Anda di halaman 1dari 23

Jurnal Teknologi Pertanian Andalas. Vol. 15, No. 2, September 2011 : 55 - 71.

KAJIAN TEKNO EKONOMI ALAT SEMPROT SEMI-OTOMATIS TIPE SANDANG (KNAPSACK SPRAYER) DENGAN BEBERAPA VARIASI JUMLAH NOZZLE (Techno-economic Study of Knapsack Sprayer with Some Variations of Nozzle) Santosa1), Mislaini R.1), dan Indra Azhari2) 1) Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas, Telp. / Fax. 0751-777413 , Kampus Limau Manis, Padang 25163 e-mail : santosa764@yahoo.co.id 2) Laboratorium Produksi dan Manajemen Alat dan Mesin Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas, Padang ABSTRACT Techno-economic study of Knapsack Sprayer is conducted in March to May 2010, in Production and Management of Equipment and Agricultural Machinery Laboratory, Faculty of Agricultural Technology, Andalas University, Padang. This study aims to: (1) for calibrating spray in the laboratory, (2) conduct technical evaluation on the field against the use of a nozzle, two nozzles, and three nozzles, and (3) determine the cost of spraying. The research method was carried out several steps: testing in the laboratory to determine discharge spraying to get the distance between nozzle, the test in the field to determine the effective working width, spraying capacity, and efficiency of spraying (field efficiency), and calculate the cost of spraying. From the results of technical evaluation in the laboratory showed that the best nozzle spacing is 64 cm. In the technical evaluation in the field, the best obtained in Knapsack Spryer three nozzles because the value of effective work capacity, work capacity and efficiency theoretically spraying is greater than one nozzle and two nozzles Knapsack Sprayer. Knapsack Sprayer with three nozzles is the lowest spraying cost, i.e. Rp 12,212.70 / ha. So, the more spray nozzle so the capacity will be higher and the operation cost will be lower. Keywords: knapsack sprayer, calibration, and the effective working width

ABSTRAK

ii

Telah dilakukan penelitian tentang kajian tekno ekonomi alat semprot semiotomatis tipe sandang, bulan Maret sampai dengan Mei 2010 di Laboratorium Produksi dan Manajemen Alat dan Mesin Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas, Padang. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) melakukan kalibrasi alat semprot di laboratorium, (2) melakukan evaluasi teknis di lapangan terhadap penggunaan satu nozzle, dua nozzle, dan tiga nozzle , serta (3) menentukan biaya pokok penyemprotan. Metode penelitian ini dilakukan beberapa tahap yaitu: pengujian di laboratorium menentukan debit penyemprotan untuk mendapatkan jarak antar nozzle, pengujian di lapangan untuk menentukan lebar kerja efektif, kapasitas penyemprotan, dan efisiensi penyemprotan (field efficiency) , serta menghitung besarnya biaya pokok penyemprotan. Dari hasil evaluasi teknis di laboratorium didapatkan bahwa jarak antar nozzle yang terbagus adalah 64 cm. Pada evaluasi teknis di lapangan, penyemprotan terbaik didapatkan pada Knapsack Spryer tiga nozzle karena nilai kapasitas kerja efektif, kapasitas kerja teoritis dan efisiensi kerja penyemprotan lebih besar dari Knapsack Sprayer satu nozzle dan dan nozzle. Biaya pokok penyemprotan yang terendah didapatkan dari penyemprotan dengan tiga nozzle yaitu Rp 12.212,70 /ha. Jadi, semakin banyak nozzle maka kapasitas alat semprot akan semakin tinggi dan biaya pokok semakin rendah. Kata kunci: knapsack sprayer, kalibrasi, dan lebar kerja efektif PENDAHULUAN Salah satu faktor yang menjadi penghambat produktivitas tanaman pangan adalah gangguan hama, penyakit tanaman dan gulma. Untuk menghindari kerugian karena serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), tanaman perlu dilindungi dengan cara mengendalikan OPT tersebut. Usaha pengendalian OPT diharapkan dapat menekan serendah mungkin populasi atau tingkat kerusakan sehingga secara ekonomi tidak merugikan. Walaupun pemberantasan hama dan penyakit tanaman tidak identik dengan penggunaan pestisida, akan tetapi kenyataan menunjukkan bahwa dalam pertanian kita tidak terlepas dari penggunaan pestisida. Dengan penggunaan pestisida yang efektif akan memberikan hasil yang memuaskan. Pengendalian gulma secara kimiawi menggunakan herbisida memerlukan alat penyebar herbisida pada gulma yang biasanya berupa Knapsack Sprayer. Penggunaan Knapsack Sprayer tersebut terutama untuk menyebarkan herbisida berbentuk larutan,

