Anda di halaman 1dari 25

DR. Minullah, S.E.,M.S.

& Ny di BTN Roviga

DR. Minullah,S.E.,MS. & Ny di BTN Roviga

DR. Minullah, S.E.,M.S. & Ny di BTN Roviga

DR. Minullah, S.E.,M.S. & Ny di BTN Roviga

DR. Minullah, S.E.,M.S. & Ny di BTN Roviga

DR. Minullah, S.E.,M.S. & Ny di BTN Roviga

DR. Minullah, S.E.,M.S. & Ny di BTN Roviga

DR. Minullah, S.E.,M.S. & Ny di BTN Roviga

DR. Minullah, S.E.,M.S di BTN Roviga

DR. Minullah, S.E,M.S. di BTN Roviga

BAB IV PRODUKSI Kita mengetahui bahwa salah satu tujuan utama setiap perusahaan ialah menghasilkan laba. Adapun yang dimaksud dengan laba ialah kelebihan pendapatan total dari biaya total perusahaan untuk kurun waktu tertentu. Di sini kita melihat relevansi bagi manajer perusahaan untuk memahami di samping perilaku pendapatan juga perlu memahami perilaku biaya perusahaan. Selanjutnya untuk dapat memahami perilaku biaya perusahaan, kita terlebih dahulu perlu memahami teori yang mendasarinya, yaitu teori produksi. Perilaku produksi biasa diuraikan dengan menggunakan salah satu di antara dua konsep berikut, yang sebetulnya satu dengan yang lain saling berhubungan dan dapat pula dikatakan saling melengkapi. Pertama ialah konsep kurva produk, yang dapat dinyatakan dalam bentuk total, rata-rata atau marginal, dan yang kedua ialah konsep analisis isoquant. Yang dimaksud dengan kurva produk ialah kurva yang menunjukkan berbagai jumlah keluaran pada berbagai kemungkinan jumlah penggunaan masukan variable. Adapun isoquant ialah kurva yang menunjukkan berbagai kemungkinan kombinasi dua macam masukan atau lebih yang dibutuhkan untuk menghasilkan sejumlah hasil produksi tertentu. 4.1. Fungsi Produksi

Hubungan fisik antara masukan / input dan keluaran / output untuk suatu macam produk dapat diungkapkan dengan menggunakan konsepsi fungsi produksi. Fungsi produksi menunjukkan output atau jumlah-jumlah hasil produksi maksimum yang dapat dihasilkan persatuan waktu dengan menggunakan berbagai kombinasi sumber-sumber daya yang dipakai dalam berproduksi. Secara matematis fungsi produksi dapat diungkapkan sebagai berikut: Q = f(F1, F2, , Fn) .. Di mana : Q= kuantitas barang atau jasa yang dihasilkan per satuan waktu. Ini biasa disebut juga produk total atau total product, yang kita singkat TP. Kalau kita gunakan sebagai contoh adalah Z, maka tanda barang Q kita tukar dengan Z. Faktor produksi, yang kita sebut juga sumber daya atau resource. Pada fungsi produksi di atas penggunaannya adalah sebagai berikut: F1 ialah jumlah satuan (4.1.1)

F=

faktor produksi jenis ke-1 yang dipakai per satuan waktu dalam produksi, F2 ialah jumlah satuan faktor produksi jenis ke-2 yang dipakai dalam produksi, dan seterusnya sampai dengan yang terakhir yaitu ke-n. Sebagai contoh, fungsi produksi untuk hasil produksi berupa padi, dapat kita tulis: Q = f(F1, F2, F3, F4, F5) Dimana: Q= F1 = F2 = F3 = F4 = F5 = Jumlah hasil produksi padi (dinyatakan misalnya dalam ton) per tahun. Luas tanah yang ditanami padi (misalnya dalam hektar). Jumlah pupuk yang digunakan dalam proses produksi per tahun (misalnya dalam kuintal) per tahun. Jumlah air yang digunakan untuk menggenangi tanah (misalnya dinyatakan dalam meter kubik) per tahun. Jumlah bibit padi yang ditanam (misalnya dalam kilogram atau dalam ikat) per tahun. Jumlah tenaga kerja yang terpakai (misalnya dinyatakan dalam jumlah jam kerja) per tahun. . (4.1.2)

Apabila dalam contoh di atas salah satu di antara kelima faktor produksi jumlah penggunaannya diubah-ubah, sedangkan keempat faktor produksi lainnya penggunaan per tahunnya tetap, maka hasil produksinya juga akan berubah-ubah. Pada umumnya untuk jangka pendek sebagian faktor produksi jumlahnya tidak dapat diubah-ubah sedangkan sebagian lainnya dapat diubah. Untuk faktor produksi yang jumlah pemakaiannya dapat diubah disebut sebagai faktor produksi variable atau variable factor of production, sedangkan faktor produksi yang jumlah pemakaiannya tidak diubah disebut faktor produksi tetap atau fixed factors. Akan tetapi untuk jangka panjang semua faktor produksi dapat diubah jumlah pemakaiannya. Dengan perkataan lain, untuk jangka panjang semua sumber daya merupakan variable factors. Apabila fungsi produksi padi yang diungkapkan oleh persamaan (4.1.2) kita asumsikan bahwa hanya F5 saja yang merupakan faktor produksi variable sedangkan keempat faktor produksi lainnya merupakan faktor produksi tetap, maka persamaan (4.1.2) dapat kita tulis kembali:

Q = f(F1, F2, F3, F4, F5)

