Anda di halaman 1dari 45

PEMERIKSAAN FISIK

PENDAHULUAN

LATIHAN KETRAMPILAN: DOKTER MUDA MEMERIKSA PASIEN RAWAT INAP USAHAKAN PASIEN TIDAK MENJADI GUSAR JANGAN GUNAKAN ISTILAH YANG SULIT HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN:

MEMPERKENALKAN DIRI PENAMPILAN RAPIH DAN SOPAN JAS PUTIH YANG BERSIH CUCI TANGAN SETELAH MEMEGANG PASIEN

JAS PUTIH STETOSKOP LAMPU BATERE SAKU METERAN DUA PENGGARIS JAM TANGAN DENGAN JARUM DETIK PALU REFLEKS PINSIL (SEBAIKNYA PINSIL ALIS) BUKU SAKU

PERLENGKAPAN DOKTER MUDA

KEADAAN UMUM

SAKIT BERAT/SEDANG/RINGAN KESADARAN: KOMPOS MENTIS/ APATIS/DELIR/SOMNOLEN/SOPOR/ KOMA GIZI: GEMUK/NORMAL/KURUS BENTUK BADAN: ASTENIKUS/ATLETIKUS/ PIKNIKUS UMUR SESUAI/TIDAK PERTUMBUHAN RAMBUT ADAKAH: DISPNOE? SIANOSIS? ANEMIA? IKTERUS? EDEMA UMUM?

DERAJAT KEMAMPUAN (WHO) MENYANGKUT KEDAAN UMUM PASIEN

0
1 2

3
4

MAMPU MELAKUKAN SEMUA KEGIATAN TANPA HAMBATAN KEGIATAN FISIK BERAT TERBATAS, PEKERJAAN RINGAN MAMPU HANYA MENGURUS DIRI SENDIRI, BISA DUDUK > 50% SELAMA BANGUN MENGURUS DIRI SENDIRI TERBATAS, BERBARING > 50% SELAMA BANGUN SAMA SEKALI TIDAK BERDAYA, TERBARING SEPANJANG HARI

DERAJAT KESADARAN
KOMPOS MENTIS APATI SADAR SEPENUHNYA SEGAN BERHUBUNGAN DENGAN KEHIDUPAN SEKITARNYA

SOMNOLEN SELALU MAU TIDUR, DAPAT BANGUN DENGAN RANGSANG NYERI DELIRIUM SOPOR KOMA KACAU MOTORIK, BERONTAK REAKSI HANYA TIMBUL DENGAN RANGSANG NYERI TIDAK TIMBUL REAKSI DARI RANGSANGAN APAPUN

PEMERIKSAAN NADI

ARTERI RADIALIS DIRABA DENGAN 3 JARI, JANGAN GUNAKAN IBU JARI. NILAILAH: FREKUENSI (< 60x/mnt BRADIKARDI, > 100x/mnt TAKIKARDI) REGULER, ISI CUKUP

PULSUS CELER/TARDUS (TEKANAN NADI BESAR/KECIL) PULSUS DEFISIT (FREK NADI < FREK JANTUNG)

RESPIRASI FREKUENSI: NORMAL 16-24x/mnt NORMAL/DANGKAL/DALAM?

KUSSMAUL: CEPAT, DALAM IREGULER: APNU-LAMBAT-CEPAT-LAMBAT-APNU

IRAMA: NORMAL / CHEYNE-STOKES?

OTOT PERNAFASAN TAMBAHAN: BILA SESAK PERNAFASAN CUPING HIDUNG: BILA SESAK TORAKOABDOMINAL? TORAKAL? ABDOMINAL? EKSPIRASI NORMAL/MEMANJANG? STRIDOR SAAT EKSPIRASI ?

