24 2. SLTP/MTs 73.76 3. SMA/SMK/MA 70.54 Sumber Data Bappeda Kota Semarang

85.86 68.27 62.1

83.05 66.72 61.43

82.5 69.45 59.57

81.81 67.87 59.57

95.83 76.43 64.23

Dilihat dari Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) pada masing-masing jenjang pendidikan tiap tahun mengalami fluktuatif. Sampai dengan tahun 2005 Angka Partisipasi Kasar (APK) sebesar 109,52 % untuk jenjang pendidikan SD/MI, sebesar 87,19 %, untuk jenjang pendidikan SLTP/MTs dan sebesar 83,13 % untuk jenjang pendidikan SLTA/MA. Sedangkan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk SD/MI sebesar 95,83 %, SMP/MTs sebesar 76,43 % dan SMA/SMK/MA sebesar 64,23 %. Pencapaian APM jenjang pendidikan SD termasuk kategori tinggi dibanding APM di sekolah menengah, hal ini disebabkan karena
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025

II - 10

faktor sosial budaya yang menyangkut persepsi orang tua yang sempit sehingga kurang menyadari arti pentingnya pendidikan bagi anak serta faktor ekonomi keluarga yang tergolong kurang mampu, menyebabkan anak usia sekolah menengah tidak bersekolah. Kondisi Gedung/ruang Kelas apabila dilihat dari kuantitas sudah cukup memadai namun secara kualitas gedung/ruang sekolah sampai dengan tahun 2005 sangat memprihatinkan khususnya untuk Sekolah Dasar. Jumlah gedung/ruang kelas yang rusak untuk SD/MI sebesar 14,19 %, SLTP/MTs sebesar 32,89 % dan SLTA/SMK/MA sebesar 38,46 %, kondisi ini sangat berpengaruh pada kelancaran kegiatan belajar mengajar.
Tabel 2.7
JUMLAH GEDUNG DAN RUANG KELAS DI KOTA SEMARANG TAHUN 2005 Gedung/Ruang Kelas (unit) Gedung Ruang Kelas 1. SD N 495 2,557 SD Swasta 154 1,553 2. SLTP N 41 803 SLTP Swasta 121 844 3. SLTA N 27 663 SLTA Swasta 114 1,199 Sumber Data Semarang Dalam Angka diolah No Jenjang Pendidikan

Disisi lain jumlah siswa putus sekolah di Kota Semarang khususnya pada jenjang pendidikan tingkat dengan tahun 2005 mengalami peningkatan. SLTA/SMK/MA sampai Pada jenjang jengang

pendidikan SD pada tahun 2005 mengalami penurunan di banding tahun-tahun sebelumnya, namun untuk jenjang pendidikan SMA/SMK mengelami kenaikan yakni menjadi sebesar 0,85%. Hal tersebut disebabkan karena faktor ekonomi dan hampir sebagian besar siswa yang tidak meneruskan sekolah berasal dari keluarga miskin. Masyarakat miskin menilai bahwa pendidikan masih terlalu mahal dan belum memberikan manfaat yang signifikan atau sebanding dengan

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025

II - 11

Penyelenggaraan pembangunan melibatkan pendidikan peran pendidikan non formal.07 0. Hal ini menunjukkan bahwa investasi di bidang pendidikan cukup menjanjikan di Kota Semarang.12 . SMA/SMK Sumber Bappeda Kota Semarang Sejak tahun 2005 muncul fenomena berkembangnya pendidikan sekolah berskala internasional.42 0. berdasarkan data tahun 2005.39 0.749 orang.46 0. Politeknik Negeri Semarang (POLINES). Dari tahun ke tahun jumlah perguruan tinggi swasta di Kota Semarang semakin meningkat jumlahnya. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .74 Tahun (%) 2002 2003 0.75 2004 0. Politeknik Pelayaran. bahas Inggris.06 0.05 0. tata boga. Universitas Negeri Semarang (UNNES). swasta non yang non formal. dengan jenis pelatihan seperti ketrampilan menjahit. Sekolah Dasar internasional yang pertama berdiri di Kota Semarang adalah Semarang International School.07 0. SLTP/MTS 3. swasta pendidikan non formal/lembaga kursus berjumlah 52 lembaga.78 2005 0. komputer.4 0.39 0. jumlah lembaga swasta yang menyelenggarakan perguruan tinggi sejumlah 56 unit dengan jumlah mahasiswa sebesar 71. Semarang terdapat sejumlah perguruan tinggi ternama. antara lain Kondisi dengan dalam latihan jumlah bidang di dilaksanakan formal/balai bergerak serta/partisipasi pendidikan lembaga penyelenggaraan perusahaan atau kerja/penyelenggaraan kursus.8 Perkembangan Angka Siswa Putus Sekolah Kota Semarang Tahun 2000 .85 1.48 0. Beberapa perguruan tinggi negeri di Semarang antara lain Universitas Diponegoro (UNDIP).07 0. Tabel 2.74 2001 0. SD 2.sumberdaya yang dikeluarkan. Sampai dengan tahun 2005. Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi. dll.1 0.2005 No Jenjang Pendidikan 2000 0.45 0.

(UNTAG). Nuswantoro Tujuhbelas Universitas Universitas Stikubank (UNISBANK).13 . IKIP PGRI. Koleksi buku di Perpustakaan di Kota semarang berjumlah 41. Universitas Semarang Dian (USM). Pemuda dan Olah Raga Pembangunan Pemuda dan olah raga merupakan salah satu upaya dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa sebagai pemimpin. koleksi. 2. Perpustakaan yang ada di Kota Semarang pada tahun 2005 terdiri dari perpustakaan umum dan perpustakaan khusus (universitas. Selain itu pelayanan perpustakaan juga dilakukan melalui Taman Bacaan / perpustakaan diwilayah Kecamatan dan perpustakaan keliling. Agustus 1945 (UNIKA).1. Pada tahun 2005 Jumlah Taman bacaan/perpustakaan di seluruh wilayah Kecamatan di Kota Semarang sebanyak 176 buah. pelopor dan penggerak pembangunan. dan fasilitas layanan. sekolah. Banyaknya penyelenggaraan perguruan tinggi di Kota Semarang menjadikan Kota Semarang sebagai salah satu pusat pendidikan di Provinsi Jawa Tengah. Universitas Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Pariwisata (STIEPARI). Kondisi perpustakaan umum dan daerah Kota semarang menunjukkan kecenderungan meningkat dari sisi jumlah.1.Walisongo. dan Akademi Kepolisian (AKPOL). Perguruan tinggi swasta antara lain Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). Kondisi kepemudaan saat ini harus diakui bahwa semangat kepeloporan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .4 Perpustakaan Mencerdaskan kehidupan masyarakat juga dilakukan melalui penyediaan layanan kondisi perpustakaan dan peningkatan minat baca masyarakat.208 buku dengan pengunjung mencapai 24.1.1. 2. Universitas Katolik Soegijapranata (UDINUS).523 orang. pengunjung. dan lainnya).5.

2. Sampai dengan tahun 2005 jumlah pemuda (penduduk usia 15 – 34 Tahun) di Kota Semarang mencapai 525. gelanggang olah raga sebanyak 5 buah. perilaku seksual menyimpang dan tindak kriminal lainnya. Disisi lain sarana dan prasarana olah raga belum mendukung terwujudnya budaya berolahraga.6. lapangan tenis sebanyak 11 buah. banyaknya perkelahian antar pelajar. dan belum dapat menunjukkan prestasi dibidang olah raga secara optimal baik ditingkat nasional maupun ditingkat internasional. hal ini terlihat dari rendahnya aktifitas olah raga yang dilakukan oleh masyarakat.5% dari total penduduk Kota Semarang. Hal ini dapat dicermati dari kurang mandirinya organisasi kepemudaan yang ada dan kurangnya koordinasi antar organisasi kepemudaan. manajemen. kolam renang sebanyak 8 buah. dan kesadaran masyarakat serta aspek lain yang bersifat sebagai penunjang terhadap kesehatan. Jumlah fasilitas olahraga di Kota Semarang sampai dengan tahun 2005 adalah sebagai berikut . Kesehatan Pembangunan kesehatan di Kota Semarang selama 10 tahun terakhir menunjukan perubahan yang positif. Kondisi Pembangunan kesehatan dapat dilihat dari 3 (tiga) indikator utama yang berpengaruh Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . lapangan Sepak bola sebanyak 27 buah. kualitas pelayanan. lapangan bola voley sebanyak 74 buah. Kondisi keolahragaan selama lima tahun terakhir menunjukkan budaya masyarakat untuk berolahraga belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat.14 .pemuda dalam proses pembangunan daerah masih perlu ditingkatkan.355 Jiwa atau 37. lapangan golf sebanyak 4 buah. Perubahan derajat kesehatan masyarakat antara lain didukung oleh tingkat ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan serta variabel primer lainnya seperti ketersediaan tenaga medis dan paramedis. penyalahgunaan narkoba oleh generasi muda.1.1.

Jumlah kematian bayi di Kota Semarang pada tahun 2005 sebesar 122 dari 21. dan pada tahun 2005 Angka Kematian Ibu sebesar 43/1000 Kelahiran Hidup (KH). Dan kematian Balita mempengaruhi kesehatan dari sebanyak 25 anak. yaitu di Rumah Sakit akibat keterlambatan rujukan dari pelayanan dasar Bidan Praktek Swasta (BPS). Child Mortality Rate (CMR) menggambarkan faktor. Hal ini dapat disebabkan karena terlambat dalam penentuan diagnosa maupun dalam pengambilan keputusan klinik sehingga terlambat sampai ditempat rujukan. sanitasi. Indikator ini dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan sosial dan tingkat kemiskinan penduduk. Menurunnya kematian bayi dalam beberapa tahun terakhir disebabkan adanya peningkatan dalam kualitas hidup pelayanan kesehatan pada masyarakat. Angka Kematian Bayi (AKB) dan Usia Harapan Hidup (UHH).faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi.terhadap keberhasilan bidang kesehatan yaitu Angka Kematian Ibu (AKI). Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .000 KH. Angka Kematian Balita (1-4 tahun) adalah jumlah kematian anak usia 1-4 tahun per 1. Angka Kematian Bayi (AKB). Jumlah kematian ibu maternal di Kota Semarang pada tahun 2005 sebanyak 10 orang dengan jumlah kelahiran hidup sebanyak 21. Angka Kematian Ibu (AKI) mengalami pertumbuhan yang fluktuatif.445 orang atau 46 orang dari 100. penyakit menular dan kecelakaan. Ada banyak faktor yang bayi serta diantaranya kesediaan tinggi tenaga rendahnya medis kematian terampil tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan yang masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern.445 Kelahiran Hidup (KH) yang terdiri dari 97 bayi (untuk kematian perinatal dan neonatal). pengaruh lain yang menentukan adalah sulitnya keluarga dalam memutuskan keadaan untuk dirujuk. Kematian tersebut rata-rata terjadi di tempat pelayanan rujukan.15 .000 anak balita.

Dan untuk jumlah tenaga medis yang ada di Kota Semarang sampai dengan tahun 2005 baik dari instansi pemerintah maupun Swasta adalah sebanyak 7. Jumlah Rumah Sakit sebanyak 14 buah. penderita AIDS sebanyak 11 kasus. Angka Harapan Hidup (AHH) Kota Semarang sampai tahun 2005 mencapai 70 tahun. yakni dengan masih ditemukannya beberapa kasus penyakit menular. Penyakit menular masih menjadi masalah kesehatan di Kota Semarang. jumlah penderita DBD sebanyak 1. dan NAPSA 102 kasus Kondisi pelayanan kesehatan di Kota Semarang sampai dengan tahun 2005 untuk cakupan pelayanan kesehatan telah menjangkau ke seluruh wilayah. jumlah HIV positif 75 kasus. Puskesmas. Angka penyakit menular pada tahun 2005 sebagai berikut jumlah penderita DBD sebanyak 2. hal ini dapat dilihat dari jumlah fasilitas kesehatan yang ada di Kota Semarang. serta didukung oleh fasilitas kesehatan lainnya memberikan gambaran bahwa pelayanan fasilitas kesehatan masyarakat telah mencukupi. angka ini di atas angka harapan hidup tingkat Nasional sebesar 65 tahun. penderita kasus narkoba 41 kasus.845 kasus.516 orang.297 kasus pada tahun 2005.16 . Rumah Sakit Bersalin dan Rumah Bersalin sebanyak 30 buah. Puskesmas Perawatan dan Puskesmas Pembantu sebagai ujung pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan jumlah 70 buah sehingga rata-rata tiap kecamatan dilayani oleh 4 buah. Puskesmas 37 buah dengan 11 Puskesmas Perawatan dan Puskesmas Pembantu 33 buah. secara rinci jumlah tenaga medis pada setiap jenis sebagaimana tabel dibawah ini. Jumlah penderita TB Paru BTA (+) sebanyak 812 kasus .Jumlah ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang mencapai 136 anak/bayi. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .

Kader Kesehatan aktif 17. tidak hanya dimanfaatkan oleh penduduk Kota Semarang. Industri Farmasi 20. Perawat 0 5. Bidan 3 7. Kelurahan PKMD 13. Kelengkapan fasilitas ditawarkan oleh RS Umum dan RS Swasta di Kota Semarang menjadi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . tetapi juga dimanfaatkan oleh penduduk di hinterland Semarang seperti Kota Salatiga. Klinik Swaswta Sumber Data Semarang Dalam Angka Ketersediaan fasilitas kesehatan yang ada di Kota Semarang.17 . Tenaga Keteknisian Medik 0 14. Tenaga Gizi 5 12. Apotik 18.2005 No 1. Lab. Posyandu Aktif 15. Dokter Gigi 5 4. RS Kusta 4. Kabupaten Kendal. Puskemas 9. Tenaga Terapi Fisik 0 13. Sarjana Keperawatan 0 6. Lainnya 1 Sumber data Dinas Kesehatan Kota Semarang Tabel 2. Kabupaten dan Semarang.9 TENAGA MEDIS DAN PARAMEDIS KOTA SEMARANG TAHUN 2005 No Jenis Tenaga Kesehatan DKK Puskesmas 0 78 40 119 0 154 38 0 36 5 40 0 40 0 Rsu/RS Khusus 309 72 32 850 27 193 70 18 17 35 51 38 129 5 IPF 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 Intitusi Sub Lainnya Jumlah 24 71 1 48 2 28 12 34 0 27 12 0 37 8 333 225 78 1017 29 378 124 58 59 95 108 38 206 14 Swasta 544 1183 344 1550 13 509 151 228 9 8 25 23 160 7 Jumlah 877 1408 422 2567 42 887 275 286 68 103 133 61 366 21 1. Sarjana Farmasi & Apoteker 4 9. Dokter Umum 4 3. Kabupaten Demak. RS Bedah Plastik 5. RS Ibu dan Anak 7.10 PERKEMBANGAN FASILITAS KESEHATAN DI KOTA SEMARANG TAHUN 2000 . Puskesling 12. Kesehatan Masyarakat 28 11. Kabupaten yang Grobogan. Tenaga Farmasi 3 8. Puskemas Perawatan 10. Pedagang Besar Farmasi 19. Fasilitas Kesehatan Tahun 2002 2003 0 3 8 2 1 1 4 3 31 26 11 34 19 177 1348 1341 9293 7428 187 115 25 37 0 3 8 2 1 1 4 3 29 26 11 34 19 177 1363 1341 8824 7664 201 120 19 41 0 4 8 2 1 1 4 4 31 26 11 34 17 177 1383 1373 9435 7794 230 148 25 44 2000 0 3 8 2 1 0 0 3 3 19 26 11 34 19 177 1344 1337 9214 7486 165 115 25 22 2001 2004 0 4 8 2 1 0 1 4 4 36 26 11 34 37 177 1393 1383 9694 8213 258 254 25 30 2005 0 4 8 1 1 0 1 4 4 26 37 11 33 37 177 1923 1917 10324 8785 277 254 25 27 RSU Type A Type B Type C Type D 2. Dokter Spesialis 0 2. RS Bersalin 6. Posyandu yang ada 14. Tenaga Sanitarian 6 10. RSJ 3. Kader Kesehatan yg ada 16. Puskemas Pembantu 11.Tabel 2. Rumah Bersalin/Pondok 8.