.. (4.1.3)

dimana tanda bar menunjukkan bahwa faktor produksi yang ditandainya merupakan faktor produksi tetap. Mengingat fungsi produksi yang diungkapkan melalui persamaan (13.1.3) dapat diungkapkan secara lebih sederhana sebagai berikut: Q = f(F5) . (4.1.4)

Mengingat bahwa F5 menunjukkan jumlah sumber daya manusia/faktor tenaga kerja (= labor input), maka fungsi produksi yang sama dapat pula kita tulis sebagai berikut: Q = f(Li) di mana: Li = jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam produksi. Fungsi produksi dalam bentuk persamaan (4.1.3), (4.1.4), dan (4.1.5) disebut fungsi produksi variable tunggal. Dengan faktor produksi variabel tunggal berupa tenaga kerja berarti bahwa dengan berubahnya jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam produksi akan mengakibatkan berubahnya jumlah output Q per satuan waktunya. Hubungan antara hasil produksi Q dengan jumlah masukan variabel disebut kurva produk atau fungsi produk atau tabel produk. Seperti halnya dengan kurva permintaan dan kurva penawaran, kurva produk dapat pula diungkapkan dalam tiga kemungkinan bentuk, yaitu dalam bentuk total kita sebut kurva produk total atau total product curve, dalam bentuk rata-rata kita sebut kurva produk rata-rata atau average product curve, dan dalam bentuk marginal kita sebut kurva produk marginal atau marginal product curve. 4.2. Hukum Hasil yang Menurun . (4.1.5)

Kita telah memahami apa yang dimaksud dengan fungsi produksi. Langkah selanjutnya ialah membahas bagaimana bentuk fungsi produksi. Sekalipun dalam kenyataan bentuk fungsi produksi sangat bervariasi, namun dapat dikatakan bahwa fungsi produksi yang diasumsikan oleh para pemikir ekonomi berlaku hukum tambahan hasil yang menurun/berkurang, yang istilah asingnya: the law of diminishing return yang pada pokoknya menyebutkan bahwa, Dengan menggunakan faktor produksi yang jumlahnya tidak berubah, penambahan jumlah penggunaan faktor produksi variabel bertendensi mengakibatkan meningkatnya jumlah hasil produksi di atas tingkat pertambahan penggunaan sumber daya variabel yang dilakukan. Peningkatan jumlah hasil produksi per unit

faktor produksi variabel yang ditambahkan dalam produksi tersebut mulai tingkat penggunaan faktor produksi variabel tertentu akan menurun. Fungsi produksi seperti yang digambarkan oleh contoh Tabel 4.2.1 memenuhi hukum hasil semakin berkurang tersebut. Rangkaian pasangan angka-angka kolom 1 dan kolom 2 Tabel 4.2.1 merupakan apa yang kita sebut kurva produk total. Cara menafsirkan angka-angka pada tabel tersebut adalah sebagai berikut: dengan faktor produksi tetap yang jumlahnya tertentu, dipergunakannya faktor produksi variabel sebanyak 0 unit akan menghasilkan 0 unit output; dengan dipergunakannya faktor produksi variabel 1 unit per satuan waktu akan dihasilkan 1 unit output; apabila input variabel kita tingkatkan menjadi 2 satuan, maka output yang kita peroleh meningkat menjadi 3 satuan; dan seterusnya. Mengenai pembuktian bahwa kurva produk total pada tabel tersebut memenuhi hukum hasil makin berkurang dapat kita saksikan sebagai berikut. Dari penggunaan faktor produksi variabel unit ke-1 sampai dengan unit ke-5 tambahan output yang dihasilkan dari tambahan input variabel mula-mula meningkat yaiti dari 1, lalu 2, 3, 4, dan akhirnya 5.gejala ini disebut ingkreasing returns atau tambahan hasil yang meningkat. Sampai tingkat penggunaan faktor produksi variabel ini hukum tambahan hasil makin menurun belum berlaku. Tatapi apabila tampahan input variabel diteruskan, tambahan output per tambahan input variabel mulai satuan ke-6 menurun. Faktor produksi variabel unit ke-6 hanya menghasilkan output 4 unit. Faktor produksi variabel ke-7 hanya menghasilkan tambahan output yang dihasilkan satu unit lebih sedikit daripada sebelumnya. Demikian seterusnya, hasil yang diperoleh dari tambahan satu unit input semakin menurun. Bahkan kalau kita teruskan tambahan hasil per unit inputnya akhirnya mencapai nol; yaituu tercapai pada penggunaan satuan faktor produksi variabel yang ke-10 dan menjadi negative pada satuan-satuan faktor-aktor produksi sesudahnya.

Tabel IV.2.1 KURVA PRODUK TOTAL Tenaga kerja dalam bulan kerja per tahun (Fi) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Hasil produksi total padi Dalam ton per tahun (Q) 0 1 3 6 10 15 19 22 24 25 25 24 22

Dalam sub-sub berikutnya kita akan menyaksikan bahwa tambahan output yang dihasilkan oleh tambahan penggunaan faktor produksi variabel unit terakhir disebut produk marginal, produk batas atau marginal product. Selanjutnya perlu pulakiranya disisipkan di sini bawah titik mulai menurunnya kurva produk total seperti diuraikan di atas mulai dijumpai pada tingkat penggunaan sumber daya variabel dengan produk marginal sebesar nol. Pada contoh tabel 4.2.1 titik hasil marginal yang mulai menurun kita dapati pada penggunaan faktor produksi variabel unit ke-6. Sedangkan kurva produk total menurun pada tingkat penggunaan sumber daya variabel sebesar 10 satuan. Sebelum kita meninggalkan masalah hukum hasil makin berkurang, perlulah di sini diketengahkan bahwa hukum tersebut tidak mempersoalkan mulai satuan faktor produksi variabel yang mana hasil marginal tersebut mulai menurun. Menurunnya hasil marginal dapat didahului terlebih dahulu oleh meningkatnya hasil atau produk marginal seperti yang kita temukan pada contoh Tabel 4.2.1, tetapi dapat pula tidak didahului oleh meningkatnya produk marginal.

