Anda di halaman 1dari 111

Si Penakluk Dewa & Iblis

Oleh : LovelyDear Episode 1

Dhuaaaarrrrrr ...!!! Bunyi ledakan yang maha dahsyat terdengar memekakkan telinga disalah satu lembah yang penuh dengan hawa halimun tipis di lembah pengunungan yang terletak diantara puncak-puncak Thai San yang menjulang tinggi. Tubuh seorang pemuda berusia enam belas tahunan tampak sedang melayang turun dengan perlahan di atas rerumputan basah setinggi setengah jengkal. Anehnya, walaupun rerumputan tersebut diinjak oleh kaki anak itu tapi kalau diperhatikan lebih teliti, ternyata rumput tersebut tidak bengkok ataupun bergoyang, atau lebih tepatnya, anak itu sedang berdiri di ujung rumput dengan ringan sekali. Pemuda itu bertelanjang dada, dan nampak gagah. Yang mengherankan adalah tubuh anak itu diselimuti cahaya tipis keemasan yang kemudian, menghilang dengan perlahan. Hohoho ...! Sian Kongcu, hebat ...! Hebat! Akhirnya kau dapat menguasai pukulan Kiu Sian I Sinkang dengan sempurna! Hahaha ... ! Hebat ...! Hebat ...! Si kakek setengah bongkok itu tertawa mendekati pemuda yang dipanggil Sian Kongcu (Tuan Muda Sian) itu sambil bertepuk tangan. Anehnya, pemuda tersebut justru kelihatan tidak gembira, matanya menyorot tajam bagai pedang sambil menatap tebing dihadapannya yang berlubang sebesar kerbau, sedalam tujuh inci dihadapannya, namun di balik sorotan tajam itu ada sinar ketidak puasan yang dalam. Sampai lama akhirnya sinar mata yang tajam itu perlahan mulai lembut dan mulutnya mengguman perlahan, Hemmnnn, belum sempurna ...! Sama sekali belum sempurna ...! Eh, Kongcu, apa maksudmu belum sempurna? Tidakkah kau lihat tebing batu cadas itu berlubang sebesar kerbau? Sangat jarang ada pemuda enam belas tahunan bisa melatih tenaga dalam sampai ke tingkat itu, bahkan tokoh-tokoh tingkat satu di Kang Ouw belum tentu dapat menyamaimu? Kakek bongkok itu terdiam sejenak kemudian melanjutkan dengan bersemangat, Apa? Tidak percuma Kongkong-mu mengoperkan tenaganya padamu sebelum beliau mati! Akhh ...! Paman Hou, Kongkong memang telah banyak berkorban dengan mengoperkan Sinkangnya padaku, apalagi dengan adanya darah mujizat It Kak Liong (Naga Tanduk Satu) dan tiga buah pil penambah tenaga pemberian Yok Sian Sianjin seharusnya hasil yang aku capai lebih dari pada hanya membuat lubang besar ini? Maksud Sian Kongcu, Kiu Sian I Sinkang bisa bisa berbuat lebih dari ini? Paman Hou, paman tidak memahami ilmu ini, karena paman tidak pernah belajar silat, tapi sebenarnya Kiu Sian I Sinkang mempunyai sembilan tingkatan yang terbagi dalam tujuh unsur yang berdiri sendiri-sendiri tapi bisa saling menunjang, yaitu, Tanah, Angin, Besi, Air, Api, Awan, Petir, Getaran dan Kekosongan ! Tadi aku memang mengerahkan tingkat kesembilan, tapi hanya

sampai unsur Awan, kalau aku sudah mencapai tingkat Kekosongan sesuai kehendak, maka barulah aku dapat merasa puas! Setelah berkata demikian, pemuda itu tertunduk sambil termenung. Sian Kongcu, memangnya apa kelebihannya kalau sudah sampai tingkat kekosongan? Desak kakek bongkok itu sambil menunjukkan wajah penasaran. Perlahan pemuda itu mengangkat kepalanya dan sambil tersenyum misteri dia menjawab kalem, Tak terbayangkan paman! Tak terbayangkan ...! Terus saja Sian Kongcu melangkah meninggalkan tempat itu menuju ke sebuah guha yang besar agak tersembunyi di lereng lembah itu, beberapa saat kemudian kakek itu pun berlalu dengan menggeleng-gelengkan kepala. Ketika pemuda itu telah berada di dalam gua, segera dia menuju kearah peti besar di sudut sebelah kiri, setelah berlutut dan menyembah tiga kali, dia mendorong peti besar tersebut, sehingga nampaklah lorong panjang dengan anak tangga yang menurun ke bawah. Pemuda itu berjalan ke bawah, terus mengikuti alur jalan yang berkelok-kelok hingga sampailah dia di tempat yang paling dalam dan jarang udaranya. Ternyata itu adalah sebuah kuburan kuno yang terletak sangat jauh di dalam bumi. Di dalam kuburan itu ada kerangka tiga orang yang sedang duduk bersila. Dan di depan ketiga tengorak tersebut ada satu peti yang terbuka, didalamnya ada tiga jilid kitab kuno yang sudah lusuh warnanya. Pemuda itu merongoh kantong sakunya dan mengeluarkan sejilid kitab lain yang terbuat dari bahan sama bertuliskan Kiu Sian I Sinkang (Tenaga Jubah Sakti Sembilan Dewa ), lalu berlutut dengan sebelah kaki sambil tangannya meletakkan kitab itu menjadi satu dengan kitab-kitab lainnya. Samwi Suhu, Teecu Han Sian mengembalikan ketiga kitab ini untuk disimpan kembali ... Ijinkan Teecu menguburkan Samwie Suhu dengan layak. Setelah berkata demikian, Han sian mengangkat tangan kanannya dengan lima jari terbuka dipukulkan ke Langit-Langit guha dengan perlahan, tapi hasilnya sungguh diluar dugaan, guha itu bergetar keras dan ambruk. Di lain saat tubuh Han sian melesat dengan langkah-langkah aneh namun cepat sehingga hanya dalam dua kali kedipan mata, dia telah berada diluar, di pinggir lembah sambil membelakangi guha yang hancur dan menutupi mulut guha. Siapakah sebenarnya Han Sian ini? Dia sendiri pun tidak mengetahui dengan jelas akan keadaannya. Sejak umur lima tahun Han Sian sudah ikut dengan seorang kakek tua renta yang dia panggil dengan nama Bhok Kongkong. Kakek itu sudah tua sekali, berusia 80 tahunan. Selama ini kakek itu sering bepergian, dan hanya muncul pada sore sampai menjelang pagi saja untuk melatihnya ilmu silat.

Namun sayang hampir tiga tahun yang lalu kakek itu telah meninggal dunia setelah selesai membantu mengalirkan Tenaga Inti Petir Murni pada Han Sian selama tiga jam. Hal ini membuat penyesalan yang amat dalam bagi anak muda ini, tapi menurut Kongkong-nya itu adalah hal yang wajar karena ilmu Inti Petir Murni yang dia latih, memang harus melalui mengoperan tenaga Sinkang seperti itu. Sesaat sebelum Kongkong-nya meninggal, Han Sian hanya diberi tahu tentang sebuah goa penyimpanan pusaka yang tersimpan di dalam kuburan kuno yang letaknya di dasar bumi. Menurut Kongkong-nya, selama ini tidak ada orang yang mengetahui tempat itu selain dia dan pembantunya, yaitu si kakek bongkok yang membesarkan Han Sian, karena mereka berdua memang bertugas menjaga tempat itu hanya saja dilarang untuk memasukinya. Dari situlah Han Sian mendapatkan ketiga kitab peninggalan para tokoh dewa yang telah hilang dari dunia persilatan selama 500 tahun lebih. Tapi menurut petunjuk, Han Sian hanya boleh mempelajari isi kitab itu selama dua tahun dan kemudian harus menguburkannya bersama dengan kerangka-kerangka dalam kuburan kuno tersebut. Keempat kitab pusaka yang ditemukan oleh Han Sian berisi tiga rahasia Ilmu silat tingkat tinggi dan dua Ilmu pusaka gaib yang sudah hilang dari dunia persilatan selama kurang lebih 500 tahun lalu. ***** Tebing Langit adalah suatu puncak yang menjulang ke atas diantara jajaran Puncak Thai San. Puncak dari tebing ini sangat tinggi sehingga sangat sukar sekali untuk ditempuh, kecuali oleh orang yang memiliki tenaga sakti yang amat kuat saja. Disanalah Han Sian berdiam selama ini bersama dengan seorang kakek bongkok yang selalu menemaninya. Hari telah lewat tengah hari dan mulai menjelang sore, keadaan di atas puncak itu hampir tanpa udara sama sekali namun sudah biasa bagi Han Sian dan kakek bongkok yang selalu menemaninya. Segera setelah berpamitan dengan pengasuhnya itu, yang melepas kepergiannya dengan berat hati, Han Sian mulai bersiap menuruni Tebing Langit. Selama dua tahun terakhir ini Han Sian tidak pernah menuruni Tebing Langit tersebut. Setelah memandang sekilas ke bawah yang nampak hanya seperti titik kecil saja, Han Sian mulai mengerahkan tenaga kearah kaki dengan pengerahan ilmu Thian In Hui Cu (Terbang Menunggang Awan Langit), dan perlahan-lahan tubuhnya terangkat ke atas dan kemudian meluncur ke bawah dengan ringan. Sekian lama tubuh Han Sian meluncur ke bawah dan ketika hampir mencapai bumi, tangannya dipukulkan ke bawah dengan perlahan dan muncul segulungan kabut berbentuk awan di bawah kakinya yang menahan laju tubuhnya sampai mendarat perlahan di tanah. Han Sian lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan dia terkagum menyaksikan keindahan pemandangan yang nampak. Namun mata Han Sian tertarik dengan suara riak air yang segar dari sungai kecil di sebelah kirinya. Dan dalam sekejap dia telah menceburkan dirinya tanpa melepaskan pakaian.

Hati Han Sian senang sekali, seperti burung yang baru lepas dari sangkarnya. Sampai lama tubuhnya terendam dalam air dengan posisi terlentang sambil tiduran. Hebat, ternyata Han Sian memiliki kekuatan menahan napas yang luar biasa sampai berjam-jam. Sampai lama Han Sian tidur terlentang di dasar sungai sambil menikmati keindahan isi sungai, tiba-tiba matanya terbeliak dengan sinar mata terkejut. Ternyata mata Han Sian menangkap gerakan ikan besar yang sedang berenang, namun bukan ikan, karena yang satu ini memiliki keunikan ganjil yang belum pernah Han Sian lihat sebelumnya. Ikan besar itu mirip seperti dia, memiliki dua kaki dan dua tangan yang bergerak-gerak indah meraup air sambil meluncur ke depan. Saat Han Sian memperhatikan lebih seksama, hatinya berdebar keras. Kedua kaki itu nampak indah dan padat, bergerak-gerak teratur memukul air disekelilingnya. Yang lebih membuat Han Sian terbelalak ialah kedua tangan dan kaki itu ternyata milik sebuah tubuh yang indah, polos tanpa pakaian sama sekali sehingga setiap lekuk dari sela paha, pinggang yang ramping dan dada yang bulat serta padat itu terlihat nyata sekali. Bagaikan tersihir, seluruh tubuh Han Sian tiba-tiba menegang dan mengeluarkan hawa panas yang segera membuat air di sekitarnya serasa mendidih. Hal mana tentunya menarik perhatian gadis yang sedang berenang tersebut. Sekejap si gadis memasukkan kepalanya ke dalam air dan ini membuatnya sangat terkejut sekali. Han Sian melihat dengan mata terbelalak mulut gadis itu terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu. Dengan gerakan kilat tak lama kemudian gadis itu sudah naik ke darat. Dengan perlahan Han Sian membiarkan tubuhnya terangkat sampai mumbul di permukaan. Dilihatnya gadis yang bertelanjang sudah mengenakan kembali bajunya dengan agak sedikit awut-awutan. Sementara Han Sian hanya memandang dengan kagum, gadis itu berdiri membelakanginya. Tubuh Han Sian kemudian melayang mendekat. Baru saja dia hendak menyapa, tiba-tiba dia mendengar suara berdesing pedang yang tajam menyambar kearah kepalanya. Tentu saja dia terkejut, tapi dengan hanya menggeser kakinya setengah langkah, pedang itu lewat di samping. Eh ... eh ... nona tung ! Dasar, laki-laki ceriwis, hidung belang ! Rasakan pedangku ! Sambil terus memaki si gadis menyerang lebih ganas lagi. Kali ini ujung pedangnya membuat tiga kali tusukan berantai dengan jurus Tiga Tikaman Berantai, salah satu dari tujuh belas ilmu sakti warisan Kun Lun Pay. Tapi dengan mudah kembali Han Sin menghindarinya. Eh, nona, apakah salahku? Mengapa engkau begitu bernafsu mau membunuhku? Merasa dipermalukan, dan menyadari dirinya tidak dapat berbuat apa-apa kepada pemuda yang ada didepannya itu, gadis itu tiba-tiba melemparkan pedangnya ke tanah, kemudian dia menangis terisak sambil kedua tangan menutup ke muka. Huuuu ...! Huuu ...! Huuu ! Kau menghinaku dengan melihat tubuhku, tapi masih juga mau mempermainkanku! Huuu ...! Huuu .. !

Demi mendengar hal itu dan melihat nona itu menangis, Han Sian kemudian maju perlahan sambil tangannya bergerak ke kanan, kearah pedang gadis tersebut, dan dalam sekejap pedang itu sudah melayang perlahan ketangannya. Nona, maafkan kalau aku sudah bersalah kepadamu! Sungguh aku tidak sengaja, sudah satu jam setengah aku tiduran di dasar sungai sambil menikmati keindahan dasar sungai sampai ! Dengan sedikit ragu Han Sian lanjutkan, Sampai nona muncul ... dan sekarang kalau nona mau menggunakan pedang ini, silahkan ...! Saya tidak akan melawan atau menghindar! Berkata demikian Han Sian mengacungkan pedang pendek itu kearah gadis itu sabil terus memandang dengan penuh penyesalan. Gadis itu perlahan menurunkan tangannya dan memandang kearah pedangnya dengan terbelalak. Sungguh indah mata dan wajah yang ayu itu dalam pemandangan Han Sian sehingga dia tertegun sambil menatap kagum. Kau, benarkah kau tidak akan melawan ...? Tanya gadis itu dengan pandangan penuh selidik untuk memastikan sambil meraih pedangnya dan mengangkat tinggi di atas kepala. Ya nona, kalau kau suka, kau boleh berbuat apa saja ...! Aku tidak akan melawan! Sambil berkata demikian, Han Sian balas menatap mata itu penuh kagum. Cantik sekali, mungkin ini pertama kalinya Han Sian bertemu dengan gadis secantik ini diusianya yang sudah enam belas tahun tersebut. Tangan gadis itu yang memegang pedang yang terangkat tinggi tiba-tiba lemas ke bawah. Dia sendiri tidak habis mengerti, dan walau dia coba untuk mengerti tetap juga tidak mengerti. Pemuda didepannya ini menatapnya dengan tajam, namun lembut. Sudah banyak kali dia melihat tatapan mata para pria hidung belang yang kurang ajar, tapi tatapan ini pada hakekatnya lain dari yang lain. Tidak ada sinar kekurang ajaran, tatapan yang tajam namun penuh penyesalan itu menampakkan kekaguman dan membawa kehangatan. Eh bagaimana nona ? Han Sian bertanya lembut. Tak dapat disangkal muka Han Sian memerah, saat melihat tatapan gadis itu yang menatapnya bengong. Mengapa nona tidak melanjutkan serangan ...? Seperti baru bangun dari sihir, gadis itu tersentak, sekejap mukanya memerah. Yah, hakikatnya dia tak dapat berkata apa-apa. Seharusnya dia marah, tapi entah mengapa, perasaan marah tadi telah sirna dan hilang tanpa bekas. Ohh ...? Tidak ...! Tidak ...! Berusaha menyembunyikan perasaan hatinya, si gadis melanjutkan, Hmmm ...! Engkau telah mengakui, lagi pula itu memang bukan salahmu, aku saja yang lagi sial! Sekejap kemudian gadis itu telah membalikkan diri dengan kepala tertunduk. Diam sambil menunggu, tanpa mengeluarkan suara, dan memang tidak ada yang perlu Han Sian katakan lagi, tindakannya itu saja sudah lebih dari cukup.

Han Sian berdiri perlahan sambil tersenyum, kemudian bertanya perlahan, Nona, terima kasih atas kebaikan hatimu, namaku Han Sian, aku baru saja turun gunung dan masih kurang pengalaman. Bolehkah aku mengetahui nama nona? Gadis itu mengangkat kepala. Dalam hatinya sebenarnya berterima kasih atas sikap pemuda itu yang memecahkan kekakuan diantara mereka. Aku ... aku Cu In Lan, Pendek saja, namun diiringi senyuman yang manis. Senyuman yang mengatasi semua kebekuan dan menjadikan suasana lebih hangat serta menyenangkan. Angin dingin semilir bertiup mewarnai suasana mencekam di lembah Kiam Kok, salah satu lembah yang cukup terkenal karena menjadi sarang dari It Kiam Pang (Perkumpulan Pedang Tunggal). Perkumpulan ini didirikan salah satu anak perguruan dari Hoa San Pay yang murtad, seorang jagoan pedang yang ahli, berjuluk Hui Thian It Kiam Tang Kai (Pedang Tunggal Terbang Ke Langit) yang sebenarnya adalah bekas Sutee dari Ciangbun jin Hoa San Pay, Ceng Sim Tojin, tapi telah diusir karena melakukan kejahatan dengan bersekutu dengan Im Yang Kauw, yaitu salah satu dari empat partai sesat di dunia. Dengan langkah ringan yang pasti, Han Sian memasuki mulut lembah tersebut. Hanya kebetulan saja dia melewati tempat itu dalam pengembaraannya. Pakaian Han Sian tidak terlalu bagus namun rapi dan membayangkan kegagahan seorang pemuda yang sedang bertumbuh. Mulutnya menyungging senyum dengan lekuk dagu yang menggambarkan keteguhan hati namun menawan. Suasana mencekam di It Kiam Pang saat ini bukanlah suatu hal yang biasa. Saat langkah Han Sian menuntunnya memasuki lembah ini, keningnya berkerut. Betapa tidak? Walaupun dia mau berdiam diripun susah. Darah berceceran dimana-mana. Nampak satu mayat laki-laki telanjang bergelimpangan dihampir setiap jarak sepuluh langkah. Han Sian tertarik. Langkah kakinya dipercepat memasuki lembah tersebut sehingga dalam sekejap saja dia sudah berada di pintu gerbang It Kiam Pang. Sambil meningkatkan kewaspadaannya, Han Sian mengembangkan Ginkang-nya, dalam sekejap tubuhnya melesat masuk lebih dalam ke lembah. Ternyata ditengah-tengah lembah tersebut nampak berdiri dengan gagahnya sebuah perkampungan yang megah. Tiap bangunannya rata-rata memiliki atap yang lancip ke atas mirip sebuat pedang terhunus. Mungkin keunikan inilah yang menyebabkan tempat ini dinamakan Lembah Pedang, seperti tulisan yang terpampang dengan gagah di pintu gerbang Intana itu. Telinga Han Sian yang tajam mendengar suara tertawa yang halus di sebelah dalam. Tidak nampak penjaga di gerbang, seolah-olah memang di tempat itu, tidak peduli atau takut kalaukalau ada orang tak dikenal menyantroni tempat itu. Dengan hati-hati Han Sian mengenjotkan sebelah kakinya, seketika itu juga tubuhnya melayang mengikuti arah angin dan lain saat tubuhnya hinggap di atap salah satu bangunan yang tinggi tanpa bersuara. Sesaat matanya tertarik dengan pandangan di dalam. Suara yang Han Sian dengar tadi ternyata adalah suara seseorang yang berpenampilan aneh. Tingginya hampir dua meter dengan wajah yang kurang jelas karena tertutup rambut panjang yang dibiarkan terurai setengah menutupi muka.

Pakaian orang itu, yang entah pria atau wanita, berwarna putih. Tangannya panjang dengan kuku-kuku yang panjang juga. Yang membuat han Sian mengerutkan keningnya tatkala melihat tangan kiri pria tersebut mencengkeram tengkuk seorang gadis muda yang berpakaian serba hijau, tapi nampak tak berdaya sama sekali. Sementara dihadapan pria aneh tersebut, ada pria setengah baya dengan tubuh luka-luka, setengah bertelut dengan tangan yang kanan memegang pedang dan tangan kiri memeluk tubuh seorang wanita yang sudah tidak bernapas yang hampir sama umur dengannya. Heh Tang Kai ! Masihkah kau tidak mau juga menunjukkan dimana rahasia Pusaka Iblis tersebut? Jangan habiskan kesabaranku atau aku akan menghabisi nyawa anakmu tersayang juga ! Suara itu begitu datar, dingin dan membawa hawa yang kejam. Pria yang dipanggil Tang Kai itu tetap dia, tatapannya menyiratkan kebencian yang amat dalam, Song Bun Mo Ong! Engkau melanggar kesepakatan kita ...! Sampai matipun aku takkan mau tunduk padamu ...! Sesudah berkata demikian, tubuh Tang Kai yang dari posisi setengah berjogkok itu tiba-tiba melesat ke depan dengan tubuh berputaran seperti gasing. Hampir menyentuh tanah sangking cepat dan kuatnya. Sementara ujung pedangnya berubah menjadi banyak mengarah ke keluruh titik kematian dari pria aneh berjuluk Song Bun Mo Ong (Raja Iblis Mayat Hidup) tersebut. Hakikatnya Tang kai ini sudah nekat dan tidak peduli lagi akan nyawanya, maupun nyawa putrinya yang ada dalam cengkraman lawan. Mungkin inilah jurus maut terakhirnya yang dikerahkan dengan pengerahan seluruh tenaga sisa yang ada. Huh, keras kepala ...! Song Bun Mo Ong hanya mendesis lirih seperti ular, tiba-tiba tangannya yang berkuku panjang, terulur ke depan sambil mengeluarkan suara mencicit tajam dan bau amis darah. Lima larik sinar merah keluar dari ujung-ujung kuku Song Bun Mo Ong yang menghantam dengan sangat kuat kearah bayangan pedang tersebut, dan dilain saat tubuh Tang Kai terlempar tanpa mengeluarkan suara dengan pedang yang patah tiga dan tubuh berlubang. Sial ...dasar keras kepala! Song Bun Mo Ong terlihat gusar karena maksud hatinya tidak kesampaian juga. Sesaat kemudian dia melirik kearah gadis berusia dua puluhan tahun yang sedang diam tak berkutik disamping Tang Kai. Mata gadis itu merah dan penuh air mata, namun tiada daya membebaskan diri. Tee Sun Lai, kemari kau ...! Seketika keluar bentakan dari mulut Song Bun Mo Ong, dan dalam beberapa detik disampingnya telah berdiri seorang pemuda tampan. Mudah diduga, pasti pendatang baru ini adalah murid dari si Mayat Hidup ini. Teecu disini Suhu, Sahut pemuda itu dengan wajah gembira. Yah, pada dasarnya dia sudah tahu pekerjaan apa yang akan ditugaskan oleh Suhu-nya. Lakukan disini! Sekarang juga ...! Buat sampai gurumu puas ...! Di lain saat tubuh gadis berpakaian hijau tersebut sudah melayang kearah Tee Sun Lai yang menyambutnya dengan wajah menyeringai.

Tee Sun Lai tersenyum. Sudah biasa dia lakukan ini. Gurunya memang mempunyai kelainan. Dia sangat suka melihat orang bercinta di depan matanya. Breeet ! Perlahan Tee Sun Lai membaringkan gadis yang dalam keadaan tertotok itu sementara tangannya bergerak merobek pakaian gadis tersebut di bagian dada. Gadis itu terbelalak ketakutan, namun sayang dia tidak dapat berbuat apa-apa selain pasrah dengan bencana yang akan terjadi atas dirinya. Perlahan dia memejamkan matanya. Sementara tangan Tee Sun Lai bergerak cepat. Dalam sekejap gadis itu telah berada dalam keadaan tanpa pakaian sama sekali. Tee Sun Lai Terbelalak. Gadis dihadapannya ini memang cantik bukan main. Tubuhnya langsing padat dengan dada yang bulat membusung, sangat menantang. Segera dia menundukkan kepala untuk mencium bibir gadis itu, tapi tiba-tiba Tahan sobat! Tak pantas kau mempermalukan seorang gadis seperti itu ...! Suatu suara yang lembut namun bertenaga terdengar. Dapat dibayangkan betapa kagetnya Tee Sun Lai tatkala dihadapannya sudah berdiri seorang pemuda yang usianya mungkin jauh lebih muda darinya. Lebih-lebih Song Bun Mo Ong. Betapa tidak. Dia adalah salah satu dari tiga tokoh rahasia dari Im Yang kauw. Sangat jarang ada orang yang dapat menandinginya, bahkan dengan ketua Im Yang kauw yang terkenal sebagai satu dari lima Iblis Bumi pun, dia hanya kalah seusap saja. Tapi ternyata seorang pemuda yang masih bau kencur tiba-tiba sudah berdiri dihadapannya tanpa dia ketahui dari mana datangnya. Setengah tak percaya, tapi nyata. Tak dapat Song Bun Mo Ong menyangkal. Namun dengan mata setengah menyipit, dia memperhatikan lebih seksama dan menanti. Tee Sun Lai yang melihat bahwa gurunya hanya diam saja, juga tidak mau peduli. Dengan setengah kesal, kembali dia mengalihkan perhatiannya pada kelinci montok yang sedang terbaring dengan tubuh indah menantang itu. Tee Sun Lai percaya bahwa dengan adanya gurunya, maka semua persoalan akan beres. Dan sayangnya, karena terlalu percaya, maka dia harus menelan pill pahit. Buuk ! Arrgh ...! Tubuh pemuda mesum itu terlempar dan terjengkang dua tombak ke belakang. Di pundak kirinya tampak tergores oleh senjata tajam. Menembus sampai ke punggungnya dan rasanya seperti terbakar. Tee Sun Lai terluka, luka dalam yang cukup parah. Sambil meringis menahan sakit, dia hanya memandang hampir tak percaya pada pendatang baru yang baru muncul ini. Sungguh terkejut Song Bun Mo Ong dan juga tidak habis pikir. Muridnya dilukai di depan matanya tanpa dia sanggup berbuat apa-apa. Tahulah di, anak muda ini cukup berisi. Anak tengik, terima ini ...!

Belum habis suara Song Bun Mo Ong, tangan kanan Song Bun Mo Ong dengan jari-jari lurus kedepan dengan kuku panjang telah menyerang dengan ganas. Sasarannya mengarah ke kepala Han Sian. Hawa pukulan yang dikeluarkan pukulannya yang dilandasi Iweekang tinggi mengeluarkan angin berkesiutan dengan bau amis yang memuakkan. Dengan tenang Han Sian mengangkat tangannya dengan jari telunjuk dan tengah lurus menotok pukulan yang datang. Keduanya tidak menarik tenaga mereka. Rupanya mereka memutuskan untuk mengadu tenaga. Dhuuuukkkk ! Aikhh ...! Song Bun Mo Ong terkejut setengah mati. Kuda-kudanya tergempur sampai melesak ke tanah sedalam dua dim.Song Bun Mo Ong tak habis percaya ... Iweekang-nya adalah hasil latihan puluhan tahun, tapi tidak selisih jauh dengan anak muda di depannya ini. Sesaat Song Bun Mo Ong tertegun sambil mengdengus marah, tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara tangisan tertahan, setengah tertawa. Tangannya berubah merah sampai ke siku dan dari tubuhnya keluar asap kemerahan yang mengelilingi tubuhnya dan mengeluarkan bau mayat yang menyengat. Tak pelak lagi, Song Bun Mo Ong telah mengerahkan ilmu kebanggaannya Song Bun Hiat Jiu (Tangan Darah Mayat Hidup). Tubuh Song Bun Mo Ong berkelebat cepat, namun terlihat kaku seperti mayat. Tangannya mengeluarkan suara mengerikan, menyerang Han Sian dengan gencarnya. Han Sian tentu saja tidak tinggal diam. Segera dia memainkan Pukulan Inti Petir Murni. Dia tahu, pukulan lawam sangat beracun, tapi tidak masalah baginya karena tubuhnya dilindungi khikang istimewa yang cukup kuat dan dapat menolak semua hawa asing dari luar. Pertempuran terus berlangsung. Sudah lewat dua puluh jurus. Sebenarnya Han Sian belum lama turun gunung. Dan berbicara soal pengalaman maupun kematangan bertempur, dia kalah jauh namun kedahsyatan ilmu silatnya yang walaupun belum dikuasainya sempurna. Namun sebegitu jauh pertempuran berlangsung, belum ada tanda-tanda Han Sian terdesak. Ini membuat Song Bun Mo Ong tambah penasaran. Segera dia mengerahkan tenaganya sampai ke puncak. Memukul dengan jurus Mayat Hidup Pembunuh Dewa. Tubuh Song Bun Mo Ong melompat ke atas. Dari atas ke sepuluh jari tangan dipukulkan ke depan terus menerus, dan dari ujung kuku-kukunya keluar larikan-larikan sinar merah yang menyerang dahsyat setiap titik pusat di tubuh Han Sian. Melihat ini, Han Sia tidak menjadi gugup. Sekejap dia mengeluarkan pekikkan nyaring, sambil tubuhnya berputaran seperti gasing saking cepatnya. Dari tubuh Han Sian keluar cahaya kuning keemasan yang melindungi dan mementalkan semua larik-larik sinar lawan. Sementara saat tubuh Han Sian berputaran, tiba-tiba dari dalam pusaran ini menyambar selarik sinar keemasan seperti pedang yang amat tajam, mengarah kearah Song Bun Mo Ong yang sedang di udara. Haaiiiiit! Aakhh !

Song Bun Mo Ong berteriak kaget.Tubuh Song Bun Mo Ong terlempar ke belakang. Sambil berjumplitan untuk mematahkan tenaga balik yang dahsyat dari Han Sian, dia mendarat sempoyongan ke belakang. Kita pergi ..! Dengan mendengus, tubuh Song Bun Mo Ong berbalik dan berlalu dari situ. Sinar matanya membayangkan dendam yang amat sangat terhadap Han Sian. Song Bun Mo Ong, tidak banyak bicara lagi, yah , karena memang dasarnya dia tidak bisa mengeluarkan suara banyak, sebab luka dalamnya sangat parah. Mungkin akan memakan waktu berbulan-bulan untuk menyembuhkan dirinya. Tee Sun Lai juga bangkit dengan terseok-seok mengikutinya, sambil mukanya tersenyum aneh namun penuh kebencian. Han Sian memejamkan matanya, menarik napas panjang sejenak dan menghembuskannya perlahan sambil mengatur sirkulasi tubuhnya. Tadi Han Sian mengerahkan salah satu ilmu yang dipelajarinya dari kitab kuno di Tebing Langit. Itulah ilmu Bu Tek Chit Kiam Ciang (Pukulan Tujuh Jari Pedang Tanpa Tanding) yang dahsyat. Jurus ini memiliki tujuh jurus yang memiliki tingkat terpisah .. Sayang dia masih jauh dari sempurna dalam penguasaan ilmu itu. Perlahan Han Sian membuka matanya kemudian mendekati gadis yang sejak tadi memandanginya dengan penuh rasa terima kasih. Dari jauh Han Sian mengerahkan tenaganya dan membebaskan totokan dari tubuh gadis itu. Merasakan dirinya terbebas dari pengaruh totokan, sang gadis segera meloncat berdiri dan segera mengenakan pakaiannya. Wajahnya memerah karena menahan malu. Namun hatinya kebat kebit menahan haru. Setelah selesai, dia segera membalikkan badannya. Dilihatnya pemuda itu masih saja menghadap kearah lain. Baru saja dia hendak membuka mulut. Bagaimana keadaanmu Enci, apakah kau tidak apa-apa? Gadis itu tertegun, Enci ? Katanya dalam hati, tapi matanya yang masih nampak bekas-bekas air mata, mengamati dengan seksama. Dia mendapat kenyataan ternyata pemuda yang telah menolongnya itu lebih muda tiga tahun darinya. Eh ...? Oh ...! Ya ...! Ya ...! Ya! Aku tidak apa-apa! Hanya ... Sekilas nampak wajah gadis itu murung sambil melirik kearah ke-dua mayat di sebelahnya. Perlahan dia mendekati dan berlutut sambil menangis sesegukan. Ayah dan ibumu-kah mereka, Enci ...? Gadis itu menggelang kepala, Bukan ... Terdiam sejenak dia melanjutkan dengan suara lirih, Tapi mereka yang membesarkanku dan merawatku sejak dari kecil ... Han Sian terus membiarkan saja Gadis itu menangis sampai sekian lama. Setelah reda, Han Sian membantu nya untuk menguburkan semua mayat-mayat yang ada. Dari gadis itu dia mengetahui namanya Tang Hui Si. Lebih lanjut dia juga mendapat keterangan. Memang Hui Thian It Kiam Tang Kai (Pedang Tunggal Terbang Ke Langit) adalah seorang yang telah dianggap murtad oleh Hoa San Pay dan bersekutu dengan partai sesat. Tapi Tang Kai menempuh jalan sesat tersebut sebenarnya adalah karena terpaksa karena ada rahasia yang besar di balik semua ini.

Walaupun menjadi murid Hoa San Pay, tapi Tang Kai adalah murid perantauan yang tidak terikat dengan partai. Kurang lebih lima belas tahun yang lalu Tang Kai tiba-tiba saja mengakhiri kesukaannya merantau dan memilih untuk tinggal di Lembah Pedang dan akhirnya berhasil mendirikan perkumpulan Pedang tunggal tersebut. Puluhan tahun Tang Kai berusaha menyembunyikan dan menjaga rahasia tersebut, bahkan sampai rela bersekutu dengan golongan hitam untuk menutupi kedoknya. Namun rupanya, isu tentang adanya suatu rahasia di lembah pedang itu akhirrnya didengar juga oleh para sekutunya, dan mereka berusaha untuk mengetahuinya. Bahkan tak pelak lagi, ini menarik perhatian banyak pentolan tokoh-tokoh sesat dunia hitam lainnya Sayangnya Gadis itu tidak mengetahui rahasia apa gerangan yang disembunyikan oleh ayah angkatnya selama ini tentang lembah Pedang tersebut. Hari sudah menjelang malam, ketika Han Sian selesai menguburkan semua mayat tersebut. Sejak tadi Han Sian hanya membiarkan saja gadis itu berdiam diri di depan kuburan kedua orang tua angkatnya. Tak lama kemudian terlihat dia bergerak perlahan. Mungkin karena duduk berjamjam membuat berdirinya tidak kokoh, sehingga gadis itu sempoyongan hampir jatuh. Hui Si Cicie, kau kenapakah ...?Tahu-tahu Han Sian telah berdiri disamping Tang Hui Si dan menahan bahunya. Uuhhk, tidak ... tidak apa-apa! Berusaha menguatkan hatinya, Tang Hui Si berusaha berdiri tegap, tapi justru lebih parah. Kepalanya jadi pusing dan lain saat dia sudah terkulai pingsan.Kalau saja Han Sian tidak segera menggendongnya, niscaya tubuh dara ayu yang aduhai itu akan terbanting ke tanah. Han Sian menggendong gadis itu dengan kedua tangannya. Setelah memastikan susana disekelilingnya sejenak, dia berjalan kearah sebuah rumah di sebelah kirinya yang paling besar. Agaknya itulah rumah yang dijadikan tempat Tang Kai sekeluarga. Setelah memasuki sebuah kamar yang bersih, dibaringkannya tubuh gadis itu. Hatinya terkagum. Tanpa terasa dipandanginya wajah yang cantik namun agak kepucat-pucatan itu. Ahh, kasihan engkau, Enci Hui Si ..! Begitu berat pukulan batin yang kau terima ...! Malam itu dilewati dengan tenang sampai keesokan harinya. Ketika ayam mulai berkokok, Han Sian tersadar dari semedinya. Perlahan dia membuka matanya dan menengok ke kiri. Tapi tubuhnya segera meloncat berdiri tatkala didapatinya gadis itu tidak berada di pembaringannya lagi. Sekali berkelebat, tubuh Han Sian segera melesat keluar, tiba-tiba ... Ehh ... Tubuhnya yang melesat cepat itu berpapasan dengan tubuh gadis itu. Tidak keburu baginya untuk menghentikan laju tubuhnya. Kakinya menutul perlahan ke lantai sambil tubuhnya tiba-tiba bergerak aneh, melejit seringan kapas. Tapi tahu-tahu, sudah berada di sebelah belakang gadis itu. Segera Hui Si membalikkan tubuh menghadapi pemuda tersebut sambil tersenyum manis. Manis sekali sampai Han Sian terbeliak, terpesona. Betapa tidak, gadis didepannya sungguh sangat cantik. Sekejap pikirannya tiba-tiba teringat dengan Cu In Lan. Hanya bedanya gadis di depannya ini nampak lebih dewasa beberapa tahun dan lebih masak dari Cu In Lan.

Hai Sian te, maaf sudah membuatmu terkejut? Eh ? Iya ! Iya eh tidak apa-apa ...! Oh syukurlah kalau Hui Cicie sudah tidak apa-apa ...! Sedikit ragu Han Sian memandang rupa orang, tapi segera keraguannya lenyap karena tidak didapatinya sinar kesedihan lagi di wajah yang ayu didepannya ini. Marilah, kau ikut denganku ...! Ajak Tang Hui Si dengan mulut masih tersenyum, Apa kau pernah mendengar tentang Kolam Pedang Asmara? Hemm, tidak ... kolam apakah itu? Kolam itu adalah pusaka lembah ini yang tidak diketahui siapapun selain ayah dan aku. Tapi aku belum pernah memasuki tempat tersebut kaarena menurut ayah sangat berbahaya bila dimasuki oleh seorang wanita. Eh, kalau berbahaya, kenapa Hui Cicie berkeras mau memasukinya? Gadis itu tertunduk, sahutnya lirih, Ayah sudah tiada, lagi pula sudah lama memang aku ingin melihat tempat itu ... dan ... Berhenti sejenak, kemudian sahutnya dengan muka merah, Dan lagi ada kau disini, takut apa? Segera Tang Hui Si membalikkan tubuh dan berjalan ke depan mendahului Han Sian yang hanya terbengong saja mendengarnya. Akhirnya kaki Han Sian pun melangkah mengikuti dari belakang. Kira-kira hampir setengah jam mereka berjalan menuruni lereng terjal bagian belakang lembah pedang tersebut sampai di sebuah guha kecil yang sebenarnya lebih mirip sumur. Mulut sumur itu hanya kecil dan hanya bisa dimasuki satu tubuh saja. Tanpa ragu Hui Si memasukki mulut sumur itu, diikuti Han Sian. Ternyata hanya mulut sumur itu saja yang kecil, sedangkan semakin ke dalam semakin lebar dan bercahaya. Lima menit kemudian tibalah mereka di bagian dalam yang membuat mereka berdua terbeliak kagum. Ruangan itu sangat luas. Di depan mereka ada aliran kolam kecil berair jernih berwarna agak kebiruan dengan ukiran pinggiran kolam yang indah. Di atas kolam tersebut ada patung dua orang pria dan wanita yang sedang bercinta, sangat hidup, seolah-olah nyata. Tapi yang aneh di tangan kiri patung pria itu memegang sebuah pedang berwarna perak tipis yang ujungnya ditusukkan ke buah pinggang kiri dari patung wanita yang ditindihnya.Dari buah pinggang kiri patung wanita cantik itulah keluar aliran air jernih berwarna kebiruan itu. Sementara keadaan dalam ruangan itu terang oleh gemerlap Langit Langit yang ternyata terbuat dari marmer putih yang dapat memantulkan cahaya. Han Sian mengagumi keadaan di dalam ruangan itu. Matanya melirik sekilas pada Hui Si untuk melihat reaksi gadis itu. Tapi dia tertarik karena melihat pandangan Hui Si tertuju pada sebuah ukiran kecil yang indah di bawah kedua patung yang sedang bercinta itu, hampir tidak kelihatan: Bila asmara Langit bumi menyatu Tak Terhindar sumpah dan kutuk Jodoh Pedang Asmara dan Kitab Ilmu Pedang Iblis Bumi.

Hanya sekilas Han Sian membacanya, tapi tidak mengerti, dilihatnya Hui Si juga hanya mengerutkan kening saja. Diapun tidak memperhatikan lagi. Matanya justru tertari kepada salah satu sumur tua diarah kiri. Perlahan dia melangkah mendekati.Ternyata dari dalam guha itu mengeluarkan asap tipis yang tidak bau. Dan asap ini memenuhi seluruh ruangan, tapi hanya sedikit saja. Baik Han Sian maupun Hui Si sama sekali tidak menyadari pengaruh dari asap tersebut yang mempengaruhi nafsu mereka perlahan-lahan. Hanya saja mereka berdua adalah orang-orang muda yang berhati lurus dan memang belum pernah mengalami hal-hal yang lebih intim, maka pengaruh asap itu bekerja sangat lambat. Han Sian membalikkan tubuhnya menghadap Hui Si, tapi apa yang dia temukan sungguh sangat mengejutkan. Darahnya berdesir. Betapa tidak? Gadis itu sekarang berdiri membelakanginya nyaris tanpa pakaian. Perlahan namun sangat pasti, Han Sian menyaksikan betapa gemulai sepasang tangan gadis itu melepaskan baju pakaian terakhir yang melekat ditubuhnya. Tubuh gadis itu terpampang di depan matanya. Dari belakang dia bisa melihat kulit yang putih mulus, dengan tubuh yang ramping padat. Apalagi bentuk paha dan pinggul yang bulat itu. Han Sian tak tahan, segera ia memejamkan mata. Namun bayangan tubuh itu tetap tidak mau hilang dari pikiran Han Sian. Perlahan gadis itu melangkah memasuki kolam dan semakin lama tubuhnya semakin tenggelam sampai sebatas leher, dan akhirnya kepala dengan rambut yang panjang itupun tidak kelihatan lagi. Hui Cicie ...! Teriak Han Sian khawatir ketika membuka mata, dan tidak melihat Hui Si. Segera dia memburu ke tepi kolam. Saat Han Sian hendak menjulurkan tangannya menyibak air kolam, tiba-tiba sebuah tangan yang putih mulus keluar dari dalam air dan menangkap tangannya. Han Sian tertegun sejenak. Hui Cicie, apakah ...? Kalimat Han Sian terpotong ketika kepala pemilik tangan itu tersembul keluar ... Sian te, airnya sangat nikmat, menyegarkan ... kau ... kau temanilah aku! Tanpa melepaskan tangannya, Tang Hui Si keluar perlahan dari air sampai sebatas pinggang. Tubuhnya nampak mengkilat bagaikan pualam. Tidak dapat tidak, Han Sian memandangi gadis cantik di depannya ini, kali ini berhadapan, sehingga dengan jelas dia dapat melihat keindahan tubuh yang langsing padat, dengan dua buah dada yang besar dan kencang itu. Sungguh gadis yang telah benar-benar matang. Sesaat kemudian, kedua tangan gadis itu, entah kapan telah merangkul erat leher pemuda yang baru jaya-jayanya dalam pertumbuhan ini sehingga bibir mereka menyatu. Sampai lama mereka berciuman. Naluri kelaki-lakiannya mulai mengerjakan bagiannya yang memang menjadi sifat alami setiap insan di dunia yang berlainan jenis ini. ***** Han Sian dan Hui Si sudah tidak mengetahui lagi sudah berapa lama mereka bergumul dan entah sudah berapa kali mereka melakukannya, namun sampai kapanpun itu mereka lakukan selalu diakhiri dengan senyum kepuasan yang amat sangat.

Namun malang tak dapat ditolak taktala untuk ke sekian kalinya mereka bercinta, mereka, bahkan Han Sian yang sedang terlena sendiripun, tidak menyadari bahwa di ruangan itu sudah bertambah tiga orang yang aneh-aneh. Hehehe ...! Song Bun Mo Ong, inikah pemuda yang kau katakan hebat itu ...? Kenapa yang ku lihat tidak lebih dari budak nafsu saja ...? Betapa terkejutnya Han Sian saat menyadari akan hal ini, tapi baru saja dia hendak melepaskan pelukannya, tiba-tiba dia merasakan pelukan Hui Si mengencang dan memaksanya membalikkan tubuh sehingga posisi Hui Si berada di atas. Saat itulah mukanya menjadi pucat seketika, namun terlambat ...pukulan maut Song Bun Hiat Jiu yang dahsyat sudah bersarang di punggung dan pinggang gadis itu yang hanya mampu mengeluarkan keluhan pendek. Dilain saat tubuh mereka berdua terlempar menabrak sumur di sudut sebelah diri ruangan itu hingga hancur. Rupanya Song Bun Mo Ong yang sudah mengetahui kehebatan Han Sian, tidak mau berlaku ayal. Mengambil kesempatan selagi kedua orang muda itu tidak siap, dia sudah melancarkan pukulan dengan seluruh tenaganya. Sayang Hui Si yang terlebih dahulu melihat ini, tidak mau membiarkan pukulan itu mengenai Han Sian, dan segera bertindak pada detik-detik terakhir. Han Sian tersadar, namun akibat pengaruh pukulan keji tersebut, dia juga telah mengalami luka yang cukup parah. Walaupun dia tadi sempat mengerahkan tenaga, tapi itu tidak berarti banyak. Han Sian terlalu kelelahan selama beberapa waktu ini. Sambil menahan sakit, Han Sian memeluk tubuh Tang Hui Si yang sudah tak bernyawa lagi. Hui Cicie ...! Mata Han Sian jadi merah karena marah dan sedih yang bercampur menjadi satu. Perlahan dia meletakkan tubuh Tang Hui Si. Segera Han Sian mengerahkan tenaganya. Tenaganya hanya bisa dikeluarkan setengahnya. Namun dia tetap berusaha. Sampai lama, akhirnya dia muntah darah segar. Kenapa? Ternyata dia berusaha untuk mengerahkan Kui Sian I Sinkang tapi tidak bisa, dalam sekejap Han Sian coba lagi dengan Bu Tek Chit Kiam Ciang, tapi juga tidak bisa, karena tenaganya tidak cukup sehingga membuat lukanya lebih parah. Sebenarnya Han Sian telah mencoba mengerahkan ilmu ketiganya yang dia pelajari dari kitabkitab sakti di Tebing Langit tapi juga tenaganya tetap tidak cukup. Sementara Han Sian termenung, Salah satu dari dua orang yang ikut datang mendampingi Song Bun Mo Ong, mendengus, Anak muda, engkau menyerah saja, agar tidak perlu membuatku mengotori tangan ...! Berkata demikian, tangannya berbentuk cakar dipukulkan kearah Han Sian dengan mengeluarkan suara berdesing ...Itulah Hek Coa Tok Sin Ciang (Pukulan Sakti Racun Ular Hitam). Tiada waktu buat Han Sian untuk berpikir panjang. Diapun belum ingin mati. Segera terdengar dengusan tajam dari hidungnya. Tangannya memapaki pukulan lawan dengan ilmu Inti Petir Murni dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya. Dhuuaaar !

Kembali benturan keras terjadi. Orang yang memukul itu terdorong ke belakang empat langkah, sedangkan Han Sian merasakan tubuhnya terlempar dan melayang sampai lama dan membuat dia tidak sadarkan diri. Tanpa dia sadari, tubuhnya melayang masuk ke dalam sumur tua yang entah berapa dalamnya. Sementara itu salah satu dari tiga pendatang tersebut, ternyata adalah Tee Sun Lai. Dia tidak memperdulikan keadaan ketiga orang yang sedang bertempur. Matanya tertarik melihat kearah patung pria dan wanita yang sedang bercinta itu.Tee Sun Lai terpaku memandangi patung itu sampai akhirnya dia mendengar suara gurunya. Sun Lai ayo kita pergi! Suhu, ijinkanlah Teecu tinggal beberapa lama disini. Pahatan patung ini sangat menarik Hehehe ...! Guru dan murid sama saja, dasar memuakkan ...! Orang yang memiliki pukulan Hek Coa Tok Sin Ciang itu menyahut. Sebenarnya dia sudah terluka dalam. Hanya dia gengsi dan tidak mau menunjukkan kepada rekannya, sehingga walaupun kedua patung itu juga menarik perhatiannya, tapi yang lebih utama dia pikirkan adalah menyembuhkan lukanya dahulu. Hahaha ...! Hek Coa Sin Kay, sekarang kau sudah rasakan kehebatan pemuda itu bukan, dalam keadaan terluka saja dia masih sanggup menggempurmu empat langkah. Lebih baik kau tidak usah mencampuri urusan kami guru dan murid, mari kita pergi ...! Berkata demikian Song Bun Mo Ong membalikkan tubuh dan berlalu dari situ. Sementara itu, Tee Sun Lai yang masih terpaku pada patung itu seperti tersihir, melompat ke atas patung itu. Sekali tangannya bergerak, dia telah melemparkan patung pria yang menindih patung wanita itu ke tanah hingga hancur.Ternyata kedua patung itu tidak menyatu seperti kelihatannya. Seperti orang gila Tee Sun Lai memeluk patung wanita cantik tersebut dan menggumulinya. Sampai lama, semakin dia menggumuli, semakin kuat tenaga saktinya dikerahkan di seluruh tangan sampai akhirnya terdengar suara retak.Patung wanita cantik itu retak dan hancur. Tee Sun Lai tersadar dan segera meloncat turun. Melihat patung itu hancur, terbersit juga rasa penyesalan di hatinya. Tapi hatinya tertarik ketika matanya melihat sesuatu bungkusan kain hitam diantara hancuran patung tersebut. Segera Tee Sun Lai mengenjotkan tubuh kembali ke atas dan tangannya menyambar bungkusan hitam itu. Dengan hati-hati dia membuka bungkusan itu untuk melihat isinya. Hatinya berdebar-debar. Setelah dibuka, matanya memancarkan sinar kegirangan. Isi bungkusan itu adalah sebuah kitab hitam yang sudah usang dan tua sekali. Tee Sun Lai coba membuka-buka halaman kitab itu. Dia tidak mengerti tulisan-tulisan yang tertera di kitab tersebut, tapi betapa senangnya ketika dia menemukan gambar-gambar orang yang bersilat dengan ilmu pedang tingkat tinggi yang amat dahsyat. Tee Sun Lai kemudian tertawa terbahak-bahak seolah anak kecil yang baru mendapat mainan baru. Segera Tee Sun Lai menyembunyikan kitab itu di balik baju dan bangkit berdiri. Dari pecahan patung pria yang dibuang tadi, dia temukan lagi satu kitab mengenai sejarah dan rahasia membaca tulisan kuno tersebut.