3. 2.1. Dari tahun ke tahun sarana pelayanan kesehatan semakin meningkat jumlah jumlahnya karena penduduk yang memanfaatkan fasilitas kesehatan semakin meningkat jumlahnya seiring dengan peningkatan penduduk di Kota Semarang dan kota-kota disekitarnya. keadaan ini dipacu oleh semakin sulitnya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup.095 3. Perkembangan jumlah PMKS ditandai Penyandang Masalah Kesejahteraan selama kurun waktu 10 tahun terakhir menunjukkan kencenderungan meningkat.244 4.979 2001 950 74 972 1. 4. penderita bencana bencana Pembangunan Kesejahteraan sosial di Kota Semarang dengan fenomena munculnya Sosial (PMKS). dengan keterlantaran baik anak maupun orang usia lanjut.daya tarik tersendiri bagi penduduk di sekitar kota-kota Semarang. Dengan adanya kenyataan ini.012 1.2005 No 1.564 1.073 4.869 5.1.583 orang atau mengalami Tabel 2. 2.18 . Perkembangan jumlah penyandang masalah sosial dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2005 sampai dengan tahun 2005 mengalami perkembangan yang fluktuatif.583 Sumber Bappeda Kota Semarang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .025 1.979 orang dan sebanyak 3.11 PERKEMBANGAN JUMLAH PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL (PMKS) KOTA SEMARANG TAHUN 2000 . pada tahun 2000 jumlah PMKS sebanyak 1.586 941 104 1.162 2005 942 111 469 966 1.105 1.174 2004 865 102 985 966 1.881 peningkatan rata-rata 16.7. korban sosial merupakan alam dan hal-hal korban yang berkaitan sosial. maka pembangunan kesehatan di Kota Semarang merupakan peluang pengembangan investasi di bidang kesehatan.635 1.247 4. Kesejahteraan Sosial Kesejahteraan cacat. 5. 2000 923 74 982 1. PMKS Gepeng Waria WTS Anjal Penyandang Cacat Jumlah Tahun 2002 2003 966 104 1.21 % per tahun.

pendidikan.12 Perkembangan Jumlah Fasilitas Sosial dan Sasaran Garapan Tahun 2000 . Panti Wreda.380 4.2005 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Panti Jompo 5 5 5 5 5 5 Panti Asuhan 34 34 34 34 40 40 Rumah Singgah 5 5 6 6 3 3 Yayasan Sosial 76 76 82 90 90 90 Sasaran Garapan 5. serta yayasanRencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .005 4. Tabel 2. Balai Pengobatan dan Panti Asuhan Muhammadiyah.500 4. Rumah Sakit disamping untuk tujuan komersial juga membawa misi untuk membantu masyarakat yang kurang mampu dengan cara menyediakan ruangan khusus pengabdian. Waria. WTS dan Anjal belum dapat diselesaikan secara tuntas dikarenakan sifatnya musiman dan mereka kebanyakan bukan penduduk asli Kota Semarang. 90 buah yaysan social dengan jumlah sasaran garapan sosial.381 orang. yatim piatu. mantan narapidana dan tuna wisma. Yayasan Sosial Sugiyopranoto.381 4.001 5.19 .001 5.Permasalahan penyandang masalah sosial khususnya gepeng. 3 rumah singgah. Disamping itu juga tersedia balai-balai pengobatan yang diselenggarakan memberi Yayasan-yayasan kesehatan Sosial bagi dengan maksud untuk pelayanan penyandang masalah kesejahteraan sosial. 895 pekerja sosial dan 78 organisasi Sumber Data Semarang Dalam Angka Bentuk-bentuk fasilitas sosial yang ada di Kota Semarang mencakup untuk kesehatan. 40 buah panti asuhan. penyandang masalah kesejahteraan sosial (pengemis dan gelandangan) untuk penduduk lanjut usia. Perkembangan fasilitas sosial yang tersedia di Kota Semarang sampai dengan tahun 2005 sebanyak 5 buah panti jompo.

pelatihan.1. Kondisi ini ditandai dengan masih banyaknya permasalahan sosial yang muncul dan berkembang seperti meningkatnya jumlah penduduk miskin (seperti gelandangan. dan 5) membebaskan diri dari mental dan budaya miskin. pengemis. dan anak terlantar). sandang.8. dan perlindungan kepada mereka sebab diantara mereka tidak sedikit yang masuk dalam usia anak-anak dan/remaja. 3) menjangkau akses sumber daya sosial dan ekonomi. pendidikan.yayasan lain yang bernaung di bawah organisasi kemasyarakatan keagamaan adalah beberapa contoh aktivitas dan keterlibatan masyarakat dalam pelayanan untuk kebutuhan kesejahteraan sosial. Walaupun upaya penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) terus dilakukan tetapi belum berhasil mengurangi jumlah PMKS secara signifikan. papan. Disamping itu juga terdapat rumah singgah yang diselenggarakan yayasan-yayasan sosial dengan maksud dan tujuannya adalah untuk membantu anak dan remaja penyandang tuna wisma (pengemis dan gelandangan) yang dalam kegiatannya dimaksudkan memberi fasilitas singgah atau menginap. 2. Kemiskinan Secara umum kondisi penduduk miskin ditandai oleh ketidakberdayaan atau ketidakmampuan dalam hal: 1) memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan dan gizi. anak jalanan. dan PMKS lainnya. 2) melakukan kegiatan usaha produktif. korban bencana alam.987 KK sampai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Kesejahteraan masyarakat ditandai dengan fenomena permasalahan kesejahteraan sosial masih banyak ditemui di Kota semarang. serta kesehatan. 4) menentukan nasibnya sendiri dan senantiasa mendapat perlakuan diskriminatif dan eksploitatif. serta pendidikan.1.20 . tindak kekerasan. Namun disisi lain jumlah Keluarga Miskin mengalami kenaikan yang cukup signifikan. pada tahun 1996 sebesar 11.

490 3. 6. 3. dan kegiatan penanggulangan kemiskinan baik yang bersifat langsung (program khusus) maupun yang tidak langsung telah diimplementasikan. 2.322 Jiwa 13. Penanggulangan kemiskinan telah menjadi agenda dan prioritas utama pembangunan serta telah dilaksanakan dalam kurun waktu yang panjang.807 56.271 2.063 3. 4.387 4.084 11. hal ini menunjukkan bahwa penduduk miskin di Kota Semarang merupakan masalah yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah dan masyarakat.491 1.108 5.852 jiwa.596 17.899 4. Berbagai strategi. 10.322 KK atau mengalami kenaikan rata-rata sebesar 44 % per tahun. 14. 15.964 6. namun demikian hasilnya belum optimal.272 4.213 1.908 3.852 6.288 Sumber Data Bappeda Kota Semarang Dari data persebaran penduduk miskin di Kota Semarang Tahun 2005 paling besar di Kecamatan Semarang barat yakni sebanyak 6. 8. 11.21 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 .036 15. salah satunya ditandai dengan masih banyaknya penduduk miskin di Kota II .13 PERSEBARAN PENDUDUK MISKIN KOTA SEMARANG TAHUN 2005 No.213 KK atau 24.044 17. 16.896 24.548 17.100 4.960 13. kebijakan.277 1.600 12.509 3. program.252 15.632 13. 1.088 16.511 4. 13.400 18. walaupun upaya penanganan terhadap mereka sudah dilakukan dan melibatkan banyak pihak namun masalah tersebut secara empiris tidak nampak hasilnya.724 6.tahun 2005 mencapai sebesar 56. Kecamatan Mijen Gunungpati Banyumanik Gajahmungkur Semarang Selatan Candisari Tembalang Pedurungan Genuk Gayamsari Semarang Timur Semarang Utara Semarang Tengah Semarang Barat Tugu Ngaliyan Jumlah Jumlah Penduduk KK 3. Tabel 2.228 225.400 3. 7. 5. 12. 9.

1. kesehatan. sosial budaya maupun politik. dimana masyarakat miskin memiliki kemampuan pengelolaan. dan 2) meningkatkan pendapatan atau daya beli penduduk miskin melalui peningkatan produktivitas.1.Semarang. Kebudayaan Sebagai kota pesisir/pantai dan kota niaga yang cukup tua. Upaya penanggulangan riil yang kemiskinan telah di ditempuh Kota sebagai upaya 1) semarang adalah yang memiliki kandungan lokalitas yang sangat pengurangan beban biaya bagi penduduk miskin dengan mengurangi pengeluaran kebutuhan dasar seperti akses pendidikan. Penanggulangan kemiskinan bukanlah hal yang mudah diatasi. mengingat kemiskinan merupakan masalah yang bersifat multidimensional. Kota Semarang memiliki beberapa jenis budaya. bangunan Perkantoran 46 buah. Peninggalan bangunan sejarah berjumlah 170 buah yang terdiri dari bangunan budaya sebanyak 3 buah. bangunan tempat ibadah sebanyak 24 buah. Banyak sekali peninggalan dalam bentuk kesenian maupun yang masih hidup dan berkembang termasuk beberapa peninggalan bangunan kuno. yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. 2. bangunan pendidikan sebanyak 11 buah. bangunan pengangkutan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .22 . bangunan kesehatan sebanyak 3 buah. Budaya terrsebut lahir dari proses akulturasi budaya asli dengan budaya yang dibawa para pendatang. Bentuk riil tersebut dilaksanakan melalui program antara lain Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP). memperoleh peluang dan perlindungan untuk memperoleh hasil yang lebih baik dalam berbagai kegiatan ekonomi. dan infrastruktur yang mempermudah dan mendukung kegiatan sosial ekonomi. kemiskinan juga merupakan masalah sosio-ekonomi bervariasi.9. bangunan pemerintahan sebanyak 13 buah. Di samping itu.

Tabel 2.23 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 . Dari data organisasi kesenian yang ada di Kota Semarang tercatat sebanyak 321 organisasi kesenian yang terdiri dari organisasi kesenian qosidah. 11. 15. 12. dan budaya itu menjadi kekayaan yang harus bangunan lainnya sebanyak 11 buah. II . gambang semarang. orkes melayu dan campursari. 1.14 PERKEMBANGAN ORGANISASI KESENIAN KOTA SEMARANG TAHUN 2000 . grup tari. Aspek budaya Kota Semarang ini merupakan modal dasar sekaligus kearifan lokal yang sangat penting dan potensial bagi Kota Semarang untuk mengembangkan diri dalam jangka panjang tanpa harus tercabut dari akar budayanya. 13. 6. 7. 4. ketoprak. Keragaman bangunan rumah tinggal sebanyak 56 buah. dilestarikan dan dikembangkan. 10. 14. drama/teater. keroncong. 3. 8. Organisasi kesenian Qosidah Kethoprak Gambang Semarang Bantenan Dalang Drama/Teater Sanggar Seni Keroncong Group Tari Lawak/Dagelan Karawitan Pencak Silat Orkes Melayu Kuda Lumping Campursari 2000 25 21 2 3 4 6 10 82 34 7 46 12 34 7 46 2001 28 27 1 6 77 8 20 83 34 7 43 12 34 7 43 2004 1 25 0 29 3 8 4 89 33 6 33 8 96 1 36 2005 28 22 3 7 0 99 27 6 27 9 27 6 27 6 27 Sumber Data Semarang Dalam Angka Upaya mempertahankan budaya di Kota Semarang sudah dilakukan dengan pagelaran seni dan budaya secara rutin tahunan. karawitan. 2.2005 Tahun (buah) 2002 2003 28 21 27 24 1 0 6 7 2 0 3 8 0 0 97 74 33 33 6 6 29 29 7 7 55 60 1 1 11 10 No. Pembangunan yang berbasis pada budaya dan kearifan lokal memiliki daya tahan terhadap pengaruh negatif dari budaya asing dan globalisasi yang kontraproduktif dengan nilai-nilai budaya lokal. wayan orang dan lain-lain. 5.sebanyak 3 buah. 9. sanggar seni.

Sedangkan jumlah tempat ibadah pada tahun 2005 adalah sebagai berikut masjid sebanyak 969 buah.2.716 246 28 4 mushola sebanyak 1. Tempat Ibadah Masjid Mushola Gereja/Kapel Vihara/Kuil Pura Tahun 2002 2003 855 1. pura sebanyak 4 buah.894 9.079 1.694 251 32 4 Sumber Data Semarang Dalam Angka Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .90 %.420.1. dan 2000 837 1.24 .10 Agama Kehidupan beragama di Kota Semarang selama ini berlangsung dalam toleransi yang cukup tinggi. Keharmonisan tersebut salah satunya dapat dilihat dari banyaknya tempat ibadah yang ada di sekitar warga yang majemuk. vihara/kuil sebanyak 32 buah. gereja/kapel sebanyak 251 buah.553 235 31 3 2001 845 1.694 buah.242 104.559 242 27 4 882 1.33 1. Tabel 2.1.593 110. 3.11 100 Jumlah pemeluk agama islam di Kota Semarang sampai dengan tahun 2005 mayoritas adalah bergama Islam yakni sebesar 82.2005 No 1. Tabel 2.76 7.097 17.506 239 28 4 2005 969 1. 5. serta kondusifnya situasi kehidupan beragama dalam menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinannya masing-masing.591 236 31 3 2004 911 1.26 0.177.573 1.64 0.90 7.16 PERKEMBANGAN JUMLAH TEMPAT IBADAH KOTA SEMARANG TAHUN 2000 . 2. 4.478 Prosentase (%) 82.15 PENDUDUK MENURUT PEMELUK AGAMA KOTA SEMARANG TAHUN 2005 No 1 2 3 4 5 6 Agama Islam Kristern Katholik Kristen Protestan Budha Hindu Lainnya Jumlah Jumlah (jiwa) 1.

29 % dari jumlah penduduk Kota Semarang.851 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Proporsi 50.1. tokoh masyarakat dll. Tabel 2.973 693.046 678.457 713. antara pemerintah. Jumlah penduduk Kota Semarang berdasarkan jenis kelamin Pada tahun 2000 perempuan dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2005 mempunyai proporsi lebih besar dari pada penduduk laki-laki.815 atau sebesar 50.352 665.27 % dan pada tahun 2005 jumlah penduduk perempuan sebanyak 713. proporsi perempuan sebesar 50. tokoh agama.27% 50.2005 Jumlah Perempuan (jiwa) 658.17 Perkembangan Proporsi Perempuan Kota Semarang Tahun 2000 .32% 50.29% 50.488 703.1.11 Perempuan dan anak Kondisi pembangunan dalam perlindungan perempuan dan anak dilaksanakan melalui pengarustamaan gender dan perlindungan anak. Perkembangan jumlah organisasi II .29% Sumber Data Semarang Dalam Angka Upaya perlindungan anak juga dilakukan dalam rangka memberikan kepastian hak tumbuh kembang anak sesuai dengan perkembangan usianya.28% 50.29% 50.25 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 .Upaya-upaya yang telah dilakukan dalam menjaga kerukunan hidup beragama adalah melalui berbagai forum silaturohmi dilakukan melalui fasilitasi kegiatan keagamaan. Upaya perlindungan terhadap perempuan juga telah dilakukan melalui fasilitasi dan advokasi kepada organisasi/lembaga perempuan antara lain dengan dibentuknya Seruni. Disamping itu juga 2. Upaya ini juga dimaksudkan untuk melindungi anak terlepas dari eksploitasi ekonomi dan kekerasan yang kerap menimpa baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

9 Jl. Thohir 35 Penggaron Jl. Citra Blok E/6 Perum Graha Estetika. Sugiyopranoto No. R. Rumpun Diponegoro II / 13 Jl. Sutomo No. 4 Gedung Juang 45. 38 Jl. Jl. ORGANISASI SOSIAL WANITA DI KOTA SEMARANG NO ORGANISASI ALAMAT Tabel 2. Dr. 9 Jl. Menoreh Selatan III No.wanita sampai dengan tahun 2005 sebanyak 28 buah. 12 Jl. Dr. Singosari X No. Lempongsari Barat III/353 Jl. Lompo Batang No. Banyumanik Indikator kondisi perempuan diukur dengan indeks pembangunan gender.E. Meranti Timur Dalam IV / 17 Jl. Pemuda No. Sambiroto Baru Raya 28 A Jl.18 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Al Hidayah Tiara Kusuma Perip TNI Polri Dharma Wanita Persatuan Bhayangkara Ikawati 17 YPSMI WKRI PWKI IIDI PERWARI Muslimat NU Wirawati Catur Panca Aisyiah Himpunan Wanita Karya Wanita Islam Adyaksa Dharmakarini Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Persatuan Wanita Nangka (PWN) Persit KCK Jala Senastri Perwanas Pepabri Wanita Satya Praja KOWAVERI Rukun Ibu Singosari KERTA Himpunan Wanita Pejuang Jl. Pemuda 163 Jl. Martadinata No. yang terdiri dari angka harapan hidup II . Sunan Bonang II No. Wonodri Krajan III / 684 Jl. Nangka Barat No. 269 Jl. 99 Jl. KH. 30 Jl. 153 Jl. Rejomulyo II/ 2 Jl. Abdulrahman Saleh 5 . Pawiyatan Luhur Bendan Dhuwur (UNTAG) Jl. Kedungmundu No. 11 Jl. Julungwangi II No. Sutomo No. 5 Jl. Kesatrian G No. Rejosari I No.26 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 . Lintang Trenggono IV / 23 Jl. 9 Jl. 9 Jl. 4 Jl. 5 Jl. 2 Jl. 19 Jl. Borobudur Utara Raya No. Kedungmundu No.