SUHU: kenaikan suhu 1C MENAIKKAN NADI 16x/mnt TEKANAN DARAH: KANAN-KIRI, BARINGBERDIRI KLASIFIKASI HIPERTENSI (JNC VII) TD
<120/<80 130/90 140-159/90-99 >160/>100 > 140 / < 90

JNC VII
NORMAL PREHIPERTENSI STAGE 1 HTN STAGE 2 HTN ISOL SIST HTN

PEMERIKSAAN TEKANAN DARAH

TEKANAN VENA JUGULARIS (JVP)

CARA: POSISI TERLENTANG, KEPALA DITINGGIKAN 30. TITIK DIMANA V JUGULARIS MENJADI KOSONG PADA WAKTU INSPIRASI DIBERI TANDA.

TEKANAN VENA JUGULARIS (JVP)

PENGGARIS I DILETAKKAN HORIZONTAL MELALUI ANGULUS LUDOVICI, PENGGARIS II DILETAKKAN VERTIKAL TERHADAP BIDANG HORIZONTAL TADI. TITIK NOL BERADA 5 cm DIBAWAH A.LUDOVICI. JVP DIUKUR DALAM cmH2O. JVP NORMAL ADALAH 5-2 cmH2O

KEPALA MATA: KONJUNGTIVA, SKLERA HIDUNG: LAPANG? SEPTUM? SEKRESI MULUT: ASIMETRI? GIGI, LIDAH, ARKUS FARING, TONSIL LEHER: TRAKEA, TIROID (PALPASI, AUSKULTASI), KGB (PALPASI)

THORAKS
INSPEKSI BENTUK SIMETRI SAAT ISTIRAHAT DAN BERGERAK JENIS PERNAPASAN PEMBULUH DARAH ABNORMAL: VCSS, SPIDER NEVI PAYUDARA

DADA DEPAN
GARIS MIDSTERNUM STERNUM PARASTERNUM MIDCLAVICULA AKSILARIS ANTERIOR DAN POSTERIOR AKSILARIS MEDIAL

DADA BELAKANG

CORPUS VERTEBRA DIHITUNG DARI C7

Grs midclavicula

Grs parasternum

Grs sternum Grs midsternum

C7
Grs axilaris posterior Vertebra prominent

Uj bwh skapula Setinggi iga 7 atau thorakal 8

Grs axilaris medial

Grs axilaris anterior

PARU
INSPEKSI STATIS INSPEKSI DINAMIS KELAINAN BENTUK FREKUENSI NAPAS KELAINAN KULIT SIFAT: THORAKOABDOMINAL, BENDUNGAN VENA THORAKAL, BENJOLAN/TUMOR ABDOMINAL GINEKOMASTIA RITME: NORMAL, KUSSMAUL, CHEYNE STOKES

PERKUSI NORMAL: SONOR BAGIAN PADAT> UDARA: REDUP UDARA LENYAP: PEKAK BAGIAN UDARA> PADAT: HIPERSONOR UDARA: TIMPANI

LANDASAN PERKUSI : TEPAT DIATAS JARI TENGAH TANGAN KIRI PHALANG I

PERKUSI

BATAS JANTUNG BATAS PARU HATI: SONOR PEKAK garis MEDIOCLAVI- KULER sela iga 6. PERANJAKAN 2 jari BATAS PARU LAMBUNG: SONOR TIMPANI, garis axilaris anterior sela iga 8

KRONIG: supraskapuler, 3-4 jari, perkusi sonor. Hilang jika ada kelainan di puncak paru BATAS PARU BELAKANG BAWAH grs skapula, setinggi V.Th 10 (paru kiri) dan 1 jari lbh tinggi paru kanan

GARIS ELLIS DAMOISSEAU: lengkung konveks dengan puncak pada grs aksilaris tengah SEGITIGA GARLAND : daerah timpani SEGITIGA GROCCO : daerah redup kontra lateral DITEMUKAN PADA EFUSI PLEURA MASIF

GARIS ELLIS DAMOISSEAU: lengkung konveks, cairan pleura yang banyak

SEGITIGA GARLAND daerah timpani: garis ED, V Th, grs horiz. SEGITIGA GROCCO redup: perpanjangan ED, V Th, batas paru