Setelah membaca sejenak, dia mengetahui ternyata kitab itu adalah warisan Iblis Pedang yang berjaya kurang lebih 250 lalu. Itu adalah ilmu pedang Tee Mo Kiam Sut. Buukk ! Akhirnya tubuh Han Sian mendarat di tanah. Setelah sekian lama melayang-layang di udara. Sekian lama, yang ada hanya keheningan. Entah berapa lama keheningan ini berlangsung. Ketika Han Dian tersadar, dia mendapati seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan, sakit dan tulangtulangnya nyeri. Han Sian segera sadar bahwa luka-lukanya sangat parah. Dia keracunan hebat karena adanya dua macam hawa pukulan beracun bersarang ditubuhnya. Perlahan dia teringat Ilmu ke tiga yang dilatih dari kitab-kitab kuno di Tebing Langit. Ilmu mujizat Hui Im Hong Sinkang (Tenaga Sakti Burung Hong Api Dingin). Puncak tertinggi dari ilmu tersebut adalah peleburan tenaga sakti Api Dingin. Dimana pada taraf yang tertinggi sanggup menghasilkan tenaga penyembuh mujizat dalam sekejap sehingga pemilik ilmu tersebut sangat susah ditaklukkan tapi juga menjadikan ilmu tersebut sebagai ilmu terlarang karena daya penghancurnya yang sangat dahsyat.Tapi sayang, walau Han Sian sudah berusaha sekuat mungkin untuk memahami rahasia ilmu ini tapi tetap masih menemukan kesulitan. Saat-saat yang cukup kritis dalam hidupnya ini, Han Sian coba mengerahkan ilmu itu dan ternyata berhasil dibangkitkan. Ternyata syarat untuk melatih ilmu ini, dia harus terluka parah terlebih dahulu.Dalam keadaan tidak bergerak, Han Sian memahami rahasia mengerahkan ilmu ini dan menyembuhkan luka-lukanya. Tubuh Han Sian terasa tersiksa sekali.Selama tiga hari-tiga malam Han Sian berada dalam keadaan tidak bergerak ini. Semua ilmu yang pernah dilatihnya, bergantian dikerahkan dan tenaganya bergerak ke sana kemari menetralisir racun dan menjebol semua penghambat di tubuhnya. Akhirnya pada hari ke tiga, Han Sian merasakan tubuhnya sudah mulai bereaksi. Perlahan tubuhnya terangkat melayang ke atas setinggi dada. Han Sian membuka matanya, seluruh tubuhnya dirasakan dipenuhi tenaga. Bahkan sinar keemasan memancar dari sekeliling tubuhnya. Sungguh luar biasa. Dia dapat merasakan gerakan tenaga yang dahsyat bergerak seolah olah ingin menerobos keluar. Segera dia menyalurkan tenaganya memainkan delapan Tingkat dari Ilmu tersebut dengan baik tanpa kesulitan seperti dahulu. Bahkan ketika Han Sian memainkan Kiu Sian I Sinkang dan Bu Tek Chit Kiam Ciang serta ilmu Pukulan Inti Petir Murni, semuanya dia lakukan tanpa kesulitan sama sekali. Setelah bersilat hampir setengah hari, tiba-tiba Han Sian menarik kembali tenaganya dan berhenti bersilat. Keadaan dalam Guha yang cukup lebar itu nampak-porak poranda hampir tak berbentuk lagi. Tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya. Mata Han Sian menangkap bayangan peti mati besar dari besi hitam yang berdiri disalah satu sudut guha tersebut. Peti itu telah hancur sebagian terkena terjangan hawa pukulannya. Si Penakluk Dewa & Iblis

Oleh : LovelyDear Episode 2

Dengan tertarik Han Sian mendekati peti tersebut kemudian membukanya perlahan. Ternyata didalamnya dia menemukan sesosok kerangka yang sedang duduk bersila. Di tangannya ada secarik kain yang terbuat dari bahan khusus yang tidak mudah rusak dan dilapisi kulit kambing. Di atasnya ada tulisan yang berbunyi: Puluhan tahun malang-melintang di dunia Kang Ouw, Iblis Pemusnah Tanpa Bayangan si Penantang Dewa akhirnya mati dalam kekosongan. Pewaris yang berjodoh, hanya boleh menggunakan ilmu ini untuk membersihkan nama busuk dari sang pemusnah! Han Sian tertegun sesaat demi mengetahui riwayat sang tokoh yang tinggal tulang belulang ini. Segera dia bermaksud mengangkat tulang-tulang tersebut untuk dikuburkan, tapi saat dia menyentuhnya, kerangka itu kemudian hancur jadi abu. Di tempat di mana kerangka itu berada Han Sian menemukan tiga belas batu hitam segi delapan. Ternyata disitulah terukir tiga belas jurus sakti Seribu Bayangan Iblis Pemusnah yang amat dahsyat tapi juga mengerikan. Demikianlah mulai saat itu Han Sian tinggal di dalam guha tersebut sambil melatih semua Ilmuilmunya. Saat dia teringat mayat Hui Si, Han Sian menjadi sangat sedih. Teringat dia betapa gadis yang sangat cantik itu telah menghabiskan waktu berhari-hari menikmati kenikmatan cinta dengannya. Suatu hal yang dia belum pernah rasakan sebelumnya. Sejak saat itu Han Sian memutuskan untuk berkabung selama satu tahun penuh, dan dia tidak akan keluar sebelum habis masa berkabungnya. Saat yang sama juga dia mempergunakan waktu satu tahun tersebut untuk mematangkan semua Ilmu-ilmu yang dia miliki. JIT GOAT KAUW Waktu dua tahun berlalu dengan cepatnya. Dunia Kang Ouw gempar dengan munculnya seorang tokoh dunia hitam yang berjuluk Jit Goat Mo Ong. Momok ketakutan membayang di mata para kaum tua dunia persilatan. Mengapa tidak! Siapapun sangat mengetahui bahwa tokoh ini adalah salah satu tokoh yang sudah lama menghilang dari dunia Kang Ouw. Kalaupun benar yang diceritakan oleh kakek dan nenek mereka, maka berarti umur tokoh sesat ini sudah mencapai dua ratusan lebih. Tidak ada yang pernah melihat sepak terjang tokoh ini secara langsung. Hanya diketahui bahwa Tokoh ini bergerak dibalik sebuah perkumpulan yang sangat kuat yang dikenal sebagai Jit Goat Kauw. Keberadaan Jit Goat Kauw ini sangat hebat. Betapa tidak, sedangkan dua belas Raja Iblis-pun harus mengaku tunduk dan mengabdi pada Jit Goat Kauw ini. Mereka memiliki pengikut lebih dari lima ratus orang. Dengan adanya dukungan tokoh-tokoh hitam yang sakti ini, Jit Goat Kauw terus melebarkan sayapnya untuk menguasai dunia Kang Ouw. Pembantaian terjadi dimana-mana bahkan tak banyak para tokoh aliran putih yang dibantai. Sejauh ini masih tersisa lima perguruan besar yang masih belum digempur secara terangterangan oleh Jit Goat Kauw ini. Partai-partai yang belum takluk ini yang bahkan sangat gencar mengadakan perlawanan pada Jit Goat Kauw meskipun tidak secara langsung. Mereka adalah Siauw Lim Pay, Bu Tong Pay, Kun Lun Pay, Hoa San Pay dan Thai San Pay.

Meskipun tidak secara berterang dan terkesan menutup diri, namun kelima perguruan ini sejak dua tahun terakhir ini telah berusaha sehebat mungkin mempersiapkan jago-jago unggulan mereka. Bahkan mereka melatih murid-murid mereka dengan berbagai cara untuk peningkatan dalam penguasaan Ilmu-ilmu dari pintu perguruan mereka. SAM CI CIANG Sore hari ... di belakang puncak pegunungan Hoa San Pay. Seorang gadis berusia tujuh belas tahun sedang berlatih ilmu pedang Hoa San Kiam Sut melawan lima orang tosu berpakaian serba putih. Dihadapannya tampak bersila seorang kakek berambut putih yang sudah ubanan yang berusia sekitar 80 tahunan. Gadis yang cantik dan mengiurkan itu bukan lain adalah Cu In Lan. Pertemuan pertamanya dengan Han Sian memberikan berkah yang tidak sedikit padanya. Selama tujuh hari Han Sian menyatakan rela menebus kesalahannya dengan mengajarkannya Ilmu Thian In Hui Cu (Terbang Menunggang Awan Langit) dan Pukulan Inti Petir Murni. Saat dia kembali ke Hoa San Pay, kebetulan dia bertemu dengan salah satu sesepuh partainya yang sudah lama mengasingkan diri. Yaitu yang lebih dikenal dengan nama Hoa San Siang Jin. Hoa San Siang Jin ini sebenarnya adalah Toa Susiok (Paman Guru tertua) dari Ciangbun Jin Hoa San Pay yang sekarang. Begitu melihat bakat yang dimiliki oleh Cu In Lan, dan karena turut juga merasakan gejolak dunia Kang Ouw yang ada, maka Hoa San Siang Jin berkenan mengambil anak dara ini untuk menjadi murid penutupnya. Sementara kelima orang yang mengeroyoknya itu adalah kelima orang Sute dari Pek Mau Sian Jin, yaitu ketua Hoa San Pay. Pertempuran berlangsung dengan dahsyat. Tubuh kelima orang tosu itu berkelebat memainkan Hoa San Kiam Tin yang ampuh. Pedang mereka berkelebat membentuk sinar panjang dan tebal mengurung In Lan. Namun yang hebatnya, Cu In Lan tidak nampak terdesak, meskipun nampaknya sangat sulit untuk menang dengan cepat Dia memainkan ilmu pedang ciptaan gurunya yang bernama Pat Liong Kiam Li Hoat(Tarian Pedang Delapan Naga) sambil mengerahkan Thian In Hui Cu. Sementara tangan kiri Cu In Lan dengan tiga jari terbuka selalu memuntahkan ledakan-ledakan dengan ilmu Inti Petir Murni yang sudah digubah dan disempurnakan oleh gurunya agar selaras dengan ilmu Sam Ci Ciang (Pukulan Tiga Jari) dari Hoa San pay. Setelah lebih dari 150 jurus berlalu, akhirnya terdengar suara kakek itu. Cukup ! Lan-jie, cukup ...! Engkau sudah lulus! Terlihat senyuman yang senang dari wajah gadis itu tatkala mendengar seruan gurunya. Bersamaan dengan Hoa San Kiam Tin yang menarik serangan mereka, gadis inipun melejit ke atas sambil berputaran tiga kali dan turun dihadapan Suhu-nya dengan tanpa suara. Suhu, apakah itu berarti bahwa murid sudah boleh turun gunung? Kembali Cu In Lan bertanya lembut tapi wajahnya harap-harap cemas. Betapa tidak. Cukup lama Cu In Lan berlatih keras. Siang malam hampir tanpa henti. Meskipun mulutnya tidak berucap, namun hatinya tiada henti selalu merindukan suatu nama Han Sian dalam hatinya. Dan sekarang kesempatan yang dia nanti-nantikan untuk turun gunung telah tiba. Itulah sebabnya saat gurunya meminta kelima Suheng-nya untuk mengujinya, Cu In Lan berupaya mengerahkan segala kemampuannya, dan sekarang dia dinyatakan lulus. Betapa senang hatinya. Baiklah, Lan-jie, kau boleh turun gunung setelah tiga hari dari sekarang ...! Malam nanti datanglah menghadap untuk menerima petunjuk terakhir! Belum lenyap suaranya, tubuh orang tua itu sudah berkelebat cepat sekali dan lenyap juga dari tempat itu. Setelah kelima orang Suhengnya kembali. Cu In Lan tinggal sendirian. Segera dia kembali ke pondoknya dan beristirahat.Baru saja dia hendak melangkahkan kakinya, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Segera dia membalikkan tubuhnya. Dan benar saja, dihadapannya nampak dua orang kakek yang aneh.

Meskipun Cu In Lan merasa penasaran, tapi sebagai seorang yang mengerti tata krama, dia segera menyapa lembut, Akhh, maafkan karena tidak menduga akan kedatangan Jiwi Locianpwe ... Hehehe ! Hek Hoat Mo Ong, tampaknya gadis ini cocok untuk dijadikan hadiah buat Kauwcu ya kita, bagaimana menurutmu ...? Kata kakek yang bermuka codet di mata kiri. Hemmnn ... aku sependapat! Tapi tampaknya ilmunya juga tidak lemah. Apalagi kalau dia murid Hoa San Sian Jin ...! Kau harus berhati-hati! Sahut kakek yang satunya lagi Hah ...! Hati-hati? Kau lihat saja ...! Sambil berkata demikian kakek itu melangkah maju. Kesinilah dara manis, serahkan dirimu baik-baik ...! Tangannya membentuk cakar tiba-tiba terulur panjang, duakali panjang lengannya. Yang satu mencengkram kearah lengan kanannya, sedang tangan yang lain kearah dadanya yang menonjol indah. Iiiikhh ...! Dasar kakek cabul! Tidak tahu malu ...! Cu In Lan memekik marah. dilain saat bergerak mundur dua tindak ke belakang, sedang tangannya memukul sambil memapaki serangan lawan. Haiiit ...! Dhuukkk! Keduanya sama terdorong mundur. Hanya bedanya Cu In Lan terdorong tiga langkah sedangkan orang itu hanya satu langkah. Eh ...? Kakek codet itu kaget setengah mati. Gadis itu mampu menghindar bahkan berani menangkis pukulannya. Tahulah dia bahwa tidak mudah baginya untuk meringkus gadis ini dengan cepat. Bagus, kau berani melawan ...! Tapi itu tidak akan lama! Belum selesai ucapannya, Kakek codet itu telah menyerang dengan gencar dengan Ilmu-ilmunya yang aneh, yaitu selalu menyerangnya dengan gerakan-gerakan aneh mirip monyet. Tak salah lagi, itulah Hek Wan Tok Hoat (Pukulan Beracun Lutung Hitam).Segera Cu In Lan memainkan Ilmu Hoa San kun Hoatnya. Tapi baru lima jurus dia hampir kecundang di bahu kirinya. Hehehe ! Kalau kau mengandalkan Hoa San Kun Hoat, itu tak akan berarti banyak, anak manis ...! Cu In Lan gusar setengah mati. Segera dia memekik nyaring dan megerahkan Thian In Hui Cu dan kedua tangannya membentuk totokan tiga jari yang dilandasi Tenaga Inti Petir Murni, mencecar lawan dengan sebat. Kedua tangannya, mengirim serangan enam kali kearah enam titik kematian di tubuh lawan. Gerakannya cepat dan dalam enam kali serangan itu dia tidak menyentuh tanah sama sekali. Haiaaaa ! Galak hebat amat, apa ini yang namanya Sam Ci Ciang ...? Tapi kenapa tidak sama ...? Kakek codet itu kaget setengah mati. Soal tenaga dia menang tapi soal kecepatan, dia kalah jauh. Tapi belum sempat dia memperbaiki posisinya, terdengar suara datar ... Huh, Hek Wan Sin Mo, kau terlalu lama ...! Kakek yang satu segera terjun ke tengah pertarungan dan memukul kearah kepala Cu In Lan. Cu In Lan kaget, dan mengangkat tangan menangkis, tapi aneh, dia tidak merasakan tenaga apaapa. Segera dia curiga, namun sayangnya kecurigaannya itu terlambat.Segera Cu In Lan merasakan kepalanya pusing. Dilain saat tubuhnya terkulai lemas dan langsung disambar oleh Hek Wan Sin Mo. Hehehe ! Hek Hoat Mo Ong, sepertinya Racun pelemah semangatmu benar-benar sangat manjur ...! Pada hari Pertemuan nanti, Kauwcu Yaa pasti akan puas, hahaha ! Dalam waktu singkat kedua tokoh hitam itu sudah berlalu dari tempat itu sambil membawa Cu In Lan. Salah satu hutan lebat yang terletak di antara pertemuan sungai-sungai kecil yang mengalirkan airnya ke sungai Yang-ce, tampaknya tidaklah sunyi seperti biasanya. Hari menjelang malam ketika nampak bayangan orang-orang berkelebatan di antara pepohonan. Nyata kalau mereka bukan orang-orang biasa atau paling tidak mereka punya sesuatu yang bisa di andalkan sampai berani datang ke tempat itu. Pertemuan rahasia para tokoh-tokoh aliran hitam. Untuk alasan inilah sebenarnya pertemuan rahasia ini di adakan. Undangan yang di sebarkan dari mulut ke-mulut oleh orang-orangnya JitGoat-Kauw ternyata menarik minat yang tidak sedikit bagi para tokoh hitam yang merasa mempunyai kemampuan cukup.

Agendanya, adalah untuk membicarakan strategi menghadapi Pertemuan Besar Orang-Orang Gagah dari golongan putih tiga bulan mendatang dan merayakan kembali bangkitnya pemimpin dunia hitam yang sudah lama hilang tersebut. Tampaknya pertemuan ini sangat di rahasiakan sehingga yang hadir tidak begitu bayak. Dan memang semua yang telah hadir saat ini hanyalah para pemimpin tiap-golongan dari setiap daerah kekuasaan mereka. Meski demikian ternyata jumlah mereka tidaklah sedikit, hampir mencapan 200an orang. Di antara mereka, para anggota Jit-Goat-Kauw juga hanya terlihat beberapa orang saja, itupun hanya ke 10 orang dari 12 Raja Iblis Lembah Neraka yang sakti yang menggetarkan jiwa karena kesaktian mereka yang terhitung tokoh-tokoh angkatan tua dunia hitam. Ditengah-tengah mereka tampak seorang pemuda tampan pesolek yang memegang sebuah kipas sutra dari baja murni. Tampak di antara mereka juga ada para tokoh angkatan tua lain yang berjuluk 7 Siluman Langit, 4 Ketua dari 4 partai sesat, dan masih ada empat orang aneh lainnya yang tidak di kenal. Di dalam hutan yang lebat itu ternyata telah di bersihkan dan telah berdiri sebuah panggung yang cukup besar. Ditengah-tengah panggung tersebut nampak 32 kursi yang di atur mengelilingi sebuah meja segi delapan yang berat dan besar. Sementara para pemimpin-pemimpin yang lebih rendah mereka berdiri mengelilingi di sekitar panggung. Menjelang tengah malam, saat semua orang sedang menunggu, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang rada-rada mirip kera. Saat semua orang menoleh ke arah suara, tampak dua orang yang aneh keluar dari balik pepohonan. Salah satunya memanggul sebuah karung besar. Siapa lagi kalau bukan Hek-hoat-Mo-ong dan Hek-wan-sin-mo yang datang sambil memanggul tubuh Cu In Lan. Melihat ini, salah seorang yang duduk dekat si pemuda tampan pesolek itu segera menegur kesal: Hemm, jika kalian terlambat saja beberapa menit lagi, mungkin Kauw-cu-ya akan segera memisahkan kepala kalian... Hahaha...kami terlambat karena sedang mempersiapkan satu hadiah khusus buat Kauw-cu-yaa. Berkata demikian, Hek-hoat-Mo-ong meletakkan karung besar itu dan sekali tangannya bergerak, robeklah karung tersebut. Mata semua orang yang ada di situ terbeliak kaget tatkala melihat seorang gadis yang cantik sedang terikat, bahkan banyak yang kemudian berseru-seru dengan suara yang bernada kotor yang hanya di sambut dengan gelak tawa dari sana-sini. Kauw-cu-yaa yang tadi hanya duduk angkuh dengan mata yang di pejamkan juga membuka matanya dan tertegun melihat kecantikan. Dia banyak mempermainkan dan menikmati tubuhgadis-gadis cantik, tapi yang ini lain-dari yang lain. Namun suasana hatinya jengkel ketika mendengarkan suara-suara kotor di sekitar. Sinar matanya tiba-tiba mencorong dan memandang ke arah kiri. Beberapa detik kemudian, berkelebat sebuah bayangan dengan cepat dan di lain saat terdengar jerit kematian 5 orang dengan leher terkuak leber. Semua orang terdiam dan suasana jadi sunyi seketika. Ternyata salah satu dari 12 Raja Iblis Lembah Neraka, yaitu Hek-Tok-Jiauw-Ong telah bergerak mengantar kematian 5 orang tersebut sesaat setelah melihat sinar mata mencorong Kauw-cu-yaanya yang di tujukan kepada orangorang yang berumur pendek tersebut. Hemm...Mulai sekarang aku akan mengambil gadis ini sebagai selirku, siapapun yang berani kurang ajar padanya akan bernasib sama dengan ke lima orang tersebut... Perlahan namun pasti, suara yang datar namun terdengar angkuh, keluar dari mulut Pemuda tampan pesolek itu. Di lain saat, ketika karung itu telah terbuka, Cu In Lan telah sadar sepenuhnya, hanya saja karena tubuhnya tertotok, maka dia tidak dapat berbuat apa-apa. Tapi dia menyaksikan semua peristiwa itu. Pemuda itu bangkit dan mendekatinya. Di lain saat, tubuhnya telah di angkat dalam pondongan pemuda tersebut yang hanya tersenyum-senyum aneh. Cu In Lan merasa tubuhnya panas-dingin, ini pengalaman pertamanya. Perasaan ketakutan yang amat sangat dia rasakan tapi apa dayanya saat ini. Namun itu tidak berlangsung lama, dan yang terjadi selanjutnya segera saja membuat dia merasa lega.

Ambil tandu! Tiba-tiba pemuda itu berkata kalem. Nona manis, sekarang aku ada urusan besar, kau sabar saja...setelah selesai, kauw-cu-ya mu ini akan segera menikmati tubuhmu yang indah ini...hahaha... Beberapa saat kemudian, 4 orang berbadan kekar berjubah hitam dengan gambar matahari-bulan di dada muncul sambil membawa tandu. Pemuda itu melemparkan tubuh gadis itu yang melayang masuk dalam tandu dengan posisi duduk. Jaga dia seperti kepalamu...! sahut pemuda itu dengan suara keren. Keempat pengusung tandu itu mengangguk, dan sesaat kemudian telah melesat meninggalkan tempat itu menuju ke arah selatan. Setelah terdiam sejenak, pemuda itu kemudian membalikkan badan menghadapi meja tersebut. Lo-Mo, apa semua sudah siap?... Maaf Kauw-cu-ya, hanya tinggal 5 Iblis Bumi yang belum kelihatan bayangan mereka..., tapi sepertinya kita tidak bisa menunggu mereka lagi. Seorang Kakek Tua bermata satu menyahut. Agaknya dialah yang di sebut sebagai Lo-Mo (Iblis Tua) tersebut. Pemuda itu mengangguk. mulailah sahutnya dingin. Iblis Tua mengangguk kemudian mengedarkan pandangannya ke segala arah. Saudara sekalian, Yang pertama, malam ini saya mewakili Tai-Kauw-cu dan Kauw-cu-ya, menyampaikan selamat bertemu. Sebagaimana yang kita sama tahu, bahwa sebantar lagi akan segera di adakan Pertemuan para Enghiong dari golongan putih. Kita tidak boleh membiarkan hal,ini terjadi. Kalau mereka tidak bersatu, maka akan lebih mudah bagi kita untuk menghabisi mereka Berhenti sejenak, sambil menarik nafas dia melanjutkan: yang ke-dua, Tanggal 15 bulan depan, adalah merupakan hari ulang tahun tokoh junjungan kita yang ke 115 tahun yaitu Yang termulia dan Yang tersakti Tai-Kauw-cu Jit-Goat-Mo-Ong, Beliau menginginkan kita semua, di bawah pimpinan Kauw-cu-ya, boleh berjasa baginya dengan mempersembahkan satu orang satu kepala dari para manusia-manusia sombong golongan putih. Suasana masih tetap hening, Semua orang sedang berpikir. Tiba-tiba salah seorang yang duduk di meja di antara ke-4 Ketua Partai sesat, yaitu Hek-Liong Sin-Mo dari Hek-Liong-Pai berdiri dan berkata dengan suara nyaring. Hemmm...kami di undang oleh Jit-Goat Mo-Ong untuk datang. Dengan memandang muka beliau, kami dari Hek-Liong-Pai segan dan tau diri, tapi kalau orang yang kau sebut Kauw-cu-ya, sehebat apakah dia?... Benar, Kami dari Im-Yang-Kauw, tidak pernah menerima perintah siapapun dan tidak akan pernah menghambakan diri seperti ke-12 Iblis kalian...kecuali kalau kau bisa menandingi kepalanku.... Dengan suara yang tak kalah lantang Im-Yang Hek-mo bangkit dan berseru. Sombong... Salah seorang dari ke12 Iblis bangkit dan berseru marah. Diikuti rekan-rekannya yang lain. Seketika itu juga suasana menegang dan tak bersahabat. Im-Yang Hek-mo tersenyum sinis. Hahaha, Siang-Tok Sian-li, kita sudah pernah bertempur, dan rasanya kalaupun hal itu harus terulang, sudah jelas siapa yang akan jadi pemenangnya. Panas hati Siang-Tok Sian-li bergerak, namun baru saja dia hendak bergerak menyerang, terdengar suara dingin dari samping. Ku beri kesempatan sekali padamu untuk memukul sekali, kalau kau tak dapat merobohkanku, maka kau harus menjilat sepatuku... Ternyata pemuda yang di sebut Kauw-cu-ya itu yang berkata. Im-Yang Hek-mo terbeliak dan dongkol atas kejumawaan orang. Baik, sambutlah... Belum habis perkataannya pukulannya telah menderu tiba di ikuti dua hawa pukulan Im-Yang yang berwarna merah dan putih. DAAAARR... Hoek.... Im-Yang Hek-mo memuntahkan darah segar dari mulutnya sedangkan Kauwcu-ya dengan kedua tangan bersilangan di depan dada hanya terdorong 2 langkah kebelakang. Sungguh semua orang kaget, terlebih Hek-Liong Sin-Mo yang melihat betapa rekannya luka parah. Dalam hati dia bersyukur bahwa bukan dia yang mengalaminya. Namun demikian, tak urung hatinya kebat-kebit juga saat Kauw-cu-yaa memandang kepadanya dengan sinar mata mencorong tajam. Menyadari gelagat jelek, segera dia menekuk lutut dan berseru. Kami dar Hek-Liong-Pay akan mau bergabung dalam satu bendera dengan Jit-Goat-Kauw.

Melihat ini, pemuda pesolek itu hanya mendengus saja sedangkan matanya kemudian beralih ke arah Im-Yang Hek-mo yang sedang merangkak mendekatinya. Yah, dia telah di kalahkan dengan telak. Demikianlah suasana kembali reda, setelah berbincang-dan mengatur berbagai strategi sampai hampir pagi, maka semua orang itu kemudian bubar untuk memulai gerakan bawah tanah yang akan menimbulkan malapetaka bagi dunia persilatan. ---lovelydear--Sampai lama para pengusung tandu itu berlari-larian, melompati tebing-tebing, menyusuri jalanjalan sempit, sampai lama juga Cu In Lan berjuang membebaskan diri dari totokannya. Diam-diam dia bersyukur, untung saja pemuda pesolek itu belum mengetahui kalau dia memiliki kepandaian tinggi. Namun baru saja dia berusaha menjebol totokan terakhir di bagian punggungnya, tiba-tiba di rasakannya tandu berhenti. Terdengar suara garang: Siapa kau, berani mati menghalangi orang-orang Jit-Goat-Kauw...? Huh, segala macam kantong sampah seperti itu mau kau unggulkan di depanku...1 Terdengar suara berat dan tajam. Saat tirai tersingkap di tiup angin, In Lan bisa melihat wajah penghadang tersebut. Seorang pemuda tampan. Berusia hampir 30 tahun, dengan sebatang pedang dengan gagang berukir indah di punggungnya. Pakaiannya serba kuning dengan ikat pinggang merah dan biru. Para pengusung tandu ini marah melihat kesombongan penghadang ini. Segera mereka menurunkan tandu dan dua di antara mereka bergerak mengurung. Satu dari antara mereka segera menyerang: Anak muda, kalau kau tidak mau minggir, maka mampuslah... pekiknya marah sambil mendorong tangannya dengan pengerahan tenaga dengan maksud menjatuhkan lawan. Pemuda itu hanya diam saja sambil terus menatap tanah. Tapi tiba-tiba, tatkala pukulan lawan mendarat di tubuhnya, justru pukulan orang itu membalik dan mementalkannya. Aiiiiihhhk.... Aaaakhh... Hampir berbareng ke empat pengusung tandu itu berteriak. Di lain saat tubuh tiga lainnya telah meloncat sambil mengibaskan tangan memukul dengan Jit-Goat- TokCiang. Ternyata para pengusung tandu ini sudah dilatih Jit-Goat-Tok-ciang tingkat 1 oleh Kauw-cu mereka. Namun mereka keliru kalau menganggap lawan kali ini adalah mangsa yang empuk. Saat tubuh mereka masih melayang di udara. Tiba-tiba pemuda itu mendesak maju sambil tangannya bergerak sekali. Tampaklah sinar tipis berkelebat dan tanpa mengeluarkan suara, atau tanpa mereka menyadari, kepala mereka telah terpisah dari badan. Pengusung tandu yang satu lagi, hanya memandang terbelalak dengan wajah pucat. Ampun...tai-hiap....ampun Sahutnya ketakutan dengan tubuh gemetar. Pemuda itu menggerakkan tangan kirinya ke arah dada pengusung tandu itu yang segera menjerit pingsan. Tanpa dia ketahui di dadanya telah terukir nama yang tidak dapat di hilangkan: Pangeran Pedang Iblis. Perlahan namun pasti, pemuda itu melangkahkan kakinya ke arah tandu. Apa yang dia lihat dalam tandu tersebut segera membuatnya tersenyum simpul penuh arti. Tampaknya nama ini merupakan pendatang baru dalam dunia persilatan yang namanya mulai melejit dalam Setengah tahun belakangan ini. Sayangnya dia juga bukanlah seorang yang baik-baik. Hakikatnya Cu In Lan itu keluar dari mulut harimau tapi masuk kembali ke mulut naga. Sudah terlalu lama kita tinggalkan Han Sian yang sedang menempa diri sambil berkabung selama satu tahun. Satu tahun lebih Han Sian tinggal dalam sumur di lembah pedang tersebut. Sambil terus berlatih tanpa kenal lelah. Berbekal semua ilmu-ilmu dewa yang dia telah miliki sebelumnya, membuat Han Sian dapat melatih Ilmu Seribu Bayangan Iblis Pemusnah dengan sempurna. Sebenarnya ilmu ini sangat ganas sekali dan tak kenal ampun. Kalau saja ilmu ini jatuh ke tangan orang jahat, pastilah malapetaka bagi dunia persilatan. Namun, dengan kecerdikannya, dia dapat membuang pengaruh-pengaruh yang menyesatkan dari ilmu tersebut dan menggabungkannya dengan ilmu-ilmu yang dia sudah miliki sebelumnya. Meski demikian perbawa ilmu itu masih tetap mengerikan dan bahkan lebih dahsyat.

Di samping itu dia juga sudah berhasil melatih 2 ilmu gaib yang dia dapatkan bersama dengan ke tiga kitab kuno di Tebing Langit, yaitu Sinar Sakti Mata Pedang yang memiliki tenaga penghancur yang tak tertandingi. Ilmu ini dapat di salurkan lewat mata, tapi hanya boleh dikerahkan 2 kali dalam 300 hari karena sangat menguras tenaga murni. Ilmu ke dua adalah Pat-Sian-Sin-Hoat yaitu Ilmu penguasaan tenaga batin tingkat tinggi yang dapat mewujudkan pengembangan ilmu sihir. Setelah setahun lewat. Han Sian keluar dari lembah tersebut. Menghirup udara segar dunia bebas kembali membuat dia senang. Tapi sayang, pengaruh peristiwa kematian Hui Si merubah watak aslinya yang tidak suka membunuh menjadi sebaliknya. Sepak terjangnya tidak segan-segan menurunkan tangan maut dan telengas terhadap orang-orang yang di temuinya berbuat jahat. Nampaknya ini pertanda buruk bagi dunia Hek-to. Disamping itu pengalamannya yang luar biasa dalam lautan cinta bersama Hui Si, meninggalkan bekas yang menjadikan pemuda ini nampak sangat romantis dan membuka tangan kepada semua wanita yang dekat dengannya. Ini juga pertanda yang kurang baik bagi dunia asmara. Dari sejak dia keluar lembah, Han Sian telah melakukan perjalanan yang cukup jauh, bahkan memakan waktu berbulan-bulan sampai akhirnya tibalah dia di sekitar tembok besar. Saat dia memasuki sebuah dusun, hatinya tertarik karena telinganya mendengarkan suara tangis meraungraung beberapa orang penduduk. Segera kakinya berbelok mengarah ke pekarangan salah satu rumah terdekat di mana dia menemukan seorang petani dusun yang sedang merangkul seorang wanita yang tampaknya adalah istrinya yang terus menangis sedih. Maaf paman, saya pendatang baru di sini, bolehkah saya tau apa yang telah.....Ehh...?! Han Sian Terkejut. Belum selesai perkataannya tiba-tiba wanita yang ada dalam rangkulan suaminya itu sudah bangkit berdiri dan berlari menyambutnya sambil mencakar-cakar seperti orang gila... Kau...kau...penculik bayi....kembalikan...kembalikan anakku... teriaknya ...kembalikan anakku... Dengan tenang HanSian memegang pergelangan tangan wanita itu dan segera wanita itu menjadi lemas tak bertenaga. Anak muda jahat, kau pastilah penculik bayi kami?...Aku akan mengadu jiwa denganmu... Lakilaki tersebut, begitu melihat istrinya terjatuh lemas, tak dapat menahan hatinya lagi, langsung menyambar cangkul di sampingnya dan menyerang Han Sian dengan cangkul tersebut. Tapi apalah artinya seorang petani kasar yang kerjanya sehari-hari hanya mencangkul di sawah? Dia tidak tahu kenapa, tiba-tiba gagang cangkulnya patah di tengah bagian tengah... Maaf paman, saya adalah seorang pelancong yang kebetulan lewat di sini dan saya tidak bermaksud jahat....mungkin saya bisa membantu paman Petani itu menatap pemuda di depannya dengan tatapan menyelidiki. Orang muda, kau pergilah dari sini. Kalau kau bukan orang yang kami maksud, lebih baik pergi dari sini... Sambil berkata demikian petani itu membalikkan tubuh dan kembali merangkul istrinya tanpa memperdulikan Han Sian. Han Sian penasaran, namun dia tidak mau memaksa orang. Sambil menarik nafas panjang, dia melangkahkan kakinya keluar dari pekarangan rumah tersebut. Dia melewati beberapa penduduk yang tampaknya juga mengalami masalah yang sama. Tapi anehnya mereka tetap menutup mulut. Saking jengkelnya Han Sian terus melangkah dengan muka masam sampai tibalah dia di pinggir sebuah sungai. Seketika hatinya senang. Kakinya melangkah mendekati sungai tersebut. Tapi segera telinganya menangkap bunyi yang tidak beres dan segera menuju asal suaratersebut. 5 orang lelaki kekar dan berewok sedang tertawa-tawa senang di sela-sela jeritan ketakutan suara 2 orang wanita muda yang manis. Jangan...ohh...jangan seru seorang gadis sambil berusaha melepaskan diri dari pegangan dua orang di kanan-kirinya. Sedangkan ketiga orang pria yang lain sedang bergantian memegang dan menindih gadis yang satunya lagi yang sudah tidak berdaya dan hanya mengeluarkan suara rintihan lirih sambil menggigit bibirnya yang berdarah. Melihat hal ini, seketika Han Sian menampakkan diri. Huhh, sungguh kalian manusia-manusia tak layak hidup dan patut mampus...

Ke lima orang itu terkejut dan segera melompat berdiri. Siapa kau, apa urusanmu mencampuri urusan kami?... bentak salah satu dari mereka. Han Sian tidak memperdulikan mereka. Nona, jawablah pertanyaanku, Nona...apakah kau melayani mereka dengan rela?... Ini memang pertanyaan, namun hakikatnya tidak perlu di tanyakan. Tapi kalaupun itu di tanyakan hanyalah untuk menemukan alasan yang kuat saja untuk bertindak. Gadis itu tertegun sejenak... Tidak...kami tidak mau...mereka memaksa kami Kelima orang itu, merasa diri mereka tidak di tanggapi menjadi semakin marah. Pemuda lancang. Segera mereka bermaksud menyerang. Tapi belum sempat mereka bergerak tau-tau terdengar suara mencicit tajam dari tangan Han Sian dan di lain saat ke lima orang tersebut terpental kebelakang dengan dada hancur berlubang tersambar hawa pukulan dari jari-jari tangannya.. Iiihhhh... Gadis yang masih sadar itu menjerit lirih dan sesaat kemudian dia telah pingsan. Han Sian segera mengangkat ke dua gadis yang malang tersebut menjauh dari tempat itu. Tak lama kemudian, setelah di urut-urut, kedua gadis tersebut sadar. Tapi gadis yang telah di perkosa tadi sudah tidak sanggup berdiri lagi. Han Sian menatap mereka berdua kemudian bertanya kepada gadis yang satunya lagi. Nona...kalau bo... Yan-er, panggil saja aku Yan-er potong gadis itu. Hal ini membuat Han Sian terdiam sesaat. Baiklah, nona Yan, kalau boleh ku tau, apakah yang terjadi di sini...? Gadis itu menunduk dengan sedih. Sambil terisak dia menjawab lirih, In-kong, entah malapetaka apa yang menimpa kami. Sudah hampir se bulan ini semua bayi-bayi di bawah satu tahun hilang di culik orang dan kami tidak tau siapa yang melakukan hal ini... setelah dia berhenti sejenak apalagi gerombolan para perampok yang mengetahui keadaan kami ini uga memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan... Hemm...Apakah ada kecurigaan, siapa dalang semua ini? Mendengar pertanyaan ini, wajah gadis itu seketika berubah. Dia melirik kesana-kemari dengan ketakutan. Jangan khawatir nona, Aku akan menjamin keselamatanmu... Ba...baiklah in-kong, aku tidak takut, lagipula hidup kami kau yang selamatkan. Sejenak dia menarik nafas panjang, Dusun ini, juga beberapa dusun lainnya yang berdekatan berada di sekitar lembah Rawa Hijau. Dahulu tempat itu tidak berpenghuni, tapi sekarang sudah ada. Namun kami tidak tau apa hubungannya yang lebih jelas. ---lovelydear--Hari menjelang malam di pinggir sebuah rawa lumpur yang luas di dekat tembok besar. Suasana di pinggir rawa itu sepi-sepi saja. Namun bagi Han Sian, yang memang mempunyai maksud untuk datang ke tempat tersebut. Segera meningkatkan kewaspadaannya. Sekali mengenjotkan tubuhnya, dia mengerahkan Thian-In Hui-cu (Menunggang Awan Langit). Tubuhnya melayang di atas pepohonan mendekati bagian terdalam dari lembah Rawa Hijau. Tidak ada halangan. Tampaknya para penghuninya, kalaupun ada, sangat terlalu percaya diri. Dalam sekejab Han Sian sudah melihat sekumpulan orang yang sedang berkumpul di tengah lembah tersebut. Jumlah mereka ada 3 orang laki-laki tua. Anehnya, ketiga orang ini tampak berjungkir balik dengan kepala di bawah. Sementara tangan mereka memegang tengkorak-tengkorak kepala bayi. Saat mereka mulai mengerahkan tenaga yang berhawa panas, kepala-kepala bayi tersebut mengeluarkan asap dan perlahan-lahan mulai menyusut. Asap-asap tersebut tidak lari kemana-mana tapi masuk ke dalam mulut mereka. Sampai berapa lama mereka berlatih dan akhirnya ketiganya kembali berjumplitan ke udara dengan sebat. Dilain saat mereka telah saling menyerang dengan pukulan-pukulan dahsyat yang berhawa keji. Itulah Hui-Kut-Tok-Im-Ciang (Pukulan Racun Dingin Tulang Api). Sementara ketiga orang ini terus berlatih dengan hebat, tiba-tiba terdengar suara mendengus. Huh, ternyata kalian penyebab malapetaka bagi para penduduk di sekitar sini...?! Ketiga orang itu segera menghentikan serangan mereka, dan memandang penuh selidik Siapa kau...?

Heh, siapapun aku adanya kalian tidak perlu tahu. Aku hanya datang untuk menghentikan perbuatan-perbuatan kalian yang jahat dan membawa kepala kalian kepada para penduduk di sekitar yang telah kalian rugikan. Hoaahahahahah... ketiga orang itu tertawa, salah satunya yang tertua berkata: Kau bocah ingusan yang tidak tahu tingginya langit, berani mencari mati di sini...tahukah kau siapa kami?... Han Sian diam saja sambil terus menatap tajam ke arah mereka. Dengarlah orang muda, kami adalah Tee-Tok-Sam-Kwi, kami adalah salah satu dari 5 Iblis Bumi yang sakti. Orang yang termuda yang meneruskan penjelasan kakaknya dengan suara angkuh sambil berharap pemuda di depannya ini akan kedar dan ciut nyalinya. Tapi kembali dia kecelik. Yah, keistimewaan dari tiga orang ini memang terletak dari keberadaan mereka yang selalu bersama-sama. Meskipun demikian dalam urutan 5 Iblis mereka tetap di hitung satu dan menempati urutan ke empat dalam susunan para iblis tersebut. Namun untuk berharap Han Sian akan takut, maka masih jauh dari kata mungkin karena pada dasarnya Han Sian memang belum pernah mendengar nama mereka. Aku tidak tahu dengan nama Iblis kalian. Aku hanya ingin membawa kepala kalian saja. Eh, sombongnya anak ini...?! Berkata demikian, Orang ke dua di antar mereka segera menyerang Han Sian yang segera di elakkan pemuda itu dengan mengengoskan tubuh ke samping sambil memapaki pukulan lawan dengan kedua jari yang di luruskan. Dari tangannya keluar berkas pedang yang terbuat dari asap berwarna merah. Itulah salah satu jurus dari Bu-Tek Chit-KiamCiang, yaitu Ang-In-Kiam-cu (Jalur Pedang Awan Merah). Aiaaaaaa..... Orang kedua dari ketiga iblis tersebut menjerit dan segera melontarkan tubuhnya ke belakang. Tak di sangkanya ilmu lawan sedemikian dahsyat. Untung dia cepat menarik tangannya. Kalau tidak pastilah sudah menjadi korban hawa pukulan tajam yang sangat kuat tadi. Serang sama-sama Segera terdengar suara komando dari yang tertua. Maka mulailah mereka mengurung Han Sian dan menyerangnya dengan pukulan andalan mereka yaitu Hui-Kut-Tok-ImCiang. Malam yang dingin itu, terjadi pertempuran yang dahsyat. Tigapuluh jurus telah berlalu, namun sejauh itu belum juga ketiga Iblis itu dapat mendesak Han Sian. Bahkan justru pemuda itu yang terus mendesak mereka dengan jurus-jurus jari pedangnya yang aneh. Lewat lima jurus kemudian, tiba-tiba Han Sian merobah permainannya. Tangan kirinya tetap memainkan jurus Ang-In-Kiam-Cu sedangkan tangan kanannya bersilat dengan jurus ke dua yaitu Hoa-jian-Kiam-Cu (Jalur Pedang Seribu Bunga). Dari jarinya keluar hawa pedang tanpa ujud yang mengeluarkan bau harum bunga, tapi sangat dahsyat. Menghadapi serangan-serangan tersebut. Ketiga orang ini tak sanggup berbuat banyak. Hingga akhirnya merekapun jatuh terpukul. Han Sian tidak berhenti sampai di situ saja. Sekali dia menggerakkan Thian-In Hui-cu, tubuhnya tiba-tiba lenyap dari pandangan lawan, dan di lain saat terdengar jeritan orang pertama-dan ke dua yang meregang putus nyama mereka dengan kepala terpisah dari badan. Perlahan dia turun ke tanah sambil matanya memandang tajam ke arah orang ke tiga. Orang yang di tatapnya itu nampak pucat pasi, akhirnya tanpa dapat di cegah lagi dia terjatuh dengan lutut gemetar ketakutan tanpa dapat bersuara. Hemmn, aku beri kau kesempatan untuk menebus dosamu, bawa kepala ini dengan kedua tanganmu, dan akui semua perbuatan terkutuk kalian, kau hanya boleh mengerahkan tenaga agar tidak mati dari penganiayaan mereka...Ingat! bilamana aku melihat kau melawan...maka tanganku akan menjadi tangan iblis yang akan membuat matimu matimu lebih mengerikan dari kedua saudaramu, mengerti...? Iblis ke tiga itu hanya mengangguk saja dan melakukan apa yang di perintahkan Pemuda sakti di hadapannya ini. Akhirnya menjelang pagi, Orang ke tiga dari Tee-Tok-Sam-Kwi yang sangat terkenal sakti ini berjalan lesu menuju ke arah perkampungan dan mengakui perbuatannya dan saudarasaudaranya. Para penduduk desa yang menginterogasinya kemudian mendengar pengakuannya dan ceritanya bahwa dia serta kedua saudaranya di kalahkan oleh seorang yang bertangan Iblis. Para penduduk kemudian melampiaskan dendam mereka.

Dengan tenaganya yang sisa setengah, dia melindungi tubuh bagian dalamnya agar tidak mati. Tapi setiap kali dia mau melawan, matanya menangkap kilatan sinar mata yang mengancam dari jauh yang membuat hatinya keder dan takut untuk melawan. Sementara itu Han Sian nampak puas dengan dengan pekerjaannya. Sambil menikmati udara pagi. Dia merebahkan dirinya di bawah sebuah pohon yang rindang. Namun beberapa saat kemudian dia menangkap suara langkah-langkah kecil mendekat. Dia membuka matanya saat langkah-langkah kaki itu tiba di depannya. Tampak gadis cantik yang di tolongnya dari lima orang di pinggir sungai itu di hadapannya. Gadis itu paling banyak berusia 17 tahun, dan nampak segar. Walaupun hanya gadis biasa namun kecantikan alamiahnya memang cukup menawan dengan lekuk tubuh yang padat berisi. Maaf In-Kong, saya tahu bahwa budi pertolongan In-Kong yang membalaskan sakit hati desa kami sangat besar. Dan saya tahu bahwa orang yang sakti seperti In-Kong pasti juga tidak mengharapkan balasan apa-apa, tapi... Gadis itu terdiam sejenak dengan wajah ragu-ragu dan muka merah... Nona Yan, katakanlah, aku tidak akan marah... Be..benarkah In-Kong tidak akan marah...? tandasnya masih ragu-ragu. Iya, aku tidak akan marah. Sahut Han Sian lembut. Dia tidak habis pikir, mengapa gadis ini menjadi seperti ini. Mmm...kalau saya melakukan sesuatu, apakah In-Kong tetap tidak akan marah...? tanyanya lagi dan kali ini dengan wajah yang lebih memerah.. Han Sian jadi geli hatinya. Segera dia memejamkan matanya, menaruh tangan kirinya di belakang sementara tangan kanannya di angkat sejajar bahu dengan dua jari teracung keatas berbentuk V. Benar nona Yan, aku bersumpah bahwa aku sama sekali tidak akan......hmmmmpps.. Tiba-tiba Han Sian tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Matanya terbelalak. Betapa tidak? Bibir gadis itu sudah menempel dan menyumbat mulutnya. Sesaat dia terkejut, tapi naluri kelaki-lakiannya berbicara lain. Apalagi dia sudah tidak asing lagi dengan hal tersebut. Otomatis tubuhnya bereaksi memberikan sambutan terhadap tubuh gadis yang nampak pasrah itu. Tangan Han Sian bekerja dengan cepat sehingga dalam sekejap saja tidak satupun pakaian gadis itu yang masih menempel di badan. Maka terjadilah pergumulan yang hangat dari kedua insan yang menikmati nikmatnya permainan cinta. Apalagi tatkala Han Sian Mulai menggerak-gerakkan pinggangnya menekan sesuatu yang keras keluar-masuk dengan kuatnya yang di sambut dengan rintihan-rintihan serta erengan lirih dan nikmat dari Yan-Er, sampai akhirnya: "Aakkkhhhh....oohhhhh..." Gadis itu terkulai lemas, tak kuasa menahan lagi ketika pada puncaknya dia merasakan kenikmatan yang amat...amat sangat...ini terus di ulang oleh Han Sian dan berlangsung selama 2-3 kali. Waktu berlalu dengan cepat. Hari menjelang sore ketika Han Sian berdiri di pinggir sungai dengan berpakaian lengkap. Di belakangnya gadis itu baru saja habis membetulkan pakaiannya. In-Kong, sekarang apa rencanamu? Han Sian berbalik dan menghadap pada gadis itu sambil memandang dengan penuh selidik Nona Yan, apakah nona menyesal dengan semua yang telah terjadi? Akhh, tidak...bisa menyenangkan orang yang telah menjadi penolongku, justru sangat menyenangkan hatiku...hanya... sebelum berpisah, bolehkah aku mengetahui nama In-Kong? Menyelesaikan kalimatnya, Yan-Er mengangkat wajahnya dan memandang dengan tersipu. Han Sian membalas senyuman itu sambil mencubit dagu gadis itu. Dilain saat Tubuhnya sudah melayang menyeberangi sungai itu sampai ke seberang dan lenyap dengan cepat. Tuan...? Yan-er berteriak sambil menatap hampa bayangan pemuda itu. Tapi tiba-tiba terdengar suara yang menggema di telinganya. Namaku Han Sian, Tee-Tok-Sam-Kwi menyebutku Tangan iblis, maka biarlah mulai sekarang aku pakai nama itu... perlahan suara itu lenyap. Yan-er tertegun, dengan lirih mulutnya mengulangi nama yang baru saja sirna dari telinganya: Tangan Iblis...ya...ya...Pendekar Asmara Tangan Iblis.....Pendekar Asmara Tangan Iblis... Entah bagaimana caranya beberapa bulan kemudian, dunia kang-ouw telah mengenal nama julukan ini sebagai salah satu dari beberapa pendatang muda yang sakti di dunia kang-ouw.

Si Penakluk Dewa & Iblis Oleh : LovelyDear Episode 3

Beberapa bulan kemudian, seiring dengan melejitnya nama Pendekar Asmara Tangan Iblis yang sakti, nama yang lain juga mengikuti dengan tidak kalah tenarnya: Pangeran Pedang Iblis yang memiliki kedahsyatan ilmu pedang yang tidak ada tandingan. Kedua nama ini masih dalam bayangan misterius dari dunia persilatan. Tidak jelas berada di pihak mana mereka. Yang jelas, kaum kang-ouw sama tau bahwa kedua orang ini tidak se jalan dengan Jit-Goat Mo-ong yang mereka takuti. Han Sian berjalan memasuki kota Cheng-Du di propinsi Se-Chuan. Langkahnya santai, sambil menikmati pemandangan alam yang indah dia kemudian memasuki sebuah rumah makan yang cukup besar dan mengambil tempat duduk di bagian sudut kiri ruangan. Nampak hanya ada enam orang di situ, termasuk dirinya sendiri, tapi mereka tidak memperhatikannya. Dari sudut itu dia dapat melihat ke seluruh ruangan bahkan sampai ke-luar. Seorang pelayan, mendekatinya: Tuan mau makan apa? Hemm, berikan saja nasi, sayur asam dan 2 potong ayam goreng. Han Sian membalas tersenyum sambil tangannya menyerahkan potongan kecil uang perak. Baik tuan, silahkan menunggu... Kata pelayan tersebut kemudian berlalu dari situ. Tak lama kemudian pesanan di antar dan Han Sian makan dengan lahapnya Beberapa saat kemudian nampak bayangan 2 orang memasuki rumah makan itu. Tampaknya mereka adalah dua orang muda-mudi yang baru saja habis melakukan perjalanan jauh. Dari wajah mereka nampak kusut. Sang wanita berusia sekitar 17 tahun dan memiliki wajah yang amat cantik serta tubuh yang indah dan menggairahkan dengan baju warna merah muda yang nampak serasi sekali dengan kulitnya yang putih mulus. Sementara yang pria berusia 21 tahun dan juga tak kalah gagahnya. Han Sian mengamati sejenak kedua orang yang menyapu ruangan tersebut dengan pandangan mata menyelidik. Ketika sinar matanya berbenturan dengannya, tahulah dia bahwa kedua mudamudi ini bukanlah orang lemah, paling tidak mereka memiliki tenaga setara para pendekarpendekar tingkat satu. namun dia tidak melihat lebih lanjut. Kedua orang itu mengambil tempat tepat 2 meja di sampingnya dan kebetulan pula sang wanita duduk menghadap ke arahnya. Kembali dua mata mereka bertemu. Kali ini sinar kekaguman terpancar dari mata Han Sian, sementara wanita itu hanya tersipu sambil kemudian menundukkan mukanya. Setelah memesan makanan pada pelayan yang menyambut mereka, sang gadis berkata dengan suara merdu dan setengah berbisik: Kim-Toako, berapa lama lagikah perjalanan kita? Apakah mungkin kita menemukan susiok Ui-ILiong-Jin (kakek Naga Jubah Kuning) yang kita tidak tahu dimana keberadaannya? Lian-moi, kau tenanglah...jika mengandalkan informasi suhu sebelum beliau mengembuskan nafas terakhir, maka pasti kita akan menemukannya lagi di sekitar propensi Se-Chuan ini! Kita harus menemukannya Lian-moi, hanya dia yang dapat menyelamatkan Kim-Liong-Pay dari malapetaka dan cengkraman iblis itu Pemuda yang di panggil Kim-Toako itupun membalas dengan suara perlahan.