iii

emulsi dan bubuk yang dibasahkan, sedangkan herbisida yang berbentuk butiran atau debu dapat diaplikasikan dengan tangan atau alat pembagi. Knapsack sprayer merupakan alat aplikator pestisida yang sangat diperlukan dalam rangka pemberantasan dan pengendalian hama dan penyakit tumbuhan. Kinerja sprayer sangat ditentukan kesesuaian ukuran droplet aplikasi yang dapat dikeluarkan dalam satuan waktu tertentu sehingga sesuai dengan ketentuan penggunaan dosis pestisida yang akan disemprotkan. Prinsip kerja alat penyemprot knapscak sprayer adalah memecah cairan menjadi butiran partikel halus yang menyerupai kabut. Dengan bentuk dan ukuran yang halus ini maka pemakaian pestisida akan efektif dan merata keseluruh permukaan daun atau tanaman. Untuk memperoleh butiran halus, biasanya dilakukan dengan menggunakan proses pembentukan partikel dengan menggunakan tekanan (hydraulic atomization), yakni cairan didalam tangki dipompa sehingga mempunyai tekanan yang tinggi dan mengalir melalui selang karet menuju ke alat pengabut dengan celah yang sempit, sehingga cairan akan pecah menjadi partikel-partikel yang sangat halus. Bagian-bagian terpenting dari knapsack sprayer adalah nozzle karena nozzle berfungsi sebagai pengubah larutan mejadi butir-butir larutan yang dapat dipancarkan ke bagian yang akan disanitasi. Besarnya butir-butir larutan yang terpencarkan dan penyebarannya sangat tergantung pada gaya tekanan udara dan lubang-lubang pada nozzle. Kalibrasi alat dapat diartikan sebagai cara untuk menghitung kebutuhan (volume) larutan per satuan luas (ha). Ketetapan hasil kalibrasi sangat menentukan efektivitas dan efisiensi biaya pengendalian gulma. Jumlah kebutuhan larutan sangat tergantung pada jenis alat semprot (sprayer), nozzle, kecepatan jalan penyemprot, kondisi gulma, dan kondisi areal perkebunan (topografi). Penyemprotan herbisida pada gulma menggunakan knapsack sprayer juga perlu dilakukan kalibrasi sprayer terlebih dahulu. Tujuannya agar suatu dosis herbisida yang telah ditetapkan dapat diaplikasikan secara merata ke seluruh luasan areal yang telah ditargetkan. Selain itu, dengan kalibrasi sprayer dapat menghindari pemborosan herbisida dan mengurangi terjadinya pencemaran lingkungan.

iv

Dari penelitian ini diharapkan akan mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyemprotan pestisida yang diperlukan dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman. Berdasarkan kajian ekonomi yang dilakukan pada rancangan hasil penelitian, maka dapat dibandingkan dengan kinerja alat semprot Knapsack Sprayer dengan satu nozzle, dua nozzle, dan tiga nozzle, guna menentukan efektivitas kerja yang terbaik. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Melakukan kalibrasi di laboratorium guna menentukan jarak antar nozzle pada sprayer dua nozzle dan tiga nozzle. 2. Melakukan evaluasi teknis terhadap penggunaan satu nozzle, dua nozzle, tiga nozzle, kapasitas kerja efektif, kapasitas kerja teoritis, dan efisiensi penyemprotan (field efficiency). 3. Melakukan perhitungan biaya ekonomi penyemprotan dengan satu nozzle, dua nozzle, dan tiga nozzle. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan dengan beberapa tahap, yaitu penambahan jumlah nozzle dari satu nozzle menjadi dua nozzle, tiga nozzle dan pengujian di lapangan yang dimulai pada bulan Maret sampai dengan Mei 2010 di Laboratorium Produksi dan Manajemen Alat dan Mesin Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas, Padang. Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah alat semprot sprayer (knapsack sprayer) tipe sandang, nozzle, meteran, gelas ukur, stopwatch, tali rafia, botol aqua dan sebagainya. Dalam penelitian ini digunakan alat semprot dengan merek Solo. Knapsack sprayer yang digunakan terdiri dari ruang pompa, dua buah klep, ruang penekan, selang

pengeluaran, klep pengamanan, handle dan tangki sprayer. Cairan yang digunakan adalah air.