AUSKULTASI BUNYI NAPAS POKOK VESIKULER: insp lbh keras, nada lbh tinggi & 3x lbh panjang dr eksp BRONKIAL: lbh keras, insp sama panjang dg eksp BRONKOVESIKULER: antara vesikuler dan bronkial AMFORIK: spt tiupan dlm botol kosong

AUSKULTASI NAPAS TAMBAHAN RONKI KERING: bunyi yg tak terputus, lbh jelas pd eksp. Bila nada tinggi dan panjang disebut wheezing RONKI BASAH: suara berisik yang terputus, umumnya saat inspirasi.

Jenis: RONKI BASAH HALUS, SEDANG, KASAR. RONKI BASAH HALUS dapat NYARING (infiltrat) atau TIDAK NYARING (udema paru) PLEURAL RUB:gesekan pleura yang menebal, pd akhir insp dan awal eksp.

JANTUNG
INSPEKSI BENTUK DADA PECTUS EXCAVATUM (melengkung kedalam), PECTUS CARINATUM (mencembung kedepan) PULSASI: ICTUS CORDIS, 2 cm, sela iga 5 medial midclav kiri.

ICTUS CORDIS bergeser kekiri, kemungkinan pembesaran jantung

Inspeksi
Pada pemeriksaan inspeksi jantung, paling penting ialah menemukan lokasi apical impulse atau point of maximal impulse atau ictus cordis pada ruang sela iga ke 5, sesuai dengan letak apex cordis. Impulse ini dihasilkan oleh pulsasi singkat ventrikel kiri pada saat ventrikel bergerak kearah anterior selama kontraksi jantung dan menyentuh dinding dada.

Palpasi ini akan lebih mudah terlihat pada orang yang kurus. Selanjutnya akan lebih dimantapkan lokasi ictus cordis dengan pemeriksaan palpasi. Selain itu perlu diperlihatkan juga pada saat inspeksi hal hal lain misalnya

bentuk dada : normal-simetris, dapat


juga terlihat bentuk dada abnormal seperti pectus carinatum (dada burung), dada terlihat menonjol keluar, sebaliknya dapat terlihat bentuk dada pectus excavatum dimana dinding dada mencekung, atau dapat pula ditemukan kelainan lain yang bersifat patologis.

PALPASI: dengan telapak tangan ICTUS CORDIS: kuat angkat, luas, kualitas pulsasi VENTRICULAR HEAVING: pulsasi menggelombang (MI) VENTRICULAR LIFT: lebar dgn pukulan2 serentak (MS)

PERICARDIAL FRICTION RUB: fremitus yang sinkron dg denyut jantung (Pericarditis fibrosa) THRILL: fibrasi sistolik (stenosis pulmonal -2 ki, stenosis aorta -2 ka, VSD 4 ki), diastolik (stenosis mitral - apeks)

Palpasi

Pertama tama palpasi dilakukan secara menyeluruh pada seluruh dinding dada anterior. Setelah itu dengan berpedoman pada pemeriksaan inspeksi, dilakukan palpasi pada ictus cordis dan perlu diperhatikan : Lokasi : pada garis midklavikula kiri, setinggi sela iga 5 kadang 4 Diameter : < 2,5 cm Amplitudo : biasanya berupa denyutan Durasi : teraba selama bunyi jantu

PERKUSI
BATAS JANTUNG KANAN: -Batas paru-hati (bph) : ssonor ke redup -Perkusi 2 jari diatas bph kke medial. N: antara mid ssternum sternum kanan Menetukan batas jantung kanan Ketuklah mulai dari linea midklavikula kanan dari atas kebawah sampai terdengar suara pekak, inilah batas paru-hati, kemudian mintalah pasien inspirasi dalam dan menahannya, lalu lakukan perkusi kebawah sampai terdengar suara redup kembali. Ini disebut peranjakan hati, yang normal biasanya sebesar 2 jari tangan. Selanjutnya setinggi 2 cm diatas batas paru hati dilakukan perkusi kea rah medial (sternum) sampai terdengar perubahan suara sonor menjadi pekak / redup. Inilah batas kanan jantung yang normal terletak diantara linea midsternal atau parasternal kanan sela iga 4.
BATAS JANTUNG KIRI -Batas paru lambung (bpl): Ssonor ke timpani. - Perkusi 2 jr diatas bpl ke mmedial. N: Midclavikula kiri ssela iga V