4.3.

Hubungan Antara Produk Total, Produk Rata-rata dan Produk Marginal

Hasil produksi yang biasa juga disebut produk atau output dapat diungkapkan dalam tiga cara, yaitu: produk total, produk rata-rata dan produk marginal. A. Produk Total

Yang dimaksud dengan produk total atau total product atau output ialah jumlah hasil produksi yang dihasilkan dalam jangka waktu tertentu sebagai hasil pemakaian sejumlah faktor-aktor produksi dalam proses produksi untuk jangka waktu yang sama. Sedangkan yang dimaksud dengan kurva produk total ialah kurva yang menunjukkan berbagai jumlah hasil produksi untuk setiap satuan waktu yang dihasilkan dari berbagai kemungkinan jumlah penggunaan sumber atau sumber-sumber daya lain yang jumlahnya tidak berubah. B. Produk Rata-rata

Yang dimaksud dengan produk rata-rata atau average product, yang selanjutnya sering kita singkat AP, ialah hasil bagi antara produk total dengan jumlah satuan faktor produksi variabel yang terpakai pada periode yang sama. Dalam bentuk persamaan matematika hubungan antara TP dan AP dapat diungkapkan sebagai berikut: ................. (4.3.1)

Yang cara membacanya ialah: Produk rata-rata pada jumlah penggunaan faktor produksi variabel sebanyak i sama dengan produk total pada jumlah penggunaan faktor produksi variabel sebanyak i dibagi dengan i. C. Produk Marginal

Yang dimaksud dengan produk marginal, produk batas atau marginal product, yang selanjutnya sering kita singkat dengan menggunakan huruf singkatan MP, ialah perubahan produk total sebagai akibat penambahan (atau pengurangan) pemakaian faktor produksi variabel unit terakhir. Dalam bentuk persamaan matematika hubungan antara produk marginal dengan produk total biasa diungkapkan sebagi berikut:

MPi = TPi TPi-1

..................

(4.3.2)

yang mempunyai makna bahwa produk marginal pada pemakaian faktor produksi sebanyak 1 unit sama dengan produk total pada penggunaan faktor produksi variabel sebanyak 1 unit dikurangi produk total pada penggunaan faktor produksi variabel sebanyak i 1 unit. Untuk menjelaskan hubungan antara produk total, produk rata-rata dan produk marginal, perhatikan Tabel 4.3.1. Tabel 4.3.1 PRODUK TOTAL, PRODUK RATA-RATA DAN PRODUK MARGINAL Fi 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 TPi 0 1 3 6 10 15 19 22 24 25 25 24 22 APi 0 1 1,5 2 2,5 3 3,17 3,14 3 2,78 2,5 2,18 1,83 MPi 1 2 3 4 5 4 3 2 1 0 -1 -2

Hubungan antara produk total, produk rata-rata, dan produk marginal dalam bentuk grafik disajikan melalui Gambar 4.3.1. Pada tabel 13.3.1 angka-angka pada kolom Fi dan TPi berasal dari Tabel 4.2.1 dan membentuk apa yang disebut kurva produk total, yang pada Gambar 4.3.1 tergambar sebagai kurva yang merupakan singkatan total product. Pasangan isi kolom Fi dengan kolom APi membentuk apa yang disebut dengan skedul produk rata-rata. Angka-angka dalam kolom ini merupakan hasil penggunaan rumus (4.3.1). misalnya, kalau perusahaan menggunakan sumber daya variabel sebanyak 5 satuan (yaitu Fi = 5), maka nilai APi-nya dapat kita hitung: AP5 = TP5/5 = 15 : 5 = 3

Selanjutnya, angka-angka pada kolom MPi menunjukkan nilai-nilai marginal product, yang angka-angkanya diperoleh dengan menggunakan rumus (4.3.2). Jadi pada penggunaan sumber daya variabel 5 unit, maka nilai produk marginal sebesar: MP5 = TP5 TP4 = 15 10 = 5

Gambar 4.3.1 KURVA PRODUK TOTAL, PRODUK RATA-RATA, PRODUK MARGINAL

Z/s.w. 30

25

20

TP

15

10

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

akhirnya mencapai nol pada penggunaan faktor produksi variabel unit ke-10. Kalau pemakaian faktor variabel terus ditambah nilai MP-nya menjadi negatif, yang berarti nilai TP menurun. Dari Tabel 4.3.1 jelas bahwa dengan menggunakan faktor variabel sebanyak 9 atau 10 unit menghasilkan produk total yang sama, yaitu tetap 25 satuan. Selanjutnya kalau faktor variabel ditambah terus, outputnya justru menurun. Bagi orang yang bersikap rasional, kalau menginginkan untuk menghasilkan sebanyak 25 satuan tentu memilih menggunakan 9 satuan daripada 10 satuan faktor variabel. Kalau menghasilkan 24 unit output akan memilih F8 daripada F11. Dan kalau kita ingin menghasilkan 22 unit output, lebih pilih F7 daripada F12. Demikian seterusnya. Dari uraian ini jelaslah bahwa penggunaan faktor variabel mulai unit ke-10 ke atas tidak akan terpakai. Oleh karena itu, untuk penggunaan faktor variabel dimulai dari satuan ke-10 keatas dapat dianggap tidak relevan dan oleh karenanya untuk selanjutnya tidak kita perhatikan.