19 Perkembangan LPE.482 3.2005 (berdasar Harga Konstan 1993) Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 LPE (%) 4. Berdasarkan Pada harga konstan 1993.5. ini berarti masih ada berbagai bias gender. Untuk tenaga kepemimpinan dan tenaga profesional di Kota Semarang sampai tahun 2005 mencapai 36.2.297.399. Angka melek huruf perempuan 90.626.471.1.405.16 PDRB (jt) 5.921 Pendapatan Perkapita (rp) 3.562 Inflasi (%) 8.098 3.98 13.2 sedangkan laki-laki 68.11 4.73 13.142. PDRB. Kondisi dan Struktur Ekonomi dan sampai dengan tahun 2005 Sumber Data Semarang Dalam Angka Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .perempuan tahun 1999 mencapai 72.694 3. Tabel 2. 2.1.855 5.365.1. Dari gabungan beberapa indikator yang digunakan indeks perberdayaan gender Kota Semarang sebesar 64. tahun 2000 sebesar 4.3% dan rata-rata lama sekolah sebesar 8.051 3.636.542. tetapi masih menggambarkan keadaan yang belum mengarah pada posisi adil gender. walaupun demikian indeks pemberdayaan gender mencapai 61.43 4.782 3.56 6.239 5.36% per tahun.0.97 5.16 %.111. Indikator lain dalam mengukur indeks pembangunan gender di Kota Semarang adalah komposisi angota parlemen untuk hasil pemilu tahun 2004 proporsi perempuan dalam legislatif sebesar 15 %.533 5. Pendapatan Perkapita dan Inflasi Kota Semarang Tahun 2000 .27 .46 2.98 16.3.906 6.195.07 5.10 4.2.02 4.887.162 6.1.6 %.2005 mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 4. EKONOMI Kondisi makro perekonomian Kota Semarang selama lima tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang fluktuatif.97 % pertumbuhan ekonomi turun menjadi 4. pertumbuhan ekonomi periode tahun 2000 .

selama kurun waktu tahun 2000 – 2005 memberikan kontribusi rata-rata sebesar 34.48 1.45 3.54 3.38 13.Sektor Ekonomi Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.85 6. 3.43 3.67 3.98 6.35 6.63 13. kemudian diikuti sektor dominan lainnya yaitu sektor industri pengolahan dengan rata-rata sebesar 31.56 1.61 3.67 0.68 0.71 35.60 35.25 31.74 7.34 13. Jasa-jasa Sumber Data Semarang Dalam Angka Meningkatnya pertumbuhan ekonomi tersebut dipengaruhi oleh kontribusi lapangan usaha atau sektor-sektor ekonomi yang ada di Kota Semarang.25 31. Perusahaan 9.62 1. Hotel dan Restoran. Hotel dan Restoran besar terhadap PDRB adalah Industri Pengolahan dan Jasa-jasa. Pengankutan dan Komunikasi Keuangan. 2000 0.04 1. Hotel dan Restoran 7.39 7. 1.34 1.15 0.47 7.10 6.74 2005 0.73 % per yang memberikan Sedangkan sektor-sektor usaha lainnya kontribusi terhadap PDRB yaitu sektor pengangkutan dan komunikasi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . dan Sektor Jasa-jasa dengan rata-rata sebesar 12.26 31.22 12.62 7.25 31.63 35.06 2001 0.48 13.25 31. Sektor dominan yang mempunyai kontribusi paling besar terhadap PDRB adalah Tabel 2.28 .Penurunan pertumbuhan pada tahun 2002 dan tahun 2004 disebabkan oleh Kebijkan Pemerintahan menaikkan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Tarif Dasar Listrik (TDL).68 0.66 0.45 7.52 3.98 % per tahun. Persewaan dan jasa 8.26 31. ekonomi yang di Kota Semarang.2005 No. Meningkatnya dipengaruhi pertumbuhan ekonomi tersebut terbesar oleh kontibusi lapangan usaha atau sektor-serktor yakni Perdagangan.07 Hotel dan Restoran.41 1. Perdagangan.31 12. 5 Sektor .57 35.83 7.22 2004 0. Gas dan Air Minum Bangunan Tahun (%) 2002 2003 0.33 6. Perdagangan.66 0.79 0.20 PERTUMBUHAN SEKTOR-SEKTOR USAHA EKONOMI KOTA SEMARANG TAHUN 2000 .39 % per tahun tahun. 4. 2.62 6.51 6. Industri Pengolahan dan Jasa-jasa.54 35. Sektor dominan yang mempunyai kontribusi paling Perdagangan.58 35.

sektor Keuangan.816 industri kecil (formal).673 orang pada tahun 2005. Jumlah Industri di Kota Semarang yang ada sebanyak 2. yaitu dari Rp 3.30 % per tahun. Industri Industri merupakan salah satu sektor andalan Kota Semarang dalam menunjang pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.1. sektor Pertanian sebesar 0. serta industri kecil baru (19%) sudah ditempatkan di kawasan-kawasan industri. Sementara itu jumlah industri meningkat dari 3. 2.2.92 % per tahun dan sektor Pertambangan dan penggalian dengan rata-rata sebesar 0. infrastruktur dan fasilitasi perijinan.96 triliun pada tahun 2001 menjadi Rp 4. Selama 5 tahun terakhir omzet sektor industri meningkat.46 triliun pada tahun 2005.158 industri besar dan industri menengah 627 dan 1.115 pada tahun 2005 dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 162.25 % per tahun.326 Ha dengan jumlah unit usaha industri di kawasan industri tersebut sebesar 733 unit perusahaan.47 % per tahun.974 unit terdiri dari 1. menempati lahan seluas 1.37 triliun pada tahun 2001 menjadi Rp 13. Upaya dalam pengembangan industri di Kota Semarang yang telah dilakukan melalui penyediaan kawasan. Total luas kawasan industri di Kota Semarang ada 9 lokasi. Adapun jumlah investasi industri di Kota Semarang mengalami peningkatan dari Rp 13.81 triliun pada tahun 2005.443 unit pada tahun 2001 menjadi 4.2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .11 % per tahun. Selain itu masih ada 1. persewaan dan jasa perusahaan sebesar 6. sektor Bangunan sebesar 4.dengan rata-rata sebesar 7.84 % per tahun.29 . Sebagian besar dari industri-industri tersebut terutama industri besar dan menengah (39 %).141 unit industri kecil nonformal (kerajinan rumah tangga) yang tidak memiliki izin industri/tanda daftar industri. sektor Listrik Gas dan Air minum sebesar 1.

yang berarti meningkat dibanding tahun 2000 yang tercatat sebanyak 969 unit koperasi yang terdiri dari 865 unit koperasi aktif dan sebanyak 104 unit koperasi tidak aktif . Upaya dalam pengembangan koperasi dan UMKM di Kota Semarang telah dilakukan melalui fasilitasi akses permodalan.1.2.30 .3.000. selain itu masih terkendala di bidang pemasaran dan kualitas sumberdaya pengelola koperasi. ketika banyak perusahaan skala besar banyak yang kolaps bahkan harus menutup perusahaanya.057.-.dan modal UKM sebesar Rp. usahausaha mikro.. hal ini dapat lihat dari jumlah koperasi di Kota Semarang sampai dengan tahun 2005 sebanyak 1. Koperasi dan UMKM Koperasi dan usaha Mikro Kecil menengah memiliki potensi yang besar dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat. 61. dan penguatan kelembagaan dan manajemen kewirausahaan. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Peranan koperasi sebagai sokoguru perekonomian dan pengembangan usaha mikro.2. Dilihat dari modal koperasi UKM. khususnya akses pada perbankan/lembaga keuangan.000.285.054 unit yang terdiri diri Koperasi Aktif sebanyak 596 unit dan koperasi tidak aktif 458 unit.000. 258. perkembangannya juga mengalami peningkatan. kecil dan menengah masih mampu bertahan ditengah badai krisis. kecil dan menengah terbukti lebih mampu bertahan dalam menghadapi krisis ekonomi. Permasalahan mendasar yang terjadi adalah masih lemahnya akses UMKM terhadap pembiayaan untuk peningkatan modal usaha.000. sampai dengan tahun 2005 modal koperasi sebesar Rp. Perkembangan koperasi mengalami peningkatan.

2.4. yaitu dari 96. Investasi Investasi PMA Kota Semarang dilihat dari jumlah proyek selama lima tahun terakhir mengalami penurunan dari 57 proyek pada tahun 2001 menjadi 47 proyek pada tahun 2005. meliputi penciptaan iklim kondusif bagi dunia usaha.43 juta US$ pada tahun 2005.berdasarkan harga konstan 1993. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .68 juta US$ pada tahun 2001 menjadi 610. ketenagakerjaan.. kontribusi sektor pertanian terhadap pembentukan PDRB sangat kecil yaitu 0.1. Jumlah proyek PMDN juga mengalami penurunan dari 26 proyek dengan nilai investasi Rp. Dilihat dari kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB relatif kecil namun penyerapan tenaga kerja pada sektor ini sebanyak 14.360 penduduk atau 2.91 triliun pada tahun 2001 menjadi 20 proyek dengan nilai investasi sebesar Rp1.67 % atau sebesar Rp. peningkatan produktivitas tenaga kerja. 42. promosi terpadu. intermediasi perbankan.364. Pemerintah Kota Semarang telah mendukung penciptaan kebijakan pemerintah yang pro investasi dan dapat mendorong berkembangnya sektor riil.187.31 . penyediaan infrastruktur yang memadai dan kebijakan tata ruang yang konsisten.26 % dari penduduk Kota Semarang. Kebijakan tersebut adalah penciptaan iklim kondusif bagi investor dalam dan luar negeri dalam segala hal. seperti kepastian hukum. atau sebesar Rp. diperlukan berbagai kebijakan pemerintah.91 triliun pada tahun 2005. namun jika dhitung dengan harga berlaku sebesar 0.9 % 214.970. Namun.-.5. 2. Pertanian Dari segi perekonomian Kota Semarang. serta penyediaan infrastruktur yang memadai. Upaya untuk mendorong tercapainya pemenuhan kebutuhan investasi swasta dan berkembangnya sektor riil.1. apabila dilihat dari nilai investasi mengalami kenaikan.230.2. 2.2.

peternakan.514 2005 30. tanaman Sendangkan kontribusi terkecil dari kehutanan.669 24.440 17.500.960 13.760 37. Dari sektor peternakan kontribusi yang cukup dalam pertumbuhan ekonomi.609 48. tanaman perkebunan.710 11. dan kehutanan.943.160.282 23.224 24.440 2002 8.778.941.Tabel 2.613 48.310 45.32 .060 651.590 2005 7.584 2003 24.620 3.271 47.394. kambing dan domba Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 dengan II .985.620 3.620 3.2005 No Penggunaan Lahan 2000 1 Tegalan / Kebun 2 Padang rumput 3 Sawah Jumlah Sumber Data Semarang Dalam Angka Luas (Ha) per Tahun 2001 8. Berdasarkan harga konstan tahun 1993 kontribusi peternakan sebesar 44 % sedangkan kontribusi tanaman bahan makanan sebesar 40 % terhadap sektor pertanian.640 2004 8.490 2003 9.400 27.154.187.912.470 12.575 Jumlah Petani 2002 22.21 LAHAN PERTANIAN KOTA SEMARANG TAHUN 2000 .500. Dan untuk harga berlaku kontribusi peternakan sebesar 46 % dan kontribusi sektor tanaman bahan makanan sebesar 46 %.351 47. ayam buras.620 3.658. Penurunan tersebut merupakan konsekuensi logis dari wilayah perkotaan sebagai akibat beralihnya tenaga kerja pertanian menjadi pekerja lain yang menjanjikan pendapatan lebih baik. Sektor pertanian mencakup tanaman pangan. hal ini dilihat dari jumlah populasi yang semakin meningkat di Kota Semarang.310 Tabel 2.897.815 21. sapi potong.010 651.2005 No Penggunaan Lahan 2000 2001 23. sektor ini adalah peternakan dan Kontribusi terbesar dari bahan pangan.300 11.430 12.455.680 8.620 3.956. seperti ternak ayam ras petelur.569 2004 24.711 1 Petani Sendiri 2 Buruh Tani Jumlah Luas lahan pertanian produktif Kota Semarang selama kurun waktu lima tahun terkahir mengalami penurunan kualitas.260 29.960 12. sapi perah.501.22 PERKEMBANGAN JUMLAH PETANI DAN BURUH TANI KOTA SEMARANG TAHUN 2000 .371.975 25.377.470 3.259 21.699 46.260 92.

tanaman empon-empon sebesar 428 ton yang merupakan faktor pendukung perkembangan industri jamu sebagai salah satu produk Unggulan Daerah. Pada sektor tanaman bahan pangan terdiri dari komoditas Padi dan palawija.159 kg. Komoditas tanaman perkebunan rakyat sebesar 193. sebesar 11.894. pada tahun 2005 komoditas padi dan palawija sebesar 7. Komoditas hasil perikanan secara umum mengalami penurunan. susu sebesar 3.94 % per tahun.6.431. buah-buahan serta tanaman perkebunan rakyat. Secara umum tiap komoditas mengalami peningkatan kecuali komoditas tanaman buah-buahan.1.7 ton atau mengalami penurunan rata-rata sebesar 34.69 % per tahun dan untuk produksi perikanan darat/kolam sebesar 55.907 liter dan daging baik unggas maupun non unggas 2. pada tahun 2005 untuk produksi perikanan darat/tambak sebesar 615.804 butir. Komoditas perikanaan selama beberapa tahun terakhir mengalami penurunan baik dari luas areal lahan maupun dari jumlah produksi perikanan.2. Kelautan dan Perikanan Pada bidang pembangunan kelautan dan perikanan terjadi tekanan yang sangat berat terhadap sumber daya laut pada wilayah pantai utara Kota Semarang karena adanya usaha penangkapan ikan yang berlebihan. pembinaan dan penguatan kelembagaan kelompok petani serta penanganan pasca panen.06 % dengan produk hasil ternak pada tahun 2005 yakni telur sebanyak 5.83 ton. kwintal.peningkatan rata-rata per tahun sebesar 13.488.686.56 Upaya yang telah dilakukan dalam mendorong bidang pertanian melalui pemberian sarana dan prasarana produksi pertanian.53 kg/pohon. sedangkan komoditas buah-buahan sebesar 67.33 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 . tanaman empon-empon. II .4 ton atau mengalami penurunan rata-rata sebesar 4.

00 1. Pertambangan Dalam bidang pertambangan Pemerintah Kota Semarang selama ini hanya memberikan rekomendasi untuk penerbitan ijin penggalian bahan tambang golongan C dan pemanfaatan Air Bawah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .50 1.140 2004 970.24 184.26 3.75 323.Tabel 2. Penurunan produktifitas perikanan juga disebabkan rsendahnya penggunaan teknologi perikanan dan kurangnya sarana prasarana masih menjadi permasalahan bagi nelayan. luas lahan perikanan mengalami penurunan dari tahun 2000 seluas 1.50 1.110 Luas (Ha) per Tahun 2001 1.130.50 1.00 5.35 % per tahun.660 2005 1.7.100 ha menjadi 1.00 5. menyebabkan tidak dapat melaut sedangkan mereka tidak mempunyai alternatif mata pencaharian lain sehingga berakibat turunnya penghasilan yang diperoleh dan berpengaruh terhadap kehidupan rumah tangga nelayan.64 323. Upaya dalam pembangunan bidang kelautan dan perikanan dilakukan melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir. pembinaan dan penguatan kelembagaan kelompok petani nelayan serta penanganan pasca panen. 2.245.12 2.00 323.230.360 Sumber Data Semarang Dalam Angka Dari data lahan perikanan di Kota Semarang tahun 2000-2005. Nelayan juga harus dihadapkan pada kondisi alam yang ekstrem selama 4 bulan (sekitar November – Februari) setiap tahunnya.34 .00 5.044.572.26 3.572.360 ha atau 4.50 1.23 LAHAN PERIKANAN KOTA SEMARANG TAHUN 2000 .2.35 323.500 2003 970.2005 No 1 2 3 Penggunaan Lahan 2000 Tambak Kolam / Empang Perairan Umum (Sungai/Waduk) Jumlah 1.16 323.1.510 2002 1.245. pemberian sarana prasarana produksi kelautan dan perikanan.572.458.50 1.298.230.299.

1. 2. pasir dan batu Kecamatan Ngaliyan. Sampai dengan tahun 2005. Namun demikian masih sering terjadi kasus-kasus pelanggaran terhadap ijin galian yang diterbitkan sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan.8. Banbankerep yang ada di Kota yang dan Wonosari Semarang berupa penggalian tanah urug.1 trilyun. nilai ekonomi dari sektor perdagangan pada tahun 2005 mencapai Rp. berdasar harga berlaku sebesar Rp.2. Sektor Perdagangan yang di dalamnya termasuk hotel dan restoran menjadi penyumbang terbesar dalam PDRB kota Semarang. Perdagangan Proporsi sektor perdagangan dalam perekonomian daerah juga sangat signifikan.Tanah (ABT) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . pemanfaatan Air Bawah Tanah (ABT) di Kota Semarang telah menjamur dan tidak terkendali. Berdasar harga konstan 1993. yakni sebesar 35.2 trilyun. 2. 9.35 . Upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang adalah dengan pengawasan dan pengendalian terhadap pemanfaatan bahan galian C dan ABT. Penggalian bahan tambang galian C berada di Kelurahan Ngaliyan.62% pada tahun 2005.

2005 (dalam US $) Tahun Nilai Ekspor Nilai Impor 2000 2.240.356.000 2003 1. Distribusi barang tidak mengalami hambatan yang berarti.000 878.728.327.405.308.034 2001 1. 19 pasar lokal.000. nasional dan regional.770.090 778.226.769 2005 2.809 Sumber Data : Indikator Ekonomi Kota Semarang 2005 Pertumbuhan sektor perdagangan selama lima tahun terakhir (20012005) berdasar harga konstan menunjukkan angka pertumbuhan yang stabil.600.640. 3 pasar grosir dan 11 mall/plaza.096. Untuk jalur laut dan udara melalui pelabuhan Tanjung Emas dan Bandara Ahmad Yani. Upaya Pemerintah Kota Semarang dalam mendorong pertumbuhan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .725 916. Prasarana perdagangan sampai dengan tahun 2005 memliki 47 pasar tradisional dengan kondisi baik sebanyak 1 buah.467 735. baik pada jalur Pantura mapun jalur Selatan Jawa. jalur darat melalui jalan arteri Pantura. hal ini dapat dilihat pada lima tahun terakhir belum pernah mengalami kelangkaan distribusi bahan kebutuhan masyarakat.36 .918 1. Jika dihitung berdasar harga berlaku menunjukkan penurunan. dari 14 % tahun 2001 menjadi 13 % pada tahun 2005.334.000 2002 1.Perkembangan Nilai Ekspor dan Impor (US $) Kota Semarang Tahun 2000 . laut maupun udara.640.000 2004 2.662. 54 pasar swalayan. ini disebabkan lalulintas barang dapat dilakukan baik melalui darat.900. rusak sedang 7 buah sedangkan rusak berat sebanyak 37 buah . Perkembangan aktivitas perdagangan di Kota Semarang selama 10 tahun terus mengalami dari peningkatan.800.585.841.861 974. Keberadaanya merupakan cabang jaringan supermarket internasional. sekitar 5 %. sarana perdagangan prasarana tidak bisa dipisahkan ketersediaan perdagangan. serta jaringan kereta api. Dari data tersebut terdapat 23 pusat perbelanjaan modern yang tersebar di wilayah Kota dan daerah pengembangan.