Metode Penelitian Pada penelitian ini ada beberapa tahap yaitu: pengujian di laboratorium dilakukan untuk menentukan kalibrasi debit penyemprotan, pengujian di lapangan untuk menentukan: lebar kerja efektif, kapasitas penyemprotan, efisiensi kerja lapang alat semprot knapsack sprayer, dan menentukan biaya penyemprotan. Kriteria Rancangan a. Flow Chart

vi

Untuk mencapai hasil yang diinginkan maka terlebih dahulu harus membuat suatu konsep seperti pada Gambar 1.
Start

Input : Tekanan dengan mengatur jumlah kali pemompaan Perlakuan Tekanan (Pn)

Debit = Q1 Lebar Kerja Efektif = B1

Tidak Apakah akan menguji yang lain? Ya

Jarak antar nozzlen

Bn

Input : Sprayer dengan jarak antar nozle yang disesuikan Tidak dengan tekanan P1, B1, Q1 P2, B2, Q2 P3, B3, Q2

Stop

vii

Gambar 1. Flow Chart Pengembangan Alat Semprot (Knapsack Sprayer) 1) Start merupakan awal mulai melakukan penyemprotan 2) Sprayer dengan tekanan yang diatur dari jumlah kali pemompaan 3) Dengan alat semprot dengan berbagai tekanan maka dilakukan perlakuan sebanyak 3 kali dengan tekanan P1, P2 dan P3. 4) Dengan 3 perlakuan diperoleh lebar kerja efekti B1, B2 dan B3 serta debit Q1 Q2, dan Q3. 5) Diperoleh hasil debit yang terukur dan lebar kerja, apabila pengujian lebih dari beberapa ulangan, jika Tidak maka proses diteruskan, dan jika Ya maka kembali ke perlakuan dengan tekanan yang sudah diatur 6) Dari semprotan maka diperoleh perbandingan antara lebar kerja efektif B1 dan Q1, B2 dan Q2, B3 dan Q3. 7) Jarak antar nozle mempengaruhi lebar efektif semprot Bn 8) Alat semprot Knapsack Sprayer, setelah melakukan pengembangan maka dapat dilakukan pengujian terlebih dahulu dengan sprayer yang jarak antar nozle yang disesuaikan dengan tekanan yang sudah diatur. 9) Stop, setelah melakukan rancangan dan modifikasi alat maka dilakukan pengujian terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Pelaksanaan Penelitian Pengembangan Alat Pada modifikasi alat, hal-hal yang dilakukan adalah: a. Penambahan jumlah nozzle Nozzle yang digunakan Fan Type Nozzle dengan penyebaran berbentuk elips penuh. b. Pembuatan pendaratan cairan Cairan disemprotkan diatas seng dengan ketinggian 45 cm, sudut kemiringan seng 20o, kemudian cairan ditampung dengan gelas plastik

viii

sehingga diperoleh volume penyemprotan.

Evaluasi Teknis di Laboratorium Kajian di laboratorium menentukan kalibrasi debit penyemprotan knapsack sprayer, dapat dilihat pada Gambar 2.