4.4. Fungsi Produksi dalam Analisis Isokuan Fungsi produksi merupakan hubungan teknik murni antara masukan-masukan sumber daya dengan keluaran. Fungsi produksi mengungkapkan transformasi masukan-masukan sumber daya menjadi keluaran hasil produksi untuk suatu jangka waktu tertentu. Oleh karena itu fungsi produksi dikatakan mencerminkan teknologi yang digunakan dalam sebuah perusahaan, sebuah bidang usaha atau sebuah perekonomian. Semua metode yang dari segi terknik terhitung efisien tercakup dalam fungsi produksi. Pada umumnya untuk menghasilkan sebuah barang atau jasa tertentu dapat dipergunakan berbagai metode produksi. Sedangkan yang dimaksud dengan metode produksi di sini adalah suatu kombinasi masukan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit keluaran. Misalnya saja untuk menghasilkan satu unit barang Z dapat dipergunakan cara-cara sebagai berikut: Satuan Sumber Daya Kapital Satuan Sumber Daya Manusia (K) (M) P1 5 1 P2 4 2 P3 3 3 P4 2 5

Keempat metode produksi tersebut, yaitu P1, P2, P3, P4 tersebut dapat diungkapkan dalam bentuk grafis seperti terlihat pada Gambar 4.4.1.

Gambar 4.4.1 CONTOH EMPAT METODE PRODUKSI UNTUK MENGHASILKAN SATU UNIT PRODUK Z

3 2 1

Setelah mengetahui fungsi produksi kita sekarang dapat menguraikan tentang kurva isokuan. Isokuan atau isoquant merupakan lokus dari semua kemungkinan kombinasi faktor produksi untuk berbagai metoda produksi yang dari segi teknik adalah efisien dalam menghasilkan barang atau jasa tertentu. Dengan demikian maka kurva yang menghubungkan titik P1, P2, P3, P4 pada Gambar 13.4.1 merupakan isokuan untuk menghasilkan sejumlah tertentu barang Z. Kalau dilihat perbedaan bentuknya dapat dibedakan empat macam isokuan, yaitu: 1. 2. 3. 4. Isokuan garis lurus atau linier isoquant. Isokuan input-output. Isokuan linier programming. Isokuan berbentuk konveks.

Keempat macam isokuan tersebut, bentuknya masing-masing dapat dilihat pada Gambar 13.4.2. Isokuan garis lurus berlaku kalau masukan yang diukur dengan sumbu yang satu dan masukan yang diukur dengan sumbu yang lain mempunyai hubungan subtitusi sempurna. Contohnya ialah isokuan untuk menghasilkan peti untuk pengiriman barang. Kalau sumbu vertikal dipergunakan untuk menunjukkan jumlah bahan produksi berupa kayu jati dan sumbu horizontal digunakan untuk menunjukkan bahan produksi berupa kayu sengon, maka kurva isokuannya akan membentuk garis lurus. Isokuan input-output. Isokuan ini berlaku untuk teknologi di mana masukan yang satu dengan masukan yang kedua mempunyai hubungan komplementer sempurna. Masukan yang satu sama sekali tidak dapat menggantikan masukan yang kedua. Sebutan input-output, di mana dipergunakan asumsi bahwa hubungan antara masukan dengan keluaran adalah tetap. Oleh karena itulah maka isokuan dalam bentuk ini input-output isoquant sering juga disebut sebagai Leontief isoquant. Isokuan linear programming. Nama-nama lain untuk isokuan dalam bentuk ini ialah kinked isoquant (isokuan berbentuk patah) dan activity analysis isoquant. Di sini pilihan metode produksi yang ada terbatas, dan subtitusi antara sumber daya yang satu dengansumber daya yang lain dimungkinkan, akan tetapi terbatas.

Gambar 13.4.2 EMPAT BENTUK ISOKUAN

Convex isoquant. Isokuan dalam bentuk inilah yang paling banyak dipergunakan dalam literatur ekonomi mikro. Isokuan berbentuk konveks, masalah matematiknya dapat dipecahkan dengan menggunakan kalkulus. Dalam buku inipun kita mengikuti kebiasaan menggunakan isokuan jenis ini.