Namun semuanya itu tdk lepas dari telinga Han Sian yang tajam. Sebenarnya tidak ada maksudnya mendengarkan pembicaraan orang, tapi dasar telinganya yang terlalu tajam, dia tidak dapat berbuat apa-apa selain menguping semuanya. Hatinya tertarik sekali. Siapa yang di maksud Iblis tersebut? Tapi walaupun dia menunggu sampai penasaran, kedua orang tersebut hanya diam saja sampai habis makan. Tak lama kemudian selesailah kedua orang itu makan. Selang sejenak merekapun lalu berdiri dan melangkah menuju pintu keluar. Sampai di luar, mereka berjalan cepat mengarah ke pintu gerbang selatan. Setelah melawati penjagaan, kedua orang muda itu mengembangkan gin-kang mereka dan berlari cepat mengarah ke sebuah hutan yang jaraknya sekitar 10 li dari pinggir kota. Namun ketika mereka hampir tiba di pinggir hutan, lari mereka terhenti. Di hadapan mereka telah menghadang 5 orang laki-laki berusia sekitar 40-50an tahun. Berpakaian putih dan memakai ikat kepala berwarna putih dengan ukiran naga kuning. Di pinggang mereka tampak menggantung sebatang pedang panjang. Kalian sudah cukup jauh berjalan, karena itu kalian tidak akan kemana-mana lagi... Salah seorang yang tampaknya adalah pemimpin mereka menegur dengan suara datar. Junjungan menginginkan kalian pulang untuk menerima hukuman... Sejenak kedua orang muda ini tertegun sejenak, tapi mereka juga tidak kaget terhadap kehadiran 5 orang ini. Hanya yang membuat mereka tidak habis pikir ialah perkataan junjungan yang baru saja mereka dengarkan. Hok-Tancu, apa maksudmu...? Menegas suara pemuda bernama itu. Hem...Kim Tin Lee, kau tahu maksud kami, mulai sekarang Kim-Liong-Pay akan menjadi lebih kuat dengan adanya junjungan kita yang sakti itu...apakah kau mengerti? Orang yang di panggil Hoktancu membalas, tetap dengan suara datar. Bangsat...jadi inikah hasil kesetiaan kalian selama ini terhadap suhu yang sudah menolong dan mengangkat kalian dari kesengsaraan...Baik, hari ini aku, Kim Tin Lee akan adu jiwa untuk membasmi kalian... Berkata demikian, dengan wajah yang penuh amarah, dia mencabut pedangnya dan langsung menerjang ke arah Hok-tancu dengan dahsyat. Di lain saat dia telah memainkan Kim-Liong-Kiam-Sut. Hok-tancu melentingkan tubuh ke belakang sambil mencabut pedangnya, dan bersiap dalam posisi menunggu dalam kuda-kuda yang kokoh. Di lain saat mereka telah bergebrak dengan hebat. Ternyata keduanya memiliki dasar ilmu yang sama. Sementara itu sang gadis yang melihat rekannya sudah bergebrak, segera pula mencabut pedangnya dan menyerang penghadang yang lain tak kalah sebetnya. Setelah dua puluh jurus tampak Hok-Tancu mulai terdesak hebat. Ketiga rekan lain yang masih menonton dari tadi saling pandang dan di lain saat mereka telah bergerak membantu. Satu membantu Hok-Tancu sedang yang dua membantu mengerubut si gadis tersebut. Tampak bahwa memang mereka mau segera menangkap si gadis hidup-hidup. Hal ini bukannya tidak di sadari juga oleh Kim Tin Lee, hanya saja dia tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan dirinya. Apa lagi saat dia melihat si gadis yang beberapa kali mengeluarkan suara menjerit kecil ketika bajunya mulai robek sana-sini sehingga mengganggu perhatiannya sehingga permainan pedangnya menjadi kacau. Dengan nekat, akhirnya Kim Tin Lee memekik nyaring, tubuhnya melesat ke atas setinggi tiga tombak, pedangnya di gerakkan dengan 7 kali serangan beruntun yang mematikan di tubuh lawan. Serangan ini ganas, namun hakikatnya ia tidak memperdulikan nyawa lagi karena jurus ini menyerang tanpa bertahan. Inilah jurus Sin-liong-chit-kiam (Tujuh pedang naga sakti) yang ampuh. Hok-Tancu dan rekannya yang terkejut melihat ini, mereka tahu lawan mau adu jiwa. Akan tetapi mereka mengenal jurus itu dan tau kedahsyatannya maka segera mereka melompat jauh ke belakang sambil bersiap untuk membalas dengan jurus andalan. Namun mereka segera kehilangan lawannya karena waktu yang sempit itu tidak di sia-siakan oleh Tin Lee. Lian moi, kau larilah...jangan membantah...nanti kau balaskan sakit hati ini... Mati-matian Tin Lee mengempos segenap tenaga menyerang ketiga pengeroyok yang mengeroyok gadis itu. Wajah gadis itu pucat, dia memandang dengan penuh rasa terima kasih...namun dia juga sadar bahwa mereka tidak akan bertahan jika terus melawan.

Segera diapun memutar pedangnya. Setelah ada peluang sedikit, sambil menahan sakit akibat beberapa luka di tubuhnya, dia meloncat dan berlari masuk ke dalam hutan. Toako...hati-hati... Hok-Tancu marah melihat hal ini, segera dia bermaksud mengejar, tapi niatnya urung karena di hadapannya tahu-tahu berdezing empat peluru besi yang mengarah ke jalan darah mematikan di tubuh mereka berdua. Itulah peluru naga yang menjadi andalan Kim-liong-pay yang di sambitkan Tin Lee. Tangannya bergerak cepat memapaki peluru tersebut dengan pedangnya. TRAAANGG... TAAKK.. peluru-peluru itu runtuh ke tanah, tapi Hok-Tancu dan rekannya terkejut. Mereka merasakan suatu tenaga yang amat kuat yang membentur pedang mereka sehingga mematahkan pedang. Mereka tidak habis pikir, kalau berdsarkan tenaga yang di miliki Tin Lee, mustahil mematahkan pedang mereka. Sejenak dia menoleh ke kanan-kiri, namun tetap tidak menemukan apa-apa. Bekuk dia... perintah Hok-Tancu dengan marah walau masih dengan hati was-was. Ke empat orang itu segera mengeroyok Tin Lee, sedang Hok-Tancu berlari mengejar ke arah sang gadis ke dalam hutan. Sampi lama Hok-Tancu mengejar ke dalam hutan, tapi dia heran, kemana menghilangnya gadis itu. Sementara dia celingukan kesana-kemari, tiba-tiba di lihatnya bekas pukulan telapak tangan yang melesak masuk sedalam 3 inchi pada sebuah batu besar di sampingnya. Jelas sekali, tanda yang melakukannya adalah orang yang bertenaga dalam tinggi sekali. Sementara di samping cap tangan ini ada tulisan pendek Jangan ganggu gadis itu atau kalian mati!...Tangan Iblis Tak berapa lama kemudian ke empat rekannya sudah mengikutinya. Rupanya mereka telah berhasil membekuk Kim Tin Lee. Bagaimana...? Tanya mereka pada Hok-Tancu... Hok-tancu hanya memandangi mereka dengan tatapan penasaran sambil menunjuk cap tangan di batu tersebut yang di sambut dengan reaksi terkejut oleh rekan-rekannya. Namun mereka tidak berani gegabah. Sementara mereka termanggu tidak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba... JDAAAAAARRRRR..... Debu mengepul ke atas, dan batu yang terdapat cap tangan tersebut hancur berantakan. Di lain saat di hadapan mereka telah berdiri seorang laki-laki tinggi kurus berjubah merah yang menatap mereka dengan sinar mata yang tajam. Melihat orang ini, serentak kelima orang itu hendak menjatuhkan diri bertelut tapi segara terdengar suara dingin, menyeramkan, Dimana mereka...? Segera Hok-Tancu menunjuk ke kiri dan di lain saat laki-laki itu melesat lenyap dengan cepat. ---lovelydear--Apakah yang telah terjadi? Mudah di duga, bahwa gadis yang telah terluka itu bertemu dengan Han Sian. Sebenarnya sudah lama Han Sian menguntit mereka karena tertarik oleh pembicaraan mereka. Dia juga yang membantu gadis itu dengan sambitan dua pasir kecil yang mematahkan pedang Hok-Tancu dan rekannya. Han Sian menatap gadis tersebut dengan kagum. Gadis ini memang cantik jelita, tak kalah cantiknya dengan Cu In Lan yang ada dalam ingatannya. Nona, sebenarnya apakah yang terjadi?...mengapa engkau sampai bentrok dengan orang-orang Kim-Liong-Pay tersebut?... Gadis itu mengangkat wajahnya yang cantik sambil menatap pemuda di depannya ini. Dia belum sempat menanyakan siapa pemuda ini dan ada apa dia mau menolong. Saat dia sedang berlari cepat, tiba-tiba dia di kujutkan oleh suara perlahan di telinganya Nona perlahan..engkau tak perlu lari...aku sudah menghalangilangkah mereka... Segera dia membalikkan tubuh dan dia terkejut karena di hadapannya telah berdiri seorang pemuda berpakaian sederhana sambil tersenyum. Sebelum dia berbuat apa-apa, pemuda itu mendekati sebuah batu besar dan menekankan telapak tangannya yang melesak 2 inchi lebih. Tahulah dia bahwa pemuda ini berilmu tinggi. Dengan penuh keraguan dia hanya menatap saja. Han San mengerti, maaf, kau mungkin bertanya kenapa aku membantumu bukan? Gadis itu mengangguk perlahan., segera Han Sian melanjutkan, Sebenarnya, aku tertarik mendengar pembicaraan kalian saat kau menyebut nama Ui-I-Liong-jin, karena aku mengenal beliau dengan baik...

Mata Gadis itu berbinar. Mulai timbul rasa kepercayaannya pada pemuda ini, namun begitu hanya sinar matanya yang menunjukkan perasaan berterima kasih ini. baru saja dia hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba di lihatnya tangan pemuda itu di taruh di bibir dan memberi isyarat padanya untuk berdiam. Hehehee...ehh...., hebat kau anak muda, bisa mengetahui keberadaanku... Terdengar suara yang de sertai pengerahan tenaga dalam tinggi yang sempurna menggema memekakkan telinga. Dalam sekejab, muncullah seorang laki-laki tinggi kurus yang berjubah merah. Umurnya sekitar 50-an tahun. Wajahnya masih kelihatan gagah, namun yang aneh adalah mata kanannya yang cacat sehingga hanya kelihatan putihnya saja. Suaranya dingin dan kaku, Orang muda, kau berperkara dengan kami, apa kau pikir bisa kabur seenaknya saja dari tangan kami?... Dengan tenang Han Sian menatap orang itu. Maaf, lo-cianpwe, aku tak mengerti maksud anda, apa perbuatanku melindungi nona ini yang kau anggap berperkara dengan golongan kalian? Huh, gadis itu adalah buruan ketua kami...kau harus menyerahkan padaku untuk di bawa, kalau tidak... Hemnn, kalau tidak apa... balas Han Sian. Matanya sudah mulai bersinar tajam penuh kemarahan. Dia adalah jenis orang yang paling tidak suka di ancam, dan orang ini sepertinya belum sadar kalau jawabannya nanti akan menentukan akhir hidupnya. Kalau tidak, maka kau pasti mati... Baik, ku beri kesempatan kau menyerang tiga jurus, dan kalau kau tidak berhasil, kepalamu akan ku ratakan dengan jalan... Suara Han Sian mulai terdengar dingin, sinar matanya berkilat. Sombong...kau belum tahu siapa aku... berkata demikian orang itu berjalan perlahan ke depan sambil tangannya mendorong dada Han Sian. Tampaknya dia masih memandang enteng. Duukkk...Ehh..? Laki-laki itu terkejut bukan kepalang. Dorongannya adalah pukulan dengan pengerahan enam bagian bagian tenaganya, tapi pemuda itu tidak bergeming sedikitpun. Dua kali lagi...harap pergunakan sebaik-baiknya... Dia mendengus marah, dan sekejap kemudian tangannya sampai ke siku telah berubah kepucatpucatan dan berbau harum, itulah ilmu Pek-Siang-tok-ciang atau Pukulan Racun Wangi Putih. Rasakan kehebatan Tok-ciang Sin-mo... Sekali membentak, tubuhnya meluncur ke depan sambil memukul dengan hawa pukulan di sertai pengerahan tenaga delapan bagian. Namun Han Sian hanya diam saja. Rupanya dia tahu bahwa ini hanya pancingan saja. Dan benar, dilain saat tubuh Tok-ciang Sin-mo telah berada di belakangnya dengan memukul sekuatnya. Awass!!!......BHUUUKK Seruan khawatir dari gadis itu terdengar bersamaan dengan pukulan yang dahsyat mengenai punggung pemuda itu. Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan. Pemuda itu tetap terdiam tak bergeming, justru lawannya yang tergentak lima langkah ke belakang. Eh...orang muda siapakah kau? Tok-ciang sin-mo kaget sekali. Dia adalah tokoh besar yang sudah puluhan tahun malang-melintang di dunia kang-ouw hampir tanpa tandingan. Tapi kali ini delapan bagian tenaganya tidak dapat menggoyahkan seorang pemuda bau kencur di hadapannya. Diapun bukan orang bodoh. Tahu berhadapan dengan orang pandai, segera dia mengerahkan tenaga sepenuhnya dan memainkan ilmu tok-ciangnya. Melihat orang mulai serius, Han Sian segera mengerahkan tenaga Kui-Sian I-Sin-Kangnya sampai ke tahap awan yang membuat semua pukulan lawan seperti menembus tubuhnya tanpa penghalang. Tok-ciang sin-mo terkejut setengah mati. Pukulannya seperti tembus. Seolah-olah dia hanya memukul memukul bayangan. Lewat tiga jurus, dia melihat tangan pemuda itu bergerak aneh dan sangat cepat, tahu-tahu dia rasakan seluruh tenaganya amblas dan di lain saat di sudah jatuh terduduk di tanah tanpa tenaga sama sekali dengan kedua sambungan pundak dan sambungan kaki hancur. Pend...pendekar Asmara...Tangan Iblis....aakhh... keluhnya dengan suara tertahan dan nafas putus-putus. Sesaat kemudian tubuhnya mengejang kaku dengan nafas putus. Gadis yang dari tadi menyakskan pertarungan tersebut hanya termangu saja. Kejadian yang baru sja dia lihat sungguh sangt aneh. Dia tahu orang berpakaian merah itu adalah seorang yang sangat sakti, salah satu dari 2 tangan kanan iblis yang sedang menguasai perguruannya.

Nona...? apa kau baik-baik saja....? Han Sian bertanya perlahan, saat melihat gadis itu hanya termenung. Gadis itu tersentak dari lamunannya. Sejenak dia menatap Han Sian dengan tajam. Sesaat kemudian dia tersenyum dan berdiri. Benarkah yang di katakan Iblis itu tentang mu? Bahwa...bahwa kau adalah...adalah... Suaranya agak ragu. ...Pendekar itu?... Han Sian menatap gadis itu sejenak kemudian membalas: Akhh...itu hanyalah suatu nama pemberian orang...Ee...eehh?! Han Sian terkejut dan tidak melanjutkan kata-katanya karena gadis itu tiba-tiba saja menjatuhkan diri di hadapannya dengan wajah yang terlihat sedih. Eh.. nona ada apakah? Aku Sim Hong Lian, murid ke tiga dari suhu It-Gan Kim-Liong (Naga Emas Bermata Satu) yang menjadi ketua Kim-liong-Pay. Dia terdiam sejenak sambil menarik nafas panjang kemudian melanjutkan dengan perlahan....Kim-Liong-Pay kami hidup damai dan selalu tertutup dari dunia luar. Tapi satu bulan terakhir ini telah muncul seorang Iblis yang sangat sakti yang mengambil alih Kim-Liong-Pay. Bahkan suhupun tak kuat menandinginya dan di kalahkan hanya dalam lima jurus saja. Orang yang baru mati ini adalah salah satu dari tangan kanannya yang sangat sakti... Han Sian tertarik Siapakah Iblis yang kau maksudkan itu?... Di Kami tidak tahu namanya, dia datang bersama dengan seorang wanita cantik Saat itu mulai menjelang sore, Han Sian menawarkan untuk mengantarkan Hong Lian menemui Ui-I Liong-Jin yang kemudian di sambut baik oleh sang gadis. Berapa jauhkah waktu yang di butuhkan untuk tiba di tempat Ui-Liong susiokku itu? Kalau kita berangkat sekarang dengan kuda, akan tiba menjelang pagi... Sahut Han Sian menjelaskan dengan tenang. Ahk...adakah cara yang lebih cepat?... Mungkin bisa kurang dari tiga jam...tapi...? Han Sian agak ragu mukanya memerah karena jengah. Kalau begitu, kita tempuh saja cara itu, dan sekali lagi aku mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu... Hong Lian berdiri sambil tersenyum senang. Kembali hendak di lanjutkan perkataannya tapi matanya kemudian di kernyitkan saat melihat pemuda itu diam saja dengan muka merah. Eh, kau mengapakah?... Ahh, tidak ...hanya...hanya saja kalau mau mempercepat waktu, artinya aku harus menggendongmu? Han Sian risih, namun tetap di tatapnya gadis cantik di depannya ini dengan tatapan ragu-ragu sambil menunggu reaksi si gadis. Sesaat kemudian gadis itu menunduk malu, tapi suaranya keluar perlahan, hampir tidak terdengar. Hemm...kalau memang hanya itu, terserah, aku...aku menurut saja, tapi bagaimana dengan suhengku? Apa kau juga melihatnya? Hong Lian menjawab terbata-bata sambil mengalihkan topik pembicaraannya pada hal yang lain. Namun sesungguhnya hatinyapun bergetar tidak karuan. Ya, aku melihatnya, dia memang terluka namun masih dapat bertahan...biar ku tengok dia sebentar, kau tunggulah... Belum habis gema suaranya, tiba-tiba orangnya sudah lenyap dalam sekejap. Hong Lian terkejut dan melongok ke kanan-kiri untuk mencari bayangan pemuda itu. Tak lama kemudian, dalam dua kali tarikan nafas saja, tubuh yang tadinya lenyap sudah muncul seperti asap saja di depannya. Sudah ku cari dalam radius 200 kaki tapi tidak ada. Ku pikir dia akan baik-baik saja karena ada orang pandai yang menolongnya. Aku hanya menemukan kelima mayat pengeroyoknya mati dengan tubuh terkena pukulan bertenaga dalam tinggi. Han Sian memberitahukan hasil penelitiannya dalam dua kali tarikan nafas tersebut. Hong Lian hanya menatapnya dengan tatapan setengah tak percaya, tapi juga setengah kagum. Baiklah, semoga dia tidak apa-apa, kalau begitu marilah kita pergi menemui susiokku dulu. Meski mulutnya berkata demikian namun toh hatinya gundah juga memikirkan keadaan suhengnya itu. Namun segera di kuatkan hatinya.

Baiklah, kalau itu kemauanmu nona, marilah... Berkata demikian, tangan Han Sian terulur merangkul pinggang gadis itu dan di lain saat tubuhnya berkelebat cepat bagaikan hembusan angin dengan ilmu Thian-In Hui-cunya atau Terbang Menunggang Awan Langit. *** Liong-kok-san, adalah sebuah tempat yang indah dengan pemandangan alamnya. Tidak ada lain yang membuat tempat ini unik selain bentuknya yang memanjang seperti naga yang sedang tidur. Puncaknya yang tinggi selalu di tutupi oleh kabut, meskipun di siang hari sehingga menjadikan tempat tersebut menjadi istimewa. Seorang kakek tua berambut putih panjang di biarkan riap-riapan nampak sedang duduk bersila di atas sebuah batu. Wajahnya masih tampak gagah walaupun usianya sudah mendekati 80-an. Sinar matanya mencorong tajam menandakan tenaga dalamnya sudah amat tinggi. Di tangan kakek itu memegang sebuah pedang pendek tipis yang gagangnya terbuat dari emas berbentuk kepala naga. Kakek ini bukan lain adalah Ui-I Liong-Jin, penghuni puncak naga ini. Selama bertahun-tahun memang hanya ada satu atau dua orang yang mengetahui tempat persembunyian manusia sakti ini. Bahkan sutenya sendiri It-Gan Kim-Liong, tidak tahu kalau selama ini, sudah 5 tahun, dia menetap di Liong-kok-san tersebut. Itu lah yang menyebabkan sampai sebegitu jauh mencari, tetap Sim Hong Lian dan suhengnya tidak dapat menemukan kakek tersebut. Kakek itu menggerak-gerakkan tangannya dengan gerakan lambat saja, tapi anehnya ujung pedangnya terlihat berkelebat amat cepatnya tanpa suara, tanpa meninggalkan bayangan dan menusuk, membabat ke segala arah. Kadang-kadang tenaganya seperti mengurung dan membetot lawan dari segala penjuru, tapi kadang juga berubah dari ujung pedang keluar tenaga yang mendesak untuk memecah tenaga lawan ke segala penjuru. Inilah ilmu pedang ciptaannya yang di beri nama Thian-Liong Cap-sha-yang-kiam-sut (Ilmu Pedang Tiga belas Titisan Naga Langit) yang dahsyat. Ilmu ini adalah hasil keyakinannya selama bertahun-tahun merantau di sekitar pegunungan Himalaya dan Thai-san. Saat kakek ini mulai memasuki puncak pengerahan ilmunya, tiba-tiba terdengar suara perlahan berbisik kuat di telinganya. Ah, Ui-locianpwe, belum pernah ku lihat ilmu ini...biarlah ku mencobanya... Kakek itu terkejut karena belum habis gema suara hilang dari telingannya, bagaikan asap saja, di depannya telah muncul seorang pemuda tampan yang masih muda yang mulai membalas menyerangnya dengan sentilan-sentilan sepuluh tenaga jari pedang yang halus, tajam dan amat kuatnya. Dia kenal siapa pemuda tersebut mereka bertemu karena sedah beberapa kali pemuda itu datang berkunjung. Dia tau pemuda ini memiliki Ilmu sakti tapi mereka memang belum pernah bergebrak satu-dua jurus sebelumnya. Kini menyaksikan pemuda itu dapat seenaknya menerobos ke dalam lingkaran hawa pedangnya yang dahsyat tanpa terluka, bahkan dari serangan yang di lancarkannya dia tahu tenaga pemuda itu tidak berada di bawahnya, kakek tersebut jadi bersemangat. Dia segera memutar pedangnya tanpa ragu lagi. Hahaha...Sian-sicu, tiada nyana kau punya ilmu sehebat ini? Mari-mari layani lohu bermain-main sebentar... Akhh...segala jurus tusuk jarum begini mana boleh di banggakan, mohon kemurahan Ui-locianpwe untuk tidak menurunkan tangan keras... han Sian membalas kalem sambil tangannya memainkan Bu-Tek Chit-Kiam-ciang. Hawa pedang dari ke sepuluh jarinya bergantian menyerang tak kalah hebatnya mendesak permainan pedang lawan, sementara pengerahan tenaganya menciptakan medan tenaga yang membungkus mereka berdua sehingga tidak ada hawa pedang yang nyasar. Hebat sekali akibat yang di hasilkan oleh pertarungan ke dua tokoh kosen ini. Sekilas nampak mereka seperti sedang bertarung dalam sebuah balon kasat mata. Hawa pukulan mereka yang tajam membentuk lingkaran yang hanya memantul di sekeliling mereka tanpa menyebar ke luar arena. Keadaan ini sangat berbahaya karena keduanya tidak hanya harus menjaga ancaman serangan dari depan, tapi juga pantulan tenaga dalam yang di pantulkan oleh dinding kasat mata di sekeliling mereka. Lewat limapuluh jurus, keadaan yang tadinya sama kuat, mulai berubah. Ui-I Liong-Jin mulai berkeringat. Perlahan tapi pasti, mulai terlihat siapa yang lebih unggul. Han Sian sendiri tidak

terlalu kesulitan. Sejauh ini dia baru mengerahkan 70 persen tenaganya dan memainkan Bu-Tek Chit-Kiam-ciang sampai empat jurus berturut-turut, yaitu jurus-jurus: Ang-In-Kiam-Cu (Jalur Pedang Awan Merah), Hoa-jian-Kiam-Cu (Jalur Pedang Seribu Bunga), Sui-ciam-kiam-cu (jalur Pedang Jarum Air) dan Hong-Lui-Kiam-cu (jalur Pedang Angin Petir) namun akhirnya kakek di depannya ini hampir tidak kuat menahannya. Segera dia mengendurkan serangan dan menarik perlahan medan tenaga yang menahan hawa pedang mereka sehingga tidak menyebar. Kemudian sambil membentak keras, dia melompat mundur sambil menjura. Ui-locianpwe, maafkan kekurang ajaran siauetee... Kakek itu mengatur peredaran darahnya sehingga tenang kembali. Hatinya terkejut bukan main. Tadinya dia sangat membanggakan kehebatan ilmunya karena selama ini belum pernah menemukan tandingannya. Bahkan dengan pengalamannya selama ini, membuat dia bisa berandeng bersama dalam kelompok enam Su-Sian-Cu (Empat Dewa) yang sangat sakti, dan meski lima iblis dan empat partai sesatpun tidak akan dapat berbuat banyak terhadapnya. Tapi anak muda di depannya ini membuka lebar-lebar matanya. Ternyata di atas langit-masih ada langit. Han Sian tahu kegundahan hati orang, segera dia coba menghibur. Ui-locianpwe, sesungguhnya semua ilmu-ilmu dahsyat yang siauwte pelajari ini semua adalah peninggalan dari para manusia dewa yang telah hilang 500 tahun yang lalu... han Sian lalu menyebutkan tiga nama tokoh yang membuat Ui-Liong Sian-Jin terkejut setengah mati. Karena nama-nama seperti Dewa Tidur, Dewi Seribu Pedang dan Dewa Penyangga langit adalah tokohtokoh legenda yang ada bagaikan dongeng sejak dia kecil. Wah...wah...wah...pantas saja kalau begitu. Sesungguhnya kau sangat beruntung Sian-sicu karena semuda ini sudah mewarisi ilmu-ilmu yang dahsyat seperti itu. Wah bakal rame dunia persilatan nanti kalau ada orang-orang muda seperti engkau Setelah berkata demikian, kakek itu mengalihkan pandangannya dengan penuh selidik ke arah gadis yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka berdua. Ahh, Ui-Locianpwe, nona itu adalah murid keponakanmu, dia murid dari mendiang locianpwe ItGan Kim-Liong... Mendiang...??? Kakek itu terkejut. Tak kuasa Hong Lian menahan air matanya dan sesaat kemudian dia sudah menjatuhkan diri di hadapan susioknya itu sambil sesegukan sedih. Perlahan Ui-I Liong-Jin mengangkat bahu gadis itu. Ceritakanlah semua yang kau ketahui. Hong Lian menenangkan dirinya dan kembali secara singkat dan jelas, dia menceritakan semua yang terjadi kepada susioknya itu. Tentang pengambil alihan manusia iblis yang sangat sakti, dan semua kisah perjalanannya sampai dia bertemu dengan Han Sian yang menyelamatkannya. Hemmn...tahukah kau siapa Iblis tersebut? Tidak tahu Gadis itu menggelang kepala. Kami hanya tahu bahwa dia mahir menggunakan pedang.. Setelah mendengar semua cerita itu, sang kakek terdiam. Agak lama akhirnya dia menarik nafas panjang. Sebenarnya sudah sepuluh tahun ini meninggalkan segala urusan-urusan dunia seperti ini... matanya menerawang jauh ke depan. Han Sian melihat kegundahan hati si orang tua. Dia lalu berkata perlahan dengan ilmu mengirimkan suara jarak jauh. Ui-locianpwe, jika kau dapat melatih dan mewariskan ilmumu pada nona ini, masakan dia mudah di permainkan lagi.... Kakek itu mengangguk-angguk kemudian menatap Hong Lian. Aku sudah berjanji untuk tidak turun gunung. Soal masalah Kim-Liong-Pay, rasanya bila Sian-sicu sudah menyanggupi, pasti tidak akan ada halangan lagi. Bagaimana Sian-sicu? Apakah ide ini kurang bijaksana? Han Sian hanya tersenyum. Kakek itu kembali melanjutkan dengan suara tegas. Sedangkan kau, kau hanya boleh tinggal selama satu tahun di tempat ini untuk mewarisi ilmu-ilmuku, apa kau sanggup? Tanpa terasa berlinang air mata si gadis. Terserah susiok saja, Hong Lian hnya menurut saja.

Demikianlah sejak saat itu Hong Lian tinggal di Liong-kok-sian mulai mempelajari ilmu-ilmu kakek gurunya dengan tekun. Ui-I Liong-jin juga tidak tanggung-tanggung menurunkan ilmunya, bahkan juga membantu dengan penyaluran tenaga dalam ke tubuh gadis itu. Sementara Han Sian hanya satu minggu saja tinggal di Liong-kok-san. Selama itu hubungannya dengan Hong-Lian makin akrab dan manis. Dia juga membantu gadis itu dengan membuka semua peredaran darahnya dengan penyaluran tenaga Inti Petir murni seperti yang dia lakukan pada Cu In Lan dulu. Dan ini sangat berguna bagi Hong-Lian kelak. Setelah genap satu minggu, akhirnya dengan berat hati, Hong-Lian melepas kepergian Han Sian. Sian-Koko...hati-hatilah... Nampak matanya setengah mengambang dengan air mata. Sesungguhnya hatinya sudah terpaut pada pemuda ini. Cuma tetap masih sukar baginya untuk mengungkapkan secara berterang karena selama ini Han Sian juga tidak pernah mengatakan perasaan hatinya. Hanya saja sikap pemuda itu padanya sangat baik dan juga mesra. Han Sian juga bukanlah orang bodoh. Dia tahu gadis ini sangat perhatian padanya. Entah kenapa, diapun merasakan bahwa perasaan yang dia miliki kepada gadis ini sama hangatnya seperti yang dia miliki pada Cu In Lan, gadis yang dia tidak tahu di mana sekarang. Di bawah cahaya rembulan malam itu, dia melihat wajah gadis itu sangat cantik sekali dengan kulit putih mulus dan tubuh langsing dan padat menggairahkan. Perlahan, namun pasti, tangannya terulur pada pinggang sang gadis dan di lain saat tubuh mereka saling mendekap erat dengan bibir berciuman mesra. Sementara bibir mereka saling memagut hangat, tangan Han Sian meremastubuh gadis itu di bagian pinggul, pinggang sampai ke buah dada yang padat kencang itu. Reaksi Hong Lian juga tak kalau serunya. Di samping merangkul dengan pasrah, dari mulutnya tak henti mengeluarkan erengan manja. Namun situasi seperti itu tidak berlangsung lama. Han Sian segera menyadari keadaannya. Sontak dia melepaskan rangkulannya dan melompat mundur. Dia melihat keadaan gadis itu dengan pakaian yang nyaris terbuka. Hatinya menyesal sekali. Ehh, kau...kau kenapakah Sian-koko?... Akhhh...Lian-moi, maafkan aku...aku tak bermaksud untuk tidak menghormatimu... Gadis itu memandang dengan mata penuh selidik. Aihhh, Sian-koko, engkau tidak sedang mempermainkanku bukan...? Tidak-tidak, sungguh, aku sangat menyesal melakukan ini padamu...karena aku menghormatimu dan...dan...juga menyukaimu Han Sian tergagap menjawabnya. Tatapan gadis itu menjadi lembut kembali. Perlahan dia merapikan bajunya sambil berguman kepada diri sendiri. Ahh, aneh...seorang Pendekar Asmara yang alim... Hemnn...kau benar Lian-moi, aku memang Pendekar Asmara yang alim pada gadis manis sepertimu... selesai berkata demikian tubuhnya kembali mendekat dengan cepat dan di lain saat sudah mengecup bibir gadis itu sambil kemudian berkelebat pergi. Sampai jumpa lagi Lian-Moi... Hong Lian masih berdiri kaku, seperti tidak sadar. Perlahan kemudian dia sadar dari lamunannya tatkala terdengar suara susioknya memanggil. --Han Sian berkelebat cepat. Dia telah mendapat informasi yang jelas dari Hong Lian tentang KimLiong-Pay dan sekarang dia sedang menuju ke tempat itu. Setelah menempuh perjalanan selama dua hari, akhirnya dia mendekati sebuah telaga yang menjadi markas partai tersebut. Keadaan telaga itu sangat unik. Di tengah-tengahnya di kelilingi hutan yang sangat lebat sehingga tidak mudah untuk menyelidiki tempat itu. Airnya yang berwarna kuning pekat membuat telaga itu di sebut Telaga Naga Kuning. Tidak ada jalan lain untuk ke tempat itu selain menggunakan perahu. Dan tentu saja semua yang menggunakan perahu akan sangat mudah terdeteksi oleh para penjaga di seberang telaga tersebut. Han Sian menunggu cuaca mulai menjelang malam sehingga tidak mudah terdeteksi. Dia tahu bahwa tempat seperti ini pasti banyak penjaganya. Segera ia mengerahkan Thian-in Hui-cunya. Tubuhnya melesat ke udara dengan kecepatan yang sulit di ikuti mata biasa. Setelah di udara, tangannya di pukulkan ke udara sehingga membentuk awan tebal sebesar tubuh orang dewasa. Saat kakinya hinggap di awan dan menutuk, kembali tubuhnya melesat cepat dan mendarat manis di atas sebuah pohon tinggi di seberang telaga itu.

Ada banya penjaga yang menjaga, tapi satupun tak ada yang melihat kedatangannya. Bahkan menyadarinyapun tidak. Tempat itu sangat luas. Han Sian berkelebat sangat cepat sehingga para penjaga hanya mengira itu burung walet yang sedang terbang. Setelah sekian lama, akhirnya tibalah Han Sian di bagian belakang dari markas Kim-Liong-Pay tersebut. Tempat itu agaknya hanya di jaga oleh satu dua orang saja dan mirip sebuah taman yang indah.yang di hiasi dengan lampion-lampion berbentuk naga. Dari atas sebuah pohon, mata Han Sian yang tajam melihat bayangan seorang wanita yang bertubuh indah sedang duduk sendiri di pinggi sebuah kolam ikan. Wajahnya belum terlalu jelas karena gadis tersebut sedang menunduk. Namun ketika dia memperhatikan terus, dia sangat terkejut, Di pinggang gadis itu mengenakan ikat pinggang putih yang di ujungnya di gantungi sebuah stempel kecil yang berukiran Sian. Dia sangat kenal dengan stempel dan juga ikan pinggang putih tersebut, karena kedua benda itu adalah hadiahnya pada seseorang dua tahun yang lalu. Setelah memandang kekanan-kekiri untuk memastikan situasi. Tangannya bergerak ke arah tiga orang penjaga yang dia lihat sedang bersembunyi. Dilain saat mereka semua kaku tanpa mengeluarkan suara. Tubuhnya kemudian berkelebat di belakang gadis itu. Lan-moiii...??? Gadis itu tersentak dan membalikkan wajahnya sambil menatap orang yang bersuara memanggil namanya. Matanya yang indah terbaliak kaget hampir-hampir tak percaya. Ya, wajah ini adalah wajah yang dirindukannya siang dan malam. Wajah yang tak pernah hilang dari ingatannya, yang memacu semangatnya untuk berlatih siang malam tanpa henti. Si..sian ko-ko, kau...kaukah itu? tanyanya dengan suara tergagap. Dengan tersenyum Han Sian mengangguk. Akh, ternyata gadis ini tidak melupakannya. Benar Lan-moi...ini aku, Han Sian...Bagaimanakah kabarmu akhir-akhir ini? perlahan dia melangkah maju mendekati gadis itu. In Lan juga melangkah maju perlahan, tapi tiba-tiba keningnya di kernyitkan. Dia seperti teringat sesuatu dan itu membuat wajahnya berubah pucat ketakutan.. Sian-koko, mau apakah kau kemari, tempat ini sangat berbahaya...? serunya perlahan sambil kepalanya melengok kekanan-kekiri dengan waspada. Han Sian melihat kekhawatiran sang gadis, maka dia tersenyum dan berkata meyakinkan: Lanmoi...kau sudah mengetahui siapa aku...mengapakah kau masih khawatir, jika ada bahaya, maka aku akan melindungimu... Gadis itu melengak, akh..benar...mengapa dia hampir lupa. Pemuda di depannya ini memiliki ilmu yang amat tinggi. Mengingat hal ini hatinya jadi sedikit tenang. Lan-moi, aku sedang menyelidiki tentang seorang manusia iblis yang mengganggu ketenangan, tak sangka bertemu denganmu di tempat ini, baik-baikkah kau?... Han Sian bertanya sambil memandang gadis itu dengan penuh selidik. Sian-koko, aku...aku sebenarnya malu meminta pertolonganmu, tapi bawalah aku pergi dari sini sekarang juga..nanti aku akan menjelaskannya padamu jika kita sudah jauh dari tempat ini...bolehkah? Suara gadis itu setengah memohon. Mendengar permohonan gadis itu, Han Sian jadi curiga dengan keadaan di sekelilingnya. Apalagi ketika dia merasakan suasana di sekelilingnya berubah kelam dengan cepat. Tempat itu seakanakan di kelilingi hawa magis yang amat kuat dan menyesakkan pergerakkannya. Dilihatnya Cu In Lan masih terus menatapnya dengan tatapan penuh permohonan. Tampaknya dia tidak terpengaruh oleh perubahan situasi itu. Tak ayal lagi, segera dia kerahkan tenaga murninya yang di lambari dengan Pat -Sian-Sin-Hoat-sut untuk menandingi ilmu hitam yang menyerangnya. Segera keadaan kembali normal seperti sedia kala. Dia membalikkan tubuhnya mengarah ke arah samping kiri telaga. Sobat, keluarlah...kau tak perlu bersembunyi.. Hahahahahahaha...selamat bertemu lagi sobat lama Terdengar suara yang menggelegar di telinganya. Suara itu tak asing dan sesaat setelah sesosok tubuh hadir di hadapannya. Segera dia mengenalinya dan itu membuatnya terkejut...

Tee Sun Lai?... Han Sian terkejut karena pemuda di depannya ini adalah pemuda yang paling di carinya. Teringatlah ia akan malam kejadian yang merenggut nyawa Hui Si. Segera matanya memancarkan cahaya berkilat dan tangan mengepal. Ya, sobat lama...kita bertemu lagi, tapi kali ini aku tidak akan kecundang seperti dulu lagi... Tee Sun Lai yang melihat keadaan Han Sian, segera bersiap dalam keadaan siaga penuh. Dia tahu lawan di depannya ini memiliki ilmu yang amat tinggi. Tapi dia juga tidak ragu dengan ilmu Teemo-kiam sut yang sudah di latih selama hampir dua tahun ini. Bahkan banyak ilmu-ilmu lain lagi yang dia pelajari dari para tokoh-tokoh iblis yang dia lebur menjadi satu yang dia namakan Hiatkut-jiauw Sam-ciang-Kang (Tiga pukulan Cakar Tulang Darah). Hawa pembunuh kental menyebar dengan cepat di seliling tempat itu. Lan-moi, bisakah kau meninggalkan tempat ini... Suara Han Sian lembut, tapi matanya tak berkedip menatap lawan di depannya. Hahaha...dia tidak akan pergi dari sini sebelum dia menjadi istriku. Racun Perawan Iblis yang mengunci tenaganya tidak akan dapat di pulihkan tanpa obat dariku... sebaiknya kau urungkan niatmu... Mata Han Sian mencorong tajam. Kata-kata Tee Sun Lai di depannya ini telah menjawab semua tanda tanya di pikirannya sejak tadi. Sekejab dia merasa kasihan pada gadis itu, dan matanya melirik sekejab ke arah Cu In Lan. Namun walau hanya sekejab saja, nampaknya kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Tee Sun Lai. Tubuh dan pedangnya berkelebat amat cepatnya dengan salah satu jurus yang paling berbahaya dari Tee-mo-kiam-sut, yaitu jurus seribu biang iblis membelah sang budha di ikuti tangan kirinya bergerak ke arah kepala dan leher dengan salah satu jurus Hiat-kut-jiauw Sam-kang yang dahsyat dan keji. Aakhh...awas... Cu In Lan yang melihat itu tiba-tiba memekik memperingatkan... Sebenarnya tanpa di peringatkanpun Han Sian yang sudah menduga sejak tadi akan serangan musuh juga sudah bersiap diri. Saat tubuhnya merasakan ancaman tenaga yang mengalir tajam dari serangan musuh, tubuhnya sudah mengerahkan Kui-sian I-sin-kang sampai tahap petir. Tubuhnya seperti terpecah dan nampak seperti kilatan cahaya petir, yang bukannya menghindar serangan lawan tapi justru mengarah dan memapaki semua serangan musuh dengan keras dan dahsyat. DHUAAAAARRR...!!! BLANGGG...!!! Terdengar suara benturan berulang-ulang yang memekakkan telinga hanya dalam waktu sepersekian detik saja. Aiiiihhhh...... Terdengar suara memekik lirih dan suara tubuh jatuh ke tanah. Ternyata, beradunya kekuatan yang maha dahsyat antara keduanya, walaupun tidak secara langsung di tujukan ke arah In Lan, namun karena tidak di sokong oleh tenaga dalam, maka itu mempengaruhi kesadaran gadis itu yang langsung pingsan. Lan-moi... Sleepp... Tubuh Han Sian melasat cepat keluar dari pertarungan ke arah In Lan dan memayangnya dengan tangan kiri. Sementara itu, di saat yang sama, bayangan Tee Sun Lai terus mengejarnya dengan gencar sambil mengerahkan dua jurus serangan yang ganas sekaligus yang mengarah ke kepala dan sekitar pinggang. Serangan ini mendatangkan suara mendesing nyaring di sertai hawa pedang yang amat tajam. Suatu serangan yang amat dahsyat, yang hakekatnya sangat mustahil di tangkis lawan. Walau tangan kirinya memanggul tubuh In Lan, namun Han Sian tidak kalah sebat. Tangannya kanannya memutar setengah lingkaran dari atas ke bawah di samping tubuhnya lalu di pukulkan ke arah datangnya serangan lawan namun bukan menyambut kedua serangan lawan, tapi justru melontarkan lima larik sinar tajam yang mematikan dari kelima jari tangannya yang menyerang lima jalan darah Tee Sun Lai, inilah salah satu jurus yang amat dahsyat dari Bu-tek Chit-kiamciang yang bernama Ngo-heng Thian-kiam-cu (Jalur Pedang Langit Lima Unsur) yang keluar dari kelima jari tangannya, tampak walaupun dia bergerak belakangan namun tenaga pukulan kelima jarinya terasa lebih dahulu oleh lawan. Iiiikhh... Tee Sun Lai terkejut setengah mati dan cepat menarik pulang serangannya sambil meloncat mundur ke belakang. Tampak nafasnya sedikit terengah. Memang benar serangannya sangat susah di tangkis lawan, namun andai sesaat saja dia tidak menarik pulang pedangnya,

maka diapun akan termakan oleh lima larik sinar pedang yang tak kalah kuatnya dari tenaga pedangnya sendiri. Sementara di lain sisi dia belum dapat menggunakan tangan kirinya yang sudah sejak bentrokan sebelumnya terasa kaku dan susah di gerakkan. Han Sian berdiri sambil memapah Cu In Lan. Matanya menatap tajam ke arah Tee Sun Lai. Masihkah kau mau melanjutkan pertarungan ini? Berkata demkian, dia segera mengerahkan lagi tenaganya. Kali ini dia tidak mau ambil resiko, maka segera di kerahkannya Hui-Im-Hong-SinKang ke seluruh tubuh. Dalam sekejab tubuhnya memancarkan sinar keemasan yang di lapisi hawa panas dan dingin yang dahsyat, siap menunggu gempuran musuh selanjutnya. Tee Sun Lai mengawasi dengan tatapan licik. Dari bentrokan yang telah terjadi, dia dapati ternyata bahwa dia tidak unggulan dari musuh bebuyutannya itu. Biar bagaimanapun dia bukan orang bodoh yang tidak dapat melihat dan membaca keadaan. Dari tadi dia telah mengerahkan 90% tenaganya, tapi itupun ternyata tidak banyak mempengaruhi lawannya ini. Apalagi keadaaan tangan kirinya yang terluka pada benturan pertama tadi masih belum pulih. Setelah menimbang sesaat, segera dia berkata dengan angkuh, Huh, pergilah sebelum aku berubah pikiran, tapi kalau kau berkeras memaksa membawanya, kau akan menanggung resiko kehilangan nyawanya... Han Sian terdiam sejenak. Dia juga mengerti bahwa orang seperti Tee Sun Lai ini tidak hanya menggertak saja, dan dia sangat khawatir dengan keadaan Cu In Lan, tapi kalaupun dia memaksa, tetap tidak akan mudah baginya untuk merebut obat penawarnya. Akhirnya dia menarik nafas panjang dan mengenjotkan tubuhnya melesat pergi dari tempat tersebut sambil membawa Cu In Lan tanpa berkata apa-apa. Han Sian melesat menggunakan seluruh ilmu meringankan tubuhnya. Tubuhnya tidak terlihat lagi, hanya nampak seperti angin yang berhembus tanpa terlihat orangnya. Tujuannya hanya satu, Puncak tebing langit yang jaraknya kurang lebih lima hari perjalanan jauhnya dengan kuda pilihan. Tapi bagi Han Sian, jarak tersebut hanya membutuhkan waktu dua hari saja. Dia sudah mencoba untuk menyembuhkan gadis itu dengan pengerahan tenaga dalamnyanya, tapi dia dapati bahwa usahanya itu, kalaupun harus di lanjutkan, akan memakan habis hampir seluruh tenaga sin-kangnya. Dan itu terlalu beresiko baginya bila musuh-musuhnya mendekat. Jadi satu-satunya tempat teraman ialah kembali ke Tebing Langit. Setelah berlari selama dua hari tanpa berhenti, Han Sian tiba kembali di kaki Tebing Langit yang tertutup awan dari bawah. Hatinya terharu, saat mengingat ketika pertama kalinya dia meninggalkan tempat itu dua tahun yang lalu. Teringat dia pada paman Hounya yang bongkok yang selama ini membesarkannya. Tanpa ragu kakinya di enjotkan dengan ilmu Thian-in Hui-cu dan tak lama kemudia tubuhnya hinggap di puncak Tebing langit tersebut. Akan tetapi hatinya tercekat, dan kewaspadaannya meningkat. Suara orang yang tertawa-tawa lirih mengganggu pendengarannya. Sekejap dia melesat ke balik sebuah batu besar, dan menyandarkan tubuh Cu In Lan yang masih tertidur itu di sana. Setelah itu dia keluar dan mengadakan penyelidikan. Di bagian sebelah barat tebing itu nampak tiga orang yang sedang duduk berhadapan, yang satu menjadi penonton sedang yang dua lagi sedang bertarung sambil duduk bersila. Dia mengenali salah satunya yang menonton, yaitu paman Hou bungkuknya. Tapi yang seorang lagi seorang hwesio gundul yang pendek dan aneh yang baru sekarang di lihatnya. Sedangkan yang seorang lagi, setelah di amati, dia melengak kaget karena itu ternyata adalah Yok-sian Sian-jin, sahabat dari kongkongnya yang telah meninggal. Dia tahu bahwa baik kongkongnya maupun Yok-sian Sian-jin serta Ui-Liong Sian-Jin adalah dua orang dari Empat Dewa yang sangat sakti, tapi siapa adanya hwesio itu? Pikirannya segera tersadar ketika mendengar benturan dua tenaga dahsyat yang memekakkan telinga. Tampak kilatan cahaya kuning dan biru berpendaran saling bentrok dan menimbulkan bunyi yang dahsyat. Namun setelah sekian lama, cahaya yang berselewiran itupun berhenti dan menyatu. Rupanya kedua orang itu sedang beradu tenaga. Ini sangat berbahaya sekali. Siapapun tahu, bahwa kurang kuat sedikit saja bisa berakibat fatal. Mengingat hal ini, Han Sian segera teringat pada In Lan, Segera tubuhnya melesat dan turun di tengah-tengah ke dua orang yang sedang beradu tenaga tersebut.

Cahaya keemasan berpendar di sekitar tubuhnya. Dengan kepala di bawah, tubuhnya berputaran seperti gazing, kemudian kedua tangannya mendorong perlahan dengan kedua tangan yang di lambari tenaga panas dan dingin memisahkan kedua tenaga raksasa yang beradu itu. Heeehh..., Omitohuuudd... Kedua orang kakek itu memekik nyaring. Masing-masing terdorong satu langkah ke belakang dan segera mereka mengatur tenaga mereka menetralisir tenaga yang membalik. Mereka sungguh terkejut, karena ada orang yang berani memisahkan mereka. Namun merekapun sadar, pendatang baru ini sangat sakti. Heiii!, Sian-kongcu...kaukah itu??? Terdengar suara nyaring dari kakek yang sejak tadi berdiri sebagai penonton. Benar paman Hou, ini aku, bagaimanakah kabarmu dua tahun terakhir ini? Hahahaha...baik-baik, hai Yok-Sian, kau ingat kepada siapa kau wariskan darah It-kak-liong serta pil penambah tenagamu? Sahut Kakeh Hou bungkuk pada Yok-Sian Sian-jin yang hanya berdiri bengong. Apaa?...jadi ini...ini anak ajaib yang kau katakan itu? tanya Yok-sian setengah tak percaya, tapi matanya tak hentinya memandangi Han Sian tanpa berkedip. Huh, anak ajaib apa?...Eh, anak muda, coba sambut serangan pinceng... Hwesio gundul aneh yang tadinya hanya berdiam diri itu, menyahut dengan suara mendongkol karena sejak tadi dia hanya berdiri bengong tanpa penjelasan dari kedua rekannya yang nampaknya sudah mengenal pendatang baru ini. Belum habis suaranya, kedua tangannya sudah menyerang dengan delapan belas pukulan dalam waktu yang hampir bersamaan. Hebatnya lagi, tenaga yang di keluarkan dari delapan belas pukulan yang hampir bersamaan itu sifatnya berbeda-beda, ada yang keras, lembut, menyerap, mendorong, panas, dingin , keras, dll. Walau demikian kesemuanya tidak menuju ke tempattempat yang mematikan, karena dia memang tidak bermaksud mencelakai orang. Eh, Losuhu, maafkan teecu yang kurang ajar dan belum mengenal losuhu... Dengan nada menyesal Han Sian berseru, namun tubuhnya tak ayal sudah bergerak bagai kapas menyelinap di antara pukulan-pukulan tersebut, bukannya menangkis tapi melontarkan delapan belas pukulan yang berhawa tajam dari ilmu Bu-Tek Chit-kiam-ciang. Uuups...hebat...hebat hwesio itu berseru memuji sambil melompat mundur dengan cepat. Nyatanya dia juga terkejut, karena ke delapan belas pukulannya tidak di tangkis, malah dia di serang dengan delapan belas pukulan yang tak kalah dahsyatnya. Kalau saja dia berkeras melanjutkan, pasti dia juga akan terluka. Hahaha, sungguh tak di sangka Koai-Hud-Eng-Cu (Budha Aneh Tanpa Bayangan) yang malangmelintang tanpa tanding di antara empat dewa, toh harus terjungkal dalam satu jurus di tangan seorang anak kemarin sore yang tidak punya nama Yok-Sian tertawa terpingkal-pingkal sambil mengejek hwesio botak tersebut. Heeh, pemakan rumput, kaupun tak ungkulan menangkis ke delapan belas pukulanku...apa kau kira pinceng tak bisa menangkan anak bau kencur ini? Saking dongkolnya sang hwesio balas menyahut dengan gemas. Akhh, jiwi-locianpwe, harap maafkan, siautee, bukan maksud siautee untuk unjuk kebolehan, sesungguhnya hanya jiwi yang bisa membantu siautee, nah karena siautee takut jiwi terluka.... Hahh...karena kau takut kami terluka maka kau datang memisahkan kami, begitu???, jadi kau anggap kami baru belajar silat dan tidak bisa menjaga diri, haa? Potong Koai-Hud sambil memandang Han Sian dengan tatapan mencoleng agak di sipitkan. Hei...Koai-Hud, tak bisakah kau diam dulu...Sian-ji, ada apakah? Yok-Sian memotong pembicaraan Koai-Hud. Terima kasih jiwi-suhu, mmm...siautee mempunyai seorang sahabat yang keracunan dengan Racun Perawan Iblis, mohon uluran tangan jiwi untuk menyembuhkannya... Heiii...mana dia? Sudah berapa lama?...Sahud Yok-Sian dengan wajah khawatir. Dia...dia di sana... Dengan gugup, Han Sian menuntun ketiga orang itu menuju tempat di mana Cu In Lan berada. Yok-Sian segera bekerja dengan cepat. Mendudukkan tubuh Cu In Lan yang belum sadar kemudian menotok sana-sini.