00 2.780.004. Tabel 2.9.316 wisatawan dengan jumlah wisatawan asing relatif kecil yakni sebesar 6. dan tersebar di sektor-sektor ekonomi yang lain seperti sumbangan hotel perdagangan.171 2.704.608 4.363.782.247.064 783. dan restoran dalam sektor Sumbangan pariwisata hotel dan restoran.158.65 % per tahun.00 1.516.00 2.603 Asing 6.2.184.1. Sumbangan sektor pariwisata terhadap perekonomian Kota Semarang cukup besar.00 2.714 686. dan Pendapatan Pariwisata Kota Semarang Tahun 2000 .24 Perkembangan Obyek Wisata. memberikan kepastian berusaha. Pariwisata Pembangunan pariwisata di Kota Semarang selama beberapa tahun terakhir mengalami penurunan yakni rata-rata 0.713 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Pendapatan (Rp) 1.038 661. Pengunjung. perdagangan baru.997.00 Sumber Data Semarang Dalam Angka Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .191.604 633.778.898. Dari sejumlah 18 obyek wisata yang ada di pada tahun 2005 jumlah wisatawan sebanyak Kota Semarang dan mendorong terbentuknya pusat-pusat 640.985.240.37 .101.902. 2. kemudahan perijinan dalam berusaha.920 1. namun struktur PDRB yang ada tidak mengukur sumbangan pariwisata secara langsung.591 1.2005 Jumlah Obyek 18 18 18 18 18 18 Jumlah Kunjungan (org) Domestik 875.095 2.360 6.551. Berdasarkan perkembangan pengunjung pendapatan pariwisata selama lima tahun terakhir 2000-2005 jumlah kunjungan wisata mengalami pertumbuhan yang fluktuatif rata-rata sebesar 9. jumlah Sedangkan jasa pariwisata masuk dalam sektor Bank dan Jasa-jasa.713 orang atau sebesar 1 % dari total wisatawan.bidang perdagangan dilakukan melalui meningkatkan sarana prasana distribusi produk.74 % per tahun.00 3.032.

Melati 3 sebanyak 15 buah. Obyek wisata yang ada di Kota Semarang terdiri dari wisata Pariwisata di Kota Semarang didukung oleh fasilitas pariwisata lengkap seperti akomodasi. bintang 4 sebanyak 3 buah. bintang 1 sebanyak 13 buah. bahari. religi. Sedangkan untuk tingkat hunian hotel berbintang di Kota Semarang tahun 2005 menunjukkan rata-rata lama menginap sebesar 1.37 hari yang terdiri dari wisatawan asing sebesar 1.067 oarang yang terdiri domestik sebesar 507. Sedangkan jumlah biro perjalanan di Kota Semarang tahun 2005 sebanyak 63 buah Upaya Pemerintah Kota Semarang dalam mendorong pertumbuhan pariwisata dilakukan melalui meningkatkan sarana prasana kepariwisataan. sedangkan wisatawan asing banyak mengunjungi Museum Jamu Djago dan Museum Nonya Meneer. serta pemasaran pariwisata. pusatpusat perbelanjaan. melati 1 sebanyak 19 buah dan wisma sebanyak 11 buah. baik alam maupun buatan tersebut belum dikelola dengan optimal. melati 2 sebanyak 16 buah. bintang 2 sebanyak 8 buah. budaya. Namun. wisma di Kota Semarang tahun 2005 mencapai 96 buah.951 orang. sebesar 608. rumah makan.Dari data tersebut wisatawan nusantara tercatat paling banyak mengunjugi obyek Puri Maerokoco. landscape. kemudahan perijinan dalam usaha pariwisata. sehingga objek wisata yang ada kurang kompetitif dalam persaingan pasar regional maupun global. Money changer. yang terdiri dari Hotel Bintang 5 sebanyak 3 buah.64 hari dan Untuk tingkat hunian kamar hotel melati asing sebesar 116 orang dan Jumlah hotel bintang. kondisi objek wisata. melati dan domestik sebesar 1. hingga wisata kuliner.35 hari. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Biro perjalanan wisata serta fasilitas infrastruktur lainnya.38 . dan penambahan obyek wisata. pendidikan. bintang 3 sebanyak 8 buah.

39 . sehingga masih banyak terjadi duplikasi dari kegiatan penelitian yang serupa. Hasil temuan teknologi tepat guna bagi masyarakat bermanfaat dalam membantu kehidupan perekonomian. masyarakat. Upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kota Semarang dalam bidang IPTEK melalui kerjasama penelitian dengan perguruan tinggi dan lembaga- Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . maupun institusi lainnya. Berbagai penelitian sudah dilaksanakan.2. Penelitian dan pengembangan merupakan salah satu pendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sampai dengan tahun 2005 dalam penguasaan teknologi informasi Pemerintah Kota Semarang telah terbangun 15 (lima belas) Sistem Manajemen Daerah (SIMDA) yang meliputi Sistem Informasi Kepegawiaan (SIMPEG). ke depan tetap diupayakan peningkatan baik dari sisi kuantitas maupun kualitas dalam temuan teknologi tepat guna yang dapat diterapkan di masyarakat. Kelemahan dalam penelitian yang dilaksanakan oleh berbagai elemen masyarakat adalah belum diintegrasikan dalam satu jaringan penelitian yang efektif.1. Kondisi tersebut mengakibatkan adanya pemborosan sumber daya dan hasilnya kurang memiliki nilai implementatif atau sulit menjadi dasar operasional dan belum sepenuhnya mampu mendukung penyelenggaraan dan kebutuhan masyarakat. terutama bagi masyarakat yang bergerak di bidang industri yang bahan bakunya menggunakan bahan lokal. Sistem Informasi Kependudukan (SIMDUK). perguruan tinggi. Berbagai temuan teknologi tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Mulai tahun 2002 telah ketersediaan telekomunikasi dan informatika yang mudah diakses oleh penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Kota Semarang. baik oleh pemerintah daerah. Sistem Informasi Barang Daerah (SIMBADA).3 ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) telah Hal ini didukung dengan dibangun SIM dalam rangka mengalami kemajuan yang cukup pesat. Oleh sebab itu. dan 1 (satu) Website Pemerintah Kota Semarang.

4 SARANA DAN PRASARANA Kota semarang yang terletak di tengah-tengah jalur distribusi Jawa– Sumatera.40 . tetapi pada sisi lain memiliki beban yang cukup peran berat. selalu tertinggal dari tuntutan kebutuhan masyarakat yang tumbuh baik dalam artian jumlah maupun kualitas pelayanan yang dibutuhkan. Jalur jalan Pantura empat lajur yang melewati Kota semarang selalu menghadapi masalah alam yaitu banjir dan rob. Jalur rel kereta api kondisinya masih memprihatinkan ditambah sistem pengelolaan yang belum memadai. Sedangkan outter ringroad selatan sampai saat ini belum terbangun. sehingga belum menjadi sarana transportasi massal yang menjadi pilihan utama masyarakat. provinsi maupun jalan kota.lembaga penelitian lainnya. Pembangunan fasilitas umum merupakan salah satu upaya dalam pemenuhan kebutuhan akan infrastruktur kota yang menjadi tuntutan atau kebutuhan aktivitas masyarakat kota Semarang. drainase. baik untuk jalan nasional. dan karena harus sebagai mampu menjaga jalur bahkan distribusi meningkatkan fungsinya penopang perekonomian nasional maupun sebagai aksesibilitas internal yang berfungsi sebagai penggerak utama (prime mover) perekonomian daerah. Pemenuhan akan infrastruktur kota dilakukan melalui pemenuhan sarana dan prasarana jalan dan jembatan. Sarana dan prasarana wilayah (infrastruktur) terutama sarana prasarana perhubungan darat. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .1. dan penyediaan air baku. Kondisi tersebut antara lain ditunjukkan oleh panjang jalan yang dilihat dari status pengelolaannya menunjukkan adanya panjang yang relatif tetap. khususnya jalan dan perkeretaapian kondisinya belum memadai. pada satu sisi memiliki nilai yang strategis. Sarana dan prasarana perhubungan yang ada. 2. sehingga belum mampu menjadi penyeimbang pertumbuhan wilayah serta belum mampu menjadi penopang jalur distribusai nasional.

jalan arteri primer yang menuju kearah Surakarta juga mempunyai kepadatan dengan intensitas tinggi. terdapat beberapa ruas jalan yang benar-benar mempunyai tingkat kepadatan dengan intensitas tinggi. dan jalan-jalan dalam di pusat Kota Semarang yang mewadahi pergerakan masyarakat Semarang sebagai lokasi tujuan dari pergerakan.261 Km.971 Jumlah 2.2. Tabel 2. Adapun bila dilihat dari jenis permukaannya 52.910 20.760 Kondisi Baik 41.87% dalam keadaan baik. yaitu jaringan jalan artei primer (pantura) yang banyak dilewati kendaraan dari arah Jakarta maupun kendaraan dalam Kota Semarang sendiri. kolektor primer.26 Banyaknya Kendaraan Bermotor dan Trayek Angkutan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .177.379 1.621 Sumber: Kota Semarang dalam Angka Tabel 2.1 Perhubungan Sistem jaringan jalan yang ada di Kota Semarang terdiri atas : arteri primer.48% dalam keadaan sedang.1.479 Sedang 14.314 625.673. sedangkan dari kondisinya 44. arteri sekunder.190 1.200 875. dan sisanya dalam keadaan rusak. jalan Provinsi 28. Sistem jaringan jalan di wilayah Kota Semarang dilalui jalur utama yang menghubungkan wilayah-wilayah penting baik antar provinsi maupun didalam Provinsi Jawa Tengah. Kedudukan kota ini berpengaruh terhadap kepadatan lalu lintas yang melalui Kota Semarang.673.714 Provinsi 28. Jalan Nasional 59. dan jalan Kota 2. Berdasarkan status kepemilikan jaringan jalan di Kota Semarang terbagi atas.428 Rusak 2.971 km. 32. Panjang jalan di seluruh wilayah Kota Semarang mencapai 2.239. Dari beberapa fungsi jalan yang ada di Kota Semarang tersebut. lokal sekunder dan jalan lingkungan.89 km.900 1.12% sudah di aspal.500 621.762.762.76 km.4. kolektor sekunder.278 897. lokal primer.41 .890 Kota/Lokal 2.950 7.25 Status Jalan dan Kondisi Jalan di Kota Semarang Tahun 2005 Status Jalan Negara Panjang (km) 59.

Terminal bus Terboyo merupakan terminal utama Kota Semarang yang untuk Bus AKDP pada tahun 2005 yang masuk ke terminal ini rata-rata setiap bulannya adalah sebanyak 12. Terminal tipe B merupakan terminal yang melayani angkutan penumpang antar kota dalam propinsi dan angkutan kota/ angkutan perdesaan (AK/AP) terminal yang masuk dalam kelas ini adalah terminal Penggaron. Selain terminal. yaitu angkutan darat.682 93.320 708 20.813 bus.408 bus tiap bulannya. Aspek yang terkait dengan sarana transportasi tersebut adalah terminal dan tempat-tempat pemberhentian sementara. Trayek Ranting Sumber : Semarang Dalam Angka Sarana transportasi berkaitan erat dengan fasilitas-fasilitas yang menunjang sistem pergerakan ataupun sistem prasarana transportasi yang ada. fasilitas transportasi yang digunakan sebagai tempat pemberhentian akhir (stop station) namun tidak disediakan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . 5.42 . 2.073 49 buah 44 buah Jenis Trayek 1. 4.di Kota Semarang Tahun 2005 1. 3. Jenis Kendaraan / Trayek Angkutan BUS Truk Colt. Terminal tipe C merupakan terminal yang melayani angkutan kota / perdesaan (AK/AP). Sarana angkutan terbagi menjadi tiga jenis. Sedangkan untuk Bus AKAP sebanyak 2. Terminal Kota Semarang yang masuk ke dalam kelas ini adalah Terminal Terboyo. Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP) dan Angkutan Kota/Angkutan Pedesaan (AK/AP). Terminal Tipe A merupakan terminal yang melayani angkutan penumpang Antar Kota Antar Propinsi (AKAP). Trayek Utama 2. angkutan laut dan angkutan udara. 6. dan Terminal Mangkang yang masih dalam proses pengembangan. terminal tipe C berada di Gunungpati dan Cangkiran. Taksi Angkutan Kota Mobil Pribadi Sepeda Motor Jumlah 530 732 1.

Tinjomoyo.Surabaya. Trayek terbanyak yang dilayani dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . yaitu Purwodadi. Kualitas moda angkutan umum yang ada saat ini cukup baik. dan angkotan kota (angkota) yang melayani pergerakan penumpang di dalam Kota Semarang sebanyak 2. dan taksi sebanyak 1. Perumahan Bukit Kencana Jaya. Banyumas. Rejomulyo. kios-kios kecil.Semarang . sedangkan angkutan kota dalam propinsi (AKDP) sebanyak 267 armada.322 armada (40 trayek). Tegal. Puri Maerokoco. Rembang. Karanganyar. PRPP. Pelabuhan Tanjung Mas. Perumnas Pucang Gading. Komplek Industri Candi. Kota Semarang memiliki trayek angkutan yang mampu menjangkau 13 (tiga belas) kabupaten. akan tetapi beberapa dari angkutan tersebut belum memanfaatkan terminal sebagai tempat transit. Surakarta.bangunan terminal antara lain: Pasar Johar. Jepara. Perumahan Plamongan Indah. Perumahan Pasadena. Sub Terminal Banyumanik. Pati. Perumahan Kuasen Rejo. dan lain sebagainya. bus kota sebanyak 670 armada (37 trayek). Cilacap dan Wonogiri. RS.43 . Ngaliyan.320 buah. Perumnas Banyumanik. Rowosari. Perumahan Payung Mas. Keberadaan Terminal Mangkang sebagai pusat aktivitas transportasi yang melayani trayek lokal Kota Semarang maupun trayek regional Jakarta. Elizabeth. Pudakpayung. Kudus. Kokrosono. Angkutan ini berfungsi menghubungkan beberapa kota dalam satu propinsi. Purworjo. Blora. yang merupakan area transit point dalam kaitannya dengan mobilitas penduduk dan pelayanan transportasi public. Angkutan kota dalam antar propinsi (AKAP) yang masuk ke Kota Semarang sebanyak 199 armada. Mereka masih memanfaatkan jalan raya sebagai tempat untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Perumahan Gedawang. Perkembangan aktivitas utama di terminal ini juga memunculkan banyak aktivitas lain di dalamnya seperti PKL.992 armada yang terdiri dari angkutan mobil penumpang umum (MPU) sebanyak 2.

44 . Sehingga di pelayanan yang diberikan moda transportasi kereta api di kota ini terdiri atas berbagai pilihan tujuan. Stasiun Poncol difungsikan untuk memberikan pelayanan dengan kelas ekonomi dan barang. banyaknya kapal yang berlabuh di Pelabuhan Tanjung Emas Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Angkutan kota ini terbagi atas dua angkutan. sedangkan Stasiun Tawang difungsikan untuk memberikan pelayanan kelas bisnis dan eksekutif. terdapat angkutan kota jenis bus kota yang memiliki trayek tetap. yaitu Stasiun Tawang dan Stasiun Poncol. Untuk sarana dalam pengoperasionalan kereta api. yaitu angkutan dengan trayek tetap dan angkutan yang belum memiliki trayek tetap. Tryak angkuta kota terdapat 68 trayek dengan jumlah armada yang melayani sebanyak 399 armada. Keselamatan yang lebih dibandingkan dengan moda transportasi lain dan mampu menampung jumlah penumpang dengan kapasitas yang besar (public transport) menjadi keunggulan moda kereta api. Selain itu keunggulan lain yang berupa keefektifan waktu perjalan menjadi hal yang membedakan moda ini. Posisi Kota Semarang yang strategis dengan lokasinya yang berada di tengahtengah pulau Jawa memberikan fungsi kota ini sebagai pusat tjuan perlintasan kereta api menuju ke berbagai kota di Pulau Jawa. Angkutan kota dengan bus kota DAMRI melayani 4 (empat) trayek dalam kota yaitu Terboyo-Mangkang. Kedua stasiun ini memiliki kelas pelayanan yang berbeda. Dari kunjungan kapal selama tahun 2005. Terboyo-Jatingaleh. Kota Semarang memiliki dua stasiun utama. sedangkan jumlah kendaraan terbanyak adalah yang melayani trayek Semarang-Solo sebanyak 248 armada. NgaliyanPucanggading dan Pasar Johar-Perumnas Banyumanik.Kota Semarang adalah trayek yang menuju Banyumas sebanyak 4 trayek. Angkutan laut juga merupakan sarana perhubungan yang cukup penting di Kota Semarang. Selain angkutan kota jenis mikro bus.

tanker dan non tanker.4.414 ton.405. sedangkan arus barang yang dilayani terdiri atas 6 (enam) jenis pelayaran. pengembangan moda angkutan masal dan pengembangan antar dan inter moda angkutan(darat. rakyat. lokal.55% dan 21. bila dibandingkan dengan keadaan tahun sebelumnya mengalami kenaikan masing-masing sebesar 0.56%. Lapangan Penumpukan dan Terminal. sedangkan jumlah penumpang yang datang dan berangkat masing-masing sebanyak 702. sedangkan jumlah abrang yang dimuat adalah sebesar 2. Lapangan Peti Kemas.88%.58% dan 0.87%. yaitu samudera.2. Pelabuhan Tanjung Emas merupakan pelabuhan samudera yang memiliki fasilitas tiga dermaga yaitu. pada saat terjadinya krisis moneter peminatnya naik sebesar 30.342. laut dan udara).383 orang dan 686. Arus lalu lintas pesawat udara pada tahun 2005 yang datang dan berangkat tercatat sebanyak 7. Namun demikian.161 ton. Seperti halnya sistem transportasi jalan raya dan jalan rel. 2. sistem tranportasi laut di Kota Semarang juga melayani arus angkutan penumpang dan barang.45 .406 dan 7.047 orang mengalami kenaikan masing-masing sebesar 18. Upaya yang dilakukan dalam bidang perhubungan melalui pengembangan sistem jaringan jalan dan transportasi.1. Perumahan dan Permukiman Pembangunan perumahan dan fasilitas umum di Kota Semarang selama 10 tahun terakhir dilihat dari banyaknya rumah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Arus penumpang yang dilayani yaitu penumpang regional. Angkutan udara mulai dirasakan manfaatnya seiring dengan kemajuan pembangunan. dengan membawa barang yang diturunkan sebanyak 4. dengan pelabuhan Tanjung Mas sebagai simpul transportasi yang melayani pergerakan sistem transportasi laut.sebanyak 3. nusantara.092 kapal.141.