13.5. Dari Isokuan ke Kurva Produk Kurva-kurva produk, yang dapat berbentuk kurva produk total, kurva produk rata-rata ataupun kurva produk marginal, seperti yang telah diuraikan di depan, berakar dari fungsi produksi yang biasa diungkapkan juga dengan menggunakan kurva atau medan isokuan. Dalam subbab ini akan diuraikan bagaimana kurva produk total diturunkan dari sebuah medan isokuan. Untuk tujuan ini kita pergunakan Gambar 13.5.1. Dalam gambar 13.5.1 tersebut sumbu vertikal dipergunakan sebagai sumbu sumber daya modal/capital (K), sedangkan sumbu horizontalnya dipergunakan untuk mengukur sumber daya manusia, L. kurva-kurva Q1, Q2, Q3, dan seterusnya adalah kurva-kurva isokuan dengan kombinasi-kombinasi masukan yang dibutuhkan agar supaya setiap satuan waktunya dihasilkan suatu barang atau jasa, misalnya barang Z, berturut-turut sebanyak 1 satuan, 2 satuan, 3 satuan, dan seterusnya. Dengan memperlakukan masukan L sebagai masukan variabel dan masukan K sebagai masukan tetap, maka dengan medan isokuan yang dimiliki oleh perusahaan, faktor yang menentukan bentuk dan posisi kurva produk perusahaan ialah tinggal besarnya masukan tetap K, yang dimiliki atau yang tersedia bagi perusahaan bersangkutan. Pada gambar 13.5.1, kalau masukan tetap yang dimiliki oleh perusahaan sebesar OF 1, maka berarti kurva produk total yang dimiliki oleh perusahaan adalah kurva OTP1, tergambar pada gambar kuadran bawah. Sebaliknya, apabila perusahaan memiliki masukan tetap sebesar OF2, maka kurva produk total yang dimiliki oleh perusahaan ditunjukkan oleh kurva OTP2. Gambar 13.5.1 CARA MENENTUKAN KURVA PRODUK TOTAL DARI SEBUAH MEDAN ISOKUAN

Dari gambar tersebut, baik dalam hal perusahaan memiliki masukan tetap sebesar OF1, OF2, ataupun lainnya, berlaku hal sebagai berikut. Dimulai dari alternatif penggunaan sumber daya variabel (L) sebesar nol, ke alternatif-alternatif penggunaan sumber daya variabel dengan jumlah yang terus meningkat, maka pada mulanya penambahan penggunaan masukan variabel mengakibatkan meningkatnya keluaran, tetapi mulai tingkat penambahan tertentu, yaitu pada titik di mana kurva isokuan disinggung oleh garis masukan tetap F1F1 penambahan penggunaan masukan variabel justru mengakibatkan menurunnya jumlah keluaran. Gambar 13.5.2 MEDAN ISOKUAN DAN KURVA RIDGE

Pada contoh gambar 13.5.2, titik-titik kedudukan tersebut ialah: untuk kurva isokuan IQ1, boleh juga dikatakan untuk masukan tetap sebesar OF1 titik yang dimaksudkan di atas adalah titik R1. Selanjutnya untuk isokuan IQ2, atau untuk penggunaan masukan tetap sebesar OF2 titik yang dimaksud adalah titik R2. Pada titiktitik tersebut produk marginal untuk masing-masing isokuan bersangkutan adalah sebesar nol. Titik-titik R1, R2 dan seterusnya, yaitu titik pada sebuah kurva isokuan dengan produk marginal sebesar nol, disebut ridge point, sedangkan garis atau kurva yang menghubungkan ridge points biasa disebut ridge line. Pada gambar 13.5.2 ridge line produksi Z adalah kurva OrK dan OrL. Bagian isokuan yang dari segi teknik adalah efisien ialah hanya bagian kurva isokuan yang berada di antara kedua ridge points dari kurva isokuan yang sama. Di luar itu adalah technically inefficient.

BAB 14 PERILAKU BIAYA Pada umumnya faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan barang atau jasa oleh perusahaan tidak dapat diperoleh dengan cuma-cuma. Perusahaan memperolehnya dengan membeli. Faktor produksi yang digunakan dalam menghasilkan suatu barang atau jasa setelah diberi harga disebut biaya, ongkos atau cost. Seperti halnya dengan kurva produk, kurva biaya dapat pula diungkapkan dalam bentuk biaya total, biaya rata-rata dan biaya marginal.

14.1. Dari Kurva Produk Total ke Kurva Biaya Total Yang dimaksud dengan biaya total ialah keseluruhan biaya untuk menghasilkan sejumlah hasil produksi selama suatujangka waktu tertentu. Biaya total ini untuk jangka pendek terdiri dari biaya-biaya tetap atau fixed costs dan biaya-biaya variabel atau variabel costs. Dengan cara yang lebih singkat: TC = TFC + TVC . (14.1.1)

Yang dimaksud dengan biaya total ialah keseluruhan biaya untuk menghasilkan sejumlah hasil produksi selama suatujangka waktu tertentu. Biaya total ini untuk jangka pendek terdiri dari biaya-biaya tetap atau fixed costs dan biaya-biaya variabel atau variabel costs. Dengan cara yang lebih singkat: TC = TFC + TVC . Yang termasuk kategori biaya tetap adalah semua biaya yang besarnya tidak tergantung pada banyak sedikitnya jumlah barang yang dihasilkan. Yang pada umumnya dianggap sebagai biaya tetap umpamanya ialah penyusutan aktiva tetap, gaji pimpinan perusahaan, gaji karyawan administrasi, dan sewa gedung yang besarnya tidak berubah entah perusahaan menghasilkan seribu unit, seratus unit, lima unit ataupun tidak menghasilkan sama sekali. Dalam contoh Tabel 14.1.1 kurva biaya tetap total atau total fixed costs, yang kita singkat dengan singkatan TFC diungkapkan sebagai pasangan nilai-nilai kolom (2) dengan kolom (4). Dengan hasil produksi sebesar 1, 3, 6, , atau 25 satuan jumlah pengeluaran tetap tidak berubah, yaitu sebesar Rp 40,00. Dalam bentuk grafis, Gambar 14.1.1 kurva biaya tetap total ini terlihat sebagai garis lurus sejajar dengan sumbu kuantitas, yaitu kurva yang kita tandai dengan tanda TFC. Tabel 14.1.1 KURVA PRODUK TOTAL DAN KURVA-KURVA BIAYA TOTAL Fi (1) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 TP = n (2) 0 1 3 6 10 15 19 22 24 25 25 24 22 TVCn (3) Rp 0,00 Rp 10,00 Rp 20,00 Rp 30,00 Rp 40,00 Rp 50,00 Rp 60,00 Rp 70,00 Rp 80,00 Rp 90,00 Rp 100,00 Rp 110,00 Rp 120,00 TFCn (4) Rp 40,00 Rp 40,00 Rp 40,00 Rp 40,00 Rp 40,00 Rp 40,00 Rp 40,00 Rp 40,00 Rp 40,00 Rp 40,00 Rp 40,00 Rp 40,00 Rp 40,00 TCn (5) Rp 40,00 Rp 50,00 Rp 60,00 Rp 70,00 Rp 80,00 Rp 90,00 Rp 100,00 Rp 110,00 Rp 120,00 Rp130,00 Rp 140,00 Rp 150,00 Rp 160,00