Pindahkan Dia ke dalam rumah, Heii Gundul cepat kau bantu dengan tenaga Yang-mu, bobol semua jalan darahnya agar lebih lancar. Han-ji, kau ikut aku sebentar... Koai-Hud sebenarnya mau berkomentar, tapi dia tahu, kalau sobatnya dalam keadaan serius seperti itu, berarti keadaan pasien itu sangat berbahaya. Maka tanpa banyak cakap, dia lalu bersila di belakang gadis itu sambil menyalurkan tenaganya. Sementara itu, Han Sian segera mengikuti Yok-Sian ke luar. Han-ji, ini menyangkut berhasil atau tidaknya pengobatan terhadap gadis itu, karena itu jawablah dengan jujur, apamukah dia?... Nampak Yok-Sian bertanya dengan wajah serius, setelah berhadap-hadapan dengan Han Sian. Eh, Dia...dia...akhh, apa maksud locianpwe bertanya hal ini? Suara Han Sian gugup dengan wajah merah. Namun ini saja sudah cukup bagi Yok-Sian. Ketahuilah, racun Perawan Iblis adalah racun ajaib yang mematikan yang hanya bisa berpengaruh pada wanita saja, Orang yang terkena racun ini, akan terkunci jalur tenaganya dan hanya akan tunduk tanpa perlawanan pada orang yang meracuninya...tidak ada penawar...! Yok-Sian berpangku tangan dan bersikap seperti orang yang mengingat-ingat sesuatu... Tapi locianpwe, apakah sama sekali tidak ada obat penawarnya...? Tanya Han Sian Penasaran. Yok-Sian maju satu langkah mendekati Han-Sian, kemudian berkata perlahan beberapa kata: Sebentar lagi dia akan sadar, dan saat itu pengaruh racunnya akan bekerja. Kesadarannya dan tenaganya akan berfungsi normal kembali bila dia menyatu dengan orang yang pertama kali menyentuh dan menggaulinya...atau kalau ada dewa yang bisa membersihkan darahnya dari pencemaran racun tersebut, namun rasanya tidak mungkin, saat ini sudah tidak ada orang yang memiliki ilmu dewa seperti itu... Yok-Sian menguman terakhir dengan menggelang kepalanya perlahan. Eh Yok-Locianpwe, bagaimanakah caranya, mungkin aku dapat mencobanya dengan Hui-im Hong-Sin-Kang? Hah???...maksudmu, kau memiliki ilmu mujizat langka yang kabarnya telah lenyap dari dunia kang-ouw selama 500 tahun lalu itu? Tanya Yok-Sian setengah tak percaya, dan lebih terkejutnya lagi saat Han Sian mengganggukkan kepalanya. Maka di mulailah proses pembersihan racun dari tubuh In Lan ini. Untuk tahap pertama di lakukan oleh Yok-Sian dan Koai-Hud yang secara bergantian menyalurkan tenaga mereka melalui tangan dan kepala In Lan yang di rendam dalam tong air obat. Setelah itu memasuki tahap ke dua hanya Han-Sian sendiri yang melakukannya, karena dengan ini dia harus memangku In Lan yang membelakanginya dalam keadaan telanjang bulat di atas kedua kakinya yang juga bersila dalam keadaan yang sama. Sementara itu kedua tangannya dari belakang menempel pada pusar dan dahi gadis itu. Saat dia mengerahkan tenaganya kedua tubuh mereka di lingkupi perputaran hawa Hui-im Hong-sin-kang yang dahsyat. Si Penakluk Dewa & Iblis Oleh : LovelyDear Episode 4 Waktu terus berjalan dengan sangat cepatnya. Pergerakan para tokoh-tokoh golongan hitam yang di kendalikan oleh Jit-Goat-Kauw ternyata semakin merajalela. Yang paling berbahaya adalah karena empat partai sesat yang selama ini berdiri terpisah, sudah menyatakan takluk serta bergabung dengan Jit-Goat-Kauw ini. Ke-empat partai sesat itu adalah Im-Yang-Kauw, Hek-LiongPai, Beng-Pai dan Tai-Bong-Pai. Dalam pergerakan selanjutnya Jit-Goat-Kauw membagi empat semua kekuatannya dan bergabung dengan ke-empat partai sesat ini dengan bergerak di belakang mereka untuk melebarkan pengaruhnya ke arah tanah sentral dari empat penjuru.

Bukan hanya itu saja, pergerakan inipun sudah mulai memasuki bagian dalam kerajaan Tang. Kaisar Kuan Zong yang memerintah pada waktu itu sudah mulai mencium adanya pergerakan rahasia yang bertujuan menghancurkan dunia persilatan dan juga menguasai kerajaan. Bahkan beliau juga sudah mencium adanya pejabat-pejabat yang menjadi antek atau kaki tangan dari para pemberontak dunia hitam tersebut, hanya saja sejauh ini belum ada bukti atau tanda-tanda yang nyata dari kaum pemberontak tersebut yang membuat dia harus memerintahkan pembasmian. Para pengikut-pengikut dari Jit-Goat-Kauw ini sangat pandai menyusup dan menyewa para pembesar-pembesar yang korup untuk membantu mereka dari dalam secara diam-diam. Namun saat itu suasana istana yang tadinya tenang, tiba-tiba saja istana gempar. Gudang perpustakaan dan pusaka kerajaan telah di bobol orang. Yang aneh adalah bahwa tidak ada tanda-tanda bahwa tempat itu telah di masuki oleh pencuri. Semua penjaga melaporkan dalam keadaan siaga dan tidak melihat adanya orang yang mencurigakan. Namun kenyataan bahwa ada barang pusaka istana yang kecurian adalah fakta yang jelas dan tidak bisa di tutupi. Suatu hari, di saat menjelang sore. Dalam ruang pribadi Sang Kaisar, nampak tiga orang yang sedang menghadap padanya. Dua di antaranya memakai kerudung yang menutupi wajah mereka. Namun tetap tidak menutupi kalau mereka itu adalah pria dan wanita. Hemm, aku tidak tahu dan tidak mengenal kalian berdua, tapi akupun percaya pada paman Lui yang sudah merekomendasikan kalian... berhenti sejenak, sang Kaisar mengalihkan tatapannya kepada pria yang berdiri di sampingnya sambil tersenyum. Dia adalah Pejabat Lui Tao Ki, yang menjadi penjaga perpustakaan dan gudang pusaka kerajaan. Tapi sebelum kalian menerima tugas ini, aku harus merasa yakin dulu dengan kepandaian kalian, aku buka orang yang buta ilmu silat jadi terserah bagaimana caranya kalian melakukannya, asalkan hatiku puas, maka aku akan percaya...kalian berdua pasti mengetahui caranya?. Kembali dia melanjutkan. Sang pria kemudian menganggukkan kepala dan setelah menjura kepada sang Kaisar, dia kemudian mengerahkan tenaganya. Di lain saat kakinya tiba-tiba melesak masuk ke dalam lantai sedalam dua inchi. Sunggu suatu demonstrasi tenaga yang amat hebat. Bagi orang yang tidak tahu pasti tidak akan berkesan tapi bagi Sang Kaisar yang sebenarnya juga tidak lazim dengan ilmu silat rasanya cukup mengerti untuk memngakui bahwa pria berkerudung ini bukan hanya ahli silat biasa saja. Sementara hal yang sama juga di lakukan oleh sang wanita berkerudung. Hanya bedanya, kalau yang pria melesak masuk, adalah yang wanita justru membuat lantai tempatnya berpijak itu timbul seperti bentuk telapak kakinya setebal satu setengah inchi. Melihat hal ini, sang Kaisar hanya tersenyum puas saja. Dia tahu, seratus pengawal Kim-I-Winya pun belum tentu dapat menahan ke dua orang di hadapannya ini untuk waktu yang lama. Akhirnya Kaisar Kuan Zong memutuskan mengirimkan dua orang agen rahasia yang sakti ini untuk menyelidiki serta mengungkap bukti-bukti akan kasus pencurian dan pemberontakan tersebut. Tidak ada yang mengetahui ataupun mengenali siapa ke dua orang ini. Yang pasti keduanya hanya di ketahui identitasnya sebagai Kim-Houw-It-Wi (Pengawal Tunggal Harimau Emas) dan Gin-Hong-It-Wi" (Pengawal Tunggal Hong Perak). Mereka di lengkapi dengan stempel khusus yang membuat mereka memiliki kewenangan untuk menggerakkan seluruh pasukan kerajaan kapan saja dan di mana saja mereka berada. ---lovelydear--Selama beratus-ratus tahun Bu-Tong-Pai telah menjadi salah satu partai yang terkemuka. Karena kedisiplinan yang tinggi partai ini dapat mensejajarkan dirinya dengan Siauw-Lim-Pay dan lain-

lainnya yang banyak menelorkan pendekar-pendekar tangguh yang berwatak gagah dan sukar di cari tandingannya. Di tempat yang paling rahasia di Bu-Tong-Pai yang terletak hutan larangan di belakang pesanggrahan itu, tampak dua orang kakek yang usianya sudah tua saling berhadapan. Hahaha...Kian-In Cinjin, menyerahlah, kau tetap takkan dapat mengalahkanku. Usiamu sudah terlalu tua...? Seru seorang kakek muka hitam setengah baya berjubah Kuning-Putih. Di hadapannya tampak seorang kakek pula yang terlihat lebih tua, berusia sekitarenam puluh sembilan tahun, sedang berjongkok dengan kaki satu. Dari sela-sela bibirnya terlihat darah kental mengalir. Dia terluka dalam yang parah. Huhh Hek-bin Jit-cu ...Ilmu Jit-Goat-Tok-Ciangmu memang hebat, pinto siap menjemput kematian seperti kesepakatan kita, asalkan kau tidak mengganggu seujung rambutpun anak murid Bu-tongpay...silahkan sicu... Sahut kakek ini perlahan sambil memuntahkan darah segar lebih banyak lagi. Heehh, baiklah, aku setuju, kepalamupun sudah merupakan hadiah yang terbesar bagi ulang tahun Tai-Kauwcu kami...bersiaplah...haiitttt Berkata demikian, tanpa banyak bicara Hek-bin Jit-cu menarik kedua tangannya ke belakang dan di putar-putarkan sambil di pukulkan ke depan. Tapi sayang, sepertinya waktu belum mengizinkan kematian dari Kian-In Cin-jin. Jangannnn... DHEESSSS Tiba-tiba terdengar suara nyaring, dan seorang pemuda sudah menghadang di hadapan Kian-In CinJin sambil menangkis pukulan tersebut. Pemuda itu terdorong dua langkah, sedangkan Hek-bin Jit-cu itu terdorong tiga langkah ke belakang. Manusia lancang, siapa kau, berani menghalangiku??? Bentak Hek-bin Jit-cu itu. Namun diamdiam dia terkejut juga akan kekuatan lawan barunya ini yang mampu membuat dia terdorong tiga langkah. Dia taksir usianya belum sekitar duapuluh tahun. Huh, kau yang lancang, berani mengacau di sini dan melukai ciangbunjin-suheng... Terdengar suara lain yang halus, suara wanita, dari samping. Di lain saat berkelebat satu bayangan yang amat cepatnya mengirim empat kali pukulan berantai yang amat dahsyat. Thai-kek-ciang?... Heahhh... Hek-bin Jit-cu kembali terkejut, namun tanpa ayal, segera mengerahkan seluruh kekuatnnya menangkis. PLAAK...PLAAAK... Haiiit... Terjadi benturan sebanyak empat kali, dia terdesak mundur satu langkah, tapi yang lebih luar biasanya, belum sempat dia mengatur posisinya, tubuh bayangan di hadapannya sudah meliuk dengan kecepatan luar biasa, seolah tak bertulang, melejit ke atas dan melontarkan satu pukulan yang amat dahsyat ke arah ubun-ubunnya. Segera Hek-bin Jit-cu memutar kedua tangannya di atas kepala untuki menyambut serangan tersebut. Tapi kembali dia terkejut, karena tiba-tiba dia kehilangan lawannya. Belum hilang kekagetannya, terdengar suara halus seorang wanita di sebelah depan: Akhh..toako, nyatanya orang sombong ini terlalu lemah... Sahut gadis itu setengah kecewa. Benar sekali, Hong-moi...Akhh, inikah antek-antek Jit-Goat-Kauw yang ke blinger dan bermimpi menguasai dunia persilatan? Pemuda itupun menimpali. Namun tidak lama, karena sesaat kemudian mereka berdua sudah menjatuhkan diri berlutut di hadapan Kian-In Cinjin sambil bersoja.

Ciangbunjin-Suheng, terimalah hormat kami! Hemmn, apakah kalian murid Susiok-Couw di In-Kok-San? Benar, ciangbunjin-suheng, kami kakak-beradik benar adalah murid suhu Thian-In Cinjin. Menurut suhu, bahwa biarpun beliau sudah mengasingkan diri di In-Kok-San, tapi beliau tidak pernah tidak memperhatikan Bu-Tong-Pai. Suhu memerintahkan kami untuk melapor agar dapat memberi bantuan seperlunya bila Bu-Tong-Pai membutuhkan. Kebetulan Suhu berpesan pada kami untuk menengok makam mendiang sucow, sehingga kami bisa sampai di sini... Berkata demikian, sang pemuda segera berdiri dan menghadap ke arah Hek-bin Jit-cu. Bagaimana, orang tua, apa kau masih mau melanjutkan niatmu? Tampaknya aku tidak punya pilihan lain selain menghadapi kalian, baiklah mari kita coba lagi...kalaupun aku kembali, Tai-kauwcu kami tidak menerima orang pulang dengan tangan kosong...Silahkan kalian berdua maju bersama, supaya aku segera mengirim nyawa kalian pada Giam-lo-ong.. Suaranya angkuh. Dia adalah orang ke tiga dari Jit-goat-kauw. Namun diapun tahu sampai di mana kebiasaan kauw-cu perguruannya. Hihihi...Kakek tua, melawan aku saja kau belum tentu menang, sesumbar mau melawan kami berdua... Si gadis mengejek. Wajah Hek-bin Jit-cu merah. Namun dia juga cerdik. Dari bentrokan tadi, dia tahu bahwa si pemudi sama mungkin lebih ringan untuk di lawan, maka dia menyerang dulu sambil memilih lawan yang wanita. Dan kebetulan sekali, ejekan gadis itu membuat dia punya alasan kuat untuk menyerangnya. Heii, orang tua... aku lawanmu Baru saja Hek-bin Jit-cu menerjang, kembali berkelebat bayangan orang dan di lain saat sang pemuda tadi sudah menyambut serangannya. Mau-tak mau akhirnya tanpa banyak cakap, Hek-bin Jit-cu melanjutkan serangannya. Sehingga terjadilah pertarungan yang cukup ramai di lihat. Namun setelah lewat duapuluhjurus, nampak mulai kepayahan, karena ternyata ilmu pemuda tersebut tetap satu langkah di atasnya. Pada jurus ke duapuluh enam, jatuh terduduk dengan dada terhantam pukulan Thai-kek-ciang. Bagaimana Kakek muka hitam, apakah kau masih mau melanjutkan niatmu?... tantang pemuda itu sambil tertawa. Hek-bin Jit-cu berdiri perlahan setelah memuntahkan darah segar. Matanya mendelik marah, namun tanpa banyak cakap dia membalikkan tubuhnya dan berjalan tertatihtatih dan menghilang di balik pohon. Hemmm...bagus, bagus...ternyata suheng memang telah melatih kalian dengan baik sekali, di kemudian hari, tidak nanti Bu-tong-pai bakalan resah untuk mencari penerusnya... Terdengar suara Kian-In cinjin perlahan. Walaupun masih menahan sakit namun setelah bersila beberapa saat, luka dalamnya sudah agak mendingan. Siapakah nama kalian? Si pria menjura dan sambil tersenyum menjawab: "Ciangbunjin-suheng boleh memanggil siautee Cee Tie Kian dan ini adik tee-cu bernama Cee Jie Hong. Kami mohon petunjuk ciangbunjin?! Bagus, tinggallah kalian di sini beberapa waktu lamanya.

Baik Ciangbunjin-suheng, tapi bisakah kami tinggal tidak terlalu lama? Jie Hong bertanya dengan suara merdu dan perlahan. Eh, apakah ada urusan lain yang perlu kalian kerjakan sehingga begitu terburu-buru? Kedua kakak beradik itu saling berpandangan sejenak, dan setelah saling menggangguk, Tie Kian menyehut: Sebenarnya, selain mendapat tugas dari Suhu, kamipun memikul tanggung jawab untuk kerajaan...karena sesungguhnya kami berdua adalah juga utasan rahasia Hong-siang Aaakhhh...jadi kaliankah kepala para pasukan penyelidik rahasia kerajaan yang terkenal sebagai Kim-Houw-It-Wi dan Gin-Hong-It-Wi" itu... Sahut Kian In cinjin setengah terkejut. Dia bukan tak percaya. Bagaimanapun juga ada sedikit rasa bangga di hatinya jika ada anak murid Bu-tong-pai yang berhasil mencapai tingkat seperti ke dua orang muda di hadapannya ini. Baiklah, paling tidak kalian dapat mewakili aku untuk pertemuan rahasia lima perguruan besar tiga hari lagi. ---lovelydear--Waktu berjalan dengan cepat, satu bulan sebelum peristiwa Eng-Hiong Tai-Wang-gwe (Pertemuan besar para orang gagah) tiba, dunia persilatan mengalami kegemparan dengan adanya peristiwa tragis yang menyedihkan, yaitu kematian para tokoh-tokoh persilatan dari golongan putih pada saat yang bersamaan tepat pada tanggal limabelas. Kengerian yang terjadi bukan hanya terhadap para korban tokoh-tokoh dari partai-partai kecil tapi juga para tokoh-tokoh besar Siauw-Lim-Pai, Bu-Tong-Pai, Kun-Lun-Pai, Hoa-San-Pai dan Thai-SanPai. Semuanya tewas dengan keadaan yang mengerikan, yaitu dengan kepala terpisah dari tubuh mereka. Melihat akan situasi ini maka pada suatu hari, bertempat di Thai-san-pay, berkumpullah para utusan-utusan khusus dari ke-lima perguruan besar yang ada. Pertemuan ini di laksanakan secara rahasia dengan maksud yang rahasia yang hanya para ketua perguruan yang mengetahuinya. Sebelumnya, para ketua perguruan ini menerima surat rahasia dari Wu Kong Liang, ciangbunjin Thai-san-pai yang berjuluk Bu-tek Sin-liong-kiam. Satu minggu kemudian para ciangbunjin ini mengutus para wakil mereka di temani para murid pilihan terpandai dari pintu perguruan mereka menempuh perjalanan rahasia ke Thai-san-pai. Setelah para utusan berkumpul, hanya di hadiri sekitar tujuh belas orang saja. Wu Kong Liang, di dampingi sepasang murid pilihannya, berdiri sambil menyalami semua tamu tersebut. Cu-wi sekalian, atas nama jiwa kependekaran yang saya tahu sangat di junjung tinggi oleh kita semua, perkenankan saya mengajukan alasan mengapa kami mengundang para perguruan besar yang ada untuk berkumpul... berhenti sejenak, dia menatap semua yang hadir satu-per satu, kemudian melanjutkan: Seperti yang kita ketahui bersama, masa depan dunia kang-ouw akhir-akhir ini mulai tidak tenang, bahkan memasuki saat-saat yang amat gawat. Terbunuhnya para tokoh-tokoh perguruan yang pilih tanding ini telah mengisyaratkan pada kita semua bahwa ada kekuatan tersembunyi yang sedang mencoba mengacau. Dan ini perlu penanggulangan yang lebih lanjut...bagaimana menurut pendapat cu-wi sekalian?

Benar sekali, Wu-Tayhiap...Kita memang tidak bisa biarkan saja hal ini. Pembunuhan terhadap para tokoh-tokoh perguruan besar ini sama dengan menabuh genderang perang. Dan mereka telah secara terang-terangan menyatakan perang. Namun demikian kitapun harus tetap waspada dan jangan terjebak dengan siasat mereka... Seorang kakek berjubah putih berjuluk Thian-cu cinjin mewakili Bu-Tong-pai menyembut dengan suara halus namun bersemangat. Wu-Tayhiap memandang semua tamu yang hadir. Semua hanya mengangguk menyatakan persetujuan mereka. Baiklah, dengan demikian maka kita sepakat untuk menanggulangi bersama-sama semua masalah ini. Nah, hal yang ke dua yang ingin kami sampaikan ialah bahwa melalui pertemuan ini perlu di bentuk suatu tim khusus yang akan menjadi pelopor untuk memperingati para enghiong di seluruh penjuru agar waspada melawan serbuan para kaum hitam yang di pimpin oleh Ji-GoatKauw itu... Tiba-tiba salah seorang hwesio dari Siauw-lim-pai yang duduk di sebelah kiri mengangkat tangannya dan bicara: Omitohud...Wu-sicu benar sekali, dalam hal ini kita memang harus mulai membentuk kekuatan gabungan yang akan membendung serbuan para kaum sesat tersebut...? Benar sekali...ini ide yang sangat baik karena kalau kita harus menunggu hari itu, takutnya kita tidak punya waktu bersiap-siap lagi. Karena menurut penyelidikan kami, kekuatan mereka sekarang terpusat di empat penjuru dan kemungkinan besar mereka siap untuk mengadakan penyerangan tepat pada hari pertemuan besar nanti Seorang Tosu dari Kun-lun-pai menimpali. Ya, bahkan ada beberapa kelompok yang mengacau di sekitar gunung Hoa-san-pai kami... Baiklah, kalau begitu, baiknya di atur begini saja, kita masing-masing akan mengutus murid pilihan masing-masing perguruan untuk di serahi tugas ini...bagaimana menurut cu-wi sekalian? Dengan suara mantap Wu-Tayhiap menyimpulkan diskusi itu yang di sambut dengan anggukan kepala oleh setiap orang yang hadir. Setelah berdiskusi sekian lama, maka masing-masing pihak itu mengajukan dua orang jagonya. Dan tentu saja di pihak Bu-tong-pai, di wakili oleh kakak beradik Cee Tie Kian dan Cee jie Hong. Setelah terpilih, maka kembali Wu-Tayhiap angkat suara mewakili semua yang hadir. Baiklah, kalian semua yang telah di ajukan sebagai wakil dari masing-masing perguruan. Kalian tahu bahwa kalian memiliki tugas yang amat penting sekali yang menyangkut tegak atau runtuhnya golongan putih dari dunia kang-ouw di masa yang akan datang, namun kamipun tidak akan menyerahi tugas ini kepada kalian jika kami belum yakin akan kemampuan kalian. Itulah sebabnya, sebelum kami melepas kalian untuk tugas yang suci ini, maka kalian akan bertanding untuk melihat kemampuan kalian masing-masing...nah kami harap kalian tidak keberatan. Pertandingan itu berlangsung cukup seru, karena orang-orang muda itu ternyata adalah orangorang muda pilihan yang telah di latih khusus dengan ilmu-ilmu pilihan di masing-masing pintu perguruannya. Namun dari antara sepuluh orang muda itu, ada empat orang yang agak menonjol yaitu Giok-im Hwesio dari Siauw-lim-pai yang berjuluk Bu-Eng Tiat-Ciang (Tangan Besi Tanpa Bayangan), kakak beradik Cee Tie Kian dan Cee jie Hong dari Bu-tong-pai dan Chit-Seng Im-kiam (Pedang Dingin Tujuh Bintang) dari Thai-san-pai. Satu minggu kemudian, setelah mendapatkan wejangan-wejangan dari para tokoh-tokoh perguruannya masing-masing, maka ke sepuluh orang ini lalu turun gunung untuk memulaikan tugas mereka Sementara itu, sambil menjalankan tugas rahasia mengamarkan dunia persilatan Cee Tie Kian dan Cee jie Hong tetap melakukan juga misi mereka ke mencari informasi untuk kerajaan.

Dengan cepat ke sepuluh orang muda ini bergerak secara rahasia sambil mengenakan kerudung Putih, melaksanakan tugas mereka untuk mengamarkan para pendekar agar bersiap menghadapi para kaum sesat yang mencoba menyusup dalam pertemuan besar di Puncak Awan Putih di WuYi-san nanti. Di samping itu berulang-ulang ke sepuluh orang ini mengadakan bentrokanbentrokan kecil dengan ke empat perguruan sesat di bawah pimpinan Jit-Goat-Kauw tersebut. Sehingga dalam waktu singkat ke sepuluh orang ini di kenal dengan nama Kangouw-hiap-wi (Para Pengawal Kangouw). Hari menjelang pagi memasuki waktu pertemuan besar antara para pendekar. Puncak Awan Putih yang dingin terselimuti kabut yang menutupi hampir seluruh bagian puncak tersebut sehingga tidak nampak dari bawah gunung. Namun suasana ini tidak dapat menutupi gerakan orang-orang yang bergerak naik ke atas bukit tersebut. Baik secara berkelompok ataupun sendiri-sendiri. Bukan hanya dari ke tigapuluh enam partai partai besar/kecil yang hadir, tapi juga enam keturunan keluarga besar yang hanya mengirimkan satu atau dua orang utusan mereka yaitu, keluarga Suma dari Pulau Es, keluarga Lu dari Pulau Daun Putih, keluarga Keluarga Yang dari Kuburan Kuno, keluarga Kiang dari Lembah Pualam Hijau, keluarga Khu dari puncak Sian-Thian-san dan keluarga Thio dari Pulau Phonix, dari partai-partai kecil lainnya dan 5 perkumpulan pengemis yang tersebar dari Kwitang-Pakhia. Suasana ramai saat itu namun juga tidak lepas dari sikap waspada yang tinggi dari tiap-tiap orang yang hadir. Jumlah keseluruhan yang hadir kurang lebih tiga ratus orang. Tampak juga di antaranya hadir juga para tokoh-tokoh tua, para ciangbunjin dan murid-murid pilihan mereka. Menjelang tengah hari, saat para pendekar telah berkumpul, Bhok-Siang-Hwesio, suheng dari ciangbunjin Siauw-Lim-Pai maju ke muka menghadap para pendekar. Suaranya lembut tapi bergema sampai ke seluruh penjuru, tanda tenaganya kuat sekali. Selamat bertemu Cu-wi sekalian...karena hari sudah menjelang siang, sekaranglah saatnya bagi kita untuk merundingkan segala sesuatu. Silahkan bagi siapa yang mau mengemukakan ideidenya untuk di bahas dalam pertemuan ini... Semua orang mengangguk-angguk dan saling pandang, sesaat kemudian dari barisan sebelah kanan bertindak maju seorang pria berjubah kuning dengan pedang panjang di pinggang. Beberapa orang mengenalnya sebagai Wan Siu si Hong-in-Sin-ong (Pedang Sakti Awan Angin), yaitu salah satu dari Pat-Kiam-ong (Delapan Raja Pedang) yang terkenal. Maafkan saya berani lancang...bila melihat perkembangan dunia persilatan saat ini cukup mengejutkan dengan adanya pergerakan dari para pentolan-pentolan kaum Hek-to, saya hanya ingin mengusulkan agar para Eng-hiong boleh sepakat untuk memilih Beng-cu yang dapat mempersatukan semua gerakan kita menghadapi para pengganas tersebut... Omitohud, Benar sekali ucapan Wan-sicu, memang dalam keadaan yang bergejolak ini perlu adanya penanganan secara bersama di bawah satu pemimpin, bagaimana pendapat para enghiong sekalian?... Terdengar lagi suara Bhok-Siang-Hwesio yang di sambut dengan anggukan dan bisikan diskusi oleh semua yang hadir. Tiba-tiba terdengar suara yang lain: Kami semua setuju dengan usul tersebut, tapi bagaimana caranya kita menentukan calon Beng-cu yang akan di pilih itu? Seorang pria setengah tua berpakaian hitam menyahut dengan suara yang keras sehingga mengalahkan semua suara yang ada, sehingga semua mata kini kembali di arahkan pada Bhok-Siang-Hwesio. Mulailah terdengar berbagai tanggapan dari sana-sini, ada yang mengusulkan adu kepandaian tapi ada juga yang mengusulkan untuk menunjuk orang yang paling di hormati dari kalangan tua

saja. Tapi setelah di sepakati, akhirnya usul yang pertama untuk di pilih melalui adu Ilmulah yang di plih. Melihat ini, segera Bhok-Siang-Hwesio menatap tajam ke semua yang hadir dengan penuh wibawa dan mengangkat tangan menenangkan semua orang yang mulai ramai dengan usulusulnya. Baiklah cu-wi sekalian sudah mengusulkan. Sekarang masing-masing pihak boleh mengajukan satu calon yang nanti akan di uji. Namun mengingat keadaan kita yang sangat rawan saat ini dengan adanya berbagai isu penyusupan dari aliran sesat, maka pinceng menganjurkan agar setelah usulan para calon di tentukan, maka biarlah kita menyerahkan kebijakan pengujian ini kepada para ciangbunjin yang ada yang kita tidak ragukan kepandaian mereka, bagaimana? Akuuuurrrrr.... Setujuuu.... terdengar suara balasan dari sana-sini. Walaupun memakan waktu yang tidak terlalu lama, namun pemilihan Beng-cu itupun tetap berlangsung dengan meriah dan cepat. Keadaan sejauh ini cukup menggembirakan bagi para ciangbunjin yang ada, namun mereka juga tetap was-was karena keadaan itu terlalu tenang. Sementara itu Bhok-Siang-Hwesio hanya berdiam saja selama pemilihan itu berlangsung, tapi matanya terus menjelajah ke sekeliling dengan tatapan penuh selidik, hatinya bertanya-tanya: Dimana para Su-Sian, dan para tokoh-tokoh penting sakti lainnya, juga kangouw-Hiap-Wi? Setelah sekian lama akhirnya muncul dua orang unggulan. Yang pertama Bu-tek Sin-liong-kiam Wu Kong Liang dan yang kedua adalah Bhok-Siang-Hwesio sendiri. Melihat ini segera Bhok-SiangHwesio bergerak maju untuk memberi sanggahan. Para Eng-hiong sekalian, bukannya pinceng menolak kesepakatan kami berdua untuk memilih kami dari kalangan Tua ini sebagai Beng-cu, tapi hendaknya harus di ingat bahwa tugas sebagai Beng-cu nanti sangat membutuhkan orang-orang yang lebih ulet dan bersemangat muda, jadi mohon di pertimbangkan lagi agar dapat memilih orang-orang yang lebih muda saja... Benar ucapan losuhu Bhok-Siang-Hwesio, adalah lebih baik jika dari kalangan yang lebih mudah saja yang di pilih... Sambung Wu Kong Liang. SETUJUUU...... Terdengar suara yang keras menyahut. Ternyata datangnya dari seorang pria berpakaian putih dari rombongan sebelah timur yang baru saja tiba. maafkan atas keterlambatan kami, tapi karena belum terlalu terlambat maka kami dari Kim-Liong-pai mengusulkan Ketua kami sebagai Beng-cu...dia sangat sakti dan Ilmu pedangnya tak tertandingi di antara para pendekar muda....? Rombongan itu terdiri dari sebuah tandu megah berbentuk naga yang di kawal oleh seratus orang berpakaian putih dengan pedang bergagang keemasan. Semua orang mulai berbisik-bisik melihat hal ini. Bhok-Siang-Hwesio segera menyahut: Ahh, kami telah mendengar bahwa Kim-Liong-Pai telah memiliki Ketua baru yang masih muda, Konghi-konghi...tapi bolehkah kami mengetahui nama beliau dan apa julukannya? Seorang pria setengah baya dan berkumis tebal maju ke depan sambil berkata: Ketua kami yang mulia bernama Tee Sun Lai, dia...... DIA ADALAH MANUSIA IBLIS BERJULUK TEE-MO KIAM-ONG... Sahut suatu suara keras yang entah dari mana datangnya tapi hasilnya ternyata sangat berpengaruh.

Iiiiiiihhhhh... Awas....hati-hati.... Timbul berbagai suara kekhawatiran dari sana-sini Omitohud, benarkah dia Tee-Mo Kiam-Ong? sambung Bhok-Siang-Hwesio dengan suara agak terkejut. Sementara tokoh-tokoh yang lain memandang penuh selidik dengan tangan masingmasing terulur memegang senjata mereka dengan sikap khawatir. Wu-Tayhiap yang lebih dahulu menguasai perasaan hatinya segera bertanya: Maaf, pertemuan ini adalah pertemuan para Eng-hiong untuk menghadapi para kaum Hek-to, di pihak manakah kalian berada? Sejauh yang kami ketahui Kim-Liong-Pai di bawah pimpinan It-Gan Kim-Liong (Naga Emas Bermata Satu) sangat menjunjung tinggi kegagahan, tapi mengapa Kim-Liong-pai justru mengijinkan penggantinya seorang dari jalan Hek-to? Wajah pria berpakaian putih itu pucat, mulutnya terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu...tapi saat itu juga terdengar suara terkekeh, perlahan, namun suaranya bergetar mengidikkan bulu roma semua yang hadir. Hehehe, Wu-Tayhiap memang orang yang berpengetahuan luas, tidak usah kita perbincangkan mengenai hal yang sia-sia, yang jelas akulah ketua Kim-Liong-pai yang baru, apa ada yang menolak bila aku di calonkan sebagai Beng-cu? Lagi pula kalau aku jadi Beng-cu, kalian tidak akan rugi karena akupun sangat menentang orang-orang Jit-Goat-Kauw busuk yang sok jago itu Bhok-Siang-Hwesio adalah orang yang arif, tapi dia tahu belaka apa artinya jika orang seperti Tee-mo Kiam-Ong ini jadi Beng-cu, itupun setali tiga uang dengan Jit-Goat-Kauw. Segera dia menyahut: Maaf, tapi pemilihan Beng-cu ini haruslah di setujui oleh semua Eng-hiong yang hadir... Hahaha, aku tahu losuhu, tapi semua orang sudah memilih kalian berdua, itu artinya jika aku mengalahkan kalian berdua, maka semua akan setuju, bukankah begitu? Belum habis suaranya, tiba-tiba tirai tandu tersibak dan melesatlah bayangan keemasan kea arah Bhok-Siang-Hwesio dan Wu-Tayhiap dengan kecepatan yang mengagumkan. Hemm... Bhok-Siang-Hwesio dan Wu-Tayhiap segera bersiap untuk menyambut karena mereka merasakan hawa yang sangat kuat menerjang mereka, tapi sekedipan mata kemudian bayangan itu telah berdiri tiga langkah di depan mereka berdua sambil tersenyum. Marilah Jiwi-locianpwe, kita bermain-main sebentar, jangan sungkan... Berkata demikian sekelebat bayangan pedang yang entah dari mana datangnya berubah menjadi dua jalur panjang yang mengeluarkan suara berdesing tajam mengarah pada Bhok-Siang-Hwesio dan Wu-Tayhiap. Hehh... Bhok-Siang-Hwesio dan Wu-Tayhiap terkejut sekali ketika merasakah kekuatan serangan lawan tidak berada di sebelah bawah kekuatan mereka. Segera tubuh Bhok-Siang-Hwesio melesat satu langkah ke samping sedangkan Wu-Tayhiap melesat satu tombak ke atas dan turun perlahan-lahan. Ini jurus kedua Sambut Tee Sun Lai, di lain saat tubuhnya bergerak sebat melontarkan serangan ke-dua yang lebih dahsyat lagi itulah jurus maut seribu biang iblis membelah sang budha. Pedangnya mengeluarkan cahaya tajam rapat yang mengurung kedua lawannya dari segala penjuru sehingga mustahil ada jalan keluar. Hebatnya lagi setiap bayangan pedang itu memiliki kekuatan yang sama dahsyat. Namun Bhok-Siang-Hwesio dan Wu-Tayhiap bukanlah anak kemarin sore yang baru belajar ilmu silat. Meskipun mereka terkejut karena mereka hampir kalah tenaga dari lawan yang masih muda

namun dengan cepat Wu-Tayhiap memainkan ilmu Thai-San-kiam hoatnya yang sudah sempurna pada jurus ke tigabelas yang menciptakan tembok rapat yang susah di tembus, sementara BhokSiang-Hwesio mengerahkan ilmu Tiat-po-san yang sudah mencapai tingkat ke sepuluh dan tangannya mengerahkan tenaga Kiu-yang Kim-Kong-ci membalas menyerang lawan. Demikianlah terjadi pertempuran dahsyat dua lawan satu di tengah-tengah lapangan luas itu. Hal ini sangat mengkhawatirkan para pendekar. Di antaranya para utusan dari ke enam perkampungan itu yang dapat melihat bahwa Bhok-Siang-Hwesio dan Wu-Tayhiap masih agak kesulitan menandingi pemuda yang ternyata sangat sakti itu. Tigapuluh jurus berlalu, pertarungan sudah memasuki tahap puncak bagi ke dua tokoh sdari golongan putih ini. Bhok-siang-hwesio telah mengerahkan tingkat ke sepuluh dari ilmu Tat-mokun-hoat yang di kerahkan dengan tenaga kiu-yang Kim-kong-ci. Tubuhnya bergerak lambat, namun cepat menahan gempuran-gempuran hawa pedang yang dahsyat. Begitu juga Wu-Tayhiap yang telah mengerahkan puncak tertinggi dari Thai-san-kiam-sut serta Thai-yang-kangnya. Memasuki jurus ketigapuluh satu, tiba-tiba Tee Sun Lai memekik seperti Harimau marah. Tubuhnya berkelebat seperti terbagi menjadi empat bagian. Tangan kirinya mengerahkan jurus ke dua dari ilmu Hiat-kut-jiauw Sam-kang yang bernama Seribu cengkraman darah melepaskan tulang sedangkan pedangnya bergerak deangan jurus ke empatpuluh dua dari Tee-mo-kiam-sut yang bernama Ribuan pedang iblis bumi pemantek dewa. Jurus ini sifatnya menyusup pada tenaga lawan dan menghancurkan pusat tenaga. Kalau lawan lebih rendah tenaganya akan berakibat lenyapnya kepandaian lawan. Dengan sepenuh tenaga dan karena tidak melihat pilihan lain dalam menghadapi jurus lawan, Bhok-Siang-Hwesio segra melesat kebelakan Wu-Tayhiap mengempos semangat sambil menempelkan telapak tangannya di punggung Wu-Tayhiap untuk untuk menahan gempuran lawan. PLAAAKKK... CEPP...CEEPPP......KRAAKK... UHUUUKKK......HOEEEKKKKK darah segar di muntahkan oleh Bhok-Siang-Hwesio dan Wu-Tayhiap yang terlempar ke belakang satu tombak lebih. Bhok-siang-hwesio segera duduk bersila mengobati luka dalamnya yang amat parah akibat tindihan tenaga lawan yang dahsyat. Sedangkan Wu-Tayhiap bergerak bangkit perlahan dengan tiga tempat di tubuh yang tertembus pedang. Namun syukur bahwa gabungan tenaga mereka ternyata dapat meredam efek yang menghancurkan dari jurus Ribuan pedang iblis bumi pemantek dewa itu. Di sebelah sana, nampak Tee Sun lai yang masih tertawa terkekeh tapi mukanya merah dan kakinya melesak satu jengkal ke dalam tanah. Agaknya dia juga terluka bagian dalam tapi masih lebih ringan. Dengan pongahnya dia memandang ke semua orang yang memandang kepadanya dengan tatapan ngeri. Apakah masih ada dari antara kalian yang mempertanyakan hakku menjadi Beng-cu?... Semua terdiam, tidak ada yang menyahut. Tapi beberapa saat kemudian dari tengah-tengah kumpulan para Eng-Hiong tersebut bergerak maju para utusan dari ke-enam keluarga dan juga delapan orang dengan pedang yang beraneka bentuk di tangan. Mereka adalah Pat-Kiam-ong (Delapan Raja Pedang), salah satu di antaranya, yaitu Wan Siu si Hong-in-Sin-ong (Pedang Sakti Awan Angin) melangkah ke muka dan berseru: Kau memang hebat, tapi kau masih harus melewati kami terlebih dahulu...beranikah kau?...

Hemmm, apa ini yang para pendekar yang di sebut Pat-Kiam-ong? Ku dengar kalian sudah lama mengasingkan diri, mengapa sekarang muncul lagi? Perkara dunia persilatan adalah jiwa kami, sehingga kamipun tidak akan berdiam saja jika ada kekacauan yang di sebabkan orang-orang jahat kejam sepertimu yang mengacau... Hahahahahahaha...kalian terlalu sombong untuk mengatakanku kejam sementara kalian juga banyak kali membunuh orang... Ke delapan orang ini terhenyak. Bagaimanapun juga mereka tidak dapat membantah lebih jauh. Baiklah, kalau kalian dapat menembus dua kelaompok barisan 52 Iblis Bumi dan keluar dengan selamat, maka aku akan mundur dan tidak berharap untuk menjadi Beng-cu lagi. Tapi harus ku ingatkan, aku sendiripun membutuhkan empat puluh sembilan jurus untuk dapat membongkar satu barisan ini....hahahaha... Berkata demikian, tubuhnya berbalik dan melesat masuk ke dalam tenda. Sementara ke seratus empat anak buah Kim-Liong-pai bergerak teratur membentuk dua barisan Iblis Bumi di kanankiri, Demikianlah terjadi pertempuran besar-besaran yang memakan korban jiwa yang banyak dari pihak para pendekar. Banyak yang melarikan diri satu-satu yang pada akhirnya merekalah yang menceritakan bagaimana pembantaian itu berlangsung. Semua utusan dari enam keluarga tewas. Pat-Kiam-Ong yang luka-luka dan di lemparkan ke lembah di Puncak Awan Putih tersebut sehingga tidak di ketahui keadaan mereka lebih lanjut. Sementara itu Bhok-Siang-Hwesio dan Wu-Tayhiap yang luka-luka hanya di biarkan di antara mayat-mayat yang berserakan. Malam itu di lalui dengan suasana hening yang mencekam oleh kedua tokoh ini sambil terus bertanya-tanya dalamhati mereka: Dimana para Su-Sian yang telah mereka hubungi? Dimana para Kangouw-Hiap-Wi, dan para tokoh-tokoh dunia persilatan sakti lainnya yang telah mereka hubungi sebelumnya???...Dan dimana orang-orang dari Jit-Goat-kauw yang katanya akan mengacau???... Sesungguhnya, di manakah para Su-Sian, Kangouw-Hiap-Wi berada dan para tokoh lainnya berada? Dan mengapa para pentolan Jit-Goat-kauw tidak ada satupun yang muncul? Untuk mengetahui hal ini mari kita mundur pada empat hari sebelum pertemuan besar tersebut. ___________ Setelah menyelesaikan pengobatan pada Cu In Lan, Han Sian meninggalkannya bersama dua orang di antara empat Dewa yang telah bersedia mengangkat In Lan menjadi murid mereka. Namun sebelum dia meninggalkan Tebing Langit, Koai-Hud Eng-Cu berpesan kepadanya agar mewakili mereka berdua untuk menghadiri Eng-Hiong Tai-Wang-gwe karena peliknya keadan dunia persilatan. Karena waktu pertemuan tinggal tujuh hari lagi, maka Han Sian mengerahkan ilmunya sampai tingkat tertinggi menuju ke Punvak Awan Putih di Wu-Yi-San. Perjalanan yang memakan waktu hampir satu minggu itu hanya dia tempuh dalam waktu dua hari satu malam dan siang itu dia beristirahat sambil bermeditasi di bawah sebuah pohon di tepi aliran sungai yang mengalir di kaki puncak Awan Putih.

Begitu dalamnya dia bermeditasi sekian lama, dia masuk pada pengerahan dari tenaga saktinya. Pertarungannya dengan Tee Sun Lai dan para tokoh-tokoh dari empat dewa maupun para tokohtokoh kaum sesat yang bertemu dengannya telah membuka lebih banyak wawasan baginya untuk mematangkan tingkat pemahaman ilmu-ilmunya, terutama Kui-Sian I-Sin-Kang yang tanpa tanding, Bu-Tek Chit-Kiam-Ciang yang mengiriskan, Hui-im Hong-Sin-Kang yang sukar di bendung dan Seribu Bayangan Iblis Pemusnah yang mengerikan. Han sian memang jeniusnya ilmu silat. Orang lain mungkin akan memakan waktu puluhan tahun untuk memahami dan melatih ilmu-ilmu silat yang dahsyat itu dengan baik, tapi itu pengecualian bagi Han Sian. Semua ilmu itu di telannya bulat-bulat dan terus menemukan pematangannya dalam setiap pertempuran yang dia hadapi. Sementara dia bermeditasi, firasat dan telinganya menangkap gerakan halus yang tidak wajar mendekat ke arahnya dari jarak puluhan li. Segera dia mengembangkan Thian-In Hui-Cunya dan melesat bagai tiupan angin kepuncak sebuah pohon yang lebat dan diam tanpa bergerak sambil menahan nafas.. Tak lama kemudian tampak duabelas bayangan orang berjubah dan berkerudung hitam berkelebat dan berhenti tepat di bawah tempat persembunyiannya. Keduabelas orang ini tidak menyadari kehadirannya namun setelah mendengar suara mereka bisa di pastikan mereka bukanlah orang baik-baik karena dari tubuh mereka Han Sian merasakan hawa pembunuh yang kuat. Hemmm....Hek-Tok-Jiauw-Ong, tahukah kau mengapa Kauw-cu-yaa memanggil kita ke sini? Tanya seorang yang berpakaian kerudung yang pertama. Aku tidak tahu, yang jelas beliau mengatakan ada perubahan rencana penyerangan jawab HekTok-Jiauw-Ong. Mereka semua terdiam sambil berdiri seperti patung. Tak lama kemudian dari arah kiri terdengar bunyi berkesiutan dan tiba-tiba seorang pemuda tampan pesolek berpakaian perlente yang memegang sebuah kipas sutra dari baja murni. Hormat Kaucu-yaa, kami siap menerima perintah Serempak ke lima orang itu menjura dengan hormat. Hemm, waktu kita tidak banyak, Tai-Kauwcu memerintahkan untuk segera menarik mundur semua pasukan ke pos masing-masing. Saat pertemuan besar di adakan, perintahkan ke empat partai untuk menggabungkan kekuatan menjadi dua bagian. Satu akan ada di bawah komandoku sedang yang satu lagi akan di pimpin langsung oleh Tai-Kauwcu, sasaran kita adalah Siauw-limpai dan Bu-tong-pai, tempat itu harus di ratakan dalam semalam. Tai-Kauwcu melihat bahwa ini lebih berguna untuk di lakukan daripada mati-martian menggempur pertemuan itu Ide yang sangat cemerlang Kauwcu-yaa, dengan terpukulnya dua kekuatan paling besar di Bu-lim Kang-ouw ini maka akan lebih mudah untuk menaklukkan yang lainnya....hahahaha Baju hitam ke dua menyahut. Tapi Kauwcu-yaa, bagaimana kalau para ho-han itu curiga kalau tiba-tiba mereka merasakan kita tidak ada gerakan? Hahaha, semala ini kita hanya menakut-nakuti mereka saja, namun itupun tidak perlu terlalu banyak, biar 7 siluman langit yang tinggal dan terus mengadakan pengacauan agar mereka tidak curiga Jawab pemuda itu singkat dengan senyuman dingin.

Beberapa saat kemudian, setelah mengatur beberapa hal, pertemuan kecil di bubarkan. Namun sebelum mereka berpisah, pemuda yang di sebut Kauwcu-yaa itu berkata: Sebelum pergi, kalian selesaikan dulu satu pekerjaan kecil yang ringan untukku... ---lovelydear--Malam semakin larut, di dalam hutan sekitar duapuluh li dari tempat pertemuan para datuk kaum sesat tersebut, di sebuah kelenteng yang sudah tidak terpakai lagi, tampak lima orang sedang duduk melewatkan malam sambil bersemedi. Mereka adalah lima orang dari Kangouw-Hiap-wi. Nampak di antara mereka Cee Jie Hong si GinHong-It-wi yang nampak sangat cantik bagai bidadari turun dari khayangan dan Chit-Seng Imkiam (Pedang Dingin Tujuh Bintang) Bee Tiong, bersama tiga rekan mereka yang lainnya. Sejak beberapa saat yang lalu, firasat ke lima orang ini terganggu, terlebih Jie Hong. Di antara mereka berlima, tak di ragukan bahwa kepandaiannyalah yang paling tinggi. Dan memang mereka tidak perlu menunggu lama dalam kegelisahan karena saat mereka membuka mata merasakan gerakan mencurigakan di sekeliling mereka. Ternyata di hadapan mereka tampak berkelebat Dua belas bayangan orang berkerudung hitam. Siaga! Tampaknya kepandaian mereka tidak berada di sebelah bawah kita semua Sahut Jie Hong lirih ke arah empat rekannya sambil matanya menatap mereka penuh selidik Kalau boleh kami tahu siapakah cu-wi locianpwe sekalian? Dan apa yang bisa kami bantu? Sontak Bee Tiong menyahut dengan suara keras berwibawa namun penuh ketenangan. Hahahaha...Orang muda, kau berbakat dan masa depanmu masih cerah sebaiknya bijaksanalah dalam mempertahankan nyawamu, kami hanya mau membawa gadis cantik ini untuk Kauwcu-yaa kami, jangan khawatir, setelah beberapa hari diapasti akan di kembalikan se orang di antara manusia ke dua belas orang itu menyahut dengan suara dingin. Bee Tiong jadi naik darah mendengar akan hal ini, namun sebelum dia melakukan sesuatu, Jie Hong yang telah marah melesat dengan dengan sebat ke arah orang berkerudung tersebut. Manusia tak tahu malu, biar nonamu mengajarmu yang tak tau adat... Wuuuttt...Plak, plakk, Desssss pertemuan kedua tenaga yang kuat beradu membuat keduanya terdorong mundur satu langkah Ehhh...Eh, kau hebat...tampaknya hanya kau yang akan dapat memuaskan Kauwcu-yaa, mari Hek-wan Sin-mo kita tidak punya banyak waktu...hahahahahaha Orang itu berseru sambil tertawa-tawa... Bee Tiong dan ke tiga rekannya yang lain segera bergerak membantu, tapi mereka di hadang oleh empat orang berkerudung lain sehingga di tempat yang sunyi itu terjadi pertarungan sengit yang ramai namun mengancam ke lima anak muda tersebut oleh karena mereka sekalipun belum mengenal lawan mereka. Dengan kepandaiannya yang merupakan hasil gemblengan se orang sakti di antara empat Dewa dan juga mendapat gemblengan tambahan dari beberapa orang sakti saat guru mereka membawa dia dan kakaknya berkelana di daerah pegunungan Himalaya, kalau hanya berhadapan satu lawan satu mungkin Jie Hong masih bisa menghadapi lawannya dan memperolah kemenanganyang tapi menghadapi ke dua orang datuk sesat di depannya yang sangat sakti idia tidak dapat berbuat terlalu banyak, karena itu hanya dalam duapuluh jurus dia telah kena di bius oleh Hek-wan Sin-

mo. Sementara ke tiga rekannyapun agak kewalahan, mereka hanya sanggup bertahan limapuluh jurus lebih baru kemudian terpukul jatuh dengan luka parah. Bunuh mereka, jangan biarkan satupun lolos Sahut orang berkerudung yang lain yang memanggul tubuh Jie Hong yang pingsan. Sesaat kemudian orang itu lelesat pergi ke arah barat hutan itu di ikuti ke tujuh orang lainnya. Sementara itu sambil tertawa-tawa ke empat orang berkerudung hitam yang tinggal sudah mendekati ke empat pemuda yang telah terluka parah tersebut namun masih berdiri dengan gagah tanpa takut. Hahahahahaha....ketahuilah anak muda, yang berhadapan dengan kalian ini 12 Raja Iblis, dan karena kalian sudah berani menentang kami maka kami takkan mengampuni... Berkata demikian tampak tangan orang itu berubah menjadi merah sebatas siku, dan di ikuti ke tiga rekannya mereka mengangkat tangan siap untuk memukul. Tampak tidak ada harapan bagi mereka yang terkurung di tengah-tengah. Mereka hanya bisa pasrah saja tanpa tenaga menanti maut. Tapi ternyata maut belum berpihak pada mereka. Sebelum ke empat datuk sesat itu melancarkan pukulan terakhir mereka, keempat orang muda ini mendengarkan suatu suara lirih di telinga mereka: ...jangan takut, sambil bergandeng tangan kerahkan hawa murni kalian dan buka seluruh jalan darah. Jika kalian merasakan suatu tenaga yang berputaran kuat, jangan melawan kalau tidak tenaga bantuanku tidak akan menolong bahkan hanya tubuh kalian akan hancur lebur...lakukan dengan cepat Keempat orang muda ini terkejut dan saling pandang, mereka jadi tenang karena merasa ada orang pandai yang membantu mereka. Sesaat sebelum pukulan keempat raja Iblis itu mendarat di tubuh mereka, mereka merasakan punggung mereka hangat oleh suatu arus tenaga yang dahsyat. Saat itulah terdengar seruan dari lawan mereka... Bersiaplah untuk bertemu Giam-lo-ong... PLAAAK....PLAAAKK...DESSS....DEEEESSS Aiiikhh... Hoeek...hoeeekkk Terdengar suara ledakan beradunya empat kekuatan dahsyat ketika keempat pukulan para datuk sesat itu mendarat di tubuh keempat pemuda itu. Akibatnya, sungguh aneh...keempat datuk sesat itu terlempar dua tombak ke belakang sambil memuntahkan darah segar. Mata mereka terbelalak lebar karena tidak menyangka bahwa mereka akan menerima pil pahit seperti ini. Pandangan mereka di arahkan ke belakang keempat pemuda yang mereka akan bunuh itu, tampak berdiri seorang pemuda berpakaian putih dengan rambut riap-riapan. Yang membuat mereka takut adalah tatapan mata pemuda itu yang mengeluarkan hawa api yang penuh kemarahan. Huh, Kalian mau mengantar orang ke neraka, silahkan rasakan tangan iblisku... Belum habis suaranya, tubuh Han Sian lenyap seperti kabut ke arah mereka. Meskipun dalam keadaan terluka namun mereka bukan anak kemarin sore. Mereka berusaha melawan dengan menangkis, tapi tiba-tiba Han Sian lenyap dari hadapan mereka. Di lain saat mereka segera berteriak kesakitan empat larih sinar tajam seperti pedang yang berwarna-warni menembus jantung mereka dari arah punggung. Mereka mati dalam keadaan menggenaskan. Suasana hening, keempat pemuda yang melihat hal ini tidak dapat berkata apa-apa. Hanya memandang dengan ngeri saja melihat kematian empat datuk sesat ini tapi juga berterima kasih karena telah di selamatkan. Sebelum mereka mengucapkan terima kasih, Han Sian sudah menyahut:

Tak perlu kalian memandangku begitu, aku memang tidak senang melihat para Iblis itu mengganas. Kalian sembuhkan diri kemudian segera berpencar untuk memperingatkan para tokoh Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai agar berjaga terhadap serbuan kelompok Jit-goat-kauw pada hari Eng-hiong Tai-wang-gwe nanti. Aku akan bergabung dengan kalian setelah menyelamatkan gadis teman kalian itu. Selesai berkata demikian tangannya melemparkan satu botol kecil kearah Bee Tiong kemudian tubuhnya lenyap bagai asap mengejar kearah orang-orang yang menawan Jie Hong. Bee Tiong membuka tutup botol tersebut dan menuangkan isinya, ternyata ada empat buah pil yang mengeluarkan bau harum. Segera mereka meminumnya dan mengatuh jalan pernafasan, sepeminuman kopi kemudian mereka tersadar dengan tubuh yang lebih baik. Luka mereka sudah lebih ringan dan tidak mengganggu lagi. Mereka segera bergerak menemui kelima anggota kangouw-hiap-wi lain dan segera menuju ke Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai. Sementara itu Han Sian melesat cepat ke arah perginya delapan pentolan kaum sesat tadi. Tapi dia tidak sejauh-jauhnya dia mencari tidak juga dia temukan jejak ke delapan orang tersebut. Dia penasaran. Terus tubuhnya melesat ke atah selatan pada jajaran perbukitan yang menjulang di depannya. Tapi sampai pagi tidak juga dia dapat menemukan orang-orang yang di carinya. Menjelang pagi dia tiba di pinggir sebuah telaga yang tidak terlalu luas, namun memanjang sampai berpuluh kilo meter. Sangking kesalnya karena kehiangan buruannya, dia duduk melangkah mendekati pinggir telaga tersebut. Di lihatnya ada seorang kakek yang sudah tua sekali sedang memancing dengan tenang. Sekilas dia rambut kakek itu yang petih keperakan semua, dia memperkirakan umur kakek tersebut mungkin sudah lebih dari 100 tahun. Tapi kewaspadaannya segera meningkat ketika di lihatnya tangan dan kakek tersebut yang padat terlebih sinar matanya yang tajam tanda bertenaga dalam tinggi. Segera dia membuka suara bertanya: Maaf kakek tua, apakah engkau melihat delapan orang lewat di tempat ini sambil membawa seorang gadis? Aku baru saja datang di tempat ini. Ada apakah? Akhh, tidak apa-apa, aku hanya sedang mencari salah seorang sahabatku yang di tawan oleh para iblis... Hemm, kau berani sekali anak muda, tapi mereka itu sangat sakti, apa kau yakin dapat menyelamatkan temanmu itu? Huh, segala macam 12 Raja Iblis saja siapa takut, baru saja beberapa waktu lalu ku antar empat orang dari antara mereka menemui Giam-lo-ong...Eh, permisi, aku harus pergi setelah menjura sejenak, Han Sian membalikkan tubuh dan melangkah pergi. Namun baru saja dia berjalan lima langkah, tiba-tiba tubuhnyamelesat kesamping tiga langkah. Wuuuuuuutttt.....Daaaarrrrrr Tempat di mana kakinya berada tadi telah berlubang selebar satu meter hanya dengan ujung mata pancing. Tubuhnya segera berbalik menghadap ke arah kakek tua tersebut dengan pandangan waspada. Hahahahaha...rupanya kau cukup berisa, pantas kau sesumbar telah mengirim empat orang dari 12 Raja iblis tersebut...tapi maukah kau main-main denganku barang dua-tiga jurus? tantang kakek tersebut. Maaf, aku tidak mengenal engkau, bagaimana aku dapat melawanmu?