Q1

Q2

Q3

Q4

Q5

Q6

Q7

Q8

Q9

Q10

Gambar 2. Pengujian Penyemprotan Debit Alat Penyemprot (Knapsack Sprayer) Pengukuran debit penyemprotan dilakukan diatas seng yang ditampung dengan gelas plastik, seperti terlihat pada Gambar 2, dapat dihitung dengan rumus Q= dengan: Q V t = Debit yang harus keluar dari nozzle sprayer (liter/jam) = Volume (liter) = Waktu (jam) V ......................................................................................................(1) t

ix

Evaluasi Teknis di Lapangan Kapasitas Kerja Penyemprotan Pengamatan kapasitas kerja, dilakukan pada petakan dengan luas 100 m2 dengan 3 kali ulangan, dapat dihitung dengan rumus: KKE = dengan: KKE = Kapasitas kerja efektif penyemprotan (ha/jam) A = Luas penyemprotan (ha) T = Waktu penyemprotan (jam) Kapasitas Kerja Teoritis Pengamatan kapasitas kerja teoritis, dilakukan pada petakan dengan luas 100 m2 dengan 3 kali ulangan. KKT = L x V x 0,36 ...............................................................................(3) dengan: L = Lebar kerja penyemprotan (m) V = Kecepatan kerja (m/detik) KKT = Kapasitas kerja penyemprotan (ha/jam) Efisiensi Kerja Lapang dihitung dengan rumus: Ef = dengan: Ef = Efisiensi kerja lapang (%) KKT = Kapasitas Kerja Teoritis (ha/jam) KKE = Kapasitas penyemprotan (ha/jam) Kalibrasi Alat Penyemprotan (Knapsack sprayer) Tujuan dari kalibrasi sprayer adalah agar suatu dosis herbisida yang telah ditetapkan dapat diaplikasikan secara merata ke seluruh luasan areal yang telah ditargetkan. Kalibrasi sprayer dapat dihitung dengan rumus: KKT x100% ...................................................................................(4) KKE A ................................................................................................(2) T

Q= dengan:

BxVx N ........................................................................................(5) (60 x 10)

Q = debit yang harus keluar dari nozzle sprayer (liter/menit) B = lebar kerja efektif (m) V = kecepatan kerja (km/jam) N = dosis larutan (liter/hektar) Analisis Ekonomi Operasi Penyemprotan Analisis ekonomi dilakukan untuk menentukan biaya operasional penyemprotan Knapsack Sprayer gendong. Biaya Pokok Penyemprotan Biaya pokok untuk operasi penyemprotan terdiri dari biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap (BT) dihitung dengan persamaan: BT = D + I................................................................................................(6) Sedangkan, D= I= dengan: BT D I P S N IR = Biaya tetap (Rp/th) = Biaya penyusutan alat (Rp/th) = Bunga modal (Rp/th) = Harga beli alat (Rp) = Harga alat setelah N tahun (Rp) = Umur alat (tahun) = Suku bunga bank tahunan (desimal) (P - S) ...............................................................................................(7) N

( IR x (P + S))
2

....................................................................................(8)

Biaya Tidak Tetap (BTT) adalah biaya yang bervariasi menurut waktu yang dipakai untuk dalam satu tahun pengoperasian alat yang meliputi perbaikan, dan operator. Biaya perbaikan dan pemeliharaan dihitung dengan rumus :

xi

=
dengan :

2% x( P S ) .................................................................................(9) 100Jam

M = biaya perbaikan dan pemeliharaan (Rp/jam) P = harga awal alat Knapsack Sprayer (Rp)

Upah operator dihitung dengan rumus : Bo = dengan : Bo = Upah operator (Rp/jam) Wop = Upah tenaga kerja tiap hari (Rp/hari) Wt = Jam kerja per hari (jam/hari) Biaya Pokok (BP) BP = dengan: BP = Biaya pokok penyemprotan (Rp/ha) BT = Biaya tetap (Rp/th) BTT = Biaya tidak tetap (Rp/jam) KKE = Kapasitas Penyemprotan (Ha/jam) x = Jam kerja penyemprotan (Jam/th) ( BT / x) + BTT ............................................................................(11) KKE Wop .............................................................................................(10) Wt

HASIL DAN PEMBAHASAN Evaluasi Teknis di Laboratorium Kalibrasi Debit Penyemprotan (Knapsac Sprayer) Pengambilan debit alat semprot Knapsack Sprayer di laboratorium dengan Knapsack Sprayer satu nozzle bertujuan untuk menentukan kalibrasi dari alat semprot dan sebagai penentu untuk menentukan jarak antar nozzle. Kalibrasi alat dapat diartikan sebagai cara untuk menghitung kebutuhan (volume) larutan per satuan luas (ha) (Barus, 2003).