Dari data tersebut kondisi rumah selama kurun waktu 10 tahun mengalami peningkatan baik jumlah maupun kondisi fisik rumah. Bukit Kencana Jaya.73 % dan pada tahun 2005 dapat dipenuhi sebesar 82. Jumlah rumah pada tahun 1996 sebanyak 249. Adapun pengembang yang mengembangkan proyek perumahan di Kota Semarang antara lain PT. PT. Pembangunan Perumahan. Dilihat dari kebutuhan rumah di Kota Semarang mengalami peningkatan sebesar 2.99 %. PT. Sendangmulyo.30 %. Bangetayu Wetan. Tulus Harapan.54 %.533 rumah menjadi 292. Dilihat dari kondisi rumah yang ada juga mengalami peningkatan dari tahun 1996 untuk kondisi Gedung permanen sebesar 65. Perum Korpri Tugurejo. Bumi Wanamukti. untuk kondisi Gedung permanen sebesar 66. Bukit Permata Puri dan lain-lain.46 %. Plamongan Indah.239 rumah pada tahun 2005. Kekancan Mukti. Gayamsari. Sinar Waluyo. Tanah Mas. Bulusan. Semarang Indah. Bukit Permata Hijau. Bangetayu Kulon. Klipang . pada tahun 2005 Papan/kayu 11. Pemenuhan kebutuhan akan perumahan selain dilakukan secara individu penduduk juga dilakukan oleh Perum Perumnas dan pengembang swasta lainnya.35 %. Tembalang. Pedurungan Kidul. pada tahun 1996 kebutuhan rumah penduduk dipenuhi sebesar 79.93 % dan bambu/lainnya 1. Sambirejo. Semi permanen sebesar 21. Beberapa lokasi perumahan yang dibangun oleh Perum Perumnas dan KORPRI sebanyak 36 kawasan antara lain Perumnas Tlogosari. Krapyak.07 %. Sedangkan perumahan yang dibangun oleh Real Estate sebanyak 45 kawasan antara lain Taman Setyabudi.71 % per tahun. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Bukit Sari. Graha Estetika. Pasadena. Villa Aster. PT. Bukit Kencana Jaya. Plamongan Hijau.46 .77%. Graha Mukti.62 %. Kalicari.93 % dan bambu/lainnya 0.penduduk mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1. Papan/kayu 10. Banyumanik. Pudak Payung dan Pedalangan. Adhi Karya. Bukit Semarang Baru. Semi permanen sebesar 21. Sendangguwo. Srondol Wetan.

Tawang Mas. Trimulyo. PT. Putra Wahid Sejahtera. Panggung Kidul. Selain itu ada juga rumah sewa atau rumah susun sewa yang dikelola oleh Pemerintah Kota Semarang adalah Rusun Plamongansari. Karang Ayu. Makam kobong. Dadapsari. Dargo. Purwodinatan. Tambakrejo. Genuksari. PT. Tugurejo. Rusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Kuningan. Kekancan Mukti. pemenuhan kebutuhan sarana prasarana dasar permukiman. Tanah Mas. PT. PT. PT. Terboyo Wetan. PT. Rumah Sewa Karangroto. Karanganyar. Tanjungmas. Kalisari. penduduk kurang mampu tinggal dikawasan kumuh yang diperkirakan tersebar di 42 titik yaitu di Krasakan. Bojong Salaman. Mangkang Kulon. Panggung Lor. Kini Jaya indah. Bulu Lor. Sukorejo. PT. Rumah Sewa Gasemsari. Randugarut. Plombokan.Kardeka Alam Lestari. Graha Padma Internusa. Lemah Gempal. Purwosari. Banjir Kanal. Dari Perum Perumnas yang ada hanya beberapa yang telah menyerahkan fasilitas sosial dan fasilitas umumnya kepada Pemerintah Kota Semarang yakni Perumnas Tlogosari dan Banyumanik. Upaya pemerintah Kota Semarang yang telah dilakukan dalam bidang perumahan dan permukiman melalui pemenuhan kebutuhan perumahan permukiman yang berkualitas dan layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Sindur Grahatama. Bubakan. mendorong peran kelembagaan perumahan dan permukiman. Terboyo Kulon. Bandarharjo. Peterongan. Kebonharjo. Namun dari jumlah rumah di Kota Semarang masih ada sebagian masyarakat yang belum mempunyai tempat tinggal yang layak. Pekojan. Jrakah. Sleko. Sayangan. Rusun Karangroto. Mangkang Wetan. Mangunharjo. Pandean Lamper. Bulu.47 . Rusun Bandarharjo I. PT. Kondisi kualitas lingkungan perumahan permukiman juga mengalami peningkatan. Kampung Melayu. Indo Perkasa Usahatama. Semarang Indah. hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya sarana dan prasarana lingkungan permukiman khususnya diwilayah pinggiran/perbatasan. Tawang.

Sampai dengan tahun 2005 daerah genangan banjir di Kota Semarang seluas 9. Tabel 2. serta industri. Pemenuhan air bersih yang dipenuhi oleh PDAM baru mencakup 60 % atau sebesar 115. merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi masyarakat dan fungsi perkotaan.27 Jumlah Sumur Bor di Kota Semarang No Tahun Jumlah Pengambilan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Sementara pengelolaan drainase bagian bawah terbagi ke dalam empat sistem drainase.3. sistem Drainase Semarang Barat. pengguna rata-rata terbesar adalah instansi pemerintah. Sumber Daya Air Wilayah Kota Semarang mengalir beberapa sungai yang tergolong besar. dan Pondok Boro. DAS Banjir Kanal Timur.500 m3. DAS Plumbon. Sistem Drainase Semarang Tengah. 2. Rusun Pekunden. Sistem Drainase Semarang Timur.165 pelanggan yang didominasi oleh pelanggan non niaga atau rumah tangga. daerah Hulu dengan sendirinya merupakan daerah limpasan debit air dari sungai yang melintas dan mengakibatkan terjadinya banjir. terbagi atas dua karakteristik wilayah yaitu penanganan daerah atas dan penanganan daerah bawah. Air bersih. DAS Banjir Kanal Barat.207 ha. pelabuhan dan sejenisnya. Penanganan daerah atas terbagi ke dalam beberapa pelayanan DAS. yaitu DAS Babon. DAS Bringin. dengan rata-rata pemakaian di atas 1. dan Sistem Drainase Semarang Tugu. DAS Silandak/Siangker.1.Bandarharjo II.4. Meskipun demikian.48 . Penanganan drainase Kota Semarang. Kondisi ini diperparah oleh karaktersitik wilayah dimana perbandingan panjang sungai dan perbedaan ketinggian (kontur) sangat curam sehingga curah hujan yang terjadi didaerah hulu akan sangat cepat mengalir ke daerah hilir.

terlihat dengan banyaknya satuan sambungan yang dipasarkan kepada masyarakat.361 sambungan. pengelolaan kawasan hulu hilir secara terpadu.000 38.1 2 3 4 1990 1995 2000 2005 Sumur 300 320 1. Sebenarnya jika dilihat dari tiap kecamatan yang ada di Kota Semarang maka jaringan telepon telah menjangkaunya. dan peningkatan sarana prasarana sumber daya air.729 dan tempat tinggal sebanyak 133.000. II .050 >1. : angka perkiraan Sedangkan pemenuhan air bersih yang diluar cakupan PDAM pemenuhannya dicukupi melalui pembuatan sumur dangkal maupun sumur dalam serta dari air permukaan (sungai).000 45. Upaya Pemerintah Kota Semarang dalam bidang sumber daya air dilakukan melalui pembangunan. Untuk mengatasi permasalahan lingkungan penyediaan atau jaringan telepon umum.000. 2. pemeliharaan.000*) *)Ket. dengan mekanisme pasar yang ada kemudian tumbuh usaha wartel di tiap permukiman pusat-pusat kegiatan masyarakat.000.49 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 . Permasalahan klasik yang dihadapi berkaitan dengan air bersih adalah masih rendahnya kinerja pelayanan air bersih. Telekomunikasi Perkembangan jaringan telekomunikasi beberapa tahun terakhir cukup menggembirakan. Sambungan telepon di Kota Semarang sebanyak 66. akan tetapi untuk lingkup yang lebih kecil seperti kelurahan yang ada di tiap kecamatan belum terjangkau.000. penguatan kelembagaan.857 unit.4.500 m3/tahun 23.1.000 27. warung telekomunikasi (wartel) sebanyak 32.4. yaitu belum meratanya sistem jaringan air bersih dan masih minimnya kapasitas air bersih.

Energi Jumlah pelanggan listrik PLN sampai dengan pada tahun 2005 di Kota Semarang tercatat sebanyak 313. Upaya pemerintah Kota Semarang yang dilakukan dalam bidang telekomunikasi melalui pengaturan. Setiap kecamatan dapat mengakses komunikasi dengan mudah lewat pos.239 buah. 2.900 kwh. Jangkauan pelayanan listrik sudah menjangkau pada seluruh wilayah kota Semarang namun belum semua bangunan rumah tangga menjadi pelanggan listrik PLN.784 pelanggan. Upaya yang dilakukan pemerintah Kota Semarang dalam bidang energi adalah koordinasi penambahan kapasitas produksi energi kelistrikan dan perluasan jaringan sampai keseluruh wilayah kota serta kebijakan efisiensi pemakaian daya listrik. Bila dilihat secara rinci. sedangkan yang menjadi pelanggan rumah tangga sejumlah 282. pengendalian dan kemudahan dalam usaha telekomunikasi. yang didominasi oleh pelanggan rumah tangga.805.708. hal ini dapat dilihat dari jumlah bangunan rumah tangga sebanyak 292. Reformasi politik nasional yang menemukan momentum di tahun II . radio.5.50 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 . dengan rata-rata pemakaian daya pelanggan sebesar 746. televisi atupun telepon baik itu telepon rumah atau telepon seluler yang saat ini sedang menjadi trend di kalangan masyarakat.4.479 pelanggan.1.691.5 POLITIK DAN TATA PEMERINTAHAN Terjadinya krisis ekonomi sejak awal Mei 1997 berlanjut menjadi krisis multidimensi secara akumulatif menimbulkan desakan kuat pada tuntutan reformasi.304 Kwh.1.600 kwh dan industry sejumlah 228. 2. pemakai rumah tangga sejumlah dengan konsumsi listrik terbesar adalah 274.Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa prasarana telekomunikasi telah merata diseluruh kecamatan yang ada di Kota Semarang.

32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah untuk mengganti undang-undang sebelumya.28 persen. Otonomi daerah menjadi salah satu icon penyelenggaraan pemerintahan.51 . Pada Pemilu Legislatif tahun 2004 jumlah pemilih yang menggunakan haknya mencapai 83.897 pemilih atau 66. dan pada Pilkada Kota Semarang tahun 2005 jumlah pemilih sebanyak 997. Tingginya dinamika politik dan perlunya konsolidasi dan sinkronisasi ketentuan normatif maka lahirlah Undang-Undang No. dan pada Pemilu Presiden Putaran II sebesar 78. pada Pemilu Presiden Putaran I sebesar 78. Partisipasi dan kesadaran politik masyarakat masih perlu mendapatkan perhatian terutama menyangkut hak dan kewajiban warga negara serta institusionalisasi partai politik dalam kegiatan politik. perubahan lima undang-undang politik. tetapi disebabkan adanya Pemilih yang menggunakan haknya diluar kota Semarang. Upaya pemerintah Kota Semarang yang telah dilakukan melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .70 persen. Hal ini mempengaruhi jalannya tata pemerintahan di daerah. Dalam melalui dua kali penyelenggaraan pemerintahan juga terus dilakukan pembenahan ditandai dengan terbitnya Undang-undang No. Partisipasi masyarakat dalam mengikuti pesta demokrasi pemilu tahun 2004 menunjukkan prosentase diatas rata-rata tingkat nasional.1998. Sedangkan dalam penyelenggaraan pemerintahan telah terjadi perubahan yang sangat signifikan sejak bergulirnya reformasi. secara monumental diwujudkan dalam pemilu tahun 1999 dan pemilu legislatif serta pemilu presiden/wakil presiden tahun 2004.68 %. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah serta berbagai peraturan pelaksanaan yang dibutuhkan. Demikian pula terkait dengan pengetahuan dan kesadaran politik bagi masyarakat perdesaan. Penurunan peserta pemilu tersebut bukan dikarenakan banyaknya pemilih yang Golput. Namun demikian banyak peraturan pelaksanaannya yang belum konsisten dan cenderung saling tumpang tindih.200 pemilih dan yang menggunakan hak pilihnya sebesar 664.70 persen. kaum perempuan dan pemilih pemula.

dan peningkatan kesadaran berpolitik masyarakat.52 . pada era reformasi cenderung terjadi peningkatan gangguan kriminalitas sebagai akibat tingginya angka pengangguran. kemiskinan dan faktor ekonomi lainnya. mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mengetahui.penataan struktur organisasi perangkat daerah. Kota Semarang menyimpan berbagai potensi gangguan keamanan.1. kasus pertikaian antar wilayah/kampung. KEAMANAN DAN KETERTIBAN Sebagai salah satu kota besar di Indonesia. kriminalitas dan rendahnya tingkat pelanggaran terhadap Peraturan Daerah. Pembangunan di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat telah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . kasus unjuk rasa yang berkaitan dengan bidang politik dan bidang ekonomi dan kasus pemogokan kerja. sehingga pemerintahan dan pembangunan dapat berjalan. Hal ini terlihat pada jumlah kriminalitas di kota Semarang pada tahun 2005 tercatat sebanyak 268 kasus yang terdiri dari kasus pertikaian antar warga. ketentraman dan ketertiban yang diakibatkan oleh kondisi sosial di Kota Semarang. dan politik masyarakat dengan dalam kegiatan pemerintahan dan maupun kegiatan mampu menjawab tantangan untuk dapat meningkatkan stabilitas politik dan pembangunan sesuai tuntutan demokratisasi transparansi pemerintahan dalam mewujudkan good governance. 2. peningkatan kualitas SDM aparatur. memahami dan mentaati kesadaran berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku.6. Kondisi pembangunan keamanan dan ketertiban implikasi dari pelaksanaan pembangunan ini adalah merupakan salah rendahnya tingkat satu prasyarat keberhasilan pelaksanaan pembangunan di Kota Semarang. Oleh karena itu pembangunan harus mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bela negara dan berbagai gangguan kamtibmas yang mungkin terjadi. pertikaian antar pelajar. Ketertiban dan keamanan masyarakat sebagai salah satu prasyarat utama untuk keberhasilan pelaksanaan pembangunan. fasilitasi kegiatan politik. peningkatan kualitas pelayanan publik.