Yang dimkasud dengan biaya variabel atau variable cost ialah biaya yang banyak sedikitnya tergantung pada jumlah produk yang dihasilkan. Dengan sendirinya jumlah

faktor produksi variabel yang terpakai dalam proses produksi setelah dinilai dengan menggunakan harga pembeliannya merupakan biaya variabel. Harga bahan baku yang terpakai dalam berproduksi dan upah langsung merupakan contoh biaya variabel. Dalam contoh Tabel 14.1.1 pasangan kolom (2) dengan kolom (3) merupakan kurva biaya variabel total. Angka-angka yang terisi pada kolom (3) merupakan hasil perkalian F2 dengan harga per satuan faktor produksi variabel. Dalam contoh tersebut harga faktor produksi variabel diasumsikan setinggi Rp 10,00 per unit. Gambar 14.1.1 KURVA-KURVA BIAYA TOTAL

Perlu dimintakan perhatian di sini bahwa contoh Tabel 14.1.1 didasarkan atau merupakan kelanjutan contoh fungsi produksi Tabel 13.1.1 bab sebelumnya dengan ditambah asumsi bahwa biaya tetap total per satuan waktu Rp 40,00 dan harga faktor produksi variabel per unit Rp 10,00. Selanjutnya harap diperhatikan juga bahwa tidak seperti kurva produk total di mana variabel tergantung TP dihubungkan dengan variabel bebas Fi, untuk semua kurva biaya dihubungkan dengan jumlah hasil produksi atau output. Oleh karena itu subskrip yang digunakan untuk variabel biaya bukannya I melainkan n, dimana n menunjukkan besarnya output. Lebih jelas lagi kalau kita memperhatikan gambar grafiknya, misalnya Gambar 13.1.1 Bab 13. Untuk semua kurva produk (yaitu kurva produk total, kurva produk rata-rata dan kurva produk marginal), sumbu horizontalnya digunakan untuk mengukur banyaksedikitnya faktor produksi variabel yang terpakai dalam produksi. Sebaliknya untuk semua kurva biaya (yaitu kurva biaya total, kurva biaya rata-rata dan kurva biaya marginal), pada Gambar 14.1.2 sumbu horizontalnya tidak kita gunakan untuk menunjukkan banyaknya faktor produksi yang terpakai akan tetapi menunjukkan besarnya output. 1.2. Biaya Rata-rata dan Biaya Marginal Dengan telah ditemukannya kurva biaya total, kita dapat menurunkan kurva biaya rata-rata dan kurva biaya marginal dengan menggunakan rumus-rumus berikut: 1. ACn = TCn : n Atau ACn = AFCn + AVCn Di mana: AFCn AVCn . (14.2.1)

= TFCn : n = TVCn : n

2.

Dengan tidak berubahnya pembilang TFC, meningkatnya nilai penyebut n akan menghasilkan nilai AFCn yang semakin kecil. Meskipun semakin ke kanan tingkat penurunannya semakin kecil, tetapi penurunan tersebut terus berlanjut dan tidak akan sampai menyentuh sumbuh kuantitas. Kurva AVC. Kurva ini mula-mula tinggi, kemudian ke kanan menurun. Sesudah mencapai output tertentu AVC akan mencapai nilai terendah. Apabila output kita tingkatkan lebih lanjut kurva AVC akan naik; mula-mula naiknya pelan tetapi semakin ke kanan semakin cepat. Meningkatnya AVC disebabkan oleh berlakunya hukum tambahan hasil semakin berkurang. Sebaliknya AVC pada bagian kiri menurun dengan cepat, hal mana adalah sebagai akibat adanya tambahan

3.

hasil yang meningkat atau increasing returns. Hukum tambahan hasil yang semakin berkurang tersebut tidak mensyaratkan adanya increasing returns untuk fungsi produksi. Dengan perkataan lain, besar kemungkinannya terjadi bahwa kurva AVC tidak mempunyai bagian yang ke kanan menurun. Dapat terjadi mula-mula datar lalu naik atau bahkan ke kanan langsung naik. Kurva AC. Kurva AC merupakan penjumlahan secara vertikal kurva AFC dan kurva AVC. Kita telah mengetahui bahwa kurva AFC di bagian kiri menurun dengan cepatnya semakin ke kanan semakin berkurang tingkat penurunannya. Sebaliknya kurva AVC mulai output tertentu ke kanan naik dan semakin cepat peningkatannya, bahkan akhirnya sejajar dengan sumbu biaya. Dengan menyadari akan hal tersebut maka kurv AVC tendensinya mula-mula menurun dengan cepat, semakin ke kanan semakin berkurang kecepatan menurunnya, akhirnya tercapai titik terendah. Kalau kita lanjutkan ke kanan AVC akan bertendensi naik, dan tingkat kenaikannya semakin ke kanan semakin tinggi hingga bahkan sejajar dengan sumbu biaya.