xii

Kalibrasi debit penyemprotan ditentukan dengan menyemprotkan cairan diatas seng dengan ketinggian 45 cm, sudut kemiringan pendaratan cairan 20o dan jarak antar gelombang seng 8 cm, jarak antar gelombang seng sama dengan jarak antar gelas plastik. Pada alat semprot ini tidak dilengkapi dengan alat ukur tekanan pompa (manometer), maka untuk perlakuan tekanan diganti dengan tiga tingkat pemompaan, yaitu berturut turut 14 kali pemompaan, 10 kali pemompaan, dan enam kali pemompaan. Perlakuan dengan 14 kali pemompaan, 10 kali pemompan dan enam kali pemompaan merupakan pemompaan awal yang digunakan untuk mengisi tekanan udara didalam tangki selanjutnya pemompaan dilakukan secara perlahan sebanyak 25 kali pemompaan sampai gelas plastik terisi penuh dan kecepatan pemompaan selalu konstan agar tekanan udara dalam tangki tetap penuh, dapat dilihat pada Gambar 3, 4, dan 5.

Gambar 3. Perlakuan dengan 14 Kali Pemompaan Awal

xiii

Gambar 4. Perlakuan dengan 10 Kali Pemompaan Awal

Gambar 5. Perlakuan dengan 6 Kali Pemompaan Awal Pada perlakuan 14 kali pemompaan, jumlah gelas plastik yang terisi oleh cairan uji sebanyak 13 gelas, 10 kali pemompaan 12 gelas dan enam kali pemompaan 12 gelas. Banyaknya volume cairan yang tertampung pada gelas plastik tergantung pada ketinggian penyemprotan dan tekanan udara dalam tangki. Untuk nozzle yang sama, semakin tinggi tekanan yang diberikan maka ukuran droplet akan semakin kecil, begitu juga sebaliknya semakin rendah tekanan, maka ukuran droplet akan semakin besar (Tas, 2008). Menurut Bainer et al. (1955), hal penting yang mesti diperhatikan dalam menentukan besar kecilnya ukuran droplet semprot yang dihasilkan adalah bentuk nozlle, jarak semprot, tekanan operasi, sifat bahan semprot, keadaan udara luar dan perbedaan antara udara dan bahan semprot. Lebar penyemprotan efektif diperoleh dari banyaknya gelas plastik yang terisi oleh cairan. Lebar penyemprotan dapat digambarkan dengan grafik yang diperoleh dari distribusi volume cairan yang tertampung. Grafik yang digambarkan saling tumpang tindih kiri dan kanan sehingga terjadi perpotongan antar grafik satu dengan grafik berikutnya, dari perpotongan tersebut diperoleh jarak antar nozzle. Jarak antar nozzle

xiv

didapat dari perlakuan 10 kali pemompaan dan enam kali pemompaan karena lebar penyemprotan sama yaitu 64 cm, dapat dilihat pada Gambar 6, 7, dan 8.

(72 cm)

Volume (ml)

Gelas keJarak antar botol = 8 cm Gambar 6. Grafik Overlapping pada Perlakuan 14 Kali Pemompaan

(64 cm)

Jarak antar botol = 8 cm

xv

Gambar 7. Grafik Overlapping pada Perlakuan 10 Kali Pemompaan

64 cm

Volume (ml)

Gelas keJarak antar botol = 8 cm Gambar 8. Grafik Overlapping pada Perlakuan Enam Kali Pemompaan Dari pengamatan yang dilakukan rata-rata debit yang terukur pada alat semprot (Knapsac sprayer) dengan satu nozzle dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Rata-Rata Debit yang Terukur pada Alat Semprot (Knapsac Sprayer) Perlakuan 1. 2. 3. 14 x pemompaan 10 x pemompaan 6 x pemompaan Debit rata-rata Q (ml/detik) 13,557 13,429 13,181 Standar Deviasi (ml/detik) 0,365 0,281 0,276 Coefisien Variasi (%) 2,6 2 2

Rata-rara debit yang terukur pada knapsack sprayer satu nozzle yang diuji di laboratorium adalah perlakuan 14 x pemompaan adalah 13,557 ml/ detik, sd 0,365 ml/detik, cv 2,6 %, perlakuan 10 x pemompaan dengan debit 13,429 ml/detik, sd 0,281 ml/detik, cv 2%, sedangkan perlakuan 6 x pemompaan debit yang terukur 13,181 ml/detik, sd 0,276 ml/detik, cv 2 %.