1.7.28 KEKUATAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT (LINMA) KOTA SEMARANG TAHUN 2000 – 2005 No 1 2 3 4 5 Klasifikasi LINMAS 2000 SATPOL PP HANSIP /KAMRA LINMAS MENWA POSKAMLING 90 6. Pembangunan hukum dimaksudkan sebagai upaya untuk memberikan negara.1 HUKUM DAN APARATUR Hukum Dalam era otonomi daerah selama telah ditetapkan 362 Peraturan Daerah.193 137 2.122 2005 118 9.433 Sumber Data Bappeda Kota Semarang Keberhasilan pembangunan di bidang tersebut dirasakan masyarakat dalam kehidupan sosial.078 137 4.7.078 8.398 orang 2001 90 8. dan penegakan Peraturan Daerah baru dan 39 buah merupakan revisi Peraturan Daerah lama yang tidak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.053 2004 94 8.078 8.116 137 4.124 9. Masyarakat diharapkan mengetahui hak dan kewajibannya sebagai warga sekaligus memiliki hak dan kewajiban dan persamaan perlakukan dalam masalah hukum. Rasa aman yang dirasakan masyarakat tidak terlepas dari upaya yang telah dilakukan pemerintah melalui berbagai sistem keamanan. Hal ini sejalan dengan semangat UUD 45 yang menyebutkan Indonesia adalah negara hukum sehingga II .193 137 1.489 6.53 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 .037 Perda sepuluh tahun terakhir Keputusan Walikota 46 buah merupakan koordinasi antar instansi dan masyarakat.038 6.dapat diwujudkan dengan melibatkan partisipasi masyarakat secara luas. fasilitasi sarana dan prasarana keamanan lingkungan. maupun Keputusan DPRD. Tabel 2.032 137 3. Upaya pemerintah Kota Semarang dalam bidang keamanan dan ketertiban telah dilakukan melalui peraturan perundang-undangan. 2.181 2003 89 8. Dari 85 6. kepastian hukum kepada masyarakat.193 137 1. dan budaya.678 2002 90 9.1. 2. ekonomi.

dilematis tersebut semakin nampak ketika daerah diberi kebebasan untuk menentukan jenis dan jumlah unit organisasi berdasarkan kemampuan. 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah sebagai revisi PP.7. 1 Sekretariat DPRD. Setelah tahun 2000 kelembagaan Kondisi pemerintah daerah semakin memperhatikan nuansa lokal. No.1. No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah membuka harapan baru bagi daerah dalam mengatasi situasi dilematis. 17 Dinas. pembentukan struktur organisasi dan tata kerja pemerintah sangat diwarnai dengan nuansa sentralistik. Bagian). 6 Kecamatan dan 177 Kelurahan. Sebelum era otonomi daerah. kebutuhan dan beban kerja sebagaimana dimaksud PP. 84 Tahun 2000 dimana didalamnya memberi banyak pembatasan terhadap jumlah dan jenis unit organisasi. Terjadinya perubahan dari UU. jumlah 16 Sekretariat Daerah (3 asissten dengan 8 4 Kantor. 2. Secara faktual kombinasi pertimbangan manajerial dan non manajerial dalam penempatan aparatur sulit dielakkan.54 . perangkat daerah terdiri Sampai dengan tahun 2005 Badan. No. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Hal ini semakin mencolok ketika muncul PP. 22 Tahun 1999 ke UU. dimana semuanya ditentukan oleh Pusat. No.persamaan dan kepastian hukum menjadi panglima dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. No.2 Aparatur Penyelenggaraan pemerintahan sangat Kota ditentukan Semarang keberhasilannya oleh institusi birokrasi pemerintah. 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah. Upaya dalam bidang hukum telah dilakukan melalui sosialisasi peraturan perundang-undangan dan pengembangan jaringan dokumentasi hukum.

kualitas aparatur beban kerja. dan dimana hot line disertai service dengan dengan pengadaan memanfaatkan teknologi dan informasi dalam bentuk P5 (Pusat Penanganan Pengaduan Pelayanan Publik). 3. kurang profesional dan kurang mempertimbangan aspek kompetensi. Sebelum era otonomi daerah aparatur pemerintah diposisikan sebagai salah satu pilar kekuasaan politik. 5. Setelah era reformasi.435 berpendidikan Jumlah aparatur Pemerintah Kota Semarang sebelum Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Dengan berlakunya otonomi daerah terdapat pelimpahan pegawai dari instansi vertikal sampai dengan tahun 2005 jumlah pegawai sebanyak 15. tumpang tindih perijinan. dan pada tahun 2004 ditingkatkan menjadi Tahun Peningkatan sarana Pelayanan pengaduan Publik.Kinerja masyarakat pemerintah menunjukkan daerah adanya dalam banyak pelayanan kelemahan kepada dalam penyelenggaraan pelayanan publik. prosedur yang berbelit maupun keterbatasan cakupan layanan. dan sehingga menimbulkan dampak inefisiensi. otonomi sebanyak 5. seperti . diskriminasi pelayanan.42 %) (4.852 pegawai. Hal ini menyebabkan aparatur pemerintah berada dalam posisi yang tidak netral.962 orang (26. Beberapa langkah perubahan yang dilakukan dalam rangka peningkatan pelayanan umum antara lain: pembentukan Unit Pelayanan Terpadu (UPT). orang (36. penyelenggaraan pelayanan umum semakin mendapat perhatian dalam pelaksanaan pembangunan. 703 orang (4. Pusat Penanganan Pengaduan Pelayanan Publik (P5). aplikasi Standar Pelayanan Minimal melalui Bulan Layanan Publik pada tahun 2003. ketidaksesuaian antara struktur organisasi dengan jumlah pegawai.043 Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 2.93%) berpendidikan SD.68%) berpendidikan SLP.23%) Dari sisi tingkat pendidikan pegawai 737 orang SLTA.55 .653 Tenaga Pegawai Harian Lepas (TPHL).

938 157 15. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .796 3. 3.043 Sumber : Badan Kepegawaian Daerah Kota Semarang Upaya yang telah dilakukan melalui peningkatan SDM aparatur.125 3. Hal tersebut mengingat semakin terbatasnya sumber daya alam dan adanya arus perdagangan bebas yang semakin kuat sehingga kawasan strategis perlu didorong dan diperkuat eksistensinya. dan berkelanjutan yang diimbangi dengan konsistensi dan komitmen dalam pengendalian serta penegakan hukum merupakan tantangan ke depan yang harus dihadapi dan dipersiapkan bersama dengan seluruh stakeholders.866 3. Untuk itu.berpendidikan D-I/D-II/D-III. nyaman.1. pelaksanaan penataan ruang yang aman.974 3. produktif.940 orang (26.451 3.239 2004 848 773 6.945 2003 891 772 5.012 3. peningkatan profesionalisme dan kesejahteraan aparatur serta pengembangan pegawai.895 3. pengaruh arus perdagangan bebas.0%) berpendidikan Pada satu sisi jumlah pegawai yang besar tersebut merupakan aset namun pada sisi lain apabila tidak dapat dioptimalkan akan merupakan beban bagi pemerintah daerah. Meningkatnya dinamika dan aktivitas penduduk sejalan dengan semakin mantapnya pelaksanaan otonomi daerah.735 3.700 3.D2 danD3) S1 S2 S3 JUMLAH 2001 987 790 6. Dalam kondisi seperti ini ruang akan menjadi komoditi yang sangat strategis.737 2002 952 828 6. TATA RUANG DAN PERTANAHAN Kerja sama sinergitas pengelolaan potensi merupakan tantangan pembangunan perwilayahan ke depan yang secara konsisten terus dilaksanakan.463 2005 741 704 5.8.29 Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pemerintah Kota Semarang Tahun 2001 .21%) berpendidikan S1.53 %) berpendidikan S2 dan 1 orang (0. WILAYAH. 2.281 3. 1 2 3 4 5 6 7 Tingkat Pendidikan SD SLTP SLTA Diploma (D1. dan penurunan kualitas sumber daya alam.56 . Tabel 2.943 230 1 15.865 153 15. S3.2005 No.885 154 15. 233 orang (1.830 151 15.

sehingga tantangan yang dihadapi pada bidang pertanahan adalah peningkatan pelayanan administrasi pertanahan yang berpihak pada kepentingan masyarakat yang telah mulai dirintis saat ini melalui sistem manajemen pertanahan berbasis masyarakat. daya saing. Demak.Seiring dengan meningkatnya kebutuhan ruang. regional dan kota. Beberapa kawasan kerja sama strategis telah mulai terbentuk dan operasional antara lain. Upaya yang telah dilakukan adalah peningkatan keserasian dan kelestarian sesuai dengan potensi dan daya dukung wilayah. Ungaran. dimaksudkan Kota Kerjasama untuk kawasan pembangunan harmonis dalam tersebut kerangka mensinergikan kawasan ini pembangunan agar antar wilayah dapat saling berinteraksi secara Semarang dengan hinterlandnya. maka kebutuhan akan lahan juga meningkat pula. Pertumbuhan masing-masing kecamatan relatif lambat dibanding dengan kecepatan perkembangan dinamika kebutuhan pelayanan kepada masyarakat. terutama permasalahan infrastruktur dan penyediaan lapangan pekerjaan. dan daya dukung potensi wilayah Kota semarang dalam konteks kawasan wilayah strategis dilakukan dengan dengan pendekatan pembangunan kerja sama operasionalnya melalui pembangunan wilayah/kawasan antar kabupaten/kota mendasarkan pada kerjasama kawasan yang telah ditetapkan RTRW Kota Semarang.1 Wilayah Kota Semarang terbagi dalam 16 kecamatan dan 177 kelurahan.1. Kedungsepur (Kendal.8. pengembangan struktur pola ruang kota dengan mempertimbangkan fungsi nasional. Semarang. Sekaligus kerjasama pembangunan kawasan dimaksudkan untuk mengurangi dampak disparitas pembangunan kawasan dan urbanisasi. Salatiga dan Purwodadi). 2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .57 . Upaya peningkatan daya jual.

2 Tahun 1990. 5 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Semarang Tahun 2000 – 2010. berdaya guna dan berhasil guna secara berkelanjutan demi terwujudnya kesejahteraan dan keadilan sosial sesuai UUD‟45. Pada tingkatan alokasi zonasi fungsi mendetailkan RTRW tersebut telah ditetapkan Perda No. Pada tahun 1981 telah ditetapkan Perda No.58 . Tabel 2.1. laut.2 Tata Ruang Tata Ruang wilayah Kota Semarang sebagai bagian dari tata ruang wilayah nasional merupakan satu kesatuan ruang wilayah NKRI. 01 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Semarang Tahun 1995 – 2005 yang kemudian direvisi dengan Perda No.2. Kemudian menyesuaikan dengan UU No. termasuk di dalam bumi maupun sebagai sumber daya yang harus dikelola secara bijaksana. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang telah ditetapkan Perda No. dan udara. 6 sampai 15 tentang Rencana Detail Tata Ruang Kota BWK (Bagian Wilayah Kota) I sampai X tahun 2000 – 2010.8.30 Penggunaan Lahan Kota Semarang 2000-2005 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . 5 Tahun 1981 tentang Rencana Induk Kota Semarang Tahun 1975 – 2000 yang direvisi dengan Perda No. meliputi ruang darat. Permasalahan yang dihadapi dalam penataan ruang adalah pemanfaatan dan pengendalian tata ruang yang tidak konsisten dan belum adanya kesepahaman serta komitmen antar pelaku pembangunan dalam pengelolaan tata ruang.

563 km2 dan lahan kering yang seluas 334.00 33.45 37.88 5.881.262. 11.01 651.93 13. Lahan Kering a.40 2004 3.14 km2.657.00 61.75 8. No Kecamatan S emarang T engah S emarang Utara S emarang T imur G ayamsari G enuk P edurungan S emarang S elatan C andisari G ajah Mungkur T embalang B anyumanik G unungpati S emarang B arat Mijen Ngaliyan T ugu Jumlah 92.373.612.40 2003 3.97 226.388.61 1.46 2003 119. 6 7. Tegalan dan Kebun c.459.956.00 33.00 3.914. Non PU 2.897.809.913.50 67.00 95.99 18.28 338.00 33. 14.778. Irigasi sederhana d.81 1.00 171.876.00 566.15 8.394.218.00 18.19 8. Irigasi 1/5 Teknis c.386.394.455.00 99.50 94.50 61. Tambak/Kolam e.43 14.90 8.71 394.058.96 164.73 238.298.40 3.55 8.69 15.455.24 km2.01 651.89 114.594.00 1.00 33.94 1.96 2005 19.40 8. Lahan Sawah a.00 631.94 991.24 29.25% dari luas total lahan sawah di Kota Semarang. 3.956. Irigasi Teknis b.370.101. dengan spesifikasi memiliki luas lahan sawah 1008 km2 atau sekitar 25.30 Areal Lahan Sawah di Kota Semarang 2001-2005 Areal Lahan Sawah (Ha) 2001 1.47 134. 16.10 37.00 432.50 61.500.57 1.00 432.383.57 1.48 208.62 1.382. 8.48 2.57 1.008.377. 13. 15. 2.29 Sumber Data Semarang Dalam Angka Kota Semarang memiliki lahan seluas 373.657.00 3.71 134.414.56 37.70 km2.98 1.776.943. dan luas lahan II .340.63 194.97 8.020.00 460.99 633.711. kecamatan Mijen yaitu sebesar 6.370.40 Luas (Ha) 2002 3.74 995.370.008.370.83 37.472.802.57 1.98 2.50 94.No Penggunaan Lahan 2000 2001 3.45 37.43 18.897.788.457.00 509.00 67. Dari keseluruhan lahan yang ada terdiri atas lahan yang berupa lahan sawah seluas 39.00 7.06 651.370. 9.89 378.71 417.62 115.043.876. Lahan tak diusahakan f.501.912.62 1.459.00 510.00 18.94 1.03 37.008.71 374.00 460.00 432. Rawa f.56 263.658. Berdasarkan luas wilayahnya.84 651.89 324.43 231.63 510.47 2.404.95 2004 19.00 95.107.55 50.00 1.89 130.004.30 226.000.10 13. 10.55 8.34 8.459.44 13.50 71.90 8.008.00 1.62 1.00 628.98 2.40 2005 3.00 33.00 3.94 976.00 1.00 570. Padang/rumput d.00 3. Lain-lain Tanah Kering Jumlah Sumber Data Bappeda Kota Semarang di olah Tabel 2.23 8.00 38.40 27.00 18.00 64.658.59 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 .07 9.41 8.32 171.89 130.57 1.71 2002 19.74 994.61 1. Pekarangan & Bangunan b.90 33.00 60.126.518. 12.62 1.00 99. 4.33 460.00 460.00 3.97 14. Tadah Hujan e. 5.00 64.40 1.386.

99%).148 km2). pekarangan (823 Km2). ladang (890 Km2). tegal/kebun. padang/rumputan. ladang (5.094 Km2). dan beberapa jenis penggunaan lainnya dengan prosentase yang kecil.54 Km2 dengan spesifikasi perkebunan (1116 Km2). tegal (4.5 Km2).74 Km2) dan kolam (4. diketahui bahwa kecamatan Gajahmungkur. Semarang Timur. non PU (99. dengan spesifikasi pekarangan (527. Selain itu. tambak/kolam. tegalan (939 Km2). rawa. lainnya (66. perkebunan (3. Secara keseluruhan kecenderungan penggunaan lahan nonsawah di Kota Semarang yang terbesar yaitu pekarangan (37. Sedangkan kecamatan yang memiliki luas lahan non-sawah paling kecil yaitu kecamatan Semarang Tengah dengan luas 605 Km2. tadah hujan (210.210.61% dari total lahan bukan sawah di Kota Semarang. 45%). tidak diusahakan (5.148 Km2). Dari persentase di atas.bukan sawah sebesar 5. tambak (4. Semarang Selatan.17%). irigasi sederhana/irigasi desa (99. dapat diketahui pula bahwa kecamatan yang memiliki luas lahan sawah paling besar yaitu kecamatan Gunungpati yaitu sebesar 1. lainnya (627.35%). dan yang tidak diusahakan (0.59%).72 % dari total lahan sawah di Kota Semarang.16%). Disamping penggunaan lahan sawah. dan penggunaan lain.55 Km2).188 Km2). Semarang Utara dan Semarang Tengah pemanfaatan lahannya hanya berupa lahan non-sawah.48 Km2). ladang (19.60 . penggunaan lahan di Kota Semarang yang lain meliputi pekarangan.5 Km2). Candisari. lainnya (19.386 Km2 atau sebesar 34. Penggunaan lahan sawah di Kota Semarang meliputi irigasi teknis (22. Kecamatan Mijen memiliki luas lahan non-sawah paling luas dibanding dengan kecamatan-kecamatan lainnya di Kota Semarang dengan luas wilayah 5. setengah teknis (57. Tabel 2.980. kolam (0.5%).6 Km2).53 Km2).24 km2 atau sekitar 15.44 Km2).31 Areal Lahan Kering di Kota Semarang Tahun 2005 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .

Gajah Mungkur 10. pembentukan pengendalian kelembagaan penataan pengembangan tata ruang. Banyumanik 12.PENGGUNAAN LAHAN KERING (Ha) No Kecamatan Pekerangan Tegalan & Bangunan dan Kebun 527.40 430.569.63 2.53 1.00 2.85 2.58 2.97 Upaya pemanfaatan yang dan telah dilakukan tata melalui ruang.20 822.70 1.73 Jumlah Sumber Data Semarang Dalam Angka Padang Tambak/Kol Gembala am 13.53 Lain-2 Tanah Kering 71.75 910.3 Pertanahan Bidang pertanahan yang merupakan salah satu sumber daya alam yang harus dijaga dan ditata karena mempunyai nilai strategis dalam tatanan kehidupan manusia bersosial dan bernegara.378.84 2.97 153.28 1.30 1.39 494. sisanya Sedangkan kepemilikan tanah II .61 sebanyak 170.84 811. perencanaan. Gunungpati 13.1.00 507. Semarang Barat 14.312.27 70.00 537.539 590.50 24. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 .495.067 belum bersertifikat.75 13.45 14.37 901.573. Semarang Tengah 2. Gayamsari 5.39 691.00 1.08 1.88 418.970.349.80 420. 472 bidang sudah bersertifikat.69 979.80 1.20 8. Ngaliyan 16.83 392.45 53. Genuk 6 Pedurungan 7.94 73.389. Candisari 9. koordinasi dan fasilitasi serta advokasi tata ruang. Mijen 15.000.8.526.507.16 27.55 979.53 Rawa 1.00 371.00 45.809. Semarang Selatan 8.50 200.33 696.176. Semarang Utara 3.378.00 190.89 901.106. Semarang Timur 4. Pembangunan pertanahan dilakukan demi terciptanya tertib administrasi pertanahan dan kepastian hak atas tanah sehingga menjamin kepastian hukum hak atas tanah. baik fungsi lindung maupun budi daya sesuai RTRW.62 1.28 52.00 474.88 8.48 13.87 10.00 37. bidang yang terdiri dari Sampai dengan tahun 2005 dengan jumlah bidang tanah sebanyak 760.25 109. Tembalang 11.50 33.00 462.97 1.89 1. Tugu 5. 2.62 11.085.48 126. terutama dalam kaitannya dengan fungsi pemanfaatannya.66 4.09 194.

adanya kerusakan lingkungan pada daerah hulu (wilayah atas kota Semarang) atau daerah tangkapan air (recharge area) serta diakibatkan pula oleh ketidakseimbangan input – output pada saluran drainase kota. kawasan Tugu Muda – Simpang Lima sampai Kali Semarang.1. Panggung Kidul.87 m. Semarang Tengah dan Genuk. di Genuk dari Kaligawe sampai perbatasan Demak.9 kualitas.Pemerintah Kota Semarang yang terinvetarisir sebanyak 3. Karangayu. dimana tanah yang sudah bersertifikat sebanyak 870 bidang sedangkan sisanya sebanyak 1. Kawasan pantai yang terkena rob khususnya di Kecamatan Semarang Utara dan Semarang Tengah dipengaruhi oleh adanya penurunan muka tanah dengan laju 2 – 8 cm/tahun(Direktorat Geologi dan Tata Lingkungan). sepanjang jalan di Mangkang. Upaya yang telah dilaksanakan adalah sosialisasi kepemilikan hak atas tanah. Banjir yang terjadi di Kota Semarang merupakan tradisi tahunan yang pada umumnya disebabkan tidak terkendalinya aliran sungai. menjadi 0. 2. Intrusi air laut telah masuk kedaratan menjorok sampai wilayah.97 m pada tahun 1994 (laporan dari JICA – Japan International Corporation Agency.359 bidang belum bersertifikat. Tugu. kawasan Tawang/Kota Lama sampai ke kawasan Tanjung Mas.62 . SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Kondisi lingkungan Kota Semarang telah mengalami penurunan angka pasang surut dari tahun 1991 setinggi 0. Krobokan. 1994).159 bidang. Kenaikan tinggi pasang surut ini berdampak pada rob di kawasan Semarang Utara. seperti misalnya di Kelurahan Panggung Lor. akibat kenaikan debit. pendangkalan dasar badan sungai dan penyempitan sungai karena sedimentasi. Kali Siangker sekitar Bandara Achmad Yani. Cakupan banjir saat ini telah meluas di beberapa kawasan di Kota Semarang. yang mencakup sekitar muara Kali Plumbon. fasilitasi dan advokasi pemanfaatan lahan maupun permasalahan konflik pertanahan. Bandarharjo. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .

63 . Pedurungan dan Kawasan Genuk. Konsekuensi dari berbagai aktifitas penduduk salah satunya adalah masalah persampahan.4 juta jiwa. Jalan Pandaran. jumlah sampah yang terkelola dengan baik hanya mencapai sekitar 48 % dari Program Semarang Surakarta Urban Development Program (SSUDP). Penambangan yang dilakukan dengan cara penggalian tanah. Sampai dengan tahun 2005 beberapa kawasan di Kota Semarang telah terjadi kerusakan lahan sebagai akibat penambangan galian golongan C yang tidak terkontrol.159 jiwa telah menghasilkan produk sampah kota sekitar 226. Cakupan pelayanan pengelolaan sampah di Kota Semarang pada tahun 2005 sekitar 75%. Penyebab intrusi air laut di Kota Semarang disebabkan adanya penyedotan air bawah tanah yang berlebihan dan tidak terkendali serta karena kerusakan lingkungan kawasan pesisir. Dari produk sampah yang dihasilkan tersebut. sedimentasi sungai. United Nation Centre for Regional Development (UNCRD) tahun 1999 dapat diketahui bahwa dengan jumlah penduduk sekitar 1. kawasan Sampangan. seperti di kawasan Ngaliyan. Jalan Majapahit. pasir dan batu) yang terus meningkat dan kurang terkontrol serta penutupan permukaan lahan yang melebihi daya dukungnya. pengeprasan bukit tersebut telah menimbulkan dampak rusaknya lahan penurunan muka air tanah.290.7 juta m3/tahun.Jalan Sudirman. Berdasarkan data “Book Municipal Solid Waste Management In Asian Cities”. Salah satu cara untuk mencegah meluasnya proses intrusi air laut ke dalam air tanah adalah dengan pengendalian dan pengawasan serta perlindungan air bawah tanah secara khusus dan intensif. Pada tahun 2005 dengan jumlah penduduk sekitar 1. kurang lebih sejauh 6 km dari garis pantai. total produksi sampah di Kota Semarang adalah 4500 m3/hari atau 1. kawasan Simpang Lima. pengupasan muka tanah. Kedungmundu dan kawasan Tembalang. banjir dan rusaknya pemandangan alam perbukitan.276 ton/tahun. hal ini berdampak pada penurunan kualitas air tanah. Kerusakan lingkungan lahan di Kota Semarang terutama diakibatkan oleh penambahan bahan galian golongan C (tanah. sampah dikumpulkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .

Proses pengelolaan persampahan gerobak atau yang ada. Kesadaran Pemerintah Kota Semarang dalam pengadaan dan pengelolaan ruang terbuka hijau ditunjukkan pada alokasi 132 tersedia kelurahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . proses pengumpulan dengan door to door dengan dump truck. ini menunjukkan kualitas udara pada kategori Sedang mendekati Jelek (Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). dan sebagian kecil ada yang dibuang ke sungai. 1994/1995 – 1996/1997). Kegiatan daur ulang dapat dilakukan mulai dari sumber sampah di rumah tangga (skala kecil). seperti penimbunan di pekarangan. Dalam pelayanan sampah sampai dengan tahun 2005 container sampah sejumlah 389 buah yang tersebar di sebanyak 340 buah. Sedangkan kadar polusi debu di beberapa ruas jalan utama Kota Semarang telah melewati ambang batas Baku Mutu Lingkungan yang ditetapkan (Hasil penelitian Puspedal Bapedalda. dibakar. Dari berbagai sarana transportasi. dan paru-paru kota. pada saat kegiatan pengumpulan dan pemindahan. kendaraan bermotor berpotensi sebagai kontributor utama menurunnya kualitas udara. kemudian diangkut dan di buang ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. juga berfungsi sebagai ruang interaksi masyarakat. kemudian diangkut dan di buang ke TPA di Mijen. Sedangkan sisanya dikelola oleh masyarakat dengan sistem pengolahan yang bermacam-macam. Kecamatan Pedurungan dan Kecamatan Banyumanik sampai bulan Agustus 2000 menunjukkan angka 51 – 100 ppm. Pertamanan dan ruang terbuka hijau disamping merupakan fungsi keindahan.64 . Kepmen Lingkungan Hidup Nomor 45 tahun 1997). Tahapan yang dapat dilakukan untuk mengurangi timbulan sampah yang terjadi adalah dengan daur ulang dan pengomposan. dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: membuang sampah dalam tong sampah. pasar-pasar sebanyak 49 buah.mulai dari sumber. serta di TPA. Kondisi udara Kota Semarang dari pantauan alat ISPU (Indek Standar Pencemaran Udara) di Kecamatan Tugu. sarana olah raga.

selain berfungsi sebagai penyedia unsur hara juga sebagai pelindung pantai.67% yang masuk dalam kondisi baik. mestinya keberadaan hutan tersebut harus diperhatikan. belum terdapat taman yang cukup luas untuk sarana rekreasi. Namun. Pohonpohon di pinggir jalan membuat kesan Kota Semarang masih cukup hijau. Ada dinas yang selalu melakukan pemantauan perihal penghijauan tersebut yaitu Dinas Pertamanan dan Pemakaman serta Dinas Pertanian. Mangrove merupakan ekosistem khas pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut serta kadar garam yang ada. Di pusat Kota Semarang. peningkatan sarana prasarana lingkungan. II . Upaya yang telah dilakukan dilakukan meliputi rehabilitasi. Namun dengan banyaknya kepentingan berbagai pihak keberadaan mangrove khususnya di wilayah pantai Kota Semarang kondisinya sangat memprihatinkan. yaitu Taman Median Sukarno-Hatta (1. 2. pengutan kelembagaan serta pengendalian lingkungan. 147 taman yang dikelola dinas pertamanan dan dari penghijauan/pohon di pinggir jalan.33% mangrove di wilayah Kota Semarang dalam kondisi kritis dan hanya 26.65 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 . keamanan dan ketertiban. Memperhatikan betapa pentingnya peranan hutan mangrove dalam ekosistem pantai. padahal luas mangrove yang ideal untuk wilayah pantai Kota Semarang seluas ± 325 hektar. baik bidang sosial budaya dan kehidupan beragama.2 ha)). hukum dan aparatur. ekonomi. minimal lebar 100 m di sempadan pantai. yaitu Taman Menteri Supono (selain 2 taman pasif. ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).4 ha) dan Taman Yos Sudarso (1.2. konservasi dan pemberdayaan masyarakat. dari 15 hektar luas mangrove ± 72. TANTANGAN Banyak kemajuan yang telah dicapai tetapi banyak pula tantangan atau masalah ke depan yang belum sepenuhnya terselesaikan. hanya ada satu taman aktif yang mendekati luasan 1 hektar. hijau kota terdapat pada: kebun-kebun pribadi.lahan pemanfaatan ruang hijau di dalam RTRW yang cukup dominan. Berdasarkan data yang ada. sungai dan muara. politik. Perlu upayaupaya penanganan dalam pembangunan daerah 20 tahun ke depan.

sedangkan siang hari akan mencapai 2 kali lipat sebagai konsekuensi kota Metropolitan. pengelolaan keluarga berencana dan pemerataan penyebaran penduduk yang sesuai dengan daya dukung lingkungan.1.2. administrasi kependudukan. Tantangan 20 tahun yang akan datang adalah pengembangan perpustakaan berbasis teknologi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . BUDAYA DAN KEHIDUPAN BERAGAMA Kependudukan dan Keluarga Berencana Diprediksikan tahun 2025 jumlah penduduk di Kota Semarang meningkat menjadi sekitar 2. penyediaan sarana dan prasarana.2.5 juta jiwa. 2. 2.2. 2. 2. disamping peningkatan profesionalisme dan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan serta kecukupan sarana prasarana pendidikan.1.1. Prediksi tersebut merupakan jumlah penduduk malam hari. pemerataan. urbanisasi dan persebaran penduduk.1 SOSIAL. peningkatan mutu pelayanan dan relevansi pendidikan kebutuhan. 2.1.2.2.1. kualitas penduduk.pembangunan wilayah dan tata ruang. serta pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan lingkungan hidup. Untuk itu diperlukan pengelolaan yang benar tentang kependudukan yang mencakup pelayanan.4 Perpustakaan Kemajuan teknologi informasi akan berpengaruh pada perubahan perilaku membaca masyarakat. Tantangan Pembangunan kependudukan dan sumber daya manusia dalam kurun waktu 20 tahun yang akan datang adalah pengendalian tingkat pertumbuhan penduduk.66 .3 Pendidikan Tantangan dengan di bidang pendidikan mencakup aksesibilitas.2 Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Dalam bidang ketenagakerjaan tantangan yang dihadapi adalah menyeimbangkan antara pertumbuhan jumlah angkatan kerja dan ketersediaan kesempatan kerja dalam rangka mengurangi jumlah pengangguran.

berkelanjutan dan bermartabat baik yang berada di dalam maupun diluar panti.5 Kesehatan Seiring dengan semakin membaik tingkat pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Pelayanan kesehatan yang prima sangat identik dengan tersedianya tenaga kesehatan yang profesional. tantangan pembangunan bidang kesehatan yang dihadapi adalah perubahan pola perilaku dan kualitas lingkungan menyebabkan timbulnya berbagai penyakit degenaratif maupun penyakit menular.1. peralatan dan fasilitas kesehatan yang canggih dan representatif sejalan dengan kemajuan IPTEK.7 Kesejahteraan sosial Tantangan bidang kesejahteraan sosial adalah sinergitas penanggulangan masalah penyandang masalah kesejahteraan Sosial (PMKS) yang sistematis. 2. 2. berkualitas namun terjangkau.2.8 Kemiskinan Tantangan yang dihadapi antara lain yaitu perbedaan pemahaman terhadap hak-hak dasar masyarakat miskin.2.1. keberpihakan dalam perencanaan dan penganggaran yang berpihak kepada warga miskin (pro poor).6 Pemuda dan Olahraga Tantangan Pembangunan di bidang kepemudaan dan keolahragaan adalah meningkatnya tingkat partisipasi pemuda dalam pembangunan dan semangat kebangsaan. serta meningkatnya partisipasi dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .1.2. Disamping itu tantangan lainnya adalah permintaan akan pelayanan kesehatan yang mudah.67 .informatika. nasional maupun internasional. meningkatnya sinergi dan koordinasi berbagai upaya penanggulangan kemiskinan. 2. bertambahnya sarana prasarana olah raga serta meningkatnya tingkat prestasi olah raga yang mendukung supremasi olah raga baik tingkat regional.1.2. 2.

Lemahnya penghargaan dan hukuman pada upaya-upaya pelestarian bangunan kuno dan cagar budaya. teknologi. budaya. harkat dan martabat manusia. 2. serta penguatan jatidiri dan kepribadian masyarakat. beragama. kesehatan. Tantangan lain di bidang sosial budaya yang tak dapat dikesampingkan adalah pemeliharaan kearifan lokal dalam peradaban.1.11 Perempuan dan Anak Pembangunan pemberdayaan perempuan masih dihadapkan pada ketimpangan keadilan gender di berbagai bidang.2.10 Agama Dibidang kehidupan beragama tantangan yang dihadapi adalah mewujudkan ajaran agama yang mampu menjadi inspirasi dan ajaran moral untuk menggerakkan masyarakat membangun.9 Kebudayaan Di bidang kebudayaan. eksploitasi perdagangan orang dan diskriminasi terhadap perempuan dan anak.1. 2. sebagai akibat dampak negatif perkembangan ilmu pengetahuan. serta ekses dari ketimpangan kondisi sosial ekonomi serta pengaruh globalisasi. informasi. serta kurang terpenuhinya hak-hak dasar. 2. meningkatnya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.terbatasnya akses masyarakat miskin.2.1. EKONOMI Pembangunan berbasis kewilayahan yang telah dilaksanakan selama ini Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Pada sisi lain tantangan lainnya adalah rendahnya indeks pembangunan gender. ketenagakerjaan. dan agama. utamanya pada akses di bidang pendidikan. sumber dalam serta mewujudkan kerukunan antar dan intern umat 2. kesejahteraan dan perlindungan anak.2. tantangan ke depan yang dihadapi adalah menipisnya nilai moral.2. dan ekonomi.2.68 .

2. industri yang dapat memproduksi barang yang kompetitif dipasar regional. berbahan baku lokal 2. Oleh karena itu.1 pengembangan berbagai potensi daerah termasuk pengembangan sumber energi alternatif.2. namun masih meningkatkan kesejahteraan masyarakat menciptakan lapangan pekerjaan secara memadai. dan sumber-sumber pendapatan daerah sehingga diupayakan 2. tantangan pembangunan ekonomi pada dua puluh tahun ke depan adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas struktur ekonomi bertumpu pada perdagangan dan jasa didukung oleh sektor-sektor prioritas sesuai potensi yang ada sehingga mampu meningkatkan pendapatan perkapita dan secara bertahap kesejahteraan masyarakat.2.2. Kondisi dan Struktur ekonomi Pembangunan belum dapat ekonomi Kota Semarang sampai saat ini telah dan menunjukkan adanya peningkatan yang cukup signifikan.2 Industri Tantangan perindustrian terutama mempertahankan lapangan kerja.2.4 Investasi Tantangan pada investasi adalah peningkatan daya tarik daerah yang mampu bersaing dengan produk daerah lain dan dapat diterima pasar.telah dapat mendorong kerja sama pembangunan antar daerah secara sinergis.3 Koperasi dan UKM Pada kondisi perekonomian global koperasi dan UKM dituntut untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan yang mampu bersaing dengan pemilik modal besar. 2. sehingga dapat mendorong daya saing wilayah.2.2. industri yang ramah lingkungan.2.2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Tantangan pembangunan kewilayahan ke depan adalah meningkatnya kesenjangan pembangunan antardaerah akibat bervariasinya dan terbatasnya potensi sumber daya alam.69 . nasional maupun global. serta terbangunnya industri kreatif.

meningkatkan produktivitas pertanian yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan menjaga kelestarian lingkungan.untuk menarik minat investor yang saling menguntungkan dan dapat meningkatkan perekonomian daerah.2. 2.2. 2. regulasi investasi yang belum sepenuhnya menjamin serta kerjasama investasi yang saling berusaha menguntungkan.2. pemenuhan sarana prasarana penunjang investasi dan kepastian 2. terbatasnya sumber daya lokal yang dapat dikembangkan. tantangan kedepan adalah membangun industri perikanan pasca tangkap untuk pemenuhan konsumsi lokal dan regional.2. Tantangan ke depan adalah mempertahankan dan melestarikan lahan pertanian produktif.2.6 Kelautan dan Perikanan Belum terpenuhinya sarana prasarana perikanan secara optimal menyebabkan produktifitas perikanan dari tahun ke tahun mengalami penurunan.2.2.5 Pertanian Meningkatnya aktivitas perkotaan berdampak pada alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian.8 dihadapi adanya regulasi yang membatasi kewenangan pemerintah daerah dalam pengendalian ekploitasi Perdagangan Intensifnya pasar bebas/globalisasi menuntut peningkatan kualitas produk barang dan jasa secara lebih kompetitif. kendala yang 2. membanjirnya produk dari luar yang murah memberikan pukulan terhadap pengusaha kecil/ menengah domestik karena kalah bersaing terhadap murahnya harga produk.70 .2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . serta mengembangkan perikanan darat/kolam mempunyai nilai ekonomi tinggi.7 Pertambangan Tantangan bidang pertambangan adalah tidak seimbangnnya antara nilai kerusakan lingkungan dengan manfaat yang diperoleh.

Tantangan lainnya adalah ketersediaan perangkat teknologi. 2. Apabila dilihat kondisi sarana prasarana saat ini. tantangan ke depan adalah meningkatkan kualitas dan produktivitas barang dan jasa secara bertahap dengan tetap mengacu pada Standar Mutu Nasional maupun Standar Mutu Internasional sehingga memiliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif sebagai produk unggulan Kota Semarang.4. untuk dapat memenuhi cakupan layanan dan kenyamanan bagi masyarakat yang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . religi. informasi dan komunikasi dalam menghadapi perkembangan global. penyediaan egoverment bagi birokrasi pemerintahan. ketersediaan perangkat teknologi dalam rangka peningkatan pelayanan publik. SARANA DAN PRASARANA Meningkatnya pertumbuhan penduduk dan aktivitasnya di bidang sosial budaya dan perekonomian pada kurun waktu dua puluh tahun ke depan akan membawa konsekuensi terhadap ketersediaan sarana prasarana wilayah yang memadai. pemaantan dan pengembangan IPTEK.Untuk itu. dalam rangka mendorong kemandirian ekonomi dan daya saing produk-produk lokal di pasar regional ataupun global. 2.9 Pariwisata Tantangan pada pariwisata prasarana yang memadahi. ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Tantangan yang dihadapi dalam bidang iptek adalah membangun masyarakat yang mampu dalam penguasan. pemanfaatan potensi adalah penyediaan sarana dan dengan pengembangan wisata pasar tradisionil tidak mampu bersaing dan berkembangnya sektor informal yang tidak terkendali.3. potensi alam dan buatan menuju Kota Semarang sebagai Daerah Tujuan Wisata. Berkembangnya pasar modern yang mengakibatkan 2.2.71 . khas budaya lokal.2.2.2.