PINGGANG JANTUNG: Perkusi dari atas ke bawah pd garis parasternum N: sela iga III kiri

Menentukan batas jantung atas


Ketuklah mulai dari atas linea parasternalis kiri / pertengahan linea parasternalis kiri dan midklavikula kiri ke bawah maka suara sonor akan berubah menjadi redup kemudian pekak. Maka batas jantung atas pada area redup.

Menentukan batas jantung kiri


Perkusi pada linea aksilaris anterior dari atas kebawah sampai terdengar perubahan sonor ke redup (batas paru kiri bawah) lalu setinggi 2 jari diatasnya dilakukan perkusi kea rah medial sampai terdengar perubahan suara ke redup (batas jantung kiri) normalnya terletak sedikit medial dari garis midklavikula kiri.

Menentukan pinggang jantung


Perkusi pada pertengahan antara linea midklavikula kiri dan parasternal kiri dari atas kebawah, sampai diapat perubahan sonor ke redup. Normalnya pada sela iga 3 kiri.

Menentukan konfigurasi (countour) jantung


Perkusi pada sela iga ke arah medial dari linea aksilaris anterior kiri dan ke arah medial linea midklavikula kanan, sampai ditemukan banyak tiitk perubahan bunyi sonor ke redup. Sambunglah titik titik tersebut dan gambar dengan marker sehingga didapat kontur jantung.

AUSKULTASI
A P

LOKALISASI dan ASAL


ICTUS CORDIS: BJ I dari KATUB MITRAL SI 2 TEPI KIRI STERNUM: BJ PULMONAL SI 2 TEPI KANAN STERNUM: BJ AORTA SI 4 DAN 5 TEPI KANAN DAN KIRI STERNUM: BJ TRIKUSPID

AUSKULTASI MEMBEDAKAN BJ I dan dan BJ II

MENGIDENTIFIKASI BJ III dan IV


BJ I = BUNYI SISTOLE, SAAT TERTUTUPNYA MITRAL DAN TRIKUSPID; BERTEPATAN DGN PULSASI A CAROTIS BJ II = BUNYI DIASTOLE, SAAT TERTUTUPNYA AORTA DAN PULMONAL

BJ III terdengan sesudah BJ II BJ I, BJ II dan BJ III bersama-sama disebut GALLOP RYTHM BJ III disebut PROTODIASTOLIC GALLOP, terj pd PAYAH JANTUNG BJ IV terdengar sebelum BJ I, disebut ATRIAL GALLOP, terj pd AV BLOCK, INFARK JTG

AUSKULTASI INTENSITAS dan KUALITAS


IRAMA DAN FREKUENSI

DI APEKS: BJ I > BJ II DI BASAL: BJ II > BJ I HIPERTENSI PULMONAL: P2 MENGERAS HIPERTENSI SISTEMIK: A2 MENGERAS BUNYI JANTUNG FIXED SPLITTING BJ II: LAIN : MURMUR ASD, RBBB

ARITMIA BRADIKARDIA (<60) TAKIKARDIA (>100) SINUS ARITMIA (lbh lambat pd ekspirasi) EKSTRA SISTOLE FIBRILASI ATRIUM

BUNYI JANTUNG LAIN : BISING (MURMUR) FASE BISING SISTOLIK (antara BJ I BJ II)

EJECTION

PANSISTOLE

EJECTION PANSISTOLE

BISING

DIASTOLIK (antara BJ II BJ I)
MID-DIASTOLE EARLY DIASTOLE PRE SYSTOLE

EARLY DIASTOLIK PRE SISTOLE

KONTINU

AUSKULTASI INTENSITAS
DERAJAT

NADA
RENDAH:

1 (pelan) DERAJAT 2 DERAJAT 3 DERAJAT 4 DERAJAT 5 DERAJAT 6 (keras)


NADA

KASAR TINGGI:spt TIUPAN SEAGULL MURMUR (nyaring spt musik) LOKALISASI: tempat paling keras terdengar APAKAH BERUBAH MENURUT POSISI / PERNAPASAN

ABDOMEN DIBAGI 4 KUADRAN


KANAN ATAS KIRI ATAS KANAN BAWAH KIRI BAWAH LATERAL GARIS SIAS - UMBILIKUS GARIS ANTARA ARKUS KOSTA KIRI MEL UMB - SIAS

TITIK Mc BURNEY

GARIS SCHUFFNER

INSPEKSI KULIT PEMBESARAN ORGAN / MASSA HERNIS VENA SUPERFISIAL


PALPASI : baring, lutut ditekuk PALPASI MENDALAM UNTUK MEMERIKSA MASSA PAPASI RINGAN UNTUK MEMERIKSA NYERI

HEPAR: mulai dari bawah, palpasi saat inspirasi. Bila teraba, laporkan: ukuran (.. jbac, ....jbpx)

LIEN: cara sama, bila teraba ukurannya dinyatakan dengan Schuffner I-VIII

GINJAL: dengan palpasi bimanual. Pada akhir inspirasi dalam dicoba menangkap ginjal dengan 2 tangan.

GINJAL: ballotement dgn hentakan jari tangan kiri pada dinding belakang perut. PEMERIKSAAN GELOMBANG CAIRAN (FLUID WAVE) dilakukan bila terdapat cairan asites dalam jumlah banyak sehingga sulit melakukan pemeriksaan SFIFTING DULLNESS

PERKUSI DISTENSI : BUNYI TIMPANI CAIRAN DALAM RONGGA PERUT: PEKAK BERPINDAH, GELOMBANG CAIRAN PERKUSI HATI: untuk konfirmasi ukuran hati FENOMENA PAPAN CATUR: timpani-redup berganti-ganti

AUSKULTASI DUA MACAM BISING USUS

SUARA SIKLIK PENDEK SETIAP 2 DETIK SUARA PERISTALTIK PANJANG DAN GEMURUH BEBERAPA KALI PERMENIT

ILEUS PARALITIK: KEDUA JENIS SUARA TAK TERDENGAR ILEUS OBSTRUKTIF: SUARA MENINGKAT, NADA LEBIH TINGGI

PUNGGUNG

KELAINAN LENGKUNG TULANG BELAKANG NYERI KETOK SUDUT KOSTOVERTEBRAL

PEMERIKSAAN ATAS INDIKASI:


COLOK DUBUR ALAT KELAMIN

COLOK DUBUR: tonus sfingter ani, pembesaran prostat, nyeri, massa. Pada sarung tangan: warna feses ALAT KELAMIN: tumor, luka parut, sekret, nyeri pada perabaan, hidrokel

EKSTREMITAS ATAS: palpasi sendi yang


nyeri

BAWAH:

EDEMA, VARISES WARNA, SUHU, RADANG PULSASI A DORSALIS PEDIS, A TIBIALIS POSTERIOR, A POPLITEA

SENDI: bengkak, nyeri


tekan, kemerahan, hangat

ANGGOTA GERAK

REFLEKS:

ATAS

TENDON

OTOT: TONUS, MASSA SENDI GERAKAN KEKUATAN


LUKA VARISES OTOT: TONUS, MASSA SENDI GERAKAN KEKUATAN EDEMA

BAWAH

BICEPS TRICEPS PATELLA ACHILES

CREMASTER REFLEKS KULIT REFLEKS PATOLOGIS BABINSKY KERNIG BRUDZINSKY

TERIMAKASIH
Ayo, latihan PERKUSI !!