xvi

Dari ketiga perlakuan rata-rata debit yang didapatkan hampir seragam, karena tekanan pada sprayer tidak begitu signifikan sehingga pemompaan harus sering dilakukan agar tekanan dalam tangki tetap penuh. (Novizan, 2002) menjelaskan, untuk mendapatkan tekanan udara operator harus teratur menggerak-gerakkan handle pompa karena tekanan yang dihasilkan pompa tidak bertahan lama. Grafik hubungan debit penyemprotan dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Debit Penyemprotan Pada Gambar 9 ditunjukkan bahwa semakin banyak pemompaan yang dilakukan maka debit penyemprotan yang dihasilkan semakin besar, karena dipengaruhi oleh tekanan pompa yang tinggi. Kinerja sprayer ditentukan oleh keseragaman pola penyemprotan, ukuran droplet distribusi, target penyemprotan sedangkan keseragaman penyemprotan dipengaruhi oleh jenis nozzle, jarak nozzle, tinggi seprot, kondisi nozzle, tekanan operasi, dan kondisi lapangan (Srivostava dkk. 1993). Evaluasi Teknis di Lapangan Lebar Kerja Efektif Lebar kerja efektif diperoleh dari jangkauan penyemprotan, lebar semprotan diukur dengan meteran kemudian digambarkan dengan grafik menggunakan kertas milimeter, grafik digeser kiri dan kanan (tumpang tindih) sehingga terjadi perpotongan

xvii

antar grafik. Berdasarkan dari hasil pengamatan lebar kerja efektif dapat dilihat dari pada Tabel 2. Tabel 2. Lebar Kerja Efektif Knapsack Sprayer 1 nozzle 2 nozzle 3 nozzle Lebar Kerja Efektif (cm) 120 150 190

Penyemprotan terjadi harus saling tumpang tindih (overlapping) antara penyemprotan awal dengan penyemprotan berikutnya sehingga ketidakseragaman yang dihasilkan oleh satu pola penyebaran ditutup oleh pola penyebaran berikutnya (Tas, 2008). Ketinggian penyemprotan juga mempengaruhi lebar kerja penyemprotan karena semakin tinggi jarak penyemprotan dari target maka lebar kerja yang diperoleh akan semakin lebar serta ukuran droplet semprotan menjadi semakin kasar dan begitu juga sebaliknya. Menurut Zulhamdi (2005), ukuran droplet hand sprayer pada jarak 25 cm, diklasifikasikan sebagai semprotan halus, yaitu droplet dengan ukuran 100-250 m. Ukuran droplet handsprayer 50 cm diklasifikasikan sebagai semprotan sedang, yaitu droplet dengan ukuran 250-400 m. Sedangkan untuk jarak penyemprotan 75 cm, droplet diklasifikasikan sebagai semprotan kasar, yaitu droplet dengan ukuran 400-500 m. Kapasistas Penyemprotan Dari hasil pengamatan yang dilakukan rata-rata kapasistas kerja efektif dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Rata-Rata Kapasitas Kerja Efetif Knapsack Sprayer 1 nozzle 2 nozzle 3 nozzle Banyak Lintasan 8 7 5 KKE (ha/jam) Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3 0,191 0,193 0,190 0,236 0,239 0,238 0,306 0,313 0,312 Rata-rata 0,191 0,237 0,310

xviii

Kapasitas kerja efetif yang terbesar pada perlakuan 3 nozzle karena dipengaruhi oleh banyak lintasan dan total waktu penyemprotan, semakin banyak lintasan maka waktu yang diperlukan untuk penyemprotan semakin besar dan sebaliknya. Kapasitas kerja efektif dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10. Kapasitas Kerja Efektif Kapasitas Kerja Teoritis Dari hasil data yang diperoleh dilapangan rata-rata kapasitas kerja teoritis dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Rata-Rata Kapasitas Kerja Teoritis Perlakuan 1 nozzle 2 nozzle 3 nozzle Ulangan 1 0,207 0,255 0,324 KKT (ha/jam) Ulangan 2 0,208 0,257 0,332 Ulangan 3 0,203 0,256 0,329 Rata-rata 0,206 0,256 0,328