Kau akan segera tahu bila bisa menahan tiga kali seranganku... Baik...silahkan mulai Han Sian tahu kakek di depannya ini memiliki tenaga yang kuat, terbukti hanya dengan mata pancing dapat membuat lubang selebar satu meter. Segera dia mengerahkan Kiu-sian I-sin-kang untuk berjaga-jaga, ementara kedua tangannya telah di aliri Tenaga Inti Petir Murni. Jurus pertama... Seru kakek itu. Tubuhnya maju perlahan dan tangankanannya menepuk ke bahu kiri Han Sian. Sangat sederhana, seperti dua kawan lama yang saling menyapa sambil menepuk bahu saja. Tapi Han Sian merasakan suatu arus kekuatan yang mendorong kuat menggempur kuda-kudanya agar melangkah mundur. Tak mau kalah, segera tangan kirinya di angkat perlahan menepuk punggung tangan kakek itu. Namun meskipun perlahat namun tibanya cepat sekali. Ini membuat kakek itu juga terkejut karena tenaganya tiba-tiba terputus di tengah-tengah. Segera dia menarik tangannya. Dalam waktu singkat telah terjadi adu kekuatan dan kakek ini terkejut karena dia tidak dapat mengambil kemenangan dalam hal tenaga karena nampaknya tenaga pemuda itu tidak berada di sebelah bawahnya. Bagus...bagus, kau memang berbakat...lihat jurus ke dua...Heaaahh Tubuh kakek itu melenting ke atas dan tiba-tiba delapan belas bola api dan es seperti hujan menghantam ke arah Han Sian dan segera mengurung ruang geraknya. Han Sian tidak gugup melihat serangan ini. Dalam sekejap cahaya keemasan dari tenaga Hui-im Hong-sin-kang melapisi tubuhnya dan membungkus Pukulan Petir Murninya dalam gerakan yang sederhana menyambut bola-bola api-es tersebut sehingga semuanya meledak di udara tanpa satupun yang menyentuh tanah. Aiiikhhhh..... Kakek itu terkejut karena semua serangannya dapat di tangkis. Anak muda, aku simpan jurus ke tiga untuk di lain pertemuan...kau carilah buruanmu ke arah barat, mungkin mereka belum jauh...sampai jumpa.. Tubuhnya melesat cepat meninggalkan tempat itu. Han Sian tidak mencegah, lagipula dia memang tidak mempunya permusuhan dengan kakek tua itu. Segera kakinya bergerak melangkah ke arah barat sesuai petunjuk kakek itu. Tapi baru saja dia melangkah, tiba-tiba tangannya memukul jidatnya seperti teringat sesuatu. Segera dia berbalik dan tubuhnya melesat ke arah perginya sang kakek tua. Dengan penuh semangat dia mengempos tenaganya melesat di atas pepohonan sehingga dalam sekejap sudah melewati puluhan li. Sampai dia tiba di sebuah lembah berbatu-batu yang sunyi. Setelah sekian lama tetap saja dia tidak menemukan sosok orang tua tadi tapi ujung matanya tiba-tiba menangkap sebuah gerakan seseorang yang berlompatan dengan lincahnya dari atas batu-batuan memasuki sebuah guha sambil memanggul sesosok tubuh. Setelah mengawasi tempat itu sejenak, tubuhnya melayang ke arah guha dan masuk bagai asap tanpa di ketahui siapapun. Si Penakluk Dewa & Iblis Oleh : LovelyDear Episode 5 Ternyata lorong guha tersebut cukup panjang dan melebar ke dalam. Di kejauhan, telinganya menangkap suara orang berbicara. Cepat tubuhnya melesat ke arah suara tersebut dan beberapa

saat kemudian dia telah ada dalam guha yang sangat lebar tersebut. Di tengah-tengah guha tersebut, gadis cantik yang tadi dia lihat di tawan tampak di ikat di sebuah tiang berbentuk Patkwa yang di jaga oleh sembilan orang. Tubuhnya diam tak bergerak, mengawasi sekelilingnya. Sekejap saja dia sadar tidak ada jalan lain baginya untuk menyelamatkan gadis tersebut selain menempur para datuk sesat ini. Heemmm, orang muda, siapa kau berani lancang berurusan dengan kami? Bentak Hek-Tok-JiauwOng Sekejap Han Sian melirik ke arah gadis yang di ikat itu. Aku tidak punya urusan dengan kalian, aku hanya memenuhi permintaan seorang sahabat untuk menyelamatkannya Tangannya di kepalkan dengan jari telunjuk terbuka menunjuk ke arah Jie Hong. Tanpa di ketahui orang-orang sebuah tenaga bagai titik kecil yang kuat meluncur ke arah jalan darah di dada kiri Jie Hong dan membebaskan totokan gadis itu. Hanya gadis itu yang merasakannya tapi diapun tahu situasi, maka terus pura-pura lemas. Hahahahaha....kau mimpi anak muda, karena kau tak akan selamat mulai detik ini... Tiba-tiba Hek-Tok-Jiauw-Ong sudah melesat ke depan melancarkan pukulan sakti Hek-tok jiauw-kang. Dia tak berani ayal. Karena kalau Tai-kauwcu mereka memerintahkan mereka untuk waspada itu artinya anak muda ini berisi. Tapi dia kecele. Hanya dengan mengegoskan tubuhnya sedikit ke samping Han Sian telah menghindari serangan tersebut dan dalam sekejap tubuhnya di selimuti pengerahan tenaga HuiIm-Hong-Sin-Kang. Tenaga sakti Hong Api ini membuat tubuhnya bagai di kelilingi jilatan-jilatan api sehingga tempat itu jadi terang. Pertarungan berlanjut dengan seru. Nampaknya kali ini tidak mudah bagi Han Sian untuk menghadapi mereka. Karena ke sembilan orang ini adalah tokoh-tokoh sakti yang sudah puluhan tahun malang-melintang di dunia kang-ouw. Mungkin dengan kepandaiannya, dia dapat mengatasi mereka satu lawan satu. Tapi dengan di keroyok begini, meskipun dia tidak nampak terdesak, tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak pada kepungan mereka. Dia tahu akan sia-sia saja kalau dia terus melanjutkan pertempuran itu. Kalaupun dia mengerahkan semua ilmunya satu per satu, pada akhirnya toh dia hanya akan kelelahan saja dan ini bisa berbahaya baginya. Sementara itu sambil melontarkan Sui-ciam-kiam-cu (jalur Pedang Jarum Air) dan Hong-Lui-Kiam-cu (jalur Pedang Angin Petir) dari ilmu Bu-tek Chit-kiam-ciang untuk membuka kepungan musuh, ujung matanya melirik ke arah Jie Hong. Dia melihat gadis itu sudah mulai bergerak perlahan. Saat itu, ke sembilan orang itu sudah menyerangnya dengan jurus-jurus puncak dari ilmu mereka yang dahsyat. Pukulan-pukulan beracun berselewiran di mana-mana, sangat mengerikan. Bahkan Jie Hong yang menonton dari sampingpun terpaksa membatalkan niatnya untuk terjun ke dala pertempuran. Dia terpaksa segera bermeditasi untuk mengusir semua pengaruh racun di sekitarnya. Dengan bibir tersenyum menyeringai, tubuh Han Sian tiba-tiba berputaran seperti gasing dan di sekitar tubuhnya muncul asap hitam tebal yang dalam sekejap membentuk bola-bola tenaga hitam sebesar kelapa yang terbang mengelilinginya dengan suara mencicit nyaring dan menyambut semua serangan lawan. Inilah jurus pertama dari Ilmu Seribu Iblis Pemusnah yang dahsyat. Akibatnya sungguh hebat, kesembilan orang itu terpental dengan kuat ke belakang dan jatuh terduduk. Mereka terluka, meskipun tidak parah karena ilmu mereka sendiri yang membalik.

HEH! SERIBU IBLIS PEMUSNAH??? Anak muda dari mana kau mencuri ilmu itu?... Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan serangkum tenaga panas-dingin yang dahsyat meluruk deras ke arah Han Sian dengan sangat cepat hampir tak dapat di lihat oleh mata. Tenaga ini bagai api dan es yang jauh lebih kuat dari semua pukulan yang di lancarkan oleh sembilan lawan sebelumnya. Dengan telak menghantam tubuh Han Sian yang baru saja menarik pulang setengah dari kekuatan yang di lepasnya. DHAAAR... BLAAAAMMM.... Tubuh Han Sian terlempar menabrak dinding batu dan melesak sedalam setengah meter. Jit-goat-mo-ong? Han Sian terkejut melihat kakek ini. Tadi saat dia mulai menarik kembali tenaganya, dia merasakan sesuatu yang tidak beres. Segera dia mengerahkan Kui-sian isin-kang sampai tahap kekosongan, namun waktu yang dia miliki tidak cukup. Baru saja setengah dia kerahkan tenaganya, tubuhnya sudah terpukul telak. Han Sian mengerahkan tenaga Hui-Im-Hong-Sin-Kang, tubuhnya melesat keluar dan berdiri tegak di depan Jit-goat Mo-ong. Bajunya hancur dari sela-sela bibirnya mengalir darah kental. Dia terluka dalam yang parah. Hehehe...anak muda, apa kau masih sanggup menghadapiku dengan tubuh seperti itu? Mata Han Sian berkilat: Hemm...kau mau mencoba?...paling tidak kaupun tak bisa berbuat banyak padaku Alis Jit-goat Mo-ong berkerut. Dia bukan orang bodoh, dia tahu kehebatan Ilmu Seribu Iblis Pemusnah, karena ilmu itu adalah milik tokoh sakti yang masih terhitung kakek gurunya karena gurunya iblis Api-Es adalah sute dari Sang Iblis Pemusnah itu. Cuma dia tidak terlalu yakin apa pemuda di depannya ini sudah menguasai sampai tingkat ke tiga belas atau belum. Baiklah, nanti kita lanjutkan kemudian... Dia mengangkat tangannya dan dalam sekejap semua orang di situ telah menghilang di balik batu-batu. Kecuali Jit-goat Mo-ong yang masih tinggal. Anak muda, aku masih ada urusan kita bertemu lagi nanti...tinggallah kalian di situ sampai mati... Tiba-tiba tangan kirinya di pukulkan ke arah Jie Hong sedang tangan kanannya memukul hancur dinding batu di sebelahnya. Selarik sinar ke hitaman menerjang ke arah Jie Hong. Segra nona ini mengangkat tangannya menangkis. Tapi sesaat sebelum pukulannya beradu dengan larikan sinar itu, Han Sian sudah berkelebat menarik pinggangnya. Dhaaarrrrr... Dinding di belakang Jie Hong berlubang besar. Gadis itu terbelalak. Sementara itu guha itu tiba-tiba bergertar keras saat mulut guha tertutup oleh tembok besi setebal sepuluh inci. Rupanya dinding sebelah kanan yang di pukul hancur oleh Jit-goat Mo-ong ini adalah alat penggerak dari dinding baja tersebut. Setelah goncangan itu berhenti, tinggal mereka berdua di dalamnya. Han Sian terdiam tak bergerak dengan tatapan kosong. Melihat ini Jie Hong khawatir dan menyentuhnya. Saat itulah tiba-tiba tubuh Han Sian meluruk jatuh ke tanah dalam keadaan pingsan. Ternyata lukanya sangat parah. Jie Hong bingung, khawatir tidak tahu apa yang bisa di lakukan. Dia sudah coba menyalurkan tenaga, tapi selalu terpental balik. Setelah lebih setengah hari dia mencoba, akhirnya dia pasrah dengan kepala bersandar di atas dada Han Sian, menangis sesegukan...Dia sedih, karena tahu

bahwa mereka terkurung di tempat itu. Dia sudah memeriksa tempat itu tapi tidak ada jalan keluar. Berapa saat kemudian dia menangis, sampai tertidur. Keadaan guha itu dingin dan senyap. Sepeminuman teh kemudian, Jie Hong tersadar. Tapi dia merasa sesiuatu yang aneh tapi hangat mengalir di sekitar tubuhnya. Dia merasakan sebuah tangan memegang kepalanya yang sementara bersandar di dada telanjang tak berbaju. Mukanya merah dan segera akan bergerak, tapi tiba-tiba... Jangan bergerak nona, kita sedang dalam tahap pemulihan, pergerakanmu akan mengacaukan arah gerakan sang naga.... Suatu suara berbisik di telinganya, akhirnya dia menurut dan diam tak bergerak. Dirasakannya tenaga yang aneh namun amat kuat berganti-ganti menerobos tubuhnya dan lenyap berulang-ulang yang membuatnya serasa nyaman. Tidak menunggu lama akhirnya proses itu selesai saat pemuda itu menarik tenaganya. Nona maaf, aku menggunakan tubuhmu sebagai perantara kesembuhanku serta memperkuat tenagaku... Han Sian menatap Jie Hong dengan penuh selidik. Lupakan, kita senasib...kau sudah membantuku lepas dari aib, aku sungguh berhutang budi padamu... Nona, aku Han Sian, bolehkah ku tahu siapakah namamu...? Jie Hong... Nama yang indah, seindah orangnya... Kata Han Sian memuji, tiba-tiba ruangan itu jadi terang oleh kayu yang di bakar oleh Han Sian dengan ilmu Hui-Im-Hong-Sin-Kangnya. Pipi Jie Hong menjadi merah mendengar pujian ini, sejenak wajahnya tertunduk malu. Han Sian terpesona, tangannya terulur memegang tangan Jie Hong. Bolehkah aku memanggilmu Hong-moi?... Gadis itu mengangkat mukanya memandang wajah tampan di depannya itu. Boleh...boleh Sian-Ko Entah bagaimana caranya dan entah siapa yang memulai terlebih dahulu, tapi tiba-tiba kedua insan itu sudah berpelukan mesra. Han Sian mencium bibir hangat gadis itu dengan penuh perasaan. Dan sejauh ini, Jie Hongpun hanya diam saja dengan pasrah sampai akhirnya mereka bergulingan di lantai guha itu dengan tubuh telanjang tanpa pakaian sama sekali. Jie Hong menggeluh lirih saat tangan Han Sian meremas-remas kedua payudaranya, sedangkan lidahnya mengulum puting bukit yang menjulang indah dan mengeras itu. Pada dasarnya Jie Hong memang seorang gadis yang sangat cantik, tidak kalah dari In Lan maulun Hong Lian. Tubuhnya sintal dengan buah dada yang padat dan kencang. Sementara pinggulnya bulat dan padat. Pahanya yang panjang dengan kulit putih mulus, sungguh membuat Han Sian yang sudah cukup lama tidak bermesraan, bergerak bagaikan harimau yang sedang menikmati mangsanya. Dia menikmati seluruh keindahan tubuh itu dengan mantap dan bergairah. Dengan segenap pengalaman yang di milikinya, dia membuat Jie Hong mengkeret sampai bibir manis itu mengerang-erang lirih dengan keras...Apalagi ketika Han Sian mulai menindih gadis itu dan memasukkan miliknya yang besar. Perlahan, namun pasti...Jie Hong menggelinjing menikmati

permainan Han Sian yang membuat dia merasakan kenikmatan yang belum pernah di alaminya sebelumnya dengan amat sangat, cukup lama, sampai akhirnya: Aaaaaaaaaakkkhhhh..... Kakinya terangkat ke atas dan mengejang kuat. Tangannya menggaruk lantai dengan kepala terangkat ke belakang... Ooooohhhh... berulang kali dia menggeluh nikmat ketika Han Sian terus membiarkan miliknya tinggal di dalam dan memutar-mutar pinggangnya. Sampai lama, Jie Hong menggigit bawah bibirnya sambil memejamkan mata dan mengejang ...akhirnya tenaga keduanya mengendur sambil terus berpelukan dengan berpeluh. Han Sian terus mengulang-kembali permainan itu sampai empat kali. Ternyata walaupun baru pertama kali, jie Hong pasrah saja meskipun hampir tidak sanggup menahan kenikmatan yang berulang-ulang kali di rasakannya itu. Demikianlah beberapa waktu lewat. Han Sian akhirnya tersadar, dan mulai menyelidiki tempat itu. Tempat itu memang telah tertutup dengan rapat. Tapi secara kebetulan mereka menemukan jalan air yang masuk ke tempat itu. Mereka mulai menggalinya sehingga itu tembus sampai ke sebuah sungai yang mengalir di bawah bukit tersebut. Hari itu tepat satu hari sebelum Pertemuan besar tersebut. Dengan Ilmu meringankan tubuhnya Han Sian membawa Jie Hong dengan cepat untuk bertemu dengan para tokoh-tokoh aliran putih lain yang juga membagi dua kelompok yang menuju ke arah Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai untuk melindungi kedua perguruan tersebut. Para pengacau Jitgoat-kauw sangat terkejut akan adanya bala bantuan yang mereka tidak harapkan ini di sela-sela kemenangan yang hampir mereka raih, sehingga rencana mereka menghancurkan kedua partai besar itu gagal total. Namun meski demikian tetap ada banyak sekali makan korban. Demikianlah saat terjadinya pertempuran di pertemuan antara para pendekar dengan Tee-mo Kiam-ong, saat yang sama juga para pendekar sedang menghadapi penyerbuan para pengikut Jitgoat-kauw sehingga tidak ada yang menghadiri pembantaian maut ti Puncak awan Putih tersebut. Kekuatan hitam terpukul mundur, 12 raja Iblis hanya tersisa lima orang. Sedangkan empat partai sesantinggal beberapa pentolannya yang melarikan diri. Sedangkan Jit-goat Mo-ong sendiri bertarung satu hari-satu malam dengan Han Sian sehingga terluka parah danmelarikan diri. Peristiwa ini adalah peristiwa yang paling tragis yang terjadi di dunia persilatan. Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai hampir berantakan. Setelah peristiwa tersebut dunia kang-ouw dan bu-lim menjadi sepi. Tidak ada pergerakan apapun yang muncul sampai setahun kemudian. ---lovelydear--Hampir satu tahun tidak ada gerakan apapun dari para pendekar ataupun partai-partai lainnya. Dunia kang-ouw dan bu-lim kehilangan kepercayaan diri. Situasi ini menyenangkan dan mulai di manfaatkan oleh para pengikut jalan Hek-to. Di mana-mana muncul raja-raja kecil yang merajalela dengan kejahatan mereka yang tanpa ampun, membunuh dan memperkosa anak-istri orang. Diantaranya ialah dua perkumpulan yang menamakan diri mereka Thian-tee-san-pai (Perkumpulan gunung langit dan bumi) dan Kim-liong-kiam-pai Memasuki daerah Lam-khia, seorang pemuda berjubah putih berjalan dengan gagah memasuki rumah makan paling terkenal di sekitar laut timur ini.. Wajahnya tampan dengan alis tebal dan bibir yang selalu tersenyum kalem. Di punggungnya terdapat sebuah buntelan pakaian. Dengan tenang dia naik ke lantai tiga dan memilih tempat duduk di sudut ruangan yang menghadap kearah pintu. Tempatnya strategis sehingga mudah melihat orang-orang yang keluar

masuk dan juga ke luar. Tidak menunggu lama karena memang pelayanan di rumah makan itu sangat cepat untuk memuaskan pelanggan, pemuda itu sudah menikmati masakan dengan uap yang masih mengepulnikmat sekali. Tak berapa lama dia menyelesaikan makanannya. Seketika dia hendak membayar harga makanannya, tiba-tiba matanya menangkap gerakan yang tidak wajar dari orang-orang dalam ruangan tersebut. Mereka semua memandang kepadanya dengan sorot mataaneh. Tiba-tiba salah satu pria berjenggot disebelah kanannya maju dan duduk di depannya sambil berkata: Anak muda, nampaknya kau dari golongan putihsiapa kau dan dari mana asalmu? Pemuda itu tidak menjawab. Hanya ekspresi wajahnya yang tenang dan kalem memiliki karisma yang sangat menggetarkan. Sehingga mau-tak mau pria berjanggut itu agak was-was juga, namun saat dia mengedarkan pandangan ke arah rekan-rekannya hatinya menjadi mantap lagi. Kembali dia membentak: Kalau kau tidak mau menjawab, jangan salahkan kalau aku melemparmu ke luar Berkata begitu, dengan cepat ke dua tangannya tiba-tiba terulur kea rah pundak pemuda itu dan mencengkram bahunya dengan salah satu jurus Kin-na-jiu yang cukup bertenaga. Tampaknya pemuda itu akan menemui sialnya. Semua orang memandang dengan senyum-senyum liar. Heeeeaaaahhh Braakkk Satu tubuh melayang ke luar dengan cepat dan menghantam gerobak yang ada di luar, sekejap semua orang belum sadar, tapi di lain saat orang-orang di dalam ruangan itu serentak berdiri dan mencabut senjata mereka masing-masing. Hemmmmaaf, aku tidak berniat mencelakainya, dia sendiri yang caripermisi Sraaattt Tiba-tiba tubuh pemuda itu melayang ke luar dengan ringan sambil membawa buntelannya. Sementara melayang , tangannya melemparkan lima keeping uang tembaga yang menembus dinding dekat kasir. Hahahakalau kau bisa semudah itu lolos, jangan panggil kami Hek-pek-tok-coa-siang (Sepasang ular beracun hitam-putih) Selagi orang-orang terkejut, tidak tahu mo buat apa, dua buah bayangan berjubah hitam dan putih melesat keluar dengan cepat sambil memukul ke arah punggung pemuda yang masih melayang di udara tersebut. Terdengar suara berkesiuran yang dahsyat di ikuti bau amis mengarah ke arah punggung si pemuda. Sedetik saat kedua pukulan itu akan mengenai sasarannya, tiba-tiba tubuh pemuda itu menghilang dari depan mereka. Kedua orang itu terkejut dan segara berjungkir balik untuk menghindari bokongan musuh dan mendarat di atas tanah. Mata mereka mencari-cari, dan wajah mereka murka ketika melihat pemuda buruan mereka berjalan lenggang menuju luar kota. Segera mereka mengejar dengan cepat. Pemuda itu hanya berjalan seenaknya saja, namun betapa terkejutnya mereka karena jarak mereka tetap terpaut jauh seperti tadi. Tapi tidak menunggu lama karena dari jauh mereka melihat berkelebatnya empat bayangan yang langsung mengepung pemuma itu. Segera mereka mendekan karena itu adalah rekan-rekan mereka. Hahaha, mungkin kau punya bekal sedikit kepandaian, tapi kau tetap tak akan lolos dari kami berkata si pria muka putih, salah satu dari Hek-pek-tok-coa-siang Maaf cuwi skalian, saya hanyalah seorang perantau saja, bolehkah saya tahu apa kesalahan saya sehingga cuwi mengejar-ngejar saya? Tanya pemuda itu dengan suara yang masih tenang dan terkesan ramah.

HemmSiapapun yang berasal dari golongan putih, harus mati. Bengcu kami menyediakan hadiah besar bagi siapapun yang berhasil memenggal kepala para pendekar dari golongan putih Bengcu? Eh, bukankah bengcu itu harusnya melindungi keamanan kaum persilatan??? Pemuda itu berseru heran. Hahaha, rupanya kau baru turun gunung ya? Sekarang ini kekuatan kalian kaum putih sudah hancur dan tidak bisa di andalkan. Bengcu dunia persilatan sekarang adalah raja pedang Tee-mo Kiam-ong yang sangat sakti dan tanpa tanding. Oh ya, terima kasih atas informasinya, kalau begitu cahye mohon diri dulu Pemuda itu tetap kalem menjawab. Hohohotidak semudah itu, kau harus melewati kami dulu Jawab salah satu dari ke empat orang yang mencegatnya sambil melancarkan pukulan yang kuat ke tengkuk pemuda itu. Namun hanya sedikit memiringkan tubuh saja pemuda itu sudah menghindar. Namun kembali orang itu menyerang dengan tendangan samping di ikuti tangannya yang melemparkan pelor-pelor besi ke arah kepala dan dada pemuda itu. Dengan sebat pemuda itu mengangkat tangannya menangkap pelor-pelor tersebut dan sekali remas langsung hancur. Sementara itu tendangan orang itu di tepisnya dengan perlahan. Namun akibatnya hebat, orang itu tiba-tiba terlempar dengan tulang kaki patah. Serbuuuu. Bentak Hek-coa marah, sekejap di tangannya dia sudah memegang seekor ular hitam yang beracun. Diikuti ke lima rekannya yang memegang berbagai senjata aneh lainnya, mereka menyerbu sambil mengeroyok pemuda itu. Namun mereka kecelik kalau mengira pemuda itu makanan empuk. Di antara selewiran senjatasenjata yang menyerang dengan cepat, tetap tidak ada satupun yang sanggup menyentuh pemuda itu yang bersilat dengan ilmu Hong-in Bun-hoat (silat sastra Awan dan Angin) dan mementalkan setiap senjata lawan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, memasuki jurus ke lima belas, tiba-tiba pemuda itu yang tadinya hanya diam di tempat, tiba-tiba melangkah dengan aneh sambil membagi-bagi pukulan yang mengeluarkan hawa panas dan dingin. Hwi-yang Sin-ciang dan Soat-im Sin-siang??? Seru pek coa dengan kaget. Dia dari keluarga SumaLARIII.. Seru yang lain, namun terlambat. Belum lagi mereka bergerak lari, dari lidah mereka terdengar suara raungan dan jerit kematian dari tubuh yang hangus dan beku. Satu-satunya yang selamat hanyalah pria yang tidak ituk mengeroyok yang masih duduk karena patah tulang kakinya. Pemuda itu diam, Ekspresi penyesalan tampak dari wajahnya. Perlahan matanya melirik orang yang patah kaki tersebut. Apakah engkau masih mau kepalaku?... Titidtidak tayhiap, ampunampunkan saya Baiklah, kau boleh pergi, tapi ingat! Sekali lagi aku menemukanmu melakukan perbuatan jahat, Aku Suma Hong Sin tak akan mengampunimuKaum putih belumlah kalah karena sekarang legenda Enam Dewa Pelindung Tanpa Tanding telah bangkit lagi Belum habis suaranya, tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata.

Siapakah Suma Hong Sin ini? Dia putra bungsu dari lima bersaudara yang merupakan keturunan terakhir dari keluarga Pulau Es yang sudah lama musnah itu. Dia adalah satu-satunya keturunan keluarga Suma yang dapat mewarisi ilmu-ilmu pilihan keluarganya sampai di tingkat yang tertinggi. Diantaranya,: Bian-Ciang, Hwi-yang sin-ciang & Soat-im sin-ciang, Hong-In Bun-hoat, dan ilmu sihir I-Hun-to-hoat serta Hong-lui Tai-hong-ciang yang menjadi kebanggaan leluhurnya dulu. Bahkan dia satu-satunya yang berhasil menguasai penggabungan Hwi-yang sin-ciang & Soat-im sin-ciang yang di ciptakan oleh leluhurnya yang berjuluk Siluman Kecil. ---lovelydear--Selama berpuluh tahun keluarga Khu di puncak Sian-thian-san adalah tempat yang sangat sulit di datangi. Dan menjadi salah satu tempat keramat. Golongan hitam sekalipun segan berurusan dengan penghuni puncak ini. Namun di hari yang cerah itu, tiba-tiba terdengar dua jeritan keras dari sebuah rumah yang ada di tengah-tengah perkampungan. Tak lama kemudian sesosok bayangan hitam berkelebat amat cepatnya melarikan diri sambil membawa buntelan kecil. Bangsat tak tahu di untungmau lari ke mana kau?... Satu sosok bayangan yang lain dengan cepat memapaki laju bayangan hitam tersebut sambil memukul dengan pukulan yang mengandung tenaga dalam tinggi. DhuaaarrrrrSleepp Orang yang memamapi itu terlempar kebelakang dan menabrak pohon di belakangnya. Segera bayangan berbaju hitam itu berkelebat lenyap dari tempat itu. Suasana kembali tenang. Hanya angin yang bertiup tenang. Dari bagian utara puncak tersebut, berjalan dua orang yang saling bergandeng tangan sambil tertawa-tawa. Yang satu nampak tua sekali sedangkan yang satu seorang pemuda tampan. Tampaknya mereka masih belum menyadari ada sesuatu yang mengerikan telah terjadi sampai langkah mereka terhenti di pekarangan yang luas di hadapan sesosok mayat yang telah dingin. Hok-jin kau kenapakah???... Seru si kakek yang terlebih dahulu melihat mayat itu sambil mendekati dan memeriksanya. Namun namanya mayat, tetaplah mayat. Biar bagaimanapun tetap takkan bisa menjawab. Hanya satu yang mengejutkan, ialah pelayan ini mati dengan dada hancur akibat gentakan ilmu Bu-kek-kang-sin-kang tingkat ke empat yang mereka kenal baik. Timbul rasa tidak enak di hati ke dua orang ini dan dalam sekejap tubuh mereka melesat bagai asap hampir bersamaan ke arah rumah. Dan tak ayal lagi, tiba-tiba terdengar jerit yang menyayat hati dari pemuda tadi. Ayahhhhh..Ibuuuu??? Pemuda itu bertelut sambil memeluk mayat dua orang yang menjadi korban suatu ilmu yang sama yang mereka sangat kenal baik. Mata anak muda berusia duapuluh tahun itu berkaca-kaca, namun dia masih berusaha mengeraskan hatinya. Ayah, Ibu, siapa yang melakukan ini pada kalian?... Liong-ji lihat itu? tiba-tiba sang kakek menunjuk ke lantai de sebelah mayat ayah dari pemuda itu. Terdapat tulisan yang tampaknya di tulis dengan darah, berbunyi BUNUH TIN CU Kong-kong, di mana Suheng Tin Cu?... Anak muda itu segera terhenyak dan melompat berdiri. Tanpa menunggu jawaban kong-kongnya, tubuhnya melesat ke dalam menuju kamar pusaka. Dan apa yang dia dapat, sungguh membuatnya kesal karena orang yang di cari tidak ada. Sekejab, tahulah dia, bahwa suhengnya itu mungkin telah berkhianat Segera dia kembali ke ruang di mana ayah dan ibunya terbaring.

Kong-kong, aku rasa suheng Tin Cu berkhianat, aku akan mengejarnya Suaranya perlahan saja, namun matanya merah tanda amarah yang amat sangat. Sang kakek bangkit berdiri. Dengan mata berkilat di tatapnya pemuda di depannya dan berkata: Redakan amarahmu, karena kau akan gagal kalau hanya menuruti nafsumukalau kau sudah tenang, masih belum terlambat untuk mencarinya. Habis berkata demikian, kakek itu menggerakkan tangannya dan ke dua tubuh itu terangkat dan melayang ke arah dalam. Pemuda itu hanya tinggal berdiam di ruangan itu sendirian sambil berusaha mengendalikan dirinya. Lewat dua hari setelah pemakaman ke tiga mayat di puncak Sian-thian-san itu, nampak pemuda itu berlutut di depan sang kakek. Cucuku Khu Hee Liong, tampaknya sejak awal, murid murtad itu sudah bersiasat untuk menyeludup guna mempelajari ilmu pusaka kita. Tapi jangan khawatir, meskipun dia membawa lari pusaka-pusaka kita, tapi rahasia untuk melatih ilmu-ilmu itu sampai tingkat yang tertinggi tidak ada dalam cartatan kitab-kitab tersebut. Dia terdia sejenak. Selain kau harus mencari murid murtad itu dan membawa kembali ilmu kitab-kitab pusaka itu, kau juga harus mewakili leluhurmu membangkitkan lagi legenda Enam Dewa yang sudah terkubur selama delapan puluh tahun Legenda Enam Dewa Tanpa Tanding? Apakah itu kong-kong?... Delapanpuluh tahun lalu ketika dunia persilatan mengalami bencana karena munculnya para pengganas sesat pelarian dari Tibet dan Nepal, dunia persilatan meminta bantuan enam keluarga untuk menghadapi mereka. Ke enam keluarga ini kemudian mengutus jago-jago terbaik mereka yang kemudian di kenal dengan julukan Enam Dewa tanpa tanding.dua bulan lalu saat kong-kong sedang bermeditasi, tiba-tiba seorang pemuda yang mengaku bernama Han Sian muncul dan menyerahkan surat ini. Tangan kakek itu tiba-tiba menyodorkan suat surat pada Hee Liong yang segera menyambutnya dan membaca. Dalam surat itu berbunyi: Demi terciptanya kembali keamanan dunia persilatan, mohon bantuan Enam Dewa Tanpa Tanding Siapakah pemuda itu kong-kong? Hemmdia sebaya denganmu dan mengaku bernama Han Sian. Anak muda itu lihai sekali karena dia mewarisi Hui-Im-Hong-Sin-Kang dan Kui-Sian I-sin-kang yang telah di kabarkan lenyap limaratus tahun lalu. Agaknya hanya dengan menguasai Bu-kek-kang-sin-kang tahap ke sepuluh baru kau bisa menandingi sama kuat dengannya. Baik, kongkong, Liong-ji akan memperhatikan hal inimohon pamit? Habis berkata demikian, tubuhnya melesat lenyap bagaikan asap saja. Pembaca, Khu Hee Liong adalah satu-satunya keturunan keluarga dari Sian-thian-san yang sanggup menjebol ilmu dahsyat Bu-kek-kang-sin-kang tahap sembilan di usianya yang masih muda itu. ---lovelydear--Dari atas wuwungan tertinggi tempat kediaman keluarga Thio di lembah Tanpa Nama, Han Sian memandang ke bawah. Sudah hampir satu jam dia berdiri di situ, diam tak bergerak. Sepertinya dia sedang menunggu sesuatu.

Memang satu bulan ini Han Sian nampak sibuk ke sana-kemari. Entah takdir dewata atau apa namanya, tapi secara kebetulan dia telah menemukan sebuah guha tersembunyi dimana dia memperoleh enam lempeng dengan symbol Enam Dewa yang di ukir bagaikan prasasti di dinding batu. Di situ di jelaskan mengenai peristiwa berdarah yang terjadi delapan puluh tahun lalu. Waktu itu dunia persilatan dalam keadaan kacau balau karena adanya penyerbuan para tokohtokoh sesat dari Nepal & Tibet yang memberontak. Para perusuh ini menghasut banyak tokohtokoh dunia hitam yang merajalela yang kemudian membentuk pasukan iblis dalam suatu pergerakan yang di sebut Operasi Seribu Halilintar. Pembantaian besar-besaran di lakukan pada tengah malam, semua tokoh-tokoh kaum putih di bunuh oleh pasukan-pasukan yang terdiri dari gabungan para tokoh sesat tersebut. Namun tepat saat krisis ini hampir tak dapat di hindari, muncullah para jago-jago dari enam keluarga besar: Suma, Lu, Yang, Kiang, Khu, dan Thio yang menyelamatkan dunia persilatan dan mengusir para perusuh ini dengan ilmu-ilmu mereka yang sakti tanpa tanding. Mereka kemudian di nobatkan oleh dunia persilatan sebagai Enam Dewa Pelindung Tanpa Tanding. Dimana di saat-saat tertentu, maka kedudukan mereka ada di atas Beng-cu dan berhak membatalkan kedudukan Beng-cu jika di dapati keadaan yang menuntut demikian. Setelah keadaan kembali aman, wakil ke-enam orang inipun menghilang dari dunia persilatan, dan hanya meninggalkan suatu amanat melalui lempengan baja itu, bahwa pemegang lempengan itu berhak memanggil ke-Enam Dewa pelindung tersebut bila di perlukan. Hampir satu tahun ini Han Sian menghilang. Sebenarnya tidaklah menghilang, tapi menyelidiki suatu gerakan bawah tanah yang sangat mengejutkannya. Musuh besarnya, Tee-mo Kiam-ong yang telah menjadi Beng-cu baru dunia persilatan, ternyata menyimpan gerakan rahasia yang bahkan lebih besar dari Jit-goat-kauw. Beng-cu baru ini memperkuat pasukannya dengan melatih mereka ilmu pedang iblisnya sehingga membentuk pasukan pedang iblis yang menakutkan. Di samping itu dia juga telah bersekutu dengan Jit-goat Mo-ong serta merekrut para pengikut-pengikut Ang-I-Lama dari tibet. Total semua pengikutnya ada sekitar dua ribuan lebih. Melihat ini Han Sian bergidik membayangkan jika pasukan ini melakukan serangan besar-besaran untuk mengacaukan dunia persilatan. Kalau dia hanya bergerak sendiri saja itu mustahil. Maka ketika dia menemukan enam lempengan ini, hatinya senang dan berusaha mencari jalan mengadakan kontak dengan para keluarga ini. Selama ini dia belum menunjukkan lempeng tersebut kepada mereka. Hanya dalam suratnya saja menyebutkan bahwa Pemegang Lempeng Enam Dewa mengundang ke-enam keluarga untuk bertemu. Saat ini dia sedang berada di keluarga terakhir dalam daftar enam dewa tersebut, yaitu keluarga Thio. Keluarga Thio terkenal sebagai keluarga yang misterius bagi semua orang, Sejak leluhur keluarga ini mendirikan keluarga ini. Mereka memiliki peraturan yang amat ketat saat mewariskan ilmu-ilmu keluarganya pada keturunannya karena tidak sembarang orang dapat melatih ilmu-ilmu keluarga ini. Beberapa saat kemudian, nampak ada gerakan dari bawah. Seorang kakek tua berjubah putih nampak dan berkata: Han Kong-cu, keluarg kami sudah menerima surat itu tapi kami belum tau apa masalahnya, jika benar lempeng enam dewa itu ada padamu, maka engkau harus membuktikan bahwa engkau layak memanggil enam dewa tersebut untuk suatu urusan yang penting...beranikah kau? Maaf Siauw-tee belum dapat mengemukakan masalahya sebelum Enam Dewa berkumpul tapi Siauw-tee siap untuk di uji, silahkan?

Hemm..di sini ada empat orang putra terbaik kami. Tapi di antara mereka berempat, ada satu yang paling lihai dan yang memiliki tingkat tertinggi dalam penguasaan ilmu silat keluarga kami. Jika engkau dapat memaksa salah satu dari mereka mengeluarkan ilmu tertinggi kami Kiu-yang Cin-keng ataupun Kian-kun Tay-lo-I-Im-Yang, maka kami akan merelakannya membantu tugas suci sebagai salah satu dari enam Dewabagaimana? Belum habis ucapannya, dalam sekejap di hadapan Han Sian telah berdiri empat pemuda dengan tampang yang berbeda. Dari gerakan mereka Han Sian cukup terkejut. Keempat orang ini ratarata memiliki ilmu silat yang tinggi. Teringat dia akan Tee Sun Lai. Sejenak dia mengamati keempatnya. Dia tahu keempat orang ini pastilah sangat lihai. Sampai lama dia menatap mereka satu persatu, tiba-tiba tangannya di kebaskan ke arah empat orang itu hamper bersamaan. Dia telah memukul dengan pengerahan ilmu Ngo-heng Thian-kiam-cu (Jalur Pedang Langit Lima Unsur) dari Bu-tek Chit-kiam-ciang dengan 7 delapan bagian tenaganya. Maaf, ijinkan aku meminjam papan nama kalian Belum habis perkataannya, tiba-tiba tangannya di kebaskan dan lima larik sinar tajam warna-warni melesat keluar dengan dahsyat dari kelima jarinya. Empat mengarah pada keempat pemuda tersebut, sedang yang satu lagi mengarah ke arah papan nama di sebelah kiri, agak jauh dari tempat keempat lawannya berdiri. Nampak sederhana saja serangannya, tapi hasilnya sungguh hebat. Keempat orang itu bergerak hampir bersamaan menangkis serangan itu sehingga menimbulkan lima ledakan dahsyat yang menggetarkan. Suasana senyap. Han Sian terdiam. Keempat orang itupun terdiam, tapi yang satu sudah berpindah tempat ke kiri. Diam-diam Han Sian berdecak kagum. Dia sempat menangkap kelebatan orang ke tiga yang tiba-tiba saja sudah menangkis ke dua hawa pedangnya hampir bersamaan, hanya beda kurang dari seperlima detik saja. Tak lama kemudian terdengar suatu berat dari kakek tadi: Kau menang Han-kong-cu, kami akan membantu. Han Sian tersenyum. Sekelebat pemuda tadi sudah berada di depannya sambil tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya menjura: Namaku Thio Tay Leekau hebat, agaknya kita bisa menjadi sahabat, bukan?...Oh ya, kapan kita berangkat Han Sian balas menjura, kemudian menimpali: Kita tidak punya banyak waktu, ada banyak hal yang musti di selesaikan. Sebaiknya kita berangkat sekarang Aku sudah siap dari tadi, silahkan Tanpa banyak cakap pemuda itu mengangguk dan mempersilahkan Han Sian untuk jalan duluan. Di lain saat, tubuh mereka berkelebat lenyap dengan di pandangi oleh keluarga lain. ---lovelydear--Sudah lama kita tinggalkan Cu In Lan. Satu tahun bukan waktu yang pendek, namun ketekunan dan juga di dorong oleh kerinduan untuk bertemu kekasihnya, membuat waktu satu tahun itu serasa sirna dalam sekejap.

Selain mematangkan semua ilmu-ilmunya, dia juga mendapat gemblengan lahir batin dari YokSian dan Koai-Hud. Bahkan mereka ikut juga mematangkan gadis ini dengan mengoperan tenaga sakti mereka secara bertahap sehingga, dalam waktu yang singkat, In Lan mendapat kemajuan yang amat hebat, terutama ginkangnya dan juga tenaganya. Sekarang dara itu dapat memainkan Pukulan Inti Petir Murni yang sudah di gabungkan dengan Ilmu Ban-hud-ciang dari Koai-Hud. Dahsyat sekali. Selain itu dia juga sudah menguasai jurus Sian-ci Sin-thong yang sakti dari YokSian Hari itu adalah hari terakhir dia tinggal di puncak tebing langit. Tadi malam kedua suhunya sudah memanggilnya dan memberi pesanan agar segera turun gunung dan menunaikan tugasnya sebagai seorang gadis pendekar. Sebenarnya, walaupun dia sedih, namun ada kegirangan yang amat sangat dalam dirinya. Terbayang suatu wajah di benaknya. Sampai lama hingga akhirnya dia tersipu-sipu malu seorang diri. Setelah berkemas, dengan enteng dia menuruni Puncak Tebing Langit hingga tiba di bawah. Sambil mengerahkan Thian-in Hui-cu, tubuhnya melesat mengarah ke timur. Tujuannya ke kota raja. Di sepanjang perjalanan kadang-kadang dia membantu rakyat jelata untuk menghadapi penjahat-penjahat yang mengganggu ketenangan. Karena kebaikan hatinya, dia kemudian di juluki Kim-Sim Sian-li (Dewi Berhati Emas). Suatu hari, dia melewati daerah perbukitan yang luas. Pemandangan alam yang indah nampak di depan mata, menyenangkan hatinya. Sambil bernyanyi-nyanyi riang, dia berjalan sambil bersiulsiul. Siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona bagai melihat bidadari yang turun dari khayangan. Tapi rupanya dia tidak sendirian di tempat itu. Dua pasang mata dari tempat tersembunyi sedang menatap dengan penuh nafsu kepadanya. Jarak antara pemilik mata itu dengan In Lan terpaut sepuluh langkah. Namun In Lan bukannya tidak tahu akan hal ini. Tingkat kepandaiannya sudah sangat tinggi, sehingga gerakan kecil apa saja dapat terdeteksi olehnya, apalagi kalau hanya desahan nafas dua orang yang mulai memberat, tapi dia diam saja. Dia juga tidak mau mengganggu kalau tidak di ganggu. Sekian lama menunggu, akhirnya kedua orang itu tak kuat menahan lagi, seketika itu juga mereka berkelebat menghadang. Hehehehe, cah ayusedang apa di sini? Apakah tidak takut sendirian?...tapi gak apa-apa, asalkan ada aku di sini, kau pasti aman Kata orang pertama. Akhhbenarbenar asalkan cah ayu suka menemani kami barang beberapa hari, hohoho In Lan menatap mereka sambil tersenyum: Boleh, bolehtapi ada syaratnya Kedua orang itu semakin terbelalak mendengar ini: Eh, manisapa syaratnya? Meski mataharipun akan ku berikan padamu?... Syaratnya mudah, aku mau memukul dada kalian, tapi kalian harus dapat menahannya. Kalau tidak, aku tidak maubagaimana? Mudahkan? Mau..maumau, ayo pukul sekarang juga, jangankan hanya satu, meski seribukalipun kami siap Kata laki-laki yang ke dua sambil membusungkan dada.sementara temannya hanya menganggukangguk.

Baiklah, mana dada kalian? In Lan melangkah maju sambil kedua tangannya di angkat dan memukul perlahan. Tingkahnya ini di sambut dengan senyum-senyum penuh arti oleh ke dua orang yang membusungkan dada mereka dengan bangga. Tapi tidak berlangsung lama, karena kesudahannya sungguh mengejutkan kedua orang itu. Tubuh mereka melayang sejauh sepuluh tombak kembali ke tempat persembunyian mereka tadi. SAMPAH!!! Tiba-tiba terdengar suara bentakan kecil, dan satu bayangan berjubah hitam sudah menyambut tubuh kedua orang yang sudah setengah pingsan akibat pukulan In Lan itu dengan telapak tangan terbuka. Terdengar bunyi ledakan dua kali dan tubuh ke dua orang itu hancur seketika dengan darah berhamburan. Siapa kau? Bentak In Lan. Wajahnya tidak senang, dia tidak bermaksud membunuh ke dua orang itu, hanya mau memberi pelajaran. Tapi orang ini dating-datang langsung main bunuh. Heemmmmaku Hek-Eng-Cu mau kamu melayaniku Berkata demikian cepat sekali tubuhnya sudah melesat ke depan In Lan sambil menotok ke dada gadis itu. Ehhh??? In Lan terkejut sekali, tapi temponya tidak banyak, segera kakinya di genjotkan dan tubuhnya mundur dua langkah dengan cepat mengikuti tenaga dorongan hawa totokan lawan. Ahhh, kau berisi juga ya Pria berjubah itu tiba-tiba melesat ke atas dan memukul dengan tangan terkembang. Itulah hawa Bu-kek-kang-sin-kang tingkat pertama. Heaaaahhh. Daaarrrr In Lan tersurut tiga langkah, namun dia tidak terluka. Ternyata ilmu pemuda itu luar biasa. Untung dia sempat mengerahkan Tenaga Inti Petir Murni di kedua tangannya. Kalau tidak entah apa jadinya. Menilik kekuatan lawan, In Lan mengerti dia kalah tenaga, tapi dia belum puas. Segera dia berkelebat mengerahkan ginkangnya dan melancarkan pukulan-pukulan berbahaya dari Ilmu BanHud-ciang kebanggaan gurunya yang ke dua. Tubuhnya di lindungi oleh laksaan tapak yang membuat lawan susah mendekatinya. Namun pemuda itu tak kalah sebatnya juga. Tidak sia-sia julukannya Si Bayangan Hitam, karena tubuhnyapun dapat mengimbangi kecepatan In Lan sementara tangannya mengerahkan ilmu Bukek-kang-sin-kang tingkat ke dua dan ke tiga. Sampai duapuluh jurus mereka saling serang, tampak In Lan mulai terdesak di bawah angin saat lawannya mulai mengerahkan kekuatan sampai ke tingkat empat. Melihat ini In Lan mulai berkelahi dalam posisi bertahan, dengan mengerahkan gabungan Tenaga Inti Petir Murni dan Ban-Hud-ciang sambil sedikit-sedikit dia memasukkan Sian-ci Sin-thong di dalam serangannya, dengan demikian dapatlah dia mempertahankan diri. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar bentakan halus: Huh, apakah Bu-kek-kang-sin-kang hanya di pakai untuk menghina perempuan?... Seorang pemuda tampan berjubah hujau sudah berada di situ. Ketika tangannya di angkat, serangkum angin pukulan yang kuat membuyarkan tenaga Bu-kek-kang-sin-kang tingkat empat dari Hek-engcu. Segera Hek-eng-cu melentingkan tubuh dan menghadap pendatang baru itu dengan gusar namun waspada. Ada urusan apa kau ikut campur? cari mati saja? Siapa aku adanya tak perlu kau urus. Jelasnya kalau kau masih tetap mau menghina seorang gadis muda, kau akan berhadapan denganku.