Pengungkapan secara grafis untuk kurva-kurva AFC, AVC, AC dan MC tersebut di atas disajikan dalam Gambar 14.2.1. Bentuk kurva-kurva biaya dengan menggunakan asumsi-asumsi standar teori ekonomi mikro adalah sebagai berikut: Gambar 14.2.1 KURVA-KURVA BIAYA TETAP RATA-RATA, BIAYA VARIABEL RATA-RATA, BIAYA (TOTAL) RATA-RATA, DAN BIAYA MARJINAL

1.

Kurva AFC. Mula-mula tinggi sekali, bahkan tidak terhingga pada output sebesar 0. Tetapi dengan semakin besar output, nilai AFC semakin kecil. Hal ini kiranya mudah dipahami kalau kita ingat bahwa AFCn = . (14.2.2) MCn = TCn TCn-1 .

2.

Akan tetapi mengingat bahwa output TPn pada contoh Tabel 1.1 tidak selalu berubah dengan perubahan sebesar satu satuan output, maka rumus perlu sedikit dimodifikasikan: MCm-n =

(14.2.3)

Jadi misalnya saja marjinal cost antara output ke-6 dan ke-10 dapat kita hitung:

= 2,5

Hasil perhitungan TCn, AFCn, AVCn, ACn dan MCn yang angka-angkanya berasal dari Tabel 14.1.1 dimuat dalam Tabel 14.2.1. Tabel 14.2.1 BEBERAPA MACAM KURVA BIAYA TP = n (1) 0 1 3 6 10 15 19 22 24 25 25 TFCn (2) 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 TVCn (3) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 TCn (4) 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 AFCn (5) 40 13,3 6,7 4 2,7 2,1 1,8 1,7 1,6 1,6 AVCn (6) 0 10 6,7 5 4 3,3 3,2 3,2 3,3 3,6 4 ACn (7) 50 20 11,2 8 6 5,3 5 5 5,2 5,6 MCn (8) 10 5 3,3 2,5 2 2,5 3,5 5 10

3.

Kurva MC. Bagi mereka yang mengetahui ilmu hitung kalkulus lebih mudah untuk memahami ungkapan bahwa MC merupakan hasil turunan pertama kurva biaya total. Oleh karena hubungan antara TC, AC dan MC hanya merupakan hubungan definisional, maka pernyataan bahwa kurva MC tergantung kepada kurva TC sekaligus berarti pula bahwa kurva MC tergantung pula kepada kurva AC. dengan menggunakan bentuk standar kurva AC seperti diuraikan di atas, maka: (a) pada bagian-bagian di mana kurva AC ke kanan menurun, nilai MC selalu lebih kecil daripada nilai AC. (b) pada titik terendah atau pada bagian kurva AC yang sejajar dengan sumber kuantitas, berlaku MC = AC. (c) pada bagian-bagian di mana AC ke kanan naik, berlaku MC > AC.

Akhirnya perlu dicatat di sini bahwa dari dua komponen TC yang terdiri dari TFC dan TVC, TFC tidak berpengaruh terhadap MC. Oleh karena itu tidak pula salah kalau kita mengatakan bahwa yang sebetulnya menentukan bentuk kurva MC adalah kurva TVC.

14.3. Tiga Macam Kurun Waktu Apabila kita memperbincangkan tentang kurva biaya, terutama mengenai bentuk, dan posisinya, sebenarnya kita perlu menyadari adanya tiga macam kurun waktu. Ketiga macam kurun waktu adalah: (a) kurun waktu seketika atau immediate run, ada yang menyebutnya pula market period, (b) kurun waktu jangka pendek atau short run dan (c) kurun waktu jangka panjang atau long run. Kurun waktu seketika dapat didefinisikan sebagai kurun waktu yang demikian pendeknya, sehingga tidak memungkinkan perusahaan mengadakan perubahan atas jumlah masukan apapun dalam proses produksinya. Dengan demikian lain, dalam kurun waktu seketika semua masukan merupakan masukan tetap, yaitu yang kita sebut fixed factors of production. Selanjutnya ini berarti bahwa dalam kurun waktu seketika perusahaan sama sekali tidak dapat menambah atau mengurangi besarnya keluaran. Yang dikatakan merupakan kebalikan dari kurun waktu seketika ialah kurun waktu jangka panjang atau long-run. Dalam kurun waktu jangka panjang ini jangka waktunya adalah cukup panjang untuk memungkinkan perusahaan dapat