Hasil penelitian terlihat bahwa kapasitas kerja teoritis tiap-tiap perlakuan dan ulangan mempunyai nilai yang seragam. Pada perlakuan 3 nozzle nilai yang dihasilkan besar dari perlakuan 1 nozzle dan 2 nozzle ini dikarenakan banyak nozzel yang dipakai dan sedikit lintasan yang ditempuh sehingga waktu yang diperlukan sedikit, sedangkan grafik kapasitas kerja teoritis dapat dilihat pada Gambar 11.

xix

Gambar 11. Kapasitas Kerja Teoritis Efisiensi Kerja Lapang Hasil perhitungan rata-rata efisiensi penyemprotan menggunakan Knapsack Sprayer maka dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Rata-Rata Efisiensi Penyemprotan Perlakuan 1 nozzle 2 nozzle 3 nozzle Efisiensi Penyemprotan (%) Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3 91 92 92 92 92 92 93 93 94 Rata-Rata 91 92 93

Rata-rata efisiensi penyemprotan yang tertinggi terlihat pada perlakuan 3 nozzle adalah 93% dan yang terendah pada perlakuan 1 nozzle adalah 91%. Jadi alat penyemprot ini dapat dikatagorikan baik. Perhitungan Kalibrasi Sprayer untuk Proteksi Tanaman Kalibrasi merupakan kunci untuk menyeragamkan setiap perlakuan herbisida. Jika dosis rekomendasi tidak diaplikasikan secara merata, maka gulma tidak akan mampu dikendalikan bila dosis yang diberikan lebih rendah dari dosis yang direkomendasikan. Jika gulma dan tanaman budidaya teraplikasi herbisida dengan

xx

dosis lebih tinggi dari dosis yang direkomendasikan maka tanaman dan gulma akan mati (Welly, 2010). Perhitungan kalibrasi sprayer bertujuan agar suatu dosis herbisida yang telah ditetapkan dapat diaplikasikan secara merata ke seluruh luasan areal yang telah ditargetkan. Selain itu, dengan kalibrasi sprayer pengendalian gulma dapat berhasil dengan baik dan efektif sehingga tidak akan terjadi pemborosan herbisida dan dapat mengurangi terjadinya pencemaran lingkungan (Anonim, 2009). Dari perhitungan kalibrasi sprayer, ditunjukkan bahwa rata-rata kalibrasi

simulasi untuk tanaman pangan dengan dosis 1 2 liter/ha dan konsentrasi 0,5 1,5 liter/ha, didapatkan kalibrasi knapsack sprayer 1 nozzle adalah 0,720 dan knapsack sprayer 2 nozzle adalah 0,760 liter/menit, dan pada knaspsack sprayer 2 nozzle adalah 0,675 liter/menit. Sedangkan kalibrasi debit sprayer adalah 0,790 liter/menit diambil dari perlakuan 6 kali pemompaan karena hasil kalibrasi sprayer dan tanaman mendekati nilai 0,790 liter/menit, jadi hasil kalibrasi debit sprayer (alat) sebanding dengan kalibrasi debit simulasi untuk tanaman pangan adalah 0,790 liter/menit. Ketetapan hasil kalibrasi sangat menentukan efektivitas dan efisiensi biaya pengendalian gulma. Kecilnya kalibrasi debit pada knapsack sprayer 2 nozzle dipengaruhi oleh jumlah larutan yang dihasilkan nozzle. Sesuai dikatakan (Barus, 2003), jumlah kebutuhan larutan sangat tergantung pada jenis alat semprot (sprayer), nozzle, kecepatan jalan penyemprot, kondisi gulma, dan kondisi areal perkebunan atau topografi. Analisis Ekonomi Operasi Penyemprotan Analisis ekonomi dilakukan untuk menentukan besarnya biaya operasi penyemprotan dengan knapsack sprayer. Biaya ini terdiri dari biaya tetap dan biaya tidak tetap. Berdasarkan hasil penyemprotan maka didapat nilai biaya pokok pada knapsack sprayer 1 nozzle adalah Rp 19.821,67 /ha, knapscak sprayer 2 nozzle adalah Rp 15.972,57 /ha, dan knapsack speryer 3 nozzle adalah Rp 12.212,70 / ha dengan hari kerja 3 bulan/tahun. Grafik biaya pokok disajikan pada Gambar 12.