Baik, sambutlah Sekali melesat Hek-eng-cu sudah menerjang dengan Bu-kek-kang-sin-kang tingkat ke lima. Hebat sekali akibatnya. Debu pasir berterbangan dan hawa pukulan yang kuat dalam jarak lima tombak masih terasa. Pemuda berbaju hijau itu dengan tenang menyambut serangan lawan. Bahkan kelihatannya dia tidak takut sama sekali. Gerakan-gerakan tangannya memainkan Soan-hong Sin-ciang dengan di lambari pengerahan tingkat tinggi dari Giok-ceng Sin-kang yang sakti. Tidak sampai limapuluh jurus, tiba-tiba Hek-eng-cu memukulkan sesuatu ke tanah sehingga muncul asap yang melindungi pandangan lawan. Dalam sekejap dia telah lenyap dari tempat itu. Pemuda berbaju hijau itu tidak mengejar. Hanya sekejap dia membalikkan tubuh menghadap In Lan. Nona, aku Kiang Po Chun, salam kenal Pemuda itu menjura, namun matanya tak berkedip penuh kekaguman menatap gadis di depannya. Hal mana tentu saja membuat In Lan jengah. Ehh, aku Cu In LanTerima kasih atas bantuanmu Ahh tidak apa-apa, untung lawanmu itu hanya menguasai Bu-kek-kang sin-kang sampai tingkat ke enam, kalau lebih dari itu, tentu aku akan sedikit kesulitan mengusirnya pergihanya aneh? Setahuku ilmu itu hanya di miliki oleh keluarga Khu, apa penjahat itu dari keluarga Khu? Kota Lok Yang yang biasanya ramai kini dalam keadaan sepi. Suasana sore menjelang malam yang mencekam nampak dengan andanya mayat yang berserakan di sana-sini. Sementara itu sepuluh orang bersenjata pedang dan golok tampak berindap-indap dan hati-hati memasuki sebuah gedung hartawan di tengah kota itu. Saat mereka telah dekat, dengan saling memberi kode, mereka melemparkan bahan peledak ke dalam rumah tersebut setelah itu mereka melompat menjauh. Akibatnya hebat sekali. Gedung itu bergetar keras ketika bunyi ledakan-ledakan terdengar di susul kemudian jerit ngeri para wanitawanita yang terkena ledakan. Empat bayangan melesat keluar dengan kecepatan kilat. Dalam sekejap tubuh ke empat orang ini meluncur dengan kecepatan yang sulit di lihat mata biasa mengarah pada ke sepuluh orang tersebut. Terdengar jerit mengerikan dan menyayat ketika ke sepuluh orang itu meregang nyawa tanpa sempat bersuara. Keempat orang itu berdiri sambil tertawa bergelak-gelak. Ternyata mereka adalah empat orang pria berjubah merah seperti pakaian para Lama di Tibet. Cuma bedanya kepala mereka tidak gundul seperti kebiasaan para Lama, melainkan di tumbuhi rambut-rambut yang panjang dan riap-riapan. Saat mereka tertawa itu tiba-tiba di hadapan mereka muncul seorang gadis muda yang amat cantik membawa sebatang payung yang terbuat dari baja. Seketika mereka terbeliak dan suara tawa mereka terhenti. Ehh, burung hong dari mana ini, berani datang menyerahkan diri..hahahaha? Salah satu dari mereka berkata. Sambil matanya menjelajahi tubuh gadis itu dengan tatapan cabul. Hemmkalian para Lama sesat. Cukup sampai di sini perbuatan bejat kalian yang memperkosa dan membunuh di mana-mana,hari ini Bidadari Payung Pelangi akan memusnahkan kalian Bentak gadis itu. Suaranya merdu dan enak di dengar.

Hahaha, para suheng, biar gadis ini aku yang taklukkan Tampak orang termuda melangkah maju sambil tertawa-tawa. Tangannya tiba-tiba di ulurkan mengarah ke dada gadis itu. Iiiihhhcabul Dalam sekejap gadis itu mengalirkan tenaganya dan memukul telapak tangan orang itu. Dhuukkkk Ehhboleh juga? Ternyata kau macan betina ya? Orang itu terkejut ketika merasakan tangannya terpental dengan kekuatan yang tak kalah dengannya. HahahahaSute, hati-hatitampaknya kau harus kerja keras untuk menundukkannya Huh..kita lihat saja dalam sepuluh jurus Berkata demikian, tubuhnya tiba-tiba melesat dan sudah melancarkan delapan belas kali totokan ke tubuh gadis itu. Tampaknya gadis itu akan segera menjadi korban. Namun yang terjadi sungguh mengejutkan orang itu. Gadis itu tiba-tiba mengembangkan payungnya dan hanya dua kali putaran telah mematahkan semua totokan yang mengarah ke tubuhnya. Bahkan Lama itu terpaksa harus menarik kembali tangannya yang terancap oleh ketajaman ujung payung yang seperti mata pedang. Dmikianlah terjadi pertempuran sengit. Lewat sepuluh jurus belum juga ada tanda-tanda pihak yang menang. Tampaknya mereka seimbang. Gadis ini penasaran. Segera tangan kirinya mulai membalas serangan lawan dengan pukulan-pukulan Tenaga Inti Petir Murni. Terdengar ledakanledakan yang kuat ketika telapak tangan gadis itu yang bersinar biru bertemu dengan bau amis pukulan Hiat-tok-sin-ciang dari Lama tersebut. Namun walaupun keduanya berusaha mengempos semangat mereka, namun perbedaan kepandaian mereka tidaklah terlalu jauh. Gadis itu menang dalam hal ginkang sedangkan Lama itupun hanya menang seurat dalam hal tenaga. Hemmsute biar kubantu kau Tampak satu bayangan lagi tiba tiba melesat memasuki area pertarungan itu dan menyerang sang gadis hampir bersamaan sehingga dalam waktu kurang dari 5 jurus gadis itu jatuh dalam pelukan orang termuda dari Lama itu. Hahaha, suheng gadis ini ranum sekali, pasti bisa memuaskan kita selama beberapa minggu Mereka mengangguk-angguk sambil tertawa. Namun tanpa di ketahui mereka ada dua orang yang telah muncul dari dua jurusan yang berbeda dalam waktu bersamaan. Dua orang ini sama terkejut melihat kemuculan masing-masing. Sekejap mereka sadar bahwa pendatang ini bukan orang sembarangan. Namun tidak lama karana salah satu yang berbaju merah sudah menyahut: Sobat, Lepaskan gadis itu, tidak pantas kau orang tua memperlakukan seorang gadis seperti itu Ehhsiapa kau? Keempat orang itu berbalik dan terkejut, karena mereka tidak merasakan kedatangan ke dua orang ini. Siapa aku adanya tidak perlu kalian tahu, aku hanya mau kalian melepaskan gadis itu Hahahakalau kami tidak mau, kau mau apa?... Dengan angkuh orang pertama dari Lama itu berseru, kemudian melanjutkan: dan jangan kalian bermimpi bisa merampas apa yang sudah di miliki oleh Tok-Su-wi (Empat pengawal Racun) dari Lama Agung Jubah Merah Huh, aku tidak mau tahu siapa kalian, tapi lepaskan gadis itu..?

Hemmmnapa kau mau sisa dariku? Berkata demikian, Lama yang termuda itu menundukkan kepala dan menjilati leher gadis itu dengan bernafsu LANCANG!!! Tiba-tiba pemuda berompi biru yang satunya lagi yang hanya berdiam dari tadi tibatiba lenyap dari hadapan mereka dan di lain saat terdengar jeritan keras dari Lama itu. Tubuhnya terlempar keatas sambil muntah darah, sedangkan gadis itu telah berpindah ke tangan sang pemuda yang segera membebaskan totokannya. Suteeee. Hiaaaaaaatttt. Ketiga rekannya terkejut, namun dua di antara mereka segera menerjang ke arah pemuda itu dengan pukulan-pukulan maut mematikan sedang yang satu lagi melesat menyambut saudara mereka. Pemuda itu tenang saja tapi saat tangannya di kembangkan, tiba-tiba tubuh sekitarnya di lapisi kabut tipis yang mementalkan balik semua pukulan lawan. Pek-in-hoat-sut???...kaukau dari Pulau Daun Putih? seru Lama yang tertua. Benar, apa kau masih mau melanjutkan pertarungan ini? Seru pemuda itu sambil tersenyum. Hemmm, kali ini kami akan pergi, tapi kami tidak akan menghabiskannya hanya sampai di sini! sambil menatap penuh dendam para Lama tersebut berbalik dan berlalu dari situ. Wahhhhtak di sangka, heng-te dari Pulau Daun Putih, salut...salutperkenalkan, cahye bernama Kim Hong, she Yang Kata pemuda berbaju merah itu sambil menjura. Heh, She Yang??? Apakah dari Kuburan Kuno?... Pemuda berompi biru itu berseru kaget. Namun seruannya itu hanya di sambut dengan senyuman dan anggukan kepala saja. Terima kasih atas pertolongan kalian berduapara iblis itu sangat sakti Di tengah-tengah kekaguman mereka berdua tiba-tiba suatu suara menyelutuk dan membuat mereka tersadar oleh adanya mahluk indah di depan mereka itu. Eh, Nonaaku Lu Sim Haymaafkan kami datang terlambat? Pemuda berompi itu menjura sambil terus memperkenalkan diri. Akhhakuehya..ya, aku Hong Lian, she Simsenang mengenal kalian juga, permisi Berkata demikian sang gadis segera membalikkan tubuh dan hendak berkelebat pergi dari situ meninggalkan dua orang pemuda yang memandang kepergiannya dengan terbengong-bengong. ---lovelydear--Selama setahun ini, tampaknnya dunia persilatan telah tiba pada masa kejayaan kaum hitam. Tidak ada pergerakan sedikitpun dari kaum putih yang terdengar. Tapi pada suatu hari, tanggal sepuluh bulan sebelas, suasana di Rawa Lumpur Kematian tampak sedikit ramai. Tempat ini dulunya adalah tempat kediaman Tee-Tok Sam-kui. Karena tempat itu sangat strategis dan juga di kelilingi oleh Lumpur hidup dan bermacam-macam binatang beracun lainnya membuat tempat itu sangat sukar di datangi oleh sembarang orang. Tiga bulan yang lalu Tee Sun Lai membawa seluruh anak buahnya bergabung dengan Thian-te-san-pai kemudian pindah serta memperkuat kedudukannya sebagai bengcu di tempat itu Hari itu tampak berdatangan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga sampai delapan orang. Bukan orang-orang biasa. Terlihat berbagai bentuk senjata tersampir di punggung dan pinggang mereka. Setelah mereka tiba di pinggir rawa, mereka di sambut oleh orang-orang

berpakaian ungu dengan sedikitnya dua puluhan perahu yang terbuat dari kayu kuat yang di lapisi besi yang bolak-balik mengangkut mereka. Siapakah orang-orang yang datang berkelompok-kelompok tersebut? Mereka adalah utusanutusan dari berbagai perguruan yang di undang oleh sang Beng-cu untuk membahas suatu hal yang khusus. Sebenarnya, para pendekar kaum putih tahu belaka bahwa maksud dari undangan tersebut tentu akan lebih banyak merugikan pihak mereka daripada untungnya, tapi mereka tidak kuasa menolak karena pengundangnya beratas namakan Beng-cu dunia persilatan. Jika mereka menolak itu akan menyebabkan penghancuran yang fatal bagi golongan mereka. Untuk melawanpun, mereka tidak punya kekuatan yang cukup jadi hanya menurut saja. Hari menjelang malam, di luar markas dari Thian-te-san-pai ini di dirikan panggung yang amat besar. Suasana di sekitar panggung ini tidak terjaga seorangpun. Hanya kalau orang memandang ke arah Markas perkumpulan tersebut yang jaraknya hanya satu setengah mil dari panggung tersebut, mereka akan bergidik karena tempat itu di jaga dengan pasukan berjubah ungu yang berlapis-lapis. Di salah satu sisi dari panggung tersebut di buat panggung dua tingkat yang lebih kecil dan lebih tinggi dengan tigapuluh anak tangga dari panggung utama. Di kelilingi oleh dua penjaga berpakaian ungu dengan pedang di tangan. Di tingkat atas panggung tersebut tampak lima kursi agung yang di duduki oleh lima orang, salah satu di antaranya adalah sang Beng-cu Tee Sun Lai sendiri dan Jit-goat Mo-ong. Yang satu lagi adalah seorang kakek yang berwajah aneh seperti orang mabuk, dia adalah Bu-tek Sian-cu (Bayangan Dewa Tanpa Tanding), yaitu seorang tokoh kosen dari pegunungan Himalaya yang tidak pernah muncul dari dunia kang-ouw. Di samping itu ada juga dua Lama berjubah merah. Tak salah lagi merekalah Lama Jubah merah yang mengepalai Thian-te-san-pai yang berjuluk Thian-yang Lama dan Tee-im Lama (Lama Agung Langit & Lama Agung Bumi). Di tingkat ke dua tampak berdiri delapan belas orang berjubah dan berkerudung ungu. Hanya terlihat sinar mata mereka saja yang tajam, tanda mereka adalah orang-orang pilihan. Saat semua orang sudah berkumpul semua, genderang di bunyikan dengan suara bertalu-talu. Tee Sun Lai segera berdiri dengan gagahnya dibalik jubah hitamnya yang di gambar dengan gambar naga dari benang emas. Suaranya menggema di segenap penjuru. Cu-wi sekalian, sebagai bengcu dunia persilatan, aku sengaja mengundang kalian untuk mengumumkan dan juga merayakan suatu peristiwa yang baru dalam dunia persilatan Dia berhenti sejenak sambil tersenyum menyeringai, kemudian melanjutkan: mulai saat ini tidak ada lagi perbedaan golongan Hitam-dan putih. Satu-satunya peraturan yang boleh berlaku ialah yang terkuatlah yang menjadi raja. Mulai saat ini Semua perguruan-perguruan silat yang ada harus memberikan upeti berupa emas sebanyak seratus tail setiap tahun dan lima orang gadis cantik setiap bulannya. Bilamana ada yang melanggar ketentuan ini, maka setiap orang di berikan hadiah dua kali lipat upeti tiap tahun untuk menghancurkan dan membawa kepala-kepala para pelanggar tersebut.apakah Jelas?... Terdengar seruan dan sorakkan kegembiraan di sana-sini ketika pengumuman ini di sampaikan. Omitohud, maafkan pinto, tapi ucapan sicu selaku bengcu sama sekali tidak mencerminkan tanggung jawab yang harus di lakukan oleh bengcu yang sesungguhnyasecara pribadi sangat sukar bagi pinto menerimanya dengan akal sehat? Seorang tiba-tiba menyahut tak kalah kerasnya, yaitu Bhok-Keng hwesio yang merupakan sute ketiga dari Ciangbunjin Siauw Lim pai. Belum habis suaranya tiba-tiba berkelebat bayangan pedang yang cepat sekali dari atas yang menghantam ke arah Bhok-Keng hwesio. Bhok-Keng hwesio bukanlah seorang ahli silat pasaran, namun melihat datangnya serangan pedang yang sangat cepat itu, sama sekali dia tidak sempat

bergerak sedikitmun. Bahkan suhengnya Bhok-Tong-Hwesio yang dating berdiri tak jauh darinyapun tak mampu berbuat banyak. Ziiiiinngg Clepp, Dhuarr..! Terdengar suara ledakan yang keras ketika tenaga dalam dari pedang Tee-Mo-Kiam menghantam Bhok-Keng hwesio dan menghancurkan kepalanya. Hemmmmitulah akibatnya kalau berani melawan perintahkusekarang siapa lagi yang berani membangkang dan sudah bosan hidup, haa? Bentak Tee Sun Lai dengan marah. Semua terdiam tanpa banyak kata-kata dan menjatuhkan diri berlutut di hadapannya. Hal ini di sambut dengan tertawa yang berkepanjangan dari Tee Sun Lai ini di ikuti oleh keempat orang yang ada di atas kursi agung. Lihatlah, bukankah kerjasama kita sangat menguntungkan. Sekarang tidak ada lagi yang dapat melawan kita, kekuatan kaum putih sudah kehilangan sengatannya. Langkah selanjutnya, kita akan menggulingkan kaisar Kuan Zong dan mendirikan kerajaan baru dengan kaisar sejati yang baru, bagaimana menurut pendapat kalian? Dengan pongahnya Tee Sun Lai berkata kepada keempat orang yang duduk di panggung agung. Masing-masing mreka hanya menganggukangguk sambil tertawa dengan wajah dansenyum licik yang menyimpan berbagai rencana dan strategi. Sementara mereka tertawa-tawa, mata mereka mulai tertuju kearah kumpulan para jagoan dari golongan putih yang terkumpul di sudut utara, tatapan mereka penuh nada mengancam dan garang. Entah bagaimana, tanpa di komando, mereka mencabut senjata masing-masing. Mereka tahu, nilah pertempuran matihidup mereka, tapi mereka tidak mau menyerah bgitu saja. Saat-saat yang sangat kritis seperti ini, semua perhatian mulai tertuju pada orang-orang ini. Mereka mulai bergerak mendesak tiba-tiba salah satu dari 12 orang di atas panggung tingkat ke dua, melesat ke arah Tee Sun Lai dan bersujut: Maaf yang mulia bengcu, ijinkan kami ke 12 ksatria iblis membasmi mereka? Hahahahahahapermintaan di kabulkan, tapi kalau mereka tidak mampus dalam 20 hitungan, maka kepala kalian yang akan terpisah mengerti???...SATU Mendengar hal ini sontak ke 12 bayangan bergerak dengan cepat menuju kea rah para tokoh-tokoh golongan putih yang berjumlah 200-an orang itu. Tampaknya inilah akhir dari kejayaan dan juga pertanda maut bagi para tokoh-tokoh golongan putih ini. Namun, Thian tidak buta. Hampir sama cepat dari lesatan ke-duabelas iblis itu, bahkan jauh lebih cepat lagi, tiba-tib BERHENTI!...BHUUUUUUMMMMNN.! Terdengar bentakan menggelegar di ikuti suara ledakan yang keras tepat memisah di antara para tokoh golongan putih ini dengan keduabelas iblis yang sedang melesat memburu dengan waktu untuk melakukan pembantaian tersebut. Hasilnya sangat dahsyat. Getaran energi yang amat kuat itu membuat panggung yang besar itu amblas di bagian tengahnya dan menimbulkan kepulan asap, sedangkan membuat keduabelas iblis itu terpental mundur. Iiiihhhhh, itu ILMU SERIBU IBLIS PEMUSNAH??? Suara kekagetan ini keluar dari mulut Jit-goat Mo-ong yang sudah melesat turun dari atas panggung dan berdiri di samping Tee Sun Lai dengan muka merah.

Han Sian? Seru Tee Sun Lai juga tak kalah kagetnya oleh perbawa tenaga yang amat dan dahsyat tersebut. Si Penakluk Dewa & Iblis Oleh : LovelyDear Episode 6 Pusaran angin yang sangat kuat membuyarkan asap di sekitar panggung dalam sekejap. Tampak seorang pemuda tampan berdiri di tengah-tengah panggung yang telah amblas. Matanya nampak berkilat-kilat. Sekitar tubuhnya di lingkupi hawa cahaya keemasan dan kehitaman yang berputarputar mengelilingi tubuhnya. Apa kabar Jit-goat Mo-ong?...dan kau juga Tee Sun Lai?... Suaranya tenang tapi juga nampak dingin dengan wibawa yang amat kuat. Hemmmakhirnya kau muncul juga, aku kira kau sudah mampus? balas Jit-goat Mo-ong sinis. Tadinya sih sudah hampir, namun thian belum mengijinkan nyawaku, tahukah kau mengapa?...karena masih ada manusia-manusia seperti kalian yang harus di hentikan.. Suara Han Sian tetap dingin sambil tersenyum, karena hatinya sungguh marah saat itu. Hahahahakau kira hanya sendirian bisa membuatmu seenaknya di sini? Kau bermimpi kawan. Tee Sun Lai membalas dengan sengit dan entah darimana datangnya, tiba-tiba di tangannya sudah menggenggam pedang bersinar ungu. Huh, bermimpi toh tetap harus lihat kenyataannya, dan kenyataannya kalian berdua sudah pernah ku pecundangi, dan kalaupun sekarang kalian mau bergabung, tetap belum setimpal untuk menjadi lawanku Han Sian membalas dengan pengerahan tenaga dalam yang membuat suaranya bergetar. Sengaja dia buat itu untuk membangkitkan amarah mereka. Kurang ajaaaaarrrrrr Bentak Jit-goat Mo-ong dengan suara menggelegar, di ikuti tubuhnya yang melesat sangat cepat ke depan sambil memukul dengan pengerahan seluruh tenaganya. Dia tidak main-main, karena dia tahu kelihaian anak muda yang berjuluk Pendekar Asmara Tangan Dingin ini. Segera dia mengerahkan ilmunya sampai tingkat tertinggi karena dia tahu bahwa tidak berguna kalau hanya mengandalkan jurus-jurus saja. Itulah sebabnya dia memutuskan untuk sekali menyerang dengan sepenuh tenaganya. Tubuhnya di liputi dua cahaya merah dan putih hasil mengerahan tenaga Jit-goat-kang tingkat kesembilan melabrak ke arah Han Sian dengan kuat, hawa panas dingin dari Jit-goat-sin kang (Tenaga sakti Matahari dan Bulan) ini bahkan menyapu tempat itu sehingga membuat para penonton mundur kurang lebih tujuh tombak ke belakang. Han Sian tahu kekuatan lawan itulah sebabnya dia tidak mau setengah hati, tubuhnya terangkat satu jengkal dengan pengerahan Kui-Sian I-sin-kang tingkat ke sembilan, sementara kedua tangannya bergerak dengan sangat cepat melepaskan Hong-Lui-Kiam-cu (jalur Pedang Angin Petir) yang kemudian di ikuti dengan Ngo-heng Thian-kiam-cu (Jalur Pedang Langit Lima Unsur) yang dahsyat. ZzzzzztttsCiiiiitsWussshhh. BLAAAAAARRRR Benturan keras terjadi, sinar-sinar pukulan yang terpantul menyebar ke segala arah sehingga terdengar pekikkan kematian di mana-mana. Orang-orang yang berkepandaian

tinggi sempat melindungi diri mereka, tapi mereka yang berkepandaian rendah harus menerima nasip naas. Han Sian masih tetap pada tempatnya, tampak tubuhnya di liputi sinar ke emasan melayang tidak menginjak tanah namun tidak kurang suatu apapun, tanah di kakinya berlubang sebesar kerbau sedalam hampir satu meter sedangkan Jit-goat Mo-ong tersurut mundur lima langkah dengan muka pucat. Terlihat darah mengalir dari bibirnya. Dengan langkah gontai dan kepala tertunduk dia berjalan mundur dan keluar dari tempat itu dan menghilang. Semua orang tampak tidak mengerti apa yang terjadi hanya Han Sian dan tentunya Jit-goat Moong sendiri. Tapi satu hal yang bisa di pastikan ialah dunia kang-ouw tidak perlu takut lagi dengan yang namanya Jit-goat Mo-ong. Sementara itu di samping Tee-mo-kiam ong, telah berdiri tiga orang lain lagi. Hawa kematian dari pancaran tenaga mereka terasa oleh Han Sian. Di pandanginya mereka dengan mata mencorong penuh selidik. Ohhhhjadi inikah semua penjaga dapurmu Sun Lai? Orang muda kau terlalu sombong, sambut seranganku.. Bu-tek Sian-cu menyahut dengan geram. Tangannya segera di kibaskan, dan serangkum tenaga kuat yang tak kelihatan menyambar ke arah Han Sian. Baju Han Sian berkibar tapi dia tetap tidak bergerak. Hal ini membuat Bu-tek Sian-cu terkejut. Dia mengerahkan delapan bagian tenaganya dalam pukulan tadi, tapi anak muda itu tidak bergeming. Aku tidak mengenalmu orang tua, tapi kalau kau bermaksud membantu rencana busuk manusia she Tee ini, aku tidak sungkan lagi? Han Sian berkata perlahan, tapi bibirnya tidak bergerak. Di lain saat, Tee Sun Lai mengangkat tangan kirinya ke atas. Dalam sekejap saja berkelebatan bayangan-bayangan orang berseragam ungu mengepung tempat tersebut dengan pedang terhunus. Hehehe, Han Sian, sesakti apapun kau, kali ini kau tetap takkan bisa lolos dari sini? Sambil tertawa, Tee Sun Lai menerjang kedepan dengan sangat cepat, tanpa mengeluarkan suara. Saat itu berkeredapan sinar-sinar ungu mengerikan yang amat banyak dari ujung pedangnya yang mengerah ke seluruh bagian tubuh Han Sian. Dia telah menyerang menggunakan salah jurus terhebat dari Tee-mo-kiam-sutnya, yaitu Seribu Iblis Bumi membalikkan hujan. Tunggu sobat, membereskanmu bukan bagiankutapi mereka Tiba tiba tubuh Han Sian Melesat ke atas menghindari serangan ganas Tee-mo Kiam-ong tersebut yang lebih memperdalam lubang di bawah kaki Han Sian.. Sekejap kemudian dia sudah turun ke tanah sejauh dua tombak. Bibirnya tersenyum sambil tangannya merongoh ke saku dan mengeluarkan enam lempeng warna-warni yang di lemparkan ke atas. Kau memang sudah menjadi beng-cu, tapi tingkatanmu tidaklah lebih tinggi dari mereka! Bersamaan dengan itu dari enam penjuru, melesat enam bayangan yang menyambut ke enam lempeng tersebut dan turun perlahan-lahan di ikuti perbawa yang hebat dari masing-masing orang, yang di ikuti suara menggelegar dahsyat berbunyi: BENCANA DATANG SILIH BERGANTI, ENAM DEWA BERSATU PADU, GELAP BERGANTI TERANG

Semua orang yang hadir di situ, terkejut melihat kemunculan keenam orang ini. Bahkan Tee Sun Lai dan ke empat rekannya dapat merasakan bahwa kepandaian keenam orang ini tidaklah berada di bawah kepandaian mereka. AaakhLegenda itu muncul lagi! Suara itu keluar dari mulut Bu-Tek Sian-cu yang terkejut, demikian pula Thian-yang-Lama dan Tee-im Lama, sebab mereka yang merupakan tokoh tua, mengetahui dengan jelas apa artinya ini. Omitohud...Thian maha adil, ternyata legenda itu masih ada, cuwi sekalian kita kedatangan bantuan besar Suara Bhok-Tong-Hwesio menggema kegirangan. Han Sian yang melihat ini tersenyum, Benar Bhok-Locianpwe, legenda itu tetap ada. Sementara itu ke empat tokoh sesat yang diam sejak tadi saling pandang. Tee Sun Lai merasakan sesuatu yang tidak beres, namun dia tetap terkekeh Hehehehe, Han Sian, untuk apa kau mendatangkan anak-anak kecil initetap saja kau takkan dapat melewati pasukan kami yang bergabung. Sombong!!!..sambutlah Suatu suara terdengar agak ketus, di ikuti sebuah bayangan dengan dua pukulan menyambar ke arah Tee Sun Lai. Untung saja pemuda itu sudah siaga dari tadi. Tangannya di angkat menangkis pukulan lawan. Dhuaaarrrrrrr Ehh Kedua orang itu tergentak mundur satu langkah, namun di lain saat si pemuda yang menyerang sudah kembali mundur ke tempatnya semula. Kau benar, manusia she Tee, pasukanmu memang banyak, tapi asal tahu saja, yang baru menggebrakmu adalah Bu-kek-kang-sin-kang tahap sepuluh, dan kalau kau lanjutkan, kau mungkin masih harus berhadapan dengan sisa tiga tahap terakhir lainnya Sahut Han Sian tenang. Aakhhhsaudara Han terlalu berlebihan, aku hanya menguasai sampai tingkat ke duabelas saja kemudian segera dia menghadap Tee Sun Lai dan berkata: Cahye Khu Hee Liong masih ingin meminta petunjukmu Huh, siapa kalian dan apa hak kalian ikut campur urusanku? Tee Sun Lai membentak marah. Namun dia tidak berani sembarangan bergerak. Bhok-Tong-Hwesio tiba-tiba bersuara: Delapan puluh tahun lalu, saat dunia persilatan di landa bencana kehancuran, telah muncul enam dewa yang menyelamatkan dunia kang-ouw dengan memberi bantuan untuk membasmi kesesatan di muka bumi. Ke enam dewa ini kemudian di nobatkan sebagai sesepuh persilatan yang bahkan memiliki hak untuk memecat beng-cu terpilih bila bengcu tersebut di dapati melanggar tanggung-jawabnya sebagai beng-cu yang mengayomi. Tee Sun lai terkejut mendengar akan hal ini, apalagi saat dia melihat ke tiga rekannya, mereka juga menggangguk membenarkan. Melihat gelagat buruk, segera dia mengedipkan mata pada ke tiganya sebagai tanda menyerang. Tapi dia terkejut karena mereka bertiga hanya tertunduk saja. Hei, Thian-yang lama, apakah kau mau melanggar kesepakatan kita??? Bentaknya marah. Kami sepakat membantumu menguasai dunia, tapi bukan untuk menentang pewaris Legenda Enam Dewa, karena kami masih terikat sumpah yang kami maklumatkan delapanpuluh tahun lalu Sahut Thian-yang Lama sekejap kemudian tubuhnya melesat di ikuti Tee-im Lama dia mengangkat tangan kanannya ke atas: Kita pergi!!!

Bersamaan dengan lenyapnya tubuh mereka, para anak buah Thian-te-san-pai mengundurkan diri dari tempat itu. Bu-tek Sian-cu menatap ke arah Han Sian: Anak muda kau hebat, aku tidak akan meneruskan keterlibatanku, tapi aku harus menguji bahwa Enam Dewa bukan hanya omong kosong saja Silahkan locianpwe memilih Han Sian yang mengetahui maksud hati orang, segera mempersilahkan. Orang tua tersebut menatap sekeliling, dan matanya berhenti pada pemuda yang berpakaian putih dengan lengan baju pendek. Bersiaplah orang muda, aku tidak akan tanggung- tanggung Berkata demikian, tubuhnya tiba-tiba berputaran seperti gasing dan melesat ke atas setinggi tujuh tombak. Saat tubuhnya di udara, orang tua itu membentak dengan suara menggelegar memekakkan telinga dan di lain saat tubuhnya meluncur turun menjadi empat bayangan dengan empat pukulan yang berbeda. Hebat sekali. Angin pukulan yang membahana berkesiutan menghantam tubuh pemuda tersebut. Itulah Jurus Hok-mo-sian-cu -ciang (Pukulan Bayangan Dewa Menaklukkan Iblis) Han Sian dan ke lima pemuda yang lainnya terkejut. Mereka merasakan bahwa dari empat bayangan yang menyerang dengan dahsyat tersebut, bayangan ke tiga meluncur tanpa suara dan angin pukulan sama sekali. Mereka berdecak kagum, melihat kehebatan kakek yang berjuluk Butek Sian-cu ini. Pemuda yang di serang tersebut tidak nampak gugup. Dengan tenang tangannya memutar dengan sebat dan dalam sekejap dari tubuhnya keluar ledakan-ledakan petir di ikuti dengan angin badai yang amat kuat yang melindungi tubuhnya dari keempat bayangan lawan, itulah Hong-lui Tai-hong-ciang ciptaan Pendekar Super Sakti beberapa ratus tahun silam. Namun hebatnya lagi, dari kedua tangannya masih keluar dua sinar merah dan putih dari ilmu Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang yang menyambut terjangan bayangan ke tiga yang tanpa suara tersebut. BLAAAAAARRRR Dua ledakan yang dahsyat terdengar dan tampak dua bayangan melenting dengan cepat mematahkan daya pantul pukulan-tersebut dan di lain saat keduanya tampak berdiri saling berhadapan dengan jarak sepuluh tombak. Akhh, maafkan kekurang ajaran cahye, locianpwe Hohoho, kau hebat, semuda ini saja sudah sangup menandingiku, beberapa tahun lagi aku pasti bukan lawan kaliansiapa namamu? Siauw-te Hong Sin, locianpwe, She Suma Orang tua itu nampak terkejut, namun sesaat kemudian dia segera itu menatap Tee Sun Lai: tampaknya ambisimu akan mendapat halangan yang besar, slamat tinggal..hahahahahahaha Kakek tersebut melesat dalam sekejap meninggalkan tempat itu sambil meninggalkan gema suaranya. Suasana tenang, tampak tidak ada yang bergerak. Semua mata memandang ke tajam ke arah Tee Sun Lai yang berjuluk Tee Mo Kiam Ong ini. Sementara yang di tatap balas menatap dengan wajah beringas. Tangan kirinya berubah cepat menjadi merah darah dengan tenaga penuh dalam ilmu Hiat-kut-jiauw Sam-kang, sedang pedang di tangan kanannya bergetar keras sampai menimbulkan suara berdesing nyaring. Huh, Han Sian Keparat, kau salah jika mengharap aku akan menyerah begitu saja...SERANG!

Tubuhnya tiba tiba berkelebat cepat ke arah Han Sian dan menyerang dengan ganas. Tapi satu bayangan lain melabraknya secara tiba-tiba dari samping: Tunggu, kau bagianku... Tanpa menanyakan siapa lawannya, Tee Sun Lai meneruskan serangannya dengan gencar. Dalam sekejap terjadi pertempuran yang dahsyat dengan jurus-jurus ampuh. Tee Sun Lai yang tadinya sangat bangga sehingga mengakui dirinya sebagai jago pedang yang tidak ada tandingannya saat ini terpaksa harus menelan pil pahit, karena lawannya bukan ahli silat sembarangan. Kecepatan pedangnya sama sekali tidak berarti banyak mencecar bayangan lawan. Pertempuran antara ke dua orang itu segera memasuki tingkat pengerahan tertinggi dari ilmu masing-masing. Pergantian ilmu terjadi dengan sangat cepatnya. Sampai lewat seratus jurus tibatiba Tee Sun Lai merubah gerakan pedangnya. Sambil tangannya terus memainkan tingkat ke tiga dari Hiat-kut-jiauw Sam-kang, pedangnya tiba-tiba bargerak lambat namun ternyata kecepatannya dua kali dari serangan-serangan sebelumnya. Menghadapi serangan yang aneh itu pemuda yang ternyata adalah Thio Tay Lee itu segera menjejakkan kakinya dengan kuat ke tanah sehingga menimbulkan getaran seperti gempa bumi, di lain saat, tubuhnya menghilang dari hadapan lawan. Dia telah mengerahkan Kian-kun Tay-lo-yi Im Yang yang dahsyat. Sementara itu seluruh pasukan berseragam ungu yang mendengar perintah beng-cu mereka, segera bergerak membentuk kelompok-kelompok barisan Pedang iblis yang terdiri dari 52 orang tiap barisan jadi total semuanya ada 31 barisan Pedang iblis.. Dengan dahsyat mereka menyerang para pendekar yang ada. Dalam sekejap terjadilah pertempuran ke dua yang lebih besar. Sementara itu saat melihat akan hal ini, Han Sian melirik ke lima pemuda yang lainnya, dan dalam sekejap tubuh mereka berkelebat. Han Sian meloncat tinggi ke atas. Tangannya di arahkan ke arah satu barisan terdekat. Sambil mengerahkan tenaga menyedot, tiba-tiba ke dua barisan tersebut kehilangan pedang mereka yang di sedot oleh tenaga Han Sian. Sekali dia menggerakkkan tangannya, pedang-pedang tersebut melesat masuk kedalam tanah dan lenyap sama sekali. Han Sian melakukannya berulang yang diikuti oleh ke lima dewa lainnya, tapi barisan itu terlalu banyak. Saat itu tiba-tiba terdengar bunyi terompet di mana-mana dan tanpa di duga sama sekali dari segala penjuru muncul kurang lebih duaribu pasukan kerajaan yang langsung bergerak menggempur barisan-barisan berbaju ungu tersebut. Melihat adanya pasukan itu Han Sian tersenyum senang. Tapi yang membuat dia kaget bukan kepalang ialah ketika melihat tiga orang yang bertempur di antara pasukan tersebut dan sekarang bergerak mendekatinya dari tiga jurusan berbeda, seolah-olah sengaja mengurungnya.. Aduuhhh, mati aku Han Sian berbisik lirih dengan muka pucat. Matanya celingukan kesanakemari, entah apa yang di carinya. Sementara itu pertempuran antara Tee Sun Lai dan Thio Tay Lee masih terus berlanjut. Dan saat Thio Tay Lee mengerahkan ilmunya sampai tingkat ke delapan dengan pengerahan seluruh tenaga sakti, Tee Sun Lai tak sanggup menangkis lagi sehingga pedang pusakanya patah dua dan dia terlempar menabrak panggung yang lebih kecil itu hingga hancur. Tubuhnya jatuh terduduk. Dari mulutnya mengalir darah kental. Ternyata dia terluka parah sekali dengan seluruh organ dalam serasa remuk. Dia coba mengerahkan tenaganya sekali lagi. tapi tidak ada tenaga sama sekali. Tahulah dia bahwa dia telah cacat. Dengar Tee Mo Kiam Ong, sejak hari ini engkau bukan Beng-cu lagi dunia persilatan lagi. Kami Enam Dewa melarangmu untuk berada di dunia Bu-Lim Kang-Ouw. Bila engkau tidak bertobat,

maka saat engkau bertemu dengan kami lagi, maka itu akan menjadi hari terakhirmu Suara itu menggelegar di keluarkan oleh Thio Tay Lee dan di dengar oleh semua orang. Tee Sun Lai menatap musuh-musuhnya tersebut satu per satu dengan tatapan mata berkilat penuh dendam. Setelah itu dengan menyeret kakinya dia melangkah meninggalkan tempat itu. Sementara pertempuran antara para pasukan juga sudah terhenti. Banyak yang mati tapi banyak juga yang tertawan oleh pasukan kerajaan. Bhok-Tong-Hwesio melangkah maju sambil menjura ke arah ke enam dewa penolong dan juga ke arah pasukan kerajaan: Terima kasih atas pertolongan dan perlindungan ke enam Dewabolehkan kami mengenal nama para pelindung sekalian? Kiang Po Chun, pemuda berbaju hijau di dekatnya segera membalas sambil menjura: Apa yang kami buat sesungguhnya hanya bagian yang kecil saja, tapi apa yang telah di lakukan oleh..Ehh? mana saudara Han Sian??? Pemuda itu tidak melanjutkan perkataannya saat matanya tidak menemukan bayangan Han Sian di tempat itu. Orang banyak juga yang baru menyadari hilangnya Han Sian segera mencari. Hem, aku melihat dia meninggalkan tempat ini setelah menulis di atas batu itu! Salah satu prajurit memberanikan diri mengeluarkan suara sambil menunjuk kea rah batu besar yang tak jauh dari situ. Namun belum habis ucapannya, para pendekar yang ada di depannya tiba-tiba lenyap dari tempat mereka. Dalam kekagetannya terdengar suara: Akhhh.dia telah pergi, entah kapan lagi bertemu dengan sobat seperti dia, aku Thio Tay Lee berjanji selamanya akan menjadi sobatnya Kata seorang pemuda dengan suara lirih, namun masih dapat di dengar oleh orang-orang. Mereka semua membaca tulisan yang indah di atas batu tersebut, berbunyi: ADA JODOH BERTEMU DI LAIN WAKTU. SAMPAI BERJUMPA, TERTANDA, HAN SIAN Setelah terdiam semua para pemuda itu kemudian mulai memperkenalkan nama mereka satupersatu. Namun tanpa mereka ketahui tiga orang gadis cantik telah mengundurkan diri perlahanlahan dan menghilang dari tempat tersebut

Bab 18. WANGSIT SANG DHALAI LAMA Tiga bulan berlalu tanpa sesuatu kejadian yang hebat terjadi di dunia Kang Ouw. Semua tampak aman-aman saja. Namun jangan dikira tidak ada kejadian apapun yang sedang terjadi. Jauh di sebelah Barat, di Tibet, Dalai Lama yang sedang bersamadhi selama empat bulan terakhir ini tiba-tiba tersadar saat sebuah petir menyambar bubungan tempatnya bersamadhi. Tempat itu bergetar keras. Keluarlah Kalian, sudah waktunya !

Suara yang berat namun halus bergema mengalahkan getaran di sekeliling. Bertepatan dengan habisnya suara itu, tiba-tiba terdengar enam ledakan memekakkan telinga dan enam buah lubang muncul dari dalam ruangan tersebut disusul melesatnya enam bayangan yang sebat dalam sekejab sudah berdiri di hadapan sang Dalai Lama itu. Para Sutee siap menjalankan perintah! Iblis-iblis dan para pengikutnya telah mulai keluar sarang ! Pergilah kalian ke Tanah Daratan tengah, bawa I Kin Hiat Hip Kang (Tenaga Pelentur Otot Pemutar Darah) ini dan temukan pewaris Hui Im Hong Sin Kang dan Kui Sian I Sin Kang, semoga tidak terlambat ! Keenam Lama tersebut sesungguhnya adalah para Sutee dari sang Dalai Lama. Selama ini mereka memang tidak pernah menunjukkan diri, sehingga hanya berapa orang Lama angkatan Tua saja yang mengetahui keberadaan mereka. Sepeminuman teh setelah keenam Lama tersebut berlalu, tiba-tiba dalam ruangan itu sudah berdiri seorang lama yang lain berjubah Merah Darah. Dalai Lama Suheng, masihkah engkau berkeras kepala untuk mencoba menentang kami. Para pengikut Iblis Api Es telah telah terbebas dari penjara mereka dan sedang mempersiapkan kedatangan Sang Junjungan Iblis Api Es, dan itu berarti kebangkitan dan kejayaan kembali Istana Neraka Hitam dan ini tidak mungkin dapat di tahan lagi! Omitohud ...! Sutee, dari pernyataanmu itu tampaknya kau pun sudah menjadi salah satu pengikut Iblis Api Es? Bertobatlah sebelum terlambat dan sebelum engkau tersesat makin jauh! Suara yang welas asih kembali terdengar. Aku tidak butuh ceramahmu, Suheng! Apa pun yang mau kau lakukan, kami tetap tak terkalahkan! Ha ha ha ! Sahut lama jubah darah itu sambil tertawa dan berlalu dari situ. GERAKAN IBLIS API ES Kembali ke Cina tengah. Kota Ong Chiu di See Ouw (Danau Barat) terkenal dengan keindahan alamnya yang asri. Kota ini selalu ramai sehingga suasana malampun seperti siang hari saja. Para pengunjung dari berbagai penjuru seperti tidak pernah habis-habisnya dengan berbagai urusan mereka sendiri-sendiri. Hari itu Han Sian menyewa sebuah perahu pesiar yang cukup besar kemudian dia mendayung ke arah hulu berlawanan dengan arus air.Namun hari itu tidak seperti biasanya, hari menjelang sore ketika perahunya berpapasan dengan kapal pesiar mewah yang memuat banyak penumpang. Sekejab Han Sian tidak memberi perhatian pada kapal tersebut, tapi kemudian tangannya bergerak ke belakang dan mendorong air perlahan sehingga perahunya melaju dengan sangat cepat sekali mendekati kapal tersebut. Tubuh Han Sian melayang ke arah kapal dan matanya memandang penuh selidik. Tampak banyak penumpang di buritan perahu yang sibuk dengan aktifitas mereka masingmasing. Namun yang aneh ialah semua penumpang itu tidak bergerak.Tanpa memeriksa pun Han Sian maklum bahwa mereka semua telah mati dengan cara yang tidak wajar. Tubuh mereka kaku

dalam posisi mereka masing-masing.Ketika Han Sian memeriksa lebih teliti, tampak di leher mereka, yang sebelah kanan, ada titik biru menghitam yang mengeluarkan hawa dingin. Hemm ! Tok Im Ciam (Jarum Racun Dingin) yang ganas, siapakah gerangan pelakunya? Han Sian tidak memeriksa semua, tubuhnya berkelebat kembali ke perahunya dan sesaat kemudian, perahunya meluncur mengarah datangnya kapal pesiar tersebut.Semakin jauh dia mengarahkan perahunya, semakin banyak perahu-perahu yang berpasasan dengannya, dan semua penumpangnya dalam kondisi yang sama. Akhirnya Han Sian mendarat di pinggir sebuah hutan. Han Sian semakin waspada.Pendengaran Han Sian yang tajam menangkap suara gerakan orang yang sedang bertarung dalam jarak 5 Li ke dalam hutan di pinggir danau tersebut.Dengan mengerahkan Thian In Hui Cu, tubuhnya melesat laksana asap mengarah ke arah pertarungan tersebut. Tatkala Han Sian tiba di tempat pertarungan tersebut, pertarungan sudah berakhir dan dia melihat dua orang gadis tertotok dalam kempitan dua orang yang aneh. Maaf panglima Barat, apakah kedua gadis ini akan kita persembahkan pada junjungan? Tanya salah seorang dari dua orang aneh itu. Bodoh ! Kita baru masuk Tiong Goan, hanya dua kelinci ini saja sudah mau merepotkanku untuk kembali ! Tunggu saja setelah aku puas, kalian akan mendapat bagian satu orang satu! Sahut pria bertopeng iblis itu dengan suara dingin. Aku masih ada urusan di sini, pergilah kalian dan gabungkan mereka berdua dengan gadis berpayung di Kuil kosong di sebelah utara ! Ingat, jangan sentuh ketiga kelinci itu, atau kepala kalian akan menggelinding jadi makanan binatang hutan! Sekejap kemudian tubuhnya sudah menggantung di atas pohon yang tinggi dengan kepala di bawah.Tanpa banyak cakap, ketiga orang aneh tersebut segera melesat ke arah utara sambil membawa tubuh kedua gadis tersebut. Tanpa diketahui pria bertopeng iblis tersebut, tubuh Han Sian masih tetap diiam di tempat semula sambil menunggu. Namun tidak lama karena dari jarak sepuluh Li dia mendengar beberapa orang sedang menuju ke tempat itu. Beberapa saat kemudian muncul tiga orang yang juga memakai topeng iblis tapi dengan bentuk berbeda.Han Sian melihat satu di antaranya berpostur tubuh langsing tanda bahwa dia adalah seorang perempuan. Panglima Barat, Utusan Kanan dan Utusan Kiri sudah memberi perintah, agar besok kita bergabung dengan mereka untuk menghadang keenam utusan Dalai Lama yang sedang menyusun kekuatan di Tiong Goan ini! Tiba-tiba salah satu dari mereka bersuara.Hemm ! Apa sudah diketahui kemana mereka berada? Sahut pria yang menggantung dengan kepala di bawah itu. Belum tahu! Mereka bergerak secara rahasia. Hanya menurut telik sandi, mereka pasti berada di sekitar See Ouw ini karena mereka sedang melacak keberadaan pewaris Kiu Sian I Sin Kang ... Baiklah, aku akan menyebar mata-mata untuk melacak mereka! Aku rasa tak lama lagi akan ada yang muncul ... he he he !

Seyakin itukah siasatmu akan berhasil? Sahut wanita bertopeng Iblis itu. Huh ! Kita lihat saja! Dengan adanya ratusan manusia yang menjadi mayat berdiri itu, masakkan tidak ada seorangpun pendekar yang tertarik menyelidikinya, dan kalau memang benar pewaris Kiu Sian I Sin Kang ada di sekitar sini, masakkan dia tidak akan muncul? Kembali sahut Panglima Barat dengan pongah, sesaat kemudian dia sudah berlalu dari tempat itu kearah Utara. Diikuti ke tiga rekannya yang juga masing-masing melesat ke tiga arah yang berlawanan.

Bab 19. NASIB TRAGIS PARA KEKASIH SANG PENDEKAR Mari kita menengok ketiga gadis yang di tawan itu.Mereka bukan lain adalah Cu In Lan, Jie Hong dan Hong Lian.Mengapa mereka sampai berada di sekitar See Ouw ini? Sejak peristiwa pelucutan Bengcu tiga bulan lalu, mMereka bertiga menghilang seiring dengan menghilangnya Han Sian dari tengah-tengah para Ho Han. Tadinya ketiga gadis ini tidak saling mengenal, tapi kemudian selama tiga bulan mereka melacak orang yang sama, akhirnya mereka bertiga saling bertemu dan bersahabat.Tanpa sengaja juga mereka saling bertanya ketika mengetahui kesamaan ilmu Thian in Hui cu dan Pukulan Inti Petir Murni yang mereka miliki. Dari situlah mereka saling mengetahui bahwa mereka sedang mencari orang yang sama. Dalam hati mereka masing-masing berjanji untuk menuntut pemuda pujaan hati mereka untuk memilih yang terbaik di antara mereka. Penyelidikan mereka menunjukkan keberadaan Han Sian di sekitar Danau Barat ini, itulah sebabnya mereka juga berada di sini.Sementara mereka menikmati keindahan Danau Barat ini, mereka dikejutkan dengan adanya perahu-perahu berpenumpang yang sudah menjadi mayat. Tak heran mereka tertarik dan melacaknya. Sayangnya mereka tidak tahu bahwa ini adalah jebakan sehingga mereka masuk perangkap. Cu In Lan terbaring lemas di salah satu dipan di kuil kosong itu, ditunggui oleh dua orang pria berwajah setengah serigala.Mereka adalah Sepasang Serigala iblis. Sesaat kemudian muncullah dua orang yang lain lagi sambil mengempit tubuh dua orang yang langsung dilemparkan disampingnya.Dan ini membuat In Lan terkejut karena dia mengenal kedua orang ini. Jie Cicie ! Lian Cicie ! Mengapa kalian sampai tertangkap? Sahut Cu In Lan dengan suara lemas tak bertenaga. Hong Lian yang melihat In Lan segera menimpali, Akhh ! Lan-moi, kau juga sudah ditangkap oleh bajingan itu rupanya ! Awas dia ! Berani menyentuhmu, aku akan adu jiwa dengannya!