menyesuaikan semua macam masukan dengan perubahan permintaan yang terjadi. Oleh karena itulah dapat dikatakan pula bahwa kurun waktu jangka panjang merupakan kurun waktu di mana semua macam sumber daya merupakan variable factors. Di antara kedua macam kurun waktu tersebut kita temukan kurun waktu jangka pendek atau short run. Syarat untuk dapat disebut sebagai short run cost curve, seperti yang kita perbincangkan pada subbab sebelumnya, ialah dapat ditemukannya baik masukan tetap maupun masukan variabel. Oleh karena itu sepantasnyalah bahwa untuk bidang usaha yang sama, kurun waktu jangka pendek adalah lebih pendek dibandingkan dengan kurun waktu jangka panjang, tetapi lebih panjang dibandingkan dengan kurun waktu seketika. Perlulah kiranya diperhatikan bahwa masing-masing bidang usaha (industry) panjang kurun-kurun waktunya berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Bahkan dalam industry yang sama, tetapi dengan teknologi berbeda, dapat juga berbeda panjangnya kurun-kurun waktu termaksud. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini disajikan beberapa contoh. Perusahaan pabrik tekstil misalnya, kalau suatu hari permintaan akan tekstilnya melonjak, perusahaan tidak akan dapat meningkatkan produksinya pada hari itu, atau juga pada minggu itu. Mengapa demikian? Sebab untuk menghasilkan tambahan keluaran diperlukan tambahan bahan baku dan bahan penolong, tambahan tenaga kerja, dan seterusnya. Dalam praktik kita tidak begitu saja dapat menambah bahan baku, bahan penolong apalagi menambah karyawan, lebih-lebih lagi menambah mesin pintal, mesin tenun dan sebagainya. Apabila untuk dapat menambah keluaran diperlukan waktu minimal tiga minggu misalnya, maka kurun waktu kurang dari tiga minggu kita sebut sebagai waktu seketika. Untuk perusahaan di bidang pertanian dan perkebunan di lain pihak, batas kurun waktu seketika sangat ditentukan oleh siklus umur tanaman. Apabila untuk suatu tanaman dari saat ditanam sampai berbuah dibutuhkan waktu 3 bulan, maka dikatakan bahwa kurun waktu seketika untuk tanaman tersebut adalah 3 bulan. Sebaliknya kalau untuk sampai dapat diambil hasilnya, dibutuhkan waktu 4 tahun, maka dikatakan bahwa kurun waktu seketikanya 4 tahun. Selanjutnya, kurun waktu jangka panjang untuk perusahaan manufaktur, antara lain dipengaruhi oleh panjang pendeknya jangka waktu yang dibutuhkan untuk pengadaan alat-alat kapital, dan juga oleh besarnya modal yang diperlukan untuk membiayai perluasan kapasitas produksi perusahaan. dengan demikian dapat kita

duga bahwa perusahaan gudeg misalnya, kurun waktu minimum untuk long-run-nya jauh lebih pendek dibandingkan dengan kurun waktu minimum untuk long-run-nya perusahaan penghasil makanan dalam kaleng. 14.4. Kurva Biaya Jangka Panjang Selanjutnya, kurun waktu jangka panjang untuk perusahaan manufaktur, antara lain dipengaruhi oleh panjang pendeknya jangka waktu yang dibutuhkan untuk pengadaan alat-alat kapital, dan juga oleh besarnya modal yang diperlukan untuk membiayai perluasan kapasitas produksi perusahaan. dengan demikian dapat kita duga bahwa perusahaan gudeg misalnya, kurun waktu minimum untuk long-run-nya jauh lebih pendek dibandingkan dengan kurun waktu minimum untuk long-run-nya perusahaan penghasil makanan dalam kaleng. Gambar 14.4.1 DARI KURVA JANGKA PENDEK KE KURVA BIAYA JANGKA PANJANG

Kurva-kurva SAC1, SAC2 dan SAC3 pada kurva bahwa ketiga-tiganya adalah kurva-kurva biaya jangka pendek yang diturunkan berturut-turut dari kurva-kurva

STC1, STC2 dan STC3 seperti yang dimaksudkan di atas. Sedangkan kurva LAC-nya diturunkan dari kurva LTC kuadran atas. Kurva-kurva biaya marginal jangka pendek SMC1, SMC2 dan SMC3 dapat diturunkan langsung dari kurva-kurva STC1, STC2 dan STC3 atau melalui kurva-kurva hasil penurunannya SAC1, SAC2 dan SAC3. Dari Gambar 14.4.1 tersebut beberapa hal perlu mendapatkan perhatian: 1. 2. Kurva LTC bersinggungan dengan kurva STC. Butir 1 di atas mengandung makna bahwa kurva LAC bersinggungan pula dengan kurva-kurva STC. Dengan demikian kiranya jelas pula bahwa titik singgung kurva STC dengan LAC mempunyai nilai absis yang sama dengan nilai absis titik singgung kurva SAC1, dengan kurva LAC, yang selanjutnya juga sama dengan nilai absis titik potong antara kurva SMC1 dengan kurva LMC. Ini dengan sendirinya berlaku juga untuk kurva-kurva STC2 dan STC3. Titik terendah kurva LAC dilalui oleh kurva LMC dan juga oleh kurva SMC dan kurva SAC terendah di antara kurva-kurva SAC yang ada.

3.

Nanti kita akan mengetahui betapa pentingnya perusahaan mengetahui bentuk kurva biaya jangka panjang, terutama dalam menentukan strategi jangka panjang perusahaan. sebuah perusahaan baru yang menghasilkan produk baru dengan kurva biaya rata-rata jangka panjangnya berbentuk ke kanan menurun, untuk dapat memelihara kelestarian usahanya haruslah siap untuk memperbesar skala produksinya, begitu produknya diterima oleh pasar. Tuntutan tersebut tidak timbul apabila bentuk kurva biaya rata-rata jangka panjangnya datar, apalagi bentuknya ke kanan naik.