xxi

Gambar 12. Biaya Pokok Penyemprotan Pada Gambar 12 ditunjukkan biaya pokok penyemprotan 1 nozzle lebih besar dibandingkan dengan biaya pokok penyemprotan 2 nozzle dan 3 nozzle yaitu berturutturut Rp 19.821,67 /ha, Rp 15.972,57 /ha, dan Rp 12.212,70 /ha. Jadi, semakin banyak nozzle maka kapasitas alat semprot akan semakin tinggi dan biaya pokok semakin rendah. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari analisis laboratorium dan lapangan dapat disimpulkan bahwa: 1. Pada pengujian di laboratorium dengan satu nozzle, dengan 14 kali pemompaan diperoleh jarak antar nozzle 72 cm, sedangkan pada 10 kali pemompaan dan 6 kali pemompaan diperoleh jarak antar nozzle 64 cm. Dari hasil kalibrasi debit penyemprotan maka dipilih jarak antara nozzle 64 cm, karena penyemprotan 10 kali pemompaan dan 6 kali pemompaan mempunyai lebar yang sama. 2. Rata-rara debit yang terukur pada knapsack sprayer satu nozzle yang diuji di laboratorium adalah perlakuan 14 x pemompaan adalah 13,557 ml/ detik, sd 0,365 ml/detik, cv 2,6 %, perlakuan 10 x pemompaan dengan debit 13,429

xxii

ml/detik, sd 0,281 ml/detik, cv 2%, sedangkan perlakuan 6 x pemompaan debit yang terukur 13,181 ml/detik, sd 0,276 ml/detik, cv 2 %. 3. Dari evaluasi teknis yang didapatkan penyemprotan yang terbagus 3 nozzle, karena kapasitas kerja efektif, kapasitas kerja teoritis, efisiensi kerja lapang mempunyai nilai tinggi. Semakin banyak nozzle, maka biaya pokok semakin murah. Besarnya biaya pokok penyemprotan berturut-turut yaitu: 1 nozzel adalah Rp 19.821,67 /ha, 2 nozzle adalah Rp 15.972,57 /ha dan 3 nozzle adalah Rp 12.212,70 /ha. Saran 1. Untuk mengetahui tekanan udara didalam tangki maka sebaiknya dipasang alat pengukur tekanan yaitu manometer sehingga tekanan dalam tangki pemompaan dapat diketahui. 2. Pada penelitian berikutnya ditentukan komoditi tanaman yang diujicobakan sehingga kalibrasi debit sprayer lebih tepat, karena ketetapan hasil kalibrasi sangat menentukan efektivitas dan efisiensi biaya pengendalian gulma serta penyakit tanaman. 3. penyemprotan DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2009. Mengendalikan Gulma. Modul SMK. Jakarta. http://118.98. 163.253/download/view.php? file=47_PERTANIAN/budidaya_tanaman/budidaya_tanamn/mengendalikan_ gulma.pdf.[ 30 Oktober 2009 ] Bainer, R. E.L. Berger dan R.A. Kepner. 1955. Principles of Farm Macginery. John Wiley & Son, Inc., London-New York. Barus, Emanuel. 2003. Pengendalian Gulma di Perkebunan. Kanisius. Yogyakarta. Srivastava, Ajit K. Carroll E. Georing, dan Roger P. Rachbach. 1993. Engineering Perlu diteliti ukuran droplet sesuai dengan rekomendasi

xxiii

Principles of Agricultural Machines. American Society of Angricutural Engineeris. Manufactured in the United States of America. Tas. Welly, 2008. Praktikum Mesin dan Peralatan Pertanian. http://teknoperta. wordpress.com/2008/10/23/praktikum-mesin-pertanian-2/ [18 Agustus 2010 ]. Doris. 2011. Kalibrasi II dan Kalkulasi Alat Semprot. IPB. http://hansdw08.student.ipb.ac.id/pages/kalibrasi-ii-dan-kalkulasi-alat-semprot/ [ 13 Januari 2011 ]