2. pengendalian kualitas air serta terwujudnya kemampuan kelembagaan pengelolaan sarana prasarana sumber daya air yang optimal. Sumberdaya air Tantangan yang dihadapi dalam pembangunan sumber daya air dalam rangka menunjang ketahanan pangan dan memenuhi pasokan air baku yang semakin meningkat meliputi meningkatkan sarana dan prasarana sumber daya air dan pengelolaan jaringan irigasi dengan melibatkan masyarakat. dan pengembangkan sumbersumber air dan penampungan air.72 .2. pemenuhan 2. laut dan udara) dan membangun sarana prasrana transportasi massal guna mengantisipasi kemacetan yang akan semakin parah. peningkatan kualitas lingkungan permukiman pada kawasan kumuh.2.2 Perumahan dan permukiman Tantangan Pembangunan perumahan dan permukiman pada kurun waktu dua puluh tahun ke depan adalah penyediaan dan penataan sarana prasarana yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan memenuhi standar kualitas lingkungan perumahan dan permukiman.1 Perhubungan Tantangan dalam kurun waktu dua puluh ke depan adalah memenuhi ketersediaan sarana dan prasarana perhubungan kota . serta menghubungkan antar dan intermoda angkutan (darat. maka hal tersebut menjadi tantangan yang cukup berat pada masa datang.berkualitas. mengembangakan sistem transportasi wilayah yang efisien dan efektif dapat menjangkau ke seluruh wilayah serta dapat menghubungkan antara daerah (sentra-sentra) produksi dan daerah pemasaran.3 tempat tinggal bagi masyarakat kurang mampu.4 Telekomunikasi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Pembangunan di bidang perhubungan. pengendalian daya rusak air. 2.2.4. seiring dengan perkembangan dan dinamika masyarakat serta perkembangan perekonomian wilayah memiliki banyak tantangan. 2.4. pelestarian.4.4. 2.

Dalam pembangunan telekomunikasi tantangan yang dihadapi adalah mengembangkan dan mengendalikan jaringan telekomunikasi guna memenuhi cakupan layanan telekomunikasi yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan menguatnya pelaksanaan desentralisasi.4. serta mampu menciptakan iklim kondusif yang didukung oleh tata pemerintahan yang baik. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . 2. Oleh karena itu. tuntutan terhadap kinerja pelayanan publik yang prima berbasis pada partisipasi masyarakat serta pelaksanaan asas dan norma tata pemerintahan yang baik.5 Energi Tantangan yang dihadapi dalam pembangunan bidang listrik dan energi adalah pemenuhan kebutuhan listrik dan energi bagi rumah tangga dan industri yang semakin meningkat serta pengembangan energi yang terbarukan (ramah lingkungan). tantangan yang dihadapi dalam bidang politik dalam pelaksanaan desentralisasi di berbagai bidang adalah peningkatan kedewasaan politik bagi masyarakat dan pengembangan budaya politik.5. Peningkatan akses masyarakat terhadap informasi yang bebas dan terbuka. menjadikan alat kontrol atas pemenuhan kepentingan publik dan mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi.73 . Konsolidasi demokrasi akan dihadapkan pula pada tantangan bagaimana melembagakan kebebasan pers/media massa yang profesional.2. menjadi tantangan di masa depan guna memenuhi tingkat kepuasan masyarakat.2. 2. POLITIK DAN TATA PEMERINTAHAN Perkembangan dalam bidang politik dan tata pemerintahan seiring dengan makin meningkatnya kesadaran politik dan implementasi kebijakan desentralisasi menjadi fokus perhatian bagi pemerintah maupun masyarakat. sehingga mampu mendorong demokratisasi yang lebih transparan dan lebih bertanggung jawab.

2.7. bencana non alam dan bencana sosial. dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan dan pelayanan II .74 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 . ketertiban dan penaggulangan bencana yang komprehensif dan partisipatif serta konsistensi dan keadilan penegakan perda. Di samping itu. akuntabel. Kesadaran masyarakat yang tanggap terhadap berbagai potensi ancaman dan gangguan kamtibmas dan bencana perlu ditingkatkan bersama dengan peningkatan sistem pengelolaan keamanan.7. Hal ini sejalan dengan semakin besarnya tuntutan untuk membentuk peraturan daerah yang baik disertai dengan peningkatan kinerja lembaga dan aparatur hukum serta peningkatan kesadaran hukum masyarakat dan HAM. Tantangan yang dihadapi dalam bidang keamanan dan ketertiban ke depan adalah peningkatan jumlah peristiwa kriminal yang diikuti dengan berkembangnya kejahatan non konvensional dan kejahatan konvensional dengan modus baru. 2. peningkatan jaminan akan kepastian.2.1 HUKUM DAN APARATUR Hukum Tantangan yang dihadapi dalam bidang hukum adalah penegakan hukum secara adil dan tidak diskriminatif.2. Tantangan lainnya adalah penaggulangan bencana alam. 2. serta harmonisasi produk hukum daerah sesuai perubahan dinamika masyarakat. dan perlindungan hukum. dan kualitas prima untuk memenuhi kinerja pelayanan publik.2 Aparatur Tantangan dalam bidang aparatur pemerintah sebagai pelayan masyarakat ke depan adalah mewujudkan aparatur pemerintah yang profesional dan mampu bekerja secara transparan. 2. rasa keadilan.2.2. KEAMANAN DAN KETERTIBAN Perubahan geopolitik internasional dan nasional akan sangat memengaruhi kondisi keamanan dan ketertiban.7.6.

pengaruh daya produktif. penataan pelaksanaan dan otonomi daerah. 2. ruang aman. berkelanjutan merupakan tantangan ke depan yang harus dihadapi dan dipersiapkan bersama dengan seluruh stakeholders. Kota Semarang memiliki wilayah yang terdiri dari wilayah pesisir/pantai. Untuk itu.8.70 km2.yang sesuai dengan tuntutan masyarakat yang makin maju dan demokratis. Pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) dalam bentuk egovernment. wilayah daratan dan wilayah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . 2. e-procurement. juga akan meningkatkan diterapkannya prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik (good governance). Kemajuan teknologi dan informasi akan mempengaruhi terjadinya perubahan manajemen penyelenggaraan pemerintahan daerah. e-business dan cyber law selain akan menghasilkan pelayanan publik yang lebih cepat.1 Wilayah Dengan luas wilayah 373.75 .8. lebih baik. tata ruang dan pertanahan adalah tingginya kebutuhan ruang dihadapkan pada terbatasnya lahan efektif yang dapat dikembangkan dalam rangka merumuskan kebijakkan dalam kegiatan penataan ruang dalam rangka terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan. dan lebih murah. Bertambahnya penduduk dengan sendirinya diikuti meningkatnya kebutuhan ruang untuk pemenuhan kebutuhan prasarana. sarana dan utilitas perkotaan sehingga tantangan yang dihadapi pada bidang wilayah.2. keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia dan terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.2. arus alam dan perdagangan pelaksanaan penurunan yang kualitas sumber menyebabkan ruang akan menjadi komoditi yang sangat strategis. nyaman. semakin WILAYAH DAN TATA RUANG Meningkatnya dinamika dan aktivitas penduduk sejalan dengan mantapnya bebas.

2.76 . pertumbuhan dan perkembangan wilayah. Tantangan lain adalah bagaimana mensinergikan pertumbuhan kota Semarang dengan wilayah-wilayah hinterlandnya. Permasalahan yang dihadapi adalah ketimpangan wilayah secara intensif tumbuh di pusat nilai kota.perbukitan. 2.8. dimana pertumbuhan dan perkembangan sementara adalah wilayah pinggiran bagaimana kurang memperoleh tambah dan perkembangan ekonomi kota. 15 Tahun 2004 tentang Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Bagian Wilayah Kota (BWK) I sampai Bagian Wilayah Kota (BWK) X maka kegiatan penatan ruang dituntut adanya komitmen untuk menjaga konsitensi perencanaan. 6 sampai No. 2. Oleh karena itu tantangan ke depan menyeimbangkan pertumbuhan perkembangan antara wilayah sesuai dengan potensi masing-masing wilayah untuk mencapai nilai tambah yang berimbang antara masingmasing wilayah sesuai dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang.2.2 Penataan Ruang Dengan ditetapkannnya Perda No.3 Pertanahan Dalam rangka menjaga keserasian kegiatan penataan ruang maka tantangan dalam bidang pertanahan adalah bagaimana tercipta tertib administrasi pertanahan dalam rangka meminimalisasi konflik- Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Hal ini dalam pengertian bahwa pengembangan setiap wilayah akan memberikan dukungan kepada pengembangan wilayah lainya sesuai dengan potensi geoekonomi dan geofisiografi. produktif dan berkelanjutan serta berkeadilan. pemanfaatan dan pengendalian pemanfaaran ruang agar tercapai tujuan penataan ruang yang aman.8. Tantangan lainnya adalah sinkronisasi pengembangan antar wilayah agar memberikan manfaat simultan secara agregatif bagi wilayah Kota Semarang. 5 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang dan Perda No.

SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Laju pembangunan lima tahun terakhir selain berdampak pada peningkatan kesejahteraan rakyat juga berdampak terhadap fungsi lingkungan hidup. perdagangan dan transportasi serta kerusakan lingkungan hidup.2. baik di wilayah daratan maupun laut yang berlebihan dan tidak memerhatikan kelestarian serta kurangnya konservasi sumber daya alam. Tantangan kedepan adalah pemanfaatam teknologi ramah lingkungan serta perumusan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup dalam rangka pengurangan/eliminasi polusi perkotaan serta pemulihan lingkungan (kebijakan pengendalian Air Bawah Tanah.77 . memberi dampak perembesan (intrusi) air laut dan rob sampai jauh ke daratan. 2. baik akibat aktivitas domestik. Eksploitasi sumber daya alam. Meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan aktivitas perkotaan membawa dampak pada meningkatnya polusi (air. dan udara).9. banjir dan rob. Tantangan lainnya adalah banyak terdapat lahan-lahan yang tidak dimanfaatkan secara optimal sesuai fungsi peruntukan yang direncanakan sesuai dengan tata ruang. meningkatnya pemanasan global berpotensi meningkatnya bencana longsor. serta pemanfaatan sumber daya air secara berkelanjutan. tanah. konservasi lahan) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Penambangan Galian C dan. kekeringan. industri. Sehingga tantangannya adalah mewujudkan regulasi dan pengendalian dalam pengambilan air tanah. angin puyuh di wilayah Kota Semarang. Air Bersih. Eksploitasi air tanah secara berlebihan mengakibatkan penurunan permukaan tanah (land subsidence).kebakaran. Reklamasi Pantai. mengakibatkan menurunnya daya dukung dan daya tampung lingkungan. Air Permukaan.konflik dibidang pertanahan.

3. Optimalisasi asset pemerintah daerah.2. 7. 2.2 Ekonomi 1.3. 6. 2. ROB dan Banjir II . Pengamalan nilai-nilai agama dan pelestarian nilai-nilai budaya dalam kehidupan bermasyarakat. Persaingan kualitas produk dan harga. Struktur ekonomi daerah yang belum mantap. maka dapat dirumuskan isu-isu sebagai berikut : 2.3.3. 4. Persaingan ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada potensi lokal dengan pemilik modal kuat. Diskriminasi.3. 2. Derajad kesehatan masyarakat 3. perdagangan perempuan dan anak.3.78 kesejahteraan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 . Budaya dan Kehidupan Beragama 1. Urbanisasi 2.3 Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi masyarakat.1 Sosial. Pengangguran 5. Laju pertumbuhan dan penyebaran penduduk.4 Sarana dan Prasarana Pemenuhan kebutuhan akan sarana dan prasarana perkotaan skala metropolitan : 1. 4. Kualitas Sumber Daya Manusia 2. Kemiskinan 2. kebutuhan sarana dan prasarana skala pelayanan metropolitan 3. eksploitasi. ISU STRATEGIS Dari hasil analisis strategi evaluasi internal dan eksternal dalam SWOT Strategis terhadap Kondisi Kota Semarang.

Kuantitas dan Kualitas Kriminalitas 2.6 Keamanan dan Ketertiban 1.79 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 .3.1 Daya Saing Ekonomi Daerah. Pertambangan galian C. Penguatan Otonomi Daerah 2. Pelayanan publik 3. Konflik Kepentingan Pertanahan 2. Inkonsistensi perencanaan dengan pemanfaatan dan pengendalian ruang 3.2.4. Profesionalisme aparatur 2. memiliki posisi nilai strategis bagi pertumbuhan ekonomi II .5 Politik dan Tata Pemerintahan 1. Erosi.3. MODAL DASAR Modal dasar Pembangunan adalah merupakan salah satu kekuatan dan peluang baik yang efektif maupun yang potensial yang dimiliki dan didaya gunakan sebagai salah satu dasar pembangunan daerah antara lain : 2.8 Wilayah.7 Hukum dan Aparatur 1.9 Sumber`Daya Alam dan Lingkungan Hidup 1. Intrusi air laut 2. 5. dan Penurunan Permukaan Tanah 3.3. Penurunan/Degradasi kualitas lingkungan dan pemanasan global. 2. Ketimpangan pertumbuhan antar wilayah 2. Reklamasi tambak dan pantai 4. Kota Semarang. Demokratisasi dan partisipasi Politik 2.3. Budaya Tertib 2. Kepastian dan keadilan hukum dan hak asasi manusia (HAM) 2. Tata Ruang dan Pertanahan 1.4.3. Abrasi.

478 jiwa yang ada 69 % merupakan Angkatan kerja produktif. Hal ini menjadikan keunggulan komparatif bagi kegiatan pemasaran dan pergudangan yang menunjang kegiatan perdagangan dan jasa. Kondisi wilayah Kota Semarang yang terdiri dari wilayah pantai. serta ditunjang oleh kelengkapan pelayanan transportasi baik darat. 2. Hal ini membuka peluang bagi berkembangnya aktivitas ekonomi yang variatif. Hal tersebut disebabkan Semarang merupakan pusat pemerintahan di Jawa Tengah dan letaknya pada persimpangan jalur ekonomi dari arah barat. maka berbagai peluang ekonomi yang ada dapat dikelola dan berproduksi secara maksimal. nasional maupun internasional. Dari jumlah penduduk sebanyak 1. banyaknya lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan yang mampu mencetak sumber daya manusia merupakan modal utama terciptanya tenaga kerja terdidik. laut dan udara. Tercapainya kondisi ini akan mengembalikan kejayaan Semarang tempo dulu sebagai salah satu kota niaga. Luas wilayah kota Semarang baru terbangun sekitar 40 % masih memungkinkan untuk Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .04 % merupakan lulusan SLTA ke atas. dataran rendah dan perbukitan memungkinkan masyarakatnya melakukan berbagai aktivitas yang heterogen. 2. Jika kedua keunggulan ini dapat dibangun.3 Kondisi Kawasan. timur dan selatan. Dari jumlah tersebut 26.4. Potensi sumber daya manusia yang ada merupakan modal dasar pembangunan yang sangat penting. dari daerah hulu sampai hilir. Keunggulan tersebut tidak akan memberikan manfaat yang optimal tanpa dibarengi dengan usaha-usaha peningkatan keunggulan kompetitif.lokal. Keberadaan kedua keunggulan ini akan menjadi pondasi utama untuk membangun ekonomi yang berdaya saing tinggi. yang didukung oleh etos kerja dan moralitas keimanan dan ketaqwaan yang tinggi.419.80 . Di samping itu.4.2 Kualitas sumber daya manusia.

Komitmen Pemangku Kepentingan. hal ini menjamin terwujudnya tujuan pembangunan Kota Semarang.5. Selain itu kehidupan berpolitik yang demokratis dan adanya sistem penegakan hukum dan hak asasi manusia (HAM) ikut mendukung terciptanya suasana kota yang tertib dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Nilai-nilai kearifan sosial. Salah satu potensi pembangunan dan sekaligus menjadi faktor strategis yang dimiliki adalah adanya pemerintahan yang mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. selalu saling membantu dan merupakan modal yg tidak ternilai. Semangat dan niat kebersamaan secara individu maupun kelompok masyarakat untuk membangun kota. pada jalur transportasi trans jawa bagian utara. Budaya masyarakat bergotong royong. 2.4. yang dapat memberikan banyak peluang menjadi pusat pertumbuhan nasional. Secara geografis Kota Semarang terletak di tengah pulau Jawa diantara wilayah barat dan wilayah timur. budaya dan agama senantiasa mewarnai segala aktivitas warga kota.4 Pemerintahan dan Pelayanan Publik. merupakan perilaku masyarakat yg selalu peduli terhadap sesama. memajukan masyarakat dari seluruh pemangku kepentingan. Hal tersebut menjamin berlangsungnya kegiatan pembangunan kota. Kondisi potensial ini dapat diperoleh karena Kota Semarang memiliki institusi pemerintahan yang didukung dengan aparatur yang profesional.4.81 . sehingga menciptakan suasana kehidupan warga kota yang kondusif terciptanya ketertiban dan keamanan.dioptimalkan bagi pengembangan fungsi-fungsi perkotaan. dan dilengkapi dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. serta berbagai hasil penelitian dan pengembangan yang menunjang peningkatan kinerja pelayanan publik dalam rangka menciptakan tata pemerintahan yang baik (good governance). sistem/standar prosedur penyelesaian tugas yang tertata dengan baik. 2.

82 .aman tersebut. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->