Wajah Hong Lian penuh emosi, sementara itu Jie Hong hanya diam saja tapi tatapan matanya berkilat menatap keempat manusia aneh di hadapannya dengan penuh kemarahan.Sementara itu keempat orang itu tersenyum-senyum dengan air liur yang menetes dari bibir mereka. Dengan perlahan-lahan namun pasti, mereka mendekati ke tiga gadis itu ... Lancang! Berani mati ...! Tiba-tiba terdengar suara menggelegar diikuti empat larik sinar hitam kebiru-biruan mengarah ke tangan kiri keempat orang itu. Mereka menjerit kaget dan melompat mundur dengan muka pucat. Sesaat kemudian mereka telah berlutut dihadapan pria bertopeng iblis yang tiba-tiba saja sudah ada di tengah-tengah ruangan tersebut. Potong tangan kiri kalian masing-masing dan berlalu dari sini sebelum kesabaranku habis! Ba ... ba ... baik .. panglima! Sahut mereka terbata-bata dan tanpa banyak cakap mereka meloloskan senjata, kemudian memenggal lengan kiri mereka sebatas siku.Sambil meringis menahan sakit, mereka membawa potongan tangan masing-masing dan berlalu dari ruangan tersebut. Pria bertopeng itu tertawa senang. Perlahan dia berjalan menghampiri ketiga gadis itu sambil tersenyum-senyum nakal. Ha ha ha ! Waktuku tidak banya, hanya sampai subuh sebenarnya aku mau menikmati perlahan-lahan, tapi apa boleh buat Berkata demikian tiba-tiba tangannya diputarkan dengan cepat kearah ketiga gadis yang tertotok itu sambil mengerahkan Ilmu Hwi Hoat Sut Ciang (Ilmu Api Sihir), dan dalam sekejap saja semua pakaian penutup badan ketiga gadis itu hancur tanpa melukai kulit mereka sedikitpun. Ookhh !!! Tidak!!! Jerit ketiga gadis itu hampir bersamaan, dengan air mata meleleh tanpa dapat berbuat apa-apa. Bajingan tengik! Lepaskan totokanku, dan mari kita bertarung sampai mampus ! Teriak Jie Hong dengan mata berkilat. Ha ha ha ha ! Setelah ini, kalian pasti akan berterima kasih padaku! Sahut Pria bertopeng itu dan di lain saat dia telah bertelanjang dada sambil melompat menindih ke arah ketiga gadis tersebut. Mundur kau ! Slepp ! Ciittt ciiiiiitttt ! Aakhh .! Blaaammm ! Si Penakluk Dewa & Iblis

Oleh : LovelyDear Episode 7 Tampak debu mengepul ketika tubuh pria bertopeng tersebut terlempar sambil menabrak dinding ruangan sampai roboh. Namun hebat, belum sampai tubuhnya menyentuh tanah, tiba-tiba saja sudah meliuk dan meluncur kembali ke dalam dengan cepat sambil menyerang. Manusia bosan hidup, berani kau ganggu tuanmu? Matilah ...! Dari tangannya keluar hawa mencicit tajam dari Ilmu Hwi Hoat Sut Ciang tingkat ke delapan. Tapi yang diserang hanya diam saja sambil mengangkat tangan kanan mengibas sekali menepis kedua pukulannya, sementara tanpa diduga-duga dari kedua jari kelingking dan jempol tangan kiri lawan yang baru datang itu menyeruak sinar tajam tanpa suara dari samping yang mengarah pinggang kanannya dan kepalanya dengan cepat. Iiiikhh ! Heaahhh ! Kembali tubuh pria itu terdorong keluar. Meskipun dia sempat menghindar namun tak urung pelipis topengnya dan pinggangnya kena serempet hawa tajam yang aneh luar biasa. Wajah di balik topeng itu berubah pucat. Sian Koko ! Berbareng terdengar teriakan Ji Hong yang menyadarkan kedua gadis yang sedang tertutup mata menerima nasib tadi. Segera mereka membuka mata mereka dan berteriak kegirangan. Sementara itu sambil memandang pria bertopeng iblis itu dengan mata berkilat penuh kemarahan. Siapa kau, orang muda? Kita belum pernah bertemu dan bermusuhan, jangan menghabiskan kesabaranku! Segera setelah ku bereskan ketiga kelinci itu, aku akan memberikan kedudukan terhormat atas keberanianmu, bagaimana? Pria Bertopeng Iblis itu menahan amarahnya sambil memberi penawaran. Dia tadi sudah merasakan gempuran lawan, dan dia tahu yang dihadapi kali ini lawan berat, itu sebabnya dia tidak berani gegabah. Sementara itu demi mendengar suara yang tembok runtuh, keempat pengawal aneh yang sejak tadi di luar segera berkumpul mengepung Han Sian. Han Sian mengibaskan tangan ke arah kain yang tergantung di sudut ruangan tersebut yang segera melayang menutupi tubuh ketiga gadis molek itu, kemudian barulah dia menjawab dengan suara dingin, Manusia celaka ! Kita memang tidak bermusuhan tapi kesalahanmu terbesar ialah kau telah mengganggu ketiga gadis ini dengan sangat keterlaluan! Dan itu berarti kau sendiri yang mencari perkara dengan tangan Iblisku! Baik-baiklah kau menjadi penunggu neraka ...! Karena aku pun tak bakal berbelas kasihan sepertimu ...! Lihat serangan ...!Belum habis suaranya, tiba-tiba tubuhnya melesat kedepan dengan kecepatan yang sukar diukur. Pria bertopeng Iblis itu terkejut dan segera memukul kedua tangannya ke depan sambil melompat mundur. Tapi lebih terkejut lagi karena ternyata pukulannya tidak mengenai apa-apa.

Belum sempat dia tersadar, Han Sian telah kembali ke tempatnya dengan kedua tangan di gantung berlumuran darah. Setelah di perhatikan, ternyata keempat pengawalnya telah terlempar keluar dengan kepala dan dada hancur tanpa mengeluarkan suara. Hemm ...! Itu jurus Seribu Tangan Pencabut Nyawa, jurus pertama dari Ilmu Seribu Iblis Pemusnah, kau tahu, keunikan jurus ini adalah mencabut nyawa lawan sebanyak-banyaknya dalam satu serangan ...! Nah sekarang kau boleh pilih, membunuh dirimu atau merasakan jurus keduaku Seribu Iblis menghacurkan hati seratus langkah? Suara Han Sian mengancam tetap dingin tanpa ekspresi. Huh, tampaknya aku tak punya pilihan ...! Tapi kau salah anak muda! aku adalah Panglima Barat Istana Neraka Hitam! Tak nanti ku takut padamu! Mari kita lihat! Ilmu Iblis Pemusnahmu yang lebih kuat atau Ilmu Hwi Hoat Sut Ciangku yang lebih sakti ...! Heeiiitttt .! Berkata demikian tiba-tiba tubuh Pria bertopeng Iblis yang mengaku sebagai Panglima Barat Istana Neraka Hitam itu berubah menjadi banyak, dan menyerang Han Sian dari segala arah. Pukulan Hwi Hoat Sut Ciang memang hebat sekali. Hawa pukulannya seperti penjara berapi yang menutup semua jalan dan ruang gerak lawan, sementara pukulan-pukulan yang tajam beracun itu berselewiran saling menunjang seperti gelombang pasang yang tiada habis-habisnya. Namun lawannya ternyata bukanlah sasaran empuk yang gampang di taklukkan. Dengan memekik perlahan, tangan kiri Han Sian diputarkan ke sekeliling tubuhnya sehingga menimbulkan hawa pelindung yang kuat yang menentalkan semua himpitan tenaga lawan sehingga semua serangan lawan kandas di tengah jalan. Sementara tangan kanan Han Sian tiba-tiba terulur ke depan dengan jari-jari tangan terkatub seperti meremas sesuatu. Gerakan yang aneh, namun tiba-tiba Aaaaarrrrgggkhh ! Pria itu menjerit kesakitan sambil kedua tangannya memegang tempat dimana hatinya berada. Dirinya merasa seperti kehilangan tenaga karena hatinya sakit seperti di remas-remas oleh tangan yang tak kelihatan. Dilain saat ketika Han Sian menghentakkan tangannya ke depan, maka tanpa ampun lagi pria itu terlempar ke belakang dengan hati hancur. Mati seketika itu juga dengan wajah penasaran di balik topeng Iblisnya. Pria bertopeng Iblis ini telah salah memilih lawan. Jurus yang kedua ini sebenarnya adalah pengendalian tenaga tingkat tinggi yang melemparkan tenaga yang tak kelihatan ke tubuh lawan tanpa lawan sadari dan kemudian mengendalikan tenaga itu untuk menghancurkan isi tubuh lawan. Memang jurus ini mengerikan, namun jika lawan sama kuat, jurus ini masih dapat dipatahkan. Ilmu Seribu Iblis Pemusnah memiliki tingkatan yang sama dengan ilmu yang dimiliki Junjungan Istana Neraka Hitam, yaitu Iblis Api Es Ini tidaklah mengherankan karena pemilik dari Ilmu Seribu iblis Pemusnah adalah orang nomor satu dari Su Kwi Sian (Empat Dewa Iblis), yang pernah berjaya beberapa ratus tahun yang lalu.

Sedangkan. Sebenarnya keempat Dewa iblis ini sudah lama meninggal. Hanya saja demi membangkitkan lagi kejayaan Istana Neraka Hitam, maka salah satu cucu murid iblis Api Es yang paling sakti kemudian memakai nama leluhurnya dan bertindak sebagai Sang iblis itu sendiri. Han Sian melangkah mendekati ketiga gadis tersebut yang masih terbaring tak berdaya. Sesaat kemudian dia melongo dan bingung tidak tahu harus berbuat apa. Eh, tolol ! Apa yang kau pandangi? Tidak lekas membebaskan totokan kami, apa mau suruh kami mati kedinginan? Tiba-tiba suara Cu In Lan memecah kesunyian. Eh ! Ohh ? Iya, iya ! Tapi bagaimana? Kalian tertotok dengan cara yang aneh? Apa aku juga harus meremas itu ? E eh ? Bagaimana ini ? Pada dasarnya Han Sian tidaklah pemalu di kalau hanya berhadapan satu-satu, tapi ini tiga sekaligus, sedangkan untuk membebaskan totokan mereka dia harus meremas jalan darah di payudara mereka. Dia bingung dan mukanya merah. Tiba Hong Lian berkata dengan suara lembut, Sian-ko, kau carilah penawar racun pelemas tenaga pada bangsat itu! Kalau tenaga kami sudah kembali normal, kami bisa membebaskan diri sendiri. Tanpa disuruh dua kali, Han Sian mengerjakan apa yang diminta. Diam-diam dia menarik nafas lega. Akhh, ternyata mereka terkena racun pelemah tenaga! Katanya dalam hati Han Sian. Tadinya dia heran, karena dia tahu bahwa kepandaian masing-masing gadis ini hanya sedikit di bawah pria bertopeng Iblis yang baru mati itu, tapi mengapa demikian mudahnya mereka ditangkap. Setelah mendapatkan obat yang diperlukan, ke tiga gadis itu memejamkan mata sambil menghimpun tenaga membebaskan totokan mereka. PERTEMUAN YANG MENGAGETKAN DAN MENYENANGKAN Perlahan-lahan tubuh Han Sian mengambang dan melesat dari tempat itu, lenyap bagaikan asap. Tubuhnya terus meluncur dengan Thian In Hui Cu, mengarah ke pinggir danau. Segera tubuhnya mengambang di atas air dengan poisi tidur dan perlahan kemudian tubuhnya tenggelam sampai di dasar danau. Entah berapa lama dia tertidur dalam air tersebut. Dari dalam air dilihatnya permukaan air telah terang. Artinya malam telah berganti pagi. Dari arah Hulu di lihatnya sebuah kapal yang sedang mendekat dan lewat di atasnya. Dia teringat kapal-kapal kemarin yang hanya berisi mayat-mayat beku, maka sambil melepaskan pengerahan tenaga pelindungnya, tubuhnya melesat tinggi keluar dari air dan langsung mendarat di tengahtengah geladak kapal. Tapi yang dia heran karena kapal itu nampak sepi, tetapi tercium ada bau makanan yang harum keluar dari dalam. Perut Han Sian berkeruyukan tatkala diciumnya bau makanan yang harum tanda makanan itu pasti lezat. Segera Han Sian berteriak lantang sambil merangkapkan tangan di depan dada, Wahai pemilik kapal yang budiman, maafkan kelancangan Cahye yang naik ke kapal ini tanpa di undang! Jika diijinkan, biarlah Cahye membayar seberapa harga makanan yang ada sebagai pengganjal perut ini ?Baru habis suaranya, tiba-tiba keluar seorang anak kecil dari dalam perahu menghampirinya.

Apa benar tuan adalah In Kong (Tuan Penolong) dari Siocia kami? Kalau benar, maka Siocia meminta tuan berganti pakaian yang telah disediakan di dalam dan kalau tuan tidak keberatan, Siocia kami mengundang tuan untuk santap pagi bersama ditemani arak Ong Chiu yang nikmat ! Eh, adik kecil, siapa Siocia kalian ? Tanya Han Sian dengan sedikit ragu dan bingung. Nanti tuan akan bertemu langsung, maaf Siocia hanya bilang kalau baju yang disediakan cocok dengan tuan, maka berarti tuanlah sang penolong itu, tapi kalau tidak cocok, maka tuan dipersilahkan segera meninggalkan kapal ini!Selesai berkata, anak itu lalu mempersilahkan Han Sian yang masih penuh keheranan itu mengikuti masuk. Sambil melangkah masuk, pikiran Han Sian tidak tenang, Akhh ! Persetan siapa Siocia itu! Yang penting makan dulu! Berpikir demikian Han Sian lalu melangkah dengan lenggang dalam kamar yang cukup luas dan rapi lalu berganti pakaian. Ternyata pakaian yang di sediakan memang cocok sehingga dia nampak gagah sekali. Segera dia, melangkah keluar dari kamar ke ruang tamu. Saat Han Sian memasuki pintu, nampak dua orang pelayan menyambutnya dengan tubuh membungkuk. Dalam ruangan itu tampak sebuah meja yang diatur dengan berbagai masakan khas yang lezat-lezat. Sementara di sudut sebelah sana tampak seorang gadis yang duduk sambil membelakangi pintu masuk. Kaki Han Sian bergerak melangkah, tapi baru saja lima langkah, tiba-tiba firasatnya tidak enak, ingatannya bekerja cepat dan dalam sekejab, dia telah membalikkan tubuh menghadap ke arah dua pelayan tersebut yang mengikutinya dari belakang.Benar dugaannya, hasilnya memang dia tidak dapat berkata apa-apa lagi selain berdiri kaku ditotok oleh dua tangan yang lembut. Heran sekali! Bukannya Han Sian tidak tahu akan ditotok dan bukannya Han Sian tidak sanggup menghindari totokan ke dua pelayan tersebut, tapi yang membuat dia pasrah saja ditotok ialah karena dia melihat wajah kedua pelayan yang sudah terangkat itu bukan lain adalah Ji Hong dan Hong Lian adanya. Kedua gadis itu sambil tertawa senang lalu memegang tangan Han Sian di kanan kiri dan menyeretnya mendekati meja. Akhh ! In Kong yang baik! Mengapa mau cepat-cepat pergi? Bukankah In Kong sangat kelaparan? Mari ! Mari makan dulu baru bicara ...! Hi hi hi ! Gadis yang duduk itu membuka suara, merdu sekali, dan Han Sian yang masih diseret dengan tubuh membelakangi meja segera menggerutu, Aduuh ! Mati aku ...!Siapa lagi pemilik suara itu kalau buka Cu In Lan adanya. TAPAK BERANTAI PEMUSNAH RAGA SESAT Jauh di dasar Lembah Bangkai, sesosok tubuh yang penuh luka-luka sedang bersandar pada sebuah batu di mulut sebuah goa. Sudah lima belas hari dia di kejar-kejar oleh para pemburu hadiah untuk di bunuh, karena kepalanya dihargai 1000 tael emas. Entah siapa yang memberi

harga itu tiada seorang pun yang jelas. Namun apa pun itu, nanti urusan belakangan, yang penting sang buruan tidak boleh lolos. Pemuda itu bukan lain adalah Tee Sun Lai. Tubuhnya sudah tidak bertenaga lagi. Ilmunya sudah musnah tanpa bekas. Yang ada dalam hatinya sekarang adalah dendam. Hanya untuk alasan inilah dia bertahan hidup.Tee Sun Lai tidak sadar ada sepasang mata aneh yang sedang menatapnya dengan penuh selidik. Tak lama kemudian seseorang kakek tua bongkok telah berdiri dihadapannya. Anak muda, aku melihat awan kelam di dahimu, kau penuh derita dan dendam, benarkah dugaanku bahwa kau baru saja mengalami peristiwa yang menyedihkan dalam hidupmu? Tee Sun Lai menatap orang itu, Huh, apakah kau juga sama seperti orang-orang yang mengejarngejarku itu, yang menginginkan nyawaku? Kalau sudah tahu untuk apa kau bertanya lagi Bagus ! Aku suka yang seperti ini! Hatimu penuh dendam dan ingin membunuh lawanmu sebanyak-banyaknya? Jika dalam setengah tahun kau dapat menguasai Tapak Berantai Pemusnah Raga Sesat ", maka kau akan jadi seorang jagoan tanpa tanding yang sukar dikalahkan ...! Mulai sekarang kau ikutlah aku!" "Aku tidak mau! Kalau ilmu kepandaianmu tidak dapat dipakai menghadapi keenam keluarga besar di dunia persilatan, untuk apa aku belajar darimu! Hanya membuang-buang waktuku saja!" Bentak Sun Lai dengan ngototnya. "Heh ! Apa itu? Ilmu ini adalah warisan Iblis Tapak Dewa, salah satu dari Su Kwi Sian yang menjagoi dunia Kang Ouw empat ratus tahun silam! Dan kau katakan ini tidak berguna? Kalau kau tidak mau, lebih baik kau mati saja! Bagaimana ?" Kembali kakek itu berkata dengan tatapan tajam mengerikan ke arah Tee Sun Lai. Tee Sun lai juga tahu diri, segera dia bertelut dengan dahi sampai ke tanah, "Baik ! Teecu bersedia, tapi bagaimana dengan ilmu Teecu yang hilang?" "Huh, kalau tenagamu sudah kembali, masakkan kau tidak bisa mengingat lagi ilmu-ilmumu yang lampau dan melatihnya kembali? Dengan adanya Tiat Kin Sin Kang (Tenaga Sakti Pelentur Baja) dan pengoperan tenaga dariku, kau akan dapat memperoleh kembali tenagamu yang hilang itu!" Sambil berkata demikian, kakek bongkok itu langsung duduk bersila dan menempelkan tangan ke perut dan ubun-ubun Tee Sun Lai. Hari menjelang pagi. Suasana di hutan barat pinggir telaga See-Ouw tampak sepi. Namun kali ini bukanlah sepi karena keadaan alam, tapi sepi karana adanya sebelas orang yang saling berhadapan sebagai lawan. Enam di antaranya adalah ke-enam Lama utusan dari Dhalai Lama di tibet yang mempunyai misi mencari pewaris Kui Sian I Sin Kang. Di depan mereka berdiri kelima lawannya. Yang pertama seorang pria tinggi besar bermata satu namun memiliki kuku tangan kiri yang panjang, sepanjang dua cun dan tampak mengerikan sekali, dia di kenal sebagai Duta utusan Kanan Istana Neraka Hitam, julukannya Swat Tok Kui (Iblis Racun Salju). Kedua adalah seorang wanita berambut putih yang cantik, di kenal sebagai Utusan Kiri yang berjuluk Lui Ci Kui Sian Li (Dewi Iblis Berjari petir), sedangkan ke tiga lainnya adalah panglima Timur, Selatan dan Utara dari Istana Neraka Hitam tersebut.

HemmmDengar Argapa, Kalau kalian masih terus menentang kehendak agung Dewa Iblis Es-Api, maka tak ada ampun lagi, Dhalai Lama-pun terpaksa akan kami hancurkan Sahut Swat Tok Kui dengan suara mengkereng. Argapa Lama, orang tertua sekaligus suheng dari para Lama itu menyahut: Omitohud, sampai kapanpun kebenaran tidak akan tertindas selama masih ada orang-orang yang rela berjuang demi hal ituada maksud apakah kalian menghadang kami? Kami mencium rencana kalian untuk membentuk kekuatan di tanah sentral ini, dan ini tidak boleh di biarkan Kembali Swat Tok Kui menyahut dengan mata mendelik. Omitohud, kami hanya menjalankan perintah untuk mencari seseorang, dan itu tidak ada sangkutpautnya dengan membentuk kekuatan apapun Baik, kalian boleh pergi, tapi serahkan dulu kitab I Kin Hiat Hip Kang pada kami Maaf, kami tidak bisa memberikannya, karena Keras kepala, Kalau begitu matilahHiaaattt! Diiringi bentakan ringan, Tubuh Swat Tok Kui melesat dengan kecepatan yang sukar di lukiskan. Dengan telapak tangan terbuka dia menghantam ke arah kepala lawan. Serangannya ini sederhana saja, namun membawa perbawa tenaga dingin menyesakkan nafas yang amat dahsyat. Omitohud, Swat tok Hiat ciang (Telapak Darah Racun Salju) yang keji serentak Lama pertama itu menarik tangan kanannyanya kebelakang seperti mengambil sesuatu, kemudian secepat itu juga jari-jarinya di pukulkan ke depan dengan jurus Jari Budha Meledakkan Gunung dan di lain saat DAAAARRRRR.Aarghh. Argapa Lama terlempar sambil memuntahkan darah segar. Ke lima saudara seperguruannya menjerit dan segera bergerak mengelilinginya utuk mencegah serangan susulan lawan. Huahahahaha, kepandaian seperti ini mau melawan Istana Neraka Hitam? Kalian sungguh bermimpi Sahut Swat Tok Kui dengan pongah diikuti dengusan mengejek dari kelempat rekannya. Para Lama tersebut tidak banyak bicara, melainkan dalam sekejap mereka telah membentuk barisan yang di sebut Perisai Budha Rulai. Melihat ini, Swat Tok Kui segera menghentikan tertawanya dan memberi kode ke empat kawannya untuk menyerbu. Mereka tak berani ayal, karena mereka tahu keampuhan barisan ini yang bisa menggempur lawan sekuat apapun juga. Pertarungan berlangsung dengan seru dan memakan lebih dari duaratus jurus. Tapi, tampaknya walaupun ke enam Lama itu memiliki barisan yang kuat namun tetap saja ke lima orang lawan para Lama tersebut mulai di atas angin. Ini di sebabkan luka Argapa Lama yang lebih memperparah kondisinya dan karena pertarungan yang cukup lama tersebut menguras tenaganya. Swat Tok Kui dan Lui Ci Kui Sian Li mulai mengadakan tekanan-tekanan dengan pukulan-pukulan tenaga dalam mereka yang berhawa panas dan dingin. Memasuki jurus ke duaratus sepulluh, pecahlah barisan Perisai Budha Rulai itu ketika dada Argapa Lama terhantam sengatan Jari Petir dari Lui Ci Kui Sian Li. Dia muntah darah dan terlempar keluar dari barisan tanpa dapat di cegah lagi. Suheng.! Dengan seruan kuatir, ke lima Lama lainnya saling memberi kode dan mengelilingi memberi bantuan tenaga dalam untuk menyembuhkan luka Suheng mereka tersebut.

Hahahahahaterimalah kematian kalian Terdengar Suara Swat Tok Kui yang menggelegar, di iringi tubuhnya dan tubuh Lui Ci Kui Sian Li yang melesat ke depan sambil melepaskan pukulan beruntun ke arah keenam Lama tersebut. Dalam kondisi yang sangat kritis tersebut, ternyata para Lama itu tidak hanya menunggu kematian dengan pasrah. Serentak mereka berlima meloncat ke depan Argapa Lama. Satu orang menghadap Argapa sambil membelakangi para penyerangnya sedangkan ke empat rekannya, berdua-dua sejajar di kanan-kiri, dan dengan tangan saling menempel di pungung, mereka menyatukan tenaga menyambut hentakan tenaga lawan yang dahsyat tersebut. Heeaaaaaahhhh! Dhuaaaaaaaarrrrr!......Blammmm..Blaaammmm! SIAL Maki Lui Ci Kui Sian Li Kita tertipu, Kejaaar! Ternyata saat bentrokan tenaga yang terjadi, keempat orang Lama tersebut berkorban dengan menampung tenaga lawan yang terus di salurkan ke orang ke lima. Dengan adanya kelimpahan tenaga dalam di tubuhnya, dia memaksakan kekuatan untuk melemparkan suheng mereka sekuatnya ke arah sungai yang mengalir. Namun akibatnya fatal sekali, ke lima orang yang tergempur tenaga mereka itu langsung jatuh pingsan dalam keadaan yang menggenaskan sehingga sulit untuk di sembuhkan. Tubuh Argapa Lama yang terluka parah itu melayang dengan cepat sekali. Dalam sekejap saja sudah jauh melewati pinggir hutan dan langsung tercebur ke dalam sungai. Sementara itu, setelah memerintahkan ke tiga panglima untuk mencegat dari arah lain, Utusan Kanan dan Kiri melesat cepat mengejar ke arah melayangnya tubuh Argapa Lama dan mereka segera tiba di pinggir sungai, namun mereka tidak melihat bayangan Argapa Lama. Mereka menjadi marah dan memaki-maki. Saat itu dua ekor kuda berlari cepat melewati pinggir sungai. Arahnya tepat ke arah mereka berdua dan bahkan hampir menabrak mereka. Awaassss! Sahut salah seorang penunggang kuda itu mengingatkan dengan suara khawatir dan segera menarik kekang kudanya sehingga kuda itu meringkik kesakitan BAGERO, Kau cari mati rupanya! Bukan main marahnya Swat Tok Kui. Sambi membentak tangannya di arahkan menghantam kepala kuda itu yang langsung hancur dan mati berkelojotan. Heiiiimengapa kau telengas sekali?... Seru penunggang kuda itu yang langsung melesat ke atas dan turun ke tanah dengan muka merah karena marah. Sementara itu Lui Ci Kui Sian Li juga tak mau ketinggalan. Tangannya di angkat dengan jari-jari menegang hendak di pukulkan ke arah kuda yang satunya lagi. Tapi perbuatannya itu sempat di duga oleh sang pemilik kuda yang telah melihat akibat terhadap kuda kawannya. Dalam sekejap pula dia menahan kekang kudanya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya tiba-tiba keluar selarik sinar pedang tajam dari Ilmu Toa Hong Kiam Sut yang mengarah ke telapak tangan Lui Ci Kui Sian Li yang sedang terbuka itu. Lui Ci Kui Sian Li yang tidak menduga lawan berani memapaki pukulannya, terkejut tapi tidak sempat menarik pulang serangannya. Segera saja dia lanjutkan.

Ciiiiit.Cusss Aiiiikhh..? Lui Ci Kui Sian Li tergentak mundur sambil menahan sakit tangannya. Pemuda itu segera melayang turun dari kudanya dan berdiri di samping rekannya yang tampak marah itu. Ternyata mereka adalah dua orang muda yang gagah, mereka bukan lain adalah Khu Hee Liong dan Kiang Po Chun adanya. Heh, siapa kalian? Bentak Lui Ci Kui Sian Li dengan marah. Namun dia tidak berani sembarangan menyerang saat di rasakannya kekuatan lawan tidak berada di sebelah bawahnya. Huh, aku yang mau bertanya siapa kalian? Mengapa begitu telengas membunuh tungganganku yang tak bersalah pada kalian? Khu Hee Liong menyahut dengan nada yang tidak senang. Anak kurang ajar, ada kepandaian apa kamu sehingga aku harus menjawab pertanyaanmu? Ooohhh, jadi kamu ini bapak kurang ajar, yaa? Bagus-bagus, aku tidak perlu repot-repot mencari Setan, matilah kau Sshooosss! Tiba-tiba serangkum hawa yang luar biasa dinginnya berhembus ke arah Khu Hee Liong. Pemuda ini hanya mendengus pendek saja, di ikuti tangannya yang bergerak memapaki dengan mendorongkan tangannya ke depan menyambut serangan lawan dengan pengerahan Bu Kek Kang Sin Kang tingkat ke-tujuh. Maka terjadi pertarungan yang dahsyat antara ke dua orang ini. Ini membuat mata kedua Iblis itu terbuka lebar bahwa lawan yang mereka hadapi ini bukanlah lawan sembarangan. Sementara itu Lui Ci Kui Sian Li juga tidak mau kalah, segera merengsek pemuda yang satunya lagi, tapi akhirnya dia kecele, karena lawan yang di hadapi ini ternyata tak kalah tangguh juga. Pertarungan berlangsung sampai limapuluh jurus dengan dahsyat. Semua ilmu-ilmu iblis mereka di kerahkan pada tingkat yang paling tinggi yang di layani oleh Hee Liong dengan Bu kek kang sin kang tingkat ke delapan dan oleh Po Chun dengan Giok Ceng Sin Kangnya dengan enteng sehingga lawan mereka tetap tidak ungkulan memenangkan kedua orang muda tersebut. Hal ini membuat kedua iblis tersebut penasaran. Hingga akhirnya, mereka saling lirik dan memberi kode Cukup dulu anak muda, lain kali kita akan selesaikan perhitungan ini Berkata demikian, kedua iblis melemparkan benda bulat di atas tanah yang segera mengeluarkan asap tebal, di lain saat mereka telah kabur dari tempat tersebut. Khu Hee Liong dan Kiang Po Chun hanya menggeleng kepala saja. Mereka tidak mengejar karena merasa tidak punya permusuhan. Segera mereka melanjutkan perjalanan mereka. Dalam hutan mereka menemukan kelima orang yang sekarat dan berusaha menolong mereka tapi luka dalam mereka terlalu parah. Sebelum mereka mati, kedua pemuda ini mendapatkan berita yang luar biasa mengenai kemunculan Istana Neraka Hitam itu sehingga kedua orang muda ini menyesal telah melepaskan ke dua lawan mereka tadi. Di atas perahu pesiar di tengah danau Sian Koko, sekarang apa keputusanmuberitahukanlah pada kami? Kami sudah siap menerimanya? Terdengar suara merdu dari Hong Lian yang mengusik lamunan Han Sian. Saat dia membalikkan tubuhnya, tampak ketiga gadis yang amat cantik telah berdiri di hadapannya Eh, keputusan apa?... Tanya Han Sian seperti orang linglung.

Yakeputusan kamu , bodoh! Siapa yang akan kau pilih dari antara kami? Sahut Jie Hong sambil cemberut, tapi wajahnya berona merah kemalu-maluan. Tapibukankah? Bukankah? Han Sian sedikit gagap menanggapinya. Benar kata Jie Hong cici, kau harus memilih dan pilihanmu harus adil tanpa menyakiti salah satu di antara kami, jelas? Suara lembut In Lan menimpali dengan perlahan sambil menatap Han Sian. Iya, iyatapi bukankah kalian sudahsudah? Sudah apa? Huh, ngomong aja gak genahbagaimana bisa memutuskan? Hong Lian memotong sambil tertawa manis. Eh, maksudku, bukankah kalian bertiga menentukan dan memutuskannya?... Han Sian menatap tajam mereka bertiga yang kelihatan bingung dan saling pandang. Cuma! Cuma apa?... Sahut In Lan curiga sambil wajahnya mengamati wajah pemuda di depan mereka yang tiba-tiba berubah cengar-cengir . Mmmm, akh..aku hanya takut dan bingung bagaimana caranya memeluk kalian bertiga sekaligus, sedang tanganku hanya duahahahah Sambil mengucapkan kata terakhir itu tubuhnya sudah melayang ke menuju ke pinggir sungai. AhhSian-Koko, kau nakal, menggoda kami seperti ituawas ya! Tubuh Jie Hong turut melayang mengejar Han Sian yang di ikuti oleh Hong Lian dan In Lan yang tersipu-sipu. Mereka tidak komplain, karena pada dasarnya hati merekapun sudah saling menerima satu dengan yang lainnya dengan rela. (Inilah anehnya dunia cinta) Tubuh Han Sian melesat lebih cepat. Dia tidak lagi memperhatikan ke tiga gadis yang mengejarnya itu. Perhatiannya tertuju pada sesosok tubuh berpakaian Lama yang mengapung di pinggir sungai. Sekali menutul di atas permukaan air dia menyambar tubuh tersebut dan membaringkannya di pinggir sungai. Di lihatnya nafas Lama tersebut kempas-kempis. Segera tangannya bergerak menotok ke delapan belas jalan darah penting di tubuhnya. Tak lama kemudian orang itu sadar dan berbicara, tapi suaranya lemah sehingga Han Sian terpaksa harus mendekatkan telinganya. Sementara Han Sian mencoba mendengarkan suara Lama tersebut, Ketiga gadis itu sudah tiba di dekat mereka. Hong Lian yang mengetahui tentang ilmu pengobatan segera memeriksa Lama tersebut. Namun diapun akhirnya menggeleng kepalanya. Dia sudah tak tertolong Sian-koko. Tenaganya terbalik dan hampir semua urat nadinya rusak berat. Kalaupun bisa sembuh dia akan cacat seumur hidup. Kecuali kalau kita bisa mendapatkan Jamur Inti Es, tapi itupun mustahil karena jamur tersebut hanya muncul 100 tahun sekali di puncak himalaya. Atau kalau kalau kau rela menggunakan hawa tenaga Hui Im Hong Sin Kang, dan ini membutuhkan waktu 7 hari. Hong Lian menatap pemuda itu dengan penuh selidik. Hemm, lakukan Lian-moi, aku akan membantunya Tunggu dulu orang muda! Kau tidak akan berbuat apapun. Lama itu adalah buruan kami, tinggalkan dia di situ Tiba-tiba terdengar suara mengkereng. Han Sian membalikkan tubuh diikuti

Jie Hong, In Lan dan Hong Lian. Tampak di hadapan mereka tiga orang bertopeng iblis yang mengerikan. Segera Han Sian mengenal ketiga orang tersebut sebagai rekan dari Panglima Barat yang dia bunuh kemarin. Oh, kiranya kalianHemmnn, tadinya aku masih ragu apakah orang yang akan ku tolong ini orang baik atau jahat, tapi setelah melihat siapa yang sedang memburunya, rasanya ku tak perlu tanya lagisudah pasti dia orang baik Kata Han Sian dengan senyum sinis memandang ke tiga orang itu. Heh, orang muda, siapa kau? Rasanya kita baru kenal dan kau sesumbar di depan kami? Akhh, aku tak perlu banyak bertanya karena kemarin baru saja ku kirim Panglima barat kalian bersama ke tiga binatang peliharaannya bertemu Giam-lo-ongdan , ku dengar dia sekarang sedang menunggu kalian di sana? Manusia lancang, bosan hidup BUNUH! dan tangkap ke tiga gadis itu hidup-hidup Salah satu dari mereka yang berpakaian biru itu membentak dan serentak mereka bertiga menyerang. Eh, Iblis-iblis busuk, kalian sungguh tidak memandang sebelah mata pada kami, baiklah , mari biar nonamu ini beri pelajaran kecil In Lan yang tak tahan melihat ke pongahan mereka segera memapaki serangan Panglima Timur. Sementara itu Hong Lian dan Jie Hong yang hendak bergerak maju segera di tahan oleh Han Sian. "Kita jangan buang banyak waktu meladeni mereka" Habis berkata begitu, tubuhya melesat menyambut ke arah panglima Selatan dan Utara. Malang bagi kedua panglima itu. Berharap memetik kemenangan cepat, tapi justru menjadi malapetaka, karena saat itu juga Han Sian telah memainkan jurus pertama dari Ilmu Seribu Iblis Pemusnah.. Kedua orang itu hanya merasakan tubuh mereka hilang keseimbangan dan di lain saat, mereka terlempar dengan mulut mengeluarkan darah. Ternyata mereka telah terluka dalam yang parah sekali. Jie Hong dan Hong Lian yang melihat ini bersorak kegirangan dan memuji. Sementara itu In Lanpun tidak membuang waktu lama-lama. Walaupun tenaga dalamnya seimbang dengan Panglima Timur itu, tapi kecepatan tubuhnya ternyata dua kali lebih cepat dari lawan. Dengan mengerahkan Tenaga Inti Petir Murni dan jurus Ban Hud Ciang yang di kombinasikan dengan kecepatannya, maka Panglima Timur yang telah patah semangatnya melihat kedua temannya kalah damam dua gebrakan saja, tak kuat bertahan lama dan akhirnya terpukul telak di dadanya. Diapun terlempar sambil memuntahkan darah segar. Si Penakluk Dewa & Iblis Oleh : LovelyDear Episode 8

Dalam sebuah guha batu yang tertutup, tujuh hari berlalu dengan sangat cepat. Dengan keampuhan Hui Im Hong Sin Kang, Argapa Lama akhirnya dapat di sembuhkan. Hari itu kekuatannya sudah kembali sekitar 80 persen dan proses penyembuhan sudah di hentikan.

Setelah bermeditasi selama setengah hari, kekuatan Han Sian sudah pulih kembali. Bahkan dia merasa seperti desakan suatu tenaga yang berputar-putar mengendalikan tenaganya bergerak keseluruh tubuh dan memperkuat tenaganya dua kali lipat. Argapa Lama duduk di hadapannya sambil menjura dalam. Omitohud, terima kasih sicu sudah menyelamatkan nyawa tua ini. Budi baik sicu sungguh tak dapak pinceng balas di kemudian hari. Sudahlah, locianpwe! Itu hanya kebetulan kami lewat di pinggir sungai dan sempat mengusir para bajingan itu Han Sian membalas sambil tersenyum Akh, melihat tenaga dalam sicu yang sangat kuat sekali, pinceng yakin sicu bukan tokoh sembarangankalau boleh sudilah sicu memperkenalhan diri. Pinceng sendiri adalah Argapa Lama, salah satu pengikut dari Dhalai Lama ti tibet Akh, jangan terlalu membesarkan, kepandaian cakar bebek seperti itu apalah artinya? Bukankah hanya akan membuat malu saja? Namaku Han Sian tepat saat itu Hong Lian, In Lan dan Jie Hong memasuki guha itu. Melihat basa-basi itu, segera In Lan menyahut Dia adalah Pendekar Asmara Tangan Iblis Heh! Seruan terkejut ini keluar dari mulut Argapa Lama. Dia terkejut karena ternyata orang di hadapannya inilah yang selama ini dia cari-cari. Segera dia menjura lebih dalam lagi. Omitohud, terima kasih Thian yang agung, akhirnya hamba berhasil Sahutnya. Ehapa maksud locianpwe Han Sian balik bertanya dengan wajah bingung. Sebelum saya menjelaskan, saya ingin terlebih dahulu menunjukkan sesuatu pada sicu, Tolong sicu pelajari dan ikuti petunjuknya Setelah berkata demikian Argapa Lama merogoh di bali jubahnya dan mengeluarkan sebuah kain tua segi empat. Kain itu nampak tua sekali dan kusam namun kuat. Kain itu lalu di serahkan pada Han Sian. Han Sian terkejut saat dia membentangkan kain itu. Tulisan-tulisan kecil di atasnya sama dengan huruf-huruf dalam ke empat kitab pusaka yang dia pelajari selama dua tahun di Puncak Tebing Langit. Apakah sicu bisa membacanya? Tanya Argapa dengan suara menyelidik. Tentu saja, tulisan ini sama dengan kitab-kitab yang pernah ku pelajari? Tampak cahaya kegirangan di wajah Han Sian. Segera dia tenggelam dalam huruf-huruf di atas kain itu hampir satu jam. Melihat ini Argapa Lama lalu mengundurkan diri dari ruangan itu sambil memberi kode pada yang lain untuk mengikutinya. Setibanya di luar. Jie Hong yang penasaran bertanya: Eh, locianpwe, kitab apakah itu? Nona, itu adalah kitab I Kin Hiap Hip Keng (Pelentur Otot Pembalik Darah) yang merupakan ilmu tertinggi di tibet. Ilmu itu merupakan pengembangan dari Ilmu Pelentur Otot dari Siauw Lim Pai. Bertahun-tahun kitab ini tersembunyi, hanya di wariskan pada Dhalai Lama saja ataupun pewaris Kiu Sian I Sin Kang dan Hui Im Hong Sin Kang. Jika saja Han sicu itu dapat menguasainya dengan

sempurna, maka tidak ada halangan lagi untuk menaklukkan ilmu-ilmu dari Iblis Es-Api maupun Iblis-iblis lainnya yang mulai bermunculan sekarang. Setelah berkata demikian, Argapa Lama termenung. Satu hari satu malam Han Sian di dalam guha. Hong Lian yang khawatir hendak membawa makanan, tapi di cegah oleh Argapa Lama. Akhirnya saat semua orang dalam keadaan khawatir, tiba-tiba tanah di sekitar mereka bergetar di ikuti bunyi ledakan keras dan guha itu runtuh menutupi mulut guha. Akhh, Sian Koko? Terdengar teriakan khawatir dari ketiga gadis itu yang memburu ke arah guha yang sedang runtuh tersebut, di ikuti oleh Argapa Lama, tapi mereka terlambat karena mulut guha itu sudah keburu runtuh dulu sehingga mereka tidak bisa masuk ke dalam. Segera mereka berempat menggunakan kepandaian mereka untuk menyingkirkan batu-batu tersebut, saat itu terdengar lagi suara gempa yang kuat di ikuti suara yang lembut di telinga mereka. Mundurlah kalian, aku tidak apa-apa? Mereka berempat segera bernafas lega dan menjauh dari tempat itu. Sesat kemudian terdengar suara ledakan yang melontarkan semua batu-batu ke segala penjuru. Namun hebatnya semua batu-batu itu langsung jadi debu dan hilang di tiup angin setelah terlontar sejauh dua tombak Dari balik kepulan debu itu muncul sesosok tubuh yang melayang keluar tanpa menginjak tanah. Tubuhnya di kelilingi cahaya keemasan dan keperakan yang saling berbelit dengan perbawa yang luar biasa sekali. Bagaikan dewa yang turun dari khayangan. Argapa Lama yang menyaksikan ini terbeliak kaget dan segera menjatuhkan diri berlutut dengan kepala tertunduk. Omitohud, tak salah lagi kaulah Kwi Sian Hok Cu (Si Penakluk Dewa dan Iblis) yang di sebutkan oleh sang Dhalai Lamamulai saat ini pinceng akan melayanimu seumur hidup Han Sian terkejut melihat Argapa Lama yang berlutut di hadapannya itu. Sesaat dia mengendurkan tenaganya dan kembali seperti sedia kala. Dia melangkah mendekat dan membangunkan Lama itu. Bangunlah Argapa Locianpwekita orang sendiri. Han sicu, sejak Dhalai Lama menerawang dan memprediksikan akan peristiwa besar yang akan terjadi di dunia persilatan ini, kami telah di ikat sumpah bahwa kami akan menanggalkan pantangan membunuh kami dan mengabdi kepada Kwi Sian Hok Cu serta berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mengamankan dunia dari cengkraman iblis.Kalau Han sicu tidak mau menerima hamba, maka tidak ada pilihan lain bagi hamba selain mati Argapa masih terus berlutut. Akhirnya setelah menarik nafas panjang dan menatap ke tiga gadis di depannya, Han Sian mengiakan, barulah Argapa Lama berdiri. Hemm, Argapa Locianpwe, apakah yang sebenarnya terjadi padakumengapa aku begitu mudah menguasai ilmu itu? Han Sian bertanya dengan heran. I Kin Hiat Hip Keng hanya terdiri dari empat tingkatan saja. Dhalai Lama sendiri yang sudah sedemikian sakti saja tetap tidak mampu menguasai sepenuhnya sampai habis tingkat ke dua dari ilmu tersebut. Menurut beliau, hanya orang yang sudah menguasai Kiu Sian I Sin Kang dan Hui Im Hong Sin Kang saja yang akan mampu menguasai ilmu ini.

Menarik nafas sejenak kemudian dia lenjutkan: secara teori, hasil tertinggi dari pelentur otot pemutar darah ini adalah menggabungkan dan mengolah sembilan macam unsur tenaga yang ada di alam ini untuk menjadi kekuatan tanpa tanding yang dahsyat, dan kesembilan unsur itu sudah ada dalam ilmu Kiu Sian I Sin kang dan bila di lengkapi dengan Hui Im Hong Sin Kang yang berdaya menetralkan segala hambatan yang mungkin di hasilkan dari perpaduan tenaga-tenaga tersebut, maka akan di capai hasil yang maksimum Hem, apakah tidak ada cara lain untuk melatih ilmu ini? Hong Lian menimpali dengan amat tertarik sekali. Ada satu cara, yaitu melatih dan mempelajari sembilan macam ilmu yang memiliki unsur-unsur tenaga yang di butuhkan...Tapi ini sangat sulit sekali dan dalam kurun empat ratus tahun terakhir ini tidak ada seorangpun yang sanggup menguasainya selain pencipta ilmu itu sendiri. Wah, Sian-koko, kau beruntung sekali bisa mendapatkan ilmu itu Suara ini keluar dari mulut Jie Hong yang langsung mendekati pemuda itu dan merangkul lehernya sambil tersenyum. Melihat ini, Argapa tertunduk dan segera mohon diri dari tempat itu. Dia mengerti dengan orang muda, dan dia tidak mau mengganggu. Segera dia mencari tempat yang tenang dan melanjutkan proses penyembuhan dirinya. Tiga bulan berikutnya, nama Istana Neraka Hitam lenyap tanpa jejak tapi bukan berarti tidak ada. Mereka justru semakin gencar mengadakan gerakan. Langkah pertama yang mereka lakukan ialah menaklukkan sang Dhalai Lama di tibet. Untuk hal ini sang Iblis Es-Api sendiri yang turun tangan sehingga sang Dhalai Lama di kalahkan setelah bertarung hampir duaratus jurus. Para Lama yang menentang langsung di bunuh, sedang yang masih hidup di jadikan kacung. Gerakan selanjutnya yang mereka buat ialah menaklukkan 32 perkumpulan di luar tembok besar termasuk Thian Te San Pai (perkumpulan Gunung Langit dan Bumi) yang di pimpin Thian Yang Lama dan Tee Im Lama. Selama itu pula Han Sian, Jie Hong, Hong Lian, In Lan dan Argapa Lama menghilang tanpa jejak. Rupanya Han Sian telah mendengar keterangan Argapa mengenai gerakan Istana Neraka Hitam ini. Para utusan Kanan dan Kiri serta para panglima saja bukanlah tokoh-tokoh yang tertinggi kepandaiannya. Di atas mereka ternyata masih ada lagi tingkatan Delapan Iblis yang kepandaiannya lebih tinggi setingkat dari utusan kanan dan Kiri. Dengan persetujuan Han Sian, ketiga dara yang sakti itu mengumpulkan kurang lebih 100 orang bekas tokoh-tokoh persilatan yang sudah takluk untuk memperdalam ilmu mereka di atas puncak Tebing Langit. Sementara itu, setelah sebulan lebih memberi petunjuk kepada Jie Hong, Hong Lian dan In Lan cara memperdalam ilmu mereka dengan I Kin Hiap Hip Kang sampai tingkat ke-dua, Han Sian lalu meninggalkan Tebing Langit bersama Argapa Lama. Tujuan Han Sian ialah pegunungan Kun Lun San. Sementara Argapa Lama kembali ke Tibat untuk mengumpulkan rekan-rekannya yang lolos dari kehancuran. ---Lovelydear--Heaaaaaaahhhhhh.. DHUAAAAAARRRR. Wuuuutttt BLAMMMM.BLAMMMM..

Suatu suara yang nyaring dan riuh terdengar di kejauhan. Jauh di dasar Lembah Bangkai, seorang pemuda bertelanjang dada sedang bertarung bersama seorang kakek Bongkok. Siapa lagi itu kalau bukan Tee Sun Lai. Rupanya setelah mendapatkan pengoperan tenaga dalam dari si kakek bongkok dan melatih Tenaga Pelentur Baja yang dahsyat, pemuda itu sembuh total, dan bahkan telah mendapatkan kembali kekuatannya. Bahkan pemuda itu telah berhasil pula melatih kembali kedua ilmunya yang lama sehingga hanya dalam waktu singkat dia sudah menguasai Ilmu Tapak Berantai Pemusnah Raga Sesat sampai tingkat yang tertinggi. Pertarungan tersebut berlangsung duaratus jurus dengan serunya. Dalam limapuluh jurus berikutnya tampaklah tanda-tanda kemenangan yang pasti mulai di raih oleh Tee Sun Lai. Rupanya faktor usia tua mempengaruhi kakek bongkok itu. Di tambah lagi selama ini dia telah menyalurkan tenaganya pada pemuda tersebut. Memasuki jurus ke duaratus empat puluh satu, dalam suatu adu tenaga, pemuda itu menekan sang kakek sampai tubuhnya melesak ke dalam tanah sampai di lutut. Sudah, Cukup muridkuaku tak dapat bertahan lagi! Baik suhu, kita sama-sama menarik tenaga dalam kita Kata Sun Lai mantap, namun dengan mulut yang menyeringai. Sambil berteriak nyaring kedua-duanya menarik tenaga mereka bersamaan. Namun tiba-tiba Han Sian yang ada dalam posisi di atas menendang dua kali ke arah bahu kakek bongkok tersebut sehingga hancur. Kaupengkhianat!... Kakek itu menjerit sambil memandang ke arah Sun lai, Sementara Sun Lai tidak peduli. Segera dia melompat ke atas dan tangannya menekan ubun-ubun kepala si kakek dan di lain saat tenaga yang amat dahsyat meneroboh melalui tangannya dengan cepat tanpa dapat di cegah oleh kakek tersebut. Hanya dalam sekejap saja seluruh tenaga kakek itu tersedot habis. Sun Lai melepaskan tangannya dan sambil berjungkir balik tubuhnya turun perlahan di atas sebuah batu kemudian dia bersamadi mengolah tenaga yang baru saja dia serap. Sepeminuman teh kemudian dia membuka matanya dan tertawa keras. Hahahahahahahahahaa..sekarang tak ada lagi yang akan menghalangiku, tidak engkau Han Sian, dan tidak juga Enam Dewa...sekarang tiba waktunya kebangkitan dari Iblis Lembah Bangkai. Sementara itu secara perlahan, namun pasti! Di sekitar pemuda itu bermunculan bayanganbayangan orang yang makin banyak. Setelah di amati, ada sekitar lima ratus orang lebih. Sun Lai tidak mengenal siapa mereka. Tubuhnya kembali siap siaga untuk bertempur ketika Lima orang yang tampaknya menjadi pemimpin di antara mereka, serentak menjatuhkan diri berlutut di hadapannya. Kami Lima Setan Bangkai, penguasa Lima Unsur, siap menerima perintah Ketua.! Apa maksud kalian? Sudah lama kami menanti kesempatan untuk jaya kembali di dunia hek-to, tapi ketua ;lama terlalu tua sehingga kami hanya bersabar. Sekarang setelah beliau wafat, kami akan mendukung segala keinginan ketua muda? Jawab orang yang paling tengah. Di lain saat mereka mulai memperkenalkan diri mereka. Hal ini membuat Tee Sun Lai terkejut sekaligus girang. Tanpa di duga sama sekali dia mendapat pasukan yang tangguh untuk menjalankan ambisinya.

Sementara peristiwa itu terjadi, tanpa di sadari oleh Sun Lai, dua pasang mata berkilat sedang memandang dari kejauhan. Pemilik sepasang mata itu bukan tokoh sembarangan. Penampilan mereka berbeda dengan orang Han pada umumnya. Seperti orang Persia. Yang satu pemuda dengan wajahnya menyiratkan kekerasan hati dan kehendak yang tidak mudah goyah. Sementara yang seorang lagi seorang gadis yang amat cantik seperti bidadari. Mereka berdua berdiri jauh di balik pepohonan sambil menahan pancaran tenaga mereka sehingga tak terdeteksi. Terjadilah percakapan singkat. Toako, apa sudah waktunya kita menyerang mereka? Suara gadis itu lirih namun lembut. Belum, adikku. Ku lihat ilmu Telapak Berantai Pemusnah Raga Sesatnya tidak banyak selisihnya dengan Tapak Berantai Lima Pemusnah Raga kita berdua. Mungkin tidak mudah menaklukkannya dalam waktu singkat, dan lagi dia masih memiliki banyak pengikutkita mengawasi saja dulu Sahut pemuda itu tenang. Oh, ya guru sudah memprediksikan gejala kebangkitan para tokoh-tokoh iblis yang akan mengacaukan dunia persilatan, dan menurut guru, kita harus membantu orang yang berjuluk kwi Sian Hok Cu. Bagaimana caranya kita mencarinya? Kalau memang orang itu kunci penenti bagi masalah dunia persilatan ini, kita pasti akan menemukannya. Mari kita pergi Dan dalam sekejap saja mereka sudah lenyap dari tempat itu. Puncak tebing langit berdiri dengan megahnya. Tidak sembarang manusia dapat naik ke sana. Tapi hari itu lain. Di hadapan seratus penghuni tebing itu, tampak enam orang yang sedang berdiri dengan penuh kemarahan. Siapa lagi kalau bukan enam dewa. Tapi keadaan mereka sungguh tidak bersahabat. Di belakang mereka tampak para ketua dari tujuh partai besar. Mereka menuntut Han Sian untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tapi perbuatan apa? Saat itu Jie Hong dan Hong Lian sedang turun tidak berada di tempat. Sehingga hanya In Lan yang menyambut ke enam dewa tersebut. Akhh, lama tak bertemu, tak di sangka nona Cu berada di sini? Kiang Po Chun menyapa In Lan dengan lembut. Ya, selamat berjumpa lagi saudara Kiang dan saudara yang lainada apaka gerangan yang meringankan langkah kalian untuk datangke sini? In Lan membalas dengan lembut sehingga membuat mereka hampir terpesona oleh kecantikan dara itu. Maaf, kalau pertanyaan saya tidak sopan, nona Cu ada hubungan apakah nona dengan saudara Han Sian? Suma hong Sin bertanya dengan suara datar penuh curiga. Akhh, maafkan kami yang tidak memberi tahu para sahabat mengenai keberadaan kami In Lan membalas dengan muka merah sambil tersipu-sipu, kemudian dia lanjutkan: ada banyak peristiwa yang terjadi dan masih sementara kami selidiki sehingga kurang berkomunikasi dengan para ho han sekalian Hemmm, tahukah nona di mana adanya saudara Han Sian sekarang dan apa yang dia sedang lakukan? Kembali Hong Sin bertanya tanpa memperhatikan perkataan In Lan. Hatinya sunggu panas sekali hingga suaranya mulai agak keras.

Melihat gelagat jelek, In Lan bangkit berdiri dan menyahut: Maaf sebenarnya apakah maksud kedatangan para saudara ke tempat ini, aku tidak mengerti? Maaf, nonasangat menyesal atas peristiwa yang terjadi belakangan ini tentang keberadaan saudara Han Sian. Silahkan nona baca ini Thio Tay Lee menyodorkan sebuah surat ke arah In Lan. In Lan menyambut dan segera membukanya, dia segera mengenal tulisan tangan Han Sian. Tapi wajahnya membersitkan kekagetan yang luar biasa saat membaca isi surat trsebut yang berbunyi: Sobatku Tay Lee, maafkan karena kelancanganku yang sudah terlanjur mendekati adikmu, tapi aku akan bertanggung jawab, mengingat persahabatan kita sudilah engkau mengijinkannya. Jika engkau setuju, datanglah ke Puncak Tebing Langit, Han Sian Dengan amarah di tekan kembali Tay Lee melanjutkan: Tadinya ku pikir tak ada alasan untuk menolaknya, ternyata bukan hanya adikku yang menjadi korbanya. Bahkan telah tersiar kabar kabar tentang Pendekar Asmara Tangan iblis yang mengadakan pemerkosaan di mana-mana dan untuk ini banyak yang menjadi saksi hidup Termasuk beberapa putri beberapa perguruan besar...dan ini adalah pelecehan terhadap keluarga kami. Bohong! Engkau memfitnahSian-koko tak mungkin melakukan hal itu, aku tidak percaya! Kalau ini maksud kedatangan kalian, maaf, kami tak berani menjamu lebih lama Seru gadis ini dengan wajah manis, tapi hatinya sudah marah sekali. Eh, Lan-moi, ada apakah? wah rupanya kita kedatangan tamu Suatu suara lembut lain tiba-tiba terdengan dan dalam sekejap Jie Hong dan Hong Lian sudah berada dalam ruangan tersebut. Hong cicie, Lian-cicie, mereka datang untuk menghukum Sian Koko yang katanya sudah memperkosa banya orang Tidak mungkin, kalian memfitnahapakah kalian ada bukti? Sahut Jie Hong dengan penuh selidik. Nona, tuduhan ini jelas dan kami tidak mengada-ada. Buktianya adalah salah satu murid kesayangan kami yang telah menjadi korban dan ada di sini, mengapa nona masih mau menyembunyikan manusia sesat itu? Ceng-Sim Tojin, ketua Kun Lun Pai menyahut dengan ketusnya. Hong Lian meredam kemarahannya dan berkata dengan suara perlahan: Maaf, para sahabatkami bukan ingin melindungi siapapun, tapi berita yang kalian bawa ini sungguh mengejutkan bagi kami. Kami belum dapat berbuat apa-apa, sebelum kami menyelidikinyaharap beri kami waktu tujuh hari Semua orang melihat ke arah enam dewa untuk meminta pertimbangan. Akhirnya Lu Sim Hay bertanya pada Hong Lian: Maaf nona, kalaupun kami memberi waktu, tapi nanti apa yang bisa jadi pegangan kami bahwa Hemm, apa saudara Lu tidak percaya pada kami? Bukannya tidak percaya, tapi saudara Han Sian itu sangat lihai..? Sahut Ceng Sim Tojin. Baiklah begini saja, kalau saudara Lu mampu mendesak adik In Lan dalam sepuluh jurus, maka kami akan menarik janji kami

Baik, aku terima Kata sim Hay dengan setengah ragu In Lan segera berjalan ke tengah ruangan sambil memasang kuda-kuda sejajar menanti Sim Hay yang memandangnya dengan tajam. Dia terkejut, karena bekas kaki gadis itu timbul setinggi satu inchi dari lantai. Silahkan, saurara Lujangan sungkan, ini hanya uji coba, bukan? Maaf, mendahului Tubuh Lu Sim Hay berkelebat dengan sangat cepat sambil mengerahkan Pek In Hoat Sut yang segera di tahan oleh In Lan dengan Ban Hud Ciangnya. Lima jurus pertama berlalu dengan sangat cepat dan membuat mata para penonton terlolong kaget. Mereka mengetahui berapa tinggi kepandaian Lu Sim Hay ini, tapi gadis itu ternyata mampu melayani dengan sama kuat. Melihat hal ini Sim Hay, segera menambahkan tenaganya dan melahyani dengan sungguhsungguh. Namun In Lan yang sekarang bukanlagi In Lan beberapa bulan yang lalu. Setelah mendapat petunjuk dari Han Sian dengan penguasaan I kin hiat hip kang tingkat dua telah mematangkan ilmunya sehingga menjadi beberapa kali lebih dahsyat. Hal yang sama juga di alami oleh Jie Hong, Hong Lian dan Argapa Lama. Lewat sepuluh jurus, meskipun mulai tampak Lu Sim Hay bergerak di atas angin, tapi belumlah mampu mendesak In Lan. Cukup! Sepuluh jurus sudah selesai maafkan kami tidak mengantar jie Hong segera melompat ke tengah menghalangi di antara kedua orang yang bertarung itu. Mereka semua saling pandang. Akhirnya Khu Hee Liong mewakili rekan-rekannya mohon diri, dan mereka berlalu dari tempat itu. Beberapa saat kemudian, ketiga gadis itupun meninggalkan Tebing Langit untuk mencari Han Sian. Si Penakluk Dewa & Iblis Oleh : LovelyDear Episode 9 (tamat)

Kemanakah Han Sian selama dua bulan terakhir ini?. Sesungguhnya setelah dia mencium adanya gerakan-gerakan mencurigakan dari para kaum sesat, termasuk adanya tokoh-tokoh sakti yang terpendam di sekitar pegunungan Himalaya yang bergabung dengan Iblis Es Api, hatinya tidak tenang saat memikirkan keselamatan dunia kang-ouw. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi adalah munculnya gerakan pasukan iblis Lembah Bangkai yang merejalela. Perjalanannya menjelajahi wilayah Kun-Lun-San akhirnya tidak sia-sia karena dia juga bertemu banyak tokoh-tokoh aneh yang sudah lama hilang dari dunia kang-ouw, bahkan ada juga yang tidak perna menunjukkan diri mereka. Setelah meminta pertolongan mereka, Han Sian lalu kembali ke daratan tengah. Saat Han Sian Kembali, pergerakan Istana Neraka Hitam sudah mulai menunjukkan dirinya secara berterang. Dua belas perguruan sudah di hancurkan rata dengan tanah dan semakin bergerak

secara meluas. Sementara Istana Lembah Bangkaipun sudah bergerak dari arah yang berlawanan. Hanya saja tiada yang tahu siapa pemimpinnya yang di kabarkan sangat sakti itu. Di sisi lain Han Sian justru kurang mendapatkan dukungan dari para pendekar berkaitan dengan isu-isu yang terjadi atas dirinya yang di kabarkan menjadi pemerkosa para gadis. Dan ini membuat hubungannya dengan keenam dewa kurang baik. Saat itulah muncul berita yang menggegerkan yaitu mekarnya Jamur Inti Es yang tumbuh 100 tahun sekali, yang kabarnya sanggup membangkitkan orang mati sekalipun dan bahkan melipat gandakan tenaga dalam seseorang ahli silat sampai sepuluh kali lipat.. Ini berita aneh, dan tidak tahu siapa yang menyebarkannya. Yang jelas bahwa siapa saja yang merasa berkepandaian boleh datang ke puncak Awan Es untuk coba mendapatkannya. Walaupun pergerakan para iblis-iblis sesat itu sangat gencar dan susah untuk di bendung dalam sekejap, namun berita mengenai adanya Jamur Inti Es itu akhirnya memecah juga konsentrasi mereka. Iblis Es-Api membawa serta delapan iblisnya untuk menyambangi Puncak Awan Es. Sementara itu Istana Lembah Bangkai-pun tak ketinggalan mengirimkan ke-lima setan Bangkainya yang sakti. ---lovelydear--Dalam perjalanan menuju ke Puncak Awan Es, tampak tiga bayangan berkelebat dengan cepat ke arah puncak. Mereka bukan lain adalah Jie Hong, Hong Lian dan In Lan. Sejak peristiwa kunjungan Enam Dewa ke Puncak Tebing Langit, ketiga dara ini menyebar untuk mencari kabar tentang kekasih mereka itu, tapi Han Sian seperti hilang di telan bumi. Sampai mereka mendengar kabar tentang adanya Jamur Inti Es. Tanpa ragu mereka segera menuju ke sana. Mereka pikir pasti akan bisa di temukan jejak kekasih mereka di sana. Sementara mereka melewati salah satu lereng yang terjal, mereka di kejutkan dengan suara keluhan dan rintihan wanita. Mereka saling pandang, dan dengan tanpa suara mereka menuju ke arah sumber suara tersebut. Betapa terkejutnya ketika mereka melihat bayangan sesosok pria yang baru saja habis memperkosa dua orang wanita muda. Pria itu tepat membelakangi mereka sehingga mereka tidak dapat mengenal wajahnya. Segera In Lan, Hong Lian dan Jie Hong melentingkan tubuh mereka ke arah orang itu. Bangsat cabul, sampah masyarakat, rasakan hajaran nonamu ini! Segera tangan In Lan memukul dengan Pukulan Inti Petir Murninya yang dahsyat. Tanpa melihat, orang itu mengangkat tangannya menangkis. Dhaaarrrrr! Ups In Lan tergentak ke belakang, sementra kaki orang itu melesak ke tanah sedalam dua senti. Segera orang itu membalikkan tubuh SIAN-KOKO? Wajah ketiga gadis itu terbeliak kaget hampir tak percaya dengan pandangan mata mereka sendiri. Eh, Hong-moi, Lian-moi dan Lan-moi? Mengapa kalian di sini?...Aakhhhmaafkan aku! Berkata demikian, tubuh Han Sian berkelebat dan lenyap dari tempat itu. Sunyi: perasaan galaukecewadan sakit hati! Itulah yang di rasakan ketiga gadis ini sekarang. Ternyata orang yang mereka sayang dan puja, tidak seperti yang mereka sangka. Selama ini mereka tidak percaya dengan isu-isu yang menyebar, tapi ternyata sekarang mereka melihat dengan mata kepala sendiri. Dan korbannya masih ada di depan mereka, sudah menjadi mayat.

Mereka bertiga tidak dapat mengatakan apa-apa. Semua larut dengan perasaan masing-masing. Mereka menyadari kebodohan mereka yang ternyata menyerahkan diri pada orang yang salah. Tanpa berbicara sedikitpun, mereka menguburkan ke dua mayat itu kemudian melanjutkan perjalanan. Tak lama setelah mereka berlalu dari tempat itu, tubuh Han Sian yang tadinya sudah melarikan diri muncul dari balik sebuah pohon yang lebat. Matanya berkilat memancarkan sinar licik. Bibirnya tersenyum menyeringai seperti orang yang kesenangan. Dia tertawa gembira dan berkata perlahan: HahahahaHan Sian, entah di mana engkau, tapi selamat menikmati permainanku ini Sekejap kemudian tubuh Han Sian gadungan itu-pun berkelebat lenyap dari tempat itu. ---Lovelydear--Pagi itu, Puncak Seribu pedang tampak ramai sekali. Golongan yang datang secara otomatis terbagi dalam tiga bagian. Sebelah utara adalah rombongan Istana Neraka Hitam yang berjumlah sekitar seratus orang lebih. Tampak di antara mereka wajah-wajah yang aneh. Ada Empat orang dari Delapan Iblis dan juga tokoh-tokoh yang terpendam di sekitar pegunungan Himalaya yang berhasil di rekrut oleh Iblis Es Api. Tapi Iblis Es Api sendiri tidak nampak. Golongan ke dua di sebelah Selatan adalah rombongan Istana Lembah Bangkai yang di pimpin langsung oleh ketua mereka yang duduk di dalam tandu tertutup. Tampak juga banyak tokohtokoh sakti golongan hek-to yang bergabung dengan mereka. Jumlah mereka hampir sama dengan Istana Neraka Hitam, yaitu sekitar seratus orang lebih. Rupanya kedua rombongan ini juga ternyata tidak mengerahkan semua anak buah mereka, karena hanya memang orang-orang yang berkepandaian cukup saja yang boleh naik ke Puncak Seribu Pedang ini. Rombongan ketiga di sebelah Barat adalah para pendekar, para ciangbunjin perguruan-perguruan besar yang di dampingi oleh Enam Dewa. Jumlah mereka ada sekitar Limapuluhan orang. Sementara mereka menunggu, matahari telah masuk di ufuk barat. Tiba-tiba mereka di kejutkan oleh kepulan asap dan suara ledakan yang dahsyat dari puncak bukit. Di susul berkelebatnya dua bayangan berpakaian Hitam dan putih yang saling serang dengan dahsyat. Di susul kemudian oleh empat bayangan yang ternyata adalah empat orang tua berusia sekitar limapuluh tahunan. Tapi keempat orang tua itu hanya diam saja di empat penjuru sambil mengamati dua orang yang sedang bertarung itu. Bayangan Hitam dan putih itu bertarung sangat dahsyat sampai tidak dapat di lihat. Hanya orangorang yang sudah berilmu tinggi saja yang masih dapat melihat mereka. Setelah di amati sekejap, tampak empat bayangan itu kemudian meluruk deras dengan mengerahkan ilmu-ilmu sakti mereka menggempur ke arah bayangan berpakaian putih tersebut. Serangan gabungan mereka hebat, sampai enam dewa-pun berdecak kagum. Tapi hebatnya, bayangan berpakaian putih itu sama sekali tidak terlihat terdesak bahkan terlihat tubuhnya terpecah jadi lima bagian dan menghadapi kelima orang itu dengan hawa pedang yang tak kalah dahsyatnya. Bu tek Chit Kiam Ciang AkhhSian-koko..! Tanpa sadar In Lan berseru tertahan.

Jamur Inti Es di tangan orang berpakaian putih iturebut! Tiba-tiba terdengar suara yang entah dari mana, tapi siapapun itu, hakikatnya tak seorangpun peduli, karena suara itu yang mereka perhatikan. Belum habis suara itu, sosok bayangan dari dalam tandu sudah melesat keatas sambil menyerang dengan Tapak Berantai Pemusnah Raga Sesat. Seketika itu juga terdengan ledakan yang dahsyat ketika benturan enam tenaga dalam yang kuat terjadi. Para ahli silat yang kurang kuat tenaganya terkena pancaran tenaga langsung mati seketika, tapi yang cukup kuat bisa bertahan. Saat itu jarak pertarungan sudah terpisah. Keenam orang itu sudah turun ke tanah, tepat di tengah-tengah lapangan. Tampaklah wajah mereka. Bagi ke Enam Dewa, dan para tokoh golongan putih, wajah Han Sian sudah mereka kenal. Begitu juga keempat orang kakek itu yang mereka kenal sebagai empat orang dari delapan iblis. Tapi yang seorang lagi mereka tidak kenal. Dia seorang pemuda tampan tapi lebih mirip seperti wanita. Matanya bercahaya kemerahan sedangkan rambut kepalanya ada dua warna, yaitu merah dan putih. Selagi semua orang bertanya-tanya, dari rombongan Istana Neraka Hitam segera bertelut dan berseru dengan suara nyaring: HORMAT KAMI PADA JUNJUNGAN AGUNG Eh, jadi diakah Iblis Es Api yang menggetarkan itu?" Yang Sim Hoat berseru dengan suara mengejek, ternyata tidak ada apa-apanya Huh, berani kau menghina junjungan kami, mampuslah Tiba-tiba dua orang di antara Delapan Iblis memotong ejekan Sim Hoat sambil kemudian menyerangnya dengan hebat. Hahsegala Delapan iblis juga mau unjuk gigi di depanku, Rasakan Bu Tek Cin Keng-ku Sim Hoat bergerak cepat sambil mengerahkan ilmu andalannya dan entah bagaimana, kedua iblis itu merasakan pukulan mereka membalik dan di lain saat mereka telah terpukul mundur lima tindak kebelakang sambil menahan dada mereka yang terasa sesak nafas, sedangkan pemuda itu tetap berdiri tegap dengan tangan di belakang. Perhatian semua orang kini tertuju pada Han Sian yang ada di tengah-tengah. Semua mata melihat di tangannya memegang sebuah Kain transparan yang membungkus Jamur Inti Es tersebut. HahahaHan Sian Sekarang terbukalah kedokmu selama ini. Kau mengaku pendekar golongan lurus, tapi nyatanyakau tidak lebih dari seorang pemerkosa dan seorang yang berambisi Tee Sun Lai tertawa. Sementara itu Jie Hong, Hong Lian dan In Lan mendengar ini dengan hati sakit, tapi mereka tak mampu berkata apa-apa. Hemm, Selamat bertemu lagi Sun Lai! Ku kira kau sudah mati, ternyata kau makin majuOoo, kiranya kau ketua bangkai-bangkai mayat hidup memuakkan inihahaha, selamat, selamatkemajuanmu sungguh sepadan..? Tadinya Han Sian terkejut melihat kemunculan musuh bebuyutannya ini yang sudah lebih sakti lagi. Namun segera dia maklum dan balas mengejek. Setelah itu matanya di arahkan pada lawan yang satunya lagi. Tak ku sangka, momok Iblis Es Api yang menakutkan itu ternyata masih sangat muda. Hah, tampaknya, semua tokoh-tokoh tua memang harus maklum bahwa waktu berjaya mereka sudah habis, salut....salut

Hehehe, benar sekali, rupanya kau berpandangan jauh ke depan wahai pemuda tampan, Kalau saja kita berdua bisa menyatukan kekuatan, dengan adanya Jamur Inti Es tersebutkita akan menjadi Raja dan Ratu yang tanpa tanding sejagatbagaimana? Apa tawaranku menarik? Tiba-tiba Iblis Es Api mengeluarkan suara dan balik bertanya sambil tubuhnya berputar dan tangannya bergerak ke arah wajahnya sendiri. Saat dia berhenti berputar, semua orang terbeliak kaget. Di hadapan mereka kini muncul seorang wanita yang cantik sekali, tidak kalah dengan Jie Hong bertiga. Ternyata, iblis Es Api yang menakutkan itu adalah seorang wanita cantik. Hahaha, luar biasa, tak dinyana ternyata dedengkot sesat ini adalah seorang wanita!Eh, Iblis Es Api, mengapa tawaranmu tidak kau berikan padaku sajaapa kau mau juga di madu oleh lelaki buaya ini bersama dengan ketiga gadis cantik itu? Tee Sun Lai berseru mengejek sambil tangannya menunjuk ke arah Jie Hong, Hong Lian dan In Lan. Tidak mungkin!!!.... Sebuah bayangan berkelebat pesat. Jelaskan, apakah kau mau mengatakan bahwa Nona Jie Hong dan Hong Lian juga adalah kekasih buaya darat ini? Seketika itu juga Yang Sim Hoat sudah berada di hadapan Tee Sun Lai sambil tangannya menunjuk pada Han Sian dengan muka merah. Melihat hal ini semua orang maklum, bahwa pemuda ini ada hati pada salah seorang dari dua gadis tersebut. Heh, aku saja orang luar tahu itu dengan pasti, mengapa engkau justru tidak tahu dasar bodoh! Kembali Sun Lai menyahut sambil mengejek. Wajah, Sim Hay jadi pucat, segera dia menghadap Han Sian dengan muda merah. Selama ini aku menghormatimu, tapi kau mmenipu para gadis yang tidak tahu apa-apa itu, akh salahku tidak menjaga adikku sehingga ternoda olehmu...saat ini biar aku mwakili adikku memberi hajaran padamu Berkata demikian tangan Sim Hay bergetar dan di lain saat dia sudah menyerang dengan pengerahan Bu tek Cin Keng tingka tertingginya. Han Sian tak punya waktu menjelaskan. Melihat lawan sudah menyerang dengan dahsyat, diapun menyambut dengan memutar tubuhnya seperti gasing sambil melindungi dirinya denan Kiu Sian I Sin Kang. Kau salah paham, maafaku tak mau melawanmu Perlahan dulu saudara Yang, aku juga punya perhitungan dengan dia atas apa yang terjadi dengan adikku Suara Thio Tay Lee menyeruak dan berdiri di antara mereka berdua. Saudara Han Sian, bagaimana dengan pertanggung-jawabanmu terhadap adikku yang kau nodai sebulan yang lalu?... Suara Tay Lee mengkereng tajam. Sobat, Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan, tapi aku pasti akan menyelidiki masalah ini setelah urusan di sini selesai Han Sian melihat gelagat tidak baik di pihaknya, berbicara dengan lembut. Hah, kau berbuat, dan sekarang mau mengelak? Siapa yang tahu kalau kau nanti akan menghilang lagi...bahkan ketiga nona itupun sudah melihat bukti perbuatanmu, walau aku dari golongan sesat, ternyata masih lebih baik darimu... Suara ini dari Tee Sun Lai yang tersenyum menyeringai.

Semua orang tidak berkomentar. Sebagian mengiyakan tapi sebagian lagi bertanya-tanya. Saat itu suatu suara tiba-tiba bertanya padanya: "Hemm, dari mana kau tahu kalau kami sudah melihat bukti, dan bukti yang bagaimanakah itu? In Lan bertanya dengan penuh selidik. Dia menemukan kejanggalan di sini. Sekejap orang lain tidak mengerti, tapi Sun Lai segera sadar bahwa dia telah kelepasan bicara. Maaf nona Cuaku melihat bahwa kalian tidak membantah semua tuduhan terhadapnya, jadi aku menyimpulkan demikian..apakah aku salah?... Suaranya berubah lembut dan meyakinkan sambil menentang tatapan In Lan sehingga akhirnya In Lan bungkam. Cukup, pembicaraan kalian, aku belum selesai dengan pemuda tampan penakluk wanita ini...dan kau Raja bangkai, kau belumlah sepadan denganku...huh, siapa sudi dengan bangkai sepertimu... Tiba-tiba Iblis Es Api menyelutuk kesal. Baik-baik aku mau lihat apa yang kau bisa perbuat terhadapnya sendirian...Silahkan jiwi berdua juga menyelesaikan perhitungan kalian Tee Sun Lai menyahut sambil tertawa, dan setelah berkata pada Sim Hoat serta Tay Lee, tubuhnya melesat ke arah tandunya dan duduk dengan tenang di situ. Saat itu Sim Hoat kembali siap melancarkan serangan pada Han Sian, tapi kemudian Tay Lee mendahuluinya. Aku sobatmu, tapi kalau kau tidak mau bertanggung jawab pada adikku, kita bukan lagi sahabat...Aku juga tak mau mengambil keuntungan dari situasi ini, tapi kalau kau bisa menaha tiga kali seranganku, aku akan menunda perhitungan ini di kemudian hari. Tubuhnya langsung melesat sambil mengerahkan jurus Kian Kun Tay Lo Kwi Cong-nya. Suatu arus yang amat kuat berpusingan seperti badai susul-menyusul menghantam Han Sian. Namun belum lagi Han Sian bergerak tiba-tiba satu bayangan hitam dari samping melesat menyambut serangan itu Dengan hawa Es & Api yang tak kalah dahsyatnya. DhuaaarrDarrrDarrrr Tiga kali benturan terjadi dan kedua-duanya terdorong mundur tiga langkah ke belakang. Ternyata Iblis Es Api yang telah maju menangkis pukulan dahsyat tersebut. Tampak dia berdiri di samping Han Sian dengan bibir tersenyum penuh arti. Melihat ini Tay Lee makin murka.Huh, kau mau bersembunyi di balik wanita sesat? Bagus aku tidak sungkan lagi sahut Tay Lee dengan penuh kemarahan, segera tangann ya di tarik ke depan dada dengan arah berlawanan. Itulah rapalan sakti Kian Kun tay lo I im yang dan siap untuk menyerang kembali. Sementara Itu Han Sian dan yang lain-lain terkejut karena peristiwa ini. Hihihipemuda tampan, sekarang mari kita saling bantu menghadapi para pecundang ini Jangan Kuatir aku akan membantumu. Serang! Tanpa menanti jawaban Han Sian, Iblis Es Api bersiut nyaring dan langsung menyerang Lu Sim Hay yang menyambutnya dengan tak kalah hebatnya sehingga terjadi pertarungan tingkat tinggi yang dahsyat. Sementara itu pasukan Istana Neraka Hitam juga segera bergerak menyerang para tokoh-tokoh golongan putih yang ada. Sementara itu dari dalam tandu Tee Sun Lai memperhitungkan untung ruginya. Kalau melawan Enam Dewa, pasukannya belum tentu menang. Tapi kalau bisa mempunyai sekutu Iblis Es Api yang sejalan dengannya, akan lebih aman. Maka sambil tertawa-tawa diapun memberi aba-aba

pada pasukannya untuk menyerang para pendekar. Sementara dia sendiri bergabung dengan Thio Tay lee Menggempur Han Sian dengan Hebat. Sekali tepuk, dua lalat. Pertarungan serupun terjadi. Delapan Iblis berpencar menghadapi Suma Hong Sin dan para Ciangbunjin lainnya. Demikian juga Lima Setan Bangkai yang menyerbu para pendekar dan juga Jie Hong bertiga. Dalam waktu singkat saja, berjatuhanlah banyak korban yang mati menggenaskan Menghadapi serangan yang dahsyat dari Tay Lee, Han Sian coba untuk tidak melawan. I kin Hiat hip kangnya di kerahkan untuk membendung tekanan dan daya gempur Kian kun tay lo i im yang yang dasyat. Namun setelah bertarung sekian lama, nampak bahwa Han Sian tidak terdesak sedikitpun. Saat itu Khu hee Liong juga ikut maju menghadapi Han Sian dengan Bu kek kang sin kang-nya yang dahsyat sehingga mau tidak mau Han Sian harus mengalami pengeroyokan dua ilmu maha sakti yang belum pernah ada tandingannya selama ini. Tak punya pilihan lain, saat melihat situasi yang berbahaya, tiba-tiba Han Sian meloncat ke atas sambil mengeluarkan suara melengking nyaring. HENTIKAN...! Suara itu dahsyat sekali sampai menggetarkan seisi jantung. Sementara tatapan matanya bersinar-sinar menotok sana-sini dengan cara yang aneh dan menakjupkan. Di sebut aneh karena pada hakikatnya, baru sekarang terjadi hal seperti itu. Dari matanya memancar kekuatan yang aneh yang melumpuhkan orang-orang dalam jarak duapuluh meter. Akibatnya, ketiga lawannya dan termasuk Iblis Es Api, jadi kaku dan lemas kehilangan tenaga.. Itulah salah satu ilmu gaib dewa yang di kuasai Han Sian yang dia pelajari dari salah satu kitab di Tebing Langit. Ilmu tersebut adalah Sinar Sakti Mata Pedang yang dahsyat. Selama hidupnya ini kali pertama dia menggunakan ilmu tersebut. Sebenarnya ilmu ini sangat dahsyat dan memiliki dua fungsi penyerangan yang berbeda. Pertama, saat ilmu itu di kerahkan, maka siapapun dalam radius duapuluh meter akan terhenti gerakannya dan tidak bisa bergerak seperti olang tertotok. ke dua selarik sinar dari matanya itu dapat menembus baja apapun bahkan tenaga ilmu kebal bagaimanapun saktinya. Han Sian mengerahkan bagian yang pertamanya. Hanya saja saat di pakai,rata-rata kepada tokoh-tokoh yang berkepandaian tinggi sekali, maka efeknya tidak lama. Dua menit kemudian mereka telah bergerak bebas lagi. Hebathebatilmu Sinar Sakti Mata Pedang yang hebat. Akhh..tak ku duga di dunia ini ternyata ada juga yang menguasai ilmu dewa itu, untung di tujukan pada semua orang, kalu hanya satu orang saja, pastilah sudah hancur lebur Suara ini di keluarkan oleh seorang aneh yang tiba-tiba muncul di tempat itu. Entah dari mana datangnya, di tempat itu tiba-tiba muncul seratus orang lebih yang di pimpin oleh Argapa Lama. Mereka segera membentuk barisan setengah lingkaran di belakang Han Sian. Di samping itu ada juga sekitar sepuluh orang yang sudah tua, namun tampang mereka anehaneh. Mereka adalah tokoh-tokoh tersembunyi yang di undang oleh Han Sian dari tengah-tengah pegunungan Kun Lun San. Suasana kembali tenang. Iblis Es Api tiba-tiba menarik dirinya menjauh. Melihat kedatangan orang-orang ini yang rata-rata berkepandaian tinggi, dia tidak berharap ada kesempatan lagi memanfaatkan situasi. Dengarlah, cu-wi sekalian. Aku tidak tahu apa yang terjadi selama ini. Tapi aku bukanlah orang yang tidak bertanggung jawab terhadap segala perbuatan yang akhir-akhir ini terjadi di dunia

kang-ouw. Dan apa yang di tuduhkan padaku selama ini adalah tidak benar Han Sian berkata dengan suara lantang. HemmSaudara Han Sian, kami juga tidak ingin penyelesaian dengan pertumpahan darah. Kalau memang kau tidak bersalah, buktikan Khu Hee Liong menyahut dengan tenang. Kamilah bukti bahwa Kwi Sian Hok Cu (Si Penakluk Dewa & Iblis) tidak berbohong Sahut kakek aneh tadi. KWI SIAN HOK CU?...siapa itu? Iblis Es Api menyahut dengan penasaran saat mendengar nama yang mentereng seperti itu. Kakek itu menunjuk dengan jarinya: Dialah Kwi Sian HokCu!. Selama dua bulan ini sampai dua minggu lalu. dia mengembara di pegunungan Kun Lun San dan Wu Yi San yang luas untuk mengundang kami datang ke tempat ini, jadi kami yakin bahwa dia tidak mungkin berada di dua tempat dalam waktu bersamaan bukan Semua orang terkejut. Kalau memang demikian, berarti mereka salah, lalu siapa yang menyamar sebagai Han Sian selama ini. Bohong, aku melihat dengan mata sendiri, orang ini datang ke tempat kami sebagai tamu yang kami terima dengan hormat, tapi dia kemudian menodai cucu murid perguruan kami...apa kau mau mengatakan kalau aku salah lihat? Yang menyahut dengan suara marah kaml ini adalah ketua Kong Thong Pai, Pek Lek Cin-Jin. Suasana kembali jadi panas, tapi saat itu suatu suara yang merdu seorang wanita dan keras terdengar: Benar, anda tidak salah lihat, tapi Han-koko juga tidak salah, dan kami saksinya Saat itu berkelebat dua bayangan yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat Han Sian. Kehadiran mereka membuat heran semua orang Putri YashaPangeran Yomlie Suara Han Sian berbisik. Siapa kalian?... Tanya Tee Sun Lai penuh curiga. Saya adalah Pangeran Yomlie dan ini adikku Putri Yasha, dari kerajaan Persia. Kami menjamin bahwa saudara Han Sian tidak melakukan apa yang kalian tuduhkan Sahut pemuda yang bernama Pangeran Yomlie itu tenang Hah, bagaimana kami percaya kalau kalian tidak merugikan kami dengan kesaksian palsu kalian... Kali ini Kim-Sim Tojin, ketua Hoa San Pai yang angkat suara. Gadis yang mengaku bernama Putri Yasha itu menghadap pada Pek Lek Cin-Jin. Kemudian bertanya: Maaf Pek Lek Cin-Jin. Siangbunjin, bolehkah kami mengetahui, kapan peristiwa perkosaan terhadap cucu muridmu itu terjadi? Hemm..kira-kira delapan hari yang lalu. Apa maksudmu nona? bertanya lagi Pek Lek Cin-Jin dengan pandangan curiga. Ada dua alasan mengapa ku berani jamin bukan dia pelakunya...Pertama: selama dua minggu terakhir ini dia ada sangat dekat bersama ku dan tidak pernah terpisah sedetikpun.... Kata gadis itu mantap tanpa memperdulikan tatapan tidak percaya dari Jie Hong bertiga yang memandang Han Sian dengan tak berkedip meminta penjelasan.

Hehehe...apa saja yang kalian lakukan?... Suara tertawa Swat Tok kwi terdengar mengejak, tapi belum habis suaranya tiba-tiba tubuh Putri Yasha berkelebat lenyap dari pandangan dan di lain saat terdengar suara teriakan Swat Tok kwi yang telah di tampar pecah bibirnya.. Semua orang berseru kaget melihat kelihaian dara ini. Swat Tok kwi bukan orang sembarangan, tapi dalam sekali gebrak di bikin pecah bibirnya. Apa nonamu ini harus mengatakan kepadamu apa saja yang di lakukan dua orang yang bermesraan, haa...? Sahut Putri Yasha ketus. Sambil menatap semua orang. Han Sian sendiri kaget, bukan kaget melihat kepandaian nona itu, karena hakikatnya dia sudah tahu nkelihaian orang. Tapi keberanian nona ini mengakui sesuatu yang harusnya memalukan bagi seorang gadis muda seperti dia. Tapi dia diam saja dan terus menyaksikan. Kedua: karena aku tahu siapa pemfitnah itu... Penipu! Muslihat apa lagi yang mau kau lakukan?...hati-hati kau bicara atau aku takkan mengampunimu! Tiba-tiba Tee Sun Lai menyahut dengan marah sambil maju mendekati Putri Yasha dengan sikap mengancam.. Han Sian hendak bergerak, tapi dia di dahului oleh Pangeran Yomlie: Kau mau apa?... Saat itu Putri Yasha mengedipkan mata pada pada Argapa Lama. Serentak seratus orang yang di latih di tebing langit bergerak membuat barisan mengelilingi dia, kakaknya Han Sian dan juga Tee Sun Lai. Cuwi sekalian, orang inilah pelaku pemerkosaan yang sebenarnya... Putri Yasha berteriak lantang sambil menunjuk ke arah Sun Lai. Hemmm...biar ku beri pelajaran atas kelancanganmu menuduh sembarangan... Tee Sun Lai bergerak cepat memukul dengan kedua tangannya. Dia tidak berani setengah-setengah karena dia lihat gerakan dara tadi sangat hebat. Hampir setara dengan kepandaiannya. Tapi baru saja dia hendak menyerang, Pangeran Yomlie sudah menghadangnya: mari, aku mau coba Tapak Berantai Pemusnah Raga Sesat-mu dengan Tapak Berantai Lima Pemusnah Raga-ku. Maka terjadilah pertarungan yang seru antara kedua orang itu. Semua mata yang memandang terbelalak saat melihat kehebatan kedua ilmu yang di adu ini. Bahkan enam Dewa-pun terkejut karena ilmu-ilmu ini tidak berada di sebelah bawah kepandaian mereka. Para anak buah Istana Lembah Bangkai hendak maju membantu ketua mereka, tapi mereka di halang oleh pasukan yang di pimpin Argapa Lama. Perlahan Putri Yasha berbisik pada Han Sian: Kanda Sian, pertarungan ini akan lama, tapi kalau kau dapat menaklukkannya dengan ilmu mata pedangmu, kita bisa dapatkan bukti pada tubuhnya. Takutnya bila lebih lama dia keburu menghancurkan bukti...! Setelah itu Putri cantik ini berjalah perlahan dengan kepala tertunduk ke arah Jie Hong, Hong Lian dan In Lan yang menatapnya dengan pandangan kurang senang. Tapi menghadapi tatapan seperti itu, gadis ini tidak peduli, setelah dekat dia kemudian membungkuk memberi hormat dalam-dalam dan maju berbisik di telinga mereka. Entah apa yang di bisikinya, tapi tak lama kemudian wajah ketiga gadis itu berobah dan mata mereka bertiga di arahkan kepada Tee Sun Lai.

Saat itu pertarungan sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali. Ilmu mereka sudah di kerahkan sampai hampir tahap pamungkas. Han Sian segera berseru: Saudara Yomlie, biarkan aku menangkapnya, kita masih perlu bukti...?! Silahkan Saudara Han Sian, ku serahkan pecundang menyedihkan ini padamu Pangeran Yomlie segera mundur ke belakang sambil berputaran seperti gasing untuk melepaskan diri dari medan pertempuran berbahaya itu. Saat itu tubuh Han Sian melayang memasuki arena yang dahsyat itu. Karena saat itu Tee Sun Lai sedang mengerahkan tahap puncak Ilmu Tapak Berantai Pemusnah Raga Sesat tingkat kelimanya. Han Sian-pun tidak main-main. Segera dia kerahkan Kiu Sian I sin kang dan Hui Im Hong sin kang untuk menyambut serangan itu. Di sekeliling tubuhnya tercipta sembilan putaran tenaga bergelombang yang saling mengisi untuk menghancurkan putaran tenaga lawan sehingga kekuatan lawan mereda. Kemudian dengan menunjuk lurus ke depan, dari ke dua bola mata Han Sian keluar kilatan kecil yang amat kuat dan langsung menjebol pertahanan Sun Lai. Saat itu juga tubuh Tee Sun Lai diam tak bergerak. Melihat ini segera Pangeran Yomlie memburu kearah Tee Sun lai dan merobek jubahnya. Dari balik jubah itu jatu sesuatu benda. Segera Pangeran Yomlie menendang benda itu ke arah Thio Tay Lee yang segera menyambutnya. Setelah di perhatikan, ternyata itu adalah sebuah topeng yang mirip sekali dengan wajah Han Sian. Hampir tak percaya Tay Lee melihatnya. Tapi tangannya bergetar memegang benda tersebut. Apakah itu saudara tay Lee? Lu Sim Hay segera mendekat untuk melihat, dan diapun terkejut melihat akan benda ini. Saat semua orang terdiam, Tee Sun Lai sudah dapat bergerak kembali. Sekali gerak tubuhnya sudah melayang menuju ke arah anak buahnya. Bangsat cabul, hendak lari ke mana kau? Kali ini kami takkan melepasmu kedua kalinya. Segera Thio Tay Lee dan Lu Sim Hay mengejar ke arah Tee Sun Lai. Dalam sekejap mereka di halangi oleh pasukan Intana Lembah Bangkai. Tapi itu tidak bertahan lama karena dalam kemarahan mereka, para anak buah ini hanya seperti tikus-tikus tak berguna. Namun Tee Sun Lai sudah lenyap dari tempat itu. Dengan gemas Thio Tay Lee kembali ke hadapan Han Sian. Saudara Han Sian, maafkan kekeliruanku..terima kasih atas kemurahanmu. Urusan di sini ku serahkan padamu. Han Sian mengangguk dan Tay Lee-pun berkelebat lenyap dari situ. Saudara Han Sian, akupun minta maaf atas sikapku. Kau sungguh beruntung. Semoga ke empat gadis itu bisa bahagia di sampingmu, permisi...? Dalam sekejap tubuhnyapun lenyap mengejar Tee Sun Lai. Han Sian menatap mereka dengan tenang. Kemudian dia menyapu semua orang yang ada di situ. Mereka semua terdiam tanpa dapat berbuat apa-apa. Saat tatapannya sampai pada ke tiga kekasihnya, tatapan itu berubah lembut. Perlahan dia mendekati mereka Hong-moi, Lian-moi dan Lan moiapa kalian juga tidak percaya padaku? Suaranya lembut meminta kepastian mereka.

Ketiga gadis itu balas menatap, dan In Lan maju ke depan menghampirinyasambil menitikkan airmata. Sian-koko, jawablah dengan jujur, apakah benar kau tidak mengkhianati kami yang memujamu Demi thian, Lan-moi, aku tidak pernah melakukan hal itu Balas Han Sian lembut. Kalau begitu aku percaya padamu Sahut In Lan perlahan. Jie Hong dan Hong Lian saling tatap dan kemudian mendekati Han Sian. Han Sian menatap mereka dengan lembut. Sian-koko, kami juga percaya padamu Huh, apakalian kira kami datang hanya untuk menonton drama sentimentil seperti ini? Tiba-tiba suatu suara keras menyelutuk. Satu bayangan orang yang berjubah hitam tampak berdiri di tengah lapangan tersebut. Perbawa tenaganya sangat luar biasa sekali. Penampilannya mirip dengan tampang Iblis Es Api yang telah berubah menjadi wanita cantik tadi, hanya jubahnya berwarna hitam. Kongkong...akhirnya kau datang juga....? Gadis cantik yang sejak tadi mengaku Iblis Es Api itu tiba-tiba berseru gembira dan berlari mendekati kakeknya. Wajah pria ini tampak welas asih. Sekilas pandang, tak seorangpun yang menduga kalau dialah Iblis Es Api yang sebenarnya. Para bawahannya segera berlutut sekali lagi dan berseru: Hormat kami pada yang Mulia Iblis Es Api. Kakek tua ini mengangkat tangannya sehingga semua orang terdiam. Kongkong, pemuda tampan ini sangat sakti sekali, tolong taklukkan dia untukku...? Suara gadis itu lantang tapi penuh permohonan pada kakeknya itu. Hemm, orang muda...apa kau sudah dengar keinginan cucuku?...aku akan membebaskanmu jika kau dapat bertahan sepuluh jurus dariku? Kakek itu berkata dengan suara datar. Tapi tiba-tiba semua orang di sekitarnya merasakan tekanan hawa pekat yang menyesakkan dada. Apakah kau Iblis Es Api yang sesungguhnya? Han Sian bertanya dengan tenang tanpa terpancing emosi. Dalam sekejap dia sudah berada di hadapan kakek itu. Saat dia mengerahkan tenaganya hawa pekat menyesakkan itu lenyap. Hahahahaha...hebat sekali...mari kita bermain-main sebentar anak muda. Ku dengar kau menguasai Ilmu Seribu Iblis Pemusnah. Mari aku ingin mencobanya. Maaf, kita tidak bermusuhan, lagi pula aku tidak mempunyai keuntungan apa-apa kalau mengadu nyawa denganmu...permisi? Han Sian berseru tenang sambil bersiap membalikkan tubuh. Heh, apa maksudmu, apa kau kira aku ini orang yang suka langgar janji? Kalau kau menang, kau dapat cucuku....? Bantak kakek itu gusar. Baiklah, kita saling serang dalam tiga jurus, kalau kau dapat mengalahkanku, aku akan menikahi cucumu, tapi kalau tidak, kau dan semua keturunanmu harus meninggalkan tionggoan ini dan jangan kembali dalam limaratus tahun kedepan, berani?

Kakek itu melengak sejenak kemudian barulah dia menjawab: Kau menantangku, baik aku berjanji, selama aku masih hidup tak seorangpun yang boleh melanggar sumpah ini, mari kita mulai? Han Sian bersiaga penuh. Dalam sekejap dia telah bersiap-siap melancarkan Jurus ke lima dari ilmu Seribu Iblis Pemusnah, yang bernama Ribuan Iblis Membelenggu Dewa Langit". Tangannya bergerak berputaran dengan cepat sekali, dalam sekejap di sekililingnya keluar awan hitam yang kuat yang mengejar ke arah kakek itu. Ilmu ini nampak sederhana, tapi awan hitam itu sanggup memakan habis tenaga lawan sampai tidak tersisa sedikitpun. Hayaaa...ini Ilmu Iblis Pemusnah tulen Kakek itu terkejut dan segera memutarkan tangannya bagai kitiran berlawanan sambil tubuhnya melayang ke atas. Dari kanan-kiri tubuhnya keluar api dan es yang amat panas mendesak ke arah awan hitam itu. Sampai lama kedua kekuatan itu saling mendesak, hingga akhirnya keduanya tergentak mundur kebelakang tiga tindak. Dari kepala mereka tampak uap putih dan peluh sebesar biji jagung. Giliranku...! Belum sempat Han Sian memasang kuda-kuda, kakek itu sudah menyusul dengan serangannya. Kedua tangannya di pukulkan ke depan dengan perlahan. Sembilan bagian tenaganya di kerahkan. Tampak lambat saja dan sederhana, tapi tak ayal tibanya ternyata sangat cepat sekali. Han Sian merasakan tekanan yang amat berat yang melumpuhkan semangat serta semua tenaga dalammya dan juga mengurung semua jalan keluarnya. Han Sian terkejut melihat serangan ini. Dalam sekejap saja jurus terakhir dari Ilmu Seribu Iblis Pemusnah, yaitu Jurus Dewa Iblis Menyegel Dewa, Memutar Langit. Tiba-tiba dari tubuhnya keluar ledakan tenaga yang dahsyat sekali dan akibatnya, seluruh serangan Iblis Es Api terpental balik dan lenyap tak berbekas. Sementara itu Iblis Es Api sendiri telah jatuh terduduk dengan mulut meneteskan darah segar. Akhh, kau hebat sekali anak muda. Tak di sangka puluhan tahun berlatih, tetap tak ada gunanya di hadapan seorang muda seperti kau...kau pewaris para dewa sejati Kakek itu berkata dengan kagum tapi air mukanya juga menunjukkan kesedihan yang dalam. Han Sian terharu, otomatis dalam hatinya dia menghargai akan jiwa kakek ini. Masih ada satu jurus lagi, apakah locianpwe masih mau terus? Kata Han Sian sambil menyebut Locianpwe (orang tua gagah) Kakek itu tak bersuara, tapi tiba-tiba wajahnya berubah bersinar-sinar gembira. Baik, satu jurus lagi...aku masih punya seribu pukulan dalam sekejap...puaskan hatiku anak muda! Tiba-tiba tubuhnya melesat ke atas. Kedua tangan di angkat ke atas seperti menarik sesuatu dan semua orang merasa udara di sekeliling mereka berhenti mengalir. Dari balik tubuh Iblis itu tampak cahaya kemerahan yang mengerikan. Melihat akan ini Han Sian tertegun sejenak tapi tubuhnya langsung mengerahkan I kin Hiat Hip Kang yang di padukan dengan Hui Im Hong sin kang dan Kiu Sian I sin Kang. Dalam sekejap pula cahaya keperakan dan keemasan meliputi tubuhnya yang segera melesat ke atas menyambut serangan kakek itu. Tidak terjadi ledakan apapun. Tapi semua orang terkejut ketika tiba-tiba di udara terlihat fenomena yang ajaib. Langit seolah-olah di tutupi oleh ribuan bayangan kemerahan yang bertarung denga ribuan bayangan keperakan & keemasan yang sangat cepat sekali. Pemandangan luar biasa ini hanya sekejap saja, hanya dua menit, tapi dalam dua menit itu para jago-jago tingkat tinggi melongo menyaksikannya. Mereka seolah-olah menonton peragaan

berbagai jenis variasi ilmu silat yang dahsyat saling serang, saling menindih dan berlalu dengan kecepatan yang hampir mendekati tingkat kemustahilan sama sekali. Tiba-tiba keduanya telah berdiam di tengah lapangan. .Tubuh Han Sian masih melayang dua jengkal dari atas tanah dengan baju bagian atas hancur, tapi tubuhnya di selimuti cahaya keemasan dan keperakan. Sedangkan Iblis Es Api tersebut tegak di atas tanah dengan tubuh di lingkupi cahaya kemerahan yang memudar. Setalah di amati, walaupun jubahnya tidak kurang suat apapun namun dari sela-sela bibirnya nampak menetes darah segar. Dia terluka dalam yang cukup parah sekali. Kongkong! Gadis yang menjadi cucunya itu menjerit sambil menghambur mendekati dan memeluk kakeknya,sementara matanya memendang marah pada Han Sian. Han Sian jadi tidak enak. Segera dia hendak menghibur, tapi kakek itu sudah mengangkat tangan kanannya dan berseru: Aku kalah, namun aku puas! Kau hebat anak mudadi atas dunia ini, di mana saja Kwi Sian Hok Cu berada,maka seluruh penghuni Istana Neraka Hitam akan tunduk dan tidak akan menyentuhnya sedikitpun Sehabis itu dia membalikkan badan dan berlalu dari situ. Tapi aneh, cucunya justru berjalan ke depan Han Sian dan bertelut dengan kaki satu di tekuk ke depan Eh, nonaapa maksudmu? Han Sian bertanya dengan heran. Saat itulah terdengar suara menggeme daki kakek Iblis Es Api: Kwi Sian Hok Cu, Istana Neraka Hitam adalah simbol yang mempersatukan semua dedengkot kaum hitam di seluruh bagian barat dan Selatan.. Hari Ini kau menaklukkan kami dengan kemenangan mutlak karena ilmu silatmu memang lebih tinggi maka kami tunduk padamu, sebagai bukti bahwa kami tidak akan terjun ke dalam dunia persilatan ini selama limaratus tahun ke depan maka cucuku akan melayanimu seumur hidupnya. Dia bernama Putri Mayaterserah hendakmu akan kau jadikan apa dia, tapi kalau kau pulangkan dia, dia tidak akan mendapat tempat di antara kami ataupun di atas dunia ini.Selamat tinggal. Suara itupun lenyap tanpa bekas. Semua orang hanya saling pandang sambil menatap Han Sian dan Putri Maya. Tidak ada yang berani komplain sedikitpun. ---lovelydear--Suasana Puncak Awan Es kembali tenang. Semua orang telah mohon diri setelah menyelesaikan semua kesalahpahaman. Enam Dewa telah mohon diri dari Han Sian sambil mengucapkan selamat. Walau beberapa di antara mereka tampak kecewa hantinya sehubungan dengan beberapa gadis yang mereka puja. Tapi melihat situasi yang ada, mereka hanya memendamnya saja. Hanya tersisa Han Sian, Pangeran Yomlie, kelima gadis yang diam dan Argapa serta ke seratus orang pasukan khususnya. Pangeran Yomlie memohon diri untuk pulang ke Persia. Kanda Yomliemohon sampaikan pada ayahanda dan ibunda bahwa ananda akan menyambangi mereka Putri Yasha berkata pada kakaknya. Adikku, kalau ini adalah keputusanmukanda akan mendukungnya. Asalkan kau bahagia Pangeran Yomlie berpaling pada Han Sian dan berkata: Saudara Han, aku titipkan adikku. Jika kau hendak meminta restu orang kami kau harus pergi ke Jepang, karana mereka telah pindah ke sana untuk mengasingkan dirinamun engkau tidak boleh datang ke sana sebagai orang biasa, karena dalam tradisi kekaisaran kami,tidak layak orang dari

kalangan yang bukan kaum kerajaan memiliki istri lebih dari satu Pangeran Yomlie memandang pada Putri yasha. Semua orang terdiam, dan Putri Yasha menundukkan kepala dengan sedih. Melihat suasana ini, entah darimana datangnya ide itu, tiba-tiba Argapa Lama berseru dengan lantang: Jangan khawatir pangeran, tolong sampaikan saja bahwa Argapa, Panglima Besar Istana Tebing Langit akan mengantarkan undangan khusus dari Pangeran Han Sian si Pendekar Asmara Tangan Iblis, Penakluk Dewa & Iblis dan Sang Penguasa Istana Tebing Langit, untuk memohon restu dalam waktu dekat ini. Setelah itu Argapa memberi tanda dengan mengangkat tangan, dan serentak ke-seratus orang pasukan khususnya berlutut sambil berseru denga suara nyaring: Panjang umur bagi Pangeran Han Sian, Pendekar Asmara Tangan Iblis, Penakluk Dewa & Iblis dan Sang Penguasa Istana Tebing Langit! Melihat ini semua orang tertawa dan tersenyum sambil melihat kepada Han Sian. Eh, iniini, akhmana bisa beginiHong moi?... Han Sian tergagap dan memandang pada Jie Hong. Yang di tatap hanya tersenyum saja, dan setelah mengedipkan mata pada keempat gadis lainnya, dia berkata berkata sambil tersenyum simpul. Pangeran sungguh beruntung, semoga panjang umur dan besikap adil serta tidak menelantarkan para gadis bodoh seperti kami Han Sian tertegun, wajahnya jadi merah. Sesaat kemudian dia menarik Pangeran Yomlie agak menjauh dan berbisik dengan panik: Eh, pangeranku tahu kau adalah ahlinya, tolonglah aku, beri tahu aku bagaimana caranya mengatasi singa-singa betina ini? Wah..wah..wah, terus terang saja ku hanya memiliki pengalaman dengan kelinci-kelinci liar diistana, tapi tidak pernah dengan singa-singa betinajadi aku sunggu prihatin karena tidak dapat membantuSampai jumpa lagi! Pangeran Yomlie tertawa-tawa di lain saat tubuhnya sudah melayang di kejauhan, meninggalkan Han Sian yang terlolong bengong dengan tatapan kosong. Sementara itu Argapa dan yang lain-lainnya segera mengundurkan diri. Sehingga tertinggal Han Sian yang bingung memandangi kelima gadis cantik yang sedang tersenyum-senyum manis di hadapannya ini seperti orang bodoh, tidak tahu mau buat apa. Sampai lama Han Sian terdiam. Kelima gadis itupun hanya saling menatap dan terdiam seribu bahasa. Tapi lama-kelamaan terbersit senyum simpul di bibir Han Sian. Perlahan tangannya bergerak dan kedua gadis yang berdiri paling dekat dengannya, yaitu Putri Yasha dan Putri Maya terbetot ke dalam pelukannya dan di lain saat dia sudah menciumi mereka berdua tanpa malumalu di hadapan yang lainnya yang hanya memandang tertawa sambil mendekat.

TAMAT